Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita Sendiri 1.1. Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”? 2. Buah Makrifatullah yang Terpenting 3. Apa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya? 3.1. Penjelasan dari definisi tersebut adalah: 3.2. Contoh penerapan tauhid nama dan sifat: 4. Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan Makhluk 5. Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah Dengannya Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita SendiriAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 19,وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”Allah Ta’ala melarang kita menjadi orang-orang yang lupa kepada Allah. Dan Allah mengancam orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri!Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”?Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat yang mulia ini. Maksudnya adalah Allah menghukum orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan ia lupa akan perkara yang bermanfaat baginya, lupa akan memperbaiki aibnya, serta lupa akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Inilah hakikat “lupa akan diri sendiri”.Beda halnya dengan orang yang ingat Allah, maka Allah akan ganjar dengan menjadikannya ingat akan perkara yang bermanfaat baginya, dan ingat akan aibnya. Sehingga Allah jadikan ia sibuk memperbaiki aibnya, dan ingat akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Allah takdirkan sebab dan akibat kebaikan untuknya. Inilah hakikat “ingat terhadap diri sendiri”.Itulah beberapa alasan urgensi makrifatullah. Dan sebenarnya masih banyak alasan lainnya dari pentingnya kita mempelajari makrifatullah, seperti: agar kita dicintai Allah, agar Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya, agar doa kita terkabul, serta agar kita mudah meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Makrifatullah adalah asas perbaikan hati dan jasad.Buah Makrifatullah yang TerpentingBuah makrifatullah yang terpenting adalah mengesakan Allah (tauhidullah). Karena dari mengenal nama dan sifat Allah dapat disimpulkan bahwa Allah Mahaesa dalam kekhususan ketuhanan-Nya, maka kita wajib mengesakan-Nya.Maksud mengesakan Allah (Tauhid) adalah mengesakan-Nya dalam kekhususan ketuhanan-Nya, yaitu dalam perbuatan-Nya (Ar-Rububiyyah), hak untuk diibadahi (Al-Uluhiyyah), serta nama dan sifat-Nya (Al-Asma’ wash Shifat). Sehingga di antara bentuk mengesakan Allah adalah mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, atau yang lebih dikenal dengan Tauhidul Asma’ wash Shifat (Tauhid nama dan sifat).Baca Juga: Mengenal Allah Hanya di Bulan Ramadhan SajaApa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya?Tauhid nama dan sifat adalah, “Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan beriman terhadap nama, sifat, dan tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk.”Penjelasan dari definisi tersebut adalah:Mengesakan Allah, adalah meyakini dalam hati dan melaksanakan tuntutan ucapan maupun perbuatan bahwa Allah Mahaesa dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia.Ciri khas nama Allah adalah “Husna” (Terindah), yaitu tidak ada nama yang sama atau lebih indah dari nama-Nya karena nama-Nya mengandung sifat termulia.Ciri khas sifat Allah adalah “’Ula (A’la)” (Termulia), yaitu paling sempurna, tidak ada sifat yang lebih sempurna dari sifat-Nya karena seluruh sifat-Nya itu sempurna. Tidak ada aib sedikit pun dari sisi mana pun.Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah “Tauqifiyyah“, yaitu harus berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, baik dalam itsbat (penetapan kesempurnaan bagi Allah), maupun dalam nafi (peniadaan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah). Oleh karena itu, kita tidak boleh menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.Beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama Allah dan sifat-Nya. Yang dimaksud tuntutan di sini adalah konsekuensi hukum dan tuntutan peribadatan, serta pengaruhnya pada keimanan.Tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk. Maksudnya adalah tidak menolak penetapan nama dan sifat Allah, namun menetapkan keduanya dengan benar, yaitu tanpa menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam nama maupun sifat-Nya.Contoh penerapan tauhid nama dan sifat:Di antara nama Allah adalah السميع (Yang Mahamendengar), maka berdasarkan definisi tauhid nama dan sifat, barulah kita dikatakan mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya dengan benar, jika meyakini:Pertama, penetapan nama Allah السميع (Yang Maha Mendengar).Kedua, penetapan makna, yaitu sifat Allah yang terkandung di dalam nama-Nya, yaitu sifat السمع (Mendengar). Dan setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya.Ketiga, beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya. Allah mendengar seluruh suara yang keras maupun pelan, jauh maupun dekat, suara seorang hamba sedang beribadah maupun suaranya saat bermaksiat. Semua itu membuahkan keyakinan tentang adanya janji Allah dan ancaman-Nya.Dengan beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, maka akan muncul pengaruh berupa: 1) takut kepada Allah Ta’ala yang didasari ilmu tentang-Nya; 2) yakin diawasi oleh Allah Ta’ala; 3) malu kepada Allah Ta’ala; 4) berhati-hati dalam berucap, dengan berusaha mengucapkan ucapan yang diridai oleh Allah dan menjauhi ucapan kemaksiatan bahkan ucapan yang makruh.Baca Juga: Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?Dan dalam setiap nama Allah dan sifat-Nya pasti mengandung tuntutan peribadatan atas hamba-Nya.Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan MakhlukAllah berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini mengandung kaidah tauhidul asma` wash shifat yang agung, mencakup nafi dan itsbat, menunjukkan bahwa keimanan terhadap nama dan sifat Allah terbangun atas nafi dan itsbat.Nafi (peniadaan)Meniadakan seluruh yang ditiadakan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dari Allah, berupa aib dan kekurangsempurnaan, berarti meniadakan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah Ta’ala.Itsbat (penetapan)Menetapkan seluruh yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah bagi Allah, berupa nama yang husna dan sifat yang ‘ula.Di dalam ayat yang telah disebutkan di atas terdapat terdapat nafi (peniadaan) kesamaan Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dalam firman Allah,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya.”Oleh karena itu, tidak boleh menyamakan Allah dengan selain-Nya, baik dalam nama maupun sifat-Nya.Dalam ayat tersebut juga terdapat pula penetapan (itsbat), yaitu dalam firman Allah, و هو السميع البصير “Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.”Yaitu penetapan dua nama maupun dua sifat Allah, Pertama, nama Allah السَّمِيعُ (Yang Mahamendengar) dan nama البَصِيرُ (Yang Mahamelihat).Kedua, sifat  السَمْع (mendengar) dan sifat البَصَر  (melihat).Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah DengannyaAllah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 180,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ “Dan Allah memiliki al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan al-asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari sikap wajib terhadap nama-nama-Nya, mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”Hakikatnya dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla menyeru hamba-hamba-Nya untuk mengenal-Nya dengan mempelajari nama dan sifat-Nya, serta menyeru mereka untuk memuji-Nya dengannya, dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam nama dan sifat-Nya.Maksud “berdoa kepada Allah dengan asma’ul husna” adalah:Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah yang sesuai dengan isi doa.Kedua, berdoa dengan memuji Allah dengan menyebut nama-Nya.Ketiga, berdoa dengan beribadah kepada Allah dengan ibadah selain doa dan pujian, yaitu dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalam asma’ul husna.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Shahihul Bukhari,إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وتِسْعِينَ اسْمًا مِئَةً إلَّا واحِدًا، مَن أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang meng-ihsho’-nya, niscaya ia akan masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan:Pertama, 99 nama Allah ini dikenal dengan asma’ul husna. Namun ini bukan batasan jumlah asma’ul husna, karena dalam dalil lain menunjukkan bahwa nama Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu. Bahkan, banyak nama-nama Allah yang tidak Allah beritahukan kepada kita, dan hanya Allah yang mengetahuinya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما أصاب أحدًا قط همٌّ و لا حزنٌ ، فقال : اللهمَّ إني عبدُك ، و ابنُ عبدِك ، و ابنُ أَمَتِك ، ناصيتي بيدِك ، ماضٍ فيَّ حكمُك ، عدلٌ فيَّ قضاؤُك ، أسألُك بكلِّ اسمٍ هو لك سميتَ به نفسَك ، أو علَّمتَه أحدًا من خلقِك ، أو أنزلتَه في كتابِك ، أو استأثرتَ به في علمِ الغيبِ عندَك ، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبي ، و نورَ صدري ، و جلاءَ حزني ، و ذَهابَ همِّي ، إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan dan tidak pula kesedihan lalu mengucapkan,‘Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu pria maupun wanita, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu pastilah berlaku atas diriku, keputusan-Mu selalu adil, saya memohon dengan setiap nama-Mu yang Engkau beri nama diri-Mu dengannya, atau Engkau ajarkannya kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkannya dalam Kitab-Mu, atau Engkau khususkan diri-Mu (dalam mengetahuinya) di ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai air kehidupan bagi hatiku, cahaya kelapangan dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.’ Melainkan Allah akan hilangkan kegelisahan dan kesedihannya, serta Allah akan gantikannya dengan kegembiraan.”Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita tertuntut untuk mempelajarinya?”, lalu beliau bersabda, “Tentu! Selayaknya orang yang mendengarnya itu mempelajarinya!” (HR. Imam Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Kedua, makna “ihsho’” yang dijanjikan surga bagi pelakunya, yaitu: menghapal 99 asma’ul husna tersebut, mempelajari maknanya, dan mengamalkan tuntutannya. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin IbadahMengenal Nama Allah “Ash-Shamad”***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Fiqih Al-Asma’ul Husna, Syekh Abdur Razzaq hafizhahullahMu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syekh Khalifah At-Tamimi hafizhahullahTafsir Ibnul Qoyyim hafizhahullah (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/59/18)https://www.alukah.net/sharia/0/72089/https://www.alukah.net/sharia/0/114103/🔍 Ipar Adalah Maut, Hukum Sunat, Perintah Berpuasa, Arti Surat Al Fatiha, Merk Kuas Yang HalalTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita Sendiri 1.1. Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”? 2. Buah Makrifatullah yang Terpenting 3. Apa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya? 3.1. Penjelasan dari definisi tersebut adalah: 3.2. Contoh penerapan tauhid nama dan sifat: 4. Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan Makhluk 5. Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah Dengannya Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita SendiriAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 19,وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”Allah Ta’ala melarang kita menjadi orang-orang yang lupa kepada Allah. Dan Allah mengancam orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri!Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”?Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat yang mulia ini. Maksudnya adalah Allah menghukum orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan ia lupa akan perkara yang bermanfaat baginya, lupa akan memperbaiki aibnya, serta lupa akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Inilah hakikat “lupa akan diri sendiri”.Beda halnya dengan orang yang ingat Allah, maka Allah akan ganjar dengan menjadikannya ingat akan perkara yang bermanfaat baginya, dan ingat akan aibnya. Sehingga Allah jadikan ia sibuk memperbaiki aibnya, dan ingat akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Allah takdirkan sebab dan akibat kebaikan untuknya. Inilah hakikat “ingat terhadap diri sendiri”.Itulah beberapa alasan urgensi makrifatullah. Dan sebenarnya masih banyak alasan lainnya dari pentingnya kita mempelajari makrifatullah, seperti: agar kita dicintai Allah, agar Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya, agar doa kita terkabul, serta agar kita mudah meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Makrifatullah adalah asas perbaikan hati dan jasad.Buah Makrifatullah yang TerpentingBuah makrifatullah yang terpenting adalah mengesakan Allah (tauhidullah). Karena dari mengenal nama dan sifat Allah dapat disimpulkan bahwa Allah Mahaesa dalam kekhususan ketuhanan-Nya, maka kita wajib mengesakan-Nya.Maksud mengesakan Allah (Tauhid) adalah mengesakan-Nya dalam kekhususan ketuhanan-Nya, yaitu dalam perbuatan-Nya (Ar-Rububiyyah), hak untuk diibadahi (Al-Uluhiyyah), serta nama dan sifat-Nya (Al-Asma’ wash Shifat). Sehingga di antara bentuk mengesakan Allah adalah mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, atau yang lebih dikenal dengan Tauhidul Asma’ wash Shifat (Tauhid nama dan sifat).Baca Juga: Mengenal Allah Hanya di Bulan Ramadhan SajaApa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya?Tauhid nama dan sifat adalah, “Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan beriman terhadap nama, sifat, dan tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk.”Penjelasan dari definisi tersebut adalah:Mengesakan Allah, adalah meyakini dalam hati dan melaksanakan tuntutan ucapan maupun perbuatan bahwa Allah Mahaesa dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia.Ciri khas nama Allah adalah “Husna” (Terindah), yaitu tidak ada nama yang sama atau lebih indah dari nama-Nya karena nama-Nya mengandung sifat termulia.Ciri khas sifat Allah adalah “’Ula (A’la)” (Termulia), yaitu paling sempurna, tidak ada sifat yang lebih sempurna dari sifat-Nya karena seluruh sifat-Nya itu sempurna. Tidak ada aib sedikit pun dari sisi mana pun.Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah “Tauqifiyyah“, yaitu harus berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, baik dalam itsbat (penetapan kesempurnaan bagi Allah), maupun dalam nafi (peniadaan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah). Oleh karena itu, kita tidak boleh menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.Beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama Allah dan sifat-Nya. Yang dimaksud tuntutan di sini adalah konsekuensi hukum dan tuntutan peribadatan, serta pengaruhnya pada keimanan.Tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk. Maksudnya adalah tidak menolak penetapan nama dan sifat Allah, namun menetapkan keduanya dengan benar, yaitu tanpa menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam nama maupun sifat-Nya.Contoh penerapan tauhid nama dan sifat:Di antara nama Allah adalah السميع (Yang Mahamendengar), maka berdasarkan definisi tauhid nama dan sifat, barulah kita dikatakan mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya dengan benar, jika meyakini:Pertama, penetapan nama Allah السميع (Yang Maha Mendengar).Kedua, penetapan makna, yaitu sifat Allah yang terkandung di dalam nama-Nya, yaitu sifat السمع (Mendengar). Dan setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya.Ketiga, beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya. Allah mendengar seluruh suara yang keras maupun pelan, jauh maupun dekat, suara seorang hamba sedang beribadah maupun suaranya saat bermaksiat. Semua itu membuahkan keyakinan tentang adanya janji Allah dan ancaman-Nya.Dengan beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, maka akan muncul pengaruh berupa: 1) takut kepada Allah Ta’ala yang didasari ilmu tentang-Nya; 2) yakin diawasi oleh Allah Ta’ala; 3) malu kepada Allah Ta’ala; 4) berhati-hati dalam berucap, dengan berusaha mengucapkan ucapan yang diridai oleh Allah dan menjauhi ucapan kemaksiatan bahkan ucapan yang makruh.Baca Juga: Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?Dan dalam setiap nama Allah dan sifat-Nya pasti mengandung tuntutan peribadatan atas hamba-Nya.Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan MakhlukAllah berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini mengandung kaidah tauhidul asma` wash shifat yang agung, mencakup nafi dan itsbat, menunjukkan bahwa keimanan terhadap nama dan sifat Allah terbangun atas nafi dan itsbat.Nafi (peniadaan)Meniadakan seluruh yang ditiadakan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dari Allah, berupa aib dan kekurangsempurnaan, berarti meniadakan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah Ta’ala.Itsbat (penetapan)Menetapkan seluruh yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah bagi Allah, berupa nama yang husna dan sifat yang ‘ula.Di dalam ayat yang telah disebutkan di atas terdapat terdapat nafi (peniadaan) kesamaan Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dalam firman Allah,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya.”Oleh karena itu, tidak boleh menyamakan Allah dengan selain-Nya, baik dalam nama maupun sifat-Nya.Dalam ayat tersebut juga terdapat pula penetapan (itsbat), yaitu dalam firman Allah, و هو السميع البصير “Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.”Yaitu penetapan dua nama maupun dua sifat Allah, Pertama, nama Allah السَّمِيعُ (Yang Mahamendengar) dan nama البَصِيرُ (Yang Mahamelihat).Kedua, sifat  السَمْع (mendengar) dan sifat البَصَر  (melihat).Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah DengannyaAllah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 180,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ “Dan Allah memiliki al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan al-asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari sikap wajib terhadap nama-nama-Nya, mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”Hakikatnya dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla menyeru hamba-hamba-Nya untuk mengenal-Nya dengan mempelajari nama dan sifat-Nya, serta menyeru mereka untuk memuji-Nya dengannya, dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam nama dan sifat-Nya.Maksud “berdoa kepada Allah dengan asma’ul husna” adalah:Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah yang sesuai dengan isi doa.Kedua, berdoa dengan memuji Allah dengan menyebut nama-Nya.Ketiga, berdoa dengan beribadah kepada Allah dengan ibadah selain doa dan pujian, yaitu dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalam asma’ul husna.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Shahihul Bukhari,إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وتِسْعِينَ اسْمًا مِئَةً إلَّا واحِدًا، مَن أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang meng-ihsho’-nya, niscaya ia akan masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan:Pertama, 99 nama Allah ini dikenal dengan asma’ul husna. Namun ini bukan batasan jumlah asma’ul husna, karena dalam dalil lain menunjukkan bahwa nama Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu. Bahkan, banyak nama-nama Allah yang tidak Allah beritahukan kepada kita, dan hanya Allah yang mengetahuinya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما أصاب أحدًا قط همٌّ و لا حزنٌ ، فقال : اللهمَّ إني عبدُك ، و ابنُ عبدِك ، و ابنُ أَمَتِك ، ناصيتي بيدِك ، ماضٍ فيَّ حكمُك ، عدلٌ فيَّ قضاؤُك ، أسألُك بكلِّ اسمٍ هو لك سميتَ به نفسَك ، أو علَّمتَه أحدًا من خلقِك ، أو أنزلتَه في كتابِك ، أو استأثرتَ به في علمِ الغيبِ عندَك ، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبي ، و نورَ صدري ، و جلاءَ حزني ، و ذَهابَ همِّي ، إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan dan tidak pula kesedihan lalu mengucapkan,‘Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu pria maupun wanita, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu pastilah berlaku atas diriku, keputusan-Mu selalu adil, saya memohon dengan setiap nama-Mu yang Engkau beri nama diri-Mu dengannya, atau Engkau ajarkannya kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkannya dalam Kitab-Mu, atau Engkau khususkan diri-Mu (dalam mengetahuinya) di ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai air kehidupan bagi hatiku, cahaya kelapangan dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.’ Melainkan Allah akan hilangkan kegelisahan dan kesedihannya, serta Allah akan gantikannya dengan kegembiraan.”Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita tertuntut untuk mempelajarinya?”, lalu beliau bersabda, “Tentu! Selayaknya orang yang mendengarnya itu mempelajarinya!” (HR. Imam Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Kedua, makna “ihsho’” yang dijanjikan surga bagi pelakunya, yaitu: menghapal 99 asma’ul husna tersebut, mempelajari maknanya, dan mengamalkan tuntutannya. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin IbadahMengenal Nama Allah “Ash-Shamad”***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Fiqih Al-Asma’ul Husna, Syekh Abdur Razzaq hafizhahullahMu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syekh Khalifah At-Tamimi hafizhahullahTafsir Ibnul Qoyyim hafizhahullah (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/59/18)https://www.alukah.net/sharia/0/72089/https://www.alukah.net/sharia/0/114103/🔍 Ipar Adalah Maut, Hukum Sunat, Perintah Berpuasa, Arti Surat Al Fatiha, Merk Kuas Yang HalalTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah
Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita Sendiri 1.1. Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”? 2. Buah Makrifatullah yang Terpenting 3. Apa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya? 3.1. Penjelasan dari definisi tersebut adalah: 3.2. Contoh penerapan tauhid nama dan sifat: 4. Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan Makhluk 5. Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah Dengannya Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita SendiriAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 19,وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”Allah Ta’ala melarang kita menjadi orang-orang yang lupa kepada Allah. Dan Allah mengancam orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri!Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”?Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat yang mulia ini. Maksudnya adalah Allah menghukum orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan ia lupa akan perkara yang bermanfaat baginya, lupa akan memperbaiki aibnya, serta lupa akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Inilah hakikat “lupa akan diri sendiri”.Beda halnya dengan orang yang ingat Allah, maka Allah akan ganjar dengan menjadikannya ingat akan perkara yang bermanfaat baginya, dan ingat akan aibnya. Sehingga Allah jadikan ia sibuk memperbaiki aibnya, dan ingat akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Allah takdirkan sebab dan akibat kebaikan untuknya. Inilah hakikat “ingat terhadap diri sendiri”.Itulah beberapa alasan urgensi makrifatullah. Dan sebenarnya masih banyak alasan lainnya dari pentingnya kita mempelajari makrifatullah, seperti: agar kita dicintai Allah, agar Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya, agar doa kita terkabul, serta agar kita mudah meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Makrifatullah adalah asas perbaikan hati dan jasad.Buah Makrifatullah yang TerpentingBuah makrifatullah yang terpenting adalah mengesakan Allah (tauhidullah). Karena dari mengenal nama dan sifat Allah dapat disimpulkan bahwa Allah Mahaesa dalam kekhususan ketuhanan-Nya, maka kita wajib mengesakan-Nya.Maksud mengesakan Allah (Tauhid) adalah mengesakan-Nya dalam kekhususan ketuhanan-Nya, yaitu dalam perbuatan-Nya (Ar-Rububiyyah), hak untuk diibadahi (Al-Uluhiyyah), serta nama dan sifat-Nya (Al-Asma’ wash Shifat). Sehingga di antara bentuk mengesakan Allah adalah mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, atau yang lebih dikenal dengan Tauhidul Asma’ wash Shifat (Tauhid nama dan sifat).Baca Juga: Mengenal Allah Hanya di Bulan Ramadhan SajaApa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya?Tauhid nama dan sifat adalah, “Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan beriman terhadap nama, sifat, dan tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk.”Penjelasan dari definisi tersebut adalah:Mengesakan Allah, adalah meyakini dalam hati dan melaksanakan tuntutan ucapan maupun perbuatan bahwa Allah Mahaesa dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia.Ciri khas nama Allah adalah “Husna” (Terindah), yaitu tidak ada nama yang sama atau lebih indah dari nama-Nya karena nama-Nya mengandung sifat termulia.Ciri khas sifat Allah adalah “’Ula (A’la)” (Termulia), yaitu paling sempurna, tidak ada sifat yang lebih sempurna dari sifat-Nya karena seluruh sifat-Nya itu sempurna. Tidak ada aib sedikit pun dari sisi mana pun.Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah “Tauqifiyyah“, yaitu harus berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, baik dalam itsbat (penetapan kesempurnaan bagi Allah), maupun dalam nafi (peniadaan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah). Oleh karena itu, kita tidak boleh menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.Beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama Allah dan sifat-Nya. Yang dimaksud tuntutan di sini adalah konsekuensi hukum dan tuntutan peribadatan, serta pengaruhnya pada keimanan.Tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk. Maksudnya adalah tidak menolak penetapan nama dan sifat Allah, namun menetapkan keduanya dengan benar, yaitu tanpa menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam nama maupun sifat-Nya.Contoh penerapan tauhid nama dan sifat:Di antara nama Allah adalah السميع (Yang Mahamendengar), maka berdasarkan definisi tauhid nama dan sifat, barulah kita dikatakan mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya dengan benar, jika meyakini:Pertama, penetapan nama Allah السميع (Yang Maha Mendengar).Kedua, penetapan makna, yaitu sifat Allah yang terkandung di dalam nama-Nya, yaitu sifat السمع (Mendengar). Dan setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya.Ketiga, beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya. Allah mendengar seluruh suara yang keras maupun pelan, jauh maupun dekat, suara seorang hamba sedang beribadah maupun suaranya saat bermaksiat. Semua itu membuahkan keyakinan tentang adanya janji Allah dan ancaman-Nya.Dengan beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, maka akan muncul pengaruh berupa: 1) takut kepada Allah Ta’ala yang didasari ilmu tentang-Nya; 2) yakin diawasi oleh Allah Ta’ala; 3) malu kepada Allah Ta’ala; 4) berhati-hati dalam berucap, dengan berusaha mengucapkan ucapan yang diridai oleh Allah dan menjauhi ucapan kemaksiatan bahkan ucapan yang makruh.Baca Juga: Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?Dan dalam setiap nama Allah dan sifat-Nya pasti mengandung tuntutan peribadatan atas hamba-Nya.Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan MakhlukAllah berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini mengandung kaidah tauhidul asma` wash shifat yang agung, mencakup nafi dan itsbat, menunjukkan bahwa keimanan terhadap nama dan sifat Allah terbangun atas nafi dan itsbat.Nafi (peniadaan)Meniadakan seluruh yang ditiadakan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dari Allah, berupa aib dan kekurangsempurnaan, berarti meniadakan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah Ta’ala.Itsbat (penetapan)Menetapkan seluruh yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah bagi Allah, berupa nama yang husna dan sifat yang ‘ula.Di dalam ayat yang telah disebutkan di atas terdapat terdapat nafi (peniadaan) kesamaan Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dalam firman Allah,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya.”Oleh karena itu, tidak boleh menyamakan Allah dengan selain-Nya, baik dalam nama maupun sifat-Nya.Dalam ayat tersebut juga terdapat pula penetapan (itsbat), yaitu dalam firman Allah, و هو السميع البصير “Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.”Yaitu penetapan dua nama maupun dua sifat Allah, Pertama, nama Allah السَّمِيعُ (Yang Mahamendengar) dan nama البَصِيرُ (Yang Mahamelihat).Kedua, sifat  السَمْع (mendengar) dan sifat البَصَر  (melihat).Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah DengannyaAllah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 180,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ “Dan Allah memiliki al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan al-asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari sikap wajib terhadap nama-nama-Nya, mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”Hakikatnya dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla menyeru hamba-hamba-Nya untuk mengenal-Nya dengan mempelajari nama dan sifat-Nya, serta menyeru mereka untuk memuji-Nya dengannya, dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam nama dan sifat-Nya.Maksud “berdoa kepada Allah dengan asma’ul husna” adalah:Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah yang sesuai dengan isi doa.Kedua, berdoa dengan memuji Allah dengan menyebut nama-Nya.Ketiga, berdoa dengan beribadah kepada Allah dengan ibadah selain doa dan pujian, yaitu dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalam asma’ul husna.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Shahihul Bukhari,إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وتِسْعِينَ اسْمًا مِئَةً إلَّا واحِدًا، مَن أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang meng-ihsho’-nya, niscaya ia akan masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan:Pertama, 99 nama Allah ini dikenal dengan asma’ul husna. Namun ini bukan batasan jumlah asma’ul husna, karena dalam dalil lain menunjukkan bahwa nama Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu. Bahkan, banyak nama-nama Allah yang tidak Allah beritahukan kepada kita, dan hanya Allah yang mengetahuinya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما أصاب أحدًا قط همٌّ و لا حزنٌ ، فقال : اللهمَّ إني عبدُك ، و ابنُ عبدِك ، و ابنُ أَمَتِك ، ناصيتي بيدِك ، ماضٍ فيَّ حكمُك ، عدلٌ فيَّ قضاؤُك ، أسألُك بكلِّ اسمٍ هو لك سميتَ به نفسَك ، أو علَّمتَه أحدًا من خلقِك ، أو أنزلتَه في كتابِك ، أو استأثرتَ به في علمِ الغيبِ عندَك ، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبي ، و نورَ صدري ، و جلاءَ حزني ، و ذَهابَ همِّي ، إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan dan tidak pula kesedihan lalu mengucapkan,‘Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu pria maupun wanita, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu pastilah berlaku atas diriku, keputusan-Mu selalu adil, saya memohon dengan setiap nama-Mu yang Engkau beri nama diri-Mu dengannya, atau Engkau ajarkannya kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkannya dalam Kitab-Mu, atau Engkau khususkan diri-Mu (dalam mengetahuinya) di ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai air kehidupan bagi hatiku, cahaya kelapangan dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.’ Melainkan Allah akan hilangkan kegelisahan dan kesedihannya, serta Allah akan gantikannya dengan kegembiraan.”Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita tertuntut untuk mempelajarinya?”, lalu beliau bersabda, “Tentu! Selayaknya orang yang mendengarnya itu mempelajarinya!” (HR. Imam Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Kedua, makna “ihsho’” yang dijanjikan surga bagi pelakunya, yaitu: menghapal 99 asma’ul husna tersebut, mempelajari maknanya, dan mengamalkan tuntutannya. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin IbadahMengenal Nama Allah “Ash-Shamad”***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Fiqih Al-Asma’ul Husna, Syekh Abdur Razzaq hafizhahullahMu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syekh Khalifah At-Tamimi hafizhahullahTafsir Ibnul Qoyyim hafizhahullah (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/59/18)https://www.alukah.net/sharia/0/72089/https://www.alukah.net/sharia/0/114103/🔍 Ipar Adalah Maut, Hukum Sunat, Perintah Berpuasa, Arti Surat Al Fatiha, Merk Kuas Yang HalalTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah


Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita Sendiri 1.1. Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”? 2. Buah Makrifatullah yang Terpenting 3. Apa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya? 3.1. Penjelasan dari definisi tersebut adalah: 3.2. Contoh penerapan tauhid nama dan sifat: 4. Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan Makhluk 5. Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah Dengannya Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita SendiriAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 19,وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”Allah Ta’ala melarang kita menjadi orang-orang yang lupa kepada Allah. Dan Allah mengancam orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri!Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”?Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat yang mulia ini. Maksudnya adalah Allah menghukum orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan ia lupa akan perkara yang bermanfaat baginya, lupa akan memperbaiki aibnya, serta lupa akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Inilah hakikat “lupa akan diri sendiri”.Beda halnya dengan orang yang ingat Allah, maka Allah akan ganjar dengan menjadikannya ingat akan perkara yang bermanfaat baginya, dan ingat akan aibnya. Sehingga Allah jadikan ia sibuk memperbaiki aibnya, dan ingat akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Allah takdirkan sebab dan akibat kebaikan untuknya. Inilah hakikat “ingat terhadap diri sendiri”.Itulah beberapa alasan urgensi makrifatullah. Dan sebenarnya masih banyak alasan lainnya dari pentingnya kita mempelajari makrifatullah, seperti: agar kita dicintai Allah, agar Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya, agar doa kita terkabul, serta agar kita mudah meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Makrifatullah adalah asas perbaikan hati dan jasad.Buah Makrifatullah yang TerpentingBuah makrifatullah yang terpenting adalah mengesakan Allah (tauhidullah). Karena dari mengenal nama dan sifat Allah dapat disimpulkan bahwa Allah Mahaesa dalam kekhususan ketuhanan-Nya, maka kita wajib mengesakan-Nya.Maksud mengesakan Allah (Tauhid) adalah mengesakan-Nya dalam kekhususan ketuhanan-Nya, yaitu dalam perbuatan-Nya (Ar-Rububiyyah), hak untuk diibadahi (Al-Uluhiyyah), serta nama dan sifat-Nya (Al-Asma’ wash Shifat). Sehingga di antara bentuk mengesakan Allah adalah mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, atau yang lebih dikenal dengan Tauhidul Asma’ wash Shifat (Tauhid nama dan sifat).Baca Juga: Mengenal Allah Hanya di Bulan Ramadhan SajaApa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya?Tauhid nama dan sifat adalah, “Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan beriman terhadap nama, sifat, dan tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk.”Penjelasan dari definisi tersebut adalah:Mengesakan Allah, adalah meyakini dalam hati dan melaksanakan tuntutan ucapan maupun perbuatan bahwa Allah Mahaesa dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia.Ciri khas nama Allah adalah “Husna” (Terindah), yaitu tidak ada nama yang sama atau lebih indah dari nama-Nya karena nama-Nya mengandung sifat termulia.Ciri khas sifat Allah adalah “’Ula (A’la)” (Termulia), yaitu paling sempurna, tidak ada sifat yang lebih sempurna dari sifat-Nya karena seluruh sifat-Nya itu sempurna. Tidak ada aib sedikit pun dari sisi mana pun.Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah “Tauqifiyyah“, yaitu harus berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, baik dalam itsbat (penetapan kesempurnaan bagi Allah), maupun dalam nafi (peniadaan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah). Oleh karena itu, kita tidak boleh menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.Beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama Allah dan sifat-Nya. Yang dimaksud tuntutan di sini adalah konsekuensi hukum dan tuntutan peribadatan, serta pengaruhnya pada keimanan.Tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk. Maksudnya adalah tidak menolak penetapan nama dan sifat Allah, namun menetapkan keduanya dengan benar, yaitu tanpa menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam nama maupun sifat-Nya.Contoh penerapan tauhid nama dan sifat:Di antara nama Allah adalah السميع (Yang Mahamendengar), maka berdasarkan definisi tauhid nama dan sifat, barulah kita dikatakan mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya dengan benar, jika meyakini:Pertama, penetapan nama Allah السميع (Yang Maha Mendengar).Kedua, penetapan makna, yaitu sifat Allah yang terkandung di dalam nama-Nya, yaitu sifat السمع (Mendengar). Dan setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya.Ketiga, beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya. Allah mendengar seluruh suara yang keras maupun pelan, jauh maupun dekat, suara seorang hamba sedang beribadah maupun suaranya saat bermaksiat. Semua itu membuahkan keyakinan tentang adanya janji Allah dan ancaman-Nya.Dengan beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, maka akan muncul pengaruh berupa: 1) takut kepada Allah Ta’ala yang didasari ilmu tentang-Nya; 2) yakin diawasi oleh Allah Ta’ala; 3) malu kepada Allah Ta’ala; 4) berhati-hati dalam berucap, dengan berusaha mengucapkan ucapan yang diridai oleh Allah dan menjauhi ucapan kemaksiatan bahkan ucapan yang makruh.Baca Juga: Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?Dan dalam setiap nama Allah dan sifat-Nya pasti mengandung tuntutan peribadatan atas hamba-Nya.Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan MakhlukAllah berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini mengandung kaidah tauhidul asma` wash shifat yang agung, mencakup nafi dan itsbat, menunjukkan bahwa keimanan terhadap nama dan sifat Allah terbangun atas nafi dan itsbat.Nafi (peniadaan)Meniadakan seluruh yang ditiadakan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dari Allah, berupa aib dan kekurangsempurnaan, berarti meniadakan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah Ta’ala.Itsbat (penetapan)Menetapkan seluruh yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah bagi Allah, berupa nama yang husna dan sifat yang ‘ula.Di dalam ayat yang telah disebutkan di atas terdapat terdapat nafi (peniadaan) kesamaan Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dalam firman Allah,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya.”Oleh karena itu, tidak boleh menyamakan Allah dengan selain-Nya, baik dalam nama maupun sifat-Nya.Dalam ayat tersebut juga terdapat pula penetapan (itsbat), yaitu dalam firman Allah, و هو السميع البصير “Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.”Yaitu penetapan dua nama maupun dua sifat Allah, Pertama, nama Allah السَّمِيعُ (Yang Mahamendengar) dan nama البَصِيرُ (Yang Mahamelihat).Kedua, sifat  السَمْع (mendengar) dan sifat البَصَر  (melihat).Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah DengannyaAllah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 180,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ “Dan Allah memiliki al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan al-asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari sikap wajib terhadap nama-nama-Nya, mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”Hakikatnya dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla menyeru hamba-hamba-Nya untuk mengenal-Nya dengan mempelajari nama dan sifat-Nya, serta menyeru mereka untuk memuji-Nya dengannya, dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam nama dan sifat-Nya.Maksud “berdoa kepada Allah dengan asma’ul husna” adalah:Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah yang sesuai dengan isi doa.Kedua, berdoa dengan memuji Allah dengan menyebut nama-Nya.Ketiga, berdoa dengan beribadah kepada Allah dengan ibadah selain doa dan pujian, yaitu dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalam asma’ul husna.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Shahihul Bukhari,إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وتِسْعِينَ اسْمًا مِئَةً إلَّا واحِدًا، مَن أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang meng-ihsho’-nya, niscaya ia akan masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan:Pertama, 99 nama Allah ini dikenal dengan asma’ul husna. Namun ini bukan batasan jumlah asma’ul husna, karena dalam dalil lain menunjukkan bahwa nama Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu. Bahkan, banyak nama-nama Allah yang tidak Allah beritahukan kepada kita, dan hanya Allah yang mengetahuinya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما أصاب أحدًا قط همٌّ و لا حزنٌ ، فقال : اللهمَّ إني عبدُك ، و ابنُ عبدِك ، و ابنُ أَمَتِك ، ناصيتي بيدِك ، ماضٍ فيَّ حكمُك ، عدلٌ فيَّ قضاؤُك ، أسألُك بكلِّ اسمٍ هو لك سميتَ به نفسَك ، أو علَّمتَه أحدًا من خلقِك ، أو أنزلتَه في كتابِك ، أو استأثرتَ به في علمِ الغيبِ عندَك ، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبي ، و نورَ صدري ، و جلاءَ حزني ، و ذَهابَ همِّي ، إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan dan tidak pula kesedihan lalu mengucapkan,‘Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu pria maupun wanita, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu pastilah berlaku atas diriku, keputusan-Mu selalu adil, saya memohon dengan setiap nama-Mu yang Engkau beri nama diri-Mu dengannya, atau Engkau ajarkannya kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkannya dalam Kitab-Mu, atau Engkau khususkan diri-Mu (dalam mengetahuinya) di ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai air kehidupan bagi hatiku, cahaya kelapangan dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.’ Melainkan Allah akan hilangkan kegelisahan dan kesedihannya, serta Allah akan gantikannya dengan kegembiraan.”Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita tertuntut untuk mempelajarinya?”, lalu beliau bersabda, “Tentu! Selayaknya orang yang mendengarnya itu mempelajarinya!” (HR. Imam Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Kedua, makna “ihsho’” yang dijanjikan surga bagi pelakunya, yaitu: menghapal 99 asma’ul husna tersebut, mempelajari maknanya, dan mengamalkan tuntutannya. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin IbadahMengenal Nama Allah “Ash-Shamad”***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Fiqih Al-Asma’ul Husna, Syekh Abdur Razzaq hafizhahullahMu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syekh Khalifah At-Tamimi hafizhahullahTafsir Ibnul Qoyyim hafizhahullah (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/59/18)https://www.alukah.net/sharia/0/72089/https://www.alukah.net/sharia/0/114103/🔍 Ipar Adalah Maut, Hukum Sunat, Perintah Berpuasa, Arti Surat Al Fatiha, Merk Kuas Yang HalalTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al Ikhlash

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin RahimahullahPertanyaan:Mengapa surah “qul huwallāhu ahad” dinamakan dengan surah Al-Ikhlas? Apa sisi pendalilannya? Mengapa surah ini dikatakan mencakup tiga jenis tauhid? Saya mohon penjelasan akan hal tersebut.Jawaban:Surah Al-Ikhlas adalah firman Allah Ta’ala,﴿قلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَد ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ُ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ﴾“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).Dinamakan surah Al-Ikhlas karena dua hal, yaitu:Pertama, Allah Ta’ala menjadikan surah tersebut murni untuk diri-Nya. Tidak ada di dalamnya perkataan kecuali tentang Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.Kedua, untuk seseorang yang membaca surah ini akan memurnikan akidahnya dari kesyirikan, jika dia membacanya dengan meyakini apa yang ditunjukkan surah tersebut.Adapun sisi pendalilan nama tersebut mencakup tiga bentuk tauhid, yaitu:Pertama, tauhid rububiyah;Kedua, tauhid uluhiyah; danKetiga, tauhid al-asmaa’ was shifaat.Dalil yang berhubungan dengan tauhid uluhiyah adalah ayat,(قل هو الله)“Katakanlah Dialah Allah” (QS. Al-Ikhlas: 1).Allah Ta’ala satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Inilah pendalilan tauhid uluhiyyah.Sedangkan dalil yang berhubungan dengan tauhid rububiyyah dan tauhid al-asmaa’ was shifat ada dalam firman-Nya,(الله الصمد)“Allah-lah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)” (QS. Al-Ikhlas: 2).Firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang Mahasempurna dalam sifat-sifat-Nya dan semua ciptaan-Nya bergantung kepada Allah Ta’ala. Kesempurnaan sifat-sifat Allah Ta’ala berkaitan dengan tauhid al-asma’ was shifat. Kebutuhan dan kebergantungan semua makhluk kepada-Nya merupakan dalil bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan manusia. Tujuannya untuk menghindarkan seorang hamba dari segala kesusahan dan hal-hal yang dibenci, serta tercapainya keinginan-keinginan dan segala kebutuhan.Pada firman-Nya,(أحد) “… Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1).memiliki kandungan tiga perkara tauhid. Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang memiliki sifat-sifat seperti disebutkan di atas, yaitu secara uluhiyah (pengesaaan Allah dalam beribadah) dan kebergantungan para makhluk kepada-Nya. Allah Ta’ala melanjutkan surah tersebut dengan firman-Nya,(لم يلد ولم يولد)“Tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 3).Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya Isa Al-Masih adalah anak Allah.” Ayat ini juga membantah kaum Yahudi yang mengatakan, “‘Uzair adalah anak Allah.” Dan juga membantah kaum musyrikin yang mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.” Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,(لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد)“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 3-4)Allah Ta’ala berfirman,(ولم يكن له كفواً أحد)“Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4).Ayat ini bertujuan untuk menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada satu pun yang setara dengan Allah Ta’ala dan tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Menggabungkan Pendapat Para Ahli TafsirTafsir Surat Ad Dukhan Ayat 10-15: Munculnya Dukhan Di Akhir Zaman***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.id Referensi:https://binothaimeen.net/content/7980🔍 Nadzor, Tuma Ninah Dalam Sholat, Hikmah Shalat Subuh Berjamaah, Apa Yang Dimaksud Dalil Naqli, Ramadhan PsdTags: alquranAqidahaqidah islamfaidah Surat Al Ikhlashkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamSurat Al IkhlashTafsirtafsir alqurantafsir Surat Al IkhlashTauhid

Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al Ikhlash

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin RahimahullahPertanyaan:Mengapa surah “qul huwallāhu ahad” dinamakan dengan surah Al-Ikhlas? Apa sisi pendalilannya? Mengapa surah ini dikatakan mencakup tiga jenis tauhid? Saya mohon penjelasan akan hal tersebut.Jawaban:Surah Al-Ikhlas adalah firman Allah Ta’ala,﴿قلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَد ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ُ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ﴾“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).Dinamakan surah Al-Ikhlas karena dua hal, yaitu:Pertama, Allah Ta’ala menjadikan surah tersebut murni untuk diri-Nya. Tidak ada di dalamnya perkataan kecuali tentang Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.Kedua, untuk seseorang yang membaca surah ini akan memurnikan akidahnya dari kesyirikan, jika dia membacanya dengan meyakini apa yang ditunjukkan surah tersebut.Adapun sisi pendalilan nama tersebut mencakup tiga bentuk tauhid, yaitu:Pertama, tauhid rububiyah;Kedua, tauhid uluhiyah; danKetiga, tauhid al-asmaa’ was shifaat.Dalil yang berhubungan dengan tauhid uluhiyah adalah ayat,(قل هو الله)“Katakanlah Dialah Allah” (QS. Al-Ikhlas: 1).Allah Ta’ala satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Inilah pendalilan tauhid uluhiyyah.Sedangkan dalil yang berhubungan dengan tauhid rububiyyah dan tauhid al-asmaa’ was shifat ada dalam firman-Nya,(الله الصمد)“Allah-lah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)” (QS. Al-Ikhlas: 2).Firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang Mahasempurna dalam sifat-sifat-Nya dan semua ciptaan-Nya bergantung kepada Allah Ta’ala. Kesempurnaan sifat-sifat Allah Ta’ala berkaitan dengan tauhid al-asma’ was shifat. Kebutuhan dan kebergantungan semua makhluk kepada-Nya merupakan dalil bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan manusia. Tujuannya untuk menghindarkan seorang hamba dari segala kesusahan dan hal-hal yang dibenci, serta tercapainya keinginan-keinginan dan segala kebutuhan.Pada firman-Nya,(أحد) “… Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1).memiliki kandungan tiga perkara tauhid. Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang memiliki sifat-sifat seperti disebutkan di atas, yaitu secara uluhiyah (pengesaaan Allah dalam beribadah) dan kebergantungan para makhluk kepada-Nya. Allah Ta’ala melanjutkan surah tersebut dengan firman-Nya,(لم يلد ولم يولد)“Tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 3).Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya Isa Al-Masih adalah anak Allah.” Ayat ini juga membantah kaum Yahudi yang mengatakan, “‘Uzair adalah anak Allah.” Dan juga membantah kaum musyrikin yang mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.” Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,(لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد)“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 3-4)Allah Ta’ala berfirman,(ولم يكن له كفواً أحد)“Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4).Ayat ini bertujuan untuk menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada satu pun yang setara dengan Allah Ta’ala dan tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Menggabungkan Pendapat Para Ahli TafsirTafsir Surat Ad Dukhan Ayat 10-15: Munculnya Dukhan Di Akhir Zaman***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.id Referensi:https://binothaimeen.net/content/7980🔍 Nadzor, Tuma Ninah Dalam Sholat, Hikmah Shalat Subuh Berjamaah, Apa Yang Dimaksud Dalil Naqli, Ramadhan PsdTags: alquranAqidahaqidah islamfaidah Surat Al Ikhlashkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamSurat Al IkhlashTafsirtafsir alqurantafsir Surat Al IkhlashTauhid
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin RahimahullahPertanyaan:Mengapa surah “qul huwallāhu ahad” dinamakan dengan surah Al-Ikhlas? Apa sisi pendalilannya? Mengapa surah ini dikatakan mencakup tiga jenis tauhid? Saya mohon penjelasan akan hal tersebut.Jawaban:Surah Al-Ikhlas adalah firman Allah Ta’ala,﴿قلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَد ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ُ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ﴾“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).Dinamakan surah Al-Ikhlas karena dua hal, yaitu:Pertama, Allah Ta’ala menjadikan surah tersebut murni untuk diri-Nya. Tidak ada di dalamnya perkataan kecuali tentang Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.Kedua, untuk seseorang yang membaca surah ini akan memurnikan akidahnya dari kesyirikan, jika dia membacanya dengan meyakini apa yang ditunjukkan surah tersebut.Adapun sisi pendalilan nama tersebut mencakup tiga bentuk tauhid, yaitu:Pertama, tauhid rububiyah;Kedua, tauhid uluhiyah; danKetiga, tauhid al-asmaa’ was shifaat.Dalil yang berhubungan dengan tauhid uluhiyah adalah ayat,(قل هو الله)“Katakanlah Dialah Allah” (QS. Al-Ikhlas: 1).Allah Ta’ala satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Inilah pendalilan tauhid uluhiyyah.Sedangkan dalil yang berhubungan dengan tauhid rububiyyah dan tauhid al-asmaa’ was shifat ada dalam firman-Nya,(الله الصمد)“Allah-lah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)” (QS. Al-Ikhlas: 2).Firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang Mahasempurna dalam sifat-sifat-Nya dan semua ciptaan-Nya bergantung kepada Allah Ta’ala. Kesempurnaan sifat-sifat Allah Ta’ala berkaitan dengan tauhid al-asma’ was shifat. Kebutuhan dan kebergantungan semua makhluk kepada-Nya merupakan dalil bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan manusia. Tujuannya untuk menghindarkan seorang hamba dari segala kesusahan dan hal-hal yang dibenci, serta tercapainya keinginan-keinginan dan segala kebutuhan.Pada firman-Nya,(أحد) “… Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1).memiliki kandungan tiga perkara tauhid. Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang memiliki sifat-sifat seperti disebutkan di atas, yaitu secara uluhiyah (pengesaaan Allah dalam beribadah) dan kebergantungan para makhluk kepada-Nya. Allah Ta’ala melanjutkan surah tersebut dengan firman-Nya,(لم يلد ولم يولد)“Tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 3).Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya Isa Al-Masih adalah anak Allah.” Ayat ini juga membantah kaum Yahudi yang mengatakan, “‘Uzair adalah anak Allah.” Dan juga membantah kaum musyrikin yang mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.” Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,(لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد)“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 3-4)Allah Ta’ala berfirman,(ولم يكن له كفواً أحد)“Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4).Ayat ini bertujuan untuk menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada satu pun yang setara dengan Allah Ta’ala dan tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Menggabungkan Pendapat Para Ahli TafsirTafsir Surat Ad Dukhan Ayat 10-15: Munculnya Dukhan Di Akhir Zaman***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.id Referensi:https://binothaimeen.net/content/7980🔍 Nadzor, Tuma Ninah Dalam Sholat, Hikmah Shalat Subuh Berjamaah, Apa Yang Dimaksud Dalil Naqli, Ramadhan PsdTags: alquranAqidahaqidah islamfaidah Surat Al Ikhlashkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamSurat Al IkhlashTafsirtafsir alqurantafsir Surat Al IkhlashTauhid


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin RahimahullahPertanyaan:Mengapa surah “qul huwallāhu ahad” dinamakan dengan surah Al-Ikhlas? Apa sisi pendalilannya? Mengapa surah ini dikatakan mencakup tiga jenis tauhid? Saya mohon penjelasan akan hal tersebut.Jawaban:Surah Al-Ikhlas adalah firman Allah Ta’ala,﴿قلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَد ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ُ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ﴾“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).Dinamakan surah Al-Ikhlas karena dua hal, yaitu:Pertama, Allah Ta’ala menjadikan surah tersebut murni untuk diri-Nya. Tidak ada di dalamnya perkataan kecuali tentang Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.Kedua, untuk seseorang yang membaca surah ini akan memurnikan akidahnya dari kesyirikan, jika dia membacanya dengan meyakini apa yang ditunjukkan surah tersebut.Adapun sisi pendalilan nama tersebut mencakup tiga bentuk tauhid, yaitu:Pertama, tauhid rububiyah;Kedua, tauhid uluhiyah; danKetiga, tauhid al-asmaa’ was shifaat.Dalil yang berhubungan dengan tauhid uluhiyah adalah ayat,(قل هو الله)“Katakanlah Dialah Allah” (QS. Al-Ikhlas: 1).Allah Ta’ala satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Inilah pendalilan tauhid uluhiyyah.Sedangkan dalil yang berhubungan dengan tauhid rububiyyah dan tauhid al-asmaa’ was shifat ada dalam firman-Nya,(الله الصمد)“Allah-lah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)” (QS. Al-Ikhlas: 2).Firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang Mahasempurna dalam sifat-sifat-Nya dan semua ciptaan-Nya bergantung kepada Allah Ta’ala. Kesempurnaan sifat-sifat Allah Ta’ala berkaitan dengan tauhid al-asma’ was shifat. Kebutuhan dan kebergantungan semua makhluk kepada-Nya merupakan dalil bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan manusia. Tujuannya untuk menghindarkan seorang hamba dari segala kesusahan dan hal-hal yang dibenci, serta tercapainya keinginan-keinginan dan segala kebutuhan.Pada firman-Nya,(أحد) “… Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1).memiliki kandungan tiga perkara tauhid. Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang memiliki sifat-sifat seperti disebutkan di atas, yaitu secara uluhiyah (pengesaaan Allah dalam beribadah) dan kebergantungan para makhluk kepada-Nya. Allah Ta’ala melanjutkan surah tersebut dengan firman-Nya,(لم يلد ولم يولد)“Tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 3).Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya Isa Al-Masih adalah anak Allah.” Ayat ini juga membantah kaum Yahudi yang mengatakan, “‘Uzair adalah anak Allah.” Dan juga membantah kaum musyrikin yang mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.” Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,(لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد)“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 3-4)Allah Ta’ala berfirman,(ولم يكن له كفواً أحد)“Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4).Ayat ini bertujuan untuk menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada satu pun yang setara dengan Allah Ta’ala dan tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Menggabungkan Pendapat Para Ahli TafsirTafsir Surat Ad Dukhan Ayat 10-15: Munculnya Dukhan Di Akhir Zaman***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.id Referensi:https://binothaimeen.net/content/7980🔍 Nadzor, Tuma Ninah Dalam Sholat, Hikmah Shalat Subuh Berjamaah, Apa Yang Dimaksud Dalil Naqli, Ramadhan PsdTags: alquranAqidahaqidah islamfaidah Surat Al Ikhlashkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamSurat Al IkhlashTafsirtafsir alqurantafsir Surat Al IkhlashTauhid

Fatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Iman, tauhid, dan akidah adalah nama-nama dan istilah-istilah yang tersendiri. Apakah masing-masing berbeda  maknanya?Jawaban:Iya, ketiganya berbeda tetapi kembali pada satu hal. At-tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Al-imān adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala yang berhak untuk diibadahi semata dan meyakini semua yang difirmankan-Nya. Iman memiliki makna lebih luas dibanding makna tauhid. Tauhid merupakan mashdar dari wahhada – yuwahhidu, yang maknanya mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan mengkhususkan-Nya dengannya. Tauhid maknanya meyakini bahwa Allah Ta’ala semata yang berhak disembah. Allah adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta), Ar-Rāziq (Maha Pemberi Rizqi), yang Mahasempurna dalam segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah Ta’ala adalah Maha Pengatur, yang mengatur segala urusan hambanya. Allah Ta’ala semata adalah yang berhak diibadahi.Tauhid artinya mengesakan Allah dalam ibadah dan menafikan semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Iman memiliki makna lebih luas daripada tauhid. Iman di dalamnya mencakup makna tauhid. Iman bentuknya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Makna iman mencakup juga menerima dan membenarkan semua yang disampaikan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.Akidah memiliki makna yang mencakup dua perkara. Makna akidah mencakup makna tauhid dan makna iman. Makna iman yang tercakup dalam makna akidah antara lain: iman kepada Allah, iman kepada kabar yang datang dari Allah, iman kepada kabar dari Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan iman kepada asma wa shifat-Nya.Akidah adalah sesuatu yang diyakini seorang manusia dengan hatinya. Dia beragama dengan akidah tersebut dan menyembah Allah Ta’ala dengan akidah tersebut. Makna akidah mencakup semua yang diyakini terkait perkara tauhid. Akidah juga mengimani bahwa Allah Ta’ala adalah Al-Khāliq, Ar-Rāziq, dan pemilik al-asmaa’ al-husnaa (nama-nama yang indah) dan ash-shifaat al-’ulaa (sifat-sifat yang tinggi). Selain itu, akidah mencakup mengimani bahwa suatu ibadah tidak sah jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Makna akidah juga mencakup beriman kepada perintah Allah Ta’ala berupa pengharaman, penghalalan, dan syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, akidah memiliki makna lebih luas dibandingkan iman dan tauhid [1]. Baca Juga: Faktor Eksternal Perusak ImanFatwa Syekh Utsaimin Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah makna iman sama dengan tauhid?Jawaban:Tauhid adalah mengesakan Allah ‘Azza Wa Jalla dalam hal yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala dan hal yang wajib untuk-Nya. Sedangkan iman adalah membenarkan dengan disertai al-qabuul (menerima dengan lapang dada) dan al-idz’aan (taat).Keduanya memiliki keumuman dan kekhususan. Setiap orang yang bertauhid adalah orang yang beriman (mukmin) dan setiap mukmin secara umum adalah orang yang bertauhid. Akan tetapi, terkadang makna tauhid lebih khusus dari makna iman, dan terkadang makna iman lebih khusus dari makna tauhid. Wallahu a’lam [2].***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.idBaca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahBagaimana Seharusnya Toleransi Beragama antar Negara Islam? Referensi:[1] Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibn Baaz (6/ 277) (https://binbaz.org.sa/fatwas/1656/اختلاف-مدلولات-الايمان-والتوحيد-والعقيدة).[2] Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-il Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Jilid Pertama, Bab At-Tauhid (http://iswy.co/e3jnq).🔍 Doa Iftitah Sesuai Sunnah, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Shaum Syawal, Buku Agama Islam Pdf, Sejarah Nabi ZulkarnainTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamaimanislamnasihatnasihat islamrukun imanTauhid

Fatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Iman, tauhid, dan akidah adalah nama-nama dan istilah-istilah yang tersendiri. Apakah masing-masing berbeda  maknanya?Jawaban:Iya, ketiganya berbeda tetapi kembali pada satu hal. At-tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Al-imān adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala yang berhak untuk diibadahi semata dan meyakini semua yang difirmankan-Nya. Iman memiliki makna lebih luas dibanding makna tauhid. Tauhid merupakan mashdar dari wahhada – yuwahhidu, yang maknanya mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan mengkhususkan-Nya dengannya. Tauhid maknanya meyakini bahwa Allah Ta’ala semata yang berhak disembah. Allah adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta), Ar-Rāziq (Maha Pemberi Rizqi), yang Mahasempurna dalam segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah Ta’ala adalah Maha Pengatur, yang mengatur segala urusan hambanya. Allah Ta’ala semata adalah yang berhak diibadahi.Tauhid artinya mengesakan Allah dalam ibadah dan menafikan semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Iman memiliki makna lebih luas daripada tauhid. Iman di dalamnya mencakup makna tauhid. Iman bentuknya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Makna iman mencakup juga menerima dan membenarkan semua yang disampaikan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.Akidah memiliki makna yang mencakup dua perkara. Makna akidah mencakup makna tauhid dan makna iman. Makna iman yang tercakup dalam makna akidah antara lain: iman kepada Allah, iman kepada kabar yang datang dari Allah, iman kepada kabar dari Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan iman kepada asma wa shifat-Nya.Akidah adalah sesuatu yang diyakini seorang manusia dengan hatinya. Dia beragama dengan akidah tersebut dan menyembah Allah Ta’ala dengan akidah tersebut. Makna akidah mencakup semua yang diyakini terkait perkara tauhid. Akidah juga mengimani bahwa Allah Ta’ala adalah Al-Khāliq, Ar-Rāziq, dan pemilik al-asmaa’ al-husnaa (nama-nama yang indah) dan ash-shifaat al-’ulaa (sifat-sifat yang tinggi). Selain itu, akidah mencakup mengimani bahwa suatu ibadah tidak sah jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Makna akidah juga mencakup beriman kepada perintah Allah Ta’ala berupa pengharaman, penghalalan, dan syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, akidah memiliki makna lebih luas dibandingkan iman dan tauhid [1]. Baca Juga: Faktor Eksternal Perusak ImanFatwa Syekh Utsaimin Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah makna iman sama dengan tauhid?Jawaban:Tauhid adalah mengesakan Allah ‘Azza Wa Jalla dalam hal yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala dan hal yang wajib untuk-Nya. Sedangkan iman adalah membenarkan dengan disertai al-qabuul (menerima dengan lapang dada) dan al-idz’aan (taat).Keduanya memiliki keumuman dan kekhususan. Setiap orang yang bertauhid adalah orang yang beriman (mukmin) dan setiap mukmin secara umum adalah orang yang bertauhid. Akan tetapi, terkadang makna tauhid lebih khusus dari makna iman, dan terkadang makna iman lebih khusus dari makna tauhid. Wallahu a’lam [2].***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.idBaca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahBagaimana Seharusnya Toleransi Beragama antar Negara Islam? Referensi:[1] Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibn Baaz (6/ 277) (https://binbaz.org.sa/fatwas/1656/اختلاف-مدلولات-الايمان-والتوحيد-والعقيدة).[2] Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-il Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Jilid Pertama, Bab At-Tauhid (http://iswy.co/e3jnq).🔍 Doa Iftitah Sesuai Sunnah, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Shaum Syawal, Buku Agama Islam Pdf, Sejarah Nabi ZulkarnainTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamaimanislamnasihatnasihat islamrukun imanTauhid
Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Iman, tauhid, dan akidah adalah nama-nama dan istilah-istilah yang tersendiri. Apakah masing-masing berbeda  maknanya?Jawaban:Iya, ketiganya berbeda tetapi kembali pada satu hal. At-tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Al-imān adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala yang berhak untuk diibadahi semata dan meyakini semua yang difirmankan-Nya. Iman memiliki makna lebih luas dibanding makna tauhid. Tauhid merupakan mashdar dari wahhada – yuwahhidu, yang maknanya mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan mengkhususkan-Nya dengannya. Tauhid maknanya meyakini bahwa Allah Ta’ala semata yang berhak disembah. Allah adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta), Ar-Rāziq (Maha Pemberi Rizqi), yang Mahasempurna dalam segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah Ta’ala adalah Maha Pengatur, yang mengatur segala urusan hambanya. Allah Ta’ala semata adalah yang berhak diibadahi.Tauhid artinya mengesakan Allah dalam ibadah dan menafikan semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Iman memiliki makna lebih luas daripada tauhid. Iman di dalamnya mencakup makna tauhid. Iman bentuknya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Makna iman mencakup juga menerima dan membenarkan semua yang disampaikan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.Akidah memiliki makna yang mencakup dua perkara. Makna akidah mencakup makna tauhid dan makna iman. Makna iman yang tercakup dalam makna akidah antara lain: iman kepada Allah, iman kepada kabar yang datang dari Allah, iman kepada kabar dari Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan iman kepada asma wa shifat-Nya.Akidah adalah sesuatu yang diyakini seorang manusia dengan hatinya. Dia beragama dengan akidah tersebut dan menyembah Allah Ta’ala dengan akidah tersebut. Makna akidah mencakup semua yang diyakini terkait perkara tauhid. Akidah juga mengimani bahwa Allah Ta’ala adalah Al-Khāliq, Ar-Rāziq, dan pemilik al-asmaa’ al-husnaa (nama-nama yang indah) dan ash-shifaat al-’ulaa (sifat-sifat yang tinggi). Selain itu, akidah mencakup mengimani bahwa suatu ibadah tidak sah jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Makna akidah juga mencakup beriman kepada perintah Allah Ta’ala berupa pengharaman, penghalalan, dan syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, akidah memiliki makna lebih luas dibandingkan iman dan tauhid [1]. Baca Juga: Faktor Eksternal Perusak ImanFatwa Syekh Utsaimin Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah makna iman sama dengan tauhid?Jawaban:Tauhid adalah mengesakan Allah ‘Azza Wa Jalla dalam hal yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala dan hal yang wajib untuk-Nya. Sedangkan iman adalah membenarkan dengan disertai al-qabuul (menerima dengan lapang dada) dan al-idz’aan (taat).Keduanya memiliki keumuman dan kekhususan. Setiap orang yang bertauhid adalah orang yang beriman (mukmin) dan setiap mukmin secara umum adalah orang yang bertauhid. Akan tetapi, terkadang makna tauhid lebih khusus dari makna iman, dan terkadang makna iman lebih khusus dari makna tauhid. Wallahu a’lam [2].***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.idBaca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahBagaimana Seharusnya Toleransi Beragama antar Negara Islam? Referensi:[1] Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibn Baaz (6/ 277) (https://binbaz.org.sa/fatwas/1656/اختلاف-مدلولات-الايمان-والتوحيد-والعقيدة).[2] Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-il Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Jilid Pertama, Bab At-Tauhid (http://iswy.co/e3jnq).🔍 Doa Iftitah Sesuai Sunnah, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Shaum Syawal, Buku Agama Islam Pdf, Sejarah Nabi ZulkarnainTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamaimanislamnasihatnasihat islamrukun imanTauhid


Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Iman, tauhid, dan akidah adalah nama-nama dan istilah-istilah yang tersendiri. Apakah masing-masing berbeda  maknanya?Jawaban:Iya, ketiganya berbeda tetapi kembali pada satu hal. At-tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Al-imān adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala yang berhak untuk diibadahi semata dan meyakini semua yang difirmankan-Nya. Iman memiliki makna lebih luas dibanding makna tauhid. Tauhid merupakan mashdar dari wahhada – yuwahhidu, yang maknanya mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan mengkhususkan-Nya dengannya. Tauhid maknanya meyakini bahwa Allah Ta’ala semata yang berhak disembah. Allah adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta), Ar-Rāziq (Maha Pemberi Rizqi), yang Mahasempurna dalam segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah Ta’ala adalah Maha Pengatur, yang mengatur segala urusan hambanya. Allah Ta’ala semata adalah yang berhak diibadahi.Tauhid artinya mengesakan Allah dalam ibadah dan menafikan semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Iman memiliki makna lebih luas daripada tauhid. Iman di dalamnya mencakup makna tauhid. Iman bentuknya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Makna iman mencakup juga menerima dan membenarkan semua yang disampaikan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.Akidah memiliki makna yang mencakup dua perkara. Makna akidah mencakup makna tauhid dan makna iman. Makna iman yang tercakup dalam makna akidah antara lain: iman kepada Allah, iman kepada kabar yang datang dari Allah, iman kepada kabar dari Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan iman kepada asma wa shifat-Nya.Akidah adalah sesuatu yang diyakini seorang manusia dengan hatinya. Dia beragama dengan akidah tersebut dan menyembah Allah Ta’ala dengan akidah tersebut. Makna akidah mencakup semua yang diyakini terkait perkara tauhid. Akidah juga mengimani bahwa Allah Ta’ala adalah Al-Khāliq, Ar-Rāziq, dan pemilik al-asmaa’ al-husnaa (nama-nama yang indah) dan ash-shifaat al-’ulaa (sifat-sifat yang tinggi). Selain itu, akidah mencakup mengimani bahwa suatu ibadah tidak sah jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Makna akidah juga mencakup beriman kepada perintah Allah Ta’ala berupa pengharaman, penghalalan, dan syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, akidah memiliki makna lebih luas dibandingkan iman dan tauhid [1]. Baca Juga: Faktor Eksternal Perusak ImanFatwa Syekh Utsaimin Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah makna iman sama dengan tauhid?Jawaban:Tauhid adalah mengesakan Allah ‘Azza Wa Jalla dalam hal yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala dan hal yang wajib untuk-Nya. Sedangkan iman adalah membenarkan dengan disertai al-qabuul (menerima dengan lapang dada) dan al-idz’aan (taat).Keduanya memiliki keumuman dan kekhususan. Setiap orang yang bertauhid adalah orang yang beriman (mukmin) dan setiap mukmin secara umum adalah orang yang bertauhid. Akan tetapi, terkadang makna tauhid lebih khusus dari makna iman, dan terkadang makna iman lebih khusus dari makna tauhid. Wallahu a’lam [2].***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.idBaca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahBagaimana Seharusnya Toleransi Beragama antar Negara Islam? Referensi:[1] Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibn Baaz (6/ 277) (https://binbaz.org.sa/fatwas/1656/اختلاف-مدلولات-الايمان-والتوحيد-والعقيدة).[2] Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-il Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Jilid Pertama, Bab At-Tauhid (http://iswy.co/e3jnq).🔍 Doa Iftitah Sesuai Sunnah, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Shaum Syawal, Buku Agama Islam Pdf, Sejarah Nabi ZulkarnainTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamaimanislamnasihatnasihat islamrukun imanTauhid

Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dua Tujuan Penciptaan Manusia 2. Definisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-Macamnya Dua Tujuan Penciptaan Manusia Pertama, makrifatullah (mengenal Allah), yaitu agar kita mengenal siapa Rabb kita, dapat melalui mempelajari nama, sifat, dan perbuatan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ”Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS.Ath-Thalaaq: 12)Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, serta apa yang terdapat pada keduanya dan apa yang ada di antara keduanya. Allah Ta’ala pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah yang kauni qodari, yaitu takdir-Nya yang dengan itu Allah Ta’ala mengatur hamba-hamba-Nya.Sungguh semua itu tujuannya adalah agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Inilah salah satu tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu makrifatullah (mengenal Allah Ta’ala melalui mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya).Kedua, ‘ibadatullah semata (tauhid), yaitu agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja).” (QS. Az-Zariyat: 56)Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah Ta’ala dalam peribadatan yang kemudian dikenal dengan istilah tauhidul uluhiyyah.Kesimpulan:Dari kedua ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hidup kita di muka bumi ini untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah serta taat kepada-Nya semata, dengan jenis peribadatan yang terbangun atas makrifatullah. Tidak masuk akal sehat orang menyembah Allah semata, namun tidak mau mengenal siapa Allah dengan baik.Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDefinisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-MacamnyaDefinisi makrifatullah adalah mengenal Allah Ta’ala dengan cara mengenal nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.Terdapat dua macam makrifatullah, yaitu:Pertama, makrifatullah global, yaitu mengenal Allah Ta’ala yang merupakan dasar iman sehingga menyebabkan selamat dari kekufuran akbar dan kesyirikan akbar, serta terjaga kesahan keimanan. Makrifatullah jenis ini diketahui oleh kaum muslimin secara umum. Tidak hanya diketahui oleh ulama dan muslim yang taat saja, bahkan muslim yang awam dan pelaku maksiat pun tahu.Contoh makrifatullah global diantaranya mengenal bahwa Allah Ta’ala itu Esa, tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Wajib beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak boleh beribadah kepada selain-Nya. Mengenal bahwa tauhid itu wajib dan syirik itu haram sebagaimana dalam surah Al-Ikhlas.Kedua, makrifatullah terperinci, yaitu mempelajari nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala secara rinci berdasarkan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadis disertai penjelasannya sehingga terbangun keyakinan tentang Allah Ta’ala atas dasar dalil dan membuahkan cinta dan iman kepada Allah yang semakin meningkat.Makrifatullah jenis ini biasanya hanya dipelajari oleh orang-orang yang benar-benar dan bersungguh-sunguh dalam mencintai Allah Ta’ala. Mereka membuktikan bahwa dengan berusaha mengenal Allah Ta’ala dengan terperinci. Bukan hanya mempelajari tiap nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala beserta dengan dalilnya, tetapi juga mempelajari penjelasan ulama tentang dalil-dalil sehingga ia mendapatkan kaidah ilmiah maupun faedah keimanan yang menambah rasa takut, harap, dan cintanya kepada Allah Ta’ala. Semua ini membuahkan ketakwaan yang meningkat sehingga bertambah baik keyakinannya, ucapannya, perbuatannya baik zahir maupun batin. Begitu pula bertambah baik akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya. Mudah untuk husnuzan kepada Allah Ta’ala. Bertambah kuat kepercayaannya kepada Allah. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hatinya tawakal hanya kepada Allah. Merasakan kelezatan iman dan kemanisan ibadah kepada Allah semata. Mengagungkan Allah dan syariat-Nya. Serta rindu berjumpa dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Tauhid, Pelajaran Al Qur An, Sunnah Qurban, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Agar Ikhlas Melepaskan SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dua Tujuan Penciptaan Manusia 2. Definisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-Macamnya Dua Tujuan Penciptaan Manusia Pertama, makrifatullah (mengenal Allah), yaitu agar kita mengenal siapa Rabb kita, dapat melalui mempelajari nama, sifat, dan perbuatan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ”Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS.Ath-Thalaaq: 12)Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, serta apa yang terdapat pada keduanya dan apa yang ada di antara keduanya. Allah Ta’ala pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah yang kauni qodari, yaitu takdir-Nya yang dengan itu Allah Ta’ala mengatur hamba-hamba-Nya.Sungguh semua itu tujuannya adalah agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Inilah salah satu tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu makrifatullah (mengenal Allah Ta’ala melalui mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya).Kedua, ‘ibadatullah semata (tauhid), yaitu agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja).” (QS. Az-Zariyat: 56)Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah Ta’ala dalam peribadatan yang kemudian dikenal dengan istilah tauhidul uluhiyyah.Kesimpulan:Dari kedua ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hidup kita di muka bumi ini untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah serta taat kepada-Nya semata, dengan jenis peribadatan yang terbangun atas makrifatullah. Tidak masuk akal sehat orang menyembah Allah semata, namun tidak mau mengenal siapa Allah dengan baik.Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDefinisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-MacamnyaDefinisi makrifatullah adalah mengenal Allah Ta’ala dengan cara mengenal nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.Terdapat dua macam makrifatullah, yaitu:Pertama, makrifatullah global, yaitu mengenal Allah Ta’ala yang merupakan dasar iman sehingga menyebabkan selamat dari kekufuran akbar dan kesyirikan akbar, serta terjaga kesahan keimanan. Makrifatullah jenis ini diketahui oleh kaum muslimin secara umum. Tidak hanya diketahui oleh ulama dan muslim yang taat saja, bahkan muslim yang awam dan pelaku maksiat pun tahu.Contoh makrifatullah global diantaranya mengenal bahwa Allah Ta’ala itu Esa, tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Wajib beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak boleh beribadah kepada selain-Nya. Mengenal bahwa tauhid itu wajib dan syirik itu haram sebagaimana dalam surah Al-Ikhlas.Kedua, makrifatullah terperinci, yaitu mempelajari nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala secara rinci berdasarkan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadis disertai penjelasannya sehingga terbangun keyakinan tentang Allah Ta’ala atas dasar dalil dan membuahkan cinta dan iman kepada Allah yang semakin meningkat.Makrifatullah jenis ini biasanya hanya dipelajari oleh orang-orang yang benar-benar dan bersungguh-sunguh dalam mencintai Allah Ta’ala. Mereka membuktikan bahwa dengan berusaha mengenal Allah Ta’ala dengan terperinci. Bukan hanya mempelajari tiap nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala beserta dengan dalilnya, tetapi juga mempelajari penjelasan ulama tentang dalil-dalil sehingga ia mendapatkan kaidah ilmiah maupun faedah keimanan yang menambah rasa takut, harap, dan cintanya kepada Allah Ta’ala. Semua ini membuahkan ketakwaan yang meningkat sehingga bertambah baik keyakinannya, ucapannya, perbuatannya baik zahir maupun batin. Begitu pula bertambah baik akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya. Mudah untuk husnuzan kepada Allah Ta’ala. Bertambah kuat kepercayaannya kepada Allah. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hatinya tawakal hanya kepada Allah. Merasakan kelezatan iman dan kemanisan ibadah kepada Allah semata. Mengagungkan Allah dan syariat-Nya. Serta rindu berjumpa dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Tauhid, Pelajaran Al Qur An, Sunnah Qurban, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Agar Ikhlas Melepaskan SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dua Tujuan Penciptaan Manusia 2. Definisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-Macamnya Dua Tujuan Penciptaan Manusia Pertama, makrifatullah (mengenal Allah), yaitu agar kita mengenal siapa Rabb kita, dapat melalui mempelajari nama, sifat, dan perbuatan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ”Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS.Ath-Thalaaq: 12)Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, serta apa yang terdapat pada keduanya dan apa yang ada di antara keduanya. Allah Ta’ala pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah yang kauni qodari, yaitu takdir-Nya yang dengan itu Allah Ta’ala mengatur hamba-hamba-Nya.Sungguh semua itu tujuannya adalah agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Inilah salah satu tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu makrifatullah (mengenal Allah Ta’ala melalui mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya).Kedua, ‘ibadatullah semata (tauhid), yaitu agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja).” (QS. Az-Zariyat: 56)Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah Ta’ala dalam peribadatan yang kemudian dikenal dengan istilah tauhidul uluhiyyah.Kesimpulan:Dari kedua ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hidup kita di muka bumi ini untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah serta taat kepada-Nya semata, dengan jenis peribadatan yang terbangun atas makrifatullah. Tidak masuk akal sehat orang menyembah Allah semata, namun tidak mau mengenal siapa Allah dengan baik.Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDefinisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-MacamnyaDefinisi makrifatullah adalah mengenal Allah Ta’ala dengan cara mengenal nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.Terdapat dua macam makrifatullah, yaitu:Pertama, makrifatullah global, yaitu mengenal Allah Ta’ala yang merupakan dasar iman sehingga menyebabkan selamat dari kekufuran akbar dan kesyirikan akbar, serta terjaga kesahan keimanan. Makrifatullah jenis ini diketahui oleh kaum muslimin secara umum. Tidak hanya diketahui oleh ulama dan muslim yang taat saja, bahkan muslim yang awam dan pelaku maksiat pun tahu.Contoh makrifatullah global diantaranya mengenal bahwa Allah Ta’ala itu Esa, tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Wajib beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak boleh beribadah kepada selain-Nya. Mengenal bahwa tauhid itu wajib dan syirik itu haram sebagaimana dalam surah Al-Ikhlas.Kedua, makrifatullah terperinci, yaitu mempelajari nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala secara rinci berdasarkan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadis disertai penjelasannya sehingga terbangun keyakinan tentang Allah Ta’ala atas dasar dalil dan membuahkan cinta dan iman kepada Allah yang semakin meningkat.Makrifatullah jenis ini biasanya hanya dipelajari oleh orang-orang yang benar-benar dan bersungguh-sunguh dalam mencintai Allah Ta’ala. Mereka membuktikan bahwa dengan berusaha mengenal Allah Ta’ala dengan terperinci. Bukan hanya mempelajari tiap nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala beserta dengan dalilnya, tetapi juga mempelajari penjelasan ulama tentang dalil-dalil sehingga ia mendapatkan kaidah ilmiah maupun faedah keimanan yang menambah rasa takut, harap, dan cintanya kepada Allah Ta’ala. Semua ini membuahkan ketakwaan yang meningkat sehingga bertambah baik keyakinannya, ucapannya, perbuatannya baik zahir maupun batin. Begitu pula bertambah baik akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya. Mudah untuk husnuzan kepada Allah Ta’ala. Bertambah kuat kepercayaannya kepada Allah. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hatinya tawakal hanya kepada Allah. Merasakan kelezatan iman dan kemanisan ibadah kepada Allah semata. Mengagungkan Allah dan syariat-Nya. Serta rindu berjumpa dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Tauhid, Pelajaran Al Qur An, Sunnah Qurban, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Agar Ikhlas Melepaskan SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dua Tujuan Penciptaan Manusia 2. Definisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-Macamnya Dua Tujuan Penciptaan Manusia Pertama, makrifatullah (mengenal Allah), yaitu agar kita mengenal siapa Rabb kita, dapat melalui mempelajari nama, sifat, dan perbuatan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ”Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS.Ath-Thalaaq: 12)Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, serta apa yang terdapat pada keduanya dan apa yang ada di antara keduanya. Allah Ta’ala pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah yang kauni qodari, yaitu takdir-Nya yang dengan itu Allah Ta’ala mengatur hamba-hamba-Nya.Sungguh semua itu tujuannya adalah agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Inilah salah satu tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu makrifatullah (mengenal Allah Ta’ala melalui mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya).Kedua, ‘ibadatullah semata (tauhid), yaitu agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja).” (QS. Az-Zariyat: 56)Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah Ta’ala dalam peribadatan yang kemudian dikenal dengan istilah tauhidul uluhiyyah.Kesimpulan:Dari kedua ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hidup kita di muka bumi ini untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah serta taat kepada-Nya semata, dengan jenis peribadatan yang terbangun atas makrifatullah. Tidak masuk akal sehat orang menyembah Allah semata, namun tidak mau mengenal siapa Allah dengan baik.Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDefinisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-MacamnyaDefinisi makrifatullah adalah mengenal Allah Ta’ala dengan cara mengenal nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.Terdapat dua macam makrifatullah, yaitu:Pertama, makrifatullah global, yaitu mengenal Allah Ta’ala yang merupakan dasar iman sehingga menyebabkan selamat dari kekufuran akbar dan kesyirikan akbar, serta terjaga kesahan keimanan. Makrifatullah jenis ini diketahui oleh kaum muslimin secara umum. Tidak hanya diketahui oleh ulama dan muslim yang taat saja, bahkan muslim yang awam dan pelaku maksiat pun tahu.Contoh makrifatullah global diantaranya mengenal bahwa Allah Ta’ala itu Esa, tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Wajib beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak boleh beribadah kepada selain-Nya. Mengenal bahwa tauhid itu wajib dan syirik itu haram sebagaimana dalam surah Al-Ikhlas.Kedua, makrifatullah terperinci, yaitu mempelajari nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala secara rinci berdasarkan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadis disertai penjelasannya sehingga terbangun keyakinan tentang Allah Ta’ala atas dasar dalil dan membuahkan cinta dan iman kepada Allah yang semakin meningkat.Makrifatullah jenis ini biasanya hanya dipelajari oleh orang-orang yang benar-benar dan bersungguh-sunguh dalam mencintai Allah Ta’ala. Mereka membuktikan bahwa dengan berusaha mengenal Allah Ta’ala dengan terperinci. Bukan hanya mempelajari tiap nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala beserta dengan dalilnya, tetapi juga mempelajari penjelasan ulama tentang dalil-dalil sehingga ia mendapatkan kaidah ilmiah maupun faedah keimanan yang menambah rasa takut, harap, dan cintanya kepada Allah Ta’ala. Semua ini membuahkan ketakwaan yang meningkat sehingga bertambah baik keyakinannya, ucapannya, perbuatannya baik zahir maupun batin. Begitu pula bertambah baik akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya. Mudah untuk husnuzan kepada Allah Ta’ala. Bertambah kuat kepercayaannya kepada Allah. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hatinya tawakal hanya kepada Allah. Merasakan kelezatan iman dan kemanisan ibadah kepada Allah semata. Mengagungkan Allah dan syariat-Nya. Serta rindu berjumpa dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Tauhid, Pelajaran Al Qur An, Sunnah Qurban, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Agar Ikhlas Melepaskan SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 1)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Urgensi MakrifatullahAlasan pentingnya kita mempelajari makrifatullah itu sangat banyak. Namun alasan yang paling pokok adalah sebagai berikut:Pertama, sebagai tujuan hidup kita.Hal ini karena kita diciptakan untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya semata.Kedua, sebagai bagian dari rukun iman pertama yang merupakan dasar seluruh rukun iman lainnya.Makrifatullah itu bagian dari iman kepada Allah. Sedangkan iman kepada Allah itu mendasari seluruh rukun iman lainnya. Padahal, agar seseorang bisa beriman kepada Allah dengan benar, dia perlu mengenal Allah dengan baik. Karena iman kepada Allah itu mencakup beriman kepada keberadaan-Nya dan kemahaesaan-Nya. Dan semua ini butuh ilmu makrifatullah.Ketiga, makrifatullah adalah dasar peribadatan kepada Allah semata yang berpengaruh pada kesempurnaan ibadah seorang hamba.Ibadah kepada Allah semata adalah salah satu dari dua tujuan hidup kita, sedangkan kualitas ibadah kita dipengaruhi seberapa besar kita mengenal Allah dengan mengenal nama dan sifat-Nya dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam setiap nama dan sifat-Nya yang kita kenal.Hamba yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang paling mengenal Allah dan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalamnya. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Dan manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang beribadah dengan melaksanakan tuntutan peribadahan dari seluruh nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia.”Contoh penerapan makrifatullah sebagai dasar peribadatan kepada Allah semata:Allah Ta’ala adalah Ar-Rahiim (Yang Mahapenyayang).Dia mencintai orang-orang yang penyayang, sehingga kita pun terdorong untuk menjadi penyayang agar dicintai dan diridai-Nya. Dan ini hakikat ibadah kepada-Nya semata, tatkala mempersembahkan kepada-Nya semata segala yang Dia cintai dan ridai sebagaimana definisi ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.Allah Ta’ala adalah Asy-Syakuur (Yang Mahamensyukuri).Dia mencintai orang-orang yang pandai bersyukur kepada-Nya. Di antaranya dengan berterima kasih kepada manusia dan membalas kebaikannya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang pandai bersyukur kepada-Nya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Al-‘Aliim (Yang Mahamengetahui).Dia mencintai orang-orang yang berilmu syar’i dan mengamalkannya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang berilmu syar’i dan mengamalkannya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah At-Tawwaab (Yang Mahamenerima taubat).Dia mencintai orang-orang yang bersegera bertaubat kepada-Nya semata dari segala dosa sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang bersegera bertaubat kepada-Nya semata dari segala dosa sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Al-Jamiil (Yang Mahaindah).Dia mencintai orang-orang yang indah ucapannya, perbuatannya, akhlaknya, penampilan fisiknya, barang-barangnya, serta segala sesuatunya. Sehingga, kita pun terdorong untuk menjadi orang yang indah dalam segala sesuatunya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Ath-Thoyyib (Yang Mahabaik).Dia mencintai orang-orang yang baik ucapan dan perbuatannya, baik zahir maupun batinnya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang baik dalam segala sesuatunya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Ar-Rafiiq (Yang Mahalembut).Dia mencintai orang-orang yang lembut dalam ucapan dan perbuatannya, sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang lembut dalam ucapan dan perbuatannya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Keempat, pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat adalah makrifatullah.Karena jika kita tahu siapa Allah dengan baik, niscaya kita akan tahu siapa selain-Nya. Dan akan benar sikap kita terhadap Allah dan makhluk serta terhadap semua jenis ilmu yang bermanfaat. Sehingga, kita mempelajari segala jenis ilmu dan mengamalkannya itu sesuai dengan kecintaan dan keridaan Allah.Contoh penerapan makrifatullah adalah pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat:Pertama, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Khooliq (Yang Mahamenciptakan), Yang Mahasempurna, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah ciptaan (makhluk) yang lemah dan membutuhkan kepada-Nya. Sehingga ia pun menghambakan dirinya kepada-Nya semata.Kedua, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Ar-Razzaaq (Yang Mahamemberi rezeki), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang diberi rezeki, dan bukan pemberi rezeki. Sehingga, ia tidak berdoa meminta rezeki dan bertawakal, kecuali kepada-Nya saja.Ketiga, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-‘Aliim (Yang Mahamengetahui), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang pada asalnya tidak memiliki ilmu apa-apa. Al-‘Aliim yang mengajarkan berbagai macam ilmu kepada makhluk sehingga ia berusaha senantiasa memohon petunjuk ilmu yang bermanfaat kepada-Nya semata dan tidak sombong.Keempat, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Qodiir (Yang Mahakuasa), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang pada asalnya tidak memiliki kuasa apa-apa. Sehingga dia berusaha senantiasa mohon kekuatan dalam menjalani ujian hidup di dunia ini.Kelima, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Allah Mahaawal, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah dulunya tidak ada, lalu Allah ciptakan dan adakan. Sehingga dia sadar seluruh kenikmatan dan kebaikan yang ada pada dirinya adalah anugerah dari Yang Mahaawal. Ia pun menyandarkan kenikmatan kepada-Nya semata dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat tersebut.Barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Allah Mahakekal, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang akan mati dan bersifat fana. Oleh karena itu, ia tidak ujub dan tidak menyombongkan prestasi ibadah, diri, serta hartanya.Keenam, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Ghoniy (Yang Mahakaya), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang fakir. Pada asalnya, ia tidak punya apa-apa dan senantiasa membutuhkan kepada-Nya setiap saat.Ketujuh, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Malik (Raja segala sesuatu), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba milik-Nya, di bawah kekuasaan kerajaan-Nya, serta di bawah pengaturan-Nya, sehingga ia rida atas pengaturan-Nya atas diri-Nya sebagai hamba-Nya.KesimpulanBarangsiapa yang mengenal Allah Ta’ala  melalui mengetahui nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang ‘ula, maka niscaya ia tahu bahwa Allah Mahasempurna dari segala sisi dan disucikan dari aib dan kekurangan dari segala sisi, dan niscaya ia pun mengetahui bahwa dirinya lemah, banyak aib dan kekurangan, dan senantiasa membutuhkan petunjuk dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Inilah maksud “Makrifatullah adalah pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat”. Barangsiapa yang tahu siapa Allah dengan baik, niscaya ia akan tahu siapa selain-Nya! Baca Juga:Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidNasib Ahli Tauhid di Akhirat (Bag. 1)[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Ebook Islam, Hadist Tentang Usaha, Masalah Umat Islam Kini Dan Penyelesaian, Cara Agar Tetap Istiqomah, Syarat KhitanTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 1)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Urgensi MakrifatullahAlasan pentingnya kita mempelajari makrifatullah itu sangat banyak. Namun alasan yang paling pokok adalah sebagai berikut:Pertama, sebagai tujuan hidup kita.Hal ini karena kita diciptakan untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya semata.Kedua, sebagai bagian dari rukun iman pertama yang merupakan dasar seluruh rukun iman lainnya.Makrifatullah itu bagian dari iman kepada Allah. Sedangkan iman kepada Allah itu mendasari seluruh rukun iman lainnya. Padahal, agar seseorang bisa beriman kepada Allah dengan benar, dia perlu mengenal Allah dengan baik. Karena iman kepada Allah itu mencakup beriman kepada keberadaan-Nya dan kemahaesaan-Nya. Dan semua ini butuh ilmu makrifatullah.Ketiga, makrifatullah adalah dasar peribadatan kepada Allah semata yang berpengaruh pada kesempurnaan ibadah seorang hamba.Ibadah kepada Allah semata adalah salah satu dari dua tujuan hidup kita, sedangkan kualitas ibadah kita dipengaruhi seberapa besar kita mengenal Allah dengan mengenal nama dan sifat-Nya dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam setiap nama dan sifat-Nya yang kita kenal.Hamba yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang paling mengenal Allah dan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalamnya. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Dan manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang beribadah dengan melaksanakan tuntutan peribadahan dari seluruh nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia.”Contoh penerapan makrifatullah sebagai dasar peribadatan kepada Allah semata:Allah Ta’ala adalah Ar-Rahiim (Yang Mahapenyayang).Dia mencintai orang-orang yang penyayang, sehingga kita pun terdorong untuk menjadi penyayang agar dicintai dan diridai-Nya. Dan ini hakikat ibadah kepada-Nya semata, tatkala mempersembahkan kepada-Nya semata segala yang Dia cintai dan ridai sebagaimana definisi ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.Allah Ta’ala adalah Asy-Syakuur (Yang Mahamensyukuri).Dia mencintai orang-orang yang pandai bersyukur kepada-Nya. Di antaranya dengan berterima kasih kepada manusia dan membalas kebaikannya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang pandai bersyukur kepada-Nya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Al-‘Aliim (Yang Mahamengetahui).Dia mencintai orang-orang yang berilmu syar’i dan mengamalkannya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang berilmu syar’i dan mengamalkannya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah At-Tawwaab (Yang Mahamenerima taubat).Dia mencintai orang-orang yang bersegera bertaubat kepada-Nya semata dari segala dosa sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang bersegera bertaubat kepada-Nya semata dari segala dosa sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Al-Jamiil (Yang Mahaindah).Dia mencintai orang-orang yang indah ucapannya, perbuatannya, akhlaknya, penampilan fisiknya, barang-barangnya, serta segala sesuatunya. Sehingga, kita pun terdorong untuk menjadi orang yang indah dalam segala sesuatunya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Ath-Thoyyib (Yang Mahabaik).Dia mencintai orang-orang yang baik ucapan dan perbuatannya, baik zahir maupun batinnya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang baik dalam segala sesuatunya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Ar-Rafiiq (Yang Mahalembut).Dia mencintai orang-orang yang lembut dalam ucapan dan perbuatannya, sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang lembut dalam ucapan dan perbuatannya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Keempat, pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat adalah makrifatullah.Karena jika kita tahu siapa Allah dengan baik, niscaya kita akan tahu siapa selain-Nya. Dan akan benar sikap kita terhadap Allah dan makhluk serta terhadap semua jenis ilmu yang bermanfaat. Sehingga, kita mempelajari segala jenis ilmu dan mengamalkannya itu sesuai dengan kecintaan dan keridaan Allah.Contoh penerapan makrifatullah adalah pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat:Pertama, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Khooliq (Yang Mahamenciptakan), Yang Mahasempurna, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah ciptaan (makhluk) yang lemah dan membutuhkan kepada-Nya. Sehingga ia pun menghambakan dirinya kepada-Nya semata.Kedua, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Ar-Razzaaq (Yang Mahamemberi rezeki), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang diberi rezeki, dan bukan pemberi rezeki. Sehingga, ia tidak berdoa meminta rezeki dan bertawakal, kecuali kepada-Nya saja.Ketiga, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-‘Aliim (Yang Mahamengetahui), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang pada asalnya tidak memiliki ilmu apa-apa. Al-‘Aliim yang mengajarkan berbagai macam ilmu kepada makhluk sehingga ia berusaha senantiasa memohon petunjuk ilmu yang bermanfaat kepada-Nya semata dan tidak sombong.Keempat, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Qodiir (Yang Mahakuasa), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang pada asalnya tidak memiliki kuasa apa-apa. Sehingga dia berusaha senantiasa mohon kekuatan dalam menjalani ujian hidup di dunia ini.Kelima, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Allah Mahaawal, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah dulunya tidak ada, lalu Allah ciptakan dan adakan. Sehingga dia sadar seluruh kenikmatan dan kebaikan yang ada pada dirinya adalah anugerah dari Yang Mahaawal. Ia pun menyandarkan kenikmatan kepada-Nya semata dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat tersebut.Barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Allah Mahakekal, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang akan mati dan bersifat fana. Oleh karena itu, ia tidak ujub dan tidak menyombongkan prestasi ibadah, diri, serta hartanya.Keenam, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Ghoniy (Yang Mahakaya), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang fakir. Pada asalnya, ia tidak punya apa-apa dan senantiasa membutuhkan kepada-Nya setiap saat.Ketujuh, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Malik (Raja segala sesuatu), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba milik-Nya, di bawah kekuasaan kerajaan-Nya, serta di bawah pengaturan-Nya, sehingga ia rida atas pengaturan-Nya atas diri-Nya sebagai hamba-Nya.KesimpulanBarangsiapa yang mengenal Allah Ta’ala  melalui mengetahui nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang ‘ula, maka niscaya ia tahu bahwa Allah Mahasempurna dari segala sisi dan disucikan dari aib dan kekurangan dari segala sisi, dan niscaya ia pun mengetahui bahwa dirinya lemah, banyak aib dan kekurangan, dan senantiasa membutuhkan petunjuk dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Inilah maksud “Makrifatullah adalah pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat”. Barangsiapa yang tahu siapa Allah dengan baik, niscaya ia akan tahu siapa selain-Nya! Baca Juga:Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidNasib Ahli Tauhid di Akhirat (Bag. 1)[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Ebook Islam, Hadist Tentang Usaha, Masalah Umat Islam Kini Dan Penyelesaian, Cara Agar Tetap Istiqomah, Syarat KhitanTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah
Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 1)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Urgensi MakrifatullahAlasan pentingnya kita mempelajari makrifatullah itu sangat banyak. Namun alasan yang paling pokok adalah sebagai berikut:Pertama, sebagai tujuan hidup kita.Hal ini karena kita diciptakan untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya semata.Kedua, sebagai bagian dari rukun iman pertama yang merupakan dasar seluruh rukun iman lainnya.Makrifatullah itu bagian dari iman kepada Allah. Sedangkan iman kepada Allah itu mendasari seluruh rukun iman lainnya. Padahal, agar seseorang bisa beriman kepada Allah dengan benar, dia perlu mengenal Allah dengan baik. Karena iman kepada Allah itu mencakup beriman kepada keberadaan-Nya dan kemahaesaan-Nya. Dan semua ini butuh ilmu makrifatullah.Ketiga, makrifatullah adalah dasar peribadatan kepada Allah semata yang berpengaruh pada kesempurnaan ibadah seorang hamba.Ibadah kepada Allah semata adalah salah satu dari dua tujuan hidup kita, sedangkan kualitas ibadah kita dipengaruhi seberapa besar kita mengenal Allah dengan mengenal nama dan sifat-Nya dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam setiap nama dan sifat-Nya yang kita kenal.Hamba yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang paling mengenal Allah dan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalamnya. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Dan manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang beribadah dengan melaksanakan tuntutan peribadahan dari seluruh nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia.”Contoh penerapan makrifatullah sebagai dasar peribadatan kepada Allah semata:Allah Ta’ala adalah Ar-Rahiim (Yang Mahapenyayang).Dia mencintai orang-orang yang penyayang, sehingga kita pun terdorong untuk menjadi penyayang agar dicintai dan diridai-Nya. Dan ini hakikat ibadah kepada-Nya semata, tatkala mempersembahkan kepada-Nya semata segala yang Dia cintai dan ridai sebagaimana definisi ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.Allah Ta’ala adalah Asy-Syakuur (Yang Mahamensyukuri).Dia mencintai orang-orang yang pandai bersyukur kepada-Nya. Di antaranya dengan berterima kasih kepada manusia dan membalas kebaikannya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang pandai bersyukur kepada-Nya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Al-‘Aliim (Yang Mahamengetahui).Dia mencintai orang-orang yang berilmu syar’i dan mengamalkannya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang berilmu syar’i dan mengamalkannya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah At-Tawwaab (Yang Mahamenerima taubat).Dia mencintai orang-orang yang bersegera bertaubat kepada-Nya semata dari segala dosa sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang bersegera bertaubat kepada-Nya semata dari segala dosa sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Al-Jamiil (Yang Mahaindah).Dia mencintai orang-orang yang indah ucapannya, perbuatannya, akhlaknya, penampilan fisiknya, barang-barangnya, serta segala sesuatunya. Sehingga, kita pun terdorong untuk menjadi orang yang indah dalam segala sesuatunya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Ath-Thoyyib (Yang Mahabaik).Dia mencintai orang-orang yang baik ucapan dan perbuatannya, baik zahir maupun batinnya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang baik dalam segala sesuatunya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Ar-Rafiiq (Yang Mahalembut).Dia mencintai orang-orang yang lembut dalam ucapan dan perbuatannya, sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang lembut dalam ucapan dan perbuatannya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Keempat, pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat adalah makrifatullah.Karena jika kita tahu siapa Allah dengan baik, niscaya kita akan tahu siapa selain-Nya. Dan akan benar sikap kita terhadap Allah dan makhluk serta terhadap semua jenis ilmu yang bermanfaat. Sehingga, kita mempelajari segala jenis ilmu dan mengamalkannya itu sesuai dengan kecintaan dan keridaan Allah.Contoh penerapan makrifatullah adalah pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat:Pertama, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Khooliq (Yang Mahamenciptakan), Yang Mahasempurna, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah ciptaan (makhluk) yang lemah dan membutuhkan kepada-Nya. Sehingga ia pun menghambakan dirinya kepada-Nya semata.Kedua, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Ar-Razzaaq (Yang Mahamemberi rezeki), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang diberi rezeki, dan bukan pemberi rezeki. Sehingga, ia tidak berdoa meminta rezeki dan bertawakal, kecuali kepada-Nya saja.Ketiga, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-‘Aliim (Yang Mahamengetahui), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang pada asalnya tidak memiliki ilmu apa-apa. Al-‘Aliim yang mengajarkan berbagai macam ilmu kepada makhluk sehingga ia berusaha senantiasa memohon petunjuk ilmu yang bermanfaat kepada-Nya semata dan tidak sombong.Keempat, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Qodiir (Yang Mahakuasa), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang pada asalnya tidak memiliki kuasa apa-apa. Sehingga dia berusaha senantiasa mohon kekuatan dalam menjalani ujian hidup di dunia ini.Kelima, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Allah Mahaawal, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah dulunya tidak ada, lalu Allah ciptakan dan adakan. Sehingga dia sadar seluruh kenikmatan dan kebaikan yang ada pada dirinya adalah anugerah dari Yang Mahaawal. Ia pun menyandarkan kenikmatan kepada-Nya semata dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat tersebut.Barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Allah Mahakekal, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang akan mati dan bersifat fana. Oleh karena itu, ia tidak ujub dan tidak menyombongkan prestasi ibadah, diri, serta hartanya.Keenam, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Ghoniy (Yang Mahakaya), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang fakir. Pada asalnya, ia tidak punya apa-apa dan senantiasa membutuhkan kepada-Nya setiap saat.Ketujuh, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Malik (Raja segala sesuatu), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba milik-Nya, di bawah kekuasaan kerajaan-Nya, serta di bawah pengaturan-Nya, sehingga ia rida atas pengaturan-Nya atas diri-Nya sebagai hamba-Nya.KesimpulanBarangsiapa yang mengenal Allah Ta’ala  melalui mengetahui nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang ‘ula, maka niscaya ia tahu bahwa Allah Mahasempurna dari segala sisi dan disucikan dari aib dan kekurangan dari segala sisi, dan niscaya ia pun mengetahui bahwa dirinya lemah, banyak aib dan kekurangan, dan senantiasa membutuhkan petunjuk dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Inilah maksud “Makrifatullah adalah pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat”. Barangsiapa yang tahu siapa Allah dengan baik, niscaya ia akan tahu siapa selain-Nya! Baca Juga:Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidNasib Ahli Tauhid di Akhirat (Bag. 1)[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Ebook Islam, Hadist Tentang Usaha, Masalah Umat Islam Kini Dan Penyelesaian, Cara Agar Tetap Istiqomah, Syarat KhitanTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah


Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 1)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Urgensi MakrifatullahAlasan pentingnya kita mempelajari makrifatullah itu sangat banyak. Namun alasan yang paling pokok adalah sebagai berikut:Pertama, sebagai tujuan hidup kita.Hal ini karena kita diciptakan untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya semata.Kedua, sebagai bagian dari rukun iman pertama yang merupakan dasar seluruh rukun iman lainnya.Makrifatullah itu bagian dari iman kepada Allah. Sedangkan iman kepada Allah itu mendasari seluruh rukun iman lainnya. Padahal, agar seseorang bisa beriman kepada Allah dengan benar, dia perlu mengenal Allah dengan baik. Karena iman kepada Allah itu mencakup beriman kepada keberadaan-Nya dan kemahaesaan-Nya. Dan semua ini butuh ilmu makrifatullah.Ketiga, makrifatullah adalah dasar peribadatan kepada Allah semata yang berpengaruh pada kesempurnaan ibadah seorang hamba.Ibadah kepada Allah semata adalah salah satu dari dua tujuan hidup kita, sedangkan kualitas ibadah kita dipengaruhi seberapa besar kita mengenal Allah dengan mengenal nama dan sifat-Nya dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam setiap nama dan sifat-Nya yang kita kenal.Hamba yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang paling mengenal Allah dan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalamnya. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,وأكمل الناس عبودية المتعبد بجميع الأسماء والصفات التي يطلع عليها البشر“Dan manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah orang yang beribadah dengan melaksanakan tuntutan peribadahan dari seluruh nama dan sifat Allah yang diketahui oleh manusia.”Contoh penerapan makrifatullah sebagai dasar peribadatan kepada Allah semata:Allah Ta’ala adalah Ar-Rahiim (Yang Mahapenyayang).Dia mencintai orang-orang yang penyayang, sehingga kita pun terdorong untuk menjadi penyayang agar dicintai dan diridai-Nya. Dan ini hakikat ibadah kepada-Nya semata, tatkala mempersembahkan kepada-Nya semata segala yang Dia cintai dan ridai sebagaimana definisi ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.Allah Ta’ala adalah Asy-Syakuur (Yang Mahamensyukuri).Dia mencintai orang-orang yang pandai bersyukur kepada-Nya. Di antaranya dengan berterima kasih kepada manusia dan membalas kebaikannya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang pandai bersyukur kepada-Nya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Al-‘Aliim (Yang Mahamengetahui).Dia mencintai orang-orang yang berilmu syar’i dan mengamalkannya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang berilmu syar’i dan mengamalkannya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah At-Tawwaab (Yang Mahamenerima taubat).Dia mencintai orang-orang yang bersegera bertaubat kepada-Nya semata dari segala dosa sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang bersegera bertaubat kepada-Nya semata dari segala dosa sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Al-Jamiil (Yang Mahaindah).Dia mencintai orang-orang yang indah ucapannya, perbuatannya, akhlaknya, penampilan fisiknya, barang-barangnya, serta segala sesuatunya. Sehingga, kita pun terdorong untuk menjadi orang yang indah dalam segala sesuatunya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Ath-Thoyyib (Yang Mahabaik).Dia mencintai orang-orang yang baik ucapan dan perbuatannya, baik zahir maupun batinnya sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang baik dalam segala sesuatunya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Allah Ta’ala adalah Ar-Rafiiq (Yang Mahalembut).Dia mencintai orang-orang yang lembut dalam ucapan dan perbuatannya, sehingga kita pun terdorong untuk menjadi orang yang lembut dalam ucapan dan perbuatannya sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya semata.Keempat, pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat adalah makrifatullah.Karena jika kita tahu siapa Allah dengan baik, niscaya kita akan tahu siapa selain-Nya. Dan akan benar sikap kita terhadap Allah dan makhluk serta terhadap semua jenis ilmu yang bermanfaat. Sehingga, kita mempelajari segala jenis ilmu dan mengamalkannya itu sesuai dengan kecintaan dan keridaan Allah.Contoh penerapan makrifatullah adalah pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat:Pertama, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Khooliq (Yang Mahamenciptakan), Yang Mahasempurna, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah ciptaan (makhluk) yang lemah dan membutuhkan kepada-Nya. Sehingga ia pun menghambakan dirinya kepada-Nya semata.Kedua, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Ar-Razzaaq (Yang Mahamemberi rezeki), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang diberi rezeki, dan bukan pemberi rezeki. Sehingga, ia tidak berdoa meminta rezeki dan bertawakal, kecuali kepada-Nya saja.Ketiga, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-‘Aliim (Yang Mahamengetahui), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang pada asalnya tidak memiliki ilmu apa-apa. Al-‘Aliim yang mengajarkan berbagai macam ilmu kepada makhluk sehingga ia berusaha senantiasa memohon petunjuk ilmu yang bermanfaat kepada-Nya semata dan tidak sombong.Keempat, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Qodiir (Yang Mahakuasa), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang pada asalnya tidak memiliki kuasa apa-apa. Sehingga dia berusaha senantiasa mohon kekuatan dalam menjalani ujian hidup di dunia ini.Kelima, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Allah Mahaawal, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah dulunya tidak ada, lalu Allah ciptakan dan adakan. Sehingga dia sadar seluruh kenikmatan dan kebaikan yang ada pada dirinya adalah anugerah dari Yang Mahaawal. Ia pun menyandarkan kenikmatan kepada-Nya semata dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat tersebut.Barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Allah Mahakekal, maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang akan mati dan bersifat fana. Oleh karena itu, ia tidak ujub dan tidak menyombongkan prestasi ibadah, diri, serta hartanya.Keenam, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Ghoniy (Yang Mahakaya), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba yang fakir. Pada asalnya, ia tidak punya apa-apa dan senantiasa membutuhkan kepada-Nya setiap saat.Ketujuh, barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah adalah Al-Malik (Raja segala sesuatu), maka ia akan mengetahui bahwa selain-Nya adalah hamba milik-Nya, di bawah kekuasaan kerajaan-Nya, serta di bawah pengaturan-Nya, sehingga ia rida atas pengaturan-Nya atas diri-Nya sebagai hamba-Nya.KesimpulanBarangsiapa yang mengenal Allah Ta’ala  melalui mengetahui nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang ‘ula, maka niscaya ia tahu bahwa Allah Mahasempurna dari segala sisi dan disucikan dari aib dan kekurangan dari segala sisi, dan niscaya ia pun mengetahui bahwa dirinya lemah, banyak aib dan kekurangan, dan senantiasa membutuhkan petunjuk dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Inilah maksud “Makrifatullah adalah pokok dari setiap ilmu yang bermanfaat”. Barangsiapa yang tahu siapa Allah dengan baik, niscaya ia akan tahu siapa selain-Nya! Baca Juga:Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidNasib Ahli Tauhid di Akhirat (Bag. 1)[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Ebook Islam, Hadist Tentang Usaha, Masalah Umat Islam Kini Dan Penyelesaian, Cara Agar Tetap Istiqomah, Syarat KhitanTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Hikmah Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban, bulan mulia namun sering dilalaikan manusiaKeutamaan bulan Sya’ban tidak lepas dari sejarah penamaannya dahulu kala. Bulan ini dinamakan Sya’ban karena dulu orang jahiliyyah memanfaatkannya untuk berbagai macam aktivitas, misalnya berperang. Hal ini disebakan karena pada bulan Rajab bangsa Arab dilarang melakukan peperangan.Alasan lainnya mengapa dinamakan bulan Sya’ban adalah karena selama bulan ini banyak orang Arab yang berpencar dan bepergian untuk mencari air. Orang yang mencari air tersebut disebut “Sya’baniyyat” atau “Sya’ban”.Letak bulan Sya’ban yang terjepit antara bulan Rajab dan Ramadan akhirnya membuat kebanyakan manusia lalai darinya. Kenapa? Karena bulan Rajab dan Ramadan termasuk bulan yang dihormati di dalam Islam. Pada bulan Rajab seorang muslim dilarang melakukan pertumpahan darah atau berperang dan disunahkan untuk memperbanyak amalan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36).Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata,“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Lathaif Al Ma’arif, 207).Sedangkan di bulan Ramadan, mereka dituntut untuk memperbanyak amalan dan menjauhi kemaksiatan, serta perbuatan maksiat di kedua bulan tersebut lebih berat dosanya daripada bulan-bulan lain.Sehingga ketika datang bulan Sya’ban (yang mana terletak diantara keduanya) mereka mengambil kesempatan untuk melakukan peperangan ataupun menyelesaikan urusan. Akhirnya, kebanyakan mereka lalai dari melakukan ketaatan di bulan ini karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadan.Baca Juga: Penjelasan Malam Nisfu Sya’banAnjuran memperbanyak puasa di bulan Sya’banTerdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan tentang anjuran berpuasa di bulan Sya’ban. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun memperbanyak puasa di bulan Sya’ban daripada bulan-bulan lainnya (selain puasa wajib di bulan Ramadan). Diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, dia berkata,يا رسول الله لَمْ أرك تصوم شهرًا من الشهور ما تصوم من شعبان؟ قال: “ذلك شهر يغفل الناس عنه، بين رجب ورمضان، وهو شهر تُرفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم ““’Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan selain di bulan Sya’ban’. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, yakni di antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan’” (HR. An Nasa’i no. 2357. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan).‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha juga menceritakan tentang bagaimana sifat puasa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam di bulan Sya’ban,فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)Dalam lafaz Muslim, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan,كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali hanya beberapa hari saja (yang beliau tidak berpuasa di dalamnya)” (HR. Muslim no. 1156).Baca Juga: Anjuran Membayar Zakat di Bulan Sya’banBesarnya pahala beramal di waktu lalaiJawaban nabi untuk sahabat Usamah bin Zaid di atas seakan-akan beliau mengatakan kepada kita, “Seorang muslim tidak pantas bagimu untuk lalai dari Allah Ta’ala di saat semua manusia lalai pada-Nya. Seharusnya kamu lebih bersemangat dan menyadari keberadaan Tuhanmu, agar kamu termasuk hamba yang memilih menghadap Allah Ta’ala di saat yang lain lalai dari-Nya. Rajinlah bersedekah di saat semua manusia pelit mengeluarkan hartanya. Bangun malamlah di saat yang lain terlelap dalam tidur. Jagalah salat di saat hamba-hamba yang lain menyia-nyiakannya.”Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam juga ingin menjelaskan pentingnya memanfaatkan dan menghidupkan waktu dengan memperbanyak ketaatan di saat kebanyakan manusia lainnya lalai. Hal ini merupakan sesuatu yang biasa dilakukan orang-orang saleh terdahulu. Mereka senang mengisi waktu antara salat Magrib dan Isya dengan memperbanyak salat karena tahu bahwa waktu ini termasuk yang banyak dilalaikan manusia.Di kesempatan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan menjelaskan besarnya keutamaan yang didapat untuk mereka yang mengingat Allah di waktu manusia-manusia lainnya itu lalai. Kita ambil contoh misalnya saat kita sedang di pasar atau pusat perbelanjaan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فقال: لا إله إلاَّ الله وَحْدَه لا شَريكَ له، له المُلْكُ وله الحمْد، يُحْيِي ويُمِيت وهو حَيٌّ لا يَمُوتُ، بِيَدِه الخَيْرُ وهو على كلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ – كَتبَ الله له ألفَ ألْف حسنَةٍ، ومَحَا عنْه ألْفَ ألْف سيِّئةٍ، ورَفَعَ له ألْفَ ألْف درَجَة“Barang siapa yang masuk pasar dan mengucapkan, ‘Laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu biyadihil-khairu wa huwa ‘alaa kulli syain qadiir (artinya: tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia-lah yang hidup, tidak akan pernah mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah yang Mahakuasa atas segala sesuatu);’ maka Allah akan tulis baginya sejuta kebaikan, menghapus sejuta kejelekan (dosa), dan mengangkatnya sejuta derajat” (HR. Tirmidzi no. 3428 dengan sanad dhaif).Di samping itu, beribadah di waktu manusia lalai juga memiliki beberapa keutamaan, diantaranya:Pertama, akan menjadi amalan rahasia dan tersembunyi. Pada dasarnya, menyembunyikan dan merahasiakan ibadah sunah itu lebih utama. Apalagi amalan tersebut adalah puasa, dimana puasa merupakan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.Kedua, lebih berat di hati untuk dikerjakan karena sedikitnya orang yang mengamalkan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda,إنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ القَبْضِ عَلَى الجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ“’Sesungguhnya di belakang kalian (nanti) ada hari-hari, di mana bersabar pada waktu tersebut seperti halnya memegang bara api. Orang yang beramal di waktu tersebut seperti (mendapat) pahala 50 orang.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, seperti pahala 50 orang dari kalangan mereka sendiri atau seperti 50 orang dari kami?’ Nabi menjawab, ’50 orang dari kalian'” (HR. Al-Haitsami di dalam Majma’ Az-Zawaid no. 285).Ketiga, berbuat ketaatan sendirian di saat yang lain bermaksiat dan lalai bisa jadi akan menangkal marabahaya dari manusia seluruhnya. Sehingga ia seakan-akan melindungi dan menjaga mereka (Lathaif Al-Ma’aarif, hal. 191-193).Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwasannya salah satu hikmah berpuasa di bulan Sya’ban adalah mendapatkan keutamaan beramal di waktu manusia yang lain lalai dari mengingat Allah Ta’ala.Beberapa hikmah lainnya dari memperbanyak puasa di bulan Sy’abanPertama, Ibnu Rajab Rahimahullah dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’aarif mengatakan, “Berpuasa pada bulan Sya’ban merupakan bentuk latihan untuk puasa Ramadan. Dengan demikian, ia tidak akan merasa berat dan terbebani ketika mulai puasa Ramadan.”Kedua, Syekh Ibnu Utsaimin Rahimahullah menyebutkan di dalam Majmu’ Fatawa, “Para ahli ilmu mengatakan bahwa puasa pada bulan Sya’ban layaknya salat sunah dan salat rawatib bagi salat wajib 5 waktu (yaitu sebagai pelengkap), dan ia seakan-akan menjadi awal untuk menjalani puasa Ramadan.”Ketiga, amalan setahun kita diangkat kepada Allah pada bulan Sya’ban. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun dosa-dosanya telah diampuni, beliau tetap menginginkan agar ketika amalannya diangkat, sedang dalam kondisi berpuasa.Keempat, sebagian ulama mengatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen. Oleh sebab itu, siapa yang tidak menanam di bulan Rajab, lalu tidak menyiram di bulan Sya’ban, maka apa yang akan ia panen pada bulan Ramadan?Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Ada Apa Dengan Perayaan Malam 27 Rajab Dan Nishfu Sya’ban?Mengenal Hadits-Hadits Lemah Seputar Bulan Sya’ban*** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Sumber:Kitab Lathaif Al-Ma’aarif karya Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah.🔍 Tata Cara Shalat Nabi Dan Dalilnya, Ramadan Kareem Adalah, Amalan Dalam Islam, Doa Ketika Sa'i, Akhlak Kepada Orang Tua Dan GuruTags: amalan di bulan sya'banbulan sya'banfikih puasaibadah puasakeutamaan bulan sya'bankeutamaan puasa sunnahmemperbanyak puasanasihatnasihat islamPuasapuasa sunnahSya'ban

Hikmah Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban, bulan mulia namun sering dilalaikan manusiaKeutamaan bulan Sya’ban tidak lepas dari sejarah penamaannya dahulu kala. Bulan ini dinamakan Sya’ban karena dulu orang jahiliyyah memanfaatkannya untuk berbagai macam aktivitas, misalnya berperang. Hal ini disebakan karena pada bulan Rajab bangsa Arab dilarang melakukan peperangan.Alasan lainnya mengapa dinamakan bulan Sya’ban adalah karena selama bulan ini banyak orang Arab yang berpencar dan bepergian untuk mencari air. Orang yang mencari air tersebut disebut “Sya’baniyyat” atau “Sya’ban”.Letak bulan Sya’ban yang terjepit antara bulan Rajab dan Ramadan akhirnya membuat kebanyakan manusia lalai darinya. Kenapa? Karena bulan Rajab dan Ramadan termasuk bulan yang dihormati di dalam Islam. Pada bulan Rajab seorang muslim dilarang melakukan pertumpahan darah atau berperang dan disunahkan untuk memperbanyak amalan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36).Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata,“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Lathaif Al Ma’arif, 207).Sedangkan di bulan Ramadan, mereka dituntut untuk memperbanyak amalan dan menjauhi kemaksiatan, serta perbuatan maksiat di kedua bulan tersebut lebih berat dosanya daripada bulan-bulan lain.Sehingga ketika datang bulan Sya’ban (yang mana terletak diantara keduanya) mereka mengambil kesempatan untuk melakukan peperangan ataupun menyelesaikan urusan. Akhirnya, kebanyakan mereka lalai dari melakukan ketaatan di bulan ini karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadan.Baca Juga: Penjelasan Malam Nisfu Sya’banAnjuran memperbanyak puasa di bulan Sya’banTerdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan tentang anjuran berpuasa di bulan Sya’ban. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun memperbanyak puasa di bulan Sya’ban daripada bulan-bulan lainnya (selain puasa wajib di bulan Ramadan). Diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, dia berkata,يا رسول الله لَمْ أرك تصوم شهرًا من الشهور ما تصوم من شعبان؟ قال: “ذلك شهر يغفل الناس عنه، بين رجب ورمضان، وهو شهر تُرفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم ““’Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan selain di bulan Sya’ban’. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, yakni di antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan’” (HR. An Nasa’i no. 2357. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan).‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha juga menceritakan tentang bagaimana sifat puasa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam di bulan Sya’ban,فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)Dalam lafaz Muslim, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan,كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali hanya beberapa hari saja (yang beliau tidak berpuasa di dalamnya)” (HR. Muslim no. 1156).Baca Juga: Anjuran Membayar Zakat di Bulan Sya’banBesarnya pahala beramal di waktu lalaiJawaban nabi untuk sahabat Usamah bin Zaid di atas seakan-akan beliau mengatakan kepada kita, “Seorang muslim tidak pantas bagimu untuk lalai dari Allah Ta’ala di saat semua manusia lalai pada-Nya. Seharusnya kamu lebih bersemangat dan menyadari keberadaan Tuhanmu, agar kamu termasuk hamba yang memilih menghadap Allah Ta’ala di saat yang lain lalai dari-Nya. Rajinlah bersedekah di saat semua manusia pelit mengeluarkan hartanya. Bangun malamlah di saat yang lain terlelap dalam tidur. Jagalah salat di saat hamba-hamba yang lain menyia-nyiakannya.”Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam juga ingin menjelaskan pentingnya memanfaatkan dan menghidupkan waktu dengan memperbanyak ketaatan di saat kebanyakan manusia lainnya lalai. Hal ini merupakan sesuatu yang biasa dilakukan orang-orang saleh terdahulu. Mereka senang mengisi waktu antara salat Magrib dan Isya dengan memperbanyak salat karena tahu bahwa waktu ini termasuk yang banyak dilalaikan manusia.Di kesempatan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan menjelaskan besarnya keutamaan yang didapat untuk mereka yang mengingat Allah di waktu manusia-manusia lainnya itu lalai. Kita ambil contoh misalnya saat kita sedang di pasar atau pusat perbelanjaan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فقال: لا إله إلاَّ الله وَحْدَه لا شَريكَ له، له المُلْكُ وله الحمْد، يُحْيِي ويُمِيت وهو حَيٌّ لا يَمُوتُ، بِيَدِه الخَيْرُ وهو على كلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ – كَتبَ الله له ألفَ ألْف حسنَةٍ، ومَحَا عنْه ألْفَ ألْف سيِّئةٍ، ورَفَعَ له ألْفَ ألْف درَجَة“Barang siapa yang masuk pasar dan mengucapkan, ‘Laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu biyadihil-khairu wa huwa ‘alaa kulli syain qadiir (artinya: tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia-lah yang hidup, tidak akan pernah mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah yang Mahakuasa atas segala sesuatu);’ maka Allah akan tulis baginya sejuta kebaikan, menghapus sejuta kejelekan (dosa), dan mengangkatnya sejuta derajat” (HR. Tirmidzi no. 3428 dengan sanad dhaif).Di samping itu, beribadah di waktu manusia lalai juga memiliki beberapa keutamaan, diantaranya:Pertama, akan menjadi amalan rahasia dan tersembunyi. Pada dasarnya, menyembunyikan dan merahasiakan ibadah sunah itu lebih utama. Apalagi amalan tersebut adalah puasa, dimana puasa merupakan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.Kedua, lebih berat di hati untuk dikerjakan karena sedikitnya orang yang mengamalkan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda,إنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ القَبْضِ عَلَى الجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ“’Sesungguhnya di belakang kalian (nanti) ada hari-hari, di mana bersabar pada waktu tersebut seperti halnya memegang bara api. Orang yang beramal di waktu tersebut seperti (mendapat) pahala 50 orang.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, seperti pahala 50 orang dari kalangan mereka sendiri atau seperti 50 orang dari kami?’ Nabi menjawab, ’50 orang dari kalian'” (HR. Al-Haitsami di dalam Majma’ Az-Zawaid no. 285).Ketiga, berbuat ketaatan sendirian di saat yang lain bermaksiat dan lalai bisa jadi akan menangkal marabahaya dari manusia seluruhnya. Sehingga ia seakan-akan melindungi dan menjaga mereka (Lathaif Al-Ma’aarif, hal. 191-193).Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwasannya salah satu hikmah berpuasa di bulan Sya’ban adalah mendapatkan keutamaan beramal di waktu manusia yang lain lalai dari mengingat Allah Ta’ala.Beberapa hikmah lainnya dari memperbanyak puasa di bulan Sy’abanPertama, Ibnu Rajab Rahimahullah dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’aarif mengatakan, “Berpuasa pada bulan Sya’ban merupakan bentuk latihan untuk puasa Ramadan. Dengan demikian, ia tidak akan merasa berat dan terbebani ketika mulai puasa Ramadan.”Kedua, Syekh Ibnu Utsaimin Rahimahullah menyebutkan di dalam Majmu’ Fatawa, “Para ahli ilmu mengatakan bahwa puasa pada bulan Sya’ban layaknya salat sunah dan salat rawatib bagi salat wajib 5 waktu (yaitu sebagai pelengkap), dan ia seakan-akan menjadi awal untuk menjalani puasa Ramadan.”Ketiga, amalan setahun kita diangkat kepada Allah pada bulan Sya’ban. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun dosa-dosanya telah diampuni, beliau tetap menginginkan agar ketika amalannya diangkat, sedang dalam kondisi berpuasa.Keempat, sebagian ulama mengatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen. Oleh sebab itu, siapa yang tidak menanam di bulan Rajab, lalu tidak menyiram di bulan Sya’ban, maka apa yang akan ia panen pada bulan Ramadan?Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Ada Apa Dengan Perayaan Malam 27 Rajab Dan Nishfu Sya’ban?Mengenal Hadits-Hadits Lemah Seputar Bulan Sya’ban*** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Sumber:Kitab Lathaif Al-Ma’aarif karya Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah.🔍 Tata Cara Shalat Nabi Dan Dalilnya, Ramadan Kareem Adalah, Amalan Dalam Islam, Doa Ketika Sa'i, Akhlak Kepada Orang Tua Dan GuruTags: amalan di bulan sya'banbulan sya'banfikih puasaibadah puasakeutamaan bulan sya'bankeutamaan puasa sunnahmemperbanyak puasanasihatnasihat islamPuasapuasa sunnahSya'ban
Bulan Sya’ban, bulan mulia namun sering dilalaikan manusiaKeutamaan bulan Sya’ban tidak lepas dari sejarah penamaannya dahulu kala. Bulan ini dinamakan Sya’ban karena dulu orang jahiliyyah memanfaatkannya untuk berbagai macam aktivitas, misalnya berperang. Hal ini disebakan karena pada bulan Rajab bangsa Arab dilarang melakukan peperangan.Alasan lainnya mengapa dinamakan bulan Sya’ban adalah karena selama bulan ini banyak orang Arab yang berpencar dan bepergian untuk mencari air. Orang yang mencari air tersebut disebut “Sya’baniyyat” atau “Sya’ban”.Letak bulan Sya’ban yang terjepit antara bulan Rajab dan Ramadan akhirnya membuat kebanyakan manusia lalai darinya. Kenapa? Karena bulan Rajab dan Ramadan termasuk bulan yang dihormati di dalam Islam. Pada bulan Rajab seorang muslim dilarang melakukan pertumpahan darah atau berperang dan disunahkan untuk memperbanyak amalan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36).Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata,“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Lathaif Al Ma’arif, 207).Sedangkan di bulan Ramadan, mereka dituntut untuk memperbanyak amalan dan menjauhi kemaksiatan, serta perbuatan maksiat di kedua bulan tersebut lebih berat dosanya daripada bulan-bulan lain.Sehingga ketika datang bulan Sya’ban (yang mana terletak diantara keduanya) mereka mengambil kesempatan untuk melakukan peperangan ataupun menyelesaikan urusan. Akhirnya, kebanyakan mereka lalai dari melakukan ketaatan di bulan ini karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadan.Baca Juga: Penjelasan Malam Nisfu Sya’banAnjuran memperbanyak puasa di bulan Sya’banTerdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan tentang anjuran berpuasa di bulan Sya’ban. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun memperbanyak puasa di bulan Sya’ban daripada bulan-bulan lainnya (selain puasa wajib di bulan Ramadan). Diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, dia berkata,يا رسول الله لَمْ أرك تصوم شهرًا من الشهور ما تصوم من شعبان؟ قال: “ذلك شهر يغفل الناس عنه، بين رجب ورمضان، وهو شهر تُرفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم ““’Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan selain di bulan Sya’ban’. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, yakni di antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan’” (HR. An Nasa’i no. 2357. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan).‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha juga menceritakan tentang bagaimana sifat puasa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam di bulan Sya’ban,فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)Dalam lafaz Muslim, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan,كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali hanya beberapa hari saja (yang beliau tidak berpuasa di dalamnya)” (HR. Muslim no. 1156).Baca Juga: Anjuran Membayar Zakat di Bulan Sya’banBesarnya pahala beramal di waktu lalaiJawaban nabi untuk sahabat Usamah bin Zaid di atas seakan-akan beliau mengatakan kepada kita, “Seorang muslim tidak pantas bagimu untuk lalai dari Allah Ta’ala di saat semua manusia lalai pada-Nya. Seharusnya kamu lebih bersemangat dan menyadari keberadaan Tuhanmu, agar kamu termasuk hamba yang memilih menghadap Allah Ta’ala di saat yang lain lalai dari-Nya. Rajinlah bersedekah di saat semua manusia pelit mengeluarkan hartanya. Bangun malamlah di saat yang lain terlelap dalam tidur. Jagalah salat di saat hamba-hamba yang lain menyia-nyiakannya.”Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam juga ingin menjelaskan pentingnya memanfaatkan dan menghidupkan waktu dengan memperbanyak ketaatan di saat kebanyakan manusia lainnya lalai. Hal ini merupakan sesuatu yang biasa dilakukan orang-orang saleh terdahulu. Mereka senang mengisi waktu antara salat Magrib dan Isya dengan memperbanyak salat karena tahu bahwa waktu ini termasuk yang banyak dilalaikan manusia.Di kesempatan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan menjelaskan besarnya keutamaan yang didapat untuk mereka yang mengingat Allah di waktu manusia-manusia lainnya itu lalai. Kita ambil contoh misalnya saat kita sedang di pasar atau pusat perbelanjaan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فقال: لا إله إلاَّ الله وَحْدَه لا شَريكَ له، له المُلْكُ وله الحمْد، يُحْيِي ويُمِيت وهو حَيٌّ لا يَمُوتُ، بِيَدِه الخَيْرُ وهو على كلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ – كَتبَ الله له ألفَ ألْف حسنَةٍ، ومَحَا عنْه ألْفَ ألْف سيِّئةٍ، ورَفَعَ له ألْفَ ألْف درَجَة“Barang siapa yang masuk pasar dan mengucapkan, ‘Laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu biyadihil-khairu wa huwa ‘alaa kulli syain qadiir (artinya: tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia-lah yang hidup, tidak akan pernah mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah yang Mahakuasa atas segala sesuatu);’ maka Allah akan tulis baginya sejuta kebaikan, menghapus sejuta kejelekan (dosa), dan mengangkatnya sejuta derajat” (HR. Tirmidzi no. 3428 dengan sanad dhaif).Di samping itu, beribadah di waktu manusia lalai juga memiliki beberapa keutamaan, diantaranya:Pertama, akan menjadi amalan rahasia dan tersembunyi. Pada dasarnya, menyembunyikan dan merahasiakan ibadah sunah itu lebih utama. Apalagi amalan tersebut adalah puasa, dimana puasa merupakan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.Kedua, lebih berat di hati untuk dikerjakan karena sedikitnya orang yang mengamalkan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda,إنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ القَبْضِ عَلَى الجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ“’Sesungguhnya di belakang kalian (nanti) ada hari-hari, di mana bersabar pada waktu tersebut seperti halnya memegang bara api. Orang yang beramal di waktu tersebut seperti (mendapat) pahala 50 orang.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, seperti pahala 50 orang dari kalangan mereka sendiri atau seperti 50 orang dari kami?’ Nabi menjawab, ’50 orang dari kalian'” (HR. Al-Haitsami di dalam Majma’ Az-Zawaid no. 285).Ketiga, berbuat ketaatan sendirian di saat yang lain bermaksiat dan lalai bisa jadi akan menangkal marabahaya dari manusia seluruhnya. Sehingga ia seakan-akan melindungi dan menjaga mereka (Lathaif Al-Ma’aarif, hal. 191-193).Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwasannya salah satu hikmah berpuasa di bulan Sya’ban adalah mendapatkan keutamaan beramal di waktu manusia yang lain lalai dari mengingat Allah Ta’ala.Beberapa hikmah lainnya dari memperbanyak puasa di bulan Sy’abanPertama, Ibnu Rajab Rahimahullah dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’aarif mengatakan, “Berpuasa pada bulan Sya’ban merupakan bentuk latihan untuk puasa Ramadan. Dengan demikian, ia tidak akan merasa berat dan terbebani ketika mulai puasa Ramadan.”Kedua, Syekh Ibnu Utsaimin Rahimahullah menyebutkan di dalam Majmu’ Fatawa, “Para ahli ilmu mengatakan bahwa puasa pada bulan Sya’ban layaknya salat sunah dan salat rawatib bagi salat wajib 5 waktu (yaitu sebagai pelengkap), dan ia seakan-akan menjadi awal untuk menjalani puasa Ramadan.”Ketiga, amalan setahun kita diangkat kepada Allah pada bulan Sya’ban. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun dosa-dosanya telah diampuni, beliau tetap menginginkan agar ketika amalannya diangkat, sedang dalam kondisi berpuasa.Keempat, sebagian ulama mengatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen. Oleh sebab itu, siapa yang tidak menanam di bulan Rajab, lalu tidak menyiram di bulan Sya’ban, maka apa yang akan ia panen pada bulan Ramadan?Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Ada Apa Dengan Perayaan Malam 27 Rajab Dan Nishfu Sya’ban?Mengenal Hadits-Hadits Lemah Seputar Bulan Sya’ban*** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Sumber:Kitab Lathaif Al-Ma’aarif karya Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah.🔍 Tata Cara Shalat Nabi Dan Dalilnya, Ramadan Kareem Adalah, Amalan Dalam Islam, Doa Ketika Sa'i, Akhlak Kepada Orang Tua Dan GuruTags: amalan di bulan sya'banbulan sya'banfikih puasaibadah puasakeutamaan bulan sya'bankeutamaan puasa sunnahmemperbanyak puasanasihatnasihat islamPuasapuasa sunnahSya'ban


Bulan Sya’ban, bulan mulia namun sering dilalaikan manusiaKeutamaan bulan Sya’ban tidak lepas dari sejarah penamaannya dahulu kala. Bulan ini dinamakan Sya’ban karena dulu orang jahiliyyah memanfaatkannya untuk berbagai macam aktivitas, misalnya berperang. Hal ini disebakan karena pada bulan Rajab bangsa Arab dilarang melakukan peperangan.Alasan lainnya mengapa dinamakan bulan Sya’ban adalah karena selama bulan ini banyak orang Arab yang berpencar dan bepergian untuk mencari air. Orang yang mencari air tersebut disebut “Sya’baniyyat” atau “Sya’ban”.Letak bulan Sya’ban yang terjepit antara bulan Rajab dan Ramadan akhirnya membuat kebanyakan manusia lalai darinya. Kenapa? Karena bulan Rajab dan Ramadan termasuk bulan yang dihormati di dalam Islam. Pada bulan Rajab seorang muslim dilarang melakukan pertumpahan darah atau berperang dan disunahkan untuk memperbanyak amalan. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36).Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata,“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Lathaif Al Ma’arif, 207).Sedangkan di bulan Ramadan, mereka dituntut untuk memperbanyak amalan dan menjauhi kemaksiatan, serta perbuatan maksiat di kedua bulan tersebut lebih berat dosanya daripada bulan-bulan lain.Sehingga ketika datang bulan Sya’ban (yang mana terletak diantara keduanya) mereka mengambil kesempatan untuk melakukan peperangan ataupun menyelesaikan urusan. Akhirnya, kebanyakan mereka lalai dari melakukan ketaatan di bulan ini karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadan.Baca Juga: Penjelasan Malam Nisfu Sya’banAnjuran memperbanyak puasa di bulan Sya’banTerdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan tentang anjuran berpuasa di bulan Sya’ban. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun memperbanyak puasa di bulan Sya’ban daripada bulan-bulan lainnya (selain puasa wajib di bulan Ramadan). Diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, dia berkata,يا رسول الله لَمْ أرك تصوم شهرًا من الشهور ما تصوم من شعبان؟ قال: “ذلك شهر يغفل الناس عنه، بين رجب ورمضان، وهو شهر تُرفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم ““’Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan selain di bulan Sya’ban’. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, yakni di antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan’” (HR. An Nasa’i no. 2357. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan).‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha juga menceritakan tentang bagaimana sifat puasa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam di bulan Sya’ban,فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)Dalam lafaz Muslim, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan,كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali hanya beberapa hari saja (yang beliau tidak berpuasa di dalamnya)” (HR. Muslim no. 1156).Baca Juga: Anjuran Membayar Zakat di Bulan Sya’banBesarnya pahala beramal di waktu lalaiJawaban nabi untuk sahabat Usamah bin Zaid di atas seakan-akan beliau mengatakan kepada kita, “Seorang muslim tidak pantas bagimu untuk lalai dari Allah Ta’ala di saat semua manusia lalai pada-Nya. Seharusnya kamu lebih bersemangat dan menyadari keberadaan Tuhanmu, agar kamu termasuk hamba yang memilih menghadap Allah Ta’ala di saat yang lain lalai dari-Nya. Rajinlah bersedekah di saat semua manusia pelit mengeluarkan hartanya. Bangun malamlah di saat yang lain terlelap dalam tidur. Jagalah salat di saat hamba-hamba yang lain menyia-nyiakannya.”Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam juga ingin menjelaskan pentingnya memanfaatkan dan menghidupkan waktu dengan memperbanyak ketaatan di saat kebanyakan manusia lainnya lalai. Hal ini merupakan sesuatu yang biasa dilakukan orang-orang saleh terdahulu. Mereka senang mengisi waktu antara salat Magrib dan Isya dengan memperbanyak salat karena tahu bahwa waktu ini termasuk yang banyak dilalaikan manusia.Di kesempatan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan menjelaskan besarnya keutamaan yang didapat untuk mereka yang mengingat Allah di waktu manusia-manusia lainnya itu lalai. Kita ambil contoh misalnya saat kita sedang di pasar atau pusat perbelanjaan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فقال: لا إله إلاَّ الله وَحْدَه لا شَريكَ له، له المُلْكُ وله الحمْد، يُحْيِي ويُمِيت وهو حَيٌّ لا يَمُوتُ، بِيَدِه الخَيْرُ وهو على كلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ – كَتبَ الله له ألفَ ألْف حسنَةٍ، ومَحَا عنْه ألْفَ ألْف سيِّئةٍ، ورَفَعَ له ألْفَ ألْف درَجَة“Barang siapa yang masuk pasar dan mengucapkan, ‘Laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu yuhyii wa yumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu biyadihil-khairu wa huwa ‘alaa kulli syain qadiir (artinya: tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia-lah yang hidup, tidak akan pernah mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah yang Mahakuasa atas segala sesuatu);’ maka Allah akan tulis baginya sejuta kebaikan, menghapus sejuta kejelekan (dosa), dan mengangkatnya sejuta derajat” (HR. Tirmidzi no. 3428 dengan sanad dhaif).Di samping itu, beribadah di waktu manusia lalai juga memiliki beberapa keutamaan, diantaranya:Pertama, akan menjadi amalan rahasia dan tersembunyi. Pada dasarnya, menyembunyikan dan merahasiakan ibadah sunah itu lebih utama. Apalagi amalan tersebut adalah puasa, dimana puasa merupakan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.Kedua, lebih berat di hati untuk dikerjakan karena sedikitnya orang yang mengamalkan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda,إنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ القَبْضِ عَلَى الجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ“’Sesungguhnya di belakang kalian (nanti) ada hari-hari, di mana bersabar pada waktu tersebut seperti halnya memegang bara api. Orang yang beramal di waktu tersebut seperti (mendapat) pahala 50 orang.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, seperti pahala 50 orang dari kalangan mereka sendiri atau seperti 50 orang dari kami?’ Nabi menjawab, ’50 orang dari kalian'” (HR. Al-Haitsami di dalam Majma’ Az-Zawaid no. 285).Ketiga, berbuat ketaatan sendirian di saat yang lain bermaksiat dan lalai bisa jadi akan menangkal marabahaya dari manusia seluruhnya. Sehingga ia seakan-akan melindungi dan menjaga mereka (Lathaif Al-Ma’aarif, hal. 191-193).Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwasannya salah satu hikmah berpuasa di bulan Sya’ban adalah mendapatkan keutamaan beramal di waktu manusia yang lain lalai dari mengingat Allah Ta’ala.Beberapa hikmah lainnya dari memperbanyak puasa di bulan Sy’abanPertama, Ibnu Rajab Rahimahullah dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’aarif mengatakan, “Berpuasa pada bulan Sya’ban merupakan bentuk latihan untuk puasa Ramadan. Dengan demikian, ia tidak akan merasa berat dan terbebani ketika mulai puasa Ramadan.”Kedua, Syekh Ibnu Utsaimin Rahimahullah menyebutkan di dalam Majmu’ Fatawa, “Para ahli ilmu mengatakan bahwa puasa pada bulan Sya’ban layaknya salat sunah dan salat rawatib bagi salat wajib 5 waktu (yaitu sebagai pelengkap), dan ia seakan-akan menjadi awal untuk menjalani puasa Ramadan.”Ketiga, amalan setahun kita diangkat kepada Allah pada bulan Sya’ban. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun dosa-dosanya telah diampuni, beliau tetap menginginkan agar ketika amalannya diangkat, sedang dalam kondisi berpuasa.Keempat, sebagian ulama mengatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen. Oleh sebab itu, siapa yang tidak menanam di bulan Rajab, lalu tidak menyiram di bulan Sya’ban, maka apa yang akan ia panen pada bulan Ramadan?Wallahu a’lam bisshowaab.Baca Juga:Ada Apa Dengan Perayaan Malam 27 Rajab Dan Nishfu Sya’ban?Mengenal Hadits-Hadits Lemah Seputar Bulan Sya’ban*** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Sumber:Kitab Lathaif Al-Ma’aarif karya Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah.🔍 Tata Cara Shalat Nabi Dan Dalilnya, Ramadan Kareem Adalah, Amalan Dalam Islam, Doa Ketika Sa'i, Akhlak Kepada Orang Tua Dan GuruTags: amalan di bulan sya'banbulan sya'banfikih puasaibadah puasakeutamaan bulan sya'bankeutamaan puasa sunnahmemperbanyak puasanasihatnasihat islamPuasapuasa sunnahSya'ban

Beda Witir dan Qiyamul Lail – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Beda Witir dan Qiyamul Lail – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Namun demikian, kita harus memperhatikan masalah ini, banyak penuntut ilmu keliru memahaminya, yaitu mereka tidak bisa membedakan antara Salat Witir dan Qiyamul Lail, karena memahami perbedaan keduanya, sangat penting. Salat Witir adalah bagian dari Qiyamul Lail. Salat Witir berbeda dengan Qiyamul Lail dalam beberapa hukum fiqih, yaitu, Salat Witir adalah salat yang bisa di-qada, berbeda dengan Salat Malam pada Qiyamul Lail, dan Salat Witir dibatasi jumlah rakaatnya, berbeda dengan Salat Malam pada Qiyamul Lail, karena Salat Malam pada Qiyamul Lail tidak ada batasan rakaatnya. “Salat Malam adalah dua rakaat dua rakaat.” (HR. Bukhari) Adapun Salat Witir, paling sedikit satu rakaat atau tiga rakaat, dan jumlah rakaat Salat Witir yang paling banyak dan paling utama adalah sebelas rakaat. Qiyamul Lail dimulai sejak Salat Maghrib, sehingga ini menghidupkan malam dengan berbagai amalan di antara dua ʿIsya (yaitu antara Maghrib dan ʿIsya), seperti yang biasa dilakukan para sahabat, di sini, di masjid Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Itu termasuk Qiyamul Lail. Sedangkan Salat Witir tidak boleh dikerjakan kecuali setelah Salat ʿIsya. Demikianlah beberapa hukum yang membedakan antara keduanya. ================================================================================ وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ نَنْتَبِهَ لِلْمَسْأَلَةِ يُخْطِئُ فِيهَا كَثِيرٌ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَهُوَ عَدَمُ التَّفْرِيقِ بَيْنَ الْوِتْرِ وَقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّ التَّفْرِيقَ بَيْنَهُمَا مُهِمٌّ جِدًّا فَإِنَّ الْوِتْرَ جُزْءٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ يَخْتَلِفُ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي أَحْكَامٍ مُتَعَدِّدَةٍ فَإِنَّهُ هُوَ الَّذِي يُقْضَى دُونَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَهُوَ الَّذِي لَهُ عَدَدٌ دُونَ قِيَامِ اللَّيْلِ فَقِيَامُ اللَّيْلِ لَا عَدَدَ لَهُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَأَمَّا الْوِتْرُ فَهُوَ إِمَّا وَاحِدٌ أَوْ ثَلاثٌ وَأَقْصَى الْكَمَالِ فِيهِ وَأَفْضَلُهُ هُوَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قِيَامُ اللَّيْلِ يَبْدَأُ بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ فَإِحْيَاءِ مَا بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ كَمَا كَانَ يَفْعَلُهُ الصَّحَابَةُ هُنَا فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ بَيْنَمَا الْوِتْرُ مَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهَكَذَا مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي يَعْنِي يَفْتَرِقَانِ فِيهَا  

Beda Witir dan Qiyamul Lail – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Beda Witir dan Qiyamul Lail – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Namun demikian, kita harus memperhatikan masalah ini, banyak penuntut ilmu keliru memahaminya, yaitu mereka tidak bisa membedakan antara Salat Witir dan Qiyamul Lail, karena memahami perbedaan keduanya, sangat penting. Salat Witir adalah bagian dari Qiyamul Lail. Salat Witir berbeda dengan Qiyamul Lail dalam beberapa hukum fiqih, yaitu, Salat Witir adalah salat yang bisa di-qada, berbeda dengan Salat Malam pada Qiyamul Lail, dan Salat Witir dibatasi jumlah rakaatnya, berbeda dengan Salat Malam pada Qiyamul Lail, karena Salat Malam pada Qiyamul Lail tidak ada batasan rakaatnya. “Salat Malam adalah dua rakaat dua rakaat.” (HR. Bukhari) Adapun Salat Witir, paling sedikit satu rakaat atau tiga rakaat, dan jumlah rakaat Salat Witir yang paling banyak dan paling utama adalah sebelas rakaat. Qiyamul Lail dimulai sejak Salat Maghrib, sehingga ini menghidupkan malam dengan berbagai amalan di antara dua ʿIsya (yaitu antara Maghrib dan ʿIsya), seperti yang biasa dilakukan para sahabat, di sini, di masjid Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Itu termasuk Qiyamul Lail. Sedangkan Salat Witir tidak boleh dikerjakan kecuali setelah Salat ʿIsya. Demikianlah beberapa hukum yang membedakan antara keduanya. ================================================================================ وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ نَنْتَبِهَ لِلْمَسْأَلَةِ يُخْطِئُ فِيهَا كَثِيرٌ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَهُوَ عَدَمُ التَّفْرِيقِ بَيْنَ الْوِتْرِ وَقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّ التَّفْرِيقَ بَيْنَهُمَا مُهِمٌّ جِدًّا فَإِنَّ الْوِتْرَ جُزْءٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ يَخْتَلِفُ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي أَحْكَامٍ مُتَعَدِّدَةٍ فَإِنَّهُ هُوَ الَّذِي يُقْضَى دُونَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَهُوَ الَّذِي لَهُ عَدَدٌ دُونَ قِيَامِ اللَّيْلِ فَقِيَامُ اللَّيْلِ لَا عَدَدَ لَهُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَأَمَّا الْوِتْرُ فَهُوَ إِمَّا وَاحِدٌ أَوْ ثَلاثٌ وَأَقْصَى الْكَمَالِ فِيهِ وَأَفْضَلُهُ هُوَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قِيَامُ اللَّيْلِ يَبْدَأُ بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ فَإِحْيَاءِ مَا بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ كَمَا كَانَ يَفْعَلُهُ الصَّحَابَةُ هُنَا فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ بَيْنَمَا الْوِتْرُ مَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهَكَذَا مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي يَعْنِي يَفْتَرِقَانِ فِيهَا  
Beda Witir dan Qiyamul Lail – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Namun demikian, kita harus memperhatikan masalah ini, banyak penuntut ilmu keliru memahaminya, yaitu mereka tidak bisa membedakan antara Salat Witir dan Qiyamul Lail, karena memahami perbedaan keduanya, sangat penting. Salat Witir adalah bagian dari Qiyamul Lail. Salat Witir berbeda dengan Qiyamul Lail dalam beberapa hukum fiqih, yaitu, Salat Witir adalah salat yang bisa di-qada, berbeda dengan Salat Malam pada Qiyamul Lail, dan Salat Witir dibatasi jumlah rakaatnya, berbeda dengan Salat Malam pada Qiyamul Lail, karena Salat Malam pada Qiyamul Lail tidak ada batasan rakaatnya. “Salat Malam adalah dua rakaat dua rakaat.” (HR. Bukhari) Adapun Salat Witir, paling sedikit satu rakaat atau tiga rakaat, dan jumlah rakaat Salat Witir yang paling banyak dan paling utama adalah sebelas rakaat. Qiyamul Lail dimulai sejak Salat Maghrib, sehingga ini menghidupkan malam dengan berbagai amalan di antara dua ʿIsya (yaitu antara Maghrib dan ʿIsya), seperti yang biasa dilakukan para sahabat, di sini, di masjid Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Itu termasuk Qiyamul Lail. Sedangkan Salat Witir tidak boleh dikerjakan kecuali setelah Salat ʿIsya. Demikianlah beberapa hukum yang membedakan antara keduanya. ================================================================================ وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ نَنْتَبِهَ لِلْمَسْأَلَةِ يُخْطِئُ فِيهَا كَثِيرٌ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَهُوَ عَدَمُ التَّفْرِيقِ بَيْنَ الْوِتْرِ وَقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّ التَّفْرِيقَ بَيْنَهُمَا مُهِمٌّ جِدًّا فَإِنَّ الْوِتْرَ جُزْءٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ يَخْتَلِفُ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي أَحْكَامٍ مُتَعَدِّدَةٍ فَإِنَّهُ هُوَ الَّذِي يُقْضَى دُونَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَهُوَ الَّذِي لَهُ عَدَدٌ دُونَ قِيَامِ اللَّيْلِ فَقِيَامُ اللَّيْلِ لَا عَدَدَ لَهُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَأَمَّا الْوِتْرُ فَهُوَ إِمَّا وَاحِدٌ أَوْ ثَلاثٌ وَأَقْصَى الْكَمَالِ فِيهِ وَأَفْضَلُهُ هُوَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قِيَامُ اللَّيْلِ يَبْدَأُ بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ فَإِحْيَاءِ مَا بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ كَمَا كَانَ يَفْعَلُهُ الصَّحَابَةُ هُنَا فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ بَيْنَمَا الْوِتْرُ مَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهَكَذَا مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي يَعْنِي يَفْتَرِقَانِ فِيهَا  


Beda Witir dan Qiyamul Lail – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Namun demikian, kita harus memperhatikan masalah ini, banyak penuntut ilmu keliru memahaminya, yaitu mereka tidak bisa membedakan antara Salat Witir dan Qiyamul Lail, karena memahami perbedaan keduanya, sangat penting. Salat Witir adalah bagian dari Qiyamul Lail. Salat Witir berbeda dengan Qiyamul Lail dalam beberapa hukum fiqih, yaitu, Salat Witir adalah salat yang bisa di-qada, berbeda dengan Salat Malam pada Qiyamul Lail, dan Salat Witir dibatasi jumlah rakaatnya, berbeda dengan Salat Malam pada Qiyamul Lail, karena Salat Malam pada Qiyamul Lail tidak ada batasan rakaatnya. “Salat Malam adalah dua rakaat dua rakaat.” (HR. Bukhari) Adapun Salat Witir, paling sedikit satu rakaat atau tiga rakaat, dan jumlah rakaat Salat Witir yang paling banyak dan paling utama adalah sebelas rakaat. Qiyamul Lail dimulai sejak Salat Maghrib, sehingga ini menghidupkan malam dengan berbagai amalan di antara dua ʿIsya (yaitu antara Maghrib dan ʿIsya), seperti yang biasa dilakukan para sahabat, di sini, di masjid Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Itu termasuk Qiyamul Lail. Sedangkan Salat Witir tidak boleh dikerjakan kecuali setelah Salat ʿIsya. Demikianlah beberapa hukum yang membedakan antara keduanya. ================================================================================ وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ نَنْتَبِهَ لِلْمَسْأَلَةِ يُخْطِئُ فِيهَا كَثِيرٌ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَهُوَ عَدَمُ التَّفْرِيقِ بَيْنَ الْوِتْرِ وَقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّ التَّفْرِيقَ بَيْنَهُمَا مُهِمٌّ جِدًّا فَإِنَّ الْوِتْرَ جُزْءٌ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ يَخْتَلِفُ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي أَحْكَامٍ مُتَعَدِّدَةٍ فَإِنَّهُ هُوَ الَّذِي يُقْضَى دُونَ قِيَامِ اللَّيْلِ وَهُوَ الَّذِي لَهُ عَدَدٌ دُونَ قِيَامِ اللَّيْلِ فَقِيَامُ اللَّيْلِ لَا عَدَدَ لَهُ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَأَمَّا الْوِتْرُ فَهُوَ إِمَّا وَاحِدٌ أَوْ ثَلاثٌ وَأَقْصَى الْكَمَالِ فِيهِ وَأَفْضَلُهُ هُوَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قِيَامُ اللَّيْلِ يَبْدَأُ بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ فَإِحْيَاءِ مَا بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ كَمَا كَانَ يَفْعَلُهُ الصَّحَابَةُ هُنَا فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ بَيْنَمَا الْوِتْرُ مَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهَكَذَا مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي يَعْنِي يَفْتَرِقَانِ فِيهَا  

Kau Mau Maksiat? Ingat Ayat Ini! – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Kau Mau Maksiat? Ingat Ayat Ini! – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Terkadang, seseorang diajak melakukan maksiat. Nah, adakah sesuatu yang bisa menguatkannya (agar tidak bermaksiat)? Ada ayat dan hadis, misalnya ini: Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut terhadap azab, pada hari yang besar, jika aku bermaksiat kepada Tuhanku.” (QS. Az-Zumar: 13) Juga, ayat: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Maidah: 28) Ini disebutkan dalam al-Quran dan Sunah, yaitu pada hadis tentang tujuh golongan (yang mendapat naungan Allah), di antaranya adalah seseorang yang diajak berzina oleh wanita yang punya jabatan dan cantik. Kalimat-kalimat ini, pengaruhnya sangat besar terhadap dirinya dan orang lain. =============================================================================== أَحْيَانًا يُدْعَى الْوَاحِدُ إِلَى الْمَعْصِيَةِ أَوْ إِلَى الْمُشَارَكَةِ فِيهَا طَيِّبٌ مَا الَّذِي يُثَبِّتُهُ؟ آيَةٌ حَدِيثٌ مَثَلًا قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ أَيْضًا: إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ وَرَدَتْ فِي الْقُرْآنِ وَفِي السُّنَّةِ فِي حَدِيثِ السَّبْعَةِ وَمِنْهُمُ الَّذِي دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ هَذِهِ الْعِبَارَاتُ لِلنَّفْسِ وَلِلْآخَرِينَ وَقْعُهَا عَظِيمٌ لِلْغَايَةِ    

Kau Mau Maksiat? Ingat Ayat Ini! – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Kau Mau Maksiat? Ingat Ayat Ini! – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Terkadang, seseorang diajak melakukan maksiat. Nah, adakah sesuatu yang bisa menguatkannya (agar tidak bermaksiat)? Ada ayat dan hadis, misalnya ini: Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut terhadap azab, pada hari yang besar, jika aku bermaksiat kepada Tuhanku.” (QS. Az-Zumar: 13) Juga, ayat: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Maidah: 28) Ini disebutkan dalam al-Quran dan Sunah, yaitu pada hadis tentang tujuh golongan (yang mendapat naungan Allah), di antaranya adalah seseorang yang diajak berzina oleh wanita yang punya jabatan dan cantik. Kalimat-kalimat ini, pengaruhnya sangat besar terhadap dirinya dan orang lain. =============================================================================== أَحْيَانًا يُدْعَى الْوَاحِدُ إِلَى الْمَعْصِيَةِ أَوْ إِلَى الْمُشَارَكَةِ فِيهَا طَيِّبٌ مَا الَّذِي يُثَبِّتُهُ؟ آيَةٌ حَدِيثٌ مَثَلًا قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ أَيْضًا: إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ وَرَدَتْ فِي الْقُرْآنِ وَفِي السُّنَّةِ فِي حَدِيثِ السَّبْعَةِ وَمِنْهُمُ الَّذِي دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ هَذِهِ الْعِبَارَاتُ لِلنَّفْسِ وَلِلْآخَرِينَ وَقْعُهَا عَظِيمٌ لِلْغَايَةِ    
Kau Mau Maksiat? Ingat Ayat Ini! – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Terkadang, seseorang diajak melakukan maksiat. Nah, adakah sesuatu yang bisa menguatkannya (agar tidak bermaksiat)? Ada ayat dan hadis, misalnya ini: Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut terhadap azab, pada hari yang besar, jika aku bermaksiat kepada Tuhanku.” (QS. Az-Zumar: 13) Juga, ayat: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Maidah: 28) Ini disebutkan dalam al-Quran dan Sunah, yaitu pada hadis tentang tujuh golongan (yang mendapat naungan Allah), di antaranya adalah seseorang yang diajak berzina oleh wanita yang punya jabatan dan cantik. Kalimat-kalimat ini, pengaruhnya sangat besar terhadap dirinya dan orang lain. =============================================================================== أَحْيَانًا يُدْعَى الْوَاحِدُ إِلَى الْمَعْصِيَةِ أَوْ إِلَى الْمُشَارَكَةِ فِيهَا طَيِّبٌ مَا الَّذِي يُثَبِّتُهُ؟ آيَةٌ حَدِيثٌ مَثَلًا قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ أَيْضًا: إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ وَرَدَتْ فِي الْقُرْآنِ وَفِي السُّنَّةِ فِي حَدِيثِ السَّبْعَةِ وَمِنْهُمُ الَّذِي دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ هَذِهِ الْعِبَارَاتُ لِلنَّفْسِ وَلِلْآخَرِينَ وَقْعُهَا عَظِيمٌ لِلْغَايَةِ    


Kau Mau Maksiat? Ingat Ayat Ini! – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Terkadang, seseorang diajak melakukan maksiat. Nah, adakah sesuatu yang bisa menguatkannya (agar tidak bermaksiat)? Ada ayat dan hadis, misalnya ini: Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut terhadap azab, pada hari yang besar, jika aku bermaksiat kepada Tuhanku.” (QS. Az-Zumar: 13) Juga, ayat: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Maidah: 28) Ini disebutkan dalam al-Quran dan Sunah, yaitu pada hadis tentang tujuh golongan (yang mendapat naungan Allah), di antaranya adalah seseorang yang diajak berzina oleh wanita yang punya jabatan dan cantik. Kalimat-kalimat ini, pengaruhnya sangat besar terhadap dirinya dan orang lain. =============================================================================== أَحْيَانًا يُدْعَى الْوَاحِدُ إِلَى الْمَعْصِيَةِ أَوْ إِلَى الْمُشَارَكَةِ فِيهَا طَيِّبٌ مَا الَّذِي يُثَبِّتُهُ؟ آيَةٌ حَدِيثٌ مَثَلًا قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ أَيْضًا: إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ وَرَدَتْ فِي الْقُرْآنِ وَفِي السُّنَّةِ فِي حَدِيثِ السَّبْعَةِ وَمِنْهُمُ الَّذِي دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ هَذِهِ الْعِبَارَاتُ لِلنَّفْسِ وَلِلْآخَرِينَ وَقْعُهَا عَظِيمٌ لِلْغَايَةِ    

Kau Akan Lelah Jika Tak Kau Tundukkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Kau Akan Lelah Jika Tak Kau Tundukkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya milik Allah. Tuhan kita telah memerintahkan, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menundukkan pandangannya, …” (QS. An-Nur: 30) “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menundukkan pandangannya, …” (QS. An-Nur: 31) Video-video porno yang banyak tersebar sekarang, sesuai dengan ucapan penyair, “Apabila kau mengumbar pandangan yang menjadi jendela hatimu di suatu hari, maka pemandangan itu akan melelahkanmu. Kau melihat apa yang tidak mampu kau miliki semuanya, tidak pula kau mampu bersabar dari sebagiannya.” Dan ini adalah sumber frustrasi, kehinaan, dan kegalauan, akibat dari menonton video-video tersebut. =============================================================================== الْحَمْدُ لِلهِ رَبُّنَا تَعَالَى أَمَرَ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ الْمَقَاطِعُ الْقَبِيحَةُ الْإِبَاحِيَّةُ الْمُنْتَشِرَةُ الْيَوْمَ يَنْطَبِقُ عَلَيْهَا قَوْلُ الشَّاعِرِ وَكُنْتَ مَتَى أَرْسَلْتَ طَرَفَكَ رَائِدًا لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ رَأَيْتَ الَّذِي لَا كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ عَلَيْهِ وَلَا عَنْ بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ وَهَذَا مَنْشَأُ الْإِحْبَاطِ وَالْإِذْلَالِ وَالِاكْتِئَابِ مِنْ وَرَاءِ مُشَاهَدَةِ هَذِه الْمَقَاطِعِ  

Kau Akan Lelah Jika Tak Kau Tundukkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Kau Akan Lelah Jika Tak Kau Tundukkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya milik Allah. Tuhan kita telah memerintahkan, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menundukkan pandangannya, …” (QS. An-Nur: 30) “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menundukkan pandangannya, …” (QS. An-Nur: 31) Video-video porno yang banyak tersebar sekarang, sesuai dengan ucapan penyair, “Apabila kau mengumbar pandangan yang menjadi jendela hatimu di suatu hari, maka pemandangan itu akan melelahkanmu. Kau melihat apa yang tidak mampu kau miliki semuanya, tidak pula kau mampu bersabar dari sebagiannya.” Dan ini adalah sumber frustrasi, kehinaan, dan kegalauan, akibat dari menonton video-video tersebut. =============================================================================== الْحَمْدُ لِلهِ رَبُّنَا تَعَالَى أَمَرَ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ الْمَقَاطِعُ الْقَبِيحَةُ الْإِبَاحِيَّةُ الْمُنْتَشِرَةُ الْيَوْمَ يَنْطَبِقُ عَلَيْهَا قَوْلُ الشَّاعِرِ وَكُنْتَ مَتَى أَرْسَلْتَ طَرَفَكَ رَائِدًا لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ رَأَيْتَ الَّذِي لَا كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ عَلَيْهِ وَلَا عَنْ بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ وَهَذَا مَنْشَأُ الْإِحْبَاطِ وَالْإِذْلَالِ وَالِاكْتِئَابِ مِنْ وَرَاءِ مُشَاهَدَةِ هَذِه الْمَقَاطِعِ  
Kau Akan Lelah Jika Tak Kau Tundukkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya milik Allah. Tuhan kita telah memerintahkan, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menundukkan pandangannya, …” (QS. An-Nur: 30) “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menundukkan pandangannya, …” (QS. An-Nur: 31) Video-video porno yang banyak tersebar sekarang, sesuai dengan ucapan penyair, “Apabila kau mengumbar pandangan yang menjadi jendela hatimu di suatu hari, maka pemandangan itu akan melelahkanmu. Kau melihat apa yang tidak mampu kau miliki semuanya, tidak pula kau mampu bersabar dari sebagiannya.” Dan ini adalah sumber frustrasi, kehinaan, dan kegalauan, akibat dari menonton video-video tersebut. =============================================================================== الْحَمْدُ لِلهِ رَبُّنَا تَعَالَى أَمَرَ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ الْمَقَاطِعُ الْقَبِيحَةُ الْإِبَاحِيَّةُ الْمُنْتَشِرَةُ الْيَوْمَ يَنْطَبِقُ عَلَيْهَا قَوْلُ الشَّاعِرِ وَكُنْتَ مَتَى أَرْسَلْتَ طَرَفَكَ رَائِدًا لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ رَأَيْتَ الَّذِي لَا كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ عَلَيْهِ وَلَا عَنْ بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ وَهَذَا مَنْشَأُ الْإِحْبَاطِ وَالْإِذْلَالِ وَالِاكْتِئَابِ مِنْ وَرَاءِ مُشَاهَدَةِ هَذِه الْمَقَاطِعِ  


Kau Akan Lelah Jika Tak Kau Tundukkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya milik Allah. Tuhan kita telah memerintahkan, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menundukkan pandangannya, …” (QS. An-Nur: 30) “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menundukkan pandangannya, …” (QS. An-Nur: 31) Video-video porno yang banyak tersebar sekarang, sesuai dengan ucapan penyair, “Apabila kau mengumbar pandangan yang menjadi jendela hatimu di suatu hari, maka pemandangan itu akan melelahkanmu. Kau melihat apa yang tidak mampu kau miliki semuanya, tidak pula kau mampu bersabar dari sebagiannya.” Dan ini adalah sumber frustrasi, kehinaan, dan kegalauan, akibat dari menonton video-video tersebut. =============================================================================== الْحَمْدُ لِلهِ رَبُّنَا تَعَالَى أَمَرَ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ الْمَقَاطِعُ الْقَبِيحَةُ الْإِبَاحِيَّةُ الْمُنْتَشِرَةُ الْيَوْمَ يَنْطَبِقُ عَلَيْهَا قَوْلُ الشَّاعِرِ وَكُنْتَ مَتَى أَرْسَلْتَ طَرَفَكَ رَائِدًا لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ رَأَيْتَ الَّذِي لَا كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ عَلَيْهِ وَلَا عَنْ بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ وَهَذَا مَنْشَأُ الْإِحْبَاطِ وَالْإِذْلَالِ وَالِاكْتِئَابِ مِنْ وَرَاءِ مُشَاهَدَةِ هَذِه الْمَقَاطِعِ  

Tips + 2 Faidah Ayah Menafkahi Anak – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Tips + 2 Faidah Ayah Menafkahi Anak – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Salah satu sebab yang tampak (dalam mendidik anak) yang dapat dilakukan oleh kedua orangtua, dan khususnya seorang ayah, adalah memberi nafkah kepada anak-anaknya. Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan seorang ayah untuk memberi nafkah anak-anaknya, tanpa terlalu mewah dan menimbulkan kesombongan, dan tidak pula terlalu pelit dan serba kekurangan. Jika seorang ayah telah mencukupi nafkah bagi anak-anaknya, maka itu akan memberi pengaruh pada kebaikan anak-anaknya dari beberapa sisi: Di antaranya adalah: (1) mereka tidak akan iri atas apa yang dimiliki orang lain, dan tidak terpukau dengan itu. Sehingga jiwa mereka, menjadi jiwa yang terhormat, dan tidak mudah dihinakan orang lain karena itu. Di antara pengaruhnya juga, (2) jika seorang ayah telah mencukupi nafkah bagi anak-anaknya, maka ia telah menjadi orang berjasa bagi mereka. Dan orang yang berjasa bagi orang lain, maka sesungguhnya jiwa manusia telah Allah bentuk tabiatnya, untuk menaati orang yang berbuat baik padanya. Sehingga, anak-anaknya akan menaati ayah tersebut, mematuhi didikan, dan arahannya, serta petunjuk yang diberikan kepada mereka. Jadi, nafkah seorang ayah kepada anak-anaknya, sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla, adalah salah satu sebab terbesar agar anak-anak itu menerima ucapan ayah mereka, dan menghormatinya, serta mematuhi arahan yang ia berikan kepada mereka. Dan yang dimaksud dengan memberi nafkah, bukanlah dengan bermewah-mewahan dan berlaku sombong, karena ini dilarang. Bahkan, bisa jadi itu dapat menjadi sebab kerusakan anak-anaknya. ================================================================================ وَمِنَ الْأَسْبَابِ الظَّاهِرِيَّةِ الَّتِي يَفْعَلُهَا الْوَالِدَانِ وَخُصُوصًا الْأَبُ وَهُوَ الْإِنْفَاقُ عَلَى أَبْنَائِهِ فَقَدْ أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْأَبَ بِالْإِنْفَاقِ عَلَى أَبْنَائِهِ مِنْ غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ وَلَا بُخْلٍ وَتَقْتِيْرٍ وَالْأَبُ إِذَا كَانَ قَدْ كَفَى أَبْنَاءَهُ النَّفَقَةَ فَإِنَّ هَذَا مُؤَثِّرٌ فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ مِنْ جِهَاتٍ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ لَا يَنْظُرُونَ إِلَى مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ وَلَا يَتَطَلَّعُوْنَ إِلَيْهَا فَتَكُونُ نُفُوسُهُمْ أَبِيَّةً وَلاَ يَسْتَذِلُّهُمُ النَّاسُ بِسَبَبِ ذَلِكَ وَمِنْهَا كَذَلِكَ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى بَنِيْهِ فَإِنَّ يَدَهُ تَكُونُ عُلْيَا وَمَنْ كَانَتْ يَدُهُ عُلْيَا فَقَدْ جَبَلَ اللهُ النُّفُوسَ عَلَى طَاعَةِ الْمُحْسِنِ فَيَكُونُ أَبْنَاؤُهُ سَامِعِيْنَ لَهُ مُسْتَجِيْبِيْنَ لِتَعْلِيمِهِ وَتَوْجِيهِهِ وَمَا يَدُلُّهُم عَلَيْهِ إِذًا فَإِنْفَاقُ الْأَبِ عَلَى أَبْنَائِهِ بِمَا أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ الْوَسَائِلِ لِقَبُوْلِهِمْ لِكَلَامِهِ وَاحْتِرَامِهِمْ لَهُ وَتَوْجِيهِهِمْ وَاسْتِجَابَتِهِمْ لِتَوْجِيهِهِ وَلَيْسَ الْمَقْصُودُ بِالْإِنْفَاقِ الْإِسْرَافَ وَالْمَخِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْهِيٌّ عَنْهَا بَلْ رُبَّمَا كَانَ ذَلِكَ سَبَبًا فِي إِفْسَادِ أَبْنَائِهِ      

Tips + 2 Faidah Ayah Menafkahi Anak – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Tips + 2 Faidah Ayah Menafkahi Anak – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Salah satu sebab yang tampak (dalam mendidik anak) yang dapat dilakukan oleh kedua orangtua, dan khususnya seorang ayah, adalah memberi nafkah kepada anak-anaknya. Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan seorang ayah untuk memberi nafkah anak-anaknya, tanpa terlalu mewah dan menimbulkan kesombongan, dan tidak pula terlalu pelit dan serba kekurangan. Jika seorang ayah telah mencukupi nafkah bagi anak-anaknya, maka itu akan memberi pengaruh pada kebaikan anak-anaknya dari beberapa sisi: Di antaranya adalah: (1) mereka tidak akan iri atas apa yang dimiliki orang lain, dan tidak terpukau dengan itu. Sehingga jiwa mereka, menjadi jiwa yang terhormat, dan tidak mudah dihinakan orang lain karena itu. Di antara pengaruhnya juga, (2) jika seorang ayah telah mencukupi nafkah bagi anak-anaknya, maka ia telah menjadi orang berjasa bagi mereka. Dan orang yang berjasa bagi orang lain, maka sesungguhnya jiwa manusia telah Allah bentuk tabiatnya, untuk menaati orang yang berbuat baik padanya. Sehingga, anak-anaknya akan menaati ayah tersebut, mematuhi didikan, dan arahannya, serta petunjuk yang diberikan kepada mereka. Jadi, nafkah seorang ayah kepada anak-anaknya, sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla, adalah salah satu sebab terbesar agar anak-anak itu menerima ucapan ayah mereka, dan menghormatinya, serta mematuhi arahan yang ia berikan kepada mereka. Dan yang dimaksud dengan memberi nafkah, bukanlah dengan bermewah-mewahan dan berlaku sombong, karena ini dilarang. Bahkan, bisa jadi itu dapat menjadi sebab kerusakan anak-anaknya. ================================================================================ وَمِنَ الْأَسْبَابِ الظَّاهِرِيَّةِ الَّتِي يَفْعَلُهَا الْوَالِدَانِ وَخُصُوصًا الْأَبُ وَهُوَ الْإِنْفَاقُ عَلَى أَبْنَائِهِ فَقَدْ أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْأَبَ بِالْإِنْفَاقِ عَلَى أَبْنَائِهِ مِنْ غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ وَلَا بُخْلٍ وَتَقْتِيْرٍ وَالْأَبُ إِذَا كَانَ قَدْ كَفَى أَبْنَاءَهُ النَّفَقَةَ فَإِنَّ هَذَا مُؤَثِّرٌ فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ مِنْ جِهَاتٍ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ لَا يَنْظُرُونَ إِلَى مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ وَلَا يَتَطَلَّعُوْنَ إِلَيْهَا فَتَكُونُ نُفُوسُهُمْ أَبِيَّةً وَلاَ يَسْتَذِلُّهُمُ النَّاسُ بِسَبَبِ ذَلِكَ وَمِنْهَا كَذَلِكَ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى بَنِيْهِ فَإِنَّ يَدَهُ تَكُونُ عُلْيَا وَمَنْ كَانَتْ يَدُهُ عُلْيَا فَقَدْ جَبَلَ اللهُ النُّفُوسَ عَلَى طَاعَةِ الْمُحْسِنِ فَيَكُونُ أَبْنَاؤُهُ سَامِعِيْنَ لَهُ مُسْتَجِيْبِيْنَ لِتَعْلِيمِهِ وَتَوْجِيهِهِ وَمَا يَدُلُّهُم عَلَيْهِ إِذًا فَإِنْفَاقُ الْأَبِ عَلَى أَبْنَائِهِ بِمَا أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ الْوَسَائِلِ لِقَبُوْلِهِمْ لِكَلَامِهِ وَاحْتِرَامِهِمْ لَهُ وَتَوْجِيهِهِمْ وَاسْتِجَابَتِهِمْ لِتَوْجِيهِهِ وَلَيْسَ الْمَقْصُودُ بِالْإِنْفَاقِ الْإِسْرَافَ وَالْمَخِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْهِيٌّ عَنْهَا بَلْ رُبَّمَا كَانَ ذَلِكَ سَبَبًا فِي إِفْسَادِ أَبْنَائِهِ      
Tips + 2 Faidah Ayah Menafkahi Anak – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Salah satu sebab yang tampak (dalam mendidik anak) yang dapat dilakukan oleh kedua orangtua, dan khususnya seorang ayah, adalah memberi nafkah kepada anak-anaknya. Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan seorang ayah untuk memberi nafkah anak-anaknya, tanpa terlalu mewah dan menimbulkan kesombongan, dan tidak pula terlalu pelit dan serba kekurangan. Jika seorang ayah telah mencukupi nafkah bagi anak-anaknya, maka itu akan memberi pengaruh pada kebaikan anak-anaknya dari beberapa sisi: Di antaranya adalah: (1) mereka tidak akan iri atas apa yang dimiliki orang lain, dan tidak terpukau dengan itu. Sehingga jiwa mereka, menjadi jiwa yang terhormat, dan tidak mudah dihinakan orang lain karena itu. Di antara pengaruhnya juga, (2) jika seorang ayah telah mencukupi nafkah bagi anak-anaknya, maka ia telah menjadi orang berjasa bagi mereka. Dan orang yang berjasa bagi orang lain, maka sesungguhnya jiwa manusia telah Allah bentuk tabiatnya, untuk menaati orang yang berbuat baik padanya. Sehingga, anak-anaknya akan menaati ayah tersebut, mematuhi didikan, dan arahannya, serta petunjuk yang diberikan kepada mereka. Jadi, nafkah seorang ayah kepada anak-anaknya, sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla, adalah salah satu sebab terbesar agar anak-anak itu menerima ucapan ayah mereka, dan menghormatinya, serta mematuhi arahan yang ia berikan kepada mereka. Dan yang dimaksud dengan memberi nafkah, bukanlah dengan bermewah-mewahan dan berlaku sombong, karena ini dilarang. Bahkan, bisa jadi itu dapat menjadi sebab kerusakan anak-anaknya. ================================================================================ وَمِنَ الْأَسْبَابِ الظَّاهِرِيَّةِ الَّتِي يَفْعَلُهَا الْوَالِدَانِ وَخُصُوصًا الْأَبُ وَهُوَ الْإِنْفَاقُ عَلَى أَبْنَائِهِ فَقَدْ أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْأَبَ بِالْإِنْفَاقِ عَلَى أَبْنَائِهِ مِنْ غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ وَلَا بُخْلٍ وَتَقْتِيْرٍ وَالْأَبُ إِذَا كَانَ قَدْ كَفَى أَبْنَاءَهُ النَّفَقَةَ فَإِنَّ هَذَا مُؤَثِّرٌ فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ مِنْ جِهَاتٍ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ لَا يَنْظُرُونَ إِلَى مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ وَلَا يَتَطَلَّعُوْنَ إِلَيْهَا فَتَكُونُ نُفُوسُهُمْ أَبِيَّةً وَلاَ يَسْتَذِلُّهُمُ النَّاسُ بِسَبَبِ ذَلِكَ وَمِنْهَا كَذَلِكَ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى بَنِيْهِ فَإِنَّ يَدَهُ تَكُونُ عُلْيَا وَمَنْ كَانَتْ يَدُهُ عُلْيَا فَقَدْ جَبَلَ اللهُ النُّفُوسَ عَلَى طَاعَةِ الْمُحْسِنِ فَيَكُونُ أَبْنَاؤُهُ سَامِعِيْنَ لَهُ مُسْتَجِيْبِيْنَ لِتَعْلِيمِهِ وَتَوْجِيهِهِ وَمَا يَدُلُّهُم عَلَيْهِ إِذًا فَإِنْفَاقُ الْأَبِ عَلَى أَبْنَائِهِ بِمَا أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ الْوَسَائِلِ لِقَبُوْلِهِمْ لِكَلَامِهِ وَاحْتِرَامِهِمْ لَهُ وَتَوْجِيهِهِمْ وَاسْتِجَابَتِهِمْ لِتَوْجِيهِهِ وَلَيْسَ الْمَقْصُودُ بِالْإِنْفَاقِ الْإِسْرَافَ وَالْمَخِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْهِيٌّ عَنْهَا بَلْ رُبَّمَا كَانَ ذَلِكَ سَبَبًا فِي إِفْسَادِ أَبْنَائِهِ      


Tips + 2 Faidah Ayah Menafkahi Anak – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Salah satu sebab yang tampak (dalam mendidik anak) yang dapat dilakukan oleh kedua orangtua, dan khususnya seorang ayah, adalah memberi nafkah kepada anak-anaknya. Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan seorang ayah untuk memberi nafkah anak-anaknya, tanpa terlalu mewah dan menimbulkan kesombongan, dan tidak pula terlalu pelit dan serba kekurangan. Jika seorang ayah telah mencukupi nafkah bagi anak-anaknya, maka itu akan memberi pengaruh pada kebaikan anak-anaknya dari beberapa sisi: Di antaranya adalah: (1) mereka tidak akan iri atas apa yang dimiliki orang lain, dan tidak terpukau dengan itu. Sehingga jiwa mereka, menjadi jiwa yang terhormat, dan tidak mudah dihinakan orang lain karena itu. Di antara pengaruhnya juga, (2) jika seorang ayah telah mencukupi nafkah bagi anak-anaknya, maka ia telah menjadi orang berjasa bagi mereka. Dan orang yang berjasa bagi orang lain, maka sesungguhnya jiwa manusia telah Allah bentuk tabiatnya, untuk menaati orang yang berbuat baik padanya. Sehingga, anak-anaknya akan menaati ayah tersebut, mematuhi didikan, dan arahannya, serta petunjuk yang diberikan kepada mereka. Jadi, nafkah seorang ayah kepada anak-anaknya, sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla, adalah salah satu sebab terbesar agar anak-anak itu menerima ucapan ayah mereka, dan menghormatinya, serta mematuhi arahan yang ia berikan kepada mereka. Dan yang dimaksud dengan memberi nafkah, bukanlah dengan bermewah-mewahan dan berlaku sombong, karena ini dilarang. Bahkan, bisa jadi itu dapat menjadi sebab kerusakan anak-anaknya. ================================================================================ وَمِنَ الْأَسْبَابِ الظَّاهِرِيَّةِ الَّتِي يَفْعَلُهَا الْوَالِدَانِ وَخُصُوصًا الْأَبُ وَهُوَ الْإِنْفَاقُ عَلَى أَبْنَائِهِ فَقَدْ أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْأَبَ بِالْإِنْفَاقِ عَلَى أَبْنَائِهِ مِنْ غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ وَلَا بُخْلٍ وَتَقْتِيْرٍ وَالْأَبُ إِذَا كَانَ قَدْ كَفَى أَبْنَاءَهُ النَّفَقَةَ فَإِنَّ هَذَا مُؤَثِّرٌ فِي صَلَاحِ أَبْنَائِهِ مِنْ جِهَاتٍ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ لَا يَنْظُرُونَ إِلَى مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ وَلَا يَتَطَلَّعُوْنَ إِلَيْهَا فَتَكُونُ نُفُوسُهُمْ أَبِيَّةً وَلاَ يَسْتَذِلُّهُمُ النَّاسُ بِسَبَبِ ذَلِكَ وَمِنْهَا كَذَلِكَ أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى بَنِيْهِ فَإِنَّ يَدَهُ تَكُونُ عُلْيَا وَمَنْ كَانَتْ يَدُهُ عُلْيَا فَقَدْ جَبَلَ اللهُ النُّفُوسَ عَلَى طَاعَةِ الْمُحْسِنِ فَيَكُونُ أَبْنَاؤُهُ سَامِعِيْنَ لَهُ مُسْتَجِيْبِيْنَ لِتَعْلِيمِهِ وَتَوْجِيهِهِ وَمَا يَدُلُّهُم عَلَيْهِ إِذًا فَإِنْفَاقُ الْأَبِ عَلَى أَبْنَائِهِ بِمَا أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ الْوَسَائِلِ لِقَبُوْلِهِمْ لِكَلَامِهِ وَاحْتِرَامِهِمْ لَهُ وَتَوْجِيهِهِمْ وَاسْتِجَابَتِهِمْ لِتَوْجِيهِهِ وَلَيْسَ الْمَقْصُودُ بِالْإِنْفَاقِ الْإِسْرَافَ وَالْمَخِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْهِيٌّ عَنْهَا بَلْ رُبَّمَا كَانَ ذَلِكَ سَبَبًا فِي إِفْسَادِ أَبْنَائِهِ      

Ini Penyebab Urusanmu Sulit – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Penyebab Urusanmu Sulit – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah berkata, “Di antara akibat dosa adalah kesulitan yang ia dapatkan, sehingga tidaklah ia menghendaki suatu perkara, kecuali perkara itu menjadi tertutup atau sulit baginya. Dan ini, karena sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan urusannya mudah, … sebaliknya, orang yang tidak bertakwa, maka Allah akan menjadikan urusannya sulit. Dan sungguh mengherankan sekali, bagaimana seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan tertutup baginya, dan jalan untuk meraihnya sulit untuk dia lalui, sedangkan ia tidak mengetahui dari mana datangnya kesulitan itu.” Ini juga salah satu akibat dari dosa-dosa, yaitu urusan menjadi sulit. Setiap kali orang itu memasuki suatu urusan, ia mendapatinya tertutup baginya, dan mendapati urusan-urusannya menjadi pelik. Sedangkan ia tidak mengetahui, bahwa kesulitan itu akibat dosa-dosanya. Akibat dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya. Lihatlah landasan dalil yang dipakai oleh Ibnu al-Qayyim tentang hal ini, yaitu firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4) Ini seperti dalil yang beliau gunakan sebelumnya, bahwa bahwa perbuatan maksiat adalah penyebab kemiskinan, beliau berdalil atas itu, dengan dalil apa? “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2 – 3) “Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Ibnu al-Qayyim berdalil atas hal ini, dengan dalil tersebut. Beliau berkata, “Jika takwa adalah penyebab mendapat rezeki, maka tidak bertakwa adalah penyebab kemiskinan.” Dan jika takwa adalah penyebab mendapat kemudahan, maka tidak bertakwa adalah penyebab mendapat apa? Kesulitan! Jika ketakwaan adalah penyebab dapat kemudahan, “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” —Dan dua ayat ini berada dalam surat at-Talaq— Maka, demikian pula tidak bertakwa adalah penyebab kesulitan. Demikian. ================================================================================ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْهَا تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا وَيَا لِلهِ الْعَجَبُ كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُوتِي هَذَا أَيْضًا مِنْ عَوَاقِبِ الذُّنُوبِ تَعَسُّرُ الْأُمُورِ كُلَّمَا دَخَلَ فِي بَابٍ مِنَ الْأَبْوَابِ وَجَدَهُ مُغْلَقًا وَيَجِدُ أُمُورَهُ مُتَعَسِّرَةً وَمَا عَلِمَ أَنَّ هَذَا التَّعَسُّرَ مِنْ عَوَاقِبِ ذُنُوبِهِ مِنْ عَوَاقِبِ ذُنُوبِهِ وَآثَامِهِ وَخَطَايَاهُ وَانْظُرْ إِلَى اسْتِدْلَالِ ابْنِ الْقَيِّمِ عَلَى هَذَا الْمَعْنَى بِقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا هَذَا نَظِيرُ اسْتِدْلَالِهِ الْمُتَقَدِّمِ عَلَى أَنَّ أَنَّ الْمَعَاصِيْ مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ وَاسْتَدَلَّ عَلَى ذَلِكَ بِمَاذَا؟ وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ فَاسْتَدَلَّ بِهَا عَلَى هَذَا الْمَعْنَى قَالَ إِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ وَإِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلتَّيْسِيْرِ فَتَرْكُهَا مَجْلَبَةٌ لِمَاذَا؟ التَّعْسِيرُ إِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلتَّيْسِيرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَالْآيَتَانِ كِلَاهُمَا فِي سُورَةِ الطَّلَاقِ فَكَذَلِكَ تَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلتَّعْسِيرُ نَعَم  

Ini Penyebab Urusanmu Sulit – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Penyebab Urusanmu Sulit – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah berkata, “Di antara akibat dosa adalah kesulitan yang ia dapatkan, sehingga tidaklah ia menghendaki suatu perkara, kecuali perkara itu menjadi tertutup atau sulit baginya. Dan ini, karena sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan urusannya mudah, … sebaliknya, orang yang tidak bertakwa, maka Allah akan menjadikan urusannya sulit. Dan sungguh mengherankan sekali, bagaimana seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan tertutup baginya, dan jalan untuk meraihnya sulit untuk dia lalui, sedangkan ia tidak mengetahui dari mana datangnya kesulitan itu.” Ini juga salah satu akibat dari dosa-dosa, yaitu urusan menjadi sulit. Setiap kali orang itu memasuki suatu urusan, ia mendapatinya tertutup baginya, dan mendapati urusan-urusannya menjadi pelik. Sedangkan ia tidak mengetahui, bahwa kesulitan itu akibat dosa-dosanya. Akibat dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya. Lihatlah landasan dalil yang dipakai oleh Ibnu al-Qayyim tentang hal ini, yaitu firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4) Ini seperti dalil yang beliau gunakan sebelumnya, bahwa bahwa perbuatan maksiat adalah penyebab kemiskinan, beliau berdalil atas itu, dengan dalil apa? “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2 – 3) “Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Ibnu al-Qayyim berdalil atas hal ini, dengan dalil tersebut. Beliau berkata, “Jika takwa adalah penyebab mendapat rezeki, maka tidak bertakwa adalah penyebab kemiskinan.” Dan jika takwa adalah penyebab mendapat kemudahan, maka tidak bertakwa adalah penyebab mendapat apa? Kesulitan! Jika ketakwaan adalah penyebab dapat kemudahan, “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” —Dan dua ayat ini berada dalam surat at-Talaq— Maka, demikian pula tidak bertakwa adalah penyebab kesulitan. Demikian. ================================================================================ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْهَا تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا وَيَا لِلهِ الْعَجَبُ كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُوتِي هَذَا أَيْضًا مِنْ عَوَاقِبِ الذُّنُوبِ تَعَسُّرُ الْأُمُورِ كُلَّمَا دَخَلَ فِي بَابٍ مِنَ الْأَبْوَابِ وَجَدَهُ مُغْلَقًا وَيَجِدُ أُمُورَهُ مُتَعَسِّرَةً وَمَا عَلِمَ أَنَّ هَذَا التَّعَسُّرَ مِنْ عَوَاقِبِ ذُنُوبِهِ مِنْ عَوَاقِبِ ذُنُوبِهِ وَآثَامِهِ وَخَطَايَاهُ وَانْظُرْ إِلَى اسْتِدْلَالِ ابْنِ الْقَيِّمِ عَلَى هَذَا الْمَعْنَى بِقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا هَذَا نَظِيرُ اسْتِدْلَالِهِ الْمُتَقَدِّمِ عَلَى أَنَّ أَنَّ الْمَعَاصِيْ مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ وَاسْتَدَلَّ عَلَى ذَلِكَ بِمَاذَا؟ وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ فَاسْتَدَلَّ بِهَا عَلَى هَذَا الْمَعْنَى قَالَ إِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ وَإِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلتَّيْسِيْرِ فَتَرْكُهَا مَجْلَبَةٌ لِمَاذَا؟ التَّعْسِيرُ إِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلتَّيْسِيرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَالْآيَتَانِ كِلَاهُمَا فِي سُورَةِ الطَّلَاقِ فَكَذَلِكَ تَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلتَّعْسِيرُ نَعَم  
Ini Penyebab Urusanmu Sulit – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah berkata, “Di antara akibat dosa adalah kesulitan yang ia dapatkan, sehingga tidaklah ia menghendaki suatu perkara, kecuali perkara itu menjadi tertutup atau sulit baginya. Dan ini, karena sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan urusannya mudah, … sebaliknya, orang yang tidak bertakwa, maka Allah akan menjadikan urusannya sulit. Dan sungguh mengherankan sekali, bagaimana seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan tertutup baginya, dan jalan untuk meraihnya sulit untuk dia lalui, sedangkan ia tidak mengetahui dari mana datangnya kesulitan itu.” Ini juga salah satu akibat dari dosa-dosa, yaitu urusan menjadi sulit. Setiap kali orang itu memasuki suatu urusan, ia mendapatinya tertutup baginya, dan mendapati urusan-urusannya menjadi pelik. Sedangkan ia tidak mengetahui, bahwa kesulitan itu akibat dosa-dosanya. Akibat dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya. Lihatlah landasan dalil yang dipakai oleh Ibnu al-Qayyim tentang hal ini, yaitu firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4) Ini seperti dalil yang beliau gunakan sebelumnya, bahwa bahwa perbuatan maksiat adalah penyebab kemiskinan, beliau berdalil atas itu, dengan dalil apa? “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2 – 3) “Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Ibnu al-Qayyim berdalil atas hal ini, dengan dalil tersebut. Beliau berkata, “Jika takwa adalah penyebab mendapat rezeki, maka tidak bertakwa adalah penyebab kemiskinan.” Dan jika takwa adalah penyebab mendapat kemudahan, maka tidak bertakwa adalah penyebab mendapat apa? Kesulitan! Jika ketakwaan adalah penyebab dapat kemudahan, “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” —Dan dua ayat ini berada dalam surat at-Talaq— Maka, demikian pula tidak bertakwa adalah penyebab kesulitan. Demikian. ================================================================================ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْهَا تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا وَيَا لِلهِ الْعَجَبُ كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُوتِي هَذَا أَيْضًا مِنْ عَوَاقِبِ الذُّنُوبِ تَعَسُّرُ الْأُمُورِ كُلَّمَا دَخَلَ فِي بَابٍ مِنَ الْأَبْوَابِ وَجَدَهُ مُغْلَقًا وَيَجِدُ أُمُورَهُ مُتَعَسِّرَةً وَمَا عَلِمَ أَنَّ هَذَا التَّعَسُّرَ مِنْ عَوَاقِبِ ذُنُوبِهِ مِنْ عَوَاقِبِ ذُنُوبِهِ وَآثَامِهِ وَخَطَايَاهُ وَانْظُرْ إِلَى اسْتِدْلَالِ ابْنِ الْقَيِّمِ عَلَى هَذَا الْمَعْنَى بِقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا هَذَا نَظِيرُ اسْتِدْلَالِهِ الْمُتَقَدِّمِ عَلَى أَنَّ أَنَّ الْمَعَاصِيْ مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ وَاسْتَدَلَّ عَلَى ذَلِكَ بِمَاذَا؟ وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ فَاسْتَدَلَّ بِهَا عَلَى هَذَا الْمَعْنَى قَالَ إِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ وَإِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلتَّيْسِيْرِ فَتَرْكُهَا مَجْلَبَةٌ لِمَاذَا؟ التَّعْسِيرُ إِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلتَّيْسِيرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَالْآيَتَانِ كِلَاهُمَا فِي سُورَةِ الطَّلَاقِ فَكَذَلِكَ تَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلتَّعْسِيرُ نَعَم  


Ini Penyebab Urusanmu Sulit – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah berkata, “Di antara akibat dosa adalah kesulitan yang ia dapatkan, sehingga tidaklah ia menghendaki suatu perkara, kecuali perkara itu menjadi tertutup atau sulit baginya. Dan ini, karena sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan urusannya mudah, … sebaliknya, orang yang tidak bertakwa, maka Allah akan menjadikan urusannya sulit. Dan sungguh mengherankan sekali, bagaimana seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan tertutup baginya, dan jalan untuk meraihnya sulit untuk dia lalui, sedangkan ia tidak mengetahui dari mana datangnya kesulitan itu.” Ini juga salah satu akibat dari dosa-dosa, yaitu urusan menjadi sulit. Setiap kali orang itu memasuki suatu urusan, ia mendapatinya tertutup baginya, dan mendapati urusan-urusannya menjadi pelik. Sedangkan ia tidak mengetahui, bahwa kesulitan itu akibat dosa-dosanya. Akibat dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya. Lihatlah landasan dalil yang dipakai oleh Ibnu al-Qayyim tentang hal ini, yaitu firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4) Ini seperti dalil yang beliau gunakan sebelumnya, bahwa bahwa perbuatan maksiat adalah penyebab kemiskinan, beliau berdalil atas itu, dengan dalil apa? “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2 – 3) “Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Ibnu al-Qayyim berdalil atas hal ini, dengan dalil tersebut. Beliau berkata, “Jika takwa adalah penyebab mendapat rezeki, maka tidak bertakwa adalah penyebab kemiskinan.” Dan jika takwa adalah penyebab mendapat kemudahan, maka tidak bertakwa adalah penyebab mendapat apa? Kesulitan! Jika ketakwaan adalah penyebab dapat kemudahan, “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” —Dan dua ayat ini berada dalam surat at-Talaq— Maka, demikian pula tidak bertakwa adalah penyebab kesulitan. Demikian. ================================================================================ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْهَا تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا وَيَا لِلهِ الْعَجَبُ كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُوتِي هَذَا أَيْضًا مِنْ عَوَاقِبِ الذُّنُوبِ تَعَسُّرُ الْأُمُورِ كُلَّمَا دَخَلَ فِي بَابٍ مِنَ الْأَبْوَابِ وَجَدَهُ مُغْلَقًا وَيَجِدُ أُمُورَهُ مُتَعَسِّرَةً وَمَا عَلِمَ أَنَّ هَذَا التَّعَسُّرَ مِنْ عَوَاقِبِ ذُنُوبِهِ مِنْ عَوَاقِبِ ذُنُوبِهِ وَآثَامِهِ وَخَطَايَاهُ وَانْظُرْ إِلَى اسْتِدْلَالِ ابْنِ الْقَيِّمِ عَلَى هَذَا الْمَعْنَى بِقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا هَذَا نَظِيرُ اسْتِدْلَالِهِ الْمُتَقَدِّمِ عَلَى أَنَّ أَنَّ الْمَعَاصِيْ مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ وَاسْتَدَلَّ عَلَى ذَلِكَ بِمَاذَا؟ وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ فَاسْتَدَلَّ بِهَا عَلَى هَذَا الْمَعْنَى قَالَ إِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ وَإِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلتَّيْسِيْرِ فَتَرْكُهَا مَجْلَبَةٌ لِمَاذَا؟ التَّعْسِيرُ إِذَا كَانَتِ التَّقْوَى مَجْلَبَةً لِلتَّيْسِيرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَالْآيَتَانِ كِلَاهُمَا فِي سُورَةِ الطَّلَاقِ فَكَذَلِكَ تَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلتَّعْسِيرُ نَعَم  

Merindukan Ramadan

Hari demi hari terus berlalu. Bulan Sya’ban terus melaju dan Ramadan semakin mendekat. Bulan yang penuh dengan berkah dan keutamaan. Betapa menyedihkan apabila kita tidak diberi taufik untuk bertemu dengan bulan itu dan beramal saleh di dalamnya.Saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala, betapa banyak dosa yang telah kita lakukan di hadapan-Nya. Waktu demi waktu berlalu dan Allah terus saja membuka pintu taubat. Allah bentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di siang hari. Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat pelaku maksiat di malam hari. Wahai saudaraku, apakah Allah kurang pemurah dan pemaaf terhadap kita?!Demi Allah, tidaklah Allah bakhil dari mencurahkan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah menyeru hamba-hamba-Nya yang melampaui batas kepada dirinya sendiri, agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mengampuni segala bentuk dosa bagi siapa saja yang mau kembali dan bertaubat dengan tulus kepada-Nya.Sadarlah, bahwa kesempatan untuk bertaubat itu masih terbuka selama nyawa masih belum berada di tenggorokan. Akan tetapi, kita tidak mengetahui kapankah saatnya malaikat maut datang untuk mencabut nyawa kita. Bisa jadi kematian datang dan Ramadan belum jua datang menghampiri kita. Ya, taubat harus kita lakukan sekarang juga. Tidak perlu menunggu Ramadan. Tidak perlu menunggu bulan puasa. Tidak perlu menunggu semerbak shaum menyelimuti manusia.Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, kesempatan itu masih terbuka lebar untuk kita. Apakah Engkau ragu akan luasnya ampunan Allah dan rahmat-Nya?! Bukankah Allah menerima taubat si pembunuh seratus nyawa? Bukankah Allah menerima taubat orang-orang musyrik penyembah berhala yang berubah menjadi pengikut setia nabi akhir zaman Shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Allah menerima taubat Ka’ab bin Malik dan teman-temannya Radhiyallahu ’anhum ajma’in? Bukankah Allah menerima taubat Adam dan istrinya ‘Alaihimassalam yang telah melanggar aturan Rabb mereka?!Katakanlah saudaraku, apa yang membuat kita terhalang dari taubat kalau bukan berhala hawa nafsu yang bercokol di dalam dada kita?Syekh Zaid bin Hadi al-Madkhali Rahimahullah berkata, “Patut dimengerti, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah, melainkan dia pasti memiliki kecondongan beribadah/menghamba kepada selain Allah. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, dia menyembah hawa nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkan dirinya dari beribadah kepada Allah” (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 147).Syekh Abdullah bin Shalih al-‘Ubailan Hafizhahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tauhid dan mengikuti hawa nafsu adalah dua hal yang bertentangan. Hawa nafsu itu adalah ‘berhala’. Setiap hamba memiliki ‘berhala’ di dalam hatinya sesuai dengan kadar hawa nafsunya. Sesungguhnya, Allah mengutus para rasul-Nya dalam rangka menghancurkan berhala, dan supaya -manusia- beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Bukanlah maksud Allah Subhanahu wa ta’ala adalah hancurnya berhala secara fisik, sementara ‘berhala’ di dalam hati dibiarkan. Akan tetapi, yang dimaksud ialah menghancurkannya mulai dari ‘berhala’ di dalam hati, bahkan inilah cakupan paling awal” (lihat al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fit Tarbiyah wal Ishlah, hal. 41).Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.Baca Juga: Ramadhan Berbagi KebaikanHikmah ibadah puasaKaum muslimin yang dirahmati Allah, tidaklah diragukan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat mulia. Allah wajibkan ibadah puasa kepada kita agar kita bertakwa kepada-Nya. Berikut ini kami sajikan ringkasan faedah mengenai hikmah puasa yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dan Syaikh Shalih al-Fauzan Hafizhahumallah.Syekh Abdurrazzaq Hafizhahullah memaparkan bahwa puasa merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah. Puasa akan membebaskan jiwa dari kotoran dan perusak-perusaknya. Puasa akan menyucikan jiwa dari kecenderungan untuk selalu memuaskan nafsu dan syahwatnya. Sesungguhnya puasa melatih jiwa untuk bersabar menahan diri dari hal-hal yang disenangi dan disukai oleh hawa nafsu dan telah menjadi kebiasaan yang melekat dalam hidupnya.Apabila jiwa telah ditempa dengan puasa, maka niscaya dirinya akan terlatih untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Ketakwaan tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Puasa ini akan menjadi perisai bagi hamba dari bergelimang di dalam dosa-dosa dan perisai baginya dari kemurkaan Rabbnya.Barang siapa yang diberikan taufik oleh Allah untuk menunaikan puasa sebagaimana mestinya, niscaya hal itu akan bisa menjadi bekal untuknya selama setahun berikutnya. Berpuasa satu bulan bisa memberikan faedah dan dampak positif baginya selama satu tahun lamanya dengan izin Allah. Demikianlah ringkasan faedah yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr Hafizhahullah dalam kitab Syarh ad-Durus al-Muhimmah (hal. 49). Syekh Shalih al-Fauzan menjelaskan bahwa puasa adalah jalan untuk menggapai takwa. Seseorang yang berpuasa sedang menempa dirinya untuk beribadah dan berlatih menghadapi kesulitan dan rintangan. Dia akan berlatih untuk meninggalkan sesuatu yang telah menjadi kesenangan dan hal yang disukai oleh hawa nafsunya. Orang yang berpuasa sedang berjuang untuk menaklukkan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Dia pun berjuang keras agar terjauhkan dari berbagai godaan dan tipu daya setan.Ketakwaan itu akan digapai dengan cara berpuasa. Maksudnya, dengan melakukan perintah-perintah Allah dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Dia mengharapkan curahan pahala dari Allah dan takut akan hukuman-Nya. Inilah salah satu keistimewaan puasa yang paling agung, yaitu ia akan membuahkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikianlah kurang lebih kandungan dari salah satu faedah berharga yang disampaikan oleh Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan Hafizhahullah dalam Majmu’ Fatawa (2: 383).Dari keterangan kedua ulama di atas, tampaklah bagi kita bahwa takwa bukan perkara sepele dan remeh yang bisa diperoleh hanya dengan bersantai-santai dan bermalas-malasan. Sesungguhnya takwa kepada Allah butuh perjuangan keras untuk menundukkan hawa nafsu, yang seringkali mengajak kepada keburukan. Takwa kepada Allah butuh kesadaran hati dan ketundukan akal kepada perintah dan larangan Allah. Takwa pun harus berakar dari dalam hati. Bukan semata-mata perbuatan anggota badan dan ucapan dengan lisan.Kita dilatih dan ditempa untuk menjadi hamba Allah yang sejati dengan ibadah puasa. Bukan hamba hawa nafsu dan pemuja kenikmatan-kenikmatan semu. Seorang hamba tidak bisa dengan hanya bersandar kepada kemampuan dirinya untuk mewujudkan puasa dan ketakwaan itu. Akan tetapi, dia harus bersandar dan bergantung kepada Allah semata. Hanya Allah lah yang bisa membantu dan memudahkan dirinya dalam menempuh jalan menuju takwa. Semoga nasihat yang singkat ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahul musta’aan.Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan Ramadhan*** Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Aqidah Adalah, Sunnah Nabi Forum, Hukum Shalat Idul Adha Sendiri, Sabar Menghadapi Penyakit, Hadits Keutamaan Hari JumatTags: amalan ramadhanbulan ramadhankeutamaan bulan ramadhanmenyambut ramadhanmerindukan ramadhannasihatnasihat islamRamadhan

Merindukan Ramadan

Hari demi hari terus berlalu. Bulan Sya’ban terus melaju dan Ramadan semakin mendekat. Bulan yang penuh dengan berkah dan keutamaan. Betapa menyedihkan apabila kita tidak diberi taufik untuk bertemu dengan bulan itu dan beramal saleh di dalamnya.Saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala, betapa banyak dosa yang telah kita lakukan di hadapan-Nya. Waktu demi waktu berlalu dan Allah terus saja membuka pintu taubat. Allah bentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di siang hari. Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat pelaku maksiat di malam hari. Wahai saudaraku, apakah Allah kurang pemurah dan pemaaf terhadap kita?!Demi Allah, tidaklah Allah bakhil dari mencurahkan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah menyeru hamba-hamba-Nya yang melampaui batas kepada dirinya sendiri, agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mengampuni segala bentuk dosa bagi siapa saja yang mau kembali dan bertaubat dengan tulus kepada-Nya.Sadarlah, bahwa kesempatan untuk bertaubat itu masih terbuka selama nyawa masih belum berada di tenggorokan. Akan tetapi, kita tidak mengetahui kapankah saatnya malaikat maut datang untuk mencabut nyawa kita. Bisa jadi kematian datang dan Ramadan belum jua datang menghampiri kita. Ya, taubat harus kita lakukan sekarang juga. Tidak perlu menunggu Ramadan. Tidak perlu menunggu bulan puasa. Tidak perlu menunggu semerbak shaum menyelimuti manusia.Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, kesempatan itu masih terbuka lebar untuk kita. Apakah Engkau ragu akan luasnya ampunan Allah dan rahmat-Nya?! Bukankah Allah menerima taubat si pembunuh seratus nyawa? Bukankah Allah menerima taubat orang-orang musyrik penyembah berhala yang berubah menjadi pengikut setia nabi akhir zaman Shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Allah menerima taubat Ka’ab bin Malik dan teman-temannya Radhiyallahu ’anhum ajma’in? Bukankah Allah menerima taubat Adam dan istrinya ‘Alaihimassalam yang telah melanggar aturan Rabb mereka?!Katakanlah saudaraku, apa yang membuat kita terhalang dari taubat kalau bukan berhala hawa nafsu yang bercokol di dalam dada kita?Syekh Zaid bin Hadi al-Madkhali Rahimahullah berkata, “Patut dimengerti, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah, melainkan dia pasti memiliki kecondongan beribadah/menghamba kepada selain Allah. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, dia menyembah hawa nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkan dirinya dari beribadah kepada Allah” (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 147).Syekh Abdullah bin Shalih al-‘Ubailan Hafizhahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tauhid dan mengikuti hawa nafsu adalah dua hal yang bertentangan. Hawa nafsu itu adalah ‘berhala’. Setiap hamba memiliki ‘berhala’ di dalam hatinya sesuai dengan kadar hawa nafsunya. Sesungguhnya, Allah mengutus para rasul-Nya dalam rangka menghancurkan berhala, dan supaya -manusia- beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Bukanlah maksud Allah Subhanahu wa ta’ala adalah hancurnya berhala secara fisik, sementara ‘berhala’ di dalam hati dibiarkan. Akan tetapi, yang dimaksud ialah menghancurkannya mulai dari ‘berhala’ di dalam hati, bahkan inilah cakupan paling awal” (lihat al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fit Tarbiyah wal Ishlah, hal. 41).Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.Baca Juga: Ramadhan Berbagi KebaikanHikmah ibadah puasaKaum muslimin yang dirahmati Allah, tidaklah diragukan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat mulia. Allah wajibkan ibadah puasa kepada kita agar kita bertakwa kepada-Nya. Berikut ini kami sajikan ringkasan faedah mengenai hikmah puasa yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dan Syaikh Shalih al-Fauzan Hafizhahumallah.Syekh Abdurrazzaq Hafizhahullah memaparkan bahwa puasa merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah. Puasa akan membebaskan jiwa dari kotoran dan perusak-perusaknya. Puasa akan menyucikan jiwa dari kecenderungan untuk selalu memuaskan nafsu dan syahwatnya. Sesungguhnya puasa melatih jiwa untuk bersabar menahan diri dari hal-hal yang disenangi dan disukai oleh hawa nafsu dan telah menjadi kebiasaan yang melekat dalam hidupnya.Apabila jiwa telah ditempa dengan puasa, maka niscaya dirinya akan terlatih untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Ketakwaan tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Puasa ini akan menjadi perisai bagi hamba dari bergelimang di dalam dosa-dosa dan perisai baginya dari kemurkaan Rabbnya.Barang siapa yang diberikan taufik oleh Allah untuk menunaikan puasa sebagaimana mestinya, niscaya hal itu akan bisa menjadi bekal untuknya selama setahun berikutnya. Berpuasa satu bulan bisa memberikan faedah dan dampak positif baginya selama satu tahun lamanya dengan izin Allah. Demikianlah ringkasan faedah yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr Hafizhahullah dalam kitab Syarh ad-Durus al-Muhimmah (hal. 49). Syekh Shalih al-Fauzan menjelaskan bahwa puasa adalah jalan untuk menggapai takwa. Seseorang yang berpuasa sedang menempa dirinya untuk beribadah dan berlatih menghadapi kesulitan dan rintangan. Dia akan berlatih untuk meninggalkan sesuatu yang telah menjadi kesenangan dan hal yang disukai oleh hawa nafsunya. Orang yang berpuasa sedang berjuang untuk menaklukkan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Dia pun berjuang keras agar terjauhkan dari berbagai godaan dan tipu daya setan.Ketakwaan itu akan digapai dengan cara berpuasa. Maksudnya, dengan melakukan perintah-perintah Allah dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Dia mengharapkan curahan pahala dari Allah dan takut akan hukuman-Nya. Inilah salah satu keistimewaan puasa yang paling agung, yaitu ia akan membuahkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikianlah kurang lebih kandungan dari salah satu faedah berharga yang disampaikan oleh Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan Hafizhahullah dalam Majmu’ Fatawa (2: 383).Dari keterangan kedua ulama di atas, tampaklah bagi kita bahwa takwa bukan perkara sepele dan remeh yang bisa diperoleh hanya dengan bersantai-santai dan bermalas-malasan. Sesungguhnya takwa kepada Allah butuh perjuangan keras untuk menundukkan hawa nafsu, yang seringkali mengajak kepada keburukan. Takwa kepada Allah butuh kesadaran hati dan ketundukan akal kepada perintah dan larangan Allah. Takwa pun harus berakar dari dalam hati. Bukan semata-mata perbuatan anggota badan dan ucapan dengan lisan.Kita dilatih dan ditempa untuk menjadi hamba Allah yang sejati dengan ibadah puasa. Bukan hamba hawa nafsu dan pemuja kenikmatan-kenikmatan semu. Seorang hamba tidak bisa dengan hanya bersandar kepada kemampuan dirinya untuk mewujudkan puasa dan ketakwaan itu. Akan tetapi, dia harus bersandar dan bergantung kepada Allah semata. Hanya Allah lah yang bisa membantu dan memudahkan dirinya dalam menempuh jalan menuju takwa. Semoga nasihat yang singkat ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahul musta’aan.Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan Ramadhan*** Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Aqidah Adalah, Sunnah Nabi Forum, Hukum Shalat Idul Adha Sendiri, Sabar Menghadapi Penyakit, Hadits Keutamaan Hari JumatTags: amalan ramadhanbulan ramadhankeutamaan bulan ramadhanmenyambut ramadhanmerindukan ramadhannasihatnasihat islamRamadhan
Hari demi hari terus berlalu. Bulan Sya’ban terus melaju dan Ramadan semakin mendekat. Bulan yang penuh dengan berkah dan keutamaan. Betapa menyedihkan apabila kita tidak diberi taufik untuk bertemu dengan bulan itu dan beramal saleh di dalamnya.Saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala, betapa banyak dosa yang telah kita lakukan di hadapan-Nya. Waktu demi waktu berlalu dan Allah terus saja membuka pintu taubat. Allah bentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di siang hari. Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat pelaku maksiat di malam hari. Wahai saudaraku, apakah Allah kurang pemurah dan pemaaf terhadap kita?!Demi Allah, tidaklah Allah bakhil dari mencurahkan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah menyeru hamba-hamba-Nya yang melampaui batas kepada dirinya sendiri, agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mengampuni segala bentuk dosa bagi siapa saja yang mau kembali dan bertaubat dengan tulus kepada-Nya.Sadarlah, bahwa kesempatan untuk bertaubat itu masih terbuka selama nyawa masih belum berada di tenggorokan. Akan tetapi, kita tidak mengetahui kapankah saatnya malaikat maut datang untuk mencabut nyawa kita. Bisa jadi kematian datang dan Ramadan belum jua datang menghampiri kita. Ya, taubat harus kita lakukan sekarang juga. Tidak perlu menunggu Ramadan. Tidak perlu menunggu bulan puasa. Tidak perlu menunggu semerbak shaum menyelimuti manusia.Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, kesempatan itu masih terbuka lebar untuk kita. Apakah Engkau ragu akan luasnya ampunan Allah dan rahmat-Nya?! Bukankah Allah menerima taubat si pembunuh seratus nyawa? Bukankah Allah menerima taubat orang-orang musyrik penyembah berhala yang berubah menjadi pengikut setia nabi akhir zaman Shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Allah menerima taubat Ka’ab bin Malik dan teman-temannya Radhiyallahu ’anhum ajma’in? Bukankah Allah menerima taubat Adam dan istrinya ‘Alaihimassalam yang telah melanggar aturan Rabb mereka?!Katakanlah saudaraku, apa yang membuat kita terhalang dari taubat kalau bukan berhala hawa nafsu yang bercokol di dalam dada kita?Syekh Zaid bin Hadi al-Madkhali Rahimahullah berkata, “Patut dimengerti, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah, melainkan dia pasti memiliki kecondongan beribadah/menghamba kepada selain Allah. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, dia menyembah hawa nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkan dirinya dari beribadah kepada Allah” (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 147).Syekh Abdullah bin Shalih al-‘Ubailan Hafizhahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tauhid dan mengikuti hawa nafsu adalah dua hal yang bertentangan. Hawa nafsu itu adalah ‘berhala’. Setiap hamba memiliki ‘berhala’ di dalam hatinya sesuai dengan kadar hawa nafsunya. Sesungguhnya, Allah mengutus para rasul-Nya dalam rangka menghancurkan berhala, dan supaya -manusia- beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Bukanlah maksud Allah Subhanahu wa ta’ala adalah hancurnya berhala secara fisik, sementara ‘berhala’ di dalam hati dibiarkan. Akan tetapi, yang dimaksud ialah menghancurkannya mulai dari ‘berhala’ di dalam hati, bahkan inilah cakupan paling awal” (lihat al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fit Tarbiyah wal Ishlah, hal. 41).Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.Baca Juga: Ramadhan Berbagi KebaikanHikmah ibadah puasaKaum muslimin yang dirahmati Allah, tidaklah diragukan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat mulia. Allah wajibkan ibadah puasa kepada kita agar kita bertakwa kepada-Nya. Berikut ini kami sajikan ringkasan faedah mengenai hikmah puasa yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dan Syaikh Shalih al-Fauzan Hafizhahumallah.Syekh Abdurrazzaq Hafizhahullah memaparkan bahwa puasa merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah. Puasa akan membebaskan jiwa dari kotoran dan perusak-perusaknya. Puasa akan menyucikan jiwa dari kecenderungan untuk selalu memuaskan nafsu dan syahwatnya. Sesungguhnya puasa melatih jiwa untuk bersabar menahan diri dari hal-hal yang disenangi dan disukai oleh hawa nafsu dan telah menjadi kebiasaan yang melekat dalam hidupnya.Apabila jiwa telah ditempa dengan puasa, maka niscaya dirinya akan terlatih untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Ketakwaan tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Puasa ini akan menjadi perisai bagi hamba dari bergelimang di dalam dosa-dosa dan perisai baginya dari kemurkaan Rabbnya.Barang siapa yang diberikan taufik oleh Allah untuk menunaikan puasa sebagaimana mestinya, niscaya hal itu akan bisa menjadi bekal untuknya selama setahun berikutnya. Berpuasa satu bulan bisa memberikan faedah dan dampak positif baginya selama satu tahun lamanya dengan izin Allah. Demikianlah ringkasan faedah yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr Hafizhahullah dalam kitab Syarh ad-Durus al-Muhimmah (hal. 49). Syekh Shalih al-Fauzan menjelaskan bahwa puasa adalah jalan untuk menggapai takwa. Seseorang yang berpuasa sedang menempa dirinya untuk beribadah dan berlatih menghadapi kesulitan dan rintangan. Dia akan berlatih untuk meninggalkan sesuatu yang telah menjadi kesenangan dan hal yang disukai oleh hawa nafsunya. Orang yang berpuasa sedang berjuang untuk menaklukkan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Dia pun berjuang keras agar terjauhkan dari berbagai godaan dan tipu daya setan.Ketakwaan itu akan digapai dengan cara berpuasa. Maksudnya, dengan melakukan perintah-perintah Allah dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Dia mengharapkan curahan pahala dari Allah dan takut akan hukuman-Nya. Inilah salah satu keistimewaan puasa yang paling agung, yaitu ia akan membuahkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikianlah kurang lebih kandungan dari salah satu faedah berharga yang disampaikan oleh Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan Hafizhahullah dalam Majmu’ Fatawa (2: 383).Dari keterangan kedua ulama di atas, tampaklah bagi kita bahwa takwa bukan perkara sepele dan remeh yang bisa diperoleh hanya dengan bersantai-santai dan bermalas-malasan. Sesungguhnya takwa kepada Allah butuh perjuangan keras untuk menundukkan hawa nafsu, yang seringkali mengajak kepada keburukan. Takwa kepada Allah butuh kesadaran hati dan ketundukan akal kepada perintah dan larangan Allah. Takwa pun harus berakar dari dalam hati. Bukan semata-mata perbuatan anggota badan dan ucapan dengan lisan.Kita dilatih dan ditempa untuk menjadi hamba Allah yang sejati dengan ibadah puasa. Bukan hamba hawa nafsu dan pemuja kenikmatan-kenikmatan semu. Seorang hamba tidak bisa dengan hanya bersandar kepada kemampuan dirinya untuk mewujudkan puasa dan ketakwaan itu. Akan tetapi, dia harus bersandar dan bergantung kepada Allah semata. Hanya Allah lah yang bisa membantu dan memudahkan dirinya dalam menempuh jalan menuju takwa. Semoga nasihat yang singkat ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahul musta’aan.Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan Ramadhan*** Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Aqidah Adalah, Sunnah Nabi Forum, Hukum Shalat Idul Adha Sendiri, Sabar Menghadapi Penyakit, Hadits Keutamaan Hari JumatTags: amalan ramadhanbulan ramadhankeutamaan bulan ramadhanmenyambut ramadhanmerindukan ramadhannasihatnasihat islamRamadhan


Hari demi hari terus berlalu. Bulan Sya’ban terus melaju dan Ramadan semakin mendekat. Bulan yang penuh dengan berkah dan keutamaan. Betapa menyedihkan apabila kita tidak diberi taufik untuk bertemu dengan bulan itu dan beramal saleh di dalamnya.Saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala, betapa banyak dosa yang telah kita lakukan di hadapan-Nya. Waktu demi waktu berlalu dan Allah terus saja membuka pintu taubat. Allah bentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di siang hari. Allah bentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat pelaku maksiat di malam hari. Wahai saudaraku, apakah Allah kurang pemurah dan pemaaf terhadap kita?!Demi Allah, tidaklah Allah bakhil dari mencurahkan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah menyeru hamba-hamba-Nya yang melampaui batas kepada dirinya sendiri, agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mengampuni segala bentuk dosa bagi siapa saja yang mau kembali dan bertaubat dengan tulus kepada-Nya.Sadarlah, bahwa kesempatan untuk bertaubat itu masih terbuka selama nyawa masih belum berada di tenggorokan. Akan tetapi, kita tidak mengetahui kapankah saatnya malaikat maut datang untuk mencabut nyawa kita. Bisa jadi kematian datang dan Ramadan belum jua datang menghampiri kita. Ya, taubat harus kita lakukan sekarang juga. Tidak perlu menunggu Ramadan. Tidak perlu menunggu bulan puasa. Tidak perlu menunggu semerbak shaum menyelimuti manusia.Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, kesempatan itu masih terbuka lebar untuk kita. Apakah Engkau ragu akan luasnya ampunan Allah dan rahmat-Nya?! Bukankah Allah menerima taubat si pembunuh seratus nyawa? Bukankah Allah menerima taubat orang-orang musyrik penyembah berhala yang berubah menjadi pengikut setia nabi akhir zaman Shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Allah menerima taubat Ka’ab bin Malik dan teman-temannya Radhiyallahu ’anhum ajma’in? Bukankah Allah menerima taubat Adam dan istrinya ‘Alaihimassalam yang telah melanggar aturan Rabb mereka?!Katakanlah saudaraku, apa yang membuat kita terhalang dari taubat kalau bukan berhala hawa nafsu yang bercokol di dalam dada kita?Syekh Zaid bin Hadi al-Madkhali Rahimahullah berkata, “Patut dimengerti, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah, melainkan dia pasti memiliki kecondongan beribadah/menghamba kepada selain Allah. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, dia menyembah hawa nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkan dirinya dari beribadah kepada Allah” (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 147).Syekh Abdullah bin Shalih al-‘Ubailan Hafizhahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tauhid dan mengikuti hawa nafsu adalah dua hal yang bertentangan. Hawa nafsu itu adalah ‘berhala’. Setiap hamba memiliki ‘berhala’ di dalam hatinya sesuai dengan kadar hawa nafsunya. Sesungguhnya, Allah mengutus para rasul-Nya dalam rangka menghancurkan berhala, dan supaya -manusia- beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Bukanlah maksud Allah Subhanahu wa ta’ala adalah hancurnya berhala secara fisik, sementara ‘berhala’ di dalam hati dibiarkan. Akan tetapi, yang dimaksud ialah menghancurkannya mulai dari ‘berhala’ di dalam hati, bahkan inilah cakupan paling awal” (lihat al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fit Tarbiyah wal Ishlah, hal. 41).Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.Baca Juga: Ramadhan Berbagi KebaikanHikmah ibadah puasaKaum muslimin yang dirahmati Allah, tidaklah diragukan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat mulia. Allah wajibkan ibadah puasa kepada kita agar kita bertakwa kepada-Nya. Berikut ini kami sajikan ringkasan faedah mengenai hikmah puasa yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dan Syaikh Shalih al-Fauzan Hafizhahumallah.Syekh Abdurrazzaq Hafizhahullah memaparkan bahwa puasa merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah. Puasa akan membebaskan jiwa dari kotoran dan perusak-perusaknya. Puasa akan menyucikan jiwa dari kecenderungan untuk selalu memuaskan nafsu dan syahwatnya. Sesungguhnya puasa melatih jiwa untuk bersabar menahan diri dari hal-hal yang disenangi dan disukai oleh hawa nafsu dan telah menjadi kebiasaan yang melekat dalam hidupnya.Apabila jiwa telah ditempa dengan puasa, maka niscaya dirinya akan terlatih untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Ketakwaan tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Puasa ini akan menjadi perisai bagi hamba dari bergelimang di dalam dosa-dosa dan perisai baginya dari kemurkaan Rabbnya.Barang siapa yang diberikan taufik oleh Allah untuk menunaikan puasa sebagaimana mestinya, niscaya hal itu akan bisa menjadi bekal untuknya selama setahun berikutnya. Berpuasa satu bulan bisa memberikan faedah dan dampak positif baginya selama satu tahun lamanya dengan izin Allah. Demikianlah ringkasan faedah yang disampaikan oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr Hafizhahullah dalam kitab Syarh ad-Durus al-Muhimmah (hal. 49). Syekh Shalih al-Fauzan menjelaskan bahwa puasa adalah jalan untuk menggapai takwa. Seseorang yang berpuasa sedang menempa dirinya untuk beribadah dan berlatih menghadapi kesulitan dan rintangan. Dia akan berlatih untuk meninggalkan sesuatu yang telah menjadi kesenangan dan hal yang disukai oleh hawa nafsunya. Orang yang berpuasa sedang berjuang untuk menaklukkan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Dia pun berjuang keras agar terjauhkan dari berbagai godaan dan tipu daya setan.Ketakwaan itu akan digapai dengan cara berpuasa. Maksudnya, dengan melakukan perintah-perintah Allah dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Dia mengharapkan curahan pahala dari Allah dan takut akan hukuman-Nya. Inilah salah satu keistimewaan puasa yang paling agung, yaitu ia akan membuahkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikianlah kurang lebih kandungan dari salah satu faedah berharga yang disampaikan oleh Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan Hafizhahullah dalam Majmu’ Fatawa (2: 383).Dari keterangan kedua ulama di atas, tampaklah bagi kita bahwa takwa bukan perkara sepele dan remeh yang bisa diperoleh hanya dengan bersantai-santai dan bermalas-malasan. Sesungguhnya takwa kepada Allah butuh perjuangan keras untuk menundukkan hawa nafsu, yang seringkali mengajak kepada keburukan. Takwa kepada Allah butuh kesadaran hati dan ketundukan akal kepada perintah dan larangan Allah. Takwa pun harus berakar dari dalam hati. Bukan semata-mata perbuatan anggota badan dan ucapan dengan lisan.Kita dilatih dan ditempa untuk menjadi hamba Allah yang sejati dengan ibadah puasa. Bukan hamba hawa nafsu dan pemuja kenikmatan-kenikmatan semu. Seorang hamba tidak bisa dengan hanya bersandar kepada kemampuan dirinya untuk mewujudkan puasa dan ketakwaan itu. Akan tetapi, dia harus bersandar dan bergantung kepada Allah semata. Hanya Allah lah yang bisa membantu dan memudahkan dirinya dalam menempuh jalan menuju takwa. Semoga nasihat yang singkat ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wallahul musta’aan.Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan Ramadhan*** Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Aqidah Adalah, Sunnah Nabi Forum, Hukum Shalat Idul Adha Sendiri, Sabar Menghadapi Penyakit, Hadits Keutamaan Hari JumatTags: amalan ramadhanbulan ramadhankeutamaan bulan ramadhanmenyambut ramadhanmerindukan ramadhannasihatnasihat islamRamadhan

Bahaya Jika Kau Tak Punya Waktu untuk Al-Quran – Sy Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

Bahaya Jika Kau Tak Punya Waktu untuk Al-Quran – Sy Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama Saudara-saudara, orang yang tidak punya wirid membaca al-Quran (yaitu dia tidak merutinkan membaca al-Quran setiap hari), adalah orang yang telah menghalangi dirinya dari sebab-sebab kebaikan. Dan apabila kamu bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak punya wirid membaca al-Quran setiap hari?” Ia akan menjawab, “Akibat kesibukan yang begitu banyak dan tidak ada habisnya.” Allahu Akbar! Bagaimana kamu lebih mengutamakan kesibukan-kesibukan itu daripada keridhaan Allah Tuhan semesta alam, dan bermunajat kepada Tuhan semesta alam, serta membaca firman Allah Tuhan semesta alam?! Bagaimana kamu lebih mengutamakan kesibukan-kesibukan itu, padahal mayoritasnya begitu melelahkan hati dan jiwa, daripada sesuatu yang menjadi sebab ketentraman, kelapangan, kebahagiaan, dan ketenangan?! Namun, itu semua akibat anggapan-anggapan keliru yang ada di pikiran sebagian orang, dan juga kelalaian, dan ketidakpedulian, serta ketidaktahuan terhadap derajat amalan-amalan. Karena, jika tidak demikian, apakah ada hal yang setara dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla? Saudaraku! Jika kamu tidak memiliki wirid membaca al-Quran, maka kamu dalam bahaya, dan hatimu juga dalam bahaya! Renungkanlah baik-baik firman Allah ‘Azza wa Jalla ini! “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka, sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi, sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepada kalian ayat-ayat (Kami) supaya kalian memikirkannya.” (QS. Al-Hadid: 16 – 17) ================================================================================ مَنْ لَا يَكُونُ لَهُ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ يَا إِخْوَانُ حَرَمَ نَفْسَهُ مِنْ أَسْبَابِ الْخَيْرِ وَتَسْأَلُهُ لِمَا لَا يَكُونُ لَكَ كُلَّ يَوْمٍ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ؟ فَيَقُولُ الْمَشَاغِلُ الْكَثِيرَةُ الَّتِي مَا تَنْتَهِي اللهُ أَكْبَرُ كَيْفَ تُقَدِّمُ هَذِهِ الْمَشَاغِلَ عَلَى مَرْضَاةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَمُنَاجَاةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَتِلَاوَةِ كَلَامِ رَبِّ الْعَالَمِينَ؟ كَيْفَ تُقَدِّمُ هَذِهِ الْمَشَاغِلَ وَعَامَّتُهَا مَشَاغِلُ مُتْعِبَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِلنَّفْسِ عَلَى مَا هُوَ سَبَبُ الطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّعَةِ وَالسَّعَادَةِ وَالرَّاحَةِ لَكِنَّهَا الْمَفَاهِيْمُ الْمَغْلُوْطَةُ فِي أَذْهَانِ بَعْضِ النَّاسِ وَالتَقْصِيرُ وَالْإِهْمَالُ وَعَدَمُ مَعْرِفَةِ مَقَادِيرِ الْأَعْمَالِ وَإِلَّا فَهَلْ شَيْءٌ يُدَانِي كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخِي إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ كُنْتَ عَلَى خَطَرٍ وَقَلْبُكَ عَلَى خَطَرٍ وَتَأَمَّلْ قَوْلَ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ    

Bahaya Jika Kau Tak Punya Waktu untuk Al-Quran – Sy Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama

Bahaya Jika Kau Tak Punya Waktu untuk Al-Quran – Sy Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama Saudara-saudara, orang yang tidak punya wirid membaca al-Quran (yaitu dia tidak merutinkan membaca al-Quran setiap hari), adalah orang yang telah menghalangi dirinya dari sebab-sebab kebaikan. Dan apabila kamu bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak punya wirid membaca al-Quran setiap hari?” Ia akan menjawab, “Akibat kesibukan yang begitu banyak dan tidak ada habisnya.” Allahu Akbar! Bagaimana kamu lebih mengutamakan kesibukan-kesibukan itu daripada keridhaan Allah Tuhan semesta alam, dan bermunajat kepada Tuhan semesta alam, serta membaca firman Allah Tuhan semesta alam?! Bagaimana kamu lebih mengutamakan kesibukan-kesibukan itu, padahal mayoritasnya begitu melelahkan hati dan jiwa, daripada sesuatu yang menjadi sebab ketentraman, kelapangan, kebahagiaan, dan ketenangan?! Namun, itu semua akibat anggapan-anggapan keliru yang ada di pikiran sebagian orang, dan juga kelalaian, dan ketidakpedulian, serta ketidaktahuan terhadap derajat amalan-amalan. Karena, jika tidak demikian, apakah ada hal yang setara dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla? Saudaraku! Jika kamu tidak memiliki wirid membaca al-Quran, maka kamu dalam bahaya, dan hatimu juga dalam bahaya! Renungkanlah baik-baik firman Allah ‘Azza wa Jalla ini! “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka, sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi, sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepada kalian ayat-ayat (Kami) supaya kalian memikirkannya.” (QS. Al-Hadid: 16 – 17) ================================================================================ مَنْ لَا يَكُونُ لَهُ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ يَا إِخْوَانُ حَرَمَ نَفْسَهُ مِنْ أَسْبَابِ الْخَيْرِ وَتَسْأَلُهُ لِمَا لَا يَكُونُ لَكَ كُلَّ يَوْمٍ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ؟ فَيَقُولُ الْمَشَاغِلُ الْكَثِيرَةُ الَّتِي مَا تَنْتَهِي اللهُ أَكْبَرُ كَيْفَ تُقَدِّمُ هَذِهِ الْمَشَاغِلَ عَلَى مَرْضَاةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَمُنَاجَاةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَتِلَاوَةِ كَلَامِ رَبِّ الْعَالَمِينَ؟ كَيْفَ تُقَدِّمُ هَذِهِ الْمَشَاغِلَ وَعَامَّتُهَا مَشَاغِلُ مُتْعِبَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِلنَّفْسِ عَلَى مَا هُوَ سَبَبُ الطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّعَةِ وَالسَّعَادَةِ وَالرَّاحَةِ لَكِنَّهَا الْمَفَاهِيْمُ الْمَغْلُوْطَةُ فِي أَذْهَانِ بَعْضِ النَّاسِ وَالتَقْصِيرُ وَالْإِهْمَالُ وَعَدَمُ مَعْرِفَةِ مَقَادِيرِ الْأَعْمَالِ وَإِلَّا فَهَلْ شَيْءٌ يُدَانِي كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخِي إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ كُنْتَ عَلَى خَطَرٍ وَقَلْبُكَ عَلَى خَطَرٍ وَتَأَمَّلْ قَوْلَ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ    
Bahaya Jika Kau Tak Punya Waktu untuk Al-Quran – Sy Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama Saudara-saudara, orang yang tidak punya wirid membaca al-Quran (yaitu dia tidak merutinkan membaca al-Quran setiap hari), adalah orang yang telah menghalangi dirinya dari sebab-sebab kebaikan. Dan apabila kamu bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak punya wirid membaca al-Quran setiap hari?” Ia akan menjawab, “Akibat kesibukan yang begitu banyak dan tidak ada habisnya.” Allahu Akbar! Bagaimana kamu lebih mengutamakan kesibukan-kesibukan itu daripada keridhaan Allah Tuhan semesta alam, dan bermunajat kepada Tuhan semesta alam, serta membaca firman Allah Tuhan semesta alam?! Bagaimana kamu lebih mengutamakan kesibukan-kesibukan itu, padahal mayoritasnya begitu melelahkan hati dan jiwa, daripada sesuatu yang menjadi sebab ketentraman, kelapangan, kebahagiaan, dan ketenangan?! Namun, itu semua akibat anggapan-anggapan keliru yang ada di pikiran sebagian orang, dan juga kelalaian, dan ketidakpedulian, serta ketidaktahuan terhadap derajat amalan-amalan. Karena, jika tidak demikian, apakah ada hal yang setara dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla? Saudaraku! Jika kamu tidak memiliki wirid membaca al-Quran, maka kamu dalam bahaya, dan hatimu juga dalam bahaya! Renungkanlah baik-baik firman Allah ‘Azza wa Jalla ini! “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka, sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi, sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepada kalian ayat-ayat (Kami) supaya kalian memikirkannya.” (QS. Al-Hadid: 16 – 17) ================================================================================ مَنْ لَا يَكُونُ لَهُ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ يَا إِخْوَانُ حَرَمَ نَفْسَهُ مِنْ أَسْبَابِ الْخَيْرِ وَتَسْأَلُهُ لِمَا لَا يَكُونُ لَكَ كُلَّ يَوْمٍ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ؟ فَيَقُولُ الْمَشَاغِلُ الْكَثِيرَةُ الَّتِي مَا تَنْتَهِي اللهُ أَكْبَرُ كَيْفَ تُقَدِّمُ هَذِهِ الْمَشَاغِلَ عَلَى مَرْضَاةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَمُنَاجَاةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَتِلَاوَةِ كَلَامِ رَبِّ الْعَالَمِينَ؟ كَيْفَ تُقَدِّمُ هَذِهِ الْمَشَاغِلَ وَعَامَّتُهَا مَشَاغِلُ مُتْعِبَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِلنَّفْسِ عَلَى مَا هُوَ سَبَبُ الطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّعَةِ وَالسَّعَادَةِ وَالرَّاحَةِ لَكِنَّهَا الْمَفَاهِيْمُ الْمَغْلُوْطَةُ فِي أَذْهَانِ بَعْضِ النَّاسِ وَالتَقْصِيرُ وَالْإِهْمَالُ وَعَدَمُ مَعْرِفَةِ مَقَادِيرِ الْأَعْمَالِ وَإِلَّا فَهَلْ شَيْءٌ يُدَانِي كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخِي إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ كُنْتَ عَلَى خَطَرٍ وَقَلْبُكَ عَلَى خَطَرٍ وَتَأَمَّلْ قَوْلَ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ    


Bahaya Jika Kau Tak Punya Waktu untuk Al-Quran – Sy Muhammad bin Abdullah Al-Ma’yuf #NasehatUlama Saudara-saudara, orang yang tidak punya wirid membaca al-Quran (yaitu dia tidak merutinkan membaca al-Quran setiap hari), adalah orang yang telah menghalangi dirinya dari sebab-sebab kebaikan. Dan apabila kamu bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak punya wirid membaca al-Quran setiap hari?” Ia akan menjawab, “Akibat kesibukan yang begitu banyak dan tidak ada habisnya.” Allahu Akbar! Bagaimana kamu lebih mengutamakan kesibukan-kesibukan itu daripada keridhaan Allah Tuhan semesta alam, dan bermunajat kepada Tuhan semesta alam, serta membaca firman Allah Tuhan semesta alam?! Bagaimana kamu lebih mengutamakan kesibukan-kesibukan itu, padahal mayoritasnya begitu melelahkan hati dan jiwa, daripada sesuatu yang menjadi sebab ketentraman, kelapangan, kebahagiaan, dan ketenangan?! Namun, itu semua akibat anggapan-anggapan keliru yang ada di pikiran sebagian orang, dan juga kelalaian, dan ketidakpedulian, serta ketidaktahuan terhadap derajat amalan-amalan. Karena, jika tidak demikian, apakah ada hal yang setara dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla? Saudaraku! Jika kamu tidak memiliki wirid membaca al-Quran, maka kamu dalam bahaya, dan hatimu juga dalam bahaya! Renungkanlah baik-baik firman Allah ‘Azza wa Jalla ini! “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepada mereka, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka, sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi, sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepada kalian ayat-ayat (Kami) supaya kalian memikirkannya.” (QS. Al-Hadid: 16 – 17) ================================================================================ مَنْ لَا يَكُونُ لَهُ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ يَا إِخْوَانُ حَرَمَ نَفْسَهُ مِنْ أَسْبَابِ الْخَيْرِ وَتَسْأَلُهُ لِمَا لَا يَكُونُ لَكَ كُلَّ يَوْمٍ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ؟ فَيَقُولُ الْمَشَاغِلُ الْكَثِيرَةُ الَّتِي مَا تَنْتَهِي اللهُ أَكْبَرُ كَيْفَ تُقَدِّمُ هَذِهِ الْمَشَاغِلَ عَلَى مَرْضَاةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَمُنَاجَاةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَتِلَاوَةِ كَلَامِ رَبِّ الْعَالَمِينَ؟ كَيْفَ تُقَدِّمُ هَذِهِ الْمَشَاغِلَ وَعَامَّتُهَا مَشَاغِلُ مُتْعِبَةٌ لِلْقَلْبِ وَلِلنَّفْسِ عَلَى مَا هُوَ سَبَبُ الطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّعَةِ وَالسَّعَادَةِ وَالرَّاحَةِ لَكِنَّهَا الْمَفَاهِيْمُ الْمَغْلُوْطَةُ فِي أَذْهَانِ بَعْضِ النَّاسِ وَالتَقْصِيرُ وَالْإِهْمَالُ وَعَدَمُ مَعْرِفَةِ مَقَادِيرِ الْأَعْمَالِ وَإِلَّا فَهَلْ شَيْءٌ يُدَانِي كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخِي إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ وِرْدٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ كُنْتَ عَلَى خَطَرٍ وَقَلْبُكَ عَلَى خَطَرٍ وَتَأَمَّلْ قَوْلَ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ    

Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 2)

Daftar Isi sembunyikan 1. Baca seri sebelumnya: Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 1) 2. Hukum menalkin seseorang setelah meninggal dunia dan setelah dimakamkan 3. Hukum menalkin dengan membacakan surah Yasin Baca seri sebelumnya: Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 1)Hukum menalkin seseorang setelah meninggal dunia dan setelah dimakamkanSebagaimana dalam penjelasan sebelumnya, talkin itu disyariatkan bagi orang yang hampir meninggal dunia atau ketika sedang sakratulmaut. Adapun ketika sudah meninggal dunia, atau bahkan ketika sudah dimakamkan, tidak disyariatkan talkin. Berkaitan dengan masalah talkin setelah jenazah dimakamkan, terdapat sebuah hadis yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah di kitab Bulughul Maram sebagai berikut,وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَحَدِ التَّابِعِينَ – قَالَ : كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ ، وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ ، أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ : يَا فُلَانُ ، قُلْ : لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، يَا فُلَانُ : قُلْ رَبِّي اللَّهُ ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ، رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا – وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا  Dari Dhamrah bin Habib, seorang tabi’in, dia berkata, “Mereka (yaitu para sahabat yang beliau jumpai) menganjurkan jika kubur seorang mayit sudah diratakan dan para pengantar jenazah sudah bubar, supaya dikatakan di dekat makamnya, “Wahai fulan, katakanlah laa ilaha illallah.” Sebanyak tiga kali. “Wahai fulan, katakanlah ‘Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan Nabiku adalah Muhammad.”Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur secara mauquf (dinisbatkan kepada sahabat). Thabrani meriwayatkan hadis di atas dari Abu Umamah dengan redaksi yang panjang dan semisal riwayat Sa’id bin Manshur, namun secara marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi).”Namun, hadis di atas adalah hadis yang lemah sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujah. Berkaitan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Adapun asar dari Dhamrah bin Hubaib, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengisyaratkan kitab “Sunan Sa’id bin Manshur”, dan aku tidak menemukan sanadnya. Dan perkataan itu adalah perkataan seorang tabi’in. Sehingga termasuk dalam hadis maqthu’, yang tidak bisa dijadikan sebagai hujah.” (Minhatul ‘Allaam, 4: 353)Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani rahimahullah dalam Ad-Du’a (no. 1214) dan Al-Mu’jam Al-Kabir (no. 7979) dari jalan Ismail bin ‘Iyasy. Namun, sanad hadis ini daif. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hadis ini disepakati daifnya.” (Tahdziib Mukhtashar As-Sunan, 7: 250)Al-Haitsami rahimahullah mengatakan, “Dalam sanadnya terdapat sejumlah perawi yang aku tidak kenal.” (Majma’ Az-Zawaaid, 3: 45)Al-‘Izz bin ‘Abdus Salaam rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun hadis sahih berkaitan dengan talkin (setelah meninggal dunia). Ini adalah amalan bidah.” (Al-Fataawa, hal. 95-96)Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Yang dapat kita simpulkan dari perkataan ulama peneliti hadis adalah bahwa hadis tersebut lemah (daif), sehingga menjadi bidah jika diamalkan. Dan tidak perlu tertipu dengan banyaknya orang yang mengamalkannya.” (Subulus Salaam, 2: 218)Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan hadis tersebut dalam kitab beliau, “Al-Fawaaid Al-majmu’ah fil Ahaadits Al-Maudhu’ah.” (hal. 268)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,تلقين الميت بعد دفنه مبني على حديث أبي أمامة رضي الله عنه وقد تنازع الناس في صحته والصواب أنه حديث ضعيف لا تقوم به حجة وأن تلقين الميت بعد دفنه بدعة لأن ذلك لم يرد عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم ولا عن أصحابه في حديث يركن إليه“Talkin jenazah setelah selesai dimakamkan berdasar atas sebuah hadis dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Para ulama berbeda pendapat tentang status hadis ini. Yang benar, hadis tersebut daif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujah. Sehingga melakukan talkin setelah jenazah dimakamkan termasuk bidah. Tidak terdapat dalil (hadis) yang bisa dijadikan sebagai patokan, baik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun dari para sahabatnya.” (Fataawa Nuur ‘ala Ad-Darb, 5: 190)Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Sejumlah ulama peneliti mengatakan bahwa talkin setelah jenazah dimakamkan itu tidak boleh, bahkan termasuk bidah. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya, dan tidak pula dilakukan oleh khulafaur rasyidin sepeninggal beliau. Seandainya amal tersebut ada dalilnya, tentu para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan bersegera mengamalkannya. Hal ini karena adanya orang yang meninggal dunia itu pada umumnya hampir terjadi setiap hari. Sehingga, faktor pendorong dan motivasi untuk menukil (meriwayatkan) amal tersebut sangatlah besar, jika memang benar-benar ada (diamalkan). Kesimpulannya, amal tersebut termasuk bidah yang wajib untuk ditinggalkan dan diingkari. Di antara perkara yang menunjukkan batilnya amalan tersebut adalah:Pertama, bahwa hal itu bertentangan dengan dalil-dalil syar’i yang menunjukkan bahwa orang yang sudah mati tidak bisa mendengar, kecuali yang terdapat dalam hadis sebelumnya bahwa mereka mendengar langkah sandal ketika orang-orang pergi (pulang) meninggalkannya.Kedua, orang yang meninggal itu sudah terputus dan sudah ditutup amalnya. Sehingga tidak mungkin lagi membuat jenazah tersebut menjadi teguh hatinya (untuk menjawab pertanyaan dua malaikat) setelah meninggal dunia. Adapun yang menjadi sebab keteguhan mayit tersebut (dalam menjawab pertanyaan dua malaikat) adalah amal yang telah dia lakukan selama masih hidup.Ketiga, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk mendoakan mayit setelah dimakamkan. Seandainya talkin (setelah dimakamkan) juga disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan mengajarkan kepada kita. Wallahu Ta’ala a’lam.” (Minhatul ‘Allaam, 4: 356)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Jika jenazah tersebut orang zalim, maka tidak ada manfaatnya. Jika jenazah tersebut adalah mukmin, maka Allahlah yang akan meneguhkannya. Sehingga, talkin semacam ini (setelah meninggal dunia) tidak ada dalilnya dan tidak boleh dilakukan, meskipun sebagian orang menganggapnya sebagai perbuatan yang baik. Akan tetapi, hujah itu terdapat pada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tashiilul Ilmaam, 3: 66)Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan, amalan yang terdapat dalil sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mendoakan jenazah selesai dimakamkan. Dari sahabat ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari menguburkan mayit, beliau berkata, ‘Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.’” (HR. Abu Dawud no. 3221, Al-Hakim 1: 370, hadis sahih)Baca juga: Berdiri Sejenak Mendoakan Jenazah setelah DimakamkanHukum menalkin dengan membacakan surah YasinBerkaitan dengan membacakan surah Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia, terdapat suatu riwayat dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ“Bacakanlah surah Yasin kepada orang yang hampir meninggal dunia.”Hadis di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3121), An-Nasa’i dalam ‘Amal Al-Yaum Wal Lailah (no. 1074), dan Ibnu Hibban (7: 269). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan di kitab Bulughul Maram bahwa Ibnu Hibban rahimahullah mensahihkan hadis ini.Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama. Sebagian ulama menilai bahwa hadis ini daif sehingga tidak bisa dijadikan sebagai landasan. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengutip perkataan Ad-Daruquthni rahimahullah, “Sanad hadis ini daif, matannya majhul. Tidak ada satu pun hadis sahih dalam masalah ini.” (At-Talkhish, 2: 110)Di antara ulama kontemporer yang juga menilai hadis ini daif adalah Syekh Al-Albani rahimahullah (dalam Shahih Wa Dha’if Sunan Abi Dawud) dan Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam Minhatul ‘Allaam (4: 242). Inilah pendapat yang lebih kuat tentang status hadis ini. Wallahu Ta’ala A’lam.Hadis ini dijadikan sebagai dalil oleh sebagian ulama fikih untuk mengatakan dianjurkannya membacakan surah Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia. Sehingga lafaz,مَوْتَاكُمْdimaknai sebagai “orang yang hampir meninggal dunia”, bukan “orang yang sudah meninggal dunia.” Demikianlah penjelasan Ibnu Hibban rahimahullah ketika menjelaskan hadis ini. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 242)Para ulama yang mengatakan dianjurkan membacakan surah Yasin, mereka mengatakan bahwa hikmahnya adalah karena di dalam surah Yasin terdapat kandungan tauhid dan negeri akhirat. Disebutkan pula tentang kabar gembira berupa surga bagi ahli tauhid dan keberuntungan bagi siapa saja yang meninggal di atas tauhid. Allah Ta’ala berfirman,قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ“Dikatakan (kepadanya), ‘Masuklah ke surga.’ Ia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.’” (QS. Yasin: 26-27)Ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. (Lihat Ar-Ruuh, hal. 18)Akan tetapi, pendapat yang lebih tepat adalah membaca surah Yasin kepada orang yang hampir meninggal dunia itu tidak disyariatkan karena daifnya hadis yang dijadikan sebagai dalil. Kita mencukupi dengan amal yang terdapat dalam hadis sahih, yaitu menalkin dengan menuntunkan orang yang hampir meninggal dengan bacaan laa ilaaha illallah. Sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya dari tulisan ini.Akan tetapi, permasalahan ini hendaknya disikapi dengan lapang dada. Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,“Hadis ini menunjukkan dianjurkannya membacakan surat Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia. Akan tetapi, dalam hadis ini terdapat perbincangan yang panjang. Hadis ini dinilai cacat bahwa sanadnya daif, atau munqathi’, atau mudhtharib, sedangkan sebagian ulama menilai sebagai hadis yang sahih dan memiliki syawahid (penguat dari jalur yang lain, pent.). Sampai-sampai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, ‘Dianjurkan membacakan surat Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia.’ Hal ini menunjukkan bahwa amalam tersebut memiliki dalil.Dalam menyikapi permasalahan ini, ulama terbagi menjadi dua,Pertama, mereka yang berpendapat tidak disyariatkan, karena tidak ada hadis yang sahih.Kedua, mereka yang berpendapat dibacakan (surat Yasin), karena menurut sebagian ulama, hadisnya sahih dan memiliki syawahid.Ringkasnya, siapa saja yang mengamalkan, tidak perlu diingkari. Demikian pula siapa saja yang meninggalkannya, juga tidak perlu diingkari. Karena permasalahan ini adalah permasalahan yang lapang, walillahil hamd.” (Tashiilul Ilmaam, 3: 16-17)Baca Juga:Sakaratul Maut Paling Berkesan Milik Sang Pemuda BerbaktiBeriman terhadap Datangnya Kematian[Selesai]***@Rumah Kasongan, 4 Sya’ban 1443/ 7 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam Fi Syarhi Buluughil Maraam, 4: 239-240 dan 4: 353-356; Tashiilul Ilmaam Bifiqhi Al-Ahaadits Min Buluughil Maraam, 3: 15-16 dan 3: 66; dan kitab lainnya yang telah disebutkan (sebagian kami kutip melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam).🔍 Tasyabbuh, Tanggal Nabi Muhammad Lahir, Sholat Yang Benar Menurut Rasulullah, Kultum Pendek Tentang Akhlak, Doa Sahur Puasa Senin KamisTags: cara talkinfatawaFatwa Ulamafikihfikih talkinnasihatnasihat islamsakaratul mauttalkintujuan talkintuntunan talkin

Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 2)

Daftar Isi sembunyikan 1. Baca seri sebelumnya: Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 1) 2. Hukum menalkin seseorang setelah meninggal dunia dan setelah dimakamkan 3. Hukum menalkin dengan membacakan surah Yasin Baca seri sebelumnya: Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 1)Hukum menalkin seseorang setelah meninggal dunia dan setelah dimakamkanSebagaimana dalam penjelasan sebelumnya, talkin itu disyariatkan bagi orang yang hampir meninggal dunia atau ketika sedang sakratulmaut. Adapun ketika sudah meninggal dunia, atau bahkan ketika sudah dimakamkan, tidak disyariatkan talkin. Berkaitan dengan masalah talkin setelah jenazah dimakamkan, terdapat sebuah hadis yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah di kitab Bulughul Maram sebagai berikut,وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَحَدِ التَّابِعِينَ – قَالَ : كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ ، وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ ، أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ : يَا فُلَانُ ، قُلْ : لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، يَا فُلَانُ : قُلْ رَبِّي اللَّهُ ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ، رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا – وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا  Dari Dhamrah bin Habib, seorang tabi’in, dia berkata, “Mereka (yaitu para sahabat yang beliau jumpai) menganjurkan jika kubur seorang mayit sudah diratakan dan para pengantar jenazah sudah bubar, supaya dikatakan di dekat makamnya, “Wahai fulan, katakanlah laa ilaha illallah.” Sebanyak tiga kali. “Wahai fulan, katakanlah ‘Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan Nabiku adalah Muhammad.”Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur secara mauquf (dinisbatkan kepada sahabat). Thabrani meriwayatkan hadis di atas dari Abu Umamah dengan redaksi yang panjang dan semisal riwayat Sa’id bin Manshur, namun secara marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi).”Namun, hadis di atas adalah hadis yang lemah sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujah. Berkaitan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Adapun asar dari Dhamrah bin Hubaib, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengisyaratkan kitab “Sunan Sa’id bin Manshur”, dan aku tidak menemukan sanadnya. Dan perkataan itu adalah perkataan seorang tabi’in. Sehingga termasuk dalam hadis maqthu’, yang tidak bisa dijadikan sebagai hujah.” (Minhatul ‘Allaam, 4: 353)Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani rahimahullah dalam Ad-Du’a (no. 1214) dan Al-Mu’jam Al-Kabir (no. 7979) dari jalan Ismail bin ‘Iyasy. Namun, sanad hadis ini daif. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hadis ini disepakati daifnya.” (Tahdziib Mukhtashar As-Sunan, 7: 250)Al-Haitsami rahimahullah mengatakan, “Dalam sanadnya terdapat sejumlah perawi yang aku tidak kenal.” (Majma’ Az-Zawaaid, 3: 45)Al-‘Izz bin ‘Abdus Salaam rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun hadis sahih berkaitan dengan talkin (setelah meninggal dunia). Ini adalah amalan bidah.” (Al-Fataawa, hal. 95-96)Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Yang dapat kita simpulkan dari perkataan ulama peneliti hadis adalah bahwa hadis tersebut lemah (daif), sehingga menjadi bidah jika diamalkan. Dan tidak perlu tertipu dengan banyaknya orang yang mengamalkannya.” (Subulus Salaam, 2: 218)Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan hadis tersebut dalam kitab beliau, “Al-Fawaaid Al-majmu’ah fil Ahaadits Al-Maudhu’ah.” (hal. 268)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,تلقين الميت بعد دفنه مبني على حديث أبي أمامة رضي الله عنه وقد تنازع الناس في صحته والصواب أنه حديث ضعيف لا تقوم به حجة وأن تلقين الميت بعد دفنه بدعة لأن ذلك لم يرد عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم ولا عن أصحابه في حديث يركن إليه“Talkin jenazah setelah selesai dimakamkan berdasar atas sebuah hadis dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Para ulama berbeda pendapat tentang status hadis ini. Yang benar, hadis tersebut daif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujah. Sehingga melakukan talkin setelah jenazah dimakamkan termasuk bidah. Tidak terdapat dalil (hadis) yang bisa dijadikan sebagai patokan, baik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun dari para sahabatnya.” (Fataawa Nuur ‘ala Ad-Darb, 5: 190)Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Sejumlah ulama peneliti mengatakan bahwa talkin setelah jenazah dimakamkan itu tidak boleh, bahkan termasuk bidah. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya, dan tidak pula dilakukan oleh khulafaur rasyidin sepeninggal beliau. Seandainya amal tersebut ada dalilnya, tentu para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan bersegera mengamalkannya. Hal ini karena adanya orang yang meninggal dunia itu pada umumnya hampir terjadi setiap hari. Sehingga, faktor pendorong dan motivasi untuk menukil (meriwayatkan) amal tersebut sangatlah besar, jika memang benar-benar ada (diamalkan). Kesimpulannya, amal tersebut termasuk bidah yang wajib untuk ditinggalkan dan diingkari. Di antara perkara yang menunjukkan batilnya amalan tersebut adalah:Pertama, bahwa hal itu bertentangan dengan dalil-dalil syar’i yang menunjukkan bahwa orang yang sudah mati tidak bisa mendengar, kecuali yang terdapat dalam hadis sebelumnya bahwa mereka mendengar langkah sandal ketika orang-orang pergi (pulang) meninggalkannya.Kedua, orang yang meninggal itu sudah terputus dan sudah ditutup amalnya. Sehingga tidak mungkin lagi membuat jenazah tersebut menjadi teguh hatinya (untuk menjawab pertanyaan dua malaikat) setelah meninggal dunia. Adapun yang menjadi sebab keteguhan mayit tersebut (dalam menjawab pertanyaan dua malaikat) adalah amal yang telah dia lakukan selama masih hidup.Ketiga, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk mendoakan mayit setelah dimakamkan. Seandainya talkin (setelah dimakamkan) juga disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan mengajarkan kepada kita. Wallahu Ta’ala a’lam.” (Minhatul ‘Allaam, 4: 356)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Jika jenazah tersebut orang zalim, maka tidak ada manfaatnya. Jika jenazah tersebut adalah mukmin, maka Allahlah yang akan meneguhkannya. Sehingga, talkin semacam ini (setelah meninggal dunia) tidak ada dalilnya dan tidak boleh dilakukan, meskipun sebagian orang menganggapnya sebagai perbuatan yang baik. Akan tetapi, hujah itu terdapat pada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tashiilul Ilmaam, 3: 66)Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan, amalan yang terdapat dalil sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mendoakan jenazah selesai dimakamkan. Dari sahabat ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari menguburkan mayit, beliau berkata, ‘Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.’” (HR. Abu Dawud no. 3221, Al-Hakim 1: 370, hadis sahih)Baca juga: Berdiri Sejenak Mendoakan Jenazah setelah DimakamkanHukum menalkin dengan membacakan surah YasinBerkaitan dengan membacakan surah Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia, terdapat suatu riwayat dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ“Bacakanlah surah Yasin kepada orang yang hampir meninggal dunia.”Hadis di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3121), An-Nasa’i dalam ‘Amal Al-Yaum Wal Lailah (no. 1074), dan Ibnu Hibban (7: 269). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan di kitab Bulughul Maram bahwa Ibnu Hibban rahimahullah mensahihkan hadis ini.Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama. Sebagian ulama menilai bahwa hadis ini daif sehingga tidak bisa dijadikan sebagai landasan. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengutip perkataan Ad-Daruquthni rahimahullah, “Sanad hadis ini daif, matannya majhul. Tidak ada satu pun hadis sahih dalam masalah ini.” (At-Talkhish, 2: 110)Di antara ulama kontemporer yang juga menilai hadis ini daif adalah Syekh Al-Albani rahimahullah (dalam Shahih Wa Dha’if Sunan Abi Dawud) dan Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam Minhatul ‘Allaam (4: 242). Inilah pendapat yang lebih kuat tentang status hadis ini. Wallahu Ta’ala A’lam.Hadis ini dijadikan sebagai dalil oleh sebagian ulama fikih untuk mengatakan dianjurkannya membacakan surah Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia. Sehingga lafaz,مَوْتَاكُمْdimaknai sebagai “orang yang hampir meninggal dunia”, bukan “orang yang sudah meninggal dunia.” Demikianlah penjelasan Ibnu Hibban rahimahullah ketika menjelaskan hadis ini. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 242)Para ulama yang mengatakan dianjurkan membacakan surah Yasin, mereka mengatakan bahwa hikmahnya adalah karena di dalam surah Yasin terdapat kandungan tauhid dan negeri akhirat. Disebutkan pula tentang kabar gembira berupa surga bagi ahli tauhid dan keberuntungan bagi siapa saja yang meninggal di atas tauhid. Allah Ta’ala berfirman,قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ“Dikatakan (kepadanya), ‘Masuklah ke surga.’ Ia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.’” (QS. Yasin: 26-27)Ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. (Lihat Ar-Ruuh, hal. 18)Akan tetapi, pendapat yang lebih tepat adalah membaca surah Yasin kepada orang yang hampir meninggal dunia itu tidak disyariatkan karena daifnya hadis yang dijadikan sebagai dalil. Kita mencukupi dengan amal yang terdapat dalam hadis sahih, yaitu menalkin dengan menuntunkan orang yang hampir meninggal dengan bacaan laa ilaaha illallah. Sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya dari tulisan ini.Akan tetapi, permasalahan ini hendaknya disikapi dengan lapang dada. Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,“Hadis ini menunjukkan dianjurkannya membacakan surat Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia. Akan tetapi, dalam hadis ini terdapat perbincangan yang panjang. Hadis ini dinilai cacat bahwa sanadnya daif, atau munqathi’, atau mudhtharib, sedangkan sebagian ulama menilai sebagai hadis yang sahih dan memiliki syawahid (penguat dari jalur yang lain, pent.). Sampai-sampai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, ‘Dianjurkan membacakan surat Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia.’ Hal ini menunjukkan bahwa amalam tersebut memiliki dalil.Dalam menyikapi permasalahan ini, ulama terbagi menjadi dua,Pertama, mereka yang berpendapat tidak disyariatkan, karena tidak ada hadis yang sahih.Kedua, mereka yang berpendapat dibacakan (surat Yasin), karena menurut sebagian ulama, hadisnya sahih dan memiliki syawahid.Ringkasnya, siapa saja yang mengamalkan, tidak perlu diingkari. Demikian pula siapa saja yang meninggalkannya, juga tidak perlu diingkari. Karena permasalahan ini adalah permasalahan yang lapang, walillahil hamd.” (Tashiilul Ilmaam, 3: 16-17)Baca Juga:Sakaratul Maut Paling Berkesan Milik Sang Pemuda BerbaktiBeriman terhadap Datangnya Kematian[Selesai]***@Rumah Kasongan, 4 Sya’ban 1443/ 7 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam Fi Syarhi Buluughil Maraam, 4: 239-240 dan 4: 353-356; Tashiilul Ilmaam Bifiqhi Al-Ahaadits Min Buluughil Maraam, 3: 15-16 dan 3: 66; dan kitab lainnya yang telah disebutkan (sebagian kami kutip melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam).🔍 Tasyabbuh, Tanggal Nabi Muhammad Lahir, Sholat Yang Benar Menurut Rasulullah, Kultum Pendek Tentang Akhlak, Doa Sahur Puasa Senin KamisTags: cara talkinfatawaFatwa Ulamafikihfikih talkinnasihatnasihat islamsakaratul mauttalkintujuan talkintuntunan talkin
Daftar Isi sembunyikan 1. Baca seri sebelumnya: Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 1) 2. Hukum menalkin seseorang setelah meninggal dunia dan setelah dimakamkan 3. Hukum menalkin dengan membacakan surah Yasin Baca seri sebelumnya: Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 1)Hukum menalkin seseorang setelah meninggal dunia dan setelah dimakamkanSebagaimana dalam penjelasan sebelumnya, talkin itu disyariatkan bagi orang yang hampir meninggal dunia atau ketika sedang sakratulmaut. Adapun ketika sudah meninggal dunia, atau bahkan ketika sudah dimakamkan, tidak disyariatkan talkin. Berkaitan dengan masalah talkin setelah jenazah dimakamkan, terdapat sebuah hadis yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah di kitab Bulughul Maram sebagai berikut,وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَحَدِ التَّابِعِينَ – قَالَ : كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ ، وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ ، أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ : يَا فُلَانُ ، قُلْ : لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، يَا فُلَانُ : قُلْ رَبِّي اللَّهُ ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ، رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا – وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا  Dari Dhamrah bin Habib, seorang tabi’in, dia berkata, “Mereka (yaitu para sahabat yang beliau jumpai) menganjurkan jika kubur seorang mayit sudah diratakan dan para pengantar jenazah sudah bubar, supaya dikatakan di dekat makamnya, “Wahai fulan, katakanlah laa ilaha illallah.” Sebanyak tiga kali. “Wahai fulan, katakanlah ‘Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan Nabiku adalah Muhammad.”Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur secara mauquf (dinisbatkan kepada sahabat). Thabrani meriwayatkan hadis di atas dari Abu Umamah dengan redaksi yang panjang dan semisal riwayat Sa’id bin Manshur, namun secara marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi).”Namun, hadis di atas adalah hadis yang lemah sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujah. Berkaitan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Adapun asar dari Dhamrah bin Hubaib, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengisyaratkan kitab “Sunan Sa’id bin Manshur”, dan aku tidak menemukan sanadnya. Dan perkataan itu adalah perkataan seorang tabi’in. Sehingga termasuk dalam hadis maqthu’, yang tidak bisa dijadikan sebagai hujah.” (Minhatul ‘Allaam, 4: 353)Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani rahimahullah dalam Ad-Du’a (no. 1214) dan Al-Mu’jam Al-Kabir (no. 7979) dari jalan Ismail bin ‘Iyasy. Namun, sanad hadis ini daif. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hadis ini disepakati daifnya.” (Tahdziib Mukhtashar As-Sunan, 7: 250)Al-Haitsami rahimahullah mengatakan, “Dalam sanadnya terdapat sejumlah perawi yang aku tidak kenal.” (Majma’ Az-Zawaaid, 3: 45)Al-‘Izz bin ‘Abdus Salaam rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun hadis sahih berkaitan dengan talkin (setelah meninggal dunia). Ini adalah amalan bidah.” (Al-Fataawa, hal. 95-96)Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Yang dapat kita simpulkan dari perkataan ulama peneliti hadis adalah bahwa hadis tersebut lemah (daif), sehingga menjadi bidah jika diamalkan. Dan tidak perlu tertipu dengan banyaknya orang yang mengamalkannya.” (Subulus Salaam, 2: 218)Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan hadis tersebut dalam kitab beliau, “Al-Fawaaid Al-majmu’ah fil Ahaadits Al-Maudhu’ah.” (hal. 268)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,تلقين الميت بعد دفنه مبني على حديث أبي أمامة رضي الله عنه وقد تنازع الناس في صحته والصواب أنه حديث ضعيف لا تقوم به حجة وأن تلقين الميت بعد دفنه بدعة لأن ذلك لم يرد عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم ولا عن أصحابه في حديث يركن إليه“Talkin jenazah setelah selesai dimakamkan berdasar atas sebuah hadis dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Para ulama berbeda pendapat tentang status hadis ini. Yang benar, hadis tersebut daif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujah. Sehingga melakukan talkin setelah jenazah dimakamkan termasuk bidah. Tidak terdapat dalil (hadis) yang bisa dijadikan sebagai patokan, baik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun dari para sahabatnya.” (Fataawa Nuur ‘ala Ad-Darb, 5: 190)Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Sejumlah ulama peneliti mengatakan bahwa talkin setelah jenazah dimakamkan itu tidak boleh, bahkan termasuk bidah. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya, dan tidak pula dilakukan oleh khulafaur rasyidin sepeninggal beliau. Seandainya amal tersebut ada dalilnya, tentu para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan bersegera mengamalkannya. Hal ini karena adanya orang yang meninggal dunia itu pada umumnya hampir terjadi setiap hari. Sehingga, faktor pendorong dan motivasi untuk menukil (meriwayatkan) amal tersebut sangatlah besar, jika memang benar-benar ada (diamalkan). Kesimpulannya, amal tersebut termasuk bidah yang wajib untuk ditinggalkan dan diingkari. Di antara perkara yang menunjukkan batilnya amalan tersebut adalah:Pertama, bahwa hal itu bertentangan dengan dalil-dalil syar’i yang menunjukkan bahwa orang yang sudah mati tidak bisa mendengar, kecuali yang terdapat dalam hadis sebelumnya bahwa mereka mendengar langkah sandal ketika orang-orang pergi (pulang) meninggalkannya.Kedua, orang yang meninggal itu sudah terputus dan sudah ditutup amalnya. Sehingga tidak mungkin lagi membuat jenazah tersebut menjadi teguh hatinya (untuk menjawab pertanyaan dua malaikat) setelah meninggal dunia. Adapun yang menjadi sebab keteguhan mayit tersebut (dalam menjawab pertanyaan dua malaikat) adalah amal yang telah dia lakukan selama masih hidup.Ketiga, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk mendoakan mayit setelah dimakamkan. Seandainya talkin (setelah dimakamkan) juga disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan mengajarkan kepada kita. Wallahu Ta’ala a’lam.” (Minhatul ‘Allaam, 4: 356)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Jika jenazah tersebut orang zalim, maka tidak ada manfaatnya. Jika jenazah tersebut adalah mukmin, maka Allahlah yang akan meneguhkannya. Sehingga, talkin semacam ini (setelah meninggal dunia) tidak ada dalilnya dan tidak boleh dilakukan, meskipun sebagian orang menganggapnya sebagai perbuatan yang baik. Akan tetapi, hujah itu terdapat pada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tashiilul Ilmaam, 3: 66)Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan, amalan yang terdapat dalil sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mendoakan jenazah selesai dimakamkan. Dari sahabat ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari menguburkan mayit, beliau berkata, ‘Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.’” (HR. Abu Dawud no. 3221, Al-Hakim 1: 370, hadis sahih)Baca juga: Berdiri Sejenak Mendoakan Jenazah setelah DimakamkanHukum menalkin dengan membacakan surah YasinBerkaitan dengan membacakan surah Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia, terdapat suatu riwayat dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ“Bacakanlah surah Yasin kepada orang yang hampir meninggal dunia.”Hadis di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3121), An-Nasa’i dalam ‘Amal Al-Yaum Wal Lailah (no. 1074), dan Ibnu Hibban (7: 269). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan di kitab Bulughul Maram bahwa Ibnu Hibban rahimahullah mensahihkan hadis ini.Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama. Sebagian ulama menilai bahwa hadis ini daif sehingga tidak bisa dijadikan sebagai landasan. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengutip perkataan Ad-Daruquthni rahimahullah, “Sanad hadis ini daif, matannya majhul. Tidak ada satu pun hadis sahih dalam masalah ini.” (At-Talkhish, 2: 110)Di antara ulama kontemporer yang juga menilai hadis ini daif adalah Syekh Al-Albani rahimahullah (dalam Shahih Wa Dha’if Sunan Abi Dawud) dan Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam Minhatul ‘Allaam (4: 242). Inilah pendapat yang lebih kuat tentang status hadis ini. Wallahu Ta’ala A’lam.Hadis ini dijadikan sebagai dalil oleh sebagian ulama fikih untuk mengatakan dianjurkannya membacakan surah Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia. Sehingga lafaz,مَوْتَاكُمْdimaknai sebagai “orang yang hampir meninggal dunia”, bukan “orang yang sudah meninggal dunia.” Demikianlah penjelasan Ibnu Hibban rahimahullah ketika menjelaskan hadis ini. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 242)Para ulama yang mengatakan dianjurkan membacakan surah Yasin, mereka mengatakan bahwa hikmahnya adalah karena di dalam surah Yasin terdapat kandungan tauhid dan negeri akhirat. Disebutkan pula tentang kabar gembira berupa surga bagi ahli tauhid dan keberuntungan bagi siapa saja yang meninggal di atas tauhid. Allah Ta’ala berfirman,قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ“Dikatakan (kepadanya), ‘Masuklah ke surga.’ Ia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.’” (QS. Yasin: 26-27)Ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. (Lihat Ar-Ruuh, hal. 18)Akan tetapi, pendapat yang lebih tepat adalah membaca surah Yasin kepada orang yang hampir meninggal dunia itu tidak disyariatkan karena daifnya hadis yang dijadikan sebagai dalil. Kita mencukupi dengan amal yang terdapat dalam hadis sahih, yaitu menalkin dengan menuntunkan orang yang hampir meninggal dengan bacaan laa ilaaha illallah. Sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya dari tulisan ini.Akan tetapi, permasalahan ini hendaknya disikapi dengan lapang dada. Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,“Hadis ini menunjukkan dianjurkannya membacakan surat Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia. Akan tetapi, dalam hadis ini terdapat perbincangan yang panjang. Hadis ini dinilai cacat bahwa sanadnya daif, atau munqathi’, atau mudhtharib, sedangkan sebagian ulama menilai sebagai hadis yang sahih dan memiliki syawahid (penguat dari jalur yang lain, pent.). Sampai-sampai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, ‘Dianjurkan membacakan surat Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia.’ Hal ini menunjukkan bahwa amalam tersebut memiliki dalil.Dalam menyikapi permasalahan ini, ulama terbagi menjadi dua,Pertama, mereka yang berpendapat tidak disyariatkan, karena tidak ada hadis yang sahih.Kedua, mereka yang berpendapat dibacakan (surat Yasin), karena menurut sebagian ulama, hadisnya sahih dan memiliki syawahid.Ringkasnya, siapa saja yang mengamalkan, tidak perlu diingkari. Demikian pula siapa saja yang meninggalkannya, juga tidak perlu diingkari. Karena permasalahan ini adalah permasalahan yang lapang, walillahil hamd.” (Tashiilul Ilmaam, 3: 16-17)Baca Juga:Sakaratul Maut Paling Berkesan Milik Sang Pemuda BerbaktiBeriman terhadap Datangnya Kematian[Selesai]***@Rumah Kasongan, 4 Sya’ban 1443/ 7 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam Fi Syarhi Buluughil Maraam, 4: 239-240 dan 4: 353-356; Tashiilul Ilmaam Bifiqhi Al-Ahaadits Min Buluughil Maraam, 3: 15-16 dan 3: 66; dan kitab lainnya yang telah disebutkan (sebagian kami kutip melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam).🔍 Tasyabbuh, Tanggal Nabi Muhammad Lahir, Sholat Yang Benar Menurut Rasulullah, Kultum Pendek Tentang Akhlak, Doa Sahur Puasa Senin KamisTags: cara talkinfatawaFatwa Ulamafikihfikih talkinnasihatnasihat islamsakaratul mauttalkintujuan talkintuntunan talkin


Daftar Isi sembunyikan 1. Baca seri sebelumnya: Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 1) 2. Hukum menalkin seseorang setelah meninggal dunia dan setelah dimakamkan 3. Hukum menalkin dengan membacakan surah Yasin Baca seri sebelumnya: Hukum dan Batasan Talkin (Bag. 1)Hukum menalkin seseorang setelah meninggal dunia dan setelah dimakamkanSebagaimana dalam penjelasan sebelumnya, talkin itu disyariatkan bagi orang yang hampir meninggal dunia atau ketika sedang sakratulmaut. Adapun ketika sudah meninggal dunia, atau bahkan ketika sudah dimakamkan, tidak disyariatkan talkin. Berkaitan dengan masalah talkin setelah jenazah dimakamkan, terdapat sebuah hadis yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah di kitab Bulughul Maram sebagai berikut,وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَحَدِ التَّابِعِينَ – قَالَ : كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ ، وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ ، أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ : يَا فُلَانُ ، قُلْ : لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، يَا فُلَانُ : قُلْ رَبِّي اللَّهُ ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ، رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا – وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا  Dari Dhamrah bin Habib, seorang tabi’in, dia berkata, “Mereka (yaitu para sahabat yang beliau jumpai) menganjurkan jika kubur seorang mayit sudah diratakan dan para pengantar jenazah sudah bubar, supaya dikatakan di dekat makamnya, “Wahai fulan, katakanlah laa ilaha illallah.” Sebanyak tiga kali. “Wahai fulan, katakanlah ‘Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan Nabiku adalah Muhammad.”Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur secara mauquf (dinisbatkan kepada sahabat). Thabrani meriwayatkan hadis di atas dari Abu Umamah dengan redaksi yang panjang dan semisal riwayat Sa’id bin Manshur, namun secara marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi).”Namun, hadis di atas adalah hadis yang lemah sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujah. Berkaitan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Adapun asar dari Dhamrah bin Hubaib, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengisyaratkan kitab “Sunan Sa’id bin Manshur”, dan aku tidak menemukan sanadnya. Dan perkataan itu adalah perkataan seorang tabi’in. Sehingga termasuk dalam hadis maqthu’, yang tidak bisa dijadikan sebagai hujah.” (Minhatul ‘Allaam, 4: 353)Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani rahimahullah dalam Ad-Du’a (no. 1214) dan Al-Mu’jam Al-Kabir (no. 7979) dari jalan Ismail bin ‘Iyasy. Namun, sanad hadis ini daif. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hadis ini disepakati daifnya.” (Tahdziib Mukhtashar As-Sunan, 7: 250)Al-Haitsami rahimahullah mengatakan, “Dalam sanadnya terdapat sejumlah perawi yang aku tidak kenal.” (Majma’ Az-Zawaaid, 3: 45)Al-‘Izz bin ‘Abdus Salaam rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun hadis sahih berkaitan dengan talkin (setelah meninggal dunia). Ini adalah amalan bidah.” (Al-Fataawa, hal. 95-96)Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Yang dapat kita simpulkan dari perkataan ulama peneliti hadis adalah bahwa hadis tersebut lemah (daif), sehingga menjadi bidah jika diamalkan. Dan tidak perlu tertipu dengan banyaknya orang yang mengamalkannya.” (Subulus Salaam, 2: 218)Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan hadis tersebut dalam kitab beliau, “Al-Fawaaid Al-majmu’ah fil Ahaadits Al-Maudhu’ah.” (hal. 268)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,تلقين الميت بعد دفنه مبني على حديث أبي أمامة رضي الله عنه وقد تنازع الناس في صحته والصواب أنه حديث ضعيف لا تقوم به حجة وأن تلقين الميت بعد دفنه بدعة لأن ذلك لم يرد عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم ولا عن أصحابه في حديث يركن إليه“Talkin jenazah setelah selesai dimakamkan berdasar atas sebuah hadis dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Para ulama berbeda pendapat tentang status hadis ini. Yang benar, hadis tersebut daif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujah. Sehingga melakukan talkin setelah jenazah dimakamkan termasuk bidah. Tidak terdapat dalil (hadis) yang bisa dijadikan sebagai patokan, baik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun dari para sahabatnya.” (Fataawa Nuur ‘ala Ad-Darb, 5: 190)Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Sejumlah ulama peneliti mengatakan bahwa talkin setelah jenazah dimakamkan itu tidak boleh, bahkan termasuk bidah. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya, dan tidak pula dilakukan oleh khulafaur rasyidin sepeninggal beliau. Seandainya amal tersebut ada dalilnya, tentu para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan bersegera mengamalkannya. Hal ini karena adanya orang yang meninggal dunia itu pada umumnya hampir terjadi setiap hari. Sehingga, faktor pendorong dan motivasi untuk menukil (meriwayatkan) amal tersebut sangatlah besar, jika memang benar-benar ada (diamalkan). Kesimpulannya, amal tersebut termasuk bidah yang wajib untuk ditinggalkan dan diingkari. Di antara perkara yang menunjukkan batilnya amalan tersebut adalah:Pertama, bahwa hal itu bertentangan dengan dalil-dalil syar’i yang menunjukkan bahwa orang yang sudah mati tidak bisa mendengar, kecuali yang terdapat dalam hadis sebelumnya bahwa mereka mendengar langkah sandal ketika orang-orang pergi (pulang) meninggalkannya.Kedua, orang yang meninggal itu sudah terputus dan sudah ditutup amalnya. Sehingga tidak mungkin lagi membuat jenazah tersebut menjadi teguh hatinya (untuk menjawab pertanyaan dua malaikat) setelah meninggal dunia. Adapun yang menjadi sebab keteguhan mayit tersebut (dalam menjawab pertanyaan dua malaikat) adalah amal yang telah dia lakukan selama masih hidup.Ketiga, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk mendoakan mayit setelah dimakamkan. Seandainya talkin (setelah dimakamkan) juga disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan mengajarkan kepada kita. Wallahu Ta’ala a’lam.” (Minhatul ‘Allaam, 4: 356)Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Jika jenazah tersebut orang zalim, maka tidak ada manfaatnya. Jika jenazah tersebut adalah mukmin, maka Allahlah yang akan meneguhkannya. Sehingga, talkin semacam ini (setelah meninggal dunia) tidak ada dalilnya dan tidak boleh dilakukan, meskipun sebagian orang menganggapnya sebagai perbuatan yang baik. Akan tetapi, hujah itu terdapat pada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tashiilul Ilmaam, 3: 66)Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan, amalan yang terdapat dalil sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mendoakan jenazah selesai dimakamkan. Dari sahabat ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari menguburkan mayit, beliau berkata, ‘Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.’” (HR. Abu Dawud no. 3221, Al-Hakim 1: 370, hadis sahih)Baca juga: Berdiri Sejenak Mendoakan Jenazah setelah DimakamkanHukum menalkin dengan membacakan surah YasinBerkaitan dengan membacakan surah Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia, terdapat suatu riwayat dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ“Bacakanlah surah Yasin kepada orang yang hampir meninggal dunia.”Hadis di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3121), An-Nasa’i dalam ‘Amal Al-Yaum Wal Lailah (no. 1074), dan Ibnu Hibban (7: 269). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan di kitab Bulughul Maram bahwa Ibnu Hibban rahimahullah mensahihkan hadis ini.Hadis ini diperselisihkan statusnya oleh para ulama. Sebagian ulama menilai bahwa hadis ini daif sehingga tidak bisa dijadikan sebagai landasan. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengutip perkataan Ad-Daruquthni rahimahullah, “Sanad hadis ini daif, matannya majhul. Tidak ada satu pun hadis sahih dalam masalah ini.” (At-Talkhish, 2: 110)Di antara ulama kontemporer yang juga menilai hadis ini daif adalah Syekh Al-Albani rahimahullah (dalam Shahih Wa Dha’if Sunan Abi Dawud) dan Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah dalam Minhatul ‘Allaam (4: 242). Inilah pendapat yang lebih kuat tentang status hadis ini. Wallahu Ta’ala A’lam.Hadis ini dijadikan sebagai dalil oleh sebagian ulama fikih untuk mengatakan dianjurkannya membacakan surah Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia. Sehingga lafaz,مَوْتَاكُمْdimaknai sebagai “orang yang hampir meninggal dunia”, bukan “orang yang sudah meninggal dunia.” Demikianlah penjelasan Ibnu Hibban rahimahullah ketika menjelaskan hadis ini. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 242)Para ulama yang mengatakan dianjurkan membacakan surah Yasin, mereka mengatakan bahwa hikmahnya adalah karena di dalam surah Yasin terdapat kandungan tauhid dan negeri akhirat. Disebutkan pula tentang kabar gembira berupa surga bagi ahli tauhid dan keberuntungan bagi siapa saja yang meninggal di atas tauhid. Allah Ta’ala berfirman,قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ“Dikatakan (kepadanya), ‘Masuklah ke surga.’ Ia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.’” (QS. Yasin: 26-27)Ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. (Lihat Ar-Ruuh, hal. 18)Akan tetapi, pendapat yang lebih tepat adalah membaca surah Yasin kepada orang yang hampir meninggal dunia itu tidak disyariatkan karena daifnya hadis yang dijadikan sebagai dalil. Kita mencukupi dengan amal yang terdapat dalam hadis sahih, yaitu menalkin dengan menuntunkan orang yang hampir meninggal dengan bacaan laa ilaaha illallah. Sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya dari tulisan ini.Akan tetapi, permasalahan ini hendaknya disikapi dengan lapang dada. Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,“Hadis ini menunjukkan dianjurkannya membacakan surat Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia. Akan tetapi, dalam hadis ini terdapat perbincangan yang panjang. Hadis ini dinilai cacat bahwa sanadnya daif, atau munqathi’, atau mudhtharib, sedangkan sebagian ulama menilai sebagai hadis yang sahih dan memiliki syawahid (penguat dari jalur yang lain, pent.). Sampai-sampai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, ‘Dianjurkan membacakan surat Yasin di sisi orang yang hampir meninggal dunia.’ Hal ini menunjukkan bahwa amalam tersebut memiliki dalil.Dalam menyikapi permasalahan ini, ulama terbagi menjadi dua,Pertama, mereka yang berpendapat tidak disyariatkan, karena tidak ada hadis yang sahih.Kedua, mereka yang berpendapat dibacakan (surat Yasin), karena menurut sebagian ulama, hadisnya sahih dan memiliki syawahid.Ringkasnya, siapa saja yang mengamalkan, tidak perlu diingkari. Demikian pula siapa saja yang meninggalkannya, juga tidak perlu diingkari. Karena permasalahan ini adalah permasalahan yang lapang, walillahil hamd.” (Tashiilul Ilmaam, 3: 16-17)Baca Juga:Sakaratul Maut Paling Berkesan Milik Sang Pemuda BerbaktiBeriman terhadap Datangnya Kematian[Selesai]***@Rumah Kasongan, 4 Sya’ban 1443/ 7 Maret 2022Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam Fi Syarhi Buluughil Maraam, 4: 239-240 dan 4: 353-356; Tashiilul Ilmaam Bifiqhi Al-Ahaadits Min Buluughil Maraam, 3: 15-16 dan 3: 66; dan kitab lainnya yang telah disebutkan (sebagian kami kutip melalui perantaraan kitab Minhatul ‘Allam).🔍 Tasyabbuh, Tanggal Nabi Muhammad Lahir, Sholat Yang Benar Menurut Rasulullah, Kultum Pendek Tentang Akhlak, Doa Sahur Puasa Senin KamisTags: cara talkinfatawaFatwa Ulamafikihfikih talkinnasihatnasihat islamsakaratul mauttalkintujuan talkintuntunan talkin
Prev     Next