Dua Jenis Zuhud yang Bikin Allah dan Manusia Cinta Padamu – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi para muridnya, lalu berkata: “Kalian hari ini lebih banyak shalat dan puasanya daripada para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi dulu mereka lebih baik daripada kalian.” Para muridnya bertanya, “Mengapa bisa demikian, wahai Abu Abdurrahman?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Karena dulu mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan lebih mengharapkan akhirat.” Maka, zuhud bukan sekadar banyak beramal dengan anggota badan, melainkan terletak pada amalan hati. Oleh sebab itu, di antara hal terpenting adalah perhatian terhadap amalan hati. Banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang sibuk mempelajari kitab-kitab fikih dan ushul fikih sering kali membuatnya sibuk dengan amalan lahiriah hingga melupakan amalan hati. Tidak ada yang mampu mengembalikannya kepada amalan hati kecuali Al-Qur’an. Maka, memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya, serta membaca sirah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum —dan sebelum itu semua, tentu membaca sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah perkara yang melembutkan hati, dan menjadikan seseorang zuhud terhadap dunia. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa zuhud ada dua jenis: zuhud terhadap dunia, dan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Adapun zuhud terhadap dunia, maka siapa yang melakukannya dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Makna zuhud terhadap dunia ialah hati tidak terpaut pada dunia, melainkan hanya terpaut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi seseorang memiliki harta yang melimpah ruah, seperti halnya beberapa Sahabat, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya, atau seperti ulama generasi berikutnya, seperti Abdullah bin Al-Mubarak yang telah disebutkan. Abdullah bin Al-Mubarak termasuk orang paling zuhud di zamannya. Beliau juga menulis kitab tebal yang telah dicetak sejak lama, dengan judul “Kitab Az-Zuhd”. Para ulama dan ahli fikih dari generasi setelahnya sangat takjub dengan kezuhudan Abdullah bin Al-Mubarak, karena beliau memiliki harta, tetapi tetap zuhud. Ciri orang zuhud terhadap harta adalah: ketika muncul kesempatan untuk bersedekah, ia segera melakukannya tanpa pelit. Inilah orang yang zuhud. Zuhud bukan pada ketidakmampuan mencari harta, melainkan pada kemudahan dan kerelaannya menginfakkan hartanya. Jenis zuhud yang kedua adalah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Siapa yang zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, maka manusia akan mencintainya. Makna zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, yang pertama, ialah meninggalkan rasa iri terhadap harta mereka. Barang siapa memiliki harta atau kenikmatan duniawi (maka jangan kamu iri kepada mereka), “Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Thaha: 131). Zuhud dan ketidaktertarikan terhadap hal itu merupakan sebab utama kezuhudan terhadap apa yang dimiliki orang lain. Kedua, zuhud terhadap hal-hal yang diperebutkan manusia dalam urusan kemuliaan dan jabatan. Siapa yang zuhud terhadap kedudukan dan penghormatan, di mana seseorang dihormati, seperti menjadi khatib ulung, sebab menjadi khatib adalah salah satu bentuk kemuliaan: orang-orang berkumpul di hadapanmu, berdesakan di sekitarmu, dan diam mendengarkanmu saat kamu berbicara. Siapa yang zuhud terhadap hal itu, maka manusia akan mencintainya. Namun, terkadang seseorang memang ditakdirkan mengemban jabatan tersebut. Misalnya, si Ahmad berkata: “Aku ditakdirkan menjabat ini, bukan karena permintaanku.” Jika kamu memang diberi tanggung jawab tanpa memintanya, maka ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jabatan itu mendatangimu tanpa kamu meminta dan mengharapkannya.” Siapa yang mengamalkan kedua jenis zuhud ini, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintainya, dan manusia juga mencintainya karenanya. ===== عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى أَصْحَابَهُ فَقَالَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ أَكْثَرُ صَلاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيْرًا مِنْكُمْ فَقَالُوا لِمَ ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا مِنْكُمْ وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ الزُّهْدُ بِمُجَرَّدِ الْأَعْمَالِ وَإِنَّمَا هُوَ فِعْلُ الْقَلْبِ وَذَلِكَ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الْعِنَايَةُ بِفِعْلِ الْقَلْبِ وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الَّذِي يُعْنَى بِكُتُبِ الْفِقْهِ وَالْأُصُولِ رُبَّمَا انْشَغَلَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ عَنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ وَلَا يُرْجِعُهُ لِأَفْعَالِ الْقُلُوبِ إِلَّا الْقُرْآنُ فَالْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِي مَعَانِيهِ وَالنَّظَرُ فِي سِيَرِ الْأَوَائِلِ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَقَبْلَ ذَلِكَ سِيْرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا هِيَ الَّتِي تُرَقِّقُ الْقَلْبَ هِيَ الَّتِي تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَانٌ أَنَّ الزُّهْدَ نَوْعَانِ زُهْدٌ فِي الدُّنْيَا وَزُهْدٌ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ فَأَمَّا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَهُ أَحَبَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعْنَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ الْقَلْبُ بِالدُّنْيَا وَإِنَّمَا يَتَعَلَّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ امْتَلَأَتْ يَدَاهُ مِنَ الدُّنْيَا كَحَالِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ كَعُثْمَانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَغَيْرِهِمْ وَمِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ كَانَ مِنْ أَزْهَدِ أَهْلِ عَصْرِهِ وَقَدْ أَلَّفَ كِتَابًا ضَخْمًا طُبِعَ مُنْذُ فَتَرَاتٍ طَوِيلَةٍ بِاسْمِ كِتَابِ الزُّهْدِ وَكَانَ الْعُلَمَاءُ الْفُقَهَاءُ يُعْجِبُهُمْ زُهْدُ عَبْدِاللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ لِأَنَّهُ فِي يَدِهِ مَالٌ وَمَعَ ذَلِكَ زَهَدَ الزَّاهِدُ هَذَا يَدُلُّ عَلَى زُهْدِهِ فِي الْمَالِ أَنَّهُ إِذَا جَاءَ سَبَبُ الصَّدَقَةِ تَصَدَّقَ وَلَمْ يَبْخَلْ بِهِ هَذَا هُوَ الزَّاهِدُ لَيْسَ فِي عَدَمِ كَسْبِهِ وَإِنَّمَا فِي بَذْلِهِ وَسُهُولَةِ بَذْلِهِ لِلْمَالِ النَّوْعُ الثَّانِي مِنْ الزُّهْدِ الزُّهْدُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ وَمَنْ زَهِدَ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَحَبَّهُ النَّاسُ مَعْنَى الزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَوَّلًا تَرْكُ الْحَسَدِ فِي أَمْوَالِهِمْ فَمَنْ مَلَكَ مَالًا أَوْ مَلَكَ مَتَاعًا مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا هَذَا الزُّهْدُ فِيهِ وَعَدَمُ الْإِقْبَالِ عَلَيْهِ سَبَبٌ لِلزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ الْأَمْرُ الثَّانِي الزُّهْدُ فِيمَا يَتَنَافَسُ فِيهِ النَّاسُ فِي أُمُورِ الشَّرَفِ وَالْوِلَايَاتِ فَمَنْ زَهِدَ فِي الْوِلَايَاتِ وَالشَّرَفِ الَّتِي يُشْرِفُونَ فِيهَا كَأَنْ يَكُونَ خَطِيبًا مِصْقَعًا إِذْ مِنَ الشَّرَفِ أَنْ تَكُونَ خَطِيبًا فَيَجْتَمِعُ النَّاسُ إِلَيْكَ وَيَتَكَاثَرُونَ عِنْدَكَ وَيُنْصِتُونَ لَكَ إِذَا تَكَلَّمْتَ مَنْ زَهِدَ فِي ذَلِكَ أَحَبَّهُ النَّاسُ لَكِنْ قَدْ يُبْتَلَى بَعْضُ النَّاسِ أَحْمَدُ يَقُولُ أَنَا رَجُلٌ بُلِيْتُ أَنَا بُلِيْتُ بِذَلِكَ لَكِنْ إِذَا اُبْتُلِيْتَ فَإِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَكَ مِن غَيْرِ طَلَبٍ وَلَا اسْتِشْرَافِ نَفْسٍ مَنْ فَعَلَ الثِّنْتَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَيُحِبُّهُ النَّاسُ لِأَجْلِ ذَلِكَ

Dua Jenis Zuhud yang Bikin Allah dan Manusia Cinta Padamu – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi para muridnya, lalu berkata: “Kalian hari ini lebih banyak shalat dan puasanya daripada para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi dulu mereka lebih baik daripada kalian.” Para muridnya bertanya, “Mengapa bisa demikian, wahai Abu Abdurrahman?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Karena dulu mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan lebih mengharapkan akhirat.” Maka, zuhud bukan sekadar banyak beramal dengan anggota badan, melainkan terletak pada amalan hati. Oleh sebab itu, di antara hal terpenting adalah perhatian terhadap amalan hati. Banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang sibuk mempelajari kitab-kitab fikih dan ushul fikih sering kali membuatnya sibuk dengan amalan lahiriah hingga melupakan amalan hati. Tidak ada yang mampu mengembalikannya kepada amalan hati kecuali Al-Qur’an. Maka, memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya, serta membaca sirah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum —dan sebelum itu semua, tentu membaca sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah perkara yang melembutkan hati, dan menjadikan seseorang zuhud terhadap dunia. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa zuhud ada dua jenis: zuhud terhadap dunia, dan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Adapun zuhud terhadap dunia, maka siapa yang melakukannya dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Makna zuhud terhadap dunia ialah hati tidak terpaut pada dunia, melainkan hanya terpaut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi seseorang memiliki harta yang melimpah ruah, seperti halnya beberapa Sahabat, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya, atau seperti ulama generasi berikutnya, seperti Abdullah bin Al-Mubarak yang telah disebutkan. Abdullah bin Al-Mubarak termasuk orang paling zuhud di zamannya. Beliau juga menulis kitab tebal yang telah dicetak sejak lama, dengan judul “Kitab Az-Zuhd”. Para ulama dan ahli fikih dari generasi setelahnya sangat takjub dengan kezuhudan Abdullah bin Al-Mubarak, karena beliau memiliki harta, tetapi tetap zuhud. Ciri orang zuhud terhadap harta adalah: ketika muncul kesempatan untuk bersedekah, ia segera melakukannya tanpa pelit. Inilah orang yang zuhud. Zuhud bukan pada ketidakmampuan mencari harta, melainkan pada kemudahan dan kerelaannya menginfakkan hartanya. Jenis zuhud yang kedua adalah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Siapa yang zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, maka manusia akan mencintainya. Makna zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, yang pertama, ialah meninggalkan rasa iri terhadap harta mereka. Barang siapa memiliki harta atau kenikmatan duniawi (maka jangan kamu iri kepada mereka), “Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Thaha: 131). Zuhud dan ketidaktertarikan terhadap hal itu merupakan sebab utama kezuhudan terhadap apa yang dimiliki orang lain. Kedua, zuhud terhadap hal-hal yang diperebutkan manusia dalam urusan kemuliaan dan jabatan. Siapa yang zuhud terhadap kedudukan dan penghormatan, di mana seseorang dihormati, seperti menjadi khatib ulung, sebab menjadi khatib adalah salah satu bentuk kemuliaan: orang-orang berkumpul di hadapanmu, berdesakan di sekitarmu, dan diam mendengarkanmu saat kamu berbicara. Siapa yang zuhud terhadap hal itu, maka manusia akan mencintainya. Namun, terkadang seseorang memang ditakdirkan mengemban jabatan tersebut. Misalnya, si Ahmad berkata: “Aku ditakdirkan menjabat ini, bukan karena permintaanku.” Jika kamu memang diberi tanggung jawab tanpa memintanya, maka ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jabatan itu mendatangimu tanpa kamu meminta dan mengharapkannya.” Siapa yang mengamalkan kedua jenis zuhud ini, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintainya, dan manusia juga mencintainya karenanya. ===== عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى أَصْحَابَهُ فَقَالَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ أَكْثَرُ صَلاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيْرًا مِنْكُمْ فَقَالُوا لِمَ ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا مِنْكُمْ وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ الزُّهْدُ بِمُجَرَّدِ الْأَعْمَالِ وَإِنَّمَا هُوَ فِعْلُ الْقَلْبِ وَذَلِكَ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الْعِنَايَةُ بِفِعْلِ الْقَلْبِ وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الَّذِي يُعْنَى بِكُتُبِ الْفِقْهِ وَالْأُصُولِ رُبَّمَا انْشَغَلَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ عَنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ وَلَا يُرْجِعُهُ لِأَفْعَالِ الْقُلُوبِ إِلَّا الْقُرْآنُ فَالْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِي مَعَانِيهِ وَالنَّظَرُ فِي سِيَرِ الْأَوَائِلِ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَقَبْلَ ذَلِكَ سِيْرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا هِيَ الَّتِي تُرَقِّقُ الْقَلْبَ هِيَ الَّتِي تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَانٌ أَنَّ الزُّهْدَ نَوْعَانِ زُهْدٌ فِي الدُّنْيَا وَزُهْدٌ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ فَأَمَّا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَهُ أَحَبَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعْنَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ الْقَلْبُ بِالدُّنْيَا وَإِنَّمَا يَتَعَلَّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ امْتَلَأَتْ يَدَاهُ مِنَ الدُّنْيَا كَحَالِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ كَعُثْمَانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَغَيْرِهِمْ وَمِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ كَانَ مِنْ أَزْهَدِ أَهْلِ عَصْرِهِ وَقَدْ أَلَّفَ كِتَابًا ضَخْمًا طُبِعَ مُنْذُ فَتَرَاتٍ طَوِيلَةٍ بِاسْمِ كِتَابِ الزُّهْدِ وَكَانَ الْعُلَمَاءُ الْفُقَهَاءُ يُعْجِبُهُمْ زُهْدُ عَبْدِاللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ لِأَنَّهُ فِي يَدِهِ مَالٌ وَمَعَ ذَلِكَ زَهَدَ الزَّاهِدُ هَذَا يَدُلُّ عَلَى زُهْدِهِ فِي الْمَالِ أَنَّهُ إِذَا جَاءَ سَبَبُ الصَّدَقَةِ تَصَدَّقَ وَلَمْ يَبْخَلْ بِهِ هَذَا هُوَ الزَّاهِدُ لَيْسَ فِي عَدَمِ كَسْبِهِ وَإِنَّمَا فِي بَذْلِهِ وَسُهُولَةِ بَذْلِهِ لِلْمَالِ النَّوْعُ الثَّانِي مِنْ الزُّهْدِ الزُّهْدُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ وَمَنْ زَهِدَ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَحَبَّهُ النَّاسُ مَعْنَى الزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَوَّلًا تَرْكُ الْحَسَدِ فِي أَمْوَالِهِمْ فَمَنْ مَلَكَ مَالًا أَوْ مَلَكَ مَتَاعًا مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا هَذَا الزُّهْدُ فِيهِ وَعَدَمُ الْإِقْبَالِ عَلَيْهِ سَبَبٌ لِلزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ الْأَمْرُ الثَّانِي الزُّهْدُ فِيمَا يَتَنَافَسُ فِيهِ النَّاسُ فِي أُمُورِ الشَّرَفِ وَالْوِلَايَاتِ فَمَنْ زَهِدَ فِي الْوِلَايَاتِ وَالشَّرَفِ الَّتِي يُشْرِفُونَ فِيهَا كَأَنْ يَكُونَ خَطِيبًا مِصْقَعًا إِذْ مِنَ الشَّرَفِ أَنْ تَكُونَ خَطِيبًا فَيَجْتَمِعُ النَّاسُ إِلَيْكَ وَيَتَكَاثَرُونَ عِنْدَكَ وَيُنْصِتُونَ لَكَ إِذَا تَكَلَّمْتَ مَنْ زَهِدَ فِي ذَلِكَ أَحَبَّهُ النَّاسُ لَكِنْ قَدْ يُبْتَلَى بَعْضُ النَّاسِ أَحْمَدُ يَقُولُ أَنَا رَجُلٌ بُلِيْتُ أَنَا بُلِيْتُ بِذَلِكَ لَكِنْ إِذَا اُبْتُلِيْتَ فَإِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَكَ مِن غَيْرِ طَلَبٍ وَلَا اسْتِشْرَافِ نَفْسٍ مَنْ فَعَلَ الثِّنْتَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَيُحِبُّهُ النَّاسُ لِأَجْلِ ذَلِكَ
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi para muridnya, lalu berkata: “Kalian hari ini lebih banyak shalat dan puasanya daripada para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi dulu mereka lebih baik daripada kalian.” Para muridnya bertanya, “Mengapa bisa demikian, wahai Abu Abdurrahman?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Karena dulu mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan lebih mengharapkan akhirat.” Maka, zuhud bukan sekadar banyak beramal dengan anggota badan, melainkan terletak pada amalan hati. Oleh sebab itu, di antara hal terpenting adalah perhatian terhadap amalan hati. Banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang sibuk mempelajari kitab-kitab fikih dan ushul fikih sering kali membuatnya sibuk dengan amalan lahiriah hingga melupakan amalan hati. Tidak ada yang mampu mengembalikannya kepada amalan hati kecuali Al-Qur’an. Maka, memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya, serta membaca sirah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum —dan sebelum itu semua, tentu membaca sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah perkara yang melembutkan hati, dan menjadikan seseorang zuhud terhadap dunia. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa zuhud ada dua jenis: zuhud terhadap dunia, dan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Adapun zuhud terhadap dunia, maka siapa yang melakukannya dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Makna zuhud terhadap dunia ialah hati tidak terpaut pada dunia, melainkan hanya terpaut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi seseorang memiliki harta yang melimpah ruah, seperti halnya beberapa Sahabat, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya, atau seperti ulama generasi berikutnya, seperti Abdullah bin Al-Mubarak yang telah disebutkan. Abdullah bin Al-Mubarak termasuk orang paling zuhud di zamannya. Beliau juga menulis kitab tebal yang telah dicetak sejak lama, dengan judul “Kitab Az-Zuhd”. Para ulama dan ahli fikih dari generasi setelahnya sangat takjub dengan kezuhudan Abdullah bin Al-Mubarak, karena beliau memiliki harta, tetapi tetap zuhud. Ciri orang zuhud terhadap harta adalah: ketika muncul kesempatan untuk bersedekah, ia segera melakukannya tanpa pelit. Inilah orang yang zuhud. Zuhud bukan pada ketidakmampuan mencari harta, melainkan pada kemudahan dan kerelaannya menginfakkan hartanya. Jenis zuhud yang kedua adalah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Siapa yang zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, maka manusia akan mencintainya. Makna zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, yang pertama, ialah meninggalkan rasa iri terhadap harta mereka. Barang siapa memiliki harta atau kenikmatan duniawi (maka jangan kamu iri kepada mereka), “Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Thaha: 131). Zuhud dan ketidaktertarikan terhadap hal itu merupakan sebab utama kezuhudan terhadap apa yang dimiliki orang lain. Kedua, zuhud terhadap hal-hal yang diperebutkan manusia dalam urusan kemuliaan dan jabatan. Siapa yang zuhud terhadap kedudukan dan penghormatan, di mana seseorang dihormati, seperti menjadi khatib ulung, sebab menjadi khatib adalah salah satu bentuk kemuliaan: orang-orang berkumpul di hadapanmu, berdesakan di sekitarmu, dan diam mendengarkanmu saat kamu berbicara. Siapa yang zuhud terhadap hal itu, maka manusia akan mencintainya. Namun, terkadang seseorang memang ditakdirkan mengemban jabatan tersebut. Misalnya, si Ahmad berkata: “Aku ditakdirkan menjabat ini, bukan karena permintaanku.” Jika kamu memang diberi tanggung jawab tanpa memintanya, maka ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jabatan itu mendatangimu tanpa kamu meminta dan mengharapkannya.” Siapa yang mengamalkan kedua jenis zuhud ini, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintainya, dan manusia juga mencintainya karenanya. ===== عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى أَصْحَابَهُ فَقَالَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ أَكْثَرُ صَلاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيْرًا مِنْكُمْ فَقَالُوا لِمَ ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا مِنْكُمْ وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ الزُّهْدُ بِمُجَرَّدِ الْأَعْمَالِ وَإِنَّمَا هُوَ فِعْلُ الْقَلْبِ وَذَلِكَ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الْعِنَايَةُ بِفِعْلِ الْقَلْبِ وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الَّذِي يُعْنَى بِكُتُبِ الْفِقْهِ وَالْأُصُولِ رُبَّمَا انْشَغَلَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ عَنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ وَلَا يُرْجِعُهُ لِأَفْعَالِ الْقُلُوبِ إِلَّا الْقُرْآنُ فَالْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِي مَعَانِيهِ وَالنَّظَرُ فِي سِيَرِ الْأَوَائِلِ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَقَبْلَ ذَلِكَ سِيْرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا هِيَ الَّتِي تُرَقِّقُ الْقَلْبَ هِيَ الَّتِي تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَانٌ أَنَّ الزُّهْدَ نَوْعَانِ زُهْدٌ فِي الدُّنْيَا وَزُهْدٌ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ فَأَمَّا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَهُ أَحَبَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعْنَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ الْقَلْبُ بِالدُّنْيَا وَإِنَّمَا يَتَعَلَّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ امْتَلَأَتْ يَدَاهُ مِنَ الدُّنْيَا كَحَالِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ كَعُثْمَانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَغَيْرِهِمْ وَمِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ كَانَ مِنْ أَزْهَدِ أَهْلِ عَصْرِهِ وَقَدْ أَلَّفَ كِتَابًا ضَخْمًا طُبِعَ مُنْذُ فَتَرَاتٍ طَوِيلَةٍ بِاسْمِ كِتَابِ الزُّهْدِ وَكَانَ الْعُلَمَاءُ الْفُقَهَاءُ يُعْجِبُهُمْ زُهْدُ عَبْدِاللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ لِأَنَّهُ فِي يَدِهِ مَالٌ وَمَعَ ذَلِكَ زَهَدَ الزَّاهِدُ هَذَا يَدُلُّ عَلَى زُهْدِهِ فِي الْمَالِ أَنَّهُ إِذَا جَاءَ سَبَبُ الصَّدَقَةِ تَصَدَّقَ وَلَمْ يَبْخَلْ بِهِ هَذَا هُوَ الزَّاهِدُ لَيْسَ فِي عَدَمِ كَسْبِهِ وَإِنَّمَا فِي بَذْلِهِ وَسُهُولَةِ بَذْلِهِ لِلْمَالِ النَّوْعُ الثَّانِي مِنْ الزُّهْدِ الزُّهْدُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ وَمَنْ زَهِدَ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَحَبَّهُ النَّاسُ مَعْنَى الزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَوَّلًا تَرْكُ الْحَسَدِ فِي أَمْوَالِهِمْ فَمَنْ مَلَكَ مَالًا أَوْ مَلَكَ مَتَاعًا مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا هَذَا الزُّهْدُ فِيهِ وَعَدَمُ الْإِقْبَالِ عَلَيْهِ سَبَبٌ لِلزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ الْأَمْرُ الثَّانِي الزُّهْدُ فِيمَا يَتَنَافَسُ فِيهِ النَّاسُ فِي أُمُورِ الشَّرَفِ وَالْوِلَايَاتِ فَمَنْ زَهِدَ فِي الْوِلَايَاتِ وَالشَّرَفِ الَّتِي يُشْرِفُونَ فِيهَا كَأَنْ يَكُونَ خَطِيبًا مِصْقَعًا إِذْ مِنَ الشَّرَفِ أَنْ تَكُونَ خَطِيبًا فَيَجْتَمِعُ النَّاسُ إِلَيْكَ وَيَتَكَاثَرُونَ عِنْدَكَ وَيُنْصِتُونَ لَكَ إِذَا تَكَلَّمْتَ مَنْ زَهِدَ فِي ذَلِكَ أَحَبَّهُ النَّاسُ لَكِنْ قَدْ يُبْتَلَى بَعْضُ النَّاسِ أَحْمَدُ يَقُولُ أَنَا رَجُلٌ بُلِيْتُ أَنَا بُلِيْتُ بِذَلِكَ لَكِنْ إِذَا اُبْتُلِيْتَ فَإِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَكَ مِن غَيْرِ طَلَبٍ وَلَا اسْتِشْرَافِ نَفْسٍ مَنْ فَعَلَ الثِّنْتَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَيُحِبُّهُ النَّاسُ لِأَجْلِ ذَلِكَ


Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi para muridnya, lalu berkata: “Kalian hari ini lebih banyak shalat dan puasanya daripada para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi dulu mereka lebih baik daripada kalian.” Para muridnya bertanya, “Mengapa bisa demikian, wahai Abu Abdurrahman?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Karena dulu mereka lebih zuhud terhadap dunia daripada kalian, dan lebih mengharapkan akhirat.” Maka, zuhud bukan sekadar banyak beramal dengan anggota badan, melainkan terletak pada amalan hati. Oleh sebab itu, di antara hal terpenting adalah perhatian terhadap amalan hati. Banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang sibuk mempelajari kitab-kitab fikih dan ushul fikih sering kali membuatnya sibuk dengan amalan lahiriah hingga melupakan amalan hati. Tidak ada yang mampu mengembalikannya kepada amalan hati kecuali Al-Qur’an. Maka, memperbanyak membaca Al-Qur’an, merenungkan maknanya, serta membaca sirah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum —dan sebelum itu semua, tentu membaca sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah perkara yang melembutkan hati, dan menjadikan seseorang zuhud terhadap dunia. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa zuhud ada dua jenis: zuhud terhadap dunia, dan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Adapun zuhud terhadap dunia, maka siapa yang melakukannya dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Makna zuhud terhadap dunia ialah hati tidak terpaut pada dunia, melainkan hanya terpaut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bisa jadi seseorang memiliki harta yang melimpah ruah, seperti halnya beberapa Sahabat, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya, atau seperti ulama generasi berikutnya, seperti Abdullah bin Al-Mubarak yang telah disebutkan. Abdullah bin Al-Mubarak termasuk orang paling zuhud di zamannya. Beliau juga menulis kitab tebal yang telah dicetak sejak lama, dengan judul “Kitab Az-Zuhd”. Para ulama dan ahli fikih dari generasi setelahnya sangat takjub dengan kezuhudan Abdullah bin Al-Mubarak, karena beliau memiliki harta, tetapi tetap zuhud. Ciri orang zuhud terhadap harta adalah: ketika muncul kesempatan untuk bersedekah, ia segera melakukannya tanpa pelit. Inilah orang yang zuhud. Zuhud bukan pada ketidakmampuan mencari harta, melainkan pada kemudahan dan kerelaannya menginfakkan hartanya. Jenis zuhud yang kedua adalah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Siapa yang zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, maka manusia akan mencintainya. Makna zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain, yang pertama, ialah meninggalkan rasa iri terhadap harta mereka. Barang siapa memiliki harta atau kenikmatan duniawi (maka jangan kamu iri kepada mereka), “Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Thaha: 131). Zuhud dan ketidaktertarikan terhadap hal itu merupakan sebab utama kezuhudan terhadap apa yang dimiliki orang lain. Kedua, zuhud terhadap hal-hal yang diperebutkan manusia dalam urusan kemuliaan dan jabatan. Siapa yang zuhud terhadap kedudukan dan penghormatan, di mana seseorang dihormati, seperti menjadi khatib ulung, sebab menjadi khatib adalah salah satu bentuk kemuliaan: orang-orang berkumpul di hadapanmu, berdesakan di sekitarmu, dan diam mendengarkanmu saat kamu berbicara. Siapa yang zuhud terhadap hal itu, maka manusia akan mencintainya. Namun, terkadang seseorang memang ditakdirkan mengemban jabatan tersebut. Misalnya, si Ahmad berkata: “Aku ditakdirkan menjabat ini, bukan karena permintaanku.” Jika kamu memang diberi tanggung jawab tanpa memintanya, maka ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jabatan itu mendatangimu tanpa kamu meminta dan mengharapkannya.” Siapa yang mengamalkan kedua jenis zuhud ini, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintainya, dan manusia juga mencintainya karenanya. ===== عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى أَصْحَابَهُ فَقَالَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ أَكْثَرُ صَلاةً وَصِيَامًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَانُوا خَيْرًا مِنْكُمْ فَقَالُوا لِمَ ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا مِنْكُمْ وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ الزُّهْدُ بِمُجَرَّدِ الْأَعْمَالِ وَإِنَّمَا هُوَ فِعْلُ الْقَلْبِ وَذَلِكَ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ الْعِنَايَةُ بِفِعْلِ الْقَلْبِ وَقَدْ ذَكَرَ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الَّذِي يُعْنَى بِكُتُبِ الْفِقْهِ وَالْأُصُولِ رُبَّمَا انْشَغَلَ بِأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ عَنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ وَلَا يُرْجِعُهُ لِأَفْعَالِ الْقُلُوبِ إِلَّا الْقُرْآنُ فَالْإِكْثَارُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّأَمُّلِ فِي مَعَانِيهِ وَالنَّظَرُ فِي سِيَرِ الْأَوَائِلِ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَقَبْلَ ذَلِكَ سِيْرَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا هِيَ الَّتِي تُرَقِّقُ الْقَلْبَ هِيَ الَّتِي تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ بَيَانٌ أَنَّ الزُّهْدَ نَوْعَانِ زُهْدٌ فِي الدُّنْيَا وَزُهْدٌ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ فَأَمَّا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَهُ أَحَبَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعْنَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا يَتَعَلَّقَ الْقَلْبُ بِالدُّنْيَا وَإِنَّمَا يَتَعَلَّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَكُونُ الْمَرْءُ قَدْ امْتَلَأَتْ يَدَاهُ مِنَ الدُّنْيَا كَحَالِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ كَعُثْمَانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَغَيْرِهِمْ وَمِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ كَانَ مِنْ أَزْهَدِ أَهْلِ عَصْرِهِ وَقَدْ أَلَّفَ كِتَابًا ضَخْمًا طُبِعَ مُنْذُ فَتَرَاتٍ طَوِيلَةٍ بِاسْمِ كِتَابِ الزُّهْدِ وَكَانَ الْعُلَمَاءُ الْفُقَهَاءُ يُعْجِبُهُمْ زُهْدُ عَبْدِاللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ لِأَنَّهُ فِي يَدِهِ مَالٌ وَمَعَ ذَلِكَ زَهَدَ الزَّاهِدُ هَذَا يَدُلُّ عَلَى زُهْدِهِ فِي الْمَالِ أَنَّهُ إِذَا جَاءَ سَبَبُ الصَّدَقَةِ تَصَدَّقَ وَلَمْ يَبْخَلْ بِهِ هَذَا هُوَ الزَّاهِدُ لَيْسَ فِي عَدَمِ كَسْبِهِ وَإِنَّمَا فِي بَذْلِهِ وَسُهُولَةِ بَذْلِهِ لِلْمَالِ النَّوْعُ الثَّانِي مِنْ الزُّهْدِ الزُّهْدُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ وَمَنْ زَهِدَ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَحَبَّهُ النَّاسُ مَعْنَى الزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ أَوَّلًا تَرْكُ الْحَسَدِ فِي أَمْوَالِهِمْ فَمَنْ مَلَكَ مَالًا أَوْ مَلَكَ مَتَاعًا مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا هَذَا الزُّهْدُ فِيهِ وَعَدَمُ الْإِقْبَالِ عَلَيْهِ سَبَبٌ لِلزُّهْدِ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ الْأَمْرُ الثَّانِي الزُّهْدُ فِيمَا يَتَنَافَسُ فِيهِ النَّاسُ فِي أُمُورِ الشَّرَفِ وَالْوِلَايَاتِ فَمَنْ زَهِدَ فِي الْوِلَايَاتِ وَالشَّرَفِ الَّتِي يُشْرِفُونَ فِيهَا كَأَنْ يَكُونَ خَطِيبًا مِصْقَعًا إِذْ مِنَ الشَّرَفِ أَنْ تَكُونَ خَطِيبًا فَيَجْتَمِعُ النَّاسُ إِلَيْكَ وَيَتَكَاثَرُونَ عِنْدَكَ وَيُنْصِتُونَ لَكَ إِذَا تَكَلَّمْتَ مَنْ زَهِدَ فِي ذَلِكَ أَحَبَّهُ النَّاسُ لَكِنْ قَدْ يُبْتَلَى بَعْضُ النَّاسِ أَحْمَدُ يَقُولُ أَنَا رَجُلٌ بُلِيْتُ أَنَا بُلِيْتُ بِذَلِكَ لَكِنْ إِذَا اُبْتُلِيْتَ فَإِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَكَ مِن غَيْرِ طَلَبٍ وَلَا اسْتِشْرَافِ نَفْسٍ مَنْ فَعَلَ الثِّنْتَيْنِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَيُحِبُّهُ النَّاسُ لِأَجْلِ ذَلِكَ

Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKedudukan dan urgensi kaidah iniMakna kaidahDalil-dalil dari kaidah iniMenjadi kaidah pembuka dalam pembahasan kaidah fikih yaitu salah satu kaidah di antara kaidah kubra, kaidah tersebut berbunyi:الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kedudukan dan urgensi kaidah iniKaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung kedudukannya. Dalam kaidah ini, terkandung pondasi amalan-amalan hati, yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya amalan-amalan yang dikerjakan. Sebagaimana pula pahala dan hukuman berputar pembahasannya pada kaidah ini.Terlebih kaidah ini menjadi semakin penting kedudukannya dikarenakan kaidah ini bersandar kepada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Para ulama menyebutkan bahwa hadis di atas adalah sepertiga ilmu. Sebagian ulama menjelaskan tentang mengapa disebut sepertiga ilmu, yaitu karena amalan seorang hamba terdapat pada tiga hal:Amalan hatiAmalan lisanAmalan anggota tubuhSehingga niat termasuk dari salah satu dari tiga amalan di atas, yaitu “amalan hati”.Sebagian ulama, ada pula yang menjelaskan bahwasanya hadis di atas adalah salah satu dari tiga hadis yang menjadi dasar kembalinya segala hukum. Kendati para ulama berselisih perihal hadis-hadis yang dimaksud, namun mereka bersepakat pada satu hadis, yaitu hadis yang telah disebutkan di atas. Artinya, hadis di atas adalah sebagai landasan kembalinya segala hukum yang ada di dalam agama Islam.Bahkan, telah dinukil sebuah statement (perkataan) dari Imam Asy-Syafi’i bahwasanya hadis di atas masuk dalam tujuh puluh bab di antara bab-bab ilmu yang ada. Hal tersebut menunjukkan pentingnya masalah niat dan tujuan dalam segala aktivitas yang ada.Makna kaidahSecara umum, makna dari kaidah الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا adalah,“Bahwasanya segala bentuk aktivitas mukallaf (hamba), baik berupa ucapan, perbuatan, atau keyakinan, masing-masing dapat berbeda (hasilnya) tergantung dari tujuan dan niatnya.” Mungkin terbesit sebuah pertanyaan, mengapa para ulama tidak menggunakan saja istilah atau lafaz yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana hadis di atas.Jawabannya, mengapa para ulama tidak menggunakan lafadz إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ saja dibandingkan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, dikarenakan menggunakan kata الأمور  (segala perkara) lebih umum dibandingkan menggunakan lafaz الأعمال (amalan-amalan).Sebab الأمور (segala perkara) mencakup segala perbuatan, ucapan, dan keyakinan. Adapun lafaz الأعمال lebih khusus cakupannya dibandingkan dengan الأمور. Tidak berbeda halnya dengan lafaz المقاصد (tujuan-tujuan) dengan النيات (niat). Mengapa para ulama tidak menggunakan lafaz niat dalam kaidah kubra ini, dikarenakan lafaz المقاصد lebih umum pula cakupannya.Karena sebab itulah, para ulama menggunakan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, mengingat cakupannya lebih umum dan lebih mengarah kepada hal-hal yang dimaksud.Dalil-dalil dari kaidah iniKaidah ini sejatinya didukung oleh dalil-dalil yang lain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta ijma’. Namun, pondasi utama kaidah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas. Yaitu hadis dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya terhitung karena Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ingin diperolehnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya terhitung hanya sebatas dari tujuannya itu.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antara dalil akan kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Pada ayat di atas, terdapat dalil agar seseorang senantiasa memperhatikan tujuan dan niatnya dalam beramal, yaitu dalam bentuk “mengharap wajah Allah dalam beramal”. Pada penggunaan kata “mengharap” terdapat maksud dari niat dan tujuan. Sehingga tujuan dan niat dalam ibadah hendaknya hanya diserahkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya.Di antaranya pula firman Allah Ta’ala, ۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa:100)Pada ayat di atas, terdapat petunjuk akan pentingnya masalah ikhlas dalam niat pada suatu amal. Terdapat kisah menarik pada ayat ini, yang dibawakan oleh Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.Kisahnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke kota Madinah, ada seorang kakek tua yang telah masuk Islam. Ia berasal dari Bani Laits. Kakek tua tersebut tinggal di Makkah dan belum sempat ikut hijrah ke Madinah. Suatu hari, beliau mengatakan kepada keluarganya,مَا أَنَا بِبَائِتٍ اللَّيْلَة بِمَكَّة“Saya tidak bisa sama sekali tidur malam di Makkah!” Hal ini disebabkan kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudan beliau pun memaksakan diri untuk keluar dari Makkah dan hijrah ke Madinah dalam keadaan sakit. Tatkala beliau sampai di Tan’im dalam perjalanan menuju Madinah, beliaupun wafat. Kemudian turunlah ayat di atas.Pelajaran yang dapat dipetik, betapa besarnya perkara niat dalam agama Islam. Orang tua tersebut belum sampai, bahkan bisa dikatakan masih sangat jauh untuk sampai ke Madinah. Namun, ia mendapatkan pahala hijrah disebabkan niatnya yang jujur dan tulus, karena kecintaannya kepada agama Islam dan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Depok, 20 Jumadal Akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Wajiz fi Idaahi Qowa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, karya Dr. Muhammad Shidqi bin Ahmad, dan beberapa referensi lainnya.

Kaidah Fikih: Segala Sesuatu Tergantung Tujuannya (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleKedudukan dan urgensi kaidah iniMakna kaidahDalil-dalil dari kaidah iniMenjadi kaidah pembuka dalam pembahasan kaidah fikih yaitu salah satu kaidah di antara kaidah kubra, kaidah tersebut berbunyi:الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kedudukan dan urgensi kaidah iniKaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung kedudukannya. Dalam kaidah ini, terkandung pondasi amalan-amalan hati, yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya amalan-amalan yang dikerjakan. Sebagaimana pula pahala dan hukuman berputar pembahasannya pada kaidah ini.Terlebih kaidah ini menjadi semakin penting kedudukannya dikarenakan kaidah ini bersandar kepada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Para ulama menyebutkan bahwa hadis di atas adalah sepertiga ilmu. Sebagian ulama menjelaskan tentang mengapa disebut sepertiga ilmu, yaitu karena amalan seorang hamba terdapat pada tiga hal:Amalan hatiAmalan lisanAmalan anggota tubuhSehingga niat termasuk dari salah satu dari tiga amalan di atas, yaitu “amalan hati”.Sebagian ulama, ada pula yang menjelaskan bahwasanya hadis di atas adalah salah satu dari tiga hadis yang menjadi dasar kembalinya segala hukum. Kendati para ulama berselisih perihal hadis-hadis yang dimaksud, namun mereka bersepakat pada satu hadis, yaitu hadis yang telah disebutkan di atas. Artinya, hadis di atas adalah sebagai landasan kembalinya segala hukum yang ada di dalam agama Islam.Bahkan, telah dinukil sebuah statement (perkataan) dari Imam Asy-Syafi’i bahwasanya hadis di atas masuk dalam tujuh puluh bab di antara bab-bab ilmu yang ada. Hal tersebut menunjukkan pentingnya masalah niat dan tujuan dalam segala aktivitas yang ada.Makna kaidahSecara umum, makna dari kaidah الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا adalah,“Bahwasanya segala bentuk aktivitas mukallaf (hamba), baik berupa ucapan, perbuatan, atau keyakinan, masing-masing dapat berbeda (hasilnya) tergantung dari tujuan dan niatnya.” Mungkin terbesit sebuah pertanyaan, mengapa para ulama tidak menggunakan saja istilah atau lafaz yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana hadis di atas.Jawabannya, mengapa para ulama tidak menggunakan lafadz إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ saja dibandingkan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, dikarenakan menggunakan kata الأمور  (segala perkara) lebih umum dibandingkan menggunakan lafaz الأعمال (amalan-amalan).Sebab الأمور (segala perkara) mencakup segala perbuatan, ucapan, dan keyakinan. Adapun lafaz الأعمال lebih khusus cakupannya dibandingkan dengan الأمور. Tidak berbeda halnya dengan lafaz المقاصد (tujuan-tujuan) dengan النيات (niat). Mengapa para ulama tidak menggunakan lafaz niat dalam kaidah kubra ini, dikarenakan lafaz المقاصد lebih umum pula cakupannya.Karena sebab itulah, para ulama menggunakan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, mengingat cakupannya lebih umum dan lebih mengarah kepada hal-hal yang dimaksud.Dalil-dalil dari kaidah iniKaidah ini sejatinya didukung oleh dalil-dalil yang lain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta ijma’. Namun, pondasi utama kaidah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas. Yaitu hadis dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya terhitung karena Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ingin diperolehnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya terhitung hanya sebatas dari tujuannya itu.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antara dalil akan kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Pada ayat di atas, terdapat dalil agar seseorang senantiasa memperhatikan tujuan dan niatnya dalam beramal, yaitu dalam bentuk “mengharap wajah Allah dalam beramal”. Pada penggunaan kata “mengharap” terdapat maksud dari niat dan tujuan. Sehingga tujuan dan niat dalam ibadah hendaknya hanya diserahkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya.Di antaranya pula firman Allah Ta’ala, ۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa:100)Pada ayat di atas, terdapat petunjuk akan pentingnya masalah ikhlas dalam niat pada suatu amal. Terdapat kisah menarik pada ayat ini, yang dibawakan oleh Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.Kisahnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke kota Madinah, ada seorang kakek tua yang telah masuk Islam. Ia berasal dari Bani Laits. Kakek tua tersebut tinggal di Makkah dan belum sempat ikut hijrah ke Madinah. Suatu hari, beliau mengatakan kepada keluarganya,مَا أَنَا بِبَائِتٍ اللَّيْلَة بِمَكَّة“Saya tidak bisa sama sekali tidur malam di Makkah!” Hal ini disebabkan kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudan beliau pun memaksakan diri untuk keluar dari Makkah dan hijrah ke Madinah dalam keadaan sakit. Tatkala beliau sampai di Tan’im dalam perjalanan menuju Madinah, beliaupun wafat. Kemudian turunlah ayat di atas.Pelajaran yang dapat dipetik, betapa besarnya perkara niat dalam agama Islam. Orang tua tersebut belum sampai, bahkan bisa dikatakan masih sangat jauh untuk sampai ke Madinah. Namun, ia mendapatkan pahala hijrah disebabkan niatnya yang jujur dan tulus, karena kecintaannya kepada agama Islam dan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Depok, 20 Jumadal Akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Wajiz fi Idaahi Qowa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, karya Dr. Muhammad Shidqi bin Ahmad, dan beberapa referensi lainnya.
Daftar Isi ToggleKedudukan dan urgensi kaidah iniMakna kaidahDalil-dalil dari kaidah iniMenjadi kaidah pembuka dalam pembahasan kaidah fikih yaitu salah satu kaidah di antara kaidah kubra, kaidah tersebut berbunyi:الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kedudukan dan urgensi kaidah iniKaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung kedudukannya. Dalam kaidah ini, terkandung pondasi amalan-amalan hati, yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya amalan-amalan yang dikerjakan. Sebagaimana pula pahala dan hukuman berputar pembahasannya pada kaidah ini.Terlebih kaidah ini menjadi semakin penting kedudukannya dikarenakan kaidah ini bersandar kepada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Para ulama menyebutkan bahwa hadis di atas adalah sepertiga ilmu. Sebagian ulama menjelaskan tentang mengapa disebut sepertiga ilmu, yaitu karena amalan seorang hamba terdapat pada tiga hal:Amalan hatiAmalan lisanAmalan anggota tubuhSehingga niat termasuk dari salah satu dari tiga amalan di atas, yaitu “amalan hati”.Sebagian ulama, ada pula yang menjelaskan bahwasanya hadis di atas adalah salah satu dari tiga hadis yang menjadi dasar kembalinya segala hukum. Kendati para ulama berselisih perihal hadis-hadis yang dimaksud, namun mereka bersepakat pada satu hadis, yaitu hadis yang telah disebutkan di atas. Artinya, hadis di atas adalah sebagai landasan kembalinya segala hukum yang ada di dalam agama Islam.Bahkan, telah dinukil sebuah statement (perkataan) dari Imam Asy-Syafi’i bahwasanya hadis di atas masuk dalam tujuh puluh bab di antara bab-bab ilmu yang ada. Hal tersebut menunjukkan pentingnya masalah niat dan tujuan dalam segala aktivitas yang ada.Makna kaidahSecara umum, makna dari kaidah الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا adalah,“Bahwasanya segala bentuk aktivitas mukallaf (hamba), baik berupa ucapan, perbuatan, atau keyakinan, masing-masing dapat berbeda (hasilnya) tergantung dari tujuan dan niatnya.” Mungkin terbesit sebuah pertanyaan, mengapa para ulama tidak menggunakan saja istilah atau lafaz yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana hadis di atas.Jawabannya, mengapa para ulama tidak menggunakan lafadz إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ saja dibandingkan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, dikarenakan menggunakan kata الأمور  (segala perkara) lebih umum dibandingkan menggunakan lafaz الأعمال (amalan-amalan).Sebab الأمور (segala perkara) mencakup segala perbuatan, ucapan, dan keyakinan. Adapun lafaz الأعمال lebih khusus cakupannya dibandingkan dengan الأمور. Tidak berbeda halnya dengan lafaz المقاصد (tujuan-tujuan) dengan النيات (niat). Mengapa para ulama tidak menggunakan lafaz niat dalam kaidah kubra ini, dikarenakan lafaz المقاصد lebih umum pula cakupannya.Karena sebab itulah, para ulama menggunakan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, mengingat cakupannya lebih umum dan lebih mengarah kepada hal-hal yang dimaksud.Dalil-dalil dari kaidah iniKaidah ini sejatinya didukung oleh dalil-dalil yang lain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta ijma’. Namun, pondasi utama kaidah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas. Yaitu hadis dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya terhitung karena Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ingin diperolehnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya terhitung hanya sebatas dari tujuannya itu.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antara dalil akan kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Pada ayat di atas, terdapat dalil agar seseorang senantiasa memperhatikan tujuan dan niatnya dalam beramal, yaitu dalam bentuk “mengharap wajah Allah dalam beramal”. Pada penggunaan kata “mengharap” terdapat maksud dari niat dan tujuan. Sehingga tujuan dan niat dalam ibadah hendaknya hanya diserahkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya.Di antaranya pula firman Allah Ta’ala, ۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa:100)Pada ayat di atas, terdapat petunjuk akan pentingnya masalah ikhlas dalam niat pada suatu amal. Terdapat kisah menarik pada ayat ini, yang dibawakan oleh Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.Kisahnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke kota Madinah, ada seorang kakek tua yang telah masuk Islam. Ia berasal dari Bani Laits. Kakek tua tersebut tinggal di Makkah dan belum sempat ikut hijrah ke Madinah. Suatu hari, beliau mengatakan kepada keluarganya,مَا أَنَا بِبَائِتٍ اللَّيْلَة بِمَكَّة“Saya tidak bisa sama sekali tidur malam di Makkah!” Hal ini disebabkan kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudan beliau pun memaksakan diri untuk keluar dari Makkah dan hijrah ke Madinah dalam keadaan sakit. Tatkala beliau sampai di Tan’im dalam perjalanan menuju Madinah, beliaupun wafat. Kemudian turunlah ayat di atas.Pelajaran yang dapat dipetik, betapa besarnya perkara niat dalam agama Islam. Orang tua tersebut belum sampai, bahkan bisa dikatakan masih sangat jauh untuk sampai ke Madinah. Namun, ia mendapatkan pahala hijrah disebabkan niatnya yang jujur dan tulus, karena kecintaannya kepada agama Islam dan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Depok, 20 Jumadal Akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Wajiz fi Idaahi Qowa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, karya Dr. Muhammad Shidqi bin Ahmad, dan beberapa referensi lainnya.


Daftar Isi ToggleKedudukan dan urgensi kaidah iniMakna kaidahDalil-dalil dari kaidah iniMenjadi kaidah pembuka dalam pembahasan kaidah fikih yaitu salah satu kaidah di antara kaidah kubra, kaidah tersebut berbunyi:الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.” Kedudukan dan urgensi kaidah iniKaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung kedudukannya. Dalam kaidah ini, terkandung pondasi amalan-amalan hati, yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya amalan-amalan yang dikerjakan. Sebagaimana pula pahala dan hukuman berputar pembahasannya pada kaidah ini.Terlebih kaidah ini menjadi semakin penting kedudukannya dikarenakan kaidah ini bersandar kepada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)Para ulama menyebutkan bahwa hadis di atas adalah sepertiga ilmu. Sebagian ulama menjelaskan tentang mengapa disebut sepertiga ilmu, yaitu karena amalan seorang hamba terdapat pada tiga hal:Amalan hatiAmalan lisanAmalan anggota tubuhSehingga niat termasuk dari salah satu dari tiga amalan di atas, yaitu “amalan hati”.Sebagian ulama, ada pula yang menjelaskan bahwasanya hadis di atas adalah salah satu dari tiga hadis yang menjadi dasar kembalinya segala hukum. Kendati para ulama berselisih perihal hadis-hadis yang dimaksud, namun mereka bersepakat pada satu hadis, yaitu hadis yang telah disebutkan di atas. Artinya, hadis di atas adalah sebagai landasan kembalinya segala hukum yang ada di dalam agama Islam.Bahkan, telah dinukil sebuah statement (perkataan) dari Imam Asy-Syafi’i bahwasanya hadis di atas masuk dalam tujuh puluh bab di antara bab-bab ilmu yang ada. Hal tersebut menunjukkan pentingnya masalah niat dan tujuan dalam segala aktivitas yang ada.Makna kaidahSecara umum, makna dari kaidah الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا adalah,“Bahwasanya segala bentuk aktivitas mukallaf (hamba), baik berupa ucapan, perbuatan, atau keyakinan, masing-masing dapat berbeda (hasilnya) tergantung dari tujuan dan niatnya.” Mungkin terbesit sebuah pertanyaan, mengapa para ulama tidak menggunakan saja istilah atau lafaz yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana hadis di atas.Jawabannya, mengapa para ulama tidak menggunakan lafadz إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ saja dibandingkan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, dikarenakan menggunakan kata الأمور  (segala perkara) lebih umum dibandingkan menggunakan lafaz الأعمال (amalan-amalan).Sebab الأمور (segala perkara) mencakup segala perbuatan, ucapan, dan keyakinan. Adapun lafaz الأعمال lebih khusus cakupannya dibandingkan dengan الأمور. Tidak berbeda halnya dengan lafaz المقاصد (tujuan-tujuan) dengan النيات (niat). Mengapa para ulama tidak menggunakan lafaz niat dalam kaidah kubra ini, dikarenakan lafaz المقاصد lebih umum pula cakupannya.Karena sebab itulah, para ulama menggunakan lafaz الأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا, mengingat cakupannya lebih umum dan lebih mengarah kepada hal-hal yang dimaksud.Dalil-dalil dari kaidah iniKaidah ini sejatinya didukung oleh dalil-dalil yang lain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta ijma’. Namun, pondasi utama kaidah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas. Yaitu hadis dari Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى فمن كانت هجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ فَهجرتُهُ إلى اللَّهِ ورسولِهِ ومن كانت هجرتُهُ إلى دنيا يصيبُها أو امرأةٍ ينْكحُها فَهجرتُهُ إلى ما هاجرَ إليْهِ“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya terhitung karena Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ingin diperolehnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya terhitung hanya sebatas dari tujuannya itu.” (Muttafaqun ‘alaih)Di antara dalil akan kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala, وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)Pada ayat di atas, terdapat dalil agar seseorang senantiasa memperhatikan tujuan dan niatnya dalam beramal, yaitu dalam bentuk “mengharap wajah Allah dalam beramal”. Pada penggunaan kata “mengharap” terdapat maksud dari niat dan tujuan. Sehingga tujuan dan niat dalam ibadah hendaknya hanya diserahkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya.Di antaranya pula firman Allah Ta’ala, ۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa:100)Pada ayat di atas, terdapat petunjuk akan pentingnya masalah ikhlas dalam niat pada suatu amal. Terdapat kisah menarik pada ayat ini, yang dibawakan oleh Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.Kisahnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke kota Madinah, ada seorang kakek tua yang telah masuk Islam. Ia berasal dari Bani Laits. Kakek tua tersebut tinggal di Makkah dan belum sempat ikut hijrah ke Madinah. Suatu hari, beliau mengatakan kepada keluarganya,مَا أَنَا بِبَائِتٍ اللَّيْلَة بِمَكَّة“Saya tidak bisa sama sekali tidur malam di Makkah!” Hal ini disebabkan kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudan beliau pun memaksakan diri untuk keluar dari Makkah dan hijrah ke Madinah dalam keadaan sakit. Tatkala beliau sampai di Tan’im dalam perjalanan menuju Madinah, beliaupun wafat. Kemudian turunlah ayat di atas.Pelajaran yang dapat dipetik, betapa besarnya perkara niat dalam agama Islam. Orang tua tersebut belum sampai, bahkan bisa dikatakan masih sangat jauh untuk sampai ke Madinah. Namun, ia mendapatkan pahala hijrah disebabkan niatnya yang jujur dan tulus, karena kecintaannya kepada agama Islam dan kepada Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Depok, 20 Jumadal Akhirah 1447/ 23 November 2025Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Al-Wajiz fi Idaahi Qowa’id Al-Fiqhi Al-Kulliyah, karya Dr. Muhammad Shidqi bin Ahmad, dan beberapa referensi lainnya.

Kalimat Para Salaf tentang Anak Yatim

من أقوال السلف في اليتيم Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد: فقد أمر الإسلام بالإحسان إلى اليتيم، ورعايته، وكفالته، ورتَّب على ذلك الأجور العظيمة، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: «أنا وكافل اليتم في الجنة هكذا» وقال: بإصبعيه السبابة والوسطى؛ [صححه العلامة الألباني في صحيح الأدب المفرد للإمام البخاري]. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Agama Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, mengasuh, dan menanggung kebutuhannya. Lalu memberi balasan atas itu berupa pahala-pahala besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا “Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini, (dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan tengah).” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari). وكما أمر بالإحسان إلى اليتيم فقد حذر من ظلمه، وأكل ماله، قال الله سبحانه وتعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. للسلف رحمهم الله أقوال عن اليتيم، يسَّر الله الكريم فجمعت بعضًا منها، أسأل الله أن ينفع بها الجميع. Selain memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, agama Islam juga memberi peringatan terhadap kezaliman kepadanya dan memakan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10). Para Salaf rahimahumullah punya banyak untaian kalimat yang berkaitan dengan anak yatim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah memberi kemudahan kepadaku sehingga saya dapat menghimpun sebagiannya. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikannya bermanfaat bagi semua orang. الحذر من ظلم اليتيم: قال قوام السنة الأصبهاني رحمه الله: قال الله تعالى: ﴿ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ﴾ [إبراهيم: 42]، وهذا وعيد للظالم، وتعزية للمظلوم، ولا أحد أظلم ممن ظلم الضعيف واليتيم. Peringatan berbuat zalim terhadap anak yatim Ulama penegak sunnah, Al-Ashfahani Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang orang-orang zalim perbuat.’ (QS. Ibrahim: 42). Ini merupakan ancaman bagi orang yang zalim dan penghibur bagi orang yang terzalimi, dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang menzalimi orang lemah dan anak yatim.” دعوة اليتيم: قال أبو الدرداء رضي الله عنه: إياكم ودعوة اليتيم، ودعوة المظلوم؛ فإنها تسري بالليل والناس نيام. Doa anak yatim Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berhati-hatilah dari doa anak yatim dan orang terzalimi, karena doa-doa itu teruntai pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur.” مال اليتيم: قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه: شر المأكل مال اليتيم. Harta anak yatim Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Makanan yang paling buruk adalah dari harta anak yatim (yang diambil secara zalim).” حكم أكل مال اليتيم: قال الإمام القرطبي رحمه الله: دلَّ الكتاب والسُّنَّة على أن أكل مال اليتيم من الكبائر، قال صلى الله عليه وسلم: «اجتنبوا السبع الموبقات» وذكر فيها «أكل مال اليتيم». Hukum memakan harta anak yatim Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: “Al-Quran dan As-Sunnah menegaskan bahwa memakan harta anak yatim adalah dosa besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Jauhilah tujuh amalan yang membinasakan.’ Lalu beliau menyebutkan salah satunya, ‘Memakan harta anak yatim.’”  حال آكل مال اليتيم في البرزخ: قال العلامة ابن القيم رحمه الله: ينعم المؤمن في البرزخ على حسب أعماله، ويُعذَّب الفاجر فيه على حسب أعماله، ويختص كل عضو بعذاب يليق بجناية ذلك العضو…وتُسجر بطون أكلة أموال اليتامى بالنار. Keadaan pemakan harta anak yatim di alam Barzakh Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Orang beriman akan mendapat kenikmatan di alam Barzakh sesuai dengan amalannya. Sedangkan pelaku maksiat akan mendapat azab sesuai dengan amalannya juga, setiap anggota badannya akan mendapatkan azab khusus sesuai dengan kejahatan yang dilakukan dengan anggota badan itu, dan perut para pemakan anak yatim akan dibakar dengan api.”  حال آكل مال اليتيم في الآخرة: قال الإمام السدي رحمه الله: يبعث آكل مال اليتيم ظلمًا، ولهب النار يخرج بين فيه، ومن مسامعه، وأذنيه، وأنفه، وعينيه، يعرفه من رآه بآكل مال اليتيم. عن عبيدالله بن أبي جعفر رحمه الله قال: من أكل مال اليتيم فإنه يؤخذ بمشفره يوم القيامة فيُملأ فوه جمرًا، فيُقال له: كل كما أكلته في الدنيا، ثم يدخل السعير الكبرى. قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: قوله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]؛ أي: إذا أكلوا أموال اليتامى بلا سبب فإنما يأكلون نارًا تتأجَّج في بطونهم يوم القيامة. Keadaan pemakan harta anak yatim di akhirat Imam As-Suddi Rahimahullah berkata: “Pemakan harta anak yatim secara zalim akan dibangkitkan sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, juga dari kedua telinga, hidung, dan kedua matanya, dan orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa dia pemakan harta anak yatim.” Ubaidullah bin Abi Ja’far Rahimahullah berkata: “Siapa yang memakan harta anak yatim akan ditarik bibirnya pada Hari Kiamat lalu mulutnya diisi dengan bara api. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah ini seperti halnya kamu memakannya di dunia!’ Lalu dia dimasukkan ke dalam neraka terbesar.” Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).’ (QS. An-Nisa: 10). Yakni apabila mereka memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan sebenarnya dia sedang memakan api yang berkobar-kobar di perut mereka pada Hari Kiamat.” إهانة من لا يكرم اليتيم: قال الإمام ابن جرير الطبري رحمه الله: ﴿ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ﴾ [الفجر: 17]، يقول تعالى ذكره: بل أهنت من أهنت من أجل أنه لا يكرم اليتيم. Kehinaan bagi orang yang tidak memuliakan anak yatim Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim.’ (QS. Al-Fajr: 17). Yakni, ‘Justru kamu dihinakan seperti ini karena tidak memuliakan anak yatim.’”  ذلُّ اليتيم: قال أكثم بن صيفي رحمه الله: الأذلاء أربعة: النمَّام، والكذَّاب، والمديون، واليتيم. Kerendahan anak yatim Aktsam bin Shaifi Rahimahullah berkata: “Orang yang rendah ada empat, pelaku namimah, pendusta, orang yang berutang, dan anak yatim.”  كافل اليتيم: قال الإمام النووي رحمه الله: كافل اليتيم القائم بأموره، من نفقة وكسوة، وتأديب وتربية، وغير ذلك. Penanggung anak yatim Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Penanggung hidup anak yatim adalah yang mengurusi berbagai kebutuhannya, seperti nafkah, pakaian, pendidikan dan pengasuhan, dan lain sebagainya.”  قضاء حاجة اليتيم: قال العلامة ابن القيم: من هديه صلى الله عليه وسلم…. كان يأكل مع الخادم، ويجالس المساكين، ويمشي مع الأرملة واليتيم في حاجتهما. Memenuhi kebutuhan anak yatim Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Di antara tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah dulu beliau makan bersama pelayan beliau, duduk bersama orang-orang miskin, dan mengusahakan memenuhi kebutuhan para janda dan anak yatim.” الأكل مع اليتيم:

Kalimat Para Salaf tentang Anak Yatim

من أقوال السلف في اليتيم Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد: فقد أمر الإسلام بالإحسان إلى اليتيم، ورعايته، وكفالته، ورتَّب على ذلك الأجور العظيمة، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: «أنا وكافل اليتم في الجنة هكذا» وقال: بإصبعيه السبابة والوسطى؛ [صححه العلامة الألباني في صحيح الأدب المفرد للإمام البخاري]. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Agama Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, mengasuh, dan menanggung kebutuhannya. Lalu memberi balasan atas itu berupa pahala-pahala besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا “Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini, (dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan tengah).” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari). وكما أمر بالإحسان إلى اليتيم فقد حذر من ظلمه، وأكل ماله، قال الله سبحانه وتعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. للسلف رحمهم الله أقوال عن اليتيم، يسَّر الله الكريم فجمعت بعضًا منها، أسأل الله أن ينفع بها الجميع. Selain memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, agama Islam juga memberi peringatan terhadap kezaliman kepadanya dan memakan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10). Para Salaf rahimahumullah punya banyak untaian kalimat yang berkaitan dengan anak yatim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah memberi kemudahan kepadaku sehingga saya dapat menghimpun sebagiannya. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikannya bermanfaat bagi semua orang. الحذر من ظلم اليتيم: قال قوام السنة الأصبهاني رحمه الله: قال الله تعالى: ﴿ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ﴾ [إبراهيم: 42]، وهذا وعيد للظالم، وتعزية للمظلوم، ولا أحد أظلم ممن ظلم الضعيف واليتيم. Peringatan berbuat zalim terhadap anak yatim Ulama penegak sunnah, Al-Ashfahani Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang orang-orang zalim perbuat.’ (QS. Ibrahim: 42). Ini merupakan ancaman bagi orang yang zalim dan penghibur bagi orang yang terzalimi, dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang menzalimi orang lemah dan anak yatim.” دعوة اليتيم: قال أبو الدرداء رضي الله عنه: إياكم ودعوة اليتيم، ودعوة المظلوم؛ فإنها تسري بالليل والناس نيام. Doa anak yatim Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berhati-hatilah dari doa anak yatim dan orang terzalimi, karena doa-doa itu teruntai pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur.” مال اليتيم: قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه: شر المأكل مال اليتيم. Harta anak yatim Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Makanan yang paling buruk adalah dari harta anak yatim (yang diambil secara zalim).” حكم أكل مال اليتيم: قال الإمام القرطبي رحمه الله: دلَّ الكتاب والسُّنَّة على أن أكل مال اليتيم من الكبائر، قال صلى الله عليه وسلم: «اجتنبوا السبع الموبقات» وذكر فيها «أكل مال اليتيم». Hukum memakan harta anak yatim Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: “Al-Quran dan As-Sunnah menegaskan bahwa memakan harta anak yatim adalah dosa besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Jauhilah tujuh amalan yang membinasakan.’ Lalu beliau menyebutkan salah satunya, ‘Memakan harta anak yatim.’”  حال آكل مال اليتيم في البرزخ: قال العلامة ابن القيم رحمه الله: ينعم المؤمن في البرزخ على حسب أعماله، ويُعذَّب الفاجر فيه على حسب أعماله، ويختص كل عضو بعذاب يليق بجناية ذلك العضو…وتُسجر بطون أكلة أموال اليتامى بالنار. Keadaan pemakan harta anak yatim di alam Barzakh Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Orang beriman akan mendapat kenikmatan di alam Barzakh sesuai dengan amalannya. Sedangkan pelaku maksiat akan mendapat azab sesuai dengan amalannya juga, setiap anggota badannya akan mendapatkan azab khusus sesuai dengan kejahatan yang dilakukan dengan anggota badan itu, dan perut para pemakan anak yatim akan dibakar dengan api.”  حال آكل مال اليتيم في الآخرة: قال الإمام السدي رحمه الله: يبعث آكل مال اليتيم ظلمًا، ولهب النار يخرج بين فيه، ومن مسامعه، وأذنيه، وأنفه، وعينيه، يعرفه من رآه بآكل مال اليتيم. عن عبيدالله بن أبي جعفر رحمه الله قال: من أكل مال اليتيم فإنه يؤخذ بمشفره يوم القيامة فيُملأ فوه جمرًا، فيُقال له: كل كما أكلته في الدنيا، ثم يدخل السعير الكبرى. قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: قوله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]؛ أي: إذا أكلوا أموال اليتامى بلا سبب فإنما يأكلون نارًا تتأجَّج في بطونهم يوم القيامة. Keadaan pemakan harta anak yatim di akhirat Imam As-Suddi Rahimahullah berkata: “Pemakan harta anak yatim secara zalim akan dibangkitkan sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, juga dari kedua telinga, hidung, dan kedua matanya, dan orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa dia pemakan harta anak yatim.” Ubaidullah bin Abi Ja’far Rahimahullah berkata: “Siapa yang memakan harta anak yatim akan ditarik bibirnya pada Hari Kiamat lalu mulutnya diisi dengan bara api. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah ini seperti halnya kamu memakannya di dunia!’ Lalu dia dimasukkan ke dalam neraka terbesar.” Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).’ (QS. An-Nisa: 10). Yakni apabila mereka memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan sebenarnya dia sedang memakan api yang berkobar-kobar di perut mereka pada Hari Kiamat.” إهانة من لا يكرم اليتيم: قال الإمام ابن جرير الطبري رحمه الله: ﴿ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ﴾ [الفجر: 17]، يقول تعالى ذكره: بل أهنت من أهنت من أجل أنه لا يكرم اليتيم. Kehinaan bagi orang yang tidak memuliakan anak yatim Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim.’ (QS. Al-Fajr: 17). Yakni, ‘Justru kamu dihinakan seperti ini karena tidak memuliakan anak yatim.’”  ذلُّ اليتيم: قال أكثم بن صيفي رحمه الله: الأذلاء أربعة: النمَّام، والكذَّاب، والمديون، واليتيم. Kerendahan anak yatim Aktsam bin Shaifi Rahimahullah berkata: “Orang yang rendah ada empat, pelaku namimah, pendusta, orang yang berutang, dan anak yatim.”  كافل اليتيم: قال الإمام النووي رحمه الله: كافل اليتيم القائم بأموره، من نفقة وكسوة، وتأديب وتربية، وغير ذلك. Penanggung anak yatim Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Penanggung hidup anak yatim adalah yang mengurusi berbagai kebutuhannya, seperti nafkah, pakaian, pendidikan dan pengasuhan, dan lain sebagainya.”  قضاء حاجة اليتيم: قال العلامة ابن القيم: من هديه صلى الله عليه وسلم…. كان يأكل مع الخادم، ويجالس المساكين، ويمشي مع الأرملة واليتيم في حاجتهما. Memenuhi kebutuhan anak yatim Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Di antara tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah dulu beliau makan bersama pelayan beliau, duduk bersama orang-orang miskin, dan mengusahakan memenuhi kebutuhan para janda dan anak yatim.” الأكل مع اليتيم:
من أقوال السلف في اليتيم Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد: فقد أمر الإسلام بالإحسان إلى اليتيم، ورعايته، وكفالته، ورتَّب على ذلك الأجور العظيمة، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: «أنا وكافل اليتم في الجنة هكذا» وقال: بإصبعيه السبابة والوسطى؛ [صححه العلامة الألباني في صحيح الأدب المفرد للإمام البخاري]. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Agama Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, mengasuh, dan menanggung kebutuhannya. Lalu memberi balasan atas itu berupa pahala-pahala besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا “Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini, (dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan tengah).” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari). وكما أمر بالإحسان إلى اليتيم فقد حذر من ظلمه، وأكل ماله، قال الله سبحانه وتعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. للسلف رحمهم الله أقوال عن اليتيم، يسَّر الله الكريم فجمعت بعضًا منها، أسأل الله أن ينفع بها الجميع. Selain memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, agama Islam juga memberi peringatan terhadap kezaliman kepadanya dan memakan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10). Para Salaf rahimahumullah punya banyak untaian kalimat yang berkaitan dengan anak yatim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah memberi kemudahan kepadaku sehingga saya dapat menghimpun sebagiannya. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikannya bermanfaat bagi semua orang. الحذر من ظلم اليتيم: قال قوام السنة الأصبهاني رحمه الله: قال الله تعالى: ﴿ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ﴾ [إبراهيم: 42]، وهذا وعيد للظالم، وتعزية للمظلوم، ولا أحد أظلم ممن ظلم الضعيف واليتيم. Peringatan berbuat zalim terhadap anak yatim Ulama penegak sunnah, Al-Ashfahani Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang orang-orang zalim perbuat.’ (QS. Ibrahim: 42). Ini merupakan ancaman bagi orang yang zalim dan penghibur bagi orang yang terzalimi, dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang menzalimi orang lemah dan anak yatim.” دعوة اليتيم: قال أبو الدرداء رضي الله عنه: إياكم ودعوة اليتيم، ودعوة المظلوم؛ فإنها تسري بالليل والناس نيام. Doa anak yatim Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berhati-hatilah dari doa anak yatim dan orang terzalimi, karena doa-doa itu teruntai pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur.” مال اليتيم: قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه: شر المأكل مال اليتيم. Harta anak yatim Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Makanan yang paling buruk adalah dari harta anak yatim (yang diambil secara zalim).” حكم أكل مال اليتيم: قال الإمام القرطبي رحمه الله: دلَّ الكتاب والسُّنَّة على أن أكل مال اليتيم من الكبائر، قال صلى الله عليه وسلم: «اجتنبوا السبع الموبقات» وذكر فيها «أكل مال اليتيم». Hukum memakan harta anak yatim Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: “Al-Quran dan As-Sunnah menegaskan bahwa memakan harta anak yatim adalah dosa besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Jauhilah tujuh amalan yang membinasakan.’ Lalu beliau menyebutkan salah satunya, ‘Memakan harta anak yatim.’”  حال آكل مال اليتيم في البرزخ: قال العلامة ابن القيم رحمه الله: ينعم المؤمن في البرزخ على حسب أعماله، ويُعذَّب الفاجر فيه على حسب أعماله، ويختص كل عضو بعذاب يليق بجناية ذلك العضو…وتُسجر بطون أكلة أموال اليتامى بالنار. Keadaan pemakan harta anak yatim di alam Barzakh Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Orang beriman akan mendapat kenikmatan di alam Barzakh sesuai dengan amalannya. Sedangkan pelaku maksiat akan mendapat azab sesuai dengan amalannya juga, setiap anggota badannya akan mendapatkan azab khusus sesuai dengan kejahatan yang dilakukan dengan anggota badan itu, dan perut para pemakan anak yatim akan dibakar dengan api.”  حال آكل مال اليتيم في الآخرة: قال الإمام السدي رحمه الله: يبعث آكل مال اليتيم ظلمًا، ولهب النار يخرج بين فيه، ومن مسامعه، وأذنيه، وأنفه، وعينيه، يعرفه من رآه بآكل مال اليتيم. عن عبيدالله بن أبي جعفر رحمه الله قال: من أكل مال اليتيم فإنه يؤخذ بمشفره يوم القيامة فيُملأ فوه جمرًا، فيُقال له: كل كما أكلته في الدنيا، ثم يدخل السعير الكبرى. قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: قوله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]؛ أي: إذا أكلوا أموال اليتامى بلا سبب فإنما يأكلون نارًا تتأجَّج في بطونهم يوم القيامة. Keadaan pemakan harta anak yatim di akhirat Imam As-Suddi Rahimahullah berkata: “Pemakan harta anak yatim secara zalim akan dibangkitkan sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, juga dari kedua telinga, hidung, dan kedua matanya, dan orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa dia pemakan harta anak yatim.” Ubaidullah bin Abi Ja’far Rahimahullah berkata: “Siapa yang memakan harta anak yatim akan ditarik bibirnya pada Hari Kiamat lalu mulutnya diisi dengan bara api. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah ini seperti halnya kamu memakannya di dunia!’ Lalu dia dimasukkan ke dalam neraka terbesar.” Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).’ (QS. An-Nisa: 10). Yakni apabila mereka memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan sebenarnya dia sedang memakan api yang berkobar-kobar di perut mereka pada Hari Kiamat.” إهانة من لا يكرم اليتيم: قال الإمام ابن جرير الطبري رحمه الله: ﴿ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ﴾ [الفجر: 17]، يقول تعالى ذكره: بل أهنت من أهنت من أجل أنه لا يكرم اليتيم. Kehinaan bagi orang yang tidak memuliakan anak yatim Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim.’ (QS. Al-Fajr: 17). Yakni, ‘Justru kamu dihinakan seperti ini karena tidak memuliakan anak yatim.’”  ذلُّ اليتيم: قال أكثم بن صيفي رحمه الله: الأذلاء أربعة: النمَّام، والكذَّاب، والمديون، واليتيم. Kerendahan anak yatim Aktsam bin Shaifi Rahimahullah berkata: “Orang yang rendah ada empat, pelaku namimah, pendusta, orang yang berutang, dan anak yatim.”  كافل اليتيم: قال الإمام النووي رحمه الله: كافل اليتيم القائم بأموره، من نفقة وكسوة، وتأديب وتربية، وغير ذلك. Penanggung anak yatim Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Penanggung hidup anak yatim adalah yang mengurusi berbagai kebutuhannya, seperti nafkah, pakaian, pendidikan dan pengasuhan, dan lain sebagainya.”  قضاء حاجة اليتيم: قال العلامة ابن القيم: من هديه صلى الله عليه وسلم…. كان يأكل مع الخادم، ويجالس المساكين، ويمشي مع الأرملة واليتيم في حاجتهما. Memenuhi kebutuhan anak yatim Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Di antara tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah dulu beliau makan bersama pelayan beliau, duduk bersama orang-orang miskin, dan mengusahakan memenuhi kebutuhan para janda dan anak yatim.” الأكل مع اليتيم:


من أقوال السلف في اليتيم Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد: فقد أمر الإسلام بالإحسان إلى اليتيم، ورعايته، وكفالته، ورتَّب على ذلك الأجور العظيمة، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: «أنا وكافل اليتم في الجنة هكذا» وقال: بإصبعيه السبابة والوسطى؛ [صححه العلامة الألباني في صحيح الأدب المفرد للإمام البخاري]. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga serta para sahabat seluruhnya. Amma ba’du: Agama Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, mengasuh, dan menanggung kebutuhannya. Lalu memberi balasan atas itu berupa pahala-pahala besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا “Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini, (dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan tengah).” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari). وكما أمر بالإحسان إلى اليتيم فقد حذر من ظلمه، وأكل ماله، قال الله سبحانه وتعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. للسلف رحمهم الله أقوال عن اليتيم، يسَّر الله الكريم فجمعت بعضًا منها، أسأل الله أن ينفع بها الجميع. Selain memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, agama Islam juga memberi peringatan terhadap kezaliman kepadanya dan memakan hartanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa: 10). Para Salaf rahimahumullah punya banyak untaian kalimat yang berkaitan dengan anak yatim. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah memberi kemudahan kepadaku sehingga saya dapat menghimpun sebagiannya. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikannya bermanfaat bagi semua orang. الحذر من ظلم اليتيم: قال قوام السنة الأصبهاني رحمه الله: قال الله تعالى: ﴿ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ﴾ [إبراهيم: 42]، وهذا وعيد للظالم، وتعزية للمظلوم، ولا أحد أظلم ممن ظلم الضعيف واليتيم. Peringatan berbuat zalim terhadap anak yatim Ulama penegak sunnah, Al-Ashfahani Rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang orang-orang zalim perbuat.’ (QS. Ibrahim: 42). Ini merupakan ancaman bagi orang yang zalim dan penghibur bagi orang yang terzalimi, dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang menzalimi orang lemah dan anak yatim.” دعوة اليتيم: قال أبو الدرداء رضي الله عنه: إياكم ودعوة اليتيم، ودعوة المظلوم؛ فإنها تسري بالليل والناس نيام. Doa anak yatim Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berhati-hatilah dari doa anak yatim dan orang terzalimi, karena doa-doa itu teruntai pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur.” مال اليتيم: قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه: شر المأكل مال اليتيم. Harta anak yatim Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Makanan yang paling buruk adalah dari harta anak yatim (yang diambil secara zalim).” حكم أكل مال اليتيم: قال الإمام القرطبي رحمه الله: دلَّ الكتاب والسُّنَّة على أن أكل مال اليتيم من الكبائر، قال صلى الله عليه وسلم: «اجتنبوا السبع الموبقات» وذكر فيها «أكل مال اليتيم». Hukum memakan harta anak yatim Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: “Al-Quran dan As-Sunnah menegaskan bahwa memakan harta anak yatim adalah dosa besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Jauhilah tujuh amalan yang membinasakan.’ Lalu beliau menyebutkan salah satunya, ‘Memakan harta anak yatim.’”  حال آكل مال اليتيم في البرزخ: قال العلامة ابن القيم رحمه الله: ينعم المؤمن في البرزخ على حسب أعماله، ويُعذَّب الفاجر فيه على حسب أعماله، ويختص كل عضو بعذاب يليق بجناية ذلك العضو…وتُسجر بطون أكلة أموال اليتامى بالنار. Keadaan pemakan harta anak yatim di alam Barzakh Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Orang beriman akan mendapat kenikmatan di alam Barzakh sesuai dengan amalannya. Sedangkan pelaku maksiat akan mendapat azab sesuai dengan amalannya juga, setiap anggota badannya akan mendapatkan azab khusus sesuai dengan kejahatan yang dilakukan dengan anggota badan itu, dan perut para pemakan anak yatim akan dibakar dengan api.”  حال آكل مال اليتيم في الآخرة: قال الإمام السدي رحمه الله: يبعث آكل مال اليتيم ظلمًا، ولهب النار يخرج بين فيه، ومن مسامعه، وأذنيه، وأنفه، وعينيه، يعرفه من رآه بآكل مال اليتيم. عن عبيدالله بن أبي جعفر رحمه الله قال: من أكل مال اليتيم فإنه يؤخذ بمشفره يوم القيامة فيُملأ فوه جمرًا، فيُقال له: كل كما أكلته في الدنيا، ثم يدخل السعير الكبرى. قال الحافظ ابن كثير رحمه الله: قوله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]؛ أي: إذا أكلوا أموال اليتامى بلا سبب فإنما يأكلون نارًا تتأجَّج في بطونهم يوم القيامة. Keadaan pemakan harta anak yatim di akhirat Imam As-Suddi Rahimahullah berkata: “Pemakan harta anak yatim secara zalim akan dibangkitkan sedangkan kobaran api keluar dari mulutnya, juga dari kedua telinga, hidung, dan kedua matanya, dan orang yang melihatnya akan mengetahui bahwa dia pemakan harta anak yatim.” Ubaidullah bin Abi Ja’far Rahimahullah berkata: “Siapa yang memakan harta anak yatim akan ditarik bibirnya pada Hari Kiamat lalu mulutnya diisi dengan bara api. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Makanlah ini seperti halnya kamu memakannya di dunia!’ Lalu dia dimasukkan ke dalam neraka terbesar.” Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).’ (QS. An-Nisa: 10). Yakni apabila mereka memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan sebenarnya dia sedang memakan api yang berkobar-kobar di perut mereka pada Hari Kiamat.” إهانة من لا يكرم اليتيم: قال الإمام ابن جرير الطبري رحمه الله: ﴿ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ﴾ [الفجر: 17]، يقول تعالى ذكره: بل أهنت من أهنت من أجل أنه لا يكرم اليتيم. Kehinaan bagi orang yang tidak memuliakan anak yatim Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim.’ (QS. Al-Fajr: 17). Yakni, ‘Justru kamu dihinakan seperti ini karena tidak memuliakan anak yatim.’”  ذلُّ اليتيم: قال أكثم بن صيفي رحمه الله: الأذلاء أربعة: النمَّام، والكذَّاب، والمديون، واليتيم. Kerendahan anak yatim Aktsam bin Shaifi Rahimahullah berkata: “Orang yang rendah ada empat, pelaku namimah, pendusta, orang yang berutang, dan anak yatim.”  كافل اليتيم: قال الإمام النووي رحمه الله: كافل اليتيم القائم بأموره، من نفقة وكسوة، وتأديب وتربية، وغير ذلك. Penanggung anak yatim Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata: “Penanggung hidup anak yatim adalah yang mengurusi berbagai kebutuhannya, seperti nafkah, pakaian, pendidikan dan pengasuhan, dan lain sebagainya.”  قضاء حاجة اليتيم: قال العلامة ابن القيم: من هديه صلى الله عليه وسلم…. كان يأكل مع الخادم، ويجالس المساكين، ويمشي مع الأرملة واليتيم في حاجتهما. Memenuhi kebutuhan anak yatim Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Di antara tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah dulu beliau makan bersama pelayan beliau, duduk bersama orang-orang miskin, dan mengusahakan memenuhi kebutuhan para janda dan anak yatim.” الأكل مع اليتيم:

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 12): Tatsabbut dan Mengakui Kesalahan

Daftar Isi ToggleKapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dampak dari tidak crosscheckKeteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunSiap mengakui kesalahanHikmah tatsabbutCepatnya informasi berkembang menuntut seorang muslim, khususnya para dai, untuk merespon beragam perkara. Jelas di dalamnya terdapat urgensi karena umat menuntut jawaban atas kerancuan atau juga pemberitaan akan seseorang. Namun, di satu sisi ada racun yang teramat bahaya dalam keadaan ini jika seorang dai tidak berhati-hati. Informasi yang tidak valid, atau bukan realitas yang terdistorsi, tentu akan berdampak kepada respon yang dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang muslim khususnya yang terjun di medan dakwah untuk mengenal manhaj at-tatsabbut ini.Kapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan,هذا أهم ما يكون في هذه الآداب، وهو التثبت فيما يُنْقَلُ من الأَخْبَارِ، والتثبت فيما يصدرُ مِنْكَ من الأحكام، فالأَخْبَارُ إذا نُقِلَتْ فَلا بُدَّ أن تَتَثَبَّتَ أولا : هل صَحَتْ عَمَّنْ نُقِلَتْ إليه أو لا؟ ثم إذا صَحَّتْ فلا تَحْكُم بل تَتَبَّتْ في الحكم، فربما يكون الخبرُ مَبْنِيًّا على أَصْلٍ تَجْهَلُهُ أَنْتَ، فتحكم أنه خطأ، والواقع أنه ليس خطأ“Ini adalah perkara terpenting dalam adab-adab tersebut, yaitu ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap berita yang disampaikan, serta ber-tatsabbut terhadap keputusan yang keluar darimu. Ketika sebuah berita disampaikan, maka engkau harus terlebih dahulu memastikan: apakah berita tentang seseorang itu memang benar? Kemudian, bila ternyata berita itu benar, engkau tetap tidak boleh langsung memutuskan hukum, tetapi harus ber-tatsabbut dalam menetapkan hukum. Sebab boleh jadi berita tersebut dibangun di atas suatu dasar yang tidak engkau ketahui, lalu engkau menyimpulkan bahwa hal itu salah, padahal kenyataannya tidak salah.”Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tatsabbut itu setidaknya pada dua tempat: (1) berita dan pembawa beritanya, (2) cara menghukuminya. Solusinya menurut beliau adalah hendaknya kita menghubungi orang yang dikabarkan tersebut dan lakukan verifikasi padanya (tabayyun). Dengan demikian, kita akan mengetahui alasan di balik “mengapa orang tersebut melakukannya?”Dampak dari tidak crosscheckAllah ﷻ mengaitkan perintah untuk tatsabbut wa tabayyun dengan konsekuensi fatal jika hal ini tidak dilakukan. Dua dampak besar yang dapat ditimbulkan dari hal ini adalah:1) Menimpakan kezaliman kepada orang lain.2) Menimbulkan penyesalan di kemudian hari.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bentuk riil dari dua konsekuensi tersebut. Beliau menerangkan dalam tafsirnya bahwa tatsabbut wa tabayyun adalah akhlak orang yang cerdas. Jika hal ini tidak dilakukan, maka konsekuensinya besar sekali. Konsekuensi tersebut dapat berupa tumpahnya darah kaum muslimin semisal qadzaf (tuduhan zina) ataupun peperangan. Tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan luar biasa.Berikut penjelasannya,من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم،Di antara adab yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal –yang wajib mereka terapkan dan amalkan–adalah bahwa apabila seorang fasik mengabarkan suatu berita, mereka harus ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap beritanya. Mereka tidak boleh menerimanya begitu saja, karena dalam hal itu terdapat bahaya besar dan dapat menjerumuskan pada dosa.فإن خبره إذا جعل بمنزلة خبر الصادق العدل، حكم بموجب ذلك ومقتضاه، فحصل من تلف النفوس والأموال، بغير حق، بسبب ذلك الخبر ما يكون سببًا للندامة،Sebab jika berita orang fasik diperlakukan seperti berita orang yang jujur dan adil, lalu diputuskan hukum berdasarkan berita itu dan konsekuensinya, maka dapat terjadi hilangnya nyawa atau harta tanpa hak hanya karena berita tersebut, yang pada akhirnya menjadi sebab penyesalan.Hal ini sebagaimana konteks diturunkannya QS. Al-Hujurat: 6 yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kisah tersebut berkaitan dengan Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq. Dia melihat bahwa Bani Mustaliq telah mempersiapkan hewan ternak ketika ia datang. Ia kembali ke sisi Nabi ﷺ dan mengatakan bahwa Bani Mustaliq telah bersiap perang dengan Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ melakukan crosscheck dengan mengirim Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Nabi ﷺ pun mendapatkan kabar dari Khalid bahwa berita itu tidak valid. Bani Mustaliq ternyata justru menyiapkan hewan ternak itu untuk dijadikan harta zakat.Bayangkan apa yang terjadi jika Nabi ﷺ menerima mentah-mentah berita dari Al-Walid bin Uqbah?! Tentu bisa saja terjadi pertumpahan darah dan peperangan di antara kaum muslimin. Namun, Nabi ﷺ tidak semata-mata polos dan menerima begitu saja. Beliau bahkan mengirimkan utusan lain untuk mengecek kebenaran berita itu. Lihatlah betapa besar usaha Nabi ﷺ untuk melakukan crosscheck atas berita tersebut?! Maka, inilah harga validitas berita. Ia dibayar dengan perjalanan panjang, harta, dan waktu yang lama.Sangat berbeda keadaan Nabi ﷺ dengan realitas di zaman ini. Dimana berita sensasional cepat sekali diterima dan disebarkan hanya karena sesuai dengan hawa nafsu. Tidak dilakukan proses crosscheck terlebih dahulu. Akhirnya, timbul banyak berita simpang siur, hoax, dan fitnah yang menyebabkan perselisihan luar biasa di kalangan kaum muslimin.Apalagi dengan kemajuan zaman yang menjadikan teknologi saat ini dapat membuat tampilan berita sangat realistis. Ada teknologi AI, editing canggih, dan lain sebagainya yang sangat sulit untuk dibedakan antara kebenaran dengan kebohongan. Hal yang lebih aneh lagi adalah tren “timpa teks” di kalangan anak muda dalam rangka bercanda. Mereka akan mengedit sebuah berita atau gambar asli dengan teks yang sudah dimanipulasi tetapi dengan desain yang sangat mirip, lalu menyebarkannya seakan-akan ini berita asli. Hal ini adalah kedustaan yang teramat buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)Realita zaman ini, semakin menekankan wajibnya manhaj tatsabbut wa tabayyun dalam berbagai perkara. Khususnya para dai dan penuntut ilmu umumnya, karena kebanyakan dari mereka adalah corong umat. Jangan sampai terjebak kepada semangat ingin mengikuti tren, sehingga mengorbankan kevalidan berita yang sedang dibahas. Di era disrupsi, berita cepat sekali menyebar dan juga berubah. Kita sangat sulit untuk melihat mana yang benar dan yang salah. Maka, berhati-hatilah dalam merespon berita yang ada.Keteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunTeladanilah Syekh Bin Baz rahimahullah dalam hal ini! Apabila Syekh hendak menjawab sebuah konsultasi semisal pengaduan seorang suami tentang istrinya, atau sebaliknya, beliau sebelum menjawab akan menyatakan, “Jika memang benar apa yang disampaikan, maka….” Artinya, Syekh memberi persyaratan bahwa arahan ini untuk kondisi jika memang benar itu yang terjadi. Karena Syekh Bin Baz tidak mengambil keputusan dan bersikap hanya berdasarkan pengakuan satu pihak saja.Beliau juga terkenal sebagai mufti yang apabila mendapati sebuah perkataan dari seseorang, semisal alim yang menurut beliau tidak tepat, maka beliau pastikan terlebih dahulu perkataan tersebut. Setelah dipastikan bahwa memang tidak tepat, kemudian beliau mengirimkan nasihat dengan penuh lemah lembut. Adapun jika beliau tidak mampu menjangkau ulama tersebut, maka beliau akan memaknainya dengan makna paling positif. (Biografi Imam Ibn Baz terbitan Salaf lil Buhuts wad Dirasah https://salafcenter.org/6121/)Keteladanan yang paling utama tentu datang dari Nabi ﷺ. Ketika menghadapi kasus Maiz yang berzina, beliau terus memastikan pengakuan Maiz tersebut. Hal ini dalam konteks kehakiman adalah karena hukuman yang ditegakkan sangat bergantung kepada pengakuan maupun bukti. Sedangkan konsekuensi hukumannya tak main-main, yakni eksekusi mati. Qadhi ‘Iyadh menjelaskan riwayat Maiz tersebut,وكان ترديدُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم له إذا لم يَقُمْ عليه بيِّنةٌ إلَّا لإقرارِه واستِبرائِه في إقرارِه، وتَثَبُّتًا في أمرِه، ورجاءً لرُجوعِه عن قَولِه، أو لتمامِ اعتِرافِهـ“Pengulangan pertanyaan Nabi ﷺ kepadanya, ketika tidak ada bukti yang menegakkan (perkara tersebut) kecuali pengakuannya, hanyalah untuk memastikan (kebenaran) pengakuannya, membersihkan (kemungkinan keraguan) dalam pengakuannya, melakukan tsabbut (penelitian dan kehati-hatian) dalam urusannya, serta berharap agar ia menarik kembali ucapannya atau agar pengakuannya menjadi sempurna. (Ikmalul Mulim Syarah Shahih Muslim, 5: 516)Tentu Nabi ﷺ adalah orang yang paling valid informasinya di dunia ini. Karena satu-satunya yang punya jalinan komunikasi khusus kepada Al-Haq adalah Nabi ﷺ. Namun, dalam banyak perkara, Allah ﷻ menyuruh Nabi ﷺ atau menggerakkan Nabi ﷺ untuk ber-tatsabbut wa tabayyun. Contoh dalam kasus Maiz ini, juga kisah haditsul ifki kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan lainnya. Tujuannya agar memberikan keteladanan kepada umat untuk bersikap tatsabbut dalam berkehidupan.Siap mengakui kesalahanSalah satu hal penting yang patut kita pegang dari penjelasan Ibnu Utsaimin adalah hal berikut,فإن كان على حَقٌّ وصواب فترجع إليه. أو يكون الصواب معك فيرجع إليك“Apabila orang itu yang benar, maka anda harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang ada padanya. Atau bisa jadi kebenaran bersama anda, maka orang itu pun harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang bersama anda itu.” (Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, cet. Muassasah Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 74)Kita pasti melakukan kesalahan sebagai Bani Adam. Termasuk dalam merespon suatu perkara. Sebaik apapun kita menjalankan kehidupan dengan berasaskan tatsabbut wa tabayyun, pasti adakalanya kita akan terjegal dengan kelalaian. Maka, penting sekali bagi kita dan lisan kita untuk mengakui kesalahan.Tujuan seorang muslim berdakwah atau sampai berselisih adalah untuk meraih kebenaran. Termasuk sikap adil adalah mengakui kebenaran dimanapun ia berada. Baik kebenaran itu ada di diri sendiri, maupun berada di pihak lain. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk rela rujuk dari kesalahan.Sebagian dari kita tentu merasa sulit mengakui kesalahan sendiri. Karena hal ini memalukan, menunjukkan kelalaian dan kelemahan kita. Namun, mental seorang muslim tidaklah demikian. Perhatikanlah! Mengapa Allah ﷻ melalui lisan Nabi ﷺ harus menyampaikan hadis ini kepada umat?كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Semua Bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertobat.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan lain-lain. Hadis ini hasan, menurut penilaian al-Albani rahimahullah)Allah ﷻ menetapkan sifat esensial dari manusia adalah melakukan kesalahan. Tujuannya adalah agar kita memaklumi dan merasa lebih ringan ketika melakukan kesalahan. Tujuan lainnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sehingga kita mudah rujuk dari kesalahan dan mengakui kebenaran meski pahit untuk melakukannya.Akan tetapi, faktor hasrat manusia yang menghalangi dari sikap rujuk ini, yaitu ego yang tinggi. Para dai atau yang dikenal berilmu di kalangan masyarakat, tentu tantangannya lebih berat untuk mengakui kesalahan. Karena mereka dipandang masyarakat sebagai rujukan, juga memiliki kedudukan di masyarakat. Tentu bebannya lebih berat untuk mengakui kesalahan.Wahai para penyeru kebenaran! Ketahuilah bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuat diri rendah. Mengapa? Karena memang demikianlah sifat dasar manusia: melakukan kesalahan. Bacalah kelanjutan dari hadis tersebut,وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.”Konsekuensi dari tobat adalah mengakui kesalahan, baik di hadapan Allah ﷻ apalagi yang berkaitan haknya dengan manusia. Kepada kedua pihak sama-sama dituntut untuk mengakui kesalahan. Dan jalan mengakui kesalahan ini adalah jalan yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.Oleh karena itu, seseorang yang melakukan kesalahan setelah tatsabbut terhadap suatu perkara, maka bisa jadi ia mendapatkan dua peluang kebaikan. Dua peluang kebaikan itu adalah:Pertama: Menjalankan perintah tatsabbut dalam merespons.Kedua: Menjalankan perintah mengakui kesalahan.Dan memang tidak ada jaminan bagi orang yang ber-tatsabbut akan selalu benar hasilnya. Karena bisa jadi ada fakta dan realita yang terlewat atau belum tersingkap ketika ia meneliti permasalahan itu. Atau ada faktor kesalahan dirinya yang tak mampu memahami dengan benar jalinan korelasi informasi yang didapatkannya, sementara dirinya telah berusaha keras. Tentu Allah ﷻ tetap akan memberikan nilai atas usaha ini.Hikmah tatsabbutAsas tatsabbut sangat penting sekali bagi seorang muslim utamanya yang berada di garis terdepan menyerukan Islam. Hikmah yang agung di dalamnya semoga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk memperjuangkannya:1) Sikap tatsabbut adalah tanda-tanda seorang beriman, sebagaimana yang disebut dalam QS. Al-Hujurat: 62) Meminimalisir kesalahan dan perselisihan dalam kehidupan;3) Menghindarkan diri dari penyesalan karena salah langkah;4) Membuat diri yakin akan keputusan yang diambil;5) Menjaga harta dan darah kaum muslimin;6) Membuat jiwa lebih tenang dan sehat secara psikologis;7) Mengenyahkan takhayul dan asumsi nisbi.Dan tentu saja masih banyak hikmah lainnya dari asas ini. Tentu saja penulis mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan asas ini dalam berkehidupan, terlebih lagi dalam konteks dakwah dan menghadapi perselisihan. Dengan menahan diri untuk bersikap reaktif, kita berarti mencegah munculnya permasalahan atau setidaknya meminimalisir dampak. Jangan tergoda dengan manisnya viral dan perputaran uang di dalamnya. Hanya karena mengejar momen viral, berita ramai, dan juga gosip terpanas, kita semangat meresponnya tanpa melakukan tatsabbut wa tabayyun. Kalaupun Allah takdirkan kita jatuh ke dalam kesalahan ketika merespons, maka bersegeralah kembali rujuk kepada kebenaran. Karena rujuk kepada kebenaran itu lebih dekat kepada kebaikan.[Bersambung]Kembali ke bagian 11 Lanjut ke bagian 13***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 12): Tatsabbut dan Mengakui Kesalahan

Daftar Isi ToggleKapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dampak dari tidak crosscheckKeteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunSiap mengakui kesalahanHikmah tatsabbutCepatnya informasi berkembang menuntut seorang muslim, khususnya para dai, untuk merespon beragam perkara. Jelas di dalamnya terdapat urgensi karena umat menuntut jawaban atas kerancuan atau juga pemberitaan akan seseorang. Namun, di satu sisi ada racun yang teramat bahaya dalam keadaan ini jika seorang dai tidak berhati-hati. Informasi yang tidak valid, atau bukan realitas yang terdistorsi, tentu akan berdampak kepada respon yang dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang muslim khususnya yang terjun di medan dakwah untuk mengenal manhaj at-tatsabbut ini.Kapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan,هذا أهم ما يكون في هذه الآداب، وهو التثبت فيما يُنْقَلُ من الأَخْبَارِ، والتثبت فيما يصدرُ مِنْكَ من الأحكام، فالأَخْبَارُ إذا نُقِلَتْ فَلا بُدَّ أن تَتَثَبَّتَ أولا : هل صَحَتْ عَمَّنْ نُقِلَتْ إليه أو لا؟ ثم إذا صَحَّتْ فلا تَحْكُم بل تَتَبَّتْ في الحكم، فربما يكون الخبرُ مَبْنِيًّا على أَصْلٍ تَجْهَلُهُ أَنْتَ، فتحكم أنه خطأ، والواقع أنه ليس خطأ“Ini adalah perkara terpenting dalam adab-adab tersebut, yaitu ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap berita yang disampaikan, serta ber-tatsabbut terhadap keputusan yang keluar darimu. Ketika sebuah berita disampaikan, maka engkau harus terlebih dahulu memastikan: apakah berita tentang seseorang itu memang benar? Kemudian, bila ternyata berita itu benar, engkau tetap tidak boleh langsung memutuskan hukum, tetapi harus ber-tatsabbut dalam menetapkan hukum. Sebab boleh jadi berita tersebut dibangun di atas suatu dasar yang tidak engkau ketahui, lalu engkau menyimpulkan bahwa hal itu salah, padahal kenyataannya tidak salah.”Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tatsabbut itu setidaknya pada dua tempat: (1) berita dan pembawa beritanya, (2) cara menghukuminya. Solusinya menurut beliau adalah hendaknya kita menghubungi orang yang dikabarkan tersebut dan lakukan verifikasi padanya (tabayyun). Dengan demikian, kita akan mengetahui alasan di balik “mengapa orang tersebut melakukannya?”Dampak dari tidak crosscheckAllah ﷻ mengaitkan perintah untuk tatsabbut wa tabayyun dengan konsekuensi fatal jika hal ini tidak dilakukan. Dua dampak besar yang dapat ditimbulkan dari hal ini adalah:1) Menimpakan kezaliman kepada orang lain.2) Menimbulkan penyesalan di kemudian hari.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bentuk riil dari dua konsekuensi tersebut. Beliau menerangkan dalam tafsirnya bahwa tatsabbut wa tabayyun adalah akhlak orang yang cerdas. Jika hal ini tidak dilakukan, maka konsekuensinya besar sekali. Konsekuensi tersebut dapat berupa tumpahnya darah kaum muslimin semisal qadzaf (tuduhan zina) ataupun peperangan. Tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan luar biasa.Berikut penjelasannya,من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم،Di antara adab yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal –yang wajib mereka terapkan dan amalkan–adalah bahwa apabila seorang fasik mengabarkan suatu berita, mereka harus ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap beritanya. Mereka tidak boleh menerimanya begitu saja, karena dalam hal itu terdapat bahaya besar dan dapat menjerumuskan pada dosa.فإن خبره إذا جعل بمنزلة خبر الصادق العدل، حكم بموجب ذلك ومقتضاه، فحصل من تلف النفوس والأموال، بغير حق، بسبب ذلك الخبر ما يكون سببًا للندامة،Sebab jika berita orang fasik diperlakukan seperti berita orang yang jujur dan adil, lalu diputuskan hukum berdasarkan berita itu dan konsekuensinya, maka dapat terjadi hilangnya nyawa atau harta tanpa hak hanya karena berita tersebut, yang pada akhirnya menjadi sebab penyesalan.Hal ini sebagaimana konteks diturunkannya QS. Al-Hujurat: 6 yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kisah tersebut berkaitan dengan Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq. Dia melihat bahwa Bani Mustaliq telah mempersiapkan hewan ternak ketika ia datang. Ia kembali ke sisi Nabi ﷺ dan mengatakan bahwa Bani Mustaliq telah bersiap perang dengan Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ melakukan crosscheck dengan mengirim Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Nabi ﷺ pun mendapatkan kabar dari Khalid bahwa berita itu tidak valid. Bani Mustaliq ternyata justru menyiapkan hewan ternak itu untuk dijadikan harta zakat.Bayangkan apa yang terjadi jika Nabi ﷺ menerima mentah-mentah berita dari Al-Walid bin Uqbah?! Tentu bisa saja terjadi pertumpahan darah dan peperangan di antara kaum muslimin. Namun, Nabi ﷺ tidak semata-mata polos dan menerima begitu saja. Beliau bahkan mengirimkan utusan lain untuk mengecek kebenaran berita itu. Lihatlah betapa besar usaha Nabi ﷺ untuk melakukan crosscheck atas berita tersebut?! Maka, inilah harga validitas berita. Ia dibayar dengan perjalanan panjang, harta, dan waktu yang lama.Sangat berbeda keadaan Nabi ﷺ dengan realitas di zaman ini. Dimana berita sensasional cepat sekali diterima dan disebarkan hanya karena sesuai dengan hawa nafsu. Tidak dilakukan proses crosscheck terlebih dahulu. Akhirnya, timbul banyak berita simpang siur, hoax, dan fitnah yang menyebabkan perselisihan luar biasa di kalangan kaum muslimin.Apalagi dengan kemajuan zaman yang menjadikan teknologi saat ini dapat membuat tampilan berita sangat realistis. Ada teknologi AI, editing canggih, dan lain sebagainya yang sangat sulit untuk dibedakan antara kebenaran dengan kebohongan. Hal yang lebih aneh lagi adalah tren “timpa teks” di kalangan anak muda dalam rangka bercanda. Mereka akan mengedit sebuah berita atau gambar asli dengan teks yang sudah dimanipulasi tetapi dengan desain yang sangat mirip, lalu menyebarkannya seakan-akan ini berita asli. Hal ini adalah kedustaan yang teramat buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)Realita zaman ini, semakin menekankan wajibnya manhaj tatsabbut wa tabayyun dalam berbagai perkara. Khususnya para dai dan penuntut ilmu umumnya, karena kebanyakan dari mereka adalah corong umat. Jangan sampai terjebak kepada semangat ingin mengikuti tren, sehingga mengorbankan kevalidan berita yang sedang dibahas. Di era disrupsi, berita cepat sekali menyebar dan juga berubah. Kita sangat sulit untuk melihat mana yang benar dan yang salah. Maka, berhati-hatilah dalam merespon berita yang ada.Keteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunTeladanilah Syekh Bin Baz rahimahullah dalam hal ini! Apabila Syekh hendak menjawab sebuah konsultasi semisal pengaduan seorang suami tentang istrinya, atau sebaliknya, beliau sebelum menjawab akan menyatakan, “Jika memang benar apa yang disampaikan, maka….” Artinya, Syekh memberi persyaratan bahwa arahan ini untuk kondisi jika memang benar itu yang terjadi. Karena Syekh Bin Baz tidak mengambil keputusan dan bersikap hanya berdasarkan pengakuan satu pihak saja.Beliau juga terkenal sebagai mufti yang apabila mendapati sebuah perkataan dari seseorang, semisal alim yang menurut beliau tidak tepat, maka beliau pastikan terlebih dahulu perkataan tersebut. Setelah dipastikan bahwa memang tidak tepat, kemudian beliau mengirimkan nasihat dengan penuh lemah lembut. Adapun jika beliau tidak mampu menjangkau ulama tersebut, maka beliau akan memaknainya dengan makna paling positif. (Biografi Imam Ibn Baz terbitan Salaf lil Buhuts wad Dirasah https://salafcenter.org/6121/)Keteladanan yang paling utama tentu datang dari Nabi ﷺ. Ketika menghadapi kasus Maiz yang berzina, beliau terus memastikan pengakuan Maiz tersebut. Hal ini dalam konteks kehakiman adalah karena hukuman yang ditegakkan sangat bergantung kepada pengakuan maupun bukti. Sedangkan konsekuensi hukumannya tak main-main, yakni eksekusi mati. Qadhi ‘Iyadh menjelaskan riwayat Maiz tersebut,وكان ترديدُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم له إذا لم يَقُمْ عليه بيِّنةٌ إلَّا لإقرارِه واستِبرائِه في إقرارِه، وتَثَبُّتًا في أمرِه، ورجاءً لرُجوعِه عن قَولِه، أو لتمامِ اعتِرافِهـ“Pengulangan pertanyaan Nabi ﷺ kepadanya, ketika tidak ada bukti yang menegakkan (perkara tersebut) kecuali pengakuannya, hanyalah untuk memastikan (kebenaran) pengakuannya, membersihkan (kemungkinan keraguan) dalam pengakuannya, melakukan tsabbut (penelitian dan kehati-hatian) dalam urusannya, serta berharap agar ia menarik kembali ucapannya atau agar pengakuannya menjadi sempurna. (Ikmalul Mulim Syarah Shahih Muslim, 5: 516)Tentu Nabi ﷺ adalah orang yang paling valid informasinya di dunia ini. Karena satu-satunya yang punya jalinan komunikasi khusus kepada Al-Haq adalah Nabi ﷺ. Namun, dalam banyak perkara, Allah ﷻ menyuruh Nabi ﷺ atau menggerakkan Nabi ﷺ untuk ber-tatsabbut wa tabayyun. Contoh dalam kasus Maiz ini, juga kisah haditsul ifki kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan lainnya. Tujuannya agar memberikan keteladanan kepada umat untuk bersikap tatsabbut dalam berkehidupan.Siap mengakui kesalahanSalah satu hal penting yang patut kita pegang dari penjelasan Ibnu Utsaimin adalah hal berikut,فإن كان على حَقٌّ وصواب فترجع إليه. أو يكون الصواب معك فيرجع إليك“Apabila orang itu yang benar, maka anda harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang ada padanya. Atau bisa jadi kebenaran bersama anda, maka orang itu pun harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang bersama anda itu.” (Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, cet. Muassasah Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 74)Kita pasti melakukan kesalahan sebagai Bani Adam. Termasuk dalam merespon suatu perkara. Sebaik apapun kita menjalankan kehidupan dengan berasaskan tatsabbut wa tabayyun, pasti adakalanya kita akan terjegal dengan kelalaian. Maka, penting sekali bagi kita dan lisan kita untuk mengakui kesalahan.Tujuan seorang muslim berdakwah atau sampai berselisih adalah untuk meraih kebenaran. Termasuk sikap adil adalah mengakui kebenaran dimanapun ia berada. Baik kebenaran itu ada di diri sendiri, maupun berada di pihak lain. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk rela rujuk dari kesalahan.Sebagian dari kita tentu merasa sulit mengakui kesalahan sendiri. Karena hal ini memalukan, menunjukkan kelalaian dan kelemahan kita. Namun, mental seorang muslim tidaklah demikian. Perhatikanlah! Mengapa Allah ﷻ melalui lisan Nabi ﷺ harus menyampaikan hadis ini kepada umat?كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Semua Bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertobat.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan lain-lain. Hadis ini hasan, menurut penilaian al-Albani rahimahullah)Allah ﷻ menetapkan sifat esensial dari manusia adalah melakukan kesalahan. Tujuannya adalah agar kita memaklumi dan merasa lebih ringan ketika melakukan kesalahan. Tujuan lainnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sehingga kita mudah rujuk dari kesalahan dan mengakui kebenaran meski pahit untuk melakukannya.Akan tetapi, faktor hasrat manusia yang menghalangi dari sikap rujuk ini, yaitu ego yang tinggi. Para dai atau yang dikenal berilmu di kalangan masyarakat, tentu tantangannya lebih berat untuk mengakui kesalahan. Karena mereka dipandang masyarakat sebagai rujukan, juga memiliki kedudukan di masyarakat. Tentu bebannya lebih berat untuk mengakui kesalahan.Wahai para penyeru kebenaran! Ketahuilah bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuat diri rendah. Mengapa? Karena memang demikianlah sifat dasar manusia: melakukan kesalahan. Bacalah kelanjutan dari hadis tersebut,وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.”Konsekuensi dari tobat adalah mengakui kesalahan, baik di hadapan Allah ﷻ apalagi yang berkaitan haknya dengan manusia. Kepada kedua pihak sama-sama dituntut untuk mengakui kesalahan. Dan jalan mengakui kesalahan ini adalah jalan yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.Oleh karena itu, seseorang yang melakukan kesalahan setelah tatsabbut terhadap suatu perkara, maka bisa jadi ia mendapatkan dua peluang kebaikan. Dua peluang kebaikan itu adalah:Pertama: Menjalankan perintah tatsabbut dalam merespons.Kedua: Menjalankan perintah mengakui kesalahan.Dan memang tidak ada jaminan bagi orang yang ber-tatsabbut akan selalu benar hasilnya. Karena bisa jadi ada fakta dan realita yang terlewat atau belum tersingkap ketika ia meneliti permasalahan itu. Atau ada faktor kesalahan dirinya yang tak mampu memahami dengan benar jalinan korelasi informasi yang didapatkannya, sementara dirinya telah berusaha keras. Tentu Allah ﷻ tetap akan memberikan nilai atas usaha ini.Hikmah tatsabbutAsas tatsabbut sangat penting sekali bagi seorang muslim utamanya yang berada di garis terdepan menyerukan Islam. Hikmah yang agung di dalamnya semoga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk memperjuangkannya:1) Sikap tatsabbut adalah tanda-tanda seorang beriman, sebagaimana yang disebut dalam QS. Al-Hujurat: 62) Meminimalisir kesalahan dan perselisihan dalam kehidupan;3) Menghindarkan diri dari penyesalan karena salah langkah;4) Membuat diri yakin akan keputusan yang diambil;5) Menjaga harta dan darah kaum muslimin;6) Membuat jiwa lebih tenang dan sehat secara psikologis;7) Mengenyahkan takhayul dan asumsi nisbi.Dan tentu saja masih banyak hikmah lainnya dari asas ini. Tentu saja penulis mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan asas ini dalam berkehidupan, terlebih lagi dalam konteks dakwah dan menghadapi perselisihan. Dengan menahan diri untuk bersikap reaktif, kita berarti mencegah munculnya permasalahan atau setidaknya meminimalisir dampak. Jangan tergoda dengan manisnya viral dan perputaran uang di dalamnya. Hanya karena mengejar momen viral, berita ramai, dan juga gosip terpanas, kita semangat meresponnya tanpa melakukan tatsabbut wa tabayyun. Kalaupun Allah takdirkan kita jatuh ke dalam kesalahan ketika merespons, maka bersegeralah kembali rujuk kepada kebenaran. Karena rujuk kepada kebenaran itu lebih dekat kepada kebaikan.[Bersambung]Kembali ke bagian 11 Lanjut ke bagian 13***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dampak dari tidak crosscheckKeteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunSiap mengakui kesalahanHikmah tatsabbutCepatnya informasi berkembang menuntut seorang muslim, khususnya para dai, untuk merespon beragam perkara. Jelas di dalamnya terdapat urgensi karena umat menuntut jawaban atas kerancuan atau juga pemberitaan akan seseorang. Namun, di satu sisi ada racun yang teramat bahaya dalam keadaan ini jika seorang dai tidak berhati-hati. Informasi yang tidak valid, atau bukan realitas yang terdistorsi, tentu akan berdampak kepada respon yang dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang muslim khususnya yang terjun di medan dakwah untuk mengenal manhaj at-tatsabbut ini.Kapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan,هذا أهم ما يكون في هذه الآداب، وهو التثبت فيما يُنْقَلُ من الأَخْبَارِ، والتثبت فيما يصدرُ مِنْكَ من الأحكام، فالأَخْبَارُ إذا نُقِلَتْ فَلا بُدَّ أن تَتَثَبَّتَ أولا : هل صَحَتْ عَمَّنْ نُقِلَتْ إليه أو لا؟ ثم إذا صَحَّتْ فلا تَحْكُم بل تَتَبَّتْ في الحكم، فربما يكون الخبرُ مَبْنِيًّا على أَصْلٍ تَجْهَلُهُ أَنْتَ، فتحكم أنه خطأ، والواقع أنه ليس خطأ“Ini adalah perkara terpenting dalam adab-adab tersebut, yaitu ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap berita yang disampaikan, serta ber-tatsabbut terhadap keputusan yang keluar darimu. Ketika sebuah berita disampaikan, maka engkau harus terlebih dahulu memastikan: apakah berita tentang seseorang itu memang benar? Kemudian, bila ternyata berita itu benar, engkau tetap tidak boleh langsung memutuskan hukum, tetapi harus ber-tatsabbut dalam menetapkan hukum. Sebab boleh jadi berita tersebut dibangun di atas suatu dasar yang tidak engkau ketahui, lalu engkau menyimpulkan bahwa hal itu salah, padahal kenyataannya tidak salah.”Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tatsabbut itu setidaknya pada dua tempat: (1) berita dan pembawa beritanya, (2) cara menghukuminya. Solusinya menurut beliau adalah hendaknya kita menghubungi orang yang dikabarkan tersebut dan lakukan verifikasi padanya (tabayyun). Dengan demikian, kita akan mengetahui alasan di balik “mengapa orang tersebut melakukannya?”Dampak dari tidak crosscheckAllah ﷻ mengaitkan perintah untuk tatsabbut wa tabayyun dengan konsekuensi fatal jika hal ini tidak dilakukan. Dua dampak besar yang dapat ditimbulkan dari hal ini adalah:1) Menimpakan kezaliman kepada orang lain.2) Menimbulkan penyesalan di kemudian hari.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bentuk riil dari dua konsekuensi tersebut. Beliau menerangkan dalam tafsirnya bahwa tatsabbut wa tabayyun adalah akhlak orang yang cerdas. Jika hal ini tidak dilakukan, maka konsekuensinya besar sekali. Konsekuensi tersebut dapat berupa tumpahnya darah kaum muslimin semisal qadzaf (tuduhan zina) ataupun peperangan. Tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan luar biasa.Berikut penjelasannya,من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم،Di antara adab yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal –yang wajib mereka terapkan dan amalkan–adalah bahwa apabila seorang fasik mengabarkan suatu berita, mereka harus ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap beritanya. Mereka tidak boleh menerimanya begitu saja, karena dalam hal itu terdapat bahaya besar dan dapat menjerumuskan pada dosa.فإن خبره إذا جعل بمنزلة خبر الصادق العدل، حكم بموجب ذلك ومقتضاه، فحصل من تلف النفوس والأموال، بغير حق، بسبب ذلك الخبر ما يكون سببًا للندامة،Sebab jika berita orang fasik diperlakukan seperti berita orang yang jujur dan adil, lalu diputuskan hukum berdasarkan berita itu dan konsekuensinya, maka dapat terjadi hilangnya nyawa atau harta tanpa hak hanya karena berita tersebut, yang pada akhirnya menjadi sebab penyesalan.Hal ini sebagaimana konteks diturunkannya QS. Al-Hujurat: 6 yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kisah tersebut berkaitan dengan Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq. Dia melihat bahwa Bani Mustaliq telah mempersiapkan hewan ternak ketika ia datang. Ia kembali ke sisi Nabi ﷺ dan mengatakan bahwa Bani Mustaliq telah bersiap perang dengan Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ melakukan crosscheck dengan mengirim Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Nabi ﷺ pun mendapatkan kabar dari Khalid bahwa berita itu tidak valid. Bani Mustaliq ternyata justru menyiapkan hewan ternak itu untuk dijadikan harta zakat.Bayangkan apa yang terjadi jika Nabi ﷺ menerima mentah-mentah berita dari Al-Walid bin Uqbah?! Tentu bisa saja terjadi pertumpahan darah dan peperangan di antara kaum muslimin. Namun, Nabi ﷺ tidak semata-mata polos dan menerima begitu saja. Beliau bahkan mengirimkan utusan lain untuk mengecek kebenaran berita itu. Lihatlah betapa besar usaha Nabi ﷺ untuk melakukan crosscheck atas berita tersebut?! Maka, inilah harga validitas berita. Ia dibayar dengan perjalanan panjang, harta, dan waktu yang lama.Sangat berbeda keadaan Nabi ﷺ dengan realitas di zaman ini. Dimana berita sensasional cepat sekali diterima dan disebarkan hanya karena sesuai dengan hawa nafsu. Tidak dilakukan proses crosscheck terlebih dahulu. Akhirnya, timbul banyak berita simpang siur, hoax, dan fitnah yang menyebabkan perselisihan luar biasa di kalangan kaum muslimin.Apalagi dengan kemajuan zaman yang menjadikan teknologi saat ini dapat membuat tampilan berita sangat realistis. Ada teknologi AI, editing canggih, dan lain sebagainya yang sangat sulit untuk dibedakan antara kebenaran dengan kebohongan. Hal yang lebih aneh lagi adalah tren “timpa teks” di kalangan anak muda dalam rangka bercanda. Mereka akan mengedit sebuah berita atau gambar asli dengan teks yang sudah dimanipulasi tetapi dengan desain yang sangat mirip, lalu menyebarkannya seakan-akan ini berita asli. Hal ini adalah kedustaan yang teramat buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)Realita zaman ini, semakin menekankan wajibnya manhaj tatsabbut wa tabayyun dalam berbagai perkara. Khususnya para dai dan penuntut ilmu umumnya, karena kebanyakan dari mereka adalah corong umat. Jangan sampai terjebak kepada semangat ingin mengikuti tren, sehingga mengorbankan kevalidan berita yang sedang dibahas. Di era disrupsi, berita cepat sekali menyebar dan juga berubah. Kita sangat sulit untuk melihat mana yang benar dan yang salah. Maka, berhati-hatilah dalam merespon berita yang ada.Keteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunTeladanilah Syekh Bin Baz rahimahullah dalam hal ini! Apabila Syekh hendak menjawab sebuah konsultasi semisal pengaduan seorang suami tentang istrinya, atau sebaliknya, beliau sebelum menjawab akan menyatakan, “Jika memang benar apa yang disampaikan, maka….” Artinya, Syekh memberi persyaratan bahwa arahan ini untuk kondisi jika memang benar itu yang terjadi. Karena Syekh Bin Baz tidak mengambil keputusan dan bersikap hanya berdasarkan pengakuan satu pihak saja.Beliau juga terkenal sebagai mufti yang apabila mendapati sebuah perkataan dari seseorang, semisal alim yang menurut beliau tidak tepat, maka beliau pastikan terlebih dahulu perkataan tersebut. Setelah dipastikan bahwa memang tidak tepat, kemudian beliau mengirimkan nasihat dengan penuh lemah lembut. Adapun jika beliau tidak mampu menjangkau ulama tersebut, maka beliau akan memaknainya dengan makna paling positif. (Biografi Imam Ibn Baz terbitan Salaf lil Buhuts wad Dirasah https://salafcenter.org/6121/)Keteladanan yang paling utama tentu datang dari Nabi ﷺ. Ketika menghadapi kasus Maiz yang berzina, beliau terus memastikan pengakuan Maiz tersebut. Hal ini dalam konteks kehakiman adalah karena hukuman yang ditegakkan sangat bergantung kepada pengakuan maupun bukti. Sedangkan konsekuensi hukumannya tak main-main, yakni eksekusi mati. Qadhi ‘Iyadh menjelaskan riwayat Maiz tersebut,وكان ترديدُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم له إذا لم يَقُمْ عليه بيِّنةٌ إلَّا لإقرارِه واستِبرائِه في إقرارِه، وتَثَبُّتًا في أمرِه، ورجاءً لرُجوعِه عن قَولِه، أو لتمامِ اعتِرافِهـ“Pengulangan pertanyaan Nabi ﷺ kepadanya, ketika tidak ada bukti yang menegakkan (perkara tersebut) kecuali pengakuannya, hanyalah untuk memastikan (kebenaran) pengakuannya, membersihkan (kemungkinan keraguan) dalam pengakuannya, melakukan tsabbut (penelitian dan kehati-hatian) dalam urusannya, serta berharap agar ia menarik kembali ucapannya atau agar pengakuannya menjadi sempurna. (Ikmalul Mulim Syarah Shahih Muslim, 5: 516)Tentu Nabi ﷺ adalah orang yang paling valid informasinya di dunia ini. Karena satu-satunya yang punya jalinan komunikasi khusus kepada Al-Haq adalah Nabi ﷺ. Namun, dalam banyak perkara, Allah ﷻ menyuruh Nabi ﷺ atau menggerakkan Nabi ﷺ untuk ber-tatsabbut wa tabayyun. Contoh dalam kasus Maiz ini, juga kisah haditsul ifki kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan lainnya. Tujuannya agar memberikan keteladanan kepada umat untuk bersikap tatsabbut dalam berkehidupan.Siap mengakui kesalahanSalah satu hal penting yang patut kita pegang dari penjelasan Ibnu Utsaimin adalah hal berikut,فإن كان على حَقٌّ وصواب فترجع إليه. أو يكون الصواب معك فيرجع إليك“Apabila orang itu yang benar, maka anda harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang ada padanya. Atau bisa jadi kebenaran bersama anda, maka orang itu pun harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang bersama anda itu.” (Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, cet. Muassasah Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 74)Kita pasti melakukan kesalahan sebagai Bani Adam. Termasuk dalam merespon suatu perkara. Sebaik apapun kita menjalankan kehidupan dengan berasaskan tatsabbut wa tabayyun, pasti adakalanya kita akan terjegal dengan kelalaian. Maka, penting sekali bagi kita dan lisan kita untuk mengakui kesalahan.Tujuan seorang muslim berdakwah atau sampai berselisih adalah untuk meraih kebenaran. Termasuk sikap adil adalah mengakui kebenaran dimanapun ia berada. Baik kebenaran itu ada di diri sendiri, maupun berada di pihak lain. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk rela rujuk dari kesalahan.Sebagian dari kita tentu merasa sulit mengakui kesalahan sendiri. Karena hal ini memalukan, menunjukkan kelalaian dan kelemahan kita. Namun, mental seorang muslim tidaklah demikian. Perhatikanlah! Mengapa Allah ﷻ melalui lisan Nabi ﷺ harus menyampaikan hadis ini kepada umat?كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Semua Bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertobat.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan lain-lain. Hadis ini hasan, menurut penilaian al-Albani rahimahullah)Allah ﷻ menetapkan sifat esensial dari manusia adalah melakukan kesalahan. Tujuannya adalah agar kita memaklumi dan merasa lebih ringan ketika melakukan kesalahan. Tujuan lainnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sehingga kita mudah rujuk dari kesalahan dan mengakui kebenaran meski pahit untuk melakukannya.Akan tetapi, faktor hasrat manusia yang menghalangi dari sikap rujuk ini, yaitu ego yang tinggi. Para dai atau yang dikenal berilmu di kalangan masyarakat, tentu tantangannya lebih berat untuk mengakui kesalahan. Karena mereka dipandang masyarakat sebagai rujukan, juga memiliki kedudukan di masyarakat. Tentu bebannya lebih berat untuk mengakui kesalahan.Wahai para penyeru kebenaran! Ketahuilah bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuat diri rendah. Mengapa? Karena memang demikianlah sifat dasar manusia: melakukan kesalahan. Bacalah kelanjutan dari hadis tersebut,وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.”Konsekuensi dari tobat adalah mengakui kesalahan, baik di hadapan Allah ﷻ apalagi yang berkaitan haknya dengan manusia. Kepada kedua pihak sama-sama dituntut untuk mengakui kesalahan. Dan jalan mengakui kesalahan ini adalah jalan yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.Oleh karena itu, seseorang yang melakukan kesalahan setelah tatsabbut terhadap suatu perkara, maka bisa jadi ia mendapatkan dua peluang kebaikan. Dua peluang kebaikan itu adalah:Pertama: Menjalankan perintah tatsabbut dalam merespons.Kedua: Menjalankan perintah mengakui kesalahan.Dan memang tidak ada jaminan bagi orang yang ber-tatsabbut akan selalu benar hasilnya. Karena bisa jadi ada fakta dan realita yang terlewat atau belum tersingkap ketika ia meneliti permasalahan itu. Atau ada faktor kesalahan dirinya yang tak mampu memahami dengan benar jalinan korelasi informasi yang didapatkannya, sementara dirinya telah berusaha keras. Tentu Allah ﷻ tetap akan memberikan nilai atas usaha ini.Hikmah tatsabbutAsas tatsabbut sangat penting sekali bagi seorang muslim utamanya yang berada di garis terdepan menyerukan Islam. Hikmah yang agung di dalamnya semoga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk memperjuangkannya:1) Sikap tatsabbut adalah tanda-tanda seorang beriman, sebagaimana yang disebut dalam QS. Al-Hujurat: 62) Meminimalisir kesalahan dan perselisihan dalam kehidupan;3) Menghindarkan diri dari penyesalan karena salah langkah;4) Membuat diri yakin akan keputusan yang diambil;5) Menjaga harta dan darah kaum muslimin;6) Membuat jiwa lebih tenang dan sehat secara psikologis;7) Mengenyahkan takhayul dan asumsi nisbi.Dan tentu saja masih banyak hikmah lainnya dari asas ini. Tentu saja penulis mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan asas ini dalam berkehidupan, terlebih lagi dalam konteks dakwah dan menghadapi perselisihan. Dengan menahan diri untuk bersikap reaktif, kita berarti mencegah munculnya permasalahan atau setidaknya meminimalisir dampak. Jangan tergoda dengan manisnya viral dan perputaran uang di dalamnya. Hanya karena mengejar momen viral, berita ramai, dan juga gosip terpanas, kita semangat meresponnya tanpa melakukan tatsabbut wa tabayyun. Kalaupun Allah takdirkan kita jatuh ke dalam kesalahan ketika merespons, maka bersegeralah kembali rujuk kepada kebenaran. Karena rujuk kepada kebenaran itu lebih dekat kepada kebaikan.[Bersambung]Kembali ke bagian 11 Lanjut ke bagian 13***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dampak dari tidak crosscheckKeteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunSiap mengakui kesalahanHikmah tatsabbutCepatnya informasi berkembang menuntut seorang muslim, khususnya para dai, untuk merespon beragam perkara. Jelas di dalamnya terdapat urgensi karena umat menuntut jawaban atas kerancuan atau juga pemberitaan akan seseorang. Namun, di satu sisi ada racun yang teramat bahaya dalam keadaan ini jika seorang dai tidak berhati-hati. Informasi yang tidak valid, atau bukan realitas yang terdistorsi, tentu akan berdampak kepada respon yang dikeluarkan. Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang muslim khususnya yang terjun di medan dakwah untuk mengenal manhaj at-tatsabbut ini.Kapan harus tatsabbut wa tabayyun?Dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan,هذا أهم ما يكون في هذه الآداب، وهو التثبت فيما يُنْقَلُ من الأَخْبَارِ، والتثبت فيما يصدرُ مِنْكَ من الأحكام، فالأَخْبَارُ إذا نُقِلَتْ فَلا بُدَّ أن تَتَثَبَّتَ أولا : هل صَحَتْ عَمَّنْ نُقِلَتْ إليه أو لا؟ ثم إذا صَحَّتْ فلا تَحْكُم بل تَتَبَّتْ في الحكم، فربما يكون الخبرُ مَبْنِيًّا على أَصْلٍ تَجْهَلُهُ أَنْتَ، فتحكم أنه خطأ، والواقع أنه ليس خطأ“Ini adalah perkara terpenting dalam adab-adab tersebut, yaitu ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap berita yang disampaikan, serta ber-tatsabbut terhadap keputusan yang keluar darimu. Ketika sebuah berita disampaikan, maka engkau harus terlebih dahulu memastikan: apakah berita tentang seseorang itu memang benar? Kemudian, bila ternyata berita itu benar, engkau tetap tidak boleh langsung memutuskan hukum, tetapi harus ber-tatsabbut dalam menetapkan hukum. Sebab boleh jadi berita tersebut dibangun di atas suatu dasar yang tidak engkau ketahui, lalu engkau menyimpulkan bahwa hal itu salah, padahal kenyataannya tidak salah.”Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tatsabbut itu setidaknya pada dua tempat: (1) berita dan pembawa beritanya, (2) cara menghukuminya. Solusinya menurut beliau adalah hendaknya kita menghubungi orang yang dikabarkan tersebut dan lakukan verifikasi padanya (tabayyun). Dengan demikian, kita akan mengetahui alasan di balik “mengapa orang tersebut melakukannya?”Dampak dari tidak crosscheckAllah ﷻ mengaitkan perintah untuk tatsabbut wa tabayyun dengan konsekuensi fatal jika hal ini tidak dilakukan. Dua dampak besar yang dapat ditimbulkan dari hal ini adalah:1) Menimpakan kezaliman kepada orang lain.2) Menimbulkan penyesalan di kemudian hari.Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bentuk riil dari dua konsekuensi tersebut. Beliau menerangkan dalam tafsirnya bahwa tatsabbut wa tabayyun adalah akhlak orang yang cerdas. Jika hal ini tidak dilakukan, maka konsekuensinya besar sekali. Konsekuensi tersebut dapat berupa tumpahnya darah kaum muslimin semisal qadzaf (tuduhan zina) ataupun peperangan. Tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan luar biasa.Berikut penjelasannya,من الآداب التي على أولي الألباب، التأدب بها واستعمالها، وهو أنه إذا أخبرهم فاسق بخبر أن يتثبتوا في خبره، ولا يأخذوه مجردًا، فإن في ذلك خطرًا كبيرًا، ووقوعًا في الإثم،Di antara adab yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal –yang wajib mereka terapkan dan amalkan–adalah bahwa apabila seorang fasik mengabarkan suatu berita, mereka harus ber-tatsabbut (meneliti dan memastikan) terhadap beritanya. Mereka tidak boleh menerimanya begitu saja, karena dalam hal itu terdapat bahaya besar dan dapat menjerumuskan pada dosa.فإن خبره إذا جعل بمنزلة خبر الصادق العدل، حكم بموجب ذلك ومقتضاه، فحصل من تلف النفوس والأموال، بغير حق، بسبب ذلك الخبر ما يكون سببًا للندامة،Sebab jika berita orang fasik diperlakukan seperti berita orang yang jujur dan adil, lalu diputuskan hukum berdasarkan berita itu dan konsekuensinya, maka dapat terjadi hilangnya nyawa atau harta tanpa hak hanya karena berita tersebut, yang pada akhirnya menjadi sebab penyesalan.Hal ini sebagaimana konteks diturunkannya QS. Al-Hujurat: 6 yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kisah tersebut berkaitan dengan Al-Walid bin Uqbah yang diutus untuk mengambil zakat dari Bani Mustaliq. Dia melihat bahwa Bani Mustaliq telah mempersiapkan hewan ternak ketika ia datang. Ia kembali ke sisi Nabi ﷺ dan mengatakan bahwa Bani Mustaliq telah bersiap perang dengan Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ melakukan crosscheck dengan mengirim Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, Nabi ﷺ pun mendapatkan kabar dari Khalid bahwa berita itu tidak valid. Bani Mustaliq ternyata justru menyiapkan hewan ternak itu untuk dijadikan harta zakat.Bayangkan apa yang terjadi jika Nabi ﷺ menerima mentah-mentah berita dari Al-Walid bin Uqbah?! Tentu bisa saja terjadi pertumpahan darah dan peperangan di antara kaum muslimin. Namun, Nabi ﷺ tidak semata-mata polos dan menerima begitu saja. Beliau bahkan mengirimkan utusan lain untuk mengecek kebenaran berita itu. Lihatlah betapa besar usaha Nabi ﷺ untuk melakukan crosscheck atas berita tersebut?! Maka, inilah harga validitas berita. Ia dibayar dengan perjalanan panjang, harta, dan waktu yang lama.Sangat berbeda keadaan Nabi ﷺ dengan realitas di zaman ini. Dimana berita sensasional cepat sekali diterima dan disebarkan hanya karena sesuai dengan hawa nafsu. Tidak dilakukan proses crosscheck terlebih dahulu. Akhirnya, timbul banyak berita simpang siur, hoax, dan fitnah yang menyebabkan perselisihan luar biasa di kalangan kaum muslimin.Apalagi dengan kemajuan zaman yang menjadikan teknologi saat ini dapat membuat tampilan berita sangat realistis. Ada teknologi AI, editing canggih, dan lain sebagainya yang sangat sulit untuk dibedakan antara kebenaran dengan kebohongan. Hal yang lebih aneh lagi adalah tren “timpa teks” di kalangan anak muda dalam rangka bercanda. Mereka akan mengedit sebuah berita atau gambar asli dengan teks yang sudah dimanipulasi tetapi dengan desain yang sangat mirip, lalu menyebarkannya seakan-akan ini berita asli. Hal ini adalah kedustaan yang teramat buruk. Rasulullah ﷺ bersabda,وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)Realita zaman ini, semakin menekankan wajibnya manhaj tatsabbut wa tabayyun dalam berbagai perkara. Khususnya para dai dan penuntut ilmu umumnya, karena kebanyakan dari mereka adalah corong umat. Jangan sampai terjebak kepada semangat ingin mengikuti tren, sehingga mengorbankan kevalidan berita yang sedang dibahas. Di era disrupsi, berita cepat sekali menyebar dan juga berubah. Kita sangat sulit untuk melihat mana yang benar dan yang salah. Maka, berhati-hatilah dalam merespon berita yang ada.Keteladanan dalam tatsabbut wa tabayyunTeladanilah Syekh Bin Baz rahimahullah dalam hal ini! Apabila Syekh hendak menjawab sebuah konsultasi semisal pengaduan seorang suami tentang istrinya, atau sebaliknya, beliau sebelum menjawab akan menyatakan, “Jika memang benar apa yang disampaikan, maka….” Artinya, Syekh memberi persyaratan bahwa arahan ini untuk kondisi jika memang benar itu yang terjadi. Karena Syekh Bin Baz tidak mengambil keputusan dan bersikap hanya berdasarkan pengakuan satu pihak saja.Beliau juga terkenal sebagai mufti yang apabila mendapati sebuah perkataan dari seseorang, semisal alim yang menurut beliau tidak tepat, maka beliau pastikan terlebih dahulu perkataan tersebut. Setelah dipastikan bahwa memang tidak tepat, kemudian beliau mengirimkan nasihat dengan penuh lemah lembut. Adapun jika beliau tidak mampu menjangkau ulama tersebut, maka beliau akan memaknainya dengan makna paling positif. (Biografi Imam Ibn Baz terbitan Salaf lil Buhuts wad Dirasah https://salafcenter.org/6121/)Keteladanan yang paling utama tentu datang dari Nabi ﷺ. Ketika menghadapi kasus Maiz yang berzina, beliau terus memastikan pengakuan Maiz tersebut. Hal ini dalam konteks kehakiman adalah karena hukuman yang ditegakkan sangat bergantung kepada pengakuan maupun bukti. Sedangkan konsekuensi hukumannya tak main-main, yakni eksekusi mati. Qadhi ‘Iyadh menjelaskan riwayat Maiz tersebut,وكان ترديدُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم له إذا لم يَقُمْ عليه بيِّنةٌ إلَّا لإقرارِه واستِبرائِه في إقرارِه، وتَثَبُّتًا في أمرِه، ورجاءً لرُجوعِه عن قَولِه، أو لتمامِ اعتِرافِهـ“Pengulangan pertanyaan Nabi ﷺ kepadanya, ketika tidak ada bukti yang menegakkan (perkara tersebut) kecuali pengakuannya, hanyalah untuk memastikan (kebenaran) pengakuannya, membersihkan (kemungkinan keraguan) dalam pengakuannya, melakukan tsabbut (penelitian dan kehati-hatian) dalam urusannya, serta berharap agar ia menarik kembali ucapannya atau agar pengakuannya menjadi sempurna. (Ikmalul Mulim Syarah Shahih Muslim, 5: 516)Tentu Nabi ﷺ adalah orang yang paling valid informasinya di dunia ini. Karena satu-satunya yang punya jalinan komunikasi khusus kepada Al-Haq adalah Nabi ﷺ. Namun, dalam banyak perkara, Allah ﷻ menyuruh Nabi ﷺ atau menggerakkan Nabi ﷺ untuk ber-tatsabbut wa tabayyun. Contoh dalam kasus Maiz ini, juga kisah haditsul ifki kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan lainnya. Tujuannya agar memberikan keteladanan kepada umat untuk bersikap tatsabbut dalam berkehidupan.Siap mengakui kesalahanSalah satu hal penting yang patut kita pegang dari penjelasan Ibnu Utsaimin adalah hal berikut,فإن كان على حَقٌّ وصواب فترجع إليه. أو يكون الصواب معك فيرجع إليك“Apabila orang itu yang benar, maka anda harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang ada padanya. Atau bisa jadi kebenaran bersama anda, maka orang itu pun harus kembali (rujuk) kepada kebenaran yang bersama anda itu.” (Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, cet. Muassasah Syekh Ibnu Utsaimin, hal. 74)Kita pasti melakukan kesalahan sebagai Bani Adam. Termasuk dalam merespon suatu perkara. Sebaik apapun kita menjalankan kehidupan dengan berasaskan tatsabbut wa tabayyun, pasti adakalanya kita akan terjegal dengan kelalaian. Maka, penting sekali bagi kita dan lisan kita untuk mengakui kesalahan.Tujuan seorang muslim berdakwah atau sampai berselisih adalah untuk meraih kebenaran. Termasuk sikap adil adalah mengakui kebenaran dimanapun ia berada. Baik kebenaran itu ada di diri sendiri, maupun berada di pihak lain. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk rela rujuk dari kesalahan.Sebagian dari kita tentu merasa sulit mengakui kesalahan sendiri. Karena hal ini memalukan, menunjukkan kelalaian dan kelemahan kita. Namun, mental seorang muslim tidaklah demikian. Perhatikanlah! Mengapa Allah ﷻ melalui lisan Nabi ﷺ harus menyampaikan hadis ini kepada umat?كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Semua Bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertobat.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan lain-lain. Hadis ini hasan, menurut penilaian al-Albani rahimahullah)Allah ﷻ menetapkan sifat esensial dari manusia adalah melakukan kesalahan. Tujuannya adalah agar kita memaklumi dan merasa lebih ringan ketika melakukan kesalahan. Tujuan lainnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Sehingga kita mudah rujuk dari kesalahan dan mengakui kebenaran meski pahit untuk melakukannya.Akan tetapi, faktor hasrat manusia yang menghalangi dari sikap rujuk ini, yaitu ego yang tinggi. Para dai atau yang dikenal berilmu di kalangan masyarakat, tentu tantangannya lebih berat untuk mengakui kesalahan. Karena mereka dipandang masyarakat sebagai rujukan, juga memiliki kedudukan di masyarakat. Tentu bebannya lebih berat untuk mengakui kesalahan.Wahai para penyeru kebenaran! Ketahuilah bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuat diri rendah. Mengapa? Karena memang demikianlah sifat dasar manusia: melakukan kesalahan. Bacalah kelanjutan dari hadis tersebut,وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat.”Konsekuensi dari tobat adalah mengakui kesalahan, baik di hadapan Allah ﷻ apalagi yang berkaitan haknya dengan manusia. Kepada kedua pihak sama-sama dituntut untuk mengakui kesalahan. Dan jalan mengakui kesalahan ini adalah jalan yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.Oleh karena itu, seseorang yang melakukan kesalahan setelah tatsabbut terhadap suatu perkara, maka bisa jadi ia mendapatkan dua peluang kebaikan. Dua peluang kebaikan itu adalah:Pertama: Menjalankan perintah tatsabbut dalam merespons.Kedua: Menjalankan perintah mengakui kesalahan.Dan memang tidak ada jaminan bagi orang yang ber-tatsabbut akan selalu benar hasilnya. Karena bisa jadi ada fakta dan realita yang terlewat atau belum tersingkap ketika ia meneliti permasalahan itu. Atau ada faktor kesalahan dirinya yang tak mampu memahami dengan benar jalinan korelasi informasi yang didapatkannya, sementara dirinya telah berusaha keras. Tentu Allah ﷻ tetap akan memberikan nilai atas usaha ini.Hikmah tatsabbutAsas tatsabbut sangat penting sekali bagi seorang muslim utamanya yang berada di garis terdepan menyerukan Islam. Hikmah yang agung di dalamnya semoga dapat menjadi motivasi bagi kita untuk memperjuangkannya:1) Sikap tatsabbut adalah tanda-tanda seorang beriman, sebagaimana yang disebut dalam QS. Al-Hujurat: 62) Meminimalisir kesalahan dan perselisihan dalam kehidupan;3) Menghindarkan diri dari penyesalan karena salah langkah;4) Membuat diri yakin akan keputusan yang diambil;5) Menjaga harta dan darah kaum muslimin;6) Membuat jiwa lebih tenang dan sehat secara psikologis;7) Mengenyahkan takhayul dan asumsi nisbi.Dan tentu saja masih banyak hikmah lainnya dari asas ini. Tentu saja penulis mengajak seluruh pembaca untuk menerapkan asas ini dalam berkehidupan, terlebih lagi dalam konteks dakwah dan menghadapi perselisihan. Dengan menahan diri untuk bersikap reaktif, kita berarti mencegah munculnya permasalahan atau setidaknya meminimalisir dampak. Jangan tergoda dengan manisnya viral dan perputaran uang di dalamnya. Hanya karena mengejar momen viral, berita ramai, dan juga gosip terpanas, kita semangat meresponnya tanpa melakukan tatsabbut wa tabayyun. Kalaupun Allah takdirkan kita jatuh ke dalam kesalahan ketika merespons, maka bersegeralah kembali rujuk kepada kebenaran. Karena rujuk kepada kebenaran itu lebih dekat kepada kebaikan.[Bersambung]Kembali ke bagian 11 Lanjut ke bagian 13***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Bertobat Sebelum Terlambat

Daftar Isi ToggleAllah menanti tobat kita setiap saatKisah seorang pembunuh seratus jiwaBahaya menunda tobatSyarat dan tanda tobat yang diterimaKeutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatDosa sebesar apa pun dihapuskanTobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikTobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganPenyesalan yang tidak ada artinyaSaatnya kembali kepada AllahSetiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini seperti air sejuk bagi jiwa yang haus ampunan. Ia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama engkau masih hidup, pulanglah, pintu itu belum tertutup.”Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.Allah menanti tobat kita setiap saatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.Kisah seorang pembunuh seratus jiwaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebuah kisah luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”Rahib itu menjawab, “Tidak ada.”Lelaki itu pun membunuhnya, genaplah seratus orang yang ia bunuh.Namun, hatinya belum mati. Ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada tobat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari rahmat Allah? Tapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa ini dan pergilah ke negeri lain di mana orang-orangnya beribadah kepada Allah.”Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.Bahaya menunda tobatMenunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.Syarat dan tanda tobat yang diterimaPara ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:1) An-Nadam (الندم), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.2) At-Tark (الترك), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.3) Al-‘Azm (العزم), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.4) Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka wajib mengembalikan haknya atau meminta maaf.Keutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Dosa sebesar apa pun dihapuskanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikAllah Ta’ala berfirman,فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا“Maka mereka itu, Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganAllah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Penyesalan yang tidak ada artinyaAllah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ“Ya Rabbku, sekiranya Engkau beri tangguh aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.Saatnya kembali kepada AllahKita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.اللهم تب علينا توبةً نصوحًا، تمحو بها ذنوبنا، وتُطهِّر بها قلوبنا، وتختم بها حياتنا بحسن الخاتمة.“Ya Allah, terimalah tobat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Apakah Tobatnya Pembunuh Diterima oleh Allah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Bertobat Sebelum Terlambat

Daftar Isi ToggleAllah menanti tobat kita setiap saatKisah seorang pembunuh seratus jiwaBahaya menunda tobatSyarat dan tanda tobat yang diterimaKeutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatDosa sebesar apa pun dihapuskanTobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikTobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganPenyesalan yang tidak ada artinyaSaatnya kembali kepada AllahSetiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini seperti air sejuk bagi jiwa yang haus ampunan. Ia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama engkau masih hidup, pulanglah, pintu itu belum tertutup.”Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.Allah menanti tobat kita setiap saatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.Kisah seorang pembunuh seratus jiwaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebuah kisah luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”Rahib itu menjawab, “Tidak ada.”Lelaki itu pun membunuhnya, genaplah seratus orang yang ia bunuh.Namun, hatinya belum mati. Ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada tobat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari rahmat Allah? Tapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa ini dan pergilah ke negeri lain di mana orang-orangnya beribadah kepada Allah.”Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.Bahaya menunda tobatMenunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.Syarat dan tanda tobat yang diterimaPara ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:1) An-Nadam (الندم), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.2) At-Tark (الترك), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.3) Al-‘Azm (العزم), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.4) Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka wajib mengembalikan haknya atau meminta maaf.Keutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Dosa sebesar apa pun dihapuskanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikAllah Ta’ala berfirman,فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا“Maka mereka itu, Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganAllah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Penyesalan yang tidak ada artinyaAllah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ“Ya Rabbku, sekiranya Engkau beri tangguh aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.Saatnya kembali kepada AllahKita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.اللهم تب علينا توبةً نصوحًا، تمحو بها ذنوبنا، وتُطهِّر بها قلوبنا، وتختم بها حياتنا بحسن الخاتمة.“Ya Allah, terimalah tobat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Apakah Tobatnya Pembunuh Diterima oleh Allah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleAllah menanti tobat kita setiap saatKisah seorang pembunuh seratus jiwaBahaya menunda tobatSyarat dan tanda tobat yang diterimaKeutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatDosa sebesar apa pun dihapuskanTobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikTobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganPenyesalan yang tidak ada artinyaSaatnya kembali kepada AllahSetiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini seperti air sejuk bagi jiwa yang haus ampunan. Ia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama engkau masih hidup, pulanglah, pintu itu belum tertutup.”Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.Allah menanti tobat kita setiap saatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.Kisah seorang pembunuh seratus jiwaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebuah kisah luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”Rahib itu menjawab, “Tidak ada.”Lelaki itu pun membunuhnya, genaplah seratus orang yang ia bunuh.Namun, hatinya belum mati. Ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada tobat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari rahmat Allah? Tapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa ini dan pergilah ke negeri lain di mana orang-orangnya beribadah kepada Allah.”Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.Bahaya menunda tobatMenunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.Syarat dan tanda tobat yang diterimaPara ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:1) An-Nadam (الندم), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.2) At-Tark (الترك), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.3) Al-‘Azm (العزم), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.4) Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka wajib mengembalikan haknya atau meminta maaf.Keutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Dosa sebesar apa pun dihapuskanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikAllah Ta’ala berfirman,فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا“Maka mereka itu, Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganAllah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Penyesalan yang tidak ada artinyaAllah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ“Ya Rabbku, sekiranya Engkau beri tangguh aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.Saatnya kembali kepada AllahKita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.اللهم تب علينا توبةً نصوحًا، تمحو بها ذنوبنا، وتُطهِّر بها قلوبنا، وتختم بها حياتنا بحسن الخاتمة.“Ya Allah, terimalah tobat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Apakah Tobatnya Pembunuh Diterima oleh Allah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleAllah menanti tobat kita setiap saatKisah seorang pembunuh seratus jiwaBahaya menunda tobatSyarat dan tanda tobat yang diterimaKeutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatDosa sebesar apa pun dihapuskanTobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikTobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganPenyesalan yang tidak ada artinyaSaatnya kembali kepada AllahSetiap manusia pernah salah. Tidak ada satu pun yang benar-benar bersih dari dosa. Namun, perbedaan antara orang yang baik dan yang lalai terletak pada seberapa cepat ia kembali kepada Allah setelah jatuh dalam kesalahan.Dosa sekecil apa pun adalah noda yang menutupi cahaya hati. Ia membuat hati gelap, kaku, dan jauh dari rasa nikmat dalam ibadah. Tetapi, kabar gembiranya: Allah tidak menutup pintu ampunan, tidak peduli sebesar apa dosa itu, selama kita mau kembali kepada-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini seperti air sejuk bagi jiwa yang haus ampunan. Ia memeluk orang yang paling berdosa sekalipun, dan berkata, “Selama engkau masih hidup, pulanglah, pintu itu belum tertutup.”Namun, ayat ini juga membawa peringatan lembut, yaitu jangan menunda tobat. Karena waktu tidak akan menunggu kita sadar.Allah menanti tobat kita setiap saatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)Bayangkan Tuhan semesta alam, yang tidak butuh apa pun dari kita, justru menanti kita untuk kembali, siang dan malam. Bukankah itu bentuk kasih sayang yang tak terbayangkan?Allah tidak menutup pintu itu. Tapi manusialah yang sering menutupnya sendiri dengan rasa malas, dengan menunda, dengan berkata “nanti saja”.Kisah seorang pembunuh seratus jiwaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sebuah kisah luar biasa dan kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahihain. Ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Ia ingin bertobat, lalu bertanya kepada seorang rahib, “Apakah ada jalan tobat bagiku?”Rahib itu menjawab, “Tidak ada.”Lelaki itu pun membunuhnya, genaplah seratus orang yang ia bunuh.Namun, hatinya belum mati. Ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim, dan ditunjukkan kepada seorang ulama. Ulama itu berkata, “Ya, masih ada tobat bagimu! Siapa yang bisa menghalangimu dari rahmat Allah? Tapi tinggalkanlah negerimu yang penuh dosa ini dan pergilah ke negeri lain di mana orang-orangnya beribadah kepada Allah.”Ia pun berangkat. Tapi di tengah jalan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih. Lalu, Allah memerintahkan bumi untuk mendekatkan jasadnya ke arah negeri tujuan. Dan karena ia lebih dekat sejengkal ke arah negeri tobat itu, maka Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.Masya Allah… bahkan niat untuk tobat pun memiliki nilai yang besar di sisi Allah.Bahaya menunda tobatMenunda tobat adalah bentuk penipuan terbesar terhadap diri sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi)Kematian tidak memberi peringatan. Ia datang di waktu yang paling tidak kita duga di tengah tawa, di sela rencana, atau bahkan di puncak cita-cita duniawi.Syarat dan tanda tobat yang diterimaPara ulama menjelaskan bahwa tobat yang diterima memiliki beberapa syarat:1) An-Nadam (الندم), yaitu menyesali dosa yang telah dilakukan.2) At-Tark (الترك), yaitu meninggalkan dosa tersebut dengan segera.3) Al-‘Azm (العزم), yaitu bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.4) Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka wajib mengembalikan haknya atau meminta maaf.Keutamaan tobat di sisi AllahAllah mencintai orang yang bertobatAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Dosa sebesar apa pun dihapuskanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)Tobat mengangkat derajat dan mengubah dosa menjadi amal baikAllah Ta’ala berfirman,فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا“Maka mereka itu, Allah akan mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)Tobat membuka pintu rahmat dan keberuntunganAllah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)Penyesalan yang tidak ada artinyaAllah menggambarkan penyesalan orang yang terlambat bertobat dalam firman-Nya,رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِي إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ“Ya Rabbku, sekiranya Engkau beri tangguh aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)Namun, penyesalan itu datang ketika pintu tobat telah tertutup. Sungguh, tidak ada penyesalan yang lebih pedih daripada menyadari kesempatan sudah berlalu selamanya.Saatnya kembali kepada AllahKita tidak tahu kapan ajal menjemput. Mungkin besok. Mungkin malam ini. Oleh karena itu, jangan menunggu “sempat”, “nanti”, atau “sudah tua”. Tobat itu sekarang.Tobat bukan tanda kelemahan, tapi tanda kesadaran dan keberanian spiritual. Ia adalah bukti cinta kepada Allah, bukti bahwa hati masih hidup. Maka, pulanglah sebelum terlambat.Air mata penyesalan yang jatuh hari ini, bisa jadi penyelamat kita di hari akhir.اللهم تب علينا توبةً نصوحًا، تمحو بها ذنوبنا، وتُطهِّر بها قلوبنا، وتختم بها حياتنا بحسن الخاتمة.“Ya Allah, terimalah tobat kami dengan taubat nasuha. Hapuslah dosa-dosa kami, sucikan hati kami, dan tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah.”Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Apakah Tobatnya Pembunuh Diterima oleh Allah?***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Empat Kebahagiaan dan Empat Kesengsaraan

أربع من السعادة .. وأربع من الشقاء Oleh: Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي روى ابنُ حبَّان في “صحيحه”، والحاكمُ في “المستدرك”، والطبراني في “الكبير” و”الأوسط”، والبيهقيُّ في “الشُّعَب”، وغيرُهم عن سعد بن أبي وقاص – رضِي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: ((أربعٌ من السعادة: المرأةُ الصالحة، والمسكنُ الواسِع، والجارُ الصالح، والمَرْكَب الهنيء، وأربعٌ من الشقاء: المرأة السوء، والجار السوء، والمركب السوء، والمسكن الضيِّق))، وأخرَجَه كذلك أحمد مُختَصَرًا، وقال الألباني في “السلسلة الصحيحة” مُعَلِّقًا على رواية ابن حبَّان: هذا سند صحيح على شرط الشيخين. وهذا الخبر النبوي الكريم قد تضمَّن جُمَلاً من الفوائد والمعارف، كما حثَّ على بعض الأمور الجالِبَة للفرح والسعادة، وحذَّر من أضدادها المقتضِيَة للمَتاعِب والشَّقاوَة. Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat. Al-Albani mengatakan dalam kitab As-Silsilah ash-Shahihah saat mengomentari riwayat Ibnu Hibban, “Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Al-Bukhari dan Muslim.” Hadis Nabi yang mulia ini mengandung beberapa faedah dan ilmu, juga mengandung dorongan untuk berusaha meraih hal-hal yang dapat mengundang kebahagiaan dan kesenangan, sekaligus peringatan dari hal-hal sebaliknya yang dapat menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((أربعٌ من السعادة))؛ أي: كلُّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة فيه سعادةٌ لصاحبه، وسرُّ هذه السعادة أنَّ كلَّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة مُلازِم للإنسان؛ فلا يُفارِقه الإنسان تقريبًا إلا ويَعُود إليه مرَّة أخرى، فصُحبة الزوجة أو المسكن، أو الجار أو المركب، صُحبة حياة وملازمة دائمة. وهذه السعادة وإن كانت سعادة دنيويَّة وثمرتها عاجلة، إلاَّ أنَّ أسبابها ووجودها من أعظم ما يُعِين العبدَ على أمرِ دينه وآخرته Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan” yakni empat perkara ini masing-masing mengandung kebahagiaan bagi pemiliknya. Rahasia dari kebahagiaan ini adalah karena setiap perkara tersebut senantiasa menyertai manusia. Hampir setiap orang yang meninggalkan perkara-perkara itu melainkan akan menyertainya kembali, penyertaan istri, tempat tinggal, tetangga, atau kendaraan terhadap seseorang adalah penyertaan sepanjang hidup dan terus menerus. Meskipun kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan duniawi dan manfaatnya hanya sementara, hanya saja keberadaannya menjadi salah satu faktor terbesar dalam menyokong seorang hamba dalam menjalankan urusan agama dan akhiratnya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة الصالحة)): فالمرأة الصالحة خيرُ مَتاع الدنيا، كما قال – صلى الله عليه وسلم -: ((الدنيا كلُّها مَتاع، وخير مَتاع الدنيا المرأة الصالحة))؛ أخرجه مسلم وغيره من حديث عبدالله بن عمرو، وفي رواية النسائي وابن ماجه: ((إنما الدنيا مَتاع، وليس من مَتاع الدنيا شيء أفضل من المرأة الصالحة))؛ صحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. فمع كون المرأة الصالحة مَتاعًا دنيويًّا بما تُدخِله على زوجها من سُرُور وبهجة، وبما تحمل معه من هُمُوم ومَشاكِل، فهي كذلك تُعِين زوجَها على أمر الآخرة. وفي رواية الحاكم – رحمه الله تعالى – لهذا الحديث وصَفَها – صلى الله عليه وسلم – بقوله: ((فمن السعادة: المرأة الصالحة، تراها فتُعجِبك، وتَغِيب عنها فتأمنها على نفسها ومالك))؛ أخرجه الحاكم، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang shalihah”. Istri yang shalihah merupakan sebaik-baik kenikmatan dunia, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: الدُّنْيَا كُلُُّهَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia itu seluruhnya kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Amru. Sedangkan dalam riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan: إنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ “Dunia itu isinya kenikmatan, dan tidak ada kenikmatan dunia yang lebih baik daripada istri yang shalihah.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Selain istri yang shalihah itu menjadi kenikmatan duniawi yang dapat menghadirkan kebahagiaan dan keindahan hidup bagi suaminya dan turut membantunya untuk memikul beban dan masalah, ia juga dapat menyokong suaminya untuk menjalankan urusan akhirat. Dalam riwayat Al-Hakim Rahimahullah, disebutkan dalam hadis ini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifat istri shalihah dengan bersabda: فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، تَرَاهَا فَتُعْجِبُكَ، وَتَغِيبُ عَنْهَا فَتَأْمَنُهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ “Di antara kebahagiaan adalah istri shalihah, saat kamu menatapnya, dia membuatmu senang, dan saat kamu tidak ada di sisinya, dia menjaga dirinya dan hartamu.” (HR. Al-Hakim. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). ووصَفَها – صلى الله عليه وسلم – في حديثٍ آخر بقوله: ((خير النساء التي تسرُّه إذا نظر، وتُطِيعه إذا أمر، ولا تُخالِفه في نفسها ولا مالها بما يكره))؛ أخرجه أحمد والنسائي والحاكم من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. ووَصَفَها – صلى الله عليه وسلم – كذلك بقوله: ((تزوَّجوا الوَدودَ الوَلودَ؛ فإنِّي مُكاثِرٌ بكم))؛ أخرجه أبو داود والنسائي من حديث مَعقِل بن يَسار، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sedangkan dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifatnya dengan bersabda: خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Sebaik-baik istri adalah yang membuat bahagia suami saat dia melihatnya, menaatinya saat dia menyuruhnya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang dia (suami) benci.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan sifatnya melalui sabda beliau: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ “Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Ma’qil bin Yasar. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). فخيرُ النِّساء التي تسرُّ زوجَها بهيئتها الجميلة إذا نظر إليها، وتُطِيعه إذا أمَرَها بشيء غير محرَّم، ولا تُخالِفه في نفسها – بل ولا في مالها – بما يكره، وهي الوَدُود التي تُكثِر التودُّد والتحبُّب لزوجها، هي تلك المرأة التي قال فيها – صلى الله عليه وسلم -: ((ألاَ أُخبِركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الوَدُود الوَلُود العؤود، التي إذا ظُلِمت قالت: هذه يدي في يدك، لا أذوق غَمْضًا حتى ترضى))؛ أخرجه الدارقطني في “الأفراد”، والطبراني، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. وكذلك من سعادة المرأة المسلمة الزوج الصالح، وهو الذي يَكفِي امرأتَه مُؤَنَ الحياة، ويُعِينها على أمر دينها. Sebaik-baik istri adalah yang dapat membuat suaminya bahagia dengan penampilannya yang cantik jika dipandang suami, selalu menaatinya saat menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak    diharamkan, dan tidak menyelisihi suami dalam perkara dirinya – dan bahkan hartanya – dengan sesuatu yang tidak disukai suami. Dia adalah wanita penyayang yang penuh kasih kepada suaminya, wanita yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau: ألَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَؤُودُ، الَّتِي إِذَا ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian dari penghuni surga? Yaitu istri yang penyayang, melahirkan banyak anak, dan mendatangkan banyak manfaat bagi suaminya, yang apabila terzalimi (oleh suaminya dengan nafkah yang kurang atau lainnya) ia berkata kepada suaminya, ‘Ini tanganku di genggamanmu. Aku tidak akan dapat merasakan tidur yang nyenyak hingga kamu ridha kepadaku.’” (HR. Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Afrad dan Ath-Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Demikian juga salah satu bentuk kebahagiaan bagi wanita muslimah adalah suami yang saleh, yaitu suami yang mencukupi kebutuhan hidupnya dan menyokongnya dalam menjalankan urusan agamanya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الواسِع)): زادَ في رواية الحاكم: ((والدار تكون واسعة كثيرة المَرافِق))، فالمسكن الواسِع أبهج للنفوس وأحبُّ إليها؛ لأنَّ في السعة عامَّة راحةً نفسيَّة، كما أن الدار الواسِعَة أجمع لحاجات أصحابها. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tempat tinggal yang luas”, dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat tambahan kalimat, “Rumah yang luas dan punya banyak perabot.” Tempat tinggal yang luas lebih menyenangkan dan disukai jiwa manusia, karena secara umum, tempat tinggal yang luas dapat memberi kenyamanan jiwa, juga lebih fungsional untuk berbagai kebutuhan pemiliknya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار الصالح)): فهو الذي يكفُّ أذاه عن جِيرانه، ويُحسِن إليهم في مَعاشِهم وآخرتهم، وقد وصَّانا ربُّنا – تبارك وتعالى – بالجار فقال: ﴿ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ ﴾ [النساء: 36]. وفي الصحيحين من حديث عائشة وعبدالله بن عمر – رضي الله عنهم جميعًا – أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما زال جبريل يُوصِيني بالجار حتى ظننت أنَّه سيُورِّثه))، وبالَغ – صلى الله عليه وسلم – في حقوق الجار فقال: ((ما آمَن بي مَن بات شبعان وجارُه جائِع إلى جنبه وهو يعلم به))؛ أخرجه البزَّار والطبراني، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tetangga yang saleh”, yakni tetangga yang tidak mengganggu para tetangganya, dan bersikap baik kepada mereka dalam urusan hidup sehari-hari dan urusan akhirat. Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala telah berwasiat kepada kita untuk bersikap baik terhadap tetangga melalui firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa: 36). Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadis riwayat Aisyah dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ “Jibril selalu mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku mengira bahwa dia akan menjadikannya termasuk orang yang berhak mendapat warisan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga sangat menekankan pemenuhan hak-hak tetangga dengan bersabda: مَا أمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ “Tidaklah beriman kepadaku orang yang melewati malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب الهَنِيء)): في رواية الحاكم تفسير له: ((والدابَّة تكون وَطِيئة فتُلحِقك بأصحابك))، وفي زماننا هذا اختلفت المراكب، لكن منها كذلك ما هو هَنِيء مُرِيح لصاحبه، ومنها ما هو سيِّئ مُتعب. والمركب الهَنِيء عادة لا يُؤَخِّر صاحبه عن مقصده وحاجته، كما لا يلحق به مَتاعِب الطريق المعوج غير المُذَلَّل، واليوم المركب الهَنِيء لا يشعر صاحبه بِمَتاعِب الجوِّ، سواء أكان الجوُّ حارًّا أم باردًا، كما يكون سهلاً في قيادته، وكلُّ هذا لا شكَّ من السعادة الدنيويَّة ومن راحة الإنسان في هذه الحياة الدنيا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “dan kendaraan yang nyaman.” Dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat penafsiran kalimat ini, “dan hewan tunggangan nyaman yang mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Adapun di zaman kita, kendaraan sudah beraneka ragamnya, tapi ada yang nyaman bagi penggunanya dan ada juga yang membuat lelah. Kendaraan yang nyaman biasanya tidak membuat pemiliknya terhambat dari tujuan dan urusannya, juga tidak membuatnya pegal-pegal saat melalui jalan yang berkelok dan terjal. Kendaraan yang nyaman pada zaman ini tidak membuat pemiliknya merasakan gangguan cuaca, baik itu saat cuaca panas atau dingin, serta lebih mudah dikendarai. Tidak diragukan lagi bahwa itu semua termasuk kebahagiaan duniawi dan menjadi sebab kedamaian seseorang dalam menjalani kehidupan dunia ini. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((وأربعٌ من الشَّقَاء)): وهي بضدِّ الأولى، والشَّقاء هنا هو المشقَّة والتَّعَب، وهذا الشقاء يَكُون للمؤمن الديِّن بلاء واختبارًا من الله – عزَّ وجلَّ – يرفع به درجته، ويحطُّ به خطيئته، ولغير المؤمن جزاء وعقابًا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan”. Ini merupakan kebalikan dari yang pertama, dan yang dimaksud di sini adalah kesulitan dan keletihan. Kesengsaraan ini bagi seorang mukmin yang teguh agamanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk mengangkat derajatnya dan menggugurkan dosanya. Sedangkan bagi selain orang mukmin merupakan balasan dan siksaan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة السوء)): وفي رواية الحاكم وصفٌ لها بأنها: ((تراها فتَسُوءُك، وتحمل لسانها عليك، وإن غبتَ عنها لم تأمنها على نفسها ومالك))، فمنظرها عند زوجها قبيح، ولسانها عليه حادٌّ، ولنفسها وماله غير حافظة. وصِفة واحدة من هذه الصفات في المرأة مُؤذِنة بكراهية زوجها لها وشقائه بها، فكيف إذا جمعت هذه الصفات كلها أو زادت عليها؟! Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang berperangai buruk.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan ciri-cirinya, yaitu, “Jika kamu melihatnya, dia membuatmu tidak senang, suka memberi celaan kepadamu, dan ketika kamu jauh darinya, dia tidak amanah dalam dirinya dan hartamu.” Penampilannya jelek menurut suaminya, lisannya tajam terhadapnya, dan tidak dapat menjaga dirinya dan harta keluarganya. Salah satu sifat ini jika ada pada seorang wanita sudah menjadi tanda kebencian dan penderitaan suaminya terhadapnya. Apalagi jika ada wanita yang memiliki semua sifat ini atau bahkan ditambah sifat-sifat buruk lainnya?! قوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار السوء)): فهو السيِّئ الأخلاق، الذي لا يكفُّ أذاه عن جارِه، ولا يَعرِف حقوقَه عليه، وفي حديث فَضالَة بن عبيد عند الطبراني: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ثلاثة من الفواقر))، وذكر منها: ((وجار إن رأى خيرًا دفَنَه، وإن رأى شرًّا أشاعَه))؛ ضعَّفه الألباني في “ضعيف الجامع”. وقد قال – صلى الله عليه وسلم -: ((تعوَّذوا بالله من جار السوء في دار المقام، فإن الجار البادِي يَتحوَّل عنك))؛ أخرجه النسائي من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “tetangga yang berperangai buruk.” Yakni yang buruk akhlaknya, yang tidak berhenti mengganggu tetangganya, dan tidak peduli terhadap hak-hak orang lain atasnya. Dalam hadis Fadhalah bin Ubaid yang diriwayatkan Ath-Thabrani disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang termasuk musibah besar.” Dan beliau menyebutkan salah satunya, “Dan tetangga yang jika melihat kebaikan, dia menutup mata, dan jika melihat keburukan, dia menyebarkannya.” (HR. Ath-Thabrani dilemahkan Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارٍ السُّوءِ فِي دَارِ الْمَقَامِ، فَإِنَّ الْجَارَّ الْبَادِي يَتَحَوَّل عَنْك “Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang buruk di rumah menetap, karena jika tetangga rumah sementara, akan pergi darimu.” (HR. An-Nasa’i dari Abu Hurairah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب السوء)): في رواية الحاكم: ((والدابَّة تكون قَطوفًا؛ فإن ضربتها أتعبَتْك، وإن تركتها لم تُلحقك بأصحابك))؛ أي: تكون بطيئة السير، والسيارة السيِّئة في أيامنا نحن، إن تركتها على ما هي عليه أتعبَتْك، وإن حاوَلتَ إصلاحها كلَّفَتْك المال والجهد، ولم تستَقِم لك كما تريد. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “kendaraan yang buruk.” Dan dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Hewan tunggangan yang lamban; jika kamu memukulnya, itu hanya membuatmu lelah, dan jika kamu membiarkannya, maka tidak mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Yakni hewan itu lamban saat berjalan, atau mobil jelek di zaman kita sekarang, jika kamu membiarkannya seperti itu, itu akan membuatmu lelah, dan jika kamu berusaha membenahinya, itu akan membebani biaya dan usahamu, tapi setelah itu tetap tidak bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الضيِّق)): في رواية الحاكم: ((قليلة المَرافِق))، وشقاؤه في أنَّه لا يسع أهله ولا يَفِي بأغراضهم Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan tempat tinggal yang sempit.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Perabotnya sedikit.” Rumah seperti ini dapat menimbulkan kesengsaraan karena tidak lapang bagi pemiliknya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهمَّ وسلِّم على نبيِّنا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تَبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam.  Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/47519/أربع-من-السعادة-..-وأربع-من-الشقاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Tempat Sa I, Menguap Menurut Islam, Mokah Artinya, Doa Akhir Dan Awal Tahun Baru Hijriah, Poligami Tanpa Izin Istri Pertama Visited 994 times, 4 visit(s) today Post Views: 624 QRIS donasi Yufid

Empat Kebahagiaan dan Empat Kesengsaraan

أربع من السعادة .. وأربع من الشقاء Oleh: Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي روى ابنُ حبَّان في “صحيحه”، والحاكمُ في “المستدرك”، والطبراني في “الكبير” و”الأوسط”، والبيهقيُّ في “الشُّعَب”، وغيرُهم عن سعد بن أبي وقاص – رضِي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: ((أربعٌ من السعادة: المرأةُ الصالحة، والمسكنُ الواسِع، والجارُ الصالح، والمَرْكَب الهنيء، وأربعٌ من الشقاء: المرأة السوء، والجار السوء، والمركب السوء، والمسكن الضيِّق))، وأخرَجَه كذلك أحمد مُختَصَرًا، وقال الألباني في “السلسلة الصحيحة” مُعَلِّقًا على رواية ابن حبَّان: هذا سند صحيح على شرط الشيخين. وهذا الخبر النبوي الكريم قد تضمَّن جُمَلاً من الفوائد والمعارف، كما حثَّ على بعض الأمور الجالِبَة للفرح والسعادة، وحذَّر من أضدادها المقتضِيَة للمَتاعِب والشَّقاوَة. Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat. Al-Albani mengatakan dalam kitab As-Silsilah ash-Shahihah saat mengomentari riwayat Ibnu Hibban, “Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Al-Bukhari dan Muslim.” Hadis Nabi yang mulia ini mengandung beberapa faedah dan ilmu, juga mengandung dorongan untuk berusaha meraih hal-hal yang dapat mengundang kebahagiaan dan kesenangan, sekaligus peringatan dari hal-hal sebaliknya yang dapat menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((أربعٌ من السعادة))؛ أي: كلُّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة فيه سعادةٌ لصاحبه، وسرُّ هذه السعادة أنَّ كلَّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة مُلازِم للإنسان؛ فلا يُفارِقه الإنسان تقريبًا إلا ويَعُود إليه مرَّة أخرى، فصُحبة الزوجة أو المسكن، أو الجار أو المركب، صُحبة حياة وملازمة دائمة. وهذه السعادة وإن كانت سعادة دنيويَّة وثمرتها عاجلة، إلاَّ أنَّ أسبابها ووجودها من أعظم ما يُعِين العبدَ على أمرِ دينه وآخرته Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan” yakni empat perkara ini masing-masing mengandung kebahagiaan bagi pemiliknya. Rahasia dari kebahagiaan ini adalah karena setiap perkara tersebut senantiasa menyertai manusia. Hampir setiap orang yang meninggalkan perkara-perkara itu melainkan akan menyertainya kembali, penyertaan istri, tempat tinggal, tetangga, atau kendaraan terhadap seseorang adalah penyertaan sepanjang hidup dan terus menerus. Meskipun kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan duniawi dan manfaatnya hanya sementara, hanya saja keberadaannya menjadi salah satu faktor terbesar dalam menyokong seorang hamba dalam menjalankan urusan agama dan akhiratnya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة الصالحة)): فالمرأة الصالحة خيرُ مَتاع الدنيا، كما قال – صلى الله عليه وسلم -: ((الدنيا كلُّها مَتاع، وخير مَتاع الدنيا المرأة الصالحة))؛ أخرجه مسلم وغيره من حديث عبدالله بن عمرو، وفي رواية النسائي وابن ماجه: ((إنما الدنيا مَتاع، وليس من مَتاع الدنيا شيء أفضل من المرأة الصالحة))؛ صحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. فمع كون المرأة الصالحة مَتاعًا دنيويًّا بما تُدخِله على زوجها من سُرُور وبهجة، وبما تحمل معه من هُمُوم ومَشاكِل، فهي كذلك تُعِين زوجَها على أمر الآخرة. وفي رواية الحاكم – رحمه الله تعالى – لهذا الحديث وصَفَها – صلى الله عليه وسلم – بقوله: ((فمن السعادة: المرأة الصالحة، تراها فتُعجِبك، وتَغِيب عنها فتأمنها على نفسها ومالك))؛ أخرجه الحاكم، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang shalihah”. Istri yang shalihah merupakan sebaik-baik kenikmatan dunia, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: الدُّنْيَا كُلُُّهَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia itu seluruhnya kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Amru. Sedangkan dalam riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan: إنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ “Dunia itu isinya kenikmatan, dan tidak ada kenikmatan dunia yang lebih baik daripada istri yang shalihah.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Selain istri yang shalihah itu menjadi kenikmatan duniawi yang dapat menghadirkan kebahagiaan dan keindahan hidup bagi suaminya dan turut membantunya untuk memikul beban dan masalah, ia juga dapat menyokong suaminya untuk menjalankan urusan akhirat. Dalam riwayat Al-Hakim Rahimahullah, disebutkan dalam hadis ini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifat istri shalihah dengan bersabda: فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، تَرَاهَا فَتُعْجِبُكَ، وَتَغِيبُ عَنْهَا فَتَأْمَنُهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ “Di antara kebahagiaan adalah istri shalihah, saat kamu menatapnya, dia membuatmu senang, dan saat kamu tidak ada di sisinya, dia menjaga dirinya dan hartamu.” (HR. Al-Hakim. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). ووصَفَها – صلى الله عليه وسلم – في حديثٍ آخر بقوله: ((خير النساء التي تسرُّه إذا نظر، وتُطِيعه إذا أمر، ولا تُخالِفه في نفسها ولا مالها بما يكره))؛ أخرجه أحمد والنسائي والحاكم من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. ووَصَفَها – صلى الله عليه وسلم – كذلك بقوله: ((تزوَّجوا الوَدودَ الوَلودَ؛ فإنِّي مُكاثِرٌ بكم))؛ أخرجه أبو داود والنسائي من حديث مَعقِل بن يَسار، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sedangkan dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifatnya dengan bersabda: خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Sebaik-baik istri adalah yang membuat bahagia suami saat dia melihatnya, menaatinya saat dia menyuruhnya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang dia (suami) benci.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan sifatnya melalui sabda beliau: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ “Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Ma’qil bin Yasar. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). فخيرُ النِّساء التي تسرُّ زوجَها بهيئتها الجميلة إذا نظر إليها، وتُطِيعه إذا أمَرَها بشيء غير محرَّم، ولا تُخالِفه في نفسها – بل ولا في مالها – بما يكره، وهي الوَدُود التي تُكثِر التودُّد والتحبُّب لزوجها، هي تلك المرأة التي قال فيها – صلى الله عليه وسلم -: ((ألاَ أُخبِركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الوَدُود الوَلُود العؤود، التي إذا ظُلِمت قالت: هذه يدي في يدك، لا أذوق غَمْضًا حتى ترضى))؛ أخرجه الدارقطني في “الأفراد”، والطبراني، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. وكذلك من سعادة المرأة المسلمة الزوج الصالح، وهو الذي يَكفِي امرأتَه مُؤَنَ الحياة، ويُعِينها على أمر دينها. Sebaik-baik istri adalah yang dapat membuat suaminya bahagia dengan penampilannya yang cantik jika dipandang suami, selalu menaatinya saat menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak    diharamkan, dan tidak menyelisihi suami dalam perkara dirinya – dan bahkan hartanya – dengan sesuatu yang tidak disukai suami. Dia adalah wanita penyayang yang penuh kasih kepada suaminya, wanita yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau: ألَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَؤُودُ، الَّتِي إِذَا ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian dari penghuni surga? Yaitu istri yang penyayang, melahirkan banyak anak, dan mendatangkan banyak manfaat bagi suaminya, yang apabila terzalimi (oleh suaminya dengan nafkah yang kurang atau lainnya) ia berkata kepada suaminya, ‘Ini tanganku di genggamanmu. Aku tidak akan dapat merasakan tidur yang nyenyak hingga kamu ridha kepadaku.’” (HR. Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Afrad dan Ath-Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Demikian juga salah satu bentuk kebahagiaan bagi wanita muslimah adalah suami yang saleh, yaitu suami yang mencukupi kebutuhan hidupnya dan menyokongnya dalam menjalankan urusan agamanya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الواسِع)): زادَ في رواية الحاكم: ((والدار تكون واسعة كثيرة المَرافِق))، فالمسكن الواسِع أبهج للنفوس وأحبُّ إليها؛ لأنَّ في السعة عامَّة راحةً نفسيَّة، كما أن الدار الواسِعَة أجمع لحاجات أصحابها. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tempat tinggal yang luas”, dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat tambahan kalimat, “Rumah yang luas dan punya banyak perabot.” Tempat tinggal yang luas lebih menyenangkan dan disukai jiwa manusia, karena secara umum, tempat tinggal yang luas dapat memberi kenyamanan jiwa, juga lebih fungsional untuk berbagai kebutuhan pemiliknya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار الصالح)): فهو الذي يكفُّ أذاه عن جِيرانه، ويُحسِن إليهم في مَعاشِهم وآخرتهم، وقد وصَّانا ربُّنا – تبارك وتعالى – بالجار فقال: ﴿ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ ﴾ [النساء: 36]. وفي الصحيحين من حديث عائشة وعبدالله بن عمر – رضي الله عنهم جميعًا – أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما زال جبريل يُوصِيني بالجار حتى ظننت أنَّه سيُورِّثه))، وبالَغ – صلى الله عليه وسلم – في حقوق الجار فقال: ((ما آمَن بي مَن بات شبعان وجارُه جائِع إلى جنبه وهو يعلم به))؛ أخرجه البزَّار والطبراني، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tetangga yang saleh”, yakni tetangga yang tidak mengganggu para tetangganya, dan bersikap baik kepada mereka dalam urusan hidup sehari-hari dan urusan akhirat. Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala telah berwasiat kepada kita untuk bersikap baik terhadap tetangga melalui firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa: 36). Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadis riwayat Aisyah dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ “Jibril selalu mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku mengira bahwa dia akan menjadikannya termasuk orang yang berhak mendapat warisan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga sangat menekankan pemenuhan hak-hak tetangga dengan bersabda: مَا أمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ “Tidaklah beriman kepadaku orang yang melewati malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب الهَنِيء)): في رواية الحاكم تفسير له: ((والدابَّة تكون وَطِيئة فتُلحِقك بأصحابك))، وفي زماننا هذا اختلفت المراكب، لكن منها كذلك ما هو هَنِيء مُرِيح لصاحبه، ومنها ما هو سيِّئ مُتعب. والمركب الهَنِيء عادة لا يُؤَخِّر صاحبه عن مقصده وحاجته، كما لا يلحق به مَتاعِب الطريق المعوج غير المُذَلَّل، واليوم المركب الهَنِيء لا يشعر صاحبه بِمَتاعِب الجوِّ، سواء أكان الجوُّ حارًّا أم باردًا، كما يكون سهلاً في قيادته، وكلُّ هذا لا شكَّ من السعادة الدنيويَّة ومن راحة الإنسان في هذه الحياة الدنيا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “dan kendaraan yang nyaman.” Dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat penafsiran kalimat ini, “dan hewan tunggangan nyaman yang mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Adapun di zaman kita, kendaraan sudah beraneka ragamnya, tapi ada yang nyaman bagi penggunanya dan ada juga yang membuat lelah. Kendaraan yang nyaman biasanya tidak membuat pemiliknya terhambat dari tujuan dan urusannya, juga tidak membuatnya pegal-pegal saat melalui jalan yang berkelok dan terjal. Kendaraan yang nyaman pada zaman ini tidak membuat pemiliknya merasakan gangguan cuaca, baik itu saat cuaca panas atau dingin, serta lebih mudah dikendarai. Tidak diragukan lagi bahwa itu semua termasuk kebahagiaan duniawi dan menjadi sebab kedamaian seseorang dalam menjalani kehidupan dunia ini. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((وأربعٌ من الشَّقَاء)): وهي بضدِّ الأولى، والشَّقاء هنا هو المشقَّة والتَّعَب، وهذا الشقاء يَكُون للمؤمن الديِّن بلاء واختبارًا من الله – عزَّ وجلَّ – يرفع به درجته، ويحطُّ به خطيئته، ولغير المؤمن جزاء وعقابًا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan”. Ini merupakan kebalikan dari yang pertama, dan yang dimaksud di sini adalah kesulitan dan keletihan. Kesengsaraan ini bagi seorang mukmin yang teguh agamanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk mengangkat derajatnya dan menggugurkan dosanya. Sedangkan bagi selain orang mukmin merupakan balasan dan siksaan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة السوء)): وفي رواية الحاكم وصفٌ لها بأنها: ((تراها فتَسُوءُك، وتحمل لسانها عليك، وإن غبتَ عنها لم تأمنها على نفسها ومالك))، فمنظرها عند زوجها قبيح، ولسانها عليه حادٌّ، ولنفسها وماله غير حافظة. وصِفة واحدة من هذه الصفات في المرأة مُؤذِنة بكراهية زوجها لها وشقائه بها، فكيف إذا جمعت هذه الصفات كلها أو زادت عليها؟! Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang berperangai buruk.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan ciri-cirinya, yaitu, “Jika kamu melihatnya, dia membuatmu tidak senang, suka memberi celaan kepadamu, dan ketika kamu jauh darinya, dia tidak amanah dalam dirinya dan hartamu.” Penampilannya jelek menurut suaminya, lisannya tajam terhadapnya, dan tidak dapat menjaga dirinya dan harta keluarganya. Salah satu sifat ini jika ada pada seorang wanita sudah menjadi tanda kebencian dan penderitaan suaminya terhadapnya. Apalagi jika ada wanita yang memiliki semua sifat ini atau bahkan ditambah sifat-sifat buruk lainnya?! قوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار السوء)): فهو السيِّئ الأخلاق، الذي لا يكفُّ أذاه عن جارِه، ولا يَعرِف حقوقَه عليه، وفي حديث فَضالَة بن عبيد عند الطبراني: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ثلاثة من الفواقر))، وذكر منها: ((وجار إن رأى خيرًا دفَنَه، وإن رأى شرًّا أشاعَه))؛ ضعَّفه الألباني في “ضعيف الجامع”. وقد قال – صلى الله عليه وسلم -: ((تعوَّذوا بالله من جار السوء في دار المقام، فإن الجار البادِي يَتحوَّل عنك))؛ أخرجه النسائي من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “tetangga yang berperangai buruk.” Yakni yang buruk akhlaknya, yang tidak berhenti mengganggu tetangganya, dan tidak peduli terhadap hak-hak orang lain atasnya. Dalam hadis Fadhalah bin Ubaid yang diriwayatkan Ath-Thabrani disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang termasuk musibah besar.” Dan beliau menyebutkan salah satunya, “Dan tetangga yang jika melihat kebaikan, dia menutup mata, dan jika melihat keburukan, dia menyebarkannya.” (HR. Ath-Thabrani dilemahkan Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارٍ السُّوءِ فِي دَارِ الْمَقَامِ، فَإِنَّ الْجَارَّ الْبَادِي يَتَحَوَّل عَنْك “Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang buruk di rumah menetap, karena jika tetangga rumah sementara, akan pergi darimu.” (HR. An-Nasa’i dari Abu Hurairah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب السوء)): في رواية الحاكم: ((والدابَّة تكون قَطوفًا؛ فإن ضربتها أتعبَتْك، وإن تركتها لم تُلحقك بأصحابك))؛ أي: تكون بطيئة السير، والسيارة السيِّئة في أيامنا نحن، إن تركتها على ما هي عليه أتعبَتْك، وإن حاوَلتَ إصلاحها كلَّفَتْك المال والجهد، ولم تستَقِم لك كما تريد. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “kendaraan yang buruk.” Dan dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Hewan tunggangan yang lamban; jika kamu memukulnya, itu hanya membuatmu lelah, dan jika kamu membiarkannya, maka tidak mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Yakni hewan itu lamban saat berjalan, atau mobil jelek di zaman kita sekarang, jika kamu membiarkannya seperti itu, itu akan membuatmu lelah, dan jika kamu berusaha membenahinya, itu akan membebani biaya dan usahamu, tapi setelah itu tetap tidak bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الضيِّق)): في رواية الحاكم: ((قليلة المَرافِق))، وشقاؤه في أنَّه لا يسع أهله ولا يَفِي بأغراضهم Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan tempat tinggal yang sempit.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Perabotnya sedikit.” Rumah seperti ini dapat menimbulkan kesengsaraan karena tidak lapang bagi pemiliknya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهمَّ وسلِّم على نبيِّنا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تَبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam.  Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/47519/أربع-من-السعادة-..-وأربع-من-الشقاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Tempat Sa I, Menguap Menurut Islam, Mokah Artinya, Doa Akhir Dan Awal Tahun Baru Hijriah, Poligami Tanpa Izin Istri Pertama Visited 994 times, 4 visit(s) today Post Views: 624 QRIS donasi Yufid
أربع من السعادة .. وأربع من الشقاء Oleh: Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي روى ابنُ حبَّان في “صحيحه”، والحاكمُ في “المستدرك”، والطبراني في “الكبير” و”الأوسط”، والبيهقيُّ في “الشُّعَب”، وغيرُهم عن سعد بن أبي وقاص – رضِي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: ((أربعٌ من السعادة: المرأةُ الصالحة، والمسكنُ الواسِع، والجارُ الصالح، والمَرْكَب الهنيء، وأربعٌ من الشقاء: المرأة السوء، والجار السوء، والمركب السوء، والمسكن الضيِّق))، وأخرَجَه كذلك أحمد مُختَصَرًا، وقال الألباني في “السلسلة الصحيحة” مُعَلِّقًا على رواية ابن حبَّان: هذا سند صحيح على شرط الشيخين. وهذا الخبر النبوي الكريم قد تضمَّن جُمَلاً من الفوائد والمعارف، كما حثَّ على بعض الأمور الجالِبَة للفرح والسعادة، وحذَّر من أضدادها المقتضِيَة للمَتاعِب والشَّقاوَة. Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat. Al-Albani mengatakan dalam kitab As-Silsilah ash-Shahihah saat mengomentari riwayat Ibnu Hibban, “Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Al-Bukhari dan Muslim.” Hadis Nabi yang mulia ini mengandung beberapa faedah dan ilmu, juga mengandung dorongan untuk berusaha meraih hal-hal yang dapat mengundang kebahagiaan dan kesenangan, sekaligus peringatan dari hal-hal sebaliknya yang dapat menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((أربعٌ من السعادة))؛ أي: كلُّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة فيه سعادةٌ لصاحبه، وسرُّ هذه السعادة أنَّ كلَّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة مُلازِم للإنسان؛ فلا يُفارِقه الإنسان تقريبًا إلا ويَعُود إليه مرَّة أخرى، فصُحبة الزوجة أو المسكن، أو الجار أو المركب، صُحبة حياة وملازمة دائمة. وهذه السعادة وإن كانت سعادة دنيويَّة وثمرتها عاجلة، إلاَّ أنَّ أسبابها ووجودها من أعظم ما يُعِين العبدَ على أمرِ دينه وآخرته Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan” yakni empat perkara ini masing-masing mengandung kebahagiaan bagi pemiliknya. Rahasia dari kebahagiaan ini adalah karena setiap perkara tersebut senantiasa menyertai manusia. Hampir setiap orang yang meninggalkan perkara-perkara itu melainkan akan menyertainya kembali, penyertaan istri, tempat tinggal, tetangga, atau kendaraan terhadap seseorang adalah penyertaan sepanjang hidup dan terus menerus. Meskipun kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan duniawi dan manfaatnya hanya sementara, hanya saja keberadaannya menjadi salah satu faktor terbesar dalam menyokong seorang hamba dalam menjalankan urusan agama dan akhiratnya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة الصالحة)): فالمرأة الصالحة خيرُ مَتاع الدنيا، كما قال – صلى الله عليه وسلم -: ((الدنيا كلُّها مَتاع، وخير مَتاع الدنيا المرأة الصالحة))؛ أخرجه مسلم وغيره من حديث عبدالله بن عمرو، وفي رواية النسائي وابن ماجه: ((إنما الدنيا مَتاع، وليس من مَتاع الدنيا شيء أفضل من المرأة الصالحة))؛ صحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. فمع كون المرأة الصالحة مَتاعًا دنيويًّا بما تُدخِله على زوجها من سُرُور وبهجة، وبما تحمل معه من هُمُوم ومَشاكِل، فهي كذلك تُعِين زوجَها على أمر الآخرة. وفي رواية الحاكم – رحمه الله تعالى – لهذا الحديث وصَفَها – صلى الله عليه وسلم – بقوله: ((فمن السعادة: المرأة الصالحة، تراها فتُعجِبك، وتَغِيب عنها فتأمنها على نفسها ومالك))؛ أخرجه الحاكم، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang shalihah”. Istri yang shalihah merupakan sebaik-baik kenikmatan dunia, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: الدُّنْيَا كُلُُّهَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia itu seluruhnya kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Amru. Sedangkan dalam riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan: إنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ “Dunia itu isinya kenikmatan, dan tidak ada kenikmatan dunia yang lebih baik daripada istri yang shalihah.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Selain istri yang shalihah itu menjadi kenikmatan duniawi yang dapat menghadirkan kebahagiaan dan keindahan hidup bagi suaminya dan turut membantunya untuk memikul beban dan masalah, ia juga dapat menyokong suaminya untuk menjalankan urusan akhirat. Dalam riwayat Al-Hakim Rahimahullah, disebutkan dalam hadis ini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifat istri shalihah dengan bersabda: فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، تَرَاهَا فَتُعْجِبُكَ، وَتَغِيبُ عَنْهَا فَتَأْمَنُهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ “Di antara kebahagiaan adalah istri shalihah, saat kamu menatapnya, dia membuatmu senang, dan saat kamu tidak ada di sisinya, dia menjaga dirinya dan hartamu.” (HR. Al-Hakim. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). ووصَفَها – صلى الله عليه وسلم – في حديثٍ آخر بقوله: ((خير النساء التي تسرُّه إذا نظر، وتُطِيعه إذا أمر، ولا تُخالِفه في نفسها ولا مالها بما يكره))؛ أخرجه أحمد والنسائي والحاكم من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. ووَصَفَها – صلى الله عليه وسلم – كذلك بقوله: ((تزوَّجوا الوَدودَ الوَلودَ؛ فإنِّي مُكاثِرٌ بكم))؛ أخرجه أبو داود والنسائي من حديث مَعقِل بن يَسار، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sedangkan dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifatnya dengan bersabda: خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Sebaik-baik istri adalah yang membuat bahagia suami saat dia melihatnya, menaatinya saat dia menyuruhnya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang dia (suami) benci.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan sifatnya melalui sabda beliau: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ “Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Ma’qil bin Yasar. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). فخيرُ النِّساء التي تسرُّ زوجَها بهيئتها الجميلة إذا نظر إليها، وتُطِيعه إذا أمَرَها بشيء غير محرَّم، ولا تُخالِفه في نفسها – بل ولا في مالها – بما يكره، وهي الوَدُود التي تُكثِر التودُّد والتحبُّب لزوجها، هي تلك المرأة التي قال فيها – صلى الله عليه وسلم -: ((ألاَ أُخبِركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الوَدُود الوَلُود العؤود، التي إذا ظُلِمت قالت: هذه يدي في يدك، لا أذوق غَمْضًا حتى ترضى))؛ أخرجه الدارقطني في “الأفراد”، والطبراني، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. وكذلك من سعادة المرأة المسلمة الزوج الصالح، وهو الذي يَكفِي امرأتَه مُؤَنَ الحياة، ويُعِينها على أمر دينها. Sebaik-baik istri adalah yang dapat membuat suaminya bahagia dengan penampilannya yang cantik jika dipandang suami, selalu menaatinya saat menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak    diharamkan, dan tidak menyelisihi suami dalam perkara dirinya – dan bahkan hartanya – dengan sesuatu yang tidak disukai suami. Dia adalah wanita penyayang yang penuh kasih kepada suaminya, wanita yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau: ألَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَؤُودُ، الَّتِي إِذَا ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian dari penghuni surga? Yaitu istri yang penyayang, melahirkan banyak anak, dan mendatangkan banyak manfaat bagi suaminya, yang apabila terzalimi (oleh suaminya dengan nafkah yang kurang atau lainnya) ia berkata kepada suaminya, ‘Ini tanganku di genggamanmu. Aku tidak akan dapat merasakan tidur yang nyenyak hingga kamu ridha kepadaku.’” (HR. Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Afrad dan Ath-Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Demikian juga salah satu bentuk kebahagiaan bagi wanita muslimah adalah suami yang saleh, yaitu suami yang mencukupi kebutuhan hidupnya dan menyokongnya dalam menjalankan urusan agamanya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الواسِع)): زادَ في رواية الحاكم: ((والدار تكون واسعة كثيرة المَرافِق))، فالمسكن الواسِع أبهج للنفوس وأحبُّ إليها؛ لأنَّ في السعة عامَّة راحةً نفسيَّة، كما أن الدار الواسِعَة أجمع لحاجات أصحابها. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tempat tinggal yang luas”, dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat tambahan kalimat, “Rumah yang luas dan punya banyak perabot.” Tempat tinggal yang luas lebih menyenangkan dan disukai jiwa manusia, karena secara umum, tempat tinggal yang luas dapat memberi kenyamanan jiwa, juga lebih fungsional untuk berbagai kebutuhan pemiliknya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار الصالح)): فهو الذي يكفُّ أذاه عن جِيرانه، ويُحسِن إليهم في مَعاشِهم وآخرتهم، وقد وصَّانا ربُّنا – تبارك وتعالى – بالجار فقال: ﴿ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ ﴾ [النساء: 36]. وفي الصحيحين من حديث عائشة وعبدالله بن عمر – رضي الله عنهم جميعًا – أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما زال جبريل يُوصِيني بالجار حتى ظننت أنَّه سيُورِّثه))، وبالَغ – صلى الله عليه وسلم – في حقوق الجار فقال: ((ما آمَن بي مَن بات شبعان وجارُه جائِع إلى جنبه وهو يعلم به))؛ أخرجه البزَّار والطبراني، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tetangga yang saleh”, yakni tetangga yang tidak mengganggu para tetangganya, dan bersikap baik kepada mereka dalam urusan hidup sehari-hari dan urusan akhirat. Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala telah berwasiat kepada kita untuk bersikap baik terhadap tetangga melalui firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa: 36). Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadis riwayat Aisyah dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ “Jibril selalu mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku mengira bahwa dia akan menjadikannya termasuk orang yang berhak mendapat warisan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga sangat menekankan pemenuhan hak-hak tetangga dengan bersabda: مَا أمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ “Tidaklah beriman kepadaku orang yang melewati malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب الهَنِيء)): في رواية الحاكم تفسير له: ((والدابَّة تكون وَطِيئة فتُلحِقك بأصحابك))، وفي زماننا هذا اختلفت المراكب، لكن منها كذلك ما هو هَنِيء مُرِيح لصاحبه، ومنها ما هو سيِّئ مُتعب. والمركب الهَنِيء عادة لا يُؤَخِّر صاحبه عن مقصده وحاجته، كما لا يلحق به مَتاعِب الطريق المعوج غير المُذَلَّل، واليوم المركب الهَنِيء لا يشعر صاحبه بِمَتاعِب الجوِّ، سواء أكان الجوُّ حارًّا أم باردًا، كما يكون سهلاً في قيادته، وكلُّ هذا لا شكَّ من السعادة الدنيويَّة ومن راحة الإنسان في هذه الحياة الدنيا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “dan kendaraan yang nyaman.” Dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat penafsiran kalimat ini, “dan hewan tunggangan nyaman yang mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Adapun di zaman kita, kendaraan sudah beraneka ragamnya, tapi ada yang nyaman bagi penggunanya dan ada juga yang membuat lelah. Kendaraan yang nyaman biasanya tidak membuat pemiliknya terhambat dari tujuan dan urusannya, juga tidak membuatnya pegal-pegal saat melalui jalan yang berkelok dan terjal. Kendaraan yang nyaman pada zaman ini tidak membuat pemiliknya merasakan gangguan cuaca, baik itu saat cuaca panas atau dingin, serta lebih mudah dikendarai. Tidak diragukan lagi bahwa itu semua termasuk kebahagiaan duniawi dan menjadi sebab kedamaian seseorang dalam menjalani kehidupan dunia ini. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((وأربعٌ من الشَّقَاء)): وهي بضدِّ الأولى، والشَّقاء هنا هو المشقَّة والتَّعَب، وهذا الشقاء يَكُون للمؤمن الديِّن بلاء واختبارًا من الله – عزَّ وجلَّ – يرفع به درجته، ويحطُّ به خطيئته، ولغير المؤمن جزاء وعقابًا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan”. Ini merupakan kebalikan dari yang pertama, dan yang dimaksud di sini adalah kesulitan dan keletihan. Kesengsaraan ini bagi seorang mukmin yang teguh agamanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk mengangkat derajatnya dan menggugurkan dosanya. Sedangkan bagi selain orang mukmin merupakan balasan dan siksaan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة السوء)): وفي رواية الحاكم وصفٌ لها بأنها: ((تراها فتَسُوءُك، وتحمل لسانها عليك، وإن غبتَ عنها لم تأمنها على نفسها ومالك))، فمنظرها عند زوجها قبيح، ولسانها عليه حادٌّ، ولنفسها وماله غير حافظة. وصِفة واحدة من هذه الصفات في المرأة مُؤذِنة بكراهية زوجها لها وشقائه بها، فكيف إذا جمعت هذه الصفات كلها أو زادت عليها؟! Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang berperangai buruk.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan ciri-cirinya, yaitu, “Jika kamu melihatnya, dia membuatmu tidak senang, suka memberi celaan kepadamu, dan ketika kamu jauh darinya, dia tidak amanah dalam dirinya dan hartamu.” Penampilannya jelek menurut suaminya, lisannya tajam terhadapnya, dan tidak dapat menjaga dirinya dan harta keluarganya. Salah satu sifat ini jika ada pada seorang wanita sudah menjadi tanda kebencian dan penderitaan suaminya terhadapnya. Apalagi jika ada wanita yang memiliki semua sifat ini atau bahkan ditambah sifat-sifat buruk lainnya?! قوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار السوء)): فهو السيِّئ الأخلاق، الذي لا يكفُّ أذاه عن جارِه، ولا يَعرِف حقوقَه عليه، وفي حديث فَضالَة بن عبيد عند الطبراني: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ثلاثة من الفواقر))، وذكر منها: ((وجار إن رأى خيرًا دفَنَه، وإن رأى شرًّا أشاعَه))؛ ضعَّفه الألباني في “ضعيف الجامع”. وقد قال – صلى الله عليه وسلم -: ((تعوَّذوا بالله من جار السوء في دار المقام، فإن الجار البادِي يَتحوَّل عنك))؛ أخرجه النسائي من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “tetangga yang berperangai buruk.” Yakni yang buruk akhlaknya, yang tidak berhenti mengganggu tetangganya, dan tidak peduli terhadap hak-hak orang lain atasnya. Dalam hadis Fadhalah bin Ubaid yang diriwayatkan Ath-Thabrani disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang termasuk musibah besar.” Dan beliau menyebutkan salah satunya, “Dan tetangga yang jika melihat kebaikan, dia menutup mata, dan jika melihat keburukan, dia menyebarkannya.” (HR. Ath-Thabrani dilemahkan Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارٍ السُّوءِ فِي دَارِ الْمَقَامِ، فَإِنَّ الْجَارَّ الْبَادِي يَتَحَوَّل عَنْك “Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang buruk di rumah menetap, karena jika tetangga rumah sementara, akan pergi darimu.” (HR. An-Nasa’i dari Abu Hurairah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب السوء)): في رواية الحاكم: ((والدابَّة تكون قَطوفًا؛ فإن ضربتها أتعبَتْك، وإن تركتها لم تُلحقك بأصحابك))؛ أي: تكون بطيئة السير، والسيارة السيِّئة في أيامنا نحن، إن تركتها على ما هي عليه أتعبَتْك، وإن حاوَلتَ إصلاحها كلَّفَتْك المال والجهد، ولم تستَقِم لك كما تريد. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “kendaraan yang buruk.” Dan dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Hewan tunggangan yang lamban; jika kamu memukulnya, itu hanya membuatmu lelah, dan jika kamu membiarkannya, maka tidak mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Yakni hewan itu lamban saat berjalan, atau mobil jelek di zaman kita sekarang, jika kamu membiarkannya seperti itu, itu akan membuatmu lelah, dan jika kamu berusaha membenahinya, itu akan membebani biaya dan usahamu, tapi setelah itu tetap tidak bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الضيِّق)): في رواية الحاكم: ((قليلة المَرافِق))، وشقاؤه في أنَّه لا يسع أهله ولا يَفِي بأغراضهم Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan tempat tinggal yang sempit.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Perabotnya sedikit.” Rumah seperti ini dapat menimbulkan kesengsaraan karena tidak lapang bagi pemiliknya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهمَّ وسلِّم على نبيِّنا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تَبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam.  Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/47519/أربع-من-السعادة-..-وأربع-من-الشقاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Tempat Sa I, Menguap Menurut Islam, Mokah Artinya, Doa Akhir Dan Awal Tahun Baru Hijriah, Poligami Tanpa Izin Istri Pertama Visited 994 times, 4 visit(s) today Post Views: 624 QRIS donasi Yufid


أربع من السعادة .. وأربع من الشقاء Oleh: Hasan Abdul Hayyi حسن عبدالحي روى ابنُ حبَّان في “صحيحه”، والحاكمُ في “المستدرك”، والطبراني في “الكبير” و”الأوسط”، والبيهقيُّ في “الشُّعَب”، وغيرُهم عن سعد بن أبي وقاص – رضِي الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: ((أربعٌ من السعادة: المرأةُ الصالحة، والمسكنُ الواسِع، والجارُ الصالح، والمَرْكَب الهنيء، وأربعٌ من الشقاء: المرأة السوء، والجار السوء، والمركب السوء، والمسكن الضيِّق))، وأخرَجَه كذلك أحمد مُختَصَرًا، وقال الألباني في “السلسلة الصحيحة” مُعَلِّقًا على رواية ابن حبَّان: هذا سند صحيح على شرط الشيخين. وهذا الخبر النبوي الكريم قد تضمَّن جُمَلاً من الفوائد والمعارف، كما حثَّ على بعض الأمور الجالِبَة للفرح والسعادة، وحذَّر من أضدادها المقتضِيَة للمَتاعِب والشَّقاوَة. Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih, Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak, Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Al-Awsath, Al-Baihaqi dalam kitabnya Asy-Syu’ab, dan perawi lainnya, dari Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: أَرْبَعٌ مِنْ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنْ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan, istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman, dan ada empat hal yang termasuk kesengsaraan, istri yang berperangai buruk, tetangga yang berperangai buruk, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad secara singkat. Al-Albani mengatakan dalam kitab As-Silsilah ash-Shahihah saat mengomentari riwayat Ibnu Hibban, “Hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan kriteria Al-Bukhari dan Muslim.” Hadis Nabi yang mulia ini mengandung beberapa faedah dan ilmu, juga mengandung dorongan untuk berusaha meraih hal-hal yang dapat mengundang kebahagiaan dan kesenangan, sekaligus peringatan dari hal-hal sebaliknya yang dapat menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((أربعٌ من السعادة))؛ أي: كلُّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة فيه سعادةٌ لصاحبه، وسرُّ هذه السعادة أنَّ كلَّ أمرٍ من هذه الأمور الأربعة مُلازِم للإنسان؛ فلا يُفارِقه الإنسان تقريبًا إلا ويَعُود إليه مرَّة أخرى، فصُحبة الزوجة أو المسكن، أو الجار أو المركب، صُحبة حياة وملازمة دائمة. وهذه السعادة وإن كانت سعادة دنيويَّة وثمرتها عاجلة، إلاَّ أنَّ أسبابها ووجودها من أعظم ما يُعِين العبدَ على أمرِ دينه وآخرته Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam “Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan” yakni empat perkara ini masing-masing mengandung kebahagiaan bagi pemiliknya. Rahasia dari kebahagiaan ini adalah karena setiap perkara tersebut senantiasa menyertai manusia. Hampir setiap orang yang meninggalkan perkara-perkara itu melainkan akan menyertainya kembali, penyertaan istri, tempat tinggal, tetangga, atau kendaraan terhadap seseorang adalah penyertaan sepanjang hidup dan terus menerus. Meskipun kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan duniawi dan manfaatnya hanya sementara, hanya saja keberadaannya menjadi salah satu faktor terbesar dalam menyokong seorang hamba dalam menjalankan urusan agama dan akhiratnya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة الصالحة)): فالمرأة الصالحة خيرُ مَتاع الدنيا، كما قال – صلى الله عليه وسلم -: ((الدنيا كلُّها مَتاع، وخير مَتاع الدنيا المرأة الصالحة))؛ أخرجه مسلم وغيره من حديث عبدالله بن عمرو، وفي رواية النسائي وابن ماجه: ((إنما الدنيا مَتاع، وليس من مَتاع الدنيا شيء أفضل من المرأة الصالحة))؛ صحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. فمع كون المرأة الصالحة مَتاعًا دنيويًّا بما تُدخِله على زوجها من سُرُور وبهجة، وبما تحمل معه من هُمُوم ومَشاكِل، فهي كذلك تُعِين زوجَها على أمر الآخرة. وفي رواية الحاكم – رحمه الله تعالى – لهذا الحديث وصَفَها – صلى الله عليه وسلم – بقوله: ((فمن السعادة: المرأة الصالحة، تراها فتُعجِبك، وتَغِيب عنها فتأمنها على نفسها ومالك))؛ أخرجه الحاكم، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang shalihah”. Istri yang shalihah merupakan sebaik-baik kenikmatan dunia, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam: الدُّنْيَا كُلُُّهَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ “Dunia itu seluruhnya kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Amru. Sedangkan dalam riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan: إنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ “Dunia itu isinya kenikmatan, dan tidak ada kenikmatan dunia yang lebih baik daripada istri yang shalihah.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Selain istri yang shalihah itu menjadi kenikmatan duniawi yang dapat menghadirkan kebahagiaan dan keindahan hidup bagi suaminya dan turut membantunya untuk memikul beban dan masalah, ia juga dapat menyokong suaminya untuk menjalankan urusan akhirat. Dalam riwayat Al-Hakim Rahimahullah, disebutkan dalam hadis ini bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifat istri shalihah dengan bersabda: فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، تَرَاهَا فَتُعْجِبُكَ، وَتَغِيبُ عَنْهَا فَتَأْمَنُهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ “Di antara kebahagiaan adalah istri shalihah, saat kamu menatapnya, dia membuatmu senang, dan saat kamu tidak ada di sisinya, dia menjaga dirinya dan hartamu.” (HR. Al-Hakim. Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). ووصَفَها – صلى الله عليه وسلم – في حديثٍ آخر بقوله: ((خير النساء التي تسرُّه إذا نظر، وتُطِيعه إذا أمر، ولا تُخالِفه في نفسها ولا مالها بما يكره))؛ أخرجه أحمد والنسائي والحاكم من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. ووَصَفَها – صلى الله عليه وسلم – كذلك بقوله: ((تزوَّجوا الوَدودَ الوَلودَ؛ فإنِّي مُكاثِرٌ بكم))؛ أخرجه أبو داود والنسائي من حديث مَعقِل بن يَسار، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sedangkan dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan sifatnya dengan bersabda: خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ “Sebaik-baik istri adalah yang membuat bahagia suami saat dia melihatnya, menaatinya saat dia menyuruhnya, dan tidak menyelisihinya pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang dia (suami) benci.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga menyebutkan sifatnya melalui sabda beliau: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ؛ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ “Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Ma’qil bin Yasar. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). فخيرُ النِّساء التي تسرُّ زوجَها بهيئتها الجميلة إذا نظر إليها، وتُطِيعه إذا أمَرَها بشيء غير محرَّم، ولا تُخالِفه في نفسها – بل ولا في مالها – بما يكره، وهي الوَدُود التي تُكثِر التودُّد والتحبُّب لزوجها، هي تلك المرأة التي قال فيها – صلى الله عليه وسلم -: ((ألاَ أُخبِركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الوَدُود الوَلُود العؤود، التي إذا ظُلِمت قالت: هذه يدي في يدك، لا أذوق غَمْضًا حتى ترضى))؛ أخرجه الدارقطني في “الأفراد”، والطبراني، وحسَّنه الألباني في “صحيح الجامع”. وكذلك من سعادة المرأة المسلمة الزوج الصالح، وهو الذي يَكفِي امرأتَه مُؤَنَ الحياة، ويُعِينها على أمر دينها. Sebaik-baik istri adalah yang dapat membuat suaminya bahagia dengan penampilannya yang cantik jika dipandang suami, selalu menaatinya saat menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak    diharamkan, dan tidak menyelisihi suami dalam perkara dirinya – dan bahkan hartanya – dengan sesuatu yang tidak disukai suami. Dia adalah wanita penyayang yang penuh kasih kepada suaminya, wanita yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau: ألَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْعَؤُودُ، الَّتِي إِذَا ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ، لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian dari penghuni surga? Yaitu istri yang penyayang, melahirkan banyak anak, dan mendatangkan banyak manfaat bagi suaminya, yang apabila terzalimi (oleh suaminya dengan nafkah yang kurang atau lainnya) ia berkata kepada suaminya, ‘Ini tanganku di genggamanmu. Aku tidak akan dapat merasakan tidur yang nyenyak hingga kamu ridha kepadaku.’” (HR. Ad-Daruquthni dalam kitab Al-Afrad dan Ath-Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). Demikian juga salah satu bentuk kebahagiaan bagi wanita muslimah adalah suami yang saleh, yaitu suami yang mencukupi kebutuhan hidupnya dan menyokongnya dalam menjalankan urusan agamanya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الواسِع)): زادَ في رواية الحاكم: ((والدار تكون واسعة كثيرة المَرافِق))، فالمسكن الواسِع أبهج للنفوس وأحبُّ إليها؛ لأنَّ في السعة عامَّة راحةً نفسيَّة، كما أن الدار الواسِعَة أجمع لحاجات أصحابها. Sabda beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tempat tinggal yang luas”, dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat tambahan kalimat, “Rumah yang luas dan punya banyak perabot.” Tempat tinggal yang luas lebih menyenangkan dan disukai jiwa manusia, karena secara umum, tempat tinggal yang luas dapat memberi kenyamanan jiwa, juga lebih fungsional untuk berbagai kebutuhan pemiliknya. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار الصالح)): فهو الذي يكفُّ أذاه عن جِيرانه، ويُحسِن إليهم في مَعاشِهم وآخرتهم، وقد وصَّانا ربُّنا – تبارك وتعالى – بالجار فقال: ﴿ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ ﴾ [النساء: 36]. وفي الصحيحين من حديث عائشة وعبدالله بن عمر – رضي الله عنهم جميعًا – أنَّ النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما زال جبريل يُوصِيني بالجار حتى ظننت أنَّه سيُورِّثه))، وبالَغ – صلى الله عليه وسلم – في حقوق الجار فقال: ((ما آمَن بي مَن بات شبعان وجارُه جائِع إلى جنبه وهو يعلم به))؛ أخرجه البزَّار والطبراني، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Tetangga yang saleh”, yakni tetangga yang tidak mengganggu para tetangganya, dan bersikap baik kepada mereka dalam urusan hidup sehari-hari dan urusan akhirat. Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala telah berwasiat kepada kita untuk bersikap baik terhadap tetangga melalui firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa: 36). Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadis riwayat Aisyah dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ “Jibril selalu mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku mengira bahwa dia akan menjadikannya termasuk orang yang berhak mendapat warisan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga sangat menekankan pemenuhan hak-hak tetangga dengan bersabda: مَا أمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ “Tidaklah beriman kepadaku orang yang melewati malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب الهَنِيء)): في رواية الحاكم تفسير له: ((والدابَّة تكون وَطِيئة فتُلحِقك بأصحابك))، وفي زماننا هذا اختلفت المراكب، لكن منها كذلك ما هو هَنِيء مُرِيح لصاحبه، ومنها ما هو سيِّئ مُتعب. والمركب الهَنِيء عادة لا يُؤَخِّر صاحبه عن مقصده وحاجته، كما لا يلحق به مَتاعِب الطريق المعوج غير المُذَلَّل، واليوم المركب الهَنِيء لا يشعر صاحبه بِمَتاعِب الجوِّ، سواء أكان الجوُّ حارًّا أم باردًا، كما يكون سهلاً في قيادته، وكلُّ هذا لا شكَّ من السعادة الدنيويَّة ومن راحة الإنسان في هذه الحياة الدنيا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “dan kendaraan yang nyaman.” Dan dalam riwayat Al-Hakim terdapat penafsiran kalimat ini, “dan hewan tunggangan nyaman yang mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Adapun di zaman kita, kendaraan sudah beraneka ragamnya, tapi ada yang nyaman bagi penggunanya dan ada juga yang membuat lelah. Kendaraan yang nyaman biasanya tidak membuat pemiliknya terhambat dari tujuan dan urusannya, juga tidak membuatnya pegal-pegal saat melalui jalan yang berkelok dan terjal. Kendaraan yang nyaman pada zaman ini tidak membuat pemiliknya merasakan gangguan cuaca, baik itu saat cuaca panas atau dingin, serta lebih mudah dikendarai. Tidak diragukan lagi bahwa itu semua termasuk kebahagiaan duniawi dan menjadi sebab kedamaian seseorang dalam menjalani kehidupan dunia ini. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((وأربعٌ من الشَّقَاء)): وهي بضدِّ الأولى، والشَّقاء هنا هو المشقَّة والتَّعَب، وهذا الشقاء يَكُون للمؤمن الديِّن بلاء واختبارًا من الله – عزَّ وجلَّ – يرفع به درجته، ويحطُّ به خطيئته، ولغير المؤمن جزاء وعقابًا. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan”. Ini merupakan kebalikan dari yang pertama, dan yang dimaksud di sini adalah kesulitan dan keletihan. Kesengsaraan ini bagi seorang mukmin yang teguh agamanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk mengangkat derajatnya dan menggugurkan dosanya. Sedangkan bagi selain orang mukmin merupakan balasan dan siksaan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((المرأة السوء)): وفي رواية الحاكم وصفٌ لها بأنها: ((تراها فتَسُوءُك، وتحمل لسانها عليك، وإن غبتَ عنها لم تأمنها على نفسها ومالك))، فمنظرها عند زوجها قبيح، ولسانها عليه حادٌّ، ولنفسها وماله غير حافظة. وصِفة واحدة من هذه الصفات في المرأة مُؤذِنة بكراهية زوجها لها وشقائه بها، فكيف إذا جمعت هذه الصفات كلها أو زادت عليها؟! Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “istri yang berperangai buruk.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan ciri-cirinya, yaitu, “Jika kamu melihatnya, dia membuatmu tidak senang, suka memberi celaan kepadamu, dan ketika kamu jauh darinya, dia tidak amanah dalam dirinya dan hartamu.” Penampilannya jelek menurut suaminya, lisannya tajam terhadapnya, dan tidak dapat menjaga dirinya dan harta keluarganya. Salah satu sifat ini jika ada pada seorang wanita sudah menjadi tanda kebencian dan penderitaan suaminya terhadapnya. Apalagi jika ada wanita yang memiliki semua sifat ini atau bahkan ditambah sifat-sifat buruk lainnya?! قوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والجار السوء)): فهو السيِّئ الأخلاق، الذي لا يكفُّ أذاه عن جارِه، ولا يَعرِف حقوقَه عليه، وفي حديث فَضالَة بن عبيد عند الطبراني: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ثلاثة من الفواقر))، وذكر منها: ((وجار إن رأى خيرًا دفَنَه، وإن رأى شرًّا أشاعَه))؛ ضعَّفه الألباني في “ضعيف الجامع”. وقد قال – صلى الله عليه وسلم -: ((تعوَّذوا بالله من جار السوء في دار المقام، فإن الجار البادِي يَتحوَّل عنك))؛ أخرجه النسائي من حديث أبي هريرة، وصحَّحه الألباني في “صحيح الجامع”. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “tetangga yang berperangai buruk.” Yakni yang buruk akhlaknya, yang tidak berhenti mengganggu tetangganya, dan tidak peduli terhadap hak-hak orang lain atasnya. Dalam hadis Fadhalah bin Ubaid yang diriwayatkan Ath-Thabrani disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang termasuk musibah besar.” Dan beliau menyebutkan salah satunya, “Dan tetangga yang jika melihat kebaikan, dia menutup mata, dan jika melihat keburukan, dia menyebarkannya.” (HR. Ath-Thabrani dilemahkan Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارٍ السُّوءِ فِي دَارِ الْمَقَامِ، فَإِنَّ الْجَارَّ الْبَادِي يَتَحَوَّل عَنْك “Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang buruk di rumah menetap, karena jika tetangga rumah sementara, akan pergi darimu.” (HR. An-Nasa’i dari Abu Hurairah. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami). وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمركب السوء)): في رواية الحاكم: ((والدابَّة تكون قَطوفًا؛ فإن ضربتها أتعبَتْك، وإن تركتها لم تُلحقك بأصحابك))؛ أي: تكون بطيئة السير، والسيارة السيِّئة في أيامنا نحن، إن تركتها على ما هي عليه أتعبَتْك، وإن حاوَلتَ إصلاحها كلَّفَتْك المال والجهد، ولم تستَقِم لك كما تريد. Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “kendaraan yang buruk.” Dan dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Hewan tunggangan yang lamban; jika kamu memukulnya, itu hanya membuatmu lelah, dan jika kamu membiarkannya, maka tidak mampu membawamu menyusul teman-temanmu.” Yakni hewan itu lamban saat berjalan, atau mobil jelek di zaman kita sekarang, jika kamu membiarkannya seperti itu, itu akan membuatmu lelah, dan jika kamu berusaha membenahinya, itu akan membebani biaya dan usahamu, tapi setelah itu tetap tidak bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan. وقوله – صلى الله عليه وسلم -: ((والمسكن الضيِّق)): في رواية الحاكم: ((قليلة المَرافِق))، وشقاؤه في أنَّه لا يسع أهله ولا يَفِي بأغراضهم Sabda Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Dan tempat tinggal yang sempit.” Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Perabotnya sedikit.” Rumah seperti ini dapat menimbulkan kesengsaraan karena tidak lapang bagi pemiliknya dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلِّ اللهمَّ وسلِّم على نبيِّنا محمد، وعلى آله وصحبه ومَن تَبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam.  Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/47519/أربع-من-السعادة-..-وأربع-من-الشقاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Tempat Sa I, Menguap Menurut Islam, Mokah Artinya, Doa Akhir Dan Awal Tahun Baru Hijriah, Poligami Tanpa Izin Istri Pertama Visited 994 times, 4 visit(s) today Post Views: 624 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

8 Sifat Ahlul Qur’an Sejati – Apakah Kamu Termasuk? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Sifat-sifat hati Ahlul Qur’an. Hati Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang agung. Karena ia punya keadaan yang berbeda daripada hati yang lain. [SIFAT PERTAMA]Ahlul Qur’an itu, jika diingatkan dengan Al-Qur’an, langsung teringat. [SIFAT KEDUA]Jika dinasihati dengan Al-Qur’an, mereka segera sadar. [SIFAT KETIGA]Jika diperingatkan dengan Al-Qur’an, mereka pun takut. [SIFAT KEEMPAT]Mata mereka mudah menangis, [SIFAT KELIMA]hati mereka lembut, [SIFAT KEENAM]dan perangai mereka santun. Inilah sifat-sifat Ahlul Qur’an yang sebenarnya. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: bahwa Ahlul Qur’an itu, “…gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah…” (QS. Az-Zumar: 23). Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata setelah menyebutkan ayat ini: “Inilah sifat para wali Allah dalam Kitab-Nya: hati mereka bergetar, dan mata mereka menangis karena Allah Jalla wa ‘Ala.” Qatadah menambahkan: “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyebut di antara sifat mereka bahwa mereka berteriak, atau pingsan (saat mendengar Al-Qur’an).” Qatadah menegaskan: “Justru ini adalah sifat setan-setan para pelaku bid’ah.” Jadi, hati orang-orang beriman akan menjadi lembut karena Al-Qur’an, dan merasa takut saat diingatkan dengan Al-Qur’an. Mata mereka pun berlinang air mata ketika mendengar ayat-ayat agung ini. Demikian pula seluruh amalan hati dalam kategori ini berkaitan erat dengan hati semacam itu. Karena hati adalah gumpalan daging dalam tubuh. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Di antara sifat Ahlul Qur’an—dan saya cukupkan pada sifat ini untuk mempersingkat waktu— [SIFAT KETUJUH & KEDELAPAN]adalah tabiatnya yang tawadhu dan khusyuk kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sebab, di antara dampak terbesar kekhusyukan adalah tawadhu (rendah hati). Karena itulah, ketika Abu Bakar Al-Ajurri rahimahullahu Ta’ala menyebutkan sifat Ahlul Qur’an, beliau berkata: “…dan mereka bersikap tawadhu kepada sesama Ahlul Qur’an dan kepada orang yang mempelajari Al-Qur’an.” Adapun ketika beliau menyebutkan sifat orang yang mempelajari Al-Qur’an demi kepentingan dunia, beliau mengatakan: “…dan di antara sifat mereka adalah bersikap sombong…” “…Mereka bersikap sombong terhadap orang lain setelah membaca Al-Qur’an dan tidak bersikap tawadhu terhadapnya…” “Mereka juga senang tampil di depan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.” Maka, inilah amalan-amalan hati yang hendaknya seorang Muslim jadikan cermin bagi dirinya. Hendaklah ia memeriksa: apakah dirinya benar-benar termasuk Ahlul Qur’an yang sejati, atau tidak? Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta‘ala bahwa seorang Mukmin harus menimbang dirinya dengan Al-Qur’an. Jika hasilnya menunjukkan bahwa dia termasuk Ahlul Qur’an, hendaklah ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memuji-Nya, dan memohon tambahan karunia. Namun, jika keadaannya tidak demikian, hendaklah ia segera meninjau kembali dirinya dan menghisabnya, sebelum Allah ‘Azza wa Jalla yang menghisabnya. ===== صِفَاتُ قُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ إِنَّ لِقُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَأْنًا عَظِيمًا فَإِنَّ لَهَا أَمْرًا مُخْتَلِفًا عَنْ غَيْرِهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْقُرْآنِ إِذَا ذُكِّرُوا بِالْقُرْآنِ تَذَكَّرُوا وَإِذَا وُعِظُوا بِالْقُرْآنِ انْزَجَرُوا وَإِذَا خُوِّفُوا بِالْقُرْآنِ خَافُوا حَاضِرُ الدَّمْعَةِ رَقِيقُ الْقَلْبِ لَيِّنُ الْجَانِبِ كُلُّ هَذِهِ صِفَاتُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ وَلِذَلِكَ ذَكَرَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ أَصْحَابَ الْقُرْآنِ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَقَالَ قَتَادَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَمَا ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ هَذَا نَعْتُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنَّهُ تَقْشَعِرُّ قُلُوبُهُمْ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا قَالَ قَتَادَةُ وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَعْتِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَصْرَخُونَ وَلَا أَنَّهُ كَانَ يُغْشَى عَلَيْهِمْ قَالَ قَتَادَةُ وَإِنَّمَا هَذَا نَعْتُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنَ الشَّيْطَانِ إِذًا فَقُلُوبُ الْمُؤْمِنِينَ تَلِينُ لِلْقُرْآنِ وَتَخَافُ إِذَا ذُكِّرُوا بِهِ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ إِذَا مَرَّتْ عَلَيْهِمْ آيَاتٌ مِنْ هَذِهِ الْآيَاتِ الْعَظِيمَةِ كَذَلِكَ كُلُّ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ مِنْ هَذَا الْبَابِ مُتَعَلِّقَةٌ بِهَذَا الْقَلْبِ إِذِ الْقَلْبُ هُوَ المُضْغَةُ الَّتِي فِي الْبَدَنِ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ مِنْ صِفَاتِ صَاحِبِ الْقُرْآنِ وَأَقِفُ عِنْدَ هَذِهِ الصِّفَةِ اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ مِنْ طَبْعِهِ التَّوَاضُعُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ الْخُشُوعَ مِنْ أَعْظَمِ آثَارِهِ التَّوَاضُعُ وَلِذَلِكَ لَمَّا ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ قَالَ وَيَتَوَاضَعُونَ لِأَهْلِهِ وَلِمَنْ تَعَلَّمَهُ وَلَمَّا ذَكَرَ صِفَةَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لِلدُّنْيَا قَالَ وَمِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ بَعْدَ قِرَاءَتِهِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ وَلَا يَتَوَاضَعُونَ فِيه وَيُحِبُّونَ أَنْ يَتَصَدَّرُوا وَأَنْ يَعْلُو عَلَى غَيْرِهِمْ إِذًا هَذِهِ مِنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي يَمْتَحِنُ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَلْيَنْظُرْ أَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيقَةِ أَمْ أَنَّهُ لَيْسَ كَذَلِكَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْمُؤْمِنَ يَخْتَبِرُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْقُرْآنِ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحَمِدَهُ وَسَأَلَهُ الزِّيَادَةَ وَإِنْ كَانَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ النَّعْتِ فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيُحَاسِبُهَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسِبَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا

8 Sifat Ahlul Qur’an Sejati – Apakah Kamu Termasuk? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Sifat-sifat hati Ahlul Qur’an. Hati Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang agung. Karena ia punya keadaan yang berbeda daripada hati yang lain. [SIFAT PERTAMA]Ahlul Qur’an itu, jika diingatkan dengan Al-Qur’an, langsung teringat. [SIFAT KEDUA]Jika dinasihati dengan Al-Qur’an, mereka segera sadar. [SIFAT KETIGA]Jika diperingatkan dengan Al-Qur’an, mereka pun takut. [SIFAT KEEMPAT]Mata mereka mudah menangis, [SIFAT KELIMA]hati mereka lembut, [SIFAT KEENAM]dan perangai mereka santun. Inilah sifat-sifat Ahlul Qur’an yang sebenarnya. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: bahwa Ahlul Qur’an itu, “…gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah…” (QS. Az-Zumar: 23). Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata setelah menyebutkan ayat ini: “Inilah sifat para wali Allah dalam Kitab-Nya: hati mereka bergetar, dan mata mereka menangis karena Allah Jalla wa ‘Ala.” Qatadah menambahkan: “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyebut di antara sifat mereka bahwa mereka berteriak, atau pingsan (saat mendengar Al-Qur’an).” Qatadah menegaskan: “Justru ini adalah sifat setan-setan para pelaku bid’ah.” Jadi, hati orang-orang beriman akan menjadi lembut karena Al-Qur’an, dan merasa takut saat diingatkan dengan Al-Qur’an. Mata mereka pun berlinang air mata ketika mendengar ayat-ayat agung ini. Demikian pula seluruh amalan hati dalam kategori ini berkaitan erat dengan hati semacam itu. Karena hati adalah gumpalan daging dalam tubuh. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Di antara sifat Ahlul Qur’an—dan saya cukupkan pada sifat ini untuk mempersingkat waktu— [SIFAT KETUJUH & KEDELAPAN]adalah tabiatnya yang tawadhu dan khusyuk kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sebab, di antara dampak terbesar kekhusyukan adalah tawadhu (rendah hati). Karena itulah, ketika Abu Bakar Al-Ajurri rahimahullahu Ta’ala menyebutkan sifat Ahlul Qur’an, beliau berkata: “…dan mereka bersikap tawadhu kepada sesama Ahlul Qur’an dan kepada orang yang mempelajari Al-Qur’an.” Adapun ketika beliau menyebutkan sifat orang yang mempelajari Al-Qur’an demi kepentingan dunia, beliau mengatakan: “…dan di antara sifat mereka adalah bersikap sombong…” “…Mereka bersikap sombong terhadap orang lain setelah membaca Al-Qur’an dan tidak bersikap tawadhu terhadapnya…” “Mereka juga senang tampil di depan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.” Maka, inilah amalan-amalan hati yang hendaknya seorang Muslim jadikan cermin bagi dirinya. Hendaklah ia memeriksa: apakah dirinya benar-benar termasuk Ahlul Qur’an yang sejati, atau tidak? Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta‘ala bahwa seorang Mukmin harus menimbang dirinya dengan Al-Qur’an. Jika hasilnya menunjukkan bahwa dia termasuk Ahlul Qur’an, hendaklah ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memuji-Nya, dan memohon tambahan karunia. Namun, jika keadaannya tidak demikian, hendaklah ia segera meninjau kembali dirinya dan menghisabnya, sebelum Allah ‘Azza wa Jalla yang menghisabnya. ===== صِفَاتُ قُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ إِنَّ لِقُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَأْنًا عَظِيمًا فَإِنَّ لَهَا أَمْرًا مُخْتَلِفًا عَنْ غَيْرِهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْقُرْآنِ إِذَا ذُكِّرُوا بِالْقُرْآنِ تَذَكَّرُوا وَإِذَا وُعِظُوا بِالْقُرْآنِ انْزَجَرُوا وَإِذَا خُوِّفُوا بِالْقُرْآنِ خَافُوا حَاضِرُ الدَّمْعَةِ رَقِيقُ الْقَلْبِ لَيِّنُ الْجَانِبِ كُلُّ هَذِهِ صِفَاتُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ وَلِذَلِكَ ذَكَرَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ أَصْحَابَ الْقُرْآنِ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَقَالَ قَتَادَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَمَا ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ هَذَا نَعْتُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنَّهُ تَقْشَعِرُّ قُلُوبُهُمْ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا قَالَ قَتَادَةُ وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَعْتِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَصْرَخُونَ وَلَا أَنَّهُ كَانَ يُغْشَى عَلَيْهِمْ قَالَ قَتَادَةُ وَإِنَّمَا هَذَا نَعْتُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنَ الشَّيْطَانِ إِذًا فَقُلُوبُ الْمُؤْمِنِينَ تَلِينُ لِلْقُرْآنِ وَتَخَافُ إِذَا ذُكِّرُوا بِهِ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ إِذَا مَرَّتْ عَلَيْهِمْ آيَاتٌ مِنْ هَذِهِ الْآيَاتِ الْعَظِيمَةِ كَذَلِكَ كُلُّ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ مِنْ هَذَا الْبَابِ مُتَعَلِّقَةٌ بِهَذَا الْقَلْبِ إِذِ الْقَلْبُ هُوَ المُضْغَةُ الَّتِي فِي الْبَدَنِ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ مِنْ صِفَاتِ صَاحِبِ الْقُرْآنِ وَأَقِفُ عِنْدَ هَذِهِ الصِّفَةِ اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ مِنْ طَبْعِهِ التَّوَاضُعُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ الْخُشُوعَ مِنْ أَعْظَمِ آثَارِهِ التَّوَاضُعُ وَلِذَلِكَ لَمَّا ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ قَالَ وَيَتَوَاضَعُونَ لِأَهْلِهِ وَلِمَنْ تَعَلَّمَهُ وَلَمَّا ذَكَرَ صِفَةَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لِلدُّنْيَا قَالَ وَمِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ بَعْدَ قِرَاءَتِهِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ وَلَا يَتَوَاضَعُونَ فِيه وَيُحِبُّونَ أَنْ يَتَصَدَّرُوا وَأَنْ يَعْلُو عَلَى غَيْرِهِمْ إِذًا هَذِهِ مِنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي يَمْتَحِنُ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَلْيَنْظُرْ أَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيقَةِ أَمْ أَنَّهُ لَيْسَ كَذَلِكَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْمُؤْمِنَ يَخْتَبِرُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْقُرْآنِ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحَمِدَهُ وَسَأَلَهُ الزِّيَادَةَ وَإِنْ كَانَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ النَّعْتِ فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيُحَاسِبُهَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسِبَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا
Sifat-sifat hati Ahlul Qur’an. Hati Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang agung. Karena ia punya keadaan yang berbeda daripada hati yang lain. [SIFAT PERTAMA]Ahlul Qur’an itu, jika diingatkan dengan Al-Qur’an, langsung teringat. [SIFAT KEDUA]Jika dinasihati dengan Al-Qur’an, mereka segera sadar. [SIFAT KETIGA]Jika diperingatkan dengan Al-Qur’an, mereka pun takut. [SIFAT KEEMPAT]Mata mereka mudah menangis, [SIFAT KELIMA]hati mereka lembut, [SIFAT KEENAM]dan perangai mereka santun. Inilah sifat-sifat Ahlul Qur’an yang sebenarnya. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: bahwa Ahlul Qur’an itu, “…gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah…” (QS. Az-Zumar: 23). Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata setelah menyebutkan ayat ini: “Inilah sifat para wali Allah dalam Kitab-Nya: hati mereka bergetar, dan mata mereka menangis karena Allah Jalla wa ‘Ala.” Qatadah menambahkan: “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyebut di antara sifat mereka bahwa mereka berteriak, atau pingsan (saat mendengar Al-Qur’an).” Qatadah menegaskan: “Justru ini adalah sifat setan-setan para pelaku bid’ah.” Jadi, hati orang-orang beriman akan menjadi lembut karena Al-Qur’an, dan merasa takut saat diingatkan dengan Al-Qur’an. Mata mereka pun berlinang air mata ketika mendengar ayat-ayat agung ini. Demikian pula seluruh amalan hati dalam kategori ini berkaitan erat dengan hati semacam itu. Karena hati adalah gumpalan daging dalam tubuh. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Di antara sifat Ahlul Qur’an—dan saya cukupkan pada sifat ini untuk mempersingkat waktu— [SIFAT KETUJUH & KEDELAPAN]adalah tabiatnya yang tawadhu dan khusyuk kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sebab, di antara dampak terbesar kekhusyukan adalah tawadhu (rendah hati). Karena itulah, ketika Abu Bakar Al-Ajurri rahimahullahu Ta’ala menyebutkan sifat Ahlul Qur’an, beliau berkata: “…dan mereka bersikap tawadhu kepada sesama Ahlul Qur’an dan kepada orang yang mempelajari Al-Qur’an.” Adapun ketika beliau menyebutkan sifat orang yang mempelajari Al-Qur’an demi kepentingan dunia, beliau mengatakan: “…dan di antara sifat mereka adalah bersikap sombong…” “…Mereka bersikap sombong terhadap orang lain setelah membaca Al-Qur’an dan tidak bersikap tawadhu terhadapnya…” “Mereka juga senang tampil di depan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.” Maka, inilah amalan-amalan hati yang hendaknya seorang Muslim jadikan cermin bagi dirinya. Hendaklah ia memeriksa: apakah dirinya benar-benar termasuk Ahlul Qur’an yang sejati, atau tidak? Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta‘ala bahwa seorang Mukmin harus menimbang dirinya dengan Al-Qur’an. Jika hasilnya menunjukkan bahwa dia termasuk Ahlul Qur’an, hendaklah ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memuji-Nya, dan memohon tambahan karunia. Namun, jika keadaannya tidak demikian, hendaklah ia segera meninjau kembali dirinya dan menghisabnya, sebelum Allah ‘Azza wa Jalla yang menghisabnya. ===== صِفَاتُ قُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ إِنَّ لِقُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَأْنًا عَظِيمًا فَإِنَّ لَهَا أَمْرًا مُخْتَلِفًا عَنْ غَيْرِهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْقُرْآنِ إِذَا ذُكِّرُوا بِالْقُرْآنِ تَذَكَّرُوا وَإِذَا وُعِظُوا بِالْقُرْآنِ انْزَجَرُوا وَإِذَا خُوِّفُوا بِالْقُرْآنِ خَافُوا حَاضِرُ الدَّمْعَةِ رَقِيقُ الْقَلْبِ لَيِّنُ الْجَانِبِ كُلُّ هَذِهِ صِفَاتُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ وَلِذَلِكَ ذَكَرَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ أَصْحَابَ الْقُرْآنِ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَقَالَ قَتَادَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَمَا ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ هَذَا نَعْتُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنَّهُ تَقْشَعِرُّ قُلُوبُهُمْ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا قَالَ قَتَادَةُ وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَعْتِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَصْرَخُونَ وَلَا أَنَّهُ كَانَ يُغْشَى عَلَيْهِمْ قَالَ قَتَادَةُ وَإِنَّمَا هَذَا نَعْتُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنَ الشَّيْطَانِ إِذًا فَقُلُوبُ الْمُؤْمِنِينَ تَلِينُ لِلْقُرْآنِ وَتَخَافُ إِذَا ذُكِّرُوا بِهِ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ إِذَا مَرَّتْ عَلَيْهِمْ آيَاتٌ مِنْ هَذِهِ الْآيَاتِ الْعَظِيمَةِ كَذَلِكَ كُلُّ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ مِنْ هَذَا الْبَابِ مُتَعَلِّقَةٌ بِهَذَا الْقَلْبِ إِذِ الْقَلْبُ هُوَ المُضْغَةُ الَّتِي فِي الْبَدَنِ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ مِنْ صِفَاتِ صَاحِبِ الْقُرْآنِ وَأَقِفُ عِنْدَ هَذِهِ الصِّفَةِ اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ مِنْ طَبْعِهِ التَّوَاضُعُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ الْخُشُوعَ مِنْ أَعْظَمِ آثَارِهِ التَّوَاضُعُ وَلِذَلِكَ لَمَّا ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ قَالَ وَيَتَوَاضَعُونَ لِأَهْلِهِ وَلِمَنْ تَعَلَّمَهُ وَلَمَّا ذَكَرَ صِفَةَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لِلدُّنْيَا قَالَ وَمِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ بَعْدَ قِرَاءَتِهِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ وَلَا يَتَوَاضَعُونَ فِيه وَيُحِبُّونَ أَنْ يَتَصَدَّرُوا وَأَنْ يَعْلُو عَلَى غَيْرِهِمْ إِذًا هَذِهِ مِنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي يَمْتَحِنُ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَلْيَنْظُرْ أَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيقَةِ أَمْ أَنَّهُ لَيْسَ كَذَلِكَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْمُؤْمِنَ يَخْتَبِرُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْقُرْآنِ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحَمِدَهُ وَسَأَلَهُ الزِّيَادَةَ وَإِنْ كَانَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ النَّعْتِ فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيُحَاسِبُهَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسِبَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا


Sifat-sifat hati Ahlul Qur’an. Hati Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang agung. Karena ia punya keadaan yang berbeda daripada hati yang lain. [SIFAT PERTAMA]Ahlul Qur’an itu, jika diingatkan dengan Al-Qur’an, langsung teringat. [SIFAT KEDUA]Jika dinasihati dengan Al-Qur’an, mereka segera sadar. [SIFAT KETIGA]Jika diperingatkan dengan Al-Qur’an, mereka pun takut. [SIFAT KEEMPAT]Mata mereka mudah menangis, [SIFAT KELIMA]hati mereka lembut, [SIFAT KEENAM]dan perangai mereka santun. Inilah sifat-sifat Ahlul Qur’an yang sebenarnya. Oleh sebab itu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: bahwa Ahlul Qur’an itu, “…gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah…” (QS. Az-Zumar: 23). Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata setelah menyebutkan ayat ini: “Inilah sifat para wali Allah dalam Kitab-Nya: hati mereka bergetar, dan mata mereka menangis karena Allah Jalla wa ‘Ala.” Qatadah menambahkan: “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menyebut di antara sifat mereka bahwa mereka berteriak, atau pingsan (saat mendengar Al-Qur’an).” Qatadah menegaskan: “Justru ini adalah sifat setan-setan para pelaku bid’ah.” Jadi, hati orang-orang beriman akan menjadi lembut karena Al-Qur’an, dan merasa takut saat diingatkan dengan Al-Qur’an. Mata mereka pun berlinang air mata ketika mendengar ayat-ayat agung ini. Demikian pula seluruh amalan hati dalam kategori ini berkaitan erat dengan hati semacam itu. Karena hati adalah gumpalan daging dalam tubuh. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Di antara sifat Ahlul Qur’an—dan saya cukupkan pada sifat ini untuk mempersingkat waktu— [SIFAT KETUJUH & KEDELAPAN]adalah tabiatnya yang tawadhu dan khusyuk kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sebab, di antara dampak terbesar kekhusyukan adalah tawadhu (rendah hati). Karena itulah, ketika Abu Bakar Al-Ajurri rahimahullahu Ta’ala menyebutkan sifat Ahlul Qur’an, beliau berkata: “…dan mereka bersikap tawadhu kepada sesama Ahlul Qur’an dan kepada orang yang mempelajari Al-Qur’an.” Adapun ketika beliau menyebutkan sifat orang yang mempelajari Al-Qur’an demi kepentingan dunia, beliau mengatakan: “…dan di antara sifat mereka adalah bersikap sombong…” “…Mereka bersikap sombong terhadap orang lain setelah membaca Al-Qur’an dan tidak bersikap tawadhu terhadapnya…” “Mereka juga senang tampil di depan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.” Maka, inilah amalan-amalan hati yang hendaknya seorang Muslim jadikan cermin bagi dirinya. Hendaklah ia memeriksa: apakah dirinya benar-benar termasuk Ahlul Qur’an yang sejati, atau tidak? Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta‘ala bahwa seorang Mukmin harus menimbang dirinya dengan Al-Qur’an. Jika hasilnya menunjukkan bahwa dia termasuk Ahlul Qur’an, hendaklah ia bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memuji-Nya, dan memohon tambahan karunia. Namun, jika keadaannya tidak demikian, hendaklah ia segera meninjau kembali dirinya dan menghisabnya, sebelum Allah ‘Azza wa Jalla yang menghisabnya. ===== صِفَاتُ قُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ إِنَّ لِقُلُوبِ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَأْنًا عَظِيمًا فَإِنَّ لَهَا أَمْرًا مُخْتَلِفًا عَنْ غَيْرِهَا فَإِنَّ أَهْلَ الْقُرْآنِ إِذَا ذُكِّرُوا بِالْقُرْآنِ تَذَكَّرُوا وَإِذَا وُعِظُوا بِالْقُرْآنِ انْزَجَرُوا وَإِذَا خُوِّفُوا بِالْقُرْآنِ خَافُوا حَاضِرُ الدَّمْعَةِ رَقِيقُ الْقَلْبِ لَيِّنُ الْجَانِبِ كُلُّ هَذِهِ صِفَاتُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيْقَةِ وَلِذَلِكَ ذَكَرَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ أَصْحَابَ الْقُرْآنِ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَقَالَ قَتَادَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَمَا ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ قَالَ هَذَا نَعْتُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنَّهُ تَقْشَعِرُّ قُلُوبُهُمْ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا قَالَ قَتَادَةُ وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَعْتِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَصْرَخُونَ وَلَا أَنَّهُ كَانَ يُغْشَى عَلَيْهِمْ قَالَ قَتَادَةُ وَإِنَّمَا هَذَا نَعْتُ أَهْلِ الْبِدَعِ مِنَ الشَّيْطَانِ إِذًا فَقُلُوبُ الْمُؤْمِنِينَ تَلِينُ لِلْقُرْآنِ وَتَخَافُ إِذَا ذُكِّرُوا بِهِ وَتَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ إِذَا مَرَّتْ عَلَيْهِمْ آيَاتٌ مِنْ هَذِهِ الْآيَاتِ الْعَظِيمَةِ كَذَلِكَ كُلُّ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ مِنْ هَذَا الْبَابِ مُتَعَلِّقَةٌ بِهَذَا الْقَلْبِ إِذِ الْقَلْبُ هُوَ المُضْغَةُ الَّتِي فِي الْبَدَنِ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ مِنْ صِفَاتِ صَاحِبِ الْقُرْآنِ وَأَقِفُ عِنْدَ هَذِهِ الصِّفَةِ اخْتِصَارًا لِلْوَقْتِ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ مِنْ طَبْعِهِ التَّوَاضُعُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِنَّ الْخُشُوعَ مِنْ أَعْظَمِ آثَارِهِ التَّوَاضُعُ وَلِذَلِكَ لَمَّا ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ قَالَ وَيَتَوَاضَعُونَ لِأَهْلِهِ وَلِمَنْ تَعَلَّمَهُ وَلَمَّا ذَكَرَ صِفَةَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لِلدُّنْيَا قَالَ وَمِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ أَنَّهُمْ يَتَكَبَّرُونَ بَعْدَ قِرَاءَتِهِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ وَلَا يَتَوَاضَعُونَ فِيه وَيُحِبُّونَ أَنْ يَتَصَدَّرُوا وَأَنْ يَعْلُو عَلَى غَيْرِهِمْ إِذًا هَذِهِ مِنْ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ الَّتِي يَمْتَحِنُ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَلْيَنْظُرْ أَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَقِيقَةِ أَمْ أَنَّهُ لَيْسَ كَذَلِكَ وَلِذَلِكَ جَاءَ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّ الْمُؤْمِنَ يَخْتَبِرُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْقُرْآنِ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ شَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحَمِدَهُ وَسَأَلَهُ الزِّيَادَةَ وَإِنْ كَانَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ النَّعْتِ فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيُحَاسِبُهَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسِبَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا

Bahaya Mencari Petunjuk di Luar Syariat Islam

Daftar Isi ToggleIslam tidak butuh tambahanMengapa Nabi Marah?Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaBahaya mengagungkan ajaran di luar IslamMenjaga kemurnian tauhid dan syariatPenangkal keraguanDiriwayatkan dalam hadis sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendapati Umar membaca lembaran-lembaran Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي [رواه أحمد والدارمي وغيرهما.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Apakah dalam Taurat ada ajaran yang lebih putih dan lebih bersih (daripada yang aku bawa)? Seandainya saudaraku Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 387; Ad-Darimi, 1: 115–116; Al-Bazzar; Ibnu Abi ‘Ashim; dan Ibnu ‘Abdil Barr, dalam Jâmi‘ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, 1: 24)Hadis ini menunjukkan betapa tegasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kemurnian wahyu dan melarang umatnya mencari petunjuk di luar syariat Islam. Meski Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan kecerdasan dan keikhlasannya, Rasulullah tetap menegur dengan keras demi menutup pintu keraguan terhadap kesempurnaan Islam.Islam tidak butuh tambahanAllah Ta‘ala berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâ’idah: 3)Ayat ini adalah dalil yang paling tegas tentang kesempurnaan agama ini. Setelah turunnya ayat tersebut, wahyu syariat telah selesai. Tidak ada lagi agama baru, tidak ada tambahan ajaran, dan tidak ada petunjuk lain yang diperlukan manusia di luar Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini, “Terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kali­an, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhor­mat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.”Maka, ketika Umar membaca Taurat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya. Karena hal itu — walaupun tampak ringan — mengandung isyarat bahwa mungkin ada petunjuk lain selain al-Qur’an dan Sunnah yang bisa dijadikan pegangan. Padahal, mencari petunjuk di luar Islam berarti menuduh agama ini belum sempurna.Mengapa Nabi Marah?Sabda Nabi, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Ini adalah bentuk teguran keras agar setiap Muslim tidak membuka pintu keraguan terhadap Islam. Karena keraguan, meskipun kecil, bisa menjadi benih kesesatan yang tumbuh besar bila dibiarkan.Keraguan terhadap kesempurnaan Islam bisa muncul dalam banyak bentuk, seperti:Menganggap hukum selain Islam lebih adil.Menganggap syariat tidak cocok untuk zaman modern.Mencari ajaran moral atau spiritualitas dari agama atau sistem lain.Semua bentuk ini termasuk isyarat lemahnya keyakinan terhadap kesempurnaan wahyu Allah.Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي“Seandainya Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” Oleh karenanya, jelas bahwa syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nasakh (menghapus) seluruh syariat sebelumnya. Para Nabi terdahulu datang untuk kaum tertentu, sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat.Allah berfirman,قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. al-A‘râf: 158)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini, “Ayat ini adalah perintah dari Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar beliau memberitahukan kepada seluruh manusia bahwa beliau adalah utusan Allah kepada mereka semuanya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 3: 426)Jadi, tidak ada satu pun manusia setelah diutusnya Rasulullah yang boleh mengikuti syariat selain syariat beliau. Bahkan jika Nabi Musa ‘alaihis salam masih hidup, beliau pun akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Bahaya mengagungkan ajaran di luar IslamRealitas hari ini menunjukkan bahwa banyak kaum Muslim terpesona oleh sistem dan konsep di luar Islam. Ada yang mengagungkan filosofi Barat, teori psikologi sekuler, sistem ekonomi kapitalis, atau ajaran spiritual non-Islam. Semuanya berangkat dari satu akar: merasa bahwa Islam belum cukup menjawab tantangan zaman.Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Betapa benar sabda beliau. Banyak umat Islam yang lebih percaya kepada teori manusia daripada wahyu Allah. Padahal, sistem dan ideologi manusia penuh keterbatasan dan hawa nafsu. Sementara wahyu Allah bersumber dari ilmu dan hikmah yang sempurna.Menjaga kemurnian tauhid dan syariatHadis ini juga mengandung pesan penting tentang menjaga kemurnian tauhid. Tauhid bukan hanya dalam aspek ibadah seperti salat dan doa, tetapi juga dalam keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui wahyu dan hukum-Nya.Dengan demikian, seorang Muslim harus meyakini bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang paling benar dan paling adil, karena bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui. Meyakini adanya sistem atau aturan yang lebih baik dari syariat berarti telah menyimpang dari prinsip tauhid uluhiyah, yaitu hanya tunduk dan patuh kepada hukum Allah.Menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga agar seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, maupun muamalah, tetap berporos kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah bentuk nyata dari penghambaan yang murni kepada Allah semata, tanpa menduakan-Nya dengan sistem atau hukum buatan manusia.Penangkal keraguanSumber utama munculnya keraguan adalah kebodohan terhadap agama. Orang yang tidak mengenal al-Qur’an dan Sunnah dengan baik, dia akan mudah terkagum-kagum dengan teori dari luar Islam.Sadarilah bahwa sumber ilmu agama dari luar wahyu justru menimbulkan keraguan, bukan menambah keyakinan. Maka, seorang Muslim harus belajar agama dari sumber yang benar: al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menerima teguran Nabi dengan lapang dada. Setelah itu, beliau tidak lagi membaca kitab-kitab terdahulu, dan justru menjadi sahabat yang paling keras dalam menjaga kemurnian tauhid dan syariat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hal. 12-13)Inilah kunci keselamatan umat Islam hingga akhir zaman. Siapa saja yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, dia akan selamat. Sebaliknya, siapa saja yang mencari petunjuk di luar wahyu, maka ia membuka pintu kesesatan bagi dirinya sendiri.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah datang membawa ajaran yang putih bersih?”Saudaraku, cukupkanlah dirimu dengan wahyu! Semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang murni hingga akhir hayat.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Doa Memohon Petunjuk Ibadah Terbaik***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Bahaya Mencari Petunjuk di Luar Syariat Islam

Daftar Isi ToggleIslam tidak butuh tambahanMengapa Nabi Marah?Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaBahaya mengagungkan ajaran di luar IslamMenjaga kemurnian tauhid dan syariatPenangkal keraguanDiriwayatkan dalam hadis sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendapati Umar membaca lembaran-lembaran Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي [رواه أحمد والدارمي وغيرهما.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Apakah dalam Taurat ada ajaran yang lebih putih dan lebih bersih (daripada yang aku bawa)? Seandainya saudaraku Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 387; Ad-Darimi, 1: 115–116; Al-Bazzar; Ibnu Abi ‘Ashim; dan Ibnu ‘Abdil Barr, dalam Jâmi‘ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, 1: 24)Hadis ini menunjukkan betapa tegasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kemurnian wahyu dan melarang umatnya mencari petunjuk di luar syariat Islam. Meski Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan kecerdasan dan keikhlasannya, Rasulullah tetap menegur dengan keras demi menutup pintu keraguan terhadap kesempurnaan Islam.Islam tidak butuh tambahanAllah Ta‘ala berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâ’idah: 3)Ayat ini adalah dalil yang paling tegas tentang kesempurnaan agama ini. Setelah turunnya ayat tersebut, wahyu syariat telah selesai. Tidak ada lagi agama baru, tidak ada tambahan ajaran, dan tidak ada petunjuk lain yang diperlukan manusia di luar Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini, “Terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kali­an, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhor­mat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.”Maka, ketika Umar membaca Taurat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya. Karena hal itu — walaupun tampak ringan — mengandung isyarat bahwa mungkin ada petunjuk lain selain al-Qur’an dan Sunnah yang bisa dijadikan pegangan. Padahal, mencari petunjuk di luar Islam berarti menuduh agama ini belum sempurna.Mengapa Nabi Marah?Sabda Nabi, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Ini adalah bentuk teguran keras agar setiap Muslim tidak membuka pintu keraguan terhadap Islam. Karena keraguan, meskipun kecil, bisa menjadi benih kesesatan yang tumbuh besar bila dibiarkan.Keraguan terhadap kesempurnaan Islam bisa muncul dalam banyak bentuk, seperti:Menganggap hukum selain Islam lebih adil.Menganggap syariat tidak cocok untuk zaman modern.Mencari ajaran moral atau spiritualitas dari agama atau sistem lain.Semua bentuk ini termasuk isyarat lemahnya keyakinan terhadap kesempurnaan wahyu Allah.Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي“Seandainya Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” Oleh karenanya, jelas bahwa syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nasakh (menghapus) seluruh syariat sebelumnya. Para Nabi terdahulu datang untuk kaum tertentu, sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat.Allah berfirman,قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. al-A‘râf: 158)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini, “Ayat ini adalah perintah dari Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar beliau memberitahukan kepada seluruh manusia bahwa beliau adalah utusan Allah kepada mereka semuanya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 3: 426)Jadi, tidak ada satu pun manusia setelah diutusnya Rasulullah yang boleh mengikuti syariat selain syariat beliau. Bahkan jika Nabi Musa ‘alaihis salam masih hidup, beliau pun akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Bahaya mengagungkan ajaran di luar IslamRealitas hari ini menunjukkan bahwa banyak kaum Muslim terpesona oleh sistem dan konsep di luar Islam. Ada yang mengagungkan filosofi Barat, teori psikologi sekuler, sistem ekonomi kapitalis, atau ajaran spiritual non-Islam. Semuanya berangkat dari satu akar: merasa bahwa Islam belum cukup menjawab tantangan zaman.Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Betapa benar sabda beliau. Banyak umat Islam yang lebih percaya kepada teori manusia daripada wahyu Allah. Padahal, sistem dan ideologi manusia penuh keterbatasan dan hawa nafsu. Sementara wahyu Allah bersumber dari ilmu dan hikmah yang sempurna.Menjaga kemurnian tauhid dan syariatHadis ini juga mengandung pesan penting tentang menjaga kemurnian tauhid. Tauhid bukan hanya dalam aspek ibadah seperti salat dan doa, tetapi juga dalam keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui wahyu dan hukum-Nya.Dengan demikian, seorang Muslim harus meyakini bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang paling benar dan paling adil, karena bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui. Meyakini adanya sistem atau aturan yang lebih baik dari syariat berarti telah menyimpang dari prinsip tauhid uluhiyah, yaitu hanya tunduk dan patuh kepada hukum Allah.Menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga agar seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, maupun muamalah, tetap berporos kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah bentuk nyata dari penghambaan yang murni kepada Allah semata, tanpa menduakan-Nya dengan sistem atau hukum buatan manusia.Penangkal keraguanSumber utama munculnya keraguan adalah kebodohan terhadap agama. Orang yang tidak mengenal al-Qur’an dan Sunnah dengan baik, dia akan mudah terkagum-kagum dengan teori dari luar Islam.Sadarilah bahwa sumber ilmu agama dari luar wahyu justru menimbulkan keraguan, bukan menambah keyakinan. Maka, seorang Muslim harus belajar agama dari sumber yang benar: al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menerima teguran Nabi dengan lapang dada. Setelah itu, beliau tidak lagi membaca kitab-kitab terdahulu, dan justru menjadi sahabat yang paling keras dalam menjaga kemurnian tauhid dan syariat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hal. 12-13)Inilah kunci keselamatan umat Islam hingga akhir zaman. Siapa saja yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, dia akan selamat. Sebaliknya, siapa saja yang mencari petunjuk di luar wahyu, maka ia membuka pintu kesesatan bagi dirinya sendiri.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah datang membawa ajaran yang putih bersih?”Saudaraku, cukupkanlah dirimu dengan wahyu! Semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang murni hingga akhir hayat.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Doa Memohon Petunjuk Ibadah Terbaik***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleIslam tidak butuh tambahanMengapa Nabi Marah?Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaBahaya mengagungkan ajaran di luar IslamMenjaga kemurnian tauhid dan syariatPenangkal keraguanDiriwayatkan dalam hadis sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendapati Umar membaca lembaran-lembaran Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي [رواه أحمد والدارمي وغيرهما.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Apakah dalam Taurat ada ajaran yang lebih putih dan lebih bersih (daripada yang aku bawa)? Seandainya saudaraku Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 387; Ad-Darimi, 1: 115–116; Al-Bazzar; Ibnu Abi ‘Ashim; dan Ibnu ‘Abdil Barr, dalam Jâmi‘ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, 1: 24)Hadis ini menunjukkan betapa tegasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kemurnian wahyu dan melarang umatnya mencari petunjuk di luar syariat Islam. Meski Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan kecerdasan dan keikhlasannya, Rasulullah tetap menegur dengan keras demi menutup pintu keraguan terhadap kesempurnaan Islam.Islam tidak butuh tambahanAllah Ta‘ala berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâ’idah: 3)Ayat ini adalah dalil yang paling tegas tentang kesempurnaan agama ini. Setelah turunnya ayat tersebut, wahyu syariat telah selesai. Tidak ada lagi agama baru, tidak ada tambahan ajaran, dan tidak ada petunjuk lain yang diperlukan manusia di luar Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini, “Terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kali­an, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhor­mat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.”Maka, ketika Umar membaca Taurat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya. Karena hal itu — walaupun tampak ringan — mengandung isyarat bahwa mungkin ada petunjuk lain selain al-Qur’an dan Sunnah yang bisa dijadikan pegangan. Padahal, mencari petunjuk di luar Islam berarti menuduh agama ini belum sempurna.Mengapa Nabi Marah?Sabda Nabi, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Ini adalah bentuk teguran keras agar setiap Muslim tidak membuka pintu keraguan terhadap Islam. Karena keraguan, meskipun kecil, bisa menjadi benih kesesatan yang tumbuh besar bila dibiarkan.Keraguan terhadap kesempurnaan Islam bisa muncul dalam banyak bentuk, seperti:Menganggap hukum selain Islam lebih adil.Menganggap syariat tidak cocok untuk zaman modern.Mencari ajaran moral atau spiritualitas dari agama atau sistem lain.Semua bentuk ini termasuk isyarat lemahnya keyakinan terhadap kesempurnaan wahyu Allah.Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي“Seandainya Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” Oleh karenanya, jelas bahwa syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nasakh (menghapus) seluruh syariat sebelumnya. Para Nabi terdahulu datang untuk kaum tertentu, sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat.Allah berfirman,قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. al-A‘râf: 158)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini, “Ayat ini adalah perintah dari Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar beliau memberitahukan kepada seluruh manusia bahwa beliau adalah utusan Allah kepada mereka semuanya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 3: 426)Jadi, tidak ada satu pun manusia setelah diutusnya Rasulullah yang boleh mengikuti syariat selain syariat beliau. Bahkan jika Nabi Musa ‘alaihis salam masih hidup, beliau pun akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Bahaya mengagungkan ajaran di luar IslamRealitas hari ini menunjukkan bahwa banyak kaum Muslim terpesona oleh sistem dan konsep di luar Islam. Ada yang mengagungkan filosofi Barat, teori psikologi sekuler, sistem ekonomi kapitalis, atau ajaran spiritual non-Islam. Semuanya berangkat dari satu akar: merasa bahwa Islam belum cukup menjawab tantangan zaman.Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Betapa benar sabda beliau. Banyak umat Islam yang lebih percaya kepada teori manusia daripada wahyu Allah. Padahal, sistem dan ideologi manusia penuh keterbatasan dan hawa nafsu. Sementara wahyu Allah bersumber dari ilmu dan hikmah yang sempurna.Menjaga kemurnian tauhid dan syariatHadis ini juga mengandung pesan penting tentang menjaga kemurnian tauhid. Tauhid bukan hanya dalam aspek ibadah seperti salat dan doa, tetapi juga dalam keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui wahyu dan hukum-Nya.Dengan demikian, seorang Muslim harus meyakini bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang paling benar dan paling adil, karena bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui. Meyakini adanya sistem atau aturan yang lebih baik dari syariat berarti telah menyimpang dari prinsip tauhid uluhiyah, yaitu hanya tunduk dan patuh kepada hukum Allah.Menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga agar seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, maupun muamalah, tetap berporos kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah bentuk nyata dari penghambaan yang murni kepada Allah semata, tanpa menduakan-Nya dengan sistem atau hukum buatan manusia.Penangkal keraguanSumber utama munculnya keraguan adalah kebodohan terhadap agama. Orang yang tidak mengenal al-Qur’an dan Sunnah dengan baik, dia akan mudah terkagum-kagum dengan teori dari luar Islam.Sadarilah bahwa sumber ilmu agama dari luar wahyu justru menimbulkan keraguan, bukan menambah keyakinan. Maka, seorang Muslim harus belajar agama dari sumber yang benar: al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menerima teguran Nabi dengan lapang dada. Setelah itu, beliau tidak lagi membaca kitab-kitab terdahulu, dan justru menjadi sahabat yang paling keras dalam menjaga kemurnian tauhid dan syariat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hal. 12-13)Inilah kunci keselamatan umat Islam hingga akhir zaman. Siapa saja yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, dia akan selamat. Sebaliknya, siapa saja yang mencari petunjuk di luar wahyu, maka ia membuka pintu kesesatan bagi dirinya sendiri.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah datang membawa ajaran yang putih bersih?”Saudaraku, cukupkanlah dirimu dengan wahyu! Semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang murni hingga akhir hayat.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Doa Memohon Petunjuk Ibadah Terbaik***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleIslam tidak butuh tambahanMengapa Nabi Marah?Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaBahaya mengagungkan ajaran di luar IslamMenjaga kemurnian tauhid dan syariatPenangkal keraguanDiriwayatkan dalam hadis sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendapati Umar membaca lembaran-lembaran Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ؟! لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي [رواه أحمد والدارمي وغيرهما.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Apakah dalam Taurat ada ajaran yang lebih putih dan lebih bersih (daripada yang aku bawa)? Seandainya saudaraku Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad, 3: 387; Ad-Darimi, 1: 115–116; Al-Bazzar; Ibnu Abi ‘Ashim; dan Ibnu ‘Abdil Barr, dalam Jâmi‘ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, 1: 24)Hadis ini menunjukkan betapa tegasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kemurnian wahyu dan melarang umatnya mencari petunjuk di luar syariat Islam. Meski Umar radhiyallahu ‘anhu dikenal dengan kecerdasan dan keikhlasannya, Rasulullah tetap menegur dengan keras demi menutup pintu keraguan terhadap kesempurnaan Islam.Islam tidak butuh tambahanAllah Ta‘ala berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâ’idah: 3)Ayat ini adalah dalil yang paling tegas tentang kesempurnaan agama ini. Setelah turunnya ayat tersebut, wahyu syariat telah selesai. Tidak ada lagi agama baru, tidak ada tambahan ajaran, dan tidak ada petunjuk lain yang diperlukan manusia di luar Islam.Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini, “Terimalah oleh kalian dengan rela Islam sebagai agama kali­an, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang disukai dan diridai Allah, dan Dia telah mengutus rasul yang paling utama dan terhor­mat sebagai pembawanya, dan menurunkan Kitab-Nya yang paling mulia dengan melaluinya.”Maka, ketika Umar membaca Taurat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya. Karena hal itu — walaupun tampak ringan — mengandung isyarat bahwa mungkin ada petunjuk lain selain al-Qur’an dan Sunnah yang bisa dijadikan pegangan. Padahal, mencari petunjuk di luar Islam berarti menuduh agama ini belum sempurna.Mengapa Nabi Marah?Sabda Nabi, أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا بْنَ الخَطَّابِ؟“Apakah dalam hatimu ada keraguan, wahai Ibnul Khaththab?”Ini adalah bentuk teguran keras agar setiap Muslim tidak membuka pintu keraguan terhadap Islam. Karena keraguan, meskipun kecil, bisa menjadi benih kesesatan yang tumbuh besar bila dibiarkan.Keraguan terhadap kesempurnaan Islam bisa muncul dalam banyak bentuk, seperti:Menganggap hukum selain Islam lebih adil.Menganggap syariat tidak cocok untuk zaman modern.Mencari ajaran moral atau spiritualitas dari agama atau sistem lain.Semua bentuk ini termasuk isyarat lemahnya keyakinan terhadap kesempurnaan wahyu Allah.Syariat Nabi me-nasakh (menghapus) semua syariat sebelumnyaSabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي“Seandainya Musa hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” Oleh karenanya, jelas bahwa syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam me-nasakh (menghapus) seluruh syariat sebelumnya. Para Nabi terdahulu datang untuk kaum tertentu, sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat.Allah berfirman,قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. al-A‘râf: 158)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini, “Ayat ini adalah perintah dari Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar beliau memberitahukan kepada seluruh manusia bahwa beliau adalah utusan Allah kepada mereka semuanya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 3: 426)Jadi, tidak ada satu pun manusia setelah diutusnya Rasulullah yang boleh mengikuti syariat selain syariat beliau. Bahkan jika Nabi Musa ‘alaihis salam masih hidup, beliau pun akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Bahaya mengagungkan ajaran di luar IslamRealitas hari ini menunjukkan bahwa banyak kaum Muslim terpesona oleh sistem dan konsep di luar Islam. Ada yang mengagungkan filosofi Barat, teori psikologi sekuler, sistem ekonomi kapitalis, atau ajaran spiritual non-Islam. Semuanya berangkat dari satu akar: merasa bahwa Islam belum cukup menjawab tantangan zaman.Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Betapa benar sabda beliau. Banyak umat Islam yang lebih percaya kepada teori manusia daripada wahyu Allah. Padahal, sistem dan ideologi manusia penuh keterbatasan dan hawa nafsu. Sementara wahyu Allah bersumber dari ilmu dan hikmah yang sempurna.Menjaga kemurnian tauhid dan syariatHadis ini juga mengandung pesan penting tentang menjaga kemurnian tauhid. Tauhid bukan hanya dalam aspek ibadah seperti salat dan doa, tetapi juga dalam keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui wahyu dan hukum-Nya.Dengan demikian, seorang Muslim harus meyakini bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang paling benar dan paling adil, karena bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui. Meyakini adanya sistem atau aturan yang lebih baik dari syariat berarti telah menyimpang dari prinsip tauhid uluhiyah, yaitu hanya tunduk dan patuh kepada hukum Allah.Menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga agar seluruh aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, maupun muamalah, tetap berporos kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah bentuk nyata dari penghambaan yang murni kepada Allah semata, tanpa menduakan-Nya dengan sistem atau hukum buatan manusia.Penangkal keraguanSumber utama munculnya keraguan adalah kebodohan terhadap agama. Orang yang tidak mengenal al-Qur’an dan Sunnah dengan baik, dia akan mudah terkagum-kagum dengan teori dari luar Islam.Sadarilah bahwa sumber ilmu agama dari luar wahyu justru menimbulkan keraguan, bukan menambah keyakinan. Maka, seorang Muslim harus belajar agama dari sumber yang benar: al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menerima teguran Nabi dengan lapang dada. Setelah itu, beliau tidak lagi membaca kitab-kitab terdahulu, dan justru menjadi sahabat yang paling keras dalam menjaga kemurnian tauhid dan syariat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ“Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hal. 12-13)Inilah kunci keselamatan umat Islam hingga akhir zaman. Siapa saja yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, dia akan selamat. Sebaliknya, siapa saja yang mencari petunjuk di luar wahyu, maka ia membuka pintu kesesatan bagi dirinya sendiri.“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku telah datang membawa ajaran yang putih bersih?”Saudaraku, cukupkanlah dirimu dengan wahyu! Semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang murni hingga akhir hayat.Wallahu a‘lam bish-shawâb.Baca juga: Doa Memohon Petunjuk Ibadah Terbaik***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.769 video dengan total 6.846.244 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.110 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 934.816.874 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.656 video Total Subscribers: 4.191.935 subscribers Total Tayangan Video: 738.531.480 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Oktober 2025: 126 video Tayangan Video Oktober 2025: 2.922.110 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 293.583 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +6.752 Selama bulan Oktober 2025 tim Yufid menyiarkan 136 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.135 video Total Subscribers: 333.360 Total Tayangan Video: 22.974.356 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Oktober 2025: 48 video Tayangan Video Oktober 2025: 173.683 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 9.676 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +1.569 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 542.951 Total Tayangan Video: 169.347.512 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Oktober 2025: 1 video Tayangan Video Oktober 2025: 1.843.506 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 101.463 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +5.299 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.015 Total Tayangan Video: 480.239 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Oktober 2025: 925 views Jam Tayang Video Oktober 2025: 119 Jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: 0 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.800 Total Tayangan Video: 3.485.429 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Oktober 2025: 0 video Tayangan Video Oktober 2025: 31.349 views Penambahan Subscribers Oktober 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.768 Postingan Total Pengikut: 1.194.228 followers Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 3.117.302 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +8.568 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.679 Postingan Total Pengikut: 520.955 Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 22.496 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +3.932 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 7 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.153 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.141 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 730 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.310 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 34.566 file mp3 dengan total ukuran 487 Gb dan pada bulan Oktober 2025 ini telah mempublikasikan 529 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Oktober 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tempat Sa I, Menguap Menurut Islam, Mokah Artinya, Doa Akhir Dan Awal Tahun Baru Hijriah, Poligami Tanpa Izin Istri Pertama Visited 28 times, 1 visit(s) today Post Views: 395 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.769 video dengan total 6.846.244 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.110 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 934.816.874 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.656 video Total Subscribers: 4.191.935 subscribers Total Tayangan Video: 738.531.480 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Oktober 2025: 126 video Tayangan Video Oktober 2025: 2.922.110 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 293.583 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +6.752 Selama bulan Oktober 2025 tim Yufid menyiarkan 136 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.135 video Total Subscribers: 333.360 Total Tayangan Video: 22.974.356 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Oktober 2025: 48 video Tayangan Video Oktober 2025: 173.683 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 9.676 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +1.569 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 542.951 Total Tayangan Video: 169.347.512 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Oktober 2025: 1 video Tayangan Video Oktober 2025: 1.843.506 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 101.463 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +5.299 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.015 Total Tayangan Video: 480.239 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Oktober 2025: 925 views Jam Tayang Video Oktober 2025: 119 Jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: 0 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.800 Total Tayangan Video: 3.485.429 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Oktober 2025: 0 video Tayangan Video Oktober 2025: 31.349 views Penambahan Subscribers Oktober 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.768 Postingan Total Pengikut: 1.194.228 followers Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 3.117.302 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +8.568 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.679 Postingan Total Pengikut: 520.955 Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 22.496 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +3.932 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 7 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.153 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.141 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 730 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.310 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 34.566 file mp3 dengan total ukuran 487 Gb dan pada bulan Oktober 2025 ini telah mempublikasikan 529 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Oktober 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tempat Sa I, Menguap Menurut Islam, Mokah Artinya, Doa Akhir Dan Awal Tahun Baru Hijriah, Poligami Tanpa Izin Istri Pertama Visited 28 times, 1 visit(s) today Post Views: 395 QRIS donasi Yufid
Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.769 video dengan total 6.846.244 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.110 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 934.816.874 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.656 video Total Subscribers: 4.191.935 subscribers Total Tayangan Video: 738.531.480 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Oktober 2025: 126 video Tayangan Video Oktober 2025: 2.922.110 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 293.583 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +6.752 Selama bulan Oktober 2025 tim Yufid menyiarkan 136 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.135 video Total Subscribers: 333.360 Total Tayangan Video: 22.974.356 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Oktober 2025: 48 video Tayangan Video Oktober 2025: 173.683 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 9.676 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +1.569 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 542.951 Total Tayangan Video: 169.347.512 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Oktober 2025: 1 video Tayangan Video Oktober 2025: 1.843.506 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 101.463 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +5.299 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.015 Total Tayangan Video: 480.239 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Oktober 2025: 925 views Jam Tayang Video Oktober 2025: 119 Jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: 0 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.800 Total Tayangan Video: 3.485.429 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Oktober 2025: 0 video Tayangan Video Oktober 2025: 31.349 views Penambahan Subscribers Oktober 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.768 Postingan Total Pengikut: 1.194.228 followers Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 3.117.302 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +8.568 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.679 Postingan Total Pengikut: 520.955 Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 22.496 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +3.932 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 7 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.153 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.141 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 730 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.310 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 34.566 file mp3 dengan total ukuran 487 Gb dan pada bulan Oktober 2025 ini telah mempublikasikan 529 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Oktober 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tempat Sa I, Menguap Menurut Islam, Mokah Artinya, Doa Akhir Dan Awal Tahun Baru Hijriah, Poligami Tanpa Izin Istri Pertama Visited 28 times, 1 visit(s) today Post Views: 395 QRIS donasi Yufid


Laporan Produksi Yufid Bulan Oktober 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.769 video dengan total 6.846.244 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.110 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 934.816.874 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image.png" alt="" class="wp-image-525"/> Total Video Yufid.TV: 19.656 video Total Subscribers: 4.191.935 subscribers Total Tayangan Video: 738.531.480 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Oktober 2025: 126 video Tayangan Video Oktober 2025: 2.922.110 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 293.583 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +6.752 Selama bulan Oktober 2025 tim Yufid menyiarkan 136 video live. Channel YouTube YUFID EDU <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-3.png" alt="" class="wp-image-528"/> Total Video Yufid Edu: 3.135 video Total Subscribers: 333.360 Total Tayangan Video: 22.974.356 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Oktober 2025: 48 video Tayangan Video Oktober 2025: 173.683 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 9.676 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +1.569 Channel YouTube YUFID KIDS <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-4.png" alt="" class="wp-image-529"/> Total Video Yufid Kids: 94 video Total Subscribers: 542.951 Total Tayangan Video: 169.347.512 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Oktober 2025: 1 video Tayangan Video Oktober 2025: 1.843.506 views Waktu Tayang Video Oktober 2025: 101.463 jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: +5.299 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.015 Total Tayangan Video: 480.239 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Oktober 2025: 925 views Jam Tayang Video Oktober 2025: 119 Jam Penambahan Subscribers Oktober 2025: 0 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.800 Total Tayangan Video: 3.485.429 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Oktober 2025: 0 video Tayangan Video Oktober 2025: 31.349 views Penambahan Subscribers Oktober 2025: +200 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-5.png" alt="" class="wp-image-530"/> Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.768 Postingan Total Pengikut: 1.194.228 followers Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 3.117.302 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +8.568 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.679 Postingan Total Pengikut: 520.955 Konten Bulan Oktober 2025: 66 Views Konten Oktober: 22.496 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Oktober 2025: +3.932 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-2.png" alt="" class="wp-image-527"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://yufid.org/wp-content/uploads/2025/11/image-1.png" alt="" class="wp-image-526"/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 7 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.153 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 12 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.141 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 730 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.310 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 34.566 file mp3 dengan total ukuran 487 Gb dan pada bulan Oktober 2025 ini telah mempublikasikan 529 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Oktober 2025 ini saja telah didengarkan 18.475 kali dan telah di download sebanyak 122 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.534.984 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.352 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 45.357 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.767 artikel dengan total durasi audio 264 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 20 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Oktober 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Tempat Sa I, Menguap Menurut Islam, Mokah Artinya, Doa Akhir Dan Awal Tahun Baru Hijriah, Poligami Tanpa Izin Istri Pertama Visited 28 times, 1 visit(s) today Post Views: 395 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kamu Tidak Merasakan Manisnya Iman? – Ini Dua Sebabnya! – Syaikh Abdussalam Asy -Syuwai’ar

Wahai hadirin yang mulia, menundukkan pandangan adalah perkara yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada kaum laki-laki: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30). Kemudian Allah berfirman kepada kaum perempuan: “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31). Menundukkan pandangan adalah perkara yang berpengaruh besar pada hati. Oleh sebab itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyandingkan antara menundukan pandangan dengan amalan hati. Allah berfirman: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.” (QS. Ghafir: 19). Sebab, mungkin saja kamu sedang berjalan bersama temanmu, lalu mungkin kamu melihat sesuatu, tapi dia tidak tahu apa yang sedang kamu lihat, dan mungkin kamu curi-curi pandang kepada hal yang haram, padahal ia mengawasimu, tapi tidak tahu apa yang sedang kamu lihat. Karena itulah, dalam riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan Allah, padahal ia mampu melihatnya, semata-mata karena mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla, Allah akan menjadikan dalam hatinya rasa manisnya iman.” Para ulama berkata bahwa manisnya iman ini sebabnya adalah setelah tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya, yakni ketika hati kosong dari keterikatan dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menaruh perhatian penuh pada ibadah-ibadah rahasia. Karena itulah, seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman seperti yang ia rasakan dalam Shalat Malam dan sedekah secara sembunyi. Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: “Ada tiga amalan, siapa yang mengamalkannya pasti merasakan manisnya iman.” Salah satunya adalah: “Orang yang membayar zakat hartanya, dan tidak membayar dengan hewan yang sakit atau cacat.” Karena menginfakkan harta secara rahasia tidak diketahui siapa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, harta juga terasa manis di hati dan disukai. Di antara amalannya juga adalah menundukkan pandangan. Pada zaman ini, menundukkan pandangan menjadi perkara yang sulit dilakukan. Bahkan, seseorang bisa berada di rumahnya sendiri, dengan mengunci pintunya dan menutup gordennya rapat-rapat. sehingga tidak ada satu pun yang melihatnya di tempat itu, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, begitu ia membuka gawai di tangannya, atau menatap layar di hadapannya, ia bisa melihat hal-hal haram yang tidak mungkin ia tonton di hadapan orang lain. Namun, jika ia mengingat balasan yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia menundukkan pandangannya ketika itu, karena mengharap pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, maka berbahagialah, karena ia akan merasakan manisnya iman. Demikianlah yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang yang mengatakan: “Aku pernah dengar Sufyan berkata bahwa menuntut ilmu itu sangat nikmat, tapi mengapa aku tidak merasakannya? Aku juga dengar Ibrahim bin Adham berkata, ‘Kami merasakan kenikmatan luar biasa saat Shalat Malam. Andai putra-putra raja mengetahuinya, mereka pasti akan menebas kami dengan pedang untuk merebutnya.’ Namun, kok aku tidak merasakannya? Aku juga dengar kisah Abdullah bin Zubair, jika ia sudah berdiri untuk shalat, ia larut dalam ibadah hingga tidak sadar siapa yang ada di sampingnya. Bahkan saat lebah mendatanginya, lalu lebah itu menyengatnya berkali-kali, ia tetap tidak bergerak. Setelah selesai, ia berkata, ‘Tadi aku sedang sibuk darinya.’ Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa pernah ada anak panah nyasar mengenai seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ia tidak membatalkan shalatnya. Ia berkata: ‘Tadi aku sedang membaca surat yang lebih kucintai daripada dunia dan seisinya. Andai Nabi tidak memerintahkan kami berjaga, aku tidak akan berhenti membacanya.’ Ini semua, mungkin bisa kita lakukan juga seperti mereka. Hanya saja, hati kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan.” Hal ini disebabkan dua hal. Pertama: berkaitan dengan amalan hati yang telah saya sebutkan, yaitu keterpautan sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan menafikan sekutu bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan seluruh ibadah. Di antara bentuk keikhlasan ibadah adalah keikhlasan dalam amalan hati: tidak bertawakal, tidak memohon pertolongan, tidak takut, tidak berharap, dan tidak mencintai kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kedua: memberi perhatian besar pada ibadah-ibadah rahasia. Syaikh Taqiyuddin memiliki ungkapan sangat berharga tentang ibadah rahasia, yang termuat dalam beberapa pembahasan bukunya Al-Istiqamah. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang bisa dibukakan pintu dalam ibadah rahasia yang tidak selalu dibukakan bagi orang lain. Oleh sebab itu, perhatian terhadap ibadah rahasia amat penting. Dalam konteks ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…karena (menikah) itu lebih menundukkan pandangan…” Maka, seorang hamba, selain berjuang melawan hawa nafsunya, juga wajib mengambil sebab-sebab yang memudahkan ketaatan, di antaranya adalah menikah. ===== غَضُّ الْبَصَرِ أَيُّهَا الْأَفَاضِلُ هَذِهِ مِنْ الْأُمُورِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا فِي كِتَابِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مُخَاطِبًا الرِّجَالَ قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ثُمَّ خَاطَبَ النِّسَاءَ فَقَالَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَهَا وَقْعٌ فِي الْقَلْبِ وَلِذَا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَرَنَ بَيْنَ غَضِّ الْبَصَرِ وَفِعْلِ الْقَلْبِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَذَلِكَ أَنَّكَ رُبَّمَا تَكُونُ مَعَ صَاحِبِكَ تَمْشِيَانِ فَلَرُبَّمَا نَظَرْتَ إِلَى أَمْرٍ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلَرُبَّمَا اسْتَرَقْتَ الْبَصَرَ إِلَى شَيْءٍ مَمْنُوعٍ وَهُوَ يَرْقُبُكَ وَلَا يَدْرِي بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلِذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى النَّظَرِ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَهَذِه حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ سَبَبَهَا بَعْدَ تَوْحِيدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ لَهُ حَيْثُ يَكُونُ الْقَلْبُ فَارِغًا مِنَ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَرْءَ لَنْ يَجِدَ عِبَادَةً يَجِدُ فِيهَا حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَمِثْلَ الْإِنْفَاقِ فِي السِّرِّ وَلِذَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَخْرَجَ زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يَخْرُجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرَطِ لِأَنَّ بَذْلَ الْمَالِ فِي السِّرِّ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمَالُ لَهُ حَلَاوَةٌ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةٌ وَمِنْهَا غَضُّ الْبَصَرِ وَهُوَ الِانْكِفَافُ وَفِي هَذَا الْوَقْتِ أَصْبَحَ غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الصِّعَابِ حَتَّى إِنَّ الْمَرْءَ رُبَّمَا يَكُونُ فِي بَيْتِهِ مُغْلِقًا عَلَيْهِ بَابَهُ وَمُرْخِيًا عَلَيْهِ سِتَارَهُ وَلَا يَعْلَمُ بِهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ مَا إِنْ يَنْظُرُ فِي هَاتِفِهِ النَّقَّالِ مَعَهُ أَوْ يَنْظُرُ فِي الشَّاشَةِ الَّتِي أَمَامَهُ فَيَنْظُرُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ أَنْ يَنْظُرَ لَهَا غَيْرُهَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُحَرَّمَةِ لَكِنْ إِذَا تَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ غَضَّ بَصَرَهُ حِينَذاكَ رَجَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَبْشِرْ بِأَنَّهُ سَيَجِدُ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ هَكَذَا أَخْبَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَقُولُ أَسْمَعُ أَنَّ سُفْيَانَ يَقُولُ إِنَّ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ إِنَّنَا فِي قِيَامِ اللَّيْلِ فِي لَذَّةٍ لَوْ عَلِمَ عَنْهَا أَبْنَاءُ الْمُلُوكِ لَجَلَدَنَا عَلَيْهَا بِالسُّيُوفِ وَلَكِنِّي لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ اشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ حَتَّى لَا يَدْرِي مَنْ بِجَانِبِهِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الزُّنْبُورُ فَرُبَّمَا لَسَعَهُ مَرَّاتٍ كَثِيرَاتٍثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَتَحَرَّكُ ثُمَّ يَقُولُ كُنْتُ فِي شُغْلٍ عَنْهَا وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ سَهْمًا غَرْبًا أَصَابَ أَحَدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا انْبَطَلَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ كُنْتُ أَقْرَأُ سُورَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَوْلَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِالْحِرَاسَةِ هَذِهِ الْأُمُورُ قَدْ نَفْعَلُ مِثْلَ أَفْعَالِ أُولَئِكَ الْقَوْمِ لَكِنَّنَا لَا نَجِدُ فِي قُلُوبِنَا مَا وَجَدُوا لِسَبَبَيْنِ ذَكَرْتُ لَكَ قَبْلَ قَلِيلٍ وَهُوَ قَضِيَّةُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَفْيِ الشَّرِيكِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ وَمِنْ أَنْوَاعِ إِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ إِخْلَاصُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ فَلَا تَوَكُّلَ وَلَا اسْتِعَانَةَ وَلَا خَوْفَ وَلَا رَجَاءَ وَلَا مَحَبَّةَ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرُ الثَّانِي الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِلشَّيْخِ تَقِيُّ الدِّيْنِ كَلَامٌ نَفِيسٌ جِدًّا فِي عِبَادَةِ السِّرِّ ضَمَّنَهُ بَعْضُ مَبَاحِثِ كِتَابِهِ الِاسْتِقَامَةِ وَكَيْفَ أَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ يُفْتَحُ لَهُ فِي بَابٍ لَا يُفْتَحُ عَلَى الْآخَرِ فِي عِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مُهِمٌّ نَاسَبَ ذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ فَالْإِنْسَانُ مَعَ مُجَاهَدَةِ نَفْسَهُ وَمُجَالَدَتِهِ لَهَا يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ وَمِنْهَا الزَّوَاجُ

Kamu Tidak Merasakan Manisnya Iman? – Ini Dua Sebabnya! – Syaikh Abdussalam Asy -Syuwai’ar

Wahai hadirin yang mulia, menundukkan pandangan adalah perkara yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada kaum laki-laki: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30). Kemudian Allah berfirman kepada kaum perempuan: “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31). Menundukkan pandangan adalah perkara yang berpengaruh besar pada hati. Oleh sebab itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyandingkan antara menundukan pandangan dengan amalan hati. Allah berfirman: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.” (QS. Ghafir: 19). Sebab, mungkin saja kamu sedang berjalan bersama temanmu, lalu mungkin kamu melihat sesuatu, tapi dia tidak tahu apa yang sedang kamu lihat, dan mungkin kamu curi-curi pandang kepada hal yang haram, padahal ia mengawasimu, tapi tidak tahu apa yang sedang kamu lihat. Karena itulah, dalam riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan Allah, padahal ia mampu melihatnya, semata-mata karena mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla, Allah akan menjadikan dalam hatinya rasa manisnya iman.” Para ulama berkata bahwa manisnya iman ini sebabnya adalah setelah tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya, yakni ketika hati kosong dari keterikatan dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menaruh perhatian penuh pada ibadah-ibadah rahasia. Karena itulah, seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman seperti yang ia rasakan dalam Shalat Malam dan sedekah secara sembunyi. Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: “Ada tiga amalan, siapa yang mengamalkannya pasti merasakan manisnya iman.” Salah satunya adalah: “Orang yang membayar zakat hartanya, dan tidak membayar dengan hewan yang sakit atau cacat.” Karena menginfakkan harta secara rahasia tidak diketahui siapa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, harta juga terasa manis di hati dan disukai. Di antara amalannya juga adalah menundukkan pandangan. Pada zaman ini, menundukkan pandangan menjadi perkara yang sulit dilakukan. Bahkan, seseorang bisa berada di rumahnya sendiri, dengan mengunci pintunya dan menutup gordennya rapat-rapat. sehingga tidak ada satu pun yang melihatnya di tempat itu, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, begitu ia membuka gawai di tangannya, atau menatap layar di hadapannya, ia bisa melihat hal-hal haram yang tidak mungkin ia tonton di hadapan orang lain. Namun, jika ia mengingat balasan yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia menundukkan pandangannya ketika itu, karena mengharap pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, maka berbahagialah, karena ia akan merasakan manisnya iman. Demikianlah yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang yang mengatakan: “Aku pernah dengar Sufyan berkata bahwa menuntut ilmu itu sangat nikmat, tapi mengapa aku tidak merasakannya? Aku juga dengar Ibrahim bin Adham berkata, ‘Kami merasakan kenikmatan luar biasa saat Shalat Malam. Andai putra-putra raja mengetahuinya, mereka pasti akan menebas kami dengan pedang untuk merebutnya.’ Namun, kok aku tidak merasakannya? Aku juga dengar kisah Abdullah bin Zubair, jika ia sudah berdiri untuk shalat, ia larut dalam ibadah hingga tidak sadar siapa yang ada di sampingnya. Bahkan saat lebah mendatanginya, lalu lebah itu menyengatnya berkali-kali, ia tetap tidak bergerak. Setelah selesai, ia berkata, ‘Tadi aku sedang sibuk darinya.’ Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa pernah ada anak panah nyasar mengenai seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ia tidak membatalkan shalatnya. Ia berkata: ‘Tadi aku sedang membaca surat yang lebih kucintai daripada dunia dan seisinya. Andai Nabi tidak memerintahkan kami berjaga, aku tidak akan berhenti membacanya.’ Ini semua, mungkin bisa kita lakukan juga seperti mereka. Hanya saja, hati kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan.” Hal ini disebabkan dua hal. Pertama: berkaitan dengan amalan hati yang telah saya sebutkan, yaitu keterpautan sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan menafikan sekutu bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan seluruh ibadah. Di antara bentuk keikhlasan ibadah adalah keikhlasan dalam amalan hati: tidak bertawakal, tidak memohon pertolongan, tidak takut, tidak berharap, dan tidak mencintai kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kedua: memberi perhatian besar pada ibadah-ibadah rahasia. Syaikh Taqiyuddin memiliki ungkapan sangat berharga tentang ibadah rahasia, yang termuat dalam beberapa pembahasan bukunya Al-Istiqamah. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang bisa dibukakan pintu dalam ibadah rahasia yang tidak selalu dibukakan bagi orang lain. Oleh sebab itu, perhatian terhadap ibadah rahasia amat penting. Dalam konteks ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…karena (menikah) itu lebih menundukkan pandangan…” Maka, seorang hamba, selain berjuang melawan hawa nafsunya, juga wajib mengambil sebab-sebab yang memudahkan ketaatan, di antaranya adalah menikah. ===== غَضُّ الْبَصَرِ أَيُّهَا الْأَفَاضِلُ هَذِهِ مِنْ الْأُمُورِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا فِي كِتَابِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مُخَاطِبًا الرِّجَالَ قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ثُمَّ خَاطَبَ النِّسَاءَ فَقَالَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَهَا وَقْعٌ فِي الْقَلْبِ وَلِذَا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَرَنَ بَيْنَ غَضِّ الْبَصَرِ وَفِعْلِ الْقَلْبِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَذَلِكَ أَنَّكَ رُبَّمَا تَكُونُ مَعَ صَاحِبِكَ تَمْشِيَانِ فَلَرُبَّمَا نَظَرْتَ إِلَى أَمْرٍ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلَرُبَّمَا اسْتَرَقْتَ الْبَصَرَ إِلَى شَيْءٍ مَمْنُوعٍ وَهُوَ يَرْقُبُكَ وَلَا يَدْرِي بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلِذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى النَّظَرِ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَهَذِه حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ سَبَبَهَا بَعْدَ تَوْحِيدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ لَهُ حَيْثُ يَكُونُ الْقَلْبُ فَارِغًا مِنَ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَرْءَ لَنْ يَجِدَ عِبَادَةً يَجِدُ فِيهَا حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَمِثْلَ الْإِنْفَاقِ فِي السِّرِّ وَلِذَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَخْرَجَ زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يَخْرُجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرَطِ لِأَنَّ بَذْلَ الْمَالِ فِي السِّرِّ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمَالُ لَهُ حَلَاوَةٌ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةٌ وَمِنْهَا غَضُّ الْبَصَرِ وَهُوَ الِانْكِفَافُ وَفِي هَذَا الْوَقْتِ أَصْبَحَ غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الصِّعَابِ حَتَّى إِنَّ الْمَرْءَ رُبَّمَا يَكُونُ فِي بَيْتِهِ مُغْلِقًا عَلَيْهِ بَابَهُ وَمُرْخِيًا عَلَيْهِ سِتَارَهُ وَلَا يَعْلَمُ بِهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ مَا إِنْ يَنْظُرُ فِي هَاتِفِهِ النَّقَّالِ مَعَهُ أَوْ يَنْظُرُ فِي الشَّاشَةِ الَّتِي أَمَامَهُ فَيَنْظُرُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ أَنْ يَنْظُرَ لَهَا غَيْرُهَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُحَرَّمَةِ لَكِنْ إِذَا تَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ غَضَّ بَصَرَهُ حِينَذاكَ رَجَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَبْشِرْ بِأَنَّهُ سَيَجِدُ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ هَكَذَا أَخْبَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَقُولُ أَسْمَعُ أَنَّ سُفْيَانَ يَقُولُ إِنَّ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ إِنَّنَا فِي قِيَامِ اللَّيْلِ فِي لَذَّةٍ لَوْ عَلِمَ عَنْهَا أَبْنَاءُ الْمُلُوكِ لَجَلَدَنَا عَلَيْهَا بِالسُّيُوفِ وَلَكِنِّي لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ اشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ حَتَّى لَا يَدْرِي مَنْ بِجَانِبِهِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الزُّنْبُورُ فَرُبَّمَا لَسَعَهُ مَرَّاتٍ كَثِيرَاتٍثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَتَحَرَّكُ ثُمَّ يَقُولُ كُنْتُ فِي شُغْلٍ عَنْهَا وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ سَهْمًا غَرْبًا أَصَابَ أَحَدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا انْبَطَلَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ كُنْتُ أَقْرَأُ سُورَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَوْلَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِالْحِرَاسَةِ هَذِهِ الْأُمُورُ قَدْ نَفْعَلُ مِثْلَ أَفْعَالِ أُولَئِكَ الْقَوْمِ لَكِنَّنَا لَا نَجِدُ فِي قُلُوبِنَا مَا وَجَدُوا لِسَبَبَيْنِ ذَكَرْتُ لَكَ قَبْلَ قَلِيلٍ وَهُوَ قَضِيَّةُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَفْيِ الشَّرِيكِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ وَمِنْ أَنْوَاعِ إِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ إِخْلَاصُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ فَلَا تَوَكُّلَ وَلَا اسْتِعَانَةَ وَلَا خَوْفَ وَلَا رَجَاءَ وَلَا مَحَبَّةَ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرُ الثَّانِي الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِلشَّيْخِ تَقِيُّ الدِّيْنِ كَلَامٌ نَفِيسٌ جِدًّا فِي عِبَادَةِ السِّرِّ ضَمَّنَهُ بَعْضُ مَبَاحِثِ كِتَابِهِ الِاسْتِقَامَةِ وَكَيْفَ أَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ يُفْتَحُ لَهُ فِي بَابٍ لَا يُفْتَحُ عَلَى الْآخَرِ فِي عِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مُهِمٌّ نَاسَبَ ذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ فَالْإِنْسَانُ مَعَ مُجَاهَدَةِ نَفْسَهُ وَمُجَالَدَتِهِ لَهَا يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ وَمِنْهَا الزَّوَاجُ
Wahai hadirin yang mulia, menundukkan pandangan adalah perkara yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada kaum laki-laki: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30). Kemudian Allah berfirman kepada kaum perempuan: “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31). Menundukkan pandangan adalah perkara yang berpengaruh besar pada hati. Oleh sebab itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyandingkan antara menundukan pandangan dengan amalan hati. Allah berfirman: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.” (QS. Ghafir: 19). Sebab, mungkin saja kamu sedang berjalan bersama temanmu, lalu mungkin kamu melihat sesuatu, tapi dia tidak tahu apa yang sedang kamu lihat, dan mungkin kamu curi-curi pandang kepada hal yang haram, padahal ia mengawasimu, tapi tidak tahu apa yang sedang kamu lihat. Karena itulah, dalam riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan Allah, padahal ia mampu melihatnya, semata-mata karena mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla, Allah akan menjadikan dalam hatinya rasa manisnya iman.” Para ulama berkata bahwa manisnya iman ini sebabnya adalah setelah tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya, yakni ketika hati kosong dari keterikatan dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menaruh perhatian penuh pada ibadah-ibadah rahasia. Karena itulah, seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman seperti yang ia rasakan dalam Shalat Malam dan sedekah secara sembunyi. Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: “Ada tiga amalan, siapa yang mengamalkannya pasti merasakan manisnya iman.” Salah satunya adalah: “Orang yang membayar zakat hartanya, dan tidak membayar dengan hewan yang sakit atau cacat.” Karena menginfakkan harta secara rahasia tidak diketahui siapa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, harta juga terasa manis di hati dan disukai. Di antara amalannya juga adalah menundukkan pandangan. Pada zaman ini, menundukkan pandangan menjadi perkara yang sulit dilakukan. Bahkan, seseorang bisa berada di rumahnya sendiri, dengan mengunci pintunya dan menutup gordennya rapat-rapat. sehingga tidak ada satu pun yang melihatnya di tempat itu, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, begitu ia membuka gawai di tangannya, atau menatap layar di hadapannya, ia bisa melihat hal-hal haram yang tidak mungkin ia tonton di hadapan orang lain. Namun, jika ia mengingat balasan yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia menundukkan pandangannya ketika itu, karena mengharap pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, maka berbahagialah, karena ia akan merasakan manisnya iman. Demikianlah yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang yang mengatakan: “Aku pernah dengar Sufyan berkata bahwa menuntut ilmu itu sangat nikmat, tapi mengapa aku tidak merasakannya? Aku juga dengar Ibrahim bin Adham berkata, ‘Kami merasakan kenikmatan luar biasa saat Shalat Malam. Andai putra-putra raja mengetahuinya, mereka pasti akan menebas kami dengan pedang untuk merebutnya.’ Namun, kok aku tidak merasakannya? Aku juga dengar kisah Abdullah bin Zubair, jika ia sudah berdiri untuk shalat, ia larut dalam ibadah hingga tidak sadar siapa yang ada di sampingnya. Bahkan saat lebah mendatanginya, lalu lebah itu menyengatnya berkali-kali, ia tetap tidak bergerak. Setelah selesai, ia berkata, ‘Tadi aku sedang sibuk darinya.’ Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa pernah ada anak panah nyasar mengenai seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ia tidak membatalkan shalatnya. Ia berkata: ‘Tadi aku sedang membaca surat yang lebih kucintai daripada dunia dan seisinya. Andai Nabi tidak memerintahkan kami berjaga, aku tidak akan berhenti membacanya.’ Ini semua, mungkin bisa kita lakukan juga seperti mereka. Hanya saja, hati kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan.” Hal ini disebabkan dua hal. Pertama: berkaitan dengan amalan hati yang telah saya sebutkan, yaitu keterpautan sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan menafikan sekutu bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan seluruh ibadah. Di antara bentuk keikhlasan ibadah adalah keikhlasan dalam amalan hati: tidak bertawakal, tidak memohon pertolongan, tidak takut, tidak berharap, dan tidak mencintai kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kedua: memberi perhatian besar pada ibadah-ibadah rahasia. Syaikh Taqiyuddin memiliki ungkapan sangat berharga tentang ibadah rahasia, yang termuat dalam beberapa pembahasan bukunya Al-Istiqamah. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang bisa dibukakan pintu dalam ibadah rahasia yang tidak selalu dibukakan bagi orang lain. Oleh sebab itu, perhatian terhadap ibadah rahasia amat penting. Dalam konteks ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…karena (menikah) itu lebih menundukkan pandangan…” Maka, seorang hamba, selain berjuang melawan hawa nafsunya, juga wajib mengambil sebab-sebab yang memudahkan ketaatan, di antaranya adalah menikah. ===== غَضُّ الْبَصَرِ أَيُّهَا الْأَفَاضِلُ هَذِهِ مِنْ الْأُمُورِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا فِي كِتَابِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مُخَاطِبًا الرِّجَالَ قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ثُمَّ خَاطَبَ النِّسَاءَ فَقَالَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَهَا وَقْعٌ فِي الْقَلْبِ وَلِذَا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَرَنَ بَيْنَ غَضِّ الْبَصَرِ وَفِعْلِ الْقَلْبِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَذَلِكَ أَنَّكَ رُبَّمَا تَكُونُ مَعَ صَاحِبِكَ تَمْشِيَانِ فَلَرُبَّمَا نَظَرْتَ إِلَى أَمْرٍ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلَرُبَّمَا اسْتَرَقْتَ الْبَصَرَ إِلَى شَيْءٍ مَمْنُوعٍ وَهُوَ يَرْقُبُكَ وَلَا يَدْرِي بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلِذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى النَّظَرِ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَهَذِه حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ سَبَبَهَا بَعْدَ تَوْحِيدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ لَهُ حَيْثُ يَكُونُ الْقَلْبُ فَارِغًا مِنَ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَرْءَ لَنْ يَجِدَ عِبَادَةً يَجِدُ فِيهَا حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَمِثْلَ الْإِنْفَاقِ فِي السِّرِّ وَلِذَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَخْرَجَ زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يَخْرُجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرَطِ لِأَنَّ بَذْلَ الْمَالِ فِي السِّرِّ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمَالُ لَهُ حَلَاوَةٌ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةٌ وَمِنْهَا غَضُّ الْبَصَرِ وَهُوَ الِانْكِفَافُ وَفِي هَذَا الْوَقْتِ أَصْبَحَ غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الصِّعَابِ حَتَّى إِنَّ الْمَرْءَ رُبَّمَا يَكُونُ فِي بَيْتِهِ مُغْلِقًا عَلَيْهِ بَابَهُ وَمُرْخِيًا عَلَيْهِ سِتَارَهُ وَلَا يَعْلَمُ بِهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ مَا إِنْ يَنْظُرُ فِي هَاتِفِهِ النَّقَّالِ مَعَهُ أَوْ يَنْظُرُ فِي الشَّاشَةِ الَّتِي أَمَامَهُ فَيَنْظُرُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ أَنْ يَنْظُرَ لَهَا غَيْرُهَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُحَرَّمَةِ لَكِنْ إِذَا تَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ غَضَّ بَصَرَهُ حِينَذاكَ رَجَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَبْشِرْ بِأَنَّهُ سَيَجِدُ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ هَكَذَا أَخْبَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَقُولُ أَسْمَعُ أَنَّ سُفْيَانَ يَقُولُ إِنَّ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ إِنَّنَا فِي قِيَامِ اللَّيْلِ فِي لَذَّةٍ لَوْ عَلِمَ عَنْهَا أَبْنَاءُ الْمُلُوكِ لَجَلَدَنَا عَلَيْهَا بِالسُّيُوفِ وَلَكِنِّي لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ اشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ حَتَّى لَا يَدْرِي مَنْ بِجَانِبِهِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الزُّنْبُورُ فَرُبَّمَا لَسَعَهُ مَرَّاتٍ كَثِيرَاتٍثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَتَحَرَّكُ ثُمَّ يَقُولُ كُنْتُ فِي شُغْلٍ عَنْهَا وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ سَهْمًا غَرْبًا أَصَابَ أَحَدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا انْبَطَلَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ كُنْتُ أَقْرَأُ سُورَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَوْلَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِالْحِرَاسَةِ هَذِهِ الْأُمُورُ قَدْ نَفْعَلُ مِثْلَ أَفْعَالِ أُولَئِكَ الْقَوْمِ لَكِنَّنَا لَا نَجِدُ فِي قُلُوبِنَا مَا وَجَدُوا لِسَبَبَيْنِ ذَكَرْتُ لَكَ قَبْلَ قَلِيلٍ وَهُوَ قَضِيَّةُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَفْيِ الشَّرِيكِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ وَمِنْ أَنْوَاعِ إِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ إِخْلَاصُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ فَلَا تَوَكُّلَ وَلَا اسْتِعَانَةَ وَلَا خَوْفَ وَلَا رَجَاءَ وَلَا مَحَبَّةَ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرُ الثَّانِي الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِلشَّيْخِ تَقِيُّ الدِّيْنِ كَلَامٌ نَفِيسٌ جِدًّا فِي عِبَادَةِ السِّرِّ ضَمَّنَهُ بَعْضُ مَبَاحِثِ كِتَابِهِ الِاسْتِقَامَةِ وَكَيْفَ أَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ يُفْتَحُ لَهُ فِي بَابٍ لَا يُفْتَحُ عَلَى الْآخَرِ فِي عِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مُهِمٌّ نَاسَبَ ذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ فَالْإِنْسَانُ مَعَ مُجَاهَدَةِ نَفْسَهُ وَمُجَالَدَتِهِ لَهَا يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ وَمِنْهَا الزَّوَاجُ


Wahai hadirin yang mulia, menundukkan pandangan adalah perkara yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada kaum laki-laki: “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30). Kemudian Allah berfirman kepada kaum perempuan: “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31). Menundukkan pandangan adalah perkara yang berpengaruh besar pada hati. Oleh sebab itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyandingkan antara menundukan pandangan dengan amalan hati. Allah berfirman: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.” (QS. Ghafir: 19). Sebab, mungkin saja kamu sedang berjalan bersama temanmu, lalu mungkin kamu melihat sesuatu, tapi dia tidak tahu apa yang sedang kamu lihat, dan mungkin kamu curi-curi pandang kepada hal yang haram, padahal ia mengawasimu, tapi tidak tahu apa yang sedang kamu lihat. Karena itulah, dalam riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang diharamkan Allah, padahal ia mampu melihatnya, semata-mata karena mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla, Allah akan menjadikan dalam hatinya rasa manisnya iman.” Para ulama berkata bahwa manisnya iman ini sebabnya adalah setelah tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya, yakni ketika hati kosong dari keterikatan dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menaruh perhatian penuh pada ibadah-ibadah rahasia. Karena itulah, seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman seperti yang ia rasakan dalam Shalat Malam dan sedekah secara sembunyi. Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: “Ada tiga amalan, siapa yang mengamalkannya pasti merasakan manisnya iman.” Salah satunya adalah: “Orang yang membayar zakat hartanya, dan tidak membayar dengan hewan yang sakit atau cacat.” Karena menginfakkan harta secara rahasia tidak diketahui siapa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, harta juga terasa manis di hati dan disukai. Di antara amalannya juga adalah menundukkan pandangan. Pada zaman ini, menundukkan pandangan menjadi perkara yang sulit dilakukan. Bahkan, seseorang bisa berada di rumahnya sendiri, dengan mengunci pintunya dan menutup gordennya rapat-rapat. sehingga tidak ada satu pun yang melihatnya di tempat itu, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, begitu ia membuka gawai di tangannya, atau menatap layar di hadapannya, ia bisa melihat hal-hal haram yang tidak mungkin ia tonton di hadapan orang lain. Namun, jika ia mengingat balasan yang ada di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia menundukkan pandangannya ketika itu, karena mengharap pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, maka berbahagialah, karena ia akan merasakan manisnya iman. Demikianlah yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang yang mengatakan: “Aku pernah dengar Sufyan berkata bahwa menuntut ilmu itu sangat nikmat, tapi mengapa aku tidak merasakannya? Aku juga dengar Ibrahim bin Adham berkata, ‘Kami merasakan kenikmatan luar biasa saat Shalat Malam. Andai putra-putra raja mengetahuinya, mereka pasti akan menebas kami dengan pedang untuk merebutnya.’ Namun, kok aku tidak merasakannya? Aku juga dengar kisah Abdullah bin Zubair, jika ia sudah berdiri untuk shalat, ia larut dalam ibadah hingga tidak sadar siapa yang ada di sampingnya. Bahkan saat lebah mendatanginya, lalu lebah itu menyengatnya berkali-kali, ia tetap tidak bergerak. Setelah selesai, ia berkata, ‘Tadi aku sedang sibuk darinya.’ Dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan bahwa pernah ada anak panah nyasar mengenai seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ia tidak membatalkan shalatnya. Ia berkata: ‘Tadi aku sedang membaca surat yang lebih kucintai daripada dunia dan seisinya. Andai Nabi tidak memerintahkan kami berjaga, aku tidak akan berhenti membacanya.’ Ini semua, mungkin bisa kita lakukan juga seperti mereka. Hanya saja, hati kita tidak merasakan apa yang mereka rasakan.” Hal ini disebabkan dua hal. Pertama: berkaitan dengan amalan hati yang telah saya sebutkan, yaitu keterpautan sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan menafikan sekutu bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan seluruh ibadah. Di antara bentuk keikhlasan ibadah adalah keikhlasan dalam amalan hati: tidak bertawakal, tidak memohon pertolongan, tidak takut, tidak berharap, dan tidak mencintai kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kedua: memberi perhatian besar pada ibadah-ibadah rahasia. Syaikh Taqiyuddin memiliki ungkapan sangat berharga tentang ibadah rahasia, yang termuat dalam beberapa pembahasan bukunya Al-Istiqamah. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang bisa dibukakan pintu dalam ibadah rahasia yang tidak selalu dibukakan bagi orang lain. Oleh sebab itu, perhatian terhadap ibadah rahasia amat penting. Dalam konteks ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…karena (menikah) itu lebih menundukkan pandangan…” Maka, seorang hamba, selain berjuang melawan hawa nafsunya, juga wajib mengambil sebab-sebab yang memudahkan ketaatan, di antaranya adalah menikah. ===== غَضُّ الْبَصَرِ أَيُّهَا الْأَفَاضِلُ هَذِهِ مِنْ الْأُمُورِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا فِي كِتَابِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ مُخَاطِبًا الرِّجَالَ قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ثُمَّ خَاطَبَ النِّسَاءَ فَقَالَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَهَا وَقْعٌ فِي الْقَلْبِ وَلِذَا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَرَنَ بَيْنَ غَضِّ الْبَصَرِ وَفِعْلِ الْقَلْبِ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ وَذَلِكَ أَنَّكَ رُبَّمَا تَكُونُ مَعَ صَاحِبِكَ تَمْشِيَانِ فَلَرُبَّمَا نَظَرْتَ إِلَى أَمْرٍ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلَرُبَّمَا اسْتَرَقْتَ الْبَصَرَ إِلَى شَيْءٍ مَمْنُوعٍ وَهُوَ يَرْقُبُكَ وَلَا يَدْرِي بِمَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ وَلِذَا جَاءَ فِي حَدِيثٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالْحَاكِمِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى النَّظَرِ ابْتِغَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْقَبَ اللَّهُ فِي قَلْبِهِ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَهَذِه حَلَاوَةُ الْإِيمَانِ يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ سَبَبَهَا بَعْدَ تَوْحِيدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ لَهُ حَيْثُ يَكُونُ الْقَلْبُ فَارِغًا مِنَ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَرْءَ لَنْ يَجِدَ عِبَادَةً يَجِدُ فِيهَا حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَمِثْلَ الْإِنْفَاقِ فِي السِّرِّ وَلِذَا جَاءَ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَذَكَرَ مِنْهَا وَأَخْرَجَ زَكَاةَ مَالِهِ وَلَمْ يَخْرُجِ الْمَرِيضَةَ وَلَا ذَاتَ الشَّرَطِ لِأَنَّ بَذْلَ الْمَالِ فِي السِّرِّ لَا يَعْلَمُ بِهِ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمَالُ لَهُ حَلَاوَةٌ فِي الْقَلْبِ وَمَحَبَّةٌ وَمِنْهَا غَضُّ الْبَصَرِ وَهُوَ الِانْكِفَافُ وَفِي هَذَا الْوَقْتِ أَصْبَحَ غَضُّ الْبَصَرِ مِنَ الْأُمُورِ الصِّعَابِ حَتَّى إِنَّ الْمَرْءَ رُبَّمَا يَكُونُ فِي بَيْتِهِ مُغْلِقًا عَلَيْهِ بَابَهُ وَمُرْخِيًا عَلَيْهِ سِتَارَهُ وَلَا يَعْلَمُ بِهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ مَا إِنْ يَنْظُرُ فِي هَاتِفِهِ النَّقَّالِ مَعَهُ أَوْ يَنْظُرُ فِي الشَّاشَةِ الَّتِي أَمَامَهُ فَيَنْظُرُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ أَنْ يَنْظُرَ لَهَا غَيْرُهَا مِنَ الْأُمُورِ الْمُحَرَّمَةِ لَكِنْ إِذَا تَذَكَّرَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ غَضَّ بَصَرَهُ حِينَذاكَ رَجَاءَ مَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَبْشِرْ بِأَنَّهُ سَيَجِدُ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ هَكَذَا أَخْبَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَقُولُ أَسْمَعُ أَنَّ سُفْيَانَ يَقُولُ إِنَّ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ إِنَّنَا فِي قِيَامِ اللَّيْلِ فِي لَذَّةٍ لَوْ عَلِمَ عَنْهَا أَبْنَاءُ الْمُلُوكِ لَجَلَدَنَا عَلَيْهَا بِالسُّيُوفِ وَلَكِنِّي لَا أَجِدُهَا وَأَسْمَعُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ اشْتَغَلَ بِالْعِبَادَةِ حَتَّى لَا يَدْرِي مَنْ بِجَانِبِهِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الزُّنْبُورُ فَرُبَّمَا لَسَعَهُ مَرَّاتٍ كَثِيرَاتٍثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ لَا يَتَحَرَّكُ ثُمَّ يَقُولُ كُنْتُ فِي شُغْلٍ عَنْهَا وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ سَهْمًا غَرْبًا أَصَابَ أَحَدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا انْبَطَلَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ كُنْتُ أَقْرَأُ سُورَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَوْلَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِالْحِرَاسَةِ هَذِهِ الْأُمُورُ قَدْ نَفْعَلُ مِثْلَ أَفْعَالِ أُولَئِكَ الْقَوْمِ لَكِنَّنَا لَا نَجِدُ فِي قُلُوبِنَا مَا وَجَدُوا لِسَبَبَيْنِ ذَكَرْتُ لَكَ قَبْلَ قَلِيلٍ وَهُوَ قَضِيَّةُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نَفْيِ الشَّرِيكِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ وَإِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ وَمِنْ أَنْوَاعِ إِخْلَاصِ الْعِبَادَةِ إِخْلَاصُ أَفْعَالِ الْقُلُوبِ فَلَا تَوَكُّلَ وَلَا اسْتِعَانَةَ وَلَا خَوْفَ وَلَا رَجَاءَ وَلَا مَحَبَّةَ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْأَمْرُ الثَّانِي الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِلشَّيْخِ تَقِيُّ الدِّيْنِ كَلَامٌ نَفِيسٌ جِدًّا فِي عِبَادَةِ السِّرِّ ضَمَّنَهُ بَعْضُ مَبَاحِثِ كِتَابِهِ الِاسْتِقَامَةِ وَكَيْفَ أَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ يُفْتَحُ لَهُ فِي بَابٍ لَا يُفْتَحُ عَلَى الْآخَرِ فِي عِبَادَاتِ السِّرِّ وَلِذَا الْعِنَايَةُ بِعِبَادَاتِ السِّرِّ مُهِمٌّ نَاسَبَ ذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ فَالْإِنْسَانُ مَعَ مُجَاهَدَةِ نَفْسَهُ وَمُجَالَدَتِهِ لَهَا يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ وَمِنْهَا الزَّوَاجُ

Hukum Shalat Berjamaah: Fardhu ataukah Sunnah? Lengkap dengan Dalil dan Penjelasan

Shalat berjamaah adalah syiar agung dalam Islam yang menunjukkan kekuatan ukhuwah dan ketaatan kepada Allah. Para ulama dalam madzhab Syafi’i memberikan perhatian khusus terhadap hukum, keutamaan, dan tata cara mendapati jamaah dalam shalat. Tulisan ini membahas secara ringkas namun komprehensif tentang hukum shalat berjamaah, kondisi wajibnya, hingga berbagai bentuk idrak (ketepatan ikut jamaah) yang perlu diketahui setiap muslim. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَصَلَاةُ‭ ‬الْجَمَاعَةِ‭ ‬سُنَّةٌ‭ ‬مُؤَكَّدَةٌ،‭ ‬وَعَلَى‭ ‬الْمَأْمُومِ‭ ‬أَنْ‭ ‬يَنْوِيَ‭ ‬الِائْتِمَامَ‭ ‬دُونَ‭ ‬الْإِمَامِ‭.‬Shalat berjamaah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), dan bagi makmum wajib berniat untuk mengikuti (imam), sedangkan imam tidak perlu berniat menjadi imam.* Daftar Isi buka 1. Penjelasan 2. Rincian Hukum Shalat Berjamaah 3. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat Berjamaah 3.1. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnah 3.2. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayah 3.3. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ain 4. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah) 5. Shalat di Rumah Berjamaah PenjelasanHukum shalat berjamaah menurut pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi‘i adalah fardhu kifayah (wajib untuk sebagian orang), kecuali shalat Jum’at, hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib untuk individu).Hukum fardhu kifayah berlaku untuk:Laki-laki, hukum bagi perempuan: sunnah.Orang merdeka, hukum bagi budak: sunnah.Mukim, hukum bagi musafir: sunnah.Tidak punya uzur; uzur untuk tidak berjamaah: hujan, sangat dingin, sakit, darurat buang hajat, dll.Wajib tampak syiar (agama) dengan menegakkan (shalat berjamaah), maka tidak cukup melakukannya di rumah-rumah. Minimal berjamaah adalah: seorang imam dan satu makmum.  Rincian Hukum Shalat BerjamaahFardhu ‘ain dan syarat sahnya: berjamaah dalam shalat Jum’at.Fardhu kifayah: untuk berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat kusuf (gerhana), istisqa’ (minta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.Khilaful aula: shalat rawatib dan dhuhaMakruh: shalat di belakang imam yang fasik.Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Shubuh di belakang shalat jenazah. (Bidayah Al-Fiqh Asy-Syafi’i, hlm. 275-276)Shalat berjamaah di masjid–untuk selain wanita–lebih utama, kecuali jika didapatkan jamaah di rumah lebih banyak, maka di rumah lebih afdal.Dalam Fathul Qarib disebutkan: Shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat-shalat wajib selain Jum’at hukumnya sunnah muakkadah menurut penulis dan Ar-Rafi‘i. Pendapat yang lebih kuat menurut An-Nawawi: fardhu kifayah. Makmum dianggap mendapatkan jamaah bersama imam dalam shalat selain Jum’at selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun ia belum sempat duduk bersamanya. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat BerjamaahDalam Fathul Qarib disebutkan: (Dan) wajib (bagi makmum untuk berniat mengikuti) atau bermakmum kepada imam. Tidak wajib menyebutkan siapa imamnya secara spesifik; cukup berniat mengikuti imam yang ada jika ia tidak mengenalnya. Jika ia menetapkan imam tertentu lalu keliru, maka batal shalatnya, kecuali jika ada isyarat yang menyertainya, seperti ia berkata: ‘Aku berniat mengikuti Zaid ini,’ ternyata yang dimaksud adalah ‘Amr, maka shalatnya tetap sah.(Adapun imam), tidak wajib baginya berniat menjadi imam untuk sahnya makmum bermakmum kepadanya selain pada shalat Jumat. Niat imam hanya sunnah baginya. Jika ia tidak berniat sebagai imam, maka shalatnya dihukumi shalat sendiri (munfarid).”Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan: Dasar disyariatkannya shalat berjamaah adalah Al-Qur’an, hadits, dan ijmak ulama. Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ﴾“Dan apabila engkau (wahai Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.” (QS. An-Nisaa’: 102)Ayat ini menunjukkan perintah berjamaah dalam firman-Nya ‘maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.’ Maka pada kondisi aman tentu lebih utama.Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain pada shalat Jumat. Adapun selain shalat Jumat, terdapat perbedaan pendapat.Menurut pendapat yang sahih menurut Ar-Rafi‘i, hukumnya adalah sunnah. Ada pula yang berpendapat bahwa hukumnya fardu kifayah, dan pendapat ini dinilai sahih oleh An-Nawawi. Ada pula yang berpendapat fardu ‘ain, dan pendapat ini dinilai sahih oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnahAdapun dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa shalat berjamaah itu sunnah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat). Al-Bukhari meriwayatkan dengan lafaz dua puluh lima derajat dari riwayat Abu Sa‘id. Sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ‘lebih utama’ menunjukkan bolehnya kedua cara (shalat berjamaah dan shalat sendirian), karena bentuk perbandingan keutamaan menuntut demikian. Seandainya salah satu dari keduanya terlarang, tentu tidak akan datang dalam bentuk lafaz seperti ini. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayahAdapun dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa salat berjamaah itu fardu kifayah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah ada tiga orang di suatu kampung atau di pedalaman yang tidak ditegakkan salat di tengah-tengah mereka, kecuali setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memakan kambing yang jauh dari kawanannya.” Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ainDan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu ‘ain adalah sejumlah hadits, di antaranya sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh, aku hampir memerintahkan untuk mendirikan salat, lalu salat ditegakkan. Kemudian aku memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami manusia, lalu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar menuju suatu kaum yang tidak menghadiri salat, lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka dengan api).Jawabannya: Nabi tidak jadi membakar rumah mereka, dan hal ini terjadi pada kaum munafik. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah)1. Mendapati SATU RAKAAT ketika mendapati rukuk, di mana makmum rukuk secara thumakninah sebelum imam bangkit.Makmum masbuk dikatakan mendapatkan rukuk bersama imam dengan dua hal: (1) takbiratul ihram lalu bertakbir untuk turun rukuk, tetapi jika mencukupkan satu kali takbir disyaratkan ia melakukan takbiratul ihram, (2) mendapati rukuk bersama imam secara sempurna dan yakin sebelum imam bangkit dari rukuk di mana makmum mendapatinya dengan melakukanya dengan thumakninah dan masih mendapatkan minimal rukuk, yaitu telapak tangannya mendapati lutut. (Lihat Fath Al-Mu’in, hlm. 199).2. Mendapati SHALAT BERJAMAAH dengan mendapati bagian shalat dari imam. Ada perselisihan pendapat dalam madzhab dalam hal kapan mendapati bagian shalat dari imam: – Menurut Imam Ar-Ramli sebelum imam mulai salam pertama. – Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami sebelum pengucapan mim pada kalimat salam “As-salaamu ‘alaikum”.3. Mendapati FADHILAH BERJAMAAH (mendapati takbir pertama bersama imam) di mana makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihram dari imam. Karena hadits:‎فإذا‭ ‬كبر‭ ‬فكبرواس‭ ‬والفاء‭ ‬للتعقيب‭.‬“Jika imam bertakbir, barulah makmum bertakbir.” Hadits ini bermakna ta’qib berurutan dan menunjukkan setelah. Itulah makna huruf fa’.4. Mendapati SHALAT JUMAT BERSAMA IMAM ketika makmum mendapati rukuk imam secara thumakninah sebelum imam bangkit.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬من‭ ‬الجمعة‭ ‬ركعة‭ ‬فليصل‭ ‬معها‭ ‬أخرى“Siapa mendapati satu rakaat shalat Jumat bersama imam, maka hendaklah ia melanjutkan rakaat yang tersisa.”5. Mendapati WAKTU SHALAT ADA’AN (masih shalat di waktunya) dengan mendapati satu rakaat secara sempurna. Misal ia bangkit dari sujud kedua sebelum matahari tenggelam, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬ركعة‭ ‬من‭ ‬العصر‭ ‬قبل‭ ‬أن‭ ‬تغرب‭ ‬الشمس‭ ‬فقد‭ ‬أدرك‭ ‬العصر“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat Ashar sebelum tenggelam matahari, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.”Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok dalam Shalat Berjamaah Shalat di Rumah BerjamaahKetahuilah bahwa pelaksanaan shalat berjamaah sudah teranggap sah meskipun seorang laki-laki shalat di rumah bersama istrinya atau anggota keluarganya yang lain. Namun demikian, shalat berjamaah di masjid tetap lebih utama. Semakin banyak jamaah yang berkumpul di sebuah masjid, maka semakin utama pula shalat berjamaah di sana.Karena itu, jika dekat rumah terdapat masjid dengan jumlah jamaah sedikit, sedangkan ada masjid lain yang lebih jauh namun jamaahnya lebih banyak, maka shalat di masjid yang jauh lebih utama—kecuali dalam dua kondisi:Bila berpindah ke masjid yang jauh menyebabkan jamaah di masjid terdekat menjadi terbengkalai atau tidak terselenggara.Bila imam di masjid yang jauh tersebut adalah seorang ahli bid’ah, seperti penganut ajaran Mu‘tazilah atau kelompok menyimpang lainnya. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, dan Kifayatul Akhyar Ditulis saat perjalanan Darush Sholihin – Masjid Pogung Dalangan, 8 Jumadilakhir 1447 H, 27 November 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat shalat berjamaah shalat jamaah

Hukum Shalat Berjamaah: Fardhu ataukah Sunnah? Lengkap dengan Dalil dan Penjelasan

Shalat berjamaah adalah syiar agung dalam Islam yang menunjukkan kekuatan ukhuwah dan ketaatan kepada Allah. Para ulama dalam madzhab Syafi’i memberikan perhatian khusus terhadap hukum, keutamaan, dan tata cara mendapati jamaah dalam shalat. Tulisan ini membahas secara ringkas namun komprehensif tentang hukum shalat berjamaah, kondisi wajibnya, hingga berbagai bentuk idrak (ketepatan ikut jamaah) yang perlu diketahui setiap muslim. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَصَلَاةُ‭ ‬الْجَمَاعَةِ‭ ‬سُنَّةٌ‭ ‬مُؤَكَّدَةٌ،‭ ‬وَعَلَى‭ ‬الْمَأْمُومِ‭ ‬أَنْ‭ ‬يَنْوِيَ‭ ‬الِائْتِمَامَ‭ ‬دُونَ‭ ‬الْإِمَامِ‭.‬Shalat berjamaah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), dan bagi makmum wajib berniat untuk mengikuti (imam), sedangkan imam tidak perlu berniat menjadi imam.* Daftar Isi buka 1. Penjelasan 2. Rincian Hukum Shalat Berjamaah 3. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat Berjamaah 3.1. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnah 3.2. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayah 3.3. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ain 4. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah) 5. Shalat di Rumah Berjamaah PenjelasanHukum shalat berjamaah menurut pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi‘i adalah fardhu kifayah (wajib untuk sebagian orang), kecuali shalat Jum’at, hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib untuk individu).Hukum fardhu kifayah berlaku untuk:Laki-laki, hukum bagi perempuan: sunnah.Orang merdeka, hukum bagi budak: sunnah.Mukim, hukum bagi musafir: sunnah.Tidak punya uzur; uzur untuk tidak berjamaah: hujan, sangat dingin, sakit, darurat buang hajat, dll.Wajib tampak syiar (agama) dengan menegakkan (shalat berjamaah), maka tidak cukup melakukannya di rumah-rumah. Minimal berjamaah adalah: seorang imam dan satu makmum.  Rincian Hukum Shalat BerjamaahFardhu ‘ain dan syarat sahnya: berjamaah dalam shalat Jum’at.Fardhu kifayah: untuk berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat kusuf (gerhana), istisqa’ (minta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.Khilaful aula: shalat rawatib dan dhuhaMakruh: shalat di belakang imam yang fasik.Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Shubuh di belakang shalat jenazah. (Bidayah Al-Fiqh Asy-Syafi’i, hlm. 275-276)Shalat berjamaah di masjid–untuk selain wanita–lebih utama, kecuali jika didapatkan jamaah di rumah lebih banyak, maka di rumah lebih afdal.Dalam Fathul Qarib disebutkan: Shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat-shalat wajib selain Jum’at hukumnya sunnah muakkadah menurut penulis dan Ar-Rafi‘i. Pendapat yang lebih kuat menurut An-Nawawi: fardhu kifayah. Makmum dianggap mendapatkan jamaah bersama imam dalam shalat selain Jum’at selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun ia belum sempat duduk bersamanya. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat BerjamaahDalam Fathul Qarib disebutkan: (Dan) wajib (bagi makmum untuk berniat mengikuti) atau bermakmum kepada imam. Tidak wajib menyebutkan siapa imamnya secara spesifik; cukup berniat mengikuti imam yang ada jika ia tidak mengenalnya. Jika ia menetapkan imam tertentu lalu keliru, maka batal shalatnya, kecuali jika ada isyarat yang menyertainya, seperti ia berkata: ‘Aku berniat mengikuti Zaid ini,’ ternyata yang dimaksud adalah ‘Amr, maka shalatnya tetap sah.(Adapun imam), tidak wajib baginya berniat menjadi imam untuk sahnya makmum bermakmum kepadanya selain pada shalat Jumat. Niat imam hanya sunnah baginya. Jika ia tidak berniat sebagai imam, maka shalatnya dihukumi shalat sendiri (munfarid).”Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan: Dasar disyariatkannya shalat berjamaah adalah Al-Qur’an, hadits, dan ijmak ulama. Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ﴾“Dan apabila engkau (wahai Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.” (QS. An-Nisaa’: 102)Ayat ini menunjukkan perintah berjamaah dalam firman-Nya ‘maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.’ Maka pada kondisi aman tentu lebih utama.Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain pada shalat Jumat. Adapun selain shalat Jumat, terdapat perbedaan pendapat.Menurut pendapat yang sahih menurut Ar-Rafi‘i, hukumnya adalah sunnah. Ada pula yang berpendapat bahwa hukumnya fardu kifayah, dan pendapat ini dinilai sahih oleh An-Nawawi. Ada pula yang berpendapat fardu ‘ain, dan pendapat ini dinilai sahih oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnahAdapun dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa shalat berjamaah itu sunnah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat). Al-Bukhari meriwayatkan dengan lafaz dua puluh lima derajat dari riwayat Abu Sa‘id. Sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ‘lebih utama’ menunjukkan bolehnya kedua cara (shalat berjamaah dan shalat sendirian), karena bentuk perbandingan keutamaan menuntut demikian. Seandainya salah satu dari keduanya terlarang, tentu tidak akan datang dalam bentuk lafaz seperti ini. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayahAdapun dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa salat berjamaah itu fardu kifayah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah ada tiga orang di suatu kampung atau di pedalaman yang tidak ditegakkan salat di tengah-tengah mereka, kecuali setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memakan kambing yang jauh dari kawanannya.” Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ainDan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu ‘ain adalah sejumlah hadits, di antaranya sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh, aku hampir memerintahkan untuk mendirikan salat, lalu salat ditegakkan. Kemudian aku memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami manusia, lalu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar menuju suatu kaum yang tidak menghadiri salat, lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka dengan api).Jawabannya: Nabi tidak jadi membakar rumah mereka, dan hal ini terjadi pada kaum munafik. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah)1. Mendapati SATU RAKAAT ketika mendapati rukuk, di mana makmum rukuk secara thumakninah sebelum imam bangkit.Makmum masbuk dikatakan mendapatkan rukuk bersama imam dengan dua hal: (1) takbiratul ihram lalu bertakbir untuk turun rukuk, tetapi jika mencukupkan satu kali takbir disyaratkan ia melakukan takbiratul ihram, (2) mendapati rukuk bersama imam secara sempurna dan yakin sebelum imam bangkit dari rukuk di mana makmum mendapatinya dengan melakukanya dengan thumakninah dan masih mendapatkan minimal rukuk, yaitu telapak tangannya mendapati lutut. (Lihat Fath Al-Mu’in, hlm. 199).2. Mendapati SHALAT BERJAMAAH dengan mendapati bagian shalat dari imam. Ada perselisihan pendapat dalam madzhab dalam hal kapan mendapati bagian shalat dari imam: – Menurut Imam Ar-Ramli sebelum imam mulai salam pertama. – Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami sebelum pengucapan mim pada kalimat salam “As-salaamu ‘alaikum”.3. Mendapati FADHILAH BERJAMAAH (mendapati takbir pertama bersama imam) di mana makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihram dari imam. Karena hadits:‎فإذا‭ ‬كبر‭ ‬فكبرواس‭ ‬والفاء‭ ‬للتعقيب‭.‬“Jika imam bertakbir, barulah makmum bertakbir.” Hadits ini bermakna ta’qib berurutan dan menunjukkan setelah. Itulah makna huruf fa’.4. Mendapati SHALAT JUMAT BERSAMA IMAM ketika makmum mendapati rukuk imam secara thumakninah sebelum imam bangkit.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬من‭ ‬الجمعة‭ ‬ركعة‭ ‬فليصل‭ ‬معها‭ ‬أخرى“Siapa mendapati satu rakaat shalat Jumat bersama imam, maka hendaklah ia melanjutkan rakaat yang tersisa.”5. Mendapati WAKTU SHALAT ADA’AN (masih shalat di waktunya) dengan mendapati satu rakaat secara sempurna. Misal ia bangkit dari sujud kedua sebelum matahari tenggelam, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬ركعة‭ ‬من‭ ‬العصر‭ ‬قبل‭ ‬أن‭ ‬تغرب‭ ‬الشمس‭ ‬فقد‭ ‬أدرك‭ ‬العصر“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat Ashar sebelum tenggelam matahari, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.”Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok dalam Shalat Berjamaah Shalat di Rumah BerjamaahKetahuilah bahwa pelaksanaan shalat berjamaah sudah teranggap sah meskipun seorang laki-laki shalat di rumah bersama istrinya atau anggota keluarganya yang lain. Namun demikian, shalat berjamaah di masjid tetap lebih utama. Semakin banyak jamaah yang berkumpul di sebuah masjid, maka semakin utama pula shalat berjamaah di sana.Karena itu, jika dekat rumah terdapat masjid dengan jumlah jamaah sedikit, sedangkan ada masjid lain yang lebih jauh namun jamaahnya lebih banyak, maka shalat di masjid yang jauh lebih utama—kecuali dalam dua kondisi:Bila berpindah ke masjid yang jauh menyebabkan jamaah di masjid terdekat menjadi terbengkalai atau tidak terselenggara.Bila imam di masjid yang jauh tersebut adalah seorang ahli bid’ah, seperti penganut ajaran Mu‘tazilah atau kelompok menyimpang lainnya. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, dan Kifayatul Akhyar Ditulis saat perjalanan Darush Sholihin – Masjid Pogung Dalangan, 8 Jumadilakhir 1447 H, 27 November 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat shalat berjamaah shalat jamaah
Shalat berjamaah adalah syiar agung dalam Islam yang menunjukkan kekuatan ukhuwah dan ketaatan kepada Allah. Para ulama dalam madzhab Syafi’i memberikan perhatian khusus terhadap hukum, keutamaan, dan tata cara mendapati jamaah dalam shalat. Tulisan ini membahas secara ringkas namun komprehensif tentang hukum shalat berjamaah, kondisi wajibnya, hingga berbagai bentuk idrak (ketepatan ikut jamaah) yang perlu diketahui setiap muslim. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَصَلَاةُ‭ ‬الْجَمَاعَةِ‭ ‬سُنَّةٌ‭ ‬مُؤَكَّدَةٌ،‭ ‬وَعَلَى‭ ‬الْمَأْمُومِ‭ ‬أَنْ‭ ‬يَنْوِيَ‭ ‬الِائْتِمَامَ‭ ‬دُونَ‭ ‬الْإِمَامِ‭.‬Shalat berjamaah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), dan bagi makmum wajib berniat untuk mengikuti (imam), sedangkan imam tidak perlu berniat menjadi imam.* Daftar Isi buka 1. Penjelasan 2. Rincian Hukum Shalat Berjamaah 3. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat Berjamaah 3.1. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnah 3.2. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayah 3.3. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ain 4. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah) 5. Shalat di Rumah Berjamaah PenjelasanHukum shalat berjamaah menurut pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi‘i adalah fardhu kifayah (wajib untuk sebagian orang), kecuali shalat Jum’at, hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib untuk individu).Hukum fardhu kifayah berlaku untuk:Laki-laki, hukum bagi perempuan: sunnah.Orang merdeka, hukum bagi budak: sunnah.Mukim, hukum bagi musafir: sunnah.Tidak punya uzur; uzur untuk tidak berjamaah: hujan, sangat dingin, sakit, darurat buang hajat, dll.Wajib tampak syiar (agama) dengan menegakkan (shalat berjamaah), maka tidak cukup melakukannya di rumah-rumah. Minimal berjamaah adalah: seorang imam dan satu makmum.  Rincian Hukum Shalat BerjamaahFardhu ‘ain dan syarat sahnya: berjamaah dalam shalat Jum’at.Fardhu kifayah: untuk berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat kusuf (gerhana), istisqa’ (minta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.Khilaful aula: shalat rawatib dan dhuhaMakruh: shalat di belakang imam yang fasik.Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Shubuh di belakang shalat jenazah. (Bidayah Al-Fiqh Asy-Syafi’i, hlm. 275-276)Shalat berjamaah di masjid–untuk selain wanita–lebih utama, kecuali jika didapatkan jamaah di rumah lebih banyak, maka di rumah lebih afdal.Dalam Fathul Qarib disebutkan: Shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat-shalat wajib selain Jum’at hukumnya sunnah muakkadah menurut penulis dan Ar-Rafi‘i. Pendapat yang lebih kuat menurut An-Nawawi: fardhu kifayah. Makmum dianggap mendapatkan jamaah bersama imam dalam shalat selain Jum’at selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun ia belum sempat duduk bersamanya. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat BerjamaahDalam Fathul Qarib disebutkan: (Dan) wajib (bagi makmum untuk berniat mengikuti) atau bermakmum kepada imam. Tidak wajib menyebutkan siapa imamnya secara spesifik; cukup berniat mengikuti imam yang ada jika ia tidak mengenalnya. Jika ia menetapkan imam tertentu lalu keliru, maka batal shalatnya, kecuali jika ada isyarat yang menyertainya, seperti ia berkata: ‘Aku berniat mengikuti Zaid ini,’ ternyata yang dimaksud adalah ‘Amr, maka shalatnya tetap sah.(Adapun imam), tidak wajib baginya berniat menjadi imam untuk sahnya makmum bermakmum kepadanya selain pada shalat Jumat. Niat imam hanya sunnah baginya. Jika ia tidak berniat sebagai imam, maka shalatnya dihukumi shalat sendiri (munfarid).”Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan: Dasar disyariatkannya shalat berjamaah adalah Al-Qur’an, hadits, dan ijmak ulama. Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ﴾“Dan apabila engkau (wahai Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.” (QS. An-Nisaa’: 102)Ayat ini menunjukkan perintah berjamaah dalam firman-Nya ‘maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.’ Maka pada kondisi aman tentu lebih utama.Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain pada shalat Jumat. Adapun selain shalat Jumat, terdapat perbedaan pendapat.Menurut pendapat yang sahih menurut Ar-Rafi‘i, hukumnya adalah sunnah. Ada pula yang berpendapat bahwa hukumnya fardu kifayah, dan pendapat ini dinilai sahih oleh An-Nawawi. Ada pula yang berpendapat fardu ‘ain, dan pendapat ini dinilai sahih oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnahAdapun dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa shalat berjamaah itu sunnah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat). Al-Bukhari meriwayatkan dengan lafaz dua puluh lima derajat dari riwayat Abu Sa‘id. Sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ‘lebih utama’ menunjukkan bolehnya kedua cara (shalat berjamaah dan shalat sendirian), karena bentuk perbandingan keutamaan menuntut demikian. Seandainya salah satu dari keduanya terlarang, tentu tidak akan datang dalam bentuk lafaz seperti ini. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayahAdapun dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa salat berjamaah itu fardu kifayah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah ada tiga orang di suatu kampung atau di pedalaman yang tidak ditegakkan salat di tengah-tengah mereka, kecuali setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memakan kambing yang jauh dari kawanannya.” Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ainDan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu ‘ain adalah sejumlah hadits, di antaranya sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh, aku hampir memerintahkan untuk mendirikan salat, lalu salat ditegakkan. Kemudian aku memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami manusia, lalu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar menuju suatu kaum yang tidak menghadiri salat, lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka dengan api).Jawabannya: Nabi tidak jadi membakar rumah mereka, dan hal ini terjadi pada kaum munafik. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah)1. Mendapati SATU RAKAAT ketika mendapati rukuk, di mana makmum rukuk secara thumakninah sebelum imam bangkit.Makmum masbuk dikatakan mendapatkan rukuk bersama imam dengan dua hal: (1) takbiratul ihram lalu bertakbir untuk turun rukuk, tetapi jika mencukupkan satu kali takbir disyaratkan ia melakukan takbiratul ihram, (2) mendapati rukuk bersama imam secara sempurna dan yakin sebelum imam bangkit dari rukuk di mana makmum mendapatinya dengan melakukanya dengan thumakninah dan masih mendapatkan minimal rukuk, yaitu telapak tangannya mendapati lutut. (Lihat Fath Al-Mu’in, hlm. 199).2. Mendapati SHALAT BERJAMAAH dengan mendapati bagian shalat dari imam. Ada perselisihan pendapat dalam madzhab dalam hal kapan mendapati bagian shalat dari imam: – Menurut Imam Ar-Ramli sebelum imam mulai salam pertama. – Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami sebelum pengucapan mim pada kalimat salam “As-salaamu ‘alaikum”.3. Mendapati FADHILAH BERJAMAAH (mendapati takbir pertama bersama imam) di mana makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihram dari imam. Karena hadits:‎فإذا‭ ‬كبر‭ ‬فكبرواس‭ ‬والفاء‭ ‬للتعقيب‭.‬“Jika imam bertakbir, barulah makmum bertakbir.” Hadits ini bermakna ta’qib berurutan dan menunjukkan setelah. Itulah makna huruf fa’.4. Mendapati SHALAT JUMAT BERSAMA IMAM ketika makmum mendapati rukuk imam secara thumakninah sebelum imam bangkit.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬من‭ ‬الجمعة‭ ‬ركعة‭ ‬فليصل‭ ‬معها‭ ‬أخرى“Siapa mendapati satu rakaat shalat Jumat bersama imam, maka hendaklah ia melanjutkan rakaat yang tersisa.”5. Mendapati WAKTU SHALAT ADA’AN (masih shalat di waktunya) dengan mendapati satu rakaat secara sempurna. Misal ia bangkit dari sujud kedua sebelum matahari tenggelam, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬ركعة‭ ‬من‭ ‬العصر‭ ‬قبل‭ ‬أن‭ ‬تغرب‭ ‬الشمس‭ ‬فقد‭ ‬أدرك‭ ‬العصر“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat Ashar sebelum tenggelam matahari, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.”Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok dalam Shalat Berjamaah Shalat di Rumah BerjamaahKetahuilah bahwa pelaksanaan shalat berjamaah sudah teranggap sah meskipun seorang laki-laki shalat di rumah bersama istrinya atau anggota keluarganya yang lain. Namun demikian, shalat berjamaah di masjid tetap lebih utama. Semakin banyak jamaah yang berkumpul di sebuah masjid, maka semakin utama pula shalat berjamaah di sana.Karena itu, jika dekat rumah terdapat masjid dengan jumlah jamaah sedikit, sedangkan ada masjid lain yang lebih jauh namun jamaahnya lebih banyak, maka shalat di masjid yang jauh lebih utama—kecuali dalam dua kondisi:Bila berpindah ke masjid yang jauh menyebabkan jamaah di masjid terdekat menjadi terbengkalai atau tidak terselenggara.Bila imam di masjid yang jauh tersebut adalah seorang ahli bid’ah, seperti penganut ajaran Mu‘tazilah atau kelompok menyimpang lainnya. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, dan Kifayatul Akhyar Ditulis saat perjalanan Darush Sholihin – Masjid Pogung Dalangan, 8 Jumadilakhir 1447 H, 27 November 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat shalat berjamaah shalat jamaah


Shalat berjamaah adalah syiar agung dalam Islam yang menunjukkan kekuatan ukhuwah dan ketaatan kepada Allah. Para ulama dalam madzhab Syafi’i memberikan perhatian khusus terhadap hukum, keutamaan, dan tata cara mendapati jamaah dalam shalat. Tulisan ini membahas secara ringkas namun komprehensif tentang hukum shalat berjamaah, kondisi wajibnya, hingga berbagai bentuk idrak (ketepatan ikut jamaah) yang perlu diketahui setiap muslim. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata,وَصَلَاةُ‭ ‬الْجَمَاعَةِ‭ ‬سُنَّةٌ‭ ‬مُؤَكَّدَةٌ،‭ ‬وَعَلَى‭ ‬الْمَأْمُومِ‭ ‬أَنْ‭ ‬يَنْوِيَ‭ ‬الِائْتِمَامَ‭ ‬دُونَ‭ ‬الْإِمَامِ‭.‬Shalat berjamaah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), dan bagi makmum wajib berniat untuk mengikuti (imam), sedangkan imam tidak perlu berniat menjadi imam.* Daftar Isi buka 1. Penjelasan 2. Rincian Hukum Shalat Berjamaah 3. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat Berjamaah 3.1. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnah 3.2. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayah 3.3. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ain 4. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah) 5. Shalat di Rumah Berjamaah PenjelasanHukum shalat berjamaah menurut pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi‘i adalah fardhu kifayah (wajib untuk sebagian orang), kecuali shalat Jum’at, hukumnya Fardhu ‘Ain (wajib untuk individu).Hukum fardhu kifayah berlaku untuk:Laki-laki, hukum bagi perempuan: sunnah.Orang merdeka, hukum bagi budak: sunnah.Mukim, hukum bagi musafir: sunnah.Tidak punya uzur; uzur untuk tidak berjamaah: hujan, sangat dingin, sakit, darurat buang hajat, dll.Wajib tampak syiar (agama) dengan menegakkan (shalat berjamaah), maka tidak cukup melakukannya di rumah-rumah. Minimal berjamaah adalah: seorang imam dan satu makmum.  Rincian Hukum Shalat BerjamaahFardhu ‘ain dan syarat sahnya: berjamaah dalam shalat Jum’at.Fardhu kifayah: untuk berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat kusuf (gerhana), istisqa’ (minta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.Khilaful aula: shalat rawatib dan dhuhaMakruh: shalat di belakang imam yang fasik.Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Shubuh di belakang shalat jenazah. (Bidayah Al-Fiqh Asy-Syafi’i, hlm. 275-276)Shalat berjamaah di masjid–untuk selain wanita–lebih utama, kecuali jika didapatkan jamaah di rumah lebih banyak, maka di rumah lebih afdal.Dalam Fathul Qarib disebutkan: Shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat-shalat wajib selain Jum’at hukumnya sunnah muakkadah menurut penulis dan Ar-Rafi‘i. Pendapat yang lebih kuat menurut An-Nawawi: fardhu kifayah. Makmum dianggap mendapatkan jamaah bersama imam dalam shalat selain Jum’at selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun ia belum sempat duduk bersamanya. Argumen Berbagai Pendapat Mengenai Hukum Shalat BerjamaahDalam Fathul Qarib disebutkan: (Dan) wajib (bagi makmum untuk berniat mengikuti) atau bermakmum kepada imam. Tidak wajib menyebutkan siapa imamnya secara spesifik; cukup berniat mengikuti imam yang ada jika ia tidak mengenalnya. Jika ia menetapkan imam tertentu lalu keliru, maka batal shalatnya, kecuali jika ada isyarat yang menyertainya, seperti ia berkata: ‘Aku berniat mengikuti Zaid ini,’ ternyata yang dimaksud adalah ‘Amr, maka shalatnya tetap sah.(Adapun imam), tidak wajib baginya berniat menjadi imam untuk sahnya makmum bermakmum kepadanya selain pada shalat Jumat. Niat imam hanya sunnah baginya. Jika ia tidak berniat sebagai imam, maka shalatnya dihukumi shalat sendiri (munfarid).”Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan: Dasar disyariatkannya shalat berjamaah adalah Al-Qur’an, hadits, dan ijmak ulama. Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ﴾“Dan apabila engkau (wahai Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.” (QS. An-Nisaa’: 102)Ayat ini menunjukkan perintah berjamaah dalam firman-Nya ‘maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu.’ Maka pada kondisi aman tentu lebih utama.Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain pada shalat Jumat. Adapun selain shalat Jumat, terdapat perbedaan pendapat.Menurut pendapat yang sahih menurut Ar-Rafi‘i, hukumnya adalah sunnah. Ada pula yang berpendapat bahwa hukumnya fardu kifayah, dan pendapat ini dinilai sahih oleh An-Nawawi. Ada pula yang berpendapat fardu ‘ain, dan pendapat ini dinilai sahih oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah. Alasan hukum shalat berjamaah itu sunnahAdapun dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa shalat berjamaah itu sunnah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat). Al-Bukhari meriwayatkan dengan lafaz dua puluh lima derajat dari riwayat Abu Sa‘id. Sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ‘lebih utama’ menunjukkan bolehnya kedua cara (shalat berjamaah dan shalat sendirian), karena bentuk perbandingan keutamaan menuntut demikian. Seandainya salah satu dari keduanya terlarang, tentu tidak akan datang dalam bentuk lafaz seperti ini. Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu kifayahAdapun dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa salat berjamaah itu fardu kifayah adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah ada tiga orang di suatu kampung atau di pedalaman yang tidak ditegakkan salat di tengah-tengah mereka, kecuali setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya memakan kambing yang jauh dari kawanannya.” Alasan hukum shalat berjamaah itu fardhu ‘ainDan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardu ‘ain adalah sejumlah hadits, di antaranya sabda Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh, aku hampir memerintahkan untuk mendirikan salat, lalu salat ditegakkan. Kemudian aku memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami manusia, lalu aku pergi bersama beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar menuju suatu kaum yang tidak menghadiri salat, lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka dengan api).Jawabannya: Nabi tidak jadi membakar rumah mereka, dan hal ini terjadi pada kaum munafik. Berbagai Bentuk Idrok (Ketepatan Ikut Jamaah)1. Mendapati SATU RAKAAT ketika mendapati rukuk, di mana makmum rukuk secara thumakninah sebelum imam bangkit.Makmum masbuk dikatakan mendapatkan rukuk bersama imam dengan dua hal: (1) takbiratul ihram lalu bertakbir untuk turun rukuk, tetapi jika mencukupkan satu kali takbir disyaratkan ia melakukan takbiratul ihram, (2) mendapati rukuk bersama imam secara sempurna dan yakin sebelum imam bangkit dari rukuk di mana makmum mendapatinya dengan melakukanya dengan thumakninah dan masih mendapatkan minimal rukuk, yaitu telapak tangannya mendapati lutut. (Lihat Fath Al-Mu’in, hlm. 199).2. Mendapati SHALAT BERJAMAAH dengan mendapati bagian shalat dari imam. Ada perselisihan pendapat dalam madzhab dalam hal kapan mendapati bagian shalat dari imam: – Menurut Imam Ar-Ramli sebelum imam mulai salam pertama. – Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami sebelum pengucapan mim pada kalimat salam “As-salaamu ‘alaikum”.3. Mendapati FADHILAH BERJAMAAH (mendapati takbir pertama bersama imam) di mana makmum mengucapkan takbiratul ihram setelah takbiratul ihram dari imam. Karena hadits:‎فإذا‭ ‬كبر‭ ‬فكبرواس‭ ‬والفاء‭ ‬للتعقيب‭.‬“Jika imam bertakbir, barulah makmum bertakbir.” Hadits ini bermakna ta’qib berurutan dan menunjukkan setelah. Itulah makna huruf fa’.4. Mendapati SHALAT JUMAT BERSAMA IMAM ketika makmum mendapati rukuk imam secara thumakninah sebelum imam bangkit.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬من‭ ‬الجمعة‭ ‬ركعة‭ ‬فليصل‭ ‬معها‭ ‬أخرى“Siapa mendapati satu rakaat shalat Jumat bersama imam, maka hendaklah ia melanjutkan rakaat yang tersisa.”5. Mendapati WAKTU SHALAT ADA’AN (masih shalat di waktunya) dengan mendapati satu rakaat secara sempurna. Misal ia bangkit dari sujud kedua sebelum matahari tenggelam, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.Hal ini berdasarkan hadits:‎من‭ ‬أدرك‭ ‬ركعة‭ ‬من‭ ‬العصر‭ ‬قبل‭ ‬أن‭ ‬تغرب‭ ‬الشمس‭ ‬فقد‭ ‬أدرك‭ ‬العصر“Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat Ashar sebelum tenggelam matahari, berarti ia telah mendapati shalat Ashar di waktunya.”Baca juga: Berbagai Bentuk Idrok dalam Shalat Berjamaah Shalat di Rumah BerjamaahKetahuilah bahwa pelaksanaan shalat berjamaah sudah teranggap sah meskipun seorang laki-laki shalat di rumah bersama istrinya atau anggota keluarganya yang lain. Namun demikian, shalat berjamaah di masjid tetap lebih utama. Semakin banyak jamaah yang berkumpul di sebuah masjid, maka semakin utama pula shalat berjamaah di sana.Karena itu, jika dekat rumah terdapat masjid dengan jumlah jamaah sedikit, sedangkan ada masjid lain yang lebih jauh namun jamaahnya lebih banyak, maka shalat di masjid yang jauh lebih utama—kecuali dalam dua kondisi:Bila berpindah ke masjid yang jauh menyebabkan jamaah di masjid terdekat menjadi terbengkalai atau tidak terselenggara.Bila imam di masjid yang jauh tersebut adalah seorang ahli bid’ah, seperti penganut ajaran Mu‘tazilah atau kelompok menyimpang lainnya. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, dan Kifayatul Akhyar Ditulis saat perjalanan Darush Sholihin – Masjid Pogung Dalangan, 8 Jumadilakhir 1447 H, 27 November 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmatan abu syuja matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat shalat berjamaah shalat jamaah

Dari Air Hina – Masih Sombong? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Tuhan kita telah mengabarkan, bahwa Dia menciptakan manusia dari air mani yang dipancarkan, dari air yang hina, dari air yang ditumpahkan. Sebelum itu, manusia diciptakan dari tanah, dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Lalu, manusia ini justru menjadi pembantah yang nyata. Menentang Tuhannya ‘Azza wa Jalla pada syariat-Nya. Menentang Tuhannya pada ketetapan dan takdir-Nya. Menentang Tuhannya pada perbuatan-perbuatan-Nya. Wahai manusia, ketahuilah kadar dirimu! Kamu, jika dibandingkan dengan kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla, lebih kecil daripada semut kecil jika dibandingkan dengan alam semesta yang besar ini. Seberapa besar ukuran manusia jika dibandingkan dengan bumi?! Seberapa besar ukuran bumi jika dibandingkan dengan tata surya? Hanya benda kecil sekali. Lalu, seberapa besar tata surya dibanding galaksi tempat kita berada? Sangat kecil! Padahal di alam semesta ini terdapat jutaan, bahkan miliaran galaksi. Semuanya beredar di alam semesta yang luas ini dengan bertasbih memuji Allah. “…Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami cara mereka bertasbih…” (QS. Al-Isra: 44). Lalu seberapa besar dirimu, wahai manusia di antara alam semesta yang begitu besar dan luas ini? Maka hendaklah manusia mengetahui kadar dirinya, dan beradab dengan baik terhadap Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. Apabila datang kepadanya kabar dari wahyu, yaitu nash dari Kitabullah, dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, tidak ada ruang untuk menolak, dan tidak layak memperdebatkannya dengan akal. Kewajiban yang pasti adalah berserah diri kepada syariat Allah ‘Azza wa Jalla dan ketetapan-Nya. “Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin atau mukminah, ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36). ===== أَخْبَرَ رَبُّنَا سُبْحَانَهُ أَنَّهُ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ مِنْ مَاءٍ يُرَاقُ وَقَبْلَ ذَلِكَ مِنْ تُرَابٍ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ ثُمَّ إِذَا بِهَذَا الْإِنْسَانِ خَصِيمٌ مُبِينٌ يُخَاصِمُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَرْعِهِ يُخَاصِمُ رَبَّهُ فِي قَضَائِهِ وَقَدَرِهِ يُخَاصِمُ رَبَّهُ فِي أَفْعَالِهِ فَيَا أَيُّهَا الإِنْسَانُ اعْرِفْ قَدْرَكَ أَنْتَ فِي مَلَكُوتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَقَلُّ مِنْ ذَرَّةٍ فِي هَذَا الْمَلَكُوتِ العَظِيمِ مَا حَجْمُ الْإِنْسَانِ فِي الْأَرْضِ؟ وَمَا حَجْمُ الْكُرَةِ الْأَرْضِيَّةِ فِي الْمَجْمُوعَةِ الشَّمْسِيَّةِ؟ جُرْمٌ صَغِيرٌ وَمَا حَجْمُ الْمَجْمُوعَةِ الشَّمْسِيَّةِ فِي الْمَجَرَّةِ الَّتِي نَعِيشُ فِيهَا؟ صَغِيرَةٌ وَفِي الْكَوْنِ مَلَايِينُ بَلْ بَلَايِينُ الْمَجَرَّاتِ تَسْبَحُ فِي هَذَا الْكَوْنِ الفَسِيحِ تُسَبِّحُ بِحَمْدِ اللَّهِ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ فَمَا حَجْمُكَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ فِي هَذَا الْكَوْنِ الْعَظِيمِ الفَسِيحِ؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْرِفَ الْإِنْسَانُ قَدْرَهُ وَأَنْ يَتَأَدَّبَ مَعَ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا أَتَى الْخَبَرُ مِنَ الْوَحْيِ أَتَى النَّصُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَمَا صَحَّ مِنْ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا مَجَالَ لِلاعْتِرَاضِ وَلَا مَجَالَ لِإِعْمَالِ الْعَقْلِ بَلِ الْوَاجِبُ الِاسْتِسْلَامُ لِشَرْعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحُكْمِهِ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dari Air Hina – Masih Sombong? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Tuhan kita telah mengabarkan, bahwa Dia menciptakan manusia dari air mani yang dipancarkan, dari air yang hina, dari air yang ditumpahkan. Sebelum itu, manusia diciptakan dari tanah, dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Lalu, manusia ini justru menjadi pembantah yang nyata. Menentang Tuhannya ‘Azza wa Jalla pada syariat-Nya. Menentang Tuhannya pada ketetapan dan takdir-Nya. Menentang Tuhannya pada perbuatan-perbuatan-Nya. Wahai manusia, ketahuilah kadar dirimu! Kamu, jika dibandingkan dengan kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla, lebih kecil daripada semut kecil jika dibandingkan dengan alam semesta yang besar ini. Seberapa besar ukuran manusia jika dibandingkan dengan bumi?! Seberapa besar ukuran bumi jika dibandingkan dengan tata surya? Hanya benda kecil sekali. Lalu, seberapa besar tata surya dibanding galaksi tempat kita berada? Sangat kecil! Padahal di alam semesta ini terdapat jutaan, bahkan miliaran galaksi. Semuanya beredar di alam semesta yang luas ini dengan bertasbih memuji Allah. “…Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami cara mereka bertasbih…” (QS. Al-Isra: 44). Lalu seberapa besar dirimu, wahai manusia di antara alam semesta yang begitu besar dan luas ini? Maka hendaklah manusia mengetahui kadar dirinya, dan beradab dengan baik terhadap Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. Apabila datang kepadanya kabar dari wahyu, yaitu nash dari Kitabullah, dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, tidak ada ruang untuk menolak, dan tidak layak memperdebatkannya dengan akal. Kewajiban yang pasti adalah berserah diri kepada syariat Allah ‘Azza wa Jalla dan ketetapan-Nya. “Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin atau mukminah, ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36). ===== أَخْبَرَ رَبُّنَا سُبْحَانَهُ أَنَّهُ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ مِنْ مَاءٍ يُرَاقُ وَقَبْلَ ذَلِكَ مِنْ تُرَابٍ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ ثُمَّ إِذَا بِهَذَا الْإِنْسَانِ خَصِيمٌ مُبِينٌ يُخَاصِمُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَرْعِهِ يُخَاصِمُ رَبَّهُ فِي قَضَائِهِ وَقَدَرِهِ يُخَاصِمُ رَبَّهُ فِي أَفْعَالِهِ فَيَا أَيُّهَا الإِنْسَانُ اعْرِفْ قَدْرَكَ أَنْتَ فِي مَلَكُوتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَقَلُّ مِنْ ذَرَّةٍ فِي هَذَا الْمَلَكُوتِ العَظِيمِ مَا حَجْمُ الْإِنْسَانِ فِي الْأَرْضِ؟ وَمَا حَجْمُ الْكُرَةِ الْأَرْضِيَّةِ فِي الْمَجْمُوعَةِ الشَّمْسِيَّةِ؟ جُرْمٌ صَغِيرٌ وَمَا حَجْمُ الْمَجْمُوعَةِ الشَّمْسِيَّةِ فِي الْمَجَرَّةِ الَّتِي نَعِيشُ فِيهَا؟ صَغِيرَةٌ وَفِي الْكَوْنِ مَلَايِينُ بَلْ بَلَايِينُ الْمَجَرَّاتِ تَسْبَحُ فِي هَذَا الْكَوْنِ الفَسِيحِ تُسَبِّحُ بِحَمْدِ اللَّهِ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ فَمَا حَجْمُكَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ فِي هَذَا الْكَوْنِ الْعَظِيمِ الفَسِيحِ؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْرِفَ الْإِنْسَانُ قَدْرَهُ وَأَنْ يَتَأَدَّبَ مَعَ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا أَتَى الْخَبَرُ مِنَ الْوَحْيِ أَتَى النَّصُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَمَا صَحَّ مِنْ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا مَجَالَ لِلاعْتِرَاضِ وَلَا مَجَالَ لِإِعْمَالِ الْعَقْلِ بَلِ الْوَاجِبُ الِاسْتِسْلَامُ لِشَرْعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحُكْمِهِ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
Tuhan kita telah mengabarkan, bahwa Dia menciptakan manusia dari air mani yang dipancarkan, dari air yang hina, dari air yang ditumpahkan. Sebelum itu, manusia diciptakan dari tanah, dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Lalu, manusia ini justru menjadi pembantah yang nyata. Menentang Tuhannya ‘Azza wa Jalla pada syariat-Nya. Menentang Tuhannya pada ketetapan dan takdir-Nya. Menentang Tuhannya pada perbuatan-perbuatan-Nya. Wahai manusia, ketahuilah kadar dirimu! Kamu, jika dibandingkan dengan kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla, lebih kecil daripada semut kecil jika dibandingkan dengan alam semesta yang besar ini. Seberapa besar ukuran manusia jika dibandingkan dengan bumi?! Seberapa besar ukuran bumi jika dibandingkan dengan tata surya? Hanya benda kecil sekali. Lalu, seberapa besar tata surya dibanding galaksi tempat kita berada? Sangat kecil! Padahal di alam semesta ini terdapat jutaan, bahkan miliaran galaksi. Semuanya beredar di alam semesta yang luas ini dengan bertasbih memuji Allah. “…Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami cara mereka bertasbih…” (QS. Al-Isra: 44). Lalu seberapa besar dirimu, wahai manusia di antara alam semesta yang begitu besar dan luas ini? Maka hendaklah manusia mengetahui kadar dirinya, dan beradab dengan baik terhadap Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. Apabila datang kepadanya kabar dari wahyu, yaitu nash dari Kitabullah, dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, tidak ada ruang untuk menolak, dan tidak layak memperdebatkannya dengan akal. Kewajiban yang pasti adalah berserah diri kepada syariat Allah ‘Azza wa Jalla dan ketetapan-Nya. “Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin atau mukminah, ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36). ===== أَخْبَرَ رَبُّنَا سُبْحَانَهُ أَنَّهُ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ مِنْ مَاءٍ يُرَاقُ وَقَبْلَ ذَلِكَ مِنْ تُرَابٍ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ ثُمَّ إِذَا بِهَذَا الْإِنْسَانِ خَصِيمٌ مُبِينٌ يُخَاصِمُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَرْعِهِ يُخَاصِمُ رَبَّهُ فِي قَضَائِهِ وَقَدَرِهِ يُخَاصِمُ رَبَّهُ فِي أَفْعَالِهِ فَيَا أَيُّهَا الإِنْسَانُ اعْرِفْ قَدْرَكَ أَنْتَ فِي مَلَكُوتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَقَلُّ مِنْ ذَرَّةٍ فِي هَذَا الْمَلَكُوتِ العَظِيمِ مَا حَجْمُ الْإِنْسَانِ فِي الْأَرْضِ؟ وَمَا حَجْمُ الْكُرَةِ الْأَرْضِيَّةِ فِي الْمَجْمُوعَةِ الشَّمْسِيَّةِ؟ جُرْمٌ صَغِيرٌ وَمَا حَجْمُ الْمَجْمُوعَةِ الشَّمْسِيَّةِ فِي الْمَجَرَّةِ الَّتِي نَعِيشُ فِيهَا؟ صَغِيرَةٌ وَفِي الْكَوْنِ مَلَايِينُ بَلْ بَلَايِينُ الْمَجَرَّاتِ تَسْبَحُ فِي هَذَا الْكَوْنِ الفَسِيحِ تُسَبِّحُ بِحَمْدِ اللَّهِ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ فَمَا حَجْمُكَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ فِي هَذَا الْكَوْنِ الْعَظِيمِ الفَسِيحِ؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْرِفَ الْإِنْسَانُ قَدْرَهُ وَأَنْ يَتَأَدَّبَ مَعَ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا أَتَى الْخَبَرُ مِنَ الْوَحْيِ أَتَى النَّصُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَمَا صَحَّ مِنْ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا مَجَالَ لِلاعْتِرَاضِ وَلَا مَجَالَ لِإِعْمَالِ الْعَقْلِ بَلِ الْوَاجِبُ الِاسْتِسْلَامُ لِشَرْعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحُكْمِهِ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ


Tuhan kita telah mengabarkan, bahwa Dia menciptakan manusia dari air mani yang dipancarkan, dari air yang hina, dari air yang ditumpahkan. Sebelum itu, manusia diciptakan dari tanah, dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Lalu, manusia ini justru menjadi pembantah yang nyata. Menentang Tuhannya ‘Azza wa Jalla pada syariat-Nya. Menentang Tuhannya pada ketetapan dan takdir-Nya. Menentang Tuhannya pada perbuatan-perbuatan-Nya. Wahai manusia, ketahuilah kadar dirimu! Kamu, jika dibandingkan dengan kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla, lebih kecil daripada semut kecil jika dibandingkan dengan alam semesta yang besar ini. Seberapa besar ukuran manusia jika dibandingkan dengan bumi?! Seberapa besar ukuran bumi jika dibandingkan dengan tata surya? Hanya benda kecil sekali. Lalu, seberapa besar tata surya dibanding galaksi tempat kita berada? Sangat kecil! Padahal di alam semesta ini terdapat jutaan, bahkan miliaran galaksi. Semuanya beredar di alam semesta yang luas ini dengan bertasbih memuji Allah. “…Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami cara mereka bertasbih…” (QS. Al-Isra: 44). Lalu seberapa besar dirimu, wahai manusia di antara alam semesta yang begitu besar dan luas ini? Maka hendaklah manusia mengetahui kadar dirinya, dan beradab dengan baik terhadap Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. Apabila datang kepadanya kabar dari wahyu, yaitu nash dari Kitabullah, dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, tidak ada ruang untuk menolak, dan tidak layak memperdebatkannya dengan akal. Kewajiban yang pasti adalah berserah diri kepada syariat Allah ‘Azza wa Jalla dan ketetapan-Nya. “Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin atau mukminah, ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36). ===== أَخْبَرَ رَبُّنَا سُبْحَانَهُ أَنَّهُ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ مِنْ مَاءٍ يُرَاقُ وَقَبْلَ ذَلِكَ مِنْ تُرَابٍ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ ثُمَّ إِذَا بِهَذَا الْإِنْسَانِ خَصِيمٌ مُبِينٌ يُخَاصِمُ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَرْعِهِ يُخَاصِمُ رَبَّهُ فِي قَضَائِهِ وَقَدَرِهِ يُخَاصِمُ رَبَّهُ فِي أَفْعَالِهِ فَيَا أَيُّهَا الإِنْسَانُ اعْرِفْ قَدْرَكَ أَنْتَ فِي مَلَكُوتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَقَلُّ مِنْ ذَرَّةٍ فِي هَذَا الْمَلَكُوتِ العَظِيمِ مَا حَجْمُ الْإِنْسَانِ فِي الْأَرْضِ؟ وَمَا حَجْمُ الْكُرَةِ الْأَرْضِيَّةِ فِي الْمَجْمُوعَةِ الشَّمْسِيَّةِ؟ جُرْمٌ صَغِيرٌ وَمَا حَجْمُ الْمَجْمُوعَةِ الشَّمْسِيَّةِ فِي الْمَجَرَّةِ الَّتِي نَعِيشُ فِيهَا؟ صَغِيرَةٌ وَفِي الْكَوْنِ مَلَايِينُ بَلْ بَلَايِينُ الْمَجَرَّاتِ تَسْبَحُ فِي هَذَا الْكَوْنِ الفَسِيحِ تُسَبِّحُ بِحَمْدِ اللَّهِ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ فَمَا حَجْمُكَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ فِي هَذَا الْكَوْنِ الْعَظِيمِ الفَسِيحِ؟ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْرِفَ الْإِنْسَانُ قَدْرَهُ وَأَنْ يَتَأَدَّبَ مَعَ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا أَتَى الْخَبَرُ مِنَ الْوَحْيِ أَتَى النَّصُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَمَا صَحَّ مِنْ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا مَجَالَ لِلاعْتِرَاضِ وَلَا مَجَالَ لِإِعْمَالِ الْعَقْلِ بَلِ الْوَاجِبُ الِاسْتِسْلَامُ لِشَرْعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحُكْمِهِ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Ketika Allah Memberi Kesempatan Kedua: Masih Adakah Kesempatan Itu Untukku?

Daftar Isi ToggleRahmat Allah: Ruang untuk kesempatan keduaSemua orang berhak atas kesempatan keduaAnakmu adalah kesempatan kedua bagimuMenjemput kesempatan kedua, bukti cinta Allah kepada hamba-NyaMasih adakah pintu yang terbuka setelah kesempatan kedua?Ada pepatah yang mengatakan, “Kesempatan tidak datang dua kali.” Namun dalam pandangan Islam, kita belajar bahwa Allah tidak menutup pintu bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Kesempatan kedua bukanlah tentang mengulang masa lalu, tetapi tentang membuka lembaran baru dengan belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah berlalu.Rahmat Allah: Ruang untuk kesempatan keduaDalam hidup, manusia tak luput dari salah dan dosa. Namun, kasih sayang Allah jauh melampaui kemurkaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini adalah bukti bahwa kesempatan kedua selalu terbuka bagi mereka yang mau kembali. Selama napas masih berhembus, pintu tobat belum tertutup. Kesempatan kedua bukan untuk mengulang kesalahan, tetapi untuk menebus dan memperbaikinya.Semua orang berhak atas kesempatan keduaIslam mengajarkan keseimbangan antara kasih sayang dan tanggung jawab. Allah Maha Pengampun, namun juga Maha Adil. Kesempatan kedua bukan berarti pembenaran untuk mengulangi dosa, tetapi panggilan untuk berubah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)Artinya, kesempatan kedua adalah ujian kejujuran niat. Apakah kita sungguh ingin memperbaiki diri, atau sekadar mencari alasan agar terhindar dari celaan manusia atas dosa dan kesalahannya?Anakmu adalah kesempatan kedua bagimuTerkadang, kesempatan kedua tidak datang pada diri kita, tetapi melalui generasi setelah kita. Anak adalah cermin masa depan dan panjang tangan dari usaha, pendidikan serta doa kita. Jika masa lalu kita penuh kekurangan, maka anak adalah ladang perbaikan. Melalui mereka, kita bisa menanamkan nilai yang dulu luput kita jalankan.Anak bukan hanya amanah, tetapi juga anugerah untuk menebus hal-hal yang belum sempat kita benahi. Ia adalah kesempatan kedua yang hidup, yang bisa kita arahkan menuju kebaikan agar tidak mengulang kesalahan yang sama.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)Dalam proses mendidik dan membesarkan anak-anak, kita bisa meraih tiga jariyah di atas sekaligus. Nafkah adalah sedekah terbaik yang kita berikan kepada mereka, pendidikan adalah ilmu jariyah yang kita tanamkan, dan doa dari anak yang saleh adalah buah dari nafkah halal serta pendidikan yang kita ajarkan.Menjemput kesempatan kedua, bukti cinta Allah kepada hamba-NyaSetiap manusia berhak mendapat kesempatan kedua, karena setiap hati berhak disembuhkan oleh harapan. Namun, jangan sia-siakan rahmat itu dengan menunda perubahan. Karena kesempatan kedua adalah bukti bahwa Allah masih mencintai kita, meski kita pernah jauh dari-Nya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ“Setiap anak Adam pasti (pernah) berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499)Dalam riwayat yang lain,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kesempatan kedua adalah taufik dari Allah. Gunakanlah ia bukan untuk mengulang kesalahan, tetapi untuk menulis kisah baru yang penuh dengan lembaran kebaikan.Masih adakah pintu yang terbuka setelah kesempatan kedua?Manusia adalah makhluk yang mudah tergelincir. Kita jatuh, terpuruk, dan menyesal. Namun, Allah tidak menilai kita dari berapa kali kita terjatuh, tetapi seberapa tulus kita bangkit dan kembali kepada-Nya. Selama hidup masih berlanjut dan napas masih terhembus, kesempatan itu tetap terbuka.Islam bukan agama yang menutup pintu harapan. Islam adalah agama yang memeluk manusia ketika ia alpa, lalu mengajaknya tumbuh menjadi hamba yang lebih bertakwa. Selama hati masih mau menyesal, lisan masih mau beristigfar, berusaha untuk menjauhi dan tidak mengulanginya, maka Allah tidak akan menolak tobat hamba-Nya selama ia tidak berbuat syirik dan menyekutukan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya selama nyawa (ruh)nya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi no. 3537)Selama kehidupan belum berakhir, selama mata masih bisa meneteskan air penyesalan, selama hati masih bisa berbisik lirih, “Ya Allah, ampuni Aku,” selama itu pula kesempatan terus ada.Namun, satu hal yang perlu kita renungkan, kesempatan itu tidak selamanya datang dengan bentuk yang sama. Bisa jadi kali ini ia hadir dalam ujian, dalam kehilangan, dalam peringatan, atau bahkan dalam luka yang memaksa kita untuk sadar.Sebelum ajal itu tiba, gunakan setiap napas untuk memperbaiki diri. Karena selama hidup masih ada, kesempatan tidak berhenti di angka dua, ia terus terbuka bagi hati yang tak lelah kembali kepada sang Pencipta.Baca juga: Kesempatan Mengetuk Pintu Sang Raja***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Ketika Allah Memberi Kesempatan Kedua: Masih Adakah Kesempatan Itu Untukku?

Daftar Isi ToggleRahmat Allah: Ruang untuk kesempatan keduaSemua orang berhak atas kesempatan keduaAnakmu adalah kesempatan kedua bagimuMenjemput kesempatan kedua, bukti cinta Allah kepada hamba-NyaMasih adakah pintu yang terbuka setelah kesempatan kedua?Ada pepatah yang mengatakan, “Kesempatan tidak datang dua kali.” Namun dalam pandangan Islam, kita belajar bahwa Allah tidak menutup pintu bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Kesempatan kedua bukanlah tentang mengulang masa lalu, tetapi tentang membuka lembaran baru dengan belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah berlalu.Rahmat Allah: Ruang untuk kesempatan keduaDalam hidup, manusia tak luput dari salah dan dosa. Namun, kasih sayang Allah jauh melampaui kemurkaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini adalah bukti bahwa kesempatan kedua selalu terbuka bagi mereka yang mau kembali. Selama napas masih berhembus, pintu tobat belum tertutup. Kesempatan kedua bukan untuk mengulang kesalahan, tetapi untuk menebus dan memperbaikinya.Semua orang berhak atas kesempatan keduaIslam mengajarkan keseimbangan antara kasih sayang dan tanggung jawab. Allah Maha Pengampun, namun juga Maha Adil. Kesempatan kedua bukan berarti pembenaran untuk mengulangi dosa, tetapi panggilan untuk berubah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)Artinya, kesempatan kedua adalah ujian kejujuran niat. Apakah kita sungguh ingin memperbaiki diri, atau sekadar mencari alasan agar terhindar dari celaan manusia atas dosa dan kesalahannya?Anakmu adalah kesempatan kedua bagimuTerkadang, kesempatan kedua tidak datang pada diri kita, tetapi melalui generasi setelah kita. Anak adalah cermin masa depan dan panjang tangan dari usaha, pendidikan serta doa kita. Jika masa lalu kita penuh kekurangan, maka anak adalah ladang perbaikan. Melalui mereka, kita bisa menanamkan nilai yang dulu luput kita jalankan.Anak bukan hanya amanah, tetapi juga anugerah untuk menebus hal-hal yang belum sempat kita benahi. Ia adalah kesempatan kedua yang hidup, yang bisa kita arahkan menuju kebaikan agar tidak mengulang kesalahan yang sama.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)Dalam proses mendidik dan membesarkan anak-anak, kita bisa meraih tiga jariyah di atas sekaligus. Nafkah adalah sedekah terbaik yang kita berikan kepada mereka, pendidikan adalah ilmu jariyah yang kita tanamkan, dan doa dari anak yang saleh adalah buah dari nafkah halal serta pendidikan yang kita ajarkan.Menjemput kesempatan kedua, bukti cinta Allah kepada hamba-NyaSetiap manusia berhak mendapat kesempatan kedua, karena setiap hati berhak disembuhkan oleh harapan. Namun, jangan sia-siakan rahmat itu dengan menunda perubahan. Karena kesempatan kedua adalah bukti bahwa Allah masih mencintai kita, meski kita pernah jauh dari-Nya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ“Setiap anak Adam pasti (pernah) berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499)Dalam riwayat yang lain,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kesempatan kedua adalah taufik dari Allah. Gunakanlah ia bukan untuk mengulang kesalahan, tetapi untuk menulis kisah baru yang penuh dengan lembaran kebaikan.Masih adakah pintu yang terbuka setelah kesempatan kedua?Manusia adalah makhluk yang mudah tergelincir. Kita jatuh, terpuruk, dan menyesal. Namun, Allah tidak menilai kita dari berapa kali kita terjatuh, tetapi seberapa tulus kita bangkit dan kembali kepada-Nya. Selama hidup masih berlanjut dan napas masih terhembus, kesempatan itu tetap terbuka.Islam bukan agama yang menutup pintu harapan. Islam adalah agama yang memeluk manusia ketika ia alpa, lalu mengajaknya tumbuh menjadi hamba yang lebih bertakwa. Selama hati masih mau menyesal, lisan masih mau beristigfar, berusaha untuk menjauhi dan tidak mengulanginya, maka Allah tidak akan menolak tobat hamba-Nya selama ia tidak berbuat syirik dan menyekutukan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya selama nyawa (ruh)nya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi no. 3537)Selama kehidupan belum berakhir, selama mata masih bisa meneteskan air penyesalan, selama hati masih bisa berbisik lirih, “Ya Allah, ampuni Aku,” selama itu pula kesempatan terus ada.Namun, satu hal yang perlu kita renungkan, kesempatan itu tidak selamanya datang dengan bentuk yang sama. Bisa jadi kali ini ia hadir dalam ujian, dalam kehilangan, dalam peringatan, atau bahkan dalam luka yang memaksa kita untuk sadar.Sebelum ajal itu tiba, gunakan setiap napas untuk memperbaiki diri. Karena selama hidup masih ada, kesempatan tidak berhenti di angka dua, ia terus terbuka bagi hati yang tak lelah kembali kepada sang Pencipta.Baca juga: Kesempatan Mengetuk Pintu Sang Raja***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleRahmat Allah: Ruang untuk kesempatan keduaSemua orang berhak atas kesempatan keduaAnakmu adalah kesempatan kedua bagimuMenjemput kesempatan kedua, bukti cinta Allah kepada hamba-NyaMasih adakah pintu yang terbuka setelah kesempatan kedua?Ada pepatah yang mengatakan, “Kesempatan tidak datang dua kali.” Namun dalam pandangan Islam, kita belajar bahwa Allah tidak menutup pintu bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Kesempatan kedua bukanlah tentang mengulang masa lalu, tetapi tentang membuka lembaran baru dengan belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah berlalu.Rahmat Allah: Ruang untuk kesempatan keduaDalam hidup, manusia tak luput dari salah dan dosa. Namun, kasih sayang Allah jauh melampaui kemurkaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini adalah bukti bahwa kesempatan kedua selalu terbuka bagi mereka yang mau kembali. Selama napas masih berhembus, pintu tobat belum tertutup. Kesempatan kedua bukan untuk mengulang kesalahan, tetapi untuk menebus dan memperbaikinya.Semua orang berhak atas kesempatan keduaIslam mengajarkan keseimbangan antara kasih sayang dan tanggung jawab. Allah Maha Pengampun, namun juga Maha Adil. Kesempatan kedua bukan berarti pembenaran untuk mengulangi dosa, tetapi panggilan untuk berubah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)Artinya, kesempatan kedua adalah ujian kejujuran niat. Apakah kita sungguh ingin memperbaiki diri, atau sekadar mencari alasan agar terhindar dari celaan manusia atas dosa dan kesalahannya?Anakmu adalah kesempatan kedua bagimuTerkadang, kesempatan kedua tidak datang pada diri kita, tetapi melalui generasi setelah kita. Anak adalah cermin masa depan dan panjang tangan dari usaha, pendidikan serta doa kita. Jika masa lalu kita penuh kekurangan, maka anak adalah ladang perbaikan. Melalui mereka, kita bisa menanamkan nilai yang dulu luput kita jalankan.Anak bukan hanya amanah, tetapi juga anugerah untuk menebus hal-hal yang belum sempat kita benahi. Ia adalah kesempatan kedua yang hidup, yang bisa kita arahkan menuju kebaikan agar tidak mengulang kesalahan yang sama.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)Dalam proses mendidik dan membesarkan anak-anak, kita bisa meraih tiga jariyah di atas sekaligus. Nafkah adalah sedekah terbaik yang kita berikan kepada mereka, pendidikan adalah ilmu jariyah yang kita tanamkan, dan doa dari anak yang saleh adalah buah dari nafkah halal serta pendidikan yang kita ajarkan.Menjemput kesempatan kedua, bukti cinta Allah kepada hamba-NyaSetiap manusia berhak mendapat kesempatan kedua, karena setiap hati berhak disembuhkan oleh harapan. Namun, jangan sia-siakan rahmat itu dengan menunda perubahan. Karena kesempatan kedua adalah bukti bahwa Allah masih mencintai kita, meski kita pernah jauh dari-Nya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ“Setiap anak Adam pasti (pernah) berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499)Dalam riwayat yang lain,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kesempatan kedua adalah taufik dari Allah. Gunakanlah ia bukan untuk mengulang kesalahan, tetapi untuk menulis kisah baru yang penuh dengan lembaran kebaikan.Masih adakah pintu yang terbuka setelah kesempatan kedua?Manusia adalah makhluk yang mudah tergelincir. Kita jatuh, terpuruk, dan menyesal. Namun, Allah tidak menilai kita dari berapa kali kita terjatuh, tetapi seberapa tulus kita bangkit dan kembali kepada-Nya. Selama hidup masih berlanjut dan napas masih terhembus, kesempatan itu tetap terbuka.Islam bukan agama yang menutup pintu harapan. Islam adalah agama yang memeluk manusia ketika ia alpa, lalu mengajaknya tumbuh menjadi hamba yang lebih bertakwa. Selama hati masih mau menyesal, lisan masih mau beristigfar, berusaha untuk menjauhi dan tidak mengulanginya, maka Allah tidak akan menolak tobat hamba-Nya selama ia tidak berbuat syirik dan menyekutukan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya selama nyawa (ruh)nya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi no. 3537)Selama kehidupan belum berakhir, selama mata masih bisa meneteskan air penyesalan, selama hati masih bisa berbisik lirih, “Ya Allah, ampuni Aku,” selama itu pula kesempatan terus ada.Namun, satu hal yang perlu kita renungkan, kesempatan itu tidak selamanya datang dengan bentuk yang sama. Bisa jadi kali ini ia hadir dalam ujian, dalam kehilangan, dalam peringatan, atau bahkan dalam luka yang memaksa kita untuk sadar.Sebelum ajal itu tiba, gunakan setiap napas untuk memperbaiki diri. Karena selama hidup masih ada, kesempatan tidak berhenti di angka dua, ia terus terbuka bagi hati yang tak lelah kembali kepada sang Pencipta.Baca juga: Kesempatan Mengetuk Pintu Sang Raja***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleRahmat Allah: Ruang untuk kesempatan keduaSemua orang berhak atas kesempatan keduaAnakmu adalah kesempatan kedua bagimuMenjemput kesempatan kedua, bukti cinta Allah kepada hamba-NyaMasih adakah pintu yang terbuka setelah kesempatan kedua?Ada pepatah yang mengatakan, “Kesempatan tidak datang dua kali.” Namun dalam pandangan Islam, kita belajar bahwa Allah tidak menutup pintu bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Kesempatan kedua bukanlah tentang mengulang masa lalu, tetapi tentang membuka lembaran baru dengan belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah berlalu.Rahmat Allah: Ruang untuk kesempatan keduaDalam hidup, manusia tak luput dari salah dan dosa. Namun, kasih sayang Allah jauh melampaui kemurkaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)Ayat ini adalah bukti bahwa kesempatan kedua selalu terbuka bagi mereka yang mau kembali. Selama napas masih berhembus, pintu tobat belum tertutup. Kesempatan kedua bukan untuk mengulang kesalahan, tetapi untuk menebus dan memperbaikinya.Semua orang berhak atas kesempatan keduaIslam mengajarkan keseimbangan antara kasih sayang dan tanggung jawab. Allah Maha Pengampun, namun juga Maha Adil. Kesempatan kedua bukan berarti pembenaran untuk mengulangi dosa, tetapi panggilan untuk berubah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)Artinya, kesempatan kedua adalah ujian kejujuran niat. Apakah kita sungguh ingin memperbaiki diri, atau sekadar mencari alasan agar terhindar dari celaan manusia atas dosa dan kesalahannya?Anakmu adalah kesempatan kedua bagimuTerkadang, kesempatan kedua tidak datang pada diri kita, tetapi melalui generasi setelah kita. Anak adalah cermin masa depan dan panjang tangan dari usaha, pendidikan serta doa kita. Jika masa lalu kita penuh kekurangan, maka anak adalah ladang perbaikan. Melalui mereka, kita bisa menanamkan nilai yang dulu luput kita jalankan.Anak bukan hanya amanah, tetapi juga anugerah untuk menebus hal-hal yang belum sempat kita benahi. Ia adalah kesempatan kedua yang hidup, yang bisa kita arahkan menuju kebaikan agar tidak mengulang kesalahan yang sama.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)Dalam proses mendidik dan membesarkan anak-anak, kita bisa meraih tiga jariyah di atas sekaligus. Nafkah adalah sedekah terbaik yang kita berikan kepada mereka, pendidikan adalah ilmu jariyah yang kita tanamkan, dan doa dari anak yang saleh adalah buah dari nafkah halal serta pendidikan yang kita ajarkan.Menjemput kesempatan kedua, bukti cinta Allah kepada hamba-NyaSetiap manusia berhak mendapat kesempatan kedua, karena setiap hati berhak disembuhkan oleh harapan. Namun, jangan sia-siakan rahmat itu dengan menunda perubahan. Karena kesempatan kedua adalah bukti bahwa Allah masih mencintai kita, meski kita pernah jauh dari-Nya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ“Setiap anak Adam pasti (pernah) berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499)Dalam riwayat yang lain,اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan tobat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kesempatan kedua adalah taufik dari Allah. Gunakanlah ia bukan untuk mengulang kesalahan, tetapi untuk menulis kisah baru yang penuh dengan lembaran kebaikan.Masih adakah pintu yang terbuka setelah kesempatan kedua?Manusia adalah makhluk yang mudah tergelincir. Kita jatuh, terpuruk, dan menyesal. Namun, Allah tidak menilai kita dari berapa kali kita terjatuh, tetapi seberapa tulus kita bangkit dan kembali kepada-Nya. Selama hidup masih berlanjut dan napas masih terhembus, kesempatan itu tetap terbuka.Islam bukan agama yang menutup pintu harapan. Islam adalah agama yang memeluk manusia ketika ia alpa, lalu mengajaknya tumbuh menjadi hamba yang lebih bertakwa. Selama hati masih mau menyesal, lisan masih mau beristigfar, berusaha untuk menjauhi dan tidak mengulanginya, maka Allah tidak akan menolak tobat hamba-Nya selama ia tidak berbuat syirik dan menyekutukan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya selama nyawa (ruh)nya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi no. 3537)Selama kehidupan belum berakhir, selama mata masih bisa meneteskan air penyesalan, selama hati masih bisa berbisik lirih, “Ya Allah, ampuni Aku,” selama itu pula kesempatan terus ada.Namun, satu hal yang perlu kita renungkan, kesempatan itu tidak selamanya datang dengan bentuk yang sama. Bisa jadi kali ini ia hadir dalam ujian, dalam kehilangan, dalam peringatan, atau bahkan dalam luka yang memaksa kita untuk sadar.Sebelum ajal itu tiba, gunakan setiap napas untuk memperbaiki diri. Karena selama hidup masih ada, kesempatan tidak berhenti di angka dua, ia terus terbuka bagi hati yang tak lelah kembali kepada sang Pencipta.Baca juga: Kesempatan Mengetuk Pintu Sang Raja***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 11): At-Tatsabbut dan At-Tabayyun

Daftar Isi ToggleMakna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunPerintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)KesimpulanDakwah adalah seruan mulia kepada Allah ﷻ. Ia hendaknya di atas ilmu yang kokoh (tsabit) dan tidak ada keraguan di dalamnya. Begitupula, dakwah adalah bagian dari amar maruf nahi munkar. Termasuk dalam fikih amar maruf nahi munkar adalah memastikan perkara itu benar-benar maruf untuk diserukan, serta memastikan perkara itu adalah kemungkaran yang perlu ditentang. Medan dakwah tidak akan pernah lepas dari urusan tersebut.Banyak sekali perselisihan terjadi salah satunya datang dari pintu ini: ketergesa-gesaan. Misalnya, seorang dai mendapatkan kabar tidak baik dari orang lain –semisal murid atau rekannya– tentang si fulan. Kabar tersebut belum dipastikan kebenarannya. Tetapi, karena tersulut emosi atau karena semangatnya untuk amar maruf nahi munkar, kemudian ia pun merespons kabar itu dengan tulisan ataupun ceramahnya ke hadapan publik. Akhirnya, sampailah respons tersebut kepada si fulan, dan ternyata tidak benarlah kabar tersebut. Maka, keadaan ini tentu menyakitkan bagi si fulan. Bisa jadi dengan hal demikian, si fulan pun bangkit membalas respons tersebut. Akhirnya, terjadilah perselisihan di medan dakwah yang tidak diharapkan. Jika landasan perselisihannya demikian, maka mudah kita ketahui bahwa ini perselisihan yang tidak lagi ilmiah, melainkan berlandaskan emosi semata.Contoh di atas adalah keadaan umum yang bisa terjadi kepada siapa saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjalankan dakwah di atas manhaj at-tatsabbut. InsyaAllah, kita akan mengenalnya dalam artikel ini, semoga menjadi jalan untuk kita mengamalkannya di keseharian.Makna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)At-tatsabbut (التَّثَبُّتُ) adalah mashdar dari kata tatsabbata (تَثَبَّت), berarti yakin memastikan. Secara bahasa, tatsabbut berarti,التَّأنِّي في الأمرِ وعَدَمُ الاستعجالِ فيه“Berhati-hati dalam suatu urusan dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”Contoh penggunaannya adalah kalimat, “تَثَبَّت في رأيِه وأمرِه”, maknanya adalah apabila seseorang tidak terburu-buru dan bersikap tenang dalam memutuskan. Dan dikatakan pula, “استَثْبَت في أمرِه”; maknanya yaitu apabila ia meminta pendapat, berkonsultasi, dan meneliti suatu perkara. Berdasarkan makna bahasa, at-tatsabbut adalah sikap tenang dalam memutuskan. At-tatsabbut dicapai dengan seseorang itu meneliti dan berkonsultasi dengan orang lain ketika memutuskan suatu perkara.Secara istilah, at-tatsabbut didefinisikan para ulama sebagai berikut,“At-tatsabbut adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap keadaan ketika seseorang menghadapi sesuatu yang menimbulkan keraguan, hingga perkara itu menjadi jelas baginya dan ia dapat melihat mana yang benar, tepat, dan hakikatnya. Termasuk di dalamnya mengerahkan usaha untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari perkara yang dihadapi.” (Fathul Qadir, 5: 71; karya Asy-Syaukani, dinukilkan dalam Taisir Karimir Rahman li As-Sa’di) [1]Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunDalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Terdapat dua qiraah pada kalimat “فَتَبَيَّنُوٓا۟”, yakni di qiraah lain digunakan kata “فتَّثَبُّت”. Para ulama berbeda pendapat tentang kedua qiraah ini. Ada yang mengatakan maknanya sama, yakni orang-orang yang mutatsabbit (bersikap tsabbut) itu sama dengan orang yang mutabayyin (melakukan tabayyun), dan sebaliknya. Namun, banyak ulama lainnya yang menerangkan perbedaannya. [2]Abu Ali Al-Farisi misalnya mengatakan bahwa tatsabbut adalah lawan al-iqdam (tergesa-gesa), sehingga maknanya adalah menahan diri untuk meneliti terlebih dahulu. Sedangkan tabayyun adalah upaya aktif paling maksimal dalam memastikan sesuatu.Menurut Abu al-Najm al-Nasafi, “At-tabayyun dan al-istibanah adalah mengenali dan memeriksa hingga menjadi diketahui, sementara at-tatsabbut dan al-istitsbat adalah bersikap tenang dan merenung hingga sesuatu itu tampak jelas.”Menurut Asy-Syaukani,المرادُ من التَّبَيُّنِ التَّعرُّفُ والتَّفحُّصُ، ومن التَّثَبُّتِ: الأناةُ وعَدَمُ العَجَلةِ، والتَّبصُّرُ في الأمرِ الواقِعِ والخبَرِ الوارِدِ حتَّى يتَّضِحَ ويَظهَرَ“Maksud tabayyun adalah mengenali dan menyelidiki, sedangkan tatsabbut adalah tenang, tidak tergesa-gesa, dan meneliti berita yang terjadi dan informasi yang dilaporkan sampai jelas dan tampak hakikatnya.” (Fathul Qadir, 5: 71)Maka, dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut lebih kepada tindakan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam meneliti masalah. Sedangkan tabayyun adalah tindakan aktif mencari informasi untuk memvalidasi kabar tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut wa tabayyun dapat diartikan sebagai wait and crosscheck.Perintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)Ketika suatu perkara belum jelas atau belum meyakinkan bagi seseorang, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai ilmu. Allah ﷻ melarang kita mengikuti sesuatu yang kita belum tahu ilmunya. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,ولا تتبع ما ليس لك به علم، بل تثبت في كل ما تقوله وتفعله، فلا تظن ذلك يذهب لا لك ولا عليك“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau punya ilmu tentangnya. Namun bersikaplah tatsabbut (teliti dan berhati-hati) dalam setiap yang engkau katakan dan lakukan. Janganlah engkau menyangka bahwa hal itu akan berlalu begitu saja, tanpa ada (konsekuensi) untukmu maupun atasmu.” (Taisir Karimir Rahman dalam Tafsir QS. Al-Isra: 36) [3]Maknanya, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melakukan crosscheck atas berita yang kita terima. Benar-benar kita lakukan penelitian yang penuh kehati-hatian terhadap apa yang kita terima serta apa yang kita keluarkan. Paling minimum adalah melakukan tatsabbut, yakni tidak terburu-buru memberikan respons, sampai ada kabar lain yang memvalidasi. Juga diperingatkan bahwa semua perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban, dan Allah ﷻ tidak akan lalai dengan itu. Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan,ولا تتبع -أيها الإنسان- ما لا تعلم، بل تأكَّد وتثبَّت. إن الإنسان مسؤول عما استعمَل فيه سمعه وبصره وفؤاده، فإذا استعمَلها في الخير نال الثواب، وإذا استعملها في الشر نال العقاب.“Wahai manusia, janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Mestinya, engkau pastikan dan ber-tatsabbut (teliti dan kaji lebih lanjut). Sesungguhnya manusia akan ditanya tentang penggunaan pendengaran, mata, dan hatinya. Jika ia gunakan dalam kebaikan, ia akan mendapat pahala. Jika ia gunakan dalam keburukan, ia akan mendapatkan siksaan.” (Tafsir Al-Muyassar QS. Al-Isra: 36 via tafsir.app)Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan penelitian secara mendetail atas suatu kabar. Sebagaimana perintah itu dihimpun dalam sabda beliau ﷺ,التأني من الله و العجلة من الشيطان“Ketelitian datangnya dari Allah ﷻ, dan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 3: 1054 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra. Sanadnya dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4: 404) [4]Fasik dalam ayat ini meliputi sumber beritanya, yakni orangnya fasik dan juga kabarnya fasik meskipun dari orang yang beriman. [5] Jadi, potensi rusaknya informasi itu bisa meliputi penyampainya maupun berita yang disampaikan. Hal ini bisa saja dikarenakan kurangnya tatsabbut yang mungkin dilakukan oleh orang beriman yang saleh sekalipun. Atau bisa saja karena lemahnya ingatan seseorang dalam meriwayatkan. Apalagi di zaman ini, betapa banyak orang yang kurang dalam kemampuan menghafalnya, tidak hanya teks, tapi juga konteks pengkabarannya.Oleh karena itu, Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya,بل الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به“Maka yang wajib ketika menerima berita dari orang fasik adalah ber-tatsabbut dan ber-tabayyun. Apabila bukti dan indikasi menunjukkan bahwa ia benar, maka beritanya diterima dan dibenarkan. Namun, jika bukti menunjukkan bahwa ia berdusta, maka beritanya didustakan dan tidak diamalkan.”Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 94)Abu Musa Al-Maturidi rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat ini,فيه الأمرُ بالتَّثَبُّتِ عِندَ الشُّبهةِ، والنَّهيُ عن الإقدامِ عِندَها، وهكذا الواجِبُ على المُؤمِنِ الوقوفُ عِندَ اعتراضِ الشُّبهةِ في كُلِّ فِعلٍ وكُلِّ خَبرٍ“Di dalam (perkataan itu) terdapat perintah untuk ber-tatsabbut (meneliti dan berhati-hati) ketika muncul syubhat, dan larangan untuk maju (bertindak) ketika ada syubhat. Demikianlah kewajiban seorang mukmin: berhenti (tidak terburu-buru) ketika syubhat muncul dalam setiap perbuatan dan setiap berita.” (Tafsir Al-Maturidi, 3: 331) [6]Perintah tatsabbut juga ditekankan dalam kasus fitnah yang besar, yakni dalam fitnah haditsul ifki yang terjadi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah ﷻ berfirman,إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah, itu perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)KesimpulanPenggalian terhadap asas dakwah yakni bersikap tatsabbut menunjukkan kepada adanya kesamaan dengan tabayyun. Tumpang tindih penggunaan istilah tatsabbut dengan tabayyun dalam beberapa ayat dan tafsir menunjukkan fungsi yang sama dari kedua kata tersebut. Akan tetapi, secara terperinci dapat kita ketahui bahwa tatsabbut dan tabayyun adalah dua aktivitas yang berbeda.Kita dapati bahwasanya ada banyak keadaan dimana seorang muslim diwajibkan untuk tidak reaktif terhadap segala berita dan kejadian yang datang. Dalam beragam perintah tersebut, Allah ﷻ memerintahkan agar menahan diri, lalu meneliti kevalidan dari perkara tersebut. Lebih jauh lagi, seorang muslim didorong untuk tabayyun, yakni tidak sekadar aktif menggali validitas berita, tetapi juga konteks yang menyebabkan hal itu terjadi. InsyaAllah dalam tulisan selanjutnya, kita akan mempelajari bagaimana dampak dari meninggalkan tatsabbut wa tabayyun serta praktiknya dalam kehidupan.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[2] Keterangan selanjutnya masih dinukil dari Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[3] https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura17-aya36.html[4] Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang kami dapati menggunakan lafal التبين. Namun, perbedaan ini tidak terlalu mengubah makna. Maksud dari hadis tetap benar, yakni kehati-hatian adalah perkara yang menjadi syariat agama ini.[5] Keterangan ini disandarkan kepada Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, dinukilkan dari salah satu ceramah Ustad M. Nuzul Dzikri, hafizhahumallah.[6] Nukilan bisa dicek di tautan ini.

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 11): At-Tatsabbut dan At-Tabayyun

Daftar Isi ToggleMakna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunPerintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)KesimpulanDakwah adalah seruan mulia kepada Allah ﷻ. Ia hendaknya di atas ilmu yang kokoh (tsabit) dan tidak ada keraguan di dalamnya. Begitupula, dakwah adalah bagian dari amar maruf nahi munkar. Termasuk dalam fikih amar maruf nahi munkar adalah memastikan perkara itu benar-benar maruf untuk diserukan, serta memastikan perkara itu adalah kemungkaran yang perlu ditentang. Medan dakwah tidak akan pernah lepas dari urusan tersebut.Banyak sekali perselisihan terjadi salah satunya datang dari pintu ini: ketergesa-gesaan. Misalnya, seorang dai mendapatkan kabar tidak baik dari orang lain –semisal murid atau rekannya– tentang si fulan. Kabar tersebut belum dipastikan kebenarannya. Tetapi, karena tersulut emosi atau karena semangatnya untuk amar maruf nahi munkar, kemudian ia pun merespons kabar itu dengan tulisan ataupun ceramahnya ke hadapan publik. Akhirnya, sampailah respons tersebut kepada si fulan, dan ternyata tidak benarlah kabar tersebut. Maka, keadaan ini tentu menyakitkan bagi si fulan. Bisa jadi dengan hal demikian, si fulan pun bangkit membalas respons tersebut. Akhirnya, terjadilah perselisihan di medan dakwah yang tidak diharapkan. Jika landasan perselisihannya demikian, maka mudah kita ketahui bahwa ini perselisihan yang tidak lagi ilmiah, melainkan berlandaskan emosi semata.Contoh di atas adalah keadaan umum yang bisa terjadi kepada siapa saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjalankan dakwah di atas manhaj at-tatsabbut. InsyaAllah, kita akan mengenalnya dalam artikel ini, semoga menjadi jalan untuk kita mengamalkannya di keseharian.Makna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)At-tatsabbut (التَّثَبُّتُ) adalah mashdar dari kata tatsabbata (تَثَبَّت), berarti yakin memastikan. Secara bahasa, tatsabbut berarti,التَّأنِّي في الأمرِ وعَدَمُ الاستعجالِ فيه“Berhati-hati dalam suatu urusan dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”Contoh penggunaannya adalah kalimat, “تَثَبَّت في رأيِه وأمرِه”, maknanya adalah apabila seseorang tidak terburu-buru dan bersikap tenang dalam memutuskan. Dan dikatakan pula, “استَثْبَت في أمرِه”; maknanya yaitu apabila ia meminta pendapat, berkonsultasi, dan meneliti suatu perkara. Berdasarkan makna bahasa, at-tatsabbut adalah sikap tenang dalam memutuskan. At-tatsabbut dicapai dengan seseorang itu meneliti dan berkonsultasi dengan orang lain ketika memutuskan suatu perkara.Secara istilah, at-tatsabbut didefinisikan para ulama sebagai berikut,“At-tatsabbut adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap keadaan ketika seseorang menghadapi sesuatu yang menimbulkan keraguan, hingga perkara itu menjadi jelas baginya dan ia dapat melihat mana yang benar, tepat, dan hakikatnya. Termasuk di dalamnya mengerahkan usaha untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari perkara yang dihadapi.” (Fathul Qadir, 5: 71; karya Asy-Syaukani, dinukilkan dalam Taisir Karimir Rahman li As-Sa’di) [1]Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunDalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Terdapat dua qiraah pada kalimat “فَتَبَيَّنُوٓا۟”, yakni di qiraah lain digunakan kata “فتَّثَبُّت”. Para ulama berbeda pendapat tentang kedua qiraah ini. Ada yang mengatakan maknanya sama, yakni orang-orang yang mutatsabbit (bersikap tsabbut) itu sama dengan orang yang mutabayyin (melakukan tabayyun), dan sebaliknya. Namun, banyak ulama lainnya yang menerangkan perbedaannya. [2]Abu Ali Al-Farisi misalnya mengatakan bahwa tatsabbut adalah lawan al-iqdam (tergesa-gesa), sehingga maknanya adalah menahan diri untuk meneliti terlebih dahulu. Sedangkan tabayyun adalah upaya aktif paling maksimal dalam memastikan sesuatu.Menurut Abu al-Najm al-Nasafi, “At-tabayyun dan al-istibanah adalah mengenali dan memeriksa hingga menjadi diketahui, sementara at-tatsabbut dan al-istitsbat adalah bersikap tenang dan merenung hingga sesuatu itu tampak jelas.”Menurut Asy-Syaukani,المرادُ من التَّبَيُّنِ التَّعرُّفُ والتَّفحُّصُ، ومن التَّثَبُّتِ: الأناةُ وعَدَمُ العَجَلةِ، والتَّبصُّرُ في الأمرِ الواقِعِ والخبَرِ الوارِدِ حتَّى يتَّضِحَ ويَظهَرَ“Maksud tabayyun adalah mengenali dan menyelidiki, sedangkan tatsabbut adalah tenang, tidak tergesa-gesa, dan meneliti berita yang terjadi dan informasi yang dilaporkan sampai jelas dan tampak hakikatnya.” (Fathul Qadir, 5: 71)Maka, dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut lebih kepada tindakan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam meneliti masalah. Sedangkan tabayyun adalah tindakan aktif mencari informasi untuk memvalidasi kabar tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut wa tabayyun dapat diartikan sebagai wait and crosscheck.Perintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)Ketika suatu perkara belum jelas atau belum meyakinkan bagi seseorang, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai ilmu. Allah ﷻ melarang kita mengikuti sesuatu yang kita belum tahu ilmunya. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,ولا تتبع ما ليس لك به علم، بل تثبت في كل ما تقوله وتفعله، فلا تظن ذلك يذهب لا لك ولا عليك“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau punya ilmu tentangnya. Namun bersikaplah tatsabbut (teliti dan berhati-hati) dalam setiap yang engkau katakan dan lakukan. Janganlah engkau menyangka bahwa hal itu akan berlalu begitu saja, tanpa ada (konsekuensi) untukmu maupun atasmu.” (Taisir Karimir Rahman dalam Tafsir QS. Al-Isra: 36) [3]Maknanya, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melakukan crosscheck atas berita yang kita terima. Benar-benar kita lakukan penelitian yang penuh kehati-hatian terhadap apa yang kita terima serta apa yang kita keluarkan. Paling minimum adalah melakukan tatsabbut, yakni tidak terburu-buru memberikan respons, sampai ada kabar lain yang memvalidasi. Juga diperingatkan bahwa semua perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban, dan Allah ﷻ tidak akan lalai dengan itu. Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan,ولا تتبع -أيها الإنسان- ما لا تعلم، بل تأكَّد وتثبَّت. إن الإنسان مسؤول عما استعمَل فيه سمعه وبصره وفؤاده، فإذا استعمَلها في الخير نال الثواب، وإذا استعملها في الشر نال العقاب.“Wahai manusia, janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Mestinya, engkau pastikan dan ber-tatsabbut (teliti dan kaji lebih lanjut). Sesungguhnya manusia akan ditanya tentang penggunaan pendengaran, mata, dan hatinya. Jika ia gunakan dalam kebaikan, ia akan mendapat pahala. Jika ia gunakan dalam keburukan, ia akan mendapatkan siksaan.” (Tafsir Al-Muyassar QS. Al-Isra: 36 via tafsir.app)Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan penelitian secara mendetail atas suatu kabar. Sebagaimana perintah itu dihimpun dalam sabda beliau ﷺ,التأني من الله و العجلة من الشيطان“Ketelitian datangnya dari Allah ﷻ, dan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 3: 1054 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra. Sanadnya dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4: 404) [4]Fasik dalam ayat ini meliputi sumber beritanya, yakni orangnya fasik dan juga kabarnya fasik meskipun dari orang yang beriman. [5] Jadi, potensi rusaknya informasi itu bisa meliputi penyampainya maupun berita yang disampaikan. Hal ini bisa saja dikarenakan kurangnya tatsabbut yang mungkin dilakukan oleh orang beriman yang saleh sekalipun. Atau bisa saja karena lemahnya ingatan seseorang dalam meriwayatkan. Apalagi di zaman ini, betapa banyak orang yang kurang dalam kemampuan menghafalnya, tidak hanya teks, tapi juga konteks pengkabarannya.Oleh karena itu, Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya,بل الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به“Maka yang wajib ketika menerima berita dari orang fasik adalah ber-tatsabbut dan ber-tabayyun. Apabila bukti dan indikasi menunjukkan bahwa ia benar, maka beritanya diterima dan dibenarkan. Namun, jika bukti menunjukkan bahwa ia berdusta, maka beritanya didustakan dan tidak diamalkan.”Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 94)Abu Musa Al-Maturidi rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat ini,فيه الأمرُ بالتَّثَبُّتِ عِندَ الشُّبهةِ، والنَّهيُ عن الإقدامِ عِندَها، وهكذا الواجِبُ على المُؤمِنِ الوقوفُ عِندَ اعتراضِ الشُّبهةِ في كُلِّ فِعلٍ وكُلِّ خَبرٍ“Di dalam (perkataan itu) terdapat perintah untuk ber-tatsabbut (meneliti dan berhati-hati) ketika muncul syubhat, dan larangan untuk maju (bertindak) ketika ada syubhat. Demikianlah kewajiban seorang mukmin: berhenti (tidak terburu-buru) ketika syubhat muncul dalam setiap perbuatan dan setiap berita.” (Tafsir Al-Maturidi, 3: 331) [6]Perintah tatsabbut juga ditekankan dalam kasus fitnah yang besar, yakni dalam fitnah haditsul ifki yang terjadi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah ﷻ berfirman,إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah, itu perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)KesimpulanPenggalian terhadap asas dakwah yakni bersikap tatsabbut menunjukkan kepada adanya kesamaan dengan tabayyun. Tumpang tindih penggunaan istilah tatsabbut dengan tabayyun dalam beberapa ayat dan tafsir menunjukkan fungsi yang sama dari kedua kata tersebut. Akan tetapi, secara terperinci dapat kita ketahui bahwa tatsabbut dan tabayyun adalah dua aktivitas yang berbeda.Kita dapati bahwasanya ada banyak keadaan dimana seorang muslim diwajibkan untuk tidak reaktif terhadap segala berita dan kejadian yang datang. Dalam beragam perintah tersebut, Allah ﷻ memerintahkan agar menahan diri, lalu meneliti kevalidan dari perkara tersebut. Lebih jauh lagi, seorang muslim didorong untuk tabayyun, yakni tidak sekadar aktif menggali validitas berita, tetapi juga konteks yang menyebabkan hal itu terjadi. InsyaAllah dalam tulisan selanjutnya, kita akan mempelajari bagaimana dampak dari meninggalkan tatsabbut wa tabayyun serta praktiknya dalam kehidupan.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[2] Keterangan selanjutnya masih dinukil dari Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[3] https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura17-aya36.html[4] Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang kami dapati menggunakan lafal التبين. Namun, perbedaan ini tidak terlalu mengubah makna. Maksud dari hadis tetap benar, yakni kehati-hatian adalah perkara yang menjadi syariat agama ini.[5] Keterangan ini disandarkan kepada Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, dinukilkan dari salah satu ceramah Ustad M. Nuzul Dzikri, hafizhahumallah.[6] Nukilan bisa dicek di tautan ini.
Daftar Isi ToggleMakna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunPerintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)KesimpulanDakwah adalah seruan mulia kepada Allah ﷻ. Ia hendaknya di atas ilmu yang kokoh (tsabit) dan tidak ada keraguan di dalamnya. Begitupula, dakwah adalah bagian dari amar maruf nahi munkar. Termasuk dalam fikih amar maruf nahi munkar adalah memastikan perkara itu benar-benar maruf untuk diserukan, serta memastikan perkara itu adalah kemungkaran yang perlu ditentang. Medan dakwah tidak akan pernah lepas dari urusan tersebut.Banyak sekali perselisihan terjadi salah satunya datang dari pintu ini: ketergesa-gesaan. Misalnya, seorang dai mendapatkan kabar tidak baik dari orang lain –semisal murid atau rekannya– tentang si fulan. Kabar tersebut belum dipastikan kebenarannya. Tetapi, karena tersulut emosi atau karena semangatnya untuk amar maruf nahi munkar, kemudian ia pun merespons kabar itu dengan tulisan ataupun ceramahnya ke hadapan publik. Akhirnya, sampailah respons tersebut kepada si fulan, dan ternyata tidak benarlah kabar tersebut. Maka, keadaan ini tentu menyakitkan bagi si fulan. Bisa jadi dengan hal demikian, si fulan pun bangkit membalas respons tersebut. Akhirnya, terjadilah perselisihan di medan dakwah yang tidak diharapkan. Jika landasan perselisihannya demikian, maka mudah kita ketahui bahwa ini perselisihan yang tidak lagi ilmiah, melainkan berlandaskan emosi semata.Contoh di atas adalah keadaan umum yang bisa terjadi kepada siapa saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjalankan dakwah di atas manhaj at-tatsabbut. InsyaAllah, kita akan mengenalnya dalam artikel ini, semoga menjadi jalan untuk kita mengamalkannya di keseharian.Makna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)At-tatsabbut (التَّثَبُّتُ) adalah mashdar dari kata tatsabbata (تَثَبَّت), berarti yakin memastikan. Secara bahasa, tatsabbut berarti,التَّأنِّي في الأمرِ وعَدَمُ الاستعجالِ فيه“Berhati-hati dalam suatu urusan dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”Contoh penggunaannya adalah kalimat, “تَثَبَّت في رأيِه وأمرِه”, maknanya adalah apabila seseorang tidak terburu-buru dan bersikap tenang dalam memutuskan. Dan dikatakan pula, “استَثْبَت في أمرِه”; maknanya yaitu apabila ia meminta pendapat, berkonsultasi, dan meneliti suatu perkara. Berdasarkan makna bahasa, at-tatsabbut adalah sikap tenang dalam memutuskan. At-tatsabbut dicapai dengan seseorang itu meneliti dan berkonsultasi dengan orang lain ketika memutuskan suatu perkara.Secara istilah, at-tatsabbut didefinisikan para ulama sebagai berikut,“At-tatsabbut adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap keadaan ketika seseorang menghadapi sesuatu yang menimbulkan keraguan, hingga perkara itu menjadi jelas baginya dan ia dapat melihat mana yang benar, tepat, dan hakikatnya. Termasuk di dalamnya mengerahkan usaha untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari perkara yang dihadapi.” (Fathul Qadir, 5: 71; karya Asy-Syaukani, dinukilkan dalam Taisir Karimir Rahman li As-Sa’di) [1]Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunDalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Terdapat dua qiraah pada kalimat “فَتَبَيَّنُوٓا۟”, yakni di qiraah lain digunakan kata “فتَّثَبُّت”. Para ulama berbeda pendapat tentang kedua qiraah ini. Ada yang mengatakan maknanya sama, yakni orang-orang yang mutatsabbit (bersikap tsabbut) itu sama dengan orang yang mutabayyin (melakukan tabayyun), dan sebaliknya. Namun, banyak ulama lainnya yang menerangkan perbedaannya. [2]Abu Ali Al-Farisi misalnya mengatakan bahwa tatsabbut adalah lawan al-iqdam (tergesa-gesa), sehingga maknanya adalah menahan diri untuk meneliti terlebih dahulu. Sedangkan tabayyun adalah upaya aktif paling maksimal dalam memastikan sesuatu.Menurut Abu al-Najm al-Nasafi, “At-tabayyun dan al-istibanah adalah mengenali dan memeriksa hingga menjadi diketahui, sementara at-tatsabbut dan al-istitsbat adalah bersikap tenang dan merenung hingga sesuatu itu tampak jelas.”Menurut Asy-Syaukani,المرادُ من التَّبَيُّنِ التَّعرُّفُ والتَّفحُّصُ، ومن التَّثَبُّتِ: الأناةُ وعَدَمُ العَجَلةِ، والتَّبصُّرُ في الأمرِ الواقِعِ والخبَرِ الوارِدِ حتَّى يتَّضِحَ ويَظهَرَ“Maksud tabayyun adalah mengenali dan menyelidiki, sedangkan tatsabbut adalah tenang, tidak tergesa-gesa, dan meneliti berita yang terjadi dan informasi yang dilaporkan sampai jelas dan tampak hakikatnya.” (Fathul Qadir, 5: 71)Maka, dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut lebih kepada tindakan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam meneliti masalah. Sedangkan tabayyun adalah tindakan aktif mencari informasi untuk memvalidasi kabar tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut wa tabayyun dapat diartikan sebagai wait and crosscheck.Perintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)Ketika suatu perkara belum jelas atau belum meyakinkan bagi seseorang, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai ilmu. Allah ﷻ melarang kita mengikuti sesuatu yang kita belum tahu ilmunya. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,ولا تتبع ما ليس لك به علم، بل تثبت في كل ما تقوله وتفعله، فلا تظن ذلك يذهب لا لك ولا عليك“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau punya ilmu tentangnya. Namun bersikaplah tatsabbut (teliti dan berhati-hati) dalam setiap yang engkau katakan dan lakukan. Janganlah engkau menyangka bahwa hal itu akan berlalu begitu saja, tanpa ada (konsekuensi) untukmu maupun atasmu.” (Taisir Karimir Rahman dalam Tafsir QS. Al-Isra: 36) [3]Maknanya, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melakukan crosscheck atas berita yang kita terima. Benar-benar kita lakukan penelitian yang penuh kehati-hatian terhadap apa yang kita terima serta apa yang kita keluarkan. Paling minimum adalah melakukan tatsabbut, yakni tidak terburu-buru memberikan respons, sampai ada kabar lain yang memvalidasi. Juga diperingatkan bahwa semua perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban, dan Allah ﷻ tidak akan lalai dengan itu. Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan,ولا تتبع -أيها الإنسان- ما لا تعلم، بل تأكَّد وتثبَّت. إن الإنسان مسؤول عما استعمَل فيه سمعه وبصره وفؤاده، فإذا استعمَلها في الخير نال الثواب، وإذا استعملها في الشر نال العقاب.“Wahai manusia, janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Mestinya, engkau pastikan dan ber-tatsabbut (teliti dan kaji lebih lanjut). Sesungguhnya manusia akan ditanya tentang penggunaan pendengaran, mata, dan hatinya. Jika ia gunakan dalam kebaikan, ia akan mendapat pahala. Jika ia gunakan dalam keburukan, ia akan mendapatkan siksaan.” (Tafsir Al-Muyassar QS. Al-Isra: 36 via tafsir.app)Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan penelitian secara mendetail atas suatu kabar. Sebagaimana perintah itu dihimpun dalam sabda beliau ﷺ,التأني من الله و العجلة من الشيطان“Ketelitian datangnya dari Allah ﷻ, dan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 3: 1054 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra. Sanadnya dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4: 404) [4]Fasik dalam ayat ini meliputi sumber beritanya, yakni orangnya fasik dan juga kabarnya fasik meskipun dari orang yang beriman. [5] Jadi, potensi rusaknya informasi itu bisa meliputi penyampainya maupun berita yang disampaikan. Hal ini bisa saja dikarenakan kurangnya tatsabbut yang mungkin dilakukan oleh orang beriman yang saleh sekalipun. Atau bisa saja karena lemahnya ingatan seseorang dalam meriwayatkan. Apalagi di zaman ini, betapa banyak orang yang kurang dalam kemampuan menghafalnya, tidak hanya teks, tapi juga konteks pengkabarannya.Oleh karena itu, Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya,بل الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به“Maka yang wajib ketika menerima berita dari orang fasik adalah ber-tatsabbut dan ber-tabayyun. Apabila bukti dan indikasi menunjukkan bahwa ia benar, maka beritanya diterima dan dibenarkan. Namun, jika bukti menunjukkan bahwa ia berdusta, maka beritanya didustakan dan tidak diamalkan.”Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 94)Abu Musa Al-Maturidi rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat ini,فيه الأمرُ بالتَّثَبُّتِ عِندَ الشُّبهةِ، والنَّهيُ عن الإقدامِ عِندَها، وهكذا الواجِبُ على المُؤمِنِ الوقوفُ عِندَ اعتراضِ الشُّبهةِ في كُلِّ فِعلٍ وكُلِّ خَبرٍ“Di dalam (perkataan itu) terdapat perintah untuk ber-tatsabbut (meneliti dan berhati-hati) ketika muncul syubhat, dan larangan untuk maju (bertindak) ketika ada syubhat. Demikianlah kewajiban seorang mukmin: berhenti (tidak terburu-buru) ketika syubhat muncul dalam setiap perbuatan dan setiap berita.” (Tafsir Al-Maturidi, 3: 331) [6]Perintah tatsabbut juga ditekankan dalam kasus fitnah yang besar, yakni dalam fitnah haditsul ifki yang terjadi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah ﷻ berfirman,إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah, itu perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)KesimpulanPenggalian terhadap asas dakwah yakni bersikap tatsabbut menunjukkan kepada adanya kesamaan dengan tabayyun. Tumpang tindih penggunaan istilah tatsabbut dengan tabayyun dalam beberapa ayat dan tafsir menunjukkan fungsi yang sama dari kedua kata tersebut. Akan tetapi, secara terperinci dapat kita ketahui bahwa tatsabbut dan tabayyun adalah dua aktivitas yang berbeda.Kita dapati bahwasanya ada banyak keadaan dimana seorang muslim diwajibkan untuk tidak reaktif terhadap segala berita dan kejadian yang datang. Dalam beragam perintah tersebut, Allah ﷻ memerintahkan agar menahan diri, lalu meneliti kevalidan dari perkara tersebut. Lebih jauh lagi, seorang muslim didorong untuk tabayyun, yakni tidak sekadar aktif menggali validitas berita, tetapi juga konteks yang menyebabkan hal itu terjadi. InsyaAllah dalam tulisan selanjutnya, kita akan mempelajari bagaimana dampak dari meninggalkan tatsabbut wa tabayyun serta praktiknya dalam kehidupan.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[2] Keterangan selanjutnya masih dinukil dari Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[3] https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura17-aya36.html[4] Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang kami dapati menggunakan lafal التبين. Namun, perbedaan ini tidak terlalu mengubah makna. Maksud dari hadis tetap benar, yakni kehati-hatian adalah perkara yang menjadi syariat agama ini.[5] Keterangan ini disandarkan kepada Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, dinukilkan dari salah satu ceramah Ustad M. Nuzul Dzikri, hafizhahumallah.[6] Nukilan bisa dicek di tautan ini.


Daftar Isi ToggleMakna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunPerintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)KesimpulanDakwah adalah seruan mulia kepada Allah ﷻ. Ia hendaknya di atas ilmu yang kokoh (tsabit) dan tidak ada keraguan di dalamnya. Begitupula, dakwah adalah bagian dari amar maruf nahi munkar. Termasuk dalam fikih amar maruf nahi munkar adalah memastikan perkara itu benar-benar maruf untuk diserukan, serta memastikan perkara itu adalah kemungkaran yang perlu ditentang. Medan dakwah tidak akan pernah lepas dari urusan tersebut.Banyak sekali perselisihan terjadi salah satunya datang dari pintu ini: ketergesa-gesaan. Misalnya, seorang dai mendapatkan kabar tidak baik dari orang lain –semisal murid atau rekannya– tentang si fulan. Kabar tersebut belum dipastikan kebenarannya. Tetapi, karena tersulut emosi atau karena semangatnya untuk amar maruf nahi munkar, kemudian ia pun merespons kabar itu dengan tulisan ataupun ceramahnya ke hadapan publik. Akhirnya, sampailah respons tersebut kepada si fulan, dan ternyata tidak benarlah kabar tersebut. Maka, keadaan ini tentu menyakitkan bagi si fulan. Bisa jadi dengan hal demikian, si fulan pun bangkit membalas respons tersebut. Akhirnya, terjadilah perselisihan di medan dakwah yang tidak diharapkan. Jika landasan perselisihannya demikian, maka mudah kita ketahui bahwa ini perselisihan yang tidak lagi ilmiah, melainkan berlandaskan emosi semata.Contoh di atas adalah keadaan umum yang bisa terjadi kepada siapa saja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjalankan dakwah di atas manhaj at-tatsabbut. InsyaAllah, kita akan mengenalnya dalam artikel ini, semoga menjadi jalan untuk kita mengamalkannya di keseharian.Makna at-tatsabbut (التَّثَبُّتُ)At-tatsabbut (التَّثَبُّتُ) adalah mashdar dari kata tatsabbata (تَثَبَّت), berarti yakin memastikan. Secara bahasa, tatsabbut berarti,التَّأنِّي في الأمرِ وعَدَمُ الاستعجالِ فيه“Berhati-hati dalam suatu urusan dan tidak tergesa-gesa di dalamnya.”Contoh penggunaannya adalah kalimat, “تَثَبَّت في رأيِه وأمرِه”, maknanya adalah apabila seseorang tidak terburu-buru dan bersikap tenang dalam memutuskan. Dan dikatakan pula, “استَثْبَت في أمرِه”; maknanya yaitu apabila ia meminta pendapat, berkonsultasi, dan meneliti suatu perkara. Berdasarkan makna bahasa, at-tatsabbut adalah sikap tenang dalam memutuskan. At-tatsabbut dicapai dengan seseorang itu meneliti dan berkonsultasi dengan orang lain ketika memutuskan suatu perkara.Secara istilah, at-tatsabbut didefinisikan para ulama sebagai berikut,“At-tatsabbut adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam setiap keadaan ketika seseorang menghadapi sesuatu yang menimbulkan keraguan, hingga perkara itu menjadi jelas baginya dan ia dapat melihat mana yang benar, tepat, dan hakikatnya. Termasuk di dalamnya mengerahkan usaha untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari perkara yang dihadapi.” (Fathul Qadir, 5: 71; karya Asy-Syaukani, dinukilkan dalam Taisir Karimir Rahman li As-Sa’di) [1]Perbedaan antara at-tatsabbut dan at-tabayyunDalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Terdapat dua qiraah pada kalimat “فَتَبَيَّنُوٓا۟”, yakni di qiraah lain digunakan kata “فتَّثَبُّت”. Para ulama berbeda pendapat tentang kedua qiraah ini. Ada yang mengatakan maknanya sama, yakni orang-orang yang mutatsabbit (bersikap tsabbut) itu sama dengan orang yang mutabayyin (melakukan tabayyun), dan sebaliknya. Namun, banyak ulama lainnya yang menerangkan perbedaannya. [2]Abu Ali Al-Farisi misalnya mengatakan bahwa tatsabbut adalah lawan al-iqdam (tergesa-gesa), sehingga maknanya adalah menahan diri untuk meneliti terlebih dahulu. Sedangkan tabayyun adalah upaya aktif paling maksimal dalam memastikan sesuatu.Menurut Abu al-Najm al-Nasafi, “At-tabayyun dan al-istibanah adalah mengenali dan memeriksa hingga menjadi diketahui, sementara at-tatsabbut dan al-istitsbat adalah bersikap tenang dan merenung hingga sesuatu itu tampak jelas.”Menurut Asy-Syaukani,المرادُ من التَّبَيُّنِ التَّعرُّفُ والتَّفحُّصُ، ومن التَّثَبُّتِ: الأناةُ وعَدَمُ العَجَلةِ، والتَّبصُّرُ في الأمرِ الواقِعِ والخبَرِ الوارِدِ حتَّى يتَّضِحَ ويَظهَرَ“Maksud tabayyun adalah mengenali dan menyelidiki, sedangkan tatsabbut adalah tenang, tidak tergesa-gesa, dan meneliti berita yang terjadi dan informasi yang dilaporkan sampai jelas dan tampak hakikatnya.” (Fathul Qadir, 5: 71)Maka, dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut lebih kepada tindakan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam meneliti masalah. Sedangkan tabayyun adalah tindakan aktif mencari informasi untuk memvalidasi kabar tersebut. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa tatsabbut wa tabayyun dapat diartikan sebagai wait and crosscheck.Perintah untuk tatsabbut wa tabayyun (wait and crosscheck)Ketika suatu perkara belum jelas atau belum meyakinkan bagi seseorang, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai ilmu. Allah ﷻ melarang kita mengikuti sesuatu yang kita belum tahu ilmunya. Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,ولا تتبع ما ليس لك به علم، بل تثبت في كل ما تقوله وتفعله، فلا تظن ذلك يذهب لا لك ولا عليك“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau punya ilmu tentangnya. Namun bersikaplah tatsabbut (teliti dan berhati-hati) dalam setiap yang engkau katakan dan lakukan. Janganlah engkau menyangka bahwa hal itu akan berlalu begitu saja, tanpa ada (konsekuensi) untukmu maupun atasmu.” (Taisir Karimir Rahman dalam Tafsir QS. Al-Isra: 36) [3]Maknanya, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk melakukan crosscheck atas berita yang kita terima. Benar-benar kita lakukan penelitian yang penuh kehati-hatian terhadap apa yang kita terima serta apa yang kita keluarkan. Paling minimum adalah melakukan tatsabbut, yakni tidak terburu-buru memberikan respons, sampai ada kabar lain yang memvalidasi. Juga diperingatkan bahwa semua perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban, dan Allah ﷻ tidak akan lalai dengan itu. Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan,ولا تتبع -أيها الإنسان- ما لا تعلم، بل تأكَّد وتثبَّت. إن الإنسان مسؤول عما استعمَل فيه سمعه وبصره وفؤاده، فإذا استعمَلها في الخير نال الثواب، وإذا استعملها في الشر نال العقاب.“Wahai manusia, janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya. Mestinya, engkau pastikan dan ber-tatsabbut (teliti dan kaji lebih lanjut). Sesungguhnya manusia akan ditanya tentang penggunaan pendengaran, mata, dan hatinya. Jika ia gunakan dalam kebaikan, ia akan mendapat pahala. Jika ia gunakan dalam keburukan, ia akan mendapatkan siksaan.” (Tafsir Al-Muyassar QS. Al-Isra: 36 via tafsir.app)Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah ﷻ berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan penelitian secara mendetail atas suatu kabar. Sebagaimana perintah itu dihimpun dalam sabda beliau ﷺ,التأني من الله و العجلة من الشيطان“Ketelitian datangnya dari Allah ﷻ, dan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 3: 1054 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra. Sanadnya dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, 4: 404) [4]Fasik dalam ayat ini meliputi sumber beritanya, yakni orangnya fasik dan juga kabarnya fasik meskipun dari orang yang beriman. [5] Jadi, potensi rusaknya informasi itu bisa meliputi penyampainya maupun berita yang disampaikan. Hal ini bisa saja dikarenakan kurangnya tatsabbut yang mungkin dilakukan oleh orang beriman yang saleh sekalipun. Atau bisa saja karena lemahnya ingatan seseorang dalam meriwayatkan. Apalagi di zaman ini, betapa banyak orang yang kurang dalam kemampuan menghafalnya, tidak hanya teks, tapi juga konteks pengkabarannya.Oleh karena itu, Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya,بل الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به“Maka yang wajib ketika menerima berita dari orang fasik adalah ber-tatsabbut dan ber-tabayyun. Apabila bukti dan indikasi menunjukkan bahwa ia benar, maka beritanya diterima dan dibenarkan. Namun, jika bukti menunjukkan bahwa ia berdusta, maka beritanya didustakan dan tidak diamalkan.”Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 94)Abu Musa Al-Maturidi rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat ini,فيه الأمرُ بالتَّثَبُّتِ عِندَ الشُّبهةِ، والنَّهيُ عن الإقدامِ عِندَها، وهكذا الواجِبُ على المُؤمِنِ الوقوفُ عِندَ اعتراضِ الشُّبهةِ في كُلِّ فِعلٍ وكُلِّ خَبرٍ“Di dalam (perkataan itu) terdapat perintah untuk ber-tatsabbut (meneliti dan berhati-hati) ketika muncul syubhat, dan larangan untuk maju (bertindak) ketika ada syubhat. Demikianlah kewajiban seorang mukmin: berhenti (tidak terburu-buru) ketika syubhat muncul dalam setiap perbuatan dan setiap berita.” (Tafsir Al-Maturidi, 3: 331) [6]Perintah tatsabbut juga ditekankan dalam kasus fitnah yang besar, yakni dalam fitnah haditsul ifki yang terjadi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Allah ﷻ berfirman,إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah, itu perkara yang besar.” (QS. An-Nur: 15)KesimpulanPenggalian terhadap asas dakwah yakni bersikap tatsabbut menunjukkan kepada adanya kesamaan dengan tabayyun. Tumpang tindih penggunaan istilah tatsabbut dengan tabayyun dalam beberapa ayat dan tafsir menunjukkan fungsi yang sama dari kedua kata tersebut. Akan tetapi, secara terperinci dapat kita ketahui bahwa tatsabbut dan tabayyun adalah dua aktivitas yang berbeda.Kita dapati bahwasanya ada banyak keadaan dimana seorang muslim diwajibkan untuk tidak reaktif terhadap segala berita dan kejadian yang datang. Dalam beragam perintah tersebut, Allah ﷻ memerintahkan agar menahan diri, lalu meneliti kevalidan dari perkara tersebut. Lebih jauh lagi, seorang muslim didorong untuk tabayyun, yakni tidak sekadar aktif menggali validitas berita, tetapi juga konteks yang menyebabkan hal itu terjadi. InsyaAllah dalam tulisan selanjutnya, kita akan mempelajari bagaimana dampak dari meninggalkan tatsabbut wa tabayyun serta praktiknya dalam kehidupan.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[2] Keterangan selanjutnya masih dinukil dari Mausuah Al-Akhlak wa As-Suluk.[3] https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura17-aya36.html[4] Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang kami dapati menggunakan lafal التبين. Namun, perbedaan ini tidak terlalu mengubah makna. Maksud dari hadis tetap benar, yakni kehati-hatian adalah perkara yang menjadi syariat agama ini.[5] Keterangan ini disandarkan kepada Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili, dinukilkan dari salah satu ceramah Ustad M. Nuzul Dzikri, hafizhahumallah.[6] Nukilan bisa dicek di tautan ini.
Prev     Next