Upaya Mencegah Diri Dari Fitnah Dajjal

Daftar Isi ToggleBerpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanDajjal adalah manusia biasaDajjal memiliki cacat fisikManusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaMemohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiMenjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahFitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariFitnah al-Masih ad-Dajjal merupakan fitnah paling dahsyat yang akan menimpa manusia sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Para ulama menegaskan bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar, lebih mengerikan, dan lebih menyesatkan darinya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang sangat besar dalam memperingatkan umatnya, lebih dari perhatian para Nabi sebelumnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umat ini di atas jalan kebenaran yang begitu jelas. Beliau menggambarkannya,تركتُكم على البيضاءِ ليلِها كنهارِها لا يزيغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Seluruh Nabi telah memperingatkan umatnya mengenai fitnah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, yakni Dajjal. Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua matanya huruf: ك ف ر (kaf – fa’ – ra’).” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan keutamaan memberikan peringatan yang paling rinci, karena beliau adalah penutup para Nabi dan umat ini adalah umat terakhir yang akan menghadapi fitnah tersebut. Tidaklah mengherankan jika beliau memberikan rincian yang sangat lengkap tentang Dajjal. Ciri fisiknya, cara kerjanya, tipu dayanya, kota-kota yang ia masuki, bahkan siapa orang pertama yang akan dibunuhnya.Berikut adalah beberapa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar umatnya selamat dari fitnah besar ini. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kita darinya.Berpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanLandasan pertama dan terpenting untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah ilmu dan akidah yang benar. Seorang muslim harus memahami tauhid dengan baik, terutama mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Inilah benteng paling kuat agar tidak tertipu oleh klaim ketuhanan Dajjal. Dengan memahami tauhid yang benar, seseorang mengetahui bahwa:Dajjal adalah manusia biasaIa makan, minum, tidur, buang hajat, dan memiliki banyak kekurangan. Allah tidak memiliki sifat-sifat itu. Firman Allah Azza wa Jalla,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)Dajjal memiliki cacat fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ“Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sangat tidak mungkin seorang makhluk cacat mengaku sebagai Tuhan.Manusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لن تروا ربَّكم حتى تموتوا“Kalian tidak akan melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal.” (HR. Abu Daud)Maka, siapa pun yang mengaku sebagai Tuhan dan terlihat oleh mata manusia, pasti dia adalah seorang pendusta. Akidah yang benar inilah yang menjadi fondasi utama agar umat Islam selamat dari tipu daya Dajjal.Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Salah satu bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau mengajarkan doa khusus yang dibaca setiap salat, sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal.Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam salatnya,اللَّهُمَّ إنِّي أعوذ بك من عذاب القبر، وأعوذ بك من فتنة المسيح الدَّجَّال … الحديث“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا تشهَّد أحدُكُم؛ فليستعذ بالله من أربع، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدَّجَّال “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’”Para ulama salaf sangat menekankan doa ini. Imam Ṭhawus rahimahullah bahkan memerintahkan putranya mengulang salat apabila lupa membaca doa ini.Ulama besar al-Saffarini rahimahullah berkata,ممّا ينبغي لكل عالم أن يبثَّ أحاديث الدَّجَّال بين الأولاد والنساء والرجال … وقد ورد أن من علامات خروجه نسيان ذكره على المنابر“Termasuk hal yang sepatutnya dilakukan oleh setiap ulama adalah menyebarkan hadis-hadis tentang Dajjal kepada anak-anak, para wanita, dan kaum laki-laki… Dan telah disebutkan bahwa di antara tanda dekatnya kemunculannya adalah mulai dilupakannya penyebutannya dari mimbar-mimbar.”ولا سيما في زماننا هذا الّذي اشرأبَّت فيه الفتن، وكَثُرت فيه المحن، واندرست فيه معالم السنن، وصارت السنن فيه كالبدع، والبدعة شرعٌ يُتَّبع، ولا حول ولا قوَّة إِلَّا بالله العلّي العظيم“Terlebih lagi pada zaman kita sekarang ini, ketika berbagai fitnah muncul menjulang, berbagai ujian semakin banyak, tanda-tanda sunah mulai hilang, sunah menjadi tampak seperti bid‘ah, sementara bid‘ah dianggap sebagai syariat yang harus diikuti. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membaca awal-awal surah al-Kahfi ketika berhadapan dengan Dajjal. Dalam sebagian riwayat disebutkan akhir-akhir surah tersebut, yaitu membaca sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir.Di antara hadis-hadis sahih tentang hal ini adalah:Pertama, hadis riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam‘an yang panjang, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أدركه منكم؛ فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف“Siapa di antara kalian yang menemui Dajjal, hendaklah ia membaca awal surah al-Kahfi.”Kedua, hadis riwayat Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف؛ عُصِمَ من الدَّجال؛ أي: من فتنته“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal” maksudnya: terlindungi dari fitnah dan tipu daya Dajjal.Imam Muslim rahimahullah menambahkan,قال شعبة: من آخر الكهف، وقال همام: من أول الكهف“Syu’bah berkata: (yang dimaksud adalah) sepuluh ayat terakhir surah al-Kahfi, sedangkan Hammām berkata: sepuluh ayat pertama.”An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,سبب ذلك ما في أولها من العجائب والآيات، فمَن تدبَّرَها؛ لم يفتتن بالدَّجَّال“Sebabnya adalah karena pada awal surah ini terdapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa merenungi ayat-ayat itu, ia tidak akan tertipu oleh Dajjal.”Membaca surah al-Kahfi merupakan salah satu keistimewaan yang khusus dianjurkan dalam syariat, dan berbagai hadis menganjurkan untuk membacanya—terutama pada hari Jumat. Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين“Siapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan dianugerahi cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.”Tidak diragukan lagi bahwa surah al-Kahfi memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang penuh keajaiban dan pelajaran: kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang diberi keteguhan iman, perjalanan Nabi Musa bersama Khidr yang sarat hikmah, kisah Dzulqarnain dan pembangunan dinding besar penghalang Ya’juj dan Ma’juj, penegasan tentang hari kebangkitan, tiupan sangkakala, serta gambaran orang-orang yang paling merugi amalnya—mereka yang menyangka berada di atas petunjuk, padahal berada dalam kesesatan dan kebutaan.Oleh karena itu, seorang Muslim selayaknya menjaga kebiasaan membaca surah ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya—terutama pada hari terbaik yang disinari matahari, yaitu hari Jumat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil petunjuk dari kitab-Nya.Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahKetika Dajjal keluar, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melihat, menantang, atau mengujinya. Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menjauh. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu ad-Dahmā’, ia berkata, “Aku mendengar ‘Imrān bin Husain menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدَّجَّال؛ فلينأَ عنه، فوالله إن الرَّجل ليأتيه وهو يحسب أنّه مؤمن، فيتبعه ممّا يبعث به من الشُّبهات، أو لما يبعث به من الشبهات“Siapa yang mendengar (kabar) tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam keadaan merasa bahwa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat (kerancuan) yang dibawanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)Dajjal membawa fitnah yang nyata:Ia mampu menyuruh langit menurunkan hujan;Membuat bumi mengeluarkan tanaman;Menghidupkan orang tampak mati yang hakikatnya bukan hidup yang sebenarnya;Membawa surga dan neraka palsu;Menipu manusia dengan kekuatan gaib.Banyak orang yang awalnya tidak meyakininya, pada akhirnya hancur karena tidak kuat menghadapi tipuannya. Namun, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Dalam hadis sahih disebutkan,عَلَى أَنْقَابِ المَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ، وَلَا الدَّجَّالُ“Di pintu-pintu (perbatasan) Madinah terdapat para malaikat; tidak akan masuk ke dalamnya tha‘un (wabah mematikan), dan tidak pula Dajjal.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain disebutkan,لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ ، وَالمَدِينَةَ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا“Tidak ada suatu negeri pun kecuali pasti akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun dari celah-celah keduanya yang dapat ia masuki, kecuali di situ para malaikat berbaris menjaga keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariDajjal adalah fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, mempelajarinya termasuk bagian dari iman, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya pencegahannya sudah dijelaskan dengan terang:Memahami tauhid dan memperkuat iman;Membaca doa perlindungan dalam salat;Menghafal ayat-ayat surah al-Kahfi;Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya.Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Islam dari fitnah Dajjal, dari fitnah dunia, dan dari segala tipu daya setan yang tampak maupun tersembunyi.Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dan ditulis ulang dengan penambahan dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 282-287.

Upaya Mencegah Diri Dari Fitnah Dajjal

Daftar Isi ToggleBerpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanDajjal adalah manusia biasaDajjal memiliki cacat fisikManusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaMemohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiMenjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahFitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariFitnah al-Masih ad-Dajjal merupakan fitnah paling dahsyat yang akan menimpa manusia sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Para ulama menegaskan bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar, lebih mengerikan, dan lebih menyesatkan darinya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang sangat besar dalam memperingatkan umatnya, lebih dari perhatian para Nabi sebelumnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umat ini di atas jalan kebenaran yang begitu jelas. Beliau menggambarkannya,تركتُكم على البيضاءِ ليلِها كنهارِها لا يزيغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Seluruh Nabi telah memperingatkan umatnya mengenai fitnah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, yakni Dajjal. Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua matanya huruf: ك ف ر (kaf – fa’ – ra’).” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan keutamaan memberikan peringatan yang paling rinci, karena beliau adalah penutup para Nabi dan umat ini adalah umat terakhir yang akan menghadapi fitnah tersebut. Tidaklah mengherankan jika beliau memberikan rincian yang sangat lengkap tentang Dajjal. Ciri fisiknya, cara kerjanya, tipu dayanya, kota-kota yang ia masuki, bahkan siapa orang pertama yang akan dibunuhnya.Berikut adalah beberapa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar umatnya selamat dari fitnah besar ini. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kita darinya.Berpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanLandasan pertama dan terpenting untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah ilmu dan akidah yang benar. Seorang muslim harus memahami tauhid dengan baik, terutama mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Inilah benteng paling kuat agar tidak tertipu oleh klaim ketuhanan Dajjal. Dengan memahami tauhid yang benar, seseorang mengetahui bahwa:Dajjal adalah manusia biasaIa makan, minum, tidur, buang hajat, dan memiliki banyak kekurangan. Allah tidak memiliki sifat-sifat itu. Firman Allah Azza wa Jalla,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)Dajjal memiliki cacat fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ“Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sangat tidak mungkin seorang makhluk cacat mengaku sebagai Tuhan.Manusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لن تروا ربَّكم حتى تموتوا“Kalian tidak akan melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal.” (HR. Abu Daud)Maka, siapa pun yang mengaku sebagai Tuhan dan terlihat oleh mata manusia, pasti dia adalah seorang pendusta. Akidah yang benar inilah yang menjadi fondasi utama agar umat Islam selamat dari tipu daya Dajjal.Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Salah satu bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau mengajarkan doa khusus yang dibaca setiap salat, sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal.Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam salatnya,اللَّهُمَّ إنِّي أعوذ بك من عذاب القبر، وأعوذ بك من فتنة المسيح الدَّجَّال … الحديث“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا تشهَّد أحدُكُم؛ فليستعذ بالله من أربع، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدَّجَّال “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’”Para ulama salaf sangat menekankan doa ini. Imam Ṭhawus rahimahullah bahkan memerintahkan putranya mengulang salat apabila lupa membaca doa ini.Ulama besar al-Saffarini rahimahullah berkata,ممّا ينبغي لكل عالم أن يبثَّ أحاديث الدَّجَّال بين الأولاد والنساء والرجال … وقد ورد أن من علامات خروجه نسيان ذكره على المنابر“Termasuk hal yang sepatutnya dilakukan oleh setiap ulama adalah menyebarkan hadis-hadis tentang Dajjal kepada anak-anak, para wanita, dan kaum laki-laki… Dan telah disebutkan bahwa di antara tanda dekatnya kemunculannya adalah mulai dilupakannya penyebutannya dari mimbar-mimbar.”ولا سيما في زماننا هذا الّذي اشرأبَّت فيه الفتن، وكَثُرت فيه المحن، واندرست فيه معالم السنن، وصارت السنن فيه كالبدع، والبدعة شرعٌ يُتَّبع، ولا حول ولا قوَّة إِلَّا بالله العلّي العظيم“Terlebih lagi pada zaman kita sekarang ini, ketika berbagai fitnah muncul menjulang, berbagai ujian semakin banyak, tanda-tanda sunah mulai hilang, sunah menjadi tampak seperti bid‘ah, sementara bid‘ah dianggap sebagai syariat yang harus diikuti. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membaca awal-awal surah al-Kahfi ketika berhadapan dengan Dajjal. Dalam sebagian riwayat disebutkan akhir-akhir surah tersebut, yaitu membaca sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir.Di antara hadis-hadis sahih tentang hal ini adalah:Pertama, hadis riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam‘an yang panjang, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أدركه منكم؛ فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف“Siapa di antara kalian yang menemui Dajjal, hendaklah ia membaca awal surah al-Kahfi.”Kedua, hadis riwayat Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف؛ عُصِمَ من الدَّجال؛ أي: من فتنته“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal” maksudnya: terlindungi dari fitnah dan tipu daya Dajjal.Imam Muslim rahimahullah menambahkan,قال شعبة: من آخر الكهف، وقال همام: من أول الكهف“Syu’bah berkata: (yang dimaksud adalah) sepuluh ayat terakhir surah al-Kahfi, sedangkan Hammām berkata: sepuluh ayat pertama.”An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,سبب ذلك ما في أولها من العجائب والآيات، فمَن تدبَّرَها؛ لم يفتتن بالدَّجَّال“Sebabnya adalah karena pada awal surah ini terdapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa merenungi ayat-ayat itu, ia tidak akan tertipu oleh Dajjal.”Membaca surah al-Kahfi merupakan salah satu keistimewaan yang khusus dianjurkan dalam syariat, dan berbagai hadis menganjurkan untuk membacanya—terutama pada hari Jumat. Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين“Siapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan dianugerahi cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.”Tidak diragukan lagi bahwa surah al-Kahfi memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang penuh keajaiban dan pelajaran: kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang diberi keteguhan iman, perjalanan Nabi Musa bersama Khidr yang sarat hikmah, kisah Dzulqarnain dan pembangunan dinding besar penghalang Ya’juj dan Ma’juj, penegasan tentang hari kebangkitan, tiupan sangkakala, serta gambaran orang-orang yang paling merugi amalnya—mereka yang menyangka berada di atas petunjuk, padahal berada dalam kesesatan dan kebutaan.Oleh karena itu, seorang Muslim selayaknya menjaga kebiasaan membaca surah ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya—terutama pada hari terbaik yang disinari matahari, yaitu hari Jumat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil petunjuk dari kitab-Nya.Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahKetika Dajjal keluar, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melihat, menantang, atau mengujinya. Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menjauh. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu ad-Dahmā’, ia berkata, “Aku mendengar ‘Imrān bin Husain menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدَّجَّال؛ فلينأَ عنه، فوالله إن الرَّجل ليأتيه وهو يحسب أنّه مؤمن، فيتبعه ممّا يبعث به من الشُّبهات، أو لما يبعث به من الشبهات“Siapa yang mendengar (kabar) tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam keadaan merasa bahwa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat (kerancuan) yang dibawanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)Dajjal membawa fitnah yang nyata:Ia mampu menyuruh langit menurunkan hujan;Membuat bumi mengeluarkan tanaman;Menghidupkan orang tampak mati yang hakikatnya bukan hidup yang sebenarnya;Membawa surga dan neraka palsu;Menipu manusia dengan kekuatan gaib.Banyak orang yang awalnya tidak meyakininya, pada akhirnya hancur karena tidak kuat menghadapi tipuannya. Namun, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Dalam hadis sahih disebutkan,عَلَى أَنْقَابِ المَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ، وَلَا الدَّجَّالُ“Di pintu-pintu (perbatasan) Madinah terdapat para malaikat; tidak akan masuk ke dalamnya tha‘un (wabah mematikan), dan tidak pula Dajjal.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain disebutkan,لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ ، وَالمَدِينَةَ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا“Tidak ada suatu negeri pun kecuali pasti akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun dari celah-celah keduanya yang dapat ia masuki, kecuali di situ para malaikat berbaris menjaga keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariDajjal adalah fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, mempelajarinya termasuk bagian dari iman, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya pencegahannya sudah dijelaskan dengan terang:Memahami tauhid dan memperkuat iman;Membaca doa perlindungan dalam salat;Menghafal ayat-ayat surah al-Kahfi;Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya.Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Islam dari fitnah Dajjal, dari fitnah dunia, dan dari segala tipu daya setan yang tampak maupun tersembunyi.Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dan ditulis ulang dengan penambahan dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 282-287.
Daftar Isi ToggleBerpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanDajjal adalah manusia biasaDajjal memiliki cacat fisikManusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaMemohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiMenjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahFitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariFitnah al-Masih ad-Dajjal merupakan fitnah paling dahsyat yang akan menimpa manusia sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Para ulama menegaskan bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar, lebih mengerikan, dan lebih menyesatkan darinya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang sangat besar dalam memperingatkan umatnya, lebih dari perhatian para Nabi sebelumnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umat ini di atas jalan kebenaran yang begitu jelas. Beliau menggambarkannya,تركتُكم على البيضاءِ ليلِها كنهارِها لا يزيغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Seluruh Nabi telah memperingatkan umatnya mengenai fitnah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, yakni Dajjal. Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua matanya huruf: ك ف ر (kaf – fa’ – ra’).” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan keutamaan memberikan peringatan yang paling rinci, karena beliau adalah penutup para Nabi dan umat ini adalah umat terakhir yang akan menghadapi fitnah tersebut. Tidaklah mengherankan jika beliau memberikan rincian yang sangat lengkap tentang Dajjal. Ciri fisiknya, cara kerjanya, tipu dayanya, kota-kota yang ia masuki, bahkan siapa orang pertama yang akan dibunuhnya.Berikut adalah beberapa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar umatnya selamat dari fitnah besar ini. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kita darinya.Berpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanLandasan pertama dan terpenting untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah ilmu dan akidah yang benar. Seorang muslim harus memahami tauhid dengan baik, terutama mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Inilah benteng paling kuat agar tidak tertipu oleh klaim ketuhanan Dajjal. Dengan memahami tauhid yang benar, seseorang mengetahui bahwa:Dajjal adalah manusia biasaIa makan, minum, tidur, buang hajat, dan memiliki banyak kekurangan. Allah tidak memiliki sifat-sifat itu. Firman Allah Azza wa Jalla,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)Dajjal memiliki cacat fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ“Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sangat tidak mungkin seorang makhluk cacat mengaku sebagai Tuhan.Manusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لن تروا ربَّكم حتى تموتوا“Kalian tidak akan melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal.” (HR. Abu Daud)Maka, siapa pun yang mengaku sebagai Tuhan dan terlihat oleh mata manusia, pasti dia adalah seorang pendusta. Akidah yang benar inilah yang menjadi fondasi utama agar umat Islam selamat dari tipu daya Dajjal.Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Salah satu bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau mengajarkan doa khusus yang dibaca setiap salat, sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal.Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam salatnya,اللَّهُمَّ إنِّي أعوذ بك من عذاب القبر، وأعوذ بك من فتنة المسيح الدَّجَّال … الحديث“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا تشهَّد أحدُكُم؛ فليستعذ بالله من أربع، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدَّجَّال “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’”Para ulama salaf sangat menekankan doa ini. Imam Ṭhawus rahimahullah bahkan memerintahkan putranya mengulang salat apabila lupa membaca doa ini.Ulama besar al-Saffarini rahimahullah berkata,ممّا ينبغي لكل عالم أن يبثَّ أحاديث الدَّجَّال بين الأولاد والنساء والرجال … وقد ورد أن من علامات خروجه نسيان ذكره على المنابر“Termasuk hal yang sepatutnya dilakukan oleh setiap ulama adalah menyebarkan hadis-hadis tentang Dajjal kepada anak-anak, para wanita, dan kaum laki-laki… Dan telah disebutkan bahwa di antara tanda dekatnya kemunculannya adalah mulai dilupakannya penyebutannya dari mimbar-mimbar.”ولا سيما في زماننا هذا الّذي اشرأبَّت فيه الفتن، وكَثُرت فيه المحن، واندرست فيه معالم السنن، وصارت السنن فيه كالبدع، والبدعة شرعٌ يُتَّبع، ولا حول ولا قوَّة إِلَّا بالله العلّي العظيم“Terlebih lagi pada zaman kita sekarang ini, ketika berbagai fitnah muncul menjulang, berbagai ujian semakin banyak, tanda-tanda sunah mulai hilang, sunah menjadi tampak seperti bid‘ah, sementara bid‘ah dianggap sebagai syariat yang harus diikuti. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membaca awal-awal surah al-Kahfi ketika berhadapan dengan Dajjal. Dalam sebagian riwayat disebutkan akhir-akhir surah tersebut, yaitu membaca sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir.Di antara hadis-hadis sahih tentang hal ini adalah:Pertama, hadis riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam‘an yang panjang, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أدركه منكم؛ فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف“Siapa di antara kalian yang menemui Dajjal, hendaklah ia membaca awal surah al-Kahfi.”Kedua, hadis riwayat Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف؛ عُصِمَ من الدَّجال؛ أي: من فتنته“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal” maksudnya: terlindungi dari fitnah dan tipu daya Dajjal.Imam Muslim rahimahullah menambahkan,قال شعبة: من آخر الكهف، وقال همام: من أول الكهف“Syu’bah berkata: (yang dimaksud adalah) sepuluh ayat terakhir surah al-Kahfi, sedangkan Hammām berkata: sepuluh ayat pertama.”An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,سبب ذلك ما في أولها من العجائب والآيات، فمَن تدبَّرَها؛ لم يفتتن بالدَّجَّال“Sebabnya adalah karena pada awal surah ini terdapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa merenungi ayat-ayat itu, ia tidak akan tertipu oleh Dajjal.”Membaca surah al-Kahfi merupakan salah satu keistimewaan yang khusus dianjurkan dalam syariat, dan berbagai hadis menganjurkan untuk membacanya—terutama pada hari Jumat. Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين“Siapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan dianugerahi cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.”Tidak diragukan lagi bahwa surah al-Kahfi memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang penuh keajaiban dan pelajaran: kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang diberi keteguhan iman, perjalanan Nabi Musa bersama Khidr yang sarat hikmah, kisah Dzulqarnain dan pembangunan dinding besar penghalang Ya’juj dan Ma’juj, penegasan tentang hari kebangkitan, tiupan sangkakala, serta gambaran orang-orang yang paling merugi amalnya—mereka yang menyangka berada di atas petunjuk, padahal berada dalam kesesatan dan kebutaan.Oleh karena itu, seorang Muslim selayaknya menjaga kebiasaan membaca surah ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya—terutama pada hari terbaik yang disinari matahari, yaitu hari Jumat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil petunjuk dari kitab-Nya.Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahKetika Dajjal keluar, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melihat, menantang, atau mengujinya. Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menjauh. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu ad-Dahmā’, ia berkata, “Aku mendengar ‘Imrān bin Husain menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدَّجَّال؛ فلينأَ عنه، فوالله إن الرَّجل ليأتيه وهو يحسب أنّه مؤمن، فيتبعه ممّا يبعث به من الشُّبهات، أو لما يبعث به من الشبهات“Siapa yang mendengar (kabar) tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam keadaan merasa bahwa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat (kerancuan) yang dibawanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)Dajjal membawa fitnah yang nyata:Ia mampu menyuruh langit menurunkan hujan;Membuat bumi mengeluarkan tanaman;Menghidupkan orang tampak mati yang hakikatnya bukan hidup yang sebenarnya;Membawa surga dan neraka palsu;Menipu manusia dengan kekuatan gaib.Banyak orang yang awalnya tidak meyakininya, pada akhirnya hancur karena tidak kuat menghadapi tipuannya. Namun, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Dalam hadis sahih disebutkan,عَلَى أَنْقَابِ المَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ، وَلَا الدَّجَّالُ“Di pintu-pintu (perbatasan) Madinah terdapat para malaikat; tidak akan masuk ke dalamnya tha‘un (wabah mematikan), dan tidak pula Dajjal.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain disebutkan,لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ ، وَالمَدِينَةَ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا“Tidak ada suatu negeri pun kecuali pasti akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun dari celah-celah keduanya yang dapat ia masuki, kecuali di situ para malaikat berbaris menjaga keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariDajjal adalah fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, mempelajarinya termasuk bagian dari iman, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya pencegahannya sudah dijelaskan dengan terang:Memahami tauhid dan memperkuat iman;Membaca doa perlindungan dalam salat;Menghafal ayat-ayat surah al-Kahfi;Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya.Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Islam dari fitnah Dajjal, dari fitnah dunia, dan dari segala tipu daya setan yang tampak maupun tersembunyi.Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dan ditulis ulang dengan penambahan dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 282-287.


Daftar Isi ToggleBerpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanDajjal adalah manusia biasaDajjal memiliki cacat fisikManusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaMemohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiMenjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahFitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariFitnah al-Masih ad-Dajjal merupakan fitnah paling dahsyat yang akan menimpa manusia sejak Allah menciptakan Adam hingga hari kiamat. Para ulama menegaskan bahwa tidak ada fitnah yang lebih besar, lebih mengerikan, dan lebih menyesatkan darinya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian yang sangat besar dalam memperingatkan umatnya, lebih dari perhatian para Nabi sebelumnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umat ini di atas jalan kebenaran yang begitu jelas. Beliau menggambarkannya,تركتُكم على البيضاءِ ليلِها كنهارِها لا يزيغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Seluruh Nabi telah memperingatkan umatnya mengenai fitnah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, yakni Dajjal. Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua matanya huruf: ك ف ر (kaf – fa’ – ra’).” (HR. Bukhari dan Muslim)Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan keutamaan memberikan peringatan yang paling rinci, karena beliau adalah penutup para Nabi dan umat ini adalah umat terakhir yang akan menghadapi fitnah tersebut. Tidaklah mengherankan jika beliau memberikan rincian yang sangat lengkap tentang Dajjal. Ciri fisiknya, cara kerjanya, tipu dayanya, kota-kota yang ia masuki, bahkan siapa orang pertama yang akan dibunuhnya.Berikut adalah beberapa petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar umatnya selamat dari fitnah besar ini. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kita darinya.Berpegang teguh kepada Islam dan menguatkan imanLandasan pertama dan terpenting untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah ilmu dan akidah yang benar. Seorang muslim harus memahami tauhid dengan baik, terutama mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Inilah benteng paling kuat agar tidak tertipu oleh klaim ketuhanan Dajjal. Dengan memahami tauhid yang benar, seseorang mengetahui bahwa:Dajjal adalah manusia biasaIa makan, minum, tidur, buang hajat, dan memiliki banyak kekurangan. Allah tidak memiliki sifat-sifat itu. Firman Allah Azza wa Jalla,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)Dajjal memiliki cacat fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ“Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sangat tidak mungkin seorang makhluk cacat mengaku sebagai Tuhan.Manusia tidak akan melihat Tuhannya di duniaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لن تروا ربَّكم حتى تموتوا“Kalian tidak akan melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal.” (HR. Abu Daud)Maka, siapa pun yang mengaku sebagai Tuhan dan terlihat oleh mata manusia, pasti dia adalah seorang pendusta. Akidah yang benar inilah yang menjadi fondasi utama agar umat Islam selamat dari tipu daya Dajjal.Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)Salah satu bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau mengajarkan doa khusus yang dibaca setiap salat, sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal.Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam salatnya,اللَّهُمَّ إنِّي أعوذ بك من عذاب القبر، وأعوذ بك من فتنة المسيح الدَّجَّال … الحديث“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا تشهَّد أحدُكُم؛ فليستعذ بالله من أربع، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدَّجَّال “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’”Para ulama salaf sangat menekankan doa ini. Imam Ṭhawus rahimahullah bahkan memerintahkan putranya mengulang salat apabila lupa membaca doa ini.Ulama besar al-Saffarini rahimahullah berkata,ممّا ينبغي لكل عالم أن يبثَّ أحاديث الدَّجَّال بين الأولاد والنساء والرجال … وقد ورد أن من علامات خروجه نسيان ذكره على المنابر“Termasuk hal yang sepatutnya dilakukan oleh setiap ulama adalah menyebarkan hadis-hadis tentang Dajjal kepada anak-anak, para wanita, dan kaum laki-laki… Dan telah disebutkan bahwa di antara tanda dekatnya kemunculannya adalah mulai dilupakannya penyebutannya dari mimbar-mimbar.”ولا سيما في زماننا هذا الّذي اشرأبَّت فيه الفتن، وكَثُرت فيه المحن، واندرست فيه معالم السنن، وصارت السنن فيه كالبدع، والبدعة شرعٌ يُتَّبع، ولا حول ولا قوَّة إِلَّا بالله العلّي العظيم“Terlebih lagi pada zaman kita sekarang ini, ketika berbagai fitnah muncul menjulang, berbagai ujian semakin banyak, tanda-tanda sunah mulai hilang, sunah menjadi tampak seperti bid‘ah, sementara bid‘ah dianggap sebagai syariat yang harus diikuti. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-KahfiNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membaca awal-awal surah al-Kahfi ketika berhadapan dengan Dajjal. Dalam sebagian riwayat disebutkan akhir-akhir surah tersebut, yaitu membaca sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir.Di antara hadis-hadis sahih tentang hal ini adalah:Pertama, hadis riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam‘an yang panjang, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من أدركه منكم؛ فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف“Siapa di antara kalian yang menemui Dajjal, hendaklah ia membaca awal surah al-Kahfi.”Kedua, hadis riwayat Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف؛ عُصِمَ من الدَّجال؛ أي: من فتنته“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal” maksudnya: terlindungi dari fitnah dan tipu daya Dajjal.Imam Muslim rahimahullah menambahkan,قال شعبة: من آخر الكهف، وقال همام: من أول الكهف“Syu’bah berkata: (yang dimaksud adalah) sepuluh ayat terakhir surah al-Kahfi, sedangkan Hammām berkata: sepuluh ayat pertama.”An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,سبب ذلك ما في أولها من العجائب والآيات، فمَن تدبَّرَها؛ لم يفتتن بالدَّجَّال“Sebabnya adalah karena pada awal surah ini terdapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa merenungi ayat-ayat itu, ia tidak akan tertipu oleh Dajjal.”Membaca surah al-Kahfi merupakan salah satu keistimewaan yang khusus dianjurkan dalam syariat, dan berbagai hadis menganjurkan untuk membacanya—terutama pada hari Jumat. Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين“Siapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan dianugerahi cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.”Tidak diragukan lagi bahwa surah al-Kahfi memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang penuh keajaiban dan pelajaran: kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang diberi keteguhan iman, perjalanan Nabi Musa bersama Khidr yang sarat hikmah, kisah Dzulqarnain dan pembangunan dinding besar penghalang Ya’juj dan Ma’juj, penegasan tentang hari kebangkitan, tiupan sangkakala, serta gambaran orang-orang yang paling merugi amalnya—mereka yang menyangka berada di atas petunjuk, padahal berada dalam kesesatan dan kebutaan.Oleh karena itu, seorang Muslim selayaknya menjaga kebiasaan membaca surah ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya—terutama pada hari terbaik yang disinari matahari, yaitu hari Jumat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil petunjuk dari kitab-Nya.Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau MadinahKetika Dajjal keluar, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melihat, menantang, atau mengujinya. Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menjauh. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu ad-Dahmā’, ia berkata, “Aku mendengar ‘Imrān bin Husain menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من سمع بالدَّجَّال؛ فلينأَ عنه، فوالله إن الرَّجل ليأتيه وهو يحسب أنّه مؤمن، فيتبعه ممّا يبعث به من الشُّبهات، أو لما يبعث به من الشبهات“Siapa yang mendengar (kabar) tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam keadaan merasa bahwa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat (kerancuan) yang dibawanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)Dajjal membawa fitnah yang nyata:Ia mampu menyuruh langit menurunkan hujan;Membuat bumi mengeluarkan tanaman;Menghidupkan orang tampak mati yang hakikatnya bukan hidup yang sebenarnya;Membawa surga dan neraka palsu;Menipu manusia dengan kekuatan gaib.Banyak orang yang awalnya tidak meyakininya, pada akhirnya hancur karena tidak kuat menghadapi tipuannya. Namun, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Dalam hadis sahih disebutkan,عَلَى أَنْقَابِ المَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ، وَلَا الدَّجَّالُ“Di pintu-pintu (perbatasan) Madinah terdapat para malaikat; tidak akan masuk ke dalamnya tha‘un (wabah mematikan), dan tidak pula Dajjal.” (HR. Muslim)Dalam hadis lain disebutkan,لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ ، وَالمَدِينَةَ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا“Tidak ada suatu negeri pun kecuali pasti akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun dari celah-celah keduanya yang dapat ia masuki, kecuali di situ para malaikat berbaris menjaga keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajariDajjal adalah fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, mempelajarinya termasuk bagian dari iman, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya pencegahannya sudah dijelaskan dengan terang:Memahami tauhid dan memperkuat iman;Membaca doa perlindungan dalam salat;Menghafal ayat-ayat surah al-Kahfi;Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya.Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Islam dari fitnah Dajjal, dari fitnah dunia, dan dari segala tipu daya setan yang tampak maupun tersembunyi.Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu Ta’ala a’lam.***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Referensi:Diterjemahkan dan ditulis ulang dengan penambahan dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 282-287.

Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)

Masuk bahasan juz kedelapan, kita ambil dari surah Al-A’raf. Pada hari kiamat, Allah Ta’ala menimbang amal manusia dengan keadilan yang sempurna—tanpa kezaliman sedikit pun. Ada yang berat timbangan kebaikannya lalu beruntung, ada yang ringan timbangan kebaikannya lalu merugi, dan ada pula yang kebaikan serta keburukannya seimbang. Golongan terakhir inilah yang dikenal sebagai Ashabul A’raf, tertahan sementara di tempat tinggi antara surga dan neraka, sebelum akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Baca juga: Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka  Daftar Isi tutup 1. Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi? 2. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan Neraka 3. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama? 4. Tiga Golongan Manusia Saat Amal Ditimbang 4.1. Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. 4.2. Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya. 4.3. Ketiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. 5. Al-A’raf dan Keadilan Allah yang Sempurna  Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi?Allah Ta’ala berfirman,وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8)وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kedelapan, “Penimbangan amal pada hari Kiamat dilakukan dengan penuh keadilan dan keseimbangan yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kezaliman dan kecurangan di dalamnya.{ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ }“Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya),”Maksudnya, apabila timbangan kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.{ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }“Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”Yakni, mereka adalah orang-orang yang selamat dari segala hal yang tidak menyenangkan, dan berhasil meraih segala yang mereka cintai. Mereka memperoleh keuntungan yang sangat besar serta kebahagiaan yang abadi.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kesembilan,Maksudnya, ketika keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, sehingga keputusan berpihak kepada keburukan tersebut.{ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ }“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri.”Karena mereka kehilangan kenikmatan yang kekal, dan justru mendapatkan azab yang sangat pedih.{ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ }“Disebabkan karena mereka selalu menzalimi ayat-ayat Kami.”Yaitu, mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada ayat-ayat Allah sebagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan NerakaAllah Ta‘ala berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A’raf: 46)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Maknanya: Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat suatu pembatas yang disebut { الأَعْرَاف }. Ia bukan bagian dari surga dan bukan pula dari neraka, melainkan suatu tempat yang tinggi yang dapat melihat kedua tempat tersebut.Di atas pembatas itu terdapat sejumlah laki-laki yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka, yaitu ciri-ciri yang dengan itu mereka bisa dibedakan dan dikenali.Ketika mereka memandang penghuni surga, mereka menyeru kepada mereka dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah atas kalian).”Mereka memberi salam dan menyapa penghuni surga dengan penuh penghormatan.Adapun mereka sendiri, sampai saat itu belum masuk ke dalam surga, namun hati mereka dipenuhi harapan untuk memasukinya. Allah tidaklah menanamkan harapan dalam hati mereka kecuali karena Dia menghendaki kemuliaan dan kebaikan bagi mereka.Allah Ta‘ala berfirman,۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.” (QS. Al-A’raf: 47)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Artinya, ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan dan dahsyat.Mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.”Adapun ketika mereka melihat penghuni surga, mereka berharap dapat bergabung bersama mereka di dalam surga. Mereka memberi salam dan menyapa mereka dengan penuh penghormatan.Namun ketika pandangan mereka tanpa pilihan mereka sendiri diarahkan kepada penghuni neraka, mereka segera memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan mengerikan tersebut, secara umum, agar tidak dijadikan termasuk golongan orang-orang yang zalim itu.Allah Ta‘ala berfirman,وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ“Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.” (QS. Al-A’raf: 48)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Kemudian Allah menyebutkan perincian setelah penyebutan secara umum.{ وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ }Penghuni Al-A‘raf menyeru sejumlah orang yang mereka kenali dari tanda-tandanya. Mereka adalah bagian dari penghuni neraka. Dahulu ketika di dunia, mereka memiliki kewibawaan, kedudukan terhormat, harta yang banyak, dan anak-anak.Ketika penghuni Al-A‘raf melihat mereka kini menyendiri dalam azab, tanpa penolong dan tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan, mereka berkata:{ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ }“Tidaklah berguna bagi kalian apa yang dahulu kalian kumpulkan.”Yaitu segala yang dahulu kalian kumpulkan di dunia—berupa kekuatan, pengikut, harta, dan sarana untuk menolak berbagai kesulitan serta untuk meraih keinginan-keinginan dunia—pada hari ini semuanya telah lenyap. Tidak satu pun mampu menolong kalian.{ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ }“Dan (tidak pula berguna) kesombongan yang dahulu kalian lakukan.”Apa manfaat kesombongan kalian terhadap kebenaran, terhadap orang yang membawanya, dan terhadap orang-orang yang mengikutinya? Kini semua itu sama sekali tidak memberi faedah.Allah Ta’ala berfirman,أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.” (QS. Al-A’raf: 49)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.udian mereka (penghuni Al-A‘raf) menunjuk kepada sekelompok orang dari penghuni surga. Dahulu di dunia, mereka adalah orang-orang fakir dan lemah yang sering diejek dan direndahkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka:{ أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ }“Apakah mereka ini orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?”Ucapan itu dahulu kalian lontarkan karena meremehkan dan merendahkan mereka, serta karena rasa bangga terhadap diri kalian sendiri. Kini sumpah kalian terbukti dusta, dan tampak bagi kalian dari ketetapan Allah sesuatu yang tidak pernah kalian perhitungkan.Lalu dikatakan kepada orang-orang yang dahulu lemah itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan:{ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ }“Masuklah kalian ke dalam surga,”yakni dengan sebab amal saleh yang dahulu kalian kerjakan.{ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ }“Tidak ada rasa takut atas kalian,”yakni terhadap apa pun yang akan datang dari berbagai hal yang tidak menyenangkan.{ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ }“Dan tidak pula kalian bersedih hati,”atas apa yang telah berlalu. Bahkan mereka dalam keadaan aman, tenteram, dan bergembira dengan segala kebaikan.Keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:{ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ }“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata (mengolok-olok).”Hingga firman-Nya:{ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ۝ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ }“Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapakah penghuni Al-A‘raf dan bagaimana keadaan amal mereka. Pendapat yang paling tepat adalah bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Keburukan mereka tidak lebih berat yang bisa membuat mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat yang bisa membuat mereka langsung masuk surga.Karena itu, mereka berada di Al-A‘raf selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah mendahului dan mengalahkan murka-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama?Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Al-A‘raf adalah dinding (pembatas) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:{ فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ }“Maka diadakan di antara mereka suatu dinding yang memiliki pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya, dari arahnya, terdapat azab.” (QS. Al-Hadid: 13)Dinding itulah Al-A‘raf yang disebutkan dalam firman Allah:{ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ }“Dan di atas Al-A‘raf ada orang-orang (laki-laki).”Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suddi bahwa dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas,”yang dimaksud adalah dinding tersebut, yaitu Al-A‘raf.Mujahid berkata: Al-A‘raf adalah pembatas antara surga dan neraka, berupa dinding yang memiliki pintu.Ibnu Jarir menjelaskan: Kata “Al-A‘raf” adalah bentuk jamak dari “’urf”. Dalam bahasa Arab, setiap tempat yang tinggi dari permukaan tanah disebut “’urf”. Karena itu, jengger ayam disebut “’urf” disebabkan letaknya yang menonjol dan tinggi.Sufyan bin Waki‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Al-A‘raf adalah sesuatu yang tinggi dan menonjol.Ats-Tsauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Al-A‘raf adalah dinding seperti jengger ayam.Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas disebutkan: Al-A‘raf adalah sebuah bukit antara surga dan neraka. Di atasnya tertahan sejumlah orang yang memiliki dosa, berada di antara surga dan neraka.Dalam riwayat lain lagi dari beliau: Al-A‘raf adalah dinding antara surga dan neraka.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan sejumlah ahli tafsir lainnya.As-Suddi berkata: Al-A‘raf dinamakan demikian karena para penghuninya dapat mengenali manusia (dari tanda-tandanya).Para ahli tafsir memang berbeda dalam ungkapan tentang siapa penghuni Al-A‘raf itu. Namun, seluruh pendapat tersebut pada hakikatnya kembali kepada satu makna yang sama, yaitu bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Pendapat ini ditegaskan oleh Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan sejumlah ulama salaf serta khalaf lainnya, rahimahumullah.Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Penghuni Al-A‘raf adalah kaum yang amal-amal mereka seimbang. Kebaikan mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, dan keburukan mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditempatkan di Al-A‘raf. Mereka mengenali manusia melalui tanda-tandanya. Ketika Allah telah memutuskan perkara di antara para hamba, mereka diizinkan untuk meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Berilah kami syafaat di sisi Rabbmu.’Adam menjawab, ‘Apakah kalian mengetahui ada seorang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh kepadanya, rahmat-Nya mendahului murka-Nya untuknya, dan para malaikat bersujud kepadanya selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Adam berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Ibrahim.’Mereka pun mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam dan memintanya memberi syafaat. Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih-Nya) selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dibakar oleh kaumnya karena Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Ibrahim berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Musa.’Mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Musa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ajak bicara secara langsung dan Dia dekatkan sebagai orang yang diajak berbicara secara khusus selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Musa berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Isa.’Mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Isa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ciptakan tanpa ayah selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dapat menyembuhkan orang buta dan penderita kusta serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Isa berkata, ‘Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’Mereka pun mendatangiku,” kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku menepuk dadaku dan berkata, ‘Aku yang akan melakukannya.’Aku berjalan hingga berdiri di hadapan ‘Arsy. Aku menghadap Rabbku ‘Azza wa Jalla. Maka Allah membukakan untukku pujian-pujian yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Lalu aku bersujud.Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.’Aku mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku.’Allah berfirman, ‘Mereka untukmu.’Tidak ada seorang nabi yang diutus dan tidak pula malaikat yang didekatkan kepada Allah kecuali merasa iri terhadap kedudukanku saat itu. Itulah maqam mahmud (kedudukan terpuji).Aku pun membawa mereka ke surga. Aku meminta agar pintu surga dibukakan, maka dibukakan untukku dan untuk mereka.Mereka kemudian dibawa ke sebuah sungai yang disebut Sungai Al-Hayawan. Di tepinya terdapat mutiara yang tersusun indah. Tanahnya beraroma kasturi dan kerikilnya dari batu yaqut.Mereka mandi di sungai itu, lalu warna tubuh mereka menjadi seperti warna penghuni surga, dan aroma mereka menjadi seperti aroma penghuni surga. Mereka pun menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya.Namun di dada mereka masih terdapat tanda putih yang dengan itu mereka dikenali. Mereka disebut sebagai ‘orang-orang miskin penghuni surga (masaakin ahli Jannah).’” Tiga Golongan Manusia Saat Amal DitimbangJika amal perbuatan telah ditimbang pada hari kiamat, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan:Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan beruntung.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴾“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minūn: 102–103)Allah juga berfirman:﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ ﴾“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qāri‘ah: 6–11)Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya.Jika ia seorang muslim, maka ia akan masuk neraka. Setelah dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya, ia akan dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke dalam surga.Namun jika ia seorang kafir, maka ia akan kekal selamanya di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surah Al-Mu’minūn di atas.Catatan:Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki amal kebaikan yang sah, karena syarat utamanya adalah iman. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا“Barang siapa beramal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan takut dizalimi dan tidak akan dirugikan.” (QS. Ṭāhā: 112)Amal orang kafir memang tetap dicatat dan dihitung. Mereka akan ditunjukkan amal-amal itu di hadapan khalayak ramai, agar semakin dipermalukan. Setelah itu, mereka pun disiksa karenanya.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ“Sungguh, akan datang seseorang pada hari Kiamat, tubuhnya besar dan gemuk, tetapi di sisi Allah ia tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْفَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا“Bacalah jika kalian mau: {Maka Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka di hari Kiamat}.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Penutup Surah Al-Kahfi: Peringatan Keras dan Janji Mulia dari AllahKetiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka adalah Ashabul A‘raf (para penghuni A‘raf). Mereka berada di suatu tempat di antara surga dan neraka. Dari sana mereka dapat melihat kedua golongan tersebut.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ۝ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding pemisah. Dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dari tanda-tandanya. Mereka menyeru kepada penghuni surga, ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk ke dalamnya, namun mereka sangat ingin (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–47)Adapun akhir perjalanan penghuni A‘raf adalah masuk surga setelah itu.Catatan:Bagaimana pun rahmat Allah tetaplah mendahului murka-Nya.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751) Al-A’raf dan Keadilan Allah yang SempurnaAl-A‘raf adalah tempat yang tinggi di antara surga dan neraka. Ia berupa dinding atau pembatas (suur) yang memisahkan keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas.”Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A‘raf adalah tempat yang menonjol dan tinggi, sehingga orang yang berada di atasnya dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus. Kata “Al-A‘raf” sendiri berasal dari kata “‘urf” yang berarti sesuatu yang tinggi dan menonjol. Siapa Ashabul A‘raf?Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Kebaikan mereka tidak lebih berat sehingga langsung masuk surga.Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga masuk neraka.Maka mereka ditempatkan sementara di Al-A‘raf.Mereka:Mengenali penghuni surga dan neraka dari tanda-tandanya.Memberi salam kepada penghuni surga.Takut ketika melihat penghuni neraka.Berharap masuk surga.Setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba, Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Ya Allah, beratkanlah timbangan kebaikan kami, ampuni dan hapuskan keburukan kami. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Jangan Engkau tahan kami di Al-A‘raf. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic Fatwa 150768 dari Islamqa.Fatwa 98964 dari Islamqa. —– Rabu siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat renungan ayat renungan quran surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf

Ashabul A’raf: Golongan yang Timbangannya Seimbang, Tertahan di Antara Surga dan Neraka (Surah Al-A’raf ayat 46-49)

Masuk bahasan juz kedelapan, kita ambil dari surah Al-A’raf. Pada hari kiamat, Allah Ta’ala menimbang amal manusia dengan keadilan yang sempurna—tanpa kezaliman sedikit pun. Ada yang berat timbangan kebaikannya lalu beruntung, ada yang ringan timbangan kebaikannya lalu merugi, dan ada pula yang kebaikan serta keburukannya seimbang. Golongan terakhir inilah yang dikenal sebagai Ashabul A’raf, tertahan sementara di tempat tinggi antara surga dan neraka, sebelum akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Baca juga: Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka  Daftar Isi tutup 1. Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi? 2. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan Neraka 3. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama? 4. Tiga Golongan Manusia Saat Amal Ditimbang 4.1. Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. 4.2. Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya. 4.3. Ketiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. 5. Al-A’raf dan Keadilan Allah yang Sempurna  Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi?Allah Ta’ala berfirman,وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8)وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kedelapan, “Penimbangan amal pada hari Kiamat dilakukan dengan penuh keadilan dan keseimbangan yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kezaliman dan kecurangan di dalamnya.{ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ }“Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya),”Maksudnya, apabila timbangan kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.{ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }“Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”Yakni, mereka adalah orang-orang yang selamat dari segala hal yang tidak menyenangkan, dan berhasil meraih segala yang mereka cintai. Mereka memperoleh keuntungan yang sangat besar serta kebahagiaan yang abadi.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kesembilan,Maksudnya, ketika keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, sehingga keputusan berpihak kepada keburukan tersebut.{ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ }“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri.”Karena mereka kehilangan kenikmatan yang kekal, dan justru mendapatkan azab yang sangat pedih.{ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ }“Disebabkan karena mereka selalu menzalimi ayat-ayat Kami.”Yaitu, mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada ayat-ayat Allah sebagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan NerakaAllah Ta‘ala berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A’raf: 46)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Maknanya: Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat suatu pembatas yang disebut { الأَعْرَاف }. Ia bukan bagian dari surga dan bukan pula dari neraka, melainkan suatu tempat yang tinggi yang dapat melihat kedua tempat tersebut.Di atas pembatas itu terdapat sejumlah laki-laki yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka, yaitu ciri-ciri yang dengan itu mereka bisa dibedakan dan dikenali.Ketika mereka memandang penghuni surga, mereka menyeru kepada mereka dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah atas kalian).”Mereka memberi salam dan menyapa penghuni surga dengan penuh penghormatan.Adapun mereka sendiri, sampai saat itu belum masuk ke dalam surga, namun hati mereka dipenuhi harapan untuk memasukinya. Allah tidaklah menanamkan harapan dalam hati mereka kecuali karena Dia menghendaki kemuliaan dan kebaikan bagi mereka.Allah Ta‘ala berfirman,۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.” (QS. Al-A’raf: 47)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Artinya, ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan dan dahsyat.Mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.”Adapun ketika mereka melihat penghuni surga, mereka berharap dapat bergabung bersama mereka di dalam surga. Mereka memberi salam dan menyapa mereka dengan penuh penghormatan.Namun ketika pandangan mereka tanpa pilihan mereka sendiri diarahkan kepada penghuni neraka, mereka segera memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan mengerikan tersebut, secara umum, agar tidak dijadikan termasuk golongan orang-orang yang zalim itu.Allah Ta‘ala berfirman,وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ“Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.” (QS. Al-A’raf: 48)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Kemudian Allah menyebutkan perincian setelah penyebutan secara umum.{ وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ }Penghuni Al-A‘raf menyeru sejumlah orang yang mereka kenali dari tanda-tandanya. Mereka adalah bagian dari penghuni neraka. Dahulu ketika di dunia, mereka memiliki kewibawaan, kedudukan terhormat, harta yang banyak, dan anak-anak.Ketika penghuni Al-A‘raf melihat mereka kini menyendiri dalam azab, tanpa penolong dan tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan, mereka berkata:{ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ }“Tidaklah berguna bagi kalian apa yang dahulu kalian kumpulkan.”Yaitu segala yang dahulu kalian kumpulkan di dunia—berupa kekuatan, pengikut, harta, dan sarana untuk menolak berbagai kesulitan serta untuk meraih keinginan-keinginan dunia—pada hari ini semuanya telah lenyap. Tidak satu pun mampu menolong kalian.{ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ }“Dan (tidak pula berguna) kesombongan yang dahulu kalian lakukan.”Apa manfaat kesombongan kalian terhadap kebenaran, terhadap orang yang membawanya, dan terhadap orang-orang yang mengikutinya? Kini semua itu sama sekali tidak memberi faedah.Allah Ta’ala berfirman,أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.” (QS. Al-A’raf: 49)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.udian mereka (penghuni Al-A‘raf) menunjuk kepada sekelompok orang dari penghuni surga. Dahulu di dunia, mereka adalah orang-orang fakir dan lemah yang sering diejek dan direndahkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka:{ أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ }“Apakah mereka ini orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?”Ucapan itu dahulu kalian lontarkan karena meremehkan dan merendahkan mereka, serta karena rasa bangga terhadap diri kalian sendiri. Kini sumpah kalian terbukti dusta, dan tampak bagi kalian dari ketetapan Allah sesuatu yang tidak pernah kalian perhitungkan.Lalu dikatakan kepada orang-orang yang dahulu lemah itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan:{ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ }“Masuklah kalian ke dalam surga,”yakni dengan sebab amal saleh yang dahulu kalian kerjakan.{ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ }“Tidak ada rasa takut atas kalian,”yakni terhadap apa pun yang akan datang dari berbagai hal yang tidak menyenangkan.{ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ }“Dan tidak pula kalian bersedih hati,”atas apa yang telah berlalu. Bahkan mereka dalam keadaan aman, tenteram, dan bergembira dengan segala kebaikan.Keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:{ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ }“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata (mengolok-olok).”Hingga firman-Nya:{ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ۝ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ }“Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapakah penghuni Al-A‘raf dan bagaimana keadaan amal mereka. Pendapat yang paling tepat adalah bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Keburukan mereka tidak lebih berat yang bisa membuat mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat yang bisa membuat mereka langsung masuk surga.Karena itu, mereka berada di Al-A‘raf selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah mendahului dan mengalahkan murka-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama?Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Al-A‘raf adalah dinding (pembatas) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:{ فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ }“Maka diadakan di antara mereka suatu dinding yang memiliki pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya, dari arahnya, terdapat azab.” (QS. Al-Hadid: 13)Dinding itulah Al-A‘raf yang disebutkan dalam firman Allah:{ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ }“Dan di atas Al-A‘raf ada orang-orang (laki-laki).”Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suddi bahwa dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas,”yang dimaksud adalah dinding tersebut, yaitu Al-A‘raf.Mujahid berkata: Al-A‘raf adalah pembatas antara surga dan neraka, berupa dinding yang memiliki pintu.Ibnu Jarir menjelaskan: Kata “Al-A‘raf” adalah bentuk jamak dari “’urf”. Dalam bahasa Arab, setiap tempat yang tinggi dari permukaan tanah disebut “’urf”. Karena itu, jengger ayam disebut “’urf” disebabkan letaknya yang menonjol dan tinggi.Sufyan bin Waki‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Al-A‘raf adalah sesuatu yang tinggi dan menonjol.Ats-Tsauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Al-A‘raf adalah dinding seperti jengger ayam.Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas disebutkan: Al-A‘raf adalah sebuah bukit antara surga dan neraka. Di atasnya tertahan sejumlah orang yang memiliki dosa, berada di antara surga dan neraka.Dalam riwayat lain lagi dari beliau: Al-A‘raf adalah dinding antara surga dan neraka.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan sejumlah ahli tafsir lainnya.As-Suddi berkata: Al-A‘raf dinamakan demikian karena para penghuninya dapat mengenali manusia (dari tanda-tandanya).Para ahli tafsir memang berbeda dalam ungkapan tentang siapa penghuni Al-A‘raf itu. Namun, seluruh pendapat tersebut pada hakikatnya kembali kepada satu makna yang sama, yaitu bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Pendapat ini ditegaskan oleh Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan sejumlah ulama salaf serta khalaf lainnya, rahimahumullah.Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Penghuni Al-A‘raf adalah kaum yang amal-amal mereka seimbang. Kebaikan mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, dan keburukan mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditempatkan di Al-A‘raf. Mereka mengenali manusia melalui tanda-tandanya. Ketika Allah telah memutuskan perkara di antara para hamba, mereka diizinkan untuk meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Berilah kami syafaat di sisi Rabbmu.’Adam menjawab, ‘Apakah kalian mengetahui ada seorang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh kepadanya, rahmat-Nya mendahului murka-Nya untuknya, dan para malaikat bersujud kepadanya selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Adam berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Ibrahim.’Mereka pun mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam dan memintanya memberi syafaat. Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih-Nya) selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dibakar oleh kaumnya karena Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Ibrahim berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Musa.’Mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Musa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ajak bicara secara langsung dan Dia dekatkan sebagai orang yang diajak berbicara secara khusus selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Musa berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Isa.’Mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Isa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ciptakan tanpa ayah selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dapat menyembuhkan orang buta dan penderita kusta serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Isa berkata, ‘Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’Mereka pun mendatangiku,” kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku menepuk dadaku dan berkata, ‘Aku yang akan melakukannya.’Aku berjalan hingga berdiri di hadapan ‘Arsy. Aku menghadap Rabbku ‘Azza wa Jalla. Maka Allah membukakan untukku pujian-pujian yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Lalu aku bersujud.Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.’Aku mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku.’Allah berfirman, ‘Mereka untukmu.’Tidak ada seorang nabi yang diutus dan tidak pula malaikat yang didekatkan kepada Allah kecuali merasa iri terhadap kedudukanku saat itu. Itulah maqam mahmud (kedudukan terpuji).Aku pun membawa mereka ke surga. Aku meminta agar pintu surga dibukakan, maka dibukakan untukku dan untuk mereka.Mereka kemudian dibawa ke sebuah sungai yang disebut Sungai Al-Hayawan. Di tepinya terdapat mutiara yang tersusun indah. Tanahnya beraroma kasturi dan kerikilnya dari batu yaqut.Mereka mandi di sungai itu, lalu warna tubuh mereka menjadi seperti warna penghuni surga, dan aroma mereka menjadi seperti aroma penghuni surga. Mereka pun menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya.Namun di dada mereka masih terdapat tanda putih yang dengan itu mereka dikenali. Mereka disebut sebagai ‘orang-orang miskin penghuni surga (masaakin ahli Jannah).’” Tiga Golongan Manusia Saat Amal DitimbangJika amal perbuatan telah ditimbang pada hari kiamat, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan:Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan beruntung.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴾“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minūn: 102–103)Allah juga berfirman:﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ ﴾“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qāri‘ah: 6–11)Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya.Jika ia seorang muslim, maka ia akan masuk neraka. Setelah dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya, ia akan dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke dalam surga.Namun jika ia seorang kafir, maka ia akan kekal selamanya di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surah Al-Mu’minūn di atas.Catatan:Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki amal kebaikan yang sah, karena syarat utamanya adalah iman. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا“Barang siapa beramal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan takut dizalimi dan tidak akan dirugikan.” (QS. Ṭāhā: 112)Amal orang kafir memang tetap dicatat dan dihitung. Mereka akan ditunjukkan amal-amal itu di hadapan khalayak ramai, agar semakin dipermalukan. Setelah itu, mereka pun disiksa karenanya.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ“Sungguh, akan datang seseorang pada hari Kiamat, tubuhnya besar dan gemuk, tetapi di sisi Allah ia tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْفَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا“Bacalah jika kalian mau: {Maka Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka di hari Kiamat}.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Penutup Surah Al-Kahfi: Peringatan Keras dan Janji Mulia dari AllahKetiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka adalah Ashabul A‘raf (para penghuni A‘raf). Mereka berada di suatu tempat di antara surga dan neraka. Dari sana mereka dapat melihat kedua golongan tersebut.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ۝ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding pemisah. Dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dari tanda-tandanya. Mereka menyeru kepada penghuni surga, ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk ke dalamnya, namun mereka sangat ingin (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–47)Adapun akhir perjalanan penghuni A‘raf adalah masuk surga setelah itu.Catatan:Bagaimana pun rahmat Allah tetaplah mendahului murka-Nya.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751) Al-A’raf dan Keadilan Allah yang SempurnaAl-A‘raf adalah tempat yang tinggi di antara surga dan neraka. Ia berupa dinding atau pembatas (suur) yang memisahkan keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas.”Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A‘raf adalah tempat yang menonjol dan tinggi, sehingga orang yang berada di atasnya dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus. Kata “Al-A‘raf” sendiri berasal dari kata “‘urf” yang berarti sesuatu yang tinggi dan menonjol. Siapa Ashabul A‘raf?Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Kebaikan mereka tidak lebih berat sehingga langsung masuk surga.Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga masuk neraka.Maka mereka ditempatkan sementara di Al-A‘raf.Mereka:Mengenali penghuni surga dan neraka dari tanda-tandanya.Memberi salam kepada penghuni surga.Takut ketika melihat penghuni neraka.Berharap masuk surga.Setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba, Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Ya Allah, beratkanlah timbangan kebaikan kami, ampuni dan hapuskan keburukan kami. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Jangan Engkau tahan kami di Al-A‘raf. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic Fatwa 150768 dari Islamqa.Fatwa 98964 dari Islamqa. —– Rabu siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat renungan ayat renungan quran surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf
Masuk bahasan juz kedelapan, kita ambil dari surah Al-A’raf. Pada hari kiamat, Allah Ta’ala menimbang amal manusia dengan keadilan yang sempurna—tanpa kezaliman sedikit pun. Ada yang berat timbangan kebaikannya lalu beruntung, ada yang ringan timbangan kebaikannya lalu merugi, dan ada pula yang kebaikan serta keburukannya seimbang. Golongan terakhir inilah yang dikenal sebagai Ashabul A’raf, tertahan sementara di tempat tinggi antara surga dan neraka, sebelum akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Baca juga: Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka  Daftar Isi tutup 1. Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi? 2. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan Neraka 3. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama? 4. Tiga Golongan Manusia Saat Amal Ditimbang 4.1. Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. 4.2. Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya. 4.3. Ketiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. 5. Al-A’raf dan Keadilan Allah yang Sempurna  Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi?Allah Ta’ala berfirman,وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8)وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kedelapan, “Penimbangan amal pada hari Kiamat dilakukan dengan penuh keadilan dan keseimbangan yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kezaliman dan kecurangan di dalamnya.{ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ }“Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya),”Maksudnya, apabila timbangan kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.{ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }“Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”Yakni, mereka adalah orang-orang yang selamat dari segala hal yang tidak menyenangkan, dan berhasil meraih segala yang mereka cintai. Mereka memperoleh keuntungan yang sangat besar serta kebahagiaan yang abadi.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kesembilan,Maksudnya, ketika keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, sehingga keputusan berpihak kepada keburukan tersebut.{ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ }“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri.”Karena mereka kehilangan kenikmatan yang kekal, dan justru mendapatkan azab yang sangat pedih.{ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ }“Disebabkan karena mereka selalu menzalimi ayat-ayat Kami.”Yaitu, mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada ayat-ayat Allah sebagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan NerakaAllah Ta‘ala berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A’raf: 46)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Maknanya: Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat suatu pembatas yang disebut { الأَعْرَاف }. Ia bukan bagian dari surga dan bukan pula dari neraka, melainkan suatu tempat yang tinggi yang dapat melihat kedua tempat tersebut.Di atas pembatas itu terdapat sejumlah laki-laki yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka, yaitu ciri-ciri yang dengan itu mereka bisa dibedakan dan dikenali.Ketika mereka memandang penghuni surga, mereka menyeru kepada mereka dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah atas kalian).”Mereka memberi salam dan menyapa penghuni surga dengan penuh penghormatan.Adapun mereka sendiri, sampai saat itu belum masuk ke dalam surga, namun hati mereka dipenuhi harapan untuk memasukinya. Allah tidaklah menanamkan harapan dalam hati mereka kecuali karena Dia menghendaki kemuliaan dan kebaikan bagi mereka.Allah Ta‘ala berfirman,۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.” (QS. Al-A’raf: 47)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Artinya, ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan dan dahsyat.Mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.”Adapun ketika mereka melihat penghuni surga, mereka berharap dapat bergabung bersama mereka di dalam surga. Mereka memberi salam dan menyapa mereka dengan penuh penghormatan.Namun ketika pandangan mereka tanpa pilihan mereka sendiri diarahkan kepada penghuni neraka, mereka segera memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan mengerikan tersebut, secara umum, agar tidak dijadikan termasuk golongan orang-orang yang zalim itu.Allah Ta‘ala berfirman,وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ“Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.” (QS. Al-A’raf: 48)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Kemudian Allah menyebutkan perincian setelah penyebutan secara umum.{ وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ }Penghuni Al-A‘raf menyeru sejumlah orang yang mereka kenali dari tanda-tandanya. Mereka adalah bagian dari penghuni neraka. Dahulu ketika di dunia, mereka memiliki kewibawaan, kedudukan terhormat, harta yang banyak, dan anak-anak.Ketika penghuni Al-A‘raf melihat mereka kini menyendiri dalam azab, tanpa penolong dan tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan, mereka berkata:{ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ }“Tidaklah berguna bagi kalian apa yang dahulu kalian kumpulkan.”Yaitu segala yang dahulu kalian kumpulkan di dunia—berupa kekuatan, pengikut, harta, dan sarana untuk menolak berbagai kesulitan serta untuk meraih keinginan-keinginan dunia—pada hari ini semuanya telah lenyap. Tidak satu pun mampu menolong kalian.{ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ }“Dan (tidak pula berguna) kesombongan yang dahulu kalian lakukan.”Apa manfaat kesombongan kalian terhadap kebenaran, terhadap orang yang membawanya, dan terhadap orang-orang yang mengikutinya? Kini semua itu sama sekali tidak memberi faedah.Allah Ta’ala berfirman,أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.” (QS. Al-A’raf: 49)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.udian mereka (penghuni Al-A‘raf) menunjuk kepada sekelompok orang dari penghuni surga. Dahulu di dunia, mereka adalah orang-orang fakir dan lemah yang sering diejek dan direndahkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka:{ أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ }“Apakah mereka ini orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?”Ucapan itu dahulu kalian lontarkan karena meremehkan dan merendahkan mereka, serta karena rasa bangga terhadap diri kalian sendiri. Kini sumpah kalian terbukti dusta, dan tampak bagi kalian dari ketetapan Allah sesuatu yang tidak pernah kalian perhitungkan.Lalu dikatakan kepada orang-orang yang dahulu lemah itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan:{ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ }“Masuklah kalian ke dalam surga,”yakni dengan sebab amal saleh yang dahulu kalian kerjakan.{ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ }“Tidak ada rasa takut atas kalian,”yakni terhadap apa pun yang akan datang dari berbagai hal yang tidak menyenangkan.{ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ }“Dan tidak pula kalian bersedih hati,”atas apa yang telah berlalu. Bahkan mereka dalam keadaan aman, tenteram, dan bergembira dengan segala kebaikan.Keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:{ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ }“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata (mengolok-olok).”Hingga firman-Nya:{ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ۝ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ }“Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapakah penghuni Al-A‘raf dan bagaimana keadaan amal mereka. Pendapat yang paling tepat adalah bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Keburukan mereka tidak lebih berat yang bisa membuat mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat yang bisa membuat mereka langsung masuk surga.Karena itu, mereka berada di Al-A‘raf selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah mendahului dan mengalahkan murka-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama?Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Al-A‘raf adalah dinding (pembatas) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:{ فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ }“Maka diadakan di antara mereka suatu dinding yang memiliki pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya, dari arahnya, terdapat azab.” (QS. Al-Hadid: 13)Dinding itulah Al-A‘raf yang disebutkan dalam firman Allah:{ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ }“Dan di atas Al-A‘raf ada orang-orang (laki-laki).”Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suddi bahwa dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas,”yang dimaksud adalah dinding tersebut, yaitu Al-A‘raf.Mujahid berkata: Al-A‘raf adalah pembatas antara surga dan neraka, berupa dinding yang memiliki pintu.Ibnu Jarir menjelaskan: Kata “Al-A‘raf” adalah bentuk jamak dari “’urf”. Dalam bahasa Arab, setiap tempat yang tinggi dari permukaan tanah disebut “’urf”. Karena itu, jengger ayam disebut “’urf” disebabkan letaknya yang menonjol dan tinggi.Sufyan bin Waki‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Al-A‘raf adalah sesuatu yang tinggi dan menonjol.Ats-Tsauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Al-A‘raf adalah dinding seperti jengger ayam.Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas disebutkan: Al-A‘raf adalah sebuah bukit antara surga dan neraka. Di atasnya tertahan sejumlah orang yang memiliki dosa, berada di antara surga dan neraka.Dalam riwayat lain lagi dari beliau: Al-A‘raf adalah dinding antara surga dan neraka.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan sejumlah ahli tafsir lainnya.As-Suddi berkata: Al-A‘raf dinamakan demikian karena para penghuninya dapat mengenali manusia (dari tanda-tandanya).Para ahli tafsir memang berbeda dalam ungkapan tentang siapa penghuni Al-A‘raf itu. Namun, seluruh pendapat tersebut pada hakikatnya kembali kepada satu makna yang sama, yaitu bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Pendapat ini ditegaskan oleh Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan sejumlah ulama salaf serta khalaf lainnya, rahimahumullah.Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Penghuni Al-A‘raf adalah kaum yang amal-amal mereka seimbang. Kebaikan mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, dan keburukan mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditempatkan di Al-A‘raf. Mereka mengenali manusia melalui tanda-tandanya. Ketika Allah telah memutuskan perkara di antara para hamba, mereka diizinkan untuk meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Berilah kami syafaat di sisi Rabbmu.’Adam menjawab, ‘Apakah kalian mengetahui ada seorang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh kepadanya, rahmat-Nya mendahului murka-Nya untuknya, dan para malaikat bersujud kepadanya selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Adam berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Ibrahim.’Mereka pun mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam dan memintanya memberi syafaat. Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih-Nya) selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dibakar oleh kaumnya karena Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Ibrahim berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Musa.’Mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Musa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ajak bicara secara langsung dan Dia dekatkan sebagai orang yang diajak berbicara secara khusus selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Musa berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Isa.’Mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Isa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ciptakan tanpa ayah selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dapat menyembuhkan orang buta dan penderita kusta serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Isa berkata, ‘Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’Mereka pun mendatangiku,” kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku menepuk dadaku dan berkata, ‘Aku yang akan melakukannya.’Aku berjalan hingga berdiri di hadapan ‘Arsy. Aku menghadap Rabbku ‘Azza wa Jalla. Maka Allah membukakan untukku pujian-pujian yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Lalu aku bersujud.Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.’Aku mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku.’Allah berfirman, ‘Mereka untukmu.’Tidak ada seorang nabi yang diutus dan tidak pula malaikat yang didekatkan kepada Allah kecuali merasa iri terhadap kedudukanku saat itu. Itulah maqam mahmud (kedudukan terpuji).Aku pun membawa mereka ke surga. Aku meminta agar pintu surga dibukakan, maka dibukakan untukku dan untuk mereka.Mereka kemudian dibawa ke sebuah sungai yang disebut Sungai Al-Hayawan. Di tepinya terdapat mutiara yang tersusun indah. Tanahnya beraroma kasturi dan kerikilnya dari batu yaqut.Mereka mandi di sungai itu, lalu warna tubuh mereka menjadi seperti warna penghuni surga, dan aroma mereka menjadi seperti aroma penghuni surga. Mereka pun menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya.Namun di dada mereka masih terdapat tanda putih yang dengan itu mereka dikenali. Mereka disebut sebagai ‘orang-orang miskin penghuni surga (masaakin ahli Jannah).’” Tiga Golongan Manusia Saat Amal DitimbangJika amal perbuatan telah ditimbang pada hari kiamat, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan:Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan beruntung.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴾“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minūn: 102–103)Allah juga berfirman:﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ ﴾“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qāri‘ah: 6–11)Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya.Jika ia seorang muslim, maka ia akan masuk neraka. Setelah dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya, ia akan dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke dalam surga.Namun jika ia seorang kafir, maka ia akan kekal selamanya di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surah Al-Mu’minūn di atas.Catatan:Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki amal kebaikan yang sah, karena syarat utamanya adalah iman. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا“Barang siapa beramal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan takut dizalimi dan tidak akan dirugikan.” (QS. Ṭāhā: 112)Amal orang kafir memang tetap dicatat dan dihitung. Mereka akan ditunjukkan amal-amal itu di hadapan khalayak ramai, agar semakin dipermalukan. Setelah itu, mereka pun disiksa karenanya.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ“Sungguh, akan datang seseorang pada hari Kiamat, tubuhnya besar dan gemuk, tetapi di sisi Allah ia tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْفَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا“Bacalah jika kalian mau: {Maka Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka di hari Kiamat}.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Penutup Surah Al-Kahfi: Peringatan Keras dan Janji Mulia dari AllahKetiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka adalah Ashabul A‘raf (para penghuni A‘raf). Mereka berada di suatu tempat di antara surga dan neraka. Dari sana mereka dapat melihat kedua golongan tersebut.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ۝ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding pemisah. Dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dari tanda-tandanya. Mereka menyeru kepada penghuni surga, ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk ke dalamnya, namun mereka sangat ingin (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–47)Adapun akhir perjalanan penghuni A‘raf adalah masuk surga setelah itu.Catatan:Bagaimana pun rahmat Allah tetaplah mendahului murka-Nya.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751) Al-A’raf dan Keadilan Allah yang SempurnaAl-A‘raf adalah tempat yang tinggi di antara surga dan neraka. Ia berupa dinding atau pembatas (suur) yang memisahkan keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas.”Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A‘raf adalah tempat yang menonjol dan tinggi, sehingga orang yang berada di atasnya dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus. Kata “Al-A‘raf” sendiri berasal dari kata “‘urf” yang berarti sesuatu yang tinggi dan menonjol. Siapa Ashabul A‘raf?Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Kebaikan mereka tidak lebih berat sehingga langsung masuk surga.Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga masuk neraka.Maka mereka ditempatkan sementara di Al-A‘raf.Mereka:Mengenali penghuni surga dan neraka dari tanda-tandanya.Memberi salam kepada penghuni surga.Takut ketika melihat penghuni neraka.Berharap masuk surga.Setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba, Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Ya Allah, beratkanlah timbangan kebaikan kami, ampuni dan hapuskan keburukan kami. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Jangan Engkau tahan kami di Al-A‘raf. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic Fatwa 150768 dari Islamqa.Fatwa 98964 dari Islamqa. —– Rabu siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat renungan ayat renungan quran surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf


Masuk bahasan juz kedelapan, kita ambil dari surah Al-A’raf. Pada hari kiamat, Allah Ta’ala menimbang amal manusia dengan keadilan yang sempurna—tanpa kezaliman sedikit pun. Ada yang berat timbangan kebaikannya lalu beruntung, ada yang ringan timbangan kebaikannya lalu merugi, dan ada pula yang kebaikan serta keburukannya seimbang. Golongan terakhir inilah yang dikenal sebagai Ashabul A’raf, tertahan sementara di tempat tinggi antara surga dan neraka, sebelum akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Baca juga: Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka  Daftar Isi tutup 1. Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi? 2. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan Neraka 3. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama? 4. Tiga Golongan Manusia Saat Amal Ditimbang 4.1. Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. 4.2. Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya. 4.3. Ketiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. 5. Al-A’raf dan Keadilan Allah yang Sempurna  Timbangan Amal di Hari Kiamat: Siapa yang Beruntung dan Siapa yang Merugi?Allah Ta’ala berfirman,وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8)وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ“Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kedelapan, “Penimbangan amal pada hari Kiamat dilakukan dengan penuh keadilan dan keseimbangan yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kezaliman dan kecurangan di dalamnya.{ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ }“Maka barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya),”Maksudnya, apabila timbangan kebaikannya lebih berat daripada keburukannya.{ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }“Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”Yakni, mereka adalah orang-orang yang selamat dari segala hal yang tidak menyenangkan, dan berhasil meraih segala yang mereka cintai. Mereka memperoleh keuntungan yang sangat besar serta kebahagiaan yang abadi.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang ayat kesembilan,Maksudnya, ketika keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, sehingga keputusan berpihak kepada keburukan tersebut.{ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ }“Maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri.”Karena mereka kehilangan kenikmatan yang kekal, dan justru mendapatkan azab yang sangat pedih.{ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ }“Disebabkan karena mereka selalu menzalimi ayat-ayat Kami.”Yaitu, mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada ayat-ayat Allah sebagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Ashabul A’raf: Golongan yang Tertahan di Batas Surga dan NerakaAllah Ta‘ala berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A’raf: 46)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Maknanya: Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat suatu pembatas yang disebut { الأَعْرَاف }. Ia bukan bagian dari surga dan bukan pula dari neraka, melainkan suatu tempat yang tinggi yang dapat melihat kedua tempat tersebut.Di atas pembatas itu terdapat sejumlah laki-laki yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka, yaitu ciri-ciri yang dengan itu mereka bisa dibedakan dan dikenali.Ketika mereka memandang penghuni surga, mereka menyeru kepada mereka dengan ucapan: “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah atas kalian).”Mereka memberi salam dan menyapa penghuni surga dengan penuh penghormatan.Adapun mereka sendiri, sampai saat itu belum masuk ke dalam surga, namun hati mereka dipenuhi harapan untuk memasukinya. Allah tidaklah menanamkan harapan dalam hati mereka kecuali karena Dia menghendaki kemuliaan dan kebaikan bagi mereka.Allah Ta‘ala berfirman,۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ“Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.” (QS. Al-A’raf: 47)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Artinya, ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, lalu mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan dan dahsyat.Mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.”Adapun ketika mereka melihat penghuni surga, mereka berharap dapat bergabung bersama mereka di dalam surga. Mereka memberi salam dan menyapa mereka dengan penuh penghormatan.Namun ketika pandangan mereka tanpa pilihan mereka sendiri diarahkan kepada penghuni neraka, mereka segera memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan mengerikan tersebut, secara umum, agar tidak dijadikan termasuk golongan orang-orang yang zalim itu.Allah Ta‘ala berfirman,وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ“Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.” (QS. Al-A’raf: 48)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.Kemudian Allah menyebutkan perincian setelah penyebutan secara umum.{ وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ }Penghuni Al-A‘raf menyeru sejumlah orang yang mereka kenali dari tanda-tandanya. Mereka adalah bagian dari penghuni neraka. Dahulu ketika di dunia, mereka memiliki kewibawaan, kedudukan terhormat, harta yang banyak, dan anak-anak.Ketika penghuni Al-A‘raf melihat mereka kini menyendiri dalam azab, tanpa penolong dan tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan, mereka berkata:{ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ }“Tidaklah berguna bagi kalian apa yang dahulu kalian kumpulkan.”Yaitu segala yang dahulu kalian kumpulkan di dunia—berupa kekuatan, pengikut, harta, dan sarana untuk menolak berbagai kesulitan serta untuk meraih keinginan-keinginan dunia—pada hari ini semuanya telah lenyap. Tidak satu pun mampu menolong kalian.{ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ }“Dan (tidak pula berguna) kesombongan yang dahulu kalian lakukan.”Apa manfaat kesombongan kalian terhadap kebenaran, terhadap orang yang membawanya, dan terhadap orang-orang yang mengikutinya? Kini semua itu sama sekali tidak memberi faedah.Allah Ta’ala berfirman,أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.” (QS. Al-A’raf: 49)Syaikh As-Sa’di rahimahullah memberikan penjelasan.udian mereka (penghuni Al-A‘raf) menunjuk kepada sekelompok orang dari penghuni surga. Dahulu di dunia, mereka adalah orang-orang fakir dan lemah yang sering diejek dan direndahkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka:{ أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ }“Apakah mereka ini orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?”Ucapan itu dahulu kalian lontarkan karena meremehkan dan merendahkan mereka, serta karena rasa bangga terhadap diri kalian sendiri. Kini sumpah kalian terbukti dusta, dan tampak bagi kalian dari ketetapan Allah sesuatu yang tidak pernah kalian perhitungkan.Lalu dikatakan kepada orang-orang yang dahulu lemah itu, sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan:{ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ }“Masuklah kalian ke dalam surga,”yakni dengan sebab amal saleh yang dahulu kalian kerjakan.{ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ }“Tidak ada rasa takut atas kalian,”yakni terhadap apa pun yang akan datang dari berbagai hal yang tidak menyenangkan.{ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ }“Dan tidak pula kalian bersedih hati,”atas apa yang telah berlalu. Bahkan mereka dalam keadaan aman, tenteram, dan bergembira dengan segala kebaikan.Keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:{ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ }“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata (mengolok-olok).”Hingga firman-Nya:{ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ۝ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ }“Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang.”Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapakah penghuni Al-A‘raf dan bagaimana keadaan amal mereka. Pendapat yang paling tepat adalah bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Keburukan mereka tidak lebih berat yang bisa membuat mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat yang bisa membuat mereka langsung masuk surga.Karena itu, mereka berada di Al-A‘raf selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya rahmat Allah mendahului dan mengalahkan murka-Nya, dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Siapa Sebenarnya Ashabul A’raf Menurut Para Ulama?Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:Ibnu Jarir rahimahullah berkata: Al-A‘raf adalah dinding (pembatas) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:{ فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ }“Maka diadakan di antara mereka suatu dinding yang memiliki pintu. Di sebelah dalamnya terdapat rahmat dan di sebelah luarnya, dari arahnya, terdapat azab.” (QS. Al-Hadid: 13)Dinding itulah Al-A‘raf yang disebutkan dalam firman Allah:{ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ }“Dan di atas Al-A‘raf ada orang-orang (laki-laki).”Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari As-Suddi bahwa dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas,”yang dimaksud adalah dinding tersebut, yaitu Al-A‘raf.Mujahid berkata: Al-A‘raf adalah pembatas antara surga dan neraka, berupa dinding yang memiliki pintu.Ibnu Jarir menjelaskan: Kata “Al-A‘raf” adalah bentuk jamak dari “’urf”. Dalam bahasa Arab, setiap tempat yang tinggi dari permukaan tanah disebut “’urf”. Karena itu, jengger ayam disebut “’urf” disebabkan letaknya yang menonjol dan tinggi.Sufyan bin Waki‘ meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Yazid, bahwa ia mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Al-A‘raf adalah sesuatu yang tinggi dan menonjol.Ats-Tsauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau berkata: Al-A‘raf adalah dinding seperti jengger ayam.Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas disebutkan: Al-A‘raf adalah sebuah bukit antara surga dan neraka. Di atasnya tertahan sejumlah orang yang memiliki dosa, berada di antara surga dan neraka.Dalam riwayat lain lagi dari beliau: Al-A‘raf adalah dinding antara surga dan neraka.Pendapat ini juga dikemukakan oleh Adh-Dhahhak dan sejumlah ahli tafsir lainnya.As-Suddi berkata: Al-A‘raf dinamakan demikian karena para penghuninya dapat mengenali manusia (dari tanda-tandanya).Para ahli tafsir memang berbeda dalam ungkapan tentang siapa penghuni Al-A‘raf itu. Namun, seluruh pendapat tersebut pada hakikatnya kembali kepada satu makna yang sama, yaitu bahwa mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Pendapat ini ditegaskan oleh Hudzaifah, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan sejumlah ulama salaf serta khalaf lainnya, rahimahumullah.Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Penghuni Al-A‘raf adalah kaum yang amal-amal mereka seimbang. Kebaikan mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, dan keburukan mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditempatkan di Al-A‘raf. Mereka mengenali manusia melalui tanda-tandanya. Ketika Allah telah memutuskan perkara di antara para hamba, mereka diizinkan untuk meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Berilah kami syafaat di sisi Rabbmu.’Adam menjawab, ‘Apakah kalian mengetahui ada seorang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh kepadanya, rahmat-Nya mendahului murka-Nya untuknya, dan para malaikat bersujud kepadanya selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Adam berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Ibrahim.’Mereka pun mendatangi Ibrahim ‘alaihis salam dan memintanya memberi syafaat. Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih-Nya) selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dibakar oleh kaumnya karena Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Ibrahim berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Musa.’Mereka mendatangi Musa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Musa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ajak bicara secara langsung dan Dia dekatkan sebagai orang yang diajak berbicara secara khusus selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Musa berkata, ‘Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Isa.’Mereka mendatangi Isa ‘alaihis salam dan berkata, ‘Berilah kami syafaat.’Isa berkata, ‘Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang Allah ciptakan tanpa ayah selain aku? Apakah kalian mengetahui ada seseorang yang dapat menyembuhkan orang buta dan penderita kusta serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah selain aku?’Mereka menjawab, ‘Tidak.’Isa berkata, ‘Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tidak mengetahui hakikat perkara ini. Aku tidak mampu memberi syafaat untuk kalian. Datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’Mereka pun mendatangiku,” kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku menepuk dadaku dan berkata, ‘Aku yang akan melakukannya.’Aku berjalan hingga berdiri di hadapan ‘Arsy. Aku menghadap Rabbku ‘Azza wa Jalla. Maka Allah membukakan untukku pujian-pujian yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Lalu aku bersujud.Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.’Aku mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku.’Allah berfirman, ‘Mereka untukmu.’Tidak ada seorang nabi yang diutus dan tidak pula malaikat yang didekatkan kepada Allah kecuali merasa iri terhadap kedudukanku saat itu. Itulah maqam mahmud (kedudukan terpuji).Aku pun membawa mereka ke surga. Aku meminta agar pintu surga dibukakan, maka dibukakan untukku dan untuk mereka.Mereka kemudian dibawa ke sebuah sungai yang disebut Sungai Al-Hayawan. Di tepinya terdapat mutiara yang tersusun indah. Tanahnya beraroma kasturi dan kerikilnya dari batu yaqut.Mereka mandi di sungai itu, lalu warna tubuh mereka menjadi seperti warna penghuni surga, dan aroma mereka menjadi seperti aroma penghuni surga. Mereka pun menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya.Namun di dada mereka masih terdapat tanda putih yang dengan itu mereka dikenali. Mereka disebut sebagai ‘orang-orang miskin penghuni surga (masaakin ahli Jannah).’” Tiga Golongan Manusia Saat Amal DitimbangJika amal perbuatan telah ditimbang pada hari kiamat, maka manusia terbagi menjadi tiga golongan:Pertama: Orang yang kebaikannya lebih berat daripada keburukannya. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dan beruntung.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴾“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (QS. Al-Mu’minūn: 102–103)Allah juga berfirman:﴿ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ ﴾“Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qāri‘ah: 6–11)Kedua: Orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya.Jika ia seorang muslim, maka ia akan masuk neraka. Setelah dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya, ia akan dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke dalam surga.Namun jika ia seorang kafir, maka ia akan kekal selamanya di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surah Al-Mu’minūn di atas.Catatan:Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki amal kebaikan yang sah, karena syarat utamanya adalah iman. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا“Barang siapa beramal saleh dalam keadaan beriman, maka ia tidak akan takut dizalimi dan tidak akan dirugikan.” (QS. Ṭāhā: 112)Amal orang kafir memang tetap dicatat dan dihitung. Mereka akan ditunjukkan amal-amal itu di hadapan khalayak ramai, agar semakin dipermalukan. Setelah itu, mereka pun disiksa karenanya.Allah Ta’ala berfirman,أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ“Sungguh, akan datang seseorang pada hari Kiamat, tubuhnya besar dan gemuk, tetapi di sisi Allah ia tidak lebih berat dari sayap seekor nyamuk.”Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْفَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا“Bacalah jika kalian mau: {Maka Kami tidak akan memberikan timbangan bagi mereka di hari Kiamat}.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca juga: Penutup Surah Al-Kahfi: Peringatan Keras dan Janji Mulia dari AllahKetiga: Orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka adalah Ashabul A‘raf (para penghuni A‘raf). Mereka berada di suatu tempat di antara surga dan neraka. Dari sana mereka dapat melihat kedua golongan tersebut.Allah Ta‘ala berfirman:﴿ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ۝ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding pemisah. Dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dari tanda-tandanya. Mereka menyeru kepada penghuni surga, ‘Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum masuk ke dalamnya, namun mereka sangat ingin (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama kaum yang zalim.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–47)Adapun akhir perjalanan penghuni A‘raf adalah masuk surga setelah itu.Catatan:Bagaimana pun rahmat Allah tetaplah mendahului murka-Nya.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى »Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751) Al-A’raf dan Keadilan Allah yang SempurnaAl-A‘raf adalah tempat yang tinggi di antara surga dan neraka. Ia berupa dinding atau pembatas (suur) yang memisahkan keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:{ وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ }“Dan di antara keduanya ada pembatas.”Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A‘raf adalah tempat yang menonjol dan tinggi, sehingga orang yang berada di atasnya dapat melihat penghuni surga dan penghuni neraka sekaligus. Kata “Al-A‘raf” sendiri berasal dari kata “‘urf” yang berarti sesuatu yang tinggi dan menonjol. Siapa Ashabul A‘raf?Mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang.Kebaikan mereka tidak lebih berat sehingga langsung masuk surga.Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga masuk neraka.Maka mereka ditempatkan sementara di Al-A‘raf.Mereka:Mengenali penghuni surga dan neraka dari tanda-tandanya.Memberi salam kepada penghuni surga.Takut ketika melihat penghuni neraka.Berharap masuk surga.Setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba, Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Ya Allah, beratkanlah timbangan kebaikan kami, ampuni dan hapuskan keburukan kami. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Jangan Engkau tahan kami di Al-A‘raf. Masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic Fatwa 150768 dari Islamqa.Fatwa 98964 dari Islamqa. —– Rabu siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat renungan ayat renungan quran surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf

Kisah Ubay bin Ka’ab: Mengapa Beliau Meninggalkan Jamaah Saat Shalat Witir? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar

Amalan paling utama di bulan Ramadan setelah amalan wajib dan puasa itu sendiri, adalah amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan pertama, yang tidak diragukan lagi keutamaannya, adalah Salat Malam (Qiyamul Lail/Tarawih). Terkait amalan ini, terdapat dua hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, bahwa barang siapa yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan, maka akan diampuni seluruh dosanya. Bahkan dikatakan, orang yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan akan diampuni dosanya dua kali. Sebab, pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu, kedua, dalam sabda lainnya, beliau bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara amalan utama yang paling penting pada bulan ini adalah Salat Malam dan mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Oleh karena itu, dulu para ulama bersungguh-sungguh untuk mendirikan Salat Malam. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ketetapan bagi mereka, bahkan mereka mengkaji tata cara manakah yang paling utama dalam Salat Malam. Ketika Umar bin Khattab melakukan hal itu, apa yang beliau katakan? Beliau berkata: “Orang yang mengerjakannya di akhir malam itu lebih utama.” Beliau memandang adanya kemaslahatan bagi orang banyak untuk meraih sunnah ini dengan mengerjakannya di awal malam. Namun, bagi siapa pun yang mendirikannya di akhir malam, maka itu jauh lebih utama. Ubay bin Ka’ab ingin menggabungkan dua keutamaan tersebut; beliau shalat bersama jamaah di awal malam, lalu ketika memasuki tiga rakaat terakhir, beliau keluar dan tidak mengikuti Salat Witir bersama mereka. Kemudian beliau melaksanakan Salat Witir sendirian di rumahnya (di akhir malam). Beliau melebihkan amalannya, demi meraih amalan yang paling utama, dan mendahulukannya di atas amalan yang sekadar afdal, yaitu ikut Salat Witir tiga rakaat bersama orang banyak (di awal malam). ===== أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي رَمَضَانَ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ بَعْدَ الصِّيَامِ أُمُورٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمُورِ أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِيهِ لَا شَكَّ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَلِذَا وَرَدَ حَدِيثَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ ذَنْبُهُ كُلُّهُ حَتَّى قِيلَ إِنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ الذَّنْبُ مَرَّتَيْنِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَفِي الثَّانِيَةِ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأَعْمَالِ الْفَاضِلَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ هُوَ رَمَضَانُ هُوَ قِيَامُهُ وَإِحْيَاءُ لَيْلِهِ وَلِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ يَجْتَهِدُونَ فِي الْقِيَامِ وَكَأَنَّهُ مُسَلَّمٌ عِنْدَهُمْ بَلْ يَجْتَهِدُونَ مَا هِيَ صِفَةٌ أَفْضَلُ فِي الْقِيَامِ لَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ مَاذَا قَالَ قَالَ وَالَّذِي يُصَلِّيهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ فَهُوَ نَظَرَ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ لِلْعُمُومِ فِي إِدْرَاكِ هَذِهِ السُّنَّةِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي أَوَّلِهَا لَكِنْ مَنْ صَلَّاهَا فِي آخِرِهَا فَكَانَ أَفْضَلَ أُبَيٌّ أَرَادَ الْجَمْعَ فَكَانَ يُصَلِّي مَعَهُمْ فَإِذَا حَضَرَتِ الثَّلَاثُ الرَّكَعَاتِ الْأَخِيرَةِ خَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمُ الْوِتْرَ ثُمَّ صَلَّاهَا فِي بَيْتِهِ وَحْدَهُ فَزَادَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ تَحْقِيقِ الْأَفْضَلِ وَتَقْدِيمِهِ عَلَى الْفَاضِلِ وَهُوَ إِدْرَاكُ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ الثَّلَاثِ مَعَ عُمُومِ النَّاسِ

Kisah Ubay bin Ka’ab: Mengapa Beliau Meninggalkan Jamaah Saat Shalat Witir? – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ar

Amalan paling utama di bulan Ramadan setelah amalan wajib dan puasa itu sendiri, adalah amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan pertama, yang tidak diragukan lagi keutamaannya, adalah Salat Malam (Qiyamul Lail/Tarawih). Terkait amalan ini, terdapat dua hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, bahwa barang siapa yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan, maka akan diampuni seluruh dosanya. Bahkan dikatakan, orang yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan akan diampuni dosanya dua kali. Sebab, pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu, kedua, dalam sabda lainnya, beliau bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara amalan utama yang paling penting pada bulan ini adalah Salat Malam dan mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Oleh karena itu, dulu para ulama bersungguh-sungguh untuk mendirikan Salat Malam. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ketetapan bagi mereka, bahkan mereka mengkaji tata cara manakah yang paling utama dalam Salat Malam. Ketika Umar bin Khattab melakukan hal itu, apa yang beliau katakan? Beliau berkata: “Orang yang mengerjakannya di akhir malam itu lebih utama.” Beliau memandang adanya kemaslahatan bagi orang banyak untuk meraih sunnah ini dengan mengerjakannya di awal malam. Namun, bagi siapa pun yang mendirikannya di akhir malam, maka itu jauh lebih utama. Ubay bin Ka’ab ingin menggabungkan dua keutamaan tersebut; beliau shalat bersama jamaah di awal malam, lalu ketika memasuki tiga rakaat terakhir, beliau keluar dan tidak mengikuti Salat Witir bersama mereka. Kemudian beliau melaksanakan Salat Witir sendirian di rumahnya (di akhir malam). Beliau melebihkan amalannya, demi meraih amalan yang paling utama, dan mendahulukannya di atas amalan yang sekadar afdal, yaitu ikut Salat Witir tiga rakaat bersama orang banyak (di awal malam). ===== أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي رَمَضَانَ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ بَعْدَ الصِّيَامِ أُمُورٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمُورِ أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِيهِ لَا شَكَّ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَلِذَا وَرَدَ حَدِيثَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ ذَنْبُهُ كُلُّهُ حَتَّى قِيلَ إِنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ الذَّنْبُ مَرَّتَيْنِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَفِي الثَّانِيَةِ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأَعْمَالِ الْفَاضِلَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ هُوَ رَمَضَانُ هُوَ قِيَامُهُ وَإِحْيَاءُ لَيْلِهِ وَلِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ يَجْتَهِدُونَ فِي الْقِيَامِ وَكَأَنَّهُ مُسَلَّمٌ عِنْدَهُمْ بَلْ يَجْتَهِدُونَ مَا هِيَ صِفَةٌ أَفْضَلُ فِي الْقِيَامِ لَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ مَاذَا قَالَ قَالَ وَالَّذِي يُصَلِّيهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ فَهُوَ نَظَرَ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ لِلْعُمُومِ فِي إِدْرَاكِ هَذِهِ السُّنَّةِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي أَوَّلِهَا لَكِنْ مَنْ صَلَّاهَا فِي آخِرِهَا فَكَانَ أَفْضَلَ أُبَيٌّ أَرَادَ الْجَمْعَ فَكَانَ يُصَلِّي مَعَهُمْ فَإِذَا حَضَرَتِ الثَّلَاثُ الرَّكَعَاتِ الْأَخِيرَةِ خَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمُ الْوِتْرَ ثُمَّ صَلَّاهَا فِي بَيْتِهِ وَحْدَهُ فَزَادَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ تَحْقِيقِ الْأَفْضَلِ وَتَقْدِيمِهِ عَلَى الْفَاضِلِ وَهُوَ إِدْرَاكُ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ الثَّلَاثِ مَعَ عُمُومِ النَّاسِ
Amalan paling utama di bulan Ramadan setelah amalan wajib dan puasa itu sendiri, adalah amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan pertama, yang tidak diragukan lagi keutamaannya, adalah Salat Malam (Qiyamul Lail/Tarawih). Terkait amalan ini, terdapat dua hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, bahwa barang siapa yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan, maka akan diampuni seluruh dosanya. Bahkan dikatakan, orang yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan akan diampuni dosanya dua kali. Sebab, pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu, kedua, dalam sabda lainnya, beliau bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara amalan utama yang paling penting pada bulan ini adalah Salat Malam dan mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Oleh karena itu, dulu para ulama bersungguh-sungguh untuk mendirikan Salat Malam. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ketetapan bagi mereka, bahkan mereka mengkaji tata cara manakah yang paling utama dalam Salat Malam. Ketika Umar bin Khattab melakukan hal itu, apa yang beliau katakan? Beliau berkata: “Orang yang mengerjakannya di akhir malam itu lebih utama.” Beliau memandang adanya kemaslahatan bagi orang banyak untuk meraih sunnah ini dengan mengerjakannya di awal malam. Namun, bagi siapa pun yang mendirikannya di akhir malam, maka itu jauh lebih utama. Ubay bin Ka’ab ingin menggabungkan dua keutamaan tersebut; beliau shalat bersama jamaah di awal malam, lalu ketika memasuki tiga rakaat terakhir, beliau keluar dan tidak mengikuti Salat Witir bersama mereka. Kemudian beliau melaksanakan Salat Witir sendirian di rumahnya (di akhir malam). Beliau melebihkan amalannya, demi meraih amalan yang paling utama, dan mendahulukannya di atas amalan yang sekadar afdal, yaitu ikut Salat Witir tiga rakaat bersama orang banyak (di awal malam). ===== أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي رَمَضَانَ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ بَعْدَ الصِّيَامِ أُمُورٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمُورِ أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِيهِ لَا شَكَّ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَلِذَا وَرَدَ حَدِيثَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ ذَنْبُهُ كُلُّهُ حَتَّى قِيلَ إِنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ الذَّنْبُ مَرَّتَيْنِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَفِي الثَّانِيَةِ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأَعْمَالِ الْفَاضِلَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ هُوَ رَمَضَانُ هُوَ قِيَامُهُ وَإِحْيَاءُ لَيْلِهِ وَلِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ يَجْتَهِدُونَ فِي الْقِيَامِ وَكَأَنَّهُ مُسَلَّمٌ عِنْدَهُمْ بَلْ يَجْتَهِدُونَ مَا هِيَ صِفَةٌ أَفْضَلُ فِي الْقِيَامِ لَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ مَاذَا قَالَ قَالَ وَالَّذِي يُصَلِّيهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ فَهُوَ نَظَرَ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ لِلْعُمُومِ فِي إِدْرَاكِ هَذِهِ السُّنَّةِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي أَوَّلِهَا لَكِنْ مَنْ صَلَّاهَا فِي آخِرِهَا فَكَانَ أَفْضَلَ أُبَيٌّ أَرَادَ الْجَمْعَ فَكَانَ يُصَلِّي مَعَهُمْ فَإِذَا حَضَرَتِ الثَّلَاثُ الرَّكَعَاتِ الْأَخِيرَةِ خَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمُ الْوِتْرَ ثُمَّ صَلَّاهَا فِي بَيْتِهِ وَحْدَهُ فَزَادَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ تَحْقِيقِ الْأَفْضَلِ وَتَقْدِيمِهِ عَلَى الْفَاضِلِ وَهُوَ إِدْرَاكُ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ الثَّلَاثِ مَعَ عُمُومِ النَّاسِ


Amalan paling utama di bulan Ramadan setelah amalan wajib dan puasa itu sendiri, adalah amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan pertama, yang tidak diragukan lagi keutamaannya, adalah Salat Malam (Qiyamul Lail/Tarawih). Terkait amalan ini, terdapat dua hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, bahwa barang siapa yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan, maka akan diampuni seluruh dosanya. Bahkan dikatakan, orang yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan akan diampuni dosanya dua kali. Sebab, pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu, kedua, dalam sabda lainnya, beliau bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara amalan utama yang paling penting pada bulan ini adalah Salat Malam dan mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Oleh karena itu, dulu para ulama bersungguh-sungguh untuk mendirikan Salat Malam. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ketetapan bagi mereka, bahkan mereka mengkaji tata cara manakah yang paling utama dalam Salat Malam. Ketika Umar bin Khattab melakukan hal itu, apa yang beliau katakan? Beliau berkata: “Orang yang mengerjakannya di akhir malam itu lebih utama.” Beliau memandang adanya kemaslahatan bagi orang banyak untuk meraih sunnah ini dengan mengerjakannya di awal malam. Namun, bagi siapa pun yang mendirikannya di akhir malam, maka itu jauh lebih utama. Ubay bin Ka’ab ingin menggabungkan dua keutamaan tersebut; beliau shalat bersama jamaah di awal malam, lalu ketika memasuki tiga rakaat terakhir, beliau keluar dan tidak mengikuti Salat Witir bersama mereka. Kemudian beliau melaksanakan Salat Witir sendirian di rumahnya (di akhir malam). Beliau melebihkan amalannya, demi meraih amalan yang paling utama, dan mendahulukannya di atas amalan yang sekadar afdal, yaitu ikut Salat Witir tiga rakaat bersama orang banyak (di awal malam). ===== أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي رَمَضَانَ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ بَعْدَ الصِّيَامِ أُمُورٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمُورِ أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِيهِ لَا شَكَّ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَلِذَا وَرَدَ حَدِيثَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ ذَنْبُهُ كُلُّهُ حَتَّى قِيلَ إِنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ الذَّنْبُ مَرَّتَيْنِ فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَفِي الثَّانِيَةِ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأَعْمَالِ الْفَاضِلَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ هُوَ رَمَضَانُ هُوَ قِيَامُهُ وَإِحْيَاءُ لَيْلِهِ وَلِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ يَجْتَهِدُونَ فِي الْقِيَامِ وَكَأَنَّهُ مُسَلَّمٌ عِنْدَهُمْ بَلْ يَجْتَهِدُونَ مَا هِيَ صِفَةٌ أَفْضَلُ فِي الْقِيَامِ لَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ مَاذَا قَالَ قَالَ وَالَّذِي يُصَلِّيهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ فَهُوَ نَظَرَ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ لِلْعُمُومِ فِي إِدْرَاكِ هَذِهِ السُّنَّةِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي أَوَّلِهَا لَكِنْ مَنْ صَلَّاهَا فِي آخِرِهَا فَكَانَ أَفْضَلَ أُبَيٌّ أَرَادَ الْجَمْعَ فَكَانَ يُصَلِّي مَعَهُمْ فَإِذَا حَضَرَتِ الثَّلَاثُ الرَّكَعَاتِ الْأَخِيرَةِ خَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمُ الْوِتْرَ ثُمَّ صَلَّاهَا فِي بَيْتِهِ وَحْدَهُ فَزَادَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ تَحْقِيقِ الْأَفْضَلِ وَتَقْدِيمِهِ عَلَى الْفَاضِلِ وَهُوَ إِدْرَاكُ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ الثَّلَاثِ مَعَ عُمُومِ النَّاسِ

Jangan Lewatkan! Rahasia Doa yang Tidak Akan Tertolak sebelum Berbuka Puasa #NasehatUlama

Doktor, semoga Allah memberkahi Anda. Orang ini bertanya, apa yang sebaiknya diucapkan oleh seorang muslim saat berbuka puasa? Mengingat ada beberapa doa, apakah doa-doa tersebut sahih? Ya. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, bagi orang yang berpuasa, ada doa yang tidak akan tertolak saat ia berbuka.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang sahih, dan ini menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah salah satu waktu yang mustajab. Waktu itu beberapa saat sebelum berbuka. Beberapa saat sebelum berbuka, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meminta segala kebaikan dunia dan akhirat yang terlintas di hatinya. Memohon surga kepada Allah serta meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Hendaknya ia mengutamakan doa-doa yang ringkas namun sarat makna. Seperti doa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka), dan doa semisalnya. Berdoa untuk diri sendiri, untuk anak-anaknya, dan untuk kaum muslimin. Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kebaikan dunia dan akhirat yang Anda sukai. Sebab, doa pada waktu tersebut sangat besar peluangnya untuk dikabulkan. Adapun doa dengan redaksi kalimat tertentu, tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan:ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALAA RIZQIKA AFTHORTU (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) FATAQOBBAL MINNII INNAKA ANTAS SAMII-’UL ‘ALIIM (maka terimalah puasa dariku, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), hadits tersebut derajatnya lemah dari sisi sanad. Berdasarkan disiplin ilmu hadits, bukan hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ada doa yang sahih dibaca setelah berbuka puasa, yaitu jika rasa haus telah hilang, yaitu mengucapkan: DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU IN SYAA ALLAAH (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah). Doa ini diucapkan jika seseorang benar-benar merasa haus (dan rasa haus itu telah hilang setelah berbuka). Adapun jika ia tidak merasa haus, maka ia tidak perlu mengucapkan doa tersebut. ===== دُكْتُورُ بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ هَذَا يَسْأَلُ يَقُولُ مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ حَيْثُ أَنَّ هُنَاكَ يَعْنِي بَعْضَ الْأَدْعِيَةِ هَلْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ وَهَذَا قَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَقْتُ الْإِفْطَارِ أَنَّهُ مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ بِلَحَظَاتٍ يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الصَّائِمُ هَذَا الْوَقْتَ وَأَنْ يَدْعُوَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَحْضُرُهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ يَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ يَسْتَعِيذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ يَحْرِصُ عَلَى الْجَوَامِعِ مِنَ الدُّعَاءِ مِثْلَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَوْلَادِهِ يَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ يَدْعُو اللهَ تَعَالَى بِمَا أَعْجَبَهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَأَمَّا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُرْوَى اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ فَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ مِنْ جِهَةِ الْإِسْنَادِ فَهُوَ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ ثَبَتَ بَعْدَ الْإِفْطَارِ إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَنْ يَقُولَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ هَذَا إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ ظَمِئَ فَلَا يَقُولُ هَذَا الدُّعَاءَ

Jangan Lewatkan! Rahasia Doa yang Tidak Akan Tertolak sebelum Berbuka Puasa #NasehatUlama

Doktor, semoga Allah memberkahi Anda. Orang ini bertanya, apa yang sebaiknya diucapkan oleh seorang muslim saat berbuka puasa? Mengingat ada beberapa doa, apakah doa-doa tersebut sahih? Ya. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, bagi orang yang berpuasa, ada doa yang tidak akan tertolak saat ia berbuka.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang sahih, dan ini menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah salah satu waktu yang mustajab. Waktu itu beberapa saat sebelum berbuka. Beberapa saat sebelum berbuka, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meminta segala kebaikan dunia dan akhirat yang terlintas di hatinya. Memohon surga kepada Allah serta meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Hendaknya ia mengutamakan doa-doa yang ringkas namun sarat makna. Seperti doa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka), dan doa semisalnya. Berdoa untuk diri sendiri, untuk anak-anaknya, dan untuk kaum muslimin. Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kebaikan dunia dan akhirat yang Anda sukai. Sebab, doa pada waktu tersebut sangat besar peluangnya untuk dikabulkan. Adapun doa dengan redaksi kalimat tertentu, tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan:ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALAA RIZQIKA AFTHORTU (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) FATAQOBBAL MINNII INNAKA ANTAS SAMII-’UL ‘ALIIM (maka terimalah puasa dariku, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), hadits tersebut derajatnya lemah dari sisi sanad. Berdasarkan disiplin ilmu hadits, bukan hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ada doa yang sahih dibaca setelah berbuka puasa, yaitu jika rasa haus telah hilang, yaitu mengucapkan: DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU IN SYAA ALLAAH (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah). Doa ini diucapkan jika seseorang benar-benar merasa haus (dan rasa haus itu telah hilang setelah berbuka). Adapun jika ia tidak merasa haus, maka ia tidak perlu mengucapkan doa tersebut. ===== دُكْتُورُ بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ هَذَا يَسْأَلُ يَقُولُ مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ حَيْثُ أَنَّ هُنَاكَ يَعْنِي بَعْضَ الْأَدْعِيَةِ هَلْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ وَهَذَا قَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَقْتُ الْإِفْطَارِ أَنَّهُ مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ بِلَحَظَاتٍ يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الصَّائِمُ هَذَا الْوَقْتَ وَأَنْ يَدْعُوَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَحْضُرُهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ يَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ يَسْتَعِيذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ يَحْرِصُ عَلَى الْجَوَامِعِ مِنَ الدُّعَاءِ مِثْلَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَوْلَادِهِ يَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ يَدْعُو اللهَ تَعَالَى بِمَا أَعْجَبَهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَأَمَّا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُرْوَى اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ فَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ مِنْ جِهَةِ الْإِسْنَادِ فَهُوَ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ ثَبَتَ بَعْدَ الْإِفْطَارِ إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَنْ يَقُولَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ هَذَا إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ ظَمِئَ فَلَا يَقُولُ هَذَا الدُّعَاءَ
Doktor, semoga Allah memberkahi Anda. Orang ini bertanya, apa yang sebaiknya diucapkan oleh seorang muslim saat berbuka puasa? Mengingat ada beberapa doa, apakah doa-doa tersebut sahih? Ya. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, bagi orang yang berpuasa, ada doa yang tidak akan tertolak saat ia berbuka.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang sahih, dan ini menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah salah satu waktu yang mustajab. Waktu itu beberapa saat sebelum berbuka. Beberapa saat sebelum berbuka, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meminta segala kebaikan dunia dan akhirat yang terlintas di hatinya. Memohon surga kepada Allah serta meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Hendaknya ia mengutamakan doa-doa yang ringkas namun sarat makna. Seperti doa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka), dan doa semisalnya. Berdoa untuk diri sendiri, untuk anak-anaknya, dan untuk kaum muslimin. Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kebaikan dunia dan akhirat yang Anda sukai. Sebab, doa pada waktu tersebut sangat besar peluangnya untuk dikabulkan. Adapun doa dengan redaksi kalimat tertentu, tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan:ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALAA RIZQIKA AFTHORTU (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) FATAQOBBAL MINNII INNAKA ANTAS SAMII-’UL ‘ALIIM (maka terimalah puasa dariku, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), hadits tersebut derajatnya lemah dari sisi sanad. Berdasarkan disiplin ilmu hadits, bukan hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ada doa yang sahih dibaca setelah berbuka puasa, yaitu jika rasa haus telah hilang, yaitu mengucapkan: DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU IN SYAA ALLAAH (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah). Doa ini diucapkan jika seseorang benar-benar merasa haus (dan rasa haus itu telah hilang setelah berbuka). Adapun jika ia tidak merasa haus, maka ia tidak perlu mengucapkan doa tersebut. ===== دُكْتُورُ بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ هَذَا يَسْأَلُ يَقُولُ مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ حَيْثُ أَنَّ هُنَاكَ يَعْنِي بَعْضَ الْأَدْعِيَةِ هَلْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ وَهَذَا قَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَقْتُ الْإِفْطَارِ أَنَّهُ مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ بِلَحَظَاتٍ يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الصَّائِمُ هَذَا الْوَقْتَ وَأَنْ يَدْعُوَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَحْضُرُهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ يَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ يَسْتَعِيذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ يَحْرِصُ عَلَى الْجَوَامِعِ مِنَ الدُّعَاءِ مِثْلَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَوْلَادِهِ يَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ يَدْعُو اللهَ تَعَالَى بِمَا أَعْجَبَهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَأَمَّا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُرْوَى اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ فَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ مِنْ جِهَةِ الْإِسْنَادِ فَهُوَ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ ثَبَتَ بَعْدَ الْإِفْطَارِ إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَنْ يَقُولَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ هَذَا إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ ظَمِئَ فَلَا يَقُولُ هَذَا الدُّعَاءَ


Doktor, semoga Allah memberkahi Anda. Orang ini bertanya, apa yang sebaiknya diucapkan oleh seorang muslim saat berbuka puasa? Mengingat ada beberapa doa, apakah doa-doa tersebut sahih? Ya. Diriwayatkan secara sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, bagi orang yang berpuasa, ada doa yang tidak akan tertolak saat ia berbuka.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang sahih, dan ini menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah salah satu waktu yang mustajab. Waktu itu beberapa saat sebelum berbuka. Beberapa saat sebelum berbuka, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meminta segala kebaikan dunia dan akhirat yang terlintas di hatinya. Memohon surga kepada Allah serta meminta perlindungan kepada-Nya dari api neraka. Hendaknya ia mengutamakan doa-doa yang ringkas namun sarat makna. Seperti doa: ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WAQINAA ‘ADZAABAN NAAR (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka), dan doa semisalnya. Berdoa untuk diri sendiri, untuk anak-anaknya, dan untuk kaum muslimin. Mintalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kebaikan dunia dan akhirat yang Anda sukai. Sebab, doa pada waktu tersebut sangat besar peluangnya untuk dikabulkan. Adapun doa dengan redaksi kalimat tertentu, tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan:ALLAAHUMMA LAKA SHUMTU WA ‘ALAA RIZQIKA AFTHORTU (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) FATAQOBBAL MINNII INNAKA ANTAS SAMII-’UL ‘ALIIM (maka terimalah puasa dariku, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), hadits tersebut derajatnya lemah dari sisi sanad. Berdasarkan disiplin ilmu hadits, bukan hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ada doa yang sahih dibaca setelah berbuka puasa, yaitu jika rasa haus telah hilang, yaitu mengucapkan: DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU IN SYAA ALLAAH (Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah). Doa ini diucapkan jika seseorang benar-benar merasa haus (dan rasa haus itu telah hilang setelah berbuka). Adapun jika ia tidak merasa haus, maka ia tidak perlu mengucapkan doa tersebut. ===== دُكْتُورُ بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ هَذَا يَسْأَلُ يَقُولُ مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ حَيْثُ أَنَّ هُنَاكَ يَعْنِي بَعْضَ الْأَدْعِيَةِ هَلْ صَحِيحٌ؟ نَعَمْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ وَهَذَا قَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَقْتُ الْإِفْطَارِ أَنَّهُ مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ قُبَيْلَ الْإِفْطَارِ بِلَحَظَاتٍ يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الصَّائِمُ هَذَا الْوَقْتَ وَأَنْ يَدْعُوَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا يَحْضُرُهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ يَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ يَسْتَعِيذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ يَحْرِصُ عَلَى الْجَوَامِعِ مِنَ الدُّعَاءِ مِثْلَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَدْعُو لِنَفْسِهِ يَدْعُو لِأَوْلَادِهِ يَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ يَدْعُو اللهَ تَعَالَى بِمَا أَعْجَبَهُ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَهَذَا الدُّعَاءُ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ حَرِيٌّ بِالْإِجَابَةِ وَأَمَّا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا صِيغَةٌ مُعَيَّنَةٌ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي يُرْوَى اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ فَهَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ مِنْ جِهَةِ الْإِسْنَادِ فَهُوَ مِنْ جِهَةِ الصِّنَاعَةِ لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ ثَبَتَ بَعْدَ الْإِفْطَارِ إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَنْ يَقُولَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ هَذَا إِذَا كَانَ قَدْ ظَمِئَ بِالْفِعْلِ أَمَّا إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدْ ظَمِئَ فَلَا يَقُولُ هَذَا الدُّعَاءَ

6 Ide Sedekah di Bulan Ramadhan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Syaikh Saad, mari kita awali pembahasan kita dengan ulasan singkat, mengenai keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersedekah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Serta bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya dan meniti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau jauh lebih dermawan lagi saat bulan Ramadan, ketika malaikat Jibril menemui beliau untuk bertadarus Al-Qur’an bersama beliau. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Jibril, beliau menjadi jauh lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berembus. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang murah hati dan dermawan tapi kedermawanan beliau akan berlipat ganda di bulan yang penuh berkah ini. Maka, sudah sepatutnya kita meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya sifat murah hati dan dermawan itu tampak nyata pada diri seseorang, terutama di bulan ini; bulan yang penuh kedermawanan, kebaikan, dan kebajikan. Sebagai langkah awal, seseorang harus memeriksa harta yang ia miliki, lalu menunaikan zakatnya apabila sudah mencapai syarat wajib zakat, dengan hati yang lapang dalam menunaikannya. Setelah itu, ia dapat memperbanyak pemberian, infak, dan sedekah di berbagai jalan kebaikan. Di antara contohnya, memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa. “Barang siapa yang memberi buka puasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini juga mencakup amalan memberi makan secara umum. Contoh lainnya adalah membantu para fakir dan miskin. Termasuk juga melunasi utang orang-orang yang terlilit utang berat (gharimin). Sebab dalam hal ini terdapat pahala yang agung dan ganjaran yang melimpah. Betapa banyak orang yang terlilit utang, hingga beban utang tersebut semakin menumpuk. Betapa banyak orang berutang yang bebannya telah menggunung, hingga mungkin ia harus dipenjara karenanya. Mungkin pula ia terpaksa meninggalkan keluarga serta anak-anaknya, sehingga ia terhalang untuk berkumpul bersama mereka karena jeratan utang ini. Maka, sungguh luar biasa pahala bagi orang yang membantu mereka yang terlilit utang, serta melunasi utang yang mereka pikul, agar mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga mereka, dan berbahagia karena telah terbebas dari penjara. Pahala amalan ini sangatlah agung di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula dengan membantu para janda dan anak yatim. “Orang yang menyantuni janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). “Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini (beliau memberi isyarat kedekatan).” (HR. Bukhari). Demikianlah kita dapati bahwa jalan-jalan kebaikan itu banyak dan beragam. Maka, hendaklah setiap orang setelah menunaikan zakat, ia memiliki antusiasme untuk turut bersedekah dan berinfak di berbagai jalan kebaikan. ===== لَوْ نَبْدَأُ الْحَدِيثَ شَيْخَ سَعْدٍ بِحَدِيثٍ قَصِيرٍ عَنْ حَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَرِيمًا جَوَادًا لَكِنْ كَانَ يَتَضَاعَفُ جُودُهُ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ يَظْهَرَ الْجُودُ وَالْكَرَمُ عَلَى الْإِنْسَانِ فِي هَذَا الشَّهْرِ شَهْرِ الْجُودِ وَالْخَيْرِ وَالْإِحْسَانِ وَيَتَفَقَّدَ أَوَّلًا الْأَمْوَالَ الَّتِي عِنْدَهُ فَيُخْرِجَ الزَّكَاةَ فِيمَا وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُكْثِرُ مِنَ الْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ وَالصَّدَقَاتِ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ وَمِنْ ذَلِكَ تَفْطِيرُ الصَّائِمِينَ وَمَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَيَدْخُلُ فِيهِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَمِنْ ذَلِكَ مُسَاعَدَةُ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَمِنْ ذَلِكَ تَسْدِيدُ الدُّيُونِ عَنِ الْغَارِمِينَ فَإِنَّ فِي هَذَا أَجْرًا عَظِيمًا وَثَوَابًا جَزِيلًا كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٌ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٍ قَدْ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ وَرُبَّمَا حُبِسَ بِسَبَبِ ذَلِكَ الدَّيْنِ وَرُبَّمَا يَكُونُ مِنْ خَلْفِهِ أُسْرَةٌ وَأَطْفَالٌ وَقَدْ حُرِمَ مِنَ الِاجْتِمَاعِ بِهِمْ بِسَبَبِ هَذِهِ الدُّيُونِ فَمَا أَعْظَمَ أَجْرَ مَنْ سَاعَدَ هَؤُلَاءِ الْمَدِينِينَ وَسَدَّدَ عَنْهُمُ الدُّيُونَ الَّتِي عَلَيْهِمْ وَلِكَيْ يَجْتَمِعُوا بِأُسَرِهِمْ وَيَسْعَدُوا بِالْخُرُوجِ مِنَ السِّجْنِ هَذَا أَجْرُهُ عَظِيمٌ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَكَذَا أَيْضًا مُسَاعَدَةُ الْأَرَامِلِ وَالْأَيْتَامِ وَالسَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَهَكَذَا نَجِدُ أَنَّ سُبُلَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَعَدِّدَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحْرِصَ بَعْدَ إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ أَنْ يَكُونَ لَهُ بَذْلٌ وَإِنْفَاقٌ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ

6 Ide Sedekah di Bulan Ramadhan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Syaikh Saad, mari kita awali pembahasan kita dengan ulasan singkat, mengenai keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersedekah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Serta bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya dan meniti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau jauh lebih dermawan lagi saat bulan Ramadan, ketika malaikat Jibril menemui beliau untuk bertadarus Al-Qur’an bersama beliau. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Jibril, beliau menjadi jauh lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berembus. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang murah hati dan dermawan tapi kedermawanan beliau akan berlipat ganda di bulan yang penuh berkah ini. Maka, sudah sepatutnya kita meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya sifat murah hati dan dermawan itu tampak nyata pada diri seseorang, terutama di bulan ini; bulan yang penuh kedermawanan, kebaikan, dan kebajikan. Sebagai langkah awal, seseorang harus memeriksa harta yang ia miliki, lalu menunaikan zakatnya apabila sudah mencapai syarat wajib zakat, dengan hati yang lapang dalam menunaikannya. Setelah itu, ia dapat memperbanyak pemberian, infak, dan sedekah di berbagai jalan kebaikan. Di antara contohnya, memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa. “Barang siapa yang memberi buka puasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini juga mencakup amalan memberi makan secara umum. Contoh lainnya adalah membantu para fakir dan miskin. Termasuk juga melunasi utang orang-orang yang terlilit utang berat (gharimin). Sebab dalam hal ini terdapat pahala yang agung dan ganjaran yang melimpah. Betapa banyak orang yang terlilit utang, hingga beban utang tersebut semakin menumpuk. Betapa banyak orang berutang yang bebannya telah menggunung, hingga mungkin ia harus dipenjara karenanya. Mungkin pula ia terpaksa meninggalkan keluarga serta anak-anaknya, sehingga ia terhalang untuk berkumpul bersama mereka karena jeratan utang ini. Maka, sungguh luar biasa pahala bagi orang yang membantu mereka yang terlilit utang, serta melunasi utang yang mereka pikul, agar mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga mereka, dan berbahagia karena telah terbebas dari penjara. Pahala amalan ini sangatlah agung di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula dengan membantu para janda dan anak yatim. “Orang yang menyantuni janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). “Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini (beliau memberi isyarat kedekatan).” (HR. Bukhari). Demikianlah kita dapati bahwa jalan-jalan kebaikan itu banyak dan beragam. Maka, hendaklah setiap orang setelah menunaikan zakat, ia memiliki antusiasme untuk turut bersedekah dan berinfak di berbagai jalan kebaikan. ===== لَوْ نَبْدَأُ الْحَدِيثَ شَيْخَ سَعْدٍ بِحَدِيثٍ قَصِيرٍ عَنْ حَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَرِيمًا جَوَادًا لَكِنْ كَانَ يَتَضَاعَفُ جُودُهُ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ يَظْهَرَ الْجُودُ وَالْكَرَمُ عَلَى الْإِنْسَانِ فِي هَذَا الشَّهْرِ شَهْرِ الْجُودِ وَالْخَيْرِ وَالْإِحْسَانِ وَيَتَفَقَّدَ أَوَّلًا الْأَمْوَالَ الَّتِي عِنْدَهُ فَيُخْرِجَ الزَّكَاةَ فِيمَا وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُكْثِرُ مِنَ الْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ وَالصَّدَقَاتِ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ وَمِنْ ذَلِكَ تَفْطِيرُ الصَّائِمِينَ وَمَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَيَدْخُلُ فِيهِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَمِنْ ذَلِكَ مُسَاعَدَةُ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَمِنْ ذَلِكَ تَسْدِيدُ الدُّيُونِ عَنِ الْغَارِمِينَ فَإِنَّ فِي هَذَا أَجْرًا عَظِيمًا وَثَوَابًا جَزِيلًا كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٌ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٍ قَدْ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ وَرُبَّمَا حُبِسَ بِسَبَبِ ذَلِكَ الدَّيْنِ وَرُبَّمَا يَكُونُ مِنْ خَلْفِهِ أُسْرَةٌ وَأَطْفَالٌ وَقَدْ حُرِمَ مِنَ الِاجْتِمَاعِ بِهِمْ بِسَبَبِ هَذِهِ الدُّيُونِ فَمَا أَعْظَمَ أَجْرَ مَنْ سَاعَدَ هَؤُلَاءِ الْمَدِينِينَ وَسَدَّدَ عَنْهُمُ الدُّيُونَ الَّتِي عَلَيْهِمْ وَلِكَيْ يَجْتَمِعُوا بِأُسَرِهِمْ وَيَسْعَدُوا بِالْخُرُوجِ مِنَ السِّجْنِ هَذَا أَجْرُهُ عَظِيمٌ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَكَذَا أَيْضًا مُسَاعَدَةُ الْأَرَامِلِ وَالْأَيْتَامِ وَالسَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَهَكَذَا نَجِدُ أَنَّ سُبُلَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَعَدِّدَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحْرِصَ بَعْدَ إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ أَنْ يَكُونَ لَهُ بَذْلٌ وَإِنْفَاقٌ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ
Syaikh Saad, mari kita awali pembahasan kita dengan ulasan singkat, mengenai keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersedekah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Serta bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya dan meniti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau jauh lebih dermawan lagi saat bulan Ramadan, ketika malaikat Jibril menemui beliau untuk bertadarus Al-Qur’an bersama beliau. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Jibril, beliau menjadi jauh lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berembus. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang murah hati dan dermawan tapi kedermawanan beliau akan berlipat ganda di bulan yang penuh berkah ini. Maka, sudah sepatutnya kita meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya sifat murah hati dan dermawan itu tampak nyata pada diri seseorang, terutama di bulan ini; bulan yang penuh kedermawanan, kebaikan, dan kebajikan. Sebagai langkah awal, seseorang harus memeriksa harta yang ia miliki, lalu menunaikan zakatnya apabila sudah mencapai syarat wajib zakat, dengan hati yang lapang dalam menunaikannya. Setelah itu, ia dapat memperbanyak pemberian, infak, dan sedekah di berbagai jalan kebaikan. Di antara contohnya, memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa. “Barang siapa yang memberi buka puasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini juga mencakup amalan memberi makan secara umum. Contoh lainnya adalah membantu para fakir dan miskin. Termasuk juga melunasi utang orang-orang yang terlilit utang berat (gharimin). Sebab dalam hal ini terdapat pahala yang agung dan ganjaran yang melimpah. Betapa banyak orang yang terlilit utang, hingga beban utang tersebut semakin menumpuk. Betapa banyak orang berutang yang bebannya telah menggunung, hingga mungkin ia harus dipenjara karenanya. Mungkin pula ia terpaksa meninggalkan keluarga serta anak-anaknya, sehingga ia terhalang untuk berkumpul bersama mereka karena jeratan utang ini. Maka, sungguh luar biasa pahala bagi orang yang membantu mereka yang terlilit utang, serta melunasi utang yang mereka pikul, agar mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga mereka, dan berbahagia karena telah terbebas dari penjara. Pahala amalan ini sangatlah agung di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula dengan membantu para janda dan anak yatim. “Orang yang menyantuni janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). “Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini (beliau memberi isyarat kedekatan).” (HR. Bukhari). Demikianlah kita dapati bahwa jalan-jalan kebaikan itu banyak dan beragam. Maka, hendaklah setiap orang setelah menunaikan zakat, ia memiliki antusiasme untuk turut bersedekah dan berinfak di berbagai jalan kebaikan. ===== لَوْ نَبْدَأُ الْحَدِيثَ شَيْخَ سَعْدٍ بِحَدِيثٍ قَصِيرٍ عَنْ حَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَرِيمًا جَوَادًا لَكِنْ كَانَ يَتَضَاعَفُ جُودُهُ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ يَظْهَرَ الْجُودُ وَالْكَرَمُ عَلَى الْإِنْسَانِ فِي هَذَا الشَّهْرِ شَهْرِ الْجُودِ وَالْخَيْرِ وَالْإِحْسَانِ وَيَتَفَقَّدَ أَوَّلًا الْأَمْوَالَ الَّتِي عِنْدَهُ فَيُخْرِجَ الزَّكَاةَ فِيمَا وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُكْثِرُ مِنَ الْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ وَالصَّدَقَاتِ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ وَمِنْ ذَلِكَ تَفْطِيرُ الصَّائِمِينَ وَمَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَيَدْخُلُ فِيهِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَمِنْ ذَلِكَ مُسَاعَدَةُ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَمِنْ ذَلِكَ تَسْدِيدُ الدُّيُونِ عَنِ الْغَارِمِينَ فَإِنَّ فِي هَذَا أَجْرًا عَظِيمًا وَثَوَابًا جَزِيلًا كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٌ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٍ قَدْ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ وَرُبَّمَا حُبِسَ بِسَبَبِ ذَلِكَ الدَّيْنِ وَرُبَّمَا يَكُونُ مِنْ خَلْفِهِ أُسْرَةٌ وَأَطْفَالٌ وَقَدْ حُرِمَ مِنَ الِاجْتِمَاعِ بِهِمْ بِسَبَبِ هَذِهِ الدُّيُونِ فَمَا أَعْظَمَ أَجْرَ مَنْ سَاعَدَ هَؤُلَاءِ الْمَدِينِينَ وَسَدَّدَ عَنْهُمُ الدُّيُونَ الَّتِي عَلَيْهِمْ وَلِكَيْ يَجْتَمِعُوا بِأُسَرِهِمْ وَيَسْعَدُوا بِالْخُرُوجِ مِنَ السِّجْنِ هَذَا أَجْرُهُ عَظِيمٌ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَكَذَا أَيْضًا مُسَاعَدَةُ الْأَرَامِلِ وَالْأَيْتَامِ وَالسَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَهَكَذَا نَجِدُ أَنَّ سُبُلَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَعَدِّدَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحْرِصَ بَعْدَ إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ أَنْ يَكُونَ لَهُ بَذْلٌ وَإِنْفَاقٌ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ


Syaikh Saad, mari kita awali pembahasan kita dengan ulasan singkat, mengenai keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersedekah di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau. Serta bagi siapa saja yang mengikuti petunjuknya dan meniti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau jauh lebih dermawan lagi saat bulan Ramadan, ketika malaikat Jibril menemui beliau untuk bertadarus Al-Qur’an bersama beliau. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Jibril, beliau menjadi jauh lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berembus. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang murah hati dan dermawan tapi kedermawanan beliau akan berlipat ganda di bulan yang penuh berkah ini. Maka, sudah sepatutnya kita meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya sifat murah hati dan dermawan itu tampak nyata pada diri seseorang, terutama di bulan ini; bulan yang penuh kedermawanan, kebaikan, dan kebajikan. Sebagai langkah awal, seseorang harus memeriksa harta yang ia miliki, lalu menunaikan zakatnya apabila sudah mencapai syarat wajib zakat, dengan hati yang lapang dalam menunaikannya. Setelah itu, ia dapat memperbanyak pemberian, infak, dan sedekah di berbagai jalan kebaikan. Di antara contohnya, memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa. “Barang siapa yang memberi buka puasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ibnu Majah). Hal ini juga mencakup amalan memberi makan secara umum. Contoh lainnya adalah membantu para fakir dan miskin. Termasuk juga melunasi utang orang-orang yang terlilit utang berat (gharimin). Sebab dalam hal ini terdapat pahala yang agung dan ganjaran yang melimpah. Betapa banyak orang yang terlilit utang, hingga beban utang tersebut semakin menumpuk. Betapa banyak orang berutang yang bebannya telah menggunung, hingga mungkin ia harus dipenjara karenanya. Mungkin pula ia terpaksa meninggalkan keluarga serta anak-anaknya, sehingga ia terhalang untuk berkumpul bersama mereka karena jeratan utang ini. Maka, sungguh luar biasa pahala bagi orang yang membantu mereka yang terlilit utang, serta melunasi utang yang mereka pikul, agar mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga mereka, dan berbahagia karena telah terbebas dari penjara. Pahala amalan ini sangatlah agung di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula dengan membantu para janda dan anak yatim. “Orang yang menyantuni janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). “Aku dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini (beliau memberi isyarat kedekatan).” (HR. Bukhari). Demikianlah kita dapati bahwa jalan-jalan kebaikan itu banyak dan beragam. Maka, hendaklah setiap orang setelah menunaikan zakat, ia memiliki antusiasme untuk turut bersedekah dan berinfak di berbagai jalan kebaikan. ===== لَوْ نَبْدَأُ الْحَدِيثَ شَيْخَ سَعْدٍ بِحَدِيثٍ قَصِيرٍ عَنْ حَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الصَّدَقَةِ فِي رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَرِيمًا جَوَادًا لَكِنْ كَانَ يَتَضَاعَفُ جُودُهُ فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ يَظْهَرَ الْجُودُ وَالْكَرَمُ عَلَى الْإِنْسَانِ فِي هَذَا الشَّهْرِ شَهْرِ الْجُودِ وَالْخَيْرِ وَالْإِحْسَانِ وَيَتَفَقَّدَ أَوَّلًا الْأَمْوَالَ الَّتِي عِنْدَهُ فَيُخْرِجَ الزَّكَاةَ فِيمَا وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُكْثِرُ مِنَ الْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ وَالصَّدَقَاتِ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ وَمِنْ ذَلِكَ تَفْطِيرُ الصَّائِمِينَ وَمَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَيَدْخُلُ فِيهِ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَمِنْ ذَلِكَ مُسَاعَدَةُ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَمِنْ ذَلِكَ تَسْدِيدُ الدُّيُونِ عَنِ الْغَارِمِينَ فَإِنَّ فِي هَذَا أَجْرًا عَظِيمًا وَثَوَابًا جَزِيلًا كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٌ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ كَمْ مِنْ إِنْسَانٍ مَدِينٍ قَدْ تَرَاكَمَتْ عَلَيْهِ الدُّيُونُ وَرُبَّمَا حُبِسَ بِسَبَبِ ذَلِكَ الدَّيْنِ وَرُبَّمَا يَكُونُ مِنْ خَلْفِهِ أُسْرَةٌ وَأَطْفَالٌ وَقَدْ حُرِمَ مِنَ الِاجْتِمَاعِ بِهِمْ بِسَبَبِ هَذِهِ الدُّيُونِ فَمَا أَعْظَمَ أَجْرَ مَنْ سَاعَدَ هَؤُلَاءِ الْمَدِينِينَ وَسَدَّدَ عَنْهُمُ الدُّيُونَ الَّتِي عَلَيْهِمْ وَلِكَيْ يَجْتَمِعُوا بِأُسَرِهِمْ وَيَسْعَدُوا بِالْخُرُوجِ مِنَ السِّجْنِ هَذَا أَجْرُهُ عَظِيمٌ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَكَذَا أَيْضًا مُسَاعَدَةُ الْأَرَامِلِ وَالْأَيْتَامِ وَالسَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَهَكَذَا نَجِدُ أَنَّ سُبُلَ الْخَيْرِ كَثِيرَةٌ وَمُتَعَدِّدَةٌ فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَحْرِصَ بَعْدَ إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ أَنْ يَكُونَ لَهُ بَذْلٌ وَإِنْفَاقٌ فِي سُبُلِ الْخَيْرِ

Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026

Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.244 video dengan total 6.909.686 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.156 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 948.087.724 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.022 video Total Subscribers: 4.204.921 subscribers Total Tayangan Video: 746.752.906 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Januari 2026: 138 video Tayangan Video Januari 2026: 2.871.425 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 292.696 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +4.413 Selama bulan Januari 2026 tim Yufid menyiarkan 126 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.243 video Total Subscribers: 335.871 Total Tayangan Video: 23.296.677 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Januari 2026: 31 video Tayangan Video Januari 2026: 113.521 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 6.761 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +967 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 555.349 Total Tayangan Video: 173.972.955 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Januari 2026: 1 video Tayangan Video Januari 2026: 1.657.387 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 91.529 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +6.144 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 482.461 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Januari 2026: 862 views Jam Tayang Video Januari 2026: 109 Jam Penambahan Subscribers Januari 2026: 2 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.500 Total Tayangan Video: 3.582.725 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Januari 2026: 0 video Tayangan Video Januari 2026: 33.060 views Penambahan Subscribers Januari 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4933 Postingan Total Pengikut: 1.197.733 followers Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 2.076.777 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +8.335 Instagram Yufid Network Total Konten: 4842 Postingan Total Pengikut: 552.291 Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 1.664.525 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +3.414 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 23 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 3 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.179 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.146 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 781 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.323 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 36.524 file mp3 dengan total ukuran 522 Gb dan pada bulan Januari 2026 ini telah mempublikasikan 1.024 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Januari 2026 ini saja telah didengarkan 16.392 kali dan telah di download sebanyak 340 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.712.628 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.552 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 58.405 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.832 artikel dengan total durasi audio 271 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Januari 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 92 times, 1 visit(s) today Post Views: 557

Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026

Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.244 video dengan total 6.909.686 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.156 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 948.087.724 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.022 video Total Subscribers: 4.204.921 subscribers Total Tayangan Video: 746.752.906 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Januari 2026: 138 video Tayangan Video Januari 2026: 2.871.425 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 292.696 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +4.413 Selama bulan Januari 2026 tim Yufid menyiarkan 126 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.243 video Total Subscribers: 335.871 Total Tayangan Video: 23.296.677 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Januari 2026: 31 video Tayangan Video Januari 2026: 113.521 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 6.761 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +967 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 555.349 Total Tayangan Video: 173.972.955 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Januari 2026: 1 video Tayangan Video Januari 2026: 1.657.387 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 91.529 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +6.144 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 482.461 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Januari 2026: 862 views Jam Tayang Video Januari 2026: 109 Jam Penambahan Subscribers Januari 2026: 2 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.500 Total Tayangan Video: 3.582.725 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Januari 2026: 0 video Tayangan Video Januari 2026: 33.060 views Penambahan Subscribers Januari 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4933 Postingan Total Pengikut: 1.197.733 followers Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 2.076.777 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +8.335 Instagram Yufid Network Total Konten: 4842 Postingan Total Pengikut: 552.291 Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 1.664.525 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +3.414 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 23 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 3 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.179 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.146 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 781 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.323 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 36.524 file mp3 dengan total ukuran 522 Gb dan pada bulan Januari 2026 ini telah mempublikasikan 1.024 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Januari 2026 ini saja telah didengarkan 16.392 kali dan telah di download sebanyak 340 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.712.628 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.552 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 58.405 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.832 artikel dengan total durasi audio 271 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Januari 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 92 times, 1 visit(s) today Post Views: 557
Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.244 video dengan total 6.909.686 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.156 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 948.087.724 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.022 video Total Subscribers: 4.204.921 subscribers Total Tayangan Video: 746.752.906 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Januari 2026: 138 video Tayangan Video Januari 2026: 2.871.425 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 292.696 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +4.413 Selama bulan Januari 2026 tim Yufid menyiarkan 126 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.243 video Total Subscribers: 335.871 Total Tayangan Video: 23.296.677 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Januari 2026: 31 video Tayangan Video Januari 2026: 113.521 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 6.761 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +967 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 555.349 Total Tayangan Video: 173.972.955 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Januari 2026: 1 video Tayangan Video Januari 2026: 1.657.387 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 91.529 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +6.144 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 482.461 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Januari 2026: 862 views Jam Tayang Video Januari 2026: 109 Jam Penambahan Subscribers Januari 2026: 2 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.500 Total Tayangan Video: 3.582.725 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Januari 2026: 0 video Tayangan Video Januari 2026: 33.060 views Penambahan Subscribers Januari 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4933 Postingan Total Pengikut: 1.197.733 followers Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 2.076.777 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +8.335 Instagram Yufid Network Total Konten: 4842 Postingan Total Pengikut: 552.291 Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 1.664.525 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +3.414 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 23 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 3 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.179 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.146 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 781 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.323 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 36.524 file mp3 dengan total ukuran 522 Gb dan pada bulan Januari 2026 ini telah mempublikasikan 1.024 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Januari 2026 ini saja telah didengarkan 16.392 kali dan telah di download sebanyak 340 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.712.628 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.552 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 58.405 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.832 artikel dengan total durasi audio 271 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Januari 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 92 times, 1 visit(s) today Post Views: 557


Laporan Produksi Yufid Bulan Januari 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.244 video dengan total 6.909.686 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.156 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 948.087.724 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.022 video Total Subscribers: 4.204.921 subscribers Total Tayangan Video: 746.752.906 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Januari 2026: 138 video Tayangan Video Januari 2026: 2.871.425 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 292.696 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +4.413 Selama bulan Januari 2026 tim Yufid menyiarkan 126 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.243 video Total Subscribers: 335.871 Total Tayangan Video: 23.296.677 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Januari 2026: 31 video Tayangan Video Januari 2026: 113.521 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 6.761 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +967 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 555.349 Total Tayangan Video: 173.972.955 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Januari 2026: 1 video Tayangan Video Januari 2026: 1.657.387 views Waktu Tayang Video Januari 2026: 91.529 jam Penambahan Subscribers Januari 2026: +6.144 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 482.461 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Januari 2026: 862 views Jam Tayang Video Januari 2026: 109 Jam Penambahan Subscribers Januari 2026: 2 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.500 Total Tayangan Video: 3.582.725 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Januari 2026: 0 video Tayangan Video Januari 2026: 33.060 views Penambahan Subscribers Januari 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4933 Postingan Total Pengikut: 1.197.733 followers Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 2.076.777 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +8.335 Instagram Yufid Network Total Konten: 4842 Postingan Total Pengikut: 552.291 Konten Bulan Januari 2026: 48 Views Konten Januari: 1.664.525 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Januari 2026: +3.414 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 23 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 3 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.179 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 4 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.146 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 781 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.323 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 6 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 36.524 file mp3 dengan total ukuran 522 Gb dan pada bulan Januari 2026 ini telah mempublikasikan 1.024 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Januari 2026 ini saja telah didengarkan 16.392 kali dan telah di download sebanyak 340 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.712.628 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.552 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 58.405 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.832 artikel dengan total durasi audio 271 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Januari 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 15 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Januari 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 92 times, 1 visit(s) today Post Views: 557

Mendidik Jiwa Sosial di Bulan Ramadan

Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.

Mendidik Jiwa Sosial di Bulan Ramadan

Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.
Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.


Daftar Isi ToggleKeteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanRamadan mendidik kita untuk semangat berbagiMembantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarBulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaMenggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaMenolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaPendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaJiwa sosial para salaf di bulan RamadanBulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para ahli Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,وهو شهر المواساة“Ramadan adalah bulan empati.”Hadis Salman ini adalah hadis yang banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keutamaan bulan Ramadan,وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja yang memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu akan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.”Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi hadis di atas didukung oleh riwayat yang lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan hadis ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها“Oleh karena itu, apa yang disebutkan dalam hadis Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, memiliki bukti pendukung. Meskipun hadis Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap memiliki bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan RamadanSuri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak bertemu dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab yang menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ“Memberi dan bersedekah adalah perkara yang paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa yang ia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]Inilah satu level yang perlu kita capai: menjadi orang yang berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan yang diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam bersemangat berkontribusi sosial dan berbahagia dengan hal tersebut.Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagiAda banyak motivasi yang tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya yang akan disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan yang istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua amal dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadan.”Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat yang berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan hadis yang sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ yang memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan hadis riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan sedekah di bulan Ramadan. [3]Membantu orang-orang yang sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancarSebagaimana orang yang membantu menyiapkan bekal orang yang berangkat berperang, sama saja ia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, sama saja ia telah ikut berperang. Perbuatan inilah yang kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah hadis dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang yang berpuasa, ia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-NyaPemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya yang mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,إنما يرحم الله من عباده الرحماء“Sesungguhnya yang Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya yang pengasih.”Barangsiapa gemar memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun akan banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.Menggabungkan puasa dengan sedekah merupakan faktor masuknya seseorang ke surgaSebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik kamar itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, rajin berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)Menolong sesama muslim agar bisa fokus beribadah dengan memenuhi kebutuhan duniawinyaImam Asy-Syafii rahimahullah berkata,أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)Ini juga merupakan pendapat yang disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersamaIbnu Rajab rahimahullah dalam keterangan yang panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang yang berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu akan menumbuhkan empati yang lebih besar ditinjau dari dampak perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka bersama dengan makanan yang disedekahkan menunjukkan bahwa makanan yang ia sedekahkan tersebut adalah makanan yang ia sukai, sehingga menghibur hati orang yang diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang yang bersedekah dengan harta yang ia sukai.Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, sebab nikmat makan dan minum itu benar-benar dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; apabila beliau berpuasa, beliau tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, ia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat amalan berempati kepada orang lain.Jiwa sosial para salaf di bulan RamadanAda derajat yang lebih tinggi lagi dari sebuah empati, yakni mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf yang mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah yang didatangi seorang pengemis ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua potong roti yang telah ia persiapkan untuk berbuka. Kemudian ia menahan lapar dan pagi harinya ia melanjutkan berpuasa.Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan yang sedang ia makan, ia lantas berdiri dan memberikan makanannya yang masih tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian ia pulang di saat keluarganya telah makan makanan yang tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya ia berpuasa, padahal malamnya ia tidak makan apa-apa.Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika ia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan yang ia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, ia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa yang mau meminjamkan hartanya kepada Yang Mahacepat Menepati, Yang Maha Melunasi, dan Mahakaya?”Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya yang tidak memiliki amal kebaikan.” Kemudian ia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara ia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi yang tumbuh atas dasar iman yang kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa yang diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita yang ketika ada makanan yang sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang yang menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali yang berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah esensi Ramadan yang diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan bahkan dari genggaman kita, berupa sedekah maupun semangat menebar kebaikan yang lain. Ini adalah zaman di mana amal perbuatan dipermudah, tetapi godaan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah bentuk jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan yang bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan amal dari kita semua.***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://binbaz.org.sa[2] https://www.islamweb.net/ar[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.

Bukan Mencari Tuhan! Nabi Ibrahim Sedang Menghancurkan Logika Syirik Kaumnya (Tafsir Surah Al-An’am ayat 74-80)

Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim

Bukan Mencari Tuhan! Nabi Ibrahim Sedang Menghancurkan Logika Syirik Kaumnya (Tafsir Surah Al-An’am ayat 74-80)

Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim
Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim


Lanjut lagi bahasan dari juz ketujuh, dari surah Al-An’am. Banyak orang memahami kisah bintang, bulan, dan matahari dalam QS. Al-An‘am seakan-akan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām sedang “mencari Tuhan”. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa konteksnya adalah dialog dan debat untuk membongkar kesyirikan kaumnya. Nabi Ibrahim tidak sedang ragu, tetapi sedang menuntun kaumnya dengan hujah yang mereka pahami: menunjukkan bahwa benda-benda langit yang terbit lalu terbenam adalah makhluk yang diatur, bukan Tuhan yang disembah.Inilah pelajaran besar bagi kita: tauhid bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga kejernihan logika dalam menilai apa yang layak disembah. Jika sesuatu hilang, berubah, lemah, dan tidak mengurus hamba—maka ia tidak pantas menjadi ilah (sesembahan). Karena itu, puncak kisah ini bukan pada “pencarian”, melainkan pada deklarasi berlepas diri dari syirik dan menghadap total kepada Pencipta langit dan bumi: “Inni wajjahtu wajhiya…”.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan Kaumnya 2. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat Kauniyah 3. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan Kaumnya 4. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari Tuhan 5. Kesimpulan  Ketika Nabi Ibrahim Membongkar Akar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.” (QS. Al-An’am: 74)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala berfirman: Ingatlah kisah Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam, dengan memuji dan mengagungkannya dalam dakwahnya kepada tauhid serta dalam upayanya melarang dari kesyirikan.Ketika ia berkata kepada ayahnya, “Azar, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?” Padahal berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula menimbulkan mudarat. Ia sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas apa pun.Kemudian Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” Karena kalian menyembah sesuatu yang sama sekali tidak berhak untuk disembah, dan kalian meninggalkan ibadah kepada Pencipta kalian, Pemberi rezeki kalian, dan Pengatur seluruh urusan kalian. Allah Meneguhkan Keyakinan Nabi Ibrahim dengan Ayat-Ayat KauniyahAllah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ نُرِىٓ إِبْرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلْمُوقِنِينَ“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am: 75)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Makna firman-Nya, “Dan demikianlah”, yaitu sebagaimana Kami telah memberi taufik kepadanya untuk mentauhidkan Allah dan berdakwah kepada tauhid.“Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”, maksudnya agar ia menyaksikan dengan mata hatinya berbagai tanda dan bukti yang tegas, serta dalil-dalil yang terang, yang terdapat di langit dan di bumi.“Dan agar ia termasuk orang-orang yang yakin.” Karena dengan tegaknya dalil-dalil dan kuatnya bukti-bukti itu, lahirlah keyakinan yang sempurna dan ilmu yang mendalam tentang seluruh perkara yang menjadi tujuan iman. Bukan Mencari Tuhan, Tetapi Membongkar Kesyirikan KaumnyaAllah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.” (QS. Al-An’am: 76)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika malam telah gelap menutupinya”, yaitu ketika malam menjadi gelap gulita.“Ia melihat sebuah bintang”, kemungkinan besar adalah bintang yang sangat terang, karena penyebutan khusus terhadapnya menunjukkan bahwa ia lebih menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Oleh karena itu—wallahu a‘lam—sebagian ulama berpendapat bahwa bintang tersebut adalah Venus.Ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Ucapan ini disampaikan dalam rangka berdialog dan mengikuti alur berpikir kaumnya, seakan-akan ia berkata, “Baiklah, ini Tuhanku. Mari kita perhatikan, apakah ia memang layak menjadi Tuhan? Apakah ada bukti dan dalil yang menunjukkan bahwa ia pantas disembah?” Karena tidak sepantasnya orang yang berakal menjadikan sesuatu sebagai tuhan hanya berdasarkan hawa nafsu, tanpa hujah dan tanpa bukti.“Ketika bintang itu terbenam”, yakni ketika bintang tersebut menghilang dan tidak tampak lagi.Ia berkata, “Aku tidak menyukai sesuatu yang terbenam.” Maksudnya, sesuatu yang menghilang dan tidak tampak dari para penyembahnya tidak layak untuk disembah. Sesembahan yang benar seharusnya selalu mengurusi kepentingan hamba yang menyembahnya, mengatur seluruh urusannya setiap waktu. Adapun sesuatu yang dalam waktu lama menghilang dan tidak terlihat, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Tuhan?Menjadikannya sebagai sesembahan hanyalah bentuk kebodohan yang paling nyata dan kesesatan yang paling batil.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.” (QS. Al-An’am: 77)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat bulan terbit”, yaitu ketika bulan muncul dan bersinar. Ia melihat bahwa cahaya bulan lebih besar dibandingkan cahaya bintang-bintang, dan berbeda dari yang lainnya.Ia berkata, “Inilah Tuhanku,” sebagai bentuk mengikuti alur berpikir kaumnya dalam berdialog dengan mereka.“Ketika bulan itu terbenam”, ia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.”Dalam ucapan ini tampak betapa ia sangat membutuhkan petunjuk dari Rabbnya. Ia benar-benar menunjukkan ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Ia menyadari bahwa jika Allah tidak memberinya hidayah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk. Jika Allah tidak menolongnya dalam ketaatan, maka tidak ada penolong baginya.Allah Ta’ala berfirman,فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: 78)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.“Ketika ia melihat matahari terbit”, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar,” yakni lebih besar daripada bintang dan bulan.Namun ketika matahari itu terbenam, saat itulah kebenaran semakin jelas dan kesesatan pun sirna. Maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.”Karena telah tegak dalil yang benar dan nyata, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka sembah. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua benda langit itu tidak layak menjadi sesembahan.Allah Ta’ala berfirman,إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Maknanya: Aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.“Dalam keadaan hanif”, yaitu lurus di atas tauhid, condong kepada kebenaran dan menjauhi kesyirikan.“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Dengan pernyataan ini, ia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk sepenuhnya kepada tauhid, dan menegakkan hujah yang jelas atas kebenaran tersebut.Penjelasan yang telah disebutkan dalam menafsirkan ayat-ayat ini adalah pendapat yang benar, yaitu bahwa konteksnya adalah dialog dan perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya untuk menjelaskan batilnya penyembahan terhadap benda-benda langit dan selainnya.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ini adalah proses pencarian Ibrahim ketika masa kecilnya, maka pendapat tersebut tidak memiliki dalil yang kuat. Bantahan Ulama terhadap Anggapan Ibrahim Pernah Mencari TuhanBerikut adalah penjelasan dari Imam Ibnu Katsir dari kitab tafsinya.Yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihisshalatu wassalam pada saat itu sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya. Ia menjelaskan batilnya ajaran yang mereka anut, yaitu menyembah bangunan-bangunan suci dan patung-patung.Pada kesempatan sebelumnya bersama ayahnya, ia telah menjelaskan kesalahan mereka dalam menyembah patung-patung di bumi, yang dibuat menyerupai malaikat-malaikat di langit. Mereka menjadikannya sebagai perantara agar dapat memberi syafaat kepada mereka di sisi Sang Pencipta Yang Mahaagung. Menurut anggapan mereka, diri mereka terlalu rendah untuk langsung menyembah Allah. Karena itu, mereka bertawasul dengan menyembah para malaikat, agar malaikat-malaikat tersebut memberi syafaat kepada mereka dalam hal rezeki, kemenangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.Dalam peristiwa ini, Ibrahim juga menjelaskan kesalahan dan kesesatan mereka dalam menyembah bangunan-bangunan yang berkaitan dengan tujuh benda langit yang bergerak, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Benda yang paling terang dan paling bersinar menurut mereka adalah matahari, kemudian bulan, lalu Venus.Maka Ibrahim pertama-tama menjelaskan bahwa Venus tidak pantas dijadikan tuhan. Ia hanyalah makhluk yang ditundukkan dan diatur dalam orbit tertentu. Ia tidak menyimpang sedikit pun ke kanan atau ke kiri, dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia hanyalah salah satu benda langit yang Allah ciptakan bercahaya, karena hikmah-hikmah besar yang Dia kehendaki. Ia terbit dari timur, bergerak hingga ke barat, lalu menghilang dari pandangan, dan muncul kembali pada malam berikutnya dengan pola yang sama. Sesuatu yang seperti ini jelas tidak layak untuk disembah.Kemudian ia berpindah kepada bulan, dan menjelaskan hal yang sama sebagaimana ia jelaskan tentang bintang.Lalu ia berpindah kepada matahari. Ketika ketiga benda langit tersebut—yang merupakan benda paling terang yang dapat dilihat mata—telah jelas tidak layak menjadi sesembahan dengan dalil yang tegas, maka ia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.” Maksudnya, aku berlepas diri dari menyembah dan loyalitas kepada benda-benda itu. Jika memang mereka adalah tuhan-tuhan, maka silakan kalian bersama-sama mencelakakanku dengan mereka tanpa memberi penangguhan sedikit pun.Kemudian ia menegaskan, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” Maksudnya, aku hanya menyembah Pencipta semua benda itu, yang mengadakannya, menundukkannya, mengaturnya, dan menetapkan peredarannya. Dia-lah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, Pencipta dan Pemilik segala sesuatu, Rabb dan Ilah seluruh makhluk.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)Bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil berada dalam posisi mencari-cari kebenaran pada saat itu, padahal Allah telah berfirman tentangnya:۞ وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَٰهِيمَ رُشْدَهُۥ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَإِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya: 51-52)Allah juga berfirman,إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَشَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍوَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. An-Nahl: 120–123)Dan Allah berfirman:قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.” (QS. Al-An‘am: 161)Telah sahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman:إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.”Dan Allah berfirman:فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)Dan firman-Nya:وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. Al-A‘raf: 172)Makna ayat ini menurut salah satu pendapat sejalan dengan firman-Nya, “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,” sebagaimana akan dijelaskan.Jika demikian keadaan seluruh makhluk pada asal penciptaannya, maka bagaimana mungkin Ibrahim Al-Khalil—yang Allah jadikan sebagai “seorang imam yang patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik”—dalam posisi sedang mencari-cari kebenaran pada saat itu?Justru ia adalah manusia yang paling layak memiliki fitrah yang lurus dan tabiat yang benar, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ada keraguan sedikit pun.Di antara dalil yang menguatkan bahwa pada saat itu ia sedang berdialog dan berdebat dengan kaumnya—bukan sedang mencari kebenaran—adalah firman Allah Ta’ala berikutnya.وَحَآجَّهُۥ قَوْمُهُۥ ۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّى فِى ٱللَّهِ وَقَدْ هَدَىٰنِ ۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّى شَيْـًٔا ۗ وَسِعَ رَبِّى كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (QS. Al-An’am: 80)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai surah Al-An’am ayat 80 sebagai berikut.Ibrahim berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberiku petunjuk?” Maksudnya, apakah kalian masih juga memperdebatkanku tentang keesaan Allah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, padahal Allah telah membukakan hatiku, memberiku petunjuk kepada kebenaran, dan aku berada di atas dalil yang jelas? Lalu bagaimana mungkin aku berpaling kepada ucapan-ucapan kalian yang rusak dan syubhat-syubhat kalian yang batil?Kemudian ia berkata, “Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu.” Ini juga menjadi bukti atas batilnya keyakinan mereka. Sesembahan yang mereka agungkan itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun. Ibrahim tidak takut kepadanya dan tidak memedulikannya. Seandainya sesembahan-sesembahan itu benar-benar memiliki kekuatan, maka silakan mereka mencelakakannya segera tanpa ditunda-tunda.Adapun ucapannya, “kecuali jika Rabbku menghendaki sesuatu,” merupakan pengecualian yang terputus maknanya. Artinya, tidak ada yang mampu memberi mudarat atau manfaat selain Allah semata.Lalu ia menegaskan, “Ilmu Rabbku meliputi segala sesuatu.” Maksudnya, pengetahuan Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh keadaan mereka; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.Kemudian ia berkata, “Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” Maksudnya, tidakkah kalian merenungkan penjelasan yang telah aku sampaikan, sehingga kalian menyadari bahwa sesembahan-sesembahan itu batil, lalu berhenti dari menyembahnya?Hujah yang disampaikan Ibrahim ini serupa dengan hujah yang disampaikan Nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya, kaum ‘Ad. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an,قَالُوا۟ يَٰهُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِىٓ ءَالِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ“Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.” (QS. Hud: 53)إِن نَّقُولُ إِلَّا ٱعْتَرَىٰكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍ ۗ قَالَ إِنِّىٓ أُشْهِدُ ٱللَّهَ وَٱشْهَدُوٓا۟ أَنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Huud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Hud: 54)مِن دُونِهِۦ ۖ فَكِيدُونِى جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ“Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud: 55)إِنِّى تَوَكَّلْتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّى وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus“.” (QS. Hud: 56) KesimpulanDari seluruh dialog ini lahir kaidah besar:Setiap yang lemah, berubah, hilang, diatur, dan tidak berkuasa — bukan ilah yang berhak disembah.Karena itu Ibrahim menutup dengan deklarasi:إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Aku menghadapkan diriku hanya kepada Pencipta langit dan bumi.”Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam QS. Al-An‘am (74–80) menegaskan bahwa akar kesesatan kaumnya adalah kesyirikan: menyembah patung dan benda-benda langit sebagai perantara, padahal semuanya makhluk yang tidak kuasa memberi manfaat dan mudarat. Allah meneguhkan Ibrahim dengan “malakūt” langit dan bumi agar keyakinannya sempurna, lalu Ibrahim membantah keyakinan kaumnya dengan hujah yang terang: bintang, bulan, dan matahari terbit dan tenggelam, sehingga tidak layak jadi sesembahan. Maka Ibrahim menutupnya dengan bara’ (berlepas diri) dari syirik dan itsbāt (menetapkan) tauhid: hanya Allah Pencipta dan Pengatur semesta yang berhak diibadahi. Ini juga membantah anggapan bahwa Ibrahim pernah “mencari Tuhan”; yang benar, beliau menghancurkan logika syirik kaumnya melalui dialog yang cerdas dan tegas.اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالْيَقِينِ“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid dan memiliki keyakinan yang kokoh.” Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic  —– Selasa siang, 7 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsayat tentang tauhid bantahan kesyirikan belajar tauhid dakwah tauhid para nabi dialog tauhid Ibrahim kisah Nabi Ibrahim logika tauhid dalam Islam makna hanif dalam Islam nabi ibrahim nabi Ibrahim dan penyembahan berhala pelajaran tauhid Al-Quran renungan ayat renungan quran tafsir Al-Anam tauhid tauhid Nabi Ibrahim

Allah akan Ganti yang Lebih Baik

Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 2,600 times, 5 visit(s) today Post Views: 661

Allah akan Ganti yang Lebih Baik

Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 2,600 times, 5 visit(s) today Post Views: 661
Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 2,600 times, 5 visit(s) today Post Views: 661


Oleh: Dr. Amir bin Muhammad al-Mudari Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du: Wahai saudara-saudaraku tercinta! Berapa kali kita melalui momen-momen yang memaksa kita untuk meninggalkan sesuatu yang kita sukai atau kita sudah nyaman dengan hal itu, dan kita mungkin sudah meninggalkannya dengan rasa harap mendapat keridhaan Allah? Apakah kita pernah memikirkan tentang ganti yang Allah janjikan kepada kita atas kehilangan itu? Seperti yang disebutkan dalam satu atsar:  مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” Wahai saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah! Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan bagi para hamba-Nya yang saleh, siapa yang meninggalkan sesuatu di jalan-Nya, baik itu berupa harta, gejolak nafsu, kebiasaan, atau dosa, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya ganti dengan sesuatu yang lebih baik, ganti yang tidak tertandingi nilainya daripada dengan sesuatu yang hilang. Bisa jadi ganti itu diberikan di dunia atau di akhirat, dan ganti terbaiknya selalu kita harapkan berupa ganjaran terbesar di surga. Diriwayatkan dalam hadis shahih dari Abu Qatadah dan Abu Ad-Dahma’ bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ “Sungguh tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melainkan Allah akan memberimu yang lebih baik darinya.” (Musnad Imam Ahmad jilid 5 hlm. 363). Wahai saudara-saudara! Janji yang agung ini memberi kita semangat untuk bersabar dan berani berkorban dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menjauhi syahwat-syahwat yang menjauhkan kita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebesar apa pun kerugian duniawi yang dapat menimpa kita, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً. وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berniat melakukan kejahatan, maka janganlah kalian mencatatnya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah satu kejahatan yang sepadan. Namun jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia berniat melakukan kebaikan tapi belum melakukannya, catatlah baginya satu kebaikan. Jika ia benar-benar melakukannya, catatlah baginya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Inilah janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang akan mengganti dengan kebaikan yang melimpah bagi hamba yang meninggalkan dosa karena mengharap keridhaan-Nya. Inilah bentuk kemurahan agung dari Tuhan kita. Diriwayatkan juga dari Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا “Barang siapa meninggalkan pakaian (yang mewah) karena tunduk kepada Allah padahal ia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu memberinya pilihan dari pakaian-pakaian iman mana saja yang ingin ia kenakan.” (HR. At-Tirmidzi 2/79, Al-Hakim 4/183, Ahmad 3/439).  Diriwayatkan dari Sahal juga dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَنْ تَرَكَ شَهْوَةً وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا تَوَاضُعًا لِلَّهِ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ “Barang siapa meninggalkan suatu syahwat padahal ia mampu melakukannya, karena tunduk kepada Allah, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh 6/2/101). Diriwayatkan juga dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: النَّظْرَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ “Pandangan kepada perempuan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun; siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid 4 hlm. 313, Al-Qudha’i dalam kitabnya Al-Musnad jilid 1 hlm. 195, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 10362). Wahai saudara-saudaraku tercinta! Perhatikanlah kisah seorang sahabat Nabi yang mulia ini, Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu ‘anhu, seorang lelaki yang punya harta melimpah ketika di Makkah. Ketika kaum Musyrikin semakin gencar menzaliminya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta dan keluarganya di Makkah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan keridhaan-Nya. Allah memberinya ganti yang lebih baik di akhirat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya termasuk penghuni surga, dengan karunia dan rahmat-Nya. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkaitan dengan shuhaib dan orang-orang yang berhijrah lainnya, yang meninggalkan dunia demi meraih keridhaan Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207). Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun bersabda kepadanya: “Wahai Abu Yahya, ini jual beli yang menguntungkan!” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan beliau menilai hadis ini sahih memenuhi syarat keshahihan Imam Muslim). Perhatikanlah kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang meninggalkan kenikmatan dan perhiasan dunia, menolak untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan meskipun godaannya begitu besar, dan beliau lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati amanah yang diembannya. Beliau berkata:  قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ … فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ “Dia (Yusuf) berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya.’ maka Tuhannya mengabulkan doanya.” (QS. Yusuf: 33-34). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa beliau dan memberi ganti bagi beliau dengan hal yang lebih baik, memberinya kekuasaan di bumi dan kedudukan yang tinggi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ … وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ المُحْسِنِينَ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan (kekuasaan) kepada Yusuf di negeri itu, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56). Memberi kelonggaran bagi orang yang kesulitan, maka Allah memberi ampunan baginya Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda: كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا. قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ “Dahulu ada seorang lelaki yang memberi pinjaman kepada orang-orang. Ia berkata kepada pembantunya: ‘Jika engkau mendatangi orang yang kesulitan (tidak mampu membayar utangnya), maka maafkanlah dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka ketika ia telah berjumpa dengan Allah, Allah pun memaafkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَقَالُوا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ قَالَ: لَا. قَالُوا: تَذَكَّرْ. قَالَ: لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسَ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِي أَنْ يُنْظِرُوا الْمُوسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُعْسِرِ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ “Sungguh para malaikat menyambut ruh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka berkata kepadanya: ‘Apakah engkau pernah melakukan suatu kebaikan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Mereka berkata: ‘Coba ingat kembali.’ Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali aku dahulu memberi pinjaman kepada orang-orang, aku memerintahkan para pembantuku agar memberi kelonggaran kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan membayar.’ Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Maafkanlah dia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Janganlah takut meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang telah bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan memberi ganti bagi hamba-Nya kecuali dengan yang lebih baik, maka kuatkanlah tekad kita dalam meninggalkan hal-hal yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan besarkanlah keyakinanmu bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi ganti bagi kita dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kita. Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang memperhatikan ucapan dan mengikuti yang terbaiknya, menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan mengaruniakan kepada kita surga tertinggi, surga Firdaus tanpa hisab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/180455/من-ترك-شيئا-لله-عوضه-الله-خيرا-منه/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 2,600 times, 5 visit(s) today Post Views: 661

Tafsir Surah Al-Insyiqaq: Jangan Lupa, Kita Semua Akan Bertemu Allah

Surah Al-Insyiqaq menggambarkan kedahsyatan hari kiamat: langit terbelah, bumi diratakan, dan seluruh isi kubur dimuntahkan. Di tengah guncangan kosmik itu, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan pasti akan berjumpa dengan-Nya. Maka jangan lupa, seluruh amal kita akan dipertemukan dengan balasannya pada hari yang tidak mungkin dihindari.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama 2. Ayat Kedua 3. Ayat Ketiga 4. Ayat Keempat 5. Ayat Kelima 6. Ayat Keenam 7. Ayat Ketujuh 8. Ayat Kedelapan 8.1. Yang Dimaksud Hisab yang Mudah 8.2. Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari Kiamat 9. Ayat Kesembilan 10. Ayat Kesepuluh 11. Ayat Kesebelas 12. Ayat Kedua Belas 13. Ayat Ketiga Belas 14. Ayat Keempat Belas 15. Ayat Kelima Belas 15.1. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung? 16. Ayat Keenam Belas 17. Ayat Ketujuh Belas 18. Ayat Kedelapan Belas 19. Ayat Kesembilan Belas 20. Ayat Kedua Puluh 21. Ayat Kedua Puluh Satu 22. Ayat Kedua Puluh Dua 23. Ayat Kedua Puluh Tiga 24. Ayat Kedua Puluh Empat 25. Ayat Kedua Puluh Lima   Ayat Pertamaإِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala menjelaskan gambaran dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat, yaitu perubahan besar yang menimpa benda-benda langit yang sangat agung.Firman-Nya, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, maksudnya adalah ketika langit terbelah dan terpecah-pecah, bagian-bagiannya terpisah satu sama lain. Bintang-bintang berjatuhan dan berserakan. Matahari dan bulan pun mengalami kehancuran; keduanya kehilangan cahaya dan tertelan (lenyap).Ini semua merupakan gambaran kedahsyatan hari kiamat, ketika tatanan alam semesta yang selama ini kokoh dan teratur berubah total atas perintah Allah. Ayat Keduaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.” (QS. Al-Insyiqaq: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud firman Allah, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا, yaitu langit mendengarkan perintah Rabb-nya dengan penuh kepatuhan. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, memasang pendengaran, dan tunduk sepenuhnya terhadap titah-Nya.Memang sudah sepantasnya langit bersikap demikian. Sebab ia adalah makhluk yang sepenuhnya diatur dan ditundukkan oleh Allah, berada di bawah kekuasaan Raja Yang Maha Agung. Tidak ada satu pun perintah-Nya yang bisa ditentang, dan tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang dapat diselisihi.Ayat ini menggambarkan kesempurnaan ketaatan makhluk kepada Allah pada hari kiamat, ketika seluruh alam tunduk total kepada perintah-Nya tanpa sedikit pun pembangkangan. Ayat Ketigaوَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ“dan apabila bumi diratakan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ, adalah ketika bumi diguncangkan dan digetarkan dengan dahsyat. Gunung-gunung yang ada di atasnya dicabut dan dihancurkan. Segala bangunan dan tanda-tanda yang berdiri di atasnya diratakan hingga lenyap.Kemudian Allah membentangkan bumi itu seperti hamparan kulit yang dibentangkan, sehingga menjadi sangat luas. Bumi pada saat itu cukup untuk menampung seluruh manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar, meskipun jumlah mereka sangat banyak.Akhirnya, bumi menjadi tanah yang datar dan rata, tanpa terlihat sedikit pun lekukan atau tonjolan. Tidak ada lagi perbedaan ketinggian, semuanya menjadi satu hamparan luas yang terbuka. Ayat Keempatوَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ“dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا, adalah bumi mengeluarkan seluruh isi yang tersimpan di dalamnya, baik berupa jasad-jasad manusia yang telah mati maupun harta-harta terpendam dan berbagai kekayaan yang dahulu tersembunyi.Kemudian firman-Nya, وَتَخَلَّتْ, maksudnya bumi menjadi kosong dari semua itu. Ketika sangkakala ditiup, seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan keluar ke permukaan bumi. Bumi pun mengeluarkan seluruh perbendaharaan yang dikandungnya hingga tampak menumpuk seperti tiang besar yang menjulang.Semua makhluk menyaksikan harta-harta itu dengan mata kepala mereka sendiri. Pada saat itulah manusia menyesal, mengingat dahulu mereka berlomba-lomba dan saling bersaing untuk mendapatkannya, padahal kini semua itu tidak lagi berguna bagi mereka. Ayat Kelimaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 5) Ayat Keenamيَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Allah. Ia berusaha, beramal, dan menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam perjalanannya itu, ada yang mendekat kepada Allah dengan kebaikan, dan ada pula yang mendekat dengan keburukan.Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan luput dari pertemuan tersebut. Di sana, ia akan menerima balasan. Jika ia termasuk orang yang berbahagia (beriman dan taat), maka ia akan mendapatkan balasan dengan karunia dan kemurahan Allah. Namun jika ia termasuk orang yang celaka (kufur dan bermaksiat), maka ia akan menerima balasan dengan keadilan Allah.Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap amal akan bermuara pada satu pertemuan besar: pertemuan dengan Allah Ta’ala. Ayat Ketujuhفَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.” (QS. Al-Insyiqaq: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah ahli kebahagiaan, yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pemberian kitab dengan tangan kanan merupakan tanda keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan mereka di hari kiamat. Ayat Kedelapanفَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا“maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan hisab yang mudah adalah sekadar diperlihatkannya amal-amal di hadapan Allah. Allah menampakkan dosa-dosanya dan membuatnya mengakui semua itu. Hingga ketika sang hamba merasa dirinya telah binasa karena banyaknya dosa yang diingatkan kepadanya, Allah Ta’ala berfirman kepadanya:إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَسْتُرُهَا لَكَ الْيَوْمَ“Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku pun menutupinya untukmu.”Inilah makna hisab yang mudah: bukan diperiksa secara rinci dan diperdebatkan setiap amalnya, tetapi hanya diperlihatkan lalu diampuni oleh Allah. Yang Dimaksud Hisab yang MudahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ“Siapa saja yang benar-benar dihisab (secara rinci dan teliti), maka ia akan tersiksa.” Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala telah berfirman, ‘Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” Beliau menjawab, “Yang dimaksud ayat itu hanyalah al-‘aradh, yaitu sekadar diperlihatkan amalnya. Adapun orang yang diperiksa secara detail dan diperdebatkan hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari no. 103 dan Muslim no. 2876)Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:Pertama: Al-‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).Kedua: Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)Baca juga: Syarhus Sunnah: Hisab dan Timbangan pada Hari Kiamat Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari KiamatDari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيرًاALLOOHUMMA HAASIBNII HISAABAN YASIIROO.Artinya: Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟قَالَ: أَنْ يُنْظَرَ فِي كِتَابِهِ فَيُتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَا عَائِشَةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ.Setelah beliau selesai (dari doa itu), aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang diperlihatkan catatan amalnya, lalu Allah memaafkannya dan melewati (kesalahan-kesalahannya). Karena sesungguhnya, siapa saja yang diperiksa hisabnya secara teliti pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia akan binasa.”(HR. Ahmad, 6:48. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih selain pada kalimat “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca.” Tentang tambahan ini, Muhammad bin Ishaq bersendirian) Doa ini disebutkan dalam kumpulan doa yang kami susun dari buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” yang diterbitkan oleh Rumaysho. Pesan bukunya di Rumaysho Store via WA: 0821-3626-7701 atau 0821-2000-0454 atau Marketplace Rumaysho Store.Ayat Kesembilanوَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia merasa sangat gembira karena telah selamat dari azab dan berhasil meraih pahala serta balasan yang mulia.Kegembiraannya bukan sekadar karena berkumpul dengan keluarga, tetapi karena ia telah melewati hisab dengan selamat, terbebas dari siksa, dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Ayat Kesepuluhوَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” (QS. Al-Insyiqaq: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia menerima kitabnya dengan tangan kiri dari arah belakang.Ini adalah bentuk penghinaan dan kehinaan baginya pada hari kiamat. Ia tidak menerima kitabnya dengan tangan kanan seperti orang-orang yang berbahagia, tetapi justru dengan tangan kiri dan dari belakang punggungnya sebagai tanda kecelakaan dan kebinasaan. Ayat Kesebelasفَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS. Al-Insyiqaq: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia akan memohon agar dirinya dibinasakan, karena dahsyatnya kehinaan dan rasa malu yang ia rasakan. Ia melihat sendiri dalam kitab amalnya berbagai perbuatan buruk yang pernah ia lakukan dan tidak ia tobati. Ayat Kedua Belasوَيَصْلَىٰ سَعِيرًا“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, api neraka akan meliputinya dari segala arah. Ia akan dibolak-balik dalam panasnya yang menyala dan merasakan azabnya yang sangat pedih. Ayat Ketiga Belasإِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia dahulu bergembira di tengah keluarganya, tidak terlintas dalam benaknya tentang kebangkitan, padahal ia telah berbuat keburukan. Ayat Keempat Belasإِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ“Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali kepada Rabbnya dan berdiri di hadapan-Nya. Ayat Kelima Belasبَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, tidaklah pantas ia dibiarkan begitu saja—tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum—karena Rabbnya Maha Melihat segala keadaannya. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung?Ada hadits yang diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini. Ia berkata:Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang tangannya, tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang najwa (bisikan khusus pada hari kiamat)?”Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ “Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah melindunginya dan menutupinya. Allah berfirman, ‘Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rabbku.’ Hingga ketika Allah telah menetapkannya atas dosa-dosanya dan ia merasa dirinya pasti binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Maka ia pun diberikan kitab kebaikannya.” (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768; dan Ibnu Majah, no. 183). Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “dengan tangan kanannya.”Dalam riwayat lain disebutkan,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَسِتْرَهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ.Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya. Lalu Allah menaunginya dengan perlindungan dan tirai-Nya sehingga ia tertutup dari pandangan manusia. Kemudian Allah mengingatkannya satu per satu akan dosa-dosanya seraya berfirman, “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?”Ia pun menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”Pengakuan itu terus berlangsung hingga ia benar-benar dihadapkan pada seluruh dosa-dosanya dan dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya pasti binasa.Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”Setelah itu, ia diberikan catatan amal kebaikannya dengan tangan kanannya.Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, “Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ketahuilah, laknat Allah tertimpa atas orang-orang yang zalim. (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768) Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka diseru di hadapan seluruh makhluk, ‘Inilah orang-orang yang dahulu berdusta terhadap Allah.’”Adapun para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid—yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya—maka terdapat perbedaan pendapat tentang mereka. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka menerima kitab mereka dengan tangan kanan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.As-Safarini rahimahullah berkata: “Orang kafir diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya. Orang mukmin yang bermaksiat diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari arah depan. Sedangkan orang mukmin yang taat diberikan kitabnya dengan tangan kanan dari arah depan.Al-Mawardi rahimahullah memastikan bahwa pendapat yang masyhur adalah orang fasik yang meninggal dalam keadaan fasik tanpa tobat menerima kitabnya dengan tangan kanan. Lalu ia menyebutkan adanya pendapat yang bersikap tawaqquf (menahan diri dalam masalah ini). Ia juga mengatakan bahwa tidak ada yang berpendapat bahwa ia menerimanya dengan tangan kiri.”Yusuf bin ‘Umar dari kalangan Malikiyah berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang nasib para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.”Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa mereka menerima dengan tangan kanan, muncul dua rincian pendapat lagi. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerimanya sebelum masuk ke dalam neraka. Penerimaan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak kekal di dalamnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya setelah keluar dari neraka. Wallahu a‘lam. (Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, 2:183)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana dengan seorang mukmin yang bermaksiat, apakah ia menerima kitab amalnya dengan tangan kanan atau tangan kiri?” Beliau menjawab, “Ia menerimanya dengan tangan kanan.” (Al-As’ilah al-Mulḥaqah bi Syarḥ as-Safārīniyyah, hlm. 500) Ayat Keenam Belasفَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” (QS. Al-Insyiqaq: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Pada ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada waktu malam. Dia bersumpah dengan asy-syafaq, yaitu sisa cahaya matahari yang masih terlihat setelah matahari terbenam. Cahaya kemerahan itu menjadi penanda awal datangnya malam. Ayat Ketujuh Belasوَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ“dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.” (QS. Al-Insyiqaq: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi malam dan segala sesuatu yang dihimpun serta diliputinya. Malam menutupi dan mengumpulkan berbagai makhluk di dalamnya, baik hewan-hewan maupun makhluk lainnya.Ketika malam datang, banyak makhluk kembali ke tempatnya, berdiam diri, atau bergerak sesuai tabiatnya. Semua itu berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah. Sumpah ini kembali menunjukkan betapa teraturnya alam semesta di bawah kendali-Nya. Ayat Kedelapan Belasوَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ“dan dengan bulan apabila jadi purnama.” (QS. Al-Insyiqaq: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi bulan ketika ia telah sempurna cahayanya, yaitu saat bulan berada dalam keadaan purnama. Pada saat itu, cahaya bulan tampak penuh dan paling indah. Keadaan tersebut merupakan waktu ketika manfaat cahaya bulan paling besar. Ayat Kesembilan Belasلَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, wahai manusia, kalian akan menjalani berbagai fase dan keadaan yang berbeda-beda. Dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Setelah itu lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil, lalu mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk), kemudian datang masa dibebani kewajiban syariat—dengan perintah dan larangan.Setelah itu manusia akan meninggal dunia, lalu dibangkitkan kembali, dan akhirnya diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.Berbagai tahapan kehidupan yang silih berganti ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak disembah. Dialah Yang Maha Esa, yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan penuh hikmah dan rahmat. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan fakir, sepenuhnya berada di bawah pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Ayat Kedua Puluhفَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setelah Allah menjelaskan berbagai tanda kekuasaan-Nya dan tahapan kehidupan manusia yang begitu jelas menunjukkan keesaan dan pengaturan-Nya, Allah pun mengajukan pertanyaan yang bernada celaan dan keheranan: mengapa mereka tidak juga beriman? Ayat Kedua Puluh Satuوَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩“dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al-Insyiqaq: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk dan tidak merendahkan diri. Mereka tidak patuh terhadap ajaran-ajarannya, tidak mengikuti perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya. Ayat Kedua Puluh Duaبَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ“bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).” (QS. Al-Insyiqaq: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa mereka bukan sekadar tidak beriman, tetapi dengan sengaja mendustakan kebenaran setelah kebenaran itu tampak jelas bagi mereka. Mereka menolak karena sikap membangkang dan keras kepala. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Qur’an. Ayat Kedua Puluh Tigaوَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” (QS. Al-Insyiqaq: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam hati mereka—baik berupa amal perbuatan maupun niat-niat yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang mereka tampakkan maupun yang mereka rahasiakan.Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Karena itu, Dia akan memberikan balasan atas seluruh amal yang mereka kerjakan, sesuai dengan apa yang mereka niatkan dan lakukan. Ayat Kedua Puluh Empatفَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Insyiqaq: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kata basyarah (kabar gembira) disebut demikian karena pengaruhnya tampak pada wajah (kulit) seseorang, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Dalam ayat ini, kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman dan celaan, karena yang diberitakan justru azab yang menyakitkan.Inilah keadaan kebanyakan manusia: mereka mendustakan Al-Qur’an dan tidak beriman kepadanya. Maka sebagai balasan atas sikap keras kepala dan pendustaan itu, mereka diancam dengan azab yang pedih pada hari kiamat. Ayat Kedua Puluh Limaإِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ“tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Di antara manusia ada sekelompok orang yang diberi hidayah oleh Allah. Mereka beriman kepada Allah, menerima ajaran yang dibawa para rasul, lalu membuktikan keimanan itu dengan amal-amal saleh.Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang ghairu mamnūn, yaitu pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Pahala itu kekal dan terus-menerus, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Semoga Allah beri manfaat dengan kajian tafsir Surah Al-Insyiqaq ini.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Senin bakda Subuh, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscatatan amal tafsir as-sa'di tafsir juz amma tafsir surah al insyiqaq

Tafsir Surah Al-Insyiqaq: Jangan Lupa, Kita Semua Akan Bertemu Allah

Surah Al-Insyiqaq menggambarkan kedahsyatan hari kiamat: langit terbelah, bumi diratakan, dan seluruh isi kubur dimuntahkan. Di tengah guncangan kosmik itu, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan pasti akan berjumpa dengan-Nya. Maka jangan lupa, seluruh amal kita akan dipertemukan dengan balasannya pada hari yang tidak mungkin dihindari.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama 2. Ayat Kedua 3. Ayat Ketiga 4. Ayat Keempat 5. Ayat Kelima 6. Ayat Keenam 7. Ayat Ketujuh 8. Ayat Kedelapan 8.1. Yang Dimaksud Hisab yang Mudah 8.2. Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari Kiamat 9. Ayat Kesembilan 10. Ayat Kesepuluh 11. Ayat Kesebelas 12. Ayat Kedua Belas 13. Ayat Ketiga Belas 14. Ayat Keempat Belas 15. Ayat Kelima Belas 15.1. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung? 16. Ayat Keenam Belas 17. Ayat Ketujuh Belas 18. Ayat Kedelapan Belas 19. Ayat Kesembilan Belas 20. Ayat Kedua Puluh 21. Ayat Kedua Puluh Satu 22. Ayat Kedua Puluh Dua 23. Ayat Kedua Puluh Tiga 24. Ayat Kedua Puluh Empat 25. Ayat Kedua Puluh Lima   Ayat Pertamaإِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala menjelaskan gambaran dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat, yaitu perubahan besar yang menimpa benda-benda langit yang sangat agung.Firman-Nya, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, maksudnya adalah ketika langit terbelah dan terpecah-pecah, bagian-bagiannya terpisah satu sama lain. Bintang-bintang berjatuhan dan berserakan. Matahari dan bulan pun mengalami kehancuran; keduanya kehilangan cahaya dan tertelan (lenyap).Ini semua merupakan gambaran kedahsyatan hari kiamat, ketika tatanan alam semesta yang selama ini kokoh dan teratur berubah total atas perintah Allah. Ayat Keduaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.” (QS. Al-Insyiqaq: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud firman Allah, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا, yaitu langit mendengarkan perintah Rabb-nya dengan penuh kepatuhan. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, memasang pendengaran, dan tunduk sepenuhnya terhadap titah-Nya.Memang sudah sepantasnya langit bersikap demikian. Sebab ia adalah makhluk yang sepenuhnya diatur dan ditundukkan oleh Allah, berada di bawah kekuasaan Raja Yang Maha Agung. Tidak ada satu pun perintah-Nya yang bisa ditentang, dan tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang dapat diselisihi.Ayat ini menggambarkan kesempurnaan ketaatan makhluk kepada Allah pada hari kiamat, ketika seluruh alam tunduk total kepada perintah-Nya tanpa sedikit pun pembangkangan. Ayat Ketigaوَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ“dan apabila bumi diratakan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ, adalah ketika bumi diguncangkan dan digetarkan dengan dahsyat. Gunung-gunung yang ada di atasnya dicabut dan dihancurkan. Segala bangunan dan tanda-tanda yang berdiri di atasnya diratakan hingga lenyap.Kemudian Allah membentangkan bumi itu seperti hamparan kulit yang dibentangkan, sehingga menjadi sangat luas. Bumi pada saat itu cukup untuk menampung seluruh manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar, meskipun jumlah mereka sangat banyak.Akhirnya, bumi menjadi tanah yang datar dan rata, tanpa terlihat sedikit pun lekukan atau tonjolan. Tidak ada lagi perbedaan ketinggian, semuanya menjadi satu hamparan luas yang terbuka. Ayat Keempatوَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ“dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا, adalah bumi mengeluarkan seluruh isi yang tersimpan di dalamnya, baik berupa jasad-jasad manusia yang telah mati maupun harta-harta terpendam dan berbagai kekayaan yang dahulu tersembunyi.Kemudian firman-Nya, وَتَخَلَّتْ, maksudnya bumi menjadi kosong dari semua itu. Ketika sangkakala ditiup, seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan keluar ke permukaan bumi. Bumi pun mengeluarkan seluruh perbendaharaan yang dikandungnya hingga tampak menumpuk seperti tiang besar yang menjulang.Semua makhluk menyaksikan harta-harta itu dengan mata kepala mereka sendiri. Pada saat itulah manusia menyesal, mengingat dahulu mereka berlomba-lomba dan saling bersaing untuk mendapatkannya, padahal kini semua itu tidak lagi berguna bagi mereka. Ayat Kelimaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 5) Ayat Keenamيَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Allah. Ia berusaha, beramal, dan menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam perjalanannya itu, ada yang mendekat kepada Allah dengan kebaikan, dan ada pula yang mendekat dengan keburukan.Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan luput dari pertemuan tersebut. Di sana, ia akan menerima balasan. Jika ia termasuk orang yang berbahagia (beriman dan taat), maka ia akan mendapatkan balasan dengan karunia dan kemurahan Allah. Namun jika ia termasuk orang yang celaka (kufur dan bermaksiat), maka ia akan menerima balasan dengan keadilan Allah.Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap amal akan bermuara pada satu pertemuan besar: pertemuan dengan Allah Ta’ala. Ayat Ketujuhفَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.” (QS. Al-Insyiqaq: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah ahli kebahagiaan, yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pemberian kitab dengan tangan kanan merupakan tanda keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan mereka di hari kiamat. Ayat Kedelapanفَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا“maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan hisab yang mudah adalah sekadar diperlihatkannya amal-amal di hadapan Allah. Allah menampakkan dosa-dosanya dan membuatnya mengakui semua itu. Hingga ketika sang hamba merasa dirinya telah binasa karena banyaknya dosa yang diingatkan kepadanya, Allah Ta’ala berfirman kepadanya:إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَسْتُرُهَا لَكَ الْيَوْمَ“Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku pun menutupinya untukmu.”Inilah makna hisab yang mudah: bukan diperiksa secara rinci dan diperdebatkan setiap amalnya, tetapi hanya diperlihatkan lalu diampuni oleh Allah. Yang Dimaksud Hisab yang MudahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ“Siapa saja yang benar-benar dihisab (secara rinci dan teliti), maka ia akan tersiksa.” Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala telah berfirman, ‘Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” Beliau menjawab, “Yang dimaksud ayat itu hanyalah al-‘aradh, yaitu sekadar diperlihatkan amalnya. Adapun orang yang diperiksa secara detail dan diperdebatkan hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari no. 103 dan Muslim no. 2876)Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:Pertama: Al-‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).Kedua: Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)Baca juga: Syarhus Sunnah: Hisab dan Timbangan pada Hari Kiamat Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari KiamatDari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيرًاALLOOHUMMA HAASIBNII HISAABAN YASIIROO.Artinya: Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟قَالَ: أَنْ يُنْظَرَ فِي كِتَابِهِ فَيُتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَا عَائِشَةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ.Setelah beliau selesai (dari doa itu), aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang diperlihatkan catatan amalnya, lalu Allah memaafkannya dan melewati (kesalahan-kesalahannya). Karena sesungguhnya, siapa saja yang diperiksa hisabnya secara teliti pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia akan binasa.”(HR. Ahmad, 6:48. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih selain pada kalimat “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca.” Tentang tambahan ini, Muhammad bin Ishaq bersendirian) Doa ini disebutkan dalam kumpulan doa yang kami susun dari buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” yang diterbitkan oleh Rumaysho. Pesan bukunya di Rumaysho Store via WA: 0821-3626-7701 atau 0821-2000-0454 atau Marketplace Rumaysho Store.Ayat Kesembilanوَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia merasa sangat gembira karena telah selamat dari azab dan berhasil meraih pahala serta balasan yang mulia.Kegembiraannya bukan sekadar karena berkumpul dengan keluarga, tetapi karena ia telah melewati hisab dengan selamat, terbebas dari siksa, dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Ayat Kesepuluhوَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” (QS. Al-Insyiqaq: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia menerima kitabnya dengan tangan kiri dari arah belakang.Ini adalah bentuk penghinaan dan kehinaan baginya pada hari kiamat. Ia tidak menerima kitabnya dengan tangan kanan seperti orang-orang yang berbahagia, tetapi justru dengan tangan kiri dan dari belakang punggungnya sebagai tanda kecelakaan dan kebinasaan. Ayat Kesebelasفَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS. Al-Insyiqaq: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia akan memohon agar dirinya dibinasakan, karena dahsyatnya kehinaan dan rasa malu yang ia rasakan. Ia melihat sendiri dalam kitab amalnya berbagai perbuatan buruk yang pernah ia lakukan dan tidak ia tobati. Ayat Kedua Belasوَيَصْلَىٰ سَعِيرًا“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, api neraka akan meliputinya dari segala arah. Ia akan dibolak-balik dalam panasnya yang menyala dan merasakan azabnya yang sangat pedih. Ayat Ketiga Belasإِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia dahulu bergembira di tengah keluarganya, tidak terlintas dalam benaknya tentang kebangkitan, padahal ia telah berbuat keburukan. Ayat Keempat Belasإِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ“Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali kepada Rabbnya dan berdiri di hadapan-Nya. Ayat Kelima Belasبَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, tidaklah pantas ia dibiarkan begitu saja—tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum—karena Rabbnya Maha Melihat segala keadaannya. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung?Ada hadits yang diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini. Ia berkata:Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang tangannya, tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang najwa (bisikan khusus pada hari kiamat)?”Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ “Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah melindunginya dan menutupinya. Allah berfirman, ‘Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rabbku.’ Hingga ketika Allah telah menetapkannya atas dosa-dosanya dan ia merasa dirinya pasti binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Maka ia pun diberikan kitab kebaikannya.” (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768; dan Ibnu Majah, no. 183). Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “dengan tangan kanannya.”Dalam riwayat lain disebutkan,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَسِتْرَهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ.Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya. Lalu Allah menaunginya dengan perlindungan dan tirai-Nya sehingga ia tertutup dari pandangan manusia. Kemudian Allah mengingatkannya satu per satu akan dosa-dosanya seraya berfirman, “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?”Ia pun menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”Pengakuan itu terus berlangsung hingga ia benar-benar dihadapkan pada seluruh dosa-dosanya dan dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya pasti binasa.Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”Setelah itu, ia diberikan catatan amal kebaikannya dengan tangan kanannya.Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, “Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ketahuilah, laknat Allah tertimpa atas orang-orang yang zalim. (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768) Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka diseru di hadapan seluruh makhluk, ‘Inilah orang-orang yang dahulu berdusta terhadap Allah.’”Adapun para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid—yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya—maka terdapat perbedaan pendapat tentang mereka. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka menerima kitab mereka dengan tangan kanan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.As-Safarini rahimahullah berkata: “Orang kafir diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya. Orang mukmin yang bermaksiat diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari arah depan. Sedangkan orang mukmin yang taat diberikan kitabnya dengan tangan kanan dari arah depan.Al-Mawardi rahimahullah memastikan bahwa pendapat yang masyhur adalah orang fasik yang meninggal dalam keadaan fasik tanpa tobat menerima kitabnya dengan tangan kanan. Lalu ia menyebutkan adanya pendapat yang bersikap tawaqquf (menahan diri dalam masalah ini). Ia juga mengatakan bahwa tidak ada yang berpendapat bahwa ia menerimanya dengan tangan kiri.”Yusuf bin ‘Umar dari kalangan Malikiyah berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang nasib para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.”Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa mereka menerima dengan tangan kanan, muncul dua rincian pendapat lagi. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerimanya sebelum masuk ke dalam neraka. Penerimaan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak kekal di dalamnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya setelah keluar dari neraka. Wallahu a‘lam. (Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, 2:183)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana dengan seorang mukmin yang bermaksiat, apakah ia menerima kitab amalnya dengan tangan kanan atau tangan kiri?” Beliau menjawab, “Ia menerimanya dengan tangan kanan.” (Al-As’ilah al-Mulḥaqah bi Syarḥ as-Safārīniyyah, hlm. 500) Ayat Keenam Belasفَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” (QS. Al-Insyiqaq: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Pada ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada waktu malam. Dia bersumpah dengan asy-syafaq, yaitu sisa cahaya matahari yang masih terlihat setelah matahari terbenam. Cahaya kemerahan itu menjadi penanda awal datangnya malam. Ayat Ketujuh Belasوَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ“dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.” (QS. Al-Insyiqaq: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi malam dan segala sesuatu yang dihimpun serta diliputinya. Malam menutupi dan mengumpulkan berbagai makhluk di dalamnya, baik hewan-hewan maupun makhluk lainnya.Ketika malam datang, banyak makhluk kembali ke tempatnya, berdiam diri, atau bergerak sesuai tabiatnya. Semua itu berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah. Sumpah ini kembali menunjukkan betapa teraturnya alam semesta di bawah kendali-Nya. Ayat Kedelapan Belasوَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ“dan dengan bulan apabila jadi purnama.” (QS. Al-Insyiqaq: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi bulan ketika ia telah sempurna cahayanya, yaitu saat bulan berada dalam keadaan purnama. Pada saat itu, cahaya bulan tampak penuh dan paling indah. Keadaan tersebut merupakan waktu ketika manfaat cahaya bulan paling besar. Ayat Kesembilan Belasلَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, wahai manusia, kalian akan menjalani berbagai fase dan keadaan yang berbeda-beda. Dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Setelah itu lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil, lalu mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk), kemudian datang masa dibebani kewajiban syariat—dengan perintah dan larangan.Setelah itu manusia akan meninggal dunia, lalu dibangkitkan kembali, dan akhirnya diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.Berbagai tahapan kehidupan yang silih berganti ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak disembah. Dialah Yang Maha Esa, yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan penuh hikmah dan rahmat. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan fakir, sepenuhnya berada di bawah pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Ayat Kedua Puluhفَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setelah Allah menjelaskan berbagai tanda kekuasaan-Nya dan tahapan kehidupan manusia yang begitu jelas menunjukkan keesaan dan pengaturan-Nya, Allah pun mengajukan pertanyaan yang bernada celaan dan keheranan: mengapa mereka tidak juga beriman? Ayat Kedua Puluh Satuوَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩“dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al-Insyiqaq: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk dan tidak merendahkan diri. Mereka tidak patuh terhadap ajaran-ajarannya, tidak mengikuti perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya. Ayat Kedua Puluh Duaبَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ“bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).” (QS. Al-Insyiqaq: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa mereka bukan sekadar tidak beriman, tetapi dengan sengaja mendustakan kebenaran setelah kebenaran itu tampak jelas bagi mereka. Mereka menolak karena sikap membangkang dan keras kepala. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Qur’an. Ayat Kedua Puluh Tigaوَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” (QS. Al-Insyiqaq: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam hati mereka—baik berupa amal perbuatan maupun niat-niat yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang mereka tampakkan maupun yang mereka rahasiakan.Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Karena itu, Dia akan memberikan balasan atas seluruh amal yang mereka kerjakan, sesuai dengan apa yang mereka niatkan dan lakukan. Ayat Kedua Puluh Empatفَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Insyiqaq: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kata basyarah (kabar gembira) disebut demikian karena pengaruhnya tampak pada wajah (kulit) seseorang, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Dalam ayat ini, kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman dan celaan, karena yang diberitakan justru azab yang menyakitkan.Inilah keadaan kebanyakan manusia: mereka mendustakan Al-Qur’an dan tidak beriman kepadanya. Maka sebagai balasan atas sikap keras kepala dan pendustaan itu, mereka diancam dengan azab yang pedih pada hari kiamat. Ayat Kedua Puluh Limaإِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ“tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Di antara manusia ada sekelompok orang yang diberi hidayah oleh Allah. Mereka beriman kepada Allah, menerima ajaran yang dibawa para rasul, lalu membuktikan keimanan itu dengan amal-amal saleh.Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang ghairu mamnūn, yaitu pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Pahala itu kekal dan terus-menerus, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Semoga Allah beri manfaat dengan kajian tafsir Surah Al-Insyiqaq ini.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Senin bakda Subuh, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscatatan amal tafsir as-sa'di tafsir juz amma tafsir surah al insyiqaq
Surah Al-Insyiqaq menggambarkan kedahsyatan hari kiamat: langit terbelah, bumi diratakan, dan seluruh isi kubur dimuntahkan. Di tengah guncangan kosmik itu, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan pasti akan berjumpa dengan-Nya. Maka jangan lupa, seluruh amal kita akan dipertemukan dengan balasannya pada hari yang tidak mungkin dihindari.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama 2. Ayat Kedua 3. Ayat Ketiga 4. Ayat Keempat 5. Ayat Kelima 6. Ayat Keenam 7. Ayat Ketujuh 8. Ayat Kedelapan 8.1. Yang Dimaksud Hisab yang Mudah 8.2. Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari Kiamat 9. Ayat Kesembilan 10. Ayat Kesepuluh 11. Ayat Kesebelas 12. Ayat Kedua Belas 13. Ayat Ketiga Belas 14. Ayat Keempat Belas 15. Ayat Kelima Belas 15.1. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung? 16. Ayat Keenam Belas 17. Ayat Ketujuh Belas 18. Ayat Kedelapan Belas 19. Ayat Kesembilan Belas 20. Ayat Kedua Puluh 21. Ayat Kedua Puluh Satu 22. Ayat Kedua Puluh Dua 23. Ayat Kedua Puluh Tiga 24. Ayat Kedua Puluh Empat 25. Ayat Kedua Puluh Lima   Ayat Pertamaإِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala menjelaskan gambaran dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat, yaitu perubahan besar yang menimpa benda-benda langit yang sangat agung.Firman-Nya, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, maksudnya adalah ketika langit terbelah dan terpecah-pecah, bagian-bagiannya terpisah satu sama lain. Bintang-bintang berjatuhan dan berserakan. Matahari dan bulan pun mengalami kehancuran; keduanya kehilangan cahaya dan tertelan (lenyap).Ini semua merupakan gambaran kedahsyatan hari kiamat, ketika tatanan alam semesta yang selama ini kokoh dan teratur berubah total atas perintah Allah. Ayat Keduaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.” (QS. Al-Insyiqaq: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud firman Allah, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا, yaitu langit mendengarkan perintah Rabb-nya dengan penuh kepatuhan. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, memasang pendengaran, dan tunduk sepenuhnya terhadap titah-Nya.Memang sudah sepantasnya langit bersikap demikian. Sebab ia adalah makhluk yang sepenuhnya diatur dan ditundukkan oleh Allah, berada di bawah kekuasaan Raja Yang Maha Agung. Tidak ada satu pun perintah-Nya yang bisa ditentang, dan tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang dapat diselisihi.Ayat ini menggambarkan kesempurnaan ketaatan makhluk kepada Allah pada hari kiamat, ketika seluruh alam tunduk total kepada perintah-Nya tanpa sedikit pun pembangkangan. Ayat Ketigaوَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ“dan apabila bumi diratakan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ, adalah ketika bumi diguncangkan dan digetarkan dengan dahsyat. Gunung-gunung yang ada di atasnya dicabut dan dihancurkan. Segala bangunan dan tanda-tanda yang berdiri di atasnya diratakan hingga lenyap.Kemudian Allah membentangkan bumi itu seperti hamparan kulit yang dibentangkan, sehingga menjadi sangat luas. Bumi pada saat itu cukup untuk menampung seluruh manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar, meskipun jumlah mereka sangat banyak.Akhirnya, bumi menjadi tanah yang datar dan rata, tanpa terlihat sedikit pun lekukan atau tonjolan. Tidak ada lagi perbedaan ketinggian, semuanya menjadi satu hamparan luas yang terbuka. Ayat Keempatوَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ“dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا, adalah bumi mengeluarkan seluruh isi yang tersimpan di dalamnya, baik berupa jasad-jasad manusia yang telah mati maupun harta-harta terpendam dan berbagai kekayaan yang dahulu tersembunyi.Kemudian firman-Nya, وَتَخَلَّتْ, maksudnya bumi menjadi kosong dari semua itu. Ketika sangkakala ditiup, seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan keluar ke permukaan bumi. Bumi pun mengeluarkan seluruh perbendaharaan yang dikandungnya hingga tampak menumpuk seperti tiang besar yang menjulang.Semua makhluk menyaksikan harta-harta itu dengan mata kepala mereka sendiri. Pada saat itulah manusia menyesal, mengingat dahulu mereka berlomba-lomba dan saling bersaing untuk mendapatkannya, padahal kini semua itu tidak lagi berguna bagi mereka. Ayat Kelimaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 5) Ayat Keenamيَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Allah. Ia berusaha, beramal, dan menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam perjalanannya itu, ada yang mendekat kepada Allah dengan kebaikan, dan ada pula yang mendekat dengan keburukan.Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan luput dari pertemuan tersebut. Di sana, ia akan menerima balasan. Jika ia termasuk orang yang berbahagia (beriman dan taat), maka ia akan mendapatkan balasan dengan karunia dan kemurahan Allah. Namun jika ia termasuk orang yang celaka (kufur dan bermaksiat), maka ia akan menerima balasan dengan keadilan Allah.Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap amal akan bermuara pada satu pertemuan besar: pertemuan dengan Allah Ta’ala. Ayat Ketujuhفَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.” (QS. Al-Insyiqaq: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah ahli kebahagiaan, yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pemberian kitab dengan tangan kanan merupakan tanda keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan mereka di hari kiamat. Ayat Kedelapanفَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا“maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan hisab yang mudah adalah sekadar diperlihatkannya amal-amal di hadapan Allah. Allah menampakkan dosa-dosanya dan membuatnya mengakui semua itu. Hingga ketika sang hamba merasa dirinya telah binasa karena banyaknya dosa yang diingatkan kepadanya, Allah Ta’ala berfirman kepadanya:إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَسْتُرُهَا لَكَ الْيَوْمَ“Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku pun menutupinya untukmu.”Inilah makna hisab yang mudah: bukan diperiksa secara rinci dan diperdebatkan setiap amalnya, tetapi hanya diperlihatkan lalu diampuni oleh Allah. Yang Dimaksud Hisab yang MudahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ“Siapa saja yang benar-benar dihisab (secara rinci dan teliti), maka ia akan tersiksa.” Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala telah berfirman, ‘Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” Beliau menjawab, “Yang dimaksud ayat itu hanyalah al-‘aradh, yaitu sekadar diperlihatkan amalnya. Adapun orang yang diperiksa secara detail dan diperdebatkan hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari no. 103 dan Muslim no. 2876)Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:Pertama: Al-‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).Kedua: Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)Baca juga: Syarhus Sunnah: Hisab dan Timbangan pada Hari Kiamat Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari KiamatDari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيرًاALLOOHUMMA HAASIBNII HISAABAN YASIIROO.Artinya: Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟قَالَ: أَنْ يُنْظَرَ فِي كِتَابِهِ فَيُتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَا عَائِشَةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ.Setelah beliau selesai (dari doa itu), aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang diperlihatkan catatan amalnya, lalu Allah memaafkannya dan melewati (kesalahan-kesalahannya). Karena sesungguhnya, siapa saja yang diperiksa hisabnya secara teliti pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia akan binasa.”(HR. Ahmad, 6:48. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih selain pada kalimat “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca.” Tentang tambahan ini, Muhammad bin Ishaq bersendirian) Doa ini disebutkan dalam kumpulan doa yang kami susun dari buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” yang diterbitkan oleh Rumaysho. Pesan bukunya di Rumaysho Store via WA: 0821-3626-7701 atau 0821-2000-0454 atau Marketplace Rumaysho Store.Ayat Kesembilanوَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia merasa sangat gembira karena telah selamat dari azab dan berhasil meraih pahala serta balasan yang mulia.Kegembiraannya bukan sekadar karena berkumpul dengan keluarga, tetapi karena ia telah melewati hisab dengan selamat, terbebas dari siksa, dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Ayat Kesepuluhوَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” (QS. Al-Insyiqaq: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia menerima kitabnya dengan tangan kiri dari arah belakang.Ini adalah bentuk penghinaan dan kehinaan baginya pada hari kiamat. Ia tidak menerima kitabnya dengan tangan kanan seperti orang-orang yang berbahagia, tetapi justru dengan tangan kiri dan dari belakang punggungnya sebagai tanda kecelakaan dan kebinasaan. Ayat Kesebelasفَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS. Al-Insyiqaq: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia akan memohon agar dirinya dibinasakan, karena dahsyatnya kehinaan dan rasa malu yang ia rasakan. Ia melihat sendiri dalam kitab amalnya berbagai perbuatan buruk yang pernah ia lakukan dan tidak ia tobati. Ayat Kedua Belasوَيَصْلَىٰ سَعِيرًا“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, api neraka akan meliputinya dari segala arah. Ia akan dibolak-balik dalam panasnya yang menyala dan merasakan azabnya yang sangat pedih. Ayat Ketiga Belasإِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia dahulu bergembira di tengah keluarganya, tidak terlintas dalam benaknya tentang kebangkitan, padahal ia telah berbuat keburukan. Ayat Keempat Belasإِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ“Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali kepada Rabbnya dan berdiri di hadapan-Nya. Ayat Kelima Belasبَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, tidaklah pantas ia dibiarkan begitu saja—tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum—karena Rabbnya Maha Melihat segala keadaannya. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung?Ada hadits yang diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini. Ia berkata:Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang tangannya, tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang najwa (bisikan khusus pada hari kiamat)?”Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ “Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah melindunginya dan menutupinya. Allah berfirman, ‘Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rabbku.’ Hingga ketika Allah telah menetapkannya atas dosa-dosanya dan ia merasa dirinya pasti binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Maka ia pun diberikan kitab kebaikannya.” (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768; dan Ibnu Majah, no. 183). Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “dengan tangan kanannya.”Dalam riwayat lain disebutkan,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَسِتْرَهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ.Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya. Lalu Allah menaunginya dengan perlindungan dan tirai-Nya sehingga ia tertutup dari pandangan manusia. Kemudian Allah mengingatkannya satu per satu akan dosa-dosanya seraya berfirman, “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?”Ia pun menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”Pengakuan itu terus berlangsung hingga ia benar-benar dihadapkan pada seluruh dosa-dosanya dan dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya pasti binasa.Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”Setelah itu, ia diberikan catatan amal kebaikannya dengan tangan kanannya.Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, “Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ketahuilah, laknat Allah tertimpa atas orang-orang yang zalim. (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768) Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka diseru di hadapan seluruh makhluk, ‘Inilah orang-orang yang dahulu berdusta terhadap Allah.’”Adapun para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid—yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya—maka terdapat perbedaan pendapat tentang mereka. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka menerima kitab mereka dengan tangan kanan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.As-Safarini rahimahullah berkata: “Orang kafir diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya. Orang mukmin yang bermaksiat diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari arah depan. Sedangkan orang mukmin yang taat diberikan kitabnya dengan tangan kanan dari arah depan.Al-Mawardi rahimahullah memastikan bahwa pendapat yang masyhur adalah orang fasik yang meninggal dalam keadaan fasik tanpa tobat menerima kitabnya dengan tangan kanan. Lalu ia menyebutkan adanya pendapat yang bersikap tawaqquf (menahan diri dalam masalah ini). Ia juga mengatakan bahwa tidak ada yang berpendapat bahwa ia menerimanya dengan tangan kiri.”Yusuf bin ‘Umar dari kalangan Malikiyah berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang nasib para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.”Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa mereka menerima dengan tangan kanan, muncul dua rincian pendapat lagi. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerimanya sebelum masuk ke dalam neraka. Penerimaan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak kekal di dalamnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya setelah keluar dari neraka. Wallahu a‘lam. (Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, 2:183)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana dengan seorang mukmin yang bermaksiat, apakah ia menerima kitab amalnya dengan tangan kanan atau tangan kiri?” Beliau menjawab, “Ia menerimanya dengan tangan kanan.” (Al-As’ilah al-Mulḥaqah bi Syarḥ as-Safārīniyyah, hlm. 500) Ayat Keenam Belasفَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” (QS. Al-Insyiqaq: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Pada ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada waktu malam. Dia bersumpah dengan asy-syafaq, yaitu sisa cahaya matahari yang masih terlihat setelah matahari terbenam. Cahaya kemerahan itu menjadi penanda awal datangnya malam. Ayat Ketujuh Belasوَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ“dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.” (QS. Al-Insyiqaq: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi malam dan segala sesuatu yang dihimpun serta diliputinya. Malam menutupi dan mengumpulkan berbagai makhluk di dalamnya, baik hewan-hewan maupun makhluk lainnya.Ketika malam datang, banyak makhluk kembali ke tempatnya, berdiam diri, atau bergerak sesuai tabiatnya. Semua itu berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah. Sumpah ini kembali menunjukkan betapa teraturnya alam semesta di bawah kendali-Nya. Ayat Kedelapan Belasوَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ“dan dengan bulan apabila jadi purnama.” (QS. Al-Insyiqaq: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi bulan ketika ia telah sempurna cahayanya, yaitu saat bulan berada dalam keadaan purnama. Pada saat itu, cahaya bulan tampak penuh dan paling indah. Keadaan tersebut merupakan waktu ketika manfaat cahaya bulan paling besar. Ayat Kesembilan Belasلَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, wahai manusia, kalian akan menjalani berbagai fase dan keadaan yang berbeda-beda. Dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Setelah itu lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil, lalu mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk), kemudian datang masa dibebani kewajiban syariat—dengan perintah dan larangan.Setelah itu manusia akan meninggal dunia, lalu dibangkitkan kembali, dan akhirnya diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.Berbagai tahapan kehidupan yang silih berganti ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak disembah. Dialah Yang Maha Esa, yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan penuh hikmah dan rahmat. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan fakir, sepenuhnya berada di bawah pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Ayat Kedua Puluhفَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setelah Allah menjelaskan berbagai tanda kekuasaan-Nya dan tahapan kehidupan manusia yang begitu jelas menunjukkan keesaan dan pengaturan-Nya, Allah pun mengajukan pertanyaan yang bernada celaan dan keheranan: mengapa mereka tidak juga beriman? Ayat Kedua Puluh Satuوَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩“dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al-Insyiqaq: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk dan tidak merendahkan diri. Mereka tidak patuh terhadap ajaran-ajarannya, tidak mengikuti perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya. Ayat Kedua Puluh Duaبَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ“bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).” (QS. Al-Insyiqaq: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa mereka bukan sekadar tidak beriman, tetapi dengan sengaja mendustakan kebenaran setelah kebenaran itu tampak jelas bagi mereka. Mereka menolak karena sikap membangkang dan keras kepala. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Qur’an. Ayat Kedua Puluh Tigaوَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” (QS. Al-Insyiqaq: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam hati mereka—baik berupa amal perbuatan maupun niat-niat yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang mereka tampakkan maupun yang mereka rahasiakan.Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Karena itu, Dia akan memberikan balasan atas seluruh amal yang mereka kerjakan, sesuai dengan apa yang mereka niatkan dan lakukan. Ayat Kedua Puluh Empatفَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Insyiqaq: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kata basyarah (kabar gembira) disebut demikian karena pengaruhnya tampak pada wajah (kulit) seseorang, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Dalam ayat ini, kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman dan celaan, karena yang diberitakan justru azab yang menyakitkan.Inilah keadaan kebanyakan manusia: mereka mendustakan Al-Qur’an dan tidak beriman kepadanya. Maka sebagai balasan atas sikap keras kepala dan pendustaan itu, mereka diancam dengan azab yang pedih pada hari kiamat. Ayat Kedua Puluh Limaإِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ“tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Di antara manusia ada sekelompok orang yang diberi hidayah oleh Allah. Mereka beriman kepada Allah, menerima ajaran yang dibawa para rasul, lalu membuktikan keimanan itu dengan amal-amal saleh.Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang ghairu mamnūn, yaitu pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Pahala itu kekal dan terus-menerus, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Semoga Allah beri manfaat dengan kajian tafsir Surah Al-Insyiqaq ini.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Senin bakda Subuh, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscatatan amal tafsir as-sa'di tafsir juz amma tafsir surah al insyiqaq


Surah Al-Insyiqaq menggambarkan kedahsyatan hari kiamat: langit terbelah, bumi diratakan, dan seluruh isi kubur dimuntahkan. Di tengah guncangan kosmik itu, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan pasti akan berjumpa dengan-Nya. Maka jangan lupa, seluruh amal kita akan dipertemukan dengan balasannya pada hari yang tidak mungkin dihindari.  Daftar Isi tutup 1. Ayat Pertama 2. Ayat Kedua 3. Ayat Ketiga 4. Ayat Keempat 5. Ayat Kelima 6. Ayat Keenam 7. Ayat Ketujuh 8. Ayat Kedelapan 8.1. Yang Dimaksud Hisab yang Mudah 8.2. Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari Kiamat 9. Ayat Kesembilan 10. Ayat Kesepuluh 11. Ayat Kesebelas 12. Ayat Kedua Belas 13. Ayat Ketiga Belas 14. Ayat Keempat Belas 15. Ayat Kelima Belas 15.1. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung? 16. Ayat Keenam Belas 17. Ayat Ketujuh Belas 18. Ayat Kedelapan Belas 19. Ayat Kesembilan Belas 20. Ayat Kedua Puluh 21. Ayat Kedua Puluh Satu 22. Ayat Kedua Puluh Dua 23. Ayat Kedua Puluh Tiga 24. Ayat Kedua Puluh Empat 25. Ayat Kedua Puluh Lima   Ayat Pertamaإِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq: 1)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala menjelaskan gambaran dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat, yaitu perubahan besar yang menimpa benda-benda langit yang sangat agung.Firman-Nya, إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, maksudnya adalah ketika langit terbelah dan terpecah-pecah, bagian-bagiannya terpisah satu sama lain. Bintang-bintang berjatuhan dan berserakan. Matahari dan bulan pun mengalami kehancuran; keduanya kehilangan cahaya dan tertelan (lenyap).Ini semua merupakan gambaran kedahsyatan hari kiamat, ketika tatanan alam semesta yang selama ini kokoh dan teratur berubah total atas perintah Allah. Ayat Keduaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.” (QS. Al-Insyiqaq: 2)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud firman Allah, وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا, yaitu langit mendengarkan perintah Rabb-nya dengan penuh kepatuhan. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, memasang pendengaran, dan tunduk sepenuhnya terhadap titah-Nya.Memang sudah sepantasnya langit bersikap demikian. Sebab ia adalah makhluk yang sepenuhnya diatur dan ditundukkan oleh Allah, berada di bawah kekuasaan Raja Yang Maha Agung. Tidak ada satu pun perintah-Nya yang bisa ditentang, dan tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang dapat diselisihi.Ayat ini menggambarkan kesempurnaan ketaatan makhluk kepada Allah pada hari kiamat, ketika seluruh alam tunduk total kepada perintah-Nya tanpa sedikit pun pembangkangan. Ayat Ketigaوَإِذَا ٱلْأَرْضُ مُدَّتْ“dan apabila bumi diratakan.” (QS. Al-Insyiqaq: 3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ, adalah ketika bumi diguncangkan dan digetarkan dengan dahsyat. Gunung-gunung yang ada di atasnya dicabut dan dihancurkan. Segala bangunan dan tanda-tanda yang berdiri di atasnya diratakan hingga lenyap.Kemudian Allah membentangkan bumi itu seperti hamparan kulit yang dibentangkan, sehingga menjadi sangat luas. Bumi pada saat itu cukup untuk menampung seluruh manusia yang dikumpulkan di padang mahsyar, meskipun jumlah mereka sangat banyak.Akhirnya, bumi menjadi tanah yang datar dan rata, tanpa terlihat sedikit pun lekukan atau tonjolan. Tidak ada lagi perbedaan ketinggian, semuanya menjadi satu hamparan luas yang terbuka. Ayat Keempatوَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ“dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 4)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan firman Allah, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا, adalah bumi mengeluarkan seluruh isi yang tersimpan di dalamnya, baik berupa jasad-jasad manusia yang telah mati maupun harta-harta terpendam dan berbagai kekayaan yang dahulu tersembunyi.Kemudian firman-Nya, وَتَخَلَّتْ, maksudnya bumi menjadi kosong dari semua itu. Ketika sangkakala ditiup, seluruh manusia bangkit dari kubur mereka dan keluar ke permukaan bumi. Bumi pun mengeluarkan seluruh perbendaharaan yang dikandungnya hingga tampak menumpuk seperti tiang besar yang menjulang.Semua makhluk menyaksikan harta-harta itu dengan mata kepala mereka sendiri. Pada saat itulah manusia menyesal, mengingat dahulu mereka berlomba-lomba dan saling bersaing untuk mendapatkannya, padahal kini semua itu tidak lagi berguna bagi mereka. Ayat Kelimaوَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ“dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 5) Ayat Keenamيَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Allah. Ia berusaha, beramal, dan menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam perjalanannya itu, ada yang mendekat kepada Allah dengan kebaikan, dan ada pula yang mendekat dengan keburukan.Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Tidak seorang pun akan luput dari pertemuan tersebut. Di sana, ia akan menerima balasan. Jika ia termasuk orang yang berbahagia (beriman dan taat), maka ia akan mendapatkan balasan dengan karunia dan kemurahan Allah. Namun jika ia termasuk orang yang celaka (kufur dan bermaksiat), maka ia akan menerima balasan dengan keadilan Allah.Ayat ini mengingatkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap amal akan bermuara pada satu pertemuan besar: pertemuan dengan Allah Ta’ala. Ayat Ketujuhفَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.” (QS. Al-Insyiqaq: 7)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka adalah ahli kebahagiaan, yakni orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Pemberian kitab dengan tangan kanan merupakan tanda keselamatan, keberuntungan, dan keberhasilan mereka di hari kiamat. Ayat Kedelapanفَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا“maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 8)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Yang dimaksud dengan hisab yang mudah adalah sekadar diperlihatkannya amal-amal di hadapan Allah. Allah menampakkan dosa-dosanya dan membuatnya mengakui semua itu. Hingga ketika sang hamba merasa dirinya telah binasa karena banyaknya dosa yang diingatkan kepadanya, Allah Ta’ala berfirman kepadanya:إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَسْتُرُهَا لَكَ الْيَوْمَ“Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku pun menutupinya untukmu.”Inilah makna hisab yang mudah: bukan diperiksa secara rinci dan diperdebatkan setiap amalnya, tetapi hanya diperlihatkan lalu diampuni oleh Allah. Yang Dimaksud Hisab yang MudahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ“Siapa saja yang benar-benar dihisab (secara rinci dan teliti), maka ia akan tersiksa.” Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala telah berfirman, ‘Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” Beliau menjawab, “Yang dimaksud ayat itu hanyalah al-‘aradh, yaitu sekadar diperlihatkan amalnya. Adapun orang yang diperiksa secara detail dan diperdebatkan hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari no. 103 dan Muslim no. 2876)Hisab menurut kaca mata akidah memiliki dua pengertian:Pertama: Al-‘Aradh (penampakan dosa dan pengakuan), mempunyai dua pengertian.Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.Pemaparan amalan maksiat kaum mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain), dan pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).Kedua: Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. (Lihat Mukhtashar Ma’arij Al-Qabul Hafizh al Hakami, diringkas oleh Hisyam Ali ‘Uqdah, Cetakan Ketiga, Tahun 1413 H, hlm. 246)Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan bahwa hisab dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aqli wa An-Naqli, Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa tahun, 5:229)Baca juga: Syarhus Sunnah: Hisab dan Timbangan pada Hari Kiamat Doa Agar Mendapatkan Hisab yang Mudah pada Hari KiamatDari Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca,اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَاباً يَسِيرًاALLOOHUMMA HAASIBNII HISAABAN YASIIROO.Artinya: Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah.فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟قَالَ: أَنْ يُنْظَرَ فِي كِتَابِهِ فَيُتَجَاوَزَ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَا عَائِشَةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ.Setelah beliau selesai (dari doa itu), aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang diperlihatkan catatan amalnya, lalu Allah memaafkannya dan melewati (kesalahan-kesalahannya). Karena sesungguhnya, siapa saja yang diperiksa hisabnya secara teliti pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia akan binasa.”(HR. Ahmad, 6:48. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih selain pada kalimat “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca.” Tentang tambahan ini, Muhammad bin Ishaq bersendirian) Doa ini disebutkan dalam kumpulan doa yang kami susun dari buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” yang diterbitkan oleh Rumaysho. Pesan bukunya di Rumaysho Store via WA: 0821-3626-7701 atau 0821-2000-0454 atau Marketplace Rumaysho Store.Ayat Kesembilanوَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq: 9)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia merasa sangat gembira karena telah selamat dari azab dan berhasil meraih pahala serta balasan yang mulia.Kegembiraannya bukan sekadar karena berkumpul dengan keluarga, tetapi karena ia telah melewati hisab dengan selamat, terbebas dari siksa, dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Ayat Kesepuluhوَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang.” (QS. Al-Insyiqaq: 10)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia menerima kitabnya dengan tangan kiri dari arah belakang.Ini adalah bentuk penghinaan dan kehinaan baginya pada hari kiamat. Ia tidak menerima kitabnya dengan tangan kanan seperti orang-orang yang berbahagia, tetapi justru dengan tangan kiri dan dari belakang punggungnya sebagai tanda kecelakaan dan kebinasaan. Ayat Kesebelasفَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًا“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”.” (QS. Al-Insyiqaq: 11)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia akan memohon agar dirinya dibinasakan, karena dahsyatnya kehinaan dan rasa malu yang ia rasakan. Ia melihat sendiri dalam kitab amalnya berbagai perbuatan buruk yang pernah ia lakukan dan tidak ia tobati. Ayat Kedua Belasوَيَصْلَىٰ سَعِيرًا“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, api neraka akan meliputinya dari segala arah. Ia akan dibolak-balik dalam panasnya yang menyala dan merasakan azabnya yang sangat pedih. Ayat Ketiga Belasإِنَّهُۥ كَانَ فِىٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًا“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq: 13)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia dahulu bergembira di tengah keluarganya, tidak terlintas dalam benaknya tentang kebangkitan, padahal ia telah berbuat keburukan. Ayat Keempat Belasإِنَّهُۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ“Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 14)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali kepada Rabbnya dan berdiri di hadapan-Nya. Ayat Kelima Belasبَلَىٰٓ إِنَّ رَبَّهُۥ كَانَ بِهِۦ بَصِيرًا“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 15)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, tidaklah pantas ia dibiarkan begitu saja—tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum—karena Rabbnya Maha Melihat segala keadaannya. Siapa yang Menerima Kitab dengan Tangan Kanan atau Kiri dari Balik Punggung?Ada hadits yang diriwayatkan dari Shafwan bin Muhriz Al-Mazini. Ia berkata:Ketika aku sedang berjalan bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sambil memegang tangannya, tiba-tiba seseorang mendekat dan bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang najwa (bisikan khusus pada hari kiamat)?”Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ “Sesungguhnya Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah melindunginya dan menutupinya. Allah berfirman, ‘Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rabbku.’ Hingga ketika Allah telah menetapkannya atas dosa-dosanya dan ia merasa dirinya pasti binasa, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.’ Maka ia pun diberikan kitab kebaikannya.” (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768; dan Ibnu Majah, no. 183). Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “dengan tangan kanannya.”Dalam riwayat lain disebutkan,إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَسِتْرَهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ، قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ بِيَمِينِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ.Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya. Lalu Allah menaunginya dengan perlindungan dan tirai-Nya sehingga ia tertutup dari pandangan manusia. Kemudian Allah mengingatkannya satu per satu akan dosa-dosanya seraya berfirman, “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?”Ia pun menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”Pengakuan itu terus berlangsung hingga ia benar-benar dihadapkan pada seluruh dosa-dosanya dan dalam hatinya ia merasa bahwa dirinya pasti binasa.Namun Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”Setelah itu, ia diberikan catatan amal kebaikannya dengan tangan kanannya.Adapun orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, “Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ketahuilah, laknat Allah tertimpa atas orang-orang yang zalim. (HR. Bukhari, no. 2441; Muslim, no. 2768) Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka diseru di hadapan seluruh makhluk, ‘Inilah orang-orang yang dahulu berdusta terhadap Allah.’”Adapun para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid—yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya—maka terdapat perbedaan pendapat tentang mereka. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka menerima kitab mereka dengan tangan kanan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.As-Safarini rahimahullah berkata: “Orang kafir diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari belakang punggungnya. Orang mukmin yang bermaksiat diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari arah depan. Sedangkan orang mukmin yang taat diberikan kitabnya dengan tangan kanan dari arah depan.Al-Mawardi rahimahullah memastikan bahwa pendapat yang masyhur adalah orang fasik yang meninggal dalam keadaan fasik tanpa tobat menerima kitabnya dengan tangan kanan. Lalu ia menyebutkan adanya pendapat yang bersikap tawaqquf (menahan diri dalam masalah ini). Ia juga mengatakan bahwa tidak ada yang berpendapat bahwa ia menerimanya dengan tangan kiri.”Yusuf bin ‘Umar dari kalangan Malikiyah berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang nasib para pelaku maksiat dari kalangan orang-orang bertauhid. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerima catatan amal dengan tangan kanan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya dengan tangan kiri.”Berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa mereka menerima dengan tangan kanan, muncul dua rincian pendapat lagi. Ada yang mengatakan bahwa mereka menerimanya sebelum masuk ke dalam neraka. Penerimaan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak kekal di dalamnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka menerimanya setelah keluar dari neraka. Wallahu a‘lam. (Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, 2:183)Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana dengan seorang mukmin yang bermaksiat, apakah ia menerima kitab amalnya dengan tangan kanan atau tangan kiri?” Beliau menjawab, “Ia menerimanya dengan tangan kanan.” (Al-As’ilah al-Mulḥaqah bi Syarḥ as-Safārīniyyah, hlm. 500) Ayat Keenam Belasفَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” (QS. Al-Insyiqaq: 16)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Pada ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada waktu malam. Dia bersumpah dengan asy-syafaq, yaitu sisa cahaya matahari yang masih terlihat setelah matahari terbenam. Cahaya kemerahan itu menjadi penanda awal datangnya malam. Ayat Ketujuh Belasوَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ“dan dengan malam dan apa yang diselubunginya.” (QS. Al-Insyiqaq: 17)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi malam dan segala sesuatu yang dihimpun serta diliputinya. Malam menutupi dan mengumpulkan berbagai makhluk di dalamnya, baik hewan-hewan maupun makhluk lainnya.Ketika malam datang, banyak makhluk kembali ke tempatnya, berdiam diri, atau bergerak sesuai tabiatnya. Semua itu berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah. Sumpah ini kembali menunjukkan betapa teraturnya alam semesta di bawah kendali-Nya. Ayat Kedelapan Belasوَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ“dan dengan bulan apabila jadi purnama.” (QS. Al-Insyiqaq: 18)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah bersumpah demi bulan ketika ia telah sempurna cahayanya, yaitu saat bulan berada dalam keadaan purnama. Pada saat itu, cahaya bulan tampak penuh dan paling indah. Keadaan tersebut merupakan waktu ketika manfaat cahaya bulan paling besar. Ayat Kesembilan Belasلَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq: 19)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksudnya, wahai manusia, kalian akan menjalani berbagai fase dan keadaan yang berbeda-beda. Dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Setelah itu lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak kecil, lalu mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk), kemudian datang masa dibebani kewajiban syariat—dengan perintah dan larangan.Setelah itu manusia akan meninggal dunia, lalu dibangkitkan kembali, dan akhirnya diberi balasan sesuai dengan amal perbuatannya.Berbagai tahapan kehidupan yang silih berganti ini menunjukkan bahwa Allah semata yang berhak disembah. Dialah Yang Maha Esa, yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan penuh hikmah dan rahmat. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah dan fakir, sepenuhnya berada di bawah pengaturan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Ayat Kedua Puluhفَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ“Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq: 20)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Setelah Allah menjelaskan berbagai tanda kekuasaan-Nya dan tahapan kehidupan manusia yang begitu jelas menunjukkan keesaan dan pengaturan-Nya, Allah pun mengajukan pertanyaan yang bernada celaan dan keheranan: mengapa mereka tidak juga beriman? Ayat Kedua Puluh Satuوَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ ٱلْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ ۩“dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al-Insyiqaq: 21)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk dan tidak merendahkan diri. Mereka tidak patuh terhadap ajaran-ajarannya, tidak mengikuti perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya. Ayat Kedua Puluh Duaبَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُكَذِّبُونَ“bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya).” (QS. Al-Insyiqaq: 22)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah bahwa mereka bukan sekadar tidak beriman, tetapi dengan sengaja mendustakan kebenaran setelah kebenaran itu tampak jelas bagi mereka. Mereka menolak karena sikap membangkang dan keras kepala. Karena itu, tidak mengherankan jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Qur’an. Ayat Kedua Puluh Tigaوَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ“Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” (QS. Al-Insyiqaq: 23)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Maksud ayat ini adalah Allah Maha Mengetahui apa yang mereka simpan dalam hati mereka—baik berupa amal perbuatan maupun niat-niat yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik yang mereka tampakkan maupun yang mereka rahasiakan.Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Karena itu, Dia akan memberikan balasan atas seluruh amal yang mereka kerjakan, sesuai dengan apa yang mereka niatkan dan lakukan. Ayat Kedua Puluh Empatفَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Insyiqaq: 24)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Kata basyarah (kabar gembira) disebut demikian karena pengaruhnya tampak pada wajah (kulit) seseorang, baik berupa kegembiraan maupun kesedihan. Dalam ayat ini, kata tersebut digunakan sebagai bentuk ancaman dan celaan, karena yang diberitakan justru azab yang menyakitkan.Inilah keadaan kebanyakan manusia: mereka mendustakan Al-Qur’an dan tidak beriman kepadanya. Maka sebagai balasan atas sikap keras kepala dan pendustaan itu, mereka diancam dengan azab yang pedih pada hari kiamat. Ayat Kedua Puluh Limaإِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۭ“tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq: 25)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:Di antara manusia ada sekelompok orang yang diberi hidayah oleh Allah. Mereka beriman kepada Allah, menerima ajaran yang dibawa para rasul, lalu membuktikan keimanan itu dengan amal-amal saleh.Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang ghairu mamnūn, yaitu pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Pahala itu kekal dan terus-menerus, berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Semoga Allah beri manfaat dengan kajian tafsir Surah Al-Insyiqaq ini.  Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic  —– Senin bakda Subuh, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscatatan amal tafsir as-sa'di tafsir juz amma tafsir surah al insyiqaq

Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya bagi Hati (Tafsir QS. Al-Maidah Ayat 12–13)

Dalam QS. Al-Maidah ayat 12–13 dari juz keenam, Allah menjelaskan perjanjian besar yang diambil dari Bani Israil serta konsekuensi ketika perjanjian itu dilanggar. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi menjadi cermin bagi setiap muslim dalam menjaga komitmen kepada Allah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang rahmat, kerasnya hati, hilangnya taufik, serta pentingnya ihsan dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran Penting 1.1. 1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci Rahmat 1.2. 2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung Jawab 1.3. 3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat Berbahaya 1.4. 4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi Kepentingan 1.5. 5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai Hukuman 1.6. 6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang Rusak 1.7. 7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan Kesabaran 1.8. 8. Tetap Berbuat Ihsan Meski Disakiti 2. Kesimpulan  Allah Ta’ala berfirman,۞ وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dan tegas dari Bani Israil. Perjanjian itu bukan janji biasa, melainkan janji yang disertai penegasan dan kewajiban yang berat.Allah juga mengangkat dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Setiap pemimpin bertugas mengawasi kaumnya, mendorong mereka agar menjalankan perintah Allah, serta menagih komitmen mereka terhadap perjanjian tersebut.Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tanggung jawab besar itu, “Sesungguhnya Aku bersama kalian,” yaitu dengan pertolongan dan dukungan. Pertolongan itu sebanding dengan beban yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula pertolongan Allah bagi yang menunaikannya.Kemudian Allah menyebutkan isi perjanjian tersebut. Jika mereka:Menegakkan salat secara lahir dan batin, dengan memenuhi syarat, rukun, serta menjaga kesinambungannya.Menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.Beriman kepada seluruh rasul-Nya, yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.Memuliakan para rasul, mengagungkan mereka, serta menunaikan hak-hak berupa penghormatan dan ketaatan.Menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas, dari harta yang baik dan cara yang benar.Maka Allah menjanjikan dua anugerah besar sekaligus:Pertama, menghapus dosa-dosa mereka sehingga terhindar dari hukuman.Kedua, memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai kenikmatan yang kekal.Namun jika setelah perjanjian yang begitu kuat—yang diperkuat dengan sumpah dan disertai janji pahala—mereka tetap ingkar, maka mereka benar-benar telah menyimpang dari jalan yang lurus. Penyimpangan itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sehingga mereka pantas kehilangan pahala dan mendapatkan hukuman.Seakan-akan muncul pertanyaan: Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menepati janji kepada Allah, atau justru mengkhianatinya? Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)Karena mereka melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka, Allah pun menimpakan beberapa hukuman besar.Pertama, Allah melaknat mereka, yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Mereka sendiri telah menutup pintu-pintu rahmat itu dengan tidak menunaikan perjanjian yang menjadi sebab utama turunnya rahmat.Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tergerak oleh ayat-ayat Allah, dan tidak tersentak oleh peringatan. Janji surga tidak membuat mereka tertarik, dan ancaman neraka tidak membuat mereka gentar. Ini termasuk hukuman paling berat bagi seorang hamba: ketika hatinya tidak lagi menerima petunjuk, bahkan kebaikan justru berbalik menjadi keburukan baginya.Ketiga, mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Mereka ditimpa penyakit mengubah dan mengganti makna firman Allah, sehingga makna yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya dipalingkan menjadi makna lain sesuai hawa nafsu mereka.Keempat, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Mereka telah diingatkan dengan Taurat dan wahyu yang Allah turunkan kepada Musa, namun sebagian ajaran itu mereka lupakan. Kelupaan ini mencakup dua hal:1. Lupa terhadap ilmunya, sehingga ilmu itu hilang dan tidak lagi mereka miliki sebagai hukuman dari Allah.2. Lupa dalam arti meninggalkan pengamalannya, sehingga mereka tidak diberi taufik untuk menjalankan perintah yang telah dibebankan kepada mereka.Karena itu, pengingkaran Ahli Kitab terhadap sebagian isi kitab mereka atau terhadap peristiwa yang terjadi pada masa mereka sendiri menjadi bukti bahwa mereka telah melupakan bagian dari apa yang pernah diingatkan kepada mereka.Kelima, pengkhianatan yang terus-menerus. Engkau, wahai Nabi Muhammad ﷺ, akan senantiasa mengetahui bentuk-bentuk pengkhianatan dari mereka, baik pengkhianatan kepada Allah maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara pengkhianatan terbesar mereka adalah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang menasihati mereka dan berbaik sangka kepada mereka, serta membiarkan diri tetap dalam kekafiran.Sifat-sifat tercela ini tidak hanya berlaku bagi mereka, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa. Setiap orang yang tidak menunaikan perintah Allah dan melanggar komitmen yang telah diambil atas dirinya akan mendapatkan bagian dari hukuman-hukuman tersebut: terjauh dari rahmat, keras hati, terjatuh dalam penyelewengan makna, tidak diberi taufik kepada kebenaran, melupakan sebagian nasihat, dan akhirnya terjerumus dalam pengkhianatan. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua itu.Allah menyebut apa yang mereka lupakan sebagai “hazhzhan” (bagian atau keberuntungan), karena itulah keberuntungan terbesar. Adapun selain itu hanyalah keberuntungan dunia yang fana. Allah Ta’ala berfirman:فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Lalu ia (Qarun) keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Wahai, seandainya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS, Al-Qashash: 79)Dan tentang keberuntungan yang hakiki, Allah berfirman:وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Dan sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS, Al-Fussilat: 35)Firman Allah, “kecuali sedikit dari mereka,” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil yang menepati janji kepada Allah. Mereka itulah yang diberi taufik dan ditunjuki ke jalan yang lurus.Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya, “Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah.” Maksudnya, janganlah membalas gangguan mereka selama masih ada ruang untuk memaafkan dan bersikap lapang. Sikap demikian termasuk ihsan.Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada-Nya seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.Adapun ihsan kepada sesama makhluk adalah dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik manfaat agama maupun manfaat dunia. Pelajaran Penting1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci RahmatPerjanjian terbesar seorang muslim adalah syahadat dan komitmen menjalankan agama. Ketika salat ditinggalkan, zakat diabaikan, atau perintah Allah diremehkan, itu adalah bentuk pelanggaran terhadap “mitsaq” (perjanjian) dengan Allah.Semakin kuat komitmen kita menjaga perjanjian itu, semakin dekat kita dengan rahmat dan pertolongan Allah.2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung JawabAllah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama kalian.” Kebersamaan Allah datang bersama amanah dan ketaatan.Siapa yang memikul tanggung jawab agama—baik sebagai orang tua, pendidik, pemimpin, atau dai—lalu menunaikannya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan pertolongan Allah sesuai kadar bebannya.3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat BerbahayaSalah satu hukuman terbesar bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, tetapi kerasnya hati:Nasihat tidak masuk.Ayat tidak menggerakkan.Ancaman tidak menakutkan.Janji surga tidak memotivasi.Seorang muslim harus takut terhadap gejala ini. Jika mulai sulit tersentuh oleh kebenaran, segera perbanyak istighfar, taubat, dan perbaiki ibadah.4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi KepentinganMengubah makna dalil agar sesuai hawa nafsu bukan hanya kesalahan ilmiah, tetapi dosa besar.Di zaman ini, bentuknya bisa berupa:Menafsirkan agama agar sesuai tren.Membenarkan maksiat dengan dalih “konteks”.Mengambil sebagian dalil dan meninggalkan yang lain.Ini adalah penyakit umat terdahulu yang harus dihindari.5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai HukumanAllah menyebut mereka “melupakan bagian” dari apa yang diingatkan kepada mereka. Ini pelajaran besar:Ilmu bisa hilang karena maksiat.Hafalan bisa lupa karena dosa.Pemahaman bisa tertutup karena kesombongan.Karena itu, menjaga amal sama pentingnya dengan menuntut ilmu.6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang RusakKetika hati keras dan ilmu tidak diamalkan, muncullah pengkhianatan:Khianat terhadap amanah.Khianat dalam rumah tangga.Khianat dalam jabatan.Khianat dalam dakwah.Semua itu berakar dari pelanggaran terhadap komitmen kepada Allah.7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan KesabaranAllah menyebut ajaran agama sebagai “hazzan” (keberuntungan). Artinya:Keberuntungan terbesar bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas.Keberuntungan terbesar adalah:Bisa taat.Bisa sabar.Bisa istiqamah.Bisa menerima kebenaran.Itulah “hazzun ‘azhim” yang sesungguhnya.8. Tetap Berbuat Ihsan Meski DisakitiAllah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini pelajaran luar biasa:Seorang muslim tetap berbuat baik meski dizalimi.Tetap menjaga akhlak meski disakiti.Tetap memberi manfaat meski dikhianati.Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. KesimpulanAyat ini bukan hanya kisah tentang Bani Israil. Ia adalah cermin bagi setiap muslim.Siapa yang:Menjaga perjanjian dengan Allah → mendapat rahmat dan surga.Melanggar komitmen → terancam keras hati, tersesat, dan kehilangan taufik.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menepati janji kepada-Mu, yang menjaga salat dan zakat, serta istiqamah dalam iman dan amal saleh. Jangan Engkau jadikan hati kami keras setelah Engkau beri petunjuk, dan jangan Engkau cabut ilmu serta taufik dari diri kami karena dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami keberuntungan yang besar berupa kesabaran, keistiqamahan, dan kemampuan berbuat ihsan hingga akhir hayat kami. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic   —– Senin pagi, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya melanggar janji bani israil hilangnya taufik istiqamah dalam ketaatan jalan yang lurus kerasnya hati makna ihsan pelajaran Bani Israil perjanjian dengan Allah renungan ayat renungan quran tafsir Al Maidah 12-13 tafsir as-sa'di

Bahaya Melanggar Perjanjian dengan Allah dan Dampaknya bagi Hati (Tafsir QS. Al-Maidah Ayat 12–13)

Dalam QS. Al-Maidah ayat 12–13 dari juz keenam, Allah menjelaskan perjanjian besar yang diambil dari Bani Israil serta konsekuensi ketika perjanjian itu dilanggar. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi menjadi cermin bagi setiap muslim dalam menjaga komitmen kepada Allah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang rahmat, kerasnya hati, hilangnya taufik, serta pentingnya ihsan dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran Penting 1.1. 1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci Rahmat 1.2. 2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung Jawab 1.3. 3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat Berbahaya 1.4. 4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi Kepentingan 1.5. 5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai Hukuman 1.6. 6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang Rusak 1.7. 7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan Kesabaran 1.8. 8. Tetap Berbuat Ihsan Meski Disakiti 2. Kesimpulan  Allah Ta’ala berfirman,۞ وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dan tegas dari Bani Israil. Perjanjian itu bukan janji biasa, melainkan janji yang disertai penegasan dan kewajiban yang berat.Allah juga mengangkat dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Setiap pemimpin bertugas mengawasi kaumnya, mendorong mereka agar menjalankan perintah Allah, serta menagih komitmen mereka terhadap perjanjian tersebut.Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tanggung jawab besar itu, “Sesungguhnya Aku bersama kalian,” yaitu dengan pertolongan dan dukungan. Pertolongan itu sebanding dengan beban yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula pertolongan Allah bagi yang menunaikannya.Kemudian Allah menyebutkan isi perjanjian tersebut. Jika mereka:Menegakkan salat secara lahir dan batin, dengan memenuhi syarat, rukun, serta menjaga kesinambungannya.Menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.Beriman kepada seluruh rasul-Nya, yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.Memuliakan para rasul, mengagungkan mereka, serta menunaikan hak-hak berupa penghormatan dan ketaatan.Menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas, dari harta yang baik dan cara yang benar.Maka Allah menjanjikan dua anugerah besar sekaligus:Pertama, menghapus dosa-dosa mereka sehingga terhindar dari hukuman.Kedua, memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai kenikmatan yang kekal.Namun jika setelah perjanjian yang begitu kuat—yang diperkuat dengan sumpah dan disertai janji pahala—mereka tetap ingkar, maka mereka benar-benar telah menyimpang dari jalan yang lurus. Penyimpangan itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sehingga mereka pantas kehilangan pahala dan mendapatkan hukuman.Seakan-akan muncul pertanyaan: Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menepati janji kepada Allah, atau justru mengkhianatinya? Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)Karena mereka melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka, Allah pun menimpakan beberapa hukuman besar.Pertama, Allah melaknat mereka, yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Mereka sendiri telah menutup pintu-pintu rahmat itu dengan tidak menunaikan perjanjian yang menjadi sebab utama turunnya rahmat.Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tergerak oleh ayat-ayat Allah, dan tidak tersentak oleh peringatan. Janji surga tidak membuat mereka tertarik, dan ancaman neraka tidak membuat mereka gentar. Ini termasuk hukuman paling berat bagi seorang hamba: ketika hatinya tidak lagi menerima petunjuk, bahkan kebaikan justru berbalik menjadi keburukan baginya.Ketiga, mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Mereka ditimpa penyakit mengubah dan mengganti makna firman Allah, sehingga makna yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya dipalingkan menjadi makna lain sesuai hawa nafsu mereka.Keempat, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Mereka telah diingatkan dengan Taurat dan wahyu yang Allah turunkan kepada Musa, namun sebagian ajaran itu mereka lupakan. Kelupaan ini mencakup dua hal:1. Lupa terhadap ilmunya, sehingga ilmu itu hilang dan tidak lagi mereka miliki sebagai hukuman dari Allah.2. Lupa dalam arti meninggalkan pengamalannya, sehingga mereka tidak diberi taufik untuk menjalankan perintah yang telah dibebankan kepada mereka.Karena itu, pengingkaran Ahli Kitab terhadap sebagian isi kitab mereka atau terhadap peristiwa yang terjadi pada masa mereka sendiri menjadi bukti bahwa mereka telah melupakan bagian dari apa yang pernah diingatkan kepada mereka.Kelima, pengkhianatan yang terus-menerus. Engkau, wahai Nabi Muhammad ﷺ, akan senantiasa mengetahui bentuk-bentuk pengkhianatan dari mereka, baik pengkhianatan kepada Allah maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara pengkhianatan terbesar mereka adalah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang menasihati mereka dan berbaik sangka kepada mereka, serta membiarkan diri tetap dalam kekafiran.Sifat-sifat tercela ini tidak hanya berlaku bagi mereka, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa. Setiap orang yang tidak menunaikan perintah Allah dan melanggar komitmen yang telah diambil atas dirinya akan mendapatkan bagian dari hukuman-hukuman tersebut: terjauh dari rahmat, keras hati, terjatuh dalam penyelewengan makna, tidak diberi taufik kepada kebenaran, melupakan sebagian nasihat, dan akhirnya terjerumus dalam pengkhianatan. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua itu.Allah menyebut apa yang mereka lupakan sebagai “hazhzhan” (bagian atau keberuntungan), karena itulah keberuntungan terbesar. Adapun selain itu hanyalah keberuntungan dunia yang fana. Allah Ta’ala berfirman:فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Lalu ia (Qarun) keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Wahai, seandainya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS, Al-Qashash: 79)Dan tentang keberuntungan yang hakiki, Allah berfirman:وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Dan sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS, Al-Fussilat: 35)Firman Allah, “kecuali sedikit dari mereka,” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil yang menepati janji kepada Allah. Mereka itulah yang diberi taufik dan ditunjuki ke jalan yang lurus.Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya, “Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah.” Maksudnya, janganlah membalas gangguan mereka selama masih ada ruang untuk memaafkan dan bersikap lapang. Sikap demikian termasuk ihsan.Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada-Nya seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.Adapun ihsan kepada sesama makhluk adalah dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik manfaat agama maupun manfaat dunia. Pelajaran Penting1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci RahmatPerjanjian terbesar seorang muslim adalah syahadat dan komitmen menjalankan agama. Ketika salat ditinggalkan, zakat diabaikan, atau perintah Allah diremehkan, itu adalah bentuk pelanggaran terhadap “mitsaq” (perjanjian) dengan Allah.Semakin kuat komitmen kita menjaga perjanjian itu, semakin dekat kita dengan rahmat dan pertolongan Allah.2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung JawabAllah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama kalian.” Kebersamaan Allah datang bersama amanah dan ketaatan.Siapa yang memikul tanggung jawab agama—baik sebagai orang tua, pendidik, pemimpin, atau dai—lalu menunaikannya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan pertolongan Allah sesuai kadar bebannya.3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat BerbahayaSalah satu hukuman terbesar bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, tetapi kerasnya hati:Nasihat tidak masuk.Ayat tidak menggerakkan.Ancaman tidak menakutkan.Janji surga tidak memotivasi.Seorang muslim harus takut terhadap gejala ini. Jika mulai sulit tersentuh oleh kebenaran, segera perbanyak istighfar, taubat, dan perbaiki ibadah.4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi KepentinganMengubah makna dalil agar sesuai hawa nafsu bukan hanya kesalahan ilmiah, tetapi dosa besar.Di zaman ini, bentuknya bisa berupa:Menafsirkan agama agar sesuai tren.Membenarkan maksiat dengan dalih “konteks”.Mengambil sebagian dalil dan meninggalkan yang lain.Ini adalah penyakit umat terdahulu yang harus dihindari.5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai HukumanAllah menyebut mereka “melupakan bagian” dari apa yang diingatkan kepada mereka. Ini pelajaran besar:Ilmu bisa hilang karena maksiat.Hafalan bisa lupa karena dosa.Pemahaman bisa tertutup karena kesombongan.Karena itu, menjaga amal sama pentingnya dengan menuntut ilmu.6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang RusakKetika hati keras dan ilmu tidak diamalkan, muncullah pengkhianatan:Khianat terhadap amanah.Khianat dalam rumah tangga.Khianat dalam jabatan.Khianat dalam dakwah.Semua itu berakar dari pelanggaran terhadap komitmen kepada Allah.7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan KesabaranAllah menyebut ajaran agama sebagai “hazzan” (keberuntungan). Artinya:Keberuntungan terbesar bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas.Keberuntungan terbesar adalah:Bisa taat.Bisa sabar.Bisa istiqamah.Bisa menerima kebenaran.Itulah “hazzun ‘azhim” yang sesungguhnya.8. Tetap Berbuat Ihsan Meski DisakitiAllah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini pelajaran luar biasa:Seorang muslim tetap berbuat baik meski dizalimi.Tetap menjaga akhlak meski disakiti.Tetap memberi manfaat meski dikhianati.Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. KesimpulanAyat ini bukan hanya kisah tentang Bani Israil. Ia adalah cermin bagi setiap muslim.Siapa yang:Menjaga perjanjian dengan Allah → mendapat rahmat dan surga.Melanggar komitmen → terancam keras hati, tersesat, dan kehilangan taufik.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menepati janji kepada-Mu, yang menjaga salat dan zakat, serta istiqamah dalam iman dan amal saleh. Jangan Engkau jadikan hati kami keras setelah Engkau beri petunjuk, dan jangan Engkau cabut ilmu serta taufik dari diri kami karena dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami keberuntungan yang besar berupa kesabaran, keistiqamahan, dan kemampuan berbuat ihsan hingga akhir hayat kami. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic   —– Senin pagi, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya melanggar janji bani israil hilangnya taufik istiqamah dalam ketaatan jalan yang lurus kerasnya hati makna ihsan pelajaran Bani Israil perjanjian dengan Allah renungan ayat renungan quran tafsir Al Maidah 12-13 tafsir as-sa'di
Dalam QS. Al-Maidah ayat 12–13 dari juz keenam, Allah menjelaskan perjanjian besar yang diambil dari Bani Israil serta konsekuensi ketika perjanjian itu dilanggar. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi menjadi cermin bagi setiap muslim dalam menjaga komitmen kepada Allah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang rahmat, kerasnya hati, hilangnya taufik, serta pentingnya ihsan dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran Penting 1.1. 1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci Rahmat 1.2. 2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung Jawab 1.3. 3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat Berbahaya 1.4. 4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi Kepentingan 1.5. 5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai Hukuman 1.6. 6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang Rusak 1.7. 7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan Kesabaran 1.8. 8. Tetap Berbuat Ihsan Meski Disakiti 2. Kesimpulan  Allah Ta’ala berfirman,۞ وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dan tegas dari Bani Israil. Perjanjian itu bukan janji biasa, melainkan janji yang disertai penegasan dan kewajiban yang berat.Allah juga mengangkat dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Setiap pemimpin bertugas mengawasi kaumnya, mendorong mereka agar menjalankan perintah Allah, serta menagih komitmen mereka terhadap perjanjian tersebut.Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tanggung jawab besar itu, “Sesungguhnya Aku bersama kalian,” yaitu dengan pertolongan dan dukungan. Pertolongan itu sebanding dengan beban yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula pertolongan Allah bagi yang menunaikannya.Kemudian Allah menyebutkan isi perjanjian tersebut. Jika mereka:Menegakkan salat secara lahir dan batin, dengan memenuhi syarat, rukun, serta menjaga kesinambungannya.Menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.Beriman kepada seluruh rasul-Nya, yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.Memuliakan para rasul, mengagungkan mereka, serta menunaikan hak-hak berupa penghormatan dan ketaatan.Menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas, dari harta yang baik dan cara yang benar.Maka Allah menjanjikan dua anugerah besar sekaligus:Pertama, menghapus dosa-dosa mereka sehingga terhindar dari hukuman.Kedua, memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai kenikmatan yang kekal.Namun jika setelah perjanjian yang begitu kuat—yang diperkuat dengan sumpah dan disertai janji pahala—mereka tetap ingkar, maka mereka benar-benar telah menyimpang dari jalan yang lurus. Penyimpangan itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sehingga mereka pantas kehilangan pahala dan mendapatkan hukuman.Seakan-akan muncul pertanyaan: Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menepati janji kepada Allah, atau justru mengkhianatinya? Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)Karena mereka melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka, Allah pun menimpakan beberapa hukuman besar.Pertama, Allah melaknat mereka, yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Mereka sendiri telah menutup pintu-pintu rahmat itu dengan tidak menunaikan perjanjian yang menjadi sebab utama turunnya rahmat.Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tergerak oleh ayat-ayat Allah, dan tidak tersentak oleh peringatan. Janji surga tidak membuat mereka tertarik, dan ancaman neraka tidak membuat mereka gentar. Ini termasuk hukuman paling berat bagi seorang hamba: ketika hatinya tidak lagi menerima petunjuk, bahkan kebaikan justru berbalik menjadi keburukan baginya.Ketiga, mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Mereka ditimpa penyakit mengubah dan mengganti makna firman Allah, sehingga makna yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya dipalingkan menjadi makna lain sesuai hawa nafsu mereka.Keempat, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Mereka telah diingatkan dengan Taurat dan wahyu yang Allah turunkan kepada Musa, namun sebagian ajaran itu mereka lupakan. Kelupaan ini mencakup dua hal:1. Lupa terhadap ilmunya, sehingga ilmu itu hilang dan tidak lagi mereka miliki sebagai hukuman dari Allah.2. Lupa dalam arti meninggalkan pengamalannya, sehingga mereka tidak diberi taufik untuk menjalankan perintah yang telah dibebankan kepada mereka.Karena itu, pengingkaran Ahli Kitab terhadap sebagian isi kitab mereka atau terhadap peristiwa yang terjadi pada masa mereka sendiri menjadi bukti bahwa mereka telah melupakan bagian dari apa yang pernah diingatkan kepada mereka.Kelima, pengkhianatan yang terus-menerus. Engkau, wahai Nabi Muhammad ﷺ, akan senantiasa mengetahui bentuk-bentuk pengkhianatan dari mereka, baik pengkhianatan kepada Allah maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara pengkhianatan terbesar mereka adalah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang menasihati mereka dan berbaik sangka kepada mereka, serta membiarkan diri tetap dalam kekafiran.Sifat-sifat tercela ini tidak hanya berlaku bagi mereka, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa. Setiap orang yang tidak menunaikan perintah Allah dan melanggar komitmen yang telah diambil atas dirinya akan mendapatkan bagian dari hukuman-hukuman tersebut: terjauh dari rahmat, keras hati, terjatuh dalam penyelewengan makna, tidak diberi taufik kepada kebenaran, melupakan sebagian nasihat, dan akhirnya terjerumus dalam pengkhianatan. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua itu.Allah menyebut apa yang mereka lupakan sebagai “hazhzhan” (bagian atau keberuntungan), karena itulah keberuntungan terbesar. Adapun selain itu hanyalah keberuntungan dunia yang fana. Allah Ta’ala berfirman:فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Lalu ia (Qarun) keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Wahai, seandainya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS, Al-Qashash: 79)Dan tentang keberuntungan yang hakiki, Allah berfirman:وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Dan sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS, Al-Fussilat: 35)Firman Allah, “kecuali sedikit dari mereka,” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil yang menepati janji kepada Allah. Mereka itulah yang diberi taufik dan ditunjuki ke jalan yang lurus.Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya, “Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah.” Maksudnya, janganlah membalas gangguan mereka selama masih ada ruang untuk memaafkan dan bersikap lapang. Sikap demikian termasuk ihsan.Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada-Nya seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.Adapun ihsan kepada sesama makhluk adalah dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik manfaat agama maupun manfaat dunia. Pelajaran Penting1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci RahmatPerjanjian terbesar seorang muslim adalah syahadat dan komitmen menjalankan agama. Ketika salat ditinggalkan, zakat diabaikan, atau perintah Allah diremehkan, itu adalah bentuk pelanggaran terhadap “mitsaq” (perjanjian) dengan Allah.Semakin kuat komitmen kita menjaga perjanjian itu, semakin dekat kita dengan rahmat dan pertolongan Allah.2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung JawabAllah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama kalian.” Kebersamaan Allah datang bersama amanah dan ketaatan.Siapa yang memikul tanggung jawab agama—baik sebagai orang tua, pendidik, pemimpin, atau dai—lalu menunaikannya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan pertolongan Allah sesuai kadar bebannya.3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat BerbahayaSalah satu hukuman terbesar bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, tetapi kerasnya hati:Nasihat tidak masuk.Ayat tidak menggerakkan.Ancaman tidak menakutkan.Janji surga tidak memotivasi.Seorang muslim harus takut terhadap gejala ini. Jika mulai sulit tersentuh oleh kebenaran, segera perbanyak istighfar, taubat, dan perbaiki ibadah.4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi KepentinganMengubah makna dalil agar sesuai hawa nafsu bukan hanya kesalahan ilmiah, tetapi dosa besar.Di zaman ini, bentuknya bisa berupa:Menafsirkan agama agar sesuai tren.Membenarkan maksiat dengan dalih “konteks”.Mengambil sebagian dalil dan meninggalkan yang lain.Ini adalah penyakit umat terdahulu yang harus dihindari.5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai HukumanAllah menyebut mereka “melupakan bagian” dari apa yang diingatkan kepada mereka. Ini pelajaran besar:Ilmu bisa hilang karena maksiat.Hafalan bisa lupa karena dosa.Pemahaman bisa tertutup karena kesombongan.Karena itu, menjaga amal sama pentingnya dengan menuntut ilmu.6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang RusakKetika hati keras dan ilmu tidak diamalkan, muncullah pengkhianatan:Khianat terhadap amanah.Khianat dalam rumah tangga.Khianat dalam jabatan.Khianat dalam dakwah.Semua itu berakar dari pelanggaran terhadap komitmen kepada Allah.7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan KesabaranAllah menyebut ajaran agama sebagai “hazzan” (keberuntungan). Artinya:Keberuntungan terbesar bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas.Keberuntungan terbesar adalah:Bisa taat.Bisa sabar.Bisa istiqamah.Bisa menerima kebenaran.Itulah “hazzun ‘azhim” yang sesungguhnya.8. Tetap Berbuat Ihsan Meski DisakitiAllah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini pelajaran luar biasa:Seorang muslim tetap berbuat baik meski dizalimi.Tetap menjaga akhlak meski disakiti.Tetap memberi manfaat meski dikhianati.Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. KesimpulanAyat ini bukan hanya kisah tentang Bani Israil. Ia adalah cermin bagi setiap muslim.Siapa yang:Menjaga perjanjian dengan Allah → mendapat rahmat dan surga.Melanggar komitmen → terancam keras hati, tersesat, dan kehilangan taufik.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menepati janji kepada-Mu, yang menjaga salat dan zakat, serta istiqamah dalam iman dan amal saleh. Jangan Engkau jadikan hati kami keras setelah Engkau beri petunjuk, dan jangan Engkau cabut ilmu serta taufik dari diri kami karena dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami keberuntungan yang besar berupa kesabaran, keistiqamahan, dan kemampuan berbuat ihsan hingga akhir hayat kami. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic   —– Senin pagi, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya melanggar janji bani israil hilangnya taufik istiqamah dalam ketaatan jalan yang lurus kerasnya hati makna ihsan pelajaran Bani Israil perjanjian dengan Allah renungan ayat renungan quran tafsir Al Maidah 12-13 tafsir as-sa'di


Dalam QS. Al-Maidah ayat 12–13 dari juz keenam, Allah menjelaskan perjanjian besar yang diambil dari Bani Israil serta konsekuensi ketika perjanjian itu dilanggar. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi menjadi cermin bagi setiap muslim dalam menjaga komitmen kepada Allah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang rahmat, kerasnya hati, hilangnya taufik, serta pentingnya ihsan dalam kehidupan.  Daftar Isi tutup 1. Pelajaran Penting 1.1. 1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci Rahmat 1.2. 2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung Jawab 1.3. 3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat Berbahaya 1.4. 4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi Kepentingan 1.5. 5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai Hukuman 1.6. 6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang Rusak 1.7. 7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan Kesabaran 1.8. 8. Tetap Berbuat Ihsan Meski Disakiti 2. Kesimpulan  Allah Ta’ala berfirman,۞ وَلَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ ٱثْنَىْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ ٱللَّهُ إِنِّى مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيْتُمُ ٱلزَّكَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 12)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dan tegas dari Bani Israil. Perjanjian itu bukan janji biasa, melainkan janji yang disertai penegasan dan kewajiban yang berat.Allah juga mengangkat dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Setiap pemimpin bertugas mengawasi kaumnya, mendorong mereka agar menjalankan perintah Allah, serta menagih komitmen mereka terhadap perjanjian tersebut.Allah berfirman kepada para pemimpin yang memikul tanggung jawab besar itu, “Sesungguhnya Aku bersama kalian,” yaitu dengan pertolongan dan dukungan. Pertolongan itu sebanding dengan beban yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula pertolongan Allah bagi yang menunaikannya.Kemudian Allah menyebutkan isi perjanjian tersebut. Jika mereka:Menegakkan salat secara lahir dan batin, dengan memenuhi syarat, rukun, serta menjaga kesinambungannya.Menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.Beriman kepada seluruh rasul-Nya, yang paling utama dan paling sempurna di antara mereka adalah Nabi Muhammad ﷺ.Memuliakan para rasul, mengagungkan mereka, serta menunaikan hak-hak berupa penghormatan dan ketaatan.Menginfakkan harta di jalan Allah dengan ikhlas, dari harta yang baik dan cara yang benar.Maka Allah menjanjikan dua anugerah besar sekaligus:Pertama, menghapus dosa-dosa mereka sehingga terhindar dari hukuman.Kedua, memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai kenikmatan yang kekal.Namun jika setelah perjanjian yang begitu kuat—yang diperkuat dengan sumpah dan disertai janji pahala—mereka tetap ingkar, maka mereka benar-benar telah menyimpang dari jalan yang lurus. Penyimpangan itu dilakukan dengan sadar dan sengaja, sehingga mereka pantas kehilangan pahala dan mendapatkan hukuman.Seakan-akan muncul pertanyaan: Lalu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka menepati janji kepada Allah, atau justru mengkhianatinya? Allah Ta’ala berfirman,فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah: 13)Karena mereka melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka, Allah pun menimpakan beberapa hukuman besar.Pertama, Allah melaknat mereka, yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Mereka sendiri telah menutup pintu-pintu rahmat itu dengan tidak menunaikan perjanjian yang menjadi sebab utama turunnya rahmat.Kedua, Allah menjadikan hati mereka keras. Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak tergerak oleh ayat-ayat Allah, dan tidak tersentak oleh peringatan. Janji surga tidak membuat mereka tertarik, dan ancaman neraka tidak membuat mereka gentar. Ini termasuk hukuman paling berat bagi seorang hamba: ketika hatinya tidak lagi menerima petunjuk, bahkan kebaikan justru berbalik menjadi keburukan baginya.Ketiga, mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Mereka ditimpa penyakit mengubah dan mengganti makna firman Allah, sehingga makna yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya dipalingkan menjadi makna lain sesuai hawa nafsu mereka.Keempat, mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Mereka telah diingatkan dengan Taurat dan wahyu yang Allah turunkan kepada Musa, namun sebagian ajaran itu mereka lupakan. Kelupaan ini mencakup dua hal:1. Lupa terhadap ilmunya, sehingga ilmu itu hilang dan tidak lagi mereka miliki sebagai hukuman dari Allah.2. Lupa dalam arti meninggalkan pengamalannya, sehingga mereka tidak diberi taufik untuk menjalankan perintah yang telah dibebankan kepada mereka.Karena itu, pengingkaran Ahli Kitab terhadap sebagian isi kitab mereka atau terhadap peristiwa yang terjadi pada masa mereka sendiri menjadi bukti bahwa mereka telah melupakan bagian dari apa yang pernah diingatkan kepada mereka.Kelima, pengkhianatan yang terus-menerus. Engkau, wahai Nabi Muhammad ﷺ, akan senantiasa mengetahui bentuk-bentuk pengkhianatan dari mereka, baik pengkhianatan kepada Allah maupun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Di antara pengkhianatan terbesar mereka adalah menyembunyikan kebenaran dari orang-orang yang menasihati mereka dan berbaik sangka kepada mereka, serta membiarkan diri tetap dalam kekafiran.Sifat-sifat tercela ini tidak hanya berlaku bagi mereka, tetapi juga bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa. Setiap orang yang tidak menunaikan perintah Allah dan melanggar komitmen yang telah diambil atas dirinya akan mendapatkan bagian dari hukuman-hukuman tersebut: terjauh dari rahmat, keras hati, terjatuh dalam penyelewengan makna, tidak diberi taufik kepada kebenaran, melupakan sebagian nasihat, dan akhirnya terjerumus dalam pengkhianatan. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua itu.Allah menyebut apa yang mereka lupakan sebagai “hazhzhan” (bagian atau keberuntungan), karena itulah keberuntungan terbesar. Adapun selain itu hanyalah keberuntungan dunia yang fana. Allah Ta’ala berfirman:فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Lalu ia (Qarun) keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Wahai, seandainya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS, Al-Qashash: 79)Dan tentang keberuntungan yang hakiki, Allah berfirman:وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّاهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“Dan sifat itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS, Al-Fussilat: 35)Firman Allah, “kecuali sedikit dari mereka,” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil yang menepati janji kepada Allah. Mereka itulah yang diberi taufik dan ditunjuki ke jalan yang lurus.Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya, “Maafkanlah mereka dan berlapang dadalah.” Maksudnya, janganlah membalas gangguan mereka selama masih ada ruang untuk memaafkan dan bersikap lapang. Sikap demikian termasuk ihsan.Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.Ihsan kepada Allah adalah beribadah kepada-Nya seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.Adapun ihsan kepada sesama makhluk adalah dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik manfaat agama maupun manfaat dunia. Pelajaran Penting1. Menjaga Janji kepada Allah adalah Kunci RahmatPerjanjian terbesar seorang muslim adalah syahadat dan komitmen menjalankan agama. Ketika salat ditinggalkan, zakat diabaikan, atau perintah Allah diremehkan, itu adalah bentuk pelanggaran terhadap “mitsaq” (perjanjian) dengan Allah.Semakin kuat komitmen kita menjaga perjanjian itu, semakin dekat kita dengan rahmat dan pertolongan Allah.2. Pertolongan Allah Sejalan dengan Tanggung JawabAllah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama kalian.” Kebersamaan Allah datang bersama amanah dan ketaatan.Siapa yang memikul tanggung jawab agama—baik sebagai orang tua, pendidik, pemimpin, atau dai—lalu menunaikannya dengan benar, maka ia berhak mendapatkan pertolongan Allah sesuai kadar bebannya.3. Hati Keras adalah Hukuman yang Sangat BerbahayaSalah satu hukuman terbesar bukanlah hilangnya harta atau kedudukan, tetapi kerasnya hati:Nasihat tidak masuk.Ayat tidak menggerakkan.Ancaman tidak menakutkan.Janji surga tidak memotivasi.Seorang muslim harus takut terhadap gejala ini. Jika mulai sulit tersentuh oleh kebenaran, segera perbanyak istighfar, taubat, dan perbaiki ibadah.4. Bahaya Memelintir Kebenaran demi KepentinganMengubah makna dalil agar sesuai hawa nafsu bukan hanya kesalahan ilmiah, tetapi dosa besar.Di zaman ini, bentuknya bisa berupa:Menafsirkan agama agar sesuai tren.Membenarkan maksiat dengan dalih “konteks”.Mengambil sebagian dalil dan meninggalkan yang lain.Ini adalah penyakit umat terdahulu yang harus dihindari.5. Ilmu Bisa Dicabut sebagai HukumanAllah menyebut mereka “melupakan bagian” dari apa yang diingatkan kepada mereka. Ini pelajaran besar:Ilmu bisa hilang karena maksiat.Hafalan bisa lupa karena dosa.Pemahaman bisa tertutup karena kesombongan.Karena itu, menjaga amal sama pentingnya dengan menuntut ilmu.6. Pengkhianatan Dimulai dari Hati yang RusakKetika hati keras dan ilmu tidak diamalkan, muncullah pengkhianatan:Khianat terhadap amanah.Khianat dalam rumah tangga.Khianat dalam jabatan.Khianat dalam dakwah.Semua itu berakar dari pelanggaran terhadap komitmen kepada Allah.7. Keberuntungan Hakiki adalah Taufik dan KesabaranAllah menyebut ajaran agama sebagai “hazzan” (keberuntungan). Artinya:Keberuntungan terbesar bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas.Keberuntungan terbesar adalah:Bisa taat.Bisa sabar.Bisa istiqamah.Bisa menerima kebenaran.Itulah “hazzun ‘azhim” yang sesungguhnya.8. Tetap Berbuat Ihsan Meski DisakitiAllah memerintahkan Nabi ﷺ untuk memaafkan dan berlapang dada. Ini pelajaran luar biasa:Seorang muslim tetap berbuat baik meski dizalimi.Tetap menjaga akhlak meski disakiti.Tetap memberi manfaat meski dikhianati.Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. KesimpulanAyat ini bukan hanya kisah tentang Bani Israil. Ia adalah cermin bagi setiap muslim.Siapa yang:Menjaga perjanjian dengan Allah → mendapat rahmat dan surga.Melanggar komitmen → terancam keras hati, tersesat, dan kehilangan taufik.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menepati janji kepada-Mu, yang menjaga salat dan zakat, serta istiqamah dalam iman dan amal saleh. Jangan Engkau jadikan hati kami keras setelah Engkau beri petunjuk, dan jangan Engkau cabut ilmu serta taufik dari diri kami karena dosa-dosa kami. Karuniakanlah kepada kami keberuntungan yang besar berupa kesabaran, keistiqamahan, dan kemampuan berbuat ihsan hingga akhir hayat kami. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic   —– Senin pagi, 6 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsbahaya melanggar janji bani israil hilangnya taufik istiqamah dalam ketaatan jalan yang lurus kerasnya hati makna ihsan pelajaran Bani Israil perjanjian dengan Allah renungan ayat renungan quran tafsir Al Maidah 12-13 tafsir as-sa'di

Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?

Daftar Isi ToggleMemperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranMenyegerakan berbuka puasaMengerjakan makan sahurMurajaah Al-QuranMendirikan salat tarawihI’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanTetap mengumpuli istri di malam hariPenutupBulan Ramadan adalah bulan yang spesial bagi seorang muslim. Pada bulan ini, terdapat banyak sekali keutamaan, mulai dari dipermudahnya beramal, dihapusnya dosa-dosa, hingga pahala yang beribu-ribu kali lipat.Oleh karena itu, seorang muslim tentunya memiliki kebiasaan yang berbeda di bulan Ramadan demi memanfaatkan waktu yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun demikian. Ketika di bulan Ramadan, beliau memiliki kebiasaan-kebiasaan khusus. Lalu bagaimanakah Rasulullah di bulan Ramadan?Rasulullah di bulan Ramadan terbiasa melakukan hal-hal berikut:Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranRamadan merupakan bulan Al-Quran dan juga bulan di mana kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan berlipat. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, Rasulullah -yang merupakan orang yang paling dermawan- berada di puncak kedermawanannya. Beliau juga senantiasa membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran pada bulan Ramadan.Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau berada di puncak kedermawanannya pada bulan Ramadan saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengulang hafalan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)Menyegerakan berbuka puasaDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah ketika puasa, beliau menyegerakan berbuka. Puasa tentunya merupakan ibadah yang agung untuk menunjukkan ketundukan dan kejujuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan untuk menahan haus dan lapar. Rasulullah pun mengingatkan agar kita menyegerakan berbuka dalam sebuah hadis,لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Muslim)Baca juga: Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka PuasaMengerjakan makan sahurKetika berpuasa di bulan Ramadan, beliau mengerjakan sahur. Sahur bukan sekedar waktu makan agar kita bisa kuat berpuasa di bulan Ramadan. Di dalam makan sahur, ada keberkahan sehingga selayaknya kita meniru beliau untuk mengerjakan sahur sebagaimana sabda beliau,تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً“Kerjakanlah sahur oleh kalian, sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari)Rasulullah juga mengerjakan sahur di akhir waktu sebelum azan Subuh. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit,تسحَّرْنا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ قمنا إلى الصَّلاةِ قلتُ كم بينَهما قالَ قدرُ قراءةِ خمسينَ آيةً“Kami mengerjakan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pergi untuk mengerjakan salat.” Aku berkata, “Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, “Selama bacaan 50 ayat Al-Quran.” (HR Bukhari)Murajaah Al-Quran Ramadan merupakan bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan. Di bulan Ramadan, Rasulullah senantiasa murajaah hafalan Al-Quran bersama Jibril. Setiap bulan Ramadan, Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulang hafalan Al-Quran. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ“Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga akhir bulan. Di saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari)Mendirikan salat tarawihDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah mengerjakan salat tarawih di malam hari. Hal tersebut karena keutamaan salat malam di bulan Ramadan,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya sebelumnya akan diampuni.” (HR. Muslim)Akan tetapi, Rasulullah tidak mengerjakan tarawih sebagaimana yang kita kerjakan dengan berjamaah di masjid. Beliau biasanya salat sendiri di rumah dan terkadang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut karena beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan untuk umatnya, sebagaimana dalam hadis dari ‘Aisyah,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di masjid, lalu orang-orang ikut salat bermakmum di belakang beliau. Pada malam berikutnya, beliau salat lagi dan jamaah yang ikut semakin banyak.Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul memadati masjid, namun Rasulullah tidak keluar menemui mereka.Keesokan paginya, beliau bersabda, ‘Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, selain kekhawatiranku bahwa salat ini akan diwajibkan atas kalian.'” (HR. Bukhari)I’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanSepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa. Oleh karena itu, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau melakukan i’tikaf di masjid untuk beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.” (HR. Muslim)Pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau beribadah dengan sangat sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadis,كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Muslim)Tetap mengumpuli istri di malam hariMengumpuli istri atau berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan merupakan hal yang terlarang. Hal tersebut membatalkan puasa dan juga ada kafarah yang harus ditanggung oleh pelakunya. Akan tetapi di malam hari, hal tersebut tidak diharamkan. Bahkan Rasulullah pun tetap mengumpuli istrinya ketika bulan Ramadan di malam hari.Hal tersebut bisa disimpulkan dari sebuah hadis yang menunjukkan Rasulullah berada dalam kondisi junub di waktu Subuh, sebagaimana dalam sebuah hadis,كانَ رسولُ اللَهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصبِحُ جنبًا من جِماعٍ غيرَ احتلامٍ في رمضانَ ثمَّ يصومُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub di waktu Subuh karena jima’ bukan karena mimpi di bulan Ramadan, lalu berpuasa.” (HR. Muslim)Dari hadis di atas, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah tetap mengumpuli istrinya di bulan Ramadan. Akan tetapi, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan, beliau tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis sebelumnya, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan dengan ibadah.PenutupItulah beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan Ramadan. Semoga dengan mengetahui kebiasaan beliau di bulan Ramadan, kita bisa mencontoh beliau agar kita bisa menjalankan bulan Ramadan dengan baik dan bisa memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk menggapai ampunan dan pahala sebanyak-banyaknya.Baca juga: Amalan Harian Ramadhan***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?

Daftar Isi ToggleMemperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranMenyegerakan berbuka puasaMengerjakan makan sahurMurajaah Al-QuranMendirikan salat tarawihI’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanTetap mengumpuli istri di malam hariPenutupBulan Ramadan adalah bulan yang spesial bagi seorang muslim. Pada bulan ini, terdapat banyak sekali keutamaan, mulai dari dipermudahnya beramal, dihapusnya dosa-dosa, hingga pahala yang beribu-ribu kali lipat.Oleh karena itu, seorang muslim tentunya memiliki kebiasaan yang berbeda di bulan Ramadan demi memanfaatkan waktu yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun demikian. Ketika di bulan Ramadan, beliau memiliki kebiasaan-kebiasaan khusus. Lalu bagaimanakah Rasulullah di bulan Ramadan?Rasulullah di bulan Ramadan terbiasa melakukan hal-hal berikut:Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranRamadan merupakan bulan Al-Quran dan juga bulan di mana kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan berlipat. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, Rasulullah -yang merupakan orang yang paling dermawan- berada di puncak kedermawanannya. Beliau juga senantiasa membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran pada bulan Ramadan.Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau berada di puncak kedermawanannya pada bulan Ramadan saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengulang hafalan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)Menyegerakan berbuka puasaDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah ketika puasa, beliau menyegerakan berbuka. Puasa tentunya merupakan ibadah yang agung untuk menunjukkan ketundukan dan kejujuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan untuk menahan haus dan lapar. Rasulullah pun mengingatkan agar kita menyegerakan berbuka dalam sebuah hadis,لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Muslim)Baca juga: Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka PuasaMengerjakan makan sahurKetika berpuasa di bulan Ramadan, beliau mengerjakan sahur. Sahur bukan sekedar waktu makan agar kita bisa kuat berpuasa di bulan Ramadan. Di dalam makan sahur, ada keberkahan sehingga selayaknya kita meniru beliau untuk mengerjakan sahur sebagaimana sabda beliau,تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً“Kerjakanlah sahur oleh kalian, sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari)Rasulullah juga mengerjakan sahur di akhir waktu sebelum azan Subuh. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit,تسحَّرْنا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ قمنا إلى الصَّلاةِ قلتُ كم بينَهما قالَ قدرُ قراءةِ خمسينَ آيةً“Kami mengerjakan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pergi untuk mengerjakan salat.” Aku berkata, “Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, “Selama bacaan 50 ayat Al-Quran.” (HR Bukhari)Murajaah Al-Quran Ramadan merupakan bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan. Di bulan Ramadan, Rasulullah senantiasa murajaah hafalan Al-Quran bersama Jibril. Setiap bulan Ramadan, Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulang hafalan Al-Quran. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ“Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga akhir bulan. Di saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari)Mendirikan salat tarawihDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah mengerjakan salat tarawih di malam hari. Hal tersebut karena keutamaan salat malam di bulan Ramadan,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya sebelumnya akan diampuni.” (HR. Muslim)Akan tetapi, Rasulullah tidak mengerjakan tarawih sebagaimana yang kita kerjakan dengan berjamaah di masjid. Beliau biasanya salat sendiri di rumah dan terkadang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut karena beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan untuk umatnya, sebagaimana dalam hadis dari ‘Aisyah,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di masjid, lalu orang-orang ikut salat bermakmum di belakang beliau. Pada malam berikutnya, beliau salat lagi dan jamaah yang ikut semakin banyak.Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul memadati masjid, namun Rasulullah tidak keluar menemui mereka.Keesokan paginya, beliau bersabda, ‘Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, selain kekhawatiranku bahwa salat ini akan diwajibkan atas kalian.'” (HR. Bukhari)I’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanSepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa. Oleh karena itu, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau melakukan i’tikaf di masjid untuk beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.” (HR. Muslim)Pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau beribadah dengan sangat sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadis,كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Muslim)Tetap mengumpuli istri di malam hariMengumpuli istri atau berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan merupakan hal yang terlarang. Hal tersebut membatalkan puasa dan juga ada kafarah yang harus ditanggung oleh pelakunya. Akan tetapi di malam hari, hal tersebut tidak diharamkan. Bahkan Rasulullah pun tetap mengumpuli istrinya ketika bulan Ramadan di malam hari.Hal tersebut bisa disimpulkan dari sebuah hadis yang menunjukkan Rasulullah berada dalam kondisi junub di waktu Subuh, sebagaimana dalam sebuah hadis,كانَ رسولُ اللَهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصبِحُ جنبًا من جِماعٍ غيرَ احتلامٍ في رمضانَ ثمَّ يصومُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub di waktu Subuh karena jima’ bukan karena mimpi di bulan Ramadan, lalu berpuasa.” (HR. Muslim)Dari hadis di atas, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah tetap mengumpuli istrinya di bulan Ramadan. Akan tetapi, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan, beliau tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis sebelumnya, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan dengan ibadah.PenutupItulah beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan Ramadan. Semoga dengan mengetahui kebiasaan beliau di bulan Ramadan, kita bisa mencontoh beliau agar kita bisa menjalankan bulan Ramadan dengan baik dan bisa memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk menggapai ampunan dan pahala sebanyak-banyaknya.Baca juga: Amalan Harian Ramadhan***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMemperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranMenyegerakan berbuka puasaMengerjakan makan sahurMurajaah Al-QuranMendirikan salat tarawihI’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanTetap mengumpuli istri di malam hariPenutupBulan Ramadan adalah bulan yang spesial bagi seorang muslim. Pada bulan ini, terdapat banyak sekali keutamaan, mulai dari dipermudahnya beramal, dihapusnya dosa-dosa, hingga pahala yang beribu-ribu kali lipat.Oleh karena itu, seorang muslim tentunya memiliki kebiasaan yang berbeda di bulan Ramadan demi memanfaatkan waktu yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun demikian. Ketika di bulan Ramadan, beliau memiliki kebiasaan-kebiasaan khusus. Lalu bagaimanakah Rasulullah di bulan Ramadan?Rasulullah di bulan Ramadan terbiasa melakukan hal-hal berikut:Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranRamadan merupakan bulan Al-Quran dan juga bulan di mana kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan berlipat. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, Rasulullah -yang merupakan orang yang paling dermawan- berada di puncak kedermawanannya. Beliau juga senantiasa membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran pada bulan Ramadan.Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau berada di puncak kedermawanannya pada bulan Ramadan saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengulang hafalan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)Menyegerakan berbuka puasaDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah ketika puasa, beliau menyegerakan berbuka. Puasa tentunya merupakan ibadah yang agung untuk menunjukkan ketundukan dan kejujuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan untuk menahan haus dan lapar. Rasulullah pun mengingatkan agar kita menyegerakan berbuka dalam sebuah hadis,لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Muslim)Baca juga: Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka PuasaMengerjakan makan sahurKetika berpuasa di bulan Ramadan, beliau mengerjakan sahur. Sahur bukan sekedar waktu makan agar kita bisa kuat berpuasa di bulan Ramadan. Di dalam makan sahur, ada keberkahan sehingga selayaknya kita meniru beliau untuk mengerjakan sahur sebagaimana sabda beliau,تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً“Kerjakanlah sahur oleh kalian, sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari)Rasulullah juga mengerjakan sahur di akhir waktu sebelum azan Subuh. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit,تسحَّرْنا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ قمنا إلى الصَّلاةِ قلتُ كم بينَهما قالَ قدرُ قراءةِ خمسينَ آيةً“Kami mengerjakan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pergi untuk mengerjakan salat.” Aku berkata, “Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, “Selama bacaan 50 ayat Al-Quran.” (HR Bukhari)Murajaah Al-Quran Ramadan merupakan bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan. Di bulan Ramadan, Rasulullah senantiasa murajaah hafalan Al-Quran bersama Jibril. Setiap bulan Ramadan, Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulang hafalan Al-Quran. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ“Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga akhir bulan. Di saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari)Mendirikan salat tarawihDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah mengerjakan salat tarawih di malam hari. Hal tersebut karena keutamaan salat malam di bulan Ramadan,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya sebelumnya akan diampuni.” (HR. Muslim)Akan tetapi, Rasulullah tidak mengerjakan tarawih sebagaimana yang kita kerjakan dengan berjamaah di masjid. Beliau biasanya salat sendiri di rumah dan terkadang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut karena beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan untuk umatnya, sebagaimana dalam hadis dari ‘Aisyah,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di masjid, lalu orang-orang ikut salat bermakmum di belakang beliau. Pada malam berikutnya, beliau salat lagi dan jamaah yang ikut semakin banyak.Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul memadati masjid, namun Rasulullah tidak keluar menemui mereka.Keesokan paginya, beliau bersabda, ‘Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, selain kekhawatiranku bahwa salat ini akan diwajibkan atas kalian.'” (HR. Bukhari)I’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanSepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa. Oleh karena itu, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau melakukan i’tikaf di masjid untuk beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.” (HR. Muslim)Pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau beribadah dengan sangat sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadis,كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Muslim)Tetap mengumpuli istri di malam hariMengumpuli istri atau berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan merupakan hal yang terlarang. Hal tersebut membatalkan puasa dan juga ada kafarah yang harus ditanggung oleh pelakunya. Akan tetapi di malam hari, hal tersebut tidak diharamkan. Bahkan Rasulullah pun tetap mengumpuli istrinya ketika bulan Ramadan di malam hari.Hal tersebut bisa disimpulkan dari sebuah hadis yang menunjukkan Rasulullah berada dalam kondisi junub di waktu Subuh, sebagaimana dalam sebuah hadis,كانَ رسولُ اللَهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصبِحُ جنبًا من جِماعٍ غيرَ احتلامٍ في رمضانَ ثمَّ يصومُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub di waktu Subuh karena jima’ bukan karena mimpi di bulan Ramadan, lalu berpuasa.” (HR. Muslim)Dari hadis di atas, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah tetap mengumpuli istrinya di bulan Ramadan. Akan tetapi, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan, beliau tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis sebelumnya, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan dengan ibadah.PenutupItulah beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan Ramadan. Semoga dengan mengetahui kebiasaan beliau di bulan Ramadan, kita bisa mencontoh beliau agar kita bisa menjalankan bulan Ramadan dengan baik dan bisa memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk menggapai ampunan dan pahala sebanyak-banyaknya.Baca juga: Amalan Harian Ramadhan***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMemperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranMenyegerakan berbuka puasaMengerjakan makan sahurMurajaah Al-QuranMendirikan salat tarawihI’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanTetap mengumpuli istri di malam hariPenutupBulan Ramadan adalah bulan yang spesial bagi seorang muslim. Pada bulan ini, terdapat banyak sekali keutamaan, mulai dari dipermudahnya beramal, dihapusnya dosa-dosa, hingga pahala yang beribu-ribu kali lipat.Oleh karena itu, seorang muslim tentunya memiliki kebiasaan yang berbeda di bulan Ramadan demi memanfaatkan waktu yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun demikian. Ketika di bulan Ramadan, beliau memiliki kebiasaan-kebiasaan khusus. Lalu bagaimanakah Rasulullah di bulan Ramadan?Rasulullah di bulan Ramadan terbiasa melakukan hal-hal berikut:Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-QuranRamadan merupakan bulan Al-Quran dan juga bulan di mana kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan berlipat. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, Rasulullah -yang merupakan orang yang paling dermawan- berada di puncak kedermawanannya. Beliau juga senantiasa membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran pada bulan Ramadan.Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau berada di puncak kedermawanannya pada bulan Ramadan saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengulang hafalan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)Menyegerakan berbuka puasaDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah ketika puasa, beliau menyegerakan berbuka. Puasa tentunya merupakan ibadah yang agung untuk menunjukkan ketundukan dan kejujuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan untuk menahan haus dan lapar. Rasulullah pun mengingatkan agar kita menyegerakan berbuka dalam sebuah hadis,لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Muslim)Baca juga: Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka PuasaMengerjakan makan sahurKetika berpuasa di bulan Ramadan, beliau mengerjakan sahur. Sahur bukan sekedar waktu makan agar kita bisa kuat berpuasa di bulan Ramadan. Di dalam makan sahur, ada keberkahan sehingga selayaknya kita meniru beliau untuk mengerjakan sahur sebagaimana sabda beliau,تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً“Kerjakanlah sahur oleh kalian, sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari)Rasulullah juga mengerjakan sahur di akhir waktu sebelum azan Subuh. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit,تسحَّرْنا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ قمنا إلى الصَّلاةِ قلتُ كم بينَهما قالَ قدرُ قراءةِ خمسينَ آيةً“Kami mengerjakan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pergi untuk mengerjakan salat.” Aku berkata, “Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, “Selama bacaan 50 ayat Al-Quran.” (HR Bukhari)Murajaah Al-Quran Ramadan merupakan bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan. Di bulan Ramadan, Rasulullah senantiasa murajaah hafalan Al-Quran bersama Jibril. Setiap bulan Ramadan, Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulang hafalan Al-Quran. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ“Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga akhir bulan. Di saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari)Mendirikan salat tarawihDi antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah mengerjakan salat tarawih di malam hari. Hal tersebut karena keutamaan salat malam di bulan Ramadan,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya sebelumnya akan diampuni.” (HR. Muslim)Akan tetapi, Rasulullah tidak mengerjakan tarawih sebagaimana yang kita kerjakan dengan berjamaah di masjid. Beliau biasanya salat sendiri di rumah dan terkadang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut karena beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan untuk umatnya, sebagaimana dalam hadis dari ‘Aisyah,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di masjid, lalu orang-orang ikut salat bermakmum di belakang beliau. Pada malam berikutnya, beliau salat lagi dan jamaah yang ikut semakin banyak.Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul memadati masjid, namun Rasulullah tidak keluar menemui mereka.Keesokan paginya, beliau bersabda, ‘Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, selain kekhawatiranku bahwa salat ini akan diwajibkan atas kalian.'” (HR. Bukhari)I’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir RamadanSepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa. Oleh karena itu, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau melakukan i’tikaf di masjid untuk beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ“Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.” (HR. Muslim)Pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau beribadah dengan sangat sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadis,كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Muslim)Tetap mengumpuli istri di malam hariMengumpuli istri atau berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan merupakan hal yang terlarang. Hal tersebut membatalkan puasa dan juga ada kafarah yang harus ditanggung oleh pelakunya. Akan tetapi di malam hari, hal tersebut tidak diharamkan. Bahkan Rasulullah pun tetap mengumpuli istrinya ketika bulan Ramadan di malam hari.Hal tersebut bisa disimpulkan dari sebuah hadis yang menunjukkan Rasulullah berada dalam kondisi junub di waktu Subuh, sebagaimana dalam sebuah hadis,كانَ رسولُ اللَهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصبِحُ جنبًا من جِماعٍ غيرَ احتلامٍ في رمضانَ ثمَّ يصومُ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub di waktu Subuh karena jima’ bukan karena mimpi di bulan Ramadan, lalu berpuasa.” (HR. Muslim)Dari hadis di atas, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah tetap mengumpuli istrinya di bulan Ramadan. Akan tetapi, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan, beliau tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis sebelumnya, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan dengan ibadah.PenutupItulah beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan Ramadan. Semoga dengan mengetahui kebiasaan beliau di bulan Ramadan, kita bisa mencontoh beliau agar kita bisa menjalankan bulan Ramadan dengan baik dan bisa memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk menggapai ampunan dan pahala sebanyak-banyaknya.Baca juga: Amalan Harian Ramadhan***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Detoks Digital di Bulan Ramadan: Cara Ampuh Mengembalikan Fokus Ibadah Anda

Wahai saudara-saudara! Kita wajib mengurangi kesibukan duniawi pada bulan Ramadan. Termasuk di antaranya adalah penggunaan ponsel ini. Hendaknya sedari sekarang kita mulai mengurangi intensitas penggunaannya. Karena pada zaman ini, ponsel merupakan pencuri terbesar. Pencuri terbesar adalah ponsel ini! Ia mencuri waktu-waktu kita dengan cara yang mengerikan. Bahkan, sebagian dari kita seolah tidak bisa terlepas darinya, sekalipun saat berada di masjid. Sering kali ia tetap memegangnya hingga imam bertakbiratul ihram, barulah ia meletakkannya. Lalu ketika imam mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum warahmatullah… Assalamu’alaikum warahmatullah…” Sebelum beristigfar, ia sudah mengeluarkan ponsel dan membukanya kembali. Kita harus membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan ponsel. Kurangilah pemakaiannya, misalnya cukup gunakan selama satu jam saja. Aku membuka ponsel ini untuk melihat apa yang memang perlu aku lihat. Setelah itu, simpanlah ponsel tersebut. Kecuali jika ada panggilan telepon atau keperluan mendesak lainnya. Biasakanlah dirimu, agar pada bulan Ramadan, Anda dapat fokus membaca Al-Qur’an. Demi Allah wahai saudara-saudara, kebanyakan orang saat ini terhalang dari membaca Al-Qur’an karena ponsel ini. Jika Anda bertanya kepadanya: “Sudahkah Anda mengkhatamkan Al-Qur’an?” Ia menjawab: “Demi Allah, masalahnya aku tidak punya waktu.” Padahal mayoritas waktunya habis hanya untuk memegang ponsel ini. Di antara bentuk persiapan diri yang indah menyambut Ramadan adalah melatih diri kita sedari sekarang untuk mengurangi penggunaan ponsel. Adapun hal-hal yang haram, jangan sampai Anda memasuki bulan Ramadan dengan niat untuk berbuat haram. Baik itu menonton maupun mendengar hal-hal yang diharamkan. Sebab, hal itu merupakan faktor penghalang datangnya kebaikan. Akan ada seruan pada malam pertama Ramadan dan pada setiap malamnya: “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Ramadan adalah bulan penuh kebaikan. “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Yakni mereka yang mengharapkan kebajikan. Yang diseru adalah orang yang menginginkan kebaikan, dan ia akan ditolong untuk itu. Barang siapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan menolongnya. “Dan wahai para pencari keburukan! Berhentilah!” Stop! Batalkanlah niatmu untuk berbuat buruk itu! Sesungguhnya Anda akan ditolong pada bulan ini untuk meninggalkannya. Maka waspadalah wahai hamba Allah, jangan sampai Anda menyambut Ramadan sedangkan dalam hati Anda masih tersimpan niat berbuat buruk. Namun, penuhilah hati Anda dengan tekad untuk berbuat baik, disertai rasa benci terhadap keburukan, kemurkaan terhadapnya, serta tidak adanya keinginan untuk bermaksiat. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menolong kita dalam mengendalikan nafsu, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan kuat. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan puasa dan Salat Malam. Juga amal-amal ketaatan lainnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita. ===== فَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نَتَقَلَّلَ مِنَ الدُّنْيَا فِي رَمَضَانَ حَتَّى هَذَا الْهَاتِفُ يَنْبَغِي مِنَ الْآنِ أَنْ نُقَلِّلَ اسْتِعْمَالَنَا لَهُ لِأَنَّ هَذَا الْهَاتِفَ الْيَوْمَ أَكْبَرُ لِصٍّ أَكْبَرُ لِصٍّ هَذَا الْهَاتِفُ يَسْرِقُ أَوْقَاتَنَا سَرِقَةً عَجِيبَةً حَتَّى أَنَّ أَحَدَنَا صَارَ مَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ حَتَّى فِي الْمَسْجِدِ رُبَّمَا يُمْسِكُ بِهِ حَتَّى يُكَبِّرَ الْإِمَامُ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ ثُمَّ يَضَعُهُ ثُمَّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ يُخْرِجُهُ يَنْظُرُ فِيهِ نُعَوِّدُ أَنْفُسَنَا عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ وَالتَّقْلِيلِ اجْعَلْ لَكَ سَاعَةً أَفْتَحُ هَذَا الْهَاتِفَ أَنْظُرُ فِيمَا أُحِبُّ أَنْ أَنْظُرَ فِيهِ ثُمَّ اتْرُكْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ هُنَاكَ اتِّصَالٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ عَوِّدْ نَفْسَكَ حَتَّى تَسْتَطِيعَ فِي رَمَضَانَ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ وَاللهِ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَصْرِفُهُمْ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ هَذَا الْجَوَّالُ هَذَا الْهَاتِفُ إِذَا قُلْتَ لَهُ هَلْ خَتَمْتَ قَالَ وَاللهِ يَا أَخِي المُشْكِلَةُ الْوَقْتُ وَأَكْثَرُ وَقْتِهِ يُمْسِكُ هَذَا الْهَاتِفَ مِن جَمِيلِ الِاسْتِعْدَادِ أَنْ نُعَوِّدَ أَنْفُسَنَا مِنَ الْآنِ عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ أَمَّا الْمُحَرَّمَاتُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَدْخُلَ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي أَنْ تَفْعَلَ مُحَرَّمًا أَنْ تُشَاهِدَ مُحَرَّمًا أَنْ تَسْمَعَ مُحَرَّمًا فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ يُنَادَى مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ رَمَضَانُ خَيْرٌ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ يَا بَاغِيَ يَا مُرِيدَ الَّذِي يُنَادَى الَّذِي يُرِيدُ الْخَيْرَ يُعَانُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ كُفَّ أَبْطِلْ نِيَّةَ إِرَادَةِ الشَّرِّ فَإِنَّكَ تُعَانُ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَإِيَّاكَ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْ تُقْبِلَ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي الشَّرَّ بَلِ امْلَأْ قَلْبَكَ إِرَادَةً لِلْخَيْرِ وَكُرْهًا لِلشَّرِّ وَبُغْضًا لِلشَّرِّ وَعَدَمَ إِرَادَةٍ لِلشَّرِّ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَأَنْ يُبَلِّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ وَنَحْنُ فِي عَافِيَةٍ وَقُوَّةٍ وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَعَمَلِ الطَّاعَةِ بَارَكَ اللهُ فِي الْجَمِيعِ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Detoks Digital di Bulan Ramadan: Cara Ampuh Mengembalikan Fokus Ibadah Anda

Wahai saudara-saudara! Kita wajib mengurangi kesibukan duniawi pada bulan Ramadan. Termasuk di antaranya adalah penggunaan ponsel ini. Hendaknya sedari sekarang kita mulai mengurangi intensitas penggunaannya. Karena pada zaman ini, ponsel merupakan pencuri terbesar. Pencuri terbesar adalah ponsel ini! Ia mencuri waktu-waktu kita dengan cara yang mengerikan. Bahkan, sebagian dari kita seolah tidak bisa terlepas darinya, sekalipun saat berada di masjid. Sering kali ia tetap memegangnya hingga imam bertakbiratul ihram, barulah ia meletakkannya. Lalu ketika imam mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum warahmatullah… Assalamu’alaikum warahmatullah…” Sebelum beristigfar, ia sudah mengeluarkan ponsel dan membukanya kembali. Kita harus membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan ponsel. Kurangilah pemakaiannya, misalnya cukup gunakan selama satu jam saja. Aku membuka ponsel ini untuk melihat apa yang memang perlu aku lihat. Setelah itu, simpanlah ponsel tersebut. Kecuali jika ada panggilan telepon atau keperluan mendesak lainnya. Biasakanlah dirimu, agar pada bulan Ramadan, Anda dapat fokus membaca Al-Qur’an. Demi Allah wahai saudara-saudara, kebanyakan orang saat ini terhalang dari membaca Al-Qur’an karena ponsel ini. Jika Anda bertanya kepadanya: “Sudahkah Anda mengkhatamkan Al-Qur’an?” Ia menjawab: “Demi Allah, masalahnya aku tidak punya waktu.” Padahal mayoritas waktunya habis hanya untuk memegang ponsel ini. Di antara bentuk persiapan diri yang indah menyambut Ramadan adalah melatih diri kita sedari sekarang untuk mengurangi penggunaan ponsel. Adapun hal-hal yang haram, jangan sampai Anda memasuki bulan Ramadan dengan niat untuk berbuat haram. Baik itu menonton maupun mendengar hal-hal yang diharamkan. Sebab, hal itu merupakan faktor penghalang datangnya kebaikan. Akan ada seruan pada malam pertama Ramadan dan pada setiap malamnya: “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Ramadan adalah bulan penuh kebaikan. “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Yakni mereka yang mengharapkan kebajikan. Yang diseru adalah orang yang menginginkan kebaikan, dan ia akan ditolong untuk itu. Barang siapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan menolongnya. “Dan wahai para pencari keburukan! Berhentilah!” Stop! Batalkanlah niatmu untuk berbuat buruk itu! Sesungguhnya Anda akan ditolong pada bulan ini untuk meninggalkannya. Maka waspadalah wahai hamba Allah, jangan sampai Anda menyambut Ramadan sedangkan dalam hati Anda masih tersimpan niat berbuat buruk. Namun, penuhilah hati Anda dengan tekad untuk berbuat baik, disertai rasa benci terhadap keburukan, kemurkaan terhadapnya, serta tidak adanya keinginan untuk bermaksiat. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menolong kita dalam mengendalikan nafsu, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan kuat. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan puasa dan Salat Malam. Juga amal-amal ketaatan lainnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita. ===== فَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نَتَقَلَّلَ مِنَ الدُّنْيَا فِي رَمَضَانَ حَتَّى هَذَا الْهَاتِفُ يَنْبَغِي مِنَ الْآنِ أَنْ نُقَلِّلَ اسْتِعْمَالَنَا لَهُ لِأَنَّ هَذَا الْهَاتِفَ الْيَوْمَ أَكْبَرُ لِصٍّ أَكْبَرُ لِصٍّ هَذَا الْهَاتِفُ يَسْرِقُ أَوْقَاتَنَا سَرِقَةً عَجِيبَةً حَتَّى أَنَّ أَحَدَنَا صَارَ مَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ حَتَّى فِي الْمَسْجِدِ رُبَّمَا يُمْسِكُ بِهِ حَتَّى يُكَبِّرَ الْإِمَامُ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ ثُمَّ يَضَعُهُ ثُمَّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ يُخْرِجُهُ يَنْظُرُ فِيهِ نُعَوِّدُ أَنْفُسَنَا عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ وَالتَّقْلِيلِ اجْعَلْ لَكَ سَاعَةً أَفْتَحُ هَذَا الْهَاتِفَ أَنْظُرُ فِيمَا أُحِبُّ أَنْ أَنْظُرَ فِيهِ ثُمَّ اتْرُكْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ هُنَاكَ اتِّصَالٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ عَوِّدْ نَفْسَكَ حَتَّى تَسْتَطِيعَ فِي رَمَضَانَ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ وَاللهِ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَصْرِفُهُمْ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ هَذَا الْجَوَّالُ هَذَا الْهَاتِفُ إِذَا قُلْتَ لَهُ هَلْ خَتَمْتَ قَالَ وَاللهِ يَا أَخِي المُشْكِلَةُ الْوَقْتُ وَأَكْثَرُ وَقْتِهِ يُمْسِكُ هَذَا الْهَاتِفَ مِن جَمِيلِ الِاسْتِعْدَادِ أَنْ نُعَوِّدَ أَنْفُسَنَا مِنَ الْآنِ عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ أَمَّا الْمُحَرَّمَاتُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَدْخُلَ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي أَنْ تَفْعَلَ مُحَرَّمًا أَنْ تُشَاهِدَ مُحَرَّمًا أَنْ تَسْمَعَ مُحَرَّمًا فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ يُنَادَى مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ رَمَضَانُ خَيْرٌ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ يَا بَاغِيَ يَا مُرِيدَ الَّذِي يُنَادَى الَّذِي يُرِيدُ الْخَيْرَ يُعَانُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ كُفَّ أَبْطِلْ نِيَّةَ إِرَادَةِ الشَّرِّ فَإِنَّكَ تُعَانُ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَإِيَّاكَ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْ تُقْبِلَ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي الشَّرَّ بَلِ امْلَأْ قَلْبَكَ إِرَادَةً لِلْخَيْرِ وَكُرْهًا لِلشَّرِّ وَبُغْضًا لِلشَّرِّ وَعَدَمَ إِرَادَةٍ لِلشَّرِّ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَأَنْ يُبَلِّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ وَنَحْنُ فِي عَافِيَةٍ وَقُوَّةٍ وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَعَمَلِ الطَّاعَةِ بَارَكَ اللهُ فِي الْجَمِيعِ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ
Wahai saudara-saudara! Kita wajib mengurangi kesibukan duniawi pada bulan Ramadan. Termasuk di antaranya adalah penggunaan ponsel ini. Hendaknya sedari sekarang kita mulai mengurangi intensitas penggunaannya. Karena pada zaman ini, ponsel merupakan pencuri terbesar. Pencuri terbesar adalah ponsel ini! Ia mencuri waktu-waktu kita dengan cara yang mengerikan. Bahkan, sebagian dari kita seolah tidak bisa terlepas darinya, sekalipun saat berada di masjid. Sering kali ia tetap memegangnya hingga imam bertakbiratul ihram, barulah ia meletakkannya. Lalu ketika imam mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum warahmatullah… Assalamu’alaikum warahmatullah…” Sebelum beristigfar, ia sudah mengeluarkan ponsel dan membukanya kembali. Kita harus membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan ponsel. Kurangilah pemakaiannya, misalnya cukup gunakan selama satu jam saja. Aku membuka ponsel ini untuk melihat apa yang memang perlu aku lihat. Setelah itu, simpanlah ponsel tersebut. Kecuali jika ada panggilan telepon atau keperluan mendesak lainnya. Biasakanlah dirimu, agar pada bulan Ramadan, Anda dapat fokus membaca Al-Qur’an. Demi Allah wahai saudara-saudara, kebanyakan orang saat ini terhalang dari membaca Al-Qur’an karena ponsel ini. Jika Anda bertanya kepadanya: “Sudahkah Anda mengkhatamkan Al-Qur’an?” Ia menjawab: “Demi Allah, masalahnya aku tidak punya waktu.” Padahal mayoritas waktunya habis hanya untuk memegang ponsel ini. Di antara bentuk persiapan diri yang indah menyambut Ramadan adalah melatih diri kita sedari sekarang untuk mengurangi penggunaan ponsel. Adapun hal-hal yang haram, jangan sampai Anda memasuki bulan Ramadan dengan niat untuk berbuat haram. Baik itu menonton maupun mendengar hal-hal yang diharamkan. Sebab, hal itu merupakan faktor penghalang datangnya kebaikan. Akan ada seruan pada malam pertama Ramadan dan pada setiap malamnya: “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Ramadan adalah bulan penuh kebaikan. “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Yakni mereka yang mengharapkan kebajikan. Yang diseru adalah orang yang menginginkan kebaikan, dan ia akan ditolong untuk itu. Barang siapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan menolongnya. “Dan wahai para pencari keburukan! Berhentilah!” Stop! Batalkanlah niatmu untuk berbuat buruk itu! Sesungguhnya Anda akan ditolong pada bulan ini untuk meninggalkannya. Maka waspadalah wahai hamba Allah, jangan sampai Anda menyambut Ramadan sedangkan dalam hati Anda masih tersimpan niat berbuat buruk. Namun, penuhilah hati Anda dengan tekad untuk berbuat baik, disertai rasa benci terhadap keburukan, kemurkaan terhadapnya, serta tidak adanya keinginan untuk bermaksiat. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menolong kita dalam mengendalikan nafsu, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan kuat. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan puasa dan Salat Malam. Juga amal-amal ketaatan lainnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita. ===== فَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نَتَقَلَّلَ مِنَ الدُّنْيَا فِي رَمَضَانَ حَتَّى هَذَا الْهَاتِفُ يَنْبَغِي مِنَ الْآنِ أَنْ نُقَلِّلَ اسْتِعْمَالَنَا لَهُ لِأَنَّ هَذَا الْهَاتِفَ الْيَوْمَ أَكْبَرُ لِصٍّ أَكْبَرُ لِصٍّ هَذَا الْهَاتِفُ يَسْرِقُ أَوْقَاتَنَا سَرِقَةً عَجِيبَةً حَتَّى أَنَّ أَحَدَنَا صَارَ مَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ حَتَّى فِي الْمَسْجِدِ رُبَّمَا يُمْسِكُ بِهِ حَتَّى يُكَبِّرَ الْإِمَامُ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ ثُمَّ يَضَعُهُ ثُمَّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ يُخْرِجُهُ يَنْظُرُ فِيهِ نُعَوِّدُ أَنْفُسَنَا عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ وَالتَّقْلِيلِ اجْعَلْ لَكَ سَاعَةً أَفْتَحُ هَذَا الْهَاتِفَ أَنْظُرُ فِيمَا أُحِبُّ أَنْ أَنْظُرَ فِيهِ ثُمَّ اتْرُكْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ هُنَاكَ اتِّصَالٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ عَوِّدْ نَفْسَكَ حَتَّى تَسْتَطِيعَ فِي رَمَضَانَ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ وَاللهِ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَصْرِفُهُمْ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ هَذَا الْجَوَّالُ هَذَا الْهَاتِفُ إِذَا قُلْتَ لَهُ هَلْ خَتَمْتَ قَالَ وَاللهِ يَا أَخِي المُشْكِلَةُ الْوَقْتُ وَأَكْثَرُ وَقْتِهِ يُمْسِكُ هَذَا الْهَاتِفَ مِن جَمِيلِ الِاسْتِعْدَادِ أَنْ نُعَوِّدَ أَنْفُسَنَا مِنَ الْآنِ عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ أَمَّا الْمُحَرَّمَاتُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَدْخُلَ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي أَنْ تَفْعَلَ مُحَرَّمًا أَنْ تُشَاهِدَ مُحَرَّمًا أَنْ تَسْمَعَ مُحَرَّمًا فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ يُنَادَى مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ رَمَضَانُ خَيْرٌ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ يَا بَاغِيَ يَا مُرِيدَ الَّذِي يُنَادَى الَّذِي يُرِيدُ الْخَيْرَ يُعَانُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ كُفَّ أَبْطِلْ نِيَّةَ إِرَادَةِ الشَّرِّ فَإِنَّكَ تُعَانُ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَإِيَّاكَ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْ تُقْبِلَ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي الشَّرَّ بَلِ امْلَأْ قَلْبَكَ إِرَادَةً لِلْخَيْرِ وَكُرْهًا لِلشَّرِّ وَبُغْضًا لِلشَّرِّ وَعَدَمَ إِرَادَةٍ لِلشَّرِّ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَأَنْ يُبَلِّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ وَنَحْنُ فِي عَافِيَةٍ وَقُوَّةٍ وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَعَمَلِ الطَّاعَةِ بَارَكَ اللهُ فِي الْجَمِيعِ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ


Wahai saudara-saudara! Kita wajib mengurangi kesibukan duniawi pada bulan Ramadan. Termasuk di antaranya adalah penggunaan ponsel ini. Hendaknya sedari sekarang kita mulai mengurangi intensitas penggunaannya. Karena pada zaman ini, ponsel merupakan pencuri terbesar. Pencuri terbesar adalah ponsel ini! Ia mencuri waktu-waktu kita dengan cara yang mengerikan. Bahkan, sebagian dari kita seolah tidak bisa terlepas darinya, sekalipun saat berada di masjid. Sering kali ia tetap memegangnya hingga imam bertakbiratul ihram, barulah ia meletakkannya. Lalu ketika imam mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum warahmatullah… Assalamu’alaikum warahmatullah…” Sebelum beristigfar, ia sudah mengeluarkan ponsel dan membukanya kembali. Kita harus membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan ponsel. Kurangilah pemakaiannya, misalnya cukup gunakan selama satu jam saja. Aku membuka ponsel ini untuk melihat apa yang memang perlu aku lihat. Setelah itu, simpanlah ponsel tersebut. Kecuali jika ada panggilan telepon atau keperluan mendesak lainnya. Biasakanlah dirimu, agar pada bulan Ramadan, Anda dapat fokus membaca Al-Qur’an. Demi Allah wahai saudara-saudara, kebanyakan orang saat ini terhalang dari membaca Al-Qur’an karena ponsel ini. Jika Anda bertanya kepadanya: “Sudahkah Anda mengkhatamkan Al-Qur’an?” Ia menjawab: “Demi Allah, masalahnya aku tidak punya waktu.” Padahal mayoritas waktunya habis hanya untuk memegang ponsel ini. Di antara bentuk persiapan diri yang indah menyambut Ramadan adalah melatih diri kita sedari sekarang untuk mengurangi penggunaan ponsel. Adapun hal-hal yang haram, jangan sampai Anda memasuki bulan Ramadan dengan niat untuk berbuat haram. Baik itu menonton maupun mendengar hal-hal yang diharamkan. Sebab, hal itu merupakan faktor penghalang datangnya kebaikan. Akan ada seruan pada malam pertama Ramadan dan pada setiap malamnya: “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Ramadan adalah bulan penuh kebaikan. “Wahai para pencari kebaikan! Sambutlah!” Yakni mereka yang mengharapkan kebajikan. Yang diseru adalah orang yang menginginkan kebaikan, dan ia akan ditolong untuk itu. Barang siapa yang jujur kepada Allah, niscaya Allah akan menolongnya. “Dan wahai para pencari keburukan! Berhentilah!” Stop! Batalkanlah niatmu untuk berbuat buruk itu! Sesungguhnya Anda akan ditolong pada bulan ini untuk meninggalkannya. Maka waspadalah wahai hamba Allah, jangan sampai Anda menyambut Ramadan sedangkan dalam hati Anda masih tersimpan niat berbuat buruk. Namun, penuhilah hati Anda dengan tekad untuk berbuat baik, disertai rasa benci terhadap keburukan, kemurkaan terhadapnya, serta tidak adanya keinginan untuk bermaksiat. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menolong kita dalam mengendalikan nafsu, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan kuat. Semoga Allah menolong kita dalam menjalankan puasa dan Salat Malam. Juga amal-amal ketaatan lainnya. Semoga Allah memberkahi kita semua. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita. ===== فَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نَتَقَلَّلَ مِنَ الدُّنْيَا فِي رَمَضَانَ حَتَّى هَذَا الْهَاتِفُ يَنْبَغِي مِنَ الْآنِ أَنْ نُقَلِّلَ اسْتِعْمَالَنَا لَهُ لِأَنَّ هَذَا الْهَاتِفَ الْيَوْمَ أَكْبَرُ لِصٍّ أَكْبَرُ لِصٍّ هَذَا الْهَاتِفُ يَسْرِقُ أَوْقَاتَنَا سَرِقَةً عَجِيبَةً حَتَّى أَنَّ أَحَدَنَا صَارَ مَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ حَتَّى فِي الْمَسْجِدِ رُبَّمَا يُمْسِكُ بِهِ حَتَّى يُكَبِّرَ الْإِمَامُ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ ثُمَّ يَضَعُهُ ثُمَّ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ يُخْرِجُهُ يَنْظُرُ فِيهِ نُعَوِّدُ أَنْفُسَنَا عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ وَالتَّقْلِيلِ اجْعَلْ لَكَ سَاعَةً أَفْتَحُ هَذَا الْهَاتِفَ أَنْظُرُ فِيمَا أُحِبُّ أَنْ أَنْظُرَ فِيهِ ثُمَّ اتْرُكْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ هُنَاكَ اتِّصَالٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ عَوِّدْ نَفْسَكَ حَتَّى تَسْتَطِيعَ فِي رَمَضَانَ أَنْ تَقْرَأَ الْقُرْآنَ وَاللهِ يَا إِخْوَةُ أَكْثَرُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَصْرِفُهُمْ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ هَذَا الْجَوَّالُ هَذَا الْهَاتِفُ إِذَا قُلْتَ لَهُ هَلْ خَتَمْتَ قَالَ وَاللهِ يَا أَخِي المُشْكِلَةُ الْوَقْتُ وَأَكْثَرُ وَقْتِهِ يُمْسِكُ هَذَا الْهَاتِفَ مِن جَمِيلِ الِاسْتِعْدَادِ أَنْ نُعَوِّدَ أَنْفُسَنَا مِنَ الْآنِ عَلَى التَّقْلِيلِ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا الْهَاتِفِ أَمَّا الْمُحَرَّمَاتُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَدْخُلَ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي أَنْ تَفْعَلَ مُحَرَّمًا أَنْ تُشَاهِدَ مُحَرَّمًا أَنْ تَسْمَعَ مُحَرَّمًا فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ يُنَادَى مِنْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ رَمَضَانُ خَيْرٌ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ يَا بَاغِيَ يَا مُرِيدَ الَّذِي يُنَادَى الَّذِي يُرِيدُ الْخَيْرَ يُعَانُ وَمَنْ صَدَقَ اللهَ صَدَقَهُ اللهُ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ كُفَّ أَبْطِلْ نِيَّةَ إِرَادَةِ الشَّرِّ فَإِنَّكَ تُعَانُ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَإِيَّاكَ يَا عَبْدَ اللهِ أَنْ تُقْبِلَ عَلَى شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَنْتَ تَنْوِي الشَّرَّ بَلِ امْلَأْ قَلْبَكَ إِرَادَةً لِلْخَيْرِ وَكُرْهًا لِلشَّرِّ وَبُغْضًا لِلشَّرِّ وَعَدَمَ إِرَادَةٍ لِلشَّرِّ أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعِينَنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَأَنْ يُبَلِّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ وَنَحْنُ فِي عَافِيَةٍ وَقُوَّةٍ وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ وَعَمَلِ الطَّاعَةِ بَارَكَ اللهُ فِي الْجَمِيعِ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ

Keadilan bagi Perempuan, Solusi Konflik Rumah Tangga, dan Hikmah Perpisahan (Tafsir Surah An-Nisa Ayat 127–130)

Surah An-Nisa ayat 127–130 memberikan panduan lengkap tentang dinamika rumah tangga: dari kewajiban adil terhadap perempuan dan anak yatim, solusi saat hubungan retak, hingga kebolehan berpisah ketika tak lagi bisa dipertahankan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis dalam memandang kehidupan keluarga. Di dalamnya terdapat prinsip keadilan, kelapangan dada, tanggung jawab, dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Keadilan bagi Perempuan dan Anak Yatim 2. Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga Retak 3. Prinsip Adil dalam Poligami 4. Saat Perpisahan Menjadi Jalan Terbaik 5. Kesimpulan dan Refleksi Praktis 5.1. QS. An-Nisa: 127 5.2. QS. An-Nisa: 128 5.3. QS. An-Nisa: 129 5.4. QS. An-Nisa: 130  Keadilan bagi Perempuan dan Anak YatimAllah Ta’ala berfirman,وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ ۖ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ فِى يَتَٰمَى ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَٰنِ وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتَٰمَىٰ بِٱلْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. An-Nisa: 127)Ayat ini menegaskan kembali pentingnya memberikan mahar dan hak waris kepada wanita yatim. Ada teguran bagi wali yang ingin menikahi wanita yatim di bawah asuhannya hanya karena mengincar hartanya atau kecantikannya namun tidak mau memberikan haknya secara penuh.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya.Al-istifta’ adalah permintaan seseorang kepada pihak yang berwenang untuk menjelaskan hukum syariat mengenai suatu perkara.Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa kaum mukminin meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan para wanita. Lalu Allah sendiri yang mengambil alih penjelasan hukum tersebut dengan berfirman:{قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ}“Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka.”Artinya, amalkanlah apa yang Allah fatwakan kepada kalian dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan wanita: menunaikan hak-hak mereka dan meninggalkan segala bentuk kezaliman terhadap mereka, baik secara umum maupun khusus.Perintah ini bersifat umum, mencakup seluruh hukum yang Allah syariatkan terkait wanita, baik perintah maupun larangan, baik bagi istri maupun selainnya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.Setelah penegasan umum tersebut, Allah secara khusus menekankan wasiat tentang orang-orang yang lemah, yaitu anak-anak yatim dan anak-anak kecil, sebagai bentuk perhatian besar terhadap mereka dan sebagai peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan hak mereka.Allah berfirman:{وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي ٱلْكِتَابِ فِي يَتَامَى ٱلنِّسَاءِ}“Dan juga tentang apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab mengenai wanita-wanita yatim.”Yakni Allah juga memberi fatwa kepada kalian tentang hukum yang telah dibacakan dalam Al-Qur’an terkait para wanita yatim.Kemudian Allah menjelaskan kondisi yang terjadi saat itu:{ٱلَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ}“Yaitu wanita-wanita yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan untuk mereka.”Pada masa itu, seorang anak yatim perempuan yang berada dalam perwalian seorang laki-laki seringkali dizalimi. Bentuk kezaliman itu bermacam-macam:Walinya memakan seluruh atau sebagian hartanya.Ia menahannya dari pernikahan agar tetap bisa memanfaatkan hartanya, karena khawatir jika ia menikah, hartanya akan lepas dari tangannya.Ia mengambil sebagian mahar anak yatim tersebut, baik dengan syarat tertentu atau tanpa syarat.Jika wali tersebut tidak tertarik untuk menikahinya, ia menahannya demi hartanya. Jika ia tertarik karena kecantikan dan hartanya, ia tetap tidak berlaku adil dalam mahar, melainkan memberinya kurang dari yang semestinya ia terima.Semua bentuk perlakuan ini termasuk kezaliman yang tercakup dalam ayat ini.Karena itu Allah berfirman:{وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ}“Sedangkan kamu ingin menikahi mereka.”Maksudnya, kalian bisa jadi tidak ingin menikahi mereka, atau justru ingin menikahi mereka, sebagaimana telah dijelaskan contohnya. Dalam kedua keadaan tersebut, kalian tetap diperintahkan untuk berlaku adil dan tidak menzalimi.Kemudian Allah menyebutkan:{وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَانِ}“Dan juga tentang anak-anak yang lemah.”Yakni Allah memberi fatwa kepada kalian mengenai anak-anak kecil yang lemah agar kalian memberikan hak mereka, baik dalam warisan maupun selainnya, dan agar kalian tidak menguasai harta mereka dengan cara zalim dan sewenang-wenang.Selanjutnya Allah berfirman:{وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِٱلْقِسْطِ}“Dan hendaklah kamu berlaku adil terhadap anak-anak yatim.”Artinya, berlaku dengan keadilan yang sempurna.Ini mencakup dua hal:Menegakkan kewajiban agama atas mereka, dengan membimbing mereka kepada perintah Allah dan kewajiban syariat. Para wali bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mewajibkan mereka dalam hal-hal yang Allah wajibkan.Mengurus kepentingan duniawi mereka, seperti mengembangkan harta mereka dan mencari yang paling bermanfaat bagi mereka, serta tidak mendekati harta mereka kecuali dengan cara yang terbaik.Selain itu, tidak boleh memihak teman atau siapa pun dalam urusan mereka—baik dalam pernikahan maupun yang lainnya—dengan cara yang merugikan hak anak yatim tersebut.Semua ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sangat menekankan agar diperhatikan kepentingan orang-orang yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri karena kelemahan dan kehilangan ayah.Kemudian Allah mendorong untuk berbuat baik secara umum:{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ}“Dan apa pun kebaikan yang kamu kerjakan,”baik kepada anak-anak yatim maupun kepada selain mereka, baik kebaikan yang manfaatnya meluas kepada orang lain maupun yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri,{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا}“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”Ilmu Allah meliputi seluruh amal perbuatan para pelaku kebaikan—baik sedikit maupun banyak, baik yang baik maupun yang sebaliknya—dan Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di. Adapun penerapan ayat tersebut di antaranya:Jangan memanfaatkan kelemahan pihak yang lemah. Anak yatim, anak kecil, perempuan yang berada di bawah perwalian, atau siapa pun yang bergantung secara finansial tidak boleh dimanfaatkan demi keuntungan pribadi, baik dalam urusan harta, pernikahan, maupun keputusan hidup.Kelola harta amanah secara profesional dan transparan. Jika mengurus harta anak yatim atau anggota keluarga yang belum cakap hukum, kelola dengan penuh tanggung jawab, transparan, dan demi maslahat mereka—bukan demi kepentingan pribadi.Adil dalam urusan pernikahan.Jangan menghalangi perempuan menikah demi kepentingan ekonomi keluarga. Jangan pula menekan mahar atau hak-haknya karena posisi tawar yang lemah.Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga RetakAllah Ta’ala berfirman,وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Jika terjadi ketidakharmonisan (nushuz) dari pihak suami (seperti sikap dingin atau tidak perhatian), Al-Qur’an menganjurkan jalan perdamaian. Istri diperbolehkan merelakan sebagian haknya (misalnya jatah waktu atau nafkah) demi mempertahankan ikatan pernikahan. Prinsipnya adalah “perdamaian itu lebih baik” daripada perceraian.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Jika seorang istri merasa khawatir akan nusyuz suaminya—yakni suami mulai meninggikan diri darinya, tidak lagi tertarik, atau berpaling dan tidak peduli—maka jalan terbaik dalam kondisi seperti ini adalah keduanya melakukan perdamaian.Perdamaian itu bisa berupa kesediaan istri untuk menggugurkan sebagian haknya agar tetap dapat mempertahankan rumah tangga. Misalnya:Rela menerima nafkah yang lebih sedikit dari standar yang semestinya.Rela dalam pembagian giliran (bagi yang berpoligami), dengan menggugurkan jatahnya.Menghibahkan hari atau malamnya kepada suami atau kepada istri yang lain.Jika keduanya sepakat atas bentuk perdamaian tersebut, maka tidak ada dosa atas keduanya. Suami boleh tetap bersama istrinya dalam keadaan seperti itu. Dan keadaan ini lebih baik daripada perceraian.Karena itu Allah menegaskan:{وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ}“Dan perdamaian itu lebih baik.”Dari keumuman lafaz ini dipahami bahwa perdamaian dalam setiap perselisihan dan sengketa lebih baik daripada masing-masing pihak menuntut seluruh haknya secara kaku. Sebab dalam perdamaian terdapat perbaikan hubungan, terjaganya kasih sayang, dan tumbuhnya sikap lapang dada.Namun, perdamaian itu sah selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Jika sampai melanggar syariat, maka itu bukan perdamaian, melainkan kezaliman.Setiap hukum tidak akan sempurna kecuali dengan adanya pendorong dan hilangnya penghalang. Dalam masalah perdamaian ini, Allah menyebutkan pendorongnya: karena perdamaian itu baik, dan setiap orang berakal tentu mencintai kebaikan. Apalagi jika Allah sendiri yang memerintahkan dan menganjurkannya, maka seorang mukmin semakin terdorong untuk melakukannya.Adapun penghalangnya adalah:{وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ}“Dan manusia itu menurut tabiatnya kikir.”Jiwa manusia secara naluriah itu syuhh, yaitu berat untuk melepaskan haknya dan sangat ingin mempertahankan apa yang menjadi bagiannya. Ia enggan memberi, tetapi ingin menerima sepenuhnya.Karena itu seseorang harus berusaha membersihkan dirinya dari sifat tercela ini dan menggantinya dengan sifat lapang dada: bersedia menunaikan kewajiban dan rela menerima sebagian haknya saja.Jika seseorang berhasil memiliki sifat ini, maka perdamaian dengan pasangan atau dengan siapa pun akan menjadi mudah. Namun jika ia tetap dikuasai sifat kikir dan egois, maka perdamaian akan sulit tercapai, apalagi jika kedua belah pihak sama-sama keras mempertahankan haknya.Kemudian Allah menutup ayat ini dengan dorongan yang agung:{وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu berbuat baik dan bertakwa.”Berbuat baik kepada Allah dengan beribadah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Dia melihat kita. Berbuat baik kepada sesama dengan segala bentuk kebaikan: harta, ilmu, kedudukan, atau bantuan apa pun.Dan bertakwa dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}“Maka sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”Allah mengetahui lahir dan batin perbuatan hamba. Dia mencatat, menjaga, dan akan membalasnya dengan balasan yang sempurna.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Saudah binti Zam‘ah radhiyallahu ‘anha telah berusia lanjut, Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk berpisah darinya. Maka Saudah mengajukan perdamaian agar tetap dipertahankan sebagai istri, dengan syarat ia menyerahkan hari gilirannya kepada Aisyah. Nabi ﷺ menerima hal itu dan tetap mempertahankannya sebagai istri.Diriwayatkan bahwa: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saudah khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Maka ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku dan jadikan hari giliranku untuk Aisyah.’ Maka beliau pun melakukannya. Lalu turunlah ayat ini: ‘Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak peduli dari suaminya…’.” Ibnu Abbas berkata: “Maka apa saja yang disepakati keduanya dalam perdamaian itu, hukumnya boleh.”Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan HafshahRefleksi: Ayat ini menunjukkan keluwesan syariat dalam menjaga stabilitas keluarga. Tidak semua masalah harus berujung perpisahan. Selama masih ada ruang untuk kompromi yang halal dan saling ridha, maka perdamaian itu lebih baik.Dan semua itu kembali pada kemampuan menundukkan sifat syuḥḥ dalam jiwa—yakni berat melepaskan hak dan ingin menang sendiri. Ketika jiwa dilatih untuk lapang dan mengutamakan maslahat yang lebih besar, maka rumah tangga lebih mudah diselamatkan.Baca juga: Do’a Agar Diselamatkan dari Penyakit ‘Syuh’ (Tamak & Kikir)Prinsip Adil dalam PoligamiAllah Ta’ala berfirman,وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 129)Allah menegaskan bahwa secara tabiat, manusia tidak akan pernah bisa adil 100% dalam hal perasaan (cinta) di antara istri-istri. Namun, yang dilarang adalah keadilan dalam hal lahiriyah (nafkah dan waktu). Suami dilarang terlalu condong kepada satu istri sehingga istri yang lain terabaikan seperti “tergantung” (tidak memiliki status yang jelas sebagai istri namun tidak pula diceraikan).Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para suami tidak akan mampu dan memang tidak berada dalam kekuasaan mereka untuk berbuat adil secara sempurna di antara para istri.Sebab keadilan yang sempurna menuntut kesamaan dalam cinta, dorongan batin, dan kecenderungan hati kepada mereka secara seimbang, lalu bertindak sesuai dengan kecenderungan itu. Hal seperti ini mustahil dan tidak mungkin dilakukan.Karena itulah Allah memaafkan perkara yang tidak mampu dilakukan, dan melarang sesuatu yang masih dalam batas kemampuan, dengan firman-Nya:{فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}“Maka janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”Artinya, janganlah kalian condong secara berlebihan sehingga hak-hak wajib istri tidak ditunaikan. Lakukanlah keadilan dalam perkara yang mampu kalian lakukan.Dalam hal nafkah, pakaian, giliran bermalam, dan hak-hak lahiriah lainnya, kalian wajib berlaku adil. Adapun dalam hal cinta, kecenderungan hati, dan hubungan batin semisalnya, itu di luar kemampuan manusia.Jika seorang suami meninggalkan hak-hak wajib istrinya, maka istrinya akan menjadi seperti wanita yang “tergantung”: bukan istri yang mendapat hak penuh sehingga tenang, dan bukan pula wanita yang bebas sehingga bisa menikah lagi.Kemudian Allah berfirman:{وَإِنْ تُصْلِحُوا}“Dan jika kamu memperbaiki…”Yakni memperbaiki hubungan antara kalian dan para istri dengan memaksa diri melakukan hal yang mungkin tidak disukai jiwa, demi menunaikan hak mereka dan mengharap pahala.Termasuk juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta mendamaikan orang-orang yang berselisih. Ayat ini mendorong semua jalan yang mengantarkan pada perdamaian, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Lalu Allah berfirman:{وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu bertakwa…”Yakni bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, serta bersabar terhadap ketentuan yang Allah takdirkan.{فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}“Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Allah mengampuni dosa dan kekurangan kalian dalam menunaikan hak yang wajib, serta merahmati kalian sebagaimana kalian menyayangi dan berbuat lembut kepada para istri.Baca juga: Hukum Poligami: Ketentuan Menikah dengan Empat Istri dalam Islam Saat Perpisahan Menjadi Jalan TerbaikAllah Ta’ala berfirman,وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)Ayat ini memberikan ketenangan bagi pasangan yang memang sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga. Perceraian bukanlah akhir dari segalanya; Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi masing-masing pihak melalui karunia-Nya yang luas. Hal ini mendidik umat agar tidak saling menzalimi hanya karena takut akan masa depan ekonomi pasca cerai.Imam Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat 128 menyatakan:Allah Ta’ala mengabarkan sekaligus menetapkan hukum tentang keadaan suami istri:terkadang dalam kondisi suami menjauh dan tidak lagi berkenan kepada istrinya,terkadang dalam kondisi keduanya masih rukun dan sepakat,dan terkadang dalam kondisi keduanya berpisah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan sebagai berikut.Inilah keadaan ketiga dalam hubungan suami istri. Jika kesepakatan tidak lagi mungkin dicapai, maka tidak mengapa terjadi perpisahan. Allah berfirman:{وَإِنْ يَتَفَرَّقَا}“Dan jika keduanya berpisah…”Yakni melalui talak, fasakh, khulu’, atau bentuk perpisahan lainnya.{يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ}“Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan karunia-Nya.”Artinya, Allah akan mencukupi suami dan istri dengan karunia dan kebaikan-Nya yang luas. Bisa jadi suami diberi istri yang lebih baik baginya, dan istri pun diberi kecukupan dari karunia Allah meskipun ia tidak lagi bersama suaminya. Rezekinya tetap berada di tangan Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluk dan mengatur kemaslahatan mereka.Boleh jadi Allah memberinya pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.Kemudian Allah berfirman:{وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا}“Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya).”Yakni luas karunia dan rahmat-Nya. Rahmat dan kebaikan-Nya meliputi segala sesuatu sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.Namun Allah juga:{حَكِيمًا}“Maha Bijaksana.”Dia memberi karena hikmah dan menahan karena hikmah. Jika hikmah-Nya menuntut untuk menahan sebagian hamba dari karunia tertentu—karena ada sebab dari diri hamba yang tidak layak mendapatkan tambahan kebaikan—maka Allah menahannya dengan keadilan dan kebijaksanaan. Kesimpulan dan Refleksi PraktisQS. An-Nisa: 127Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dalam keluarga adalah amanah besar, terutama terhadap pihak yang lemah seperti perempuan dan anak yatim. Dalam praktik rumah tangga hari ini, ini berarti tidak boleh ada manipulasi harta, tekanan dalam pernikahan, atau pengambilan keputusan sepihak yang merugikan pihak yang lebih lemah. Wali, orang tua, atau siapa pun yang memegang kendali finansial wajib bersikap transparan dan bertanggung jawab. Setiap bentuk kebaikan dan kejujuran dalam menjaga hak keluarga tidak pernah luput dari pengawasan Allah, sehingga keadilan harus ditegakkan bukan hanya karena hukum sosial, tetapi karena kesadaran iman.QS. An-Nisa: 128Ayat ini mengajarkan bahwa ketika rumah tangga mulai retak karena sikap dingin atau berpalingnya pasangan, solusi pertama adalah perdamaian, bukan perpisahan. Dalam kehidupan modern, ini berarti membuka ruang dialog, menurunkan ego, dan bersedia berkompromi selama tidak melanggar syariat. Tidak semua hak harus dituntut secara maksimal jika itu menghancurkan hubungan; kadang merelakan sebagian hak adalah jalan untuk menjaga keutuhan keluarga. Namun perdamaian harus dibangun di atas kerelaan dan kejujuran, bukan paksaan atau kezaliman. Tantangan terbesar dalam konflik bukan kurangnya cinta, tetapi kuatnya sifat egois dalam diri, dan di situlah latihan takwa menjadi kunci.QS. An-Nisa: 129Ayat ini memberikan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Adil sepenuhnya dalam urusan hati memang mustahil, tetapi adil dalam hak-hak lahiriah adalah kewajiban. Dalam praktiknya, suami tidak boleh menelantarkan salah satu istri dalam nafkah, perhatian, dan tanggung jawab yang bisa diusahakan. Prinsip ini juga relevan secara umum dalam rumah tangga: jangan membiarkan pasangan merasa “tergantung”, tidak bahagia tetapi juga tidak diberi kejelasan. Allah memaafkan kekurangan yang di luar kemampuan manusia, tetapi tidak membenarkan kezaliman dalam perkara yang mampu dilakukan. Karena itu, keadilan lahir dari kesungguhan memperbaiki diri dan kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi.QS. An-Nisa: 130Ayat ini memberi ketenangan bahwa jika seluruh upaya perbaikan gagal dan kebersamaan justru membawa mudarat, maka perpisahan bukanlah dosa. Dalam konteks masa kini, pasangan tidak perlu bertahan dalam hubungan yang penuh kezaliman hanya karena takut kehilangan nafkah atau masa depan. Allah yang menyatukan juga Allah yang mencukupi setelah perpisahan. Namun keputusan ini harus menjadi jalan terakhir setelah usaha ishlah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah menjadi penopang utama, karena Dia Maha Luas karunia-Nya dan Maha Bijaksana dalam setiap takdir-Nya.Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dibangun di atas keadilan, kelapangan hati, dan ketakwaan. Semoga Dia menjaga kita dari sifat zalim, egois, dan kikir terhadap hak pasangan, serta memberi taufik untuk selalu memilih perdamaian selama itu baik dan diridai-Nya.Ya Allah, perbaikilah hubungan kami dengan pasangan dan keluarga kami, lapangkan hati kami untuk menunaikan hak-hak mereka, dan jika Engkau takdirkan ujian dalam rumah tangga kami, maka berikanlah jalan keluar terbaik serta kecukupan dari keluasan karunia-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic   —– Ahad sore sebelum Maghrib, 5 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadil dalam poligami fikih keluarga hak anak yatim hak perempuan dalam Islam hukum perceraian dalam Islam hukum rumah tangga dalam Islam keadilan dalam islam keluarga sakinah nasihat pernikahan Islami nusyuz dalam rumah tangga perdamaian dalam Islam poligami poligami dalam Islam renungan ayat renungan quran solusi konflik rumah tangga syarat poligami syuhh dalam Islam talak dalam Islam

Keadilan bagi Perempuan, Solusi Konflik Rumah Tangga, dan Hikmah Perpisahan (Tafsir Surah An-Nisa Ayat 127–130)

Surah An-Nisa ayat 127–130 memberikan panduan lengkap tentang dinamika rumah tangga: dari kewajiban adil terhadap perempuan dan anak yatim, solusi saat hubungan retak, hingga kebolehan berpisah ketika tak lagi bisa dipertahankan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis dalam memandang kehidupan keluarga. Di dalamnya terdapat prinsip keadilan, kelapangan dada, tanggung jawab, dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Keadilan bagi Perempuan dan Anak Yatim 2. Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga Retak 3. Prinsip Adil dalam Poligami 4. Saat Perpisahan Menjadi Jalan Terbaik 5. Kesimpulan dan Refleksi Praktis 5.1. QS. An-Nisa: 127 5.2. QS. An-Nisa: 128 5.3. QS. An-Nisa: 129 5.4. QS. An-Nisa: 130  Keadilan bagi Perempuan dan Anak YatimAllah Ta’ala berfirman,وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ ۖ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ فِى يَتَٰمَى ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَٰنِ وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتَٰمَىٰ بِٱلْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. An-Nisa: 127)Ayat ini menegaskan kembali pentingnya memberikan mahar dan hak waris kepada wanita yatim. Ada teguran bagi wali yang ingin menikahi wanita yatim di bawah asuhannya hanya karena mengincar hartanya atau kecantikannya namun tidak mau memberikan haknya secara penuh.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya.Al-istifta’ adalah permintaan seseorang kepada pihak yang berwenang untuk menjelaskan hukum syariat mengenai suatu perkara.Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa kaum mukminin meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan para wanita. Lalu Allah sendiri yang mengambil alih penjelasan hukum tersebut dengan berfirman:{قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ}“Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka.”Artinya, amalkanlah apa yang Allah fatwakan kepada kalian dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan wanita: menunaikan hak-hak mereka dan meninggalkan segala bentuk kezaliman terhadap mereka, baik secara umum maupun khusus.Perintah ini bersifat umum, mencakup seluruh hukum yang Allah syariatkan terkait wanita, baik perintah maupun larangan, baik bagi istri maupun selainnya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.Setelah penegasan umum tersebut, Allah secara khusus menekankan wasiat tentang orang-orang yang lemah, yaitu anak-anak yatim dan anak-anak kecil, sebagai bentuk perhatian besar terhadap mereka dan sebagai peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan hak mereka.Allah berfirman:{وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي ٱلْكِتَابِ فِي يَتَامَى ٱلنِّسَاءِ}“Dan juga tentang apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab mengenai wanita-wanita yatim.”Yakni Allah juga memberi fatwa kepada kalian tentang hukum yang telah dibacakan dalam Al-Qur’an terkait para wanita yatim.Kemudian Allah menjelaskan kondisi yang terjadi saat itu:{ٱلَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ}“Yaitu wanita-wanita yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan untuk mereka.”Pada masa itu, seorang anak yatim perempuan yang berada dalam perwalian seorang laki-laki seringkali dizalimi. Bentuk kezaliman itu bermacam-macam:Walinya memakan seluruh atau sebagian hartanya.Ia menahannya dari pernikahan agar tetap bisa memanfaatkan hartanya, karena khawatir jika ia menikah, hartanya akan lepas dari tangannya.Ia mengambil sebagian mahar anak yatim tersebut, baik dengan syarat tertentu atau tanpa syarat.Jika wali tersebut tidak tertarik untuk menikahinya, ia menahannya demi hartanya. Jika ia tertarik karena kecantikan dan hartanya, ia tetap tidak berlaku adil dalam mahar, melainkan memberinya kurang dari yang semestinya ia terima.Semua bentuk perlakuan ini termasuk kezaliman yang tercakup dalam ayat ini.Karena itu Allah berfirman:{وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ}“Sedangkan kamu ingin menikahi mereka.”Maksudnya, kalian bisa jadi tidak ingin menikahi mereka, atau justru ingin menikahi mereka, sebagaimana telah dijelaskan contohnya. Dalam kedua keadaan tersebut, kalian tetap diperintahkan untuk berlaku adil dan tidak menzalimi.Kemudian Allah menyebutkan:{وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَانِ}“Dan juga tentang anak-anak yang lemah.”Yakni Allah memberi fatwa kepada kalian mengenai anak-anak kecil yang lemah agar kalian memberikan hak mereka, baik dalam warisan maupun selainnya, dan agar kalian tidak menguasai harta mereka dengan cara zalim dan sewenang-wenang.Selanjutnya Allah berfirman:{وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِٱلْقِسْطِ}“Dan hendaklah kamu berlaku adil terhadap anak-anak yatim.”Artinya, berlaku dengan keadilan yang sempurna.Ini mencakup dua hal:Menegakkan kewajiban agama atas mereka, dengan membimbing mereka kepada perintah Allah dan kewajiban syariat. Para wali bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mewajibkan mereka dalam hal-hal yang Allah wajibkan.Mengurus kepentingan duniawi mereka, seperti mengembangkan harta mereka dan mencari yang paling bermanfaat bagi mereka, serta tidak mendekati harta mereka kecuali dengan cara yang terbaik.Selain itu, tidak boleh memihak teman atau siapa pun dalam urusan mereka—baik dalam pernikahan maupun yang lainnya—dengan cara yang merugikan hak anak yatim tersebut.Semua ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sangat menekankan agar diperhatikan kepentingan orang-orang yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri karena kelemahan dan kehilangan ayah.Kemudian Allah mendorong untuk berbuat baik secara umum:{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ}“Dan apa pun kebaikan yang kamu kerjakan,”baik kepada anak-anak yatim maupun kepada selain mereka, baik kebaikan yang manfaatnya meluas kepada orang lain maupun yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri,{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا}“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”Ilmu Allah meliputi seluruh amal perbuatan para pelaku kebaikan—baik sedikit maupun banyak, baik yang baik maupun yang sebaliknya—dan Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di. Adapun penerapan ayat tersebut di antaranya:Jangan memanfaatkan kelemahan pihak yang lemah. Anak yatim, anak kecil, perempuan yang berada di bawah perwalian, atau siapa pun yang bergantung secara finansial tidak boleh dimanfaatkan demi keuntungan pribadi, baik dalam urusan harta, pernikahan, maupun keputusan hidup.Kelola harta amanah secara profesional dan transparan. Jika mengurus harta anak yatim atau anggota keluarga yang belum cakap hukum, kelola dengan penuh tanggung jawab, transparan, dan demi maslahat mereka—bukan demi kepentingan pribadi.Adil dalam urusan pernikahan.Jangan menghalangi perempuan menikah demi kepentingan ekonomi keluarga. Jangan pula menekan mahar atau hak-haknya karena posisi tawar yang lemah.Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga RetakAllah Ta’ala berfirman,وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Jika terjadi ketidakharmonisan (nushuz) dari pihak suami (seperti sikap dingin atau tidak perhatian), Al-Qur’an menganjurkan jalan perdamaian. Istri diperbolehkan merelakan sebagian haknya (misalnya jatah waktu atau nafkah) demi mempertahankan ikatan pernikahan. Prinsipnya adalah “perdamaian itu lebih baik” daripada perceraian.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Jika seorang istri merasa khawatir akan nusyuz suaminya—yakni suami mulai meninggikan diri darinya, tidak lagi tertarik, atau berpaling dan tidak peduli—maka jalan terbaik dalam kondisi seperti ini adalah keduanya melakukan perdamaian.Perdamaian itu bisa berupa kesediaan istri untuk menggugurkan sebagian haknya agar tetap dapat mempertahankan rumah tangga. Misalnya:Rela menerima nafkah yang lebih sedikit dari standar yang semestinya.Rela dalam pembagian giliran (bagi yang berpoligami), dengan menggugurkan jatahnya.Menghibahkan hari atau malamnya kepada suami atau kepada istri yang lain.Jika keduanya sepakat atas bentuk perdamaian tersebut, maka tidak ada dosa atas keduanya. Suami boleh tetap bersama istrinya dalam keadaan seperti itu. Dan keadaan ini lebih baik daripada perceraian.Karena itu Allah menegaskan:{وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ}“Dan perdamaian itu lebih baik.”Dari keumuman lafaz ini dipahami bahwa perdamaian dalam setiap perselisihan dan sengketa lebih baik daripada masing-masing pihak menuntut seluruh haknya secara kaku. Sebab dalam perdamaian terdapat perbaikan hubungan, terjaganya kasih sayang, dan tumbuhnya sikap lapang dada.Namun, perdamaian itu sah selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Jika sampai melanggar syariat, maka itu bukan perdamaian, melainkan kezaliman.Setiap hukum tidak akan sempurna kecuali dengan adanya pendorong dan hilangnya penghalang. Dalam masalah perdamaian ini, Allah menyebutkan pendorongnya: karena perdamaian itu baik, dan setiap orang berakal tentu mencintai kebaikan. Apalagi jika Allah sendiri yang memerintahkan dan menganjurkannya, maka seorang mukmin semakin terdorong untuk melakukannya.Adapun penghalangnya adalah:{وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ}“Dan manusia itu menurut tabiatnya kikir.”Jiwa manusia secara naluriah itu syuhh, yaitu berat untuk melepaskan haknya dan sangat ingin mempertahankan apa yang menjadi bagiannya. Ia enggan memberi, tetapi ingin menerima sepenuhnya.Karena itu seseorang harus berusaha membersihkan dirinya dari sifat tercela ini dan menggantinya dengan sifat lapang dada: bersedia menunaikan kewajiban dan rela menerima sebagian haknya saja.Jika seseorang berhasil memiliki sifat ini, maka perdamaian dengan pasangan atau dengan siapa pun akan menjadi mudah. Namun jika ia tetap dikuasai sifat kikir dan egois, maka perdamaian akan sulit tercapai, apalagi jika kedua belah pihak sama-sama keras mempertahankan haknya.Kemudian Allah menutup ayat ini dengan dorongan yang agung:{وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu berbuat baik dan bertakwa.”Berbuat baik kepada Allah dengan beribadah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Dia melihat kita. Berbuat baik kepada sesama dengan segala bentuk kebaikan: harta, ilmu, kedudukan, atau bantuan apa pun.Dan bertakwa dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}“Maka sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”Allah mengetahui lahir dan batin perbuatan hamba. Dia mencatat, menjaga, dan akan membalasnya dengan balasan yang sempurna.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Saudah binti Zam‘ah radhiyallahu ‘anha telah berusia lanjut, Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk berpisah darinya. Maka Saudah mengajukan perdamaian agar tetap dipertahankan sebagai istri, dengan syarat ia menyerahkan hari gilirannya kepada Aisyah. Nabi ﷺ menerima hal itu dan tetap mempertahankannya sebagai istri.Diriwayatkan bahwa: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saudah khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Maka ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku dan jadikan hari giliranku untuk Aisyah.’ Maka beliau pun melakukannya. Lalu turunlah ayat ini: ‘Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak peduli dari suaminya…’.” Ibnu Abbas berkata: “Maka apa saja yang disepakati keduanya dalam perdamaian itu, hukumnya boleh.”Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan HafshahRefleksi: Ayat ini menunjukkan keluwesan syariat dalam menjaga stabilitas keluarga. Tidak semua masalah harus berujung perpisahan. Selama masih ada ruang untuk kompromi yang halal dan saling ridha, maka perdamaian itu lebih baik.Dan semua itu kembali pada kemampuan menundukkan sifat syuḥḥ dalam jiwa—yakni berat melepaskan hak dan ingin menang sendiri. Ketika jiwa dilatih untuk lapang dan mengutamakan maslahat yang lebih besar, maka rumah tangga lebih mudah diselamatkan.Baca juga: Do’a Agar Diselamatkan dari Penyakit ‘Syuh’ (Tamak & Kikir)Prinsip Adil dalam PoligamiAllah Ta’ala berfirman,وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 129)Allah menegaskan bahwa secara tabiat, manusia tidak akan pernah bisa adil 100% dalam hal perasaan (cinta) di antara istri-istri. Namun, yang dilarang adalah keadilan dalam hal lahiriyah (nafkah dan waktu). Suami dilarang terlalu condong kepada satu istri sehingga istri yang lain terabaikan seperti “tergantung” (tidak memiliki status yang jelas sebagai istri namun tidak pula diceraikan).Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para suami tidak akan mampu dan memang tidak berada dalam kekuasaan mereka untuk berbuat adil secara sempurna di antara para istri.Sebab keadilan yang sempurna menuntut kesamaan dalam cinta, dorongan batin, dan kecenderungan hati kepada mereka secara seimbang, lalu bertindak sesuai dengan kecenderungan itu. Hal seperti ini mustahil dan tidak mungkin dilakukan.Karena itulah Allah memaafkan perkara yang tidak mampu dilakukan, dan melarang sesuatu yang masih dalam batas kemampuan, dengan firman-Nya:{فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}“Maka janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”Artinya, janganlah kalian condong secara berlebihan sehingga hak-hak wajib istri tidak ditunaikan. Lakukanlah keadilan dalam perkara yang mampu kalian lakukan.Dalam hal nafkah, pakaian, giliran bermalam, dan hak-hak lahiriah lainnya, kalian wajib berlaku adil. Adapun dalam hal cinta, kecenderungan hati, dan hubungan batin semisalnya, itu di luar kemampuan manusia.Jika seorang suami meninggalkan hak-hak wajib istrinya, maka istrinya akan menjadi seperti wanita yang “tergantung”: bukan istri yang mendapat hak penuh sehingga tenang, dan bukan pula wanita yang bebas sehingga bisa menikah lagi.Kemudian Allah berfirman:{وَإِنْ تُصْلِحُوا}“Dan jika kamu memperbaiki…”Yakni memperbaiki hubungan antara kalian dan para istri dengan memaksa diri melakukan hal yang mungkin tidak disukai jiwa, demi menunaikan hak mereka dan mengharap pahala.Termasuk juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta mendamaikan orang-orang yang berselisih. Ayat ini mendorong semua jalan yang mengantarkan pada perdamaian, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Lalu Allah berfirman:{وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu bertakwa…”Yakni bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, serta bersabar terhadap ketentuan yang Allah takdirkan.{فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}“Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Allah mengampuni dosa dan kekurangan kalian dalam menunaikan hak yang wajib, serta merahmati kalian sebagaimana kalian menyayangi dan berbuat lembut kepada para istri.Baca juga: Hukum Poligami: Ketentuan Menikah dengan Empat Istri dalam Islam Saat Perpisahan Menjadi Jalan TerbaikAllah Ta’ala berfirman,وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)Ayat ini memberikan ketenangan bagi pasangan yang memang sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga. Perceraian bukanlah akhir dari segalanya; Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi masing-masing pihak melalui karunia-Nya yang luas. Hal ini mendidik umat agar tidak saling menzalimi hanya karena takut akan masa depan ekonomi pasca cerai.Imam Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat 128 menyatakan:Allah Ta’ala mengabarkan sekaligus menetapkan hukum tentang keadaan suami istri:terkadang dalam kondisi suami menjauh dan tidak lagi berkenan kepada istrinya,terkadang dalam kondisi keduanya masih rukun dan sepakat,dan terkadang dalam kondisi keduanya berpisah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan sebagai berikut.Inilah keadaan ketiga dalam hubungan suami istri. Jika kesepakatan tidak lagi mungkin dicapai, maka tidak mengapa terjadi perpisahan. Allah berfirman:{وَإِنْ يَتَفَرَّقَا}“Dan jika keduanya berpisah…”Yakni melalui talak, fasakh, khulu’, atau bentuk perpisahan lainnya.{يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ}“Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan karunia-Nya.”Artinya, Allah akan mencukupi suami dan istri dengan karunia dan kebaikan-Nya yang luas. Bisa jadi suami diberi istri yang lebih baik baginya, dan istri pun diberi kecukupan dari karunia Allah meskipun ia tidak lagi bersama suaminya. Rezekinya tetap berada di tangan Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluk dan mengatur kemaslahatan mereka.Boleh jadi Allah memberinya pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.Kemudian Allah berfirman:{وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا}“Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya).”Yakni luas karunia dan rahmat-Nya. Rahmat dan kebaikan-Nya meliputi segala sesuatu sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.Namun Allah juga:{حَكِيمًا}“Maha Bijaksana.”Dia memberi karena hikmah dan menahan karena hikmah. Jika hikmah-Nya menuntut untuk menahan sebagian hamba dari karunia tertentu—karena ada sebab dari diri hamba yang tidak layak mendapatkan tambahan kebaikan—maka Allah menahannya dengan keadilan dan kebijaksanaan. Kesimpulan dan Refleksi PraktisQS. An-Nisa: 127Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dalam keluarga adalah amanah besar, terutama terhadap pihak yang lemah seperti perempuan dan anak yatim. Dalam praktik rumah tangga hari ini, ini berarti tidak boleh ada manipulasi harta, tekanan dalam pernikahan, atau pengambilan keputusan sepihak yang merugikan pihak yang lebih lemah. Wali, orang tua, atau siapa pun yang memegang kendali finansial wajib bersikap transparan dan bertanggung jawab. Setiap bentuk kebaikan dan kejujuran dalam menjaga hak keluarga tidak pernah luput dari pengawasan Allah, sehingga keadilan harus ditegakkan bukan hanya karena hukum sosial, tetapi karena kesadaran iman.QS. An-Nisa: 128Ayat ini mengajarkan bahwa ketika rumah tangga mulai retak karena sikap dingin atau berpalingnya pasangan, solusi pertama adalah perdamaian, bukan perpisahan. Dalam kehidupan modern, ini berarti membuka ruang dialog, menurunkan ego, dan bersedia berkompromi selama tidak melanggar syariat. Tidak semua hak harus dituntut secara maksimal jika itu menghancurkan hubungan; kadang merelakan sebagian hak adalah jalan untuk menjaga keutuhan keluarga. Namun perdamaian harus dibangun di atas kerelaan dan kejujuran, bukan paksaan atau kezaliman. Tantangan terbesar dalam konflik bukan kurangnya cinta, tetapi kuatnya sifat egois dalam diri, dan di situlah latihan takwa menjadi kunci.QS. An-Nisa: 129Ayat ini memberikan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Adil sepenuhnya dalam urusan hati memang mustahil, tetapi adil dalam hak-hak lahiriah adalah kewajiban. Dalam praktiknya, suami tidak boleh menelantarkan salah satu istri dalam nafkah, perhatian, dan tanggung jawab yang bisa diusahakan. Prinsip ini juga relevan secara umum dalam rumah tangga: jangan membiarkan pasangan merasa “tergantung”, tidak bahagia tetapi juga tidak diberi kejelasan. Allah memaafkan kekurangan yang di luar kemampuan manusia, tetapi tidak membenarkan kezaliman dalam perkara yang mampu dilakukan. Karena itu, keadilan lahir dari kesungguhan memperbaiki diri dan kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi.QS. An-Nisa: 130Ayat ini memberi ketenangan bahwa jika seluruh upaya perbaikan gagal dan kebersamaan justru membawa mudarat, maka perpisahan bukanlah dosa. Dalam konteks masa kini, pasangan tidak perlu bertahan dalam hubungan yang penuh kezaliman hanya karena takut kehilangan nafkah atau masa depan. Allah yang menyatukan juga Allah yang mencukupi setelah perpisahan. Namun keputusan ini harus menjadi jalan terakhir setelah usaha ishlah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah menjadi penopang utama, karena Dia Maha Luas karunia-Nya dan Maha Bijaksana dalam setiap takdir-Nya.Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dibangun di atas keadilan, kelapangan hati, dan ketakwaan. Semoga Dia menjaga kita dari sifat zalim, egois, dan kikir terhadap hak pasangan, serta memberi taufik untuk selalu memilih perdamaian selama itu baik dan diridai-Nya.Ya Allah, perbaikilah hubungan kami dengan pasangan dan keluarga kami, lapangkan hati kami untuk menunaikan hak-hak mereka, dan jika Engkau takdirkan ujian dalam rumah tangga kami, maka berikanlah jalan keluar terbaik serta kecukupan dari keluasan karunia-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic   —– Ahad sore sebelum Maghrib, 5 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadil dalam poligami fikih keluarga hak anak yatim hak perempuan dalam Islam hukum perceraian dalam Islam hukum rumah tangga dalam Islam keadilan dalam islam keluarga sakinah nasihat pernikahan Islami nusyuz dalam rumah tangga perdamaian dalam Islam poligami poligami dalam Islam renungan ayat renungan quran solusi konflik rumah tangga syarat poligami syuhh dalam Islam talak dalam Islam
Surah An-Nisa ayat 127–130 memberikan panduan lengkap tentang dinamika rumah tangga: dari kewajiban adil terhadap perempuan dan anak yatim, solusi saat hubungan retak, hingga kebolehan berpisah ketika tak lagi bisa dipertahankan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis dalam memandang kehidupan keluarga. Di dalamnya terdapat prinsip keadilan, kelapangan dada, tanggung jawab, dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Keadilan bagi Perempuan dan Anak Yatim 2. Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga Retak 3. Prinsip Adil dalam Poligami 4. Saat Perpisahan Menjadi Jalan Terbaik 5. Kesimpulan dan Refleksi Praktis 5.1. QS. An-Nisa: 127 5.2. QS. An-Nisa: 128 5.3. QS. An-Nisa: 129 5.4. QS. An-Nisa: 130  Keadilan bagi Perempuan dan Anak YatimAllah Ta’ala berfirman,وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ ۖ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ فِى يَتَٰمَى ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَٰنِ وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتَٰمَىٰ بِٱلْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. An-Nisa: 127)Ayat ini menegaskan kembali pentingnya memberikan mahar dan hak waris kepada wanita yatim. Ada teguran bagi wali yang ingin menikahi wanita yatim di bawah asuhannya hanya karena mengincar hartanya atau kecantikannya namun tidak mau memberikan haknya secara penuh.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya.Al-istifta’ adalah permintaan seseorang kepada pihak yang berwenang untuk menjelaskan hukum syariat mengenai suatu perkara.Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa kaum mukminin meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan para wanita. Lalu Allah sendiri yang mengambil alih penjelasan hukum tersebut dengan berfirman:{قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ}“Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka.”Artinya, amalkanlah apa yang Allah fatwakan kepada kalian dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan wanita: menunaikan hak-hak mereka dan meninggalkan segala bentuk kezaliman terhadap mereka, baik secara umum maupun khusus.Perintah ini bersifat umum, mencakup seluruh hukum yang Allah syariatkan terkait wanita, baik perintah maupun larangan, baik bagi istri maupun selainnya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.Setelah penegasan umum tersebut, Allah secara khusus menekankan wasiat tentang orang-orang yang lemah, yaitu anak-anak yatim dan anak-anak kecil, sebagai bentuk perhatian besar terhadap mereka dan sebagai peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan hak mereka.Allah berfirman:{وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي ٱلْكِتَابِ فِي يَتَامَى ٱلنِّسَاءِ}“Dan juga tentang apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab mengenai wanita-wanita yatim.”Yakni Allah juga memberi fatwa kepada kalian tentang hukum yang telah dibacakan dalam Al-Qur’an terkait para wanita yatim.Kemudian Allah menjelaskan kondisi yang terjadi saat itu:{ٱلَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ}“Yaitu wanita-wanita yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan untuk mereka.”Pada masa itu, seorang anak yatim perempuan yang berada dalam perwalian seorang laki-laki seringkali dizalimi. Bentuk kezaliman itu bermacam-macam:Walinya memakan seluruh atau sebagian hartanya.Ia menahannya dari pernikahan agar tetap bisa memanfaatkan hartanya, karena khawatir jika ia menikah, hartanya akan lepas dari tangannya.Ia mengambil sebagian mahar anak yatim tersebut, baik dengan syarat tertentu atau tanpa syarat.Jika wali tersebut tidak tertarik untuk menikahinya, ia menahannya demi hartanya. Jika ia tertarik karena kecantikan dan hartanya, ia tetap tidak berlaku adil dalam mahar, melainkan memberinya kurang dari yang semestinya ia terima.Semua bentuk perlakuan ini termasuk kezaliman yang tercakup dalam ayat ini.Karena itu Allah berfirman:{وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ}“Sedangkan kamu ingin menikahi mereka.”Maksudnya, kalian bisa jadi tidak ingin menikahi mereka, atau justru ingin menikahi mereka, sebagaimana telah dijelaskan contohnya. Dalam kedua keadaan tersebut, kalian tetap diperintahkan untuk berlaku adil dan tidak menzalimi.Kemudian Allah menyebutkan:{وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَانِ}“Dan juga tentang anak-anak yang lemah.”Yakni Allah memberi fatwa kepada kalian mengenai anak-anak kecil yang lemah agar kalian memberikan hak mereka, baik dalam warisan maupun selainnya, dan agar kalian tidak menguasai harta mereka dengan cara zalim dan sewenang-wenang.Selanjutnya Allah berfirman:{وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِٱلْقِسْطِ}“Dan hendaklah kamu berlaku adil terhadap anak-anak yatim.”Artinya, berlaku dengan keadilan yang sempurna.Ini mencakup dua hal:Menegakkan kewajiban agama atas mereka, dengan membimbing mereka kepada perintah Allah dan kewajiban syariat. Para wali bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mewajibkan mereka dalam hal-hal yang Allah wajibkan.Mengurus kepentingan duniawi mereka, seperti mengembangkan harta mereka dan mencari yang paling bermanfaat bagi mereka, serta tidak mendekati harta mereka kecuali dengan cara yang terbaik.Selain itu, tidak boleh memihak teman atau siapa pun dalam urusan mereka—baik dalam pernikahan maupun yang lainnya—dengan cara yang merugikan hak anak yatim tersebut.Semua ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sangat menekankan agar diperhatikan kepentingan orang-orang yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri karena kelemahan dan kehilangan ayah.Kemudian Allah mendorong untuk berbuat baik secara umum:{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ}“Dan apa pun kebaikan yang kamu kerjakan,”baik kepada anak-anak yatim maupun kepada selain mereka, baik kebaikan yang manfaatnya meluas kepada orang lain maupun yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri,{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا}“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”Ilmu Allah meliputi seluruh amal perbuatan para pelaku kebaikan—baik sedikit maupun banyak, baik yang baik maupun yang sebaliknya—dan Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di. Adapun penerapan ayat tersebut di antaranya:Jangan memanfaatkan kelemahan pihak yang lemah. Anak yatim, anak kecil, perempuan yang berada di bawah perwalian, atau siapa pun yang bergantung secara finansial tidak boleh dimanfaatkan demi keuntungan pribadi, baik dalam urusan harta, pernikahan, maupun keputusan hidup.Kelola harta amanah secara profesional dan transparan. Jika mengurus harta anak yatim atau anggota keluarga yang belum cakap hukum, kelola dengan penuh tanggung jawab, transparan, dan demi maslahat mereka—bukan demi kepentingan pribadi.Adil dalam urusan pernikahan.Jangan menghalangi perempuan menikah demi kepentingan ekonomi keluarga. Jangan pula menekan mahar atau hak-haknya karena posisi tawar yang lemah.Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga RetakAllah Ta’ala berfirman,وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Jika terjadi ketidakharmonisan (nushuz) dari pihak suami (seperti sikap dingin atau tidak perhatian), Al-Qur’an menganjurkan jalan perdamaian. Istri diperbolehkan merelakan sebagian haknya (misalnya jatah waktu atau nafkah) demi mempertahankan ikatan pernikahan. Prinsipnya adalah “perdamaian itu lebih baik” daripada perceraian.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Jika seorang istri merasa khawatir akan nusyuz suaminya—yakni suami mulai meninggikan diri darinya, tidak lagi tertarik, atau berpaling dan tidak peduli—maka jalan terbaik dalam kondisi seperti ini adalah keduanya melakukan perdamaian.Perdamaian itu bisa berupa kesediaan istri untuk menggugurkan sebagian haknya agar tetap dapat mempertahankan rumah tangga. Misalnya:Rela menerima nafkah yang lebih sedikit dari standar yang semestinya.Rela dalam pembagian giliran (bagi yang berpoligami), dengan menggugurkan jatahnya.Menghibahkan hari atau malamnya kepada suami atau kepada istri yang lain.Jika keduanya sepakat atas bentuk perdamaian tersebut, maka tidak ada dosa atas keduanya. Suami boleh tetap bersama istrinya dalam keadaan seperti itu. Dan keadaan ini lebih baik daripada perceraian.Karena itu Allah menegaskan:{وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ}“Dan perdamaian itu lebih baik.”Dari keumuman lafaz ini dipahami bahwa perdamaian dalam setiap perselisihan dan sengketa lebih baik daripada masing-masing pihak menuntut seluruh haknya secara kaku. Sebab dalam perdamaian terdapat perbaikan hubungan, terjaganya kasih sayang, dan tumbuhnya sikap lapang dada.Namun, perdamaian itu sah selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Jika sampai melanggar syariat, maka itu bukan perdamaian, melainkan kezaliman.Setiap hukum tidak akan sempurna kecuali dengan adanya pendorong dan hilangnya penghalang. Dalam masalah perdamaian ini, Allah menyebutkan pendorongnya: karena perdamaian itu baik, dan setiap orang berakal tentu mencintai kebaikan. Apalagi jika Allah sendiri yang memerintahkan dan menganjurkannya, maka seorang mukmin semakin terdorong untuk melakukannya.Adapun penghalangnya adalah:{وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ}“Dan manusia itu menurut tabiatnya kikir.”Jiwa manusia secara naluriah itu syuhh, yaitu berat untuk melepaskan haknya dan sangat ingin mempertahankan apa yang menjadi bagiannya. Ia enggan memberi, tetapi ingin menerima sepenuhnya.Karena itu seseorang harus berusaha membersihkan dirinya dari sifat tercela ini dan menggantinya dengan sifat lapang dada: bersedia menunaikan kewajiban dan rela menerima sebagian haknya saja.Jika seseorang berhasil memiliki sifat ini, maka perdamaian dengan pasangan atau dengan siapa pun akan menjadi mudah. Namun jika ia tetap dikuasai sifat kikir dan egois, maka perdamaian akan sulit tercapai, apalagi jika kedua belah pihak sama-sama keras mempertahankan haknya.Kemudian Allah menutup ayat ini dengan dorongan yang agung:{وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu berbuat baik dan bertakwa.”Berbuat baik kepada Allah dengan beribadah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Dia melihat kita. Berbuat baik kepada sesama dengan segala bentuk kebaikan: harta, ilmu, kedudukan, atau bantuan apa pun.Dan bertakwa dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}“Maka sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”Allah mengetahui lahir dan batin perbuatan hamba. Dia mencatat, menjaga, dan akan membalasnya dengan balasan yang sempurna.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Saudah binti Zam‘ah radhiyallahu ‘anha telah berusia lanjut, Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk berpisah darinya. Maka Saudah mengajukan perdamaian agar tetap dipertahankan sebagai istri, dengan syarat ia menyerahkan hari gilirannya kepada Aisyah. Nabi ﷺ menerima hal itu dan tetap mempertahankannya sebagai istri.Diriwayatkan bahwa: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saudah khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Maka ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku dan jadikan hari giliranku untuk Aisyah.’ Maka beliau pun melakukannya. Lalu turunlah ayat ini: ‘Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak peduli dari suaminya…’.” Ibnu Abbas berkata: “Maka apa saja yang disepakati keduanya dalam perdamaian itu, hukumnya boleh.”Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan HafshahRefleksi: Ayat ini menunjukkan keluwesan syariat dalam menjaga stabilitas keluarga. Tidak semua masalah harus berujung perpisahan. Selama masih ada ruang untuk kompromi yang halal dan saling ridha, maka perdamaian itu lebih baik.Dan semua itu kembali pada kemampuan menundukkan sifat syuḥḥ dalam jiwa—yakni berat melepaskan hak dan ingin menang sendiri. Ketika jiwa dilatih untuk lapang dan mengutamakan maslahat yang lebih besar, maka rumah tangga lebih mudah diselamatkan.Baca juga: Do’a Agar Diselamatkan dari Penyakit ‘Syuh’ (Tamak & Kikir)Prinsip Adil dalam PoligamiAllah Ta’ala berfirman,وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 129)Allah menegaskan bahwa secara tabiat, manusia tidak akan pernah bisa adil 100% dalam hal perasaan (cinta) di antara istri-istri. Namun, yang dilarang adalah keadilan dalam hal lahiriyah (nafkah dan waktu). Suami dilarang terlalu condong kepada satu istri sehingga istri yang lain terabaikan seperti “tergantung” (tidak memiliki status yang jelas sebagai istri namun tidak pula diceraikan).Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para suami tidak akan mampu dan memang tidak berada dalam kekuasaan mereka untuk berbuat adil secara sempurna di antara para istri.Sebab keadilan yang sempurna menuntut kesamaan dalam cinta, dorongan batin, dan kecenderungan hati kepada mereka secara seimbang, lalu bertindak sesuai dengan kecenderungan itu. Hal seperti ini mustahil dan tidak mungkin dilakukan.Karena itulah Allah memaafkan perkara yang tidak mampu dilakukan, dan melarang sesuatu yang masih dalam batas kemampuan, dengan firman-Nya:{فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}“Maka janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”Artinya, janganlah kalian condong secara berlebihan sehingga hak-hak wajib istri tidak ditunaikan. Lakukanlah keadilan dalam perkara yang mampu kalian lakukan.Dalam hal nafkah, pakaian, giliran bermalam, dan hak-hak lahiriah lainnya, kalian wajib berlaku adil. Adapun dalam hal cinta, kecenderungan hati, dan hubungan batin semisalnya, itu di luar kemampuan manusia.Jika seorang suami meninggalkan hak-hak wajib istrinya, maka istrinya akan menjadi seperti wanita yang “tergantung”: bukan istri yang mendapat hak penuh sehingga tenang, dan bukan pula wanita yang bebas sehingga bisa menikah lagi.Kemudian Allah berfirman:{وَإِنْ تُصْلِحُوا}“Dan jika kamu memperbaiki…”Yakni memperbaiki hubungan antara kalian dan para istri dengan memaksa diri melakukan hal yang mungkin tidak disukai jiwa, demi menunaikan hak mereka dan mengharap pahala.Termasuk juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta mendamaikan orang-orang yang berselisih. Ayat ini mendorong semua jalan yang mengantarkan pada perdamaian, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Lalu Allah berfirman:{وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu bertakwa…”Yakni bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, serta bersabar terhadap ketentuan yang Allah takdirkan.{فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}“Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Allah mengampuni dosa dan kekurangan kalian dalam menunaikan hak yang wajib, serta merahmati kalian sebagaimana kalian menyayangi dan berbuat lembut kepada para istri.Baca juga: Hukum Poligami: Ketentuan Menikah dengan Empat Istri dalam Islam Saat Perpisahan Menjadi Jalan TerbaikAllah Ta’ala berfirman,وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)Ayat ini memberikan ketenangan bagi pasangan yang memang sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga. Perceraian bukanlah akhir dari segalanya; Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi masing-masing pihak melalui karunia-Nya yang luas. Hal ini mendidik umat agar tidak saling menzalimi hanya karena takut akan masa depan ekonomi pasca cerai.Imam Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat 128 menyatakan:Allah Ta’ala mengabarkan sekaligus menetapkan hukum tentang keadaan suami istri:terkadang dalam kondisi suami menjauh dan tidak lagi berkenan kepada istrinya,terkadang dalam kondisi keduanya masih rukun dan sepakat,dan terkadang dalam kondisi keduanya berpisah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan sebagai berikut.Inilah keadaan ketiga dalam hubungan suami istri. Jika kesepakatan tidak lagi mungkin dicapai, maka tidak mengapa terjadi perpisahan. Allah berfirman:{وَإِنْ يَتَفَرَّقَا}“Dan jika keduanya berpisah…”Yakni melalui talak, fasakh, khulu’, atau bentuk perpisahan lainnya.{يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ}“Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan karunia-Nya.”Artinya, Allah akan mencukupi suami dan istri dengan karunia dan kebaikan-Nya yang luas. Bisa jadi suami diberi istri yang lebih baik baginya, dan istri pun diberi kecukupan dari karunia Allah meskipun ia tidak lagi bersama suaminya. Rezekinya tetap berada di tangan Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluk dan mengatur kemaslahatan mereka.Boleh jadi Allah memberinya pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.Kemudian Allah berfirman:{وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا}“Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya).”Yakni luas karunia dan rahmat-Nya. Rahmat dan kebaikan-Nya meliputi segala sesuatu sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.Namun Allah juga:{حَكِيمًا}“Maha Bijaksana.”Dia memberi karena hikmah dan menahan karena hikmah. Jika hikmah-Nya menuntut untuk menahan sebagian hamba dari karunia tertentu—karena ada sebab dari diri hamba yang tidak layak mendapatkan tambahan kebaikan—maka Allah menahannya dengan keadilan dan kebijaksanaan. Kesimpulan dan Refleksi PraktisQS. An-Nisa: 127Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dalam keluarga adalah amanah besar, terutama terhadap pihak yang lemah seperti perempuan dan anak yatim. Dalam praktik rumah tangga hari ini, ini berarti tidak boleh ada manipulasi harta, tekanan dalam pernikahan, atau pengambilan keputusan sepihak yang merugikan pihak yang lebih lemah. Wali, orang tua, atau siapa pun yang memegang kendali finansial wajib bersikap transparan dan bertanggung jawab. Setiap bentuk kebaikan dan kejujuran dalam menjaga hak keluarga tidak pernah luput dari pengawasan Allah, sehingga keadilan harus ditegakkan bukan hanya karena hukum sosial, tetapi karena kesadaran iman.QS. An-Nisa: 128Ayat ini mengajarkan bahwa ketika rumah tangga mulai retak karena sikap dingin atau berpalingnya pasangan, solusi pertama adalah perdamaian, bukan perpisahan. Dalam kehidupan modern, ini berarti membuka ruang dialog, menurunkan ego, dan bersedia berkompromi selama tidak melanggar syariat. Tidak semua hak harus dituntut secara maksimal jika itu menghancurkan hubungan; kadang merelakan sebagian hak adalah jalan untuk menjaga keutuhan keluarga. Namun perdamaian harus dibangun di atas kerelaan dan kejujuran, bukan paksaan atau kezaliman. Tantangan terbesar dalam konflik bukan kurangnya cinta, tetapi kuatnya sifat egois dalam diri, dan di situlah latihan takwa menjadi kunci.QS. An-Nisa: 129Ayat ini memberikan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Adil sepenuhnya dalam urusan hati memang mustahil, tetapi adil dalam hak-hak lahiriah adalah kewajiban. Dalam praktiknya, suami tidak boleh menelantarkan salah satu istri dalam nafkah, perhatian, dan tanggung jawab yang bisa diusahakan. Prinsip ini juga relevan secara umum dalam rumah tangga: jangan membiarkan pasangan merasa “tergantung”, tidak bahagia tetapi juga tidak diberi kejelasan. Allah memaafkan kekurangan yang di luar kemampuan manusia, tetapi tidak membenarkan kezaliman dalam perkara yang mampu dilakukan. Karena itu, keadilan lahir dari kesungguhan memperbaiki diri dan kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi.QS. An-Nisa: 130Ayat ini memberi ketenangan bahwa jika seluruh upaya perbaikan gagal dan kebersamaan justru membawa mudarat, maka perpisahan bukanlah dosa. Dalam konteks masa kini, pasangan tidak perlu bertahan dalam hubungan yang penuh kezaliman hanya karena takut kehilangan nafkah atau masa depan. Allah yang menyatukan juga Allah yang mencukupi setelah perpisahan. Namun keputusan ini harus menjadi jalan terakhir setelah usaha ishlah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah menjadi penopang utama, karena Dia Maha Luas karunia-Nya dan Maha Bijaksana dalam setiap takdir-Nya.Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dibangun di atas keadilan, kelapangan hati, dan ketakwaan. Semoga Dia menjaga kita dari sifat zalim, egois, dan kikir terhadap hak pasangan, serta memberi taufik untuk selalu memilih perdamaian selama itu baik dan diridai-Nya.Ya Allah, perbaikilah hubungan kami dengan pasangan dan keluarga kami, lapangkan hati kami untuk menunaikan hak-hak mereka, dan jika Engkau takdirkan ujian dalam rumah tangga kami, maka berikanlah jalan keluar terbaik serta kecukupan dari keluasan karunia-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic   —– Ahad sore sebelum Maghrib, 5 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadil dalam poligami fikih keluarga hak anak yatim hak perempuan dalam Islam hukum perceraian dalam Islam hukum rumah tangga dalam Islam keadilan dalam islam keluarga sakinah nasihat pernikahan Islami nusyuz dalam rumah tangga perdamaian dalam Islam poligami poligami dalam Islam renungan ayat renungan quran solusi konflik rumah tangga syarat poligami syuhh dalam Islam talak dalam Islam


Surah An-Nisa ayat 127–130 memberikan panduan lengkap tentang dinamika rumah tangga: dari kewajiban adil terhadap perempuan dan anak yatim, solusi saat hubungan retak, hingga kebolehan berpisah ketika tak lagi bisa dipertahankan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat realistis dalam memandang kehidupan keluarga. Di dalamnya terdapat prinsip keadilan, kelapangan dada, tanggung jawab, dan tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Keadilan bagi Perempuan dan Anak Yatim 2. Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga Retak 3. Prinsip Adil dalam Poligami 4. Saat Perpisahan Menjadi Jalan Terbaik 5. Kesimpulan dan Refleksi Praktis 5.1. QS. An-Nisa: 127 5.2. QS. An-Nisa: 128 5.3. QS. An-Nisa: 129 5.4. QS. An-Nisa: 130  Keadilan bagi Perempuan dan Anak YatimAllah Ta’ala berfirman,وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ ۖ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ فِى يَتَٰمَى ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَٰنِ وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتَٰمَىٰ بِٱلْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. An-Nisa: 127)Ayat ini menegaskan kembali pentingnya memberikan mahar dan hak waris kepada wanita yatim. Ada teguran bagi wali yang ingin menikahi wanita yatim di bawah asuhannya hanya karena mengincar hartanya atau kecantikannya namun tidak mau memberikan haknya secara penuh.Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya.Al-istifta’ adalah permintaan seseorang kepada pihak yang berwenang untuk menjelaskan hukum syariat mengenai suatu perkara.Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa kaum mukminin meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan para wanita. Lalu Allah sendiri yang mengambil alih penjelasan hukum tersebut dengan berfirman:{قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ}“Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka.”Artinya, amalkanlah apa yang Allah fatwakan kepada kalian dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan wanita: menunaikan hak-hak mereka dan meninggalkan segala bentuk kezaliman terhadap mereka, baik secara umum maupun khusus.Perintah ini bersifat umum, mencakup seluruh hukum yang Allah syariatkan terkait wanita, baik perintah maupun larangan, baik bagi istri maupun selainnya, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.Setelah penegasan umum tersebut, Allah secara khusus menekankan wasiat tentang orang-orang yang lemah, yaitu anak-anak yatim dan anak-anak kecil, sebagai bentuk perhatian besar terhadap mereka dan sebagai peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan hak mereka.Allah berfirman:{وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِي ٱلْكِتَابِ فِي يَتَامَى ٱلنِّسَاءِ}“Dan juga tentang apa yang dibacakan kepadamu dalam Kitab mengenai wanita-wanita yatim.”Yakni Allah juga memberi fatwa kepada kalian tentang hukum yang telah dibacakan dalam Al-Qur’an terkait para wanita yatim.Kemudian Allah menjelaskan kondisi yang terjadi saat itu:{ٱلَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ}“Yaitu wanita-wanita yatim yang tidak kamu berikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan untuk mereka.”Pada masa itu, seorang anak yatim perempuan yang berada dalam perwalian seorang laki-laki seringkali dizalimi. Bentuk kezaliman itu bermacam-macam:Walinya memakan seluruh atau sebagian hartanya.Ia menahannya dari pernikahan agar tetap bisa memanfaatkan hartanya, karena khawatir jika ia menikah, hartanya akan lepas dari tangannya.Ia mengambil sebagian mahar anak yatim tersebut, baik dengan syarat tertentu atau tanpa syarat.Jika wali tersebut tidak tertarik untuk menikahinya, ia menahannya demi hartanya. Jika ia tertarik karena kecantikan dan hartanya, ia tetap tidak berlaku adil dalam mahar, melainkan memberinya kurang dari yang semestinya ia terima.Semua bentuk perlakuan ini termasuk kezaliman yang tercakup dalam ayat ini.Karena itu Allah berfirman:{وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ}“Sedangkan kamu ingin menikahi mereka.”Maksudnya, kalian bisa jadi tidak ingin menikahi mereka, atau justru ingin menikahi mereka, sebagaimana telah dijelaskan contohnya. Dalam kedua keadaan tersebut, kalian tetap diperintahkan untuk berlaku adil dan tidak menzalimi.Kemudian Allah menyebutkan:{وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَانِ}“Dan juga tentang anak-anak yang lemah.”Yakni Allah memberi fatwa kepada kalian mengenai anak-anak kecil yang lemah agar kalian memberikan hak mereka, baik dalam warisan maupun selainnya, dan agar kalian tidak menguasai harta mereka dengan cara zalim dan sewenang-wenang.Selanjutnya Allah berfirman:{وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَىٰ بِٱلْقِسْطِ}“Dan hendaklah kamu berlaku adil terhadap anak-anak yatim.”Artinya, berlaku dengan keadilan yang sempurna.Ini mencakup dua hal:Menegakkan kewajiban agama atas mereka, dengan membimbing mereka kepada perintah Allah dan kewajiban syariat. Para wali bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mewajibkan mereka dalam hal-hal yang Allah wajibkan.Mengurus kepentingan duniawi mereka, seperti mengembangkan harta mereka dan mencari yang paling bermanfaat bagi mereka, serta tidak mendekati harta mereka kecuali dengan cara yang terbaik.Selain itu, tidak boleh memihak teman atau siapa pun dalam urusan mereka—baik dalam pernikahan maupun yang lainnya—dengan cara yang merugikan hak anak yatim tersebut.Semua ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sangat menekankan agar diperhatikan kepentingan orang-orang yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri karena kelemahan dan kehilangan ayah.Kemudian Allah mendorong untuk berbuat baik secara umum:{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ}“Dan apa pun kebaikan yang kamu kerjakan,”baik kepada anak-anak yatim maupun kepada selain mereka, baik kebaikan yang manfaatnya meluas kepada orang lain maupun yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri,{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا}“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”Ilmu Allah meliputi seluruh amal perbuatan para pelaku kebaikan—baik sedikit maupun banyak, baik yang baik maupun yang sebaliknya—dan Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan amalnya.Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di. Adapun penerapan ayat tersebut di antaranya:Jangan memanfaatkan kelemahan pihak yang lemah. Anak yatim, anak kecil, perempuan yang berada di bawah perwalian, atau siapa pun yang bergantung secara finansial tidak boleh dimanfaatkan demi keuntungan pribadi, baik dalam urusan harta, pernikahan, maupun keputusan hidup.Kelola harta amanah secara profesional dan transparan. Jika mengurus harta anak yatim atau anggota keluarga yang belum cakap hukum, kelola dengan penuh tanggung jawab, transparan, dan demi maslahat mereka—bukan demi kepentingan pribadi.Adil dalam urusan pernikahan.Jangan menghalangi perempuan menikah demi kepentingan ekonomi keluarga. Jangan pula menekan mahar atau hak-haknya karena posisi tawar yang lemah.Damai Itu Lebih Baik: Solusi Saat Rumah Tangga RetakAllah Ta’ala berfirman,وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 128)Jika terjadi ketidakharmonisan (nushuz) dari pihak suami (seperti sikap dingin atau tidak perhatian), Al-Qur’an menganjurkan jalan perdamaian. Istri diperbolehkan merelakan sebagian haknya (misalnya jatah waktu atau nafkah) demi mempertahankan ikatan pernikahan. Prinsipnya adalah “perdamaian itu lebih baik” daripada perceraian.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas.Jika seorang istri merasa khawatir akan nusyuz suaminya—yakni suami mulai meninggikan diri darinya, tidak lagi tertarik, atau berpaling dan tidak peduli—maka jalan terbaik dalam kondisi seperti ini adalah keduanya melakukan perdamaian.Perdamaian itu bisa berupa kesediaan istri untuk menggugurkan sebagian haknya agar tetap dapat mempertahankan rumah tangga. Misalnya:Rela menerima nafkah yang lebih sedikit dari standar yang semestinya.Rela dalam pembagian giliran (bagi yang berpoligami), dengan menggugurkan jatahnya.Menghibahkan hari atau malamnya kepada suami atau kepada istri yang lain.Jika keduanya sepakat atas bentuk perdamaian tersebut, maka tidak ada dosa atas keduanya. Suami boleh tetap bersama istrinya dalam keadaan seperti itu. Dan keadaan ini lebih baik daripada perceraian.Karena itu Allah menegaskan:{وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ}“Dan perdamaian itu lebih baik.”Dari keumuman lafaz ini dipahami bahwa perdamaian dalam setiap perselisihan dan sengketa lebih baik daripada masing-masing pihak menuntut seluruh haknya secara kaku. Sebab dalam perdamaian terdapat perbaikan hubungan, terjaganya kasih sayang, dan tumbuhnya sikap lapang dada.Namun, perdamaian itu sah selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal. Jika sampai melanggar syariat, maka itu bukan perdamaian, melainkan kezaliman.Setiap hukum tidak akan sempurna kecuali dengan adanya pendorong dan hilangnya penghalang. Dalam masalah perdamaian ini, Allah menyebutkan pendorongnya: karena perdamaian itu baik, dan setiap orang berakal tentu mencintai kebaikan. Apalagi jika Allah sendiri yang memerintahkan dan menganjurkannya, maka seorang mukmin semakin terdorong untuk melakukannya.Adapun penghalangnya adalah:{وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ}“Dan manusia itu menurut tabiatnya kikir.”Jiwa manusia secara naluriah itu syuhh, yaitu berat untuk melepaskan haknya dan sangat ingin mempertahankan apa yang menjadi bagiannya. Ia enggan memberi, tetapi ingin menerima sepenuhnya.Karena itu seseorang harus berusaha membersihkan dirinya dari sifat tercela ini dan menggantinya dengan sifat lapang dada: bersedia menunaikan kewajiban dan rela menerima sebagian haknya saja.Jika seseorang berhasil memiliki sifat ini, maka perdamaian dengan pasangan atau dengan siapa pun akan menjadi mudah. Namun jika ia tetap dikuasai sifat kikir dan egois, maka perdamaian akan sulit tercapai, apalagi jika kedua belah pihak sama-sama keras mempertahankan haknya.Kemudian Allah menutup ayat ini dengan dorongan yang agung:{وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu berbuat baik dan bertakwa.”Berbuat baik kepada Allah dengan beribadah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Dia melihat kita. Berbuat baik kepada sesama dengan segala bentuk kebaikan: harta, ilmu, kedudukan, atau bantuan apa pun.Dan bertakwa dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan.{فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}“Maka sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”Allah mengetahui lahir dan batin perbuatan hamba. Dia mencatat, menjaga, dan akan membalasnya dengan balasan yang sempurna.Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini.Saudah binti Zam‘ah radhiyallahu ‘anha telah berusia lanjut, Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk berpisah darinya. Maka Saudah mengajukan perdamaian agar tetap dipertahankan sebagai istri, dengan syarat ia menyerahkan hari gilirannya kepada Aisyah. Nabi ﷺ menerima hal itu dan tetap mempertahankannya sebagai istri.Diriwayatkan bahwa: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saudah khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Maka ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku dan jadikan hari giliranku untuk Aisyah.’ Maka beliau pun melakukannya. Lalu turunlah ayat ini: ‘Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak peduli dari suaminya…’.” Ibnu Abbas berkata: “Maka apa saja yang disepakati keduanya dalam perdamaian itu, hukumnya boleh.”Baca juga: Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan HafshahRefleksi: Ayat ini menunjukkan keluwesan syariat dalam menjaga stabilitas keluarga. Tidak semua masalah harus berujung perpisahan. Selama masih ada ruang untuk kompromi yang halal dan saling ridha, maka perdamaian itu lebih baik.Dan semua itu kembali pada kemampuan menundukkan sifat syuḥḥ dalam jiwa—yakni berat melepaskan hak dan ingin menang sendiri. Ketika jiwa dilatih untuk lapang dan mengutamakan maslahat yang lebih besar, maka rumah tangga lebih mudah diselamatkan.Baca juga: Do’a Agar Diselamatkan dari Penyakit ‘Syuh’ (Tamak & Kikir)Prinsip Adil dalam PoligamiAllah Ta’ala berfirman,وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 129)Allah menegaskan bahwa secara tabiat, manusia tidak akan pernah bisa adil 100% dalam hal perasaan (cinta) di antara istri-istri. Namun, yang dilarang adalah keadilan dalam hal lahiriyah (nafkah dan waktu). Suami dilarang terlalu condong kepada satu istri sehingga istri yang lain terabaikan seperti “tergantung” (tidak memiliki status yang jelas sebagai istri namun tidak pula diceraikan).Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan sebagai berikut.Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para suami tidak akan mampu dan memang tidak berada dalam kekuasaan mereka untuk berbuat adil secara sempurna di antara para istri.Sebab keadilan yang sempurna menuntut kesamaan dalam cinta, dorongan batin, dan kecenderungan hati kepada mereka secara seimbang, lalu bertindak sesuai dengan kecenderungan itu. Hal seperti ini mustahil dan tidak mungkin dilakukan.Karena itulah Allah memaafkan perkara yang tidak mampu dilakukan, dan melarang sesuatu yang masih dalam batas kemampuan, dengan firman-Nya:{فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}“Maka janganlah kamu terlalu condong (kepada salah satu), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.”Artinya, janganlah kalian condong secara berlebihan sehingga hak-hak wajib istri tidak ditunaikan. Lakukanlah keadilan dalam perkara yang mampu kalian lakukan.Dalam hal nafkah, pakaian, giliran bermalam, dan hak-hak lahiriah lainnya, kalian wajib berlaku adil. Adapun dalam hal cinta, kecenderungan hati, dan hubungan batin semisalnya, itu di luar kemampuan manusia.Jika seorang suami meninggalkan hak-hak wajib istrinya, maka istrinya akan menjadi seperti wanita yang “tergantung”: bukan istri yang mendapat hak penuh sehingga tenang, dan bukan pula wanita yang bebas sehingga bisa menikah lagi.Kemudian Allah berfirman:{وَإِنْ تُصْلِحُوا}“Dan jika kamu memperbaiki…”Yakni memperbaiki hubungan antara kalian dan para istri dengan memaksa diri melakukan hal yang mungkin tidak disukai jiwa, demi menunaikan hak mereka dan mengharap pahala.Termasuk juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta mendamaikan orang-orang yang berselisih. Ayat ini mendorong semua jalan yang mengantarkan pada perdamaian, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.Lalu Allah berfirman:{وَتَتَّقُوا}“Dan jika kamu bertakwa…”Yakni bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, serta bersabar terhadap ketentuan yang Allah takdirkan.{فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا}“Maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Allah mengampuni dosa dan kekurangan kalian dalam menunaikan hak yang wajib, serta merahmati kalian sebagaimana kalian menyayangi dan berbuat lembut kepada para istri.Baca juga: Hukum Poligami: Ketentuan Menikah dengan Empat Istri dalam Islam Saat Perpisahan Menjadi Jalan TerbaikAllah Ta’ala berfirman,وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 130)Ayat ini memberikan ketenangan bagi pasangan yang memang sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga. Perceraian bukanlah akhir dari segalanya; Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi masing-masing pihak melalui karunia-Nya yang luas. Hal ini mendidik umat agar tidak saling menzalimi hanya karena takut akan masa depan ekonomi pasca cerai.Imam Ibnu Katsir saat menjelaskan ayat 128 menyatakan:Allah Ta’ala mengabarkan sekaligus menetapkan hukum tentang keadaan suami istri:terkadang dalam kondisi suami menjauh dan tidak lagi berkenan kepada istrinya,terkadang dalam kondisi keduanya masih rukun dan sepakat,dan terkadang dalam kondisi keduanya berpisah.Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan sebagai berikut.Inilah keadaan ketiga dalam hubungan suami istri. Jika kesepakatan tidak lagi mungkin dicapai, maka tidak mengapa terjadi perpisahan. Allah berfirman:{وَإِنْ يَتَفَرَّقَا}“Dan jika keduanya berpisah…”Yakni melalui talak, fasakh, khulu’, atau bentuk perpisahan lainnya.{يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ}“Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan karunia-Nya.”Artinya, Allah akan mencukupi suami dan istri dengan karunia dan kebaikan-Nya yang luas. Bisa jadi suami diberi istri yang lebih baik baginya, dan istri pun diberi kecukupan dari karunia Allah meskipun ia tidak lagi bersama suaminya. Rezekinya tetap berada di tangan Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluk dan mengatur kemaslahatan mereka.Boleh jadi Allah memberinya pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.Kemudian Allah berfirman:{وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا}“Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya).”Yakni luas karunia dan rahmat-Nya. Rahmat dan kebaikan-Nya meliputi segala sesuatu sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.Namun Allah juga:{حَكِيمًا}“Maha Bijaksana.”Dia memberi karena hikmah dan menahan karena hikmah. Jika hikmah-Nya menuntut untuk menahan sebagian hamba dari karunia tertentu—karena ada sebab dari diri hamba yang tidak layak mendapatkan tambahan kebaikan—maka Allah menahannya dengan keadilan dan kebijaksanaan. Kesimpulan dan Refleksi PraktisQS. An-Nisa: 127Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dalam keluarga adalah amanah besar, terutama terhadap pihak yang lemah seperti perempuan dan anak yatim. Dalam praktik rumah tangga hari ini, ini berarti tidak boleh ada manipulasi harta, tekanan dalam pernikahan, atau pengambilan keputusan sepihak yang merugikan pihak yang lebih lemah. Wali, orang tua, atau siapa pun yang memegang kendali finansial wajib bersikap transparan dan bertanggung jawab. Setiap bentuk kebaikan dan kejujuran dalam menjaga hak keluarga tidak pernah luput dari pengawasan Allah, sehingga keadilan harus ditegakkan bukan hanya karena hukum sosial, tetapi karena kesadaran iman.QS. An-Nisa: 128Ayat ini mengajarkan bahwa ketika rumah tangga mulai retak karena sikap dingin atau berpalingnya pasangan, solusi pertama adalah perdamaian, bukan perpisahan. Dalam kehidupan modern, ini berarti membuka ruang dialog, menurunkan ego, dan bersedia berkompromi selama tidak melanggar syariat. Tidak semua hak harus dituntut secara maksimal jika itu menghancurkan hubungan; kadang merelakan sebagian hak adalah jalan untuk menjaga keutuhan keluarga. Namun perdamaian harus dibangun di atas kerelaan dan kejujuran, bukan paksaan atau kezaliman. Tantangan terbesar dalam konflik bukan kurangnya cinta, tetapi kuatnya sifat egois dalam diri, dan di situlah latihan takwa menjadi kunci.QS. An-Nisa: 129Ayat ini memberikan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Adil sepenuhnya dalam urusan hati memang mustahil, tetapi adil dalam hak-hak lahiriah adalah kewajiban. Dalam praktiknya, suami tidak boleh menelantarkan salah satu istri dalam nafkah, perhatian, dan tanggung jawab yang bisa diusahakan. Prinsip ini juga relevan secara umum dalam rumah tangga: jangan membiarkan pasangan merasa “tergantung”, tidak bahagia tetapi juga tidak diberi kejelasan. Allah memaafkan kekurangan yang di luar kemampuan manusia, tetapi tidak membenarkan kezaliman dalam perkara yang mampu dilakukan. Karena itu, keadilan lahir dari kesungguhan memperbaiki diri dan kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi.QS. An-Nisa: 130Ayat ini memberi ketenangan bahwa jika seluruh upaya perbaikan gagal dan kebersamaan justru membawa mudarat, maka perpisahan bukanlah dosa. Dalam konteks masa kini, pasangan tidak perlu bertahan dalam hubungan yang penuh kezaliman hanya karena takut kehilangan nafkah atau masa depan. Allah yang menyatukan juga Allah yang mencukupi setelah perpisahan. Namun keputusan ini harus menjadi jalan terakhir setelah usaha ishlah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah menjadi penopang utama, karena Dia Maha Luas karunia-Nya dan Maha Bijaksana dalam setiap takdir-Nya.Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dibangun di atas keadilan, kelapangan hati, dan ketakwaan. Semoga Dia menjaga kita dari sifat zalim, egois, dan kikir terhadap hak pasangan, serta memberi taufik untuk selalu memilih perdamaian selama itu baik dan diridai-Nya.Ya Allah, perbaikilah hubungan kami dengan pasangan dan keluarga kami, lapangkan hati kami untuk menunaikan hak-hak mereka, dan jika Engkau takdirkan ujian dalam rumah tangga kami, maka berikanlah jalan keluar terbaik serta kecukupan dari keluasan karunia-Mu. Aamiin. Referensi:Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic   —– Ahad sore sebelum Maghrib, 5 Ramadhan 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadil dalam poligami fikih keluarga hak anak yatim hak perempuan dalam Islam hukum perceraian dalam Islam hukum rumah tangga dalam Islam keadilan dalam islam keluarga sakinah nasihat pernikahan Islami nusyuz dalam rumah tangga perdamaian dalam Islam poligami poligami dalam Islam renungan ayat renungan quran solusi konflik rumah tangga syarat poligami syuhh dalam Islam talak dalam Islam
Prev     Next