Teks Khotbah Jumat: Bukti Cinta Seorang Hamba kepada Allah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Mendekatkan diri kepada Allah, bertakwa, dan mencintai Allah Ta’ala adalah pondasi utama agama Islam. Dengan sempurnanya kecintaan seorang hamba kepada Allah, maka sempurna pula keimanannya. Dan dengan berkurangnya rasa cinta seorang hamba kepada Allah Ta’ala, maka berkurang juga kadar tauhid dan keimanan dari diri seorang hamba.Kecintaan ini hukumnya wajib menurut kesepakatan seluruh kaum muslimin. Seorang hamba dituntut untuk mengusahakan setiap hal yang akan mengantarkannya menuju rasa cinta kepada Allah Ta’ala sehingga nantinya imannya menjadi sempurna.Jemaah Jumat yang senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala.Sesungguhnya, kecintaan kita kepada Allah ini layaknya pohon yang tumbuh dengan subur. Akarnya kuat dan ranting-rantingnya menjulang tinggi ke langit. Tanda-tanda kecintaan ini akan nampak di hati dan anggota badan pemiliknya, layaknya sebuah pohon yang buahnya berlimpah menandakan bahwa pohon tersebut tumbuh dengan baik dan subur.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Berikut ini adalah beberapa ciri yang membuktikan kejujuran cinta kita kepada Allah Ta’ala. Ciri-ciri yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap muslim yang mengaku cinta kepada Tuhan-Nya, Allah Ta’ala.Yang pertama: Hamba yang mencintai Allah Ta’ala karena sibuknya ia dengan beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala serta membaca kitab-Nya. Ia akan terlupa dari selain Allah Ta’ala. Beribadah kepada Allah menjadi penyejuk hati dan penggembiranya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,حُبِّبَ إِلِيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ“Dijadikan kecintaan pada diriku dari dunia kalian (yaitu) wanita-wanita (istri-istri beliau) dan wewangian. Dan dijadikanlah penyejuk hatiku dalam salat.” (HR. An-Nasa’i no. 3939, Ahmad no. 14069 dan Baihaqi no. 13836)Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Waabil As-Sayyib menjelaskan,“Siapa yang hatinya menjadi sejuk karena melaksanakan salat di dunia, di akhirat kelak hatinya akan bahagia dan sejuk karena kedekatannya dengan Allah Ta’ala, bahkan di dunia pun hatinya akan menjadi lebih nyaman dan tentram. Siapa yang senang dan bahagia dengan beribadah kepada Allah Ta’ala, maka hatinya akan menjadi tenang. Dan siapa yang hatinya tidak senang dan bahagia dengan Allah Ta’ala, maka di dunia ini hatinya akan senantiasa dipenuhi kesedihan dan patah hati.”Yang kedua: Sabar di atas ketaatan dan saat menghadapi kesulitan.Allah Ta’ala berfirman,وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ“Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddassir: 7)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Banyak dari kita yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, padahal kecintaannya itu adalah kecintaan yang palsu. Betapa banyak dari kita yang tidak bisa bersabar saat ditimpa sebuah ujian dan musibah, padahal kesabaran merupakan pembuktian cinta yang paling besar. Allah Ta’ala mengisahkan Nabi Ayyub ‘alaihissalam saat ia diberi ujian oleh Allah Ta’ala,إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Sad: 44)Baca Juga: Kemerdekaan yang Hakiki Menjadi Hamba AllahImam Al-Halimi rahimahullah mengatakan,مَنْ أَحَبَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يُعِدَّ المَصَائِبَ الَّتِي يَقْضِيهَا عَلَيْهِ إِسَاءَةً مِنْهُ إِلَيْهِ، وَلَمْ يَسْتَثْقِلْ وَظَائِفَ عِبَادَتِهِ وَتَكَالِيفَهُ المَكْتُوبَةَ عَلَيْهِ“Barangsiapa mencintai Allah Yang Mahatinggi, ia tidak akan lagi menganggap bencana yang menimpanya sebagai bentuk penghinaan-Nya atas dirinya. Ia juga tidak menganggap berat kewajiban ibadah dan beban tanggung jawab yang Allah tuliskan kepada-Nya.”Yang ketiga: Orang yang jujur di dalam cintanya kepada Allah Ta’ala, saat ia mengingat dan berzikir kepada Allah dalam kesendirian, hatinya menjadi takut dan air matanya pun bercucuran karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Mereka layak mendapatkan kasih sayang Allah berupa naungan-Nya di hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: (وَمِنْهَا) رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya: (salah satunya) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari no. 6806 dan Muslim no. 1031)Yang keempat: Mencintai Al-Qur’an sepenuh hati.Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,مَنْ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَعْرِضْ نَفْسَهُ عَلَى القُرْآنِ؛ فَإِنْ أَحَبَّ القُرْآنَ فَهُوَ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّمَا القُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Siapa yang ingin mengetahui apakah ia benar-benar mencintai Allah ‘Azza Wajalla, maka biarkan dirinya di hadapan Al-Qur’an. Jika ia mencintai Al-Qur’an, maka ia juga mencintai Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Al-Qur’an merupakan kalamullah.” (AS-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad rahimahullah)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Bukti cinta kita kepada Allah Ta’ala yang kelima adalah menyesal jika terluput dan terlewat dari sebuah ketaatan kepada Allah, menyesal apabila kita lupa tidak berzikir kepada Allah Ta’ala, menyesal jika tidak membaca zikir di waktu pagi dan petang.Bukan hanya menyesal saja, jika kita memang mencintai Allah Ta’ala, kita juga akan berusaha untuk mengganti, mengqada amalan yang kita tinggalkan tersebut secepatnya, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ؛ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau mengerjakan sebuah amalan, maka akan benar-benar serius dan berusaha untuk konsisten melaksanakannya. Jika beliau (mendapati halangan dari melaksanakan salat malam karena) tertidur di sebuah malam atau sakit, maka beliau akan salat di siang harinya 12 rakaat (sebagai pengganti salat malamnya).” (HR. Muslim no. 746)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Bukti cinta kita kepada Allah yang keenam adalah senantiasa mengikuti dan tunduk terhadap syariat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Imran: 31)Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,“Sungguh ayat yang mulia ini membantah setiap orang yang mengaku-ngaku cinta kepada Allah Ta’ala, namun ia tidak di atas jalan dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh mereka adalah pendusta atas apa yang mereka dakwakan hingga mereka benar-benar mengikuti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, agama islam ini dalam setiap perkataan dan perbuatan.”Bukti cinta kita kepada Allah yang terakhir adalah zuhud dalam urusan dunia, mencukupkan diri dan tidak berlebihan di dalam urusan duniawi. Setiap kali seorang hamba semakin mencintai Allah Ta’ala, semakin zuhud juga dirinya terhadap perkara duniawi, lebih menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang akan menjadi bekalnya di akhirat nanti.Ketahuilah wahai saudaraku, zuhud kita, rasa cukup kita terhadap perkara duniawi akan membawa dua cinta kepada diri kita, cinta Allah Ta’ala dan cinta manusia. Suatu ketika ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya,“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan yang apabila aku mengamalkannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia akan mencintaiku.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ“Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintaimu. Dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah no. 3326)Ya Allah, ya Mujiba As-Saa’ilin, tuliskanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang senantiasa jujur di dalam mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang selalu mendapatkan cinta dan rida-Mu.Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Hamba, di antara Dosa dan AmpunanHubungan antara Seorang Hamba dengan Rabb dan dengan Sesama Manusia***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Imam Keluarga, Berdoa Saat Hujan, Fiqih MasjidTags: Aqidahaqidah islamhamba allahjudul khutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatnasihatnasihat islamTauhidtema khutbah jumat

Teks Khotbah Jumat: Bukti Cinta Seorang Hamba kepada Allah

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Mendekatkan diri kepada Allah, bertakwa, dan mencintai Allah Ta’ala adalah pondasi utama agama Islam. Dengan sempurnanya kecintaan seorang hamba kepada Allah, maka sempurna pula keimanannya. Dan dengan berkurangnya rasa cinta seorang hamba kepada Allah Ta’ala, maka berkurang juga kadar tauhid dan keimanan dari diri seorang hamba.Kecintaan ini hukumnya wajib menurut kesepakatan seluruh kaum muslimin. Seorang hamba dituntut untuk mengusahakan setiap hal yang akan mengantarkannya menuju rasa cinta kepada Allah Ta’ala sehingga nantinya imannya menjadi sempurna.Jemaah Jumat yang senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala.Sesungguhnya, kecintaan kita kepada Allah ini layaknya pohon yang tumbuh dengan subur. Akarnya kuat dan ranting-rantingnya menjulang tinggi ke langit. Tanda-tanda kecintaan ini akan nampak di hati dan anggota badan pemiliknya, layaknya sebuah pohon yang buahnya berlimpah menandakan bahwa pohon tersebut tumbuh dengan baik dan subur.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Berikut ini adalah beberapa ciri yang membuktikan kejujuran cinta kita kepada Allah Ta’ala. Ciri-ciri yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap muslim yang mengaku cinta kepada Tuhan-Nya, Allah Ta’ala.Yang pertama: Hamba yang mencintai Allah Ta’ala karena sibuknya ia dengan beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala serta membaca kitab-Nya. Ia akan terlupa dari selain Allah Ta’ala. Beribadah kepada Allah menjadi penyejuk hati dan penggembiranya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,حُبِّبَ إِلِيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ“Dijadikan kecintaan pada diriku dari dunia kalian (yaitu) wanita-wanita (istri-istri beliau) dan wewangian. Dan dijadikanlah penyejuk hatiku dalam salat.” (HR. An-Nasa’i no. 3939, Ahmad no. 14069 dan Baihaqi no. 13836)Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Waabil As-Sayyib menjelaskan,“Siapa yang hatinya menjadi sejuk karena melaksanakan salat di dunia, di akhirat kelak hatinya akan bahagia dan sejuk karena kedekatannya dengan Allah Ta’ala, bahkan di dunia pun hatinya akan menjadi lebih nyaman dan tentram. Siapa yang senang dan bahagia dengan beribadah kepada Allah Ta’ala, maka hatinya akan menjadi tenang. Dan siapa yang hatinya tidak senang dan bahagia dengan Allah Ta’ala, maka di dunia ini hatinya akan senantiasa dipenuhi kesedihan dan patah hati.”Yang kedua: Sabar di atas ketaatan dan saat menghadapi kesulitan.Allah Ta’ala berfirman,وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ“Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddassir: 7)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Banyak dari kita yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, padahal kecintaannya itu adalah kecintaan yang palsu. Betapa banyak dari kita yang tidak bisa bersabar saat ditimpa sebuah ujian dan musibah, padahal kesabaran merupakan pembuktian cinta yang paling besar. Allah Ta’ala mengisahkan Nabi Ayyub ‘alaihissalam saat ia diberi ujian oleh Allah Ta’ala,إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Sad: 44)Baca Juga: Kemerdekaan yang Hakiki Menjadi Hamba AllahImam Al-Halimi rahimahullah mengatakan,مَنْ أَحَبَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يُعِدَّ المَصَائِبَ الَّتِي يَقْضِيهَا عَلَيْهِ إِسَاءَةً مِنْهُ إِلَيْهِ، وَلَمْ يَسْتَثْقِلْ وَظَائِفَ عِبَادَتِهِ وَتَكَالِيفَهُ المَكْتُوبَةَ عَلَيْهِ“Barangsiapa mencintai Allah Yang Mahatinggi, ia tidak akan lagi menganggap bencana yang menimpanya sebagai bentuk penghinaan-Nya atas dirinya. Ia juga tidak menganggap berat kewajiban ibadah dan beban tanggung jawab yang Allah tuliskan kepada-Nya.”Yang ketiga: Orang yang jujur di dalam cintanya kepada Allah Ta’ala, saat ia mengingat dan berzikir kepada Allah dalam kesendirian, hatinya menjadi takut dan air matanya pun bercucuran karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Mereka layak mendapatkan kasih sayang Allah berupa naungan-Nya di hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: (وَمِنْهَا) رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya: (salah satunya) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari no. 6806 dan Muslim no. 1031)Yang keempat: Mencintai Al-Qur’an sepenuh hati.Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,مَنْ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَعْرِضْ نَفْسَهُ عَلَى القُرْآنِ؛ فَإِنْ أَحَبَّ القُرْآنَ فَهُوَ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّمَا القُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Siapa yang ingin mengetahui apakah ia benar-benar mencintai Allah ‘Azza Wajalla, maka biarkan dirinya di hadapan Al-Qur’an. Jika ia mencintai Al-Qur’an, maka ia juga mencintai Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Al-Qur’an merupakan kalamullah.” (AS-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad rahimahullah)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Bukti cinta kita kepada Allah Ta’ala yang kelima adalah menyesal jika terluput dan terlewat dari sebuah ketaatan kepada Allah, menyesal apabila kita lupa tidak berzikir kepada Allah Ta’ala, menyesal jika tidak membaca zikir di waktu pagi dan petang.Bukan hanya menyesal saja, jika kita memang mencintai Allah Ta’ala, kita juga akan berusaha untuk mengganti, mengqada amalan yang kita tinggalkan tersebut secepatnya, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ؛ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau mengerjakan sebuah amalan, maka akan benar-benar serius dan berusaha untuk konsisten melaksanakannya. Jika beliau (mendapati halangan dari melaksanakan salat malam karena) tertidur di sebuah malam atau sakit, maka beliau akan salat di siang harinya 12 rakaat (sebagai pengganti salat malamnya).” (HR. Muslim no. 746)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Bukti cinta kita kepada Allah yang keenam adalah senantiasa mengikuti dan tunduk terhadap syariat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Imran: 31)Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,“Sungguh ayat yang mulia ini membantah setiap orang yang mengaku-ngaku cinta kepada Allah Ta’ala, namun ia tidak di atas jalan dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh mereka adalah pendusta atas apa yang mereka dakwakan hingga mereka benar-benar mengikuti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, agama islam ini dalam setiap perkataan dan perbuatan.”Bukti cinta kita kepada Allah yang terakhir adalah zuhud dalam urusan dunia, mencukupkan diri dan tidak berlebihan di dalam urusan duniawi. Setiap kali seorang hamba semakin mencintai Allah Ta’ala, semakin zuhud juga dirinya terhadap perkara duniawi, lebih menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang akan menjadi bekalnya di akhirat nanti.Ketahuilah wahai saudaraku, zuhud kita, rasa cukup kita terhadap perkara duniawi akan membawa dua cinta kepada diri kita, cinta Allah Ta’ala dan cinta manusia. Suatu ketika ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya,“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan yang apabila aku mengamalkannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia akan mencintaiku.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ“Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintaimu. Dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah no. 3326)Ya Allah, ya Mujiba As-Saa’ilin, tuliskanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang senantiasa jujur di dalam mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang selalu mendapatkan cinta dan rida-Mu.Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Hamba, di antara Dosa dan AmpunanHubungan antara Seorang Hamba dengan Rabb dan dengan Sesama Manusia***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Imam Keluarga, Berdoa Saat Hujan, Fiqih MasjidTags: Aqidahaqidah islamhamba allahjudul khutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatnasihatnasihat islamTauhidtema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Mendekatkan diri kepada Allah, bertakwa, dan mencintai Allah Ta’ala adalah pondasi utama agama Islam. Dengan sempurnanya kecintaan seorang hamba kepada Allah, maka sempurna pula keimanannya. Dan dengan berkurangnya rasa cinta seorang hamba kepada Allah Ta’ala, maka berkurang juga kadar tauhid dan keimanan dari diri seorang hamba.Kecintaan ini hukumnya wajib menurut kesepakatan seluruh kaum muslimin. Seorang hamba dituntut untuk mengusahakan setiap hal yang akan mengantarkannya menuju rasa cinta kepada Allah Ta’ala sehingga nantinya imannya menjadi sempurna.Jemaah Jumat yang senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala.Sesungguhnya, kecintaan kita kepada Allah ini layaknya pohon yang tumbuh dengan subur. Akarnya kuat dan ranting-rantingnya menjulang tinggi ke langit. Tanda-tanda kecintaan ini akan nampak di hati dan anggota badan pemiliknya, layaknya sebuah pohon yang buahnya berlimpah menandakan bahwa pohon tersebut tumbuh dengan baik dan subur.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Berikut ini adalah beberapa ciri yang membuktikan kejujuran cinta kita kepada Allah Ta’ala. Ciri-ciri yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap muslim yang mengaku cinta kepada Tuhan-Nya, Allah Ta’ala.Yang pertama: Hamba yang mencintai Allah Ta’ala karena sibuknya ia dengan beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala serta membaca kitab-Nya. Ia akan terlupa dari selain Allah Ta’ala. Beribadah kepada Allah menjadi penyejuk hati dan penggembiranya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,حُبِّبَ إِلِيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ“Dijadikan kecintaan pada diriku dari dunia kalian (yaitu) wanita-wanita (istri-istri beliau) dan wewangian. Dan dijadikanlah penyejuk hatiku dalam salat.” (HR. An-Nasa’i no. 3939, Ahmad no. 14069 dan Baihaqi no. 13836)Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Waabil As-Sayyib menjelaskan,“Siapa yang hatinya menjadi sejuk karena melaksanakan salat di dunia, di akhirat kelak hatinya akan bahagia dan sejuk karena kedekatannya dengan Allah Ta’ala, bahkan di dunia pun hatinya akan menjadi lebih nyaman dan tentram. Siapa yang senang dan bahagia dengan beribadah kepada Allah Ta’ala, maka hatinya akan menjadi tenang. Dan siapa yang hatinya tidak senang dan bahagia dengan Allah Ta’ala, maka di dunia ini hatinya akan senantiasa dipenuhi kesedihan dan patah hati.”Yang kedua: Sabar di atas ketaatan dan saat menghadapi kesulitan.Allah Ta’ala berfirman,وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ“Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddassir: 7)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Banyak dari kita yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, padahal kecintaannya itu adalah kecintaan yang palsu. Betapa banyak dari kita yang tidak bisa bersabar saat ditimpa sebuah ujian dan musibah, padahal kesabaran merupakan pembuktian cinta yang paling besar. Allah Ta’ala mengisahkan Nabi Ayyub ‘alaihissalam saat ia diberi ujian oleh Allah Ta’ala,إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Sad: 44)Baca Juga: Kemerdekaan yang Hakiki Menjadi Hamba AllahImam Al-Halimi rahimahullah mengatakan,مَنْ أَحَبَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يُعِدَّ المَصَائِبَ الَّتِي يَقْضِيهَا عَلَيْهِ إِسَاءَةً مِنْهُ إِلَيْهِ، وَلَمْ يَسْتَثْقِلْ وَظَائِفَ عِبَادَتِهِ وَتَكَالِيفَهُ المَكْتُوبَةَ عَلَيْهِ“Barangsiapa mencintai Allah Yang Mahatinggi, ia tidak akan lagi menganggap bencana yang menimpanya sebagai bentuk penghinaan-Nya atas dirinya. Ia juga tidak menganggap berat kewajiban ibadah dan beban tanggung jawab yang Allah tuliskan kepada-Nya.”Yang ketiga: Orang yang jujur di dalam cintanya kepada Allah Ta’ala, saat ia mengingat dan berzikir kepada Allah dalam kesendirian, hatinya menjadi takut dan air matanya pun bercucuran karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Mereka layak mendapatkan kasih sayang Allah berupa naungan-Nya di hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: (وَمِنْهَا) رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya: (salah satunya) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari no. 6806 dan Muslim no. 1031)Yang keempat: Mencintai Al-Qur’an sepenuh hati.Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,مَنْ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَعْرِضْ نَفْسَهُ عَلَى القُرْآنِ؛ فَإِنْ أَحَبَّ القُرْآنَ فَهُوَ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّمَا القُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Siapa yang ingin mengetahui apakah ia benar-benar mencintai Allah ‘Azza Wajalla, maka biarkan dirinya di hadapan Al-Qur’an. Jika ia mencintai Al-Qur’an, maka ia juga mencintai Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Al-Qur’an merupakan kalamullah.” (AS-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad rahimahullah)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Bukti cinta kita kepada Allah Ta’ala yang kelima adalah menyesal jika terluput dan terlewat dari sebuah ketaatan kepada Allah, menyesal apabila kita lupa tidak berzikir kepada Allah Ta’ala, menyesal jika tidak membaca zikir di waktu pagi dan petang.Bukan hanya menyesal saja, jika kita memang mencintai Allah Ta’ala, kita juga akan berusaha untuk mengganti, mengqada amalan yang kita tinggalkan tersebut secepatnya, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ؛ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau mengerjakan sebuah amalan, maka akan benar-benar serius dan berusaha untuk konsisten melaksanakannya. Jika beliau (mendapati halangan dari melaksanakan salat malam karena) tertidur di sebuah malam atau sakit, maka beliau akan salat di siang harinya 12 rakaat (sebagai pengganti salat malamnya).” (HR. Muslim no. 746)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Bukti cinta kita kepada Allah yang keenam adalah senantiasa mengikuti dan tunduk terhadap syariat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Imran: 31)Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,“Sungguh ayat yang mulia ini membantah setiap orang yang mengaku-ngaku cinta kepada Allah Ta’ala, namun ia tidak di atas jalan dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh mereka adalah pendusta atas apa yang mereka dakwakan hingga mereka benar-benar mengikuti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, agama islam ini dalam setiap perkataan dan perbuatan.”Bukti cinta kita kepada Allah yang terakhir adalah zuhud dalam urusan dunia, mencukupkan diri dan tidak berlebihan di dalam urusan duniawi. Setiap kali seorang hamba semakin mencintai Allah Ta’ala, semakin zuhud juga dirinya terhadap perkara duniawi, lebih menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang akan menjadi bekalnya di akhirat nanti.Ketahuilah wahai saudaraku, zuhud kita, rasa cukup kita terhadap perkara duniawi akan membawa dua cinta kepada diri kita, cinta Allah Ta’ala dan cinta manusia. Suatu ketika ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya,“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan yang apabila aku mengamalkannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia akan mencintaiku.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ“Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintaimu. Dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah no. 3326)Ya Allah, ya Mujiba As-Saa’ilin, tuliskanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang senantiasa jujur di dalam mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang selalu mendapatkan cinta dan rida-Mu.Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Hamba, di antara Dosa dan AmpunanHubungan antara Seorang Hamba dengan Rabb dan dengan Sesama Manusia***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Imam Keluarga, Berdoa Saat Hujan, Fiqih MasjidTags: Aqidahaqidah islamhamba allahjudul khutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatnasihatnasihat islamTauhidtema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ   “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)Mendekatkan diri kepada Allah, bertakwa, dan mencintai Allah Ta’ala adalah pondasi utama agama Islam. Dengan sempurnanya kecintaan seorang hamba kepada Allah, maka sempurna pula keimanannya. Dan dengan berkurangnya rasa cinta seorang hamba kepada Allah Ta’ala, maka berkurang juga kadar tauhid dan keimanan dari diri seorang hamba.Kecintaan ini hukumnya wajib menurut kesepakatan seluruh kaum muslimin. Seorang hamba dituntut untuk mengusahakan setiap hal yang akan mengantarkannya menuju rasa cinta kepada Allah Ta’ala sehingga nantinya imannya menjadi sempurna.Jemaah Jumat yang senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala.Sesungguhnya, kecintaan kita kepada Allah ini layaknya pohon yang tumbuh dengan subur. Akarnya kuat dan ranting-rantingnya menjulang tinggi ke langit. Tanda-tanda kecintaan ini akan nampak di hati dan anggota badan pemiliknya, layaknya sebuah pohon yang buahnya berlimpah menandakan bahwa pohon tersebut tumbuh dengan baik dan subur.Baca Juga: Betapa Allah Maha Baik kepada Hamba-NyaJemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Berikut ini adalah beberapa ciri yang membuktikan kejujuran cinta kita kepada Allah Ta’ala. Ciri-ciri yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap muslim yang mengaku cinta kepada Tuhan-Nya, Allah Ta’ala.Yang pertama: Hamba yang mencintai Allah Ta’ala karena sibuknya ia dengan beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala serta membaca kitab-Nya. Ia akan terlupa dari selain Allah Ta’ala. Beribadah kepada Allah menjadi penyejuk hati dan penggembiranya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,حُبِّبَ إِلِيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ“Dijadikan kecintaan pada diriku dari dunia kalian (yaitu) wanita-wanita (istri-istri beliau) dan wewangian. Dan dijadikanlah penyejuk hatiku dalam salat.” (HR. An-Nasa’i no. 3939, Ahmad no. 14069 dan Baihaqi no. 13836)Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Waabil As-Sayyib menjelaskan,“Siapa yang hatinya menjadi sejuk karena melaksanakan salat di dunia, di akhirat kelak hatinya akan bahagia dan sejuk karena kedekatannya dengan Allah Ta’ala, bahkan di dunia pun hatinya akan menjadi lebih nyaman dan tentram. Siapa yang senang dan bahagia dengan beribadah kepada Allah Ta’ala, maka hatinya akan menjadi tenang. Dan siapa yang hatinya tidak senang dan bahagia dengan Allah Ta’ala, maka di dunia ini hatinya akan senantiasa dipenuhi kesedihan dan patah hati.”Yang kedua: Sabar di atas ketaatan dan saat menghadapi kesulitan.Allah Ta’ala berfirman,وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ“Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddassir: 7)Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Banyak dari kita yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, padahal kecintaannya itu adalah kecintaan yang palsu. Betapa banyak dari kita yang tidak bisa bersabar saat ditimpa sebuah ujian dan musibah, padahal kesabaran merupakan pembuktian cinta yang paling besar. Allah Ta’ala mengisahkan Nabi Ayyub ‘alaihissalam saat ia diberi ujian oleh Allah Ta’ala,إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Sad: 44)Baca Juga: Kemerdekaan yang Hakiki Menjadi Hamba AllahImam Al-Halimi rahimahullah mengatakan,مَنْ أَحَبَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يُعِدَّ المَصَائِبَ الَّتِي يَقْضِيهَا عَلَيْهِ إِسَاءَةً مِنْهُ إِلَيْهِ، وَلَمْ يَسْتَثْقِلْ وَظَائِفَ عِبَادَتِهِ وَتَكَالِيفَهُ المَكْتُوبَةَ عَلَيْهِ“Barangsiapa mencintai Allah Yang Mahatinggi, ia tidak akan lagi menganggap bencana yang menimpanya sebagai bentuk penghinaan-Nya atas dirinya. Ia juga tidak menganggap berat kewajiban ibadah dan beban tanggung jawab yang Allah tuliskan kepada-Nya.”Yang ketiga: Orang yang jujur di dalam cintanya kepada Allah Ta’ala, saat ia mengingat dan berzikir kepada Allah dalam kesendirian, hatinya menjadi takut dan air matanya pun bercucuran karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Mereka layak mendapatkan kasih sayang Allah berupa naungan-Nya di hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: (وَمِنْهَا) رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya: (salah satunya) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari no. 6806 dan Muslim no. 1031)Yang keempat: Mencintai Al-Qur’an sepenuh hati.Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,مَنْ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَعْرِضْ نَفْسَهُ عَلَى القُرْآنِ؛ فَإِنْ أَحَبَّ القُرْآنَ فَهُوَ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّمَا القُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Siapa yang ingin mengetahui apakah ia benar-benar mencintai Allah ‘Azza Wajalla, maka biarkan dirinya di hadapan Al-Qur’an. Jika ia mencintai Al-Qur’an, maka ia juga mencintai Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Al-Qur’an merupakan kalamullah.” (AS-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad rahimahullah)أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.Bukti cinta kita kepada Allah Ta’ala yang kelima adalah menyesal jika terluput dan terlewat dari sebuah ketaatan kepada Allah, menyesal apabila kita lupa tidak berzikir kepada Allah Ta’ala, menyesal jika tidak membaca zikir di waktu pagi dan petang.Bukan hanya menyesal saja, jika kita memang mencintai Allah Ta’ala, kita juga akan berusaha untuk mengganti, mengqada amalan yang kita tinggalkan tersebut secepatnya, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ؛ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau mengerjakan sebuah amalan, maka akan benar-benar serius dan berusaha untuk konsisten melaksanakannya. Jika beliau (mendapati halangan dari melaksanakan salat malam karena) tertidur di sebuah malam atau sakit, maka beliau akan salat di siang harinya 12 rakaat (sebagai pengganti salat malamnya).” (HR. Muslim no. 746)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Bukti cinta kita kepada Allah yang keenam adalah senantiasa mengikuti dan tunduk terhadap syariat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Imran: 31)Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,“Sungguh ayat yang mulia ini membantah setiap orang yang mengaku-ngaku cinta kepada Allah Ta’ala, namun ia tidak di atas jalan dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh mereka adalah pendusta atas apa yang mereka dakwakan hingga mereka benar-benar mengikuti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, agama islam ini dalam setiap perkataan dan perbuatan.”Bukti cinta kita kepada Allah yang terakhir adalah zuhud dalam urusan dunia, mencukupkan diri dan tidak berlebihan di dalam urusan duniawi. Setiap kali seorang hamba semakin mencintai Allah Ta’ala, semakin zuhud juga dirinya terhadap perkara duniawi, lebih menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang akan menjadi bekalnya di akhirat nanti.Ketahuilah wahai saudaraku, zuhud kita, rasa cukup kita terhadap perkara duniawi akan membawa dua cinta kepada diri kita, cinta Allah Ta’ala dan cinta manusia. Suatu ketika ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya,“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan yang apabila aku mengamalkannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia akan mencintaiku.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ“Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintaimu. Dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah no. 3326)Ya Allah, ya Mujiba As-Saa’ilin, tuliskanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang senantiasa jujur di dalam mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang selalu mendapatkan cinta dan rida-Mu.Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Hamba, di antara Dosa dan AmpunanHubungan antara Seorang Hamba dengan Rabb dan dengan Sesama Manusia***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Nasehat Ulama Tentang Kematian, Imam Keluarga, Berdoa Saat Hujan, Fiqih MasjidTags: Aqidahaqidah islamhamba allahjudul khutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatnasihatnasihat islamTauhidtema khutbah jumat

Makna Kalimat Disyariatkan dalam Kitab Fikih – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Dengan ini diketahui bahwa kata disyariatkan (مَشْرُوعٌ)dalam istilah yang digunakan para ahli fikih, mencakup perkarawajib, sunah, dan mubah. Makna inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Taimiyah al-H̱afīddalam beberapa jawabannya.As-Samʿānī dalam Qawāṯiʿ al-Adillah berkata,as-Samʿānī dalam Qawāṯiʿ al-Adillah berkata,“Disyariatkan artinya dibolehkan secara mutlak dalam syariat.” Selesai ucapan beliau.Maksudnya, diizinkan.Jadi, disyariatkan secara istilahartinya diizinkan secara syariat. Ini terbagi menjadi dua kategori:Pertama, diizinkan dengan izin tuntutandengan memerintahkan suatu perbuatan,sehingga hukumnya menjadi wajib atau mustahab (sunah),sehingga hukumnya menjadi wajib atau mustahab (sunah). Kedua, diizinkan dengan izin pilihanantara melakukan atau meninggalkannya.Inilah apa yang aku isyaratkan dalam ucapanku,“Jika dalam masalah hukum ditemukan kata disyariatkan,maka menurut para ulama artinya tidak diharamkan,karena ia mencakup sesuatu yang diperintahkanatau perkara-perkara yang hukumnya dibolehkan.” “… atau perkara-perkara yang hukumnya dibolehkan.”Jadi, jika didapati perkataan seorang ahli fikih,“Disyariatkan ini dan itu …”maka maknanya mungkin adalah wajib,mungkin mustahab (sunah), atau mungkin mubah. Namun, ungkapan ini umumnya dimaksudkan untuk dua hukum pertama (wajib dan mustahab).Inilah makna perkataan sebagian muftibahwa suatu perkara tidak disyariatkan,tetapi boleh. Tidak disyariatkan, tapi boleh.Jadi, maksudnya adalah tidak diperintahkan,maka hukumnya tidak wajib maupun sunah,tetapi boleh bagi seorang hamba melakukannya. Namun disyariatkan terkadang dinegasikandengan maksud terlarang secara mutlakketika disebutkan dua hal yang saling bertentangan,ketika disebutkan dua hal yang saling bertentangan. Misalnya, perkataan mereka, “Tawasul yang disyariatkan dan yang terlarang.”Sebabnya, terlarang tidak memiliki kemungkinan lainkecuali perkara tidak boleh, yakni haram. ==== وَيُعْلَمُ بِهَذَا أَنَّ الْمَشْرُوعَ يَتَنَاوَلُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ الْوَاجِبَ وَالْمُسْتَحَبَّ وَالْمُبَاحَ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْحَفِيدُ فِي بَعْضِ أَجْوِبَتِهِ وَقَالَ السَّمْعَانِيُّ فِي قَوَاطِعِ الْأَدِلَّةِ وَقَالَ السَّمْعَانِيُّ فِي قَوَاطِعِ الْأَدِلَّةِ وَالْمَشْرُوعُ هُوَ الْمُطْلَقُ فِعْلُهُ فِي الشَّرْعِ اِنْتَهَى كَلَامُهُ أَيْ الْمَأْذُونُ بِهِ فَالْمَشْرُوعُ اصْتِلَاحًا الْمَأْذُونُ بِهِ شَرْعًا وَهُوَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا الْمَأْذُونُ بِهِ إِذْنَ اقْتِضَاءٍ بِطَلَبِ الْفِعْلِ أَمْرًا وَيَكُونُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا وَيَكُونُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا وَالْآخَرُ الْمَأْذُونُ بِهِ إِذْنَ تَخْيِيرٍ بَيْنَ الْفِعْلِ وَالتَّرْكِ وَإِلَى هَذَا أَشَرْتُ بِقَوْلِي إِذَا أَتَى فِي الْحُكْمِ قَوْلُ يُشْرَعُ فَإِنَّهُ لَدَيْهِمُ لَا يُمْنَعُ إِذْ إِنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْمَأْمُورِ أَوْ ذِي إِبَاحَةٍ مِنَ الْأُمُورِ أَوْ ذِي إِبَاحَةٍ مِنَ الْأُمُورِ فَإِذَا وَقَعَ فِي قَوْلِ فَقِيهٍ يُشْرَعُ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا أَوْ مُبَاحًا وَيُطْلَقُ غَالِبًا عَلَى مَا يَتَنَاوَلُ الْأَوَّلَيْنِ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ بَعْضِ الْمُفْتِينَ فِي شَيْءٍ لَا يُشْرَعُ وَلَكِنَّهُ جَائِزٌ لَا يُشْرَعُ وَلَكِنَّهُ جَائِزٌ فَمُرَادُهُ أَنَّهُ لَيْسَ مَأْمُورًا بِهِ فَلَا يَجِبُ وَلَا يُسَتَحَبُّ وَلَكِنْ يَجُوزُ أَنْ يَفْعَلَهُ الْعَبْدُ وَقَدْ يُنْفَى الْمَشْرُوعُ وَيُرَادُ بِهِ الْمَنْعُ مُطْلَقًا إِذَا ذُكَرَ مُتَقَابِلَيْنِ إِذَا ذُكَرَ مُتَقَابِلَيْنِ كَقَوْلِهِمْ التَّوَسُّلُ الْمَشْرُوعُ وَالْمَمْنُوعُ إِذْ إِنَّ الْمَمْنُوعَ لَا يَحْتَمِلُ إِلَّا الْمَحْظُورَ وَهُوَ الْمُحَرَّمُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Makna Kalimat Disyariatkan dalam Kitab Fikih – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Dengan ini diketahui bahwa kata disyariatkan (مَشْرُوعٌ)dalam istilah yang digunakan para ahli fikih, mencakup perkarawajib, sunah, dan mubah. Makna inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Taimiyah al-H̱afīddalam beberapa jawabannya.As-Samʿānī dalam Qawāṯiʿ al-Adillah berkata,as-Samʿānī dalam Qawāṯiʿ al-Adillah berkata,“Disyariatkan artinya dibolehkan secara mutlak dalam syariat.” Selesai ucapan beliau.Maksudnya, diizinkan.Jadi, disyariatkan secara istilahartinya diizinkan secara syariat. Ini terbagi menjadi dua kategori:Pertama, diizinkan dengan izin tuntutandengan memerintahkan suatu perbuatan,sehingga hukumnya menjadi wajib atau mustahab (sunah),sehingga hukumnya menjadi wajib atau mustahab (sunah). Kedua, diizinkan dengan izin pilihanantara melakukan atau meninggalkannya.Inilah apa yang aku isyaratkan dalam ucapanku,“Jika dalam masalah hukum ditemukan kata disyariatkan,maka menurut para ulama artinya tidak diharamkan,karena ia mencakup sesuatu yang diperintahkanatau perkara-perkara yang hukumnya dibolehkan.” “… atau perkara-perkara yang hukumnya dibolehkan.”Jadi, jika didapati perkataan seorang ahli fikih,“Disyariatkan ini dan itu …”maka maknanya mungkin adalah wajib,mungkin mustahab (sunah), atau mungkin mubah. Namun, ungkapan ini umumnya dimaksudkan untuk dua hukum pertama (wajib dan mustahab).Inilah makna perkataan sebagian muftibahwa suatu perkara tidak disyariatkan,tetapi boleh. Tidak disyariatkan, tapi boleh.Jadi, maksudnya adalah tidak diperintahkan,maka hukumnya tidak wajib maupun sunah,tetapi boleh bagi seorang hamba melakukannya. Namun disyariatkan terkadang dinegasikandengan maksud terlarang secara mutlakketika disebutkan dua hal yang saling bertentangan,ketika disebutkan dua hal yang saling bertentangan. Misalnya, perkataan mereka, “Tawasul yang disyariatkan dan yang terlarang.”Sebabnya, terlarang tidak memiliki kemungkinan lainkecuali perkara tidak boleh, yakni haram. ==== وَيُعْلَمُ بِهَذَا أَنَّ الْمَشْرُوعَ يَتَنَاوَلُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ الْوَاجِبَ وَالْمُسْتَحَبَّ وَالْمُبَاحَ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْحَفِيدُ فِي بَعْضِ أَجْوِبَتِهِ وَقَالَ السَّمْعَانِيُّ فِي قَوَاطِعِ الْأَدِلَّةِ وَقَالَ السَّمْعَانِيُّ فِي قَوَاطِعِ الْأَدِلَّةِ وَالْمَشْرُوعُ هُوَ الْمُطْلَقُ فِعْلُهُ فِي الشَّرْعِ اِنْتَهَى كَلَامُهُ أَيْ الْمَأْذُونُ بِهِ فَالْمَشْرُوعُ اصْتِلَاحًا الْمَأْذُونُ بِهِ شَرْعًا وَهُوَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا الْمَأْذُونُ بِهِ إِذْنَ اقْتِضَاءٍ بِطَلَبِ الْفِعْلِ أَمْرًا وَيَكُونُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا وَيَكُونُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا وَالْآخَرُ الْمَأْذُونُ بِهِ إِذْنَ تَخْيِيرٍ بَيْنَ الْفِعْلِ وَالتَّرْكِ وَإِلَى هَذَا أَشَرْتُ بِقَوْلِي إِذَا أَتَى فِي الْحُكْمِ قَوْلُ يُشْرَعُ فَإِنَّهُ لَدَيْهِمُ لَا يُمْنَعُ إِذْ إِنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْمَأْمُورِ أَوْ ذِي إِبَاحَةٍ مِنَ الْأُمُورِ أَوْ ذِي إِبَاحَةٍ مِنَ الْأُمُورِ فَإِذَا وَقَعَ فِي قَوْلِ فَقِيهٍ يُشْرَعُ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا أَوْ مُبَاحًا وَيُطْلَقُ غَالِبًا عَلَى مَا يَتَنَاوَلُ الْأَوَّلَيْنِ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ بَعْضِ الْمُفْتِينَ فِي شَيْءٍ لَا يُشْرَعُ وَلَكِنَّهُ جَائِزٌ لَا يُشْرَعُ وَلَكِنَّهُ جَائِزٌ فَمُرَادُهُ أَنَّهُ لَيْسَ مَأْمُورًا بِهِ فَلَا يَجِبُ وَلَا يُسَتَحَبُّ وَلَكِنْ يَجُوزُ أَنْ يَفْعَلَهُ الْعَبْدُ وَقَدْ يُنْفَى الْمَشْرُوعُ وَيُرَادُ بِهِ الْمَنْعُ مُطْلَقًا إِذَا ذُكَرَ مُتَقَابِلَيْنِ إِذَا ذُكَرَ مُتَقَابِلَيْنِ كَقَوْلِهِمْ التَّوَسُّلُ الْمَشْرُوعُ وَالْمَمْنُوعُ إِذْ إِنَّ الْمَمْنُوعَ لَا يَحْتَمِلُ إِلَّا الْمَحْظُورَ وَهُوَ الْمُحَرَّمُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dengan ini diketahui bahwa kata disyariatkan (مَشْرُوعٌ)dalam istilah yang digunakan para ahli fikih, mencakup perkarawajib, sunah, dan mubah. Makna inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Taimiyah al-H̱afīddalam beberapa jawabannya.As-Samʿānī dalam Qawāṯiʿ al-Adillah berkata,as-Samʿānī dalam Qawāṯiʿ al-Adillah berkata,“Disyariatkan artinya dibolehkan secara mutlak dalam syariat.” Selesai ucapan beliau.Maksudnya, diizinkan.Jadi, disyariatkan secara istilahartinya diizinkan secara syariat. Ini terbagi menjadi dua kategori:Pertama, diizinkan dengan izin tuntutandengan memerintahkan suatu perbuatan,sehingga hukumnya menjadi wajib atau mustahab (sunah),sehingga hukumnya menjadi wajib atau mustahab (sunah). Kedua, diizinkan dengan izin pilihanantara melakukan atau meninggalkannya.Inilah apa yang aku isyaratkan dalam ucapanku,“Jika dalam masalah hukum ditemukan kata disyariatkan,maka menurut para ulama artinya tidak diharamkan,karena ia mencakup sesuatu yang diperintahkanatau perkara-perkara yang hukumnya dibolehkan.” “… atau perkara-perkara yang hukumnya dibolehkan.”Jadi, jika didapati perkataan seorang ahli fikih,“Disyariatkan ini dan itu …”maka maknanya mungkin adalah wajib,mungkin mustahab (sunah), atau mungkin mubah. Namun, ungkapan ini umumnya dimaksudkan untuk dua hukum pertama (wajib dan mustahab).Inilah makna perkataan sebagian muftibahwa suatu perkara tidak disyariatkan,tetapi boleh. Tidak disyariatkan, tapi boleh.Jadi, maksudnya adalah tidak diperintahkan,maka hukumnya tidak wajib maupun sunah,tetapi boleh bagi seorang hamba melakukannya. Namun disyariatkan terkadang dinegasikandengan maksud terlarang secara mutlakketika disebutkan dua hal yang saling bertentangan,ketika disebutkan dua hal yang saling bertentangan. Misalnya, perkataan mereka, “Tawasul yang disyariatkan dan yang terlarang.”Sebabnya, terlarang tidak memiliki kemungkinan lainkecuali perkara tidak boleh, yakni haram. ==== وَيُعْلَمُ بِهَذَا أَنَّ الْمَشْرُوعَ يَتَنَاوَلُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ الْوَاجِبَ وَالْمُسْتَحَبَّ وَالْمُبَاحَ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْحَفِيدُ فِي بَعْضِ أَجْوِبَتِهِ وَقَالَ السَّمْعَانِيُّ فِي قَوَاطِعِ الْأَدِلَّةِ وَقَالَ السَّمْعَانِيُّ فِي قَوَاطِعِ الْأَدِلَّةِ وَالْمَشْرُوعُ هُوَ الْمُطْلَقُ فِعْلُهُ فِي الشَّرْعِ اِنْتَهَى كَلَامُهُ أَيْ الْمَأْذُونُ بِهِ فَالْمَشْرُوعُ اصْتِلَاحًا الْمَأْذُونُ بِهِ شَرْعًا وَهُوَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا الْمَأْذُونُ بِهِ إِذْنَ اقْتِضَاءٍ بِطَلَبِ الْفِعْلِ أَمْرًا وَيَكُونُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا وَيَكُونُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا وَالْآخَرُ الْمَأْذُونُ بِهِ إِذْنَ تَخْيِيرٍ بَيْنَ الْفِعْلِ وَالتَّرْكِ وَإِلَى هَذَا أَشَرْتُ بِقَوْلِي إِذَا أَتَى فِي الْحُكْمِ قَوْلُ يُشْرَعُ فَإِنَّهُ لَدَيْهِمُ لَا يُمْنَعُ إِذْ إِنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْمَأْمُورِ أَوْ ذِي إِبَاحَةٍ مِنَ الْأُمُورِ أَوْ ذِي إِبَاحَةٍ مِنَ الْأُمُورِ فَإِذَا وَقَعَ فِي قَوْلِ فَقِيهٍ يُشْرَعُ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا أَوْ مُبَاحًا وَيُطْلَقُ غَالِبًا عَلَى مَا يَتَنَاوَلُ الْأَوَّلَيْنِ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ بَعْضِ الْمُفْتِينَ فِي شَيْءٍ لَا يُشْرَعُ وَلَكِنَّهُ جَائِزٌ لَا يُشْرَعُ وَلَكِنَّهُ جَائِزٌ فَمُرَادُهُ أَنَّهُ لَيْسَ مَأْمُورًا بِهِ فَلَا يَجِبُ وَلَا يُسَتَحَبُّ وَلَكِنْ يَجُوزُ أَنْ يَفْعَلَهُ الْعَبْدُ وَقَدْ يُنْفَى الْمَشْرُوعُ وَيُرَادُ بِهِ الْمَنْعُ مُطْلَقًا إِذَا ذُكَرَ مُتَقَابِلَيْنِ إِذَا ذُكَرَ مُتَقَابِلَيْنِ كَقَوْلِهِمْ التَّوَسُّلُ الْمَشْرُوعُ وَالْمَمْنُوعُ إِذْ إِنَّ الْمَمْنُوعَ لَا يَحْتَمِلُ إِلَّا الْمَحْظُورَ وَهُوَ الْمُحَرَّمُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dengan ini diketahui bahwa kata disyariatkan (مَشْرُوعٌ)dalam istilah yang digunakan para ahli fikih, mencakup perkarawajib, sunah, dan mubah. Makna inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Taimiyah al-H̱afīddalam beberapa jawabannya.As-Samʿānī dalam Qawāṯiʿ al-Adillah berkata,as-Samʿānī dalam Qawāṯiʿ al-Adillah berkata,“Disyariatkan artinya dibolehkan secara mutlak dalam syariat.” Selesai ucapan beliau.Maksudnya, diizinkan.Jadi, disyariatkan secara istilahartinya diizinkan secara syariat. Ini terbagi menjadi dua kategori:Pertama, diizinkan dengan izin tuntutandengan memerintahkan suatu perbuatan,sehingga hukumnya menjadi wajib atau mustahab (sunah),sehingga hukumnya menjadi wajib atau mustahab (sunah). Kedua, diizinkan dengan izin pilihanantara melakukan atau meninggalkannya.Inilah apa yang aku isyaratkan dalam ucapanku,“Jika dalam masalah hukum ditemukan kata disyariatkan,maka menurut para ulama artinya tidak diharamkan,karena ia mencakup sesuatu yang diperintahkanatau perkara-perkara yang hukumnya dibolehkan.” “… atau perkara-perkara yang hukumnya dibolehkan.”Jadi, jika didapati perkataan seorang ahli fikih,“Disyariatkan ini dan itu …”maka maknanya mungkin adalah wajib,mungkin mustahab (sunah), atau mungkin mubah. Namun, ungkapan ini umumnya dimaksudkan untuk dua hukum pertama (wajib dan mustahab).Inilah makna perkataan sebagian muftibahwa suatu perkara tidak disyariatkan,tetapi boleh. Tidak disyariatkan, tapi boleh.Jadi, maksudnya adalah tidak diperintahkan,maka hukumnya tidak wajib maupun sunah,tetapi boleh bagi seorang hamba melakukannya. Namun disyariatkan terkadang dinegasikandengan maksud terlarang secara mutlakketika disebutkan dua hal yang saling bertentangan,ketika disebutkan dua hal yang saling bertentangan. Misalnya, perkataan mereka, “Tawasul yang disyariatkan dan yang terlarang.”Sebabnya, terlarang tidak memiliki kemungkinan lainkecuali perkara tidak boleh, yakni haram. ==== وَيُعْلَمُ بِهَذَا أَنَّ الْمَشْرُوعَ يَتَنَاوَلُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ الْوَاجِبَ وَالْمُسْتَحَبَّ وَالْمُبَاحَ أَشَارَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْحَفِيدُ فِي بَعْضِ أَجْوِبَتِهِ وَقَالَ السَّمْعَانِيُّ فِي قَوَاطِعِ الْأَدِلَّةِ وَقَالَ السَّمْعَانِيُّ فِي قَوَاطِعِ الْأَدِلَّةِ وَالْمَشْرُوعُ هُوَ الْمُطْلَقُ فِعْلُهُ فِي الشَّرْعِ اِنْتَهَى كَلَامُهُ أَيْ الْمَأْذُونُ بِهِ فَالْمَشْرُوعُ اصْتِلَاحًا الْمَأْذُونُ بِهِ شَرْعًا وَهُوَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا الْمَأْذُونُ بِهِ إِذْنَ اقْتِضَاءٍ بِطَلَبِ الْفِعْلِ أَمْرًا وَيَكُونُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا وَيَكُونُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا وَالْآخَرُ الْمَأْذُونُ بِهِ إِذْنَ تَخْيِيرٍ بَيْنَ الْفِعْلِ وَالتَّرْكِ وَإِلَى هَذَا أَشَرْتُ بِقَوْلِي إِذَا أَتَى فِي الْحُكْمِ قَوْلُ يُشْرَعُ فَإِنَّهُ لَدَيْهِمُ لَا يُمْنَعُ إِذْ إِنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْمَأْمُورِ أَوْ ذِي إِبَاحَةٍ مِنَ الْأُمُورِ أَوْ ذِي إِبَاحَةٍ مِنَ الْأُمُورِ فَإِذَا وَقَعَ فِي قَوْلِ فَقِيهٍ يُشْرَعُ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحَبًّا أَوْ مُبَاحًا وَيُطْلَقُ غَالِبًا عَلَى مَا يَتَنَاوَلُ الْأَوَّلَيْنِ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ بَعْضِ الْمُفْتِينَ فِي شَيْءٍ لَا يُشْرَعُ وَلَكِنَّهُ جَائِزٌ لَا يُشْرَعُ وَلَكِنَّهُ جَائِزٌ فَمُرَادُهُ أَنَّهُ لَيْسَ مَأْمُورًا بِهِ فَلَا يَجِبُ وَلَا يُسَتَحَبُّ وَلَكِنْ يَجُوزُ أَنْ يَفْعَلَهُ الْعَبْدُ وَقَدْ يُنْفَى الْمَشْرُوعُ وَيُرَادُ بِهِ الْمَنْعُ مُطْلَقًا إِذَا ذُكَرَ مُتَقَابِلَيْنِ إِذَا ذُكَرَ مُتَقَابِلَيْنِ كَقَوْلِهِمْ التَّوَسُّلُ الْمَشْرُوعُ وَالْمَمْنُوعُ إِذْ إِنَّ الْمَمْنُوعَ لَا يَحْتَمِلُ إِلَّا الْمَحْظُورَ وَهُوَ الْمُحَرَّمُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kesalahan dalam Membaca Surah Al-Fatihah dan Konsekuensi Hukumnya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِWalhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan membaca Al-Qur’an Al-Karim 2. Apa pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah yang benar? 3. Kesalahan membaca Al-fatihah dan konsekuensi hukumnya 3.1. Kesalahan yang membatalkan salat 3.2. Kesalahan yang tidak membatalkan salat 4. Kewajiban bagi orang yang salah membaca Al-Fatihah dengan jenis kesalahan membatalkan salat 4.1. Kewajiban imam jika belum salat 4.2. Kewajiban orang yang salat jika salah dengan kesalahan jenis ini di saat sedang salat 5. Syarat sah membaca Al-Fatihah 6. Nasihat Keutamaan membaca Al-Qur’an Al-KarimAl-Fatihah termasuk Al-Qur’an Al-Karim, sehingga keutamaan membacanya juga tercakup dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يقرَأُ القُرْآنَ ويَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُو عليهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْران“Seorang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi senantiasa taat kepada Allah. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.”Apa pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah yang benar?Pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah itu bisa diketahui dari konsekuensi hukum jika seseorang salah baca Al-Fatihah dalam salat dan dari status membaca Al-Fatihah itu sebagai rukun salat.Jumhur ulama menyatakan bahwa hukum membaca Al-Fatihah dalam salat adalah rukun salat. Salat menjadi tidak sah tanpa membaca surah Al-Fatihah.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ“Tidak sah salat orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaihi)Baca Juga: 20 Mutiara Keindahan Bahasa dalam Al-Fatihah Kesalahan membaca Al-fatihah dan konsekuensi hukumnyaMembaca Al-Fatihah adalah rukun salat bagi imam dan orang yang salat sendirian, maka ada konsekuensi hukumnya jika salah dalam membacanya. Kesalahan imam salat atau selainnya dalam membaca Al-Fatihah itu ada dua, yaitu:Kesalahan yang membatalkan salat Yaitu kesalahan yang mengubah makna ayat, atau tidak urut membacanya, atau tidak membaca suatu hurufnya, atau meninggalkan tasydid, atau mengganti huruf dengan huruf lainnya yang bukan penggantinya, padahal mampu membacanya dengan benar. Dalam hal ini, salat imam atau selainnya menjadi batal jika melakukan dengan sengaja dan orang lain tidak sah bermakmum di belakangnya. Ini adalah pendapat mazhab Syafi’iyyah, Hanbaliyyah, dan salah satu pendapat Malikiyyah. Namun, jika dilakukan dengan tidak sengaja, maka wajib mengulang.Kesalahan jenis ini misalnya:Pertama, mendamahkan/mengasrahkan huruf ت  padaصراط الذين أنعمت عليهمKedua, mengasrah huruf ك pada إياك atau tidak menasydidkan huruf ي padanya.Ketiga, mengganti huruf م dengan ن pada  الصراط المستقيمBaca Juga: Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah Kesalahan yang tidak membatalkan salatImam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa kesalahan membaca Al-Fatihah yang tidak mengubah makna ayat, maka hukumnya makruh, namun jika disengaja menjadi haram, tetapi tidak membatalkan salatnya.Adapun jika ia seorang imam, maka tidak membatalkan salat makmumnya, namun makruh bermakmum di belakangnya.Tidak membatalkan salat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, jika ada orang yang lebih baik bacaannya, maka ia lebih utama menjadi imam.Kesalahan jenis ini misalnya:Pertama, menfatah huruf د pada  نعبد dan memfatah huruf ن pada  نستعين dan memfatah huruf ن pada يوم الدينKedua, mengganti ض dengan ظ  pada وَلَا الضَّالِّينَ karena dekatnya kedua makhraj dan karena sulit membedakannya.Ketiga, mengasrahkan atau mendamahkan م  pada المستقيمKeempat, mendamahkan هـ pada  الحمد لله .Kewajiban bagi orang yang salah membaca Al-Fatihah dengan jenis kesalahan membatalkan salat Kewajiban imam jika belum salatImam Nawawi rahimahullah menjelaskan jika imam tersebut mampu belajar membaca Al-Fatihah dan memperbaiki bacaannya sebelum salat, maka ia wajib melakukan hal itu. Namun, jika mendesak waktu salatnya, tidak cukup untuk mempelajari dan memperbaiki bacaan Al-Fatihah, maka ia salat sendirian dan nanti mengqada jika sudah mampu memperbaiki bacaannya.Kewajiban orang yang salat jika salah dengan kesalahan jenis ini di saat sedang salatPertama: Saat masih baca Al-Fatihah, maka mengulanginya dan mengulangi ayat setelahnya dan tidak tertuntut mengulangi dari awal ayat dan tidak disyariatkan sujud sahwi.Kedua: Saat setelah selesai baca Al-Fatihah dan telah beralih ke rukun berikutnya, misal saat rukuk atau saat sujud baru sadar kalau salah, maka mengulangi berdiri dan cukup membaca dari ayat yang salah bacaannya, kemudian melanjutkan dengan ucapan dan gerakan setelah Al-Fatihah dan jika menambah gerakan yang hukum asalnya disyariatkan/ sejenis gerakan salat, maka disyariatkan sujud sahwi.Syarat sah membaca Al-FatihahDalam kitab Safinatun Najah, karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami rahimahullah, disebutkan bahwa syarat sah membaca Al-Fatihah itu ada sepuluh:Pertama: Wajib mengikuti tertib susunan ayat demi ayat bacaan Al-Fatihah (الترتيب)Kedua: Muwalah, yaitu membaca surat Al-Fatihah dengan tanpa terputus dengan sesuatu yang bukan uzur. (الموالاة)Ketiga: Menjaga huruf-hurufnya (sehingga dibaca semuanya) (مراعاة حروفها)Keterangan :Jika ada satu huruf yang tidak terbaca, maka tidak sah salatnya. Adapun jumlah huruf Al-Fatihah ada 156 huruf termasuk tasydid.Keempat: Memperhatikan tasydid-tasydidnya. (تشديداتها مراعاة)Kelima: Tidak lama terputus antar ayat-ayat Al-Fatihah, ataupun tidak terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.(ألا يسكت سكتة طويلة ولا قصيرة يقصد بها قطع القراءة)Keenam: Membaca semua ayat dalam Surah Al-Fatihah, dan termasuk Al-Fatihah adalah basmalah (menurut pendapat terkuat).(قراءة كل آياتها ومنها البسملة)Ketujuh: Tidak membaca dengan bacaan salah (lahn) yang merubah makna.(عدم اللحن المخل بالمعنى)Kedelapan: Membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan berdiri ketika salat fardu.(أن تكون حالة القيام في الفرض)Kesembilan: Diri sendiri mendengar surat Al-Fatihah yang dibaca.(أن يسمع نفسه القراءة)Keterangan :Pendapat ulama yang terkuat adalah tidak disyaratkan mendengarnya, cukup menggerakkan lisan dan bibir untuk mengeluarkan huruf dari makhrajnya.Kesepuluh: Tidak terhalang oleh zikir yang lain.(ألا يتخللها ذكرأجنبي)Keterangan :Contoh zikir yang lain adalah hamdalah setelah bersin, atau tasbih orang yang izin kepadanya di tengah membaca Al-Fatihah. Jika tersela dengan zikir lain, maka wajib mengulangi dari awal Al-Fatihah.NasihatHendaknya para DKM masjid/musala, benar-benar menyeleksi siapa yang berhak menjadi imam salat, tentunya dengan mengusahakan program pendidikan baca Al-Qur’an untuk kaderisasi imam masjid/musala.Dan hendaknya orang yang tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, khususnya Al-Fatihah, tidak memberanikan dirinya menjadi imam, padahal ada orang lain yang benar bacaannya yang berhak menjadi imam salat. Karena jika sebagai imam, kesalahan bacaan Al-Fatihahnya sampai membatalkan salat, padahal ia tahu ada orang lain yang benar bacaannya dan siap menjadi imam, maka ia akan menanggung dosa yang besar, termasuk dosa menzalimi makmumnya. Wallahu a’lamالحمد لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca Juga:Keutamaan Surah Al-Fatihah Membaca Al-Fatihah di Awal dan Akhir Doa***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Pengertian Makna Dan Hakikat Shalat, Penyakit Isyq, Hukum Puasa Di Bulan Sya Ban, Dusta Menurut IslamTags: adabAkhlakAlfatihahAqidahaqidah islamfikih shalatnasihatnasihat islamShalatsurat alfatihahtahsintahsin surat alfatihah

Kesalahan dalam Membaca Surah Al-Fatihah dan Konsekuensi Hukumnya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِWalhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan membaca Al-Qur’an Al-Karim 2. Apa pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah yang benar? 3. Kesalahan membaca Al-fatihah dan konsekuensi hukumnya 3.1. Kesalahan yang membatalkan salat 3.2. Kesalahan yang tidak membatalkan salat 4. Kewajiban bagi orang yang salah membaca Al-Fatihah dengan jenis kesalahan membatalkan salat 4.1. Kewajiban imam jika belum salat 4.2. Kewajiban orang yang salat jika salah dengan kesalahan jenis ini di saat sedang salat 5. Syarat sah membaca Al-Fatihah 6. Nasihat Keutamaan membaca Al-Qur’an Al-KarimAl-Fatihah termasuk Al-Qur’an Al-Karim, sehingga keutamaan membacanya juga tercakup dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يقرَأُ القُرْآنَ ويَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُو عليهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْران“Seorang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi senantiasa taat kepada Allah. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.”Apa pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah yang benar?Pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah itu bisa diketahui dari konsekuensi hukum jika seseorang salah baca Al-Fatihah dalam salat dan dari status membaca Al-Fatihah itu sebagai rukun salat.Jumhur ulama menyatakan bahwa hukum membaca Al-Fatihah dalam salat adalah rukun salat. Salat menjadi tidak sah tanpa membaca surah Al-Fatihah.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ“Tidak sah salat orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaihi)Baca Juga: 20 Mutiara Keindahan Bahasa dalam Al-Fatihah Kesalahan membaca Al-fatihah dan konsekuensi hukumnyaMembaca Al-Fatihah adalah rukun salat bagi imam dan orang yang salat sendirian, maka ada konsekuensi hukumnya jika salah dalam membacanya. Kesalahan imam salat atau selainnya dalam membaca Al-Fatihah itu ada dua, yaitu:Kesalahan yang membatalkan salat Yaitu kesalahan yang mengubah makna ayat, atau tidak urut membacanya, atau tidak membaca suatu hurufnya, atau meninggalkan tasydid, atau mengganti huruf dengan huruf lainnya yang bukan penggantinya, padahal mampu membacanya dengan benar. Dalam hal ini, salat imam atau selainnya menjadi batal jika melakukan dengan sengaja dan orang lain tidak sah bermakmum di belakangnya. Ini adalah pendapat mazhab Syafi’iyyah, Hanbaliyyah, dan salah satu pendapat Malikiyyah. Namun, jika dilakukan dengan tidak sengaja, maka wajib mengulang.Kesalahan jenis ini misalnya:Pertama, mendamahkan/mengasrahkan huruf ت  padaصراط الذين أنعمت عليهمKedua, mengasrah huruf ك pada إياك atau tidak menasydidkan huruf ي padanya.Ketiga, mengganti huruf م dengan ن pada  الصراط المستقيمBaca Juga: Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah Kesalahan yang tidak membatalkan salatImam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa kesalahan membaca Al-Fatihah yang tidak mengubah makna ayat, maka hukumnya makruh, namun jika disengaja menjadi haram, tetapi tidak membatalkan salatnya.Adapun jika ia seorang imam, maka tidak membatalkan salat makmumnya, namun makruh bermakmum di belakangnya.Tidak membatalkan salat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, jika ada orang yang lebih baik bacaannya, maka ia lebih utama menjadi imam.Kesalahan jenis ini misalnya:Pertama, menfatah huruf د pada  نعبد dan memfatah huruf ن pada  نستعين dan memfatah huruf ن pada يوم الدينKedua, mengganti ض dengan ظ  pada وَلَا الضَّالِّينَ karena dekatnya kedua makhraj dan karena sulit membedakannya.Ketiga, mengasrahkan atau mendamahkan م  pada المستقيمKeempat, mendamahkan هـ pada  الحمد لله .Kewajiban bagi orang yang salah membaca Al-Fatihah dengan jenis kesalahan membatalkan salat Kewajiban imam jika belum salatImam Nawawi rahimahullah menjelaskan jika imam tersebut mampu belajar membaca Al-Fatihah dan memperbaiki bacaannya sebelum salat, maka ia wajib melakukan hal itu. Namun, jika mendesak waktu salatnya, tidak cukup untuk mempelajari dan memperbaiki bacaan Al-Fatihah, maka ia salat sendirian dan nanti mengqada jika sudah mampu memperbaiki bacaannya.Kewajiban orang yang salat jika salah dengan kesalahan jenis ini di saat sedang salatPertama: Saat masih baca Al-Fatihah, maka mengulanginya dan mengulangi ayat setelahnya dan tidak tertuntut mengulangi dari awal ayat dan tidak disyariatkan sujud sahwi.Kedua: Saat setelah selesai baca Al-Fatihah dan telah beralih ke rukun berikutnya, misal saat rukuk atau saat sujud baru sadar kalau salah, maka mengulangi berdiri dan cukup membaca dari ayat yang salah bacaannya, kemudian melanjutkan dengan ucapan dan gerakan setelah Al-Fatihah dan jika menambah gerakan yang hukum asalnya disyariatkan/ sejenis gerakan salat, maka disyariatkan sujud sahwi.Syarat sah membaca Al-FatihahDalam kitab Safinatun Najah, karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami rahimahullah, disebutkan bahwa syarat sah membaca Al-Fatihah itu ada sepuluh:Pertama: Wajib mengikuti tertib susunan ayat demi ayat bacaan Al-Fatihah (الترتيب)Kedua: Muwalah, yaitu membaca surat Al-Fatihah dengan tanpa terputus dengan sesuatu yang bukan uzur. (الموالاة)Ketiga: Menjaga huruf-hurufnya (sehingga dibaca semuanya) (مراعاة حروفها)Keterangan :Jika ada satu huruf yang tidak terbaca, maka tidak sah salatnya. Adapun jumlah huruf Al-Fatihah ada 156 huruf termasuk tasydid.Keempat: Memperhatikan tasydid-tasydidnya. (تشديداتها مراعاة)Kelima: Tidak lama terputus antar ayat-ayat Al-Fatihah, ataupun tidak terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.(ألا يسكت سكتة طويلة ولا قصيرة يقصد بها قطع القراءة)Keenam: Membaca semua ayat dalam Surah Al-Fatihah, dan termasuk Al-Fatihah adalah basmalah (menurut pendapat terkuat).(قراءة كل آياتها ومنها البسملة)Ketujuh: Tidak membaca dengan bacaan salah (lahn) yang merubah makna.(عدم اللحن المخل بالمعنى)Kedelapan: Membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan berdiri ketika salat fardu.(أن تكون حالة القيام في الفرض)Kesembilan: Diri sendiri mendengar surat Al-Fatihah yang dibaca.(أن يسمع نفسه القراءة)Keterangan :Pendapat ulama yang terkuat adalah tidak disyaratkan mendengarnya, cukup menggerakkan lisan dan bibir untuk mengeluarkan huruf dari makhrajnya.Kesepuluh: Tidak terhalang oleh zikir yang lain.(ألا يتخللها ذكرأجنبي)Keterangan :Contoh zikir yang lain adalah hamdalah setelah bersin, atau tasbih orang yang izin kepadanya di tengah membaca Al-Fatihah. Jika tersela dengan zikir lain, maka wajib mengulangi dari awal Al-Fatihah.NasihatHendaknya para DKM masjid/musala, benar-benar menyeleksi siapa yang berhak menjadi imam salat, tentunya dengan mengusahakan program pendidikan baca Al-Qur’an untuk kaderisasi imam masjid/musala.Dan hendaknya orang yang tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, khususnya Al-Fatihah, tidak memberanikan dirinya menjadi imam, padahal ada orang lain yang benar bacaannya yang berhak menjadi imam salat. Karena jika sebagai imam, kesalahan bacaan Al-Fatihahnya sampai membatalkan salat, padahal ia tahu ada orang lain yang benar bacaannya dan siap menjadi imam, maka ia akan menanggung dosa yang besar, termasuk dosa menzalimi makmumnya. Wallahu a’lamالحمد لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca Juga:Keutamaan Surah Al-Fatihah Membaca Al-Fatihah di Awal dan Akhir Doa***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Pengertian Makna Dan Hakikat Shalat, Penyakit Isyq, Hukum Puasa Di Bulan Sya Ban, Dusta Menurut IslamTags: adabAkhlakAlfatihahAqidahaqidah islamfikih shalatnasihatnasihat islamShalatsurat alfatihahtahsintahsin surat alfatihah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِWalhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan membaca Al-Qur’an Al-Karim 2. Apa pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah yang benar? 3. Kesalahan membaca Al-fatihah dan konsekuensi hukumnya 3.1. Kesalahan yang membatalkan salat 3.2. Kesalahan yang tidak membatalkan salat 4. Kewajiban bagi orang yang salah membaca Al-Fatihah dengan jenis kesalahan membatalkan salat 4.1. Kewajiban imam jika belum salat 4.2. Kewajiban orang yang salat jika salah dengan kesalahan jenis ini di saat sedang salat 5. Syarat sah membaca Al-Fatihah 6. Nasihat Keutamaan membaca Al-Qur’an Al-KarimAl-Fatihah termasuk Al-Qur’an Al-Karim, sehingga keutamaan membacanya juga tercakup dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يقرَأُ القُرْآنَ ويَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُو عليهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْران“Seorang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi senantiasa taat kepada Allah. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.”Apa pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah yang benar?Pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah itu bisa diketahui dari konsekuensi hukum jika seseorang salah baca Al-Fatihah dalam salat dan dari status membaca Al-Fatihah itu sebagai rukun salat.Jumhur ulama menyatakan bahwa hukum membaca Al-Fatihah dalam salat adalah rukun salat. Salat menjadi tidak sah tanpa membaca surah Al-Fatihah.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ“Tidak sah salat orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaihi)Baca Juga: 20 Mutiara Keindahan Bahasa dalam Al-Fatihah Kesalahan membaca Al-fatihah dan konsekuensi hukumnyaMembaca Al-Fatihah adalah rukun salat bagi imam dan orang yang salat sendirian, maka ada konsekuensi hukumnya jika salah dalam membacanya. Kesalahan imam salat atau selainnya dalam membaca Al-Fatihah itu ada dua, yaitu:Kesalahan yang membatalkan salat Yaitu kesalahan yang mengubah makna ayat, atau tidak urut membacanya, atau tidak membaca suatu hurufnya, atau meninggalkan tasydid, atau mengganti huruf dengan huruf lainnya yang bukan penggantinya, padahal mampu membacanya dengan benar. Dalam hal ini, salat imam atau selainnya menjadi batal jika melakukan dengan sengaja dan orang lain tidak sah bermakmum di belakangnya. Ini adalah pendapat mazhab Syafi’iyyah, Hanbaliyyah, dan salah satu pendapat Malikiyyah. Namun, jika dilakukan dengan tidak sengaja, maka wajib mengulang.Kesalahan jenis ini misalnya:Pertama, mendamahkan/mengasrahkan huruf ت  padaصراط الذين أنعمت عليهمKedua, mengasrah huruf ك pada إياك atau tidak menasydidkan huruf ي padanya.Ketiga, mengganti huruf م dengan ن pada  الصراط المستقيمBaca Juga: Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah Kesalahan yang tidak membatalkan salatImam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa kesalahan membaca Al-Fatihah yang tidak mengubah makna ayat, maka hukumnya makruh, namun jika disengaja menjadi haram, tetapi tidak membatalkan salatnya.Adapun jika ia seorang imam, maka tidak membatalkan salat makmumnya, namun makruh bermakmum di belakangnya.Tidak membatalkan salat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, jika ada orang yang lebih baik bacaannya, maka ia lebih utama menjadi imam.Kesalahan jenis ini misalnya:Pertama, menfatah huruf د pada  نعبد dan memfatah huruf ن pada  نستعين dan memfatah huruf ن pada يوم الدينKedua, mengganti ض dengan ظ  pada وَلَا الضَّالِّينَ karena dekatnya kedua makhraj dan karena sulit membedakannya.Ketiga, mengasrahkan atau mendamahkan م  pada المستقيمKeempat, mendamahkan هـ pada  الحمد لله .Kewajiban bagi orang yang salah membaca Al-Fatihah dengan jenis kesalahan membatalkan salat Kewajiban imam jika belum salatImam Nawawi rahimahullah menjelaskan jika imam tersebut mampu belajar membaca Al-Fatihah dan memperbaiki bacaannya sebelum salat, maka ia wajib melakukan hal itu. Namun, jika mendesak waktu salatnya, tidak cukup untuk mempelajari dan memperbaiki bacaan Al-Fatihah, maka ia salat sendirian dan nanti mengqada jika sudah mampu memperbaiki bacaannya.Kewajiban orang yang salat jika salah dengan kesalahan jenis ini di saat sedang salatPertama: Saat masih baca Al-Fatihah, maka mengulanginya dan mengulangi ayat setelahnya dan tidak tertuntut mengulangi dari awal ayat dan tidak disyariatkan sujud sahwi.Kedua: Saat setelah selesai baca Al-Fatihah dan telah beralih ke rukun berikutnya, misal saat rukuk atau saat sujud baru sadar kalau salah, maka mengulangi berdiri dan cukup membaca dari ayat yang salah bacaannya, kemudian melanjutkan dengan ucapan dan gerakan setelah Al-Fatihah dan jika menambah gerakan yang hukum asalnya disyariatkan/ sejenis gerakan salat, maka disyariatkan sujud sahwi.Syarat sah membaca Al-FatihahDalam kitab Safinatun Najah, karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami rahimahullah, disebutkan bahwa syarat sah membaca Al-Fatihah itu ada sepuluh:Pertama: Wajib mengikuti tertib susunan ayat demi ayat bacaan Al-Fatihah (الترتيب)Kedua: Muwalah, yaitu membaca surat Al-Fatihah dengan tanpa terputus dengan sesuatu yang bukan uzur. (الموالاة)Ketiga: Menjaga huruf-hurufnya (sehingga dibaca semuanya) (مراعاة حروفها)Keterangan :Jika ada satu huruf yang tidak terbaca, maka tidak sah salatnya. Adapun jumlah huruf Al-Fatihah ada 156 huruf termasuk tasydid.Keempat: Memperhatikan tasydid-tasydidnya. (تشديداتها مراعاة)Kelima: Tidak lama terputus antar ayat-ayat Al-Fatihah, ataupun tidak terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.(ألا يسكت سكتة طويلة ولا قصيرة يقصد بها قطع القراءة)Keenam: Membaca semua ayat dalam Surah Al-Fatihah, dan termasuk Al-Fatihah adalah basmalah (menurut pendapat terkuat).(قراءة كل آياتها ومنها البسملة)Ketujuh: Tidak membaca dengan bacaan salah (lahn) yang merubah makna.(عدم اللحن المخل بالمعنى)Kedelapan: Membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan berdiri ketika salat fardu.(أن تكون حالة القيام في الفرض)Kesembilan: Diri sendiri mendengar surat Al-Fatihah yang dibaca.(أن يسمع نفسه القراءة)Keterangan :Pendapat ulama yang terkuat adalah tidak disyaratkan mendengarnya, cukup menggerakkan lisan dan bibir untuk mengeluarkan huruf dari makhrajnya.Kesepuluh: Tidak terhalang oleh zikir yang lain.(ألا يتخللها ذكرأجنبي)Keterangan :Contoh zikir yang lain adalah hamdalah setelah bersin, atau tasbih orang yang izin kepadanya di tengah membaca Al-Fatihah. Jika tersela dengan zikir lain, maka wajib mengulangi dari awal Al-Fatihah.NasihatHendaknya para DKM masjid/musala, benar-benar menyeleksi siapa yang berhak menjadi imam salat, tentunya dengan mengusahakan program pendidikan baca Al-Qur’an untuk kaderisasi imam masjid/musala.Dan hendaknya orang yang tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, khususnya Al-Fatihah, tidak memberanikan dirinya menjadi imam, padahal ada orang lain yang benar bacaannya yang berhak menjadi imam salat. Karena jika sebagai imam, kesalahan bacaan Al-Fatihahnya sampai membatalkan salat, padahal ia tahu ada orang lain yang benar bacaannya dan siap menjadi imam, maka ia akan menanggung dosa yang besar, termasuk dosa menzalimi makmumnya. Wallahu a’lamالحمد لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca Juga:Keutamaan Surah Al-Fatihah Membaca Al-Fatihah di Awal dan Akhir Doa***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Pengertian Makna Dan Hakikat Shalat, Penyakit Isyq, Hukum Puasa Di Bulan Sya Ban, Dusta Menurut IslamTags: adabAkhlakAlfatihahAqidahaqidah islamfikih shalatnasihatnasihat islamShalatsurat alfatihahtahsintahsin surat alfatihah


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِWalhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan membaca Al-Qur’an Al-Karim 2. Apa pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah yang benar? 3. Kesalahan membaca Al-fatihah dan konsekuensi hukumnya 3.1. Kesalahan yang membatalkan salat 3.2. Kesalahan yang tidak membatalkan salat 4. Kewajiban bagi orang yang salah membaca Al-Fatihah dengan jenis kesalahan membatalkan salat 4.1. Kewajiban imam jika belum salat 4.2. Kewajiban orang yang salat jika salah dengan kesalahan jenis ini di saat sedang salat 5. Syarat sah membaca Al-Fatihah 6. Nasihat Keutamaan membaca Al-Qur’an Al-KarimAl-Fatihah termasuk Al-Qur’an Al-Karim, sehingga keutamaan membacanya juga tercakup dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يقرَأُ القُرْآنَ ويَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُو عليهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْران“Seorang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi senantiasa taat kepada Allah. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.”Apa pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah yang benar?Pentingnya mempelajari cara baca Al-Fatihah itu bisa diketahui dari konsekuensi hukum jika seseorang salah baca Al-Fatihah dalam salat dan dari status membaca Al-Fatihah itu sebagai rukun salat.Jumhur ulama menyatakan bahwa hukum membaca Al-Fatihah dalam salat adalah rukun salat. Salat menjadi tidak sah tanpa membaca surah Al-Fatihah.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ“Tidak sah salat orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaihi)Baca Juga: 20 Mutiara Keindahan Bahasa dalam Al-Fatihah Kesalahan membaca Al-fatihah dan konsekuensi hukumnyaMembaca Al-Fatihah adalah rukun salat bagi imam dan orang yang salat sendirian, maka ada konsekuensi hukumnya jika salah dalam membacanya. Kesalahan imam salat atau selainnya dalam membaca Al-Fatihah itu ada dua, yaitu:Kesalahan yang membatalkan salat Yaitu kesalahan yang mengubah makna ayat, atau tidak urut membacanya, atau tidak membaca suatu hurufnya, atau meninggalkan tasydid, atau mengganti huruf dengan huruf lainnya yang bukan penggantinya, padahal mampu membacanya dengan benar. Dalam hal ini, salat imam atau selainnya menjadi batal jika melakukan dengan sengaja dan orang lain tidak sah bermakmum di belakangnya. Ini adalah pendapat mazhab Syafi’iyyah, Hanbaliyyah, dan salah satu pendapat Malikiyyah. Namun, jika dilakukan dengan tidak sengaja, maka wajib mengulang.Kesalahan jenis ini misalnya:Pertama, mendamahkan/mengasrahkan huruf ت  padaصراط الذين أنعمت عليهمKedua, mengasrah huruf ك pada إياك atau tidak menasydidkan huruf ي padanya.Ketiga, mengganti huruf م dengan ن pada  الصراط المستقيمBaca Juga: Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah Kesalahan yang tidak membatalkan salatImam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa kesalahan membaca Al-Fatihah yang tidak mengubah makna ayat, maka hukumnya makruh, namun jika disengaja menjadi haram, tetapi tidak membatalkan salatnya.Adapun jika ia seorang imam, maka tidak membatalkan salat makmumnya, namun makruh bermakmum di belakangnya.Tidak membatalkan salat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, jika ada orang yang lebih baik bacaannya, maka ia lebih utama menjadi imam.Kesalahan jenis ini misalnya:Pertama, menfatah huruf د pada  نعبد dan memfatah huruf ن pada  نستعين dan memfatah huruf ن pada يوم الدينKedua, mengganti ض dengan ظ  pada وَلَا الضَّالِّينَ karena dekatnya kedua makhraj dan karena sulit membedakannya.Ketiga, mengasrahkan atau mendamahkan م  pada المستقيمKeempat, mendamahkan هـ pada  الحمد لله .Kewajiban bagi orang yang salah membaca Al-Fatihah dengan jenis kesalahan membatalkan salat Kewajiban imam jika belum salatImam Nawawi rahimahullah menjelaskan jika imam tersebut mampu belajar membaca Al-Fatihah dan memperbaiki bacaannya sebelum salat, maka ia wajib melakukan hal itu. Namun, jika mendesak waktu salatnya, tidak cukup untuk mempelajari dan memperbaiki bacaan Al-Fatihah, maka ia salat sendirian dan nanti mengqada jika sudah mampu memperbaiki bacaannya.Kewajiban orang yang salat jika salah dengan kesalahan jenis ini di saat sedang salatPertama: Saat masih baca Al-Fatihah, maka mengulanginya dan mengulangi ayat setelahnya dan tidak tertuntut mengulangi dari awal ayat dan tidak disyariatkan sujud sahwi.Kedua: Saat setelah selesai baca Al-Fatihah dan telah beralih ke rukun berikutnya, misal saat rukuk atau saat sujud baru sadar kalau salah, maka mengulangi berdiri dan cukup membaca dari ayat yang salah bacaannya, kemudian melanjutkan dengan ucapan dan gerakan setelah Al-Fatihah dan jika menambah gerakan yang hukum asalnya disyariatkan/ sejenis gerakan salat, maka disyariatkan sujud sahwi.Syarat sah membaca Al-FatihahDalam kitab Safinatun Najah, karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami rahimahullah, disebutkan bahwa syarat sah membaca Al-Fatihah itu ada sepuluh:Pertama: Wajib mengikuti tertib susunan ayat demi ayat bacaan Al-Fatihah (الترتيب)Kedua: Muwalah, yaitu membaca surat Al-Fatihah dengan tanpa terputus dengan sesuatu yang bukan uzur. (الموالاة)Ketiga: Menjaga huruf-hurufnya (sehingga dibaca semuanya) (مراعاة حروفها)Keterangan :Jika ada satu huruf yang tidak terbaca, maka tidak sah salatnya. Adapun jumlah huruf Al-Fatihah ada 156 huruf termasuk tasydid.Keempat: Memperhatikan tasydid-tasydidnya. (تشديداتها مراعاة)Kelima: Tidak lama terputus antar ayat-ayat Al-Fatihah, ataupun tidak terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.(ألا يسكت سكتة طويلة ولا قصيرة يقصد بها قطع القراءة)Keenam: Membaca semua ayat dalam Surah Al-Fatihah, dan termasuk Al-Fatihah adalah basmalah (menurut pendapat terkuat).(قراءة كل آياتها ومنها البسملة)Ketujuh: Tidak membaca dengan bacaan salah (lahn) yang merubah makna.(عدم اللحن المخل بالمعنى)Kedelapan: Membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan berdiri ketika salat fardu.(أن تكون حالة القيام في الفرض)Kesembilan: Diri sendiri mendengar surat Al-Fatihah yang dibaca.(أن يسمع نفسه القراءة)Keterangan :Pendapat ulama yang terkuat adalah tidak disyaratkan mendengarnya, cukup menggerakkan lisan dan bibir untuk mengeluarkan huruf dari makhrajnya.Kesepuluh: Tidak terhalang oleh zikir yang lain.(ألا يتخللها ذكرأجنبي)Keterangan :Contoh zikir yang lain adalah hamdalah setelah bersin, atau tasbih orang yang izin kepadanya di tengah membaca Al-Fatihah. Jika tersela dengan zikir lain, maka wajib mengulangi dari awal Al-Fatihah.NasihatHendaknya para DKM masjid/musala, benar-benar menyeleksi siapa yang berhak menjadi imam salat, tentunya dengan mengusahakan program pendidikan baca Al-Qur’an untuk kaderisasi imam masjid/musala.Dan hendaknya orang yang tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, khususnya Al-Fatihah, tidak memberanikan dirinya menjadi imam, padahal ada orang lain yang benar bacaannya yang berhak menjadi imam salat. Karena jika sebagai imam, kesalahan bacaan Al-Fatihahnya sampai membatalkan salat, padahal ia tahu ada orang lain yang benar bacaannya dan siap menjadi imam, maka ia akan menanggung dosa yang besar, termasuk dosa menzalimi makmumnya. Wallahu a’lamالحمد لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca Juga:Keutamaan Surah Al-Fatihah Membaca Al-Fatihah di Awal dan Akhir Doa***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Pengertian Makna Dan Hakikat Shalat, Penyakit Isyq, Hukum Puasa Di Bulan Sya Ban, Dusta Menurut IslamTags: adabAkhlakAlfatihahAqidahaqidah islamfikih shalatnasihatnasihat islamShalatsurat alfatihahtahsintahsin surat alfatihah

Kisah Menjadi Mualaf karena Mendengar Azan – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara agung, maka perbanyaklah berzikir kepada Allah.Saudara-saudaraku, aku pernah mendengar suatu kisahdi siaran al-Quran al-Karim, dalam program “Bagaimana aku masuk Islam?” Ada seorang lelaki dari Filipina yang menceritakan kisah keislamannya.Ia menyebutkan bahwa telah hidup di Kerajaan Saudi selama 8 tahun, ia bekerja di sebuah perusahaan. Ia berkata, “Selama itu tidak pernah ada seorang pun yang menawarkan agama Islam kepadaku.”Kelalaian kita, wahai saudara-saudara. Dahulu aku mengamalkan perdukunan, dan setan-setan datang kepadaku.Ketika kumandang azan disiarkan di Channel 2, dan Channel 2 ini menggunakan bahasa asing. Ketika azan disiarkan, setan-setan itu kaburAku tidak mengetahui apa itu azan.Saat aku bertanya kepada mereka, mereka tidak memberitahuku. Pada suatu hari, aku masuk ke kota Riyadh.Lalu aku mendengar azan. Aku pun bertanya kepada seseorang, “Apa ini?” Ia menanyakan suara itu.Ia menjawab, “Azan.” Aku tanya lagi, “Apa itu azan?”Ia menjawab, “Azan untuk panggilan salat.” Orang-orang mendengarnya, lalu mereka mendirikan salat. Ketika itu aku tahu dan yakin bahwa azan adalah hal yang benar.Azan memang benar-benar zikir yang setan-setan lari darinya.Hal yang membuatnya pertama kali masuk Islam adalah karena mendengar suara azan. Pada intinya, percayalah padaku, wahai saudara-saudara, dalam kisah ini.Dalam syariat kita dan kitab Tuhan kita (al-Quran) sudah ada bukti, tapi ini kisah nyatayang menunjukkan keagungan zikir, wahai saudara-saudara. Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam kitab Shahih,bahwa jika setan mendengar azan, ia akan kabur sambil terkentut-kentut.Hingga ketika azan selesai dikumandangkan, ia kembali. Ketika iqamah dikumandangkan ia kabur lagi. Yakni bahkan saat kamu salat, kamu tidak dapat terbebas darinya.Namun, dengan berzikir kepada Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga manusiadan melindunginya dengan perlindungan-Nya yang kokoh dan kuat. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan.Kita ucapkan selawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad. ==== ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَظِيمٌ فَاللهَ اللهَ إِخْوَانِي سَمِعْتُ قِصَّةً مَرَّةً فِي إِذَاعَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِي بَرْنَامَجِ كَيْفَ أَسْلَمْتُ رَجُلٌ مِنَ الْفِلِبِّيْنِ يَحْكِي قِصَّةَ إِسْلَامِهِ ذَكَرَ أَنَّهُ يَعْنِي فِي الْمَمْلَكَةِ مُنْذُ ثَمَانِي سِنِينَ يَعْمَلُ فِي شَرِكَةٍ قَالَ وَمَا حَصَلَ أَنَّ أَحَدًا عَرَضَ عَلَيَّ الْإِسْلَامَ التَّقْصِيرُ يَا إِخْوَانُ قَالَ وَكُنْتُ أَتَعَاطَى الشَّعْوَذَةَ كَانَتْ تَأْتِي الشَّيَاطِينُ إِلَيَّ فَإِذَا رُفِعَ الْأَذَانُ فِي الْقَنَاةِ الثَّانِيَةِ الْقَنَاةُ الثَّانِيَةُ كَانَتْ بِلُغَاتٍ أَجْنَبِيَّةٍ فَإِذَا رُفِعَ الْأَذَانُ هَرَبُوا أَنَا لَا أَعْرِفُ الْأَذَانَ وَأَسْأَلُهُمْ فَلَا يُخْبِرُوْنَنِي قَالَ وَيَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ دَخَلْتُ الرِّيَاضَ فَسَمِعْتُ الْأَذَانَ فَقُلْتُ مَا هَذَا؟ سَأَلَ عَنِ الصَّوْتِ قَالَ هَذَا أَذَانٌ قُلْتُ مَا أَذَانٌ؟ قَالَ هَذَا أَذَانٌ لِلصَّلَاةِ يَسْمَعُهُ النَّاسُ وَيُصَلُّونَ قَالَ فَعَلِمْتُ وَأَيْقَنْتُ أَنَّ هَذَا الْأَذَانَ حَقٌّ ذِكْرٌ تَفِرُّ مِنْهُ الشَّيَاطِيْنُ حَقًّا فَكَانَ أَوَّلُ دُخُولِهِ بِالْإِسْلَامِ بِسَبَبِ سَمَاعِ الْأَذَانِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَاثِقُوْنِي يَا إِخْوَانُ فِي ذَلِكَ فِي شَرْعِنَا وَكِتَابِ رَبِّنَا دَلَالَةٌ لَكِنْ هَذِهِ قِصَّةٌ مِنَ الْوَاقِعِ تَدُلُّ يَا إِخْوَانُ عَلَى عِظَمِ الذِّكْرِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمُخَرَّجِ فِي الصَّحِيْحِ إِذَا سَمِعَ الشَّيْطَانُ الْمُؤَذِّنَ أَدْبَرَ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى إِذَا قُضِيَ التَّثْوِيْبُ الْأَذَانُ رَجَعَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلَاةِ يَعْنِي حَتَّى وَأَنْتَ فِي الصَّلَاةِ لَنْ تَسْلَمَ مِنْ هَذَا لَكِنْ مَعَ ذِكْرِ اللهِ يَحْفَظُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْإِنْسَانَ وَيُحِيْطُهُ بِحِصْنِهِ الحَصِيْنِ وَبِحِرْزِهِ الْمَكِينِ وَالْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kisah Menjadi Mualaf karena Mendengar Azan – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara agung, maka perbanyaklah berzikir kepada Allah.Saudara-saudaraku, aku pernah mendengar suatu kisahdi siaran al-Quran al-Karim, dalam program “Bagaimana aku masuk Islam?” Ada seorang lelaki dari Filipina yang menceritakan kisah keislamannya.Ia menyebutkan bahwa telah hidup di Kerajaan Saudi selama 8 tahun, ia bekerja di sebuah perusahaan. Ia berkata, “Selama itu tidak pernah ada seorang pun yang menawarkan agama Islam kepadaku.”Kelalaian kita, wahai saudara-saudara. Dahulu aku mengamalkan perdukunan, dan setan-setan datang kepadaku.Ketika kumandang azan disiarkan di Channel 2, dan Channel 2 ini menggunakan bahasa asing. Ketika azan disiarkan, setan-setan itu kaburAku tidak mengetahui apa itu azan.Saat aku bertanya kepada mereka, mereka tidak memberitahuku. Pada suatu hari, aku masuk ke kota Riyadh.Lalu aku mendengar azan. Aku pun bertanya kepada seseorang, “Apa ini?” Ia menanyakan suara itu.Ia menjawab, “Azan.” Aku tanya lagi, “Apa itu azan?”Ia menjawab, “Azan untuk panggilan salat.” Orang-orang mendengarnya, lalu mereka mendirikan salat. Ketika itu aku tahu dan yakin bahwa azan adalah hal yang benar.Azan memang benar-benar zikir yang setan-setan lari darinya.Hal yang membuatnya pertama kali masuk Islam adalah karena mendengar suara azan. Pada intinya, percayalah padaku, wahai saudara-saudara, dalam kisah ini.Dalam syariat kita dan kitab Tuhan kita (al-Quran) sudah ada bukti, tapi ini kisah nyatayang menunjukkan keagungan zikir, wahai saudara-saudara. Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam kitab Shahih,bahwa jika setan mendengar azan, ia akan kabur sambil terkentut-kentut.Hingga ketika azan selesai dikumandangkan, ia kembali. Ketika iqamah dikumandangkan ia kabur lagi. Yakni bahkan saat kamu salat, kamu tidak dapat terbebas darinya.Namun, dengan berzikir kepada Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga manusiadan melindunginya dengan perlindungan-Nya yang kokoh dan kuat. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan.Kita ucapkan selawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad. ==== ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَظِيمٌ فَاللهَ اللهَ إِخْوَانِي سَمِعْتُ قِصَّةً مَرَّةً فِي إِذَاعَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِي بَرْنَامَجِ كَيْفَ أَسْلَمْتُ رَجُلٌ مِنَ الْفِلِبِّيْنِ يَحْكِي قِصَّةَ إِسْلَامِهِ ذَكَرَ أَنَّهُ يَعْنِي فِي الْمَمْلَكَةِ مُنْذُ ثَمَانِي سِنِينَ يَعْمَلُ فِي شَرِكَةٍ قَالَ وَمَا حَصَلَ أَنَّ أَحَدًا عَرَضَ عَلَيَّ الْإِسْلَامَ التَّقْصِيرُ يَا إِخْوَانُ قَالَ وَكُنْتُ أَتَعَاطَى الشَّعْوَذَةَ كَانَتْ تَأْتِي الشَّيَاطِينُ إِلَيَّ فَإِذَا رُفِعَ الْأَذَانُ فِي الْقَنَاةِ الثَّانِيَةِ الْقَنَاةُ الثَّانِيَةُ كَانَتْ بِلُغَاتٍ أَجْنَبِيَّةٍ فَإِذَا رُفِعَ الْأَذَانُ هَرَبُوا أَنَا لَا أَعْرِفُ الْأَذَانَ وَأَسْأَلُهُمْ فَلَا يُخْبِرُوْنَنِي قَالَ وَيَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ دَخَلْتُ الرِّيَاضَ فَسَمِعْتُ الْأَذَانَ فَقُلْتُ مَا هَذَا؟ سَأَلَ عَنِ الصَّوْتِ قَالَ هَذَا أَذَانٌ قُلْتُ مَا أَذَانٌ؟ قَالَ هَذَا أَذَانٌ لِلصَّلَاةِ يَسْمَعُهُ النَّاسُ وَيُصَلُّونَ قَالَ فَعَلِمْتُ وَأَيْقَنْتُ أَنَّ هَذَا الْأَذَانَ حَقٌّ ذِكْرٌ تَفِرُّ مِنْهُ الشَّيَاطِيْنُ حَقًّا فَكَانَ أَوَّلُ دُخُولِهِ بِالْإِسْلَامِ بِسَبَبِ سَمَاعِ الْأَذَانِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَاثِقُوْنِي يَا إِخْوَانُ فِي ذَلِكَ فِي شَرْعِنَا وَكِتَابِ رَبِّنَا دَلَالَةٌ لَكِنْ هَذِهِ قِصَّةٌ مِنَ الْوَاقِعِ تَدُلُّ يَا إِخْوَانُ عَلَى عِظَمِ الذِّكْرِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمُخَرَّجِ فِي الصَّحِيْحِ إِذَا سَمِعَ الشَّيْطَانُ الْمُؤَذِّنَ أَدْبَرَ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى إِذَا قُضِيَ التَّثْوِيْبُ الْأَذَانُ رَجَعَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلَاةِ يَعْنِي حَتَّى وَأَنْتَ فِي الصَّلَاةِ لَنْ تَسْلَمَ مِنْ هَذَا لَكِنْ مَعَ ذِكْرِ اللهِ يَحْفَظُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْإِنْسَانَ وَيُحِيْطُهُ بِحِصْنِهِ الحَصِيْنِ وَبِحِرْزِهِ الْمَكِينِ وَالْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara agung, maka perbanyaklah berzikir kepada Allah.Saudara-saudaraku, aku pernah mendengar suatu kisahdi siaran al-Quran al-Karim, dalam program “Bagaimana aku masuk Islam?” Ada seorang lelaki dari Filipina yang menceritakan kisah keislamannya.Ia menyebutkan bahwa telah hidup di Kerajaan Saudi selama 8 tahun, ia bekerja di sebuah perusahaan. Ia berkata, “Selama itu tidak pernah ada seorang pun yang menawarkan agama Islam kepadaku.”Kelalaian kita, wahai saudara-saudara. Dahulu aku mengamalkan perdukunan, dan setan-setan datang kepadaku.Ketika kumandang azan disiarkan di Channel 2, dan Channel 2 ini menggunakan bahasa asing. Ketika azan disiarkan, setan-setan itu kaburAku tidak mengetahui apa itu azan.Saat aku bertanya kepada mereka, mereka tidak memberitahuku. Pada suatu hari, aku masuk ke kota Riyadh.Lalu aku mendengar azan. Aku pun bertanya kepada seseorang, “Apa ini?” Ia menanyakan suara itu.Ia menjawab, “Azan.” Aku tanya lagi, “Apa itu azan?”Ia menjawab, “Azan untuk panggilan salat.” Orang-orang mendengarnya, lalu mereka mendirikan salat. Ketika itu aku tahu dan yakin bahwa azan adalah hal yang benar.Azan memang benar-benar zikir yang setan-setan lari darinya.Hal yang membuatnya pertama kali masuk Islam adalah karena mendengar suara azan. Pada intinya, percayalah padaku, wahai saudara-saudara, dalam kisah ini.Dalam syariat kita dan kitab Tuhan kita (al-Quran) sudah ada bukti, tapi ini kisah nyatayang menunjukkan keagungan zikir, wahai saudara-saudara. Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam kitab Shahih,bahwa jika setan mendengar azan, ia akan kabur sambil terkentut-kentut.Hingga ketika azan selesai dikumandangkan, ia kembali. Ketika iqamah dikumandangkan ia kabur lagi. Yakni bahkan saat kamu salat, kamu tidak dapat terbebas darinya.Namun, dengan berzikir kepada Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga manusiadan melindunginya dengan perlindungan-Nya yang kokoh dan kuat. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan.Kita ucapkan selawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad. ==== ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَظِيمٌ فَاللهَ اللهَ إِخْوَانِي سَمِعْتُ قِصَّةً مَرَّةً فِي إِذَاعَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِي بَرْنَامَجِ كَيْفَ أَسْلَمْتُ رَجُلٌ مِنَ الْفِلِبِّيْنِ يَحْكِي قِصَّةَ إِسْلَامِهِ ذَكَرَ أَنَّهُ يَعْنِي فِي الْمَمْلَكَةِ مُنْذُ ثَمَانِي سِنِينَ يَعْمَلُ فِي شَرِكَةٍ قَالَ وَمَا حَصَلَ أَنَّ أَحَدًا عَرَضَ عَلَيَّ الْإِسْلَامَ التَّقْصِيرُ يَا إِخْوَانُ قَالَ وَكُنْتُ أَتَعَاطَى الشَّعْوَذَةَ كَانَتْ تَأْتِي الشَّيَاطِينُ إِلَيَّ فَإِذَا رُفِعَ الْأَذَانُ فِي الْقَنَاةِ الثَّانِيَةِ الْقَنَاةُ الثَّانِيَةُ كَانَتْ بِلُغَاتٍ أَجْنَبِيَّةٍ فَإِذَا رُفِعَ الْأَذَانُ هَرَبُوا أَنَا لَا أَعْرِفُ الْأَذَانَ وَأَسْأَلُهُمْ فَلَا يُخْبِرُوْنَنِي قَالَ وَيَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ دَخَلْتُ الرِّيَاضَ فَسَمِعْتُ الْأَذَانَ فَقُلْتُ مَا هَذَا؟ سَأَلَ عَنِ الصَّوْتِ قَالَ هَذَا أَذَانٌ قُلْتُ مَا أَذَانٌ؟ قَالَ هَذَا أَذَانٌ لِلصَّلَاةِ يَسْمَعُهُ النَّاسُ وَيُصَلُّونَ قَالَ فَعَلِمْتُ وَأَيْقَنْتُ أَنَّ هَذَا الْأَذَانَ حَقٌّ ذِكْرٌ تَفِرُّ مِنْهُ الشَّيَاطِيْنُ حَقًّا فَكَانَ أَوَّلُ دُخُولِهِ بِالْإِسْلَامِ بِسَبَبِ سَمَاعِ الْأَذَانِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَاثِقُوْنِي يَا إِخْوَانُ فِي ذَلِكَ فِي شَرْعِنَا وَكِتَابِ رَبِّنَا دَلَالَةٌ لَكِنْ هَذِهِ قِصَّةٌ مِنَ الْوَاقِعِ تَدُلُّ يَا إِخْوَانُ عَلَى عِظَمِ الذِّكْرِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمُخَرَّجِ فِي الصَّحِيْحِ إِذَا سَمِعَ الشَّيْطَانُ الْمُؤَذِّنَ أَدْبَرَ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى إِذَا قُضِيَ التَّثْوِيْبُ الْأَذَانُ رَجَعَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلَاةِ يَعْنِي حَتَّى وَأَنْتَ فِي الصَّلَاةِ لَنْ تَسْلَمَ مِنْ هَذَا لَكِنْ مَعَ ذِكْرِ اللهِ يَحْفَظُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْإِنْسَانَ وَيُحِيْطُهُ بِحِصْنِهِ الحَصِيْنِ وَبِحِرْزِهِ الْمَكِينِ وَالْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah perkara agung, maka perbanyaklah berzikir kepada Allah.Saudara-saudaraku, aku pernah mendengar suatu kisahdi siaran al-Quran al-Karim, dalam program “Bagaimana aku masuk Islam?” Ada seorang lelaki dari Filipina yang menceritakan kisah keislamannya.Ia menyebutkan bahwa telah hidup di Kerajaan Saudi selama 8 tahun, ia bekerja di sebuah perusahaan. Ia berkata, “Selama itu tidak pernah ada seorang pun yang menawarkan agama Islam kepadaku.”Kelalaian kita, wahai saudara-saudara. Dahulu aku mengamalkan perdukunan, dan setan-setan datang kepadaku.Ketika kumandang azan disiarkan di Channel 2, dan Channel 2 ini menggunakan bahasa asing. Ketika azan disiarkan, setan-setan itu kaburAku tidak mengetahui apa itu azan.Saat aku bertanya kepada mereka, mereka tidak memberitahuku. Pada suatu hari, aku masuk ke kota Riyadh.Lalu aku mendengar azan. Aku pun bertanya kepada seseorang, “Apa ini?” Ia menanyakan suara itu.Ia menjawab, “Azan.” Aku tanya lagi, “Apa itu azan?”Ia menjawab, “Azan untuk panggilan salat.” Orang-orang mendengarnya, lalu mereka mendirikan salat. Ketika itu aku tahu dan yakin bahwa azan adalah hal yang benar.Azan memang benar-benar zikir yang setan-setan lari darinya.Hal yang membuatnya pertama kali masuk Islam adalah karena mendengar suara azan. Pada intinya, percayalah padaku, wahai saudara-saudara, dalam kisah ini.Dalam syariat kita dan kitab Tuhan kita (al-Quran) sudah ada bukti, tapi ini kisah nyatayang menunjukkan keagungan zikir, wahai saudara-saudara. Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam kitab Shahih,bahwa jika setan mendengar azan, ia akan kabur sambil terkentut-kentut.Hingga ketika azan selesai dikumandangkan, ia kembali. Ketika iqamah dikumandangkan ia kabur lagi. Yakni bahkan saat kamu salat, kamu tidak dapat terbebas darinya.Namun, dengan berzikir kepada Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga manusiadan melindunginya dengan perlindungan-Nya yang kokoh dan kuat. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan.Kita ucapkan selawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad. ==== ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَظِيمٌ فَاللهَ اللهَ إِخْوَانِي سَمِعْتُ قِصَّةً مَرَّةً فِي إِذَاعَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فِي بَرْنَامَجِ كَيْفَ أَسْلَمْتُ رَجُلٌ مِنَ الْفِلِبِّيْنِ يَحْكِي قِصَّةَ إِسْلَامِهِ ذَكَرَ أَنَّهُ يَعْنِي فِي الْمَمْلَكَةِ مُنْذُ ثَمَانِي سِنِينَ يَعْمَلُ فِي شَرِكَةٍ قَالَ وَمَا حَصَلَ أَنَّ أَحَدًا عَرَضَ عَلَيَّ الْإِسْلَامَ التَّقْصِيرُ يَا إِخْوَانُ قَالَ وَكُنْتُ أَتَعَاطَى الشَّعْوَذَةَ كَانَتْ تَأْتِي الشَّيَاطِينُ إِلَيَّ فَإِذَا رُفِعَ الْأَذَانُ فِي الْقَنَاةِ الثَّانِيَةِ الْقَنَاةُ الثَّانِيَةُ كَانَتْ بِلُغَاتٍ أَجْنَبِيَّةٍ فَإِذَا رُفِعَ الْأَذَانُ هَرَبُوا أَنَا لَا أَعْرِفُ الْأَذَانَ وَأَسْأَلُهُمْ فَلَا يُخْبِرُوْنَنِي قَالَ وَيَوْمٌ مِنَ الْأَيَّامِ دَخَلْتُ الرِّيَاضَ فَسَمِعْتُ الْأَذَانَ فَقُلْتُ مَا هَذَا؟ سَأَلَ عَنِ الصَّوْتِ قَالَ هَذَا أَذَانٌ قُلْتُ مَا أَذَانٌ؟ قَالَ هَذَا أَذَانٌ لِلصَّلَاةِ يَسْمَعُهُ النَّاسُ وَيُصَلُّونَ قَالَ فَعَلِمْتُ وَأَيْقَنْتُ أَنَّ هَذَا الْأَذَانَ حَقٌّ ذِكْرٌ تَفِرُّ مِنْهُ الشَّيَاطِيْنُ حَقًّا فَكَانَ أَوَّلُ دُخُولِهِ بِالْإِسْلَامِ بِسَبَبِ سَمَاعِ الْأَذَانِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَاثِقُوْنِي يَا إِخْوَانُ فِي ذَلِكَ فِي شَرْعِنَا وَكِتَابِ رَبِّنَا دَلَالَةٌ لَكِنْ هَذِهِ قِصَّةٌ مِنَ الْوَاقِعِ تَدُلُّ يَا إِخْوَانُ عَلَى عِظَمِ الذِّكْرِ وَفِي الْحَدِيثِ الْمُخَرَّجِ فِي الصَّحِيْحِ إِذَا سَمِعَ الشَّيْطَانُ الْمُؤَذِّنَ أَدْبَرَ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى إِذَا قُضِيَ التَّثْوِيْبُ الْأَذَانُ رَجَعَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلَاةِ يَعْنِي حَتَّى وَأَنْتَ فِي الصَّلَاةِ لَنْ تَسْلَمَ مِنْ هَذَا لَكِنْ مَعَ ذِكْرِ اللهِ يَحْفَظُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْإِنْسَانَ وَيُحِيْطُهُ بِحِصْنِهِ الحَصِيْنِ وَبِحِرْزِهِ الْمَكِينِ وَالْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Inilah Ilmu Bermanfaat yang Sebenarnya – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Saya hendak menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu.Karena saya kira banyak orang yang menyukai ilmu.Ilmu yang hakiki dan bermanfaatadalah dengan memahami firman Allah Jalla wa ‘Aladan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebut dengan ilmu hakiki.Seluruh ilmu yang bermanfaatdalam perkara agama,sesungguhnya diambildari pemahaman terhadap kitab Allah Jalla wa ‘Ala dan pemahaman terhadap sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama sejak dahulu,di antara perkataan yang diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’ibahwa ia berkata, “Ilmu adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya,juga apa yang dikatakan oleh para sahabat. Mereka adalah para pemberi peringatan. Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat ahli fikih.”Ibnu al-Qayyim juga berkata dalam kitabnya, an-Nuniyah: “Ilmu adalah apa yang dikatakan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, juga yang dikatakan para sahabat. Mereka adalah pemberi penjelasan.Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat si fulan.” Yakni ilmu hakiki yang dapat bermanfaat bagimudalam perjalananmu, tidurmu,terjagamu, dan seluruh urusanmu,adalah dengan memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, penuntut ilmu hendaklah berusaha keras.Siapa saja yang ingin meraih ilmu,harus banyak menelaah hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad,dan memerintahkan beliau untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Banyak penjelasan al-Quran hanya dapat diketahui melalui Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ شَيْئًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِتَحْصِيلِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ أَظُنُّ فِيهِ عَدَدٌ مِنَ النَّاسِ يُحِبُّونَ الْعِلْمَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ النَّافِعُ هُوَ أَنْ يَفْهَمَ الْإِنْسَانُ كَلَامَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ وَجَمِيعُ الْعُلُومِ النَّافِعَةِ فِي أَمْرِ الدِّينِ إِنَّمَا تُؤْخَذُ مِنْ فَهْمِ كِتَابِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَفَهْمِ كَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعُلَمَاءُ مِنْ قَدِيمِ الزَّمَانِ مِمَّا يُرْوَى عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَقُولُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التَّنْبِيْهِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فَقِيهٍ وَيَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ النُّوْنِيَّةُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَقَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التِّبْيَانِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فُلَانٍ أَيْ أَنَّ الْعِلْمَ الْحَقِيقِيَّ الَّذِي يَنْفَعُكَ فِي مَسِيرِكَ وَنَوْمِكَ وَصَحْوَتِكَ وَسَائِرِ أُمُورِكَ أَنْ تَفْهَمَ كَلَامَ اللهِ وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ الْعِلْمَ أَنْ يُكْثِرَ مُرَاجَعَةَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ الْقُرْآنَ وَأَمَرَهُ أَنْ يُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِمْ وَكَثِيرٌ مِنَ الْبَيَانِ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Inilah Ilmu Bermanfaat yang Sebenarnya – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Saya hendak menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu.Karena saya kira banyak orang yang menyukai ilmu.Ilmu yang hakiki dan bermanfaatadalah dengan memahami firman Allah Jalla wa ‘Aladan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebut dengan ilmu hakiki.Seluruh ilmu yang bermanfaatdalam perkara agama,sesungguhnya diambildari pemahaman terhadap kitab Allah Jalla wa ‘Ala dan pemahaman terhadap sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama sejak dahulu,di antara perkataan yang diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’ibahwa ia berkata, “Ilmu adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya,juga apa yang dikatakan oleh para sahabat. Mereka adalah para pemberi peringatan. Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat ahli fikih.”Ibnu al-Qayyim juga berkata dalam kitabnya, an-Nuniyah: “Ilmu adalah apa yang dikatakan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, juga yang dikatakan para sahabat. Mereka adalah pemberi penjelasan.Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat si fulan.” Yakni ilmu hakiki yang dapat bermanfaat bagimudalam perjalananmu, tidurmu,terjagamu, dan seluruh urusanmu,adalah dengan memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, penuntut ilmu hendaklah berusaha keras.Siapa saja yang ingin meraih ilmu,harus banyak menelaah hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad,dan memerintahkan beliau untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Banyak penjelasan al-Quran hanya dapat diketahui melalui Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ شَيْئًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِتَحْصِيلِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ أَظُنُّ فِيهِ عَدَدٌ مِنَ النَّاسِ يُحِبُّونَ الْعِلْمَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ النَّافِعُ هُوَ أَنْ يَفْهَمَ الْإِنْسَانُ كَلَامَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ وَجَمِيعُ الْعُلُومِ النَّافِعَةِ فِي أَمْرِ الدِّينِ إِنَّمَا تُؤْخَذُ مِنْ فَهْمِ كِتَابِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَفَهْمِ كَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعُلَمَاءُ مِنْ قَدِيمِ الزَّمَانِ مِمَّا يُرْوَى عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَقُولُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التَّنْبِيْهِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فَقِيهٍ وَيَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ النُّوْنِيَّةُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَقَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التِّبْيَانِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فُلَانٍ أَيْ أَنَّ الْعِلْمَ الْحَقِيقِيَّ الَّذِي يَنْفَعُكَ فِي مَسِيرِكَ وَنَوْمِكَ وَصَحْوَتِكَ وَسَائِرِ أُمُورِكَ أَنْ تَفْهَمَ كَلَامَ اللهِ وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ الْعِلْمَ أَنْ يُكْثِرَ مُرَاجَعَةَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ الْقُرْآنَ وَأَمَرَهُ أَنْ يُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِمْ وَكَثِيرٌ مِنَ الْبَيَانِ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saya hendak menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu.Karena saya kira banyak orang yang menyukai ilmu.Ilmu yang hakiki dan bermanfaatadalah dengan memahami firman Allah Jalla wa ‘Aladan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebut dengan ilmu hakiki.Seluruh ilmu yang bermanfaatdalam perkara agama,sesungguhnya diambildari pemahaman terhadap kitab Allah Jalla wa ‘Ala dan pemahaman terhadap sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama sejak dahulu,di antara perkataan yang diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’ibahwa ia berkata, “Ilmu adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya,juga apa yang dikatakan oleh para sahabat. Mereka adalah para pemberi peringatan. Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat ahli fikih.”Ibnu al-Qayyim juga berkata dalam kitabnya, an-Nuniyah: “Ilmu adalah apa yang dikatakan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, juga yang dikatakan para sahabat. Mereka adalah pemberi penjelasan.Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat si fulan.” Yakni ilmu hakiki yang dapat bermanfaat bagimudalam perjalananmu, tidurmu,terjagamu, dan seluruh urusanmu,adalah dengan memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, penuntut ilmu hendaklah berusaha keras.Siapa saja yang ingin meraih ilmu,harus banyak menelaah hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad,dan memerintahkan beliau untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Banyak penjelasan al-Quran hanya dapat diketahui melalui Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ شَيْئًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِتَحْصِيلِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ أَظُنُّ فِيهِ عَدَدٌ مِنَ النَّاسِ يُحِبُّونَ الْعِلْمَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ النَّافِعُ هُوَ أَنْ يَفْهَمَ الْإِنْسَانُ كَلَامَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ وَجَمِيعُ الْعُلُومِ النَّافِعَةِ فِي أَمْرِ الدِّينِ إِنَّمَا تُؤْخَذُ مِنْ فَهْمِ كِتَابِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَفَهْمِ كَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعُلَمَاءُ مِنْ قَدِيمِ الزَّمَانِ مِمَّا يُرْوَى عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَقُولُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التَّنْبِيْهِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فَقِيهٍ وَيَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ النُّوْنِيَّةُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَقَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التِّبْيَانِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فُلَانٍ أَيْ أَنَّ الْعِلْمَ الْحَقِيقِيَّ الَّذِي يَنْفَعُكَ فِي مَسِيرِكَ وَنَوْمِكَ وَصَحْوَتِكَ وَسَائِرِ أُمُورِكَ أَنْ تَفْهَمَ كَلَامَ اللهِ وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ الْعِلْمَ أَنْ يُكْثِرَ مُرَاجَعَةَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ الْقُرْآنَ وَأَمَرَهُ أَنْ يُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِمْ وَكَثِيرٌ مِنَ الْبَيَانِ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saya hendak menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan menuntut ilmu.Karena saya kira banyak orang yang menyukai ilmu.Ilmu yang hakiki dan bermanfaatadalah dengan memahami firman Allah Jalla wa ‘Aladan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang disebut dengan ilmu hakiki.Seluruh ilmu yang bermanfaatdalam perkara agama,sesungguhnya diambildari pemahaman terhadap kitab Allah Jalla wa ‘Ala dan pemahaman terhadap sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama sejak dahulu,di antara perkataan yang diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’ibahwa ia berkata, “Ilmu adalah apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya,juga apa yang dikatakan oleh para sahabat. Mereka adalah para pemberi peringatan. Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat ahli fikih.”Ibnu al-Qayyim juga berkata dalam kitabnya, an-Nuniyah: “Ilmu adalah apa yang dikatakan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, juga yang dikatakan para sahabat. Mereka adalah pemberi penjelasan.Bukanlah ilmu jika itu membuatmu berdiri dalam perselisihan dengan penuh kejahilandi antara Rasulullah dan pendapat si fulan.” Yakni ilmu hakiki yang dapat bermanfaat bagimudalam perjalananmu, tidurmu,terjagamu, dan seluruh urusanmu,adalah dengan memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, penuntut ilmu hendaklah berusaha keras.Siapa saja yang ingin meraih ilmu,harus banyak menelaah hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad,dan memerintahkan beliau untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Banyak penjelasan al-Quran hanya dapat diketahui melalui Sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ==== أُحِبُّ أَنْ أَذْكُرَ شَيْئًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِتَحْصِيلِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ أَظُنُّ فِيهِ عَدَدٌ مِنَ النَّاسِ يُحِبُّونَ الْعِلْمَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ النَّافِعُ هُوَ أَنْ يَفْهَمَ الْإِنْسَانُ كَلَامَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ وَجَمِيعُ الْعُلُومِ النَّافِعَةِ فِي أَمْرِ الدِّينِ إِنَّمَا تُؤْخَذُ مِنْ فَهْمِ كِتَابِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَفَهْمِ كَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعُلَمَاءُ مِنْ قَدِيمِ الزَّمَانِ مِمَّا يُرْوَى عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَقُولُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التَّنْبِيْهِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فَقِيهٍ وَيَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي كِتَابِهِ النُّوْنِيَّةُ الْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَقَالَ رَسُولُهُ قَالَ الصَّحَابَةُ هُمْ أُولُو التِّبْيَانِ مَا الْعِلْمُ نَصْبُكَ لِلْخِلَافِ سَفَاهَةً بَيْنَ الرَّسُولِ وَبَيْنَ قَوْلِ فُلَانٍ أَيْ أَنَّ الْعِلْمَ الْحَقِيقِيَّ الَّذِي يَنْفَعُكَ فِي مَسِيرِكَ وَنَوْمِكَ وَصَحْوَتِكَ وَسَائِرِ أُمُورِكَ أَنْ تَفْهَمَ كَلَامَ اللهِ وَكَلَامَ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُحَصِّلَ الْعِلْمَ أَنْ يُكْثِرَ مُرَاجَعَةَ أَحَادِيثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ الْقُرْآنَ وَأَمَرَهُ أَنْ يُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِمْ وَكَثِيرٌ مِنَ الْبَيَانِ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Setelah Wudhu, Menginjak Tanah, Apakah Batal?

Pertanyaan: Apakah benar bahwa orang yang sudah wudhu lalu kakinya kotor lagi karena menginjak tanah maka wudhunya batal dan harus diulang? Karena teman saya ada yang mengatakan demikian. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu, sama sekali tidak membatalkan wudhu. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menginjak atau menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Padahal kaidah fiqhiyyah yang disebutkan para ulama: الأصل بقاء ماكان على ماكان “Pada asalnya, hukum yang sudah ditetapkan itu tetap berlaku”. Maka jika seseorang sudah berwudhu, ia dihukumi suci dan tidak batal wudhu. Kecuali terdapat dalil yang menunjukkan batalnya wudhu. Sedangkan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Pembatal-pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil syar’i bukan akal atau perasaan.  Sehingga, menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu tidaklah membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb mengatakan: أما إذا كان الشخص متوضئا, ثم لصق تراب على قدمه بعد الوضوء, فهذا لا يؤثر على وضوئه “Adapun jika seseorang sudah berwudhu, lalu setelah itu tanah menempel di kakinya, ini tidak mempengaruhi keabsahan wudhu sama sekali.” (Fatwa Dewan Islamweb no.267847) Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah al-Muyassarah (1/117-126), Syaikh Husain al-Awaisyah hafizhahullah menyebutkan bahwa pembatal wudhu ada lima: Al-kharij min sabilain (keluar sesuatu dari qubul dan dubur), baik berupa air seni, air besar (feses), mani, madzi, darah istihadhah, atau kentut. Hilangnya akal. Menyentuh farji (kemaluan) dengan syahwat. Makan daging unta. Tidur nyenyak. Pembatal wudhu berbeda dengan qadzarah. Qadzarah artinya kotoran, yaitu semua yang dianggap kotor atau tidak bersih oleh manusia; lawan kata dari bersih. Tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia itu adalah najis, hadats, dan membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb.net menyatakan: فالقذر اسم لما تعافه النفس وتكرهه نجساً كان أو غير نجس، فالقذر إذن أعم من النجس مطلقاً. “Al-Qadzar adalah istilah untuk semua yang tidak disukai oleh jiwa, baik itu berupa najis ataupun bukan najis. Maka qadzar itu lebih umum dari najis.” (Fatwa Dewan Islamweb no. 132530) Najis, hadats, dan pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil-dalil. Adapun kotoran secara umum, statusnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci dalam pandangan syariat. Kaidah fiqih mengatakan: والأصل في أشيائنا الطهارة *** والأرض والثياب والحجارة “Hukum asal segala benda yang ada di (bumi) kita adalah suci, demikian juga tanah, pakaian, dan batu.” (Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah as-Sa’diyah) Maka kotoran dibagi menjadi dua: Kotoran yang bukan najis, semisal tanah, debu, noda makanan, noda cat, dan semisalnya. Statusnya asalnya suci dalam pandangan syariat, kecuali sudah tercampur dan didominasi oleh zat lain yang termasuk najis. Demikian juga terkena benda-benda tersebut bukan pembatal wudhu karena tidak terdapat dalil bahwa mereka dapat membatalkan wudhu. Maka tidak benar sikap sebagian orang yang merasa wudhunya batal karena ia menginjak tanah. Kotoran yang merupakan najis, yaitu kotoran yang ditetapkan syariat sebagai najis, seperti kotoran manusia (feses), air seni, madzi, bangkai, air liur anjing, babi, dll. Meski demikian, kotoran yang statusnya suci bukan najis dalam syariat, bukan berarti seorang muslim bermudah-mudahan terhadapnya. Di antara adab yang baik bagi seorang muslim adalah senantiasa menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Bukan adab yang baik jika seorang muslim berpenampilan kumal, kotor, pakaiannya penuh noda, rumahnya pun kotor, sampah berceceran, walaupun tidak terdapat najis. Ini bukan adab yang baik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no.91) Maka orang yang sudah berwudhu untuk shalat, lalu badannya terkena tanah, hendaknya tetap dibersihkan sebagai bentuk menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Adapun wudhunya tetap sah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bertanya, Sunnah Nabi Minum Air Selepas Bangun Tidur, Apakah Flek Coklat Boleh Puasa, Abdulah Taslim, Lafadz Akad Nikah Arab, Poso Weton Visited 458 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 QRIS donasi Yufid

Setelah Wudhu, Menginjak Tanah, Apakah Batal?

Pertanyaan: Apakah benar bahwa orang yang sudah wudhu lalu kakinya kotor lagi karena menginjak tanah maka wudhunya batal dan harus diulang? Karena teman saya ada yang mengatakan demikian. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu, sama sekali tidak membatalkan wudhu. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menginjak atau menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Padahal kaidah fiqhiyyah yang disebutkan para ulama: الأصل بقاء ماكان على ماكان “Pada asalnya, hukum yang sudah ditetapkan itu tetap berlaku”. Maka jika seseorang sudah berwudhu, ia dihukumi suci dan tidak batal wudhu. Kecuali terdapat dalil yang menunjukkan batalnya wudhu. Sedangkan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Pembatal-pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil syar’i bukan akal atau perasaan.  Sehingga, menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu tidaklah membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb mengatakan: أما إذا كان الشخص متوضئا, ثم لصق تراب على قدمه بعد الوضوء, فهذا لا يؤثر على وضوئه “Adapun jika seseorang sudah berwudhu, lalu setelah itu tanah menempel di kakinya, ini tidak mempengaruhi keabsahan wudhu sama sekali.” (Fatwa Dewan Islamweb no.267847) Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah al-Muyassarah (1/117-126), Syaikh Husain al-Awaisyah hafizhahullah menyebutkan bahwa pembatal wudhu ada lima: Al-kharij min sabilain (keluar sesuatu dari qubul dan dubur), baik berupa air seni, air besar (feses), mani, madzi, darah istihadhah, atau kentut. Hilangnya akal. Menyentuh farji (kemaluan) dengan syahwat. Makan daging unta. Tidur nyenyak. Pembatal wudhu berbeda dengan qadzarah. Qadzarah artinya kotoran, yaitu semua yang dianggap kotor atau tidak bersih oleh manusia; lawan kata dari bersih. Tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia itu adalah najis, hadats, dan membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb.net menyatakan: فالقذر اسم لما تعافه النفس وتكرهه نجساً كان أو غير نجس، فالقذر إذن أعم من النجس مطلقاً. “Al-Qadzar adalah istilah untuk semua yang tidak disukai oleh jiwa, baik itu berupa najis ataupun bukan najis. Maka qadzar itu lebih umum dari najis.” (Fatwa Dewan Islamweb no. 132530) Najis, hadats, dan pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil-dalil. Adapun kotoran secara umum, statusnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci dalam pandangan syariat. Kaidah fiqih mengatakan: والأصل في أشيائنا الطهارة *** والأرض والثياب والحجارة “Hukum asal segala benda yang ada di (bumi) kita adalah suci, demikian juga tanah, pakaian, dan batu.” (Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah as-Sa’diyah) Maka kotoran dibagi menjadi dua: Kotoran yang bukan najis, semisal tanah, debu, noda makanan, noda cat, dan semisalnya. Statusnya asalnya suci dalam pandangan syariat, kecuali sudah tercampur dan didominasi oleh zat lain yang termasuk najis. Demikian juga terkena benda-benda tersebut bukan pembatal wudhu karena tidak terdapat dalil bahwa mereka dapat membatalkan wudhu. Maka tidak benar sikap sebagian orang yang merasa wudhunya batal karena ia menginjak tanah. Kotoran yang merupakan najis, yaitu kotoran yang ditetapkan syariat sebagai najis, seperti kotoran manusia (feses), air seni, madzi, bangkai, air liur anjing, babi, dll. Meski demikian, kotoran yang statusnya suci bukan najis dalam syariat, bukan berarti seorang muslim bermudah-mudahan terhadapnya. Di antara adab yang baik bagi seorang muslim adalah senantiasa menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Bukan adab yang baik jika seorang muslim berpenampilan kumal, kotor, pakaiannya penuh noda, rumahnya pun kotor, sampah berceceran, walaupun tidak terdapat najis. Ini bukan adab yang baik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no.91) Maka orang yang sudah berwudhu untuk shalat, lalu badannya terkena tanah, hendaknya tetap dibersihkan sebagai bentuk menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Adapun wudhunya tetap sah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bertanya, Sunnah Nabi Minum Air Selepas Bangun Tidur, Apakah Flek Coklat Boleh Puasa, Abdulah Taslim, Lafadz Akad Nikah Arab, Poso Weton Visited 458 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apakah benar bahwa orang yang sudah wudhu lalu kakinya kotor lagi karena menginjak tanah maka wudhunya batal dan harus diulang? Karena teman saya ada yang mengatakan demikian. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu, sama sekali tidak membatalkan wudhu. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menginjak atau menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Padahal kaidah fiqhiyyah yang disebutkan para ulama: الأصل بقاء ماكان على ماكان “Pada asalnya, hukum yang sudah ditetapkan itu tetap berlaku”. Maka jika seseorang sudah berwudhu, ia dihukumi suci dan tidak batal wudhu. Kecuali terdapat dalil yang menunjukkan batalnya wudhu. Sedangkan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Pembatal-pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil syar’i bukan akal atau perasaan.  Sehingga, menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu tidaklah membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb mengatakan: أما إذا كان الشخص متوضئا, ثم لصق تراب على قدمه بعد الوضوء, فهذا لا يؤثر على وضوئه “Adapun jika seseorang sudah berwudhu, lalu setelah itu tanah menempel di kakinya, ini tidak mempengaruhi keabsahan wudhu sama sekali.” (Fatwa Dewan Islamweb no.267847) Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah al-Muyassarah (1/117-126), Syaikh Husain al-Awaisyah hafizhahullah menyebutkan bahwa pembatal wudhu ada lima: Al-kharij min sabilain (keluar sesuatu dari qubul dan dubur), baik berupa air seni, air besar (feses), mani, madzi, darah istihadhah, atau kentut. Hilangnya akal. Menyentuh farji (kemaluan) dengan syahwat. Makan daging unta. Tidur nyenyak. Pembatal wudhu berbeda dengan qadzarah. Qadzarah artinya kotoran, yaitu semua yang dianggap kotor atau tidak bersih oleh manusia; lawan kata dari bersih. Tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia itu adalah najis, hadats, dan membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb.net menyatakan: فالقذر اسم لما تعافه النفس وتكرهه نجساً كان أو غير نجس، فالقذر إذن أعم من النجس مطلقاً. “Al-Qadzar adalah istilah untuk semua yang tidak disukai oleh jiwa, baik itu berupa najis ataupun bukan najis. Maka qadzar itu lebih umum dari najis.” (Fatwa Dewan Islamweb no. 132530) Najis, hadats, dan pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil-dalil. Adapun kotoran secara umum, statusnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci dalam pandangan syariat. Kaidah fiqih mengatakan: والأصل في أشيائنا الطهارة *** والأرض والثياب والحجارة “Hukum asal segala benda yang ada di (bumi) kita adalah suci, demikian juga tanah, pakaian, dan batu.” (Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah as-Sa’diyah) Maka kotoran dibagi menjadi dua: Kotoran yang bukan najis, semisal tanah, debu, noda makanan, noda cat, dan semisalnya. Statusnya asalnya suci dalam pandangan syariat, kecuali sudah tercampur dan didominasi oleh zat lain yang termasuk najis. Demikian juga terkena benda-benda tersebut bukan pembatal wudhu karena tidak terdapat dalil bahwa mereka dapat membatalkan wudhu. Maka tidak benar sikap sebagian orang yang merasa wudhunya batal karena ia menginjak tanah. Kotoran yang merupakan najis, yaitu kotoran yang ditetapkan syariat sebagai najis, seperti kotoran manusia (feses), air seni, madzi, bangkai, air liur anjing, babi, dll. Meski demikian, kotoran yang statusnya suci bukan najis dalam syariat, bukan berarti seorang muslim bermudah-mudahan terhadapnya. Di antara adab yang baik bagi seorang muslim adalah senantiasa menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Bukan adab yang baik jika seorang muslim berpenampilan kumal, kotor, pakaiannya penuh noda, rumahnya pun kotor, sampah berceceran, walaupun tidak terdapat najis. Ini bukan adab yang baik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no.91) Maka orang yang sudah berwudhu untuk shalat, lalu badannya terkena tanah, hendaknya tetap dibersihkan sebagai bentuk menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Adapun wudhunya tetap sah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bertanya, Sunnah Nabi Minum Air Selepas Bangun Tidur, Apakah Flek Coklat Boleh Puasa, Abdulah Taslim, Lafadz Akad Nikah Arab, Poso Weton Visited 458 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1378587964&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Apakah benar bahwa orang yang sudah wudhu lalu kakinya kotor lagi karena menginjak tanah maka wudhunya batal dan harus diulang? Karena teman saya ada yang mengatakan demikian. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu, sama sekali tidak membatalkan wudhu. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menginjak atau menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Padahal kaidah fiqhiyyah yang disebutkan para ulama: الأصل بقاء ماكان على ماكان “Pada asalnya, hukum yang sudah ditetapkan itu tetap berlaku”. Maka jika seseorang sudah berwudhu, ia dihukumi suci dan tidak batal wudhu. Kecuali terdapat dalil yang menunjukkan batalnya wudhu. Sedangkan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa menyentuh tanah adalah pembatal wudhu. Pembatal-pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil syar’i bukan akal atau perasaan.  Sehingga, menyentuh atau menginjak tanah setelah berwudhu tidaklah membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb mengatakan: أما إذا كان الشخص متوضئا, ثم لصق تراب على قدمه بعد الوضوء, فهذا لا يؤثر على وضوئه “Adapun jika seseorang sudah berwudhu, lalu setelah itu tanah menempel di kakinya, ini tidak mempengaruhi keabsahan wudhu sama sekali.” (Fatwa Dewan Islamweb no.267847) Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah al-Muyassarah (1/117-126), Syaikh Husain al-Awaisyah hafizhahullah menyebutkan bahwa pembatal wudhu ada lima: Al-kharij min sabilain (keluar sesuatu dari qubul dan dubur), baik berupa air seni, air besar (feses), mani, madzi, darah istihadhah, atau kentut. Hilangnya akal. Menyentuh farji (kemaluan) dengan syahwat. Makan daging unta. Tidur nyenyak. Pembatal wudhu berbeda dengan qadzarah. Qadzarah artinya kotoran, yaitu semua yang dianggap kotor atau tidak bersih oleh manusia; lawan kata dari bersih. Tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia itu adalah najis, hadats, dan membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Islamweb.net menyatakan: فالقذر اسم لما تعافه النفس وتكرهه نجساً كان أو غير نجس، فالقذر إذن أعم من النجس مطلقاً. “Al-Qadzar adalah istilah untuk semua yang tidak disukai oleh jiwa, baik itu berupa najis ataupun bukan najis. Maka qadzar itu lebih umum dari najis.” (Fatwa Dewan Islamweb no. 132530) Najis, hadats, dan pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil-dalil. Adapun kotoran secara umum, statusnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci dalam pandangan syariat. Kaidah fiqih mengatakan: والأصل في أشيائنا الطهارة *** والأرض والثياب والحجارة “Hukum asal segala benda yang ada di (bumi) kita adalah suci, demikian juga tanah, pakaian, dan batu.” (Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah as-Sa’diyah) Maka kotoran dibagi menjadi dua: Kotoran yang bukan najis, semisal tanah, debu, noda makanan, noda cat, dan semisalnya. Statusnya asalnya suci dalam pandangan syariat, kecuali sudah tercampur dan didominasi oleh zat lain yang termasuk najis. Demikian juga terkena benda-benda tersebut bukan pembatal wudhu karena tidak terdapat dalil bahwa mereka dapat membatalkan wudhu. Maka tidak benar sikap sebagian orang yang merasa wudhunya batal karena ia menginjak tanah. Kotoran yang merupakan najis, yaitu kotoran yang ditetapkan syariat sebagai najis, seperti kotoran manusia (feses), air seni, madzi, bangkai, air liur anjing, babi, dll. Meski demikian, kotoran yang statusnya suci bukan najis dalam syariat, bukan berarti seorang muslim bermudah-mudahan terhadapnya. Di antara adab yang baik bagi seorang muslim adalah senantiasa menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Bukan adab yang baik jika seorang muslim berpenampilan kumal, kotor, pakaiannya penuh noda, rumahnya pun kotor, sampah berceceran, walaupun tidak terdapat najis. Ini bukan adab yang baik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إنَّ اللهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no.91) Maka orang yang sudah berwudhu untuk shalat, lalu badannya terkena tanah, hendaknya tetap dibersihkan sebagai bentuk menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Adapun wudhunya tetap sah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Bertanya, Sunnah Nabi Minum Air Selepas Bangun Tidur, Apakah Flek Coklat Boleh Puasa, Abdulah Taslim, Lafadz Akad Nikah Arab, Poso Weton Visited 458 times, 1 visit(s) today Post Views: 585 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Berkorban untuk “Konten” demi Mengejar Popularitas

Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi orang terkenal. Berbagai cara pun dilakukannya. Mulai dari mempertontonkan kemampuannya, memposting rutinitas kesehariannya, hingga membuat konten adegan berbahaya. Ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, pernah ada dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari sisi kanan, satu lagi dari sisi kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Satu remaja selamat, sedangkan satunya meninggal tertabrak truk tersebut. Untuk apa itu semua? Hanya untuk konten, supaya terkenal. Daftar Isi sembunyikan 1. Berkorban untuk “konten” 2. Beratnya menjadi orang terkenal 3. Allah mencintai hamba yang khafiy 4. Terkenal di dunia vs. Terkenal di langit 5. Saat ketenaran tak berguna di hari hisab Berkorban untuk “konten”Tak jarang orang melakukan adegan berbahaya untuk dijadikan konten di media sosial miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian netizen sehingga ia menjadi viral. Ya, rasa takut dengan resiko dari perbuatannya itu telah terkalahkan dengan keinganannya untuk menjadi viral. Tak jarang yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Padahal dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan.عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ)حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا(Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh dhirar.”  (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi hadis ini memiliki jalur-jalur yang saling menguatkan)Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan dharar dan dhirar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dharar adalah kemudaratan yang terjadi tanpa niat, sedangkan dhirar adalah kemudaratan yang terjadi dengan niat (dalam keadaan mengetahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan keduanya (baik “dharar” ataupun “dhirar”), dan dhirar lebih parah karena kemudaratan tersebut terjadi dengan niat. (Ta’liqat ‘Ala Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 107)Baca Juga: Menyebarkan Rahasia Ranjang di Sosial Media dan Testimoni Obat KuatBeratnya menjadi orang terkenalTanpa disadari, sebenarnya menjadi orang terkenal itu berat. Orang yang dikenal banyak manusia akan lebih susah menjaga keikhlasannya dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa saja di mata manusia. Ketenaran seringkali membuai seseorang sehingga terlena dari mengingat Allah Ta’ala. Ibadah dan amal saleh yang dikerjakannya pun terkadang menjadi tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala semata, melainkan supaya diketahui orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan menjaga keikhlasan itu sangatlah berat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ“Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam, 1: 70)Basyr bin Al-Harits Al-Hafiy mengatakan,لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح. مااتقى الله من أحب الشهرة. لا يجد حلاوة الاخرة رجل يحب أن يعرفه الناس“Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar, kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah. Orang yang ingin tenar tidak akan mendapatkan kelezatan di akhirat.” (Ta’thirul Anfas, hal. 284)Allah mencintai hamba yang khafiyBukankah salah satu alasan seseorang ingin terkenal adalah supaya dilihat, dibanggakan, dianggap penting, dan dicintai manusia? Sudah selayaknya seorang hamba lebih menginginkan untuk dicintai Allah Ta’ala daripada dicintai manusia. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang tidak berambisi untuk menjadi orang terkenal. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sungguh, Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa, al-ghaniy (merasa cukup dari manusia dan bersandar hanya kepada Allah), al-khafiy (tersembunyi dan tidak suka mengusahakan diri untuk terkenal).” (HR. Muslim no. 2965 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan;الخفي: هو الذي لا يظهر نفسه، ولا يهتم أن يظهر عند الناس، أو يشار إليه بالبنان، أو يتحدث الناس عنه“Al-khafiy yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadush Shalihin, 3: 511)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaTerkenal di dunia vs. Terkenal di langitOrang terkenal di dunia akan ‘dilihat’ oleh manusia, dijadikan bahan perbincangan dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang. Hal itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut. Namun perlu diingat, keterkenalan di dunia tidak dibawa sampai akhirat nanti. Kalau selama di dunia mungkin orang-orang akan peduli dan dengan sukarela membantunya jika ada permasalahan, namun kelak di akhirat orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seorang raja di dunia dan seorang rakyat jelata akan diperlakukan sama, tergantung dengan amalannya di dunia, bukan tergantung keterkenalannya di dunia. Semua pujian dan like-nya di media sosial tak lagi berguna.Berbeda dengan orang yang terkenal di langit, yakni di kalangan malaikat. Orang yang terkenal di langit akan didoakan oleh malaikat. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa di antara orang yang terkenal di langit adalah orang yang senantiasa berzikir mengucapkan kalimat tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tahmid (Alhamdulillaah) (di riwayat lain disebutkan pula kalimat takbir (Allahu Akbar)). Dari an-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ مما تذكرون من جلالِ اللهِ : التَّسبيحَ والتهليلَ والتحميدَ ، ينعطِفْنَ حولَ العرشِ ،  لهن دويٍّ كدويِّ النحلِ ، تُذَكِّرُ بصاحبها ، أما يحبُّ أحدُكم أن يكونَ له – أو لا يزالُ له – من يُذكِّرُ به“Sesungguhnya di antara (kalimat zikir) yang kalian ucapkan dari keagungan Allah seperti tasbih, tahlil, dan tahmid akan berputar mengelilingi ‘Arsy, dan mengeluarkan dengungan seperti suara lebah karena menyebut-nyebut nama orang yang mengucapkan kalimat zikir tersebut. Tidakkah suka seorang di antara kalian membacanya, atau senantiasa akan disebut namanya oleh kalimat zikir itu?” (HR. Ibnu Majah no. 3809, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 3358 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1568)Tidakkah kita lebih bahagia saat nama kita tak asing dan harum di langit, dikenal Allah Ta’ala sehingga saat menghadap Allah Ta’ala kelak nama kita sudah dikenal?Saat ketenaran tak berguna di hari hisabKelak, manusia akan menghadap Allah Ta’ala sendiri, walaupun semasa di dunia ia menjadi orang terkenal dan selalu didampingi banyak orang.ما مِنكُم أحَدٌ إلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ليسَ بيْنَهُ وبيْنَهُ تُرْجُمانٌ، فَيَنْظُرُ أيْمَنَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ مِن عَمَلِهِ، ويَنْظُرُ أشْأَمَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ، ويَنْظُرُ بيْنَ يَدَيْهِ فلا يَرَى إلَّا النَّارَ تِلْقاءَ وجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali nanti akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu, ia memandang ke arah kanannya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cukuplah peringatan akan hari hisab mengingatkan kita bahwa ketenaran di dunia tidaklah membantunya kelak di hari hisab. Bahkan, ketenaran yang akhirnya membuatnya riya’ bisa menyebabkan ia menjadi orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih,“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.(Yang kedua) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) Al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) Al-Qur’an.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah Ta’ala melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”Allah Ta’ala  pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa istikamah, ikhlas melakukan amalan karena Allah Ta’ala.Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialBijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Kisah Imam Bukhari, Kisah Nabi Zulkarnain, Hadis Tentang Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak, Hukum Menabung EmasTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamAqidahaqidah islamkontenmedia sosialnasihat'nasihat islampopularitassosial media

Berkorban untuk “Konten” demi Mengejar Popularitas

Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi orang terkenal. Berbagai cara pun dilakukannya. Mulai dari mempertontonkan kemampuannya, memposting rutinitas kesehariannya, hingga membuat konten adegan berbahaya. Ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, pernah ada dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari sisi kanan, satu lagi dari sisi kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Satu remaja selamat, sedangkan satunya meninggal tertabrak truk tersebut. Untuk apa itu semua? Hanya untuk konten, supaya terkenal. Daftar Isi sembunyikan 1. Berkorban untuk “konten” 2. Beratnya menjadi orang terkenal 3. Allah mencintai hamba yang khafiy 4. Terkenal di dunia vs. Terkenal di langit 5. Saat ketenaran tak berguna di hari hisab Berkorban untuk “konten”Tak jarang orang melakukan adegan berbahaya untuk dijadikan konten di media sosial miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian netizen sehingga ia menjadi viral. Ya, rasa takut dengan resiko dari perbuatannya itu telah terkalahkan dengan keinganannya untuk menjadi viral. Tak jarang yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Padahal dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan.عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ)حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا(Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh dhirar.”  (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi hadis ini memiliki jalur-jalur yang saling menguatkan)Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan dharar dan dhirar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dharar adalah kemudaratan yang terjadi tanpa niat, sedangkan dhirar adalah kemudaratan yang terjadi dengan niat (dalam keadaan mengetahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan keduanya (baik “dharar” ataupun “dhirar”), dan dhirar lebih parah karena kemudaratan tersebut terjadi dengan niat. (Ta’liqat ‘Ala Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 107)Baca Juga: Menyebarkan Rahasia Ranjang di Sosial Media dan Testimoni Obat KuatBeratnya menjadi orang terkenalTanpa disadari, sebenarnya menjadi orang terkenal itu berat. Orang yang dikenal banyak manusia akan lebih susah menjaga keikhlasannya dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa saja di mata manusia. Ketenaran seringkali membuai seseorang sehingga terlena dari mengingat Allah Ta’ala. Ibadah dan amal saleh yang dikerjakannya pun terkadang menjadi tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala semata, melainkan supaya diketahui orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan menjaga keikhlasan itu sangatlah berat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ“Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam, 1: 70)Basyr bin Al-Harits Al-Hafiy mengatakan,لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح. مااتقى الله من أحب الشهرة. لا يجد حلاوة الاخرة رجل يحب أن يعرفه الناس“Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar, kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah. Orang yang ingin tenar tidak akan mendapatkan kelezatan di akhirat.” (Ta’thirul Anfas, hal. 284)Allah mencintai hamba yang khafiyBukankah salah satu alasan seseorang ingin terkenal adalah supaya dilihat, dibanggakan, dianggap penting, dan dicintai manusia? Sudah selayaknya seorang hamba lebih menginginkan untuk dicintai Allah Ta’ala daripada dicintai manusia. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang tidak berambisi untuk menjadi orang terkenal. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sungguh, Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa, al-ghaniy (merasa cukup dari manusia dan bersandar hanya kepada Allah), al-khafiy (tersembunyi dan tidak suka mengusahakan diri untuk terkenal).” (HR. Muslim no. 2965 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan;الخفي: هو الذي لا يظهر نفسه، ولا يهتم أن يظهر عند الناس، أو يشار إليه بالبنان، أو يتحدث الناس عنه“Al-khafiy yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadush Shalihin, 3: 511)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaTerkenal di dunia vs. Terkenal di langitOrang terkenal di dunia akan ‘dilihat’ oleh manusia, dijadikan bahan perbincangan dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang. Hal itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut. Namun perlu diingat, keterkenalan di dunia tidak dibawa sampai akhirat nanti. Kalau selama di dunia mungkin orang-orang akan peduli dan dengan sukarela membantunya jika ada permasalahan, namun kelak di akhirat orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seorang raja di dunia dan seorang rakyat jelata akan diperlakukan sama, tergantung dengan amalannya di dunia, bukan tergantung keterkenalannya di dunia. Semua pujian dan like-nya di media sosial tak lagi berguna.Berbeda dengan orang yang terkenal di langit, yakni di kalangan malaikat. Orang yang terkenal di langit akan didoakan oleh malaikat. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa di antara orang yang terkenal di langit adalah orang yang senantiasa berzikir mengucapkan kalimat tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tahmid (Alhamdulillaah) (di riwayat lain disebutkan pula kalimat takbir (Allahu Akbar)). Dari an-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ مما تذكرون من جلالِ اللهِ : التَّسبيحَ والتهليلَ والتحميدَ ، ينعطِفْنَ حولَ العرشِ ،  لهن دويٍّ كدويِّ النحلِ ، تُذَكِّرُ بصاحبها ، أما يحبُّ أحدُكم أن يكونَ له – أو لا يزالُ له – من يُذكِّرُ به“Sesungguhnya di antara (kalimat zikir) yang kalian ucapkan dari keagungan Allah seperti tasbih, tahlil, dan tahmid akan berputar mengelilingi ‘Arsy, dan mengeluarkan dengungan seperti suara lebah karena menyebut-nyebut nama orang yang mengucapkan kalimat zikir tersebut. Tidakkah suka seorang di antara kalian membacanya, atau senantiasa akan disebut namanya oleh kalimat zikir itu?” (HR. Ibnu Majah no. 3809, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 3358 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1568)Tidakkah kita lebih bahagia saat nama kita tak asing dan harum di langit, dikenal Allah Ta’ala sehingga saat menghadap Allah Ta’ala kelak nama kita sudah dikenal?Saat ketenaran tak berguna di hari hisabKelak, manusia akan menghadap Allah Ta’ala sendiri, walaupun semasa di dunia ia menjadi orang terkenal dan selalu didampingi banyak orang.ما مِنكُم أحَدٌ إلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ليسَ بيْنَهُ وبيْنَهُ تُرْجُمانٌ، فَيَنْظُرُ أيْمَنَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ مِن عَمَلِهِ، ويَنْظُرُ أشْأَمَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ، ويَنْظُرُ بيْنَ يَدَيْهِ فلا يَرَى إلَّا النَّارَ تِلْقاءَ وجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali nanti akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu, ia memandang ke arah kanannya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cukuplah peringatan akan hari hisab mengingatkan kita bahwa ketenaran di dunia tidaklah membantunya kelak di hari hisab. Bahkan, ketenaran yang akhirnya membuatnya riya’ bisa menyebabkan ia menjadi orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih,“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.(Yang kedua) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) Al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) Al-Qur’an.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah Ta’ala melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”Allah Ta’ala  pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa istikamah, ikhlas melakukan amalan karena Allah Ta’ala.Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialBijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Kisah Imam Bukhari, Kisah Nabi Zulkarnain, Hadis Tentang Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak, Hukum Menabung EmasTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamAqidahaqidah islamkontenmedia sosialnasihat'nasihat islampopularitassosial media
Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi orang terkenal. Berbagai cara pun dilakukannya. Mulai dari mempertontonkan kemampuannya, memposting rutinitas kesehariannya, hingga membuat konten adegan berbahaya. Ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, pernah ada dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari sisi kanan, satu lagi dari sisi kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Satu remaja selamat, sedangkan satunya meninggal tertabrak truk tersebut. Untuk apa itu semua? Hanya untuk konten, supaya terkenal. Daftar Isi sembunyikan 1. Berkorban untuk “konten” 2. Beratnya menjadi orang terkenal 3. Allah mencintai hamba yang khafiy 4. Terkenal di dunia vs. Terkenal di langit 5. Saat ketenaran tak berguna di hari hisab Berkorban untuk “konten”Tak jarang orang melakukan adegan berbahaya untuk dijadikan konten di media sosial miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian netizen sehingga ia menjadi viral. Ya, rasa takut dengan resiko dari perbuatannya itu telah terkalahkan dengan keinganannya untuk menjadi viral. Tak jarang yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Padahal dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan.عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ)حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا(Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh dhirar.”  (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi hadis ini memiliki jalur-jalur yang saling menguatkan)Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan dharar dan dhirar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dharar adalah kemudaratan yang terjadi tanpa niat, sedangkan dhirar adalah kemudaratan yang terjadi dengan niat (dalam keadaan mengetahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan keduanya (baik “dharar” ataupun “dhirar”), dan dhirar lebih parah karena kemudaratan tersebut terjadi dengan niat. (Ta’liqat ‘Ala Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 107)Baca Juga: Menyebarkan Rahasia Ranjang di Sosial Media dan Testimoni Obat KuatBeratnya menjadi orang terkenalTanpa disadari, sebenarnya menjadi orang terkenal itu berat. Orang yang dikenal banyak manusia akan lebih susah menjaga keikhlasannya dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa saja di mata manusia. Ketenaran seringkali membuai seseorang sehingga terlena dari mengingat Allah Ta’ala. Ibadah dan amal saleh yang dikerjakannya pun terkadang menjadi tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala semata, melainkan supaya diketahui orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan menjaga keikhlasan itu sangatlah berat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ“Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam, 1: 70)Basyr bin Al-Harits Al-Hafiy mengatakan,لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح. مااتقى الله من أحب الشهرة. لا يجد حلاوة الاخرة رجل يحب أن يعرفه الناس“Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar, kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah. Orang yang ingin tenar tidak akan mendapatkan kelezatan di akhirat.” (Ta’thirul Anfas, hal. 284)Allah mencintai hamba yang khafiyBukankah salah satu alasan seseorang ingin terkenal adalah supaya dilihat, dibanggakan, dianggap penting, dan dicintai manusia? Sudah selayaknya seorang hamba lebih menginginkan untuk dicintai Allah Ta’ala daripada dicintai manusia. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang tidak berambisi untuk menjadi orang terkenal. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sungguh, Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa, al-ghaniy (merasa cukup dari manusia dan bersandar hanya kepada Allah), al-khafiy (tersembunyi dan tidak suka mengusahakan diri untuk terkenal).” (HR. Muslim no. 2965 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan;الخفي: هو الذي لا يظهر نفسه، ولا يهتم أن يظهر عند الناس، أو يشار إليه بالبنان، أو يتحدث الناس عنه“Al-khafiy yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadush Shalihin, 3: 511)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaTerkenal di dunia vs. Terkenal di langitOrang terkenal di dunia akan ‘dilihat’ oleh manusia, dijadikan bahan perbincangan dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang. Hal itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut. Namun perlu diingat, keterkenalan di dunia tidak dibawa sampai akhirat nanti. Kalau selama di dunia mungkin orang-orang akan peduli dan dengan sukarela membantunya jika ada permasalahan, namun kelak di akhirat orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seorang raja di dunia dan seorang rakyat jelata akan diperlakukan sama, tergantung dengan amalannya di dunia, bukan tergantung keterkenalannya di dunia. Semua pujian dan like-nya di media sosial tak lagi berguna.Berbeda dengan orang yang terkenal di langit, yakni di kalangan malaikat. Orang yang terkenal di langit akan didoakan oleh malaikat. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa di antara orang yang terkenal di langit adalah orang yang senantiasa berzikir mengucapkan kalimat tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tahmid (Alhamdulillaah) (di riwayat lain disebutkan pula kalimat takbir (Allahu Akbar)). Dari an-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ مما تذكرون من جلالِ اللهِ : التَّسبيحَ والتهليلَ والتحميدَ ، ينعطِفْنَ حولَ العرشِ ،  لهن دويٍّ كدويِّ النحلِ ، تُذَكِّرُ بصاحبها ، أما يحبُّ أحدُكم أن يكونَ له – أو لا يزالُ له – من يُذكِّرُ به“Sesungguhnya di antara (kalimat zikir) yang kalian ucapkan dari keagungan Allah seperti tasbih, tahlil, dan tahmid akan berputar mengelilingi ‘Arsy, dan mengeluarkan dengungan seperti suara lebah karena menyebut-nyebut nama orang yang mengucapkan kalimat zikir tersebut. Tidakkah suka seorang di antara kalian membacanya, atau senantiasa akan disebut namanya oleh kalimat zikir itu?” (HR. Ibnu Majah no. 3809, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 3358 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1568)Tidakkah kita lebih bahagia saat nama kita tak asing dan harum di langit, dikenal Allah Ta’ala sehingga saat menghadap Allah Ta’ala kelak nama kita sudah dikenal?Saat ketenaran tak berguna di hari hisabKelak, manusia akan menghadap Allah Ta’ala sendiri, walaupun semasa di dunia ia menjadi orang terkenal dan selalu didampingi banyak orang.ما مِنكُم أحَدٌ إلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ليسَ بيْنَهُ وبيْنَهُ تُرْجُمانٌ، فَيَنْظُرُ أيْمَنَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ مِن عَمَلِهِ، ويَنْظُرُ أشْأَمَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ، ويَنْظُرُ بيْنَ يَدَيْهِ فلا يَرَى إلَّا النَّارَ تِلْقاءَ وجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali nanti akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu, ia memandang ke arah kanannya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cukuplah peringatan akan hari hisab mengingatkan kita bahwa ketenaran di dunia tidaklah membantunya kelak di hari hisab. Bahkan, ketenaran yang akhirnya membuatnya riya’ bisa menyebabkan ia menjadi orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih,“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.(Yang kedua) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) Al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) Al-Qur’an.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah Ta’ala melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”Allah Ta’ala  pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa istikamah, ikhlas melakukan amalan karena Allah Ta’ala.Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialBijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Kisah Imam Bukhari, Kisah Nabi Zulkarnain, Hadis Tentang Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak, Hukum Menabung EmasTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamAqidahaqidah islamkontenmedia sosialnasihat'nasihat islampopularitassosial media


Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi orang terkenal. Berbagai cara pun dilakukannya. Mulai dari mempertontonkan kemampuannya, memposting rutinitas kesehariannya, hingga membuat konten adegan berbahaya. Ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, pernah ada dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari sisi kanan, satu lagi dari sisi kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Satu remaja selamat, sedangkan satunya meninggal tertabrak truk tersebut. Untuk apa itu semua? Hanya untuk konten, supaya terkenal. Daftar Isi sembunyikan 1. Berkorban untuk “konten” 2. Beratnya menjadi orang terkenal 3. Allah mencintai hamba yang khafiy 4. Terkenal di dunia vs. Terkenal di langit 5. Saat ketenaran tak berguna di hari hisab Berkorban untuk “konten”Tak jarang orang melakukan adegan berbahaya untuk dijadikan konten di media sosial miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian netizen sehingga ia menjadi viral. Ya, rasa takut dengan resiko dari perbuatannya itu telah terkalahkan dengan keinganannya untuk menjadi viral. Tak jarang yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Padahal dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan.عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ)حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا(Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh dhirar.”  (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi hadis ini memiliki jalur-jalur yang saling menguatkan)Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan dharar dan dhirar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dharar adalah kemudaratan yang terjadi tanpa niat, sedangkan dhirar adalah kemudaratan yang terjadi dengan niat (dalam keadaan mengetahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan keduanya (baik “dharar” ataupun “dhirar”), dan dhirar lebih parah karena kemudaratan tersebut terjadi dengan niat. (Ta’liqat ‘Ala Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 107)Baca Juga: Menyebarkan Rahasia Ranjang di Sosial Media dan Testimoni Obat KuatBeratnya menjadi orang terkenalTanpa disadari, sebenarnya menjadi orang terkenal itu berat. Orang yang dikenal banyak manusia akan lebih susah menjaga keikhlasannya dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa saja di mata manusia. Ketenaran seringkali membuai seseorang sehingga terlena dari mengingat Allah Ta’ala. Ibadah dan amal saleh yang dikerjakannya pun terkadang menjadi tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala semata, melainkan supaya diketahui orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan menjaga keikhlasan itu sangatlah berat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ“Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam, 1: 70)Basyr bin Al-Harits Al-Hafiy mengatakan,لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح. مااتقى الله من أحب الشهرة. لا يجد حلاوة الاخرة رجل يحب أن يعرفه الناس“Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar, kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah. Orang yang ingin tenar tidak akan mendapatkan kelezatan di akhirat.” (Ta’thirul Anfas, hal. 284)Allah mencintai hamba yang khafiyBukankah salah satu alasan seseorang ingin terkenal adalah supaya dilihat, dibanggakan, dianggap penting, dan dicintai manusia? Sudah selayaknya seorang hamba lebih menginginkan untuk dicintai Allah Ta’ala daripada dicintai manusia. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang tidak berambisi untuk menjadi orang terkenal. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sungguh, Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa, al-ghaniy (merasa cukup dari manusia dan bersandar hanya kepada Allah), al-khafiy (tersembunyi dan tidak suka mengusahakan diri untuk terkenal).” (HR. Muslim no. 2965 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan;الخفي: هو الذي لا يظهر نفسه، ولا يهتم أن يظهر عند الناس، أو يشار إليه بالبنان، أو يتحدث الناس عنه“Al-khafiy yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadush Shalihin, 3: 511)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaTerkenal di dunia vs. Terkenal di langitOrang terkenal di dunia akan ‘dilihat’ oleh manusia, dijadikan bahan perbincangan dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang. Hal itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut. Namun perlu diingat, keterkenalan di dunia tidak dibawa sampai akhirat nanti. Kalau selama di dunia mungkin orang-orang akan peduli dan dengan sukarela membantunya jika ada permasalahan, namun kelak di akhirat orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seorang raja di dunia dan seorang rakyat jelata akan diperlakukan sama, tergantung dengan amalannya di dunia, bukan tergantung keterkenalannya di dunia. Semua pujian dan like-nya di media sosial tak lagi berguna.Berbeda dengan orang yang terkenal di langit, yakni di kalangan malaikat. Orang yang terkenal di langit akan didoakan oleh malaikat. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa di antara orang yang terkenal di langit adalah orang yang senantiasa berzikir mengucapkan kalimat tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tahmid (Alhamdulillaah) (di riwayat lain disebutkan pula kalimat takbir (Allahu Akbar)). Dari an-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ مما تذكرون من جلالِ اللهِ : التَّسبيحَ والتهليلَ والتحميدَ ، ينعطِفْنَ حولَ العرشِ ،  لهن دويٍّ كدويِّ النحلِ ، تُذَكِّرُ بصاحبها ، أما يحبُّ أحدُكم أن يكونَ له – أو لا يزالُ له – من يُذكِّرُ به“Sesungguhnya di antara (kalimat zikir) yang kalian ucapkan dari keagungan Allah seperti tasbih, tahlil, dan tahmid akan berputar mengelilingi ‘Arsy, dan mengeluarkan dengungan seperti suara lebah karena menyebut-nyebut nama orang yang mengucapkan kalimat zikir tersebut. Tidakkah suka seorang di antara kalian membacanya, atau senantiasa akan disebut namanya oleh kalimat zikir itu?” (HR. Ibnu Majah no. 3809, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 3358 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1568)Tidakkah kita lebih bahagia saat nama kita tak asing dan harum di langit, dikenal Allah Ta’ala sehingga saat menghadap Allah Ta’ala kelak nama kita sudah dikenal?Saat ketenaran tak berguna di hari hisabKelak, manusia akan menghadap Allah Ta’ala sendiri, walaupun semasa di dunia ia menjadi orang terkenal dan selalu didampingi banyak orang.ما مِنكُم أحَدٌ إلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ليسَ بيْنَهُ وبيْنَهُ تُرْجُمانٌ، فَيَنْظُرُ أيْمَنَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ مِن عَمَلِهِ، ويَنْظُرُ أشْأَمَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ، ويَنْظُرُ بيْنَ يَدَيْهِ فلا يَرَى إلَّا النَّارَ تِلْقاءَ وجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali nanti akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu, ia memandang ke arah kanannya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cukuplah peringatan akan hari hisab mengingatkan kita bahwa ketenaran di dunia tidaklah membantunya kelak di hari hisab. Bahkan, ketenaran yang akhirnya membuatnya riya’ bisa menyebabkan ia menjadi orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih,“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.(Yang kedua) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) Al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) Al-Qur’an.”Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah Ta’ala melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”Allah Ta’ala  pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa istikamah, ikhlas melakukan amalan karena Allah Ta’ala.Baca Juga:Menjaga Lisan di Era Media SosialBijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media Sosial***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Kisah Imam Bukhari, Kisah Nabi Zulkarnain, Hadis Tentang Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak, Hukum Menabung EmasTags: adabadab IslamAkhlakakhlak islamAqidahaqidah islamkontenmedia sosialnasihat'nasihat islampopularitassosial media

Bulughul Maram – Shalat: Inilah Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam

Inilah keutamaan shalat sunnah rawatib dalam sehari semalam. Semoga Allah berikan keberkahan waktu bagi kita untuk menjaganya.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam 2. Hadits 7/356 2.1. Hadits 8/357 2.2. Faedah hadits 2.3. Referensi: Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam Hadits 7/356 عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: «تَطَوُّعاً». Dari Ummu Habibah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat disebut, “Shalat tathawwu’, shalat sunnah”).  [HR. Muslim, no. 728, 101]   Hadits 8/357 وَلِلتِّرْمِذِي نَحْوُهُ، وَزَادَ: «أَربَعاً قَبلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ». Menurut riwayat At-Tirmidzi ada hadits yang semisal dengannya dengan tambahan, “Empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh.” [HR. Tirmidzi, no. 415 dan An-Nasai, 3:262]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan besarnya pahala bagi orang yang mengerjakan shalat sehari semalam sebanyak 12 rakaat. Amalan ini menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka, tentu dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram pula. Dua belas rakaat yang dimaksud adalah: empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh. Sebagaimana hal ini dirinci dalam hadits riwayat An-Nasai dan Tirmidzi. Itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ibnu ‘Umar. Maka di sini terlihat bergabunglah antara qaul (ucapan) dan fi’il (perbuatan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika 12 rakaat rawatib digabung dengan 11 rakaat shalat malam dan 17 rakaat shalat fardhu, maka dalam sehari dikerjakan 40 rakaat. Siapa yang menjaganya, maka dia memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak, ini tentu dianugerahkan pada yang cepat memenuhi panggilan dan membuka pintu ketika diketuk rutin setiap sehari semalam 40 kali. Shalat sunnah (tathawwu’) ada dua macam: yang disunnahkan berjamaah dan yang disunnahkan tidak berjamaah; ada yang masuk dalam shalat sunnah rawatib, ada yang bukan rawatib. Shalat rawatib ada dua macam: shalat rawatib muakkad dan shalat rawatib ghairu muakkad seperti empat rakaat qabliyah ‘Ashar.     Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Qadha Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:274-276. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:584-586.   —   Diselesaikan pada Selasa Sore, 6 Rabiul Akhir 1444 H, 1 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat rawatib shalat shubuh shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu' sunnah fajar waktu shalat shubuh

Bulughul Maram – Shalat: Inilah Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam

Inilah keutamaan shalat sunnah rawatib dalam sehari semalam. Semoga Allah berikan keberkahan waktu bagi kita untuk menjaganya.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam 2. Hadits 7/356 2.1. Hadits 8/357 2.2. Faedah hadits 2.3. Referensi: Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam Hadits 7/356 عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: «تَطَوُّعاً». Dari Ummu Habibah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat disebut, “Shalat tathawwu’, shalat sunnah”).  [HR. Muslim, no. 728, 101]   Hadits 8/357 وَلِلتِّرْمِذِي نَحْوُهُ، وَزَادَ: «أَربَعاً قَبلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ». Menurut riwayat At-Tirmidzi ada hadits yang semisal dengannya dengan tambahan, “Empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh.” [HR. Tirmidzi, no. 415 dan An-Nasai, 3:262]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan besarnya pahala bagi orang yang mengerjakan shalat sehari semalam sebanyak 12 rakaat. Amalan ini menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka, tentu dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram pula. Dua belas rakaat yang dimaksud adalah: empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh. Sebagaimana hal ini dirinci dalam hadits riwayat An-Nasai dan Tirmidzi. Itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ibnu ‘Umar. Maka di sini terlihat bergabunglah antara qaul (ucapan) dan fi’il (perbuatan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika 12 rakaat rawatib digabung dengan 11 rakaat shalat malam dan 17 rakaat shalat fardhu, maka dalam sehari dikerjakan 40 rakaat. Siapa yang menjaganya, maka dia memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak, ini tentu dianugerahkan pada yang cepat memenuhi panggilan dan membuka pintu ketika diketuk rutin setiap sehari semalam 40 kali. Shalat sunnah (tathawwu’) ada dua macam: yang disunnahkan berjamaah dan yang disunnahkan tidak berjamaah; ada yang masuk dalam shalat sunnah rawatib, ada yang bukan rawatib. Shalat rawatib ada dua macam: shalat rawatib muakkad dan shalat rawatib ghairu muakkad seperti empat rakaat qabliyah ‘Ashar.     Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Qadha Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:274-276. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:584-586.   —   Diselesaikan pada Selasa Sore, 6 Rabiul Akhir 1444 H, 1 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat rawatib shalat shubuh shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu' sunnah fajar waktu shalat shubuh
Inilah keutamaan shalat sunnah rawatib dalam sehari semalam. Semoga Allah berikan keberkahan waktu bagi kita untuk menjaganya.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam 2. Hadits 7/356 2.1. Hadits 8/357 2.2. Faedah hadits 2.3. Referensi: Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam Hadits 7/356 عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: «تَطَوُّعاً». Dari Ummu Habibah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat disebut, “Shalat tathawwu’, shalat sunnah”).  [HR. Muslim, no. 728, 101]   Hadits 8/357 وَلِلتِّرْمِذِي نَحْوُهُ، وَزَادَ: «أَربَعاً قَبلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ». Menurut riwayat At-Tirmidzi ada hadits yang semisal dengannya dengan tambahan, “Empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh.” [HR. Tirmidzi, no. 415 dan An-Nasai, 3:262]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan besarnya pahala bagi orang yang mengerjakan shalat sehari semalam sebanyak 12 rakaat. Amalan ini menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka, tentu dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram pula. Dua belas rakaat yang dimaksud adalah: empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh. Sebagaimana hal ini dirinci dalam hadits riwayat An-Nasai dan Tirmidzi. Itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ibnu ‘Umar. Maka di sini terlihat bergabunglah antara qaul (ucapan) dan fi’il (perbuatan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika 12 rakaat rawatib digabung dengan 11 rakaat shalat malam dan 17 rakaat shalat fardhu, maka dalam sehari dikerjakan 40 rakaat. Siapa yang menjaganya, maka dia memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak, ini tentu dianugerahkan pada yang cepat memenuhi panggilan dan membuka pintu ketika diketuk rutin setiap sehari semalam 40 kali. Shalat sunnah (tathawwu’) ada dua macam: yang disunnahkan berjamaah dan yang disunnahkan tidak berjamaah; ada yang masuk dalam shalat sunnah rawatib, ada yang bukan rawatib. Shalat rawatib ada dua macam: shalat rawatib muakkad dan shalat rawatib ghairu muakkad seperti empat rakaat qabliyah ‘Ashar.     Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Qadha Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:274-276. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:584-586.   —   Diselesaikan pada Selasa Sore, 6 Rabiul Akhir 1444 H, 1 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat rawatib shalat shubuh shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu' sunnah fajar waktu shalat shubuh


Inilah keutamaan shalat sunnah rawatib dalam sehari semalam. Semoga Allah berikan keberkahan waktu bagi kita untuk menjaganya.     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)   Daftar Isi tutup 1. Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam 2. Hadits 7/356 2.1. Hadits 8/357 2.2. Faedah hadits 2.3. Referensi: Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat dalam Sehari Semalam Hadits 7/356 عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: «تَطَوُّعاً». Dari Ummu Habibah, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim. Dalam suatu riwayat disebut, “Shalat tathawwu’, shalat sunnah”).  [HR. Muslim, no. 728, 101]   Hadits 8/357 وَلِلتِّرْمِذِي نَحْوُهُ، وَزَادَ: «أَربَعاً قَبلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ». Menurut riwayat At-Tirmidzi ada hadits yang semisal dengannya dengan tambahan, “Empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh.” [HR. Tirmidzi, no. 415 dan An-Nasai, 3:262]   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan besarnya pahala bagi orang yang mengerjakan shalat sehari semalam sebanyak 12 rakaat. Amalan ini menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka, tentu dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram pula. Dua belas rakaat yang dimaksud adalah: empat rakaat qabliyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Zhuhur, dua rakaat bakdiyah Maghrib, dua rakaat bakdiyah Isyak, dan dua rakaat qabliyah Shubuh. Sebagaimana hal ini dirinci dalam hadits riwayat An-Nasai dan Tirmidzi. Itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ibnu ‘Umar. Maka di sini terlihat bergabunglah antara qaul (ucapan) dan fi’il (perbuatan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika 12 rakaat rawatib digabung dengan 11 rakaat shalat malam dan 17 rakaat shalat fardhu, maka dalam sehari dikerjakan 40 rakaat. Siapa yang menjaganya, maka dia memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak, ini tentu dianugerahkan pada yang cepat memenuhi panggilan dan membuka pintu ketika diketuk rutin setiap sehari semalam 40 kali. Shalat sunnah (tathawwu’) ada dua macam: yang disunnahkan berjamaah dan yang disunnahkan tidak berjamaah; ada yang masuk dalam shalat sunnah rawatib, ada yang bukan rawatib. Shalat rawatib ada dua macam: shalat rawatib muakkad dan shalat rawatib ghairu muakkad seperti empat rakaat qabliyah ‘Ashar.     Baca juga: Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad Qadha Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:274-276. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:584-586.   —   Diselesaikan pada Selasa Sore, 6 Rabiul Akhir 1444 H, 1 November 2022 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat sunnah keutamaan shalat sunnah shalat rawatib shalat shubuh shalat sunnah shalat sunnah fajar shalat sunnah rawatib shalat tathawwu' sunnah fajar waktu shalat shubuh

Nama para Istri dan Anak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam

Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Pak ustadz, mohon ilmunya tentang nama-nama para istri dan anak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Agar kita lebih mengenal keluarga beliau. Terima kasih sebelumnya. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Semoga Allah ta’ala merahmati setiap muslim yang bersemangat untuk mengenal Nabinya shallallahu’alaihi wa sallam.  Adapun, nama istri-istri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang disepakati ulama adalah sebagai berikut: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha. ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anha. Hafshah binti Umar radhiyallahu’anha. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu’anha. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah al-Makhzumiyyah radhiyallahu’anha. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan radhiyallahu’anha. Juwairiyyah binti al-Harits radhiyallahu’anha, aslinya bernama Barrah, namun diganti oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjadi Juwairiyyah. Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha. Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab radhiyallahu’anha. Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha. Para ulama berbeda pendapat mengenai Raihanah binti Zaid an-Nadhriyyah, apakah termasuk istri ataukah budak Rasulullah. Namun sebelas nama-nama shahabiyah pada daftar nama sebelumnya di atas adalah yang sudah ma’ruf digolongkan ke dalam deretan istri-istri beliau. Adapun beberapa shahabiyah yang dilamar oleh Rasulullah namun belum dinikahi, serta para shahabiyah yang menawarkan diri kepada Rasulullah dan tidak dinikahi, yang semacam ini ada empat atau lima orang. Sebagian orang ada yang mengatakan mencapai tiga puluh orang wanita. Para ulama yang dikenal sebagai pakar sirah Rasulullah tidak ada yang mengenal pendapat ini (bahwa istri Nabi mencapai 30 orang). Bahkan para ulama mengingkari pendapat ini. Adapun yang ma’ruf adalah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada al-Juniyyah untuk menikahinya. Ketika dilamar oleh Rasulullah, al-Juniyyah malah berlindung dari Rasulullah (menyatakan keengganan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghindarinya dan tidak menikahinya. Demikian juga al-Kalbiyah. Juga shahabiyah yang antara pinggang dan tulang rusuk belakangnya ada bercak putih di kulitnya, tidak dinikahi oleh Rasulullah. Juga shahabiyah yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah lalu Rasulullah menikahkan dia dengan orang lain dengan mahar hafalan Qur’an. Inilah beberapa kisah yang dapat diterima riwayatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad (1/79) karya Ibnul Qayyim. Adapun anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, jumlah anak-anak beliau ada tujuh orang. Tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan. Berikut ini rinciannya: Al-Qasim, beliau adalah anak yang namanya dijadikan kun-yah oleh Nabi, sehingga Nabi juga dipanggil dengan nama Abul Qasim shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid al-Qurasyiah radhiyallahu’anha. Abdullah, beliau dijuluki juga dengan ath-Thahir dan ath-Thayyib. Ibunya juga Khadijah radhiyallahu’anha. Ibrahim, beliau adalah anak bungsu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Mariyah al-Qibthiyyah radhiyallahu’anha. Ketiga anak-anak lelaki beliau ini semuanya wafat ketika masih kecil, semoga Allah meridhai mereka semua. Zainab radhiyallahu’anha. Beliau adalah putri sulung Nabi. Di masa jahiliyah beliau menikah dengan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ dan memiliki anak bernama Umamah. Umamah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah radhiyallahu’anha. Ruqayyah radhiyallahu’anha. Beliau menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu. Ummu Kultsum radhiyallahu’anha. Beliau juga menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu, sehingga Utsman digelari dengan julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) karena menikah dengan dua putri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Fathimah radhiallahu’anha, beliau adalah anak yang paling dicintai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Semua anak-anak perempuan beliau ini lahir dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha. Sehingga semua anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha kecuali Ibrahim radhiyallahu’anhu, karena ia dari rahim Mariyah al-Qibthiyyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak memiliki keturunan lagi dari istri-istri beliau yang lain. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga memiliki anak-anak tiri, yaitu: Hind bin Abi Halah radhiallahu’anhu.  Al-Harits bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Ath-Thahir bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Halah bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Az-Zubair bin Abu Halah radhiallahu’anhu. Mereka berlima adalah putra dari Khadijah binti Khuwailid dari pernikahannya dengan Abu Halah bin Zurarah at-Taimi, suami pertama Khadijah. Zainab binti Abu Salamah radhiallahu’anhu. Putri dari Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah dari pernikahannya dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad radhiallahu’anhu. Ini yang kami ketahui dari nama-nama istri dan putra-putri Nabi shallallahu’alahi wa sallam. Wallahu a’lam bis shawab. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: Dewan Fatwa Islamweb no. 25481 dan 1699, dengan beberapa penambahan. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Pertanyaan Tentang Zakat, Puasa Tanpa Mandi Wajib, Arti Mimpi Lagi Sholat, Menelan Dahak Saat Puasa, Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal Bogor, Web Paytren Visited 3,040 times, 1 visit(s) today Post Views: 670 QRIS donasi Yufid

Nama para Istri dan Anak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam

Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Pak ustadz, mohon ilmunya tentang nama-nama para istri dan anak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Agar kita lebih mengenal keluarga beliau. Terima kasih sebelumnya. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Semoga Allah ta’ala merahmati setiap muslim yang bersemangat untuk mengenal Nabinya shallallahu’alaihi wa sallam.  Adapun, nama istri-istri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang disepakati ulama adalah sebagai berikut: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha. ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anha. Hafshah binti Umar radhiyallahu’anha. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu’anha. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah al-Makhzumiyyah radhiyallahu’anha. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan radhiyallahu’anha. Juwairiyyah binti al-Harits radhiyallahu’anha, aslinya bernama Barrah, namun diganti oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjadi Juwairiyyah. Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha. Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab radhiyallahu’anha. Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha. Para ulama berbeda pendapat mengenai Raihanah binti Zaid an-Nadhriyyah, apakah termasuk istri ataukah budak Rasulullah. Namun sebelas nama-nama shahabiyah pada daftar nama sebelumnya di atas adalah yang sudah ma’ruf digolongkan ke dalam deretan istri-istri beliau. Adapun beberapa shahabiyah yang dilamar oleh Rasulullah namun belum dinikahi, serta para shahabiyah yang menawarkan diri kepada Rasulullah dan tidak dinikahi, yang semacam ini ada empat atau lima orang. Sebagian orang ada yang mengatakan mencapai tiga puluh orang wanita. Para ulama yang dikenal sebagai pakar sirah Rasulullah tidak ada yang mengenal pendapat ini (bahwa istri Nabi mencapai 30 orang). Bahkan para ulama mengingkari pendapat ini. Adapun yang ma’ruf adalah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada al-Juniyyah untuk menikahinya. Ketika dilamar oleh Rasulullah, al-Juniyyah malah berlindung dari Rasulullah (menyatakan keengganan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghindarinya dan tidak menikahinya. Demikian juga al-Kalbiyah. Juga shahabiyah yang antara pinggang dan tulang rusuk belakangnya ada bercak putih di kulitnya, tidak dinikahi oleh Rasulullah. Juga shahabiyah yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah lalu Rasulullah menikahkan dia dengan orang lain dengan mahar hafalan Qur’an. Inilah beberapa kisah yang dapat diterima riwayatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad (1/79) karya Ibnul Qayyim. Adapun anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, jumlah anak-anak beliau ada tujuh orang. Tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan. Berikut ini rinciannya: Al-Qasim, beliau adalah anak yang namanya dijadikan kun-yah oleh Nabi, sehingga Nabi juga dipanggil dengan nama Abul Qasim shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid al-Qurasyiah radhiyallahu’anha. Abdullah, beliau dijuluki juga dengan ath-Thahir dan ath-Thayyib. Ibunya juga Khadijah radhiyallahu’anha. Ibrahim, beliau adalah anak bungsu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Mariyah al-Qibthiyyah radhiyallahu’anha. Ketiga anak-anak lelaki beliau ini semuanya wafat ketika masih kecil, semoga Allah meridhai mereka semua. Zainab radhiyallahu’anha. Beliau adalah putri sulung Nabi. Di masa jahiliyah beliau menikah dengan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ dan memiliki anak bernama Umamah. Umamah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah radhiyallahu’anha. Ruqayyah radhiyallahu’anha. Beliau menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu. Ummu Kultsum radhiyallahu’anha. Beliau juga menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu, sehingga Utsman digelari dengan julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) karena menikah dengan dua putri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Fathimah radhiallahu’anha, beliau adalah anak yang paling dicintai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Semua anak-anak perempuan beliau ini lahir dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha. Sehingga semua anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha kecuali Ibrahim radhiyallahu’anhu, karena ia dari rahim Mariyah al-Qibthiyyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak memiliki keturunan lagi dari istri-istri beliau yang lain. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga memiliki anak-anak tiri, yaitu: Hind bin Abi Halah radhiallahu’anhu.  Al-Harits bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Ath-Thahir bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Halah bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Az-Zubair bin Abu Halah radhiallahu’anhu. Mereka berlima adalah putra dari Khadijah binti Khuwailid dari pernikahannya dengan Abu Halah bin Zurarah at-Taimi, suami pertama Khadijah. Zainab binti Abu Salamah radhiallahu’anhu. Putri dari Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah dari pernikahannya dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad radhiallahu’anhu. Ini yang kami ketahui dari nama-nama istri dan putra-putri Nabi shallallahu’alahi wa sallam. Wallahu a’lam bis shawab. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: Dewan Fatwa Islamweb no. 25481 dan 1699, dengan beberapa penambahan. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Pertanyaan Tentang Zakat, Puasa Tanpa Mandi Wajib, Arti Mimpi Lagi Sholat, Menelan Dahak Saat Puasa, Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal Bogor, Web Paytren Visited 3,040 times, 1 visit(s) today Post Views: 670 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Pak ustadz, mohon ilmunya tentang nama-nama para istri dan anak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Agar kita lebih mengenal keluarga beliau. Terima kasih sebelumnya. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Semoga Allah ta’ala merahmati setiap muslim yang bersemangat untuk mengenal Nabinya shallallahu’alaihi wa sallam.  Adapun, nama istri-istri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang disepakati ulama adalah sebagai berikut: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha. ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anha. Hafshah binti Umar radhiyallahu’anha. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu’anha. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah al-Makhzumiyyah radhiyallahu’anha. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan radhiyallahu’anha. Juwairiyyah binti al-Harits radhiyallahu’anha, aslinya bernama Barrah, namun diganti oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjadi Juwairiyyah. Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha. Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab radhiyallahu’anha. Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha. Para ulama berbeda pendapat mengenai Raihanah binti Zaid an-Nadhriyyah, apakah termasuk istri ataukah budak Rasulullah. Namun sebelas nama-nama shahabiyah pada daftar nama sebelumnya di atas adalah yang sudah ma’ruf digolongkan ke dalam deretan istri-istri beliau. Adapun beberapa shahabiyah yang dilamar oleh Rasulullah namun belum dinikahi, serta para shahabiyah yang menawarkan diri kepada Rasulullah dan tidak dinikahi, yang semacam ini ada empat atau lima orang. Sebagian orang ada yang mengatakan mencapai tiga puluh orang wanita. Para ulama yang dikenal sebagai pakar sirah Rasulullah tidak ada yang mengenal pendapat ini (bahwa istri Nabi mencapai 30 orang). Bahkan para ulama mengingkari pendapat ini. Adapun yang ma’ruf adalah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada al-Juniyyah untuk menikahinya. Ketika dilamar oleh Rasulullah, al-Juniyyah malah berlindung dari Rasulullah (menyatakan keengganan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghindarinya dan tidak menikahinya. Demikian juga al-Kalbiyah. Juga shahabiyah yang antara pinggang dan tulang rusuk belakangnya ada bercak putih di kulitnya, tidak dinikahi oleh Rasulullah. Juga shahabiyah yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah lalu Rasulullah menikahkan dia dengan orang lain dengan mahar hafalan Qur’an. Inilah beberapa kisah yang dapat diterima riwayatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad (1/79) karya Ibnul Qayyim. Adapun anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, jumlah anak-anak beliau ada tujuh orang. Tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan. Berikut ini rinciannya: Al-Qasim, beliau adalah anak yang namanya dijadikan kun-yah oleh Nabi, sehingga Nabi juga dipanggil dengan nama Abul Qasim shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid al-Qurasyiah radhiyallahu’anha. Abdullah, beliau dijuluki juga dengan ath-Thahir dan ath-Thayyib. Ibunya juga Khadijah radhiyallahu’anha. Ibrahim, beliau adalah anak bungsu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Mariyah al-Qibthiyyah radhiyallahu’anha. Ketiga anak-anak lelaki beliau ini semuanya wafat ketika masih kecil, semoga Allah meridhai mereka semua. Zainab radhiyallahu’anha. Beliau adalah putri sulung Nabi. Di masa jahiliyah beliau menikah dengan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ dan memiliki anak bernama Umamah. Umamah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah radhiyallahu’anha. Ruqayyah radhiyallahu’anha. Beliau menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu. Ummu Kultsum radhiyallahu’anha. Beliau juga menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu, sehingga Utsman digelari dengan julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) karena menikah dengan dua putri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Fathimah radhiallahu’anha, beliau adalah anak yang paling dicintai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Semua anak-anak perempuan beliau ini lahir dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha. Sehingga semua anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha kecuali Ibrahim radhiyallahu’anhu, karena ia dari rahim Mariyah al-Qibthiyyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak memiliki keturunan lagi dari istri-istri beliau yang lain. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga memiliki anak-anak tiri, yaitu: Hind bin Abi Halah radhiallahu’anhu.  Al-Harits bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Ath-Thahir bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Halah bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Az-Zubair bin Abu Halah radhiallahu’anhu. Mereka berlima adalah putra dari Khadijah binti Khuwailid dari pernikahannya dengan Abu Halah bin Zurarah at-Taimi, suami pertama Khadijah. Zainab binti Abu Salamah radhiallahu’anhu. Putri dari Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah dari pernikahannya dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad radhiallahu’anhu. Ini yang kami ketahui dari nama-nama istri dan putra-putri Nabi shallallahu’alahi wa sallam. Wallahu a’lam bis shawab. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: Dewan Fatwa Islamweb no. 25481 dan 1699, dengan beberapa penambahan. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Pertanyaan Tentang Zakat, Puasa Tanpa Mandi Wajib, Arti Mimpi Lagi Sholat, Menelan Dahak Saat Puasa, Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal Bogor, Web Paytren Visited 3,040 times, 1 visit(s) today Post Views: 670 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1378587661&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Pak ustadz, mohon ilmunya tentang nama-nama para istri dan anak Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Agar kita lebih mengenal keluarga beliau. Terima kasih sebelumnya. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Semoga Allah ta’ala merahmati setiap muslim yang bersemangat untuk mengenal Nabinya shallallahu’alaihi wa sallam.  Adapun, nama istri-istri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang disepakati ulama adalah sebagai berikut: Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha. ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anha. Hafshah binti Umar radhiyallahu’anha. Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu’anha. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah al-Makhzumiyyah radhiyallahu’anha. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan radhiyallahu’anha. Juwairiyyah binti al-Harits radhiyallahu’anha, aslinya bernama Barrah, namun diganti oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjadi Juwairiyyah. Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha. Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab radhiyallahu’anha. Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha. Para ulama berbeda pendapat mengenai Raihanah binti Zaid an-Nadhriyyah, apakah termasuk istri ataukah budak Rasulullah. Namun sebelas nama-nama shahabiyah pada daftar nama sebelumnya di atas adalah yang sudah ma’ruf digolongkan ke dalam deretan istri-istri beliau. Adapun beberapa shahabiyah yang dilamar oleh Rasulullah namun belum dinikahi, serta para shahabiyah yang menawarkan diri kepada Rasulullah dan tidak dinikahi, yang semacam ini ada empat atau lima orang. Sebagian orang ada yang mengatakan mencapai tiga puluh orang wanita. Para ulama yang dikenal sebagai pakar sirah Rasulullah tidak ada yang mengenal pendapat ini (bahwa istri Nabi mencapai 30 orang). Bahkan para ulama mengingkari pendapat ini. Adapun yang ma’ruf adalah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada al-Juniyyah untuk menikahinya. Ketika dilamar oleh Rasulullah, al-Juniyyah malah berlindung dari Rasulullah (menyatakan keengganan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghindarinya dan tidak menikahinya. Demikian juga al-Kalbiyah. Juga shahabiyah yang antara pinggang dan tulang rusuk belakangnya ada bercak putih di kulitnya, tidak dinikahi oleh Rasulullah. Juga shahabiyah yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah lalu Rasulullah menikahkan dia dengan orang lain dengan mahar hafalan Qur’an. Inilah beberapa kisah yang dapat diterima riwayatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad (1/79) karya Ibnul Qayyim. Adapun anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, jumlah anak-anak beliau ada tujuh orang. Tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan. Berikut ini rinciannya: Al-Qasim, beliau adalah anak yang namanya dijadikan kun-yah oleh Nabi, sehingga Nabi juga dipanggil dengan nama Abul Qasim shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid al-Qurasyiah radhiyallahu’anha. Abdullah, beliau dijuluki juga dengan ath-Thahir dan ath-Thayyib. Ibunya juga Khadijah radhiyallahu’anha. Ibrahim, beliau adalah anak bungsu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Ibunya adalah Mariyah al-Qibthiyyah radhiyallahu’anha. Ketiga anak-anak lelaki beliau ini semuanya wafat ketika masih kecil, semoga Allah meridhai mereka semua. Zainab radhiyallahu’anha. Beliau adalah putri sulung Nabi. Di masa jahiliyah beliau menikah dengan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ dan memiliki anak bernama Umamah. Umamah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah radhiyallahu’anha. Ruqayyah radhiyallahu’anha. Beliau menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu. Ummu Kultsum radhiyallahu’anha. Beliau juga menikah dengan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu, sehingga Utsman digelari dengan julukan Dzun Nurraini (pemilik dua cahaya) karena menikah dengan dua putri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Fathimah radhiallahu’anha, beliau adalah anak yang paling dicintai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Semua anak-anak perempuan beliau ini lahir dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha. Sehingga semua anak-anak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dari rahim Khadijah radhiyallahu’anha kecuali Ibrahim radhiyallahu’anhu, karena ia dari rahim Mariyah al-Qibthiyyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak memiliki keturunan lagi dari istri-istri beliau yang lain. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga memiliki anak-anak tiri, yaitu: Hind bin Abi Halah radhiallahu’anhu.  Al-Harits bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Ath-Thahir bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Halah bin Abi Halah radhiallahu’anhu. Az-Zubair bin Abu Halah radhiallahu’anhu. Mereka berlima adalah putra dari Khadijah binti Khuwailid dari pernikahannya dengan Abu Halah bin Zurarah at-Taimi, suami pertama Khadijah. Zainab binti Abu Salamah radhiallahu’anhu. Putri dari Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah dari pernikahannya dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad radhiallahu’anhu. Ini yang kami ketahui dari nama-nama istri dan putra-putri Nabi shallallahu’alahi wa sallam. Wallahu a’lam bis shawab. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: Dewan Fatwa Islamweb no. 25481 dan 1699, dengan beberapa penambahan. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Pertanyaan Tentang Zakat, Puasa Tanpa Mandi Wajib, Arti Mimpi Lagi Sholat, Menelan Dahak Saat Puasa, Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal Bogor, Web Paytren Visited 3,040 times, 1 visit(s) today Post Views: 670 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Pembagian Tauhid Menurut Para Ulama Ahlusunah (Bag. 2)

Daftar Isi sembunyikan 1. Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap Allah 1.1. Tauhid al-’ilmi 1.2. Tauhid al-’amali 2. Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) 2.1. Tauhid al-qaul al-’ilmi 2.2. Tauhid al-’amali al-iradi 3. Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H) 3.1. Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat 3.2. Tauhid al-mathlab wa al-qashdi 4. Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H) 4.1. Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi 4.2. Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap AllahSetelah dipaparkan pembagian tauhid menjadi tiga jenis, maka di antara para ulama ada yang membagi tauhid ini ke dalam dua jenis saja dengan menimbang sudut pandang kewajiban bertauhid seorang hamba terhadap Allah. Para ulama ahlusunah pada abad yang lebih lalu, yaitu sekitar abad 7 H, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, lebih banyak membagi tauhid ini kepada dua jenis saja. Pembagian ke dalam dua jenis tauhid ini akan berkumpul pada klasifikasi berikut, yaitu, 1) tauhid al-‘ilmi dan 2) tauhid al-‘amali. Adapun penjelasan definisi ringkas dari kedua jenis tauhid tersebut sebagai berikut.Tauhid al-’ilmiTauhid al-’ilmi adalah tauhid yang yang berisi kewajiban dari syariat kepada mukalaf untuk berilmu dan beriman dengan makna-makna rububiyyah dan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, dapat disimpulkan bahwa pada tauhid jenis ini berkumpul dua jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.Tauhid al-’amaliTauhid al-’amali adalah tauhid yang berisi kewajiban syariat terhadap mukalaf untuk beramal dengan beribadah kepada Allah dan larangan untuk berbuat syirik. (Al-Fawaid Al-Masturah, 1: 52-53)Setelah masa beliau berdua sampai zaman kontemporer ini, terdapat para ulama yang membagi tauhid ke dalam dua jenis, tetapi memiliki penamaan yang berbeda dengan beliau berdua. Berikut rincian pembagian tauhid menjadi dua jenis dengan sudut pandang kewajiban hamba terhadap Allah menurut berbagai pandangan para ulama.Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H)Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam satu kitab yang beliau tulis, yaitu Ash-Shafadiyah, menerangkan tentang tauhid ilahiah itu ada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-qaul al-’amali dan b) tauhid al-’amali al-iradi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,والتوحيد الذي جاءتْ به الرسل ونزلتْ به الكُتب هو توحيد الإلهية، وهو أن يعبد الله وحده لَا شريكَ له، وهو متضَمِّنٌ لشيئينِ، أحدهما: القول العلْميّ ، وهو إثباتُ صفاتِ الكمالِ، وتنزِيهه عن النقائصِ، وتنزيهه عن أنْ يمَاثِلَه أحدٌ في شيئ من صفاته، فلا يوصَفُ بنقْصٍ بحالٍ، ولا يماثله أحدٌ في الكمال، كما قال تعالى: (قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝  لَمۡ یَلِدۡ وَلَمۡ یُولَدۡ ۝  وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)، فالصّمدية تُثبت له الكمال، والأحدية تنفي مماثلَه شيئ له في ذلك، كما بسطنا ذلك في غير هذا الموضع.والتوحيد العَملي الإرادي أن يعبد إلا إياه، فلا يدعو إلا إياه ولا يتوكل إلّا عليه، ولا يخاف إلا إياه، ولا يرجو إلا أياه، ويكون الدين كله لله، قال تعالى: (قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ ۝  لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ). وهذا التوحيد يتضمنُ أنّ اللهَ خالق كلِّ شيئٍ  وربه ومليكه لا شريك له في المُلكِ.“Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan yang terkandung dalam kitab-kitab Allah adalah tauhid ilahiah. Tauhid ilahiah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Tauhid ilahiah mengandung dua unsur, yaitu:Baca Juga: Tauhid dan KecintaanTauhid al-qaul al-’ilmiTauhid ini memiliki makna penetapan bagi Allah sifat-sifat yang sempurna, menyucikan Allah dari kekurangan-kekurangan, dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupai atau menyaingi-Nya dalam sifat-sifat Allah. Maka dari itu, Allah tidak disifati sedikit pun dengan kekurangan dan tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah (Muhammad), bahwa Allah adalah Esa. Allah adalah Zat tempat bergantung seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan Dia (Allah) tidak ada sesuatu apa pun yang sebanding (semisal) dengan-Nya. Maka, sifat Ash-Shamadiyah yang dimiliki Allah mengandung makna bahwa Allah memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Sementara sifat Al-Ahadiyah menegasikan keserupaan sesuatu apa pun terhadap Allah dalam aspek kesempurnaan-Nya sebagaimana yang telah kami jelaskan pada tempat lain.Tauhid al-’amali al-iradiTauhid ini memiliki makna bahwa seorang hamba tidak mengerjakan ibadah, kecuali hanya untuk Allah semata.  Maka, nantinya ia tidak akan berdoa kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak berharap kecuali hanya pada Allah. Sehingga seluruh agamanya (ibadahnya) hanya untuk Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan (sekali-kali) menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Tauhid jenis ini terkandung makna bahwa Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Allah adalah Tuhan seluruh alam, Sang Pemilik jagad semesta, dan tidak ada suatu serikat pun yang bersama Allah.” (Ash-Shafadiyah, 2: 228-229)Baca Juga: Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H)Ibnul Qayyim rahimahullah juga memiliki pembagian tauhid yang hampir sama dengan gurunya (Ibnu Taimiyyah) dengan membagi tauhid menjadi dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan b) tauhid al-mathlab wa al-qashdu. Pada kesempatan yang sama, Ibnul Qayyim juga menyebutkan nama lain dari dua jenis tauhid tersebut. Ibnul Qayyim menyampaikan pembagian tauhid ini dalam kitab Madarijus Salikin ketika membahas pembagian tauhid yang sebelumnya dipaparkan pembagian tauhid menurut berbagai firqah dalam Islam maupun luar Islam. Adapun beliau rahimahullah berkata,وأمّا التوحيدُ الذي دعتْ رسل الله، نزلتْ بهِ كُتُبُ فوَرَاءَ ذلك كلِّهِ وهو نوعان، تَوْحيدٌ في المعْرفة والإثْباتِ، وتوحيدٌ في المطْلبِ والقصْدفالأوّل: هو حقيقةُ ذاتِ الرّبِّ تعالى، وأسماءه، وصفاته، وأفْعالِه، وعُلُوِّه، فوق سمواتِهِ على عرْشِهِ، وتكلُّمِهِ بِكُتُبِه، وتكْلميهِ لِمنْ شاء منْ عِبادهِ، وإثْبات عمومِ قضاءِهِ، وقَدَره، وحُكْمه، وقد أفصح القرآنُ عن هذا النوعِ جِدَّ الإفصَاحِكما في أوّل سورةِ الحديد، وسورة طه، وآخر سورة الحشْر، وأوَّلُ سورة (تنزيل) السجدة، وأوّل سورة آل عمران، وسورة الإخلاصِ بكمالها، وغير ذلك.النوع الثاني: مِثْلُ ما تضمّنتْهُ سورة: قل يأيها الكافرون)، وقوله: (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)، الآية وأوَّلُ سورة سورة (تنزيل الكتاب) وآخِرِها، وأوَّلِ سورة يونس ووسطِها وآخِرِها، وأوّلِ سورةِ الأعراف وآخِرُها، وجُمْلة سورة الأنعامِ وغالبِ سور القرآنِ، بل كلُّ سورةٍ في القرآن فهي متضمنة لنَوعي التوحيدِ.بل نقول قولًا كليًا: إنّ كلَّ آية في القرآن فهي متضمةٌ للتوحيدِ، شاهدةٌ بِهِ، داعيةٌ إليهِ، فإنّ القرآنَ: إمّا خَبَرٌ عن اللهِ، وأسمائه، وصفاته، وأفعالِهِ، فهو التوحيد العلميالخبري، وإمّا دعوةٌ إلى عبادته وحده لا شريك له، وخَلْعُ كلّ ما يُعبدُ من دونِهِ، فهو التوحيد الإراديّ الطلبي، وإمّا أمرٌ ونهيٌ، وإلْزامٌ بطاعته في نهيِهِ وأمره، فهي حقوق التوحيد ومكمَّلاته، وإمّا خبرٌ عَنْ كرامة الله لِأهل توحيده وطاعَتِهِ، وما فعل بهم في الدنيا وما يُكرمُهم به في الآخرة، فهو جزاء توحيده، وإمّا خبر عن أهل الشِرْك، وما فعل بهم في الدنيا من النكال، وما يَحُلُّ بهم في العُقبى من العذاب، فهو خبر عمّنْ خرج عن حكم التوحيد.“Adapun tauhid yang didakwahkan oleh para rasul Allah dan yang dikandung oleh seluruh kitab-kitab Allah terdapat dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan 2) tauhid al-mathlab wa al-qashdu.Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbatTauhid yang pertama ini berisi tentang pembahasan hakikat Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian Allah di atas langit-langit, yaitu di atas ‘Arsy-Nya, perkataan-perkataan Allah dalam semua kitab-kitab-Nya, pembicaraan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, penetapan atas seluruh kekuasaan, takdir, dan hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang tauhid ini dengan sangat fasih. Bukti-bukti tauhid ini tergambar pada awal surah Al-Hadid, surah Thaha, akhir dari surah Al-Hasyr, awal dari surah As-Sajdah, akhir surah Ali-Imran, surah Al-Ikhlas seluruhnya, dan lain-lain.Tauhid al-mathlab wa al-qashdiTauhid ini adalah semisal yang dikandung dalam surah Al-Kafirun, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir ,.. ”, juga firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), wahai ahlul kitab, marilah kita sama-sama menuju satu seruan (tauhid) yang sama antara kami dengan kalian..”, ayat awal dalam surah Az-Zumar dan bagian akhirnya, awal surah Yunus, bagian tengah, dan akhirnya, awal surah Al-A’raf dan bagian akhirnya, sebagian dari surah Al-An’am, dan kebanyakan dari kandungan surah-surah dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an berisi dua jenis tauhid di atas.Maka, dapat kita disimpulkan secara global, bahwasanya setiap ayat dalam Al-Qur’an pasti mengandung, menjadi saksi kebenaran ajaran tauhid, serta mengajak untuk bertauhid. Hal ini karena Al-Qur’an isinya tidak lepas dari beberapa hal berikut, yaitu:Pertama, kabar terkait Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tauhid (jenis pertama) yaitu tauhid al-’ilmi wa al-khabari.Kedua, perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa dan tidak menyekutukan-Nya, serta membebaskan dari seluruh peribadahan kepada selain Allah. Tauhid ini (jenis kedua) disebut dengan tauhid al-iradi ath-thalabi.Ketiga, syariat perintah dan larangan. Isi dari syariat ini adalah kewajiban menaati Allah dalam perintah dan larangan-Nya. Dua hal ini adalah hak-hak tauhid (yang harus ditunaikan hamba) dan penyempurna tauhid.Keempat, kabar berupa karamah Allah kepada ahli tauhid dan ahli ketaatan, apa yang diperbuat oleh mereka di dunia, dan akhir yang akan mereka dapat berupa pemuliaan dari Allah di akhirat.Kelima, kabar tentang ahli kesyirikan, apa yang mereka perbuat di dunia dari kezaliman, dan akhir yang akan menimpa mereka berupa azab. Isi yang kelima ini adalah kabar dari orang-orang yang telah keluar dari tauhid.” (Madariju As-Salikin baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in/1099)Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H)Al-Hafidz Al-Hakami memiliki nazam yang cukup masyhur yang membahas tema akidah ahlusunah waljamaah. Nazam ini juga disyarah oleh beliau sendiri dalam kitab Ma’arijul Qabul. Beliau dalam nazam dan syarahnya membagi jenis tauhid kepada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi dan 2) tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau,التوحيد نوعانالأوَّلُ: التوحيد العِلْمي الخَبَري الإعْتقَادي المتضمِّنُ إثباتَ صفاتِ الكَمال للهِ عزَّ وجلّ وتنزيههُ عن التشْبيهِ والتَمْثيلِ ووتنزيههُ عن صِفات النقصِ، وهو توحيد الربوبيّة.الثاني: التوحيدُ الطّلَبِي القصْدي الإرَادي، وهو عبادةُ الله تعالى وحْده لا شريك له وتجْريد محَبَّته، والإخْلاص له وخوفه ورَجاؤُه والتوكُّل عليه بالرضا به ربًّا وإلهًا ووليا، وأن لا يجعل له عَدْلًا في شيئ من الأشياء، وهو توحيد الألوهية.“Tauhid ada dua macam, yaitu:Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadiYang pertama, tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi adalah tauhid yang terkandung di dalamnya penetapan sifat-sifat sempurna bagi Allah ‘Azza Wajalla dan penyucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dan penyamaan Allah (terhadap makhluk), serta penyucian Allah dari segala sifat kurang. Tauhid ini sama dengan tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Yang kedua, tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi adalah yang berisi tentang perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, rasa takut, rasa harap, dan tawakal kepada-Nya dengan penuh rida bahwa Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan Yang Mahapelindung, serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam satu pun bentuk peribadahan. Tauhid ini sama dengan tauhid uluhiyah.” (Ma’ariju Al-Qabul, 1: 121)Baca Juga:Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan TauhidMengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Kawariy, Kamilah. 2019 M. Al-Fawaid Al-Masthurah Fii Halli Alfadzi Kitabi A’lami As-Sunnah Al-Manshurah. Beriut: Dar Ibnu Hazm.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. 2011 M. Ash-Shafadiyah. Riyadh: Dar Al-Fadhilah.Al-Hakami, Hafiz bin Ahmad. Ma’ariju Al-Qabul Bi Syarhi Sullam Al-Wushul Ila ‘Ilmi Al-Ushul Fi At-Tauhid. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-Jauziyah, Muhammad bin Abu Bakr bin Al-Qayyim. Madariju As-Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in. Al-Azhar: Dar Al-’Alamiyah.🔍 Tawakal, Berdoalah, Minal Aid, Cara Mandi Janabat, Nafkah AnakTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid

Pembagian Tauhid Menurut Para Ulama Ahlusunah (Bag. 2)

Daftar Isi sembunyikan 1. Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap Allah 1.1. Tauhid al-’ilmi 1.2. Tauhid al-’amali 2. Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) 2.1. Tauhid al-qaul al-’ilmi 2.2. Tauhid al-’amali al-iradi 3. Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H) 3.1. Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat 3.2. Tauhid al-mathlab wa al-qashdi 4. Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H) 4.1. Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi 4.2. Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap AllahSetelah dipaparkan pembagian tauhid menjadi tiga jenis, maka di antara para ulama ada yang membagi tauhid ini ke dalam dua jenis saja dengan menimbang sudut pandang kewajiban bertauhid seorang hamba terhadap Allah. Para ulama ahlusunah pada abad yang lebih lalu, yaitu sekitar abad 7 H, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, lebih banyak membagi tauhid ini kepada dua jenis saja. Pembagian ke dalam dua jenis tauhid ini akan berkumpul pada klasifikasi berikut, yaitu, 1) tauhid al-‘ilmi dan 2) tauhid al-‘amali. Adapun penjelasan definisi ringkas dari kedua jenis tauhid tersebut sebagai berikut.Tauhid al-’ilmiTauhid al-’ilmi adalah tauhid yang yang berisi kewajiban dari syariat kepada mukalaf untuk berilmu dan beriman dengan makna-makna rububiyyah dan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, dapat disimpulkan bahwa pada tauhid jenis ini berkumpul dua jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.Tauhid al-’amaliTauhid al-’amali adalah tauhid yang berisi kewajiban syariat terhadap mukalaf untuk beramal dengan beribadah kepada Allah dan larangan untuk berbuat syirik. (Al-Fawaid Al-Masturah, 1: 52-53)Setelah masa beliau berdua sampai zaman kontemporer ini, terdapat para ulama yang membagi tauhid ke dalam dua jenis, tetapi memiliki penamaan yang berbeda dengan beliau berdua. Berikut rincian pembagian tauhid menjadi dua jenis dengan sudut pandang kewajiban hamba terhadap Allah menurut berbagai pandangan para ulama.Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H)Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam satu kitab yang beliau tulis, yaitu Ash-Shafadiyah, menerangkan tentang tauhid ilahiah itu ada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-qaul al-’amali dan b) tauhid al-’amali al-iradi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,والتوحيد الذي جاءتْ به الرسل ونزلتْ به الكُتب هو توحيد الإلهية، وهو أن يعبد الله وحده لَا شريكَ له، وهو متضَمِّنٌ لشيئينِ، أحدهما: القول العلْميّ ، وهو إثباتُ صفاتِ الكمالِ، وتنزِيهه عن النقائصِ، وتنزيهه عن أنْ يمَاثِلَه أحدٌ في شيئ من صفاته، فلا يوصَفُ بنقْصٍ بحالٍ، ولا يماثله أحدٌ في الكمال، كما قال تعالى: (قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝  لَمۡ یَلِدۡ وَلَمۡ یُولَدۡ ۝  وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)، فالصّمدية تُثبت له الكمال، والأحدية تنفي مماثلَه شيئ له في ذلك، كما بسطنا ذلك في غير هذا الموضع.والتوحيد العَملي الإرادي أن يعبد إلا إياه، فلا يدعو إلا إياه ولا يتوكل إلّا عليه، ولا يخاف إلا إياه، ولا يرجو إلا أياه، ويكون الدين كله لله، قال تعالى: (قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ ۝  لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ). وهذا التوحيد يتضمنُ أنّ اللهَ خالق كلِّ شيئٍ  وربه ومليكه لا شريك له في المُلكِ.“Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan yang terkandung dalam kitab-kitab Allah adalah tauhid ilahiah. Tauhid ilahiah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Tauhid ilahiah mengandung dua unsur, yaitu:Baca Juga: Tauhid dan KecintaanTauhid al-qaul al-’ilmiTauhid ini memiliki makna penetapan bagi Allah sifat-sifat yang sempurna, menyucikan Allah dari kekurangan-kekurangan, dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupai atau menyaingi-Nya dalam sifat-sifat Allah. Maka dari itu, Allah tidak disifati sedikit pun dengan kekurangan dan tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah (Muhammad), bahwa Allah adalah Esa. Allah adalah Zat tempat bergantung seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan Dia (Allah) tidak ada sesuatu apa pun yang sebanding (semisal) dengan-Nya. Maka, sifat Ash-Shamadiyah yang dimiliki Allah mengandung makna bahwa Allah memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Sementara sifat Al-Ahadiyah menegasikan keserupaan sesuatu apa pun terhadap Allah dalam aspek kesempurnaan-Nya sebagaimana yang telah kami jelaskan pada tempat lain.Tauhid al-’amali al-iradiTauhid ini memiliki makna bahwa seorang hamba tidak mengerjakan ibadah, kecuali hanya untuk Allah semata.  Maka, nantinya ia tidak akan berdoa kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak berharap kecuali hanya pada Allah. Sehingga seluruh agamanya (ibadahnya) hanya untuk Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan (sekali-kali) menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Tauhid jenis ini terkandung makna bahwa Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Allah adalah Tuhan seluruh alam, Sang Pemilik jagad semesta, dan tidak ada suatu serikat pun yang bersama Allah.” (Ash-Shafadiyah, 2: 228-229)Baca Juga: Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H)Ibnul Qayyim rahimahullah juga memiliki pembagian tauhid yang hampir sama dengan gurunya (Ibnu Taimiyyah) dengan membagi tauhid menjadi dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan b) tauhid al-mathlab wa al-qashdu. Pada kesempatan yang sama, Ibnul Qayyim juga menyebutkan nama lain dari dua jenis tauhid tersebut. Ibnul Qayyim menyampaikan pembagian tauhid ini dalam kitab Madarijus Salikin ketika membahas pembagian tauhid yang sebelumnya dipaparkan pembagian tauhid menurut berbagai firqah dalam Islam maupun luar Islam. Adapun beliau rahimahullah berkata,وأمّا التوحيدُ الذي دعتْ رسل الله، نزلتْ بهِ كُتُبُ فوَرَاءَ ذلك كلِّهِ وهو نوعان، تَوْحيدٌ في المعْرفة والإثْباتِ، وتوحيدٌ في المطْلبِ والقصْدفالأوّل: هو حقيقةُ ذاتِ الرّبِّ تعالى، وأسماءه، وصفاته، وأفْعالِه، وعُلُوِّه، فوق سمواتِهِ على عرْشِهِ، وتكلُّمِهِ بِكُتُبِه، وتكْلميهِ لِمنْ شاء منْ عِبادهِ، وإثْبات عمومِ قضاءِهِ، وقَدَره، وحُكْمه، وقد أفصح القرآنُ عن هذا النوعِ جِدَّ الإفصَاحِكما في أوّل سورةِ الحديد، وسورة طه، وآخر سورة الحشْر، وأوَّلُ سورة (تنزيل) السجدة، وأوّل سورة آل عمران، وسورة الإخلاصِ بكمالها، وغير ذلك.النوع الثاني: مِثْلُ ما تضمّنتْهُ سورة: قل يأيها الكافرون)، وقوله: (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)، الآية وأوَّلُ سورة سورة (تنزيل الكتاب) وآخِرِها، وأوَّلِ سورة يونس ووسطِها وآخِرِها، وأوّلِ سورةِ الأعراف وآخِرُها، وجُمْلة سورة الأنعامِ وغالبِ سور القرآنِ، بل كلُّ سورةٍ في القرآن فهي متضمنة لنَوعي التوحيدِ.بل نقول قولًا كليًا: إنّ كلَّ آية في القرآن فهي متضمةٌ للتوحيدِ، شاهدةٌ بِهِ، داعيةٌ إليهِ، فإنّ القرآنَ: إمّا خَبَرٌ عن اللهِ، وأسمائه، وصفاته، وأفعالِهِ، فهو التوحيد العلميالخبري، وإمّا دعوةٌ إلى عبادته وحده لا شريك له، وخَلْعُ كلّ ما يُعبدُ من دونِهِ، فهو التوحيد الإراديّ الطلبي، وإمّا أمرٌ ونهيٌ، وإلْزامٌ بطاعته في نهيِهِ وأمره، فهي حقوق التوحيد ومكمَّلاته، وإمّا خبرٌ عَنْ كرامة الله لِأهل توحيده وطاعَتِهِ، وما فعل بهم في الدنيا وما يُكرمُهم به في الآخرة، فهو جزاء توحيده، وإمّا خبر عن أهل الشِرْك، وما فعل بهم في الدنيا من النكال، وما يَحُلُّ بهم في العُقبى من العذاب، فهو خبر عمّنْ خرج عن حكم التوحيد.“Adapun tauhid yang didakwahkan oleh para rasul Allah dan yang dikandung oleh seluruh kitab-kitab Allah terdapat dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan 2) tauhid al-mathlab wa al-qashdu.Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbatTauhid yang pertama ini berisi tentang pembahasan hakikat Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian Allah di atas langit-langit, yaitu di atas ‘Arsy-Nya, perkataan-perkataan Allah dalam semua kitab-kitab-Nya, pembicaraan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, penetapan atas seluruh kekuasaan, takdir, dan hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang tauhid ini dengan sangat fasih. Bukti-bukti tauhid ini tergambar pada awal surah Al-Hadid, surah Thaha, akhir dari surah Al-Hasyr, awal dari surah As-Sajdah, akhir surah Ali-Imran, surah Al-Ikhlas seluruhnya, dan lain-lain.Tauhid al-mathlab wa al-qashdiTauhid ini adalah semisal yang dikandung dalam surah Al-Kafirun, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir ,.. ”, juga firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), wahai ahlul kitab, marilah kita sama-sama menuju satu seruan (tauhid) yang sama antara kami dengan kalian..”, ayat awal dalam surah Az-Zumar dan bagian akhirnya, awal surah Yunus, bagian tengah, dan akhirnya, awal surah Al-A’raf dan bagian akhirnya, sebagian dari surah Al-An’am, dan kebanyakan dari kandungan surah-surah dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an berisi dua jenis tauhid di atas.Maka, dapat kita disimpulkan secara global, bahwasanya setiap ayat dalam Al-Qur’an pasti mengandung, menjadi saksi kebenaran ajaran tauhid, serta mengajak untuk bertauhid. Hal ini karena Al-Qur’an isinya tidak lepas dari beberapa hal berikut, yaitu:Pertama, kabar terkait Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tauhid (jenis pertama) yaitu tauhid al-’ilmi wa al-khabari.Kedua, perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa dan tidak menyekutukan-Nya, serta membebaskan dari seluruh peribadahan kepada selain Allah. Tauhid ini (jenis kedua) disebut dengan tauhid al-iradi ath-thalabi.Ketiga, syariat perintah dan larangan. Isi dari syariat ini adalah kewajiban menaati Allah dalam perintah dan larangan-Nya. Dua hal ini adalah hak-hak tauhid (yang harus ditunaikan hamba) dan penyempurna tauhid.Keempat, kabar berupa karamah Allah kepada ahli tauhid dan ahli ketaatan, apa yang diperbuat oleh mereka di dunia, dan akhir yang akan mereka dapat berupa pemuliaan dari Allah di akhirat.Kelima, kabar tentang ahli kesyirikan, apa yang mereka perbuat di dunia dari kezaliman, dan akhir yang akan menimpa mereka berupa azab. Isi yang kelima ini adalah kabar dari orang-orang yang telah keluar dari tauhid.” (Madariju As-Salikin baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in/1099)Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H)Al-Hafidz Al-Hakami memiliki nazam yang cukup masyhur yang membahas tema akidah ahlusunah waljamaah. Nazam ini juga disyarah oleh beliau sendiri dalam kitab Ma’arijul Qabul. Beliau dalam nazam dan syarahnya membagi jenis tauhid kepada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi dan 2) tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau,التوحيد نوعانالأوَّلُ: التوحيد العِلْمي الخَبَري الإعْتقَادي المتضمِّنُ إثباتَ صفاتِ الكَمال للهِ عزَّ وجلّ وتنزيههُ عن التشْبيهِ والتَمْثيلِ ووتنزيههُ عن صِفات النقصِ، وهو توحيد الربوبيّة.الثاني: التوحيدُ الطّلَبِي القصْدي الإرَادي، وهو عبادةُ الله تعالى وحْده لا شريك له وتجْريد محَبَّته، والإخْلاص له وخوفه ورَجاؤُه والتوكُّل عليه بالرضا به ربًّا وإلهًا ووليا، وأن لا يجعل له عَدْلًا في شيئ من الأشياء، وهو توحيد الألوهية.“Tauhid ada dua macam, yaitu:Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadiYang pertama, tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi adalah tauhid yang terkandung di dalamnya penetapan sifat-sifat sempurna bagi Allah ‘Azza Wajalla dan penyucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dan penyamaan Allah (terhadap makhluk), serta penyucian Allah dari segala sifat kurang. Tauhid ini sama dengan tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Yang kedua, tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi adalah yang berisi tentang perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, rasa takut, rasa harap, dan tawakal kepada-Nya dengan penuh rida bahwa Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan Yang Mahapelindung, serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam satu pun bentuk peribadahan. Tauhid ini sama dengan tauhid uluhiyah.” (Ma’ariju Al-Qabul, 1: 121)Baca Juga:Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan TauhidMengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Kawariy, Kamilah. 2019 M. Al-Fawaid Al-Masthurah Fii Halli Alfadzi Kitabi A’lami As-Sunnah Al-Manshurah. Beriut: Dar Ibnu Hazm.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. 2011 M. Ash-Shafadiyah. Riyadh: Dar Al-Fadhilah.Al-Hakami, Hafiz bin Ahmad. Ma’ariju Al-Qabul Bi Syarhi Sullam Al-Wushul Ila ‘Ilmi Al-Ushul Fi At-Tauhid. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-Jauziyah, Muhammad bin Abu Bakr bin Al-Qayyim. Madariju As-Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in. Al-Azhar: Dar Al-’Alamiyah.🔍 Tawakal, Berdoalah, Minal Aid, Cara Mandi Janabat, Nafkah AnakTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid
Daftar Isi sembunyikan 1. Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap Allah 1.1. Tauhid al-’ilmi 1.2. Tauhid al-’amali 2. Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) 2.1. Tauhid al-qaul al-’ilmi 2.2. Tauhid al-’amali al-iradi 3. Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H) 3.1. Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat 3.2. Tauhid al-mathlab wa al-qashdi 4. Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H) 4.1. Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi 4.2. Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap AllahSetelah dipaparkan pembagian tauhid menjadi tiga jenis, maka di antara para ulama ada yang membagi tauhid ini ke dalam dua jenis saja dengan menimbang sudut pandang kewajiban bertauhid seorang hamba terhadap Allah. Para ulama ahlusunah pada abad yang lebih lalu, yaitu sekitar abad 7 H, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, lebih banyak membagi tauhid ini kepada dua jenis saja. Pembagian ke dalam dua jenis tauhid ini akan berkumpul pada klasifikasi berikut, yaitu, 1) tauhid al-‘ilmi dan 2) tauhid al-‘amali. Adapun penjelasan definisi ringkas dari kedua jenis tauhid tersebut sebagai berikut.Tauhid al-’ilmiTauhid al-’ilmi adalah tauhid yang yang berisi kewajiban dari syariat kepada mukalaf untuk berilmu dan beriman dengan makna-makna rububiyyah dan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, dapat disimpulkan bahwa pada tauhid jenis ini berkumpul dua jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.Tauhid al-’amaliTauhid al-’amali adalah tauhid yang berisi kewajiban syariat terhadap mukalaf untuk beramal dengan beribadah kepada Allah dan larangan untuk berbuat syirik. (Al-Fawaid Al-Masturah, 1: 52-53)Setelah masa beliau berdua sampai zaman kontemporer ini, terdapat para ulama yang membagi tauhid ke dalam dua jenis, tetapi memiliki penamaan yang berbeda dengan beliau berdua. Berikut rincian pembagian tauhid menjadi dua jenis dengan sudut pandang kewajiban hamba terhadap Allah menurut berbagai pandangan para ulama.Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H)Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam satu kitab yang beliau tulis, yaitu Ash-Shafadiyah, menerangkan tentang tauhid ilahiah itu ada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-qaul al-’amali dan b) tauhid al-’amali al-iradi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,والتوحيد الذي جاءتْ به الرسل ونزلتْ به الكُتب هو توحيد الإلهية، وهو أن يعبد الله وحده لَا شريكَ له، وهو متضَمِّنٌ لشيئينِ، أحدهما: القول العلْميّ ، وهو إثباتُ صفاتِ الكمالِ، وتنزِيهه عن النقائصِ، وتنزيهه عن أنْ يمَاثِلَه أحدٌ في شيئ من صفاته، فلا يوصَفُ بنقْصٍ بحالٍ، ولا يماثله أحدٌ في الكمال، كما قال تعالى: (قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝  لَمۡ یَلِدۡ وَلَمۡ یُولَدۡ ۝  وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)، فالصّمدية تُثبت له الكمال، والأحدية تنفي مماثلَه شيئ له في ذلك، كما بسطنا ذلك في غير هذا الموضع.والتوحيد العَملي الإرادي أن يعبد إلا إياه، فلا يدعو إلا إياه ولا يتوكل إلّا عليه، ولا يخاف إلا إياه، ولا يرجو إلا أياه، ويكون الدين كله لله، قال تعالى: (قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ ۝  لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ). وهذا التوحيد يتضمنُ أنّ اللهَ خالق كلِّ شيئٍ  وربه ومليكه لا شريك له في المُلكِ.“Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan yang terkandung dalam kitab-kitab Allah adalah tauhid ilahiah. Tauhid ilahiah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Tauhid ilahiah mengandung dua unsur, yaitu:Baca Juga: Tauhid dan KecintaanTauhid al-qaul al-’ilmiTauhid ini memiliki makna penetapan bagi Allah sifat-sifat yang sempurna, menyucikan Allah dari kekurangan-kekurangan, dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupai atau menyaingi-Nya dalam sifat-sifat Allah. Maka dari itu, Allah tidak disifati sedikit pun dengan kekurangan dan tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah (Muhammad), bahwa Allah adalah Esa. Allah adalah Zat tempat bergantung seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan Dia (Allah) tidak ada sesuatu apa pun yang sebanding (semisal) dengan-Nya. Maka, sifat Ash-Shamadiyah yang dimiliki Allah mengandung makna bahwa Allah memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Sementara sifat Al-Ahadiyah menegasikan keserupaan sesuatu apa pun terhadap Allah dalam aspek kesempurnaan-Nya sebagaimana yang telah kami jelaskan pada tempat lain.Tauhid al-’amali al-iradiTauhid ini memiliki makna bahwa seorang hamba tidak mengerjakan ibadah, kecuali hanya untuk Allah semata.  Maka, nantinya ia tidak akan berdoa kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak berharap kecuali hanya pada Allah. Sehingga seluruh agamanya (ibadahnya) hanya untuk Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan (sekali-kali) menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Tauhid jenis ini terkandung makna bahwa Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Allah adalah Tuhan seluruh alam, Sang Pemilik jagad semesta, dan tidak ada suatu serikat pun yang bersama Allah.” (Ash-Shafadiyah, 2: 228-229)Baca Juga: Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H)Ibnul Qayyim rahimahullah juga memiliki pembagian tauhid yang hampir sama dengan gurunya (Ibnu Taimiyyah) dengan membagi tauhid menjadi dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan b) tauhid al-mathlab wa al-qashdu. Pada kesempatan yang sama, Ibnul Qayyim juga menyebutkan nama lain dari dua jenis tauhid tersebut. Ibnul Qayyim menyampaikan pembagian tauhid ini dalam kitab Madarijus Salikin ketika membahas pembagian tauhid yang sebelumnya dipaparkan pembagian tauhid menurut berbagai firqah dalam Islam maupun luar Islam. Adapun beliau rahimahullah berkata,وأمّا التوحيدُ الذي دعتْ رسل الله، نزلتْ بهِ كُتُبُ فوَرَاءَ ذلك كلِّهِ وهو نوعان، تَوْحيدٌ في المعْرفة والإثْباتِ، وتوحيدٌ في المطْلبِ والقصْدفالأوّل: هو حقيقةُ ذاتِ الرّبِّ تعالى، وأسماءه، وصفاته، وأفْعالِه، وعُلُوِّه، فوق سمواتِهِ على عرْشِهِ، وتكلُّمِهِ بِكُتُبِه، وتكْلميهِ لِمنْ شاء منْ عِبادهِ، وإثْبات عمومِ قضاءِهِ، وقَدَره، وحُكْمه، وقد أفصح القرآنُ عن هذا النوعِ جِدَّ الإفصَاحِكما في أوّل سورةِ الحديد، وسورة طه، وآخر سورة الحشْر، وأوَّلُ سورة (تنزيل) السجدة، وأوّل سورة آل عمران، وسورة الإخلاصِ بكمالها، وغير ذلك.النوع الثاني: مِثْلُ ما تضمّنتْهُ سورة: قل يأيها الكافرون)، وقوله: (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)، الآية وأوَّلُ سورة سورة (تنزيل الكتاب) وآخِرِها، وأوَّلِ سورة يونس ووسطِها وآخِرِها، وأوّلِ سورةِ الأعراف وآخِرُها، وجُمْلة سورة الأنعامِ وغالبِ سور القرآنِ، بل كلُّ سورةٍ في القرآن فهي متضمنة لنَوعي التوحيدِ.بل نقول قولًا كليًا: إنّ كلَّ آية في القرآن فهي متضمةٌ للتوحيدِ، شاهدةٌ بِهِ، داعيةٌ إليهِ، فإنّ القرآنَ: إمّا خَبَرٌ عن اللهِ، وأسمائه، وصفاته، وأفعالِهِ، فهو التوحيد العلميالخبري، وإمّا دعوةٌ إلى عبادته وحده لا شريك له، وخَلْعُ كلّ ما يُعبدُ من دونِهِ، فهو التوحيد الإراديّ الطلبي، وإمّا أمرٌ ونهيٌ، وإلْزامٌ بطاعته في نهيِهِ وأمره، فهي حقوق التوحيد ومكمَّلاته، وإمّا خبرٌ عَنْ كرامة الله لِأهل توحيده وطاعَتِهِ، وما فعل بهم في الدنيا وما يُكرمُهم به في الآخرة، فهو جزاء توحيده، وإمّا خبر عن أهل الشِرْك، وما فعل بهم في الدنيا من النكال، وما يَحُلُّ بهم في العُقبى من العذاب، فهو خبر عمّنْ خرج عن حكم التوحيد.“Adapun tauhid yang didakwahkan oleh para rasul Allah dan yang dikandung oleh seluruh kitab-kitab Allah terdapat dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan 2) tauhid al-mathlab wa al-qashdu.Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbatTauhid yang pertama ini berisi tentang pembahasan hakikat Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian Allah di atas langit-langit, yaitu di atas ‘Arsy-Nya, perkataan-perkataan Allah dalam semua kitab-kitab-Nya, pembicaraan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, penetapan atas seluruh kekuasaan, takdir, dan hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang tauhid ini dengan sangat fasih. Bukti-bukti tauhid ini tergambar pada awal surah Al-Hadid, surah Thaha, akhir dari surah Al-Hasyr, awal dari surah As-Sajdah, akhir surah Ali-Imran, surah Al-Ikhlas seluruhnya, dan lain-lain.Tauhid al-mathlab wa al-qashdiTauhid ini adalah semisal yang dikandung dalam surah Al-Kafirun, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir ,.. ”, juga firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), wahai ahlul kitab, marilah kita sama-sama menuju satu seruan (tauhid) yang sama antara kami dengan kalian..”, ayat awal dalam surah Az-Zumar dan bagian akhirnya, awal surah Yunus, bagian tengah, dan akhirnya, awal surah Al-A’raf dan bagian akhirnya, sebagian dari surah Al-An’am, dan kebanyakan dari kandungan surah-surah dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an berisi dua jenis tauhid di atas.Maka, dapat kita disimpulkan secara global, bahwasanya setiap ayat dalam Al-Qur’an pasti mengandung, menjadi saksi kebenaran ajaran tauhid, serta mengajak untuk bertauhid. Hal ini karena Al-Qur’an isinya tidak lepas dari beberapa hal berikut, yaitu:Pertama, kabar terkait Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tauhid (jenis pertama) yaitu tauhid al-’ilmi wa al-khabari.Kedua, perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa dan tidak menyekutukan-Nya, serta membebaskan dari seluruh peribadahan kepada selain Allah. Tauhid ini (jenis kedua) disebut dengan tauhid al-iradi ath-thalabi.Ketiga, syariat perintah dan larangan. Isi dari syariat ini adalah kewajiban menaati Allah dalam perintah dan larangan-Nya. Dua hal ini adalah hak-hak tauhid (yang harus ditunaikan hamba) dan penyempurna tauhid.Keempat, kabar berupa karamah Allah kepada ahli tauhid dan ahli ketaatan, apa yang diperbuat oleh mereka di dunia, dan akhir yang akan mereka dapat berupa pemuliaan dari Allah di akhirat.Kelima, kabar tentang ahli kesyirikan, apa yang mereka perbuat di dunia dari kezaliman, dan akhir yang akan menimpa mereka berupa azab. Isi yang kelima ini adalah kabar dari orang-orang yang telah keluar dari tauhid.” (Madariju As-Salikin baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in/1099)Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H)Al-Hafidz Al-Hakami memiliki nazam yang cukup masyhur yang membahas tema akidah ahlusunah waljamaah. Nazam ini juga disyarah oleh beliau sendiri dalam kitab Ma’arijul Qabul. Beliau dalam nazam dan syarahnya membagi jenis tauhid kepada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi dan 2) tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau,التوحيد نوعانالأوَّلُ: التوحيد العِلْمي الخَبَري الإعْتقَادي المتضمِّنُ إثباتَ صفاتِ الكَمال للهِ عزَّ وجلّ وتنزيههُ عن التشْبيهِ والتَمْثيلِ ووتنزيههُ عن صِفات النقصِ، وهو توحيد الربوبيّة.الثاني: التوحيدُ الطّلَبِي القصْدي الإرَادي، وهو عبادةُ الله تعالى وحْده لا شريك له وتجْريد محَبَّته، والإخْلاص له وخوفه ورَجاؤُه والتوكُّل عليه بالرضا به ربًّا وإلهًا ووليا، وأن لا يجعل له عَدْلًا في شيئ من الأشياء، وهو توحيد الألوهية.“Tauhid ada dua macam, yaitu:Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadiYang pertama, tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi adalah tauhid yang terkandung di dalamnya penetapan sifat-sifat sempurna bagi Allah ‘Azza Wajalla dan penyucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dan penyamaan Allah (terhadap makhluk), serta penyucian Allah dari segala sifat kurang. Tauhid ini sama dengan tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Yang kedua, tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi adalah yang berisi tentang perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, rasa takut, rasa harap, dan tawakal kepada-Nya dengan penuh rida bahwa Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan Yang Mahapelindung, serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam satu pun bentuk peribadahan. Tauhid ini sama dengan tauhid uluhiyah.” (Ma’ariju Al-Qabul, 1: 121)Baca Juga:Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan TauhidMengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Kawariy, Kamilah. 2019 M. Al-Fawaid Al-Masthurah Fii Halli Alfadzi Kitabi A’lami As-Sunnah Al-Manshurah. Beriut: Dar Ibnu Hazm.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. 2011 M. Ash-Shafadiyah. Riyadh: Dar Al-Fadhilah.Al-Hakami, Hafiz bin Ahmad. Ma’ariju Al-Qabul Bi Syarhi Sullam Al-Wushul Ila ‘Ilmi Al-Ushul Fi At-Tauhid. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-Jauziyah, Muhammad bin Abu Bakr bin Al-Qayyim. Madariju As-Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in. Al-Azhar: Dar Al-’Alamiyah.🔍 Tawakal, Berdoalah, Minal Aid, Cara Mandi Janabat, Nafkah AnakTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid


Daftar Isi sembunyikan 1. Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap Allah 1.1. Tauhid al-’ilmi 1.2. Tauhid al-’amali 2. Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H) 2.1. Tauhid al-qaul al-’ilmi 2.2. Tauhid al-’amali al-iradi 3. Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H) 3.1. Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat 3.2. Tauhid al-mathlab wa al-qashdi 4. Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H) 4.1. Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi 4.2. Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Pembagian tauhid ditinjau dari kewajiban hamba terhadap AllahSetelah dipaparkan pembagian tauhid menjadi tiga jenis, maka di antara para ulama ada yang membagi tauhid ini ke dalam dua jenis saja dengan menimbang sudut pandang kewajiban bertauhid seorang hamba terhadap Allah. Para ulama ahlusunah pada abad yang lebih lalu, yaitu sekitar abad 7 H, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, lebih banyak membagi tauhid ini kepada dua jenis saja. Pembagian ke dalam dua jenis tauhid ini akan berkumpul pada klasifikasi berikut, yaitu, 1) tauhid al-‘ilmi dan 2) tauhid al-‘amali. Adapun penjelasan definisi ringkas dari kedua jenis tauhid tersebut sebagai berikut.Tauhid al-’ilmiTauhid al-’ilmi adalah tauhid yang yang berisi kewajiban dari syariat kepada mukalaf untuk berilmu dan beriman dengan makna-makna rububiyyah dan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, dapat disimpulkan bahwa pada tauhid jenis ini berkumpul dua jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.Tauhid al-’amaliTauhid al-’amali adalah tauhid yang berisi kewajiban syariat terhadap mukalaf untuk beramal dengan beribadah kepada Allah dan larangan untuk berbuat syirik. (Al-Fawaid Al-Masturah, 1: 52-53)Setelah masa beliau berdua sampai zaman kontemporer ini, terdapat para ulama yang membagi tauhid ke dalam dua jenis, tetapi memiliki penamaan yang berbeda dengan beliau berdua. Berikut rincian pembagian tauhid menjadi dua jenis dengan sudut pandang kewajiban hamba terhadap Allah menurut berbagai pandangan para ulama.Klasifikasi, penamaan, dan penjelasan tauhid menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H)Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam satu kitab yang beliau tulis, yaitu Ash-Shafadiyah, menerangkan tentang tauhid ilahiah itu ada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-qaul al-’amali dan b) tauhid al-’amali al-iradi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,والتوحيد الذي جاءتْ به الرسل ونزلتْ به الكُتب هو توحيد الإلهية، وهو أن يعبد الله وحده لَا شريكَ له، وهو متضَمِّنٌ لشيئينِ، أحدهما: القول العلْميّ ، وهو إثباتُ صفاتِ الكمالِ، وتنزِيهه عن النقائصِ، وتنزيهه عن أنْ يمَاثِلَه أحدٌ في شيئ من صفاته، فلا يوصَفُ بنقْصٍ بحالٍ، ولا يماثله أحدٌ في الكمال، كما قال تعالى: (قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ۝  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ۝  لَمۡ یَلِدۡ وَلَمۡ یُولَدۡ ۝  وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)، فالصّمدية تُثبت له الكمال، والأحدية تنفي مماثلَه شيئ له في ذلك، كما بسطنا ذلك في غير هذا الموضع.والتوحيد العَملي الإرادي أن يعبد إلا إياه، فلا يدعو إلا إياه ولا يتوكل إلّا عليه، ولا يخاف إلا إياه، ولا يرجو إلا أياه، ويكون الدين كله لله، قال تعالى: (قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ ۝  لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدࣱ مَّا عَبَدتُّمۡ ۝  وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ ۝  لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ). وهذا التوحيد يتضمنُ أنّ اللهَ خالق كلِّ شيئٍ  وربه ومليكه لا شريك له في المُلكِ.“Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan yang terkandung dalam kitab-kitab Allah adalah tauhid ilahiah. Tauhid ilahiah adalah seorang hamba beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Tauhid ilahiah mengandung dua unsur, yaitu:Baca Juga: Tauhid dan KecintaanTauhid al-qaul al-’ilmiTauhid ini memiliki makna penetapan bagi Allah sifat-sifat yang sempurna, menyucikan Allah dari kekurangan-kekurangan, dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang menyerupai atau menyaingi-Nya dalam sifat-sifat Allah. Maka dari itu, Allah tidak disifati sedikit pun dengan kekurangan dan tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya dalam kesempurnaan. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah (Muhammad), bahwa Allah adalah Esa. Allah adalah Zat tempat bergantung seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan Dia (Allah) tidak ada sesuatu apa pun yang sebanding (semisal) dengan-Nya. Maka, sifat Ash-Shamadiyah yang dimiliki Allah mengandung makna bahwa Allah memiliki kesempurnaan dari segala sisi. Sementara sifat Al-Ahadiyah menegasikan keserupaan sesuatu apa pun terhadap Allah dalam aspek kesempurnaan-Nya sebagaimana yang telah kami jelaskan pada tempat lain.Tauhid al-’amali al-iradiTauhid ini memiliki makna bahwa seorang hamba tidak mengerjakan ibadah, kecuali hanya untuk Allah semata.  Maka, nantinya ia tidak akan berdoa kecuali kepada Allah, tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, dan tidak berharap kecuali hanya pada Allah. Sehingga seluruh agamanya (ibadahnya) hanya untuk Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan (sekali-kali) menyembah apa yang kalian sembah. Sementara kalian juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Tauhid jenis ini terkandung makna bahwa Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Allah adalah Tuhan seluruh alam, Sang Pemilik jagad semesta, dan tidak ada suatu serikat pun yang bersama Allah.” (Ash-Shafadiyah, 2: 228-229)Baca Juga: Makna Kalimat Tauhid “Lailahaillallah”Klasifikasi jenis tauhid menurut Ibnul Qayyim (691-751 H)Ibnul Qayyim rahimahullah juga memiliki pembagian tauhid yang hampir sama dengan gurunya (Ibnu Taimiyyah) dengan membagi tauhid menjadi dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan b) tauhid al-mathlab wa al-qashdu. Pada kesempatan yang sama, Ibnul Qayyim juga menyebutkan nama lain dari dua jenis tauhid tersebut. Ibnul Qayyim menyampaikan pembagian tauhid ini dalam kitab Madarijus Salikin ketika membahas pembagian tauhid yang sebelumnya dipaparkan pembagian tauhid menurut berbagai firqah dalam Islam maupun luar Islam. Adapun beliau rahimahullah berkata,وأمّا التوحيدُ الذي دعتْ رسل الله، نزلتْ بهِ كُتُبُ فوَرَاءَ ذلك كلِّهِ وهو نوعان، تَوْحيدٌ في المعْرفة والإثْباتِ، وتوحيدٌ في المطْلبِ والقصْدفالأوّل: هو حقيقةُ ذاتِ الرّبِّ تعالى، وأسماءه، وصفاته، وأفْعالِه، وعُلُوِّه، فوق سمواتِهِ على عرْشِهِ، وتكلُّمِهِ بِكُتُبِه، وتكْلميهِ لِمنْ شاء منْ عِبادهِ، وإثْبات عمومِ قضاءِهِ، وقَدَره، وحُكْمه، وقد أفصح القرآنُ عن هذا النوعِ جِدَّ الإفصَاحِكما في أوّل سورةِ الحديد، وسورة طه، وآخر سورة الحشْر، وأوَّلُ سورة (تنزيل) السجدة، وأوّل سورة آل عمران، وسورة الإخلاصِ بكمالها، وغير ذلك.النوع الثاني: مِثْلُ ما تضمّنتْهُ سورة: قل يأيها الكافرون)، وقوله: (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)، الآية وأوَّلُ سورة سورة (تنزيل الكتاب) وآخِرِها، وأوَّلِ سورة يونس ووسطِها وآخِرِها، وأوّلِ سورةِ الأعراف وآخِرُها، وجُمْلة سورة الأنعامِ وغالبِ سور القرآنِ، بل كلُّ سورةٍ في القرآن فهي متضمنة لنَوعي التوحيدِ.بل نقول قولًا كليًا: إنّ كلَّ آية في القرآن فهي متضمةٌ للتوحيدِ، شاهدةٌ بِهِ، داعيةٌ إليهِ، فإنّ القرآنَ: إمّا خَبَرٌ عن اللهِ، وأسمائه، وصفاته، وأفعالِهِ، فهو التوحيد العلميالخبري، وإمّا دعوةٌ إلى عبادته وحده لا شريك له، وخَلْعُ كلّ ما يُعبدُ من دونِهِ، فهو التوحيد الإراديّ الطلبي، وإمّا أمرٌ ونهيٌ، وإلْزامٌ بطاعته في نهيِهِ وأمره، فهي حقوق التوحيد ومكمَّلاته، وإمّا خبرٌ عَنْ كرامة الله لِأهل توحيده وطاعَتِهِ، وما فعل بهم في الدنيا وما يُكرمُهم به في الآخرة، فهو جزاء توحيده، وإمّا خبر عن أهل الشِرْك، وما فعل بهم في الدنيا من النكال، وما يَحُلُّ بهم في العُقبى من العذاب، فهو خبر عمّنْ خرج عن حكم التوحيد.“Adapun tauhid yang didakwahkan oleh para rasul Allah dan yang dikandung oleh seluruh kitab-kitab Allah terdapat dua macam, yaitu: 1) tauhid al-ma’rifat wa al-itsbat dan 2) tauhid al-mathlab wa al-qashdu.Tauhid al-ma’rifat wa al-itsbatTauhid yang pertama ini berisi tentang pembahasan hakikat Zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, ketinggian Allah di atas langit-langit, yaitu di atas ‘Arsy-Nya, perkataan-perkataan Allah dalam semua kitab-kitab-Nya, pembicaraan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, penetapan atas seluruh kekuasaan, takdir, dan hukum yang ditetapkan oleh-Nya. Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang tauhid ini dengan sangat fasih. Bukti-bukti tauhid ini tergambar pada awal surah Al-Hadid, surah Thaha, akhir dari surah Al-Hasyr, awal dari surah As-Sajdah, akhir surah Ali-Imran, surah Al-Ikhlas seluruhnya, dan lain-lain.Tauhid al-mathlab wa al-qashdiTauhid ini adalah semisal yang dikandung dalam surah Al-Kafirun, “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kafir ,.. ”, juga firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), wahai ahlul kitab, marilah kita sama-sama menuju satu seruan (tauhid) yang sama antara kami dengan kalian..”, ayat awal dalam surah Az-Zumar dan bagian akhirnya, awal surah Yunus, bagian tengah, dan akhirnya, awal surah Al-A’raf dan bagian akhirnya, sebagian dari surah Al-An’am, dan kebanyakan dari kandungan surah-surah dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an berisi dua jenis tauhid di atas.Maka, dapat kita disimpulkan secara global, bahwasanya setiap ayat dalam Al-Qur’an pasti mengandung, menjadi saksi kebenaran ajaran tauhid, serta mengajak untuk bertauhid. Hal ini karena Al-Qur’an isinya tidak lepas dari beberapa hal berikut, yaitu:Pertama, kabar terkait Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tauhid (jenis pertama) yaitu tauhid al-’ilmi wa al-khabari.Kedua, perintah untuk beribadah kepada Allah semata tanpa dan tidak menyekutukan-Nya, serta membebaskan dari seluruh peribadahan kepada selain Allah. Tauhid ini (jenis kedua) disebut dengan tauhid al-iradi ath-thalabi.Ketiga, syariat perintah dan larangan. Isi dari syariat ini adalah kewajiban menaati Allah dalam perintah dan larangan-Nya. Dua hal ini adalah hak-hak tauhid (yang harus ditunaikan hamba) dan penyempurna tauhid.Keempat, kabar berupa karamah Allah kepada ahli tauhid dan ahli ketaatan, apa yang diperbuat oleh mereka di dunia, dan akhir yang akan mereka dapat berupa pemuliaan dari Allah di akhirat.Kelima, kabar tentang ahli kesyirikan, apa yang mereka perbuat di dunia dari kezaliman, dan akhir yang akan menimpa mereka berupa azab. Isi yang kelima ini adalah kabar dari orang-orang yang telah keluar dari tauhid.” (Madariju As-Salikin baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in/1099)Klasifikasi jenis tauhid menurut Al-Hafidz Al-Hakami (1342-1377 H)Al-Hafidz Al-Hakami memiliki nazam yang cukup masyhur yang membahas tema akidah ahlusunah waljamaah. Nazam ini juga disyarah oleh beliau sendiri dalam kitab Ma’arijul Qabul. Beliau dalam nazam dan syarahnya membagi jenis tauhid kepada dua jenis, yaitu 1) tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi dan 2) tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau,التوحيد نوعانالأوَّلُ: التوحيد العِلْمي الخَبَري الإعْتقَادي المتضمِّنُ إثباتَ صفاتِ الكَمال للهِ عزَّ وجلّ وتنزيههُ عن التشْبيهِ والتَمْثيلِ ووتنزيههُ عن صِفات النقصِ، وهو توحيد الربوبيّة.الثاني: التوحيدُ الطّلَبِي القصْدي الإرَادي، وهو عبادةُ الله تعالى وحْده لا شريك له وتجْريد محَبَّته، والإخْلاص له وخوفه ورَجاؤُه والتوكُّل عليه بالرضا به ربًّا وإلهًا ووليا، وأن لا يجعل له عَدْلًا في شيئ من الأشياء، وهو توحيد الألوهية.“Tauhid ada dua macam, yaitu:Tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadiYang pertama, tauhid al-’ilmi al-khabari al-i’tiqadi adalah tauhid yang terkandung di dalamnya penetapan sifat-sifat sempurna bagi Allah ‘Azza Wajalla dan penyucian Allah dari segala bentuk penyerupaan dan penyamaan Allah (terhadap makhluk), serta penyucian Allah dari segala sifat kurang. Tauhid ini sama dengan tauhid rububiyyah dan asma’ wa sifat.Tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi Yang kedua, tauhid ath-thalabi al-qashdi al-iradi adalah yang berisi tentang perintah untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, memurnikan kecintaan, keikhlasan, rasa takut, rasa harap, dan tawakal kepada-Nya dengan penuh rida bahwa Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah dan Yang Mahapelindung, serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam satu pun bentuk peribadahan. Tauhid ini sama dengan tauhid uluhiyah.” (Ma’ariju Al-Qabul, 1: 121)Baca Juga:Ahli Tauhid: Takut Syirik dan Mendakwahkan TauhidMengenal Tauhid dan Syirik Lebih Dekat***Penulis: Sakti Putra MahardikaArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Al-Kawariy, Kamilah. 2019 M. Al-Fawaid Al-Masthurah Fii Halli Alfadzi Kitabi A’lami As-Sunnah Al-Manshurah. Beriut: Dar Ibnu Hazm.Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. 2011 M. Ash-Shafadiyah. Riyadh: Dar Al-Fadhilah.Al-Hakami, Hafiz bin Ahmad. Ma’ariju Al-Qabul Bi Syarhi Sullam Al-Wushul Ila ‘Ilmi Al-Ushul Fi At-Tauhid. Dimam: Dar Ibnu Al-Jauzi.Al-Jauziyah, Muhammad bin Abu Bakr bin Al-Qayyim. Madariju As-Salikin Baina Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in. Al-Azhar: Dar Al-’Alamiyah.🔍 Tawakal, Berdoalah, Minal Aid, Cara Mandi Janabat, Nafkah AnakTags: adabahlussunnahAkhlakAqidahaqidah islambelajar tauhidibadahkeutamaan tauhidManhajmanhaj slafnasihatnasihat islamTauhid

Bayangkan: Seperti Inilah Cara Minumnya Penduduk Neraka – Sy Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

فَشَارِبُوْنَ شُرْبَatau (شَرْبَ)atau (شِرْبَ).Ini adalah tiga dialek dalam kata ini. Seperti dalam ayat lainnya:(لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ)Sedangkan (شَرْبٌ) dengan huruf syin berharakat fathah, maknanya adalah sekelompok orang yang sedang minum sesuatu. Mereka disebut dengan (شَرْبٌ)Adapun (الشُّرْبُ) adalah bentuk masdar (kata dasar) dari kata kerja (شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا). “Ia meminum air”, dan kata dasarnya (شَرْبًا) dan (شُرْبًا).Dikatakan, huruf syin (ش) dengan harakat fathah dan dhammah adalah kata dasar. Ibnu Malik rahimahullah mengatakan, “Kata (فَعْلٌ) adalah wazan kata dasar dari fi’il muta’addidari fi’il tsulatsi (terdiri dari tiga huruf dasar), seperti kata (رَدَّ رَدًّا).”Bentuk asal kata masdarnya adalah dengan fathah. Adapun (الشُّرْبُ) adalah isim masdar. Dalam kata ini dikatakan bahwa keduanya adalah masdar, (شَرِبَ شًرْبًا وَشُرْبًا)Dengan huruf syin (ش) yang berharakat fathah dan dhammah adalah masdar.Yakni Ibnu Katsir, Ibnu ‘Amir, Abu Amr, dan al-Kisa’i membaca ayat ini dengan harakat fathah,Sedangkan perawi qiraat lainnya membacanya dengan harakat dhammah. Sedangkan kata (الْهِيْم) berarti unta yang sangat kehausan.Makna asalnya adalah unta yang berjalan tersesat tanpa tahu arah tujuandi padang pasir, tanah lapang, dan daerah gersang tak berpenghuni. Unta itu berjalan tanpa arah tujuan sehingga mengakibatkannya sangat kehausan.Ketika unta itu sampai ke sumber air, ia minum sebanyak-banyaknya.Oleh sebab itu dikatakan, makna kata (الْهِيْم) yakni unta yang sangat kehausan. ==== فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ أَوْ شَرْبَ أَوْ شِرْبَ هَذِهِ الثَّلَاثُ اللُّغَاتُ فِي هَذِهِ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ وَشَرْبٌ بِفَتْحِ الشِّينِ هُمُ الْجَمَاعَةُ الشُّرَّابُ الَّذِيْنَ يَشْرَبُوْنَ يُقَالُ لَهُمْ شَرْبٌ وَالشُّرْبُ يُقَالُ الْمَصْدَرُ شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا شَرِبَ الْمَاءَ وَسَيَشْرَبُهُ شَرْبًا وَشُرْبًا يَقُولُ بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ وَابْنُ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ فَعْلٌ قِيَاسُ الْمَصْدَرِ الْمُعَدَّى مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ كَرَدَّ رَدًّا الْأَصْلُ الْفَتْحُ فِي الْمَصْدَرِ وَالشُّرْبُ اسْمُ الْمَصْدَرِ وَهُنَا يَقُولُ كِلَاهُمَا مَصْدَرٌ شَرِبَ شَرْبًا وَشُرْبًا بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ يَعْنِي بِالْفَتْحِ قَرَأَ ابْنُ كَثِيرٍ وَابْنُ عَامِرٍ وَأَبُو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ قَرَؤُوْا بِالضَّمِّ شُرْبٌ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ الْأَصْلُ فِيهَا أَنَّهَا الْإِبِلُ الْهَائِمَةُ عَلَى وَجْهِهَا فِي الصَّحَارِي وَالْبَرَارِيِّ وَالْقِفَارِ هَائِمَةٌ عَلَى وَجْهِهَا وَيَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ الْعَطَشُ الشَّدِيدُ فَإِذَا وَصِلَتْ إِلَى الْمَاءِ شَرِبَتْ شُرْبًا كَثِيرًا وَلِذَا قَالَ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bayangkan: Seperti Inilah Cara Minumnya Penduduk Neraka – Sy Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

فَشَارِبُوْنَ شُرْبَatau (شَرْبَ)atau (شِرْبَ).Ini adalah tiga dialek dalam kata ini. Seperti dalam ayat lainnya:(لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ)Sedangkan (شَرْبٌ) dengan huruf syin berharakat fathah, maknanya adalah sekelompok orang yang sedang minum sesuatu. Mereka disebut dengan (شَرْبٌ)Adapun (الشُّرْبُ) adalah bentuk masdar (kata dasar) dari kata kerja (شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا). “Ia meminum air”, dan kata dasarnya (شَرْبًا) dan (شُرْبًا).Dikatakan, huruf syin (ش) dengan harakat fathah dan dhammah adalah kata dasar. Ibnu Malik rahimahullah mengatakan, “Kata (فَعْلٌ) adalah wazan kata dasar dari fi’il muta’addidari fi’il tsulatsi (terdiri dari tiga huruf dasar), seperti kata (رَدَّ رَدًّا).”Bentuk asal kata masdarnya adalah dengan fathah. Adapun (الشُّرْبُ) adalah isim masdar. Dalam kata ini dikatakan bahwa keduanya adalah masdar, (شَرِبَ شًرْبًا وَشُرْبًا)Dengan huruf syin (ش) yang berharakat fathah dan dhammah adalah masdar.Yakni Ibnu Katsir, Ibnu ‘Amir, Abu Amr, dan al-Kisa’i membaca ayat ini dengan harakat fathah,Sedangkan perawi qiraat lainnya membacanya dengan harakat dhammah. Sedangkan kata (الْهِيْم) berarti unta yang sangat kehausan.Makna asalnya adalah unta yang berjalan tersesat tanpa tahu arah tujuandi padang pasir, tanah lapang, dan daerah gersang tak berpenghuni. Unta itu berjalan tanpa arah tujuan sehingga mengakibatkannya sangat kehausan.Ketika unta itu sampai ke sumber air, ia minum sebanyak-banyaknya.Oleh sebab itu dikatakan, makna kata (الْهِيْم) yakni unta yang sangat kehausan. ==== فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ أَوْ شَرْبَ أَوْ شِرْبَ هَذِهِ الثَّلَاثُ اللُّغَاتُ فِي هَذِهِ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ وَشَرْبٌ بِفَتْحِ الشِّينِ هُمُ الْجَمَاعَةُ الشُّرَّابُ الَّذِيْنَ يَشْرَبُوْنَ يُقَالُ لَهُمْ شَرْبٌ وَالشُّرْبُ يُقَالُ الْمَصْدَرُ شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا شَرِبَ الْمَاءَ وَسَيَشْرَبُهُ شَرْبًا وَشُرْبًا يَقُولُ بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ وَابْنُ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ فَعْلٌ قِيَاسُ الْمَصْدَرِ الْمُعَدَّى مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ كَرَدَّ رَدًّا الْأَصْلُ الْفَتْحُ فِي الْمَصْدَرِ وَالشُّرْبُ اسْمُ الْمَصْدَرِ وَهُنَا يَقُولُ كِلَاهُمَا مَصْدَرٌ شَرِبَ شَرْبًا وَشُرْبًا بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ يَعْنِي بِالْفَتْحِ قَرَأَ ابْنُ كَثِيرٍ وَابْنُ عَامِرٍ وَأَبُو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ قَرَؤُوْا بِالضَّمِّ شُرْبٌ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ الْأَصْلُ فِيهَا أَنَّهَا الْإِبِلُ الْهَائِمَةُ عَلَى وَجْهِهَا فِي الصَّحَارِي وَالْبَرَارِيِّ وَالْقِفَارِ هَائِمَةٌ عَلَى وَجْهِهَا وَيَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ الْعَطَشُ الشَّدِيدُ فَإِذَا وَصِلَتْ إِلَى الْمَاءِ شَرِبَتْ شُرْبًا كَثِيرًا وَلِذَا قَالَ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
فَشَارِبُوْنَ شُرْبَatau (شَرْبَ)atau (شِرْبَ).Ini adalah tiga dialek dalam kata ini. Seperti dalam ayat lainnya:(لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ)Sedangkan (شَرْبٌ) dengan huruf syin berharakat fathah, maknanya adalah sekelompok orang yang sedang minum sesuatu. Mereka disebut dengan (شَرْبٌ)Adapun (الشُّرْبُ) adalah bentuk masdar (kata dasar) dari kata kerja (شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا). “Ia meminum air”, dan kata dasarnya (شَرْبًا) dan (شُرْبًا).Dikatakan, huruf syin (ش) dengan harakat fathah dan dhammah adalah kata dasar. Ibnu Malik rahimahullah mengatakan, “Kata (فَعْلٌ) adalah wazan kata dasar dari fi’il muta’addidari fi’il tsulatsi (terdiri dari tiga huruf dasar), seperti kata (رَدَّ رَدًّا).”Bentuk asal kata masdarnya adalah dengan fathah. Adapun (الشُّرْبُ) adalah isim masdar. Dalam kata ini dikatakan bahwa keduanya adalah masdar, (شَرِبَ شًرْبًا وَشُرْبًا)Dengan huruf syin (ش) yang berharakat fathah dan dhammah adalah masdar.Yakni Ibnu Katsir, Ibnu ‘Amir, Abu Amr, dan al-Kisa’i membaca ayat ini dengan harakat fathah,Sedangkan perawi qiraat lainnya membacanya dengan harakat dhammah. Sedangkan kata (الْهِيْم) berarti unta yang sangat kehausan.Makna asalnya adalah unta yang berjalan tersesat tanpa tahu arah tujuandi padang pasir, tanah lapang, dan daerah gersang tak berpenghuni. Unta itu berjalan tanpa arah tujuan sehingga mengakibatkannya sangat kehausan.Ketika unta itu sampai ke sumber air, ia minum sebanyak-banyaknya.Oleh sebab itu dikatakan, makna kata (الْهِيْم) yakni unta yang sangat kehausan. ==== فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ أَوْ شَرْبَ أَوْ شِرْبَ هَذِهِ الثَّلَاثُ اللُّغَاتُ فِي هَذِهِ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ وَشَرْبٌ بِفَتْحِ الشِّينِ هُمُ الْجَمَاعَةُ الشُّرَّابُ الَّذِيْنَ يَشْرَبُوْنَ يُقَالُ لَهُمْ شَرْبٌ وَالشُّرْبُ يُقَالُ الْمَصْدَرُ شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا شَرِبَ الْمَاءَ وَسَيَشْرَبُهُ شَرْبًا وَشُرْبًا يَقُولُ بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ وَابْنُ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ فَعْلٌ قِيَاسُ الْمَصْدَرِ الْمُعَدَّى مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ كَرَدَّ رَدًّا الْأَصْلُ الْفَتْحُ فِي الْمَصْدَرِ وَالشُّرْبُ اسْمُ الْمَصْدَرِ وَهُنَا يَقُولُ كِلَاهُمَا مَصْدَرٌ شَرِبَ شَرْبًا وَشُرْبًا بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ يَعْنِي بِالْفَتْحِ قَرَأَ ابْنُ كَثِيرٍ وَابْنُ عَامِرٍ وَأَبُو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ قَرَؤُوْا بِالضَّمِّ شُرْبٌ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ الْأَصْلُ فِيهَا أَنَّهَا الْإِبِلُ الْهَائِمَةُ عَلَى وَجْهِهَا فِي الصَّحَارِي وَالْبَرَارِيِّ وَالْقِفَارِ هَائِمَةٌ عَلَى وَجْهِهَا وَيَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ الْعَطَشُ الشَّدِيدُ فَإِذَا وَصِلَتْ إِلَى الْمَاءِ شَرِبَتْ شُرْبًا كَثِيرًا وَلِذَا قَالَ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


فَشَارِبُوْنَ شُرْبَatau (شَرْبَ)atau (شِرْبَ).Ini adalah tiga dialek dalam kata ini. Seperti dalam ayat lainnya:(لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ)Sedangkan (شَرْبٌ) dengan huruf syin berharakat fathah, maknanya adalah sekelompok orang yang sedang minum sesuatu. Mereka disebut dengan (شَرْبٌ)Adapun (الشُّرْبُ) adalah bentuk masdar (kata dasar) dari kata kerja (شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا). “Ia meminum air”, dan kata dasarnya (شَرْبًا) dan (شُرْبًا).Dikatakan, huruf syin (ش) dengan harakat fathah dan dhammah adalah kata dasar. Ibnu Malik rahimahullah mengatakan, “Kata (فَعْلٌ) adalah wazan kata dasar dari fi’il muta’addidari fi’il tsulatsi (terdiri dari tiga huruf dasar), seperti kata (رَدَّ رَدًّا).”Bentuk asal kata masdarnya adalah dengan fathah. Adapun (الشُّرْبُ) adalah isim masdar. Dalam kata ini dikatakan bahwa keduanya adalah masdar, (شَرِبَ شًرْبًا وَشُرْبًا)Dengan huruf syin (ش) yang berharakat fathah dan dhammah adalah masdar.Yakni Ibnu Katsir, Ibnu ‘Amir, Abu Amr, dan al-Kisa’i membaca ayat ini dengan harakat fathah,Sedangkan perawi qiraat lainnya membacanya dengan harakat dhammah. Sedangkan kata (الْهِيْم) berarti unta yang sangat kehausan.Makna asalnya adalah unta yang berjalan tersesat tanpa tahu arah tujuandi padang pasir, tanah lapang, dan daerah gersang tak berpenghuni. Unta itu berjalan tanpa arah tujuan sehingga mengakibatkannya sangat kehausan.Ketika unta itu sampai ke sumber air, ia minum sebanyak-banyaknya.Oleh sebab itu dikatakan, makna kata (الْهِيْم) yakni unta yang sangat kehausan. ==== فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ أَوْ شَرْبَ أَوْ شِرْبَ هَذِهِ الثَّلَاثُ اللُّغَاتُ فِي هَذِهِ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُم شِرْبٌ وَشَرْبٌ بِفَتْحِ الشِّينِ هُمُ الْجَمَاعَةُ الشُّرَّابُ الَّذِيْنَ يَشْرَبُوْنَ يُقَالُ لَهُمْ شَرْبٌ وَالشُّرْبُ يُقَالُ الْمَصْدَرُ شَرِبَ يَشْرَبُ شَرْبًا شَرِبَ الْمَاءَ وَسَيَشْرَبُهُ شَرْبًا وَشُرْبًا يَقُولُ بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ وَابْنُ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ فَعْلٌ قِيَاسُ الْمَصْدَرِ الْمُعَدَّى مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ كَرَدَّ رَدًّا الْأَصْلُ الْفَتْحُ فِي الْمَصْدَرِ وَالشُّرْبُ اسْمُ الْمَصْدَرِ وَهُنَا يَقُولُ كِلَاهُمَا مَصْدَرٌ شَرِبَ شَرْبًا وَشُرْبًا بِفَتْحِ الشِّينِ وَضَمِّهَا مَصْدَرٌ يَعْنِي بِالْفَتْحِ قَرَأَ ابْنُ كَثِيرٍ وَابْنُ عَامِرٍ وَأَبُو عَمْرٍو وَالْكِسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ قَرَؤُوْا بِالضَّمِّ شُرْبٌ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ الْأَصْلُ فِيهَا أَنَّهَا الْإِبِلُ الْهَائِمَةُ عَلَى وَجْهِهَا فِي الصَّحَارِي وَالْبَرَارِيِّ وَالْقِفَارِ هَائِمَةٌ عَلَى وَجْهِهَا وَيَتَرَتَّبُ عَلَى ذَلِكَ الْعَطَشُ الشَّدِيدُ فَإِذَا وَصِلَتْ إِلَى الْمَاءِ شَرِبَتْ شُرْبًا كَثِيرًا وَلِذَا قَالَ الْهِيْمُ الْإِبِلُ الْعِطَاشُ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sebab Terbesar Mengapa Sahabat Generasi Terbaik – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Dahulu para sahabattidak melewati sepuluh ayat al-Quranhingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.Ikatan antara sahabat dengan al-Quranadalah salah satu sebab utama keunggulan mereka. Mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik dan paling mulia?Karena mereka memiliki ikatan dan pengagungan terhadap al-Quranyang tidak dimiliki orang lain,di samping karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Tidak diragukan bahwa Nabi bersama mereka adalah sebab terbesarnya,selain itu juga karena ikatan mereka dengan al-Quran.Mereka tidak melewati sepuluh ayat hingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka menadaburi al-Qurandengan tadabur yang membuahkan amal.Urwah bin az-Zubair berkata,“Aku berkata kepada nenekku, Asma’ binti Abu Bakar,bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamsaat dibacakan al-Quran kepada mereka?”Dia menjawab, “Mereka seperti yang Allah sifatkan pada mereka;mata mereka berlinang air mata dan badan mereka gemetar.” Fakta ini jelas tergambardalam kisah dan biografi mereka.Abu Bakar—semoga Allah meridainya—ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Perintahkan Abu Bakar untuk salat mengimami orang-orang.” Yakni, di akhir hayat beliau saat menderita sakit menjelang kematiannya.Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Jika dia membaca al-Quran, dia akan menangis,hingga orang-orang tidak mengerti bacaannya. Suruh Umar saja!”Meskipun ucapannya ini sebenarnya punya maksud lain.Namun ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar.Ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar,yakni jika dia membaca al-Quran,dia menangis dan tidak bisa menguasai dirinya. Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Tentu saja yang dimaksud oleh Aisyah—semoga Allah meridainya—bahwa dia tidak ingin Abu Bakar mengimami orang-orangsetelah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, karena jika ada seseorang yang menonjol lalu seseorang datang setelahnya,maka orang-orang akan cenderung dengan yang datang setelahnya tersebut.Jadi, dia tidak ingin ayahnya yang jadi imam.Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memahami maksudnya,lantas Nabi bersabda, “Kalian itu seperti wanita-wanita di zaman Yusuf! Suruh Abu Bakar salat mengimami orang-orang!”Namun, intinya bahwa Abu Bakar sudah terkenal demikian,hampir-hampir tidak dimengerti bacaan al-Qurannyakarena sering menangis. Begitu juga Umar—semoga Allah meridainya—dan sahabat yang lain juga begitu,sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang lain.Mereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan al-Quran ini. ===== وَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَتَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا وَارْتِبَاطُ الصَّحَابَةِ بِالْقُرْآنِ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَمَيُّزِهِمْ لِمَاذَا كَانَ الصَّحَابَةُ هُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْقُرُونِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ مِنَ الْارْتِبَاطِ بِالْقُرْآنِ وَالتَّعْظِيمِ مَا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِهِمْ مَعَ كَوْنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ فَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا يَعْنِي سَبَبٌ كَبِيرٌ لَكِنْ أَيْضًا ارْتِبَاطُهُمْ بِالْقُرَآنِ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَهُمْ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ تَدَبُّرًا يُثْمِرُ الْعَمَلَ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ قُلْتُ لِجَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ كَيْفَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ؟ قَالَتْ: كَانُوْا كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ وَهَذَا أَمْرٌ ظَاهِرٌ فِي سِيَرِهِمْ وَتَرَاجِمِهِمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ لَمَّا مَرِضَ مَرَضَ الْمَوْتِ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيْفٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ بَكَى فَلَا يَعْرِفُ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ فَمُرْ عُمَرَ وَكَانَ لَهَا مَقْصِدٌ آخَرُ يَعْنِي لَكِنَّ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ كَانَ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يَبْكِي وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ فَكَانَ رَجُلًا بَكَّاءً طَبْعًا كَانَ مَقْصُودُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تُرِيدُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ هُنَاكَ إِنْسَانٌ مُتَمَيِّزٌ وَأَتَى وَاحِدٌ بَعْدَهُ النَّاسُ اسْتَهَلَّ فِي الَّذِي بَعْدَهُ فَتُرِيدُ مَا يَكُونُ أَبُوهَا فَفَهِمَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَصْدَهَا وَقَالَ: إِنَّكُنَّ صُوَيْحَبَاتُ يُوسُفَ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيَؤُمَّ النَّاسَ لَكِنَّ الشَّاهِدَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ عُرِفَ عَنْهُ هَذَا لَا تَكَادُ تُعْرَفُ قِرَاءَتُهُ لِلْقُرْآنِ مِنْ كَثْرَةِ الْبُكَاءِ وَهَكَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَهَكَذَا أَيْضًا بَقِيَّةُ أَصْحَابٍ بَقِيَّةُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوْا عَلَى ارْتِبَاطٍ عَظِيمٍ بِهَذَا الْقُرْآنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Sebab Terbesar Mengapa Sahabat Generasi Terbaik – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Dahulu para sahabattidak melewati sepuluh ayat al-Quranhingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.Ikatan antara sahabat dengan al-Quranadalah salah satu sebab utama keunggulan mereka. Mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik dan paling mulia?Karena mereka memiliki ikatan dan pengagungan terhadap al-Quranyang tidak dimiliki orang lain,di samping karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Tidak diragukan bahwa Nabi bersama mereka adalah sebab terbesarnya,selain itu juga karena ikatan mereka dengan al-Quran.Mereka tidak melewati sepuluh ayat hingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka menadaburi al-Qurandengan tadabur yang membuahkan amal.Urwah bin az-Zubair berkata,“Aku berkata kepada nenekku, Asma’ binti Abu Bakar,bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamsaat dibacakan al-Quran kepada mereka?”Dia menjawab, “Mereka seperti yang Allah sifatkan pada mereka;mata mereka berlinang air mata dan badan mereka gemetar.” Fakta ini jelas tergambardalam kisah dan biografi mereka.Abu Bakar—semoga Allah meridainya—ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Perintahkan Abu Bakar untuk salat mengimami orang-orang.” Yakni, di akhir hayat beliau saat menderita sakit menjelang kematiannya.Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Jika dia membaca al-Quran, dia akan menangis,hingga orang-orang tidak mengerti bacaannya. Suruh Umar saja!”Meskipun ucapannya ini sebenarnya punya maksud lain.Namun ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar.Ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar,yakni jika dia membaca al-Quran,dia menangis dan tidak bisa menguasai dirinya. Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Tentu saja yang dimaksud oleh Aisyah—semoga Allah meridainya—bahwa dia tidak ingin Abu Bakar mengimami orang-orangsetelah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, karena jika ada seseorang yang menonjol lalu seseorang datang setelahnya,maka orang-orang akan cenderung dengan yang datang setelahnya tersebut.Jadi, dia tidak ingin ayahnya yang jadi imam.Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memahami maksudnya,lantas Nabi bersabda, “Kalian itu seperti wanita-wanita di zaman Yusuf! Suruh Abu Bakar salat mengimami orang-orang!”Namun, intinya bahwa Abu Bakar sudah terkenal demikian,hampir-hampir tidak dimengerti bacaan al-Qurannyakarena sering menangis. Begitu juga Umar—semoga Allah meridainya—dan sahabat yang lain juga begitu,sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang lain.Mereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan al-Quran ini. ===== وَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَتَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا وَارْتِبَاطُ الصَّحَابَةِ بِالْقُرْآنِ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَمَيُّزِهِمْ لِمَاذَا كَانَ الصَّحَابَةُ هُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْقُرُونِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ مِنَ الْارْتِبَاطِ بِالْقُرْآنِ وَالتَّعْظِيمِ مَا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِهِمْ مَعَ كَوْنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ فَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا يَعْنِي سَبَبٌ كَبِيرٌ لَكِنْ أَيْضًا ارْتِبَاطُهُمْ بِالْقُرَآنِ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَهُمْ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ تَدَبُّرًا يُثْمِرُ الْعَمَلَ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ قُلْتُ لِجَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ كَيْفَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ؟ قَالَتْ: كَانُوْا كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ وَهَذَا أَمْرٌ ظَاهِرٌ فِي سِيَرِهِمْ وَتَرَاجِمِهِمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ لَمَّا مَرِضَ مَرَضَ الْمَوْتِ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيْفٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ بَكَى فَلَا يَعْرِفُ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ فَمُرْ عُمَرَ وَكَانَ لَهَا مَقْصِدٌ آخَرُ يَعْنِي لَكِنَّ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ كَانَ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يَبْكِي وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ فَكَانَ رَجُلًا بَكَّاءً طَبْعًا كَانَ مَقْصُودُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تُرِيدُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ هُنَاكَ إِنْسَانٌ مُتَمَيِّزٌ وَأَتَى وَاحِدٌ بَعْدَهُ النَّاسُ اسْتَهَلَّ فِي الَّذِي بَعْدَهُ فَتُرِيدُ مَا يَكُونُ أَبُوهَا فَفَهِمَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَصْدَهَا وَقَالَ: إِنَّكُنَّ صُوَيْحَبَاتُ يُوسُفَ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيَؤُمَّ النَّاسَ لَكِنَّ الشَّاهِدَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ عُرِفَ عَنْهُ هَذَا لَا تَكَادُ تُعْرَفُ قِرَاءَتُهُ لِلْقُرْآنِ مِنْ كَثْرَةِ الْبُكَاءِ وَهَكَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَهَكَذَا أَيْضًا بَقِيَّةُ أَصْحَابٍ بَقِيَّةُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوْا عَلَى ارْتِبَاطٍ عَظِيمٍ بِهَذَا الْقُرْآنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Dahulu para sahabattidak melewati sepuluh ayat al-Quranhingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.Ikatan antara sahabat dengan al-Quranadalah salah satu sebab utama keunggulan mereka. Mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik dan paling mulia?Karena mereka memiliki ikatan dan pengagungan terhadap al-Quranyang tidak dimiliki orang lain,di samping karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Tidak diragukan bahwa Nabi bersama mereka adalah sebab terbesarnya,selain itu juga karena ikatan mereka dengan al-Quran.Mereka tidak melewati sepuluh ayat hingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka menadaburi al-Qurandengan tadabur yang membuahkan amal.Urwah bin az-Zubair berkata,“Aku berkata kepada nenekku, Asma’ binti Abu Bakar,bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamsaat dibacakan al-Quran kepada mereka?”Dia menjawab, “Mereka seperti yang Allah sifatkan pada mereka;mata mereka berlinang air mata dan badan mereka gemetar.” Fakta ini jelas tergambardalam kisah dan biografi mereka.Abu Bakar—semoga Allah meridainya—ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Perintahkan Abu Bakar untuk salat mengimami orang-orang.” Yakni, di akhir hayat beliau saat menderita sakit menjelang kematiannya.Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Jika dia membaca al-Quran, dia akan menangis,hingga orang-orang tidak mengerti bacaannya. Suruh Umar saja!”Meskipun ucapannya ini sebenarnya punya maksud lain.Namun ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar.Ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar,yakni jika dia membaca al-Quran,dia menangis dan tidak bisa menguasai dirinya. Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Tentu saja yang dimaksud oleh Aisyah—semoga Allah meridainya—bahwa dia tidak ingin Abu Bakar mengimami orang-orangsetelah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, karena jika ada seseorang yang menonjol lalu seseorang datang setelahnya,maka orang-orang akan cenderung dengan yang datang setelahnya tersebut.Jadi, dia tidak ingin ayahnya yang jadi imam.Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memahami maksudnya,lantas Nabi bersabda, “Kalian itu seperti wanita-wanita di zaman Yusuf! Suruh Abu Bakar salat mengimami orang-orang!”Namun, intinya bahwa Abu Bakar sudah terkenal demikian,hampir-hampir tidak dimengerti bacaan al-Qurannyakarena sering menangis. Begitu juga Umar—semoga Allah meridainya—dan sahabat yang lain juga begitu,sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang lain.Mereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan al-Quran ini. ===== وَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَتَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا وَارْتِبَاطُ الصَّحَابَةِ بِالْقُرْآنِ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَمَيُّزِهِمْ لِمَاذَا كَانَ الصَّحَابَةُ هُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْقُرُونِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ مِنَ الْارْتِبَاطِ بِالْقُرْآنِ وَالتَّعْظِيمِ مَا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِهِمْ مَعَ كَوْنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ فَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا يَعْنِي سَبَبٌ كَبِيرٌ لَكِنْ أَيْضًا ارْتِبَاطُهُمْ بِالْقُرَآنِ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَهُمْ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ تَدَبُّرًا يُثْمِرُ الْعَمَلَ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ قُلْتُ لِجَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ كَيْفَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ؟ قَالَتْ: كَانُوْا كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ وَهَذَا أَمْرٌ ظَاهِرٌ فِي سِيَرِهِمْ وَتَرَاجِمِهِمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ لَمَّا مَرِضَ مَرَضَ الْمَوْتِ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيْفٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ بَكَى فَلَا يَعْرِفُ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ فَمُرْ عُمَرَ وَكَانَ لَهَا مَقْصِدٌ آخَرُ يَعْنِي لَكِنَّ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ كَانَ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يَبْكِي وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ فَكَانَ رَجُلًا بَكَّاءً طَبْعًا كَانَ مَقْصُودُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تُرِيدُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ هُنَاكَ إِنْسَانٌ مُتَمَيِّزٌ وَأَتَى وَاحِدٌ بَعْدَهُ النَّاسُ اسْتَهَلَّ فِي الَّذِي بَعْدَهُ فَتُرِيدُ مَا يَكُونُ أَبُوهَا فَفَهِمَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَصْدَهَا وَقَالَ: إِنَّكُنَّ صُوَيْحَبَاتُ يُوسُفَ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيَؤُمَّ النَّاسَ لَكِنَّ الشَّاهِدَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ عُرِفَ عَنْهُ هَذَا لَا تَكَادُ تُعْرَفُ قِرَاءَتُهُ لِلْقُرْآنِ مِنْ كَثْرَةِ الْبُكَاءِ وَهَكَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَهَكَذَا أَيْضًا بَقِيَّةُ أَصْحَابٍ بَقِيَّةُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوْا عَلَى ارْتِبَاطٍ عَظِيمٍ بِهَذَا الْقُرْآنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Dahulu para sahabattidak melewati sepuluh ayat al-Quranhingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.Ikatan antara sahabat dengan al-Quranadalah salah satu sebab utama keunggulan mereka. Mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik dan paling mulia?Karena mereka memiliki ikatan dan pengagungan terhadap al-Quranyang tidak dimiliki orang lain,di samping karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka. Tidak diragukan bahwa Nabi bersama mereka adalah sebab terbesarnya,selain itu juga karena ikatan mereka dengan al-Quran.Mereka tidak melewati sepuluh ayat hingga mereka mempelajari ayatnyaserta kandungan ilmu dan amal di dalamnya. Jadi, mereka menadaburi al-Qurandengan tadabur yang membuahkan amal.Urwah bin az-Zubair berkata,“Aku berkata kepada nenekku, Asma’ binti Abu Bakar,bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallamsaat dibacakan al-Quran kepada mereka?”Dia menjawab, “Mereka seperti yang Allah sifatkan pada mereka;mata mereka berlinang air mata dan badan mereka gemetar.” Fakta ini jelas tergambardalam kisah dan biografi mereka.Abu Bakar—semoga Allah meridainya—ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Perintahkan Abu Bakar untuk salat mengimami orang-orang.” Yakni, di akhir hayat beliau saat menderita sakit menjelang kematiannya.Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Jika dia membaca al-Quran, dia akan menangis,hingga orang-orang tidak mengerti bacaannya. Suruh Umar saja!”Meskipun ucapannya ini sebenarnya punya maksud lain.Namun ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar.Ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar,yakni jika dia membaca al-Quran,dia menangis dan tidak bisa menguasai dirinya. Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.Tentu saja yang dimaksud oleh Aisyah—semoga Allah meridainya—bahwa dia tidak ingin Abu Bakar mengimami orang-orangsetelah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, karena jika ada seseorang yang menonjol lalu seseorang datang setelahnya,maka orang-orang akan cenderung dengan yang datang setelahnya tersebut.Jadi, dia tidak ingin ayahnya yang jadi imam.Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memahami maksudnya,lantas Nabi bersabda, “Kalian itu seperti wanita-wanita di zaman Yusuf! Suruh Abu Bakar salat mengimami orang-orang!”Namun, intinya bahwa Abu Bakar sudah terkenal demikian,hampir-hampir tidak dimengerti bacaan al-Qurannyakarena sering menangis. Begitu juga Umar—semoga Allah meridainya—dan sahabat yang lain juga begitu,sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang lain.Mereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan al-Quran ini. ===== وَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَتَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا وَارْتِبَاطُ الصَّحَابَةِ بِالْقُرْآنِ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَمَيُّزِهِمْ لِمَاذَا كَانَ الصَّحَابَةُ هُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْقُرُونِ؟ لِأَنَّ عِنْدَهُمْ مِنَ الْارْتِبَاطِ بِالْقُرْآنِ وَالتَّعْظِيمِ مَا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِهِمْ مَعَ كَوْنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ فَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا يَعْنِي سَبَبٌ كَبِيرٌ لَكِنْ أَيْضًا ارْتِبَاطُهُمْ بِالْقُرَآنِ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَهُمْ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ تَدَبُّرًا يُثْمِرُ الْعَمَلَ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ قُلْتُ لِجَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ كَيْفَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ؟ قَالَتْ: كَانُوْا كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ وَهَذَا أَمْرٌ ظَاهِرٌ فِي سِيَرِهِمْ وَتَرَاجِمِهِمْ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ لَمَّا مَرِضَ مَرَضَ الْمَوْتِ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيْفٌ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ بَكَى فَلَا يَعْرِفُ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ فَمُرْ عُمَرَ وَكَانَ لَهَا مَقْصِدٌ آخَرُ يَعْنِي لَكِنَّ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ كَانَ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يَبْكِي وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ فَكَانَ رَجُلًا بَكَّاءً طَبْعًا كَانَ مَقْصُودُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تُرِيدُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ هُنَاكَ إِنْسَانٌ مُتَمَيِّزٌ وَأَتَى وَاحِدٌ بَعْدَهُ النَّاسُ اسْتَهَلَّ فِي الَّذِي بَعْدَهُ فَتُرِيدُ مَا يَكُونُ أَبُوهَا فَفَهِمَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَصْدَهَا وَقَالَ: إِنَّكُنَّ صُوَيْحَبَاتُ يُوسُفَ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيَؤُمَّ النَّاسَ لَكِنَّ الشَّاهِدَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ عُرِفَ عَنْهُ هَذَا لَا تَكَادُ تُعْرَفُ قِرَاءَتُهُ لِلْقُرْآنِ مِنْ كَثْرَةِ الْبُكَاءِ وَهَكَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَهَكَذَا أَيْضًا بَقِيَّةُ أَصْحَابٍ بَقِيَّةُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوْا عَلَى ارْتِبَاطٍ عَظِيمٍ بِهَذَا الْقُرْآنِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bagaimana Warna Rambut Nabi Muhammad? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Ia meriwayatkan, “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dengan sanad sahih, dari Tsabit, dari Anas,Anas berkata, “Tidak ada uban di kepala dan jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkecuali 17 atau 18 helai uban saja.” Tujuh belas atau delapan belas helai uban.Sedangkan dalam riwayat hadis (pertama tadi), “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Tidak terdapat perselisihan di antara keduanya. Adapun dalam riwayat lain yang menafikan adanya ubanmaka yang dimaksud adalah penafian banyaknya uban, bukan penafian ada tidaknya.Baik. Oleh karenanya, terdapat riwayat sahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu,Anas berkata, “Allah tidak membuatnya terlihat jelek dengan uban.” Yakni uban yang terlihat jelas, yang dianggap jelek oleh beberapa kalangan.Tidak diragukan lagi bahwa uban adalah sesuatu yang jelek menurut banyak orang.Terlebih lagi menurut kaum wanita. Namun saat Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Surat Hud dan surat-surat semisalnya membuatku beruban.” Maksudnya bukan uban yang terlihat jelas?Pertama, hadis ini dikenal para ulama sebagai hadis mudhtharib, jadi hadis ini lemah. Meskipun Ibnu Hajar dapat mentarjihkan sebagian hadis dari sebagian riwayat lainnyadan menghilangkan idhthirabnya, serta dinaikkan derajatnya oleh beberapa ulama ke derajat hasan. Jadi, uban di sini dapat memiliki arti harfiah atau maknawi.Uban selain bisa bermakna rambut yang putih, bisa juga bermakna kelemahan fisik.Tidak harus bermakna uban. Dalam riwayat sahih dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak dijadikan Allah terlihat jelek dengan uban.Lalu dalam akhir hadis Said dari Rabi’ah yang telah diisyaratkan sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa Rabi’ah berkata, “Lalu aku melihat sebagian rambut beliau, dan ternyata warnanya merah …”Yakni yang membenarkan Nabi memiliki uban, memandang maksudnya adalah rambut-rambut merah ini. Ya, (Ia melanjutkan), “… Kemudian aku menanyakan tentang itu. Lalu dijawab, ‘Memerah karena terkena minyak wangi.’”Dari sini, dapat dipahami maksud dari penafian uban.Diriwayatkan juga dalam al-Mustadrak dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dan ia dikenal memiliki masalah dalam hafalannya.Ya, Abdullah bin Muhammad bin Aqil dikenal hafalannya buruk.Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi memakai semir rambut?Karena aku melihat sebagian rambut beliau berwarna (tidak hitam).” Anas menjawab, “Rambut yang berwarna itukarena minyak wangi yang dipakai pada rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Itulah yang mengubah warnanya.” Bisa jadi Rabi’ah juga bertanya kepada Anas tentang itu.Sekarang terdapat perbedaan antara riwayat-riwayat ini, antara yang menafikan dan yang menetapkan adanya uban. Ulama yang menafikannya menggunakan riwayat itu untuk makna menafikan uban secara harfiah, atau uban yang banyak dan jelas terlihat.Sedangkan ulama yang menetapkan adanya uban, menetapkan adanya beberapa helai uban saja yang tidak setiap orang dapat melihatnya. Sebagian orang mungkin tidak dapat melihatnya jika jumlahnya hanya dua puluhan, tidak melihatnya dengan jelas.Atau ulama yang menafikannya dengan mengambil hukum mayoritasnya.Penetapan dan penafian ini bisa jadi juga bermuara kepada satu hal yang sama. Rambut-rambut Nabi yang berwarna merah ini,bagi orang yang menetapkannya sebagai ubankarena ia berubah dari warna hitamnya. Sedangkan yang tidak menganggapnya sebagai uban mengatakan karena rambut itu berubah warna akibat minyak wangi,bukan akibat perubahan warna dari hitam ke putih sebagaimana uban pada umumnya. قَوْلُهُ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ أَخْرَجَ ابْنُ سَعْدٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا كَانَ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ وَالْحَدِيثُ وَلَيْسَ بِرَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ يَعْنِي لَا اخْتِلَافَ مَا فِيْهِ الِاخْتِلَافُ وَأَمَّا مَا جَاءَ مِنْ نَفْيِ الشَّيْبِ فِي رِوَايَةٍ فَالْمُرَادُ بِهِ نَفْيُ كَثْرَتِهِ لَا أَصْلُهُ نَعَمْ وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ يَعْنِي الشَّيْبُ الْوَاضِحُ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ عِنْدَ بَعْضِ الْفِئَاتِ لَا شَكَّ أَنَّهُ الشَّيْبُ شَينٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ لَا سِيَّمَا النِّسَاءُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا فَمَاذَا أَرَادَ بِهَا لَيْسَ الْمُرَادُ الشَّيْبَ الْوَاضِحَ الظَّاهِرَ؟ أَوَّلًا الْحَدِيثُ مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مُضْطَرِبٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ تَمَكَّنَ مِنْ تَرْجِيحِ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ وَنَفَى عَنْهُ الِاضْطِرَابَ وَرَقَّاهُ بَعْضُهُمْ إِلَى الْحُسْنِ فَالشَّيْبُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ حِسِّيًّا أَوْ مَعْنَوِيًّا وَالشَّيْبُ كَمَا يَكُونُ بِبَيَاضِ الشَّعْرِ يَكُونُ أَيْضًا بِانْهِدَادِ الْجِسْمِ يَعْنِي ضَعْفٍ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْبٌ ثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ وَجَاءَ بَعْدَ حَدِيثِ سَعِيدٍ عَنْ رَبِيعَةَ الْمُشَارِ إِلَيْهِ سَابِقًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ قَالَ رَبِيعَةُ فَرَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ يَعْنِي مَنْ أَثْبَتَ الشَّيْبَ رَأَى هَذِهِ الشَّعَرَاتِ الْحُمُرَ نَعَمْ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ وَهُنَا يَتَّجِهُ النَّفْيَ نَعَمْ وَفِي الْمُسْتَدْرَكِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ وَمَعْرُوفٌ أَنَّهُ فِي حِفْظِهِ شَيْءٌ نَعَمْ سَيِّئُ الْحِفْظِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ مَعْرُوفٌ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ لِأَنَسٍ هَلْ خَضَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ قَدْ لَوَّنَ فَقَالَ إِنَّ هَذَا الَّذِي لَوَّنَ مِنَ الطِّيبِ الَّذِي كَانَ يُطَيَّبُ بِهِ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ الَّذِي غَيَّرَ لَوْنَهُ وَلَعَلَّ رَبِيعَةَ سَأَلَ أَنَسًا عَنْ ذَلِكَ أَيْضًا الْآنَ فِيهِ اخْتِلَافٌ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ بَيْنَ نَفْيِ شَيْبٍ وَبَيْنَ إِثْبَاتِهِ مَنْ نَفَاهُ نَفَى بِذَلِكَ الشَّيْبَ الْحَقِيقِيَّ أَوِ الْكَثِيرَ الْوَاضِحَ مَنْ أَثْبَتَهُ أَثْبَتَ شُعَيْرَاتٍ لَا تَبِيْنُ لِجَمِيْعِ النَّاسِ يُمْكِنُ بَعْضُ النَّاسِ مَا تَبِيْنُ لَهُ إِذَا كَانَ الْعَدَدُ مِنَ الْعِشْرِينَ مَا يَبِيْنُ لَوْنُهُ نَعَمْ أَوْ حَكَمَ عَلَى الْغَالِبِ مَنْ نَفَى وَأَيْضًا قَدْ يَرِدُ النَّفْيُ وَالْإِثْبَاتُ إِلَى جِهَةٍ وَاحِدَةٍ هَذِهِ الشَّعَرَاتُ الْحُمُرُ مَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا شَيْبٌ لِأَنَّهَا مُتَغَيِّرَةٌ عَنِ السَّوَادِ وَمَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِشَيْبٍ قَالَ إِنَّ تَغَيُّرَهَا بِسَبَبِ الطَّيِّبِ لَا بِسَبَبِ تَغَيُّرِ انْتِقَالِ الشَّيْبِ الشَّعْرِ مِنَ السَّوَادِ إِلَى الْبَيَاضِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ فِي الشَّيْبِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Bagaimana Warna Rambut Nabi Muhammad? – Syaikh Abdul Karim al-Khudhair #NasehatUlama

Ia meriwayatkan, “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dengan sanad sahih, dari Tsabit, dari Anas,Anas berkata, “Tidak ada uban di kepala dan jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkecuali 17 atau 18 helai uban saja.” Tujuh belas atau delapan belas helai uban.Sedangkan dalam riwayat hadis (pertama tadi), “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Tidak terdapat perselisihan di antara keduanya. Adapun dalam riwayat lain yang menafikan adanya ubanmaka yang dimaksud adalah penafian banyaknya uban, bukan penafian ada tidaknya.Baik. Oleh karenanya, terdapat riwayat sahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu,Anas berkata, “Allah tidak membuatnya terlihat jelek dengan uban.” Yakni uban yang terlihat jelas, yang dianggap jelek oleh beberapa kalangan.Tidak diragukan lagi bahwa uban adalah sesuatu yang jelek menurut banyak orang.Terlebih lagi menurut kaum wanita. Namun saat Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Surat Hud dan surat-surat semisalnya membuatku beruban.” Maksudnya bukan uban yang terlihat jelas?Pertama, hadis ini dikenal para ulama sebagai hadis mudhtharib, jadi hadis ini lemah. Meskipun Ibnu Hajar dapat mentarjihkan sebagian hadis dari sebagian riwayat lainnyadan menghilangkan idhthirabnya, serta dinaikkan derajatnya oleh beberapa ulama ke derajat hasan. Jadi, uban di sini dapat memiliki arti harfiah atau maknawi.Uban selain bisa bermakna rambut yang putih, bisa juga bermakna kelemahan fisik.Tidak harus bermakna uban. Dalam riwayat sahih dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak dijadikan Allah terlihat jelek dengan uban.Lalu dalam akhir hadis Said dari Rabi’ah yang telah diisyaratkan sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa Rabi’ah berkata, “Lalu aku melihat sebagian rambut beliau, dan ternyata warnanya merah …”Yakni yang membenarkan Nabi memiliki uban, memandang maksudnya adalah rambut-rambut merah ini. Ya, (Ia melanjutkan), “… Kemudian aku menanyakan tentang itu. Lalu dijawab, ‘Memerah karena terkena minyak wangi.’”Dari sini, dapat dipahami maksud dari penafian uban.Diriwayatkan juga dalam al-Mustadrak dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dan ia dikenal memiliki masalah dalam hafalannya.Ya, Abdullah bin Muhammad bin Aqil dikenal hafalannya buruk.Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi memakai semir rambut?Karena aku melihat sebagian rambut beliau berwarna (tidak hitam).” Anas menjawab, “Rambut yang berwarna itukarena minyak wangi yang dipakai pada rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Itulah yang mengubah warnanya.” Bisa jadi Rabi’ah juga bertanya kepada Anas tentang itu.Sekarang terdapat perbedaan antara riwayat-riwayat ini, antara yang menafikan dan yang menetapkan adanya uban. Ulama yang menafikannya menggunakan riwayat itu untuk makna menafikan uban secara harfiah, atau uban yang banyak dan jelas terlihat.Sedangkan ulama yang menetapkan adanya uban, menetapkan adanya beberapa helai uban saja yang tidak setiap orang dapat melihatnya. Sebagian orang mungkin tidak dapat melihatnya jika jumlahnya hanya dua puluhan, tidak melihatnya dengan jelas.Atau ulama yang menafikannya dengan mengambil hukum mayoritasnya.Penetapan dan penafian ini bisa jadi juga bermuara kepada satu hal yang sama. Rambut-rambut Nabi yang berwarna merah ini,bagi orang yang menetapkannya sebagai ubankarena ia berubah dari warna hitamnya. Sedangkan yang tidak menganggapnya sebagai uban mengatakan karena rambut itu berubah warna akibat minyak wangi,bukan akibat perubahan warna dari hitam ke putih sebagaimana uban pada umumnya. قَوْلُهُ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ أَخْرَجَ ابْنُ سَعْدٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا كَانَ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ وَالْحَدِيثُ وَلَيْسَ بِرَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ يَعْنِي لَا اخْتِلَافَ مَا فِيْهِ الِاخْتِلَافُ وَأَمَّا مَا جَاءَ مِنْ نَفْيِ الشَّيْبِ فِي رِوَايَةٍ فَالْمُرَادُ بِهِ نَفْيُ كَثْرَتِهِ لَا أَصْلُهُ نَعَمْ وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ يَعْنِي الشَّيْبُ الْوَاضِحُ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ عِنْدَ بَعْضِ الْفِئَاتِ لَا شَكَّ أَنَّهُ الشَّيْبُ شَينٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ لَا سِيَّمَا النِّسَاءُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا فَمَاذَا أَرَادَ بِهَا لَيْسَ الْمُرَادُ الشَّيْبَ الْوَاضِحَ الظَّاهِرَ؟ أَوَّلًا الْحَدِيثُ مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مُضْطَرِبٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ تَمَكَّنَ مِنْ تَرْجِيحِ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ وَنَفَى عَنْهُ الِاضْطِرَابَ وَرَقَّاهُ بَعْضُهُمْ إِلَى الْحُسْنِ فَالشَّيْبُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ حِسِّيًّا أَوْ مَعْنَوِيًّا وَالشَّيْبُ كَمَا يَكُونُ بِبَيَاضِ الشَّعْرِ يَكُونُ أَيْضًا بِانْهِدَادِ الْجِسْمِ يَعْنِي ضَعْفٍ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْبٌ ثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ وَجَاءَ بَعْدَ حَدِيثِ سَعِيدٍ عَنْ رَبِيعَةَ الْمُشَارِ إِلَيْهِ سَابِقًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ قَالَ رَبِيعَةُ فَرَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ يَعْنِي مَنْ أَثْبَتَ الشَّيْبَ رَأَى هَذِهِ الشَّعَرَاتِ الْحُمُرَ نَعَمْ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ وَهُنَا يَتَّجِهُ النَّفْيَ نَعَمْ وَفِي الْمُسْتَدْرَكِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ وَمَعْرُوفٌ أَنَّهُ فِي حِفْظِهِ شَيْءٌ نَعَمْ سَيِّئُ الْحِفْظِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ مَعْرُوفٌ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ لِأَنَسٍ هَلْ خَضَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ قَدْ لَوَّنَ فَقَالَ إِنَّ هَذَا الَّذِي لَوَّنَ مِنَ الطِّيبِ الَّذِي كَانَ يُطَيَّبُ بِهِ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ الَّذِي غَيَّرَ لَوْنَهُ وَلَعَلَّ رَبِيعَةَ سَأَلَ أَنَسًا عَنْ ذَلِكَ أَيْضًا الْآنَ فِيهِ اخْتِلَافٌ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ بَيْنَ نَفْيِ شَيْبٍ وَبَيْنَ إِثْبَاتِهِ مَنْ نَفَاهُ نَفَى بِذَلِكَ الشَّيْبَ الْحَقِيقِيَّ أَوِ الْكَثِيرَ الْوَاضِحَ مَنْ أَثْبَتَهُ أَثْبَتَ شُعَيْرَاتٍ لَا تَبِيْنُ لِجَمِيْعِ النَّاسِ يُمْكِنُ بَعْضُ النَّاسِ مَا تَبِيْنُ لَهُ إِذَا كَانَ الْعَدَدُ مِنَ الْعِشْرِينَ مَا يَبِيْنُ لَوْنُهُ نَعَمْ أَوْ حَكَمَ عَلَى الْغَالِبِ مَنْ نَفَى وَأَيْضًا قَدْ يَرِدُ النَّفْيُ وَالْإِثْبَاتُ إِلَى جِهَةٍ وَاحِدَةٍ هَذِهِ الشَّعَرَاتُ الْحُمُرُ مَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا شَيْبٌ لِأَنَّهَا مُتَغَيِّرَةٌ عَنِ السَّوَادِ وَمَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِشَيْبٍ قَالَ إِنَّ تَغَيُّرَهَا بِسَبَبِ الطَّيِّبِ لَا بِسَبَبِ تَغَيُّرِ انْتِقَالِ الشَّيْبِ الشَّعْرِ مِنَ السَّوَادِ إِلَى الْبَيَاضِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ فِي الشَّيْبِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ia meriwayatkan, “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dengan sanad sahih, dari Tsabit, dari Anas,Anas berkata, “Tidak ada uban di kepala dan jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkecuali 17 atau 18 helai uban saja.” Tujuh belas atau delapan belas helai uban.Sedangkan dalam riwayat hadis (pertama tadi), “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Tidak terdapat perselisihan di antara keduanya. Adapun dalam riwayat lain yang menafikan adanya ubanmaka yang dimaksud adalah penafian banyaknya uban, bukan penafian ada tidaknya.Baik. Oleh karenanya, terdapat riwayat sahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu,Anas berkata, “Allah tidak membuatnya terlihat jelek dengan uban.” Yakni uban yang terlihat jelas, yang dianggap jelek oleh beberapa kalangan.Tidak diragukan lagi bahwa uban adalah sesuatu yang jelek menurut banyak orang.Terlebih lagi menurut kaum wanita. Namun saat Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Surat Hud dan surat-surat semisalnya membuatku beruban.” Maksudnya bukan uban yang terlihat jelas?Pertama, hadis ini dikenal para ulama sebagai hadis mudhtharib, jadi hadis ini lemah. Meskipun Ibnu Hajar dapat mentarjihkan sebagian hadis dari sebagian riwayat lainnyadan menghilangkan idhthirabnya, serta dinaikkan derajatnya oleh beberapa ulama ke derajat hasan. Jadi, uban di sini dapat memiliki arti harfiah atau maknawi.Uban selain bisa bermakna rambut yang putih, bisa juga bermakna kelemahan fisik.Tidak harus bermakna uban. Dalam riwayat sahih dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak dijadikan Allah terlihat jelek dengan uban.Lalu dalam akhir hadis Said dari Rabi’ah yang telah diisyaratkan sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa Rabi’ah berkata, “Lalu aku melihat sebagian rambut beliau, dan ternyata warnanya merah …”Yakni yang membenarkan Nabi memiliki uban, memandang maksudnya adalah rambut-rambut merah ini. Ya, (Ia melanjutkan), “… Kemudian aku menanyakan tentang itu. Lalu dijawab, ‘Memerah karena terkena minyak wangi.’”Dari sini, dapat dipahami maksud dari penafian uban.Diriwayatkan juga dalam al-Mustadrak dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dan ia dikenal memiliki masalah dalam hafalannya.Ya, Abdullah bin Muhammad bin Aqil dikenal hafalannya buruk.Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi memakai semir rambut?Karena aku melihat sebagian rambut beliau berwarna (tidak hitam).” Anas menjawab, “Rambut yang berwarna itukarena minyak wangi yang dipakai pada rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Itulah yang mengubah warnanya.” Bisa jadi Rabi’ah juga bertanya kepada Anas tentang itu.Sekarang terdapat perbedaan antara riwayat-riwayat ini, antara yang menafikan dan yang menetapkan adanya uban. Ulama yang menafikannya menggunakan riwayat itu untuk makna menafikan uban secara harfiah, atau uban yang banyak dan jelas terlihat.Sedangkan ulama yang menetapkan adanya uban, menetapkan adanya beberapa helai uban saja yang tidak setiap orang dapat melihatnya. Sebagian orang mungkin tidak dapat melihatnya jika jumlahnya hanya dua puluhan, tidak melihatnya dengan jelas.Atau ulama yang menafikannya dengan mengambil hukum mayoritasnya.Penetapan dan penafian ini bisa jadi juga bermuara kepada satu hal yang sama. Rambut-rambut Nabi yang berwarna merah ini,bagi orang yang menetapkannya sebagai ubankarena ia berubah dari warna hitamnya. Sedangkan yang tidak menganggapnya sebagai uban mengatakan karena rambut itu berubah warna akibat minyak wangi,bukan akibat perubahan warna dari hitam ke putih sebagaimana uban pada umumnya. قَوْلُهُ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ أَخْرَجَ ابْنُ سَعْدٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا كَانَ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ وَالْحَدِيثُ وَلَيْسَ بِرَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ يَعْنِي لَا اخْتِلَافَ مَا فِيْهِ الِاخْتِلَافُ وَأَمَّا مَا جَاءَ مِنْ نَفْيِ الشَّيْبِ فِي رِوَايَةٍ فَالْمُرَادُ بِهِ نَفْيُ كَثْرَتِهِ لَا أَصْلُهُ نَعَمْ وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ يَعْنِي الشَّيْبُ الْوَاضِحُ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ عِنْدَ بَعْضِ الْفِئَاتِ لَا شَكَّ أَنَّهُ الشَّيْبُ شَينٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ لَا سِيَّمَا النِّسَاءُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا فَمَاذَا أَرَادَ بِهَا لَيْسَ الْمُرَادُ الشَّيْبَ الْوَاضِحَ الظَّاهِرَ؟ أَوَّلًا الْحَدِيثُ مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مُضْطَرِبٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ تَمَكَّنَ مِنْ تَرْجِيحِ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ وَنَفَى عَنْهُ الِاضْطِرَابَ وَرَقَّاهُ بَعْضُهُمْ إِلَى الْحُسْنِ فَالشَّيْبُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ حِسِّيًّا أَوْ مَعْنَوِيًّا وَالشَّيْبُ كَمَا يَكُونُ بِبَيَاضِ الشَّعْرِ يَكُونُ أَيْضًا بِانْهِدَادِ الْجِسْمِ يَعْنِي ضَعْفٍ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْبٌ ثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ وَجَاءَ بَعْدَ حَدِيثِ سَعِيدٍ عَنْ رَبِيعَةَ الْمُشَارِ إِلَيْهِ سَابِقًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ قَالَ رَبِيعَةُ فَرَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ يَعْنِي مَنْ أَثْبَتَ الشَّيْبَ رَأَى هَذِهِ الشَّعَرَاتِ الْحُمُرَ نَعَمْ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ وَهُنَا يَتَّجِهُ النَّفْيَ نَعَمْ وَفِي الْمُسْتَدْرَكِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ وَمَعْرُوفٌ أَنَّهُ فِي حِفْظِهِ شَيْءٌ نَعَمْ سَيِّئُ الْحِفْظِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ مَعْرُوفٌ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ لِأَنَسٍ هَلْ خَضَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ قَدْ لَوَّنَ فَقَالَ إِنَّ هَذَا الَّذِي لَوَّنَ مِنَ الطِّيبِ الَّذِي كَانَ يُطَيَّبُ بِهِ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ الَّذِي غَيَّرَ لَوْنَهُ وَلَعَلَّ رَبِيعَةَ سَأَلَ أَنَسًا عَنْ ذَلِكَ أَيْضًا الْآنَ فِيهِ اخْتِلَافٌ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ بَيْنَ نَفْيِ شَيْبٍ وَبَيْنَ إِثْبَاتِهِ مَنْ نَفَاهُ نَفَى بِذَلِكَ الشَّيْبَ الْحَقِيقِيَّ أَوِ الْكَثِيرَ الْوَاضِحَ مَنْ أَثْبَتَهُ أَثْبَتَ شُعَيْرَاتٍ لَا تَبِيْنُ لِجَمِيْعِ النَّاسِ يُمْكِنُ بَعْضُ النَّاسِ مَا تَبِيْنُ لَهُ إِذَا كَانَ الْعَدَدُ مِنَ الْعِشْرِينَ مَا يَبِيْنُ لَوْنُهُ نَعَمْ أَوْ حَكَمَ عَلَى الْغَالِبِ مَنْ نَفَى وَأَيْضًا قَدْ يَرِدُ النَّفْيُ وَالْإِثْبَاتُ إِلَى جِهَةٍ وَاحِدَةٍ هَذِهِ الشَّعَرَاتُ الْحُمُرُ مَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا شَيْبٌ لِأَنَّهَا مُتَغَيِّرَةٌ عَنِ السَّوَادِ وَمَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِشَيْبٍ قَالَ إِنَّ تَغَيُّرَهَا بِسَبَبِ الطَّيِّبِ لَا بِسَبَبِ تَغَيُّرِ انْتِقَالِ الشَّيْبِ الشَّعْرِ مِنَ السَّوَادِ إِلَى الْبَيَاضِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ فِي الشَّيْبِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ia meriwayatkan, “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dengan sanad sahih, dari Tsabit, dari Anas,Anas berkata, “Tidak ada uban di kepala dan jenggot Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkecuali 17 atau 18 helai uban saja.” Tujuh belas atau delapan belas helai uban.Sedangkan dalam riwayat hadis (pertama tadi), “… dan tidak ada di kepala dan jenggot beliau 20 helai uban.”Tidak terdapat perselisihan di antara keduanya. Adapun dalam riwayat lain yang menafikan adanya ubanmaka yang dimaksud adalah penafian banyaknya uban, bukan penafian ada tidaknya.Baik. Oleh karenanya, terdapat riwayat sahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu,Anas berkata, “Allah tidak membuatnya terlihat jelek dengan uban.” Yakni uban yang terlihat jelas, yang dianggap jelek oleh beberapa kalangan.Tidak diragukan lagi bahwa uban adalah sesuatu yang jelek menurut banyak orang.Terlebih lagi menurut kaum wanita. Namun saat Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Surat Hud dan surat-surat semisalnya membuatku beruban.” Maksudnya bukan uban yang terlihat jelas?Pertama, hadis ini dikenal para ulama sebagai hadis mudhtharib, jadi hadis ini lemah. Meskipun Ibnu Hajar dapat mentarjihkan sebagian hadis dari sebagian riwayat lainnyadan menghilangkan idhthirabnya, serta dinaikkan derajatnya oleh beberapa ulama ke derajat hasan. Jadi, uban di sini dapat memiliki arti harfiah atau maknawi.Uban selain bisa bermakna rambut yang putih, bisa juga bermakna kelemahan fisik.Tidak harus bermakna uban. Dalam riwayat sahih dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak dijadikan Allah terlihat jelek dengan uban.Lalu dalam akhir hadis Said dari Rabi’ah yang telah diisyaratkan sebelumnya dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa Rabi’ah berkata, “Lalu aku melihat sebagian rambut beliau, dan ternyata warnanya merah …”Yakni yang membenarkan Nabi memiliki uban, memandang maksudnya adalah rambut-rambut merah ini. Ya, (Ia melanjutkan), “… Kemudian aku menanyakan tentang itu. Lalu dijawab, ‘Memerah karena terkena minyak wangi.’”Dari sini, dapat dipahami maksud dari penafian uban.Diriwayatkan juga dalam al-Mustadrak dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dan ia dikenal memiliki masalah dalam hafalannya.Ya, Abdullah bin Muhammad bin Aqil dikenal hafalannya buruk.Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi memakai semir rambut?Karena aku melihat sebagian rambut beliau berwarna (tidak hitam).” Anas menjawab, “Rambut yang berwarna itukarena minyak wangi yang dipakai pada rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Itulah yang mengubah warnanya.” Bisa jadi Rabi’ah juga bertanya kepada Anas tentang itu.Sekarang terdapat perbedaan antara riwayat-riwayat ini, antara yang menafikan dan yang menetapkan adanya uban. Ulama yang menafikannya menggunakan riwayat itu untuk makna menafikan uban secara harfiah, atau uban yang banyak dan jelas terlihat.Sedangkan ulama yang menetapkan adanya uban, menetapkan adanya beberapa helai uban saja yang tidak setiap orang dapat melihatnya. Sebagian orang mungkin tidak dapat melihatnya jika jumlahnya hanya dua puluhan, tidak melihatnya dengan jelas.Atau ulama yang menafikannya dengan mengambil hukum mayoritasnya.Penetapan dan penafian ini bisa jadi juga bermuara kepada satu hal yang sama. Rambut-rambut Nabi yang berwarna merah ini,bagi orang yang menetapkannya sebagai ubankarena ia berubah dari warna hitamnya. Sedangkan yang tidak menganggapnya sebagai uban mengatakan karena rambut itu berubah warna akibat minyak wangi,bukan akibat perubahan warna dari hitam ke putih sebagaimana uban pada umumnya. قَوْلُهُ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ أَخْرَجَ ابْنُ سَعْدٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا كَانَ فِي رَأْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِحْيَتِهِ إِلَّا سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِي عَشْرَةَ وَالْحَدِيثُ وَلَيْسَ بِرَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ يَعْنِي لَا اخْتِلَافَ مَا فِيْهِ الِاخْتِلَافُ وَأَمَّا مَا جَاءَ مِنْ نَفْيِ الشَّيْبِ فِي رِوَايَةٍ فَالْمُرَادُ بِهِ نَفْيُ كَثْرَتِهِ لَا أَصْلُهُ نَعَمْ وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ يَعْنِي الشَّيْبُ الْوَاضِحُ الَّذِي يُسْتَقْذَرُ عِنْدَ بَعْضِ الْفِئَاتِ لَا شَكَّ أَنَّهُ الشَّيْبُ شَينٌ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ لَا سِيَّمَا النِّسَاءُ لَكِنْ لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا فَمَاذَا أَرَادَ بِهَا لَيْسَ الْمُرَادُ الشَّيْبَ الْوَاضِحَ الظَّاهِرَ؟ أَوَّلًا الْحَدِيثُ مَعْرُوفٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مُضْطَرِبٌ فَهُوَ ضَعِيفٌ وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ تَمَكَّنَ مِنْ تَرْجِيحِ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ عَلَى بَعْضٍ وَنَفَى عَنْهُ الِاضْطِرَابَ وَرَقَّاهُ بَعْضُهُمْ إِلَى الْحُسْنِ فَالشَّيْبُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ حِسِّيًّا أَوْ مَعْنَوِيًّا وَالشَّيْبُ كَمَا يَكُونُ بِبَيَاضِ الشَّعْرِ يَكُونُ أَيْضًا بِانْهِدَادِ الْجِسْمِ يَعْنِي ضَعْفٍ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ شَيْبٌ ثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ وَجَاءَ بَعْدَ حَدِيثِ سَعِيدٍ عَنْ رَبِيعَةَ الْمُشَارِ إِلَيْهِ سَابِقًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ قَالَ رَبِيعَةُ فَرَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ فَإِذَا هُوَ أَحْمَرُ يَعْنِي مَنْ أَثْبَتَ الشَّيْبَ رَأَى هَذِهِ الشَّعَرَاتِ الْحُمُرَ نَعَمْ فَسَأَلْتُ فَقِيلَ احْمَرَّ مِنَ الطِّيبِ وَهُنَا يَتَّجِهُ النَّفْيَ نَعَمْ وَفِي الْمُسْتَدْرَكِ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ وَمَعْرُوفٌ أَنَّهُ فِي حِفْظِهِ شَيْءٌ نَعَمْ سَيِّئُ الْحِفْظِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ مَعْرُوفٌ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ لِأَنَسٍ هَلْ خَضَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ شَعْرًا مِنْ شَعْرِهِ قَدْ لَوَّنَ فَقَالَ إِنَّ هَذَا الَّذِي لَوَّنَ مِنَ الطِّيبِ الَّذِي كَانَ يُطَيَّبُ بِهِ شَعْرُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ الَّذِي غَيَّرَ لَوْنَهُ وَلَعَلَّ رَبِيعَةَ سَأَلَ أَنَسًا عَنْ ذَلِكَ أَيْضًا الْآنَ فِيهِ اخْتِلَافٌ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ بَيْنَ نَفْيِ شَيْبٍ وَبَيْنَ إِثْبَاتِهِ مَنْ نَفَاهُ نَفَى بِذَلِكَ الشَّيْبَ الْحَقِيقِيَّ أَوِ الْكَثِيرَ الْوَاضِحَ مَنْ أَثْبَتَهُ أَثْبَتَ شُعَيْرَاتٍ لَا تَبِيْنُ لِجَمِيْعِ النَّاسِ يُمْكِنُ بَعْضُ النَّاسِ مَا تَبِيْنُ لَهُ إِذَا كَانَ الْعَدَدُ مِنَ الْعِشْرِينَ مَا يَبِيْنُ لَوْنُهُ نَعَمْ أَوْ حَكَمَ عَلَى الْغَالِبِ مَنْ نَفَى وَأَيْضًا قَدْ يَرِدُ النَّفْيُ وَالْإِثْبَاتُ إِلَى جِهَةٍ وَاحِدَةٍ هَذِهِ الشَّعَرَاتُ الْحُمُرُ مَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا شَيْبٌ لِأَنَّهَا مُتَغَيِّرَةٌ عَنِ السَّوَادِ وَمَنْ أَثْبَتَ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِشَيْبٍ قَالَ إِنَّ تَغَيُّرَهَا بِسَبَبِ الطَّيِّبِ لَا بِسَبَبِ تَغَيُّرِ انْتِقَالِ الشَّيْبِ الشَّعْرِ مِنَ السَّوَادِ إِلَى الْبَيَاضِ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ فِي الشَّيْبِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Siapa yang Disebut sebagai Ahlul Bid’ah?

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Secara umum, semua pelaku bid’ah disebut sebagai ahlul bid’ah. Namun secara khusus, yang dimaksud ahlul bid’ah adalah para penyeru kebid’ahan, para tokoh-tokohnya, dan para pelakunya di saat sedang melakukan kebid’ahan. Merekalah ahlul bid’ah yang perlu diwaspadai dan disikapi dengan keras. Adapun orang awam yang ikut-ikutan melakukan bid’ah maka mereka tidak dijauhi dan tidak disikapi dengan keras. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: الداعي إلى البدعة مستحق العقوبة باتفاق المسلمين… ولو قدر أنه لا يستحق العقوبة أو لا يمكن عقوبته، فلابد من بيان بدعته والتحذير منها، فإن هذا من جملة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر الذي أمر الله به ورسوله “Para da’i penyeru kebid’ahan layak untuk dijatuhkan hukum kepada mereka, berdasarkan kesepakatan ulama … andaikan tidak mampu untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka maka wajib untuk menjelaskan kebid’ahan mereka dan mentahdzir mereka. Dan ini termasuk dalam amar ma’ruf nahi mungkar yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/413) Al-Qarafi rahimahullah mengatakan: قال بعض العلماء: استثني من الغيبة ست صور… الرابعة: أرباب البدع والتصانيف المضلة ينبغي أن يشهر الناس فسادها وعيبها وأنهم على غير الصواب، ليحذرها الناس الضعفاء فلا يقعوا فيها، وينفر عن تلك المفاسد ما أمكن، بشرط أن لا يتعدى فيها الصدق ولا يفتري على أهلها من الفسوق والفواحش ما لم يفعلوه، بل يقتصر على ما فيهم من المنفرات خاصة “Para ulama mengatakan bahwa ghibah dikecualikan pada enam keadaan: … yang keempat: tokoh-tokoh kebid’ahan dan para penulis-penulis buku yang menyesatkan yang sudah tersebar di tengah manusia tentang kerusakan mereka dan aib mereka. Dan sudah tersebar bahwa mereka tidak di atas kebenaran. (Mereka boleh dighibahi) agar masyarakat awam tidak terjerumus dalam kebid’ahan dan menjauh dari kerusakan mereka sebisa mungkin. Dengan syarat tidak boleh berlebihan dan tidak membuat kedustaan dengan menuduh mereka melakukan kefasikan atau dosa besar yang tidak mereka lakukan. Namun cukupkan pada perkara kebid’ahan yang harus dihindari saja.” (Al-Furuq, 8/261) Adapun orang-orang awam, demikian juga orang-orang yang jatuh pada kebid’ahan karena ijtihad, atau karena terpengaruh bukan bersengaja, atau orang shalih yang tergelincir, maka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah.  Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah karya Syaikh Dr. Ahmad bin Abdul Aziz al-Hulaibi. Disebutkan di sana beberapa kaidah: Kaidah pertama: memberikan udzur kepada orang shalih dan ulama mujtahid yang terjerumus kepada kebid’ahan karena ijtihad. Dan membawa perkataan mereka kepada kemungkinan yang benar. Kaidah kedua: tidak menyesatkan ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya baik dalam masalah aqidah maupun masalah fikih, serta tidak menyesatkan atau mengkafirkannya. Kaidah ketiga: memberi udzur kepada ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya bukan berarti setuju kepada kekeliruannya dan kebid’ahannya. Bahkan tetap wajib mengingkarinya selama memungkinkan dengan tetap memperhatikan adab-adab. Kaidah keempat: tidak menghukumi orang yang terjerumus pada kebid’ahan sebagai ahlul ahwa dan ahlul bid’ah, serta tidak memusuhi mereka, kecuali kebid’ahan yang mereka lakukan sangat masyhur dan berat menurut para ulama (Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah, hal 67-82). Pada sebuah kesempatan, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah ditanya: “Di antara para penuntut ilmu/santri terdapat perbedaan mengenai definisi mubtadi’ (ahlul bid’ah). Sebagian mereka mengatakan mubtadi’ adalah orang yang mengatakan atau melakukan kebid’ahan, meskipun ia belum paham. Sebagian yang lain berkata bahwa mubtadi’ itu pelaku bid’ah yang sudah dipahamkan bahwa yang dilakukannya adalah bid’ah. Sebagian lagi ada yang membedakan apakah pelaku bid’ah itu ulama mujtahid yang mempelopori kebid’ahan ataukah bukan ulama mujtahid. Dari beberapa pengertian ini kadang timbul vonis bahwa Ibnu Hajar al-Asqalani atau an-Nawawi adalah mubtadi’ tanpa toleransi sedikit pun kepada mereka. Kami meminta kejelasan dari anda yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam permasalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan anda.” Beliau menjawab: Pertama, seorang penuntut ilmu agama yang masih pemula atau juga orang awam hendaknya tidak menyibukkan dirinya dalam memvonis seseorang itu mubtadi’ atau seseorang itu fasik. Karena hal ini sangat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mendalam tentang masalah ini. Selain itu, menyibukkan diri dalam memvonis mubtadi’ atau fasik akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Maka yang semestinya menjadi kesibukan para penuntut ilmu yang masih pemula atau orang awam adalah: menuntut ilmu agama, dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak memberikan faedah bagi mereka. Bahkan menyibukkan diri dalam memvonis tersebut akan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bagi yang lain. Kedua, bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Siapa saja yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini (agama), yang tidak diajarkan oleh agama, maka tertolak.” (HR. Bukhari no.167, dari jalan ‘Aisyah radhiallahu’anha) Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya tersebut dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’, namun perbuatannya disebut sebagai perbuatan bid’ah. Ketiga, ulama yang berbuat kesalahan ijtihad berupa ta’wil (sifat-sifat Allah), sebagaimana Ibnu Hajar al-Asqalani dan an-Nawawi yang telah menta’wil beberapa sifat Allah, mereka berdua tidak dihukumi mubtadi’. Camkan baik-baik, mereka berdua telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut, namun kita memohonkan ampunan Allah untuk keduanya karena mengingat perjuangan mereka berdua dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka berdua adalah imam besar yang terpercaya dikalangan para ulama. (Muntaqa Fatawa al-Fauzan Jilid 2, fatwa no.181, asy-Syamilah) Contoh zallatul fuqaha adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Auza’i mengatakan, نتجنب من قول أهل العراق خمسا ، ومن قول أهل الحجاز خمسا …  فذكر من قول أهل العراق : شرب المسكر ، ومن قول أهل الحجاز : استماع الملاهي، والمتعة بالنساء “Jauhilah 5 pendapat Ahlul Iraq dan 5 pendapat Ahlul Hijaz (Madinah termasuk Hijaz)! Di antara pendapat Ahlul Iraq yang dijauhi adalah pembolehan minuman yang memabukkan. Di antara pendapat Ahlul Hijaz yang dijauhi adalah membolehkan alat musik dan nikah mut’ah.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/131) Bagi yang sudah pernah membaca kitab Syarhus Sunnah al-Barbahari tentu sudah mengetahui perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah, لا تأخذوا عن أهل الكوفة في الرفض شيئاً ولا عن أهل الشام في السيف شيئاً، ولا عن أهل البصرة في القدر شيئاً، ولا عن أهل خراسان في الإرجاء شيئاً، ولا عن أهل مكة في الصرف شيئاً، ولا عن أهل المدينة في الغناء، لا تأخذوا عنهم في هذه الأشياء شيئاً “Jangan ambil pendapat Ahlul Kufah tentang syiah Rafidhah sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlus Syam tentang pemberontakan sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Bashrah tentang takdir sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Khurasan tentang irja‘ sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlu Makkah tentang transaksi sharf sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Madinah tentang musik sama sekali! Jangan ambil pendapat mereka dalam masalah-masalah ini sama sekali!” Ulama-ulama tersebut keliru dan pendapatnya tidak boleh diikuti, namun mereka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ta Aruf Yang Benar, Hukum Shalat Tarawih Sendiri, Ashbahan Iran, Doa Setelah Tahajud Dan Witir, Bagaimanakah Bilangan Rakaat Salat Tarawih, Bilal Sholat Tarawih Visited 459 times, 1 visit(s) today Post Views: 503 QRIS donasi Yufid

Siapa yang Disebut sebagai Ahlul Bid’ah?

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Secara umum, semua pelaku bid’ah disebut sebagai ahlul bid’ah. Namun secara khusus, yang dimaksud ahlul bid’ah adalah para penyeru kebid’ahan, para tokoh-tokohnya, dan para pelakunya di saat sedang melakukan kebid’ahan. Merekalah ahlul bid’ah yang perlu diwaspadai dan disikapi dengan keras. Adapun orang awam yang ikut-ikutan melakukan bid’ah maka mereka tidak dijauhi dan tidak disikapi dengan keras. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: الداعي إلى البدعة مستحق العقوبة باتفاق المسلمين… ولو قدر أنه لا يستحق العقوبة أو لا يمكن عقوبته، فلابد من بيان بدعته والتحذير منها، فإن هذا من جملة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر الذي أمر الله به ورسوله “Para da’i penyeru kebid’ahan layak untuk dijatuhkan hukum kepada mereka, berdasarkan kesepakatan ulama … andaikan tidak mampu untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka maka wajib untuk menjelaskan kebid’ahan mereka dan mentahdzir mereka. Dan ini termasuk dalam amar ma’ruf nahi mungkar yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/413) Al-Qarafi rahimahullah mengatakan: قال بعض العلماء: استثني من الغيبة ست صور… الرابعة: أرباب البدع والتصانيف المضلة ينبغي أن يشهر الناس فسادها وعيبها وأنهم على غير الصواب، ليحذرها الناس الضعفاء فلا يقعوا فيها، وينفر عن تلك المفاسد ما أمكن، بشرط أن لا يتعدى فيها الصدق ولا يفتري على أهلها من الفسوق والفواحش ما لم يفعلوه، بل يقتصر على ما فيهم من المنفرات خاصة “Para ulama mengatakan bahwa ghibah dikecualikan pada enam keadaan: … yang keempat: tokoh-tokoh kebid’ahan dan para penulis-penulis buku yang menyesatkan yang sudah tersebar di tengah manusia tentang kerusakan mereka dan aib mereka. Dan sudah tersebar bahwa mereka tidak di atas kebenaran. (Mereka boleh dighibahi) agar masyarakat awam tidak terjerumus dalam kebid’ahan dan menjauh dari kerusakan mereka sebisa mungkin. Dengan syarat tidak boleh berlebihan dan tidak membuat kedustaan dengan menuduh mereka melakukan kefasikan atau dosa besar yang tidak mereka lakukan. Namun cukupkan pada perkara kebid’ahan yang harus dihindari saja.” (Al-Furuq, 8/261) Adapun orang-orang awam, demikian juga orang-orang yang jatuh pada kebid’ahan karena ijtihad, atau karena terpengaruh bukan bersengaja, atau orang shalih yang tergelincir, maka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah.  Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah karya Syaikh Dr. Ahmad bin Abdul Aziz al-Hulaibi. Disebutkan di sana beberapa kaidah: Kaidah pertama: memberikan udzur kepada orang shalih dan ulama mujtahid yang terjerumus kepada kebid’ahan karena ijtihad. Dan membawa perkataan mereka kepada kemungkinan yang benar. Kaidah kedua: tidak menyesatkan ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya baik dalam masalah aqidah maupun masalah fikih, serta tidak menyesatkan atau mengkafirkannya. Kaidah ketiga: memberi udzur kepada ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya bukan berarti setuju kepada kekeliruannya dan kebid’ahannya. Bahkan tetap wajib mengingkarinya selama memungkinkan dengan tetap memperhatikan adab-adab. Kaidah keempat: tidak menghukumi orang yang terjerumus pada kebid’ahan sebagai ahlul ahwa dan ahlul bid’ah, serta tidak memusuhi mereka, kecuali kebid’ahan yang mereka lakukan sangat masyhur dan berat menurut para ulama (Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah, hal 67-82). Pada sebuah kesempatan, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah ditanya: “Di antara para penuntut ilmu/santri terdapat perbedaan mengenai definisi mubtadi’ (ahlul bid’ah). Sebagian mereka mengatakan mubtadi’ adalah orang yang mengatakan atau melakukan kebid’ahan, meskipun ia belum paham. Sebagian yang lain berkata bahwa mubtadi’ itu pelaku bid’ah yang sudah dipahamkan bahwa yang dilakukannya adalah bid’ah. Sebagian lagi ada yang membedakan apakah pelaku bid’ah itu ulama mujtahid yang mempelopori kebid’ahan ataukah bukan ulama mujtahid. Dari beberapa pengertian ini kadang timbul vonis bahwa Ibnu Hajar al-Asqalani atau an-Nawawi adalah mubtadi’ tanpa toleransi sedikit pun kepada mereka. Kami meminta kejelasan dari anda yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam permasalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan anda.” Beliau menjawab: Pertama, seorang penuntut ilmu agama yang masih pemula atau juga orang awam hendaknya tidak menyibukkan dirinya dalam memvonis seseorang itu mubtadi’ atau seseorang itu fasik. Karena hal ini sangat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mendalam tentang masalah ini. Selain itu, menyibukkan diri dalam memvonis mubtadi’ atau fasik akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Maka yang semestinya menjadi kesibukan para penuntut ilmu yang masih pemula atau orang awam adalah: menuntut ilmu agama, dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak memberikan faedah bagi mereka. Bahkan menyibukkan diri dalam memvonis tersebut akan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bagi yang lain. Kedua, bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Siapa saja yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini (agama), yang tidak diajarkan oleh agama, maka tertolak.” (HR. Bukhari no.167, dari jalan ‘Aisyah radhiallahu’anha) Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya tersebut dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’, namun perbuatannya disebut sebagai perbuatan bid’ah. Ketiga, ulama yang berbuat kesalahan ijtihad berupa ta’wil (sifat-sifat Allah), sebagaimana Ibnu Hajar al-Asqalani dan an-Nawawi yang telah menta’wil beberapa sifat Allah, mereka berdua tidak dihukumi mubtadi’. Camkan baik-baik, mereka berdua telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut, namun kita memohonkan ampunan Allah untuk keduanya karena mengingat perjuangan mereka berdua dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka berdua adalah imam besar yang terpercaya dikalangan para ulama. (Muntaqa Fatawa al-Fauzan Jilid 2, fatwa no.181, asy-Syamilah) Contoh zallatul fuqaha adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Auza’i mengatakan, نتجنب من قول أهل العراق خمسا ، ومن قول أهل الحجاز خمسا …  فذكر من قول أهل العراق : شرب المسكر ، ومن قول أهل الحجاز : استماع الملاهي، والمتعة بالنساء “Jauhilah 5 pendapat Ahlul Iraq dan 5 pendapat Ahlul Hijaz (Madinah termasuk Hijaz)! Di antara pendapat Ahlul Iraq yang dijauhi adalah pembolehan minuman yang memabukkan. Di antara pendapat Ahlul Hijaz yang dijauhi adalah membolehkan alat musik dan nikah mut’ah.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/131) Bagi yang sudah pernah membaca kitab Syarhus Sunnah al-Barbahari tentu sudah mengetahui perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah, لا تأخذوا عن أهل الكوفة في الرفض شيئاً ولا عن أهل الشام في السيف شيئاً، ولا عن أهل البصرة في القدر شيئاً، ولا عن أهل خراسان في الإرجاء شيئاً، ولا عن أهل مكة في الصرف شيئاً، ولا عن أهل المدينة في الغناء، لا تأخذوا عنهم في هذه الأشياء شيئاً “Jangan ambil pendapat Ahlul Kufah tentang syiah Rafidhah sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlus Syam tentang pemberontakan sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Bashrah tentang takdir sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Khurasan tentang irja‘ sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlu Makkah tentang transaksi sharf sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Madinah tentang musik sama sekali! Jangan ambil pendapat mereka dalam masalah-masalah ini sama sekali!” Ulama-ulama tersebut keliru dan pendapatnya tidak boleh diikuti, namun mereka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ta Aruf Yang Benar, Hukum Shalat Tarawih Sendiri, Ashbahan Iran, Doa Setelah Tahajud Dan Witir, Bagaimanakah Bilangan Rakaat Salat Tarawih, Bilal Sholat Tarawih Visited 459 times, 1 visit(s) today Post Views: 503 QRIS donasi Yufid
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Secara umum, semua pelaku bid’ah disebut sebagai ahlul bid’ah. Namun secara khusus, yang dimaksud ahlul bid’ah adalah para penyeru kebid’ahan, para tokoh-tokohnya, dan para pelakunya di saat sedang melakukan kebid’ahan. Merekalah ahlul bid’ah yang perlu diwaspadai dan disikapi dengan keras. Adapun orang awam yang ikut-ikutan melakukan bid’ah maka mereka tidak dijauhi dan tidak disikapi dengan keras. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: الداعي إلى البدعة مستحق العقوبة باتفاق المسلمين… ولو قدر أنه لا يستحق العقوبة أو لا يمكن عقوبته، فلابد من بيان بدعته والتحذير منها، فإن هذا من جملة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر الذي أمر الله به ورسوله “Para da’i penyeru kebid’ahan layak untuk dijatuhkan hukum kepada mereka, berdasarkan kesepakatan ulama … andaikan tidak mampu untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka maka wajib untuk menjelaskan kebid’ahan mereka dan mentahdzir mereka. Dan ini termasuk dalam amar ma’ruf nahi mungkar yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/413) Al-Qarafi rahimahullah mengatakan: قال بعض العلماء: استثني من الغيبة ست صور… الرابعة: أرباب البدع والتصانيف المضلة ينبغي أن يشهر الناس فسادها وعيبها وأنهم على غير الصواب، ليحذرها الناس الضعفاء فلا يقعوا فيها، وينفر عن تلك المفاسد ما أمكن، بشرط أن لا يتعدى فيها الصدق ولا يفتري على أهلها من الفسوق والفواحش ما لم يفعلوه، بل يقتصر على ما فيهم من المنفرات خاصة “Para ulama mengatakan bahwa ghibah dikecualikan pada enam keadaan: … yang keempat: tokoh-tokoh kebid’ahan dan para penulis-penulis buku yang menyesatkan yang sudah tersebar di tengah manusia tentang kerusakan mereka dan aib mereka. Dan sudah tersebar bahwa mereka tidak di atas kebenaran. (Mereka boleh dighibahi) agar masyarakat awam tidak terjerumus dalam kebid’ahan dan menjauh dari kerusakan mereka sebisa mungkin. Dengan syarat tidak boleh berlebihan dan tidak membuat kedustaan dengan menuduh mereka melakukan kefasikan atau dosa besar yang tidak mereka lakukan. Namun cukupkan pada perkara kebid’ahan yang harus dihindari saja.” (Al-Furuq, 8/261) Adapun orang-orang awam, demikian juga orang-orang yang jatuh pada kebid’ahan karena ijtihad, atau karena terpengaruh bukan bersengaja, atau orang shalih yang tergelincir, maka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah.  Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah karya Syaikh Dr. Ahmad bin Abdul Aziz al-Hulaibi. Disebutkan di sana beberapa kaidah: Kaidah pertama: memberikan udzur kepada orang shalih dan ulama mujtahid yang terjerumus kepada kebid’ahan karena ijtihad. Dan membawa perkataan mereka kepada kemungkinan yang benar. Kaidah kedua: tidak menyesatkan ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya baik dalam masalah aqidah maupun masalah fikih, serta tidak menyesatkan atau mengkafirkannya. Kaidah ketiga: memberi udzur kepada ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya bukan berarti setuju kepada kekeliruannya dan kebid’ahannya. Bahkan tetap wajib mengingkarinya selama memungkinkan dengan tetap memperhatikan adab-adab. Kaidah keempat: tidak menghukumi orang yang terjerumus pada kebid’ahan sebagai ahlul ahwa dan ahlul bid’ah, serta tidak memusuhi mereka, kecuali kebid’ahan yang mereka lakukan sangat masyhur dan berat menurut para ulama (Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah, hal 67-82). Pada sebuah kesempatan, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah ditanya: “Di antara para penuntut ilmu/santri terdapat perbedaan mengenai definisi mubtadi’ (ahlul bid’ah). Sebagian mereka mengatakan mubtadi’ adalah orang yang mengatakan atau melakukan kebid’ahan, meskipun ia belum paham. Sebagian yang lain berkata bahwa mubtadi’ itu pelaku bid’ah yang sudah dipahamkan bahwa yang dilakukannya adalah bid’ah. Sebagian lagi ada yang membedakan apakah pelaku bid’ah itu ulama mujtahid yang mempelopori kebid’ahan ataukah bukan ulama mujtahid. Dari beberapa pengertian ini kadang timbul vonis bahwa Ibnu Hajar al-Asqalani atau an-Nawawi adalah mubtadi’ tanpa toleransi sedikit pun kepada mereka. Kami meminta kejelasan dari anda yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam permasalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan anda.” Beliau menjawab: Pertama, seorang penuntut ilmu agama yang masih pemula atau juga orang awam hendaknya tidak menyibukkan dirinya dalam memvonis seseorang itu mubtadi’ atau seseorang itu fasik. Karena hal ini sangat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mendalam tentang masalah ini. Selain itu, menyibukkan diri dalam memvonis mubtadi’ atau fasik akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Maka yang semestinya menjadi kesibukan para penuntut ilmu yang masih pemula atau orang awam adalah: menuntut ilmu agama, dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak memberikan faedah bagi mereka. Bahkan menyibukkan diri dalam memvonis tersebut akan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bagi yang lain. Kedua, bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Siapa saja yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini (agama), yang tidak diajarkan oleh agama, maka tertolak.” (HR. Bukhari no.167, dari jalan ‘Aisyah radhiallahu’anha) Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya tersebut dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’, namun perbuatannya disebut sebagai perbuatan bid’ah. Ketiga, ulama yang berbuat kesalahan ijtihad berupa ta’wil (sifat-sifat Allah), sebagaimana Ibnu Hajar al-Asqalani dan an-Nawawi yang telah menta’wil beberapa sifat Allah, mereka berdua tidak dihukumi mubtadi’. Camkan baik-baik, mereka berdua telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut, namun kita memohonkan ampunan Allah untuk keduanya karena mengingat perjuangan mereka berdua dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka berdua adalah imam besar yang terpercaya dikalangan para ulama. (Muntaqa Fatawa al-Fauzan Jilid 2, fatwa no.181, asy-Syamilah) Contoh zallatul fuqaha adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Auza’i mengatakan, نتجنب من قول أهل العراق خمسا ، ومن قول أهل الحجاز خمسا …  فذكر من قول أهل العراق : شرب المسكر ، ومن قول أهل الحجاز : استماع الملاهي، والمتعة بالنساء “Jauhilah 5 pendapat Ahlul Iraq dan 5 pendapat Ahlul Hijaz (Madinah termasuk Hijaz)! Di antara pendapat Ahlul Iraq yang dijauhi adalah pembolehan minuman yang memabukkan. Di antara pendapat Ahlul Hijaz yang dijauhi adalah membolehkan alat musik dan nikah mut’ah.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/131) Bagi yang sudah pernah membaca kitab Syarhus Sunnah al-Barbahari tentu sudah mengetahui perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah, لا تأخذوا عن أهل الكوفة في الرفض شيئاً ولا عن أهل الشام في السيف شيئاً، ولا عن أهل البصرة في القدر شيئاً، ولا عن أهل خراسان في الإرجاء شيئاً، ولا عن أهل مكة في الصرف شيئاً، ولا عن أهل المدينة في الغناء، لا تأخذوا عنهم في هذه الأشياء شيئاً “Jangan ambil pendapat Ahlul Kufah tentang syiah Rafidhah sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlus Syam tentang pemberontakan sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Bashrah tentang takdir sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Khurasan tentang irja‘ sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlu Makkah tentang transaksi sharf sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Madinah tentang musik sama sekali! Jangan ambil pendapat mereka dalam masalah-masalah ini sama sekali!” Ulama-ulama tersebut keliru dan pendapatnya tidak boleh diikuti, namun mereka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ta Aruf Yang Benar, Hukum Shalat Tarawih Sendiri, Ashbahan Iran, Doa Setelah Tahajud Dan Witir, Bagaimanakah Bilangan Rakaat Salat Tarawih, Bilal Sholat Tarawih Visited 459 times, 1 visit(s) today Post Views: 503 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1378588123&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi was shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Secara umum, semua pelaku bid’ah disebut sebagai ahlul bid’ah. Namun secara khusus, yang dimaksud ahlul bid’ah adalah para penyeru kebid’ahan, para tokoh-tokohnya, dan para pelakunya di saat sedang melakukan kebid’ahan. Merekalah ahlul bid’ah yang perlu diwaspadai dan disikapi dengan keras. Adapun orang awam yang ikut-ikutan melakukan bid’ah maka mereka tidak dijauhi dan tidak disikapi dengan keras. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: الداعي إلى البدعة مستحق العقوبة باتفاق المسلمين… ولو قدر أنه لا يستحق العقوبة أو لا يمكن عقوبته، فلابد من بيان بدعته والتحذير منها، فإن هذا من جملة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر الذي أمر الله به ورسوله “Para da’i penyeru kebid’ahan layak untuk dijatuhkan hukum kepada mereka, berdasarkan kesepakatan ulama … andaikan tidak mampu untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka maka wajib untuk menjelaskan kebid’ahan mereka dan mentahdzir mereka. Dan ini termasuk dalam amar ma’ruf nahi mungkar yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/413) Al-Qarafi rahimahullah mengatakan: قال بعض العلماء: استثني من الغيبة ست صور… الرابعة: أرباب البدع والتصانيف المضلة ينبغي أن يشهر الناس فسادها وعيبها وأنهم على غير الصواب، ليحذرها الناس الضعفاء فلا يقعوا فيها، وينفر عن تلك المفاسد ما أمكن، بشرط أن لا يتعدى فيها الصدق ولا يفتري على أهلها من الفسوق والفواحش ما لم يفعلوه، بل يقتصر على ما فيهم من المنفرات خاصة “Para ulama mengatakan bahwa ghibah dikecualikan pada enam keadaan: … yang keempat: tokoh-tokoh kebid’ahan dan para penulis-penulis buku yang menyesatkan yang sudah tersebar di tengah manusia tentang kerusakan mereka dan aib mereka. Dan sudah tersebar bahwa mereka tidak di atas kebenaran. (Mereka boleh dighibahi) agar masyarakat awam tidak terjerumus dalam kebid’ahan dan menjauh dari kerusakan mereka sebisa mungkin. Dengan syarat tidak boleh berlebihan dan tidak membuat kedustaan dengan menuduh mereka melakukan kefasikan atau dosa besar yang tidak mereka lakukan. Namun cukupkan pada perkara kebid’ahan yang harus dihindari saja.” (Al-Furuq, 8/261) Adapun orang-orang awam, demikian juga orang-orang yang jatuh pada kebid’ahan karena ijtihad, atau karena terpengaruh bukan bersengaja, atau orang shalih yang tergelincir, maka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah.  Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah karya Syaikh Dr. Ahmad bin Abdul Aziz al-Hulaibi. Disebutkan di sana beberapa kaidah: Kaidah pertama: memberikan udzur kepada orang shalih dan ulama mujtahid yang terjerumus kepada kebid’ahan karena ijtihad. Dan membawa perkataan mereka kepada kemungkinan yang benar. Kaidah kedua: tidak menyesatkan ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya baik dalam masalah aqidah maupun masalah fikih, serta tidak menyesatkan atau mengkafirkannya. Kaidah ketiga: memberi udzur kepada ulama yang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya bukan berarti setuju kepada kekeliruannya dan kebid’ahannya. Bahkan tetap wajib mengingkarinya selama memungkinkan dengan tetap memperhatikan adab-adab. Kaidah keempat: tidak menghukumi orang yang terjerumus pada kebid’ahan sebagai ahlul ahwa dan ahlul bid’ah, serta tidak memusuhi mereka, kecuali kebid’ahan yang mereka lakukan sangat masyhur dan berat menurut para ulama (Ushulul Hukmi ‘alal Mubtadi’ah inda Ibni Taimiyah, hal 67-82). Pada sebuah kesempatan, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah ditanya: “Di antara para penuntut ilmu/santri terdapat perbedaan mengenai definisi mubtadi’ (ahlul bid’ah). Sebagian mereka mengatakan mubtadi’ adalah orang yang mengatakan atau melakukan kebid’ahan, meskipun ia belum paham. Sebagian yang lain berkata bahwa mubtadi’ itu pelaku bid’ah yang sudah dipahamkan bahwa yang dilakukannya adalah bid’ah. Sebagian lagi ada yang membedakan apakah pelaku bid’ah itu ulama mujtahid yang mempelopori kebid’ahan ataukah bukan ulama mujtahid. Dari beberapa pengertian ini kadang timbul vonis bahwa Ibnu Hajar al-Asqalani atau an-Nawawi adalah mubtadi’ tanpa toleransi sedikit pun kepada mereka. Kami meminta kejelasan dari anda yang memiliki pemahaman yang mendalam dalam permasalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan anda.” Beliau menjawab: Pertama, seorang penuntut ilmu agama yang masih pemula atau juga orang awam hendaknya tidak menyibukkan dirinya dalam memvonis seseorang itu mubtadi’ atau seseorang itu fasik. Karena hal ini sangat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mendalam tentang masalah ini. Selain itu, menyibukkan diri dalam memvonis mubtadi’ atau fasik akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Maka yang semestinya menjadi kesibukan para penuntut ilmu yang masih pemula atau orang awam adalah: menuntut ilmu agama, dan menahan lisan mereka dari hal-hal yang tidak memberikan faedah bagi mereka. Bahkan menyibukkan diri dalam memvonis tersebut akan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bagi yang lain. Kedua, bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda beliau: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Siapa saja yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini (agama), yang tidak diajarkan oleh agama, maka tertolak.” (HR. Bukhari no.167, dari jalan ‘Aisyah radhiallahu’anha) Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya tersebut dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’, namun perbuatannya disebut sebagai perbuatan bid’ah. Ketiga, ulama yang berbuat kesalahan ijtihad berupa ta’wil (sifat-sifat Allah), sebagaimana Ibnu Hajar al-Asqalani dan an-Nawawi yang telah menta’wil beberapa sifat Allah, mereka berdua tidak dihukumi mubtadi’. Camkan baik-baik, mereka berdua telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut, namun kita memohonkan ampunan Allah untuk keduanya karena mengingat perjuangan mereka berdua dalam mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka berdua adalah imam besar yang terpercaya dikalangan para ulama. (Muntaqa Fatawa al-Fauzan Jilid 2, fatwa no.181, asy-Syamilah) Contoh zallatul fuqaha adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Auza’i mengatakan, نتجنب من قول أهل العراق خمسا ، ومن قول أهل الحجاز خمسا …  فذكر من قول أهل العراق : شرب المسكر ، ومن قول أهل الحجاز : استماع الملاهي، والمتعة بالنساء “Jauhilah 5 pendapat Ahlul Iraq dan 5 pendapat Ahlul Hijaz (Madinah termasuk Hijaz)! Di antara pendapat Ahlul Iraq yang dijauhi adalah pembolehan minuman yang memabukkan. Di antara pendapat Ahlul Hijaz yang dijauhi adalah membolehkan alat musik dan nikah mut’ah.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/131) Bagi yang sudah pernah membaca kitab Syarhus Sunnah al-Barbahari tentu sudah mengetahui perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah, لا تأخذوا عن أهل الكوفة في الرفض شيئاً ولا عن أهل الشام في السيف شيئاً، ولا عن أهل البصرة في القدر شيئاً، ولا عن أهل خراسان في الإرجاء شيئاً، ولا عن أهل مكة في الصرف شيئاً، ولا عن أهل المدينة في الغناء، لا تأخذوا عنهم في هذه الأشياء شيئاً “Jangan ambil pendapat Ahlul Kufah tentang syiah Rafidhah sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlus Syam tentang pemberontakan sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Bashrah tentang takdir sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Khurasan tentang irja‘ sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlu Makkah tentang transaksi sharf sama sekali! Jangan ambil pendapat Ahlul Madinah tentang musik sama sekali! Jangan ambil pendapat mereka dalam masalah-masalah ini sama sekali!” Ulama-ulama tersebut keliru dan pendapatnya tidak boleh diikuti, namun mereka tidak divonis sebagai ahlul bid’ah. Wallahu a’lam. Was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Ta Aruf Yang Benar, Hukum Shalat Tarawih Sendiri, Ashbahan Iran, Doa Setelah Tahajud Dan Witir, Bagaimanakah Bilangan Rakaat Salat Tarawih, Bilal Sholat Tarawih Visited 459 times, 1 visit(s) today Post Views: 503 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next