Fikih Riba (Bag. 11): Memahami ‘Illat dalam Riba (2)

Daftar Isi ToggleMengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?SolusiSebelumnya, telah dijelaskan terkait ‘illat riba pada emas dan perak. Pendapat yang terkuat adalah pendapat dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta murid beliau, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa ‘illat dalam emas dan perak adalah muthlaqu ats-tsamaniyyah (sebagai nilai dan alat tukar secara mutlak).Dari standar ‘illat ini, maka segala yang digunakan sebagai alat tukar secara mutlak, masuk dalam kategori harta atau komoditas ribawi, sebagaimana emas dan perak. Hal ini di antara hal yang sangat penting untuk diketahui.Berangkat dari pembahasan ‘illat riba pada cemas dan perak, dapat diketahui dengan jelas beberapa pertanyaan yang sering terlontarkan.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar-menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.Jawaban secara umum dari keempat pertanyaan di atas adalah disebabkan ‘illat pada uang adalah ‘illat pada emas dan perak. Mudahnya, standar hukum yang ada pada uang menyesuaikan standar hukum yang ada pada emas dan perak. Sehingga segala yang berlaku pada emas dan perak, berlaku pula pada uang. Apa saja yang berlaku pada emas dan perak ketika ditukar?Harus tunai, tidak boleh ada penundaan;Harus sama takaran, tidak boleh ada lebih;Jika berbeda jenis, maka boleh berbeda takaran;Tidak boleh ada tambahan “tersembunyi”.Keempat poin di atas, belaku pada segala jenis uang. Sehingga dengan berlandaskan keempat poin di atas, dapat terjawabkan keempat pertanyaan di atas.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang? Sebagaimana pada emas dan perak, ketika emas ditukar dengan emas, tidak boleh ada lebih; ketika perak ditukar dengan perak pun tidak boleh ada lebih dan harus setara. Sebagaimana dalam hadis ‘Ubadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ كَيْلًا بِكَيْلٍ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ كَيْلًا بِكَيْلٍ“Emas dengan emas harus sama dalam timbangan, perak dengan perak harus sama dalam timbangan, gandum dengan gandum harus sama dalam takaran, sya’ir dengan sya’ir harus sama dalam takaran.” (HR. Al-Baihaqi dan disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah)Dalam hadis lain, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بالذَّهَبِ، والفِضَّةُ بالفِضَّةِ، والبُرُّ بالبُرِّ، والشَّعيرُ بالشَّعيرِ، والتَّمرُ بالتَّمرِ، والمِلْحُ بالمِلْحِ: مِثْلًا بمِثْلٍ، يَدًا بيَدٍ، فمَن زاد أوِ ازداد فقد أَرْبى؛ الآخِذُ والمُعْطِي فيه سواءٌ“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus serupa (nominal dan takaran), harus dibayarkan secara kontan, barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba, yang mengambil dan memberi sama saja.” (HR. Muslim no. 1584)Hal serupa juga berlaku pada uang, ketika uang ditukar dengan uang, maka tidak boleh ada lebih dan harus sama nominalnya. Apa sebabnya? Sebabnya karena ‘illat pada uang sama seperti ‘illat pada emas dan perak. Yaitu, sebagai nilai dan alat tukar.Mirisnya, praktek-praktek seperti ini masih sering terjadi dan banyak yang menggandrungi di tengah-tengah masyarakat. Ketika lebaran tiba, uang-uang pecahan kecil begitu dicari; terlihat di pinggir jalan orang-orang yang menawarkan jasa penukaran uang dengan adanya syarat, yaitu harus ada lebih.Menguntungkan dan menggiurkan memang. Disinyalir ketika lebaran tiba, jasa penukaran uang di pinggir jalan meraup keuntungan yang sangat fantastis. Pertransaksi, terdapat biaya tambahan yang harus dibayarkan sebesar 10%. Seumpama, ada yang ingin menukar satu juta rupiah, maka ia harus membayar satu juta seratus ribu rupiah; jika lima juta, ia harus membayar sebesar lima juta lima ratus ribu rupiah. Bagaimana jika sepuluh juta? Dua puluh juta? Dan seterusnya. Bisa dibayangkan kelipatan yang diperoleh dari hasil transaksi riba.Kendati di sisi lain ada yang tidak mengambil keuntungan sebanyak itu. Misalnya, seperti penukaran satu juta rupiah kemudian diberikan uang pecahan sebesar sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu dianggap sebagai biaya jasa atau admin. Ketahuilah, segala tukar menukar uang yang terdapat “tambahan”, maka berlaku padanya hukum riba. Dan inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan? Tidak diperbolehkan menukar uang secara tidak kontan. Sebagaimana telah jelas dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau mensyaratkan pada transaksi komoditas ribawi ketika sama jenisnya,يَدًا بيَدٍ“Tangan bertemu dengan tangan (harus dibayarkan secara kontan).” Lalu, bagaimana jika tidak kontan? Maka masuk pada riba nasi’ah. Hendaknya hal ini jangan dianggap remeh, “Kan teman”, “Kan masih sesama saudara.” Riba tetaplah riba. Dan ini yang dinamakan dengan riba nasi’ah.Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti? Jawaban pertanyaan ini, sama dengan pertanyaan kedua. Tidak boleh menukar uang dengan cara transfer yang kemudian nanti diambil fisiknya. Tentu para pembaca sudah bisa menjawab, mengapa tidak diperbolehkan? Karena ada tenggang waktu dalam penyerahan dan ini merupakan riba nasi’ah.Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang? Mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang, tak ubahnya seperti “pengelabuan riba”. Dinamakan jasa atau biaya admin, namun sejatinya hal ini tetap biaya tambahan dalam tukar menukar. Jangan sampai tertipu dengan “penamaan” yang diberikan.Hakikat dari transaksinya adalah transaksi ribawi, diganti penamaan agar terlihat lebih halal dan samar-samar antara riba atau tidaknya. Sehingga jawabannya, tidak diperbolehkan adanya jasa atau biaya admin.Kecuali, jika kita memang menyuruh seseorang untuk pergi menukarkan uang. Kita sampaikan kepadanya, “Tolong tukarkan uang, ini ada dua puluh ribu untukmu.” Inilah yang dinamakan dengan jasa.Akan tetapi, jika bentuknya adalah biaya tambahan dari penukaran uang yang bersifat persenan; yang dampaknya, semakin besar nominal penukaran, maka semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka ini bukanlah biaya admin atau jasa, namun justru inilah riba yang sesungguhnya.SolusiJika memang Anda butuh untuk menukar uang dengan uang, maka berikut solusinya:Pastikan tidak ada biaya tambahan;Penukaran harus dilakukan secara tunai;Lakukan penukaran pada lembaga atau instansi resmi seperti bank, koperasi, dan sebagainya. Tetap dengan berpegang pada kedua poin di atas.Pembahasan ini di antara manfaat dari memahami tentang ‘illat dalam riba. Sehingga terjauhkanlah segala keharaman yang terdapat pada transaksi tukar-menukar ataupun transaksi-transaksi lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 10***Depok, 23 Syawal 1447/ 11 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id

Fikih Riba (Bag. 11): Memahami ‘Illat dalam Riba (2)

Daftar Isi ToggleMengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?SolusiSebelumnya, telah dijelaskan terkait ‘illat riba pada emas dan perak. Pendapat yang terkuat adalah pendapat dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta murid beliau, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa ‘illat dalam emas dan perak adalah muthlaqu ats-tsamaniyyah (sebagai nilai dan alat tukar secara mutlak).Dari standar ‘illat ini, maka segala yang digunakan sebagai alat tukar secara mutlak, masuk dalam kategori harta atau komoditas ribawi, sebagaimana emas dan perak. Hal ini di antara hal yang sangat penting untuk diketahui.Berangkat dari pembahasan ‘illat riba pada cemas dan perak, dapat diketahui dengan jelas beberapa pertanyaan yang sering terlontarkan.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar-menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.Jawaban secara umum dari keempat pertanyaan di atas adalah disebabkan ‘illat pada uang adalah ‘illat pada emas dan perak. Mudahnya, standar hukum yang ada pada uang menyesuaikan standar hukum yang ada pada emas dan perak. Sehingga segala yang berlaku pada emas dan perak, berlaku pula pada uang. Apa saja yang berlaku pada emas dan perak ketika ditukar?Harus tunai, tidak boleh ada penundaan;Harus sama takaran, tidak boleh ada lebih;Jika berbeda jenis, maka boleh berbeda takaran;Tidak boleh ada tambahan “tersembunyi”.Keempat poin di atas, belaku pada segala jenis uang. Sehingga dengan berlandaskan keempat poin di atas, dapat terjawabkan keempat pertanyaan di atas.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang? Sebagaimana pada emas dan perak, ketika emas ditukar dengan emas, tidak boleh ada lebih; ketika perak ditukar dengan perak pun tidak boleh ada lebih dan harus setara. Sebagaimana dalam hadis ‘Ubadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ كَيْلًا بِكَيْلٍ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ كَيْلًا بِكَيْلٍ“Emas dengan emas harus sama dalam timbangan, perak dengan perak harus sama dalam timbangan, gandum dengan gandum harus sama dalam takaran, sya’ir dengan sya’ir harus sama dalam takaran.” (HR. Al-Baihaqi dan disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah)Dalam hadis lain, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بالذَّهَبِ، والفِضَّةُ بالفِضَّةِ، والبُرُّ بالبُرِّ، والشَّعيرُ بالشَّعيرِ، والتَّمرُ بالتَّمرِ، والمِلْحُ بالمِلْحِ: مِثْلًا بمِثْلٍ، يَدًا بيَدٍ، فمَن زاد أوِ ازداد فقد أَرْبى؛ الآخِذُ والمُعْطِي فيه سواءٌ“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus serupa (nominal dan takaran), harus dibayarkan secara kontan, barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba, yang mengambil dan memberi sama saja.” (HR. Muslim no. 1584)Hal serupa juga berlaku pada uang, ketika uang ditukar dengan uang, maka tidak boleh ada lebih dan harus sama nominalnya. Apa sebabnya? Sebabnya karena ‘illat pada uang sama seperti ‘illat pada emas dan perak. Yaitu, sebagai nilai dan alat tukar.Mirisnya, praktek-praktek seperti ini masih sering terjadi dan banyak yang menggandrungi di tengah-tengah masyarakat. Ketika lebaran tiba, uang-uang pecahan kecil begitu dicari; terlihat di pinggir jalan orang-orang yang menawarkan jasa penukaran uang dengan adanya syarat, yaitu harus ada lebih.Menguntungkan dan menggiurkan memang. Disinyalir ketika lebaran tiba, jasa penukaran uang di pinggir jalan meraup keuntungan yang sangat fantastis. Pertransaksi, terdapat biaya tambahan yang harus dibayarkan sebesar 10%. Seumpama, ada yang ingin menukar satu juta rupiah, maka ia harus membayar satu juta seratus ribu rupiah; jika lima juta, ia harus membayar sebesar lima juta lima ratus ribu rupiah. Bagaimana jika sepuluh juta? Dua puluh juta? Dan seterusnya. Bisa dibayangkan kelipatan yang diperoleh dari hasil transaksi riba.Kendati di sisi lain ada yang tidak mengambil keuntungan sebanyak itu. Misalnya, seperti penukaran satu juta rupiah kemudian diberikan uang pecahan sebesar sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu dianggap sebagai biaya jasa atau admin. Ketahuilah, segala tukar menukar uang yang terdapat “tambahan”, maka berlaku padanya hukum riba. Dan inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan? Tidak diperbolehkan menukar uang secara tidak kontan. Sebagaimana telah jelas dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau mensyaratkan pada transaksi komoditas ribawi ketika sama jenisnya,يَدًا بيَدٍ“Tangan bertemu dengan tangan (harus dibayarkan secara kontan).” Lalu, bagaimana jika tidak kontan? Maka masuk pada riba nasi’ah. Hendaknya hal ini jangan dianggap remeh, “Kan teman”, “Kan masih sesama saudara.” Riba tetaplah riba. Dan ini yang dinamakan dengan riba nasi’ah.Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti? Jawaban pertanyaan ini, sama dengan pertanyaan kedua. Tidak boleh menukar uang dengan cara transfer yang kemudian nanti diambil fisiknya. Tentu para pembaca sudah bisa menjawab, mengapa tidak diperbolehkan? Karena ada tenggang waktu dalam penyerahan dan ini merupakan riba nasi’ah.Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang? Mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang, tak ubahnya seperti “pengelabuan riba”. Dinamakan jasa atau biaya admin, namun sejatinya hal ini tetap biaya tambahan dalam tukar menukar. Jangan sampai tertipu dengan “penamaan” yang diberikan.Hakikat dari transaksinya adalah transaksi ribawi, diganti penamaan agar terlihat lebih halal dan samar-samar antara riba atau tidaknya. Sehingga jawabannya, tidak diperbolehkan adanya jasa atau biaya admin.Kecuali, jika kita memang menyuruh seseorang untuk pergi menukarkan uang. Kita sampaikan kepadanya, “Tolong tukarkan uang, ini ada dua puluh ribu untukmu.” Inilah yang dinamakan dengan jasa.Akan tetapi, jika bentuknya adalah biaya tambahan dari penukaran uang yang bersifat persenan; yang dampaknya, semakin besar nominal penukaran, maka semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka ini bukanlah biaya admin atau jasa, namun justru inilah riba yang sesungguhnya.SolusiJika memang Anda butuh untuk menukar uang dengan uang, maka berikut solusinya:Pastikan tidak ada biaya tambahan;Penukaran harus dilakukan secara tunai;Lakukan penukaran pada lembaga atau instansi resmi seperti bank, koperasi, dan sebagainya. Tetap dengan berpegang pada kedua poin di atas.Pembahasan ini di antara manfaat dari memahami tentang ‘illat dalam riba. Sehingga terjauhkanlah segala keharaman yang terdapat pada transaksi tukar-menukar ataupun transaksi-transaksi lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 10***Depok, 23 Syawal 1447/ 11 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?SolusiSebelumnya, telah dijelaskan terkait ‘illat riba pada emas dan perak. Pendapat yang terkuat adalah pendapat dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta murid beliau, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa ‘illat dalam emas dan perak adalah muthlaqu ats-tsamaniyyah (sebagai nilai dan alat tukar secara mutlak).Dari standar ‘illat ini, maka segala yang digunakan sebagai alat tukar secara mutlak, masuk dalam kategori harta atau komoditas ribawi, sebagaimana emas dan perak. Hal ini di antara hal yang sangat penting untuk diketahui.Berangkat dari pembahasan ‘illat riba pada cemas dan perak, dapat diketahui dengan jelas beberapa pertanyaan yang sering terlontarkan.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar-menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.Jawaban secara umum dari keempat pertanyaan di atas adalah disebabkan ‘illat pada uang adalah ‘illat pada emas dan perak. Mudahnya, standar hukum yang ada pada uang menyesuaikan standar hukum yang ada pada emas dan perak. Sehingga segala yang berlaku pada emas dan perak, berlaku pula pada uang. Apa saja yang berlaku pada emas dan perak ketika ditukar?Harus tunai, tidak boleh ada penundaan;Harus sama takaran, tidak boleh ada lebih;Jika berbeda jenis, maka boleh berbeda takaran;Tidak boleh ada tambahan “tersembunyi”.Keempat poin di atas, belaku pada segala jenis uang. Sehingga dengan berlandaskan keempat poin di atas, dapat terjawabkan keempat pertanyaan di atas.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang? Sebagaimana pada emas dan perak, ketika emas ditukar dengan emas, tidak boleh ada lebih; ketika perak ditukar dengan perak pun tidak boleh ada lebih dan harus setara. Sebagaimana dalam hadis ‘Ubadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ كَيْلًا بِكَيْلٍ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ كَيْلًا بِكَيْلٍ“Emas dengan emas harus sama dalam timbangan, perak dengan perak harus sama dalam timbangan, gandum dengan gandum harus sama dalam takaran, sya’ir dengan sya’ir harus sama dalam takaran.” (HR. Al-Baihaqi dan disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah)Dalam hadis lain, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بالذَّهَبِ، والفِضَّةُ بالفِضَّةِ، والبُرُّ بالبُرِّ، والشَّعيرُ بالشَّعيرِ، والتَّمرُ بالتَّمرِ، والمِلْحُ بالمِلْحِ: مِثْلًا بمِثْلٍ، يَدًا بيَدٍ، فمَن زاد أوِ ازداد فقد أَرْبى؛ الآخِذُ والمُعْطِي فيه سواءٌ“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus serupa (nominal dan takaran), harus dibayarkan secara kontan, barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba, yang mengambil dan memberi sama saja.” (HR. Muslim no. 1584)Hal serupa juga berlaku pada uang, ketika uang ditukar dengan uang, maka tidak boleh ada lebih dan harus sama nominalnya. Apa sebabnya? Sebabnya karena ‘illat pada uang sama seperti ‘illat pada emas dan perak. Yaitu, sebagai nilai dan alat tukar.Mirisnya, praktek-praktek seperti ini masih sering terjadi dan banyak yang menggandrungi di tengah-tengah masyarakat. Ketika lebaran tiba, uang-uang pecahan kecil begitu dicari; terlihat di pinggir jalan orang-orang yang menawarkan jasa penukaran uang dengan adanya syarat, yaitu harus ada lebih.Menguntungkan dan menggiurkan memang. Disinyalir ketika lebaran tiba, jasa penukaran uang di pinggir jalan meraup keuntungan yang sangat fantastis. Pertransaksi, terdapat biaya tambahan yang harus dibayarkan sebesar 10%. Seumpama, ada yang ingin menukar satu juta rupiah, maka ia harus membayar satu juta seratus ribu rupiah; jika lima juta, ia harus membayar sebesar lima juta lima ratus ribu rupiah. Bagaimana jika sepuluh juta? Dua puluh juta? Dan seterusnya. Bisa dibayangkan kelipatan yang diperoleh dari hasil transaksi riba.Kendati di sisi lain ada yang tidak mengambil keuntungan sebanyak itu. Misalnya, seperti penukaran satu juta rupiah kemudian diberikan uang pecahan sebesar sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu dianggap sebagai biaya jasa atau admin. Ketahuilah, segala tukar menukar uang yang terdapat “tambahan”, maka berlaku padanya hukum riba. Dan inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan? Tidak diperbolehkan menukar uang secara tidak kontan. Sebagaimana telah jelas dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau mensyaratkan pada transaksi komoditas ribawi ketika sama jenisnya,يَدًا بيَدٍ“Tangan bertemu dengan tangan (harus dibayarkan secara kontan).” Lalu, bagaimana jika tidak kontan? Maka masuk pada riba nasi’ah. Hendaknya hal ini jangan dianggap remeh, “Kan teman”, “Kan masih sesama saudara.” Riba tetaplah riba. Dan ini yang dinamakan dengan riba nasi’ah.Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti? Jawaban pertanyaan ini, sama dengan pertanyaan kedua. Tidak boleh menukar uang dengan cara transfer yang kemudian nanti diambil fisiknya. Tentu para pembaca sudah bisa menjawab, mengapa tidak diperbolehkan? Karena ada tenggang waktu dalam penyerahan dan ini merupakan riba nasi’ah.Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang? Mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang, tak ubahnya seperti “pengelabuan riba”. Dinamakan jasa atau biaya admin, namun sejatinya hal ini tetap biaya tambahan dalam tukar menukar. Jangan sampai tertipu dengan “penamaan” yang diberikan.Hakikat dari transaksinya adalah transaksi ribawi, diganti penamaan agar terlihat lebih halal dan samar-samar antara riba atau tidaknya. Sehingga jawabannya, tidak diperbolehkan adanya jasa atau biaya admin.Kecuali, jika kita memang menyuruh seseorang untuk pergi menukarkan uang. Kita sampaikan kepadanya, “Tolong tukarkan uang, ini ada dua puluh ribu untukmu.” Inilah yang dinamakan dengan jasa.Akan tetapi, jika bentuknya adalah biaya tambahan dari penukaran uang yang bersifat persenan; yang dampaknya, semakin besar nominal penukaran, maka semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka ini bukanlah biaya admin atau jasa, namun justru inilah riba yang sesungguhnya.SolusiJika memang Anda butuh untuk menukar uang dengan uang, maka berikut solusinya:Pastikan tidak ada biaya tambahan;Penukaran harus dilakukan secara tunai;Lakukan penukaran pada lembaga atau instansi resmi seperti bank, koperasi, dan sebagainya. Tetap dengan berpegang pada kedua poin di atas.Pembahasan ini di antara manfaat dari memahami tentang ‘illat dalam riba. Sehingga terjauhkanlah segala keharaman yang terdapat pada transaksi tukar-menukar ataupun transaksi-transaksi lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 10***Depok, 23 Syawal 1447/ 11 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?SolusiSebelumnya, telah dijelaskan terkait ‘illat riba pada emas dan perak. Pendapat yang terkuat adalah pendapat dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah serta murid beliau, Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa ‘illat dalam emas dan perak adalah muthlaqu ats-tsamaniyyah (sebagai nilai dan alat tukar secara mutlak).Dari standar ‘illat ini, maka segala yang digunakan sebagai alat tukar secara mutlak, masuk dalam kategori harta atau komoditas ribawi, sebagaimana emas dan perak. Hal ini di antara hal yang sangat penting untuk diketahui.Berangkat dari pembahasan ‘illat riba pada cemas dan perak, dapat diketahui dengan jelas beberapa pertanyaan yang sering terlontarkan.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar-menukar uang?Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan?Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer lalu mengambil fisik uangnya nanti?Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang?Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.Jawaban secara umum dari keempat pertanyaan di atas adalah disebabkan ‘illat pada uang adalah ‘illat pada emas dan perak. Mudahnya, standar hukum yang ada pada uang menyesuaikan standar hukum yang ada pada emas dan perak. Sehingga segala yang berlaku pada emas dan perak, berlaku pula pada uang. Apa saja yang berlaku pada emas dan perak ketika ditukar?Harus tunai, tidak boleh ada penundaan;Harus sama takaran, tidak boleh ada lebih;Jika berbeda jenis, maka boleh berbeda takaran;Tidak boleh ada tambahan “tersembunyi”.Keempat poin di atas, belaku pada segala jenis uang. Sehingga dengan berlandaskan keempat poin di atas, dapat terjawabkan keempat pertanyaan di atas.Mengapa tidak boleh ada lebih dalam tukar menukar uang? Sebagaimana pada emas dan perak, ketika emas ditukar dengan emas, tidak boleh ada lebih; ketika perak ditukar dengan perak pun tidak boleh ada lebih dan harus setara. Sebagaimana dalam hadis ‘Ubadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ كَيْلًا بِكَيْلٍ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ كَيْلًا بِكَيْلٍ“Emas dengan emas harus sama dalam timbangan, perak dengan perak harus sama dalam timbangan, gandum dengan gandum harus sama dalam takaran, sya’ir dengan sya’ir harus sama dalam takaran.” (HR. Al-Baihaqi dan disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah)Dalam hadis lain, dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الذَّهَبُ بالذَّهَبِ، والفِضَّةُ بالفِضَّةِ، والبُرُّ بالبُرِّ، والشَّعيرُ بالشَّعيرِ، والتَّمرُ بالتَّمرِ، والمِلْحُ بالمِلْحِ: مِثْلًا بمِثْلٍ، يَدًا بيَدٍ، فمَن زاد أوِ ازداد فقد أَرْبى؛ الآخِذُ والمُعْطِي فيه سواءٌ“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus serupa (nominal dan takaran), harus dibayarkan secara kontan, barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba, yang mengambil dan memberi sama saja.” (HR. Muslim no. 1584)Hal serupa juga berlaku pada uang, ketika uang ditukar dengan uang, maka tidak boleh ada lebih dan harus sama nominalnya. Apa sebabnya? Sebabnya karena ‘illat pada uang sama seperti ‘illat pada emas dan perak. Yaitu, sebagai nilai dan alat tukar.Mirisnya, praktek-praktek seperti ini masih sering terjadi dan banyak yang menggandrungi di tengah-tengah masyarakat. Ketika lebaran tiba, uang-uang pecahan kecil begitu dicari; terlihat di pinggir jalan orang-orang yang menawarkan jasa penukaran uang dengan adanya syarat, yaitu harus ada lebih.Menguntungkan dan menggiurkan memang. Disinyalir ketika lebaran tiba, jasa penukaran uang di pinggir jalan meraup keuntungan yang sangat fantastis. Pertransaksi, terdapat biaya tambahan yang harus dibayarkan sebesar 10%. Seumpama, ada yang ingin menukar satu juta rupiah, maka ia harus membayar satu juta seratus ribu rupiah; jika lima juta, ia harus membayar sebesar lima juta lima ratus ribu rupiah. Bagaimana jika sepuluh juta? Dua puluh juta? Dan seterusnya. Bisa dibayangkan kelipatan yang diperoleh dari hasil transaksi riba.Kendati di sisi lain ada yang tidak mengambil keuntungan sebanyak itu. Misalnya, seperti penukaran satu juta rupiah kemudian diberikan uang pecahan sebesar sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu dianggap sebagai biaya jasa atau admin. Ketahuilah, segala tukar menukar uang yang terdapat “tambahan”, maka berlaku padanya hukum riba. Dan inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Apakah boleh menukar uang secara tidak kontan? Tidak diperbolehkan menukar uang secara tidak kontan. Sebagaimana telah jelas dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau mensyaratkan pada transaksi komoditas ribawi ketika sama jenisnya,يَدًا بيَدٍ“Tangan bertemu dengan tangan (harus dibayarkan secara kontan).” Lalu, bagaimana jika tidak kontan? Maka masuk pada riba nasi’ah. Hendaknya hal ini jangan dianggap remeh, “Kan teman”, “Kan masih sesama saudara.” Riba tetaplah riba. Dan ini yang dinamakan dengan riba nasi’ah.Apakah boleh menukar uang dengan cara transfer, lalu mengambil fisik uangnya nanti? Jawaban pertanyaan ini, sama dengan pertanyaan kedua. Tidak boleh menukar uang dengan cara transfer yang kemudian nanti diambil fisiknya. Tentu para pembaca sudah bisa menjawab, mengapa tidak diperbolehkan? Karena ada tenggang waktu dalam penyerahan dan ini merupakan riba nasi’ah.Apakah boleh mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang? Mengatasnamakan jasa atau biaya admin dalam tukar menukar uang, tak ubahnya seperti “pengelabuan riba”. Dinamakan jasa atau biaya admin, namun sejatinya hal ini tetap biaya tambahan dalam tukar menukar. Jangan sampai tertipu dengan “penamaan” yang diberikan.Hakikat dari transaksinya adalah transaksi ribawi, diganti penamaan agar terlihat lebih halal dan samar-samar antara riba atau tidaknya. Sehingga jawabannya, tidak diperbolehkan adanya jasa atau biaya admin.Kecuali, jika kita memang menyuruh seseorang untuk pergi menukarkan uang. Kita sampaikan kepadanya, “Tolong tukarkan uang, ini ada dua puluh ribu untukmu.” Inilah yang dinamakan dengan jasa.Akan tetapi, jika bentuknya adalah biaya tambahan dari penukaran uang yang bersifat persenan; yang dampaknya, semakin besar nominal penukaran, maka semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka ini bukanlah biaya admin atau jasa, namun justru inilah riba yang sesungguhnya.SolusiJika memang Anda butuh untuk menukar uang dengan uang, maka berikut solusinya:Pastikan tidak ada biaya tambahan;Penukaran harus dilakukan secara tunai;Lakukan penukaran pada lembaga atau instansi resmi seperti bank, koperasi, dan sebagainya. Tetap dengan berpegang pada kedua poin di atas.Pembahasan ini di antara manfaat dari memahami tentang ‘illat dalam riba. Sehingga terjauhkanlah segala keharaman yang terdapat pada transaksi tukar-menukar ataupun transaksi-transaksi lainnya.Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 10***Depok, 23 Syawal 1447/ 11 April 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id

Petugas Merobek Dokumennya, Berdoa Hingga Jasad Petugas Itu Hancur: Berdosakah?

Penanya bercerita: Seorang oknum pegawai pemerintah telah menzalimi saya. Ia merobek dokumen-dokumen saya yang baru saja saya serahkan padanya. Saat itu, saya merasa sakit hati telah dizalimi. Karena itu, saya berdoa agar Allah menghancurkan tubuhnya, sebagaimana ia merobek-robek dokumen saya. Dua atau tiga tahun kemudian, ia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya hancur hingga jenazahnya tidak bisa lagi dimandikan atau dikafani dengan normal. Mereka terpaksa membungkusnya dalam kantong plastik khusus. Apakah saya berdosa atau menanggung beban atas doa yang pernah saya ucapkan itu? Mengenai balasan, bahkan saat seseorang mendoakan orang yang menzaliminya, tidaklah boleh melampaui batas kadar kezaliman yang ia terima. Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan. Ada orang yang dizalimi pada perkara tertentu, pada perkara menyangkut urusan duniawi, lalu ia mendoakan orang tersebut agar Allah memasukkannya ke neraka, kekal selama-lamanya. Ini kezaliman! Atau ia mendoakannya dengan balasan yang lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu. “Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). Dalam Surah Asy-Syura, Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40). Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan adanya tiga tingkatan sikap pada perkara ini: Pertama, membalas keburukan dengan hal yang serupa. Ini adalah sikap yang adil, sebagaimana firman-Nya: “Balaslah dengan balasan yang setimpal.” (QS. An-Nahl: 126). Kedua, memaafkan. Ini adalah sikap yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Dan tingkatan ketiga adalah berbuat zalim (melampaui batas dalam membalas), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Maka dalam kasus seperti ini, muncul sebuah pertanyaan: Jika ada seorang petugas merobek dokumen milik seseorang, apakah tindakan merobek kertas itu pantas dibalas secara syariat dengan hukuman fisik dengan dirobek-robek tubuh pelakunya? Apakah pantas dihukum begitu? Tentu saja ia tak pantas dihukum begitu, hanya gara-gara merobek kertas. Tentu saja tindakan merobek dokumen itu pantas diberi sanksi yang setimpal, tapi semua sepakat bahwa pelakunya tidak pantas dihukum dengan dihancurkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidaklah benar mendoakan keburukan seperti itu kepadanya. Bisa jadi musibah yang menimpa orang tersebut memang sudah ajalnya dan tidak ada kaitannya dengan doa orang yang merasa dizalimi tadi. Bisa jadi pula, ia didoakan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia terima. “Dan manusia tergesa-gesa mendoakan keburukan, sebagaimana ia mendoakan kebaikan.” (QS. Al-Isra: 11). Sikap terburu-buru dalam berdoa ini perlu kita waspadai. Ada sebuah kisah berharga yang saya temukan dalam biografi ‘Aun bin ‘Abdullah dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’. Ini adalah pelajaran penting yang saya harap kita semua bisa mencatatnya, baik dalam ingatan maupun tulisan. Disebutkan bahwa ketika beliau sangat marah kepada seseorang, beliau akan mengucapkan: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Saat kemarahannya memuncak, beliau justru berkata: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Pernah saya ceritakan ini dalam sebuah majelis, lalu ada yang bertanya: “Jika saat marah saja beliau mendoakan keberkahan, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Jika saat marah saja beliau berkata: “Baarokallaahu fiik”, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Intinya, kita janganlah tergesa-gesa mendoakan keburukan. Kejadian tadi adalah salah satu contoh sikap terburu-buru melontarkan doa buruk. ===== يَقُولُ: ظَلَمَنِي أَحَدُ الْمُوَظَّفِينَ فِي الْبَلَدِيَّةِ وَمَزَّقَ أَوْرَاقِي وَقَدْ كُنْتُ أَعْطَيْتُهَا لَهُفَاعْتَرَانِي شُعُورٌ بِالظُّلْمِ فَدَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَزِّقَهُ كَمَا مَزَّقَ أَوْرَاقِي فَمَاتَ بَعْدَ سَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ بِحَادِثٍ مُرُورِيٍّ مُزِّقَتْ فِيهِ جُثَّتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يُسْتَطَعْ عَلَى أَنْ يُغَسَّلَ أَوْ يُكَفَّنَ بَلْ وَضَعُوهُ فِي كِيسٍ بِلَاسْتِيكِيٍّ وَخُصِّصَ لِذَلِكَ هَلْ عَلَيَّ إِثْمٌ أَوْ هَلْ عَلَيَّ شَيْءٌ فِيمَا دَعَوْتُ عَلَيْهِ؟ الْعُقُوبَةُ حَتَّى فِي دُعَاءِ الشَّخْصِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ لَا يُتَجَاوَزُ فِيهَا حَدَّ الْمَظْلَمَةِ وَهَذَا يُخْطِئُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُظْلَمُ فِي قَضِيَّةٍ مَا مُعَيَّنَةٍ وَفِي مَصْلَحَةٍ مِنْ مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ ٌفَيَدْعُو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مُخَلَّدًا فِيهَا ظُلْم أَوْ يَدْعُو عَلَيْهِ بِأَشْيَاءَ هِيَ أَعْظَمُ مِنَ الذَّنْبِ اللهُ يَقُولُ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ وَفِي سُورَةِ الشُّورَى قَالَ جَلَّ وَعَلَا: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ أَخَذَ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْمَرَاتِبَ ثَلَاثَةٌ الْمَرَاتِبُ فِي هَذَا الْبَابِ ثَلَاثَةٌ الْأُولَى جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَهَذَا عَدْلٌ وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الْعَفْوُ وَهَذَا أَكْمَلُ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الظُّلْمُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَفِي مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَأْتِي سُؤَالٌ الْآنَ إِذَا مَزَّقَ الْمُوَظَّفُ وَرَقَةَ الْإِنْسَانِ هَلْ تَمْزِيقُ الْوَرَقَةِ يَسْتَحِقُّ بِهِ عُقُوبَةً شَرْعِيَّةً أَنْ يُؤْتَى بِهِ وَيُمَزَّقَ بَدَنُهُ؟ هَلْ يَسْتَحِقُّ؟ هُوَ لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِتَمْزِيقِ الْوَرَقَةِ نَعَمْ هُنَاكَ عُقُوبَاتٌ أُخْرَى يَكُونُ مُسْتَحِقًّا لَهَا لَكِنْ اِتِّفَاقًا لَيْسَ مُسْتَحِقًّا أَنْ يُمَزَّقَ بَدَنُهُ إِذًا لَا يَصِحُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ بِذَلِكَ وَقَدْ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ مَنِيَّةَ ذَلِكَ الرَّجُلِ وَلَا عَلَاقَةَ لَهَا بِدَعْوَةِ هَذَا الدَّاعِي أَوْ يَكُونُ دَعَا عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَسْتَحِقُّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ بِمِثْلِ هَذَا الدُّعَاءِ وَيَدْعُو الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَأَيْنَ التَّسَرُّعُ فِي مِثْلِ هَذَا الـدُّعَاءِ مِمَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فِي تَرْجَمَةِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَهِيَ فَائِدَةٌ ثَمِينَةٌ أَدْعُو الْجَمِيعَ إِلَى تَقْيِيدِهَا إِمَّا فِي الذِّهْنِ أَوْ كِتَابَةً قَالُوا فِي… ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ: كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ مَرَّةً رَوَيْتُهَا فِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ قَالَ: هَذَا وَهُوَ مُرْتَاحٌ مَا هُوَ غَضْبَانُ بِمَاذَا يَدْعُو؟ إِذَا كَانَ فِي شِدَّةِ الْغَضَبِ: “بَارَكَ اللهُ فِيكَ”، فَكَيْفَ وَهُوَ مُرْتَاحٌ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَسَرَّعَ وَهَذَا مِثَالٌ يَعْنِي مِنَ الِاسْتِعْجَالِ فِي فِي الدُّعَاءِ

Petugas Merobek Dokumennya, Berdoa Hingga Jasad Petugas Itu Hancur: Berdosakah?

Penanya bercerita: Seorang oknum pegawai pemerintah telah menzalimi saya. Ia merobek dokumen-dokumen saya yang baru saja saya serahkan padanya. Saat itu, saya merasa sakit hati telah dizalimi. Karena itu, saya berdoa agar Allah menghancurkan tubuhnya, sebagaimana ia merobek-robek dokumen saya. Dua atau tiga tahun kemudian, ia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya hancur hingga jenazahnya tidak bisa lagi dimandikan atau dikafani dengan normal. Mereka terpaksa membungkusnya dalam kantong plastik khusus. Apakah saya berdosa atau menanggung beban atas doa yang pernah saya ucapkan itu? Mengenai balasan, bahkan saat seseorang mendoakan orang yang menzaliminya, tidaklah boleh melampaui batas kadar kezaliman yang ia terima. Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan. Ada orang yang dizalimi pada perkara tertentu, pada perkara menyangkut urusan duniawi, lalu ia mendoakan orang tersebut agar Allah memasukkannya ke neraka, kekal selama-lamanya. Ini kezaliman! Atau ia mendoakannya dengan balasan yang lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu. “Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). Dalam Surah Asy-Syura, Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40). Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan adanya tiga tingkatan sikap pada perkara ini: Pertama, membalas keburukan dengan hal yang serupa. Ini adalah sikap yang adil, sebagaimana firman-Nya: “Balaslah dengan balasan yang setimpal.” (QS. An-Nahl: 126). Kedua, memaafkan. Ini adalah sikap yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Dan tingkatan ketiga adalah berbuat zalim (melampaui batas dalam membalas), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Maka dalam kasus seperti ini, muncul sebuah pertanyaan: Jika ada seorang petugas merobek dokumen milik seseorang, apakah tindakan merobek kertas itu pantas dibalas secara syariat dengan hukuman fisik dengan dirobek-robek tubuh pelakunya? Apakah pantas dihukum begitu? Tentu saja ia tak pantas dihukum begitu, hanya gara-gara merobek kertas. Tentu saja tindakan merobek dokumen itu pantas diberi sanksi yang setimpal, tapi semua sepakat bahwa pelakunya tidak pantas dihukum dengan dihancurkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidaklah benar mendoakan keburukan seperti itu kepadanya. Bisa jadi musibah yang menimpa orang tersebut memang sudah ajalnya dan tidak ada kaitannya dengan doa orang yang merasa dizalimi tadi. Bisa jadi pula, ia didoakan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia terima. “Dan manusia tergesa-gesa mendoakan keburukan, sebagaimana ia mendoakan kebaikan.” (QS. Al-Isra: 11). Sikap terburu-buru dalam berdoa ini perlu kita waspadai. Ada sebuah kisah berharga yang saya temukan dalam biografi ‘Aun bin ‘Abdullah dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’. Ini adalah pelajaran penting yang saya harap kita semua bisa mencatatnya, baik dalam ingatan maupun tulisan. Disebutkan bahwa ketika beliau sangat marah kepada seseorang, beliau akan mengucapkan: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Saat kemarahannya memuncak, beliau justru berkata: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Pernah saya ceritakan ini dalam sebuah majelis, lalu ada yang bertanya: “Jika saat marah saja beliau mendoakan keberkahan, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Jika saat marah saja beliau berkata: “Baarokallaahu fiik”, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Intinya, kita janganlah tergesa-gesa mendoakan keburukan. Kejadian tadi adalah salah satu contoh sikap terburu-buru melontarkan doa buruk. ===== يَقُولُ: ظَلَمَنِي أَحَدُ الْمُوَظَّفِينَ فِي الْبَلَدِيَّةِ وَمَزَّقَ أَوْرَاقِي وَقَدْ كُنْتُ أَعْطَيْتُهَا لَهُفَاعْتَرَانِي شُعُورٌ بِالظُّلْمِ فَدَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَزِّقَهُ كَمَا مَزَّقَ أَوْرَاقِي فَمَاتَ بَعْدَ سَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ بِحَادِثٍ مُرُورِيٍّ مُزِّقَتْ فِيهِ جُثَّتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يُسْتَطَعْ عَلَى أَنْ يُغَسَّلَ أَوْ يُكَفَّنَ بَلْ وَضَعُوهُ فِي كِيسٍ بِلَاسْتِيكِيٍّ وَخُصِّصَ لِذَلِكَ هَلْ عَلَيَّ إِثْمٌ أَوْ هَلْ عَلَيَّ شَيْءٌ فِيمَا دَعَوْتُ عَلَيْهِ؟ الْعُقُوبَةُ حَتَّى فِي دُعَاءِ الشَّخْصِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ لَا يُتَجَاوَزُ فِيهَا حَدَّ الْمَظْلَمَةِ وَهَذَا يُخْطِئُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُظْلَمُ فِي قَضِيَّةٍ مَا مُعَيَّنَةٍ وَفِي مَصْلَحَةٍ مِنْ مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ ٌفَيَدْعُو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مُخَلَّدًا فِيهَا ظُلْم أَوْ يَدْعُو عَلَيْهِ بِأَشْيَاءَ هِيَ أَعْظَمُ مِنَ الذَّنْبِ اللهُ يَقُولُ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ وَفِي سُورَةِ الشُّورَى قَالَ جَلَّ وَعَلَا: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ أَخَذَ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْمَرَاتِبَ ثَلَاثَةٌ الْمَرَاتِبُ فِي هَذَا الْبَابِ ثَلَاثَةٌ الْأُولَى جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَهَذَا عَدْلٌ وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الْعَفْوُ وَهَذَا أَكْمَلُ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الظُّلْمُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَفِي مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَأْتِي سُؤَالٌ الْآنَ إِذَا مَزَّقَ الْمُوَظَّفُ وَرَقَةَ الْإِنْسَانِ هَلْ تَمْزِيقُ الْوَرَقَةِ يَسْتَحِقُّ بِهِ عُقُوبَةً شَرْعِيَّةً أَنْ يُؤْتَى بِهِ وَيُمَزَّقَ بَدَنُهُ؟ هَلْ يَسْتَحِقُّ؟ هُوَ لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِتَمْزِيقِ الْوَرَقَةِ نَعَمْ هُنَاكَ عُقُوبَاتٌ أُخْرَى يَكُونُ مُسْتَحِقًّا لَهَا لَكِنْ اِتِّفَاقًا لَيْسَ مُسْتَحِقًّا أَنْ يُمَزَّقَ بَدَنُهُ إِذًا لَا يَصِحُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ بِذَلِكَ وَقَدْ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ مَنِيَّةَ ذَلِكَ الرَّجُلِ وَلَا عَلَاقَةَ لَهَا بِدَعْوَةِ هَذَا الدَّاعِي أَوْ يَكُونُ دَعَا عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَسْتَحِقُّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ بِمِثْلِ هَذَا الدُّعَاءِ وَيَدْعُو الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَأَيْنَ التَّسَرُّعُ فِي مِثْلِ هَذَا الـدُّعَاءِ مِمَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فِي تَرْجَمَةِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَهِيَ فَائِدَةٌ ثَمِينَةٌ أَدْعُو الْجَمِيعَ إِلَى تَقْيِيدِهَا إِمَّا فِي الذِّهْنِ أَوْ كِتَابَةً قَالُوا فِي… ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ: كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ مَرَّةً رَوَيْتُهَا فِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ قَالَ: هَذَا وَهُوَ مُرْتَاحٌ مَا هُوَ غَضْبَانُ بِمَاذَا يَدْعُو؟ إِذَا كَانَ فِي شِدَّةِ الْغَضَبِ: “بَارَكَ اللهُ فِيكَ”، فَكَيْفَ وَهُوَ مُرْتَاحٌ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَسَرَّعَ وَهَذَا مِثَالٌ يَعْنِي مِنَ الِاسْتِعْجَالِ فِي فِي الدُّعَاءِ
Penanya bercerita: Seorang oknum pegawai pemerintah telah menzalimi saya. Ia merobek dokumen-dokumen saya yang baru saja saya serahkan padanya. Saat itu, saya merasa sakit hati telah dizalimi. Karena itu, saya berdoa agar Allah menghancurkan tubuhnya, sebagaimana ia merobek-robek dokumen saya. Dua atau tiga tahun kemudian, ia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya hancur hingga jenazahnya tidak bisa lagi dimandikan atau dikafani dengan normal. Mereka terpaksa membungkusnya dalam kantong plastik khusus. Apakah saya berdosa atau menanggung beban atas doa yang pernah saya ucapkan itu? Mengenai balasan, bahkan saat seseorang mendoakan orang yang menzaliminya, tidaklah boleh melampaui batas kadar kezaliman yang ia terima. Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan. Ada orang yang dizalimi pada perkara tertentu, pada perkara menyangkut urusan duniawi, lalu ia mendoakan orang tersebut agar Allah memasukkannya ke neraka, kekal selama-lamanya. Ini kezaliman! Atau ia mendoakannya dengan balasan yang lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu. “Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). Dalam Surah Asy-Syura, Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40). Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan adanya tiga tingkatan sikap pada perkara ini: Pertama, membalas keburukan dengan hal yang serupa. Ini adalah sikap yang adil, sebagaimana firman-Nya: “Balaslah dengan balasan yang setimpal.” (QS. An-Nahl: 126). Kedua, memaafkan. Ini adalah sikap yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Dan tingkatan ketiga adalah berbuat zalim (melampaui batas dalam membalas), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Maka dalam kasus seperti ini, muncul sebuah pertanyaan: Jika ada seorang petugas merobek dokumen milik seseorang, apakah tindakan merobek kertas itu pantas dibalas secara syariat dengan hukuman fisik dengan dirobek-robek tubuh pelakunya? Apakah pantas dihukum begitu? Tentu saja ia tak pantas dihukum begitu, hanya gara-gara merobek kertas. Tentu saja tindakan merobek dokumen itu pantas diberi sanksi yang setimpal, tapi semua sepakat bahwa pelakunya tidak pantas dihukum dengan dihancurkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidaklah benar mendoakan keburukan seperti itu kepadanya. Bisa jadi musibah yang menimpa orang tersebut memang sudah ajalnya dan tidak ada kaitannya dengan doa orang yang merasa dizalimi tadi. Bisa jadi pula, ia didoakan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia terima. “Dan manusia tergesa-gesa mendoakan keburukan, sebagaimana ia mendoakan kebaikan.” (QS. Al-Isra: 11). Sikap terburu-buru dalam berdoa ini perlu kita waspadai. Ada sebuah kisah berharga yang saya temukan dalam biografi ‘Aun bin ‘Abdullah dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’. Ini adalah pelajaran penting yang saya harap kita semua bisa mencatatnya, baik dalam ingatan maupun tulisan. Disebutkan bahwa ketika beliau sangat marah kepada seseorang, beliau akan mengucapkan: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Saat kemarahannya memuncak, beliau justru berkata: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Pernah saya ceritakan ini dalam sebuah majelis, lalu ada yang bertanya: “Jika saat marah saja beliau mendoakan keberkahan, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Jika saat marah saja beliau berkata: “Baarokallaahu fiik”, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Intinya, kita janganlah tergesa-gesa mendoakan keburukan. Kejadian tadi adalah salah satu contoh sikap terburu-buru melontarkan doa buruk. ===== يَقُولُ: ظَلَمَنِي أَحَدُ الْمُوَظَّفِينَ فِي الْبَلَدِيَّةِ وَمَزَّقَ أَوْرَاقِي وَقَدْ كُنْتُ أَعْطَيْتُهَا لَهُفَاعْتَرَانِي شُعُورٌ بِالظُّلْمِ فَدَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَزِّقَهُ كَمَا مَزَّقَ أَوْرَاقِي فَمَاتَ بَعْدَ سَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ بِحَادِثٍ مُرُورِيٍّ مُزِّقَتْ فِيهِ جُثَّتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يُسْتَطَعْ عَلَى أَنْ يُغَسَّلَ أَوْ يُكَفَّنَ بَلْ وَضَعُوهُ فِي كِيسٍ بِلَاسْتِيكِيٍّ وَخُصِّصَ لِذَلِكَ هَلْ عَلَيَّ إِثْمٌ أَوْ هَلْ عَلَيَّ شَيْءٌ فِيمَا دَعَوْتُ عَلَيْهِ؟ الْعُقُوبَةُ حَتَّى فِي دُعَاءِ الشَّخْصِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ لَا يُتَجَاوَزُ فِيهَا حَدَّ الْمَظْلَمَةِ وَهَذَا يُخْطِئُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُظْلَمُ فِي قَضِيَّةٍ مَا مُعَيَّنَةٍ وَفِي مَصْلَحَةٍ مِنْ مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ ٌفَيَدْعُو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مُخَلَّدًا فِيهَا ظُلْم أَوْ يَدْعُو عَلَيْهِ بِأَشْيَاءَ هِيَ أَعْظَمُ مِنَ الذَّنْبِ اللهُ يَقُولُ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ وَفِي سُورَةِ الشُّورَى قَالَ جَلَّ وَعَلَا: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ أَخَذَ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْمَرَاتِبَ ثَلَاثَةٌ الْمَرَاتِبُ فِي هَذَا الْبَابِ ثَلَاثَةٌ الْأُولَى جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَهَذَا عَدْلٌ وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الْعَفْوُ وَهَذَا أَكْمَلُ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الظُّلْمُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَفِي مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَأْتِي سُؤَالٌ الْآنَ إِذَا مَزَّقَ الْمُوَظَّفُ وَرَقَةَ الْإِنْسَانِ هَلْ تَمْزِيقُ الْوَرَقَةِ يَسْتَحِقُّ بِهِ عُقُوبَةً شَرْعِيَّةً أَنْ يُؤْتَى بِهِ وَيُمَزَّقَ بَدَنُهُ؟ هَلْ يَسْتَحِقُّ؟ هُوَ لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِتَمْزِيقِ الْوَرَقَةِ نَعَمْ هُنَاكَ عُقُوبَاتٌ أُخْرَى يَكُونُ مُسْتَحِقًّا لَهَا لَكِنْ اِتِّفَاقًا لَيْسَ مُسْتَحِقًّا أَنْ يُمَزَّقَ بَدَنُهُ إِذًا لَا يَصِحُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ بِذَلِكَ وَقَدْ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ مَنِيَّةَ ذَلِكَ الرَّجُلِ وَلَا عَلَاقَةَ لَهَا بِدَعْوَةِ هَذَا الدَّاعِي أَوْ يَكُونُ دَعَا عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَسْتَحِقُّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ بِمِثْلِ هَذَا الدُّعَاءِ وَيَدْعُو الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَأَيْنَ التَّسَرُّعُ فِي مِثْلِ هَذَا الـدُّعَاءِ مِمَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فِي تَرْجَمَةِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَهِيَ فَائِدَةٌ ثَمِينَةٌ أَدْعُو الْجَمِيعَ إِلَى تَقْيِيدِهَا إِمَّا فِي الذِّهْنِ أَوْ كِتَابَةً قَالُوا فِي… ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ: كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ مَرَّةً رَوَيْتُهَا فِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ قَالَ: هَذَا وَهُوَ مُرْتَاحٌ مَا هُوَ غَضْبَانُ بِمَاذَا يَدْعُو؟ إِذَا كَانَ فِي شِدَّةِ الْغَضَبِ: “بَارَكَ اللهُ فِيكَ”، فَكَيْفَ وَهُوَ مُرْتَاحٌ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَسَرَّعَ وَهَذَا مِثَالٌ يَعْنِي مِنَ الِاسْتِعْجَالِ فِي فِي الدُّعَاءِ


Penanya bercerita: Seorang oknum pegawai pemerintah telah menzalimi saya. Ia merobek dokumen-dokumen saya yang baru saja saya serahkan padanya. Saat itu, saya merasa sakit hati telah dizalimi. Karena itu, saya berdoa agar Allah menghancurkan tubuhnya, sebagaimana ia merobek-robek dokumen saya. Dua atau tiga tahun kemudian, ia meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tubuhnya hancur hingga jenazahnya tidak bisa lagi dimandikan atau dikafani dengan normal. Mereka terpaksa membungkusnya dalam kantong plastik khusus. Apakah saya berdosa atau menanggung beban atas doa yang pernah saya ucapkan itu? Mengenai balasan, bahkan saat seseorang mendoakan orang yang menzaliminya, tidaklah boleh melampaui batas kadar kezaliman yang ia terima. Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan. Ada orang yang dizalimi pada perkara tertentu, pada perkara menyangkut urusan duniawi, lalu ia mendoakan orang tersebut agar Allah memasukkannya ke neraka, kekal selama-lamanya. Ini kezaliman! Atau ia mendoakannya dengan balasan yang lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu. “Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). Dalam Surah Asy-Syura, Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40). Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan adanya tiga tingkatan sikap pada perkara ini: Pertama, membalas keburukan dengan hal yang serupa. Ini adalah sikap yang adil, sebagaimana firman-Nya: “Balaslah dengan balasan yang setimpal.” (QS. An-Nahl: 126). Kedua, memaafkan. Ini adalah sikap yang paling sempurna, sebagaimana firman-Nya: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Dan tingkatan ketiga adalah berbuat zalim (melampaui batas dalam membalas), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Maka dalam kasus seperti ini, muncul sebuah pertanyaan: Jika ada seorang petugas merobek dokumen milik seseorang, apakah tindakan merobek kertas itu pantas dibalas secara syariat dengan hukuman fisik dengan dirobek-robek tubuh pelakunya? Apakah pantas dihukum begitu? Tentu saja ia tak pantas dihukum begitu, hanya gara-gara merobek kertas. Tentu saja tindakan merobek dokumen itu pantas diberi sanksi yang setimpal, tapi semua sepakat bahwa pelakunya tidak pantas dihukum dengan dihancurkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidaklah benar mendoakan keburukan seperti itu kepadanya. Bisa jadi musibah yang menimpa orang tersebut memang sudah ajalnya dan tidak ada kaitannya dengan doa orang yang merasa dizalimi tadi. Bisa jadi pula, ia didoakan dengan sesuatu yang tidak seharusnya ia terima. “Dan manusia tergesa-gesa mendoakan keburukan, sebagaimana ia mendoakan kebaikan.” (QS. Al-Isra: 11). Sikap terburu-buru dalam berdoa ini perlu kita waspadai. Ada sebuah kisah berharga yang saya temukan dalam biografi ‘Aun bin ‘Abdullah dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’. Ini adalah pelajaran penting yang saya harap kita semua bisa mencatatnya, baik dalam ingatan maupun tulisan. Disebutkan bahwa ketika beliau sangat marah kepada seseorang, beliau akan mengucapkan: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Saat kemarahannya memuncak, beliau justru berkata: “Baarokallaahu fiik” (semoga Allah memberkahimu). Pernah saya ceritakan ini dalam sebuah majelis, lalu ada yang bertanya: “Jika saat marah saja beliau mendoakan keberkahan, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Jika saat marah saja beliau berkata: “Baarokallaahu fiik”, lantas doa apa yang beliau ucapkan saat sedang senang?” Intinya, kita janganlah tergesa-gesa mendoakan keburukan. Kejadian tadi adalah salah satu contoh sikap terburu-buru melontarkan doa buruk. ===== يَقُولُ: ظَلَمَنِي أَحَدُ الْمُوَظَّفِينَ فِي الْبَلَدِيَّةِ وَمَزَّقَ أَوْرَاقِي وَقَدْ كُنْتُ أَعْطَيْتُهَا لَهُفَاعْتَرَانِي شُعُورٌ بِالظُّلْمِ فَدَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ أَنْ يُمَزِّقَهُ كَمَا مَزَّقَ أَوْرَاقِي فَمَاتَ بَعْدَ سَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ بِحَادِثٍ مُرُورِيٍّ مُزِّقَتْ فِيهِ جُثَّتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يُسْتَطَعْ عَلَى أَنْ يُغَسَّلَ أَوْ يُكَفَّنَ بَلْ وَضَعُوهُ فِي كِيسٍ بِلَاسْتِيكِيٍّ وَخُصِّصَ لِذَلِكَ هَلْ عَلَيَّ إِثْمٌ أَوْ هَلْ عَلَيَّ شَيْءٌ فِيمَا دَعَوْتُ عَلَيْهِ؟ الْعُقُوبَةُ حَتَّى فِي دُعَاءِ الشَّخْصِ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ لَا يُتَجَاوَزُ فِيهَا حَدَّ الْمَظْلَمَةِ وَهَذَا يُخْطِئُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يُظْلَمُ فِي قَضِيَّةٍ مَا مُعَيَّنَةٍ وَفِي مَصْلَحَةٍ مِنْ مَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ ٌفَيَدْعُو عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ بِأَنْ يَجْعَلَهُ اللهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مُخَلَّدًا فِيهَا ظُلْم أَوْ يَدْعُو عَلَيْهِ بِأَشْيَاءَ هِيَ أَعْظَمُ مِنَ الذَّنْبِ اللهُ يَقُولُ: وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ وَفِي سُورَةِ الشُّورَى قَالَ جَلَّ وَعَلَا: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ أَخَذَ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّ الْمَرَاتِبَ ثَلَاثَةٌ الْمَرَاتِبُ فِي هَذَا الْبَابِ ثَلَاثَةٌ الْأُولَى جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَهَذَا عَدْلٌ وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ الْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: الْعَفْوُ وَهَذَا أَكْمَلُ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَالْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الظُّلْمُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَفِي مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ يَأْتِي سُؤَالٌ الْآنَ إِذَا مَزَّقَ الْمُوَظَّفُ وَرَقَةَ الْإِنْسَانِ هَلْ تَمْزِيقُ الْوَرَقَةِ يَسْتَحِقُّ بِهِ عُقُوبَةً شَرْعِيَّةً أَنْ يُؤْتَى بِهِ وَيُمَزَّقَ بَدَنُهُ؟ هَلْ يَسْتَحِقُّ؟ هُوَ لَا يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ لِتَمْزِيقِ الْوَرَقَةِ نَعَمْ هُنَاكَ عُقُوبَاتٌ أُخْرَى يَكُونُ مُسْتَحِقًّا لَهَا لَكِنْ اِتِّفَاقًا لَيْسَ مُسْتَحِقًّا أَنْ يُمَزَّقَ بَدَنُهُ إِذًا لَا يَصِحُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ بِذَلِكَ وَقَدْ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ مَنِيَّةَ ذَلِكَ الرَّجُلِ وَلَا عَلَاقَةَ لَهَا بِدَعْوَةِ هَذَا الدَّاعِي أَوْ يَكُونُ دَعَا عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَسْتَحِقُّهُ لَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُدْعَى عَلَيْهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ بِمِثْلِ هَذَا الدُّعَاءِ وَيَدْعُو الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَأَيْنَ التَّسَرُّعُ فِي مِثْلِ هَذَا الـدُّعَاءِ مِمَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فِي تَرْجَمَةِ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَهِيَ فَائِدَةٌ ثَمِينَةٌ أَدْعُو الْجَمِيعَ إِلَى تَقْيِيدِهَا إِمَّا فِي الذِّهْنِ أَوْ كِتَابَةً قَالُوا فِي… ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ: كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ كَانَ إِذَا اشْتَدَّ غَضَبُهُ مِنْ شَخْصٍ قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيكَ مَرَّةً رَوَيْتُهَا فِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ قَالَ: هَذَا وَهُوَ مُرْتَاحٌ مَا هُوَ غَضْبَانُ بِمَاذَا يَدْعُو؟ إِذَا كَانَ فِي شِدَّةِ الْغَضَبِ: “بَارَكَ اللهُ فِيكَ”، فَكَيْفَ وَهُوَ مُرْتَاحٌ؟ فَالْحَاصِلُ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَسَرَّعَ وَهَذَا مِثَالٌ يَعْنِي مِنَ الِاسْتِعْجَالِ فِي فِي الدُّعَاءِ

Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleKelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaKeenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifKetujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanEsensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanAl-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (هدى للمتقين) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaAllah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Quran, dengan penjagaan yang spesifik dan ketat sekali. Terbukti kita mendapatkan riwayat yang lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keragaman qiraah atau pembacaannya, semuanya diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lainnya, maka dari segi validitasnya, Al-Quran unggul jauh. Oleh sebab itu, tidak layak kemurnian Al-Quran dinodai dengan penyelewengan, baik dari segi teks maupun makna.Praktik ini terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya mengubah firman Allah ﷻ,اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)Mereka mengubahnya menjadi,اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Allâh menerangi langit dan bumi.”Allah musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lisan-lisan mereka untuk mengubah-ubah Al-Kitab (Taurat dan Injil) supaya kamu menyangka itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka mengatakan, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisa’ [4]: 46)Al-Qadhi Iyadh menerangkan konsekuensi dari menambah atau mengurangi satu huruf Al-Quran, beliau berkata, “Barangsiapa yang dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-nya,أَنْتُمْ أَعْلَمُ بأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah. Memang demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal.اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,“Al-Quran bukanlah kitab science (pengetahuan), melainkan kitab signs (tanda-tanda).”Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifMasalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)– اتَّقوا الحديثَ عنِّي إلَّا ما علِمتُمْ فمَن كذبَ عليَّ مُتعمِّدًا فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ ، ومَن قال في القرآنِ برأيِّهِ ، فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)Ketujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanIbnu Wahb rahimahullah berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”Perkataan ini dibawakan oleh Ibnu Wahb seorang muhaddits, murid dari Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,من قال في مشكل القرآن بما لا يعرف  من مذهب الأوائل من الصحابة والتابعين فهو متعرض لسخط الله“Barang siapa yang berpendapat pada permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh ulama generasi awal dari para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang mengarah kepada kemurkaan Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1: 46)Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1: 13)Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanPembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan syubhat pemikiran di zaman ini.Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleKelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaKeenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifKetujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanEsensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanAl-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (هدى للمتقين) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaAllah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Quran, dengan penjagaan yang spesifik dan ketat sekali. Terbukti kita mendapatkan riwayat yang lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keragaman qiraah atau pembacaannya, semuanya diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lainnya, maka dari segi validitasnya, Al-Quran unggul jauh. Oleh sebab itu, tidak layak kemurnian Al-Quran dinodai dengan penyelewengan, baik dari segi teks maupun makna.Praktik ini terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya mengubah firman Allah ﷻ,اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)Mereka mengubahnya menjadi,اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Allâh menerangi langit dan bumi.”Allah musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lisan-lisan mereka untuk mengubah-ubah Al-Kitab (Taurat dan Injil) supaya kamu menyangka itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka mengatakan, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisa’ [4]: 46)Al-Qadhi Iyadh menerangkan konsekuensi dari menambah atau mengurangi satu huruf Al-Quran, beliau berkata, “Barangsiapa yang dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-nya,أَنْتُمْ أَعْلَمُ بأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah. Memang demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal.اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,“Al-Quran bukanlah kitab science (pengetahuan), melainkan kitab signs (tanda-tanda).”Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifMasalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)– اتَّقوا الحديثَ عنِّي إلَّا ما علِمتُمْ فمَن كذبَ عليَّ مُتعمِّدًا فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ ، ومَن قال في القرآنِ برأيِّهِ ، فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)Ketujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanIbnu Wahb rahimahullah berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”Perkataan ini dibawakan oleh Ibnu Wahb seorang muhaddits, murid dari Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,من قال في مشكل القرآن بما لا يعرف  من مذهب الأوائل من الصحابة والتابعين فهو متعرض لسخط الله“Barang siapa yang berpendapat pada permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh ulama generasi awal dari para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang mengarah kepada kemurkaan Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1: 46)Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1: 13)Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanPembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan syubhat pemikiran di zaman ini.Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaKeenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifKetujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanEsensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanAl-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (هدى للمتقين) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaAllah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Quran, dengan penjagaan yang spesifik dan ketat sekali. Terbukti kita mendapatkan riwayat yang lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keragaman qiraah atau pembacaannya, semuanya diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lainnya, maka dari segi validitasnya, Al-Quran unggul jauh. Oleh sebab itu, tidak layak kemurnian Al-Quran dinodai dengan penyelewengan, baik dari segi teks maupun makna.Praktik ini terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya mengubah firman Allah ﷻ,اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)Mereka mengubahnya menjadi,اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Allâh menerangi langit dan bumi.”Allah musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lisan-lisan mereka untuk mengubah-ubah Al-Kitab (Taurat dan Injil) supaya kamu menyangka itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka mengatakan, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisa’ [4]: 46)Al-Qadhi Iyadh menerangkan konsekuensi dari menambah atau mengurangi satu huruf Al-Quran, beliau berkata, “Barangsiapa yang dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-nya,أَنْتُمْ أَعْلَمُ بأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah. Memang demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal.اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,“Al-Quran bukanlah kitab science (pengetahuan), melainkan kitab signs (tanda-tanda).”Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifMasalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)– اتَّقوا الحديثَ عنِّي إلَّا ما علِمتُمْ فمَن كذبَ عليَّ مُتعمِّدًا فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ ، ومَن قال في القرآنِ برأيِّهِ ، فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)Ketujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanIbnu Wahb rahimahullah berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”Perkataan ini dibawakan oleh Ibnu Wahb seorang muhaddits, murid dari Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,من قال في مشكل القرآن بما لا يعرف  من مذهب الأوائل من الصحابة والتابعين فهو متعرض لسخط الله“Barang siapa yang berpendapat pada permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh ulama generasi awal dari para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang mengarah kepada kemurkaan Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1: 46)Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1: 13)Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanPembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan syubhat pemikiran di zaman ini.Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaKeenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifKetujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanEsensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanAl-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (هدى للمتقين) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanyaAllah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Quran, dengan penjagaan yang spesifik dan ketat sekali. Terbukti kita mendapatkan riwayat yang lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keragaman qiraah atau pembacaannya, semuanya diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lainnya, maka dari segi validitasnya, Al-Quran unggul jauh. Oleh sebab itu, tidak layak kemurnian Al-Quran dinodai dengan penyelewengan, baik dari segi teks maupun makna.Praktik ini terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya mengubah firman Allah ﷻ,اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ“Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)Mereka mengubahnya menjadi,اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ“Allâh menerangi langit dan bumi.”Allah musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lisan-lisan mereka untuk mengubah-ubah Al-Kitab (Taurat dan Injil) supaya kamu menyangka itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka mengatakan, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisa’ [4]: 46)Al-Qadhi Iyadh menerangkan konsekuensi dari menambah atau mengurangi satu huruf Al-Quran, beliau berkata, “Barangsiapa yang dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-nya,أَنْتُمْ أَعْلَمُ بأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah. Memang demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal.اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,“Al-Quran bukanlah kitab science (pengetahuan), melainkan kitab signs (tanda-tanda).”Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatifMasalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)– اتَّقوا الحديثَ عنِّي إلَّا ما علِمتُمْ فمَن كذبَ عليَّ مُتعمِّدًا فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ ، ومَن قال في القرآنِ برأيِّهِ ، فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)Ketujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakanIbnu Wahb rahimahullah berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”Perkataan ini dibawakan oleh Ibnu Wahb seorang muhaddits, murid dari Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,من قال في مشكل القرآن بما لا يعرف  من مذهب الأوائل من الصحابة والتابعين فهو متعرض لسخط الله“Barang siapa yang berpendapat pada permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh ulama generasi awal dari para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang mengarah kepada kemurkaan Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1: 46)Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1: 13)Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan TuhanPembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan syubhat pemikiran di zaman ini.Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKetiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikKemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamKeempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahRagam argumen dan narasi tentang eksistensi Tuhan mendorong kita sebagai ahli tauhid untuk menggunakannya demi membela hak Allah ﷻ. Namun, saking banyaknya, kita sampai tidak sempat untuk menelaah argumennya lebih dalam beserta konsekuensinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunah sebagai sumber argumentasi, khususnya dalam bab kewujudan Allah ﷻ. Setelah beberapa kaidah disebutkan di bagian artikel sebelumnya, pada bagian ini kita akan melanjutkan penelaahan pada penggunaan kedua wahyu Allah ﷻ yang mulia dalam dialog teologis.Ketiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikAllah ﷻ menjadikan Al-Quran sebagai pegangan bagi kaum muslimin dan seluruh alam, tentu Allah ﷻ tidak menyepelekan petunjuk tersebut. Allah ﷻ pasti memberikan inti terbaik atas pegangan bagi manusia tersebut. Ada dua hal yang secara akal menunjukkan pernyataan ini benar:Karena Al-Quran adalah kalamullah dan Allah ﷻ yang paling dapat membuktikan kewujudan zat-Nya sendiri;Karena kesempurnaan Allah ﷻ yang melekat pada zat-Nya dan apa yang menjadi sifat-Nya.Allah ﷻ juga menjelaskan secara tegas bahwa apa yang menjadi ungkapan Al-Quran pasti merupakan ungkapan terbaik. Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)Kami nukilkan penjelasan Prof. Fuad Muhammad Musa, dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah, Mesir, tentang ayat ini,إن هذه الآيات توضح لنا خصيصة الخطاب الإسلامي التى يتفرد بها عن كل خطاب البشر، إنه خطاب رب الناس للناس، فهو أصدق خطاب، وأيسر خطاب. ومن ثم لا ينبغي باستبداله بأي خطاب آخر للبشر في الدعوة الإسلامية مهما بلغت بلاغتهم وأساليبهم في الدعوة للإسلام“Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita ciri khas narasi atau pengungkapan Islam yang khas, yang membedakannya dari semua narasi manusia lainnya. Ini adalah narasi Tuhan manusia kepada manusia, dan karenanya merupakan narasi yang paling benar dan paling mudah. Dengan demikian, narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka dalam mengajak kepada Islam.” [1]Oleh karena itu, metode penjelasan serta diksi yang digunakan Al-Quran mestilah yang terbaik. Istilah dan metode berdalil Al-Quran hendaklah menjadi acuan dalam kita membangun argumentasi fundamental seperti masalah kewujudan zat Tuhan ini. Tidak hanya substansinya atau dalilnya secara langsung, tetapi kita juga bisa mengambil faidah dari susunan argumennya.Sehingga kita tidak boleh terjebak dengan kesibukan membahas istilah tertentu seperti yang terjadi pada diskursus ilmu kalam. Kaidahnya adalah terhadap istilah yang tidak datang dari syariat mesti ditimbang atas apa yang dimaksudkan olehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abil Izz Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Bahkan jika memang tidak penting, maka tidak perlu istilah yang ada digunakan. Ada banyak istilah yang diserap dari tradisi filsafat Yunani yang masuk ke dalam diskursus ilmu kalam ketuhanan dalam Islam yang ambigu. Tidak sekadar ambigu, tetapi juga memberikan kesulitan dalam penggunaan karena pemaknaannya yang kabur serta konsekuensi penggunaannya yang kacau.Kemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamHal ini sangat berbeda dengan Al-Quran maupun As-Sunah. Allah ﷻ jadikan Al-Quran dengan kemudahan untuk dipahami serta sabda Nabi ﷺ dikemas dengan jawamiul kalim (bahasa ringkas, namun sarat makna). Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab; barangsiapa ingin memahami dalil dari Al-Quran, maka melalui lisan orang Arab yang dipahami. Sebagaimana firman Allah ﷻ,بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ“Al-Quran  dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)Juga firman Allah ﷻ,وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas juga begitu fasih. Tujuannya adalah agar memudahkan Nabi ﷺ sebagai pendakwah dan para objek dakwah untuk merenungi ayat-ayat Allah ﷻ yang mulia ini. Terbukti bahwa Al-Quran dapat diterima oleh akal yang cemerlang, maupun akal yang sederhana karena sumber pengetahuan yang terbatas. Tidak kita dapati para sahabat banyak bertanya yang terlalu mendetail atas suatu perkara, tetapi justru mereka adalah pemilik iman terbaik.Artinya, penjelasan Islam sudah mencukupi untuk membantah berbagai syubhat. Buktinya adalah para sahabat Nabi ﷺ menerima iman Islam dan konsepsinya. Adapun kafir Quraisy yang menolak Nabi ﷺ sebenarnya menerima keterangan yang diberikan baginda Nabi ﷺ, tetapi mereka menolak karena faktor kedengkian hati dan terjebaknya dengan doktrin agama nenek moyang.Segala induk pembahasan sudah termaktub dengan jelas di Al-Quran dan kalam Nabi ﷺ.Allah ﷻ berfirman,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)Allah ﷻ berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Kita menyaksikan syariat Nabi Muhammad ﷺ telah begitu komprehensif membahas perkara kehidupan dari yang paling asasi hingga perkara remeh-temeh seperti urusan kamar mandi. Tentu dalam perkara yang lebih esensial lagi, seperti masalah keberadaan Tuhan, telah dibahas dengan tuntas di dalamnya dan sangat kokoh. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu menelaah Al-Quran dan As-Sunah untuk dijadikan basis argumen membela Allah ﷻ.Keempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahKarena banyaknya pandangan dan pendapat yang membicarakan tentang Tuhan, kita sangat tergoda untuk menggunakannya. Sebagaimana pedoman ketiga meninjau dari aspek validitas substansi dan konsekuensi, maka dari pedoman keempat ini kita memberikan panduan agar argumen eksistensi Tuhan tidak melampaui batas. Jangan sampai sebab kita membela satu pondasi argumen tertentu, sehingga kita membuat perkara baru yang diada-adakan agama.Perkara fatal dalam tubuh Islam yang pertama kali muncul di antaranya adalah bid’ah dalam masalah akidah. Kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, Murjiah, dan Qadariy-Jabriy adalah hasil dari kebodohan akan nash yang ditambah dengan sikap mengandalkan akal. Mereka inilah yang menjadi pondasi diskursus firaq dalam Islam karena kebidahan yang muncul ada pada masalah substansial (akidah).Marilah kita menyimak sabda Rasulullah ﷺ yang biasa beliau bacakan ketika membuka khotbah,أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah dua wahyu yang diturunkan kepadanya. Barangsiapa yang menyelisihi dua wahyu tersebut atau merasa tidak cukup dengan keduanya sehingga mencari-cari dari luar atau menambah perkara yang baru dalam agama, pasti semua jalan itu akan menghasilkan kerusakan.Sadarkah kita semua betapa besar kejelekan yang ditimbulkan dari bid’ah akidah tersebut?! Benarlah sabda Nabi ﷺ tentang kejelekan bid’ah yang membawa kepada kerusakan dan pertumpahan darah sepanjang zaman. Bahkan sampai hari ini pun kita masih menyaksikan pertembungan antar berbagai kelompok dikarenakan penyimpangan bid’ah dalam tubuh kelompok berseteru, illa man rahima rabbuna.Sebagian dari kelompok tersebut memunculkan bid’ah-nya karena menganggap perkara itu baik. Semisal kelompok Qadariyah (kelompok penolak penetapan takdir oleh Allah ﷻ), mereka berkeyakinan demikian karena ingin menyucikan Allah ﷻ dari penciptaan takdir buruk. Semisal Khawarij yang menggunakan akal pendeknya untuk berargumen membantah Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ayat-ayat Al-Quran. Paling jelas dapat kita amati pada kelompok Jahmiyah-Mutazilah yang menolak penetapan seluruh sifat Allah ﷻ karena ingin menyucikannya dari sifat berubah yang lazim dimiliki makhluk. Keyakinan sesat ini bersumber dari syubhat pemikiran filsafat Yunani yang menetapkan Tuhan harus bersifat A, B, C, dan seterusnya. Kemudian timbul pula kelompok mutakallimin semisal Asyariyah-Maturidiyah yang berusaha menjawab syubhat filsafat dalam ketuhanan, tetapi sayangnya saudara kita tersebut terjebak dalam argumen filsafat pula.Maka di sinilah pentingnya kita meniti manhaj para salaf dalam berargumentasi. Salah satu fundamennya adalah menjauhi bid’ah dan tidak menganggapnya baik sama sekali. Imam Malik bin Anas rahimahullahu mengatakan,من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Al-I’tisham, 1: 49)Dalam permasalahan metode penyampaian memang ada keluasan, tetapi sebagai penegas kembali, seluruh pembahasan telah sempurna disampaikan oleh baginda Nabi ﷺ dan kita dilarang untuk melampaui mereka. Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 4)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ), janganlah membuat bid’ah. Karena sunah itu sudah mecukupi bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8770)Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua bahwa mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah tidak hanya meliputi substansi, tetapi juga metode penyampaian. Keluasan dalam menyusun argumen seringkali memunculkan syubhat dalam hati kita bahwa syariat Nabi ﷺ tidak mencukupi. Sehingga sedikit demi sedikit mulai mencicipi argumen sesat, kemudian setan menghiasi dan membuatnya masuk akal. Sehingga pada akhirnya, kita terjerumus ke dalam kebidahan sampai masuk ke sarang biawak. Waliyadzubillah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Alukah.net

Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah dalam Dialog Eksistensi Tuhan (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKetiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikKemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamKeempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahRagam argumen dan narasi tentang eksistensi Tuhan mendorong kita sebagai ahli tauhid untuk menggunakannya demi membela hak Allah ﷻ. Namun, saking banyaknya, kita sampai tidak sempat untuk menelaah argumennya lebih dalam beserta konsekuensinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunah sebagai sumber argumentasi, khususnya dalam bab kewujudan Allah ﷻ. Setelah beberapa kaidah disebutkan di bagian artikel sebelumnya, pada bagian ini kita akan melanjutkan penelaahan pada penggunaan kedua wahyu Allah ﷻ yang mulia dalam dialog teologis.Ketiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikAllah ﷻ menjadikan Al-Quran sebagai pegangan bagi kaum muslimin dan seluruh alam, tentu Allah ﷻ tidak menyepelekan petunjuk tersebut. Allah ﷻ pasti memberikan inti terbaik atas pegangan bagi manusia tersebut. Ada dua hal yang secara akal menunjukkan pernyataan ini benar:Karena Al-Quran adalah kalamullah dan Allah ﷻ yang paling dapat membuktikan kewujudan zat-Nya sendiri;Karena kesempurnaan Allah ﷻ yang melekat pada zat-Nya dan apa yang menjadi sifat-Nya.Allah ﷻ juga menjelaskan secara tegas bahwa apa yang menjadi ungkapan Al-Quran pasti merupakan ungkapan terbaik. Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)Kami nukilkan penjelasan Prof. Fuad Muhammad Musa, dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah, Mesir, tentang ayat ini,إن هذه الآيات توضح لنا خصيصة الخطاب الإسلامي التى يتفرد بها عن كل خطاب البشر، إنه خطاب رب الناس للناس، فهو أصدق خطاب، وأيسر خطاب. ومن ثم لا ينبغي باستبداله بأي خطاب آخر للبشر في الدعوة الإسلامية مهما بلغت بلاغتهم وأساليبهم في الدعوة للإسلام“Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita ciri khas narasi atau pengungkapan Islam yang khas, yang membedakannya dari semua narasi manusia lainnya. Ini adalah narasi Tuhan manusia kepada manusia, dan karenanya merupakan narasi yang paling benar dan paling mudah. Dengan demikian, narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka dalam mengajak kepada Islam.” [1]Oleh karena itu, metode penjelasan serta diksi yang digunakan Al-Quran mestilah yang terbaik. Istilah dan metode berdalil Al-Quran hendaklah menjadi acuan dalam kita membangun argumentasi fundamental seperti masalah kewujudan zat Tuhan ini. Tidak hanya substansinya atau dalilnya secara langsung, tetapi kita juga bisa mengambil faidah dari susunan argumennya.Sehingga kita tidak boleh terjebak dengan kesibukan membahas istilah tertentu seperti yang terjadi pada diskursus ilmu kalam. Kaidahnya adalah terhadap istilah yang tidak datang dari syariat mesti ditimbang atas apa yang dimaksudkan olehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abil Izz Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Bahkan jika memang tidak penting, maka tidak perlu istilah yang ada digunakan. Ada banyak istilah yang diserap dari tradisi filsafat Yunani yang masuk ke dalam diskursus ilmu kalam ketuhanan dalam Islam yang ambigu. Tidak sekadar ambigu, tetapi juga memberikan kesulitan dalam penggunaan karena pemaknaannya yang kabur serta konsekuensi penggunaannya yang kacau.Kemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamHal ini sangat berbeda dengan Al-Quran maupun As-Sunah. Allah ﷻ jadikan Al-Quran dengan kemudahan untuk dipahami serta sabda Nabi ﷺ dikemas dengan jawamiul kalim (bahasa ringkas, namun sarat makna). Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab; barangsiapa ingin memahami dalil dari Al-Quran, maka melalui lisan orang Arab yang dipahami. Sebagaimana firman Allah ﷻ,بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ“Al-Quran  dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)Juga firman Allah ﷻ,وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas juga begitu fasih. Tujuannya adalah agar memudahkan Nabi ﷺ sebagai pendakwah dan para objek dakwah untuk merenungi ayat-ayat Allah ﷻ yang mulia ini. Terbukti bahwa Al-Quran dapat diterima oleh akal yang cemerlang, maupun akal yang sederhana karena sumber pengetahuan yang terbatas. Tidak kita dapati para sahabat banyak bertanya yang terlalu mendetail atas suatu perkara, tetapi justru mereka adalah pemilik iman terbaik.Artinya, penjelasan Islam sudah mencukupi untuk membantah berbagai syubhat. Buktinya adalah para sahabat Nabi ﷺ menerima iman Islam dan konsepsinya. Adapun kafir Quraisy yang menolak Nabi ﷺ sebenarnya menerima keterangan yang diberikan baginda Nabi ﷺ, tetapi mereka menolak karena faktor kedengkian hati dan terjebaknya dengan doktrin agama nenek moyang.Segala induk pembahasan sudah termaktub dengan jelas di Al-Quran dan kalam Nabi ﷺ.Allah ﷻ berfirman,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)Allah ﷻ berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Kita menyaksikan syariat Nabi Muhammad ﷺ telah begitu komprehensif membahas perkara kehidupan dari yang paling asasi hingga perkara remeh-temeh seperti urusan kamar mandi. Tentu dalam perkara yang lebih esensial lagi, seperti masalah keberadaan Tuhan, telah dibahas dengan tuntas di dalamnya dan sangat kokoh. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu menelaah Al-Quran dan As-Sunah untuk dijadikan basis argumen membela Allah ﷻ.Keempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahKarena banyaknya pandangan dan pendapat yang membicarakan tentang Tuhan, kita sangat tergoda untuk menggunakannya. Sebagaimana pedoman ketiga meninjau dari aspek validitas substansi dan konsekuensi, maka dari pedoman keempat ini kita memberikan panduan agar argumen eksistensi Tuhan tidak melampaui batas. Jangan sampai sebab kita membela satu pondasi argumen tertentu, sehingga kita membuat perkara baru yang diada-adakan agama.Perkara fatal dalam tubuh Islam yang pertama kali muncul di antaranya adalah bid’ah dalam masalah akidah. Kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, Murjiah, dan Qadariy-Jabriy adalah hasil dari kebodohan akan nash yang ditambah dengan sikap mengandalkan akal. Mereka inilah yang menjadi pondasi diskursus firaq dalam Islam karena kebidahan yang muncul ada pada masalah substansial (akidah).Marilah kita menyimak sabda Rasulullah ﷺ yang biasa beliau bacakan ketika membuka khotbah,أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah dua wahyu yang diturunkan kepadanya. Barangsiapa yang menyelisihi dua wahyu tersebut atau merasa tidak cukup dengan keduanya sehingga mencari-cari dari luar atau menambah perkara yang baru dalam agama, pasti semua jalan itu akan menghasilkan kerusakan.Sadarkah kita semua betapa besar kejelekan yang ditimbulkan dari bid’ah akidah tersebut?! Benarlah sabda Nabi ﷺ tentang kejelekan bid’ah yang membawa kepada kerusakan dan pertumpahan darah sepanjang zaman. Bahkan sampai hari ini pun kita masih menyaksikan pertembungan antar berbagai kelompok dikarenakan penyimpangan bid’ah dalam tubuh kelompok berseteru, illa man rahima rabbuna.Sebagian dari kelompok tersebut memunculkan bid’ah-nya karena menganggap perkara itu baik. Semisal kelompok Qadariyah (kelompok penolak penetapan takdir oleh Allah ﷻ), mereka berkeyakinan demikian karena ingin menyucikan Allah ﷻ dari penciptaan takdir buruk. Semisal Khawarij yang menggunakan akal pendeknya untuk berargumen membantah Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ayat-ayat Al-Quran. Paling jelas dapat kita amati pada kelompok Jahmiyah-Mutazilah yang menolak penetapan seluruh sifat Allah ﷻ karena ingin menyucikannya dari sifat berubah yang lazim dimiliki makhluk. Keyakinan sesat ini bersumber dari syubhat pemikiran filsafat Yunani yang menetapkan Tuhan harus bersifat A, B, C, dan seterusnya. Kemudian timbul pula kelompok mutakallimin semisal Asyariyah-Maturidiyah yang berusaha menjawab syubhat filsafat dalam ketuhanan, tetapi sayangnya saudara kita tersebut terjebak dalam argumen filsafat pula.Maka di sinilah pentingnya kita meniti manhaj para salaf dalam berargumentasi. Salah satu fundamennya adalah menjauhi bid’ah dan tidak menganggapnya baik sama sekali. Imam Malik bin Anas rahimahullahu mengatakan,من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Al-I’tisham, 1: 49)Dalam permasalahan metode penyampaian memang ada keluasan, tetapi sebagai penegas kembali, seluruh pembahasan telah sempurna disampaikan oleh baginda Nabi ﷺ dan kita dilarang untuk melampaui mereka. Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 4)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ), janganlah membuat bid’ah. Karena sunah itu sudah mecukupi bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8770)Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua bahwa mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah tidak hanya meliputi substansi, tetapi juga metode penyampaian. Keluasan dalam menyusun argumen seringkali memunculkan syubhat dalam hati kita bahwa syariat Nabi ﷺ tidak mencukupi. Sehingga sedikit demi sedikit mulai mencicipi argumen sesat, kemudian setan menghiasi dan membuatnya masuk akal. Sehingga pada akhirnya, kita terjerumus ke dalam kebidahan sampai masuk ke sarang biawak. Waliyadzubillah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Alukah.net
Daftar Isi ToggleKetiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikKemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamKeempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahRagam argumen dan narasi tentang eksistensi Tuhan mendorong kita sebagai ahli tauhid untuk menggunakannya demi membela hak Allah ﷻ. Namun, saking banyaknya, kita sampai tidak sempat untuk menelaah argumennya lebih dalam beserta konsekuensinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunah sebagai sumber argumentasi, khususnya dalam bab kewujudan Allah ﷻ. Setelah beberapa kaidah disebutkan di bagian artikel sebelumnya, pada bagian ini kita akan melanjutkan penelaahan pada penggunaan kedua wahyu Allah ﷻ yang mulia dalam dialog teologis.Ketiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikAllah ﷻ menjadikan Al-Quran sebagai pegangan bagi kaum muslimin dan seluruh alam, tentu Allah ﷻ tidak menyepelekan petunjuk tersebut. Allah ﷻ pasti memberikan inti terbaik atas pegangan bagi manusia tersebut. Ada dua hal yang secara akal menunjukkan pernyataan ini benar:Karena Al-Quran adalah kalamullah dan Allah ﷻ yang paling dapat membuktikan kewujudan zat-Nya sendiri;Karena kesempurnaan Allah ﷻ yang melekat pada zat-Nya dan apa yang menjadi sifat-Nya.Allah ﷻ juga menjelaskan secara tegas bahwa apa yang menjadi ungkapan Al-Quran pasti merupakan ungkapan terbaik. Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)Kami nukilkan penjelasan Prof. Fuad Muhammad Musa, dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah, Mesir, tentang ayat ini,إن هذه الآيات توضح لنا خصيصة الخطاب الإسلامي التى يتفرد بها عن كل خطاب البشر، إنه خطاب رب الناس للناس، فهو أصدق خطاب، وأيسر خطاب. ومن ثم لا ينبغي باستبداله بأي خطاب آخر للبشر في الدعوة الإسلامية مهما بلغت بلاغتهم وأساليبهم في الدعوة للإسلام“Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita ciri khas narasi atau pengungkapan Islam yang khas, yang membedakannya dari semua narasi manusia lainnya. Ini adalah narasi Tuhan manusia kepada manusia, dan karenanya merupakan narasi yang paling benar dan paling mudah. Dengan demikian, narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka dalam mengajak kepada Islam.” [1]Oleh karena itu, metode penjelasan serta diksi yang digunakan Al-Quran mestilah yang terbaik. Istilah dan metode berdalil Al-Quran hendaklah menjadi acuan dalam kita membangun argumentasi fundamental seperti masalah kewujudan zat Tuhan ini. Tidak hanya substansinya atau dalilnya secara langsung, tetapi kita juga bisa mengambil faidah dari susunan argumennya.Sehingga kita tidak boleh terjebak dengan kesibukan membahas istilah tertentu seperti yang terjadi pada diskursus ilmu kalam. Kaidahnya adalah terhadap istilah yang tidak datang dari syariat mesti ditimbang atas apa yang dimaksudkan olehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abil Izz Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Bahkan jika memang tidak penting, maka tidak perlu istilah yang ada digunakan. Ada banyak istilah yang diserap dari tradisi filsafat Yunani yang masuk ke dalam diskursus ilmu kalam ketuhanan dalam Islam yang ambigu. Tidak sekadar ambigu, tetapi juga memberikan kesulitan dalam penggunaan karena pemaknaannya yang kabur serta konsekuensi penggunaannya yang kacau.Kemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamHal ini sangat berbeda dengan Al-Quran maupun As-Sunah. Allah ﷻ jadikan Al-Quran dengan kemudahan untuk dipahami serta sabda Nabi ﷺ dikemas dengan jawamiul kalim (bahasa ringkas, namun sarat makna). Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab; barangsiapa ingin memahami dalil dari Al-Quran, maka melalui lisan orang Arab yang dipahami. Sebagaimana firman Allah ﷻ,بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ“Al-Quran  dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)Juga firman Allah ﷻ,وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas juga begitu fasih. Tujuannya adalah agar memudahkan Nabi ﷺ sebagai pendakwah dan para objek dakwah untuk merenungi ayat-ayat Allah ﷻ yang mulia ini. Terbukti bahwa Al-Quran dapat diterima oleh akal yang cemerlang, maupun akal yang sederhana karena sumber pengetahuan yang terbatas. Tidak kita dapati para sahabat banyak bertanya yang terlalu mendetail atas suatu perkara, tetapi justru mereka adalah pemilik iman terbaik.Artinya, penjelasan Islam sudah mencukupi untuk membantah berbagai syubhat. Buktinya adalah para sahabat Nabi ﷺ menerima iman Islam dan konsepsinya. Adapun kafir Quraisy yang menolak Nabi ﷺ sebenarnya menerima keterangan yang diberikan baginda Nabi ﷺ, tetapi mereka menolak karena faktor kedengkian hati dan terjebaknya dengan doktrin agama nenek moyang.Segala induk pembahasan sudah termaktub dengan jelas di Al-Quran dan kalam Nabi ﷺ.Allah ﷻ berfirman,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)Allah ﷻ berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Kita menyaksikan syariat Nabi Muhammad ﷺ telah begitu komprehensif membahas perkara kehidupan dari yang paling asasi hingga perkara remeh-temeh seperti urusan kamar mandi. Tentu dalam perkara yang lebih esensial lagi, seperti masalah keberadaan Tuhan, telah dibahas dengan tuntas di dalamnya dan sangat kokoh. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu menelaah Al-Quran dan As-Sunah untuk dijadikan basis argumen membela Allah ﷻ.Keempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahKarena banyaknya pandangan dan pendapat yang membicarakan tentang Tuhan, kita sangat tergoda untuk menggunakannya. Sebagaimana pedoman ketiga meninjau dari aspek validitas substansi dan konsekuensi, maka dari pedoman keempat ini kita memberikan panduan agar argumen eksistensi Tuhan tidak melampaui batas. Jangan sampai sebab kita membela satu pondasi argumen tertentu, sehingga kita membuat perkara baru yang diada-adakan agama.Perkara fatal dalam tubuh Islam yang pertama kali muncul di antaranya adalah bid’ah dalam masalah akidah. Kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, Murjiah, dan Qadariy-Jabriy adalah hasil dari kebodohan akan nash yang ditambah dengan sikap mengandalkan akal. Mereka inilah yang menjadi pondasi diskursus firaq dalam Islam karena kebidahan yang muncul ada pada masalah substansial (akidah).Marilah kita menyimak sabda Rasulullah ﷺ yang biasa beliau bacakan ketika membuka khotbah,أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah dua wahyu yang diturunkan kepadanya. Barangsiapa yang menyelisihi dua wahyu tersebut atau merasa tidak cukup dengan keduanya sehingga mencari-cari dari luar atau menambah perkara yang baru dalam agama, pasti semua jalan itu akan menghasilkan kerusakan.Sadarkah kita semua betapa besar kejelekan yang ditimbulkan dari bid’ah akidah tersebut?! Benarlah sabda Nabi ﷺ tentang kejelekan bid’ah yang membawa kepada kerusakan dan pertumpahan darah sepanjang zaman. Bahkan sampai hari ini pun kita masih menyaksikan pertembungan antar berbagai kelompok dikarenakan penyimpangan bid’ah dalam tubuh kelompok berseteru, illa man rahima rabbuna.Sebagian dari kelompok tersebut memunculkan bid’ah-nya karena menganggap perkara itu baik. Semisal kelompok Qadariyah (kelompok penolak penetapan takdir oleh Allah ﷻ), mereka berkeyakinan demikian karena ingin menyucikan Allah ﷻ dari penciptaan takdir buruk. Semisal Khawarij yang menggunakan akal pendeknya untuk berargumen membantah Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ayat-ayat Al-Quran. Paling jelas dapat kita amati pada kelompok Jahmiyah-Mutazilah yang menolak penetapan seluruh sifat Allah ﷻ karena ingin menyucikannya dari sifat berubah yang lazim dimiliki makhluk. Keyakinan sesat ini bersumber dari syubhat pemikiran filsafat Yunani yang menetapkan Tuhan harus bersifat A, B, C, dan seterusnya. Kemudian timbul pula kelompok mutakallimin semisal Asyariyah-Maturidiyah yang berusaha menjawab syubhat filsafat dalam ketuhanan, tetapi sayangnya saudara kita tersebut terjebak dalam argumen filsafat pula.Maka di sinilah pentingnya kita meniti manhaj para salaf dalam berargumentasi. Salah satu fundamennya adalah menjauhi bid’ah dan tidak menganggapnya baik sama sekali. Imam Malik bin Anas rahimahullahu mengatakan,من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Al-I’tisham, 1: 49)Dalam permasalahan metode penyampaian memang ada keluasan, tetapi sebagai penegas kembali, seluruh pembahasan telah sempurna disampaikan oleh baginda Nabi ﷺ dan kita dilarang untuk melampaui mereka. Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 4)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ), janganlah membuat bid’ah. Karena sunah itu sudah mecukupi bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8770)Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua bahwa mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah tidak hanya meliputi substansi, tetapi juga metode penyampaian. Keluasan dalam menyusun argumen seringkali memunculkan syubhat dalam hati kita bahwa syariat Nabi ﷺ tidak mencukupi. Sehingga sedikit demi sedikit mulai mencicipi argumen sesat, kemudian setan menghiasi dan membuatnya masuk akal. Sehingga pada akhirnya, kita terjerumus ke dalam kebidahan sampai masuk ke sarang biawak. Waliyadzubillah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Alukah.net


Daftar Isi ToggleKetiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikKemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamKeempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahRagam argumen dan narasi tentang eksistensi Tuhan mendorong kita sebagai ahli tauhid untuk menggunakannya demi membela hak Allah ﷻ. Namun, saking banyaknya, kita sampai tidak sempat untuk menelaah argumennya lebih dalam beserta konsekuensinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunah sebagai sumber argumentasi, khususnya dalam bab kewujudan Allah ﷻ. Setelah beberapa kaidah disebutkan di bagian artikel sebelumnya, pada bagian ini kita akan melanjutkan penelaahan pada penggunaan kedua wahyu Allah ﷻ yang mulia dalam dialog teologis.Ketiga: Mengikuti cara berargumen yang dibawakan dalam Al-Quran dan As-SunahAl-Quran dan As-Sunah memiliki susunan argumen terbaikAllah ﷻ menjadikan Al-Quran sebagai pegangan bagi kaum muslimin dan seluruh alam, tentu Allah ﷻ tidak menyepelekan petunjuk tersebut. Allah ﷻ pasti memberikan inti terbaik atas pegangan bagi manusia tersebut. Ada dua hal yang secara akal menunjukkan pernyataan ini benar:Karena Al-Quran adalah kalamullah dan Allah ﷻ yang paling dapat membuktikan kewujudan zat-Nya sendiri;Karena kesempurnaan Allah ﷻ yang melekat pada zat-Nya dan apa yang menjadi sifat-Nya.Allah ﷻ juga menjelaskan secara tegas bahwa apa yang menjadi ungkapan Al-Quran pasti merupakan ungkapan terbaik. Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا“Lantas siapa yang lebih benar pengungkapannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 87)Dalam ayat selanjutnya, Allah ﷻ berfirman,وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Lantas siapa yang lebih benar pernyataannya dibandingkan Allah ﷻ?!” (QS. An-Nisa: 122)Kami nukilkan penjelasan Prof. Fuad Muhammad Musa, dosen tarbiyah di Jamiah Al-Manshurah, Mesir, tentang ayat ini,إن هذه الآيات توضح لنا خصيصة الخطاب الإسلامي التى يتفرد بها عن كل خطاب البشر، إنه خطاب رب الناس للناس، فهو أصدق خطاب، وأيسر خطاب. ومن ثم لا ينبغي باستبداله بأي خطاب آخر للبشر في الدعوة الإسلامية مهما بلغت بلاغتهم وأساليبهم في الدعوة للإسلام“Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita ciri khas narasi atau pengungkapan Islam yang khas, yang membedakannya dari semua narasi manusia lainnya. Ini adalah narasi Tuhan manusia kepada manusia, dan karenanya merupakan narasi yang paling benar dan paling mudah. Dengan demikian, narasi yang digunakan Islam tidak pantas digantikan dengan ungkapan manusia lainnya dalam seruan kepada Islam, betapapun tinggi kefasihan dan keindahan gaya bahasa mereka dalam mengajak kepada Islam.” [1]Oleh karena itu, metode penjelasan serta diksi yang digunakan Al-Quran mestilah yang terbaik. Istilah dan metode berdalil Al-Quran hendaklah menjadi acuan dalam kita membangun argumentasi fundamental seperti masalah kewujudan zat Tuhan ini. Tidak hanya substansinya atau dalilnya secara langsung, tetapi kita juga bisa mengambil faidah dari susunan argumennya.Sehingga kita tidak boleh terjebak dengan kesibukan membahas istilah tertentu seperti yang terjadi pada diskursus ilmu kalam. Kaidahnya adalah terhadap istilah yang tidak datang dari syariat mesti ditimbang atas apa yang dimaksudkan olehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Abil Izz Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah. Bahkan jika memang tidak penting, maka tidak perlu istilah yang ada digunakan. Ada banyak istilah yang diserap dari tradisi filsafat Yunani yang masuk ke dalam diskursus ilmu kalam ketuhanan dalam Islam yang ambigu. Tidak sekadar ambigu, tetapi juga memberikan kesulitan dalam penggunaan karena pemaknaannya yang kabur serta konsekuensi penggunaannya yang kacau.Kemudahan memahami Al-Quran dan As-Sunah kontras dengan argumen kalamHal ini sangat berbeda dengan Al-Quran maupun As-Sunah. Allah ﷻ jadikan Al-Quran dengan kemudahan untuk dipahami serta sabda Nabi ﷺ dikemas dengan jawamiul kalim (bahasa ringkas, namun sarat makna). Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab; barangsiapa ingin memahami dalil dari Al-Quran, maka melalui lisan orang Arab yang dipahami. Sebagaimana firman Allah ﷻ,بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ“Al-Quran  dengan lisan Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 195)Juga firman Allah ﷻ,وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (QS. An-Nahl: 103)Allah ﷻ menurunkan Al-Quran dengan bahasa Arab yang jelas juga begitu fasih. Tujuannya adalah agar memudahkan Nabi ﷺ sebagai pendakwah dan para objek dakwah untuk merenungi ayat-ayat Allah ﷻ yang mulia ini. Terbukti bahwa Al-Quran dapat diterima oleh akal yang cemerlang, maupun akal yang sederhana karena sumber pengetahuan yang terbatas. Tidak kita dapati para sahabat banyak bertanya yang terlalu mendetail atas suatu perkara, tetapi justru mereka adalah pemilik iman terbaik.Artinya, penjelasan Islam sudah mencukupi untuk membantah berbagai syubhat. Buktinya adalah para sahabat Nabi ﷺ menerima iman Islam dan konsepsinya. Adapun kafir Quraisy yang menolak Nabi ﷺ sebenarnya menerima keterangan yang diberikan baginda Nabi ﷺ, tetapi mereka menolak karena faktor kedengkian hati dan terjebaknya dengan doktrin agama nenek moyang.Segala induk pembahasan sudah termaktub dengan jelas di Al-Quran dan kalam Nabi ﷺ.Allah ﷻ berfirman,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)Allah ﷻ berfirman,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Kita menyaksikan syariat Nabi Muhammad ﷺ telah begitu komprehensif membahas perkara kehidupan dari yang paling asasi hingga perkara remeh-temeh seperti urusan kamar mandi. Tentu dalam perkara yang lebih esensial lagi, seperti masalah keberadaan Tuhan, telah dibahas dengan tuntas di dalamnya dan sangat kokoh. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu menelaah Al-Quran dan As-Sunah untuk dijadikan basis argumen membela Allah ﷻ.Keempat: Mencukupkan diri dengan sumber-sumber yang sah dari Al-Quran dan As-SunahKarena banyaknya pandangan dan pendapat yang membicarakan tentang Tuhan, kita sangat tergoda untuk menggunakannya. Sebagaimana pedoman ketiga meninjau dari aspek validitas substansi dan konsekuensi, maka dari pedoman keempat ini kita memberikan panduan agar argumen eksistensi Tuhan tidak melampaui batas. Jangan sampai sebab kita membela satu pondasi argumen tertentu, sehingga kita membuat perkara baru yang diada-adakan agama.Perkara fatal dalam tubuh Islam yang pertama kali muncul di antaranya adalah bid’ah dalam masalah akidah. Kelompok yang dikenal sebagai Khawarij, Murjiah, dan Qadariy-Jabriy adalah hasil dari kebodohan akan nash yang ditambah dengan sikap mengandalkan akal. Mereka inilah yang menjadi pondasi diskursus firaq dalam Islam karena kebidahan yang muncul ada pada masalah substansial (akidah).Marilah kita menyimak sabda Rasulullah ﷺ yang biasa beliau bacakan ketika membuka khotbah,أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)Rasulullah ﷺ telah memberikan wasiat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah dua wahyu yang diturunkan kepadanya. Barangsiapa yang menyelisihi dua wahyu tersebut atau merasa tidak cukup dengan keduanya sehingga mencari-cari dari luar atau menambah perkara yang baru dalam agama, pasti semua jalan itu akan menghasilkan kerusakan.Sadarkah kita semua betapa besar kejelekan yang ditimbulkan dari bid’ah akidah tersebut?! Benarlah sabda Nabi ﷺ tentang kejelekan bid’ah yang membawa kepada kerusakan dan pertumpahan darah sepanjang zaman. Bahkan sampai hari ini pun kita masih menyaksikan pertembungan antar berbagai kelompok dikarenakan penyimpangan bid’ah dalam tubuh kelompok berseteru, illa man rahima rabbuna.Sebagian dari kelompok tersebut memunculkan bid’ah-nya karena menganggap perkara itu baik. Semisal kelompok Qadariyah (kelompok penolak penetapan takdir oleh Allah ﷻ), mereka berkeyakinan demikian karena ingin menyucikan Allah ﷻ dari penciptaan takdir buruk. Semisal Khawarij yang menggunakan akal pendeknya untuk berargumen membantah Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ayat-ayat Al-Quran. Paling jelas dapat kita amati pada kelompok Jahmiyah-Mutazilah yang menolak penetapan seluruh sifat Allah ﷻ karena ingin menyucikannya dari sifat berubah yang lazim dimiliki makhluk. Keyakinan sesat ini bersumber dari syubhat pemikiran filsafat Yunani yang menetapkan Tuhan harus bersifat A, B, C, dan seterusnya. Kemudian timbul pula kelompok mutakallimin semisal Asyariyah-Maturidiyah yang berusaha menjawab syubhat filsafat dalam ketuhanan, tetapi sayangnya saudara kita tersebut terjebak dalam argumen filsafat pula.Maka di sinilah pentingnya kita meniti manhaj para salaf dalam berargumentasi. Salah satu fundamennya adalah menjauhi bid’ah dan tidak menganggapnya baik sama sekali. Imam Malik bin Anas rahimahullahu mengatakan,من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Al-I’tisham, 1: 49)Dalam permasalahan metode penyampaian memang ada keluasan, tetapi sebagai penegas kembali, seluruh pembahasan telah sempurna disampaikan oleh baginda Nabi ﷺ dan kita dilarang untuk melampaui mereka. Allah ﷻ berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 4)Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ), janganlah membuat bid’ah. Karena sunah itu sudah mecukupi bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 8770)Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua bahwa mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunah tidak hanya meliputi substansi, tetapi juga metode penyampaian. Keluasan dalam menyusun argumen seringkali memunculkan syubhat dalam hati kita bahwa syariat Nabi ﷺ tidak mencukupi. Sehingga sedikit demi sedikit mulai mencicipi argumen sesat, kemudian setan menghiasi dan membuatnya masuk akal. Sehingga pada akhirnya, kita terjerumus ke dalam kebidahan sampai masuk ke sarang biawak. Waliyadzubillah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Alukah.net

Sumpah Suami Tak Menyentuh Istri? Hati-Hati, Bisa Berujung Talak!

Tidak semua masalah rumah tangga berujung pada perceraian—namun ada kondisi yang bisa menyeret ke sana tanpa disadari. Salah satunya adalah ketika suami bersumpah tidak menggauli istrinya. Islam mengatur hal ini dengan sangat rinci agar tidak ada pihak yang dizalimi. Artikel ini akan membahas hukum ila’ dan bagaimana syariat memberikan solusi yang adil bagi suami dan istri.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan dari Fathul Qarib 2. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’ 3. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطَأَ زَوْجَتَهُ مُطْلَقًا، أَوْ مُدَّةً تَزِيدُ عَلَىٰ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَهُوَ مُولٍ، وَيُؤَجَّلُ لَهُ إِنْ سَأَلَتْ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْفَيْئَةِ وَالتَّكْفِيرِ أَوِ الطَّلَاقِ، فَإِنِ امْتَنَعَ طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ. Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya secara mutlak, atau dalam jangka waktu yang lebih dari empat bulan, maka ia dianggap sebagai pelaku ila’.Suami tersebut diberi masa tenggang selama empat bulan, apabila istrinya menuntut hal itu.Setelah masa tersebut berlalu, suami diberi pilihan antara:kembali menggauli istrinya (fai’ah) sekaligus membayar kafarat sumpah, ataumenceraikannya.Jika suami menolak melakukan keduanya, maka hakim akan menjatuhkan talak atasnya. Penjelasan dari Fathul QaribPasal ini menjelaskan hukum-hukum ila’. Secara bahasa, ila’ adalah bentuk masdar dari kata آلَى يُولِي إِيلَاءً, yaitu ketika seseorang bersumpah.Adapun secara istilah syariat, ila’ adalah sumpah seorang suami—yang sah menjatuhkan talak—untuk tidak menggauli istrinya pada kemaluannya, baik secara mutlak maupun dalam jangka waktu lebih dari empat bulan.Makna ini diambil dari perkataan penulis: “Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya,” baik secara mutlak maupun dalam waktu tertentu yang melebihi empat bulan, maka ia disebut sebagai mūlī (orang yang melakukan ila’) terhadap istrinya.Hal ini berlaku, baik ia bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, dengan salah satu sifat-Nya, atau ia menggantungkan hubungan suami-istri dengan talak atau pembebasan budak. Misalnya ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” atau “budakku merdeka.”Jika ia benar-benar menggauli istrinya, maka talak itu jatuh dan budaknya menjadi merdeka.Demikian pula jika ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka aku wajib melakukan salat, puasa, haji, atau memerdekakan budak,”maka ia juga dianggap sebagai orang yang melakukan ila’.Orang yang melakukan ila’ wajib diberi tenggang waktu, baik ia seorang merdeka maupun budak, selama istrinya mampu untuk digauli. Tenggang waktu tersebut adalah empat bulan, jika istri menuntut hal itu.Awal perhitungan empat bulan ini:Bagi istri yang masih dalam pernikahan biasa, dimulai sejak sumpah ila’.Bagi istri yang sedang dalam masa rujuk, dimulai sejak rujuk terjadi.Setelah masa empat bulan tersebut berakhir, suami diberi pilihan antara:Kembali (al-fai’ah), yaitu dengan menggauli istrinya (cukup dengan masuknya hasyafah atau yang sepadan pada kemaluannya), dan jika sumpahnya dengan nama Allah, maka ia wajib membayar kafarat sumpah.Atau menceraikan istrinya yang menjadi objek sumpah tersebut.Jika suami menolak untuk kembali maupun menceraikan, maka hakim akan menjatuhkan talak satu (talak raj‘i) atasnya. Jika suami menjatuhkan lebih dari satu talak, maka yang sah hanya satu.Adapun jika ia hanya menolak untuk kembali (tidak mau menggauli), maka hakim akan memerintahkannya untuk menceraikan istrinya. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’Hukum ila’ mengandung banyak pelajaran penting:Menjaga hak istri agar tidak terabaikanMelarang suami menggantung hubungan tanpa kejelasanMenunjukkan bahwa sumpah tidak boleh digunakan untuk menzalimiMemberi batas tegas dalam konflik rumah tangga PenutupDalam kehidupan rumah tangga saat ini, konflik seringkali diselesaikan dengan emosi, bahkan sampai keluar sumpah yang tidak dipikirkan dampaknya. Padahal, satu kalimat bisa membawa konsekuensi hukum yang serius dalam syariat. Suami hendaknya berhati-hati dalam berbicara, karena ucapan bisa menjadi sebab dosa atau bahkan perpisahan. Bangun komunikasi yang baik, karena Islam tidak mengajarkan hubungan yang digantung tanpa kepastian. —- Saat transit di Soekarno Hatta, 13 Dzulqa’dah 1447 H, 30 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih pernikahan fiqih keluarga hak istri hukum ila hukum talak ila konflik rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah sumpah suami syariat islam talak dalam Islam

Sumpah Suami Tak Menyentuh Istri? Hati-Hati, Bisa Berujung Talak!

Tidak semua masalah rumah tangga berujung pada perceraian—namun ada kondisi yang bisa menyeret ke sana tanpa disadari. Salah satunya adalah ketika suami bersumpah tidak menggauli istrinya. Islam mengatur hal ini dengan sangat rinci agar tidak ada pihak yang dizalimi. Artikel ini akan membahas hukum ila’ dan bagaimana syariat memberikan solusi yang adil bagi suami dan istri.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan dari Fathul Qarib 2. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’ 3. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطَأَ زَوْجَتَهُ مُطْلَقًا، أَوْ مُدَّةً تَزِيدُ عَلَىٰ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَهُوَ مُولٍ، وَيُؤَجَّلُ لَهُ إِنْ سَأَلَتْ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْفَيْئَةِ وَالتَّكْفِيرِ أَوِ الطَّلَاقِ، فَإِنِ امْتَنَعَ طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ. Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya secara mutlak, atau dalam jangka waktu yang lebih dari empat bulan, maka ia dianggap sebagai pelaku ila’.Suami tersebut diberi masa tenggang selama empat bulan, apabila istrinya menuntut hal itu.Setelah masa tersebut berlalu, suami diberi pilihan antara:kembali menggauli istrinya (fai’ah) sekaligus membayar kafarat sumpah, ataumenceraikannya.Jika suami menolak melakukan keduanya, maka hakim akan menjatuhkan talak atasnya. Penjelasan dari Fathul QaribPasal ini menjelaskan hukum-hukum ila’. Secara bahasa, ila’ adalah bentuk masdar dari kata آلَى يُولِي إِيلَاءً, yaitu ketika seseorang bersumpah.Adapun secara istilah syariat, ila’ adalah sumpah seorang suami—yang sah menjatuhkan talak—untuk tidak menggauli istrinya pada kemaluannya, baik secara mutlak maupun dalam jangka waktu lebih dari empat bulan.Makna ini diambil dari perkataan penulis: “Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya,” baik secara mutlak maupun dalam waktu tertentu yang melebihi empat bulan, maka ia disebut sebagai mūlī (orang yang melakukan ila’) terhadap istrinya.Hal ini berlaku, baik ia bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, dengan salah satu sifat-Nya, atau ia menggantungkan hubungan suami-istri dengan talak atau pembebasan budak. Misalnya ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” atau “budakku merdeka.”Jika ia benar-benar menggauli istrinya, maka talak itu jatuh dan budaknya menjadi merdeka.Demikian pula jika ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka aku wajib melakukan salat, puasa, haji, atau memerdekakan budak,”maka ia juga dianggap sebagai orang yang melakukan ila’.Orang yang melakukan ila’ wajib diberi tenggang waktu, baik ia seorang merdeka maupun budak, selama istrinya mampu untuk digauli. Tenggang waktu tersebut adalah empat bulan, jika istri menuntut hal itu.Awal perhitungan empat bulan ini:Bagi istri yang masih dalam pernikahan biasa, dimulai sejak sumpah ila’.Bagi istri yang sedang dalam masa rujuk, dimulai sejak rujuk terjadi.Setelah masa empat bulan tersebut berakhir, suami diberi pilihan antara:Kembali (al-fai’ah), yaitu dengan menggauli istrinya (cukup dengan masuknya hasyafah atau yang sepadan pada kemaluannya), dan jika sumpahnya dengan nama Allah, maka ia wajib membayar kafarat sumpah.Atau menceraikan istrinya yang menjadi objek sumpah tersebut.Jika suami menolak untuk kembali maupun menceraikan, maka hakim akan menjatuhkan talak satu (talak raj‘i) atasnya. Jika suami menjatuhkan lebih dari satu talak, maka yang sah hanya satu.Adapun jika ia hanya menolak untuk kembali (tidak mau menggauli), maka hakim akan memerintahkannya untuk menceraikan istrinya. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’Hukum ila’ mengandung banyak pelajaran penting:Menjaga hak istri agar tidak terabaikanMelarang suami menggantung hubungan tanpa kejelasanMenunjukkan bahwa sumpah tidak boleh digunakan untuk menzalimiMemberi batas tegas dalam konflik rumah tangga PenutupDalam kehidupan rumah tangga saat ini, konflik seringkali diselesaikan dengan emosi, bahkan sampai keluar sumpah yang tidak dipikirkan dampaknya. Padahal, satu kalimat bisa membawa konsekuensi hukum yang serius dalam syariat. Suami hendaknya berhati-hati dalam berbicara, karena ucapan bisa menjadi sebab dosa atau bahkan perpisahan. Bangun komunikasi yang baik, karena Islam tidak mengajarkan hubungan yang digantung tanpa kepastian. —- Saat transit di Soekarno Hatta, 13 Dzulqa’dah 1447 H, 30 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih pernikahan fiqih keluarga hak istri hukum ila hukum talak ila konflik rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah sumpah suami syariat islam talak dalam Islam
Tidak semua masalah rumah tangga berujung pada perceraian—namun ada kondisi yang bisa menyeret ke sana tanpa disadari. Salah satunya adalah ketika suami bersumpah tidak menggauli istrinya. Islam mengatur hal ini dengan sangat rinci agar tidak ada pihak yang dizalimi. Artikel ini akan membahas hukum ila’ dan bagaimana syariat memberikan solusi yang adil bagi suami dan istri.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan dari Fathul Qarib 2. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’ 3. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطَأَ زَوْجَتَهُ مُطْلَقًا، أَوْ مُدَّةً تَزِيدُ عَلَىٰ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَهُوَ مُولٍ، وَيُؤَجَّلُ لَهُ إِنْ سَأَلَتْ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْفَيْئَةِ وَالتَّكْفِيرِ أَوِ الطَّلَاقِ، فَإِنِ امْتَنَعَ طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ. Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya secara mutlak, atau dalam jangka waktu yang lebih dari empat bulan, maka ia dianggap sebagai pelaku ila’.Suami tersebut diberi masa tenggang selama empat bulan, apabila istrinya menuntut hal itu.Setelah masa tersebut berlalu, suami diberi pilihan antara:kembali menggauli istrinya (fai’ah) sekaligus membayar kafarat sumpah, ataumenceraikannya.Jika suami menolak melakukan keduanya, maka hakim akan menjatuhkan talak atasnya. Penjelasan dari Fathul QaribPasal ini menjelaskan hukum-hukum ila’. Secara bahasa, ila’ adalah bentuk masdar dari kata آلَى يُولِي إِيلَاءً, yaitu ketika seseorang bersumpah.Adapun secara istilah syariat, ila’ adalah sumpah seorang suami—yang sah menjatuhkan talak—untuk tidak menggauli istrinya pada kemaluannya, baik secara mutlak maupun dalam jangka waktu lebih dari empat bulan.Makna ini diambil dari perkataan penulis: “Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya,” baik secara mutlak maupun dalam waktu tertentu yang melebihi empat bulan, maka ia disebut sebagai mūlī (orang yang melakukan ila’) terhadap istrinya.Hal ini berlaku, baik ia bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, dengan salah satu sifat-Nya, atau ia menggantungkan hubungan suami-istri dengan talak atau pembebasan budak. Misalnya ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” atau “budakku merdeka.”Jika ia benar-benar menggauli istrinya, maka talak itu jatuh dan budaknya menjadi merdeka.Demikian pula jika ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka aku wajib melakukan salat, puasa, haji, atau memerdekakan budak,”maka ia juga dianggap sebagai orang yang melakukan ila’.Orang yang melakukan ila’ wajib diberi tenggang waktu, baik ia seorang merdeka maupun budak, selama istrinya mampu untuk digauli. Tenggang waktu tersebut adalah empat bulan, jika istri menuntut hal itu.Awal perhitungan empat bulan ini:Bagi istri yang masih dalam pernikahan biasa, dimulai sejak sumpah ila’.Bagi istri yang sedang dalam masa rujuk, dimulai sejak rujuk terjadi.Setelah masa empat bulan tersebut berakhir, suami diberi pilihan antara:Kembali (al-fai’ah), yaitu dengan menggauli istrinya (cukup dengan masuknya hasyafah atau yang sepadan pada kemaluannya), dan jika sumpahnya dengan nama Allah, maka ia wajib membayar kafarat sumpah.Atau menceraikan istrinya yang menjadi objek sumpah tersebut.Jika suami menolak untuk kembali maupun menceraikan, maka hakim akan menjatuhkan talak satu (talak raj‘i) atasnya. Jika suami menjatuhkan lebih dari satu talak, maka yang sah hanya satu.Adapun jika ia hanya menolak untuk kembali (tidak mau menggauli), maka hakim akan memerintahkannya untuk menceraikan istrinya. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’Hukum ila’ mengandung banyak pelajaran penting:Menjaga hak istri agar tidak terabaikanMelarang suami menggantung hubungan tanpa kejelasanMenunjukkan bahwa sumpah tidak boleh digunakan untuk menzalimiMemberi batas tegas dalam konflik rumah tangga PenutupDalam kehidupan rumah tangga saat ini, konflik seringkali diselesaikan dengan emosi, bahkan sampai keluar sumpah yang tidak dipikirkan dampaknya. Padahal, satu kalimat bisa membawa konsekuensi hukum yang serius dalam syariat. Suami hendaknya berhati-hati dalam berbicara, karena ucapan bisa menjadi sebab dosa atau bahkan perpisahan. Bangun komunikasi yang baik, karena Islam tidak mengajarkan hubungan yang digantung tanpa kepastian. —- Saat transit di Soekarno Hatta, 13 Dzulqa’dah 1447 H, 30 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih pernikahan fiqih keluarga hak istri hukum ila hukum talak ila konflik rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah sumpah suami syariat islam talak dalam Islam


Tidak semua masalah rumah tangga berujung pada perceraian—namun ada kondisi yang bisa menyeret ke sana tanpa disadari. Salah satunya adalah ketika suami bersumpah tidak menggauli istrinya. Islam mengatur hal ini dengan sangat rinci agar tidak ada pihak yang dizalimi. Artikel ini akan membahas hukum ila’ dan bagaimana syariat memberikan solusi yang adil bagi suami dan istri.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan dari Fathul Qarib 2. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’ 3. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَإِذَا حَلَفَ أَنْ لَا يَطَأَ زَوْجَتَهُ مُطْلَقًا، أَوْ مُدَّةً تَزِيدُ عَلَىٰ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، فَهُوَ مُولٍ، وَيُؤَجَّلُ لَهُ إِنْ سَأَلَتْ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، ثُمَّ يُخَيَّرُ بَيْنَ الْفَيْئَةِ وَالتَّكْفِيرِ أَوِ الطَّلَاقِ، فَإِنِ امْتَنَعَ طَلَّقَ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ. Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya secara mutlak, atau dalam jangka waktu yang lebih dari empat bulan, maka ia dianggap sebagai pelaku ila’.Suami tersebut diberi masa tenggang selama empat bulan, apabila istrinya menuntut hal itu.Setelah masa tersebut berlalu, suami diberi pilihan antara:kembali menggauli istrinya (fai’ah) sekaligus membayar kafarat sumpah, ataumenceraikannya.Jika suami menolak melakukan keduanya, maka hakim akan menjatuhkan talak atasnya. Penjelasan dari Fathul QaribPasal ini menjelaskan hukum-hukum ila’. Secara bahasa, ila’ adalah bentuk masdar dari kata آلَى يُولِي إِيلَاءً, yaitu ketika seseorang bersumpah.Adapun secara istilah syariat, ila’ adalah sumpah seorang suami—yang sah menjatuhkan talak—untuk tidak menggauli istrinya pada kemaluannya, baik secara mutlak maupun dalam jangka waktu lebih dari empat bulan.Makna ini diambil dari perkataan penulis: “Jika seorang suami bersumpah untuk tidak menggauli istrinya,” baik secara mutlak maupun dalam waktu tertentu yang melebihi empat bulan, maka ia disebut sebagai mūlī (orang yang melakukan ila’) terhadap istrinya.Hal ini berlaku, baik ia bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, dengan salah satu sifat-Nya, atau ia menggantungkan hubungan suami-istri dengan talak atau pembebasan budak. Misalnya ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka engkau tertalak,” atau “budakku merdeka.”Jika ia benar-benar menggauli istrinya, maka talak itu jatuh dan budaknya menjadi merdeka.Demikian pula jika ia berkata:“Jika aku menggaulimu, maka aku wajib melakukan salat, puasa, haji, atau memerdekakan budak,”maka ia juga dianggap sebagai orang yang melakukan ila’.Orang yang melakukan ila’ wajib diberi tenggang waktu, baik ia seorang merdeka maupun budak, selama istrinya mampu untuk digauli. Tenggang waktu tersebut adalah empat bulan, jika istri menuntut hal itu.Awal perhitungan empat bulan ini:Bagi istri yang masih dalam pernikahan biasa, dimulai sejak sumpah ila’.Bagi istri yang sedang dalam masa rujuk, dimulai sejak rujuk terjadi.Setelah masa empat bulan tersebut berakhir, suami diberi pilihan antara:Kembali (al-fai’ah), yaitu dengan menggauli istrinya (cukup dengan masuknya hasyafah atau yang sepadan pada kemaluannya), dan jika sumpahnya dengan nama Allah, maka ia wajib membayar kafarat sumpah.Atau menceraikan istrinya yang menjadi objek sumpah tersebut.Jika suami menolak untuk kembali maupun menceraikan, maka hakim akan menjatuhkan talak satu (talak raj‘i) atasnya. Jika suami menjatuhkan lebih dari satu talak, maka yang sah hanya satu.Adapun jika ia hanya menolak untuk kembali (tidak mau menggauli), maka hakim akan memerintahkannya untuk menceraikan istrinya. Hikmah Besar di Balik Hukum Ila’Hukum ila’ mengandung banyak pelajaran penting:Menjaga hak istri agar tidak terabaikanMelarang suami menggantung hubungan tanpa kejelasanMenunjukkan bahwa sumpah tidak boleh digunakan untuk menzalimiMemberi batas tegas dalam konflik rumah tangga PenutupDalam kehidupan rumah tangga saat ini, konflik seringkali diselesaikan dengan emosi, bahkan sampai keluar sumpah yang tidak dipikirkan dampaknya. Padahal, satu kalimat bisa membawa konsekuensi hukum yang serius dalam syariat. Suami hendaknya berhati-hati dalam berbicara, karena ucapan bisa menjadi sebab dosa atau bahkan perpisahan. Bangun komunikasi yang baik, karena Islam tidak mengajarkan hubungan yang digantung tanpa kepastian. —- Saat transit di Soekarno Hatta, 13 Dzulqa’dah 1447 H, 30 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih pernikahan fiqih keluarga hak istri hukum ila hukum talak ila konflik rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah sumpah suami syariat islam talak dalam Islam

Sering Malas Shalat? Lakukan Strategi Dua Langkah Ini Agar Anda Kembali Bersemangat!

Sebagian saudara kita merasa bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang berat dan sulit. Baik itu secara keseluruhan, dalam arti ia merasa sangat berat untuk mengerjakan shalat, entah dia seorang penuntut ilmu maupun selainnya, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun ia merasa berat dalam menjalankan sebagian kewajiban shalat maupun sunah-sunah muakadnya. Di antara kewajiban shalat—menurut pendapat banyak ulama—adalah melaksanakannya secara berjamaah. Ada orang yang merasa berat untuk shalat berjamaah, tapi ia tetap menunaikan shalat. Maka kami katakan bahwa langkah pertama yang harus ditekankan oleh seseorang setelah memberikan perhatian pada shalat, adalah melatih dirinya melalui dua perkara. Perkara pertama: Melaksanakan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya. Karena siapa yang melakukan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya, maka saat ia sedang malas dan lesu, ia akan tetap mengerjakan ibadah wajib tersebut dan hanya meninggalkan amalan sunahnya saja. Ini sangat jelas, dan inilah makna ucapan Imam Ahmad: “Orang yang terbiasa meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk.” Karena di saat ia sedang lemah dan lesu, bisa jadi ia akan meninggalkan ibadah yang wajib. Perkara kedua: Memberikan perhatian pada shalat-shalat yang paling ditekankan. Adapun di antara shalat lima waktu yang paling ditekankan adalah Shalat Ashar. Kemudian Shalat Subuh, lalu Shalat Isya. Siapa yang mampu menjaga ketiga shalat ini dengan baik, niscaya ia akan mampu menjaga shalat lainnya. Bahkan para ulama menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga Shalat Ashar dengan baik, maka ia akan lebih mudah menjaga shalat-shalat yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah semua shalat fardhu dan shalat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 238). Makna “shalat yang pertengahan” adalah Shalat Ashar. Maka, menjaga Shalat Ashar sangat ditekankan, melebihi shalat-shalat lainnya. Dahulu tidaklah beberapa Nabi terhalang dari shalat, kecuali dari Shalat Ashar. Nabi Sulaiman pernah terhalang dari Shalat Ashar. Begitu pula Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terhalang dari Shalat Ashar saat perang Khandaq. Beliau baru bisa menunaikannya setelah waktunya berakhir. Oleh karena itu, ketika Anda melihat seseorang yang merasa berat untuk menunaikan shalat, maka katakanlah kepadanya: “Biasakanlah dirimu untuk selalu menjaga Shalat Ashar.” Sebab ia adalah shalat yang pertengahan. Barang siapa yang mampu menjaga Shalat Ashar dan seluruh shalat lainnya—”Peliharalah semua shalatmu dan shalat yang pertengahan”—niscaya ia dapat konsisten menjalankan shalat lainnya setelah itu. ===== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلًا وَشَاقًّا إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَديْثِ عَهْدِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلُ سُوءٍ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُورِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِهِ الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ

Sering Malas Shalat? Lakukan Strategi Dua Langkah Ini Agar Anda Kembali Bersemangat!

Sebagian saudara kita merasa bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang berat dan sulit. Baik itu secara keseluruhan, dalam arti ia merasa sangat berat untuk mengerjakan shalat, entah dia seorang penuntut ilmu maupun selainnya, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun ia merasa berat dalam menjalankan sebagian kewajiban shalat maupun sunah-sunah muakadnya. Di antara kewajiban shalat—menurut pendapat banyak ulama—adalah melaksanakannya secara berjamaah. Ada orang yang merasa berat untuk shalat berjamaah, tapi ia tetap menunaikan shalat. Maka kami katakan bahwa langkah pertama yang harus ditekankan oleh seseorang setelah memberikan perhatian pada shalat, adalah melatih dirinya melalui dua perkara. Perkara pertama: Melaksanakan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya. Karena siapa yang melakukan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya, maka saat ia sedang malas dan lesu, ia akan tetap mengerjakan ibadah wajib tersebut dan hanya meninggalkan amalan sunahnya saja. Ini sangat jelas, dan inilah makna ucapan Imam Ahmad: “Orang yang terbiasa meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk.” Karena di saat ia sedang lemah dan lesu, bisa jadi ia akan meninggalkan ibadah yang wajib. Perkara kedua: Memberikan perhatian pada shalat-shalat yang paling ditekankan. Adapun di antara shalat lima waktu yang paling ditekankan adalah Shalat Ashar. Kemudian Shalat Subuh, lalu Shalat Isya. Siapa yang mampu menjaga ketiga shalat ini dengan baik, niscaya ia akan mampu menjaga shalat lainnya. Bahkan para ulama menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga Shalat Ashar dengan baik, maka ia akan lebih mudah menjaga shalat-shalat yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah semua shalat fardhu dan shalat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 238). Makna “shalat yang pertengahan” adalah Shalat Ashar. Maka, menjaga Shalat Ashar sangat ditekankan, melebihi shalat-shalat lainnya. Dahulu tidaklah beberapa Nabi terhalang dari shalat, kecuali dari Shalat Ashar. Nabi Sulaiman pernah terhalang dari Shalat Ashar. Begitu pula Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terhalang dari Shalat Ashar saat perang Khandaq. Beliau baru bisa menunaikannya setelah waktunya berakhir. Oleh karena itu, ketika Anda melihat seseorang yang merasa berat untuk menunaikan shalat, maka katakanlah kepadanya: “Biasakanlah dirimu untuk selalu menjaga Shalat Ashar.” Sebab ia adalah shalat yang pertengahan. Barang siapa yang mampu menjaga Shalat Ashar dan seluruh shalat lainnya—”Peliharalah semua shalatmu dan shalat yang pertengahan”—niscaya ia dapat konsisten menjalankan shalat lainnya setelah itu. ===== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلًا وَشَاقًّا إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَديْثِ عَهْدِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلُ سُوءٍ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُورِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِهِ الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ
Sebagian saudara kita merasa bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang berat dan sulit. Baik itu secara keseluruhan, dalam arti ia merasa sangat berat untuk mengerjakan shalat, entah dia seorang penuntut ilmu maupun selainnya, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun ia merasa berat dalam menjalankan sebagian kewajiban shalat maupun sunah-sunah muakadnya. Di antara kewajiban shalat—menurut pendapat banyak ulama—adalah melaksanakannya secara berjamaah. Ada orang yang merasa berat untuk shalat berjamaah, tapi ia tetap menunaikan shalat. Maka kami katakan bahwa langkah pertama yang harus ditekankan oleh seseorang setelah memberikan perhatian pada shalat, adalah melatih dirinya melalui dua perkara. Perkara pertama: Melaksanakan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya. Karena siapa yang melakukan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya, maka saat ia sedang malas dan lesu, ia akan tetap mengerjakan ibadah wajib tersebut dan hanya meninggalkan amalan sunahnya saja. Ini sangat jelas, dan inilah makna ucapan Imam Ahmad: “Orang yang terbiasa meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk.” Karena di saat ia sedang lemah dan lesu, bisa jadi ia akan meninggalkan ibadah yang wajib. Perkara kedua: Memberikan perhatian pada shalat-shalat yang paling ditekankan. Adapun di antara shalat lima waktu yang paling ditekankan adalah Shalat Ashar. Kemudian Shalat Subuh, lalu Shalat Isya. Siapa yang mampu menjaga ketiga shalat ini dengan baik, niscaya ia akan mampu menjaga shalat lainnya. Bahkan para ulama menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga Shalat Ashar dengan baik, maka ia akan lebih mudah menjaga shalat-shalat yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah semua shalat fardhu dan shalat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 238). Makna “shalat yang pertengahan” adalah Shalat Ashar. Maka, menjaga Shalat Ashar sangat ditekankan, melebihi shalat-shalat lainnya. Dahulu tidaklah beberapa Nabi terhalang dari shalat, kecuali dari Shalat Ashar. Nabi Sulaiman pernah terhalang dari Shalat Ashar. Begitu pula Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terhalang dari Shalat Ashar saat perang Khandaq. Beliau baru bisa menunaikannya setelah waktunya berakhir. Oleh karena itu, ketika Anda melihat seseorang yang merasa berat untuk menunaikan shalat, maka katakanlah kepadanya: “Biasakanlah dirimu untuk selalu menjaga Shalat Ashar.” Sebab ia adalah shalat yang pertengahan. Barang siapa yang mampu menjaga Shalat Ashar dan seluruh shalat lainnya—”Peliharalah semua shalatmu dan shalat yang pertengahan”—niscaya ia dapat konsisten menjalankan shalat lainnya setelah itu. ===== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلًا وَشَاقًّا إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَديْثِ عَهْدِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلُ سُوءٍ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُورِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِهِ الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ


Sebagian saudara kita merasa bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang berat dan sulit. Baik itu secara keseluruhan, dalam arti ia merasa sangat berat untuk mengerjakan shalat, entah dia seorang penuntut ilmu maupun selainnya, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun ia merasa berat dalam menjalankan sebagian kewajiban shalat maupun sunah-sunah muakadnya. Di antara kewajiban shalat—menurut pendapat banyak ulama—adalah melaksanakannya secara berjamaah. Ada orang yang merasa berat untuk shalat berjamaah, tapi ia tetap menunaikan shalat. Maka kami katakan bahwa langkah pertama yang harus ditekankan oleh seseorang setelah memberikan perhatian pada shalat, adalah melatih dirinya melalui dua perkara. Perkara pertama: Melaksanakan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya. Karena siapa yang melakukan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya, maka saat ia sedang malas dan lesu, ia akan tetap mengerjakan ibadah wajib tersebut dan hanya meninggalkan amalan sunahnya saja. Ini sangat jelas, dan inilah makna ucapan Imam Ahmad: “Orang yang terbiasa meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk.” Karena di saat ia sedang lemah dan lesu, bisa jadi ia akan meninggalkan ibadah yang wajib. Perkara kedua: Memberikan perhatian pada shalat-shalat yang paling ditekankan. Adapun di antara shalat lima waktu yang paling ditekankan adalah Shalat Ashar. Kemudian Shalat Subuh, lalu Shalat Isya. Siapa yang mampu menjaga ketiga shalat ini dengan baik, niscaya ia akan mampu menjaga shalat lainnya. Bahkan para ulama menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga Shalat Ashar dengan baik, maka ia akan lebih mudah menjaga shalat-shalat yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah semua shalat fardhu dan shalat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 238). Makna “shalat yang pertengahan” adalah Shalat Ashar. Maka, menjaga Shalat Ashar sangat ditekankan, melebihi shalat-shalat lainnya. Dahulu tidaklah beberapa Nabi terhalang dari shalat, kecuali dari Shalat Ashar. Nabi Sulaiman pernah terhalang dari Shalat Ashar. Begitu pula Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terhalang dari Shalat Ashar saat perang Khandaq. Beliau baru bisa menunaikannya setelah waktunya berakhir. Oleh karena itu, ketika Anda melihat seseorang yang merasa berat untuk menunaikan shalat, maka katakanlah kepadanya: “Biasakanlah dirimu untuk selalu menjaga Shalat Ashar.” Sebab ia adalah shalat yang pertengahan. Barang siapa yang mampu menjaga Shalat Ashar dan seluruh shalat lainnya—”Peliharalah semua shalatmu dan shalat yang pertengahan”—niscaya ia dapat konsisten menjalankan shalat lainnya setelah itu. ===== وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلًا وَشَاقًّا إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَديْثِ عَهْدِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلُ سُوءٍ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُورِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِهِ الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-NyaKeutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikatKeutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahKeutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-Nya Di dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah lalu disebutkan,وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Makna sabda Nabi (وإنَّه لَيَدْنُو) maksudnya Allah turun ke langit dunia, dan mendekat kepada hamba-Nya di Arafah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah. Kita meyakininya tanpa mempertanyakan bagaimananya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menyelewengkan maknanya, dan tanpa menolaknya. Turun dan mendekatnya Allah kepada orang yang wukuf di Arafah merupakan rahmat Allah yang berdampak banyak kebaikan dan keberkahan. Turunnya rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau tetang pahala bagi orang yang wukuf di Arafah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وأما وقوفك بعرفة، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل إلى سماء الدنيا، فيباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوا شعثًا غبرًا من كل فج عميق، يرجون رحمتي، ويخافون عذابي، ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج، أو مثل أيام الدنيا، أو مثل قطر السماء ذنوبًا، غسلها الله عنك“Adapun wukuf di Arafah yang engkau lakukan, sesungguhnya pada hari itu Allah turun ke langit bumi, dan Dia membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat-Nya, dengan berkata, ‘Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut kusut dan berdebu dari setiap penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku, dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Maka, bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Jika dosa-dosamu sebanyak butiran pasir atau sebanyak hari-hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan di langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13566, hasan)Keutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikat Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata, “Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad no. 8047, sahih)Dan telah berlalu hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ“Dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 1348)Ini merupakan keutamaan yang agung bagi ahli Arafah, bahwa Allah Rabbul ‘aalamiin membanggakan mereka di hadapan penduduk langit, yaitu para malaikat yang mulia, sementara sejatinya Allah tidak butuh terhadap hamba-Nya, tidak butuh haji dan doa-doa mereka. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ ۝١٦i وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ ۝١٧“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.“ (QS. Fathir: 15-17)Allah dengan kesempurnaan-Nya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk ternyata membanggakan ahli Arafah di hadapan para mailakat, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka.Penyebutan kebanggaan ini di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya jemaah haji ketika datang dari negerinya, mereka sangat mengharapkan rahmat dari Allah, dan menginginkan kesuksesan dan mendapatkan keridaan dan surga Allah, mendapatkan ampunan dari neraka. Maka Allah memuliakan mereka dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi ketika beliau bersabda tentang jemaah haji yang wukuf di Arafah,إن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثا سفعا، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبهم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, “Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharapkan rahmat dan pengampunan-Ku. Sekalipun dosa mereka sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, dan sebanyak buih di laut, Aku akan mengampuni mereka. Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Keutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahSesungguhnya Allah Ta’ala mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya dan memberi orang yang meminta kepada-Nya bagi orang yang wukuf di hari yang agung ini. Hal ini diterangkan dalam hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Apa yang mereka inginkan?“ Padahal Allah lebih tahu tentang mereka dan lebih tahu tentang apa yang ada di hati mereka. Akan tetapi, Allah bertanya seperti itu agar mereka bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga Allah bisa mengabulkan permintaan mereka. Oleh karena itu, setelahnya Allah berfirman,اشْهدوا ملائكتي أني قد غفرت لهم“Bersaksilah, wahai malaikat-malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Lihat dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib no. 1154)Bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala, di antara bentuk pemuliaan dari-Nya kepada ahli Arafah, maka Allah menerima syafaat mereka bagi orang-orang yang meminta kepada-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam hadis,أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Oleh karena itu, hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun untuk berdoa dan bermunajat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.“ (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terkandung fikih bahwasannya doa pada hari Arafah lebih utama dibandingkan yang lainnya, dan dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya doa di hari Arafah secara umum akan dikabulkan semuanya.“Hendaknya para jemaah haji pada hari ini benar-benar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan bahwa Allah tidak akan menolak permintaan-Nya, dan tidak memutus harapan-Nya. Maka berdoalah pada saat itu dengan ikhlas disertai dengan kejujuran meminta kepada Allah, dan memohon disertai dengan berprasangka baik dengan Allah yang Mahamulia.‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mendatangi Sufyan Ats-Tsauri pada hari Arafah dan beliau sedang di atas tunggangannya, dan air matanya menetes. Aku pun menangis dan beliau pun menghampiriku seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Aku pun menjawab, “Siapakah orang yang paling jelek keadaannya yang berkumpul di hari ini?“ Maka Sufyan menjawab, “Orang yang menyangka bahwasanya Allah tidak akan mengampuinya.”Keutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanDari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Kuraiz rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina, dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar.“ (HR. Malik no. 944)Setan murka dan sedih dengan apa yang akan terjadi pada hari itu berupa pembebasan budak, turunnya rahmat, dan pengampunan dosa. Namun ia kembali dengan kecewa, kalah, dan takluk.[Selesai]***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-NyaKeutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikatKeutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahKeutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-Nya Di dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah lalu disebutkan,وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Makna sabda Nabi (وإنَّه لَيَدْنُو) maksudnya Allah turun ke langit dunia, dan mendekat kepada hamba-Nya di Arafah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah. Kita meyakininya tanpa mempertanyakan bagaimananya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menyelewengkan maknanya, dan tanpa menolaknya. Turun dan mendekatnya Allah kepada orang yang wukuf di Arafah merupakan rahmat Allah yang berdampak banyak kebaikan dan keberkahan. Turunnya rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau tetang pahala bagi orang yang wukuf di Arafah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وأما وقوفك بعرفة، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل إلى سماء الدنيا، فيباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوا شعثًا غبرًا من كل فج عميق، يرجون رحمتي، ويخافون عذابي، ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج، أو مثل أيام الدنيا، أو مثل قطر السماء ذنوبًا، غسلها الله عنك“Adapun wukuf di Arafah yang engkau lakukan, sesungguhnya pada hari itu Allah turun ke langit bumi, dan Dia membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat-Nya, dengan berkata, ‘Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut kusut dan berdebu dari setiap penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku, dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Maka, bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Jika dosa-dosamu sebanyak butiran pasir atau sebanyak hari-hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan di langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13566, hasan)Keutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikat Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata, “Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad no. 8047, sahih)Dan telah berlalu hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ“Dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 1348)Ini merupakan keutamaan yang agung bagi ahli Arafah, bahwa Allah Rabbul ‘aalamiin membanggakan mereka di hadapan penduduk langit, yaitu para malaikat yang mulia, sementara sejatinya Allah tidak butuh terhadap hamba-Nya, tidak butuh haji dan doa-doa mereka. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ ۝١٦i وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ ۝١٧“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.“ (QS. Fathir: 15-17)Allah dengan kesempurnaan-Nya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk ternyata membanggakan ahli Arafah di hadapan para mailakat, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka.Penyebutan kebanggaan ini di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya jemaah haji ketika datang dari negerinya, mereka sangat mengharapkan rahmat dari Allah, dan menginginkan kesuksesan dan mendapatkan keridaan dan surga Allah, mendapatkan ampunan dari neraka. Maka Allah memuliakan mereka dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi ketika beliau bersabda tentang jemaah haji yang wukuf di Arafah,إن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثا سفعا، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبهم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, “Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharapkan rahmat dan pengampunan-Ku. Sekalipun dosa mereka sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, dan sebanyak buih di laut, Aku akan mengampuni mereka. Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Keutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahSesungguhnya Allah Ta’ala mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya dan memberi orang yang meminta kepada-Nya bagi orang yang wukuf di hari yang agung ini. Hal ini diterangkan dalam hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Apa yang mereka inginkan?“ Padahal Allah lebih tahu tentang mereka dan lebih tahu tentang apa yang ada di hati mereka. Akan tetapi, Allah bertanya seperti itu agar mereka bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga Allah bisa mengabulkan permintaan mereka. Oleh karena itu, setelahnya Allah berfirman,اشْهدوا ملائكتي أني قد غفرت لهم“Bersaksilah, wahai malaikat-malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Lihat dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib no. 1154)Bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala, di antara bentuk pemuliaan dari-Nya kepada ahli Arafah, maka Allah menerima syafaat mereka bagi orang-orang yang meminta kepada-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam hadis,أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Oleh karena itu, hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun untuk berdoa dan bermunajat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.“ (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terkandung fikih bahwasannya doa pada hari Arafah lebih utama dibandingkan yang lainnya, dan dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya doa di hari Arafah secara umum akan dikabulkan semuanya.“Hendaknya para jemaah haji pada hari ini benar-benar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan bahwa Allah tidak akan menolak permintaan-Nya, dan tidak memutus harapan-Nya. Maka berdoalah pada saat itu dengan ikhlas disertai dengan kejujuran meminta kepada Allah, dan memohon disertai dengan berprasangka baik dengan Allah yang Mahamulia.‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mendatangi Sufyan Ats-Tsauri pada hari Arafah dan beliau sedang di atas tunggangannya, dan air matanya menetes. Aku pun menangis dan beliau pun menghampiriku seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Aku pun menjawab, “Siapakah orang yang paling jelek keadaannya yang berkumpul di hari ini?“ Maka Sufyan menjawab, “Orang yang menyangka bahwasanya Allah tidak akan mengampuinya.”Keutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanDari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Kuraiz rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina, dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar.“ (HR. Malik no. 944)Setan murka dan sedih dengan apa yang akan terjadi pada hari itu berupa pembebasan budak, turunnya rahmat, dan pengampunan dosa. Namun ia kembali dengan kecewa, kalah, dan takluk.[Selesai]***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.
Daftar Isi ToggleKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-NyaKeutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikatKeutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahKeutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-Nya Di dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah lalu disebutkan,وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Makna sabda Nabi (وإنَّه لَيَدْنُو) maksudnya Allah turun ke langit dunia, dan mendekat kepada hamba-Nya di Arafah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah. Kita meyakininya tanpa mempertanyakan bagaimananya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menyelewengkan maknanya, dan tanpa menolaknya. Turun dan mendekatnya Allah kepada orang yang wukuf di Arafah merupakan rahmat Allah yang berdampak banyak kebaikan dan keberkahan. Turunnya rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau tetang pahala bagi orang yang wukuf di Arafah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وأما وقوفك بعرفة، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل إلى سماء الدنيا، فيباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوا شعثًا غبرًا من كل فج عميق، يرجون رحمتي، ويخافون عذابي، ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج، أو مثل أيام الدنيا، أو مثل قطر السماء ذنوبًا، غسلها الله عنك“Adapun wukuf di Arafah yang engkau lakukan, sesungguhnya pada hari itu Allah turun ke langit bumi, dan Dia membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat-Nya, dengan berkata, ‘Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut kusut dan berdebu dari setiap penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku, dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Maka, bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Jika dosa-dosamu sebanyak butiran pasir atau sebanyak hari-hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan di langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13566, hasan)Keutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikat Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata, “Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad no. 8047, sahih)Dan telah berlalu hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ“Dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 1348)Ini merupakan keutamaan yang agung bagi ahli Arafah, bahwa Allah Rabbul ‘aalamiin membanggakan mereka di hadapan penduduk langit, yaitu para malaikat yang mulia, sementara sejatinya Allah tidak butuh terhadap hamba-Nya, tidak butuh haji dan doa-doa mereka. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ ۝١٦i وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ ۝١٧“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.“ (QS. Fathir: 15-17)Allah dengan kesempurnaan-Nya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk ternyata membanggakan ahli Arafah di hadapan para mailakat, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka.Penyebutan kebanggaan ini di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya jemaah haji ketika datang dari negerinya, mereka sangat mengharapkan rahmat dari Allah, dan menginginkan kesuksesan dan mendapatkan keridaan dan surga Allah, mendapatkan ampunan dari neraka. Maka Allah memuliakan mereka dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi ketika beliau bersabda tentang jemaah haji yang wukuf di Arafah,إن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثا سفعا، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبهم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, “Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharapkan rahmat dan pengampunan-Ku. Sekalipun dosa mereka sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, dan sebanyak buih di laut, Aku akan mengampuni mereka. Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Keutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahSesungguhnya Allah Ta’ala mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya dan memberi orang yang meminta kepada-Nya bagi orang yang wukuf di hari yang agung ini. Hal ini diterangkan dalam hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Apa yang mereka inginkan?“ Padahal Allah lebih tahu tentang mereka dan lebih tahu tentang apa yang ada di hati mereka. Akan tetapi, Allah bertanya seperti itu agar mereka bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga Allah bisa mengabulkan permintaan mereka. Oleh karena itu, setelahnya Allah berfirman,اشْهدوا ملائكتي أني قد غفرت لهم“Bersaksilah, wahai malaikat-malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Lihat dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib no. 1154)Bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala, di antara bentuk pemuliaan dari-Nya kepada ahli Arafah, maka Allah menerima syafaat mereka bagi orang-orang yang meminta kepada-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam hadis,أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Oleh karena itu, hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun untuk berdoa dan bermunajat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.“ (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terkandung fikih bahwasannya doa pada hari Arafah lebih utama dibandingkan yang lainnya, dan dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya doa di hari Arafah secara umum akan dikabulkan semuanya.“Hendaknya para jemaah haji pada hari ini benar-benar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan bahwa Allah tidak akan menolak permintaan-Nya, dan tidak memutus harapan-Nya. Maka berdoalah pada saat itu dengan ikhlas disertai dengan kejujuran meminta kepada Allah, dan memohon disertai dengan berprasangka baik dengan Allah yang Mahamulia.‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mendatangi Sufyan Ats-Tsauri pada hari Arafah dan beliau sedang di atas tunggangannya, dan air matanya menetes. Aku pun menangis dan beliau pun menghampiriku seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Aku pun menjawab, “Siapakah orang yang paling jelek keadaannya yang berkumpul di hari ini?“ Maka Sufyan menjawab, “Orang yang menyangka bahwasanya Allah tidak akan mengampuinya.”Keutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanDari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Kuraiz rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina, dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar.“ (HR. Malik no. 944)Setan murka dan sedih dengan apa yang akan terjadi pada hari itu berupa pembebasan budak, turunnya rahmat, dan pengampunan dosa. Namun ia kembali dengan kecewa, kalah, dan takluk.[Selesai]***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.


Daftar Isi ToggleKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-NyaKeutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikatKeutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahKeutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanKeutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-Nya Di dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah lalu disebutkan,وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Makna sabda Nabi (وإنَّه لَيَدْنُو) maksudnya Allah turun ke langit dunia, dan mendekat kepada hamba-Nya di Arafah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah. Kita meyakininya tanpa mempertanyakan bagaimananya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menyelewengkan maknanya, dan tanpa menolaknya. Turun dan mendekatnya Allah kepada orang yang wukuf di Arafah merupakan rahmat Allah yang berdampak banyak kebaikan dan keberkahan. Turunnya rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau tetang pahala bagi orang yang wukuf di Arafah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وأما وقوفك بعرفة، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل إلى سماء الدنيا، فيباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوا شعثًا غبرًا من كل فج عميق، يرجون رحمتي، ويخافون عذابي، ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج، أو مثل أيام الدنيا، أو مثل قطر السماء ذنوبًا، غسلها الله عنك“Adapun wukuf di Arafah yang engkau lakukan, sesungguhnya pada hari itu Allah turun ke langit bumi, dan Dia membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat-Nya, dengan berkata, ‘Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut kusut dan berdebu dari setiap penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku, dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Maka, bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Jika dosa-dosamu sebanyak butiran pasir atau sebanyak hari-hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan di langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13566, hasan)Keutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikat Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata, “Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad no. 8047, sahih)Dan telah berlalu hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ“Dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 1348)Ini merupakan keutamaan yang agung bagi ahli Arafah, bahwa Allah Rabbul ‘aalamiin membanggakan mereka di hadapan penduduk langit, yaitu para malaikat yang mulia, sementara sejatinya Allah tidak butuh terhadap hamba-Nya, tidak butuh haji dan doa-doa mereka. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ ۝١٦i وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ ۝١٧“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.“ (QS. Fathir: 15-17)Allah dengan kesempurnaan-Nya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk ternyata membanggakan ahli Arafah di hadapan para mailakat, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka.Penyebutan kebanggaan ini di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya jemaah haji ketika datang dari negerinya, mereka sangat mengharapkan rahmat dari Allah, dan menginginkan kesuksesan dan mendapatkan keridaan dan surga Allah, mendapatkan ampunan dari neraka. Maka Allah memuliakan mereka dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi ketika beliau bersabda tentang jemaah haji yang wukuf di Arafah,إن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثا سفعا، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبهم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, “Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharapkan rahmat dan pengampunan-Ku. Sekalipun dosa mereka sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, dan sebanyak buih di laut, Aku akan mengampuni mereka. Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Keutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli ArafahSesungguhnya Allah Ta’ala mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya dan memberi orang yang meminta kepada-Nya bagi orang yang wukuf di hari yang agung ini. Hal ini diterangkan dalam hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Apa yang mereka inginkan?“ Padahal Allah lebih tahu tentang mereka dan lebih tahu tentang apa yang ada di hati mereka. Akan tetapi, Allah bertanya seperti itu agar mereka bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga Allah bisa mengabulkan permintaan mereka. Oleh karena itu, setelahnya Allah berfirman,اشْهدوا ملائكتي أني قد غفرت لهم“Bersaksilah, wahai malaikat-malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Lihat dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib no. 1154)Bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala, di antara bentuk pemuliaan dari-Nya kepada ahli Arafah, maka Allah menerima syafaat mereka bagi orang-orang yang meminta kepada-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam hadis,أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له“Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang  yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)Oleh karena itu, hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun untuk berdoa dan bermunajat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.“ (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terkandung fikih bahwasannya doa pada hari Arafah lebih utama dibandingkan yang lainnya, dan dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya doa di hari Arafah secara umum akan dikabulkan semuanya.“Hendaknya para jemaah haji pada hari ini benar-benar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan bahwa Allah tidak akan menolak permintaan-Nya, dan tidak memutus harapan-Nya. Maka berdoalah pada saat itu dengan ikhlas disertai dengan kejujuran meminta kepada Allah, dan memohon disertai dengan berprasangka baik dengan Allah yang Mahamulia.‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mendatangi Sufyan Ats-Tsauri pada hari Arafah dan beliau sedang di atas tunggangannya, dan air matanya menetes. Aku pun menangis dan beliau pun menghampiriku seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Aku pun menjawab, “Siapakah orang yang paling jelek keadaannya yang berkumpul di hari ini?“ Maka Sufyan menjawab, “Orang yang menyangka bahwasanya Allah tidak akan mengampuinya.”Keutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setanDari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Kuraiz rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina, dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar.“ (HR. Malik no. 944)Setan murka dan sedih dengan apa yang akan terjadi pada hari itu berupa pembebasan budak, turunnya rahmat, dan pengampunan dosa. Namun ia kembali dengan kecewa, kalah, dan takluk.[Selesai]***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKeutamaan kedua: Hari Arafah adalah hari di mana Allah menyempurnakan agama Islam dan memberikan kesempurnaan nikmatKeutamaan ketiga: Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api nerakaKeutamaan kedua: Hari Arafah adalah hari di mana Allah menyempurnakan agama Islam dan memberikan kesempurnaan nikmat Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi-Nya pada hari Arafah,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Dalam Ash-Shahihain dari Thariq bin Syihab bahwasannya ada seorang lelaki Yahudi mendatangi ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, ada sebuah ayat di dalam kitab  yang kalian baca, seandainya ayat tersebut turun kepada kaum Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya.“‘Umar berkata, “Ayat yang mana?” Yahudi berkata, “Yaitu firman Allah,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Maka ‘Umar pun berkata, “Sesungguhnya aku lebih tahu tentang kapan turunnya ayat ini dan tempat turunnya ayat ini. Ayat ini turun kepada Rasulullah di Arafah pada hari Jumat.”Ibnu Jarir Ath-Thabary rahimahullah ketika menjelaskan makna ayat di atas mengatakan, “Maksudnya adalah hari di mana Allah menyempurnakan kepada orang-orang beriman tentang kewajiban, batasan, perintah, dan larangan, serta perkara halal dan haram. Allah juga memberi petunjuk yang telah Allah tetapkan bagi kebutuhan kalian terhadap agama kalian ini. Dia juga telah menyempurnakan itu semua, maka tidak ada lagi tambahan apapun setelah hari tersebut. Hari itu adalah hari Arafah pada tahun haji Wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ (Jaami’ul Bayaan fii Tafsiiril Qur’an, 8: 80)Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim ketika wukuf di Arafah senantiasa mengingat nikmat Allah kepada manusia dengan disempurnakannya agama ini, dan lebih bersemangat lagi untuk menjaga syariat agamanya yang tidak ada sedikitpun kekurangan di dalamnya. Juga waspada terhadap perkara bid’ah dalam agama, yaitu beramal dengan sesuatu yang tidak Allah turunkan syariatnya. Hal ini karena Nabi kita pernah bersabda,كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Daud, shahih)Nabi juga shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)Keutamaan ketiga: Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api nerakaDari Ummul mukminin ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما مِن يَومٍ أَكْثَرَ مِن أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فيه عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِن يَومِ عَرَفَةَ، وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka, selain hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api neraka. Hendaknya setiap muslim bersemangat untuk kembali kepada Allah pada hari yang agung ini dengan jujur kembali kepada-Nya, dan berharap kepada Allah dengan berdoa agar Allah menetapkan baginya pembebasan dari neraka di mana tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah.Setiap muslim hendaknya juga bersemangat meninggalkan perkara yang mencegahnya dari mendapatkan keutaaman yang agung ini, yaitu perbuatan syirik, bid’ah, dan dosa-dosa besar. Di antara kesyirikan adalah berdoa kepada selain Allah atau memalingkan ibadah kepada selain Allah. Syirik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah sebagaimana firman-Nya,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nisa’: 116)Bahkan kesyirikan akan membatalkan seluruh amal saleh seorang hamba. Allah berfirman,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Seorang muslim hendaknya juga waspada terhadap perbuatan bid’ah, karena hal tersebut akan menyebabkan tertolaknya amal dan tidak akan diterima.Dmikian pula seorang harus waspada dari membanggakan diri dan sombong terhadap makhluk. Jabir bin ‘Abdillah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا يرى يوم اكثر عتيقا من النار منه اي من يوم عرفة ولا يغفر الله فيه لمختال“Tidak ada hari yang lebih banyak pembebasan dari neraka daripada hari Arafah, dan Allah tidak mengampuni orang-orang yang sombong pada hari itu.”Dan juga telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا ينظرُ اللهُ يومَ القيامةِ إلى من جرَّ ثوبَه من الخُيلاءِ“Allah tidak memandang orang-orang yang menyeret pakaian mereka dengan angkuh.” (HR. ‘Abdurrazzaq, hadis hasan)Demikian pula hendaknya seorang muslim waspada dalam terus-menerus melakukan dosa besar. Salat lima waktu merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadat, tidak akan menghilangkan dosa-dosa bagi orang yang terus melakukan dosa-dosa besar, sebagaimana yang Nabi tegaskan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ“Salat lima waktu dan salat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Oleh karena itu, bagi para jemaah haji yang Allah muliakan dengan menunaikan ibadah yang mulia ini, hendaknya bersemangat pada hari tesebut untuk mendapatkan pembebasan dari neraka serta terus-menerus berdoa untuk mendapatkan hal itu dan bertekad kuat dalam hatinya dengan jujur untuk meninggalkan berbagai dosa besar dan maksiat agar mendapatkan keuntungan yang besar dan keutamaan yang agung ini dari Allah,فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleKeutamaan kedua: Hari Arafah adalah hari di mana Allah menyempurnakan agama Islam dan memberikan kesempurnaan nikmatKeutamaan ketiga: Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api nerakaKeutamaan kedua: Hari Arafah adalah hari di mana Allah menyempurnakan agama Islam dan memberikan kesempurnaan nikmat Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi-Nya pada hari Arafah,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Dalam Ash-Shahihain dari Thariq bin Syihab bahwasannya ada seorang lelaki Yahudi mendatangi ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, ada sebuah ayat di dalam kitab  yang kalian baca, seandainya ayat tersebut turun kepada kaum Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya.“‘Umar berkata, “Ayat yang mana?” Yahudi berkata, “Yaitu firman Allah,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Maka ‘Umar pun berkata, “Sesungguhnya aku lebih tahu tentang kapan turunnya ayat ini dan tempat turunnya ayat ini. Ayat ini turun kepada Rasulullah di Arafah pada hari Jumat.”Ibnu Jarir Ath-Thabary rahimahullah ketika menjelaskan makna ayat di atas mengatakan, “Maksudnya adalah hari di mana Allah menyempurnakan kepada orang-orang beriman tentang kewajiban, batasan, perintah, dan larangan, serta perkara halal dan haram. Allah juga memberi petunjuk yang telah Allah tetapkan bagi kebutuhan kalian terhadap agama kalian ini. Dia juga telah menyempurnakan itu semua, maka tidak ada lagi tambahan apapun setelah hari tersebut. Hari itu adalah hari Arafah pada tahun haji Wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ (Jaami’ul Bayaan fii Tafsiiril Qur’an, 8: 80)Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim ketika wukuf di Arafah senantiasa mengingat nikmat Allah kepada manusia dengan disempurnakannya agama ini, dan lebih bersemangat lagi untuk menjaga syariat agamanya yang tidak ada sedikitpun kekurangan di dalamnya. Juga waspada terhadap perkara bid’ah dalam agama, yaitu beramal dengan sesuatu yang tidak Allah turunkan syariatnya. Hal ini karena Nabi kita pernah bersabda,كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Daud, shahih)Nabi juga shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)Keutamaan ketiga: Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api nerakaDari Ummul mukminin ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما مِن يَومٍ أَكْثَرَ مِن أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فيه عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِن يَومِ عَرَفَةَ، وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka, selain hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api neraka. Hendaknya setiap muslim bersemangat untuk kembali kepada Allah pada hari yang agung ini dengan jujur kembali kepada-Nya, dan berharap kepada Allah dengan berdoa agar Allah menetapkan baginya pembebasan dari neraka di mana tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah.Setiap muslim hendaknya juga bersemangat meninggalkan perkara yang mencegahnya dari mendapatkan keutaaman yang agung ini, yaitu perbuatan syirik, bid’ah, dan dosa-dosa besar. Di antara kesyirikan adalah berdoa kepada selain Allah atau memalingkan ibadah kepada selain Allah. Syirik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah sebagaimana firman-Nya,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nisa’: 116)Bahkan kesyirikan akan membatalkan seluruh amal saleh seorang hamba. Allah berfirman,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Seorang muslim hendaknya juga waspada terhadap perbuatan bid’ah, karena hal tersebut akan menyebabkan tertolaknya amal dan tidak akan diterima.Dmikian pula seorang harus waspada dari membanggakan diri dan sombong terhadap makhluk. Jabir bin ‘Abdillah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا يرى يوم اكثر عتيقا من النار منه اي من يوم عرفة ولا يغفر الله فيه لمختال“Tidak ada hari yang lebih banyak pembebasan dari neraka daripada hari Arafah, dan Allah tidak mengampuni orang-orang yang sombong pada hari itu.”Dan juga telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا ينظرُ اللهُ يومَ القيامةِ إلى من جرَّ ثوبَه من الخُيلاءِ“Allah tidak memandang orang-orang yang menyeret pakaian mereka dengan angkuh.” (HR. ‘Abdurrazzaq, hadis hasan)Demikian pula hendaknya seorang muslim waspada dalam terus-menerus melakukan dosa besar. Salat lima waktu merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadat, tidak akan menghilangkan dosa-dosa bagi orang yang terus melakukan dosa-dosa besar, sebagaimana yang Nabi tegaskan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ“Salat lima waktu dan salat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Oleh karena itu, bagi para jemaah haji yang Allah muliakan dengan menunaikan ibadah yang mulia ini, hendaknya bersemangat pada hari tesebut untuk mendapatkan pembebasan dari neraka serta terus-menerus berdoa untuk mendapatkan hal itu dan bertekad kuat dalam hatinya dengan jujur untuk meninggalkan berbagai dosa besar dan maksiat agar mendapatkan keuntungan yang besar dan keutamaan yang agung ini dari Allah,فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.
Daftar Isi ToggleKeutamaan kedua: Hari Arafah adalah hari di mana Allah menyempurnakan agama Islam dan memberikan kesempurnaan nikmatKeutamaan ketiga: Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api nerakaKeutamaan kedua: Hari Arafah adalah hari di mana Allah menyempurnakan agama Islam dan memberikan kesempurnaan nikmat Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi-Nya pada hari Arafah,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Dalam Ash-Shahihain dari Thariq bin Syihab bahwasannya ada seorang lelaki Yahudi mendatangi ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, ada sebuah ayat di dalam kitab  yang kalian baca, seandainya ayat tersebut turun kepada kaum Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya.“‘Umar berkata, “Ayat yang mana?” Yahudi berkata, “Yaitu firman Allah,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Maka ‘Umar pun berkata, “Sesungguhnya aku lebih tahu tentang kapan turunnya ayat ini dan tempat turunnya ayat ini. Ayat ini turun kepada Rasulullah di Arafah pada hari Jumat.”Ibnu Jarir Ath-Thabary rahimahullah ketika menjelaskan makna ayat di atas mengatakan, “Maksudnya adalah hari di mana Allah menyempurnakan kepada orang-orang beriman tentang kewajiban, batasan, perintah, dan larangan, serta perkara halal dan haram. Allah juga memberi petunjuk yang telah Allah tetapkan bagi kebutuhan kalian terhadap agama kalian ini. Dia juga telah menyempurnakan itu semua, maka tidak ada lagi tambahan apapun setelah hari tersebut. Hari itu adalah hari Arafah pada tahun haji Wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ (Jaami’ul Bayaan fii Tafsiiril Qur’an, 8: 80)Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim ketika wukuf di Arafah senantiasa mengingat nikmat Allah kepada manusia dengan disempurnakannya agama ini, dan lebih bersemangat lagi untuk menjaga syariat agamanya yang tidak ada sedikitpun kekurangan di dalamnya. Juga waspada terhadap perkara bid’ah dalam agama, yaitu beramal dengan sesuatu yang tidak Allah turunkan syariatnya. Hal ini karena Nabi kita pernah bersabda,كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Daud, shahih)Nabi juga shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)Keutamaan ketiga: Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api nerakaDari Ummul mukminin ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما مِن يَومٍ أَكْثَرَ مِن أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فيه عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِن يَومِ عَرَفَةَ، وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka, selain hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api neraka. Hendaknya setiap muslim bersemangat untuk kembali kepada Allah pada hari yang agung ini dengan jujur kembali kepada-Nya, dan berharap kepada Allah dengan berdoa agar Allah menetapkan baginya pembebasan dari neraka di mana tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah.Setiap muslim hendaknya juga bersemangat meninggalkan perkara yang mencegahnya dari mendapatkan keutaaman yang agung ini, yaitu perbuatan syirik, bid’ah, dan dosa-dosa besar. Di antara kesyirikan adalah berdoa kepada selain Allah atau memalingkan ibadah kepada selain Allah. Syirik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah sebagaimana firman-Nya,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nisa’: 116)Bahkan kesyirikan akan membatalkan seluruh amal saleh seorang hamba. Allah berfirman,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Seorang muslim hendaknya juga waspada terhadap perbuatan bid’ah, karena hal tersebut akan menyebabkan tertolaknya amal dan tidak akan diterima.Dmikian pula seorang harus waspada dari membanggakan diri dan sombong terhadap makhluk. Jabir bin ‘Abdillah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا يرى يوم اكثر عتيقا من النار منه اي من يوم عرفة ولا يغفر الله فيه لمختال“Tidak ada hari yang lebih banyak pembebasan dari neraka daripada hari Arafah, dan Allah tidak mengampuni orang-orang yang sombong pada hari itu.”Dan juga telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا ينظرُ اللهُ يومَ القيامةِ إلى من جرَّ ثوبَه من الخُيلاءِ“Allah tidak memandang orang-orang yang menyeret pakaian mereka dengan angkuh.” (HR. ‘Abdurrazzaq, hadis hasan)Demikian pula hendaknya seorang muslim waspada dalam terus-menerus melakukan dosa besar. Salat lima waktu merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadat, tidak akan menghilangkan dosa-dosa bagi orang yang terus melakukan dosa-dosa besar, sebagaimana yang Nabi tegaskan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ“Salat lima waktu dan salat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Oleh karena itu, bagi para jemaah haji yang Allah muliakan dengan menunaikan ibadah yang mulia ini, hendaknya bersemangat pada hari tesebut untuk mendapatkan pembebasan dari neraka serta terus-menerus berdoa untuk mendapatkan hal itu dan bertekad kuat dalam hatinya dengan jujur untuk meninggalkan berbagai dosa besar dan maksiat agar mendapatkan keuntungan yang besar dan keutamaan yang agung ini dari Allah,فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.


Daftar Isi ToggleKeutamaan kedua: Hari Arafah adalah hari di mana Allah menyempurnakan agama Islam dan memberikan kesempurnaan nikmatKeutamaan ketiga: Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api nerakaKeutamaan kedua: Hari Arafah adalah hari di mana Allah menyempurnakan agama Islam dan memberikan kesempurnaan nikmat Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi-Nya pada hari Arafah,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Dalam Ash-Shahihain dari Thariq bin Syihab bahwasannya ada seorang lelaki Yahudi mendatangi ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, ada sebuah ayat di dalam kitab  yang kalian baca, seandainya ayat tersebut turun kepada kaum Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya.“‘Umar berkata, “Ayat yang mana?” Yahudi berkata, “Yaitu firman Allah,ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا“Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)Maka ‘Umar pun berkata, “Sesungguhnya aku lebih tahu tentang kapan turunnya ayat ini dan tempat turunnya ayat ini. Ayat ini turun kepada Rasulullah di Arafah pada hari Jumat.”Ibnu Jarir Ath-Thabary rahimahullah ketika menjelaskan makna ayat di atas mengatakan, “Maksudnya adalah hari di mana Allah menyempurnakan kepada orang-orang beriman tentang kewajiban, batasan, perintah, dan larangan, serta perkara halal dan haram. Allah juga memberi petunjuk yang telah Allah tetapkan bagi kebutuhan kalian terhadap agama kalian ini. Dia juga telah menyempurnakan itu semua, maka tidak ada lagi tambahan apapun setelah hari tersebut. Hari itu adalah hari Arafah pada tahun haji Wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ (Jaami’ul Bayaan fii Tafsiiril Qur’an, 8: 80)Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim ketika wukuf di Arafah senantiasa mengingat nikmat Allah kepada manusia dengan disempurnakannya agama ini, dan lebih bersemangat lagi untuk menjaga syariat agamanya yang tidak ada sedikitpun kekurangan di dalamnya. Juga waspada terhadap perkara bid’ah dalam agama, yaitu beramal dengan sesuatu yang tidak Allah turunkan syariatnya. Hal ini karena Nabi kita pernah bersabda,كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ“Setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Daud, shahih)Nabi juga shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)Keutamaan ketiga: Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api nerakaDari Ummul mukminin ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما مِن يَومٍ أَكْثَرَ مِن أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فيه عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِن يَومِ عَرَفَةَ، وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka, selain hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)Hari Arafah adalah hari yang paling banyak pembebasan dari api neraka. Hendaknya setiap muslim bersemangat untuk kembali kepada Allah pada hari yang agung ini dengan jujur kembali kepada-Nya, dan berharap kepada Allah dengan berdoa agar Allah menetapkan baginya pembebasan dari neraka di mana tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah.Setiap muslim hendaknya juga bersemangat meninggalkan perkara yang mencegahnya dari mendapatkan keutaaman yang agung ini, yaitu perbuatan syirik, bid’ah, dan dosa-dosa besar. Di antara kesyirikan adalah berdoa kepada selain Allah atau memalingkan ibadah kepada selain Allah. Syirik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah sebagaimana firman-Nya,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nisa’: 116)Bahkan kesyirikan akan membatalkan seluruh amal saleh seorang hamba. Allah berfirman,وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)Seorang muslim hendaknya juga waspada terhadap perbuatan bid’ah, karena hal tersebut akan menyebabkan tertolaknya amal dan tidak akan diterima.Dmikian pula seorang harus waspada dari membanggakan diri dan sombong terhadap makhluk. Jabir bin ‘Abdillah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا يرى يوم اكثر عتيقا من النار منه اي من يوم عرفة ولا يغفر الله فيه لمختال“Tidak ada hari yang lebih banyak pembebasan dari neraka daripada hari Arafah, dan Allah tidak mengampuni orang-orang yang sombong pada hari itu.”Dan juga telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا ينظرُ اللهُ يومَ القيامةِ إلى من جرَّ ثوبَه من الخُيلاءِ“Allah tidak memandang orang-orang yang menyeret pakaian mereka dengan angkuh.” (HR. ‘Abdurrazzaq, hadis hasan)Demikian pula hendaknya seorang muslim waspada dalam terus-menerus melakukan dosa besar. Salat lima waktu merupakan rukun Islam yang paling agung setelah syahadat, tidak akan menghilangkan dosa-dosa bagi orang yang terus melakukan dosa-dosa besar, sebagaimana yang Nabi tegaskan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ“Salat lima waktu dan salat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Oleh karena itu, bagi para jemaah haji yang Allah muliakan dengan menunaikan ibadah yang mulia ini, hendaknya bersemangat pada hari tesebut untuk mendapatkan pembebasan dari neraka serta terus-menerus berdoa untuk mendapatkan hal itu dan bertekad kuat dalam hatinya dengan jujur untuk meninggalkan berbagai dosa besar dan maksiat agar mendapatkan keuntungan yang besar dan keutamaan yang agung ini dari Allah,فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Benarkah Malas Ibadah Setelah Ramadhan Tanda Amal Kita Ditolak? Jangan Salah Paham! Syaikh Utsaimin

Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا

Benarkah Malas Ibadah Setelah Ramadhan Tanda Amal Kita Ditolak? Jangan Salah Paham! Syaikh Utsaimin

Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا
Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا


Apakah rasa lesu dalam beramal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda bahwa ibadah tidak diterima? Saya merasa lesu dan khawatir Allah tidak menerima ibadah saya. Tidak. Itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amal ibadah Anda. Namun, itu adalah tanda lemahnya tekad dan tidak adanya antusias. Oleh karena itu, setiap insan sepatutnya melatih kesabaran dirinya, serta menuntun dirinya untuk terus beramal saleh. Sebab, Ramadhan pada hakikatnya adalah sebuah madrasah (sekolah). 29 atau 30 hari yang Anda lalui dalam kondisi senantiasa menjalankan berbagai macam ibadah, pastilah memberikan pengaruh positif pada hati dan perjalanan hidup Anda. Maka manfaatkanlah kesempatan tersebut. Adapun anggapan bahwa orang yang kembali bermaksiat setelah Ramadhan, merupakan tanda amalnya tidak diterima, maka kita tidak memiliki wewenang untuk mengatakan demikian. ===== هَلِ الْفُتُورُ فِي عَمَلِ الصَّالِحَاتِ بَعْدَ رَمَضَانَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ؟ أَنَا أُحِسُّ بِفُتُورٍ وَأَخْشَى أَلَّا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي إِيَّاهَا فَهَذَا لَا لَيْسَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَقْبَلْ مِنْكَ لَكِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى ضَعْفِ الْهِمَّةِ وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَأَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ لِأَنَّ رَمَضَانَ مَدْرَسَةٌ فِي الْوَاقِعِ ثَلَاثُونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَةٌ وَعِشْرُونَ يَوْمًا تَمْضِي وَأَنْتَ مُتَلَبِّسٌ بِالْعِبَادَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ لَا بُدَّ أَنْ يُؤَثِّرَ عَلَى قَلْبِكَ وَعَلَى مَسِيرَتِكَ فَاغْتَنِمْ هَذِهِ الْفُرْصَةَ أَمَّا أَنْ نَقُولَ إِنَّ مَنْ عَادَ إِلَى الْمَعَاصِي بَعْدَ رَمَضَانَ فَإِنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَى عَدَمِ الْقَبُولِ فَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَقُولَ هَذَا

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMukadimahKeutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahunMukadimah Ibadah haji merupakan rukun keempat dari lima rukun Islam. Haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukallaf yang memiliki kemampuan. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS. Ali ‘Imran: 97)Mukallaf maksudnya sudah baligh dan berakal. Memiliki kemampuan mencakup kemampuan badan dan juga harta. Kemampuan badan, yaitu badannya sehat serta mampu melakukan perjalanan jauh dan menunaikan rangkaian kegiatan manasik ibadah haji. Kemampuan harta, yaitu memliki harta untuk melakukan perjalanan dan juga biaya selama haji.Dalam ibadah haji yang agung ini terkandung fadhilah dan keutamaan yang beragam, di antaranya disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.” (HR. Muslim no. 1349)Dalam hadis yang lain disebutkan,من حج هذا البيت فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه“Siapa yang berhaji ke Kakbah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali  sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350)Rafats maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut, baik berupa perbuatan seperti mencium dan semisalnya, atau berupa perkataan seperti ucapan yang menggoda dan mengandung syahwat.Allah telah mengkhususkan kewajiban ini dengan menjadikan hari-hari pelaksanaan ibadah haji ini menjadi hari-hari yang terbaik sepanjang tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155, hasan)Allah juga mengistimewakan hari Arafah di antara sepuluh hari ini dengan beberapa keutamaan, dan menjadikan wukuf di Arafah sebagai bagian penting dari rukun ibadah haji, sebagaimana disebutkan,الحجُّ عرفة“Haji adalah Arafah.“ (HR. Abu Dawud no. 1949, shahih)Karena pentingnya hari Arafah, dan agungnya kedudukannya, maka Syekh ‘Abdurrazzaqq hafidzahullah mengumpulkan sejumlah keutamaan yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ini, agar orang yang sedang berhaji merasakan betapa besar nikmat ini. Ini merupakan kemuliaan yang besar yang Allah mudahkan ketika bisa bertemu dengan hari ini dan menunaikan ibadah yang agung pula pada hari ini.Keutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun Hari Arafah adalah hari kesembilan di bulan Zulhijah. Disebutkan dalam hadis Nabi bahwa sepuluh hari awal bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik dalam satu tahun, dan amal saleh di hari-hari tersebut lebih baik dibandingkan amal di hari-hari lainnya. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155)Allah telah bersumpah dengan sepuluh hari ini di dalam Al-Qur’an, dan Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fajr, وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“(Demi malam-malam yang sepuluh).”Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya sepuluh malam yang Allah sebutkan dalam sumpah pada ayat ini adalah sepuluh malam pertama di bulan Zulhijah.“ Demikian pula hal ini dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Mujahid, Masruq, ‘Ikrimah, Qatadah, Adh-Dhahak, dan para ulama salaf yang lainnya. Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabary, dan disebutkan bahwa ini merupakan ijma’ para ulam ahli tafsir.Bahkan Allah bersumpah secara khusus dengan hari Arafah dalam surah Al-Buruj yang menunjukkan ada keistimewaan yang lebih dibanding 10 hari lainnya,وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.“ (QS. Al-Buruuj: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,واليوم المشهود يوم عرفة ، والشاهد يوم الجمعة“Hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi no. 3339, dihasankan oleh Al-Albani).Hadis inilah yang menjadi dasar dari tafsir yang dijelaskan oleh khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Inilah Tujuh Keutamaan Hari Arafah (Bag. 1)

Daftar Isi ToggleMukadimahKeutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahunMukadimah Ibadah haji merupakan rukun keempat dari lima rukun Islam. Haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukallaf yang memiliki kemampuan. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS. Ali ‘Imran: 97)Mukallaf maksudnya sudah baligh dan berakal. Memiliki kemampuan mencakup kemampuan badan dan juga harta. Kemampuan badan, yaitu badannya sehat serta mampu melakukan perjalanan jauh dan menunaikan rangkaian kegiatan manasik ibadah haji. Kemampuan harta, yaitu memliki harta untuk melakukan perjalanan dan juga biaya selama haji.Dalam ibadah haji yang agung ini terkandung fadhilah dan keutamaan yang beragam, di antaranya disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.” (HR. Muslim no. 1349)Dalam hadis yang lain disebutkan,من حج هذا البيت فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه“Siapa yang berhaji ke Kakbah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali  sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350)Rafats maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut, baik berupa perbuatan seperti mencium dan semisalnya, atau berupa perkataan seperti ucapan yang menggoda dan mengandung syahwat.Allah telah mengkhususkan kewajiban ini dengan menjadikan hari-hari pelaksanaan ibadah haji ini menjadi hari-hari yang terbaik sepanjang tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155, hasan)Allah juga mengistimewakan hari Arafah di antara sepuluh hari ini dengan beberapa keutamaan, dan menjadikan wukuf di Arafah sebagai bagian penting dari rukun ibadah haji, sebagaimana disebutkan,الحجُّ عرفة“Haji adalah Arafah.“ (HR. Abu Dawud no. 1949, shahih)Karena pentingnya hari Arafah, dan agungnya kedudukannya, maka Syekh ‘Abdurrazzaqq hafidzahullah mengumpulkan sejumlah keutamaan yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ini, agar orang yang sedang berhaji merasakan betapa besar nikmat ini. Ini merupakan kemuliaan yang besar yang Allah mudahkan ketika bisa bertemu dengan hari ini dan menunaikan ibadah yang agung pula pada hari ini.Keutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun Hari Arafah adalah hari kesembilan di bulan Zulhijah. Disebutkan dalam hadis Nabi bahwa sepuluh hari awal bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik dalam satu tahun, dan amal saleh di hari-hari tersebut lebih baik dibandingkan amal di hari-hari lainnya. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155)Allah telah bersumpah dengan sepuluh hari ini di dalam Al-Qur’an, dan Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fajr, وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“(Demi malam-malam yang sepuluh).”Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya sepuluh malam yang Allah sebutkan dalam sumpah pada ayat ini adalah sepuluh malam pertama di bulan Zulhijah.“ Demikian pula hal ini dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Mujahid, Masruq, ‘Ikrimah, Qatadah, Adh-Dhahak, dan para ulama salaf yang lainnya. Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabary, dan disebutkan bahwa ini merupakan ijma’ para ulam ahli tafsir.Bahkan Allah bersumpah secara khusus dengan hari Arafah dalam surah Al-Buruj yang menunjukkan ada keistimewaan yang lebih dibanding 10 hari lainnya,وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.“ (QS. Al-Buruuj: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,واليوم المشهود يوم عرفة ، والشاهد يوم الجمعة“Hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi no. 3339, dihasankan oleh Al-Albani).Hadis inilah yang menjadi dasar dari tafsir yang dijelaskan oleh khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.
Daftar Isi ToggleMukadimahKeutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahunMukadimah Ibadah haji merupakan rukun keempat dari lima rukun Islam. Haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukallaf yang memiliki kemampuan. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS. Ali ‘Imran: 97)Mukallaf maksudnya sudah baligh dan berakal. Memiliki kemampuan mencakup kemampuan badan dan juga harta. Kemampuan badan, yaitu badannya sehat serta mampu melakukan perjalanan jauh dan menunaikan rangkaian kegiatan manasik ibadah haji. Kemampuan harta, yaitu memliki harta untuk melakukan perjalanan dan juga biaya selama haji.Dalam ibadah haji yang agung ini terkandung fadhilah dan keutamaan yang beragam, di antaranya disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.” (HR. Muslim no. 1349)Dalam hadis yang lain disebutkan,من حج هذا البيت فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه“Siapa yang berhaji ke Kakbah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali  sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350)Rafats maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut, baik berupa perbuatan seperti mencium dan semisalnya, atau berupa perkataan seperti ucapan yang menggoda dan mengandung syahwat.Allah telah mengkhususkan kewajiban ini dengan menjadikan hari-hari pelaksanaan ibadah haji ini menjadi hari-hari yang terbaik sepanjang tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155, hasan)Allah juga mengistimewakan hari Arafah di antara sepuluh hari ini dengan beberapa keutamaan, dan menjadikan wukuf di Arafah sebagai bagian penting dari rukun ibadah haji, sebagaimana disebutkan,الحجُّ عرفة“Haji adalah Arafah.“ (HR. Abu Dawud no. 1949, shahih)Karena pentingnya hari Arafah, dan agungnya kedudukannya, maka Syekh ‘Abdurrazzaqq hafidzahullah mengumpulkan sejumlah keutamaan yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ini, agar orang yang sedang berhaji merasakan betapa besar nikmat ini. Ini merupakan kemuliaan yang besar yang Allah mudahkan ketika bisa bertemu dengan hari ini dan menunaikan ibadah yang agung pula pada hari ini.Keutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun Hari Arafah adalah hari kesembilan di bulan Zulhijah. Disebutkan dalam hadis Nabi bahwa sepuluh hari awal bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik dalam satu tahun, dan amal saleh di hari-hari tersebut lebih baik dibandingkan amal di hari-hari lainnya. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155)Allah telah bersumpah dengan sepuluh hari ini di dalam Al-Qur’an, dan Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fajr, وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“(Demi malam-malam yang sepuluh).”Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya sepuluh malam yang Allah sebutkan dalam sumpah pada ayat ini adalah sepuluh malam pertama di bulan Zulhijah.“ Demikian pula hal ini dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Mujahid, Masruq, ‘Ikrimah, Qatadah, Adh-Dhahak, dan para ulama salaf yang lainnya. Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabary, dan disebutkan bahwa ini merupakan ijma’ para ulam ahli tafsir.Bahkan Allah bersumpah secara khusus dengan hari Arafah dalam surah Al-Buruj yang menunjukkan ada keistimewaan yang lebih dibanding 10 hari lainnya,وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.“ (QS. Al-Buruuj: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,واليوم المشهود يوم عرفة ، والشاهد يوم الجمعة“Hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi no. 3339, dihasankan oleh Al-Albani).Hadis inilah yang menjadi dasar dari tafsir yang dijelaskan oleh khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.


Daftar Isi ToggleMukadimahKeutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahunMukadimah Ibadah haji merupakan rukun keempat dari lima rukun Islam. Haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim mukallaf yang memiliki kemampuan. Allah berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS. Ali ‘Imran: 97)Mukallaf maksudnya sudah baligh dan berakal. Memiliki kemampuan mencakup kemampuan badan dan juga harta. Kemampuan badan, yaitu badannya sehat serta mampu melakukan perjalanan jauh dan menunaikan rangkaian kegiatan manasik ibadah haji. Kemampuan harta, yaitu memliki harta untuk melakukan perjalanan dan juga biaya selama haji.Dalam ibadah haji yang agung ini terkandung fadhilah dan keutamaan yang beragam, di antaranya disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Tidak ada balasan yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur selain surga.” (HR. Muslim no. 1349)Dalam hadis yang lain disebutkan,من حج هذا البيت فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمه“Siapa yang berhaji ke Kakbah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat kefasikan, maka dia kembali  sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1819 dan Muslim no. 1350)Rafats maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri dan segala hal yang mengarah kepada perbuatan tersebut, baik berupa perbuatan seperti mencium dan semisalnya, atau berupa perkataan seperti ucapan yang menggoda dan mengandung syahwat.Allah telah mengkhususkan kewajiban ini dengan menjadikan hari-hari pelaksanaan ibadah haji ini menjadi hari-hari yang terbaik sepanjang tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya yang lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155, hasan)Allah juga mengistimewakan hari Arafah di antara sepuluh hari ini dengan beberapa keutamaan, dan menjadikan wukuf di Arafah sebagai bagian penting dari rukun ibadah haji, sebagaimana disebutkan,الحجُّ عرفة“Haji adalah Arafah.“ (HR. Abu Dawud no. 1949, shahih)Karena pentingnya hari Arafah, dan agungnya kedudukannya, maka Syekh ‘Abdurrazzaqq hafidzahullah mengumpulkan sejumlah keutamaan yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ini, agar orang yang sedang berhaji merasakan betapa besar nikmat ini. Ini merupakan kemuliaan yang besar yang Allah mudahkan ketika bisa bertemu dengan hari ini dan menunaikan ibadah yang agung pula pada hari ini.Keutamaan pertama: Hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun Hari Arafah adalah hari kesembilan di bulan Zulhijah. Disebutkan dalam hadis Nabi bahwa sepuluh hari awal bulan Zulhijah adalah hari-hari terbaik dalam satu tahun, dan amal saleh di hari-hari tersebut lebih baik dibandingkan amal di hari-hari lainnya. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan saleh di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.“ (HR. Ahmad no. 6155)Allah telah bersumpah dengan sepuluh hari ini di dalam Al-Qur’an, dan Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fajr, وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ“(Demi malam-malam yang sepuluh).”Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya sepuluh malam yang Allah sebutkan dalam sumpah pada ayat ini adalah sepuluh malam pertama di bulan Zulhijah.“ Demikian pula hal ini dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Mujahid, Masruq, ‘Ikrimah, Qatadah, Adh-Dhahak, dan para ulama salaf yang lainnya. Hal ini juga dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabary, dan disebutkan bahwa ini merupakan ijma’ para ulam ahli tafsir.Bahkan Allah bersumpah secara khusus dengan hari Arafah dalam surah Al-Buruj yang menunjukkan ada keistimewaan yang lebih dibanding 10 hari lainnya,وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.“ (QS. Al-Buruuj: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,واليوم المشهود يوم عرفة ، والشاهد يوم الجمعة“Hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi no. 3339, dihasankan oleh Al-Albani).Hadis inilah yang menjadi dasar dari tafsir yang dijelaskan oleh khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penerjemah: Adika MianokiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.

Tak Banyak yang Tahu: Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa

Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami

Tak Banyak yang Tahu: Membatalkan Transaksi Bisa Menghapus Dosa

Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami
Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami


Tidak semua keuntungan dalam bisnis harus dipertahankan mati-matian. Kadang, justru melepas sedikit hak di dunia menjadi sebab mendapatkan ampunan besar di akhirat. Hadits ini membuka mata kita bahwa sikap lapang dalam transaksi adalah jalan cepat menuju rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Muamalah yang Baik 2. Nasihat Penutup  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ؛ أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3460, Ibnu Majah no. 2199, Ahmad dalam Zawa’id, dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1758).Makna hadits ini:“أقال مسلمًا بيعته” : memberi kesempatan kepada orang lain untuk membatalkan transaksi karena ia merasa rugi atau menyesal“أقاله الله عثرته” : Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya kelak di hari kiamat Muamalah yang BaikNabi ﷺ mendorong kita untuk saling berinteraksi dengan cara yang baik, penuh kelembutan, dan sikap yang lunak. Beliau juga menjelaskan keutamaan membantu meringankan kesulitan dan beban orang lain.Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memberi keringanan kepada seorang muslim dengan membatalkan transaksi jual belinya (karena ia menyesal), maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Makna iqālah (membatalkan transaksi) dalam syariat adalah menghapus akad yang telah terjadi antara dua pihak yang bertransaksi. Hal ini disepakati kebolehannya oleh para ulama (ijma’). Namun, harus ada ungkapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti ucapan “aku batalkan” atau ungkapan lain yang dipahami secara umum dengan makna yang sama.Gambaran iqālah dalam jual beli adalah ketika seseorang membeli suatu barang, lalu ia menyesal atas pembelian tersebut. Penyesalan itu bisa karena:merasa dirugikan,kebutuhannya sudah tidak ada,atau karena tidak lagi memiliki uang.Lalu ia mengembalikan barang tersebut kepada penjual, dan penjual menerima pengembalian itu.Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat.”Artinya, Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya serta menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Hal ini karena ia telah berbuat baik kepada pembeli. Sebab, setelah akad jual beli terjadi dan sah, pembeli sebenarnya tidak bisa membatalkannya secara sepihak.Maka balasan yang diberikan adalah sejenis dengan perbuatannya. Ketika seseorang berbuat baik kepada saudaranya dengan memberi keringanan—padahal transaksi sudah sah dan mengikat—dan ia rela mengembalikan uang serta menerima kembali barangnya, maka Allah Yang Maha Mulia akan membalasnya dengan kemurahan yang lebih besar pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat-Nya.Namun, hal ini tidak bersifat wajib. Seorang penjual tidak berdosa jika menolak membatalkan transaksi. Akan tetapi, yang lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih utama adalah memberikan keringanan kepada saudaranya sesama muslim, terutama jika ia sedang membutuhkan.Jika ia memberi keringanan dalam kondisi seperti ini, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari ketika ia sangat membutuhkan rahmat Allah.Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:«مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ»“Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Dan barang siapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 2442 dan Muslim, no. 2580)Baca juga: Rahasia Masuk Surga, Mudah dalam Jual Beli dan Menagih Hak Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang fokus menang dalam transaksi, tetapi lupa menjaga hati dan hubungan. Jangan sampai kita keras dalam menuntut hak, namun kehilangan keberkahan hidup. Belajarlah memberi ruang, memahami kondisi orang lain, dan tidak kaku dalam muamalah. Bisa jadi, kelonggaran kecil yang kita berikan hari ini menjadi penyelamat besar di akhirat nanti. Referensi: Dorar.Net —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak bisnis ampunan Allah bisnis berkah etika transaksi hadits jual beli iqalah islam dan muamalah jual beli islam memudahkan orang lain muamalah islami

3 Orang yang Paling Mudah & Sering Kena Fitnah – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu—dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya—beliau berkata: “Fitnah akan ditimpakan kepada tiga golongan manusia…” Maksudnya, merekalah orang yang paling sering terkena fitnah dan menjadi sebab bergejolaknya fitnah tersebut. Orang yang pertama kali terjerumus ke dalamnya ada tiga golongan. Beliau menyebutkan: “(Pertama), orang yang tegas lagi cerdik. Yaitu orang yang tidak ingin satu pun bangkit menentangnya, melainkan ia akan menindasnya dengan pedang karena keberaniannya.” Beliau melanjutkan: “(Kedua), orator yang pandai menarik perhatian orang dalam berbagai perkara kepada dirinya.” Maksudnya adalah sosok yang selalu diminta oleh masyarakat untuk berbicara. Oleh karena itu, siapa pun yang diuji dengan menjadi pembicara di berbagai majelis maupun mimbar, maka sesungguhnya ia tidak harus mengomentari setiap peristiwa yang terjadi.Ia juga tidak harus mengungkapkan pandangannya terhadap semua berita. Namun, kewajibannya adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa Allah mencintai sifat tenang dan tidak tergesa-gesa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Dan (ketiga), tokoh terpandang yang namanya selalu disebut-sebut.” Tokoh terpandang yang selalu disebut-sebut adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ia sering kali diminta pendapatnya secara terburu-buru sebelum jelas perkara sebenarnya. Fitnah itu apabila baru datang akan tampak samar, dan apabila telah berlalu, barulah jelas hakikatnya. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu berkata: “Adapun orang yang tegas lagi cerdik, maka fitnah akan menumbangkannya. Sedangkan dua golongan lainnya—yaitu sang orator dan tokoh terpandang bagi kaumnya—maka fitnah akan menguji, lalu menampakkan jati diri mereka.” Maksudnya, akan terungkap apakah mereka memiliki ilmu atau tidak, punya akal yang cerdas atau tidak, serta apakah mereka memiliki ketaatan beragama atau justru sebaliknya. ===== وَثَبَتَ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرِهِ قَالَ وُكِلَتِ الْفِتَنُ بِثَلَاثَةٍ أَيْ أَكْثَرُ مَنْ تُصِيبُهُمُ الْفِتَنُ وَيَكُونُونَ سَبَبًا فِي إِذْكَائِهَا وَأَوَّلُ مَنْ يَقَعُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ قَالَ بِالْجَادِّ النِّحْرِيرِالَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ شَيْءٌ إِلَّا قَمَعَهُ بِالسَّيْفِ لِشَجَاعَتِهِ قَالَ وَبِالْخَطِيبِ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ الْأُمُورَ أَي الَّذِي يَطْلُبُ مِنْهُ النَّاسُ الْكَلَامَ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ بُلِيَ بِأَنْ يَكُونَ مُتَكَلِّمًا فِي أَيِّ مَحْفَلٍ وَمِنْبَرٍ فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ عِنْدَ وُقُوعِ كُلِّ حَدَثٍ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُبْدِيَ الرَّأْيَ عِنْدَ كُلِّ خَبَرٍ وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِالشَّرِيفِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ الثَّالِثُ وَالشَّرِيفُ الْمَذْكُورُ هُوَ الَّذِي يَكُونُ عَالِيًا فِي قَوْمِهِ مُتَصَدِّرًا لَهُمْ إِذْ يُطْلَبُ مِنْهُ الرَّأْيُ عَلَى عُجَالَةٍ قَبْلَ الِاسْتِبَانَةِ وَالْفِتَنُ إِذَا أَقْبَلَتْ تَشَابَهَتْ وَإِذَا أَدْبَرَتْ تَمَايَزَتْ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَّا الْجَادُّ النِّحْرِيرُ فَتَصْرَعُهُ وَأَمَّا هَذَانِ وَيَعْنِي بِهِ الْخَطِيبَ وَالشَّرِيفَ الْمَذْكُورَ أَي الْمُتَقَدِّمَ فِي قَوْمِهِ فَتَبْحَثُهُمَا فَتَبْلُو مَا عِنْدَهُمَا أَيْ مَا عِنْدَهُمَا مِنَ الْعِلْمِ وَعَدَمِهِ وَالْعَقْلِ وَفَقْدِهِ وَالدِّيَانَةِ وَضِدِّهَا

3 Orang yang Paling Mudah & Sering Kena Fitnah – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu—dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya—beliau berkata: “Fitnah akan ditimpakan kepada tiga golongan manusia…” Maksudnya, merekalah orang yang paling sering terkena fitnah dan menjadi sebab bergejolaknya fitnah tersebut. Orang yang pertama kali terjerumus ke dalamnya ada tiga golongan. Beliau menyebutkan: “(Pertama), orang yang tegas lagi cerdik. Yaitu orang yang tidak ingin satu pun bangkit menentangnya, melainkan ia akan menindasnya dengan pedang karena keberaniannya.” Beliau melanjutkan: “(Kedua), orator yang pandai menarik perhatian orang dalam berbagai perkara kepada dirinya.” Maksudnya adalah sosok yang selalu diminta oleh masyarakat untuk berbicara. Oleh karena itu, siapa pun yang diuji dengan menjadi pembicara di berbagai majelis maupun mimbar, maka sesungguhnya ia tidak harus mengomentari setiap peristiwa yang terjadi.Ia juga tidak harus mengungkapkan pandangannya terhadap semua berita. Namun, kewajibannya adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa Allah mencintai sifat tenang dan tidak tergesa-gesa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Dan (ketiga), tokoh terpandang yang namanya selalu disebut-sebut.” Tokoh terpandang yang selalu disebut-sebut adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ia sering kali diminta pendapatnya secara terburu-buru sebelum jelas perkara sebenarnya. Fitnah itu apabila baru datang akan tampak samar, dan apabila telah berlalu, barulah jelas hakikatnya. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu berkata: “Adapun orang yang tegas lagi cerdik, maka fitnah akan menumbangkannya. Sedangkan dua golongan lainnya—yaitu sang orator dan tokoh terpandang bagi kaumnya—maka fitnah akan menguji, lalu menampakkan jati diri mereka.” Maksudnya, akan terungkap apakah mereka memiliki ilmu atau tidak, punya akal yang cerdas atau tidak, serta apakah mereka memiliki ketaatan beragama atau justru sebaliknya. ===== وَثَبَتَ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرِهِ قَالَ وُكِلَتِ الْفِتَنُ بِثَلَاثَةٍ أَيْ أَكْثَرُ مَنْ تُصِيبُهُمُ الْفِتَنُ وَيَكُونُونَ سَبَبًا فِي إِذْكَائِهَا وَأَوَّلُ مَنْ يَقَعُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ قَالَ بِالْجَادِّ النِّحْرِيرِالَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ شَيْءٌ إِلَّا قَمَعَهُ بِالسَّيْفِ لِشَجَاعَتِهِ قَالَ وَبِالْخَطِيبِ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ الْأُمُورَ أَي الَّذِي يَطْلُبُ مِنْهُ النَّاسُ الْكَلَامَ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ بُلِيَ بِأَنْ يَكُونَ مُتَكَلِّمًا فِي أَيِّ مَحْفَلٍ وَمِنْبَرٍ فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ عِنْدَ وُقُوعِ كُلِّ حَدَثٍ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُبْدِيَ الرَّأْيَ عِنْدَ كُلِّ خَبَرٍ وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِالشَّرِيفِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ الثَّالِثُ وَالشَّرِيفُ الْمَذْكُورُ هُوَ الَّذِي يَكُونُ عَالِيًا فِي قَوْمِهِ مُتَصَدِّرًا لَهُمْ إِذْ يُطْلَبُ مِنْهُ الرَّأْيُ عَلَى عُجَالَةٍ قَبْلَ الِاسْتِبَانَةِ وَالْفِتَنُ إِذَا أَقْبَلَتْ تَشَابَهَتْ وَإِذَا أَدْبَرَتْ تَمَايَزَتْ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَّا الْجَادُّ النِّحْرِيرُ فَتَصْرَعُهُ وَأَمَّا هَذَانِ وَيَعْنِي بِهِ الْخَطِيبَ وَالشَّرِيفَ الْمَذْكُورَ أَي الْمُتَقَدِّمَ فِي قَوْمِهِ فَتَبْحَثُهُمَا فَتَبْلُو مَا عِنْدَهُمَا أَيْ مَا عِنْدَهُمَا مِنَ الْعِلْمِ وَعَدَمِهِ وَالْعَقْلِ وَفَقْدِهِ وَالدِّيَانَةِ وَضِدِّهَا
Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu—dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya—beliau berkata: “Fitnah akan ditimpakan kepada tiga golongan manusia…” Maksudnya, merekalah orang yang paling sering terkena fitnah dan menjadi sebab bergejolaknya fitnah tersebut. Orang yang pertama kali terjerumus ke dalamnya ada tiga golongan. Beliau menyebutkan: “(Pertama), orang yang tegas lagi cerdik. Yaitu orang yang tidak ingin satu pun bangkit menentangnya, melainkan ia akan menindasnya dengan pedang karena keberaniannya.” Beliau melanjutkan: “(Kedua), orator yang pandai menarik perhatian orang dalam berbagai perkara kepada dirinya.” Maksudnya adalah sosok yang selalu diminta oleh masyarakat untuk berbicara. Oleh karena itu, siapa pun yang diuji dengan menjadi pembicara di berbagai majelis maupun mimbar, maka sesungguhnya ia tidak harus mengomentari setiap peristiwa yang terjadi.Ia juga tidak harus mengungkapkan pandangannya terhadap semua berita. Namun, kewajibannya adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa Allah mencintai sifat tenang dan tidak tergesa-gesa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Dan (ketiga), tokoh terpandang yang namanya selalu disebut-sebut.” Tokoh terpandang yang selalu disebut-sebut adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ia sering kali diminta pendapatnya secara terburu-buru sebelum jelas perkara sebenarnya. Fitnah itu apabila baru datang akan tampak samar, dan apabila telah berlalu, barulah jelas hakikatnya. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu berkata: “Adapun orang yang tegas lagi cerdik, maka fitnah akan menumbangkannya. Sedangkan dua golongan lainnya—yaitu sang orator dan tokoh terpandang bagi kaumnya—maka fitnah akan menguji, lalu menampakkan jati diri mereka.” Maksudnya, akan terungkap apakah mereka memiliki ilmu atau tidak, punya akal yang cerdas atau tidak, serta apakah mereka memiliki ketaatan beragama atau justru sebaliknya. ===== وَثَبَتَ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرِهِ قَالَ وُكِلَتِ الْفِتَنُ بِثَلَاثَةٍ أَيْ أَكْثَرُ مَنْ تُصِيبُهُمُ الْفِتَنُ وَيَكُونُونَ سَبَبًا فِي إِذْكَائِهَا وَأَوَّلُ مَنْ يَقَعُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ قَالَ بِالْجَادِّ النِّحْرِيرِالَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ شَيْءٌ إِلَّا قَمَعَهُ بِالسَّيْفِ لِشَجَاعَتِهِ قَالَ وَبِالْخَطِيبِ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ الْأُمُورَ أَي الَّذِي يَطْلُبُ مِنْهُ النَّاسُ الْكَلَامَ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ بُلِيَ بِأَنْ يَكُونَ مُتَكَلِّمًا فِي أَيِّ مَحْفَلٍ وَمِنْبَرٍ فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ عِنْدَ وُقُوعِ كُلِّ حَدَثٍ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُبْدِيَ الرَّأْيَ عِنْدَ كُلِّ خَبَرٍ وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِالشَّرِيفِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ الثَّالِثُ وَالشَّرِيفُ الْمَذْكُورُ هُوَ الَّذِي يَكُونُ عَالِيًا فِي قَوْمِهِ مُتَصَدِّرًا لَهُمْ إِذْ يُطْلَبُ مِنْهُ الرَّأْيُ عَلَى عُجَالَةٍ قَبْلَ الِاسْتِبَانَةِ وَالْفِتَنُ إِذَا أَقْبَلَتْ تَشَابَهَتْ وَإِذَا أَدْبَرَتْ تَمَايَزَتْ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَّا الْجَادُّ النِّحْرِيرُ فَتَصْرَعُهُ وَأَمَّا هَذَانِ وَيَعْنِي بِهِ الْخَطِيبَ وَالشَّرِيفَ الْمَذْكُورَ أَي الْمُتَقَدِّمَ فِي قَوْمِهِ فَتَبْحَثُهُمَا فَتَبْلُو مَا عِنْدَهُمَا أَيْ مَا عِنْدَهُمَا مِنَ الْعِلْمِ وَعَدَمِهِ وَالْعَقْلِ وَفَقْدِهِ وَالدِّيَانَةِ وَضِدِّهَا


Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu—dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya—beliau berkata: “Fitnah akan ditimpakan kepada tiga golongan manusia…” Maksudnya, merekalah orang yang paling sering terkena fitnah dan menjadi sebab bergejolaknya fitnah tersebut. Orang yang pertama kali terjerumus ke dalamnya ada tiga golongan. Beliau menyebutkan: “(Pertama), orang yang tegas lagi cerdik. Yaitu orang yang tidak ingin satu pun bangkit menentangnya, melainkan ia akan menindasnya dengan pedang karena keberaniannya.” Beliau melanjutkan: “(Kedua), orator yang pandai menarik perhatian orang dalam berbagai perkara kepada dirinya.” Maksudnya adalah sosok yang selalu diminta oleh masyarakat untuk berbicara. Oleh karena itu, siapa pun yang diuji dengan menjadi pembicara di berbagai majelis maupun mimbar, maka sesungguhnya ia tidak harus mengomentari setiap peristiwa yang terjadi.Ia juga tidak harus mengungkapkan pandangannya terhadap semua berita. Namun, kewajibannya adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa Allah mencintai sifat tenang dan tidak tergesa-gesa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Dan (ketiga), tokoh terpandang yang namanya selalu disebut-sebut.” Tokoh terpandang yang selalu disebut-sebut adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ia sering kali diminta pendapatnya secara terburu-buru sebelum jelas perkara sebenarnya. Fitnah itu apabila baru datang akan tampak samar, dan apabila telah berlalu, barulah jelas hakikatnya. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu berkata: “Adapun orang yang tegas lagi cerdik, maka fitnah akan menumbangkannya. Sedangkan dua golongan lainnya—yaitu sang orator dan tokoh terpandang bagi kaumnya—maka fitnah akan menguji, lalu menampakkan jati diri mereka.” Maksudnya, akan terungkap apakah mereka memiliki ilmu atau tidak, punya akal yang cerdas atau tidak, serta apakah mereka memiliki ketaatan beragama atau justru sebaliknya. ===== وَثَبَتَ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرِهِ قَالَ وُكِلَتِ الْفِتَنُ بِثَلَاثَةٍ أَيْ أَكْثَرُ مَنْ تُصِيبُهُمُ الْفِتَنُ وَيَكُونُونَ سَبَبًا فِي إِذْكَائِهَا وَأَوَّلُ مَنْ يَقَعُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ قَالَ بِالْجَادِّ النِّحْرِيرِالَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ شَيْءٌ إِلَّا قَمَعَهُ بِالسَّيْفِ لِشَجَاعَتِهِ قَالَ وَبِالْخَطِيبِ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ الْأُمُورَ أَي الَّذِي يَطْلُبُ مِنْهُ النَّاسُ الْكَلَامَ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ بُلِيَ بِأَنْ يَكُونَ مُتَكَلِّمًا فِي أَيِّ مَحْفَلٍ وَمِنْبَرٍ فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ عِنْدَ وُقُوعِ كُلِّ حَدَثٍ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُبْدِيَ الرَّأْيَ عِنْدَ كُلِّ خَبَرٍ وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِالشَّرِيفِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ الثَّالِثُ وَالشَّرِيفُ الْمَذْكُورُ هُوَ الَّذِي يَكُونُ عَالِيًا فِي قَوْمِهِ مُتَصَدِّرًا لَهُمْ إِذْ يُطْلَبُ مِنْهُ الرَّأْيُ عَلَى عُجَالَةٍ قَبْلَ الِاسْتِبَانَةِ وَالْفِتَنُ إِذَا أَقْبَلَتْ تَشَابَهَتْ وَإِذَا أَدْبَرَتْ تَمَايَزَتْ قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَّا الْجَادُّ النِّحْرِيرُ فَتَصْرَعُهُ وَأَمَّا هَذَانِ وَيَعْنِي بِهِ الْخَطِيبَ وَالشَّرِيفَ الْمَذْكُورَ أَي الْمُتَقَدِّمَ فِي قَوْمِهِ فَتَبْحَثُهُمَا فَتَبْلُو مَا عِنْدَهُمَا أَيْ مَا عِنْدَهُمَا مِنَ الْعِلْمِ وَعَدَمِهِ وَالْعَقْلِ وَفَقْدِهِ وَالدِّيَانَةِ وَضِدِّهَا

Rahasia Doa Mustajab: Doakan Saudaramu Diam-Diam, Malaikat Mengaminkan!

Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah

Rahasia Doa Mustajab: Doakan Saudaramu Diam-Diam, Malaikat Mengaminkan!

Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah
Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah


Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.  Daftar Isi tutup 1. Doa untuk Saudara Itu Mustajab 2. Malaikat Mengaminkan Doa 3. Jangan Egois dalam Doa 4. Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini 5. Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib 6. Penutup  Doa untuk Saudara Itu MustajabDari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi) Malaikat Mengaminkan DoaDari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733) Jangan Egois dalam DoaDari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986) Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan MerekaDoa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:Tidak ada unsur riya’Murni karena keikhlasan dan cinta karena AllahIni menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan DoaHadits kedua menegaskan:Ada malaikat khusus yang ditugaskanSetiap doa kebaikan akan diaminkanIni menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri SendiriKaedah penting:“Balasan sesuai dengan jenis amal.”Saat kita mendoakan orang lain:Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.4. Larangan Bersikap Egois dalam DoaHadits ketiga memberi pelajaran:Doa hanya untuk diri sendiri → tercelaIslam mengajarkan kelapangan hatiIni menunjukkan:Akhlak seorang mukmin itu luasTidak sempit dan individualis5. Disyariatkan “Titip Doa”Sebagaimana praktik para sahabat:Ummu Ad-Darda’ meminta didoakanAbu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebutFaedah:Boleh meminta doa kepada orang salehTerutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab6. Tanda Keikhlasan HatiOrang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:Tidak menunggu balasanTidak ingin dipujiIni tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad7. Obat Hasad (Iri Hati)Jika sulit melihat orang lain bahagia:Paksa diri untuk mendoakannyaKarena:Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati8. Menguatkan Persatuan UmatJika setiap muslim: Mendoakan saudaranyaMaka:Hilang kebencianTumbuh cinta dan empatiIni solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga9. Luasnya Rahmat IslamIslam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”Tapi: Doa untuk orang lainBahkan orang yang tidak hadirIni menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril GhaibImam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.Referensi: Alukah.Net PenutupDi zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Baca juga:Doakanlah Saudaramu di Saat Dia Tidak MengetahuinyaSudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?Kumpulan Amalan Ringan #30: Doa Bi Zhahril Ghaib —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsadab berdoa doa mustajab doa untuk saudara hasad ikhlas keutamaan doa malaikat aminkan doa penyakit hati tazkiyatun nafs ukhuwah islamiyah

Tujuan-Tujuan Turunnya Musibah

Oleh: Abdul Qadir Daghuti Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja itu tidak menjadi tujuan awal dari syariat yang penuh kebijaksanaan ini, tapi merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya menjadi sarana bukan tujuan pokok. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mulia menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat, dan intinya adalah untuk mewujudkan kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Berikut ini adalah beberapa tujuan dari diturunkannya musibah yang disebutkan secara langsung dalam Kitabullah dan sunah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai Mungkin ada seorang hamba yang lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sibuk dengan perhiasan kehidupan dunia, dan tenggelam dalam syahwat-syahwatnya, tapi apabila musibah turun menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, sehingga ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keinsafan dan permohonan ampun, berdiri di pintu-Nya mengharapkan rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168). Yakni Kami menguji mereka dengan kenikmatan dan musibah, kesulitan dan kelapangan, agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” jilid 1 hlm. 443). Salah satu tujuan dari ujian adalah menyelamatkan para hamba dari tawanan setan, membebaskan mereka dari belenggu hawa nafsu dan syahwat, membangunkan mereka dari lelapnya kelalaian, sehingga mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekat kepada-Nya, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sehingga keadaan mereka membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah dengan lembutnya kebaikan, ia akan diseret kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 62). Penyuci orang-orang beriman Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman adalah apabila Dia hendak menyucikan mereka dari pengaruh-pengaruh dosa mereka, Dia akan menimpakan mereka dengan sedikit musibah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Ujian akan terus menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399). Diriwayatkan dari seorang salaf, ia berkata: “Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.” Menyaring orang-orang yang bersabar Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya untuk menyaring keimanan mereka, memilah kedudukan mereka, dan menampakkan dari mereka siapa orang yang bersabar ketika musibah menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (menampakkan) keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31). Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata: “Orang-orang sama pada kondisi penuh kenikmatan, lalu pada saat turun musibah, tersingkap jelaslah hakikat mereka.” (Shaid Al-Khathir karya Imam Ibnu Al-Jauzi hlm. 139). Orang-orang yang bersabar ketika musibah menimpa akan diistimewakan dengan banyak karamah ilahi, dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luas, di antaranya: Kecintaan Allah bagi mereka dan mereka senantiasa disertai oleh Allah secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ “Karena itu mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak (pula) menyerah; dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Derajat mereka ditinggikan Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا “Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat ia capai dengan amalnya, sehingga Allah terus mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak sukai, sampai Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2599). Manusia yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tinggi derajatnya adalah para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia dengan ujian yang paling berat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Mendapatkan kejayaan Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Imam asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah diberi kejayaan atau ujian?” Imam asy-Syafi’i lalu menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kejayaan hingga ia diberi ujian terlebih dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ujian bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kejayaan, maka jangan ada orang yang mengira akan selamat dari rasa sakit sepenuhnya.” (Al-Fawaid karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hlm. 222). Mendapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kabar gembira yang membahagiakan mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: لَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ “Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat karena kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas: 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111). Penutup Ada beberapa perkara yang dapat meringankan beban ujian dari seorang mukmin, dan menguatkan ketabahannya yang disertai bersabar, teguh, ridha, dan yakin sehingga ia tidak marah, berkeluh kesah, dan putus asa, yaitu dengan mengetahui hakikat-hakikat penting berikut, yaitu: Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, ia telah ditetapkan waktunya, lalu kembali diangkat dan selesai. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Musibah punya akhir yang waktunya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang diberi musibah harus bersabar hingga waktu musibah itu berakhir.” (Shaid Al-Khathir hlm. 155). Yang memberi ujian kepada seorang hamba adalah Tuhannya Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam musibah yang diturunkan kepada para hamba-Nya, Dia memberi banyak kebaikan bagi mereka yang tidak mungkin ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Siapa yang lurus pengetahuannya terhadap Tuhannya, dan memahami makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa segala yang ia benci yang menimpanya dan musibah-musibah yang turun kepadanya mengandung banyak bentuk kemaslahatan dan manfaat yang tidak mungkin dapat terhitung olehnya. Bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam hal yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan dalam hal yang ia sukai. Apabila seorang hamba telah mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenang di dunia sebelum di akhirat di dalam surga, nikmat ketenangan di dunia itu tidak ada tandingannya kecuali dengan nikmat surga di akhirat kelak, ia akan senantiasa merasa ridha dengan Tuhannya, sedangkan keridhaan merupakan surga dunia dan tempat ketenangan bagi orang-orang arif. Keridhaan adalah kepuasan jiwa atas takdir-takdir yang berlaku padanya yang merupakan hakikat dari pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan ketenteraman jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (Al-Fawaid hlm. 91). Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibah darimu, engkau harus mengetahui bahwa Dialah yang sedang mengujimu dan yang mengarahkan takdir-takdir kepadamu. Dia juga yang membiasakanmu dengan pilihan yang terbaik.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 90). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167699/مقاصد-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 339 times, 1 visit(s) today Post Views: 221

Tujuan-Tujuan Turunnya Musibah

Oleh: Abdul Qadir Daghuti Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja itu tidak menjadi tujuan awal dari syariat yang penuh kebijaksanaan ini, tapi merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya menjadi sarana bukan tujuan pokok. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mulia menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat, dan intinya adalah untuk mewujudkan kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Berikut ini adalah beberapa tujuan dari diturunkannya musibah yang disebutkan secara langsung dalam Kitabullah dan sunah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai Mungkin ada seorang hamba yang lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sibuk dengan perhiasan kehidupan dunia, dan tenggelam dalam syahwat-syahwatnya, tapi apabila musibah turun menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, sehingga ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keinsafan dan permohonan ampun, berdiri di pintu-Nya mengharapkan rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168). Yakni Kami menguji mereka dengan kenikmatan dan musibah, kesulitan dan kelapangan, agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” jilid 1 hlm. 443). Salah satu tujuan dari ujian adalah menyelamatkan para hamba dari tawanan setan, membebaskan mereka dari belenggu hawa nafsu dan syahwat, membangunkan mereka dari lelapnya kelalaian, sehingga mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekat kepada-Nya, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sehingga keadaan mereka membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah dengan lembutnya kebaikan, ia akan diseret kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 62). Penyuci orang-orang beriman Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman adalah apabila Dia hendak menyucikan mereka dari pengaruh-pengaruh dosa mereka, Dia akan menimpakan mereka dengan sedikit musibah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Ujian akan terus menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399). Diriwayatkan dari seorang salaf, ia berkata: “Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.” Menyaring orang-orang yang bersabar Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya untuk menyaring keimanan mereka, memilah kedudukan mereka, dan menampakkan dari mereka siapa orang yang bersabar ketika musibah menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (menampakkan) keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31). Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata: “Orang-orang sama pada kondisi penuh kenikmatan, lalu pada saat turun musibah, tersingkap jelaslah hakikat mereka.” (Shaid Al-Khathir karya Imam Ibnu Al-Jauzi hlm. 139). Orang-orang yang bersabar ketika musibah menimpa akan diistimewakan dengan banyak karamah ilahi, dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luas, di antaranya: Kecintaan Allah bagi mereka dan mereka senantiasa disertai oleh Allah secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ “Karena itu mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak (pula) menyerah; dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Derajat mereka ditinggikan Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا “Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat ia capai dengan amalnya, sehingga Allah terus mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak sukai, sampai Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2599). Manusia yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tinggi derajatnya adalah para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia dengan ujian yang paling berat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Mendapatkan kejayaan Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Imam asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah diberi kejayaan atau ujian?” Imam asy-Syafi’i lalu menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kejayaan hingga ia diberi ujian terlebih dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ujian bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kejayaan, maka jangan ada orang yang mengira akan selamat dari rasa sakit sepenuhnya.” (Al-Fawaid karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hlm. 222). Mendapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kabar gembira yang membahagiakan mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: لَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ “Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat karena kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas: 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111). Penutup Ada beberapa perkara yang dapat meringankan beban ujian dari seorang mukmin, dan menguatkan ketabahannya yang disertai bersabar, teguh, ridha, dan yakin sehingga ia tidak marah, berkeluh kesah, dan putus asa, yaitu dengan mengetahui hakikat-hakikat penting berikut, yaitu: Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, ia telah ditetapkan waktunya, lalu kembali diangkat dan selesai. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Musibah punya akhir yang waktunya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang diberi musibah harus bersabar hingga waktu musibah itu berakhir.” (Shaid Al-Khathir hlm. 155). Yang memberi ujian kepada seorang hamba adalah Tuhannya Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam musibah yang diturunkan kepada para hamba-Nya, Dia memberi banyak kebaikan bagi mereka yang tidak mungkin ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Siapa yang lurus pengetahuannya terhadap Tuhannya, dan memahami makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa segala yang ia benci yang menimpanya dan musibah-musibah yang turun kepadanya mengandung banyak bentuk kemaslahatan dan manfaat yang tidak mungkin dapat terhitung olehnya. Bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam hal yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan dalam hal yang ia sukai. Apabila seorang hamba telah mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenang di dunia sebelum di akhirat di dalam surga, nikmat ketenangan di dunia itu tidak ada tandingannya kecuali dengan nikmat surga di akhirat kelak, ia akan senantiasa merasa ridha dengan Tuhannya, sedangkan keridhaan merupakan surga dunia dan tempat ketenangan bagi orang-orang arif. Keridhaan adalah kepuasan jiwa atas takdir-takdir yang berlaku padanya yang merupakan hakikat dari pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan ketenteraman jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (Al-Fawaid hlm. 91). Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibah darimu, engkau harus mengetahui bahwa Dialah yang sedang mengujimu dan yang mengarahkan takdir-takdir kepadamu. Dia juga yang membiasakanmu dengan pilihan yang terbaik.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 90). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167699/مقاصد-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 339 times, 1 visit(s) today Post Views: 221
Oleh: Abdul Qadir Daghuti Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja itu tidak menjadi tujuan awal dari syariat yang penuh kebijaksanaan ini, tapi merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya menjadi sarana bukan tujuan pokok. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mulia menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat, dan intinya adalah untuk mewujudkan kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Berikut ini adalah beberapa tujuan dari diturunkannya musibah yang disebutkan secara langsung dalam Kitabullah dan sunah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai Mungkin ada seorang hamba yang lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sibuk dengan perhiasan kehidupan dunia, dan tenggelam dalam syahwat-syahwatnya, tapi apabila musibah turun menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, sehingga ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keinsafan dan permohonan ampun, berdiri di pintu-Nya mengharapkan rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168). Yakni Kami menguji mereka dengan kenikmatan dan musibah, kesulitan dan kelapangan, agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” jilid 1 hlm. 443). Salah satu tujuan dari ujian adalah menyelamatkan para hamba dari tawanan setan, membebaskan mereka dari belenggu hawa nafsu dan syahwat, membangunkan mereka dari lelapnya kelalaian, sehingga mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekat kepada-Nya, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sehingga keadaan mereka membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah dengan lembutnya kebaikan, ia akan diseret kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 62). Penyuci orang-orang beriman Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman adalah apabila Dia hendak menyucikan mereka dari pengaruh-pengaruh dosa mereka, Dia akan menimpakan mereka dengan sedikit musibah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Ujian akan terus menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399). Diriwayatkan dari seorang salaf, ia berkata: “Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.” Menyaring orang-orang yang bersabar Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya untuk menyaring keimanan mereka, memilah kedudukan mereka, dan menampakkan dari mereka siapa orang yang bersabar ketika musibah menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (menampakkan) keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31). Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata: “Orang-orang sama pada kondisi penuh kenikmatan, lalu pada saat turun musibah, tersingkap jelaslah hakikat mereka.” (Shaid Al-Khathir karya Imam Ibnu Al-Jauzi hlm. 139). Orang-orang yang bersabar ketika musibah menimpa akan diistimewakan dengan banyak karamah ilahi, dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luas, di antaranya: Kecintaan Allah bagi mereka dan mereka senantiasa disertai oleh Allah secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ “Karena itu mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak (pula) menyerah; dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Derajat mereka ditinggikan Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا “Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat ia capai dengan amalnya, sehingga Allah terus mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak sukai, sampai Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2599). Manusia yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tinggi derajatnya adalah para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia dengan ujian yang paling berat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Mendapatkan kejayaan Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Imam asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah diberi kejayaan atau ujian?” Imam asy-Syafi’i lalu menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kejayaan hingga ia diberi ujian terlebih dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ujian bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kejayaan, maka jangan ada orang yang mengira akan selamat dari rasa sakit sepenuhnya.” (Al-Fawaid karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hlm. 222). Mendapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kabar gembira yang membahagiakan mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: لَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ “Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat karena kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas: 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111). Penutup Ada beberapa perkara yang dapat meringankan beban ujian dari seorang mukmin, dan menguatkan ketabahannya yang disertai bersabar, teguh, ridha, dan yakin sehingga ia tidak marah, berkeluh kesah, dan putus asa, yaitu dengan mengetahui hakikat-hakikat penting berikut, yaitu: Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, ia telah ditetapkan waktunya, lalu kembali diangkat dan selesai. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Musibah punya akhir yang waktunya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang diberi musibah harus bersabar hingga waktu musibah itu berakhir.” (Shaid Al-Khathir hlm. 155). Yang memberi ujian kepada seorang hamba adalah Tuhannya Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam musibah yang diturunkan kepada para hamba-Nya, Dia memberi banyak kebaikan bagi mereka yang tidak mungkin ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Siapa yang lurus pengetahuannya terhadap Tuhannya, dan memahami makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa segala yang ia benci yang menimpanya dan musibah-musibah yang turun kepadanya mengandung banyak bentuk kemaslahatan dan manfaat yang tidak mungkin dapat terhitung olehnya. Bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam hal yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan dalam hal yang ia sukai. Apabila seorang hamba telah mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenang di dunia sebelum di akhirat di dalam surga, nikmat ketenangan di dunia itu tidak ada tandingannya kecuali dengan nikmat surga di akhirat kelak, ia akan senantiasa merasa ridha dengan Tuhannya, sedangkan keridhaan merupakan surga dunia dan tempat ketenangan bagi orang-orang arif. Keridhaan adalah kepuasan jiwa atas takdir-takdir yang berlaku padanya yang merupakan hakikat dari pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan ketenteraman jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (Al-Fawaid hlm. 91). Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibah darimu, engkau harus mengetahui bahwa Dialah yang sedang mengujimu dan yang mengarahkan takdir-takdir kepadamu. Dia juga yang membiasakanmu dengan pilihan yang terbaik.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 90). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167699/مقاصد-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 339 times, 1 visit(s) today Post Views: 221


Oleh: Abdul Qadir Daghuti Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja itu tidak menjadi tujuan awal dari syariat yang penuh kebijaksanaan ini, tapi merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya menjadi sarana bukan tujuan pokok. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mulia menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat, dan intinya adalah untuk mewujudkan kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Berikut ini adalah beberapa tujuan dari diturunkannya musibah yang disebutkan secara langsung dalam Kitabullah dan sunah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai Mungkin ada seorang hamba yang lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sibuk dengan perhiasan kehidupan dunia, dan tenggelam dalam syahwat-syahwatnya, tapi apabila musibah turun menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, sehingga ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keinsafan dan permohonan ampun, berdiri di pintu-Nya mengharapkan rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168). Yakni Kami menguji mereka dengan kenikmatan dan musibah, kesulitan dan kelapangan, agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” jilid 1 hlm. 443). Salah satu tujuan dari ujian adalah menyelamatkan para hamba dari tawanan setan, membebaskan mereka dari belenggu hawa nafsu dan syahwat, membangunkan mereka dari lelapnya kelalaian, sehingga mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekat kepada-Nya, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sehingga keadaan mereka membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah dengan lembutnya kebaikan, ia akan diseret kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 62). Penyuci orang-orang beriman Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman adalah apabila Dia hendak menyucikan mereka dari pengaruh-pengaruh dosa mereka, Dia akan menimpakan mereka dengan sedikit musibah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Ujian akan terus menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399). Diriwayatkan dari seorang salaf, ia berkata: “Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.” Menyaring orang-orang yang bersabar Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya untuk menyaring keimanan mereka, memilah kedudukan mereka, dan menampakkan dari mereka siapa orang yang bersabar ketika musibah menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (menampakkan) keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31). Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata: “Orang-orang sama pada kondisi penuh kenikmatan, lalu pada saat turun musibah, tersingkap jelaslah hakikat mereka.” (Shaid Al-Khathir karya Imam Ibnu Al-Jauzi hlm. 139). Orang-orang yang bersabar ketika musibah menimpa akan diistimewakan dengan banyak karamah ilahi, dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luas, di antaranya: Kecintaan Allah bagi mereka dan mereka senantiasa disertai oleh Allah secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ “Karena itu mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak (pula) menyerah; dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Derajat mereka ditinggikan Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا “Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat ia capai dengan amalnya, sehingga Allah terus mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak sukai, sampai Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2599). Manusia yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tinggi derajatnya adalah para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia dengan ujian yang paling berat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Mendapatkan kejayaan Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Imam asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah diberi kejayaan atau ujian?” Imam asy-Syafi’i lalu menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kejayaan hingga ia diberi ujian terlebih dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ujian bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kejayaan, maka jangan ada orang yang mengira akan selamat dari rasa sakit sepenuhnya.” (Al-Fawaid karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hlm. 222). Mendapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kabar gembira yang membahagiakan mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: لَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ “Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat karena kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas: 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111). Penutup Ada beberapa perkara yang dapat meringankan beban ujian dari seorang mukmin, dan menguatkan ketabahannya yang disertai bersabar, teguh, ridha, dan yakin sehingga ia tidak marah, berkeluh kesah, dan putus asa, yaitu dengan mengetahui hakikat-hakikat penting berikut, yaitu: Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, ia telah ditetapkan waktunya, lalu kembali diangkat dan selesai. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Musibah punya akhir yang waktunya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang diberi musibah harus bersabar hingga waktu musibah itu berakhir.” (Shaid Al-Khathir hlm. 155). Yang memberi ujian kepada seorang hamba adalah Tuhannya Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam musibah yang diturunkan kepada para hamba-Nya, Dia memberi banyak kebaikan bagi mereka yang tidak mungkin ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا “Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19). Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Siapa yang lurus pengetahuannya terhadap Tuhannya, dan memahami makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa segala yang ia benci yang menimpanya dan musibah-musibah yang turun kepadanya mengandung banyak bentuk kemaslahatan dan manfaat yang tidak mungkin dapat terhitung olehnya. Bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam hal yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan dalam hal yang ia sukai. Apabila seorang hamba telah mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenang di dunia sebelum di akhirat di dalam surga, nikmat ketenangan di dunia itu tidak ada tandingannya kecuali dengan nikmat surga di akhirat kelak, ia akan senantiasa merasa ridha dengan Tuhannya, sedangkan keridhaan merupakan surga dunia dan tempat ketenangan bagi orang-orang arif. Keridhaan adalah kepuasan jiwa atas takdir-takdir yang berlaku padanya yang merupakan hakikat dari pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan ketenteraman jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (Al-Fawaid hlm. 91). Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibah darimu, engkau harus mengetahui bahwa Dialah yang sedang mengujimu dan yang mengarahkan takdir-takdir kepadamu. Dia juga yang membiasakanmu dengan pilihan yang terbaik.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 90). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/167699/مقاصد-البلاء/ Sumber artikel PDF 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 339 times, 1 visit(s) today Post Views: 221
Prev     Next