Cara Kita Bersyukur: Jika Tidak Memenuhi Rukun Syukur Ini, Tidak Disebut Bersyukur

Bagaimana cara kita bersyukur? Dalam Mawsu’ah Nadhrah An-Na’im (6:2393) disebutkan pengertian syukur secara bahasa (lughatan). Syukur itu terdiri dari huruf syin kaaf raa’ yang menunjukkan pujian pada seseorang atas kebaikan yang ia perbuat. Baca: Pengertian Syukur   Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Bersyukur kepada Allah adalah memuji-Nya sebagai balasan atas nikmat yang diberikan dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya” (Fath Al-Qadir, 4:312). Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, الشُّكْرُ يَكُوْنُ بِالقَلْبِ وَاللِّسَانُ وَالجَوَارِحُ وَالحَمْدُ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ بِاللِّسَانِ “Syukur haruslah dijalani dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun al-hamdu hanyalah di lisan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11:135) Hakikat syukur menurut Ibnul Qayyim dalam Thariq Al-Hijratain (hlm. 508) adalah, الثَّنَاءُ عَلَى النِّعَمِ وَمَحَبَّتُهُ وَالعَمَلُ بِطَاعَتِهِ “Memuji atas nikmat dan mencintai nikmat tersebut, serta memanfaatkan nikmat untuk ketaatan.” Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm. 187), rukun syukur itu ada tiga: Mengakui nikmat itu berasal dari Allah. Memuji Allah atas nikmat tersebut. Meminta tolong untuk menggapai rida Allah dengan memanfaatkan nikmat dalam ketaatan. Rukun syukur ini jika kita jalankan itulah disebut cara bersyukur yang benar. Ibnul Qayyim berkata, “Oleh karenanya orang yang bersyukur disebut hafizh (orang yang menjaga nikmat). Karena ia benar-benar nikmat itu terus ada dan menjaganya tidak sampai hilang.” (‘Uddah Ash-Shabirin, hal. 148) Dalam hadits disebutkan, وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sesungguhnya seseorang terhalang mendapatkan rezeki karena dosa yang ia perbuat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4022. Hadits ini adalah hadits dhaif kata Syaikh Al-Albani) Baca juga: Syukur akan Menambah Nikmat   Abu Hazim juga berkata, وأما مَن شكر بلسانه ولم يشكر بجميع أعضائه : فمثَلُه كمثل رجل له كساء فأخذ بطرفه ، فلم يلبسه ، فلم ينفعه ذلك من البرد ، والحر ، والثلج ، والمطر ” . “Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Baca juga: Syukur Bukan Hanya Mengucapkan Alhamdulillah   Cara bersyukur, mulailah dari yang sedikit atau kecil. Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4:278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667). Baca juga: Bersyukur dengan yang Sedikit   Jangan sampai nikmat Allah digunakan untuk bermaksiat. Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan, كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ بَلِيَّةٌ. “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” (Hilyah Al- Awliya’, 1:497) Baca juga: Kata Bijak tentang Syukur   Namun, memang yang mau bersyukur dengan benar hanyalah sedikit. Allah Ta’ala berfirman, وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Ibnu Katsir berkata, إخبار عن الواقع “Yang dikabarkan ini sesuai kenyataan.” Artinya, sedikit sekali yang mau bersyukur. Baca juga: Sedikit yang Mau Bersyukur   Bentuk syukur adalah dengan menyandarkan nikmat itu kepada Allah dan ucapkan di lisan bahwa itu berasal dari Allah. Misalnya, kita sukses, kita sebut, “Alhamdulillah, ini semua karena Allah.” Jangan sampai kita sebut, “Ini karena saya memang pintar mengelola bisnis.” Jangan semata-mata lantaran kita, sebutlah nama Allah ketika bersyukur. Baca juga: Kisah Mereka yang Tidak Mau Bersyukur   Kesimpulan  Cara bersyukur adalah: akui nikmat itu dari Allah dalam hati ucapkan syukur di lisan sebut nikmat itu berasal dari Allah, bukan karena diri kita manfaatkan nikmat untuk ibadah bersyukur bukan dengan bermaksiat mulai bersyukur dengan yang sedikit bisa jadi kita termasuk orang yang terasing dalam bersyukur, maka teruslah bersyukur Semoga penulis dan pembaca tulisan ini menjadi hamba yang bersyukur.   — Darush Sholihin, siang hari 18 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsapa itu syukur bersyukur cara sujud syukur cara syukur hakikat syukur rukun syukur syukur syukur nikmat

Cara Kita Bersyukur: Jika Tidak Memenuhi Rukun Syukur Ini, Tidak Disebut Bersyukur

Bagaimana cara kita bersyukur? Dalam Mawsu’ah Nadhrah An-Na’im (6:2393) disebutkan pengertian syukur secara bahasa (lughatan). Syukur itu terdiri dari huruf syin kaaf raa’ yang menunjukkan pujian pada seseorang atas kebaikan yang ia perbuat. Baca: Pengertian Syukur   Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Bersyukur kepada Allah adalah memuji-Nya sebagai balasan atas nikmat yang diberikan dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya” (Fath Al-Qadir, 4:312). Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, الشُّكْرُ يَكُوْنُ بِالقَلْبِ وَاللِّسَانُ وَالجَوَارِحُ وَالحَمْدُ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ بِاللِّسَانِ “Syukur haruslah dijalani dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun al-hamdu hanyalah di lisan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11:135) Hakikat syukur menurut Ibnul Qayyim dalam Thariq Al-Hijratain (hlm. 508) adalah, الثَّنَاءُ عَلَى النِّعَمِ وَمَحَبَّتُهُ وَالعَمَلُ بِطَاعَتِهِ “Memuji atas nikmat dan mencintai nikmat tersebut, serta memanfaatkan nikmat untuk ketaatan.” Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm. 187), rukun syukur itu ada tiga: Mengakui nikmat itu berasal dari Allah. Memuji Allah atas nikmat tersebut. Meminta tolong untuk menggapai rida Allah dengan memanfaatkan nikmat dalam ketaatan. Rukun syukur ini jika kita jalankan itulah disebut cara bersyukur yang benar. Ibnul Qayyim berkata, “Oleh karenanya orang yang bersyukur disebut hafizh (orang yang menjaga nikmat). Karena ia benar-benar nikmat itu terus ada dan menjaganya tidak sampai hilang.” (‘Uddah Ash-Shabirin, hal. 148) Dalam hadits disebutkan, وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sesungguhnya seseorang terhalang mendapatkan rezeki karena dosa yang ia perbuat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4022. Hadits ini adalah hadits dhaif kata Syaikh Al-Albani) Baca juga: Syukur akan Menambah Nikmat   Abu Hazim juga berkata, وأما مَن شكر بلسانه ولم يشكر بجميع أعضائه : فمثَلُه كمثل رجل له كساء فأخذ بطرفه ، فلم يلبسه ، فلم ينفعه ذلك من البرد ، والحر ، والثلج ، والمطر ” . “Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Baca juga: Syukur Bukan Hanya Mengucapkan Alhamdulillah   Cara bersyukur, mulailah dari yang sedikit atau kecil. Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4:278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667). Baca juga: Bersyukur dengan yang Sedikit   Jangan sampai nikmat Allah digunakan untuk bermaksiat. Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan, كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ بَلِيَّةٌ. “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” (Hilyah Al- Awliya’, 1:497) Baca juga: Kata Bijak tentang Syukur   Namun, memang yang mau bersyukur dengan benar hanyalah sedikit. Allah Ta’ala berfirman, وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Ibnu Katsir berkata, إخبار عن الواقع “Yang dikabarkan ini sesuai kenyataan.” Artinya, sedikit sekali yang mau bersyukur. Baca juga: Sedikit yang Mau Bersyukur   Bentuk syukur adalah dengan menyandarkan nikmat itu kepada Allah dan ucapkan di lisan bahwa itu berasal dari Allah. Misalnya, kita sukses, kita sebut, “Alhamdulillah, ini semua karena Allah.” Jangan sampai kita sebut, “Ini karena saya memang pintar mengelola bisnis.” Jangan semata-mata lantaran kita, sebutlah nama Allah ketika bersyukur. Baca juga: Kisah Mereka yang Tidak Mau Bersyukur   Kesimpulan  Cara bersyukur adalah: akui nikmat itu dari Allah dalam hati ucapkan syukur di lisan sebut nikmat itu berasal dari Allah, bukan karena diri kita manfaatkan nikmat untuk ibadah bersyukur bukan dengan bermaksiat mulai bersyukur dengan yang sedikit bisa jadi kita termasuk orang yang terasing dalam bersyukur, maka teruslah bersyukur Semoga penulis dan pembaca tulisan ini menjadi hamba yang bersyukur.   — Darush Sholihin, siang hari 18 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsapa itu syukur bersyukur cara sujud syukur cara syukur hakikat syukur rukun syukur syukur syukur nikmat
Bagaimana cara kita bersyukur? Dalam Mawsu’ah Nadhrah An-Na’im (6:2393) disebutkan pengertian syukur secara bahasa (lughatan). Syukur itu terdiri dari huruf syin kaaf raa’ yang menunjukkan pujian pada seseorang atas kebaikan yang ia perbuat. Baca: Pengertian Syukur   Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Bersyukur kepada Allah adalah memuji-Nya sebagai balasan atas nikmat yang diberikan dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya” (Fath Al-Qadir, 4:312). Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, الشُّكْرُ يَكُوْنُ بِالقَلْبِ وَاللِّسَانُ وَالجَوَارِحُ وَالحَمْدُ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ بِاللِّسَانِ “Syukur haruslah dijalani dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun al-hamdu hanyalah di lisan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11:135) Hakikat syukur menurut Ibnul Qayyim dalam Thariq Al-Hijratain (hlm. 508) adalah, الثَّنَاءُ عَلَى النِّعَمِ وَمَحَبَّتُهُ وَالعَمَلُ بِطَاعَتِهِ “Memuji atas nikmat dan mencintai nikmat tersebut, serta memanfaatkan nikmat untuk ketaatan.” Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm. 187), rukun syukur itu ada tiga: Mengakui nikmat itu berasal dari Allah. Memuji Allah atas nikmat tersebut. Meminta tolong untuk menggapai rida Allah dengan memanfaatkan nikmat dalam ketaatan. Rukun syukur ini jika kita jalankan itulah disebut cara bersyukur yang benar. Ibnul Qayyim berkata, “Oleh karenanya orang yang bersyukur disebut hafizh (orang yang menjaga nikmat). Karena ia benar-benar nikmat itu terus ada dan menjaganya tidak sampai hilang.” (‘Uddah Ash-Shabirin, hal. 148) Dalam hadits disebutkan, وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sesungguhnya seseorang terhalang mendapatkan rezeki karena dosa yang ia perbuat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4022. Hadits ini adalah hadits dhaif kata Syaikh Al-Albani) Baca juga: Syukur akan Menambah Nikmat   Abu Hazim juga berkata, وأما مَن شكر بلسانه ولم يشكر بجميع أعضائه : فمثَلُه كمثل رجل له كساء فأخذ بطرفه ، فلم يلبسه ، فلم ينفعه ذلك من البرد ، والحر ، والثلج ، والمطر ” . “Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Baca juga: Syukur Bukan Hanya Mengucapkan Alhamdulillah   Cara bersyukur, mulailah dari yang sedikit atau kecil. Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4:278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667). Baca juga: Bersyukur dengan yang Sedikit   Jangan sampai nikmat Allah digunakan untuk bermaksiat. Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan, كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ بَلِيَّةٌ. “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” (Hilyah Al- Awliya’, 1:497) Baca juga: Kata Bijak tentang Syukur   Namun, memang yang mau bersyukur dengan benar hanyalah sedikit. Allah Ta’ala berfirman, وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Ibnu Katsir berkata, إخبار عن الواقع “Yang dikabarkan ini sesuai kenyataan.” Artinya, sedikit sekali yang mau bersyukur. Baca juga: Sedikit yang Mau Bersyukur   Bentuk syukur adalah dengan menyandarkan nikmat itu kepada Allah dan ucapkan di lisan bahwa itu berasal dari Allah. Misalnya, kita sukses, kita sebut, “Alhamdulillah, ini semua karena Allah.” Jangan sampai kita sebut, “Ini karena saya memang pintar mengelola bisnis.” Jangan semata-mata lantaran kita, sebutlah nama Allah ketika bersyukur. Baca juga: Kisah Mereka yang Tidak Mau Bersyukur   Kesimpulan  Cara bersyukur adalah: akui nikmat itu dari Allah dalam hati ucapkan syukur di lisan sebut nikmat itu berasal dari Allah, bukan karena diri kita manfaatkan nikmat untuk ibadah bersyukur bukan dengan bermaksiat mulai bersyukur dengan yang sedikit bisa jadi kita termasuk orang yang terasing dalam bersyukur, maka teruslah bersyukur Semoga penulis dan pembaca tulisan ini menjadi hamba yang bersyukur.   — Darush Sholihin, siang hari 18 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsapa itu syukur bersyukur cara sujud syukur cara syukur hakikat syukur rukun syukur syukur syukur nikmat


Bagaimana cara kita bersyukur? Dalam Mawsu’ah Nadhrah An-Na’im (6:2393) disebutkan pengertian syukur secara bahasa (lughatan). Syukur itu terdiri dari huruf syin kaaf raa’ yang menunjukkan pujian pada seseorang atas kebaikan yang ia perbuat. Baca: Pengertian Syukur   Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Bersyukur kepada Allah adalah memuji-Nya sebagai balasan atas nikmat yang diberikan dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya” (Fath Al-Qadir, 4:312). Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, الشُّكْرُ يَكُوْنُ بِالقَلْبِ وَاللِّسَانُ وَالجَوَارِحُ وَالحَمْدُ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ بِاللِّسَانِ “Syukur haruslah dijalani dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun al-hamdu hanyalah di lisan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11:135) Hakikat syukur menurut Ibnul Qayyim dalam Thariq Al-Hijratain (hlm. 508) adalah, الثَّنَاءُ عَلَى النِّعَمِ وَمَحَبَّتُهُ وَالعَمَلُ بِطَاعَتِهِ “Memuji atas nikmat dan mencintai nikmat tersebut, serta memanfaatkan nikmat untuk ketaatan.” Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm. 187), rukun syukur itu ada tiga: Mengakui nikmat itu berasal dari Allah. Memuji Allah atas nikmat tersebut. Meminta tolong untuk menggapai rida Allah dengan memanfaatkan nikmat dalam ketaatan. Rukun syukur ini jika kita jalankan itulah disebut cara bersyukur yang benar. Ibnul Qayyim berkata, “Oleh karenanya orang yang bersyukur disebut hafizh (orang yang menjaga nikmat). Karena ia benar-benar nikmat itu terus ada dan menjaganya tidak sampai hilang.” (‘Uddah Ash-Shabirin, hal. 148) Dalam hadits disebutkan, وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ “Sesungguhnya seseorang terhalang mendapatkan rezeki karena dosa yang ia perbuat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4022. Hadits ini adalah hadits dhaif kata Syaikh Al-Albani) Baca juga: Syukur akan Menambah Nikmat   Abu Hazim juga berkata, وأما مَن شكر بلسانه ولم يشكر بجميع أعضائه : فمثَلُه كمثل رجل له كساء فأخذ بطرفه ، فلم يلبسه ، فلم ينفعه ذلك من البرد ، والحر ، والثلج ، والمطر ” . “Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Baca juga: Syukur Bukan Hanya Mengucapkan Alhamdulillah   Cara bersyukur, mulailah dari yang sedikit atau kecil. Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4:278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667). Baca juga: Bersyukur dengan yang Sedikit   Jangan sampai nikmat Allah digunakan untuk bermaksiat. Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan, كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ بَلِيَّةٌ. “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” (Hilyah Al- Awliya’, 1:497) Baca juga: Kata Bijak tentang Syukur   Namun, memang yang mau bersyukur dengan benar hanyalah sedikit. Allah Ta’ala berfirman, وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Ibnu Katsir berkata, إخبار عن الواقع “Yang dikabarkan ini sesuai kenyataan.” Artinya, sedikit sekali yang mau bersyukur. Baca juga: Sedikit yang Mau Bersyukur   Bentuk syukur adalah dengan menyandarkan nikmat itu kepada Allah dan ucapkan di lisan bahwa itu berasal dari Allah. Misalnya, kita sukses, kita sebut, “Alhamdulillah, ini semua karena Allah.” Jangan sampai kita sebut, “Ini karena saya memang pintar mengelola bisnis.” Jangan semata-mata lantaran kita, sebutlah nama Allah ketika bersyukur. Baca juga: Kisah Mereka yang Tidak Mau Bersyukur   Kesimpulan  Cara bersyukur adalah: akui nikmat itu dari Allah dalam hati ucapkan syukur di lisan sebut nikmat itu berasal dari Allah, bukan karena diri kita manfaatkan nikmat untuk ibadah bersyukur bukan dengan bermaksiat mulai bersyukur dengan yang sedikit bisa jadi kita termasuk orang yang terasing dalam bersyukur, maka teruslah bersyukur Semoga penulis dan pembaca tulisan ini menjadi hamba yang bersyukur.   — Darush Sholihin, siang hari 18 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsapa itu syukur bersyukur cara sujud syukur cara syukur hakikat syukur rukun syukur syukur syukur nikmat

Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab

Sebagaimana yang telah menjadi keyakinan dalam diri kita bahwa jalan yang memberi kita jaminan keselamatan dan kenikmatan Islam adalah satu dan tidak berbilang-bilang. Jalan tersebut yaitu mengilmui dan mengamalkan ajaran Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipahami oleh para sahabatnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ“Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ 2/899) [1]Dan Allah Ta’ala telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (QS. Yusuf [12]: 2)Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak pengungkapan makna yang dapat menenangkan jiwa. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia ini (yaitu Al-Qur’an, pen.) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab, pen.).” [2]Oleh karena itu tidak perlu diragukan lagi, memang sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah Ta’ala,وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192( نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194( بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195(“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam,  dia dibawa turun oleh Ar-ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 192-195)Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Bahasa Rasul yang diutus kepada mereka dan menyampaikan dakwahnya dalam bahasa itu pula. Bahasa yang jelas dan gamblang. Dan renungkanlah bagaimana berkumpulnya keutamaan-keutamaan yang baik ini. Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan melalui malaikat yang paling utama, diturunkan kepada manusia yang paling utama pula, dimasukkan ke dalam bagian tubuh yang paling utama, yaitu hati, untuk disampaikan kepada umat yang paling utama, dengan bahasa yang paling utama dan paling fasih yaitu bahasa Arab yang jelas.” [3]Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab. Maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah Ta’ala dan menegakkan syiar-syiar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” [4] Beliau rahimahullah juga berkata,“Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama. Hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib, dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fiqh: sebuah kewajiban yang tidak akan sempurna (pelaksanaannya) kecuali dengan melakukan sesuatu (yang lain), maka sesuatu yang lain tersebut hukumnya juga menjadi wajib. Namun di sana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.” [5]Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,فعلى كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده حتى يشهد به أن لا إله إلا الله وأن محمد عبده ورسوله ويتلوا به كتاب الله …“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … “ [6]Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa agama Islam dan bahasa Al-Qur’an. Kita tidak akan bisa memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bekal bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan bahasa Arab akan mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap berbagai permasalahan agama.Baca Juga: Keutamaan Belajar Bahasa Arab dan Ilmu Nahwu Pelajarilah Bahasa Arab Agar Memahami Agama ***Disempurnakan ba’da dzuhur, Rotterdam NL 24 Sya’ban 1438/20 Mei 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Ingin Belajar Bahasa Arab Dari Dasar? Silakan Kunjungi Link Di Bawah Ini:mahadumar.id🔍 Hadits Tentang Lebah, Masalah Bid Ah, Tasyakur Bin Ni'mah Artinya, Tajwid Adalah, Jadwal Kajian Masjid Nurul Iman Blok M Square 2018

Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab

Sebagaimana yang telah menjadi keyakinan dalam diri kita bahwa jalan yang memberi kita jaminan keselamatan dan kenikmatan Islam adalah satu dan tidak berbilang-bilang. Jalan tersebut yaitu mengilmui dan mengamalkan ajaran Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipahami oleh para sahabatnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ“Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ 2/899) [1]Dan Allah Ta’ala telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (QS. Yusuf [12]: 2)Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak pengungkapan makna yang dapat menenangkan jiwa. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia ini (yaitu Al-Qur’an, pen.) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab, pen.).” [2]Oleh karena itu tidak perlu diragukan lagi, memang sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah Ta’ala,وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192( نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194( بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195(“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam,  dia dibawa turun oleh Ar-ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 192-195)Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Bahasa Rasul yang diutus kepada mereka dan menyampaikan dakwahnya dalam bahasa itu pula. Bahasa yang jelas dan gamblang. Dan renungkanlah bagaimana berkumpulnya keutamaan-keutamaan yang baik ini. Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan melalui malaikat yang paling utama, diturunkan kepada manusia yang paling utama pula, dimasukkan ke dalam bagian tubuh yang paling utama, yaitu hati, untuk disampaikan kepada umat yang paling utama, dengan bahasa yang paling utama dan paling fasih yaitu bahasa Arab yang jelas.” [3]Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab. Maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah Ta’ala dan menegakkan syiar-syiar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” [4] Beliau rahimahullah juga berkata,“Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama. Hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib, dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fiqh: sebuah kewajiban yang tidak akan sempurna (pelaksanaannya) kecuali dengan melakukan sesuatu (yang lain), maka sesuatu yang lain tersebut hukumnya juga menjadi wajib. Namun di sana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.” [5]Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,فعلى كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده حتى يشهد به أن لا إله إلا الله وأن محمد عبده ورسوله ويتلوا به كتاب الله …“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … “ [6]Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa agama Islam dan bahasa Al-Qur’an. Kita tidak akan bisa memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bekal bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan bahasa Arab akan mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap berbagai permasalahan agama.Baca Juga: Keutamaan Belajar Bahasa Arab dan Ilmu Nahwu Pelajarilah Bahasa Arab Agar Memahami Agama ***Disempurnakan ba’da dzuhur, Rotterdam NL 24 Sya’ban 1438/20 Mei 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Ingin Belajar Bahasa Arab Dari Dasar? Silakan Kunjungi Link Di Bawah Ini:mahadumar.id🔍 Hadits Tentang Lebah, Masalah Bid Ah, Tasyakur Bin Ni'mah Artinya, Tajwid Adalah, Jadwal Kajian Masjid Nurul Iman Blok M Square 2018
Sebagaimana yang telah menjadi keyakinan dalam diri kita bahwa jalan yang memberi kita jaminan keselamatan dan kenikmatan Islam adalah satu dan tidak berbilang-bilang. Jalan tersebut yaitu mengilmui dan mengamalkan ajaran Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipahami oleh para sahabatnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ“Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ 2/899) [1]Dan Allah Ta’ala telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (QS. Yusuf [12]: 2)Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak pengungkapan makna yang dapat menenangkan jiwa. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia ini (yaitu Al-Qur’an, pen.) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab, pen.).” [2]Oleh karena itu tidak perlu diragukan lagi, memang sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah Ta’ala,وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192( نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194( بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195(“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam,  dia dibawa turun oleh Ar-ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 192-195)Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Bahasa Rasul yang diutus kepada mereka dan menyampaikan dakwahnya dalam bahasa itu pula. Bahasa yang jelas dan gamblang. Dan renungkanlah bagaimana berkumpulnya keutamaan-keutamaan yang baik ini. Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan melalui malaikat yang paling utama, diturunkan kepada manusia yang paling utama pula, dimasukkan ke dalam bagian tubuh yang paling utama, yaitu hati, untuk disampaikan kepada umat yang paling utama, dengan bahasa yang paling utama dan paling fasih yaitu bahasa Arab yang jelas.” [3]Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab. Maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah Ta’ala dan menegakkan syiar-syiar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” [4] Beliau rahimahullah juga berkata,“Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama. Hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib, dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fiqh: sebuah kewajiban yang tidak akan sempurna (pelaksanaannya) kecuali dengan melakukan sesuatu (yang lain), maka sesuatu yang lain tersebut hukumnya juga menjadi wajib. Namun di sana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.” [5]Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,فعلى كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده حتى يشهد به أن لا إله إلا الله وأن محمد عبده ورسوله ويتلوا به كتاب الله …“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … “ [6]Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa agama Islam dan bahasa Al-Qur’an. Kita tidak akan bisa memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bekal bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan bahasa Arab akan mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap berbagai permasalahan agama.Baca Juga: Keutamaan Belajar Bahasa Arab dan Ilmu Nahwu Pelajarilah Bahasa Arab Agar Memahami Agama ***Disempurnakan ba’da dzuhur, Rotterdam NL 24 Sya’ban 1438/20 Mei 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Ingin Belajar Bahasa Arab Dari Dasar? Silakan Kunjungi Link Di Bawah Ini:mahadumar.id🔍 Hadits Tentang Lebah, Masalah Bid Ah, Tasyakur Bin Ni'mah Artinya, Tajwid Adalah, Jadwal Kajian Masjid Nurul Iman Blok M Square 2018


Sebagaimana yang telah menjadi keyakinan dalam diri kita bahwa jalan yang memberi kita jaminan keselamatan dan kenikmatan Islam adalah satu dan tidak berbilang-bilang. Jalan tersebut yaitu mengilmui dan mengamalkan ajaran Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipahami oleh para sahabatnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ“Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ 2/899) [1]Dan Allah Ta’ala telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (QS. Yusuf [12]: 2)Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak pengungkapan makna yang dapat menenangkan jiwa. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia ini (yaitu Al-Qur’an, pen.) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab, pen.).” [2]Oleh karena itu tidak perlu diragukan lagi, memang sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah Ta’ala,وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192( نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194( بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195(“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam,  dia dibawa turun oleh Ar-ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 192-195)Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Bahasa Rasul yang diutus kepada mereka dan menyampaikan dakwahnya dalam bahasa itu pula. Bahasa yang jelas dan gamblang. Dan renungkanlah bagaimana berkumpulnya keutamaan-keutamaan yang baik ini. Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan melalui malaikat yang paling utama, diturunkan kepada manusia yang paling utama pula, dimasukkan ke dalam bagian tubuh yang paling utama, yaitu hati, untuk disampaikan kepada umat yang paling utama, dengan bahasa yang paling utama dan paling fasih yaitu bahasa Arab yang jelas.” [3]Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab. Maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah Ta’ala dan menegakkan syiar-syiar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” [4] Beliau rahimahullah juga berkata,“Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama. Hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib, dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fiqh: sebuah kewajiban yang tidak akan sempurna (pelaksanaannya) kecuali dengan melakukan sesuatu (yang lain), maka sesuatu yang lain tersebut hukumnya juga menjadi wajib. Namun di sana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.” [5]Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,فعلى كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده حتى يشهد به أن لا إله إلا الله وأن محمد عبده ورسوله ويتلوا به كتاب الله …“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … “ [6]Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa agama Islam dan bahasa Al-Qur’an. Kita tidak akan bisa memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bekal bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan bahasa Arab akan mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap berbagai permasalahan agama.Baca Juga: Keutamaan Belajar Bahasa Arab dan Ilmu Nahwu Pelajarilah Bahasa Arab Agar Memahami Agama ***Disempurnakan ba’da dzuhur, Rotterdam NL 24 Sya’ban 1438/20 Mei 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Ingin Belajar Bahasa Arab Dari Dasar? Silakan Kunjungi Link Di Bawah Ini:<img class="aligncenter wp-image-30275 size-medium" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-300x132.jpg" alt="mahadumar.id" width="300" height="132" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-300x132.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-768x337.jpg 768w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-1024x449.jpg 1024w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_-1132x500.jpg 1132w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/06/mahadumar.id_.jpg 1140w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />🔍 Hadits Tentang Lebah, Masalah Bid Ah, Tasyakur Bin Ni'mah Artinya, Tajwid Adalah, Jadwal Kajian Masjid Nurul Iman Blok M Square 2018

Ya Allah, Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu

Waktu atau masa adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Selama berlangsungnya suatu proses, perbuatan, atau keadaan hidup dalam diri seorang manusia, banyak yang tidak menyadari bahwa waktu begitu cepat berlalu. Pada zaman ini, tidak jarang banyak manusia yang melalaikan waktu dan bersikap masa bodoh terhadap waktu. Mereka menyia-nyiakan waktu yang telah Allah Ta’ala takdirkan pada dirinya. Seolah hidup ini hanya untuk kesenangan dan hura-hura belaka.Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,إضاعة الوقت أشد من الموت ، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة ،والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya” (Al-Fawaid, hal 44).Apabila waktu secara terus-menerus disia-siakan oleh seorang manusia, maka untuk apa ia hidup di dunia? Waktunya tidak berguna bagi dirinya ataupun bagi orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Bukankah tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya? Lalu apa prinsip hidup di dunia bagi orang yang menyia-nyiakan waktu? Sebenarnya tujuan hidup mereka hidup di dunia untuk apa?Apakah Manusia Dapat Kembali ke Masa Lalu?Belakangan ini, banyak sekali manusia terutama seorang muslim usia remaja hingga lanjut usia yang merasa menyesal terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka merasa takut dan risau akan azab Allah Ta’ala kepada manusia yang ingkar terhadap aturan-Nya, sehingga mereka bersikeras memohon kepada Allah Ta’ala untuk dapat kembali ke masa lalu agar dapat memperbaiki sejarah hidupnya. Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu. Namun, Apakah manusia dapat kembali ke masa lalu? Allah Ta’ala berfirman,وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)“[1] Demi masa. [2] Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. [3] Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-‘Ashr: 1-3)Dijelaskan dalam surat Al-‘Ashr bahwa manusia akan menyesal karena waktu. Maksudnya adalah manusia akan menyesal dengan apa yang telah terjadi dan tidak dijelaskan bahwa manusia bisa mengulang waktu. Ayat ke-3 hanya menjelaskan siapa saja yang tidak menyesal. Maka dari itu, manusia tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarah hidup yang telah dilaluinya.Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaPenyesalan yang Tiada GunaWaktu yang telah dilalui memang tidak dapat terulang lagi. Dalam hati dan jiwa seorang muslim pasti selalu ada saja sesuatu yang terlintas dalam pikiran akan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan dalam sejarah hidupnya. Rasanya setiap hari yang dilalui, bayangan akan maksiat masa lalu selalu terbayang dan hal ini apabila dipikirkan secara berlarut-larut dapat menjatuhkan iman dalam diri seorang muslim. Na’udzubillahi min dzalik. Namun, apakah dengan memikirkan maksiat masa lalu secara berlarut-larut akan dapat mengubah sejarah hidup yang telah diukirnya? Jawabannya adalah tidak. Penyesalan yang tiada gunalah yang hanya tertinggal dalam bekas jejak sejarah selama hidup di dunia.Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), ‘Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin’.”  (QS. As-Sajdah: 12).Tidaklah berguna suatu penyesalan bagi diri seorang manusia. Penyesalan tersebut tidak dapat membuat kita kembali ke masa lalu untuk memperbaiki segala dosa dan maksiat yang telah diperbuat selama hidup di dunia dan tidak dapat pula menyelamatkan diri dari azab Allah Ta’ala. Oleh karena itu, betapa pentingnya waktu bagi umat Islam. Manfaatkan waktu untuk hal-hal yang positif dan senantiasa selalu melibatkan Allah Ta’ala dalam setiap langkah hidup kita di dunia.Dampak Buruk bagi Orang-orang yang Menyia-nyiakan WaktuMenyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk karena dengan hal itu akan ada banyak waktu yang terbuang percuma tanpa mendatangkan pahala dan manfaat. Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena dengan memaksimalkan waktu untuk hal yang positif, maka insyaallah rida Allah Ta’ala akan diraih dan tujuan hidup seorang muslim untuk meraih surga Allah Ta’ala akan tercapai. Namun, untuk mencapai itu semua tidaklah mudah, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan. Menyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk dan banyak mendatangkan dampak negatif. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kehilangan kesempatan.Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Rabi’ah menasehati Sufyan Ats-Tsauri tentang hukum membuang waktu dalam Islam. Rabi’ah mengatakan, “Sesungguhnya Engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hampir sebagian harimu berlalu, namun Engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1: 405).Dalam tiap detik kehidupan yang dilalui oleh manusia, pasti terdapat suatu kesempatan baik yang menanti. Kesempatan tersebut akan datang kala kita memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Bagi orang yang menyia-nyiakan waktu, kesempatan tersebut akan hilang karena pada dasarnya kesempatan akan muncul ketika terdapat aksi yang sedang kita lakukan. Jika kesempatan itu adalah kesempatan emas yang dapat mengubah kehidupan seorang muslim menjadi lebih baik, maka merugilah orang yang selalu menyia-nyiakan waktu. Mereka akan tertinggal sangat jauh dari pada orang-orang yang produktif dan hidup mereka tidak akan ada perubahan ke arah lebih baik. Na’udzubillahi min dzalik.Urgensi Waktu Dalam IslamHal yang sangat berharga bagi seorang manusia terutama seorang muslim adalah waktu. Waktu menjadi sangat penting karena dengan waktu kepribadian manusia dapat berubah. Perubahan tersebut dapat ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk. Akan tetapi, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan dalam menjalani hari-harinya. Salah satu faktor yang dapat memicu hal itu terjadi adalah tidak bisanya dalam memanfaatkan waktu, sehingga tidak jarang banyak orang yang meminta kepada Allah Ta’ala untuk memutar balikkan waktu ke masa lalu.Abu Bakar ash-Shiddîq radhiyallahu ‘anhu berkata,أن لله حقا بالليل لا يقبله بالنهار ، وحقا بالنهار لا يقبله بالليل“Sesungguhnya Allah memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. Dan Allah juga memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, no. 37056).Hendaknya sebagai seorang muslim sejati kita dapat memanfaatkan waktu, agar penyesalan tidak menghampiri kita dan tidak akan pernah keluar kalimat dari dalam mulut kita yang mengatakan bahwa “Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu.”Baca Juga:***Penulis: RifaldoArtikel: Muslim.or.id

Ya Allah, Hamba Ingin Kembali ke Masa Lalu

Waktu atau masa adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Selama berlangsungnya suatu proses, perbuatan, atau keadaan hidup dalam diri seorang manusia, banyak yang tidak menyadari bahwa waktu begitu cepat berlalu. Pada zaman ini, tidak jarang banyak manusia yang melalaikan waktu dan bersikap masa bodoh terhadap waktu. Mereka menyia-nyiakan waktu yang telah Allah Ta’ala takdirkan pada dirinya. Seolah hidup ini hanya untuk kesenangan dan hura-hura belaka.Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,إضاعة الوقت أشد من الموت ، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة ،والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya” (Al-Fawaid, hal 44).Apabila waktu secara terus-menerus disia-siakan oleh seorang manusia, maka untuk apa ia hidup di dunia? Waktunya tidak berguna bagi dirinya ataupun bagi orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Bukankah tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya? Lalu apa prinsip hidup di dunia bagi orang yang menyia-nyiakan waktu? Sebenarnya tujuan hidup mereka hidup di dunia untuk apa?Apakah Manusia Dapat Kembali ke Masa Lalu?Belakangan ini, banyak sekali manusia terutama seorang muslim usia remaja hingga lanjut usia yang merasa menyesal terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka merasa takut dan risau akan azab Allah Ta’ala kepada manusia yang ingkar terhadap aturan-Nya, sehingga mereka bersikeras memohon kepada Allah Ta’ala untuk dapat kembali ke masa lalu agar dapat memperbaiki sejarah hidupnya. Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu. Namun, Apakah manusia dapat kembali ke masa lalu? Allah Ta’ala berfirman,وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)“[1] Demi masa. [2] Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. [3] Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-‘Ashr: 1-3)Dijelaskan dalam surat Al-‘Ashr bahwa manusia akan menyesal karena waktu. Maksudnya adalah manusia akan menyesal dengan apa yang telah terjadi dan tidak dijelaskan bahwa manusia bisa mengulang waktu. Ayat ke-3 hanya menjelaskan siapa saja yang tidak menyesal. Maka dari itu, manusia tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarah hidup yang telah dilaluinya.Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaPenyesalan yang Tiada GunaWaktu yang telah dilalui memang tidak dapat terulang lagi. Dalam hati dan jiwa seorang muslim pasti selalu ada saja sesuatu yang terlintas dalam pikiran akan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan dalam sejarah hidupnya. Rasanya setiap hari yang dilalui, bayangan akan maksiat masa lalu selalu terbayang dan hal ini apabila dipikirkan secara berlarut-larut dapat menjatuhkan iman dalam diri seorang muslim. Na’udzubillahi min dzalik. Namun, apakah dengan memikirkan maksiat masa lalu secara berlarut-larut akan dapat mengubah sejarah hidup yang telah diukirnya? Jawabannya adalah tidak. Penyesalan yang tiada gunalah yang hanya tertinggal dalam bekas jejak sejarah selama hidup di dunia.Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), ‘Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin’.”  (QS. As-Sajdah: 12).Tidaklah berguna suatu penyesalan bagi diri seorang manusia. Penyesalan tersebut tidak dapat membuat kita kembali ke masa lalu untuk memperbaiki segala dosa dan maksiat yang telah diperbuat selama hidup di dunia dan tidak dapat pula menyelamatkan diri dari azab Allah Ta’ala. Oleh karena itu, betapa pentingnya waktu bagi umat Islam. Manfaatkan waktu untuk hal-hal yang positif dan senantiasa selalu melibatkan Allah Ta’ala dalam setiap langkah hidup kita di dunia.Dampak Buruk bagi Orang-orang yang Menyia-nyiakan WaktuMenyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk karena dengan hal itu akan ada banyak waktu yang terbuang percuma tanpa mendatangkan pahala dan manfaat. Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena dengan memaksimalkan waktu untuk hal yang positif, maka insyaallah rida Allah Ta’ala akan diraih dan tujuan hidup seorang muslim untuk meraih surga Allah Ta’ala akan tercapai. Namun, untuk mencapai itu semua tidaklah mudah, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan. Menyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk dan banyak mendatangkan dampak negatif. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kehilangan kesempatan.Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Rabi’ah menasehati Sufyan Ats-Tsauri tentang hukum membuang waktu dalam Islam. Rabi’ah mengatakan, “Sesungguhnya Engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hampir sebagian harimu berlalu, namun Engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1: 405).Dalam tiap detik kehidupan yang dilalui oleh manusia, pasti terdapat suatu kesempatan baik yang menanti. Kesempatan tersebut akan datang kala kita memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Bagi orang yang menyia-nyiakan waktu, kesempatan tersebut akan hilang karena pada dasarnya kesempatan akan muncul ketika terdapat aksi yang sedang kita lakukan. Jika kesempatan itu adalah kesempatan emas yang dapat mengubah kehidupan seorang muslim menjadi lebih baik, maka merugilah orang yang selalu menyia-nyiakan waktu. Mereka akan tertinggal sangat jauh dari pada orang-orang yang produktif dan hidup mereka tidak akan ada perubahan ke arah lebih baik. Na’udzubillahi min dzalik.Urgensi Waktu Dalam IslamHal yang sangat berharga bagi seorang manusia terutama seorang muslim adalah waktu. Waktu menjadi sangat penting karena dengan waktu kepribadian manusia dapat berubah. Perubahan tersebut dapat ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk. Akan tetapi, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan dalam menjalani hari-harinya. Salah satu faktor yang dapat memicu hal itu terjadi adalah tidak bisanya dalam memanfaatkan waktu, sehingga tidak jarang banyak orang yang meminta kepada Allah Ta’ala untuk memutar balikkan waktu ke masa lalu.Abu Bakar ash-Shiddîq radhiyallahu ‘anhu berkata,أن لله حقا بالليل لا يقبله بالنهار ، وحقا بالنهار لا يقبله بالليل“Sesungguhnya Allah memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. Dan Allah juga memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, no. 37056).Hendaknya sebagai seorang muslim sejati kita dapat memanfaatkan waktu, agar penyesalan tidak menghampiri kita dan tidak akan pernah keluar kalimat dari dalam mulut kita yang mengatakan bahwa “Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu.”Baca Juga:***Penulis: RifaldoArtikel: Muslim.or.id
Waktu atau masa adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Selama berlangsungnya suatu proses, perbuatan, atau keadaan hidup dalam diri seorang manusia, banyak yang tidak menyadari bahwa waktu begitu cepat berlalu. Pada zaman ini, tidak jarang banyak manusia yang melalaikan waktu dan bersikap masa bodoh terhadap waktu. Mereka menyia-nyiakan waktu yang telah Allah Ta’ala takdirkan pada dirinya. Seolah hidup ini hanya untuk kesenangan dan hura-hura belaka.Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,إضاعة الوقت أشد من الموت ، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة ،والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya” (Al-Fawaid, hal 44).Apabila waktu secara terus-menerus disia-siakan oleh seorang manusia, maka untuk apa ia hidup di dunia? Waktunya tidak berguna bagi dirinya ataupun bagi orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Bukankah tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya? Lalu apa prinsip hidup di dunia bagi orang yang menyia-nyiakan waktu? Sebenarnya tujuan hidup mereka hidup di dunia untuk apa?Apakah Manusia Dapat Kembali ke Masa Lalu?Belakangan ini, banyak sekali manusia terutama seorang muslim usia remaja hingga lanjut usia yang merasa menyesal terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka merasa takut dan risau akan azab Allah Ta’ala kepada manusia yang ingkar terhadap aturan-Nya, sehingga mereka bersikeras memohon kepada Allah Ta’ala untuk dapat kembali ke masa lalu agar dapat memperbaiki sejarah hidupnya. Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu. Namun, Apakah manusia dapat kembali ke masa lalu? Allah Ta’ala berfirman,وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)“[1] Demi masa. [2] Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. [3] Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-‘Ashr: 1-3)Dijelaskan dalam surat Al-‘Ashr bahwa manusia akan menyesal karena waktu. Maksudnya adalah manusia akan menyesal dengan apa yang telah terjadi dan tidak dijelaskan bahwa manusia bisa mengulang waktu. Ayat ke-3 hanya menjelaskan siapa saja yang tidak menyesal. Maka dari itu, manusia tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarah hidup yang telah dilaluinya.Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaPenyesalan yang Tiada GunaWaktu yang telah dilalui memang tidak dapat terulang lagi. Dalam hati dan jiwa seorang muslim pasti selalu ada saja sesuatu yang terlintas dalam pikiran akan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan dalam sejarah hidupnya. Rasanya setiap hari yang dilalui, bayangan akan maksiat masa lalu selalu terbayang dan hal ini apabila dipikirkan secara berlarut-larut dapat menjatuhkan iman dalam diri seorang muslim. Na’udzubillahi min dzalik. Namun, apakah dengan memikirkan maksiat masa lalu secara berlarut-larut akan dapat mengubah sejarah hidup yang telah diukirnya? Jawabannya adalah tidak. Penyesalan yang tiada gunalah yang hanya tertinggal dalam bekas jejak sejarah selama hidup di dunia.Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), ‘Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin’.”  (QS. As-Sajdah: 12).Tidaklah berguna suatu penyesalan bagi diri seorang manusia. Penyesalan tersebut tidak dapat membuat kita kembali ke masa lalu untuk memperbaiki segala dosa dan maksiat yang telah diperbuat selama hidup di dunia dan tidak dapat pula menyelamatkan diri dari azab Allah Ta’ala. Oleh karena itu, betapa pentingnya waktu bagi umat Islam. Manfaatkan waktu untuk hal-hal yang positif dan senantiasa selalu melibatkan Allah Ta’ala dalam setiap langkah hidup kita di dunia.Dampak Buruk bagi Orang-orang yang Menyia-nyiakan WaktuMenyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk karena dengan hal itu akan ada banyak waktu yang terbuang percuma tanpa mendatangkan pahala dan manfaat. Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena dengan memaksimalkan waktu untuk hal yang positif, maka insyaallah rida Allah Ta’ala akan diraih dan tujuan hidup seorang muslim untuk meraih surga Allah Ta’ala akan tercapai. Namun, untuk mencapai itu semua tidaklah mudah, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan. Menyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk dan banyak mendatangkan dampak negatif. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kehilangan kesempatan.Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Rabi’ah menasehati Sufyan Ats-Tsauri tentang hukum membuang waktu dalam Islam. Rabi’ah mengatakan, “Sesungguhnya Engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hampir sebagian harimu berlalu, namun Engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1: 405).Dalam tiap detik kehidupan yang dilalui oleh manusia, pasti terdapat suatu kesempatan baik yang menanti. Kesempatan tersebut akan datang kala kita memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Bagi orang yang menyia-nyiakan waktu, kesempatan tersebut akan hilang karena pada dasarnya kesempatan akan muncul ketika terdapat aksi yang sedang kita lakukan. Jika kesempatan itu adalah kesempatan emas yang dapat mengubah kehidupan seorang muslim menjadi lebih baik, maka merugilah orang yang selalu menyia-nyiakan waktu. Mereka akan tertinggal sangat jauh dari pada orang-orang yang produktif dan hidup mereka tidak akan ada perubahan ke arah lebih baik. Na’udzubillahi min dzalik.Urgensi Waktu Dalam IslamHal yang sangat berharga bagi seorang manusia terutama seorang muslim adalah waktu. Waktu menjadi sangat penting karena dengan waktu kepribadian manusia dapat berubah. Perubahan tersebut dapat ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk. Akan tetapi, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan dalam menjalani hari-harinya. Salah satu faktor yang dapat memicu hal itu terjadi adalah tidak bisanya dalam memanfaatkan waktu, sehingga tidak jarang banyak orang yang meminta kepada Allah Ta’ala untuk memutar balikkan waktu ke masa lalu.Abu Bakar ash-Shiddîq radhiyallahu ‘anhu berkata,أن لله حقا بالليل لا يقبله بالنهار ، وحقا بالنهار لا يقبله بالليل“Sesungguhnya Allah memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. Dan Allah juga memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, no. 37056).Hendaknya sebagai seorang muslim sejati kita dapat memanfaatkan waktu, agar penyesalan tidak menghampiri kita dan tidak akan pernah keluar kalimat dari dalam mulut kita yang mengatakan bahwa “Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu.”Baca Juga:***Penulis: RifaldoArtikel: Muslim.or.id


Waktu atau masa adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Selama berlangsungnya suatu proses, perbuatan, atau keadaan hidup dalam diri seorang manusia, banyak yang tidak menyadari bahwa waktu begitu cepat berlalu. Pada zaman ini, tidak jarang banyak manusia yang melalaikan waktu dan bersikap masa bodoh terhadap waktu. Mereka menyia-nyiakan waktu yang telah Allah Ta’ala takdirkan pada dirinya. Seolah hidup ini hanya untuk kesenangan dan hura-hura belaka.Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,إضاعة الوقت أشد من الموت ، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة ،والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya” (Al-Fawaid, hal 44).Apabila waktu secara terus-menerus disia-siakan oleh seorang manusia, maka untuk apa ia hidup di dunia? Waktunya tidak berguna bagi dirinya ataupun bagi orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Bukankah tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya? Lalu apa prinsip hidup di dunia bagi orang yang menyia-nyiakan waktu? Sebenarnya tujuan hidup mereka hidup di dunia untuk apa?Apakah Manusia Dapat Kembali ke Masa Lalu?Belakangan ini, banyak sekali manusia terutama seorang muslim usia remaja hingga lanjut usia yang merasa menyesal terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka merasa takut dan risau akan azab Allah Ta’ala kepada manusia yang ingkar terhadap aturan-Nya, sehingga mereka bersikeras memohon kepada Allah Ta’ala untuk dapat kembali ke masa lalu agar dapat memperbaiki sejarah hidupnya. Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu. Namun, Apakah manusia dapat kembali ke masa lalu? Allah Ta’ala berfirman,وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)“[1] Demi masa. [2] Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. [3] Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-‘Ashr: 1-3)Dijelaskan dalam surat Al-‘Ashr bahwa manusia akan menyesal karena waktu. Maksudnya adalah manusia akan menyesal dengan apa yang telah terjadi dan tidak dijelaskan bahwa manusia bisa mengulang waktu. Ayat ke-3 hanya menjelaskan siapa saja yang tidak menyesal. Maka dari itu, manusia tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah sejarah hidup yang telah dilaluinya.Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaPenyesalan yang Tiada GunaWaktu yang telah dilalui memang tidak dapat terulang lagi. Dalam hati dan jiwa seorang muslim pasti selalu ada saja sesuatu yang terlintas dalam pikiran akan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan dalam sejarah hidupnya. Rasanya setiap hari yang dilalui, bayangan akan maksiat masa lalu selalu terbayang dan hal ini apabila dipikirkan secara berlarut-larut dapat menjatuhkan iman dalam diri seorang muslim. Na’udzubillahi min dzalik. Namun, apakah dengan memikirkan maksiat masa lalu secara berlarut-larut akan dapat mengubah sejarah hidup yang telah diukirnya? Jawabannya adalah tidak. Penyesalan yang tiada gunalah yang hanya tertinggal dalam bekas jejak sejarah selama hidup di dunia.Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), ‘Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin’.”  (QS. As-Sajdah: 12).Tidaklah berguna suatu penyesalan bagi diri seorang manusia. Penyesalan tersebut tidak dapat membuat kita kembali ke masa lalu untuk memperbaiki segala dosa dan maksiat yang telah diperbuat selama hidup di dunia dan tidak dapat pula menyelamatkan diri dari azab Allah Ta’ala. Oleh karena itu, betapa pentingnya waktu bagi umat Islam. Manfaatkan waktu untuk hal-hal yang positif dan senantiasa selalu melibatkan Allah Ta’ala dalam setiap langkah hidup kita di dunia.Dampak Buruk bagi Orang-orang yang Menyia-nyiakan WaktuMenyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk karena dengan hal itu akan ada banyak waktu yang terbuang percuma tanpa mendatangkan pahala dan manfaat. Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena dengan memaksimalkan waktu untuk hal yang positif, maka insyaallah rida Allah Ta’ala akan diraih dan tujuan hidup seorang muslim untuk meraih surga Allah Ta’ala akan tercapai. Namun, untuk mencapai itu semua tidaklah mudah, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan. Menyia-nyiakan waktu adalah suatu hal yang buruk dan banyak mendatangkan dampak negatif. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kehilangan kesempatan.Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Rabi’ah menasehati Sufyan Ats-Tsauri tentang hukum membuang waktu dalam Islam. Rabi’ah mengatakan, “Sesungguhnya Engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hampir sebagian harimu berlalu, namun Engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1: 405).Dalam tiap detik kehidupan yang dilalui oleh manusia, pasti terdapat suatu kesempatan baik yang menanti. Kesempatan tersebut akan datang kala kita memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Bagi orang yang menyia-nyiakan waktu, kesempatan tersebut akan hilang karena pada dasarnya kesempatan akan muncul ketika terdapat aksi yang sedang kita lakukan. Jika kesempatan itu adalah kesempatan emas yang dapat mengubah kehidupan seorang muslim menjadi lebih baik, maka merugilah orang yang selalu menyia-nyiakan waktu. Mereka akan tertinggal sangat jauh dari pada orang-orang yang produktif dan hidup mereka tidak akan ada perubahan ke arah lebih baik. Na’udzubillahi min dzalik.Urgensi Waktu Dalam IslamHal yang sangat berharga bagi seorang manusia terutama seorang muslim adalah waktu. Waktu menjadi sangat penting karena dengan waktu kepribadian manusia dapat berubah. Perubahan tersebut dapat ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk. Akan tetapi, banyak manusia yang terperangkap dalam lubang kemaksiatan dalam menjalani hari-harinya. Salah satu faktor yang dapat memicu hal itu terjadi adalah tidak bisanya dalam memanfaatkan waktu, sehingga tidak jarang banyak orang yang meminta kepada Allah Ta’ala untuk memutar balikkan waktu ke masa lalu.Abu Bakar ash-Shiddîq radhiyallahu ‘anhu berkata,أن لله حقا بالليل لا يقبله بالنهار ، وحقا بالنهار لا يقبله بالليل“Sesungguhnya Allah memiliki hak pada waktu malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. Dan Allah juga memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan menerimanya di waktu malam” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, no. 37056).Hendaknya sebagai seorang muslim sejati kita dapat memanfaatkan waktu, agar penyesalan tidak menghampiri kita dan tidak akan pernah keluar kalimat dari dalam mulut kita yang mengatakan bahwa “Ya Allah, hamba ingin kembali ke masa lalu.”Baca Juga:***Penulis: RifaldoArtikel: Muslim.or.id

Penghasilan Haram, Doa Menjadi Tidak Terkabul

Bismillah ….Doa adalah kebaikan, karena doa adalah ibadah. Bahkan inti dari semua ibadah ada pada doa, yaitu ketundukan dan merasa miskin di hadapan Allah Ta’ala. Maka sesuatu yang baik, akan tetap baik jika tidak dinodai dengan yang buruk. Dan Allah azza wa jalla, adalah Tuhan yang Maha baik. Allah Ta’ala tidak menerima kecuali yang baik. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengabarkan,إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا“Sesungguhnya Allah itu maha baik, tidak akan menerima kecuali yang baik-baik …” (HR. Muslim).Salah satu noda doa yang menyebabkan doa tidak akan menembus pintu langit adalah penghasilan yang haram. Dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“… lalu Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, baju compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Tuhanku … ya Tuhanku …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim)Ini menunjukkan betapa bahayanya penghasilan yang haram. Ia akan menyebabkan doa tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Bersamaan dengan itu, hadis ini juga menunjukkan arti sebaliknya (mafhum mukholafah), bahwa makanan yang halal dan baik, dapat menjadi sebab terkabulnya doa. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Wahb bin Munabbih Rahimahullah,من سره أن يستجيب الله دعوته فليطب طعمته“Siapa yang senang doanya dikabulkan oleh Allah, maka perbaikilah makanan kalian (makanan yang halal).”Sahabat Sa’ad bin Abi Waqos Radhiyallahu ’anhu pernah ditanya, “Mengapa doa Anda termasuk doa-doa sahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam yang selalu dikabulkan Allah?”Sa’ad menjawab,ما رفعت إلى فمي لقمة إلا وأنا عالم من أين مجيئها ومن أين خرجت“Aku tidak mengangkat sesuatu pun makanan ke mulutku kecuali aku tahu dari mana datangnya dan ke mana ia dikeluarkan” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1: 275).Wallahulmuwaffiq.__ Referensi utama: Fiqh Al-Ad’iyah wal Adz-kar, karya Prof. Abdurrazaq Al-Badr –Hafdzohullah-, diterbitkan oleh: Maktabah Dar Al-Minhaj, Riyadh – KSA, cetakan ke 1.Baca Juga:Ditulis oleh : Ahmad AnshoriArtikel : Muslim.or.id 🔍 Fikih Puasa, Doa Doa Iftitah, Hari Yang Tidak Boleh Puasa, Belajar Ikhlas Dan Sabar Menurut Islam, Pengertian Ghibah Dalam Islam

Penghasilan Haram, Doa Menjadi Tidak Terkabul

Bismillah ….Doa adalah kebaikan, karena doa adalah ibadah. Bahkan inti dari semua ibadah ada pada doa, yaitu ketundukan dan merasa miskin di hadapan Allah Ta’ala. Maka sesuatu yang baik, akan tetap baik jika tidak dinodai dengan yang buruk. Dan Allah azza wa jalla, adalah Tuhan yang Maha baik. Allah Ta’ala tidak menerima kecuali yang baik. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengabarkan,إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا“Sesungguhnya Allah itu maha baik, tidak akan menerima kecuali yang baik-baik …” (HR. Muslim).Salah satu noda doa yang menyebabkan doa tidak akan menembus pintu langit adalah penghasilan yang haram. Dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“… lalu Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, baju compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Tuhanku … ya Tuhanku …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim)Ini menunjukkan betapa bahayanya penghasilan yang haram. Ia akan menyebabkan doa tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Bersamaan dengan itu, hadis ini juga menunjukkan arti sebaliknya (mafhum mukholafah), bahwa makanan yang halal dan baik, dapat menjadi sebab terkabulnya doa. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Wahb bin Munabbih Rahimahullah,من سره أن يستجيب الله دعوته فليطب طعمته“Siapa yang senang doanya dikabulkan oleh Allah, maka perbaikilah makanan kalian (makanan yang halal).”Sahabat Sa’ad bin Abi Waqos Radhiyallahu ’anhu pernah ditanya, “Mengapa doa Anda termasuk doa-doa sahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam yang selalu dikabulkan Allah?”Sa’ad menjawab,ما رفعت إلى فمي لقمة إلا وأنا عالم من أين مجيئها ومن أين خرجت“Aku tidak mengangkat sesuatu pun makanan ke mulutku kecuali aku tahu dari mana datangnya dan ke mana ia dikeluarkan” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1: 275).Wallahulmuwaffiq.__ Referensi utama: Fiqh Al-Ad’iyah wal Adz-kar, karya Prof. Abdurrazaq Al-Badr –Hafdzohullah-, diterbitkan oleh: Maktabah Dar Al-Minhaj, Riyadh – KSA, cetakan ke 1.Baca Juga:Ditulis oleh : Ahmad AnshoriArtikel : Muslim.or.id 🔍 Fikih Puasa, Doa Doa Iftitah, Hari Yang Tidak Boleh Puasa, Belajar Ikhlas Dan Sabar Menurut Islam, Pengertian Ghibah Dalam Islam
Bismillah ….Doa adalah kebaikan, karena doa adalah ibadah. Bahkan inti dari semua ibadah ada pada doa, yaitu ketundukan dan merasa miskin di hadapan Allah Ta’ala. Maka sesuatu yang baik, akan tetap baik jika tidak dinodai dengan yang buruk. Dan Allah azza wa jalla, adalah Tuhan yang Maha baik. Allah Ta’ala tidak menerima kecuali yang baik. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengabarkan,إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا“Sesungguhnya Allah itu maha baik, tidak akan menerima kecuali yang baik-baik …” (HR. Muslim).Salah satu noda doa yang menyebabkan doa tidak akan menembus pintu langit adalah penghasilan yang haram. Dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“… lalu Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, baju compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Tuhanku … ya Tuhanku …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim)Ini menunjukkan betapa bahayanya penghasilan yang haram. Ia akan menyebabkan doa tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Bersamaan dengan itu, hadis ini juga menunjukkan arti sebaliknya (mafhum mukholafah), bahwa makanan yang halal dan baik, dapat menjadi sebab terkabulnya doa. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Wahb bin Munabbih Rahimahullah,من سره أن يستجيب الله دعوته فليطب طعمته“Siapa yang senang doanya dikabulkan oleh Allah, maka perbaikilah makanan kalian (makanan yang halal).”Sahabat Sa’ad bin Abi Waqos Radhiyallahu ’anhu pernah ditanya, “Mengapa doa Anda termasuk doa-doa sahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam yang selalu dikabulkan Allah?”Sa’ad menjawab,ما رفعت إلى فمي لقمة إلا وأنا عالم من أين مجيئها ومن أين خرجت“Aku tidak mengangkat sesuatu pun makanan ke mulutku kecuali aku tahu dari mana datangnya dan ke mana ia dikeluarkan” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1: 275).Wallahulmuwaffiq.__ Referensi utama: Fiqh Al-Ad’iyah wal Adz-kar, karya Prof. Abdurrazaq Al-Badr –Hafdzohullah-, diterbitkan oleh: Maktabah Dar Al-Minhaj, Riyadh – KSA, cetakan ke 1.Baca Juga:Ditulis oleh : Ahmad AnshoriArtikel : Muslim.or.id 🔍 Fikih Puasa, Doa Doa Iftitah, Hari Yang Tidak Boleh Puasa, Belajar Ikhlas Dan Sabar Menurut Islam, Pengertian Ghibah Dalam Islam


Bismillah ….Doa adalah kebaikan, karena doa adalah ibadah. Bahkan inti dari semua ibadah ada pada doa, yaitu ketundukan dan merasa miskin di hadapan Allah Ta’ala. Maka sesuatu yang baik, akan tetap baik jika tidak dinodai dengan yang buruk. Dan Allah azza wa jalla, adalah Tuhan yang Maha baik. Allah Ta’ala tidak menerima kecuali yang baik. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengabarkan,إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا“Sesungguhnya Allah itu maha baik, tidak akan menerima kecuali yang baik-baik …” (HR. Muslim).Salah satu noda doa yang menyebabkan doa tidak akan menembus pintu langit adalah penghasilan yang haram. Dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“… lalu Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, baju compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Tuhanku … ya Tuhanku …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim)Ini menunjukkan betapa bahayanya penghasilan yang haram. Ia akan menyebabkan doa tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Bersamaan dengan itu, hadis ini juga menunjukkan arti sebaliknya (mafhum mukholafah), bahwa makanan yang halal dan baik, dapat menjadi sebab terkabulnya doa. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Wahb bin Munabbih Rahimahullah,من سره أن يستجيب الله دعوته فليطب طعمته“Siapa yang senang doanya dikabulkan oleh Allah, maka perbaikilah makanan kalian (makanan yang halal).”Sahabat Sa’ad bin Abi Waqos Radhiyallahu ’anhu pernah ditanya, “Mengapa doa Anda termasuk doa-doa sahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam yang selalu dikabulkan Allah?”Sa’ad menjawab,ما رفعت إلى فمي لقمة إلا وأنا عالم من أين مجيئها ومن أين خرجت“Aku tidak mengangkat sesuatu pun makanan ke mulutku kecuali aku tahu dari mana datangnya dan ke mana ia dikeluarkan” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1: 275).Wallahulmuwaffiq.__ Referensi utama: Fiqh Al-Ad’iyah wal Adz-kar, karya Prof. Abdurrazaq Al-Badr –Hafdzohullah-, diterbitkan oleh: Maktabah Dar Al-Minhaj, Riyadh – KSA, cetakan ke 1.Baca Juga:Ditulis oleh : Ahmad AnshoriArtikel : Muslim.or.id 🔍 Fikih Puasa, Doa Doa Iftitah, Hari Yang Tidak Boleh Puasa, Belajar Ikhlas Dan Sabar Menurut Islam, Pengertian Ghibah Dalam Islam

Mengobati Kegalauan (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Mengobati Kegalauan (Bag. 4)Selawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamكان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا ذهب ثُلُثَا الليلِ قام فقال يا أيُّها الناسُ اذكُروا اللهَ اذكروا اللهَ جاءتِ الراجفةُ تَتْبَعُها الرادِفَةُ جاء الموتُ بما فيه جاء الموتُ بما فيه قال أُبَيٌّ قلْتُ يا رسولَ اللهِ إِنَّي أُكْثِرُ الصلاةَ عليْكَ فكم أجعَلُ لكَ من صلاتِي فقال ما شِئْتَ قال قلتُ الربعَ قال ما شئْتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قلتُ النصفَ قال ما شئتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قال قلْتُ فالثلثينِ قال ما شئْتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قلتُ أجعلُ لكَ صلاتي كلَّها قال : إذًا تُكْفَى همَّكَ ويغفرْ لكَ ذنبُكَDahulu, bila berlalu dua per tiga malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dan berkata, “Wahai, sekalian manusia, berzikirlah kepada Allah, berzikirlah kepada Allah! Pasti datang tiupan Sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua. Datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya.”Ubai berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai, Rasulullah, Aku memperbanyak selawat untukmu. Berapa banyak aku berselawat untukmu?’”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Terserah dirimu.” Lalu Ubai berkata lagi, “Aku berkata, ‘Seperempat.'”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ”Terserah dirimu. Tetapi jika Engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Maka aku berkata lagi, “Kalau begitu, dua per tiga.”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Terserah dirimu. Jika Engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Lalu aku berkata, ”Aku jadikan seluruh (doaku) adalah selawat untukmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika begitu, (selawat) itu mencukupkan keinginanmu (dunia dan akhirat) dan Allah akan mengampuni dosamu.” (HR at-Tirmidzi. Beliau berkata, “Ini adalah hadis hasan sahih. As-Sunan no. 2457, dinilai hasan oleh Syekh al-Albani)Tawakal kepada Allah Ta’ala dan menyerahkan seluruh perkara kepada-NyaAllah Ta’ala adalah Zat yang maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak butuh bantuan siapa pun dalam mengatur segala urusan. Pengaturan-Nya terhadap hamba lebih baik dari pada pengaturan hamba kepada dirinya sendiri. Dia lebih mengetahui mana yang lebih mashlahat untuk hamba daripada hamba itu sendiri. Dia lebih menyayangi hamba daripada hamba itu menyayangi dirinya sendiri. Tidak ada yang mampu mendahulukan atau menunda sesuatu yang telah Dia tetapkan.Barang siapa yang menyadari hal itu semua, maka seharusnya hamba menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Manusia adalah makhluk lemah yang berada di bawah kekuasaan Allah Ta’ala yang Maha Merajai, Maha Perkasa, lagi Maha Kuasa. Barangsiapa yang menyerahkan segala urusannya secara totalitas kepada Allah Ta’ala, maka akan pergilah berbagai kegalauan, kecemasan, kesesakan hidup, dan penyesalan. Semua hajat dan kemaslahatannya akan diurus oleh Allah Ta’ala. Hamba tersebut tidak akan lelah memikirkan kebutuhannya dan beban berat yang harus dipikulnya karena dia yakin Allah Ta’ala yang akan menyelesaikannya. Betapa indahnya hidup, besarnya kegembiraan, dan lapangnya hati ketika Allah Ta’ala telah mengosongkan hati dan pikirannya dari berbagai beban tersebut.Adapun orang yang ingin mengatur dirinya sendiri, maka Allah Ta’ala palingkan dia ke mana dia ingin berpaling. Dia hadirkan kegalauan, kecemasan, kesedihan, kesusahan, kekhawatiran, dan keletihan bagi orang tersebut. Mereka berada dalam keadaan yang buruk dan hatinya tertutup. Hatinya keruh, amalnya terkotori, harapannya tidak terwujud, kenyamanan tak tergapai, kelezatan tak tercapai, dan dia dihalangi dengan terwujudnya kegembiraan. Dia bersusah payah dalam hidupnya di dunia sebagaimana susahnya binatang, dia tidak mendapatkan apa yang dia angan-angankan. Dia pun tidak mengambil bekal dari dunia untuk menuju tempat kembali nanti. (Al-Fawaid, hal. 209)Jika hati bersandar kepada Allah Ta’ala, bertawakal kepada-Nya, tidak pasrah kepada berbagai pikiran, tidak dikuasai dengan angan-angan yang buruk, maka akan tercegah kegalauan, dan berbagai penyakit hati serta penyakit badan. Dia akan mendapatkan kegembiraan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Orang yang sehat dan selamat adalah orang yang Allah Ta’ala selamatkan dan Allah beri taufik kepadanya untuk terwujudnya sebab-sebab yang manfaat untuk menguatkan hati dan mencegah kecemasan hati. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya”. (QS. Ath-Thalaq: 3)Maksudnya, Allah Ta’ala akan mencukupi apa yang dia pikirkan, baik masalah agama maupun dunianya. Orang yang bertawakal kepada Allah Ta’ala, akan kuat hatinya, tidak terpengaruh berbagai bayang-bayang, tidak terganggu berbagai peristiwa karena dia sadari keresahan itu disebabkan karena rapuhnya jiwa, dan ketakutan yang hanya dalam pikirannya. Sedangkan Allah Ta’ala pasti menjamin hamba yang bertawakal kepada-Nya dengan kecukupan yang sempurna. Dia yakin kepada Allah Ta’ala dan tenang dengan janji-Nya tersebut. Pergilah berbagai kegalauan, kesukaran berganti dengan kemudahan, kesulitan berganti dengan kebahagiaan, kekhawatiran berganti dengan rasa aman. Kita memohon kepada Allah Ta’ala keselamatan, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kekuatan hati dan tetapnya tawakal yang sempurna kepada kita.Baca Juga: Bilakah Pohon Iman Berbuah Manis?Bersemangat dalam mengerjakan kegiatan yang bermanfaat, fokus mengerjakan apa yang harus dikerjakan saat ini, dan tidak memikirkan sesuatu yang belum terjadi ataupun kesedihan di masa laluNabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala  dari penyakit hamm dan hazn. Al-Hamm adalah galau dengan sesuatu yang belum terjadi, sedangkan hazn adalah sedih dengan sesuatu yang telah terjadi. Kiat supaya tidak terpenjara dengan masa lalu dan tidak galau dengan masa depan adalah menjadi orang yang fokus dengan hari ini. Dia kumpulkan kesungguhannya untuk memperbaiki hari ini. Maka mengumpulkan hati fokus untuk hari ini akan membuahkan aktivitas secara sempurna. Jika orang sibuk dengan aktivitas hari ini, maka dia akan terhibur dari kecemasan dan kesedihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari umat untuk senantiasa berdoa dan juga mengajarkan untuk bersungguh-sungguh beramal supaya harapannya itu terwujud. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk berdoa saja atau berusaha saja, namun beliau ajarkan umatnya untuk berdoa dan berusaha semaksimal mungkin karena doa itu bergandeng dengan amal.الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ ولا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شيءٌ، فلا تَقُلْ لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ، فإنَّ لو تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.“Seorang mukmin yang kuat imannya lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah imannya, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah, ‘Qodarullah wamaa sya’a fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664)Dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk: Senantiasa bersungguh-sungguh, bersemangat, dan antusias dalam melakukan hal yang bermanfaat. Senantiasa meminta kepada Allah Ta’ala. Larangan untuk bersikap lemah dan malas. Tidak berandai-andai dengan sesuatu yang telah terjadi dan mengembalikan musibah yang telah terjadi kepada takdir Allah Ta’ala. Hadis di atas membagi perkara menjadi 2 macam, yaitu:Pertama, perkara bermanfaat yang bisa diusahakan oleh hamba untuk terwujud atau perkara buruk yang bisa diusahakan untuk dicegah. Dalam perkara ini, seorang mukmin hendaknya senantiasa bersungguh-sungguh dan meminta kepada Allah Ta’ala.Kedua, perkara yang sudah tidak bisa diusahakan untuk terwujud atau dicegah karena sudah terjadi. Dalam perkara ini, seorang mukmin hendaknya rida, tenang, dan menyerahkan semua yang telah terjadi tersebut kepada Allah Ta’ala.Tidak diragukan bahwa memperhatikan hal ini merupakan sebab kebahagiaan dan perginya kegalauan serta kecemasan. (Al-Wasail al-mufiidah lilhayah as-sa’iidah, Ibnu Sa’di).Hadis di atas juga mengajarkan salah satu sebab yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kegalauan adalah tidak menyibukkan pikirannya dengan apa yang telah terjadi. Lawan hati dari hal yang membuat cemas hatinya dan ketakutan berbagai khayalan di masa depan. Kita harus sadar bahwa masa depan tidak kita ketahui. Masa depan itu di tangan Allah Ta’ala yang Maha Bijaksana. Hamba tidak mampu melakukan apapun selain berusaha untuk mewujudkan kebaikan baginya dengan doa dan ikhtiar semampunya. (Al-Wasail al-mufiidah lilhayah as-sa’iidah, Ibnu Sa’di).Baca Juga:Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Mengobati Kegalauan (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Mengobati Kegalauan (Bag. 4)Selawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamكان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا ذهب ثُلُثَا الليلِ قام فقال يا أيُّها الناسُ اذكُروا اللهَ اذكروا اللهَ جاءتِ الراجفةُ تَتْبَعُها الرادِفَةُ جاء الموتُ بما فيه جاء الموتُ بما فيه قال أُبَيٌّ قلْتُ يا رسولَ اللهِ إِنَّي أُكْثِرُ الصلاةَ عليْكَ فكم أجعَلُ لكَ من صلاتِي فقال ما شِئْتَ قال قلتُ الربعَ قال ما شئْتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قلتُ النصفَ قال ما شئتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قال قلْتُ فالثلثينِ قال ما شئْتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قلتُ أجعلُ لكَ صلاتي كلَّها قال : إذًا تُكْفَى همَّكَ ويغفرْ لكَ ذنبُكَDahulu, bila berlalu dua per tiga malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dan berkata, “Wahai, sekalian manusia, berzikirlah kepada Allah, berzikirlah kepada Allah! Pasti datang tiupan Sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua. Datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya.”Ubai berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai, Rasulullah, Aku memperbanyak selawat untukmu. Berapa banyak aku berselawat untukmu?’”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Terserah dirimu.” Lalu Ubai berkata lagi, “Aku berkata, ‘Seperempat.'”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ”Terserah dirimu. Tetapi jika Engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Maka aku berkata lagi, “Kalau begitu, dua per tiga.”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Terserah dirimu. Jika Engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Lalu aku berkata, ”Aku jadikan seluruh (doaku) adalah selawat untukmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika begitu, (selawat) itu mencukupkan keinginanmu (dunia dan akhirat) dan Allah akan mengampuni dosamu.” (HR at-Tirmidzi. Beliau berkata, “Ini adalah hadis hasan sahih. As-Sunan no. 2457, dinilai hasan oleh Syekh al-Albani)Tawakal kepada Allah Ta’ala dan menyerahkan seluruh perkara kepada-NyaAllah Ta’ala adalah Zat yang maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak butuh bantuan siapa pun dalam mengatur segala urusan. Pengaturan-Nya terhadap hamba lebih baik dari pada pengaturan hamba kepada dirinya sendiri. Dia lebih mengetahui mana yang lebih mashlahat untuk hamba daripada hamba itu sendiri. Dia lebih menyayangi hamba daripada hamba itu menyayangi dirinya sendiri. Tidak ada yang mampu mendahulukan atau menunda sesuatu yang telah Dia tetapkan.Barang siapa yang menyadari hal itu semua, maka seharusnya hamba menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Manusia adalah makhluk lemah yang berada di bawah kekuasaan Allah Ta’ala yang Maha Merajai, Maha Perkasa, lagi Maha Kuasa. Barangsiapa yang menyerahkan segala urusannya secara totalitas kepada Allah Ta’ala, maka akan pergilah berbagai kegalauan, kecemasan, kesesakan hidup, dan penyesalan. Semua hajat dan kemaslahatannya akan diurus oleh Allah Ta’ala. Hamba tersebut tidak akan lelah memikirkan kebutuhannya dan beban berat yang harus dipikulnya karena dia yakin Allah Ta’ala yang akan menyelesaikannya. Betapa indahnya hidup, besarnya kegembiraan, dan lapangnya hati ketika Allah Ta’ala telah mengosongkan hati dan pikirannya dari berbagai beban tersebut.Adapun orang yang ingin mengatur dirinya sendiri, maka Allah Ta’ala palingkan dia ke mana dia ingin berpaling. Dia hadirkan kegalauan, kecemasan, kesedihan, kesusahan, kekhawatiran, dan keletihan bagi orang tersebut. Mereka berada dalam keadaan yang buruk dan hatinya tertutup. Hatinya keruh, amalnya terkotori, harapannya tidak terwujud, kenyamanan tak tergapai, kelezatan tak tercapai, dan dia dihalangi dengan terwujudnya kegembiraan. Dia bersusah payah dalam hidupnya di dunia sebagaimana susahnya binatang, dia tidak mendapatkan apa yang dia angan-angankan. Dia pun tidak mengambil bekal dari dunia untuk menuju tempat kembali nanti. (Al-Fawaid, hal. 209)Jika hati bersandar kepada Allah Ta’ala, bertawakal kepada-Nya, tidak pasrah kepada berbagai pikiran, tidak dikuasai dengan angan-angan yang buruk, maka akan tercegah kegalauan, dan berbagai penyakit hati serta penyakit badan. Dia akan mendapatkan kegembiraan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Orang yang sehat dan selamat adalah orang yang Allah Ta’ala selamatkan dan Allah beri taufik kepadanya untuk terwujudnya sebab-sebab yang manfaat untuk menguatkan hati dan mencegah kecemasan hati. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya”. (QS. Ath-Thalaq: 3)Maksudnya, Allah Ta’ala akan mencukupi apa yang dia pikirkan, baik masalah agama maupun dunianya. Orang yang bertawakal kepada Allah Ta’ala, akan kuat hatinya, tidak terpengaruh berbagai bayang-bayang, tidak terganggu berbagai peristiwa karena dia sadari keresahan itu disebabkan karena rapuhnya jiwa, dan ketakutan yang hanya dalam pikirannya. Sedangkan Allah Ta’ala pasti menjamin hamba yang bertawakal kepada-Nya dengan kecukupan yang sempurna. Dia yakin kepada Allah Ta’ala dan tenang dengan janji-Nya tersebut. Pergilah berbagai kegalauan, kesukaran berganti dengan kemudahan, kesulitan berganti dengan kebahagiaan, kekhawatiran berganti dengan rasa aman. Kita memohon kepada Allah Ta’ala keselamatan, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kekuatan hati dan tetapnya tawakal yang sempurna kepada kita.Baca Juga: Bilakah Pohon Iman Berbuah Manis?Bersemangat dalam mengerjakan kegiatan yang bermanfaat, fokus mengerjakan apa yang harus dikerjakan saat ini, dan tidak memikirkan sesuatu yang belum terjadi ataupun kesedihan di masa laluNabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala  dari penyakit hamm dan hazn. Al-Hamm adalah galau dengan sesuatu yang belum terjadi, sedangkan hazn adalah sedih dengan sesuatu yang telah terjadi. Kiat supaya tidak terpenjara dengan masa lalu dan tidak galau dengan masa depan adalah menjadi orang yang fokus dengan hari ini. Dia kumpulkan kesungguhannya untuk memperbaiki hari ini. Maka mengumpulkan hati fokus untuk hari ini akan membuahkan aktivitas secara sempurna. Jika orang sibuk dengan aktivitas hari ini, maka dia akan terhibur dari kecemasan dan kesedihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari umat untuk senantiasa berdoa dan juga mengajarkan untuk bersungguh-sungguh beramal supaya harapannya itu terwujud. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk berdoa saja atau berusaha saja, namun beliau ajarkan umatnya untuk berdoa dan berusaha semaksimal mungkin karena doa itu bergandeng dengan amal.الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ ولا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شيءٌ، فلا تَقُلْ لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ، فإنَّ لو تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.“Seorang mukmin yang kuat imannya lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah imannya, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah, ‘Qodarullah wamaa sya’a fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664)Dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk: Senantiasa bersungguh-sungguh, bersemangat, dan antusias dalam melakukan hal yang bermanfaat. Senantiasa meminta kepada Allah Ta’ala. Larangan untuk bersikap lemah dan malas. Tidak berandai-andai dengan sesuatu yang telah terjadi dan mengembalikan musibah yang telah terjadi kepada takdir Allah Ta’ala. Hadis di atas membagi perkara menjadi 2 macam, yaitu:Pertama, perkara bermanfaat yang bisa diusahakan oleh hamba untuk terwujud atau perkara buruk yang bisa diusahakan untuk dicegah. Dalam perkara ini, seorang mukmin hendaknya senantiasa bersungguh-sungguh dan meminta kepada Allah Ta’ala.Kedua, perkara yang sudah tidak bisa diusahakan untuk terwujud atau dicegah karena sudah terjadi. Dalam perkara ini, seorang mukmin hendaknya rida, tenang, dan menyerahkan semua yang telah terjadi tersebut kepada Allah Ta’ala.Tidak diragukan bahwa memperhatikan hal ini merupakan sebab kebahagiaan dan perginya kegalauan serta kecemasan. (Al-Wasail al-mufiidah lilhayah as-sa’iidah, Ibnu Sa’di).Hadis di atas juga mengajarkan salah satu sebab yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kegalauan adalah tidak menyibukkan pikirannya dengan apa yang telah terjadi. Lawan hati dari hal yang membuat cemas hatinya dan ketakutan berbagai khayalan di masa depan. Kita harus sadar bahwa masa depan tidak kita ketahui. Masa depan itu di tangan Allah Ta’ala yang Maha Bijaksana. Hamba tidak mampu melakukan apapun selain berusaha untuk mewujudkan kebaikan baginya dengan doa dan ikhtiar semampunya. (Al-Wasail al-mufiidah lilhayah as-sa’iidah, Ibnu Sa’di).Baca Juga:Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Mengobati Kegalauan (Bag. 4)Selawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamكان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا ذهب ثُلُثَا الليلِ قام فقال يا أيُّها الناسُ اذكُروا اللهَ اذكروا اللهَ جاءتِ الراجفةُ تَتْبَعُها الرادِفَةُ جاء الموتُ بما فيه جاء الموتُ بما فيه قال أُبَيٌّ قلْتُ يا رسولَ اللهِ إِنَّي أُكْثِرُ الصلاةَ عليْكَ فكم أجعَلُ لكَ من صلاتِي فقال ما شِئْتَ قال قلتُ الربعَ قال ما شئْتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قلتُ النصفَ قال ما شئتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قال قلْتُ فالثلثينِ قال ما شئْتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قلتُ أجعلُ لكَ صلاتي كلَّها قال : إذًا تُكْفَى همَّكَ ويغفرْ لكَ ذنبُكَDahulu, bila berlalu dua per tiga malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dan berkata, “Wahai, sekalian manusia, berzikirlah kepada Allah, berzikirlah kepada Allah! Pasti datang tiupan Sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua. Datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya.”Ubai berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai, Rasulullah, Aku memperbanyak selawat untukmu. Berapa banyak aku berselawat untukmu?’”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Terserah dirimu.” Lalu Ubai berkata lagi, “Aku berkata, ‘Seperempat.'”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ”Terserah dirimu. Tetapi jika Engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Maka aku berkata lagi, “Kalau begitu, dua per tiga.”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Terserah dirimu. Jika Engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Lalu aku berkata, ”Aku jadikan seluruh (doaku) adalah selawat untukmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika begitu, (selawat) itu mencukupkan keinginanmu (dunia dan akhirat) dan Allah akan mengampuni dosamu.” (HR at-Tirmidzi. Beliau berkata, “Ini adalah hadis hasan sahih. As-Sunan no. 2457, dinilai hasan oleh Syekh al-Albani)Tawakal kepada Allah Ta’ala dan menyerahkan seluruh perkara kepada-NyaAllah Ta’ala adalah Zat yang maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak butuh bantuan siapa pun dalam mengatur segala urusan. Pengaturan-Nya terhadap hamba lebih baik dari pada pengaturan hamba kepada dirinya sendiri. Dia lebih mengetahui mana yang lebih mashlahat untuk hamba daripada hamba itu sendiri. Dia lebih menyayangi hamba daripada hamba itu menyayangi dirinya sendiri. Tidak ada yang mampu mendahulukan atau menunda sesuatu yang telah Dia tetapkan.Barang siapa yang menyadari hal itu semua, maka seharusnya hamba menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Manusia adalah makhluk lemah yang berada di bawah kekuasaan Allah Ta’ala yang Maha Merajai, Maha Perkasa, lagi Maha Kuasa. Barangsiapa yang menyerahkan segala urusannya secara totalitas kepada Allah Ta’ala, maka akan pergilah berbagai kegalauan, kecemasan, kesesakan hidup, dan penyesalan. Semua hajat dan kemaslahatannya akan diurus oleh Allah Ta’ala. Hamba tersebut tidak akan lelah memikirkan kebutuhannya dan beban berat yang harus dipikulnya karena dia yakin Allah Ta’ala yang akan menyelesaikannya. Betapa indahnya hidup, besarnya kegembiraan, dan lapangnya hati ketika Allah Ta’ala telah mengosongkan hati dan pikirannya dari berbagai beban tersebut.Adapun orang yang ingin mengatur dirinya sendiri, maka Allah Ta’ala palingkan dia ke mana dia ingin berpaling. Dia hadirkan kegalauan, kecemasan, kesedihan, kesusahan, kekhawatiran, dan keletihan bagi orang tersebut. Mereka berada dalam keadaan yang buruk dan hatinya tertutup. Hatinya keruh, amalnya terkotori, harapannya tidak terwujud, kenyamanan tak tergapai, kelezatan tak tercapai, dan dia dihalangi dengan terwujudnya kegembiraan. Dia bersusah payah dalam hidupnya di dunia sebagaimana susahnya binatang, dia tidak mendapatkan apa yang dia angan-angankan. Dia pun tidak mengambil bekal dari dunia untuk menuju tempat kembali nanti. (Al-Fawaid, hal. 209)Jika hati bersandar kepada Allah Ta’ala, bertawakal kepada-Nya, tidak pasrah kepada berbagai pikiran, tidak dikuasai dengan angan-angan yang buruk, maka akan tercegah kegalauan, dan berbagai penyakit hati serta penyakit badan. Dia akan mendapatkan kegembiraan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Orang yang sehat dan selamat adalah orang yang Allah Ta’ala selamatkan dan Allah beri taufik kepadanya untuk terwujudnya sebab-sebab yang manfaat untuk menguatkan hati dan mencegah kecemasan hati. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya”. (QS. Ath-Thalaq: 3)Maksudnya, Allah Ta’ala akan mencukupi apa yang dia pikirkan, baik masalah agama maupun dunianya. Orang yang bertawakal kepada Allah Ta’ala, akan kuat hatinya, tidak terpengaruh berbagai bayang-bayang, tidak terganggu berbagai peristiwa karena dia sadari keresahan itu disebabkan karena rapuhnya jiwa, dan ketakutan yang hanya dalam pikirannya. Sedangkan Allah Ta’ala pasti menjamin hamba yang bertawakal kepada-Nya dengan kecukupan yang sempurna. Dia yakin kepada Allah Ta’ala dan tenang dengan janji-Nya tersebut. Pergilah berbagai kegalauan, kesukaran berganti dengan kemudahan, kesulitan berganti dengan kebahagiaan, kekhawatiran berganti dengan rasa aman. Kita memohon kepada Allah Ta’ala keselamatan, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kekuatan hati dan tetapnya tawakal yang sempurna kepada kita.Baca Juga: Bilakah Pohon Iman Berbuah Manis?Bersemangat dalam mengerjakan kegiatan yang bermanfaat, fokus mengerjakan apa yang harus dikerjakan saat ini, dan tidak memikirkan sesuatu yang belum terjadi ataupun kesedihan di masa laluNabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala  dari penyakit hamm dan hazn. Al-Hamm adalah galau dengan sesuatu yang belum terjadi, sedangkan hazn adalah sedih dengan sesuatu yang telah terjadi. Kiat supaya tidak terpenjara dengan masa lalu dan tidak galau dengan masa depan adalah menjadi orang yang fokus dengan hari ini. Dia kumpulkan kesungguhannya untuk memperbaiki hari ini. Maka mengumpulkan hati fokus untuk hari ini akan membuahkan aktivitas secara sempurna. Jika orang sibuk dengan aktivitas hari ini, maka dia akan terhibur dari kecemasan dan kesedihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari umat untuk senantiasa berdoa dan juga mengajarkan untuk bersungguh-sungguh beramal supaya harapannya itu terwujud. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk berdoa saja atau berusaha saja, namun beliau ajarkan umatnya untuk berdoa dan berusaha semaksimal mungkin karena doa itu bergandeng dengan amal.الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ ولا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شيءٌ، فلا تَقُلْ لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ، فإنَّ لو تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.“Seorang mukmin yang kuat imannya lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah imannya, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah, ‘Qodarullah wamaa sya’a fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664)Dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk: Senantiasa bersungguh-sungguh, bersemangat, dan antusias dalam melakukan hal yang bermanfaat. Senantiasa meminta kepada Allah Ta’ala. Larangan untuk bersikap lemah dan malas. Tidak berandai-andai dengan sesuatu yang telah terjadi dan mengembalikan musibah yang telah terjadi kepada takdir Allah Ta’ala. Hadis di atas membagi perkara menjadi 2 macam, yaitu:Pertama, perkara bermanfaat yang bisa diusahakan oleh hamba untuk terwujud atau perkara buruk yang bisa diusahakan untuk dicegah. Dalam perkara ini, seorang mukmin hendaknya senantiasa bersungguh-sungguh dan meminta kepada Allah Ta’ala.Kedua, perkara yang sudah tidak bisa diusahakan untuk terwujud atau dicegah karena sudah terjadi. Dalam perkara ini, seorang mukmin hendaknya rida, tenang, dan menyerahkan semua yang telah terjadi tersebut kepada Allah Ta’ala.Tidak diragukan bahwa memperhatikan hal ini merupakan sebab kebahagiaan dan perginya kegalauan serta kecemasan. (Al-Wasail al-mufiidah lilhayah as-sa’iidah, Ibnu Sa’di).Hadis di atas juga mengajarkan salah satu sebab yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kegalauan adalah tidak menyibukkan pikirannya dengan apa yang telah terjadi. Lawan hati dari hal yang membuat cemas hatinya dan ketakutan berbagai khayalan di masa depan. Kita harus sadar bahwa masa depan tidak kita ketahui. Masa depan itu di tangan Allah Ta’ala yang Maha Bijaksana. Hamba tidak mampu melakukan apapun selain berusaha untuk mewujudkan kebaikan baginya dengan doa dan ikhtiar semampunya. (Al-Wasail al-mufiidah lilhayah as-sa’iidah, Ibnu Sa’di).Baca Juga:Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Mengobati Kegalauan (Bag. 4)Selawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamكان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا ذهب ثُلُثَا الليلِ قام فقال يا أيُّها الناسُ اذكُروا اللهَ اذكروا اللهَ جاءتِ الراجفةُ تَتْبَعُها الرادِفَةُ جاء الموتُ بما فيه جاء الموتُ بما فيه قال أُبَيٌّ قلْتُ يا رسولَ اللهِ إِنَّي أُكْثِرُ الصلاةَ عليْكَ فكم أجعَلُ لكَ من صلاتِي فقال ما شِئْتَ قال قلتُ الربعَ قال ما شئْتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قلتُ النصفَ قال ما شئتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قال قلْتُ فالثلثينِ قال ما شئْتَ فإِنْ زدتَّ فهو خيرٌ لكَ قلتُ أجعلُ لكَ صلاتي كلَّها قال : إذًا تُكْفَى همَّكَ ويغفرْ لكَ ذنبُكَDahulu, bila berlalu dua per tiga malam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dan berkata, “Wahai, sekalian manusia, berzikirlah kepada Allah, berzikirlah kepada Allah! Pasti datang tiupan Sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua. Datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya.”Ubai berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai, Rasulullah, Aku memperbanyak selawat untukmu. Berapa banyak aku berselawat untukmu?’”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Terserah dirimu.” Lalu Ubai berkata lagi, “Aku berkata, ‘Seperempat.'”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ”Terserah dirimu. Tetapi jika Engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Maka aku berkata lagi, “Kalau begitu, dua per tiga.”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Terserah dirimu. Jika Engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Lalu aku berkata, ”Aku jadikan seluruh (doaku) adalah selawat untukmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika begitu, (selawat) itu mencukupkan keinginanmu (dunia dan akhirat) dan Allah akan mengampuni dosamu.” (HR at-Tirmidzi. Beliau berkata, “Ini adalah hadis hasan sahih. As-Sunan no. 2457, dinilai hasan oleh Syekh al-Albani)Tawakal kepada Allah Ta’ala dan menyerahkan seluruh perkara kepada-NyaAllah Ta’ala adalah Zat yang maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak butuh bantuan siapa pun dalam mengatur segala urusan. Pengaturan-Nya terhadap hamba lebih baik dari pada pengaturan hamba kepada dirinya sendiri. Dia lebih mengetahui mana yang lebih mashlahat untuk hamba daripada hamba itu sendiri. Dia lebih menyayangi hamba daripada hamba itu menyayangi dirinya sendiri. Tidak ada yang mampu mendahulukan atau menunda sesuatu yang telah Dia tetapkan.Barang siapa yang menyadari hal itu semua, maka seharusnya hamba menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Manusia adalah makhluk lemah yang berada di bawah kekuasaan Allah Ta’ala yang Maha Merajai, Maha Perkasa, lagi Maha Kuasa. Barangsiapa yang menyerahkan segala urusannya secara totalitas kepada Allah Ta’ala, maka akan pergilah berbagai kegalauan, kecemasan, kesesakan hidup, dan penyesalan. Semua hajat dan kemaslahatannya akan diurus oleh Allah Ta’ala. Hamba tersebut tidak akan lelah memikirkan kebutuhannya dan beban berat yang harus dipikulnya karena dia yakin Allah Ta’ala yang akan menyelesaikannya. Betapa indahnya hidup, besarnya kegembiraan, dan lapangnya hati ketika Allah Ta’ala telah mengosongkan hati dan pikirannya dari berbagai beban tersebut.Adapun orang yang ingin mengatur dirinya sendiri, maka Allah Ta’ala palingkan dia ke mana dia ingin berpaling. Dia hadirkan kegalauan, kecemasan, kesedihan, kesusahan, kekhawatiran, dan keletihan bagi orang tersebut. Mereka berada dalam keadaan yang buruk dan hatinya tertutup. Hatinya keruh, amalnya terkotori, harapannya tidak terwujud, kenyamanan tak tergapai, kelezatan tak tercapai, dan dia dihalangi dengan terwujudnya kegembiraan. Dia bersusah payah dalam hidupnya di dunia sebagaimana susahnya binatang, dia tidak mendapatkan apa yang dia angan-angankan. Dia pun tidak mengambil bekal dari dunia untuk menuju tempat kembali nanti. (Al-Fawaid, hal. 209)Jika hati bersandar kepada Allah Ta’ala, bertawakal kepada-Nya, tidak pasrah kepada berbagai pikiran, tidak dikuasai dengan angan-angan yang buruk, maka akan tercegah kegalauan, dan berbagai penyakit hati serta penyakit badan. Dia akan mendapatkan kegembiraan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Orang yang sehat dan selamat adalah orang yang Allah Ta’ala selamatkan dan Allah beri taufik kepadanya untuk terwujudnya sebab-sebab yang manfaat untuk menguatkan hati dan mencegah kecemasan hati. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya”. (QS. Ath-Thalaq: 3)Maksudnya, Allah Ta’ala akan mencukupi apa yang dia pikirkan, baik masalah agama maupun dunianya. Orang yang bertawakal kepada Allah Ta’ala, akan kuat hatinya, tidak terpengaruh berbagai bayang-bayang, tidak terganggu berbagai peristiwa karena dia sadari keresahan itu disebabkan karena rapuhnya jiwa, dan ketakutan yang hanya dalam pikirannya. Sedangkan Allah Ta’ala pasti menjamin hamba yang bertawakal kepada-Nya dengan kecukupan yang sempurna. Dia yakin kepada Allah Ta’ala dan tenang dengan janji-Nya tersebut. Pergilah berbagai kegalauan, kesukaran berganti dengan kemudahan, kesulitan berganti dengan kebahagiaan, kekhawatiran berganti dengan rasa aman. Kita memohon kepada Allah Ta’ala keselamatan, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kekuatan hati dan tetapnya tawakal yang sempurna kepada kita.Baca Juga: Bilakah Pohon Iman Berbuah Manis?Bersemangat dalam mengerjakan kegiatan yang bermanfaat, fokus mengerjakan apa yang harus dikerjakan saat ini, dan tidak memikirkan sesuatu yang belum terjadi ataupun kesedihan di masa laluNabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala  dari penyakit hamm dan hazn. Al-Hamm adalah galau dengan sesuatu yang belum terjadi, sedangkan hazn adalah sedih dengan sesuatu yang telah terjadi. Kiat supaya tidak terpenjara dengan masa lalu dan tidak galau dengan masa depan adalah menjadi orang yang fokus dengan hari ini. Dia kumpulkan kesungguhannya untuk memperbaiki hari ini. Maka mengumpulkan hati fokus untuk hari ini akan membuahkan aktivitas secara sempurna. Jika orang sibuk dengan aktivitas hari ini, maka dia akan terhibur dari kecemasan dan kesedihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari umat untuk senantiasa berdoa dan juga mengajarkan untuk bersungguh-sungguh beramal supaya harapannya itu terwujud. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk berdoa saja atau berusaha saja, namun beliau ajarkan umatnya untuk berdoa dan berusaha semaksimal mungkin karena doa itu bergandeng dengan amal.الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ ولا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شيءٌ، فلا تَقُلْ لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ، فإنَّ لو تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.“Seorang mukmin yang kuat imannya lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah imannya, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah, ‘Qodarullah wamaa sya’a fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664)Dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk: Senantiasa bersungguh-sungguh, bersemangat, dan antusias dalam melakukan hal yang bermanfaat. Senantiasa meminta kepada Allah Ta’ala. Larangan untuk bersikap lemah dan malas. Tidak berandai-andai dengan sesuatu yang telah terjadi dan mengembalikan musibah yang telah terjadi kepada takdir Allah Ta’ala. Hadis di atas membagi perkara menjadi 2 macam, yaitu:Pertama, perkara bermanfaat yang bisa diusahakan oleh hamba untuk terwujud atau perkara buruk yang bisa diusahakan untuk dicegah. Dalam perkara ini, seorang mukmin hendaknya senantiasa bersungguh-sungguh dan meminta kepada Allah Ta’ala.Kedua, perkara yang sudah tidak bisa diusahakan untuk terwujud atau dicegah karena sudah terjadi. Dalam perkara ini, seorang mukmin hendaknya rida, tenang, dan menyerahkan semua yang telah terjadi tersebut kepada Allah Ta’ala.Tidak diragukan bahwa memperhatikan hal ini merupakan sebab kebahagiaan dan perginya kegalauan serta kecemasan. (Al-Wasail al-mufiidah lilhayah as-sa’iidah, Ibnu Sa’di).Hadis di atas juga mengajarkan salah satu sebab yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kegalauan adalah tidak menyibukkan pikirannya dengan apa yang telah terjadi. Lawan hati dari hal yang membuat cemas hatinya dan ketakutan berbagai khayalan di masa depan. Kita harus sadar bahwa masa depan tidak kita ketahui. Masa depan itu di tangan Allah Ta’ala yang Maha Bijaksana. Hamba tidak mampu melakukan apapun selain berusaha untuk mewujudkan kebaikan baginya dengan doa dan ikhtiar semampunya. (Al-Wasail al-mufiidah lilhayah as-sa’iidah, Ibnu Sa’di).Baca Juga:Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Panduan Tata Cara dan Bacaan Ruqyah Syar’iyyah (Free Ebook)

Panduan Tata Cara dan Bacaan Ruqyah Syar’iyyahOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MADownload EBOOKPendahuluanDefinisiRuqyah: Penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat ayat suci Al Qur’an, atau doa-doa kepada Allah.Syarat dibolehkannya ruqyah sebagaimana perkataan Ibnu Hajar rahimahullah:وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الرُّقَى عِنْدَ اجْتِمَاعِ ثَلَاثَةِ شُرُوطٍ أَنْ يَكُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَبِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ أَوْ بِمَا يُعْرَفُ مَعْنَاهُ مِنْ غَيْرِهِ وَأَنْ يُعْتَقَدَ أَنَّ الرُّقْيَةَ لَا تُؤَثِّرُ بِذَاتِهَا بَلْ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى“Para ulama telah bersepakat bahwa ruqyah itu diperbolehkan jika memenuhi 3 persyaratan:Ruqyah dengan firman Allah atau dengan nama-nama dan sifat-sifatNya,Ruqyah dengan bahasa Arab atau jika selain bahasa Arab maka harus dipahami maknanyaHendaknya meyakini bahwasanya ruqyah tidaklah memberi pengaruh dengan sendirinya akan tetapi kembali kepada Allah” ([1])Sebagian ulama keliru dan berpendapat bahwa ruqyah dengan apa saja -selama bermanfaat- adalah diperbolehkan. Dan hal ini telah dibantah oleh Ibnu Hajar, karena Nabi ﷺ menyatakan “Tidak mengapa ruqyah selama tidak ada kesyirikan padanya”. Dan jika ruqyah tersebut dengan bahasa yang tidak dipahami maka dikhawatirkan mengandung atau bisa menjerumuskan dalam kesyirikan([2])Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:وَعَامَّةُ مَا بِأَيْدِي النَّاسِ مِنْ الْعَزَائِمِ وَالطَّلَاسِمِ وَالرُّقَى الَّتِي لَا تُفْقَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ فِيهَا مَا هُوَ شِرْكٌ بِالْجِنِّ، وَلِهَذَا نَهَى عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِينَ عَنْ الرُّقَى الَّتِي لَا يُفْقَهُ مَعْنَاهَا؛ لِأَنَّهَا مَظِنَّةُ الشِّرْكِ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ الرَّاقِي أَنَّهَا شِرْكٌ“Dan jimat-jimat, rajah-rajah, dan ruqyah-ruqyah yang ada di tangan masyarakat yang tidak dipahami maknanya, ada padanya kesyirikan kepada jin. Karenanya para ulama muslimin telah melarang ruqyah yang tidak dipahami maknanya, karena diduga mengandung kesyirikan meskipun yang meruqyah tidak mengetahui bahwasanya itu adalah kesyirikan” ([3])Tata Cara MeruqyahAdapun cara meruqyah yang syar’i adalah dengan cara-cara berikut:Pertama: النَفَثُ (dengan tiupan disertai sedikit sekali air liur, dan ada yang mengatakan tanpa air liur sama sekali). Rasulullah ﷺ bersabda:الرُّؤْيَا (الصَّالِحَةُ) مِنَ اللَّهِ، وَالحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفِثْ حِينَ يَسْتَيْقِظُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ (وفي رواية: فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ)، وَيَتَعَوَّذْ مِنْ شَرِّهَا، فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ“Mimpi yang baik dari Allah dan mimpi yang buruk dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang ia tidak sukai maka hendaknya ia meniupkan (nafats) tatkala terjaga sebanyak tiga kali dan berlindung dari keburukannya (Dalam riwayat yang lain: “Hendaknya ia meludah ke arah kirinya), karena sesungguhnya hal itu tidak akan memudorotkannya” ([4])Kedua: التَّفْلُ (dengan meniup disertai air liur namun tidak sampai pada derajat meludah)Sebagaimana kisah Abu Sa’id al-Khudri, dimana disebutkan:فَجَعَلَ يَتْفُلُ وَيَقْرَأُ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ حَتَّى لَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ“Maka sahabat (yang meruqyah) meludah dan membaca “Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin” hingga seakan-akan orang tersebut baru saja lepas dari ikatan” ([5])Dalam riwayat yang lain:فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ القُرْآنِ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ، فَبَرَأَ“Maka sahabatpun membacakan surat al-Fatihah, ia mengumpulkan ludahnya lalu meludah. Maka sembuhlah orang tersebut” ([6])Ibnu Hajar berkata:أَنَّ النَّفْثَ دُونَ التَّفْلِ وَإِذَا جَازَ التَّفْلُ جَازَ النَّفْثُ بِطَرِيقِ الْأَوْلَى“Sesungguhnya an-nafats dibawah at-taflu, dan jika at-taflu diperbolehkan maka an-nafats tentu lebih utama untuk dibolehkan” ([7])Ketiga: Meruqyah tanpa tiupan sama sekaliعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ، قَالَ: «أَذْهِبِ البَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Rasulullah ﷺ jika menjenguk orang sakit atau didatangkan orang sakit kepada beliau maka beliau berkata, “Hilangkanlah penyakit ini wahai Penguasa manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit sedikitpun” ([8])عَنْ عَبْدِ العَزِيزِ، قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَثَابِتٌ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، فَقَالَ ثَابِتٌ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، اشْتَكَيْتُ، فَقَالَ أَنَسٌ: أَلاَ أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: «اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ البَاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»Dari Abdul Aziz ia berkata, “Aku dan Tsabit menemui Anas bin Malik. Maka Tsabit berkata, “Wahai Abu Hamzah (kunyah Anas bin Malik -pen) aku sakit. Maka Anas berkata, “Maukah aku meruqyahmu dengan ruqyahnya Rasulullah ﷺ?”. Tsabit berkata, “Tentu”. Anas berkata, “Wahai penguasa manusia, Yang menghilangkan penyakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha menyembuhkan, dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” ([9])Keempat: Mencampurkan sedikit tanah dengan air liurعَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لِلْمَرِيضِ: «بِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا»Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi ﷺ berkata kepada orang yang sakit, “Dengan nama Allah, tanah bumi kami, dengan liur sebagian kami, disembuhkan orang yang sakit diantara kami, dengan izin Rabb kami” ([10])An-Nawawi berkata:وَمَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّهُ يَأْخُذُ مِنْ رِيقِ نَفْسِهِ عَلَى أُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ ثُمَّ يَضَعُهَا عَلَى التُّرَابِ فَيَعْلَقُ بِهَا مِنْهُ شَيْءٌ فَيَمْسَحُ بِهِ عَلَى الْمَوْضِعِ الْجَرِيحِ أَوِ الْعَلِيلِ وَيَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ فِي حَالِ الْمَسْحِ“Makna hadits ini adalah Nabi ﷺ mengambil air liurnya dengan jari telunjuknya lalu beliau meletakkan telunjuknya di tanah, kemudian sebagian tanah menempel pada jarinya lalu beliau mengusapkannya pada lokasi luka atau daerah sakitnya, dan beliau mengucapkan doa ini tatkala sedang mengusap” ([11])Kelima: Mengusapkan tangan ke tubuhعَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ، أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ بِاسْمِ اللهِ ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ»Dari Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi bahwasanya ia mengeluhkan kepada Nabi ﷺ rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya semenjak ia masuk Islam. Maka Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Letakkanlah tanganmu di bagian tubuhmu yang kau rasakan sakit, lalu bacalah bismillah tiga kali dan ucapkanlah sebanyak tujuh kali, “Aku berlindung kepada Allah dengan kekuasaanNya dari keburukan yang aku rasakan dan yang aku takutkan” ([12])Keenam: Ruqyah dengan membaca lalu meniupkannya ke air, setelah itu airnya diminumkan kepada yang sakit, atau diusapkan kepada bagian tubuhnya yang sakit, atau dimandikan dengan air tersebut.Dari Ali bin Abi Tholib bahwasanya Nabi ﷺ sedang sholat lalu beliau disengat kalajengking. Maka beliau berkata:لَعَنَ اللهُ الْعَقْرَبَ لاَ تَدَعُ مُصَلِّيًا وَلاَ غَيْرَهُ. ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ وَمِلْحٍ وَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَقْرَأُ بـ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ)“Allah melaknat kalajengking, kalajengking tidak meninggalkan gangguannya kepada orang yang sedang sholat dan tidak juga kepada lainnya”. Lalu Nabi meminta air dan garam kemudian Nabi mengusap dengan air tersebut dan membaca surat al-Kafirun, surat al-Falaq, dan surat an-Naas” ([13])عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ عَائِشَةَ «أَنَّهَا كَانَتْ لَا تَرَى بَأْسًا أَنْ يُعَوَّذَ فِي الْمَاءِ ثُمَّ يُصَبَّ عَلَى الْمَرِيضِ»Dari Abu Ma’syar dari Aisyah bahwasanya Aisyah memandang tidak mengapa dibacakan di air lalu air tersebut diguyurkan ke orang yang sakit([14])Demikian juga para ulama membolehkan minum dengan air yang telah dibacakan ruqyah, diantaranya Imam Ahmad([15]) dan Ibnul Qoyyim([16])Ketujuh: Menuliskan sebagian ayat al-Qur’an lalu menghapusnya dengan air kemudian meminum air tersebut atau mandi dengan air tersebutMetode seperti ini dibolehkan oleh banyak ulama, diantaranya Mujahid, Abu Qilabah, Ahmad bin Hanbal, al-Qodhi ‘Iyaadh, Ibnu Taimiyyah([17]), dan Ibnul Qoyyim ([18])Namun metode ini dibenci oleh Ibrahim an-Nakho’i ([19]), Ibnu Sirin, dan Ibnul ‘Arobi dimana beliau berkata: وَهِيَ بِدْعَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ “Ini adalah bid’ah dari syaitan” ([20]) karena metode ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ dan tidak seorangpun dari sahabat yang melakukannya. Adapun nukilan bahwa Ibnu ‘Abbas membolehkannya maka sanadnya tidak shahih dari beliau([21])Bacaan-Bacaan RuqyahBacaan Ruqyah Dari Al-Quran ([22])PertamaDengan membaca surah Al-Fatihah ([23])بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَbismillāhir-raḥmānir-raḥīm al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn ar-raḥmānir-raḥīm māliki yaumid-dīn iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ihdinaṣ–ṣirāṭal-mustaqīm ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ–ḍāllīn“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” QS. Al-Fatihah: 1-7KeduaMembaca ayat kursiyاللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS. Al-Baqarah: 255 ([24])KetigaMembaca Al-Mu’awwidzaat (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤﴾“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. (QS. Al-Falaq: 1-5)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَـٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.” (QS: An-Nas: 1-6)Caranya: membaca Al-Mu’awwidzaat (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas), tiupkan ke tangan, lalu usapkan ke wajah. ([25])Keempat Membaca surah Al-Baqarah ([26])KelimaMembaca ayat-ayat yang menjelaskan tentang kebatilan sihirAl-A’raf 117-119وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ * فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ * فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.” Yunus 79-82وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ * فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ * فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ * وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ“Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!” Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).”Surah Thaha 65-69قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”.” ([27])Bacaan Ruqyah Dari HaditsPertamaبِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَBismillaahi arqiika, min kulli syai-in yu’dziika, min syarri kulli nafsin au ‘ainin haasidin, allaahu yasyfiika, bismillaahi arqiika.“Dengan nama Allah aku meruqyah-mu, dari semua yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa dan mata hasad, semoga Allah menyembuhkanmu, Dengan nama Allah aku meruqyah-mu.” ([28])Keduaاللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًاAllaahumma robban-naas, adz-hibil ba’s([29]), isyfihii wa antasy-syaafii([30]), laa syifaa-a illaa syifaa-uka, syifaa-an laa yughoodiru saqoman.“Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini, sembuhkanlah dia dan Engkaulah As-Syafi (Sang Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” ([31])Ketiga بِسْمِ اللَّهِ (3×) أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (7×)Bismillaah (3x). A’uudzu billaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (7x).“Dengan nama Allah (3x). Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya, dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan aku khawatirkan([32]) (7x).” ([33])Keempatأَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍA’uudzu bikalimaatillaahit taammati min kulli syaithoonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin“aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna([34]) dari semua gangguan setan, binatang yang mengganggu([35]), dan pandangan mata yang jahat([36]).” ([37])Kelimaبِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَاBismillaah, turbatu ardhinaa, biriiqoti ba’dhinaa, yusyfaa bihi saqiimunaa, bi-idzni robbinaa.“Dengan nama Allah, debu tanah kami([38]), dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya sakit kami, dengan izin Rabb kami.” ([39])Demikian, Wallahu A’lam.Ebook ini telah terbit versi cetak dan online di firanda.com / bekalislam.firanda.comFootnote:________________([1]) Fathul Baari 10/195([2]) Lihat Fathul Baari 10/195([3]) Majmuu’ al-Fataawaa 19/13([4]) HR Al-Bukhari 3292 dan 5747([5]) HR Al-Bukhari No. 5749([6]) HR al-Bukhari No. 5736 dan Muslim No. 2201([7]) Fathul Baari 10/210([8]) HR Al-Bukhari No. 5675 dan Muslim No. 2191([9]) HR al-Bukhari No. 5742([10]) HR Al-Bukhari No. 5745 dan Muslim No. 2194([11]) Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/184([12]) HR Muslim No. 2202([13]) HR At-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shogir No. 830 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam As-Shahihah No. 548([14]) Mushonnaf Ibni Abi Syaibah No. 23509([15]) Lihat al-Aadaab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih  2/456([16]) Lihat Zaadul Ma’aad 4/178([17]) Majmu’ al-Fataawa 12/599([18]) Zaadul Ma’aad 4/170, 356([19]) lihat Mushonnaf Ibni Abi Syaibah 5/40 No. 23514([20]) ‘Aaridotul Ahwadzi 8/222([21]) Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah sebagaimana dimuat dalam Majallah al-Buhuuts al-Islaamiyah 21/47([22]) Pada dasarnya ayat-ayat Al-Quran adalah obat, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’alaيَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” QS. Yunus: 57Al-Imam Malik meriwayatkan tentang Abu Bakar yang menemui ‘Aisyah yang sedang mengeluh dan ada wanita Yahudi yang sedang meruqyahnya, maka Abu Bakar berkata kepadanya:ارْقِيهَا بِكِتَابِ اللهِ“ruqyahlah dia dengan kitab Allah subhanahu wa ta’ala.” (Muwattho’ Imam Malik no. 3472)Al-Imam pernah ditanya tentang ruqyah, lalu beliau menjawab:لَا بَأْسَ أَنْ يَرْقِيَ الرَّجُلُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَمَا يَعْرِفُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ“tidak mengapa bagi seseorang untuk meruqyah dengan Al-Quran atau dengan apa yang dia ketahui dari zikir-zikir.” (Al-Umm 7/241)Berkata Ibnul Qoyyim:أنَّ القُرْآنَ شِفَاءٌ لِمَا فِي الصّدُوْرِ يُذْهِبُ لِمَا يُلْقِيْهِ الشَّيْطَانُ فِيْهَا مِنْ الْوَسَاوِسِ وَالشَّهَوَاتِ وَالْإِرَادَاتِ الْفَاسِدَةِ، فَهُوَ دَوَاءٌ لِمَا أمَرَّه فِيْهَا الشَّيْطَانُ“sesungguhnya Al-Quran adalah obat hati yang menghilangkan sesuatu yang dimasukkan oleh setan berupa bisikan-bisikan, syahwat-syahwat, dan keinginan-keinginan yang rusak, dan dia adalah obat terhadap apa yang dimasukkan oleh setan di dalam dada.” (Ighohatsul Lahafaan min Mashooyidis Syaithon 1/92)([23]) HR. Bukhari no. 2276 dan Muslim no. 2201([24]) HR. Bukhory no. 2311Dan disebutkan dalam kelanjutan hadits tersebut bahwa orang yang membacanya ketika akan tidur maka Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa menjaganya hingga waktu pagi.Dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat lainnya yang menyebutkan bahwa Abu Hurairah yang menangkap setan tersebut akan menyerahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka setan itu berkata kepada Abu Hurairah,لَا تَفْعَلْ فَإِنَّكَ إِنْ تَدَعْنِي عَلَّمْتُكَ كَلِمَاتٍ إِذَا أَنْتَ قُلْتَهَا لَمْ يَقَرَبْكَ أَحَدٌ مِنَ الْجِنِّ صَغِيرٌ وَلَا كَبِيرٌ ذَكَرٌ وَلَا أُنْثَى قَالَ لَهُ: لَتَفْعَلَنَّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَا هُنَّ؟ قَالَ: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ حَتَّى خَتَمَهَا“jangan lakukan (menyerahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), sesungguhnya jika engkau melepaskanku aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat jika engkau mengucapkannya maka tidak akan mendekatimu satu jin pun yang kecil maupun yang besar, yang lelaki maupun yang wanita. Maka Abu Hurairah bertanya? Apakan kamu benar akan melakukannya (mengajarkannya)? Setan itu menjawab: iya, Abu Hurairah bertanya: apa itu? Setan menjawab: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}  membaca ayat kursy hingga menyelesaikannya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/675)([25]) Lihat HR. Bukhari no. 5735, yaitu hadits ‘Aisyah,«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي المَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ، وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا» فَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ: كَيْفَ يَنْفِثُ؟ قَالَ: «كَانَ يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ»“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meniupkan (dengan sedikin luah)  pada tubuhnya yang telah dibaca Al-Mu’awwidzaatketika beliau sakit yang mengantarkan kematian. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat parah, aku (A’isyah) yang meniupkan dengan bacaan surat tersebut, dan aku gunakan tangan beliau untuk mengusap badan beliau, karena tangan beliau berkah.”Dalam hadits yang lain ‘Aisyah berkata:إِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ، لِأَنَّهَا كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِي“jika ada seseorang yang sakit dari keluarganya, beliau meniupkan (dengan sedikit ludah) dengan membaca al-mu’awwidzaat. Ketika beliau sakit pada sakit yang menghantarkan pada kematiannya akulah yang meniupkan kepadanya lalu aku mengusapnya dengan menggunakan tangannya sendiri, karena tangannya lebih banyak keberkahannya dari tanganku.” HR. Muslim no. 2192نَفَثَ secara bahasa menyerupai tiupan dan dia lebih sedikit dari meludah. (lihat: Ghoriibul Hadiits 1/298 dan Jamharotul Lughoh 1/429)Dan Al-Qodhi ‘Iyadh berkata faidah dari meniup dengan sedikit ludah adalah mengambil keberkahan dari sedikit ludah atau angin yang ditiupkan yang keluar bersama zikir yang dibaca. (lihat: Irsyaadus Saary Syarhu Shohiih Al-Bukhory 8/388)Dan para ulama memasukkannya ke dalam bab Ruqyah dengan Al-Quran dan Al-Mu’awwidzat, dan disebutkan alasan ruqyah dengan Al-Mu’awwidzaat karena di dalamnya terdapat permintaan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari keburukan-keburukan yang disebutkan dalam surah Al-Falaq dan An-Nas. (lihat: Syarhu Sunan Abi Dawud Libni Ruslan 15/249)([26]) hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahily, bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.” قَالَ مُعَاوِيَةُ: بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ: السَّحَرَةُ“Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir.” Mu’awiyah berkata; “Telah sampai (khabar) kepadaku bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir.” HR. Muslim no. 804Dijelaskan oleh para ulama alasan pengkhususan surah Al-Baqarah dari selainnya ada 2 sisi:Pertama: karena kebanyakan perkara ibadah dan apa yang berkaitan dengan haji disebutkan dalam surah ini.Kedua: karena panjang dan agungnya kandungan surah ini, dan dikarenakan banyaknya hukum-hukum dalam surah ini. (lihat: Kasyful Musykil min Hadiits Ash-Shohihain 1/277)Dan para penyihir disebut sebagai batholah dikarenakan apa yang mereka bawa adalah sesuatu yang batil. (lihat: Mirqoothul      Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1461)([27]) ini adalah fatwa Syaikh ‘Abdullah bin Baz (lihat: Majmu’ Fatawa bin Baz 5/311([28]) HR. Muslim no. 2186An-Nawawi menjelaskan faedah dari doa ini bahwa rukyah itu dengan nama-nama Allah. Dan yang dimaksud dengan نَفْسٍ ada 2 makna, pertama: jiwa seseorang, dan yang kedua: ‘ain, karena an-nafs dalam bahasa arab terkadang dibawa kepada makna ‘ain, sehingga ada istilah رَجُلٌ نَفُوسٌ yaitu penyebutan untuk orang yang bisa menimpakan ‘ain kepada orang lain. (Lihat: Al-Minhaaj Syarhu Shohih Muslim bin Al-Hajjaaj 14/170)([29]) أَذْهِبِ البَاسَ maksudnya meminta untuk dihilangkan rasa sakit yang amat sangat, meminta diangkatnya azab dari dirinya, dan juga meminta untuk dihilangkan kesedihannya. (lihat: ‘Umdatul Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228)([30]) Disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala yang menyembuhkan, bukan obat-obatan, hal ini dokarenakan obat-obatan tidak akan bisa memberikan manfaat jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan dalam obat tersebut sesuatu yang dapat menyembuhkan. ((lihat: ‘Umdatul Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228)([31]) HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191.([32]) maksudnya berlindung dari rasa sakit dan sesuatu yang dibenci yang sedang dialaminya sekarang dan juga berlindung dari sesuatu yang diperkirakan akan menimpanya pada kemudian hari berupa rasa sedih dan rasa takut. (lihat: Syarhu Sunan Ibni Majah Lis Suyuthi 1/252)([33]) HR. Muslim no. 2202Hadits ini adalah riwayat ‘Utsman bin Abu Al-‘Ash ketika dia mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sakit yang ia dapati pada badannya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cara penyembuhannya yaitu dengan meletakkan tangan pada bagian tubuh yang sakit kemudian mengucapkan doa ini.([34]) Maksudnya adalah nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala, sifat-sifat-Nya dan ayat-ayat Al-Quran. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1715)Adapun maksud dari sifat sempurna maka banyak penafsirannya dari para ulama, ada yang mengatakannya artinya kalam Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna, ada yang mengatakan maksud dari sempurna adalah yang bermanfaat, ada yang mengatakan yang mencukupi, ada yang mengatakan penuh keberkahan, dan ada yang mengatakan maksudnya yang jadi penghukum yang terus menerus dan tidak ada  yang bisa menolaknya juga tidak ada di dalamnya aib ataupun kurang. (lihat: ‘Umdatul Qory Syarhu Shohih Al-Bukhory 15/265)([35]) Dan هَامَّةٍ artinya segala sesuatu yang beracun dan mematikan, dan bentuk jamaknya adalah الْهَوَام. Adapun yang beracun namun tidak mematikan seperti kalajengking dan tawon maka dinamakan سَامَّة. (lihat: Syarhu Sunan Ibni Majah 1/252)([36]) maksudnya adalah pandangan mata yang bisa mendatangkan penyakit kepada manusia berupa gila dan yang lainnya. (lihat: Kasyful Musykil min Hadiits Ash-Shohihain 2/415)([37]) HR. Bukhari no. 3371([38]) تُرْبَةُ أَرْضِنَا maksudnya tanah secara umum menurut mayoritas ulama, dan sebagian ulama berpendapat tanah khusus dari kota Madinah secara khusus karena keberkahannya atau bisa juga tanah apapun secara umum. (lihat: Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 14/184)([39]) HR. Bukhari no. 5745 dan Muslim no. 2194.Caranya yaitu dengan mengambil ludah dengan jari telunjuk, kemudian meletakkannya di tanah hingga ada tanah yang menempel pada jari telunjuk lalu mengusap bagian yang sakit dengan mengucapkan doa tersebut ketika sedang mengusap. (lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi di Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim  14/184)

Panduan Tata Cara dan Bacaan Ruqyah Syar’iyyah (Free Ebook)

Panduan Tata Cara dan Bacaan Ruqyah Syar’iyyahOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MADownload EBOOKPendahuluanDefinisiRuqyah: Penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat ayat suci Al Qur’an, atau doa-doa kepada Allah.Syarat dibolehkannya ruqyah sebagaimana perkataan Ibnu Hajar rahimahullah:وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الرُّقَى عِنْدَ اجْتِمَاعِ ثَلَاثَةِ شُرُوطٍ أَنْ يَكُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَبِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ أَوْ بِمَا يُعْرَفُ مَعْنَاهُ مِنْ غَيْرِهِ وَأَنْ يُعْتَقَدَ أَنَّ الرُّقْيَةَ لَا تُؤَثِّرُ بِذَاتِهَا بَلْ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى“Para ulama telah bersepakat bahwa ruqyah itu diperbolehkan jika memenuhi 3 persyaratan:Ruqyah dengan firman Allah atau dengan nama-nama dan sifat-sifatNya,Ruqyah dengan bahasa Arab atau jika selain bahasa Arab maka harus dipahami maknanyaHendaknya meyakini bahwasanya ruqyah tidaklah memberi pengaruh dengan sendirinya akan tetapi kembali kepada Allah” ([1])Sebagian ulama keliru dan berpendapat bahwa ruqyah dengan apa saja -selama bermanfaat- adalah diperbolehkan. Dan hal ini telah dibantah oleh Ibnu Hajar, karena Nabi ﷺ menyatakan “Tidak mengapa ruqyah selama tidak ada kesyirikan padanya”. Dan jika ruqyah tersebut dengan bahasa yang tidak dipahami maka dikhawatirkan mengandung atau bisa menjerumuskan dalam kesyirikan([2])Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:وَعَامَّةُ مَا بِأَيْدِي النَّاسِ مِنْ الْعَزَائِمِ وَالطَّلَاسِمِ وَالرُّقَى الَّتِي لَا تُفْقَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ فِيهَا مَا هُوَ شِرْكٌ بِالْجِنِّ، وَلِهَذَا نَهَى عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِينَ عَنْ الرُّقَى الَّتِي لَا يُفْقَهُ مَعْنَاهَا؛ لِأَنَّهَا مَظِنَّةُ الشِّرْكِ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ الرَّاقِي أَنَّهَا شِرْكٌ“Dan jimat-jimat, rajah-rajah, dan ruqyah-ruqyah yang ada di tangan masyarakat yang tidak dipahami maknanya, ada padanya kesyirikan kepada jin. Karenanya para ulama muslimin telah melarang ruqyah yang tidak dipahami maknanya, karena diduga mengandung kesyirikan meskipun yang meruqyah tidak mengetahui bahwasanya itu adalah kesyirikan” ([3])Tata Cara MeruqyahAdapun cara meruqyah yang syar’i adalah dengan cara-cara berikut:Pertama: النَفَثُ (dengan tiupan disertai sedikit sekali air liur, dan ada yang mengatakan tanpa air liur sama sekali). Rasulullah ﷺ bersabda:الرُّؤْيَا (الصَّالِحَةُ) مِنَ اللَّهِ، وَالحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفِثْ حِينَ يَسْتَيْقِظُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ (وفي رواية: فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ)، وَيَتَعَوَّذْ مِنْ شَرِّهَا، فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ“Mimpi yang baik dari Allah dan mimpi yang buruk dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang ia tidak sukai maka hendaknya ia meniupkan (nafats) tatkala terjaga sebanyak tiga kali dan berlindung dari keburukannya (Dalam riwayat yang lain: “Hendaknya ia meludah ke arah kirinya), karena sesungguhnya hal itu tidak akan memudorotkannya” ([4])Kedua: التَّفْلُ (dengan meniup disertai air liur namun tidak sampai pada derajat meludah)Sebagaimana kisah Abu Sa’id al-Khudri, dimana disebutkan:فَجَعَلَ يَتْفُلُ وَيَقْرَأُ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ حَتَّى لَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ“Maka sahabat (yang meruqyah) meludah dan membaca “Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin” hingga seakan-akan orang tersebut baru saja lepas dari ikatan” ([5])Dalam riwayat yang lain:فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ القُرْآنِ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ، فَبَرَأَ“Maka sahabatpun membacakan surat al-Fatihah, ia mengumpulkan ludahnya lalu meludah. Maka sembuhlah orang tersebut” ([6])Ibnu Hajar berkata:أَنَّ النَّفْثَ دُونَ التَّفْلِ وَإِذَا جَازَ التَّفْلُ جَازَ النَّفْثُ بِطَرِيقِ الْأَوْلَى“Sesungguhnya an-nafats dibawah at-taflu, dan jika at-taflu diperbolehkan maka an-nafats tentu lebih utama untuk dibolehkan” ([7])Ketiga: Meruqyah tanpa tiupan sama sekaliعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ، قَالَ: «أَذْهِبِ البَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Rasulullah ﷺ jika menjenguk orang sakit atau didatangkan orang sakit kepada beliau maka beliau berkata, “Hilangkanlah penyakit ini wahai Penguasa manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit sedikitpun” ([8])عَنْ عَبْدِ العَزِيزِ، قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَثَابِتٌ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، فَقَالَ ثَابِتٌ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، اشْتَكَيْتُ، فَقَالَ أَنَسٌ: أَلاَ أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: «اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ البَاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»Dari Abdul Aziz ia berkata, “Aku dan Tsabit menemui Anas bin Malik. Maka Tsabit berkata, “Wahai Abu Hamzah (kunyah Anas bin Malik -pen) aku sakit. Maka Anas berkata, “Maukah aku meruqyahmu dengan ruqyahnya Rasulullah ﷺ?”. Tsabit berkata, “Tentu”. Anas berkata, “Wahai penguasa manusia, Yang menghilangkan penyakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha menyembuhkan, dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” ([9])Keempat: Mencampurkan sedikit tanah dengan air liurعَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لِلْمَرِيضِ: «بِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا»Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi ﷺ berkata kepada orang yang sakit, “Dengan nama Allah, tanah bumi kami, dengan liur sebagian kami, disembuhkan orang yang sakit diantara kami, dengan izin Rabb kami” ([10])An-Nawawi berkata:وَمَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّهُ يَأْخُذُ مِنْ رِيقِ نَفْسِهِ عَلَى أُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ ثُمَّ يَضَعُهَا عَلَى التُّرَابِ فَيَعْلَقُ بِهَا مِنْهُ شَيْءٌ فَيَمْسَحُ بِهِ عَلَى الْمَوْضِعِ الْجَرِيحِ أَوِ الْعَلِيلِ وَيَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ فِي حَالِ الْمَسْحِ“Makna hadits ini adalah Nabi ﷺ mengambil air liurnya dengan jari telunjuknya lalu beliau meletakkan telunjuknya di tanah, kemudian sebagian tanah menempel pada jarinya lalu beliau mengusapkannya pada lokasi luka atau daerah sakitnya, dan beliau mengucapkan doa ini tatkala sedang mengusap” ([11])Kelima: Mengusapkan tangan ke tubuhعَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ، أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ بِاسْمِ اللهِ ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ»Dari Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi bahwasanya ia mengeluhkan kepada Nabi ﷺ rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya semenjak ia masuk Islam. Maka Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Letakkanlah tanganmu di bagian tubuhmu yang kau rasakan sakit, lalu bacalah bismillah tiga kali dan ucapkanlah sebanyak tujuh kali, “Aku berlindung kepada Allah dengan kekuasaanNya dari keburukan yang aku rasakan dan yang aku takutkan” ([12])Keenam: Ruqyah dengan membaca lalu meniupkannya ke air, setelah itu airnya diminumkan kepada yang sakit, atau diusapkan kepada bagian tubuhnya yang sakit, atau dimandikan dengan air tersebut.Dari Ali bin Abi Tholib bahwasanya Nabi ﷺ sedang sholat lalu beliau disengat kalajengking. Maka beliau berkata:لَعَنَ اللهُ الْعَقْرَبَ لاَ تَدَعُ مُصَلِّيًا وَلاَ غَيْرَهُ. ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ وَمِلْحٍ وَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَقْرَأُ بـ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ)“Allah melaknat kalajengking, kalajengking tidak meninggalkan gangguannya kepada orang yang sedang sholat dan tidak juga kepada lainnya”. Lalu Nabi meminta air dan garam kemudian Nabi mengusap dengan air tersebut dan membaca surat al-Kafirun, surat al-Falaq, dan surat an-Naas” ([13])عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ عَائِشَةَ «أَنَّهَا كَانَتْ لَا تَرَى بَأْسًا أَنْ يُعَوَّذَ فِي الْمَاءِ ثُمَّ يُصَبَّ عَلَى الْمَرِيضِ»Dari Abu Ma’syar dari Aisyah bahwasanya Aisyah memandang tidak mengapa dibacakan di air lalu air tersebut diguyurkan ke orang yang sakit([14])Demikian juga para ulama membolehkan minum dengan air yang telah dibacakan ruqyah, diantaranya Imam Ahmad([15]) dan Ibnul Qoyyim([16])Ketujuh: Menuliskan sebagian ayat al-Qur’an lalu menghapusnya dengan air kemudian meminum air tersebut atau mandi dengan air tersebutMetode seperti ini dibolehkan oleh banyak ulama, diantaranya Mujahid, Abu Qilabah, Ahmad bin Hanbal, al-Qodhi ‘Iyaadh, Ibnu Taimiyyah([17]), dan Ibnul Qoyyim ([18])Namun metode ini dibenci oleh Ibrahim an-Nakho’i ([19]), Ibnu Sirin, dan Ibnul ‘Arobi dimana beliau berkata: وَهِيَ بِدْعَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ “Ini adalah bid’ah dari syaitan” ([20]) karena metode ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ dan tidak seorangpun dari sahabat yang melakukannya. Adapun nukilan bahwa Ibnu ‘Abbas membolehkannya maka sanadnya tidak shahih dari beliau([21])Bacaan-Bacaan RuqyahBacaan Ruqyah Dari Al-Quran ([22])PertamaDengan membaca surah Al-Fatihah ([23])بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَbismillāhir-raḥmānir-raḥīm al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn ar-raḥmānir-raḥīm māliki yaumid-dīn iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ihdinaṣ–ṣirāṭal-mustaqīm ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ–ḍāllīn“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” QS. Al-Fatihah: 1-7KeduaMembaca ayat kursiyاللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS. Al-Baqarah: 255 ([24])KetigaMembaca Al-Mu’awwidzaat (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤﴾“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. (QS. Al-Falaq: 1-5)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَـٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.” (QS: An-Nas: 1-6)Caranya: membaca Al-Mu’awwidzaat (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas), tiupkan ke tangan, lalu usapkan ke wajah. ([25])Keempat Membaca surah Al-Baqarah ([26])KelimaMembaca ayat-ayat yang menjelaskan tentang kebatilan sihirAl-A’raf 117-119وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ * فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ * فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.” Yunus 79-82وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ * فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ * فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ * وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ“Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!” Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).”Surah Thaha 65-69قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”.” ([27])Bacaan Ruqyah Dari HaditsPertamaبِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَBismillaahi arqiika, min kulli syai-in yu’dziika, min syarri kulli nafsin au ‘ainin haasidin, allaahu yasyfiika, bismillaahi arqiika.“Dengan nama Allah aku meruqyah-mu, dari semua yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa dan mata hasad, semoga Allah menyembuhkanmu, Dengan nama Allah aku meruqyah-mu.” ([28])Keduaاللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًاAllaahumma robban-naas, adz-hibil ba’s([29]), isyfihii wa antasy-syaafii([30]), laa syifaa-a illaa syifaa-uka, syifaa-an laa yughoodiru saqoman.“Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini, sembuhkanlah dia dan Engkaulah As-Syafi (Sang Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” ([31])Ketiga بِسْمِ اللَّهِ (3×) أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (7×)Bismillaah (3x). A’uudzu billaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (7x).“Dengan nama Allah (3x). Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya, dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan aku khawatirkan([32]) (7x).” ([33])Keempatأَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍA’uudzu bikalimaatillaahit taammati min kulli syaithoonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin“aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna([34]) dari semua gangguan setan, binatang yang mengganggu([35]), dan pandangan mata yang jahat([36]).” ([37])Kelimaبِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَاBismillaah, turbatu ardhinaa, biriiqoti ba’dhinaa, yusyfaa bihi saqiimunaa, bi-idzni robbinaa.“Dengan nama Allah, debu tanah kami([38]), dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya sakit kami, dengan izin Rabb kami.” ([39])Demikian, Wallahu A’lam.Ebook ini telah terbit versi cetak dan online di firanda.com / bekalislam.firanda.comFootnote:________________([1]) Fathul Baari 10/195([2]) Lihat Fathul Baari 10/195([3]) Majmuu’ al-Fataawaa 19/13([4]) HR Al-Bukhari 3292 dan 5747([5]) HR Al-Bukhari No. 5749([6]) HR al-Bukhari No. 5736 dan Muslim No. 2201([7]) Fathul Baari 10/210([8]) HR Al-Bukhari No. 5675 dan Muslim No. 2191([9]) HR al-Bukhari No. 5742([10]) HR Al-Bukhari No. 5745 dan Muslim No. 2194([11]) Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/184([12]) HR Muslim No. 2202([13]) HR At-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shogir No. 830 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam As-Shahihah No. 548([14]) Mushonnaf Ibni Abi Syaibah No. 23509([15]) Lihat al-Aadaab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih  2/456([16]) Lihat Zaadul Ma’aad 4/178([17]) Majmu’ al-Fataawa 12/599([18]) Zaadul Ma’aad 4/170, 356([19]) lihat Mushonnaf Ibni Abi Syaibah 5/40 No. 23514([20]) ‘Aaridotul Ahwadzi 8/222([21]) Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah sebagaimana dimuat dalam Majallah al-Buhuuts al-Islaamiyah 21/47([22]) Pada dasarnya ayat-ayat Al-Quran adalah obat, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’alaيَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” QS. Yunus: 57Al-Imam Malik meriwayatkan tentang Abu Bakar yang menemui ‘Aisyah yang sedang mengeluh dan ada wanita Yahudi yang sedang meruqyahnya, maka Abu Bakar berkata kepadanya:ارْقِيهَا بِكِتَابِ اللهِ“ruqyahlah dia dengan kitab Allah subhanahu wa ta’ala.” (Muwattho’ Imam Malik no. 3472)Al-Imam pernah ditanya tentang ruqyah, lalu beliau menjawab:لَا بَأْسَ أَنْ يَرْقِيَ الرَّجُلُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَمَا يَعْرِفُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ“tidak mengapa bagi seseorang untuk meruqyah dengan Al-Quran atau dengan apa yang dia ketahui dari zikir-zikir.” (Al-Umm 7/241)Berkata Ibnul Qoyyim:أنَّ القُرْآنَ شِفَاءٌ لِمَا فِي الصّدُوْرِ يُذْهِبُ لِمَا يُلْقِيْهِ الشَّيْطَانُ فِيْهَا مِنْ الْوَسَاوِسِ وَالشَّهَوَاتِ وَالْإِرَادَاتِ الْفَاسِدَةِ، فَهُوَ دَوَاءٌ لِمَا أمَرَّه فِيْهَا الشَّيْطَانُ“sesungguhnya Al-Quran adalah obat hati yang menghilangkan sesuatu yang dimasukkan oleh setan berupa bisikan-bisikan, syahwat-syahwat, dan keinginan-keinginan yang rusak, dan dia adalah obat terhadap apa yang dimasukkan oleh setan di dalam dada.” (Ighohatsul Lahafaan min Mashooyidis Syaithon 1/92)([23]) HR. Bukhari no. 2276 dan Muslim no. 2201([24]) HR. Bukhory no. 2311Dan disebutkan dalam kelanjutan hadits tersebut bahwa orang yang membacanya ketika akan tidur maka Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa menjaganya hingga waktu pagi.Dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat lainnya yang menyebutkan bahwa Abu Hurairah yang menangkap setan tersebut akan menyerahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka setan itu berkata kepada Abu Hurairah,لَا تَفْعَلْ فَإِنَّكَ إِنْ تَدَعْنِي عَلَّمْتُكَ كَلِمَاتٍ إِذَا أَنْتَ قُلْتَهَا لَمْ يَقَرَبْكَ أَحَدٌ مِنَ الْجِنِّ صَغِيرٌ وَلَا كَبِيرٌ ذَكَرٌ وَلَا أُنْثَى قَالَ لَهُ: لَتَفْعَلَنَّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَا هُنَّ؟ قَالَ: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ حَتَّى خَتَمَهَا“jangan lakukan (menyerahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), sesungguhnya jika engkau melepaskanku aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat jika engkau mengucapkannya maka tidak akan mendekatimu satu jin pun yang kecil maupun yang besar, yang lelaki maupun yang wanita. Maka Abu Hurairah bertanya? Apakan kamu benar akan melakukannya (mengajarkannya)? Setan itu menjawab: iya, Abu Hurairah bertanya: apa itu? Setan menjawab: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}  membaca ayat kursy hingga menyelesaikannya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/675)([25]) Lihat HR. Bukhari no. 5735, yaitu hadits ‘Aisyah,«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي المَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ، وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا» فَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ: كَيْفَ يَنْفِثُ؟ قَالَ: «كَانَ يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ»“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meniupkan (dengan sedikin luah)  pada tubuhnya yang telah dibaca Al-Mu’awwidzaatketika beliau sakit yang mengantarkan kematian. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat parah, aku (A’isyah) yang meniupkan dengan bacaan surat tersebut, dan aku gunakan tangan beliau untuk mengusap badan beliau, karena tangan beliau berkah.”Dalam hadits yang lain ‘Aisyah berkata:إِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ، لِأَنَّهَا كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِي“jika ada seseorang yang sakit dari keluarganya, beliau meniupkan (dengan sedikit ludah) dengan membaca al-mu’awwidzaat. Ketika beliau sakit pada sakit yang menghantarkan pada kematiannya akulah yang meniupkan kepadanya lalu aku mengusapnya dengan menggunakan tangannya sendiri, karena tangannya lebih banyak keberkahannya dari tanganku.” HR. Muslim no. 2192نَفَثَ secara bahasa menyerupai tiupan dan dia lebih sedikit dari meludah. (lihat: Ghoriibul Hadiits 1/298 dan Jamharotul Lughoh 1/429)Dan Al-Qodhi ‘Iyadh berkata faidah dari meniup dengan sedikit ludah adalah mengambil keberkahan dari sedikit ludah atau angin yang ditiupkan yang keluar bersama zikir yang dibaca. (lihat: Irsyaadus Saary Syarhu Shohiih Al-Bukhory 8/388)Dan para ulama memasukkannya ke dalam bab Ruqyah dengan Al-Quran dan Al-Mu’awwidzat, dan disebutkan alasan ruqyah dengan Al-Mu’awwidzaat karena di dalamnya terdapat permintaan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari keburukan-keburukan yang disebutkan dalam surah Al-Falaq dan An-Nas. (lihat: Syarhu Sunan Abi Dawud Libni Ruslan 15/249)([26]) hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahily, bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.” قَالَ مُعَاوِيَةُ: بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ: السَّحَرَةُ“Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir.” Mu’awiyah berkata; “Telah sampai (khabar) kepadaku bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir.” HR. Muslim no. 804Dijelaskan oleh para ulama alasan pengkhususan surah Al-Baqarah dari selainnya ada 2 sisi:Pertama: karena kebanyakan perkara ibadah dan apa yang berkaitan dengan haji disebutkan dalam surah ini.Kedua: karena panjang dan agungnya kandungan surah ini, dan dikarenakan banyaknya hukum-hukum dalam surah ini. (lihat: Kasyful Musykil min Hadiits Ash-Shohihain 1/277)Dan para penyihir disebut sebagai batholah dikarenakan apa yang mereka bawa adalah sesuatu yang batil. (lihat: Mirqoothul      Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1461)([27]) ini adalah fatwa Syaikh ‘Abdullah bin Baz (lihat: Majmu’ Fatawa bin Baz 5/311([28]) HR. Muslim no. 2186An-Nawawi menjelaskan faedah dari doa ini bahwa rukyah itu dengan nama-nama Allah. Dan yang dimaksud dengan نَفْسٍ ada 2 makna, pertama: jiwa seseorang, dan yang kedua: ‘ain, karena an-nafs dalam bahasa arab terkadang dibawa kepada makna ‘ain, sehingga ada istilah رَجُلٌ نَفُوسٌ yaitu penyebutan untuk orang yang bisa menimpakan ‘ain kepada orang lain. (Lihat: Al-Minhaaj Syarhu Shohih Muslim bin Al-Hajjaaj 14/170)([29]) أَذْهِبِ البَاسَ maksudnya meminta untuk dihilangkan rasa sakit yang amat sangat, meminta diangkatnya azab dari dirinya, dan juga meminta untuk dihilangkan kesedihannya. (lihat: ‘Umdatul Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228)([30]) Disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala yang menyembuhkan, bukan obat-obatan, hal ini dokarenakan obat-obatan tidak akan bisa memberikan manfaat jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan dalam obat tersebut sesuatu yang dapat menyembuhkan. ((lihat: ‘Umdatul Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228)([31]) HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191.([32]) maksudnya berlindung dari rasa sakit dan sesuatu yang dibenci yang sedang dialaminya sekarang dan juga berlindung dari sesuatu yang diperkirakan akan menimpanya pada kemudian hari berupa rasa sedih dan rasa takut. (lihat: Syarhu Sunan Ibni Majah Lis Suyuthi 1/252)([33]) HR. Muslim no. 2202Hadits ini adalah riwayat ‘Utsman bin Abu Al-‘Ash ketika dia mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sakit yang ia dapati pada badannya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cara penyembuhannya yaitu dengan meletakkan tangan pada bagian tubuh yang sakit kemudian mengucapkan doa ini.([34]) Maksudnya adalah nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala, sifat-sifat-Nya dan ayat-ayat Al-Quran. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1715)Adapun maksud dari sifat sempurna maka banyak penafsirannya dari para ulama, ada yang mengatakannya artinya kalam Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna, ada yang mengatakan maksud dari sempurna adalah yang bermanfaat, ada yang mengatakan yang mencukupi, ada yang mengatakan penuh keberkahan, dan ada yang mengatakan maksudnya yang jadi penghukum yang terus menerus dan tidak ada  yang bisa menolaknya juga tidak ada di dalamnya aib ataupun kurang. (lihat: ‘Umdatul Qory Syarhu Shohih Al-Bukhory 15/265)([35]) Dan هَامَّةٍ artinya segala sesuatu yang beracun dan mematikan, dan bentuk jamaknya adalah الْهَوَام. Adapun yang beracun namun tidak mematikan seperti kalajengking dan tawon maka dinamakan سَامَّة. (lihat: Syarhu Sunan Ibni Majah 1/252)([36]) maksudnya adalah pandangan mata yang bisa mendatangkan penyakit kepada manusia berupa gila dan yang lainnya. (lihat: Kasyful Musykil min Hadiits Ash-Shohihain 2/415)([37]) HR. Bukhari no. 3371([38]) تُرْبَةُ أَرْضِنَا maksudnya tanah secara umum menurut mayoritas ulama, dan sebagian ulama berpendapat tanah khusus dari kota Madinah secara khusus karena keberkahannya atau bisa juga tanah apapun secara umum. (lihat: Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 14/184)([39]) HR. Bukhari no. 5745 dan Muslim no. 2194.Caranya yaitu dengan mengambil ludah dengan jari telunjuk, kemudian meletakkannya di tanah hingga ada tanah yang menempel pada jari telunjuk lalu mengusap bagian yang sakit dengan mengucapkan doa tersebut ketika sedang mengusap. (lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi di Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim  14/184)
Panduan Tata Cara dan Bacaan Ruqyah Syar’iyyahOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MADownload EBOOKPendahuluanDefinisiRuqyah: Penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat ayat suci Al Qur’an, atau doa-doa kepada Allah.Syarat dibolehkannya ruqyah sebagaimana perkataan Ibnu Hajar rahimahullah:وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الرُّقَى عِنْدَ اجْتِمَاعِ ثَلَاثَةِ شُرُوطٍ أَنْ يَكُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَبِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ أَوْ بِمَا يُعْرَفُ مَعْنَاهُ مِنْ غَيْرِهِ وَأَنْ يُعْتَقَدَ أَنَّ الرُّقْيَةَ لَا تُؤَثِّرُ بِذَاتِهَا بَلْ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى“Para ulama telah bersepakat bahwa ruqyah itu diperbolehkan jika memenuhi 3 persyaratan:Ruqyah dengan firman Allah atau dengan nama-nama dan sifat-sifatNya,Ruqyah dengan bahasa Arab atau jika selain bahasa Arab maka harus dipahami maknanyaHendaknya meyakini bahwasanya ruqyah tidaklah memberi pengaruh dengan sendirinya akan tetapi kembali kepada Allah” ([1])Sebagian ulama keliru dan berpendapat bahwa ruqyah dengan apa saja -selama bermanfaat- adalah diperbolehkan. Dan hal ini telah dibantah oleh Ibnu Hajar, karena Nabi ﷺ menyatakan “Tidak mengapa ruqyah selama tidak ada kesyirikan padanya”. Dan jika ruqyah tersebut dengan bahasa yang tidak dipahami maka dikhawatirkan mengandung atau bisa menjerumuskan dalam kesyirikan([2])Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:وَعَامَّةُ مَا بِأَيْدِي النَّاسِ مِنْ الْعَزَائِمِ وَالطَّلَاسِمِ وَالرُّقَى الَّتِي لَا تُفْقَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ فِيهَا مَا هُوَ شِرْكٌ بِالْجِنِّ، وَلِهَذَا نَهَى عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِينَ عَنْ الرُّقَى الَّتِي لَا يُفْقَهُ مَعْنَاهَا؛ لِأَنَّهَا مَظِنَّةُ الشِّرْكِ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ الرَّاقِي أَنَّهَا شِرْكٌ“Dan jimat-jimat, rajah-rajah, dan ruqyah-ruqyah yang ada di tangan masyarakat yang tidak dipahami maknanya, ada padanya kesyirikan kepada jin. Karenanya para ulama muslimin telah melarang ruqyah yang tidak dipahami maknanya, karena diduga mengandung kesyirikan meskipun yang meruqyah tidak mengetahui bahwasanya itu adalah kesyirikan” ([3])Tata Cara MeruqyahAdapun cara meruqyah yang syar’i adalah dengan cara-cara berikut:Pertama: النَفَثُ (dengan tiupan disertai sedikit sekali air liur, dan ada yang mengatakan tanpa air liur sama sekali). Rasulullah ﷺ bersabda:الرُّؤْيَا (الصَّالِحَةُ) مِنَ اللَّهِ، وَالحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفِثْ حِينَ يَسْتَيْقِظُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ (وفي رواية: فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ)، وَيَتَعَوَّذْ مِنْ شَرِّهَا، فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ“Mimpi yang baik dari Allah dan mimpi yang buruk dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang ia tidak sukai maka hendaknya ia meniupkan (nafats) tatkala terjaga sebanyak tiga kali dan berlindung dari keburukannya (Dalam riwayat yang lain: “Hendaknya ia meludah ke arah kirinya), karena sesungguhnya hal itu tidak akan memudorotkannya” ([4])Kedua: التَّفْلُ (dengan meniup disertai air liur namun tidak sampai pada derajat meludah)Sebagaimana kisah Abu Sa’id al-Khudri, dimana disebutkan:فَجَعَلَ يَتْفُلُ وَيَقْرَأُ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ حَتَّى لَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ“Maka sahabat (yang meruqyah) meludah dan membaca “Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin” hingga seakan-akan orang tersebut baru saja lepas dari ikatan” ([5])Dalam riwayat yang lain:فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ القُرْآنِ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ، فَبَرَأَ“Maka sahabatpun membacakan surat al-Fatihah, ia mengumpulkan ludahnya lalu meludah. Maka sembuhlah orang tersebut” ([6])Ibnu Hajar berkata:أَنَّ النَّفْثَ دُونَ التَّفْلِ وَإِذَا جَازَ التَّفْلُ جَازَ النَّفْثُ بِطَرِيقِ الْأَوْلَى“Sesungguhnya an-nafats dibawah at-taflu, dan jika at-taflu diperbolehkan maka an-nafats tentu lebih utama untuk dibolehkan” ([7])Ketiga: Meruqyah tanpa tiupan sama sekaliعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ، قَالَ: «أَذْهِبِ البَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Rasulullah ﷺ jika menjenguk orang sakit atau didatangkan orang sakit kepada beliau maka beliau berkata, “Hilangkanlah penyakit ini wahai Penguasa manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit sedikitpun” ([8])عَنْ عَبْدِ العَزِيزِ، قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَثَابِتٌ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، فَقَالَ ثَابِتٌ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، اشْتَكَيْتُ، فَقَالَ أَنَسٌ: أَلاَ أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: «اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ البَاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»Dari Abdul Aziz ia berkata, “Aku dan Tsabit menemui Anas bin Malik. Maka Tsabit berkata, “Wahai Abu Hamzah (kunyah Anas bin Malik -pen) aku sakit. Maka Anas berkata, “Maukah aku meruqyahmu dengan ruqyahnya Rasulullah ﷺ?”. Tsabit berkata, “Tentu”. Anas berkata, “Wahai penguasa manusia, Yang menghilangkan penyakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha menyembuhkan, dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” ([9])Keempat: Mencampurkan sedikit tanah dengan air liurعَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لِلْمَرِيضِ: «بِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا»Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi ﷺ berkata kepada orang yang sakit, “Dengan nama Allah, tanah bumi kami, dengan liur sebagian kami, disembuhkan orang yang sakit diantara kami, dengan izin Rabb kami” ([10])An-Nawawi berkata:وَمَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّهُ يَأْخُذُ مِنْ رِيقِ نَفْسِهِ عَلَى أُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ ثُمَّ يَضَعُهَا عَلَى التُّرَابِ فَيَعْلَقُ بِهَا مِنْهُ شَيْءٌ فَيَمْسَحُ بِهِ عَلَى الْمَوْضِعِ الْجَرِيحِ أَوِ الْعَلِيلِ وَيَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ فِي حَالِ الْمَسْحِ“Makna hadits ini adalah Nabi ﷺ mengambil air liurnya dengan jari telunjuknya lalu beliau meletakkan telunjuknya di tanah, kemudian sebagian tanah menempel pada jarinya lalu beliau mengusapkannya pada lokasi luka atau daerah sakitnya, dan beliau mengucapkan doa ini tatkala sedang mengusap” ([11])Kelima: Mengusapkan tangan ke tubuhعَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ، أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ بِاسْمِ اللهِ ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ»Dari Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi bahwasanya ia mengeluhkan kepada Nabi ﷺ rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya semenjak ia masuk Islam. Maka Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Letakkanlah tanganmu di bagian tubuhmu yang kau rasakan sakit, lalu bacalah bismillah tiga kali dan ucapkanlah sebanyak tujuh kali, “Aku berlindung kepada Allah dengan kekuasaanNya dari keburukan yang aku rasakan dan yang aku takutkan” ([12])Keenam: Ruqyah dengan membaca lalu meniupkannya ke air, setelah itu airnya diminumkan kepada yang sakit, atau diusapkan kepada bagian tubuhnya yang sakit, atau dimandikan dengan air tersebut.Dari Ali bin Abi Tholib bahwasanya Nabi ﷺ sedang sholat lalu beliau disengat kalajengking. Maka beliau berkata:لَعَنَ اللهُ الْعَقْرَبَ لاَ تَدَعُ مُصَلِّيًا وَلاَ غَيْرَهُ. ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ وَمِلْحٍ وَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَقْرَأُ بـ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ)“Allah melaknat kalajengking, kalajengking tidak meninggalkan gangguannya kepada orang yang sedang sholat dan tidak juga kepada lainnya”. Lalu Nabi meminta air dan garam kemudian Nabi mengusap dengan air tersebut dan membaca surat al-Kafirun, surat al-Falaq, dan surat an-Naas” ([13])عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ عَائِشَةَ «أَنَّهَا كَانَتْ لَا تَرَى بَأْسًا أَنْ يُعَوَّذَ فِي الْمَاءِ ثُمَّ يُصَبَّ عَلَى الْمَرِيضِ»Dari Abu Ma’syar dari Aisyah bahwasanya Aisyah memandang tidak mengapa dibacakan di air lalu air tersebut diguyurkan ke orang yang sakit([14])Demikian juga para ulama membolehkan minum dengan air yang telah dibacakan ruqyah, diantaranya Imam Ahmad([15]) dan Ibnul Qoyyim([16])Ketujuh: Menuliskan sebagian ayat al-Qur’an lalu menghapusnya dengan air kemudian meminum air tersebut atau mandi dengan air tersebutMetode seperti ini dibolehkan oleh banyak ulama, diantaranya Mujahid, Abu Qilabah, Ahmad bin Hanbal, al-Qodhi ‘Iyaadh, Ibnu Taimiyyah([17]), dan Ibnul Qoyyim ([18])Namun metode ini dibenci oleh Ibrahim an-Nakho’i ([19]), Ibnu Sirin, dan Ibnul ‘Arobi dimana beliau berkata: وَهِيَ بِدْعَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ “Ini adalah bid’ah dari syaitan” ([20]) karena metode ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ dan tidak seorangpun dari sahabat yang melakukannya. Adapun nukilan bahwa Ibnu ‘Abbas membolehkannya maka sanadnya tidak shahih dari beliau([21])Bacaan-Bacaan RuqyahBacaan Ruqyah Dari Al-Quran ([22])PertamaDengan membaca surah Al-Fatihah ([23])بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَbismillāhir-raḥmānir-raḥīm al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn ar-raḥmānir-raḥīm māliki yaumid-dīn iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ihdinaṣ–ṣirāṭal-mustaqīm ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ–ḍāllīn“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” QS. Al-Fatihah: 1-7KeduaMembaca ayat kursiyاللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS. Al-Baqarah: 255 ([24])KetigaMembaca Al-Mu’awwidzaat (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤﴾“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. (QS. Al-Falaq: 1-5)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَـٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.” (QS: An-Nas: 1-6)Caranya: membaca Al-Mu’awwidzaat (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas), tiupkan ke tangan, lalu usapkan ke wajah. ([25])Keempat Membaca surah Al-Baqarah ([26])KelimaMembaca ayat-ayat yang menjelaskan tentang kebatilan sihirAl-A’raf 117-119وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ * فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ * فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.” Yunus 79-82وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ * فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ * فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ * وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ“Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!” Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).”Surah Thaha 65-69قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”.” ([27])Bacaan Ruqyah Dari HaditsPertamaبِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَBismillaahi arqiika, min kulli syai-in yu’dziika, min syarri kulli nafsin au ‘ainin haasidin, allaahu yasyfiika, bismillaahi arqiika.“Dengan nama Allah aku meruqyah-mu, dari semua yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa dan mata hasad, semoga Allah menyembuhkanmu, Dengan nama Allah aku meruqyah-mu.” ([28])Keduaاللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًاAllaahumma robban-naas, adz-hibil ba’s([29]), isyfihii wa antasy-syaafii([30]), laa syifaa-a illaa syifaa-uka, syifaa-an laa yughoodiru saqoman.“Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini, sembuhkanlah dia dan Engkaulah As-Syafi (Sang Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” ([31])Ketiga بِسْمِ اللَّهِ (3×) أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (7×)Bismillaah (3x). A’uudzu billaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (7x).“Dengan nama Allah (3x). Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya, dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan aku khawatirkan([32]) (7x).” ([33])Keempatأَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍA’uudzu bikalimaatillaahit taammati min kulli syaithoonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin“aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna([34]) dari semua gangguan setan, binatang yang mengganggu([35]), dan pandangan mata yang jahat([36]).” ([37])Kelimaبِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَاBismillaah, turbatu ardhinaa, biriiqoti ba’dhinaa, yusyfaa bihi saqiimunaa, bi-idzni robbinaa.“Dengan nama Allah, debu tanah kami([38]), dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya sakit kami, dengan izin Rabb kami.” ([39])Demikian, Wallahu A’lam.Ebook ini telah terbit versi cetak dan online di firanda.com / bekalislam.firanda.comFootnote:________________([1]) Fathul Baari 10/195([2]) Lihat Fathul Baari 10/195([3]) Majmuu’ al-Fataawaa 19/13([4]) HR Al-Bukhari 3292 dan 5747([5]) HR Al-Bukhari No. 5749([6]) HR al-Bukhari No. 5736 dan Muslim No. 2201([7]) Fathul Baari 10/210([8]) HR Al-Bukhari No. 5675 dan Muslim No. 2191([9]) HR al-Bukhari No. 5742([10]) HR Al-Bukhari No. 5745 dan Muslim No. 2194([11]) Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/184([12]) HR Muslim No. 2202([13]) HR At-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shogir No. 830 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam As-Shahihah No. 548([14]) Mushonnaf Ibni Abi Syaibah No. 23509([15]) Lihat al-Aadaab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih  2/456([16]) Lihat Zaadul Ma’aad 4/178([17]) Majmu’ al-Fataawa 12/599([18]) Zaadul Ma’aad 4/170, 356([19]) lihat Mushonnaf Ibni Abi Syaibah 5/40 No. 23514([20]) ‘Aaridotul Ahwadzi 8/222([21]) Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah sebagaimana dimuat dalam Majallah al-Buhuuts al-Islaamiyah 21/47([22]) Pada dasarnya ayat-ayat Al-Quran adalah obat, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’alaيَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” QS. Yunus: 57Al-Imam Malik meriwayatkan tentang Abu Bakar yang menemui ‘Aisyah yang sedang mengeluh dan ada wanita Yahudi yang sedang meruqyahnya, maka Abu Bakar berkata kepadanya:ارْقِيهَا بِكِتَابِ اللهِ“ruqyahlah dia dengan kitab Allah subhanahu wa ta’ala.” (Muwattho’ Imam Malik no. 3472)Al-Imam pernah ditanya tentang ruqyah, lalu beliau menjawab:لَا بَأْسَ أَنْ يَرْقِيَ الرَّجُلُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَمَا يَعْرِفُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ“tidak mengapa bagi seseorang untuk meruqyah dengan Al-Quran atau dengan apa yang dia ketahui dari zikir-zikir.” (Al-Umm 7/241)Berkata Ibnul Qoyyim:أنَّ القُرْآنَ شِفَاءٌ لِمَا فِي الصّدُوْرِ يُذْهِبُ لِمَا يُلْقِيْهِ الشَّيْطَانُ فِيْهَا مِنْ الْوَسَاوِسِ وَالشَّهَوَاتِ وَالْإِرَادَاتِ الْفَاسِدَةِ، فَهُوَ دَوَاءٌ لِمَا أمَرَّه فِيْهَا الشَّيْطَانُ“sesungguhnya Al-Quran adalah obat hati yang menghilangkan sesuatu yang dimasukkan oleh setan berupa bisikan-bisikan, syahwat-syahwat, dan keinginan-keinginan yang rusak, dan dia adalah obat terhadap apa yang dimasukkan oleh setan di dalam dada.” (Ighohatsul Lahafaan min Mashooyidis Syaithon 1/92)([23]) HR. Bukhari no. 2276 dan Muslim no. 2201([24]) HR. Bukhory no. 2311Dan disebutkan dalam kelanjutan hadits tersebut bahwa orang yang membacanya ketika akan tidur maka Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa menjaganya hingga waktu pagi.Dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat lainnya yang menyebutkan bahwa Abu Hurairah yang menangkap setan tersebut akan menyerahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka setan itu berkata kepada Abu Hurairah,لَا تَفْعَلْ فَإِنَّكَ إِنْ تَدَعْنِي عَلَّمْتُكَ كَلِمَاتٍ إِذَا أَنْتَ قُلْتَهَا لَمْ يَقَرَبْكَ أَحَدٌ مِنَ الْجِنِّ صَغِيرٌ وَلَا كَبِيرٌ ذَكَرٌ وَلَا أُنْثَى قَالَ لَهُ: لَتَفْعَلَنَّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَا هُنَّ؟ قَالَ: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ حَتَّى خَتَمَهَا“jangan lakukan (menyerahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), sesungguhnya jika engkau melepaskanku aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat jika engkau mengucapkannya maka tidak akan mendekatimu satu jin pun yang kecil maupun yang besar, yang lelaki maupun yang wanita. Maka Abu Hurairah bertanya? Apakan kamu benar akan melakukannya (mengajarkannya)? Setan itu menjawab: iya, Abu Hurairah bertanya: apa itu? Setan menjawab: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}  membaca ayat kursy hingga menyelesaikannya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/675)([25]) Lihat HR. Bukhari no. 5735, yaitu hadits ‘Aisyah,«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي المَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ، وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا» فَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ: كَيْفَ يَنْفِثُ؟ قَالَ: «كَانَ يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ»“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meniupkan (dengan sedikin luah)  pada tubuhnya yang telah dibaca Al-Mu’awwidzaatketika beliau sakit yang mengantarkan kematian. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat parah, aku (A’isyah) yang meniupkan dengan bacaan surat tersebut, dan aku gunakan tangan beliau untuk mengusap badan beliau, karena tangan beliau berkah.”Dalam hadits yang lain ‘Aisyah berkata:إِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ، لِأَنَّهَا كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِي“jika ada seseorang yang sakit dari keluarganya, beliau meniupkan (dengan sedikit ludah) dengan membaca al-mu’awwidzaat. Ketika beliau sakit pada sakit yang menghantarkan pada kematiannya akulah yang meniupkan kepadanya lalu aku mengusapnya dengan menggunakan tangannya sendiri, karena tangannya lebih banyak keberkahannya dari tanganku.” HR. Muslim no. 2192نَفَثَ secara bahasa menyerupai tiupan dan dia lebih sedikit dari meludah. (lihat: Ghoriibul Hadiits 1/298 dan Jamharotul Lughoh 1/429)Dan Al-Qodhi ‘Iyadh berkata faidah dari meniup dengan sedikit ludah adalah mengambil keberkahan dari sedikit ludah atau angin yang ditiupkan yang keluar bersama zikir yang dibaca. (lihat: Irsyaadus Saary Syarhu Shohiih Al-Bukhory 8/388)Dan para ulama memasukkannya ke dalam bab Ruqyah dengan Al-Quran dan Al-Mu’awwidzat, dan disebutkan alasan ruqyah dengan Al-Mu’awwidzaat karena di dalamnya terdapat permintaan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari keburukan-keburukan yang disebutkan dalam surah Al-Falaq dan An-Nas. (lihat: Syarhu Sunan Abi Dawud Libni Ruslan 15/249)([26]) hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahily, bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.” قَالَ مُعَاوِيَةُ: بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ: السَّحَرَةُ“Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir.” Mu’awiyah berkata; “Telah sampai (khabar) kepadaku bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir.” HR. Muslim no. 804Dijelaskan oleh para ulama alasan pengkhususan surah Al-Baqarah dari selainnya ada 2 sisi:Pertama: karena kebanyakan perkara ibadah dan apa yang berkaitan dengan haji disebutkan dalam surah ini.Kedua: karena panjang dan agungnya kandungan surah ini, dan dikarenakan banyaknya hukum-hukum dalam surah ini. (lihat: Kasyful Musykil min Hadiits Ash-Shohihain 1/277)Dan para penyihir disebut sebagai batholah dikarenakan apa yang mereka bawa adalah sesuatu yang batil. (lihat: Mirqoothul      Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1461)([27]) ini adalah fatwa Syaikh ‘Abdullah bin Baz (lihat: Majmu’ Fatawa bin Baz 5/311([28]) HR. Muslim no. 2186An-Nawawi menjelaskan faedah dari doa ini bahwa rukyah itu dengan nama-nama Allah. Dan yang dimaksud dengan نَفْسٍ ada 2 makna, pertama: jiwa seseorang, dan yang kedua: ‘ain, karena an-nafs dalam bahasa arab terkadang dibawa kepada makna ‘ain, sehingga ada istilah رَجُلٌ نَفُوسٌ yaitu penyebutan untuk orang yang bisa menimpakan ‘ain kepada orang lain. (Lihat: Al-Minhaaj Syarhu Shohih Muslim bin Al-Hajjaaj 14/170)([29]) أَذْهِبِ البَاسَ maksudnya meminta untuk dihilangkan rasa sakit yang amat sangat, meminta diangkatnya azab dari dirinya, dan juga meminta untuk dihilangkan kesedihannya. (lihat: ‘Umdatul Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228)([30]) Disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala yang menyembuhkan, bukan obat-obatan, hal ini dokarenakan obat-obatan tidak akan bisa memberikan manfaat jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan dalam obat tersebut sesuatu yang dapat menyembuhkan. ((lihat: ‘Umdatul Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228)([31]) HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191.([32]) maksudnya berlindung dari rasa sakit dan sesuatu yang dibenci yang sedang dialaminya sekarang dan juga berlindung dari sesuatu yang diperkirakan akan menimpanya pada kemudian hari berupa rasa sedih dan rasa takut. (lihat: Syarhu Sunan Ibni Majah Lis Suyuthi 1/252)([33]) HR. Muslim no. 2202Hadits ini adalah riwayat ‘Utsman bin Abu Al-‘Ash ketika dia mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sakit yang ia dapati pada badannya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cara penyembuhannya yaitu dengan meletakkan tangan pada bagian tubuh yang sakit kemudian mengucapkan doa ini.([34]) Maksudnya adalah nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala, sifat-sifat-Nya dan ayat-ayat Al-Quran. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1715)Adapun maksud dari sifat sempurna maka banyak penafsirannya dari para ulama, ada yang mengatakannya artinya kalam Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna, ada yang mengatakan maksud dari sempurna adalah yang bermanfaat, ada yang mengatakan yang mencukupi, ada yang mengatakan penuh keberkahan, dan ada yang mengatakan maksudnya yang jadi penghukum yang terus menerus dan tidak ada  yang bisa menolaknya juga tidak ada di dalamnya aib ataupun kurang. (lihat: ‘Umdatul Qory Syarhu Shohih Al-Bukhory 15/265)([35]) Dan هَامَّةٍ artinya segala sesuatu yang beracun dan mematikan, dan bentuk jamaknya adalah الْهَوَام. Adapun yang beracun namun tidak mematikan seperti kalajengking dan tawon maka dinamakan سَامَّة. (lihat: Syarhu Sunan Ibni Majah 1/252)([36]) maksudnya adalah pandangan mata yang bisa mendatangkan penyakit kepada manusia berupa gila dan yang lainnya. (lihat: Kasyful Musykil min Hadiits Ash-Shohihain 2/415)([37]) HR. Bukhari no. 3371([38]) تُرْبَةُ أَرْضِنَا maksudnya tanah secara umum menurut mayoritas ulama, dan sebagian ulama berpendapat tanah khusus dari kota Madinah secara khusus karena keberkahannya atau bisa juga tanah apapun secara umum. (lihat: Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 14/184)([39]) HR. Bukhari no. 5745 dan Muslim no. 2194.Caranya yaitu dengan mengambil ludah dengan jari telunjuk, kemudian meletakkannya di tanah hingga ada tanah yang menempel pada jari telunjuk lalu mengusap bagian yang sakit dengan mengucapkan doa tersebut ketika sedang mengusap. (lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi di Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim  14/184)


Panduan Tata Cara dan Bacaan Ruqyah Syar’iyyahOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MADownload EBOOKPendahuluanDefinisiRuqyah: Penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat ayat suci Al Qur’an, atau doa-doa kepada Allah.Syarat dibolehkannya ruqyah sebagaimana perkataan Ibnu Hajar rahimahullah:وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الرُّقَى عِنْدَ اجْتِمَاعِ ثَلَاثَةِ شُرُوطٍ أَنْ يَكُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَبِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ أَوْ بِمَا يُعْرَفُ مَعْنَاهُ مِنْ غَيْرِهِ وَأَنْ يُعْتَقَدَ أَنَّ الرُّقْيَةَ لَا تُؤَثِّرُ بِذَاتِهَا بَلْ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى“Para ulama telah bersepakat bahwa ruqyah itu diperbolehkan jika memenuhi 3 persyaratan:Ruqyah dengan firman Allah atau dengan nama-nama dan sifat-sifatNya,Ruqyah dengan bahasa Arab atau jika selain bahasa Arab maka harus dipahami maknanyaHendaknya meyakini bahwasanya ruqyah tidaklah memberi pengaruh dengan sendirinya akan tetapi kembali kepada Allah” ([1])Sebagian ulama keliru dan berpendapat bahwa ruqyah dengan apa saja -selama bermanfaat- adalah diperbolehkan. Dan hal ini telah dibantah oleh Ibnu Hajar, karena Nabi ﷺ menyatakan “Tidak mengapa ruqyah selama tidak ada kesyirikan padanya”. Dan jika ruqyah tersebut dengan bahasa yang tidak dipahami maka dikhawatirkan mengandung atau bisa menjerumuskan dalam kesyirikan([2])Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:وَعَامَّةُ مَا بِأَيْدِي النَّاسِ مِنْ الْعَزَائِمِ وَالطَّلَاسِمِ وَالرُّقَى الَّتِي لَا تُفْقَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ فِيهَا مَا هُوَ شِرْكٌ بِالْجِنِّ، وَلِهَذَا نَهَى عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِينَ عَنْ الرُّقَى الَّتِي لَا يُفْقَهُ مَعْنَاهَا؛ لِأَنَّهَا مَظِنَّةُ الشِّرْكِ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ الرَّاقِي أَنَّهَا شِرْكٌ“Dan jimat-jimat, rajah-rajah, dan ruqyah-ruqyah yang ada di tangan masyarakat yang tidak dipahami maknanya, ada padanya kesyirikan kepada jin. Karenanya para ulama muslimin telah melarang ruqyah yang tidak dipahami maknanya, karena diduga mengandung kesyirikan meskipun yang meruqyah tidak mengetahui bahwasanya itu adalah kesyirikan” ([3])Tata Cara MeruqyahAdapun cara meruqyah yang syar’i adalah dengan cara-cara berikut:Pertama: النَفَثُ (dengan tiupan disertai sedikit sekali air liur, dan ada yang mengatakan tanpa air liur sama sekali). Rasulullah ﷺ bersabda:الرُّؤْيَا (الصَّالِحَةُ) مِنَ اللَّهِ، وَالحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفِثْ حِينَ يَسْتَيْقِظُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ (وفي رواية: فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ)، وَيَتَعَوَّذْ مِنْ شَرِّهَا، فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ“Mimpi yang baik dari Allah dan mimpi yang buruk dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang ia tidak sukai maka hendaknya ia meniupkan (nafats) tatkala terjaga sebanyak tiga kali dan berlindung dari keburukannya (Dalam riwayat yang lain: “Hendaknya ia meludah ke arah kirinya), karena sesungguhnya hal itu tidak akan memudorotkannya” ([4])Kedua: التَّفْلُ (dengan meniup disertai air liur namun tidak sampai pada derajat meludah)Sebagaimana kisah Abu Sa’id al-Khudri, dimana disebutkan:فَجَعَلَ يَتْفُلُ وَيَقْرَأُ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ حَتَّى لَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ“Maka sahabat (yang meruqyah) meludah dan membaca “Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin” hingga seakan-akan orang tersebut baru saja lepas dari ikatan” ([5])Dalam riwayat yang lain:فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ القُرْآنِ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ، فَبَرَأَ“Maka sahabatpun membacakan surat al-Fatihah, ia mengumpulkan ludahnya lalu meludah. Maka sembuhlah orang tersebut” ([6])Ibnu Hajar berkata:أَنَّ النَّفْثَ دُونَ التَّفْلِ وَإِذَا جَازَ التَّفْلُ جَازَ النَّفْثُ بِطَرِيقِ الْأَوْلَى“Sesungguhnya an-nafats dibawah at-taflu, dan jika at-taflu diperbolehkan maka an-nafats tentu lebih utama untuk dibolehkan” ([7])Ketiga: Meruqyah tanpa tiupan sama sekaliعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ، قَالَ: «أَذْهِبِ البَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Rasulullah ﷺ jika menjenguk orang sakit atau didatangkan orang sakit kepada beliau maka beliau berkata, “Hilangkanlah penyakit ini wahai Penguasa manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit sedikitpun” ([8])عَنْ عَبْدِ العَزِيزِ، قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَثَابِتٌ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، فَقَالَ ثَابِتٌ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، اشْتَكَيْتُ، فَقَالَ أَنَسٌ: أَلاَ أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: «اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ البَاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»Dari Abdul Aziz ia berkata, “Aku dan Tsabit menemui Anas bin Malik. Maka Tsabit berkata, “Wahai Abu Hamzah (kunyah Anas bin Malik -pen) aku sakit. Maka Anas berkata, “Maukah aku meruqyahmu dengan ruqyahnya Rasulullah ﷺ?”. Tsabit berkata, “Tentu”. Anas berkata, “Wahai penguasa manusia, Yang menghilangkan penyakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha menyembuhkan, dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” ([9])Keempat: Mencampurkan sedikit tanah dengan air liurعَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لِلْمَرِيضِ: «بِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا»Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi ﷺ berkata kepada orang yang sakit, “Dengan nama Allah, tanah bumi kami, dengan liur sebagian kami, disembuhkan orang yang sakit diantara kami, dengan izin Rabb kami” ([10])An-Nawawi berkata:وَمَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّهُ يَأْخُذُ مِنْ رِيقِ نَفْسِهِ عَلَى أُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ ثُمَّ يَضَعُهَا عَلَى التُّرَابِ فَيَعْلَقُ بِهَا مِنْهُ شَيْءٌ فَيَمْسَحُ بِهِ عَلَى الْمَوْضِعِ الْجَرِيحِ أَوِ الْعَلِيلِ وَيَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ فِي حَالِ الْمَسْحِ“Makna hadits ini adalah Nabi ﷺ mengambil air liurnya dengan jari telunjuknya lalu beliau meletakkan telunjuknya di tanah, kemudian sebagian tanah menempel pada jarinya lalu beliau mengusapkannya pada lokasi luka atau daerah sakitnya, dan beliau mengucapkan doa ini tatkala sedang mengusap” ([11])Kelima: Mengusapkan tangan ke tubuhعَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ، أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ بِاسْمِ اللهِ ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ»Dari Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi bahwasanya ia mengeluhkan kepada Nabi ﷺ rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya semenjak ia masuk Islam. Maka Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Letakkanlah tanganmu di bagian tubuhmu yang kau rasakan sakit, lalu bacalah bismillah tiga kali dan ucapkanlah sebanyak tujuh kali, “Aku berlindung kepada Allah dengan kekuasaanNya dari keburukan yang aku rasakan dan yang aku takutkan” ([12])Keenam: Ruqyah dengan membaca lalu meniupkannya ke air, setelah itu airnya diminumkan kepada yang sakit, atau diusapkan kepada bagian tubuhnya yang sakit, atau dimandikan dengan air tersebut.Dari Ali bin Abi Tholib bahwasanya Nabi ﷺ sedang sholat lalu beliau disengat kalajengking. Maka beliau berkata:لَعَنَ اللهُ الْعَقْرَبَ لاَ تَدَعُ مُصَلِّيًا وَلاَ غَيْرَهُ. ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ وَمِلْحٍ وَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَقْرَأُ بـ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) و(قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ)“Allah melaknat kalajengking, kalajengking tidak meninggalkan gangguannya kepada orang yang sedang sholat dan tidak juga kepada lainnya”. Lalu Nabi meminta air dan garam kemudian Nabi mengusap dengan air tersebut dan membaca surat al-Kafirun, surat al-Falaq, dan surat an-Naas” ([13])عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ عَائِشَةَ «أَنَّهَا كَانَتْ لَا تَرَى بَأْسًا أَنْ يُعَوَّذَ فِي الْمَاءِ ثُمَّ يُصَبَّ عَلَى الْمَرِيضِ»Dari Abu Ma’syar dari Aisyah bahwasanya Aisyah memandang tidak mengapa dibacakan di air lalu air tersebut diguyurkan ke orang yang sakit([14])Demikian juga para ulama membolehkan minum dengan air yang telah dibacakan ruqyah, diantaranya Imam Ahmad([15]) dan Ibnul Qoyyim([16])Ketujuh: Menuliskan sebagian ayat al-Qur’an lalu menghapusnya dengan air kemudian meminum air tersebut atau mandi dengan air tersebutMetode seperti ini dibolehkan oleh banyak ulama, diantaranya Mujahid, Abu Qilabah, Ahmad bin Hanbal, al-Qodhi ‘Iyaadh, Ibnu Taimiyyah([17]), dan Ibnul Qoyyim ([18])Namun metode ini dibenci oleh Ibrahim an-Nakho’i ([19]), Ibnu Sirin, dan Ibnul ‘Arobi dimana beliau berkata: وَهِيَ بِدْعَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ “Ini adalah bid’ah dari syaitan” ([20]) karena metode ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ dan tidak seorangpun dari sahabat yang melakukannya. Adapun nukilan bahwa Ibnu ‘Abbas membolehkannya maka sanadnya tidak shahih dari beliau([21])Bacaan-Bacaan RuqyahBacaan Ruqyah Dari Al-Quran ([22])PertamaDengan membaca surah Al-Fatihah ([23])بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَbismillāhir-raḥmānir-raḥīm al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn ar-raḥmānir-raḥīm māliki yaumid-dīn iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ihdinaṣ–ṣirāṭal-mustaqīm ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ–ḍāllīn“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” QS. Al-Fatihah: 1-7KeduaMembaca ayat kursiyاللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS. Al-Baqarah: 255 ([24])KetigaMembaca Al-Mu’awwidzaat (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤﴾“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. (QS. Al-Falaq: 1-5)بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَـٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.” (QS: An-Nas: 1-6)Caranya: membaca Al-Mu’awwidzaat (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas), tiupkan ke tangan, lalu usapkan ke wajah. ([25])Keempat Membaca surah Al-Baqarah ([26])KelimaMembaca ayat-ayat yang menjelaskan tentang kebatilan sihirAl-A’raf 117-119وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ * فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ * فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.” Yunus 79-82وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ * فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ * فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ * وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ“Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!” Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).”Surah Thaha 65-69قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”.” ([27])Bacaan Ruqyah Dari HaditsPertamaبِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَBismillaahi arqiika, min kulli syai-in yu’dziika, min syarri kulli nafsin au ‘ainin haasidin, allaahu yasyfiika, bismillaahi arqiika.“Dengan nama Allah aku meruqyah-mu, dari semua yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa dan mata hasad, semoga Allah menyembuhkanmu, Dengan nama Allah aku meruqyah-mu.” ([28])Keduaاللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًاAllaahumma robban-naas, adz-hibil ba’s([29]), isyfihii wa antasy-syaafii([30]), laa syifaa-a illaa syifaa-uka, syifaa-an laa yughoodiru saqoman.“Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini, sembuhkanlah dia dan Engkaulah As-Syafi (Sang Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” ([31])Ketiga بِسْمِ اللَّهِ (3×) أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (7×)Bismillaah (3x). A’uudzu billaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (7x).“Dengan nama Allah (3x). Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya, dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan aku khawatirkan([32]) (7x).” ([33])Keempatأَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍA’uudzu bikalimaatillaahit taammati min kulli syaithoonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin“aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna([34]) dari semua gangguan setan, binatang yang mengganggu([35]), dan pandangan mata yang jahat([36]).” ([37])Kelimaبِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَاBismillaah, turbatu ardhinaa, biriiqoti ba’dhinaa, yusyfaa bihi saqiimunaa, bi-idzni robbinaa.“Dengan nama Allah, debu tanah kami([38]), dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya sakit kami, dengan izin Rabb kami.” ([39])Demikian, Wallahu A’lam.Ebook ini telah terbit versi cetak dan online di firanda.com / bekalislam.firanda.comFootnote:________________([1]) Fathul Baari 10/195([2]) Lihat Fathul Baari 10/195([3]) Majmuu’ al-Fataawaa 19/13([4]) HR Al-Bukhari 3292 dan 5747([5]) HR Al-Bukhari No. 5749([6]) HR al-Bukhari No. 5736 dan Muslim No. 2201([7]) Fathul Baari 10/210([8]) HR Al-Bukhari No. 5675 dan Muslim No. 2191([9]) HR al-Bukhari No. 5742([10]) HR Al-Bukhari No. 5745 dan Muslim No. 2194([11]) Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/184([12]) HR Muslim No. 2202([13]) HR At-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shogir No. 830 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam As-Shahihah No. 548([14]) Mushonnaf Ibni Abi Syaibah No. 23509([15]) Lihat al-Aadaab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih  2/456([16]) Lihat Zaadul Ma’aad 4/178([17]) Majmu’ al-Fataawa 12/599([18]) Zaadul Ma’aad 4/170, 356([19]) lihat Mushonnaf Ibni Abi Syaibah 5/40 No. 23514([20]) ‘Aaridotul Ahwadzi 8/222([21]) Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah sebagaimana dimuat dalam Majallah al-Buhuuts al-Islaamiyah 21/47([22]) Pada dasarnya ayat-ayat Al-Quran adalah obat, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’alaيَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” QS. Yunus: 57Al-Imam Malik meriwayatkan tentang Abu Bakar yang menemui ‘Aisyah yang sedang mengeluh dan ada wanita Yahudi yang sedang meruqyahnya, maka Abu Bakar berkata kepadanya:ارْقِيهَا بِكِتَابِ اللهِ“ruqyahlah dia dengan kitab Allah subhanahu wa ta’ala.” (Muwattho’ Imam Malik no. 3472)Al-Imam pernah ditanya tentang ruqyah, lalu beliau menjawab:لَا بَأْسَ أَنْ يَرْقِيَ الرَّجُلُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَمَا يَعْرِفُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ“tidak mengapa bagi seseorang untuk meruqyah dengan Al-Quran atau dengan apa yang dia ketahui dari zikir-zikir.” (Al-Umm 7/241)Berkata Ibnul Qoyyim:أنَّ القُرْآنَ شِفَاءٌ لِمَا فِي الصّدُوْرِ يُذْهِبُ لِمَا يُلْقِيْهِ الشَّيْطَانُ فِيْهَا مِنْ الْوَسَاوِسِ وَالشَّهَوَاتِ وَالْإِرَادَاتِ الْفَاسِدَةِ، فَهُوَ دَوَاءٌ لِمَا أمَرَّه فِيْهَا الشَّيْطَانُ“sesungguhnya Al-Quran adalah obat hati yang menghilangkan sesuatu yang dimasukkan oleh setan berupa bisikan-bisikan, syahwat-syahwat, dan keinginan-keinginan yang rusak, dan dia adalah obat terhadap apa yang dimasukkan oleh setan di dalam dada.” (Ighohatsul Lahafaan min Mashooyidis Syaithon 1/92)([23]) HR. Bukhari no. 2276 dan Muslim no. 2201([24]) HR. Bukhory no. 2311Dan disebutkan dalam kelanjutan hadits tersebut bahwa orang yang membacanya ketika akan tidur maka Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa menjaganya hingga waktu pagi.Dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat lainnya yang menyebutkan bahwa Abu Hurairah yang menangkap setan tersebut akan menyerahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka setan itu berkata kepada Abu Hurairah,لَا تَفْعَلْ فَإِنَّكَ إِنْ تَدَعْنِي عَلَّمْتُكَ كَلِمَاتٍ إِذَا أَنْتَ قُلْتَهَا لَمْ يَقَرَبْكَ أَحَدٌ مِنَ الْجِنِّ صَغِيرٌ وَلَا كَبِيرٌ ذَكَرٌ وَلَا أُنْثَى قَالَ لَهُ: لَتَفْعَلَنَّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَا هُنَّ؟ قَالَ: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ حَتَّى خَتَمَهَا“jangan lakukan (menyerahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), sesungguhnya jika engkau melepaskanku aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat jika engkau mengucapkannya maka tidak akan mendekatimu satu jin pun yang kecil maupun yang besar, yang lelaki maupun yang wanita. Maka Abu Hurairah bertanya? Apakan kamu benar akan melakukannya (mengajarkannya)? Setan itu menjawab: iya, Abu Hurairah bertanya: apa itu? Setan menjawab: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}  membaca ayat kursy hingga menyelesaikannya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/675)([25]) Lihat HR. Bukhari no. 5735, yaitu hadits ‘Aisyah,«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي المَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ، وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا» فَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ: كَيْفَ يَنْفِثُ؟ قَالَ: «كَانَ يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ»“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meniupkan (dengan sedikin luah)  pada tubuhnya yang telah dibaca Al-Mu’awwidzaatketika beliau sakit yang mengantarkan kematian. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat parah, aku (A’isyah) yang meniupkan dengan bacaan surat tersebut, dan aku gunakan tangan beliau untuk mengusap badan beliau, karena tangan beliau berkah.”Dalam hadits yang lain ‘Aisyah berkata:إِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ، لِأَنَّهَا كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِي“jika ada seseorang yang sakit dari keluarganya, beliau meniupkan (dengan sedikit ludah) dengan membaca al-mu’awwidzaat. Ketika beliau sakit pada sakit yang menghantarkan pada kematiannya akulah yang meniupkan kepadanya lalu aku mengusapnya dengan menggunakan tangannya sendiri, karena tangannya lebih banyak keberkahannya dari tanganku.” HR. Muslim no. 2192نَفَثَ secara bahasa menyerupai tiupan dan dia lebih sedikit dari meludah. (lihat: Ghoriibul Hadiits 1/298 dan Jamharotul Lughoh 1/429)Dan Al-Qodhi ‘Iyadh berkata faidah dari meniup dengan sedikit ludah adalah mengambil keberkahan dari sedikit ludah atau angin yang ditiupkan yang keluar bersama zikir yang dibaca. (lihat: Irsyaadus Saary Syarhu Shohiih Al-Bukhory 8/388)Dan para ulama memasukkannya ke dalam bab Ruqyah dengan Al-Quran dan Al-Mu’awwidzat, dan disebutkan alasan ruqyah dengan Al-Mu’awwidzaat karena di dalamnya terdapat permintaan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari keburukan-keburukan yang disebutkan dalam surah Al-Falaq dan An-Nas. (lihat: Syarhu Sunan Abi Dawud Libni Ruslan 15/249)([26]) hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahily, bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.” قَالَ مُعَاوِيَةُ: بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ: السَّحَرَةُ“Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir.” Mu’awiyah berkata; “Telah sampai (khabar) kepadaku bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir.” HR. Muslim no. 804Dijelaskan oleh para ulama alasan pengkhususan surah Al-Baqarah dari selainnya ada 2 sisi:Pertama: karena kebanyakan perkara ibadah dan apa yang berkaitan dengan haji disebutkan dalam surah ini.Kedua: karena panjang dan agungnya kandungan surah ini, dan dikarenakan banyaknya hukum-hukum dalam surah ini. (lihat: Kasyful Musykil min Hadiits Ash-Shohihain 1/277)Dan para penyihir disebut sebagai batholah dikarenakan apa yang mereka bawa adalah sesuatu yang batil. (lihat: Mirqoothul      Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1461)([27]) ini adalah fatwa Syaikh ‘Abdullah bin Baz (lihat: Majmu’ Fatawa bin Baz 5/311([28]) HR. Muslim no. 2186An-Nawawi menjelaskan faedah dari doa ini bahwa rukyah itu dengan nama-nama Allah. Dan yang dimaksud dengan نَفْسٍ ada 2 makna, pertama: jiwa seseorang, dan yang kedua: ‘ain, karena an-nafs dalam bahasa arab terkadang dibawa kepada makna ‘ain, sehingga ada istilah رَجُلٌ نَفُوسٌ yaitu penyebutan untuk orang yang bisa menimpakan ‘ain kepada orang lain. (Lihat: Al-Minhaaj Syarhu Shohih Muslim bin Al-Hajjaaj 14/170)([29]) أَذْهِبِ البَاسَ maksudnya meminta untuk dihilangkan rasa sakit yang amat sangat, meminta diangkatnya azab dari dirinya, dan juga meminta untuk dihilangkan kesedihannya. (lihat: ‘Umdatul Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228)([30]) Disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala yang menyembuhkan, bukan obat-obatan, hal ini dokarenakan obat-obatan tidak akan bisa memberikan manfaat jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan dalam obat tersebut sesuatu yang dapat menyembuhkan. ((lihat: ‘Umdatul Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228)([31]) HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191.([32]) maksudnya berlindung dari rasa sakit dan sesuatu yang dibenci yang sedang dialaminya sekarang dan juga berlindung dari sesuatu yang diperkirakan akan menimpanya pada kemudian hari berupa rasa sedih dan rasa takut. (lihat: Syarhu Sunan Ibni Majah Lis Suyuthi 1/252)([33]) HR. Muslim no. 2202Hadits ini adalah riwayat ‘Utsman bin Abu Al-‘Ash ketika dia mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sakit yang ia dapati pada badannya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cara penyembuhannya yaitu dengan meletakkan tangan pada bagian tubuh yang sakit kemudian mengucapkan doa ini.([34]) Maksudnya adalah nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala, sifat-sifat-Nya dan ayat-ayat Al-Quran. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1715)Adapun maksud dari sifat sempurna maka banyak penafsirannya dari para ulama, ada yang mengatakannya artinya kalam Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna, ada yang mengatakan maksud dari sempurna adalah yang bermanfaat, ada yang mengatakan yang mencukupi, ada yang mengatakan penuh keberkahan, dan ada yang mengatakan maksudnya yang jadi penghukum yang terus menerus dan tidak ada  yang bisa menolaknya juga tidak ada di dalamnya aib ataupun kurang. (lihat: ‘Umdatul Qory Syarhu Shohih Al-Bukhory 15/265)([35]) Dan هَامَّةٍ artinya segala sesuatu yang beracun dan mematikan, dan bentuk jamaknya adalah الْهَوَام. Adapun yang beracun namun tidak mematikan seperti kalajengking dan tawon maka dinamakan سَامَّة. (lihat: Syarhu Sunan Ibni Majah 1/252)([36]) maksudnya adalah pandangan mata yang bisa mendatangkan penyakit kepada manusia berupa gila dan yang lainnya. (lihat: Kasyful Musykil min Hadiits Ash-Shohihain 2/415)([37]) HR. Bukhari no. 3371([38]) تُرْبَةُ أَرْضِنَا maksudnya tanah secara umum menurut mayoritas ulama, dan sebagian ulama berpendapat tanah khusus dari kota Madinah secara khusus karena keberkahannya atau bisa juga tanah apapun secara umum. (lihat: Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 14/184)([39]) HR. Bukhari no. 5745 dan Muslim no. 2194.Caranya yaitu dengan mengambil ludah dengan jari telunjuk, kemudian meletakkannya di tanah hingga ada tanah yang menempel pada jari telunjuk lalu mengusap bagian yang sakit dengan mengucapkan doa tersebut ketika sedang mengusap. (lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi di Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim  14/184)

Tsalatsatul Ushul: Penjelasan Menarik Mengenai Doa, Harap, Takut, Khusyuk, dan Tawakal

Ini adalah penjelasan menarik mengenai doa, harap (raja’), takut (khauf), khusyuk, dan tawakal dari kitab Tsalatsatul Ushul.   Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: «الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ» “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 3371) Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ “Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang merasa tidak butuh dari berdo’a kepada-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir: 60) Dalil khauf adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 175) Dalil raja` adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ “Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110) Dalil tawakkal adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakkal, jika kalian orang-orang mukmin.” (QS. Al-Maidah: 23) ﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾ “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Dalil raghbah, rahbah, dan khusyuk adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ “Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)   Daftar Isi tutup 1. Doa itu Inti Ibadah 1.1. Doa itu ada dua macam: doa masalah dan doa ibadah 2. Khauf (Takut) 2.1. Khauf itu ada tiga macam: khauf thabi’i, khauf ibadah, dan khauf sirr 3. Raja’ (Harap) 4. Tawakal 5. Raghbah (Harap), Rahbah, dan Khusyuk 5.1. Manakah yang diunggulkan takut (khauf) ataukah harap (raja’)? Doa itu Inti Ibadah Dalam hadits dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud, no. 1479; Tirmidzi, 5:426; Ibnu Majah, no. 3828; Ahmad, 30:297-298, Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 714; Al-Hakim, 1:491. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). Sedangkan kalimat “doa adalah inti ibadah”, maksudnya adalah ibadah tidaklah tegak kecuali dengan doa. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Ayat ini menunjukkan bahwa doa itu ibadah. Seandainya bukan termasuk ibadah tentu tidaklah disebutkan di dalamnya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” Oleh karena itu, barang siapa berdoa kepada selain Allah meminta sesuatu yang hanya Allah yang mampu mewujudkannya, ia itu musyrik dan kafir, baik yang ditujukan doa (al-mad’u) itu hidup ataukah mati. Siapa yang berdoa kepada yang hidup “berilah aku makan” atau “berilah aku minum”, padahal ia tidak sanggup memenuhinya karena ghaib (berada di tempat yang jauh), Siapa yang berdoa kepada yang mati atau yang ghaib seperti di atas, ia dihukumi musyrik (berbuat syirik) karena orang yang sudah mati ataukah yang ghaib tidaklah mungkin memenuhi doa seperti itu di mana yang meminta pasti meyakini bahwa yang ditujukan doa punya kemampuan untuk mewujudkannya. Ingat, yang melakukannya termasuk orang musyrik.   Doa itu ada dua macam: doa masalah dan doa ibadah Pertama: Doa masalah, yaitu doa permintaan hajat dari hamba kepada Rabbnya. Bentuk doa semacam ini menandakan seseorang itu butuh dan berhadap kepadanya. Hal ini berbeda kalau yang ditujukan doa itu masih hidup dan dapat memenuhinya, permintaan seperti ini tidaklah masalah. Kedua: Doa ibadah, yaitu bentuk ibadah makhluk kepada Allah yang isinya adalah meminta pahala dan takut akan siksa-Nya. Doa semacam ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Siapa saja yang memalingkan kepada selain Allah, ia musyrik dan kafir, ia dinyatakan keluar dari Islam. Ia terancam dengan ayat yang disebutkan dalam bahasan ini, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)   Khauf (Takut) Khauf adalah takut, khawatir terkena celaka, mudarat, atau gangguan jika melakukan sesuatu. Allah Ta’ala telah mengingatkan agar tidak takut kepada wali setan. Kita hanya diperintahkan untuk takut kepada Allah semata. Dalil yang menunjukkan khauf adalah ibadah disebutkan dalam ayat: ﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)   Khauf itu ada tiga macam: khauf thabi’i, khauf ibadah, dan khauf sirr Khauf thabi’i adalah takut secara tabiat. Contohnya, manusia takut dengan binatang buas, manusia takut pada api, manusia takut tenggelam, manusia takut pada ular. Khauf thabi’i ini bukan termasuk ibadah. Namun, kalau rasa takut thabi’i sampai berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan suatu yang haram, maka dihukum haram.   Takut dari Allah ada dua macam dalam hal ini: Takut terpuji (mahmud), yaitu yang menghalangi kita dengan maksiat sehingga kita tetap melakukan yang wajib dan meninggalkan maksiat. Takut tidak terpuji (ghairu mahmud), yaitu yang mengakibatkan putus asa dari rahmat Allah, seseorang itu begitu menyesal dan merasa mencekam, seakan-akan ia ingin terus menerus bermaksiat karena sudah putus asa mendapati ampunan.   Khauf ibadah adalah takut sesuatu sehingga mengakitbatkan ia beribadah kepadanya dengan penuh rasa takut. Khauf semacam ini hanya boleh ditujukan kepada Allah. Jika dipalingkan kepada selain Allah, seseorang terjerumus dalam syirik akbar. Contoh, lewat tempat angker dan sangat takut, lalu ia meminta perlindungan (isti’adzah) dan memberi tumbal pada jin yang menjaga tempat tersebut, maka ini termasuk syirik. Khauf sirr adalah  takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa memberikan pengaruh, makanya disebut khauf sirr (diam-diam, tertutup). Contoh, takut kepada penghuni kubur atau takut kepada wali yang tempatnya jauh darinya. Para ulama menggolongkan khauf semacam ini sebagai syirik.   Raja’ (Harap) Raja’ adalah sangat mengingini pada sesuatu yang dekat atau terkadang pada sesuatu yang jauh yang dianggap dekat. Raja’ itu berisi merendahkan diri dan tunduk. Raja’ semacam ini hanya boleh ditujukan kepada Allah. Jika raja’ semacam ini ditujukan kepada selain Allah, termasuk dalam syirik ashghar (kecil). Bahkan perbuatan seperti itu bisa dihukumi syirik akbar (besar), tergantung besarnya ketundukan hati. Raja’ yang terpuji adalah yang melakukan amalan ketaatan kepada Allah dan mengharap pahala dari ketaatan tersebut, atau yang bertaubat dari maksiat dan mengharap diterima taubat-Nya. Inilah raja’ yang disertai tindakan (amalan). Raja’ yang keliru adalah raja’ tanpa tindakan, tanpa amalan. Yang terakhir ini adalah angan-angan yang tercela. Dalil bahwa raja’ adalah ibadah sebagaimana disebutkan dalam ayat: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Liqa’ (perjumpaan) pada hari kiamat ada dua macam: (1) liqa’ khusus yaitu dengan orang beriman, liqa’ tersebut dinaungi rida Allah dan dikaruniakan berbagai nikmat Allah; (2) liqa’ ‘amm (umum) yaitu liqa’ dengan seluruh manusia. Liqa’ ‘amm ini sebagaimana disebutkan dalam ayat: يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)   Tawakal Tawakal pada sesuatu berarti bersandar kepadanya. Tawakal kepada Allah berarti bersandar kepada Allah, meyakini bahwa Allah yang memberikan kecukupan, Allah yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tawakal ini adalah tanda kesempunaan iman dan tanda benarnya iman. Allah Ta’ala berfirman, وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23) Jika seseorang benar-benar bersandar kepada Allah (tawakal), ia pasti akan mendapatkan kecukupan dari harapannya. (Lihat perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Tsalatsah Al-Ushul) Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Tawakal itu ada beberapa macam: Tawakal kepada Allah, merupakan kesempurnaan iman dan tanda benarnya iman. Tawakal sirr, yaitu bergantung kepada mayat untuk memperoleh suatu manfaat atau menolak suatu kemudaratan. Perbuatan ini termasuk syirik akbar (besar) karena di dalamnya ada keyakinan bahwa mayat itu bisa bertindak di alam. Hal ini dihukumi sebagai syirik, baik yang dijadikan ketergantungan di situ adalah seorang nabi, wali, atau thaghut sebagai musuh Allah. Tawakal kepada yang lain pada sesuatu yang selain Allah itu masih bisa bertindak. Contohnya adalah bergantungnya hati kepada majikan. Namun, jika ketergantungan di sini hanya dijadikan sebagai sebab, sedangkan meyakini bahwa Allah yang mewujudkannya, perbuatan ini tidaklah masalah. Tawakal kepada yang lain dalam bentuk mewakilkan, hukumnya boleh. Hal ini dibolehkan berdasarkan dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak. Contohnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengurus penyembelihan hadyu ketika haji wada’. Kulit dan jilal (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) ikut disedekahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyembelih 63 ekor, sisanya diselesaikan oleh Ali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mewakilkan untuk pengurusan dan penjagaan harta sedekah (zakat).   Raghbah (Harap), Rahbah, dan Khusyuk Raghbah adalah keinginan (harapan) untuk menggapai sesuatu yang dicintai. Rahbah adalah takut yang berakibat seseorang lari dari yang ditakuti. Rahbah adalah takut yang disertai tindakan. Khusyuk  adalah tunduk dan patuh karena keagungan Allah di mana seseorang berserah diri kepada Allah yang kauni maupun syari. Dalam ayat disebutkan, ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ “Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90) Dalam ayat disebutkan sifat orang yang berdoa hendaklah dalam keadaan raghbah (harap), rahbah (takut, cemas), dan khusyuk.   Manakah yang diunggulkan takut (khauf) ataukah harap (raja’)? Raja’ diunggulkan ketika melakukan ketaatan sehingga kita bersemangat dan berharap amalan diterima. Khauf diunggulkan ketika ingin bermaksiat supaya maksiat itu ditinggalkan agar selamat dari hukuman. Raja’ diunggulkan ketika sakit. Khauf diunggulkan ketika keadaan sehat. Orang sakit mengedepankan raja’ (rasa harap) agar ia berhusnuzhan kepada Allah karena semakin dekat ajal. Sedangkan orang yang sehat memiliki keadaan yang berbeda. Ia unggulkan khauf (takut) agar selamat dari kejelekan. Raja’ tidak tepat digunakan ketika mendapatkan rasa aman karena seseorang akan merasa selamat dari murka Allah. Sedangkan khauf tidak tetap digunakan ketika putus asa dari rahmat Allah. Kedua keadaan ini akan membinasakan seorang hamba. Baca juga: Antara Rasa Harap dan Takut   Semoga Allah memberikan hidayah kepada penulis dan pembaca sekalian. Moga Allah kabulkan setiap doa-doa kita yang disertai harap, takut, dan khusyuk.   Referensi: Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsurayya.   — Darush Sholihin, pagi hari 16 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa doa harap dan takut tawakal tawakkal tsalatsatul ushul

Tsalatsatul Ushul: Penjelasan Menarik Mengenai Doa, Harap, Takut, Khusyuk, dan Tawakal

Ini adalah penjelasan menarik mengenai doa, harap (raja’), takut (khauf), khusyuk, dan tawakal dari kitab Tsalatsatul Ushul.   Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: «الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ» “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 3371) Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ “Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang merasa tidak butuh dari berdo’a kepada-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir: 60) Dalil khauf adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 175) Dalil raja` adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ “Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110) Dalil tawakkal adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakkal, jika kalian orang-orang mukmin.” (QS. Al-Maidah: 23) ﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾ “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Dalil raghbah, rahbah, dan khusyuk adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ “Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)   Daftar Isi tutup 1. Doa itu Inti Ibadah 1.1. Doa itu ada dua macam: doa masalah dan doa ibadah 2. Khauf (Takut) 2.1. Khauf itu ada tiga macam: khauf thabi’i, khauf ibadah, dan khauf sirr 3. Raja’ (Harap) 4. Tawakal 5. Raghbah (Harap), Rahbah, dan Khusyuk 5.1. Manakah yang diunggulkan takut (khauf) ataukah harap (raja’)? Doa itu Inti Ibadah Dalam hadits dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud, no. 1479; Tirmidzi, 5:426; Ibnu Majah, no. 3828; Ahmad, 30:297-298, Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 714; Al-Hakim, 1:491. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). Sedangkan kalimat “doa adalah inti ibadah”, maksudnya adalah ibadah tidaklah tegak kecuali dengan doa. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Ayat ini menunjukkan bahwa doa itu ibadah. Seandainya bukan termasuk ibadah tentu tidaklah disebutkan di dalamnya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” Oleh karena itu, barang siapa berdoa kepada selain Allah meminta sesuatu yang hanya Allah yang mampu mewujudkannya, ia itu musyrik dan kafir, baik yang ditujukan doa (al-mad’u) itu hidup ataukah mati. Siapa yang berdoa kepada yang hidup “berilah aku makan” atau “berilah aku minum”, padahal ia tidak sanggup memenuhinya karena ghaib (berada di tempat yang jauh), Siapa yang berdoa kepada yang mati atau yang ghaib seperti di atas, ia dihukumi musyrik (berbuat syirik) karena orang yang sudah mati ataukah yang ghaib tidaklah mungkin memenuhi doa seperti itu di mana yang meminta pasti meyakini bahwa yang ditujukan doa punya kemampuan untuk mewujudkannya. Ingat, yang melakukannya termasuk orang musyrik.   Doa itu ada dua macam: doa masalah dan doa ibadah Pertama: Doa masalah, yaitu doa permintaan hajat dari hamba kepada Rabbnya. Bentuk doa semacam ini menandakan seseorang itu butuh dan berhadap kepadanya. Hal ini berbeda kalau yang ditujukan doa itu masih hidup dan dapat memenuhinya, permintaan seperti ini tidaklah masalah. Kedua: Doa ibadah, yaitu bentuk ibadah makhluk kepada Allah yang isinya adalah meminta pahala dan takut akan siksa-Nya. Doa semacam ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Siapa saja yang memalingkan kepada selain Allah, ia musyrik dan kafir, ia dinyatakan keluar dari Islam. Ia terancam dengan ayat yang disebutkan dalam bahasan ini, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)   Khauf (Takut) Khauf adalah takut, khawatir terkena celaka, mudarat, atau gangguan jika melakukan sesuatu. Allah Ta’ala telah mengingatkan agar tidak takut kepada wali setan. Kita hanya diperintahkan untuk takut kepada Allah semata. Dalil yang menunjukkan khauf adalah ibadah disebutkan dalam ayat: ﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)   Khauf itu ada tiga macam: khauf thabi’i, khauf ibadah, dan khauf sirr Khauf thabi’i adalah takut secara tabiat. Contohnya, manusia takut dengan binatang buas, manusia takut pada api, manusia takut tenggelam, manusia takut pada ular. Khauf thabi’i ini bukan termasuk ibadah. Namun, kalau rasa takut thabi’i sampai berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan suatu yang haram, maka dihukum haram.   Takut dari Allah ada dua macam dalam hal ini: Takut terpuji (mahmud), yaitu yang menghalangi kita dengan maksiat sehingga kita tetap melakukan yang wajib dan meninggalkan maksiat. Takut tidak terpuji (ghairu mahmud), yaitu yang mengakibatkan putus asa dari rahmat Allah, seseorang itu begitu menyesal dan merasa mencekam, seakan-akan ia ingin terus menerus bermaksiat karena sudah putus asa mendapati ampunan.   Khauf ibadah adalah takut sesuatu sehingga mengakitbatkan ia beribadah kepadanya dengan penuh rasa takut. Khauf semacam ini hanya boleh ditujukan kepada Allah. Jika dipalingkan kepada selain Allah, seseorang terjerumus dalam syirik akbar. Contoh, lewat tempat angker dan sangat takut, lalu ia meminta perlindungan (isti’adzah) dan memberi tumbal pada jin yang menjaga tempat tersebut, maka ini termasuk syirik. Khauf sirr adalah  takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa memberikan pengaruh, makanya disebut khauf sirr (diam-diam, tertutup). Contoh, takut kepada penghuni kubur atau takut kepada wali yang tempatnya jauh darinya. Para ulama menggolongkan khauf semacam ini sebagai syirik.   Raja’ (Harap) Raja’ adalah sangat mengingini pada sesuatu yang dekat atau terkadang pada sesuatu yang jauh yang dianggap dekat. Raja’ itu berisi merendahkan diri dan tunduk. Raja’ semacam ini hanya boleh ditujukan kepada Allah. Jika raja’ semacam ini ditujukan kepada selain Allah, termasuk dalam syirik ashghar (kecil). Bahkan perbuatan seperti itu bisa dihukumi syirik akbar (besar), tergantung besarnya ketundukan hati. Raja’ yang terpuji adalah yang melakukan amalan ketaatan kepada Allah dan mengharap pahala dari ketaatan tersebut, atau yang bertaubat dari maksiat dan mengharap diterima taubat-Nya. Inilah raja’ yang disertai tindakan (amalan). Raja’ yang keliru adalah raja’ tanpa tindakan, tanpa amalan. Yang terakhir ini adalah angan-angan yang tercela. Dalil bahwa raja’ adalah ibadah sebagaimana disebutkan dalam ayat: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Liqa’ (perjumpaan) pada hari kiamat ada dua macam: (1) liqa’ khusus yaitu dengan orang beriman, liqa’ tersebut dinaungi rida Allah dan dikaruniakan berbagai nikmat Allah; (2) liqa’ ‘amm (umum) yaitu liqa’ dengan seluruh manusia. Liqa’ ‘amm ini sebagaimana disebutkan dalam ayat: يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)   Tawakal Tawakal pada sesuatu berarti bersandar kepadanya. Tawakal kepada Allah berarti bersandar kepada Allah, meyakini bahwa Allah yang memberikan kecukupan, Allah yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tawakal ini adalah tanda kesempunaan iman dan tanda benarnya iman. Allah Ta’ala berfirman, وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23) Jika seseorang benar-benar bersandar kepada Allah (tawakal), ia pasti akan mendapatkan kecukupan dari harapannya. (Lihat perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Tsalatsah Al-Ushul) Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Tawakal itu ada beberapa macam: Tawakal kepada Allah, merupakan kesempurnaan iman dan tanda benarnya iman. Tawakal sirr, yaitu bergantung kepada mayat untuk memperoleh suatu manfaat atau menolak suatu kemudaratan. Perbuatan ini termasuk syirik akbar (besar) karena di dalamnya ada keyakinan bahwa mayat itu bisa bertindak di alam. Hal ini dihukumi sebagai syirik, baik yang dijadikan ketergantungan di situ adalah seorang nabi, wali, atau thaghut sebagai musuh Allah. Tawakal kepada yang lain pada sesuatu yang selain Allah itu masih bisa bertindak. Contohnya adalah bergantungnya hati kepada majikan. Namun, jika ketergantungan di sini hanya dijadikan sebagai sebab, sedangkan meyakini bahwa Allah yang mewujudkannya, perbuatan ini tidaklah masalah. Tawakal kepada yang lain dalam bentuk mewakilkan, hukumnya boleh. Hal ini dibolehkan berdasarkan dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak. Contohnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengurus penyembelihan hadyu ketika haji wada’. Kulit dan jilal (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) ikut disedekahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyembelih 63 ekor, sisanya diselesaikan oleh Ali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mewakilkan untuk pengurusan dan penjagaan harta sedekah (zakat).   Raghbah (Harap), Rahbah, dan Khusyuk Raghbah adalah keinginan (harapan) untuk menggapai sesuatu yang dicintai. Rahbah adalah takut yang berakibat seseorang lari dari yang ditakuti. Rahbah adalah takut yang disertai tindakan. Khusyuk  adalah tunduk dan patuh karena keagungan Allah di mana seseorang berserah diri kepada Allah yang kauni maupun syari. Dalam ayat disebutkan, ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ “Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90) Dalam ayat disebutkan sifat orang yang berdoa hendaklah dalam keadaan raghbah (harap), rahbah (takut, cemas), dan khusyuk.   Manakah yang diunggulkan takut (khauf) ataukah harap (raja’)? Raja’ diunggulkan ketika melakukan ketaatan sehingga kita bersemangat dan berharap amalan diterima. Khauf diunggulkan ketika ingin bermaksiat supaya maksiat itu ditinggalkan agar selamat dari hukuman. Raja’ diunggulkan ketika sakit. Khauf diunggulkan ketika keadaan sehat. Orang sakit mengedepankan raja’ (rasa harap) agar ia berhusnuzhan kepada Allah karena semakin dekat ajal. Sedangkan orang yang sehat memiliki keadaan yang berbeda. Ia unggulkan khauf (takut) agar selamat dari kejelekan. Raja’ tidak tepat digunakan ketika mendapatkan rasa aman karena seseorang akan merasa selamat dari murka Allah. Sedangkan khauf tidak tetap digunakan ketika putus asa dari rahmat Allah. Kedua keadaan ini akan membinasakan seorang hamba. Baca juga: Antara Rasa Harap dan Takut   Semoga Allah memberikan hidayah kepada penulis dan pembaca sekalian. Moga Allah kabulkan setiap doa-doa kita yang disertai harap, takut, dan khusyuk.   Referensi: Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsurayya.   — Darush Sholihin, pagi hari 16 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa doa harap dan takut tawakal tawakkal tsalatsatul ushul
Ini adalah penjelasan menarik mengenai doa, harap (raja’), takut (khauf), khusyuk, dan tawakal dari kitab Tsalatsatul Ushul.   Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: «الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ» “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 3371) Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ “Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang merasa tidak butuh dari berdo’a kepada-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir: 60) Dalil khauf adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 175) Dalil raja` adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ “Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110) Dalil tawakkal adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakkal, jika kalian orang-orang mukmin.” (QS. Al-Maidah: 23) ﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾ “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Dalil raghbah, rahbah, dan khusyuk adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ “Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)   Daftar Isi tutup 1. Doa itu Inti Ibadah 1.1. Doa itu ada dua macam: doa masalah dan doa ibadah 2. Khauf (Takut) 2.1. Khauf itu ada tiga macam: khauf thabi’i, khauf ibadah, dan khauf sirr 3. Raja’ (Harap) 4. Tawakal 5. Raghbah (Harap), Rahbah, dan Khusyuk 5.1. Manakah yang diunggulkan takut (khauf) ataukah harap (raja’)? Doa itu Inti Ibadah Dalam hadits dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud, no. 1479; Tirmidzi, 5:426; Ibnu Majah, no. 3828; Ahmad, 30:297-298, Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 714; Al-Hakim, 1:491. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). Sedangkan kalimat “doa adalah inti ibadah”, maksudnya adalah ibadah tidaklah tegak kecuali dengan doa. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Ayat ini menunjukkan bahwa doa itu ibadah. Seandainya bukan termasuk ibadah tentu tidaklah disebutkan di dalamnya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” Oleh karena itu, barang siapa berdoa kepada selain Allah meminta sesuatu yang hanya Allah yang mampu mewujudkannya, ia itu musyrik dan kafir, baik yang ditujukan doa (al-mad’u) itu hidup ataukah mati. Siapa yang berdoa kepada yang hidup “berilah aku makan” atau “berilah aku minum”, padahal ia tidak sanggup memenuhinya karena ghaib (berada di tempat yang jauh), Siapa yang berdoa kepada yang mati atau yang ghaib seperti di atas, ia dihukumi musyrik (berbuat syirik) karena orang yang sudah mati ataukah yang ghaib tidaklah mungkin memenuhi doa seperti itu di mana yang meminta pasti meyakini bahwa yang ditujukan doa punya kemampuan untuk mewujudkannya. Ingat, yang melakukannya termasuk orang musyrik.   Doa itu ada dua macam: doa masalah dan doa ibadah Pertama: Doa masalah, yaitu doa permintaan hajat dari hamba kepada Rabbnya. Bentuk doa semacam ini menandakan seseorang itu butuh dan berhadap kepadanya. Hal ini berbeda kalau yang ditujukan doa itu masih hidup dan dapat memenuhinya, permintaan seperti ini tidaklah masalah. Kedua: Doa ibadah, yaitu bentuk ibadah makhluk kepada Allah yang isinya adalah meminta pahala dan takut akan siksa-Nya. Doa semacam ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Siapa saja yang memalingkan kepada selain Allah, ia musyrik dan kafir, ia dinyatakan keluar dari Islam. Ia terancam dengan ayat yang disebutkan dalam bahasan ini, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)   Khauf (Takut) Khauf adalah takut, khawatir terkena celaka, mudarat, atau gangguan jika melakukan sesuatu. Allah Ta’ala telah mengingatkan agar tidak takut kepada wali setan. Kita hanya diperintahkan untuk takut kepada Allah semata. Dalil yang menunjukkan khauf adalah ibadah disebutkan dalam ayat: ﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)   Khauf itu ada tiga macam: khauf thabi’i, khauf ibadah, dan khauf sirr Khauf thabi’i adalah takut secara tabiat. Contohnya, manusia takut dengan binatang buas, manusia takut pada api, manusia takut tenggelam, manusia takut pada ular. Khauf thabi’i ini bukan termasuk ibadah. Namun, kalau rasa takut thabi’i sampai berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan suatu yang haram, maka dihukum haram.   Takut dari Allah ada dua macam dalam hal ini: Takut terpuji (mahmud), yaitu yang menghalangi kita dengan maksiat sehingga kita tetap melakukan yang wajib dan meninggalkan maksiat. Takut tidak terpuji (ghairu mahmud), yaitu yang mengakibatkan putus asa dari rahmat Allah, seseorang itu begitu menyesal dan merasa mencekam, seakan-akan ia ingin terus menerus bermaksiat karena sudah putus asa mendapati ampunan.   Khauf ibadah adalah takut sesuatu sehingga mengakitbatkan ia beribadah kepadanya dengan penuh rasa takut. Khauf semacam ini hanya boleh ditujukan kepada Allah. Jika dipalingkan kepada selain Allah, seseorang terjerumus dalam syirik akbar. Contoh, lewat tempat angker dan sangat takut, lalu ia meminta perlindungan (isti’adzah) dan memberi tumbal pada jin yang menjaga tempat tersebut, maka ini termasuk syirik. Khauf sirr adalah  takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa memberikan pengaruh, makanya disebut khauf sirr (diam-diam, tertutup). Contoh, takut kepada penghuni kubur atau takut kepada wali yang tempatnya jauh darinya. Para ulama menggolongkan khauf semacam ini sebagai syirik.   Raja’ (Harap) Raja’ adalah sangat mengingini pada sesuatu yang dekat atau terkadang pada sesuatu yang jauh yang dianggap dekat. Raja’ itu berisi merendahkan diri dan tunduk. Raja’ semacam ini hanya boleh ditujukan kepada Allah. Jika raja’ semacam ini ditujukan kepada selain Allah, termasuk dalam syirik ashghar (kecil). Bahkan perbuatan seperti itu bisa dihukumi syirik akbar (besar), tergantung besarnya ketundukan hati. Raja’ yang terpuji adalah yang melakukan amalan ketaatan kepada Allah dan mengharap pahala dari ketaatan tersebut, atau yang bertaubat dari maksiat dan mengharap diterima taubat-Nya. Inilah raja’ yang disertai tindakan (amalan). Raja’ yang keliru adalah raja’ tanpa tindakan, tanpa amalan. Yang terakhir ini adalah angan-angan yang tercela. Dalil bahwa raja’ adalah ibadah sebagaimana disebutkan dalam ayat: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Liqa’ (perjumpaan) pada hari kiamat ada dua macam: (1) liqa’ khusus yaitu dengan orang beriman, liqa’ tersebut dinaungi rida Allah dan dikaruniakan berbagai nikmat Allah; (2) liqa’ ‘amm (umum) yaitu liqa’ dengan seluruh manusia. Liqa’ ‘amm ini sebagaimana disebutkan dalam ayat: يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)   Tawakal Tawakal pada sesuatu berarti bersandar kepadanya. Tawakal kepada Allah berarti bersandar kepada Allah, meyakini bahwa Allah yang memberikan kecukupan, Allah yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tawakal ini adalah tanda kesempunaan iman dan tanda benarnya iman. Allah Ta’ala berfirman, وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23) Jika seseorang benar-benar bersandar kepada Allah (tawakal), ia pasti akan mendapatkan kecukupan dari harapannya. (Lihat perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Tsalatsah Al-Ushul) Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Tawakal itu ada beberapa macam: Tawakal kepada Allah, merupakan kesempurnaan iman dan tanda benarnya iman. Tawakal sirr, yaitu bergantung kepada mayat untuk memperoleh suatu manfaat atau menolak suatu kemudaratan. Perbuatan ini termasuk syirik akbar (besar) karena di dalamnya ada keyakinan bahwa mayat itu bisa bertindak di alam. Hal ini dihukumi sebagai syirik, baik yang dijadikan ketergantungan di situ adalah seorang nabi, wali, atau thaghut sebagai musuh Allah. Tawakal kepada yang lain pada sesuatu yang selain Allah itu masih bisa bertindak. Contohnya adalah bergantungnya hati kepada majikan. Namun, jika ketergantungan di sini hanya dijadikan sebagai sebab, sedangkan meyakini bahwa Allah yang mewujudkannya, perbuatan ini tidaklah masalah. Tawakal kepada yang lain dalam bentuk mewakilkan, hukumnya boleh. Hal ini dibolehkan berdasarkan dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak. Contohnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengurus penyembelihan hadyu ketika haji wada’. Kulit dan jilal (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) ikut disedekahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyembelih 63 ekor, sisanya diselesaikan oleh Ali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mewakilkan untuk pengurusan dan penjagaan harta sedekah (zakat).   Raghbah (Harap), Rahbah, dan Khusyuk Raghbah adalah keinginan (harapan) untuk menggapai sesuatu yang dicintai. Rahbah adalah takut yang berakibat seseorang lari dari yang ditakuti. Rahbah adalah takut yang disertai tindakan. Khusyuk  adalah tunduk dan patuh karena keagungan Allah di mana seseorang berserah diri kepada Allah yang kauni maupun syari. Dalam ayat disebutkan, ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ “Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90) Dalam ayat disebutkan sifat orang yang berdoa hendaklah dalam keadaan raghbah (harap), rahbah (takut, cemas), dan khusyuk.   Manakah yang diunggulkan takut (khauf) ataukah harap (raja’)? Raja’ diunggulkan ketika melakukan ketaatan sehingga kita bersemangat dan berharap amalan diterima. Khauf diunggulkan ketika ingin bermaksiat supaya maksiat itu ditinggalkan agar selamat dari hukuman. Raja’ diunggulkan ketika sakit. Khauf diunggulkan ketika keadaan sehat. Orang sakit mengedepankan raja’ (rasa harap) agar ia berhusnuzhan kepada Allah karena semakin dekat ajal. Sedangkan orang yang sehat memiliki keadaan yang berbeda. Ia unggulkan khauf (takut) agar selamat dari kejelekan. Raja’ tidak tepat digunakan ketika mendapatkan rasa aman karena seseorang akan merasa selamat dari murka Allah. Sedangkan khauf tidak tetap digunakan ketika putus asa dari rahmat Allah. Kedua keadaan ini akan membinasakan seorang hamba. Baca juga: Antara Rasa Harap dan Takut   Semoga Allah memberikan hidayah kepada penulis dan pembaca sekalian. Moga Allah kabulkan setiap doa-doa kita yang disertai harap, takut, dan khusyuk.   Referensi: Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsurayya.   — Darush Sholihin, pagi hari 16 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa doa harap dan takut tawakal tawakkal tsalatsatul ushul


Ini adalah penjelasan menarik mengenai doa, harap (raja’), takut (khauf), khusyuk, dan tawakal dari kitab Tsalatsatul Ushul.   Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: «الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ» “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 3371) Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ “Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang merasa tidak butuh dari berdo’a kepada-Ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir: 60) Dalil khauf adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 175) Dalil raja` adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ “Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110) Dalil tawakkal adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakkal, jika kalian orang-orang mukmin.” (QS. Al-Maidah: 23) ﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾ “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Dalil raghbah, rahbah, dan khusyuk adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ “Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)   Daftar Isi tutup 1. Doa itu Inti Ibadah 1.1. Doa itu ada dua macam: doa masalah dan doa ibadah 2. Khauf (Takut) 2.1. Khauf itu ada tiga macam: khauf thabi’i, khauf ibadah, dan khauf sirr 3. Raja’ (Harap) 4. Tawakal 5. Raghbah (Harap), Rahbah, dan Khusyuk 5.1. Manakah yang diunggulkan takut (khauf) ataukah harap (raja’)? Doa itu Inti Ibadah Dalam hadits dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud, no. 1479; Tirmidzi, 5:426; Ibnu Majah, no. 3828; Ahmad, 30:297-298, Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 714; Al-Hakim, 1:491. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). Sedangkan kalimat “doa adalah inti ibadah”, maksudnya adalah ibadah tidaklah tegak kecuali dengan doa. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60) Ayat ini menunjukkan bahwa doa itu ibadah. Seandainya bukan termasuk ibadah tentu tidaklah disebutkan di dalamnya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” Oleh karena itu, barang siapa berdoa kepada selain Allah meminta sesuatu yang hanya Allah yang mampu mewujudkannya, ia itu musyrik dan kafir, baik yang ditujukan doa (al-mad’u) itu hidup ataukah mati. Siapa yang berdoa kepada yang hidup “berilah aku makan” atau “berilah aku minum”, padahal ia tidak sanggup memenuhinya karena ghaib (berada di tempat yang jauh), Siapa yang berdoa kepada yang mati atau yang ghaib seperti di atas, ia dihukumi musyrik (berbuat syirik) karena orang yang sudah mati ataukah yang ghaib tidaklah mungkin memenuhi doa seperti itu di mana yang meminta pasti meyakini bahwa yang ditujukan doa punya kemampuan untuk mewujudkannya. Ingat, yang melakukannya termasuk orang musyrik.   Doa itu ada dua macam: doa masalah dan doa ibadah Pertama: Doa masalah, yaitu doa permintaan hajat dari hamba kepada Rabbnya. Bentuk doa semacam ini menandakan seseorang itu butuh dan berhadap kepadanya. Hal ini berbeda kalau yang ditujukan doa itu masih hidup dan dapat memenuhinya, permintaan seperti ini tidaklah masalah. Kedua: Doa ibadah, yaitu bentuk ibadah makhluk kepada Allah yang isinya adalah meminta pahala dan takut akan siksa-Nya. Doa semacam ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Siapa saja yang memalingkan kepada selain Allah, ia musyrik dan kafir, ia dinyatakan keluar dari Islam. Ia terancam dengan ayat yang disebutkan dalam bahasan ini, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)   Khauf (Takut) Khauf adalah takut, khawatir terkena celaka, mudarat, atau gangguan jika melakukan sesuatu. Allah Ta’ala telah mengingatkan agar tidak takut kepada wali setan. Kita hanya diperintahkan untuk takut kepada Allah semata. Dalil yang menunjukkan khauf adalah ibadah disebutkan dalam ayat: ﴿فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ “Maka, janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, jika engkau orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)   Khauf itu ada tiga macam: khauf thabi’i, khauf ibadah, dan khauf sirr Khauf thabi’i adalah takut secara tabiat. Contohnya, manusia takut dengan binatang buas, manusia takut pada api, manusia takut tenggelam, manusia takut pada ular. Khauf thabi’i ini bukan termasuk ibadah. Namun, kalau rasa takut thabi’i sampai berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan suatu yang haram, maka dihukum haram.   Takut dari Allah ada dua macam dalam hal ini: Takut terpuji (mahmud), yaitu yang menghalangi kita dengan maksiat sehingga kita tetap melakukan yang wajib dan meninggalkan maksiat. Takut tidak terpuji (ghairu mahmud), yaitu yang mengakibatkan putus asa dari rahmat Allah, seseorang itu begitu menyesal dan merasa mencekam, seakan-akan ia ingin terus menerus bermaksiat karena sudah putus asa mendapati ampunan.   Khauf ibadah adalah takut sesuatu sehingga mengakitbatkan ia beribadah kepadanya dengan penuh rasa takut. Khauf semacam ini hanya boleh ditujukan kepada Allah. Jika dipalingkan kepada selain Allah, seseorang terjerumus dalam syirik akbar. Contoh, lewat tempat angker dan sangat takut, lalu ia meminta perlindungan (isti’adzah) dan memberi tumbal pada jin yang menjaga tempat tersebut, maka ini termasuk syirik. Khauf sirr adalah  takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa memberikan pengaruh, makanya disebut khauf sirr (diam-diam, tertutup). Contoh, takut kepada penghuni kubur atau takut kepada wali yang tempatnya jauh darinya. Para ulama menggolongkan khauf semacam ini sebagai syirik.   Raja’ (Harap) Raja’ adalah sangat mengingini pada sesuatu yang dekat atau terkadang pada sesuatu yang jauh yang dianggap dekat. Raja’ itu berisi merendahkan diri dan tunduk. Raja’ semacam ini hanya boleh ditujukan kepada Allah. Jika raja’ semacam ini ditujukan kepada selain Allah, termasuk dalam syirik ashghar (kecil). Bahkan perbuatan seperti itu bisa dihukumi syirik akbar (besar), tergantung besarnya ketundukan hati. Raja’ yang terpuji adalah yang melakukan amalan ketaatan kepada Allah dan mengharap pahala dari ketaatan tersebut, atau yang bertaubat dari maksiat dan mengharap diterima taubat-Nya. Inilah raja’ yang disertai tindakan (amalan). Raja’ yang keliru adalah raja’ tanpa tindakan, tanpa amalan. Yang terakhir ini adalah angan-angan yang tercela. Dalil bahwa raja’ adalah ibadah sebagaimana disebutkan dalam ayat: ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak menyekutukan dengan suatu apa pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Liqa’ (perjumpaan) pada hari kiamat ada dua macam: (1) liqa’ khusus yaitu dengan orang beriman, liqa’ tersebut dinaungi rida Allah dan dikaruniakan berbagai nikmat Allah; (2) liqa’ ‘amm (umum) yaitu liqa’ dengan seluruh manusia. Liqa’ ‘amm ini sebagaimana disebutkan dalam ayat: يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)   Tawakal Tawakal pada sesuatu berarti bersandar kepadanya. Tawakal kepada Allah berarti bersandar kepada Allah, meyakini bahwa Allah yang memberikan kecukupan, Allah yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Tawakal ini adalah tanda kesempunaan iman dan tanda benarnya iman. Allah Ta’ala berfirman, وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23) Jika seseorang benar-benar bersandar kepada Allah (tawakal), ia pasti akan mendapatkan kecukupan dari harapannya. (Lihat perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Tsalatsah Al-Ushul) Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Tawakal itu ada beberapa macam: Tawakal kepada Allah, merupakan kesempurnaan iman dan tanda benarnya iman. Tawakal sirr, yaitu bergantung kepada mayat untuk memperoleh suatu manfaat atau menolak suatu kemudaratan. Perbuatan ini termasuk syirik akbar (besar) karena di dalamnya ada keyakinan bahwa mayat itu bisa bertindak di alam. Hal ini dihukumi sebagai syirik, baik yang dijadikan ketergantungan di situ adalah seorang nabi, wali, atau thaghut sebagai musuh Allah. Tawakal kepada yang lain pada sesuatu yang selain Allah itu masih bisa bertindak. Contohnya adalah bergantungnya hati kepada majikan. Namun, jika ketergantungan di sini hanya dijadikan sebagai sebab, sedangkan meyakini bahwa Allah yang mewujudkannya, perbuatan ini tidaklah masalah. Tawakal kepada yang lain dalam bentuk mewakilkan, hukumnya boleh. Hal ini dibolehkan berdasarkan dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak. Contohnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengurus penyembelihan hadyu ketika haji wada’. Kulit dan jilal (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) ikut disedekahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyembelih 63 ekor, sisanya diselesaikan oleh Ali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mewakilkan untuk pengurusan dan penjagaan harta sedekah (zakat).   Raghbah (Harap), Rahbah, dan Khusyuk Raghbah adalah keinginan (harapan) untuk menggapai sesuatu yang dicintai. Rahbah adalah takut yang berakibat seseorang lari dari yang ditakuti. Rahbah adalah takut yang disertai tindakan. Khusyuk  adalah tunduk dan patuh karena keagungan Allah di mana seseorang berserah diri kepada Allah yang kauni maupun syari. Dalam ayat disebutkan, ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ “Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90) Dalam ayat disebutkan sifat orang yang berdoa hendaklah dalam keadaan raghbah (harap), rahbah (takut, cemas), dan khusyuk.   Manakah yang diunggulkan takut (khauf) ataukah harap (raja’)? Raja’ diunggulkan ketika melakukan ketaatan sehingga kita bersemangat dan berharap amalan diterima. Khauf diunggulkan ketika ingin bermaksiat supaya maksiat itu ditinggalkan agar selamat dari hukuman. Raja’ diunggulkan ketika sakit. Khauf diunggulkan ketika keadaan sehat. Orang sakit mengedepankan raja’ (rasa harap) agar ia berhusnuzhan kepada Allah karena semakin dekat ajal. Sedangkan orang yang sehat memiliki keadaan yang berbeda. Ia unggulkan khauf (takut) agar selamat dari kejelekan. Raja’ tidak tepat digunakan ketika mendapatkan rasa aman karena seseorang akan merasa selamat dari murka Allah. Sedangkan khauf tidak tetap digunakan ketika putus asa dari rahmat Allah. Kedua keadaan ini akan membinasakan seorang hamba. Baca juga: Antara Rasa Harap dan Takut   Semoga Allah memberikan hidayah kepada penulis dan pembaca sekalian. Moga Allah kabulkan setiap doa-doa kita yang disertai harap, takut, dan khusyuk.   Referensi: Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsurayya.   — Darush Sholihin, pagi hari 16 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa adab doa doa harap dan takut tawakal tawakkal tsalatsatul ushul

Mengobati Kegalauan (Bag. 1)

Dunia bukanlah taman surga. Bukan pula istana dengan berbagai keindahan dan kenyamanan jiwa. Sedih dengan sesuatu yang telah terjadi, cemas dengan hal yang sedang terjadi, dan galau dengan sesuatu yang akan terjadi adalah menu harian manusia. Setiap hati berbeda tingkat kesedihan, kecemasan, dan kegalauannya. Sebab yang menjadikan hati tidak tenang pun berbeda-beda. Ada yang galau dengan masa depannya, kecilnya IPK, sidang skripsi tak kunjung tiba, mau nikah tak ada dana, ditinggal nikah orang yang disuka, tiap hari kesana-kemari melamar kerja, dan seterusnya. Ada yang cemas disebabkan karena menunggu hadirnya momongan begitu lama, hutang di mana-mana, pasangan tak setia, anak yang durhaka, juga belum punya uang makan di esok lusa. Ada yang sedih karena maksiat yang dilakukannya, merasa susahnya belajar ilmu agama, atau karena dakwah tak diterima. Banyak pula tetesan air mata karena bencana alam begitu banyaknya dan wabah yang melanda dunia.Berikut adalah sedikit paparan dari jenis terapi kesedihan, kecemasan, dan kegalauan yang ada dalam syariat:Keimanan dan amal salihAllah Ta’ala beerfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّه حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa beramal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)Orang yang beriman dengan keimanan yang benar akan membuahkan amal salih yang memperbaiki kondisi hati dan akhlaknya. Amalan salih tersebut juga akan memperbaiki keadaan dunia dan akhiratnya. Dia akan merespon kebahagiaan yang didapatkannya dengan rasa syukur dan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Apabila seseorang melakukan hal tersebut, maka ia akan merasakan keindahan, menikmati kelanggengan, keberkahan, dan balasan dari syukurnya tersebut.Seorang mukmin sejati juga akan merespon berbagai hal yang tidak menyenangkan, kesedihan, kecemasan, dan kegalauan dengan cara melawannya jika hal itu bisa dilawan, atau meminimalisir jika bisa diminimalisir, atau bersabar dengan sabar yang indah jika memang hal  tersebut tidak bisa dilawan maupun diminimalisir. Dengan seperti itu, dia akan mendapatkan banyak manfaat, seperti kuatnya jiwa, besarnya kesabaran, dan balasan pahala dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Baca Juga: Melihat apa yang didapatkan seorang muslim saat musibah menimpa; terhapusnya dosa, bersihnya hati dan diangkat derajatRasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِن نَصَبٍ ولَا وصَبٍ، ولَا هَمٍّ ولَا حُزْنٍ ولَا أذًى ولَا غَمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بهَا مِن خَطَايَاهُ.“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa keletihan, rasa sakit, kegalauan, kesedihan, gangguan, atau kecemasan sampai pun duri yang melukainya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641)Dalam riwayat Muslim,ما يُصِيبُ المُؤْمِنَ مِن وصَبٍ، ولا نَصَبٍ، ولا سَقَمٍ، ولا حَزَنٍ حتَّى الهَمِّ يُهَمُّهُ، إلَّا كُفِّرَ به مِن سَيِّئاتِهِ“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), keletihan, rasa sakit, kesedihan, dan kegalauan yang menerpanya, melainkan dosa-dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 2573)Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya menyadari bahwa kegalauan dan musibah yang menimpanya tidak pergi dengan sia-sia. Musibah tersebut meninggalkan manfaat besar bagi mukmin berupa ampunan terhadap dosa-dosanya. Seorang muslim hendaknya juga menyadari bahwa jikalau bukan disebabkan musibah yang menimpanya, maka dia akan menjadi orang yang bangkrut di hari kiamat nanti, sebagaimana disebutkan oleh sebagian salaf. Karena hal inilah, seharusnya seorang mukmin gembira dengan masalah yang dijumpainya sebagaimana dia gembira saat mendapatkan nikmat.Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah yang menimpanya akan menghapus dosa, maka dia akan gembira dan merasa senang, apalagi balasan tersebut disegerakan setelah seorang hamba melakukan suatu perbuatan dosa, sebagaimana kisah salah seorang sahabat. أنَّ رجلًا لقيَ امرأةً كانت بغيًّا في الجاهلية، فجعل يلاعِبُها حتى بسَطَ يدَه إليها، فقالت: مه! فإنَّ الله عز وجل قد ذهب با لشرك وقال عفان مرة ذهب بالجاهلية وجاءنا بالإسلامِ، فولى الرجل فأصاب وجهه الحائِطُ فشجه ثم اتى النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فأَخبَرَه  فقال: أنت عبدٌ أراد اللهُ بك خيرًا. إذا أراد الله عز وجل بعبد خيرا عجل له عقوبة ذنبه وإذا أراد بعبد شرا أمسك عليه بذنبه حتى يوفى به يوم القيامة كأنه عيرِ.“Ada seorang lelaki menjumpai wanita mantan pelacur di masa jahiliyah, ia menggodanya hingga menjulurkan tangan kepadanya (mengajak berzina). Perempuan itu berkata, Tahan! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menghilangkan kesyirikan (dalam riwayat lain dari Affan: telah menghilangkan jahiliyah dan menghadirkan Islam untuk kita), maka ia berbalik dan saat berbalik wajahnya menabrak tembok sampai luka di kepalanya. Lelaki tersebut mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengkisahkan ceritanya. Rasulullah bersabda, ‘Engkau adalah hamba yang diinginkan kebaikan oleh Allah untukmu. Apabila Allah ‘azza wa jalla menginginkan kebaikan bagi hamba, maka Dia akan mensegerakan hukuman atas dosa yang telah dilakukannya. Dan apabila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba, maka Dia akan tahan azab atas dosanya tersebut hingga nantinya dibalas di hari kiamat, seakan-akan (dosanya tersebut) kafilah (karena banyaknya)’.” (HR. Ahmad dalam Musnad 4: 87 dan Hakim dalam Mustadrak 1: 349, di dalam sanadnya terdapat Al-Hasan, dari ‘Abdullah bin Mughaffal dan Al-Hasan adalah seorang mudallis yang di sini menggunakan riwayat ‘an’an, akan tetapi Shalih bin Ahmad bin Hambal mengatakan, “Ayahku mengatakan, ‘beliau mendengar Al-Hasan dari Anas bin Malik dan dari Ibnu Mughaffal -yakni ‘Abdullah bin Mughaffal-‘.” demikian di dalam kitab Marasil milik Ibnu Abi Hatim).إن الله إذا أراد بعبد خيرا عجل له العقوبة في الدنيا، وإذا أراد بعبد شرا أمسك عنه حتى يوفى  يوم القيامة بذنبه“Sesungguhnya apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba, maka Dia akan menyegerakan hukuman (atas dosa yang telah dilakukannya) di dunia. Dan apabila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba, maka Dia akan tahan (azab atas dosanya) tersebut hingga nantinya dibalas di hari kiamat dengan sebab dosanya.” (HR. Tirmidzi dalam Sunannya no. 2396 )Mengenal hakikat duniaHendaknya seorang mukmin menyadari bahwa dunia ini fana, kesenangannya sedikit, kelezatannya terkotori, dan tidak jernih bagi siapa pun. Saat dunia membuatmu tertawa sebentar, dia akan membuatmu menangis lebih lama. Saat dia memberimu sesuatu yang sedikit, dia akan menahan sesuatu yang banyak untukmu. Seorang mukmin akan ‘terpenjara’ di dunia ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ.“Dunia itu penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maksud ‘penjara’ bagi orang beriman adalah adanya batasan-batasan bagi orang beriman, sedangkan orang kafir tidak memiliki batasan. Makna lainnya yaitu sebahagia apapun seorang mukmin di dunia, kebahagiaan itu ibarat penjara baginya. Hal ini karena di akhirat nanti, dia akan mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih besar. Sebaliknya, sesengsara apapun orang kafir di dunia, kesengsaraan itu ibarat surga baginya. Hal ini karena di akhirat nanti dia akan mendapatkan kesengsaraan yang jauh lebih besar.Dunia berisi keletihan, gangguan, dan kesengsaraan. Oleh karenanya, seorang mukmin akan beristirahat saat ia pergi meninggalkan dunia sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abi Qatadah bin Rib’iy Al-Anshari,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ َقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَمَا الْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dilewati pengiringan jenazah. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ada orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan ada pula yang orang lain menjadi nyaman (istirahat) karena ketiadaannya.’Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasululullah, siapa itu orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan orang yang orang lain menjadi aman (istirahat) karena ketiadaannya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Seorang hamba yang mukmin adalah orang yang beristirahat dari keletihan dunia dan kesulitannya. Sedangkan seorang hamba yang fajir/gemar bermaksiat, maka hamba Allah yang lain, negeri dan pepohonan serta hewan yang beristirahat dari gangguannya.” (HR. Bukhari no. 6512)Kematian orang beriman merupakan peristirahatan dari kecemasan, kegalauan, dan rasa sakitnya di dunia, sebagaimana disebutkan dalam hadis,إذا حُضِرَ المؤمنُ أتتهُ ملائِكَةُ الرَّحمةِ بحريرةٍ بيضاءَ ، فيقولونَ : اخرُجي راضيةً مرضيًّا عنكِ إلى رَوحِ اللَّهِ، ورَيحانٍ ، وربٍّ غيرِ غضبانَ فتخرجُ كأطيَبِ ريحِ المسكٍ حتَّى إنَّهُ ليُناولُهُ بعضُهُم بعضًا حتَّى يأتون بِهِ بابَ السَّماءِ فيقولونَ : ما أطيَبَ هذِهِ الرِّيحَ الَّتي جاءتْكم منَ الأرضِ فيأتونَ بِهِ أرواحَ المؤمنينَ فلَهُم أشَدُّ فرحًا بِهِ مِن أحدِكُم بِغائبِهِ يقدمُ علَيهِ فيَسألونَهُ ماذا فَعلَ فلانٌ ماذا فعلَ فلانٌ ، فيقولونَ : دَعوهُ فإنَّهُ كانَ في غَمِّ الدُّنيا“Jika dihadirkan orang yang beriman, datanglah malaikat rahmah kepadanya dengan membawa sutra putih, lantas mengatakan, ‘Keluarlah dalam keadaan senang dan disenangi kepada karunia Allah dan bau wanginya surga, dan menuju Rabb yang tidak akan marah.’Keluarlah nyawa orang yang beriman sebagaimana parfum kasturi yang paling wangi. Sampai sebagiannya menerima dari sebagian yang lain, sampai mereka datang dengan membawanya ke pintu langit. Kemudian mereka (malaikat penghuni pintu langit) mengatakan, ‘Betapa harumnya bau ini, yang kalian bawa dari bumi.’Mereka lantas menjumpai nyawanya orang-orang yang beriman. Sungguh mereka sangat gembira karenanya dibandingkan dengan gembiranya kalian dengan kepulangan saudaranya yang safar. Lantas mereka akan menanyainya, ‘Apa yang telah dilakukan si fulan, apa yang telah dilakukan si fulan?’Mereka menjawab, ‘Tinggalkanlah dia, sesungguhnya dulu dia dalam keadaan kegalauan dunia …’.”(Shahih An-Nasa’i no. 1832)Seorang mukmin yang mengetahui hakikat dunia akan mendapatkan pengaruh sangat besar pada hatinya dalam menyikapi berbagai masalah hidup. Dia menyadari bahwa musibah, rasa sakit, penderitaan, dan kesusahan merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan dunia. Dia juga menyadari bahwa dengan musibah tersebut, Allah Ta’ala akan mengampuni dosa dan mengangkat derajatnya.[Bersambung]Baca Juga:Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Takdir, Thibbun Nabawi Herbal, Lafadz Adzan Dan Iqomah Untuk Mayit, Macam Macam Dosa Besar, Diijabah Allah

Mengobati Kegalauan (Bag. 1)

Dunia bukanlah taman surga. Bukan pula istana dengan berbagai keindahan dan kenyamanan jiwa. Sedih dengan sesuatu yang telah terjadi, cemas dengan hal yang sedang terjadi, dan galau dengan sesuatu yang akan terjadi adalah menu harian manusia. Setiap hati berbeda tingkat kesedihan, kecemasan, dan kegalauannya. Sebab yang menjadikan hati tidak tenang pun berbeda-beda. Ada yang galau dengan masa depannya, kecilnya IPK, sidang skripsi tak kunjung tiba, mau nikah tak ada dana, ditinggal nikah orang yang disuka, tiap hari kesana-kemari melamar kerja, dan seterusnya. Ada yang cemas disebabkan karena menunggu hadirnya momongan begitu lama, hutang di mana-mana, pasangan tak setia, anak yang durhaka, juga belum punya uang makan di esok lusa. Ada yang sedih karena maksiat yang dilakukannya, merasa susahnya belajar ilmu agama, atau karena dakwah tak diterima. Banyak pula tetesan air mata karena bencana alam begitu banyaknya dan wabah yang melanda dunia.Berikut adalah sedikit paparan dari jenis terapi kesedihan, kecemasan, dan kegalauan yang ada dalam syariat:Keimanan dan amal salihAllah Ta’ala beerfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّه حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa beramal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)Orang yang beriman dengan keimanan yang benar akan membuahkan amal salih yang memperbaiki kondisi hati dan akhlaknya. Amalan salih tersebut juga akan memperbaiki keadaan dunia dan akhiratnya. Dia akan merespon kebahagiaan yang didapatkannya dengan rasa syukur dan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Apabila seseorang melakukan hal tersebut, maka ia akan merasakan keindahan, menikmati kelanggengan, keberkahan, dan balasan dari syukurnya tersebut.Seorang mukmin sejati juga akan merespon berbagai hal yang tidak menyenangkan, kesedihan, kecemasan, dan kegalauan dengan cara melawannya jika hal itu bisa dilawan, atau meminimalisir jika bisa diminimalisir, atau bersabar dengan sabar yang indah jika memang hal  tersebut tidak bisa dilawan maupun diminimalisir. Dengan seperti itu, dia akan mendapatkan banyak manfaat, seperti kuatnya jiwa, besarnya kesabaran, dan balasan pahala dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Baca Juga: Melihat apa yang didapatkan seorang muslim saat musibah menimpa; terhapusnya dosa, bersihnya hati dan diangkat derajatRasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِن نَصَبٍ ولَا وصَبٍ، ولَا هَمٍّ ولَا حُزْنٍ ولَا أذًى ولَا غَمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بهَا مِن خَطَايَاهُ.“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa keletihan, rasa sakit, kegalauan, kesedihan, gangguan, atau kecemasan sampai pun duri yang melukainya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641)Dalam riwayat Muslim,ما يُصِيبُ المُؤْمِنَ مِن وصَبٍ، ولا نَصَبٍ، ولا سَقَمٍ، ولا حَزَنٍ حتَّى الهَمِّ يُهَمُّهُ، إلَّا كُفِّرَ به مِن سَيِّئاتِهِ“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), keletihan, rasa sakit, kesedihan, dan kegalauan yang menerpanya, melainkan dosa-dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 2573)Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya menyadari bahwa kegalauan dan musibah yang menimpanya tidak pergi dengan sia-sia. Musibah tersebut meninggalkan manfaat besar bagi mukmin berupa ampunan terhadap dosa-dosanya. Seorang muslim hendaknya juga menyadari bahwa jikalau bukan disebabkan musibah yang menimpanya, maka dia akan menjadi orang yang bangkrut di hari kiamat nanti, sebagaimana disebutkan oleh sebagian salaf. Karena hal inilah, seharusnya seorang mukmin gembira dengan masalah yang dijumpainya sebagaimana dia gembira saat mendapatkan nikmat.Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah yang menimpanya akan menghapus dosa, maka dia akan gembira dan merasa senang, apalagi balasan tersebut disegerakan setelah seorang hamba melakukan suatu perbuatan dosa, sebagaimana kisah salah seorang sahabat. أنَّ رجلًا لقيَ امرأةً كانت بغيًّا في الجاهلية، فجعل يلاعِبُها حتى بسَطَ يدَه إليها، فقالت: مه! فإنَّ الله عز وجل قد ذهب با لشرك وقال عفان مرة ذهب بالجاهلية وجاءنا بالإسلامِ، فولى الرجل فأصاب وجهه الحائِطُ فشجه ثم اتى النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فأَخبَرَه  فقال: أنت عبدٌ أراد اللهُ بك خيرًا. إذا أراد الله عز وجل بعبد خيرا عجل له عقوبة ذنبه وإذا أراد بعبد شرا أمسك عليه بذنبه حتى يوفى به يوم القيامة كأنه عيرِ.“Ada seorang lelaki menjumpai wanita mantan pelacur di masa jahiliyah, ia menggodanya hingga menjulurkan tangan kepadanya (mengajak berzina). Perempuan itu berkata, Tahan! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menghilangkan kesyirikan (dalam riwayat lain dari Affan: telah menghilangkan jahiliyah dan menghadirkan Islam untuk kita), maka ia berbalik dan saat berbalik wajahnya menabrak tembok sampai luka di kepalanya. Lelaki tersebut mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengkisahkan ceritanya. Rasulullah bersabda, ‘Engkau adalah hamba yang diinginkan kebaikan oleh Allah untukmu. Apabila Allah ‘azza wa jalla menginginkan kebaikan bagi hamba, maka Dia akan mensegerakan hukuman atas dosa yang telah dilakukannya. Dan apabila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba, maka Dia akan tahan azab atas dosanya tersebut hingga nantinya dibalas di hari kiamat, seakan-akan (dosanya tersebut) kafilah (karena banyaknya)’.” (HR. Ahmad dalam Musnad 4: 87 dan Hakim dalam Mustadrak 1: 349, di dalam sanadnya terdapat Al-Hasan, dari ‘Abdullah bin Mughaffal dan Al-Hasan adalah seorang mudallis yang di sini menggunakan riwayat ‘an’an, akan tetapi Shalih bin Ahmad bin Hambal mengatakan, “Ayahku mengatakan, ‘beliau mendengar Al-Hasan dari Anas bin Malik dan dari Ibnu Mughaffal -yakni ‘Abdullah bin Mughaffal-‘.” demikian di dalam kitab Marasil milik Ibnu Abi Hatim).إن الله إذا أراد بعبد خيرا عجل له العقوبة في الدنيا، وإذا أراد بعبد شرا أمسك عنه حتى يوفى  يوم القيامة بذنبه“Sesungguhnya apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba, maka Dia akan menyegerakan hukuman (atas dosa yang telah dilakukannya) di dunia. Dan apabila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba, maka Dia akan tahan (azab atas dosanya) tersebut hingga nantinya dibalas di hari kiamat dengan sebab dosanya.” (HR. Tirmidzi dalam Sunannya no. 2396 )Mengenal hakikat duniaHendaknya seorang mukmin menyadari bahwa dunia ini fana, kesenangannya sedikit, kelezatannya terkotori, dan tidak jernih bagi siapa pun. Saat dunia membuatmu tertawa sebentar, dia akan membuatmu menangis lebih lama. Saat dia memberimu sesuatu yang sedikit, dia akan menahan sesuatu yang banyak untukmu. Seorang mukmin akan ‘terpenjara’ di dunia ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ.“Dunia itu penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maksud ‘penjara’ bagi orang beriman adalah adanya batasan-batasan bagi orang beriman, sedangkan orang kafir tidak memiliki batasan. Makna lainnya yaitu sebahagia apapun seorang mukmin di dunia, kebahagiaan itu ibarat penjara baginya. Hal ini karena di akhirat nanti, dia akan mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih besar. Sebaliknya, sesengsara apapun orang kafir di dunia, kesengsaraan itu ibarat surga baginya. Hal ini karena di akhirat nanti dia akan mendapatkan kesengsaraan yang jauh lebih besar.Dunia berisi keletihan, gangguan, dan kesengsaraan. Oleh karenanya, seorang mukmin akan beristirahat saat ia pergi meninggalkan dunia sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abi Qatadah bin Rib’iy Al-Anshari,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ َقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَمَا الْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dilewati pengiringan jenazah. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ada orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan ada pula yang orang lain menjadi nyaman (istirahat) karena ketiadaannya.’Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasululullah, siapa itu orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan orang yang orang lain menjadi aman (istirahat) karena ketiadaannya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Seorang hamba yang mukmin adalah orang yang beristirahat dari keletihan dunia dan kesulitannya. Sedangkan seorang hamba yang fajir/gemar bermaksiat, maka hamba Allah yang lain, negeri dan pepohonan serta hewan yang beristirahat dari gangguannya.” (HR. Bukhari no. 6512)Kematian orang beriman merupakan peristirahatan dari kecemasan, kegalauan, dan rasa sakitnya di dunia, sebagaimana disebutkan dalam hadis,إذا حُضِرَ المؤمنُ أتتهُ ملائِكَةُ الرَّحمةِ بحريرةٍ بيضاءَ ، فيقولونَ : اخرُجي راضيةً مرضيًّا عنكِ إلى رَوحِ اللَّهِ، ورَيحانٍ ، وربٍّ غيرِ غضبانَ فتخرجُ كأطيَبِ ريحِ المسكٍ حتَّى إنَّهُ ليُناولُهُ بعضُهُم بعضًا حتَّى يأتون بِهِ بابَ السَّماءِ فيقولونَ : ما أطيَبَ هذِهِ الرِّيحَ الَّتي جاءتْكم منَ الأرضِ فيأتونَ بِهِ أرواحَ المؤمنينَ فلَهُم أشَدُّ فرحًا بِهِ مِن أحدِكُم بِغائبِهِ يقدمُ علَيهِ فيَسألونَهُ ماذا فَعلَ فلانٌ ماذا فعلَ فلانٌ ، فيقولونَ : دَعوهُ فإنَّهُ كانَ في غَمِّ الدُّنيا“Jika dihadirkan orang yang beriman, datanglah malaikat rahmah kepadanya dengan membawa sutra putih, lantas mengatakan, ‘Keluarlah dalam keadaan senang dan disenangi kepada karunia Allah dan bau wanginya surga, dan menuju Rabb yang tidak akan marah.’Keluarlah nyawa orang yang beriman sebagaimana parfum kasturi yang paling wangi. Sampai sebagiannya menerima dari sebagian yang lain, sampai mereka datang dengan membawanya ke pintu langit. Kemudian mereka (malaikat penghuni pintu langit) mengatakan, ‘Betapa harumnya bau ini, yang kalian bawa dari bumi.’Mereka lantas menjumpai nyawanya orang-orang yang beriman. Sungguh mereka sangat gembira karenanya dibandingkan dengan gembiranya kalian dengan kepulangan saudaranya yang safar. Lantas mereka akan menanyainya, ‘Apa yang telah dilakukan si fulan, apa yang telah dilakukan si fulan?’Mereka menjawab, ‘Tinggalkanlah dia, sesungguhnya dulu dia dalam keadaan kegalauan dunia …’.”(Shahih An-Nasa’i no. 1832)Seorang mukmin yang mengetahui hakikat dunia akan mendapatkan pengaruh sangat besar pada hatinya dalam menyikapi berbagai masalah hidup. Dia menyadari bahwa musibah, rasa sakit, penderitaan, dan kesusahan merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan dunia. Dia juga menyadari bahwa dengan musibah tersebut, Allah Ta’ala akan mengampuni dosa dan mengangkat derajatnya.[Bersambung]Baca Juga:Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Takdir, Thibbun Nabawi Herbal, Lafadz Adzan Dan Iqomah Untuk Mayit, Macam Macam Dosa Besar, Diijabah Allah
Dunia bukanlah taman surga. Bukan pula istana dengan berbagai keindahan dan kenyamanan jiwa. Sedih dengan sesuatu yang telah terjadi, cemas dengan hal yang sedang terjadi, dan galau dengan sesuatu yang akan terjadi adalah menu harian manusia. Setiap hati berbeda tingkat kesedihan, kecemasan, dan kegalauannya. Sebab yang menjadikan hati tidak tenang pun berbeda-beda. Ada yang galau dengan masa depannya, kecilnya IPK, sidang skripsi tak kunjung tiba, mau nikah tak ada dana, ditinggal nikah orang yang disuka, tiap hari kesana-kemari melamar kerja, dan seterusnya. Ada yang cemas disebabkan karena menunggu hadirnya momongan begitu lama, hutang di mana-mana, pasangan tak setia, anak yang durhaka, juga belum punya uang makan di esok lusa. Ada yang sedih karena maksiat yang dilakukannya, merasa susahnya belajar ilmu agama, atau karena dakwah tak diterima. Banyak pula tetesan air mata karena bencana alam begitu banyaknya dan wabah yang melanda dunia.Berikut adalah sedikit paparan dari jenis terapi kesedihan, kecemasan, dan kegalauan yang ada dalam syariat:Keimanan dan amal salihAllah Ta’ala beerfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّه حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa beramal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)Orang yang beriman dengan keimanan yang benar akan membuahkan amal salih yang memperbaiki kondisi hati dan akhlaknya. Amalan salih tersebut juga akan memperbaiki keadaan dunia dan akhiratnya. Dia akan merespon kebahagiaan yang didapatkannya dengan rasa syukur dan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Apabila seseorang melakukan hal tersebut, maka ia akan merasakan keindahan, menikmati kelanggengan, keberkahan, dan balasan dari syukurnya tersebut.Seorang mukmin sejati juga akan merespon berbagai hal yang tidak menyenangkan, kesedihan, kecemasan, dan kegalauan dengan cara melawannya jika hal itu bisa dilawan, atau meminimalisir jika bisa diminimalisir, atau bersabar dengan sabar yang indah jika memang hal  tersebut tidak bisa dilawan maupun diminimalisir. Dengan seperti itu, dia akan mendapatkan banyak manfaat, seperti kuatnya jiwa, besarnya kesabaran, dan balasan pahala dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Baca Juga: Melihat apa yang didapatkan seorang muslim saat musibah menimpa; terhapusnya dosa, bersihnya hati dan diangkat derajatRasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِن نَصَبٍ ولَا وصَبٍ، ولَا هَمٍّ ولَا حُزْنٍ ولَا أذًى ولَا غَمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بهَا مِن خَطَايَاهُ.“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa keletihan, rasa sakit, kegalauan, kesedihan, gangguan, atau kecemasan sampai pun duri yang melukainya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641)Dalam riwayat Muslim,ما يُصِيبُ المُؤْمِنَ مِن وصَبٍ، ولا نَصَبٍ، ولا سَقَمٍ، ولا حَزَنٍ حتَّى الهَمِّ يُهَمُّهُ، إلَّا كُفِّرَ به مِن سَيِّئاتِهِ“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), keletihan, rasa sakit, kesedihan, dan kegalauan yang menerpanya, melainkan dosa-dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 2573)Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya menyadari bahwa kegalauan dan musibah yang menimpanya tidak pergi dengan sia-sia. Musibah tersebut meninggalkan manfaat besar bagi mukmin berupa ampunan terhadap dosa-dosanya. Seorang muslim hendaknya juga menyadari bahwa jikalau bukan disebabkan musibah yang menimpanya, maka dia akan menjadi orang yang bangkrut di hari kiamat nanti, sebagaimana disebutkan oleh sebagian salaf. Karena hal inilah, seharusnya seorang mukmin gembira dengan masalah yang dijumpainya sebagaimana dia gembira saat mendapatkan nikmat.Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah yang menimpanya akan menghapus dosa, maka dia akan gembira dan merasa senang, apalagi balasan tersebut disegerakan setelah seorang hamba melakukan suatu perbuatan dosa, sebagaimana kisah salah seorang sahabat. أنَّ رجلًا لقيَ امرأةً كانت بغيًّا في الجاهلية، فجعل يلاعِبُها حتى بسَطَ يدَه إليها، فقالت: مه! فإنَّ الله عز وجل قد ذهب با لشرك وقال عفان مرة ذهب بالجاهلية وجاءنا بالإسلامِ، فولى الرجل فأصاب وجهه الحائِطُ فشجه ثم اتى النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فأَخبَرَه  فقال: أنت عبدٌ أراد اللهُ بك خيرًا. إذا أراد الله عز وجل بعبد خيرا عجل له عقوبة ذنبه وإذا أراد بعبد شرا أمسك عليه بذنبه حتى يوفى به يوم القيامة كأنه عيرِ.“Ada seorang lelaki menjumpai wanita mantan pelacur di masa jahiliyah, ia menggodanya hingga menjulurkan tangan kepadanya (mengajak berzina). Perempuan itu berkata, Tahan! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menghilangkan kesyirikan (dalam riwayat lain dari Affan: telah menghilangkan jahiliyah dan menghadirkan Islam untuk kita), maka ia berbalik dan saat berbalik wajahnya menabrak tembok sampai luka di kepalanya. Lelaki tersebut mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengkisahkan ceritanya. Rasulullah bersabda, ‘Engkau adalah hamba yang diinginkan kebaikan oleh Allah untukmu. Apabila Allah ‘azza wa jalla menginginkan kebaikan bagi hamba, maka Dia akan mensegerakan hukuman atas dosa yang telah dilakukannya. Dan apabila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba, maka Dia akan tahan azab atas dosanya tersebut hingga nantinya dibalas di hari kiamat, seakan-akan (dosanya tersebut) kafilah (karena banyaknya)’.” (HR. Ahmad dalam Musnad 4: 87 dan Hakim dalam Mustadrak 1: 349, di dalam sanadnya terdapat Al-Hasan, dari ‘Abdullah bin Mughaffal dan Al-Hasan adalah seorang mudallis yang di sini menggunakan riwayat ‘an’an, akan tetapi Shalih bin Ahmad bin Hambal mengatakan, “Ayahku mengatakan, ‘beliau mendengar Al-Hasan dari Anas bin Malik dan dari Ibnu Mughaffal -yakni ‘Abdullah bin Mughaffal-‘.” demikian di dalam kitab Marasil milik Ibnu Abi Hatim).إن الله إذا أراد بعبد خيرا عجل له العقوبة في الدنيا، وإذا أراد بعبد شرا أمسك عنه حتى يوفى  يوم القيامة بذنبه“Sesungguhnya apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba, maka Dia akan menyegerakan hukuman (atas dosa yang telah dilakukannya) di dunia. Dan apabila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba, maka Dia akan tahan (azab atas dosanya) tersebut hingga nantinya dibalas di hari kiamat dengan sebab dosanya.” (HR. Tirmidzi dalam Sunannya no. 2396 )Mengenal hakikat duniaHendaknya seorang mukmin menyadari bahwa dunia ini fana, kesenangannya sedikit, kelezatannya terkotori, dan tidak jernih bagi siapa pun. Saat dunia membuatmu tertawa sebentar, dia akan membuatmu menangis lebih lama. Saat dia memberimu sesuatu yang sedikit, dia akan menahan sesuatu yang banyak untukmu. Seorang mukmin akan ‘terpenjara’ di dunia ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ.“Dunia itu penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maksud ‘penjara’ bagi orang beriman adalah adanya batasan-batasan bagi orang beriman, sedangkan orang kafir tidak memiliki batasan. Makna lainnya yaitu sebahagia apapun seorang mukmin di dunia, kebahagiaan itu ibarat penjara baginya. Hal ini karena di akhirat nanti, dia akan mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih besar. Sebaliknya, sesengsara apapun orang kafir di dunia, kesengsaraan itu ibarat surga baginya. Hal ini karena di akhirat nanti dia akan mendapatkan kesengsaraan yang jauh lebih besar.Dunia berisi keletihan, gangguan, dan kesengsaraan. Oleh karenanya, seorang mukmin akan beristirahat saat ia pergi meninggalkan dunia sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abi Qatadah bin Rib’iy Al-Anshari,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ َقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَمَا الْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dilewati pengiringan jenazah. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ada orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan ada pula yang orang lain menjadi nyaman (istirahat) karena ketiadaannya.’Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasululullah, siapa itu orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan orang yang orang lain menjadi aman (istirahat) karena ketiadaannya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Seorang hamba yang mukmin adalah orang yang beristirahat dari keletihan dunia dan kesulitannya. Sedangkan seorang hamba yang fajir/gemar bermaksiat, maka hamba Allah yang lain, negeri dan pepohonan serta hewan yang beristirahat dari gangguannya.” (HR. Bukhari no. 6512)Kematian orang beriman merupakan peristirahatan dari kecemasan, kegalauan, dan rasa sakitnya di dunia, sebagaimana disebutkan dalam hadis,إذا حُضِرَ المؤمنُ أتتهُ ملائِكَةُ الرَّحمةِ بحريرةٍ بيضاءَ ، فيقولونَ : اخرُجي راضيةً مرضيًّا عنكِ إلى رَوحِ اللَّهِ، ورَيحانٍ ، وربٍّ غيرِ غضبانَ فتخرجُ كأطيَبِ ريحِ المسكٍ حتَّى إنَّهُ ليُناولُهُ بعضُهُم بعضًا حتَّى يأتون بِهِ بابَ السَّماءِ فيقولونَ : ما أطيَبَ هذِهِ الرِّيحَ الَّتي جاءتْكم منَ الأرضِ فيأتونَ بِهِ أرواحَ المؤمنينَ فلَهُم أشَدُّ فرحًا بِهِ مِن أحدِكُم بِغائبِهِ يقدمُ علَيهِ فيَسألونَهُ ماذا فَعلَ فلانٌ ماذا فعلَ فلانٌ ، فيقولونَ : دَعوهُ فإنَّهُ كانَ في غَمِّ الدُّنيا“Jika dihadirkan orang yang beriman, datanglah malaikat rahmah kepadanya dengan membawa sutra putih, lantas mengatakan, ‘Keluarlah dalam keadaan senang dan disenangi kepada karunia Allah dan bau wanginya surga, dan menuju Rabb yang tidak akan marah.’Keluarlah nyawa orang yang beriman sebagaimana parfum kasturi yang paling wangi. Sampai sebagiannya menerima dari sebagian yang lain, sampai mereka datang dengan membawanya ke pintu langit. Kemudian mereka (malaikat penghuni pintu langit) mengatakan, ‘Betapa harumnya bau ini, yang kalian bawa dari bumi.’Mereka lantas menjumpai nyawanya orang-orang yang beriman. Sungguh mereka sangat gembira karenanya dibandingkan dengan gembiranya kalian dengan kepulangan saudaranya yang safar. Lantas mereka akan menanyainya, ‘Apa yang telah dilakukan si fulan, apa yang telah dilakukan si fulan?’Mereka menjawab, ‘Tinggalkanlah dia, sesungguhnya dulu dia dalam keadaan kegalauan dunia …’.”(Shahih An-Nasa’i no. 1832)Seorang mukmin yang mengetahui hakikat dunia akan mendapatkan pengaruh sangat besar pada hatinya dalam menyikapi berbagai masalah hidup. Dia menyadari bahwa musibah, rasa sakit, penderitaan, dan kesusahan merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan dunia. Dia juga menyadari bahwa dengan musibah tersebut, Allah Ta’ala akan mengampuni dosa dan mengangkat derajatnya.[Bersambung]Baca Juga:Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Takdir, Thibbun Nabawi Herbal, Lafadz Adzan Dan Iqomah Untuk Mayit, Macam Macam Dosa Besar, Diijabah Allah


Dunia bukanlah taman surga. Bukan pula istana dengan berbagai keindahan dan kenyamanan jiwa. Sedih dengan sesuatu yang telah terjadi, cemas dengan hal yang sedang terjadi, dan galau dengan sesuatu yang akan terjadi adalah menu harian manusia. Setiap hati berbeda tingkat kesedihan, kecemasan, dan kegalauannya. Sebab yang menjadikan hati tidak tenang pun berbeda-beda. Ada yang galau dengan masa depannya, kecilnya IPK, sidang skripsi tak kunjung tiba, mau nikah tak ada dana, ditinggal nikah orang yang disuka, tiap hari kesana-kemari melamar kerja, dan seterusnya. Ada yang cemas disebabkan karena menunggu hadirnya momongan begitu lama, hutang di mana-mana, pasangan tak setia, anak yang durhaka, juga belum punya uang makan di esok lusa. Ada yang sedih karena maksiat yang dilakukannya, merasa susahnya belajar ilmu agama, atau karena dakwah tak diterima. Banyak pula tetesan air mata karena bencana alam begitu banyaknya dan wabah yang melanda dunia.Berikut adalah sedikit paparan dari jenis terapi kesedihan, kecemasan, dan kegalauan yang ada dalam syariat:Keimanan dan amal salihAllah Ta’ala beerfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّه حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Barangsiapa beramal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)Orang yang beriman dengan keimanan yang benar akan membuahkan amal salih yang memperbaiki kondisi hati dan akhlaknya. Amalan salih tersebut juga akan memperbaiki keadaan dunia dan akhiratnya. Dia akan merespon kebahagiaan yang didapatkannya dengan rasa syukur dan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Apabila seseorang melakukan hal tersebut, maka ia akan merasakan keindahan, menikmati kelanggengan, keberkahan, dan balasan dari syukurnya tersebut.Seorang mukmin sejati juga akan merespon berbagai hal yang tidak menyenangkan, kesedihan, kecemasan, dan kegalauan dengan cara melawannya jika hal itu bisa dilawan, atau meminimalisir jika bisa diminimalisir, atau bersabar dengan sabar yang indah jika memang hal  tersebut tidak bisa dilawan maupun diminimalisir. Dengan seperti itu, dia akan mendapatkan banyak manfaat, seperti kuatnya jiwa, besarnya kesabaran, dan balasan pahala dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَجَبًا لأَمْرِ المُؤْمِنِ، إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وليسَ ذاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إنْ أصابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له وإنْ أصابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Baca Juga: Melihat apa yang didapatkan seorang muslim saat musibah menimpa; terhapusnya dosa, bersihnya hati dan diangkat derajatRasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِن نَصَبٍ ولَا وصَبٍ، ولَا هَمٍّ ولَا حُزْنٍ ولَا أذًى ولَا غَمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بهَا مِن خَطَايَاهُ.“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa keletihan, rasa sakit, kegalauan, kesedihan, gangguan, atau kecemasan sampai pun duri yang melukainya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641)Dalam riwayat Muslim,ما يُصِيبُ المُؤْمِنَ مِن وصَبٍ، ولا نَصَبٍ، ولا سَقَمٍ، ولا حَزَنٍ حتَّى الهَمِّ يُهَمُّهُ، إلَّا كُفِّرَ به مِن سَيِّئاتِهِ“Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), keletihan, rasa sakit, kesedihan, dan kegalauan yang menerpanya, melainkan dosa-dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 2573)Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya menyadari bahwa kegalauan dan musibah yang menimpanya tidak pergi dengan sia-sia. Musibah tersebut meninggalkan manfaat besar bagi mukmin berupa ampunan terhadap dosa-dosanya. Seorang muslim hendaknya juga menyadari bahwa jikalau bukan disebabkan musibah yang menimpanya, maka dia akan menjadi orang yang bangkrut di hari kiamat nanti, sebagaimana disebutkan oleh sebagian salaf. Karena hal inilah, seharusnya seorang mukmin gembira dengan masalah yang dijumpainya sebagaimana dia gembira saat mendapatkan nikmat.Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah yang menimpanya akan menghapus dosa, maka dia akan gembira dan merasa senang, apalagi balasan tersebut disegerakan setelah seorang hamba melakukan suatu perbuatan dosa, sebagaimana kisah salah seorang sahabat. أنَّ رجلًا لقيَ امرأةً كانت بغيًّا في الجاهلية، فجعل يلاعِبُها حتى بسَطَ يدَه إليها، فقالت: مه! فإنَّ الله عز وجل قد ذهب با لشرك وقال عفان مرة ذهب بالجاهلية وجاءنا بالإسلامِ، فولى الرجل فأصاب وجهه الحائِطُ فشجه ثم اتى النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فأَخبَرَه  فقال: أنت عبدٌ أراد اللهُ بك خيرًا. إذا أراد الله عز وجل بعبد خيرا عجل له عقوبة ذنبه وإذا أراد بعبد شرا أمسك عليه بذنبه حتى يوفى به يوم القيامة كأنه عيرِ.“Ada seorang lelaki menjumpai wanita mantan pelacur di masa jahiliyah, ia menggodanya hingga menjulurkan tangan kepadanya (mengajak berzina). Perempuan itu berkata, Tahan! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menghilangkan kesyirikan (dalam riwayat lain dari Affan: telah menghilangkan jahiliyah dan menghadirkan Islam untuk kita), maka ia berbalik dan saat berbalik wajahnya menabrak tembok sampai luka di kepalanya. Lelaki tersebut mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengkisahkan ceritanya. Rasulullah bersabda, ‘Engkau adalah hamba yang diinginkan kebaikan oleh Allah untukmu. Apabila Allah ‘azza wa jalla menginginkan kebaikan bagi hamba, maka Dia akan mensegerakan hukuman atas dosa yang telah dilakukannya. Dan apabila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba, maka Dia akan tahan azab atas dosanya tersebut hingga nantinya dibalas di hari kiamat, seakan-akan (dosanya tersebut) kafilah (karena banyaknya)’.” (HR. Ahmad dalam Musnad 4: 87 dan Hakim dalam Mustadrak 1: 349, di dalam sanadnya terdapat Al-Hasan, dari ‘Abdullah bin Mughaffal dan Al-Hasan adalah seorang mudallis yang di sini menggunakan riwayat ‘an’an, akan tetapi Shalih bin Ahmad bin Hambal mengatakan, “Ayahku mengatakan, ‘beliau mendengar Al-Hasan dari Anas bin Malik dan dari Ibnu Mughaffal -yakni ‘Abdullah bin Mughaffal-‘.” demikian di dalam kitab Marasil milik Ibnu Abi Hatim).إن الله إذا أراد بعبد خيرا عجل له العقوبة في الدنيا، وإذا أراد بعبد شرا أمسك عنه حتى يوفى  يوم القيامة بذنبه“Sesungguhnya apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba, maka Dia akan menyegerakan hukuman (atas dosa yang telah dilakukannya) di dunia. Dan apabila Allah menginginkan kejelekan bagi hamba, maka Dia akan tahan (azab atas dosanya) tersebut hingga nantinya dibalas di hari kiamat dengan sebab dosanya.” (HR. Tirmidzi dalam Sunannya no. 2396 )Mengenal hakikat duniaHendaknya seorang mukmin menyadari bahwa dunia ini fana, kesenangannya sedikit, kelezatannya terkotori, dan tidak jernih bagi siapa pun. Saat dunia membuatmu tertawa sebentar, dia akan membuatmu menangis lebih lama. Saat dia memberimu sesuatu yang sedikit, dia akan menahan sesuatu yang banyak untukmu. Seorang mukmin akan ‘terpenjara’ di dunia ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ.“Dunia itu penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maksud ‘penjara’ bagi orang beriman adalah adanya batasan-batasan bagi orang beriman, sedangkan orang kafir tidak memiliki batasan. Makna lainnya yaitu sebahagia apapun seorang mukmin di dunia, kebahagiaan itu ibarat penjara baginya. Hal ini karena di akhirat nanti, dia akan mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih besar. Sebaliknya, sesengsara apapun orang kafir di dunia, kesengsaraan itu ibarat surga baginya. Hal ini karena di akhirat nanti dia akan mendapatkan kesengsaraan yang jauh lebih besar.Dunia berisi keletihan, gangguan, dan kesengsaraan. Oleh karenanya, seorang mukmin akan beristirahat saat ia pergi meninggalkan dunia sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abi Qatadah bin Rib’iy Al-Anshari,أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ َقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَمَا الْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dilewati pengiringan jenazah. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ada orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan ada pula yang orang lain menjadi nyaman (istirahat) karena ketiadaannya.’Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasululullah, siapa itu orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan orang yang orang lain menjadi aman (istirahat) karena ketiadaannya?’Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Seorang hamba yang mukmin adalah orang yang beristirahat dari keletihan dunia dan kesulitannya. Sedangkan seorang hamba yang fajir/gemar bermaksiat, maka hamba Allah yang lain, negeri dan pepohonan serta hewan yang beristirahat dari gangguannya.” (HR. Bukhari no. 6512)Kematian orang beriman merupakan peristirahatan dari kecemasan, kegalauan, dan rasa sakitnya di dunia, sebagaimana disebutkan dalam hadis,إذا حُضِرَ المؤمنُ أتتهُ ملائِكَةُ الرَّحمةِ بحريرةٍ بيضاءَ ، فيقولونَ : اخرُجي راضيةً مرضيًّا عنكِ إلى رَوحِ اللَّهِ، ورَيحانٍ ، وربٍّ غيرِ غضبانَ فتخرجُ كأطيَبِ ريحِ المسكٍ حتَّى إنَّهُ ليُناولُهُ بعضُهُم بعضًا حتَّى يأتون بِهِ بابَ السَّماءِ فيقولونَ : ما أطيَبَ هذِهِ الرِّيحَ الَّتي جاءتْكم منَ الأرضِ فيأتونَ بِهِ أرواحَ المؤمنينَ فلَهُم أشَدُّ فرحًا بِهِ مِن أحدِكُم بِغائبِهِ يقدمُ علَيهِ فيَسألونَهُ ماذا فَعلَ فلانٌ ماذا فعلَ فلانٌ ، فيقولونَ : دَعوهُ فإنَّهُ كانَ في غَمِّ الدُّنيا“Jika dihadirkan orang yang beriman, datanglah malaikat rahmah kepadanya dengan membawa sutra putih, lantas mengatakan, ‘Keluarlah dalam keadaan senang dan disenangi kepada karunia Allah dan bau wanginya surga, dan menuju Rabb yang tidak akan marah.’Keluarlah nyawa orang yang beriman sebagaimana parfum kasturi yang paling wangi. Sampai sebagiannya menerima dari sebagian yang lain, sampai mereka datang dengan membawanya ke pintu langit. Kemudian mereka (malaikat penghuni pintu langit) mengatakan, ‘Betapa harumnya bau ini, yang kalian bawa dari bumi.’Mereka lantas menjumpai nyawanya orang-orang yang beriman. Sungguh mereka sangat gembira karenanya dibandingkan dengan gembiranya kalian dengan kepulangan saudaranya yang safar. Lantas mereka akan menanyainya, ‘Apa yang telah dilakukan si fulan, apa yang telah dilakukan si fulan?’Mereka menjawab, ‘Tinggalkanlah dia, sesungguhnya dulu dia dalam keadaan kegalauan dunia …’.”(Shahih An-Nasa’i no. 1832)Seorang mukmin yang mengetahui hakikat dunia akan mendapatkan pengaruh sangat besar pada hatinya dalam menyikapi berbagai masalah hidup. Dia menyadari bahwa musibah, rasa sakit, penderitaan, dan kesusahan merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan dunia. Dia juga menyadari bahwa dengan musibah tersebut, Allah Ta’ala akan mengampuni dosa dan mengangkat derajatnya.[Bersambung]Baca Juga:Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Takdir, Thibbun Nabawi Herbal, Lafadz Adzan Dan Iqomah Untuk Mayit, Macam Macam Dosa Besar, Diijabah Allah

Hukum Mendoakan Non-Muslim (Bag. 2)

Pada artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya pada artikel Hukum Mendoakan Non-Muslim (Bag. 1).Pada pembahasan sebelumnya hukum mendoakan non-muslim terbagi menjadi 4 kondisi. Kondisi pertama telah kami jelaskan tentang hukum mendoakan ampunan dan rahmat bagi non-muslim. Pembahasan terkait doa ampunan dan rahmat bagi non-muslim dibagi menjadi dua kondisi, yaitu: ketika sudah meninggal dan ketika masih hidup.Pada artikel ini kami akan menjelaskan tiga kondisi berikutnya, yaitu: mendoakan petunjuk, mendoakan keburukan, dan mendoakan agar memperoleh kebaikan. Berikut ini penjelasannya.Kondisi kedua: mendoakan petunjukPada dasarnya boleh mendoakan non-muslim agar mendapatkan petunjuk. Lebih ditekankan dan diutamakan apabila non-muslim itu tidak memusuhi dan menyakiti kaum muslimin, karena mendoakannya adalah bentuk upaya agar ia terbebas dari api neraka dan masuk dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, dimana hal itu merupakan puncak tujuan dan harapan seorang muslim. Semangat itulah yang dipraktikkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membesuk seorang anak Yahudi yang sakit dan tengah menghadapi sakaratul maut. Beliau menalqinkan kalimat syahadat agar ia masuk Islam dan terbebas dari neraka (Lihat HR. al-Bukhari no. 1356).Di antara dalil yang membolehkan mendoakan petunjuk bagi non-muslim adalah:Pertama, hadis Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kabilah Daus yang durhaka,اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka” (HR. al-Bukhari no. 2937).Tanda kedalaman fikih al-Bukhari, menjadikan bab yang memuat hadis ini berjudul “Bab Mendoakan Kebaikan bagi Pelaku Kesyirikan”.Kedua, hadis Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan ibu Abu Hurairah dengan doa beliau,اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah” (HR. Muslim no. 4546).Saat itu ibu Abu Hurairah masih musyrik, bahkan ia menyakiti Abu Hurairah dan mencaci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diajak memeluk Islam.Ketiga, hadis Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu, dimana beliau mendoakan kabilah Tsaqif agar mendapatkan petunjuk,اللهم اهد ثقيفا”Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Tsaqif” (HR. Ahmad 23/50, at-Tirmidzi no. 3942).Saat itu kabilah Tsaqif memerangi Islam, namun tetap didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Keempat, hadis Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallalllahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu di antara kedua orang yang paling Engkau cintai, Abu Jahal atau Umar ibn al-Khaththab” (HR. Ahmad 9/222, at-Tirmidzi no. 3681).Abu Jahal dan Umar ibn al-Khathab adalah dua pribadi yang getol menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Al-Ainiy menjelaskan,لا شك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رحمة للعالمين، ومع هذا كان يحب دخول الناس في الإسلام، فكان لا يعجل بالدعاء عليهم ما دام يطمع في إجابتهم إلى الإسلام، بل كان يدعو لمن يرجو منه الإنابة“Jelas keberadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri adalah rahmat bagi semesta alam. Meski demikian beliau tetap ingin manusia memeluk agama Islam. Beliau tidak mendoakan kebinasaan bagi mereka selama beliau melihat mereka berpotensi menerima Islam, bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan kembali pada Islam” (Umdah al-Qaariy 14/208).Baca Juga: Kisah Mendakwahi Ibu Non MuslimKondisi ketiga: mendoakan keburukanUmumnya doa keburukan bagi non-muslim dipanjatkan ketika mereka menyakiti dan memerangi kaum muslimin, atau melakukan pelecehan terhadap ajaran dan syiar agama Islam. Di saat itulah kebinasaan didoakan agar tertimpa kepada mereka sehingga keburukan mereka dapat berhenti. An-Nawawi mengatakan,وقد أخبرَ الله سبحانه وتعالى في مواضع كثيرة معلومة من القرآن عن الأنبياء صلواتُ الله وسلامُه عليهم بدعائهم على الكفّار“Allah Subhanahu wa ta’ala telah menginformasikan di sejumlah tempat secara jelas dalam Al-Quran bahwa para nabi shalawatullah wa salaamuh ‘alaihim mendoakan kebinasaan bagi orang-orang non-muslim” (al-Adzkaar hlm. 305).Al-Bukhari juga membuat judul bab “Mendoakan Keburukan bagi Non-Muslim” dalam kitab Shahih al-Bukhari dan memaparkan sejumlah hadis yang menunjukkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan bagi non-muslim.Bagaimana mengompromikan hadis-hadis yang kandungannya saling berbeda, antara mendoakan petunjuk dan mendoakan kebinasaan bagi non-muslim? Ibnu Hajar menjelaskan,كان [صلى الله عليه وسلم] تارة يدعو عليهم وتارة يدعو لهم، فالحالة الأولى: حيث تشتد شوكتهم ويكثر أذاهم كما تقدم في الأحاديث التي قبل هذا بباب، والحالة الثانية: حيث تؤمن غائلتهم ويرجى تألفهم كما في قصة دوس“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang mendoakan kebinasaan bagi non-muslim dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Kondisi pertama dilakukan ketika permusuhan mereka menguat dan intensitas gangguan mereka meningkat seperti yang ditunjukkan dalam hadis-hadis di bab sebelumnya. Sedangkan kondisi kedua dilakukan ketika aman dari ancaman mereka dan dalam rangka melunakkan hati mereka agar menerima Islam seperti yang diceritakan dalam kisah kabilah Daus” (Fath al-Baariy 6/108).Baca Juga: Kapan Menyebut “Kafir” dan Kapan Menyebut “Non-Muslim”Kondisi keempat: mendoakan agar memperoleh kebaikan duniaUlama berbeda pendapat perihal hukum mendoakan  kebaikan dunia bagi non-muslim yang tidak memerangi dan menyakiti kaum muslimin. Sebagian ulama membolehkan dan di antara dalil mereka adalah hadis Uqbah bin Amir Radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan,أَنَّهُ مَرَّ بِرَجُلٍ هَيْئَتُهُ هَيْئَةُ مُسْلِمٍ، فَسَلَّمَ فَرَدَّ عَلَيْهِ: وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ: إِنَّهُ نَصْرَانِيٌّ! فَقَامَ عُقْبَةُ فَتَبِعَهُ حَتَّى أَدْرَكَهُ. فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ وَبَرَكَاتَهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، لَكِنْ أَطَالَ اللَّهُ حَيَاتَكَ، وَأَكْثَرَ مالك، وولدك“Dia pernah berpapasan dengan orang yang berpenampilan seperti muslim, lalu orang tersebut memberi salam kepadanya, Uqbah pun menjawabnya dengan ucapan, ‘wa ’alaika wa rahmatullah wa barakaatuh’ (semoga keselamatan juga tercurah kepadamu, serta rahmat dan juga berkah dari Allah). Pelayan Uqbah lalu memberitahu, ‘Dia itu seorang Nasrani’ Uqbah pun beranjak mengejar orang itu, hingga ia mendapatkannya, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk orang beriman. Akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, memperbanyak harta dan anakmu’” (HR. al-Bukhari dalam al-adab al-Mufrad 1/625. Dinilai hasan oleh al-Albani).Hadis ini merupakan dalil terkuat yang membolehkan mendoakan kebaikan duniawi bagi non-muslim karena jelas indikasinya. Ulama yang mendukung pendapat ini membolehkan jika terdapat sebab yang nyata seperti keinginan untuk menarik hati dan memotivasi mereka agar memeluk Islam.Sedangkan sebagian ulama melarang mendoakan kebaikan duniawi bagi non-muslim, seperti mendoakan kesehatan dan kelanggengan, karena dengan begitu mereka akan tetap konsisten berada di atas kekufuran. Selain itu, meningkatnya kesejahteraan mereka termasuk faktor yang membantu mereka untuk tetap berada di atas kesesatan, serta menambah kekuatan mereka dalam menghadapi kaum muslimin (Tabyiin al-Haqaaiq 6/30, al-Bahr ar-Raaiq 8/232).KesimpulanKesimpulan yang bisa ditarik dari artikel ini dan artikel sebelumnya adalah:1. Tidak boleh mendoakan rahmat dan ampunan bagi non-muslim yang telah wafat. Ulama bersepakat dalam hal ini.2. Terdapat sejumlah perkataan ulama yang membolehkan untuk mendoakan rahmat dan ampunan pada non-muslim yang masih hidup. Doa itu dimaknai agar sebab yang mendatangkan rahmat dan ampunan bagi non-muslim itu terpenuhi. Namun, lebih utama adalah mendoakannya agar mendapatkan petunjuk sebagai upaya menghindari perdebatan dan perselisihan pendapat antar ulama.3. Boleh mendoakan petunjuk bagi orang kafir secara umum. Lebih ditekankan dan diutamakan apabila non-muslim itu tidak memusuhi dan menyakiti kaum muslimin.4. Mendoakan keburukan bagi non-muslim diperbolehkan ketika permusuhan mereka menguat dan intensitas gangguan mereka meningkat kepada kaum muslimin.5. Boleh mendoakan kebaikan dunia bagi non-muslim karena adanya sebab yang nyata seperti untuk melunakkan hati dan memotivasi agar mereka mau memeluk agama Islam. Atau mendoakan kebaikan dunia karena alasan kekerabatan dan kebaikan mereka.Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id

Hukum Mendoakan Non-Muslim (Bag. 2)

Pada artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya pada artikel Hukum Mendoakan Non-Muslim (Bag. 1).Pada pembahasan sebelumnya hukum mendoakan non-muslim terbagi menjadi 4 kondisi. Kondisi pertama telah kami jelaskan tentang hukum mendoakan ampunan dan rahmat bagi non-muslim. Pembahasan terkait doa ampunan dan rahmat bagi non-muslim dibagi menjadi dua kondisi, yaitu: ketika sudah meninggal dan ketika masih hidup.Pada artikel ini kami akan menjelaskan tiga kondisi berikutnya, yaitu: mendoakan petunjuk, mendoakan keburukan, dan mendoakan agar memperoleh kebaikan. Berikut ini penjelasannya.Kondisi kedua: mendoakan petunjukPada dasarnya boleh mendoakan non-muslim agar mendapatkan petunjuk. Lebih ditekankan dan diutamakan apabila non-muslim itu tidak memusuhi dan menyakiti kaum muslimin, karena mendoakannya adalah bentuk upaya agar ia terbebas dari api neraka dan masuk dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, dimana hal itu merupakan puncak tujuan dan harapan seorang muslim. Semangat itulah yang dipraktikkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membesuk seorang anak Yahudi yang sakit dan tengah menghadapi sakaratul maut. Beliau menalqinkan kalimat syahadat agar ia masuk Islam dan terbebas dari neraka (Lihat HR. al-Bukhari no. 1356).Di antara dalil yang membolehkan mendoakan petunjuk bagi non-muslim adalah:Pertama, hadis Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kabilah Daus yang durhaka,اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka” (HR. al-Bukhari no. 2937).Tanda kedalaman fikih al-Bukhari, menjadikan bab yang memuat hadis ini berjudul “Bab Mendoakan Kebaikan bagi Pelaku Kesyirikan”.Kedua, hadis Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan ibu Abu Hurairah dengan doa beliau,اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah” (HR. Muslim no. 4546).Saat itu ibu Abu Hurairah masih musyrik, bahkan ia menyakiti Abu Hurairah dan mencaci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diajak memeluk Islam.Ketiga, hadis Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu, dimana beliau mendoakan kabilah Tsaqif agar mendapatkan petunjuk,اللهم اهد ثقيفا”Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Tsaqif” (HR. Ahmad 23/50, at-Tirmidzi no. 3942).Saat itu kabilah Tsaqif memerangi Islam, namun tetap didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Keempat, hadis Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallalllahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu di antara kedua orang yang paling Engkau cintai, Abu Jahal atau Umar ibn al-Khaththab” (HR. Ahmad 9/222, at-Tirmidzi no. 3681).Abu Jahal dan Umar ibn al-Khathab adalah dua pribadi yang getol menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Al-Ainiy menjelaskan,لا شك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رحمة للعالمين، ومع هذا كان يحب دخول الناس في الإسلام، فكان لا يعجل بالدعاء عليهم ما دام يطمع في إجابتهم إلى الإسلام، بل كان يدعو لمن يرجو منه الإنابة“Jelas keberadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri adalah rahmat bagi semesta alam. Meski demikian beliau tetap ingin manusia memeluk agama Islam. Beliau tidak mendoakan kebinasaan bagi mereka selama beliau melihat mereka berpotensi menerima Islam, bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan kembali pada Islam” (Umdah al-Qaariy 14/208).Baca Juga: Kisah Mendakwahi Ibu Non MuslimKondisi ketiga: mendoakan keburukanUmumnya doa keburukan bagi non-muslim dipanjatkan ketika mereka menyakiti dan memerangi kaum muslimin, atau melakukan pelecehan terhadap ajaran dan syiar agama Islam. Di saat itulah kebinasaan didoakan agar tertimpa kepada mereka sehingga keburukan mereka dapat berhenti. An-Nawawi mengatakan,وقد أخبرَ الله سبحانه وتعالى في مواضع كثيرة معلومة من القرآن عن الأنبياء صلواتُ الله وسلامُه عليهم بدعائهم على الكفّار“Allah Subhanahu wa ta’ala telah menginformasikan di sejumlah tempat secara jelas dalam Al-Quran bahwa para nabi shalawatullah wa salaamuh ‘alaihim mendoakan kebinasaan bagi orang-orang non-muslim” (al-Adzkaar hlm. 305).Al-Bukhari juga membuat judul bab “Mendoakan Keburukan bagi Non-Muslim” dalam kitab Shahih al-Bukhari dan memaparkan sejumlah hadis yang menunjukkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan bagi non-muslim.Bagaimana mengompromikan hadis-hadis yang kandungannya saling berbeda, antara mendoakan petunjuk dan mendoakan kebinasaan bagi non-muslim? Ibnu Hajar menjelaskan,كان [صلى الله عليه وسلم] تارة يدعو عليهم وتارة يدعو لهم، فالحالة الأولى: حيث تشتد شوكتهم ويكثر أذاهم كما تقدم في الأحاديث التي قبل هذا بباب، والحالة الثانية: حيث تؤمن غائلتهم ويرجى تألفهم كما في قصة دوس“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang mendoakan kebinasaan bagi non-muslim dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Kondisi pertama dilakukan ketika permusuhan mereka menguat dan intensitas gangguan mereka meningkat seperti yang ditunjukkan dalam hadis-hadis di bab sebelumnya. Sedangkan kondisi kedua dilakukan ketika aman dari ancaman mereka dan dalam rangka melunakkan hati mereka agar menerima Islam seperti yang diceritakan dalam kisah kabilah Daus” (Fath al-Baariy 6/108).Baca Juga: Kapan Menyebut “Kafir” dan Kapan Menyebut “Non-Muslim”Kondisi keempat: mendoakan agar memperoleh kebaikan duniaUlama berbeda pendapat perihal hukum mendoakan  kebaikan dunia bagi non-muslim yang tidak memerangi dan menyakiti kaum muslimin. Sebagian ulama membolehkan dan di antara dalil mereka adalah hadis Uqbah bin Amir Radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan,أَنَّهُ مَرَّ بِرَجُلٍ هَيْئَتُهُ هَيْئَةُ مُسْلِمٍ، فَسَلَّمَ فَرَدَّ عَلَيْهِ: وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ: إِنَّهُ نَصْرَانِيٌّ! فَقَامَ عُقْبَةُ فَتَبِعَهُ حَتَّى أَدْرَكَهُ. فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ وَبَرَكَاتَهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، لَكِنْ أَطَالَ اللَّهُ حَيَاتَكَ، وَأَكْثَرَ مالك، وولدك“Dia pernah berpapasan dengan orang yang berpenampilan seperti muslim, lalu orang tersebut memberi salam kepadanya, Uqbah pun menjawabnya dengan ucapan, ‘wa ’alaika wa rahmatullah wa barakaatuh’ (semoga keselamatan juga tercurah kepadamu, serta rahmat dan juga berkah dari Allah). Pelayan Uqbah lalu memberitahu, ‘Dia itu seorang Nasrani’ Uqbah pun beranjak mengejar orang itu, hingga ia mendapatkannya, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk orang beriman. Akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, memperbanyak harta dan anakmu’” (HR. al-Bukhari dalam al-adab al-Mufrad 1/625. Dinilai hasan oleh al-Albani).Hadis ini merupakan dalil terkuat yang membolehkan mendoakan kebaikan duniawi bagi non-muslim karena jelas indikasinya. Ulama yang mendukung pendapat ini membolehkan jika terdapat sebab yang nyata seperti keinginan untuk menarik hati dan memotivasi mereka agar memeluk Islam.Sedangkan sebagian ulama melarang mendoakan kebaikan duniawi bagi non-muslim, seperti mendoakan kesehatan dan kelanggengan, karena dengan begitu mereka akan tetap konsisten berada di atas kekufuran. Selain itu, meningkatnya kesejahteraan mereka termasuk faktor yang membantu mereka untuk tetap berada di atas kesesatan, serta menambah kekuatan mereka dalam menghadapi kaum muslimin (Tabyiin al-Haqaaiq 6/30, al-Bahr ar-Raaiq 8/232).KesimpulanKesimpulan yang bisa ditarik dari artikel ini dan artikel sebelumnya adalah:1. Tidak boleh mendoakan rahmat dan ampunan bagi non-muslim yang telah wafat. Ulama bersepakat dalam hal ini.2. Terdapat sejumlah perkataan ulama yang membolehkan untuk mendoakan rahmat dan ampunan pada non-muslim yang masih hidup. Doa itu dimaknai agar sebab yang mendatangkan rahmat dan ampunan bagi non-muslim itu terpenuhi. Namun, lebih utama adalah mendoakannya agar mendapatkan petunjuk sebagai upaya menghindari perdebatan dan perselisihan pendapat antar ulama.3. Boleh mendoakan petunjuk bagi orang kafir secara umum. Lebih ditekankan dan diutamakan apabila non-muslim itu tidak memusuhi dan menyakiti kaum muslimin.4. Mendoakan keburukan bagi non-muslim diperbolehkan ketika permusuhan mereka menguat dan intensitas gangguan mereka meningkat kepada kaum muslimin.5. Boleh mendoakan kebaikan dunia bagi non-muslim karena adanya sebab yang nyata seperti untuk melunakkan hati dan memotivasi agar mereka mau memeluk agama Islam. Atau mendoakan kebaikan dunia karena alasan kekerabatan dan kebaikan mereka.Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id
Pada artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya pada artikel Hukum Mendoakan Non-Muslim (Bag. 1).Pada pembahasan sebelumnya hukum mendoakan non-muslim terbagi menjadi 4 kondisi. Kondisi pertama telah kami jelaskan tentang hukum mendoakan ampunan dan rahmat bagi non-muslim. Pembahasan terkait doa ampunan dan rahmat bagi non-muslim dibagi menjadi dua kondisi, yaitu: ketika sudah meninggal dan ketika masih hidup.Pada artikel ini kami akan menjelaskan tiga kondisi berikutnya, yaitu: mendoakan petunjuk, mendoakan keburukan, dan mendoakan agar memperoleh kebaikan. Berikut ini penjelasannya.Kondisi kedua: mendoakan petunjukPada dasarnya boleh mendoakan non-muslim agar mendapatkan petunjuk. Lebih ditekankan dan diutamakan apabila non-muslim itu tidak memusuhi dan menyakiti kaum muslimin, karena mendoakannya adalah bentuk upaya agar ia terbebas dari api neraka dan masuk dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, dimana hal itu merupakan puncak tujuan dan harapan seorang muslim. Semangat itulah yang dipraktikkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membesuk seorang anak Yahudi yang sakit dan tengah menghadapi sakaratul maut. Beliau menalqinkan kalimat syahadat agar ia masuk Islam dan terbebas dari neraka (Lihat HR. al-Bukhari no. 1356).Di antara dalil yang membolehkan mendoakan petunjuk bagi non-muslim adalah:Pertama, hadis Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kabilah Daus yang durhaka,اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka” (HR. al-Bukhari no. 2937).Tanda kedalaman fikih al-Bukhari, menjadikan bab yang memuat hadis ini berjudul “Bab Mendoakan Kebaikan bagi Pelaku Kesyirikan”.Kedua, hadis Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan ibu Abu Hurairah dengan doa beliau,اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah” (HR. Muslim no. 4546).Saat itu ibu Abu Hurairah masih musyrik, bahkan ia menyakiti Abu Hurairah dan mencaci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diajak memeluk Islam.Ketiga, hadis Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu, dimana beliau mendoakan kabilah Tsaqif agar mendapatkan petunjuk,اللهم اهد ثقيفا”Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Tsaqif” (HR. Ahmad 23/50, at-Tirmidzi no. 3942).Saat itu kabilah Tsaqif memerangi Islam, namun tetap didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Keempat, hadis Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallalllahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu di antara kedua orang yang paling Engkau cintai, Abu Jahal atau Umar ibn al-Khaththab” (HR. Ahmad 9/222, at-Tirmidzi no. 3681).Abu Jahal dan Umar ibn al-Khathab adalah dua pribadi yang getol menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Al-Ainiy menjelaskan,لا شك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رحمة للعالمين، ومع هذا كان يحب دخول الناس في الإسلام، فكان لا يعجل بالدعاء عليهم ما دام يطمع في إجابتهم إلى الإسلام، بل كان يدعو لمن يرجو منه الإنابة“Jelas keberadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri adalah rahmat bagi semesta alam. Meski demikian beliau tetap ingin manusia memeluk agama Islam. Beliau tidak mendoakan kebinasaan bagi mereka selama beliau melihat mereka berpotensi menerima Islam, bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan kembali pada Islam” (Umdah al-Qaariy 14/208).Baca Juga: Kisah Mendakwahi Ibu Non MuslimKondisi ketiga: mendoakan keburukanUmumnya doa keburukan bagi non-muslim dipanjatkan ketika mereka menyakiti dan memerangi kaum muslimin, atau melakukan pelecehan terhadap ajaran dan syiar agama Islam. Di saat itulah kebinasaan didoakan agar tertimpa kepada mereka sehingga keburukan mereka dapat berhenti. An-Nawawi mengatakan,وقد أخبرَ الله سبحانه وتعالى في مواضع كثيرة معلومة من القرآن عن الأنبياء صلواتُ الله وسلامُه عليهم بدعائهم على الكفّار“Allah Subhanahu wa ta’ala telah menginformasikan di sejumlah tempat secara jelas dalam Al-Quran bahwa para nabi shalawatullah wa salaamuh ‘alaihim mendoakan kebinasaan bagi orang-orang non-muslim” (al-Adzkaar hlm. 305).Al-Bukhari juga membuat judul bab “Mendoakan Keburukan bagi Non-Muslim” dalam kitab Shahih al-Bukhari dan memaparkan sejumlah hadis yang menunjukkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan bagi non-muslim.Bagaimana mengompromikan hadis-hadis yang kandungannya saling berbeda, antara mendoakan petunjuk dan mendoakan kebinasaan bagi non-muslim? Ibnu Hajar menjelaskan,كان [صلى الله عليه وسلم] تارة يدعو عليهم وتارة يدعو لهم، فالحالة الأولى: حيث تشتد شوكتهم ويكثر أذاهم كما تقدم في الأحاديث التي قبل هذا بباب، والحالة الثانية: حيث تؤمن غائلتهم ويرجى تألفهم كما في قصة دوس“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang mendoakan kebinasaan bagi non-muslim dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Kondisi pertama dilakukan ketika permusuhan mereka menguat dan intensitas gangguan mereka meningkat seperti yang ditunjukkan dalam hadis-hadis di bab sebelumnya. Sedangkan kondisi kedua dilakukan ketika aman dari ancaman mereka dan dalam rangka melunakkan hati mereka agar menerima Islam seperti yang diceritakan dalam kisah kabilah Daus” (Fath al-Baariy 6/108).Baca Juga: Kapan Menyebut “Kafir” dan Kapan Menyebut “Non-Muslim”Kondisi keempat: mendoakan agar memperoleh kebaikan duniaUlama berbeda pendapat perihal hukum mendoakan  kebaikan dunia bagi non-muslim yang tidak memerangi dan menyakiti kaum muslimin. Sebagian ulama membolehkan dan di antara dalil mereka adalah hadis Uqbah bin Amir Radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan,أَنَّهُ مَرَّ بِرَجُلٍ هَيْئَتُهُ هَيْئَةُ مُسْلِمٍ، فَسَلَّمَ فَرَدَّ عَلَيْهِ: وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ: إِنَّهُ نَصْرَانِيٌّ! فَقَامَ عُقْبَةُ فَتَبِعَهُ حَتَّى أَدْرَكَهُ. فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ وَبَرَكَاتَهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، لَكِنْ أَطَالَ اللَّهُ حَيَاتَكَ، وَأَكْثَرَ مالك، وولدك“Dia pernah berpapasan dengan orang yang berpenampilan seperti muslim, lalu orang tersebut memberi salam kepadanya, Uqbah pun menjawabnya dengan ucapan, ‘wa ’alaika wa rahmatullah wa barakaatuh’ (semoga keselamatan juga tercurah kepadamu, serta rahmat dan juga berkah dari Allah). Pelayan Uqbah lalu memberitahu, ‘Dia itu seorang Nasrani’ Uqbah pun beranjak mengejar orang itu, hingga ia mendapatkannya, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk orang beriman. Akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, memperbanyak harta dan anakmu’” (HR. al-Bukhari dalam al-adab al-Mufrad 1/625. Dinilai hasan oleh al-Albani).Hadis ini merupakan dalil terkuat yang membolehkan mendoakan kebaikan duniawi bagi non-muslim karena jelas indikasinya. Ulama yang mendukung pendapat ini membolehkan jika terdapat sebab yang nyata seperti keinginan untuk menarik hati dan memotivasi mereka agar memeluk Islam.Sedangkan sebagian ulama melarang mendoakan kebaikan duniawi bagi non-muslim, seperti mendoakan kesehatan dan kelanggengan, karena dengan begitu mereka akan tetap konsisten berada di atas kekufuran. Selain itu, meningkatnya kesejahteraan mereka termasuk faktor yang membantu mereka untuk tetap berada di atas kesesatan, serta menambah kekuatan mereka dalam menghadapi kaum muslimin (Tabyiin al-Haqaaiq 6/30, al-Bahr ar-Raaiq 8/232).KesimpulanKesimpulan yang bisa ditarik dari artikel ini dan artikel sebelumnya adalah:1. Tidak boleh mendoakan rahmat dan ampunan bagi non-muslim yang telah wafat. Ulama bersepakat dalam hal ini.2. Terdapat sejumlah perkataan ulama yang membolehkan untuk mendoakan rahmat dan ampunan pada non-muslim yang masih hidup. Doa itu dimaknai agar sebab yang mendatangkan rahmat dan ampunan bagi non-muslim itu terpenuhi. Namun, lebih utama adalah mendoakannya agar mendapatkan petunjuk sebagai upaya menghindari perdebatan dan perselisihan pendapat antar ulama.3. Boleh mendoakan petunjuk bagi orang kafir secara umum. Lebih ditekankan dan diutamakan apabila non-muslim itu tidak memusuhi dan menyakiti kaum muslimin.4. Mendoakan keburukan bagi non-muslim diperbolehkan ketika permusuhan mereka menguat dan intensitas gangguan mereka meningkat kepada kaum muslimin.5. Boleh mendoakan kebaikan dunia bagi non-muslim karena adanya sebab yang nyata seperti untuk melunakkan hati dan memotivasi agar mereka mau memeluk agama Islam. Atau mendoakan kebaikan dunia karena alasan kekerabatan dan kebaikan mereka.Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id


Pada artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya pada artikel Hukum Mendoakan Non-Muslim (Bag. 1).Pada pembahasan sebelumnya hukum mendoakan non-muslim terbagi menjadi 4 kondisi. Kondisi pertama telah kami jelaskan tentang hukum mendoakan ampunan dan rahmat bagi non-muslim. Pembahasan terkait doa ampunan dan rahmat bagi non-muslim dibagi menjadi dua kondisi, yaitu: ketika sudah meninggal dan ketika masih hidup.Pada artikel ini kami akan menjelaskan tiga kondisi berikutnya, yaitu: mendoakan petunjuk, mendoakan keburukan, dan mendoakan agar memperoleh kebaikan. Berikut ini penjelasannya.Kondisi kedua: mendoakan petunjukPada dasarnya boleh mendoakan non-muslim agar mendapatkan petunjuk. Lebih ditekankan dan diutamakan apabila non-muslim itu tidak memusuhi dan menyakiti kaum muslimin, karena mendoakannya adalah bentuk upaya agar ia terbebas dari api neraka dan masuk dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, dimana hal itu merupakan puncak tujuan dan harapan seorang muslim. Semangat itulah yang dipraktikkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membesuk seorang anak Yahudi yang sakit dan tengah menghadapi sakaratul maut. Beliau menalqinkan kalimat syahadat agar ia masuk Islam dan terbebas dari neraka (Lihat HR. al-Bukhari no. 1356).Di antara dalil yang membolehkan mendoakan petunjuk bagi non-muslim adalah:Pertama, hadis Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kabilah Daus yang durhaka,اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka” (HR. al-Bukhari no. 2937).Tanda kedalaman fikih al-Bukhari, menjadikan bab yang memuat hadis ini berjudul “Bab Mendoakan Kebaikan bagi Pelaku Kesyirikan”.Kedua, hadis Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan ibu Abu Hurairah dengan doa beliau,اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah” (HR. Muslim no. 4546).Saat itu ibu Abu Hurairah masih musyrik, bahkan ia menyakiti Abu Hurairah dan mencaci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diajak memeluk Islam.Ketiga, hadis Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu, dimana beliau mendoakan kabilah Tsaqif agar mendapatkan petunjuk,اللهم اهد ثقيفا”Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Tsaqif” (HR. Ahmad 23/50, at-Tirmidzi no. 3942).Saat itu kabilah Tsaqif memerangi Islam, namun tetap didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Keempat, hadis Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallalllahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu di antara kedua orang yang paling Engkau cintai, Abu Jahal atau Umar ibn al-Khaththab” (HR. Ahmad 9/222, at-Tirmidzi no. 3681).Abu Jahal dan Umar ibn al-Khathab adalah dua pribadi yang getol menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.Al-Ainiy menjelaskan,لا شك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رحمة للعالمين، ومع هذا كان يحب دخول الناس في الإسلام، فكان لا يعجل بالدعاء عليهم ما دام يطمع في إجابتهم إلى الإسلام، بل كان يدعو لمن يرجو منه الإنابة“Jelas keberadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri adalah rahmat bagi semesta alam. Meski demikian beliau tetap ingin manusia memeluk agama Islam. Beliau tidak mendoakan kebinasaan bagi mereka selama beliau melihat mereka berpotensi menerima Islam, bahkan beliau mendoakan kebaikan bagi orang yang diharapkan kembali pada Islam” (Umdah al-Qaariy 14/208).Baca Juga: Kisah Mendakwahi Ibu Non MuslimKondisi ketiga: mendoakan keburukanUmumnya doa keburukan bagi non-muslim dipanjatkan ketika mereka menyakiti dan memerangi kaum muslimin, atau melakukan pelecehan terhadap ajaran dan syiar agama Islam. Di saat itulah kebinasaan didoakan agar tertimpa kepada mereka sehingga keburukan mereka dapat berhenti. An-Nawawi mengatakan,وقد أخبرَ الله سبحانه وتعالى في مواضع كثيرة معلومة من القرآن عن الأنبياء صلواتُ الله وسلامُه عليهم بدعائهم على الكفّار“Allah Subhanahu wa ta’ala telah menginformasikan di sejumlah tempat secara jelas dalam Al-Quran bahwa para nabi shalawatullah wa salaamuh ‘alaihim mendoakan kebinasaan bagi orang-orang non-muslim” (al-Adzkaar hlm. 305).Al-Bukhari juga membuat judul bab “Mendoakan Keburukan bagi Non-Muslim” dalam kitab Shahih al-Bukhari dan memaparkan sejumlah hadis yang menunjukkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebinasaan bagi non-muslim.Bagaimana mengompromikan hadis-hadis yang kandungannya saling berbeda, antara mendoakan petunjuk dan mendoakan kebinasaan bagi non-muslim? Ibnu Hajar menjelaskan,كان [صلى الله عليه وسلم] تارة يدعو عليهم وتارة يدعو لهم، فالحالة الأولى: حيث تشتد شوكتهم ويكثر أذاهم كما تقدم في الأحاديث التي قبل هذا بباب، والحالة الثانية: حيث تؤمن غائلتهم ويرجى تألفهم كما في قصة دوس“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang mendoakan kebinasaan bagi non-muslim dan terkadang mendoakan kebaikan bagi mereka. Kondisi pertama dilakukan ketika permusuhan mereka menguat dan intensitas gangguan mereka meningkat seperti yang ditunjukkan dalam hadis-hadis di bab sebelumnya. Sedangkan kondisi kedua dilakukan ketika aman dari ancaman mereka dan dalam rangka melunakkan hati mereka agar menerima Islam seperti yang diceritakan dalam kisah kabilah Daus” (Fath al-Baariy 6/108).Baca Juga: Kapan Menyebut “Kafir” dan Kapan Menyebut “Non-Muslim”Kondisi keempat: mendoakan agar memperoleh kebaikan duniaUlama berbeda pendapat perihal hukum mendoakan  kebaikan dunia bagi non-muslim yang tidak memerangi dan menyakiti kaum muslimin. Sebagian ulama membolehkan dan di antara dalil mereka adalah hadis Uqbah bin Amir Radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan,أَنَّهُ مَرَّ بِرَجُلٍ هَيْئَتُهُ هَيْئَةُ مُسْلِمٍ، فَسَلَّمَ فَرَدَّ عَلَيْهِ: وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ: إِنَّهُ نَصْرَانِيٌّ! فَقَامَ عُقْبَةُ فَتَبِعَهُ حَتَّى أَدْرَكَهُ. فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ وَبَرَكَاتَهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، لَكِنْ أَطَالَ اللَّهُ حَيَاتَكَ، وَأَكْثَرَ مالك، وولدك“Dia pernah berpapasan dengan orang yang berpenampilan seperti muslim, lalu orang tersebut memberi salam kepadanya, Uqbah pun menjawabnya dengan ucapan, ‘wa ’alaika wa rahmatullah wa barakaatuh’ (semoga keselamatan juga tercurah kepadamu, serta rahmat dan juga berkah dari Allah). Pelayan Uqbah lalu memberitahu, ‘Dia itu seorang Nasrani’ Uqbah pun beranjak mengejar orang itu, hingga ia mendapatkannya, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk orang beriman. Akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, memperbanyak harta dan anakmu’” (HR. al-Bukhari dalam al-adab al-Mufrad 1/625. Dinilai hasan oleh al-Albani).Hadis ini merupakan dalil terkuat yang membolehkan mendoakan kebaikan duniawi bagi non-muslim karena jelas indikasinya. Ulama yang mendukung pendapat ini membolehkan jika terdapat sebab yang nyata seperti keinginan untuk menarik hati dan memotivasi mereka agar memeluk Islam.Sedangkan sebagian ulama melarang mendoakan kebaikan duniawi bagi non-muslim, seperti mendoakan kesehatan dan kelanggengan, karena dengan begitu mereka akan tetap konsisten berada di atas kekufuran. Selain itu, meningkatnya kesejahteraan mereka termasuk faktor yang membantu mereka untuk tetap berada di atas kesesatan, serta menambah kekuatan mereka dalam menghadapi kaum muslimin (Tabyiin al-Haqaaiq 6/30, al-Bahr ar-Raaiq 8/232).KesimpulanKesimpulan yang bisa ditarik dari artikel ini dan artikel sebelumnya adalah:1. Tidak boleh mendoakan rahmat dan ampunan bagi non-muslim yang telah wafat. Ulama bersepakat dalam hal ini.2. Terdapat sejumlah perkataan ulama yang membolehkan untuk mendoakan rahmat dan ampunan pada non-muslim yang masih hidup. Doa itu dimaknai agar sebab yang mendatangkan rahmat dan ampunan bagi non-muslim itu terpenuhi. Namun, lebih utama adalah mendoakannya agar mendapatkan petunjuk sebagai upaya menghindari perdebatan dan perselisihan pendapat antar ulama.3. Boleh mendoakan petunjuk bagi orang kafir secara umum. Lebih ditekankan dan diutamakan apabila non-muslim itu tidak memusuhi dan menyakiti kaum muslimin.4. Mendoakan keburukan bagi non-muslim diperbolehkan ketika permusuhan mereka menguat dan intensitas gangguan mereka meningkat kepada kaum muslimin.5. Boleh mendoakan kebaikan dunia bagi non-muslim karena adanya sebab yang nyata seperti untuk melunakkan hati dan memotivasi agar mereka mau memeluk agama Islam. Atau mendoakan kebaikan dunia karena alasan kekerabatan dan kebaikan mereka.Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id

Hukum Mendoakan Non-Muslim (Bag. 1)

Motif dan perasaan orang beriman harus ditimbang dengan syarak (syariat). Karena itulah orang yang jujur keimanannya akan mengesampingkan perasaan, hawa nafsu, dan keinginan ketika syarak telah menetapkan suatu hukum. Mereka mengedepankan dan menuruti perintah Allah, tidak mempedulikan segala hal yang bertentangan dengan perintah itu. Apa yang terbayang di benak mereka adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al-Ahzab : 36).Betapa indah apa yang dikatakan Sufyan bin ‘Uyainah,إن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم هو الميزان الأكبر؛ فعليه تُعرَض الأشياء، على خُلقه وسيرته وهَديه، فما وافقها فهو الحق، وما خالفها فهو الباطل“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan neraca utama. Berdasarkan hal itu, semua perkara ditimbang berdasarkan akhlak, sikap, dan petunjuk beliau. Apa yang sesuai, maka itu merupakan kebenaran dan apa yang menyelisihi, maka itu merupakan kebatilan” (al-Jaami’ li Akhlaaq ar-Raawi wa Aadaab as-Saami’ 1/79).Melalui tulisan ini kami ingin menjelaskan secara singkat pembahasan terkait hukum mendoakan non-muslim, baik ketika masih hidup atau telah meninggal, dengan harapan kaum muslimin bisa mengetahui batasan yang tepat dalam berinteraksi dengan non-muslim.Hukum mendoakan non-muslim dapat dibagi menjadi empat kondisi, yaitu: (1) mendoakan ampunan dan rahmat, (2) mendoakan petunjuk, (3) mendoakan keburukan, (4) mendoakan agar memperoleh kebaikan dunia. Kondisi pertama akan kami jelaskan pada artikel ini, dan setelahnya akan kami jelaskan pada artikel kedua insyaallah.Kondisi pertama: mendoakan ampunan dan rahmatMendoakan ampunan dan rahmat kepada non-muslim yang sudah meninggalUlama tidak berselisih pendapat terkait hukum mendoakan non-muslim yang meninggal di atas kekufuran.An-Nawawi mengatakan,الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة : حرام بنص القرآن والإجماع“Menyalati dan mendoakan ampunan bagi non-muslim haram berdasarkan nash Al-Quran dan ijma” (al-Majmu’ 5/199).Ibnu Taimiyah menyampaikan,فإن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع“Memohon ampunan bagi non-muslim tidak diperbolehkan berdasarkan al-Quran, al-Hadits, dan ijmak” (Majmu’ al-Fataawaa 12/489).Allah Ta’ala berfirman,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,’ kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ‘Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.’ (Ibrahim berkata), ‘Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,’” (QS. Al-Mumtahanah: 4).Terkait ayat di atas, Ibnu Katsir menyampaikan bahwa memang terdapat teladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan pengikutnya, kecuali perbuatan Ibrahim yang memintakan ampunan bagi ayahnya. Hal itu tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Ketika telah nampak bahwa sang ayah adalah musuh Allah, beliau pun berlepas diri. Dan dahulu sebagian kaum muslimin masih mendoakan dan memohon ampunan bagi orang tua mereka yang wafat di atas kekufuran. Mereka beralasan dengan perbuatan Ibrahim tersebut, namun Allah pun menurunkan ayat di atas sebagai penjelasan kepada mereka (Tafsir Ibnu Katsir).Memohonkan ampunan bagi non-muslim ketika mereka meninggal di atas kekufuran adalah perbuatan yang keliru dan tak bermanfaat. Ketika seorang meninggal di atas kesyirikan dan kekufuran, atau diketahui ia wafat dalam kondisi tidak beragama Islam, maka sungguh azab telah dipastikan atas dirinya dan ia kekal di dalam neraka, sehingga setiap syafaat yang dipanjatkan tak akan bermanfaat, begitu pula permohonan ampun (Tafsir As-Sa’di).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimMendoakan rahmat dan ampunan bagi non-muslim yang masih hidupTerdapat sejumlah perkataan ulama yang membolehkan untuk mendoakan rahmat dan ampunan pada non-muslim yang masih hidup. Al-Qurthubi mengatakan,وقد قال كثير من العلماء : لا بأس أن يدعوَ الرجل لأبويه الكافرين ويستغفر لهما ما داما حيَّيْن ، فأما من مات : فقد انقطع عنه الرجاء فلا يُدعى له“Banyak ulama yang menyatakan bahwa tidak apa-apa seorang mendoakan kebaikan dan memintakan ampunan bagi kedua orang tua non-muslim selama mereka masih hidup” (Tafsiir al-Qurthubiy 8/274).Namun bukan berarti kebolehan itu mencakup memohonkan ampunan atas diri non-muslim jika ia wafat di atas kesyirikan dan kekufurannya, atau agar Allah merahmatinya ketika ia menemui-Nya meski dalam kondisi non-muslim. Akan tetapi doa itu dimaknai agar sebab yang mendatangkan rahmat dan ampunan bagi non-muslim itu terpenuhi. Inilah salah satu sisi yang disebutkan oleh ulama ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ibrahim: 36).Ibnu al-Qayyim menjelaskan,أي : إن تغفر لهم وترحمهم بأن توفقهم للرجوع من الشرك إلى التوحيد ومن المعصية إلى الطاعة كما في الحديث (اللهُمَّ اِغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ)“Artinya, jika Engkau mengampuni dan menyayangi mereka, itu karena Engkau memberikan taufik kepada mereka untuk kembali menuju tauhid dari syirik, kembali menuju ketaatan dari kemaksiatan. Hal ini seperti ucapan nabi yang terdapat dalam hadis, ‘Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sungguh mereka tidak tahu’” (Madaarijus Saalikin 1/36).Senada perkataan Ibnu al-Qayyim di atas, Badr ad-Diin al-Ainiy menjelaskan maksud doa nabi dalam hadis itu,معناه : اهدهم إلى الإسلام الذي تصح معه المغفرة ؛ لأن ذنب الكفر لا يُغفر ، أو يكون المعنى : اغفر لهم إن أسلموا“Artinya, tunjuki mereka agar memeluk Islam yang menjadi sebab turunnya ampunan, karena dosa kekufuran tak akan diampuni; atau artinya, ampunilah mereka jika mereka telah memeluk agama Islam” (Umdah al-Qaariy Syarh Shahiih al-Bukhaari 23/19).Dalam hal ini, ringkasnya seperti yang disampaikan oleh al-Aluusiy bahwa memohonkan ampun bagi non-muslim yang masih hidup dan belum diketahui akhir kehidupannya, dalam artian meminta agar ia diberi petunjuk agar beriman, merupakan sesuatu yang tidak terlarang secara akal maupun agama. Sebaliknya memohonkan ampunan bagi non-muslim yang diketahui hatinya keras dan tertutup, atau Allah mengabarkan ia tak akan beriman, atau ia sama sekali tidak layak dimohonkan ampunan, merupakan sesuatu yang tidak diperbolehkan secara akal maupun agama (Ruuh al-Ma’aaniy 16/101).Namun, lebih utama adalah mendoakannya agar mendapatkan petunjuk sebagai upaya menghindari perdebatan dan perselisihan pendapat antar ulama. Hal ini ditunjukkan dalam sejumlah dalil di antaranya adalah hadis Abu Musa Radhiallahu ‘anhu,كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُم اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ“Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, mereka berharap beliau mau mengucapkan doa untuk mereka ‘yarhamukallah (semoga Allah merahmati kalian)’, namun beliau mendoakan dengan ucapan, ‘yahdikumullah wa yushlih baalakum (semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian).’” (HR. Ahmad 32/356, Abu Dawud no. 5038, at-Tirmidzi no. 2739. Dinilai hasan sahih oleh al-Albani).As-Sindiy menjelaskan,والحديث يدل على أن الكافر لا يدعى له بالرحمة، بل يدعى له بالهداية، وصلاح البال“Hadis ini menunjukkan bahwa non-muslim tidak didoakan untuk mendapatkan rahmat, tapi didoakan untuk mendapatkan petunjuk dan agar kondisi mereka diperbaiki” (Musnad Ahmad cetakan ar-Risalah 32/357).Baca Juga: Hukum Ghibah Kepada Non Muslim Bagaimana Berinteraksi Dengan Non Muslim? Insyaallah, kondisi kedua hingga keempat akan kami lanjutkan pada artikel berikutnya. Lanjut Baca Bagian 2 ***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id

Hukum Mendoakan Non-Muslim (Bag. 1)

Motif dan perasaan orang beriman harus ditimbang dengan syarak (syariat). Karena itulah orang yang jujur keimanannya akan mengesampingkan perasaan, hawa nafsu, dan keinginan ketika syarak telah menetapkan suatu hukum. Mereka mengedepankan dan menuruti perintah Allah, tidak mempedulikan segala hal yang bertentangan dengan perintah itu. Apa yang terbayang di benak mereka adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al-Ahzab : 36).Betapa indah apa yang dikatakan Sufyan bin ‘Uyainah,إن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم هو الميزان الأكبر؛ فعليه تُعرَض الأشياء، على خُلقه وسيرته وهَديه، فما وافقها فهو الحق، وما خالفها فهو الباطل“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan neraca utama. Berdasarkan hal itu, semua perkara ditimbang berdasarkan akhlak, sikap, dan petunjuk beliau. Apa yang sesuai, maka itu merupakan kebenaran dan apa yang menyelisihi, maka itu merupakan kebatilan” (al-Jaami’ li Akhlaaq ar-Raawi wa Aadaab as-Saami’ 1/79).Melalui tulisan ini kami ingin menjelaskan secara singkat pembahasan terkait hukum mendoakan non-muslim, baik ketika masih hidup atau telah meninggal, dengan harapan kaum muslimin bisa mengetahui batasan yang tepat dalam berinteraksi dengan non-muslim.Hukum mendoakan non-muslim dapat dibagi menjadi empat kondisi, yaitu: (1) mendoakan ampunan dan rahmat, (2) mendoakan petunjuk, (3) mendoakan keburukan, (4) mendoakan agar memperoleh kebaikan dunia. Kondisi pertama akan kami jelaskan pada artikel ini, dan setelahnya akan kami jelaskan pada artikel kedua insyaallah.Kondisi pertama: mendoakan ampunan dan rahmatMendoakan ampunan dan rahmat kepada non-muslim yang sudah meninggalUlama tidak berselisih pendapat terkait hukum mendoakan non-muslim yang meninggal di atas kekufuran.An-Nawawi mengatakan,الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة : حرام بنص القرآن والإجماع“Menyalati dan mendoakan ampunan bagi non-muslim haram berdasarkan nash Al-Quran dan ijma” (al-Majmu’ 5/199).Ibnu Taimiyah menyampaikan,فإن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع“Memohon ampunan bagi non-muslim tidak diperbolehkan berdasarkan al-Quran, al-Hadits, dan ijmak” (Majmu’ al-Fataawaa 12/489).Allah Ta’ala berfirman,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,’ kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ‘Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.’ (Ibrahim berkata), ‘Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,’” (QS. Al-Mumtahanah: 4).Terkait ayat di atas, Ibnu Katsir menyampaikan bahwa memang terdapat teladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan pengikutnya, kecuali perbuatan Ibrahim yang memintakan ampunan bagi ayahnya. Hal itu tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Ketika telah nampak bahwa sang ayah adalah musuh Allah, beliau pun berlepas diri. Dan dahulu sebagian kaum muslimin masih mendoakan dan memohon ampunan bagi orang tua mereka yang wafat di atas kekufuran. Mereka beralasan dengan perbuatan Ibrahim tersebut, namun Allah pun menurunkan ayat di atas sebagai penjelasan kepada mereka (Tafsir Ibnu Katsir).Memohonkan ampunan bagi non-muslim ketika mereka meninggal di atas kekufuran adalah perbuatan yang keliru dan tak bermanfaat. Ketika seorang meninggal di atas kesyirikan dan kekufuran, atau diketahui ia wafat dalam kondisi tidak beragama Islam, maka sungguh azab telah dipastikan atas dirinya dan ia kekal di dalam neraka, sehingga setiap syafaat yang dipanjatkan tak akan bermanfaat, begitu pula permohonan ampun (Tafsir As-Sa’di).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimMendoakan rahmat dan ampunan bagi non-muslim yang masih hidupTerdapat sejumlah perkataan ulama yang membolehkan untuk mendoakan rahmat dan ampunan pada non-muslim yang masih hidup. Al-Qurthubi mengatakan,وقد قال كثير من العلماء : لا بأس أن يدعوَ الرجل لأبويه الكافرين ويستغفر لهما ما داما حيَّيْن ، فأما من مات : فقد انقطع عنه الرجاء فلا يُدعى له“Banyak ulama yang menyatakan bahwa tidak apa-apa seorang mendoakan kebaikan dan memintakan ampunan bagi kedua orang tua non-muslim selama mereka masih hidup” (Tafsiir al-Qurthubiy 8/274).Namun bukan berarti kebolehan itu mencakup memohonkan ampunan atas diri non-muslim jika ia wafat di atas kesyirikan dan kekufurannya, atau agar Allah merahmatinya ketika ia menemui-Nya meski dalam kondisi non-muslim. Akan tetapi doa itu dimaknai agar sebab yang mendatangkan rahmat dan ampunan bagi non-muslim itu terpenuhi. Inilah salah satu sisi yang disebutkan oleh ulama ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ibrahim: 36).Ibnu al-Qayyim menjelaskan,أي : إن تغفر لهم وترحمهم بأن توفقهم للرجوع من الشرك إلى التوحيد ومن المعصية إلى الطاعة كما في الحديث (اللهُمَّ اِغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ)“Artinya, jika Engkau mengampuni dan menyayangi mereka, itu karena Engkau memberikan taufik kepada mereka untuk kembali menuju tauhid dari syirik, kembali menuju ketaatan dari kemaksiatan. Hal ini seperti ucapan nabi yang terdapat dalam hadis, ‘Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sungguh mereka tidak tahu’” (Madaarijus Saalikin 1/36).Senada perkataan Ibnu al-Qayyim di atas, Badr ad-Diin al-Ainiy menjelaskan maksud doa nabi dalam hadis itu,معناه : اهدهم إلى الإسلام الذي تصح معه المغفرة ؛ لأن ذنب الكفر لا يُغفر ، أو يكون المعنى : اغفر لهم إن أسلموا“Artinya, tunjuki mereka agar memeluk Islam yang menjadi sebab turunnya ampunan, karena dosa kekufuran tak akan diampuni; atau artinya, ampunilah mereka jika mereka telah memeluk agama Islam” (Umdah al-Qaariy Syarh Shahiih al-Bukhaari 23/19).Dalam hal ini, ringkasnya seperti yang disampaikan oleh al-Aluusiy bahwa memohonkan ampun bagi non-muslim yang masih hidup dan belum diketahui akhir kehidupannya, dalam artian meminta agar ia diberi petunjuk agar beriman, merupakan sesuatu yang tidak terlarang secara akal maupun agama. Sebaliknya memohonkan ampunan bagi non-muslim yang diketahui hatinya keras dan tertutup, atau Allah mengabarkan ia tak akan beriman, atau ia sama sekali tidak layak dimohonkan ampunan, merupakan sesuatu yang tidak diperbolehkan secara akal maupun agama (Ruuh al-Ma’aaniy 16/101).Namun, lebih utama adalah mendoakannya agar mendapatkan petunjuk sebagai upaya menghindari perdebatan dan perselisihan pendapat antar ulama. Hal ini ditunjukkan dalam sejumlah dalil di antaranya adalah hadis Abu Musa Radhiallahu ‘anhu,كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُم اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ“Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, mereka berharap beliau mau mengucapkan doa untuk mereka ‘yarhamukallah (semoga Allah merahmati kalian)’, namun beliau mendoakan dengan ucapan, ‘yahdikumullah wa yushlih baalakum (semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian).’” (HR. Ahmad 32/356, Abu Dawud no. 5038, at-Tirmidzi no. 2739. Dinilai hasan sahih oleh al-Albani).As-Sindiy menjelaskan,والحديث يدل على أن الكافر لا يدعى له بالرحمة، بل يدعى له بالهداية، وصلاح البال“Hadis ini menunjukkan bahwa non-muslim tidak didoakan untuk mendapatkan rahmat, tapi didoakan untuk mendapatkan petunjuk dan agar kondisi mereka diperbaiki” (Musnad Ahmad cetakan ar-Risalah 32/357).Baca Juga: Hukum Ghibah Kepada Non Muslim Bagaimana Berinteraksi Dengan Non Muslim? Insyaallah, kondisi kedua hingga keempat akan kami lanjutkan pada artikel berikutnya. Lanjut Baca Bagian 2 ***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id
Motif dan perasaan orang beriman harus ditimbang dengan syarak (syariat). Karena itulah orang yang jujur keimanannya akan mengesampingkan perasaan, hawa nafsu, dan keinginan ketika syarak telah menetapkan suatu hukum. Mereka mengedepankan dan menuruti perintah Allah, tidak mempedulikan segala hal yang bertentangan dengan perintah itu. Apa yang terbayang di benak mereka adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al-Ahzab : 36).Betapa indah apa yang dikatakan Sufyan bin ‘Uyainah,إن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم هو الميزان الأكبر؛ فعليه تُعرَض الأشياء، على خُلقه وسيرته وهَديه، فما وافقها فهو الحق، وما خالفها فهو الباطل“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan neraca utama. Berdasarkan hal itu, semua perkara ditimbang berdasarkan akhlak, sikap, dan petunjuk beliau. Apa yang sesuai, maka itu merupakan kebenaran dan apa yang menyelisihi, maka itu merupakan kebatilan” (al-Jaami’ li Akhlaaq ar-Raawi wa Aadaab as-Saami’ 1/79).Melalui tulisan ini kami ingin menjelaskan secara singkat pembahasan terkait hukum mendoakan non-muslim, baik ketika masih hidup atau telah meninggal, dengan harapan kaum muslimin bisa mengetahui batasan yang tepat dalam berinteraksi dengan non-muslim.Hukum mendoakan non-muslim dapat dibagi menjadi empat kondisi, yaitu: (1) mendoakan ampunan dan rahmat, (2) mendoakan petunjuk, (3) mendoakan keburukan, (4) mendoakan agar memperoleh kebaikan dunia. Kondisi pertama akan kami jelaskan pada artikel ini, dan setelahnya akan kami jelaskan pada artikel kedua insyaallah.Kondisi pertama: mendoakan ampunan dan rahmatMendoakan ampunan dan rahmat kepada non-muslim yang sudah meninggalUlama tidak berselisih pendapat terkait hukum mendoakan non-muslim yang meninggal di atas kekufuran.An-Nawawi mengatakan,الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة : حرام بنص القرآن والإجماع“Menyalati dan mendoakan ampunan bagi non-muslim haram berdasarkan nash Al-Quran dan ijma” (al-Majmu’ 5/199).Ibnu Taimiyah menyampaikan,فإن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع“Memohon ampunan bagi non-muslim tidak diperbolehkan berdasarkan al-Quran, al-Hadits, dan ijmak” (Majmu’ al-Fataawaa 12/489).Allah Ta’ala berfirman,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,’ kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ‘Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.’ (Ibrahim berkata), ‘Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,’” (QS. Al-Mumtahanah: 4).Terkait ayat di atas, Ibnu Katsir menyampaikan bahwa memang terdapat teladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan pengikutnya, kecuali perbuatan Ibrahim yang memintakan ampunan bagi ayahnya. Hal itu tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Ketika telah nampak bahwa sang ayah adalah musuh Allah, beliau pun berlepas diri. Dan dahulu sebagian kaum muslimin masih mendoakan dan memohon ampunan bagi orang tua mereka yang wafat di atas kekufuran. Mereka beralasan dengan perbuatan Ibrahim tersebut, namun Allah pun menurunkan ayat di atas sebagai penjelasan kepada mereka (Tafsir Ibnu Katsir).Memohonkan ampunan bagi non-muslim ketika mereka meninggal di atas kekufuran adalah perbuatan yang keliru dan tak bermanfaat. Ketika seorang meninggal di atas kesyirikan dan kekufuran, atau diketahui ia wafat dalam kondisi tidak beragama Islam, maka sungguh azab telah dipastikan atas dirinya dan ia kekal di dalam neraka, sehingga setiap syafaat yang dipanjatkan tak akan bermanfaat, begitu pula permohonan ampun (Tafsir As-Sa’di).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimMendoakan rahmat dan ampunan bagi non-muslim yang masih hidupTerdapat sejumlah perkataan ulama yang membolehkan untuk mendoakan rahmat dan ampunan pada non-muslim yang masih hidup. Al-Qurthubi mengatakan,وقد قال كثير من العلماء : لا بأس أن يدعوَ الرجل لأبويه الكافرين ويستغفر لهما ما داما حيَّيْن ، فأما من مات : فقد انقطع عنه الرجاء فلا يُدعى له“Banyak ulama yang menyatakan bahwa tidak apa-apa seorang mendoakan kebaikan dan memintakan ampunan bagi kedua orang tua non-muslim selama mereka masih hidup” (Tafsiir al-Qurthubiy 8/274).Namun bukan berarti kebolehan itu mencakup memohonkan ampunan atas diri non-muslim jika ia wafat di atas kesyirikan dan kekufurannya, atau agar Allah merahmatinya ketika ia menemui-Nya meski dalam kondisi non-muslim. Akan tetapi doa itu dimaknai agar sebab yang mendatangkan rahmat dan ampunan bagi non-muslim itu terpenuhi. Inilah salah satu sisi yang disebutkan oleh ulama ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ibrahim: 36).Ibnu al-Qayyim menjelaskan,أي : إن تغفر لهم وترحمهم بأن توفقهم للرجوع من الشرك إلى التوحيد ومن المعصية إلى الطاعة كما في الحديث (اللهُمَّ اِغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ)“Artinya, jika Engkau mengampuni dan menyayangi mereka, itu karena Engkau memberikan taufik kepada mereka untuk kembali menuju tauhid dari syirik, kembali menuju ketaatan dari kemaksiatan. Hal ini seperti ucapan nabi yang terdapat dalam hadis, ‘Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sungguh mereka tidak tahu’” (Madaarijus Saalikin 1/36).Senada perkataan Ibnu al-Qayyim di atas, Badr ad-Diin al-Ainiy menjelaskan maksud doa nabi dalam hadis itu,معناه : اهدهم إلى الإسلام الذي تصح معه المغفرة ؛ لأن ذنب الكفر لا يُغفر ، أو يكون المعنى : اغفر لهم إن أسلموا“Artinya, tunjuki mereka agar memeluk Islam yang menjadi sebab turunnya ampunan, karena dosa kekufuran tak akan diampuni; atau artinya, ampunilah mereka jika mereka telah memeluk agama Islam” (Umdah al-Qaariy Syarh Shahiih al-Bukhaari 23/19).Dalam hal ini, ringkasnya seperti yang disampaikan oleh al-Aluusiy bahwa memohonkan ampun bagi non-muslim yang masih hidup dan belum diketahui akhir kehidupannya, dalam artian meminta agar ia diberi petunjuk agar beriman, merupakan sesuatu yang tidak terlarang secara akal maupun agama. Sebaliknya memohonkan ampunan bagi non-muslim yang diketahui hatinya keras dan tertutup, atau Allah mengabarkan ia tak akan beriman, atau ia sama sekali tidak layak dimohonkan ampunan, merupakan sesuatu yang tidak diperbolehkan secara akal maupun agama (Ruuh al-Ma’aaniy 16/101).Namun, lebih utama adalah mendoakannya agar mendapatkan petunjuk sebagai upaya menghindari perdebatan dan perselisihan pendapat antar ulama. Hal ini ditunjukkan dalam sejumlah dalil di antaranya adalah hadis Abu Musa Radhiallahu ‘anhu,كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُم اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ“Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, mereka berharap beliau mau mengucapkan doa untuk mereka ‘yarhamukallah (semoga Allah merahmati kalian)’, namun beliau mendoakan dengan ucapan, ‘yahdikumullah wa yushlih baalakum (semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian).’” (HR. Ahmad 32/356, Abu Dawud no. 5038, at-Tirmidzi no. 2739. Dinilai hasan sahih oleh al-Albani).As-Sindiy menjelaskan,والحديث يدل على أن الكافر لا يدعى له بالرحمة، بل يدعى له بالهداية، وصلاح البال“Hadis ini menunjukkan bahwa non-muslim tidak didoakan untuk mendapatkan rahmat, tapi didoakan untuk mendapatkan petunjuk dan agar kondisi mereka diperbaiki” (Musnad Ahmad cetakan ar-Risalah 32/357).Baca Juga: Hukum Ghibah Kepada Non Muslim Bagaimana Berinteraksi Dengan Non Muslim? Insyaallah, kondisi kedua hingga keempat akan kami lanjutkan pada artikel berikutnya. Lanjut Baca Bagian 2 ***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id


Motif dan perasaan orang beriman harus ditimbang dengan syarak (syariat). Karena itulah orang yang jujur keimanannya akan mengesampingkan perasaan, hawa nafsu, dan keinginan ketika syarak telah menetapkan suatu hukum. Mereka mengedepankan dan menuruti perintah Allah, tidak mempedulikan segala hal yang bertentangan dengan perintah itu. Apa yang terbayang di benak mereka adalah firman Allah Ta’ala,وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al-Ahzab : 36).Betapa indah apa yang dikatakan Sufyan bin ‘Uyainah,إن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم هو الميزان الأكبر؛ فعليه تُعرَض الأشياء، على خُلقه وسيرته وهَديه، فما وافقها فهو الحق، وما خالفها فهو الباطل“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan neraca utama. Berdasarkan hal itu, semua perkara ditimbang berdasarkan akhlak, sikap, dan petunjuk beliau. Apa yang sesuai, maka itu merupakan kebenaran dan apa yang menyelisihi, maka itu merupakan kebatilan” (al-Jaami’ li Akhlaaq ar-Raawi wa Aadaab as-Saami’ 1/79).Melalui tulisan ini kami ingin menjelaskan secara singkat pembahasan terkait hukum mendoakan non-muslim, baik ketika masih hidup atau telah meninggal, dengan harapan kaum muslimin bisa mengetahui batasan yang tepat dalam berinteraksi dengan non-muslim.Hukum mendoakan non-muslim dapat dibagi menjadi empat kondisi, yaitu: (1) mendoakan ampunan dan rahmat, (2) mendoakan petunjuk, (3) mendoakan keburukan, (4) mendoakan agar memperoleh kebaikan dunia. Kondisi pertama akan kami jelaskan pada artikel ini, dan setelahnya akan kami jelaskan pada artikel kedua insyaallah.Kondisi pertama: mendoakan ampunan dan rahmatMendoakan ampunan dan rahmat kepada non-muslim yang sudah meninggalUlama tidak berselisih pendapat terkait hukum mendoakan non-muslim yang meninggal di atas kekufuran.An-Nawawi mengatakan,الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة : حرام بنص القرآن والإجماع“Menyalati dan mendoakan ampunan bagi non-muslim haram berdasarkan nash Al-Quran dan ijma” (al-Majmu’ 5/199).Ibnu Taimiyah menyampaikan,فإن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع“Memohon ampunan bagi non-muslim tidak diperbolehkan berdasarkan al-Quran, al-Hadits, dan ijmak” (Majmu’ al-Fataawaa 12/489).Allah Ta’ala berfirman,قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,’ kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ‘Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.’ (Ibrahim berkata), ‘Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,’” (QS. Al-Mumtahanah: 4).Terkait ayat di atas, Ibnu Katsir menyampaikan bahwa memang terdapat teladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan pengikutnya, kecuali perbuatan Ibrahim yang memintakan ampunan bagi ayahnya. Hal itu tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Ketika telah nampak bahwa sang ayah adalah musuh Allah, beliau pun berlepas diri. Dan dahulu sebagian kaum muslimin masih mendoakan dan memohon ampunan bagi orang tua mereka yang wafat di atas kekufuran. Mereka beralasan dengan perbuatan Ibrahim tersebut, namun Allah pun menurunkan ayat di atas sebagai penjelasan kepada mereka (Tafsir Ibnu Katsir).Memohonkan ampunan bagi non-muslim ketika mereka meninggal di atas kekufuran adalah perbuatan yang keliru dan tak bermanfaat. Ketika seorang meninggal di atas kesyirikan dan kekufuran, atau diketahui ia wafat dalam kondisi tidak beragama Islam, maka sungguh azab telah dipastikan atas dirinya dan ia kekal di dalam neraka, sehingga setiap syafaat yang dipanjatkan tak akan bermanfaat, begitu pula permohonan ampun (Tafsir As-Sa’di).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimMendoakan rahmat dan ampunan bagi non-muslim yang masih hidupTerdapat sejumlah perkataan ulama yang membolehkan untuk mendoakan rahmat dan ampunan pada non-muslim yang masih hidup. Al-Qurthubi mengatakan,وقد قال كثير من العلماء : لا بأس أن يدعوَ الرجل لأبويه الكافرين ويستغفر لهما ما داما حيَّيْن ، فأما من مات : فقد انقطع عنه الرجاء فلا يُدعى له“Banyak ulama yang menyatakan bahwa tidak apa-apa seorang mendoakan kebaikan dan memintakan ampunan bagi kedua orang tua non-muslim selama mereka masih hidup” (Tafsiir al-Qurthubiy 8/274).Namun bukan berarti kebolehan itu mencakup memohonkan ampunan atas diri non-muslim jika ia wafat di atas kesyirikan dan kekufurannya, atau agar Allah merahmatinya ketika ia menemui-Nya meski dalam kondisi non-muslim. Akan tetapi doa itu dimaknai agar sebab yang mendatangkan rahmat dan ampunan bagi non-muslim itu terpenuhi. Inilah salah satu sisi yang disebutkan oleh ulama ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ibrahim: 36).Ibnu al-Qayyim menjelaskan,أي : إن تغفر لهم وترحمهم بأن توفقهم للرجوع من الشرك إلى التوحيد ومن المعصية إلى الطاعة كما في الحديث (اللهُمَّ اِغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ)“Artinya, jika Engkau mengampuni dan menyayangi mereka, itu karena Engkau memberikan taufik kepada mereka untuk kembali menuju tauhid dari syirik, kembali menuju ketaatan dari kemaksiatan. Hal ini seperti ucapan nabi yang terdapat dalam hadis, ‘Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sungguh mereka tidak tahu’” (Madaarijus Saalikin 1/36).Senada perkataan Ibnu al-Qayyim di atas, Badr ad-Diin al-Ainiy menjelaskan maksud doa nabi dalam hadis itu,معناه : اهدهم إلى الإسلام الذي تصح معه المغفرة ؛ لأن ذنب الكفر لا يُغفر ، أو يكون المعنى : اغفر لهم إن أسلموا“Artinya, tunjuki mereka agar memeluk Islam yang menjadi sebab turunnya ampunan, karena dosa kekufuran tak akan diampuni; atau artinya, ampunilah mereka jika mereka telah memeluk agama Islam” (Umdah al-Qaariy Syarh Shahiih al-Bukhaari 23/19).Dalam hal ini, ringkasnya seperti yang disampaikan oleh al-Aluusiy bahwa memohonkan ampun bagi non-muslim yang masih hidup dan belum diketahui akhir kehidupannya, dalam artian meminta agar ia diberi petunjuk agar beriman, merupakan sesuatu yang tidak terlarang secara akal maupun agama. Sebaliknya memohonkan ampunan bagi non-muslim yang diketahui hatinya keras dan tertutup, atau Allah mengabarkan ia tak akan beriman, atau ia sama sekali tidak layak dimohonkan ampunan, merupakan sesuatu yang tidak diperbolehkan secara akal maupun agama (Ruuh al-Ma’aaniy 16/101).Namun, lebih utama adalah mendoakannya agar mendapatkan petunjuk sebagai upaya menghindari perdebatan dan perselisihan pendapat antar ulama. Hal ini ditunjukkan dalam sejumlah dalil di antaranya adalah hadis Abu Musa Radhiallahu ‘anhu,كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُم اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ“Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, mereka berharap beliau mau mengucapkan doa untuk mereka ‘yarhamukallah (semoga Allah merahmati kalian)’, namun beliau mendoakan dengan ucapan, ‘yahdikumullah wa yushlih baalakum (semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian).’” (HR. Ahmad 32/356, Abu Dawud no. 5038, at-Tirmidzi no. 2739. Dinilai hasan sahih oleh al-Albani).As-Sindiy menjelaskan,والحديث يدل على أن الكافر لا يدعى له بالرحمة، بل يدعى له بالهداية، وصلاح البال“Hadis ini menunjukkan bahwa non-muslim tidak didoakan untuk mendapatkan rahmat, tapi didoakan untuk mendapatkan petunjuk dan agar kondisi mereka diperbaiki” (Musnad Ahmad cetakan ar-Risalah 32/357).Baca Juga: Hukum Ghibah Kepada Non Muslim Bagaimana Berinteraksi Dengan Non Muslim? Insyaallah, kondisi kedua hingga keempat akan kami lanjutkan pada artikel berikutnya. Lanjut Baca Bagian 2 ***Penulis: Muhammad Nur Ichwan MuslimArtikel: Muslim.or.id

Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 6)

Baca seri sebelumnya: Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 5)Kiat Kesembilan: Serius dan Mengulang-ulang dalam Berdoa serta Tidak Tergesa-gesa Ingin DikabulkanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يُعَجِّلْ يَقُوْلُ: دَعَـوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ“Doa seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa sehingga mengucapkan, “Aku telah berdoa, namun doaku belum terkabulkan.” (HR. Bukhari)Di antara adab doa yang agung adalah memohon dengan serius, mengulang-ulang bacaan doa, terus-menerus berdoa, serta mencari waktu yang utama untuk berdoa.  Barangsiapa yang terus menerus mengetuk pintu-pintu doa, akan semakin dekat kemungkinan dibuka pintu untuknya.Barangsiapa merenungkan doa ulil albaab yang Allah Ta’ala sebutkan di akhir surat Ali Imran tentang bagaimana mereka mengulangi ucapan “Rabbanaa” sebanyak lima kali dalam doa mereka, maka akhirnya Allah sebutkan di akhir surat,فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya.“  (QS. Ali Imran : 195)Hendaknya seorang hamba tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan doanya, karena sikap tergesa-gesa adalah di antara hal merusak yang merupakan penghalang terkabulnya doa. Sesungguhnya sikap tergesa-gesa akan memperlambat pengkabulan doa. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menekankan dalam perkataan beliau,و الحّ عليه في المسألة, و تملّقه“Bersikap serius dalam meminta, dan penuh adab dalam berdoa.”Yang dimaksud bersikap tamalluq adalah pelan dan lemah lembut dalam meminta. Beliau rahimahullah mengisyaratkan dengan hal ini bahwasanya berdoa hendaknya pelan-pelan, penuh adab, dan menampakkan rasa butuh kepada Allah Rabbul’ aalamin.Baca Juga: Hukum Mendoakan Non-Muslim Kiat Kesepuluh: Berdoa Disertai dengan Penuh Harap dan TakutMenggabungkan antara raghbah (rasa harap) dan rahbah (rasa cemas/takut) merupakan perkara penting untuk mendapat keberhasilan dalam berdoa dan ibadah yang lainnya. Seorang mukmin seyogyanya dalam ibadahnya menggabungkan antara rasa harap dan takut. Ketika Allah menyebutkan kisah para nabi dalam surat Al Anbiya’ dan bagaimana mereka selamat dari berbagai kesulitan dan ujian, di akhir ayat Allah menyebutkan,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.“ (QS. Al Anbiya’: 90)Mereka menggabungkan dalam doa mereka antara rasa takut dan harap. Raghbah adalah berharap dengan apa yang ada di sisi Allah. Orang yang berdoa meminta kepada Rabbnya dalam keadaan berharap dengan keutamaan dan nikmat dari-Nya. Adapun rahbah adalah rasa takut dari azab-Nya dan pedihnya hukuman dari-Nya.Di antara sifat orang mukmin yang sempurna adalah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.“ (QS. Al Mukminun: 60)Mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah berharap pahala dari Rabbul ‘alamin, namun hati mereka disertai kekhawatiran tidak diterimanya amal-amal mereka. Mereka senantiasa menggabungkan dalam ibadah mereka antara raghbah dan rahbah.Contoh lain adalah doa Nabi Ibrahim khalilur rahman ketika Allah memerintahkan beliau untuk membangun Baitullah al Haraam. Beliau berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS. Al Baqarah: 127)Beliau adalah termasuk rasul ‘ulul azmi yang juga merupakan kekasih Allah yang dijuluki khalilur rahman. Beliau pula lah yang melakukan amal yang paling mulia, yaitu membangun dan memakmurkan Baitullah. Meskipun begitu, beliau masih tetap berdoa kepada Allah dengan berharap Allah menerima darinya amal tersebut.Oleh karena itu, Wuhaib bin Ward rahimahullah menangis tatkala membaca ayat ini, seraya berkata,يا خليل الرحمٰن ترفع قوائم بيت الرحمٰن وأنت مُشفق أن لا يتقبّل منك“Wahai khalilur rahman, Engkau membangun baitur rahman, namun Engkau sangat khawatir Allah tidak menerima amalmu.“Insya Allah bersambung dengan penjelasan kiat-kiat lainnya agar doa dikabulkan. Semoga bermanfaat.[Bersambung]Baca Juga:***Sumber : Ad Duaa alladzii Laa Yurod  karya  Syaikh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr hafidzahullah yang diunduh dari : https://www.al-badr.net/ebook/192Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.SArtikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Setelah Sholat Fardhu, Hukum Menjamak Shalat, Islam Kaffah Adalah, Cara Taubat Yang Benar Menurut Islam, Islam Syiah Sesat

Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 6)

Baca seri sebelumnya: Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 5)Kiat Kesembilan: Serius dan Mengulang-ulang dalam Berdoa serta Tidak Tergesa-gesa Ingin DikabulkanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يُعَجِّلْ يَقُوْلُ: دَعَـوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ“Doa seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa sehingga mengucapkan, “Aku telah berdoa, namun doaku belum terkabulkan.” (HR. Bukhari)Di antara adab doa yang agung adalah memohon dengan serius, mengulang-ulang bacaan doa, terus-menerus berdoa, serta mencari waktu yang utama untuk berdoa.  Barangsiapa yang terus menerus mengetuk pintu-pintu doa, akan semakin dekat kemungkinan dibuka pintu untuknya.Barangsiapa merenungkan doa ulil albaab yang Allah Ta’ala sebutkan di akhir surat Ali Imran tentang bagaimana mereka mengulangi ucapan “Rabbanaa” sebanyak lima kali dalam doa mereka, maka akhirnya Allah sebutkan di akhir surat,فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya.“  (QS. Ali Imran : 195)Hendaknya seorang hamba tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan doanya, karena sikap tergesa-gesa adalah di antara hal merusak yang merupakan penghalang terkabulnya doa. Sesungguhnya sikap tergesa-gesa akan memperlambat pengkabulan doa. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menekankan dalam perkataan beliau,و الحّ عليه في المسألة, و تملّقه“Bersikap serius dalam meminta, dan penuh adab dalam berdoa.”Yang dimaksud bersikap tamalluq adalah pelan dan lemah lembut dalam meminta. Beliau rahimahullah mengisyaratkan dengan hal ini bahwasanya berdoa hendaknya pelan-pelan, penuh adab, dan menampakkan rasa butuh kepada Allah Rabbul’ aalamin.Baca Juga: Hukum Mendoakan Non-Muslim Kiat Kesepuluh: Berdoa Disertai dengan Penuh Harap dan TakutMenggabungkan antara raghbah (rasa harap) dan rahbah (rasa cemas/takut) merupakan perkara penting untuk mendapat keberhasilan dalam berdoa dan ibadah yang lainnya. Seorang mukmin seyogyanya dalam ibadahnya menggabungkan antara rasa harap dan takut. Ketika Allah menyebutkan kisah para nabi dalam surat Al Anbiya’ dan bagaimana mereka selamat dari berbagai kesulitan dan ujian, di akhir ayat Allah menyebutkan,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.“ (QS. Al Anbiya’: 90)Mereka menggabungkan dalam doa mereka antara rasa takut dan harap. Raghbah adalah berharap dengan apa yang ada di sisi Allah. Orang yang berdoa meminta kepada Rabbnya dalam keadaan berharap dengan keutamaan dan nikmat dari-Nya. Adapun rahbah adalah rasa takut dari azab-Nya dan pedihnya hukuman dari-Nya.Di antara sifat orang mukmin yang sempurna adalah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.“ (QS. Al Mukminun: 60)Mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah berharap pahala dari Rabbul ‘alamin, namun hati mereka disertai kekhawatiran tidak diterimanya amal-amal mereka. Mereka senantiasa menggabungkan dalam ibadah mereka antara raghbah dan rahbah.Contoh lain adalah doa Nabi Ibrahim khalilur rahman ketika Allah memerintahkan beliau untuk membangun Baitullah al Haraam. Beliau berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS. Al Baqarah: 127)Beliau adalah termasuk rasul ‘ulul azmi yang juga merupakan kekasih Allah yang dijuluki khalilur rahman. Beliau pula lah yang melakukan amal yang paling mulia, yaitu membangun dan memakmurkan Baitullah. Meskipun begitu, beliau masih tetap berdoa kepada Allah dengan berharap Allah menerima darinya amal tersebut.Oleh karena itu, Wuhaib bin Ward rahimahullah menangis tatkala membaca ayat ini, seraya berkata,يا خليل الرحمٰن ترفع قوائم بيت الرحمٰن وأنت مُشفق أن لا يتقبّل منك“Wahai khalilur rahman, Engkau membangun baitur rahman, namun Engkau sangat khawatir Allah tidak menerima amalmu.“Insya Allah bersambung dengan penjelasan kiat-kiat lainnya agar doa dikabulkan. Semoga bermanfaat.[Bersambung]Baca Juga:***Sumber : Ad Duaa alladzii Laa Yurod  karya  Syaikh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr hafidzahullah yang diunduh dari : https://www.al-badr.net/ebook/192Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.SArtikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Setelah Sholat Fardhu, Hukum Menjamak Shalat, Islam Kaffah Adalah, Cara Taubat Yang Benar Menurut Islam, Islam Syiah Sesat
Baca seri sebelumnya: Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 5)Kiat Kesembilan: Serius dan Mengulang-ulang dalam Berdoa serta Tidak Tergesa-gesa Ingin DikabulkanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يُعَجِّلْ يَقُوْلُ: دَعَـوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ“Doa seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa sehingga mengucapkan, “Aku telah berdoa, namun doaku belum terkabulkan.” (HR. Bukhari)Di antara adab doa yang agung adalah memohon dengan serius, mengulang-ulang bacaan doa, terus-menerus berdoa, serta mencari waktu yang utama untuk berdoa.  Barangsiapa yang terus menerus mengetuk pintu-pintu doa, akan semakin dekat kemungkinan dibuka pintu untuknya.Barangsiapa merenungkan doa ulil albaab yang Allah Ta’ala sebutkan di akhir surat Ali Imran tentang bagaimana mereka mengulangi ucapan “Rabbanaa” sebanyak lima kali dalam doa mereka, maka akhirnya Allah sebutkan di akhir surat,فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya.“  (QS. Ali Imran : 195)Hendaknya seorang hamba tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan doanya, karena sikap tergesa-gesa adalah di antara hal merusak yang merupakan penghalang terkabulnya doa. Sesungguhnya sikap tergesa-gesa akan memperlambat pengkabulan doa. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menekankan dalam perkataan beliau,و الحّ عليه في المسألة, و تملّقه“Bersikap serius dalam meminta, dan penuh adab dalam berdoa.”Yang dimaksud bersikap tamalluq adalah pelan dan lemah lembut dalam meminta. Beliau rahimahullah mengisyaratkan dengan hal ini bahwasanya berdoa hendaknya pelan-pelan, penuh adab, dan menampakkan rasa butuh kepada Allah Rabbul’ aalamin.Baca Juga: Hukum Mendoakan Non-Muslim Kiat Kesepuluh: Berdoa Disertai dengan Penuh Harap dan TakutMenggabungkan antara raghbah (rasa harap) dan rahbah (rasa cemas/takut) merupakan perkara penting untuk mendapat keberhasilan dalam berdoa dan ibadah yang lainnya. Seorang mukmin seyogyanya dalam ibadahnya menggabungkan antara rasa harap dan takut. Ketika Allah menyebutkan kisah para nabi dalam surat Al Anbiya’ dan bagaimana mereka selamat dari berbagai kesulitan dan ujian, di akhir ayat Allah menyebutkan,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.“ (QS. Al Anbiya’: 90)Mereka menggabungkan dalam doa mereka antara rasa takut dan harap. Raghbah adalah berharap dengan apa yang ada di sisi Allah. Orang yang berdoa meminta kepada Rabbnya dalam keadaan berharap dengan keutamaan dan nikmat dari-Nya. Adapun rahbah adalah rasa takut dari azab-Nya dan pedihnya hukuman dari-Nya.Di antara sifat orang mukmin yang sempurna adalah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.“ (QS. Al Mukminun: 60)Mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah berharap pahala dari Rabbul ‘alamin, namun hati mereka disertai kekhawatiran tidak diterimanya amal-amal mereka. Mereka senantiasa menggabungkan dalam ibadah mereka antara raghbah dan rahbah.Contoh lain adalah doa Nabi Ibrahim khalilur rahman ketika Allah memerintahkan beliau untuk membangun Baitullah al Haraam. Beliau berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS. Al Baqarah: 127)Beliau adalah termasuk rasul ‘ulul azmi yang juga merupakan kekasih Allah yang dijuluki khalilur rahman. Beliau pula lah yang melakukan amal yang paling mulia, yaitu membangun dan memakmurkan Baitullah. Meskipun begitu, beliau masih tetap berdoa kepada Allah dengan berharap Allah menerima darinya amal tersebut.Oleh karena itu, Wuhaib bin Ward rahimahullah menangis tatkala membaca ayat ini, seraya berkata,يا خليل الرحمٰن ترفع قوائم بيت الرحمٰن وأنت مُشفق أن لا يتقبّل منك“Wahai khalilur rahman, Engkau membangun baitur rahman, namun Engkau sangat khawatir Allah tidak menerima amalmu.“Insya Allah bersambung dengan penjelasan kiat-kiat lainnya agar doa dikabulkan. Semoga bermanfaat.[Bersambung]Baca Juga:***Sumber : Ad Duaa alladzii Laa Yurod  karya  Syaikh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr hafidzahullah yang diunduh dari : https://www.al-badr.net/ebook/192Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.SArtikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Setelah Sholat Fardhu, Hukum Menjamak Shalat, Islam Kaffah Adalah, Cara Taubat Yang Benar Menurut Islam, Islam Syiah Sesat


Baca seri sebelumnya: Kiat-Kiat agar Doa Dikabulkan (Bag. 5)Kiat Kesembilan: Serius dan Mengulang-ulang dalam Berdoa serta Tidak Tergesa-gesa Ingin DikabulkanDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يُعَجِّلْ يَقُوْلُ: دَعَـوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ“Doa seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa sehingga mengucapkan, “Aku telah berdoa, namun doaku belum terkabulkan.” (HR. Bukhari)Di antara adab doa yang agung adalah memohon dengan serius, mengulang-ulang bacaan doa, terus-menerus berdoa, serta mencari waktu yang utama untuk berdoa.  Barangsiapa yang terus menerus mengetuk pintu-pintu doa, akan semakin dekat kemungkinan dibuka pintu untuknya.Barangsiapa merenungkan doa ulil albaab yang Allah Ta’ala sebutkan di akhir surat Ali Imran tentang bagaimana mereka mengulangi ucapan “Rabbanaa” sebanyak lima kali dalam doa mereka, maka akhirnya Allah sebutkan di akhir surat,فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya.“  (QS. Ali Imran : 195)Hendaknya seorang hamba tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan doanya, karena sikap tergesa-gesa adalah di antara hal merusak yang merupakan penghalang terkabulnya doa. Sesungguhnya sikap tergesa-gesa akan memperlambat pengkabulan doa. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menekankan dalam perkataan beliau,و الحّ عليه في المسألة, و تملّقه“Bersikap serius dalam meminta, dan penuh adab dalam berdoa.”Yang dimaksud bersikap tamalluq adalah pelan dan lemah lembut dalam meminta. Beliau rahimahullah mengisyaratkan dengan hal ini bahwasanya berdoa hendaknya pelan-pelan, penuh adab, dan menampakkan rasa butuh kepada Allah Rabbul’ aalamin.Baca Juga: Hukum Mendoakan Non-Muslim Kiat Kesepuluh: Berdoa Disertai dengan Penuh Harap dan TakutMenggabungkan antara raghbah (rasa harap) dan rahbah (rasa cemas/takut) merupakan perkara penting untuk mendapat keberhasilan dalam berdoa dan ibadah yang lainnya. Seorang mukmin seyogyanya dalam ibadahnya menggabungkan antara rasa harap dan takut. Ketika Allah menyebutkan kisah para nabi dalam surat Al Anbiya’ dan bagaimana mereka selamat dari berbagai kesulitan dan ujian, di akhir ayat Allah menyebutkan,فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.“ (QS. Al Anbiya’: 90)Mereka menggabungkan dalam doa mereka antara rasa takut dan harap. Raghbah adalah berharap dengan apa yang ada di sisi Allah. Orang yang berdoa meminta kepada Rabbnya dalam keadaan berharap dengan keutamaan dan nikmat dari-Nya. Adapun rahbah adalah rasa takut dari azab-Nya dan pedihnya hukuman dari-Nya.Di antara sifat orang mukmin yang sempurna adalah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.“ (QS. Al Mukminun: 60)Mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah berharap pahala dari Rabbul ‘alamin, namun hati mereka disertai kekhawatiran tidak diterimanya amal-amal mereka. Mereka senantiasa menggabungkan dalam ibadah mereka antara raghbah dan rahbah.Contoh lain adalah doa Nabi Ibrahim khalilur rahman ketika Allah memerintahkan beliau untuk membangun Baitullah al Haraam. Beliau berdoa,رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS. Al Baqarah: 127)Beliau adalah termasuk rasul ‘ulul azmi yang juga merupakan kekasih Allah yang dijuluki khalilur rahman. Beliau pula lah yang melakukan amal yang paling mulia, yaitu membangun dan memakmurkan Baitullah. Meskipun begitu, beliau masih tetap berdoa kepada Allah dengan berharap Allah menerima darinya amal tersebut.Oleh karena itu, Wuhaib bin Ward rahimahullah menangis tatkala membaca ayat ini, seraya berkata,يا خليل الرحمٰن ترفع قوائم بيت الرحمٰن وأنت مُشفق أن لا يتقبّل منك“Wahai khalilur rahman, Engkau membangun baitur rahman, namun Engkau sangat khawatir Allah tidak menerima amalmu.“Insya Allah bersambung dengan penjelasan kiat-kiat lainnya agar doa dikabulkan. Semoga bermanfaat.[Bersambung]Baca Juga:***Sumber : Ad Duaa alladzii Laa Yurod  karya  Syaikh Prof. Dr. ‘Aburrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr hafidzahullah yang diunduh dari : https://www.al-badr.net/ebook/192Penulis: dr. Adika Mianoki, Sp.SArtikel: Muslim.or.id🔍 Dzikir Setelah Sholat Fardhu, Hukum Menjamak Shalat, Islam Kaffah Adalah, Cara Taubat Yang Benar Menurut Islam, Islam Syiah Sesat

Hukum Memajang Foto Di Dinding

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Apa hukum memajang foto (manusia) di dinding? Bolehkah memajang foto saudara atau foto ayah atau yang semisal dengan mereka?Jawab:Memajang foto makhluk yang bernyawa di dinding tidak diperbolehkan. Baik itu di rumah, di tempat orang-orang kumpul, di kantor, di jalanan atau di tempat-tempat selain itu. Semuanya merupakan kemungkaran dan termasuk perkara jahiliyah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ“Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau juga bersabda,إن أصحاب هذه الصور يعذبون يوم القيامة ويقال لهم أحيوا ما خلقتم“Sesungguhnya pemilik gambar-gambar (makhluk bernyawa) ini akan diadzab di hari kiamat dan diperintahkan kepada mereka untuk menghidupkan gambar yang mereka buat” (HR. Bukhari dan Muslim).Dan Ali radhiallahu’anhu pernah diutus ke suatu daerah, dan di antara yang dipesankan Rasulullah kepada beliau adalah sebagai berikut.لا تدع صورة إلا طمستها ولا قبرا مشرفا إلا سويت“Jangan engkau biarkan gambar makhluk bernyawa kecuali engkau rusak, dan jangan biarkan ada kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan” (HR. Muslim).Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga melarang ada gambar di dalam rumah dan melarang membuatnya. Maka wajib untuk menyingkirkannya dan tidak boleh memajangnya.Ketika di rumah ‘A`isyah, Rasulullah pernah melihat ada gambar di tirai. Beliau pun berubah wajahnya (karena tidak menyukainya) dan merobeknya. Ini menunjukkan bahwasanya tidak diperbolehkan memajang gambar di rumah. Baik itu gambar raja, gambar sahabat dan teman, gambar para ahli ibadah, gambar para ulama, gambar burung, gambar hewan atau lainnya. Semuanya tidak boleh.Semua gambar makhluk bernyawa tidak diperbolehkan. Demikian juga memajangnya di dinding, di meja-meja, semuanya tidak diperbolehkan. Tidak boleh meniru orang-orang yang biasa melakukan hal tersebut.Dan wajib bagi para pemimpin kaum Muslimin, para ulama kaum Muslimin, serta seluruh kaum Muslimin secara umum, untuk meninggalkan perbuatan dan menjauhinya. Dalam rangka menaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, dan mengamalkan syariat Allah dalam hal ini. Allahul musta’an.Sumber: TautanBaca juga: Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa***Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum memajang foto di dinding?Jawab:Memajang foto di dinding hukumnya haram, terlebih lagi ukurannya besar. Walaupun foto yang dipajang tersebut hanya sebagian badan dan kepala, (tetap tidak dibolehkan). Hal ini karena terlihat jelas adanya itikad ingin mengagungkan orang yang ada di foto tersebut. Perbuatan ini adalah awal munculnya kesyirikan dan ghulu sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengenai berhala kaum Nabi Nuh yang mereka sembah.أنها كانت أسماء رجال صالحين صوروا صورهم ليتذكروا العبادة، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Sesungguhnya sesembahan-sesembahan tersebut awalnya adalah para orang-orang shalih yang digambar oleh orang-orang sebagai pengingat mereka untuk beribadah. Lalu berlalulah waktu yang lama hingga akhirnya mereka menyembah gambar-gambar tersebut”Sumber: ar.islamway.netBeliau juga mengatakan, “memajang foto kenangan hukumnya terlarang. Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan bahwa malaikat -yang dimaksud adalah malaikat rahmat- tidak akan masuk rumah yang terdapat gambar. Ini menunjukkan bahwa memajang gambar di rumah itu terlarang.”Sumber: fatwa.islamweb.netBaca Juga: Penyakit ‘Ain Melalui Foto dan Video Hukum Nazhor Melalui Foto ***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Siksa Kubur, Secercah Cahaya, Nama Lain Kurban Adalah, Hukum Memelihara Binatang Dalam Islam, Kajian Ustadz Abdul Hakim

Hukum Memajang Foto Di Dinding

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Apa hukum memajang foto (manusia) di dinding? Bolehkah memajang foto saudara atau foto ayah atau yang semisal dengan mereka?Jawab:Memajang foto makhluk yang bernyawa di dinding tidak diperbolehkan. Baik itu di rumah, di tempat orang-orang kumpul, di kantor, di jalanan atau di tempat-tempat selain itu. Semuanya merupakan kemungkaran dan termasuk perkara jahiliyah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ“Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau juga bersabda,إن أصحاب هذه الصور يعذبون يوم القيامة ويقال لهم أحيوا ما خلقتم“Sesungguhnya pemilik gambar-gambar (makhluk bernyawa) ini akan diadzab di hari kiamat dan diperintahkan kepada mereka untuk menghidupkan gambar yang mereka buat” (HR. Bukhari dan Muslim).Dan Ali radhiallahu’anhu pernah diutus ke suatu daerah, dan di antara yang dipesankan Rasulullah kepada beliau adalah sebagai berikut.لا تدع صورة إلا طمستها ولا قبرا مشرفا إلا سويت“Jangan engkau biarkan gambar makhluk bernyawa kecuali engkau rusak, dan jangan biarkan ada kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan” (HR. Muslim).Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga melarang ada gambar di dalam rumah dan melarang membuatnya. Maka wajib untuk menyingkirkannya dan tidak boleh memajangnya.Ketika di rumah ‘A`isyah, Rasulullah pernah melihat ada gambar di tirai. Beliau pun berubah wajahnya (karena tidak menyukainya) dan merobeknya. Ini menunjukkan bahwasanya tidak diperbolehkan memajang gambar di rumah. Baik itu gambar raja, gambar sahabat dan teman, gambar para ahli ibadah, gambar para ulama, gambar burung, gambar hewan atau lainnya. Semuanya tidak boleh.Semua gambar makhluk bernyawa tidak diperbolehkan. Demikian juga memajangnya di dinding, di meja-meja, semuanya tidak diperbolehkan. Tidak boleh meniru orang-orang yang biasa melakukan hal tersebut.Dan wajib bagi para pemimpin kaum Muslimin, para ulama kaum Muslimin, serta seluruh kaum Muslimin secara umum, untuk meninggalkan perbuatan dan menjauhinya. Dalam rangka menaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, dan mengamalkan syariat Allah dalam hal ini. Allahul musta’an.Sumber: TautanBaca juga: Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa***Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum memajang foto di dinding?Jawab:Memajang foto di dinding hukumnya haram, terlebih lagi ukurannya besar. Walaupun foto yang dipajang tersebut hanya sebagian badan dan kepala, (tetap tidak dibolehkan). Hal ini karena terlihat jelas adanya itikad ingin mengagungkan orang yang ada di foto tersebut. Perbuatan ini adalah awal munculnya kesyirikan dan ghulu sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengenai berhala kaum Nabi Nuh yang mereka sembah.أنها كانت أسماء رجال صالحين صوروا صورهم ليتذكروا العبادة، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Sesungguhnya sesembahan-sesembahan tersebut awalnya adalah para orang-orang shalih yang digambar oleh orang-orang sebagai pengingat mereka untuk beribadah. Lalu berlalulah waktu yang lama hingga akhirnya mereka menyembah gambar-gambar tersebut”Sumber: ar.islamway.netBeliau juga mengatakan, “memajang foto kenangan hukumnya terlarang. Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan bahwa malaikat -yang dimaksud adalah malaikat rahmat- tidak akan masuk rumah yang terdapat gambar. Ini menunjukkan bahwa memajang gambar di rumah itu terlarang.”Sumber: fatwa.islamweb.netBaca Juga: Penyakit ‘Ain Melalui Foto dan Video Hukum Nazhor Melalui Foto ***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Siksa Kubur, Secercah Cahaya, Nama Lain Kurban Adalah, Hukum Memelihara Binatang Dalam Islam, Kajian Ustadz Abdul Hakim
Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Apa hukum memajang foto (manusia) di dinding? Bolehkah memajang foto saudara atau foto ayah atau yang semisal dengan mereka?Jawab:Memajang foto makhluk yang bernyawa di dinding tidak diperbolehkan. Baik itu di rumah, di tempat orang-orang kumpul, di kantor, di jalanan atau di tempat-tempat selain itu. Semuanya merupakan kemungkaran dan termasuk perkara jahiliyah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ“Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau juga bersabda,إن أصحاب هذه الصور يعذبون يوم القيامة ويقال لهم أحيوا ما خلقتم“Sesungguhnya pemilik gambar-gambar (makhluk bernyawa) ini akan diadzab di hari kiamat dan diperintahkan kepada mereka untuk menghidupkan gambar yang mereka buat” (HR. Bukhari dan Muslim).Dan Ali radhiallahu’anhu pernah diutus ke suatu daerah, dan di antara yang dipesankan Rasulullah kepada beliau adalah sebagai berikut.لا تدع صورة إلا طمستها ولا قبرا مشرفا إلا سويت“Jangan engkau biarkan gambar makhluk bernyawa kecuali engkau rusak, dan jangan biarkan ada kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan” (HR. Muslim).Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga melarang ada gambar di dalam rumah dan melarang membuatnya. Maka wajib untuk menyingkirkannya dan tidak boleh memajangnya.Ketika di rumah ‘A`isyah, Rasulullah pernah melihat ada gambar di tirai. Beliau pun berubah wajahnya (karena tidak menyukainya) dan merobeknya. Ini menunjukkan bahwasanya tidak diperbolehkan memajang gambar di rumah. Baik itu gambar raja, gambar sahabat dan teman, gambar para ahli ibadah, gambar para ulama, gambar burung, gambar hewan atau lainnya. Semuanya tidak boleh.Semua gambar makhluk bernyawa tidak diperbolehkan. Demikian juga memajangnya di dinding, di meja-meja, semuanya tidak diperbolehkan. Tidak boleh meniru orang-orang yang biasa melakukan hal tersebut.Dan wajib bagi para pemimpin kaum Muslimin, para ulama kaum Muslimin, serta seluruh kaum Muslimin secara umum, untuk meninggalkan perbuatan dan menjauhinya. Dalam rangka menaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, dan mengamalkan syariat Allah dalam hal ini. Allahul musta’an.Sumber: TautanBaca juga: Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa***Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum memajang foto di dinding?Jawab:Memajang foto di dinding hukumnya haram, terlebih lagi ukurannya besar. Walaupun foto yang dipajang tersebut hanya sebagian badan dan kepala, (tetap tidak dibolehkan). Hal ini karena terlihat jelas adanya itikad ingin mengagungkan orang yang ada di foto tersebut. Perbuatan ini adalah awal munculnya kesyirikan dan ghulu sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengenai berhala kaum Nabi Nuh yang mereka sembah.أنها كانت أسماء رجال صالحين صوروا صورهم ليتذكروا العبادة، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Sesungguhnya sesembahan-sesembahan tersebut awalnya adalah para orang-orang shalih yang digambar oleh orang-orang sebagai pengingat mereka untuk beribadah. Lalu berlalulah waktu yang lama hingga akhirnya mereka menyembah gambar-gambar tersebut”Sumber: ar.islamway.netBeliau juga mengatakan, “memajang foto kenangan hukumnya terlarang. Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan bahwa malaikat -yang dimaksud adalah malaikat rahmat- tidak akan masuk rumah yang terdapat gambar. Ini menunjukkan bahwa memajang gambar di rumah itu terlarang.”Sumber: fatwa.islamweb.netBaca Juga: Penyakit ‘Ain Melalui Foto dan Video Hukum Nazhor Melalui Foto ***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Siksa Kubur, Secercah Cahaya, Nama Lain Kurban Adalah, Hukum Memelihara Binatang Dalam Islam, Kajian Ustadz Abdul Hakim


Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Apa hukum memajang foto (manusia) di dinding? Bolehkah memajang foto saudara atau foto ayah atau yang semisal dengan mereka?Jawab:Memajang foto makhluk yang bernyawa di dinding tidak diperbolehkan. Baik itu di rumah, di tempat orang-orang kumpul, di kantor, di jalanan atau di tempat-tempat selain itu. Semuanya merupakan kemungkaran dan termasuk perkara jahiliyah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ“Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau juga bersabda,إن أصحاب هذه الصور يعذبون يوم القيامة ويقال لهم أحيوا ما خلقتم“Sesungguhnya pemilik gambar-gambar (makhluk bernyawa) ini akan diadzab di hari kiamat dan diperintahkan kepada mereka untuk menghidupkan gambar yang mereka buat” (HR. Bukhari dan Muslim).Dan Ali radhiallahu’anhu pernah diutus ke suatu daerah, dan di antara yang dipesankan Rasulullah kepada beliau adalah sebagai berikut.لا تدع صورة إلا طمستها ولا قبرا مشرفا إلا سويت“Jangan engkau biarkan gambar makhluk bernyawa kecuali engkau rusak, dan jangan biarkan ada kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan” (HR. Muslim).Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga melarang ada gambar di dalam rumah dan melarang membuatnya. Maka wajib untuk menyingkirkannya dan tidak boleh memajangnya.Ketika di rumah ‘A`isyah, Rasulullah pernah melihat ada gambar di tirai. Beliau pun berubah wajahnya (karena tidak menyukainya) dan merobeknya. Ini menunjukkan bahwasanya tidak diperbolehkan memajang gambar di rumah. Baik itu gambar raja, gambar sahabat dan teman, gambar para ahli ibadah, gambar para ulama, gambar burung, gambar hewan atau lainnya. Semuanya tidak boleh.Semua gambar makhluk bernyawa tidak diperbolehkan. Demikian juga memajangnya di dinding, di meja-meja, semuanya tidak diperbolehkan. Tidak boleh meniru orang-orang yang biasa melakukan hal tersebut.Dan wajib bagi para pemimpin kaum Muslimin, para ulama kaum Muslimin, serta seluruh kaum Muslimin secara umum, untuk meninggalkan perbuatan dan menjauhinya. Dalam rangka menaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, dan mengamalkan syariat Allah dalam hal ini. Allahul musta’an.Sumber: TautanBaca juga: Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa***Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum memajang foto di dinding?Jawab:Memajang foto di dinding hukumnya haram, terlebih lagi ukurannya besar. Walaupun foto yang dipajang tersebut hanya sebagian badan dan kepala, (tetap tidak dibolehkan). Hal ini karena terlihat jelas adanya itikad ingin mengagungkan orang yang ada di foto tersebut. Perbuatan ini adalah awal munculnya kesyirikan dan ghulu sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengenai berhala kaum Nabi Nuh yang mereka sembah.أنها كانت أسماء رجال صالحين صوروا صورهم ليتذكروا العبادة، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Sesungguhnya sesembahan-sesembahan tersebut awalnya adalah para orang-orang shalih yang digambar oleh orang-orang sebagai pengingat mereka untuk beribadah. Lalu berlalulah waktu yang lama hingga akhirnya mereka menyembah gambar-gambar tersebut”Sumber: ar.islamway.netBeliau juga mengatakan, “memajang foto kenangan hukumnya terlarang. Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan bahwa malaikat -yang dimaksud adalah malaikat rahmat- tidak akan masuk rumah yang terdapat gambar. Ini menunjukkan bahwa memajang gambar di rumah itu terlarang.”Sumber: fatwa.islamweb.netBaca Juga: Penyakit ‘Ain Melalui Foto dan Video Hukum Nazhor Melalui Foto ***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Siksa Kubur, Secercah Cahaya, Nama Lain Kurban Adalah, Hukum Memelihara Binatang Dalam Islam, Kajian Ustadz Abdul Hakim

Jangan-Jangan Kita Terjangkit Penyakit Cinta Dunia, Ini Tandanya

Apa saja tanda cinta dunia?   Coba kita awali dengan merenungkan ayat berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17) Malik bin Dinar berkata: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍٍِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟ “Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568) Baca juga: Nikmat Dunia Pasti Akan Sirna Daftar Isi tutup 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Tanda cinta dunia lainnya adalah: Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan Jangan-jangan kita memang sedang terjangkit cinta dunia. Ini di antara tanda-tandanya. 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)   2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Baca juga: Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat   3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Baca juga: Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia   Tanda cinta dunia lainnya adalah: gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat. Yang dimaksud mengejar dunia lewat amalan akhirat, contohnya amalan “shalawatin saja” untuk dapat iphone hingga dapat mobil mahal. Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan    Semoga Allah memberikan kepada penulis dan pembaca sekalian hidayah agar tidak terlalu cinta dunia, lebih mendahulukan akhirat. Baca Juga: Surat Seorang Kakak untuk Adik Tercinta, Hidup di Dunia Hanyalah Sementara Celaan bagi Yang Sibuk dengan Dunia Lantas Lalai dari Dzikir — Darush Sholihin, sore 14 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsberamal akhirat untuk dunia cinta dunia doa manfaat dunia akhirat kesibukan dunia

Jangan-Jangan Kita Terjangkit Penyakit Cinta Dunia, Ini Tandanya

Apa saja tanda cinta dunia?   Coba kita awali dengan merenungkan ayat berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17) Malik bin Dinar berkata: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍٍِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟ “Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568) Baca juga: Nikmat Dunia Pasti Akan Sirna Daftar Isi tutup 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Tanda cinta dunia lainnya adalah: Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan Jangan-jangan kita memang sedang terjangkit cinta dunia. Ini di antara tanda-tandanya. 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)   2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Baca juga: Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat   3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Baca juga: Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia   Tanda cinta dunia lainnya adalah: gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat. Yang dimaksud mengejar dunia lewat amalan akhirat, contohnya amalan “shalawatin saja” untuk dapat iphone hingga dapat mobil mahal. Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan    Semoga Allah memberikan kepada penulis dan pembaca sekalian hidayah agar tidak terlalu cinta dunia, lebih mendahulukan akhirat. Baca Juga: Surat Seorang Kakak untuk Adik Tercinta, Hidup di Dunia Hanyalah Sementara Celaan bagi Yang Sibuk dengan Dunia Lantas Lalai dari Dzikir — Darush Sholihin, sore 14 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsberamal akhirat untuk dunia cinta dunia doa manfaat dunia akhirat kesibukan dunia
Apa saja tanda cinta dunia?   Coba kita awali dengan merenungkan ayat berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17) Malik bin Dinar berkata: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍٍِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟ “Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568) Baca juga: Nikmat Dunia Pasti Akan Sirna Daftar Isi tutup 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Tanda cinta dunia lainnya adalah: Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan Jangan-jangan kita memang sedang terjangkit cinta dunia. Ini di antara tanda-tandanya. 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)   2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Baca juga: Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat   3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Baca juga: Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia   Tanda cinta dunia lainnya adalah: gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat. Yang dimaksud mengejar dunia lewat amalan akhirat, contohnya amalan “shalawatin saja” untuk dapat iphone hingga dapat mobil mahal. Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan    Semoga Allah memberikan kepada penulis dan pembaca sekalian hidayah agar tidak terlalu cinta dunia, lebih mendahulukan akhirat. Baca Juga: Surat Seorang Kakak untuk Adik Tercinta, Hidup di Dunia Hanyalah Sementara Celaan bagi Yang Sibuk dengan Dunia Lantas Lalai dari Dzikir — Darush Sholihin, sore 14 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsberamal akhirat untuk dunia cinta dunia doa manfaat dunia akhirat kesibukan dunia


Apa saja tanda cinta dunia?   Coba kita awali dengan merenungkan ayat berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17) Malik bin Dinar berkata: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍٍِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟ “Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568) Baca juga: Nikmat Dunia Pasti Akan Sirna Daftar Isi tutup 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Tanda cinta dunia lainnya adalah: Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan Jangan-jangan kita memang sedang terjangkit cinta dunia. Ini di antara tanda-tandanya. 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)   2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Baca juga: Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat   3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Baca juga: Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia   Tanda cinta dunia lainnya adalah: gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat. Yang dimaksud mengejar dunia lewat amalan akhirat, contohnya amalan “shalawatin saja” untuk dapat iphone hingga dapat mobil mahal. Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan    Semoga Allah memberikan kepada penulis dan pembaca sekalian hidayah agar tidak terlalu cinta dunia, lebih mendahulukan akhirat. Baca Juga: Surat Seorang Kakak untuk Adik Tercinta, Hidup di Dunia Hanyalah Sementara Celaan bagi Yang Sibuk dengan Dunia Lantas Lalai dari Dzikir — Darush Sholihin, sore 14 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsberamal akhirat untuk dunia cinta dunia doa manfaat dunia akhirat kesibukan dunia
Prev     Next