KANTUNG BERLUBANG (ilustrasi penggugah…)

Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya. Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur’an) 

KANTUNG BERLUBANG (ilustrasi penggugah…)

Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya. Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur’an) 
Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya. Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur’an) 


Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya. Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur’an) 

Buah Berbakti Kepada Ayah

Sahabat dekatku (seorang polisi di kota Madinah) bercerita kepadaku kemarin malam di masjid Nabawi setelah isya, tanggal 19 Desember 2013):“Pamanku, kakak ayahku adalah seorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Pada suatu hari –seperti kebiasaannya- ia menyiapkan sendal/sepatu dan memakaikan sendal ke kedua kaki ayahnya. Namun pada saat itu, ada sesuatu hal yang lain yang tidak biasa dilakukan oleh pamanku. Tatkala ia memakaikan kedua sendal/sepatu ke kedua kaki ayahnya, pamanku terus memandang wajah ayahnya sambil memakaikan kedua sendalnya. Maka sang ayahpun tertegun, dan berkata bahkan menghardiknya, “Kenapa engkau memandangku terus?”. Maka pamanku –yang tatkala itu masih muda belia dan belum menikah- berkata : “Wahai ayahanda, aku ingin puas memenuhi kedua mataku dengan memandang wajahmu…”Mendengar jawaban pamanku maka sang ayah langsung sujud syukur seketika itu juga lalu mendoakan agar Allah memberkahi pamanku, memberkahi hartanya, dan anak keturunannya. Sekarang pamanku masih hidup, sedangkan ayahku sudah meninggal, padahal pamanku lebih tua dari ayahku. Pamanku setelah itu menikahi 4 orang wanita, dan dianugrahi 29 anak laki-laki, anak perempuan entah berapa. Dan rizkinya dilapangkan oleh Allah ta’ala.Jika pamanku membeli makanan di kios, selalu ia membeli sayuran berkarton-karton, membeli roti berdos-dos, membeli sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sehingga pemilik kios kaget melihat pamanku, seakan-akan ia mau menyiapkan makanan untuk orang sekampung?!. Ini semua karena pamanku adalah keluarga yang sangat besaaar…!Anak lelaki yang paling kecil seumuran denganku (yaitu sekitar 45 tahunan). Yang menakjubkan, seluruh anak-anaknya berbakti kepada pamanku”.Demikianlah tuturan sahabatku, mengingatkan kepada kita bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.  

Buah Berbakti Kepada Ayah

Sahabat dekatku (seorang polisi di kota Madinah) bercerita kepadaku kemarin malam di masjid Nabawi setelah isya, tanggal 19 Desember 2013):“Pamanku, kakak ayahku adalah seorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Pada suatu hari –seperti kebiasaannya- ia menyiapkan sendal/sepatu dan memakaikan sendal ke kedua kaki ayahnya. Namun pada saat itu, ada sesuatu hal yang lain yang tidak biasa dilakukan oleh pamanku. Tatkala ia memakaikan kedua sendal/sepatu ke kedua kaki ayahnya, pamanku terus memandang wajah ayahnya sambil memakaikan kedua sendalnya. Maka sang ayahpun tertegun, dan berkata bahkan menghardiknya, “Kenapa engkau memandangku terus?”. Maka pamanku –yang tatkala itu masih muda belia dan belum menikah- berkata : “Wahai ayahanda, aku ingin puas memenuhi kedua mataku dengan memandang wajahmu…”Mendengar jawaban pamanku maka sang ayah langsung sujud syukur seketika itu juga lalu mendoakan agar Allah memberkahi pamanku, memberkahi hartanya, dan anak keturunannya. Sekarang pamanku masih hidup, sedangkan ayahku sudah meninggal, padahal pamanku lebih tua dari ayahku. Pamanku setelah itu menikahi 4 orang wanita, dan dianugrahi 29 anak laki-laki, anak perempuan entah berapa. Dan rizkinya dilapangkan oleh Allah ta’ala.Jika pamanku membeli makanan di kios, selalu ia membeli sayuran berkarton-karton, membeli roti berdos-dos, membeli sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sehingga pemilik kios kaget melihat pamanku, seakan-akan ia mau menyiapkan makanan untuk orang sekampung?!. Ini semua karena pamanku adalah keluarga yang sangat besaaar…!Anak lelaki yang paling kecil seumuran denganku (yaitu sekitar 45 tahunan). Yang menakjubkan, seluruh anak-anaknya berbakti kepada pamanku”.Demikianlah tuturan sahabatku, mengingatkan kepada kita bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.  
Sahabat dekatku (seorang polisi di kota Madinah) bercerita kepadaku kemarin malam di masjid Nabawi setelah isya, tanggal 19 Desember 2013):“Pamanku, kakak ayahku adalah seorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Pada suatu hari –seperti kebiasaannya- ia menyiapkan sendal/sepatu dan memakaikan sendal ke kedua kaki ayahnya. Namun pada saat itu, ada sesuatu hal yang lain yang tidak biasa dilakukan oleh pamanku. Tatkala ia memakaikan kedua sendal/sepatu ke kedua kaki ayahnya, pamanku terus memandang wajah ayahnya sambil memakaikan kedua sendalnya. Maka sang ayahpun tertegun, dan berkata bahkan menghardiknya, “Kenapa engkau memandangku terus?”. Maka pamanku –yang tatkala itu masih muda belia dan belum menikah- berkata : “Wahai ayahanda, aku ingin puas memenuhi kedua mataku dengan memandang wajahmu…”Mendengar jawaban pamanku maka sang ayah langsung sujud syukur seketika itu juga lalu mendoakan agar Allah memberkahi pamanku, memberkahi hartanya, dan anak keturunannya. Sekarang pamanku masih hidup, sedangkan ayahku sudah meninggal, padahal pamanku lebih tua dari ayahku. Pamanku setelah itu menikahi 4 orang wanita, dan dianugrahi 29 anak laki-laki, anak perempuan entah berapa. Dan rizkinya dilapangkan oleh Allah ta’ala.Jika pamanku membeli makanan di kios, selalu ia membeli sayuran berkarton-karton, membeli roti berdos-dos, membeli sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sehingga pemilik kios kaget melihat pamanku, seakan-akan ia mau menyiapkan makanan untuk orang sekampung?!. Ini semua karena pamanku adalah keluarga yang sangat besaaar…!Anak lelaki yang paling kecil seumuran denganku (yaitu sekitar 45 tahunan). Yang menakjubkan, seluruh anak-anaknya berbakti kepada pamanku”.Demikianlah tuturan sahabatku, mengingatkan kepada kita bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.  


Sahabat dekatku (seorang polisi di kota Madinah) bercerita kepadaku kemarin malam di masjid Nabawi setelah isya, tanggal 19 Desember 2013):“Pamanku, kakak ayahku adalah seorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Pada suatu hari –seperti kebiasaannya- ia menyiapkan sendal/sepatu dan memakaikan sendal ke kedua kaki ayahnya. Namun pada saat itu, ada sesuatu hal yang lain yang tidak biasa dilakukan oleh pamanku. Tatkala ia memakaikan kedua sendal/sepatu ke kedua kaki ayahnya, pamanku terus memandang wajah ayahnya sambil memakaikan kedua sendalnya. Maka sang ayahpun tertegun, dan berkata bahkan menghardiknya, “Kenapa engkau memandangku terus?”. Maka pamanku –yang tatkala itu masih muda belia dan belum menikah- berkata : “Wahai ayahanda, aku ingin puas memenuhi kedua mataku dengan memandang wajahmu…”Mendengar jawaban pamanku maka sang ayah langsung sujud syukur seketika itu juga lalu mendoakan agar Allah memberkahi pamanku, memberkahi hartanya, dan anak keturunannya. Sekarang pamanku masih hidup, sedangkan ayahku sudah meninggal, padahal pamanku lebih tua dari ayahku. Pamanku setelah itu menikahi 4 orang wanita, dan dianugrahi 29 anak laki-laki, anak perempuan entah berapa. Dan rizkinya dilapangkan oleh Allah ta’ala.Jika pamanku membeli makanan di kios, selalu ia membeli sayuran berkarton-karton, membeli roti berdos-dos, membeli sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sehingga pemilik kios kaget melihat pamanku, seakan-akan ia mau menyiapkan makanan untuk orang sekampung?!. Ini semua karena pamanku adalah keluarga yang sangat besaaar…!Anak lelaki yang paling kecil seumuran denganku (yaitu sekitar 45 tahunan). Yang menakjubkan, seluruh anak-anaknya berbakti kepada pamanku”.Demikianlah tuturan sahabatku, mengingatkan kepada kita bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita.  

Angan-Angan Kosong

“Sebagian orang cinta kebaikan dan istiqomah, akan tetapi ia hanya tinggal di lautan angan-angan… Ia berharap istiqomah tanpa beramal…Angan-angan semata tanpa disertai amalan tidak akan bermanfaat bagi seseorangIbnul Qoyyim berkata ;المتمنى من أعجز الناس وأفلسهم، فإن التمنى رأس أموال المفاليس“Seorang tukang berangan-angan adalah manusia yang paling tidak mampu dan paling merugi, karena angan-angan adalah modalnya orang-orang yang bangkrut”(Dari tweet Sykh Sa’ad Al-Khotslaan)

Angan-Angan Kosong

“Sebagian orang cinta kebaikan dan istiqomah, akan tetapi ia hanya tinggal di lautan angan-angan… Ia berharap istiqomah tanpa beramal…Angan-angan semata tanpa disertai amalan tidak akan bermanfaat bagi seseorangIbnul Qoyyim berkata ;المتمنى من أعجز الناس وأفلسهم، فإن التمنى رأس أموال المفاليس“Seorang tukang berangan-angan adalah manusia yang paling tidak mampu dan paling merugi, karena angan-angan adalah modalnya orang-orang yang bangkrut”(Dari tweet Sykh Sa’ad Al-Khotslaan)
“Sebagian orang cinta kebaikan dan istiqomah, akan tetapi ia hanya tinggal di lautan angan-angan… Ia berharap istiqomah tanpa beramal…Angan-angan semata tanpa disertai amalan tidak akan bermanfaat bagi seseorangIbnul Qoyyim berkata ;المتمنى من أعجز الناس وأفلسهم، فإن التمنى رأس أموال المفاليس“Seorang tukang berangan-angan adalah manusia yang paling tidak mampu dan paling merugi, karena angan-angan adalah modalnya orang-orang yang bangkrut”(Dari tweet Sykh Sa’ad Al-Khotslaan)


“Sebagian orang cinta kebaikan dan istiqomah, akan tetapi ia hanya tinggal di lautan angan-angan… Ia berharap istiqomah tanpa beramal…Angan-angan semata tanpa disertai amalan tidak akan bermanfaat bagi seseorangIbnul Qoyyim berkata ;المتمنى من أعجز الناس وأفلسهم، فإن التمنى رأس أموال المفاليس“Seorang tukang berangan-angan adalah manusia yang paling tidak mampu dan paling merugi, karena angan-angan adalah modalnya orang-orang yang bangkrut”(Dari tweet Sykh Sa’ad Al-Khotslaan)

Surat Terbuka Untuk Saudaraku Takfiri

Oleh : Abdul Hakim bin Muhammad Al-Jawy, Lc Surat terbuka untuk saudaraku yang tersesat…para teroris yang bernasib tragis… Wahai saudaraku,Aku tahu bahwa engkau ingin menjadi pembela tauhid…Penebar rasa takut bagi para thoghut terlaknat dan kaum munafiqin…Ghuroba sejati di atas kemurnian tauhid…Berbicara tentang hak Allah saat manusia berebut hak mereka masing-masing….Saat sebagian dari di berbeda pendapat karena beda pendapatan….Saat sebagian yang disebut ulama sibuk menghitung komisi…Dan yang lain bergelak menghitung jumlah istri…Saat itu engkau bersujud di lantai jeruji yang tak kenal siang dari malam…Seraya lidahmu melantunkan kalam suci yang terkumpul di dadamu… Saudaraku yang kucintai dari lubuk hati,Adakah engkau meyakini saat itu engkau telah sampai kebenaran hakiki…?Menjadi tangan kanan dari para mursalin…?Ataukah justru engkau kini menjadi tangan kiri dari iblis…?Yang mengajak ke neraka dengan menebar aroma surga…?Memasukkan racun kedalam cawan madu…?Masih tersisakah rasa takut di dasar hatimu bahwa engkau telah tersesat dan menjadi alat bagi iblis dan tentaranya yang berniat jahat kepada anak adam agar mereka binasa di atas kekufuran sehingga kekal bersamanya dalam neraka..? Wahai yang tidak berdiri di sejengkal bumi Allah kecuali engkau membaca kalam Penciptamu dari hafalanmu…yang setiap pekan engkau khatamkan Al-Quran tanpa melihat mushaf.., tidakkah engkau takut terhadap sabda Nabimu shallallahu alaihi wa sallamعن حذيفة رضي الله عنه قال صلى الله عليه و سلم : إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن, حتى إذا رئيت بهجته عليه و كان ردءاً للإسلام , انسلخ منه و نبذه وراء ظهره , و سعى على جاره بالسيف و رماه بالشرك , قلت يا نبي الله ! أيهما أولى بالشرك : الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي ( رواه البخاري في التاريخ و أبو يعلى و ابن حبان و البزار , انظر الصحيحة للألباني ٣٢۰١ )Dari Hudaifah rodhiyAllahu anhu bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah jika ada seorang yang telah menghafal alquran sampai tatkala telah dikenal kualitasnya dan menjadi benteng bagi Islam, lalu ia melepaskan diri darinya dan membuangnya ke belakang punggungnya, dan berusaha mencelakai tetangganya dengan pedang serta menuduhnya dengan kesyirikan. Aku berkata ; Wahai Nabi Allah siapakah yang lebih pantas disifati dengan kesyirikan? Yang menuduh atau yang dituduh? Beliau bersabda ; bahkan si penuduh. (HR.Bukhary dalam At-Taariikh, Abu Ya’la dll, lihat As-Shahihah  karya Al-Albani no 3201)Bukankah ada yang membaca alquran namun ia tersesat… ?عن عائشة رضي الله عنها قالت : إن النبي صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية : هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات – إلى قوله عز وجل – وما يذكر إلا أولو الألباب ، فقال صلى الله عليه وسلم : يا عائشة ، إذا رأيتم الذين يجادلون فيه ، فهم الذين عنى الله عز وجل ، فاحذروهم ( الشريعة للآجري – (1 / 23)Dari Aisyah rodhiyAllahu anha berkata sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini ; ((Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[1] , Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal)) (QS. Ali Imran 7). Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; “Wahai Aisyah jika engkau menjumpai orang-orang yang suka berdebat tentang ayat mutasyabihat maka mereka itulah yang Allah maksud ( dalam ayat ini ) maka berhati-hatilah dari mereka” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Thobroni, Ath-Thohawi, dan ibnu Hibbaan. Syu’ab Al-Arna’uuth berkata : “Isnadnya Shahih sesuai dengan persyaratan Shahihain)عن سعيد بن جبير في قول الله عز وجل وأخر متشابهات قال : أما المتشابهات فهن آي في القرآن يتشابهن على الناس إذا قرؤوهن ، من أجل ذلك يضل من ضل ممن ادعى هذه الكلمة كل فرقة يقرؤون آيات من القرآن ، ويزعمون أنها لهم أصابوا بها الهدى .ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون . ويقرؤون معها : ثم الذين كفروا بربهم يعدلون فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفرعدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآيةDari Said bin Jubair saat beliau menerangkan ayat mutasyabihat ; “Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat dalam alquran yang tersamar  atas sebagian manusia saat mereka membacanya karena itulah tersesat orang yang sesat dari setiap yang mengklaim kebenaran. Setiap kelompok menggunakan ayat – ayat dari alquran, mereka mengira ayat tersebut mendukung mereka sehingga menepati kebenaran. Dan termasuk ayat mutasyabihat yang digunakan oleh Haruriyah ( khawarij ) adalah : Almaidah 44: ((Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir)).Mereka lalu menggabungkannya dengan Al-An’aam 1 ; ((Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka)). Maka ketika mereka melihat imam memutuskan tidak sesuai kebenaran mereka katakan ia telah kafir dan yang kafir telah mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan, maka ia  telah musyrik, maka para pemerintah itu kafir lalu mereka memberontak dan melakukan apa yang engkau lihat karena mereka mencari-cari takwil ayat ini.” (Kitab Asy-Syari’ah karya Al-Aajurry : 1/24) Wahai yang berhati beringas kepada orang yang masih berucap subhana robbiyal a’la , bukankah engkau mengetahui bahwa Allah memerintahkan Musa ‘alaihis salaam untuk berlemah-lembut kepada Firaun yang telah berucap ana robbukumul a’laa “Aku adalah Tuhan kalian yang tertinggi” dan mendapat vonis resmi sebagai thoghut oleh Sang Maha Kuasa..اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah menjadi thoghut. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.( Thoha 43-44)Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan nama –nama munafiq Madinah kepada Hudaifah Ibnul Yaman rodhiyAllahu anhu, bukankan Hudzaifah menyembunyikan nama-nama tersebut?, tidakkah engkau berqudwah kepada manhaj Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wa sallam ?عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِDari Aisyah bahwa ada seorang yang meminta izin (bertamu)  kepada  Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau berkata ; dia adalah seburuk-buruk orang, namun ketika telah duduk, Nabi shallallahu alaihi wasallam bemuka manis dan berlemah lembut kepadanya. Ketika orang itu telah pergi maka Aisyah berkata Wahai Rasulullah, ketika engkau pertama kali melihatnya engkau mengatakan demikian dan demikian, namun (saat duduk bersamanya ), engkau bermuka manis dan berlemah lembut kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “wahai Aisyah kapankah engkau pernah mendapatiku sebagai seorang yang bejat akhlaknya. Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang dijauhi manusia karena takut dari gangguannya.” ( Muttafaq alaih )Inilah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang akhlaqnya adalah Alquran. Ketika Allah berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَKatakanlah ; Hai orang –orang kafir (QS Al-Kafirun : 1)قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka”. (QS Az-Zumar : 8)قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS Ibrahim : 30)Pernahkah Nabi kita alaihi shalatu wassalaam memahami  perintah tersebut  seperti pemahaman kalian yang meneriaki mereka dengan vonis takfir jalanan yang liar? Ataukah kalian lebih bertaqwa dari  Beliau shallallahu alaihi wasallam? Ataukah pilihan yang ketiga yaitu ayat ini seperti firman Allah subhanahu wa taala ;قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِKatakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (QS Ali Imron : 119)Yang tidak pernah samasekali Nabi shallallahu alaihi wasallam ucapkan, sebab jika Beliau ucapkan niscaya matilah mereka semua karena doa beliau yang mustajab.Beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat bersemangat agar manusia mendapat hidayah kemudian masuk surga Allah Jalla wa Alaa, dan bukan seorang yang ingin manusia mati di atas kekufuran kemudian digiring seluruhnya ke neraka karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta bukan sebagai adzab bagi alam semesta. Lihatlah dari pertempuran yang beliau pimpin, tidak pernah beliau membunuh seorang pun dari kaum kuffar kecuali Ubay ibn Kholaf, itu pun dalam rangka mempertahankan diri.عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًاDari ibnu Umar radhiyAllahu anhuma bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; seorang mukmin akan senantiasa dalam kelapangan agamanya selama tidak menumpahkan darah yang haram ( HR. Bukhary ).Beliau shallallahu alaihi wa sallam sangat memahami saat terjadi fathu makkah bahwa banyak di antara mereka  yang berpura –pura masuk Islam, namun demikianlah hidayah masuk ke hati seorang sedikit demi sedikit.عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا.Dari Anas  bahwa ada seorang yang meminta  kepada Nabi shallallahu alihi wa sallam kambing sebanyak (lembah) antara dua bukit lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memberinya kemudian orang tadi mendatangi kaumnya seraya berkata, “wahai kaumku masuk Islamlah, karena Demi Allah , Muhammad telah memberiku pemberian yang tidak takut kefakiran.” Berkata Anas, ” Sungguh saat itu banyak orang yang masuk Islam namun tidak menginginkan kecuali dunia, tetapi setelah berIslam sungguh Islam lebih mereka cintai daripada dunia dan seluruh isinya.” ( HR. Muslim)Berkata Al Imam Ibnu Taimiyah rahimahulloh :فعامة الناس إذا أسلموا بعد كفر أو ولدوا على الإسلام والتزموا شرائعه، وكانوا من أهل الطاعة للّه ورسوله، فهم مسلمون ومعهم إيمان مجمل، ولكن دخول حقيقة الإيمان إلى قلوبهم إنما يحصل شيئًا فشيئًا إن أعطاهم اللّه ذلك، وإلا فكثير من الناس لا يصلون لا إلى اليقين ولا إلى الجهاد، ولو شُكِّكوا لشَكُّوا، ولو أمروا بالجهاد لما جاهدوا، وليسوا كفاراً ولا منافقين، بل ليس عندهم من علم القلب ومعرفته ويقينه ما يدرأ الرَّيْبَ، ولا عندهم من قوة الحب للّه ولرسوله ما يقدمونه على الأهل والمال، وهؤلاء إن عوفوا من المحنة وماتوا دخلوا الجنة، وإن ابتلوا بمن يورد عليهم شبهات توجب ريبهم، فإن لم ينعم اللّه عليهم بما يزيل الريب، وإلا صاروا مرتابين، وانتقلوا إلى نوع من النفاق .“Maka kebanyakan manusia jika masuk Islam setelah kekufuran atau dilahirkan di atas Islam dan menjalankan syariatnya, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka adalah muslimun yang memiliki iman secara mujmal/global. Akan tetapi masuknya hakikat  keimanan kepada hati mereka adalah terjadi sedikit demi sedikit jika Allah memberikannya kepada mereka. Dan kebanyakan manusia tidak sampai kepada derajat yakin dan jihad. Jika mereka ini dibuat ragu, niscaya mereka ragu, jika diperintah jihad niscaya mereka tidak mau. Namun mereka ini bukanlah Kafir dan bukan pula munafiq. Hanya saja mereka tidak memiliki ilmu dan ma’rifah serta keyakinan hati yang membentengi dari keraguan, tidak pula mereka memiliki kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang mereka utamakan di atas keluarga dan harta…” (Al-Iman 2/350)Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersama umumnya kaum muslimin , menasehati mereka dan bersabar atas gangguan mereka,عن معاذ رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : وعليكم بالعامة والجماعة والمساجدDari Muadz radhiyAllahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk selalu bersama umumnya  kaum muslimin, jamaah serta masjid –masjid mereka” ( HR. Thabrany di Al-Mu’jam Al-Kabiir 20/164). Fenomena ekslusifitas generasi muda yang mempelajari agama pada hari ini adalah hal yang patut disayangkan. Sebab, jika hamasah syabbab (para pemuda) berpadu dengan hikmah/sikap bijak syuyukh (para ulama) niscaya mereka terus di atas petunjuk. Sebagian mereka memusuhi orang umum kaum muslimin karena di anggap kafir murtad  dan sebagian memandang orang umum sesat karena di anggap ahli bidah. Takfiriyun dan tabdi’iyun ini lebih menyibukkan diri dengan kitab-kitab mutaakhirin. Menjadikan ucapan ulama kholaf dan kitab mereka seperti talmud yang dihafalkan dan mengalahkan kitab suci. Yang satu khawarij kepada umara dan yang lain khawarij kepada ulama. Bahkan sibuk mengkotak-kotakkan manusia di atas hizbiyah berkedok klaim ahlisunnah. Menganggap diri mereka sebagai representasi kebenaran, yang sama, duduk dan kenal baik dengan mereka adalah ahlisunnah dan yang tidak demikian adalah ahli bidah walaupun di atas hujjah salafiyah.قيل للحسن : يا أبا سعيد ، خرج خارجي بالخريبة – محلة عند البصرة – فقال : المسكين رأى منكراً فأنكره ، فوقع فيما هو أنكر منه .Alhasan Albashry pernah ditanya, “wahai Aba said, telah keluar seorang khawarij di Kharibah”, maka beliau berkata, “Kasihan ( orang khawarij ini) , ia melihat kemungkaran lalu mengingkarinya tapi ternyata terjadi hal yang lebih munkar lagi. (Asy-Syari’ah li Al-Aajurry 1/25)عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان ، سفهاء الأحلام ، يقولون من خير قول الناس ، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرميةDari Abdulloh ibn mas’ud berkata ; bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ; akan keluar di akhir zaman satu kaum yang muda-muda usia mereka, bodoh angan-angan mereka, berbicara dengan sebaik-baik ucapan manusia. mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya ( HR.Ahmad , tirmidzy , Ibnu Majah dll )Sebelum mempelajari Islam mereka membunuh, merampok , menipu dan menyakiti manusia , lalu setelah belajar Islam dan bertaubat kemudian menjadi khawarij, mereka kembali membunuh dan merampok kaum muslimin dengan alasan jihad kepada murtaddin, menginjak-injak harga diri dan mentololkan kaum muslimin  dan ulama mereka dengan alasan mereka adalah ahli bidah. Persis seperti anak panah  yang  menembus binatang buruan dan tidak berbekas samasekali ajaran akhlak Islam dalam ucapan dan perbuatan mereka.أبو غالب : أنه سمع أبا أمامة رضي الله تعالى عنه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : خرجت خارجة بالشام فقتلوا ، وألقوا في جب ، أو في بئر ، فأقبل أبو أمامة رضي الله وأنا معه ، حتى وقف عليهم ، ثم بكى ، ثم قال : سبحان الله ، ما فعل الشيطان بهذه الأمة ؟ كلاب النار ، كلاب النار ، كلاب النار – ثلاثا – شر قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء من قتلوه ، قلت : يا أبا أمامة ، أشيء تقول برأيك ، أم شيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء – ثلاثا – بل سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم غير مرة ، ولا مرتين ، ولا ثلاثا ، حتى عد عشراًDari Abu ghalib ia mendengar Abu Umamah radhiyAllahu anhu seorang dari shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam  berkata ; telah keluar khawarij di syam lalu mereka membunuhnya dan melemparnya ke sumur kemudian Abu Umamah mengajakku mendatanginya sampai beliau berdiri di atas mereka , beliau menangis, lalu berkata ; SubhanAllah, apakah yang telah dilakukan  Syaithon (untuk menyesatkan ) umat ini ? Anjing –anjing neraka –tiga kali beliau menyebutkannya-. ( mereka adalah) seburuk-buruk mayat di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik jenazah di bawah kolong langit adalah yang mereka bunuh. Aku ( Abu Ghalib )  berkata ; wahai abu Umamah, apakah ini pendapat yang keluar dari ra’yumu ? atau hadits yang kau dengar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ? ( jika dari ra’yuku ) maka sungguh aku sangat lancang – beliau mengatakannya tiga kali. Tapi ini adalah yang aku dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. ( HR. Ahmad , Tirmidzy , An-Nasa’y dll ).عن ابن عمر، عن النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم قال: (( مَن حَمَلَ علينا السِّلاحَ فليس منَّا ))Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; barang siapa membawa pedang ( menyerang ) kami ( kaum muslimin ) maka ia bukan dari golongan kami ( Muttafaq alaih ).قال صلى الله عليه و سلم (( ومَن خرج على أمَّتي يضرب برَّها وفاجرَها، ولا يتحاش من مؤمنها، ولا يفي لذي عهد عهدَه، فليس منِّي ولستُ منه ))Bersabda nabi shallallahu alaihi wa sallam ; barang siapa memerangi umatku membunuh orang baik dan orang fajirnya serta tidak berhati-hati dari orang mukminnya dan tidak menepati perjanjian kepada yang membuat perjanjian dengan mereka maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya.( HSR. Muslim no 1848). Mereka ini jika memasuki masjid – masjid kaum muslimin, menganggap dirinya saja  yang paling afdhol dan paling di atas tauhid dan sunnah.عن أنس قال صلى الله عليه و سلم : ناشدتك بالله ، هل حدثت نفسك حين طلعت علينا : أن ليس في القوم أفضل منك ؟ فقال : اللهم نعم . فدخل المسجد يصليDari Anas ibn malik bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ( kepada seorang khawarij ) ; Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah jiwamu berkata kepadamu saat kau mendatangi kami bahwa tidak ada seorang pun di sini yang lebih afdhol darimu ? Ia menjawab ;  iya. Lalu ia pun masuk masjid dan shalat.( HR. Ahmad , Abu Ya’la ).Sebagian mereka menyesatkan seluruh muslimin kecuali yang mereka kenal saja.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ . فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ ». قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ لاَ أَدْرِى أَهْلَكَهُمْ بِالنَّصْبِ أَوْ أَهْلَكُهُمْ بِالرَّفْعِ.Dari Abu hurairoh bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; apabila seorang mengatakan ; manusia binasa . maka dialah yang paling binasa atau yang membinasakan mereka. (HR. Muslim ) Sebagaimana pendahulu mereka yaitu Dzulkhuwaishiroh menganggap dirinya lebih bertaqwa daripada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُDari Abu Said Alkhudry rodhiyAllahu anhu berkata ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau membagi ghanimah , datanglah Dzulkhuwaishiroh seorang dari bani tamim lalu ia berkata : Ya Rasulullah, berbuat adillah. Lalu Nabi berkata ; celaka engkau, siapakah yang akan adil ( dari umara setelahku ) jika aku tidak adil. Engkau pasti celaka ( jika meyakini ) aku tidak adil.( HR. Bukhary ).Mereka akan terus terpecah menjadi faksi-faksi yang saling mengkafirkan dan membidahkan, demikianlah ahli bidah di setiap zaman.Berkata Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh ;والبدعة مقرونة بالفرقة كما ان السنة مقرونة بالجماعة فيقال أهل السنة والجماعة كما يقال أهل البدعة والفرقةBid’ah identik dengan furqoh/perpecahan sebagaimana Sunnah identik dengan jamaah/persatuan. Sehingga disebut ahli sunnah wal jamaah sebagaimana disebut pula Ahli bidah walfurqoh.(Al Istiqomah 1/42)Kaum khawarij modern ini tidak akan membuka diri terhadap selain kelompoknya, walau pun kepada dosen-dosen mereka , bahkan mereka tidak  mengakui guru-guru mereka tersebut, bak Malin Kundang yang tak mengakui orang tuanya. Serta tidak menyebarkan rahmat kepada kaum muslimin, bahkan menyebarkan kebencian terhadap mereka. Padahal ahlussunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling menyayangi manusia.قال يحيى بن معاذ العلماء أرحم بأمة محمد صلى الله عليه وسلم من آبائهم وأمهاتهم قيل وكيف ذلك قال لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا وهم يحفظونهم من نار الآخرةBerkata Yahya bin Mu’aadz rahimahulloh ; Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam daripada ayah dan ibu mereka, mengapa demikian ? Karena ayah dan ibu mereka melindungi mereka dari neraka dunia sedang para ulama melindungi mereka dari neraka akhirat.(Ihya Ulumuddin 1/11)Catatan Kaki:—————[1] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.[2]Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

Surat Terbuka Untuk Saudaraku Takfiri

Oleh : Abdul Hakim bin Muhammad Al-Jawy, Lc Surat terbuka untuk saudaraku yang tersesat…para teroris yang bernasib tragis… Wahai saudaraku,Aku tahu bahwa engkau ingin menjadi pembela tauhid…Penebar rasa takut bagi para thoghut terlaknat dan kaum munafiqin…Ghuroba sejati di atas kemurnian tauhid…Berbicara tentang hak Allah saat manusia berebut hak mereka masing-masing….Saat sebagian dari di berbeda pendapat karena beda pendapatan….Saat sebagian yang disebut ulama sibuk menghitung komisi…Dan yang lain bergelak menghitung jumlah istri…Saat itu engkau bersujud di lantai jeruji yang tak kenal siang dari malam…Seraya lidahmu melantunkan kalam suci yang terkumpul di dadamu… Saudaraku yang kucintai dari lubuk hati,Adakah engkau meyakini saat itu engkau telah sampai kebenaran hakiki…?Menjadi tangan kanan dari para mursalin…?Ataukah justru engkau kini menjadi tangan kiri dari iblis…?Yang mengajak ke neraka dengan menebar aroma surga…?Memasukkan racun kedalam cawan madu…?Masih tersisakah rasa takut di dasar hatimu bahwa engkau telah tersesat dan menjadi alat bagi iblis dan tentaranya yang berniat jahat kepada anak adam agar mereka binasa di atas kekufuran sehingga kekal bersamanya dalam neraka..? Wahai yang tidak berdiri di sejengkal bumi Allah kecuali engkau membaca kalam Penciptamu dari hafalanmu…yang setiap pekan engkau khatamkan Al-Quran tanpa melihat mushaf.., tidakkah engkau takut terhadap sabda Nabimu shallallahu alaihi wa sallamعن حذيفة رضي الله عنه قال صلى الله عليه و سلم : إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن, حتى إذا رئيت بهجته عليه و كان ردءاً للإسلام , انسلخ منه و نبذه وراء ظهره , و سعى على جاره بالسيف و رماه بالشرك , قلت يا نبي الله ! أيهما أولى بالشرك : الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي ( رواه البخاري في التاريخ و أبو يعلى و ابن حبان و البزار , انظر الصحيحة للألباني ٣٢۰١ )Dari Hudaifah rodhiyAllahu anhu bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah jika ada seorang yang telah menghafal alquran sampai tatkala telah dikenal kualitasnya dan menjadi benteng bagi Islam, lalu ia melepaskan diri darinya dan membuangnya ke belakang punggungnya, dan berusaha mencelakai tetangganya dengan pedang serta menuduhnya dengan kesyirikan. Aku berkata ; Wahai Nabi Allah siapakah yang lebih pantas disifati dengan kesyirikan? Yang menuduh atau yang dituduh? Beliau bersabda ; bahkan si penuduh. (HR.Bukhary dalam At-Taariikh, Abu Ya’la dll, lihat As-Shahihah  karya Al-Albani no 3201)Bukankah ada yang membaca alquran namun ia tersesat… ?عن عائشة رضي الله عنها قالت : إن النبي صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية : هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات – إلى قوله عز وجل – وما يذكر إلا أولو الألباب ، فقال صلى الله عليه وسلم : يا عائشة ، إذا رأيتم الذين يجادلون فيه ، فهم الذين عنى الله عز وجل ، فاحذروهم ( الشريعة للآجري – (1 / 23)Dari Aisyah rodhiyAllahu anha berkata sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini ; ((Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[1] , Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal)) (QS. Ali Imran 7). Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; “Wahai Aisyah jika engkau menjumpai orang-orang yang suka berdebat tentang ayat mutasyabihat maka mereka itulah yang Allah maksud ( dalam ayat ini ) maka berhati-hatilah dari mereka” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Thobroni, Ath-Thohawi, dan ibnu Hibbaan. Syu’ab Al-Arna’uuth berkata : “Isnadnya Shahih sesuai dengan persyaratan Shahihain)عن سعيد بن جبير في قول الله عز وجل وأخر متشابهات قال : أما المتشابهات فهن آي في القرآن يتشابهن على الناس إذا قرؤوهن ، من أجل ذلك يضل من ضل ممن ادعى هذه الكلمة كل فرقة يقرؤون آيات من القرآن ، ويزعمون أنها لهم أصابوا بها الهدى .ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون . ويقرؤون معها : ثم الذين كفروا بربهم يعدلون فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفرعدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآيةDari Said bin Jubair saat beliau menerangkan ayat mutasyabihat ; “Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat dalam alquran yang tersamar  atas sebagian manusia saat mereka membacanya karena itulah tersesat orang yang sesat dari setiap yang mengklaim kebenaran. Setiap kelompok menggunakan ayat – ayat dari alquran, mereka mengira ayat tersebut mendukung mereka sehingga menepati kebenaran. Dan termasuk ayat mutasyabihat yang digunakan oleh Haruriyah ( khawarij ) adalah : Almaidah 44: ((Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir)).Mereka lalu menggabungkannya dengan Al-An’aam 1 ; ((Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka)). Maka ketika mereka melihat imam memutuskan tidak sesuai kebenaran mereka katakan ia telah kafir dan yang kafir telah mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan, maka ia  telah musyrik, maka para pemerintah itu kafir lalu mereka memberontak dan melakukan apa yang engkau lihat karena mereka mencari-cari takwil ayat ini.” (Kitab Asy-Syari’ah karya Al-Aajurry : 1/24) Wahai yang berhati beringas kepada orang yang masih berucap subhana robbiyal a’la , bukankah engkau mengetahui bahwa Allah memerintahkan Musa ‘alaihis salaam untuk berlemah-lembut kepada Firaun yang telah berucap ana robbukumul a’laa “Aku adalah Tuhan kalian yang tertinggi” dan mendapat vonis resmi sebagai thoghut oleh Sang Maha Kuasa..اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah menjadi thoghut. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.( Thoha 43-44)Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan nama –nama munafiq Madinah kepada Hudaifah Ibnul Yaman rodhiyAllahu anhu, bukankan Hudzaifah menyembunyikan nama-nama tersebut?, tidakkah engkau berqudwah kepada manhaj Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wa sallam ?عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِDari Aisyah bahwa ada seorang yang meminta izin (bertamu)  kepada  Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau berkata ; dia adalah seburuk-buruk orang, namun ketika telah duduk, Nabi shallallahu alaihi wasallam bemuka manis dan berlemah lembut kepadanya. Ketika orang itu telah pergi maka Aisyah berkata Wahai Rasulullah, ketika engkau pertama kali melihatnya engkau mengatakan demikian dan demikian, namun (saat duduk bersamanya ), engkau bermuka manis dan berlemah lembut kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “wahai Aisyah kapankah engkau pernah mendapatiku sebagai seorang yang bejat akhlaknya. Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang dijauhi manusia karena takut dari gangguannya.” ( Muttafaq alaih )Inilah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang akhlaqnya adalah Alquran. Ketika Allah berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَKatakanlah ; Hai orang –orang kafir (QS Al-Kafirun : 1)قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka”. (QS Az-Zumar : 8)قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS Ibrahim : 30)Pernahkah Nabi kita alaihi shalatu wassalaam memahami  perintah tersebut  seperti pemahaman kalian yang meneriaki mereka dengan vonis takfir jalanan yang liar? Ataukah kalian lebih bertaqwa dari  Beliau shallallahu alaihi wasallam? Ataukah pilihan yang ketiga yaitu ayat ini seperti firman Allah subhanahu wa taala ;قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِKatakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (QS Ali Imron : 119)Yang tidak pernah samasekali Nabi shallallahu alaihi wasallam ucapkan, sebab jika Beliau ucapkan niscaya matilah mereka semua karena doa beliau yang mustajab.Beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat bersemangat agar manusia mendapat hidayah kemudian masuk surga Allah Jalla wa Alaa, dan bukan seorang yang ingin manusia mati di atas kekufuran kemudian digiring seluruhnya ke neraka karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta bukan sebagai adzab bagi alam semesta. Lihatlah dari pertempuran yang beliau pimpin, tidak pernah beliau membunuh seorang pun dari kaum kuffar kecuali Ubay ibn Kholaf, itu pun dalam rangka mempertahankan diri.عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًاDari ibnu Umar radhiyAllahu anhuma bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; seorang mukmin akan senantiasa dalam kelapangan agamanya selama tidak menumpahkan darah yang haram ( HR. Bukhary ).Beliau shallallahu alaihi wa sallam sangat memahami saat terjadi fathu makkah bahwa banyak di antara mereka  yang berpura –pura masuk Islam, namun demikianlah hidayah masuk ke hati seorang sedikit demi sedikit.عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا.Dari Anas  bahwa ada seorang yang meminta  kepada Nabi shallallahu alihi wa sallam kambing sebanyak (lembah) antara dua bukit lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memberinya kemudian orang tadi mendatangi kaumnya seraya berkata, “wahai kaumku masuk Islamlah, karena Demi Allah , Muhammad telah memberiku pemberian yang tidak takut kefakiran.” Berkata Anas, ” Sungguh saat itu banyak orang yang masuk Islam namun tidak menginginkan kecuali dunia, tetapi setelah berIslam sungguh Islam lebih mereka cintai daripada dunia dan seluruh isinya.” ( HR. Muslim)Berkata Al Imam Ibnu Taimiyah rahimahulloh :فعامة الناس إذا أسلموا بعد كفر أو ولدوا على الإسلام والتزموا شرائعه، وكانوا من أهل الطاعة للّه ورسوله، فهم مسلمون ومعهم إيمان مجمل، ولكن دخول حقيقة الإيمان إلى قلوبهم إنما يحصل شيئًا فشيئًا إن أعطاهم اللّه ذلك، وإلا فكثير من الناس لا يصلون لا إلى اليقين ولا إلى الجهاد، ولو شُكِّكوا لشَكُّوا، ولو أمروا بالجهاد لما جاهدوا، وليسوا كفاراً ولا منافقين، بل ليس عندهم من علم القلب ومعرفته ويقينه ما يدرأ الرَّيْبَ، ولا عندهم من قوة الحب للّه ولرسوله ما يقدمونه على الأهل والمال، وهؤلاء إن عوفوا من المحنة وماتوا دخلوا الجنة، وإن ابتلوا بمن يورد عليهم شبهات توجب ريبهم، فإن لم ينعم اللّه عليهم بما يزيل الريب، وإلا صاروا مرتابين، وانتقلوا إلى نوع من النفاق .“Maka kebanyakan manusia jika masuk Islam setelah kekufuran atau dilahirkan di atas Islam dan menjalankan syariatnya, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka adalah muslimun yang memiliki iman secara mujmal/global. Akan tetapi masuknya hakikat  keimanan kepada hati mereka adalah terjadi sedikit demi sedikit jika Allah memberikannya kepada mereka. Dan kebanyakan manusia tidak sampai kepada derajat yakin dan jihad. Jika mereka ini dibuat ragu, niscaya mereka ragu, jika diperintah jihad niscaya mereka tidak mau. Namun mereka ini bukanlah Kafir dan bukan pula munafiq. Hanya saja mereka tidak memiliki ilmu dan ma’rifah serta keyakinan hati yang membentengi dari keraguan, tidak pula mereka memiliki kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang mereka utamakan di atas keluarga dan harta…” (Al-Iman 2/350)Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersama umumnya kaum muslimin , menasehati mereka dan bersabar atas gangguan mereka,عن معاذ رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : وعليكم بالعامة والجماعة والمساجدDari Muadz radhiyAllahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk selalu bersama umumnya  kaum muslimin, jamaah serta masjid –masjid mereka” ( HR. Thabrany di Al-Mu’jam Al-Kabiir 20/164). Fenomena ekslusifitas generasi muda yang mempelajari agama pada hari ini adalah hal yang patut disayangkan. Sebab, jika hamasah syabbab (para pemuda) berpadu dengan hikmah/sikap bijak syuyukh (para ulama) niscaya mereka terus di atas petunjuk. Sebagian mereka memusuhi orang umum kaum muslimin karena di anggap kafir murtad  dan sebagian memandang orang umum sesat karena di anggap ahli bidah. Takfiriyun dan tabdi’iyun ini lebih menyibukkan diri dengan kitab-kitab mutaakhirin. Menjadikan ucapan ulama kholaf dan kitab mereka seperti talmud yang dihafalkan dan mengalahkan kitab suci. Yang satu khawarij kepada umara dan yang lain khawarij kepada ulama. Bahkan sibuk mengkotak-kotakkan manusia di atas hizbiyah berkedok klaim ahlisunnah. Menganggap diri mereka sebagai representasi kebenaran, yang sama, duduk dan kenal baik dengan mereka adalah ahlisunnah dan yang tidak demikian adalah ahli bidah walaupun di atas hujjah salafiyah.قيل للحسن : يا أبا سعيد ، خرج خارجي بالخريبة – محلة عند البصرة – فقال : المسكين رأى منكراً فأنكره ، فوقع فيما هو أنكر منه .Alhasan Albashry pernah ditanya, “wahai Aba said, telah keluar seorang khawarij di Kharibah”, maka beliau berkata, “Kasihan ( orang khawarij ini) , ia melihat kemungkaran lalu mengingkarinya tapi ternyata terjadi hal yang lebih munkar lagi. (Asy-Syari’ah li Al-Aajurry 1/25)عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان ، سفهاء الأحلام ، يقولون من خير قول الناس ، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرميةDari Abdulloh ibn mas’ud berkata ; bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ; akan keluar di akhir zaman satu kaum yang muda-muda usia mereka, bodoh angan-angan mereka, berbicara dengan sebaik-baik ucapan manusia. mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya ( HR.Ahmad , tirmidzy , Ibnu Majah dll )Sebelum mempelajari Islam mereka membunuh, merampok , menipu dan menyakiti manusia , lalu setelah belajar Islam dan bertaubat kemudian menjadi khawarij, mereka kembali membunuh dan merampok kaum muslimin dengan alasan jihad kepada murtaddin, menginjak-injak harga diri dan mentololkan kaum muslimin  dan ulama mereka dengan alasan mereka adalah ahli bidah. Persis seperti anak panah  yang  menembus binatang buruan dan tidak berbekas samasekali ajaran akhlak Islam dalam ucapan dan perbuatan mereka.أبو غالب : أنه سمع أبا أمامة رضي الله تعالى عنه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : خرجت خارجة بالشام فقتلوا ، وألقوا في جب ، أو في بئر ، فأقبل أبو أمامة رضي الله وأنا معه ، حتى وقف عليهم ، ثم بكى ، ثم قال : سبحان الله ، ما فعل الشيطان بهذه الأمة ؟ كلاب النار ، كلاب النار ، كلاب النار – ثلاثا – شر قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء من قتلوه ، قلت : يا أبا أمامة ، أشيء تقول برأيك ، أم شيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء – ثلاثا – بل سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم غير مرة ، ولا مرتين ، ولا ثلاثا ، حتى عد عشراًDari Abu ghalib ia mendengar Abu Umamah radhiyAllahu anhu seorang dari shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam  berkata ; telah keluar khawarij di syam lalu mereka membunuhnya dan melemparnya ke sumur kemudian Abu Umamah mengajakku mendatanginya sampai beliau berdiri di atas mereka , beliau menangis, lalu berkata ; SubhanAllah, apakah yang telah dilakukan  Syaithon (untuk menyesatkan ) umat ini ? Anjing –anjing neraka –tiga kali beliau menyebutkannya-. ( mereka adalah) seburuk-buruk mayat di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik jenazah di bawah kolong langit adalah yang mereka bunuh. Aku ( Abu Ghalib )  berkata ; wahai abu Umamah, apakah ini pendapat yang keluar dari ra’yumu ? atau hadits yang kau dengar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ? ( jika dari ra’yuku ) maka sungguh aku sangat lancang – beliau mengatakannya tiga kali. Tapi ini adalah yang aku dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. ( HR. Ahmad , Tirmidzy , An-Nasa’y dll ).عن ابن عمر، عن النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم قال: (( مَن حَمَلَ علينا السِّلاحَ فليس منَّا ))Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; barang siapa membawa pedang ( menyerang ) kami ( kaum muslimin ) maka ia bukan dari golongan kami ( Muttafaq alaih ).قال صلى الله عليه و سلم (( ومَن خرج على أمَّتي يضرب برَّها وفاجرَها، ولا يتحاش من مؤمنها، ولا يفي لذي عهد عهدَه، فليس منِّي ولستُ منه ))Bersabda nabi shallallahu alaihi wa sallam ; barang siapa memerangi umatku membunuh orang baik dan orang fajirnya serta tidak berhati-hati dari orang mukminnya dan tidak menepati perjanjian kepada yang membuat perjanjian dengan mereka maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya.( HSR. Muslim no 1848). Mereka ini jika memasuki masjid – masjid kaum muslimin, menganggap dirinya saja  yang paling afdhol dan paling di atas tauhid dan sunnah.عن أنس قال صلى الله عليه و سلم : ناشدتك بالله ، هل حدثت نفسك حين طلعت علينا : أن ليس في القوم أفضل منك ؟ فقال : اللهم نعم . فدخل المسجد يصليDari Anas ibn malik bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ( kepada seorang khawarij ) ; Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah jiwamu berkata kepadamu saat kau mendatangi kami bahwa tidak ada seorang pun di sini yang lebih afdhol darimu ? Ia menjawab ;  iya. Lalu ia pun masuk masjid dan shalat.( HR. Ahmad , Abu Ya’la ).Sebagian mereka menyesatkan seluruh muslimin kecuali yang mereka kenal saja.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ . فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ ». قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ لاَ أَدْرِى أَهْلَكَهُمْ بِالنَّصْبِ أَوْ أَهْلَكُهُمْ بِالرَّفْعِ.Dari Abu hurairoh bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; apabila seorang mengatakan ; manusia binasa . maka dialah yang paling binasa atau yang membinasakan mereka. (HR. Muslim ) Sebagaimana pendahulu mereka yaitu Dzulkhuwaishiroh menganggap dirinya lebih bertaqwa daripada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُDari Abu Said Alkhudry rodhiyAllahu anhu berkata ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau membagi ghanimah , datanglah Dzulkhuwaishiroh seorang dari bani tamim lalu ia berkata : Ya Rasulullah, berbuat adillah. Lalu Nabi berkata ; celaka engkau, siapakah yang akan adil ( dari umara setelahku ) jika aku tidak adil. Engkau pasti celaka ( jika meyakini ) aku tidak adil.( HR. Bukhary ).Mereka akan terus terpecah menjadi faksi-faksi yang saling mengkafirkan dan membidahkan, demikianlah ahli bidah di setiap zaman.Berkata Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh ;والبدعة مقرونة بالفرقة كما ان السنة مقرونة بالجماعة فيقال أهل السنة والجماعة كما يقال أهل البدعة والفرقةBid’ah identik dengan furqoh/perpecahan sebagaimana Sunnah identik dengan jamaah/persatuan. Sehingga disebut ahli sunnah wal jamaah sebagaimana disebut pula Ahli bidah walfurqoh.(Al Istiqomah 1/42)Kaum khawarij modern ini tidak akan membuka diri terhadap selain kelompoknya, walau pun kepada dosen-dosen mereka , bahkan mereka tidak  mengakui guru-guru mereka tersebut, bak Malin Kundang yang tak mengakui orang tuanya. Serta tidak menyebarkan rahmat kepada kaum muslimin, bahkan menyebarkan kebencian terhadap mereka. Padahal ahlussunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling menyayangi manusia.قال يحيى بن معاذ العلماء أرحم بأمة محمد صلى الله عليه وسلم من آبائهم وأمهاتهم قيل وكيف ذلك قال لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا وهم يحفظونهم من نار الآخرةBerkata Yahya bin Mu’aadz rahimahulloh ; Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam daripada ayah dan ibu mereka, mengapa demikian ? Karena ayah dan ibu mereka melindungi mereka dari neraka dunia sedang para ulama melindungi mereka dari neraka akhirat.(Ihya Ulumuddin 1/11)Catatan Kaki:—————[1] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.[2]Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
Oleh : Abdul Hakim bin Muhammad Al-Jawy, Lc Surat terbuka untuk saudaraku yang tersesat…para teroris yang bernasib tragis… Wahai saudaraku,Aku tahu bahwa engkau ingin menjadi pembela tauhid…Penebar rasa takut bagi para thoghut terlaknat dan kaum munafiqin…Ghuroba sejati di atas kemurnian tauhid…Berbicara tentang hak Allah saat manusia berebut hak mereka masing-masing….Saat sebagian dari di berbeda pendapat karena beda pendapatan….Saat sebagian yang disebut ulama sibuk menghitung komisi…Dan yang lain bergelak menghitung jumlah istri…Saat itu engkau bersujud di lantai jeruji yang tak kenal siang dari malam…Seraya lidahmu melantunkan kalam suci yang terkumpul di dadamu… Saudaraku yang kucintai dari lubuk hati,Adakah engkau meyakini saat itu engkau telah sampai kebenaran hakiki…?Menjadi tangan kanan dari para mursalin…?Ataukah justru engkau kini menjadi tangan kiri dari iblis…?Yang mengajak ke neraka dengan menebar aroma surga…?Memasukkan racun kedalam cawan madu…?Masih tersisakah rasa takut di dasar hatimu bahwa engkau telah tersesat dan menjadi alat bagi iblis dan tentaranya yang berniat jahat kepada anak adam agar mereka binasa di atas kekufuran sehingga kekal bersamanya dalam neraka..? Wahai yang tidak berdiri di sejengkal bumi Allah kecuali engkau membaca kalam Penciptamu dari hafalanmu…yang setiap pekan engkau khatamkan Al-Quran tanpa melihat mushaf.., tidakkah engkau takut terhadap sabda Nabimu shallallahu alaihi wa sallamعن حذيفة رضي الله عنه قال صلى الله عليه و سلم : إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن, حتى إذا رئيت بهجته عليه و كان ردءاً للإسلام , انسلخ منه و نبذه وراء ظهره , و سعى على جاره بالسيف و رماه بالشرك , قلت يا نبي الله ! أيهما أولى بالشرك : الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي ( رواه البخاري في التاريخ و أبو يعلى و ابن حبان و البزار , انظر الصحيحة للألباني ٣٢۰١ )Dari Hudaifah rodhiyAllahu anhu bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah jika ada seorang yang telah menghafal alquran sampai tatkala telah dikenal kualitasnya dan menjadi benteng bagi Islam, lalu ia melepaskan diri darinya dan membuangnya ke belakang punggungnya, dan berusaha mencelakai tetangganya dengan pedang serta menuduhnya dengan kesyirikan. Aku berkata ; Wahai Nabi Allah siapakah yang lebih pantas disifati dengan kesyirikan? Yang menuduh atau yang dituduh? Beliau bersabda ; bahkan si penuduh. (HR.Bukhary dalam At-Taariikh, Abu Ya’la dll, lihat As-Shahihah  karya Al-Albani no 3201)Bukankah ada yang membaca alquran namun ia tersesat… ?عن عائشة رضي الله عنها قالت : إن النبي صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية : هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات – إلى قوله عز وجل – وما يذكر إلا أولو الألباب ، فقال صلى الله عليه وسلم : يا عائشة ، إذا رأيتم الذين يجادلون فيه ، فهم الذين عنى الله عز وجل ، فاحذروهم ( الشريعة للآجري – (1 / 23)Dari Aisyah rodhiyAllahu anha berkata sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini ; ((Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[1] , Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal)) (QS. Ali Imran 7). Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; “Wahai Aisyah jika engkau menjumpai orang-orang yang suka berdebat tentang ayat mutasyabihat maka mereka itulah yang Allah maksud ( dalam ayat ini ) maka berhati-hatilah dari mereka” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Thobroni, Ath-Thohawi, dan ibnu Hibbaan. Syu’ab Al-Arna’uuth berkata : “Isnadnya Shahih sesuai dengan persyaratan Shahihain)عن سعيد بن جبير في قول الله عز وجل وأخر متشابهات قال : أما المتشابهات فهن آي في القرآن يتشابهن على الناس إذا قرؤوهن ، من أجل ذلك يضل من ضل ممن ادعى هذه الكلمة كل فرقة يقرؤون آيات من القرآن ، ويزعمون أنها لهم أصابوا بها الهدى .ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون . ويقرؤون معها : ثم الذين كفروا بربهم يعدلون فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفرعدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآيةDari Said bin Jubair saat beliau menerangkan ayat mutasyabihat ; “Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat dalam alquran yang tersamar  atas sebagian manusia saat mereka membacanya karena itulah tersesat orang yang sesat dari setiap yang mengklaim kebenaran. Setiap kelompok menggunakan ayat – ayat dari alquran, mereka mengira ayat tersebut mendukung mereka sehingga menepati kebenaran. Dan termasuk ayat mutasyabihat yang digunakan oleh Haruriyah ( khawarij ) adalah : Almaidah 44: ((Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir)).Mereka lalu menggabungkannya dengan Al-An’aam 1 ; ((Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka)). Maka ketika mereka melihat imam memutuskan tidak sesuai kebenaran mereka katakan ia telah kafir dan yang kafir telah mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan, maka ia  telah musyrik, maka para pemerintah itu kafir lalu mereka memberontak dan melakukan apa yang engkau lihat karena mereka mencari-cari takwil ayat ini.” (Kitab Asy-Syari’ah karya Al-Aajurry : 1/24) Wahai yang berhati beringas kepada orang yang masih berucap subhana robbiyal a’la , bukankah engkau mengetahui bahwa Allah memerintahkan Musa ‘alaihis salaam untuk berlemah-lembut kepada Firaun yang telah berucap ana robbukumul a’laa “Aku adalah Tuhan kalian yang tertinggi” dan mendapat vonis resmi sebagai thoghut oleh Sang Maha Kuasa..اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah menjadi thoghut. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.( Thoha 43-44)Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan nama –nama munafiq Madinah kepada Hudaifah Ibnul Yaman rodhiyAllahu anhu, bukankan Hudzaifah menyembunyikan nama-nama tersebut?, tidakkah engkau berqudwah kepada manhaj Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wa sallam ?عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِDari Aisyah bahwa ada seorang yang meminta izin (bertamu)  kepada  Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau berkata ; dia adalah seburuk-buruk orang, namun ketika telah duduk, Nabi shallallahu alaihi wasallam bemuka manis dan berlemah lembut kepadanya. Ketika orang itu telah pergi maka Aisyah berkata Wahai Rasulullah, ketika engkau pertama kali melihatnya engkau mengatakan demikian dan demikian, namun (saat duduk bersamanya ), engkau bermuka manis dan berlemah lembut kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “wahai Aisyah kapankah engkau pernah mendapatiku sebagai seorang yang bejat akhlaknya. Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang dijauhi manusia karena takut dari gangguannya.” ( Muttafaq alaih )Inilah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang akhlaqnya adalah Alquran. Ketika Allah berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَKatakanlah ; Hai orang –orang kafir (QS Al-Kafirun : 1)قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka”. (QS Az-Zumar : 8)قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS Ibrahim : 30)Pernahkah Nabi kita alaihi shalatu wassalaam memahami  perintah tersebut  seperti pemahaman kalian yang meneriaki mereka dengan vonis takfir jalanan yang liar? Ataukah kalian lebih bertaqwa dari  Beliau shallallahu alaihi wasallam? Ataukah pilihan yang ketiga yaitu ayat ini seperti firman Allah subhanahu wa taala ;قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِKatakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (QS Ali Imron : 119)Yang tidak pernah samasekali Nabi shallallahu alaihi wasallam ucapkan, sebab jika Beliau ucapkan niscaya matilah mereka semua karena doa beliau yang mustajab.Beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat bersemangat agar manusia mendapat hidayah kemudian masuk surga Allah Jalla wa Alaa, dan bukan seorang yang ingin manusia mati di atas kekufuran kemudian digiring seluruhnya ke neraka karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta bukan sebagai adzab bagi alam semesta. Lihatlah dari pertempuran yang beliau pimpin, tidak pernah beliau membunuh seorang pun dari kaum kuffar kecuali Ubay ibn Kholaf, itu pun dalam rangka mempertahankan diri.عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًاDari ibnu Umar radhiyAllahu anhuma bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; seorang mukmin akan senantiasa dalam kelapangan agamanya selama tidak menumpahkan darah yang haram ( HR. Bukhary ).Beliau shallallahu alaihi wa sallam sangat memahami saat terjadi fathu makkah bahwa banyak di antara mereka  yang berpura –pura masuk Islam, namun demikianlah hidayah masuk ke hati seorang sedikit demi sedikit.عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا.Dari Anas  bahwa ada seorang yang meminta  kepada Nabi shallallahu alihi wa sallam kambing sebanyak (lembah) antara dua bukit lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memberinya kemudian orang tadi mendatangi kaumnya seraya berkata, “wahai kaumku masuk Islamlah, karena Demi Allah , Muhammad telah memberiku pemberian yang tidak takut kefakiran.” Berkata Anas, ” Sungguh saat itu banyak orang yang masuk Islam namun tidak menginginkan kecuali dunia, tetapi setelah berIslam sungguh Islam lebih mereka cintai daripada dunia dan seluruh isinya.” ( HR. Muslim)Berkata Al Imam Ibnu Taimiyah rahimahulloh :فعامة الناس إذا أسلموا بعد كفر أو ولدوا على الإسلام والتزموا شرائعه، وكانوا من أهل الطاعة للّه ورسوله، فهم مسلمون ومعهم إيمان مجمل، ولكن دخول حقيقة الإيمان إلى قلوبهم إنما يحصل شيئًا فشيئًا إن أعطاهم اللّه ذلك، وإلا فكثير من الناس لا يصلون لا إلى اليقين ولا إلى الجهاد، ولو شُكِّكوا لشَكُّوا، ولو أمروا بالجهاد لما جاهدوا، وليسوا كفاراً ولا منافقين، بل ليس عندهم من علم القلب ومعرفته ويقينه ما يدرأ الرَّيْبَ، ولا عندهم من قوة الحب للّه ولرسوله ما يقدمونه على الأهل والمال، وهؤلاء إن عوفوا من المحنة وماتوا دخلوا الجنة، وإن ابتلوا بمن يورد عليهم شبهات توجب ريبهم، فإن لم ينعم اللّه عليهم بما يزيل الريب، وإلا صاروا مرتابين، وانتقلوا إلى نوع من النفاق .“Maka kebanyakan manusia jika masuk Islam setelah kekufuran atau dilahirkan di atas Islam dan menjalankan syariatnya, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka adalah muslimun yang memiliki iman secara mujmal/global. Akan tetapi masuknya hakikat  keimanan kepada hati mereka adalah terjadi sedikit demi sedikit jika Allah memberikannya kepada mereka. Dan kebanyakan manusia tidak sampai kepada derajat yakin dan jihad. Jika mereka ini dibuat ragu, niscaya mereka ragu, jika diperintah jihad niscaya mereka tidak mau. Namun mereka ini bukanlah Kafir dan bukan pula munafiq. Hanya saja mereka tidak memiliki ilmu dan ma’rifah serta keyakinan hati yang membentengi dari keraguan, tidak pula mereka memiliki kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang mereka utamakan di atas keluarga dan harta…” (Al-Iman 2/350)Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersama umumnya kaum muslimin , menasehati mereka dan bersabar atas gangguan mereka,عن معاذ رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : وعليكم بالعامة والجماعة والمساجدDari Muadz radhiyAllahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk selalu bersama umumnya  kaum muslimin, jamaah serta masjid –masjid mereka” ( HR. Thabrany di Al-Mu’jam Al-Kabiir 20/164). Fenomena ekslusifitas generasi muda yang mempelajari agama pada hari ini adalah hal yang patut disayangkan. Sebab, jika hamasah syabbab (para pemuda) berpadu dengan hikmah/sikap bijak syuyukh (para ulama) niscaya mereka terus di atas petunjuk. Sebagian mereka memusuhi orang umum kaum muslimin karena di anggap kafir murtad  dan sebagian memandang orang umum sesat karena di anggap ahli bidah. Takfiriyun dan tabdi’iyun ini lebih menyibukkan diri dengan kitab-kitab mutaakhirin. Menjadikan ucapan ulama kholaf dan kitab mereka seperti talmud yang dihafalkan dan mengalahkan kitab suci. Yang satu khawarij kepada umara dan yang lain khawarij kepada ulama. Bahkan sibuk mengkotak-kotakkan manusia di atas hizbiyah berkedok klaim ahlisunnah. Menganggap diri mereka sebagai representasi kebenaran, yang sama, duduk dan kenal baik dengan mereka adalah ahlisunnah dan yang tidak demikian adalah ahli bidah walaupun di atas hujjah salafiyah.قيل للحسن : يا أبا سعيد ، خرج خارجي بالخريبة – محلة عند البصرة – فقال : المسكين رأى منكراً فأنكره ، فوقع فيما هو أنكر منه .Alhasan Albashry pernah ditanya, “wahai Aba said, telah keluar seorang khawarij di Kharibah”, maka beliau berkata, “Kasihan ( orang khawarij ini) , ia melihat kemungkaran lalu mengingkarinya tapi ternyata terjadi hal yang lebih munkar lagi. (Asy-Syari’ah li Al-Aajurry 1/25)عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان ، سفهاء الأحلام ، يقولون من خير قول الناس ، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرميةDari Abdulloh ibn mas’ud berkata ; bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ; akan keluar di akhir zaman satu kaum yang muda-muda usia mereka, bodoh angan-angan mereka, berbicara dengan sebaik-baik ucapan manusia. mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya ( HR.Ahmad , tirmidzy , Ibnu Majah dll )Sebelum mempelajari Islam mereka membunuh, merampok , menipu dan menyakiti manusia , lalu setelah belajar Islam dan bertaubat kemudian menjadi khawarij, mereka kembali membunuh dan merampok kaum muslimin dengan alasan jihad kepada murtaddin, menginjak-injak harga diri dan mentololkan kaum muslimin  dan ulama mereka dengan alasan mereka adalah ahli bidah. Persis seperti anak panah  yang  menembus binatang buruan dan tidak berbekas samasekali ajaran akhlak Islam dalam ucapan dan perbuatan mereka.أبو غالب : أنه سمع أبا أمامة رضي الله تعالى عنه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : خرجت خارجة بالشام فقتلوا ، وألقوا في جب ، أو في بئر ، فأقبل أبو أمامة رضي الله وأنا معه ، حتى وقف عليهم ، ثم بكى ، ثم قال : سبحان الله ، ما فعل الشيطان بهذه الأمة ؟ كلاب النار ، كلاب النار ، كلاب النار – ثلاثا – شر قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء من قتلوه ، قلت : يا أبا أمامة ، أشيء تقول برأيك ، أم شيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء – ثلاثا – بل سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم غير مرة ، ولا مرتين ، ولا ثلاثا ، حتى عد عشراًDari Abu ghalib ia mendengar Abu Umamah radhiyAllahu anhu seorang dari shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam  berkata ; telah keluar khawarij di syam lalu mereka membunuhnya dan melemparnya ke sumur kemudian Abu Umamah mengajakku mendatanginya sampai beliau berdiri di atas mereka , beliau menangis, lalu berkata ; SubhanAllah, apakah yang telah dilakukan  Syaithon (untuk menyesatkan ) umat ini ? Anjing –anjing neraka –tiga kali beliau menyebutkannya-. ( mereka adalah) seburuk-buruk mayat di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik jenazah di bawah kolong langit adalah yang mereka bunuh. Aku ( Abu Ghalib )  berkata ; wahai abu Umamah, apakah ini pendapat yang keluar dari ra’yumu ? atau hadits yang kau dengar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ? ( jika dari ra’yuku ) maka sungguh aku sangat lancang – beliau mengatakannya tiga kali. Tapi ini adalah yang aku dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. ( HR. Ahmad , Tirmidzy , An-Nasa’y dll ).عن ابن عمر، عن النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم قال: (( مَن حَمَلَ علينا السِّلاحَ فليس منَّا ))Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; barang siapa membawa pedang ( menyerang ) kami ( kaum muslimin ) maka ia bukan dari golongan kami ( Muttafaq alaih ).قال صلى الله عليه و سلم (( ومَن خرج على أمَّتي يضرب برَّها وفاجرَها، ولا يتحاش من مؤمنها، ولا يفي لذي عهد عهدَه، فليس منِّي ولستُ منه ))Bersabda nabi shallallahu alaihi wa sallam ; barang siapa memerangi umatku membunuh orang baik dan orang fajirnya serta tidak berhati-hati dari orang mukminnya dan tidak menepati perjanjian kepada yang membuat perjanjian dengan mereka maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya.( HSR. Muslim no 1848). Mereka ini jika memasuki masjid – masjid kaum muslimin, menganggap dirinya saja  yang paling afdhol dan paling di atas tauhid dan sunnah.عن أنس قال صلى الله عليه و سلم : ناشدتك بالله ، هل حدثت نفسك حين طلعت علينا : أن ليس في القوم أفضل منك ؟ فقال : اللهم نعم . فدخل المسجد يصليDari Anas ibn malik bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ( kepada seorang khawarij ) ; Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah jiwamu berkata kepadamu saat kau mendatangi kami bahwa tidak ada seorang pun di sini yang lebih afdhol darimu ? Ia menjawab ;  iya. Lalu ia pun masuk masjid dan shalat.( HR. Ahmad , Abu Ya’la ).Sebagian mereka menyesatkan seluruh muslimin kecuali yang mereka kenal saja.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ . فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ ». قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ لاَ أَدْرِى أَهْلَكَهُمْ بِالنَّصْبِ أَوْ أَهْلَكُهُمْ بِالرَّفْعِ.Dari Abu hurairoh bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; apabila seorang mengatakan ; manusia binasa . maka dialah yang paling binasa atau yang membinasakan mereka. (HR. Muslim ) Sebagaimana pendahulu mereka yaitu Dzulkhuwaishiroh menganggap dirinya lebih bertaqwa daripada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُDari Abu Said Alkhudry rodhiyAllahu anhu berkata ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau membagi ghanimah , datanglah Dzulkhuwaishiroh seorang dari bani tamim lalu ia berkata : Ya Rasulullah, berbuat adillah. Lalu Nabi berkata ; celaka engkau, siapakah yang akan adil ( dari umara setelahku ) jika aku tidak adil. Engkau pasti celaka ( jika meyakini ) aku tidak adil.( HR. Bukhary ).Mereka akan terus terpecah menjadi faksi-faksi yang saling mengkafirkan dan membidahkan, demikianlah ahli bidah di setiap zaman.Berkata Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh ;والبدعة مقرونة بالفرقة كما ان السنة مقرونة بالجماعة فيقال أهل السنة والجماعة كما يقال أهل البدعة والفرقةBid’ah identik dengan furqoh/perpecahan sebagaimana Sunnah identik dengan jamaah/persatuan. Sehingga disebut ahli sunnah wal jamaah sebagaimana disebut pula Ahli bidah walfurqoh.(Al Istiqomah 1/42)Kaum khawarij modern ini tidak akan membuka diri terhadap selain kelompoknya, walau pun kepada dosen-dosen mereka , bahkan mereka tidak  mengakui guru-guru mereka tersebut, bak Malin Kundang yang tak mengakui orang tuanya. Serta tidak menyebarkan rahmat kepada kaum muslimin, bahkan menyebarkan kebencian terhadap mereka. Padahal ahlussunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling menyayangi manusia.قال يحيى بن معاذ العلماء أرحم بأمة محمد صلى الله عليه وسلم من آبائهم وأمهاتهم قيل وكيف ذلك قال لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا وهم يحفظونهم من نار الآخرةBerkata Yahya bin Mu’aadz rahimahulloh ; Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam daripada ayah dan ibu mereka, mengapa demikian ? Karena ayah dan ibu mereka melindungi mereka dari neraka dunia sedang para ulama melindungi mereka dari neraka akhirat.(Ihya Ulumuddin 1/11)Catatan Kaki:—————[1] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.[2]Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.


Oleh : Abdul Hakim bin Muhammad Al-Jawy, Lc Surat terbuka untuk saudaraku yang tersesat…para teroris yang bernasib tragis… Wahai saudaraku,Aku tahu bahwa engkau ingin menjadi pembela tauhid…Penebar rasa takut bagi para thoghut terlaknat dan kaum munafiqin…Ghuroba sejati di atas kemurnian tauhid…Berbicara tentang hak Allah saat manusia berebut hak mereka masing-masing….Saat sebagian dari di berbeda pendapat karena beda pendapatan….Saat sebagian yang disebut ulama sibuk menghitung komisi…Dan yang lain bergelak menghitung jumlah istri…Saat itu engkau bersujud di lantai jeruji yang tak kenal siang dari malam…Seraya lidahmu melantunkan kalam suci yang terkumpul di dadamu… Saudaraku yang kucintai dari lubuk hati,Adakah engkau meyakini saat itu engkau telah sampai kebenaran hakiki…?Menjadi tangan kanan dari para mursalin…?Ataukah justru engkau kini menjadi tangan kiri dari iblis…?Yang mengajak ke neraka dengan menebar aroma surga…?Memasukkan racun kedalam cawan madu…?Masih tersisakah rasa takut di dasar hatimu bahwa engkau telah tersesat dan menjadi alat bagi iblis dan tentaranya yang berniat jahat kepada anak adam agar mereka binasa di atas kekufuran sehingga kekal bersamanya dalam neraka..? Wahai yang tidak berdiri di sejengkal bumi Allah kecuali engkau membaca kalam Penciptamu dari hafalanmu…yang setiap pekan engkau khatamkan Al-Quran tanpa melihat mushaf.., tidakkah engkau takut terhadap sabda Nabimu shallallahu alaihi wa sallamعن حذيفة رضي الله عنه قال صلى الله عليه و سلم : إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن, حتى إذا رئيت بهجته عليه و كان ردءاً للإسلام , انسلخ منه و نبذه وراء ظهره , و سعى على جاره بالسيف و رماه بالشرك , قلت يا نبي الله ! أيهما أولى بالشرك : الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي ( رواه البخاري في التاريخ و أبو يعلى و ابن حبان و البزار , انظر الصحيحة للألباني ٣٢۰١ )Dari Hudaifah rodhiyAllahu anhu bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah jika ada seorang yang telah menghafal alquran sampai tatkala telah dikenal kualitasnya dan menjadi benteng bagi Islam, lalu ia melepaskan diri darinya dan membuangnya ke belakang punggungnya, dan berusaha mencelakai tetangganya dengan pedang serta menuduhnya dengan kesyirikan. Aku berkata ; Wahai Nabi Allah siapakah yang lebih pantas disifati dengan kesyirikan? Yang menuduh atau yang dituduh? Beliau bersabda ; bahkan si penuduh. (HR.Bukhary dalam At-Taariikh, Abu Ya’la dll, lihat As-Shahihah  karya Al-Albani no 3201)Bukankah ada yang membaca alquran namun ia tersesat… ?عن عائشة رضي الله عنها قالت : إن النبي صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية : هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات – إلى قوله عز وجل – وما يذكر إلا أولو الألباب ، فقال صلى الله عليه وسلم : يا عائشة ، إذا رأيتم الذين يجادلون فيه ، فهم الذين عنى الله عز وجل ، فاحذروهم ( الشريعة للآجري – (1 / 23)Dari Aisyah rodhiyAllahu anha berkata sungguh Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini ; ((Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[1] , Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal)) (QS. Ali Imran 7). Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; “Wahai Aisyah jika engkau menjumpai orang-orang yang suka berdebat tentang ayat mutasyabihat maka mereka itulah yang Allah maksud ( dalam ayat ini ) maka berhati-hatilah dari mereka” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Thobroni, Ath-Thohawi, dan ibnu Hibbaan. Syu’ab Al-Arna’uuth berkata : “Isnadnya Shahih sesuai dengan persyaratan Shahihain)عن سعيد بن جبير في قول الله عز وجل وأخر متشابهات قال : أما المتشابهات فهن آي في القرآن يتشابهن على الناس إذا قرؤوهن ، من أجل ذلك يضل من ضل ممن ادعى هذه الكلمة كل فرقة يقرؤون آيات من القرآن ، ويزعمون أنها لهم أصابوا بها الهدى .ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون . ويقرؤون معها : ثم الذين كفروا بربهم يعدلون فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفرعدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآيةDari Said bin Jubair saat beliau menerangkan ayat mutasyabihat ; “Adapun mutasyabihat adalah ayat-ayat dalam alquran yang tersamar  atas sebagian manusia saat mereka membacanya karena itulah tersesat orang yang sesat dari setiap yang mengklaim kebenaran. Setiap kelompok menggunakan ayat – ayat dari alquran, mereka mengira ayat tersebut mendukung mereka sehingga menepati kebenaran. Dan termasuk ayat mutasyabihat yang digunakan oleh Haruriyah ( khawarij ) adalah : Almaidah 44: ((Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir)).Mereka lalu menggabungkannya dengan Al-An’aam 1 ; ((Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka)). Maka ketika mereka melihat imam memutuskan tidak sesuai kebenaran mereka katakan ia telah kafir dan yang kafir telah mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan, maka ia  telah musyrik, maka para pemerintah itu kafir lalu mereka memberontak dan melakukan apa yang engkau lihat karena mereka mencari-cari takwil ayat ini.” (Kitab Asy-Syari’ah karya Al-Aajurry : 1/24) Wahai yang berhati beringas kepada orang yang masih berucap subhana robbiyal a’la , bukankah engkau mengetahui bahwa Allah memerintahkan Musa ‘alaihis salaam untuk berlemah-lembut kepada Firaun yang telah berucap ana robbukumul a’laa “Aku adalah Tuhan kalian yang tertinggi” dan mendapat vonis resmi sebagai thoghut oleh Sang Maha Kuasa..اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah menjadi thoghut. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.( Thoha 43-44)Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan nama –nama munafiq Madinah kepada Hudaifah Ibnul Yaman rodhiyAllahu anhu, bukankan Hudzaifah menyembunyikan nama-nama tersebut?, tidakkah engkau berqudwah kepada manhaj Nabi kita yang mulia shallallahu alaihi wa sallam ?عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِDari Aisyah bahwa ada seorang yang meminta izin (bertamu)  kepada  Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau berkata ; dia adalah seburuk-buruk orang, namun ketika telah duduk, Nabi shallallahu alaihi wasallam bemuka manis dan berlemah lembut kepadanya. Ketika orang itu telah pergi maka Aisyah berkata Wahai Rasulullah, ketika engkau pertama kali melihatnya engkau mengatakan demikian dan demikian, namun (saat duduk bersamanya ), engkau bermuka manis dan berlemah lembut kepadanya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “wahai Aisyah kapankah engkau pernah mendapatiku sebagai seorang yang bejat akhlaknya. Sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah yang dijauhi manusia karena takut dari gangguannya.” ( Muttafaq alaih )Inilah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam yang akhlaqnya adalah Alquran. Ketika Allah berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَKatakanlah ; Hai orang –orang kafir (QS Al-Kafirun : 1)قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu Sementara waktu; Sesungguhnya kamu Termasuk penghuni neraka”. (QS Az-Zumar : 8)قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِKatakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS Ibrahim : 30)Pernahkah Nabi kita alaihi shalatu wassalaam memahami  perintah tersebut  seperti pemahaman kalian yang meneriaki mereka dengan vonis takfir jalanan yang liar? Ataukah kalian lebih bertaqwa dari  Beliau shallallahu alaihi wasallam? Ataukah pilihan yang ketiga yaitu ayat ini seperti firman Allah subhanahu wa taala ;قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِKatakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (QS Ali Imron : 119)Yang tidak pernah samasekali Nabi shallallahu alaihi wasallam ucapkan, sebab jika Beliau ucapkan niscaya matilah mereka semua karena doa beliau yang mustajab.Beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat bersemangat agar manusia mendapat hidayah kemudian masuk surga Allah Jalla wa Alaa, dan bukan seorang yang ingin manusia mati di atas kekufuran kemudian digiring seluruhnya ke neraka karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta bukan sebagai adzab bagi alam semesta. Lihatlah dari pertempuran yang beliau pimpin, tidak pernah beliau membunuh seorang pun dari kaum kuffar kecuali Ubay ibn Kholaf, itu pun dalam rangka mempertahankan diri.عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًاDari ibnu Umar radhiyAllahu anhuma bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ; seorang mukmin akan senantiasa dalam kelapangan agamanya selama tidak menumpahkan darah yang haram ( HR. Bukhary ).Beliau shallallahu alaihi wa sallam sangat memahami saat terjadi fathu makkah bahwa banyak di antara mereka  yang berpura –pura masuk Islam, namun demikianlah hidayah masuk ke hati seorang sedikit demi sedikit.عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَىْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللَّهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِى عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا.Dari Anas  bahwa ada seorang yang meminta  kepada Nabi shallallahu alihi wa sallam kambing sebanyak (lembah) antara dua bukit lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memberinya kemudian orang tadi mendatangi kaumnya seraya berkata, “wahai kaumku masuk Islamlah, karena Demi Allah , Muhammad telah memberiku pemberian yang tidak takut kefakiran.” Berkata Anas, ” Sungguh saat itu banyak orang yang masuk Islam namun tidak menginginkan kecuali dunia, tetapi setelah berIslam sungguh Islam lebih mereka cintai daripada dunia dan seluruh isinya.” ( HR. Muslim)Berkata Al Imam Ibnu Taimiyah rahimahulloh :فعامة الناس إذا أسلموا بعد كفر أو ولدوا على الإسلام والتزموا شرائعه، وكانوا من أهل الطاعة للّه ورسوله، فهم مسلمون ومعهم إيمان مجمل، ولكن دخول حقيقة الإيمان إلى قلوبهم إنما يحصل شيئًا فشيئًا إن أعطاهم اللّه ذلك، وإلا فكثير من الناس لا يصلون لا إلى اليقين ولا إلى الجهاد، ولو شُكِّكوا لشَكُّوا، ولو أمروا بالجهاد لما جاهدوا، وليسوا كفاراً ولا منافقين، بل ليس عندهم من علم القلب ومعرفته ويقينه ما يدرأ الرَّيْبَ، ولا عندهم من قوة الحب للّه ولرسوله ما يقدمونه على الأهل والمال، وهؤلاء إن عوفوا من المحنة وماتوا دخلوا الجنة، وإن ابتلوا بمن يورد عليهم شبهات توجب ريبهم، فإن لم ينعم اللّه عليهم بما يزيل الريب، وإلا صاروا مرتابين، وانتقلوا إلى نوع من النفاق .“Maka kebanyakan manusia jika masuk Islam setelah kekufuran atau dilahirkan di atas Islam dan menjalankan syariatnya, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka adalah muslimun yang memiliki iman secara mujmal/global. Akan tetapi masuknya hakikat  keimanan kepada hati mereka adalah terjadi sedikit demi sedikit jika Allah memberikannya kepada mereka. Dan kebanyakan manusia tidak sampai kepada derajat yakin dan jihad. Jika mereka ini dibuat ragu, niscaya mereka ragu, jika diperintah jihad niscaya mereka tidak mau. Namun mereka ini bukanlah Kafir dan bukan pula munafiq. Hanya saja mereka tidak memiliki ilmu dan ma’rifah serta keyakinan hati yang membentengi dari keraguan, tidak pula mereka memiliki kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang mereka utamakan di atas keluarga dan harta…” (Al-Iman 2/350)Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersama umumnya kaum muslimin , menasehati mereka dan bersabar atas gangguan mereka,عن معاذ رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : وعليكم بالعامة والجماعة والمساجدDari Muadz radhiyAllahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk selalu bersama umumnya  kaum muslimin, jamaah serta masjid –masjid mereka” ( HR. Thabrany di Al-Mu’jam Al-Kabiir 20/164). Fenomena ekslusifitas generasi muda yang mempelajari agama pada hari ini adalah hal yang patut disayangkan. Sebab, jika hamasah syabbab (para pemuda) berpadu dengan hikmah/sikap bijak syuyukh (para ulama) niscaya mereka terus di atas petunjuk. Sebagian mereka memusuhi orang umum kaum muslimin karena di anggap kafir murtad  dan sebagian memandang orang umum sesat karena di anggap ahli bidah. Takfiriyun dan tabdi’iyun ini lebih menyibukkan diri dengan kitab-kitab mutaakhirin. Menjadikan ucapan ulama kholaf dan kitab mereka seperti talmud yang dihafalkan dan mengalahkan kitab suci. Yang satu khawarij kepada umara dan yang lain khawarij kepada ulama. Bahkan sibuk mengkotak-kotakkan manusia di atas hizbiyah berkedok klaim ahlisunnah. Menganggap diri mereka sebagai representasi kebenaran, yang sama, duduk dan kenal baik dengan mereka adalah ahlisunnah dan yang tidak demikian adalah ahli bidah walaupun di atas hujjah salafiyah.قيل للحسن : يا أبا سعيد ، خرج خارجي بالخريبة – محلة عند البصرة – فقال : المسكين رأى منكراً فأنكره ، فوقع فيما هو أنكر منه .Alhasan Albashry pernah ditanya, “wahai Aba said, telah keluar seorang khawarij di Kharibah”, maka beliau berkata, “Kasihan ( orang khawarij ini) , ia melihat kemungkaran lalu mengingkarinya tapi ternyata terjadi hal yang lebih munkar lagi. (Asy-Syari’ah li Al-Aajurry 1/25)عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان ، سفهاء الأحلام ، يقولون من خير قول الناس ، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرميةDari Abdulloh ibn mas’ud berkata ; bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ; akan keluar di akhir zaman satu kaum yang muda-muda usia mereka, bodoh angan-angan mereka, berbicara dengan sebaik-baik ucapan manusia. mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari buruannya ( HR.Ahmad , tirmidzy , Ibnu Majah dll )Sebelum mempelajari Islam mereka membunuh, merampok , menipu dan menyakiti manusia , lalu setelah belajar Islam dan bertaubat kemudian menjadi khawarij, mereka kembali membunuh dan merampok kaum muslimin dengan alasan jihad kepada murtaddin, menginjak-injak harga diri dan mentololkan kaum muslimin  dan ulama mereka dengan alasan mereka adalah ahli bidah. Persis seperti anak panah  yang  menembus binatang buruan dan tidak berbekas samasekali ajaran akhlak Islam dalam ucapan dan perbuatan mereka.أبو غالب : أنه سمع أبا أمامة رضي الله تعالى عنه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : خرجت خارجة بالشام فقتلوا ، وألقوا في جب ، أو في بئر ، فأقبل أبو أمامة رضي الله وأنا معه ، حتى وقف عليهم ، ثم بكى ، ثم قال : سبحان الله ، ما فعل الشيطان بهذه الأمة ؟ كلاب النار ، كلاب النار ، كلاب النار – ثلاثا – شر قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء ، خير قتلى تحت ظل السماء من قتلوه ، قلت : يا أبا أمامة ، أشيء تقول برأيك ، أم شيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء ، إني إذا لجريء – ثلاثا – بل سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم غير مرة ، ولا مرتين ، ولا ثلاثا ، حتى عد عشراًDari Abu ghalib ia mendengar Abu Umamah radhiyAllahu anhu seorang dari shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam  berkata ; telah keluar khawarij di syam lalu mereka membunuhnya dan melemparnya ke sumur kemudian Abu Umamah mengajakku mendatanginya sampai beliau berdiri di atas mereka , beliau menangis, lalu berkata ; SubhanAllah, apakah yang telah dilakukan  Syaithon (untuk menyesatkan ) umat ini ? Anjing –anjing neraka –tiga kali beliau menyebutkannya-. ( mereka adalah) seburuk-buruk mayat di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik jenazah di bawah kolong langit adalah yang mereka bunuh. Aku ( Abu Ghalib )  berkata ; wahai abu Umamah, apakah ini pendapat yang keluar dari ra’yumu ? atau hadits yang kau dengar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ? ( jika dari ra’yuku ) maka sungguh aku sangat lancang – beliau mengatakannya tiga kali. Tapi ini adalah yang aku dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. ( HR. Ahmad , Tirmidzy , An-Nasa’y dll ).عن ابن عمر، عن النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم قال: (( مَن حَمَلَ علينا السِّلاحَ فليس منَّا ))Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; barang siapa membawa pedang ( menyerang ) kami ( kaum muslimin ) maka ia bukan dari golongan kami ( Muttafaq alaih ).قال صلى الله عليه و سلم (( ومَن خرج على أمَّتي يضرب برَّها وفاجرَها، ولا يتحاش من مؤمنها، ولا يفي لذي عهد عهدَه، فليس منِّي ولستُ منه ))Bersabda nabi shallallahu alaihi wa sallam ; barang siapa memerangi umatku membunuh orang baik dan orang fajirnya serta tidak berhati-hati dari orang mukminnya dan tidak menepati perjanjian kepada yang membuat perjanjian dengan mereka maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya.( HSR. Muslim no 1848). Mereka ini jika memasuki masjid – masjid kaum muslimin, menganggap dirinya saja  yang paling afdhol dan paling di atas tauhid dan sunnah.عن أنس قال صلى الله عليه و سلم : ناشدتك بالله ، هل حدثت نفسك حين طلعت علينا : أن ليس في القوم أفضل منك ؟ فقال : اللهم نعم . فدخل المسجد يصليDari Anas ibn malik bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ( kepada seorang khawarij ) ; Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah jiwamu berkata kepadamu saat kau mendatangi kami bahwa tidak ada seorang pun di sini yang lebih afdhol darimu ? Ia menjawab ;  iya. Lalu ia pun masuk masjid dan shalat.( HR. Ahmad , Abu Ya’la ).Sebagian mereka menyesatkan seluruh muslimin kecuali yang mereka kenal saja.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ . فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ ». قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ لاَ أَدْرِى أَهْلَكَهُمْ بِالنَّصْبِ أَوْ أَهْلَكُهُمْ بِالرَّفْعِ.Dari Abu hurairoh bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ; apabila seorang mengatakan ; manusia binasa . maka dialah yang paling binasa atau yang membinasakan mereka. (HR. Muslim ) Sebagaimana pendahulu mereka yaitu Dzulkhuwaishiroh menganggap dirinya lebih bertaqwa daripada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُDari Abu Said Alkhudry rodhiyAllahu anhu berkata ketika kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau membagi ghanimah , datanglah Dzulkhuwaishiroh seorang dari bani tamim lalu ia berkata : Ya Rasulullah, berbuat adillah. Lalu Nabi berkata ; celaka engkau, siapakah yang akan adil ( dari umara setelahku ) jika aku tidak adil. Engkau pasti celaka ( jika meyakini ) aku tidak adil.( HR. Bukhary ).Mereka akan terus terpecah menjadi faksi-faksi yang saling mengkafirkan dan membidahkan, demikianlah ahli bidah di setiap zaman.Berkata Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh ;والبدعة مقرونة بالفرقة كما ان السنة مقرونة بالجماعة فيقال أهل السنة والجماعة كما يقال أهل البدعة والفرقةBid’ah identik dengan furqoh/perpecahan sebagaimana Sunnah identik dengan jamaah/persatuan. Sehingga disebut ahli sunnah wal jamaah sebagaimana disebut pula Ahli bidah walfurqoh.(Al Istiqomah 1/42)Kaum khawarij modern ini tidak akan membuka diri terhadap selain kelompoknya, walau pun kepada dosen-dosen mereka , bahkan mereka tidak  mengakui guru-guru mereka tersebut, bak Malin Kundang yang tak mengakui orang tuanya. Serta tidak menyebarkan rahmat kepada kaum muslimin, bahkan menyebarkan kebencian terhadap mereka. Padahal ahlussunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling menyayangi manusia.قال يحيى بن معاذ العلماء أرحم بأمة محمد صلى الله عليه وسلم من آبائهم وأمهاتهم قيل وكيف ذلك قال لأن آباءهم وأمهاتهم يحفظونهم من نار الدنيا وهم يحفظونهم من نار الآخرةBerkata Yahya bin Mu’aadz rahimahulloh ; Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam daripada ayah dan ibu mereka, mengapa demikian ? Karena ayah dan ibu mereka melindungi mereka dari neraka dunia sedang para ulama melindungi mereka dari neraka akhirat.(Ihya Ulumuddin 1/11)Catatan Kaki:—————[1] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.[2]Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

Infaq Operasional Radio FM

20DecInfaq Operasional Radio FMDecember 20, 2013Ponpes Tunas Ilmu Infaq Operasional Radio FM Alhamdulillah Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengujicobakan siaran Radio FM digelombang 88 fm dengan brand nama Radio INSANI (akronim dari Inspiratif Santun dan Islami). Semoga bisa menginsiprasi dengan santun terhadap masyarakat agar hidup lebih islami, amien. Demi menunjang keberlangsungan Radio tersebut, kami mengundang Anda semua untuk berpartisipasi memberi donasi guna menunjang operasional Radio dan pengembangan peralatannya. Kirimkan infaq / donasi Anda ke Rekening Mandiri Syariah 7051656727. Atas Nama Yayasan Tunas Ilmu. Konfirmasi infaq / donasi ke nomer: 0815-783-44868 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Infaq Operasional Radio FM

20DecInfaq Operasional Radio FMDecember 20, 2013Ponpes Tunas Ilmu Infaq Operasional Radio FM Alhamdulillah Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengujicobakan siaran Radio FM digelombang 88 fm dengan brand nama Radio INSANI (akronim dari Inspiratif Santun dan Islami). Semoga bisa menginsiprasi dengan santun terhadap masyarakat agar hidup lebih islami, amien. Demi menunjang keberlangsungan Radio tersebut, kami mengundang Anda semua untuk berpartisipasi memberi donasi guna menunjang operasional Radio dan pengembangan peralatannya. Kirimkan infaq / donasi Anda ke Rekening Mandiri Syariah 7051656727. Atas Nama Yayasan Tunas Ilmu. Konfirmasi infaq / donasi ke nomer: 0815-783-44868 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
20DecInfaq Operasional Radio FMDecember 20, 2013Ponpes Tunas Ilmu Infaq Operasional Radio FM Alhamdulillah Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengujicobakan siaran Radio FM digelombang 88 fm dengan brand nama Radio INSANI (akronim dari Inspiratif Santun dan Islami). Semoga bisa menginsiprasi dengan santun terhadap masyarakat agar hidup lebih islami, amien. Demi menunjang keberlangsungan Radio tersebut, kami mengundang Anda semua untuk berpartisipasi memberi donasi guna menunjang operasional Radio dan pengembangan peralatannya. Kirimkan infaq / donasi Anda ke Rekening Mandiri Syariah 7051656727. Atas Nama Yayasan Tunas Ilmu. Konfirmasi infaq / donasi ke nomer: 0815-783-44868 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


20DecInfaq Operasional Radio FMDecember 20, 2013Ponpes Tunas Ilmu Infaq Operasional Radio FM Alhamdulillah Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengujicobakan siaran Radio FM digelombang 88 fm dengan brand nama Radio INSANI (akronim dari Inspiratif Santun dan Islami). Semoga bisa menginsiprasi dengan santun terhadap masyarakat agar hidup lebih islami, amien. Demi menunjang keberlangsungan Radio tersebut, kami mengundang Anda semua untuk berpartisipasi memberi donasi guna menunjang operasional Radio dan pengembangan peralatannya. Kirimkan infaq / donasi Anda ke Rekening Mandiri Syariah 7051656727. Atas Nama Yayasan Tunas Ilmu. Konfirmasi infaq / donasi ke nomer: 0815-783-44868 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

JANGAN RAGU UNTUK MEMBLOKIR… (Fatwa Syaikh Sa’ad Al-Khotslaan hafizohulloh, anggota kibaarul Ulama)

Syaikh Sa’ad Al-Khotslan memberi nasehat ; ((Sesungguhnya kaidah syari’at menunjukkan bahwa barang siapa yang menyebabkan orang lain mendapatkan hidayah maka ia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan barang siapa yang menyebabkan orang lain tersesat maka ia juga mendapatkan dosa orang-orang yang mengikutinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : من دعا إلى هدى كان له من الأجره مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزار من تبعه لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئاً“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahala mereka sama sekali. Barang siapa yang menyeru kepada kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sama sekali” Atas dasar ini maka barang siapa yang menyebabkan orang lain terjatuh dalam celaan dan makian serta tuduhan (yang tidak benar), sama saja apakah pada sarana-sarana komunikasi sosial seperti twitter, facebook…, demikian juga grup-grup yang dibuat di whatsapp, maka admin grup-grup tersebut memikul tanggung jawab (akan hal ini). Jika admin mendapati ada yang mencela, memaki, atau meletakkan (mengupload) klip-klip (suara, foto, dan video-pen) maka wajib bagi admin untuk memberi nasehat kepadanya. Jika terulang lagi darinya maka hendaknya admin memberi peringatan, dan jika ia tetap ngeyel maka hendaknya admin menghapusnya. Kalau tidak maka admin bertanggung jawab atas apa yang terjadi di grup-grup tersebut. Demikian juga semua yang menyebabkan timbulnya kemaksiatan maka ia akan mendapatkan dosa orang-orang yang mengikuti kemaksiatan tersebut. Karenanya hendaknya perlu diperhatikan hal ini, terutama pada sarana-sarana tekhnologi yang modern, barang siapa yang hendak membuat grup dan yang lainnya dari sarana modern maka hendaknya ia memperhatikan hal ini, dan hendaknya ia selalu mengingat bahwasanya seluruh maksiat yang timbul karenanya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya” Silahkan dengar fatwa beliau di bawah ini{youtube}70tgWyBZSDw{/youtube}Karenanya bagi para pengguna Facebook atau whatsApp hendaknya jangan ragu untuk meremove atau memblokir anggota groupnya atau temannya atau followernya yang ternyata menyebabkan kegaduhan dan menimbulkan kemaksiatan dalam akunnya. Dan ia tidak perlu malu atau sungkan kepada orang yang akan diblokirnya tersebut, demi kemaslahatan anggota-anggota group yang lainnya. Terlebih lagi banyak akun-akun yang tidak dikenal dan menggunakan nama samaran atau kunyah yang tidak jelas. Sehingga tatkala seseorang tidak dikenal (majhul) maka akan hilang rasa malunya, dan ia bebas menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa pernah menimbang apapun, karena ia tahu dirinya tidak dikenal dan tidak bakalan ketahuan. Bisa jadi seseorang melayani seorang pemilik akun yang tidak jelas dalam perdebatan, ternyata akun tersebut milik orang kafir, atau milik pelaku maksiat, atau pelaku dosa besar, atau seorang wanita yang mengaku sebagai lelaki atau sebaliknya, atau ternyata seorang anak kecil…maka akhirnya iapun menurunkan martabatnya dengan melayani akun-akun yang tidak jelas tersebut. Yang seandainya pemilik akun tersebut diketahui jati dirinya dan bertemu langsung maka ia akan ketakutan dan lari dari perdebatan… Wallahu A’lam bis-showaab 

JANGAN RAGU UNTUK MEMBLOKIR… (Fatwa Syaikh Sa’ad Al-Khotslaan hafizohulloh, anggota kibaarul Ulama)

Syaikh Sa’ad Al-Khotslan memberi nasehat ; ((Sesungguhnya kaidah syari’at menunjukkan bahwa barang siapa yang menyebabkan orang lain mendapatkan hidayah maka ia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan barang siapa yang menyebabkan orang lain tersesat maka ia juga mendapatkan dosa orang-orang yang mengikutinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : من دعا إلى هدى كان له من الأجره مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزار من تبعه لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئاً“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahala mereka sama sekali. Barang siapa yang menyeru kepada kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sama sekali” Atas dasar ini maka barang siapa yang menyebabkan orang lain terjatuh dalam celaan dan makian serta tuduhan (yang tidak benar), sama saja apakah pada sarana-sarana komunikasi sosial seperti twitter, facebook…, demikian juga grup-grup yang dibuat di whatsapp, maka admin grup-grup tersebut memikul tanggung jawab (akan hal ini). Jika admin mendapati ada yang mencela, memaki, atau meletakkan (mengupload) klip-klip (suara, foto, dan video-pen) maka wajib bagi admin untuk memberi nasehat kepadanya. Jika terulang lagi darinya maka hendaknya admin memberi peringatan, dan jika ia tetap ngeyel maka hendaknya admin menghapusnya. Kalau tidak maka admin bertanggung jawab atas apa yang terjadi di grup-grup tersebut. Demikian juga semua yang menyebabkan timbulnya kemaksiatan maka ia akan mendapatkan dosa orang-orang yang mengikuti kemaksiatan tersebut. Karenanya hendaknya perlu diperhatikan hal ini, terutama pada sarana-sarana tekhnologi yang modern, barang siapa yang hendak membuat grup dan yang lainnya dari sarana modern maka hendaknya ia memperhatikan hal ini, dan hendaknya ia selalu mengingat bahwasanya seluruh maksiat yang timbul karenanya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya” Silahkan dengar fatwa beliau di bawah ini{youtube}70tgWyBZSDw{/youtube}Karenanya bagi para pengguna Facebook atau whatsApp hendaknya jangan ragu untuk meremove atau memblokir anggota groupnya atau temannya atau followernya yang ternyata menyebabkan kegaduhan dan menimbulkan kemaksiatan dalam akunnya. Dan ia tidak perlu malu atau sungkan kepada orang yang akan diblokirnya tersebut, demi kemaslahatan anggota-anggota group yang lainnya. Terlebih lagi banyak akun-akun yang tidak dikenal dan menggunakan nama samaran atau kunyah yang tidak jelas. Sehingga tatkala seseorang tidak dikenal (majhul) maka akan hilang rasa malunya, dan ia bebas menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa pernah menimbang apapun, karena ia tahu dirinya tidak dikenal dan tidak bakalan ketahuan. Bisa jadi seseorang melayani seorang pemilik akun yang tidak jelas dalam perdebatan, ternyata akun tersebut milik orang kafir, atau milik pelaku maksiat, atau pelaku dosa besar, atau seorang wanita yang mengaku sebagai lelaki atau sebaliknya, atau ternyata seorang anak kecil…maka akhirnya iapun menurunkan martabatnya dengan melayani akun-akun yang tidak jelas tersebut. Yang seandainya pemilik akun tersebut diketahui jati dirinya dan bertemu langsung maka ia akan ketakutan dan lari dari perdebatan… Wallahu A’lam bis-showaab 
Syaikh Sa’ad Al-Khotslan memberi nasehat ; ((Sesungguhnya kaidah syari’at menunjukkan bahwa barang siapa yang menyebabkan orang lain mendapatkan hidayah maka ia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan barang siapa yang menyebabkan orang lain tersesat maka ia juga mendapatkan dosa orang-orang yang mengikutinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : من دعا إلى هدى كان له من الأجره مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزار من تبعه لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئاً“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahala mereka sama sekali. Barang siapa yang menyeru kepada kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sama sekali” Atas dasar ini maka barang siapa yang menyebabkan orang lain terjatuh dalam celaan dan makian serta tuduhan (yang tidak benar), sama saja apakah pada sarana-sarana komunikasi sosial seperti twitter, facebook…, demikian juga grup-grup yang dibuat di whatsapp, maka admin grup-grup tersebut memikul tanggung jawab (akan hal ini). Jika admin mendapati ada yang mencela, memaki, atau meletakkan (mengupload) klip-klip (suara, foto, dan video-pen) maka wajib bagi admin untuk memberi nasehat kepadanya. Jika terulang lagi darinya maka hendaknya admin memberi peringatan, dan jika ia tetap ngeyel maka hendaknya admin menghapusnya. Kalau tidak maka admin bertanggung jawab atas apa yang terjadi di grup-grup tersebut. Demikian juga semua yang menyebabkan timbulnya kemaksiatan maka ia akan mendapatkan dosa orang-orang yang mengikuti kemaksiatan tersebut. Karenanya hendaknya perlu diperhatikan hal ini, terutama pada sarana-sarana tekhnologi yang modern, barang siapa yang hendak membuat grup dan yang lainnya dari sarana modern maka hendaknya ia memperhatikan hal ini, dan hendaknya ia selalu mengingat bahwasanya seluruh maksiat yang timbul karenanya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya” Silahkan dengar fatwa beliau di bawah ini{youtube}70tgWyBZSDw{/youtube}Karenanya bagi para pengguna Facebook atau whatsApp hendaknya jangan ragu untuk meremove atau memblokir anggota groupnya atau temannya atau followernya yang ternyata menyebabkan kegaduhan dan menimbulkan kemaksiatan dalam akunnya. Dan ia tidak perlu malu atau sungkan kepada orang yang akan diblokirnya tersebut, demi kemaslahatan anggota-anggota group yang lainnya. Terlebih lagi banyak akun-akun yang tidak dikenal dan menggunakan nama samaran atau kunyah yang tidak jelas. Sehingga tatkala seseorang tidak dikenal (majhul) maka akan hilang rasa malunya, dan ia bebas menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa pernah menimbang apapun, karena ia tahu dirinya tidak dikenal dan tidak bakalan ketahuan. Bisa jadi seseorang melayani seorang pemilik akun yang tidak jelas dalam perdebatan, ternyata akun tersebut milik orang kafir, atau milik pelaku maksiat, atau pelaku dosa besar, atau seorang wanita yang mengaku sebagai lelaki atau sebaliknya, atau ternyata seorang anak kecil…maka akhirnya iapun menurunkan martabatnya dengan melayani akun-akun yang tidak jelas tersebut. Yang seandainya pemilik akun tersebut diketahui jati dirinya dan bertemu langsung maka ia akan ketakutan dan lari dari perdebatan… Wallahu A’lam bis-showaab 


Syaikh Sa’ad Al-Khotslan memberi nasehat ; ((Sesungguhnya kaidah syari’at menunjukkan bahwa barang siapa yang menyebabkan orang lain mendapatkan hidayah maka ia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan barang siapa yang menyebabkan orang lain tersesat maka ia juga mendapatkan dosa orang-orang yang mengikutinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : من دعا إلى هدى كان له من الأجره مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزار من تبعه لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئاً“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahala mereka sama sekali. Barang siapa yang menyeru kepada kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa mereka sama sekali” Atas dasar ini maka barang siapa yang menyebabkan orang lain terjatuh dalam celaan dan makian serta tuduhan (yang tidak benar), sama saja apakah pada sarana-sarana komunikasi sosial seperti twitter, facebook…, demikian juga grup-grup yang dibuat di whatsapp, maka admin grup-grup tersebut memikul tanggung jawab (akan hal ini). Jika admin mendapati ada yang mencela, memaki, atau meletakkan (mengupload) klip-klip (suara, foto, dan video-pen) maka wajib bagi admin untuk memberi nasehat kepadanya. Jika terulang lagi darinya maka hendaknya admin memberi peringatan, dan jika ia tetap ngeyel maka hendaknya admin menghapusnya. Kalau tidak maka admin bertanggung jawab atas apa yang terjadi di grup-grup tersebut. Demikian juga semua yang menyebabkan timbulnya kemaksiatan maka ia akan mendapatkan dosa orang-orang yang mengikuti kemaksiatan tersebut. Karenanya hendaknya perlu diperhatikan hal ini, terutama pada sarana-sarana tekhnologi yang modern, barang siapa yang hendak membuat grup dan yang lainnya dari sarana modern maka hendaknya ia memperhatikan hal ini, dan hendaknya ia selalu mengingat bahwasanya seluruh maksiat yang timbul karenanya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya” Silahkan dengar fatwa beliau di bawah ini{youtube}70tgWyBZSDw{/youtube}Karenanya bagi para pengguna Facebook atau whatsApp hendaknya jangan ragu untuk meremove atau memblokir anggota groupnya atau temannya atau followernya yang ternyata menyebabkan kegaduhan dan menimbulkan kemaksiatan dalam akunnya. Dan ia tidak perlu malu atau sungkan kepada orang yang akan diblokirnya tersebut, demi kemaslahatan anggota-anggota group yang lainnya. Terlebih lagi banyak akun-akun yang tidak dikenal dan menggunakan nama samaran atau kunyah yang tidak jelas. Sehingga tatkala seseorang tidak dikenal (majhul) maka akan hilang rasa malunya, dan ia bebas menyampaikan apa yang ada di kepalanya tanpa pernah menimbang apapun, karena ia tahu dirinya tidak dikenal dan tidak bakalan ketahuan. Bisa jadi seseorang melayani seorang pemilik akun yang tidak jelas dalam perdebatan, ternyata akun tersebut milik orang kafir, atau milik pelaku maksiat, atau pelaku dosa besar, atau seorang wanita yang mengaku sebagai lelaki atau sebaliknya, atau ternyata seorang anak kecil…maka akhirnya iapun menurunkan martabatnya dengan melayani akun-akun yang tidak jelas tersebut. Yang seandainya pemilik akun tersebut diketahui jati dirinya dan bertemu langsung maka ia akan ketakutan dan lari dari perdebatan… Wallahu A’lam bis-showaab 

Peringatan Hari Ibu bagi Muslim

Apakah boleh umat Islam turut memperingati hari ibu? Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbakti pada Ibu Lebih Utama Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ » “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331). Berbakti pada Ibu itu Setiap Waktu, Bukan Setahun Sekali Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Perintah berbakti di sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember saja, namun setiap waktu. Sebab Larangan Memperingati Hari Ibu bagi Muslim 1- Tasyabbuh dengan orang kafir Peringatan hari ibu bukanlah perayaan umat Islam. Islam tidak pernah mengajarkannya sama sekali. Yang ada, perayaan tersebut diperingati hanya meniru-niru orang kafir. Islam hanya memiliki dua hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.“(HR. Abu Daud no. 4031. Hadits ini hasan shahih kata Syaikh Al Albani). Ada hadits juga dalam kitab Sunan, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى “Bukan termasuk golongan kami yaitu siapa saja yang menyerupai (meniru-niru) kelakukan selain kami. Janganlah kalian meniru-niru Yahudi, begitu pula Nashrani.” (HR. Tirmidzi no. 2695, hasan menurut Syaikh Al Albani). 2- Tidak pernah dituntunkan dalam ajaran Islam Perayaan tersebut adalah perayaan yang mengada-ngada, tidak pernah dituntunkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang terbaik di masa salaf, namun tidak pernah memperingati hari tersebut. Jadi, peringatan tersebut bukan ajaran Islam. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, ulama besar dari Mesir pernah ditanya mengenai hukum perayaan hari Ibu. Beliau hafizhohullah menjawab, “Tidak ada dalam syari’at kita peringatan hari Ibu. Namun kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita untuk berbuat baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali, lalu bapakmu.” (Youtube: Hukmul Ihtifal bi ‘Iedil Umm) Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah berkata, “Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari barat. Mereka orang-orang kafir di sana punya perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak. Kita -selaku umat Islam- tidak butuh pada peringatan hari Ibu karena Allah Ta’ala sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang mulia. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, siapakah yang lebih berhak bagi kita untuk berbakti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu, ibumu, ibumu lalu bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah butuh pada peringatan hari ibu. Karena kita diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak perlu bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan dan semisal itu. Intinya, peringatan tersebut tidaklah dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah sepantasnya tidak memperingatinya.” (Youtube: Al Ihtifal bi ‘Iedil Umm) 3- Istri Punya Kewajiban Bakti pada Suami Jika yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun keliru. Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban. Bagaimana kewajiban ini dilalaikan hanya karena ada peringatan hari ibu? Padahal istri yang taat suami adalah wanita yang paling baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Jumatan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Safar 1435 H, 01:30 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsbakti orang tua bid'ah

Peringatan Hari Ibu bagi Muslim

Apakah boleh umat Islam turut memperingati hari ibu? Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbakti pada Ibu Lebih Utama Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ » “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331). Berbakti pada Ibu itu Setiap Waktu, Bukan Setahun Sekali Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Perintah berbakti di sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember saja, namun setiap waktu. Sebab Larangan Memperingati Hari Ibu bagi Muslim 1- Tasyabbuh dengan orang kafir Peringatan hari ibu bukanlah perayaan umat Islam. Islam tidak pernah mengajarkannya sama sekali. Yang ada, perayaan tersebut diperingati hanya meniru-niru orang kafir. Islam hanya memiliki dua hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.“(HR. Abu Daud no. 4031. Hadits ini hasan shahih kata Syaikh Al Albani). Ada hadits juga dalam kitab Sunan, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى “Bukan termasuk golongan kami yaitu siapa saja yang menyerupai (meniru-niru) kelakukan selain kami. Janganlah kalian meniru-niru Yahudi, begitu pula Nashrani.” (HR. Tirmidzi no. 2695, hasan menurut Syaikh Al Albani). 2- Tidak pernah dituntunkan dalam ajaran Islam Perayaan tersebut adalah perayaan yang mengada-ngada, tidak pernah dituntunkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang terbaik di masa salaf, namun tidak pernah memperingati hari tersebut. Jadi, peringatan tersebut bukan ajaran Islam. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, ulama besar dari Mesir pernah ditanya mengenai hukum perayaan hari Ibu. Beliau hafizhohullah menjawab, “Tidak ada dalam syari’at kita peringatan hari Ibu. Namun kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita untuk berbuat baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali, lalu bapakmu.” (Youtube: Hukmul Ihtifal bi ‘Iedil Umm) Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah berkata, “Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari barat. Mereka orang-orang kafir di sana punya perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak. Kita -selaku umat Islam- tidak butuh pada peringatan hari Ibu karena Allah Ta’ala sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang mulia. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, siapakah yang lebih berhak bagi kita untuk berbakti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu, ibumu, ibumu lalu bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah butuh pada peringatan hari ibu. Karena kita diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak perlu bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan dan semisal itu. Intinya, peringatan tersebut tidaklah dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah sepantasnya tidak memperingatinya.” (Youtube: Al Ihtifal bi ‘Iedil Umm) 3- Istri Punya Kewajiban Bakti pada Suami Jika yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun keliru. Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban. Bagaimana kewajiban ini dilalaikan hanya karena ada peringatan hari ibu? Padahal istri yang taat suami adalah wanita yang paling baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Jumatan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Safar 1435 H, 01:30 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsbakti orang tua bid'ah
Apakah boleh umat Islam turut memperingati hari ibu? Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbakti pada Ibu Lebih Utama Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ » “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331). Berbakti pada Ibu itu Setiap Waktu, Bukan Setahun Sekali Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Perintah berbakti di sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember saja, namun setiap waktu. Sebab Larangan Memperingati Hari Ibu bagi Muslim 1- Tasyabbuh dengan orang kafir Peringatan hari ibu bukanlah perayaan umat Islam. Islam tidak pernah mengajarkannya sama sekali. Yang ada, perayaan tersebut diperingati hanya meniru-niru orang kafir. Islam hanya memiliki dua hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.“(HR. Abu Daud no. 4031. Hadits ini hasan shahih kata Syaikh Al Albani). Ada hadits juga dalam kitab Sunan, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى “Bukan termasuk golongan kami yaitu siapa saja yang menyerupai (meniru-niru) kelakukan selain kami. Janganlah kalian meniru-niru Yahudi, begitu pula Nashrani.” (HR. Tirmidzi no. 2695, hasan menurut Syaikh Al Albani). 2- Tidak pernah dituntunkan dalam ajaran Islam Perayaan tersebut adalah perayaan yang mengada-ngada, tidak pernah dituntunkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang terbaik di masa salaf, namun tidak pernah memperingati hari tersebut. Jadi, peringatan tersebut bukan ajaran Islam. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, ulama besar dari Mesir pernah ditanya mengenai hukum perayaan hari Ibu. Beliau hafizhohullah menjawab, “Tidak ada dalam syari’at kita peringatan hari Ibu. Namun kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita untuk berbuat baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali, lalu bapakmu.” (Youtube: Hukmul Ihtifal bi ‘Iedil Umm) Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah berkata, “Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari barat. Mereka orang-orang kafir di sana punya perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak. Kita -selaku umat Islam- tidak butuh pada peringatan hari Ibu karena Allah Ta’ala sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang mulia. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, siapakah yang lebih berhak bagi kita untuk berbakti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu, ibumu, ibumu lalu bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah butuh pada peringatan hari ibu. Karena kita diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak perlu bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan dan semisal itu. Intinya, peringatan tersebut tidaklah dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah sepantasnya tidak memperingatinya.” (Youtube: Al Ihtifal bi ‘Iedil Umm) 3- Istri Punya Kewajiban Bakti pada Suami Jika yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun keliru. Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban. Bagaimana kewajiban ini dilalaikan hanya karena ada peringatan hari ibu? Padahal istri yang taat suami adalah wanita yang paling baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Jumatan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Safar 1435 H, 01:30 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsbakti orang tua bid'ah


Apakah boleh umat Islam turut memperingati hari ibu? Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbakti pada Ibu Lebih Utama Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ » “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331). Berbakti pada Ibu itu Setiap Waktu, Bukan Setahun Sekali Allah Ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Perintah berbakti di sini bukan hanya berlaku pada bulan Desember saja, namun setiap waktu. Sebab Larangan Memperingati Hari Ibu bagi Muslim 1- Tasyabbuh dengan orang kafir Peringatan hari ibu bukanlah perayaan umat Islam. Islam tidak pernah mengajarkannya sama sekali. Yang ada, perayaan tersebut diperingati hanya meniru-niru orang kafir. Islam hanya memiliki dua hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.“(HR. Abu Daud no. 4031. Hadits ini hasan shahih kata Syaikh Al Albani). Ada hadits juga dalam kitab Sunan, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى “Bukan termasuk golongan kami yaitu siapa saja yang menyerupai (meniru-niru) kelakukan selain kami. Janganlah kalian meniru-niru Yahudi, begitu pula Nashrani.” (HR. Tirmidzi no. 2695, hasan menurut Syaikh Al Albani). 2- Tidak pernah dituntunkan dalam ajaran Islam Perayaan tersebut adalah perayaan yang mengada-ngada, tidak pernah dituntunkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang terbaik di masa salaf, namun tidak pernah memperingati hari tersebut. Jadi, peringatan tersebut bukan ajaran Islam. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, ulama besar dari Mesir pernah ditanya mengenai hukum perayaan hari Ibu. Beliau hafizhohullah menjawab, “Tidak ada dalam syari’at kita peringatan hari Ibu. Namun kita memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita untuk berbuat baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali, lalu bapakmu.” (Youtube: Hukmul Ihtifal bi ‘Iedil Umm) Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah berkata, “Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari barat. Mereka orang-orang kafir di sana punya perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak. Kita -selaku umat Islam- tidak butuh pada peringatan hari Ibu karena Allah Ta’ala sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang mulia. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, siapakah yang lebih berhak bagi kita untuk berbakti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ibumu, ibumu, ibumu lalu bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah butuh pada peringatan hari ibu. Karena kita diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak perlu bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan dan semisal itu. Intinya, peringatan tersebut tidaklah dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah sepantasnya tidak memperingatinya.” (Youtube: Al Ihtifal bi ‘Iedil Umm) 3- Istri Punya Kewajiban Bakti pada Suami Jika yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun keliru. Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban. Bagaimana kewajiban ini dilalaikan hanya karena ada peringatan hari ibu? Padahal istri yang taat suami adalah wanita yang paling baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Selesai disusun selepas Jumatan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 17 Safar 1435 H, 01:30 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Segera pesan Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim dan akan diperintah untuk ditransfer. Tagsbakti orang tua bid'ah

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Siksa

Download   “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.” Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid ketika membahas keutamaan menyempurnakan tauhid akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Yang dimaksud menyempurnakan tauhid (tahqiq tauhid) adalah dengan meninggalkan kesyirikan baik syirik besar dan syirik kecil, meninggalkan perbuatan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. (Lihat At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, hal. 56). Syaikh Sulaiman At Tamimi menjelaskan bahwa yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah tidak ada di hati seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari merealisasikan kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 253). Baik kita sekarang lihat hadits panjang yang dimaksud. Hushain bin ‘Abdurrahman –rahimahullah– berkata, كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ “Saya pernah bersama Sa’id bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat?‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang alasanmu sampai meminta diruqyah? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan Asy Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib Al Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar.” Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Telah ditampakkan padaku semua umat. Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Ada yang berkata padaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk.’ Lalu aku pun memandang, ternyata ada kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan disiksa‘.” Setelah menceritakan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya, “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk bagian dari mereka.” Kemudian ada lagi yang berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752) Faedah dari hadits di atas: 1- Hushain bin ‘Abdurrahman khawatir jika orang-orang menyangka ia melakukan shalat malam ketika melihat bintang. Ia tidak mau dinilai melakukan ibadah saat itu padahal ia tidak melakukannya. Inilah yang menunjukkan keutamaan salafush sholeh dan menunjukkan bagaimana keikhlasan pada diri mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dari riya’. Mereka tidak mau mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti ini dan seperti itu supaya orang-orang sangka ia adalah wali Allah. Ada yang memakai biji tasbih di leher atau sengaja membawa tasbih di tangannya ketika berjalan, supaya orang-orang sangka ia sedang berdzikir. Dan memang memamerkan biji tasbih di leher ketika jalan lebih cenderung pada riya’ (ingin memamerkan amalan). 2- Hushain ketika tersengat kalajengking mengambil pilihan untuk meminta diruqyah karena ia punya pegangan dalil dari Asy Sya’bi (‘Amir bin Syarohil Al Hamdani Asy Sya’bi) dari Buraidah bin Al Hushaib. Dalilnya mengatakan bahwa tidak ada ruqyah yang lebih manjur kecuali pada penyakit ‘ain (mata dengki) atau pada humah (sengatan kalajengking). Ini menunjukkan bahwa boleh meminta diruqyah dalam hal seperti ini, namun ada jalan yang lebih baik sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair. 3- Ketika Sa’id bin Jubair meminta dalil pada Hushain kenapa ia meminta diruqyah, ini menunjukkan bahwa para ulama salaf dahulu sudah biasa saling menanyakan dalil atas pendapat yang mereka anut. Saling bertanya ilmiah ini adalah kebiasaan yang baik yang patut dicontoh, “Apa dalil Anda dalam masalah ini?” 4- Al Khottobi mengatakan bahwa maksud hadits “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa)” yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah meruqyah dan diruqyah. (Lihat Ma’alimus Sunan, 4: 210 dan Masyariqul Anwar, 1: 366). Yang dimaksud ‘ain adalah pandangan tidak suka dari orang yang hasad. Sedangkan humah adalah sengatan kalajengking dan semacamnya. 5- Sa’id bin Jubair mengatakan, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar”. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengamalkan ilmu yang telah sampai padanya, maka itu sudah disebut baik karena ia telah melakukan kewajibannya. Beda halnya dengan orang yang beramal dilandasi kebodohan atau tidak mengamalkan ilmunya, maka ia jelas berdosa. 6- Perkataan Sa’id bin Jubair juga menunjukkan baiknya adab salaf dalam menyampaikan ilmu dan bagaimana menyatakan pendapatnya dengan lemah lembut. Lalu Sa’id menunjukkan pada Hushain tentang manakah cara yang lebih baik ditempuh, padahal apa yang dilakukan oleh Hushain masih boleh. 7- Siapa yang telah mengamalkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya sudah disebut baik, bukan hanya sekedar berdiam pada perkataan ulama madzhab. 8- Hadits yang disampaikan pertama yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah dan hadits kedua dari Ibnu ‘Abbas tentang orang-orang yang meninggalkan meminta ruqyah tidaklah kontradiksi atau bertentangan. 9- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan umat yang disebutkan dalam hadits adalah saat peristiwa Isra’ Mi’raj. 10- Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. 11- Sekelompok orang yang disebutkan dalam hadits, yang dimaksud adalah jumlah orang yang banyak yang dilihat dari jauh. 12- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan umat Nabi Musa yang begitu banyak, itu menunjukkan keutamaan Musa dan pengikutnya. 13- Lalu dilihat lagi sekelompok umat yang besar yang itu adalah umatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah-tengah umat Muhammad terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka itulah orang-orang yang mentahqiq tauhid atau merealisasikan tauhid dengan benar. 14- Umat Muhammad bisa terbedakan dari umat lainnya karena dilihat dari bekas wudhu mereka. Umat Muhammad nampak bekas wudhu mereka pada wajah, tangan dan kaki mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits riwayat Muslim, إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan dan kakinya bercahaya karena bekas wudhu” (HR. Muslim no. 246). 15- Ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 1000 dari 70.000 tadi ada 70.000 lagi. Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, وَعَدَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعِينَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفاً “Rabbku ‘azza wa jalla telah menjajikan padaku bahwa 70.000 orang dari umatku akan dimasukkan surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Setiap 1000 dari jumlah tersebut terdapat 70.000 orang lagi.” (HR. Ahmad 5: 268. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dan sanad hadits ini hasan). Berarti berdasarkan hadits ini ada 4.900.000 orang yang dimaksud. 16- Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ada 70.000 orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa, lalu beliau masuk rumah. Para sahabat pun berbincang-bincang siapakah orang-orang yang dimaksud tersebut. Ini menunjukkan bahwa boleh berdiskusi ilmiah dalam masalah ilmu untuk mengambil faedah dan mendapatkan kebenaran. 17- Apa yang mereka diskusikan menunjukkan bagaimana dalamnya ilmu para sahabat. Mereka mengetahui bahwa untuk menggapai keutamaan tersebut harus dengan beramal. Itu pun menunjukkan semangat mereka dalam kebaikan. 18- Sifat pertama dari 70.000 orang tersebut adalah tidak meminta diruqyah. Dalam riwayat Muslim disebutkan “laa yarqun”, artinya tidak meruqyah. Tambahan tidak meruqyah di sini keliru karena orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang ruqyah, beliau bersabda, مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Siapa yang mampu di antara kalian untuk memberi kemanfaatan pada saudaranya, maka lakukanlah“(HR. Muslim no. 2199). ‘Auf bin Malik berkata, كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا » “Kami dahulu pernah meruqyah di masa jahiliyah, kami berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Tunjukkan ruqyah kalian. Yang namanya ruqyah tidaklah mengapa selama tidak ada kesyirikan di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 3886, shahih kata Syaikh Al Albani). Alasan lainnya, meruqyah orang lain tidaklah masalah karena Jibril pernah meruqyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah para sahabatnya. 19- Perbedaannya jelas antara orang yang meruqyah dan orang yang meminta diruqyah. Orang yang meminta diruqyah cenderung hatinya bergantung pada selain Allah. Adapun orang yang meruqyah orang lain adalah orang yang berbuat baik. 20- Sifat 70.000 orang tersebut yang lainnya adalah tidak meminta diruqyah. Namun pengobatan kay yaitu penyembuhan luka dengan besi panas asalnya boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus dokter pada Ubay bin Ka’ab untuk mengobati lukanya dengan cara kay. Hadits-hadits yang membicarakan tentang pengobatan kay ada empat macam: (1) Nabi shallallahu melakukannya, (2) beliau tidak suka dengan pengobatan kay, (3) beliau memuji orang yang tidak dikay, (4) beliau melarang pengobatan kay. Yang beliau lakukan menunjukkan bahwa kay itu boleh. Beliau tidak pada kay bukan berarti pengobatan kay itu terlarang. Hadits yang menunjukkan beliau memuji orang yang meninggalkan kay berarti meninggalkan kay lebih utama. Adapun hadits yang menyatakan beliau melarangnya menunjukkan bahwa kay itu makruh. Jadi dalil-dalil yang ada tidak saling bertentangan. Demikian kata Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. 21- Sifat 70.000 orang tersebut selanjutnya adalah mereka tidak bertathoyyur. Tathoyyur adalah beranggapan sial dengan burung atau lainnya. Kalau di tengah-tengah kita misalnya menganggap sial dengan bulan Suro. 22- Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sifat utama dari 70.000 orang tersebut terkumpul pada sifat tawakkal. Karena tawakkal mereka yang sempurna, mereka tidak meminta diruqyah, tidak meminta dikay, dan tidak beranggapan sial. Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 23- Hadits yang dibicarakan saat ini tidaklah menunjukkan untuk meninggalkan usaha atau sebab. Dan tawakkal itu adalah cara yang utama untuk meraih sebab. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah, Dialah yang mencukupinya.“(QS. Ath Thalaq: 3). Jadi mereka punya enggan melakukan yang dimakruhkan yaitu meminta diruqyah dan meminta dikay, mereka lebih memilih tawakkal daripada mengambil sebab yang makruh tersebut. 24- Adapun mengambil sebab dan berobat dengan cara yang tidak makruh, maka seperti itu boleh dan tidak mencacati tawakkal. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً “Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula penawar (obatnya)” (HR. Bukhari no. 5678). 25- ‘Ukkasyah bin Mihshan adalah di antara 70.000 orang tersebut. Ia adalah di antara penunggang kuda terbaik di kalangan Arab dahulu. Beliau mati syahid tahun 12 H ketika berperang bersama Kholid bin Walid memerangi orang-orang yang murtad. 26- Hadits ini menunjukkan boleh meminta do’a pada orang yang punya keutamaan yang lebih seperti yang dilakukan oleh Ukkasyah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 27- Lantas orang berikutnya setelah ‘Ukkasyah ingin meminta lagi pada Nabi agar berdo’a pada Allah supaya ia juga termasuk dalam 70.000 golongan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau sudah kedahuluan oleh ‘Ukkasyah”. Ini adalah cara Nabi supaya yang lainnya tidak meminta seperti itu lagi. Ini menunjukkan kelemah lembutan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak beliau yang baik. 28- Orang yang meminta kedua kalinya bukanlah munafik dengan dua alasan: (a) para sahabat Nabi asalnya bukanlah orang munafik, (2) orang yang meminta seperti itu pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berarti yakin akan benarnya Rasul dan itu tidak muncul dari orang munafik. 29- Boleh menolak sesuatu dengan cara yang terlihat seperti berbohong, namun maksudnya tidak demikian. Faedah-faedah di atas diambil dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid karya Syaikh Sulaiman At Tamimi, yang merupakan kitab penjelasan pertama, paling lengkap dan memuaskan dari kitab tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. — Referensi: At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Darul Imam Al Bukhari, cetakan pertama, tahun 1433 H. Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Darush Ash Shomi’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Diselesaikan di Bekasi Timur, Jatimulya, Jl. Cemara 1, di rumah paman tercinta, 15 Safar 1435 H, 07:40 WIB Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial surga tawakkal

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Siksa

Download   “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.” Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid ketika membahas keutamaan menyempurnakan tauhid akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Yang dimaksud menyempurnakan tauhid (tahqiq tauhid) adalah dengan meninggalkan kesyirikan baik syirik besar dan syirik kecil, meninggalkan perbuatan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. (Lihat At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, hal. 56). Syaikh Sulaiman At Tamimi menjelaskan bahwa yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah tidak ada di hati seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari merealisasikan kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 253). Baik kita sekarang lihat hadits panjang yang dimaksud. Hushain bin ‘Abdurrahman –rahimahullah– berkata, كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ “Saya pernah bersama Sa’id bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat?‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang alasanmu sampai meminta diruqyah? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan Asy Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib Al Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar.” Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Telah ditampakkan padaku semua umat. Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Ada yang berkata padaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk.’ Lalu aku pun memandang, ternyata ada kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan disiksa‘.” Setelah menceritakan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya, “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk bagian dari mereka.” Kemudian ada lagi yang berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752) Faedah dari hadits di atas: 1- Hushain bin ‘Abdurrahman khawatir jika orang-orang menyangka ia melakukan shalat malam ketika melihat bintang. Ia tidak mau dinilai melakukan ibadah saat itu padahal ia tidak melakukannya. Inilah yang menunjukkan keutamaan salafush sholeh dan menunjukkan bagaimana keikhlasan pada diri mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dari riya’. Mereka tidak mau mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti ini dan seperti itu supaya orang-orang sangka ia adalah wali Allah. Ada yang memakai biji tasbih di leher atau sengaja membawa tasbih di tangannya ketika berjalan, supaya orang-orang sangka ia sedang berdzikir. Dan memang memamerkan biji tasbih di leher ketika jalan lebih cenderung pada riya’ (ingin memamerkan amalan). 2- Hushain ketika tersengat kalajengking mengambil pilihan untuk meminta diruqyah karena ia punya pegangan dalil dari Asy Sya’bi (‘Amir bin Syarohil Al Hamdani Asy Sya’bi) dari Buraidah bin Al Hushaib. Dalilnya mengatakan bahwa tidak ada ruqyah yang lebih manjur kecuali pada penyakit ‘ain (mata dengki) atau pada humah (sengatan kalajengking). Ini menunjukkan bahwa boleh meminta diruqyah dalam hal seperti ini, namun ada jalan yang lebih baik sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair. 3- Ketika Sa’id bin Jubair meminta dalil pada Hushain kenapa ia meminta diruqyah, ini menunjukkan bahwa para ulama salaf dahulu sudah biasa saling menanyakan dalil atas pendapat yang mereka anut. Saling bertanya ilmiah ini adalah kebiasaan yang baik yang patut dicontoh, “Apa dalil Anda dalam masalah ini?” 4- Al Khottobi mengatakan bahwa maksud hadits “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa)” yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah meruqyah dan diruqyah. (Lihat Ma’alimus Sunan, 4: 210 dan Masyariqul Anwar, 1: 366). Yang dimaksud ‘ain adalah pandangan tidak suka dari orang yang hasad. Sedangkan humah adalah sengatan kalajengking dan semacamnya. 5- Sa’id bin Jubair mengatakan, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar”. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengamalkan ilmu yang telah sampai padanya, maka itu sudah disebut baik karena ia telah melakukan kewajibannya. Beda halnya dengan orang yang beramal dilandasi kebodohan atau tidak mengamalkan ilmunya, maka ia jelas berdosa. 6- Perkataan Sa’id bin Jubair juga menunjukkan baiknya adab salaf dalam menyampaikan ilmu dan bagaimana menyatakan pendapatnya dengan lemah lembut. Lalu Sa’id menunjukkan pada Hushain tentang manakah cara yang lebih baik ditempuh, padahal apa yang dilakukan oleh Hushain masih boleh. 7- Siapa yang telah mengamalkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya sudah disebut baik, bukan hanya sekedar berdiam pada perkataan ulama madzhab. 8- Hadits yang disampaikan pertama yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah dan hadits kedua dari Ibnu ‘Abbas tentang orang-orang yang meninggalkan meminta ruqyah tidaklah kontradiksi atau bertentangan. 9- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan umat yang disebutkan dalam hadits adalah saat peristiwa Isra’ Mi’raj. 10- Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. 11- Sekelompok orang yang disebutkan dalam hadits, yang dimaksud adalah jumlah orang yang banyak yang dilihat dari jauh. 12- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan umat Nabi Musa yang begitu banyak, itu menunjukkan keutamaan Musa dan pengikutnya. 13- Lalu dilihat lagi sekelompok umat yang besar yang itu adalah umatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah-tengah umat Muhammad terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka itulah orang-orang yang mentahqiq tauhid atau merealisasikan tauhid dengan benar. 14- Umat Muhammad bisa terbedakan dari umat lainnya karena dilihat dari bekas wudhu mereka. Umat Muhammad nampak bekas wudhu mereka pada wajah, tangan dan kaki mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits riwayat Muslim, إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan dan kakinya bercahaya karena bekas wudhu” (HR. Muslim no. 246). 15- Ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 1000 dari 70.000 tadi ada 70.000 lagi. Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, وَعَدَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعِينَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفاً “Rabbku ‘azza wa jalla telah menjajikan padaku bahwa 70.000 orang dari umatku akan dimasukkan surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Setiap 1000 dari jumlah tersebut terdapat 70.000 orang lagi.” (HR. Ahmad 5: 268. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dan sanad hadits ini hasan). Berarti berdasarkan hadits ini ada 4.900.000 orang yang dimaksud. 16- Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ada 70.000 orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa, lalu beliau masuk rumah. Para sahabat pun berbincang-bincang siapakah orang-orang yang dimaksud tersebut. Ini menunjukkan bahwa boleh berdiskusi ilmiah dalam masalah ilmu untuk mengambil faedah dan mendapatkan kebenaran. 17- Apa yang mereka diskusikan menunjukkan bagaimana dalamnya ilmu para sahabat. Mereka mengetahui bahwa untuk menggapai keutamaan tersebut harus dengan beramal. Itu pun menunjukkan semangat mereka dalam kebaikan. 18- Sifat pertama dari 70.000 orang tersebut adalah tidak meminta diruqyah. Dalam riwayat Muslim disebutkan “laa yarqun”, artinya tidak meruqyah. Tambahan tidak meruqyah di sini keliru karena orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang ruqyah, beliau bersabda, مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Siapa yang mampu di antara kalian untuk memberi kemanfaatan pada saudaranya, maka lakukanlah“(HR. Muslim no. 2199). ‘Auf bin Malik berkata, كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا » “Kami dahulu pernah meruqyah di masa jahiliyah, kami berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Tunjukkan ruqyah kalian. Yang namanya ruqyah tidaklah mengapa selama tidak ada kesyirikan di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 3886, shahih kata Syaikh Al Albani). Alasan lainnya, meruqyah orang lain tidaklah masalah karena Jibril pernah meruqyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah para sahabatnya. 19- Perbedaannya jelas antara orang yang meruqyah dan orang yang meminta diruqyah. Orang yang meminta diruqyah cenderung hatinya bergantung pada selain Allah. Adapun orang yang meruqyah orang lain adalah orang yang berbuat baik. 20- Sifat 70.000 orang tersebut yang lainnya adalah tidak meminta diruqyah. Namun pengobatan kay yaitu penyembuhan luka dengan besi panas asalnya boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus dokter pada Ubay bin Ka’ab untuk mengobati lukanya dengan cara kay. Hadits-hadits yang membicarakan tentang pengobatan kay ada empat macam: (1) Nabi shallallahu melakukannya, (2) beliau tidak suka dengan pengobatan kay, (3) beliau memuji orang yang tidak dikay, (4) beliau melarang pengobatan kay. Yang beliau lakukan menunjukkan bahwa kay itu boleh. Beliau tidak pada kay bukan berarti pengobatan kay itu terlarang. Hadits yang menunjukkan beliau memuji orang yang meninggalkan kay berarti meninggalkan kay lebih utama. Adapun hadits yang menyatakan beliau melarangnya menunjukkan bahwa kay itu makruh. Jadi dalil-dalil yang ada tidak saling bertentangan. Demikian kata Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. 21- Sifat 70.000 orang tersebut selanjutnya adalah mereka tidak bertathoyyur. Tathoyyur adalah beranggapan sial dengan burung atau lainnya. Kalau di tengah-tengah kita misalnya menganggap sial dengan bulan Suro. 22- Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sifat utama dari 70.000 orang tersebut terkumpul pada sifat tawakkal. Karena tawakkal mereka yang sempurna, mereka tidak meminta diruqyah, tidak meminta dikay, dan tidak beranggapan sial. Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 23- Hadits yang dibicarakan saat ini tidaklah menunjukkan untuk meninggalkan usaha atau sebab. Dan tawakkal itu adalah cara yang utama untuk meraih sebab. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah, Dialah yang mencukupinya.“(QS. Ath Thalaq: 3). Jadi mereka punya enggan melakukan yang dimakruhkan yaitu meminta diruqyah dan meminta dikay, mereka lebih memilih tawakkal daripada mengambil sebab yang makruh tersebut. 24- Adapun mengambil sebab dan berobat dengan cara yang tidak makruh, maka seperti itu boleh dan tidak mencacati tawakkal. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً “Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula penawar (obatnya)” (HR. Bukhari no. 5678). 25- ‘Ukkasyah bin Mihshan adalah di antara 70.000 orang tersebut. Ia adalah di antara penunggang kuda terbaik di kalangan Arab dahulu. Beliau mati syahid tahun 12 H ketika berperang bersama Kholid bin Walid memerangi orang-orang yang murtad. 26- Hadits ini menunjukkan boleh meminta do’a pada orang yang punya keutamaan yang lebih seperti yang dilakukan oleh Ukkasyah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 27- Lantas orang berikutnya setelah ‘Ukkasyah ingin meminta lagi pada Nabi agar berdo’a pada Allah supaya ia juga termasuk dalam 70.000 golongan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau sudah kedahuluan oleh ‘Ukkasyah”. Ini adalah cara Nabi supaya yang lainnya tidak meminta seperti itu lagi. Ini menunjukkan kelemah lembutan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak beliau yang baik. 28- Orang yang meminta kedua kalinya bukanlah munafik dengan dua alasan: (a) para sahabat Nabi asalnya bukanlah orang munafik, (2) orang yang meminta seperti itu pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berarti yakin akan benarnya Rasul dan itu tidak muncul dari orang munafik. 29- Boleh menolak sesuatu dengan cara yang terlihat seperti berbohong, namun maksudnya tidak demikian. Faedah-faedah di atas diambil dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid karya Syaikh Sulaiman At Tamimi, yang merupakan kitab penjelasan pertama, paling lengkap dan memuaskan dari kitab tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. — Referensi: At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Darul Imam Al Bukhari, cetakan pertama, tahun 1433 H. Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Darush Ash Shomi’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Diselesaikan di Bekasi Timur, Jatimulya, Jl. Cemara 1, di rumah paman tercinta, 15 Safar 1435 H, 07:40 WIB Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial surga tawakkal
Download   “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.” Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid ketika membahas keutamaan menyempurnakan tauhid akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Yang dimaksud menyempurnakan tauhid (tahqiq tauhid) adalah dengan meninggalkan kesyirikan baik syirik besar dan syirik kecil, meninggalkan perbuatan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. (Lihat At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, hal. 56). Syaikh Sulaiman At Tamimi menjelaskan bahwa yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah tidak ada di hati seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari merealisasikan kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 253). Baik kita sekarang lihat hadits panjang yang dimaksud. Hushain bin ‘Abdurrahman –rahimahullah– berkata, كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ “Saya pernah bersama Sa’id bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat?‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang alasanmu sampai meminta diruqyah? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan Asy Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib Al Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar.” Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Telah ditampakkan padaku semua umat. Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Ada yang berkata padaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk.’ Lalu aku pun memandang, ternyata ada kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan disiksa‘.” Setelah menceritakan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya, “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk bagian dari mereka.” Kemudian ada lagi yang berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752) Faedah dari hadits di atas: 1- Hushain bin ‘Abdurrahman khawatir jika orang-orang menyangka ia melakukan shalat malam ketika melihat bintang. Ia tidak mau dinilai melakukan ibadah saat itu padahal ia tidak melakukannya. Inilah yang menunjukkan keutamaan salafush sholeh dan menunjukkan bagaimana keikhlasan pada diri mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dari riya’. Mereka tidak mau mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti ini dan seperti itu supaya orang-orang sangka ia adalah wali Allah. Ada yang memakai biji tasbih di leher atau sengaja membawa tasbih di tangannya ketika berjalan, supaya orang-orang sangka ia sedang berdzikir. Dan memang memamerkan biji tasbih di leher ketika jalan lebih cenderung pada riya’ (ingin memamerkan amalan). 2- Hushain ketika tersengat kalajengking mengambil pilihan untuk meminta diruqyah karena ia punya pegangan dalil dari Asy Sya’bi (‘Amir bin Syarohil Al Hamdani Asy Sya’bi) dari Buraidah bin Al Hushaib. Dalilnya mengatakan bahwa tidak ada ruqyah yang lebih manjur kecuali pada penyakit ‘ain (mata dengki) atau pada humah (sengatan kalajengking). Ini menunjukkan bahwa boleh meminta diruqyah dalam hal seperti ini, namun ada jalan yang lebih baik sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair. 3- Ketika Sa’id bin Jubair meminta dalil pada Hushain kenapa ia meminta diruqyah, ini menunjukkan bahwa para ulama salaf dahulu sudah biasa saling menanyakan dalil atas pendapat yang mereka anut. Saling bertanya ilmiah ini adalah kebiasaan yang baik yang patut dicontoh, “Apa dalil Anda dalam masalah ini?” 4- Al Khottobi mengatakan bahwa maksud hadits “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa)” yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah meruqyah dan diruqyah. (Lihat Ma’alimus Sunan, 4: 210 dan Masyariqul Anwar, 1: 366). Yang dimaksud ‘ain adalah pandangan tidak suka dari orang yang hasad. Sedangkan humah adalah sengatan kalajengking dan semacamnya. 5- Sa’id bin Jubair mengatakan, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar”. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengamalkan ilmu yang telah sampai padanya, maka itu sudah disebut baik karena ia telah melakukan kewajibannya. Beda halnya dengan orang yang beramal dilandasi kebodohan atau tidak mengamalkan ilmunya, maka ia jelas berdosa. 6- Perkataan Sa’id bin Jubair juga menunjukkan baiknya adab salaf dalam menyampaikan ilmu dan bagaimana menyatakan pendapatnya dengan lemah lembut. Lalu Sa’id menunjukkan pada Hushain tentang manakah cara yang lebih baik ditempuh, padahal apa yang dilakukan oleh Hushain masih boleh. 7- Siapa yang telah mengamalkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya sudah disebut baik, bukan hanya sekedar berdiam pada perkataan ulama madzhab. 8- Hadits yang disampaikan pertama yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah dan hadits kedua dari Ibnu ‘Abbas tentang orang-orang yang meninggalkan meminta ruqyah tidaklah kontradiksi atau bertentangan. 9- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan umat yang disebutkan dalam hadits adalah saat peristiwa Isra’ Mi’raj. 10- Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. 11- Sekelompok orang yang disebutkan dalam hadits, yang dimaksud adalah jumlah orang yang banyak yang dilihat dari jauh. 12- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan umat Nabi Musa yang begitu banyak, itu menunjukkan keutamaan Musa dan pengikutnya. 13- Lalu dilihat lagi sekelompok umat yang besar yang itu adalah umatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah-tengah umat Muhammad terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka itulah orang-orang yang mentahqiq tauhid atau merealisasikan tauhid dengan benar. 14- Umat Muhammad bisa terbedakan dari umat lainnya karena dilihat dari bekas wudhu mereka. Umat Muhammad nampak bekas wudhu mereka pada wajah, tangan dan kaki mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits riwayat Muslim, إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan dan kakinya bercahaya karena bekas wudhu” (HR. Muslim no. 246). 15- Ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 1000 dari 70.000 tadi ada 70.000 lagi. Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, وَعَدَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعِينَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفاً “Rabbku ‘azza wa jalla telah menjajikan padaku bahwa 70.000 orang dari umatku akan dimasukkan surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Setiap 1000 dari jumlah tersebut terdapat 70.000 orang lagi.” (HR. Ahmad 5: 268. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dan sanad hadits ini hasan). Berarti berdasarkan hadits ini ada 4.900.000 orang yang dimaksud. 16- Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ada 70.000 orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa, lalu beliau masuk rumah. Para sahabat pun berbincang-bincang siapakah orang-orang yang dimaksud tersebut. Ini menunjukkan bahwa boleh berdiskusi ilmiah dalam masalah ilmu untuk mengambil faedah dan mendapatkan kebenaran. 17- Apa yang mereka diskusikan menunjukkan bagaimana dalamnya ilmu para sahabat. Mereka mengetahui bahwa untuk menggapai keutamaan tersebut harus dengan beramal. Itu pun menunjukkan semangat mereka dalam kebaikan. 18- Sifat pertama dari 70.000 orang tersebut adalah tidak meminta diruqyah. Dalam riwayat Muslim disebutkan “laa yarqun”, artinya tidak meruqyah. Tambahan tidak meruqyah di sini keliru karena orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang ruqyah, beliau bersabda, مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Siapa yang mampu di antara kalian untuk memberi kemanfaatan pada saudaranya, maka lakukanlah“(HR. Muslim no. 2199). ‘Auf bin Malik berkata, كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا » “Kami dahulu pernah meruqyah di masa jahiliyah, kami berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Tunjukkan ruqyah kalian. Yang namanya ruqyah tidaklah mengapa selama tidak ada kesyirikan di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 3886, shahih kata Syaikh Al Albani). Alasan lainnya, meruqyah orang lain tidaklah masalah karena Jibril pernah meruqyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah para sahabatnya. 19- Perbedaannya jelas antara orang yang meruqyah dan orang yang meminta diruqyah. Orang yang meminta diruqyah cenderung hatinya bergantung pada selain Allah. Adapun orang yang meruqyah orang lain adalah orang yang berbuat baik. 20- Sifat 70.000 orang tersebut yang lainnya adalah tidak meminta diruqyah. Namun pengobatan kay yaitu penyembuhan luka dengan besi panas asalnya boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus dokter pada Ubay bin Ka’ab untuk mengobati lukanya dengan cara kay. Hadits-hadits yang membicarakan tentang pengobatan kay ada empat macam: (1) Nabi shallallahu melakukannya, (2) beliau tidak suka dengan pengobatan kay, (3) beliau memuji orang yang tidak dikay, (4) beliau melarang pengobatan kay. Yang beliau lakukan menunjukkan bahwa kay itu boleh. Beliau tidak pada kay bukan berarti pengobatan kay itu terlarang. Hadits yang menunjukkan beliau memuji orang yang meninggalkan kay berarti meninggalkan kay lebih utama. Adapun hadits yang menyatakan beliau melarangnya menunjukkan bahwa kay itu makruh. Jadi dalil-dalil yang ada tidak saling bertentangan. Demikian kata Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. 21- Sifat 70.000 orang tersebut selanjutnya adalah mereka tidak bertathoyyur. Tathoyyur adalah beranggapan sial dengan burung atau lainnya. Kalau di tengah-tengah kita misalnya menganggap sial dengan bulan Suro. 22- Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sifat utama dari 70.000 orang tersebut terkumpul pada sifat tawakkal. Karena tawakkal mereka yang sempurna, mereka tidak meminta diruqyah, tidak meminta dikay, dan tidak beranggapan sial. Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 23- Hadits yang dibicarakan saat ini tidaklah menunjukkan untuk meninggalkan usaha atau sebab. Dan tawakkal itu adalah cara yang utama untuk meraih sebab. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah, Dialah yang mencukupinya.“(QS. Ath Thalaq: 3). Jadi mereka punya enggan melakukan yang dimakruhkan yaitu meminta diruqyah dan meminta dikay, mereka lebih memilih tawakkal daripada mengambil sebab yang makruh tersebut. 24- Adapun mengambil sebab dan berobat dengan cara yang tidak makruh, maka seperti itu boleh dan tidak mencacati tawakkal. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً “Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula penawar (obatnya)” (HR. Bukhari no. 5678). 25- ‘Ukkasyah bin Mihshan adalah di antara 70.000 orang tersebut. Ia adalah di antara penunggang kuda terbaik di kalangan Arab dahulu. Beliau mati syahid tahun 12 H ketika berperang bersama Kholid bin Walid memerangi orang-orang yang murtad. 26- Hadits ini menunjukkan boleh meminta do’a pada orang yang punya keutamaan yang lebih seperti yang dilakukan oleh Ukkasyah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 27- Lantas orang berikutnya setelah ‘Ukkasyah ingin meminta lagi pada Nabi agar berdo’a pada Allah supaya ia juga termasuk dalam 70.000 golongan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau sudah kedahuluan oleh ‘Ukkasyah”. Ini adalah cara Nabi supaya yang lainnya tidak meminta seperti itu lagi. Ini menunjukkan kelemah lembutan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak beliau yang baik. 28- Orang yang meminta kedua kalinya bukanlah munafik dengan dua alasan: (a) para sahabat Nabi asalnya bukanlah orang munafik, (2) orang yang meminta seperti itu pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berarti yakin akan benarnya Rasul dan itu tidak muncul dari orang munafik. 29- Boleh menolak sesuatu dengan cara yang terlihat seperti berbohong, namun maksudnya tidak demikian. Faedah-faedah di atas diambil dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid karya Syaikh Sulaiman At Tamimi, yang merupakan kitab penjelasan pertama, paling lengkap dan memuaskan dari kitab tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. — Referensi: At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Darul Imam Al Bukhari, cetakan pertama, tahun 1433 H. Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Darush Ash Shomi’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Diselesaikan di Bekasi Timur, Jatimulya, Jl. Cemara 1, di rumah paman tercinta, 15 Safar 1435 H, 07:40 WIB Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial surga tawakkal


Download   “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.” Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tauhid ketika membahas keutamaan menyempurnakan tauhid akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Yang dimaksud menyempurnakan tauhid (tahqiq tauhid) adalah dengan meninggalkan kesyirikan baik syirik besar dan syirik kecil, meninggalkan perbuatan bid’ah, dan meninggalkan maksiat. (Lihat At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, hal. 56). Syaikh Sulaiman At Tamimi menjelaskan bahwa yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah tidak ada di hati seseorang sesuatu selain Allah, tidak ada keinginan pada apa yang Allah haramkan, selalu patuh pada perintah Allah. Itulah bukti dari merealisasikan kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 253). Baik kita sekarang lihat hadits panjang yang dimaksud. Hushain bin ‘Abdurrahman –rahimahullah– berkata, كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ “Saya pernah bersama Sa’id bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat?‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang alasanmu sampai meminta diruqyah? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan Asy Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushaib Al Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar.” Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Telah ditampakkan padaku semua umat. Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Ada yang berkata padaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Tetapi lihatlah ke ufuk.’ Lalu aku pun memandang, ternyata ada kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan kaum yang besar yang berwarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan disiksa‘.” Setelah menceritakan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya, “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial) dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau termasuk bagian dari mereka.” Kemudian ada lagi yang berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752) Faedah dari hadits di atas: 1- Hushain bin ‘Abdurrahman khawatir jika orang-orang menyangka ia melakukan shalat malam ketika melihat bintang. Ia tidak mau dinilai melakukan ibadah saat itu padahal ia tidak melakukannya. Inilah yang menunjukkan keutamaan salafush sholeh dan menunjukkan bagaimana keikhlasan pada diri mereka. Mereka berusaha menjauhkan diri dari riya’. Mereka tidak mau mengatakan bahwa ia telah melakukan seperti ini dan seperti itu supaya orang-orang sangka ia adalah wali Allah. Ada yang memakai biji tasbih di leher atau sengaja membawa tasbih di tangannya ketika berjalan, supaya orang-orang sangka ia sedang berdzikir. Dan memang memamerkan biji tasbih di leher ketika jalan lebih cenderung pada riya’ (ingin memamerkan amalan). 2- Hushain ketika tersengat kalajengking mengambil pilihan untuk meminta diruqyah karena ia punya pegangan dalil dari Asy Sya’bi (‘Amir bin Syarohil Al Hamdani Asy Sya’bi) dari Buraidah bin Al Hushaib. Dalilnya mengatakan bahwa tidak ada ruqyah yang lebih manjur kecuali pada penyakit ‘ain (mata dengki) atau pada humah (sengatan kalajengking). Ini menunjukkan bahwa boleh meminta diruqyah dalam hal seperti ini, namun ada jalan yang lebih baik sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair. 3- Ketika Sa’id bin Jubair meminta dalil pada Hushain kenapa ia meminta diruqyah, ini menunjukkan bahwa para ulama salaf dahulu sudah biasa saling menanyakan dalil atas pendapat yang mereka anut. Saling bertanya ilmiah ini adalah kebiasaan yang baik yang patut dicontoh, “Apa dalil Anda dalam masalah ini?” 4- Al Khottobi mengatakan bahwa maksud hadits “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ‘ain dan racun (sengatan binatang berbisa)” yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah meruqyah dan diruqyah. (Lihat Ma’alimus Sunan, 4: 210 dan Masyariqul Anwar, 1: 366). Yang dimaksud ‘ain adalah pandangan tidak suka dari orang yang hasad. Sedangkan humah adalah sengatan kalajengking dan semacamnya. 5- Sa’id bin Jubair mengatakan, “Sungguh sangat baik orang melaksanakan dalil yang telah ia dengar”. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengamalkan ilmu yang telah sampai padanya, maka itu sudah disebut baik karena ia telah melakukan kewajibannya. Beda halnya dengan orang yang beramal dilandasi kebodohan atau tidak mengamalkan ilmunya, maka ia jelas berdosa. 6- Perkataan Sa’id bin Jubair juga menunjukkan baiknya adab salaf dalam menyampaikan ilmu dan bagaimana menyatakan pendapatnya dengan lemah lembut. Lalu Sa’id menunjukkan pada Hushain tentang manakah cara yang lebih baik ditempuh, padahal apa yang dilakukan oleh Hushain masih boleh. 7- Siapa yang telah mengamalkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya sudah disebut baik, bukan hanya sekedar berdiam pada perkataan ulama madzhab. 8- Hadits yang disampaikan pertama yaitu tidak ada ruqyah yang lebih mujarab kecuali pada ‘ain dan humah dan hadits kedua dari Ibnu ‘Abbas tentang orang-orang yang meninggalkan meminta ruqyah tidaklah kontradiksi atau bertentangan. 9- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditampakkan umat yang disebutkan dalam hadits adalah saat peristiwa Isra’ Mi’raj. 10- Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. 11- Sekelompok orang yang disebutkan dalam hadits, yang dimaksud adalah jumlah orang yang banyak yang dilihat dari jauh. 12- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan umat Nabi Musa yang begitu banyak, itu menunjukkan keutamaan Musa dan pengikutnya. 13- Lalu dilihat lagi sekelompok umat yang besar yang itu adalah umatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di tengah-tengah umat Muhammad terdapat 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Mereka itulah orang-orang yang mentahqiq tauhid atau merealisasikan tauhid dengan benar. 14- Umat Muhammad bisa terbedakan dari umat lainnya karena dilihat dari bekas wudhu mereka. Umat Muhammad nampak bekas wudhu mereka pada wajah, tangan dan kaki mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits riwayat Muslim, إِنَّ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan dan kakinya bercahaya karena bekas wudhu” (HR. Muslim no. 246). 15- Ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 1000 dari 70.000 tadi ada 70.000 lagi. Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, وَعَدَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعِينَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفاً “Rabbku ‘azza wa jalla telah menjajikan padaku bahwa 70.000 orang dari umatku akan dimasukkan surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Setiap 1000 dari jumlah tersebut terdapat 70.000 orang lagi.” (HR. Ahmad 5: 268. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dan sanad hadits ini hasan). Berarti berdasarkan hadits ini ada 4.900.000 orang yang dimaksud. 16- Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ada 70.000 orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa, lalu beliau masuk rumah. Para sahabat pun berbincang-bincang siapakah orang-orang yang dimaksud tersebut. Ini menunjukkan bahwa boleh berdiskusi ilmiah dalam masalah ilmu untuk mengambil faedah dan mendapatkan kebenaran. 17- Apa yang mereka diskusikan menunjukkan bagaimana dalamnya ilmu para sahabat. Mereka mengetahui bahwa untuk menggapai keutamaan tersebut harus dengan beramal. Itu pun menunjukkan semangat mereka dalam kebaikan. 18- Sifat pertama dari 70.000 orang tersebut adalah tidak meminta diruqyah. Dalam riwayat Muslim disebutkan “laa yarqun”, artinya tidak meruqyah. Tambahan tidak meruqyah di sini keliru karena orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang ruqyah, beliau bersabda, مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ “Siapa yang mampu di antara kalian untuk memberi kemanfaatan pada saudaranya, maka lakukanlah“(HR. Muslim no. 2199). ‘Auf bin Malik berkata, كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا » “Kami dahulu pernah meruqyah di masa jahiliyah, kami berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan?” Beliau bersabda, “Tunjukkan ruqyah kalian. Yang namanya ruqyah tidaklah mengapa selama tidak ada kesyirikan di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 3886, shahih kata Syaikh Al Albani). Alasan lainnya, meruqyah orang lain tidaklah masalah karena Jibril pernah meruqyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah para sahabatnya. 19- Perbedaannya jelas antara orang yang meruqyah dan orang yang meminta diruqyah. Orang yang meminta diruqyah cenderung hatinya bergantung pada selain Allah. Adapun orang yang meruqyah orang lain adalah orang yang berbuat baik. 20- Sifat 70.000 orang tersebut yang lainnya adalah tidak meminta diruqyah. Namun pengobatan kay yaitu penyembuhan luka dengan besi panas asalnya boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus dokter pada Ubay bin Ka’ab untuk mengobati lukanya dengan cara kay. Hadits-hadits yang membicarakan tentang pengobatan kay ada empat macam: (1) Nabi shallallahu melakukannya, (2) beliau tidak suka dengan pengobatan kay, (3) beliau memuji orang yang tidak dikay, (4) beliau melarang pengobatan kay. Yang beliau lakukan menunjukkan bahwa kay itu boleh. Beliau tidak pada kay bukan berarti pengobatan kay itu terlarang. Hadits yang menunjukkan beliau memuji orang yang meninggalkan kay berarti meninggalkan kay lebih utama. Adapun hadits yang menyatakan beliau melarangnya menunjukkan bahwa kay itu makruh. Jadi dalil-dalil yang ada tidak saling bertentangan. Demikian kata Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad. 21- Sifat 70.000 orang tersebut selanjutnya adalah mereka tidak bertathoyyur. Tathoyyur adalah beranggapan sial dengan burung atau lainnya. Kalau di tengah-tengah kita misalnya menganggap sial dengan bulan Suro. 22- Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sifat utama dari 70.000 orang tersebut terkumpul pada sifat tawakkal. Karena tawakkal mereka yang sempurna, mereka tidak meminta diruqyah, tidak meminta dikay, dan tidak beranggapan sial. Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 23- Hadits yang dibicarakan saat ini tidaklah menunjukkan untuk meninggalkan usaha atau sebab. Dan tawakkal itu adalah cara yang utama untuk meraih sebab. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah, Dialah yang mencukupinya.“(QS. Ath Thalaq: 3). Jadi mereka punya enggan melakukan yang dimakruhkan yaitu meminta diruqyah dan meminta dikay, mereka lebih memilih tawakkal daripada mengambil sebab yang makruh tersebut. 24- Adapun mengambil sebab dan berobat dengan cara yang tidak makruh, maka seperti itu boleh dan tidak mencacati tawakkal. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً “Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula penawar (obatnya)” (HR. Bukhari no. 5678). 25- ‘Ukkasyah bin Mihshan adalah di antara 70.000 orang tersebut. Ia adalah di antara penunggang kuda terbaik di kalangan Arab dahulu. Beliau mati syahid tahun 12 H ketika berperang bersama Kholid bin Walid memerangi orang-orang yang murtad. 26- Hadits ini menunjukkan boleh meminta do’a pada orang yang punya keutamaan yang lebih seperti yang dilakukan oleh Ukkasyah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 27- Lantas orang berikutnya setelah ‘Ukkasyah ingin meminta lagi pada Nabi agar berdo’a pada Allah supaya ia juga termasuk dalam 70.000 golongan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau sudah kedahuluan oleh ‘Ukkasyah”. Ini adalah cara Nabi supaya yang lainnya tidak meminta seperti itu lagi. Ini menunjukkan kelemah lembutan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak beliau yang baik. 28- Orang yang meminta kedua kalinya bukanlah munafik dengan dua alasan: (a) para sahabat Nabi asalnya bukanlah orang munafik, (2) orang yang meminta seperti itu pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berarti yakin akan benarnya Rasul dan itu tidak muncul dari orang munafik. 29- Boleh menolak sesuatu dengan cara yang terlihat seperti berbohong, namun maksudnya tidak demikian. Faedah-faedah di atas diambil dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid karya Syaikh Sulaiman At Tamimi, yang merupakan kitab penjelasan pertama, paling lengkap dan memuaskan dari kitab tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. — Referensi: At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Darul Imam Al Bukhari, cetakan pertama, tahun 1433 H. Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, terbitan Darush Ash Shomi’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Diselesaikan di Bekasi Timur, Jatimulya, Jl. Cemara 1, di rumah paman tercinta, 15 Safar 1435 H, 07:40 WIB Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsanggapan sial surga tawakkal

Rakus Harta dan Kedudukan, Merusak Agama

Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً “Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada. Beliau melanjutkan, يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل “Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.” [Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64]. Sebuah Contoh: KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-, Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya. menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA. demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri. Ibrah: Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun. Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.

Rakus Harta dan Kedudukan, Merusak Agama

Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً “Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada. Beliau melanjutkan, يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل “Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.” [Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64]. Sebuah Contoh: KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-, Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya. menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA. demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri. Ibrah: Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun. Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.
Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً “Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada. Beliau melanjutkan, يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل “Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.” [Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64]. Sebuah Contoh: KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-, Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya. menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA. demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri. Ibrah: Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun. Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.


Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً “Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada. Beliau melanjutkan, يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل “Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.” [Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64]. Sebuah Contoh: KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-, Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya. menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA. demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri. Ibrah: Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun. Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.

Ibarat Menggenggam Bara Api

Ibarat Menggenggam Bara Api Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ “Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth]. Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ “Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,” Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004) Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat. Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan, “Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”

Ibarat Menggenggam Bara Api

Ibarat Menggenggam Bara Api Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ “Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth]. Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ “Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,” Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004) Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat. Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan, “Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”
Ibarat Menggenggam Bara Api Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ “Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth]. Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ “Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,” Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004) Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat. Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan, “Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”


Ibarat Menggenggam Bara Api Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ “Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth]. Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ “Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,” Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.” (HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004) Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat. Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan, “Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”

RENUNGAN BUNDA TENTANG AYAH ::

Anakku…Memang ayah tak mengandungmu,tα̇pi darahnya mengalir didarahmu, namanya melekat dinamamu…Memang ayah tak melahirkanmu,Memang ayah tak menyusuimu,tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…Nak…Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya… Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri…Bunda hanya ingin kau tahu nak…bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda…Anakku…Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu…(copas)

RENUNGAN BUNDA TENTANG AYAH ::

Anakku…Memang ayah tak mengandungmu,tα̇pi darahnya mengalir didarahmu, namanya melekat dinamamu…Memang ayah tak melahirkanmu,Memang ayah tak menyusuimu,tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…Nak…Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya… Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri…Bunda hanya ingin kau tahu nak…bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda…Anakku…Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu…(copas)
Anakku…Memang ayah tak mengandungmu,tα̇pi darahnya mengalir didarahmu, namanya melekat dinamamu…Memang ayah tak melahirkanmu,Memang ayah tak menyusuimu,tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…Nak…Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya… Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri…Bunda hanya ingin kau tahu nak…bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda…Anakku…Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu…(copas)


Anakku…Memang ayah tak mengandungmu,tα̇pi darahnya mengalir didarahmu, namanya melekat dinamamu…Memang ayah tak melahirkanmu,Memang ayah tak menyusuimu,tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu…Nak…Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya… Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri…Bunda hanya ingin kau tahu nak…bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda…Anakku…Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu…(copas)

Dunia

قَدْ نَادَتِ الدُّنْيَا عَلَى نَفْسِهَا ** لَوْ كَانَ فِي الْعَالَمِ مَنْ يَسْمَعُSungguh dunia menyeru terhadap dirinya…. Seandainya di alam ini ada yang mendengar seruannyaكَمْ وَاثِقٍ بِالْعُمْرِ أَفْنَيْتُه ** وَجَامِعٍ بَدّدْتُ مَا يَجْمَعُBetapa banyak orang yang percaya pada umurnya akhirnya meninggal….Dan betapa banyak pengumpul harta kuhancurkan apa yang mereka kumpulkan…Intinya : jangan pernah percaya dengan kesehatanmu bahwa engkau akan panjang umur…Dan jangan pernah percaya terhadap harta yang telah kau kumpulkan akan mengekalkanmu…

Dunia

قَدْ نَادَتِ الدُّنْيَا عَلَى نَفْسِهَا ** لَوْ كَانَ فِي الْعَالَمِ مَنْ يَسْمَعُSungguh dunia menyeru terhadap dirinya…. Seandainya di alam ini ada yang mendengar seruannyaكَمْ وَاثِقٍ بِالْعُمْرِ أَفْنَيْتُه ** وَجَامِعٍ بَدّدْتُ مَا يَجْمَعُBetapa banyak orang yang percaya pada umurnya akhirnya meninggal….Dan betapa banyak pengumpul harta kuhancurkan apa yang mereka kumpulkan…Intinya : jangan pernah percaya dengan kesehatanmu bahwa engkau akan panjang umur…Dan jangan pernah percaya terhadap harta yang telah kau kumpulkan akan mengekalkanmu…
قَدْ نَادَتِ الدُّنْيَا عَلَى نَفْسِهَا ** لَوْ كَانَ فِي الْعَالَمِ مَنْ يَسْمَعُSungguh dunia menyeru terhadap dirinya…. Seandainya di alam ini ada yang mendengar seruannyaكَمْ وَاثِقٍ بِالْعُمْرِ أَفْنَيْتُه ** وَجَامِعٍ بَدّدْتُ مَا يَجْمَعُBetapa banyak orang yang percaya pada umurnya akhirnya meninggal….Dan betapa banyak pengumpul harta kuhancurkan apa yang mereka kumpulkan…Intinya : jangan pernah percaya dengan kesehatanmu bahwa engkau akan panjang umur…Dan jangan pernah percaya terhadap harta yang telah kau kumpulkan akan mengekalkanmu…


قَدْ نَادَتِ الدُّنْيَا عَلَى نَفْسِهَا ** لَوْ كَانَ فِي الْعَالَمِ مَنْ يَسْمَعُSungguh dunia menyeru terhadap dirinya…. Seandainya di alam ini ada yang mendengar seruannyaكَمْ وَاثِقٍ بِالْعُمْرِ أَفْنَيْتُه ** وَجَامِعٍ بَدّدْتُ مَا يَجْمَعُBetapa banyak orang yang percaya pada umurnya akhirnya meninggal….Dan betapa banyak pengumpul harta kuhancurkan apa yang mereka kumpulkan…Intinya : jangan pernah percaya dengan kesehatanmu bahwa engkau akan panjang umur…Dan jangan pernah percaya terhadap harta yang telah kau kumpulkan akan mengekalkanmu…

Tamak vs Qona’ah

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُAku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan dirikuKarena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebutوَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُDan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati….Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُJika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan 

Tamak vs Qona’ah

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُAku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan dirikuKarena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebutوَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُDan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati….Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُJika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan 
Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُAku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan dirikuKarena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebutوَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُDan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati….Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُJika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan 


Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُAku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan dirikuKarena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebutوَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُDan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati….Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُJika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan 
Prev     Next