Bolehkah Shalat Beralaskan Sajadah?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz, bolehkah seseorang shalat dengan beralaskan sajadah? Apakah itu termasuk bid’ah? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Shalat beralaskan sajadah atau tikar atau semisalnya, hukum asalnya boleh. Ini pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat di atas khumrah (sejenis kain).” (HR. al-Bukhari no.379, Muslim no. 513) Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan hadits ini: وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لا بَأْسَ بِالصَّلاةِ عَلَى السَّجَّادَةِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ الْخِرَقِ أَوْ الْخُوصِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ , سَوَاءٌ كَانَتْ صَغِيرَةً أَوْ كَانَتْ كَبِيرَةً كَالْحَصِيرِ وَالْبِسَاطِ لِمَا ثَبَتَ مِنْ صَلَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْحَصِيرِ وَالْبِسَاطِ وَالْفَرْوَةِ “Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat di atas sajadah. Baik sajadah tersebut terbuat dari kain, atau anyaman, atau yang lainnya. Baik ukurannya kecil ataupun besar seperti tikar atau permadani. Dan terdapat hadits shahih tentang shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas tikar dan permadani serta karpet dari kulit.” (Nailul Authar, 2/139) Namun hendaknya sajadah yang dipakai tidak ada gambar makhluk bernyawa atau gambar yang dapat mengganggu kekhusyukan. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ menjelaskan: وأما تصوير ما ليس فيه روح من جبال وأنهار وبحار وزرع وأشجار وبيوت ونحو ذلك دون أن يظهر فيها أو حولها صور أحياء : فجائز ، والصلاة عليها مكروهة لشغلها بال المصلي ، وذهابها بشيء من خشوعه في صلاته ، ولكنها صحيحة “Adapun gambar-gambar yang tidak bernyawa pada sajadah, seperti gambar gunung, sungai, laut, tumbuhan, pohon, rumah, atau semisalnya, yang tidak ada sama sekali gambar makhluk bernyawanya, ini gambar yang dibolehkan. Namun shalat di atas kain tersebut, hukumnya makruh, karena dapat menyibukkan pikiran orang yang shalat dan mengganggu kekhusyukannya dalam shalat. Namun shalatnya tetap sah.” (Fatawa al-Lajnah, 6/180) Shalat menggunakan sajadah juga jangan sampai membuat enggan untuk merapatkan shaf dan membuat shaf menjadi renggang. Karena dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أقِيمُوا صُفُوفَكُمْ، وتَرَاصُّوا، فإنِّي أرَاكُمْ مِن ورَاءِ ظَهْرِي “Luruskan shaf kalian dan hendaknya kalian saling menempel, karena aku melihat kalian dari balik punggungku.” (HR. al-Bukhari no.719) Dalam riwayat lain, terdapat penjelasan dari perkataan dari Anas bin Malik, وكانَ أحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بمَنْكِبِ صَاحِبِهِ، وقَدَمَهُ بقَدَمِهِ “Setiap orang dari kami (para sahabat), merapatkan pundak kami dengan pundak sebelahnya, dan merapatkan kaki kami dengan kaki sebelahnya.” (HR. al-Bukhari no.725) Walaupun menggunakan sajadah, hendaknya tetap berusaha menempelkan kaki dengan kaki orang di sebelahnya, serta pundak dengan pundak di sebelahnya. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ، ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله “Luruskan shaf dan luruskan pundak-pundak serta tutuplah celah. Namun berlemah lembutlah terhadap saudaramu. Dan jangan kalian biarkan ada celah untuk setan. Barang siapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya. Barang siapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya.” (HR. Abu Daud no. 666, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah. Dalam Shahih-nya, membuat judul bab: بَاب إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ  وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ “Bab menempelkan pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki dalam shaf. An-Nu’man bin Basyir berkata: aku melihat seorang di antara kami menempelkan pundaknya dengan pundak sahabatnya.” Sebagian ulama mengatakan maksud dari hadits-hadits ini bukanlah menempel secara lahiriah, namun maksudnya adalah berusaha agar tidak ada celah di antara jama’ah. Sehingga tidak harus benar-benar menempel. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: ولكن المراد بالتَّراصِّ أن لا يَدَعُوا فُرَجاً للشياطين ، وليس المراد بالتَّراص التَّزاحم ؛ لأن هناك فَرْقاً بين التَّراصِّ والتَّزاحم … لا يكون بينكم فُرَج تدخل منها الشياطين ؛ لأن الشياطِين يدخلون بين الصُّفوفِ كأولاد الضأن الصِّغارِ ؛ من أجل أن يُشوِّشوا على المصلين صلاتَهم “Namun yang dimaksud dengan merapatkan adalah hendaknya tidak membiarkan ada celah untuk setan. Namun maksudnya rapat yang sangat rapat. Karena ada perbedaan antara at-tarash (merapatkan) dan at-tazahum (rapat yang sangat rapat) … maka hendaknya tidak membiarkan ada celah yang bisa membuat setan masuk. Karena setan biasa masuk ke shaf-shaf, berupa anak kambing yang kecil, sehingga bisa membuat shalat terganggu.” (Asy-Syarhul Mumthi’, 7/3-13) Ringkasnya, walaupun menggunakan sajadah, tetaplah berusaha menempelkan kaki dan pundak sebisa mungkin sebagaimana ditunjukkan oleh zahir hadits. Karena itu lebih sempurna dan lebih utama.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Arti Amma Ba'du, Batas Waktu Sholat Idul Fitri, Mempersiapkan Pernikahan Islami, Keistimewaan Meninggal Hari Jumat, Tata Cara Shalat Tahiyatul Masjid, Pertanda Kematian Visited 163 times, 2 visit(s) today Post Views: 345 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Shalat Beralaskan Sajadah?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz, bolehkah seseorang shalat dengan beralaskan sajadah? Apakah itu termasuk bid’ah? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Shalat beralaskan sajadah atau tikar atau semisalnya, hukum asalnya boleh. Ini pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat di atas khumrah (sejenis kain).” (HR. al-Bukhari no.379, Muslim no. 513) Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan hadits ini: وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لا بَأْسَ بِالصَّلاةِ عَلَى السَّجَّادَةِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ الْخِرَقِ أَوْ الْخُوصِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ , سَوَاءٌ كَانَتْ صَغِيرَةً أَوْ كَانَتْ كَبِيرَةً كَالْحَصِيرِ وَالْبِسَاطِ لِمَا ثَبَتَ مِنْ صَلَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْحَصِيرِ وَالْبِسَاطِ وَالْفَرْوَةِ “Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat di atas sajadah. Baik sajadah tersebut terbuat dari kain, atau anyaman, atau yang lainnya. Baik ukurannya kecil ataupun besar seperti tikar atau permadani. Dan terdapat hadits shahih tentang shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas tikar dan permadani serta karpet dari kulit.” (Nailul Authar, 2/139) Namun hendaknya sajadah yang dipakai tidak ada gambar makhluk bernyawa atau gambar yang dapat mengganggu kekhusyukan. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ menjelaskan: وأما تصوير ما ليس فيه روح من جبال وأنهار وبحار وزرع وأشجار وبيوت ونحو ذلك دون أن يظهر فيها أو حولها صور أحياء : فجائز ، والصلاة عليها مكروهة لشغلها بال المصلي ، وذهابها بشيء من خشوعه في صلاته ، ولكنها صحيحة “Adapun gambar-gambar yang tidak bernyawa pada sajadah, seperti gambar gunung, sungai, laut, tumbuhan, pohon, rumah, atau semisalnya, yang tidak ada sama sekali gambar makhluk bernyawanya, ini gambar yang dibolehkan. Namun shalat di atas kain tersebut, hukumnya makruh, karena dapat menyibukkan pikiran orang yang shalat dan mengganggu kekhusyukannya dalam shalat. Namun shalatnya tetap sah.” (Fatawa al-Lajnah, 6/180) Shalat menggunakan sajadah juga jangan sampai membuat enggan untuk merapatkan shaf dan membuat shaf menjadi renggang. Karena dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أقِيمُوا صُفُوفَكُمْ، وتَرَاصُّوا، فإنِّي أرَاكُمْ مِن ورَاءِ ظَهْرِي “Luruskan shaf kalian dan hendaknya kalian saling menempel, karena aku melihat kalian dari balik punggungku.” (HR. al-Bukhari no.719) Dalam riwayat lain, terdapat penjelasan dari perkataan dari Anas bin Malik, وكانَ أحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بمَنْكِبِ صَاحِبِهِ، وقَدَمَهُ بقَدَمِهِ “Setiap orang dari kami (para sahabat), merapatkan pundak kami dengan pundak sebelahnya, dan merapatkan kaki kami dengan kaki sebelahnya.” (HR. al-Bukhari no.725) Walaupun menggunakan sajadah, hendaknya tetap berusaha menempelkan kaki dengan kaki orang di sebelahnya, serta pundak dengan pundak di sebelahnya. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ، ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله “Luruskan shaf dan luruskan pundak-pundak serta tutuplah celah. Namun berlemah lembutlah terhadap saudaramu. Dan jangan kalian biarkan ada celah untuk setan. Barang siapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya. Barang siapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya.” (HR. Abu Daud no. 666, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah. Dalam Shahih-nya, membuat judul bab: بَاب إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ  وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ “Bab menempelkan pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki dalam shaf. An-Nu’man bin Basyir berkata: aku melihat seorang di antara kami menempelkan pundaknya dengan pundak sahabatnya.” Sebagian ulama mengatakan maksud dari hadits-hadits ini bukanlah menempel secara lahiriah, namun maksudnya adalah berusaha agar tidak ada celah di antara jama’ah. Sehingga tidak harus benar-benar menempel. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: ولكن المراد بالتَّراصِّ أن لا يَدَعُوا فُرَجاً للشياطين ، وليس المراد بالتَّراص التَّزاحم ؛ لأن هناك فَرْقاً بين التَّراصِّ والتَّزاحم … لا يكون بينكم فُرَج تدخل منها الشياطين ؛ لأن الشياطِين يدخلون بين الصُّفوفِ كأولاد الضأن الصِّغارِ ؛ من أجل أن يُشوِّشوا على المصلين صلاتَهم “Namun yang dimaksud dengan merapatkan adalah hendaknya tidak membiarkan ada celah untuk setan. Namun maksudnya rapat yang sangat rapat. Karena ada perbedaan antara at-tarash (merapatkan) dan at-tazahum (rapat yang sangat rapat) … maka hendaknya tidak membiarkan ada celah yang bisa membuat setan masuk. Karena setan biasa masuk ke shaf-shaf, berupa anak kambing yang kecil, sehingga bisa membuat shalat terganggu.” (Asy-Syarhul Mumthi’, 7/3-13) Ringkasnya, walaupun menggunakan sajadah, tetaplah berusaha menempelkan kaki dan pundak sebisa mungkin sebagaimana ditunjukkan oleh zahir hadits. Karena itu lebih sempurna dan lebih utama.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Arti Amma Ba'du, Batas Waktu Sholat Idul Fitri, Mempersiapkan Pernikahan Islami, Keistimewaan Meninggal Hari Jumat, Tata Cara Shalat Tahiyatul Masjid, Pertanda Kematian Visited 163 times, 2 visit(s) today Post Views: 345 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Izin bertanya ustadz, bolehkah seseorang shalat dengan beralaskan sajadah? Apakah itu termasuk bid’ah? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Shalat beralaskan sajadah atau tikar atau semisalnya, hukum asalnya boleh. Ini pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat di atas khumrah (sejenis kain).” (HR. al-Bukhari no.379, Muslim no. 513) Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan hadits ini: وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لا بَأْسَ بِالصَّلاةِ عَلَى السَّجَّادَةِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ الْخِرَقِ أَوْ الْخُوصِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ , سَوَاءٌ كَانَتْ صَغِيرَةً أَوْ كَانَتْ كَبِيرَةً كَالْحَصِيرِ وَالْبِسَاطِ لِمَا ثَبَتَ مِنْ صَلَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْحَصِيرِ وَالْبِسَاطِ وَالْفَرْوَةِ “Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat di atas sajadah. Baik sajadah tersebut terbuat dari kain, atau anyaman, atau yang lainnya. Baik ukurannya kecil ataupun besar seperti tikar atau permadani. Dan terdapat hadits shahih tentang shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas tikar dan permadani serta karpet dari kulit.” (Nailul Authar, 2/139) Namun hendaknya sajadah yang dipakai tidak ada gambar makhluk bernyawa atau gambar yang dapat mengganggu kekhusyukan. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ menjelaskan: وأما تصوير ما ليس فيه روح من جبال وأنهار وبحار وزرع وأشجار وبيوت ونحو ذلك دون أن يظهر فيها أو حولها صور أحياء : فجائز ، والصلاة عليها مكروهة لشغلها بال المصلي ، وذهابها بشيء من خشوعه في صلاته ، ولكنها صحيحة “Adapun gambar-gambar yang tidak bernyawa pada sajadah, seperti gambar gunung, sungai, laut, tumbuhan, pohon, rumah, atau semisalnya, yang tidak ada sama sekali gambar makhluk bernyawanya, ini gambar yang dibolehkan. Namun shalat di atas kain tersebut, hukumnya makruh, karena dapat menyibukkan pikiran orang yang shalat dan mengganggu kekhusyukannya dalam shalat. Namun shalatnya tetap sah.” (Fatawa al-Lajnah, 6/180) Shalat menggunakan sajadah juga jangan sampai membuat enggan untuk merapatkan shaf dan membuat shaf menjadi renggang. Karena dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أقِيمُوا صُفُوفَكُمْ، وتَرَاصُّوا، فإنِّي أرَاكُمْ مِن ورَاءِ ظَهْرِي “Luruskan shaf kalian dan hendaknya kalian saling menempel, karena aku melihat kalian dari balik punggungku.” (HR. al-Bukhari no.719) Dalam riwayat lain, terdapat penjelasan dari perkataan dari Anas bin Malik, وكانَ أحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بمَنْكِبِ صَاحِبِهِ، وقَدَمَهُ بقَدَمِهِ “Setiap orang dari kami (para sahabat), merapatkan pundak kami dengan pundak sebelahnya, dan merapatkan kaki kami dengan kaki sebelahnya.” (HR. al-Bukhari no.725) Walaupun menggunakan sajadah, hendaknya tetap berusaha menempelkan kaki dengan kaki orang di sebelahnya, serta pundak dengan pundak di sebelahnya. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ، ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله “Luruskan shaf dan luruskan pundak-pundak serta tutuplah celah. Namun berlemah lembutlah terhadap saudaramu. Dan jangan kalian biarkan ada celah untuk setan. Barang siapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya. Barang siapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya.” (HR. Abu Daud no. 666, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah. Dalam Shahih-nya, membuat judul bab: بَاب إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ  وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ “Bab menempelkan pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki dalam shaf. An-Nu’man bin Basyir berkata: aku melihat seorang di antara kami menempelkan pundaknya dengan pundak sahabatnya.” Sebagian ulama mengatakan maksud dari hadits-hadits ini bukanlah menempel secara lahiriah, namun maksudnya adalah berusaha agar tidak ada celah di antara jama’ah. Sehingga tidak harus benar-benar menempel. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: ولكن المراد بالتَّراصِّ أن لا يَدَعُوا فُرَجاً للشياطين ، وليس المراد بالتَّراص التَّزاحم ؛ لأن هناك فَرْقاً بين التَّراصِّ والتَّزاحم … لا يكون بينكم فُرَج تدخل منها الشياطين ؛ لأن الشياطِين يدخلون بين الصُّفوفِ كأولاد الضأن الصِّغارِ ؛ من أجل أن يُشوِّشوا على المصلين صلاتَهم “Namun yang dimaksud dengan merapatkan adalah hendaknya tidak membiarkan ada celah untuk setan. Namun maksudnya rapat yang sangat rapat. Karena ada perbedaan antara at-tarash (merapatkan) dan at-tazahum (rapat yang sangat rapat) … maka hendaknya tidak membiarkan ada celah yang bisa membuat setan masuk. Karena setan biasa masuk ke shaf-shaf, berupa anak kambing yang kecil, sehingga bisa membuat shalat terganggu.” (Asy-Syarhul Mumthi’, 7/3-13) Ringkasnya, walaupun menggunakan sajadah, tetaplah berusaha menempelkan kaki dan pundak sebisa mungkin sebagaimana ditunjukkan oleh zahir hadits. Karena itu lebih sempurna dan lebih utama.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Arti Amma Ba'du, Batas Waktu Sholat Idul Fitri, Mempersiapkan Pernikahan Islami, Keistimewaan Meninggal Hari Jumat, Tata Cara Shalat Tahiyatul Masjid, Pertanda Kematian Visited 163 times, 2 visit(s) today Post Views: 345 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1363547107&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Izin bertanya ustadz, bolehkah seseorang shalat dengan beralaskan sajadah? Apakah itu termasuk bid’ah? Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Shalat beralaskan sajadah atau tikar atau semisalnya, hukum asalnya boleh. Ini pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat di atas khumrah (sejenis kain).” (HR. al-Bukhari no.379, Muslim no. 513) Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan hadits ini: وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لا بَأْسَ بِالصَّلاةِ عَلَى السَّجَّادَةِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ الْخِرَقِ أَوْ الْخُوصِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ , سَوَاءٌ كَانَتْ صَغِيرَةً أَوْ كَانَتْ كَبِيرَةً كَالْحَصِيرِ وَالْبِسَاطِ لِمَا ثَبَتَ مِنْ صَلَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْحَصِيرِ وَالْبِسَاطِ وَالْفَرْوَةِ “Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat di atas sajadah. Baik sajadah tersebut terbuat dari kain, atau anyaman, atau yang lainnya. Baik ukurannya kecil ataupun besar seperti tikar atau permadani. Dan terdapat hadits shahih tentang shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas tikar dan permadani serta karpet dari kulit.” (Nailul Authar, 2/139) Namun hendaknya sajadah yang dipakai tidak ada gambar makhluk bernyawa atau gambar yang dapat mengganggu kekhusyukan. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ menjelaskan: وأما تصوير ما ليس فيه روح من جبال وأنهار وبحار وزرع وأشجار وبيوت ونحو ذلك دون أن يظهر فيها أو حولها صور أحياء : فجائز ، والصلاة عليها مكروهة لشغلها بال المصلي ، وذهابها بشيء من خشوعه في صلاته ، ولكنها صحيحة “Adapun gambar-gambar yang tidak bernyawa pada sajadah, seperti gambar gunung, sungai, laut, tumbuhan, pohon, rumah, atau semisalnya, yang tidak ada sama sekali gambar makhluk bernyawanya, ini gambar yang dibolehkan. Namun shalat di atas kain tersebut, hukumnya makruh, karena dapat menyibukkan pikiran orang yang shalat dan mengganggu kekhusyukannya dalam shalat. Namun shalatnya tetap sah.” (Fatawa al-Lajnah, 6/180) Shalat menggunakan sajadah juga jangan sampai membuat enggan untuk merapatkan shaf dan membuat shaf menjadi renggang. Karena dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أقِيمُوا صُفُوفَكُمْ، وتَرَاصُّوا، فإنِّي أرَاكُمْ مِن ورَاءِ ظَهْرِي “Luruskan shaf kalian dan hendaknya kalian saling menempel, karena aku melihat kalian dari balik punggungku.” (HR. al-Bukhari no.719) Dalam riwayat lain, terdapat penjelasan dari perkataan dari Anas bin Malik, وكانَ أحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بمَنْكِبِ صَاحِبِهِ، وقَدَمَهُ بقَدَمِهِ “Setiap orang dari kami (para sahabat), merapatkan pundak kami dengan pundak sebelahnya, dan merapatkan kaki kami dengan kaki sebelahnya.” (HR. al-Bukhari no.725) Walaupun menggunakan sajadah, hendaknya tetap berusaha menempelkan kaki dengan kaki orang di sebelahnya, serta pundak dengan pundak di sebelahnya. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ، ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله “Luruskan shaf dan luruskan pundak-pundak serta tutuplah celah. Namun berlemah lembutlah terhadap saudaramu. Dan jangan kalian biarkan ada celah untuk setan. Barang siapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya. Barang siapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya.” (HR. Abu Daud no. 666, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah. Dalam Shahih-nya, membuat judul bab: بَاب إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ  وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ “Bab menempelkan pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki dalam shaf. An-Nu’man bin Basyir berkata: aku melihat seorang di antara kami menempelkan pundaknya dengan pundak sahabatnya.” Sebagian ulama mengatakan maksud dari hadits-hadits ini bukanlah menempel secara lahiriah, namun maksudnya adalah berusaha agar tidak ada celah di antara jama’ah. Sehingga tidak harus benar-benar menempel. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: ولكن المراد بالتَّراصِّ أن لا يَدَعُوا فُرَجاً للشياطين ، وليس المراد بالتَّراص التَّزاحم ؛ لأن هناك فَرْقاً بين التَّراصِّ والتَّزاحم … لا يكون بينكم فُرَج تدخل منها الشياطين ؛ لأن الشياطِين يدخلون بين الصُّفوفِ كأولاد الضأن الصِّغارِ ؛ من أجل أن يُشوِّشوا على المصلين صلاتَهم “Namun yang dimaksud dengan merapatkan adalah hendaknya tidak membiarkan ada celah untuk setan. Namun maksudnya rapat yang sangat rapat. Karena ada perbedaan antara at-tarash (merapatkan) dan at-tazahum (rapat yang sangat rapat) … maka hendaknya tidak membiarkan ada celah yang bisa membuat setan masuk. Karena setan biasa masuk ke shaf-shaf, berupa anak kambing yang kecil, sehingga bisa membuat shalat terganggu.” (Asy-Syarhul Mumthi’, 7/3-13) Ringkasnya, walaupun menggunakan sajadah, tetaplah berusaha menempelkan kaki dan pundak sebisa mungkin sebagaimana ditunjukkan oleh zahir hadits. Karena itu lebih sempurna dan lebih utama.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Arti Amma Ba'du, Batas Waktu Sholat Idul Fitri, Mempersiapkan Pernikahan Islami, Keistimewaan Meninggal Hari Jumat, Tata Cara Shalat Tahiyatul Masjid, Pertanda Kematian Visited 163 times, 2 visit(s) today Post Views: 345 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Najiskah Air Kencing Binatang yang Halal Dimakan?

حكم بول ما يؤكل لحمه السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: هل بول ما يؤكل لحمه طاهر ام نجس؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Apakah air kencing binatang yang boleh dimakan dagingnya suci ataukah najis?” الاحابة طاهر، ما يؤكل لحمه فبوله طاهر Jawaban: Suci, binatang yang boleh dimakan air kencingnya suci. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18249 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tata Cara Sholat Di Kereta, Cara Menghilangkan Pikiran Kotor Bagi Wanita, Tulisan Arab Allah Subhanahu Wa Ta Ala, Hukum Menyebarkan Berita Bohong Dalam Islam, Ragu Dalam Islam, Bahaya Valentine Day Visited 44 times, 1 visit(s) today Post Views: 382 QRIS donasi Yufid

Najiskah Air Kencing Binatang yang Halal Dimakan?

حكم بول ما يؤكل لحمه السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: هل بول ما يؤكل لحمه طاهر ام نجس؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Apakah air kencing binatang yang boleh dimakan dagingnya suci ataukah najis?” الاحابة طاهر، ما يؤكل لحمه فبوله طاهر Jawaban: Suci, binatang yang boleh dimakan air kencingnya suci. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18249 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tata Cara Sholat Di Kereta, Cara Menghilangkan Pikiran Kotor Bagi Wanita, Tulisan Arab Allah Subhanahu Wa Ta Ala, Hukum Menyebarkan Berita Bohong Dalam Islam, Ragu Dalam Islam, Bahaya Valentine Day Visited 44 times, 1 visit(s) today Post Views: 382 QRIS donasi Yufid
حكم بول ما يؤكل لحمه السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: هل بول ما يؤكل لحمه طاهر ام نجس؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Apakah air kencing binatang yang boleh dimakan dagingnya suci ataukah najis?” الاحابة طاهر، ما يؤكل لحمه فبوله طاهر Jawaban: Suci, binatang yang boleh dimakan air kencingnya suci. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18249 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tata Cara Sholat Di Kereta, Cara Menghilangkan Pikiran Kotor Bagi Wanita, Tulisan Arab Allah Subhanahu Wa Ta Ala, Hukum Menyebarkan Berita Bohong Dalam Islam, Ragu Dalam Islam, Bahaya Valentine Day Visited 44 times, 1 visit(s) today Post Views: 382 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1382105176&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم بول ما يؤكل لحمه السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: هل بول ما يؤكل لحمه طاهر ام نجس؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Apakah air kencing binatang yang boleh dimakan dagingnya suci ataukah najis?” الاحابة طاهر، ما يؤكل لحمه فبوله طاهر Jawaban: Suci, binatang yang boleh dimakan air kencingnya suci. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18249 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Tata Cara Sholat Di Kereta, Cara Menghilangkan Pikiran Kotor Bagi Wanita, Tulisan Arab Allah Subhanahu Wa Ta Ala, Hukum Menyebarkan Berita Bohong Dalam Islam, Ragu Dalam Islam, Bahaya Valentine Day Visited 44 times, 1 visit(s) today Post Views: 382 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Ini Salah Satu Kisah Terbaik untuk Anakmu – Syaikh Ibrahim ar-Ruhaily #NasehatUlama

Inilah biografi Umar bin Khattabyang harus dipelajari dan diajarkan,serta kita ajarkan kepada anak-anak kita. Kita mengajarkan anak-anak kita biografi para Sahabat Nabi.Sebagian Salaf berkata, “Mereka mengajari anak-anak mereka biografiAbu Bakar dan Umar, sebagaimana mengajari mereka sebuah surah dari al-Quran.” Anak-anak kita hari ini, sangat disayangkan, siapa panutan mereka?Anda tahu sendiri, sebagian anak-anak kita menghafalnama-nama pemain bola, penyanyi, dan penari,padahal tidak hafal nama-nama Sahabat Nabi. Umat ini telah dijauhkan dan diasingkandari biografinya yang mewangi dan sejarahnya yang gemilang. Nama-nama ini harus selalu ada dalam setiap keluarga:Umar, Abu Bakar, Utsman, dan Ali. Para tokoh-tokoh ulama senior sangat antusias terhadap mereka,sehingga banyak dari mereka memberi nama dengan nama para al-Khulafāʾ ar-Rāsyidīn (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Sudah semestinya kita mengajari anak-anak kita.Sebaik-baik pengajaran yang Anda berikan kepada anak-anak Anda adalah mengajarkan merekabiografi Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, sehingga mereka tumbuh di atas kejantanan,besar dengan kecintaan terhadap agama,dan dewasa di atas hal-hal yang mulia,karena sungguh, mereka adalah panutan. Beberapa ulama mengatakan bahwa sebagian imanada yang tidak bisa bertambah kecuali dengan kisah-kisah biografi.Kita semua membaca al-Quran dan mempelajari Sunah,tapi kisah biografi memiliki pengaruh tersendiri. Ketika Anda menyebarkan kisahnya,kita semua tersentuh.Ketika kita menyaksikan biografi mereka, orang-orang tersentuh. Mereka adalah orang-orang yang telah Allah beri kedudukan di hati manusia.Kita harus menghafal biografi merekadan mengajarkannya kepada anak-anak kita.Umar bin Khattab adalah seorang pria yang berwibawa. Dikisahkan dalam biografinya bahwa ketika dia menempuh suatu perjalanan,sedangkan di belakangnya ada sekelompok Sahabat Nabi lain,Jika dia menoleh ke arah mereka, mereka akan menunduk ke arah tungganggan mereka. Para ulama berkata bahwa ini adalah ketetapan Allah,bahwa setiap orang yang takut kepada Allah,Allah jadikan para makhluk takut kepadanyadan meletakkan dalam hati manusia kewibawaan dan kedudukanterhadap orang-orang yang beriman dan bertakwa. ==== هَذِهِ سِيْرَةُ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ تُدْرَسَ وَتُدَرَّسَ وَأَنْ نُعَلِّمَهَا أَبْنَاءَنَا نُعَلِّمُ أَبْنَاءَنَا سِيْرَةَ الصَّحَابَةِ قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: كَانُوْا يُعَلِّمُونَ أَبْنَاءَهُمْ سِيْرَةَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ كَمَا يُعَلِّمُونَهُمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ أَبْنَاءُنَا الْيَوْمَ قُدْوَاتُهُمْ مَنْ؟ لِلْأَسَفِ أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ بَعْضَ أَبْنَاءِنَا يَحْفَظُ مِنْ أَسْمَاءِ لَاعِبِي الْكُرَةِ مِنَ الْمُغَنِّينَ مِنَ الرَّاقِصِينَ مَا لَا يَحْفَظُ مِنْ أَسْمَاءِ الصَّحَابَةِ أُبْعِدَتْ هَذِهِ الْأُمَّةُ وَغُرِّبَتْ عَنْ سِيْرَتِهَا الْعَطِرَةِ وَعَنْ تَارِيخِهَا الْمُشْرِقِ هَذِهِ الْأَسْمَاءُ يَنْبَغِي أَنْ تَبْقَى فِي الْأُسَرِ عُمَرُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَقَدْ حَرِصَ جَمْعٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَعْلَمُهُمْ وَهُمْ كَثِيرٌ سَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ فَيَنْبَغِي أَنْ نُدَرِّسَ أَبْنَاءَنَا أَفْضَلُ مَا تُقَدِّمُ لِأَبْنَاءِكَ مِنَ التَّرْبِيَةِ أَنْ تُدَرِّسَهُ سِيْرَةَ أَبِي بَكْرٍ سِيْرَةَ عُمَرَ سِيْرَةَ عُثْمَانَ سِيْرَةَ عَلِيٍّ حَتَّى يَنْشَأَ عَلَى الرُّجُولَةِ يَنْشَأَ عَلَى حُبِّ الدِّينِ يَنْشَأَ عَلَى مَعَالِي الْأُمُورِ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ قُدُوَاتٌ وَقَدْ ذَكَرَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ أَنَّ مِنَ الْإِيمَانِ مَا لَا يَزِيدُ إِلَّا بِالسِّيَرِ كُلُّنَا نَقْرَأُ الْقُرْآنَ نَقْرَأُ السُّنَّةَ لَكِنَّ السِّيْرَةَ لَهَا وَقْعٌ عِنْدَمَا تَذْكُرُ لِلنَّشْرِ كُلُّنَا نَتَأَثَّرُ عِنْدَمَا نَرَى سِيْرَةَ هَؤُلَاءِ يَتَأَثَّرُ الْإِنْسَانُ هَؤُلَاءِ الرِّجَالُ جَعَلَ اللهُ لَهُمْ مَكَانَةً فِي قُلُوبِ النَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ نَحْفَظَ سِيَرَهُمْ وَأَنْ نُدَرِّسَهَا أَبْنَاءَنَا عُمَرُ كَانَ رَجُلًا مَهِيبًا يَأْتِي فِي سِيْرَتِهِ أَنَّهُ يَسِيرُ فِي طَرِيقٍ وَخَلْفُهُ النَّفَرُ مِنَ الصَّحَابَةِ فَإِذَا الْتَفَتَ إِلَيْهِمْ خَرُّوا عَلَى الرُّكَبِ قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَهَذِهِ سُنَّةُ اللهِ فِي أَنَّ كُلَّ مَنْ خَافَ اللهَ أَخَافَ اللهُ مِنْهُ الْخَلْقَ يَجْعَلُ اللهُ فِي قُلُوبِ النَّاسِ مَهَابَةً وَمَكَانَةً لِلْمُؤْمِنِينَ الْمُتَّقِينَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ini Salah Satu Kisah Terbaik untuk Anakmu – Syaikh Ibrahim ar-Ruhaily #NasehatUlama

Inilah biografi Umar bin Khattabyang harus dipelajari dan diajarkan,serta kita ajarkan kepada anak-anak kita. Kita mengajarkan anak-anak kita biografi para Sahabat Nabi.Sebagian Salaf berkata, “Mereka mengajari anak-anak mereka biografiAbu Bakar dan Umar, sebagaimana mengajari mereka sebuah surah dari al-Quran.” Anak-anak kita hari ini, sangat disayangkan, siapa panutan mereka?Anda tahu sendiri, sebagian anak-anak kita menghafalnama-nama pemain bola, penyanyi, dan penari,padahal tidak hafal nama-nama Sahabat Nabi. Umat ini telah dijauhkan dan diasingkandari biografinya yang mewangi dan sejarahnya yang gemilang. Nama-nama ini harus selalu ada dalam setiap keluarga:Umar, Abu Bakar, Utsman, dan Ali. Para tokoh-tokoh ulama senior sangat antusias terhadap mereka,sehingga banyak dari mereka memberi nama dengan nama para al-Khulafāʾ ar-Rāsyidīn (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Sudah semestinya kita mengajari anak-anak kita.Sebaik-baik pengajaran yang Anda berikan kepada anak-anak Anda adalah mengajarkan merekabiografi Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, sehingga mereka tumbuh di atas kejantanan,besar dengan kecintaan terhadap agama,dan dewasa di atas hal-hal yang mulia,karena sungguh, mereka adalah panutan. Beberapa ulama mengatakan bahwa sebagian imanada yang tidak bisa bertambah kecuali dengan kisah-kisah biografi.Kita semua membaca al-Quran dan mempelajari Sunah,tapi kisah biografi memiliki pengaruh tersendiri. Ketika Anda menyebarkan kisahnya,kita semua tersentuh.Ketika kita menyaksikan biografi mereka, orang-orang tersentuh. Mereka adalah orang-orang yang telah Allah beri kedudukan di hati manusia.Kita harus menghafal biografi merekadan mengajarkannya kepada anak-anak kita.Umar bin Khattab adalah seorang pria yang berwibawa. Dikisahkan dalam biografinya bahwa ketika dia menempuh suatu perjalanan,sedangkan di belakangnya ada sekelompok Sahabat Nabi lain,Jika dia menoleh ke arah mereka, mereka akan menunduk ke arah tungganggan mereka. Para ulama berkata bahwa ini adalah ketetapan Allah,bahwa setiap orang yang takut kepada Allah,Allah jadikan para makhluk takut kepadanyadan meletakkan dalam hati manusia kewibawaan dan kedudukanterhadap orang-orang yang beriman dan bertakwa. ==== هَذِهِ سِيْرَةُ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ تُدْرَسَ وَتُدَرَّسَ وَأَنْ نُعَلِّمَهَا أَبْنَاءَنَا نُعَلِّمُ أَبْنَاءَنَا سِيْرَةَ الصَّحَابَةِ قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: كَانُوْا يُعَلِّمُونَ أَبْنَاءَهُمْ سِيْرَةَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ كَمَا يُعَلِّمُونَهُمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ أَبْنَاءُنَا الْيَوْمَ قُدْوَاتُهُمْ مَنْ؟ لِلْأَسَفِ أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ بَعْضَ أَبْنَاءِنَا يَحْفَظُ مِنْ أَسْمَاءِ لَاعِبِي الْكُرَةِ مِنَ الْمُغَنِّينَ مِنَ الرَّاقِصِينَ مَا لَا يَحْفَظُ مِنْ أَسْمَاءِ الصَّحَابَةِ أُبْعِدَتْ هَذِهِ الْأُمَّةُ وَغُرِّبَتْ عَنْ سِيْرَتِهَا الْعَطِرَةِ وَعَنْ تَارِيخِهَا الْمُشْرِقِ هَذِهِ الْأَسْمَاءُ يَنْبَغِي أَنْ تَبْقَى فِي الْأُسَرِ عُمَرُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَقَدْ حَرِصَ جَمْعٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَعْلَمُهُمْ وَهُمْ كَثِيرٌ سَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ فَيَنْبَغِي أَنْ نُدَرِّسَ أَبْنَاءَنَا أَفْضَلُ مَا تُقَدِّمُ لِأَبْنَاءِكَ مِنَ التَّرْبِيَةِ أَنْ تُدَرِّسَهُ سِيْرَةَ أَبِي بَكْرٍ سِيْرَةَ عُمَرَ سِيْرَةَ عُثْمَانَ سِيْرَةَ عَلِيٍّ حَتَّى يَنْشَأَ عَلَى الرُّجُولَةِ يَنْشَأَ عَلَى حُبِّ الدِّينِ يَنْشَأَ عَلَى مَعَالِي الْأُمُورِ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ قُدُوَاتٌ وَقَدْ ذَكَرَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ أَنَّ مِنَ الْإِيمَانِ مَا لَا يَزِيدُ إِلَّا بِالسِّيَرِ كُلُّنَا نَقْرَأُ الْقُرْآنَ نَقْرَأُ السُّنَّةَ لَكِنَّ السِّيْرَةَ لَهَا وَقْعٌ عِنْدَمَا تَذْكُرُ لِلنَّشْرِ كُلُّنَا نَتَأَثَّرُ عِنْدَمَا نَرَى سِيْرَةَ هَؤُلَاءِ يَتَأَثَّرُ الْإِنْسَانُ هَؤُلَاءِ الرِّجَالُ جَعَلَ اللهُ لَهُمْ مَكَانَةً فِي قُلُوبِ النَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ نَحْفَظَ سِيَرَهُمْ وَأَنْ نُدَرِّسَهَا أَبْنَاءَنَا عُمَرُ كَانَ رَجُلًا مَهِيبًا يَأْتِي فِي سِيْرَتِهِ أَنَّهُ يَسِيرُ فِي طَرِيقٍ وَخَلْفُهُ النَّفَرُ مِنَ الصَّحَابَةِ فَإِذَا الْتَفَتَ إِلَيْهِمْ خَرُّوا عَلَى الرُّكَبِ قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَهَذِهِ سُنَّةُ اللهِ فِي أَنَّ كُلَّ مَنْ خَافَ اللهَ أَخَافَ اللهُ مِنْهُ الْخَلْقَ يَجْعَلُ اللهُ فِي قُلُوبِ النَّاسِ مَهَابَةً وَمَكَانَةً لِلْمُؤْمِنِينَ الْمُتَّقِينَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Inilah biografi Umar bin Khattabyang harus dipelajari dan diajarkan,serta kita ajarkan kepada anak-anak kita. Kita mengajarkan anak-anak kita biografi para Sahabat Nabi.Sebagian Salaf berkata, “Mereka mengajari anak-anak mereka biografiAbu Bakar dan Umar, sebagaimana mengajari mereka sebuah surah dari al-Quran.” Anak-anak kita hari ini, sangat disayangkan, siapa panutan mereka?Anda tahu sendiri, sebagian anak-anak kita menghafalnama-nama pemain bola, penyanyi, dan penari,padahal tidak hafal nama-nama Sahabat Nabi. Umat ini telah dijauhkan dan diasingkandari biografinya yang mewangi dan sejarahnya yang gemilang. Nama-nama ini harus selalu ada dalam setiap keluarga:Umar, Abu Bakar, Utsman, dan Ali. Para tokoh-tokoh ulama senior sangat antusias terhadap mereka,sehingga banyak dari mereka memberi nama dengan nama para al-Khulafāʾ ar-Rāsyidīn (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Sudah semestinya kita mengajari anak-anak kita.Sebaik-baik pengajaran yang Anda berikan kepada anak-anak Anda adalah mengajarkan merekabiografi Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, sehingga mereka tumbuh di atas kejantanan,besar dengan kecintaan terhadap agama,dan dewasa di atas hal-hal yang mulia,karena sungguh, mereka adalah panutan. Beberapa ulama mengatakan bahwa sebagian imanada yang tidak bisa bertambah kecuali dengan kisah-kisah biografi.Kita semua membaca al-Quran dan mempelajari Sunah,tapi kisah biografi memiliki pengaruh tersendiri. Ketika Anda menyebarkan kisahnya,kita semua tersentuh.Ketika kita menyaksikan biografi mereka, orang-orang tersentuh. Mereka adalah orang-orang yang telah Allah beri kedudukan di hati manusia.Kita harus menghafal biografi merekadan mengajarkannya kepada anak-anak kita.Umar bin Khattab adalah seorang pria yang berwibawa. Dikisahkan dalam biografinya bahwa ketika dia menempuh suatu perjalanan,sedangkan di belakangnya ada sekelompok Sahabat Nabi lain,Jika dia menoleh ke arah mereka, mereka akan menunduk ke arah tungganggan mereka. Para ulama berkata bahwa ini adalah ketetapan Allah,bahwa setiap orang yang takut kepada Allah,Allah jadikan para makhluk takut kepadanyadan meletakkan dalam hati manusia kewibawaan dan kedudukanterhadap orang-orang yang beriman dan bertakwa. ==== هَذِهِ سِيْرَةُ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ تُدْرَسَ وَتُدَرَّسَ وَأَنْ نُعَلِّمَهَا أَبْنَاءَنَا نُعَلِّمُ أَبْنَاءَنَا سِيْرَةَ الصَّحَابَةِ قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: كَانُوْا يُعَلِّمُونَ أَبْنَاءَهُمْ سِيْرَةَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ كَمَا يُعَلِّمُونَهُمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ أَبْنَاءُنَا الْيَوْمَ قُدْوَاتُهُمْ مَنْ؟ لِلْأَسَفِ أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ بَعْضَ أَبْنَاءِنَا يَحْفَظُ مِنْ أَسْمَاءِ لَاعِبِي الْكُرَةِ مِنَ الْمُغَنِّينَ مِنَ الرَّاقِصِينَ مَا لَا يَحْفَظُ مِنْ أَسْمَاءِ الصَّحَابَةِ أُبْعِدَتْ هَذِهِ الْأُمَّةُ وَغُرِّبَتْ عَنْ سِيْرَتِهَا الْعَطِرَةِ وَعَنْ تَارِيخِهَا الْمُشْرِقِ هَذِهِ الْأَسْمَاءُ يَنْبَغِي أَنْ تَبْقَى فِي الْأُسَرِ عُمَرُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَقَدْ حَرِصَ جَمْعٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَعْلَمُهُمْ وَهُمْ كَثِيرٌ سَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ فَيَنْبَغِي أَنْ نُدَرِّسَ أَبْنَاءَنَا أَفْضَلُ مَا تُقَدِّمُ لِأَبْنَاءِكَ مِنَ التَّرْبِيَةِ أَنْ تُدَرِّسَهُ سِيْرَةَ أَبِي بَكْرٍ سِيْرَةَ عُمَرَ سِيْرَةَ عُثْمَانَ سِيْرَةَ عَلِيٍّ حَتَّى يَنْشَأَ عَلَى الرُّجُولَةِ يَنْشَأَ عَلَى حُبِّ الدِّينِ يَنْشَأَ عَلَى مَعَالِي الْأُمُورِ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ قُدُوَاتٌ وَقَدْ ذَكَرَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ أَنَّ مِنَ الْإِيمَانِ مَا لَا يَزِيدُ إِلَّا بِالسِّيَرِ كُلُّنَا نَقْرَأُ الْقُرْآنَ نَقْرَأُ السُّنَّةَ لَكِنَّ السِّيْرَةَ لَهَا وَقْعٌ عِنْدَمَا تَذْكُرُ لِلنَّشْرِ كُلُّنَا نَتَأَثَّرُ عِنْدَمَا نَرَى سِيْرَةَ هَؤُلَاءِ يَتَأَثَّرُ الْإِنْسَانُ هَؤُلَاءِ الرِّجَالُ جَعَلَ اللهُ لَهُمْ مَكَانَةً فِي قُلُوبِ النَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ نَحْفَظَ سِيَرَهُمْ وَأَنْ نُدَرِّسَهَا أَبْنَاءَنَا عُمَرُ كَانَ رَجُلًا مَهِيبًا يَأْتِي فِي سِيْرَتِهِ أَنَّهُ يَسِيرُ فِي طَرِيقٍ وَخَلْفُهُ النَّفَرُ مِنَ الصَّحَابَةِ فَإِذَا الْتَفَتَ إِلَيْهِمْ خَرُّوا عَلَى الرُّكَبِ قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَهَذِهِ سُنَّةُ اللهِ فِي أَنَّ كُلَّ مَنْ خَافَ اللهَ أَخَافَ اللهُ مِنْهُ الْخَلْقَ يَجْعَلُ اللهُ فِي قُلُوبِ النَّاسِ مَهَابَةً وَمَكَانَةً لِلْمُؤْمِنِينَ الْمُتَّقِينَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Inilah biografi Umar bin Khattabyang harus dipelajari dan diajarkan,serta kita ajarkan kepada anak-anak kita. Kita mengajarkan anak-anak kita biografi para Sahabat Nabi.Sebagian Salaf berkata, “Mereka mengajari anak-anak mereka biografiAbu Bakar dan Umar, sebagaimana mengajari mereka sebuah surah dari al-Quran.” Anak-anak kita hari ini, sangat disayangkan, siapa panutan mereka?Anda tahu sendiri, sebagian anak-anak kita menghafalnama-nama pemain bola, penyanyi, dan penari,padahal tidak hafal nama-nama Sahabat Nabi. Umat ini telah dijauhkan dan diasingkandari biografinya yang mewangi dan sejarahnya yang gemilang. Nama-nama ini harus selalu ada dalam setiap keluarga:Umar, Abu Bakar, Utsman, dan Ali. Para tokoh-tokoh ulama senior sangat antusias terhadap mereka,sehingga banyak dari mereka memberi nama dengan nama para al-Khulafāʾ ar-Rāsyidīn (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Sudah semestinya kita mengajari anak-anak kita.Sebaik-baik pengajaran yang Anda berikan kepada anak-anak Anda adalah mengajarkan merekabiografi Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, sehingga mereka tumbuh di atas kejantanan,besar dengan kecintaan terhadap agama,dan dewasa di atas hal-hal yang mulia,karena sungguh, mereka adalah panutan. Beberapa ulama mengatakan bahwa sebagian imanada yang tidak bisa bertambah kecuali dengan kisah-kisah biografi.Kita semua membaca al-Quran dan mempelajari Sunah,tapi kisah biografi memiliki pengaruh tersendiri. Ketika Anda menyebarkan kisahnya,kita semua tersentuh.Ketika kita menyaksikan biografi mereka, orang-orang tersentuh. Mereka adalah orang-orang yang telah Allah beri kedudukan di hati manusia.Kita harus menghafal biografi merekadan mengajarkannya kepada anak-anak kita.Umar bin Khattab adalah seorang pria yang berwibawa. Dikisahkan dalam biografinya bahwa ketika dia menempuh suatu perjalanan,sedangkan di belakangnya ada sekelompok Sahabat Nabi lain,Jika dia menoleh ke arah mereka, mereka akan menunduk ke arah tungganggan mereka. Para ulama berkata bahwa ini adalah ketetapan Allah,bahwa setiap orang yang takut kepada Allah,Allah jadikan para makhluk takut kepadanyadan meletakkan dalam hati manusia kewibawaan dan kedudukanterhadap orang-orang yang beriman dan bertakwa. ==== هَذِهِ سِيْرَةُ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ تُدْرَسَ وَتُدَرَّسَ وَأَنْ نُعَلِّمَهَا أَبْنَاءَنَا نُعَلِّمُ أَبْنَاءَنَا سِيْرَةَ الصَّحَابَةِ قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: كَانُوْا يُعَلِّمُونَ أَبْنَاءَهُمْ سِيْرَةَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ كَمَا يُعَلِّمُونَهُمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ أَبْنَاءُنَا الْيَوْمَ قُدْوَاتُهُمْ مَنْ؟ لِلْأَسَفِ أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ بَعْضَ أَبْنَاءِنَا يَحْفَظُ مِنْ أَسْمَاءِ لَاعِبِي الْكُرَةِ مِنَ الْمُغَنِّينَ مِنَ الرَّاقِصِينَ مَا لَا يَحْفَظُ مِنْ أَسْمَاءِ الصَّحَابَةِ أُبْعِدَتْ هَذِهِ الْأُمَّةُ وَغُرِّبَتْ عَنْ سِيْرَتِهَا الْعَطِرَةِ وَعَنْ تَارِيخِهَا الْمُشْرِقِ هَذِهِ الْأَسْمَاءُ يَنْبَغِي أَنْ تَبْقَى فِي الْأُسَرِ عُمَرُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَقَدْ حَرِصَ جَمْعٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَعْلَمُهُمْ وَهُمْ كَثِيرٌ سَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ فَيَنْبَغِي أَنْ نُدَرِّسَ أَبْنَاءَنَا أَفْضَلُ مَا تُقَدِّمُ لِأَبْنَاءِكَ مِنَ التَّرْبِيَةِ أَنْ تُدَرِّسَهُ سِيْرَةَ أَبِي بَكْرٍ سِيْرَةَ عُمَرَ سِيْرَةَ عُثْمَانَ سِيْرَةَ عَلِيٍّ حَتَّى يَنْشَأَ عَلَى الرُّجُولَةِ يَنْشَأَ عَلَى حُبِّ الدِّينِ يَنْشَأَ عَلَى مَعَالِي الْأُمُورِ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ قُدُوَاتٌ وَقَدْ ذَكَرَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ أَنَّ مِنَ الْإِيمَانِ مَا لَا يَزِيدُ إِلَّا بِالسِّيَرِ كُلُّنَا نَقْرَأُ الْقُرْآنَ نَقْرَأُ السُّنَّةَ لَكِنَّ السِّيْرَةَ لَهَا وَقْعٌ عِنْدَمَا تَذْكُرُ لِلنَّشْرِ كُلُّنَا نَتَأَثَّرُ عِنْدَمَا نَرَى سِيْرَةَ هَؤُلَاءِ يَتَأَثَّرُ الْإِنْسَانُ هَؤُلَاءِ الرِّجَالُ جَعَلَ اللهُ لَهُمْ مَكَانَةً فِي قُلُوبِ النَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ نَحْفَظَ سِيَرَهُمْ وَأَنْ نُدَرِّسَهَا أَبْنَاءَنَا عُمَرُ كَانَ رَجُلًا مَهِيبًا يَأْتِي فِي سِيْرَتِهِ أَنَّهُ يَسِيرُ فِي طَرِيقٍ وَخَلْفُهُ النَّفَرُ مِنَ الصَّحَابَةِ فَإِذَا الْتَفَتَ إِلَيْهِمْ خَرُّوا عَلَى الرُّكَبِ قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَهَذِهِ سُنَّةُ اللهِ فِي أَنَّ كُلَّ مَنْ خَافَ اللهَ أَخَافَ اللهُ مِنْهُ الْخَلْقَ يَجْعَلُ اللهُ فِي قُلُوبِ النَّاسِ مَهَابَةً وَمَكَانَةً لِلْمُؤْمِنِينَ الْمُتَّقِينَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bolehkah Menyingkap Aurat Ayah yang Lumpuh?

حكم كشف البنت عورة أبيها العاجز السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: رجل مريض ولا يستطيع خدمة نفسه فتنظفه ابنته وتكشف عورته يقول فهل يجوز مثل هذا؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Seorang laki-laki sakit dan tidak mampu mengurusi dirinya sendiri, sehingga putrinya yang membersihkannya dan harus membuka aurat ayahnya. Apakah ini diperbolehkan?” الاحابة يجوز للضرورة، لا بأس بذلك، لكن تضع على يدها حائل ولا تمس فرجه مباشرة ، تحط حائل على يدها كيس أو أي شيء. وأيضا يغطي فرجه و تدخل يدها من تحت الساتر تنظفه وتغسله من تحت الساتر. Jawaban: Boleh karena alasan darurat, jadi tidak mengapa berbuat demikian. Tapi dia harus melapisi tangannya dan tidak boleh menyentuh kemaluan ayahnya secara langsung. Lapisi tangannya dengan plastik atau yang lainnya dengan tetap menutup kemaluannya dan hanya memasukkan tangannya dari balik penutup, kemudian mencuci dan membersihkannya dari balik penutup tersebut. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18254 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kebiri Kucing Menurut Islam, Manfaat Surat Jin, Cara Memikat Wanita Menurut Islam, Doa Khatib Jumat, Cara Menghitung Fidyah Orang Meninggal, Istighfar Dan Sholawat Visited 73 times, 1 visit(s) today Post Views: 303 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Menyingkap Aurat Ayah yang Lumpuh?

حكم كشف البنت عورة أبيها العاجز السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: رجل مريض ولا يستطيع خدمة نفسه فتنظفه ابنته وتكشف عورته يقول فهل يجوز مثل هذا؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Seorang laki-laki sakit dan tidak mampu mengurusi dirinya sendiri, sehingga putrinya yang membersihkannya dan harus membuka aurat ayahnya. Apakah ini diperbolehkan?” الاحابة يجوز للضرورة، لا بأس بذلك، لكن تضع على يدها حائل ولا تمس فرجه مباشرة ، تحط حائل على يدها كيس أو أي شيء. وأيضا يغطي فرجه و تدخل يدها من تحت الساتر تنظفه وتغسله من تحت الساتر. Jawaban: Boleh karena alasan darurat, jadi tidak mengapa berbuat demikian. Tapi dia harus melapisi tangannya dan tidak boleh menyentuh kemaluan ayahnya secara langsung. Lapisi tangannya dengan plastik atau yang lainnya dengan tetap menutup kemaluannya dan hanya memasukkan tangannya dari balik penutup, kemudian mencuci dan membersihkannya dari balik penutup tersebut. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18254 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kebiri Kucing Menurut Islam, Manfaat Surat Jin, Cara Memikat Wanita Menurut Islam, Doa Khatib Jumat, Cara Menghitung Fidyah Orang Meninggal, Istighfar Dan Sholawat Visited 73 times, 1 visit(s) today Post Views: 303 QRIS donasi Yufid
حكم كشف البنت عورة أبيها العاجز السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: رجل مريض ولا يستطيع خدمة نفسه فتنظفه ابنته وتكشف عورته يقول فهل يجوز مثل هذا؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Seorang laki-laki sakit dan tidak mampu mengurusi dirinya sendiri, sehingga putrinya yang membersihkannya dan harus membuka aurat ayahnya. Apakah ini diperbolehkan?” الاحابة يجوز للضرورة، لا بأس بذلك، لكن تضع على يدها حائل ولا تمس فرجه مباشرة ، تحط حائل على يدها كيس أو أي شيء. وأيضا يغطي فرجه و تدخل يدها من تحت الساتر تنظفه وتغسله من تحت الساتر. Jawaban: Boleh karena alasan darurat, jadi tidak mengapa berbuat demikian. Tapi dia harus melapisi tangannya dan tidak boleh menyentuh kemaluan ayahnya secara langsung. Lapisi tangannya dengan plastik atau yang lainnya dengan tetap menutup kemaluannya dan hanya memasukkan tangannya dari balik penutup, kemudian mencuci dan membersihkannya dari balik penutup tersebut. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18254 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kebiri Kucing Menurut Islam, Manfaat Surat Jin, Cara Memikat Wanita Menurut Islam, Doa Khatib Jumat, Cara Menghitung Fidyah Orang Meninggal, Istighfar Dan Sholawat Visited 73 times, 1 visit(s) today Post Views: 303 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1382104678&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم كشف البنت عورة أبيها العاجز السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: رجل مريض ولا يستطيع خدمة نفسه فتنظفه ابنته وتكشف عورته يقول فهل يجوز مثل هذا؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia. Penanya ini berkata, “Seorang laki-laki sakit dan tidak mampu mengurusi dirinya sendiri, sehingga putrinya yang membersihkannya dan harus membuka aurat ayahnya. Apakah ini diperbolehkan?” الاحابة يجوز للضرورة، لا بأس بذلك، لكن تضع على يدها حائل ولا تمس فرجه مباشرة ، تحط حائل على يدها كيس أو أي شيء. وأيضا يغطي فرجه و تدخل يدها من تحت الساتر تنظفه وتغسله من تحت الساتر. Jawaban: Boleh karena alasan darurat, jadi tidak mengapa berbuat demikian. Tapi dia harus melapisi tangannya dan tidak boleh menyentuh kemaluan ayahnya secara langsung. Lapisi tangannya dengan plastik atau yang lainnya dengan tetap menutup kemaluannya dan hanya memasukkan tangannya dari balik penutup, kemudian mencuci dan membersihkannya dari balik penutup tersebut. [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18254 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kebiri Kucing Menurut Islam, Manfaat Surat Jin, Cara Memikat Wanita Menurut Islam, Doa Khatib Jumat, Cara Menghitung Fidyah Orang Meninggal, Istighfar Dan Sholawat Visited 73 times, 1 visit(s) today Post Views: 303 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Apakah Membeli Rumah dengan Kredit Riba Termasuk Darurat?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz, sebagian kawan kami membeli rumah dengan cara kredit riba. Mereka beralasan dengan kaidah “kondisi darurat membolehkan hal yang haram”. Mereka mengatakan jika tidak dengan cara kredit riba, maka mereka tidak akan bisa memiliki rumah sendiri padahal rumah adalah kebutuhan pokok. Apakah alasan ini dapat dibenarkan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Tentu itu alasan yang tidak dibenarkan, yang hanya datang dari hawa nafsu semata. Dan ini adalah syubhat yang mencampuradukkan antara hak dan batil, dan menyamarkan kebenaran. Demikian juga ini termasuk penempatan kaidah bukan pada tempatnya.  Kita jawab syubhat ini dalam beberapa poin: Pertama, tidak ada orang yang jatuh dalam kemiskinan atau berada dalam bahaya karena enggan melakukan riba. Tidak mungkin Allah jadikan kebutuhan pokok manusia satu-satunya cara mendapatkannya hanya dengan cara haram. Satu sisi ini kebutuhan yang pokok dan mendesak, tapi Allah haramkan cara mendapatkannya. Ini mustahil. Allah ta’ala berfirman: لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” (QS. al-Baqarah: 286) Dan semua yang dilarang oleh syariat justru untuk kemaslahatan manusia. Tidak mungkin syariat melarang sesuatu yang sangat urgen dibutuhkan manusia sehingga membuat manusia menjadi miskin papa dan terkena bahaya jika ditinggalkan. Para ulama menyebutkan sebuah kaidah fiqhiyyah, الشَارِعُ لَا يَـأْمُرُ إِلاَّ ِبمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً وَلاَ يَنْهَى اِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً “Islam tidak memerintahkan sesuatu, kecuali mengandung 100% kebaikan, atau kebaikannya lebih dominan. Dan Islam tidak melarang sesuatu, kecuali mengandung 100% keburukan, atau keburukannya lebih dominan.” Kedua, menggapai tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Memang benar, rumah adalah salah satu kebutuhan pokok. Karena rumah adalah salah satu nafkah yang wajib ditunaikan kepala keluarga. Dan semua manusia tentu membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung dari dingin dan panas serta untuk menutup aurat mereka. Allah ta’ala berfirman: أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu.” (QS. ath-Thalaq: 6) Dalam al-Fiqhul Muyassar (1/337) disebutkan: وشرعاً: كفاية من يَمُونُه بالمعروف قوتاً، وكسوة، ومسكناً، وتوابعها “Secara syar’i, nafaqah artinya memberikan kecukupan kepada orang yang menjadi tanggungannya dengan ma’ruf berupa quut (makanan pokok), pakaian, tempat tinggal, dan turunan-turunan dari tiga hal tersebut.” Maka, berusaha menyediakan tempat tinggal itu boleh saja, bahkan wajib bagi para kepala keluarga. Namun, menggapai tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Menyediakan rumah tidak boleh dengan cara-cara haram. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَأْتي علَى النَّاسِ زَمانٌ، لا يُبالِي المَرْءُ ما أخَذَ منه، أمِنَ الحَلالِ أمْ مِنَ الحَرامِ “Akan datang suatu zaman yang ketika itu manusia tidak lagi peduli dengan harta yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?” (HR. Bukhari no. 2059) Ketiga, perlu memahami dengan baik bagaimana penerapan kaidah “kondisi darurat membolehkan yang dilarang”. Kaidah ini tidak boleh serampangan digunakan.  Di antara yang perlu dipahami adalah apa itu kondisi darurat? Darurat adalah kondisi yang jika tidak dilakukan maka seseorang akan jatuh pada kebinasaan. Abu Abdillah az-Zarkasyi menjelaskan: فالضرورة : بلوغه حدّاً إن لم يتناول الممنوع هلك أو قارب كالمضطر للأكل ، واللبس بحيث لو بقي جائعاً أو  عرياناً لمات ، أو تلف منه عضو ، وهذا يبيح تناول المحرم .والحاجة : كالجائع الذي لو لم يجد ما يأكل لم يهلك ، غير أنه يكون في جهد ومشقة ، وهذا لا يبيح المحرَّم “Darurat itu jika kondisinya seseorang tidak mengerjakan hal yang haram tersebut, maka ia akan binasa (mati) atau hampir mati. Seperti orang yang butuh makan hingga hampir mati, atau orang yang tidak punya pakaian, sehingga jika ia kelaparan atau tidak pakai pakaian maka ia akan mati. Atau akan rusak anggota badannya. Dalam kondisi ini barulah ia boleh melakukan yang haram. Sedangkan kondisi hajat adalah seperti orang yang lapar tapi jika ia tidak mendapati makanan ia tidak mati, walaupun ia dalam kesulitan dan kesusahan karena laparnya. Kondisi seperti ini tidak membolehkan yang haram.” (Al-Mantsur fil Qawa’id, 2/319) Allah ta’ala berfirman: فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ “Siapa yang dalam kondisi darurat (lalu makan bangkai) tanpa zalim dan berlebihan, maka tidak ada dosa baginya.” (QS. al-Baqarah: 173) Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan ayat ini: وَمَنْ اُضْطُرَّ إلَى الْمَيْتَةِ، فَلَا يَأْكُلْ مِنْهَا إلَّا مَا يَأْمَنُ مَعَهُ الْمَوْتَ “Siapa yang dalam kondisi darurat untuk makan bangkai, tidak boleh memakannya kecuali dalam kondisi ia khawatir akan mati.” (Al-Mughni, 9/415) Dan kita ketahui bersama bahwa orang yang tidak membeli rumah dengan cara kredit riba tidak sampai pada kondisi demikian. Mereka tidak akan binasa jika tidak membeli rumah dengan cara kredit riba. Sehingga kondisi demikian tidak termasuk kondisi darurat yang membolehkan untuk melakukan transaksi riba. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ ketika ditanya, “Bolehkah berhutang riba ke bank untuk membangun sekedar rumah yang kecil saja?” Mereka menjawab: يحرم أخذ قرض من البنوك وغيرها بربا، سواء كان أخذه القرض للبناء أم للاستهلاك في طعام أو كسوة أو مصاريف علاج، أم كان أخذه للتجارة به وكسب نمائه، أم غير ذلك؛ لعموم آيات النهي عن الربا، وعموم الأحاديث الدالة على تحريمه “Diharamkan berhutang riba kepada bank atau kepada lembaga lainnya, baik untuk membangun rumah, atau untuk keperluan makanan, atau pakaian, atau pengobatan, ataukah untuk modal usaha dan pengembangan usaha, atau keperluan yang lainnya. Berdasarkan keumuman ayat-ayat larangan riba dan keumuman hadits-hadits yang mengharamkan riba.” (Fatawa al-Lajnah, 13/385) Selain itu, masih banyak solusi lain untuk menyediakan rumah untuk keluarga, salah satunya dengan cara menyewa rumah. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid mengatakan: وشراء السكن ليس من باب الضروروات ولا الحاجات الملحة، مادام الإنسان يجد مخرجا حيث يتمكن من الحصول على المسكن على وجه الكراء، فمازال الناس يعيشون بالكراء طوال حياتهم ولا يعد هذا حرجا تباح لأجله المحرمات “Membeli rumah bukan termasuk bab darurat dan bukan kebutuhan yang mendesak. Selama seseorang bisa mencari solusi lain seperti ia bisa menyediakan tempat tinggal dengan cara menyewa. Jika seseorang menyewa rumah sepanjang hidupnya ini pun tidak mengapa, tidak sampai membolehkan ia melakukan yang haram (dengan berhutang riba).” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.373322) Keempat, kewajiban memberikan nafkah berupa tempat tinggal tidak mengharuskan seorang kepala keluarga membeli rumah sendiri. Karena yang dituntut adalah menyediakan bukan memiliki. Maka boleh saja ia menyediakan tempat tinggal dengan cara menyewa, atau meminjam, atau menumpang orang tua, atau cara-cara lainnya yang tidak melanggar syariat. Ini sudah memenuhi kewajibannya dalam memberikan nafkah tempat tinggal. Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithi menjelaskan: فيجب على الزوج أن يسكن زوجته ويكون السكن بالمعروف فإن كان غنياً أسكنها سكن ذوي الغني وان كان فقيراً أسكنها على قدر حاله من الفقر ولا حرج أن يسكنها في سكن يملكه أو يستأجره أو يسكنها في رباط أو نحو ذلك إن كان ضيق الحال كما ذكر العلماء-رحمهم الله-  “Wajib bagi suami untuk menyediakan tempat tinggal bagi istrinya. Tempat tinggal ini tentunya yang ma’ruf (baik). Jika si suami adalah orang kaya, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal yang memadai. Namun jika si suami fakir, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal sesuai kemampuannya. Tidak mengapa tempat tinggal yang disediakan itu milik sendiri ataupun menyewa atau rumah di daerah perbatasan atau semacamnya, jika memang kondisinya susah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama.” (Transkrip muhadharah berjudul “Haqquz Zaujah” di shankeety.net) Sehingga semakin jelaslah bahwa kebutuhan akan rumah atau tempat tinggal tidak membuat seseorang boleh untuk melakukan transaksi riba yang diharamkan oleh Allah ta’ala. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk transaksi riba. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Ziarah Kubur Sesuai Sunnah, Tanda Tanda Kematian Menurut Al Quran, Hukum Sulam Alis Dalam Agama Islam, Kehebatan Nabi Khidir, Doa Sebelum Dan Sesudah Membaca Al Quran, Bacaan Sholat Maghrib Lengkap Visited 120 times, 1 visit(s) today Post Views: 342 QRIS donasi Yufid

Apakah Membeli Rumah dengan Kredit Riba Termasuk Darurat?

Pertanyaan: Izin bertanya ustadz, sebagian kawan kami membeli rumah dengan cara kredit riba. Mereka beralasan dengan kaidah “kondisi darurat membolehkan hal yang haram”. Mereka mengatakan jika tidak dengan cara kredit riba, maka mereka tidak akan bisa memiliki rumah sendiri padahal rumah adalah kebutuhan pokok. Apakah alasan ini dapat dibenarkan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Tentu itu alasan yang tidak dibenarkan, yang hanya datang dari hawa nafsu semata. Dan ini adalah syubhat yang mencampuradukkan antara hak dan batil, dan menyamarkan kebenaran. Demikian juga ini termasuk penempatan kaidah bukan pada tempatnya.  Kita jawab syubhat ini dalam beberapa poin: Pertama, tidak ada orang yang jatuh dalam kemiskinan atau berada dalam bahaya karena enggan melakukan riba. Tidak mungkin Allah jadikan kebutuhan pokok manusia satu-satunya cara mendapatkannya hanya dengan cara haram. Satu sisi ini kebutuhan yang pokok dan mendesak, tapi Allah haramkan cara mendapatkannya. Ini mustahil. Allah ta’ala berfirman: لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” (QS. al-Baqarah: 286) Dan semua yang dilarang oleh syariat justru untuk kemaslahatan manusia. Tidak mungkin syariat melarang sesuatu yang sangat urgen dibutuhkan manusia sehingga membuat manusia menjadi miskin papa dan terkena bahaya jika ditinggalkan. Para ulama menyebutkan sebuah kaidah fiqhiyyah, الشَارِعُ لَا يَـأْمُرُ إِلاَّ ِبمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً وَلاَ يَنْهَى اِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً “Islam tidak memerintahkan sesuatu, kecuali mengandung 100% kebaikan, atau kebaikannya lebih dominan. Dan Islam tidak melarang sesuatu, kecuali mengandung 100% keburukan, atau keburukannya lebih dominan.” Kedua, menggapai tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Memang benar, rumah adalah salah satu kebutuhan pokok. Karena rumah adalah salah satu nafkah yang wajib ditunaikan kepala keluarga. Dan semua manusia tentu membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung dari dingin dan panas serta untuk menutup aurat mereka. Allah ta’ala berfirman: أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu.” (QS. ath-Thalaq: 6) Dalam al-Fiqhul Muyassar (1/337) disebutkan: وشرعاً: كفاية من يَمُونُه بالمعروف قوتاً، وكسوة، ومسكناً، وتوابعها “Secara syar’i, nafaqah artinya memberikan kecukupan kepada orang yang menjadi tanggungannya dengan ma’ruf berupa quut (makanan pokok), pakaian, tempat tinggal, dan turunan-turunan dari tiga hal tersebut.” Maka, berusaha menyediakan tempat tinggal itu boleh saja, bahkan wajib bagi para kepala keluarga. Namun, menggapai tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Menyediakan rumah tidak boleh dengan cara-cara haram. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَأْتي علَى النَّاسِ زَمانٌ، لا يُبالِي المَرْءُ ما أخَذَ منه، أمِنَ الحَلالِ أمْ مِنَ الحَرامِ “Akan datang suatu zaman yang ketika itu manusia tidak lagi peduli dengan harta yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?” (HR. Bukhari no. 2059) Ketiga, perlu memahami dengan baik bagaimana penerapan kaidah “kondisi darurat membolehkan yang dilarang”. Kaidah ini tidak boleh serampangan digunakan.  Di antara yang perlu dipahami adalah apa itu kondisi darurat? Darurat adalah kondisi yang jika tidak dilakukan maka seseorang akan jatuh pada kebinasaan. Abu Abdillah az-Zarkasyi menjelaskan: فالضرورة : بلوغه حدّاً إن لم يتناول الممنوع هلك أو قارب كالمضطر للأكل ، واللبس بحيث لو بقي جائعاً أو  عرياناً لمات ، أو تلف منه عضو ، وهذا يبيح تناول المحرم .والحاجة : كالجائع الذي لو لم يجد ما يأكل لم يهلك ، غير أنه يكون في جهد ومشقة ، وهذا لا يبيح المحرَّم “Darurat itu jika kondisinya seseorang tidak mengerjakan hal yang haram tersebut, maka ia akan binasa (mati) atau hampir mati. Seperti orang yang butuh makan hingga hampir mati, atau orang yang tidak punya pakaian, sehingga jika ia kelaparan atau tidak pakai pakaian maka ia akan mati. Atau akan rusak anggota badannya. Dalam kondisi ini barulah ia boleh melakukan yang haram. Sedangkan kondisi hajat adalah seperti orang yang lapar tapi jika ia tidak mendapati makanan ia tidak mati, walaupun ia dalam kesulitan dan kesusahan karena laparnya. Kondisi seperti ini tidak membolehkan yang haram.” (Al-Mantsur fil Qawa’id, 2/319) Allah ta’ala berfirman: فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ “Siapa yang dalam kondisi darurat (lalu makan bangkai) tanpa zalim dan berlebihan, maka tidak ada dosa baginya.” (QS. al-Baqarah: 173) Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan ayat ini: وَمَنْ اُضْطُرَّ إلَى الْمَيْتَةِ، فَلَا يَأْكُلْ مِنْهَا إلَّا مَا يَأْمَنُ مَعَهُ الْمَوْتَ “Siapa yang dalam kondisi darurat untuk makan bangkai, tidak boleh memakannya kecuali dalam kondisi ia khawatir akan mati.” (Al-Mughni, 9/415) Dan kita ketahui bersama bahwa orang yang tidak membeli rumah dengan cara kredit riba tidak sampai pada kondisi demikian. Mereka tidak akan binasa jika tidak membeli rumah dengan cara kredit riba. Sehingga kondisi demikian tidak termasuk kondisi darurat yang membolehkan untuk melakukan transaksi riba. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ ketika ditanya, “Bolehkah berhutang riba ke bank untuk membangun sekedar rumah yang kecil saja?” Mereka menjawab: يحرم أخذ قرض من البنوك وغيرها بربا، سواء كان أخذه القرض للبناء أم للاستهلاك في طعام أو كسوة أو مصاريف علاج، أم كان أخذه للتجارة به وكسب نمائه، أم غير ذلك؛ لعموم آيات النهي عن الربا، وعموم الأحاديث الدالة على تحريمه “Diharamkan berhutang riba kepada bank atau kepada lembaga lainnya, baik untuk membangun rumah, atau untuk keperluan makanan, atau pakaian, atau pengobatan, ataukah untuk modal usaha dan pengembangan usaha, atau keperluan yang lainnya. Berdasarkan keumuman ayat-ayat larangan riba dan keumuman hadits-hadits yang mengharamkan riba.” (Fatawa al-Lajnah, 13/385) Selain itu, masih banyak solusi lain untuk menyediakan rumah untuk keluarga, salah satunya dengan cara menyewa rumah. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid mengatakan: وشراء السكن ليس من باب الضروروات ولا الحاجات الملحة، مادام الإنسان يجد مخرجا حيث يتمكن من الحصول على المسكن على وجه الكراء، فمازال الناس يعيشون بالكراء طوال حياتهم ولا يعد هذا حرجا تباح لأجله المحرمات “Membeli rumah bukan termasuk bab darurat dan bukan kebutuhan yang mendesak. Selama seseorang bisa mencari solusi lain seperti ia bisa menyediakan tempat tinggal dengan cara menyewa. Jika seseorang menyewa rumah sepanjang hidupnya ini pun tidak mengapa, tidak sampai membolehkan ia melakukan yang haram (dengan berhutang riba).” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.373322) Keempat, kewajiban memberikan nafkah berupa tempat tinggal tidak mengharuskan seorang kepala keluarga membeli rumah sendiri. Karena yang dituntut adalah menyediakan bukan memiliki. Maka boleh saja ia menyediakan tempat tinggal dengan cara menyewa, atau meminjam, atau menumpang orang tua, atau cara-cara lainnya yang tidak melanggar syariat. Ini sudah memenuhi kewajibannya dalam memberikan nafkah tempat tinggal. Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithi menjelaskan: فيجب على الزوج أن يسكن زوجته ويكون السكن بالمعروف فإن كان غنياً أسكنها سكن ذوي الغني وان كان فقيراً أسكنها على قدر حاله من الفقر ولا حرج أن يسكنها في سكن يملكه أو يستأجره أو يسكنها في رباط أو نحو ذلك إن كان ضيق الحال كما ذكر العلماء-رحمهم الله-  “Wajib bagi suami untuk menyediakan tempat tinggal bagi istrinya. Tempat tinggal ini tentunya yang ma’ruf (baik). Jika si suami adalah orang kaya, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal yang memadai. Namun jika si suami fakir, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal sesuai kemampuannya. Tidak mengapa tempat tinggal yang disediakan itu milik sendiri ataupun menyewa atau rumah di daerah perbatasan atau semacamnya, jika memang kondisinya susah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama.” (Transkrip muhadharah berjudul “Haqquz Zaujah” di shankeety.net) Sehingga semakin jelaslah bahwa kebutuhan akan rumah atau tempat tinggal tidak membuat seseorang boleh untuk melakukan transaksi riba yang diharamkan oleh Allah ta’ala. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk transaksi riba. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Ziarah Kubur Sesuai Sunnah, Tanda Tanda Kematian Menurut Al Quran, Hukum Sulam Alis Dalam Agama Islam, Kehebatan Nabi Khidir, Doa Sebelum Dan Sesudah Membaca Al Quran, Bacaan Sholat Maghrib Lengkap Visited 120 times, 1 visit(s) today Post Views: 342 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Izin bertanya ustadz, sebagian kawan kami membeli rumah dengan cara kredit riba. Mereka beralasan dengan kaidah “kondisi darurat membolehkan hal yang haram”. Mereka mengatakan jika tidak dengan cara kredit riba, maka mereka tidak akan bisa memiliki rumah sendiri padahal rumah adalah kebutuhan pokok. Apakah alasan ini dapat dibenarkan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Tentu itu alasan yang tidak dibenarkan, yang hanya datang dari hawa nafsu semata. Dan ini adalah syubhat yang mencampuradukkan antara hak dan batil, dan menyamarkan kebenaran. Demikian juga ini termasuk penempatan kaidah bukan pada tempatnya.  Kita jawab syubhat ini dalam beberapa poin: Pertama, tidak ada orang yang jatuh dalam kemiskinan atau berada dalam bahaya karena enggan melakukan riba. Tidak mungkin Allah jadikan kebutuhan pokok manusia satu-satunya cara mendapatkannya hanya dengan cara haram. Satu sisi ini kebutuhan yang pokok dan mendesak, tapi Allah haramkan cara mendapatkannya. Ini mustahil. Allah ta’ala berfirman: لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” (QS. al-Baqarah: 286) Dan semua yang dilarang oleh syariat justru untuk kemaslahatan manusia. Tidak mungkin syariat melarang sesuatu yang sangat urgen dibutuhkan manusia sehingga membuat manusia menjadi miskin papa dan terkena bahaya jika ditinggalkan. Para ulama menyebutkan sebuah kaidah fiqhiyyah, الشَارِعُ لَا يَـأْمُرُ إِلاَّ ِبمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً وَلاَ يَنْهَى اِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً “Islam tidak memerintahkan sesuatu, kecuali mengandung 100% kebaikan, atau kebaikannya lebih dominan. Dan Islam tidak melarang sesuatu, kecuali mengandung 100% keburukan, atau keburukannya lebih dominan.” Kedua, menggapai tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Memang benar, rumah adalah salah satu kebutuhan pokok. Karena rumah adalah salah satu nafkah yang wajib ditunaikan kepala keluarga. Dan semua manusia tentu membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung dari dingin dan panas serta untuk menutup aurat mereka. Allah ta’ala berfirman: أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu.” (QS. ath-Thalaq: 6) Dalam al-Fiqhul Muyassar (1/337) disebutkan: وشرعاً: كفاية من يَمُونُه بالمعروف قوتاً، وكسوة، ومسكناً، وتوابعها “Secara syar’i, nafaqah artinya memberikan kecukupan kepada orang yang menjadi tanggungannya dengan ma’ruf berupa quut (makanan pokok), pakaian, tempat tinggal, dan turunan-turunan dari tiga hal tersebut.” Maka, berusaha menyediakan tempat tinggal itu boleh saja, bahkan wajib bagi para kepala keluarga. Namun, menggapai tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Menyediakan rumah tidak boleh dengan cara-cara haram. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَأْتي علَى النَّاسِ زَمانٌ، لا يُبالِي المَرْءُ ما أخَذَ منه، أمِنَ الحَلالِ أمْ مِنَ الحَرامِ “Akan datang suatu zaman yang ketika itu manusia tidak lagi peduli dengan harta yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?” (HR. Bukhari no. 2059) Ketiga, perlu memahami dengan baik bagaimana penerapan kaidah “kondisi darurat membolehkan yang dilarang”. Kaidah ini tidak boleh serampangan digunakan.  Di antara yang perlu dipahami adalah apa itu kondisi darurat? Darurat adalah kondisi yang jika tidak dilakukan maka seseorang akan jatuh pada kebinasaan. Abu Abdillah az-Zarkasyi menjelaskan: فالضرورة : بلوغه حدّاً إن لم يتناول الممنوع هلك أو قارب كالمضطر للأكل ، واللبس بحيث لو بقي جائعاً أو  عرياناً لمات ، أو تلف منه عضو ، وهذا يبيح تناول المحرم .والحاجة : كالجائع الذي لو لم يجد ما يأكل لم يهلك ، غير أنه يكون في جهد ومشقة ، وهذا لا يبيح المحرَّم “Darurat itu jika kondisinya seseorang tidak mengerjakan hal yang haram tersebut, maka ia akan binasa (mati) atau hampir mati. Seperti orang yang butuh makan hingga hampir mati, atau orang yang tidak punya pakaian, sehingga jika ia kelaparan atau tidak pakai pakaian maka ia akan mati. Atau akan rusak anggota badannya. Dalam kondisi ini barulah ia boleh melakukan yang haram. Sedangkan kondisi hajat adalah seperti orang yang lapar tapi jika ia tidak mendapati makanan ia tidak mati, walaupun ia dalam kesulitan dan kesusahan karena laparnya. Kondisi seperti ini tidak membolehkan yang haram.” (Al-Mantsur fil Qawa’id, 2/319) Allah ta’ala berfirman: فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ “Siapa yang dalam kondisi darurat (lalu makan bangkai) tanpa zalim dan berlebihan, maka tidak ada dosa baginya.” (QS. al-Baqarah: 173) Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan ayat ini: وَمَنْ اُضْطُرَّ إلَى الْمَيْتَةِ، فَلَا يَأْكُلْ مِنْهَا إلَّا مَا يَأْمَنُ مَعَهُ الْمَوْتَ “Siapa yang dalam kondisi darurat untuk makan bangkai, tidak boleh memakannya kecuali dalam kondisi ia khawatir akan mati.” (Al-Mughni, 9/415) Dan kita ketahui bersama bahwa orang yang tidak membeli rumah dengan cara kredit riba tidak sampai pada kondisi demikian. Mereka tidak akan binasa jika tidak membeli rumah dengan cara kredit riba. Sehingga kondisi demikian tidak termasuk kondisi darurat yang membolehkan untuk melakukan transaksi riba. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ ketika ditanya, “Bolehkah berhutang riba ke bank untuk membangun sekedar rumah yang kecil saja?” Mereka menjawab: يحرم أخذ قرض من البنوك وغيرها بربا، سواء كان أخذه القرض للبناء أم للاستهلاك في طعام أو كسوة أو مصاريف علاج، أم كان أخذه للتجارة به وكسب نمائه، أم غير ذلك؛ لعموم آيات النهي عن الربا، وعموم الأحاديث الدالة على تحريمه “Diharamkan berhutang riba kepada bank atau kepada lembaga lainnya, baik untuk membangun rumah, atau untuk keperluan makanan, atau pakaian, atau pengobatan, ataukah untuk modal usaha dan pengembangan usaha, atau keperluan yang lainnya. Berdasarkan keumuman ayat-ayat larangan riba dan keumuman hadits-hadits yang mengharamkan riba.” (Fatawa al-Lajnah, 13/385) Selain itu, masih banyak solusi lain untuk menyediakan rumah untuk keluarga, salah satunya dengan cara menyewa rumah. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid mengatakan: وشراء السكن ليس من باب الضروروات ولا الحاجات الملحة، مادام الإنسان يجد مخرجا حيث يتمكن من الحصول على المسكن على وجه الكراء، فمازال الناس يعيشون بالكراء طوال حياتهم ولا يعد هذا حرجا تباح لأجله المحرمات “Membeli rumah bukan termasuk bab darurat dan bukan kebutuhan yang mendesak. Selama seseorang bisa mencari solusi lain seperti ia bisa menyediakan tempat tinggal dengan cara menyewa. Jika seseorang menyewa rumah sepanjang hidupnya ini pun tidak mengapa, tidak sampai membolehkan ia melakukan yang haram (dengan berhutang riba).” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.373322) Keempat, kewajiban memberikan nafkah berupa tempat tinggal tidak mengharuskan seorang kepala keluarga membeli rumah sendiri. Karena yang dituntut adalah menyediakan bukan memiliki. Maka boleh saja ia menyediakan tempat tinggal dengan cara menyewa, atau meminjam, atau menumpang orang tua, atau cara-cara lainnya yang tidak melanggar syariat. Ini sudah memenuhi kewajibannya dalam memberikan nafkah tempat tinggal. Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithi menjelaskan: فيجب على الزوج أن يسكن زوجته ويكون السكن بالمعروف فإن كان غنياً أسكنها سكن ذوي الغني وان كان فقيراً أسكنها على قدر حاله من الفقر ولا حرج أن يسكنها في سكن يملكه أو يستأجره أو يسكنها في رباط أو نحو ذلك إن كان ضيق الحال كما ذكر العلماء-رحمهم الله-  “Wajib bagi suami untuk menyediakan tempat tinggal bagi istrinya. Tempat tinggal ini tentunya yang ma’ruf (baik). Jika si suami adalah orang kaya, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal yang memadai. Namun jika si suami fakir, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal sesuai kemampuannya. Tidak mengapa tempat tinggal yang disediakan itu milik sendiri ataupun menyewa atau rumah di daerah perbatasan atau semacamnya, jika memang kondisinya susah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama.” (Transkrip muhadharah berjudul “Haqquz Zaujah” di shankeety.net) Sehingga semakin jelaslah bahwa kebutuhan akan rumah atau tempat tinggal tidak membuat seseorang boleh untuk melakukan transaksi riba yang diharamkan oleh Allah ta’ala. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk transaksi riba. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Ziarah Kubur Sesuai Sunnah, Tanda Tanda Kematian Menurut Al Quran, Hukum Sulam Alis Dalam Agama Islam, Kehebatan Nabi Khidir, Doa Sebelum Dan Sesudah Membaca Al Quran, Bacaan Sholat Maghrib Lengkap Visited 120 times, 1 visit(s) today Post Views: 342 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1357097992&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Izin bertanya ustadz, sebagian kawan kami membeli rumah dengan cara kredit riba. Mereka beralasan dengan kaidah “kondisi darurat membolehkan hal yang haram”. Mereka mengatakan jika tidak dengan cara kredit riba, maka mereka tidak akan bisa memiliki rumah sendiri padahal rumah adalah kebutuhan pokok. Apakah alasan ini dapat dibenarkan? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Tentu itu alasan yang tidak dibenarkan, yang hanya datang dari hawa nafsu semata. Dan ini adalah syubhat yang mencampuradukkan antara hak dan batil, dan menyamarkan kebenaran. Demikian juga ini termasuk penempatan kaidah bukan pada tempatnya.  Kita jawab syubhat ini dalam beberapa poin: Pertama, tidak ada orang yang jatuh dalam kemiskinan atau berada dalam bahaya karena enggan melakukan riba. Tidak mungkin Allah jadikan kebutuhan pokok manusia satu-satunya cara mendapatkannya hanya dengan cara haram. Satu sisi ini kebutuhan yang pokok dan mendesak, tapi Allah haramkan cara mendapatkannya. Ini mustahil. Allah ta’ala berfirman: لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” (QS. al-Baqarah: 286) Dan semua yang dilarang oleh syariat justru untuk kemaslahatan manusia. Tidak mungkin syariat melarang sesuatu yang sangat urgen dibutuhkan manusia sehingga membuat manusia menjadi miskin papa dan terkena bahaya jika ditinggalkan. Para ulama menyebutkan sebuah kaidah fiqhiyyah, الشَارِعُ لَا يَـأْمُرُ إِلاَّ ِبمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً وَلاَ يَنْهَى اِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً “Islam tidak memerintahkan sesuatu, kecuali mengandung 100% kebaikan, atau kebaikannya lebih dominan. Dan Islam tidak melarang sesuatu, kecuali mengandung 100% keburukan, atau keburukannya lebih dominan.” Kedua, menggapai tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Memang benar, rumah adalah salah satu kebutuhan pokok. Karena rumah adalah salah satu nafkah yang wajib ditunaikan kepala keluarga. Dan semua manusia tentu membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung dari dingin dan panas serta untuk menutup aurat mereka. Allah ta’ala berfirman: أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu.” (QS. ath-Thalaq: 6) Dalam al-Fiqhul Muyassar (1/337) disebutkan: وشرعاً: كفاية من يَمُونُه بالمعروف قوتاً، وكسوة، ومسكناً، وتوابعها “Secara syar’i, nafaqah artinya memberikan kecukupan kepada orang yang menjadi tanggungannya dengan ma’ruf berupa quut (makanan pokok), pakaian, tempat tinggal, dan turunan-turunan dari tiga hal tersebut.” Maka, berusaha menyediakan tempat tinggal itu boleh saja, bahkan wajib bagi para kepala keluarga. Namun, menggapai tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Menyediakan rumah tidak boleh dengan cara-cara haram. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَأْتي علَى النَّاسِ زَمانٌ، لا يُبالِي المَرْءُ ما أخَذَ منه، أمِنَ الحَلالِ أمْ مِنَ الحَرامِ “Akan datang suatu zaman yang ketika itu manusia tidak lagi peduli dengan harta yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?” (HR. Bukhari no. 2059) Ketiga, perlu memahami dengan baik bagaimana penerapan kaidah “kondisi darurat membolehkan yang dilarang”. Kaidah ini tidak boleh serampangan digunakan.  Di antara yang perlu dipahami adalah apa itu kondisi darurat? Darurat adalah kondisi yang jika tidak dilakukan maka seseorang akan jatuh pada kebinasaan. Abu Abdillah az-Zarkasyi menjelaskan: فالضرورة : بلوغه حدّاً إن لم يتناول الممنوع هلك أو قارب كالمضطر للأكل ، واللبس بحيث لو بقي جائعاً أو  عرياناً لمات ، أو تلف منه عضو ، وهذا يبيح تناول المحرم .والحاجة : كالجائع الذي لو لم يجد ما يأكل لم يهلك ، غير أنه يكون في جهد ومشقة ، وهذا لا يبيح المحرَّم “Darurat itu jika kondisinya seseorang tidak mengerjakan hal yang haram tersebut, maka ia akan binasa (mati) atau hampir mati. Seperti orang yang butuh makan hingga hampir mati, atau orang yang tidak punya pakaian, sehingga jika ia kelaparan atau tidak pakai pakaian maka ia akan mati. Atau akan rusak anggota badannya. Dalam kondisi ini barulah ia boleh melakukan yang haram. Sedangkan kondisi hajat adalah seperti orang yang lapar tapi jika ia tidak mendapati makanan ia tidak mati, walaupun ia dalam kesulitan dan kesusahan karena laparnya. Kondisi seperti ini tidak membolehkan yang haram.” (Al-Mantsur fil Qawa’id, 2/319) Allah ta’ala berfirman: فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ “Siapa yang dalam kondisi darurat (lalu makan bangkai) tanpa zalim dan berlebihan, maka tidak ada dosa baginya.” (QS. al-Baqarah: 173) Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan ayat ini: وَمَنْ اُضْطُرَّ إلَى الْمَيْتَةِ، فَلَا يَأْكُلْ مِنْهَا إلَّا مَا يَأْمَنُ مَعَهُ الْمَوْتَ “Siapa yang dalam kondisi darurat untuk makan bangkai, tidak boleh memakannya kecuali dalam kondisi ia khawatir akan mati.” (Al-Mughni, 9/415) Dan kita ketahui bersama bahwa orang yang tidak membeli rumah dengan cara kredit riba tidak sampai pada kondisi demikian. Mereka tidak akan binasa jika tidak membeli rumah dengan cara kredit riba. Sehingga kondisi demikian tidak termasuk kondisi darurat yang membolehkan untuk melakukan transaksi riba. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ ketika ditanya, “Bolehkah berhutang riba ke bank untuk membangun sekedar rumah yang kecil saja?” Mereka menjawab: يحرم أخذ قرض من البنوك وغيرها بربا، سواء كان أخذه القرض للبناء أم للاستهلاك في طعام أو كسوة أو مصاريف علاج، أم كان أخذه للتجارة به وكسب نمائه، أم غير ذلك؛ لعموم آيات النهي عن الربا، وعموم الأحاديث الدالة على تحريمه “Diharamkan berhutang riba kepada bank atau kepada lembaga lainnya, baik untuk membangun rumah, atau untuk keperluan makanan, atau pakaian, atau pengobatan, ataukah untuk modal usaha dan pengembangan usaha, atau keperluan yang lainnya. Berdasarkan keumuman ayat-ayat larangan riba dan keumuman hadits-hadits yang mengharamkan riba.” (Fatawa al-Lajnah, 13/385) Selain itu, masih banyak solusi lain untuk menyediakan rumah untuk keluarga, salah satunya dengan cara menyewa rumah. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid mengatakan: وشراء السكن ليس من باب الضروروات ولا الحاجات الملحة، مادام الإنسان يجد مخرجا حيث يتمكن من الحصول على المسكن على وجه الكراء، فمازال الناس يعيشون بالكراء طوال حياتهم ولا يعد هذا حرجا تباح لأجله المحرمات “Membeli rumah bukan termasuk bab darurat dan bukan kebutuhan yang mendesak. Selama seseorang bisa mencari solusi lain seperti ia bisa menyediakan tempat tinggal dengan cara menyewa. Jika seseorang menyewa rumah sepanjang hidupnya ini pun tidak mengapa, tidak sampai membolehkan ia melakukan yang haram (dengan berhutang riba).” (Fatawa Islam Sual wa Jawab, no.373322) Keempat, kewajiban memberikan nafkah berupa tempat tinggal tidak mengharuskan seorang kepala keluarga membeli rumah sendiri. Karena yang dituntut adalah menyediakan bukan memiliki. Maka boleh saja ia menyediakan tempat tinggal dengan cara menyewa, atau meminjam, atau menumpang orang tua, atau cara-cara lainnya yang tidak melanggar syariat. Ini sudah memenuhi kewajibannya dalam memberikan nafkah tempat tinggal. Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithi menjelaskan: فيجب على الزوج أن يسكن زوجته ويكون السكن بالمعروف فإن كان غنياً أسكنها سكن ذوي الغني وان كان فقيراً أسكنها على قدر حاله من الفقر ولا حرج أن يسكنها في سكن يملكه أو يستأجره أو يسكنها في رباط أو نحو ذلك إن كان ضيق الحال كما ذكر العلماء-رحمهم الله-  “Wajib bagi suami untuk menyediakan tempat tinggal bagi istrinya. Tempat tinggal ini tentunya yang ma’ruf (baik). Jika si suami adalah orang kaya, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal yang memadai. Namun jika si suami fakir, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal sesuai kemampuannya. Tidak mengapa tempat tinggal yang disediakan itu milik sendiri ataupun menyewa atau rumah di daerah perbatasan atau semacamnya, jika memang kondisinya susah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama.” (Transkrip muhadharah berjudul “Haqquz Zaujah” di shankeety.net) Sehingga semakin jelaslah bahwa kebutuhan akan rumah atau tempat tinggal tidak membuat seseorang boleh untuk melakukan transaksi riba yang diharamkan oleh Allah ta’ala. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk transaksi riba. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Doa Ziarah Kubur Sesuai Sunnah, Tanda Tanda Kematian Menurut Al Quran, Hukum Sulam Alis Dalam Agama Islam, Kehebatan Nabi Khidir, Doa Sebelum Dan Sesudah Membaca Al Quran, Bacaan Sholat Maghrib Lengkap Visited 120 times, 1 visit(s) today Post Views: 342 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Apakah Boleh Memfoto Orang Lain Diam-Diam, Tanpa Izin?

Apakah boleh memfoto orang lain diam-diam tanpa izin?   Daftar Isi tutup 1. Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah 2. Kalimat dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Rujukan Dalilnya 3. Kaidah “Harus Meminta Izin” 3.1. Referensi:   Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah Kesimpulan dari perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, memfoto orang lain itu tidak dibolehkan secara diam-diam dengan syarat: memfotonya diam-diam, menyebarkan foto tersebut hingga timbul kerusakan, tanpa izin atau rida yang difoto. Jika memang yang difoto menyatakan tidak ridanya, maka sudah sepantasnya tidak dilakukan.   Kalimat dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Rujukan Dalilnya Perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Fath Dzi Al-Jalaal wa Al-Ikram (15:329): وهل مثل ذلك أن يلتقط صورتهم وهم جلوس؟ نعم وهذا أيضا قد يكون من باب أولى. لأن الصورة تحفظ وتنشر فيكون البلاء والفتنة أعظم وأكبر، وعلى هذا فلا يجوز للإنسان أن يلتقط صورة أحد إلا بإذنه، حتى لو كان يعرف أن هذا الرجل يقول بجواز التقاط للصور فإنه لا يجوز أن يلتقطه إلا بأذنه، لاسيما إذا كان يعلم أنه يكره أن تلتقط صورته. Pembahasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah faedah dari hadits: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair. Baca juga: Tajassus, Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain Ada orang yang difoto biasa-biasa saja keadaannya walau diam-diam dan tak ada kerusakan setelah itu, bahkan ia termasuk orang yang senang difoto, maka tak ada problem untuk kasus semacam ini.   Kaidah “Harus Meminta Izin” Ada kaidah dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah: وَكُلُّ مَا دَلَّ عَلَى الْإِذْنِ فَهُوَ إذْنٌ وأما إذا لم يأذن أو أذن إذنا غير جائز “Segala sesuatu yang bermakna izin maka dihukumi sebagai izin. Adapun jika tidak ia izinkan atau tidak dijadikan izin, maka tidaklah dibolehkan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:272). Baca juga: Memanfaatkan Milik Orang Lain Harus dengan Izin   Referensi: Fath Dzi Al-Jalaali wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram Kitaab Al-Jaami’. Cetakan pertama, Tahun 1435 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathn. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Dar Al-Wafa’ & Dar Ibn Al-Jauzi.   — Darush Sholihin, 15 Safar 1444 H, 11 September 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab meminta izin fotografi hukum foto meminta izin

Apakah Boleh Memfoto Orang Lain Diam-Diam, Tanpa Izin?

Apakah boleh memfoto orang lain diam-diam tanpa izin?   Daftar Isi tutup 1. Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah 2. Kalimat dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Rujukan Dalilnya 3. Kaidah “Harus Meminta Izin” 3.1. Referensi:   Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah Kesimpulan dari perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, memfoto orang lain itu tidak dibolehkan secara diam-diam dengan syarat: memfotonya diam-diam, menyebarkan foto tersebut hingga timbul kerusakan, tanpa izin atau rida yang difoto. Jika memang yang difoto menyatakan tidak ridanya, maka sudah sepantasnya tidak dilakukan.   Kalimat dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Rujukan Dalilnya Perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Fath Dzi Al-Jalaal wa Al-Ikram (15:329): وهل مثل ذلك أن يلتقط صورتهم وهم جلوس؟ نعم وهذا أيضا قد يكون من باب أولى. لأن الصورة تحفظ وتنشر فيكون البلاء والفتنة أعظم وأكبر، وعلى هذا فلا يجوز للإنسان أن يلتقط صورة أحد إلا بإذنه، حتى لو كان يعرف أن هذا الرجل يقول بجواز التقاط للصور فإنه لا يجوز أن يلتقطه إلا بأذنه، لاسيما إذا كان يعلم أنه يكره أن تلتقط صورته. Pembahasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah faedah dari hadits: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair. Baca juga: Tajassus, Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain Ada orang yang difoto biasa-biasa saja keadaannya walau diam-diam dan tak ada kerusakan setelah itu, bahkan ia termasuk orang yang senang difoto, maka tak ada problem untuk kasus semacam ini.   Kaidah “Harus Meminta Izin” Ada kaidah dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah: وَكُلُّ مَا دَلَّ عَلَى الْإِذْنِ فَهُوَ إذْنٌ وأما إذا لم يأذن أو أذن إذنا غير جائز “Segala sesuatu yang bermakna izin maka dihukumi sebagai izin. Adapun jika tidak ia izinkan atau tidak dijadikan izin, maka tidaklah dibolehkan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:272). Baca juga: Memanfaatkan Milik Orang Lain Harus dengan Izin   Referensi: Fath Dzi Al-Jalaali wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram Kitaab Al-Jaami’. Cetakan pertama, Tahun 1435 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathn. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Dar Al-Wafa’ & Dar Ibn Al-Jauzi.   — Darush Sholihin, 15 Safar 1444 H, 11 September 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab meminta izin fotografi hukum foto meminta izin
Apakah boleh memfoto orang lain diam-diam tanpa izin?   Daftar Isi tutup 1. Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah 2. Kalimat dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Rujukan Dalilnya 3. Kaidah “Harus Meminta Izin” 3.1. Referensi:   Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah Kesimpulan dari perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, memfoto orang lain itu tidak dibolehkan secara diam-diam dengan syarat: memfotonya diam-diam, menyebarkan foto tersebut hingga timbul kerusakan, tanpa izin atau rida yang difoto. Jika memang yang difoto menyatakan tidak ridanya, maka sudah sepantasnya tidak dilakukan.   Kalimat dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Rujukan Dalilnya Perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Fath Dzi Al-Jalaal wa Al-Ikram (15:329): وهل مثل ذلك أن يلتقط صورتهم وهم جلوس؟ نعم وهذا أيضا قد يكون من باب أولى. لأن الصورة تحفظ وتنشر فيكون البلاء والفتنة أعظم وأكبر، وعلى هذا فلا يجوز للإنسان أن يلتقط صورة أحد إلا بإذنه، حتى لو كان يعرف أن هذا الرجل يقول بجواز التقاط للصور فإنه لا يجوز أن يلتقطه إلا بأذنه، لاسيما إذا كان يعلم أنه يكره أن تلتقط صورته. Pembahasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah faedah dari hadits: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair. Baca juga: Tajassus, Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain Ada orang yang difoto biasa-biasa saja keadaannya walau diam-diam dan tak ada kerusakan setelah itu, bahkan ia termasuk orang yang senang difoto, maka tak ada problem untuk kasus semacam ini.   Kaidah “Harus Meminta Izin” Ada kaidah dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah: وَكُلُّ مَا دَلَّ عَلَى الْإِذْنِ فَهُوَ إذْنٌ وأما إذا لم يأذن أو أذن إذنا غير جائز “Segala sesuatu yang bermakna izin maka dihukumi sebagai izin. Adapun jika tidak ia izinkan atau tidak dijadikan izin, maka tidaklah dibolehkan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:272). Baca juga: Memanfaatkan Milik Orang Lain Harus dengan Izin   Referensi: Fath Dzi Al-Jalaali wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram Kitaab Al-Jaami’. Cetakan pertama, Tahun 1435 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathn. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Dar Al-Wafa’ & Dar Ibn Al-Jauzi.   — Darush Sholihin, 15 Safar 1444 H, 11 September 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab meminta izin fotografi hukum foto meminta izin


Apakah boleh memfoto orang lain diam-diam tanpa izin?   Daftar Isi tutup 1. Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah 2. Kalimat dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Rujukan Dalilnya 3. Kaidah “Harus Meminta Izin” 3.1. Referensi:   Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah Kesimpulan dari perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, memfoto orang lain itu tidak dibolehkan secara diam-diam dengan syarat: memfotonya diam-diam, menyebarkan foto tersebut hingga timbul kerusakan, tanpa izin atau rida yang difoto. Jika memang yang difoto menyatakan tidak ridanya, maka sudah sepantasnya tidak dilakukan.   Kalimat dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Rujukan Dalilnya Perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Fath Dzi Al-Jalaal wa Al-Ikram (15:329): وهل مثل ذلك أن يلتقط صورتهم وهم جلوس؟ نعم وهذا أيضا قد يكون من باب أولى. لأن الصورة تحفظ وتنشر فيكون البلاء والفتنة أعظم وأكبر، وعلى هذا فلا يجوز للإنسان أن يلتقط صورة أحد إلا بإذنه، حتى لو كان يعرف أن هذا الرجل يقول بجواز التقاط للصور فإنه لا يجوز أن يلتقطه إلا بأذنه، لاسيما إذا كان يعلم أنه يكره أن تلتقط صورته. Pembahasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah faedah dari hadits: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair. Baca juga: Tajassus, Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain Ada orang yang difoto biasa-biasa saja keadaannya walau diam-diam dan tak ada kerusakan setelah itu, bahkan ia termasuk orang yang senang difoto, maka tak ada problem untuk kasus semacam ini.   Kaidah “Harus Meminta Izin” Ada kaidah dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah: وَكُلُّ مَا دَلَّ عَلَى الْإِذْنِ فَهُوَ إذْنٌ وأما إذا لم يأذن أو أذن إذنا غير جائز “Segala sesuatu yang bermakna izin maka dihukumi sebagai izin. Adapun jika tidak ia izinkan atau tidak dijadikan izin, maka tidaklah dibolehkan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:272). Baca juga: Memanfaatkan Milik Orang Lain Harus dengan Izin   Referensi: Fath Dzi Al-Jalaali wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram Kitaab Al-Jaami’. Cetakan pertama, Tahun 1435 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathn. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Syaikhul Islam Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Dar Al-Wafa’ & Dar Ibn Al-Jauzi.   — Darush Sholihin, 15 Safar 1444 H, 11 September 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab meminta izin fotografi hukum foto meminta izin

Penjelasan Hadits tentang Memukul Anak

Pertanyaan: Saya ingin bertanya tentang hadits: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika usianya 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika usianya 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud) Apakah hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak jika tidak mau shalat? Atau bagaimana pemahaman yang benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Hadits tersebut adalah hadits yang shahih, diriwayatkan dari kakeknya Amr bin Syu’aib radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud. Dan benar bahwa hadits ini merupakan dalil bolehnya memukul anak yang enggan shalat. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: وَالاِسْتِدْلاَل بِهِ وَاضِحٌ، لأَِنَّهُ يَتَنَاوَل الصَّبِيَّ وَالصَّبِيَّةَ فِي الأَْمْرِ بِالصَّلاَةِ وَالضَّرْبِ عَلَيْهَا “Pendalilan dari hadits ini sangat jelas, tentang wajibnya memerintahkan anak untuk shalat dan bolehnya memukul mereka, karena lafadz hadits ini mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 3/11) Namun perihal memukul anak dalam masalah ini terdapat kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dengan baik, tidak boleh serampangan. Di antaranya: 1. Tujuan memukul adalah untuk mendidik. Dibolehkannya memukul anak oleh syariat adalah sebagai salah satu metode untuk mendidik anak dan amar makruf nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. at-Tahrim: 6) Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi membuat judul bab: باب وجوب أمره أهله وأولاده المميزين وسائر من في رعيته بطاعة الله تعالى ونهيهم عن المخالفة وتأديبهم ومنعهم من ارتكاب مَنْهِيٍّ عَنْهُ “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istri dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama.” Maka tidak boleh memukul anak dalam rangka untuk menumpahkan emosi semata. Ini adalah bentuk kezaliman kepada anak yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari no. 893, Muslim no.1829) 2. Hendaknya pukulan merupakan langkah terakhir, utamakan cara yang lemah lembut. Al-Izz bin Abdissalam rahimahullah menjelaskan: وَمَهْمَا حَصَل التَّأْدِيبُ بِالأَْخَفِّ مِنَ الأَْفْعَال وَالأَْقْوَال، لَمْ يُعْدَل إِلَى الأَْغْلَظِ، إِذْ هُوَ مَفْسَدَةٌ لاَ فَائِدَةَ فِيهِ، لِحُصُول الْغَرَضِ بِمَا دُوْنَهُ “Ketika pengajaran kepada anak sudah tercapai dengan cara-cara yang ringan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh beralih kepada cara yang keras. Karena itu akan memberikan kerusakan yang tidak ada faedahnya. Karena dengan cara-cara yang ringan pun sudah tercapai tujuannya tanpa cara yang keras.” (Qawa’idul Ahkam, 2/75) Maka jika anak enggan shalat, tidak boleh langsung dipukul. Melainkan lebih dahulu diajak dengan lemah lembut, persuasif, dan kata-kata yang baik. Pukulan adalah alternatif yang paling terakhir. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فإنَّ الرِّفْقَ لم يكُنْ في شَيءٍ قَطُّ إلَّا زانَه، ولا نُزِعَ من شَيءٍ قَطُّ إلَّا شانَه “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.” (HR. Abu Daud no.4808, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud) 3. Bolehnya memukul adalah jika ada sangkaan kuat akan menghasilkan suatu maslahat. Al-Izz bin Abdissalam juga menjelaskan: إِنَّمَا جَازَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إِلَى مَصْلَحَةِ التَّأْدِيبِ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُل التَّأْدِيبُ بِهِ، سَقَطَ الضَّرْبُ … لأَِنَّ الْوَسَائِل تَسْقُطُ بِسُقُوطِ الْمَقَاصِدِ “Sesungguhnya dibolehkannya memukul anak adalah sebagai sarana pengajaran. Jika pengajaran tidak tercapai dengan cara pukulan, maka gugurlah kebolehan untuk memukul … karena sarana itu gugur jika tujuannya gugur.” (Qawa’idul Ahkam, 1/102) Maka jika orang tua mengetahui bahwa si anak tidak akan jera jika dipukul, orang tua tidak boleh memukul, namun harus menggunakan cara lain yang bisa mencapai maksud. Demikian juga tidak boleh memukul anak jika ada sangkaan kuat bahwa si anak akan kabur. Karena dalam keadaan ini maslahat pengajaran tidak akan tercapai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah mengatakan: ثُمَّ مَحَلُّ مَا ذَكَرَ مِنْ وُجُوبِ الضَّرْبِ مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ هَرَبُهُ وَضَيَاعُهُ ، فَإِنْ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ ذَلِكَ تَرَكَهُ “Kemudian terkait apa yang kami jelaskan tentang kewajiban memukul anak (yang enggan shalat) itu selama tidak membuat sang anak lari atau kabur. Jika bisa menyebabkan demikian, maka tidak boleh memukul.” (Tuhfatul Muhtaj, 1/449) 4. Pukulan tidak boleh sampai melukai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, beliau menjelaskan: أَيْ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَوْ لَمْ يُفِدْ إلَّا بِمُبَرِّحٍ تَرَكَهُ “Maksudnya adalah pukulan yang tidak melukai. Jika tidak mempan kecuali dengan pukulan yang melukai, maka tidak boleh memukul sama sekali.” (Hasyiyatul Jamal, 1/289) Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan: كَذَلِكَ يُشْتَرَطُ فِي الضَّرْبِ عِنْدَ مَشْرُوعِيَّةِ اللُّجُوءِ إِلَيْهِ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ تَحْقِيقُهُ لِلْمَصْلَحَةِ الْمَرْجُوَّةِ مِنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلاَ شَاقٍّ، وَأَنْ يَتَوَقَّى فِيهِ الْوَجْهَ وَالْمَوَاضِعَ الْمُهْلِكَةَ “Bolehnya memukul anak dipersyaratkan ada sangkaan kuat bahwa akan tercapai maslahat yang diinginkan dan pukulannya bukan pukulan yang melukai atau berat bagi sang anak, dan wajib menghindari memukul wajah dan anggota badan yang rawan.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 45/71) Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إذا ضرَب أحَدُكم فليتَّقِ الوَجْهَ “Jika kalian memukul, maka jauhi wajah.” (HR. Abu Daud no.4493. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Demikian juga tidak boleh memukul kepala, kemaluan, perut, atau anggota badan yang rawan lainnya. Demikian juga tidak boleh memukul sampai merusak fisik, tidak boleh mencolok mata, tidak boleh menggunakan api, mencekik, semua ini adalah cara-cara yang diharamkan dan tidak diperbolehkan sama sekali. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad I/313 no.2867, dan Ibnu Majah no.2431, dihasankan oleh an-Nawawi dalam al-Arba’in no. 32) 5. Tidak boleh memukul anak ketika akal anak kurang sempurna, seperti ketika ia sedang emosi, sedang menangis. Ibnu Najim rahimahullah menjelaskan: يَنْبَغِي أَنْ يُلْحَقُ بِهِ مَا إذَا ضَرَبَتْ الْوَلَدَ الَّذِي لَا يَعْقِلُ عِنْدَ بُكَائِهِ “Dan hendaknya diperhatikan satu syarat lagi, yaitu ketika seorang ibu memukul anaknya, hendaknya tidak ketika sang anak tidak bisa berpikir sempurna, seperti ketika ia sedang menangis.” (Al-Bahrur Raiq, 5/53) Karena memukul anak di saat akalnya kurang sempurna, membuat ia tidak bisa memahami maksud dari pengajaran yang diinginkan, sehingga tidak akan tercapai maslahat yang diharapkan.  Demikian beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam masalah memukul anak yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang tua dan para pendidik.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Huruf Arab Allah, Kapan Waktu Shalat Fajar, Minum Sebelum Idul Adha, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, Ilmu Tenaga Dalam Alhikmah, Zikir Qolbu Visited 690 times, 1 visit(s) today Post Views: 514 QRIS donasi Yufid

Penjelasan Hadits tentang Memukul Anak

Pertanyaan: Saya ingin bertanya tentang hadits: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika usianya 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika usianya 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud) Apakah hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak jika tidak mau shalat? Atau bagaimana pemahaman yang benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Hadits tersebut adalah hadits yang shahih, diriwayatkan dari kakeknya Amr bin Syu’aib radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud. Dan benar bahwa hadits ini merupakan dalil bolehnya memukul anak yang enggan shalat. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: وَالاِسْتِدْلاَل بِهِ وَاضِحٌ، لأَِنَّهُ يَتَنَاوَل الصَّبِيَّ وَالصَّبِيَّةَ فِي الأَْمْرِ بِالصَّلاَةِ وَالضَّرْبِ عَلَيْهَا “Pendalilan dari hadits ini sangat jelas, tentang wajibnya memerintahkan anak untuk shalat dan bolehnya memukul mereka, karena lafadz hadits ini mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 3/11) Namun perihal memukul anak dalam masalah ini terdapat kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dengan baik, tidak boleh serampangan. Di antaranya: 1. Tujuan memukul adalah untuk mendidik. Dibolehkannya memukul anak oleh syariat adalah sebagai salah satu metode untuk mendidik anak dan amar makruf nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. at-Tahrim: 6) Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi membuat judul bab: باب وجوب أمره أهله وأولاده المميزين وسائر من في رعيته بطاعة الله تعالى ونهيهم عن المخالفة وتأديبهم ومنعهم من ارتكاب مَنْهِيٍّ عَنْهُ “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istri dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama.” Maka tidak boleh memukul anak dalam rangka untuk menumpahkan emosi semata. Ini adalah bentuk kezaliman kepada anak yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari no. 893, Muslim no.1829) 2. Hendaknya pukulan merupakan langkah terakhir, utamakan cara yang lemah lembut. Al-Izz bin Abdissalam rahimahullah menjelaskan: وَمَهْمَا حَصَل التَّأْدِيبُ بِالأَْخَفِّ مِنَ الأَْفْعَال وَالأَْقْوَال، لَمْ يُعْدَل إِلَى الأَْغْلَظِ، إِذْ هُوَ مَفْسَدَةٌ لاَ فَائِدَةَ فِيهِ، لِحُصُول الْغَرَضِ بِمَا دُوْنَهُ “Ketika pengajaran kepada anak sudah tercapai dengan cara-cara yang ringan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh beralih kepada cara yang keras. Karena itu akan memberikan kerusakan yang tidak ada faedahnya. Karena dengan cara-cara yang ringan pun sudah tercapai tujuannya tanpa cara yang keras.” (Qawa’idul Ahkam, 2/75) Maka jika anak enggan shalat, tidak boleh langsung dipukul. Melainkan lebih dahulu diajak dengan lemah lembut, persuasif, dan kata-kata yang baik. Pukulan adalah alternatif yang paling terakhir. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فإنَّ الرِّفْقَ لم يكُنْ في شَيءٍ قَطُّ إلَّا زانَه، ولا نُزِعَ من شَيءٍ قَطُّ إلَّا شانَه “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.” (HR. Abu Daud no.4808, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud) 3. Bolehnya memukul adalah jika ada sangkaan kuat akan menghasilkan suatu maslahat. Al-Izz bin Abdissalam juga menjelaskan: إِنَّمَا جَازَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إِلَى مَصْلَحَةِ التَّأْدِيبِ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُل التَّأْدِيبُ بِهِ، سَقَطَ الضَّرْبُ … لأَِنَّ الْوَسَائِل تَسْقُطُ بِسُقُوطِ الْمَقَاصِدِ “Sesungguhnya dibolehkannya memukul anak adalah sebagai sarana pengajaran. Jika pengajaran tidak tercapai dengan cara pukulan, maka gugurlah kebolehan untuk memukul … karena sarana itu gugur jika tujuannya gugur.” (Qawa’idul Ahkam, 1/102) Maka jika orang tua mengetahui bahwa si anak tidak akan jera jika dipukul, orang tua tidak boleh memukul, namun harus menggunakan cara lain yang bisa mencapai maksud. Demikian juga tidak boleh memukul anak jika ada sangkaan kuat bahwa si anak akan kabur. Karena dalam keadaan ini maslahat pengajaran tidak akan tercapai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah mengatakan: ثُمَّ مَحَلُّ مَا ذَكَرَ مِنْ وُجُوبِ الضَّرْبِ مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ هَرَبُهُ وَضَيَاعُهُ ، فَإِنْ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ ذَلِكَ تَرَكَهُ “Kemudian terkait apa yang kami jelaskan tentang kewajiban memukul anak (yang enggan shalat) itu selama tidak membuat sang anak lari atau kabur. Jika bisa menyebabkan demikian, maka tidak boleh memukul.” (Tuhfatul Muhtaj, 1/449) 4. Pukulan tidak boleh sampai melukai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, beliau menjelaskan: أَيْ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَوْ لَمْ يُفِدْ إلَّا بِمُبَرِّحٍ تَرَكَهُ “Maksudnya adalah pukulan yang tidak melukai. Jika tidak mempan kecuali dengan pukulan yang melukai, maka tidak boleh memukul sama sekali.” (Hasyiyatul Jamal, 1/289) Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan: كَذَلِكَ يُشْتَرَطُ فِي الضَّرْبِ عِنْدَ مَشْرُوعِيَّةِ اللُّجُوءِ إِلَيْهِ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ تَحْقِيقُهُ لِلْمَصْلَحَةِ الْمَرْجُوَّةِ مِنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلاَ شَاقٍّ، وَأَنْ يَتَوَقَّى فِيهِ الْوَجْهَ وَالْمَوَاضِعَ الْمُهْلِكَةَ “Bolehnya memukul anak dipersyaratkan ada sangkaan kuat bahwa akan tercapai maslahat yang diinginkan dan pukulannya bukan pukulan yang melukai atau berat bagi sang anak, dan wajib menghindari memukul wajah dan anggota badan yang rawan.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 45/71) Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إذا ضرَب أحَدُكم فليتَّقِ الوَجْهَ “Jika kalian memukul, maka jauhi wajah.” (HR. Abu Daud no.4493. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Demikian juga tidak boleh memukul kepala, kemaluan, perut, atau anggota badan yang rawan lainnya. Demikian juga tidak boleh memukul sampai merusak fisik, tidak boleh mencolok mata, tidak boleh menggunakan api, mencekik, semua ini adalah cara-cara yang diharamkan dan tidak diperbolehkan sama sekali. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad I/313 no.2867, dan Ibnu Majah no.2431, dihasankan oleh an-Nawawi dalam al-Arba’in no. 32) 5. Tidak boleh memukul anak ketika akal anak kurang sempurna, seperti ketika ia sedang emosi, sedang menangis. Ibnu Najim rahimahullah menjelaskan: يَنْبَغِي أَنْ يُلْحَقُ بِهِ مَا إذَا ضَرَبَتْ الْوَلَدَ الَّذِي لَا يَعْقِلُ عِنْدَ بُكَائِهِ “Dan hendaknya diperhatikan satu syarat lagi, yaitu ketika seorang ibu memukul anaknya, hendaknya tidak ketika sang anak tidak bisa berpikir sempurna, seperti ketika ia sedang menangis.” (Al-Bahrur Raiq, 5/53) Karena memukul anak di saat akalnya kurang sempurna, membuat ia tidak bisa memahami maksud dari pengajaran yang diinginkan, sehingga tidak akan tercapai maslahat yang diharapkan.  Demikian beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam masalah memukul anak yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang tua dan para pendidik.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Huruf Arab Allah, Kapan Waktu Shalat Fajar, Minum Sebelum Idul Adha, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, Ilmu Tenaga Dalam Alhikmah, Zikir Qolbu Visited 690 times, 1 visit(s) today Post Views: 514 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya ingin bertanya tentang hadits: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika usianya 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika usianya 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud) Apakah hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak jika tidak mau shalat? Atau bagaimana pemahaman yang benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Hadits tersebut adalah hadits yang shahih, diriwayatkan dari kakeknya Amr bin Syu’aib radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud. Dan benar bahwa hadits ini merupakan dalil bolehnya memukul anak yang enggan shalat. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: وَالاِسْتِدْلاَل بِهِ وَاضِحٌ، لأَِنَّهُ يَتَنَاوَل الصَّبِيَّ وَالصَّبِيَّةَ فِي الأَْمْرِ بِالصَّلاَةِ وَالضَّرْبِ عَلَيْهَا “Pendalilan dari hadits ini sangat jelas, tentang wajibnya memerintahkan anak untuk shalat dan bolehnya memukul mereka, karena lafadz hadits ini mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 3/11) Namun perihal memukul anak dalam masalah ini terdapat kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dengan baik, tidak boleh serampangan. Di antaranya: 1. Tujuan memukul adalah untuk mendidik. Dibolehkannya memukul anak oleh syariat adalah sebagai salah satu metode untuk mendidik anak dan amar makruf nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. at-Tahrim: 6) Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi membuat judul bab: باب وجوب أمره أهله وأولاده المميزين وسائر من في رعيته بطاعة الله تعالى ونهيهم عن المخالفة وتأديبهم ومنعهم من ارتكاب مَنْهِيٍّ عَنْهُ “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istri dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama.” Maka tidak boleh memukul anak dalam rangka untuk menumpahkan emosi semata. Ini adalah bentuk kezaliman kepada anak yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari no. 893, Muslim no.1829) 2. Hendaknya pukulan merupakan langkah terakhir, utamakan cara yang lemah lembut. Al-Izz bin Abdissalam rahimahullah menjelaskan: وَمَهْمَا حَصَل التَّأْدِيبُ بِالأَْخَفِّ مِنَ الأَْفْعَال وَالأَْقْوَال، لَمْ يُعْدَل إِلَى الأَْغْلَظِ، إِذْ هُوَ مَفْسَدَةٌ لاَ فَائِدَةَ فِيهِ، لِحُصُول الْغَرَضِ بِمَا دُوْنَهُ “Ketika pengajaran kepada anak sudah tercapai dengan cara-cara yang ringan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh beralih kepada cara yang keras. Karena itu akan memberikan kerusakan yang tidak ada faedahnya. Karena dengan cara-cara yang ringan pun sudah tercapai tujuannya tanpa cara yang keras.” (Qawa’idul Ahkam, 2/75) Maka jika anak enggan shalat, tidak boleh langsung dipukul. Melainkan lebih dahulu diajak dengan lemah lembut, persuasif, dan kata-kata yang baik. Pukulan adalah alternatif yang paling terakhir. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فإنَّ الرِّفْقَ لم يكُنْ في شَيءٍ قَطُّ إلَّا زانَه، ولا نُزِعَ من شَيءٍ قَطُّ إلَّا شانَه “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.” (HR. Abu Daud no.4808, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud) 3. Bolehnya memukul adalah jika ada sangkaan kuat akan menghasilkan suatu maslahat. Al-Izz bin Abdissalam juga menjelaskan: إِنَّمَا جَازَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إِلَى مَصْلَحَةِ التَّأْدِيبِ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُل التَّأْدِيبُ بِهِ، سَقَطَ الضَّرْبُ … لأَِنَّ الْوَسَائِل تَسْقُطُ بِسُقُوطِ الْمَقَاصِدِ “Sesungguhnya dibolehkannya memukul anak adalah sebagai sarana pengajaran. Jika pengajaran tidak tercapai dengan cara pukulan, maka gugurlah kebolehan untuk memukul … karena sarana itu gugur jika tujuannya gugur.” (Qawa’idul Ahkam, 1/102) Maka jika orang tua mengetahui bahwa si anak tidak akan jera jika dipukul, orang tua tidak boleh memukul, namun harus menggunakan cara lain yang bisa mencapai maksud. Demikian juga tidak boleh memukul anak jika ada sangkaan kuat bahwa si anak akan kabur. Karena dalam keadaan ini maslahat pengajaran tidak akan tercapai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah mengatakan: ثُمَّ مَحَلُّ مَا ذَكَرَ مِنْ وُجُوبِ الضَّرْبِ مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ هَرَبُهُ وَضَيَاعُهُ ، فَإِنْ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ ذَلِكَ تَرَكَهُ “Kemudian terkait apa yang kami jelaskan tentang kewajiban memukul anak (yang enggan shalat) itu selama tidak membuat sang anak lari atau kabur. Jika bisa menyebabkan demikian, maka tidak boleh memukul.” (Tuhfatul Muhtaj, 1/449) 4. Pukulan tidak boleh sampai melukai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, beliau menjelaskan: أَيْ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَوْ لَمْ يُفِدْ إلَّا بِمُبَرِّحٍ تَرَكَهُ “Maksudnya adalah pukulan yang tidak melukai. Jika tidak mempan kecuali dengan pukulan yang melukai, maka tidak boleh memukul sama sekali.” (Hasyiyatul Jamal, 1/289) Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan: كَذَلِكَ يُشْتَرَطُ فِي الضَّرْبِ عِنْدَ مَشْرُوعِيَّةِ اللُّجُوءِ إِلَيْهِ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ تَحْقِيقُهُ لِلْمَصْلَحَةِ الْمَرْجُوَّةِ مِنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلاَ شَاقٍّ، وَأَنْ يَتَوَقَّى فِيهِ الْوَجْهَ وَالْمَوَاضِعَ الْمُهْلِكَةَ “Bolehnya memukul anak dipersyaratkan ada sangkaan kuat bahwa akan tercapai maslahat yang diinginkan dan pukulannya bukan pukulan yang melukai atau berat bagi sang anak, dan wajib menghindari memukul wajah dan anggota badan yang rawan.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 45/71) Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إذا ضرَب أحَدُكم فليتَّقِ الوَجْهَ “Jika kalian memukul, maka jauhi wajah.” (HR. Abu Daud no.4493. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Demikian juga tidak boleh memukul kepala, kemaluan, perut, atau anggota badan yang rawan lainnya. Demikian juga tidak boleh memukul sampai merusak fisik, tidak boleh mencolok mata, tidak boleh menggunakan api, mencekik, semua ini adalah cara-cara yang diharamkan dan tidak diperbolehkan sama sekali. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad I/313 no.2867, dan Ibnu Majah no.2431, dihasankan oleh an-Nawawi dalam al-Arba’in no. 32) 5. Tidak boleh memukul anak ketika akal anak kurang sempurna, seperti ketika ia sedang emosi, sedang menangis. Ibnu Najim rahimahullah menjelaskan: يَنْبَغِي أَنْ يُلْحَقُ بِهِ مَا إذَا ضَرَبَتْ الْوَلَدَ الَّذِي لَا يَعْقِلُ عِنْدَ بُكَائِهِ “Dan hendaknya diperhatikan satu syarat lagi, yaitu ketika seorang ibu memukul anaknya, hendaknya tidak ketika sang anak tidak bisa berpikir sempurna, seperti ketika ia sedang menangis.” (Al-Bahrur Raiq, 5/53) Karena memukul anak di saat akalnya kurang sempurna, membuat ia tidak bisa memahami maksud dari pengajaran yang diinginkan, sehingga tidak akan tercapai maslahat yang diharapkan.  Demikian beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam masalah memukul anak yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang tua dan para pendidik.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Huruf Arab Allah, Kapan Waktu Shalat Fajar, Minum Sebelum Idul Adha, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, Ilmu Tenaga Dalam Alhikmah, Zikir Qolbu Visited 690 times, 1 visit(s) today Post Views: 514 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1357098484&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya ingin bertanya tentang hadits: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika usianya 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika usianya 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud) Apakah hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak jika tidak mau shalat? Atau bagaimana pemahaman yang benar? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du. Hadits tersebut adalah hadits yang shahih, diriwayatkan dari kakeknya Amr bin Syu’aib radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud. Dan benar bahwa hadits ini merupakan dalil bolehnya memukul anak yang enggan shalat. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: وَالاِسْتِدْلاَل بِهِ وَاضِحٌ، لأَِنَّهُ يَتَنَاوَل الصَّبِيَّ وَالصَّبِيَّةَ فِي الأَْمْرِ بِالصَّلاَةِ وَالضَّرْبِ عَلَيْهَا “Pendalilan dari hadits ini sangat jelas, tentang wajibnya memerintahkan anak untuk shalat dan bolehnya memukul mereka, karena lafadz hadits ini mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 3/11) Namun perihal memukul anak dalam masalah ini terdapat kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dengan baik, tidak boleh serampangan. Di antaranya: 1. Tujuan memukul adalah untuk mendidik. Dibolehkannya memukul anak oleh syariat adalah sebagai salah satu metode untuk mendidik anak dan amar makruf nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. at-Tahrim: 6) Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi membuat judul bab: باب وجوب أمره أهله وأولاده المميزين وسائر من في رعيته بطاعة الله تعالى ونهيهم عن المخالفة وتأديبهم ومنعهم من ارتكاب مَنْهِيٍّ عَنْهُ “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istri dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama.” Maka tidak boleh memukul anak dalam rangka untuk menumpahkan emosi semata. Ini adalah bentuk kezaliman kepada anak yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari no. 893, Muslim no.1829) 2. Hendaknya pukulan merupakan langkah terakhir, utamakan cara yang lemah lembut. Al-Izz bin Abdissalam rahimahullah menjelaskan: وَمَهْمَا حَصَل التَّأْدِيبُ بِالأَْخَفِّ مِنَ الأَْفْعَال وَالأَْقْوَال، لَمْ يُعْدَل إِلَى الأَْغْلَظِ، إِذْ هُوَ مَفْسَدَةٌ لاَ فَائِدَةَ فِيهِ، لِحُصُول الْغَرَضِ بِمَا دُوْنَهُ “Ketika pengajaran kepada anak sudah tercapai dengan cara-cara yang ringan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh beralih kepada cara yang keras. Karena itu akan memberikan kerusakan yang tidak ada faedahnya. Karena dengan cara-cara yang ringan pun sudah tercapai tujuannya tanpa cara yang keras.” (Qawa’idul Ahkam, 2/75) Maka jika anak enggan shalat, tidak boleh langsung dipukul. Melainkan lebih dahulu diajak dengan lemah lembut, persuasif, dan kata-kata yang baik. Pukulan adalah alternatif yang paling terakhir. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فإنَّ الرِّفْقَ لم يكُنْ في شَيءٍ قَطُّ إلَّا زانَه، ولا نُزِعَ من شَيءٍ قَطُّ إلَّا شانَه “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.” (HR. Abu Daud no.4808, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud) 3. Bolehnya memukul adalah jika ada sangkaan kuat akan menghasilkan suatu maslahat. Al-Izz bin Abdissalam juga menjelaskan: إِنَّمَا جَازَ لِكَوْنِهِ وَسِيلَةً إِلَى مَصْلَحَةِ التَّأْدِيبِ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُل التَّأْدِيبُ بِهِ، سَقَطَ الضَّرْبُ … لأَِنَّ الْوَسَائِل تَسْقُطُ بِسُقُوطِ الْمَقَاصِدِ “Sesungguhnya dibolehkannya memukul anak adalah sebagai sarana pengajaran. Jika pengajaran tidak tercapai dengan cara pukulan, maka gugurlah kebolehan untuk memukul … karena sarana itu gugur jika tujuannya gugur.” (Qawa’idul Ahkam, 1/102) Maka jika orang tua mengetahui bahwa si anak tidak akan jera jika dipukul, orang tua tidak boleh memukul, namun harus menggunakan cara lain yang bisa mencapai maksud. Demikian juga tidak boleh memukul anak jika ada sangkaan kuat bahwa si anak akan kabur. Karena dalam keadaan ini maslahat pengajaran tidak akan tercapai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah mengatakan: ثُمَّ مَحَلُّ مَا ذَكَرَ مِنْ وُجُوبِ الضَّرْبِ مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ هَرَبُهُ وَضَيَاعُهُ ، فَإِنْ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ ذَلِكَ تَرَكَهُ “Kemudian terkait apa yang kami jelaskan tentang kewajiban memukul anak (yang enggan shalat) itu selama tidak membuat sang anak lari atau kabur. Jika bisa menyebabkan demikian, maka tidak boleh memukul.” (Tuhfatul Muhtaj, 1/449) 4. Pukulan tidak boleh sampai melukai. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas, beliau menjelaskan: أَيْ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَوْ لَمْ يُفِدْ إلَّا بِمُبَرِّحٍ تَرَكَهُ “Maksudnya adalah pukulan yang tidak melukai. Jika tidak mempan kecuali dengan pukulan yang melukai, maka tidak boleh memukul sama sekali.” (Hasyiyatul Jamal, 1/289) Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan: كَذَلِكَ يُشْتَرَطُ فِي الضَّرْبِ عِنْدَ مَشْرُوعِيَّةِ اللُّجُوءِ إِلَيْهِ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ تَحْقِيقُهُ لِلْمَصْلَحَةِ الْمَرْجُوَّةِ مِنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلاَ شَاقٍّ، وَأَنْ يَتَوَقَّى فِيهِ الْوَجْهَ وَالْمَوَاضِعَ الْمُهْلِكَةَ “Bolehnya memukul anak dipersyaratkan ada sangkaan kuat bahwa akan tercapai maslahat yang diinginkan dan pukulannya bukan pukulan yang melukai atau berat bagi sang anak, dan wajib menghindari memukul wajah dan anggota badan yang rawan.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 45/71) Sebagaimana juga disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إذا ضرَب أحَدُكم فليتَّقِ الوَجْهَ “Jika kalian memukul, maka jauhi wajah.” (HR. Abu Daud no.4493. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud) Demikian juga tidak boleh memukul kepala, kemaluan, perut, atau anggota badan yang rawan lainnya. Demikian juga tidak boleh memukul sampai merusak fisik, tidak boleh mencolok mata, tidak boleh menggunakan api, mencekik, semua ini adalah cara-cara yang diharamkan dan tidak diperbolehkan sama sekali. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad I/313 no.2867, dan Ibnu Majah no.2431, dihasankan oleh an-Nawawi dalam al-Arba’in no. 32) 5. Tidak boleh memukul anak ketika akal anak kurang sempurna, seperti ketika ia sedang emosi, sedang menangis. Ibnu Najim rahimahullah menjelaskan: يَنْبَغِي أَنْ يُلْحَقُ بِهِ مَا إذَا ضَرَبَتْ الْوَلَدَ الَّذِي لَا يَعْقِلُ عِنْدَ بُكَائِهِ “Dan hendaknya diperhatikan satu syarat lagi, yaitu ketika seorang ibu memukul anaknya, hendaknya tidak ketika sang anak tidak bisa berpikir sempurna, seperti ketika ia sedang menangis.” (Al-Bahrur Raiq, 5/53) Karena memukul anak di saat akalnya kurang sempurna, membuat ia tidak bisa memahami maksud dari pengajaran yang diinginkan, sehingga tidak akan tercapai maslahat yang diharapkan.  Demikian beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam masalah memukul anak yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang tua dan para pendidik.  Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Huruf Arab Allah, Kapan Waktu Shalat Fajar, Minum Sebelum Idul Adha, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, Ilmu Tenaga Dalam Alhikmah, Zikir Qolbu Visited 690 times, 1 visit(s) today Post Views: 514 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bulughul Maram – Shalat: Hadits-Hadits yang Membicarakan Sujud Syukur dan Caranya

https://open.spotify.com/episode/0p9a3r2wMoNbh9hPsgXjC1 Bagaimanakah melakukan sujud syukur? Apa saja hadits-hadits yang menerangkan hal ini?   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Hadits 9/347 2. Sujud Syukur Ketika Ada Sebab 3. Hadits 10/348 4. Hadits 11/349 5. Faedah hadits 5.1. Referensi   Hadits 9/347 Sujud Syukur Ketika Ada Sebab عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا جَاءَهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ خَرَّسَاجِداً للهِ. رَواهُ الْخَمْسةُ إلاَّ النّسائيَّ. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menerima kabar gembira, beliau segera sujud kepada Allah. (Dikeluarkan oleh yang lima kecuali An-Nasai) [HR. Abu Daud, no. 2774; Tirmidzi, no. 1578; Ibnu Majah, no. 1394; Ahmad, 34:106. Sanad hadits ini dhaif menurut Imam Nawawi dan Ibnu ‘Abdil Hadi].   Hadits 10/348 عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَطَالَالسُّجُودَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَه، وقَالَ: «إنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي، فَبَشَّرَنِي، فَسَجَدْتُ للهِ شُكْراً». رَوَاهُأَحْمَدُ، وَصَحَّحَهُ الحَاكِمُ. Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sujud, beliau memperpanjang sujud itu, kemudian beliau mengangkat kepala dan bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan membawa kabar gembira, maka aku bersujud syukur kepada Allah.” (HR. Ahmad dan hadits ini dinilai sahih oleh Al-Hakim). [HR. Al-Hakim, 1:550; Ahmad, 3:201, 3:200. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:261 mengatakan bahwa hadits ini tidaklah masalah].   Hadits 11/349 عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ عَلِيّاً إلى الْيَمَنِ ـفَذَكَرَ الحَدِيثَ ـ قَالَ: فَكَتَبَ عَليٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِإسْلاَمِهِمْ، فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ خَرَّ سَاجِداً، رَوَاهُ الْبَيْهقِيُّ. وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus ‘Ali ke negeri Yaman. Kemudian hadits itu menyebutkan, ‘Ali mengirim surat tentang keislaman mereka. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat itu, beliau langsung sujud syukur kepada Allah atas berita tersebut. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi yang asal hadits ini dari Al-Bukhari). [HR. Al-Baihaqi, 2:369. Asal hadits ini dalam Al-Bukhari, no. 4349]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud syukur ketika ada sebab dan hukumnya sunnah. Sujud syukur itu dilakukan karena (1) hudutsun ni’mah (mendapatkan nikmat besar) atau (2) indifa’ niqmah(selamat dari musibah besar) yang dialami diri (seperti mendapatkan keturunan) ataukah umum oleh kaum muslimin. Sujud syukur dilakukan ketika mendapatkan nikmat besar yang baru, bukan nikmat yang didapati terus menerus, seperti nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat merasa cukup dari membutuhkan manusia (ghinaa ‘anin naas). Nikmat yang terus menerus didapat tidaklah disyariatkan sujud syukur. Karena nikmat seperti itu didapati terus-menerus, tidak terputus. Kalaulah disyariatkan sujud untuk hal semacam itu, umur manusia bisalah habis karena melakukan sujud saja. Syukur untuk nikmat yang didapati terus menerus adalah dengan beribadah dan taat kepada Allah. Ka’ab bin Malik pernah sujud syukur kepada Allah karena mendapatkan berita bahwa taubatnya diterima oleh Allah. Kejadian ini ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa turunnya wahyu, sehingga menunjukkan disyariatkannya sujud syukur. Sujud syukur dilakukan seperti melakukan sujud dalam shalat, yaitu memenuhi syarat: (1) bersuci, (2) menghadap kiblat, (3) melakukannya seperti sujud dalam shalat (menempelkan tujuh anggota tubuh), (4) menutup aurat. Memenuhi seperti ini lebih selamat dari perselisihan para ulama yang ada. Cara sujud syukur adalah seperti sujud tilawah ketika dilakukan di luar shalat. Sujud syukur dibolehkan dilakukan di kendaraan bagi musafir dengan imaa’ (isyarat). Jika sujud syukur luput, maka tidak perlu mengqadha’nya. Sujud syukur dilakukan di luar shalat. Sujud syukur tidak boleh dilakukan di dalam shalat. Jika sujud syukur dilakukan di dalam shalat, shalatnya batal jika mengetahui keharamannya.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:259-262. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:568-573.   —   Diselesaikan 15 Shafar 1444 H, 12 September 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsapa itu syukur bersyukur bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat cara sujud syukur cara syukur hakikat syukur pengertian syukur sujud syukur syukur syukur nikmat

Bulughul Maram – Shalat: Hadits-Hadits yang Membicarakan Sujud Syukur dan Caranya

https://open.spotify.com/episode/0p9a3r2wMoNbh9hPsgXjC1 Bagaimanakah melakukan sujud syukur? Apa saja hadits-hadits yang menerangkan hal ini?   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Hadits 9/347 2. Sujud Syukur Ketika Ada Sebab 3. Hadits 10/348 4. Hadits 11/349 5. Faedah hadits 5.1. Referensi   Hadits 9/347 Sujud Syukur Ketika Ada Sebab عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا جَاءَهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ خَرَّسَاجِداً للهِ. رَواهُ الْخَمْسةُ إلاَّ النّسائيَّ. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menerima kabar gembira, beliau segera sujud kepada Allah. (Dikeluarkan oleh yang lima kecuali An-Nasai) [HR. Abu Daud, no. 2774; Tirmidzi, no. 1578; Ibnu Majah, no. 1394; Ahmad, 34:106. Sanad hadits ini dhaif menurut Imam Nawawi dan Ibnu ‘Abdil Hadi].   Hadits 10/348 عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَطَالَالسُّجُودَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَه، وقَالَ: «إنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي، فَبَشَّرَنِي، فَسَجَدْتُ للهِ شُكْراً». رَوَاهُأَحْمَدُ، وَصَحَّحَهُ الحَاكِمُ. Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sujud, beliau memperpanjang sujud itu, kemudian beliau mengangkat kepala dan bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan membawa kabar gembira, maka aku bersujud syukur kepada Allah.” (HR. Ahmad dan hadits ini dinilai sahih oleh Al-Hakim). [HR. Al-Hakim, 1:550; Ahmad, 3:201, 3:200. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:261 mengatakan bahwa hadits ini tidaklah masalah].   Hadits 11/349 عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ عَلِيّاً إلى الْيَمَنِ ـفَذَكَرَ الحَدِيثَ ـ قَالَ: فَكَتَبَ عَليٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِإسْلاَمِهِمْ، فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ خَرَّ سَاجِداً، رَوَاهُ الْبَيْهقِيُّ. وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus ‘Ali ke negeri Yaman. Kemudian hadits itu menyebutkan, ‘Ali mengirim surat tentang keislaman mereka. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat itu, beliau langsung sujud syukur kepada Allah atas berita tersebut. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi yang asal hadits ini dari Al-Bukhari). [HR. Al-Baihaqi, 2:369. Asal hadits ini dalam Al-Bukhari, no. 4349]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud syukur ketika ada sebab dan hukumnya sunnah. Sujud syukur itu dilakukan karena (1) hudutsun ni’mah (mendapatkan nikmat besar) atau (2) indifa’ niqmah(selamat dari musibah besar) yang dialami diri (seperti mendapatkan keturunan) ataukah umum oleh kaum muslimin. Sujud syukur dilakukan ketika mendapatkan nikmat besar yang baru, bukan nikmat yang didapati terus menerus, seperti nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat merasa cukup dari membutuhkan manusia (ghinaa ‘anin naas). Nikmat yang terus menerus didapat tidaklah disyariatkan sujud syukur. Karena nikmat seperti itu didapati terus-menerus, tidak terputus. Kalaulah disyariatkan sujud untuk hal semacam itu, umur manusia bisalah habis karena melakukan sujud saja. Syukur untuk nikmat yang didapati terus menerus adalah dengan beribadah dan taat kepada Allah. Ka’ab bin Malik pernah sujud syukur kepada Allah karena mendapatkan berita bahwa taubatnya diterima oleh Allah. Kejadian ini ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa turunnya wahyu, sehingga menunjukkan disyariatkannya sujud syukur. Sujud syukur dilakukan seperti melakukan sujud dalam shalat, yaitu memenuhi syarat: (1) bersuci, (2) menghadap kiblat, (3) melakukannya seperti sujud dalam shalat (menempelkan tujuh anggota tubuh), (4) menutup aurat. Memenuhi seperti ini lebih selamat dari perselisihan para ulama yang ada. Cara sujud syukur adalah seperti sujud tilawah ketika dilakukan di luar shalat. Sujud syukur dibolehkan dilakukan di kendaraan bagi musafir dengan imaa’ (isyarat). Jika sujud syukur luput, maka tidak perlu mengqadha’nya. Sujud syukur dilakukan di luar shalat. Sujud syukur tidak boleh dilakukan di dalam shalat. Jika sujud syukur dilakukan di dalam shalat, shalatnya batal jika mengetahui keharamannya.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:259-262. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:568-573.   —   Diselesaikan 15 Shafar 1444 H, 12 September 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsapa itu syukur bersyukur bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat cara sujud syukur cara syukur hakikat syukur pengertian syukur sujud syukur syukur syukur nikmat
https://open.spotify.com/episode/0p9a3r2wMoNbh9hPsgXjC1 Bagaimanakah melakukan sujud syukur? Apa saja hadits-hadits yang menerangkan hal ini?   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Hadits 9/347 2. Sujud Syukur Ketika Ada Sebab 3. Hadits 10/348 4. Hadits 11/349 5. Faedah hadits 5.1. Referensi   Hadits 9/347 Sujud Syukur Ketika Ada Sebab عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا جَاءَهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ خَرَّسَاجِداً للهِ. رَواهُ الْخَمْسةُ إلاَّ النّسائيَّ. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menerima kabar gembira, beliau segera sujud kepada Allah. (Dikeluarkan oleh yang lima kecuali An-Nasai) [HR. Abu Daud, no. 2774; Tirmidzi, no. 1578; Ibnu Majah, no. 1394; Ahmad, 34:106. Sanad hadits ini dhaif menurut Imam Nawawi dan Ibnu ‘Abdil Hadi].   Hadits 10/348 عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَطَالَالسُّجُودَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَه، وقَالَ: «إنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي، فَبَشَّرَنِي، فَسَجَدْتُ للهِ شُكْراً». رَوَاهُأَحْمَدُ، وَصَحَّحَهُ الحَاكِمُ. Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sujud, beliau memperpanjang sujud itu, kemudian beliau mengangkat kepala dan bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan membawa kabar gembira, maka aku bersujud syukur kepada Allah.” (HR. Ahmad dan hadits ini dinilai sahih oleh Al-Hakim). [HR. Al-Hakim, 1:550; Ahmad, 3:201, 3:200. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:261 mengatakan bahwa hadits ini tidaklah masalah].   Hadits 11/349 عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ عَلِيّاً إلى الْيَمَنِ ـفَذَكَرَ الحَدِيثَ ـ قَالَ: فَكَتَبَ عَليٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِإسْلاَمِهِمْ، فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ خَرَّ سَاجِداً، رَوَاهُ الْبَيْهقِيُّ. وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus ‘Ali ke negeri Yaman. Kemudian hadits itu menyebutkan, ‘Ali mengirim surat tentang keislaman mereka. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat itu, beliau langsung sujud syukur kepada Allah atas berita tersebut. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi yang asal hadits ini dari Al-Bukhari). [HR. Al-Baihaqi, 2:369. Asal hadits ini dalam Al-Bukhari, no. 4349]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud syukur ketika ada sebab dan hukumnya sunnah. Sujud syukur itu dilakukan karena (1) hudutsun ni’mah (mendapatkan nikmat besar) atau (2) indifa’ niqmah(selamat dari musibah besar) yang dialami diri (seperti mendapatkan keturunan) ataukah umum oleh kaum muslimin. Sujud syukur dilakukan ketika mendapatkan nikmat besar yang baru, bukan nikmat yang didapati terus menerus, seperti nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat merasa cukup dari membutuhkan manusia (ghinaa ‘anin naas). Nikmat yang terus menerus didapat tidaklah disyariatkan sujud syukur. Karena nikmat seperti itu didapati terus-menerus, tidak terputus. Kalaulah disyariatkan sujud untuk hal semacam itu, umur manusia bisalah habis karena melakukan sujud saja. Syukur untuk nikmat yang didapati terus menerus adalah dengan beribadah dan taat kepada Allah. Ka’ab bin Malik pernah sujud syukur kepada Allah karena mendapatkan berita bahwa taubatnya diterima oleh Allah. Kejadian ini ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa turunnya wahyu, sehingga menunjukkan disyariatkannya sujud syukur. Sujud syukur dilakukan seperti melakukan sujud dalam shalat, yaitu memenuhi syarat: (1) bersuci, (2) menghadap kiblat, (3) melakukannya seperti sujud dalam shalat (menempelkan tujuh anggota tubuh), (4) menutup aurat. Memenuhi seperti ini lebih selamat dari perselisihan para ulama yang ada. Cara sujud syukur adalah seperti sujud tilawah ketika dilakukan di luar shalat. Sujud syukur dibolehkan dilakukan di kendaraan bagi musafir dengan imaa’ (isyarat). Jika sujud syukur luput, maka tidak perlu mengqadha’nya. Sujud syukur dilakukan di luar shalat. Sujud syukur tidak boleh dilakukan di dalam shalat. Jika sujud syukur dilakukan di dalam shalat, shalatnya batal jika mengetahui keharamannya.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:259-262. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:568-573.   —   Diselesaikan 15 Shafar 1444 H, 12 September 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsapa itu syukur bersyukur bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat cara sujud syukur cara syukur hakikat syukur pengertian syukur sujud syukur syukur syukur nikmat


https://open.spotify.com/episode/0p9a3r2wMoNbh9hPsgXjC1 Bagaimanakah melakukan sujud syukur? Apa saja hadits-hadits yang menerangkan hal ini?   Kitab Shalat بَابُ سُجُوْدُ السَّهْوِ وَغَيْرُهُ مِنْ سُجُوْدِ التِّلاَوَةِ وَالشُّكْرِ Bab: Sujud Sahwi dan Sujud Lainnya Seperti Sujud Tilawah dan Sujud Syukur   Daftar Isi tutup 1. Hadits 9/347 2. Sujud Syukur Ketika Ada Sebab 3. Hadits 10/348 4. Hadits 11/349 5. Faedah hadits 5.1. Referensi   Hadits 9/347 Sujud Syukur Ketika Ada Sebab عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا جَاءَهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ خَرَّسَاجِداً للهِ. رَواهُ الْخَمْسةُ إلاَّ النّسائيَّ. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menerima kabar gembira, beliau segera sujud kepada Allah. (Dikeluarkan oleh yang lima kecuali An-Nasai) [HR. Abu Daud, no. 2774; Tirmidzi, no. 1578; Ibnu Majah, no. 1394; Ahmad, 34:106. Sanad hadits ini dhaif menurut Imam Nawawi dan Ibnu ‘Abdil Hadi].   Hadits 10/348 عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَجَدَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَطَالَالسُّجُودَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَه، وقَالَ: «إنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي، فَبَشَّرَنِي، فَسَجَدْتُ للهِ شُكْراً». رَوَاهُأَحْمَدُ، وَصَحَّحَهُ الحَاكِمُ. Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sujud, beliau memperpanjang sujud itu, kemudian beliau mengangkat kepala dan bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan membawa kabar gembira, maka aku bersujud syukur kepada Allah.” (HR. Ahmad dan hadits ini dinilai sahih oleh Al-Hakim). [HR. Al-Hakim, 1:550; Ahmad, 3:201, 3:200. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:261 mengatakan bahwa hadits ini tidaklah masalah].   Hadits 11/349 عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ عَلِيّاً إلى الْيَمَنِ ـفَذَكَرَ الحَدِيثَ ـ قَالَ: فَكَتَبَ عَليٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِإسْلاَمِهِمْ، فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ خَرَّ سَاجِداً، رَوَاهُ الْبَيْهقِيُّ. وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus ‘Ali ke negeri Yaman. Kemudian hadits itu menyebutkan, ‘Ali mengirim surat tentang keislaman mereka. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat itu, beliau langsung sujud syukur kepada Allah atas berita tersebut. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi yang asal hadits ini dari Al-Bukhari). [HR. Al-Baihaqi, 2:369. Asal hadits ini dalam Al-Bukhari, no. 4349]   Faedah hadits Hadits ini jadi dalil disyariatkannya sujud syukur ketika ada sebab dan hukumnya sunnah. Sujud syukur itu dilakukan karena (1) hudutsun ni’mah (mendapatkan nikmat besar) atau (2) indifa’ niqmah(selamat dari musibah besar) yang dialami diri (seperti mendapatkan keturunan) ataukah umum oleh kaum muslimin. Sujud syukur dilakukan ketika mendapatkan nikmat besar yang baru, bukan nikmat yang didapati terus menerus, seperti nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat merasa cukup dari membutuhkan manusia (ghinaa ‘anin naas). Nikmat yang terus menerus didapat tidaklah disyariatkan sujud syukur. Karena nikmat seperti itu didapati terus-menerus, tidak terputus. Kalaulah disyariatkan sujud untuk hal semacam itu, umur manusia bisalah habis karena melakukan sujud saja. Syukur untuk nikmat yang didapati terus menerus adalah dengan beribadah dan taat kepada Allah. Ka’ab bin Malik pernah sujud syukur kepada Allah karena mendapatkan berita bahwa taubatnya diterima oleh Allah. Kejadian ini ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa turunnya wahyu, sehingga menunjukkan disyariatkannya sujud syukur. Sujud syukur dilakukan seperti melakukan sujud dalam shalat, yaitu memenuhi syarat: (1) bersuci, (2) menghadap kiblat, (3) melakukannya seperti sujud dalam shalat (menempelkan tujuh anggota tubuh), (4) menutup aurat. Memenuhi seperti ini lebih selamat dari perselisihan para ulama yang ada. Cara sujud syukur adalah seperti sujud tilawah ketika dilakukan di luar shalat. Sujud syukur dibolehkan dilakukan di kendaraan bagi musafir dengan imaa’ (isyarat). Jika sujud syukur luput, maka tidak perlu mengqadha’nya. Sujud syukur dilakukan di luar shalat. Sujud syukur tidak boleh dilakukan di dalam shalat. Jika sujud syukur dilakukan di dalam shalat, shalatnya batal jika mengetahui keharamannya.   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:259-262. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:568-573.   —   Diselesaikan 15 Shafar 1444 H, 12 September 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsapa itu syukur bersyukur bulughul maram bulughul maram macam sujud bulughul maram shalat cara sujud syukur cara syukur hakikat syukur pengertian syukur sujud syukur syukur syukur nikmat

Bolehkah Memohon Rahmat dan Ampunan untuk Orang yang Tidak Salat Semasa Hidupnya?

حكم من ترك الصلاة تهاونا وكسلا ومات على ذلك السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: جدتي كانت لا تصلي تهاونا وكسلا ، ولكنها كانت تؤمن بالله ورسوله فهل يجوز لي أن اترحم عليها وأن اعتمر عنها ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Nenek saya dahulu tidak salat karena malas dan menyepelekannya tetapi dia beriman kepada Allah dan Rasulullah, bolehkan saya memohonkan rahmat untuknya dan umrah untuknya?” الاحابة لا الذي لا يصلي وعنده عقله وتفكيره يترك الصلاة فهذا ليس بمسلم، ليس بمسلم، والنبي ﷺ ( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ) Jawaban: Tidak boleh. Orang yang tidak salat, padahal dia berakal dan bisa berpikir, tapi meninggalkan salat, dia bukanlah seorang muslim. Dia bukan seorang muslim, karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر “Batas pemisah antara kami (orang muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18252 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Gadai Motor, Surat Taklik, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Cara Bertemu Khodam, Cara Mengatasi Putus Cinta Dalam Islam, Mimpi Diganggu Makhluk Halus Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 253 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Memohon Rahmat dan Ampunan untuk Orang yang Tidak Salat Semasa Hidupnya?

حكم من ترك الصلاة تهاونا وكسلا ومات على ذلك السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: جدتي كانت لا تصلي تهاونا وكسلا ، ولكنها كانت تؤمن بالله ورسوله فهل يجوز لي أن اترحم عليها وأن اعتمر عنها ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Nenek saya dahulu tidak salat karena malas dan menyepelekannya tetapi dia beriman kepada Allah dan Rasulullah, bolehkan saya memohonkan rahmat untuknya dan umrah untuknya?” الاحابة لا الذي لا يصلي وعنده عقله وتفكيره يترك الصلاة فهذا ليس بمسلم، ليس بمسلم، والنبي ﷺ ( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ) Jawaban: Tidak boleh. Orang yang tidak salat, padahal dia berakal dan bisa berpikir, tapi meninggalkan salat, dia bukanlah seorang muslim. Dia bukan seorang muslim, karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر “Batas pemisah antara kami (orang muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18252 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Gadai Motor, Surat Taklik, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Cara Bertemu Khodam, Cara Mengatasi Putus Cinta Dalam Islam, Mimpi Diganggu Makhluk Halus Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 253 QRIS donasi Yufid
حكم من ترك الصلاة تهاونا وكسلا ومات على ذلك السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: جدتي كانت لا تصلي تهاونا وكسلا ، ولكنها كانت تؤمن بالله ورسوله فهل يجوز لي أن اترحم عليها وأن اعتمر عنها ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Nenek saya dahulu tidak salat karena malas dan menyepelekannya tetapi dia beriman kepada Allah dan Rasulullah, bolehkan saya memohonkan rahmat untuknya dan umrah untuknya?” الاحابة لا الذي لا يصلي وعنده عقله وتفكيره يترك الصلاة فهذا ليس بمسلم، ليس بمسلم، والنبي ﷺ ( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ) Jawaban: Tidak boleh. Orang yang tidak salat, padahal dia berakal dan bisa berpikir, tapi meninggalkan salat, dia bukanlah seorang muslim. Dia bukan seorang muslim, karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر “Batas pemisah antara kami (orang muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18252 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Gadai Motor, Surat Taklik, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Cara Bertemu Khodam, Cara Mengatasi Putus Cinta Dalam Islam, Mimpi Diganggu Makhluk Halus Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 253 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1357098286&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> حكم من ترك الصلاة تهاونا وكسلا ومات على ذلك السؤال أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ هذا سائل يقول: جدتي كانت لا تصلي تهاونا وكسلا ، ولكنها كانت تؤمن بالله ورسوله فهل يجوز لي أن اترحم عليها وأن اعتمر عنها ؟ Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda wahai Syeikh yang mulia, penanya ini berkata, “Nenek saya dahulu tidak salat karena malas dan menyepelekannya tetapi dia beriman kepada Allah dan Rasulullah, bolehkan saya memohonkan rahmat untuknya dan umrah untuknya?” الاحابة لا الذي لا يصلي وعنده عقله وتفكيره يترك الصلاة فهذا ليس بمسلم، ليس بمسلم، والنبي ﷺ ( العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ) Jawaban: Tidak boleh. Orang yang tidak salat, padahal dia berakal dan bisa berpikir, tapi meninggalkan salat, dia bukanlah seorang muslim. Dia bukan seorang muslim, karena Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر “Batas pemisah antara kami (orang muslim) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad) [Syaikh Shalih al-Fauzan] مصدر الفتوى درس فتح المجيد شرح كتاب_التوحيد / يوم الثلاثاء/ ١٥- ربيع الأول -١٤٤١ ﮪ Sumber: Pelajaran kitab Fatẖul al-Majīd Penjelasan kitab Tauẖīd https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18252 PDF Artikel *** Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Gadai Motor, Surat Taklik, Waktu Berhubungan Intim Menurut Islam, Cara Bertemu Khodam, Cara Mengatasi Putus Cinta Dalam Islam, Mimpi Diganggu Makhluk Halus Visited 15 times, 1 visit(s) today Post Views: 253 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bolehkah Salat di Kuburan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Masjid tidak boleh dibangun di atas kuburan.Tidak sah shalat yang dilakukan di kuburan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seluruh muka bumi adalah masjid (tempat shalat), kecuali kuburan dan toilet.”Maka tidak boleh melakukan Shalat Fardhu (di kuburan).Namun Shalat Jenazah boleh (dilakukan di kuburan). (*) Pada Shalat Jenazah tidak ada rukuk dan sujud.Sedangkan semua Shalat Fardhu atau Shalat Sunah yang memiliki rukuk dan sujud, tidak boleh dilakukan di kuburan.Adapun jika masjid berada di luar kuburan, maka tidak mengapa. ===== الْمَسْجِدُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ دَاخِلَ الْمَقْبَرَةِ وَلَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ فِي الْمَقْبَرَةِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةُ وَالْحَمَّامُ فَلَا يَجُوزُ أَدَاءُ الصَّلَاةِ الْفَرِيضَةِ أَمَّا صَلَاةُ الْجَنَازَةِ فَتَجُوْزُ أَمَّا الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ أَوِ النَّافِلَةُ الصَّلَاةُ الَّتِي لَهَا الرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ لَا تَجُوزُ فِي الْمَقْبَرَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الْمَسْجِدُ خَارِجَ الْمَقْبَرَةِ فَمَا فِيهِ بَأْسٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bolehkah Salat di Kuburan? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Masjid tidak boleh dibangun di atas kuburan.Tidak sah shalat yang dilakukan di kuburan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seluruh muka bumi adalah masjid (tempat shalat), kecuali kuburan dan toilet.”Maka tidak boleh melakukan Shalat Fardhu (di kuburan).Namun Shalat Jenazah boleh (dilakukan di kuburan). (*) Pada Shalat Jenazah tidak ada rukuk dan sujud.Sedangkan semua Shalat Fardhu atau Shalat Sunah yang memiliki rukuk dan sujud, tidak boleh dilakukan di kuburan.Adapun jika masjid berada di luar kuburan, maka tidak mengapa. ===== الْمَسْجِدُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ دَاخِلَ الْمَقْبَرَةِ وَلَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ فِي الْمَقْبَرَةِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةُ وَالْحَمَّامُ فَلَا يَجُوزُ أَدَاءُ الصَّلَاةِ الْفَرِيضَةِ أَمَّا صَلَاةُ الْجَنَازَةِ فَتَجُوْزُ أَمَّا الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ أَوِ النَّافِلَةُ الصَّلَاةُ الَّتِي لَهَا الرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ لَا تَجُوزُ فِي الْمَقْبَرَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الْمَسْجِدُ خَارِجَ الْمَقْبَرَةِ فَمَا فِيهِ بَأْسٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Masjid tidak boleh dibangun di atas kuburan.Tidak sah shalat yang dilakukan di kuburan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seluruh muka bumi adalah masjid (tempat shalat), kecuali kuburan dan toilet.”Maka tidak boleh melakukan Shalat Fardhu (di kuburan).Namun Shalat Jenazah boleh (dilakukan di kuburan). (*) Pada Shalat Jenazah tidak ada rukuk dan sujud.Sedangkan semua Shalat Fardhu atau Shalat Sunah yang memiliki rukuk dan sujud, tidak boleh dilakukan di kuburan.Adapun jika masjid berada di luar kuburan, maka tidak mengapa. ===== الْمَسْجِدُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ دَاخِلَ الْمَقْبَرَةِ وَلَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ فِي الْمَقْبَرَةِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةُ وَالْحَمَّامُ فَلَا يَجُوزُ أَدَاءُ الصَّلَاةِ الْفَرِيضَةِ أَمَّا صَلَاةُ الْجَنَازَةِ فَتَجُوْزُ أَمَّا الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ أَوِ النَّافِلَةُ الصَّلَاةُ الَّتِي لَهَا الرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ لَا تَجُوزُ فِي الْمَقْبَرَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الْمَسْجِدُ خَارِجَ الْمَقْبَرَةِ فَمَا فِيهِ بَأْسٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Masjid tidak boleh dibangun di atas kuburan.Tidak sah shalat yang dilakukan di kuburan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seluruh muka bumi adalah masjid (tempat shalat), kecuali kuburan dan toilet.”Maka tidak boleh melakukan Shalat Fardhu (di kuburan).Namun Shalat Jenazah boleh (dilakukan di kuburan). (*) Pada Shalat Jenazah tidak ada rukuk dan sujud.Sedangkan semua Shalat Fardhu atau Shalat Sunah yang memiliki rukuk dan sujud, tidak boleh dilakukan di kuburan.Adapun jika masjid berada di luar kuburan, maka tidak mengapa. ===== الْمَسْجِدُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ دَاخِلَ الْمَقْبَرَةِ وَلَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ فِي الْمَقْبَرَةِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةُ وَالْحَمَّامُ فَلَا يَجُوزُ أَدَاءُ الصَّلَاةِ الْفَرِيضَةِ أَمَّا صَلَاةُ الْجَنَازَةِ فَتَجُوْزُ أَمَّا الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ أَوِ النَّافِلَةُ الصَّلَاةُ الَّتِي لَهَا الرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ لَا تَجُوزُ فِي الْمَقْبَرَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الْمَسْجِدُ خَارِجَ الْمَقْبَرَةِ فَمَا فِيهِ بَأْسٌ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tips Melejitkan Diri di Jaman Now – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Baiklah, di antara perkara yang sebaiknya diperhatikan seseorangdalam menuntut ilmuadalah berusaha untuk senantiasa menjernihkan pikiran.Berusaha meringankan (beban pikirannya), dan ini dapat berlaku pada beberapa hal:meringankan pikiran dari galau, dengan menjauhi penyebabnya,dan meringankan pikiran dari kesibukan.Bagaimana cara meringankan pikiran dari galau?Yaitu dengan cara menjauhi sesuatu yang menambah kegalauanmu, karena ada hal-hal dapat mendatangkan kegalauandan kerisauan, maka jauhi semua itu!Ibnu Abi Zamanin al-Maliki rahimahullah menyebutkan dalam kitab Ushul as-Sunnah, bahwa Syuraih.Syuraih ini adalah seorang “mukhadram”, yaitu orang yang mendapati masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tidak pernah melihat Nabi,dan Umar radhiyallahu ‘anhu menjadikannya sebagai Qadhi.Syuraih adalah salah seorang tabi’in paling baik, akan tetapi bukan terbaik karena yang terbaik adalah Uwais al-Qarni,sebagaimana yang diriwayatkan Muslim. Namun Syuraih adalah salah seorang tabi’in yang paling baik.Syuraih al-Qadhi rahimahullahu Ta’ala berkata,“Jika datang fitnah-fitnah, maka janganlah kamu mencari-cari kabarnya dan jangan pula mengabarkannya!”Yakni jangan kau mendengar kabarnya, sehingga kegalauan mendatangimu!Jangan pula kau mengabarkan apa pun tentangnya, sehingga itu menyita waktumudan menyibukkanmu dengan sesuatu yang membuatmu lalai dari ilmu.Terkadang meringankan beban dari perkara-perkara inimenjadikan Allah ‘Azza wa Jalla memberkati waktumu.Waktumu sangat singkat, maka berusahalah selalu untuk meringankan beban dari hal-hal ini.Seorang ulama salaf pernah berkata,“Seandainya keluargaku menyuruhku membeli kacang, maka aku tidak akan mendapat ilmu sedikit pun.”“… maka aku tidak akan mendapat ilmu sedikit pun.”Berusahalah selalu meringankan beban, akan tetapi itu bukan berarti kamu harus durhaka terhadap orang tua,atau berhenti melakukan tugas kewajiban,tidak, tentu ini sebuah kebodohan!Namun, hendaklah ia dapat menyelaraskan antara perkara-perkara ini,di samping itu ia harus tetap menghindari hal yang tidak bermanfaat.Jika semua kita mencermati dirinya sendiri,pasti akan mendapati dirinya sibuk dengan hal-hal yang bukan hanya mubah, bahkan denganhal yang sekurang-kurangnya hukumnya makruh.Andai ia mengurangi hal-hal inidan menggantinya dengan fokus kepada ketaatan dengan menuntut ilmu, maka itu penting sekali.Salah satu hal yang berkaitan dengan tahap awal dalam menuntut ilmu,hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu kamu membuat suatu metodeyang khusus untukmu, tanpa bergantung pada orang lain.Buatlah suatu metode khusus untukmu.Hal ini karena sebagian orang enggan menghafal kecuali jika dengan temannya,tidak menghadiri pelajaran kecuali jika dengan kawannya,dan tidak melakukan apapun kecuali dengan para sahabatnya.Orang ini, jika temannya baik, maka ia ikut baik, tapi jika temannya buruk, maka ia pun ikut buruk.Jika temannya malas, ia ikut malas. Jika mereka semangat dan mengunggulinya, ia merasa lelah.Maka janganlah pernah seperti itu!Berusahalah untuk memiliki metode menuntut ilmu yang khusus bagimu, tidak tergantung orang lain.Baik itu dalam menghafal, membaca,penelitian, dan belajar kelompok.Buatlah metode khusus untukmu,yang jika kamu telah terbiasa dengan metode ini selama satu, dua, tiga, atau empat tahun,maka perkara ini menjadi tabiatmu.Menjadi tabiat.Jika kamu masuk rumah, maka kamu akan langsung membaca buku,atau mengulangi hafalanmu sendiri, atau lain sebagainya.Maka berusahalah untuk tidak bergantung pada orang lain dalam sebagian proses menuntut ilmu.Namun hendaklah kamu bergantung pada dirimu sendiri,agar hal ini menjadi tabiatmu,dan agar kamu tidak bergantung pada orang lain; jika mereka baik kamu ikut baik, dan jika buruk kamu juga ikut buruk. ==== طَيِّبٌ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي يَحْسُنُ بِالْمَرْءِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِخُلُوِّ الْخَاطِرِ يُحَاوِلُ أنْ يَتَخَفَّفَ وَالتَّخَفُّفُ يَكُونُ مِنْ أُمُورٍ يَتَخَفَّفُ مِنَ الْهَمِّ فَيَبْتَعِدُ عَمَّا يُسَبِّبُ لَهُ هَمًّا وَالتَّخَفُّفُ مِنَ الشُّغْلِ التَّخَفُّفُ مِنَ الْهَمِّ يَكُونُ بِمَاذَا؟ بِأَنْ تَبْتَعِدَ عَمَّا يَزِيدُ عَنْكَ الْهَمَّ بَعْضُ الْأَشْيَاءِ تَأْتِيَكَ بِهُمُوْمٍ وَتَأْتِيْكَ بِغُمُوْمٍ فَابْتَعِدْ عَنْهَا ذَكَرَ ابْنُ أَبِي زَمَنِيْنَ الْمَالِكِيُّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ فِي كِتَابِ أُصُولِ السُّنَّةِ أَنَّ شُرَيْحًا شُرَيْحٌ كَانَ مُخَضْرَمًا أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ وَوَلَّاهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْقَضَاءَ فَكَانَ مِنْ خَيْرِ التَّابِعِينَ لَيْسَ خَيْرَ التَّابِعِينَ وَإِنَّمَا خَيْرُ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ الْقَرَنِيُّ كَمَا فِي مُسْلِمٍ وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ خَيْرِ التَّابِعِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ شُرَيْحًا الْقَاضِي رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ يَقُولُ إِذَا جَاءَتِ الْفِتَنُ فَلَا تَسْتَخْبِرْ وَلَا تُخْبِرْ يَعْنِي لَا تَسْمَعْ أَخْبَارًا فَيَأْتِيَكَ هَمٌّ وَلَا تُخْبِرْ شَيْئًا فِي أُمُورِ الْأَخْبَارِ هَذِهِ فَتُشْغِلُ وَقْتَكَ وَتَنْشَغِلُ فِيمَا يُضَايِعُ عَلَيْكَ الْعِلْمَ فَأَحْيَانًا التَّخَفُّفُ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ يُبَارِكُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي وَقْتِكَ وَقْتُكَ قَصِيرٌ جِدًّا فَاحْرِصْ دَائِمًا عَلَى التَّخَفُّفِ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ لَوْ أَمَرَنِي أَهْلِي بِشِرَاءِ الْبَاقِلَّاءِ لَمَا اكْتَسَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا مَا اكْتَسَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا فَدَائِمًا حَاوِلْ أَنْ تَتَخَفَّفَ لَيْسَ مَعْنَى أَنَّكَ تَتَخَفَّفُ أَنْ تَعُقَّ بِوَالِدَيْكَ أَوْ تَنْقَطِعَ عَنِ الْوَاجِبَاتِ لَا هَذَا نَقْصٌ فِي الْعَقْلِ وَلَا شَكَّ وَلَكِنَّ الْمَرْءَ يَجْمَعُ بَيْنَ الْأُمُورِ وَلَكِنْ يَتَخَفَّفُ مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَكُلُّ امْرِئٍ مِنَّا لَوْ نَظَرَ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ سَيَجِدُ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِبَعْضِ لَا أَقُولُ مُبَاحَاتٍ بَلْ هُوَ يَعْنِي أَقَلُّهُ نَقُوْلُ مَكْرُوْهَاتٍ عَلَى أَقَلِّ أَحْوَالِهَا فَلَوْ تَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَأَبْدَلَهَا بِالْاِنْشِغَالِ بِالطَّاعَةِ فِي الْعِلْمِ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْاِبْتِدَاءِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ تُعْنَى فِي طَلَبِ الْعِلْمِ بِأَنْ تَجْعَلَ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ غَيْرَ مُرْتَبِطٍ بِالنَّاسِ اجْعَلْ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ بَعْضُ الْإِخْوَانِ لَا يَحْفَظُ إِلَّا مَعَ صَاحِبِهِ وَلَا يَحْضُرُ الدَّرْسَ إِلَّا مَعَ صَدِيْقِهِ وَلَا يَفْعَلُ شَيْئًا إِلَّا مَعَ أَصْحَابِهِ هَذَا إِذَا أَحْسَنُوا أَحْسَنَ وَإِذَا أَسَاءُوا أَسَاءَ وَإِذَا ضَعُفُوا ضَعُفَ وَإِذَا قَوُوا وَغَلَبُوهُ تَعِبَ فَدَائِمًا يَكُونُ لَيْسَ كَذَلِكَ فَاحْرِصْ عَلَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مَسْلَكٌ وَطَرِيقٌ فِي الْعِلْمِ خَاصٌّ بِكَ بَعِيدٌ عَنِ النَّاسِ حِفْظٌ قِرَاءَةٌ بَحْثٌ مُدَارَسَةٌ اِجْعَلْ لَكَ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ بِحَيْثُ أَنَّكَ إِذَا اعْتَدْتَ عَلَى هَذَا سَنَةً وَسَنَتَيْنِ وَثَلَاثًا وَأَرْبَعًا يُصْبِحُ هَذَا الْأَمْرُ سَجِيَّةً لَكَ يُصْبِحُ سَجِيَّةً فَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى بَيْتِكَ سَتَجِدُ أَنَّكَ تَقْرَأُ الْكِتَابَ مُبَاشَرَةً أَوْ تُرَدِّدُ مَحْفُوْظَكَ وَحْدَكَ وَهَكَذَا إِذًا احْرِصْ عَلَى أَلَّا تَرْتَبِطَ بِغَيْرِكَ فِي بَعْضِ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مُرْتَبِطًا بِنَفْسِكَ لِكَي يَكُونَ هَذَا الْأَمْرُ سَجِيَّةً لَكَ وَلِكَيْ لَا تَتَعَلَّقَ بِغَيْرِكَ إِنْ أَحْسَنُوْا وَأَحْسَنْتَ وَإِنْ أَسَاءُوا أَسَأْتَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tips Melejitkan Diri di Jaman Now – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Baiklah, di antara perkara yang sebaiknya diperhatikan seseorangdalam menuntut ilmuadalah berusaha untuk senantiasa menjernihkan pikiran.Berusaha meringankan (beban pikirannya), dan ini dapat berlaku pada beberapa hal:meringankan pikiran dari galau, dengan menjauhi penyebabnya,dan meringankan pikiran dari kesibukan.Bagaimana cara meringankan pikiran dari galau?Yaitu dengan cara menjauhi sesuatu yang menambah kegalauanmu, karena ada hal-hal dapat mendatangkan kegalauandan kerisauan, maka jauhi semua itu!Ibnu Abi Zamanin al-Maliki rahimahullah menyebutkan dalam kitab Ushul as-Sunnah, bahwa Syuraih.Syuraih ini adalah seorang “mukhadram”, yaitu orang yang mendapati masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tidak pernah melihat Nabi,dan Umar radhiyallahu ‘anhu menjadikannya sebagai Qadhi.Syuraih adalah salah seorang tabi’in paling baik, akan tetapi bukan terbaik karena yang terbaik adalah Uwais al-Qarni,sebagaimana yang diriwayatkan Muslim. Namun Syuraih adalah salah seorang tabi’in yang paling baik.Syuraih al-Qadhi rahimahullahu Ta’ala berkata,“Jika datang fitnah-fitnah, maka janganlah kamu mencari-cari kabarnya dan jangan pula mengabarkannya!”Yakni jangan kau mendengar kabarnya, sehingga kegalauan mendatangimu!Jangan pula kau mengabarkan apa pun tentangnya, sehingga itu menyita waktumudan menyibukkanmu dengan sesuatu yang membuatmu lalai dari ilmu.Terkadang meringankan beban dari perkara-perkara inimenjadikan Allah ‘Azza wa Jalla memberkati waktumu.Waktumu sangat singkat, maka berusahalah selalu untuk meringankan beban dari hal-hal ini.Seorang ulama salaf pernah berkata,“Seandainya keluargaku menyuruhku membeli kacang, maka aku tidak akan mendapat ilmu sedikit pun.”“… maka aku tidak akan mendapat ilmu sedikit pun.”Berusahalah selalu meringankan beban, akan tetapi itu bukan berarti kamu harus durhaka terhadap orang tua,atau berhenti melakukan tugas kewajiban,tidak, tentu ini sebuah kebodohan!Namun, hendaklah ia dapat menyelaraskan antara perkara-perkara ini,di samping itu ia harus tetap menghindari hal yang tidak bermanfaat.Jika semua kita mencermati dirinya sendiri,pasti akan mendapati dirinya sibuk dengan hal-hal yang bukan hanya mubah, bahkan denganhal yang sekurang-kurangnya hukumnya makruh.Andai ia mengurangi hal-hal inidan menggantinya dengan fokus kepada ketaatan dengan menuntut ilmu, maka itu penting sekali.Salah satu hal yang berkaitan dengan tahap awal dalam menuntut ilmu,hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu kamu membuat suatu metodeyang khusus untukmu, tanpa bergantung pada orang lain.Buatlah suatu metode khusus untukmu.Hal ini karena sebagian orang enggan menghafal kecuali jika dengan temannya,tidak menghadiri pelajaran kecuali jika dengan kawannya,dan tidak melakukan apapun kecuali dengan para sahabatnya.Orang ini, jika temannya baik, maka ia ikut baik, tapi jika temannya buruk, maka ia pun ikut buruk.Jika temannya malas, ia ikut malas. Jika mereka semangat dan mengunggulinya, ia merasa lelah.Maka janganlah pernah seperti itu!Berusahalah untuk memiliki metode menuntut ilmu yang khusus bagimu, tidak tergantung orang lain.Baik itu dalam menghafal, membaca,penelitian, dan belajar kelompok.Buatlah metode khusus untukmu,yang jika kamu telah terbiasa dengan metode ini selama satu, dua, tiga, atau empat tahun,maka perkara ini menjadi tabiatmu.Menjadi tabiat.Jika kamu masuk rumah, maka kamu akan langsung membaca buku,atau mengulangi hafalanmu sendiri, atau lain sebagainya.Maka berusahalah untuk tidak bergantung pada orang lain dalam sebagian proses menuntut ilmu.Namun hendaklah kamu bergantung pada dirimu sendiri,agar hal ini menjadi tabiatmu,dan agar kamu tidak bergantung pada orang lain; jika mereka baik kamu ikut baik, dan jika buruk kamu juga ikut buruk. ==== طَيِّبٌ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي يَحْسُنُ بِالْمَرْءِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِخُلُوِّ الْخَاطِرِ يُحَاوِلُ أنْ يَتَخَفَّفَ وَالتَّخَفُّفُ يَكُونُ مِنْ أُمُورٍ يَتَخَفَّفُ مِنَ الْهَمِّ فَيَبْتَعِدُ عَمَّا يُسَبِّبُ لَهُ هَمًّا وَالتَّخَفُّفُ مِنَ الشُّغْلِ التَّخَفُّفُ مِنَ الْهَمِّ يَكُونُ بِمَاذَا؟ بِأَنْ تَبْتَعِدَ عَمَّا يَزِيدُ عَنْكَ الْهَمَّ بَعْضُ الْأَشْيَاءِ تَأْتِيَكَ بِهُمُوْمٍ وَتَأْتِيْكَ بِغُمُوْمٍ فَابْتَعِدْ عَنْهَا ذَكَرَ ابْنُ أَبِي زَمَنِيْنَ الْمَالِكِيُّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ فِي كِتَابِ أُصُولِ السُّنَّةِ أَنَّ شُرَيْحًا شُرَيْحٌ كَانَ مُخَضْرَمًا أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ وَوَلَّاهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْقَضَاءَ فَكَانَ مِنْ خَيْرِ التَّابِعِينَ لَيْسَ خَيْرَ التَّابِعِينَ وَإِنَّمَا خَيْرُ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ الْقَرَنِيُّ كَمَا فِي مُسْلِمٍ وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ خَيْرِ التَّابِعِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ شُرَيْحًا الْقَاضِي رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ يَقُولُ إِذَا جَاءَتِ الْفِتَنُ فَلَا تَسْتَخْبِرْ وَلَا تُخْبِرْ يَعْنِي لَا تَسْمَعْ أَخْبَارًا فَيَأْتِيَكَ هَمٌّ وَلَا تُخْبِرْ شَيْئًا فِي أُمُورِ الْأَخْبَارِ هَذِهِ فَتُشْغِلُ وَقْتَكَ وَتَنْشَغِلُ فِيمَا يُضَايِعُ عَلَيْكَ الْعِلْمَ فَأَحْيَانًا التَّخَفُّفُ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ يُبَارِكُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي وَقْتِكَ وَقْتُكَ قَصِيرٌ جِدًّا فَاحْرِصْ دَائِمًا عَلَى التَّخَفُّفِ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ لَوْ أَمَرَنِي أَهْلِي بِشِرَاءِ الْبَاقِلَّاءِ لَمَا اكْتَسَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا مَا اكْتَسَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا فَدَائِمًا حَاوِلْ أَنْ تَتَخَفَّفَ لَيْسَ مَعْنَى أَنَّكَ تَتَخَفَّفُ أَنْ تَعُقَّ بِوَالِدَيْكَ أَوْ تَنْقَطِعَ عَنِ الْوَاجِبَاتِ لَا هَذَا نَقْصٌ فِي الْعَقْلِ وَلَا شَكَّ وَلَكِنَّ الْمَرْءَ يَجْمَعُ بَيْنَ الْأُمُورِ وَلَكِنْ يَتَخَفَّفُ مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَكُلُّ امْرِئٍ مِنَّا لَوْ نَظَرَ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ سَيَجِدُ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِبَعْضِ لَا أَقُولُ مُبَاحَاتٍ بَلْ هُوَ يَعْنِي أَقَلُّهُ نَقُوْلُ مَكْرُوْهَاتٍ عَلَى أَقَلِّ أَحْوَالِهَا فَلَوْ تَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَأَبْدَلَهَا بِالْاِنْشِغَالِ بِالطَّاعَةِ فِي الْعِلْمِ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْاِبْتِدَاءِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ تُعْنَى فِي طَلَبِ الْعِلْمِ بِأَنْ تَجْعَلَ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ غَيْرَ مُرْتَبِطٍ بِالنَّاسِ اجْعَلْ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ بَعْضُ الْإِخْوَانِ لَا يَحْفَظُ إِلَّا مَعَ صَاحِبِهِ وَلَا يَحْضُرُ الدَّرْسَ إِلَّا مَعَ صَدِيْقِهِ وَلَا يَفْعَلُ شَيْئًا إِلَّا مَعَ أَصْحَابِهِ هَذَا إِذَا أَحْسَنُوا أَحْسَنَ وَإِذَا أَسَاءُوا أَسَاءَ وَإِذَا ضَعُفُوا ضَعُفَ وَإِذَا قَوُوا وَغَلَبُوهُ تَعِبَ فَدَائِمًا يَكُونُ لَيْسَ كَذَلِكَ فَاحْرِصْ عَلَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مَسْلَكٌ وَطَرِيقٌ فِي الْعِلْمِ خَاصٌّ بِكَ بَعِيدٌ عَنِ النَّاسِ حِفْظٌ قِرَاءَةٌ بَحْثٌ مُدَارَسَةٌ اِجْعَلْ لَكَ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ بِحَيْثُ أَنَّكَ إِذَا اعْتَدْتَ عَلَى هَذَا سَنَةً وَسَنَتَيْنِ وَثَلَاثًا وَأَرْبَعًا يُصْبِحُ هَذَا الْأَمْرُ سَجِيَّةً لَكَ يُصْبِحُ سَجِيَّةً فَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى بَيْتِكَ سَتَجِدُ أَنَّكَ تَقْرَأُ الْكِتَابَ مُبَاشَرَةً أَوْ تُرَدِّدُ مَحْفُوْظَكَ وَحْدَكَ وَهَكَذَا إِذًا احْرِصْ عَلَى أَلَّا تَرْتَبِطَ بِغَيْرِكَ فِي بَعْضِ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مُرْتَبِطًا بِنَفْسِكَ لِكَي يَكُونَ هَذَا الْأَمْرُ سَجِيَّةً لَكَ وَلِكَيْ لَا تَتَعَلَّقَ بِغَيْرِكَ إِنْ أَحْسَنُوْا وَأَحْسَنْتَ وَإِنْ أَسَاءُوا أَسَأْتَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Baiklah, di antara perkara yang sebaiknya diperhatikan seseorangdalam menuntut ilmuadalah berusaha untuk senantiasa menjernihkan pikiran.Berusaha meringankan (beban pikirannya), dan ini dapat berlaku pada beberapa hal:meringankan pikiran dari galau, dengan menjauhi penyebabnya,dan meringankan pikiran dari kesibukan.Bagaimana cara meringankan pikiran dari galau?Yaitu dengan cara menjauhi sesuatu yang menambah kegalauanmu, karena ada hal-hal dapat mendatangkan kegalauandan kerisauan, maka jauhi semua itu!Ibnu Abi Zamanin al-Maliki rahimahullah menyebutkan dalam kitab Ushul as-Sunnah, bahwa Syuraih.Syuraih ini adalah seorang “mukhadram”, yaitu orang yang mendapati masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tidak pernah melihat Nabi,dan Umar radhiyallahu ‘anhu menjadikannya sebagai Qadhi.Syuraih adalah salah seorang tabi’in paling baik, akan tetapi bukan terbaik karena yang terbaik adalah Uwais al-Qarni,sebagaimana yang diriwayatkan Muslim. Namun Syuraih adalah salah seorang tabi’in yang paling baik.Syuraih al-Qadhi rahimahullahu Ta’ala berkata,“Jika datang fitnah-fitnah, maka janganlah kamu mencari-cari kabarnya dan jangan pula mengabarkannya!”Yakni jangan kau mendengar kabarnya, sehingga kegalauan mendatangimu!Jangan pula kau mengabarkan apa pun tentangnya, sehingga itu menyita waktumudan menyibukkanmu dengan sesuatu yang membuatmu lalai dari ilmu.Terkadang meringankan beban dari perkara-perkara inimenjadikan Allah ‘Azza wa Jalla memberkati waktumu.Waktumu sangat singkat, maka berusahalah selalu untuk meringankan beban dari hal-hal ini.Seorang ulama salaf pernah berkata,“Seandainya keluargaku menyuruhku membeli kacang, maka aku tidak akan mendapat ilmu sedikit pun.”“… maka aku tidak akan mendapat ilmu sedikit pun.”Berusahalah selalu meringankan beban, akan tetapi itu bukan berarti kamu harus durhaka terhadap orang tua,atau berhenti melakukan tugas kewajiban,tidak, tentu ini sebuah kebodohan!Namun, hendaklah ia dapat menyelaraskan antara perkara-perkara ini,di samping itu ia harus tetap menghindari hal yang tidak bermanfaat.Jika semua kita mencermati dirinya sendiri,pasti akan mendapati dirinya sibuk dengan hal-hal yang bukan hanya mubah, bahkan denganhal yang sekurang-kurangnya hukumnya makruh.Andai ia mengurangi hal-hal inidan menggantinya dengan fokus kepada ketaatan dengan menuntut ilmu, maka itu penting sekali.Salah satu hal yang berkaitan dengan tahap awal dalam menuntut ilmu,hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu kamu membuat suatu metodeyang khusus untukmu, tanpa bergantung pada orang lain.Buatlah suatu metode khusus untukmu.Hal ini karena sebagian orang enggan menghafal kecuali jika dengan temannya,tidak menghadiri pelajaran kecuali jika dengan kawannya,dan tidak melakukan apapun kecuali dengan para sahabatnya.Orang ini, jika temannya baik, maka ia ikut baik, tapi jika temannya buruk, maka ia pun ikut buruk.Jika temannya malas, ia ikut malas. Jika mereka semangat dan mengunggulinya, ia merasa lelah.Maka janganlah pernah seperti itu!Berusahalah untuk memiliki metode menuntut ilmu yang khusus bagimu, tidak tergantung orang lain.Baik itu dalam menghafal, membaca,penelitian, dan belajar kelompok.Buatlah metode khusus untukmu,yang jika kamu telah terbiasa dengan metode ini selama satu, dua, tiga, atau empat tahun,maka perkara ini menjadi tabiatmu.Menjadi tabiat.Jika kamu masuk rumah, maka kamu akan langsung membaca buku,atau mengulangi hafalanmu sendiri, atau lain sebagainya.Maka berusahalah untuk tidak bergantung pada orang lain dalam sebagian proses menuntut ilmu.Namun hendaklah kamu bergantung pada dirimu sendiri,agar hal ini menjadi tabiatmu,dan agar kamu tidak bergantung pada orang lain; jika mereka baik kamu ikut baik, dan jika buruk kamu juga ikut buruk. ==== طَيِّبٌ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي يَحْسُنُ بِالْمَرْءِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِخُلُوِّ الْخَاطِرِ يُحَاوِلُ أنْ يَتَخَفَّفَ وَالتَّخَفُّفُ يَكُونُ مِنْ أُمُورٍ يَتَخَفَّفُ مِنَ الْهَمِّ فَيَبْتَعِدُ عَمَّا يُسَبِّبُ لَهُ هَمًّا وَالتَّخَفُّفُ مِنَ الشُّغْلِ التَّخَفُّفُ مِنَ الْهَمِّ يَكُونُ بِمَاذَا؟ بِأَنْ تَبْتَعِدَ عَمَّا يَزِيدُ عَنْكَ الْهَمَّ بَعْضُ الْأَشْيَاءِ تَأْتِيَكَ بِهُمُوْمٍ وَتَأْتِيْكَ بِغُمُوْمٍ فَابْتَعِدْ عَنْهَا ذَكَرَ ابْنُ أَبِي زَمَنِيْنَ الْمَالِكِيُّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ فِي كِتَابِ أُصُولِ السُّنَّةِ أَنَّ شُرَيْحًا شُرَيْحٌ كَانَ مُخَضْرَمًا أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ وَوَلَّاهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْقَضَاءَ فَكَانَ مِنْ خَيْرِ التَّابِعِينَ لَيْسَ خَيْرَ التَّابِعِينَ وَإِنَّمَا خَيْرُ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ الْقَرَنِيُّ كَمَا فِي مُسْلِمٍ وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ خَيْرِ التَّابِعِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ شُرَيْحًا الْقَاضِي رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ يَقُولُ إِذَا جَاءَتِ الْفِتَنُ فَلَا تَسْتَخْبِرْ وَلَا تُخْبِرْ يَعْنِي لَا تَسْمَعْ أَخْبَارًا فَيَأْتِيَكَ هَمٌّ وَلَا تُخْبِرْ شَيْئًا فِي أُمُورِ الْأَخْبَارِ هَذِهِ فَتُشْغِلُ وَقْتَكَ وَتَنْشَغِلُ فِيمَا يُضَايِعُ عَلَيْكَ الْعِلْمَ فَأَحْيَانًا التَّخَفُّفُ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ يُبَارِكُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي وَقْتِكَ وَقْتُكَ قَصِيرٌ جِدًّا فَاحْرِصْ دَائِمًا عَلَى التَّخَفُّفِ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ لَوْ أَمَرَنِي أَهْلِي بِشِرَاءِ الْبَاقِلَّاءِ لَمَا اكْتَسَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا مَا اكْتَسَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا فَدَائِمًا حَاوِلْ أَنْ تَتَخَفَّفَ لَيْسَ مَعْنَى أَنَّكَ تَتَخَفَّفُ أَنْ تَعُقَّ بِوَالِدَيْكَ أَوْ تَنْقَطِعَ عَنِ الْوَاجِبَاتِ لَا هَذَا نَقْصٌ فِي الْعَقْلِ وَلَا شَكَّ وَلَكِنَّ الْمَرْءَ يَجْمَعُ بَيْنَ الْأُمُورِ وَلَكِنْ يَتَخَفَّفُ مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَكُلُّ امْرِئٍ مِنَّا لَوْ نَظَرَ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ سَيَجِدُ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِبَعْضِ لَا أَقُولُ مُبَاحَاتٍ بَلْ هُوَ يَعْنِي أَقَلُّهُ نَقُوْلُ مَكْرُوْهَاتٍ عَلَى أَقَلِّ أَحْوَالِهَا فَلَوْ تَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَأَبْدَلَهَا بِالْاِنْشِغَالِ بِالطَّاعَةِ فِي الْعِلْمِ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْاِبْتِدَاءِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ تُعْنَى فِي طَلَبِ الْعِلْمِ بِأَنْ تَجْعَلَ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ غَيْرَ مُرْتَبِطٍ بِالنَّاسِ اجْعَلْ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ بَعْضُ الْإِخْوَانِ لَا يَحْفَظُ إِلَّا مَعَ صَاحِبِهِ وَلَا يَحْضُرُ الدَّرْسَ إِلَّا مَعَ صَدِيْقِهِ وَلَا يَفْعَلُ شَيْئًا إِلَّا مَعَ أَصْحَابِهِ هَذَا إِذَا أَحْسَنُوا أَحْسَنَ وَإِذَا أَسَاءُوا أَسَاءَ وَإِذَا ضَعُفُوا ضَعُفَ وَإِذَا قَوُوا وَغَلَبُوهُ تَعِبَ فَدَائِمًا يَكُونُ لَيْسَ كَذَلِكَ فَاحْرِصْ عَلَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مَسْلَكٌ وَطَرِيقٌ فِي الْعِلْمِ خَاصٌّ بِكَ بَعِيدٌ عَنِ النَّاسِ حِفْظٌ قِرَاءَةٌ بَحْثٌ مُدَارَسَةٌ اِجْعَلْ لَكَ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ بِحَيْثُ أَنَّكَ إِذَا اعْتَدْتَ عَلَى هَذَا سَنَةً وَسَنَتَيْنِ وَثَلَاثًا وَأَرْبَعًا يُصْبِحُ هَذَا الْأَمْرُ سَجِيَّةً لَكَ يُصْبِحُ سَجِيَّةً فَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى بَيْتِكَ سَتَجِدُ أَنَّكَ تَقْرَأُ الْكِتَابَ مُبَاشَرَةً أَوْ تُرَدِّدُ مَحْفُوْظَكَ وَحْدَكَ وَهَكَذَا إِذًا احْرِصْ عَلَى أَلَّا تَرْتَبِطَ بِغَيْرِكَ فِي بَعْضِ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مُرْتَبِطًا بِنَفْسِكَ لِكَي يَكُونَ هَذَا الْأَمْرُ سَجِيَّةً لَكَ وَلِكَيْ لَا تَتَعَلَّقَ بِغَيْرِكَ إِنْ أَحْسَنُوْا وَأَحْسَنْتَ وَإِنْ أَسَاءُوا أَسَأْتَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Baiklah, di antara perkara yang sebaiknya diperhatikan seseorangdalam menuntut ilmuadalah berusaha untuk senantiasa menjernihkan pikiran.Berusaha meringankan (beban pikirannya), dan ini dapat berlaku pada beberapa hal:meringankan pikiran dari galau, dengan menjauhi penyebabnya,dan meringankan pikiran dari kesibukan.Bagaimana cara meringankan pikiran dari galau?Yaitu dengan cara menjauhi sesuatu yang menambah kegalauanmu, karena ada hal-hal dapat mendatangkan kegalauandan kerisauan, maka jauhi semua itu!Ibnu Abi Zamanin al-Maliki rahimahullah menyebutkan dalam kitab Ushul as-Sunnah, bahwa Syuraih.Syuraih ini adalah seorang “mukhadram”, yaitu orang yang mendapati masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tidak pernah melihat Nabi,dan Umar radhiyallahu ‘anhu menjadikannya sebagai Qadhi.Syuraih adalah salah seorang tabi’in paling baik, akan tetapi bukan terbaik karena yang terbaik adalah Uwais al-Qarni,sebagaimana yang diriwayatkan Muslim. Namun Syuraih adalah salah seorang tabi’in yang paling baik.Syuraih al-Qadhi rahimahullahu Ta’ala berkata,“Jika datang fitnah-fitnah, maka janganlah kamu mencari-cari kabarnya dan jangan pula mengabarkannya!”Yakni jangan kau mendengar kabarnya, sehingga kegalauan mendatangimu!Jangan pula kau mengabarkan apa pun tentangnya, sehingga itu menyita waktumudan menyibukkanmu dengan sesuatu yang membuatmu lalai dari ilmu.Terkadang meringankan beban dari perkara-perkara inimenjadikan Allah ‘Azza wa Jalla memberkati waktumu.Waktumu sangat singkat, maka berusahalah selalu untuk meringankan beban dari hal-hal ini.Seorang ulama salaf pernah berkata,“Seandainya keluargaku menyuruhku membeli kacang, maka aku tidak akan mendapat ilmu sedikit pun.”“… maka aku tidak akan mendapat ilmu sedikit pun.”Berusahalah selalu meringankan beban, akan tetapi itu bukan berarti kamu harus durhaka terhadap orang tua,atau berhenti melakukan tugas kewajiban,tidak, tentu ini sebuah kebodohan!Namun, hendaklah ia dapat menyelaraskan antara perkara-perkara ini,di samping itu ia harus tetap menghindari hal yang tidak bermanfaat.Jika semua kita mencermati dirinya sendiri,pasti akan mendapati dirinya sibuk dengan hal-hal yang bukan hanya mubah, bahkan denganhal yang sekurang-kurangnya hukumnya makruh.Andai ia mengurangi hal-hal inidan menggantinya dengan fokus kepada ketaatan dengan menuntut ilmu, maka itu penting sekali.Salah satu hal yang berkaitan dengan tahap awal dalam menuntut ilmu,hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu kamu membuat suatu metodeyang khusus untukmu, tanpa bergantung pada orang lain.Buatlah suatu metode khusus untukmu.Hal ini karena sebagian orang enggan menghafal kecuali jika dengan temannya,tidak menghadiri pelajaran kecuali jika dengan kawannya,dan tidak melakukan apapun kecuali dengan para sahabatnya.Orang ini, jika temannya baik, maka ia ikut baik, tapi jika temannya buruk, maka ia pun ikut buruk.Jika temannya malas, ia ikut malas. Jika mereka semangat dan mengunggulinya, ia merasa lelah.Maka janganlah pernah seperti itu!Berusahalah untuk memiliki metode menuntut ilmu yang khusus bagimu, tidak tergantung orang lain.Baik itu dalam menghafal, membaca,penelitian, dan belajar kelompok.Buatlah metode khusus untukmu,yang jika kamu telah terbiasa dengan metode ini selama satu, dua, tiga, atau empat tahun,maka perkara ini menjadi tabiatmu.Menjadi tabiat.Jika kamu masuk rumah, maka kamu akan langsung membaca buku,atau mengulangi hafalanmu sendiri, atau lain sebagainya.Maka berusahalah untuk tidak bergantung pada orang lain dalam sebagian proses menuntut ilmu.Namun hendaklah kamu bergantung pada dirimu sendiri,agar hal ini menjadi tabiatmu,dan agar kamu tidak bergantung pada orang lain; jika mereka baik kamu ikut baik, dan jika buruk kamu juga ikut buruk. ==== طَيِّبٌ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي يَحْسُنُ بِالْمَرْءِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِهَا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ أَنْ يَعْتَنِيَ بِخُلُوِّ الْخَاطِرِ يُحَاوِلُ أنْ يَتَخَفَّفَ وَالتَّخَفُّفُ يَكُونُ مِنْ أُمُورٍ يَتَخَفَّفُ مِنَ الْهَمِّ فَيَبْتَعِدُ عَمَّا يُسَبِّبُ لَهُ هَمًّا وَالتَّخَفُّفُ مِنَ الشُّغْلِ التَّخَفُّفُ مِنَ الْهَمِّ يَكُونُ بِمَاذَا؟ بِأَنْ تَبْتَعِدَ عَمَّا يَزِيدُ عَنْكَ الْهَمَّ بَعْضُ الْأَشْيَاءِ تَأْتِيَكَ بِهُمُوْمٍ وَتَأْتِيْكَ بِغُمُوْمٍ فَابْتَعِدْ عَنْهَا ذَكَرَ ابْنُ أَبِي زَمَنِيْنَ الْمَالِكِيُّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللهِ فِي كِتَابِ أُصُولِ السُّنَّةِ أَنَّ شُرَيْحًا شُرَيْحٌ كَانَ مُخَضْرَمًا أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ وَوَلَّاهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْقَضَاءَ فَكَانَ مِنْ خَيْرِ التَّابِعِينَ لَيْسَ خَيْرَ التَّابِعِينَ وَإِنَّمَا خَيْرُ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ الْقَرَنِيُّ كَمَا فِي مُسْلِمٍ وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ خَيْرِ التَّابِعِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ شُرَيْحًا الْقَاضِي رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ يَقُولُ إِذَا جَاءَتِ الْفِتَنُ فَلَا تَسْتَخْبِرْ وَلَا تُخْبِرْ يَعْنِي لَا تَسْمَعْ أَخْبَارًا فَيَأْتِيَكَ هَمٌّ وَلَا تُخْبِرْ شَيْئًا فِي أُمُورِ الْأَخْبَارِ هَذِهِ فَتُشْغِلُ وَقْتَكَ وَتَنْشَغِلُ فِيمَا يُضَايِعُ عَلَيْكَ الْعِلْمَ فَأَحْيَانًا التَّخَفُّفُ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ يُبَارِكُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي وَقْتِكَ وَقْتُكَ قَصِيرٌ جِدًّا فَاحْرِصْ دَائِمًا عَلَى التَّخَفُّفِ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ لَوْ أَمَرَنِي أَهْلِي بِشِرَاءِ الْبَاقِلَّاءِ لَمَا اكْتَسَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا مَا اكْتَسَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْئًا فَدَائِمًا حَاوِلْ أَنْ تَتَخَفَّفَ لَيْسَ مَعْنَى أَنَّكَ تَتَخَفَّفُ أَنْ تَعُقَّ بِوَالِدَيْكَ أَوْ تَنْقَطِعَ عَنِ الْوَاجِبَاتِ لَا هَذَا نَقْصٌ فِي الْعَقْلِ وَلَا شَكَّ وَلَكِنَّ الْمَرْءَ يَجْمَعُ بَيْنَ الْأُمُورِ وَلَكِنْ يَتَخَفَّفُ مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَكُلُّ امْرِئٍ مِنَّا لَوْ نَظَرَ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ سَيَجِدُ أَنَّهُ يَنْشَغِلُ بِبَعْضِ لَا أَقُولُ مُبَاحَاتٍ بَلْ هُوَ يَعْنِي أَقَلُّهُ نَقُوْلُ مَكْرُوْهَاتٍ عَلَى أَقَلِّ أَحْوَالِهَا فَلَوْ تَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَأَبْدَلَهَا بِالْاِنْشِغَالِ بِالطَّاعَةِ فِي الْعِلْمِ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْاِبْتِدَاءِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ تُعْنَى فِي طَلَبِ الْعِلْمِ بِأَنْ تَجْعَلَ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ غَيْرَ مُرْتَبِطٍ بِالنَّاسِ اجْعَلْ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ بَعْضُ الْإِخْوَانِ لَا يَحْفَظُ إِلَّا مَعَ صَاحِبِهِ وَلَا يَحْضُرُ الدَّرْسَ إِلَّا مَعَ صَدِيْقِهِ وَلَا يَفْعَلُ شَيْئًا إِلَّا مَعَ أَصْحَابِهِ هَذَا إِذَا أَحْسَنُوا أَحْسَنَ وَإِذَا أَسَاءُوا أَسَاءَ وَإِذَا ضَعُفُوا ضَعُفَ وَإِذَا قَوُوا وَغَلَبُوهُ تَعِبَ فَدَائِمًا يَكُونُ لَيْسَ كَذَلِكَ فَاحْرِصْ عَلَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مَسْلَكٌ وَطَرِيقٌ فِي الْعِلْمِ خَاصٌّ بِكَ بَعِيدٌ عَنِ النَّاسِ حِفْظٌ قِرَاءَةٌ بَحْثٌ مُدَارَسَةٌ اِجْعَلْ لَكَ شَيْئًا خَاصًّا بِكَ بِحَيْثُ أَنَّكَ إِذَا اعْتَدْتَ عَلَى هَذَا سَنَةً وَسَنَتَيْنِ وَثَلَاثًا وَأَرْبَعًا يُصْبِحُ هَذَا الْأَمْرُ سَجِيَّةً لَكَ يُصْبِحُ سَجِيَّةً فَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى بَيْتِكَ سَتَجِدُ أَنَّكَ تَقْرَأُ الْكِتَابَ مُبَاشَرَةً أَوْ تُرَدِّدُ مَحْفُوْظَكَ وَحْدَكَ وَهَكَذَا إِذًا احْرِصْ عَلَى أَلَّا تَرْتَبِطَ بِغَيْرِكَ فِي بَعْضِ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مُرْتَبِطًا بِنَفْسِكَ لِكَي يَكُونَ هَذَا الْأَمْرُ سَجِيَّةً لَكَ وَلِكَيْ لَا تَتَعَلَّقَ بِغَيْرِكَ إِنْ أَحْسَنُوْا وَأَحْسَنْتَ وَإِنْ أَسَاءُوا أَسَأْتَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Terimalah Tobatku

Saudara-saudaraku, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Semua orang pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang rajin bertobat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, ‘Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)Saudara-saudaraku, kezaliman apapun yang pernah engkau lakukan, maka ketahuilah bahwa pintu ampunan Allah sangatlah lebar. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةࣲ لِّلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلۡمِهِمۡۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ“Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan bagi umat manusia atas kezaliman mereka. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar keras siksanya.” (QS. Ar-Ra’d: 6)Saudara-saudaraku, ke manakah hendak engkau cari ampunan itu kalau bukan kepada-Nya yang berada di atas langit sana. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةࣲ وَذُو عِقَابٍ أَلِیمࣲ“Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan sekaligus pemilik siksaan yang amat pedih.” (QS. Fushshilat: 43)Saudara-saudaraku, tidakkah engkau ingin termasuk orang-orang yang dicintai-Nya? Tidakkah engkau ingin menjadi orang yang diampuni kesalahan dan dosa-dosanya? Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلتَّوَّ ٰ⁠بِینَ وَیُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِینَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang rajin bertobat dan (Allah) mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Saudara-saudaraku, apakah kamu enggan untuk bertobat dan menerima ampunan dari-Nya? Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Allah Ta’ala berfirman,أَفَلَا یَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَیَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ“Apakah mereka tidak mau bertobat kepada Allah dan meminta ampunan-Nya. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 74)Baca Juga: Apakah Taubat Harus Diumumkan?Saudara-saudaraku, apakah kita tidak ingin terbebas dari azab yang sangat pedih? Apakah kita tidak ingin mendapatkan kebaikan? Allah Ta’ala berfirman,فَإِن تُبۡتُمۡ فَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَإِن تَوَلَّیۡتُمۡ فَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّكُمۡ غَیۡرُ مُعۡجِزِی ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ بِعَذَابٍ أَلِیمٍ“Apabila kalian bertobat, maka itulah yang lebih baik bagi kalian. Apabila kalian justru berpaling, ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melemahkan Allah. Dan berikanlah kabar gembira untuk orang-orang kafir bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih.” (QS. At-Taubah: 3)Saudara-saudaraku, kembalilah kepada Zat Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Sungguh Dia tidak akan menyia-nyiakan doa dan amal-amal kalian. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam memerintahkan kepada kaumnya, sebagaimana tercantum dalam ayat,وَٱسۡتَغۡفِرُوا۟ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوۤا۟ إِلَیۡهِۚ إِنَّ رَبِّی رَحِیمࣱ وَدُودࣱ“Mintalah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Maha pengasih lagi Maha penyayang.” (QS. Hud: 90)Saudara-saudaraku, marilah kita sambut kebahagiaan dan kesuksesan hidup dengan senantiasa bertobat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِیعًا أَیُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur: 31)Saudara-saudaraku, tidak inginkah amal-amal buruk dan kemaksiatan kita terhapus dan dimaafkan oleh Allah, kemudian Allah gantikan dengan kebaikan dan ketaatan kepada-Nya? Allah Ta’ala berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ یُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَیِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَـٰتࣲۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan melakukan amal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang akan diganti kejelekan mereka dengan kebaikan. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)Saudara-saudaraku, marilah kita gapai ampunan Allah dan keberuntungan dari-Nya dengan tobat yang murni, iman yang tulus dan lurus, serta amal yang ikhlas dan mengikuti tuntunan. Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا فَعَسَىٰۤ أَن یَكُونَ مِنَ ٱلۡمُفۡلِحِینَ“Adapun orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka semoga saja dia termasuk golongan orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Qashash: 67)Saudara-saudaraku, Allah Maha mengetahui isi hati kita dan keinginan-keinginan yang terbetik di dalamnya. Tidakkah kita tergerak untuk segera menyambut ampunan-Nya dan bersimpuh di hadapan-Nya untuk memperbaharui tobat kita? Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ ٱلَّذِی یَقۡبَلُ ٱلتَّوۡبَةَ عَنۡ عِبَادِهِۦ وَیَعۡفُوا۟ عَنِ ٱلسَّیِّـَٔاتِ وَیَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ“Dialah (Allah) yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Allah Maha mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Asy-Syura: 25)Ya Allah, terimalah tobat hamba-hamba-Mu ini. Sesungguhnya Engkau Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang.Baca Juga:Halalkah Penghasilan Mantan Musisi dan Pekerja Riba yang Bertaubat?Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya? ***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Apakah Tauhid Itu, Arti Ilmu Tasawuf, Pengertian Musyrik, Ayat Alquran Tentang Utang PiutangTags: agar taubat diterimafikih taubatkeutamaan taubatnasihatnasihat islampanduan taubattata cara taubatTaubattaubat nasuha

Terimalah Tobatku

Saudara-saudaraku, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Semua orang pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang rajin bertobat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, ‘Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)Saudara-saudaraku, kezaliman apapun yang pernah engkau lakukan, maka ketahuilah bahwa pintu ampunan Allah sangatlah lebar. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةࣲ لِّلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلۡمِهِمۡۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ“Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan bagi umat manusia atas kezaliman mereka. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar keras siksanya.” (QS. Ar-Ra’d: 6)Saudara-saudaraku, ke manakah hendak engkau cari ampunan itu kalau bukan kepada-Nya yang berada di atas langit sana. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةࣲ وَذُو عِقَابٍ أَلِیمࣲ“Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan sekaligus pemilik siksaan yang amat pedih.” (QS. Fushshilat: 43)Saudara-saudaraku, tidakkah engkau ingin termasuk orang-orang yang dicintai-Nya? Tidakkah engkau ingin menjadi orang yang diampuni kesalahan dan dosa-dosanya? Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلتَّوَّ ٰ⁠بِینَ وَیُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِینَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang rajin bertobat dan (Allah) mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Saudara-saudaraku, apakah kamu enggan untuk bertobat dan menerima ampunan dari-Nya? Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Allah Ta’ala berfirman,أَفَلَا یَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَیَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ“Apakah mereka tidak mau bertobat kepada Allah dan meminta ampunan-Nya. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 74)Baca Juga: Apakah Taubat Harus Diumumkan?Saudara-saudaraku, apakah kita tidak ingin terbebas dari azab yang sangat pedih? Apakah kita tidak ingin mendapatkan kebaikan? Allah Ta’ala berfirman,فَإِن تُبۡتُمۡ فَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَإِن تَوَلَّیۡتُمۡ فَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّكُمۡ غَیۡرُ مُعۡجِزِی ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ بِعَذَابٍ أَلِیمٍ“Apabila kalian bertobat, maka itulah yang lebih baik bagi kalian. Apabila kalian justru berpaling, ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melemahkan Allah. Dan berikanlah kabar gembira untuk orang-orang kafir bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih.” (QS. At-Taubah: 3)Saudara-saudaraku, kembalilah kepada Zat Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Sungguh Dia tidak akan menyia-nyiakan doa dan amal-amal kalian. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam memerintahkan kepada kaumnya, sebagaimana tercantum dalam ayat,وَٱسۡتَغۡفِرُوا۟ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوۤا۟ إِلَیۡهِۚ إِنَّ رَبِّی رَحِیمࣱ وَدُودࣱ“Mintalah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Maha pengasih lagi Maha penyayang.” (QS. Hud: 90)Saudara-saudaraku, marilah kita sambut kebahagiaan dan kesuksesan hidup dengan senantiasa bertobat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِیعًا أَیُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur: 31)Saudara-saudaraku, tidak inginkah amal-amal buruk dan kemaksiatan kita terhapus dan dimaafkan oleh Allah, kemudian Allah gantikan dengan kebaikan dan ketaatan kepada-Nya? Allah Ta’ala berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ یُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَیِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَـٰتࣲۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan melakukan amal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang akan diganti kejelekan mereka dengan kebaikan. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)Saudara-saudaraku, marilah kita gapai ampunan Allah dan keberuntungan dari-Nya dengan tobat yang murni, iman yang tulus dan lurus, serta amal yang ikhlas dan mengikuti tuntunan. Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا فَعَسَىٰۤ أَن یَكُونَ مِنَ ٱلۡمُفۡلِحِینَ“Adapun orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka semoga saja dia termasuk golongan orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Qashash: 67)Saudara-saudaraku, Allah Maha mengetahui isi hati kita dan keinginan-keinginan yang terbetik di dalamnya. Tidakkah kita tergerak untuk segera menyambut ampunan-Nya dan bersimpuh di hadapan-Nya untuk memperbaharui tobat kita? Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ ٱلَّذِی یَقۡبَلُ ٱلتَّوۡبَةَ عَنۡ عِبَادِهِۦ وَیَعۡفُوا۟ عَنِ ٱلسَّیِّـَٔاتِ وَیَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ“Dialah (Allah) yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Allah Maha mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Asy-Syura: 25)Ya Allah, terimalah tobat hamba-hamba-Mu ini. Sesungguhnya Engkau Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang.Baca Juga:Halalkah Penghasilan Mantan Musisi dan Pekerja Riba yang Bertaubat?Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya? ***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Apakah Tauhid Itu, Arti Ilmu Tasawuf, Pengertian Musyrik, Ayat Alquran Tentang Utang PiutangTags: agar taubat diterimafikih taubatkeutamaan taubatnasihatnasihat islampanduan taubattata cara taubatTaubattaubat nasuha
Saudara-saudaraku, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Semua orang pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang rajin bertobat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, ‘Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)Saudara-saudaraku, kezaliman apapun yang pernah engkau lakukan, maka ketahuilah bahwa pintu ampunan Allah sangatlah lebar. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةࣲ لِّلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلۡمِهِمۡۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ“Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan bagi umat manusia atas kezaliman mereka. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar keras siksanya.” (QS. Ar-Ra’d: 6)Saudara-saudaraku, ke manakah hendak engkau cari ampunan itu kalau bukan kepada-Nya yang berada di atas langit sana. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةࣲ وَذُو عِقَابٍ أَلِیمࣲ“Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan sekaligus pemilik siksaan yang amat pedih.” (QS. Fushshilat: 43)Saudara-saudaraku, tidakkah engkau ingin termasuk orang-orang yang dicintai-Nya? Tidakkah engkau ingin menjadi orang yang diampuni kesalahan dan dosa-dosanya? Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلتَّوَّ ٰ⁠بِینَ وَیُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِینَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang rajin bertobat dan (Allah) mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Saudara-saudaraku, apakah kamu enggan untuk bertobat dan menerima ampunan dari-Nya? Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Allah Ta’ala berfirman,أَفَلَا یَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَیَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ“Apakah mereka tidak mau bertobat kepada Allah dan meminta ampunan-Nya. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 74)Baca Juga: Apakah Taubat Harus Diumumkan?Saudara-saudaraku, apakah kita tidak ingin terbebas dari azab yang sangat pedih? Apakah kita tidak ingin mendapatkan kebaikan? Allah Ta’ala berfirman,فَإِن تُبۡتُمۡ فَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَإِن تَوَلَّیۡتُمۡ فَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّكُمۡ غَیۡرُ مُعۡجِزِی ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ بِعَذَابٍ أَلِیمٍ“Apabila kalian bertobat, maka itulah yang lebih baik bagi kalian. Apabila kalian justru berpaling, ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melemahkan Allah. Dan berikanlah kabar gembira untuk orang-orang kafir bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih.” (QS. At-Taubah: 3)Saudara-saudaraku, kembalilah kepada Zat Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Sungguh Dia tidak akan menyia-nyiakan doa dan amal-amal kalian. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam memerintahkan kepada kaumnya, sebagaimana tercantum dalam ayat,وَٱسۡتَغۡفِرُوا۟ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوۤا۟ إِلَیۡهِۚ إِنَّ رَبِّی رَحِیمࣱ وَدُودࣱ“Mintalah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Maha pengasih lagi Maha penyayang.” (QS. Hud: 90)Saudara-saudaraku, marilah kita sambut kebahagiaan dan kesuksesan hidup dengan senantiasa bertobat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِیعًا أَیُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur: 31)Saudara-saudaraku, tidak inginkah amal-amal buruk dan kemaksiatan kita terhapus dan dimaafkan oleh Allah, kemudian Allah gantikan dengan kebaikan dan ketaatan kepada-Nya? Allah Ta’ala berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ یُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَیِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَـٰتࣲۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan melakukan amal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang akan diganti kejelekan mereka dengan kebaikan. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)Saudara-saudaraku, marilah kita gapai ampunan Allah dan keberuntungan dari-Nya dengan tobat yang murni, iman yang tulus dan lurus, serta amal yang ikhlas dan mengikuti tuntunan. Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا فَعَسَىٰۤ أَن یَكُونَ مِنَ ٱلۡمُفۡلِحِینَ“Adapun orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka semoga saja dia termasuk golongan orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Qashash: 67)Saudara-saudaraku, Allah Maha mengetahui isi hati kita dan keinginan-keinginan yang terbetik di dalamnya. Tidakkah kita tergerak untuk segera menyambut ampunan-Nya dan bersimpuh di hadapan-Nya untuk memperbaharui tobat kita? Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ ٱلَّذِی یَقۡبَلُ ٱلتَّوۡبَةَ عَنۡ عِبَادِهِۦ وَیَعۡفُوا۟ عَنِ ٱلسَّیِّـَٔاتِ وَیَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ“Dialah (Allah) yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Allah Maha mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Asy-Syura: 25)Ya Allah, terimalah tobat hamba-hamba-Mu ini. Sesungguhnya Engkau Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang.Baca Juga:Halalkah Penghasilan Mantan Musisi dan Pekerja Riba yang Bertaubat?Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya? ***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Apakah Tauhid Itu, Arti Ilmu Tasawuf, Pengertian Musyrik, Ayat Alquran Tentang Utang PiutangTags: agar taubat diterimafikih taubatkeutamaan taubatnasihatnasihat islampanduan taubattata cara taubatTaubattaubat nasuha


Saudara-saudaraku, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Semua orang pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang rajin bertobat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, ‘Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)Saudara-saudaraku, kezaliman apapun yang pernah engkau lakukan, maka ketahuilah bahwa pintu ampunan Allah sangatlah lebar. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةࣲ لِّلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلۡمِهِمۡۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ“Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan bagi umat manusia atas kezaliman mereka. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar keras siksanya.” (QS. Ar-Ra’d: 6)Saudara-saudaraku, ke manakah hendak engkau cari ampunan itu kalau bukan kepada-Nya yang berada di atas langit sana. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةࣲ وَذُو عِقَابٍ أَلِیمࣲ“Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan sekaligus pemilik siksaan yang amat pedih.” (QS. Fushshilat: 43)Saudara-saudaraku, tidakkah engkau ingin termasuk orang-orang yang dicintai-Nya? Tidakkah engkau ingin menjadi orang yang diampuni kesalahan dan dosa-dosanya? Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلتَّوَّ ٰ⁠بِینَ وَیُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِینَ“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang rajin bertobat dan (Allah) mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)Saudara-saudaraku, apakah kamu enggan untuk bertobat dan menerima ampunan dari-Nya? Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Allah Ta’ala berfirman,أَفَلَا یَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَیَسۡتَغۡفِرُونَهُۥۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ“Apakah mereka tidak mau bertobat kepada Allah dan meminta ampunan-Nya. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 74)Baca Juga: Apakah Taubat Harus Diumumkan?Saudara-saudaraku, apakah kita tidak ingin terbebas dari azab yang sangat pedih? Apakah kita tidak ingin mendapatkan kebaikan? Allah Ta’ala berfirman,فَإِن تُبۡتُمۡ فَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَإِن تَوَلَّیۡتُمۡ فَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّكُمۡ غَیۡرُ مُعۡجِزِی ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ بِعَذَابٍ أَلِیمٍ“Apabila kalian bertobat, maka itulah yang lebih baik bagi kalian. Apabila kalian justru berpaling, ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melemahkan Allah. Dan berikanlah kabar gembira untuk orang-orang kafir bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih.” (QS. At-Taubah: 3)Saudara-saudaraku, kembalilah kepada Zat Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Sungguh Dia tidak akan menyia-nyiakan doa dan amal-amal kalian. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam memerintahkan kepada kaumnya, sebagaimana tercantum dalam ayat,وَٱسۡتَغۡفِرُوا۟ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوۤا۟ إِلَیۡهِۚ إِنَّ رَبِّی رَحِیمࣱ وَدُودࣱ“Mintalah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Maha pengasih lagi Maha penyayang.” (QS. Hud: 90)Saudara-saudaraku, marilah kita sambut kebahagiaan dan kesuksesan hidup dengan senantiasa bertobat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَتُوبُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِیعًا أَیُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ“Bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur: 31)Saudara-saudaraku, tidak inginkah amal-amal buruk dan kemaksiatan kita terhapus dan dimaafkan oleh Allah, kemudian Allah gantikan dengan kebaikan dan ketaatan kepada-Nya? Allah Ta’ala berfirman,إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلࣰا صَـٰلِحࣰا فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ یُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَیِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَـٰتࣲۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan melakukan amal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang akan diganti kejelekan mereka dengan kebaikan. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)Saudara-saudaraku, marilah kita gapai ampunan Allah dan keberuntungan dari-Nya dengan tobat yang murni, iman yang tulus dan lurus, serta amal yang ikhlas dan mengikuti tuntunan. Allah Ta’ala berfirman,فَأَمَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا فَعَسَىٰۤ أَن یَكُونَ مِنَ ٱلۡمُفۡلِحِینَ“Adapun orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka semoga saja dia termasuk golongan orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Qashash: 67)Saudara-saudaraku, Allah Maha mengetahui isi hati kita dan keinginan-keinginan yang terbetik di dalamnya. Tidakkah kita tergerak untuk segera menyambut ampunan-Nya dan bersimpuh di hadapan-Nya untuk memperbaharui tobat kita? Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ ٱلَّذِی یَقۡبَلُ ٱلتَّوۡبَةَ عَنۡ عِبَادِهِۦ وَیَعۡفُوا۟ عَنِ ٱلسَّیِّـَٔاتِ وَیَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ“Dialah (Allah) yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Allah Maha mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Asy-Syura: 25)Ya Allah, terimalah tobat hamba-hamba-Mu ini. Sesungguhnya Engkau Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang.Baca Juga:Halalkah Penghasilan Mantan Musisi dan Pekerja Riba yang Bertaubat?Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya? ***Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Apakah Tauhid Itu, Arti Ilmu Tasawuf, Pengertian Musyrik, Ayat Alquran Tentang Utang PiutangTags: agar taubat diterimafikih taubatkeutamaan taubatnasihatnasihat islampanduan taubattata cara taubatTaubattaubat nasuha

Kisah Taubatnya Imam Fudhail bin Iyadh – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

al-Fudhail bin Iyadh, seorang imam dari generasi tabi’in.Dahulu beliau menjalani 40 tahun hidupnya sebagai salah seorang penjahat besar. Termasuk penjahat besar, karena beliau dahulu adalah seorang begal,dan dahulu semua kafilah perjalanan takut padanya.Hingga beliau menginjak usia 40 tahun. Pada suatu malam,ia mendatangi sebuah rumah—sebagaimana yang disebutkan dalam biografi beliau di kitab Siyar A’lam an-Nubala dan lainnya.Ia mendatangi sebuah rumah. Ia memanjat pagar rumah itu, seperti biasa untuk menjalankan aksi kejahatannya.Saat ia sedang memanjat pagar rumah,ternyata pemilik rumah ketika itu sedang membaca al-Quran, surat al-Hadid,dan sampai pada firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang berimanuntuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab pada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, hingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)al-Fudhail mendengar ayat ini, sehingga ayat ini meresap ke dalam hatinya.Meresap ke dalam hatinya,dan benar-benar tersentuh olehnya saat itu juga, dan ia segera menjawab ayat itu, “Sudah datang waktunya!”Ia menjawab pertanyaan, “Belumkah datang waktunya?” dengan jawaban, “Sudah!”Yakni telah datang waktu tunduknya hati untuk mengingat Allah. Lalu ia turun dari pagar, dan berjanji pada dirinya untuk berhijrah ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga meninggal dunia. Dan beliau pun pergi ke kota Makkah. Satu ayat dapat mengubah jalan hidupnya,dari kejahatan menjadi salah satu ahli ibadah,dan salah satu orang saleh. Saat itu juga beliau berkemas-kemas dan pergi ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya. Dan di kota Makkah beliau mendatangi para ulama dan ahli hadits,beliau menimba ilmu, mempelajari fiqih, dan menghafal hadits-hadits dari mereka.Dan tidaklah kamu saat ini membuka salah satu kitab tafsir, fiqih, hadits, atau kitab lainnya, kecuali kamu pasti mendapati banyak riwayat dari Imam ini, “Imam al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, …”Satu ayat saja dapat mengubah hidupnya! Oleh sebab itu, hendaklah seseorang menghayati,dalam urusan penyakitnya, sakitnya, dan masalahnya,dan mulai mengobati dirinya dengan al-Quran. Mengobati dirinya dengan al-Quran, sebagai contoh, jika ada orang yang mendapat ujian.Sebagian orang mengeluh dari—semisal—matanya yang suka jelalatan,dan jiwanya selalu ingin memandang wanita,dan terkadang ia pergi ke tempat-tempat yang banyak wanita di sana untuk melihat mereka. Dia diuji dengan ujian seperti ini,dan terjadi banyak gejolak jiwa, yang dirinya terus berusaha melawan agar dapat terbebas darinya.Maka, sembuhkanlah dirimu dengan ayat al-Quran! “Katakanlah kepada para lelaki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka…Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”“… yang demikian itu lebih suci bagi mereka, Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30) Hendaklah ia mengulang-ulang ayat ini, dan menghayatinya, serta berusaha agar sampai ke dalam hatinya.Dan jika ayat itu sampai ke dalam hatinya, maka ia akan mendapat kesembuhan. Seluruh masalah (hati) timbul akibat tidak sampainya al-Quran ke dalam hati.Namun jika al-Quran telah sampai ke dalam hati, maka kesembuhannya dapat diraih. Maka hendaklah ia mulai berusaha melatih dirinya, hingga al-Quran dapat sampai ke dalam hatinya. ==== الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِينَ أَمْضَى أَرْبَعِينَ سَنَةً مِنْ حَيَاتِهِ وَهُوَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ كَانَ قَاطِعَ طَرِيقٍ وَكَانَتِ الْقَافِلَةُ بِكَامِلِهَا تَخَافُهُ إِلَى أَنْ بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ وَلَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي أَتَى إِلَى بَيْتٍ كَمَا ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَغَيْرِهِ أَتَى إِلَى بَيْتٍ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ عَلَى عَادَتِهِ فِي إِجْرَامِهِ وَعُدْوَانِهِ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ وَهُو يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ إِذَا بِصَاحِبِ الْبَيْتِ كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ وَصَلَ إِلَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُ كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ سَمِعَ الْفُضَيْلُ هَذِهِ الْآيَةَ وَدَخَلَتْ قَلْبَهُ دَخَلَتْ قَلْبَهُ وَتَأَثَّرَ مِنْ لَحْظَتِهِ تَأَثُّرًا عَظِيمًا وَقَالَ فِي سَاعَتِهِ بَلَى أَجَاب أَلَمْ يَأْنِ؟ قَالَ بَلَى يَعْنِي جَاءَ الْوَقْتُ الَّذِي تَخْشَعُ فِيهِ الْقُلُوبُ لِذِكْرِ اللهِ وَنَزَلَ وَعَاهَدَ نَفْسَهُ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى مَكَّةَ وَأَنْ يَبْقَى فِيهَا عَابِدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى أَنْ يَمُوتَ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ آيَةٌ وَاحِدَةٌ حَوَّلَتْ مَسَارَهُ مِنْ إِجْرَامٍ إِلَى عَابِدٍ مِنَ الْعُبَّادِ وَصَالِحٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمِنْ سَاعَتِهِ بَدَأَ يُرَتِّبُ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ وَبَقِيَ فِيهَا عَابِدًا إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي مَكَّةَ يَأْتِي الْعُلَمَاءَ وَالْمُحَدِّثِينَ وَيَتَلَقَّى عَنْهُمُ الْعِلْمَ وَيَأْخُذُ عَنْهُمُ الْفِقْهَ وَيَحْفَظُ مِنْهُمُ الْأَحَادِيثَ وَلَا تَفْتَحُ الْآنَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ التَّفْسِيرِ أَوْ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوِ الْحَدِيثِ أَوْ غَيْرِهَا إِلَّا وَتَجِدُ النُّقُولَ الْعَظِيمَةَ عَنْ هَذَا الْإِمَامِ قَالَ الْإِمَامُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ آيَةٌ وَاحِدَةٌ غَيَّرَتْ حَيَاتَهُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي أَمْرَاضِهِ فِي أَسْقَامِهِ فِي مَشَاكِلِهِ وَيَبْدَأُ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ مَثَلًا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُبْتَلًى بَعْضُ النَّاسِ يَشْتَكِي مِنْ أَنَّهُ مَثَلًا نَظَرُهُ يَزِيْغُ وَلَهُ نَفْسٌ تَتَطَلَّعُ لِلنَّظَرِ لِلنِّسَاءِ وَرُبَّمَا يَقْصِدُ أَمَاكِنَ فِيهَا النِّسَاءُ لِلنَّظَرِ هُوَ مُبْتَلَى بِهَذَا وَتَتَحَرَّكُ فِيهِ أُمُورٌ هُوَ فِي صِرَاعٍ مَعَ نَفْسِهِ فِي الْخَلَاصِ مِنْهَا دَاوِ نَفْسَكَ بِالْآيَةِ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ يُكَرِّرُهَا الْإِنْسَانُ وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيُحَاوِلُ أَنْ تَصِلَ إِلَى قَلْبِهِ إِذَا وَصَلَتْ إِلَى قَلْبِهِ حَصَلَ الشِّفَاءُ الْمَشَاكِلُ كُلُّهَا تَأْتِي بِسَبَبِ عَدَمِ وُصُولِ الْقُرْآنِ لِلْقَلْبِ إِذَا وَصَلَ الْقُرْآنُ لِلْقَلْبِ حَصَلَ الشِّفَاءُ فَيَبْدَأُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ حَتَّى يَصِلَ الْقُرْآنُ إِلَى قَلْبِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kisah Taubatnya Imam Fudhail bin Iyadh – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

al-Fudhail bin Iyadh, seorang imam dari generasi tabi’in.Dahulu beliau menjalani 40 tahun hidupnya sebagai salah seorang penjahat besar. Termasuk penjahat besar, karena beliau dahulu adalah seorang begal,dan dahulu semua kafilah perjalanan takut padanya.Hingga beliau menginjak usia 40 tahun. Pada suatu malam,ia mendatangi sebuah rumah—sebagaimana yang disebutkan dalam biografi beliau di kitab Siyar A’lam an-Nubala dan lainnya.Ia mendatangi sebuah rumah. Ia memanjat pagar rumah itu, seperti biasa untuk menjalankan aksi kejahatannya.Saat ia sedang memanjat pagar rumah,ternyata pemilik rumah ketika itu sedang membaca al-Quran, surat al-Hadid,dan sampai pada firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang berimanuntuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab pada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, hingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)al-Fudhail mendengar ayat ini, sehingga ayat ini meresap ke dalam hatinya.Meresap ke dalam hatinya,dan benar-benar tersentuh olehnya saat itu juga, dan ia segera menjawab ayat itu, “Sudah datang waktunya!”Ia menjawab pertanyaan, “Belumkah datang waktunya?” dengan jawaban, “Sudah!”Yakni telah datang waktu tunduknya hati untuk mengingat Allah. Lalu ia turun dari pagar, dan berjanji pada dirinya untuk berhijrah ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga meninggal dunia. Dan beliau pun pergi ke kota Makkah. Satu ayat dapat mengubah jalan hidupnya,dari kejahatan menjadi salah satu ahli ibadah,dan salah satu orang saleh. Saat itu juga beliau berkemas-kemas dan pergi ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya. Dan di kota Makkah beliau mendatangi para ulama dan ahli hadits,beliau menimba ilmu, mempelajari fiqih, dan menghafal hadits-hadits dari mereka.Dan tidaklah kamu saat ini membuka salah satu kitab tafsir, fiqih, hadits, atau kitab lainnya, kecuali kamu pasti mendapati banyak riwayat dari Imam ini, “Imam al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, …”Satu ayat saja dapat mengubah hidupnya! Oleh sebab itu, hendaklah seseorang menghayati,dalam urusan penyakitnya, sakitnya, dan masalahnya,dan mulai mengobati dirinya dengan al-Quran. Mengobati dirinya dengan al-Quran, sebagai contoh, jika ada orang yang mendapat ujian.Sebagian orang mengeluh dari—semisal—matanya yang suka jelalatan,dan jiwanya selalu ingin memandang wanita,dan terkadang ia pergi ke tempat-tempat yang banyak wanita di sana untuk melihat mereka. Dia diuji dengan ujian seperti ini,dan terjadi banyak gejolak jiwa, yang dirinya terus berusaha melawan agar dapat terbebas darinya.Maka, sembuhkanlah dirimu dengan ayat al-Quran! “Katakanlah kepada para lelaki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka…Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”“… yang demikian itu lebih suci bagi mereka, Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30) Hendaklah ia mengulang-ulang ayat ini, dan menghayatinya, serta berusaha agar sampai ke dalam hatinya.Dan jika ayat itu sampai ke dalam hatinya, maka ia akan mendapat kesembuhan. Seluruh masalah (hati) timbul akibat tidak sampainya al-Quran ke dalam hati.Namun jika al-Quran telah sampai ke dalam hati, maka kesembuhannya dapat diraih. Maka hendaklah ia mulai berusaha melatih dirinya, hingga al-Quran dapat sampai ke dalam hatinya. ==== الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِينَ أَمْضَى أَرْبَعِينَ سَنَةً مِنْ حَيَاتِهِ وَهُوَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ كَانَ قَاطِعَ طَرِيقٍ وَكَانَتِ الْقَافِلَةُ بِكَامِلِهَا تَخَافُهُ إِلَى أَنْ بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ وَلَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي أَتَى إِلَى بَيْتٍ كَمَا ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَغَيْرِهِ أَتَى إِلَى بَيْتٍ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ عَلَى عَادَتِهِ فِي إِجْرَامِهِ وَعُدْوَانِهِ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ وَهُو يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ إِذَا بِصَاحِبِ الْبَيْتِ كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ وَصَلَ إِلَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُ كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ سَمِعَ الْفُضَيْلُ هَذِهِ الْآيَةَ وَدَخَلَتْ قَلْبَهُ دَخَلَتْ قَلْبَهُ وَتَأَثَّرَ مِنْ لَحْظَتِهِ تَأَثُّرًا عَظِيمًا وَقَالَ فِي سَاعَتِهِ بَلَى أَجَاب أَلَمْ يَأْنِ؟ قَالَ بَلَى يَعْنِي جَاءَ الْوَقْتُ الَّذِي تَخْشَعُ فِيهِ الْقُلُوبُ لِذِكْرِ اللهِ وَنَزَلَ وَعَاهَدَ نَفْسَهُ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى مَكَّةَ وَأَنْ يَبْقَى فِيهَا عَابِدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى أَنْ يَمُوتَ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ آيَةٌ وَاحِدَةٌ حَوَّلَتْ مَسَارَهُ مِنْ إِجْرَامٍ إِلَى عَابِدٍ مِنَ الْعُبَّادِ وَصَالِحٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمِنْ سَاعَتِهِ بَدَأَ يُرَتِّبُ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ وَبَقِيَ فِيهَا عَابِدًا إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي مَكَّةَ يَأْتِي الْعُلَمَاءَ وَالْمُحَدِّثِينَ وَيَتَلَقَّى عَنْهُمُ الْعِلْمَ وَيَأْخُذُ عَنْهُمُ الْفِقْهَ وَيَحْفَظُ مِنْهُمُ الْأَحَادِيثَ وَلَا تَفْتَحُ الْآنَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ التَّفْسِيرِ أَوْ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوِ الْحَدِيثِ أَوْ غَيْرِهَا إِلَّا وَتَجِدُ النُّقُولَ الْعَظِيمَةَ عَنْ هَذَا الْإِمَامِ قَالَ الْإِمَامُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ آيَةٌ وَاحِدَةٌ غَيَّرَتْ حَيَاتَهُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي أَمْرَاضِهِ فِي أَسْقَامِهِ فِي مَشَاكِلِهِ وَيَبْدَأُ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ مَثَلًا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُبْتَلًى بَعْضُ النَّاسِ يَشْتَكِي مِنْ أَنَّهُ مَثَلًا نَظَرُهُ يَزِيْغُ وَلَهُ نَفْسٌ تَتَطَلَّعُ لِلنَّظَرِ لِلنِّسَاءِ وَرُبَّمَا يَقْصِدُ أَمَاكِنَ فِيهَا النِّسَاءُ لِلنَّظَرِ هُوَ مُبْتَلَى بِهَذَا وَتَتَحَرَّكُ فِيهِ أُمُورٌ هُوَ فِي صِرَاعٍ مَعَ نَفْسِهِ فِي الْخَلَاصِ مِنْهَا دَاوِ نَفْسَكَ بِالْآيَةِ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ يُكَرِّرُهَا الْإِنْسَانُ وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيُحَاوِلُ أَنْ تَصِلَ إِلَى قَلْبِهِ إِذَا وَصَلَتْ إِلَى قَلْبِهِ حَصَلَ الشِّفَاءُ الْمَشَاكِلُ كُلُّهَا تَأْتِي بِسَبَبِ عَدَمِ وُصُولِ الْقُرْآنِ لِلْقَلْبِ إِذَا وَصَلَ الْقُرْآنُ لِلْقَلْبِ حَصَلَ الشِّفَاءُ فَيَبْدَأُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ حَتَّى يَصِلَ الْقُرْآنُ إِلَى قَلْبِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
al-Fudhail bin Iyadh, seorang imam dari generasi tabi’in.Dahulu beliau menjalani 40 tahun hidupnya sebagai salah seorang penjahat besar. Termasuk penjahat besar, karena beliau dahulu adalah seorang begal,dan dahulu semua kafilah perjalanan takut padanya.Hingga beliau menginjak usia 40 tahun. Pada suatu malam,ia mendatangi sebuah rumah—sebagaimana yang disebutkan dalam biografi beliau di kitab Siyar A’lam an-Nubala dan lainnya.Ia mendatangi sebuah rumah. Ia memanjat pagar rumah itu, seperti biasa untuk menjalankan aksi kejahatannya.Saat ia sedang memanjat pagar rumah,ternyata pemilik rumah ketika itu sedang membaca al-Quran, surat al-Hadid,dan sampai pada firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang berimanuntuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab pada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, hingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)al-Fudhail mendengar ayat ini, sehingga ayat ini meresap ke dalam hatinya.Meresap ke dalam hatinya,dan benar-benar tersentuh olehnya saat itu juga, dan ia segera menjawab ayat itu, “Sudah datang waktunya!”Ia menjawab pertanyaan, “Belumkah datang waktunya?” dengan jawaban, “Sudah!”Yakni telah datang waktu tunduknya hati untuk mengingat Allah. Lalu ia turun dari pagar, dan berjanji pada dirinya untuk berhijrah ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga meninggal dunia. Dan beliau pun pergi ke kota Makkah. Satu ayat dapat mengubah jalan hidupnya,dari kejahatan menjadi salah satu ahli ibadah,dan salah satu orang saleh. Saat itu juga beliau berkemas-kemas dan pergi ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya. Dan di kota Makkah beliau mendatangi para ulama dan ahli hadits,beliau menimba ilmu, mempelajari fiqih, dan menghafal hadits-hadits dari mereka.Dan tidaklah kamu saat ini membuka salah satu kitab tafsir, fiqih, hadits, atau kitab lainnya, kecuali kamu pasti mendapati banyak riwayat dari Imam ini, “Imam al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, …”Satu ayat saja dapat mengubah hidupnya! Oleh sebab itu, hendaklah seseorang menghayati,dalam urusan penyakitnya, sakitnya, dan masalahnya,dan mulai mengobati dirinya dengan al-Quran. Mengobati dirinya dengan al-Quran, sebagai contoh, jika ada orang yang mendapat ujian.Sebagian orang mengeluh dari—semisal—matanya yang suka jelalatan,dan jiwanya selalu ingin memandang wanita,dan terkadang ia pergi ke tempat-tempat yang banyak wanita di sana untuk melihat mereka. Dia diuji dengan ujian seperti ini,dan terjadi banyak gejolak jiwa, yang dirinya terus berusaha melawan agar dapat terbebas darinya.Maka, sembuhkanlah dirimu dengan ayat al-Quran! “Katakanlah kepada para lelaki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka…Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”“… yang demikian itu lebih suci bagi mereka, Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30) Hendaklah ia mengulang-ulang ayat ini, dan menghayatinya, serta berusaha agar sampai ke dalam hatinya.Dan jika ayat itu sampai ke dalam hatinya, maka ia akan mendapat kesembuhan. Seluruh masalah (hati) timbul akibat tidak sampainya al-Quran ke dalam hati.Namun jika al-Quran telah sampai ke dalam hati, maka kesembuhannya dapat diraih. Maka hendaklah ia mulai berusaha melatih dirinya, hingga al-Quran dapat sampai ke dalam hatinya. ==== الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِينَ أَمْضَى أَرْبَعِينَ سَنَةً مِنْ حَيَاتِهِ وَهُوَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ كَانَ قَاطِعَ طَرِيقٍ وَكَانَتِ الْقَافِلَةُ بِكَامِلِهَا تَخَافُهُ إِلَى أَنْ بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ وَلَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي أَتَى إِلَى بَيْتٍ كَمَا ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَغَيْرِهِ أَتَى إِلَى بَيْتٍ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ عَلَى عَادَتِهِ فِي إِجْرَامِهِ وَعُدْوَانِهِ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ وَهُو يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ إِذَا بِصَاحِبِ الْبَيْتِ كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ وَصَلَ إِلَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُ كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ سَمِعَ الْفُضَيْلُ هَذِهِ الْآيَةَ وَدَخَلَتْ قَلْبَهُ دَخَلَتْ قَلْبَهُ وَتَأَثَّرَ مِنْ لَحْظَتِهِ تَأَثُّرًا عَظِيمًا وَقَالَ فِي سَاعَتِهِ بَلَى أَجَاب أَلَمْ يَأْنِ؟ قَالَ بَلَى يَعْنِي جَاءَ الْوَقْتُ الَّذِي تَخْشَعُ فِيهِ الْقُلُوبُ لِذِكْرِ اللهِ وَنَزَلَ وَعَاهَدَ نَفْسَهُ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى مَكَّةَ وَأَنْ يَبْقَى فِيهَا عَابِدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى أَنْ يَمُوتَ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ آيَةٌ وَاحِدَةٌ حَوَّلَتْ مَسَارَهُ مِنْ إِجْرَامٍ إِلَى عَابِدٍ مِنَ الْعُبَّادِ وَصَالِحٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمِنْ سَاعَتِهِ بَدَأَ يُرَتِّبُ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ وَبَقِيَ فِيهَا عَابِدًا إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي مَكَّةَ يَأْتِي الْعُلَمَاءَ وَالْمُحَدِّثِينَ وَيَتَلَقَّى عَنْهُمُ الْعِلْمَ وَيَأْخُذُ عَنْهُمُ الْفِقْهَ وَيَحْفَظُ مِنْهُمُ الْأَحَادِيثَ وَلَا تَفْتَحُ الْآنَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ التَّفْسِيرِ أَوْ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوِ الْحَدِيثِ أَوْ غَيْرِهَا إِلَّا وَتَجِدُ النُّقُولَ الْعَظِيمَةَ عَنْ هَذَا الْإِمَامِ قَالَ الْإِمَامُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ آيَةٌ وَاحِدَةٌ غَيَّرَتْ حَيَاتَهُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي أَمْرَاضِهِ فِي أَسْقَامِهِ فِي مَشَاكِلِهِ وَيَبْدَأُ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ مَثَلًا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُبْتَلًى بَعْضُ النَّاسِ يَشْتَكِي مِنْ أَنَّهُ مَثَلًا نَظَرُهُ يَزِيْغُ وَلَهُ نَفْسٌ تَتَطَلَّعُ لِلنَّظَرِ لِلنِّسَاءِ وَرُبَّمَا يَقْصِدُ أَمَاكِنَ فِيهَا النِّسَاءُ لِلنَّظَرِ هُوَ مُبْتَلَى بِهَذَا وَتَتَحَرَّكُ فِيهِ أُمُورٌ هُوَ فِي صِرَاعٍ مَعَ نَفْسِهِ فِي الْخَلَاصِ مِنْهَا دَاوِ نَفْسَكَ بِالْآيَةِ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ يُكَرِّرُهَا الْإِنْسَانُ وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيُحَاوِلُ أَنْ تَصِلَ إِلَى قَلْبِهِ إِذَا وَصَلَتْ إِلَى قَلْبِهِ حَصَلَ الشِّفَاءُ الْمَشَاكِلُ كُلُّهَا تَأْتِي بِسَبَبِ عَدَمِ وُصُولِ الْقُرْآنِ لِلْقَلْبِ إِذَا وَصَلَ الْقُرْآنُ لِلْقَلْبِ حَصَلَ الشِّفَاءُ فَيَبْدَأُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ حَتَّى يَصِلَ الْقُرْآنُ إِلَى قَلْبِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


al-Fudhail bin Iyadh, seorang imam dari generasi tabi’in.Dahulu beliau menjalani 40 tahun hidupnya sebagai salah seorang penjahat besar. Termasuk penjahat besar, karena beliau dahulu adalah seorang begal,dan dahulu semua kafilah perjalanan takut padanya.Hingga beliau menginjak usia 40 tahun. Pada suatu malam,ia mendatangi sebuah rumah—sebagaimana yang disebutkan dalam biografi beliau di kitab Siyar A’lam an-Nubala dan lainnya.Ia mendatangi sebuah rumah. Ia memanjat pagar rumah itu, seperti biasa untuk menjalankan aksi kejahatannya.Saat ia sedang memanjat pagar rumah,ternyata pemilik rumah ketika itu sedang membaca al-Quran, surat al-Hadid,dan sampai pada firman Allah, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang berimanuntuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab pada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, hingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)al-Fudhail mendengar ayat ini, sehingga ayat ini meresap ke dalam hatinya.Meresap ke dalam hatinya,dan benar-benar tersentuh olehnya saat itu juga, dan ia segera menjawab ayat itu, “Sudah datang waktunya!”Ia menjawab pertanyaan, “Belumkah datang waktunya?” dengan jawaban, “Sudah!”Yakni telah datang waktu tunduknya hati untuk mengingat Allah. Lalu ia turun dari pagar, dan berjanji pada dirinya untuk berhijrah ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga meninggal dunia. Dan beliau pun pergi ke kota Makkah. Satu ayat dapat mengubah jalan hidupnya,dari kejahatan menjadi salah satu ahli ibadah,dan salah satu orang saleh. Saat itu juga beliau berkemas-kemas dan pergi ke kota Makkah,dan tinggal di sana untuk beribadah kepada Allah hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkannya. Dan di kota Makkah beliau mendatangi para ulama dan ahli hadits,beliau menimba ilmu, mempelajari fiqih, dan menghafal hadits-hadits dari mereka.Dan tidaklah kamu saat ini membuka salah satu kitab tafsir, fiqih, hadits, atau kitab lainnya, kecuali kamu pasti mendapati banyak riwayat dari Imam ini, “Imam al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, …”Satu ayat saja dapat mengubah hidupnya! Oleh sebab itu, hendaklah seseorang menghayati,dalam urusan penyakitnya, sakitnya, dan masalahnya,dan mulai mengobati dirinya dengan al-Quran. Mengobati dirinya dengan al-Quran, sebagai contoh, jika ada orang yang mendapat ujian.Sebagian orang mengeluh dari—semisal—matanya yang suka jelalatan,dan jiwanya selalu ingin memandang wanita,dan terkadang ia pergi ke tempat-tempat yang banyak wanita di sana untuk melihat mereka. Dia diuji dengan ujian seperti ini,dan terjadi banyak gejolak jiwa, yang dirinya terus berusaha melawan agar dapat terbebas darinya.Maka, sembuhkanlah dirimu dengan ayat al-Quran! “Katakanlah kepada para lelaki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka…Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”“… yang demikian itu lebih suci bagi mereka, Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30) Hendaklah ia mengulang-ulang ayat ini, dan menghayatinya, serta berusaha agar sampai ke dalam hatinya.Dan jika ayat itu sampai ke dalam hatinya, maka ia akan mendapat kesembuhan. Seluruh masalah (hati) timbul akibat tidak sampainya al-Quran ke dalam hati.Namun jika al-Quran telah sampai ke dalam hati, maka kesembuhannya dapat diraih. Maka hendaklah ia mulai berusaha melatih dirinya, hingga al-Quran dapat sampai ke dalam hatinya. ==== الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ مِنْ أَئِمَّةِ التَّابِعِينَ أَمْضَى أَرْبَعِينَ سَنَةً مِنْ حَيَاتِهِ وَهُوَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ مَعْدُودٌ فِي كِبَارِ الْمُجْرِمِيْنَ كَانَ قَاطِعَ طَرِيقٍ وَكَانَتِ الْقَافِلَةُ بِكَامِلِهَا تَخَافُهُ إِلَى أَنْ بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ وَلَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي أَتَى إِلَى بَيْتٍ كَمَا ذُكِرَ فِي تَرْجَمَتِهِ فِي سِيَرِ أَعْلَامِ النُّبَلَاءِ وَغَيْرِهِ أَتَى إِلَى بَيْتٍ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ عَلَى عَادَتِهِ فِي إِجْرَامِهِ وَعُدْوَانِهِ يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ وَهُو يَتَسَوَّرُ الْبَيْتَ إِذَا بِصَاحِبِ الْبَيْتِ كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ وَصَلَ إِلَى قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُ كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ سَمِعَ الْفُضَيْلُ هَذِهِ الْآيَةَ وَدَخَلَتْ قَلْبَهُ دَخَلَتْ قَلْبَهُ وَتَأَثَّرَ مِنْ لَحْظَتِهِ تَأَثُّرًا عَظِيمًا وَقَالَ فِي سَاعَتِهِ بَلَى أَجَاب أَلَمْ يَأْنِ؟ قَالَ بَلَى يَعْنِي جَاءَ الْوَقْتُ الَّذِي تَخْشَعُ فِيهِ الْقُلُوبُ لِذِكْرِ اللهِ وَنَزَلَ وَعَاهَدَ نَفْسَهُ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَى مَكَّةَ وَأَنْ يَبْقَى فِيهَا عَابِدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى أَنْ يَمُوتَ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ آيَةٌ وَاحِدَةٌ حَوَّلَتْ مَسَارَهُ مِنْ إِجْرَامٍ إِلَى عَابِدٍ مِنَ الْعُبَّادِ وَصَالِحٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمِنْ سَاعَتِهِ بَدَأَ يُرَتِّبُ وَذَهَبَ إِلَى مَكَّةَ وَبَقِيَ فِيهَا عَابِدًا إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي مَكَّةَ يَأْتِي الْعُلَمَاءَ وَالْمُحَدِّثِينَ وَيَتَلَقَّى عَنْهُمُ الْعِلْمَ وَيَأْخُذُ عَنْهُمُ الْفِقْهَ وَيَحْفَظُ مِنْهُمُ الْأَحَادِيثَ وَلَا تَفْتَحُ الْآنَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ التَّفْسِيرِ أَوْ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوِ الْحَدِيثِ أَوْ غَيْرِهَا إِلَّا وَتَجِدُ النُّقُولَ الْعَظِيمَةَ عَنْ هَذَا الْإِمَامِ قَالَ الْإِمَامُ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ آيَةٌ وَاحِدَةٌ غَيَّرَتْ حَيَاتَهُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي أَمْرَاضِهِ فِي أَسْقَامِهِ فِي مَشَاكِلِهِ وَيَبْدَأُ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ يُدَاوِي نَفْسَهُ بِالْقُرْآنَ مَثَلًا إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُبْتَلًى بَعْضُ النَّاسِ يَشْتَكِي مِنْ أَنَّهُ مَثَلًا نَظَرُهُ يَزِيْغُ وَلَهُ نَفْسٌ تَتَطَلَّعُ لِلنَّظَرِ لِلنِّسَاءِ وَرُبَّمَا يَقْصِدُ أَمَاكِنَ فِيهَا النِّسَاءُ لِلنَّظَرِ هُوَ مُبْتَلَى بِهَذَا وَتَتَحَرَّكُ فِيهِ أُمُورٌ هُوَ فِي صِرَاعٍ مَعَ نَفْسِهِ فِي الْخَلَاصِ مِنْهَا دَاوِ نَفْسَكَ بِالْآيَةِ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ يُكَرِّرُهَا الْإِنْسَانُ وَيَتَأَمَّلُ فِيهَا وَيُحَاوِلُ أَنْ تَصِلَ إِلَى قَلْبِهِ إِذَا وَصَلَتْ إِلَى قَلْبِهِ حَصَلَ الشِّفَاءُ الْمَشَاكِلُ كُلُّهَا تَأْتِي بِسَبَبِ عَدَمِ وُصُولِ الْقُرْآنِ لِلْقَلْبِ إِذَا وَصَلَ الْقُرْآنُ لِلْقَلْبِ حَصَلَ الشِّفَاءُ فَيَبْدَأُ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ حَتَّى يَصِلَ الْقُرْآنُ إِلَى قَلْبِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Keutamaan Berzikir (Mengingat Allah) di Setiap Keadaan

Allah Ta’ala berfirman,اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an). Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan-perbuatan fahisyah (keji) dan munkar. Dan sungguh, dzikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-’Ankabut: 45)(Di antara faedah ilmu pada ayat di atas antara lain) bahwa merutinkan zikir kepada Allah di setiap keadaan adalah amalan yang paling utama. Ia sempurna dengan sendirinya, dan (ibadah) yang lain tidak akan sempurna tanpanya.At-Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dan menshahihkan (hadis),عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku akan sesuatu yang aku (bisa selalu) berpegang dengannya. (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, ‘(Hendaknya) lisanmu sentiasa basah (rathban) dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah).’”[1] (HR. At-Tirmidzi)Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “rathban” (رطبا – basah) adalah isyarat (kiasan) kepada banyaknya zikir, yang ini adalah sebab sempurnanya kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ“… Dan tidak sesuatu yang basah dan tidak yang kering …” (QS. Al-An’am: 59)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَعَلَّهُ يُخفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا“Semoga ini dapat meringankan (azab) bagi mereka berdua selama belum mengering.”[2]Karena itu, zikir akan naik dengan sendirinya tanpa butuh untuk dinaikkan. Tidak seperti amal-amal lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه“… kepada-Nya-lah naik kalimat-kalimat yang baik (al-kalim ath-thayyib). Dan amal saleh dinaikkan-Nya …” (QS. Fathir: 10)Manusia yang mendapat porsi terbesar dari selawatnya Allah dan para malaikat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, adalah yang paling banyak zikirnya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang hari. Dialah yang berselawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirAl-Baihaqi rahimahullah dalam kitab Ad-Dala-il dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Sulaim bin ‘Amir bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Kemudian dia berkata,إني رأيت في منامي أن الملائكة تصلي عليك كلما دخلت وكلما خرجت وكلما قمت وكلما جلست“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, para malaikat berselawat kepadamu setiap engkau masuk, keluar, berdiri, dan duduk.”قَالَ: وأنتم لو شئتم صلّت عليكم الملائكة ثم قرأ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (الآيات)(Abu Umamah) menimpali, “… dan kamu, jika kamu mau, para malaikat (juga bisa) berselawat kepadamu.” Kemudian beliau membaca, “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya…” (QS. Al-Ahzab: 41-43)[3]Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam menjelaskan keutamaan Adz-Dzikr,أنه يؤمن العبد من الحسرة يوم القيامة. فإن كل مجلس لا يذكر العبد فيه ربه تعالى كان عليه حسرة وترة يوم القيامة.“Sesungguhnya hal itu mengamankan seorang hamba dari penyesalan (kerugian) di hari kiamat. Karena sesungguhnya setiap majelis yang tidak disebutkan di dalamnya dzikrullah, akan menjadi penyesalan yang terus menerus di hari kiamat.”[4](Riwayat) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,“من عجِز منكم عن الليل أن يكابدَه، وبخل بالمال أن ينفقَه، وجَبُنَ عن العدو أن يجاهده؛ فليكثر ذكر الله”.“Barangsiapa di antara kalian yang lemah (tidak mampu) terhadap malam untuk menghidupkannya (berdiri salat malam dan bertilawah), bakhil terhadap harta untuk menafkahkannya, pengecut terhadap musuh untuk berjihad melawannya, hendaknya ia memperbanyak dzikrullah.” (Hadis ini) diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan disahihkan oleh Al-Albani, secara marfu’  diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzaar.[5] Terdapat pula keterangan yang semisal, mauquf[6] dari Ibnu Mas’ud dan Abu Darda radhiyallahu ‘anhum.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ، فَقَالَ: «سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusuri jalan kota Makkah. Lalu, beliau melewati suatu gunung (bukit) yang dinamakan, ‘Jumdaan’. Kemudian beliau bersabda, ‘Teruslah berjalan! Ini adalah Jumdan. Para Al-Mufarriduun telah mendahului (menang).’ (Para sahabat) bertanya, ‘Apakah Al-Mufarriduun itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Yaitu) laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir).’”[7]Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atTujuan dari segala macam ibadah adalah untuk mengingat Allah.يَعْنِي هُمْ فِي جَمِيعِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ وَيَكُونُ إِسْلَامُهُمْ وَإِيمَانُهُمْ وَقُنُوتُهُمْ وَصِدْقُهُمْ وَصَبْرُهُمْ وَخُشُوعُهُمْ وَصَدَقَتُهُمْ وَصَوْمُهُمْ بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ لِلَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي أَكْثَرِ الْمَوَاضِعِ حَيْثُ ذكر الذكر قرنه بالكثرة هاهنا، وفي قوله بعد هذايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً [الْأَحْزَابِ: 41]وَقَالَ مِنْ قَبْلُ:لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً [الأحزاب:21]لِأَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ الْأَفْعَالِ الْبَدَنِيَّةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ أَوْ عُسْرٌ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ وَتَحْصِيلُ مَأْكُولِهِ وَمَشْرُوبِهِ يَمْنَعُهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ دَائِمًا بِالصَّلَاةِ وَلَكِنْ لَا مَانِعَ لَهُ مِنْ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى وَهُوَ آكِلٌ وَيَذْكُرَهُ وَهُوَ شَارِبٌ أَوْ مَاشٍ أَوْ بَائِعٌ أَوْ شَارٍ، وَإِلَى هَذَا أَشَارَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ [آلِ عِمْرَانَ: 191]“Yakni, mereka pada setiap keadaannya (senantiasa) mengingat Allah. Keislaman, keimanan, qunut, jujur, sabar, khusyuk, sedekah, hingga puasa mereka adalah dengan niat yang jujur karena Allah. Ketahuilah, bahwasanya Allah Ta’ala dalam beberapa ayat ketika menyebutkan “zikir”, (Allah) menggandengkannya dengan memperbanyaknya. Misal pada firman-Nya mengenai ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).Dia berfirman juga sebelumnya, لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Karena memperbanyak dari amalan-amalan badani adalah tidak mungkin atau sulit. Karena sesungguhnya manusia itu makannya, minumnya, dan proses mendapat makanan dan minumannya akan menghalanginya untuk bisa terus-menerus salat. Akan tetapi, tidak ada halangan baginya untuk dapat berzikir kepada Allah Ta’ala padahal ia sedang makan. Ia bisa berzikir kepada-Nya ketika ia minum, berjalan, atau berjual beli. Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini pada firman-Nya,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)(Selesai kutipan dari At-Tafsir Al-Kabir.)[8]Allah Ta’ala berfirman,إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah aalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)Wallahu a’lam.Fadhilah Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-’Obailan hafizhahullah ta’ala wa nafa’anaa bi-’ilmihBaca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Thawaf dan Sa’i Itu Untuk Berdzikir, Bukan Perkataan Selainnya***Penerjemah: Muhammad Fadhli, S.T.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Sunan At-Tirmidzi, tahqiq dan ta’liq Syakir, Bab Keterangan tentang Keutamaan Dzikir, hal. 457, no. 3375, Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (w. 279 H), https://al-maktaba.org/book/33754/5569#p1[2] Konteks hadis ini adalah mengenai ancaman siksa kubur akibat air kencing dan gibah. Lihat hadis no. 5088 di Shahih Al-Jami’ https://al-maktaba.org/book/21659/9219 , Sunan An-Nasa’i 31[3] Lihat Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim hal. 453, https://al-maktaba.org/book/2266/3712 dan Dala’il An-Nubuwwah karya Al-Baihaqi hal. 25, https://al-maktaba.org/book/13115/3896[4] Lihat Al-Waabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnul Qayyim hal. 44, https://al-maktaba.org/book/216/40[5] Lihat Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Nashiruddin Al-Albani, hal. 205, https://al-maktaba.org/book/32968/837[6] Mauquf adalah khabar yang disandarkan pada sahabat dan tidak berstatus marfu’. Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/1581-taisir-musthalah-hadits-9-khabar.html[7] Lihat Shahih Muslim Bab Motivasi untuk Berdzikir kepada Allah Ta’ala, hal. 2062, karya Imam Muslim https://al-maktaba.org/book/33760/8050#p1[8] Lihat Tafsir Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir, hal. 169, Surat Al-Ahzab, Fakhruddin Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi (w. 606 H) https://al-maktaba.org/book/23635/4575#p3🔍 Birrul Walidain, Sholat Berjamaah Berdua, Sakit Ya Allah, Gen Halilintar Aliran Sesat, Jomblo Menurut IslamTags: amalan dzikirDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirmengingat Allahnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikir

Keutamaan Berzikir (Mengingat Allah) di Setiap Keadaan

Allah Ta’ala berfirman,اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an). Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan-perbuatan fahisyah (keji) dan munkar. Dan sungguh, dzikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-’Ankabut: 45)(Di antara faedah ilmu pada ayat di atas antara lain) bahwa merutinkan zikir kepada Allah di setiap keadaan adalah amalan yang paling utama. Ia sempurna dengan sendirinya, dan (ibadah) yang lain tidak akan sempurna tanpanya.At-Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dan menshahihkan (hadis),عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku akan sesuatu yang aku (bisa selalu) berpegang dengannya. (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, ‘(Hendaknya) lisanmu sentiasa basah (rathban) dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah).’”[1] (HR. At-Tirmidzi)Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “rathban” (رطبا – basah) adalah isyarat (kiasan) kepada banyaknya zikir, yang ini adalah sebab sempurnanya kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ“… Dan tidak sesuatu yang basah dan tidak yang kering …” (QS. Al-An’am: 59)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَعَلَّهُ يُخفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا“Semoga ini dapat meringankan (azab) bagi mereka berdua selama belum mengering.”[2]Karena itu, zikir akan naik dengan sendirinya tanpa butuh untuk dinaikkan. Tidak seperti amal-amal lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه“… kepada-Nya-lah naik kalimat-kalimat yang baik (al-kalim ath-thayyib). Dan amal saleh dinaikkan-Nya …” (QS. Fathir: 10)Manusia yang mendapat porsi terbesar dari selawatnya Allah dan para malaikat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, adalah yang paling banyak zikirnya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang hari. Dialah yang berselawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirAl-Baihaqi rahimahullah dalam kitab Ad-Dala-il dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Sulaim bin ‘Amir bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Kemudian dia berkata,إني رأيت في منامي أن الملائكة تصلي عليك كلما دخلت وكلما خرجت وكلما قمت وكلما جلست“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, para malaikat berselawat kepadamu setiap engkau masuk, keluar, berdiri, dan duduk.”قَالَ: وأنتم لو شئتم صلّت عليكم الملائكة ثم قرأ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (الآيات)(Abu Umamah) menimpali, “… dan kamu, jika kamu mau, para malaikat (juga bisa) berselawat kepadamu.” Kemudian beliau membaca, “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya…” (QS. Al-Ahzab: 41-43)[3]Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam menjelaskan keutamaan Adz-Dzikr,أنه يؤمن العبد من الحسرة يوم القيامة. فإن كل مجلس لا يذكر العبد فيه ربه تعالى كان عليه حسرة وترة يوم القيامة.“Sesungguhnya hal itu mengamankan seorang hamba dari penyesalan (kerugian) di hari kiamat. Karena sesungguhnya setiap majelis yang tidak disebutkan di dalamnya dzikrullah, akan menjadi penyesalan yang terus menerus di hari kiamat.”[4](Riwayat) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,“من عجِز منكم عن الليل أن يكابدَه، وبخل بالمال أن ينفقَه، وجَبُنَ عن العدو أن يجاهده؛ فليكثر ذكر الله”.“Barangsiapa di antara kalian yang lemah (tidak mampu) terhadap malam untuk menghidupkannya (berdiri salat malam dan bertilawah), bakhil terhadap harta untuk menafkahkannya, pengecut terhadap musuh untuk berjihad melawannya, hendaknya ia memperbanyak dzikrullah.” (Hadis ini) diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan disahihkan oleh Al-Albani, secara marfu’  diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzaar.[5] Terdapat pula keterangan yang semisal, mauquf[6] dari Ibnu Mas’ud dan Abu Darda radhiyallahu ‘anhum.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ، فَقَالَ: «سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusuri jalan kota Makkah. Lalu, beliau melewati suatu gunung (bukit) yang dinamakan, ‘Jumdaan’. Kemudian beliau bersabda, ‘Teruslah berjalan! Ini adalah Jumdan. Para Al-Mufarriduun telah mendahului (menang).’ (Para sahabat) bertanya, ‘Apakah Al-Mufarriduun itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Yaitu) laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir).’”[7]Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atTujuan dari segala macam ibadah adalah untuk mengingat Allah.يَعْنِي هُمْ فِي جَمِيعِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ وَيَكُونُ إِسْلَامُهُمْ وَإِيمَانُهُمْ وَقُنُوتُهُمْ وَصِدْقُهُمْ وَصَبْرُهُمْ وَخُشُوعُهُمْ وَصَدَقَتُهُمْ وَصَوْمُهُمْ بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ لِلَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي أَكْثَرِ الْمَوَاضِعِ حَيْثُ ذكر الذكر قرنه بالكثرة هاهنا، وفي قوله بعد هذايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً [الْأَحْزَابِ: 41]وَقَالَ مِنْ قَبْلُ:لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً [الأحزاب:21]لِأَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ الْأَفْعَالِ الْبَدَنِيَّةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ أَوْ عُسْرٌ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ وَتَحْصِيلُ مَأْكُولِهِ وَمَشْرُوبِهِ يَمْنَعُهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ دَائِمًا بِالصَّلَاةِ وَلَكِنْ لَا مَانِعَ لَهُ مِنْ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى وَهُوَ آكِلٌ وَيَذْكُرَهُ وَهُوَ شَارِبٌ أَوْ مَاشٍ أَوْ بَائِعٌ أَوْ شَارٍ، وَإِلَى هَذَا أَشَارَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ [آلِ عِمْرَانَ: 191]“Yakni, mereka pada setiap keadaannya (senantiasa) mengingat Allah. Keislaman, keimanan, qunut, jujur, sabar, khusyuk, sedekah, hingga puasa mereka adalah dengan niat yang jujur karena Allah. Ketahuilah, bahwasanya Allah Ta’ala dalam beberapa ayat ketika menyebutkan “zikir”, (Allah) menggandengkannya dengan memperbanyaknya. Misal pada firman-Nya mengenai ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).Dia berfirman juga sebelumnya, لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Karena memperbanyak dari amalan-amalan badani adalah tidak mungkin atau sulit. Karena sesungguhnya manusia itu makannya, minumnya, dan proses mendapat makanan dan minumannya akan menghalanginya untuk bisa terus-menerus salat. Akan tetapi, tidak ada halangan baginya untuk dapat berzikir kepada Allah Ta’ala padahal ia sedang makan. Ia bisa berzikir kepada-Nya ketika ia minum, berjalan, atau berjual beli. Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini pada firman-Nya,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)(Selesai kutipan dari At-Tafsir Al-Kabir.)[8]Allah Ta’ala berfirman,إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah aalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)Wallahu a’lam.Fadhilah Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-’Obailan hafizhahullah ta’ala wa nafa’anaa bi-’ilmihBaca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Thawaf dan Sa’i Itu Untuk Berdzikir, Bukan Perkataan Selainnya***Penerjemah: Muhammad Fadhli, S.T.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Sunan At-Tirmidzi, tahqiq dan ta’liq Syakir, Bab Keterangan tentang Keutamaan Dzikir, hal. 457, no. 3375, Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (w. 279 H), https://al-maktaba.org/book/33754/5569#p1[2] Konteks hadis ini adalah mengenai ancaman siksa kubur akibat air kencing dan gibah. Lihat hadis no. 5088 di Shahih Al-Jami’ https://al-maktaba.org/book/21659/9219 , Sunan An-Nasa’i 31[3] Lihat Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim hal. 453, https://al-maktaba.org/book/2266/3712 dan Dala’il An-Nubuwwah karya Al-Baihaqi hal. 25, https://al-maktaba.org/book/13115/3896[4] Lihat Al-Waabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnul Qayyim hal. 44, https://al-maktaba.org/book/216/40[5] Lihat Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Nashiruddin Al-Albani, hal. 205, https://al-maktaba.org/book/32968/837[6] Mauquf adalah khabar yang disandarkan pada sahabat dan tidak berstatus marfu’. Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/1581-taisir-musthalah-hadits-9-khabar.html[7] Lihat Shahih Muslim Bab Motivasi untuk Berdzikir kepada Allah Ta’ala, hal. 2062, karya Imam Muslim https://al-maktaba.org/book/33760/8050#p1[8] Lihat Tafsir Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir, hal. 169, Surat Al-Ahzab, Fakhruddin Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi (w. 606 H) https://al-maktaba.org/book/23635/4575#p3🔍 Birrul Walidain, Sholat Berjamaah Berdua, Sakit Ya Allah, Gen Halilintar Aliran Sesat, Jomblo Menurut IslamTags: amalan dzikirDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirmengingat Allahnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikir
Allah Ta’ala berfirman,اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an). Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan-perbuatan fahisyah (keji) dan munkar. Dan sungguh, dzikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-’Ankabut: 45)(Di antara faedah ilmu pada ayat di atas antara lain) bahwa merutinkan zikir kepada Allah di setiap keadaan adalah amalan yang paling utama. Ia sempurna dengan sendirinya, dan (ibadah) yang lain tidak akan sempurna tanpanya.At-Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dan menshahihkan (hadis),عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku akan sesuatu yang aku (bisa selalu) berpegang dengannya. (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, ‘(Hendaknya) lisanmu sentiasa basah (rathban) dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah).’”[1] (HR. At-Tirmidzi)Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “rathban” (رطبا – basah) adalah isyarat (kiasan) kepada banyaknya zikir, yang ini adalah sebab sempurnanya kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ“… Dan tidak sesuatu yang basah dan tidak yang kering …” (QS. Al-An’am: 59)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَعَلَّهُ يُخفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا“Semoga ini dapat meringankan (azab) bagi mereka berdua selama belum mengering.”[2]Karena itu, zikir akan naik dengan sendirinya tanpa butuh untuk dinaikkan. Tidak seperti amal-amal lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه“… kepada-Nya-lah naik kalimat-kalimat yang baik (al-kalim ath-thayyib). Dan amal saleh dinaikkan-Nya …” (QS. Fathir: 10)Manusia yang mendapat porsi terbesar dari selawatnya Allah dan para malaikat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, adalah yang paling banyak zikirnya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang hari. Dialah yang berselawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirAl-Baihaqi rahimahullah dalam kitab Ad-Dala-il dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Sulaim bin ‘Amir bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Kemudian dia berkata,إني رأيت في منامي أن الملائكة تصلي عليك كلما دخلت وكلما خرجت وكلما قمت وكلما جلست“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, para malaikat berselawat kepadamu setiap engkau masuk, keluar, berdiri, dan duduk.”قَالَ: وأنتم لو شئتم صلّت عليكم الملائكة ثم قرأ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (الآيات)(Abu Umamah) menimpali, “… dan kamu, jika kamu mau, para malaikat (juga bisa) berselawat kepadamu.” Kemudian beliau membaca, “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya…” (QS. Al-Ahzab: 41-43)[3]Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam menjelaskan keutamaan Adz-Dzikr,أنه يؤمن العبد من الحسرة يوم القيامة. فإن كل مجلس لا يذكر العبد فيه ربه تعالى كان عليه حسرة وترة يوم القيامة.“Sesungguhnya hal itu mengamankan seorang hamba dari penyesalan (kerugian) di hari kiamat. Karena sesungguhnya setiap majelis yang tidak disebutkan di dalamnya dzikrullah, akan menjadi penyesalan yang terus menerus di hari kiamat.”[4](Riwayat) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,“من عجِز منكم عن الليل أن يكابدَه، وبخل بالمال أن ينفقَه، وجَبُنَ عن العدو أن يجاهده؛ فليكثر ذكر الله”.“Barangsiapa di antara kalian yang lemah (tidak mampu) terhadap malam untuk menghidupkannya (berdiri salat malam dan bertilawah), bakhil terhadap harta untuk menafkahkannya, pengecut terhadap musuh untuk berjihad melawannya, hendaknya ia memperbanyak dzikrullah.” (Hadis ini) diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan disahihkan oleh Al-Albani, secara marfu’  diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzaar.[5] Terdapat pula keterangan yang semisal, mauquf[6] dari Ibnu Mas’ud dan Abu Darda radhiyallahu ‘anhum.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ، فَقَالَ: «سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusuri jalan kota Makkah. Lalu, beliau melewati suatu gunung (bukit) yang dinamakan, ‘Jumdaan’. Kemudian beliau bersabda, ‘Teruslah berjalan! Ini adalah Jumdan. Para Al-Mufarriduun telah mendahului (menang).’ (Para sahabat) bertanya, ‘Apakah Al-Mufarriduun itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Yaitu) laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir).’”[7]Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atTujuan dari segala macam ibadah adalah untuk mengingat Allah.يَعْنِي هُمْ فِي جَمِيعِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ وَيَكُونُ إِسْلَامُهُمْ وَإِيمَانُهُمْ وَقُنُوتُهُمْ وَصِدْقُهُمْ وَصَبْرُهُمْ وَخُشُوعُهُمْ وَصَدَقَتُهُمْ وَصَوْمُهُمْ بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ لِلَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي أَكْثَرِ الْمَوَاضِعِ حَيْثُ ذكر الذكر قرنه بالكثرة هاهنا، وفي قوله بعد هذايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً [الْأَحْزَابِ: 41]وَقَالَ مِنْ قَبْلُ:لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً [الأحزاب:21]لِأَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ الْأَفْعَالِ الْبَدَنِيَّةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ أَوْ عُسْرٌ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ وَتَحْصِيلُ مَأْكُولِهِ وَمَشْرُوبِهِ يَمْنَعُهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ دَائِمًا بِالصَّلَاةِ وَلَكِنْ لَا مَانِعَ لَهُ مِنْ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى وَهُوَ آكِلٌ وَيَذْكُرَهُ وَهُوَ شَارِبٌ أَوْ مَاشٍ أَوْ بَائِعٌ أَوْ شَارٍ، وَإِلَى هَذَا أَشَارَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ [آلِ عِمْرَانَ: 191]“Yakni, mereka pada setiap keadaannya (senantiasa) mengingat Allah. Keislaman, keimanan, qunut, jujur, sabar, khusyuk, sedekah, hingga puasa mereka adalah dengan niat yang jujur karena Allah. Ketahuilah, bahwasanya Allah Ta’ala dalam beberapa ayat ketika menyebutkan “zikir”, (Allah) menggandengkannya dengan memperbanyaknya. Misal pada firman-Nya mengenai ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).Dia berfirman juga sebelumnya, لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Karena memperbanyak dari amalan-amalan badani adalah tidak mungkin atau sulit. Karena sesungguhnya manusia itu makannya, minumnya, dan proses mendapat makanan dan minumannya akan menghalanginya untuk bisa terus-menerus salat. Akan tetapi, tidak ada halangan baginya untuk dapat berzikir kepada Allah Ta’ala padahal ia sedang makan. Ia bisa berzikir kepada-Nya ketika ia minum, berjalan, atau berjual beli. Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini pada firman-Nya,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)(Selesai kutipan dari At-Tafsir Al-Kabir.)[8]Allah Ta’ala berfirman,إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah aalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)Wallahu a’lam.Fadhilah Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-’Obailan hafizhahullah ta’ala wa nafa’anaa bi-’ilmihBaca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Thawaf dan Sa’i Itu Untuk Berdzikir, Bukan Perkataan Selainnya***Penerjemah: Muhammad Fadhli, S.T.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Sunan At-Tirmidzi, tahqiq dan ta’liq Syakir, Bab Keterangan tentang Keutamaan Dzikir, hal. 457, no. 3375, Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (w. 279 H), https://al-maktaba.org/book/33754/5569#p1[2] Konteks hadis ini adalah mengenai ancaman siksa kubur akibat air kencing dan gibah. Lihat hadis no. 5088 di Shahih Al-Jami’ https://al-maktaba.org/book/21659/9219 , Sunan An-Nasa’i 31[3] Lihat Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim hal. 453, https://al-maktaba.org/book/2266/3712 dan Dala’il An-Nubuwwah karya Al-Baihaqi hal. 25, https://al-maktaba.org/book/13115/3896[4] Lihat Al-Waabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnul Qayyim hal. 44, https://al-maktaba.org/book/216/40[5] Lihat Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Nashiruddin Al-Albani, hal. 205, https://al-maktaba.org/book/32968/837[6] Mauquf adalah khabar yang disandarkan pada sahabat dan tidak berstatus marfu’. Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/1581-taisir-musthalah-hadits-9-khabar.html[7] Lihat Shahih Muslim Bab Motivasi untuk Berdzikir kepada Allah Ta’ala, hal. 2062, karya Imam Muslim https://al-maktaba.org/book/33760/8050#p1[8] Lihat Tafsir Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir, hal. 169, Surat Al-Ahzab, Fakhruddin Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi (w. 606 H) https://al-maktaba.org/book/23635/4575#p3🔍 Birrul Walidain, Sholat Berjamaah Berdua, Sakit Ya Allah, Gen Halilintar Aliran Sesat, Jomblo Menurut IslamTags: amalan dzikirDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirmengingat Allahnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikir


Allah Ta’ala berfirman,اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al-Qur’an). Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan-perbuatan fahisyah (keji) dan munkar. Dan sungguh, dzikrullah (mengingat Allah) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-’Ankabut: 45)(Di antara faedah ilmu pada ayat di atas antara lain) bahwa merutinkan zikir kepada Allah di setiap keadaan adalah amalan yang paling utama. Ia sempurna dengan sendirinya, dan (ibadah) yang lain tidak akan sempurna tanpanya.At-Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dan menshahihkan (hadis),عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku akan sesuatu yang aku (bisa selalu) berpegang dengannya. (Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, ‘(Hendaknya) lisanmu sentiasa basah (rathban) dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah).’”[1] (HR. At-Tirmidzi)Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “rathban” (رطبا – basah) adalah isyarat (kiasan) kepada banyaknya zikir, yang ini adalah sebab sempurnanya kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ“… Dan tidak sesuatu yang basah dan tidak yang kering …” (QS. Al-An’am: 59)Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,لَعَلَّهُ يُخفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا“Semoga ini dapat meringankan (azab) bagi mereka berdua selama belum mengering.”[2]Karena itu, zikir akan naik dengan sendirinya tanpa butuh untuk dinaikkan. Tidak seperti amal-amal lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه“… kepada-Nya-lah naik kalimat-kalimat yang baik (al-kalim ath-thayyib). Dan amal saleh dinaikkan-Nya …” (QS. Fathir: 10)Manusia yang mendapat porsi terbesar dari selawatnya Allah dan para malaikat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, adalah yang paling banyak zikirnya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada pagi dan petang hari. Dialah yang berselawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirAl-Baihaqi rahimahullah dalam kitab Ad-Dala-il dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Sulaim bin ‘Amir bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Kemudian dia berkata,إني رأيت في منامي أن الملائكة تصلي عليك كلما دخلت وكلما خرجت وكلما قمت وكلما جلست“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, para malaikat berselawat kepadamu setiap engkau masuk, keluar, berdiri, dan duduk.”قَالَ: وأنتم لو شئتم صلّت عليكم الملائكة ثم قرأ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (الآيات)(Abu Umamah) menimpali, “… dan kamu, jika kamu mau, para malaikat (juga bisa) berselawat kepadamu.” Kemudian beliau membaca, “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya…” (QS. Al-Ahzab: 41-43)[3]Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam menjelaskan keutamaan Adz-Dzikr,أنه يؤمن العبد من الحسرة يوم القيامة. فإن كل مجلس لا يذكر العبد فيه ربه تعالى كان عليه حسرة وترة يوم القيامة.“Sesungguhnya hal itu mengamankan seorang hamba dari penyesalan (kerugian) di hari kiamat. Karena sesungguhnya setiap majelis yang tidak disebutkan di dalamnya dzikrullah, akan menjadi penyesalan yang terus menerus di hari kiamat.”[4](Riwayat) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,“من عجِز منكم عن الليل أن يكابدَه، وبخل بالمال أن ينفقَه، وجَبُنَ عن العدو أن يجاهده؛ فليكثر ذكر الله”.“Barangsiapa di antara kalian yang lemah (tidak mampu) terhadap malam untuk menghidupkannya (berdiri salat malam dan bertilawah), bakhil terhadap harta untuk menafkahkannya, pengecut terhadap musuh untuk berjihad melawannya, hendaknya ia memperbanyak dzikrullah.” (Hadis ini) diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan disahihkan oleh Al-Albani, secara marfu’  diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzaar.[5] Terdapat pula keterangan yang semisal, mauquf[6] dari Ibnu Mas’ud dan Abu Darda radhiyallahu ‘anhum.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ، فَقَالَ: «سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusuri jalan kota Makkah. Lalu, beliau melewati suatu gunung (bukit) yang dinamakan, ‘Jumdaan’. Kemudian beliau bersabda, ‘Teruslah berjalan! Ini adalah Jumdan. Para Al-Mufarriduun telah mendahului (menang).’ (Para sahabat) bertanya, ‘Apakah Al-Mufarriduun itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Yaitu) laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir).’”[7]Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atTujuan dari segala macam ibadah adalah untuk mengingat Allah.يَعْنِي هُمْ فِي جَمِيعِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ وَيَكُونُ إِسْلَامُهُمْ وَإِيمَانُهُمْ وَقُنُوتُهُمْ وَصِدْقُهُمْ وَصَبْرُهُمْ وَخُشُوعُهُمْ وَصَدَقَتُهُمْ وَصَوْمُهُمْ بِنِيَّةٍ صَادِقَةٍ لِلَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي أَكْثَرِ الْمَوَاضِعِ حَيْثُ ذكر الذكر قرنه بالكثرة هاهنا، وفي قوله بعد هذايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً [الْأَحْزَابِ: 41]وَقَالَ مِنْ قَبْلُ:لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً [الأحزاب:21]لِأَنَّ الْإِكْثَارَ مِنَ الْأَفْعَالِ الْبَدَنِيَّةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ أَوْ عُسْرٌ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ وَتَحْصِيلُ مَأْكُولِهِ وَمَشْرُوبِهِ يَمْنَعُهُ مِنْ أَنْ يَشْتَغِلَ دَائِمًا بِالصَّلَاةِ وَلَكِنْ لَا مَانِعَ لَهُ مِنْ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى وَهُوَ آكِلٌ وَيَذْكُرَهُ وَهُوَ شَارِبٌ أَوْ مَاشٍ أَوْ بَائِعٌ أَوْ شَارٍ، وَإِلَى هَذَا أَشَارَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى:الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ [آلِ عِمْرَانَ: 191]“Yakni, mereka pada setiap keadaannya (senantiasa) mengingat Allah. Keislaman, keimanan, qunut, jujur, sabar, khusyuk, sedekah, hingga puasa mereka adalah dengan niat yang jujur karena Allah. Ketahuilah, bahwasanya Allah Ta’ala dalam beberapa ayat ketika menyebutkan “zikir”, (Allah) menggandengkannya dengan memperbanyaknya. Misal pada firman-Nya mengenai ini,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).Dia berfirman juga sebelumnya, لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً“Bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir, dan banyak berzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)Karena memperbanyak dari amalan-amalan badani adalah tidak mungkin atau sulit. Karena sesungguhnya manusia itu makannya, minumnya, dan proses mendapat makanan dan minumannya akan menghalanginya untuk bisa terus-menerus salat. Akan tetapi, tidak ada halangan baginya untuk dapat berzikir kepada Allah Ta’ala padahal ia sedang makan. Ia bisa berzikir kepada-Nya ketika ia minum, berjalan, atau berjual beli. Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini pada firman-Nya,الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)(Selesai kutipan dari At-Tafsir Al-Kabir.)[8]Allah Ta’ala berfirman,إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah aalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)Wallahu a’lam.Fadhilah Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-’Obailan hafizhahullah ta’ala wa nafa’anaa bi-’ilmihBaca Juga:Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?Thawaf dan Sa’i Itu Untuk Berdzikir, Bukan Perkataan Selainnya***Penerjemah: Muhammad Fadhli, S.T.Artikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Lihat Sunan At-Tirmidzi, tahqiq dan ta’liq Syakir, Bab Keterangan tentang Keutamaan Dzikir, hal. 457, no. 3375, Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (w. 279 H), https://al-maktaba.org/book/33754/5569#p1[2] Konteks hadis ini adalah mengenai ancaman siksa kubur akibat air kencing dan gibah. Lihat hadis no. 5088 di Shahih Al-Jami’ https://al-maktaba.org/book/21659/9219 , Sunan An-Nasa’i 31[3] Lihat Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim hal. 453, https://al-maktaba.org/book/2266/3712 dan Dala’il An-Nubuwwah karya Al-Baihaqi hal. 25, https://al-maktaba.org/book/13115/3896[4] Lihat Al-Waabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnul Qayyim hal. 44, https://al-maktaba.org/book/216/40[5] Lihat Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Nashiruddin Al-Albani, hal. 205, https://al-maktaba.org/book/32968/837[6] Mauquf adalah khabar yang disandarkan pada sahabat dan tidak berstatus marfu’. Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/1581-taisir-musthalah-hadits-9-khabar.html[7] Lihat Shahih Muslim Bab Motivasi untuk Berdzikir kepada Allah Ta’ala, hal. 2062, karya Imam Muslim https://al-maktaba.org/book/33760/8050#p1[8] Lihat Tafsir Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir, hal. 169, Surat Al-Ahzab, Fakhruddin Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi (w. 606 H) https://al-maktaba.org/book/23635/4575#p3🔍 Birrul Walidain, Sholat Berjamaah Berdua, Sakit Ya Allah, Gen Halilintar Aliran Sesat, Jomblo Menurut IslamTags: amalan dzikirDzikirfikih dzikirkeutamaan dzikirmengingat Allahnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikir
Prev     Next