Jangan Mudah Berhutang!

Sebagian kita ada yang senang dengan perilaku hutang, walaupun terkadang dia mampu. Adapula yang memang menjadikan hutang itu sebagai gaya hidupnya.Padahal yang demikian itu tidak baik, karena hutang termasuk pwrilaku buruk, yang akan membuat orang berakhlak tidak baik. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hobi) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari” (HR. Al-Bukhari).Lebih dari itu, hutang akan menyebabkan kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menolak untuk menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid, dijelaskan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدَّين“Akan diampuni seluruh dosa orang Чαπƍ mati syahid kecuali hutang” (HR. Muslim).Oleh karena itu, hindari hutang kalo tidak kepepet!***Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bahasa, Contoh Berbakti Kepada Orang Tua, Waliyullah Adalah, Menjawab Pujian Dalam Islam, Kembaran Manusia Menurut Islam

Jangan Mudah Berhutang!

Sebagian kita ada yang senang dengan perilaku hutang, walaupun terkadang dia mampu. Adapula yang memang menjadikan hutang itu sebagai gaya hidupnya.Padahal yang demikian itu tidak baik, karena hutang termasuk pwrilaku buruk, yang akan membuat orang berakhlak tidak baik. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hobi) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari” (HR. Al-Bukhari).Lebih dari itu, hutang akan menyebabkan kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menolak untuk menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid, dijelaskan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدَّين“Akan diampuni seluruh dosa orang Чαπƍ mati syahid kecuali hutang” (HR. Muslim).Oleh karena itu, hindari hutang kalo tidak kepepet!***Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bahasa, Contoh Berbakti Kepada Orang Tua, Waliyullah Adalah, Menjawab Pujian Dalam Islam, Kembaran Manusia Menurut Islam
Sebagian kita ada yang senang dengan perilaku hutang, walaupun terkadang dia mampu. Adapula yang memang menjadikan hutang itu sebagai gaya hidupnya.Padahal yang demikian itu tidak baik, karena hutang termasuk pwrilaku buruk, yang akan membuat orang berakhlak tidak baik. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hobi) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari” (HR. Al-Bukhari).Lebih dari itu, hutang akan menyebabkan kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menolak untuk menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid, dijelaskan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدَّين“Akan diampuni seluruh dosa orang Чαπƍ mati syahid kecuali hutang” (HR. Muslim).Oleh karena itu, hindari hutang kalo tidak kepepet!***Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bahasa, Contoh Berbakti Kepada Orang Tua, Waliyullah Adalah, Menjawab Pujian Dalam Islam, Kembaran Manusia Menurut Islam


Sebagian kita ada yang senang dengan perilaku hutang, walaupun terkadang dia mampu. Adapula yang memang menjadikan hutang itu sebagai gaya hidupnya.Padahal yang demikian itu tidak baik, karena hutang termasuk pwrilaku buruk, yang akan membuat orang berakhlak tidak baik. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hobi) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari” (HR. Al-Bukhari).Lebih dari itu, hutang akan menyebabkan kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menolak untuk menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid, dijelaskan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:يغفر للشهيد كل ذنب إلا الدَّين“Akan diampuni seluruh dosa orang Чαπƍ mati syahid kecuali hutang” (HR. Muslim).Oleh karena itu, hindari hutang kalo tidak kepepet!***Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bahasa, Contoh Berbakti Kepada Orang Tua, Waliyullah Adalah, Menjawab Pujian Dalam Islam, Kembaran Manusia Menurut Islam

Pembangunan Masjid Al-Azhar, Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari

Yuk ikut nyumbang walau hanya 50 Ribu [Donasi Awal Maret hingga 7-3-2017]   Pembangunan Masjid Al-Azhar Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari Alamat: Jl. Baron KM 2 Padukuhan Karangrejek, RT 07, RW 03, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, D.I.Y., Kode Pos: 55851 Kebutuhan 500 juta Rupiah Silakan transfer ke rekening Darush Sholihin dan RumayshoCom: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid Binaan DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid Binaan DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 4 Maret 2017 # 50.000 — Catatan: Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana. Menyumbang 50 RIBU saja sudah bisa mendapatkan pahala berikut. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa kaum muslimin sekalian agar pembangunan Masjid Al-Azhar ini berjalan lancar dan bisa sebagai pusat kajian di Wonosari. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid

Pembangunan Masjid Al-Azhar, Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari

Yuk ikut nyumbang walau hanya 50 Ribu [Donasi Awal Maret hingga 7-3-2017]   Pembangunan Masjid Al-Azhar Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari Alamat: Jl. Baron KM 2 Padukuhan Karangrejek, RT 07, RW 03, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, D.I.Y., Kode Pos: 55851 Kebutuhan 500 juta Rupiah Silakan transfer ke rekening Darush Sholihin dan RumayshoCom: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid Binaan DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid Binaan DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 4 Maret 2017 # 50.000 — Catatan: Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana. Menyumbang 50 RIBU saja sudah bisa mendapatkan pahala berikut. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa kaum muslimin sekalian agar pembangunan Masjid Al-Azhar ini berjalan lancar dan bisa sebagai pusat kajian di Wonosari. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid
Yuk ikut nyumbang walau hanya 50 Ribu [Donasi Awal Maret hingga 7-3-2017]   Pembangunan Masjid Al-Azhar Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari Alamat: Jl. Baron KM 2 Padukuhan Karangrejek, RT 07, RW 03, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, D.I.Y., Kode Pos: 55851 Kebutuhan 500 juta Rupiah Silakan transfer ke rekening Darush Sholihin dan RumayshoCom: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid Binaan DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid Binaan DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 4 Maret 2017 # 50.000 — Catatan: Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana. Menyumbang 50 RIBU saja sudah bisa mendapatkan pahala berikut. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa kaum muslimin sekalian agar pembangunan Masjid Al-Azhar ini berjalan lancar dan bisa sebagai pusat kajian di Wonosari. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid


Yuk ikut nyumbang walau hanya 50 Ribu [Donasi Awal Maret hingga 7-3-2017]   Pembangunan Masjid Al-Azhar Basis Kajian Ustadz M Abduh Tuasikal di Wonosari Alamat: Jl. Baron KM 2 Padukuhan Karangrejek, RT 07, RW 03, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, D.I.Y., Kode Pos: 55851 Kebutuhan 500 juta Rupiah Silakan transfer ke rekening Darush Sholihin dan RumayshoCom: • BCA 895009 3791 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal • BSM 7098637286 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul • BRI 697501000453505 atas nama Yayasan Darush Sholihin *Kode bank BCA 014, BSM 451, BRI 002   Konfirmasi via SMS/ WA ke 082313950500 dengan format: Masjid Binaan DS # Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Masjid Binaan DS # Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 4 Maret 2017 # 50.000 — Catatan: Tidak ada biaya tambahan untuk donasi di atas, penyaluran donasi ini murni menyalurkan dana. Menyumbang 50 RIBU saja sudah bisa mendapatkan pahala berikut. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Semoga Allah memberi limpahan pahala bagi yang siap membantu dakwah ilallah ini. Kami juga memohon doa kaum muslimin sekalian agar pembangunan Masjid Al-Azhar ini berjalan lancar dan bisa sebagai pusat kajian di Wonosari. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Tagsrenovasi masjid

Khutbah Jumat: Ingin Makmur Seperti Negerinya Raja Salman

Kita akui bahwa negerinya Raja Salman (Saudi Arabia) bisa lebih makmur dari kita padahal di sana negeri padang pasir dan tandus. Kenapa bisa? Baca naskah Khutbah Jumat berikut.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia. Karunia terbesar yang Allah berikan adalah karunia Iman dan Islam. Moga kita semakin bersyukur atas nikmat tersebut dan kita bisa buktikan dengan semakin meningkatkan ketakwaan kita pada Allah Ta’ala. Perintah dalam ayat tentang takwa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Ummahatul Mukmin, kepada para sahabat tercinta, kepada khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Mau tahu bagaimanakah makmurnya negeri padang pasir seperti Kerajaan Saudi Arabia? Padahal negara Saudi Arabia tidak sehijau negeri kita. Air di daratan sana tidak sebanyak di negeri kita. Namun mereka terlihat lebih makmur dan lebih maju. Kenapa? Ini keadaan Saudi Arabia dengan berbagai kemakmurannya: BBM jenis oktan 91 hanya dihargai 0,75 riyal. Sedangkan BBM jenis oktan 95 hanya seharga 0,90 riyal. Di negeri kita Pertamax yang angka oktannya 92, dijual Rp.8.050 dan Pertalite yang angka oktannya 90, dijual Rp.7.350,-. Bensin Saudi dengan angkat oktan terbaik (95) bisa diperoleh dengan harga Rp.3.600,- dengan kurs Rp.4000,- per riyal. Harga segitu di sana sudah mendapatkan satu aqua botol sedang seharga 1 riyal. Jadi harga bensin kelas tinggi hampir sama dengan aqua botol sedang. Sekolah hingga kuliah di Saudi Arabia gratis dan dapat tunjangan hidup dan dapat asrama. Parahnya berlaku juga untuk warga asing seperti kita yang ingin sekolah di sana dari Indonesia. Pengangguran di Arab Saudi menerima tunjangan sebesar 2,000 Riyal (± Rp.8 Juta) perbulan. Sedangkan mahasiswa di seluruh Universitas Negeri mendapat uang saku bulanan sekitar 900 Riyal (± Rp.3,6 juta), asrama gratis dan tanpa dipungut biaya kuliah sama sekali. Minimal gaji bersih yang harus diterima oleh Saudi sebesar 2500 riyal (± Rp.10 Juta) per bulan untuk posisi (terendah) sebagai pegawai junior semisal sopir atau petugas keamanan. Arab Saudi adalah produsen terbesar di dunia dan eksportir minyak, dan memiliki seperempat dari cadangan minyak dunia yang dikenal – lebih dari 260 miliar barel. Sebagian besar berada di Provinsi Timur, termasuk bidang onshore terbesar di Ghawar dan bidang lepas pantai terbesar di Safaniya di Teluk Arab. Kilang Arab Saudi memproduksi sekitar 8 juta barel minyak per hari, dan ada rencana untuk meningkatkan produksi menjadi sekitar 12 juta barel per hari. Jalanan di Arab Saudi adalah jalan tol semua dan gratis semua. Tidak ada pajak untuk warga negara Saudi. Sehingga harga mobil pun bisa lebih murah dari negeri produsennya. Contoh mobil innova diproduksi di Indonesia dan dibawa ke Saudi Arabia dengan harga 60.000 riyal (± Rp.240 Juta). Sedangkan di Indonesia, mobil tersebut dijual dengan harga di atas 300-an juta rupiah.   Apa yang menyebabkan Saudi Arabia terlihat begitu maju dan makmur: 1- Negara tersebut memegang teguh TAUHID Ini dibuktikan lewat dakwah Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab sejak abad ke-18. Yang dahulu bekerja sama dengan Muhammad bin Saud. Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud membentuk kesepakatan untuk mendedikasikan diri mereka untuk memulihkan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim. Dalam semangat itu, bin Saud mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan  bimbingan spiritual Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah tauhid inilah yang menjadi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah para Rasul. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Makanya di Saudi Arabia, tidak terlihat warganya doyan memakai jimat, susuk dan pelet; warganya juga sangat tidak suka dengan dunia perdukunan; juga di Saudi Arabia benar-benar kubur orang shalih tidak diperlakukan secara berlebihan (ghuluw atau ekstrim).   2- Rakyatnya memperhatikan shalat Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan shalat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu shalat wajib. Orang yang menjaga shalat jamaah dan rajin menunggu shalat, pantas mendapatkan rahmat Allah. Itulah di antara buah dari menjaga shalat. Para malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ “Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649) Kata Umar bin Khattab, orang yang memperhatikan shalat tentu urusan lainnya akan lebih dimudahkan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim, hlm. 12)   3- Kriminalitas relatif rendah dan ditindak tegas Tingkat kriminalitas di Arab Saudi relatif rendah dibandingkan kebanyakan negara di dunia, namun setiap tindak kriminalitas akan ditanggapi secara serius. Tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba terancam hukuman mati dibawah hukum syariat Islam yang ketat yang diberlakukan otoritas Saudi. Karena takut pada Allah dan menjalankan hukum Islam, akhirya buahnya adalah berkah dari langit dan bumi, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96) Lihatlah karena mau beriman dengan benar dalam hati yang dibuktikan dengan amalan, juga karena bertakwa pada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan, maka berkah dari langit dan dari dalam bumi akan dibuka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 305)   Demikian tiga hal yang menjadi keunggulan Saudi Arabia yang menjadikan mereka lebih makmur. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Setelah kita lihat tadi kenapa Saudi Arabia bisa begitu makmur, yaitu karena mereka sadar akan tauhid dan menjauhi syirik, mereka memperhatikan shalat, juga mereka menindak tegas kriminal dan kejahatan. Ada lagi alasan kenapa sampai Saudi Arabia terlihat lebih maju selain tiga hal tadi yang disebutkan, yaitu:   4- Saudi Arabia berusaha kembali pada Islam yang murni (pemahaman salaf) Karena kembali pada Islam yang murni seperti yang dibawa oleh Rasul dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum itulah yang membuat kita selamat dari kesesatan. إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ اِعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim). Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dalam ayat, Allah Ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya, فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا “Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 137) Jadi tidaklah cukup dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadits saja, namun hendaklah ditambahkan berpegang pula dengan pemahaman para sahabat (para salaf) radhiyallahu ‘anhum. Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang beriman dan bertakwa, diberi limpahan rezeki dan berkah, dikaruniakan kemakmuran; moga kita diangkat dari kemiskinan dan berbagai musibah, serta istiqamah di atas Islam. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ —   Naskah Khutbah Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 4 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (3 Maret 2017) Silakan download naskah Khutbah Jumat: Cara Bisa Makmur Seperti Negerinya Raja Salman — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, Jumat pagi, 24 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (03-03-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmakmur negeri tauhid saudi arabia syirik tauhid

Khutbah Jumat: Ingin Makmur Seperti Negerinya Raja Salman

Kita akui bahwa negerinya Raja Salman (Saudi Arabia) bisa lebih makmur dari kita padahal di sana negeri padang pasir dan tandus. Kenapa bisa? Baca naskah Khutbah Jumat berikut.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia. Karunia terbesar yang Allah berikan adalah karunia Iman dan Islam. Moga kita semakin bersyukur atas nikmat tersebut dan kita bisa buktikan dengan semakin meningkatkan ketakwaan kita pada Allah Ta’ala. Perintah dalam ayat tentang takwa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Ummahatul Mukmin, kepada para sahabat tercinta, kepada khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Mau tahu bagaimanakah makmurnya negeri padang pasir seperti Kerajaan Saudi Arabia? Padahal negara Saudi Arabia tidak sehijau negeri kita. Air di daratan sana tidak sebanyak di negeri kita. Namun mereka terlihat lebih makmur dan lebih maju. Kenapa? Ini keadaan Saudi Arabia dengan berbagai kemakmurannya: BBM jenis oktan 91 hanya dihargai 0,75 riyal. Sedangkan BBM jenis oktan 95 hanya seharga 0,90 riyal. Di negeri kita Pertamax yang angka oktannya 92, dijual Rp.8.050 dan Pertalite yang angka oktannya 90, dijual Rp.7.350,-. Bensin Saudi dengan angkat oktan terbaik (95) bisa diperoleh dengan harga Rp.3.600,- dengan kurs Rp.4000,- per riyal. Harga segitu di sana sudah mendapatkan satu aqua botol sedang seharga 1 riyal. Jadi harga bensin kelas tinggi hampir sama dengan aqua botol sedang. Sekolah hingga kuliah di Saudi Arabia gratis dan dapat tunjangan hidup dan dapat asrama. Parahnya berlaku juga untuk warga asing seperti kita yang ingin sekolah di sana dari Indonesia. Pengangguran di Arab Saudi menerima tunjangan sebesar 2,000 Riyal (± Rp.8 Juta) perbulan. Sedangkan mahasiswa di seluruh Universitas Negeri mendapat uang saku bulanan sekitar 900 Riyal (± Rp.3,6 juta), asrama gratis dan tanpa dipungut biaya kuliah sama sekali. Minimal gaji bersih yang harus diterima oleh Saudi sebesar 2500 riyal (± Rp.10 Juta) per bulan untuk posisi (terendah) sebagai pegawai junior semisal sopir atau petugas keamanan. Arab Saudi adalah produsen terbesar di dunia dan eksportir minyak, dan memiliki seperempat dari cadangan minyak dunia yang dikenal – lebih dari 260 miliar barel. Sebagian besar berada di Provinsi Timur, termasuk bidang onshore terbesar di Ghawar dan bidang lepas pantai terbesar di Safaniya di Teluk Arab. Kilang Arab Saudi memproduksi sekitar 8 juta barel minyak per hari, dan ada rencana untuk meningkatkan produksi menjadi sekitar 12 juta barel per hari. Jalanan di Arab Saudi adalah jalan tol semua dan gratis semua. Tidak ada pajak untuk warga negara Saudi. Sehingga harga mobil pun bisa lebih murah dari negeri produsennya. Contoh mobil innova diproduksi di Indonesia dan dibawa ke Saudi Arabia dengan harga 60.000 riyal (± Rp.240 Juta). Sedangkan di Indonesia, mobil tersebut dijual dengan harga di atas 300-an juta rupiah.   Apa yang menyebabkan Saudi Arabia terlihat begitu maju dan makmur: 1- Negara tersebut memegang teguh TAUHID Ini dibuktikan lewat dakwah Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab sejak abad ke-18. Yang dahulu bekerja sama dengan Muhammad bin Saud. Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud membentuk kesepakatan untuk mendedikasikan diri mereka untuk memulihkan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim. Dalam semangat itu, bin Saud mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan  bimbingan spiritual Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah tauhid inilah yang menjadi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah para Rasul. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Makanya di Saudi Arabia, tidak terlihat warganya doyan memakai jimat, susuk dan pelet; warganya juga sangat tidak suka dengan dunia perdukunan; juga di Saudi Arabia benar-benar kubur orang shalih tidak diperlakukan secara berlebihan (ghuluw atau ekstrim).   2- Rakyatnya memperhatikan shalat Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan shalat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu shalat wajib. Orang yang menjaga shalat jamaah dan rajin menunggu shalat, pantas mendapatkan rahmat Allah. Itulah di antara buah dari menjaga shalat. Para malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ “Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649) Kata Umar bin Khattab, orang yang memperhatikan shalat tentu urusan lainnya akan lebih dimudahkan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim, hlm. 12)   3- Kriminalitas relatif rendah dan ditindak tegas Tingkat kriminalitas di Arab Saudi relatif rendah dibandingkan kebanyakan negara di dunia, namun setiap tindak kriminalitas akan ditanggapi secara serius. Tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba terancam hukuman mati dibawah hukum syariat Islam yang ketat yang diberlakukan otoritas Saudi. Karena takut pada Allah dan menjalankan hukum Islam, akhirya buahnya adalah berkah dari langit dan bumi, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96) Lihatlah karena mau beriman dengan benar dalam hati yang dibuktikan dengan amalan, juga karena bertakwa pada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan, maka berkah dari langit dan dari dalam bumi akan dibuka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 305)   Demikian tiga hal yang menjadi keunggulan Saudi Arabia yang menjadikan mereka lebih makmur. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Setelah kita lihat tadi kenapa Saudi Arabia bisa begitu makmur, yaitu karena mereka sadar akan tauhid dan menjauhi syirik, mereka memperhatikan shalat, juga mereka menindak tegas kriminal dan kejahatan. Ada lagi alasan kenapa sampai Saudi Arabia terlihat lebih maju selain tiga hal tadi yang disebutkan, yaitu:   4- Saudi Arabia berusaha kembali pada Islam yang murni (pemahaman salaf) Karena kembali pada Islam yang murni seperti yang dibawa oleh Rasul dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum itulah yang membuat kita selamat dari kesesatan. إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ اِعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim). Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dalam ayat, Allah Ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya, فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا “Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 137) Jadi tidaklah cukup dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadits saja, namun hendaklah ditambahkan berpegang pula dengan pemahaman para sahabat (para salaf) radhiyallahu ‘anhum. Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang beriman dan bertakwa, diberi limpahan rezeki dan berkah, dikaruniakan kemakmuran; moga kita diangkat dari kemiskinan dan berbagai musibah, serta istiqamah di atas Islam. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ —   Naskah Khutbah Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 4 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (3 Maret 2017) Silakan download naskah Khutbah Jumat: Cara Bisa Makmur Seperti Negerinya Raja Salman — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, Jumat pagi, 24 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (03-03-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmakmur negeri tauhid saudi arabia syirik tauhid
Kita akui bahwa negerinya Raja Salman (Saudi Arabia) bisa lebih makmur dari kita padahal di sana negeri padang pasir dan tandus. Kenapa bisa? Baca naskah Khutbah Jumat berikut.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia. Karunia terbesar yang Allah berikan adalah karunia Iman dan Islam. Moga kita semakin bersyukur atas nikmat tersebut dan kita bisa buktikan dengan semakin meningkatkan ketakwaan kita pada Allah Ta’ala. Perintah dalam ayat tentang takwa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Ummahatul Mukmin, kepada para sahabat tercinta, kepada khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Mau tahu bagaimanakah makmurnya negeri padang pasir seperti Kerajaan Saudi Arabia? Padahal negara Saudi Arabia tidak sehijau negeri kita. Air di daratan sana tidak sebanyak di negeri kita. Namun mereka terlihat lebih makmur dan lebih maju. Kenapa? Ini keadaan Saudi Arabia dengan berbagai kemakmurannya: BBM jenis oktan 91 hanya dihargai 0,75 riyal. Sedangkan BBM jenis oktan 95 hanya seharga 0,90 riyal. Di negeri kita Pertamax yang angka oktannya 92, dijual Rp.8.050 dan Pertalite yang angka oktannya 90, dijual Rp.7.350,-. Bensin Saudi dengan angkat oktan terbaik (95) bisa diperoleh dengan harga Rp.3.600,- dengan kurs Rp.4000,- per riyal. Harga segitu di sana sudah mendapatkan satu aqua botol sedang seharga 1 riyal. Jadi harga bensin kelas tinggi hampir sama dengan aqua botol sedang. Sekolah hingga kuliah di Saudi Arabia gratis dan dapat tunjangan hidup dan dapat asrama. Parahnya berlaku juga untuk warga asing seperti kita yang ingin sekolah di sana dari Indonesia. Pengangguran di Arab Saudi menerima tunjangan sebesar 2,000 Riyal (± Rp.8 Juta) perbulan. Sedangkan mahasiswa di seluruh Universitas Negeri mendapat uang saku bulanan sekitar 900 Riyal (± Rp.3,6 juta), asrama gratis dan tanpa dipungut biaya kuliah sama sekali. Minimal gaji bersih yang harus diterima oleh Saudi sebesar 2500 riyal (± Rp.10 Juta) per bulan untuk posisi (terendah) sebagai pegawai junior semisal sopir atau petugas keamanan. Arab Saudi adalah produsen terbesar di dunia dan eksportir minyak, dan memiliki seperempat dari cadangan minyak dunia yang dikenal – lebih dari 260 miliar barel. Sebagian besar berada di Provinsi Timur, termasuk bidang onshore terbesar di Ghawar dan bidang lepas pantai terbesar di Safaniya di Teluk Arab. Kilang Arab Saudi memproduksi sekitar 8 juta barel minyak per hari, dan ada rencana untuk meningkatkan produksi menjadi sekitar 12 juta barel per hari. Jalanan di Arab Saudi adalah jalan tol semua dan gratis semua. Tidak ada pajak untuk warga negara Saudi. Sehingga harga mobil pun bisa lebih murah dari negeri produsennya. Contoh mobil innova diproduksi di Indonesia dan dibawa ke Saudi Arabia dengan harga 60.000 riyal (± Rp.240 Juta). Sedangkan di Indonesia, mobil tersebut dijual dengan harga di atas 300-an juta rupiah.   Apa yang menyebabkan Saudi Arabia terlihat begitu maju dan makmur: 1- Negara tersebut memegang teguh TAUHID Ini dibuktikan lewat dakwah Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab sejak abad ke-18. Yang dahulu bekerja sama dengan Muhammad bin Saud. Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud membentuk kesepakatan untuk mendedikasikan diri mereka untuk memulihkan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim. Dalam semangat itu, bin Saud mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan  bimbingan spiritual Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah tauhid inilah yang menjadi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah para Rasul. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Makanya di Saudi Arabia, tidak terlihat warganya doyan memakai jimat, susuk dan pelet; warganya juga sangat tidak suka dengan dunia perdukunan; juga di Saudi Arabia benar-benar kubur orang shalih tidak diperlakukan secara berlebihan (ghuluw atau ekstrim).   2- Rakyatnya memperhatikan shalat Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan shalat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu shalat wajib. Orang yang menjaga shalat jamaah dan rajin menunggu shalat, pantas mendapatkan rahmat Allah. Itulah di antara buah dari menjaga shalat. Para malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ “Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649) Kata Umar bin Khattab, orang yang memperhatikan shalat tentu urusan lainnya akan lebih dimudahkan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim, hlm. 12)   3- Kriminalitas relatif rendah dan ditindak tegas Tingkat kriminalitas di Arab Saudi relatif rendah dibandingkan kebanyakan negara di dunia, namun setiap tindak kriminalitas akan ditanggapi secara serius. Tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba terancam hukuman mati dibawah hukum syariat Islam yang ketat yang diberlakukan otoritas Saudi. Karena takut pada Allah dan menjalankan hukum Islam, akhirya buahnya adalah berkah dari langit dan bumi, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96) Lihatlah karena mau beriman dengan benar dalam hati yang dibuktikan dengan amalan, juga karena bertakwa pada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan, maka berkah dari langit dan dari dalam bumi akan dibuka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 305)   Demikian tiga hal yang menjadi keunggulan Saudi Arabia yang menjadikan mereka lebih makmur. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Setelah kita lihat tadi kenapa Saudi Arabia bisa begitu makmur, yaitu karena mereka sadar akan tauhid dan menjauhi syirik, mereka memperhatikan shalat, juga mereka menindak tegas kriminal dan kejahatan. Ada lagi alasan kenapa sampai Saudi Arabia terlihat lebih maju selain tiga hal tadi yang disebutkan, yaitu:   4- Saudi Arabia berusaha kembali pada Islam yang murni (pemahaman salaf) Karena kembali pada Islam yang murni seperti yang dibawa oleh Rasul dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum itulah yang membuat kita selamat dari kesesatan. إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ اِعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim). Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dalam ayat, Allah Ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya, فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا “Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 137) Jadi tidaklah cukup dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadits saja, namun hendaklah ditambahkan berpegang pula dengan pemahaman para sahabat (para salaf) radhiyallahu ‘anhum. Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang beriman dan bertakwa, diberi limpahan rezeki dan berkah, dikaruniakan kemakmuran; moga kita diangkat dari kemiskinan dan berbagai musibah, serta istiqamah di atas Islam. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ —   Naskah Khutbah Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 4 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (3 Maret 2017) Silakan download naskah Khutbah Jumat: Cara Bisa Makmur Seperti Negerinya Raja Salman — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, Jumat pagi, 24 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (03-03-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmakmur negeri tauhid saudi arabia syirik tauhid


Kita akui bahwa negerinya Raja Salman (Saudi Arabia) bisa lebih makmur dari kita padahal di sana negeri padang pasir dan tandus. Kenapa bisa? Baca naskah Khutbah Jumat berikut.   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan kita berbagai karunia. Karunia terbesar yang Allah berikan adalah karunia Iman dan Islam. Moga kita semakin bersyukur atas nikmat tersebut dan kita bisa buktikan dengan semakin meningkatkan ketakwaan kita pada Allah Ta’ala. Perintah dalam ayat tentang takwa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Ummahatul Mukmin, kepada para sahabat tercinta, kepada khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah … Mau tahu bagaimanakah makmurnya negeri padang pasir seperti Kerajaan Saudi Arabia? Padahal negara Saudi Arabia tidak sehijau negeri kita. Air di daratan sana tidak sebanyak di negeri kita. Namun mereka terlihat lebih makmur dan lebih maju. Kenapa? Ini keadaan Saudi Arabia dengan berbagai kemakmurannya: BBM jenis oktan 91 hanya dihargai 0,75 riyal. Sedangkan BBM jenis oktan 95 hanya seharga 0,90 riyal. Di negeri kita Pertamax yang angka oktannya 92, dijual Rp.8.050 dan Pertalite yang angka oktannya 90, dijual Rp.7.350,-. Bensin Saudi dengan angkat oktan terbaik (95) bisa diperoleh dengan harga Rp.3.600,- dengan kurs Rp.4000,- per riyal. Harga segitu di sana sudah mendapatkan satu aqua botol sedang seharga 1 riyal. Jadi harga bensin kelas tinggi hampir sama dengan aqua botol sedang. Sekolah hingga kuliah di Saudi Arabia gratis dan dapat tunjangan hidup dan dapat asrama. Parahnya berlaku juga untuk warga asing seperti kita yang ingin sekolah di sana dari Indonesia. Pengangguran di Arab Saudi menerima tunjangan sebesar 2,000 Riyal (± Rp.8 Juta) perbulan. Sedangkan mahasiswa di seluruh Universitas Negeri mendapat uang saku bulanan sekitar 900 Riyal (± Rp.3,6 juta), asrama gratis dan tanpa dipungut biaya kuliah sama sekali. Minimal gaji bersih yang harus diterima oleh Saudi sebesar 2500 riyal (± Rp.10 Juta) per bulan untuk posisi (terendah) sebagai pegawai junior semisal sopir atau petugas keamanan. Arab Saudi adalah produsen terbesar di dunia dan eksportir minyak, dan memiliki seperempat dari cadangan minyak dunia yang dikenal – lebih dari 260 miliar barel. Sebagian besar berada di Provinsi Timur, termasuk bidang onshore terbesar di Ghawar dan bidang lepas pantai terbesar di Safaniya di Teluk Arab. Kilang Arab Saudi memproduksi sekitar 8 juta barel minyak per hari, dan ada rencana untuk meningkatkan produksi menjadi sekitar 12 juta barel per hari. Jalanan di Arab Saudi adalah jalan tol semua dan gratis semua. Tidak ada pajak untuk warga negara Saudi. Sehingga harga mobil pun bisa lebih murah dari negeri produsennya. Contoh mobil innova diproduksi di Indonesia dan dibawa ke Saudi Arabia dengan harga 60.000 riyal (± Rp.240 Juta). Sedangkan di Indonesia, mobil tersebut dijual dengan harga di atas 300-an juta rupiah.   Apa yang menyebabkan Saudi Arabia terlihat begitu maju dan makmur: 1- Negara tersebut memegang teguh TAUHID Ini dibuktikan lewat dakwah Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab sejak abad ke-18. Yang dahulu bekerja sama dengan Muhammad bin Saud. Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud membentuk kesepakatan untuk mendedikasikan diri mereka untuk memulihkan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim. Dalam semangat itu, bin Saud mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan  bimbingan spiritual Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah tauhid inilah yang menjadi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah para Rasul. Dalam ayat disebutkan, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Makanya di Saudi Arabia, tidak terlihat warganya doyan memakai jimat, susuk dan pelet; warganya juga sangat tidak suka dengan dunia perdukunan; juga di Saudi Arabia benar-benar kubur orang shalih tidak diperlakukan secara berlebihan (ghuluw atau ekstrim).   2- Rakyatnya memperhatikan shalat Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan shalat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu shalat wajib. Orang yang menjaga shalat jamaah dan rajin menunggu shalat, pantas mendapatkan rahmat Allah. Itulah di antara buah dari menjaga shalat. Para malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat, اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ “Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649) Kata Umar bin Khattab, orang yang memperhatikan shalat tentu urusan lainnya akan lebih dimudahkan lagi. Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim, hlm. 12)   3- Kriminalitas relatif rendah dan ditindak tegas Tingkat kriminalitas di Arab Saudi relatif rendah dibandingkan kebanyakan negara di dunia, namun setiap tindak kriminalitas akan ditanggapi secara serius. Tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba terancam hukuman mati dibawah hukum syariat Islam yang ketat yang diberlakukan otoritas Saudi. Karena takut pada Allah dan menjalankan hukum Islam, akhirya buahnya adalah berkah dari langit dan bumi, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96) Lihatlah karena mau beriman dengan benar dalam hati yang dibuktikan dengan amalan, juga karena bertakwa pada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan, maka berkah dari langit dan dari dalam bumi akan dibuka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 305)   Demikian tiga hal yang menjadi keunggulan Saudi Arabia yang menjadikan mereka lebih makmur. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua  الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Setelah kita lihat tadi kenapa Saudi Arabia bisa begitu makmur, yaitu karena mereka sadar akan tauhid dan menjauhi syirik, mereka memperhatikan shalat, juga mereka menindak tegas kriminal dan kejahatan. Ada lagi alasan kenapa sampai Saudi Arabia terlihat lebih maju selain tiga hal tadi yang disebutkan, yaitu:   4- Saudi Arabia berusaha kembali pada Islam yang murni (pemahaman salaf) Karena kembali pada Islam yang murni seperti yang dibawa oleh Rasul dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum itulah yang membuat kita selamat dari kesesatan. إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ اِعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ “Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim). Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dalam ayat, Allah Ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya, فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا “Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 137) Jadi tidaklah cukup dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadits saja, namun hendaklah ditambahkan berpegang pula dengan pemahaman para sahabat (para salaf) radhiyallahu ‘anhum. Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini. Semoga Indonesia menjadi negeri yang beriman dan bertakwa, diberi limpahan rezeki dan berkah, dikaruniakan kemakmuran; moga kita diangkat dari kemiskinan dan berbagai musibah, serta istiqamah di atas Islam. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ —   Naskah Khutbah Masjid Jenderal Sudirman Panggang, Jum’at Pahing, 4 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (3 Maret 2017) Silakan download naskah Khutbah Jumat: Cara Bisa Makmur Seperti Negerinya Raja Salman — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, Jumat pagi, 24 Jumadats Tsaniyyah 1438 H (03-03-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmakmur negeri tauhid saudi arabia syirik tauhid

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Februari 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Februari 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Februari 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) Jumlah (Valas) 1 Buletin Jumat At-Tauhid 3.676.111   2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari 200.000   3 Kampus Tahfizh 475.000   4 Mahad Ilmi 3.860.000   5 Mahad Umar Bin Khattab 2.100.000   6 Pendidikan 100.000   7 Peduli Muslim (Suriah) 1.000.000   8 SDIT Yaa Bunayya 13.525.000   9 SMS Tausiyah 50.000   10 Umum 3.280.000   11 Website 850.000 USD 10 12 Wisma Muslim 300.000   13 Donasi Pulsa 1.180.000   LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Februari 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017

Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Februari 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Februari 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Februari 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) Jumlah (Valas) 1 Buletin Jumat At-Tauhid 3.676.111   2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari 200.000   3 Kampus Tahfizh 475.000   4 Mahad Ilmi 3.860.000   5 Mahad Umar Bin Khattab 2.100.000   6 Pendidikan 100.000   7 Peduli Muslim (Suriah) 1.000.000   8 SDIT Yaa Bunayya 13.525.000   9 SMS Tausiyah 50.000   10 Umum 3.280.000   11 Website 850.000 USD 10 12 Wisma Muslim 300.000   13 Donasi Pulsa 1.180.000   LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Februari 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah
Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Februari 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Februari 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Februari 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) Jumlah (Valas) 1 Buletin Jumat At-Tauhid 3.676.111   2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari 200.000   3 Kampus Tahfizh 475.000   4 Mahad Ilmi 3.860.000   5 Mahad Umar Bin Khattab 2.100.000   6 Pendidikan 100.000   7 Peduli Muslim (Suriah) 1.000.000   8 SDIT Yaa Bunayya 13.525.000   9 SMS Tausiyah 50.000   10 Umum 3.280.000   11 Website 850.000 USD 10 12 Wisma Muslim 300.000   13 Donasi Pulsa 1.180.000   LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Februari 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah


Laporan Donasi YPIA Periode Bulan Februari 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Februari 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Februari 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Februari 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) Jumlah (Valas) 1 Buletin Jumat At-Tauhid 3.676.111   2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari 200.000   3 Kampus Tahfizh 475.000   4 Mahad Ilmi 3.860.000   5 Mahad Umar Bin Khattab 2.100.000   6 Pendidikan 100.000   7 Peduli Muslim (Suriah) 1.000.000   8 SDIT Yaa Bunayya 13.525.000   9 SMS Tausiyah 50.000   10 Umum 3.280.000   11 Website 850.000 USD 10 12 Wisma Muslim 300.000   13 Donasi Pulsa 1.180.000   LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Februari 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah

Menarik Hati Manusia Dengan Harta Untuk Agama

Ajaran Islam yang Indah dan sempurna memahami psikologi manusia. Ada beberapa cara menarik hati (ta’liful qulub)manusia untuk kembali ke agama, bisa dengan akhlak yang mulia, bisa dengan penjelasan yang indah akan Islam dan sebagainya. Salah satu cara menarik hati (ta’liful qulub) manusia untuk mendekat kepada agama adalah dengan harta, ini juga bisa menunjukkan tingginya kemuliaan dan kehormatan agama Islam, karena memang sifat dasar manusia adalah sangat cinta dengan harta.Allah Ta’ala Berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).Salah satu yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau membagi harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar Quraisy yang baru saja masuk Islam dalam rangka menarik hati mereka. Sampai-sampai Kaum Anshar yang ikut berperang saat itu merasa sedih dan merasa “menjadi anak tiri”. Tetapi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan kebijakkannya menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini kepada kaum Anshar.Beliau membagikan harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar-pembesar Quraisy yang baru masuk Islam. Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiallahu ‘anhu menceritakan,قَسَمَ فِي النَّاسِ فِي الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ الْأَنْصَارَ شَيْئًا فَكَأَنَّهُمْ وَجَدُوا إِذْ لَمْ يُصِبْهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-baginya untuk orang-orang yang mu’allaf dan tidak memberikan kaum Anshar sedikitpun.” (HR. Bukhari).Nabi pun menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini adalah demi agama, bukan maksud beliau untuk menjadikan kaum Anshar sebagai “anak tiri” atau karena beliau telah menemukan kembali kaum dan keluarganya di kalangan orang Quraisy. Kaum Anshar kemudian sadar dengan penjelasan beliau. Jika saja kaum Quraisy membawa harta, tetapi kaum Anshar pulang ke Madinah membawa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu anhu menceritakan,قَالَ فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا رَضِينَا بِرَسُولِ اللَّهِ قِسْمًا وَحَظًّا ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفَرَّقْنَا“Lalu kaum Anshar menangis hingga membasahi jenggot-jenggot mereka dan mereka berkata, ‘Kami telah ridha dengan pembagian dan bagian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu dan kamipun berpisah.” (HR Ahmad no. 11305)Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika mengomentari hadits ini, beliau menjelaskan bahwa maksud perbuatan ini adalah untuk menarik hari orang Quraisy yang baru masuk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Beliau berkata,والمراد بالمؤلفة ناس من قريش أسلموا يوم الفتح إسلاما ضعيفا“Maksud dari “muallafah” yaitu manusia dari orang Quraisy yang masuk Islam pada hari Fathul Mekkah yang keIslamannya masih lemah” (Fathul Bari 12/139, Syamilah).Sehingga boleh melakukan ta’liful qulub dengan mengunakan harta, jika memang ini bisa mengangkat kemuliaan agama Islam dan melunakkan hati manusia. Bahkan termasuk dalam orang yang berhak mendapatkan sedekah adalah mereka yang dilunakkan hatinya (muallaf).Allah berfirman,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 60).Demikian semoga bermanfaat.***@Markaz YPIA, Yogyakarta tercintaPenyususn: dr. Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Amar Ma Ruf Nahi Munkar, Hadist Tentang Berbohong, Bukti Kesesatan Wahdah Islamiyah, Quran Al Hadi, Surah Penerang Kubur

Menarik Hati Manusia Dengan Harta Untuk Agama

Ajaran Islam yang Indah dan sempurna memahami psikologi manusia. Ada beberapa cara menarik hati (ta’liful qulub)manusia untuk kembali ke agama, bisa dengan akhlak yang mulia, bisa dengan penjelasan yang indah akan Islam dan sebagainya. Salah satu cara menarik hati (ta’liful qulub) manusia untuk mendekat kepada agama adalah dengan harta, ini juga bisa menunjukkan tingginya kemuliaan dan kehormatan agama Islam, karena memang sifat dasar manusia adalah sangat cinta dengan harta.Allah Ta’ala Berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).Salah satu yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau membagi harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar Quraisy yang baru saja masuk Islam dalam rangka menarik hati mereka. Sampai-sampai Kaum Anshar yang ikut berperang saat itu merasa sedih dan merasa “menjadi anak tiri”. Tetapi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan kebijakkannya menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini kepada kaum Anshar.Beliau membagikan harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar-pembesar Quraisy yang baru masuk Islam. Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiallahu ‘anhu menceritakan,قَسَمَ فِي النَّاسِ فِي الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ الْأَنْصَارَ شَيْئًا فَكَأَنَّهُمْ وَجَدُوا إِذْ لَمْ يُصِبْهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-baginya untuk orang-orang yang mu’allaf dan tidak memberikan kaum Anshar sedikitpun.” (HR. Bukhari).Nabi pun menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini adalah demi agama, bukan maksud beliau untuk menjadikan kaum Anshar sebagai “anak tiri” atau karena beliau telah menemukan kembali kaum dan keluarganya di kalangan orang Quraisy. Kaum Anshar kemudian sadar dengan penjelasan beliau. Jika saja kaum Quraisy membawa harta, tetapi kaum Anshar pulang ke Madinah membawa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu anhu menceritakan,قَالَ فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا رَضِينَا بِرَسُولِ اللَّهِ قِسْمًا وَحَظًّا ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفَرَّقْنَا“Lalu kaum Anshar menangis hingga membasahi jenggot-jenggot mereka dan mereka berkata, ‘Kami telah ridha dengan pembagian dan bagian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu dan kamipun berpisah.” (HR Ahmad no. 11305)Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika mengomentari hadits ini, beliau menjelaskan bahwa maksud perbuatan ini adalah untuk menarik hari orang Quraisy yang baru masuk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Beliau berkata,والمراد بالمؤلفة ناس من قريش أسلموا يوم الفتح إسلاما ضعيفا“Maksud dari “muallafah” yaitu manusia dari orang Quraisy yang masuk Islam pada hari Fathul Mekkah yang keIslamannya masih lemah” (Fathul Bari 12/139, Syamilah).Sehingga boleh melakukan ta’liful qulub dengan mengunakan harta, jika memang ini bisa mengangkat kemuliaan agama Islam dan melunakkan hati manusia. Bahkan termasuk dalam orang yang berhak mendapatkan sedekah adalah mereka yang dilunakkan hatinya (muallaf).Allah berfirman,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 60).Demikian semoga bermanfaat.***@Markaz YPIA, Yogyakarta tercintaPenyususn: dr. Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Amar Ma Ruf Nahi Munkar, Hadist Tentang Berbohong, Bukti Kesesatan Wahdah Islamiyah, Quran Al Hadi, Surah Penerang Kubur
Ajaran Islam yang Indah dan sempurna memahami psikologi manusia. Ada beberapa cara menarik hati (ta’liful qulub)manusia untuk kembali ke agama, bisa dengan akhlak yang mulia, bisa dengan penjelasan yang indah akan Islam dan sebagainya. Salah satu cara menarik hati (ta’liful qulub) manusia untuk mendekat kepada agama adalah dengan harta, ini juga bisa menunjukkan tingginya kemuliaan dan kehormatan agama Islam, karena memang sifat dasar manusia adalah sangat cinta dengan harta.Allah Ta’ala Berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).Salah satu yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau membagi harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar Quraisy yang baru saja masuk Islam dalam rangka menarik hati mereka. Sampai-sampai Kaum Anshar yang ikut berperang saat itu merasa sedih dan merasa “menjadi anak tiri”. Tetapi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan kebijakkannya menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini kepada kaum Anshar.Beliau membagikan harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar-pembesar Quraisy yang baru masuk Islam. Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiallahu ‘anhu menceritakan,قَسَمَ فِي النَّاسِ فِي الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ الْأَنْصَارَ شَيْئًا فَكَأَنَّهُمْ وَجَدُوا إِذْ لَمْ يُصِبْهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-baginya untuk orang-orang yang mu’allaf dan tidak memberikan kaum Anshar sedikitpun.” (HR. Bukhari).Nabi pun menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini adalah demi agama, bukan maksud beliau untuk menjadikan kaum Anshar sebagai “anak tiri” atau karena beliau telah menemukan kembali kaum dan keluarganya di kalangan orang Quraisy. Kaum Anshar kemudian sadar dengan penjelasan beliau. Jika saja kaum Quraisy membawa harta, tetapi kaum Anshar pulang ke Madinah membawa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu anhu menceritakan,قَالَ فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا رَضِينَا بِرَسُولِ اللَّهِ قِسْمًا وَحَظًّا ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفَرَّقْنَا“Lalu kaum Anshar menangis hingga membasahi jenggot-jenggot mereka dan mereka berkata, ‘Kami telah ridha dengan pembagian dan bagian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu dan kamipun berpisah.” (HR Ahmad no. 11305)Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika mengomentari hadits ini, beliau menjelaskan bahwa maksud perbuatan ini adalah untuk menarik hari orang Quraisy yang baru masuk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Beliau berkata,والمراد بالمؤلفة ناس من قريش أسلموا يوم الفتح إسلاما ضعيفا“Maksud dari “muallafah” yaitu manusia dari orang Quraisy yang masuk Islam pada hari Fathul Mekkah yang keIslamannya masih lemah” (Fathul Bari 12/139, Syamilah).Sehingga boleh melakukan ta’liful qulub dengan mengunakan harta, jika memang ini bisa mengangkat kemuliaan agama Islam dan melunakkan hati manusia. Bahkan termasuk dalam orang yang berhak mendapatkan sedekah adalah mereka yang dilunakkan hatinya (muallaf).Allah berfirman,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 60).Demikian semoga bermanfaat.***@Markaz YPIA, Yogyakarta tercintaPenyususn: dr. Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Amar Ma Ruf Nahi Munkar, Hadist Tentang Berbohong, Bukti Kesesatan Wahdah Islamiyah, Quran Al Hadi, Surah Penerang Kubur


Ajaran Islam yang Indah dan sempurna memahami psikologi manusia. Ada beberapa cara menarik hati (ta’liful qulub)manusia untuk kembali ke agama, bisa dengan akhlak yang mulia, bisa dengan penjelasan yang indah akan Islam dan sebagainya. Salah satu cara menarik hati (ta’liful qulub) manusia untuk mendekat kepada agama adalah dengan harta, ini juga bisa menunjukkan tingginya kemuliaan dan kehormatan agama Islam, karena memang sifat dasar manusia adalah sangat cinta dengan harta.Allah Ta’ala Berfirman,وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).Salah satu yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau membagi harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar Quraisy yang baru saja masuk Islam dalam rangka menarik hati mereka. Sampai-sampai Kaum Anshar yang ikut berperang saat itu merasa sedih dan merasa “menjadi anak tiri”. Tetapi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan kebijakkannya menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini kepada kaum Anshar.Beliau membagikan harta rampasan yang sangat banyak kepada pembesar-pembesar Quraisy yang baru masuk Islam. Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiallahu ‘anhu menceritakan,قَسَمَ فِي النَّاسِ فِي الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ الْأَنْصَارَ شَيْئًا فَكَأَنَّهُمْ وَجَدُوا إِذْ لَمْ يُصِبْهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-baginya untuk orang-orang yang mu’allaf dan tidak memberikan kaum Anshar sedikitpun.” (HR. Bukhari).Nabi pun menjelaskan hikmah ta’liful qulub ini adalah demi agama, bukan maksud beliau untuk menjadikan kaum Anshar sebagai “anak tiri” atau karena beliau telah menemukan kembali kaum dan keluarganya di kalangan orang Quraisy. Kaum Anshar kemudian sadar dengan penjelasan beliau. Jika saja kaum Quraisy membawa harta, tetapi kaum Anshar pulang ke Madinah membawa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu anhu menceritakan,قَالَ فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا رَضِينَا بِرَسُولِ اللَّهِ قِسْمًا وَحَظًّا ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَفَرَّقْنَا“Lalu kaum Anshar menangis hingga membasahi jenggot-jenggot mereka dan mereka berkata, ‘Kami telah ridha dengan pembagian dan bagian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlalu dan kamipun berpisah.” (HR Ahmad no. 11305)Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika mengomentari hadits ini, beliau menjelaskan bahwa maksud perbuatan ini adalah untuk menarik hari orang Quraisy yang baru masuk Islam dan belum terlalu kuat keimanannya. Beliau berkata,والمراد بالمؤلفة ناس من قريش أسلموا يوم الفتح إسلاما ضعيفا“Maksud dari “muallafah” yaitu manusia dari orang Quraisy yang masuk Islam pada hari Fathul Mekkah yang keIslamannya masih lemah” (Fathul Bari 12/139, Syamilah).Sehingga boleh melakukan ta’liful qulub dengan mengunakan harta, jika memang ini bisa mengangkat kemuliaan agama Islam dan melunakkan hati manusia. Bahkan termasuk dalam orang yang berhak mendapatkan sedekah adalah mereka yang dilunakkan hatinya (muallaf).Allah berfirman,إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 60).Demikian semoga bermanfaat.***@Markaz YPIA, Yogyakarta tercintaPenyususn: dr. Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Amar Ma Ruf Nahi Munkar, Hadist Tentang Berbohong, Bukti Kesesatan Wahdah Islamiyah, Quran Al Hadi, Surah Penerang Kubur

Khotbah Jumat: Ujian Membawa Berkah

01MarKhotbah Jumat: Ujian Membawa BerkahMarch 1, 2017Khotbah Jumat Khutbah Pertama: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah.. Harga sebutir buah kelapa dengan harga sebotol minyak kelapa tentu tidak sama. Jauh lebih mahal berlipat-lipat harga sebotol minyak kelapa. Mengapa harganya bisa berbeda jauh, padahal keduanya berasal dari bahan yang sama? Mengapa buah kelapa yang asalnya murah, bisa berubah menjadi mahal, manakala telah menjadi minyak kelapa? Jawabannya: adalah karena supaya berubah menjadi minyak, buah kelapa harus melewati proses panjang yang tidak ringan. Menghadapi ujian-ujian yang berat. Ujian yang berat, akan membuat sesuatu menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Proses panjang itu diawali dengan dijatuhkannya buah kelapa yang telah berumur tua dari puncak pohonnya yang amat tinggi. Begitu membentur tanah, bukannya dielus-elus, justru sabutnya dijambak dan disobek-sobek hingga gundul habis. Saat sudah gundul, kelapa tadi dibenturkan ke batu agar pecah. Lalu buahnya dicungkili dari batok kelapa. Ujian masih berlanjut. Potongan-potongan buah kelapa tadi diparut di parutan besi yang tajam, hingga rontok berguguran dan berubah menjadi serbuk. Setelah serbuk kelapa menumpuk, ia diperas supaya keluar santannya. Kemudian santan kental itu dipanaskan di atas tungku api hingga mendidih. Baru saat itulah keluar minyak kelapa, dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal dibanding kelapa tua yang belum diapa-apakan. Jama’ah Jum’at yang kami hormati… Begitulah ujian hidup, akan membuat seseorang dan umat menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Allah ta’ala mengingatkan, “أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“ Artinya: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan). Hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau bertanya, “Kapankah datang pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. QS. Al-Baqarah (2): 214. Kedudukan mulia di surga Allah bukanlah sesuatu yang dibagikan secara cuma-cuma. Namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, serta harus melewati ujian dan cobaan. Sidang Jum’at rahimakumullah… Ketahuilah bahwa peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan kehendak dan takdir Allah. Entah itu peristiwa yang indah dan menggembirakan ataupun yang menyedihkan. Peristiwa yang mengenakkan maupun yang menyakitkan. Allah ta’ala menjelaskan, “مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“ Artinya: “Setiap bencana yang terjadi di bumi dan yang menimpa diri kalian, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. QS. Al-Hadid (57): 22. Allah timpakan berbagai ujian itu, tentu bukan tanpa ada maksud dan tujuan. Pasti banyak hikmah di balik itu semua. Hanya saja ada yang yang memahaminya dan ada pula yang tidak memahaminya. Ujian yang silih berganti menimpa agama Islam dan kaum muslimin, itu semua tentu dengan kehendak dan takdir Allah. Penistaan terhadap al-Qur’an, pelecehan terhadap para ulama dan tekanan terhadap umat Islam, ini semua telah tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, “كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“ “Allah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia… Menurut hemat kami, sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai cobaan itu adalah dengan introspeksi diri, merapatkan barisan ummat dan tidak terpancing untuk melanggar garis merah aturan agama. Pertama: Introspeksi Diri Salah satu hikmah ujian dan cobaan adalah agar seorang hamba tersadar lalu melakukan introspeksi diri. Mengoreksi perilaku diri yang mungkin selama ini masih jauh dari tuntunan agama. Atau terlalu lama terlena dalam gemerlap kehidupan dunia. Tidur panjang umat Islam perlu untuk segera diakhiri. Mereka harus segera bangkit dan menyadari kelalaian yang telah begitu lama membuai mereka. Sejak empat belas abad lalu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا“. فَقَالَ قَائِلٌ: “وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟” قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ…”. “Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan”… HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memberikan solusi untuk mengakhiri keterpurukan tersebut, “…سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ“. “… Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. HR. Abu Dawud dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani dan al-Albani. Jadi solusinya adalah kembali terhadap aturan agama dalam setiap aspek kehidupan. Akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Kedua: Rapatkan Barisan Umat Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu nasehat kehidupan yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dulu. Yang juga merupakan warisan turun menurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu: perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna. Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi tadi akan patah-patah, bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu, lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan berubah menjadi kekuatan yang besar. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah inti petuahnya. Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim dan muslimah yang terikat oleh kesamaan akidah. Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabda beliau, “كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”. “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan besar. Persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin. Persatuan akan memunculkan solidaritas. Persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial. Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji. Mengapa semua itu dilakukan secara berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan, meretas kebersamaan dan menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Khutbah Kedua الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد؛ Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Ketiga: Jangan Terpancing Melanggar Aturan Agama Semangat juang yang tinggi sangat diperlukan dalam segala situasi, terlebih dalam kondisi seperti ini. Namun, kita harus benar-benar mengingat, bahwa semangat yang membara harus siap untuk dipandu dan dikendalikan aturan agama. Fenomena munculnya penguasa yang tidak ramah terhadap umat Islam, sudah dikabarkan jauh-jauh hari oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ“. قَالَ قُلْتُ: “كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟”. قَالَ: “تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“. “Nanti sepeninggalku akan ada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula menjalankan tuntunanku. Akan ada di antara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, walaupun jasadnya adalah jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menjumpai zaman itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan taati pemimpinmu, walaupun engkau disiksa dan hartamu dirampas. Tetaplah dengar dan taati mereka.” HR. Muslim. Sabar bukan bermakna sikap apatis dan diam duduk berpangku tangan. Namun sabar berarti tetap patuh selain dalam maksiat. Sabar berarti selalu menyampaikan nasehat dengan cara yang syar’i. Sabar berarti tidak terprovokasi untuk berkudeta atau melakukan revolusi berdarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“، قِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟“ فَقَالَ: “لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita angkat senjata untuk memerangi mereka?”. Rasul menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, dan jangan lepas tangan dari ketaatan kepadanya”. HR. Muslim. Banyak orang mengira bahwa larangan untuk kudeta itu, semata-mata hanya untuk kepentingan penguasa saja. Tentunya ini adalah anggapan yang keliru. Sebenarnya yang pertama kali akan merasakan manfaat dari larangan berontak adalah rakyat sendiri. Betapa banyak kekacauan dan huru-hara yang ditimbulkan akibat kudeta. Belum lagi jatuhnya ribuan korban jiwa yang tidak berdosa. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, situasi chaos yang pernah dialami tanah air kita, saat awal reformasi, beberapa belas tahun silam. Saat itu rakyat hidup dalam ketakutan yang mencekam, situasi ekonomi, sosial dan politik yang tidak menentu. Serta masih banyak kerugian lain yang kita alami saat itu. Jadi sebenarnya Islam melarang kudeta serampangan adalah demi kebaikan rakyat, pemerintah dan negeri secara keseluruhan. Bukan untuk kepentingan segelintir pihak tertentu saja. Barangkali bisa dikatakan bahwa tujuan larangan ini antara lain, dalam rangka menjaga negeri tercinta ini, agar tetap gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (makmur, serba banyak, subur, tertata, tentram, bahagia dan sejahtera). أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب اللهم أصلح ولاة أمورنا وارزقهم البطانة الصالحة الناصحة التي تدلهم عل الخير وتعينهم عليه يا رب العالمين اللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، وفي كل مكان اللهم اشدد وطأتك على كفار بورما الظالمين، وعلى جيوش بشار المجرمين ومن حالفهم من الروس والصين وإيران واليهود الظالمين، يا عزيز يا جبار اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Khotbah Jumat: Ujian Membawa Berkah

01MarKhotbah Jumat: Ujian Membawa BerkahMarch 1, 2017Khotbah Jumat Khutbah Pertama: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah.. Harga sebutir buah kelapa dengan harga sebotol minyak kelapa tentu tidak sama. Jauh lebih mahal berlipat-lipat harga sebotol minyak kelapa. Mengapa harganya bisa berbeda jauh, padahal keduanya berasal dari bahan yang sama? Mengapa buah kelapa yang asalnya murah, bisa berubah menjadi mahal, manakala telah menjadi minyak kelapa? Jawabannya: adalah karena supaya berubah menjadi minyak, buah kelapa harus melewati proses panjang yang tidak ringan. Menghadapi ujian-ujian yang berat. Ujian yang berat, akan membuat sesuatu menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Proses panjang itu diawali dengan dijatuhkannya buah kelapa yang telah berumur tua dari puncak pohonnya yang amat tinggi. Begitu membentur tanah, bukannya dielus-elus, justru sabutnya dijambak dan disobek-sobek hingga gundul habis. Saat sudah gundul, kelapa tadi dibenturkan ke batu agar pecah. Lalu buahnya dicungkili dari batok kelapa. Ujian masih berlanjut. Potongan-potongan buah kelapa tadi diparut di parutan besi yang tajam, hingga rontok berguguran dan berubah menjadi serbuk. Setelah serbuk kelapa menumpuk, ia diperas supaya keluar santannya. Kemudian santan kental itu dipanaskan di atas tungku api hingga mendidih. Baru saat itulah keluar minyak kelapa, dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal dibanding kelapa tua yang belum diapa-apakan. Jama’ah Jum’at yang kami hormati… Begitulah ujian hidup, akan membuat seseorang dan umat menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Allah ta’ala mengingatkan, “أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“ Artinya: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan). Hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau bertanya, “Kapankah datang pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. QS. Al-Baqarah (2): 214. Kedudukan mulia di surga Allah bukanlah sesuatu yang dibagikan secara cuma-cuma. Namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, serta harus melewati ujian dan cobaan. Sidang Jum’at rahimakumullah… Ketahuilah bahwa peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan kehendak dan takdir Allah. Entah itu peristiwa yang indah dan menggembirakan ataupun yang menyedihkan. Peristiwa yang mengenakkan maupun yang menyakitkan. Allah ta’ala menjelaskan, “مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“ Artinya: “Setiap bencana yang terjadi di bumi dan yang menimpa diri kalian, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. QS. Al-Hadid (57): 22. Allah timpakan berbagai ujian itu, tentu bukan tanpa ada maksud dan tujuan. Pasti banyak hikmah di balik itu semua. Hanya saja ada yang yang memahaminya dan ada pula yang tidak memahaminya. Ujian yang silih berganti menimpa agama Islam dan kaum muslimin, itu semua tentu dengan kehendak dan takdir Allah. Penistaan terhadap al-Qur’an, pelecehan terhadap para ulama dan tekanan terhadap umat Islam, ini semua telah tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, “كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“ “Allah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia… Menurut hemat kami, sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai cobaan itu adalah dengan introspeksi diri, merapatkan barisan ummat dan tidak terpancing untuk melanggar garis merah aturan agama. Pertama: Introspeksi Diri Salah satu hikmah ujian dan cobaan adalah agar seorang hamba tersadar lalu melakukan introspeksi diri. Mengoreksi perilaku diri yang mungkin selama ini masih jauh dari tuntunan agama. Atau terlalu lama terlena dalam gemerlap kehidupan dunia. Tidur panjang umat Islam perlu untuk segera diakhiri. Mereka harus segera bangkit dan menyadari kelalaian yang telah begitu lama membuai mereka. Sejak empat belas abad lalu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا“. فَقَالَ قَائِلٌ: “وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟” قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ…”. “Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan”… HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memberikan solusi untuk mengakhiri keterpurukan tersebut, “…سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ“. “… Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. HR. Abu Dawud dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani dan al-Albani. Jadi solusinya adalah kembali terhadap aturan agama dalam setiap aspek kehidupan. Akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Kedua: Rapatkan Barisan Umat Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu nasehat kehidupan yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dulu. Yang juga merupakan warisan turun menurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu: perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna. Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi tadi akan patah-patah, bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu, lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan berubah menjadi kekuatan yang besar. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah inti petuahnya. Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim dan muslimah yang terikat oleh kesamaan akidah. Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabda beliau, “كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”. “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan besar. Persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin. Persatuan akan memunculkan solidaritas. Persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial. Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji. Mengapa semua itu dilakukan secara berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan, meretas kebersamaan dan menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Khutbah Kedua الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد؛ Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Ketiga: Jangan Terpancing Melanggar Aturan Agama Semangat juang yang tinggi sangat diperlukan dalam segala situasi, terlebih dalam kondisi seperti ini. Namun, kita harus benar-benar mengingat, bahwa semangat yang membara harus siap untuk dipandu dan dikendalikan aturan agama. Fenomena munculnya penguasa yang tidak ramah terhadap umat Islam, sudah dikabarkan jauh-jauh hari oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ“. قَالَ قُلْتُ: “كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟”. قَالَ: “تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“. “Nanti sepeninggalku akan ada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula menjalankan tuntunanku. Akan ada di antara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, walaupun jasadnya adalah jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menjumpai zaman itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan taati pemimpinmu, walaupun engkau disiksa dan hartamu dirampas. Tetaplah dengar dan taati mereka.” HR. Muslim. Sabar bukan bermakna sikap apatis dan diam duduk berpangku tangan. Namun sabar berarti tetap patuh selain dalam maksiat. Sabar berarti selalu menyampaikan nasehat dengan cara yang syar’i. Sabar berarti tidak terprovokasi untuk berkudeta atau melakukan revolusi berdarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“، قِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟“ فَقَالَ: “لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita angkat senjata untuk memerangi mereka?”. Rasul menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, dan jangan lepas tangan dari ketaatan kepadanya”. HR. Muslim. Banyak orang mengira bahwa larangan untuk kudeta itu, semata-mata hanya untuk kepentingan penguasa saja. Tentunya ini adalah anggapan yang keliru. Sebenarnya yang pertama kali akan merasakan manfaat dari larangan berontak adalah rakyat sendiri. Betapa banyak kekacauan dan huru-hara yang ditimbulkan akibat kudeta. Belum lagi jatuhnya ribuan korban jiwa yang tidak berdosa. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, situasi chaos yang pernah dialami tanah air kita, saat awal reformasi, beberapa belas tahun silam. Saat itu rakyat hidup dalam ketakutan yang mencekam, situasi ekonomi, sosial dan politik yang tidak menentu. Serta masih banyak kerugian lain yang kita alami saat itu. Jadi sebenarnya Islam melarang kudeta serampangan adalah demi kebaikan rakyat, pemerintah dan negeri secara keseluruhan. Bukan untuk kepentingan segelintir pihak tertentu saja. Barangkali bisa dikatakan bahwa tujuan larangan ini antara lain, dalam rangka menjaga negeri tercinta ini, agar tetap gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (makmur, serba banyak, subur, tertata, tentram, bahagia dan sejahtera). أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب اللهم أصلح ولاة أمورنا وارزقهم البطانة الصالحة الناصحة التي تدلهم عل الخير وتعينهم عليه يا رب العالمين اللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، وفي كل مكان اللهم اشدد وطأتك على كفار بورما الظالمين، وعلى جيوش بشار المجرمين ومن حالفهم من الروس والصين وإيران واليهود الظالمين، يا عزيز يا جبار اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
01MarKhotbah Jumat: Ujian Membawa BerkahMarch 1, 2017Khotbah Jumat Khutbah Pertama: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah.. Harga sebutir buah kelapa dengan harga sebotol minyak kelapa tentu tidak sama. Jauh lebih mahal berlipat-lipat harga sebotol minyak kelapa. Mengapa harganya bisa berbeda jauh, padahal keduanya berasal dari bahan yang sama? Mengapa buah kelapa yang asalnya murah, bisa berubah menjadi mahal, manakala telah menjadi minyak kelapa? Jawabannya: adalah karena supaya berubah menjadi minyak, buah kelapa harus melewati proses panjang yang tidak ringan. Menghadapi ujian-ujian yang berat. Ujian yang berat, akan membuat sesuatu menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Proses panjang itu diawali dengan dijatuhkannya buah kelapa yang telah berumur tua dari puncak pohonnya yang amat tinggi. Begitu membentur tanah, bukannya dielus-elus, justru sabutnya dijambak dan disobek-sobek hingga gundul habis. Saat sudah gundul, kelapa tadi dibenturkan ke batu agar pecah. Lalu buahnya dicungkili dari batok kelapa. Ujian masih berlanjut. Potongan-potongan buah kelapa tadi diparut di parutan besi yang tajam, hingga rontok berguguran dan berubah menjadi serbuk. Setelah serbuk kelapa menumpuk, ia diperas supaya keluar santannya. Kemudian santan kental itu dipanaskan di atas tungku api hingga mendidih. Baru saat itulah keluar minyak kelapa, dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal dibanding kelapa tua yang belum diapa-apakan. Jama’ah Jum’at yang kami hormati… Begitulah ujian hidup, akan membuat seseorang dan umat menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Allah ta’ala mengingatkan, “أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“ Artinya: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan). Hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau bertanya, “Kapankah datang pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. QS. Al-Baqarah (2): 214. Kedudukan mulia di surga Allah bukanlah sesuatu yang dibagikan secara cuma-cuma. Namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, serta harus melewati ujian dan cobaan. Sidang Jum’at rahimakumullah… Ketahuilah bahwa peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan kehendak dan takdir Allah. Entah itu peristiwa yang indah dan menggembirakan ataupun yang menyedihkan. Peristiwa yang mengenakkan maupun yang menyakitkan. Allah ta’ala menjelaskan, “مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“ Artinya: “Setiap bencana yang terjadi di bumi dan yang menimpa diri kalian, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. QS. Al-Hadid (57): 22. Allah timpakan berbagai ujian itu, tentu bukan tanpa ada maksud dan tujuan. Pasti banyak hikmah di balik itu semua. Hanya saja ada yang yang memahaminya dan ada pula yang tidak memahaminya. Ujian yang silih berganti menimpa agama Islam dan kaum muslimin, itu semua tentu dengan kehendak dan takdir Allah. Penistaan terhadap al-Qur’an, pelecehan terhadap para ulama dan tekanan terhadap umat Islam, ini semua telah tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, “كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“ “Allah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia… Menurut hemat kami, sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai cobaan itu adalah dengan introspeksi diri, merapatkan barisan ummat dan tidak terpancing untuk melanggar garis merah aturan agama. Pertama: Introspeksi Diri Salah satu hikmah ujian dan cobaan adalah agar seorang hamba tersadar lalu melakukan introspeksi diri. Mengoreksi perilaku diri yang mungkin selama ini masih jauh dari tuntunan agama. Atau terlalu lama terlena dalam gemerlap kehidupan dunia. Tidur panjang umat Islam perlu untuk segera diakhiri. Mereka harus segera bangkit dan menyadari kelalaian yang telah begitu lama membuai mereka. Sejak empat belas abad lalu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا“. فَقَالَ قَائِلٌ: “وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟” قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ…”. “Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan”… HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memberikan solusi untuk mengakhiri keterpurukan tersebut, “…سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ“. “… Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. HR. Abu Dawud dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani dan al-Albani. Jadi solusinya adalah kembali terhadap aturan agama dalam setiap aspek kehidupan. Akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Kedua: Rapatkan Barisan Umat Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu nasehat kehidupan yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dulu. Yang juga merupakan warisan turun menurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu: perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna. Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi tadi akan patah-patah, bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu, lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan berubah menjadi kekuatan yang besar. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah inti petuahnya. Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim dan muslimah yang terikat oleh kesamaan akidah. Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabda beliau, “كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”. “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan besar. Persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin. Persatuan akan memunculkan solidaritas. Persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial. Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji. Mengapa semua itu dilakukan secara berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan, meretas kebersamaan dan menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Khutbah Kedua الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد؛ Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Ketiga: Jangan Terpancing Melanggar Aturan Agama Semangat juang yang tinggi sangat diperlukan dalam segala situasi, terlebih dalam kondisi seperti ini. Namun, kita harus benar-benar mengingat, bahwa semangat yang membara harus siap untuk dipandu dan dikendalikan aturan agama. Fenomena munculnya penguasa yang tidak ramah terhadap umat Islam, sudah dikabarkan jauh-jauh hari oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ“. قَالَ قُلْتُ: “كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟”. قَالَ: “تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“. “Nanti sepeninggalku akan ada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula menjalankan tuntunanku. Akan ada di antara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, walaupun jasadnya adalah jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menjumpai zaman itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan taati pemimpinmu, walaupun engkau disiksa dan hartamu dirampas. Tetaplah dengar dan taati mereka.” HR. Muslim. Sabar bukan bermakna sikap apatis dan diam duduk berpangku tangan. Namun sabar berarti tetap patuh selain dalam maksiat. Sabar berarti selalu menyampaikan nasehat dengan cara yang syar’i. Sabar berarti tidak terprovokasi untuk berkudeta atau melakukan revolusi berdarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“، قِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟“ فَقَالَ: “لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita angkat senjata untuk memerangi mereka?”. Rasul menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, dan jangan lepas tangan dari ketaatan kepadanya”. HR. Muslim. Banyak orang mengira bahwa larangan untuk kudeta itu, semata-mata hanya untuk kepentingan penguasa saja. Tentunya ini adalah anggapan yang keliru. Sebenarnya yang pertama kali akan merasakan manfaat dari larangan berontak adalah rakyat sendiri. Betapa banyak kekacauan dan huru-hara yang ditimbulkan akibat kudeta. Belum lagi jatuhnya ribuan korban jiwa yang tidak berdosa. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, situasi chaos yang pernah dialami tanah air kita, saat awal reformasi, beberapa belas tahun silam. Saat itu rakyat hidup dalam ketakutan yang mencekam, situasi ekonomi, sosial dan politik yang tidak menentu. Serta masih banyak kerugian lain yang kita alami saat itu. Jadi sebenarnya Islam melarang kudeta serampangan adalah demi kebaikan rakyat, pemerintah dan negeri secara keseluruhan. Bukan untuk kepentingan segelintir pihak tertentu saja. Barangkali bisa dikatakan bahwa tujuan larangan ini antara lain, dalam rangka menjaga negeri tercinta ini, agar tetap gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (makmur, serba banyak, subur, tertata, tentram, bahagia dan sejahtera). أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب اللهم أصلح ولاة أمورنا وارزقهم البطانة الصالحة الناصحة التي تدلهم عل الخير وتعينهم عليه يا رب العالمين اللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، وفي كل مكان اللهم اشدد وطأتك على كفار بورما الظالمين، وعلى جيوش بشار المجرمين ومن حالفهم من الروس والصين وإيران واليهود الظالمين، يا عزيز يا جبار اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


01MarKhotbah Jumat: Ujian Membawa BerkahMarch 1, 2017Khotbah Jumat Khutbah Pertama: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah.. Harga sebutir buah kelapa dengan harga sebotol minyak kelapa tentu tidak sama. Jauh lebih mahal berlipat-lipat harga sebotol minyak kelapa. Mengapa harganya bisa berbeda jauh, padahal keduanya berasal dari bahan yang sama? Mengapa buah kelapa yang asalnya murah, bisa berubah menjadi mahal, manakala telah menjadi minyak kelapa? Jawabannya: adalah karena supaya berubah menjadi minyak, buah kelapa harus melewati proses panjang yang tidak ringan. Menghadapi ujian-ujian yang berat. Ujian yang berat, akan membuat sesuatu menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Proses panjang itu diawali dengan dijatuhkannya buah kelapa yang telah berumur tua dari puncak pohonnya yang amat tinggi. Begitu membentur tanah, bukannya dielus-elus, justru sabutnya dijambak dan disobek-sobek hingga gundul habis. Saat sudah gundul, kelapa tadi dibenturkan ke batu agar pecah. Lalu buahnya dicungkili dari batok kelapa. Ujian masih berlanjut. Potongan-potongan buah kelapa tadi diparut di parutan besi yang tajam, hingga rontok berguguran dan berubah menjadi serbuk. Setelah serbuk kelapa menumpuk, ia diperas supaya keluar santannya. Kemudian santan kental itu dipanaskan di atas tungku api hingga mendidih. Baru saat itulah keluar minyak kelapa, dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal dibanding kelapa tua yang belum diapa-apakan. Jama’ah Jum’at yang kami hormati… Begitulah ujian hidup, akan membuat seseorang dan umat menjadi lebih bernilai dan berharga mahal. Allah ta’ala mengingatkan, “أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ“ Artinya: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan). Hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau bertanya, “Kapankah datang pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. QS. Al-Baqarah (2): 214. Kedudukan mulia di surga Allah bukanlah sesuatu yang dibagikan secara cuma-cuma. Namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, serta harus melewati ujian dan cobaan. Sidang Jum’at rahimakumullah… Ketahuilah bahwa peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan kehendak dan takdir Allah. Entah itu peristiwa yang indah dan menggembirakan ataupun yang menyedihkan. Peristiwa yang mengenakkan maupun yang menyakitkan. Allah ta’ala menjelaskan, “مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“ Artinya: “Setiap bencana yang terjadi di bumi dan yang menimpa diri kalian, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. QS. Al-Hadid (57): 22. Allah timpakan berbagai ujian itu, tentu bukan tanpa ada maksud dan tujuan. Pasti banyak hikmah di balik itu semua. Hanya saja ada yang yang memahaminya dan ada pula yang tidak memahaminya. Ujian yang silih berganti menimpa agama Islam dan kaum muslimin, itu semua tentu dengan kehendak dan takdir Allah. Penistaan terhadap al-Qur’an, pelecehan terhadap para ulama dan tekanan terhadap umat Islam, ini semua telah tercatat di dalam Lauhul Mahfuzh, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan, “كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“ “Allah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia… Menurut hemat kami, sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai cobaan itu adalah dengan introspeksi diri, merapatkan barisan ummat dan tidak terpancing untuk melanggar garis merah aturan agama. Pertama: Introspeksi Diri Salah satu hikmah ujian dan cobaan adalah agar seorang hamba tersadar lalu melakukan introspeksi diri. Mengoreksi perilaku diri yang mungkin selama ini masih jauh dari tuntunan agama. Atau terlalu lama terlena dalam gemerlap kehidupan dunia. Tidur panjang umat Islam perlu untuk segera diakhiri. Mereka harus segera bangkit dan menyadari kelalaian yang telah begitu lama membuai mereka. Sejak empat belas abad lalu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan, “يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا“. فَقَالَ قَائِلٌ: “وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟” قَالَ: “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ…”. “Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan”… HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Albani. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memberikan solusi untuk mengakhiri keterpurukan tersebut, “…سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ“. “… Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian”. HR. Abu Dawud dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani dan al-Albani. Jadi solusinya adalah kembali terhadap aturan agama dalam setiap aspek kehidupan. Akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Kedua: Rapatkan Barisan Umat Tentu banyak di antara kita yang masih ingat, salah satu nasehat kehidupan yang kerap diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah dulu. Yang juga merupakan warisan turun menurun nenek moyang kita dari zaman ke zaman. Yaitu: perumpamaan tentang sapu lidi. Sebuah perumpamaan yang sederhana namun penuh dengan makna. Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi tidak akan membersihkan sampah di sekeliling kita. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi tadi akan patah-patah, bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun tidak demikian, bila batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu, lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan berubah menjadi kekuatan yang besar. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah inti petuahnya. Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para muslim dan muslimah yang terikat oleh kesamaan akidah. Persatuan antar umat Islam dan ukhuwah islamiyyah merupakan salah satu prinsip yang amat mendasar dalam agama kita. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita untuk merealisasikannya dalam sabda beliau, “كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا! الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ”. “Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh ia menzaliminya, menterlantarkannya dan menghinanya. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Persatuan akan menghasilkan begitu banyak manfaat. Persatuan akan membuahkan kekuatan besar. Persatuan akan menumbuhkan ketenangan batin. Persatuan akan memunculkan solidaritas. Persatuan akan membangun empati dan kepedulian sosial. Karenanya, begitu banyak ibadah dalam agama kita yang disyariatkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Dari ibadah yang bersifat harian, seperti shalat lima waktu, mingguan semisal shalat jum’at, hingga yang bersifat tahunan seperti idhul fitri, idhul adha serta pelaksanaan ibadah haji. Mengapa semua itu dilakukan secara berjama’ah? Antara lain adalah dalam rangka merealisasikan persatuan, meretas kebersamaan dan menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم Khutbah Kedua الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد؛ Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Ketiga: Jangan Terpancing Melanggar Aturan Agama Semangat juang yang tinggi sangat diperlukan dalam segala situasi, terlebih dalam kondisi seperti ini. Namun, kita harus benar-benar mengingat, bahwa semangat yang membara harus siap untuk dipandu dan dikendalikan aturan agama. Fenomena munculnya penguasa yang tidak ramah terhadap umat Islam, sudah dikabarkan jauh-jauh hari oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ“. قَالَ قُلْتُ: “كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟”. قَالَ: “تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“. “Nanti sepeninggalku akan ada para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula menjalankan tuntunanku. Akan ada di antara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, walaupun jasadnya adalah jasad manusia”. Aku (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menjumpai zaman itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan taati pemimpinmu, walaupun engkau disiksa dan hartamu dirampas. Tetaplah dengar dan taati mereka.” HR. Muslim. Sabar bukan bermakna sikap apatis dan diam duduk berpangku tangan. Namun sabar berarti tetap patuh selain dalam maksiat. Sabar berarti selalu menyampaikan nasehat dengan cara yang syar’i. Sabar berarti tidak terprovokasi untuk berkudeta atau melakukan revolusi berdarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan, “خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“، قِيلَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟“ فَقَالَ: “لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“ “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita angkat senjata untuk memerangi mereka?”. Rasul menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, dan jangan lepas tangan dari ketaatan kepadanya”. HR. Muslim. Banyak orang mengira bahwa larangan untuk kudeta itu, semata-mata hanya untuk kepentingan penguasa saja. Tentunya ini adalah anggapan yang keliru. Sebenarnya yang pertama kali akan merasakan manfaat dari larangan berontak adalah rakyat sendiri. Betapa banyak kekacauan dan huru-hara yang ditimbulkan akibat kudeta. Belum lagi jatuhnya ribuan korban jiwa yang tidak berdosa. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, situasi chaos yang pernah dialami tanah air kita, saat awal reformasi, beberapa belas tahun silam. Saat itu rakyat hidup dalam ketakutan yang mencekam, situasi ekonomi, sosial dan politik yang tidak menentu. Serta masih banyak kerugian lain yang kita alami saat itu. Jadi sebenarnya Islam melarang kudeta serampangan adalah demi kebaikan rakyat, pemerintah dan negeri secara keseluruhan. Bukan untuk kepentingan segelintir pihak tertentu saja. Barangkali bisa dikatakan bahwa tujuan larangan ini antara lain, dalam rangka menjaga negeri tercinta ini, agar tetap gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (makmur, serba banyak, subur, tertata, tentram, bahagia dan sejahtera). أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب اللهم أصلح ولاة أمورنا وارزقهم البطانة الصالحة الناصحة التي تدلهم عل الخير وتعينهم عليه يا رب العالمين اللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، وفي كل مكان اللهم اشدد وطأتك على كفار بورما الظالمين، وعلى جيوش بشار المجرمين ومن حالفهم من الروس والصين وإيران واليهود الظالمين، يا عزيز يا جبار اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Ekstra Hati-Hati Dalam Menjadikan Seseorang Sebagai Rujukan Beragama

Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.***Penulis: Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc., MAArtikel Muslim.or.id🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah

Ekstra Hati-Hati Dalam Menjadikan Seseorang Sebagai Rujukan Beragama

Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.***Penulis: Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc., MAArtikel Muslim.or.id🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah
Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.***Penulis: Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc., MAArtikel Muslim.or.id🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah


Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya, dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni: menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui (sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang; mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.***Penulis: Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc., MAArtikel Muslim.or.id🔍 Muslim Org, Alam Kubur Orang Kristen, Menjauhi Dosa Besar, Hukum Talak Menurut Islam, Pertanyaan Tentang Wakalah

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (5)

2. Tafsiran kedua“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”[1. Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178].Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya” maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,” maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,” maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.PenutupDari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut: Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu: Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya). Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.          Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah. [Selesai]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Bersyukur, Kisah Malaikat Harut Marut, Arti Jihat, Menghayal Menurut Islam, Selamat Natal Dan Tahun Baru

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (5)

2. Tafsiran kedua“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”[1. Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178].Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya” maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,” maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,” maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.PenutupDari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut: Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu: Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya). Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.          Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah. [Selesai]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Bersyukur, Kisah Malaikat Harut Marut, Arti Jihat, Menghayal Menurut Islam, Selamat Natal Dan Tahun Baru
2. Tafsiran kedua“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”[1. Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178].Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya” maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,” maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,” maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.PenutupDari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut: Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu: Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya). Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.          Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah. [Selesai]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Bersyukur, Kisah Malaikat Harut Marut, Arti Jihat, Menghayal Menurut Islam, Selamat Natal Dan Tahun Baru


2. Tafsiran kedua“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”[1. Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178].Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya” maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,” maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,” maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.PenutupDari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut: Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu: Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya). Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.          Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah. [Selesai]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Bersyukur, Kisah Malaikat Harut Marut, Arti Jihat, Menghayal Menurut Islam, Selamat Natal Dan Tahun Baru

Tipu tipu

01MarTipu tipuMarch 1, 2017Belajar Islam, Khutbah Jumat, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Andaikan ideologi yang diusung baik, maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk, maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Apa yang kami sampaikan tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Bila telah jelas keburukan trackrecord suatu media, cetak atau elektronik, maka yang pantas bagi seorang muslim adalah menghapus chanel tersebut dari daftar stasiun yang tercantum di televisinya. Jangan mau bersikap sukarela manakala diracuni! PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Tipu tipu

01MarTipu tipuMarch 1, 2017Belajar Islam, Khutbah Jumat, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Andaikan ideologi yang diusung baik, maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk, maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Apa yang kami sampaikan tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Bila telah jelas keburukan trackrecord suatu media, cetak atau elektronik, maka yang pantas bagi seorang muslim adalah menghapus chanel tersebut dari daftar stasiun yang tercantum di televisinya. Jangan mau bersikap sukarela manakala diracuni! PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
01MarTipu tipuMarch 1, 2017Belajar Islam, Khutbah Jumat, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Andaikan ideologi yang diusung baik, maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk, maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Apa yang kami sampaikan tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Bila telah jelas keburukan trackrecord suatu media, cetak atau elektronik, maka yang pantas bagi seorang muslim adalah menghapus chanel tersebut dari daftar stasiun yang tercantum di televisinya. Jangan mau bersikap sukarela manakala diracuni! PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


01MarTipu tipuMarch 1, 2017Belajar Islam, Khutbah Jumat, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Andaikan ideologi yang diusung baik, maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk, maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Apa yang kami sampaikan tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Bila telah jelas keburukan trackrecord suatu media, cetak atau elektronik, maka yang pantas bagi seorang muslim adalah menghapus chanel tersebut dari daftar stasiun yang tercantum di televisinya. Jangan mau bersikap sukarela manakala diracuni! PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Dosa Riba Tidak Diampuni, Benarkah?

Dosa riba itu tidak diampuni. Benarkah? Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِيَّايَ وَالذُّنُوبَ الَّتِي لا تُغْفَرُ: الْغُلُولُ، فَمَنْ غَلَّ شَيْئًا أَتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَآكِلُ الرِّبَا فَمَنْ أَكَلَ الرِّبَا بُعِثَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُونًا يَتَخَبَّطُ”, ثُمَّ قَرَأَ: “الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ”[البقرة آية 275] “Hati-hati dengan dosa yang tidak diampuni: (1) ghulul (khianat), siapa yang berbuat ghulul, maka ia akan didatangkan dengan sesuatu yang ia khianati pada hari kiamat; (2) pemakan riba, siapa yang memakan riba, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila seperti kesurupan. Kemudian dibacakanlah ayat (yang artinya), ‘Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275).” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 18/ 60/ 100. Syaikh Al-Albani menilai bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 3313) Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili memberikan catatan bahwa yang dimaksud tidak diampuni hanya kalimat untuk sekedar menakut-nakuti. Karena tetap dosa di bawah kesyirikan berada dalam masyiah Allah (kehendak Allah). Namun dikhawatirkan memang pelakukan sulit dimaafkan oleh Allah. (Lihat Dhawabith Ar-Riba, hlm. 21) Moga Allah menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, rangkaian dari buku “Derita Terlilit Utang Riba dan Solusinya” Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba

Dosa Riba Tidak Diampuni, Benarkah?

Dosa riba itu tidak diampuni. Benarkah? Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِيَّايَ وَالذُّنُوبَ الَّتِي لا تُغْفَرُ: الْغُلُولُ، فَمَنْ غَلَّ شَيْئًا أَتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَآكِلُ الرِّبَا فَمَنْ أَكَلَ الرِّبَا بُعِثَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُونًا يَتَخَبَّطُ”, ثُمَّ قَرَأَ: “الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ”[البقرة آية 275] “Hati-hati dengan dosa yang tidak diampuni: (1) ghulul (khianat), siapa yang berbuat ghulul, maka ia akan didatangkan dengan sesuatu yang ia khianati pada hari kiamat; (2) pemakan riba, siapa yang memakan riba, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila seperti kesurupan. Kemudian dibacakanlah ayat (yang artinya), ‘Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275).” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 18/ 60/ 100. Syaikh Al-Albani menilai bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 3313) Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili memberikan catatan bahwa yang dimaksud tidak diampuni hanya kalimat untuk sekedar menakut-nakuti. Karena tetap dosa di bawah kesyirikan berada dalam masyiah Allah (kehendak Allah). Namun dikhawatirkan memang pelakukan sulit dimaafkan oleh Allah. (Lihat Dhawabith Ar-Riba, hlm. 21) Moga Allah menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, rangkaian dari buku “Derita Terlilit Utang Riba dan Solusinya” Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba
Dosa riba itu tidak diampuni. Benarkah? Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِيَّايَ وَالذُّنُوبَ الَّتِي لا تُغْفَرُ: الْغُلُولُ، فَمَنْ غَلَّ شَيْئًا أَتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَآكِلُ الرِّبَا فَمَنْ أَكَلَ الرِّبَا بُعِثَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُونًا يَتَخَبَّطُ”, ثُمَّ قَرَأَ: “الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ”[البقرة آية 275] “Hati-hati dengan dosa yang tidak diampuni: (1) ghulul (khianat), siapa yang berbuat ghulul, maka ia akan didatangkan dengan sesuatu yang ia khianati pada hari kiamat; (2) pemakan riba, siapa yang memakan riba, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila seperti kesurupan. Kemudian dibacakanlah ayat (yang artinya), ‘Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275).” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 18/ 60/ 100. Syaikh Al-Albani menilai bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 3313) Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili memberikan catatan bahwa yang dimaksud tidak diampuni hanya kalimat untuk sekedar menakut-nakuti. Karena tetap dosa di bawah kesyirikan berada dalam masyiah Allah (kehendak Allah). Namun dikhawatirkan memang pelakukan sulit dimaafkan oleh Allah. (Lihat Dhawabith Ar-Riba, hlm. 21) Moga Allah menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, rangkaian dari buku “Derita Terlilit Utang Riba dan Solusinya” Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba


Dosa riba itu tidak diampuni. Benarkah? Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِيَّايَ وَالذُّنُوبَ الَّتِي لا تُغْفَرُ: الْغُلُولُ، فَمَنْ غَلَّ شَيْئًا أَتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَآكِلُ الرِّبَا فَمَنْ أَكَلَ الرِّبَا بُعِثَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُونًا يَتَخَبَّطُ”, ثُمَّ قَرَأَ: “الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ”[البقرة آية 275] “Hati-hati dengan dosa yang tidak diampuni: (1) ghulul (khianat), siapa yang berbuat ghulul, maka ia akan didatangkan dengan sesuatu yang ia khianati pada hari kiamat; (2) pemakan riba, siapa yang memakan riba, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila seperti kesurupan. Kemudian dibacakanlah ayat (yang artinya), ‘Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275).” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 18/ 60/ 100. Syaikh Al-Albani menilai bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 3313) Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili memberikan catatan bahwa yang dimaksud tidak diampuni hanya kalimat untuk sekedar menakut-nakuti. Karena tetap dosa di bawah kesyirikan berada dalam masyiah Allah (kehendak Allah). Namun dikhawatirkan memang pelakukan sulit dimaafkan oleh Allah. (Lihat Dhawabith Ar-Riba, hlm. 21) Moga Allah menjauhkan kita dari riba dan debu-debunya. — Disusun di pagi hari @ DS Panggang, rangkaian dari buku “Derita Terlilit Utang Riba dan Solusinya” Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba

4 Kiat Selamat dari Sifat Munafik

Bagaimana kita bisa selamat dari sifat munafik (kemunafikan)?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah (seorang fakih di abad ini) pernah diajukan pertanyaan tersebut, lalu inilah jawaban beliau. Cara selamat dari sifat munafik adalah sebagai berikut. 1- Melatih diri agar terus bisa ikhlas pada Allah. Ini dilakukan sebelum lainnya. 2- Menjauhkan diri dari sifat munafik. Sebagaimana disebutkan dalam hadits mengenai sifat munafik, “Jika berjanji, maka ia ingkari. Jika berbicara, ia berdusta. Jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi. Jika diberi amanat, ia khianat.” Ini semua termasuk amalan kemunafikan. Siapa yang membiasakan sifat-sifat termasuk, maka ia bisa terjatuh pada kemunafikan yang besar. Wal’iyadzu billah (kepada Allah-lah kita berlindung). 3- Hati-hati akan godaan setan karena setan terus memerintahkan untuk lalai dalam ibadah. Setan membisikkan, tidaklah perlu untuk shalat, tidaklah perlu untuk beribadah. Setan juga membisikkan, jangan melakukan shalat sunnah, nanti terjangkiti riya’. Bisikan setan semacam ini wajib disingkirkan dan tidak perlu dipedulikan. Kalau tidak dipedulikan bisikan tersebut, maka tidak akan membahayakan kita. Walhamdulillah. 4- Setiap perkataan kita mestilah jujur, hendaklah kita menepati janji, menunaikan amanah, tidak berbuat zalim ketika berselisih.   Syaikh Ibnu ‘Utsaimin setelah itu berdo’a, Ya Allah selamatkan kami dari riya’ dalam hati kami. Selamatkanlah kami juga dari sifat kemunafikan dan semisal itu.   Diambil dari Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan ke- 225, pertanyaan no. 16, 10: 224   Referensi: Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh. Cetakan pertama, tahun 1438 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. — Ba’da Zhuhur @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskemunafikan munafik

4 Kiat Selamat dari Sifat Munafik

Bagaimana kita bisa selamat dari sifat munafik (kemunafikan)?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah (seorang fakih di abad ini) pernah diajukan pertanyaan tersebut, lalu inilah jawaban beliau. Cara selamat dari sifat munafik adalah sebagai berikut. 1- Melatih diri agar terus bisa ikhlas pada Allah. Ini dilakukan sebelum lainnya. 2- Menjauhkan diri dari sifat munafik. Sebagaimana disebutkan dalam hadits mengenai sifat munafik, “Jika berjanji, maka ia ingkari. Jika berbicara, ia berdusta. Jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi. Jika diberi amanat, ia khianat.” Ini semua termasuk amalan kemunafikan. Siapa yang membiasakan sifat-sifat termasuk, maka ia bisa terjatuh pada kemunafikan yang besar. Wal’iyadzu billah (kepada Allah-lah kita berlindung). 3- Hati-hati akan godaan setan karena setan terus memerintahkan untuk lalai dalam ibadah. Setan membisikkan, tidaklah perlu untuk shalat, tidaklah perlu untuk beribadah. Setan juga membisikkan, jangan melakukan shalat sunnah, nanti terjangkiti riya’. Bisikan setan semacam ini wajib disingkirkan dan tidak perlu dipedulikan. Kalau tidak dipedulikan bisikan tersebut, maka tidak akan membahayakan kita. Walhamdulillah. 4- Setiap perkataan kita mestilah jujur, hendaklah kita menepati janji, menunaikan amanah, tidak berbuat zalim ketika berselisih.   Syaikh Ibnu ‘Utsaimin setelah itu berdo’a, Ya Allah selamatkan kami dari riya’ dalam hati kami. Selamatkanlah kami juga dari sifat kemunafikan dan semisal itu.   Diambil dari Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan ke- 225, pertanyaan no. 16, 10: 224   Referensi: Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh. Cetakan pertama, tahun 1438 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. — Ba’da Zhuhur @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskemunafikan munafik
Bagaimana kita bisa selamat dari sifat munafik (kemunafikan)?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah (seorang fakih di abad ini) pernah diajukan pertanyaan tersebut, lalu inilah jawaban beliau. Cara selamat dari sifat munafik adalah sebagai berikut. 1- Melatih diri agar terus bisa ikhlas pada Allah. Ini dilakukan sebelum lainnya. 2- Menjauhkan diri dari sifat munafik. Sebagaimana disebutkan dalam hadits mengenai sifat munafik, “Jika berjanji, maka ia ingkari. Jika berbicara, ia berdusta. Jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi. Jika diberi amanat, ia khianat.” Ini semua termasuk amalan kemunafikan. Siapa yang membiasakan sifat-sifat termasuk, maka ia bisa terjatuh pada kemunafikan yang besar. Wal’iyadzu billah (kepada Allah-lah kita berlindung). 3- Hati-hati akan godaan setan karena setan terus memerintahkan untuk lalai dalam ibadah. Setan membisikkan, tidaklah perlu untuk shalat, tidaklah perlu untuk beribadah. Setan juga membisikkan, jangan melakukan shalat sunnah, nanti terjangkiti riya’. Bisikan setan semacam ini wajib disingkirkan dan tidak perlu dipedulikan. Kalau tidak dipedulikan bisikan tersebut, maka tidak akan membahayakan kita. Walhamdulillah. 4- Setiap perkataan kita mestilah jujur, hendaklah kita menepati janji, menunaikan amanah, tidak berbuat zalim ketika berselisih.   Syaikh Ibnu ‘Utsaimin setelah itu berdo’a, Ya Allah selamatkan kami dari riya’ dalam hati kami. Selamatkanlah kami juga dari sifat kemunafikan dan semisal itu.   Diambil dari Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan ke- 225, pertanyaan no. 16, 10: 224   Referensi: Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh. Cetakan pertama, tahun 1438 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. — Ba’da Zhuhur @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskemunafikan munafik


Bagaimana kita bisa selamat dari sifat munafik (kemunafikan)?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah (seorang fakih di abad ini) pernah diajukan pertanyaan tersebut, lalu inilah jawaban beliau. Cara selamat dari sifat munafik adalah sebagai berikut. 1- Melatih diri agar terus bisa ikhlas pada Allah. Ini dilakukan sebelum lainnya. 2- Menjauhkan diri dari sifat munafik. Sebagaimana disebutkan dalam hadits mengenai sifat munafik, “Jika berjanji, maka ia ingkari. Jika berbicara, ia berdusta. Jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi. Jika diberi amanat, ia khianat.” Ini semua termasuk amalan kemunafikan. Siapa yang membiasakan sifat-sifat termasuk, maka ia bisa terjatuh pada kemunafikan yang besar. Wal’iyadzu billah (kepada Allah-lah kita berlindung). 3- Hati-hati akan godaan setan karena setan terus memerintahkan untuk lalai dalam ibadah. Setan membisikkan, tidaklah perlu untuk shalat, tidaklah perlu untuk beribadah. Setan juga membisikkan, jangan melakukan shalat sunnah, nanti terjangkiti riya’. Bisikan setan semacam ini wajib disingkirkan dan tidak perlu dipedulikan. Kalau tidak dipedulikan bisikan tersebut, maka tidak akan membahayakan kita. Walhamdulillah. 4- Setiap perkataan kita mestilah jujur, hendaklah kita menepati janji, menunaikan amanah, tidak berbuat zalim ketika berselisih.   Syaikh Ibnu ‘Utsaimin setelah itu berdo’a, Ya Allah selamatkan kami dari riya’ dalam hati kami. Selamatkanlah kami juga dari sifat kemunafikan dan semisal itu.   Diambil dari Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan ke- 225, pertanyaan no. 16, 10: 224   Referensi: Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh. Cetakan pertama, tahun 1438 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. — Ba’da Zhuhur @ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Jumadats Tsaniyyah 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskemunafikan munafik

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (4)

Tafsiran الْأُخْرَىٰAllah Ta’ala berfirman,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manaah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?Terdapat dua tafsiran untuk memaknai الْأُخْرَىٰ dalam QS. An-Najm: 20, yaitu:1. Al-Ukhra dengan makna “hina atau rendah”, sehingga  terjemah ayatnya yaitu:وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?Makna Al-Ukhra dengan makna rendah ini juga terdapat dalam firman Allah Ta’ala,وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ(39) Dan berkata tokoh-tokoh mereka kepada orang-orang lemah (pengikut) di antara mereka, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami (dengan diringankan azabnya), maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan” (QS. Al-A’raaf: 39).Kata Ukhra di sini dimaknai sebagai orang-orang lemah, strata sosial yang rendah dan statusnya sebagai pengikut.2. Al-Ukhra dengan makna “selain(nya)”, maka terjemah ayatnya sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manaah yang ketiga, selain (kedua)nya (sebagai anak perempuan Allah)?Makna Ukkhra seperti ini adalah salah satu bentuk gaya bahasa Arab untuk menyertakan sesuatu yang memiliki kesamaan dengan beberapa perkara yang telah disertakan sebelumnya. Apabila bangsa Arab mengabarkan sesuatu yang berbilang, tapi salah satu dari perkara yang berbilang tersebut disangka oleh sebagian orang tidak termasuk kedalam bagiannya, karena dianggap tidak sebanding dengan dengan perkara selainnya atau tidak sepadan dengan kebesaran selainnya, maka dalam bahasa Arab diungkapkan dengan menyebutkan sesuatu yang disangka salah tersebut dan menegaskannya dengan kata aakhor atau ukhroo, sebagai penutup dalam penyebutan beberapa perkara yang berbilang tersebut.Contohnya, وفلانٌ هو الآخَر “Sedangkan si anu itu juga orang lain (selain orang-orang yang telah disebutkan, pent.) yang termasuk (kedalam orang-orang tersebut)”.Perlu diketahui, di antara suku-suku bangsa Arab, para penyembah manaah itu jumlahnya banyak, maka dalam ayat yang agung ini diingatkanlah para penyembah manaah, bahwa jumlah mereka yang banyak tidak menyebabkan diistimewakan dan dibedakannya manaah dari kedua sesembahan selainnya, karena semuanya sama, semua sesembahan itu sama-sama sesembahan selain Allah yang batil. Berarti konteks ayat kesembilan belas dan kedua puluh ini adalah menyatakan kehinaan, keburukan dan salahnya keyakinan mereka dan sesembahan mereka tersebut dan menetapkan bahwa ketiga berhala dan patung itu adalah sesembahan-sesembahan yang batil.Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Ayat di atas punya dua tafsiran, yaitu:1. Tafsiran pertama:Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan tafsiran yang pertama, yaitu:أي : أتجعلون له ولدا، وتجعلون ولده أنثى، وتختارون لأنفسكم الذكور “Maksudnya, ‘Apakah kalian menganggap Allah memiliki anak, dan kalian menetapkan anak Allah itu perempuan, sedangkan kalian memilih untuk diri kalian anak laki-laki?’”.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Nama Hari Kiamat, Bpjs Dalam Islam, Doa Mohon Perlindungan Dari Orang Zalim, Dauroh, Kata Kata Memuji Orang

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (4)

Tafsiran الْأُخْرَىٰAllah Ta’ala berfirman,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manaah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?Terdapat dua tafsiran untuk memaknai الْأُخْرَىٰ dalam QS. An-Najm: 20, yaitu:1. Al-Ukhra dengan makna “hina atau rendah”, sehingga  terjemah ayatnya yaitu:وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?Makna Al-Ukhra dengan makna rendah ini juga terdapat dalam firman Allah Ta’ala,وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ(39) Dan berkata tokoh-tokoh mereka kepada orang-orang lemah (pengikut) di antara mereka, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami (dengan diringankan azabnya), maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan” (QS. Al-A’raaf: 39).Kata Ukhra di sini dimaknai sebagai orang-orang lemah, strata sosial yang rendah dan statusnya sebagai pengikut.2. Al-Ukhra dengan makna “selain(nya)”, maka terjemah ayatnya sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manaah yang ketiga, selain (kedua)nya (sebagai anak perempuan Allah)?Makna Ukkhra seperti ini adalah salah satu bentuk gaya bahasa Arab untuk menyertakan sesuatu yang memiliki kesamaan dengan beberapa perkara yang telah disertakan sebelumnya. Apabila bangsa Arab mengabarkan sesuatu yang berbilang, tapi salah satu dari perkara yang berbilang tersebut disangka oleh sebagian orang tidak termasuk kedalam bagiannya, karena dianggap tidak sebanding dengan dengan perkara selainnya atau tidak sepadan dengan kebesaran selainnya, maka dalam bahasa Arab diungkapkan dengan menyebutkan sesuatu yang disangka salah tersebut dan menegaskannya dengan kata aakhor atau ukhroo, sebagai penutup dalam penyebutan beberapa perkara yang berbilang tersebut.Contohnya, وفلانٌ هو الآخَر “Sedangkan si anu itu juga orang lain (selain orang-orang yang telah disebutkan, pent.) yang termasuk (kedalam orang-orang tersebut)”.Perlu diketahui, di antara suku-suku bangsa Arab, para penyembah manaah itu jumlahnya banyak, maka dalam ayat yang agung ini diingatkanlah para penyembah manaah, bahwa jumlah mereka yang banyak tidak menyebabkan diistimewakan dan dibedakannya manaah dari kedua sesembahan selainnya, karena semuanya sama, semua sesembahan itu sama-sama sesembahan selain Allah yang batil. Berarti konteks ayat kesembilan belas dan kedua puluh ini adalah menyatakan kehinaan, keburukan dan salahnya keyakinan mereka dan sesembahan mereka tersebut dan menetapkan bahwa ketiga berhala dan patung itu adalah sesembahan-sesembahan yang batil.Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Ayat di atas punya dua tafsiran, yaitu:1. Tafsiran pertama:Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan tafsiran yang pertama, yaitu:أي : أتجعلون له ولدا، وتجعلون ولده أنثى، وتختارون لأنفسكم الذكور “Maksudnya, ‘Apakah kalian menganggap Allah memiliki anak, dan kalian menetapkan anak Allah itu perempuan, sedangkan kalian memilih untuk diri kalian anak laki-laki?’”.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Nama Hari Kiamat, Bpjs Dalam Islam, Doa Mohon Perlindungan Dari Orang Zalim, Dauroh, Kata Kata Memuji Orang
Tafsiran الْأُخْرَىٰAllah Ta’ala berfirman,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manaah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?Terdapat dua tafsiran untuk memaknai الْأُخْرَىٰ dalam QS. An-Najm: 20, yaitu:1. Al-Ukhra dengan makna “hina atau rendah”, sehingga  terjemah ayatnya yaitu:وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?Makna Al-Ukhra dengan makna rendah ini juga terdapat dalam firman Allah Ta’ala,وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ(39) Dan berkata tokoh-tokoh mereka kepada orang-orang lemah (pengikut) di antara mereka, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami (dengan diringankan azabnya), maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan” (QS. Al-A’raaf: 39).Kata Ukhra di sini dimaknai sebagai orang-orang lemah, strata sosial yang rendah dan statusnya sebagai pengikut.2. Al-Ukhra dengan makna “selain(nya)”, maka terjemah ayatnya sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manaah yang ketiga, selain (kedua)nya (sebagai anak perempuan Allah)?Makna Ukkhra seperti ini adalah salah satu bentuk gaya bahasa Arab untuk menyertakan sesuatu yang memiliki kesamaan dengan beberapa perkara yang telah disertakan sebelumnya. Apabila bangsa Arab mengabarkan sesuatu yang berbilang, tapi salah satu dari perkara yang berbilang tersebut disangka oleh sebagian orang tidak termasuk kedalam bagiannya, karena dianggap tidak sebanding dengan dengan perkara selainnya atau tidak sepadan dengan kebesaran selainnya, maka dalam bahasa Arab diungkapkan dengan menyebutkan sesuatu yang disangka salah tersebut dan menegaskannya dengan kata aakhor atau ukhroo, sebagai penutup dalam penyebutan beberapa perkara yang berbilang tersebut.Contohnya, وفلانٌ هو الآخَر “Sedangkan si anu itu juga orang lain (selain orang-orang yang telah disebutkan, pent.) yang termasuk (kedalam orang-orang tersebut)”.Perlu diketahui, di antara suku-suku bangsa Arab, para penyembah manaah itu jumlahnya banyak, maka dalam ayat yang agung ini diingatkanlah para penyembah manaah, bahwa jumlah mereka yang banyak tidak menyebabkan diistimewakan dan dibedakannya manaah dari kedua sesembahan selainnya, karena semuanya sama, semua sesembahan itu sama-sama sesembahan selain Allah yang batil. Berarti konteks ayat kesembilan belas dan kedua puluh ini adalah menyatakan kehinaan, keburukan dan salahnya keyakinan mereka dan sesembahan mereka tersebut dan menetapkan bahwa ketiga berhala dan patung itu adalah sesembahan-sesembahan yang batil.Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Ayat di atas punya dua tafsiran, yaitu:1. Tafsiran pertama:Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan tafsiran yang pertama, yaitu:أي : أتجعلون له ولدا، وتجعلون ولده أنثى، وتختارون لأنفسكم الذكور “Maksudnya, ‘Apakah kalian menganggap Allah memiliki anak, dan kalian menetapkan anak Allah itu perempuan, sedangkan kalian memilih untuk diri kalian anak laki-laki?’”.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Nama Hari Kiamat, Bpjs Dalam Islam, Doa Mohon Perlindungan Dari Orang Zalim, Dauroh, Kata Kata Memuji Orang


Tafsiran الْأُخْرَىٰAllah Ta’ala berfirman,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manaah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?Terdapat dua tafsiran untuk memaknai الْأُخْرَىٰ dalam QS. An-Najm: 20, yaitu:1. Al-Ukhra dengan makna “hina atau rendah”, sehingga  terjemah ayatnya yaitu:وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?Makna Al-Ukhra dengan makna rendah ini juga terdapat dalam firman Allah Ta’ala,وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ(39) Dan berkata tokoh-tokoh mereka kepada orang-orang lemah (pengikut) di antara mereka, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami (dengan diringankan azabnya), maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan” (QS. Al-A’raaf: 39).Kata Ukhra di sini dimaknai sebagai orang-orang lemah, strata sosial yang rendah dan statusnya sebagai pengikut.2. Al-Ukhra dengan makna “selain(nya)”, maka terjemah ayatnya sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manaah yang ketiga, selain (kedua)nya (sebagai anak perempuan Allah)?Makna Ukkhra seperti ini adalah salah satu bentuk gaya bahasa Arab untuk menyertakan sesuatu yang memiliki kesamaan dengan beberapa perkara yang telah disertakan sebelumnya. Apabila bangsa Arab mengabarkan sesuatu yang berbilang, tapi salah satu dari perkara yang berbilang tersebut disangka oleh sebagian orang tidak termasuk kedalam bagiannya, karena dianggap tidak sebanding dengan dengan perkara selainnya atau tidak sepadan dengan kebesaran selainnya, maka dalam bahasa Arab diungkapkan dengan menyebutkan sesuatu yang disangka salah tersebut dan menegaskannya dengan kata aakhor atau ukhroo, sebagai penutup dalam penyebutan beberapa perkara yang berbilang tersebut.Contohnya, وفلانٌ هو الآخَر “Sedangkan si anu itu juga orang lain (selain orang-orang yang telah disebutkan, pent.) yang termasuk (kedalam orang-orang tersebut)”.Perlu diketahui, di antara suku-suku bangsa Arab, para penyembah manaah itu jumlahnya banyak, maka dalam ayat yang agung ini diingatkanlah para penyembah manaah, bahwa jumlah mereka yang banyak tidak menyebabkan diistimewakan dan dibedakannya manaah dari kedua sesembahan selainnya, karena semuanya sama, semua sesembahan itu sama-sama sesembahan selain Allah yang batil. Berarti konteks ayat kesembilan belas dan kedua puluh ini adalah menyatakan kehinaan, keburukan dan salahnya keyakinan mereka dan sesembahan mereka tersebut dan menetapkan bahwa ketiga berhala dan patung itu adalah sesembahan-sesembahan yang batil.Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Ayat di atas punya dua tafsiran, yaitu:1. Tafsiran pertama:Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan tafsiran yang pertama, yaitu:أي : أتجعلون له ولدا، وتجعلون ولده أنثى، وتختارون لأنفسكم الذكور “Maksudnya, ‘Apakah kalian menganggap Allah memiliki anak, dan kalian menetapkan anak Allah itu perempuan, sedangkan kalian memilih untuk diri kalian anak laki-laki?’”.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Nama Hari Kiamat, Bpjs Dalam Islam, Doa Mohon Perlindungan Dari Orang Zalim, Dauroh, Kata Kata Memuji Orang

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Allah Ta’ala berfirman:أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Laata dan al-Uzza,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu adakan; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka (QS. An-Najm: 19-23).TafsirKandungan umum beberapa ayat ini adalah penetapan tauhid di hati kaum mukminin, sekaligus bantahan terhadap kesyirikan kaum musyrikin. Allah membantah kaum musyrikin penyembah berhala dan patung. Berhala dan patung yang paling mereka agungkan adalah al-laata, al-uzza, dan manaah, Allah menyatakan kepada mereka:{أَفَرَأَيْتُمُ}MaksudnyaKabarkan kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan tersebut sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudhorot (bahaya)? Apakah sesembahan-sesembahan tersebut bisa menyelamatkanmu dari segala marabahaya?Apakah sesembahan-sesembahan itu sanggup memberi rezeki kepadamu? Kaum musyrikin pun tidak mampu menjawabnya, karena memang terbukti bahwa sesembahan-sesembahan tersebut tidak sanggup berbuat apa-apa dan tidak mampu menolong kaum musyrikin di berbagai kancah peperangan, seperti perang badar dan selainnya.Sesembahan-sesembahan itu pun tidak mampu menolak bahaya yang Allah timpakan kepada kaum musyrikin di berbagai peristiwa. Maka hal ini menjadi dalil yang tegas bahwa alasan mereka dalam menyembah berhala dan patung tersebut agar mendapatkan manfaat atau terhindar bahaya dari diri mereka adalah perkara yang tertolak dan batil[1. Diintisarikan dari Al-Mulakhhosh, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 88-89 dan I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215.].Al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya mengatakan,وفي الآية حذف دل عليه الكلام ; أي أفرأيتم هذه الآلهة هل نفعت أو ضرت حتى تكون شركاء لله “Dalam ayat ini sesunguhnya terdapat pola kalimat yang menyimpan kata-kata yang tak disebutkan (hadzfun). Kata-kata tersebut ditunjukkan dari konteks pembicaraan, yaitu ‘Terangkanlah kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan ini sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudharat (bahaya) hingga merekapun dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id____🔍 Hukum Menikah Dalam Islam, Air Wadi, Bolehkah Membaca Alquran Di Hp, Demonstrasi Dalam Islam, Lahaulawalaquwataillabillah Arab

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Allah Ta’ala berfirman:أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Laata dan al-Uzza,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu adakan; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka (QS. An-Najm: 19-23).TafsirKandungan umum beberapa ayat ini adalah penetapan tauhid di hati kaum mukminin, sekaligus bantahan terhadap kesyirikan kaum musyrikin. Allah membantah kaum musyrikin penyembah berhala dan patung. Berhala dan patung yang paling mereka agungkan adalah al-laata, al-uzza, dan manaah, Allah menyatakan kepada mereka:{أَفَرَأَيْتُمُ}MaksudnyaKabarkan kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan tersebut sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudhorot (bahaya)? Apakah sesembahan-sesembahan tersebut bisa menyelamatkanmu dari segala marabahaya?Apakah sesembahan-sesembahan itu sanggup memberi rezeki kepadamu? Kaum musyrikin pun tidak mampu menjawabnya, karena memang terbukti bahwa sesembahan-sesembahan tersebut tidak sanggup berbuat apa-apa dan tidak mampu menolong kaum musyrikin di berbagai kancah peperangan, seperti perang badar dan selainnya.Sesembahan-sesembahan itu pun tidak mampu menolak bahaya yang Allah timpakan kepada kaum musyrikin di berbagai peristiwa. Maka hal ini menjadi dalil yang tegas bahwa alasan mereka dalam menyembah berhala dan patung tersebut agar mendapatkan manfaat atau terhindar bahaya dari diri mereka adalah perkara yang tertolak dan batil[1. Diintisarikan dari Al-Mulakhhosh, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 88-89 dan I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215.].Al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya mengatakan,وفي الآية حذف دل عليه الكلام ; أي أفرأيتم هذه الآلهة هل نفعت أو ضرت حتى تكون شركاء لله “Dalam ayat ini sesunguhnya terdapat pola kalimat yang menyimpan kata-kata yang tak disebutkan (hadzfun). Kata-kata tersebut ditunjukkan dari konteks pembicaraan, yaitu ‘Terangkanlah kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan ini sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudharat (bahaya) hingga merekapun dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id____🔍 Hukum Menikah Dalam Islam, Air Wadi, Bolehkah Membaca Alquran Di Hp, Demonstrasi Dalam Islam, Lahaulawalaquwataillabillah Arab
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Allah Ta’ala berfirman:أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Laata dan al-Uzza,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu adakan; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka (QS. An-Najm: 19-23).TafsirKandungan umum beberapa ayat ini adalah penetapan tauhid di hati kaum mukminin, sekaligus bantahan terhadap kesyirikan kaum musyrikin. Allah membantah kaum musyrikin penyembah berhala dan patung. Berhala dan patung yang paling mereka agungkan adalah al-laata, al-uzza, dan manaah, Allah menyatakan kepada mereka:{أَفَرَأَيْتُمُ}MaksudnyaKabarkan kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan tersebut sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudhorot (bahaya)? Apakah sesembahan-sesembahan tersebut bisa menyelamatkanmu dari segala marabahaya?Apakah sesembahan-sesembahan itu sanggup memberi rezeki kepadamu? Kaum musyrikin pun tidak mampu menjawabnya, karena memang terbukti bahwa sesembahan-sesembahan tersebut tidak sanggup berbuat apa-apa dan tidak mampu menolong kaum musyrikin di berbagai kancah peperangan, seperti perang badar dan selainnya.Sesembahan-sesembahan itu pun tidak mampu menolak bahaya yang Allah timpakan kepada kaum musyrikin di berbagai peristiwa. Maka hal ini menjadi dalil yang tegas bahwa alasan mereka dalam menyembah berhala dan patung tersebut agar mendapatkan manfaat atau terhindar bahaya dari diri mereka adalah perkara yang tertolak dan batil[1. Diintisarikan dari Al-Mulakhhosh, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 88-89 dan I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215.].Al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya mengatakan,وفي الآية حذف دل عليه الكلام ; أي أفرأيتم هذه الآلهة هل نفعت أو ضرت حتى تكون شركاء لله “Dalam ayat ini sesunguhnya terdapat pola kalimat yang menyimpan kata-kata yang tak disebutkan (hadzfun). Kata-kata tersebut ditunjukkan dari konteks pembicaraan, yaitu ‘Terangkanlah kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan ini sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudharat (bahaya) hingga merekapun dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id____🔍 Hukum Menikah Dalam Islam, Air Wadi, Bolehkah Membaca Alquran Di Hp, Demonstrasi Dalam Islam, Lahaulawalaquwataillabillah Arab


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:Allah Ta’ala berfirman:أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Laata dan al-Uzza,وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu adakan; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka (QS. An-Najm: 19-23).TafsirKandungan umum beberapa ayat ini adalah penetapan tauhid di hati kaum mukminin, sekaligus bantahan terhadap kesyirikan kaum musyrikin. Allah membantah kaum musyrikin penyembah berhala dan patung. Berhala dan patung yang paling mereka agungkan adalah al-laata, al-uzza, dan manaah, Allah menyatakan kepada mereka:{أَفَرَأَيْتُمُ}MaksudnyaKabarkan kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan tersebut sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudhorot (bahaya)? Apakah sesembahan-sesembahan tersebut bisa menyelamatkanmu dari segala marabahaya?Apakah sesembahan-sesembahan itu sanggup memberi rezeki kepadamu? Kaum musyrikin pun tidak mampu menjawabnya, karena memang terbukti bahwa sesembahan-sesembahan tersebut tidak sanggup berbuat apa-apa dan tidak mampu menolong kaum musyrikin di berbagai kancah peperangan, seperti perang badar dan selainnya.Sesembahan-sesembahan itu pun tidak mampu menolak bahaya yang Allah timpakan kepada kaum musyrikin di berbagai peristiwa. Maka hal ini menjadi dalil yang tegas bahwa alasan mereka dalam menyembah berhala dan patung tersebut agar mendapatkan manfaat atau terhindar bahaya dari diri mereka adalah perkara yang tertolak dan batil[1. Diintisarikan dari Al-Mulakhhosh, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 88-89 dan I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215.].Al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya mengatakan,وفي الآية حذف دل عليه الكلام ; أي أفرأيتم هذه الآلهة هل نفعت أو ضرت حتى تكون شركاء لله “Dalam ayat ini sesunguhnya terdapat pola kalimat yang menyimpan kata-kata yang tak disebutkan (hadzfun). Kata-kata tersebut ditunjukkan dari konteks pembicaraan, yaitu ‘Terangkanlah kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan ini sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudharat (bahaya) hingga merekapun dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id____🔍 Hukum Menikah Dalam Islam, Air Wadi, Bolehkah Membaca Alquran Di Hp, Demonstrasi Dalam Islam, Lahaulawalaquwataillabillah Arab

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (2)

Ketidak-berdayaan sesembahan-sesembahan mereka, al-laata, al-uzza, dan manaah ini semakin nampak apabila kita renungi ayat kesatu sampai kedelapan belas dari surat An-Najm yang berisikan tentang keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya, kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan wahyu Al Quran, dan kemuliaan Malaikat Jibril ‘alaihis salam.Sedangkan dua ayat selanjutnya, yaitu ayat kesembilan belas dan kedua puluh itu berisikan tentang perbandingan antara ketidakberdayaan ketiga sesembahan mereka yang terbesar tersebut dengan keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya dan perkara lainnya yang disebutkan dalam ayat-ayat yang sebelumnya.Sebagai contoh saja, ketiga sesembahan mereka tersebut tidaklah bisa mewahyukan kepada kaum musyrikin suatu wahyu, adapun Allah Ta’ala, Dia Ta’ala mewahyukan Alquran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, لما ذكر الوحي إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، وذكر من آثار قدرته ما ذكر ، حاج المشركين إذ عبدوا ما لا يعقل وقال : أفرأيتم هذه الآلهة التي تعبدونها أوحين إليكم شيئا كما أوحي إلى محمد ؟ “Tatkala Allah menyebutkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang kekuasaan-Nya sebagaimana yang telah disebutkan (sebelumya), Allah pun membantah hujjah kaum musyrikin, karena mereka menyembah sesembahan-sesembahan yang tidak berakal.Allah menyatakan bahwa terangkanlah kepadaku tentang sesembahan-sesembahan yang kalian sembah ini, apakah sesembahan-sesembahan ini (sanggup) menyampaikan wahyu kepada kepada kalian sebagaimana Allah mewahyukan (Alquran) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”[1. Tafsir Al-Qurthubi, QS. An-Najm: 19].Di samping itu, ketiga berhala dan patung mereka tersebut tidak mampu membuat mereka mencapai kedudukan yang tinggi sebagaimana yang Allah jadikan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga berhala dan patung itupun tidak mampu menciptakan malaikat yang mulia sebagaimana Allah menciptakan malaikat Jibril ‘alaihis salam.Lalu apakah layak berhala dan patung seperti itu dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah Azza wa Jalla? Demikianlah seluruh pertanyaan-pertanyaan dalam Alquran Al-Karim yang bebentuk tantangan (tahaddi) dan pembuktian ketidakmampuan (ta’jiz), maka tidaklah mungkin bisa dijawab oleh kaum musyrikin sampai hari Kiamat tiba.Siapa al-laata, al-uzza dan manaah? Bagaimana Kaum Musyrikin Menyembah Mereka?Allah Ta’ala berfirman:أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Laata dan al Uzza.Al-LaataTerdapat dua tafsiran Ulama rahimahumullah terhadap {اللَّاتَ}, yaitu[2. Dintisarikan dari I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215].Pertama:Tanpa mentasydidkan huruf ta` (ت): al-laata (اللَّاتَ), Dan bacaan tanpa tasydid ini adalah bacaan jumhur ulama[3. Lihat: Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 175]. Al-laata adalah batu besar halus, berwarna putih dan terukir. Jadi, Al-laata adalah sebuah patung di daerah Thaif milik Bani Tsaqif. Kaum musyrikin dahulu mencari keberkahan darinya, meminta pemenuhan hajat mereka kepadanya dan meminta kepadanya agar terangkat musibah yang menimpa kepada mereka.Dengan demikian, al-laata adalah batu atau patung yang dikeramatkan dan dicari keberkahannya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-laata adalah ngalap berkah (tabarruk bil ahjaar) kepada batu-batu yang dikeramatkan.Mereka menamai batu yang dikeramatkan tersebut dengan (اللَّاتَ), karena mengambil dari (الإله), dengan anggapan bahwa al-laata memang sesembahan yang layak untuk dimintai barakah, maslahat, dan keselamatan. Demikianlah para kaum musyrikin di zaman sekarang, mereka menamai sesembahan-sesembahan mereka dengan nama yang menurut mereka indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah sehingga banyak orang yang tertipu dengannya, sehingga mereka mengagungkan dan menyembah sesembahan-sesembahan tersebut.Camkanlah baik-baik! Bahwa jurus melariskan dagangan kesyirikan berupa menamai kesyirikan dengan nama yang mengandung kesan indah sebenarnya adalah jurus nenek moyang musyrikin semenjak tempoe doeloe.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Tidak Ada Paksaan Dalam Agama, Hadits Shahih Shalat Dhuha, Pengertian Kodifikasi Hadits, Israel Menurut Islam, Potong Kuku Sebelum Kurban

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (2)

Ketidak-berdayaan sesembahan-sesembahan mereka, al-laata, al-uzza, dan manaah ini semakin nampak apabila kita renungi ayat kesatu sampai kedelapan belas dari surat An-Najm yang berisikan tentang keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya, kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan wahyu Al Quran, dan kemuliaan Malaikat Jibril ‘alaihis salam.Sedangkan dua ayat selanjutnya, yaitu ayat kesembilan belas dan kedua puluh itu berisikan tentang perbandingan antara ketidakberdayaan ketiga sesembahan mereka yang terbesar tersebut dengan keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya dan perkara lainnya yang disebutkan dalam ayat-ayat yang sebelumnya.Sebagai contoh saja, ketiga sesembahan mereka tersebut tidaklah bisa mewahyukan kepada kaum musyrikin suatu wahyu, adapun Allah Ta’ala, Dia Ta’ala mewahyukan Alquran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, لما ذكر الوحي إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، وذكر من آثار قدرته ما ذكر ، حاج المشركين إذ عبدوا ما لا يعقل وقال : أفرأيتم هذه الآلهة التي تعبدونها أوحين إليكم شيئا كما أوحي إلى محمد ؟ “Tatkala Allah menyebutkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang kekuasaan-Nya sebagaimana yang telah disebutkan (sebelumya), Allah pun membantah hujjah kaum musyrikin, karena mereka menyembah sesembahan-sesembahan yang tidak berakal.Allah menyatakan bahwa terangkanlah kepadaku tentang sesembahan-sesembahan yang kalian sembah ini, apakah sesembahan-sesembahan ini (sanggup) menyampaikan wahyu kepada kepada kalian sebagaimana Allah mewahyukan (Alquran) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”[1. Tafsir Al-Qurthubi, QS. An-Najm: 19].Di samping itu, ketiga berhala dan patung mereka tersebut tidak mampu membuat mereka mencapai kedudukan yang tinggi sebagaimana yang Allah jadikan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga berhala dan patung itupun tidak mampu menciptakan malaikat yang mulia sebagaimana Allah menciptakan malaikat Jibril ‘alaihis salam.Lalu apakah layak berhala dan patung seperti itu dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah Azza wa Jalla? Demikianlah seluruh pertanyaan-pertanyaan dalam Alquran Al-Karim yang bebentuk tantangan (tahaddi) dan pembuktian ketidakmampuan (ta’jiz), maka tidaklah mungkin bisa dijawab oleh kaum musyrikin sampai hari Kiamat tiba.Siapa al-laata, al-uzza dan manaah? Bagaimana Kaum Musyrikin Menyembah Mereka?Allah Ta’ala berfirman:أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Laata dan al Uzza.Al-LaataTerdapat dua tafsiran Ulama rahimahumullah terhadap {اللَّاتَ}, yaitu[2. Dintisarikan dari I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215].Pertama:Tanpa mentasydidkan huruf ta` (ت): al-laata (اللَّاتَ), Dan bacaan tanpa tasydid ini adalah bacaan jumhur ulama[3. Lihat: Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 175]. Al-laata adalah batu besar halus, berwarna putih dan terukir. Jadi, Al-laata adalah sebuah patung di daerah Thaif milik Bani Tsaqif. Kaum musyrikin dahulu mencari keberkahan darinya, meminta pemenuhan hajat mereka kepadanya dan meminta kepadanya agar terangkat musibah yang menimpa kepada mereka.Dengan demikian, al-laata adalah batu atau patung yang dikeramatkan dan dicari keberkahannya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-laata adalah ngalap berkah (tabarruk bil ahjaar) kepada batu-batu yang dikeramatkan.Mereka menamai batu yang dikeramatkan tersebut dengan (اللَّاتَ), karena mengambil dari (الإله), dengan anggapan bahwa al-laata memang sesembahan yang layak untuk dimintai barakah, maslahat, dan keselamatan. Demikianlah para kaum musyrikin di zaman sekarang, mereka menamai sesembahan-sesembahan mereka dengan nama yang menurut mereka indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah sehingga banyak orang yang tertipu dengannya, sehingga mereka mengagungkan dan menyembah sesembahan-sesembahan tersebut.Camkanlah baik-baik! Bahwa jurus melariskan dagangan kesyirikan berupa menamai kesyirikan dengan nama yang mengandung kesan indah sebenarnya adalah jurus nenek moyang musyrikin semenjak tempoe doeloe.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Tidak Ada Paksaan Dalam Agama, Hadits Shahih Shalat Dhuha, Pengertian Kodifikasi Hadits, Israel Menurut Islam, Potong Kuku Sebelum Kurban
Ketidak-berdayaan sesembahan-sesembahan mereka, al-laata, al-uzza, dan manaah ini semakin nampak apabila kita renungi ayat kesatu sampai kedelapan belas dari surat An-Najm yang berisikan tentang keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya, kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan wahyu Al Quran, dan kemuliaan Malaikat Jibril ‘alaihis salam.Sedangkan dua ayat selanjutnya, yaitu ayat kesembilan belas dan kedua puluh itu berisikan tentang perbandingan antara ketidakberdayaan ketiga sesembahan mereka yang terbesar tersebut dengan keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya dan perkara lainnya yang disebutkan dalam ayat-ayat yang sebelumnya.Sebagai contoh saja, ketiga sesembahan mereka tersebut tidaklah bisa mewahyukan kepada kaum musyrikin suatu wahyu, adapun Allah Ta’ala, Dia Ta’ala mewahyukan Alquran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, لما ذكر الوحي إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، وذكر من آثار قدرته ما ذكر ، حاج المشركين إذ عبدوا ما لا يعقل وقال : أفرأيتم هذه الآلهة التي تعبدونها أوحين إليكم شيئا كما أوحي إلى محمد ؟ “Tatkala Allah menyebutkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang kekuasaan-Nya sebagaimana yang telah disebutkan (sebelumya), Allah pun membantah hujjah kaum musyrikin, karena mereka menyembah sesembahan-sesembahan yang tidak berakal.Allah menyatakan bahwa terangkanlah kepadaku tentang sesembahan-sesembahan yang kalian sembah ini, apakah sesembahan-sesembahan ini (sanggup) menyampaikan wahyu kepada kepada kalian sebagaimana Allah mewahyukan (Alquran) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”[1. Tafsir Al-Qurthubi, QS. An-Najm: 19].Di samping itu, ketiga berhala dan patung mereka tersebut tidak mampu membuat mereka mencapai kedudukan yang tinggi sebagaimana yang Allah jadikan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga berhala dan patung itupun tidak mampu menciptakan malaikat yang mulia sebagaimana Allah menciptakan malaikat Jibril ‘alaihis salam.Lalu apakah layak berhala dan patung seperti itu dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah Azza wa Jalla? Demikianlah seluruh pertanyaan-pertanyaan dalam Alquran Al-Karim yang bebentuk tantangan (tahaddi) dan pembuktian ketidakmampuan (ta’jiz), maka tidaklah mungkin bisa dijawab oleh kaum musyrikin sampai hari Kiamat tiba.Siapa al-laata, al-uzza dan manaah? Bagaimana Kaum Musyrikin Menyembah Mereka?Allah Ta’ala berfirman:أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Laata dan al Uzza.Al-LaataTerdapat dua tafsiran Ulama rahimahumullah terhadap {اللَّاتَ}, yaitu[2. Dintisarikan dari I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215].Pertama:Tanpa mentasydidkan huruf ta` (ت): al-laata (اللَّاتَ), Dan bacaan tanpa tasydid ini adalah bacaan jumhur ulama[3. Lihat: Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 175]. Al-laata adalah batu besar halus, berwarna putih dan terukir. Jadi, Al-laata adalah sebuah patung di daerah Thaif milik Bani Tsaqif. Kaum musyrikin dahulu mencari keberkahan darinya, meminta pemenuhan hajat mereka kepadanya dan meminta kepadanya agar terangkat musibah yang menimpa kepada mereka.Dengan demikian, al-laata adalah batu atau patung yang dikeramatkan dan dicari keberkahannya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-laata adalah ngalap berkah (tabarruk bil ahjaar) kepada batu-batu yang dikeramatkan.Mereka menamai batu yang dikeramatkan tersebut dengan (اللَّاتَ), karena mengambil dari (الإله), dengan anggapan bahwa al-laata memang sesembahan yang layak untuk dimintai barakah, maslahat, dan keselamatan. Demikianlah para kaum musyrikin di zaman sekarang, mereka menamai sesembahan-sesembahan mereka dengan nama yang menurut mereka indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah sehingga banyak orang yang tertipu dengannya, sehingga mereka mengagungkan dan menyembah sesembahan-sesembahan tersebut.Camkanlah baik-baik! Bahwa jurus melariskan dagangan kesyirikan berupa menamai kesyirikan dengan nama yang mengandung kesan indah sebenarnya adalah jurus nenek moyang musyrikin semenjak tempoe doeloe.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Tidak Ada Paksaan Dalam Agama, Hadits Shahih Shalat Dhuha, Pengertian Kodifikasi Hadits, Israel Menurut Islam, Potong Kuku Sebelum Kurban


Ketidak-berdayaan sesembahan-sesembahan mereka, al-laata, al-uzza, dan manaah ini semakin nampak apabila kita renungi ayat kesatu sampai kedelapan belas dari surat An-Najm yang berisikan tentang keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya, kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan wahyu Al Quran, dan kemuliaan Malaikat Jibril ‘alaihis salam.Sedangkan dua ayat selanjutnya, yaitu ayat kesembilan belas dan kedua puluh itu berisikan tentang perbandingan antara ketidakberdayaan ketiga sesembahan mereka yang terbesar tersebut dengan keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya dan perkara lainnya yang disebutkan dalam ayat-ayat yang sebelumnya.Sebagai contoh saja, ketiga sesembahan mereka tersebut tidaklah bisa mewahyukan kepada kaum musyrikin suatu wahyu, adapun Allah Ta’ala, Dia Ta’ala mewahyukan Alquran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, لما ذكر الوحي إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، وذكر من آثار قدرته ما ذكر ، حاج المشركين إذ عبدوا ما لا يعقل وقال : أفرأيتم هذه الآلهة التي تعبدونها أوحين إليكم شيئا كما أوحي إلى محمد ؟ “Tatkala Allah menyebutkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang kekuasaan-Nya sebagaimana yang telah disebutkan (sebelumya), Allah pun membantah hujjah kaum musyrikin, karena mereka menyembah sesembahan-sesembahan yang tidak berakal.Allah menyatakan bahwa terangkanlah kepadaku tentang sesembahan-sesembahan yang kalian sembah ini, apakah sesembahan-sesembahan ini (sanggup) menyampaikan wahyu kepada kepada kalian sebagaimana Allah mewahyukan (Alquran) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”[1. Tafsir Al-Qurthubi, QS. An-Najm: 19].Di samping itu, ketiga berhala dan patung mereka tersebut tidak mampu membuat mereka mencapai kedudukan yang tinggi sebagaimana yang Allah jadikan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga berhala dan patung itupun tidak mampu menciptakan malaikat yang mulia sebagaimana Allah menciptakan malaikat Jibril ‘alaihis salam.Lalu apakah layak berhala dan patung seperti itu dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah Azza wa Jalla? Demikianlah seluruh pertanyaan-pertanyaan dalam Alquran Al-Karim yang bebentuk tantangan (tahaddi) dan pembuktian ketidakmampuan (ta’jiz), maka tidaklah mungkin bisa dijawab oleh kaum musyrikin sampai hari Kiamat tiba.Siapa al-laata, al-uzza dan manaah? Bagaimana Kaum Musyrikin Menyembah Mereka?Allah Ta’ala berfirman:أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Laata dan al Uzza.Al-LaataTerdapat dua tafsiran Ulama rahimahumullah terhadap {اللَّاتَ}, yaitu[2. Dintisarikan dari I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215].Pertama:Tanpa mentasydidkan huruf ta` (ت): al-laata (اللَّاتَ), Dan bacaan tanpa tasydid ini adalah bacaan jumhur ulama[3. Lihat: Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 175]. Al-laata adalah batu besar halus, berwarna putih dan terukir. Jadi, Al-laata adalah sebuah patung di daerah Thaif milik Bani Tsaqif. Kaum musyrikin dahulu mencari keberkahan darinya, meminta pemenuhan hajat mereka kepadanya dan meminta kepadanya agar terangkat musibah yang menimpa kepada mereka.Dengan demikian, al-laata adalah batu atau patung yang dikeramatkan dan dicari keberkahannya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-laata adalah ngalap berkah (tabarruk bil ahjaar) kepada batu-batu yang dikeramatkan.Mereka menamai batu yang dikeramatkan tersebut dengan (اللَّاتَ), karena mengambil dari (الإله), dengan anggapan bahwa al-laata memang sesembahan yang layak untuk dimintai barakah, maslahat, dan keselamatan. Demikianlah para kaum musyrikin di zaman sekarang, mereka menamai sesembahan-sesembahan mereka dengan nama yang menurut mereka indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah sehingga banyak orang yang tertipu dengannya, sehingga mereka mengagungkan dan menyembah sesembahan-sesembahan tersebut.Camkanlah baik-baik! Bahwa jurus melariskan dagangan kesyirikan berupa menamai kesyirikan dengan nama yang mengandung kesan indah sebenarnya adalah jurus nenek moyang musyrikin semenjak tempoe doeloe.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Tidak Ada Paksaan Dalam Agama, Hadits Shahih Shalat Dhuha, Pengertian Kodifikasi Hadits, Israel Menurut Islam, Potong Kuku Sebelum Kurban
Prev     Next