Doa Agar Tidak Mati Mengerikan

Amalkan doa yang sangat bermanfaat ini. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAT TARODDI WAL HADMI WAL GHOROQI WAL HARIIQI, WA A’UUDZU BIKA AN-YATAKHOBBATHONISY SYAITHOONU ‘INDAL MAUTI, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA FII SABIILIKA MUDBIRON, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA LADIIGHO. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebinasaan (terjatuh), kehancuran (tertimpa sesuatu), tenggelam, kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari dirasuki setan pada saat mati, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan tersengat. (HR. An-Nasa’i, no. 5531. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Diambil dari bahasan buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “50 Doa Mengatasi Problem Hidup”. Insya Allah sebentar lagi akan diterbitkan Pustaka Rumaysho. Jika ingin pre-order, silakan menghubungi 085200171222. Format: Pesan Buku 50 Doa# Nama# Alamat# No. Hape.   Yang dimaksud dengan beberapa kalimat dalam doa: At-taroddi artinya jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Al-hadm artinya tertimpa bangunan. Al-ghoroq artinya tenggelam dalam air. Al-hariq artinya terbakar api. An-yatakhobbathonisy syaithoonu ‘indal mauti artinya dikuasai oleh setan ketika akan meninggal dunia, sehingga setan menghalanginya untuk bertaubat. Al-ladhiiga artinya mati dalam keadaan terkena racun dari kalajengking dan ular.   Kenapa sampai kita berdoa meminta perlindungan dari hal-hal di atas padahal yang disebutkan dalam doa menyebabkan seseorang mendapatkan kesyahidan sebagaimana disebutkan dalam hadits?   Kata Imam Ath-Thibi rahimahullah menjelaskan bahwa hal-hal yang disebutkan asalnya adalah musibah. Adapun mengharapkan kesyahidan dari musibah tersebut, perlu dipahami bahwa memang setiap musibah sampai pun duri yang menusuk akan mendapatkan pahala. Kata Imam Ath-Thibi, antara syahid di medan perang dengan syahid karena musibah di atas sangat berbeda. Karena syahid di medan perang itu diharap-harap. Sedangkan syahid dengan jatuh dari tempat tinggi, terbakar, dan tenggelam, itu tidak dicari-cari. Kalau seseorang berusaha bunuh diri dengan cara-cara tadi, malah dihukumi berdosa. Penjelasan di atas diambil dari Muro’ah Al-Mafatih, dinukil dari ahlalhdeeth.com. Semoga Allah mudahkan untuk mengamalkan doa di atas. Moga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah. — Selesai ditulis setelah hujan mengguyur Panggang, Gunungkidul, Selasa, 4 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa husnul khotimah mati suul khotimah syahid

Doa Agar Tidak Mati Mengerikan

Amalkan doa yang sangat bermanfaat ini. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAT TARODDI WAL HADMI WAL GHOROQI WAL HARIIQI, WA A’UUDZU BIKA AN-YATAKHOBBATHONISY SYAITHOONU ‘INDAL MAUTI, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA FII SABIILIKA MUDBIRON, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA LADIIGHO. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebinasaan (terjatuh), kehancuran (tertimpa sesuatu), tenggelam, kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari dirasuki setan pada saat mati, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan tersengat. (HR. An-Nasa’i, no. 5531. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Diambil dari bahasan buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “50 Doa Mengatasi Problem Hidup”. Insya Allah sebentar lagi akan diterbitkan Pustaka Rumaysho. Jika ingin pre-order, silakan menghubungi 085200171222. Format: Pesan Buku 50 Doa# Nama# Alamat# No. Hape.   Yang dimaksud dengan beberapa kalimat dalam doa: At-taroddi artinya jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Al-hadm artinya tertimpa bangunan. Al-ghoroq artinya tenggelam dalam air. Al-hariq artinya terbakar api. An-yatakhobbathonisy syaithoonu ‘indal mauti artinya dikuasai oleh setan ketika akan meninggal dunia, sehingga setan menghalanginya untuk bertaubat. Al-ladhiiga artinya mati dalam keadaan terkena racun dari kalajengking dan ular.   Kenapa sampai kita berdoa meminta perlindungan dari hal-hal di atas padahal yang disebutkan dalam doa menyebabkan seseorang mendapatkan kesyahidan sebagaimana disebutkan dalam hadits?   Kata Imam Ath-Thibi rahimahullah menjelaskan bahwa hal-hal yang disebutkan asalnya adalah musibah. Adapun mengharapkan kesyahidan dari musibah tersebut, perlu dipahami bahwa memang setiap musibah sampai pun duri yang menusuk akan mendapatkan pahala. Kata Imam Ath-Thibi, antara syahid di medan perang dengan syahid karena musibah di atas sangat berbeda. Karena syahid di medan perang itu diharap-harap. Sedangkan syahid dengan jatuh dari tempat tinggi, terbakar, dan tenggelam, itu tidak dicari-cari. Kalau seseorang berusaha bunuh diri dengan cara-cara tadi, malah dihukumi berdosa. Penjelasan di atas diambil dari Muro’ah Al-Mafatih, dinukil dari ahlalhdeeth.com. Semoga Allah mudahkan untuk mengamalkan doa di atas. Moga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah. — Selesai ditulis setelah hujan mengguyur Panggang, Gunungkidul, Selasa, 4 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa husnul khotimah mati suul khotimah syahid
Amalkan doa yang sangat bermanfaat ini. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAT TARODDI WAL HADMI WAL GHOROQI WAL HARIIQI, WA A’UUDZU BIKA AN-YATAKHOBBATHONISY SYAITHOONU ‘INDAL MAUTI, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA FII SABIILIKA MUDBIRON, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA LADIIGHO. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebinasaan (terjatuh), kehancuran (tertimpa sesuatu), tenggelam, kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari dirasuki setan pada saat mati, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan tersengat. (HR. An-Nasa’i, no. 5531. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Diambil dari bahasan buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “50 Doa Mengatasi Problem Hidup”. Insya Allah sebentar lagi akan diterbitkan Pustaka Rumaysho. Jika ingin pre-order, silakan menghubungi 085200171222. Format: Pesan Buku 50 Doa# Nama# Alamat# No. Hape.   Yang dimaksud dengan beberapa kalimat dalam doa: At-taroddi artinya jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Al-hadm artinya tertimpa bangunan. Al-ghoroq artinya tenggelam dalam air. Al-hariq artinya terbakar api. An-yatakhobbathonisy syaithoonu ‘indal mauti artinya dikuasai oleh setan ketika akan meninggal dunia, sehingga setan menghalanginya untuk bertaubat. Al-ladhiiga artinya mati dalam keadaan terkena racun dari kalajengking dan ular.   Kenapa sampai kita berdoa meminta perlindungan dari hal-hal di atas padahal yang disebutkan dalam doa menyebabkan seseorang mendapatkan kesyahidan sebagaimana disebutkan dalam hadits?   Kata Imam Ath-Thibi rahimahullah menjelaskan bahwa hal-hal yang disebutkan asalnya adalah musibah. Adapun mengharapkan kesyahidan dari musibah tersebut, perlu dipahami bahwa memang setiap musibah sampai pun duri yang menusuk akan mendapatkan pahala. Kata Imam Ath-Thibi, antara syahid di medan perang dengan syahid karena musibah di atas sangat berbeda. Karena syahid di medan perang itu diharap-harap. Sedangkan syahid dengan jatuh dari tempat tinggi, terbakar, dan tenggelam, itu tidak dicari-cari. Kalau seseorang berusaha bunuh diri dengan cara-cara tadi, malah dihukumi berdosa. Penjelasan di atas diambil dari Muro’ah Al-Mafatih, dinukil dari ahlalhdeeth.com. Semoga Allah mudahkan untuk mengamalkan doa di atas. Moga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah. — Selesai ditulis setelah hujan mengguyur Panggang, Gunungkidul, Selasa, 4 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa husnul khotimah mati suul khotimah syahid


Amalkan doa yang sangat bermanfaat ini. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAT TARODDI WAL HADMI WAL GHOROQI WAL HARIIQI, WA A’UUDZU BIKA AN-YATAKHOBBATHONISY SYAITHOONU ‘INDAL MAUTI, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA FII SABIILIKA MUDBIRON, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA LADIIGHO. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebinasaan (terjatuh), kehancuran (tertimpa sesuatu), tenggelam, kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari dirasuki setan pada saat mati, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan tersengat. (HR. An-Nasa’i, no. 5531. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Diambil dari bahasan buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “50 Doa Mengatasi Problem Hidup”. Insya Allah sebentar lagi akan diterbitkan Pustaka Rumaysho. Jika ingin pre-order, silakan menghubungi 085200171222. Format: Pesan Buku 50 Doa# Nama# Alamat# No. Hape.   Yang dimaksud dengan beberapa kalimat dalam doa: At-taroddi artinya jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Al-hadm artinya tertimpa bangunan. Al-ghoroq artinya tenggelam dalam air. Al-hariq artinya terbakar api. An-yatakhobbathonisy syaithoonu ‘indal mauti artinya dikuasai oleh setan ketika akan meninggal dunia, sehingga setan menghalanginya untuk bertaubat. Al-ladhiiga artinya mati dalam keadaan terkena racun dari kalajengking dan ular.   Kenapa sampai kita berdoa meminta perlindungan dari hal-hal di atas padahal yang disebutkan dalam doa menyebabkan seseorang mendapatkan kesyahidan sebagaimana disebutkan dalam hadits?   Kata Imam Ath-Thibi rahimahullah menjelaskan bahwa hal-hal yang disebutkan asalnya adalah musibah. Adapun mengharapkan kesyahidan dari musibah tersebut, perlu dipahami bahwa memang setiap musibah sampai pun duri yang menusuk akan mendapatkan pahala. Kata Imam Ath-Thibi, antara syahid di medan perang dengan syahid karena musibah di atas sangat berbeda. Karena syahid di medan perang itu diharap-harap. Sedangkan syahid dengan jatuh dari tempat tinggi, terbakar, dan tenggelam, itu tidak dicari-cari. Kalau seseorang berusaha bunuh diri dengan cara-cara tadi, malah dihukumi berdosa. Penjelasan di atas diambil dari Muro’ah Al-Mafatih, dinukil dari ahlalhdeeth.com. Semoga Allah mudahkan untuk mengamalkan doa di atas. Moga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah. — Selesai ditulis setelah hujan mengguyur Panggang, Gunungkidul, Selasa, 4 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsdoa husnul khotimah mati suul khotimah syahid

Isa Al Masih Bukan Tuhan Atau Anak Tuhan

Dalam akidah Islam, Isa putra Maryam adalah hamba, Nabi dan Rasul Allah Ta‘āla. Dia bukan anak Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Bahkan Allah Ta‘āla telah membantah di banyak ayat-Nya bahwa Dia menjadikan Isa sebagai putra-Nya:وَأَنَّهُۥ تَعَـٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَـٰحِبَةًۭ وَلَا وَلَدًۭا ﴿٣﴾“Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak” (QS al-Jinn [72]: 3).Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Kaya tidak butuh kepada yang lainnya. Dia tidak butuh mengangkat seorang anak dari makhluk-Nya.قَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًۭا ۗ سُبْحَـٰنَهُۥ ۖ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ۖ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَـٰنٍۭ بِهَـٰذَآ ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٦٨﴾“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak.” Maha Suci Allah; Dialah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS Yūnus [10]: 68)Sesungguhnya umat Kristiani telah berlaku lancang kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladengan menuduh-Nya telah mengangkat seorang hamba dan utusan-Nya sebagai anak-Nya yang mewarisi sifat-sifat-Nya. Karena ucapan mereka ini, hampir-hampir langit dan bumi pecah.وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَلَدًۭا ﴿٨٨﴾ لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْـًٔا إِدًّۭا ﴿٨٩﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ ٱلْأَرْضُ وَتَخِرُّ ٱلْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَن دَعَوْا۟ لِلرَّحْمَـٰنِ وَلَدًۭا ﴿٩١﴾ وَمَا يَنۢبَغِى لِلرَّحْمَـٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ﴿٩٢﴾ إِن كُلُّ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضِ إِلَّآ ءَاتِى ٱلرَّحْمَـٰنِ عَبْدًۭا ﴿٩٣﴾“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba” (QS Maryam [19]: 88–93).Dan secara tegas Allah telah menyatakan “kafir” para penganut ajaran Trinitas tersebut.لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَـٰبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ ﴿٧٢﴾ لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةٍۢ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّآ إِلَـٰهٌۭ وَ‌ٰحِدٌۭ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا۟ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam”, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Isra’il, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS al-Mā’idah [5]: 72–73).Setelah itu, ketahuilah wahai saudaraku bahwa perayaan natal adalah mengandung akidah kufur yang menuhankan Isa al-Masih, karena mereka sedang merayakan dan gembira atas lahirnya Isa sebagai Tuhan Atau Anak tuhan, bukan sekedar sebagai hamba dan Nabi.Oleh karena itu, sungguh tidak mungkin seorang muslim yang menauhidkan Allah akan ikut serta, mendukung, dan bergembira dengan perayaan-perayaan hari raya tersebut yang jelas-jelas menghina Allah dengan terang-terangan, ikut Natal bersama, memakai atribut Natal atau mengucapkan selamat Natal.***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Bacaan Iftitah Sesuai Sunnah, Gambaran Surga Dan Neraka Dalam Islam, Hadis Sakit, Hadis Abu Hurairah, Shalawat Nariyah

Isa Al Masih Bukan Tuhan Atau Anak Tuhan

Dalam akidah Islam, Isa putra Maryam adalah hamba, Nabi dan Rasul Allah Ta‘āla. Dia bukan anak Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Bahkan Allah Ta‘āla telah membantah di banyak ayat-Nya bahwa Dia menjadikan Isa sebagai putra-Nya:وَأَنَّهُۥ تَعَـٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَـٰحِبَةًۭ وَلَا وَلَدًۭا ﴿٣﴾“Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak” (QS al-Jinn [72]: 3).Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Kaya tidak butuh kepada yang lainnya. Dia tidak butuh mengangkat seorang anak dari makhluk-Nya.قَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًۭا ۗ سُبْحَـٰنَهُۥ ۖ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ۖ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَـٰنٍۭ بِهَـٰذَآ ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٦٨﴾“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak.” Maha Suci Allah; Dialah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS Yūnus [10]: 68)Sesungguhnya umat Kristiani telah berlaku lancang kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladengan menuduh-Nya telah mengangkat seorang hamba dan utusan-Nya sebagai anak-Nya yang mewarisi sifat-sifat-Nya. Karena ucapan mereka ini, hampir-hampir langit dan bumi pecah.وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَلَدًۭا ﴿٨٨﴾ لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْـًٔا إِدًّۭا ﴿٨٩﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ ٱلْأَرْضُ وَتَخِرُّ ٱلْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَن دَعَوْا۟ لِلرَّحْمَـٰنِ وَلَدًۭا ﴿٩١﴾ وَمَا يَنۢبَغِى لِلرَّحْمَـٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ﴿٩٢﴾ إِن كُلُّ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضِ إِلَّآ ءَاتِى ٱلرَّحْمَـٰنِ عَبْدًۭا ﴿٩٣﴾“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba” (QS Maryam [19]: 88–93).Dan secara tegas Allah telah menyatakan “kafir” para penganut ajaran Trinitas tersebut.لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَـٰبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ ﴿٧٢﴾ لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةٍۢ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّآ إِلَـٰهٌۭ وَ‌ٰحِدٌۭ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا۟ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam”, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Isra’il, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS al-Mā’idah [5]: 72–73).Setelah itu, ketahuilah wahai saudaraku bahwa perayaan natal adalah mengandung akidah kufur yang menuhankan Isa al-Masih, karena mereka sedang merayakan dan gembira atas lahirnya Isa sebagai Tuhan Atau Anak tuhan, bukan sekedar sebagai hamba dan Nabi.Oleh karena itu, sungguh tidak mungkin seorang muslim yang menauhidkan Allah akan ikut serta, mendukung, dan bergembira dengan perayaan-perayaan hari raya tersebut yang jelas-jelas menghina Allah dengan terang-terangan, ikut Natal bersama, memakai atribut Natal atau mengucapkan selamat Natal.***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Bacaan Iftitah Sesuai Sunnah, Gambaran Surga Dan Neraka Dalam Islam, Hadis Sakit, Hadis Abu Hurairah, Shalawat Nariyah
Dalam akidah Islam, Isa putra Maryam adalah hamba, Nabi dan Rasul Allah Ta‘āla. Dia bukan anak Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Bahkan Allah Ta‘āla telah membantah di banyak ayat-Nya bahwa Dia menjadikan Isa sebagai putra-Nya:وَأَنَّهُۥ تَعَـٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَـٰحِبَةًۭ وَلَا وَلَدًۭا ﴿٣﴾“Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak” (QS al-Jinn [72]: 3).Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Kaya tidak butuh kepada yang lainnya. Dia tidak butuh mengangkat seorang anak dari makhluk-Nya.قَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًۭا ۗ سُبْحَـٰنَهُۥ ۖ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ۖ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَـٰنٍۭ بِهَـٰذَآ ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٦٨﴾“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak.” Maha Suci Allah; Dialah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS Yūnus [10]: 68)Sesungguhnya umat Kristiani telah berlaku lancang kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladengan menuduh-Nya telah mengangkat seorang hamba dan utusan-Nya sebagai anak-Nya yang mewarisi sifat-sifat-Nya. Karena ucapan mereka ini, hampir-hampir langit dan bumi pecah.وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَلَدًۭا ﴿٨٨﴾ لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْـًٔا إِدًّۭا ﴿٨٩﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ ٱلْأَرْضُ وَتَخِرُّ ٱلْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَن دَعَوْا۟ لِلرَّحْمَـٰنِ وَلَدًۭا ﴿٩١﴾ وَمَا يَنۢبَغِى لِلرَّحْمَـٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ﴿٩٢﴾ إِن كُلُّ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضِ إِلَّآ ءَاتِى ٱلرَّحْمَـٰنِ عَبْدًۭا ﴿٩٣﴾“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba” (QS Maryam [19]: 88–93).Dan secara tegas Allah telah menyatakan “kafir” para penganut ajaran Trinitas tersebut.لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَـٰبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ ﴿٧٢﴾ لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةٍۢ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّآ إِلَـٰهٌۭ وَ‌ٰحِدٌۭ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا۟ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam”, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Isra’il, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS al-Mā’idah [5]: 72–73).Setelah itu, ketahuilah wahai saudaraku bahwa perayaan natal adalah mengandung akidah kufur yang menuhankan Isa al-Masih, karena mereka sedang merayakan dan gembira atas lahirnya Isa sebagai Tuhan Atau Anak tuhan, bukan sekedar sebagai hamba dan Nabi.Oleh karena itu, sungguh tidak mungkin seorang muslim yang menauhidkan Allah akan ikut serta, mendukung, dan bergembira dengan perayaan-perayaan hari raya tersebut yang jelas-jelas menghina Allah dengan terang-terangan, ikut Natal bersama, memakai atribut Natal atau mengucapkan selamat Natal.***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Bacaan Iftitah Sesuai Sunnah, Gambaran Surga Dan Neraka Dalam Islam, Hadis Sakit, Hadis Abu Hurairah, Shalawat Nariyah


Dalam akidah Islam, Isa putra Maryam adalah hamba, Nabi dan Rasul Allah Ta‘āla. Dia bukan anak Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Bahkan Allah Ta‘āla telah membantah di banyak ayat-Nya bahwa Dia menjadikan Isa sebagai putra-Nya:وَأَنَّهُۥ تَعَـٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَـٰحِبَةًۭ وَلَا وَلَدًۭا ﴿٣﴾“Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak” (QS al-Jinn [72]: 3).Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Kaya tidak butuh kepada yang lainnya. Dia tidak butuh mengangkat seorang anak dari makhluk-Nya.قَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدًۭا ۗ سُبْحَـٰنَهُۥ ۖ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ۖ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَـٰنٍۭ بِهَـٰذَآ ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٦٨﴾“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempunyai anak.” Maha Suci Allah; Dialah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS Yūnus [10]: 68)Sesungguhnya umat Kristiani telah berlaku lancang kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladengan menuduh-Nya telah mengangkat seorang hamba dan utusan-Nya sebagai anak-Nya yang mewarisi sifat-sifat-Nya. Karena ucapan mereka ini, hampir-hampir langit dan bumi pecah.وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَلَدًۭا ﴿٨٨﴾ لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْـًٔا إِدًّۭا ﴿٨٩﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ ٱلْأَرْضُ وَتَخِرُّ ٱلْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَن دَعَوْا۟ لِلرَّحْمَـٰنِ وَلَدًۭا ﴿٩١﴾ وَمَا يَنۢبَغِى لِلرَّحْمَـٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ﴿٩٢﴾ إِن كُلُّ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضِ إِلَّآ ءَاتِى ٱلرَّحْمَـٰنِ عَبْدًۭا ﴿٩٣﴾“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba” (QS Maryam [19]: 88–93).Dan secara tegas Allah telah menyatakan “kafir” para penganut ajaran Trinitas tersebut.لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَـٰبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ ﴿٧٢﴾ لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةٍۢ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّآ إِلَـٰهٌۭ وَ‌ٰحِدٌۭ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا۟ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam”, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Isra’il, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (QS al-Mā’idah [5]: 72–73).Setelah itu, ketahuilah wahai saudaraku bahwa perayaan natal adalah mengandung akidah kufur yang menuhankan Isa al-Masih, karena mereka sedang merayakan dan gembira atas lahirnya Isa sebagai Tuhan Atau Anak tuhan, bukan sekedar sebagai hamba dan Nabi.Oleh karena itu, sungguh tidak mungkin seorang muslim yang menauhidkan Allah akan ikut serta, mendukung, dan bergembira dengan perayaan-perayaan hari raya tersebut yang jelas-jelas menghina Allah dengan terang-terangan, ikut Natal bersama, memakai atribut Natal atau mengucapkan selamat Natal.***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Bacaan Iftitah Sesuai Sunnah, Gambaran Surga Dan Neraka Dalam Islam, Hadis Sakit, Hadis Abu Hurairah, Shalawat Nariyah

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (9)

7. Ciuman cinta Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- berkata,قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan dirahmati’” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318). Dalam kisah yang sama dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata,جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ“Datang seorang Arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, ‘Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki? Kami tidak mencium mereka.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa sayang dari hatimu’” (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317).Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhai oleh Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah. Tidakkah engkau perhatikan Al-Aqro’ bin Haabis menyebutkan kepada Nabi bahwa ia memiliki sepuluh orang anak laki-laki, tidak seorang pun yang pernah ia cium, maka Nabi pun berkata kepada Al-Aqro’ bahwa siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang. Maka hal ini menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan perkara yang mendatangkan rahmat Allah[1. Dari https://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/246-ternyata-mencium-anak-anak-mendatangkan-rahmat-Allah-].8. Candaan CintaDari Mahmud bin Ar-Robi’ berkata,عَقَلْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ“Saya teringat sebuah semburan (air dari mulut) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau semburkan di wajahku, air itu diambil dari timba, sedangkan ketika itu saya (masih) seorang anak berumur lima tahun” (HR. Al-Bukhari).Ada sebuah riwayat Imam Ahmad, tentang kisah Abu Umair yang telah disebutkan sebelum ini, terdapat keterangan, “Dan beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dahulu banyak mencandainya (Abu Umair). Suatu saat beliau mengunjunginya, lalu beliau melihatnya dalam keadaan sedih, kemudian beliau bertanya,مالي أرى أبا عمير حزيناً ؟“Saya melihat Abu Umair bersedih, ada apa gerangan?”Kemudian orang-orangpun menjawab, “Telah mati burung kecilnya yang dahulu ia bermain dengannya!” (HR. Imam Ahmad, shahih)[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id____🔍 Bacaan Iftitah Sesuai Sunnah, Gambaran Surga Dan Neraka Dalam Islam, Hadis Sakit, Hadis Abu Hurairah, Shalawat Nariyah

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (9)

7. Ciuman cinta Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- berkata,قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan dirahmati’” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318). Dalam kisah yang sama dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata,جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ“Datang seorang Arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, ‘Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki? Kami tidak mencium mereka.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa sayang dari hatimu’” (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317).Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhai oleh Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah. Tidakkah engkau perhatikan Al-Aqro’ bin Haabis menyebutkan kepada Nabi bahwa ia memiliki sepuluh orang anak laki-laki, tidak seorang pun yang pernah ia cium, maka Nabi pun berkata kepada Al-Aqro’ bahwa siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang. Maka hal ini menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan perkara yang mendatangkan rahmat Allah[1. Dari https://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/246-ternyata-mencium-anak-anak-mendatangkan-rahmat-Allah-].8. Candaan CintaDari Mahmud bin Ar-Robi’ berkata,عَقَلْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ“Saya teringat sebuah semburan (air dari mulut) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau semburkan di wajahku, air itu diambil dari timba, sedangkan ketika itu saya (masih) seorang anak berumur lima tahun” (HR. Al-Bukhari).Ada sebuah riwayat Imam Ahmad, tentang kisah Abu Umair yang telah disebutkan sebelum ini, terdapat keterangan, “Dan beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dahulu banyak mencandainya (Abu Umair). Suatu saat beliau mengunjunginya, lalu beliau melihatnya dalam keadaan sedih, kemudian beliau bertanya,مالي أرى أبا عمير حزيناً ؟“Saya melihat Abu Umair bersedih, ada apa gerangan?”Kemudian orang-orangpun menjawab, “Telah mati burung kecilnya yang dahulu ia bermain dengannya!” (HR. Imam Ahmad, shahih)[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id____🔍 Bacaan Iftitah Sesuai Sunnah, Gambaran Surga Dan Neraka Dalam Islam, Hadis Sakit, Hadis Abu Hurairah, Shalawat Nariyah
7. Ciuman cinta Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- berkata,قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan dirahmati’” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318). Dalam kisah yang sama dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata,جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ“Datang seorang Arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, ‘Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki? Kami tidak mencium mereka.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa sayang dari hatimu’” (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317).Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhai oleh Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah. Tidakkah engkau perhatikan Al-Aqro’ bin Haabis menyebutkan kepada Nabi bahwa ia memiliki sepuluh orang anak laki-laki, tidak seorang pun yang pernah ia cium, maka Nabi pun berkata kepada Al-Aqro’ bahwa siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang. Maka hal ini menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan perkara yang mendatangkan rahmat Allah[1. Dari https://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/246-ternyata-mencium-anak-anak-mendatangkan-rahmat-Allah-].8. Candaan CintaDari Mahmud bin Ar-Robi’ berkata,عَقَلْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ“Saya teringat sebuah semburan (air dari mulut) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau semburkan di wajahku, air itu diambil dari timba, sedangkan ketika itu saya (masih) seorang anak berumur lima tahun” (HR. Al-Bukhari).Ada sebuah riwayat Imam Ahmad, tentang kisah Abu Umair yang telah disebutkan sebelum ini, terdapat keterangan, “Dan beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dahulu banyak mencandainya (Abu Umair). Suatu saat beliau mengunjunginya, lalu beliau melihatnya dalam keadaan sedih, kemudian beliau bertanya,مالي أرى أبا عمير حزيناً ؟“Saya melihat Abu Umair bersedih, ada apa gerangan?”Kemudian orang-orangpun menjawab, “Telah mati burung kecilnya yang dahulu ia bermain dengannya!” (HR. Imam Ahmad, shahih)[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id____🔍 Bacaan Iftitah Sesuai Sunnah, Gambaran Surga Dan Neraka Dalam Islam, Hadis Sakit, Hadis Abu Hurairah, Shalawat Nariyah


7. Ciuman cinta Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- berkata,قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan dirahmati’” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318). Dalam kisah yang sama dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata,جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ“Datang seorang Arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, ‘Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki? Kami tidak mencium mereka.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa sayang dari hatimu’” (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317).Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhai oleh Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah. Tidakkah engkau perhatikan Al-Aqro’ bin Haabis menyebutkan kepada Nabi bahwa ia memiliki sepuluh orang anak laki-laki, tidak seorang pun yang pernah ia cium, maka Nabi pun berkata kepada Al-Aqro’ bahwa siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang. Maka hal ini menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan perkara yang mendatangkan rahmat Allah[1. Dari https://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/246-ternyata-mencium-anak-anak-mendatangkan-rahmat-Allah-].8. Candaan CintaDari Mahmud bin Ar-Robi’ berkata,عَقَلْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ“Saya teringat sebuah semburan (air dari mulut) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau semburkan di wajahku, air itu diambil dari timba, sedangkan ketika itu saya (masih) seorang anak berumur lima tahun” (HR. Al-Bukhari).Ada sebuah riwayat Imam Ahmad, tentang kisah Abu Umair yang telah disebutkan sebelum ini, terdapat keterangan, “Dan beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dahulu banyak mencandainya (Abu Umair). Suatu saat beliau mengunjunginya, lalu beliau melihatnya dalam keadaan sedih, kemudian beliau bertanya,مالي أرى أبا عمير حزيناً ؟“Saya melihat Abu Umair bersedih, ada apa gerangan?”Kemudian orang-orangpun menjawab, “Telah mati burung kecilnya yang dahulu ia bermain dengannya!” (HR. Imam Ahmad, shahih)[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id____🔍 Bacaan Iftitah Sesuai Sunnah, Gambaran Surga Dan Neraka Dalam Islam, Hadis Sakit, Hadis Abu Hurairah, Shalawat Nariyah

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (2)

Makna Lā ilāha illallāh Berdasarkan I‘rabnyaMemahami makna Lā ilāha illallāh tidaklah bisa lepas dari i’rab kalimat Lā ilāha illallāh. Salah dalam mengi‘rabnya dapat menyebabkan salah dalam memahami tafsir dan kandungannya. Hal ini dapat menuntun seseorang menuju pada pemahaman yang keliru, namun dirasa benar.I‘rabI‘rab adalah perubahan yang terjadi pada akhir kata, baik nampak ataupun tidak nampak dengan sebab ‘āmil (unsur pengubah). I‘rab dapat terjadi pada ism (nomina) atau fi‘l (verba). I‘rab kalimat Lā ilāha illallāh hanya terjadi pada ism. I‘rab tersebut berfungsi menunjukkan kedudukan/fungsi ism dalam sebuah kalimat, misalnya ism itu sebagai subjek, predikat, atau objek. I‘rab Lā ilāha illallāhKalimat tauhid Lā ilāha illallāh terdiri dari empat unsur sebagaimana dalam tabel berikut. لاَ إِلَٰهَ إِلّاَ اللهُ Lā ilāha illā ِِAllāh Huruf Lā di sini adalah nafiyyah liljinsi (peniadaan jenis). Huruf tersebut memiliki ism dan khabar. Disebut nafiyyah liljinsi (peniadaan jenis) karena meniadakan khabarnya dari seluruh yang termasuk kedalam jenis ismnya, sehingga Lā nafiyyah liljinsi merupakan bentuk peniadaan yang paling luas cakupan peniadaannya. Huruf ini disebut juga Lā istigraqiyyah, karena cakupan peniadaannya mencakup seluruh jenis ismnya dan disebut pula Lā littabriah, karena melepaskan jenis ismnya dari makna khabarnya. Contohلا كافر ناج من النارTidak ada seorangpun dari orang kafir yang selamat dari neraka.Lā nafiyyah liljinsi disini meniadakan khabarnya (selamat dari neraka) dari jenis isimnya (jenis/seluruh orang kafir). Artinya, tidak ada keselamatan dari api neraka bagi orang-orang kafir. Adapun  ism Lā nafiyyah liljinsi dalam kalimat tauhid Lā ilāha illallāh adalah ilāha (إله), sementara khabarnya tidak disebutkan (mahdzuf) dan taqdirnya adalah ḥaqqun (حقٌّ).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Nikmat Surga, Perintah Memakai Jilbab, Dalil Tahlilan Menurut Islam, Rejeki Dalam Islam, Bacaan Doa Sujud Sahwi

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (2)

Makna Lā ilāha illallāh Berdasarkan I‘rabnyaMemahami makna Lā ilāha illallāh tidaklah bisa lepas dari i’rab kalimat Lā ilāha illallāh. Salah dalam mengi‘rabnya dapat menyebabkan salah dalam memahami tafsir dan kandungannya. Hal ini dapat menuntun seseorang menuju pada pemahaman yang keliru, namun dirasa benar.I‘rabI‘rab adalah perubahan yang terjadi pada akhir kata, baik nampak ataupun tidak nampak dengan sebab ‘āmil (unsur pengubah). I‘rab dapat terjadi pada ism (nomina) atau fi‘l (verba). I‘rab kalimat Lā ilāha illallāh hanya terjadi pada ism. I‘rab tersebut berfungsi menunjukkan kedudukan/fungsi ism dalam sebuah kalimat, misalnya ism itu sebagai subjek, predikat, atau objek. I‘rab Lā ilāha illallāhKalimat tauhid Lā ilāha illallāh terdiri dari empat unsur sebagaimana dalam tabel berikut. لاَ إِلَٰهَ إِلّاَ اللهُ Lā ilāha illā ِِAllāh Huruf Lā di sini adalah nafiyyah liljinsi (peniadaan jenis). Huruf tersebut memiliki ism dan khabar. Disebut nafiyyah liljinsi (peniadaan jenis) karena meniadakan khabarnya dari seluruh yang termasuk kedalam jenis ismnya, sehingga Lā nafiyyah liljinsi merupakan bentuk peniadaan yang paling luas cakupan peniadaannya. Huruf ini disebut juga Lā istigraqiyyah, karena cakupan peniadaannya mencakup seluruh jenis ismnya dan disebut pula Lā littabriah, karena melepaskan jenis ismnya dari makna khabarnya. Contohلا كافر ناج من النارTidak ada seorangpun dari orang kafir yang selamat dari neraka.Lā nafiyyah liljinsi disini meniadakan khabarnya (selamat dari neraka) dari jenis isimnya (jenis/seluruh orang kafir). Artinya, tidak ada keselamatan dari api neraka bagi orang-orang kafir. Adapun  ism Lā nafiyyah liljinsi dalam kalimat tauhid Lā ilāha illallāh adalah ilāha (إله), sementara khabarnya tidak disebutkan (mahdzuf) dan taqdirnya adalah ḥaqqun (حقٌّ).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Nikmat Surga, Perintah Memakai Jilbab, Dalil Tahlilan Menurut Islam, Rejeki Dalam Islam, Bacaan Doa Sujud Sahwi
Makna Lā ilāha illallāh Berdasarkan I‘rabnyaMemahami makna Lā ilāha illallāh tidaklah bisa lepas dari i’rab kalimat Lā ilāha illallāh. Salah dalam mengi‘rabnya dapat menyebabkan salah dalam memahami tafsir dan kandungannya. Hal ini dapat menuntun seseorang menuju pada pemahaman yang keliru, namun dirasa benar.I‘rabI‘rab adalah perubahan yang terjadi pada akhir kata, baik nampak ataupun tidak nampak dengan sebab ‘āmil (unsur pengubah). I‘rab dapat terjadi pada ism (nomina) atau fi‘l (verba). I‘rab kalimat Lā ilāha illallāh hanya terjadi pada ism. I‘rab tersebut berfungsi menunjukkan kedudukan/fungsi ism dalam sebuah kalimat, misalnya ism itu sebagai subjek, predikat, atau objek. I‘rab Lā ilāha illallāhKalimat tauhid Lā ilāha illallāh terdiri dari empat unsur sebagaimana dalam tabel berikut. لاَ إِلَٰهَ إِلّاَ اللهُ Lā ilāha illā ِِAllāh Huruf Lā di sini adalah nafiyyah liljinsi (peniadaan jenis). Huruf tersebut memiliki ism dan khabar. Disebut nafiyyah liljinsi (peniadaan jenis) karena meniadakan khabarnya dari seluruh yang termasuk kedalam jenis ismnya, sehingga Lā nafiyyah liljinsi merupakan bentuk peniadaan yang paling luas cakupan peniadaannya. Huruf ini disebut juga Lā istigraqiyyah, karena cakupan peniadaannya mencakup seluruh jenis ismnya dan disebut pula Lā littabriah, karena melepaskan jenis ismnya dari makna khabarnya. Contohلا كافر ناج من النارTidak ada seorangpun dari orang kafir yang selamat dari neraka.Lā nafiyyah liljinsi disini meniadakan khabarnya (selamat dari neraka) dari jenis isimnya (jenis/seluruh orang kafir). Artinya, tidak ada keselamatan dari api neraka bagi orang-orang kafir. Adapun  ism Lā nafiyyah liljinsi dalam kalimat tauhid Lā ilāha illallāh adalah ilāha (إله), sementara khabarnya tidak disebutkan (mahdzuf) dan taqdirnya adalah ḥaqqun (حقٌّ).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Nikmat Surga, Perintah Memakai Jilbab, Dalil Tahlilan Menurut Islam, Rejeki Dalam Islam, Bacaan Doa Sujud Sahwi


Makna Lā ilāha illallāh Berdasarkan I‘rabnyaMemahami makna Lā ilāha illallāh tidaklah bisa lepas dari i’rab kalimat Lā ilāha illallāh. Salah dalam mengi‘rabnya dapat menyebabkan salah dalam memahami tafsir dan kandungannya. Hal ini dapat menuntun seseorang menuju pada pemahaman yang keliru, namun dirasa benar.I‘rabI‘rab adalah perubahan yang terjadi pada akhir kata, baik nampak ataupun tidak nampak dengan sebab ‘āmil (unsur pengubah). I‘rab dapat terjadi pada ism (nomina) atau fi‘l (verba). I‘rab kalimat Lā ilāha illallāh hanya terjadi pada ism. I‘rab tersebut berfungsi menunjukkan kedudukan/fungsi ism dalam sebuah kalimat, misalnya ism itu sebagai subjek, predikat, atau objek. I‘rab Lā ilāha illallāhKalimat tauhid Lā ilāha illallāh terdiri dari empat unsur sebagaimana dalam tabel berikut. لاَ إِلَٰهَ إِلّاَ اللهُ Lā ilāha illā ِِAllāh Huruf Lā di sini adalah nafiyyah liljinsi (peniadaan jenis). Huruf tersebut memiliki ism dan khabar. Disebut nafiyyah liljinsi (peniadaan jenis) karena meniadakan khabarnya dari seluruh yang termasuk kedalam jenis ismnya, sehingga Lā nafiyyah liljinsi merupakan bentuk peniadaan yang paling luas cakupan peniadaannya. Huruf ini disebut juga Lā istigraqiyyah, karena cakupan peniadaannya mencakup seluruh jenis ismnya dan disebut pula Lā littabriah, karena melepaskan jenis ismnya dari makna khabarnya. Contohلا كافر ناج من النارTidak ada seorangpun dari orang kafir yang selamat dari neraka.Lā nafiyyah liljinsi disini meniadakan khabarnya (selamat dari neraka) dari jenis isimnya (jenis/seluruh orang kafir). Artinya, tidak ada keselamatan dari api neraka bagi orang-orang kafir. Adapun  ism Lā nafiyyah liljinsi dalam kalimat tauhid Lā ilāha illallāh adalah ilāha (إله), sementara khabarnya tidak disebutkan (mahdzuf) dan taqdirnya adalah ḥaqqun (حقٌّ).[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Nikmat Surga, Perintah Memakai Jilbab, Dalil Tahlilan Menurut Islam, Rejeki Dalam Islam, Bacaan Doa Sujud Sahwi

Khutbah Jumat: Bolehkah Muslim Merayakan Tahun Baru?

  Bolehkah muslim merayakan tahun baru?   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ     Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Nikmat itu disyukuri dengan kita terus menambah ketakwaan kita kepada Allah.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Siapa saja yang mensyukuri nikmat Allah, Dia akan menambah dengan nikmat-nikmat lainnya pula. Ingatlah pula siapa saja yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa saja yang Allah sesatkan, tidak ada yang memberi petunjuk padanya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Di antara do’a yang diajarkan dalam hadits yang shahih, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الخُلْدِ ALLOHUMMA INNI AS-ALUKA IIMANAN LAA YARTAD, WA NA’IIMAN LAA YANFAD, WA MUROOFAQOTA MUHAMMADIN SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM FII A’LA JANNATIL KHULD. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-MU iman yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak akan habis, dan menyertai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga yang paling tinggi selama-lamanya. (HR. Ahmad, 1: 400; Ibnu Hibban, 5: 303. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)   Dalam doa di atas, berisi permohonan pada Allah supaya terus berada di atas iman dan dilanggengkan dalam nikmat. Di antara bentuk keimanan adalah berpegang pada prinsip wala’ dan bara’, yang merupakan salah satu prinsip akidah dalam agama kita. Prinsip bara’ berarti berlepas diri dari ahli kitab, orang musyrik dan orang kafir. Prinsip wala’ mengajarkan pula untuk mencintai muslim lainnya dan berpegang dengan ajaran Islam. Sedangkan saat ini prinsip ini sudah mulai lepas. Contohnya, kaum muslimin tak punya lagi jati diri yang menunjukkan eksistensinya sebagai seorang muslim. Tidak mau berbangga dengan berkata, “Saya itu MUSLIM.” Lihat saja gaya muslim, mau sama dengan orang kafir. Lihat saja perayaan muslim, ingin sama dengan orang kafir, bahkan ingin merayakan perayaan orang kafir. Dalam istilah para ulama ada yang disebut dengan tasyabbuh. Tasyabbuh itu dilarang, artinya kaum muslimin dilarang menyerupai non-muslim pada perkara yang merupakan ciri khas mereka. Contoh sederhana dalam masalah penampilan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak untuk tidak menyerupai non-muslim.   Dalam hadits disebutkan, جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ “Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim, no. 260). خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ “Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari, no. 5892 dan Muslim, no. 259)   Lihat maksud hadits dan para ulama, kenapa sampai jenggot dilarang dicukur karena bertujuan untuk menyelisihi orang musyrik dan Majusi. Maksud penting dari larangan mencukur jenggot adalah agar tidak melakukan tasyabbuh dengan non-muslim. Hal ini akan semakin dipertegas dalam hadits-hadits larangan tasyabbuh berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2: 50; Abu Daud, no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘, 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid -antara hasan dan shahih-. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Kenapa sampai tasyabbuh dilarang?   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. (Iqtidh0’ Ash-Shiroth Al-Mustaqim, 1: 549).   Contoh tasyabbuh yang ada di tengah-tengah kaum muslimin saat ini: Merayakan ulang tahun. Merayakan tahun baru, menunggu pergantian malam 1 Januari. Ikut-ikutan memakai jersey atau kaos bola yang berlambang salib. Memakai topi sinterklas ketika natal. Membunyikan terompet saat tahun baru. Meninggalkan shalat lima waktu. Contoh tentang menyembunyikan terompet ada larangan dalam hadits berikut ini.   Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, lantas beliau bersabda, هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” (HR. Abu Daud, no. 498. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Contoh lagi tasyabbuh adalah meninggalkan shalat karena dalam hadits disebutkan, الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Seharusnya seorang muslim itu bangga dengan keislamannya, bukan malah bangga dengan syi’ar agama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْإِسْلَامَ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى عَلَيْهِ “Islam itu tinggi dan tidaklah direndahkan.” (HR. Al Baihaqi dan Ad Daruquthni, hasan).   Namun benarlah umat Islam saat ini sudah mulai kehilangan jati diri. Lebih bangga pada budaya non-muslim.   Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim, no. 2669).   Moga Allah meneguhkan kita di atas ajaran yang benar, menjaga iman kita, menjauhkan kita dari tasyabbuh dengan non-muslim dan mematikan kita dalam keadaan Islam, dalam keadaan husnul khatimah.   Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat kepada Nabi sekali maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Jum’at Wage, 30 Rabi’ul Awwal 1438 H (30 Desember 2016) Silakan download file PDF Tema di Atas: Khutbah Jumat, Bolehkah Muslim Merayakan Tahun Baru? — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 30 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsboros meninggalkan shalat tahun baru

Khutbah Jumat: Bolehkah Muslim Merayakan Tahun Baru?

  Bolehkah muslim merayakan tahun baru?   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ     Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Nikmat itu disyukuri dengan kita terus menambah ketakwaan kita kepada Allah.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Siapa saja yang mensyukuri nikmat Allah, Dia akan menambah dengan nikmat-nikmat lainnya pula. Ingatlah pula siapa saja yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa saja yang Allah sesatkan, tidak ada yang memberi petunjuk padanya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Di antara do’a yang diajarkan dalam hadits yang shahih, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الخُلْدِ ALLOHUMMA INNI AS-ALUKA IIMANAN LAA YARTAD, WA NA’IIMAN LAA YANFAD, WA MUROOFAQOTA MUHAMMADIN SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM FII A’LA JANNATIL KHULD. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-MU iman yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak akan habis, dan menyertai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga yang paling tinggi selama-lamanya. (HR. Ahmad, 1: 400; Ibnu Hibban, 5: 303. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)   Dalam doa di atas, berisi permohonan pada Allah supaya terus berada di atas iman dan dilanggengkan dalam nikmat. Di antara bentuk keimanan adalah berpegang pada prinsip wala’ dan bara’, yang merupakan salah satu prinsip akidah dalam agama kita. Prinsip bara’ berarti berlepas diri dari ahli kitab, orang musyrik dan orang kafir. Prinsip wala’ mengajarkan pula untuk mencintai muslim lainnya dan berpegang dengan ajaran Islam. Sedangkan saat ini prinsip ini sudah mulai lepas. Contohnya, kaum muslimin tak punya lagi jati diri yang menunjukkan eksistensinya sebagai seorang muslim. Tidak mau berbangga dengan berkata, “Saya itu MUSLIM.” Lihat saja gaya muslim, mau sama dengan orang kafir. Lihat saja perayaan muslim, ingin sama dengan orang kafir, bahkan ingin merayakan perayaan orang kafir. Dalam istilah para ulama ada yang disebut dengan tasyabbuh. Tasyabbuh itu dilarang, artinya kaum muslimin dilarang menyerupai non-muslim pada perkara yang merupakan ciri khas mereka. Contoh sederhana dalam masalah penampilan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak untuk tidak menyerupai non-muslim.   Dalam hadits disebutkan, جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ “Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim, no. 260). خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ “Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari, no. 5892 dan Muslim, no. 259)   Lihat maksud hadits dan para ulama, kenapa sampai jenggot dilarang dicukur karena bertujuan untuk menyelisihi orang musyrik dan Majusi. Maksud penting dari larangan mencukur jenggot adalah agar tidak melakukan tasyabbuh dengan non-muslim. Hal ini akan semakin dipertegas dalam hadits-hadits larangan tasyabbuh berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2: 50; Abu Daud, no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘, 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid -antara hasan dan shahih-. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Kenapa sampai tasyabbuh dilarang?   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. (Iqtidh0’ Ash-Shiroth Al-Mustaqim, 1: 549).   Contoh tasyabbuh yang ada di tengah-tengah kaum muslimin saat ini: Merayakan ulang tahun. Merayakan tahun baru, menunggu pergantian malam 1 Januari. Ikut-ikutan memakai jersey atau kaos bola yang berlambang salib. Memakai topi sinterklas ketika natal. Membunyikan terompet saat tahun baru. Meninggalkan shalat lima waktu. Contoh tentang menyembunyikan terompet ada larangan dalam hadits berikut ini.   Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, lantas beliau bersabda, هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” (HR. Abu Daud, no. 498. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Contoh lagi tasyabbuh adalah meninggalkan shalat karena dalam hadits disebutkan, الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Seharusnya seorang muslim itu bangga dengan keislamannya, bukan malah bangga dengan syi’ar agama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْإِسْلَامَ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى عَلَيْهِ “Islam itu tinggi dan tidaklah direndahkan.” (HR. Al Baihaqi dan Ad Daruquthni, hasan).   Namun benarlah umat Islam saat ini sudah mulai kehilangan jati diri. Lebih bangga pada budaya non-muslim.   Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim, no. 2669).   Moga Allah meneguhkan kita di atas ajaran yang benar, menjaga iman kita, menjauhkan kita dari tasyabbuh dengan non-muslim dan mematikan kita dalam keadaan Islam, dalam keadaan husnul khatimah.   Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat kepada Nabi sekali maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Jum’at Wage, 30 Rabi’ul Awwal 1438 H (30 Desember 2016) Silakan download file PDF Tema di Atas: Khutbah Jumat, Bolehkah Muslim Merayakan Tahun Baru? — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 30 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsboros meninggalkan shalat tahun baru
  Bolehkah muslim merayakan tahun baru?   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ     Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Nikmat itu disyukuri dengan kita terus menambah ketakwaan kita kepada Allah.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Siapa saja yang mensyukuri nikmat Allah, Dia akan menambah dengan nikmat-nikmat lainnya pula. Ingatlah pula siapa saja yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa saja yang Allah sesatkan, tidak ada yang memberi petunjuk padanya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Di antara do’a yang diajarkan dalam hadits yang shahih, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الخُلْدِ ALLOHUMMA INNI AS-ALUKA IIMANAN LAA YARTAD, WA NA’IIMAN LAA YANFAD, WA MUROOFAQOTA MUHAMMADIN SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM FII A’LA JANNATIL KHULD. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-MU iman yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak akan habis, dan menyertai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga yang paling tinggi selama-lamanya. (HR. Ahmad, 1: 400; Ibnu Hibban, 5: 303. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)   Dalam doa di atas, berisi permohonan pada Allah supaya terus berada di atas iman dan dilanggengkan dalam nikmat. Di antara bentuk keimanan adalah berpegang pada prinsip wala’ dan bara’, yang merupakan salah satu prinsip akidah dalam agama kita. Prinsip bara’ berarti berlepas diri dari ahli kitab, orang musyrik dan orang kafir. Prinsip wala’ mengajarkan pula untuk mencintai muslim lainnya dan berpegang dengan ajaran Islam. Sedangkan saat ini prinsip ini sudah mulai lepas. Contohnya, kaum muslimin tak punya lagi jati diri yang menunjukkan eksistensinya sebagai seorang muslim. Tidak mau berbangga dengan berkata, “Saya itu MUSLIM.” Lihat saja gaya muslim, mau sama dengan orang kafir. Lihat saja perayaan muslim, ingin sama dengan orang kafir, bahkan ingin merayakan perayaan orang kafir. Dalam istilah para ulama ada yang disebut dengan tasyabbuh. Tasyabbuh itu dilarang, artinya kaum muslimin dilarang menyerupai non-muslim pada perkara yang merupakan ciri khas mereka. Contoh sederhana dalam masalah penampilan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak untuk tidak menyerupai non-muslim.   Dalam hadits disebutkan, جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ “Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim, no. 260). خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ “Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari, no. 5892 dan Muslim, no. 259)   Lihat maksud hadits dan para ulama, kenapa sampai jenggot dilarang dicukur karena bertujuan untuk menyelisihi orang musyrik dan Majusi. Maksud penting dari larangan mencukur jenggot adalah agar tidak melakukan tasyabbuh dengan non-muslim. Hal ini akan semakin dipertegas dalam hadits-hadits larangan tasyabbuh berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2: 50; Abu Daud, no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘, 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid -antara hasan dan shahih-. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Kenapa sampai tasyabbuh dilarang?   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. (Iqtidh0’ Ash-Shiroth Al-Mustaqim, 1: 549).   Contoh tasyabbuh yang ada di tengah-tengah kaum muslimin saat ini: Merayakan ulang tahun. Merayakan tahun baru, menunggu pergantian malam 1 Januari. Ikut-ikutan memakai jersey atau kaos bola yang berlambang salib. Memakai topi sinterklas ketika natal. Membunyikan terompet saat tahun baru. Meninggalkan shalat lima waktu. Contoh tentang menyembunyikan terompet ada larangan dalam hadits berikut ini.   Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, lantas beliau bersabda, هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” (HR. Abu Daud, no. 498. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Contoh lagi tasyabbuh adalah meninggalkan shalat karena dalam hadits disebutkan, الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Seharusnya seorang muslim itu bangga dengan keislamannya, bukan malah bangga dengan syi’ar agama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْإِسْلَامَ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى عَلَيْهِ “Islam itu tinggi dan tidaklah direndahkan.” (HR. Al Baihaqi dan Ad Daruquthni, hasan).   Namun benarlah umat Islam saat ini sudah mulai kehilangan jati diri. Lebih bangga pada budaya non-muslim.   Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim, no. 2669).   Moga Allah meneguhkan kita di atas ajaran yang benar, menjaga iman kita, menjauhkan kita dari tasyabbuh dengan non-muslim dan mematikan kita dalam keadaan Islam, dalam keadaan husnul khatimah.   Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat kepada Nabi sekali maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Jum’at Wage, 30 Rabi’ul Awwal 1438 H (30 Desember 2016) Silakan download file PDF Tema di Atas: Khutbah Jumat, Bolehkah Muslim Merayakan Tahun Baru? — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 30 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsboros meninggalkan shalat tahun baru


  Bolehkah muslim merayakan tahun baru?   Khutbah Pertama   إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ     Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Nikmat itu disyukuri dengan kita terus menambah ketakwaan kita kepada Allah.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Siapa saja yang mensyukuri nikmat Allah, Dia akan menambah dengan nikmat-nikmat lainnya pula. Ingatlah pula siapa saja yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa saja yang Allah sesatkan, tidak ada yang memberi petunjuk padanya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali, maksudnya akan diberikan rahmat atau ampunan-Nya.   Para jama’ah rahimani wa rahimakumullah …   Di antara do’a yang diajarkan dalam hadits yang shahih, اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ ، وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الخُلْدِ ALLOHUMMA INNI AS-ALUKA IIMANAN LAA YARTAD, WA NA’IIMAN LAA YANFAD, WA MUROOFAQOTA MUHAMMADIN SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM FII A’LA JANNATIL KHULD. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-MU iman yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak akan habis, dan menyertai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga yang paling tinggi selama-lamanya. (HR. Ahmad, 1: 400; Ibnu Hibban, 5: 303. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)   Dalam doa di atas, berisi permohonan pada Allah supaya terus berada di atas iman dan dilanggengkan dalam nikmat. Di antara bentuk keimanan adalah berpegang pada prinsip wala’ dan bara’, yang merupakan salah satu prinsip akidah dalam agama kita. Prinsip bara’ berarti berlepas diri dari ahli kitab, orang musyrik dan orang kafir. Prinsip wala’ mengajarkan pula untuk mencintai muslim lainnya dan berpegang dengan ajaran Islam. Sedangkan saat ini prinsip ini sudah mulai lepas. Contohnya, kaum muslimin tak punya lagi jati diri yang menunjukkan eksistensinya sebagai seorang muslim. Tidak mau berbangga dengan berkata, “Saya itu MUSLIM.” Lihat saja gaya muslim, mau sama dengan orang kafir. Lihat saja perayaan muslim, ingin sama dengan orang kafir, bahkan ingin merayakan perayaan orang kafir. Dalam istilah para ulama ada yang disebut dengan tasyabbuh. Tasyabbuh itu dilarang, artinya kaum muslimin dilarang menyerupai non-muslim pada perkara yang merupakan ciri khas mereka. Contoh sederhana dalam masalah penampilan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak untuk tidak menyerupai non-muslim.   Dalam hadits disebutkan, جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ “Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim, no. 260). خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ “Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari, no. 5892 dan Muslim, no. 259)   Lihat maksud hadits dan para ulama, kenapa sampai jenggot dilarang dicukur karena bertujuan untuk menyelisihi orang musyrik dan Majusi. Maksud penting dari larangan mencukur jenggot adalah agar tidak melakukan tasyabbuh dengan non-muslim. Hal ini akan semakin dipertegas dalam hadits-hadits larangan tasyabbuh berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2: 50; Abu Daud, no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘, 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid -antara hasan dan shahih-. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Kenapa sampai tasyabbuh dilarang?   Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. (Iqtidh0’ Ash-Shiroth Al-Mustaqim, 1: 549).   Contoh tasyabbuh yang ada di tengah-tengah kaum muslimin saat ini: Merayakan ulang tahun. Merayakan tahun baru, menunggu pergantian malam 1 Januari. Ikut-ikutan memakai jersey atau kaos bola yang berlambang salib. Memakai topi sinterklas ketika natal. Membunyikan terompet saat tahun baru. Meninggalkan shalat lima waktu. Contoh tentang menyembunyikan terompet ada larangan dalam hadits berikut ini.   Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, lantas beliau bersabda, هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” (HR. Abu Daud, no. 498. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Contoh lagi tasyabbuh adalah meninggalkan shalat karena dalam hadits disebutkan, الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Seharusnya seorang muslim itu bangga dengan keislamannya, bukan malah bangga dengan syi’ar agama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْإِسْلَامَ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى عَلَيْهِ “Islam itu tinggi dan tidaklah direndahkan.” (HR. Al Baihaqi dan Ad Daruquthni, hasan).   Namun benarlah umat Islam saat ini sudah mulai kehilangan jati diri. Lebih bangga pada budaya non-muslim.   Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim, no. 2669).   Moga Allah meneguhkan kita di atas ajaran yang benar, menjaga iman kita, menjauhkan kita dari tasyabbuh dengan non-muslim dan mematikan kita dalam keadaan Islam, dalam keadaan husnul khatimah.   Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat kepada Nabi sekali maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali.   Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Jami’ Al-Adha, Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul Jum’at Wage, 30 Rabi’ul Awwal 1438 H (30 Desember 2016) Silakan download file PDF Tema di Atas: Khutbah Jumat, Bolehkah Muslim Merayakan Tahun Baru? — @ DS, Panggang, Gunungkidul, 30 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsboros meninggalkan shalat tahun baru

Toleransi Bukan Berarti Korbankan Akidah

Sebagian di antara para tokoh agama yang membolehkan natal bersama atau ucapan “selamat Natal” berdalih dengan firman Allah:لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ ﴿٨﴾ إِنَّمَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَـٰتَلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ وَظَـٰهَرُوا۟ عَلَىٰٓ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ﴿٩﴾“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 8–9).Mereka telah lalai atau pura-pura lalai bahwa berbuat baik kepada orang kafir, sekalipun memang boleh, bukan berarti kita mengorbankan akidah dan prinsip kita dengan melakukan loyalitas dan cinta kepada mereka yang  terlarang dalam agama.Allah Ta‘āla berfirman:لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَ‌ٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٢٢﴾“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah ḥizbullāh (golongan Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ḥizbullāh (golongan Allah) itu adalah golongan yang beruntung” (QS al-Mujādilah [58]: 22).Ibn al-Jauzi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan ketika menafsirkan QS al-Mumtaḥanah [60]: 8, “Ayat ini merupakan keringanan tentang bolehnya menyambung tali kerabat terhadap orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum Muslimin dan bolehnya berbuat baik kepada mereka sekalipun loyalitas (saling mencintai) terputus dari mereka”.Bahkan dalam surat al-Mumtaḥanah itu sendiri terdapat penjelasan gamblang tentang prinsip pokok akidah walā’ (loyalitas kepada setiap muslim) dan barā’ (membenci dan memusuhi orang kafir) seperti firman Allah Ta‘āla:يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا۟ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلْحَقِّ يُخْرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَن تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَـٰدًۭا فِى سَبِيلِى وَٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِى ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعْلَمُ بِمَآ أَخْفَيْتُمْ وَمَآ أَعْلَنتُمْ ۚ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 1).قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَ‌ٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَ‌ٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَ‌ٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَ‌ٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ ﴿٤﴾“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 4).Nah, di antara bentuk loyalitas kepada orang kafir yang terlarang adalah ikut serta dalam hari raya mereka dan mengucapkan selamat natal kepada mereka. Jadi, masalah ini merupakan masalah akidah bukan masalah adat semata!Ingat, di zaman Nabi sudah ada umat Nashrani dan Yahudi yang memiliki hari besar, namun tidak pernah Nabi dan sahabat ikut memeriahkan perayaan mereka. Apakah kita berani mengatakan kalau Nabi dan sahabat tidak toleran ?! Pikirkanlah….***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Perjalanan, Hadits Shahih Tentang Lailatul Qadar, Menghadapi Musibah, Mengapa Islam Dibenci Kristen, Hukum Puasa Di Bulan Dzulhijjah

Toleransi Bukan Berarti Korbankan Akidah

Sebagian di antara para tokoh agama yang membolehkan natal bersama atau ucapan “selamat Natal” berdalih dengan firman Allah:لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ ﴿٨﴾ إِنَّمَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَـٰتَلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ وَظَـٰهَرُوا۟ عَلَىٰٓ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ﴿٩﴾“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 8–9).Mereka telah lalai atau pura-pura lalai bahwa berbuat baik kepada orang kafir, sekalipun memang boleh, bukan berarti kita mengorbankan akidah dan prinsip kita dengan melakukan loyalitas dan cinta kepada mereka yang  terlarang dalam agama.Allah Ta‘āla berfirman:لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَ‌ٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٢٢﴾“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah ḥizbullāh (golongan Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ḥizbullāh (golongan Allah) itu adalah golongan yang beruntung” (QS al-Mujādilah [58]: 22).Ibn al-Jauzi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan ketika menafsirkan QS al-Mumtaḥanah [60]: 8, “Ayat ini merupakan keringanan tentang bolehnya menyambung tali kerabat terhadap orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum Muslimin dan bolehnya berbuat baik kepada mereka sekalipun loyalitas (saling mencintai) terputus dari mereka”.Bahkan dalam surat al-Mumtaḥanah itu sendiri terdapat penjelasan gamblang tentang prinsip pokok akidah walā’ (loyalitas kepada setiap muslim) dan barā’ (membenci dan memusuhi orang kafir) seperti firman Allah Ta‘āla:يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا۟ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلْحَقِّ يُخْرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَن تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَـٰدًۭا فِى سَبِيلِى وَٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِى ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعْلَمُ بِمَآ أَخْفَيْتُمْ وَمَآ أَعْلَنتُمْ ۚ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 1).قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَ‌ٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَ‌ٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَ‌ٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَ‌ٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ ﴿٤﴾“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 4).Nah, di antara bentuk loyalitas kepada orang kafir yang terlarang adalah ikut serta dalam hari raya mereka dan mengucapkan selamat natal kepada mereka. Jadi, masalah ini merupakan masalah akidah bukan masalah adat semata!Ingat, di zaman Nabi sudah ada umat Nashrani dan Yahudi yang memiliki hari besar, namun tidak pernah Nabi dan sahabat ikut memeriahkan perayaan mereka. Apakah kita berani mengatakan kalau Nabi dan sahabat tidak toleran ?! Pikirkanlah….***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Perjalanan, Hadits Shahih Tentang Lailatul Qadar, Menghadapi Musibah, Mengapa Islam Dibenci Kristen, Hukum Puasa Di Bulan Dzulhijjah
Sebagian di antara para tokoh agama yang membolehkan natal bersama atau ucapan “selamat Natal” berdalih dengan firman Allah:لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ ﴿٨﴾ إِنَّمَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَـٰتَلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ وَظَـٰهَرُوا۟ عَلَىٰٓ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ﴿٩﴾“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 8–9).Mereka telah lalai atau pura-pura lalai bahwa berbuat baik kepada orang kafir, sekalipun memang boleh, bukan berarti kita mengorbankan akidah dan prinsip kita dengan melakukan loyalitas dan cinta kepada mereka yang  terlarang dalam agama.Allah Ta‘āla berfirman:لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَ‌ٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٢٢﴾“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah ḥizbullāh (golongan Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ḥizbullāh (golongan Allah) itu adalah golongan yang beruntung” (QS al-Mujādilah [58]: 22).Ibn al-Jauzi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan ketika menafsirkan QS al-Mumtaḥanah [60]: 8, “Ayat ini merupakan keringanan tentang bolehnya menyambung tali kerabat terhadap orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum Muslimin dan bolehnya berbuat baik kepada mereka sekalipun loyalitas (saling mencintai) terputus dari mereka”.Bahkan dalam surat al-Mumtaḥanah itu sendiri terdapat penjelasan gamblang tentang prinsip pokok akidah walā’ (loyalitas kepada setiap muslim) dan barā’ (membenci dan memusuhi orang kafir) seperti firman Allah Ta‘āla:يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا۟ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلْحَقِّ يُخْرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَن تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَـٰدًۭا فِى سَبِيلِى وَٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِى ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعْلَمُ بِمَآ أَخْفَيْتُمْ وَمَآ أَعْلَنتُمْ ۚ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 1).قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَ‌ٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَ‌ٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَ‌ٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَ‌ٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ ﴿٤﴾“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 4).Nah, di antara bentuk loyalitas kepada orang kafir yang terlarang adalah ikut serta dalam hari raya mereka dan mengucapkan selamat natal kepada mereka. Jadi, masalah ini merupakan masalah akidah bukan masalah adat semata!Ingat, di zaman Nabi sudah ada umat Nashrani dan Yahudi yang memiliki hari besar, namun tidak pernah Nabi dan sahabat ikut memeriahkan perayaan mereka. Apakah kita berani mengatakan kalau Nabi dan sahabat tidak toleran ?! Pikirkanlah….***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Perjalanan, Hadits Shahih Tentang Lailatul Qadar, Menghadapi Musibah, Mengapa Islam Dibenci Kristen, Hukum Puasa Di Bulan Dzulhijjah


Sebagian di antara para tokoh agama yang membolehkan natal bersama atau ucapan “selamat Natal” berdalih dengan firman Allah:لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ ﴿٨﴾ إِنَّمَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَـٰتَلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ وَظَـٰهَرُوا۟ عَلَىٰٓ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ﴿٩﴾“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 8–9).Mereka telah lalai atau pura-pura lalai bahwa berbuat baik kepada orang kafir, sekalipun memang boleh, bukan berarti kita mengorbankan akidah dan prinsip kita dengan melakukan loyalitas dan cinta kepada mereka yang  terlarang dalam agama.Allah Ta‘āla berfirman:لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَ‌ٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٢٢﴾“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah ḥizbullāh (golongan Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ḥizbullāh (golongan Allah) itu adalah golongan yang beruntung” (QS al-Mujādilah [58]: 22).Ibn al-Jauzi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan ketika menafsirkan QS al-Mumtaḥanah [60]: 8, “Ayat ini merupakan keringanan tentang bolehnya menyambung tali kerabat terhadap orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum Muslimin dan bolehnya berbuat baik kepada mereka sekalipun loyalitas (saling mencintai) terputus dari mereka”.Bahkan dalam surat al-Mumtaḥanah itu sendiri terdapat penjelasan gamblang tentang prinsip pokok akidah walā’ (loyalitas kepada setiap muslim) dan barā’ (membenci dan memusuhi orang kafir) seperti firman Allah Ta‘āla:يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا۟ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلْحَقِّ يُخْرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَن تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَـٰدًۭا فِى سَبِيلِى وَٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِى ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِٱلْمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعْلَمُ بِمَآ أَخْفَيْتُمْ وَمَآ أَعْلَنتُمْ ۚ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 1).قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَ‌ٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَ‌ٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَ‌ٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَ‌ٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ ﴿٤﴾“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” (QS al-Mumtaḥanah [60]: 4).Nah, di antara bentuk loyalitas kepada orang kafir yang terlarang adalah ikut serta dalam hari raya mereka dan mengucapkan selamat natal kepada mereka. Jadi, masalah ini merupakan masalah akidah bukan masalah adat semata!Ingat, di zaman Nabi sudah ada umat Nashrani dan Yahudi yang memiliki hari besar, namun tidak pernah Nabi dan sahabat ikut memeriahkan perayaan mereka. Apakah kita berani mengatakan kalau Nabi dan sahabat tidak toleran ?! Pikirkanlah….***Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Perjalanan, Hadits Shahih Tentang Lailatul Qadar, Menghadapi Musibah, Mengapa Islam Dibenci Kristen, Hukum Puasa Di Bulan Dzulhijjah

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (8)

4. Kata Cintaعن أنس بن مالك رضي الله عنه أنه مر على صبيان فسلم عليهم وقال كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعلهDiriwayatkan dari Anas, bahwa beliau melewati beberapa anak kecil lalu beliau (Anas) memberi salam kepada mereka dan berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud  dan At-Tirmidzi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian” (HR. Muslim no. 54).Al-Baraa` radhiyallahu ‘anhu berkata, Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda –sedangkan Al-Hasan bin Ali diatas pundaknya-, اللهم إني أحبه فأحبه“Ya Allah, sesungguhnya saya mencintainya, maka cintailah ia” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).5. Sentuhan CintaDari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,كان صلى الله عليه وسلم يزور الأنصار، ويسلِّم على صبيانهم، ويمسح رؤوسهم“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi para sahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak mereka dan mengecup kepala anak-anak mereka” (HR. An-Nasaa`i, shahih).Dari Jabir bin Samuroh berkata,صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْأُولَى، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَهْلِهِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ، فَاسْتَقْبَلَهُ وِلْدَانٌ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ خَدَّيْ أَحَدِهِمْ وَاحِدًا وَاحِدًا“Saya menunaikan shalat Zhuhur bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau keluar menuju ke rumah istri beliau dan saya pun keluar bersama beliau. Muncullah anak-anak menemui beliau, beliaupun mulai mengusap kedua pipi salah seorang dari mereka, satu persatu”.Jabir bin Samuroh berkata,وَأَمَّا أَنَا فَمَسَحَ خَدِّي“Adapun saya, maka beliau mengusap satu pipiku” (HR. Muslim).6. Dekapan Cinta Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a,اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).PelajaranKata-kata cinta, sentuhan dan dekapan cinta yang dicontohkan oleh sosok utusan Allah yang paling mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika kita terapkan dengan ikhlas dan semangat ittiba’ kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan melahirkan buah-buah positif bagi pembentukan karakter keturunan kita. Sebut saja sifat-sifat positif pada diri anak yang diharapkan muncul dan menguat itu, seperti sang anak akan terpupuk rasa kasih sayangnya terhadap sesama, mencintai dan menghormati orang yang lebih tua, merasa diperhatikan dan dihargai oleh orang yang lebih tua usianya, serta melatih komunikasi atas dasar cinta kasih, baik verbal maupun non verbal. (Bersambung)***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Darah, Bpjs Menurut Islam, Hukum Membaca Surat Yasin, Keutamaan Silaturahmi, Kumpulan Doa2 Mustajab

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (8)

4. Kata Cintaعن أنس بن مالك رضي الله عنه أنه مر على صبيان فسلم عليهم وقال كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعلهDiriwayatkan dari Anas, bahwa beliau melewati beberapa anak kecil lalu beliau (Anas) memberi salam kepada mereka dan berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud  dan At-Tirmidzi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian” (HR. Muslim no. 54).Al-Baraa` radhiyallahu ‘anhu berkata, Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda –sedangkan Al-Hasan bin Ali diatas pundaknya-, اللهم إني أحبه فأحبه“Ya Allah, sesungguhnya saya mencintainya, maka cintailah ia” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).5. Sentuhan CintaDari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,كان صلى الله عليه وسلم يزور الأنصار، ويسلِّم على صبيانهم، ويمسح رؤوسهم“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi para sahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak mereka dan mengecup kepala anak-anak mereka” (HR. An-Nasaa`i, shahih).Dari Jabir bin Samuroh berkata,صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْأُولَى، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَهْلِهِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ، فَاسْتَقْبَلَهُ وِلْدَانٌ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ خَدَّيْ أَحَدِهِمْ وَاحِدًا وَاحِدًا“Saya menunaikan shalat Zhuhur bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau keluar menuju ke rumah istri beliau dan saya pun keluar bersama beliau. Muncullah anak-anak menemui beliau, beliaupun mulai mengusap kedua pipi salah seorang dari mereka, satu persatu”.Jabir bin Samuroh berkata,وَأَمَّا أَنَا فَمَسَحَ خَدِّي“Adapun saya, maka beliau mengusap satu pipiku” (HR. Muslim).6. Dekapan Cinta Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a,اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).PelajaranKata-kata cinta, sentuhan dan dekapan cinta yang dicontohkan oleh sosok utusan Allah yang paling mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika kita terapkan dengan ikhlas dan semangat ittiba’ kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan melahirkan buah-buah positif bagi pembentukan karakter keturunan kita. Sebut saja sifat-sifat positif pada diri anak yang diharapkan muncul dan menguat itu, seperti sang anak akan terpupuk rasa kasih sayangnya terhadap sesama, mencintai dan menghormati orang yang lebih tua, merasa diperhatikan dan dihargai oleh orang yang lebih tua usianya, serta melatih komunikasi atas dasar cinta kasih, baik verbal maupun non verbal. (Bersambung)***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Darah, Bpjs Menurut Islam, Hukum Membaca Surat Yasin, Keutamaan Silaturahmi, Kumpulan Doa2 Mustajab
4. Kata Cintaعن أنس بن مالك رضي الله عنه أنه مر على صبيان فسلم عليهم وقال كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعلهDiriwayatkan dari Anas, bahwa beliau melewati beberapa anak kecil lalu beliau (Anas) memberi salam kepada mereka dan berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud  dan At-Tirmidzi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian” (HR. Muslim no. 54).Al-Baraa` radhiyallahu ‘anhu berkata, Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda –sedangkan Al-Hasan bin Ali diatas pundaknya-, اللهم إني أحبه فأحبه“Ya Allah, sesungguhnya saya mencintainya, maka cintailah ia” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).5. Sentuhan CintaDari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,كان صلى الله عليه وسلم يزور الأنصار، ويسلِّم على صبيانهم، ويمسح رؤوسهم“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi para sahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak mereka dan mengecup kepala anak-anak mereka” (HR. An-Nasaa`i, shahih).Dari Jabir bin Samuroh berkata,صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْأُولَى، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَهْلِهِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ، فَاسْتَقْبَلَهُ وِلْدَانٌ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ خَدَّيْ أَحَدِهِمْ وَاحِدًا وَاحِدًا“Saya menunaikan shalat Zhuhur bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau keluar menuju ke rumah istri beliau dan saya pun keluar bersama beliau. Muncullah anak-anak menemui beliau, beliaupun mulai mengusap kedua pipi salah seorang dari mereka, satu persatu”.Jabir bin Samuroh berkata,وَأَمَّا أَنَا فَمَسَحَ خَدِّي“Adapun saya, maka beliau mengusap satu pipiku” (HR. Muslim).6. Dekapan Cinta Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a,اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).PelajaranKata-kata cinta, sentuhan dan dekapan cinta yang dicontohkan oleh sosok utusan Allah yang paling mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika kita terapkan dengan ikhlas dan semangat ittiba’ kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan melahirkan buah-buah positif bagi pembentukan karakter keturunan kita. Sebut saja sifat-sifat positif pada diri anak yang diharapkan muncul dan menguat itu, seperti sang anak akan terpupuk rasa kasih sayangnya terhadap sesama, mencintai dan menghormati orang yang lebih tua, merasa diperhatikan dan dihargai oleh orang yang lebih tua usianya, serta melatih komunikasi atas dasar cinta kasih, baik verbal maupun non verbal. (Bersambung)***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Darah, Bpjs Menurut Islam, Hukum Membaca Surat Yasin, Keutamaan Silaturahmi, Kumpulan Doa2 Mustajab


4. Kata Cintaعن أنس بن مالك رضي الله عنه أنه مر على صبيان فسلم عليهم وقال كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعلهDiriwayatkan dari Anas, bahwa beliau melewati beberapa anak kecil lalu beliau (Anas) memberi salam kepada mereka dan berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud  dan At-Tirmidzi).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian” (HR. Muslim no. 54).Al-Baraa` radhiyallahu ‘anhu berkata, Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda –sedangkan Al-Hasan bin Ali diatas pundaknya-, اللهم إني أحبه فأحبه“Ya Allah, sesungguhnya saya mencintainya, maka cintailah ia” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).5. Sentuhan CintaDari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,كان صلى الله عليه وسلم يزور الأنصار، ويسلِّم على صبيانهم، ويمسح رؤوسهم“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi para sahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak mereka dan mengecup kepala anak-anak mereka” (HR. An-Nasaa`i, shahih).Dari Jabir bin Samuroh berkata,صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْأُولَى، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَهْلِهِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ، فَاسْتَقْبَلَهُ وِلْدَانٌ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ خَدَّيْ أَحَدِهِمْ وَاحِدًا وَاحِدًا“Saya menunaikan shalat Zhuhur bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau keluar menuju ke rumah istri beliau dan saya pun keluar bersama beliau. Muncullah anak-anak menemui beliau, beliaupun mulai mengusap kedua pipi salah seorang dari mereka, satu persatu”.Jabir bin Samuroh berkata,وَأَمَّا أَنَا فَمَسَحَ خَدِّي“Adapun saya, maka beliau mengusap satu pipiku” (HR. Muslim).6. Dekapan Cinta Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a,اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا“Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).PelajaranKata-kata cinta, sentuhan dan dekapan cinta yang dicontohkan oleh sosok utusan Allah yang paling mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika kita terapkan dengan ikhlas dan semangat ittiba’ kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan melahirkan buah-buah positif bagi pembentukan karakter keturunan kita. Sebut saja sifat-sifat positif pada diri anak yang diharapkan muncul dan menguat itu, seperti sang anak akan terpupuk rasa kasih sayangnya terhadap sesama, mencintai dan menghormati orang yang lebih tua, merasa diperhatikan dan dihargai oleh orang yang lebih tua usianya, serta melatih komunikasi atas dasar cinta kasih, baik verbal maupun non verbal. (Bersambung)***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hukum Darah, Bpjs Menurut Islam, Hukum Membaca Surat Yasin, Keutamaan Silaturahmi, Kumpulan Doa2 Mustajab

Ini Bahaya Telolet

  Video @ Kota Kudus, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H   Menjadi suatu yang ngetrend saat ini di kalangan anak-anak muda, juga masyarakat secara umum. Mereka sengaja berdiri di pinggiran jalan terutama di jalan-jalan yang dilewati oleh bus besar atau bus pariwisata. Ada yang sengaja memasang tulisan di karton atau kertas “OM TELOLET OM”. Tujuannya adalah agar bus yang lewat bisa membunyikan klakson khasnya. Ada yang bersorak sampai berjoget jika sudah mendengar bunyi TELOLET dari bus tersebut yang menunjukkan ekspresi senang. Jika kita menjadi pecandu telolet atau ingin beraksi untuk mendengarkan klakson telolet, baiknya mempertimbangkan dua hal berikut: 1- Apakah punya manfaat? 2- Memudaratkan orang lain ataukah tidak?   Kenapa sampai dua hal di atas mesti dipertimbangkan? Karena mengingat dua hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.” (HR. Bukhari, no. 10; Muslim, no. 41) Silakan dipertimbangkan, moga Allah beri taufik dan hidayah. — Disusun @ DS, Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagstelolet trend waktu

Ini Bahaya Telolet

  Video @ Kota Kudus, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H   Menjadi suatu yang ngetrend saat ini di kalangan anak-anak muda, juga masyarakat secara umum. Mereka sengaja berdiri di pinggiran jalan terutama di jalan-jalan yang dilewati oleh bus besar atau bus pariwisata. Ada yang sengaja memasang tulisan di karton atau kertas “OM TELOLET OM”. Tujuannya adalah agar bus yang lewat bisa membunyikan klakson khasnya. Ada yang bersorak sampai berjoget jika sudah mendengar bunyi TELOLET dari bus tersebut yang menunjukkan ekspresi senang. Jika kita menjadi pecandu telolet atau ingin beraksi untuk mendengarkan klakson telolet, baiknya mempertimbangkan dua hal berikut: 1- Apakah punya manfaat? 2- Memudaratkan orang lain ataukah tidak?   Kenapa sampai dua hal di atas mesti dipertimbangkan? Karena mengingat dua hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.” (HR. Bukhari, no. 10; Muslim, no. 41) Silakan dipertimbangkan, moga Allah beri taufik dan hidayah. — Disusun @ DS, Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagstelolet trend waktu
  Video @ Kota Kudus, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H   Menjadi suatu yang ngetrend saat ini di kalangan anak-anak muda, juga masyarakat secara umum. Mereka sengaja berdiri di pinggiran jalan terutama di jalan-jalan yang dilewati oleh bus besar atau bus pariwisata. Ada yang sengaja memasang tulisan di karton atau kertas “OM TELOLET OM”. Tujuannya adalah agar bus yang lewat bisa membunyikan klakson khasnya. Ada yang bersorak sampai berjoget jika sudah mendengar bunyi TELOLET dari bus tersebut yang menunjukkan ekspresi senang. Jika kita menjadi pecandu telolet atau ingin beraksi untuk mendengarkan klakson telolet, baiknya mempertimbangkan dua hal berikut: 1- Apakah punya manfaat? 2- Memudaratkan orang lain ataukah tidak?   Kenapa sampai dua hal di atas mesti dipertimbangkan? Karena mengingat dua hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.” (HR. Bukhari, no. 10; Muslim, no. 41) Silakan dipertimbangkan, moga Allah beri taufik dan hidayah. — Disusun @ DS, Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagstelolet trend waktu


  Video @ Kota Kudus, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H   Menjadi suatu yang ngetrend saat ini di kalangan anak-anak muda, juga masyarakat secara umum. Mereka sengaja berdiri di pinggiran jalan terutama di jalan-jalan yang dilewati oleh bus besar atau bus pariwisata. Ada yang sengaja memasang tulisan di karton atau kertas “OM TELOLET OM”. Tujuannya adalah agar bus yang lewat bisa membunyikan klakson khasnya. Ada yang bersorak sampai berjoget jika sudah mendengar bunyi TELOLET dari bus tersebut yang menunjukkan ekspresi senang. Jika kita menjadi pecandu telolet atau ingin beraksi untuk mendengarkan klakson telolet, baiknya mempertimbangkan dua hal berikut: 1- Apakah punya manfaat? 2- Memudaratkan orang lain ataukah tidak?   Kenapa sampai dua hal di atas mesti dipertimbangkan? Karena mengingat dua hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.” (HR. Bukhari, no. 10; Muslim, no. 41) Silakan dipertimbangkan, moga Allah beri taufik dan hidayah. — Disusun @ DS, Panggang, Gunungkidul, 26 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagstelolet trend waktu

10 Anggota Tubuh yang Akan Berbicara

Perlu dipahami dan direnungkan. قال أبو بكر الأصم : يُنطق الله تعالى عشرة من أعضاء الإنسان حتى إنها تشهد عليه وهي : الأذنان والعينان والرجلان واليدان والجلد ‏واللسان Abu Bakr Al-Asham berkata bahwa ada sepuluh anggota tubuh manusia yang akan berbicara dan menjadi saksi pada hari kiamat: dua telinga dua mata dua kaki dua tangan kulit lisan   Nasihat Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam status di kanal telegramnya. — @ Griptha, Kudus, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshari kiamat kiamat

10 Anggota Tubuh yang Akan Berbicara

Perlu dipahami dan direnungkan. قال أبو بكر الأصم : يُنطق الله تعالى عشرة من أعضاء الإنسان حتى إنها تشهد عليه وهي : الأذنان والعينان والرجلان واليدان والجلد ‏واللسان Abu Bakr Al-Asham berkata bahwa ada sepuluh anggota tubuh manusia yang akan berbicara dan menjadi saksi pada hari kiamat: dua telinga dua mata dua kaki dua tangan kulit lisan   Nasihat Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam status di kanal telegramnya. — @ Griptha, Kudus, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshari kiamat kiamat
Perlu dipahami dan direnungkan. قال أبو بكر الأصم : يُنطق الله تعالى عشرة من أعضاء الإنسان حتى إنها تشهد عليه وهي : الأذنان والعينان والرجلان واليدان والجلد ‏واللسان Abu Bakr Al-Asham berkata bahwa ada sepuluh anggota tubuh manusia yang akan berbicara dan menjadi saksi pada hari kiamat: dua telinga dua mata dua kaki dua tangan kulit lisan   Nasihat Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam status di kanal telegramnya. — @ Griptha, Kudus, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshari kiamat kiamat


Perlu dipahami dan direnungkan. قال أبو بكر الأصم : يُنطق الله تعالى عشرة من أعضاء الإنسان حتى إنها تشهد عليه وهي : الأذنان والعينان والرجلان واليدان والجلد ‏واللسان Abu Bakr Al-Asham berkata bahwa ada sepuluh anggota tubuh manusia yang akan berbicara dan menjadi saksi pada hari kiamat: dua telinga dua mata dua kaki dua tangan kulit lisan   Nasihat Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam status di kanal telegramnya. — @ Griptha, Kudus, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagshari kiamat kiamat

Mengamalkan Syariat Solusi Segala Permasalahan

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 17 Rabiul Awal 1438 HKhotib : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Alu SyekhPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaBerbagai musibah yang menimpa kaum muslimin, aneka bencana yang mengenai mereka serta bermacam-macam azab yang turun di kampung halaman mereka, hendaklah dapat mendorong mereka untuk berintrospeksi diri dan meninjau kembali tentang hubungan mereka dengan Allah –subhanahu wa ta’ala- serta sejauh mana mereka menjalankan agama ini sesuai petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sudah seharusnya semua itu menjadi pendorong dan motivator bagi mereka untuk merenungkan jalur yang mereka tempuh dan haluan yang mereka tuju. Sepatutnya pula mereka dapat menangkal kelengahan jiwa yang mereka rasakan, terkait dengan sikap mereka yang acuh terhadap syariat Allah dan sunnah Nabi-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sungguh amat besar bencana sosial dan individual yang menimpa kaum muslimin, sehingga mengharuskan mereka mencari cara-cara untuk menghilangkan cobaan dan menyingkirkan penderitaan yang mereka alami.    Pada hakikatnya cara tersebut adalah dengan mewujudkan ketaatan secara totalitas dan bersungguh-sungguh kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan memenuhi perintah-perintahnya serta selalu mendekatkan diri kepadaNya dalam kondisi suka dan duka, dalam keramaian dan kesendirian. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا [ الطلاق / 2] “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Ia menjadikan baginya jalan keluar”. Qs At-Thalaq:2Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- mengatakan : “Maksud ayat tersebut adalah, Allah menyelamatkannya dari setiap kesulitan di dunia dan akhirat”.    Oleh karena itu, kapanpun seorang muslim dapat menerapkan ketentuan hukum Allah pada dirinya dan masyarakatnya, niscaya terbuka baginya jalan keluar dari segala sesuatu yang menghempitnya. Kapanpun pula masyarakat muslim konsisten mewujudkan ketentuan dasar ini dalam segala urusannya, pastilah menjadi baik kondisinya, nyaman hidupnya, mudah semua persoalannya dan tercapai keamanan dan rasa aman pada dirinya.    Siapapun penguasa atau pejabat yang berpegang teguh dengan ketakwaan (rasa takut kepada Allah) pastilah tercapai kejayaannya, terangkat derajatnya, tangguh kekuasaannya, langgeng kedudukannya, mujur nasibnya dan cerah masa depannya. Firman Allah :أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ [ يونس/62] “Ingat, sesungguhnya para kekasih Allah tidak ada rasa takut bagi mereka dan merekapun tidak bersedih hati”.Qs Yunus :62    Jika prinsip dasar ini telah mantap, maka kaum muslimin yang hari ini sedang mengalami berbagai ujian yang menerpa agama, jiwa, harta, kehormatan, penghidupan dan ekonomi mereka yang tentu membuat hidup mereka tidak nyaman, pencaharian mereka terusik, usaha mereka terganggu, dan kondisi mereka tidak stabil, seharusnya mereka sadar, merenung, dan menjadikan semua petaka ini sebagai wahana untuk kembali kepada Allah.Hendaklah mereka tahu, betapapun pedihnya penderitaan ini, tidaklah berarti apa-apa dibanding penderitaan di akhirat yang dialami orang yang berpaling dari agama Allah, mengabaikan syariatNya, melanggar larangan-laranganNya dan melakukan perbuatan maksiat di hadapanNya. Firman Allah :وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لا يُنْصَرُونَ [فصلت/16]“Dan sungguh pastilah azab akhirat lebih menghinakan, sedangkan mereka tidak akan ditolong”.Qs Fushilat:16.Firman Allah :وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [السجدة/21]“Dan pastilah benar-benar Kami cicipkan kepada mereka sebagian siksa yang ringan, di samping siksa yang berat agar mereka kembali (sadar)”.Qs As-Sajdah:21    Camkanlah, sesungguhnya Allah melalui kemurahan, anugerah, karunia dan kasih sayangNya hendak mengingatkan kita akan suatu fakta yang tidak terpikirkan oleh kebanyakan kaum muslimin, sebagaimana firmanNya :وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الأرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الأعراف/168] “Kami uji mereka dengan hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang tidak menyenangkan agar mereka kembali (insaf)”. Qs Al-A’raf: 168Firman Allah pula :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ الروم/41] “Telah terlihat nyata kerusakan di daratan dan lautan lantaran perbuatan tangan-tangan manusia, untuk Dia (Allah) cicipkan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke (jalan yang benar)”. Qs Ar-Rum:41    Ingatlah bahwa aneka azab dan cobaan yang menimpa kaum muslimin hanyalah dimaksudkan agar mereka kembali kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-, mendekatkan diri kepadaNya, bertobat memohon ampunanNya dari segala dosa yang membinasakan serta mengungsi kepadaNya dengan meninggalkan segala kemaksiatan dan keburukan, serta menyatakan perang terhadap segala akses yang menuju kepada perbuatan jahat dan menghancurkan. Firman Allah :وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ [الأنعام/42]“Sungguh Kami telah mengutus kepada bangsa-bangsa sebelum kamu, lalu Kami hukum mereka dengan bencana dan penderitaan agar mereka memohon kepada Allah dengan rendah hati”.Qs Al-An’am:42 Saudara-saudara sesama muslim!    Bencana dan cobaan tersebut hanyalah Allah yang bisa mengangkat. Maka mendekatlah kepada Allah, perbaikilah kondisi kalian yang telah rusak karena maksiat itu dengan ibadah. Gantilah kehidupan kalian yang demikian gelap lantaran kemaksiatan dan perilaku yang menghancurkan itu. Gantilah dengan cahaya ketakwaan dan amal yang mendekatkan diri kepada Tuhan Pencipta bumi dan langit. Firman Allah :“وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ” [النور/31]“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung”.Qs An-Nur:31Firman Allah :” فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ” [التوبة/74] “Jika mereka bertobat, maka yang demikian itu lebih baik bagi mereka”. Firman Allah :فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ [يونس/98]“Dan mengapakah tidak ada (penduduk)suatu negeri yang beriman lalu keimanannya bermanfaat baginya selain kaum Yunus yang begitu mereka beriman, kami angkat dari mereka siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan (sesaat) hingga waktu tertentu”.Qs Yunus:98    Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata : “Ketika kaum Yunus menyaksikan berbagai penyebab datangnya azab yang telah diperingatkan oleh Yunus –alaihissalam- spontan mereka keluar untuk berlindung kepada Allah, memohon pertolonganNya dan mendekatkan diri kepadaNya, sambil mengajak anak-anak, hewan tunggangan dan hewan ternak mereka untuk ramai-ramai memohon kepada Allah agar mengangkat azab yang menimpa mereka. Maka Allah segera mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka dan menghilangkan azab yang menimpa mereka.    Kalian pun seperti itu wahai umat pengikut pemimpin para Nabi dan sebaik-baik utusan –shallallahu alaihi wa sallam-. Kalian adalah sebaik-baik umat. Allah memuliakan kalian melalui suatu janji yang tidak akan dikhianati, dan anugerah ilahiyah yang tidak akan tertinggal selama kalian mau kembali kepada Tuhan kalian ketika jatuh (ke dalam dosa) dan bertobat kepadaNya setelah bersalah. Sebab cobaan tidak akan langgeng bersama kalian, dan azab pun tidak selamanya menimpa kalian. Firman Allah :وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ [الأنفال/33]“Tidaklah mungkin Allah menyiksa mereka selagi mereka memohon ampunan”.Qs Al-Anfal:33    Memperhatikan sistem pendidikan kenabian, Umar –radhiyallahu anhu – berkata :“لَسْتُمْ تُنْصَرُوْنَ بِكَثْرَةٍ وَإنَّمَا تُنْصَرُوْنَ مِنَ السَّمَاءِ”“Kalian tidaklah mendapat kemenangan karena jumlah besar, tetapi kalian mendapat kemenangan karena bantuan dari langit”.    Hendaklah kalian konsisten menjalankan ketentuan-ketentuan Allah, pastilah akan tercapai rahmat Allah untuk kalian sehingga kehidupan kalian menjadi jaya dan penderitaan yang ada akan terangkat.Firman Allah:” لَوْلا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ” [ النمل/46]“Mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat”.Qs An-Naml:46Wahai para penguasa kaum muslimin!    Sungguh cobaan yang menimpa umat di berbagai wilayah yang tidak asing lagi, serta ketakutan dan bahaya tidak berujung yang mereka rasakan, semua itu seharusnya membuat kalian mawas diri dan menempatkan kondisi umat tersebut pada neraca syariat Allah yang selanjutnya kalian bekerja serius untuk memperbaiki keadaan dengan cara-cara yang diridhai Allah.    Umat Islam adalah amanat yang menjadi tanggung jawab kalian di hadapan Allah pada hari harta dan anak-anak tidak berguna lagi, yaitu hari ketika Allah yang Maha Perkasa bertanya :” لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ” [غافر/16]“Milik siapakah kerajaan hari ini ? Hanyalah milik Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan”.Qs Ghafir:16    Marilah kita pandu umat ini berdasarkan syariat Allah dan kita bimbing mereka sesuai sunnah Rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-.    Marilah kita terapkan hukum syariat Allah yang wajib dijalankan oleh manusia di tengah-tengah masyarakat. Marilah kita perangi segala bentuk perbuatan yang tidak Allah ridhai terkait dengan kehidupan masyarakat kita. Marilah kita menjadi insan-insan yang digambarkan oleh Allah dalam firmanNya :“الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ [الحج/41]“Yaitu orang-orang yang jikalau Kami mantapkan kedudukan mereka di bumi, maka mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar. Dan hanya milik Allah kembali semua urusan”.Qs Alhaj:41    Khalifah Utsman Bin Affan –radhiyallahu anhu- berkata :” إنَّ اللهَ يَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ ““Sesungguhnya Allah mencegah melalui kekuatan penguasa, hal-hal yang tidak dapat dicegah melalui Al-Quran”.    Melalui tangan kalian-lah Allah memperbaiki kondisi umat Islam jika memang kalian tegakkan ketentuan-ketentuan Allah tersebut sesuai yang Ia kehendaki. Oleh karena itu, perbaikilah segala urusan di negeri kalian melalui ajaran Islam. Dengan Islam umat ini aman dari kejahatan, terselamatkan dari segala rasa takut dan bahaya, terangkat dari kehinaan, kenistaan dan keaiban.    Hendaklah semua hukum perundang-undangan umat ini cerminan dari prinsip kenabian yang telah digariskan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya :” احْفِظِ الله يَحْفَظْكَ ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ““Jagalah Allah, niscaya Ia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatiNya di depanmu”.    Bertakwalah kepada Allah, wahai para penguasa kaum muslimin di tengah-tengah komunitas mereka. Ketahuilah bahwa kalian memikul tanggung jawab besar untuk melindungi kemaslahatan mereka terkait dengan urusan agama dan dunia mereka, selain tugas beramar makruf dan nahi mungkar serta menahan tangan orang-orang yang hendak melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan para pelaku kejahatan secara terbuka.     Seperti itulah seharusnya tugas setiap pejabat dalam masyarakat Islam. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ” متفق عليه“Tiada seorang hamba yang Allah beri amanat memimpin rakyat, namun saat meninggal ia lalu meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan baginya surga”. Muttafaq alaihi.===== 00 ===== Khotbah KeduaWahi umat Islam !    Sekiranya cobaan itu berlangsung lama,  maka hendaklah kalian tetap mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Pemberi. Berdoalah kepadaNya dengan penuh rasa cemas dan berharap. Murnikanlah niat kalian dalam beramal hanya karena Allah.Sebagian ulama salaf berkata : “Aku merasa heran terhadap empat golongan manusia karena lengah terhadap empat hal;(1) Aku heran terhadap orang yang tertimpa penderitaan, namun mengapakah ia lupa akan firman Allah :وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ” [ الأنبياء/83-84]“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika berseru kepada Tuhannya, sungguh aku tertimpa penderitaan (penyakit), sedangkan Engkau adalah sebaik-baik Pemurah. Maka Kami kabulkan doa untuknya lalu Kami hilangkan penderitaan yang menimpanya”.Qs Al-Anbiya: 83-84(2) Aku heran terhadap orang yang sedang bersedih dan nestapa, bagaimana dia lupa akan firman Allah :“أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ [الأنبياء/87-88]“Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami perkenankan doa baginya dan Kami selamatkannya dari kesedihan. Dan seperti itulah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin”.Qs Al-Anbiya :87-88(3) Aku heran terhadap orang yang dijadikan sasaran makar oleh orang lain, bagaimana ia lupa akan firman Allah :“وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ، فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا”[غافر/44-45]“Aku pasrahkan urusanku ini kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat para hamba (Nya). Maka Allah melindunginya dari keburukan makar yang mereka lakukan”.(4) Aku heran terhadap orang yang sedang ketakutan, bagaimana ia lupa akan firman Allah :“الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ “[آل عمران/173-174]  “Yaitu mereka yang ketika orang-orang berkata kepada mereka : “sesungguhnya (sekelompok) manusia telah berkumpul untuk (menyerang) kalian, maka takutlah kalian, maka hal itu justru menambah keimanan mereka, dan mereka berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung. Maka mereka pun kembali dengan membawa nikmat dan anugerah dari Allah, tanpa tertimpa bahaya”.    Hendaklah pesan agung Allah itu selalu kalian jadikan pengingat dalam kehidupan kalian. Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ [النحل/128]“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang selalu berbuat baik”.Qs An-Nahl :128    Diantara tolak bala dan penangkal bahaya ialah beramal kebajikan dengan segala bentuknya, antara lain bersedekah, mengulurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan, terutama kepada orang-orang yang tertindas di berbagai wilayah konflik yang menimpa negeri kaum muslimin.Wahai para pengusaha muslim! Berbuatlah baik untuk diri kalian. Bantulah saudara-saudara kalian. Ulurkanlah tangan kalian untuk membantu fakir miskin, agar harta benda kalian terjaga, bisnis kalian berkah dan diri kalian serta negeri kalian aman dari segala gangguan dan keburukan. Firman Allah :” إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ” [ الأعراف/56 ]“Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.Qs Al-A’raf: 56Selanjutnya, ketahuilah bahwa sebaik-baik amal yang mengharumkan kehidupan kita adalah memperbanyak doa shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-.Ya Allah, ridhailah para Khulafaurrasyidin dan para Imam yang telah menadapat petunjuk; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.Ya Allah, Perbaikilah kondisi kami dan kondisi kaum muslimin.Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dan angkatlah keprihatinan mereka.Ya Allah, selamatkanlah hamba-hambaMu kaum muslimin dari segenap bencana dan musibah.Ya Allah, Tahanlah keganasan musuh-musuh kaum muslimin. Sungguh mereka tidak berdaya di hadapanMu Ya Allah yang Maha Agung.Ya Allah, Lindunginlah saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada.Ya Allah,Jadilah Engkau Penolong dan Pendukung mereka Wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kuat dan Maha Kokoh.Ya Allah, Bimbinglah Pelayan dua kota suci dalam melakukan apapun yang Engau cintai dan Engkau ridhai.Ya Allah, menangkanlah agama ini dengannya. Tinggikanlah pula kalimat kaum muslimin karenanya.Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup maupun yang telah wafat.Ya Allah, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka”. === Selesai ===

Mengamalkan Syariat Solusi Segala Permasalahan

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 17 Rabiul Awal 1438 HKhotib : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Alu SyekhPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaBerbagai musibah yang menimpa kaum muslimin, aneka bencana yang mengenai mereka serta bermacam-macam azab yang turun di kampung halaman mereka, hendaklah dapat mendorong mereka untuk berintrospeksi diri dan meninjau kembali tentang hubungan mereka dengan Allah –subhanahu wa ta’ala- serta sejauh mana mereka menjalankan agama ini sesuai petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sudah seharusnya semua itu menjadi pendorong dan motivator bagi mereka untuk merenungkan jalur yang mereka tempuh dan haluan yang mereka tuju. Sepatutnya pula mereka dapat menangkal kelengahan jiwa yang mereka rasakan, terkait dengan sikap mereka yang acuh terhadap syariat Allah dan sunnah Nabi-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sungguh amat besar bencana sosial dan individual yang menimpa kaum muslimin, sehingga mengharuskan mereka mencari cara-cara untuk menghilangkan cobaan dan menyingkirkan penderitaan yang mereka alami.    Pada hakikatnya cara tersebut adalah dengan mewujudkan ketaatan secara totalitas dan bersungguh-sungguh kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan memenuhi perintah-perintahnya serta selalu mendekatkan diri kepadaNya dalam kondisi suka dan duka, dalam keramaian dan kesendirian. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا [ الطلاق / 2] “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Ia menjadikan baginya jalan keluar”. Qs At-Thalaq:2Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- mengatakan : “Maksud ayat tersebut adalah, Allah menyelamatkannya dari setiap kesulitan di dunia dan akhirat”.    Oleh karena itu, kapanpun seorang muslim dapat menerapkan ketentuan hukum Allah pada dirinya dan masyarakatnya, niscaya terbuka baginya jalan keluar dari segala sesuatu yang menghempitnya. Kapanpun pula masyarakat muslim konsisten mewujudkan ketentuan dasar ini dalam segala urusannya, pastilah menjadi baik kondisinya, nyaman hidupnya, mudah semua persoalannya dan tercapai keamanan dan rasa aman pada dirinya.    Siapapun penguasa atau pejabat yang berpegang teguh dengan ketakwaan (rasa takut kepada Allah) pastilah tercapai kejayaannya, terangkat derajatnya, tangguh kekuasaannya, langgeng kedudukannya, mujur nasibnya dan cerah masa depannya. Firman Allah :أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ [ يونس/62] “Ingat, sesungguhnya para kekasih Allah tidak ada rasa takut bagi mereka dan merekapun tidak bersedih hati”.Qs Yunus :62    Jika prinsip dasar ini telah mantap, maka kaum muslimin yang hari ini sedang mengalami berbagai ujian yang menerpa agama, jiwa, harta, kehormatan, penghidupan dan ekonomi mereka yang tentu membuat hidup mereka tidak nyaman, pencaharian mereka terusik, usaha mereka terganggu, dan kondisi mereka tidak stabil, seharusnya mereka sadar, merenung, dan menjadikan semua petaka ini sebagai wahana untuk kembali kepada Allah.Hendaklah mereka tahu, betapapun pedihnya penderitaan ini, tidaklah berarti apa-apa dibanding penderitaan di akhirat yang dialami orang yang berpaling dari agama Allah, mengabaikan syariatNya, melanggar larangan-laranganNya dan melakukan perbuatan maksiat di hadapanNya. Firman Allah :وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لا يُنْصَرُونَ [فصلت/16]“Dan sungguh pastilah azab akhirat lebih menghinakan, sedangkan mereka tidak akan ditolong”.Qs Fushilat:16.Firman Allah :وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [السجدة/21]“Dan pastilah benar-benar Kami cicipkan kepada mereka sebagian siksa yang ringan, di samping siksa yang berat agar mereka kembali (sadar)”.Qs As-Sajdah:21    Camkanlah, sesungguhnya Allah melalui kemurahan, anugerah, karunia dan kasih sayangNya hendak mengingatkan kita akan suatu fakta yang tidak terpikirkan oleh kebanyakan kaum muslimin, sebagaimana firmanNya :وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الأرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الأعراف/168] “Kami uji mereka dengan hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang tidak menyenangkan agar mereka kembali (insaf)”. Qs Al-A’raf: 168Firman Allah pula :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ الروم/41] “Telah terlihat nyata kerusakan di daratan dan lautan lantaran perbuatan tangan-tangan manusia, untuk Dia (Allah) cicipkan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke (jalan yang benar)”. Qs Ar-Rum:41    Ingatlah bahwa aneka azab dan cobaan yang menimpa kaum muslimin hanyalah dimaksudkan agar mereka kembali kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-, mendekatkan diri kepadaNya, bertobat memohon ampunanNya dari segala dosa yang membinasakan serta mengungsi kepadaNya dengan meninggalkan segala kemaksiatan dan keburukan, serta menyatakan perang terhadap segala akses yang menuju kepada perbuatan jahat dan menghancurkan. Firman Allah :وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ [الأنعام/42]“Sungguh Kami telah mengutus kepada bangsa-bangsa sebelum kamu, lalu Kami hukum mereka dengan bencana dan penderitaan agar mereka memohon kepada Allah dengan rendah hati”.Qs Al-An’am:42 Saudara-saudara sesama muslim!    Bencana dan cobaan tersebut hanyalah Allah yang bisa mengangkat. Maka mendekatlah kepada Allah, perbaikilah kondisi kalian yang telah rusak karena maksiat itu dengan ibadah. Gantilah kehidupan kalian yang demikian gelap lantaran kemaksiatan dan perilaku yang menghancurkan itu. Gantilah dengan cahaya ketakwaan dan amal yang mendekatkan diri kepada Tuhan Pencipta bumi dan langit. Firman Allah :“وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ” [النور/31]“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung”.Qs An-Nur:31Firman Allah :” فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ” [التوبة/74] “Jika mereka bertobat, maka yang demikian itu lebih baik bagi mereka”. Firman Allah :فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ [يونس/98]“Dan mengapakah tidak ada (penduduk)suatu negeri yang beriman lalu keimanannya bermanfaat baginya selain kaum Yunus yang begitu mereka beriman, kami angkat dari mereka siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan (sesaat) hingga waktu tertentu”.Qs Yunus:98    Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata : “Ketika kaum Yunus menyaksikan berbagai penyebab datangnya azab yang telah diperingatkan oleh Yunus –alaihissalam- spontan mereka keluar untuk berlindung kepada Allah, memohon pertolonganNya dan mendekatkan diri kepadaNya, sambil mengajak anak-anak, hewan tunggangan dan hewan ternak mereka untuk ramai-ramai memohon kepada Allah agar mengangkat azab yang menimpa mereka. Maka Allah segera mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka dan menghilangkan azab yang menimpa mereka.    Kalian pun seperti itu wahai umat pengikut pemimpin para Nabi dan sebaik-baik utusan –shallallahu alaihi wa sallam-. Kalian adalah sebaik-baik umat. Allah memuliakan kalian melalui suatu janji yang tidak akan dikhianati, dan anugerah ilahiyah yang tidak akan tertinggal selama kalian mau kembali kepada Tuhan kalian ketika jatuh (ke dalam dosa) dan bertobat kepadaNya setelah bersalah. Sebab cobaan tidak akan langgeng bersama kalian, dan azab pun tidak selamanya menimpa kalian. Firman Allah :وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ [الأنفال/33]“Tidaklah mungkin Allah menyiksa mereka selagi mereka memohon ampunan”.Qs Al-Anfal:33    Memperhatikan sistem pendidikan kenabian, Umar –radhiyallahu anhu – berkata :“لَسْتُمْ تُنْصَرُوْنَ بِكَثْرَةٍ وَإنَّمَا تُنْصَرُوْنَ مِنَ السَّمَاءِ”“Kalian tidaklah mendapat kemenangan karena jumlah besar, tetapi kalian mendapat kemenangan karena bantuan dari langit”.    Hendaklah kalian konsisten menjalankan ketentuan-ketentuan Allah, pastilah akan tercapai rahmat Allah untuk kalian sehingga kehidupan kalian menjadi jaya dan penderitaan yang ada akan terangkat.Firman Allah:” لَوْلا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ” [ النمل/46]“Mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat”.Qs An-Naml:46Wahai para penguasa kaum muslimin!    Sungguh cobaan yang menimpa umat di berbagai wilayah yang tidak asing lagi, serta ketakutan dan bahaya tidak berujung yang mereka rasakan, semua itu seharusnya membuat kalian mawas diri dan menempatkan kondisi umat tersebut pada neraca syariat Allah yang selanjutnya kalian bekerja serius untuk memperbaiki keadaan dengan cara-cara yang diridhai Allah.    Umat Islam adalah amanat yang menjadi tanggung jawab kalian di hadapan Allah pada hari harta dan anak-anak tidak berguna lagi, yaitu hari ketika Allah yang Maha Perkasa bertanya :” لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ” [غافر/16]“Milik siapakah kerajaan hari ini ? Hanyalah milik Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan”.Qs Ghafir:16    Marilah kita pandu umat ini berdasarkan syariat Allah dan kita bimbing mereka sesuai sunnah Rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-.    Marilah kita terapkan hukum syariat Allah yang wajib dijalankan oleh manusia di tengah-tengah masyarakat. Marilah kita perangi segala bentuk perbuatan yang tidak Allah ridhai terkait dengan kehidupan masyarakat kita. Marilah kita menjadi insan-insan yang digambarkan oleh Allah dalam firmanNya :“الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ [الحج/41]“Yaitu orang-orang yang jikalau Kami mantapkan kedudukan mereka di bumi, maka mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar. Dan hanya milik Allah kembali semua urusan”.Qs Alhaj:41    Khalifah Utsman Bin Affan –radhiyallahu anhu- berkata :” إنَّ اللهَ يَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ ““Sesungguhnya Allah mencegah melalui kekuatan penguasa, hal-hal yang tidak dapat dicegah melalui Al-Quran”.    Melalui tangan kalian-lah Allah memperbaiki kondisi umat Islam jika memang kalian tegakkan ketentuan-ketentuan Allah tersebut sesuai yang Ia kehendaki. Oleh karena itu, perbaikilah segala urusan di negeri kalian melalui ajaran Islam. Dengan Islam umat ini aman dari kejahatan, terselamatkan dari segala rasa takut dan bahaya, terangkat dari kehinaan, kenistaan dan keaiban.    Hendaklah semua hukum perundang-undangan umat ini cerminan dari prinsip kenabian yang telah digariskan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya :” احْفِظِ الله يَحْفَظْكَ ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ““Jagalah Allah, niscaya Ia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatiNya di depanmu”.    Bertakwalah kepada Allah, wahai para penguasa kaum muslimin di tengah-tengah komunitas mereka. Ketahuilah bahwa kalian memikul tanggung jawab besar untuk melindungi kemaslahatan mereka terkait dengan urusan agama dan dunia mereka, selain tugas beramar makruf dan nahi mungkar serta menahan tangan orang-orang yang hendak melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan para pelaku kejahatan secara terbuka.     Seperti itulah seharusnya tugas setiap pejabat dalam masyarakat Islam. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ” متفق عليه“Tiada seorang hamba yang Allah beri amanat memimpin rakyat, namun saat meninggal ia lalu meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan baginya surga”. Muttafaq alaihi.===== 00 ===== Khotbah KeduaWahi umat Islam !    Sekiranya cobaan itu berlangsung lama,  maka hendaklah kalian tetap mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Pemberi. Berdoalah kepadaNya dengan penuh rasa cemas dan berharap. Murnikanlah niat kalian dalam beramal hanya karena Allah.Sebagian ulama salaf berkata : “Aku merasa heran terhadap empat golongan manusia karena lengah terhadap empat hal;(1) Aku heran terhadap orang yang tertimpa penderitaan, namun mengapakah ia lupa akan firman Allah :وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ” [ الأنبياء/83-84]“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika berseru kepada Tuhannya, sungguh aku tertimpa penderitaan (penyakit), sedangkan Engkau adalah sebaik-baik Pemurah. Maka Kami kabulkan doa untuknya lalu Kami hilangkan penderitaan yang menimpanya”.Qs Al-Anbiya: 83-84(2) Aku heran terhadap orang yang sedang bersedih dan nestapa, bagaimana dia lupa akan firman Allah :“أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ [الأنبياء/87-88]“Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami perkenankan doa baginya dan Kami selamatkannya dari kesedihan. Dan seperti itulah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin”.Qs Al-Anbiya :87-88(3) Aku heran terhadap orang yang dijadikan sasaran makar oleh orang lain, bagaimana ia lupa akan firman Allah :“وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ، فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا”[غافر/44-45]“Aku pasrahkan urusanku ini kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat para hamba (Nya). Maka Allah melindunginya dari keburukan makar yang mereka lakukan”.(4) Aku heran terhadap orang yang sedang ketakutan, bagaimana ia lupa akan firman Allah :“الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ “[آل عمران/173-174]  “Yaitu mereka yang ketika orang-orang berkata kepada mereka : “sesungguhnya (sekelompok) manusia telah berkumpul untuk (menyerang) kalian, maka takutlah kalian, maka hal itu justru menambah keimanan mereka, dan mereka berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung. Maka mereka pun kembali dengan membawa nikmat dan anugerah dari Allah, tanpa tertimpa bahaya”.    Hendaklah pesan agung Allah itu selalu kalian jadikan pengingat dalam kehidupan kalian. Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ [النحل/128]“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang selalu berbuat baik”.Qs An-Nahl :128    Diantara tolak bala dan penangkal bahaya ialah beramal kebajikan dengan segala bentuknya, antara lain bersedekah, mengulurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan, terutama kepada orang-orang yang tertindas di berbagai wilayah konflik yang menimpa negeri kaum muslimin.Wahai para pengusaha muslim! Berbuatlah baik untuk diri kalian. Bantulah saudara-saudara kalian. Ulurkanlah tangan kalian untuk membantu fakir miskin, agar harta benda kalian terjaga, bisnis kalian berkah dan diri kalian serta negeri kalian aman dari segala gangguan dan keburukan. Firman Allah :” إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ” [ الأعراف/56 ]“Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.Qs Al-A’raf: 56Selanjutnya, ketahuilah bahwa sebaik-baik amal yang mengharumkan kehidupan kita adalah memperbanyak doa shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-.Ya Allah, ridhailah para Khulafaurrasyidin dan para Imam yang telah menadapat petunjuk; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.Ya Allah, Perbaikilah kondisi kami dan kondisi kaum muslimin.Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dan angkatlah keprihatinan mereka.Ya Allah, selamatkanlah hamba-hambaMu kaum muslimin dari segenap bencana dan musibah.Ya Allah, Tahanlah keganasan musuh-musuh kaum muslimin. Sungguh mereka tidak berdaya di hadapanMu Ya Allah yang Maha Agung.Ya Allah, Lindunginlah saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada.Ya Allah,Jadilah Engkau Penolong dan Pendukung mereka Wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kuat dan Maha Kokoh.Ya Allah, Bimbinglah Pelayan dua kota suci dalam melakukan apapun yang Engau cintai dan Engkau ridhai.Ya Allah, menangkanlah agama ini dengannya. Tinggikanlah pula kalimat kaum muslimin karenanya.Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup maupun yang telah wafat.Ya Allah, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka”. === Selesai ===
Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 17 Rabiul Awal 1438 HKhotib : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Alu SyekhPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaBerbagai musibah yang menimpa kaum muslimin, aneka bencana yang mengenai mereka serta bermacam-macam azab yang turun di kampung halaman mereka, hendaklah dapat mendorong mereka untuk berintrospeksi diri dan meninjau kembali tentang hubungan mereka dengan Allah –subhanahu wa ta’ala- serta sejauh mana mereka menjalankan agama ini sesuai petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sudah seharusnya semua itu menjadi pendorong dan motivator bagi mereka untuk merenungkan jalur yang mereka tempuh dan haluan yang mereka tuju. Sepatutnya pula mereka dapat menangkal kelengahan jiwa yang mereka rasakan, terkait dengan sikap mereka yang acuh terhadap syariat Allah dan sunnah Nabi-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sungguh amat besar bencana sosial dan individual yang menimpa kaum muslimin, sehingga mengharuskan mereka mencari cara-cara untuk menghilangkan cobaan dan menyingkirkan penderitaan yang mereka alami.    Pada hakikatnya cara tersebut adalah dengan mewujudkan ketaatan secara totalitas dan bersungguh-sungguh kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan memenuhi perintah-perintahnya serta selalu mendekatkan diri kepadaNya dalam kondisi suka dan duka, dalam keramaian dan kesendirian. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا [ الطلاق / 2] “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Ia menjadikan baginya jalan keluar”. Qs At-Thalaq:2Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- mengatakan : “Maksud ayat tersebut adalah, Allah menyelamatkannya dari setiap kesulitan di dunia dan akhirat”.    Oleh karena itu, kapanpun seorang muslim dapat menerapkan ketentuan hukum Allah pada dirinya dan masyarakatnya, niscaya terbuka baginya jalan keluar dari segala sesuatu yang menghempitnya. Kapanpun pula masyarakat muslim konsisten mewujudkan ketentuan dasar ini dalam segala urusannya, pastilah menjadi baik kondisinya, nyaman hidupnya, mudah semua persoalannya dan tercapai keamanan dan rasa aman pada dirinya.    Siapapun penguasa atau pejabat yang berpegang teguh dengan ketakwaan (rasa takut kepada Allah) pastilah tercapai kejayaannya, terangkat derajatnya, tangguh kekuasaannya, langgeng kedudukannya, mujur nasibnya dan cerah masa depannya. Firman Allah :أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ [ يونس/62] “Ingat, sesungguhnya para kekasih Allah tidak ada rasa takut bagi mereka dan merekapun tidak bersedih hati”.Qs Yunus :62    Jika prinsip dasar ini telah mantap, maka kaum muslimin yang hari ini sedang mengalami berbagai ujian yang menerpa agama, jiwa, harta, kehormatan, penghidupan dan ekonomi mereka yang tentu membuat hidup mereka tidak nyaman, pencaharian mereka terusik, usaha mereka terganggu, dan kondisi mereka tidak stabil, seharusnya mereka sadar, merenung, dan menjadikan semua petaka ini sebagai wahana untuk kembali kepada Allah.Hendaklah mereka tahu, betapapun pedihnya penderitaan ini, tidaklah berarti apa-apa dibanding penderitaan di akhirat yang dialami orang yang berpaling dari agama Allah, mengabaikan syariatNya, melanggar larangan-laranganNya dan melakukan perbuatan maksiat di hadapanNya. Firman Allah :وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لا يُنْصَرُونَ [فصلت/16]“Dan sungguh pastilah azab akhirat lebih menghinakan, sedangkan mereka tidak akan ditolong”.Qs Fushilat:16.Firman Allah :وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [السجدة/21]“Dan pastilah benar-benar Kami cicipkan kepada mereka sebagian siksa yang ringan, di samping siksa yang berat agar mereka kembali (sadar)”.Qs As-Sajdah:21    Camkanlah, sesungguhnya Allah melalui kemurahan, anugerah, karunia dan kasih sayangNya hendak mengingatkan kita akan suatu fakta yang tidak terpikirkan oleh kebanyakan kaum muslimin, sebagaimana firmanNya :وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الأرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الأعراف/168] “Kami uji mereka dengan hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang tidak menyenangkan agar mereka kembali (insaf)”. Qs Al-A’raf: 168Firman Allah pula :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ الروم/41] “Telah terlihat nyata kerusakan di daratan dan lautan lantaran perbuatan tangan-tangan manusia, untuk Dia (Allah) cicipkan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke (jalan yang benar)”. Qs Ar-Rum:41    Ingatlah bahwa aneka azab dan cobaan yang menimpa kaum muslimin hanyalah dimaksudkan agar mereka kembali kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-, mendekatkan diri kepadaNya, bertobat memohon ampunanNya dari segala dosa yang membinasakan serta mengungsi kepadaNya dengan meninggalkan segala kemaksiatan dan keburukan, serta menyatakan perang terhadap segala akses yang menuju kepada perbuatan jahat dan menghancurkan. Firman Allah :وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ [الأنعام/42]“Sungguh Kami telah mengutus kepada bangsa-bangsa sebelum kamu, lalu Kami hukum mereka dengan bencana dan penderitaan agar mereka memohon kepada Allah dengan rendah hati”.Qs Al-An’am:42 Saudara-saudara sesama muslim!    Bencana dan cobaan tersebut hanyalah Allah yang bisa mengangkat. Maka mendekatlah kepada Allah, perbaikilah kondisi kalian yang telah rusak karena maksiat itu dengan ibadah. Gantilah kehidupan kalian yang demikian gelap lantaran kemaksiatan dan perilaku yang menghancurkan itu. Gantilah dengan cahaya ketakwaan dan amal yang mendekatkan diri kepada Tuhan Pencipta bumi dan langit. Firman Allah :“وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ” [النور/31]“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung”.Qs An-Nur:31Firman Allah :” فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ” [التوبة/74] “Jika mereka bertobat, maka yang demikian itu lebih baik bagi mereka”. Firman Allah :فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ [يونس/98]“Dan mengapakah tidak ada (penduduk)suatu negeri yang beriman lalu keimanannya bermanfaat baginya selain kaum Yunus yang begitu mereka beriman, kami angkat dari mereka siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan (sesaat) hingga waktu tertentu”.Qs Yunus:98    Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata : “Ketika kaum Yunus menyaksikan berbagai penyebab datangnya azab yang telah diperingatkan oleh Yunus –alaihissalam- spontan mereka keluar untuk berlindung kepada Allah, memohon pertolonganNya dan mendekatkan diri kepadaNya, sambil mengajak anak-anak, hewan tunggangan dan hewan ternak mereka untuk ramai-ramai memohon kepada Allah agar mengangkat azab yang menimpa mereka. Maka Allah segera mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka dan menghilangkan azab yang menimpa mereka.    Kalian pun seperti itu wahai umat pengikut pemimpin para Nabi dan sebaik-baik utusan –shallallahu alaihi wa sallam-. Kalian adalah sebaik-baik umat. Allah memuliakan kalian melalui suatu janji yang tidak akan dikhianati, dan anugerah ilahiyah yang tidak akan tertinggal selama kalian mau kembali kepada Tuhan kalian ketika jatuh (ke dalam dosa) dan bertobat kepadaNya setelah bersalah. Sebab cobaan tidak akan langgeng bersama kalian, dan azab pun tidak selamanya menimpa kalian. Firman Allah :وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ [الأنفال/33]“Tidaklah mungkin Allah menyiksa mereka selagi mereka memohon ampunan”.Qs Al-Anfal:33    Memperhatikan sistem pendidikan kenabian, Umar –radhiyallahu anhu – berkata :“لَسْتُمْ تُنْصَرُوْنَ بِكَثْرَةٍ وَإنَّمَا تُنْصَرُوْنَ مِنَ السَّمَاءِ”“Kalian tidaklah mendapat kemenangan karena jumlah besar, tetapi kalian mendapat kemenangan karena bantuan dari langit”.    Hendaklah kalian konsisten menjalankan ketentuan-ketentuan Allah, pastilah akan tercapai rahmat Allah untuk kalian sehingga kehidupan kalian menjadi jaya dan penderitaan yang ada akan terangkat.Firman Allah:” لَوْلا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ” [ النمل/46]“Mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat”.Qs An-Naml:46Wahai para penguasa kaum muslimin!    Sungguh cobaan yang menimpa umat di berbagai wilayah yang tidak asing lagi, serta ketakutan dan bahaya tidak berujung yang mereka rasakan, semua itu seharusnya membuat kalian mawas diri dan menempatkan kondisi umat tersebut pada neraca syariat Allah yang selanjutnya kalian bekerja serius untuk memperbaiki keadaan dengan cara-cara yang diridhai Allah.    Umat Islam adalah amanat yang menjadi tanggung jawab kalian di hadapan Allah pada hari harta dan anak-anak tidak berguna lagi, yaitu hari ketika Allah yang Maha Perkasa bertanya :” لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ” [غافر/16]“Milik siapakah kerajaan hari ini ? Hanyalah milik Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan”.Qs Ghafir:16    Marilah kita pandu umat ini berdasarkan syariat Allah dan kita bimbing mereka sesuai sunnah Rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-.    Marilah kita terapkan hukum syariat Allah yang wajib dijalankan oleh manusia di tengah-tengah masyarakat. Marilah kita perangi segala bentuk perbuatan yang tidak Allah ridhai terkait dengan kehidupan masyarakat kita. Marilah kita menjadi insan-insan yang digambarkan oleh Allah dalam firmanNya :“الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ [الحج/41]“Yaitu orang-orang yang jikalau Kami mantapkan kedudukan mereka di bumi, maka mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar. Dan hanya milik Allah kembali semua urusan”.Qs Alhaj:41    Khalifah Utsman Bin Affan –radhiyallahu anhu- berkata :” إنَّ اللهَ يَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ ““Sesungguhnya Allah mencegah melalui kekuatan penguasa, hal-hal yang tidak dapat dicegah melalui Al-Quran”.    Melalui tangan kalian-lah Allah memperbaiki kondisi umat Islam jika memang kalian tegakkan ketentuan-ketentuan Allah tersebut sesuai yang Ia kehendaki. Oleh karena itu, perbaikilah segala urusan di negeri kalian melalui ajaran Islam. Dengan Islam umat ini aman dari kejahatan, terselamatkan dari segala rasa takut dan bahaya, terangkat dari kehinaan, kenistaan dan keaiban.    Hendaklah semua hukum perundang-undangan umat ini cerminan dari prinsip kenabian yang telah digariskan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya :” احْفِظِ الله يَحْفَظْكَ ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ““Jagalah Allah, niscaya Ia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatiNya di depanmu”.    Bertakwalah kepada Allah, wahai para penguasa kaum muslimin di tengah-tengah komunitas mereka. Ketahuilah bahwa kalian memikul tanggung jawab besar untuk melindungi kemaslahatan mereka terkait dengan urusan agama dan dunia mereka, selain tugas beramar makruf dan nahi mungkar serta menahan tangan orang-orang yang hendak melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan para pelaku kejahatan secara terbuka.     Seperti itulah seharusnya tugas setiap pejabat dalam masyarakat Islam. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ” متفق عليه“Tiada seorang hamba yang Allah beri amanat memimpin rakyat, namun saat meninggal ia lalu meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan baginya surga”. Muttafaq alaihi.===== 00 ===== Khotbah KeduaWahi umat Islam !    Sekiranya cobaan itu berlangsung lama,  maka hendaklah kalian tetap mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Pemberi. Berdoalah kepadaNya dengan penuh rasa cemas dan berharap. Murnikanlah niat kalian dalam beramal hanya karena Allah.Sebagian ulama salaf berkata : “Aku merasa heran terhadap empat golongan manusia karena lengah terhadap empat hal;(1) Aku heran terhadap orang yang tertimpa penderitaan, namun mengapakah ia lupa akan firman Allah :وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ” [ الأنبياء/83-84]“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika berseru kepada Tuhannya, sungguh aku tertimpa penderitaan (penyakit), sedangkan Engkau adalah sebaik-baik Pemurah. Maka Kami kabulkan doa untuknya lalu Kami hilangkan penderitaan yang menimpanya”.Qs Al-Anbiya: 83-84(2) Aku heran terhadap orang yang sedang bersedih dan nestapa, bagaimana dia lupa akan firman Allah :“أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ [الأنبياء/87-88]“Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami perkenankan doa baginya dan Kami selamatkannya dari kesedihan. Dan seperti itulah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin”.Qs Al-Anbiya :87-88(3) Aku heran terhadap orang yang dijadikan sasaran makar oleh orang lain, bagaimana ia lupa akan firman Allah :“وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ، فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا”[غافر/44-45]“Aku pasrahkan urusanku ini kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat para hamba (Nya). Maka Allah melindunginya dari keburukan makar yang mereka lakukan”.(4) Aku heran terhadap orang yang sedang ketakutan, bagaimana ia lupa akan firman Allah :“الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ “[آل عمران/173-174]  “Yaitu mereka yang ketika orang-orang berkata kepada mereka : “sesungguhnya (sekelompok) manusia telah berkumpul untuk (menyerang) kalian, maka takutlah kalian, maka hal itu justru menambah keimanan mereka, dan mereka berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung. Maka mereka pun kembali dengan membawa nikmat dan anugerah dari Allah, tanpa tertimpa bahaya”.    Hendaklah pesan agung Allah itu selalu kalian jadikan pengingat dalam kehidupan kalian. Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ [النحل/128]“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang selalu berbuat baik”.Qs An-Nahl :128    Diantara tolak bala dan penangkal bahaya ialah beramal kebajikan dengan segala bentuknya, antara lain bersedekah, mengulurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan, terutama kepada orang-orang yang tertindas di berbagai wilayah konflik yang menimpa negeri kaum muslimin.Wahai para pengusaha muslim! Berbuatlah baik untuk diri kalian. Bantulah saudara-saudara kalian. Ulurkanlah tangan kalian untuk membantu fakir miskin, agar harta benda kalian terjaga, bisnis kalian berkah dan diri kalian serta negeri kalian aman dari segala gangguan dan keburukan. Firman Allah :” إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ” [ الأعراف/56 ]“Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.Qs Al-A’raf: 56Selanjutnya, ketahuilah bahwa sebaik-baik amal yang mengharumkan kehidupan kita adalah memperbanyak doa shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-.Ya Allah, ridhailah para Khulafaurrasyidin dan para Imam yang telah menadapat petunjuk; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.Ya Allah, Perbaikilah kondisi kami dan kondisi kaum muslimin.Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dan angkatlah keprihatinan mereka.Ya Allah, selamatkanlah hamba-hambaMu kaum muslimin dari segenap bencana dan musibah.Ya Allah, Tahanlah keganasan musuh-musuh kaum muslimin. Sungguh mereka tidak berdaya di hadapanMu Ya Allah yang Maha Agung.Ya Allah, Lindunginlah saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada.Ya Allah,Jadilah Engkau Penolong dan Pendukung mereka Wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kuat dan Maha Kokoh.Ya Allah, Bimbinglah Pelayan dua kota suci dalam melakukan apapun yang Engau cintai dan Engkau ridhai.Ya Allah, menangkanlah agama ini dengannya. Tinggikanlah pula kalimat kaum muslimin karenanya.Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup maupun yang telah wafat.Ya Allah, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka”. === Selesai ===


Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 17 Rabiul Awal 1438 HKhotib : Syekh Husen Bin Abdul Aziz Alu SyekhPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaBerbagai musibah yang menimpa kaum muslimin, aneka bencana yang mengenai mereka serta bermacam-macam azab yang turun di kampung halaman mereka, hendaklah dapat mendorong mereka untuk berintrospeksi diri dan meninjau kembali tentang hubungan mereka dengan Allah –subhanahu wa ta’ala- serta sejauh mana mereka menjalankan agama ini sesuai petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sudah seharusnya semua itu menjadi pendorong dan motivator bagi mereka untuk merenungkan jalur yang mereka tempuh dan haluan yang mereka tuju. Sepatutnya pula mereka dapat menangkal kelengahan jiwa yang mereka rasakan, terkait dengan sikap mereka yang acuh terhadap syariat Allah dan sunnah Nabi-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sungguh amat besar bencana sosial dan individual yang menimpa kaum muslimin, sehingga mengharuskan mereka mencari cara-cara untuk menghilangkan cobaan dan menyingkirkan penderitaan yang mereka alami.    Pada hakikatnya cara tersebut adalah dengan mewujudkan ketaatan secara totalitas dan bersungguh-sungguh kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan memenuhi perintah-perintahnya serta selalu mendekatkan diri kepadaNya dalam kondisi suka dan duka, dalam keramaian dan kesendirian. Firman Allah :وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا [ الطلاق / 2] “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Ia menjadikan baginya jalan keluar”. Qs At-Thalaq:2Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- mengatakan : “Maksud ayat tersebut adalah, Allah menyelamatkannya dari setiap kesulitan di dunia dan akhirat”.    Oleh karena itu, kapanpun seorang muslim dapat menerapkan ketentuan hukum Allah pada dirinya dan masyarakatnya, niscaya terbuka baginya jalan keluar dari segala sesuatu yang menghempitnya. Kapanpun pula masyarakat muslim konsisten mewujudkan ketentuan dasar ini dalam segala urusannya, pastilah menjadi baik kondisinya, nyaman hidupnya, mudah semua persoalannya dan tercapai keamanan dan rasa aman pada dirinya.    Siapapun penguasa atau pejabat yang berpegang teguh dengan ketakwaan (rasa takut kepada Allah) pastilah tercapai kejayaannya, terangkat derajatnya, tangguh kekuasaannya, langgeng kedudukannya, mujur nasibnya dan cerah masa depannya. Firman Allah :أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ [ يونس/62] “Ingat, sesungguhnya para kekasih Allah tidak ada rasa takut bagi mereka dan merekapun tidak bersedih hati”.Qs Yunus :62    Jika prinsip dasar ini telah mantap, maka kaum muslimin yang hari ini sedang mengalami berbagai ujian yang menerpa agama, jiwa, harta, kehormatan, penghidupan dan ekonomi mereka yang tentu membuat hidup mereka tidak nyaman, pencaharian mereka terusik, usaha mereka terganggu, dan kondisi mereka tidak stabil, seharusnya mereka sadar, merenung, dan menjadikan semua petaka ini sebagai wahana untuk kembali kepada Allah.Hendaklah mereka tahu, betapapun pedihnya penderitaan ini, tidaklah berarti apa-apa dibanding penderitaan di akhirat yang dialami orang yang berpaling dari agama Allah, mengabaikan syariatNya, melanggar larangan-laranganNya dan melakukan perbuatan maksiat di hadapanNya. Firman Allah :وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لا يُنْصَرُونَ [فصلت/16]“Dan sungguh pastilah azab akhirat lebih menghinakan, sedangkan mereka tidak akan ditolong”.Qs Fushilat:16.Firman Allah :وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [السجدة/21]“Dan pastilah benar-benar Kami cicipkan kepada mereka sebagian siksa yang ringan, di samping siksa yang berat agar mereka kembali (sadar)”.Qs As-Sajdah:21    Camkanlah, sesungguhnya Allah melalui kemurahan, anugerah, karunia dan kasih sayangNya hendak mengingatkan kita akan suatu fakta yang tidak terpikirkan oleh kebanyakan kaum muslimin, sebagaimana firmanNya :وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الأرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الأعراف/168] “Kami uji mereka dengan hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang tidak menyenangkan agar mereka kembali (insaf)”. Qs Al-A’raf: 168Firman Allah pula :ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [ الروم/41] “Telah terlihat nyata kerusakan di daratan dan lautan lantaran perbuatan tangan-tangan manusia, untuk Dia (Allah) cicipkan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke (jalan yang benar)”. Qs Ar-Rum:41    Ingatlah bahwa aneka azab dan cobaan yang menimpa kaum muslimin hanyalah dimaksudkan agar mereka kembali kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-, mendekatkan diri kepadaNya, bertobat memohon ampunanNya dari segala dosa yang membinasakan serta mengungsi kepadaNya dengan meninggalkan segala kemaksiatan dan keburukan, serta menyatakan perang terhadap segala akses yang menuju kepada perbuatan jahat dan menghancurkan. Firman Allah :وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ [الأنعام/42]“Sungguh Kami telah mengutus kepada bangsa-bangsa sebelum kamu, lalu Kami hukum mereka dengan bencana dan penderitaan agar mereka memohon kepada Allah dengan rendah hati”.Qs Al-An’am:42 Saudara-saudara sesama muslim!    Bencana dan cobaan tersebut hanyalah Allah yang bisa mengangkat. Maka mendekatlah kepada Allah, perbaikilah kondisi kalian yang telah rusak karena maksiat itu dengan ibadah. Gantilah kehidupan kalian yang demikian gelap lantaran kemaksiatan dan perilaku yang menghancurkan itu. Gantilah dengan cahaya ketakwaan dan amal yang mendekatkan diri kepada Tuhan Pencipta bumi dan langit. Firman Allah :“وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ” [النور/31]“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung”.Qs An-Nur:31Firman Allah :” فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ” [التوبة/74] “Jika mereka bertobat, maka yang demikian itu lebih baik bagi mereka”. Firman Allah :فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ [يونس/98]“Dan mengapakah tidak ada (penduduk)suatu negeri yang beriman lalu keimanannya bermanfaat baginya selain kaum Yunus yang begitu mereka beriman, kami angkat dari mereka siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri mereka kesenangan (sesaat) hingga waktu tertentu”.Qs Yunus:98    Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata : “Ketika kaum Yunus menyaksikan berbagai penyebab datangnya azab yang telah diperingatkan oleh Yunus –alaihissalam- spontan mereka keluar untuk berlindung kepada Allah, memohon pertolonganNya dan mendekatkan diri kepadaNya, sambil mengajak anak-anak, hewan tunggangan dan hewan ternak mereka untuk ramai-ramai memohon kepada Allah agar mengangkat azab yang menimpa mereka. Maka Allah segera mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka dan menghilangkan azab yang menimpa mereka.    Kalian pun seperti itu wahai umat pengikut pemimpin para Nabi dan sebaik-baik utusan –shallallahu alaihi wa sallam-. Kalian adalah sebaik-baik umat. Allah memuliakan kalian melalui suatu janji yang tidak akan dikhianati, dan anugerah ilahiyah yang tidak akan tertinggal selama kalian mau kembali kepada Tuhan kalian ketika jatuh (ke dalam dosa) dan bertobat kepadaNya setelah bersalah. Sebab cobaan tidak akan langgeng bersama kalian, dan azab pun tidak selamanya menimpa kalian. Firman Allah :وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ [الأنفال/33]“Tidaklah mungkin Allah menyiksa mereka selagi mereka memohon ampunan”.Qs Al-Anfal:33    Memperhatikan sistem pendidikan kenabian, Umar –radhiyallahu anhu – berkata :“لَسْتُمْ تُنْصَرُوْنَ بِكَثْرَةٍ وَإنَّمَا تُنْصَرُوْنَ مِنَ السَّمَاءِ”“Kalian tidaklah mendapat kemenangan karena jumlah besar, tetapi kalian mendapat kemenangan karena bantuan dari langit”.    Hendaklah kalian konsisten menjalankan ketentuan-ketentuan Allah, pastilah akan tercapai rahmat Allah untuk kalian sehingga kehidupan kalian menjadi jaya dan penderitaan yang ada akan terangkat.Firman Allah:” لَوْلا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ” [ النمل/46]“Mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat”.Qs An-Naml:46Wahai para penguasa kaum muslimin!    Sungguh cobaan yang menimpa umat di berbagai wilayah yang tidak asing lagi, serta ketakutan dan bahaya tidak berujung yang mereka rasakan, semua itu seharusnya membuat kalian mawas diri dan menempatkan kondisi umat tersebut pada neraca syariat Allah yang selanjutnya kalian bekerja serius untuk memperbaiki keadaan dengan cara-cara yang diridhai Allah.    Umat Islam adalah amanat yang menjadi tanggung jawab kalian di hadapan Allah pada hari harta dan anak-anak tidak berguna lagi, yaitu hari ketika Allah yang Maha Perkasa bertanya :” لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ” [غافر/16]“Milik siapakah kerajaan hari ini ? Hanyalah milik Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan”.Qs Ghafir:16    Marilah kita pandu umat ini berdasarkan syariat Allah dan kita bimbing mereka sesuai sunnah Rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-.    Marilah kita terapkan hukum syariat Allah yang wajib dijalankan oleh manusia di tengah-tengah masyarakat. Marilah kita perangi segala bentuk perbuatan yang tidak Allah ridhai terkait dengan kehidupan masyarakat kita. Marilah kita menjadi insan-insan yang digambarkan oleh Allah dalam firmanNya :“الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ [الحج/41]“Yaitu orang-orang yang jikalau Kami mantapkan kedudukan mereka di bumi, maka mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar. Dan hanya milik Allah kembali semua urusan”.Qs Alhaj:41    Khalifah Utsman Bin Affan –radhiyallahu anhu- berkata :” إنَّ اللهَ يَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ ““Sesungguhnya Allah mencegah melalui kekuatan penguasa, hal-hal yang tidak dapat dicegah melalui Al-Quran”.    Melalui tangan kalian-lah Allah memperbaiki kondisi umat Islam jika memang kalian tegakkan ketentuan-ketentuan Allah tersebut sesuai yang Ia kehendaki. Oleh karena itu, perbaikilah segala urusan di negeri kalian melalui ajaran Islam. Dengan Islam umat ini aman dari kejahatan, terselamatkan dari segala rasa takut dan bahaya, terangkat dari kehinaan, kenistaan dan keaiban.    Hendaklah semua hukum perundang-undangan umat ini cerminan dari prinsip kenabian yang telah digariskan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya :” احْفِظِ الله يَحْفَظْكَ ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ““Jagalah Allah, niscaya Ia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapatiNya di depanmu”.    Bertakwalah kepada Allah, wahai para penguasa kaum muslimin di tengah-tengah komunitas mereka. Ketahuilah bahwa kalian memikul tanggung jawab besar untuk melindungi kemaslahatan mereka terkait dengan urusan agama dan dunia mereka, selain tugas beramar makruf dan nahi mungkar serta menahan tangan orang-orang yang hendak melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan para pelaku kejahatan secara terbuka.     Seperti itulah seharusnya tugas setiap pejabat dalam masyarakat Islam. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ” متفق عليه“Tiada seorang hamba yang Allah beri amanat memimpin rakyat, namun saat meninggal ia lalu meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan baginya surga”. Muttafaq alaihi.===== 00 ===== Khotbah KeduaWahi umat Islam !    Sekiranya cobaan itu berlangsung lama,  maka hendaklah kalian tetap mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Pemberi. Berdoalah kepadaNya dengan penuh rasa cemas dan berharap. Murnikanlah niat kalian dalam beramal hanya karena Allah.Sebagian ulama salaf berkata : “Aku merasa heran terhadap empat golongan manusia karena lengah terhadap empat hal;(1) Aku heran terhadap orang yang tertimpa penderitaan, namun mengapakah ia lupa akan firman Allah :وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ” [ الأنبياء/83-84]“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika berseru kepada Tuhannya, sungguh aku tertimpa penderitaan (penyakit), sedangkan Engkau adalah sebaik-baik Pemurah. Maka Kami kabulkan doa untuknya lalu Kami hilangkan penderitaan yang menimpanya”.Qs Al-Anbiya: 83-84(2) Aku heran terhadap orang yang sedang bersedih dan nestapa, bagaimana dia lupa akan firman Allah :“أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ [الأنبياء/87-88]“Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami perkenankan doa baginya dan Kami selamatkannya dari kesedihan. Dan seperti itulah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin”.Qs Al-Anbiya :87-88(3) Aku heran terhadap orang yang dijadikan sasaran makar oleh orang lain, bagaimana ia lupa akan firman Allah :“وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ، فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا”[غافر/44-45]“Aku pasrahkan urusanku ini kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat para hamba (Nya). Maka Allah melindunginya dari keburukan makar yang mereka lakukan”.(4) Aku heran terhadap orang yang sedang ketakutan, bagaimana ia lupa akan firman Allah :“الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ “[آل عمران/173-174]  “Yaitu mereka yang ketika orang-orang berkata kepada mereka : “sesungguhnya (sekelompok) manusia telah berkumpul untuk (menyerang) kalian, maka takutlah kalian, maka hal itu justru menambah keimanan mereka, dan mereka berkata, ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung. Maka mereka pun kembali dengan membawa nikmat dan anugerah dari Allah, tanpa tertimpa bahaya”.    Hendaklah pesan agung Allah itu selalu kalian jadikan pengingat dalam kehidupan kalian. Firman Allah :إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ [النحل/128]“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang selalu berbuat baik”.Qs An-Nahl :128    Diantara tolak bala dan penangkal bahaya ialah beramal kebajikan dengan segala bentuknya, antara lain bersedekah, mengulurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan, terutama kepada orang-orang yang tertindas di berbagai wilayah konflik yang menimpa negeri kaum muslimin.Wahai para pengusaha muslim! Berbuatlah baik untuk diri kalian. Bantulah saudara-saudara kalian. Ulurkanlah tangan kalian untuk membantu fakir miskin, agar harta benda kalian terjaga, bisnis kalian berkah dan diri kalian serta negeri kalian aman dari segala gangguan dan keburukan. Firman Allah :” إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ” [ الأعراف/56 ]“Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.Qs Al-A’raf: 56Selanjutnya, ketahuilah bahwa sebaik-baik amal yang mengharumkan kehidupan kita adalah memperbanyak doa shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia.Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-.Ya Allah, ridhailah para Khulafaurrasyidin dan para Imam yang telah menadapat petunjuk; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.Ya Allah, Perbaikilah kondisi kami dan kondisi kaum muslimin.Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dan angkatlah keprihatinan mereka.Ya Allah, selamatkanlah hamba-hambaMu kaum muslimin dari segenap bencana dan musibah.Ya Allah, Tahanlah keganasan musuh-musuh kaum muslimin. Sungguh mereka tidak berdaya di hadapanMu Ya Allah yang Maha Agung.Ya Allah, Lindunginlah saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada.Ya Allah,Jadilah Engkau Penolong dan Pendukung mereka Wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kuat dan Maha Kokoh.Ya Allah, Bimbinglah Pelayan dua kota suci dalam melakukan apapun yang Engau cintai dan Engkau ridhai.Ya Allah, menangkanlah agama ini dengannya. Tinggikanlah pula kalimat kaum muslimin karenanya.Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup maupun yang telah wafat.Ya Allah, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka”. === Selesai ===

Kelengahan Hati

Khotbah jum’at tanggal 3 rabi’ul awal 1438 HKhatib  : Syekh Ali bin Abdurahman Al-huzaifiPenerjemah : Usman Hatim Segala puji bagi Allah yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sucilah namaNya dan agunglah sifatNya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.     Allah menghidupkan hati melalui Al-Qur’an, petuah, hikmah dan amal shalih yang terkabulkan. Allah menyerahkan urusan orang yang berpaling dari kebenaran kepada dirinya sendiri sehingga ia berada dalam kerugian, kelengahan hati dan keterpedayaan.   Aku memuji Tuhanku atas segala karuniaNya dan aku pun bersyukur kepadaNya atas anugerhNya yang demikian agung. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagNya Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Akupun bersaksi bahwa Nabi kita dan Penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan rasulNya, selaku penyampai kabar gembira laksana pelita yang menerangi.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya sebagai teladan bagi setiap orang yang yakin dan mantap akan kebenaran agamanya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan setiap amal perbuatan yang diridhaiNya dan menjauhi apapun perbuatan yang dimurkaiNya dan ditolak olehNya. Sebab, ketakwaan identik dengan kebahagiaan di dunia dan keberuntungan meraih surga yang kekal abadi di akhirat.    Maka berbahagialah orang yang tetap bertakwa, dan celakalah orang yang melepaskannya dan tidak menjalankannya.Hamba Allah . . Perbaikilah hati Anda melalui perbuatan yang dapat memperbaikinya. Waspadalah terhadap faktor-faktor yang dapat merusak hati. Sebab hati merupakan raja bagi seluruh organ tubuh, sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- : ” ألَا وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَة إذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلّهُ ألَا وَهِيَ الْقَلْبُ” رواه البخاري ومسلم“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh seseorang itu ada segumpal daging, jika baik maka baik pula seluruh jasad, dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati”. HR. bukhari dan Muslim dari hadis Nu’man bin Basyir -radhiyallahu ‘anhu-.Tahukah Anda penyakit hati yang paling besar dimana siapapun yang terjangkitinya akan terhalang dari segala kebaikan dan tertutup baginya pintu-pintu kebaikan ? Ingatlah termasuk penyakit hati yang paling besar ialah kelengahan hati itu sendiri.    Kelengahan hati yang telah mengakar itulah yang mencelakakan orang-orang kafir dan munafik, itulah pula yang menyebabkan mereka kekal di neraka. Firman Allah :مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ، ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [ النحل / 106 – 108 ]“Barang siapa kafir kepada Allah sesudah beriman (Allah akan memurkainya), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap dalam keimanan (tidaklah berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lengah hati”. QS An-nahl : 106 – 108    Bisa juga seorang muslim terkena kelengahan hati yang membuatnya tidak melakukan sebagian amal kebajikan dan tidak menempuh jalur penyelamatan diri serta menghindar dari keburukan sehingga dirinya kehilangan pahala kebajikan terukur dengan kelengahan hatinya, berikut menghadapi kesulitan dan penderitaan terukur dengan kelengahan hatinya pula dalam meninggalkan prosedur penyelamatan diri. Firman Allah:” وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ” [ الأحقاف / 19]“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan”. QS Al-Ahqaaf : 19.  Firman Allah pula :وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى ، وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ، ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى [ النجم/39-41] “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”. QS. An-najm : 39-41 Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda menceritakan firman Allah :” ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَاقْتَسِمُوْهَا بِأعْمَالِكُمْ ““Masuklah kalian kedalam surga dengan rahmatKu dan berbagilah sesuai amal kebajikan kalian”.Dan sabda beliau pula :” لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأخَّرُوْنَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللهُ وَإِنْ دَخَلُوْا الجَنَةَ ““Suatu kaum senantiasa terlambat hingga Allah memperlambatkan mereka walaupun akhirnya mereka masuk surga”.Firman Allah dalam konteks menghukum kaum atas kelengahan hati mereka dalam mengikuti prosedur penyelamatan diri :أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [ النساء / 165]“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada perang uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (pada perang  Badar) kalian berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Qs Ali Imran : 165Firman Allah pula :” وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ” [ الشورى/ 30]“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian”. As-Syura : 30Pemaafan di sini hanyalah untuk orang Islam bukan orang kafir, sebab orang kafir tidak akan dapat pemaafan dosa kecuali melalui pertobatan dari kekafiran.Kelengahan hati identik dengan tidak adanya kepekaan dan kecintaan terhadap amal kebaikan serta kehampaan hati dari ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Itulah puncak kelengahan hati yang membinasakan seseorang dan itulah kelengahan hati orang kafir dan munafik yang mana untuk selamat dari padanya diperlukan pertobatan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.Seseorang yang telah didominasi kelengahan hati hanya akan mengikuti persangkaan-persangkaan dan keinginan-keinginan yang dibisikkan oleh hawa nafsunya dan  dihiasi oleh setan. Dengan kelengahan hati seperti itulah Allah menghukum orang-orang kafir dan munafik di dunia dan akhirat. Firman Allah : وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [ الأعراف/ 179]“Dan sungguh Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak mempergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mempergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mempergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah hati”. (Al-A’raaf : 179).Firman Allah :فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ ، فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ[الأعراف / 135– 136]“Maka setelah kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang lengah terhadap ayat-ayat Kami itu”. Qs Al-A’raaf : 135- 136.Firman Allah :” وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ ” [ يونس / 92 ]“Dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah hati dari tanda-tanda kekuasaan Kami “. Qs. Yunus : 92Firman Allah tentang orang-orang munafik :صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ [ البقرة / 18 ]“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”. Qs Al-baqarah :18Firman Allah:وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ [ مريم / 39 ]“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala urusan telah diputus. Dan mereka dalam kelengahan, sedangkan mereka tidak pula beriman”.Qs. Maryam :39 Said Alkhudri –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:إذَا دَخَلَ أهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأهْلُ النَّارِ النَّارَ يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أمْلَحَ فَيُنَادَي مُنَادٍ يَا أهْلَ الْجَنَّةِ فَيَشْرَئِبّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ فَيَقوْلُ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا فَيَقُوْلوْنَ نَعَمْ هَذَا الْمَوْتُ وَكُلهمْ قَدْ رَآهُ ثمَّ يُنَادِي يَا أهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئبّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ فَيَقُوْلُ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا فَيَقولوْنَ نَعَمْ هَذَا المْوَتُ وَكلهُمْ قَدْ رَآهُ فَيُذبَحُ ثمَّ يَقوْلُ يَا أهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْد فَلَا مَوْتَ وَيَا أهْلَ النَّارِ خلُوْدٌ فَلَا مَوْتَ“Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga dan penduduk neraka telah masuk ke dalam neraka, maka didatangkanlah kematian dalam bentuk kambing berwarna putih kehitam-hitaman, kemudian berserulah penyeru : “Wahai penghuni surga, mereka pun mengangkat leher dan memandang. Sang penyeru bertanya: apakah kalian mengetahui sosok ini?”. Mereka menjawab : Ya, ini adalah kematian, karena mereka semua pernah melihatnya. Sang penyeru pun kembali menyeru : “wahai penghuni neraka”, mereka pun mengangkat leher dan memandang. Penyeru berkata : “apakah kalian mengetahui sosok ini? Mereka pun menjawab : Ya, ini adalah kematian, karena mereka semua pernah melihatnya. Maka kematian itu disembelih lalu sang penyeru berkata : “Wahai penduduk surga, kalian akan kekal tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka kalian pun akan kekal tidak ada lagi kematian”. Kemudian Rasulullah membaca ayat ini (Qs Maryam : 39). HR. Bukhari dan muslim.Dalam riwayat lain terdapat tambahan :” فَلَوْلَا أنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَيَاةَ لِأهْلِ الْجَنَّةِ لَمَاتُوْا فَرَحًا وَلَوْلَا أنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَيَاةَ لِأهْلِ النَّارِ لَمَاتُوْا حَزَنًا وَحَسْرَةً” “Seandainya Allah tidak mentakdirkan kehidupan abadi untuk penduduk surga maka sungguh mereka akan mati karena bahagia, dan seandainya Allah tidak mentakdirkan kehidupan abadi bagi penduduk neraka maka sungguh mereka akan mati karena sedih dan menyesal”. Yang dimaksud firman Allah :” . . .  وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ . . ““…. dan mereka berada dalam kelengahan”Adalah kelengahan hati di dunia, karena di akhirat kelak sudah tidak ada lagi seseorang yang hatinya lengah.    Jelaslah bahwa kelengahan hati orang-orang kafir dan orang-orang munafik merupakan kelengahan yang mengakar kuat sehingga membuat penyandangnya kekal di neraka; suatu kelengahan yang identik dengan ketidak punyaan selera dan gairah untuk melakukan kebaikan serta kehampaan hati mereka dari ilmu yang bermanfaat dan amal kebajikan. Maka mereka menuruti hawa nafsu. Firman Allah:” وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا ” [ الكهف/ 28]“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya, sedangkan urusannya melewati batas”. (al-kahfi : 28).     Para pakar tafsir berkata : “artinya janganlah Anda ikuti orang yang kami lengahkan hatinya dari mengingat Aku sehingga urusannya kacau dan salah fatal”.    Adapun kelengahan hati orang Islam, maka itu merupakan kelengahan yang membuatnya meninggalkan sebagian amal kebajikan yang seandainya amal itu ditinggalkan tidaklah sampai menghilangkan keislamannya, atau kelengahan yang membuatnya terjerumus dalam kemaksiatan yang tidak sampai menjadikan dirinya kafir, termasuk kelengahan yang membuatnya tidak menyadari terhadap hukuman kemaksiatannya itu.    Kelengahan hati seorang muslim merupakan kerugian besar dan resiko tinggi yang dapat menjerumuskannya ke jurang kehancuran dan menutup pintu-pintu kebaikan di hadapannya.    Kelengahan hati resikonya sangat besar dan keburukannya menyebar. Firman Allah :” وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ” [ الحشر / 19]“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. Qs Al-hasyr : 19.Firman Allah pula :” نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ” [ التوبة/67]“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik”. Qs. At-Taubah : 67. Firman Allah :وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ [ الأعراف/ 205]“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. Qs Al-A’raaf : 205. Lengah hati dalam mengenali kesempurnaan tauhid, mengakibatkan seorang muslim terjatuh dalam perbuatan yang mengurangi kesempurnaan tauhid itu.Firman Allah:وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ [ يوسف / 106]“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah”. Qs Yusuf : 106Sebagaimana hadis riwayat  Abi Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melihat seorang lelaki sedang shalat yang mempersingkat shalatnya lalu pergi sambil memberi salam kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Maka Nabi berkata kepadanya : “Kembalilah dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat”. Lelaki itu pun shalat hingga tiga kali. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- mengajarinya cara tuma’ninah dalam melaksanakan shalat. HR Bukhari dan Muslim.    Lengah hati akan besarnya pahala shalat berjamaah membuat seseorang meremehkan shalat berjamaah itu sendiri. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا” رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isyak dan shalat subuh. Andaikata mereka mengetahui pahala yang ada pada kedua shalat itu pastilah mereka melaksanakannya meskipun dengan merangkak”. HR Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah.    Lengah hati akan pahala berzakat dan lengah hati akan hukuman bagi pembangkangnya membuahkan sikap acuh untuk menunaikan zakat. Disebutkan dalam sebuah hadis:” مَا مِنْ صَاحِبِ كَنْزٍ لَا يُؤَدّي زَكَاتَهُ إلا مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ فَيَقُولُ: أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ” رواه البخاري ومسلم من حديث أبي هريرة“Tiada seorang yang memiliki harta kekayaan, namun tidak menunaikan zakatnya melainkan harta itu pada hari kiamat akan dirubah menjadi ular botak yang akan menggigit kedua rahangnya seraya berkata, “akulah kekayaanmu, akulah hartamu”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abi Hurairah.Begitulah harta itu akan menjadi seekor ular yang mengisap dua rahang pemilik harta tersebut untuk menyebarkan racun bisa kedalam badannya.    Lengah hati akan hukuman durhaka terhadap kedua orang tua mendorong seorang anak untuk berbuat durhaka sehingga ia terkena sanksi hukuman sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: العَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالدَّيُّوثُ ، وَالرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ ، رواه النسائي والحاكم عن ابن عمر“Ada tiga manusia yang tidak bisa masuk surga; anak yang durhaka kepada ibu bapaknya, “Dayuts” (lelaki yang tidak punya rasa cemburu), dan perempuan yang berperilaku menyerupai lelaki”. HR An-Nasai dan Alhakim dari Ibnu Umar.    “Dayuts” adalah lelaki yang menyetujui istrinya berzina. Begitu pun perempuan yang berperilaku menyerupai lelaki.    Lengah hati akan hukuman pemutusan tali kekerabatan bisa terkena sanksi hukuman yang diancamkan kepada orang yang memutuskannya. Disebutkan dalam hadis Jabir Bin Muth’im dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ ” رواه البخاري“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali kekerabatan”. HR Bukhari.    Akibat lengah hati akan hukuman perbuatan zalim, meluaslah kezaliman di muka bumi ini, sehingga terjadi penumpahan darah, perampasan harta orang lain, pelanggaran terhadap kehormatan, akibatnya pembangunan terbengkelai, negeri menjadi hancur, tanaman dan keturunan rusak dan rasa takut menyebar kemana-mana. Sesudah itu turunlah hukuman kepada pelaku kezaliman itu sebagaimana sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ ”  وَ قَرَأَ الآيةَ {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ القُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ} رواه البخاري ومسلم من حديث إبي موسى“Sesungguhnya Allah menangguhkan hukuman pelaku kezaliman, sehingga apabila telah tiba saatnya menghukum, Allah tidak melepaskannya. Lalu beliau melantunkan ayat : “Demikian itulah hukuman Tuhanmu ketika Dia menghukum (penduduk) negeri yang berbuat zalim. Sungguh hukuman Tuhanmu amatlah keras”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abi Musa.    Kelengahan hati adalah biang kejahatan yang membuat seorang muslim terhalang dari berbagai pahala kebaikan. Segala yang negatif tidaklah datang kepada seorang muslim kecuali melalui pintu kelengahan hati. Maka terselamatkan dari kelengahan hati berarti suatu keberuntungan. Terhindar dari kelengahan hati berarti peningkatan derajat ibadah. Kehati-hatian dari padanya merupakan benteng dari berbagai sanksi hukuman di dunia dan pencapaian kenikmatan sesudah mati.    Untuk bisa terlindung dan terselamatkan dari kelengahan hati hanyalah dengan menjauhi faktor-faktor pencetusnya dan tidak condong kepada harta dunia yang dapat memalingkan seseorang dari urusan akhiratnya.    Di antara yang dapat membantu seorang muslim untuk menghindari kelengahan hati adalah menjaga shalat berjamaah dengan khusyu’ sepenuh hati. Sebab shalat merupakan penjamin bagi kehidupan hati, termasuk nilai-nilai luhur yang tersimpan di dalam hati. Firman Allah :وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [ طه / 14 ]“Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat Aku”. Qs. Thaha : 14    Termasuk penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah berzikir kepada Allah dalam kondisi apapun. Sebab zikir dapat menghidupkan hati, mengusir setan, menjernihkan jiwa, menguatkan badan untuk beribadah dan membangunkan hati seseorang dari tidur terlena. Selalu berzikir dapat menjaga seseorang dari perbuatan maksiat sebagaimana hadis riwayat Abi Musa –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ ” رواه البخاري ومسلم“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepadaNya, bagaikan orang hidup dan orang mati”. HR Bukhari dan Muslim.    Di antara yang dapat menjaga seseorang dari kelengahan hati ialah membaca Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an terdapat keajaiban dan pemikat hati pembacanya. Di dalamnya terdapat obat penawar hati, ada anjuran berbuat kebajikan dan ada larangan berbuat segala keburukan. Firman Allah :وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [ الإسراء / 82]“Kami turunkan dari Al-Qur’an ini sesuatu yang menyembuhkan dan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman”.Qs. Al-Isra : 82    Di antara yang dapat menjaga seseorang dari kelengahan hati ialah berkencan dengan para ulama dan orang-orang shalih. Sebab mereka selalu berzikir kepada Allah. Firman Allah :وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا [ الكهف/ 28]“Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka di waktu pagi dan petang untuk mengharapkan wajah-Nya semata. Janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka semata-mata engkau menginginkan perhiasan kehidupan dunia”.Qs Alkahfi : 28    Di antara yang dapat menyelamatkan seseorang dari kelengahan hati ialah menghindari hiburan tempat canda-tawa dan perbuatan dosa serta berteman dengan orang jahat. Firman Allah :وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ [ النساء / 140 ] “Sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab (Al-Qur’an) suatu ketentuan bahwa jika kalian mendengarkan ayat-ayat Allah akan diingkari dan dilecehkan. Maka janganlah kalian duduk bersama mereka sehingga mereka memperbincangkan suatu pembicaraan yang lain. Sungguh kalian kalau demikian menjadi seperti mereka”. Qs. An-Nisa : 140Dalam suatu hadis disebutkan :” وَمَثَلُ جَلِيسِ السَّوْءِ كَنَافِخِ الْكِيرِ ““Gambaran teman kencan jahat adalah seperti peniup ubupan api tukang besi”.    Di antara penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah paham akan kerendahan nilai dunia dan kesirnaannya serta tidak terpedaya oleh kilauan dunia sehingga lupa akhirat. Benar, kilauan dunialah yang menutup mata kebanyakan manusia dari kehidupan akhirat dan petunjuk kebenaran.    Di antara penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah menjauhi dosa dan maksiat. Sebab setiap maksiat yang dilakukan seseorang terjadi karena hatinya lengah. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ ، وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ [ الأعراف/ 201- 202]“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa jika terhampiri oleh hasutan setan, maka mereka ingat  dengan waspada. Sedangkan kawan-kawan mereka (orang-orang kafir) membantu setan-setan itu dalam kesesatan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)”.Qs Al-A’raf : 201 – 202    Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kalian dalam mengamalkan Al-Quran yang agung. ===== Khotbah Kedua    Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas seluruh nikmatNya yang terlihat dan yang tidak terlihat. Aku menyanjungNya atas segala kebaikan sebagaimana Dia menyanjung diri-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita dan Penghulu kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pembimbing manusia ke jalan yang lurus.    Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang menyandang ketakwaan dan akhlak yang mulia.Selanjutnya :    Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah kepada tali Islam seerat-eratnya.Wahai hamba Allah, Sesungguhnya penyelamat terbesar bagi seorang muslim dari kelengahan hati dengan segala dampak negatifnya ialah ingat akan kematian dan kehidupan sesudahnya. Kematian merupakan pemberi peringatan yang efektif, saksi yang didengar; cita rasanya meyakinkan, perjumpaannya amat dekat, urusannya suatu keniscayaan.    Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ ” رواه الترمذي“Perbanyaklah mengingat peristiwa yang melumat segala kelezatan, yaitu kematian”. HR Tirmizi. Dikatakannya hadis hasan.    Barangsiapa banyak mengingat kematian, akan menjadi baik hatinya, bersih amal perbuatannya dan aman hatinya dari kelengahan. Maka sewaktu-waktu kematian telah datang, orang mukmin akan senang, orang yang jahat pasti menyesal dan mengharapkan kembali ke dunia, namun mana mungkin harapannya itu bisa terpenuhi. Firman Allah:حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ، لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ [ المؤمنون/ 100]“Sehingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia pun berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal  saleh sebagai pengganti yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”.Qs Almu’minun : 100    Umur seseorang hakikatnya adalah nilai ibadah yang telah ia lakukan. Sedang kemaksiatan yang pernah dijalani adalah kerugian bagi umurnya.    Wahai hamba Allah, Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman sampaikanlah halawat dan salam dengan sesunguhnya kepadanya.=== Doa Penutup ===

Kelengahan Hati

Khotbah jum’at tanggal 3 rabi’ul awal 1438 HKhatib  : Syekh Ali bin Abdurahman Al-huzaifiPenerjemah : Usman Hatim Segala puji bagi Allah yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sucilah namaNya dan agunglah sifatNya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.     Allah menghidupkan hati melalui Al-Qur’an, petuah, hikmah dan amal shalih yang terkabulkan. Allah menyerahkan urusan orang yang berpaling dari kebenaran kepada dirinya sendiri sehingga ia berada dalam kerugian, kelengahan hati dan keterpedayaan.   Aku memuji Tuhanku atas segala karuniaNya dan aku pun bersyukur kepadaNya atas anugerhNya yang demikian agung. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagNya Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Akupun bersaksi bahwa Nabi kita dan Penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan rasulNya, selaku penyampai kabar gembira laksana pelita yang menerangi.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya sebagai teladan bagi setiap orang yang yakin dan mantap akan kebenaran agamanya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan setiap amal perbuatan yang diridhaiNya dan menjauhi apapun perbuatan yang dimurkaiNya dan ditolak olehNya. Sebab, ketakwaan identik dengan kebahagiaan di dunia dan keberuntungan meraih surga yang kekal abadi di akhirat.    Maka berbahagialah orang yang tetap bertakwa, dan celakalah orang yang melepaskannya dan tidak menjalankannya.Hamba Allah . . Perbaikilah hati Anda melalui perbuatan yang dapat memperbaikinya. Waspadalah terhadap faktor-faktor yang dapat merusak hati. Sebab hati merupakan raja bagi seluruh organ tubuh, sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- : ” ألَا وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَة إذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلّهُ ألَا وَهِيَ الْقَلْبُ” رواه البخاري ومسلم“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh seseorang itu ada segumpal daging, jika baik maka baik pula seluruh jasad, dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati”. HR. bukhari dan Muslim dari hadis Nu’man bin Basyir -radhiyallahu ‘anhu-.Tahukah Anda penyakit hati yang paling besar dimana siapapun yang terjangkitinya akan terhalang dari segala kebaikan dan tertutup baginya pintu-pintu kebaikan ? Ingatlah termasuk penyakit hati yang paling besar ialah kelengahan hati itu sendiri.    Kelengahan hati yang telah mengakar itulah yang mencelakakan orang-orang kafir dan munafik, itulah pula yang menyebabkan mereka kekal di neraka. Firman Allah :مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ، ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [ النحل / 106 – 108 ]“Barang siapa kafir kepada Allah sesudah beriman (Allah akan memurkainya), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap dalam keimanan (tidaklah berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lengah hati”. QS An-nahl : 106 – 108    Bisa juga seorang muslim terkena kelengahan hati yang membuatnya tidak melakukan sebagian amal kebajikan dan tidak menempuh jalur penyelamatan diri serta menghindar dari keburukan sehingga dirinya kehilangan pahala kebajikan terukur dengan kelengahan hatinya, berikut menghadapi kesulitan dan penderitaan terukur dengan kelengahan hatinya pula dalam meninggalkan prosedur penyelamatan diri. Firman Allah:” وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ” [ الأحقاف / 19]“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan”. QS Al-Ahqaaf : 19.  Firman Allah pula :وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى ، وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ، ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى [ النجم/39-41] “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”. QS. An-najm : 39-41 Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda menceritakan firman Allah :” ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَاقْتَسِمُوْهَا بِأعْمَالِكُمْ ““Masuklah kalian kedalam surga dengan rahmatKu dan berbagilah sesuai amal kebajikan kalian”.Dan sabda beliau pula :” لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأخَّرُوْنَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللهُ وَإِنْ دَخَلُوْا الجَنَةَ ““Suatu kaum senantiasa terlambat hingga Allah memperlambatkan mereka walaupun akhirnya mereka masuk surga”.Firman Allah dalam konteks menghukum kaum atas kelengahan hati mereka dalam mengikuti prosedur penyelamatan diri :أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [ النساء / 165]“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada perang uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (pada perang  Badar) kalian berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Qs Ali Imran : 165Firman Allah pula :” وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ” [ الشورى/ 30]“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian”. As-Syura : 30Pemaafan di sini hanyalah untuk orang Islam bukan orang kafir, sebab orang kafir tidak akan dapat pemaafan dosa kecuali melalui pertobatan dari kekafiran.Kelengahan hati identik dengan tidak adanya kepekaan dan kecintaan terhadap amal kebaikan serta kehampaan hati dari ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Itulah puncak kelengahan hati yang membinasakan seseorang dan itulah kelengahan hati orang kafir dan munafik yang mana untuk selamat dari padanya diperlukan pertobatan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.Seseorang yang telah didominasi kelengahan hati hanya akan mengikuti persangkaan-persangkaan dan keinginan-keinginan yang dibisikkan oleh hawa nafsunya dan  dihiasi oleh setan. Dengan kelengahan hati seperti itulah Allah menghukum orang-orang kafir dan munafik di dunia dan akhirat. Firman Allah : وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [ الأعراف/ 179]“Dan sungguh Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak mempergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mempergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mempergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah hati”. (Al-A’raaf : 179).Firman Allah :فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ ، فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ[الأعراف / 135– 136]“Maka setelah kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang lengah terhadap ayat-ayat Kami itu”. Qs Al-A’raaf : 135- 136.Firman Allah :” وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ ” [ يونس / 92 ]“Dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah hati dari tanda-tanda kekuasaan Kami “. Qs. Yunus : 92Firman Allah tentang orang-orang munafik :صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ [ البقرة / 18 ]“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”. Qs Al-baqarah :18Firman Allah:وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ [ مريم / 39 ]“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala urusan telah diputus. Dan mereka dalam kelengahan, sedangkan mereka tidak pula beriman”.Qs. Maryam :39 Said Alkhudri –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:إذَا دَخَلَ أهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأهْلُ النَّارِ النَّارَ يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أمْلَحَ فَيُنَادَي مُنَادٍ يَا أهْلَ الْجَنَّةِ فَيَشْرَئِبّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ فَيَقوْلُ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا فَيَقُوْلوْنَ نَعَمْ هَذَا الْمَوْتُ وَكُلهمْ قَدْ رَآهُ ثمَّ يُنَادِي يَا أهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئبّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ فَيَقُوْلُ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا فَيَقولوْنَ نَعَمْ هَذَا المْوَتُ وَكلهُمْ قَدْ رَآهُ فَيُذبَحُ ثمَّ يَقوْلُ يَا أهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْد فَلَا مَوْتَ وَيَا أهْلَ النَّارِ خلُوْدٌ فَلَا مَوْتَ“Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga dan penduduk neraka telah masuk ke dalam neraka, maka didatangkanlah kematian dalam bentuk kambing berwarna putih kehitam-hitaman, kemudian berserulah penyeru : “Wahai penghuni surga, mereka pun mengangkat leher dan memandang. Sang penyeru bertanya: apakah kalian mengetahui sosok ini?”. Mereka menjawab : Ya, ini adalah kematian, karena mereka semua pernah melihatnya. Sang penyeru pun kembali menyeru : “wahai penghuni neraka”, mereka pun mengangkat leher dan memandang. Penyeru berkata : “apakah kalian mengetahui sosok ini? Mereka pun menjawab : Ya, ini adalah kematian, karena mereka semua pernah melihatnya. Maka kematian itu disembelih lalu sang penyeru berkata : “Wahai penduduk surga, kalian akan kekal tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka kalian pun akan kekal tidak ada lagi kematian”. Kemudian Rasulullah membaca ayat ini (Qs Maryam : 39). HR. Bukhari dan muslim.Dalam riwayat lain terdapat tambahan :” فَلَوْلَا أنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَيَاةَ لِأهْلِ الْجَنَّةِ لَمَاتُوْا فَرَحًا وَلَوْلَا أنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَيَاةَ لِأهْلِ النَّارِ لَمَاتُوْا حَزَنًا وَحَسْرَةً” “Seandainya Allah tidak mentakdirkan kehidupan abadi untuk penduduk surga maka sungguh mereka akan mati karena bahagia, dan seandainya Allah tidak mentakdirkan kehidupan abadi bagi penduduk neraka maka sungguh mereka akan mati karena sedih dan menyesal”. Yang dimaksud firman Allah :” . . .  وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ . . ““…. dan mereka berada dalam kelengahan”Adalah kelengahan hati di dunia, karena di akhirat kelak sudah tidak ada lagi seseorang yang hatinya lengah.    Jelaslah bahwa kelengahan hati orang-orang kafir dan orang-orang munafik merupakan kelengahan yang mengakar kuat sehingga membuat penyandangnya kekal di neraka; suatu kelengahan yang identik dengan ketidak punyaan selera dan gairah untuk melakukan kebaikan serta kehampaan hati mereka dari ilmu yang bermanfaat dan amal kebajikan. Maka mereka menuruti hawa nafsu. Firman Allah:” وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا ” [ الكهف/ 28]“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya, sedangkan urusannya melewati batas”. (al-kahfi : 28).     Para pakar tafsir berkata : “artinya janganlah Anda ikuti orang yang kami lengahkan hatinya dari mengingat Aku sehingga urusannya kacau dan salah fatal”.    Adapun kelengahan hati orang Islam, maka itu merupakan kelengahan yang membuatnya meninggalkan sebagian amal kebajikan yang seandainya amal itu ditinggalkan tidaklah sampai menghilangkan keislamannya, atau kelengahan yang membuatnya terjerumus dalam kemaksiatan yang tidak sampai menjadikan dirinya kafir, termasuk kelengahan yang membuatnya tidak menyadari terhadap hukuman kemaksiatannya itu.    Kelengahan hati seorang muslim merupakan kerugian besar dan resiko tinggi yang dapat menjerumuskannya ke jurang kehancuran dan menutup pintu-pintu kebaikan di hadapannya.    Kelengahan hati resikonya sangat besar dan keburukannya menyebar. Firman Allah :” وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ” [ الحشر / 19]“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. Qs Al-hasyr : 19.Firman Allah pula :” نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ” [ التوبة/67]“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik”. Qs. At-Taubah : 67. Firman Allah :وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ [ الأعراف/ 205]“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. Qs Al-A’raaf : 205. Lengah hati dalam mengenali kesempurnaan tauhid, mengakibatkan seorang muslim terjatuh dalam perbuatan yang mengurangi kesempurnaan tauhid itu.Firman Allah:وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ [ يوسف / 106]“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah”. Qs Yusuf : 106Sebagaimana hadis riwayat  Abi Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melihat seorang lelaki sedang shalat yang mempersingkat shalatnya lalu pergi sambil memberi salam kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Maka Nabi berkata kepadanya : “Kembalilah dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat”. Lelaki itu pun shalat hingga tiga kali. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- mengajarinya cara tuma’ninah dalam melaksanakan shalat. HR Bukhari dan Muslim.    Lengah hati akan besarnya pahala shalat berjamaah membuat seseorang meremehkan shalat berjamaah itu sendiri. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا” رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isyak dan shalat subuh. Andaikata mereka mengetahui pahala yang ada pada kedua shalat itu pastilah mereka melaksanakannya meskipun dengan merangkak”. HR Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah.    Lengah hati akan pahala berzakat dan lengah hati akan hukuman bagi pembangkangnya membuahkan sikap acuh untuk menunaikan zakat. Disebutkan dalam sebuah hadis:” مَا مِنْ صَاحِبِ كَنْزٍ لَا يُؤَدّي زَكَاتَهُ إلا مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ فَيَقُولُ: أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ” رواه البخاري ومسلم من حديث أبي هريرة“Tiada seorang yang memiliki harta kekayaan, namun tidak menunaikan zakatnya melainkan harta itu pada hari kiamat akan dirubah menjadi ular botak yang akan menggigit kedua rahangnya seraya berkata, “akulah kekayaanmu, akulah hartamu”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abi Hurairah.Begitulah harta itu akan menjadi seekor ular yang mengisap dua rahang pemilik harta tersebut untuk menyebarkan racun bisa kedalam badannya.    Lengah hati akan hukuman durhaka terhadap kedua orang tua mendorong seorang anak untuk berbuat durhaka sehingga ia terkena sanksi hukuman sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: العَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالدَّيُّوثُ ، وَالرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ ، رواه النسائي والحاكم عن ابن عمر“Ada tiga manusia yang tidak bisa masuk surga; anak yang durhaka kepada ibu bapaknya, “Dayuts” (lelaki yang tidak punya rasa cemburu), dan perempuan yang berperilaku menyerupai lelaki”. HR An-Nasai dan Alhakim dari Ibnu Umar.    “Dayuts” adalah lelaki yang menyetujui istrinya berzina. Begitu pun perempuan yang berperilaku menyerupai lelaki.    Lengah hati akan hukuman pemutusan tali kekerabatan bisa terkena sanksi hukuman yang diancamkan kepada orang yang memutuskannya. Disebutkan dalam hadis Jabir Bin Muth’im dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ ” رواه البخاري“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali kekerabatan”. HR Bukhari.    Akibat lengah hati akan hukuman perbuatan zalim, meluaslah kezaliman di muka bumi ini, sehingga terjadi penumpahan darah, perampasan harta orang lain, pelanggaran terhadap kehormatan, akibatnya pembangunan terbengkelai, negeri menjadi hancur, tanaman dan keturunan rusak dan rasa takut menyebar kemana-mana. Sesudah itu turunlah hukuman kepada pelaku kezaliman itu sebagaimana sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ ”  وَ قَرَأَ الآيةَ {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ القُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ} رواه البخاري ومسلم من حديث إبي موسى“Sesungguhnya Allah menangguhkan hukuman pelaku kezaliman, sehingga apabila telah tiba saatnya menghukum, Allah tidak melepaskannya. Lalu beliau melantunkan ayat : “Demikian itulah hukuman Tuhanmu ketika Dia menghukum (penduduk) negeri yang berbuat zalim. Sungguh hukuman Tuhanmu amatlah keras”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abi Musa.    Kelengahan hati adalah biang kejahatan yang membuat seorang muslim terhalang dari berbagai pahala kebaikan. Segala yang negatif tidaklah datang kepada seorang muslim kecuali melalui pintu kelengahan hati. Maka terselamatkan dari kelengahan hati berarti suatu keberuntungan. Terhindar dari kelengahan hati berarti peningkatan derajat ibadah. Kehati-hatian dari padanya merupakan benteng dari berbagai sanksi hukuman di dunia dan pencapaian kenikmatan sesudah mati.    Untuk bisa terlindung dan terselamatkan dari kelengahan hati hanyalah dengan menjauhi faktor-faktor pencetusnya dan tidak condong kepada harta dunia yang dapat memalingkan seseorang dari urusan akhiratnya.    Di antara yang dapat membantu seorang muslim untuk menghindari kelengahan hati adalah menjaga shalat berjamaah dengan khusyu’ sepenuh hati. Sebab shalat merupakan penjamin bagi kehidupan hati, termasuk nilai-nilai luhur yang tersimpan di dalam hati. Firman Allah :وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [ طه / 14 ]“Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat Aku”. Qs. Thaha : 14    Termasuk penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah berzikir kepada Allah dalam kondisi apapun. Sebab zikir dapat menghidupkan hati, mengusir setan, menjernihkan jiwa, menguatkan badan untuk beribadah dan membangunkan hati seseorang dari tidur terlena. Selalu berzikir dapat menjaga seseorang dari perbuatan maksiat sebagaimana hadis riwayat Abi Musa –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ ” رواه البخاري ومسلم“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepadaNya, bagaikan orang hidup dan orang mati”. HR Bukhari dan Muslim.    Di antara yang dapat menjaga seseorang dari kelengahan hati ialah membaca Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an terdapat keajaiban dan pemikat hati pembacanya. Di dalamnya terdapat obat penawar hati, ada anjuran berbuat kebajikan dan ada larangan berbuat segala keburukan. Firman Allah :وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [ الإسراء / 82]“Kami turunkan dari Al-Qur’an ini sesuatu yang menyembuhkan dan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman”.Qs. Al-Isra : 82    Di antara yang dapat menjaga seseorang dari kelengahan hati ialah berkencan dengan para ulama dan orang-orang shalih. Sebab mereka selalu berzikir kepada Allah. Firman Allah :وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا [ الكهف/ 28]“Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka di waktu pagi dan petang untuk mengharapkan wajah-Nya semata. Janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka semata-mata engkau menginginkan perhiasan kehidupan dunia”.Qs Alkahfi : 28    Di antara yang dapat menyelamatkan seseorang dari kelengahan hati ialah menghindari hiburan tempat canda-tawa dan perbuatan dosa serta berteman dengan orang jahat. Firman Allah :وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ [ النساء / 140 ] “Sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab (Al-Qur’an) suatu ketentuan bahwa jika kalian mendengarkan ayat-ayat Allah akan diingkari dan dilecehkan. Maka janganlah kalian duduk bersama mereka sehingga mereka memperbincangkan suatu pembicaraan yang lain. Sungguh kalian kalau demikian menjadi seperti mereka”. Qs. An-Nisa : 140Dalam suatu hadis disebutkan :” وَمَثَلُ جَلِيسِ السَّوْءِ كَنَافِخِ الْكِيرِ ““Gambaran teman kencan jahat adalah seperti peniup ubupan api tukang besi”.    Di antara penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah paham akan kerendahan nilai dunia dan kesirnaannya serta tidak terpedaya oleh kilauan dunia sehingga lupa akhirat. Benar, kilauan dunialah yang menutup mata kebanyakan manusia dari kehidupan akhirat dan petunjuk kebenaran.    Di antara penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah menjauhi dosa dan maksiat. Sebab setiap maksiat yang dilakukan seseorang terjadi karena hatinya lengah. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ ، وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ [ الأعراف/ 201- 202]“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa jika terhampiri oleh hasutan setan, maka mereka ingat  dengan waspada. Sedangkan kawan-kawan mereka (orang-orang kafir) membantu setan-setan itu dalam kesesatan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)”.Qs Al-A’raf : 201 – 202    Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kalian dalam mengamalkan Al-Quran yang agung. ===== Khotbah Kedua    Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas seluruh nikmatNya yang terlihat dan yang tidak terlihat. Aku menyanjungNya atas segala kebaikan sebagaimana Dia menyanjung diri-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita dan Penghulu kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pembimbing manusia ke jalan yang lurus.    Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang menyandang ketakwaan dan akhlak yang mulia.Selanjutnya :    Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah kepada tali Islam seerat-eratnya.Wahai hamba Allah, Sesungguhnya penyelamat terbesar bagi seorang muslim dari kelengahan hati dengan segala dampak negatifnya ialah ingat akan kematian dan kehidupan sesudahnya. Kematian merupakan pemberi peringatan yang efektif, saksi yang didengar; cita rasanya meyakinkan, perjumpaannya amat dekat, urusannya suatu keniscayaan.    Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ ” رواه الترمذي“Perbanyaklah mengingat peristiwa yang melumat segala kelezatan, yaitu kematian”. HR Tirmizi. Dikatakannya hadis hasan.    Barangsiapa banyak mengingat kematian, akan menjadi baik hatinya, bersih amal perbuatannya dan aman hatinya dari kelengahan. Maka sewaktu-waktu kematian telah datang, orang mukmin akan senang, orang yang jahat pasti menyesal dan mengharapkan kembali ke dunia, namun mana mungkin harapannya itu bisa terpenuhi. Firman Allah:حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ، لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ [ المؤمنون/ 100]“Sehingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia pun berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal  saleh sebagai pengganti yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”.Qs Almu’minun : 100    Umur seseorang hakikatnya adalah nilai ibadah yang telah ia lakukan. Sedang kemaksiatan yang pernah dijalani adalah kerugian bagi umurnya.    Wahai hamba Allah, Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman sampaikanlah halawat dan salam dengan sesunguhnya kepadanya.=== Doa Penutup ===
Khotbah jum’at tanggal 3 rabi’ul awal 1438 HKhatib  : Syekh Ali bin Abdurahman Al-huzaifiPenerjemah : Usman Hatim Segala puji bagi Allah yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sucilah namaNya dan agunglah sifatNya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.     Allah menghidupkan hati melalui Al-Qur’an, petuah, hikmah dan amal shalih yang terkabulkan. Allah menyerahkan urusan orang yang berpaling dari kebenaran kepada dirinya sendiri sehingga ia berada dalam kerugian, kelengahan hati dan keterpedayaan.   Aku memuji Tuhanku atas segala karuniaNya dan aku pun bersyukur kepadaNya atas anugerhNya yang demikian agung. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagNya Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Akupun bersaksi bahwa Nabi kita dan Penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan rasulNya, selaku penyampai kabar gembira laksana pelita yang menerangi.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya sebagai teladan bagi setiap orang yang yakin dan mantap akan kebenaran agamanya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan setiap amal perbuatan yang diridhaiNya dan menjauhi apapun perbuatan yang dimurkaiNya dan ditolak olehNya. Sebab, ketakwaan identik dengan kebahagiaan di dunia dan keberuntungan meraih surga yang kekal abadi di akhirat.    Maka berbahagialah orang yang tetap bertakwa, dan celakalah orang yang melepaskannya dan tidak menjalankannya.Hamba Allah . . Perbaikilah hati Anda melalui perbuatan yang dapat memperbaikinya. Waspadalah terhadap faktor-faktor yang dapat merusak hati. Sebab hati merupakan raja bagi seluruh organ tubuh, sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- : ” ألَا وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَة إذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلّهُ ألَا وَهِيَ الْقَلْبُ” رواه البخاري ومسلم“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh seseorang itu ada segumpal daging, jika baik maka baik pula seluruh jasad, dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati”. HR. bukhari dan Muslim dari hadis Nu’man bin Basyir -radhiyallahu ‘anhu-.Tahukah Anda penyakit hati yang paling besar dimana siapapun yang terjangkitinya akan terhalang dari segala kebaikan dan tertutup baginya pintu-pintu kebaikan ? Ingatlah termasuk penyakit hati yang paling besar ialah kelengahan hati itu sendiri.    Kelengahan hati yang telah mengakar itulah yang mencelakakan orang-orang kafir dan munafik, itulah pula yang menyebabkan mereka kekal di neraka. Firman Allah :مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ، ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [ النحل / 106 – 108 ]“Barang siapa kafir kepada Allah sesudah beriman (Allah akan memurkainya), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap dalam keimanan (tidaklah berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lengah hati”. QS An-nahl : 106 – 108    Bisa juga seorang muslim terkena kelengahan hati yang membuatnya tidak melakukan sebagian amal kebajikan dan tidak menempuh jalur penyelamatan diri serta menghindar dari keburukan sehingga dirinya kehilangan pahala kebajikan terukur dengan kelengahan hatinya, berikut menghadapi kesulitan dan penderitaan terukur dengan kelengahan hatinya pula dalam meninggalkan prosedur penyelamatan diri. Firman Allah:” وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ” [ الأحقاف / 19]“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan”. QS Al-Ahqaaf : 19.  Firman Allah pula :وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى ، وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ، ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى [ النجم/39-41] “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”. QS. An-najm : 39-41 Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda menceritakan firman Allah :” ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَاقْتَسِمُوْهَا بِأعْمَالِكُمْ ““Masuklah kalian kedalam surga dengan rahmatKu dan berbagilah sesuai amal kebajikan kalian”.Dan sabda beliau pula :” لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأخَّرُوْنَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللهُ وَإِنْ دَخَلُوْا الجَنَةَ ““Suatu kaum senantiasa terlambat hingga Allah memperlambatkan mereka walaupun akhirnya mereka masuk surga”.Firman Allah dalam konteks menghukum kaum atas kelengahan hati mereka dalam mengikuti prosedur penyelamatan diri :أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [ النساء / 165]“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada perang uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (pada perang  Badar) kalian berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Qs Ali Imran : 165Firman Allah pula :” وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ” [ الشورى/ 30]“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian”. As-Syura : 30Pemaafan di sini hanyalah untuk orang Islam bukan orang kafir, sebab orang kafir tidak akan dapat pemaafan dosa kecuali melalui pertobatan dari kekafiran.Kelengahan hati identik dengan tidak adanya kepekaan dan kecintaan terhadap amal kebaikan serta kehampaan hati dari ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Itulah puncak kelengahan hati yang membinasakan seseorang dan itulah kelengahan hati orang kafir dan munafik yang mana untuk selamat dari padanya diperlukan pertobatan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.Seseorang yang telah didominasi kelengahan hati hanya akan mengikuti persangkaan-persangkaan dan keinginan-keinginan yang dibisikkan oleh hawa nafsunya dan  dihiasi oleh setan. Dengan kelengahan hati seperti itulah Allah menghukum orang-orang kafir dan munafik di dunia dan akhirat. Firman Allah : وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [ الأعراف/ 179]“Dan sungguh Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak mempergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mempergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mempergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah hati”. (Al-A’raaf : 179).Firman Allah :فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ ، فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ[الأعراف / 135– 136]“Maka setelah kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang lengah terhadap ayat-ayat Kami itu”. Qs Al-A’raaf : 135- 136.Firman Allah :” وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ ” [ يونس / 92 ]“Dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah hati dari tanda-tanda kekuasaan Kami “. Qs. Yunus : 92Firman Allah tentang orang-orang munafik :صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ [ البقرة / 18 ]“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”. Qs Al-baqarah :18Firman Allah:وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ [ مريم / 39 ]“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala urusan telah diputus. Dan mereka dalam kelengahan, sedangkan mereka tidak pula beriman”.Qs. Maryam :39 Said Alkhudri –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:إذَا دَخَلَ أهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأهْلُ النَّارِ النَّارَ يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أمْلَحَ فَيُنَادَي مُنَادٍ يَا أهْلَ الْجَنَّةِ فَيَشْرَئِبّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ فَيَقوْلُ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا فَيَقُوْلوْنَ نَعَمْ هَذَا الْمَوْتُ وَكُلهمْ قَدْ رَآهُ ثمَّ يُنَادِي يَا أهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئبّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ فَيَقُوْلُ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا فَيَقولوْنَ نَعَمْ هَذَا المْوَتُ وَكلهُمْ قَدْ رَآهُ فَيُذبَحُ ثمَّ يَقوْلُ يَا أهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْد فَلَا مَوْتَ وَيَا أهْلَ النَّارِ خلُوْدٌ فَلَا مَوْتَ“Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga dan penduduk neraka telah masuk ke dalam neraka, maka didatangkanlah kematian dalam bentuk kambing berwarna putih kehitam-hitaman, kemudian berserulah penyeru : “Wahai penghuni surga, mereka pun mengangkat leher dan memandang. Sang penyeru bertanya: apakah kalian mengetahui sosok ini?”. Mereka menjawab : Ya, ini adalah kematian, karena mereka semua pernah melihatnya. Sang penyeru pun kembali menyeru : “wahai penghuni neraka”, mereka pun mengangkat leher dan memandang. Penyeru berkata : “apakah kalian mengetahui sosok ini? Mereka pun menjawab : Ya, ini adalah kematian, karena mereka semua pernah melihatnya. Maka kematian itu disembelih lalu sang penyeru berkata : “Wahai penduduk surga, kalian akan kekal tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka kalian pun akan kekal tidak ada lagi kematian”. Kemudian Rasulullah membaca ayat ini (Qs Maryam : 39). HR. Bukhari dan muslim.Dalam riwayat lain terdapat tambahan :” فَلَوْلَا أنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَيَاةَ لِأهْلِ الْجَنَّةِ لَمَاتُوْا فَرَحًا وَلَوْلَا أنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَيَاةَ لِأهْلِ النَّارِ لَمَاتُوْا حَزَنًا وَحَسْرَةً” “Seandainya Allah tidak mentakdirkan kehidupan abadi untuk penduduk surga maka sungguh mereka akan mati karena bahagia, dan seandainya Allah tidak mentakdirkan kehidupan abadi bagi penduduk neraka maka sungguh mereka akan mati karena sedih dan menyesal”. Yang dimaksud firman Allah :” . . .  وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ . . ““…. dan mereka berada dalam kelengahan”Adalah kelengahan hati di dunia, karena di akhirat kelak sudah tidak ada lagi seseorang yang hatinya lengah.    Jelaslah bahwa kelengahan hati orang-orang kafir dan orang-orang munafik merupakan kelengahan yang mengakar kuat sehingga membuat penyandangnya kekal di neraka; suatu kelengahan yang identik dengan ketidak punyaan selera dan gairah untuk melakukan kebaikan serta kehampaan hati mereka dari ilmu yang bermanfaat dan amal kebajikan. Maka mereka menuruti hawa nafsu. Firman Allah:” وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا ” [ الكهف/ 28]“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya, sedangkan urusannya melewati batas”. (al-kahfi : 28).     Para pakar tafsir berkata : “artinya janganlah Anda ikuti orang yang kami lengahkan hatinya dari mengingat Aku sehingga urusannya kacau dan salah fatal”.    Adapun kelengahan hati orang Islam, maka itu merupakan kelengahan yang membuatnya meninggalkan sebagian amal kebajikan yang seandainya amal itu ditinggalkan tidaklah sampai menghilangkan keislamannya, atau kelengahan yang membuatnya terjerumus dalam kemaksiatan yang tidak sampai menjadikan dirinya kafir, termasuk kelengahan yang membuatnya tidak menyadari terhadap hukuman kemaksiatannya itu.    Kelengahan hati seorang muslim merupakan kerugian besar dan resiko tinggi yang dapat menjerumuskannya ke jurang kehancuran dan menutup pintu-pintu kebaikan di hadapannya.    Kelengahan hati resikonya sangat besar dan keburukannya menyebar. Firman Allah :” وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ” [ الحشر / 19]“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. Qs Al-hasyr : 19.Firman Allah pula :” نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ” [ التوبة/67]“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik”. Qs. At-Taubah : 67. Firman Allah :وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ [ الأعراف/ 205]“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. Qs Al-A’raaf : 205. Lengah hati dalam mengenali kesempurnaan tauhid, mengakibatkan seorang muslim terjatuh dalam perbuatan yang mengurangi kesempurnaan tauhid itu.Firman Allah:وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ [ يوسف / 106]“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah”. Qs Yusuf : 106Sebagaimana hadis riwayat  Abi Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melihat seorang lelaki sedang shalat yang mempersingkat shalatnya lalu pergi sambil memberi salam kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Maka Nabi berkata kepadanya : “Kembalilah dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat”. Lelaki itu pun shalat hingga tiga kali. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- mengajarinya cara tuma’ninah dalam melaksanakan shalat. HR Bukhari dan Muslim.    Lengah hati akan besarnya pahala shalat berjamaah membuat seseorang meremehkan shalat berjamaah itu sendiri. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا” رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isyak dan shalat subuh. Andaikata mereka mengetahui pahala yang ada pada kedua shalat itu pastilah mereka melaksanakannya meskipun dengan merangkak”. HR Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah.    Lengah hati akan pahala berzakat dan lengah hati akan hukuman bagi pembangkangnya membuahkan sikap acuh untuk menunaikan zakat. Disebutkan dalam sebuah hadis:” مَا مِنْ صَاحِبِ كَنْزٍ لَا يُؤَدّي زَكَاتَهُ إلا مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ فَيَقُولُ: أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ” رواه البخاري ومسلم من حديث أبي هريرة“Tiada seorang yang memiliki harta kekayaan, namun tidak menunaikan zakatnya melainkan harta itu pada hari kiamat akan dirubah menjadi ular botak yang akan menggigit kedua rahangnya seraya berkata, “akulah kekayaanmu, akulah hartamu”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abi Hurairah.Begitulah harta itu akan menjadi seekor ular yang mengisap dua rahang pemilik harta tersebut untuk menyebarkan racun bisa kedalam badannya.    Lengah hati akan hukuman durhaka terhadap kedua orang tua mendorong seorang anak untuk berbuat durhaka sehingga ia terkena sanksi hukuman sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: العَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالدَّيُّوثُ ، وَالرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ ، رواه النسائي والحاكم عن ابن عمر“Ada tiga manusia yang tidak bisa masuk surga; anak yang durhaka kepada ibu bapaknya, “Dayuts” (lelaki yang tidak punya rasa cemburu), dan perempuan yang berperilaku menyerupai lelaki”. HR An-Nasai dan Alhakim dari Ibnu Umar.    “Dayuts” adalah lelaki yang menyetujui istrinya berzina. Begitu pun perempuan yang berperilaku menyerupai lelaki.    Lengah hati akan hukuman pemutusan tali kekerabatan bisa terkena sanksi hukuman yang diancamkan kepada orang yang memutuskannya. Disebutkan dalam hadis Jabir Bin Muth’im dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ ” رواه البخاري“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali kekerabatan”. HR Bukhari.    Akibat lengah hati akan hukuman perbuatan zalim, meluaslah kezaliman di muka bumi ini, sehingga terjadi penumpahan darah, perampasan harta orang lain, pelanggaran terhadap kehormatan, akibatnya pembangunan terbengkelai, negeri menjadi hancur, tanaman dan keturunan rusak dan rasa takut menyebar kemana-mana. Sesudah itu turunlah hukuman kepada pelaku kezaliman itu sebagaimana sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ ”  وَ قَرَأَ الآيةَ {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ القُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ} رواه البخاري ومسلم من حديث إبي موسى“Sesungguhnya Allah menangguhkan hukuman pelaku kezaliman, sehingga apabila telah tiba saatnya menghukum, Allah tidak melepaskannya. Lalu beliau melantunkan ayat : “Demikian itulah hukuman Tuhanmu ketika Dia menghukum (penduduk) negeri yang berbuat zalim. Sungguh hukuman Tuhanmu amatlah keras”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abi Musa.    Kelengahan hati adalah biang kejahatan yang membuat seorang muslim terhalang dari berbagai pahala kebaikan. Segala yang negatif tidaklah datang kepada seorang muslim kecuali melalui pintu kelengahan hati. Maka terselamatkan dari kelengahan hati berarti suatu keberuntungan. Terhindar dari kelengahan hati berarti peningkatan derajat ibadah. Kehati-hatian dari padanya merupakan benteng dari berbagai sanksi hukuman di dunia dan pencapaian kenikmatan sesudah mati.    Untuk bisa terlindung dan terselamatkan dari kelengahan hati hanyalah dengan menjauhi faktor-faktor pencetusnya dan tidak condong kepada harta dunia yang dapat memalingkan seseorang dari urusan akhiratnya.    Di antara yang dapat membantu seorang muslim untuk menghindari kelengahan hati adalah menjaga shalat berjamaah dengan khusyu’ sepenuh hati. Sebab shalat merupakan penjamin bagi kehidupan hati, termasuk nilai-nilai luhur yang tersimpan di dalam hati. Firman Allah :وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [ طه / 14 ]“Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat Aku”. Qs. Thaha : 14    Termasuk penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah berzikir kepada Allah dalam kondisi apapun. Sebab zikir dapat menghidupkan hati, mengusir setan, menjernihkan jiwa, menguatkan badan untuk beribadah dan membangunkan hati seseorang dari tidur terlena. Selalu berzikir dapat menjaga seseorang dari perbuatan maksiat sebagaimana hadis riwayat Abi Musa –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ ” رواه البخاري ومسلم“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepadaNya, bagaikan orang hidup dan orang mati”. HR Bukhari dan Muslim.    Di antara yang dapat menjaga seseorang dari kelengahan hati ialah membaca Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an terdapat keajaiban dan pemikat hati pembacanya. Di dalamnya terdapat obat penawar hati, ada anjuran berbuat kebajikan dan ada larangan berbuat segala keburukan. Firman Allah :وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [ الإسراء / 82]“Kami turunkan dari Al-Qur’an ini sesuatu yang menyembuhkan dan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman”.Qs. Al-Isra : 82    Di antara yang dapat menjaga seseorang dari kelengahan hati ialah berkencan dengan para ulama dan orang-orang shalih. Sebab mereka selalu berzikir kepada Allah. Firman Allah :وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا [ الكهف/ 28]“Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka di waktu pagi dan petang untuk mengharapkan wajah-Nya semata. Janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka semata-mata engkau menginginkan perhiasan kehidupan dunia”.Qs Alkahfi : 28    Di antara yang dapat menyelamatkan seseorang dari kelengahan hati ialah menghindari hiburan tempat canda-tawa dan perbuatan dosa serta berteman dengan orang jahat. Firman Allah :وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ [ النساء / 140 ] “Sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab (Al-Qur’an) suatu ketentuan bahwa jika kalian mendengarkan ayat-ayat Allah akan diingkari dan dilecehkan. Maka janganlah kalian duduk bersama mereka sehingga mereka memperbincangkan suatu pembicaraan yang lain. Sungguh kalian kalau demikian menjadi seperti mereka”. Qs. An-Nisa : 140Dalam suatu hadis disebutkan :” وَمَثَلُ جَلِيسِ السَّوْءِ كَنَافِخِ الْكِيرِ ““Gambaran teman kencan jahat adalah seperti peniup ubupan api tukang besi”.    Di antara penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah paham akan kerendahan nilai dunia dan kesirnaannya serta tidak terpedaya oleh kilauan dunia sehingga lupa akhirat. Benar, kilauan dunialah yang menutup mata kebanyakan manusia dari kehidupan akhirat dan petunjuk kebenaran.    Di antara penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah menjauhi dosa dan maksiat. Sebab setiap maksiat yang dilakukan seseorang terjadi karena hatinya lengah. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ ، وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ [ الأعراف/ 201- 202]“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa jika terhampiri oleh hasutan setan, maka mereka ingat  dengan waspada. Sedangkan kawan-kawan mereka (orang-orang kafir) membantu setan-setan itu dalam kesesatan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)”.Qs Al-A’raf : 201 – 202    Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kalian dalam mengamalkan Al-Quran yang agung. ===== Khotbah Kedua    Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas seluruh nikmatNya yang terlihat dan yang tidak terlihat. Aku menyanjungNya atas segala kebaikan sebagaimana Dia menyanjung diri-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita dan Penghulu kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pembimbing manusia ke jalan yang lurus.    Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang menyandang ketakwaan dan akhlak yang mulia.Selanjutnya :    Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah kepada tali Islam seerat-eratnya.Wahai hamba Allah, Sesungguhnya penyelamat terbesar bagi seorang muslim dari kelengahan hati dengan segala dampak negatifnya ialah ingat akan kematian dan kehidupan sesudahnya. Kematian merupakan pemberi peringatan yang efektif, saksi yang didengar; cita rasanya meyakinkan, perjumpaannya amat dekat, urusannya suatu keniscayaan.    Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ ” رواه الترمذي“Perbanyaklah mengingat peristiwa yang melumat segala kelezatan, yaitu kematian”. HR Tirmizi. Dikatakannya hadis hasan.    Barangsiapa banyak mengingat kematian, akan menjadi baik hatinya, bersih amal perbuatannya dan aman hatinya dari kelengahan. Maka sewaktu-waktu kematian telah datang, orang mukmin akan senang, orang yang jahat pasti menyesal dan mengharapkan kembali ke dunia, namun mana mungkin harapannya itu bisa terpenuhi. Firman Allah:حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ، لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ [ المؤمنون/ 100]“Sehingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia pun berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal  saleh sebagai pengganti yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”.Qs Almu’minun : 100    Umur seseorang hakikatnya adalah nilai ibadah yang telah ia lakukan. Sedang kemaksiatan yang pernah dijalani adalah kerugian bagi umurnya.    Wahai hamba Allah, Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman sampaikanlah halawat dan salam dengan sesunguhnya kepadanya.=== Doa Penutup ===


Khotbah jum’at tanggal 3 rabi’ul awal 1438 HKhatib  : Syekh Ali bin Abdurahman Al-huzaifiPenerjemah : Usman Hatim Segala puji bagi Allah yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sucilah namaNya dan agunglah sifatNya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.     Allah menghidupkan hati melalui Al-Qur’an, petuah, hikmah dan amal shalih yang terkabulkan. Allah menyerahkan urusan orang yang berpaling dari kebenaran kepada dirinya sendiri sehingga ia berada dalam kerugian, kelengahan hati dan keterpedayaan.   Aku memuji Tuhanku atas segala karuniaNya dan aku pun bersyukur kepadaNya atas anugerhNya yang demikian agung. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagNya Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Akupun bersaksi bahwa Nabi kita dan Penghulu kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hambaNya dan rasulNya, selaku penyampai kabar gembira laksana pelita yang menerangi.Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya sebagai teladan bagi setiap orang yang yakin dan mantap akan kebenaran agamanya.Selanjutnya. Bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan setiap amal perbuatan yang diridhaiNya dan menjauhi apapun perbuatan yang dimurkaiNya dan ditolak olehNya. Sebab, ketakwaan identik dengan kebahagiaan di dunia dan keberuntungan meraih surga yang kekal abadi di akhirat.    Maka berbahagialah orang yang tetap bertakwa, dan celakalah orang yang melepaskannya dan tidak menjalankannya.Hamba Allah . . Perbaikilah hati Anda melalui perbuatan yang dapat memperbaikinya. Waspadalah terhadap faktor-faktor yang dapat merusak hati. Sebab hati merupakan raja bagi seluruh organ tubuh, sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- : ” ألَا وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَة إذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلّهُ ألَا وَهِيَ الْقَلْبُ” رواه البخاري ومسلم“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh seseorang itu ada segumpal daging, jika baik maka baik pula seluruh jasad, dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati”. HR. bukhari dan Muslim dari hadis Nu’man bin Basyir -radhiyallahu ‘anhu-.Tahukah Anda penyakit hati yang paling besar dimana siapapun yang terjangkitinya akan terhalang dari segala kebaikan dan tertutup baginya pintu-pintu kebaikan ? Ingatlah termasuk penyakit hati yang paling besar ialah kelengahan hati itu sendiri.    Kelengahan hati yang telah mengakar itulah yang mencelakakan orang-orang kafir dan munafik, itulah pula yang menyebabkan mereka kekal di neraka. Firman Allah :مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ، ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ، أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [ النحل / 106 – 108 ]“Barang siapa kafir kepada Allah sesudah beriman (Allah akan memurkainya), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap dalam keimanan (tidaklah berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lengah hati”. QS An-nahl : 106 – 108    Bisa juga seorang muslim terkena kelengahan hati yang membuatnya tidak melakukan sebagian amal kebajikan dan tidak menempuh jalur penyelamatan diri serta menghindar dari keburukan sehingga dirinya kehilangan pahala kebajikan terukur dengan kelengahan hatinya, berikut menghadapi kesulitan dan penderitaan terukur dengan kelengahan hatinya pula dalam meninggalkan prosedur penyelamatan diri. Firman Allah:” وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ” [ الأحقاف / 19]“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan”. QS Al-Ahqaaf : 19.  Firman Allah pula :وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى ، وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ، ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى [ النجم/39-41] “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”. QS. An-najm : 39-41 Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda menceritakan firman Allah :” ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَاقْتَسِمُوْهَا بِأعْمَالِكُمْ ““Masuklah kalian kedalam surga dengan rahmatKu dan berbagilah sesuai amal kebajikan kalian”.Dan sabda beliau pula :” لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأخَّرُوْنَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللهُ وَإِنْ دَخَلُوْا الجَنَةَ ““Suatu kaum senantiasa terlambat hingga Allah memperlambatkan mereka walaupun akhirnya mereka masuk surga”.Firman Allah dalam konteks menghukum kaum atas kelengahan hati mereka dalam mengikuti prosedur penyelamatan diri :أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [ النساء / 165]“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada perang uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (pada perang  Badar) kalian berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Qs Ali Imran : 165Firman Allah pula :” وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ” [ الشورى/ 30]“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian”. As-Syura : 30Pemaafan di sini hanyalah untuk orang Islam bukan orang kafir, sebab orang kafir tidak akan dapat pemaafan dosa kecuali melalui pertobatan dari kekafiran.Kelengahan hati identik dengan tidak adanya kepekaan dan kecintaan terhadap amal kebaikan serta kehampaan hati dari ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Itulah puncak kelengahan hati yang membinasakan seseorang dan itulah kelengahan hati orang kafir dan munafik yang mana untuk selamat dari padanya diperlukan pertobatan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala-.Seseorang yang telah didominasi kelengahan hati hanya akan mengikuti persangkaan-persangkaan dan keinginan-keinginan yang dibisikkan oleh hawa nafsunya dan  dihiasi oleh setan. Dengan kelengahan hati seperti itulah Allah menghukum orang-orang kafir dan munafik di dunia dan akhirat. Firman Allah : وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [ الأعراف/ 179]“Dan sungguh Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak mempergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mempergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mempergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah hati”. (Al-A’raaf : 179).Firman Allah :فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ ، فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ[الأعراف / 135– 136]“Maka setelah kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang lengah terhadap ayat-ayat Kami itu”. Qs Al-A’raaf : 135- 136.Firman Allah :” وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ ” [ يونس / 92 ]“Dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah hati dari tanda-tanda kekuasaan Kami “. Qs. Yunus : 92Firman Allah tentang orang-orang munafik :صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ [ البقرة / 18 ]“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”. Qs Al-baqarah :18Firman Allah:وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ [ مريم / 39 ]“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala urusan telah diputus. Dan mereka dalam kelengahan, sedangkan mereka tidak pula beriman”.Qs. Maryam :39 Said Alkhudri –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:إذَا دَخَلَ أهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأهْلُ النَّارِ النَّارَ يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أمْلَحَ فَيُنَادَي مُنَادٍ يَا أهْلَ الْجَنَّةِ فَيَشْرَئِبّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ فَيَقوْلُ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا فَيَقُوْلوْنَ نَعَمْ هَذَا الْمَوْتُ وَكُلهمْ قَدْ رَآهُ ثمَّ يُنَادِي يَا أهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئبّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ فَيَقُوْلُ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا فَيَقولوْنَ نَعَمْ هَذَا المْوَتُ وَكلهُمْ قَدْ رَآهُ فَيُذبَحُ ثمَّ يَقوْلُ يَا أهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْد فَلَا مَوْتَ وَيَا أهْلَ النَّارِ خلُوْدٌ فَلَا مَوْتَ“Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga dan penduduk neraka telah masuk ke dalam neraka, maka didatangkanlah kematian dalam bentuk kambing berwarna putih kehitam-hitaman, kemudian berserulah penyeru : “Wahai penghuni surga, mereka pun mengangkat leher dan memandang. Sang penyeru bertanya: apakah kalian mengetahui sosok ini?”. Mereka menjawab : Ya, ini adalah kematian, karena mereka semua pernah melihatnya. Sang penyeru pun kembali menyeru : “wahai penghuni neraka”, mereka pun mengangkat leher dan memandang. Penyeru berkata : “apakah kalian mengetahui sosok ini? Mereka pun menjawab : Ya, ini adalah kematian, karena mereka semua pernah melihatnya. Maka kematian itu disembelih lalu sang penyeru berkata : “Wahai penduduk surga, kalian akan kekal tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka kalian pun akan kekal tidak ada lagi kematian”. Kemudian Rasulullah membaca ayat ini (Qs Maryam : 39). HR. Bukhari dan muslim.Dalam riwayat lain terdapat tambahan :” فَلَوْلَا أنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَيَاةَ لِأهْلِ الْجَنَّةِ لَمَاتُوْا فَرَحًا وَلَوْلَا أنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَيَاةَ لِأهْلِ النَّارِ لَمَاتُوْا حَزَنًا وَحَسْرَةً” “Seandainya Allah tidak mentakdirkan kehidupan abadi untuk penduduk surga maka sungguh mereka akan mati karena bahagia, dan seandainya Allah tidak mentakdirkan kehidupan abadi bagi penduduk neraka maka sungguh mereka akan mati karena sedih dan menyesal”. Yang dimaksud firman Allah :” . . .  وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ . . ““…. dan mereka berada dalam kelengahan”Adalah kelengahan hati di dunia, karena di akhirat kelak sudah tidak ada lagi seseorang yang hatinya lengah.    Jelaslah bahwa kelengahan hati orang-orang kafir dan orang-orang munafik merupakan kelengahan yang mengakar kuat sehingga membuat penyandangnya kekal di neraka; suatu kelengahan yang identik dengan ketidak punyaan selera dan gairah untuk melakukan kebaikan serta kehampaan hati mereka dari ilmu yang bermanfaat dan amal kebajikan. Maka mereka menuruti hawa nafsu. Firman Allah:” وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا ” [ الكهف/ 28]“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya, sedangkan urusannya melewati batas”. (al-kahfi : 28).     Para pakar tafsir berkata : “artinya janganlah Anda ikuti orang yang kami lengahkan hatinya dari mengingat Aku sehingga urusannya kacau dan salah fatal”.    Adapun kelengahan hati orang Islam, maka itu merupakan kelengahan yang membuatnya meninggalkan sebagian amal kebajikan yang seandainya amal itu ditinggalkan tidaklah sampai menghilangkan keislamannya, atau kelengahan yang membuatnya terjerumus dalam kemaksiatan yang tidak sampai menjadikan dirinya kafir, termasuk kelengahan yang membuatnya tidak menyadari terhadap hukuman kemaksiatannya itu.    Kelengahan hati seorang muslim merupakan kerugian besar dan resiko tinggi yang dapat menjerumuskannya ke jurang kehancuran dan menutup pintu-pintu kebaikan di hadapannya.    Kelengahan hati resikonya sangat besar dan keburukannya menyebar. Firman Allah :” وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ” [ الحشر / 19]“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. Qs Al-hasyr : 19.Firman Allah pula :” نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ” [ التوبة/67]“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik”. Qs. At-Taubah : 67. Firman Allah :وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ [ الأعراف/ 205]“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. Qs Al-A’raaf : 205. Lengah hati dalam mengenali kesempurnaan tauhid, mengakibatkan seorang muslim terjatuh dalam perbuatan yang mengurangi kesempurnaan tauhid itu.Firman Allah:وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ [ يوسف / 106]“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah”. Qs Yusuf : 106Sebagaimana hadis riwayat  Abi Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- melihat seorang lelaki sedang shalat yang mempersingkat shalatnya lalu pergi sambil memberi salam kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Maka Nabi berkata kepadanya : “Kembalilah dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat”. Lelaki itu pun shalat hingga tiga kali. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- mengajarinya cara tuma’ninah dalam melaksanakan shalat. HR Bukhari dan Muslim.    Lengah hati akan besarnya pahala shalat berjamaah membuat seseorang meremehkan shalat berjamaah itu sendiri. Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :“إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا” رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isyak dan shalat subuh. Andaikata mereka mengetahui pahala yang ada pada kedua shalat itu pastilah mereka melaksanakannya meskipun dengan merangkak”. HR Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah.    Lengah hati akan pahala berzakat dan lengah hati akan hukuman bagi pembangkangnya membuahkan sikap acuh untuk menunaikan zakat. Disebutkan dalam sebuah hadis:” مَا مِنْ صَاحِبِ كَنْزٍ لَا يُؤَدّي زَكَاتَهُ إلا مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ فَيَقُولُ: أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ” رواه البخاري ومسلم من حديث أبي هريرة“Tiada seorang yang memiliki harta kekayaan, namun tidak menunaikan zakatnya melainkan harta itu pada hari kiamat akan dirubah menjadi ular botak yang akan menggigit kedua rahangnya seraya berkata, “akulah kekayaanmu, akulah hartamu”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abi Hurairah.Begitulah harta itu akan menjadi seekor ular yang mengisap dua rahang pemilik harta tersebut untuk menyebarkan racun bisa kedalam badannya.    Lengah hati akan hukuman durhaka terhadap kedua orang tua mendorong seorang anak untuk berbuat durhaka sehingga ia terkena sanksi hukuman sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-:ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: العَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالدَّيُّوثُ ، وَالرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ ، رواه النسائي والحاكم عن ابن عمر“Ada tiga manusia yang tidak bisa masuk surga; anak yang durhaka kepada ibu bapaknya, “Dayuts” (lelaki yang tidak punya rasa cemburu), dan perempuan yang berperilaku menyerupai lelaki”. HR An-Nasai dan Alhakim dari Ibnu Umar.    “Dayuts” adalah lelaki yang menyetujui istrinya berzina. Begitu pun perempuan yang berperilaku menyerupai lelaki.    Lengah hati akan hukuman pemutusan tali kekerabatan bisa terkena sanksi hukuman yang diancamkan kepada orang yang memutuskannya. Disebutkan dalam hadis Jabir Bin Muth’im dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ ” رواه البخاري“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali kekerabatan”. HR Bukhari.    Akibat lengah hati akan hukuman perbuatan zalim, meluaslah kezaliman di muka bumi ini, sehingga terjadi penumpahan darah, perampasan harta orang lain, pelanggaran terhadap kehormatan, akibatnya pembangunan terbengkelai, negeri menjadi hancur, tanaman dan keturunan rusak dan rasa takut menyebar kemana-mana. Sesudah itu turunlah hukuman kepada pelaku kezaliman itu sebagaimana sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :” إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ ”  وَ قَرَأَ الآيةَ {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ القُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ} رواه البخاري ومسلم من حديث إبي موسى“Sesungguhnya Allah menangguhkan hukuman pelaku kezaliman, sehingga apabila telah tiba saatnya menghukum, Allah tidak melepaskannya. Lalu beliau melantunkan ayat : “Demikian itulah hukuman Tuhanmu ketika Dia menghukum (penduduk) negeri yang berbuat zalim. Sungguh hukuman Tuhanmu amatlah keras”. HR Bukhari dan Muslim dari hadis Abi Musa.    Kelengahan hati adalah biang kejahatan yang membuat seorang muslim terhalang dari berbagai pahala kebaikan. Segala yang negatif tidaklah datang kepada seorang muslim kecuali melalui pintu kelengahan hati. Maka terselamatkan dari kelengahan hati berarti suatu keberuntungan. Terhindar dari kelengahan hati berarti peningkatan derajat ibadah. Kehati-hatian dari padanya merupakan benteng dari berbagai sanksi hukuman di dunia dan pencapaian kenikmatan sesudah mati.    Untuk bisa terlindung dan terselamatkan dari kelengahan hati hanyalah dengan menjauhi faktor-faktor pencetusnya dan tidak condong kepada harta dunia yang dapat memalingkan seseorang dari urusan akhiratnya.    Di antara yang dapat membantu seorang muslim untuk menghindari kelengahan hati adalah menjaga shalat berjamaah dengan khusyu’ sepenuh hati. Sebab shalat merupakan penjamin bagi kehidupan hati, termasuk nilai-nilai luhur yang tersimpan di dalam hati. Firman Allah :وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [ طه / 14 ]“Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat Aku”. Qs. Thaha : 14    Termasuk penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah berzikir kepada Allah dalam kondisi apapun. Sebab zikir dapat menghidupkan hati, mengusir setan, menjernihkan jiwa, menguatkan badan untuk beribadah dan membangunkan hati seseorang dari tidur terlena. Selalu berzikir dapat menjaga seseorang dari perbuatan maksiat sebagaimana hadis riwayat Abi Musa –radhiyallahu anhu- dari Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ ” رواه البخاري ومسلم“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepadaNya, bagaikan orang hidup dan orang mati”. HR Bukhari dan Muslim.    Di antara yang dapat menjaga seseorang dari kelengahan hati ialah membaca Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an terdapat keajaiban dan pemikat hati pembacanya. Di dalamnya terdapat obat penawar hati, ada anjuran berbuat kebajikan dan ada larangan berbuat segala keburukan. Firman Allah :وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [ الإسراء / 82]“Kami turunkan dari Al-Qur’an ini sesuatu yang menyembuhkan dan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman”.Qs. Al-Isra : 82    Di antara yang dapat menjaga seseorang dari kelengahan hati ialah berkencan dengan para ulama dan orang-orang shalih. Sebab mereka selalu berzikir kepada Allah. Firman Allah :وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا [ الكهف/ 28]“Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka di waktu pagi dan petang untuk mengharapkan wajah-Nya semata. Janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka semata-mata engkau menginginkan perhiasan kehidupan dunia”.Qs Alkahfi : 28    Di antara yang dapat menyelamatkan seseorang dari kelengahan hati ialah menghindari hiburan tempat canda-tawa dan perbuatan dosa serta berteman dengan orang jahat. Firman Allah :وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ [ النساء / 140 ] “Sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian dalam Kitab (Al-Qur’an) suatu ketentuan bahwa jika kalian mendengarkan ayat-ayat Allah akan diingkari dan dilecehkan. Maka janganlah kalian duduk bersama mereka sehingga mereka memperbincangkan suatu pembicaraan yang lain. Sungguh kalian kalau demikian menjadi seperti mereka”. Qs. An-Nisa : 140Dalam suatu hadis disebutkan :” وَمَثَلُ جَلِيسِ السَّوْءِ كَنَافِخِ الْكِيرِ ““Gambaran teman kencan jahat adalah seperti peniup ubupan api tukang besi”.    Di antara penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah paham akan kerendahan nilai dunia dan kesirnaannya serta tidak terpedaya oleh kilauan dunia sehingga lupa akhirat. Benar, kilauan dunialah yang menutup mata kebanyakan manusia dari kehidupan akhirat dan petunjuk kebenaran.    Di antara penyelamat seseorang dari kelengahan hati ialah menjauhi dosa dan maksiat. Sebab setiap maksiat yang dilakukan seseorang terjadi karena hatinya lengah. Firman Allah :إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ ، وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ [ الأعراف/ 201- 202]“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa jika terhampiri oleh hasutan setan, maka mereka ingat  dengan waspada. Sedangkan kawan-kawan mereka (orang-orang kafir) membantu setan-setan itu dalam kesesatan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)”.Qs Al-A’raf : 201 – 202    Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kalian dalam mengamalkan Al-Quran yang agung. ===== Khotbah Kedua    Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas seluruh nikmatNya yang terlihat dan yang tidak terlihat. Aku menyanjungNya atas segala kebaikan sebagaimana Dia menyanjung diri-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita dan Penghulu kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pembimbing manusia ke jalan yang lurus.    Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang menyandang ketakwaan dan akhlak yang mulia.Selanjutnya :    Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya. Berpegang-teguhlah kepada tali Islam seerat-eratnya.Wahai hamba Allah, Sesungguhnya penyelamat terbesar bagi seorang muslim dari kelengahan hati dengan segala dampak negatifnya ialah ingat akan kematian dan kehidupan sesudahnya. Kematian merupakan pemberi peringatan yang efektif, saksi yang didengar; cita rasanya meyakinkan, perjumpaannya amat dekat, urusannya suatu keniscayaan.    Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam – bersabda :” أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ ” رواه الترمذي“Perbanyaklah mengingat peristiwa yang melumat segala kelezatan, yaitu kematian”. HR Tirmizi. Dikatakannya hadis hasan.    Barangsiapa banyak mengingat kematian, akan menjadi baik hatinya, bersih amal perbuatannya dan aman hatinya dari kelengahan. Maka sewaktu-waktu kematian telah datang, orang mukmin akan senang, orang yang jahat pasti menyesal dan mengharapkan kembali ke dunia, namun mana mungkin harapannya itu bisa terpenuhi. Firman Allah:حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ، لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ [ المؤمنون/ 100]“Sehingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia pun berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal  saleh sebagai pengganti yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”.Qs Almu’minun : 100    Umur seseorang hakikatnya adalah nilai ibadah yang telah ia lakukan. Sedang kemaksiatan yang pernah dijalani adalah kerugian bagi umurnya.    Wahai hamba Allah, Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman sampaikanlah halawat dan salam dengan sesunguhnya kepadanya.=== Doa Penutup ===

Perbaikan Diri

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 10 Rabiul Awal 1438 HKhotib : Syekh Abdul Bari Bin Awadh At-TsubaitiPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaPerubahan merupakan ciri khas kehidupan. Tidak ada yang permanen dalam hidup ini; ada sehat dan ada sakit; pasang dan surut, dihormati dan dihinakan, lapar dan kenyang, miskin dan kaya, menikah dan cerai, aman dan takut, sedih dan senang, termasuk fluktuatif ekonomi.     Perubahan semacam ini telah menjadi ketetapan Allah yang tidak terelakkan. Hal itu dapat kita baca dalam peristiwa sejarah sepanjang masa. Manakala kehidupan mengalami perubahan secara negatif, biasanya orang-orang yang berjiwa kerdil merasa sedih, tersakiti dan pesimis, lalu  mereka kendur semangat dan bermalas-malas menjalani kehidupan dengan penuh gairah.     Termasuk prinsip dasar akidah seorang muslim adalah beriman kepada ketetapan takdir, manisnya dan pahitnya, serta meyakini bahwa segala pengaturan urusan kehidupan adalah milik Allah, dan bahwa perubahan hidup merupakan hak prerogatif Allah, bukan kapasitas manusia.      Beriman terhadap ketentuan takdir merupakan motivator paling kuat untuk mengatasi bencana dan melanjutkan kerja dengan penuh semangat dan percaya diri dalam mencari rezeki, disamping mempertahankan hidup untuk memberi agar tidak mandek.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ  “ رواه الترمذي بإسناد صَحِيح“Ketahuilah sekiranya seluruh umat manisia sepakat untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena suatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Dan sekiranya seluruh umat manusia bersepakat untuk memberikan madharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena sesuatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Pena takdir telah diangkat dan lembaran ketetapan telah mengering”. HR Tirmizi dengan isnad shahih.     Pesan ini merupakan penguatan jiwa seseorang untuk bergantung kepada Allah semata dalam segala perikehidupan dan urusan akhiratnya. Maka hendaklah ia hanya memohon kepada Allah, tidak mengharapkan kecuali anugerahNya. Maka sebagaimana seseorang secara lisan hanya memohon kepada Allah, demikian pula hatinya hendaklah tidak bergantung kecuali kepada Allah.     Dengan demikian tercapailah kejayaan dan kemuliaan. Sementara orang yang bergantung kepada sesama makhluk hanya akan tertimpa kehinaan dan kemerosotan.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ، فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ، أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ، بِالْغِنَى، إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ ” رواه أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tertimpa kemiskinan lalu mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan teratasi kemiskinannya itu. Dan barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah mempercepatkan kecukupan baginya; mungkin dengan kematian segera atau kekayaan segera”. HR Abu Dawud dan Tirmizi.     Hendaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Tuhannya dengan meyakini bahwa ketentuan dan ketatapan takdir Allah tentu didasarkan pada kebijaksanaan Allah yang mencerminkan kesempurnaan keadilan dan kasih sayang-Nya; dimana Allah menjadikan miskin bagi siapa yang dikehandaki-Nya dan menjadikan kaya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Memuliakan orang yang dikehendakiNya dan menghinakan orang yang dikehendakiNya pula.     Orang mukmin selalu hidup dalam kepuasan hati apapun kondisinya. Jika seseorang telah merasa puas terhadap dirinya dan ridha kepada Tuhannya, maka tenanglah hidupnya hari ini yang sedang ia jalani. Jika keyakinannya kepada Allah telah merasuk, maka tenteramlah hatinya untuk hari esok dan masa depannya.     Iman (percaya) kepada ketentuan dan ketetapan takdir Allah bukan berarti seseorang menyerah kepada realita yang ada, lalu cenderung mengikuti rutinitas kehidupan dengan kepasrahan hati karena frustrasi dan putus asa. Tetapi iman kepada ketentuan dan ketetapan takdir justru mendorong seseorang untuk menolak takdir dengan takdir pula, yaitu mengikuti prosedur yang benar dengan kesabaran dan ketabahan serta berusaha merubah kondisi menjadi lebih baik.     Betapa banyak orang miskin yang kondisinya Allah balikkan menjadi kaya. Betapa banyak orang yang dirundung kesedihan lalu Allah jadikan keadaannya menjadi senang. Betapa banyak orang yang nestapa, lalu Allah rubah menjadi ceria. Betapa banyak orang yang sakit yang kemudian Allah selimuti dengan pakaian kesehatan lahir batin. Betapa banyak orang yang terzalimi, akhirnya bisa menyaksikan di dunia ini pembalasan Allah terhadap orang yang menzaliminya.     Manusia sering merasa panik ketika menghadapi perubahan kondisi secara mendadak, kecuali orang-orang yang menjalankan shalat dengan konsisten saja (yang tidak panik). Firman Allah :إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ، إِلا الْمُصَلِّينَ [ المعارج / 19 -22 )“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir; Apabila ditimpa kesusahan berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”. Qs Alma’arij : 19-22     Terkadang manusia lupa akan tugasnya merubah kondisi menjadi lebih baik, lantaran dirinya sibuk menganalisis persoalannya, mengkaji apa yang ada di balik peristiwa dan hidup dalam fatamorgana hayalan. Maka hilanglah kesempatannya dan sia-sialah waktunya lantaran memperbincangkan hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya. Padahal Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan :“احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ” رواه مسلم“Fokuskan perhatianmu terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu”. HR Muslim     Adapun menggerutu dan selalu mengeluh dan menilai zaman sudah rusak, lalu membangkitkan semangat negatif di tengah masyarakat, sungguh demikian itu mematikan aspirasi, mengendurkan kebulatan tekad dan menghentikan laju pembangunan.     Orang mukmin dengan pertimbangan akalnya yang jernih akan membiarkan perubahan berjalan; Betapa banyak bencana yang di dalamnya tersimpan anugerah. Betapa banyak cobaan yang kemudian memunculkan kenikmatan.     Orang mukmin menyadari bahwa adanya perubahan dalam hidup ini merupakan nikmat agung yang dapat membukakan pintu optimisme dan jendela harapan. Dalam perubahan ada kesempatan meraih kesuksesan, peningkatan dan kemajuan.     Ketika bencana dan kesulitan telah memuncak, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan kabar gembira yang menggelorakan harapan dalam jiwa dengan ungkapan yang meyakinkan akan janji Allah dan pertolongan-Nya.فعَنْ عَدِيّ بنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا أنا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ، فَشَكَا إِلَيْهِ الْفَاقَةَ، ثُمَّ أَتَاهُ آخَرُ، فَشَكَا إِلَيْهِ قَطْعَ السَّبِيلِ، فَقَالَ: يَا عَدِيُّ! هَلْ رَأَيْتَ الْحِيرَةَ؟ قُلْتُ: لَمْ أَرَهَـا، وَقَدْ أُنْبِئْتُ عَنْهَا. قَالَ: فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنَ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ أَحَدًا إِلاَّ اللهَ. قُلْتُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِي: فَأَيْنَ دُعَّارُ طَيِّئٍ الَّذِينَ قَدْ سَعَّرُوا الْبِلاَدَ؟! وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتُفْتَحَنَّ كُنُوزُ كِسْرَى. قُلْتُ: كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ؟! قَالَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ. وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الرَّجُلَ يُخْرِجُ مِلْءَ كَفِّهِ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ، يَطْلُبُ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ، فَلاَ يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهُ مِنْهُ ” رواه البخاري”Ketika aku bersama Nabi -shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu dia mengadu kepadanya tentang kemiskinannya, kemudian datang lagi yang lain, dan mengadu kepada beliau tentang para pembegal jalanan. Selanjutnya beliau berkata, ‘Wahai Adi, Apakah engkau melihat (kota) al-Hirah?’ ‘Aku belum melihatnya, sementara aku telah mendapatkan berita tentang itu’ jawabku. Beliau bersabda, ‘Jika umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al-Hirah hingga dia melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah tanpa merasa takut kepada seorang pun kecuali kepada Allah,’ aku pun bertanya di dalam hati, ‘kemanakah para pembegal dari Thayyi’ yang telah membuat kekacauan di berbagai negeri itu?!’. (Sabda Rasul), ‘Dan seandainya umurmu panjang, niscaya akan dibukakan harta simpanan Kisra.’ Aku bertanya, ‘Kisra bin Hurmuz?!’ Beliau menjawab, ‘Kisra bin Hurmuz, dan seandainya umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang laki-laki mengeluarkan emas atau perak sepenuh kedua telapak tangannya, dia mencari orang yang akan menerimanya, lalu dia sama sekali tidak mendapati seorang pun yang mau menerimanya”. HR Bukhari.Seorang muslim diperintahkan mengadakan perubahan pada dirinya, perilakunya dan kehidupannya menjadi lebih baik; yaitu dengan memilih jalan petunjuk kebaikan, mencegah perubahan-perubahan negatif sebagai wujud peneladanan terhadap petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.     Beliau telah melakukan berbagai perubahan dalam kehidupan  pribadinya dan kehidupan sahabat-sahabatnya, pada tataran ucapan dan perbuatan.” سَمَّى حَرْبًا سَلْمًا، وَشَعْبَ الضَّلَالَةِ، سَمَّاهُ شَعْبَ الْهُدَى، وَسَمَّى بَنِي مُغْوِيَةَ، بَنِي رِشْدَةَ ” رواه أبوداود بإسناد صحيح“Beliau merubah istilah “harb” (perang) menjadi “salm” (damai), “Syi’bah Dhalalah” (perkampungan kesesatan) menjadi “Syi’bah alhuda” (perkampungan petunjuk). Beliau menyebut suku “Bani Mughwiyah” (Anak keturunan penyesat) menjadi “Bani Risydah” (Anak keturunan terbimbing). HR. Abu Dawud dengan isnad shahih.     Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- anti tempat-tempat yang namanya mengerikan. Maka ketika datang ke Madinah yang kala itu terkenal dengan nama “Yatsrib” (kehancuran), beliau pun merubahnya menjadi “Thibah” (bersih dan harum) sekaligus mengganti seluruh paradigma yang keliru.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bertanya :” مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يُولَدُ لَهُ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا قَالَ فَمَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ لَيْسَ بِذَلِكَ وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ” رواه مسلم“Menurut kalian, siapakah sebenarnya orang yang mandul di antara kalian itu? ( Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak mempunyai anak. Rasulullah bersabda: Bukan itu yg dimaksud dengan mandul. Tetapi ia adalah orang yg tidak dapat memberikan (nilai kebaikan) apapun kepada anaknya.. Rasulullah bertanya lagi: Siapakah orang yang kalian anggap paling kuat? (Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak terkalahkan oleh orang lain. Rasulullah menjelaskan: Bukan itu yang dimaksud, tetapi orang paling kuat adalah orang yg dapat menguasai dirinya ketika sedang marah”. HR MuslimRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ” رواه مسلم“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang dirham maupun kekayaan.” Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- menjelaskan : Orang yang bangkrut diantara umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) telah mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D dan memukul si E. Maka masing-masing mereka akan diberi pahala dari amal kebaikan orang tersebut. Jika telah habis pahala kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka”.HR Muslim.     Terkadang seorang muslim tertawan oleh kepuasan negatif yang mendominasi alam pikirannya, sehingga merasa tidak berdaya lagi untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Itu memang kendala sangat rumit, yang menyeret seseorang mundur total ke belakang. Maka dia harus merubah haluan ke arah positif yang demikian mantap dan tegap dalam hati dan pikiran bahwa hidup itu perlu berusaha dan bahwa setiap problem pastilah ada solusinya, betapapun besarnya problem itu.     Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang hebat mampu menciptakan perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka merubah sikap persengketaan dan permusuhan menjadi kasih sayang, persaudaraan dan persahabatan. Mereka mampu membalikkan teman-teman jahat menjadi sahabat setia. Mereka berhasil mengatasi tradisi-tradisi buruk adat istiadat yang bertentangan dengan agama dan tidak sejalan dengan orbitnya.     Langkah-langkah perubahan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah merubah diri sendiri. Di sinilah dimulainya proses perubahan kondisi umat yang sedang menghadapi segala bentuk keterbelakangan, kemiskinan dan kemunduran. Selanjutnya mempersenjatai diri mereka dengan ilmu yang merupakan pilar utama bagi tegaknya peradaban dan kemajuan di setiap zaman. Firman Allah :” إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ” [ الرعد/11]“Sesungguhnya Allah tidak merubah kondisi sesuatu kaum sehingga mereka merubah kondisi yang ada pada diri mereka”.Qs Ar-Ra’d : 11     Termasuk konsekuensi perubahan ke arah yang lebih baik adalah berhati tulus. Firman Allah :وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ [ فصلت/23]“Dan yang demikian itu adalah prasangka hatimu yang telah kamu sangkakan kepada Tuhanmu, itulah yang membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.Qs Fushilat: 23Disebutkan dalam hadis :” أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي ” رواه البخاري ومسلم“Aku sesuai persangkaan hambaKu terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya ketika ia mengingat Aku”. HR Bukhari dan Muslim.  ==== 00 ==== Khotbah Kedua     Adalah merupakan aksioma bahwa Islam melarang segala perubahan ciptaan manusia yang justru merusak kehidupannya, memperlemah agamanya dan membinasakan ibadah ritualnya. Termasuk menyerang harta benda dan nyawa, mengacaukan keamanan, memakan harta orang lain secara batil, suap-menyuap, korupsi, menyebar-luaskan kekejian dan membangkitkan kekacauan.     Seorang muslim secara apriori pastilah menolak perubahan yang mengarah pada kejahatan. Dia tidak ingin berkontribusi dengan perbuatan ataupun pernyataan dalam menciptakan perubahan yang justru berpotensi terhadap lenyapnya nikmat. Firman Allah:أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ [ إبراهيم/28]“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?”. Qs Ibrahim : 28     Bagi kita ada teladan yang baik pada diri Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau selalu mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- untuk memohon pertolonganNya dalam mengatasi setiap perubahan yang mendatangkan keburukan dan bencana. Beliau memohon perlindungan-Nya dari kemiskinan, kehinaan, perasaan minder, ketidak-berdayaan, kemalasan, terlilit hutang, penguasaan oleh kaum penindas dan penyakit yang ganas.     Beliau selalu memohon kepada Allah kesehatan lahir dan batin di dunia dan akhirat, serta memohonkan agar kaum muslimin dijauhkan dan diselamatkan dari malapetaka dan bencana.     Kita tidak dapat lepas dari pertolongan Allah dalam memantapkan hati kita sekejap matapun. Jika bukan karena Allah, maka bergeserlah sudah atap dan pijakan dasar keimanan kita dari posisinya. Firman Allah :يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ [ إبراهيم/ 27]“Allah memantapkan (keimanan) orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat”. Qs Ibrahim: 27=== Doa Penutup ===  

Perbaikan Diri

Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 10 Rabiul Awal 1438 HKhotib : Syekh Abdul Bari Bin Awadh At-TsubaitiPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaPerubahan merupakan ciri khas kehidupan. Tidak ada yang permanen dalam hidup ini; ada sehat dan ada sakit; pasang dan surut, dihormati dan dihinakan, lapar dan kenyang, miskin dan kaya, menikah dan cerai, aman dan takut, sedih dan senang, termasuk fluktuatif ekonomi.     Perubahan semacam ini telah menjadi ketetapan Allah yang tidak terelakkan. Hal itu dapat kita baca dalam peristiwa sejarah sepanjang masa. Manakala kehidupan mengalami perubahan secara negatif, biasanya orang-orang yang berjiwa kerdil merasa sedih, tersakiti dan pesimis, lalu  mereka kendur semangat dan bermalas-malas menjalani kehidupan dengan penuh gairah.     Termasuk prinsip dasar akidah seorang muslim adalah beriman kepada ketetapan takdir, manisnya dan pahitnya, serta meyakini bahwa segala pengaturan urusan kehidupan adalah milik Allah, dan bahwa perubahan hidup merupakan hak prerogatif Allah, bukan kapasitas manusia.      Beriman terhadap ketentuan takdir merupakan motivator paling kuat untuk mengatasi bencana dan melanjutkan kerja dengan penuh semangat dan percaya diri dalam mencari rezeki, disamping mempertahankan hidup untuk memberi agar tidak mandek.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ  “ رواه الترمذي بإسناد صَحِيح“Ketahuilah sekiranya seluruh umat manisia sepakat untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena suatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Dan sekiranya seluruh umat manusia bersepakat untuk memberikan madharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena sesuatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Pena takdir telah diangkat dan lembaran ketetapan telah mengering”. HR Tirmizi dengan isnad shahih.     Pesan ini merupakan penguatan jiwa seseorang untuk bergantung kepada Allah semata dalam segala perikehidupan dan urusan akhiratnya. Maka hendaklah ia hanya memohon kepada Allah, tidak mengharapkan kecuali anugerahNya. Maka sebagaimana seseorang secara lisan hanya memohon kepada Allah, demikian pula hatinya hendaklah tidak bergantung kecuali kepada Allah.     Dengan demikian tercapailah kejayaan dan kemuliaan. Sementara orang yang bergantung kepada sesama makhluk hanya akan tertimpa kehinaan dan kemerosotan.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ، فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ، أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ، بِالْغِنَى، إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ ” رواه أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tertimpa kemiskinan lalu mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan teratasi kemiskinannya itu. Dan barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah mempercepatkan kecukupan baginya; mungkin dengan kematian segera atau kekayaan segera”. HR Abu Dawud dan Tirmizi.     Hendaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Tuhannya dengan meyakini bahwa ketentuan dan ketatapan takdir Allah tentu didasarkan pada kebijaksanaan Allah yang mencerminkan kesempurnaan keadilan dan kasih sayang-Nya; dimana Allah menjadikan miskin bagi siapa yang dikehandaki-Nya dan menjadikan kaya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Memuliakan orang yang dikehendakiNya dan menghinakan orang yang dikehendakiNya pula.     Orang mukmin selalu hidup dalam kepuasan hati apapun kondisinya. Jika seseorang telah merasa puas terhadap dirinya dan ridha kepada Tuhannya, maka tenanglah hidupnya hari ini yang sedang ia jalani. Jika keyakinannya kepada Allah telah merasuk, maka tenteramlah hatinya untuk hari esok dan masa depannya.     Iman (percaya) kepada ketentuan dan ketetapan takdir Allah bukan berarti seseorang menyerah kepada realita yang ada, lalu cenderung mengikuti rutinitas kehidupan dengan kepasrahan hati karena frustrasi dan putus asa. Tetapi iman kepada ketentuan dan ketetapan takdir justru mendorong seseorang untuk menolak takdir dengan takdir pula, yaitu mengikuti prosedur yang benar dengan kesabaran dan ketabahan serta berusaha merubah kondisi menjadi lebih baik.     Betapa banyak orang miskin yang kondisinya Allah balikkan menjadi kaya. Betapa banyak orang yang dirundung kesedihan lalu Allah jadikan keadaannya menjadi senang. Betapa banyak orang yang nestapa, lalu Allah rubah menjadi ceria. Betapa banyak orang yang sakit yang kemudian Allah selimuti dengan pakaian kesehatan lahir batin. Betapa banyak orang yang terzalimi, akhirnya bisa menyaksikan di dunia ini pembalasan Allah terhadap orang yang menzaliminya.     Manusia sering merasa panik ketika menghadapi perubahan kondisi secara mendadak, kecuali orang-orang yang menjalankan shalat dengan konsisten saja (yang tidak panik). Firman Allah :إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ، إِلا الْمُصَلِّينَ [ المعارج / 19 -22 )“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir; Apabila ditimpa kesusahan berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”. Qs Alma’arij : 19-22     Terkadang manusia lupa akan tugasnya merubah kondisi menjadi lebih baik, lantaran dirinya sibuk menganalisis persoalannya, mengkaji apa yang ada di balik peristiwa dan hidup dalam fatamorgana hayalan. Maka hilanglah kesempatannya dan sia-sialah waktunya lantaran memperbincangkan hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya. Padahal Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan :“احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ” رواه مسلم“Fokuskan perhatianmu terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu”. HR Muslim     Adapun menggerutu dan selalu mengeluh dan menilai zaman sudah rusak, lalu membangkitkan semangat negatif di tengah masyarakat, sungguh demikian itu mematikan aspirasi, mengendurkan kebulatan tekad dan menghentikan laju pembangunan.     Orang mukmin dengan pertimbangan akalnya yang jernih akan membiarkan perubahan berjalan; Betapa banyak bencana yang di dalamnya tersimpan anugerah. Betapa banyak cobaan yang kemudian memunculkan kenikmatan.     Orang mukmin menyadari bahwa adanya perubahan dalam hidup ini merupakan nikmat agung yang dapat membukakan pintu optimisme dan jendela harapan. Dalam perubahan ada kesempatan meraih kesuksesan, peningkatan dan kemajuan.     Ketika bencana dan kesulitan telah memuncak, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan kabar gembira yang menggelorakan harapan dalam jiwa dengan ungkapan yang meyakinkan akan janji Allah dan pertolongan-Nya.فعَنْ عَدِيّ بنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا أنا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ، فَشَكَا إِلَيْهِ الْفَاقَةَ، ثُمَّ أَتَاهُ آخَرُ، فَشَكَا إِلَيْهِ قَطْعَ السَّبِيلِ، فَقَالَ: يَا عَدِيُّ! هَلْ رَأَيْتَ الْحِيرَةَ؟ قُلْتُ: لَمْ أَرَهَـا، وَقَدْ أُنْبِئْتُ عَنْهَا. قَالَ: فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنَ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ أَحَدًا إِلاَّ اللهَ. قُلْتُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِي: فَأَيْنَ دُعَّارُ طَيِّئٍ الَّذِينَ قَدْ سَعَّرُوا الْبِلاَدَ؟! وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتُفْتَحَنَّ كُنُوزُ كِسْرَى. قُلْتُ: كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ؟! قَالَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ. وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الرَّجُلَ يُخْرِجُ مِلْءَ كَفِّهِ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ، يَطْلُبُ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ، فَلاَ يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهُ مِنْهُ ” رواه البخاري”Ketika aku bersama Nabi -shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu dia mengadu kepadanya tentang kemiskinannya, kemudian datang lagi yang lain, dan mengadu kepada beliau tentang para pembegal jalanan. Selanjutnya beliau berkata, ‘Wahai Adi, Apakah engkau melihat (kota) al-Hirah?’ ‘Aku belum melihatnya, sementara aku telah mendapatkan berita tentang itu’ jawabku. Beliau bersabda, ‘Jika umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al-Hirah hingga dia melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah tanpa merasa takut kepada seorang pun kecuali kepada Allah,’ aku pun bertanya di dalam hati, ‘kemanakah para pembegal dari Thayyi’ yang telah membuat kekacauan di berbagai negeri itu?!’. (Sabda Rasul), ‘Dan seandainya umurmu panjang, niscaya akan dibukakan harta simpanan Kisra.’ Aku bertanya, ‘Kisra bin Hurmuz?!’ Beliau menjawab, ‘Kisra bin Hurmuz, dan seandainya umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang laki-laki mengeluarkan emas atau perak sepenuh kedua telapak tangannya, dia mencari orang yang akan menerimanya, lalu dia sama sekali tidak mendapati seorang pun yang mau menerimanya”. HR Bukhari.Seorang muslim diperintahkan mengadakan perubahan pada dirinya, perilakunya dan kehidupannya menjadi lebih baik; yaitu dengan memilih jalan petunjuk kebaikan, mencegah perubahan-perubahan negatif sebagai wujud peneladanan terhadap petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.     Beliau telah melakukan berbagai perubahan dalam kehidupan  pribadinya dan kehidupan sahabat-sahabatnya, pada tataran ucapan dan perbuatan.” سَمَّى حَرْبًا سَلْمًا، وَشَعْبَ الضَّلَالَةِ، سَمَّاهُ شَعْبَ الْهُدَى، وَسَمَّى بَنِي مُغْوِيَةَ، بَنِي رِشْدَةَ ” رواه أبوداود بإسناد صحيح“Beliau merubah istilah “harb” (perang) menjadi “salm” (damai), “Syi’bah Dhalalah” (perkampungan kesesatan) menjadi “Syi’bah alhuda” (perkampungan petunjuk). Beliau menyebut suku “Bani Mughwiyah” (Anak keturunan penyesat) menjadi “Bani Risydah” (Anak keturunan terbimbing). HR. Abu Dawud dengan isnad shahih.     Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- anti tempat-tempat yang namanya mengerikan. Maka ketika datang ke Madinah yang kala itu terkenal dengan nama “Yatsrib” (kehancuran), beliau pun merubahnya menjadi “Thibah” (bersih dan harum) sekaligus mengganti seluruh paradigma yang keliru.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bertanya :” مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يُولَدُ لَهُ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا قَالَ فَمَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ لَيْسَ بِذَلِكَ وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ” رواه مسلم“Menurut kalian, siapakah sebenarnya orang yang mandul di antara kalian itu? ( Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak mempunyai anak. Rasulullah bersabda: Bukan itu yg dimaksud dengan mandul. Tetapi ia adalah orang yg tidak dapat memberikan (nilai kebaikan) apapun kepada anaknya.. Rasulullah bertanya lagi: Siapakah orang yang kalian anggap paling kuat? (Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak terkalahkan oleh orang lain. Rasulullah menjelaskan: Bukan itu yang dimaksud, tetapi orang paling kuat adalah orang yg dapat menguasai dirinya ketika sedang marah”. HR MuslimRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ” رواه مسلم“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang dirham maupun kekayaan.” Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- menjelaskan : Orang yang bangkrut diantara umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) telah mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D dan memukul si E. Maka masing-masing mereka akan diberi pahala dari amal kebaikan orang tersebut. Jika telah habis pahala kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka”.HR Muslim.     Terkadang seorang muslim tertawan oleh kepuasan negatif yang mendominasi alam pikirannya, sehingga merasa tidak berdaya lagi untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Itu memang kendala sangat rumit, yang menyeret seseorang mundur total ke belakang. Maka dia harus merubah haluan ke arah positif yang demikian mantap dan tegap dalam hati dan pikiran bahwa hidup itu perlu berusaha dan bahwa setiap problem pastilah ada solusinya, betapapun besarnya problem itu.     Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang hebat mampu menciptakan perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka merubah sikap persengketaan dan permusuhan menjadi kasih sayang, persaudaraan dan persahabatan. Mereka mampu membalikkan teman-teman jahat menjadi sahabat setia. Mereka berhasil mengatasi tradisi-tradisi buruk adat istiadat yang bertentangan dengan agama dan tidak sejalan dengan orbitnya.     Langkah-langkah perubahan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah merubah diri sendiri. Di sinilah dimulainya proses perubahan kondisi umat yang sedang menghadapi segala bentuk keterbelakangan, kemiskinan dan kemunduran. Selanjutnya mempersenjatai diri mereka dengan ilmu yang merupakan pilar utama bagi tegaknya peradaban dan kemajuan di setiap zaman. Firman Allah :” إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ” [ الرعد/11]“Sesungguhnya Allah tidak merubah kondisi sesuatu kaum sehingga mereka merubah kondisi yang ada pada diri mereka”.Qs Ar-Ra’d : 11     Termasuk konsekuensi perubahan ke arah yang lebih baik adalah berhati tulus. Firman Allah :وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ [ فصلت/23]“Dan yang demikian itu adalah prasangka hatimu yang telah kamu sangkakan kepada Tuhanmu, itulah yang membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.Qs Fushilat: 23Disebutkan dalam hadis :” أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي ” رواه البخاري ومسلم“Aku sesuai persangkaan hambaKu terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya ketika ia mengingat Aku”. HR Bukhari dan Muslim.  ==== 00 ==== Khotbah Kedua     Adalah merupakan aksioma bahwa Islam melarang segala perubahan ciptaan manusia yang justru merusak kehidupannya, memperlemah agamanya dan membinasakan ibadah ritualnya. Termasuk menyerang harta benda dan nyawa, mengacaukan keamanan, memakan harta orang lain secara batil, suap-menyuap, korupsi, menyebar-luaskan kekejian dan membangkitkan kekacauan.     Seorang muslim secara apriori pastilah menolak perubahan yang mengarah pada kejahatan. Dia tidak ingin berkontribusi dengan perbuatan ataupun pernyataan dalam menciptakan perubahan yang justru berpotensi terhadap lenyapnya nikmat. Firman Allah:أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ [ إبراهيم/28]“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?”. Qs Ibrahim : 28     Bagi kita ada teladan yang baik pada diri Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau selalu mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- untuk memohon pertolonganNya dalam mengatasi setiap perubahan yang mendatangkan keburukan dan bencana. Beliau memohon perlindungan-Nya dari kemiskinan, kehinaan, perasaan minder, ketidak-berdayaan, kemalasan, terlilit hutang, penguasaan oleh kaum penindas dan penyakit yang ganas.     Beliau selalu memohon kepada Allah kesehatan lahir dan batin di dunia dan akhirat, serta memohonkan agar kaum muslimin dijauhkan dan diselamatkan dari malapetaka dan bencana.     Kita tidak dapat lepas dari pertolongan Allah dalam memantapkan hati kita sekejap matapun. Jika bukan karena Allah, maka bergeserlah sudah atap dan pijakan dasar keimanan kita dari posisinya. Firman Allah :يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ [ إبراهيم/ 27]“Allah memantapkan (keimanan) orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat”. Qs Ibrahim: 27=== Doa Penutup ===  
Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 10 Rabiul Awal 1438 HKhotib : Syekh Abdul Bari Bin Awadh At-TsubaitiPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaPerubahan merupakan ciri khas kehidupan. Tidak ada yang permanen dalam hidup ini; ada sehat dan ada sakit; pasang dan surut, dihormati dan dihinakan, lapar dan kenyang, miskin dan kaya, menikah dan cerai, aman dan takut, sedih dan senang, termasuk fluktuatif ekonomi.     Perubahan semacam ini telah menjadi ketetapan Allah yang tidak terelakkan. Hal itu dapat kita baca dalam peristiwa sejarah sepanjang masa. Manakala kehidupan mengalami perubahan secara negatif, biasanya orang-orang yang berjiwa kerdil merasa sedih, tersakiti dan pesimis, lalu  mereka kendur semangat dan bermalas-malas menjalani kehidupan dengan penuh gairah.     Termasuk prinsip dasar akidah seorang muslim adalah beriman kepada ketetapan takdir, manisnya dan pahitnya, serta meyakini bahwa segala pengaturan urusan kehidupan adalah milik Allah, dan bahwa perubahan hidup merupakan hak prerogatif Allah, bukan kapasitas manusia.      Beriman terhadap ketentuan takdir merupakan motivator paling kuat untuk mengatasi bencana dan melanjutkan kerja dengan penuh semangat dan percaya diri dalam mencari rezeki, disamping mempertahankan hidup untuk memberi agar tidak mandek.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ  “ رواه الترمذي بإسناد صَحِيح“Ketahuilah sekiranya seluruh umat manisia sepakat untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena suatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Dan sekiranya seluruh umat manusia bersepakat untuk memberikan madharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena sesuatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Pena takdir telah diangkat dan lembaran ketetapan telah mengering”. HR Tirmizi dengan isnad shahih.     Pesan ini merupakan penguatan jiwa seseorang untuk bergantung kepada Allah semata dalam segala perikehidupan dan urusan akhiratnya. Maka hendaklah ia hanya memohon kepada Allah, tidak mengharapkan kecuali anugerahNya. Maka sebagaimana seseorang secara lisan hanya memohon kepada Allah, demikian pula hatinya hendaklah tidak bergantung kecuali kepada Allah.     Dengan demikian tercapailah kejayaan dan kemuliaan. Sementara orang yang bergantung kepada sesama makhluk hanya akan tertimpa kehinaan dan kemerosotan.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ، فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ، أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ، بِالْغِنَى، إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ ” رواه أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tertimpa kemiskinan lalu mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan teratasi kemiskinannya itu. Dan barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah mempercepatkan kecukupan baginya; mungkin dengan kematian segera atau kekayaan segera”. HR Abu Dawud dan Tirmizi.     Hendaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Tuhannya dengan meyakini bahwa ketentuan dan ketatapan takdir Allah tentu didasarkan pada kebijaksanaan Allah yang mencerminkan kesempurnaan keadilan dan kasih sayang-Nya; dimana Allah menjadikan miskin bagi siapa yang dikehandaki-Nya dan menjadikan kaya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Memuliakan orang yang dikehendakiNya dan menghinakan orang yang dikehendakiNya pula.     Orang mukmin selalu hidup dalam kepuasan hati apapun kondisinya. Jika seseorang telah merasa puas terhadap dirinya dan ridha kepada Tuhannya, maka tenanglah hidupnya hari ini yang sedang ia jalani. Jika keyakinannya kepada Allah telah merasuk, maka tenteramlah hatinya untuk hari esok dan masa depannya.     Iman (percaya) kepada ketentuan dan ketetapan takdir Allah bukan berarti seseorang menyerah kepada realita yang ada, lalu cenderung mengikuti rutinitas kehidupan dengan kepasrahan hati karena frustrasi dan putus asa. Tetapi iman kepada ketentuan dan ketetapan takdir justru mendorong seseorang untuk menolak takdir dengan takdir pula, yaitu mengikuti prosedur yang benar dengan kesabaran dan ketabahan serta berusaha merubah kondisi menjadi lebih baik.     Betapa banyak orang miskin yang kondisinya Allah balikkan menjadi kaya. Betapa banyak orang yang dirundung kesedihan lalu Allah jadikan keadaannya menjadi senang. Betapa banyak orang yang nestapa, lalu Allah rubah menjadi ceria. Betapa banyak orang yang sakit yang kemudian Allah selimuti dengan pakaian kesehatan lahir batin. Betapa banyak orang yang terzalimi, akhirnya bisa menyaksikan di dunia ini pembalasan Allah terhadap orang yang menzaliminya.     Manusia sering merasa panik ketika menghadapi perubahan kondisi secara mendadak, kecuali orang-orang yang menjalankan shalat dengan konsisten saja (yang tidak panik). Firman Allah :إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ، إِلا الْمُصَلِّينَ [ المعارج / 19 -22 )“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir; Apabila ditimpa kesusahan berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”. Qs Alma’arij : 19-22     Terkadang manusia lupa akan tugasnya merubah kondisi menjadi lebih baik, lantaran dirinya sibuk menganalisis persoalannya, mengkaji apa yang ada di balik peristiwa dan hidup dalam fatamorgana hayalan. Maka hilanglah kesempatannya dan sia-sialah waktunya lantaran memperbincangkan hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya. Padahal Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan :“احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ” رواه مسلم“Fokuskan perhatianmu terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu”. HR Muslim     Adapun menggerutu dan selalu mengeluh dan menilai zaman sudah rusak, lalu membangkitkan semangat negatif di tengah masyarakat, sungguh demikian itu mematikan aspirasi, mengendurkan kebulatan tekad dan menghentikan laju pembangunan.     Orang mukmin dengan pertimbangan akalnya yang jernih akan membiarkan perubahan berjalan; Betapa banyak bencana yang di dalamnya tersimpan anugerah. Betapa banyak cobaan yang kemudian memunculkan kenikmatan.     Orang mukmin menyadari bahwa adanya perubahan dalam hidup ini merupakan nikmat agung yang dapat membukakan pintu optimisme dan jendela harapan. Dalam perubahan ada kesempatan meraih kesuksesan, peningkatan dan kemajuan.     Ketika bencana dan kesulitan telah memuncak, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan kabar gembira yang menggelorakan harapan dalam jiwa dengan ungkapan yang meyakinkan akan janji Allah dan pertolongan-Nya.فعَنْ عَدِيّ بنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا أنا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ، فَشَكَا إِلَيْهِ الْفَاقَةَ، ثُمَّ أَتَاهُ آخَرُ، فَشَكَا إِلَيْهِ قَطْعَ السَّبِيلِ، فَقَالَ: يَا عَدِيُّ! هَلْ رَأَيْتَ الْحِيرَةَ؟ قُلْتُ: لَمْ أَرَهَـا، وَقَدْ أُنْبِئْتُ عَنْهَا. قَالَ: فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنَ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ أَحَدًا إِلاَّ اللهَ. قُلْتُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِي: فَأَيْنَ دُعَّارُ طَيِّئٍ الَّذِينَ قَدْ سَعَّرُوا الْبِلاَدَ؟! وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتُفْتَحَنَّ كُنُوزُ كِسْرَى. قُلْتُ: كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ؟! قَالَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ. وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الرَّجُلَ يُخْرِجُ مِلْءَ كَفِّهِ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ، يَطْلُبُ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ، فَلاَ يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهُ مِنْهُ ” رواه البخاري”Ketika aku bersama Nabi -shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu dia mengadu kepadanya tentang kemiskinannya, kemudian datang lagi yang lain, dan mengadu kepada beliau tentang para pembegal jalanan. Selanjutnya beliau berkata, ‘Wahai Adi, Apakah engkau melihat (kota) al-Hirah?’ ‘Aku belum melihatnya, sementara aku telah mendapatkan berita tentang itu’ jawabku. Beliau bersabda, ‘Jika umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al-Hirah hingga dia melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah tanpa merasa takut kepada seorang pun kecuali kepada Allah,’ aku pun bertanya di dalam hati, ‘kemanakah para pembegal dari Thayyi’ yang telah membuat kekacauan di berbagai negeri itu?!’. (Sabda Rasul), ‘Dan seandainya umurmu panjang, niscaya akan dibukakan harta simpanan Kisra.’ Aku bertanya, ‘Kisra bin Hurmuz?!’ Beliau menjawab, ‘Kisra bin Hurmuz, dan seandainya umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang laki-laki mengeluarkan emas atau perak sepenuh kedua telapak tangannya, dia mencari orang yang akan menerimanya, lalu dia sama sekali tidak mendapati seorang pun yang mau menerimanya”. HR Bukhari.Seorang muslim diperintahkan mengadakan perubahan pada dirinya, perilakunya dan kehidupannya menjadi lebih baik; yaitu dengan memilih jalan petunjuk kebaikan, mencegah perubahan-perubahan negatif sebagai wujud peneladanan terhadap petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.     Beliau telah melakukan berbagai perubahan dalam kehidupan  pribadinya dan kehidupan sahabat-sahabatnya, pada tataran ucapan dan perbuatan.” سَمَّى حَرْبًا سَلْمًا، وَشَعْبَ الضَّلَالَةِ، سَمَّاهُ شَعْبَ الْهُدَى، وَسَمَّى بَنِي مُغْوِيَةَ، بَنِي رِشْدَةَ ” رواه أبوداود بإسناد صحيح“Beliau merubah istilah “harb” (perang) menjadi “salm” (damai), “Syi’bah Dhalalah” (perkampungan kesesatan) menjadi “Syi’bah alhuda” (perkampungan petunjuk). Beliau menyebut suku “Bani Mughwiyah” (Anak keturunan penyesat) menjadi “Bani Risydah” (Anak keturunan terbimbing). HR. Abu Dawud dengan isnad shahih.     Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- anti tempat-tempat yang namanya mengerikan. Maka ketika datang ke Madinah yang kala itu terkenal dengan nama “Yatsrib” (kehancuran), beliau pun merubahnya menjadi “Thibah” (bersih dan harum) sekaligus mengganti seluruh paradigma yang keliru.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bertanya :” مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يُولَدُ لَهُ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا قَالَ فَمَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ لَيْسَ بِذَلِكَ وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ” رواه مسلم“Menurut kalian, siapakah sebenarnya orang yang mandul di antara kalian itu? ( Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak mempunyai anak. Rasulullah bersabda: Bukan itu yg dimaksud dengan mandul. Tetapi ia adalah orang yg tidak dapat memberikan (nilai kebaikan) apapun kepada anaknya.. Rasulullah bertanya lagi: Siapakah orang yang kalian anggap paling kuat? (Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak terkalahkan oleh orang lain. Rasulullah menjelaskan: Bukan itu yang dimaksud, tetapi orang paling kuat adalah orang yg dapat menguasai dirinya ketika sedang marah”. HR MuslimRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ” رواه مسلم“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang dirham maupun kekayaan.” Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- menjelaskan : Orang yang bangkrut diantara umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) telah mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D dan memukul si E. Maka masing-masing mereka akan diberi pahala dari amal kebaikan orang tersebut. Jika telah habis pahala kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka”.HR Muslim.     Terkadang seorang muslim tertawan oleh kepuasan negatif yang mendominasi alam pikirannya, sehingga merasa tidak berdaya lagi untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Itu memang kendala sangat rumit, yang menyeret seseorang mundur total ke belakang. Maka dia harus merubah haluan ke arah positif yang demikian mantap dan tegap dalam hati dan pikiran bahwa hidup itu perlu berusaha dan bahwa setiap problem pastilah ada solusinya, betapapun besarnya problem itu.     Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang hebat mampu menciptakan perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka merubah sikap persengketaan dan permusuhan menjadi kasih sayang, persaudaraan dan persahabatan. Mereka mampu membalikkan teman-teman jahat menjadi sahabat setia. Mereka berhasil mengatasi tradisi-tradisi buruk adat istiadat yang bertentangan dengan agama dan tidak sejalan dengan orbitnya.     Langkah-langkah perubahan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah merubah diri sendiri. Di sinilah dimulainya proses perubahan kondisi umat yang sedang menghadapi segala bentuk keterbelakangan, kemiskinan dan kemunduran. Selanjutnya mempersenjatai diri mereka dengan ilmu yang merupakan pilar utama bagi tegaknya peradaban dan kemajuan di setiap zaman. Firman Allah :” إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ” [ الرعد/11]“Sesungguhnya Allah tidak merubah kondisi sesuatu kaum sehingga mereka merubah kondisi yang ada pada diri mereka”.Qs Ar-Ra’d : 11     Termasuk konsekuensi perubahan ke arah yang lebih baik adalah berhati tulus. Firman Allah :وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ [ فصلت/23]“Dan yang demikian itu adalah prasangka hatimu yang telah kamu sangkakan kepada Tuhanmu, itulah yang membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.Qs Fushilat: 23Disebutkan dalam hadis :” أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي ” رواه البخاري ومسلم“Aku sesuai persangkaan hambaKu terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya ketika ia mengingat Aku”. HR Bukhari dan Muslim.  ==== 00 ==== Khotbah Kedua     Adalah merupakan aksioma bahwa Islam melarang segala perubahan ciptaan manusia yang justru merusak kehidupannya, memperlemah agamanya dan membinasakan ibadah ritualnya. Termasuk menyerang harta benda dan nyawa, mengacaukan keamanan, memakan harta orang lain secara batil, suap-menyuap, korupsi, menyebar-luaskan kekejian dan membangkitkan kekacauan.     Seorang muslim secara apriori pastilah menolak perubahan yang mengarah pada kejahatan. Dia tidak ingin berkontribusi dengan perbuatan ataupun pernyataan dalam menciptakan perubahan yang justru berpotensi terhadap lenyapnya nikmat. Firman Allah:أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ [ إبراهيم/28]“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?”. Qs Ibrahim : 28     Bagi kita ada teladan yang baik pada diri Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau selalu mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- untuk memohon pertolonganNya dalam mengatasi setiap perubahan yang mendatangkan keburukan dan bencana. Beliau memohon perlindungan-Nya dari kemiskinan, kehinaan, perasaan minder, ketidak-berdayaan, kemalasan, terlilit hutang, penguasaan oleh kaum penindas dan penyakit yang ganas.     Beliau selalu memohon kepada Allah kesehatan lahir dan batin di dunia dan akhirat, serta memohonkan agar kaum muslimin dijauhkan dan diselamatkan dari malapetaka dan bencana.     Kita tidak dapat lepas dari pertolongan Allah dalam memantapkan hati kita sekejap matapun. Jika bukan karena Allah, maka bergeserlah sudah atap dan pijakan dasar keimanan kita dari posisinya. Firman Allah :يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ [ إبراهيم/ 27]“Allah memantapkan (keimanan) orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat”. Qs Ibrahim: 27=== Doa Penutup ===  


Khotbah Jum’at di Masjid Nabawi, 10 Rabiul Awal 1438 HKhotib : Syekh Abdul Bari Bin Awadh At-TsubaitiPenerjemah : Usman Hatim Khotbah PertamaPerubahan merupakan ciri khas kehidupan. Tidak ada yang permanen dalam hidup ini; ada sehat dan ada sakit; pasang dan surut, dihormati dan dihinakan, lapar dan kenyang, miskin dan kaya, menikah dan cerai, aman dan takut, sedih dan senang, termasuk fluktuatif ekonomi.     Perubahan semacam ini telah menjadi ketetapan Allah yang tidak terelakkan. Hal itu dapat kita baca dalam peristiwa sejarah sepanjang masa. Manakala kehidupan mengalami perubahan secara negatif, biasanya orang-orang yang berjiwa kerdil merasa sedih, tersakiti dan pesimis, lalu  mereka kendur semangat dan bermalas-malas menjalani kehidupan dengan penuh gairah.     Termasuk prinsip dasar akidah seorang muslim adalah beriman kepada ketetapan takdir, manisnya dan pahitnya, serta meyakini bahwa segala pengaturan urusan kehidupan adalah milik Allah, dan bahwa perubahan hidup merupakan hak prerogatif Allah, bukan kapasitas manusia.      Beriman terhadap ketentuan takdir merupakan motivator paling kuat untuk mengatasi bencana dan melanjutkan kerja dengan penuh semangat dan percaya diri dalam mencari rezeki, disamping mempertahankan hidup untuk memberi agar tidak mandek.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ  “ رواه الترمذي بإسناد صَحِيح“Ketahuilah sekiranya seluruh umat manisia sepakat untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena suatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Dan sekiranya seluruh umat manusia bersepakat untuk memberikan madharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali karena sesuatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Pena takdir telah diangkat dan lembaran ketetapan telah mengering”. HR Tirmizi dengan isnad shahih.     Pesan ini merupakan penguatan jiwa seseorang untuk bergantung kepada Allah semata dalam segala perikehidupan dan urusan akhiratnya. Maka hendaklah ia hanya memohon kepada Allah, tidak mengharapkan kecuali anugerahNya. Maka sebagaimana seseorang secara lisan hanya memohon kepada Allah, demikian pula hatinya hendaklah tidak bergantung kecuali kepada Allah.     Dengan demikian tercapailah kejayaan dan kemuliaan. Sementara orang yang bergantung kepada sesama makhluk hanya akan tertimpa kehinaan dan kemerosotan.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ، فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ، أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ، بِالْغِنَى، إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ ” رواه أبو داود والترمذي“Barangsiapa yang tertimpa kemiskinan lalu mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan teratasi kemiskinannya itu. Dan barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah mempercepatkan kecukupan baginya; mungkin dengan kematian segera atau kekayaan segera”. HR Abu Dawud dan Tirmizi.     Hendaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Tuhannya dengan meyakini bahwa ketentuan dan ketatapan takdir Allah tentu didasarkan pada kebijaksanaan Allah yang mencerminkan kesempurnaan keadilan dan kasih sayang-Nya; dimana Allah menjadikan miskin bagi siapa yang dikehandaki-Nya dan menjadikan kaya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Memuliakan orang yang dikehendakiNya dan menghinakan orang yang dikehendakiNya pula.     Orang mukmin selalu hidup dalam kepuasan hati apapun kondisinya. Jika seseorang telah merasa puas terhadap dirinya dan ridha kepada Tuhannya, maka tenanglah hidupnya hari ini yang sedang ia jalani. Jika keyakinannya kepada Allah telah merasuk, maka tenteramlah hatinya untuk hari esok dan masa depannya.     Iman (percaya) kepada ketentuan dan ketetapan takdir Allah bukan berarti seseorang menyerah kepada realita yang ada, lalu cenderung mengikuti rutinitas kehidupan dengan kepasrahan hati karena frustrasi dan putus asa. Tetapi iman kepada ketentuan dan ketetapan takdir justru mendorong seseorang untuk menolak takdir dengan takdir pula, yaitu mengikuti prosedur yang benar dengan kesabaran dan ketabahan serta berusaha merubah kondisi menjadi lebih baik.     Betapa banyak orang miskin yang kondisinya Allah balikkan menjadi kaya. Betapa banyak orang yang dirundung kesedihan lalu Allah jadikan keadaannya menjadi senang. Betapa banyak orang yang nestapa, lalu Allah rubah menjadi ceria. Betapa banyak orang yang sakit yang kemudian Allah selimuti dengan pakaian kesehatan lahir batin. Betapa banyak orang yang terzalimi, akhirnya bisa menyaksikan di dunia ini pembalasan Allah terhadap orang yang menzaliminya.     Manusia sering merasa panik ketika menghadapi perubahan kondisi secara mendadak, kecuali orang-orang yang menjalankan shalat dengan konsisten saja (yang tidak panik). Firman Allah :إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ، إِلا الْمُصَلِّينَ [ المعارج / 19 -22 )“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir; Apabila ditimpa kesusahan berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”. Qs Alma’arij : 19-22     Terkadang manusia lupa akan tugasnya merubah kondisi menjadi lebih baik, lantaran dirinya sibuk menganalisis persoalannya, mengkaji apa yang ada di balik peristiwa dan hidup dalam fatamorgana hayalan. Maka hilanglah kesempatannya dan sia-sialah waktunya lantaran memperbincangkan hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya. Padahal Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- telah mengingatkan :“احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ” رواه مسلم“Fokuskan perhatianmu terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu”. HR Muslim     Adapun menggerutu dan selalu mengeluh dan menilai zaman sudah rusak, lalu membangkitkan semangat negatif di tengah masyarakat, sungguh demikian itu mematikan aspirasi, mengendurkan kebulatan tekad dan menghentikan laju pembangunan.     Orang mukmin dengan pertimbangan akalnya yang jernih akan membiarkan perubahan berjalan; Betapa banyak bencana yang di dalamnya tersimpan anugerah. Betapa banyak cobaan yang kemudian memunculkan kenikmatan.     Orang mukmin menyadari bahwa adanya perubahan dalam hidup ini merupakan nikmat agung yang dapat membukakan pintu optimisme dan jendela harapan. Dalam perubahan ada kesempatan meraih kesuksesan, peningkatan dan kemajuan.     Ketika bencana dan kesulitan telah memuncak, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memberikan kabar gembira yang menggelorakan harapan dalam jiwa dengan ungkapan yang meyakinkan akan janji Allah dan pertolongan-Nya.فعَنْ عَدِيّ بنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا أنا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ، فَشَكَا إِلَيْهِ الْفَاقَةَ، ثُمَّ أَتَاهُ آخَرُ، فَشَكَا إِلَيْهِ قَطْعَ السَّبِيلِ، فَقَالَ: يَا عَدِيُّ! هَلْ رَأَيْتَ الْحِيرَةَ؟ قُلْتُ: لَمْ أَرَهَـا، وَقَدْ أُنْبِئْتُ عَنْهَا. قَالَ: فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنَ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ أَحَدًا إِلاَّ اللهَ. قُلْتُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِي: فَأَيْنَ دُعَّارُ طَيِّئٍ الَّذِينَ قَدْ سَعَّرُوا الْبِلاَدَ؟! وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتُفْتَحَنَّ كُنُوزُ كِسْرَى. قُلْتُ: كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ؟! قَالَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ. وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَـاةٌ لَتَرَيَنَّ الرَّجُلَ يُخْرِجُ مِلْءَ كَفِّهِ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ، يَطْلُبُ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ، فَلاَ يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهُ مِنْهُ ” رواه البخاري”Ketika aku bersama Nabi -shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu dia mengadu kepadanya tentang kemiskinannya, kemudian datang lagi yang lain, dan mengadu kepada beliau tentang para pembegal jalanan. Selanjutnya beliau berkata, ‘Wahai Adi, Apakah engkau melihat (kota) al-Hirah?’ ‘Aku belum melihatnya, sementara aku telah mendapatkan berita tentang itu’ jawabku. Beliau bersabda, ‘Jika umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al-Hirah hingga dia melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah tanpa merasa takut kepada seorang pun kecuali kepada Allah,’ aku pun bertanya di dalam hati, ‘kemanakah para pembegal dari Thayyi’ yang telah membuat kekacauan di berbagai negeri itu?!’. (Sabda Rasul), ‘Dan seandainya umurmu panjang, niscaya akan dibukakan harta simpanan Kisra.’ Aku bertanya, ‘Kisra bin Hurmuz?!’ Beliau menjawab, ‘Kisra bin Hurmuz, dan seandainya umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang laki-laki mengeluarkan emas atau perak sepenuh kedua telapak tangannya, dia mencari orang yang akan menerimanya, lalu dia sama sekali tidak mendapati seorang pun yang mau menerimanya”. HR Bukhari.Seorang muslim diperintahkan mengadakan perubahan pada dirinya, perilakunya dan kehidupannya menjadi lebih baik; yaitu dengan memilih jalan petunjuk kebaikan, mencegah perubahan-perubahan negatif sebagai wujud peneladanan terhadap petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.     Beliau telah melakukan berbagai perubahan dalam kehidupan  pribadinya dan kehidupan sahabat-sahabatnya, pada tataran ucapan dan perbuatan.” سَمَّى حَرْبًا سَلْمًا، وَشَعْبَ الضَّلَالَةِ، سَمَّاهُ شَعْبَ الْهُدَى، وَسَمَّى بَنِي مُغْوِيَةَ، بَنِي رِشْدَةَ ” رواه أبوداود بإسناد صحيح“Beliau merubah istilah “harb” (perang) menjadi “salm” (damai), “Syi’bah Dhalalah” (perkampungan kesesatan) menjadi “Syi’bah alhuda” (perkampungan petunjuk). Beliau menyebut suku “Bani Mughwiyah” (Anak keturunan penyesat) menjadi “Bani Risydah” (Anak keturunan terbimbing). HR. Abu Dawud dengan isnad shahih.     Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- anti tempat-tempat yang namanya mengerikan. Maka ketika datang ke Madinah yang kala itu terkenal dengan nama “Yatsrib” (kehancuran), beliau pun merubahnya menjadi “Thibah” (bersih dan harum) sekaligus mengganti seluruh paradigma yang keliru.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bertanya :” مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يُولَدُ لَهُ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا قَالَ فَمَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ قَالَ قُلْنَا الَّذِي لَا يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ لَيْسَ بِذَلِكَ وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ” رواه مسلم“Menurut kalian, siapakah sebenarnya orang yang mandul di antara kalian itu? ( Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak mempunyai anak. Rasulullah bersabda: Bukan itu yg dimaksud dengan mandul. Tetapi ia adalah orang yg tidak dapat memberikan (nilai kebaikan) apapun kepada anaknya.. Rasulullah bertanya lagi: Siapakah orang yang kalian anggap paling kuat? (Perawi) berkata; Kami menjawab; Yaitu orang yang tidak terkalahkan oleh orang lain. Rasulullah menjelaskan: Bukan itu yang dimaksud, tetapi orang paling kuat adalah orang yg dapat menguasai dirinya ketika sedang marah”. HR MuslimRasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ” رواه مسلم“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang dirham maupun kekayaan.” Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- menjelaskan : Orang yang bangkrut diantara umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) telah mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D dan memukul si E. Maka masing-masing mereka akan diberi pahala dari amal kebaikan orang tersebut. Jika telah habis pahala kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka”.HR Muslim.     Terkadang seorang muslim tertawan oleh kepuasan negatif yang mendominasi alam pikirannya, sehingga merasa tidak berdaya lagi untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Itu memang kendala sangat rumit, yang menyeret seseorang mundur total ke belakang. Maka dia harus merubah haluan ke arah positif yang demikian mantap dan tegap dalam hati dan pikiran bahwa hidup itu perlu berusaha dan bahwa setiap problem pastilah ada solusinya, betapapun besarnya problem itu.     Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang hebat mampu menciptakan perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka merubah sikap persengketaan dan permusuhan menjadi kasih sayang, persaudaraan dan persahabatan. Mereka mampu membalikkan teman-teman jahat menjadi sahabat setia. Mereka berhasil mengatasi tradisi-tradisi buruk adat istiadat yang bertentangan dengan agama dan tidak sejalan dengan orbitnya.     Langkah-langkah perubahan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah merubah diri sendiri. Di sinilah dimulainya proses perubahan kondisi umat yang sedang menghadapi segala bentuk keterbelakangan, kemiskinan dan kemunduran. Selanjutnya mempersenjatai diri mereka dengan ilmu yang merupakan pilar utama bagi tegaknya peradaban dan kemajuan di setiap zaman. Firman Allah :” إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ” [ الرعد/11]“Sesungguhnya Allah tidak merubah kondisi sesuatu kaum sehingga mereka merubah kondisi yang ada pada diri mereka”.Qs Ar-Ra’d : 11     Termasuk konsekuensi perubahan ke arah yang lebih baik adalah berhati tulus. Firman Allah :وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ [ فصلت/23]“Dan yang demikian itu adalah prasangka hatimu yang telah kamu sangkakan kepada Tuhanmu, itulah yang membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.Qs Fushilat: 23Disebutkan dalam hadis :” أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي ” رواه البخاري ومسلم“Aku sesuai persangkaan hambaKu terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya ketika ia mengingat Aku”. HR Bukhari dan Muslim.  ==== 00 ==== Khotbah Kedua     Adalah merupakan aksioma bahwa Islam melarang segala perubahan ciptaan manusia yang justru merusak kehidupannya, memperlemah agamanya dan membinasakan ibadah ritualnya. Termasuk menyerang harta benda dan nyawa, mengacaukan keamanan, memakan harta orang lain secara batil, suap-menyuap, korupsi, menyebar-luaskan kekejian dan membangkitkan kekacauan.     Seorang muslim secara apriori pastilah menolak perubahan yang mengarah pada kejahatan. Dia tidak ingin berkontribusi dengan perbuatan ataupun pernyataan dalam menciptakan perubahan yang justru berpotensi terhadap lenyapnya nikmat. Firman Allah:أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ [ إبراهيم/28]“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?”. Qs Ibrahim : 28     Bagi kita ada teladan yang baik pada diri Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau selalu mendekatkan diri kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- untuk memohon pertolonganNya dalam mengatasi setiap perubahan yang mendatangkan keburukan dan bencana. Beliau memohon perlindungan-Nya dari kemiskinan, kehinaan, perasaan minder, ketidak-berdayaan, kemalasan, terlilit hutang, penguasaan oleh kaum penindas dan penyakit yang ganas.     Beliau selalu memohon kepada Allah kesehatan lahir dan batin di dunia dan akhirat, serta memohonkan agar kaum muslimin dijauhkan dan diselamatkan dari malapetaka dan bencana.     Kita tidak dapat lepas dari pertolongan Allah dalam memantapkan hati kita sekejap matapun. Jika bukan karena Allah, maka bergeserlah sudah atap dan pijakan dasar keimanan kita dari posisinya. Firman Allah :يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ [ إبراهيم/ 27]“Allah memantapkan (keimanan) orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat”. Qs Ibrahim: 27=== Doa Penutup ===  

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (7)

2. Panggilan CintaDiriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menjenguk kami. Ketika itu saya memiliki adik laki-laki yang masih kecil, dijuluki Abu Umair. Ia memiliki burung kecil yang ia suka bermain dengannya. Lalu matilah burung itu. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya, lalu beliau melihatnya sedang bersedih, kemudian beliau bertanya,مَا شَأْنُهُ“Ada apa dengannya?”Orang-orang menjawab “Telah mati burung kecil itu!”, maka beliaupun bertanya,يَا‏ ‏أَبَا عُمَيْرٍ‏ مَا فَعَلَ ‏ ‏النُّغَيْرُ“Wahai Abu Umair! Apakah gerangan yang dilakukan oleh burung kecil itu?” (HR. Abu Dawud, shahih).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja memanggilnya dengan panggilan khas (tashghiir) dalam rangka untuk membuatnya senang dan merasa diperlakukan dengan sikap yang memang diharapkannya, yaitu memberi perhatian yang lebih disaat dirinya sedang bersedih. Cobalah ayah dan ibu perhatikan kisah di atas, bukankah sebenarnya beliau sudah diberitahu bahwa Abu Umair sedih karena burung kecilnya mati?Namun mengapa beliau tetap saja bertanya? Hikmah yang besar tentunya di balik sikap beliau tersebut.Secara psikologis, anak-anak yang mengalami kesedihan butuh tempat untuk curhat, mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya. Dan semakin orang itu memiliki keutamaan yang tinggi ditambah dengan sifatnya yang mudah akrab dengan anak-anak, hal ini akan mendorong anak-anak semakin terbuka untuk curhat kepadanya.Oleh karena itu, sengaja beliau bertanya menggunakan kalimat yang memancing tercurahkannya isi hati sang anak kepadanya. Di samping itu, seorang anak kecil ketika mendapatkan perhatian dari orang yang terhormat, apalagi dari sosok Utusan Allah yang termulia, akan sangat merasa dihargai, sehingga giliran selanjutnya diharapkan terbentuk kepribadian yang memiliki kepercayaan diri yang bagus.3. Sambutan CintaDari Abdullah bin Ja’far berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِصِبْيَانِ أَهْلِ بَيْتِهِ“Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika datang dari safar, diarahkanlah anak-anak dari Ahli Bait beliau (untuk menyambut beliau)”.Abdullah bin Ja’far berkata,وَإِنَّهُ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَسُبِقَ بِي إِلَيْهِ فَحَمَلَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ جِيءَ بِأَحَدِ ابْنَيْ فَاطِمَةَ فَأَرْدَفَهُ خَلْفَهُ قَالَ فَأُدْخِلْنَا الْمَدِينَةَ ثَلَاثَةً عَلَى دَابَّةٍ“Suatu saat beliau datang dari safar, lalu akupun didahulukan untuk menyambut beliau, lalu beliaupun mengangkatku (untuk didudukkan di atas tunggangan beliau) di depan beliau, kemudian didatangkanlah salah satu dari dua putra Fathimah (Hasan atau Husain, pent.), beliaupun memboncengnya di belakangnya, lalu kamipun bertiga menaiki binatang tunggangan masuk Madinah” (HR. Muslim).Lihatlah bagaimana sambutan hangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat memungkinkan beliau ketika itu masih dalam keadaan capai karena beratnya safar zaman dahulu, namun tetap bertawadhu’ dan menyempatkan diri untuk menyambut kedua anak tersebut dengan penuh kedekatan, sehingga mereka berduapun merasa tersanjung dan merasa akrab dengan manusia yang paling mulia di muka bumi. Kenangan seperti inilah yang masih diingat oleh bocah sang pelaku sejarah ketika itu, Abdullah bin Ja’far radhiallahu ‘anhu. Hal ini menanamkan pelajaran-pelajaran karakter yang mulia, seperti rendah hati, kemampuan membangun komunikasi dengan baik, dan empati yang bagus kepada orang lain.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Rabbighfirli Waliwalidayya Quran, Hukum Mencela Pemimpin, Cara Mengatasi Orang Kerasukan, Jumlah Surga Dan Neraka, Apa Yang Dimaksud Dengan Amal Saleh

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (7)

2. Panggilan CintaDiriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menjenguk kami. Ketika itu saya memiliki adik laki-laki yang masih kecil, dijuluki Abu Umair. Ia memiliki burung kecil yang ia suka bermain dengannya. Lalu matilah burung itu. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya, lalu beliau melihatnya sedang bersedih, kemudian beliau bertanya,مَا شَأْنُهُ“Ada apa dengannya?”Orang-orang menjawab “Telah mati burung kecil itu!”, maka beliaupun bertanya,يَا‏ ‏أَبَا عُمَيْرٍ‏ مَا فَعَلَ ‏ ‏النُّغَيْرُ“Wahai Abu Umair! Apakah gerangan yang dilakukan oleh burung kecil itu?” (HR. Abu Dawud, shahih).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja memanggilnya dengan panggilan khas (tashghiir) dalam rangka untuk membuatnya senang dan merasa diperlakukan dengan sikap yang memang diharapkannya, yaitu memberi perhatian yang lebih disaat dirinya sedang bersedih. Cobalah ayah dan ibu perhatikan kisah di atas, bukankah sebenarnya beliau sudah diberitahu bahwa Abu Umair sedih karena burung kecilnya mati?Namun mengapa beliau tetap saja bertanya? Hikmah yang besar tentunya di balik sikap beliau tersebut.Secara psikologis, anak-anak yang mengalami kesedihan butuh tempat untuk curhat, mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya. Dan semakin orang itu memiliki keutamaan yang tinggi ditambah dengan sifatnya yang mudah akrab dengan anak-anak, hal ini akan mendorong anak-anak semakin terbuka untuk curhat kepadanya.Oleh karena itu, sengaja beliau bertanya menggunakan kalimat yang memancing tercurahkannya isi hati sang anak kepadanya. Di samping itu, seorang anak kecil ketika mendapatkan perhatian dari orang yang terhormat, apalagi dari sosok Utusan Allah yang termulia, akan sangat merasa dihargai, sehingga giliran selanjutnya diharapkan terbentuk kepribadian yang memiliki kepercayaan diri yang bagus.3. Sambutan CintaDari Abdullah bin Ja’far berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِصِبْيَانِ أَهْلِ بَيْتِهِ“Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika datang dari safar, diarahkanlah anak-anak dari Ahli Bait beliau (untuk menyambut beliau)”.Abdullah bin Ja’far berkata,وَإِنَّهُ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَسُبِقَ بِي إِلَيْهِ فَحَمَلَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ جِيءَ بِأَحَدِ ابْنَيْ فَاطِمَةَ فَأَرْدَفَهُ خَلْفَهُ قَالَ فَأُدْخِلْنَا الْمَدِينَةَ ثَلَاثَةً عَلَى دَابَّةٍ“Suatu saat beliau datang dari safar, lalu akupun didahulukan untuk menyambut beliau, lalu beliaupun mengangkatku (untuk didudukkan di atas tunggangan beliau) di depan beliau, kemudian didatangkanlah salah satu dari dua putra Fathimah (Hasan atau Husain, pent.), beliaupun memboncengnya di belakangnya, lalu kamipun bertiga menaiki binatang tunggangan masuk Madinah” (HR. Muslim).Lihatlah bagaimana sambutan hangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat memungkinkan beliau ketika itu masih dalam keadaan capai karena beratnya safar zaman dahulu, namun tetap bertawadhu’ dan menyempatkan diri untuk menyambut kedua anak tersebut dengan penuh kedekatan, sehingga mereka berduapun merasa tersanjung dan merasa akrab dengan manusia yang paling mulia di muka bumi. Kenangan seperti inilah yang masih diingat oleh bocah sang pelaku sejarah ketika itu, Abdullah bin Ja’far radhiallahu ‘anhu. Hal ini menanamkan pelajaran-pelajaran karakter yang mulia, seperti rendah hati, kemampuan membangun komunikasi dengan baik, dan empati yang bagus kepada orang lain.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Rabbighfirli Waliwalidayya Quran, Hukum Mencela Pemimpin, Cara Mengatasi Orang Kerasukan, Jumlah Surga Dan Neraka, Apa Yang Dimaksud Dengan Amal Saleh
2. Panggilan CintaDiriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menjenguk kami. Ketika itu saya memiliki adik laki-laki yang masih kecil, dijuluki Abu Umair. Ia memiliki burung kecil yang ia suka bermain dengannya. Lalu matilah burung itu. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya, lalu beliau melihatnya sedang bersedih, kemudian beliau bertanya,مَا شَأْنُهُ“Ada apa dengannya?”Orang-orang menjawab “Telah mati burung kecil itu!”, maka beliaupun bertanya,يَا‏ ‏أَبَا عُمَيْرٍ‏ مَا فَعَلَ ‏ ‏النُّغَيْرُ“Wahai Abu Umair! Apakah gerangan yang dilakukan oleh burung kecil itu?” (HR. Abu Dawud, shahih).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja memanggilnya dengan panggilan khas (tashghiir) dalam rangka untuk membuatnya senang dan merasa diperlakukan dengan sikap yang memang diharapkannya, yaitu memberi perhatian yang lebih disaat dirinya sedang bersedih. Cobalah ayah dan ibu perhatikan kisah di atas, bukankah sebenarnya beliau sudah diberitahu bahwa Abu Umair sedih karena burung kecilnya mati?Namun mengapa beliau tetap saja bertanya? Hikmah yang besar tentunya di balik sikap beliau tersebut.Secara psikologis, anak-anak yang mengalami kesedihan butuh tempat untuk curhat, mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya. Dan semakin orang itu memiliki keutamaan yang tinggi ditambah dengan sifatnya yang mudah akrab dengan anak-anak, hal ini akan mendorong anak-anak semakin terbuka untuk curhat kepadanya.Oleh karena itu, sengaja beliau bertanya menggunakan kalimat yang memancing tercurahkannya isi hati sang anak kepadanya. Di samping itu, seorang anak kecil ketika mendapatkan perhatian dari orang yang terhormat, apalagi dari sosok Utusan Allah yang termulia, akan sangat merasa dihargai, sehingga giliran selanjutnya diharapkan terbentuk kepribadian yang memiliki kepercayaan diri yang bagus.3. Sambutan CintaDari Abdullah bin Ja’far berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِصِبْيَانِ أَهْلِ بَيْتِهِ“Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika datang dari safar, diarahkanlah anak-anak dari Ahli Bait beliau (untuk menyambut beliau)”.Abdullah bin Ja’far berkata,وَإِنَّهُ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَسُبِقَ بِي إِلَيْهِ فَحَمَلَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ جِيءَ بِأَحَدِ ابْنَيْ فَاطِمَةَ فَأَرْدَفَهُ خَلْفَهُ قَالَ فَأُدْخِلْنَا الْمَدِينَةَ ثَلَاثَةً عَلَى دَابَّةٍ“Suatu saat beliau datang dari safar, lalu akupun didahulukan untuk menyambut beliau, lalu beliaupun mengangkatku (untuk didudukkan di atas tunggangan beliau) di depan beliau, kemudian didatangkanlah salah satu dari dua putra Fathimah (Hasan atau Husain, pent.), beliaupun memboncengnya di belakangnya, lalu kamipun bertiga menaiki binatang tunggangan masuk Madinah” (HR. Muslim).Lihatlah bagaimana sambutan hangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat memungkinkan beliau ketika itu masih dalam keadaan capai karena beratnya safar zaman dahulu, namun tetap bertawadhu’ dan menyempatkan diri untuk menyambut kedua anak tersebut dengan penuh kedekatan, sehingga mereka berduapun merasa tersanjung dan merasa akrab dengan manusia yang paling mulia di muka bumi. Kenangan seperti inilah yang masih diingat oleh bocah sang pelaku sejarah ketika itu, Abdullah bin Ja’far radhiallahu ‘anhu. Hal ini menanamkan pelajaran-pelajaran karakter yang mulia, seperti rendah hati, kemampuan membangun komunikasi dengan baik, dan empati yang bagus kepada orang lain.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Rabbighfirli Waliwalidayya Quran, Hukum Mencela Pemimpin, Cara Mengatasi Orang Kerasukan, Jumlah Surga Dan Neraka, Apa Yang Dimaksud Dengan Amal Saleh


2. Panggilan CintaDiriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menjenguk kami. Ketika itu saya memiliki adik laki-laki yang masih kecil, dijuluki Abu Umair. Ia memiliki burung kecil yang ia suka bermain dengannya. Lalu matilah burung itu. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya, lalu beliau melihatnya sedang bersedih, kemudian beliau bertanya,مَا شَأْنُهُ“Ada apa dengannya?”Orang-orang menjawab “Telah mati burung kecil itu!”, maka beliaupun bertanya,يَا‏ ‏أَبَا عُمَيْرٍ‏ مَا فَعَلَ ‏ ‏النُّغَيْرُ“Wahai Abu Umair! Apakah gerangan yang dilakukan oleh burung kecil itu?” (HR. Abu Dawud, shahih).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja memanggilnya dengan panggilan khas (tashghiir) dalam rangka untuk membuatnya senang dan merasa diperlakukan dengan sikap yang memang diharapkannya, yaitu memberi perhatian yang lebih disaat dirinya sedang bersedih. Cobalah ayah dan ibu perhatikan kisah di atas, bukankah sebenarnya beliau sudah diberitahu bahwa Abu Umair sedih karena burung kecilnya mati?Namun mengapa beliau tetap saja bertanya? Hikmah yang besar tentunya di balik sikap beliau tersebut.Secara psikologis, anak-anak yang mengalami kesedihan butuh tempat untuk curhat, mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya. Dan semakin orang itu memiliki keutamaan yang tinggi ditambah dengan sifatnya yang mudah akrab dengan anak-anak, hal ini akan mendorong anak-anak semakin terbuka untuk curhat kepadanya.Oleh karena itu, sengaja beliau bertanya menggunakan kalimat yang memancing tercurahkannya isi hati sang anak kepadanya. Di samping itu, seorang anak kecil ketika mendapatkan perhatian dari orang yang terhormat, apalagi dari sosok Utusan Allah yang termulia, akan sangat merasa dihargai, sehingga giliran selanjutnya diharapkan terbentuk kepribadian yang memiliki kepercayaan diri yang bagus.3. Sambutan CintaDari Abdullah bin Ja’far berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِصِبْيَانِ أَهْلِ بَيْتِهِ“Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika datang dari safar, diarahkanlah anak-anak dari Ahli Bait beliau (untuk menyambut beliau)”.Abdullah bin Ja’far berkata,وَإِنَّهُ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَسُبِقَ بِي إِلَيْهِ فَحَمَلَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ جِيءَ بِأَحَدِ ابْنَيْ فَاطِمَةَ فَأَرْدَفَهُ خَلْفَهُ قَالَ فَأُدْخِلْنَا الْمَدِينَةَ ثَلَاثَةً عَلَى دَابَّةٍ“Suatu saat beliau datang dari safar, lalu akupun didahulukan untuk menyambut beliau, lalu beliaupun mengangkatku (untuk didudukkan di atas tunggangan beliau) di depan beliau, kemudian didatangkanlah salah satu dari dua putra Fathimah (Hasan atau Husain, pent.), beliaupun memboncengnya di belakangnya, lalu kamipun bertiga menaiki binatang tunggangan masuk Madinah” (HR. Muslim).Lihatlah bagaimana sambutan hangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat memungkinkan beliau ketika itu masih dalam keadaan capai karena beratnya safar zaman dahulu, namun tetap bertawadhu’ dan menyempatkan diri untuk menyambut kedua anak tersebut dengan penuh kedekatan, sehingga mereka berduapun merasa tersanjung dan merasa akrab dengan manusia yang paling mulia di muka bumi. Kenangan seperti inilah yang masih diingat oleh bocah sang pelaku sejarah ketika itu, Abdullah bin Ja’far radhiallahu ‘anhu. Hal ini menanamkan pelajaran-pelajaran karakter yang mulia, seperti rendah hati, kemampuan membangun komunikasi dengan baik, dan empati yang bagus kepada orang lain.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Rabbighfirli Waliwalidayya Quran, Hukum Mencela Pemimpin, Cara Mengatasi Orang Kerasukan, Jumlah Surga Dan Neraka, Apa Yang Dimaksud Dengan Amal Saleh
Prev     Next