Banyak Tumbuhan Hijau di Arab, Kiamat Sudah Dekat?

Pertanyaan: Saya melihat di negeri-negeri Arab yang awalnya tandus sudah mulai menghijau di sebagian tempat. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan yang menghijaukan gurun dan pegunungan. Apakah ini salah satu tanda kiamat yang disebutkan di dalam hadits? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa manwalah, amma ba’du, Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ، حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه، وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai harta (di tangan manusia) menjadi sangat banyak dan melimpah. Dan sampai banyak orang yang ingin membayar zakat namun tidak mendapati orang yang mau menerimanya. Dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Muslim no. 157). Dalam riwayat lain: لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يكثُرَ الهَرجُ وحتَّى تعودَ أرضُ العرَبِ مُروجًا وأنهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai banyak terjadi perang dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Ibnu Hibban no. 6700, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah di tahun 1413 H pernah menjelaskan bahwa menghijaunya Jazirah Arab merupakan salah satu tanda kiamat yang telah terjadi. Beliau rahimahullah mengatakan, المروج هي البساتين والمزارع والأنهار معروفة المياه التي تجري على سطح الأرض وإذا نظرنا إلى واقعنا اليوم وجدنا أن الشطر الثاني من الحديث قد وجد وهو أن جزيرة العرب تلك الجزيرة القاحلة صارت الآن مروجاً وأنهاراً كيف صارت أنهارا؟ بما ينبع فيها من المياه والآبار الإرتوازية وغيرها وأما كونها مروجاً فهذا ظاهر وأما الأموال فلا شك أنها كثيرة بأيدي الناس لكن لم تصل إلى حد أن الرجل يخرج بزكاته لا يجد من يقبضها فهذا لم يكن حتى الآن ولكنه سيكون فهو من أشراط الساعة إذا وجد فالساعة قريبة “Al-muruj maksudnya kebun-kebun dan tumbuh-tumbuhan. Al-anhar sudah kita ketahui, maknanya adalah air yang mengalir di permukaan tanah. Jika kita melihat realita zaman sekarang ini, kita telah dapati bahwa bagian kedua dari hadits ini sudah terjadi. Bahwa Jazirah Arab yang kering sekarang telah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Lalu apa yang dimaksud dengan banyak sungai-sungai? Yaitu banyak mengalir aliran air dan sumur-sumur artesis dan semisalnya. Adapun banyaknya kebun, ini sudah jelas.  Sedangkan melimpahnya harta, tidak ragu lagi ini sudah terjadi pada sebagian orang. Namun belum sampai pada level adanya orang-orang yang berzakat namun tidak ada orang yang mau menerimanya. Ini belum terjadi di zaman sekarang. Namun pasti akan terjadi, karena ia salah satu tanda hari kiamat. Jika kita telah dapati ini, maka kiamat sudah dekat” (Fatawa Al-Haram Al-Makki, no. 2B, tahun 1413 H) Di tahun-tahun ini, kita dapati lebih banyak lagi daerah gurun dan pegunungan di negeri Arab yang telah menghijau bahkan lebih lebat dan lebih hijau lagi dari sebelumnya. Namun tentunya apa yang terjadi di tahun-tahun ini belum sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam hadits. Karena disebutkan dalam hadits lain bahwa Jazirah Arab akan penuh dengan kebun-kebun dan banyak sekali sungai-sungai. Dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ … يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا “Sesungguhnya kalian besok insyaAllah akan mendatangi mata air di Tabuk… dan sungguh wahai Mu’adz, andaikan umurmu panjang, engkau akan melihat di sini (Tabuk) akan dipenuhi dengan kebun-kebun” (HR. Muslim no.706). Dan realita pada saat ini, Jazirah Arab masih didominasi oleh gurun-gurun yang tandus daripada kebun-kebun dan sungai-sungai. Sehingga walaupun sudah terjadi, tanda kiamat berupa kembalinya negeri Arab menjadi kebun-kebun, belum terjadi secara sempurna.  Namun tentunya tidak layak kita mengatakan bahwa kiamat masih jauh. Bahkan kiamat itu sudah dekat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:  اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ “Kiamat sudah dekat, dan bulan telah terbelah” (QS. Al-Qamar: 1). Maka hendaknya kita meyakini bahwa Kiamat itu dekat, terlepas dari fenomena di atas sudah benar-benar terjadi atau belum. Dengan meyakini bahwa Kiamat sudah dekat, kita akan lebih bersegera untuk beramal shalih, lebih takut untuk melakukan maksiat dan lebih bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ “Wahai Rasulullah, orang mukmin mana yang paling utama? Nabi menjawab: Yang paling baik akhlaknya. Orang Anshar bertanya lagi: Lalu orang mukmin mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Keutamaan Bulan Sya'ban Dan Amalannya, Syahadat Orang Syiah, Makanan Di Surga, Innalillahiwainnailaihirojiun Doa, Surah Pendek Sholat, Kitab Taurat Untuk Agama Apa Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 229 QRIS donasi Yufid

Banyak Tumbuhan Hijau di Arab, Kiamat Sudah Dekat?

Pertanyaan: Saya melihat di negeri-negeri Arab yang awalnya tandus sudah mulai menghijau di sebagian tempat. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan yang menghijaukan gurun dan pegunungan. Apakah ini salah satu tanda kiamat yang disebutkan di dalam hadits? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa manwalah, amma ba’du, Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ، حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه، وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai harta (di tangan manusia) menjadi sangat banyak dan melimpah. Dan sampai banyak orang yang ingin membayar zakat namun tidak mendapati orang yang mau menerimanya. Dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Muslim no. 157). Dalam riwayat lain: لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يكثُرَ الهَرجُ وحتَّى تعودَ أرضُ العرَبِ مُروجًا وأنهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai banyak terjadi perang dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Ibnu Hibban no. 6700, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah di tahun 1413 H pernah menjelaskan bahwa menghijaunya Jazirah Arab merupakan salah satu tanda kiamat yang telah terjadi. Beliau rahimahullah mengatakan, المروج هي البساتين والمزارع والأنهار معروفة المياه التي تجري على سطح الأرض وإذا نظرنا إلى واقعنا اليوم وجدنا أن الشطر الثاني من الحديث قد وجد وهو أن جزيرة العرب تلك الجزيرة القاحلة صارت الآن مروجاً وأنهاراً كيف صارت أنهارا؟ بما ينبع فيها من المياه والآبار الإرتوازية وغيرها وأما كونها مروجاً فهذا ظاهر وأما الأموال فلا شك أنها كثيرة بأيدي الناس لكن لم تصل إلى حد أن الرجل يخرج بزكاته لا يجد من يقبضها فهذا لم يكن حتى الآن ولكنه سيكون فهو من أشراط الساعة إذا وجد فالساعة قريبة “Al-muruj maksudnya kebun-kebun dan tumbuh-tumbuhan. Al-anhar sudah kita ketahui, maknanya adalah air yang mengalir di permukaan tanah. Jika kita melihat realita zaman sekarang ini, kita telah dapati bahwa bagian kedua dari hadits ini sudah terjadi. Bahwa Jazirah Arab yang kering sekarang telah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Lalu apa yang dimaksud dengan banyak sungai-sungai? Yaitu banyak mengalir aliran air dan sumur-sumur artesis dan semisalnya. Adapun banyaknya kebun, ini sudah jelas.  Sedangkan melimpahnya harta, tidak ragu lagi ini sudah terjadi pada sebagian orang. Namun belum sampai pada level adanya orang-orang yang berzakat namun tidak ada orang yang mau menerimanya. Ini belum terjadi di zaman sekarang. Namun pasti akan terjadi, karena ia salah satu tanda hari kiamat. Jika kita telah dapati ini, maka kiamat sudah dekat” (Fatawa Al-Haram Al-Makki, no. 2B, tahun 1413 H) Di tahun-tahun ini, kita dapati lebih banyak lagi daerah gurun dan pegunungan di negeri Arab yang telah menghijau bahkan lebih lebat dan lebih hijau lagi dari sebelumnya. Namun tentunya apa yang terjadi di tahun-tahun ini belum sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam hadits. Karena disebutkan dalam hadits lain bahwa Jazirah Arab akan penuh dengan kebun-kebun dan banyak sekali sungai-sungai. Dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ … يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا “Sesungguhnya kalian besok insyaAllah akan mendatangi mata air di Tabuk… dan sungguh wahai Mu’adz, andaikan umurmu panjang, engkau akan melihat di sini (Tabuk) akan dipenuhi dengan kebun-kebun” (HR. Muslim no.706). Dan realita pada saat ini, Jazirah Arab masih didominasi oleh gurun-gurun yang tandus daripada kebun-kebun dan sungai-sungai. Sehingga walaupun sudah terjadi, tanda kiamat berupa kembalinya negeri Arab menjadi kebun-kebun, belum terjadi secara sempurna.  Namun tentunya tidak layak kita mengatakan bahwa kiamat masih jauh. Bahkan kiamat itu sudah dekat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:  اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ “Kiamat sudah dekat, dan bulan telah terbelah” (QS. Al-Qamar: 1). Maka hendaknya kita meyakini bahwa Kiamat itu dekat, terlepas dari fenomena di atas sudah benar-benar terjadi atau belum. Dengan meyakini bahwa Kiamat sudah dekat, kita akan lebih bersegera untuk beramal shalih, lebih takut untuk melakukan maksiat dan lebih bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ “Wahai Rasulullah, orang mukmin mana yang paling utama? Nabi menjawab: Yang paling baik akhlaknya. Orang Anshar bertanya lagi: Lalu orang mukmin mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Keutamaan Bulan Sya'ban Dan Amalannya, Syahadat Orang Syiah, Makanan Di Surga, Innalillahiwainnailaihirojiun Doa, Surah Pendek Sholat, Kitab Taurat Untuk Agama Apa Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 229 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya melihat di negeri-negeri Arab yang awalnya tandus sudah mulai menghijau di sebagian tempat. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan yang menghijaukan gurun dan pegunungan. Apakah ini salah satu tanda kiamat yang disebutkan di dalam hadits? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa manwalah, amma ba’du, Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ، حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه، وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai harta (di tangan manusia) menjadi sangat banyak dan melimpah. Dan sampai banyak orang yang ingin membayar zakat namun tidak mendapati orang yang mau menerimanya. Dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Muslim no. 157). Dalam riwayat lain: لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يكثُرَ الهَرجُ وحتَّى تعودَ أرضُ العرَبِ مُروجًا وأنهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai banyak terjadi perang dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Ibnu Hibban no. 6700, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah di tahun 1413 H pernah menjelaskan bahwa menghijaunya Jazirah Arab merupakan salah satu tanda kiamat yang telah terjadi. Beliau rahimahullah mengatakan, المروج هي البساتين والمزارع والأنهار معروفة المياه التي تجري على سطح الأرض وإذا نظرنا إلى واقعنا اليوم وجدنا أن الشطر الثاني من الحديث قد وجد وهو أن جزيرة العرب تلك الجزيرة القاحلة صارت الآن مروجاً وأنهاراً كيف صارت أنهارا؟ بما ينبع فيها من المياه والآبار الإرتوازية وغيرها وأما كونها مروجاً فهذا ظاهر وأما الأموال فلا شك أنها كثيرة بأيدي الناس لكن لم تصل إلى حد أن الرجل يخرج بزكاته لا يجد من يقبضها فهذا لم يكن حتى الآن ولكنه سيكون فهو من أشراط الساعة إذا وجد فالساعة قريبة “Al-muruj maksudnya kebun-kebun dan tumbuh-tumbuhan. Al-anhar sudah kita ketahui, maknanya adalah air yang mengalir di permukaan tanah. Jika kita melihat realita zaman sekarang ini, kita telah dapati bahwa bagian kedua dari hadits ini sudah terjadi. Bahwa Jazirah Arab yang kering sekarang telah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Lalu apa yang dimaksud dengan banyak sungai-sungai? Yaitu banyak mengalir aliran air dan sumur-sumur artesis dan semisalnya. Adapun banyaknya kebun, ini sudah jelas.  Sedangkan melimpahnya harta, tidak ragu lagi ini sudah terjadi pada sebagian orang. Namun belum sampai pada level adanya orang-orang yang berzakat namun tidak ada orang yang mau menerimanya. Ini belum terjadi di zaman sekarang. Namun pasti akan terjadi, karena ia salah satu tanda hari kiamat. Jika kita telah dapati ini, maka kiamat sudah dekat” (Fatawa Al-Haram Al-Makki, no. 2B, tahun 1413 H) Di tahun-tahun ini, kita dapati lebih banyak lagi daerah gurun dan pegunungan di negeri Arab yang telah menghijau bahkan lebih lebat dan lebih hijau lagi dari sebelumnya. Namun tentunya apa yang terjadi di tahun-tahun ini belum sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam hadits. Karena disebutkan dalam hadits lain bahwa Jazirah Arab akan penuh dengan kebun-kebun dan banyak sekali sungai-sungai. Dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ … يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا “Sesungguhnya kalian besok insyaAllah akan mendatangi mata air di Tabuk… dan sungguh wahai Mu’adz, andaikan umurmu panjang, engkau akan melihat di sini (Tabuk) akan dipenuhi dengan kebun-kebun” (HR. Muslim no.706). Dan realita pada saat ini, Jazirah Arab masih didominasi oleh gurun-gurun yang tandus daripada kebun-kebun dan sungai-sungai. Sehingga walaupun sudah terjadi, tanda kiamat berupa kembalinya negeri Arab menjadi kebun-kebun, belum terjadi secara sempurna.  Namun tentunya tidak layak kita mengatakan bahwa kiamat masih jauh. Bahkan kiamat itu sudah dekat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:  اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ “Kiamat sudah dekat, dan bulan telah terbelah” (QS. Al-Qamar: 1). Maka hendaknya kita meyakini bahwa Kiamat itu dekat, terlepas dari fenomena di atas sudah benar-benar terjadi atau belum. Dengan meyakini bahwa Kiamat sudah dekat, kita akan lebih bersegera untuk beramal shalih, lebih takut untuk melakukan maksiat dan lebih bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ “Wahai Rasulullah, orang mukmin mana yang paling utama? Nabi menjawab: Yang paling baik akhlaknya. Orang Anshar bertanya lagi: Lalu orang mukmin mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Keutamaan Bulan Sya'ban Dan Amalannya, Syahadat Orang Syiah, Makanan Di Surga, Innalillahiwainnailaihirojiun Doa, Surah Pendek Sholat, Kitab Taurat Untuk Agama Apa Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 229 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1469319178&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya melihat di negeri-negeri Arab yang awalnya tandus sudah mulai menghijau di sebagian tempat. Banyak pohon-pohon dan tumbuhan yang menghijaukan gurun dan pegunungan. Apakah ini salah satu tanda kiamat yang disebutkan di dalam hadits? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa manwalah, amma ba’du, Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَكْثُرَ المالُ ويَفِيضَ، حتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بزَكاةِ مالِهِ فلا يَجِدُ أحَدًا يَقْبَلُها منه، وحتَّى تَعُودَ أرْضُ العَرَبِ مُرُوجًا وأَنْهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai harta (di tangan manusia) menjadi sangat banyak dan melimpah. Dan sampai banyak orang yang ingin membayar zakat namun tidak mendapati orang yang mau menerimanya. Dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Muslim no. 157). Dalam riwayat lain: لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يكثُرَ الهَرجُ وحتَّى تعودَ أرضُ العرَبِ مُروجًا وأنهارًا “Tidak akan terjadi kiamat sampai banyak terjadi perang dan sampai negeri-negeri Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai” (HR. Ibnu Hibban no. 6700, dishahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah di tahun 1413 H pernah menjelaskan bahwa menghijaunya Jazirah Arab merupakan salah satu tanda kiamat yang telah terjadi. Beliau rahimahullah mengatakan, المروج هي البساتين والمزارع والأنهار معروفة المياه التي تجري على سطح الأرض وإذا نظرنا إلى واقعنا اليوم وجدنا أن الشطر الثاني من الحديث قد وجد وهو أن جزيرة العرب تلك الجزيرة القاحلة صارت الآن مروجاً وأنهاراً كيف صارت أنهارا؟ بما ينبع فيها من المياه والآبار الإرتوازية وغيرها وأما كونها مروجاً فهذا ظاهر وأما الأموال فلا شك أنها كثيرة بأيدي الناس لكن لم تصل إلى حد أن الرجل يخرج بزكاته لا يجد من يقبضها فهذا لم يكن حتى الآن ولكنه سيكون فهو من أشراط الساعة إذا وجد فالساعة قريبة “Al-muruj maksudnya kebun-kebun dan tumbuh-tumbuhan. Al-anhar sudah kita ketahui, maknanya adalah air yang mengalir di permukaan tanah. Jika kita melihat realita zaman sekarang ini, kita telah dapati bahwa bagian kedua dari hadits ini sudah terjadi. Bahwa Jazirah Arab yang kering sekarang telah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Lalu apa yang dimaksud dengan banyak sungai-sungai? Yaitu banyak mengalir aliran air dan sumur-sumur artesis dan semisalnya. Adapun banyaknya kebun, ini sudah jelas.  Sedangkan melimpahnya harta, tidak ragu lagi ini sudah terjadi pada sebagian orang. Namun belum sampai pada level adanya orang-orang yang berzakat namun tidak ada orang yang mau menerimanya. Ini belum terjadi di zaman sekarang. Namun pasti akan terjadi, karena ia salah satu tanda hari kiamat. Jika kita telah dapati ini, maka kiamat sudah dekat” (Fatawa Al-Haram Al-Makki, no. 2B, tahun 1413 H) Di tahun-tahun ini, kita dapati lebih banyak lagi daerah gurun dan pegunungan di negeri Arab yang telah menghijau bahkan lebih lebat dan lebih hijau lagi dari sebelumnya. Namun tentunya apa yang terjadi di tahun-tahun ini belum sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam hadits. Karena disebutkan dalam hadits lain bahwa Jazirah Arab akan penuh dengan kebun-kebun dan banyak sekali sungai-sungai. Dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ … يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا “Sesungguhnya kalian besok insyaAllah akan mendatangi mata air di Tabuk… dan sungguh wahai Mu’adz, andaikan umurmu panjang, engkau akan melihat di sini (Tabuk) akan dipenuhi dengan kebun-kebun” (HR. Muslim no.706). Dan realita pada saat ini, Jazirah Arab masih didominasi oleh gurun-gurun yang tandus daripada kebun-kebun dan sungai-sungai. Sehingga walaupun sudah terjadi, tanda kiamat berupa kembalinya negeri Arab menjadi kebun-kebun, belum terjadi secara sempurna.  Namun tentunya tidak layak kita mengatakan bahwa kiamat masih jauh. Bahkan kiamat itu sudah dekat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:  اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ “Kiamat sudah dekat, dan bulan telah terbelah” (QS. Al-Qamar: 1). Maka hendaknya kita meyakini bahwa Kiamat itu dekat, terlepas dari fenomena di atas sudah benar-benar terjadi atau belum. Dengan meyakini bahwa Kiamat sudah dekat, kita akan lebih bersegera untuk beramal shalih, lebih takut untuk melakukan maksiat dan lebih bersemangat untuk mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ “Wahai Rasulullah, orang mukmin mana yang paling utama? Nabi menjawab: Yang paling baik akhlaknya. Orang Anshar bertanya lagi: Lalu orang mukmin mana yang paling cerdas? Nabi menjawab: Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik dalam menyiapkan bekal untuk akhiratnya, itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Keutamaan Bulan Sya'ban Dan Amalannya, Syahadat Orang Syiah, Makanan Di Surga, Innalillahiwainnailaihirojiun Doa, Surah Pendek Sholat, Kitab Taurat Untuk Agama Apa Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 229 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

20 Tahun Lebih Konsisten Merintis Dakwah di Kalangan Mahasiswa

Ustadz Amrullah Akadhinta, ST. hafizhahullah adalah satu di antara banyaknya sarjana lulusan UGM yang mendedikasikan dirinya di dalam dakwah sunnah, tidak terkecuali dakwah di kalangan mahasiswa.Mahasiswa sering disebut juga sebagai “agen perubahan” melalui bidang ilmunya masing-masing.Mahasiswa pertanian dan perikanan bisa memberdayakan dan meningkatkan daya guna petani dan nelayan di desa-desa agar lebih sejahtera. Mahasiswa ekonomi, sosio humaniora, politik dan hukum kelak akan memegang peranan penting di dalam tatanan negara.Mahasiswa ilmu pangan mampu mendayagunakan potensi-potensi pangan di daerah agar lebih berkembang dan modern.Belum lagi mahasiswa kedokteran, ilmu alam, teknik, dan lainnya mereka semua punya peran penting sebagai agen perubahan di masyarakat.BAGAIMANA JIKA PARA AGEN PERUBAHAN TERSEBUT JUGA BERDIRI DI ATAS JALAN PARA SALAFUS SHALIH?Sudah tidak terhitung berapa mahasiswa kedokteran yang ikut mendermakan dirinya dalam mengemban dakwah sembari menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis.Tidak sedikit pula teman-teman ahli IT yang mendedikasikan kemampuannya juga untuk dakwah yang mulia ini.Menjadi muslim yang profesional di dunia dan meletakkan hatinya untuk kehidupan akhirat itulah harapan yang dicita-citakan.MARI BANTU YPIA HADIRKAN KAJIAN-KAJIAN SUNNAH DI KAMPUS-KAMPUSDonasi bisa anda salurkan melalui website resmi YPIA:https://ypia.or.id/campaign/bantu-para-pejuang-dakwah-islam-ypia/Atau transfer ke: Bank Syariah Indonesia (BSI) 7755332245 (kode trf. 451) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-AtsariDONASI MANUAL TRANSFER WAJIB KONFIRMASIKonfirmasi via WhatsApp ke nomor 082225979555Tags: dakwahmahasiswa

20 Tahun Lebih Konsisten Merintis Dakwah di Kalangan Mahasiswa

Ustadz Amrullah Akadhinta, ST. hafizhahullah adalah satu di antara banyaknya sarjana lulusan UGM yang mendedikasikan dirinya di dalam dakwah sunnah, tidak terkecuali dakwah di kalangan mahasiswa.Mahasiswa sering disebut juga sebagai “agen perubahan” melalui bidang ilmunya masing-masing.Mahasiswa pertanian dan perikanan bisa memberdayakan dan meningkatkan daya guna petani dan nelayan di desa-desa agar lebih sejahtera. Mahasiswa ekonomi, sosio humaniora, politik dan hukum kelak akan memegang peranan penting di dalam tatanan negara.Mahasiswa ilmu pangan mampu mendayagunakan potensi-potensi pangan di daerah agar lebih berkembang dan modern.Belum lagi mahasiswa kedokteran, ilmu alam, teknik, dan lainnya mereka semua punya peran penting sebagai agen perubahan di masyarakat.BAGAIMANA JIKA PARA AGEN PERUBAHAN TERSEBUT JUGA BERDIRI DI ATAS JALAN PARA SALAFUS SHALIH?Sudah tidak terhitung berapa mahasiswa kedokteran yang ikut mendermakan dirinya dalam mengemban dakwah sembari menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis.Tidak sedikit pula teman-teman ahli IT yang mendedikasikan kemampuannya juga untuk dakwah yang mulia ini.Menjadi muslim yang profesional di dunia dan meletakkan hatinya untuk kehidupan akhirat itulah harapan yang dicita-citakan.MARI BANTU YPIA HADIRKAN KAJIAN-KAJIAN SUNNAH DI KAMPUS-KAMPUSDonasi bisa anda salurkan melalui website resmi YPIA:https://ypia.or.id/campaign/bantu-para-pejuang-dakwah-islam-ypia/Atau transfer ke: Bank Syariah Indonesia (BSI) 7755332245 (kode trf. 451) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-AtsariDONASI MANUAL TRANSFER WAJIB KONFIRMASIKonfirmasi via WhatsApp ke nomor 082225979555Tags: dakwahmahasiswa
Ustadz Amrullah Akadhinta, ST. hafizhahullah adalah satu di antara banyaknya sarjana lulusan UGM yang mendedikasikan dirinya di dalam dakwah sunnah, tidak terkecuali dakwah di kalangan mahasiswa.Mahasiswa sering disebut juga sebagai “agen perubahan” melalui bidang ilmunya masing-masing.Mahasiswa pertanian dan perikanan bisa memberdayakan dan meningkatkan daya guna petani dan nelayan di desa-desa agar lebih sejahtera. Mahasiswa ekonomi, sosio humaniora, politik dan hukum kelak akan memegang peranan penting di dalam tatanan negara.Mahasiswa ilmu pangan mampu mendayagunakan potensi-potensi pangan di daerah agar lebih berkembang dan modern.Belum lagi mahasiswa kedokteran, ilmu alam, teknik, dan lainnya mereka semua punya peran penting sebagai agen perubahan di masyarakat.BAGAIMANA JIKA PARA AGEN PERUBAHAN TERSEBUT JUGA BERDIRI DI ATAS JALAN PARA SALAFUS SHALIH?Sudah tidak terhitung berapa mahasiswa kedokteran yang ikut mendermakan dirinya dalam mengemban dakwah sembari menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis.Tidak sedikit pula teman-teman ahli IT yang mendedikasikan kemampuannya juga untuk dakwah yang mulia ini.Menjadi muslim yang profesional di dunia dan meletakkan hatinya untuk kehidupan akhirat itulah harapan yang dicita-citakan.MARI BANTU YPIA HADIRKAN KAJIAN-KAJIAN SUNNAH DI KAMPUS-KAMPUSDonasi bisa anda salurkan melalui website resmi YPIA:https://ypia.or.id/campaign/bantu-para-pejuang-dakwah-islam-ypia/Atau transfer ke: Bank Syariah Indonesia (BSI) 7755332245 (kode trf. 451) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-AtsariDONASI MANUAL TRANSFER WAJIB KONFIRMASIKonfirmasi via WhatsApp ke nomor 082225979555Tags: dakwahmahasiswa


Ustadz Amrullah Akadhinta, ST. hafizhahullah adalah satu di antara banyaknya sarjana lulusan UGM yang mendedikasikan dirinya di dalam dakwah sunnah, tidak terkecuali dakwah di kalangan mahasiswa.Mahasiswa sering disebut juga sebagai “agen perubahan” melalui bidang ilmunya masing-masing.Mahasiswa pertanian dan perikanan bisa memberdayakan dan meningkatkan daya guna petani dan nelayan di desa-desa agar lebih sejahtera. Mahasiswa ekonomi, sosio humaniora, politik dan hukum kelak akan memegang peranan penting di dalam tatanan negara.Mahasiswa ilmu pangan mampu mendayagunakan potensi-potensi pangan di daerah agar lebih berkembang dan modern.Belum lagi mahasiswa kedokteran, ilmu alam, teknik, dan lainnya mereka semua punya peran penting sebagai agen perubahan di masyarakat.BAGAIMANA JIKA PARA AGEN PERUBAHAN TERSEBUT JUGA BERDIRI DI ATAS JALAN PARA SALAFUS SHALIH?Sudah tidak terhitung berapa mahasiswa kedokteran yang ikut mendermakan dirinya dalam mengemban dakwah sembari menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis.Tidak sedikit pula teman-teman ahli IT yang mendedikasikan kemampuannya juga untuk dakwah yang mulia ini.Menjadi muslim yang profesional di dunia dan meletakkan hatinya untuk kehidupan akhirat itulah harapan yang dicita-citakan.MARI BANTU YPIA HADIRKAN KAJIAN-KAJIAN SUNNAH DI KAMPUS-KAMPUSDonasi bisa anda salurkan melalui website resmi YPIA:https://ypia.or.id/campaign/bantu-para-pejuang-dakwah-islam-ypia/Atau transfer ke: Bank Syariah Indonesia (BSI) 7755332245 (kode trf. 451) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-AtsariDONASI MANUAL TRANSFER WAJIB KONFIRMASIKonfirmasi via WhatsApp ke nomor 082225979555Tags: dakwahmahasiswa

Khotbah Jumat: Mengambil Hikmah dari Musibah Gempa

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya.Dalam beribadah, seorang hamba harus menyeimbangkan antara rasa takut dan rasa berharap. Antara rasa cemas bahwa ibadahnya bisa jadi tidak Allah Ta’ala terima dan ia akan mendapatkan hukuman karena dosa-dosa yang telah ia lakukan dan rasa harap bahwa Allah Ta’ala akan menerima amal ibadahnya serta mengampuni dosa-dosanya jika ia bertobat. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan bagaimana sifat Nabi Zakaria, istrinya, dan anaknya Yahya ‘alaihimassalam,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Belum lama ini, kita turut berduka atas musibah gempa yang menimpa saudara-saudara semuslim kita di negeri Turki dan Syria. Sebuah gempa besar yang menelan ribuan korban jiwa. Sebuah gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunan dan melenyapkan harta benda dengan seketika.Ketahuilah, sesungguhnya gempa bumi merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Ta’ala, sebuah tanda yang menunjukkan bahwa Allahlah satu-satunya Zat yang Mahakuasa, satu-satunya Zat yang yang mampu mengatur semua hal, satu-satunya Zat yang berhak disembah. Dan sebuah tanda yang menampakkan bahwa seluruh makhluknya itu lemah, butuh akan pertolongan-Nya, dan tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk mencegah apa yang telah Allah takdirkan kepadanya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, musibah gempa ini mengingatkan kita bahwa di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah menjadikan bumi ini tenang dan tetap pada tempatnya, tidak bergerak dan tidak bergoyang. Sehingga manusia bisa dengan mudah menempatinya dan berjalan di atasnya. Allah Ta’ala berfirman,أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَءِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ“Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. An-Naml: 61)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,“Renungkan penciptaan bumi ini sebagaimana adanya, yaitu ketika ia diciptakan dengan kondisi diam dan tenang sehingga bisa menjadi tempat istirahat (bagi manusia) dan kandang bagi hewan, serta tempat bagi tumbuhan dan barang kekayaan.Hewan dan manusia dimungkinkan untuk memperjuangkan (dan memanfaatkan bumi ini) demi mewujudkan tujuan mereka, duduk istirahat, tidur nyaman ataupun bekerja (di atasnya). Jika ia (bumi) berguncang dan bergoyang, tidak satu pun dari makhluk ini yang bisa menetap dan tenang di atasnya, tidak ada satu pun bangunan yang bisa berdiri, (manusia) tidak akan bisa membuat apa pun di atasnya, tidak akan bisa juga berdagang di atasnya, apalagi berkebun dan bertani!?Sungguh, (jika bumi ini berguncang), tidak akan ada kemaslahatan (yang bisa diambil). Bagaimana bisa mereka hidup bahagia sementara bumi berguncang di bawah mereka?!  Dan renungilah mereka yang diuji dengan musibah gempa, meskipun durasinya singkat, (gempa) ini menyebabkan mereka meninggalkan rumah dan melarikan diri darinya?!” (Miftah Dar As-Sa’adah, 2: 619)BACA JUGA: Sering Terjadi Gempa, Pertanda Kiamat?Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,Gempa yang terjadi di dunia ini seharusnya mengingatkan kita akan dahsyatnya gempa yang akan terjadi di hari kiamat, mengingatkan kita juga betapa dahsyat dan ngerinya fenomena-fenomena di alam akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Haji: 1-2)Jemaah Jum’at yang diridai Allah Ta’ala.Mukmin yang beriman adalah mereka yang bisa mengambil pelajaran dari musibah dan kejadian yang menimpanya. Mukmin yang beriman mengetahui bahwa gempa bumi merupakan salah satu tanda kebesaran Allah yang akan membuat seorang hamba semakin takut kepada Allah Ta’ala dan azab-Nya. Sehingga dengan hal tersebut, mereka mau bertobat dan melepaskan diri dari dosa-dosa dan kesalahan yang pernah dilakukannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا“Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu, melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Isra’: 59)Qatadah rahimahullah mengatakan,إِنَّ اللَّهَ يُخَوِّفُ النَّاسَ بِمَا شَاءَ مِنْ آيَاتِه لَعَلَّهُمْ يَعْتَبِرُونَ، أَوْ يَذَّكَّرُونَ، أَوْ يَرْجِعُونَ“Allah menakut-nakuti manusia dengan apa saja yang Dia kehendaki dari tanda-tanda-Nya, agar mereka memperhatikan, atau mengingat, atau kembali (bertobat kepada Allah Ta’ala).”Kemudian beliau melanjutkan,ذُكِرَ لَنَا أَنَّ الْكُوفَةَ رَجَفَتْ عَلَى عَهْدِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه، فَقَالَ: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ يَسْتَعْتِبُكُمْ فَأَعْتِبُوهُ” أي: اطْلُبوا منه أَنْ يُزِيلَ عَتْبَه، بِتَرْكِ الذُّنوبِ، والتَّوبَةِ النَّصوحِ“Diceritakan kepada kami bahwa kota Kufah pernah terkena gempa di zaman Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, lalu ia (Ibnu Mas’ud) berkata, ‘Wahai manusia, Tuhanmu meminta pertobatanmu, maka jawablah Dia.’ Artinya, mintalah Dia untuk menghapus teguran-Nya (gempa atau bencana) dengan meninggalkan dosa dan dengan tobat yang tulus.” (At-Tafsir At-Tabari)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’alaAda satu sunah yang yang bisa dilakukan seorang muslim saat sedang terjadi gempa ataupun musibah lainnya, yaitu berdoa kepada Allah Ta’ala Yang Mahatinggi, menuju kepada-Nya, meninggalkan dosa, bersegera bertobat, memohon ampunan, berzikir, serta bersedekah. Allah Ta’ala mengingatkan,فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمْ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan, hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 43)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Sungguh, Allah Ta’ala tidaklah memberikan hukuman kepada masyarakat yang sadar diri dan senantiasa bertobat kepada-Nya.Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan dalam kitab Majmu’ Fatawa-nya,“Sunah (yang bisa dilakukan seseorang) perihal sarana kebaikan dan keburukan, hendaknya seorang hamba ketika melihat tanda-tanda kebaikan yang terlihat, ia melakukan amalan-amalan yang akan mendatangkan kebaikan dari Allah Ta’ala. Sedangkan apabila melihat tanda-tanda keburukan yang sangat jelas (seperti terjadinya bencana), maka ia melakukan ibadah-ibadah yang Allah jadikan itu sebagai penangkal dari keburukan.”Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala,Poin terakhir yang harus kita ingat saat sebuah musibah atau cobaan melanda kita adalah terus menerus berprasangka baik kepada Allah Ta’ala. Bisa jadi cobaan yang menimpa kita atau saudara kita merupakan peluang yang Allah berikan agar dosa-dosa kita dan dosa-dosa kaum muslimin dihapuskan oleh Allah Ta’ala. Bisa jadi musibah ini merupakan kesempatan agar derajat kita menjadi tinggi di sisi Allah Ta’ala. Ingatlah selalu firman Allah Ta’ala,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Semua dari kita pastilah akan menghadapi ujian dan cobaan. Yang membedakan hanyalah bagaimana menyikapinya, akankah kita menjadi mukmin yang senantiasa husnuzan kepada Allah Ta’ala lalu bersabar atas setiap musibah yang menimpa kita, ataukah kita menjadi seorang mukmin yang tidak bisa menjaga lisannya dan hatinya, mencela dan menyalahkan Allah Ta’ala saat musibah terjadi, tidak rida atas takdir dan ketetapan Allah Ta’ala kepadanya.Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan ketabahan teruntuk saudara-saudara muslim kita yang sedang diuji oleh Allah Ta’ala dengan musibah gempa di negeri Turki dan Syiria, memberikan pengganti yang lebih baik atas kehilangan yang mereka rasakan. Semoga Allah Ta’ala menjaga negeri-negeri kaum muslimin dari segala marabahaya yang dapat terjadi, menguatkan persaudaraan mereka dan menyatukan mereka semua di atas kalimat tauhid.Amiin ya rabbal ‘alamin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ BACA JUGA: Amalan-Amalan Ketika Terjadi Gempa***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idTags: Aqidahaqidah islamjudul khutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatManhajmanhaj salafmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Mengambil Hikmah dari Musibah Gempa

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya.Dalam beribadah, seorang hamba harus menyeimbangkan antara rasa takut dan rasa berharap. Antara rasa cemas bahwa ibadahnya bisa jadi tidak Allah Ta’ala terima dan ia akan mendapatkan hukuman karena dosa-dosa yang telah ia lakukan dan rasa harap bahwa Allah Ta’ala akan menerima amal ibadahnya serta mengampuni dosa-dosanya jika ia bertobat. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan bagaimana sifat Nabi Zakaria, istrinya, dan anaknya Yahya ‘alaihimassalam,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Belum lama ini, kita turut berduka atas musibah gempa yang menimpa saudara-saudara semuslim kita di negeri Turki dan Syria. Sebuah gempa besar yang menelan ribuan korban jiwa. Sebuah gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunan dan melenyapkan harta benda dengan seketika.Ketahuilah, sesungguhnya gempa bumi merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Ta’ala, sebuah tanda yang menunjukkan bahwa Allahlah satu-satunya Zat yang Mahakuasa, satu-satunya Zat yang yang mampu mengatur semua hal, satu-satunya Zat yang berhak disembah. Dan sebuah tanda yang menampakkan bahwa seluruh makhluknya itu lemah, butuh akan pertolongan-Nya, dan tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk mencegah apa yang telah Allah takdirkan kepadanya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, musibah gempa ini mengingatkan kita bahwa di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah menjadikan bumi ini tenang dan tetap pada tempatnya, tidak bergerak dan tidak bergoyang. Sehingga manusia bisa dengan mudah menempatinya dan berjalan di atasnya. Allah Ta’ala berfirman,أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَءِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ“Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. An-Naml: 61)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,“Renungkan penciptaan bumi ini sebagaimana adanya, yaitu ketika ia diciptakan dengan kondisi diam dan tenang sehingga bisa menjadi tempat istirahat (bagi manusia) dan kandang bagi hewan, serta tempat bagi tumbuhan dan barang kekayaan.Hewan dan manusia dimungkinkan untuk memperjuangkan (dan memanfaatkan bumi ini) demi mewujudkan tujuan mereka, duduk istirahat, tidur nyaman ataupun bekerja (di atasnya). Jika ia (bumi) berguncang dan bergoyang, tidak satu pun dari makhluk ini yang bisa menetap dan tenang di atasnya, tidak ada satu pun bangunan yang bisa berdiri, (manusia) tidak akan bisa membuat apa pun di atasnya, tidak akan bisa juga berdagang di atasnya, apalagi berkebun dan bertani!?Sungguh, (jika bumi ini berguncang), tidak akan ada kemaslahatan (yang bisa diambil). Bagaimana bisa mereka hidup bahagia sementara bumi berguncang di bawah mereka?!  Dan renungilah mereka yang diuji dengan musibah gempa, meskipun durasinya singkat, (gempa) ini menyebabkan mereka meninggalkan rumah dan melarikan diri darinya?!” (Miftah Dar As-Sa’adah, 2: 619)BACA JUGA: Sering Terjadi Gempa, Pertanda Kiamat?Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,Gempa yang terjadi di dunia ini seharusnya mengingatkan kita akan dahsyatnya gempa yang akan terjadi di hari kiamat, mengingatkan kita juga betapa dahsyat dan ngerinya fenomena-fenomena di alam akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Haji: 1-2)Jemaah Jum’at yang diridai Allah Ta’ala.Mukmin yang beriman adalah mereka yang bisa mengambil pelajaran dari musibah dan kejadian yang menimpanya. Mukmin yang beriman mengetahui bahwa gempa bumi merupakan salah satu tanda kebesaran Allah yang akan membuat seorang hamba semakin takut kepada Allah Ta’ala dan azab-Nya. Sehingga dengan hal tersebut, mereka mau bertobat dan melepaskan diri dari dosa-dosa dan kesalahan yang pernah dilakukannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا“Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu, melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Isra’: 59)Qatadah rahimahullah mengatakan,إِنَّ اللَّهَ يُخَوِّفُ النَّاسَ بِمَا شَاءَ مِنْ آيَاتِه لَعَلَّهُمْ يَعْتَبِرُونَ، أَوْ يَذَّكَّرُونَ، أَوْ يَرْجِعُونَ“Allah menakut-nakuti manusia dengan apa saja yang Dia kehendaki dari tanda-tanda-Nya, agar mereka memperhatikan, atau mengingat, atau kembali (bertobat kepada Allah Ta’ala).”Kemudian beliau melanjutkan,ذُكِرَ لَنَا أَنَّ الْكُوفَةَ رَجَفَتْ عَلَى عَهْدِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه، فَقَالَ: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ يَسْتَعْتِبُكُمْ فَأَعْتِبُوهُ” أي: اطْلُبوا منه أَنْ يُزِيلَ عَتْبَه، بِتَرْكِ الذُّنوبِ، والتَّوبَةِ النَّصوحِ“Diceritakan kepada kami bahwa kota Kufah pernah terkena gempa di zaman Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, lalu ia (Ibnu Mas’ud) berkata, ‘Wahai manusia, Tuhanmu meminta pertobatanmu, maka jawablah Dia.’ Artinya, mintalah Dia untuk menghapus teguran-Nya (gempa atau bencana) dengan meninggalkan dosa dan dengan tobat yang tulus.” (At-Tafsir At-Tabari)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’alaAda satu sunah yang yang bisa dilakukan seorang muslim saat sedang terjadi gempa ataupun musibah lainnya, yaitu berdoa kepada Allah Ta’ala Yang Mahatinggi, menuju kepada-Nya, meninggalkan dosa, bersegera bertobat, memohon ampunan, berzikir, serta bersedekah. Allah Ta’ala mengingatkan,فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمْ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan, hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 43)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Sungguh, Allah Ta’ala tidaklah memberikan hukuman kepada masyarakat yang sadar diri dan senantiasa bertobat kepada-Nya.Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan dalam kitab Majmu’ Fatawa-nya,“Sunah (yang bisa dilakukan seseorang) perihal sarana kebaikan dan keburukan, hendaknya seorang hamba ketika melihat tanda-tanda kebaikan yang terlihat, ia melakukan amalan-amalan yang akan mendatangkan kebaikan dari Allah Ta’ala. Sedangkan apabila melihat tanda-tanda keburukan yang sangat jelas (seperti terjadinya bencana), maka ia melakukan ibadah-ibadah yang Allah jadikan itu sebagai penangkal dari keburukan.”Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala,Poin terakhir yang harus kita ingat saat sebuah musibah atau cobaan melanda kita adalah terus menerus berprasangka baik kepada Allah Ta’ala. Bisa jadi cobaan yang menimpa kita atau saudara kita merupakan peluang yang Allah berikan agar dosa-dosa kita dan dosa-dosa kaum muslimin dihapuskan oleh Allah Ta’ala. Bisa jadi musibah ini merupakan kesempatan agar derajat kita menjadi tinggi di sisi Allah Ta’ala. Ingatlah selalu firman Allah Ta’ala,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Semua dari kita pastilah akan menghadapi ujian dan cobaan. Yang membedakan hanyalah bagaimana menyikapinya, akankah kita menjadi mukmin yang senantiasa husnuzan kepada Allah Ta’ala lalu bersabar atas setiap musibah yang menimpa kita, ataukah kita menjadi seorang mukmin yang tidak bisa menjaga lisannya dan hatinya, mencela dan menyalahkan Allah Ta’ala saat musibah terjadi, tidak rida atas takdir dan ketetapan Allah Ta’ala kepadanya.Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan ketabahan teruntuk saudara-saudara muslim kita yang sedang diuji oleh Allah Ta’ala dengan musibah gempa di negeri Turki dan Syiria, memberikan pengganti yang lebih baik atas kehilangan yang mereka rasakan. Semoga Allah Ta’ala menjaga negeri-negeri kaum muslimin dari segala marabahaya yang dapat terjadi, menguatkan persaudaraan mereka dan menyatukan mereka semua di atas kalimat tauhid.Amiin ya rabbal ‘alamin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ BACA JUGA: Amalan-Amalan Ketika Terjadi Gempa***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idTags: Aqidahaqidah islamjudul khutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatManhajmanhaj salafmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya.Dalam beribadah, seorang hamba harus menyeimbangkan antara rasa takut dan rasa berharap. Antara rasa cemas bahwa ibadahnya bisa jadi tidak Allah Ta’ala terima dan ia akan mendapatkan hukuman karena dosa-dosa yang telah ia lakukan dan rasa harap bahwa Allah Ta’ala akan menerima amal ibadahnya serta mengampuni dosa-dosanya jika ia bertobat. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan bagaimana sifat Nabi Zakaria, istrinya, dan anaknya Yahya ‘alaihimassalam,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Belum lama ini, kita turut berduka atas musibah gempa yang menimpa saudara-saudara semuslim kita di negeri Turki dan Syria. Sebuah gempa besar yang menelan ribuan korban jiwa. Sebuah gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunan dan melenyapkan harta benda dengan seketika.Ketahuilah, sesungguhnya gempa bumi merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Ta’ala, sebuah tanda yang menunjukkan bahwa Allahlah satu-satunya Zat yang Mahakuasa, satu-satunya Zat yang yang mampu mengatur semua hal, satu-satunya Zat yang berhak disembah. Dan sebuah tanda yang menampakkan bahwa seluruh makhluknya itu lemah, butuh akan pertolongan-Nya, dan tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk mencegah apa yang telah Allah takdirkan kepadanya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, musibah gempa ini mengingatkan kita bahwa di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah menjadikan bumi ini tenang dan tetap pada tempatnya, tidak bergerak dan tidak bergoyang. Sehingga manusia bisa dengan mudah menempatinya dan berjalan di atasnya. Allah Ta’ala berfirman,أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَءِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ“Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. An-Naml: 61)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,“Renungkan penciptaan bumi ini sebagaimana adanya, yaitu ketika ia diciptakan dengan kondisi diam dan tenang sehingga bisa menjadi tempat istirahat (bagi manusia) dan kandang bagi hewan, serta tempat bagi tumbuhan dan barang kekayaan.Hewan dan manusia dimungkinkan untuk memperjuangkan (dan memanfaatkan bumi ini) demi mewujudkan tujuan mereka, duduk istirahat, tidur nyaman ataupun bekerja (di atasnya). Jika ia (bumi) berguncang dan bergoyang, tidak satu pun dari makhluk ini yang bisa menetap dan tenang di atasnya, tidak ada satu pun bangunan yang bisa berdiri, (manusia) tidak akan bisa membuat apa pun di atasnya, tidak akan bisa juga berdagang di atasnya, apalagi berkebun dan bertani!?Sungguh, (jika bumi ini berguncang), tidak akan ada kemaslahatan (yang bisa diambil). Bagaimana bisa mereka hidup bahagia sementara bumi berguncang di bawah mereka?!  Dan renungilah mereka yang diuji dengan musibah gempa, meskipun durasinya singkat, (gempa) ini menyebabkan mereka meninggalkan rumah dan melarikan diri darinya?!” (Miftah Dar As-Sa’adah, 2: 619)BACA JUGA: Sering Terjadi Gempa, Pertanda Kiamat?Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,Gempa yang terjadi di dunia ini seharusnya mengingatkan kita akan dahsyatnya gempa yang akan terjadi di hari kiamat, mengingatkan kita juga betapa dahsyat dan ngerinya fenomena-fenomena di alam akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Haji: 1-2)Jemaah Jum’at yang diridai Allah Ta’ala.Mukmin yang beriman adalah mereka yang bisa mengambil pelajaran dari musibah dan kejadian yang menimpanya. Mukmin yang beriman mengetahui bahwa gempa bumi merupakan salah satu tanda kebesaran Allah yang akan membuat seorang hamba semakin takut kepada Allah Ta’ala dan azab-Nya. Sehingga dengan hal tersebut, mereka mau bertobat dan melepaskan diri dari dosa-dosa dan kesalahan yang pernah dilakukannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا“Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu, melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Isra’: 59)Qatadah rahimahullah mengatakan,إِنَّ اللَّهَ يُخَوِّفُ النَّاسَ بِمَا شَاءَ مِنْ آيَاتِه لَعَلَّهُمْ يَعْتَبِرُونَ، أَوْ يَذَّكَّرُونَ، أَوْ يَرْجِعُونَ“Allah menakut-nakuti manusia dengan apa saja yang Dia kehendaki dari tanda-tanda-Nya, agar mereka memperhatikan, atau mengingat, atau kembali (bertobat kepada Allah Ta’ala).”Kemudian beliau melanjutkan,ذُكِرَ لَنَا أَنَّ الْكُوفَةَ رَجَفَتْ عَلَى عَهْدِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه، فَقَالَ: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ يَسْتَعْتِبُكُمْ فَأَعْتِبُوهُ” أي: اطْلُبوا منه أَنْ يُزِيلَ عَتْبَه، بِتَرْكِ الذُّنوبِ، والتَّوبَةِ النَّصوحِ“Diceritakan kepada kami bahwa kota Kufah pernah terkena gempa di zaman Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, lalu ia (Ibnu Mas’ud) berkata, ‘Wahai manusia, Tuhanmu meminta pertobatanmu, maka jawablah Dia.’ Artinya, mintalah Dia untuk menghapus teguran-Nya (gempa atau bencana) dengan meninggalkan dosa dan dengan tobat yang tulus.” (At-Tafsir At-Tabari)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’alaAda satu sunah yang yang bisa dilakukan seorang muslim saat sedang terjadi gempa ataupun musibah lainnya, yaitu berdoa kepada Allah Ta’ala Yang Mahatinggi, menuju kepada-Nya, meninggalkan dosa, bersegera bertobat, memohon ampunan, berzikir, serta bersedekah. Allah Ta’ala mengingatkan,فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمْ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan, hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 43)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Sungguh, Allah Ta’ala tidaklah memberikan hukuman kepada masyarakat yang sadar diri dan senantiasa bertobat kepada-Nya.Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan dalam kitab Majmu’ Fatawa-nya,“Sunah (yang bisa dilakukan seseorang) perihal sarana kebaikan dan keburukan, hendaknya seorang hamba ketika melihat tanda-tanda kebaikan yang terlihat, ia melakukan amalan-amalan yang akan mendatangkan kebaikan dari Allah Ta’ala. Sedangkan apabila melihat tanda-tanda keburukan yang sangat jelas (seperti terjadinya bencana), maka ia melakukan ibadah-ibadah yang Allah jadikan itu sebagai penangkal dari keburukan.”Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala,Poin terakhir yang harus kita ingat saat sebuah musibah atau cobaan melanda kita adalah terus menerus berprasangka baik kepada Allah Ta’ala. Bisa jadi cobaan yang menimpa kita atau saudara kita merupakan peluang yang Allah berikan agar dosa-dosa kita dan dosa-dosa kaum muslimin dihapuskan oleh Allah Ta’ala. Bisa jadi musibah ini merupakan kesempatan agar derajat kita menjadi tinggi di sisi Allah Ta’ala. Ingatlah selalu firman Allah Ta’ala,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Semua dari kita pastilah akan menghadapi ujian dan cobaan. Yang membedakan hanyalah bagaimana menyikapinya, akankah kita menjadi mukmin yang senantiasa husnuzan kepada Allah Ta’ala lalu bersabar atas setiap musibah yang menimpa kita, ataukah kita menjadi seorang mukmin yang tidak bisa menjaga lisannya dan hatinya, mencela dan menyalahkan Allah Ta’ala saat musibah terjadi, tidak rida atas takdir dan ketetapan Allah Ta’ala kepadanya.Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan ketabahan teruntuk saudara-saudara muslim kita yang sedang diuji oleh Allah Ta’ala dengan musibah gempa di negeri Turki dan Syiria, memberikan pengganti yang lebih baik atas kehilangan yang mereka rasakan. Semoga Allah Ta’ala menjaga negeri-negeri kaum muslimin dari segala marabahaya yang dapat terjadi, menguatkan persaudaraan mereka dan menyatukan mereka semua di atas kalimat tauhid.Amiin ya rabbal ‘alamin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ BACA JUGA: Amalan-Amalan Ketika Terjadi Gempa***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idTags: Aqidahaqidah islamjudul khutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatManhajmanhaj salafmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan perintah-Nya ataupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya.Dalam beribadah, seorang hamba harus menyeimbangkan antara rasa takut dan rasa berharap. Antara rasa cemas bahwa ibadahnya bisa jadi tidak Allah Ta’ala terima dan ia akan mendapatkan hukuman karena dosa-dosa yang telah ia lakukan dan rasa harap bahwa Allah Ta’ala akan menerima amal ibadahnya serta mengampuni dosa-dosanya jika ia bertobat. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan bagaimana sifat Nabi Zakaria, istrinya, dan anaknya Yahya ‘alaihimassalam,إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Belum lama ini, kita turut berduka atas musibah gempa yang menimpa saudara-saudara semuslim kita di negeri Turki dan Syria. Sebuah gempa besar yang menelan ribuan korban jiwa. Sebuah gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunan dan melenyapkan harta benda dengan seketika.Ketahuilah, sesungguhnya gempa bumi merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Ta’ala, sebuah tanda yang menunjukkan bahwa Allahlah satu-satunya Zat yang Mahakuasa, satu-satunya Zat yang yang mampu mengatur semua hal, satu-satunya Zat yang berhak disembah. Dan sebuah tanda yang menampakkan bahwa seluruh makhluknya itu lemah, butuh akan pertolongan-Nya, dan tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk mencegah apa yang telah Allah takdirkan kepadanya.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, musibah gempa ini mengingatkan kita bahwa di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah menjadikan bumi ini tenang dan tetap pada tempatnya, tidak bergerak dan tidak bergoyang. Sehingga manusia bisa dengan mudah menempatinya dan berjalan di atasnya. Allah Ta’ala berfirman,أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَءِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ“Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. An-Naml: 61)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,“Renungkan penciptaan bumi ini sebagaimana adanya, yaitu ketika ia diciptakan dengan kondisi diam dan tenang sehingga bisa menjadi tempat istirahat (bagi manusia) dan kandang bagi hewan, serta tempat bagi tumbuhan dan barang kekayaan.Hewan dan manusia dimungkinkan untuk memperjuangkan (dan memanfaatkan bumi ini) demi mewujudkan tujuan mereka, duduk istirahat, tidur nyaman ataupun bekerja (di atasnya). Jika ia (bumi) berguncang dan bergoyang, tidak satu pun dari makhluk ini yang bisa menetap dan tenang di atasnya, tidak ada satu pun bangunan yang bisa berdiri, (manusia) tidak akan bisa membuat apa pun di atasnya, tidak akan bisa juga berdagang di atasnya, apalagi berkebun dan bertani!?Sungguh, (jika bumi ini berguncang), tidak akan ada kemaslahatan (yang bisa diambil). Bagaimana bisa mereka hidup bahagia sementara bumi berguncang di bawah mereka?!  Dan renungilah mereka yang diuji dengan musibah gempa, meskipun durasinya singkat, (gempa) ini menyebabkan mereka meninggalkan rumah dan melarikan diri darinya?!” (Miftah Dar As-Sa’adah, 2: 619)BACA JUGA: Sering Terjadi Gempa, Pertanda Kiamat?Jemaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,Gempa yang terjadi di dunia ini seharusnya mengingatkan kita akan dahsyatnya gempa yang akan terjadi di hari kiamat, mengingatkan kita juga betapa dahsyat dan ngerinya fenomena-fenomena di alam akhirat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Haji: 1-2)Jemaah Jum’at yang diridai Allah Ta’ala.Mukmin yang beriman adalah mereka yang bisa mengambil pelajaran dari musibah dan kejadian yang menimpanya. Mukmin yang beriman mengetahui bahwa gempa bumi merupakan salah satu tanda kebesaran Allah yang akan membuat seorang hamba semakin takut kepada Allah Ta’ala dan azab-Nya. Sehingga dengan hal tersebut, mereka mau bertobat dan melepaskan diri dari dosa-dosa dan kesalahan yang pernah dilakukannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا“Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu, melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Isra’: 59)Qatadah rahimahullah mengatakan,إِنَّ اللَّهَ يُخَوِّفُ النَّاسَ بِمَا شَاءَ مِنْ آيَاتِه لَعَلَّهُمْ يَعْتَبِرُونَ، أَوْ يَذَّكَّرُونَ، أَوْ يَرْجِعُونَ“Allah menakut-nakuti manusia dengan apa saja yang Dia kehendaki dari tanda-tanda-Nya, agar mereka memperhatikan, atau mengingat, atau kembali (bertobat kepada Allah Ta’ala).”Kemudian beliau melanjutkan,ذُكِرَ لَنَا أَنَّ الْكُوفَةَ رَجَفَتْ عَلَى عَهْدِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه، فَقَالَ: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ يَسْتَعْتِبُكُمْ فَأَعْتِبُوهُ” أي: اطْلُبوا منه أَنْ يُزِيلَ عَتْبَه، بِتَرْكِ الذُّنوبِ، والتَّوبَةِ النَّصوحِ“Diceritakan kepada kami bahwa kota Kufah pernah terkena gempa di zaman Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, lalu ia (Ibnu Mas’ud) berkata, ‘Wahai manusia, Tuhanmu meminta pertobatanmu, maka jawablah Dia.’ Artinya, mintalah Dia untuk menghapus teguran-Nya (gempa atau bencana) dengan meninggalkan dosa dan dengan tobat yang tulus.” (At-Tafsir At-Tabari)Wallahu a’lam bisshawab أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ. Khotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Maasyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’alaAda satu sunah yang yang bisa dilakukan seorang muslim saat sedang terjadi gempa ataupun musibah lainnya, yaitu berdoa kepada Allah Ta’ala Yang Mahatinggi, menuju kepada-Nya, meninggalkan dosa, bersegera bertobat, memohon ampunan, berzikir, serta bersedekah. Allah Ta’ala mengingatkan,فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمْ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan, hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 43)Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ“Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)Sungguh, Allah Ta’ala tidaklah memberikan hukuman kepada masyarakat yang sadar diri dan senantiasa bertobat kepada-Nya.Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan dalam kitab Majmu’ Fatawa-nya,“Sunah (yang bisa dilakukan seseorang) perihal sarana kebaikan dan keburukan, hendaknya seorang hamba ketika melihat tanda-tanda kebaikan yang terlihat, ia melakukan amalan-amalan yang akan mendatangkan kebaikan dari Allah Ta’ala. Sedangkan apabila melihat tanda-tanda keburukan yang sangat jelas (seperti terjadinya bencana), maka ia melakukan ibadah-ibadah yang Allah jadikan itu sebagai penangkal dari keburukan.”Jemaah yang semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta’ala,Poin terakhir yang harus kita ingat saat sebuah musibah atau cobaan melanda kita adalah terus menerus berprasangka baik kepada Allah Ta’ala. Bisa jadi cobaan yang menimpa kita atau saudara kita merupakan peluang yang Allah berikan agar dosa-dosa kita dan dosa-dosa kaum muslimin dihapuskan oleh Allah Ta’ala. Bisa jadi musibah ini merupakan kesempatan agar derajat kita menjadi tinggi di sisi Allah Ta’ala. Ingatlah selalu firman Allah Ta’ala,وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)Semua dari kita pastilah akan menghadapi ujian dan cobaan. Yang membedakan hanyalah bagaimana menyikapinya, akankah kita menjadi mukmin yang senantiasa husnuzan kepada Allah Ta’ala lalu bersabar atas setiap musibah yang menimpa kita, ataukah kita menjadi seorang mukmin yang tidak bisa menjaga lisannya dan hatinya, mencela dan menyalahkan Allah Ta’ala saat musibah terjadi, tidak rida atas takdir dan ketetapan Allah Ta’ala kepadanya.Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan ketabahan teruntuk saudara-saudara muslim kita yang sedang diuji oleh Allah Ta’ala dengan musibah gempa di negeri Turki dan Syiria, memberikan pengganti yang lebih baik atas kehilangan yang mereka rasakan. Semoga Allah Ta’ala menjaga negeri-negeri kaum muslimin dari segala marabahaya yang dapat terjadi, menguatkan persaudaraan mereka dan menyatukan mereka semua di atas kalimat tauhid.Amiin ya rabbal ‘alamin.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ BACA JUGA: Amalan-Amalan Ketika Terjadi Gempa***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idTags: Aqidahaqidah islamjudul khutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatkhutbah jumatManhajmanhaj salafmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Doa ketika Mendengar Suara Petir – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang harus diucapkan ketika mendengar suara petir?Diriwayatkan dari Abu Hurairah. Ini diriwayatkan secara marfu sampai Rasulullah, hanya saja ini tidak sahih, akan tetapiriwayat ini terhenti sampai Abu Hurairah. SUBHAANA MAN YUSABBIHUR-RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIH. Doa ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dan juga dari sebagian sahabat lainnya. ==== مَاذَا يُقَالُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ؟ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا لَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا مَوْقُوفًا عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ فَهَذَا يَعْنِي رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَيْضًا عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ

Doa ketika Mendengar Suara Petir – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang harus diucapkan ketika mendengar suara petir?Diriwayatkan dari Abu Hurairah. Ini diriwayatkan secara marfu sampai Rasulullah, hanya saja ini tidak sahih, akan tetapiriwayat ini terhenti sampai Abu Hurairah. SUBHAANA MAN YUSABBIHUR-RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIH. Doa ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dan juga dari sebagian sahabat lainnya. ==== مَاذَا يُقَالُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ؟ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا لَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا مَوْقُوفًا عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ فَهَذَا يَعْنِي رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَيْضًا عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ
Apa yang harus diucapkan ketika mendengar suara petir?Diriwayatkan dari Abu Hurairah. Ini diriwayatkan secara marfu sampai Rasulullah, hanya saja ini tidak sahih, akan tetapiriwayat ini terhenti sampai Abu Hurairah. SUBHAANA MAN YUSABBIHUR-RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIH. Doa ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dan juga dari sebagian sahabat lainnya. ==== مَاذَا يُقَالُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ؟ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا لَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا مَوْقُوفًا عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ فَهَذَا يَعْنِي رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَيْضًا عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ


Apa yang harus diucapkan ketika mendengar suara petir?Diriwayatkan dari Abu Hurairah. Ini diriwayatkan secara marfu sampai Rasulullah, hanya saja ini tidak sahih, akan tetapiriwayat ini terhenti sampai Abu Hurairah. SUBHAANA MAN YUSABBIHUR-RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA-IKATU MIN KHIIFATIH. Doa ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dan juga dari sebagian sahabat lainnya. ==== مَاذَا يُقَالُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الرَّعْدِ؟ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا لَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مَرْفُوعًا وَإِنَّمَا مَوْقُوفًا عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ فَهَذَا يَعْنِي رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَيْضًا عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ

Cara Mengetahui Mimpi yang Baik – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Adapun mimpi baik adalah mimpi yang berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla,dan ia merupakan satu dari 46 bagian kenabian,sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang Muslim dapat mengenali mimpi yang berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla ini dengan beberapa tanda: Tanda pertama, mimpi itu tidak mengandung hal-hal yang menakutkan.Tidak mengandung hal-hal yang menakutkan, tapi di dalamnya terlihat hal-hal yang jelas. Tanda kedua, mimpi itu menjadi pemberi kabar gembira. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Nabi menganggapnya pemberi kabar gembira. Benar, mungkin saja berupa peringatan,tapi peringatan dari beberapa perkara juga merupakan kabar gembira bagi seseorang.Karena Umar radhiyallahu ‘anhu ketika bermimpi akan meninggal,maka itu adalah kabar gembira baginya berupa kebaikan dan kesyahidan,saat Umar bermimpi melihat tiga patukan ayam dan lain sebagainya. Selain itu, ketika Imam Ahmad menyebutkan hadis ini, beliau berkata,“Sesungguhnya mimpi baik membuat senang seorang Mukmin, dan tidak membahayakannya.”Itu membuatnya bahagia dan tidak membahayakannya. Namun, jika ia menjadi terpaut dengannyadan merasa takut darinya,atau mengaitkan padanya berbagai hukum, maka ini menjadi tandalemahnya tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang dimiliki orang yang bermimpi itu. Mimpi baik itu malah menjadi membawa mudarat kepadanya, tidak menjadi pembawa kabar gembira.Demikian. ==== أَمَّا الرُّؤْيَا فَهِيَ الَّتِي تَكُونُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهِيَ الَّتِي تَكُونُ جُزْءًا مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا كَمَا فِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَعْرِفُ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الرُّؤْيَا الَّتِي تَكُونُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأُمُوْرٍ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَلَّا يَكُونَ فِيهَا تَهَاوِيْلُ مَا يَكُونُ فِيْهَا تَهَاوِيْلُ وَإِنَّمَا فِيهَا أَمْرٌ وَاضِحٌ وَجَلِيٌّ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ مُبَشِّرَةً فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ أَعَدَّهَا مُبَشِّرَةً نَعَمْ قَدْ تَكُونُ مُنْذِرَةً وَالْإِنْذَارُ لِبَعْضِ الْأُمُوْرِ هِيَ تَبْشِيرٌ لِلْمَرْءِ فَإِنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا رَأَى أَنَّهُ سَيَمُوْتُ هِيَ تَبْشِيرٌ لَهُ بِخَيْرٍ وَشَهَادَةٍ حِينَمَا رَأَى ثَلَاثَةَ نَقَرَاتٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ نَعَمْ أَيْضًا الْإِمَامُ أَحْمَدُ لَمَّا ذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ قَالَ إِنَّ الرُّؤْيَا تَسُرُّ الْمُؤْمِنَ وَلَا تَضُرُّهُ تَسُرُّهُ وَلَا تَضُرُّهُ أَمَّا أَنْ يَتَعَلَّقَ بِهَا وَيَكُونُ خَائِفًا مِنْهَا أَوْ مُعَلِّقًا عَلَيْهَا أَحْكَامًا فَيَدُلُّ عَلَى أَوَّلًا ضَعْفِ تَوَكُّلِ هَذَا الرَّائِي عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّ هَذِهِ الرُّؤْيَا ضَرَّتْهُ وَلَمْ تُبَشِّرْهُ نَعَمْ

Cara Mengetahui Mimpi yang Baik – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Adapun mimpi baik adalah mimpi yang berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla,dan ia merupakan satu dari 46 bagian kenabian,sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang Muslim dapat mengenali mimpi yang berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla ini dengan beberapa tanda: Tanda pertama, mimpi itu tidak mengandung hal-hal yang menakutkan.Tidak mengandung hal-hal yang menakutkan, tapi di dalamnya terlihat hal-hal yang jelas. Tanda kedua, mimpi itu menjadi pemberi kabar gembira. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Nabi menganggapnya pemberi kabar gembira. Benar, mungkin saja berupa peringatan,tapi peringatan dari beberapa perkara juga merupakan kabar gembira bagi seseorang.Karena Umar radhiyallahu ‘anhu ketika bermimpi akan meninggal,maka itu adalah kabar gembira baginya berupa kebaikan dan kesyahidan,saat Umar bermimpi melihat tiga patukan ayam dan lain sebagainya. Selain itu, ketika Imam Ahmad menyebutkan hadis ini, beliau berkata,“Sesungguhnya mimpi baik membuat senang seorang Mukmin, dan tidak membahayakannya.”Itu membuatnya bahagia dan tidak membahayakannya. Namun, jika ia menjadi terpaut dengannyadan merasa takut darinya,atau mengaitkan padanya berbagai hukum, maka ini menjadi tandalemahnya tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang dimiliki orang yang bermimpi itu. Mimpi baik itu malah menjadi membawa mudarat kepadanya, tidak menjadi pembawa kabar gembira.Demikian. ==== أَمَّا الرُّؤْيَا فَهِيَ الَّتِي تَكُونُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهِيَ الَّتِي تَكُونُ جُزْءًا مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا كَمَا فِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَعْرِفُ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الرُّؤْيَا الَّتِي تَكُونُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأُمُوْرٍ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَلَّا يَكُونَ فِيهَا تَهَاوِيْلُ مَا يَكُونُ فِيْهَا تَهَاوِيْلُ وَإِنَّمَا فِيهَا أَمْرٌ وَاضِحٌ وَجَلِيٌّ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ مُبَشِّرَةً فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ أَعَدَّهَا مُبَشِّرَةً نَعَمْ قَدْ تَكُونُ مُنْذِرَةً وَالْإِنْذَارُ لِبَعْضِ الْأُمُوْرِ هِيَ تَبْشِيرٌ لِلْمَرْءِ فَإِنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا رَأَى أَنَّهُ سَيَمُوْتُ هِيَ تَبْشِيرٌ لَهُ بِخَيْرٍ وَشَهَادَةٍ حِينَمَا رَأَى ثَلَاثَةَ نَقَرَاتٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ نَعَمْ أَيْضًا الْإِمَامُ أَحْمَدُ لَمَّا ذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ قَالَ إِنَّ الرُّؤْيَا تَسُرُّ الْمُؤْمِنَ وَلَا تَضُرُّهُ تَسُرُّهُ وَلَا تَضُرُّهُ أَمَّا أَنْ يَتَعَلَّقَ بِهَا وَيَكُونُ خَائِفًا مِنْهَا أَوْ مُعَلِّقًا عَلَيْهَا أَحْكَامًا فَيَدُلُّ عَلَى أَوَّلًا ضَعْفِ تَوَكُّلِ هَذَا الرَّائِي عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّ هَذِهِ الرُّؤْيَا ضَرَّتْهُ وَلَمْ تُبَشِّرْهُ نَعَمْ
Adapun mimpi baik adalah mimpi yang berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla,dan ia merupakan satu dari 46 bagian kenabian,sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang Muslim dapat mengenali mimpi yang berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla ini dengan beberapa tanda: Tanda pertama, mimpi itu tidak mengandung hal-hal yang menakutkan.Tidak mengandung hal-hal yang menakutkan, tapi di dalamnya terlihat hal-hal yang jelas. Tanda kedua, mimpi itu menjadi pemberi kabar gembira. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Nabi menganggapnya pemberi kabar gembira. Benar, mungkin saja berupa peringatan,tapi peringatan dari beberapa perkara juga merupakan kabar gembira bagi seseorang.Karena Umar radhiyallahu ‘anhu ketika bermimpi akan meninggal,maka itu adalah kabar gembira baginya berupa kebaikan dan kesyahidan,saat Umar bermimpi melihat tiga patukan ayam dan lain sebagainya. Selain itu, ketika Imam Ahmad menyebutkan hadis ini, beliau berkata,“Sesungguhnya mimpi baik membuat senang seorang Mukmin, dan tidak membahayakannya.”Itu membuatnya bahagia dan tidak membahayakannya. Namun, jika ia menjadi terpaut dengannyadan merasa takut darinya,atau mengaitkan padanya berbagai hukum, maka ini menjadi tandalemahnya tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang dimiliki orang yang bermimpi itu. Mimpi baik itu malah menjadi membawa mudarat kepadanya, tidak menjadi pembawa kabar gembira.Demikian. ==== أَمَّا الرُّؤْيَا فَهِيَ الَّتِي تَكُونُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهِيَ الَّتِي تَكُونُ جُزْءًا مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا كَمَا فِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَعْرِفُ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الرُّؤْيَا الَّتِي تَكُونُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأُمُوْرٍ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَلَّا يَكُونَ فِيهَا تَهَاوِيْلُ مَا يَكُونُ فِيْهَا تَهَاوِيْلُ وَإِنَّمَا فِيهَا أَمْرٌ وَاضِحٌ وَجَلِيٌّ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ مُبَشِّرَةً فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ أَعَدَّهَا مُبَشِّرَةً نَعَمْ قَدْ تَكُونُ مُنْذِرَةً وَالْإِنْذَارُ لِبَعْضِ الْأُمُوْرِ هِيَ تَبْشِيرٌ لِلْمَرْءِ فَإِنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا رَأَى أَنَّهُ سَيَمُوْتُ هِيَ تَبْشِيرٌ لَهُ بِخَيْرٍ وَشَهَادَةٍ حِينَمَا رَأَى ثَلَاثَةَ نَقَرَاتٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ نَعَمْ أَيْضًا الْإِمَامُ أَحْمَدُ لَمَّا ذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ قَالَ إِنَّ الرُّؤْيَا تَسُرُّ الْمُؤْمِنَ وَلَا تَضُرُّهُ تَسُرُّهُ وَلَا تَضُرُّهُ أَمَّا أَنْ يَتَعَلَّقَ بِهَا وَيَكُونُ خَائِفًا مِنْهَا أَوْ مُعَلِّقًا عَلَيْهَا أَحْكَامًا فَيَدُلُّ عَلَى أَوَّلًا ضَعْفِ تَوَكُّلِ هَذَا الرَّائِي عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّ هَذِهِ الرُّؤْيَا ضَرَّتْهُ وَلَمْ تُبَشِّرْهُ نَعَمْ


Adapun mimpi baik adalah mimpi yang berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla,dan ia merupakan satu dari 46 bagian kenabian,sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang Muslim dapat mengenali mimpi yang berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla ini dengan beberapa tanda: Tanda pertama, mimpi itu tidak mengandung hal-hal yang menakutkan.Tidak mengandung hal-hal yang menakutkan, tapi di dalamnya terlihat hal-hal yang jelas. Tanda kedua, mimpi itu menjadi pemberi kabar gembira. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Nabi menganggapnya pemberi kabar gembira. Benar, mungkin saja berupa peringatan,tapi peringatan dari beberapa perkara juga merupakan kabar gembira bagi seseorang.Karena Umar radhiyallahu ‘anhu ketika bermimpi akan meninggal,maka itu adalah kabar gembira baginya berupa kebaikan dan kesyahidan,saat Umar bermimpi melihat tiga patukan ayam dan lain sebagainya. Selain itu, ketika Imam Ahmad menyebutkan hadis ini, beliau berkata,“Sesungguhnya mimpi baik membuat senang seorang Mukmin, dan tidak membahayakannya.”Itu membuatnya bahagia dan tidak membahayakannya. Namun, jika ia menjadi terpaut dengannyadan merasa takut darinya,atau mengaitkan padanya berbagai hukum, maka ini menjadi tandalemahnya tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang dimiliki orang yang bermimpi itu. Mimpi baik itu malah menjadi membawa mudarat kepadanya, tidak menjadi pembawa kabar gembira.Demikian. ==== أَمَّا الرُّؤْيَا فَهِيَ الَّتِي تَكُونُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهِيَ الَّتِي تَكُونُ جُزْءًا مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا كَمَا فِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَعْرِفُ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الرُّؤْيَا الَّتِي تَكُونُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأُمُوْرٍ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَلَّا يَكُونَ فِيهَا تَهَاوِيْلُ مَا يَكُونُ فِيْهَا تَهَاوِيْلُ وَإِنَّمَا فِيهَا أَمْرٌ وَاضِحٌ وَجَلِيٌّ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ تَكُونَ مُبَشِّرَةً فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ أَعَدَّهَا مُبَشِّرَةً نَعَمْ قَدْ تَكُونُ مُنْذِرَةً وَالْإِنْذَارُ لِبَعْضِ الْأُمُوْرِ هِيَ تَبْشِيرٌ لِلْمَرْءِ فَإِنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا رَأَى أَنَّهُ سَيَمُوْتُ هِيَ تَبْشِيرٌ لَهُ بِخَيْرٍ وَشَهَادَةٍ حِينَمَا رَأَى ثَلَاثَةَ نَقَرَاتٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ نَعَمْ أَيْضًا الْإِمَامُ أَحْمَدُ لَمَّا ذَكَرَ هَذَا الْحَدِيثَ قَالَ إِنَّ الرُّؤْيَا تَسُرُّ الْمُؤْمِنَ وَلَا تَضُرُّهُ تَسُرُّهُ وَلَا تَضُرُّهُ أَمَّا أَنْ يَتَعَلَّقَ بِهَا وَيَكُونُ خَائِفًا مِنْهَا أَوْ مُعَلِّقًا عَلَيْهَا أَحْكَامًا فَيَدُلُّ عَلَى أَوَّلًا ضَعْفِ تَوَكُّلِ هَذَا الرَّائِي عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّ هَذِهِ الرُّؤْيَا ضَرَّتْهُ وَلَمْ تُبَشِّرْهُ نَعَمْ

Indikator Utama Baik atau Buruknya Seseorang

Hidup di zaman ini terkadang membuat diri kita melihat beragam hal-hal aneh dan mengherankan yang dengan mudahnya terjadi di sekitar kita. Fenomena rusaknya moral yang hampir merata di semua lapisan masyarakat. Kriminalitas dan kejahatan yang begitu beragam dan tidak mengenal waktu serta tempat. Begitu mudahnya menemukan pengkhianatan, penipuan, saling membunuh dan saling memusuhi hanya karena sesuatu yang sepele. Dan keburukan-keburukan lainnya.Tahukah kalian apa faktor terbesar yang mendorong seseorang untuk melakukan semua hal itu?Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya faktor terbesar rusaknya seseorang adalah rusaknya hati dan penuhnya ia dengan kotoran-kotoran. Hati merupakan indikator utama untuk mengetahui baik atau buruknya perangai dan moral seseorang. Mereka yang memiliki hati yang bersih, maka seluruh gerak-gerik dan tingkah lakunya pun akan ikut bersih dan membaik. Adapun mereka yang memiliki hati yang rusak dan kotor, maka akan nampak pula pada perangai dan gerak-geriknya sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyampaikan hal ini dalam salah satu hadisnya, ألَا وإنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً: إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، ألَا وهي القَلْبُ“Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh jasad. Namun, apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Perhatikanlah, bahwa segumpal daging itu adalah hati!” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan,الْقَلْبُ هُوَ الْأَصْلُ فَإِذَا كَانَ فِيهِ مَعْرِفَةٌ وَإِرَادَةٌ سَرَى ذَلِكَ إلَى الْبَدَنِ بِالضَّرُورَةِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَخَلَّفَ الْبَدَنُ عَمَّا يُرِيدُهُ الْقَلْبُ“Hati adalah asalnya (segala sesuatu). Jadi, jika ada pengetahuan dan keinginan di dalamnya, maka akan berimbas ke tubuh secara otomatis. Tidak mungkin anggota tubuh dengan serta merta menyelisihi apa yang diinginkan oleh hati.” (Majmu’ Fatawa, 7: 187)Ibnul Qayyim  rahimahullah juga mengatakan, “Hati adalah raja dari seluruh anggota badan, dan badan itu taat terhadap perintah hati, siap menerima petunjuk hati. Tidaklah lurus suatu amal sehingga amal tersebut berasal dari tujuan dan niat hati, dan hati itu bertanggung jawab atas seluruh (amalan badan).” (Ighasah Al-Lahfan, 1: 5) Daftar Isi sembunyikan 1. Apa yang dimaksud dengan ‘hati’? 2. Peranan hati dalam membangun karakter manusia Apa yang dimaksud dengan ‘hati’?Saat menyebutkan kata ‘hati’ sebagian dari kita mungkin bingung, karena hati menurut kedokteran dan istilah bahasa yang sering kita gunakan bermakna “salah satu anggota tubuh berwarna kemerahan di bagian kanan atas rongga perut, yang berfungsi untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah kita.” Atau jika dalam literasi Arab, maka maknanya adalah “jantung”. Lalu, apa hubungan kedua organ tubuh tersebut dengan baik atau buruknya seseorang?Perlu kita pahami terlebih dahulu, ‘hati’ yang kita maksudkan pada pembahasan kali ini bukanlah hati yang merupakan anggota tubuh kita. Akan tetapi, ‘hati’ di sini memiliki makna lain yang bersifat tak kasat mata, sesuatu yang bersifat maknawi.Sebagian ulama memaknainya dengan, “Sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia, tak kasat mata, karunia dari Allah kepada manusia dan bersifat spiritual, memiliki keterkaitan dengan ‘hati/ jantung’ manusia yang sesungguhnya. Akan tetapi, keterkaitannya tersebut hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.”Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan rincian,ويطلق القلب على معنيين: أحدهما: أمر حسي وهو العضو اللحمي الصنوبري الشكل المودع في الجانب الأيسر من الصدر وفي باطنه تجويف وفي التجويف دم أسود وهو منبع الروح. والثاني: أمر معنوي وهو لطيفة ربانية رحمانية روحانية لها بهذا العضو تعلق واختصاص، وتلك اللطيفة هي حقيقة الإنسانية“Hati (القلب) disebut dalam dua arti: Yang pertama, bersifat indrawi (bisa dirasakan oleh panca indera), yaitu organ berdaging berbentuk cemara (lengkungan) yang berada di sisi kiri dada, di dalamnya ada rongga, dan di dalam rongga itu ada darah hitam, yang mana adalah sumber jiwa.  Yang kedua, bersifat maknawi (moral), yang mana merupakan kelembutan spiritual bersumber dari Allah, penuh belas kasihan, yang memiliki keterikatan dan kekhususan pada organ (hati) ini, dan kelembutan itu adalah realitas kemanusiaan.” (At-Tibyan fii Aqsami Al-Qur’an, 1: 263)BACA JUGA: Menjadi Ibu, Profesi Terbaik Seorang WanitaPeranan hati dalam membangun karakter manusiaHati memiliki peranan yang sangat penting  di dalam membangun karakter seseorang melebihi anggota tubuh lainnya, karena pada hati itulah Allah Ta’ala uji ketakwaan seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى“Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّقْوَى هاهُنا. ويُشِيرُ إلى صَدْرِهِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ“Takwa itu letaknya di sini.” sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim no. 2564)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk dada beliau karena hati manusia terletak di dalamnya. Nabi menjelaskan bahwa ketakwaan (yang mana sumbernya adalah pengetahuan dan rasa takut) semuanya berasal dari hati seseorang. Seseorang tidak akan bisa mengerjakan sebuah amalan dengan benar dan menjauhkan diri dari dosa-dosa, kecuali hatinya telah bersih terlebih dahulu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan bahwa Allah Ta’ala akan menilai seseorang berdasarkan hati dan amalan mereka, bukan berdasarkan harta kekayaan maupun penampilan mereka. Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat pada hati-hati kalian dan amalan-amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)Al-Munawi rahimahullah mengatakan, “Berapa banyak orang yang berlidah baik, rupawan, terpandang, akan binasa esok di hari kiamat karena perbuatan buruknya, keburukan perilakunya, dan keburukan ketidaktulusannya. Sungguh hati merupakan sisi yang diperhatikan saat melihat hakikat sesuatu, tidak berguna indahnya penampilan dan indahnya ucapan jika ia memiliki hati yang kotor.” (Faidhul Qadiir, 5: 50)Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan menyebutkan, الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِصُوَرِهَا وَعَدَدِهَا، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا فِي الْقُلُوبِ، فَتَكُونُ صُورَةُ الْعَمَلَيْنِ وَاحِدَةً، وَبَيْنَهُمَا فِي التَّفَاضُلِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَالرَّجُلَانِ يَكُونُ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا، وَبَيْنَ صَلَاتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ“Sejatinya amalan satu dengan yang lainnya, tidaklah saling unggul hanya karena bentuknya yang berbeda dan jumlahnya yang berbeda, akan tetapi ia saling unggul karena saling unggulnya apa yang ada di dalam hati. Dua amalan yang berbentuk sama (sangatlah mungkin) memiliki kualitas yang berbeda sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi. Dua orang yang salat dalam satu saf yang sama (bisa jadi) kualitas salat mereka (berbeda) layaknya bumi dan langit.” (Madarijus Salikiin, 1: 340)Dari pemaparan di atas, seorang mukmin dituntut untuk lebih memperhatikan kebersihan dan kesucian hatinya, menjauhkan diri dari apa-apa yang dapat mengotori kesucian hatinya serta senantiasa istikamah di dalam bertauhid dan kuat di atas kebenaran.Mengapa? Karena hati merupakan indikator baik atau buruknya diri seseorang, di samping ia merupakan salah satu sisi manusia yang paling rapuh dan rentan, begitu mudahnya ia berbolak-balik, dari yang sebelumnya condong kepada kebenaran berubah condong kepada kejelekan, ataupun sebaliknya.Pada pembahasan selanjutnya, insyaAllah akan kita bahas beberapa hal yang memiliki pengaruh buruk terhadap kebersihan dan kesucian hati serta bagaimana cara mengobatinya. Wallahu Ta’ala a’lam bis-shawab.BACA JUGA: Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Majmu’ Fatawa karya Syekh Ibnu Taimiyyah rahimahullahBerbagai sumber lainnyaTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikih ibadahfikih jmuamalahibadahmuamalahnasihatnasihat islam

Indikator Utama Baik atau Buruknya Seseorang

Hidup di zaman ini terkadang membuat diri kita melihat beragam hal-hal aneh dan mengherankan yang dengan mudahnya terjadi di sekitar kita. Fenomena rusaknya moral yang hampir merata di semua lapisan masyarakat. Kriminalitas dan kejahatan yang begitu beragam dan tidak mengenal waktu serta tempat. Begitu mudahnya menemukan pengkhianatan, penipuan, saling membunuh dan saling memusuhi hanya karena sesuatu yang sepele. Dan keburukan-keburukan lainnya.Tahukah kalian apa faktor terbesar yang mendorong seseorang untuk melakukan semua hal itu?Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya faktor terbesar rusaknya seseorang adalah rusaknya hati dan penuhnya ia dengan kotoran-kotoran. Hati merupakan indikator utama untuk mengetahui baik atau buruknya perangai dan moral seseorang. Mereka yang memiliki hati yang bersih, maka seluruh gerak-gerik dan tingkah lakunya pun akan ikut bersih dan membaik. Adapun mereka yang memiliki hati yang rusak dan kotor, maka akan nampak pula pada perangai dan gerak-geriknya sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyampaikan hal ini dalam salah satu hadisnya, ألَا وإنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً: إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، ألَا وهي القَلْبُ“Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh jasad. Namun, apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Perhatikanlah, bahwa segumpal daging itu adalah hati!” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan,الْقَلْبُ هُوَ الْأَصْلُ فَإِذَا كَانَ فِيهِ مَعْرِفَةٌ وَإِرَادَةٌ سَرَى ذَلِكَ إلَى الْبَدَنِ بِالضَّرُورَةِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَخَلَّفَ الْبَدَنُ عَمَّا يُرِيدُهُ الْقَلْبُ“Hati adalah asalnya (segala sesuatu). Jadi, jika ada pengetahuan dan keinginan di dalamnya, maka akan berimbas ke tubuh secara otomatis. Tidak mungkin anggota tubuh dengan serta merta menyelisihi apa yang diinginkan oleh hati.” (Majmu’ Fatawa, 7: 187)Ibnul Qayyim  rahimahullah juga mengatakan, “Hati adalah raja dari seluruh anggota badan, dan badan itu taat terhadap perintah hati, siap menerima petunjuk hati. Tidaklah lurus suatu amal sehingga amal tersebut berasal dari tujuan dan niat hati, dan hati itu bertanggung jawab atas seluruh (amalan badan).” (Ighasah Al-Lahfan, 1: 5) Daftar Isi sembunyikan 1. Apa yang dimaksud dengan ‘hati’? 2. Peranan hati dalam membangun karakter manusia Apa yang dimaksud dengan ‘hati’?Saat menyebutkan kata ‘hati’ sebagian dari kita mungkin bingung, karena hati menurut kedokteran dan istilah bahasa yang sering kita gunakan bermakna “salah satu anggota tubuh berwarna kemerahan di bagian kanan atas rongga perut, yang berfungsi untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah kita.” Atau jika dalam literasi Arab, maka maknanya adalah “jantung”. Lalu, apa hubungan kedua organ tubuh tersebut dengan baik atau buruknya seseorang?Perlu kita pahami terlebih dahulu, ‘hati’ yang kita maksudkan pada pembahasan kali ini bukanlah hati yang merupakan anggota tubuh kita. Akan tetapi, ‘hati’ di sini memiliki makna lain yang bersifat tak kasat mata, sesuatu yang bersifat maknawi.Sebagian ulama memaknainya dengan, “Sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia, tak kasat mata, karunia dari Allah kepada manusia dan bersifat spiritual, memiliki keterkaitan dengan ‘hati/ jantung’ manusia yang sesungguhnya. Akan tetapi, keterkaitannya tersebut hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.”Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan rincian,ويطلق القلب على معنيين: أحدهما: أمر حسي وهو العضو اللحمي الصنوبري الشكل المودع في الجانب الأيسر من الصدر وفي باطنه تجويف وفي التجويف دم أسود وهو منبع الروح. والثاني: أمر معنوي وهو لطيفة ربانية رحمانية روحانية لها بهذا العضو تعلق واختصاص، وتلك اللطيفة هي حقيقة الإنسانية“Hati (القلب) disebut dalam dua arti: Yang pertama, bersifat indrawi (bisa dirasakan oleh panca indera), yaitu organ berdaging berbentuk cemara (lengkungan) yang berada di sisi kiri dada, di dalamnya ada rongga, dan di dalam rongga itu ada darah hitam, yang mana adalah sumber jiwa.  Yang kedua, bersifat maknawi (moral), yang mana merupakan kelembutan spiritual bersumber dari Allah, penuh belas kasihan, yang memiliki keterikatan dan kekhususan pada organ (hati) ini, dan kelembutan itu adalah realitas kemanusiaan.” (At-Tibyan fii Aqsami Al-Qur’an, 1: 263)BACA JUGA: Menjadi Ibu, Profesi Terbaik Seorang WanitaPeranan hati dalam membangun karakter manusiaHati memiliki peranan yang sangat penting  di dalam membangun karakter seseorang melebihi anggota tubuh lainnya, karena pada hati itulah Allah Ta’ala uji ketakwaan seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى“Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّقْوَى هاهُنا. ويُشِيرُ إلى صَدْرِهِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ“Takwa itu letaknya di sini.” sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim no. 2564)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk dada beliau karena hati manusia terletak di dalamnya. Nabi menjelaskan bahwa ketakwaan (yang mana sumbernya adalah pengetahuan dan rasa takut) semuanya berasal dari hati seseorang. Seseorang tidak akan bisa mengerjakan sebuah amalan dengan benar dan menjauhkan diri dari dosa-dosa, kecuali hatinya telah bersih terlebih dahulu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan bahwa Allah Ta’ala akan menilai seseorang berdasarkan hati dan amalan mereka, bukan berdasarkan harta kekayaan maupun penampilan mereka. Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat pada hati-hati kalian dan amalan-amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)Al-Munawi rahimahullah mengatakan, “Berapa banyak orang yang berlidah baik, rupawan, terpandang, akan binasa esok di hari kiamat karena perbuatan buruknya, keburukan perilakunya, dan keburukan ketidaktulusannya. Sungguh hati merupakan sisi yang diperhatikan saat melihat hakikat sesuatu, tidak berguna indahnya penampilan dan indahnya ucapan jika ia memiliki hati yang kotor.” (Faidhul Qadiir, 5: 50)Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan menyebutkan, الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِصُوَرِهَا وَعَدَدِهَا، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا فِي الْقُلُوبِ، فَتَكُونُ صُورَةُ الْعَمَلَيْنِ وَاحِدَةً، وَبَيْنَهُمَا فِي التَّفَاضُلِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَالرَّجُلَانِ يَكُونُ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا، وَبَيْنَ صَلَاتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ“Sejatinya amalan satu dengan yang lainnya, tidaklah saling unggul hanya karena bentuknya yang berbeda dan jumlahnya yang berbeda, akan tetapi ia saling unggul karena saling unggulnya apa yang ada di dalam hati. Dua amalan yang berbentuk sama (sangatlah mungkin) memiliki kualitas yang berbeda sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi. Dua orang yang salat dalam satu saf yang sama (bisa jadi) kualitas salat mereka (berbeda) layaknya bumi dan langit.” (Madarijus Salikiin, 1: 340)Dari pemaparan di atas, seorang mukmin dituntut untuk lebih memperhatikan kebersihan dan kesucian hatinya, menjauhkan diri dari apa-apa yang dapat mengotori kesucian hatinya serta senantiasa istikamah di dalam bertauhid dan kuat di atas kebenaran.Mengapa? Karena hati merupakan indikator baik atau buruknya diri seseorang, di samping ia merupakan salah satu sisi manusia yang paling rapuh dan rentan, begitu mudahnya ia berbolak-balik, dari yang sebelumnya condong kepada kebenaran berubah condong kepada kejelekan, ataupun sebaliknya.Pada pembahasan selanjutnya, insyaAllah akan kita bahas beberapa hal yang memiliki pengaruh buruk terhadap kebersihan dan kesucian hati serta bagaimana cara mengobatinya. Wallahu Ta’ala a’lam bis-shawab.BACA JUGA: Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Majmu’ Fatawa karya Syekh Ibnu Taimiyyah rahimahullahBerbagai sumber lainnyaTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikih ibadahfikih jmuamalahibadahmuamalahnasihatnasihat islam
Hidup di zaman ini terkadang membuat diri kita melihat beragam hal-hal aneh dan mengherankan yang dengan mudahnya terjadi di sekitar kita. Fenomena rusaknya moral yang hampir merata di semua lapisan masyarakat. Kriminalitas dan kejahatan yang begitu beragam dan tidak mengenal waktu serta tempat. Begitu mudahnya menemukan pengkhianatan, penipuan, saling membunuh dan saling memusuhi hanya karena sesuatu yang sepele. Dan keburukan-keburukan lainnya.Tahukah kalian apa faktor terbesar yang mendorong seseorang untuk melakukan semua hal itu?Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya faktor terbesar rusaknya seseorang adalah rusaknya hati dan penuhnya ia dengan kotoran-kotoran. Hati merupakan indikator utama untuk mengetahui baik atau buruknya perangai dan moral seseorang. Mereka yang memiliki hati yang bersih, maka seluruh gerak-gerik dan tingkah lakunya pun akan ikut bersih dan membaik. Adapun mereka yang memiliki hati yang rusak dan kotor, maka akan nampak pula pada perangai dan gerak-geriknya sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyampaikan hal ini dalam salah satu hadisnya, ألَا وإنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً: إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، ألَا وهي القَلْبُ“Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh jasad. Namun, apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Perhatikanlah, bahwa segumpal daging itu adalah hati!” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan,الْقَلْبُ هُوَ الْأَصْلُ فَإِذَا كَانَ فِيهِ مَعْرِفَةٌ وَإِرَادَةٌ سَرَى ذَلِكَ إلَى الْبَدَنِ بِالضَّرُورَةِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَخَلَّفَ الْبَدَنُ عَمَّا يُرِيدُهُ الْقَلْبُ“Hati adalah asalnya (segala sesuatu). Jadi, jika ada pengetahuan dan keinginan di dalamnya, maka akan berimbas ke tubuh secara otomatis. Tidak mungkin anggota tubuh dengan serta merta menyelisihi apa yang diinginkan oleh hati.” (Majmu’ Fatawa, 7: 187)Ibnul Qayyim  rahimahullah juga mengatakan, “Hati adalah raja dari seluruh anggota badan, dan badan itu taat terhadap perintah hati, siap menerima petunjuk hati. Tidaklah lurus suatu amal sehingga amal tersebut berasal dari tujuan dan niat hati, dan hati itu bertanggung jawab atas seluruh (amalan badan).” (Ighasah Al-Lahfan, 1: 5) Daftar Isi sembunyikan 1. Apa yang dimaksud dengan ‘hati’? 2. Peranan hati dalam membangun karakter manusia Apa yang dimaksud dengan ‘hati’?Saat menyebutkan kata ‘hati’ sebagian dari kita mungkin bingung, karena hati menurut kedokteran dan istilah bahasa yang sering kita gunakan bermakna “salah satu anggota tubuh berwarna kemerahan di bagian kanan atas rongga perut, yang berfungsi untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah kita.” Atau jika dalam literasi Arab, maka maknanya adalah “jantung”. Lalu, apa hubungan kedua organ tubuh tersebut dengan baik atau buruknya seseorang?Perlu kita pahami terlebih dahulu, ‘hati’ yang kita maksudkan pada pembahasan kali ini bukanlah hati yang merupakan anggota tubuh kita. Akan tetapi, ‘hati’ di sini memiliki makna lain yang bersifat tak kasat mata, sesuatu yang bersifat maknawi.Sebagian ulama memaknainya dengan, “Sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia, tak kasat mata, karunia dari Allah kepada manusia dan bersifat spiritual, memiliki keterkaitan dengan ‘hati/ jantung’ manusia yang sesungguhnya. Akan tetapi, keterkaitannya tersebut hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.”Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan rincian,ويطلق القلب على معنيين: أحدهما: أمر حسي وهو العضو اللحمي الصنوبري الشكل المودع في الجانب الأيسر من الصدر وفي باطنه تجويف وفي التجويف دم أسود وهو منبع الروح. والثاني: أمر معنوي وهو لطيفة ربانية رحمانية روحانية لها بهذا العضو تعلق واختصاص، وتلك اللطيفة هي حقيقة الإنسانية“Hati (القلب) disebut dalam dua arti: Yang pertama, bersifat indrawi (bisa dirasakan oleh panca indera), yaitu organ berdaging berbentuk cemara (lengkungan) yang berada di sisi kiri dada, di dalamnya ada rongga, dan di dalam rongga itu ada darah hitam, yang mana adalah sumber jiwa.  Yang kedua, bersifat maknawi (moral), yang mana merupakan kelembutan spiritual bersumber dari Allah, penuh belas kasihan, yang memiliki keterikatan dan kekhususan pada organ (hati) ini, dan kelembutan itu adalah realitas kemanusiaan.” (At-Tibyan fii Aqsami Al-Qur’an, 1: 263)BACA JUGA: Menjadi Ibu, Profesi Terbaik Seorang WanitaPeranan hati dalam membangun karakter manusiaHati memiliki peranan yang sangat penting  di dalam membangun karakter seseorang melebihi anggota tubuh lainnya, karena pada hati itulah Allah Ta’ala uji ketakwaan seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى“Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّقْوَى هاهُنا. ويُشِيرُ إلى صَدْرِهِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ“Takwa itu letaknya di sini.” sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim no. 2564)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk dada beliau karena hati manusia terletak di dalamnya. Nabi menjelaskan bahwa ketakwaan (yang mana sumbernya adalah pengetahuan dan rasa takut) semuanya berasal dari hati seseorang. Seseorang tidak akan bisa mengerjakan sebuah amalan dengan benar dan menjauhkan diri dari dosa-dosa, kecuali hatinya telah bersih terlebih dahulu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan bahwa Allah Ta’ala akan menilai seseorang berdasarkan hati dan amalan mereka, bukan berdasarkan harta kekayaan maupun penampilan mereka. Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat pada hati-hati kalian dan amalan-amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)Al-Munawi rahimahullah mengatakan, “Berapa banyak orang yang berlidah baik, rupawan, terpandang, akan binasa esok di hari kiamat karena perbuatan buruknya, keburukan perilakunya, dan keburukan ketidaktulusannya. Sungguh hati merupakan sisi yang diperhatikan saat melihat hakikat sesuatu, tidak berguna indahnya penampilan dan indahnya ucapan jika ia memiliki hati yang kotor.” (Faidhul Qadiir, 5: 50)Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan menyebutkan, الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِصُوَرِهَا وَعَدَدِهَا، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا فِي الْقُلُوبِ، فَتَكُونُ صُورَةُ الْعَمَلَيْنِ وَاحِدَةً، وَبَيْنَهُمَا فِي التَّفَاضُلِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَالرَّجُلَانِ يَكُونُ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا، وَبَيْنَ صَلَاتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ“Sejatinya amalan satu dengan yang lainnya, tidaklah saling unggul hanya karena bentuknya yang berbeda dan jumlahnya yang berbeda, akan tetapi ia saling unggul karena saling unggulnya apa yang ada di dalam hati. Dua amalan yang berbentuk sama (sangatlah mungkin) memiliki kualitas yang berbeda sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi. Dua orang yang salat dalam satu saf yang sama (bisa jadi) kualitas salat mereka (berbeda) layaknya bumi dan langit.” (Madarijus Salikiin, 1: 340)Dari pemaparan di atas, seorang mukmin dituntut untuk lebih memperhatikan kebersihan dan kesucian hatinya, menjauhkan diri dari apa-apa yang dapat mengotori kesucian hatinya serta senantiasa istikamah di dalam bertauhid dan kuat di atas kebenaran.Mengapa? Karena hati merupakan indikator baik atau buruknya diri seseorang, di samping ia merupakan salah satu sisi manusia yang paling rapuh dan rentan, begitu mudahnya ia berbolak-balik, dari yang sebelumnya condong kepada kebenaran berubah condong kepada kejelekan, ataupun sebaliknya.Pada pembahasan selanjutnya, insyaAllah akan kita bahas beberapa hal yang memiliki pengaruh buruk terhadap kebersihan dan kesucian hati serta bagaimana cara mengobatinya. Wallahu Ta’ala a’lam bis-shawab.BACA JUGA: Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Majmu’ Fatawa karya Syekh Ibnu Taimiyyah rahimahullahBerbagai sumber lainnyaTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikih ibadahfikih jmuamalahibadahmuamalahnasihatnasihat islam


Hidup di zaman ini terkadang membuat diri kita melihat beragam hal-hal aneh dan mengherankan yang dengan mudahnya terjadi di sekitar kita. Fenomena rusaknya moral yang hampir merata di semua lapisan masyarakat. Kriminalitas dan kejahatan yang begitu beragam dan tidak mengenal waktu serta tempat. Begitu mudahnya menemukan pengkhianatan, penipuan, saling membunuh dan saling memusuhi hanya karena sesuatu yang sepele. Dan keburukan-keburukan lainnya.Tahukah kalian apa faktor terbesar yang mendorong seseorang untuk melakukan semua hal itu?Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya faktor terbesar rusaknya seseorang adalah rusaknya hati dan penuhnya ia dengan kotoran-kotoran. Hati merupakan indikator utama untuk mengetahui baik atau buruknya perangai dan moral seseorang. Mereka yang memiliki hati yang bersih, maka seluruh gerak-gerik dan tingkah lakunya pun akan ikut bersih dan membaik. Adapun mereka yang memiliki hati yang rusak dan kotor, maka akan nampak pula pada perangai dan gerak-geriknya sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyampaikan hal ini dalam salah satu hadisnya, ألَا وإنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً: إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، ألَا وهي القَلْبُ“Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh jasad. Namun, apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Perhatikanlah, bahwa segumpal daging itu adalah hati!” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan,الْقَلْبُ هُوَ الْأَصْلُ فَإِذَا كَانَ فِيهِ مَعْرِفَةٌ وَإِرَادَةٌ سَرَى ذَلِكَ إلَى الْبَدَنِ بِالضَّرُورَةِ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَتَخَلَّفَ الْبَدَنُ عَمَّا يُرِيدُهُ الْقَلْبُ“Hati adalah asalnya (segala sesuatu). Jadi, jika ada pengetahuan dan keinginan di dalamnya, maka akan berimbas ke tubuh secara otomatis. Tidak mungkin anggota tubuh dengan serta merta menyelisihi apa yang diinginkan oleh hati.” (Majmu’ Fatawa, 7: 187)Ibnul Qayyim  rahimahullah juga mengatakan, “Hati adalah raja dari seluruh anggota badan, dan badan itu taat terhadap perintah hati, siap menerima petunjuk hati. Tidaklah lurus suatu amal sehingga amal tersebut berasal dari tujuan dan niat hati, dan hati itu bertanggung jawab atas seluruh (amalan badan).” (Ighasah Al-Lahfan, 1: 5) Daftar Isi sembunyikan 1. Apa yang dimaksud dengan ‘hati’? 2. Peranan hati dalam membangun karakter manusia Apa yang dimaksud dengan ‘hati’?Saat menyebutkan kata ‘hati’ sebagian dari kita mungkin bingung, karena hati menurut kedokteran dan istilah bahasa yang sering kita gunakan bermakna “salah satu anggota tubuh berwarna kemerahan di bagian kanan atas rongga perut, yang berfungsi untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah kita.” Atau jika dalam literasi Arab, maka maknanya adalah “jantung”. Lalu, apa hubungan kedua organ tubuh tersebut dengan baik atau buruknya seseorang?Perlu kita pahami terlebih dahulu, ‘hati’ yang kita maksudkan pada pembahasan kali ini bukanlah hati yang merupakan anggota tubuh kita. Akan tetapi, ‘hati’ di sini memiliki makna lain yang bersifat tak kasat mata, sesuatu yang bersifat maknawi.Sebagian ulama memaknainya dengan, “Sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia, tak kasat mata, karunia dari Allah kepada manusia dan bersifat spiritual, memiliki keterkaitan dengan ‘hati/ jantung’ manusia yang sesungguhnya. Akan tetapi, keterkaitannya tersebut hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.”Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan rincian,ويطلق القلب على معنيين: أحدهما: أمر حسي وهو العضو اللحمي الصنوبري الشكل المودع في الجانب الأيسر من الصدر وفي باطنه تجويف وفي التجويف دم أسود وهو منبع الروح. والثاني: أمر معنوي وهو لطيفة ربانية رحمانية روحانية لها بهذا العضو تعلق واختصاص، وتلك اللطيفة هي حقيقة الإنسانية“Hati (القلب) disebut dalam dua arti: Yang pertama, bersifat indrawi (bisa dirasakan oleh panca indera), yaitu organ berdaging berbentuk cemara (lengkungan) yang berada di sisi kiri dada, di dalamnya ada rongga, dan di dalam rongga itu ada darah hitam, yang mana adalah sumber jiwa.  Yang kedua, bersifat maknawi (moral), yang mana merupakan kelembutan spiritual bersumber dari Allah, penuh belas kasihan, yang memiliki keterikatan dan kekhususan pada organ (hati) ini, dan kelembutan itu adalah realitas kemanusiaan.” (At-Tibyan fii Aqsami Al-Qur’an, 1: 263)BACA JUGA: Menjadi Ibu, Profesi Terbaik Seorang WanitaPeranan hati dalam membangun karakter manusiaHati memiliki peranan yang sangat penting  di dalam membangun karakter seseorang melebihi anggota tubuh lainnya, karena pada hati itulah Allah Ta’ala uji ketakwaan seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى“Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,التَّقْوَى هاهُنا. ويُشِيرُ إلى صَدْرِهِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ“Takwa itu letaknya di sini.” sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim no. 2564)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk dada beliau karena hati manusia terletak di dalamnya. Nabi menjelaskan bahwa ketakwaan (yang mana sumbernya adalah pengetahuan dan rasa takut) semuanya berasal dari hati seseorang. Seseorang tidak akan bisa mengerjakan sebuah amalan dengan benar dan menjauhkan diri dari dosa-dosa, kecuali hatinya telah bersih terlebih dahulu.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan bahwa Allah Ta’ala akan menilai seseorang berdasarkan hati dan amalan mereka, bukan berdasarkan harta kekayaan maupun penampilan mereka. Beliau bersabda,إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat pada hati-hati kalian dan amalan-amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)Al-Munawi rahimahullah mengatakan, “Berapa banyak orang yang berlidah baik, rupawan, terpandang, akan binasa esok di hari kiamat karena perbuatan buruknya, keburukan perilakunya, dan keburukan ketidaktulusannya. Sungguh hati merupakan sisi yang diperhatikan saat melihat hakikat sesuatu, tidak berguna indahnya penampilan dan indahnya ucapan jika ia memiliki hati yang kotor.” (Faidhul Qadiir, 5: 50)Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan menyebutkan, الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِصُوَرِهَا وَعَدَدِهَا، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا فِي الْقُلُوبِ، فَتَكُونُ صُورَةُ الْعَمَلَيْنِ وَاحِدَةً، وَبَيْنَهُمَا فِي التَّفَاضُلِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَالرَّجُلَانِ يَكُونُ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا، وَبَيْنَ صَلَاتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ“Sejatinya amalan satu dengan yang lainnya, tidaklah saling unggul hanya karena bentuknya yang berbeda dan jumlahnya yang berbeda, akan tetapi ia saling unggul karena saling unggulnya apa yang ada di dalam hati. Dua amalan yang berbentuk sama (sangatlah mungkin) memiliki kualitas yang berbeda sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi. Dua orang yang salat dalam satu saf yang sama (bisa jadi) kualitas salat mereka (berbeda) layaknya bumi dan langit.” (Madarijus Salikiin, 1: 340)Dari pemaparan di atas, seorang mukmin dituntut untuk lebih memperhatikan kebersihan dan kesucian hatinya, menjauhkan diri dari apa-apa yang dapat mengotori kesucian hatinya serta senantiasa istikamah di dalam bertauhid dan kuat di atas kebenaran.Mengapa? Karena hati merupakan indikator baik atau buruknya diri seseorang, di samping ia merupakan salah satu sisi manusia yang paling rapuh dan rentan, begitu mudahnya ia berbolak-balik, dari yang sebelumnya condong kepada kebenaran berubah condong kepada kejelekan, ataupun sebaliknya.Pada pembahasan selanjutnya, insyaAllah akan kita bahas beberapa hal yang memiliki pengaruh buruk terhadap kebersihan dan kesucian hati serta bagaimana cara mengobatinya. Wallahu Ta’ala a’lam bis-shawab.BACA JUGA: Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Majmu’ Fatawa karya Syekh Ibnu Taimiyyah rahimahullahBerbagai sumber lainnyaTags: adabAkhlakAqidahaqidah islamfikih ibadahfikih jmuamalahibadahmuamalahnasihatnasihat islam

Mendapati Air Madzi setelah Salat

Pertanyaan: Syekh yang mulia, semoga Allah memberi Anda taufik. Orang ini bertanya: “Aku sering mendapati bekas madzi di celana dalamku. Apakah aku harus selalu mengecek celana dalamku sebelum aku salat dan setelahnya untuk memastikan bahwa tidak ada madzi?” Jawaban: Aku khawatir ini termasuk was-was sehingga tidak perlu Anda gubris, kecuali jika Anda yakin ada madzi atau kencing yang keluar, maka Anda wajib membersihkannya, wudu, kemudian salat. Sumber Fatwa:    Kajian Muntaqā min Aẖbār al-Muṣṭafā karya Majdu ad-Dīn Ibni Taymiyyah–semoga Allah merahmati beliau–(Sabtu, 12 Jumadal Akhir 1441 H) https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18351 LINK PDF 🔍 Aliran Ldii, Shalawat Nabi Sesuai Sunnah, Tidak Akan Masuk Surga Orang Yang, Puasa Daud Harus Berapa Lama, Berapa Rakaat Shalat Tahajud, Peci Tauhid Visited 10 times, 1 visit(s) today Post Views: 169 QRIS donasi Yufid

Mendapati Air Madzi setelah Salat

Pertanyaan: Syekh yang mulia, semoga Allah memberi Anda taufik. Orang ini bertanya: “Aku sering mendapati bekas madzi di celana dalamku. Apakah aku harus selalu mengecek celana dalamku sebelum aku salat dan setelahnya untuk memastikan bahwa tidak ada madzi?” Jawaban: Aku khawatir ini termasuk was-was sehingga tidak perlu Anda gubris, kecuali jika Anda yakin ada madzi atau kencing yang keluar, maka Anda wajib membersihkannya, wudu, kemudian salat. Sumber Fatwa:    Kajian Muntaqā min Aẖbār al-Muṣṭafā karya Majdu ad-Dīn Ibni Taymiyyah–semoga Allah merahmati beliau–(Sabtu, 12 Jumadal Akhir 1441 H) https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18351 LINK PDF 🔍 Aliran Ldii, Shalawat Nabi Sesuai Sunnah, Tidak Akan Masuk Surga Orang Yang, Puasa Daud Harus Berapa Lama, Berapa Rakaat Shalat Tahajud, Peci Tauhid Visited 10 times, 1 visit(s) today Post Views: 169 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Syekh yang mulia, semoga Allah memberi Anda taufik. Orang ini bertanya: “Aku sering mendapati bekas madzi di celana dalamku. Apakah aku harus selalu mengecek celana dalamku sebelum aku salat dan setelahnya untuk memastikan bahwa tidak ada madzi?” Jawaban: Aku khawatir ini termasuk was-was sehingga tidak perlu Anda gubris, kecuali jika Anda yakin ada madzi atau kencing yang keluar, maka Anda wajib membersihkannya, wudu, kemudian salat. Sumber Fatwa:    Kajian Muntaqā min Aẖbār al-Muṣṭafā karya Majdu ad-Dīn Ibni Taymiyyah–semoga Allah merahmati beliau–(Sabtu, 12 Jumadal Akhir 1441 H) https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18351 LINK PDF 🔍 Aliran Ldii, Shalawat Nabi Sesuai Sunnah, Tidak Akan Masuk Surga Orang Yang, Puasa Daud Harus Berapa Lama, Berapa Rakaat Shalat Tahajud, Peci Tauhid Visited 10 times, 1 visit(s) today Post Views: 169 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1469320276&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Syekh yang mulia, semoga Allah memberi Anda taufik. Orang ini bertanya: “Aku sering mendapati bekas madzi di celana dalamku. Apakah aku harus selalu mengecek celana dalamku sebelum aku salat dan setelahnya untuk memastikan bahwa tidak ada madzi?” Jawaban: Aku khawatir ini termasuk was-was sehingga tidak perlu Anda gubris, kecuali jika Anda yakin ada madzi atau kencing yang keluar, maka Anda wajib membersihkannya, wudu, kemudian salat. Sumber Fatwa:    Kajian Muntaqā min Aẖbār al-Muṣṭafā karya Majdu ad-Dīn Ibni Taymiyyah–semoga Allah merahmati beliau–(Sabtu, 12 Jumadal Akhir 1441 H) https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/18351 LINK PDF 🔍 Aliran Ldii, Shalawat Nabi Sesuai Sunnah, Tidak Akan Masuk Surga Orang Yang, Puasa Daud Harus Berapa Lama, Berapa Rakaat Shalat Tahajud, Peci Tauhid Visited 10 times, 1 visit(s) today Post Views: 169 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Di manakah Posisi ketika Mengiringi Jenazah?

Berkaitan dengan posisi kaum muslimin ketika sedang mengiring jenazah, terdapat beberapa pendapat ulama dalam masalah ini. Daftar Isi sembunyikan 1. Pendapat pertama 2. Pendapat kedua 3. Pendapat ketiga 4. Pendapat yang lebih tepat Pendapat pertamaKaum muslimin yang mengiringi jenazah ke pemakaman itu berada di depan jenazah. Inilah pendapat sejumlah sahabat, seperti Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, Ibnu ‘Umar, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum. Ini juga merupakan pendapat jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah. (Lihat Al-Mudawwanah, 1: 177; Al-Umm, 2: 613; dan Al-Mughni, 3: 397)Dalil dari pendapat ini adalah hadis yang diriwayatkan dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, dari ayahnya, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَمْشُونَ أَمَامَ الْجَنَازَةِ“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar berjalan di depan jenazah.” (HR. Abu Dawud no. 3179, Tirmidzi no. 1007, 1008, An-Nasa’i 4: 56, Ibnu Majah no. 1482, Ahmad 8: 138, dan Ibnu Hibban 7: 317. Dinilai sahih oleh Al-Albani.)Pendapat keduaPendapat kedua mengatakan bahwa hendaknya kaum muslimin berada di belakang jenazah. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan murid-murid beliau. (Bada’i Ash-Shana’i, 1: 309) Demikian pula yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Sufyan Ats-Tsauri dan Ishaq (Jami’ At-Tirmidzi, 3: 332-333) dan diriwayatkan oleh Ibnul Munzir dari Al-Auza’i (Al-Ausath, 5: 383). Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ“Barangsiapa mengiringi jenazah muslim, karena iman dan mengharapkan balasan dan dia selalu bersama jenazah tersebut sampai disalatkan dan selesai dari penguburannya, maka dia pulang dengan membawa dua qiroth, setiap qiroth setara dengan gunung Uhud. Dan barangsiapa menyalatkannya dan pulang sebelum dikuburkan, maka dia pulang membawa satu qiroth.” (HR. Bukhari no. 47)Tidaklah disebut “mengiringi”, kecuali posisinya berada di belakang jenazah. BACA JUGA: Bersegera dalam Mengurus dan Membawa JenazahPendapat ketigaAdapun pendapat ketiga menyatakan bahwa pengiring jenazah bebas memilih apakah ingin berjalan di depan atau di belakang jenazah atau ingin di sebelah kanan atau kiri jenazah. Ini adalah pendapat sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) bahwa beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,أَنْتُمْ مُشَيِّعُونَ وَامْشِ بَيْنَ يَدَيْهَا وَخَلْفَهَا، وَعَنْ يَمِينِهَا، وَعَنْ شِمَالِهَا“Kalian adalah orang-orang yang mengiring (mengantarkan) jenazah. Berjalanlah di depan atau di belakang atau di sebelah kanan atau kiri jenazah.”Sanad hadis ini telah disebutkan oleh Ibnul Munzir dan lainnya. Pendapat ketiga ini juga diriwayatkan oleh Ishaq dan sejumlah ulama. Tampaknya, Imam Bukhari rahimahullah juga memilih pendapat ini karena ketika beliau membawakan bab,بَابُ السُّرْعَةِ بِالْجِنَازَةِ“Bab bersegera dalam (mengurus dan membawa) jenazah.” Beliau menyebutkan riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas.Dalil dari pendapat ketiga ini adalah hadis Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الرَّاكِبُ يَسِيرُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ، وَالْمَاشِي يَمْشِي خَلْفَهَا، وَأَمَامَهَا، وَعَنْ يَمِينِهَا، وَعَنْ يَسَارِهَا قَرِيبًا مِنْهَا، وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ، وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ“Orang yang berkendaraan berjalan di belakang jenazah, orang yang berjalan kaki berjalan di belakangnya, dan di depannya, serta di samping kanan dan kirinya, dekat dengannya. Dan janin yang keguguran disalatkan dan didoakan untuk kedua orang tuanya agar diberi ampunan serta rahmat (kasih sayang) Allah.” (HR. Abu Dawud no. 3180, dinilai sahih oleh Al-Albani)BACA JUGA: Ikhlas Berdoa untuk JenazahPendapat yang lebih tepatPendapat yang lebih tepat adalah pendapat ketiga, dengan tiga pertimbangan berikut ini:Pertama, terdapat dalil untuk masing-masing dari ketiga pendapat di atas. Terdapat dalam hadis riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr, dan Umar, mereka berjalan di depan dan di belakang jenazah. [1]Kedua, terdapat kelonggaran untuk kaum muslimin. Hal ini karena kaum muslimin yang mengiringi jenazah itu kekuatan langkah kakinya bervariasi. Sehingga jika mengharuskan mereka berada di posisi tertentu (misalnya, harus berada di depan jenazah), hal itu akan memberatkan mereka.Ketiga, lebih sesuai dengan sunah mensegerakan memikul jenazah karena tidak mengharuskan satu posisi tertentu ketika berjalan mengiringinya.Adapun orang yang mengiringi jenazah dengan naik hewan tunggangan, mereka berada di belakang berdasarkan hadis Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ini suatu hal yang dapat dipahami pada zaman itu, karena mereka menaiki unta, keledai, atau yang lainnya. Adapun pada jaman sekarang, kaum muslimin itu naik kendaraan. Jika mereka berada di belakang jenazah, hal itu akan mengganggu mereka yang berjalan kaki atau mereka akan tergesa-gesa dalam memikul jenazah. Sehingga, yang naik kendaraan itu lebih baik berada di depan atau jika di belakang, posisinya agak jauh dari iringan jenazah. (Lihat Fataawa Ibnu ‘Utsaimin, 17: 170)BACA JUGA: Fikih Pengurusan Jenazah (5): Tata Cara Menguburkan Mayit***@Rumah Kasongan, 21 Rajab 1444/ 12 Februari 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarh Al-Ma’ani (1: 481) dengan sanad sahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hal. 74. Akan tetapi, hal ini perlu ditinjau kembali karena di dalam sanadnya terdapat Wahb bin Rasyid Abu Zur’ah Al-Mishri, dan dia ini diperbincangkan dan bukan termasuk perawi Bukhari dan Muslim. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 329)[2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 327-329). Kutipan-kutipan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.Tags: adabAkhlakfikihfikih mengurus jenazahmengiring jenazahmengurus jenazahpanduan mengurus jenazahtata cara mengurus jenazahtuntunan mengurus jenazah

Di manakah Posisi ketika Mengiringi Jenazah?

Berkaitan dengan posisi kaum muslimin ketika sedang mengiring jenazah, terdapat beberapa pendapat ulama dalam masalah ini. Daftar Isi sembunyikan 1. Pendapat pertama 2. Pendapat kedua 3. Pendapat ketiga 4. Pendapat yang lebih tepat Pendapat pertamaKaum muslimin yang mengiringi jenazah ke pemakaman itu berada di depan jenazah. Inilah pendapat sejumlah sahabat, seperti Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, Ibnu ‘Umar, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum. Ini juga merupakan pendapat jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah. (Lihat Al-Mudawwanah, 1: 177; Al-Umm, 2: 613; dan Al-Mughni, 3: 397)Dalil dari pendapat ini adalah hadis yang diriwayatkan dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, dari ayahnya, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَمْشُونَ أَمَامَ الْجَنَازَةِ“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar berjalan di depan jenazah.” (HR. Abu Dawud no. 3179, Tirmidzi no. 1007, 1008, An-Nasa’i 4: 56, Ibnu Majah no. 1482, Ahmad 8: 138, dan Ibnu Hibban 7: 317. Dinilai sahih oleh Al-Albani.)Pendapat keduaPendapat kedua mengatakan bahwa hendaknya kaum muslimin berada di belakang jenazah. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan murid-murid beliau. (Bada’i Ash-Shana’i, 1: 309) Demikian pula yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Sufyan Ats-Tsauri dan Ishaq (Jami’ At-Tirmidzi, 3: 332-333) dan diriwayatkan oleh Ibnul Munzir dari Al-Auza’i (Al-Ausath, 5: 383). Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ“Barangsiapa mengiringi jenazah muslim, karena iman dan mengharapkan balasan dan dia selalu bersama jenazah tersebut sampai disalatkan dan selesai dari penguburannya, maka dia pulang dengan membawa dua qiroth, setiap qiroth setara dengan gunung Uhud. Dan barangsiapa menyalatkannya dan pulang sebelum dikuburkan, maka dia pulang membawa satu qiroth.” (HR. Bukhari no. 47)Tidaklah disebut “mengiringi”, kecuali posisinya berada di belakang jenazah. BACA JUGA: Bersegera dalam Mengurus dan Membawa JenazahPendapat ketigaAdapun pendapat ketiga menyatakan bahwa pengiring jenazah bebas memilih apakah ingin berjalan di depan atau di belakang jenazah atau ingin di sebelah kanan atau kiri jenazah. Ini adalah pendapat sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) bahwa beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,أَنْتُمْ مُشَيِّعُونَ وَامْشِ بَيْنَ يَدَيْهَا وَخَلْفَهَا، وَعَنْ يَمِينِهَا، وَعَنْ شِمَالِهَا“Kalian adalah orang-orang yang mengiring (mengantarkan) jenazah. Berjalanlah di depan atau di belakang atau di sebelah kanan atau kiri jenazah.”Sanad hadis ini telah disebutkan oleh Ibnul Munzir dan lainnya. Pendapat ketiga ini juga diriwayatkan oleh Ishaq dan sejumlah ulama. Tampaknya, Imam Bukhari rahimahullah juga memilih pendapat ini karena ketika beliau membawakan bab,بَابُ السُّرْعَةِ بِالْجِنَازَةِ“Bab bersegera dalam (mengurus dan membawa) jenazah.” Beliau menyebutkan riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas.Dalil dari pendapat ketiga ini adalah hadis Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الرَّاكِبُ يَسِيرُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ، وَالْمَاشِي يَمْشِي خَلْفَهَا، وَأَمَامَهَا، وَعَنْ يَمِينِهَا، وَعَنْ يَسَارِهَا قَرِيبًا مِنْهَا، وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ، وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ“Orang yang berkendaraan berjalan di belakang jenazah, orang yang berjalan kaki berjalan di belakangnya, dan di depannya, serta di samping kanan dan kirinya, dekat dengannya. Dan janin yang keguguran disalatkan dan didoakan untuk kedua orang tuanya agar diberi ampunan serta rahmat (kasih sayang) Allah.” (HR. Abu Dawud no. 3180, dinilai sahih oleh Al-Albani)BACA JUGA: Ikhlas Berdoa untuk JenazahPendapat yang lebih tepatPendapat yang lebih tepat adalah pendapat ketiga, dengan tiga pertimbangan berikut ini:Pertama, terdapat dalil untuk masing-masing dari ketiga pendapat di atas. Terdapat dalam hadis riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr, dan Umar, mereka berjalan di depan dan di belakang jenazah. [1]Kedua, terdapat kelonggaran untuk kaum muslimin. Hal ini karena kaum muslimin yang mengiringi jenazah itu kekuatan langkah kakinya bervariasi. Sehingga jika mengharuskan mereka berada di posisi tertentu (misalnya, harus berada di depan jenazah), hal itu akan memberatkan mereka.Ketiga, lebih sesuai dengan sunah mensegerakan memikul jenazah karena tidak mengharuskan satu posisi tertentu ketika berjalan mengiringinya.Adapun orang yang mengiringi jenazah dengan naik hewan tunggangan, mereka berada di belakang berdasarkan hadis Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ini suatu hal yang dapat dipahami pada zaman itu, karena mereka menaiki unta, keledai, atau yang lainnya. Adapun pada jaman sekarang, kaum muslimin itu naik kendaraan. Jika mereka berada di belakang jenazah, hal itu akan mengganggu mereka yang berjalan kaki atau mereka akan tergesa-gesa dalam memikul jenazah. Sehingga, yang naik kendaraan itu lebih baik berada di depan atau jika di belakang, posisinya agak jauh dari iringan jenazah. (Lihat Fataawa Ibnu ‘Utsaimin, 17: 170)BACA JUGA: Fikih Pengurusan Jenazah (5): Tata Cara Menguburkan Mayit***@Rumah Kasongan, 21 Rajab 1444/ 12 Februari 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarh Al-Ma’ani (1: 481) dengan sanad sahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hal. 74. Akan tetapi, hal ini perlu ditinjau kembali karena di dalam sanadnya terdapat Wahb bin Rasyid Abu Zur’ah Al-Mishri, dan dia ini diperbincangkan dan bukan termasuk perawi Bukhari dan Muslim. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 329)[2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 327-329). Kutipan-kutipan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.Tags: adabAkhlakfikihfikih mengurus jenazahmengiring jenazahmengurus jenazahpanduan mengurus jenazahtata cara mengurus jenazahtuntunan mengurus jenazah
Berkaitan dengan posisi kaum muslimin ketika sedang mengiring jenazah, terdapat beberapa pendapat ulama dalam masalah ini. Daftar Isi sembunyikan 1. Pendapat pertama 2. Pendapat kedua 3. Pendapat ketiga 4. Pendapat yang lebih tepat Pendapat pertamaKaum muslimin yang mengiringi jenazah ke pemakaman itu berada di depan jenazah. Inilah pendapat sejumlah sahabat, seperti Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, Ibnu ‘Umar, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum. Ini juga merupakan pendapat jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah. (Lihat Al-Mudawwanah, 1: 177; Al-Umm, 2: 613; dan Al-Mughni, 3: 397)Dalil dari pendapat ini adalah hadis yang diriwayatkan dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, dari ayahnya, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَمْشُونَ أَمَامَ الْجَنَازَةِ“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar berjalan di depan jenazah.” (HR. Abu Dawud no. 3179, Tirmidzi no. 1007, 1008, An-Nasa’i 4: 56, Ibnu Majah no. 1482, Ahmad 8: 138, dan Ibnu Hibban 7: 317. Dinilai sahih oleh Al-Albani.)Pendapat keduaPendapat kedua mengatakan bahwa hendaknya kaum muslimin berada di belakang jenazah. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan murid-murid beliau. (Bada’i Ash-Shana’i, 1: 309) Demikian pula yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Sufyan Ats-Tsauri dan Ishaq (Jami’ At-Tirmidzi, 3: 332-333) dan diriwayatkan oleh Ibnul Munzir dari Al-Auza’i (Al-Ausath, 5: 383). Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ“Barangsiapa mengiringi jenazah muslim, karena iman dan mengharapkan balasan dan dia selalu bersama jenazah tersebut sampai disalatkan dan selesai dari penguburannya, maka dia pulang dengan membawa dua qiroth, setiap qiroth setara dengan gunung Uhud. Dan barangsiapa menyalatkannya dan pulang sebelum dikuburkan, maka dia pulang membawa satu qiroth.” (HR. Bukhari no. 47)Tidaklah disebut “mengiringi”, kecuali posisinya berada di belakang jenazah. BACA JUGA: Bersegera dalam Mengurus dan Membawa JenazahPendapat ketigaAdapun pendapat ketiga menyatakan bahwa pengiring jenazah bebas memilih apakah ingin berjalan di depan atau di belakang jenazah atau ingin di sebelah kanan atau kiri jenazah. Ini adalah pendapat sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) bahwa beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,أَنْتُمْ مُشَيِّعُونَ وَامْشِ بَيْنَ يَدَيْهَا وَخَلْفَهَا، وَعَنْ يَمِينِهَا، وَعَنْ شِمَالِهَا“Kalian adalah orang-orang yang mengiring (mengantarkan) jenazah. Berjalanlah di depan atau di belakang atau di sebelah kanan atau kiri jenazah.”Sanad hadis ini telah disebutkan oleh Ibnul Munzir dan lainnya. Pendapat ketiga ini juga diriwayatkan oleh Ishaq dan sejumlah ulama. Tampaknya, Imam Bukhari rahimahullah juga memilih pendapat ini karena ketika beliau membawakan bab,بَابُ السُّرْعَةِ بِالْجِنَازَةِ“Bab bersegera dalam (mengurus dan membawa) jenazah.” Beliau menyebutkan riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas.Dalil dari pendapat ketiga ini adalah hadis Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الرَّاكِبُ يَسِيرُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ، وَالْمَاشِي يَمْشِي خَلْفَهَا، وَأَمَامَهَا، وَعَنْ يَمِينِهَا، وَعَنْ يَسَارِهَا قَرِيبًا مِنْهَا، وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ، وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ“Orang yang berkendaraan berjalan di belakang jenazah, orang yang berjalan kaki berjalan di belakangnya, dan di depannya, serta di samping kanan dan kirinya, dekat dengannya. Dan janin yang keguguran disalatkan dan didoakan untuk kedua orang tuanya agar diberi ampunan serta rahmat (kasih sayang) Allah.” (HR. Abu Dawud no. 3180, dinilai sahih oleh Al-Albani)BACA JUGA: Ikhlas Berdoa untuk JenazahPendapat yang lebih tepatPendapat yang lebih tepat adalah pendapat ketiga, dengan tiga pertimbangan berikut ini:Pertama, terdapat dalil untuk masing-masing dari ketiga pendapat di atas. Terdapat dalam hadis riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr, dan Umar, mereka berjalan di depan dan di belakang jenazah. [1]Kedua, terdapat kelonggaran untuk kaum muslimin. Hal ini karena kaum muslimin yang mengiringi jenazah itu kekuatan langkah kakinya bervariasi. Sehingga jika mengharuskan mereka berada di posisi tertentu (misalnya, harus berada di depan jenazah), hal itu akan memberatkan mereka.Ketiga, lebih sesuai dengan sunah mensegerakan memikul jenazah karena tidak mengharuskan satu posisi tertentu ketika berjalan mengiringinya.Adapun orang yang mengiringi jenazah dengan naik hewan tunggangan, mereka berada di belakang berdasarkan hadis Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ini suatu hal yang dapat dipahami pada zaman itu, karena mereka menaiki unta, keledai, atau yang lainnya. Adapun pada jaman sekarang, kaum muslimin itu naik kendaraan. Jika mereka berada di belakang jenazah, hal itu akan mengganggu mereka yang berjalan kaki atau mereka akan tergesa-gesa dalam memikul jenazah. Sehingga, yang naik kendaraan itu lebih baik berada di depan atau jika di belakang, posisinya agak jauh dari iringan jenazah. (Lihat Fataawa Ibnu ‘Utsaimin, 17: 170)BACA JUGA: Fikih Pengurusan Jenazah (5): Tata Cara Menguburkan Mayit***@Rumah Kasongan, 21 Rajab 1444/ 12 Februari 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarh Al-Ma’ani (1: 481) dengan sanad sahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hal. 74. Akan tetapi, hal ini perlu ditinjau kembali karena di dalam sanadnya terdapat Wahb bin Rasyid Abu Zur’ah Al-Mishri, dan dia ini diperbincangkan dan bukan termasuk perawi Bukhari dan Muslim. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 329)[2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 327-329). Kutipan-kutipan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.Tags: adabAkhlakfikihfikih mengurus jenazahmengiring jenazahmengurus jenazahpanduan mengurus jenazahtata cara mengurus jenazahtuntunan mengurus jenazah


Berkaitan dengan posisi kaum muslimin ketika sedang mengiring jenazah, terdapat beberapa pendapat ulama dalam masalah ini. Daftar Isi sembunyikan 1. Pendapat pertama 2. Pendapat kedua 3. Pendapat ketiga 4. Pendapat yang lebih tepat Pendapat pertamaKaum muslimin yang mengiringi jenazah ke pemakaman itu berada di depan jenazah. Inilah pendapat sejumlah sahabat, seperti Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, Ibnu ‘Umar, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum. Ini juga merupakan pendapat jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah. (Lihat Al-Mudawwanah, 1: 177; Al-Umm, 2: 613; dan Al-Mughni, 3: 397)Dalil dari pendapat ini adalah hadis yang diriwayatkan dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, dari ayahnya, beliau mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَمْشُونَ أَمَامَ الْجَنَازَةِ“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar berjalan di depan jenazah.” (HR. Abu Dawud no. 3179, Tirmidzi no. 1007, 1008, An-Nasa’i 4: 56, Ibnu Majah no. 1482, Ahmad 8: 138, dan Ibnu Hibban 7: 317. Dinilai sahih oleh Al-Albani.)Pendapat keduaPendapat kedua mengatakan bahwa hendaknya kaum muslimin berada di belakang jenazah. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan murid-murid beliau. (Bada’i Ash-Shana’i, 1: 309) Demikian pula yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Sufyan Ats-Tsauri dan Ishaq (Jami’ At-Tirmidzi, 3: 332-333) dan diriwayatkan oleh Ibnul Munzir dari Al-Auza’i (Al-Ausath, 5: 383). Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ“Barangsiapa mengiringi jenazah muslim, karena iman dan mengharapkan balasan dan dia selalu bersama jenazah tersebut sampai disalatkan dan selesai dari penguburannya, maka dia pulang dengan membawa dua qiroth, setiap qiroth setara dengan gunung Uhud. Dan barangsiapa menyalatkannya dan pulang sebelum dikuburkan, maka dia pulang membawa satu qiroth.” (HR. Bukhari no. 47)Tidaklah disebut “mengiringi”, kecuali posisinya berada di belakang jenazah. BACA JUGA: Bersegera dalam Mengurus dan Membawa JenazahPendapat ketigaAdapun pendapat ketiga menyatakan bahwa pengiring jenazah bebas memilih apakah ingin berjalan di depan atau di belakang jenazah atau ingin di sebelah kanan atau kiri jenazah. Ini adalah pendapat sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) bahwa beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,أَنْتُمْ مُشَيِّعُونَ وَامْشِ بَيْنَ يَدَيْهَا وَخَلْفَهَا، وَعَنْ يَمِينِهَا، وَعَنْ شِمَالِهَا“Kalian adalah orang-orang yang mengiring (mengantarkan) jenazah. Berjalanlah di depan atau di belakang atau di sebelah kanan atau kiri jenazah.”Sanad hadis ini telah disebutkan oleh Ibnul Munzir dan lainnya. Pendapat ketiga ini juga diriwayatkan oleh Ishaq dan sejumlah ulama. Tampaknya, Imam Bukhari rahimahullah juga memilih pendapat ini karena ketika beliau membawakan bab,بَابُ السُّرْعَةِ بِالْجِنَازَةِ“Bab bersegera dalam (mengurus dan membawa) jenazah.” Beliau menyebutkan riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas.Dalil dari pendapat ketiga ini adalah hadis Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,الرَّاكِبُ يَسِيرُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ، وَالْمَاشِي يَمْشِي خَلْفَهَا، وَأَمَامَهَا، وَعَنْ يَمِينِهَا، وَعَنْ يَسَارِهَا قَرِيبًا مِنْهَا، وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ، وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ“Orang yang berkendaraan berjalan di belakang jenazah, orang yang berjalan kaki berjalan di belakangnya, dan di depannya, serta di samping kanan dan kirinya, dekat dengannya. Dan janin yang keguguran disalatkan dan didoakan untuk kedua orang tuanya agar diberi ampunan serta rahmat (kasih sayang) Allah.” (HR. Abu Dawud no. 3180, dinilai sahih oleh Al-Albani)BACA JUGA: Ikhlas Berdoa untuk JenazahPendapat yang lebih tepatPendapat yang lebih tepat adalah pendapat ketiga, dengan tiga pertimbangan berikut ini:Pertama, terdapat dalil untuk masing-masing dari ketiga pendapat di atas. Terdapat dalam hadis riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr, dan Umar, mereka berjalan di depan dan di belakang jenazah. [1]Kedua, terdapat kelonggaran untuk kaum muslimin. Hal ini karena kaum muslimin yang mengiringi jenazah itu kekuatan langkah kakinya bervariasi. Sehingga jika mengharuskan mereka berada di posisi tertentu (misalnya, harus berada di depan jenazah), hal itu akan memberatkan mereka.Ketiga, lebih sesuai dengan sunah mensegerakan memikul jenazah karena tidak mengharuskan satu posisi tertentu ketika berjalan mengiringinya.Adapun orang yang mengiringi jenazah dengan naik hewan tunggangan, mereka berada di belakang berdasarkan hadis Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ini suatu hal yang dapat dipahami pada zaman itu, karena mereka menaiki unta, keledai, atau yang lainnya. Adapun pada jaman sekarang, kaum muslimin itu naik kendaraan. Jika mereka berada di belakang jenazah, hal itu akan mengganggu mereka yang berjalan kaki atau mereka akan tergesa-gesa dalam memikul jenazah. Sehingga, yang naik kendaraan itu lebih baik berada di depan atau jika di belakang, posisinya agak jauh dari iringan jenazah. (Lihat Fataawa Ibnu ‘Utsaimin, 17: 170)BACA JUGA: Fikih Pengurusan Jenazah (5): Tata Cara Menguburkan Mayit***@Rumah Kasongan, 21 Rajab 1444/ 12 Februari 2023Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarh Al-Ma’ani (1: 481) dengan sanad sahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz, hal. 74. Akan tetapi, hal ini perlu ditinjau kembali karena di dalam sanadnya terdapat Wahb bin Rasyid Abu Zur’ah Al-Mishri, dan dia ini diperbincangkan dan bukan termasuk perawi Bukhari dan Muslim. (Lihat Minhatul ‘Allam, 4: 329)[2] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (4: 327-329). Kutipan-kutipan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.Tags: adabAkhlakfikihfikih mengurus jenazahmengiring jenazahmengurus jenazahpanduan mengurus jenazahtata cara mengurus jenazahtuntunan mengurus jenazah

Anjing pun Mulia karena Ilmu – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Imam Ibnu al-Qayyim membuat perbandingan antara ilmu dan harta.Beliau menjelaskan ada lebih dari 150 sisi yang membuktikan bahwa ilmu lebih baik daripada harta. Di antara yang paling menakjubkan yang beliau sebutkan adalah sisi ini.Beliau berkata, “Bahkan anjing menjadi mulia karena ilmu.”Beliau menjelaskan, “Allah menjadikan hasil buruan anjing yang tidak dilatih sebagai bangkai, haram dimakan. Namun, Allah menghalalkan hasil buruan dari anjing yang diajari berburu.”Baik, hasil buruan dari anjing yang pertama haram, dan hasil buruan anjing yang kedua halal. Apa perbedaan antara keduanya?Bedanya, anjing yang satu diajari berburu dan anjing yang lain tidak diajari. Jadi, hasil buruan anjing yang diajari berburu hukumnya halal.Jika anjing saja menjadi mulia karena ilmu, maka bagaimana menurutmu dengan manusia? Ilmu tidak dapat dibandingkan dengan apa pun!Oleh sebab itu, Allah Subhanah berfirman, “Katakanlah: Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dan yang tidak?” (QS. az-Zumar: 9) ==== عَقَدَ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ مُقَارَنَةً بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَالِ وَبَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ أَفْضَلُ مِنَ الْمَالِ مِنْ أَكْثَرَ مِنْ مِئَةٍ وَخَمْسِيْنَ وَجْهًا وَكَانَ مِنْ عَجِيْبِ مَا ذَكَرَ هَذَا الْوَجْهَ يَقُولُ حَتَّى الْكِلَابِ تَشْرُفُ بِالْعِلْمِ قَالَ جَعَلَ اللهُ صَيْدَ الْكَلْبِ الْجَاهِلِ مَيْتَةً يَحْرُمُ أَكْلُهَا وَأَبَاحَ صَيْدَ الْكَلْبِ الْمُعَلَّمِ طَيِّبٌ صَيْدُ هَذَا الْكَلْبِ حَرَامٌ وَصَيْدُ هَذَا الْكَلْبِ حَلَالٌ مَا الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا؟ أَنَّ هَذَا الْكَلْبَ مُعَلَّمٌ وَهَذَا الْكَلْبَ جَاهِلٌ فَصَيْدُ الْكَلْبِ الْمُعَلَّمِ حَلَالٌ فَإِذَا كَانَتِ الْكِلَابُ تَشْرُفُ بِالْعِلْمِ مَا بَالُكَ بِبَنِي آدَمَ؟ الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ وَلِذَلِكَ قَالَ سُبْحَانَهُ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Anjing pun Mulia karena Ilmu – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Imam Ibnu al-Qayyim membuat perbandingan antara ilmu dan harta.Beliau menjelaskan ada lebih dari 150 sisi yang membuktikan bahwa ilmu lebih baik daripada harta. Di antara yang paling menakjubkan yang beliau sebutkan adalah sisi ini.Beliau berkata, “Bahkan anjing menjadi mulia karena ilmu.”Beliau menjelaskan, “Allah menjadikan hasil buruan anjing yang tidak dilatih sebagai bangkai, haram dimakan. Namun, Allah menghalalkan hasil buruan dari anjing yang diajari berburu.”Baik, hasil buruan dari anjing yang pertama haram, dan hasil buruan anjing yang kedua halal. Apa perbedaan antara keduanya?Bedanya, anjing yang satu diajari berburu dan anjing yang lain tidak diajari. Jadi, hasil buruan anjing yang diajari berburu hukumnya halal.Jika anjing saja menjadi mulia karena ilmu, maka bagaimana menurutmu dengan manusia? Ilmu tidak dapat dibandingkan dengan apa pun!Oleh sebab itu, Allah Subhanah berfirman, “Katakanlah: Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dan yang tidak?” (QS. az-Zumar: 9) ==== عَقَدَ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ مُقَارَنَةً بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَالِ وَبَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ أَفْضَلُ مِنَ الْمَالِ مِنْ أَكْثَرَ مِنْ مِئَةٍ وَخَمْسِيْنَ وَجْهًا وَكَانَ مِنْ عَجِيْبِ مَا ذَكَرَ هَذَا الْوَجْهَ يَقُولُ حَتَّى الْكِلَابِ تَشْرُفُ بِالْعِلْمِ قَالَ جَعَلَ اللهُ صَيْدَ الْكَلْبِ الْجَاهِلِ مَيْتَةً يَحْرُمُ أَكْلُهَا وَأَبَاحَ صَيْدَ الْكَلْبِ الْمُعَلَّمِ طَيِّبٌ صَيْدُ هَذَا الْكَلْبِ حَرَامٌ وَصَيْدُ هَذَا الْكَلْبِ حَلَالٌ مَا الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا؟ أَنَّ هَذَا الْكَلْبَ مُعَلَّمٌ وَهَذَا الْكَلْبَ جَاهِلٌ فَصَيْدُ الْكَلْبِ الْمُعَلَّمِ حَلَالٌ فَإِذَا كَانَتِ الْكِلَابُ تَشْرُفُ بِالْعِلْمِ مَا بَالُكَ بِبَنِي آدَمَ؟ الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ وَلِذَلِكَ قَالَ سُبْحَانَهُ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ
Imam Ibnu al-Qayyim membuat perbandingan antara ilmu dan harta.Beliau menjelaskan ada lebih dari 150 sisi yang membuktikan bahwa ilmu lebih baik daripada harta. Di antara yang paling menakjubkan yang beliau sebutkan adalah sisi ini.Beliau berkata, “Bahkan anjing menjadi mulia karena ilmu.”Beliau menjelaskan, “Allah menjadikan hasil buruan anjing yang tidak dilatih sebagai bangkai, haram dimakan. Namun, Allah menghalalkan hasil buruan dari anjing yang diajari berburu.”Baik, hasil buruan dari anjing yang pertama haram, dan hasil buruan anjing yang kedua halal. Apa perbedaan antara keduanya?Bedanya, anjing yang satu diajari berburu dan anjing yang lain tidak diajari. Jadi, hasil buruan anjing yang diajari berburu hukumnya halal.Jika anjing saja menjadi mulia karena ilmu, maka bagaimana menurutmu dengan manusia? Ilmu tidak dapat dibandingkan dengan apa pun!Oleh sebab itu, Allah Subhanah berfirman, “Katakanlah: Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dan yang tidak?” (QS. az-Zumar: 9) ==== عَقَدَ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ مُقَارَنَةً بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَالِ وَبَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ أَفْضَلُ مِنَ الْمَالِ مِنْ أَكْثَرَ مِنْ مِئَةٍ وَخَمْسِيْنَ وَجْهًا وَكَانَ مِنْ عَجِيْبِ مَا ذَكَرَ هَذَا الْوَجْهَ يَقُولُ حَتَّى الْكِلَابِ تَشْرُفُ بِالْعِلْمِ قَالَ جَعَلَ اللهُ صَيْدَ الْكَلْبِ الْجَاهِلِ مَيْتَةً يَحْرُمُ أَكْلُهَا وَأَبَاحَ صَيْدَ الْكَلْبِ الْمُعَلَّمِ طَيِّبٌ صَيْدُ هَذَا الْكَلْبِ حَرَامٌ وَصَيْدُ هَذَا الْكَلْبِ حَلَالٌ مَا الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا؟ أَنَّ هَذَا الْكَلْبَ مُعَلَّمٌ وَهَذَا الْكَلْبَ جَاهِلٌ فَصَيْدُ الْكَلْبِ الْمُعَلَّمِ حَلَالٌ فَإِذَا كَانَتِ الْكِلَابُ تَشْرُفُ بِالْعِلْمِ مَا بَالُكَ بِبَنِي آدَمَ؟ الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ وَلِذَلِكَ قَالَ سُبْحَانَهُ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ


Imam Ibnu al-Qayyim membuat perbandingan antara ilmu dan harta.Beliau menjelaskan ada lebih dari 150 sisi yang membuktikan bahwa ilmu lebih baik daripada harta. Di antara yang paling menakjubkan yang beliau sebutkan adalah sisi ini.Beliau berkata, “Bahkan anjing menjadi mulia karena ilmu.”Beliau menjelaskan, “Allah menjadikan hasil buruan anjing yang tidak dilatih sebagai bangkai, haram dimakan. Namun, Allah menghalalkan hasil buruan dari anjing yang diajari berburu.”Baik, hasil buruan dari anjing yang pertama haram, dan hasil buruan anjing yang kedua halal. Apa perbedaan antara keduanya?Bedanya, anjing yang satu diajari berburu dan anjing yang lain tidak diajari. Jadi, hasil buruan anjing yang diajari berburu hukumnya halal.Jika anjing saja menjadi mulia karena ilmu, maka bagaimana menurutmu dengan manusia? Ilmu tidak dapat dibandingkan dengan apa pun!Oleh sebab itu, Allah Subhanah berfirman, “Katakanlah: Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dan yang tidak?” (QS. az-Zumar: 9) ==== عَقَدَ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ مُقَارَنَةً بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَالِ وَبَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ أَفْضَلُ مِنَ الْمَالِ مِنْ أَكْثَرَ مِنْ مِئَةٍ وَخَمْسِيْنَ وَجْهًا وَكَانَ مِنْ عَجِيْبِ مَا ذَكَرَ هَذَا الْوَجْهَ يَقُولُ حَتَّى الْكِلَابِ تَشْرُفُ بِالْعِلْمِ قَالَ جَعَلَ اللهُ صَيْدَ الْكَلْبِ الْجَاهِلِ مَيْتَةً يَحْرُمُ أَكْلُهَا وَأَبَاحَ صَيْدَ الْكَلْبِ الْمُعَلَّمِ طَيِّبٌ صَيْدُ هَذَا الْكَلْبِ حَرَامٌ وَصَيْدُ هَذَا الْكَلْبِ حَلَالٌ مَا الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا؟ أَنَّ هَذَا الْكَلْبَ مُعَلَّمٌ وَهَذَا الْكَلْبَ جَاهِلٌ فَصَيْدُ الْكَلْبِ الْمُعَلَّمِ حَلَالٌ فَإِذَا كَانَتِ الْكِلَابُ تَشْرُفُ بِالْعِلْمِ مَا بَالُكَ بِبَنِي آدَمَ؟ الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ وَلِذَلِكَ قَالَ سُبْحَانَهُ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Apakah Tepuk Tangan Terlarang dalam Islam?

ما حكم التَّصفيق؟ السؤال: قد سمعنا تحريمكم وبعض العلماء بالتَّصفيق في المناسبات، ولكن اليوم في “التلفزيون” وُجِّه هذا السؤال للشيخ الطنطاوي، فقال: إنَّ التَّصفيق في غير العبادة جائزٌ وليس حرامًا، ويتحدى العلماء أن يأتوا بدليلٍ على تحريم التَّصفيق، مما جعلنا في خلافٍ، نرجو إجابتكم على هذا. Pertanyaan: Kami telah mendengar bahwa Anda dan sebagian ulama lain mengharamkan tepuk tangan dalam suatu acara, tapi hari ini di sebuah acara TV, ada pertanyaan kepada syeikh aṭ-Ṭantāwī dan beliau menjawab, “Tepuk tangan di luar ibadah diperbolehkan dan tidak haram.” Beliau menantang ulama untuk membawakan dalil haramnya tepuk tangan yang menyelisihi pendapat ini. Kami mohon jawaban Anda atas masalah ini. الجواب: التَّصفيق من سُنة الجاهلية، ولا ينبغي فعله، إنما عند التَّعجب وعند التَّعظيم يقول: سبحان الله، أو: الله أكبر، الله أكبر، أما التَّصفيق فهو من سنة الجاهلية، قال الله تعالى: وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً [الأنفال:35] قال علماء التفسير: المكاء: الصَّفير، والتَّصدية: التَّصفيق، هذه من سنة الجاهلية. Jawaban: Tepuk tangan adalah sunah orang-orang Jahiliyah sehingga tidak selayaknya dilakukan. Ketika seseorang takjub atau ingin memberi penghormatan, hendaknya berkata, “Subhanallah!” atau “Allahuakbar! Allahuakbar!” Adapun tepuk tangan adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah. Allah berfirman: وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً – الأنفال:35 Artinya: “Dan ibadah mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan.” (QS. Anfal: 35) Ulama tafsir berkata bahwa makna Mukāʾ adalah bersiul dan Taṣdiyah adalah tepuk tangan. Jadi ini adalah kebiasaan orang Jahiliyah. أما الرسول وأصحابه فكانوا عندما يأتي ما يعظم يقولون: الله أكبر، الله أكبر، أو: سبحان الله، هذا المشروع، أما التَّصفيق عند ما يُتعجب به من خطبةٍ أو من موعظةٍ أو من كلماتٍ فهذا كله خلاف سنة الله، ما سنَّه رسولُه ﷺ في الخطب والمواعظ يكون عنده التَّكبير والتَّسبيح، والتَّصفيق من شأن النِّساء في الصلاة، التَّسبيح للرجال، والتَّصفيق للنساء. Adapun Rasulullah dan para sahabat ketika melihat sesuatu yang luar biasa mereka berkata, “Allahuakbar! Allahuakbar!” Atau “Subhanallah!” Ini yang disyariatkan. Adapun bertepuk tangan ketika takjub dengan sesuatu, baik orasi, nasehat, atau suatu perkataan, ini menyelisihi sunah dari Allah karena yang Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sunnahkan adalah ketika ada orasi atau nasehat, hendaknya dia bertakbir atau bertasbih, karena menepuk tangan adalah perbuatan wanita dalam salat. Untuk lelaki adalah tasbih dan untuk wanita adalah menepuk tangan.  فالتصفيق للنساء في الصلاة إن عرض لهم عارضٌ، ومن سنة الجاهلية في أعمالهم وخُطبهم واجتماعاتهم. Menepuk tangan bagi wanita dalam salat hanya ketika dibutuhkan saja, adapun kebiasaan orang Jahiliyah melakukannya dalam setiap perbuatan, orasi, dan pertemuan-pertemuan mereka. وإذا كان الشيخ علي الطنطاوي قال ما ذكرتَه فهذا غلطٌ منه، والطنطاوي مثل غيره، ما هو معصومٌ، كل واحدٍ يُخطئ ويُصيب، كل عالمٍ يُخطئ ويُصيب، ما أحد يسلم من الخطأ إلا الرسل عليهم الصلاة والسلام، هم الذين عصمهم الله من الخطأ فيما يُبلِّغون عن الله من دينه، أما العالم الواحد من أهل العلم فقد يُخطئ ويُصيب على حسب ما يسر الله له من العلم. نسأل الله لنا ولهم وله الهداية والتوفيق. Jika Syeikh Ali aṭ-Ṭantāwī mengatakan apa yang Anda kabarkan, maka ini adalah kekeliruan darinya. Syeikh Ali aṭ-Ṭantāwī seperti orang lain, tidak luput dari kekeliruan. Semua orang bisa benar dan bisa keliru. Setiap ulama pasti bisa salah dan benar karena tidak ada seorangpun yang luput dari kesalahan kecuali para Rasul–Alaihimuṣ Ṣalātu was salām–yang dijaga oleh Allah dari kesalahan dalam menyampaikan agama Allah. Adapun ulama secara pribadi, semuanya pasti bisa benar dan keliru sesuai dengan keilmuan yang Allah mudahkan baginya. Kami memohon kepada Allah untuk kami, kalian, dan beliau hidayah dan taufik. المقصود أنَّ هذا هو الحق: أن التَّصفيق من سنة الجاهلية، ومن سنة اليوم غير المسلمين أيضًا، وتبعهم غيرهم، فلا ينبغي للعاقل أن يغترَّ بزلات العلماء، وأخطاء العلماء، كل عالم له زلَّة، ولا ينبغي أن يغترَّ بزلته. Maksudnya bahwa inilah yang benar, tepuk tangan adalah syiar orang-orang Jahiliyah dan  acara orang-orang non-Muslim, sehingga orang yang berakal hendaknya tidak terpedaya dengan ketergelinciran dan kekeliruan ulama, setiap orang berilmu pasti memiliki kekeliruan dan jangan ikuti kekeliruannya. Syaikh Bin Baz rahimahullah Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/4296/ما-حكم-التصفيق LINK PDF 🔍 Hukum Islam Suami Istri Tidur Terpisah, Suami Mimik Susu Istri, Makan Tidak Membatalkan Wudhu, Dalil Tentang Pertengkaran, Jilat Silit, Keluar Lendir Bening Saat Hamil Tua Visited 242 times, 1 visit(s) today Post Views: 331 QRIS donasi Yufid

Apakah Tepuk Tangan Terlarang dalam Islam?

ما حكم التَّصفيق؟ السؤال: قد سمعنا تحريمكم وبعض العلماء بالتَّصفيق في المناسبات، ولكن اليوم في “التلفزيون” وُجِّه هذا السؤال للشيخ الطنطاوي، فقال: إنَّ التَّصفيق في غير العبادة جائزٌ وليس حرامًا، ويتحدى العلماء أن يأتوا بدليلٍ على تحريم التَّصفيق، مما جعلنا في خلافٍ، نرجو إجابتكم على هذا. Pertanyaan: Kami telah mendengar bahwa Anda dan sebagian ulama lain mengharamkan tepuk tangan dalam suatu acara, tapi hari ini di sebuah acara TV, ada pertanyaan kepada syeikh aṭ-Ṭantāwī dan beliau menjawab, “Tepuk tangan di luar ibadah diperbolehkan dan tidak haram.” Beliau menantang ulama untuk membawakan dalil haramnya tepuk tangan yang menyelisihi pendapat ini. Kami mohon jawaban Anda atas masalah ini. الجواب: التَّصفيق من سُنة الجاهلية، ولا ينبغي فعله، إنما عند التَّعجب وعند التَّعظيم يقول: سبحان الله، أو: الله أكبر، الله أكبر، أما التَّصفيق فهو من سنة الجاهلية، قال الله تعالى: وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً [الأنفال:35] قال علماء التفسير: المكاء: الصَّفير، والتَّصدية: التَّصفيق، هذه من سنة الجاهلية. Jawaban: Tepuk tangan adalah sunah orang-orang Jahiliyah sehingga tidak selayaknya dilakukan. Ketika seseorang takjub atau ingin memberi penghormatan, hendaknya berkata, “Subhanallah!” atau “Allahuakbar! Allahuakbar!” Adapun tepuk tangan adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah. Allah berfirman: وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً – الأنفال:35 Artinya: “Dan ibadah mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan.” (QS. Anfal: 35) Ulama tafsir berkata bahwa makna Mukāʾ adalah bersiul dan Taṣdiyah adalah tepuk tangan. Jadi ini adalah kebiasaan orang Jahiliyah. أما الرسول وأصحابه فكانوا عندما يأتي ما يعظم يقولون: الله أكبر، الله أكبر، أو: سبحان الله، هذا المشروع، أما التَّصفيق عند ما يُتعجب به من خطبةٍ أو من موعظةٍ أو من كلماتٍ فهذا كله خلاف سنة الله، ما سنَّه رسولُه ﷺ في الخطب والمواعظ يكون عنده التَّكبير والتَّسبيح، والتَّصفيق من شأن النِّساء في الصلاة، التَّسبيح للرجال، والتَّصفيق للنساء. Adapun Rasulullah dan para sahabat ketika melihat sesuatu yang luar biasa mereka berkata, “Allahuakbar! Allahuakbar!” Atau “Subhanallah!” Ini yang disyariatkan. Adapun bertepuk tangan ketika takjub dengan sesuatu, baik orasi, nasehat, atau suatu perkataan, ini menyelisihi sunah dari Allah karena yang Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sunnahkan adalah ketika ada orasi atau nasehat, hendaknya dia bertakbir atau bertasbih, karena menepuk tangan adalah perbuatan wanita dalam salat. Untuk lelaki adalah tasbih dan untuk wanita adalah menepuk tangan.  فالتصفيق للنساء في الصلاة إن عرض لهم عارضٌ، ومن سنة الجاهلية في أعمالهم وخُطبهم واجتماعاتهم. Menepuk tangan bagi wanita dalam salat hanya ketika dibutuhkan saja, adapun kebiasaan orang Jahiliyah melakukannya dalam setiap perbuatan, orasi, dan pertemuan-pertemuan mereka. وإذا كان الشيخ علي الطنطاوي قال ما ذكرتَه فهذا غلطٌ منه، والطنطاوي مثل غيره، ما هو معصومٌ، كل واحدٍ يُخطئ ويُصيب، كل عالمٍ يُخطئ ويُصيب، ما أحد يسلم من الخطأ إلا الرسل عليهم الصلاة والسلام، هم الذين عصمهم الله من الخطأ فيما يُبلِّغون عن الله من دينه، أما العالم الواحد من أهل العلم فقد يُخطئ ويُصيب على حسب ما يسر الله له من العلم. نسأل الله لنا ولهم وله الهداية والتوفيق. Jika Syeikh Ali aṭ-Ṭantāwī mengatakan apa yang Anda kabarkan, maka ini adalah kekeliruan darinya. Syeikh Ali aṭ-Ṭantāwī seperti orang lain, tidak luput dari kekeliruan. Semua orang bisa benar dan bisa keliru. Setiap ulama pasti bisa salah dan benar karena tidak ada seorangpun yang luput dari kesalahan kecuali para Rasul–Alaihimuṣ Ṣalātu was salām–yang dijaga oleh Allah dari kesalahan dalam menyampaikan agama Allah. Adapun ulama secara pribadi, semuanya pasti bisa benar dan keliru sesuai dengan keilmuan yang Allah mudahkan baginya. Kami memohon kepada Allah untuk kami, kalian, dan beliau hidayah dan taufik. المقصود أنَّ هذا هو الحق: أن التَّصفيق من سنة الجاهلية، ومن سنة اليوم غير المسلمين أيضًا، وتبعهم غيرهم، فلا ينبغي للعاقل أن يغترَّ بزلات العلماء، وأخطاء العلماء، كل عالم له زلَّة، ولا ينبغي أن يغترَّ بزلته. Maksudnya bahwa inilah yang benar, tepuk tangan adalah syiar orang-orang Jahiliyah dan  acara orang-orang non-Muslim, sehingga orang yang berakal hendaknya tidak terpedaya dengan ketergelinciran dan kekeliruan ulama, setiap orang berilmu pasti memiliki kekeliruan dan jangan ikuti kekeliruannya. Syaikh Bin Baz rahimahullah Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/4296/ما-حكم-التصفيق LINK PDF 🔍 Hukum Islam Suami Istri Tidur Terpisah, Suami Mimik Susu Istri, Makan Tidak Membatalkan Wudhu, Dalil Tentang Pertengkaran, Jilat Silit, Keluar Lendir Bening Saat Hamil Tua Visited 242 times, 1 visit(s) today Post Views: 331 QRIS donasi Yufid
ما حكم التَّصفيق؟ السؤال: قد سمعنا تحريمكم وبعض العلماء بالتَّصفيق في المناسبات، ولكن اليوم في “التلفزيون” وُجِّه هذا السؤال للشيخ الطنطاوي، فقال: إنَّ التَّصفيق في غير العبادة جائزٌ وليس حرامًا، ويتحدى العلماء أن يأتوا بدليلٍ على تحريم التَّصفيق، مما جعلنا في خلافٍ، نرجو إجابتكم على هذا. Pertanyaan: Kami telah mendengar bahwa Anda dan sebagian ulama lain mengharamkan tepuk tangan dalam suatu acara, tapi hari ini di sebuah acara TV, ada pertanyaan kepada syeikh aṭ-Ṭantāwī dan beliau menjawab, “Tepuk tangan di luar ibadah diperbolehkan dan tidak haram.” Beliau menantang ulama untuk membawakan dalil haramnya tepuk tangan yang menyelisihi pendapat ini. Kami mohon jawaban Anda atas masalah ini. الجواب: التَّصفيق من سُنة الجاهلية، ولا ينبغي فعله، إنما عند التَّعجب وعند التَّعظيم يقول: سبحان الله، أو: الله أكبر، الله أكبر، أما التَّصفيق فهو من سنة الجاهلية، قال الله تعالى: وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً [الأنفال:35] قال علماء التفسير: المكاء: الصَّفير، والتَّصدية: التَّصفيق، هذه من سنة الجاهلية. Jawaban: Tepuk tangan adalah sunah orang-orang Jahiliyah sehingga tidak selayaknya dilakukan. Ketika seseorang takjub atau ingin memberi penghormatan, hendaknya berkata, “Subhanallah!” atau “Allahuakbar! Allahuakbar!” Adapun tepuk tangan adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah. Allah berfirman: وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً – الأنفال:35 Artinya: “Dan ibadah mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan.” (QS. Anfal: 35) Ulama tafsir berkata bahwa makna Mukāʾ adalah bersiul dan Taṣdiyah adalah tepuk tangan. Jadi ini adalah kebiasaan orang Jahiliyah. أما الرسول وأصحابه فكانوا عندما يأتي ما يعظم يقولون: الله أكبر، الله أكبر، أو: سبحان الله، هذا المشروع، أما التَّصفيق عند ما يُتعجب به من خطبةٍ أو من موعظةٍ أو من كلماتٍ فهذا كله خلاف سنة الله، ما سنَّه رسولُه ﷺ في الخطب والمواعظ يكون عنده التَّكبير والتَّسبيح، والتَّصفيق من شأن النِّساء في الصلاة، التَّسبيح للرجال، والتَّصفيق للنساء. Adapun Rasulullah dan para sahabat ketika melihat sesuatu yang luar biasa mereka berkata, “Allahuakbar! Allahuakbar!” Atau “Subhanallah!” Ini yang disyariatkan. Adapun bertepuk tangan ketika takjub dengan sesuatu, baik orasi, nasehat, atau suatu perkataan, ini menyelisihi sunah dari Allah karena yang Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sunnahkan adalah ketika ada orasi atau nasehat, hendaknya dia bertakbir atau bertasbih, karena menepuk tangan adalah perbuatan wanita dalam salat. Untuk lelaki adalah tasbih dan untuk wanita adalah menepuk tangan.  فالتصفيق للنساء في الصلاة إن عرض لهم عارضٌ، ومن سنة الجاهلية في أعمالهم وخُطبهم واجتماعاتهم. Menepuk tangan bagi wanita dalam salat hanya ketika dibutuhkan saja, adapun kebiasaan orang Jahiliyah melakukannya dalam setiap perbuatan, orasi, dan pertemuan-pertemuan mereka. وإذا كان الشيخ علي الطنطاوي قال ما ذكرتَه فهذا غلطٌ منه، والطنطاوي مثل غيره، ما هو معصومٌ، كل واحدٍ يُخطئ ويُصيب، كل عالمٍ يُخطئ ويُصيب، ما أحد يسلم من الخطأ إلا الرسل عليهم الصلاة والسلام، هم الذين عصمهم الله من الخطأ فيما يُبلِّغون عن الله من دينه، أما العالم الواحد من أهل العلم فقد يُخطئ ويُصيب على حسب ما يسر الله له من العلم. نسأل الله لنا ولهم وله الهداية والتوفيق. Jika Syeikh Ali aṭ-Ṭantāwī mengatakan apa yang Anda kabarkan, maka ini adalah kekeliruan darinya. Syeikh Ali aṭ-Ṭantāwī seperti orang lain, tidak luput dari kekeliruan. Semua orang bisa benar dan bisa keliru. Setiap ulama pasti bisa salah dan benar karena tidak ada seorangpun yang luput dari kesalahan kecuali para Rasul–Alaihimuṣ Ṣalātu was salām–yang dijaga oleh Allah dari kesalahan dalam menyampaikan agama Allah. Adapun ulama secara pribadi, semuanya pasti bisa benar dan keliru sesuai dengan keilmuan yang Allah mudahkan baginya. Kami memohon kepada Allah untuk kami, kalian, dan beliau hidayah dan taufik. المقصود أنَّ هذا هو الحق: أن التَّصفيق من سنة الجاهلية، ومن سنة اليوم غير المسلمين أيضًا، وتبعهم غيرهم، فلا ينبغي للعاقل أن يغترَّ بزلات العلماء، وأخطاء العلماء، كل عالم له زلَّة، ولا ينبغي أن يغترَّ بزلته. Maksudnya bahwa inilah yang benar, tepuk tangan adalah syiar orang-orang Jahiliyah dan  acara orang-orang non-Muslim, sehingga orang yang berakal hendaknya tidak terpedaya dengan ketergelinciran dan kekeliruan ulama, setiap orang berilmu pasti memiliki kekeliruan dan jangan ikuti kekeliruannya. Syaikh Bin Baz rahimahullah Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/4296/ما-حكم-التصفيق LINK PDF 🔍 Hukum Islam Suami Istri Tidur Terpisah, Suami Mimik Susu Istri, Makan Tidak Membatalkan Wudhu, Dalil Tentang Pertengkaran, Jilat Silit, Keluar Lendir Bening Saat Hamil Tua Visited 242 times, 1 visit(s) today Post Views: 331 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1469318758&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> ما حكم التَّصفيق؟ السؤال: قد سمعنا تحريمكم وبعض العلماء بالتَّصفيق في المناسبات، ولكن اليوم في “التلفزيون” وُجِّه هذا السؤال للشيخ الطنطاوي، فقال: إنَّ التَّصفيق في غير العبادة جائزٌ وليس حرامًا، ويتحدى العلماء أن يأتوا بدليلٍ على تحريم التَّصفيق، مما جعلنا في خلافٍ، نرجو إجابتكم على هذا. Pertanyaan: Kami telah mendengar bahwa Anda dan sebagian ulama lain mengharamkan tepuk tangan dalam suatu acara, tapi hari ini di sebuah acara TV, ada pertanyaan kepada syeikh aṭ-Ṭantāwī dan beliau menjawab, “Tepuk tangan di luar ibadah diperbolehkan dan tidak haram.” Beliau menantang ulama untuk membawakan dalil haramnya tepuk tangan yang menyelisihi pendapat ini. Kami mohon jawaban Anda atas masalah ini. الجواب: التَّصفيق من سُنة الجاهلية، ولا ينبغي فعله، إنما عند التَّعجب وعند التَّعظيم يقول: سبحان الله، أو: الله أكبر، الله أكبر، أما التَّصفيق فهو من سنة الجاهلية، قال الله تعالى: وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً [الأنفال:35] قال علماء التفسير: المكاء: الصَّفير، والتَّصدية: التَّصفيق، هذه من سنة الجاهلية. Jawaban: Tepuk tangan adalah sunah orang-orang Jahiliyah sehingga tidak selayaknya dilakukan. Ketika seseorang takjub atau ingin memberi penghormatan, hendaknya berkata, “Subhanallah!” atau “Allahuakbar! Allahuakbar!” Adapun tepuk tangan adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah. Allah berfirman: وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً – الأنفال:35 Artinya: “Dan ibadah mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan.” (QS. Anfal: 35) Ulama tafsir berkata bahwa makna Mukāʾ adalah bersiul dan Taṣdiyah adalah tepuk tangan. Jadi ini adalah kebiasaan orang Jahiliyah. أما الرسول وأصحابه فكانوا عندما يأتي ما يعظم يقولون: الله أكبر، الله أكبر، أو: سبحان الله، هذا المشروع، أما التَّصفيق عند ما يُتعجب به من خطبةٍ أو من موعظةٍ أو من كلماتٍ فهذا كله خلاف سنة الله، ما سنَّه رسولُه ﷺ في الخطب والمواعظ يكون عنده التَّكبير والتَّسبيح، والتَّصفيق من شأن النِّساء في الصلاة، التَّسبيح للرجال، والتَّصفيق للنساء. Adapun Rasulullah dan para sahabat ketika melihat sesuatu yang luar biasa mereka berkata, “Allahuakbar! Allahuakbar!” Atau “Subhanallah!” Ini yang disyariatkan. Adapun bertepuk tangan ketika takjub dengan sesuatu, baik orasi, nasehat, atau suatu perkataan, ini menyelisihi sunah dari Allah karena yang Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sunnahkan adalah ketika ada orasi atau nasehat, hendaknya dia bertakbir atau bertasbih, karena menepuk tangan adalah perbuatan wanita dalam salat. Untuk lelaki adalah tasbih dan untuk wanita adalah menepuk tangan.  فالتصفيق للنساء في الصلاة إن عرض لهم عارضٌ، ومن سنة الجاهلية في أعمالهم وخُطبهم واجتماعاتهم. Menepuk tangan bagi wanita dalam salat hanya ketika dibutuhkan saja, adapun kebiasaan orang Jahiliyah melakukannya dalam setiap perbuatan, orasi, dan pertemuan-pertemuan mereka. وإذا كان الشيخ علي الطنطاوي قال ما ذكرتَه فهذا غلطٌ منه، والطنطاوي مثل غيره، ما هو معصومٌ، كل واحدٍ يُخطئ ويُصيب، كل عالمٍ يُخطئ ويُصيب، ما أحد يسلم من الخطأ إلا الرسل عليهم الصلاة والسلام، هم الذين عصمهم الله من الخطأ فيما يُبلِّغون عن الله من دينه، أما العالم الواحد من أهل العلم فقد يُخطئ ويُصيب على حسب ما يسر الله له من العلم. نسأل الله لنا ولهم وله الهداية والتوفيق. Jika Syeikh Ali aṭ-Ṭantāwī mengatakan apa yang Anda kabarkan, maka ini adalah kekeliruan darinya. Syeikh Ali aṭ-Ṭantāwī seperti orang lain, tidak luput dari kekeliruan. Semua orang bisa benar dan bisa keliru. Setiap ulama pasti bisa salah dan benar karena tidak ada seorangpun yang luput dari kesalahan kecuali para Rasul–Alaihimuṣ Ṣalātu was salām–yang dijaga oleh Allah dari kesalahan dalam menyampaikan agama Allah. Adapun ulama secara pribadi, semuanya pasti bisa benar dan keliru sesuai dengan keilmuan yang Allah mudahkan baginya. Kami memohon kepada Allah untuk kami, kalian, dan beliau hidayah dan taufik. المقصود أنَّ هذا هو الحق: أن التَّصفيق من سنة الجاهلية، ومن سنة اليوم غير المسلمين أيضًا، وتبعهم غيرهم، فلا ينبغي للعاقل أن يغترَّ بزلات العلماء، وأخطاء العلماء، كل عالم له زلَّة، ولا ينبغي أن يغترَّ بزلته. Maksudnya bahwa inilah yang benar, tepuk tangan adalah syiar orang-orang Jahiliyah dan  acara orang-orang non-Muslim, sehingga orang yang berakal hendaknya tidak terpedaya dengan ketergelinciran dan kekeliruan ulama, setiap orang berilmu pasti memiliki kekeliruan dan jangan ikuti kekeliruannya. Syaikh Bin Baz rahimahullah Sumber:  https://binbaz.org.sa/fatwas/4296/ما-حكم-التصفيق LINK PDF 🔍 Hukum Islam Suami Istri Tidur Terpisah, Suami Mimik Susu Istri, Makan Tidak Membatalkan Wudhu, Dalil Tentang Pertengkaran, Jilat Silit, Keluar Lendir Bening Saat Hamil Tua Visited 242 times, 1 visit(s) today Post Views: 331 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Lakukan Ini Jika Turun Hujan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika turun hujan?Pertama, disyariatkan untuk menyingkap kepalanya,agar kepalanya terkena air hujandan agar mengenai badannya juga. Hal ini karena inilah tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamDulu ketika turun hujan, beliau menyingkap kepalanyasehingga kepalanya terkena air hujan, dan beliau bersabda, “Air ini baru dari Tuhannya.” Kedua, hendaklah (seorang Muslim)menisbatkan hujan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,lalu berkata, “Hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah. Ya Allah, jadikanlah hujan yang lebat dan bermanfaat.” Atau doa lainnya. Serta berhati-hati dari menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah Subhanah.Ketiga, memuji Allah Ta’ala dan bersyukur kepada-Nyadengan berkata, “Kami memuji dan bersyukur kepada Allah. Hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah.” Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Mengapa kalian tidak bersyukur?!”“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, maka mengapa kalian tidak bersyukur?” (QS. Al-Waqiah: 68 – 70) Jadi, disunahkan ketika turun hujan untuk memuji Allah Ta’aladan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini. ==== مَاذَا يُشْرَعُ لِلْمُسْلِمِ فِعْلُهُ عِنْدَ نُزُوْلِ الْمَطَرِ؟ يُشْرَعُ أَنْ يَحْسِرَ أَوَّلًا عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى يُصِيْبَ رَأْسَهُ الْمَطَرُ وَيُصِيْبَ أَيْضًا جَسَدَهُ وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا هُوَ هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كَانَ إِذَا نَزَلَ الْمَطَرُ حَسَرَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى يُصِيْبَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ ثَانِيًا يَنْبَغِي أَنْ يَنْسِبَ الْمَطَرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُوْلَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا وَنَحْوِ ذَلِكَ وَيَحْذَرُ مِنْ نِسْبَةِ نُزُوْلِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ ثَالِثًا أَنْ يَحْمَدَ اللهَ تَعَالَى وَأَنْ يَشْكُرَهُ فَيَقُوْلُ نَحْمَدُ اللهَ وَنَشْكُرُهُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنْتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ فَيُسَنُّ عِنْدَ نُزُوْلِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْمَدَ اللهَ تَعَالَى وَأَنْ يَشْكُرَهُ عَلَى هَذِهِ النِّعْمَةِ

Lakukan Ini Jika Turun Hujan – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika turun hujan?Pertama, disyariatkan untuk menyingkap kepalanya,agar kepalanya terkena air hujandan agar mengenai badannya juga. Hal ini karena inilah tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamDulu ketika turun hujan, beliau menyingkap kepalanyasehingga kepalanya terkena air hujan, dan beliau bersabda, “Air ini baru dari Tuhannya.” Kedua, hendaklah (seorang Muslim)menisbatkan hujan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,lalu berkata, “Hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah. Ya Allah, jadikanlah hujan yang lebat dan bermanfaat.” Atau doa lainnya. Serta berhati-hati dari menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah Subhanah.Ketiga, memuji Allah Ta’ala dan bersyukur kepada-Nyadengan berkata, “Kami memuji dan bersyukur kepada Allah. Hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah.” Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Mengapa kalian tidak bersyukur?!”“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, maka mengapa kalian tidak bersyukur?” (QS. Al-Waqiah: 68 – 70) Jadi, disunahkan ketika turun hujan untuk memuji Allah Ta’aladan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini. ==== مَاذَا يُشْرَعُ لِلْمُسْلِمِ فِعْلُهُ عِنْدَ نُزُوْلِ الْمَطَرِ؟ يُشْرَعُ أَنْ يَحْسِرَ أَوَّلًا عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى يُصِيْبَ رَأْسَهُ الْمَطَرُ وَيُصِيْبَ أَيْضًا جَسَدَهُ وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا هُوَ هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كَانَ إِذَا نَزَلَ الْمَطَرُ حَسَرَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى يُصِيْبَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ ثَانِيًا يَنْبَغِي أَنْ يَنْسِبَ الْمَطَرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُوْلَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا وَنَحْوِ ذَلِكَ وَيَحْذَرُ مِنْ نِسْبَةِ نُزُوْلِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ ثَالِثًا أَنْ يَحْمَدَ اللهَ تَعَالَى وَأَنْ يَشْكُرَهُ فَيَقُوْلُ نَحْمَدُ اللهَ وَنَشْكُرُهُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنْتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ فَيُسَنُّ عِنْدَ نُزُوْلِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْمَدَ اللهَ تَعَالَى وَأَنْ يَشْكُرَهُ عَلَى هَذِهِ النِّعْمَةِ
Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika turun hujan?Pertama, disyariatkan untuk menyingkap kepalanya,agar kepalanya terkena air hujandan agar mengenai badannya juga. Hal ini karena inilah tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamDulu ketika turun hujan, beliau menyingkap kepalanyasehingga kepalanya terkena air hujan, dan beliau bersabda, “Air ini baru dari Tuhannya.” Kedua, hendaklah (seorang Muslim)menisbatkan hujan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,lalu berkata, “Hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah. Ya Allah, jadikanlah hujan yang lebat dan bermanfaat.” Atau doa lainnya. Serta berhati-hati dari menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah Subhanah.Ketiga, memuji Allah Ta’ala dan bersyukur kepada-Nyadengan berkata, “Kami memuji dan bersyukur kepada Allah. Hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah.” Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Mengapa kalian tidak bersyukur?!”“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, maka mengapa kalian tidak bersyukur?” (QS. Al-Waqiah: 68 – 70) Jadi, disunahkan ketika turun hujan untuk memuji Allah Ta’aladan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini. ==== مَاذَا يُشْرَعُ لِلْمُسْلِمِ فِعْلُهُ عِنْدَ نُزُوْلِ الْمَطَرِ؟ يُشْرَعُ أَنْ يَحْسِرَ أَوَّلًا عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى يُصِيْبَ رَأْسَهُ الْمَطَرُ وَيُصِيْبَ أَيْضًا جَسَدَهُ وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا هُوَ هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كَانَ إِذَا نَزَلَ الْمَطَرُ حَسَرَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى يُصِيْبَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ ثَانِيًا يَنْبَغِي أَنْ يَنْسِبَ الْمَطَرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُوْلَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا وَنَحْوِ ذَلِكَ وَيَحْذَرُ مِنْ نِسْبَةِ نُزُوْلِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ ثَالِثًا أَنْ يَحْمَدَ اللهَ تَعَالَى وَأَنْ يَشْكُرَهُ فَيَقُوْلُ نَحْمَدُ اللهَ وَنَشْكُرُهُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنْتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ فَيُسَنُّ عِنْدَ نُزُوْلِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْمَدَ اللهَ تَعَالَى وَأَنْ يَشْكُرَهُ عَلَى هَذِهِ النِّعْمَةِ


Apa yang disyariatkan bagi seorang Muslim ketika turun hujan?Pertama, disyariatkan untuk menyingkap kepalanya,agar kepalanya terkena air hujandan agar mengenai badannya juga. Hal ini karena inilah tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamDulu ketika turun hujan, beliau menyingkap kepalanyasehingga kepalanya terkena air hujan, dan beliau bersabda, “Air ini baru dari Tuhannya.” Kedua, hendaklah (seorang Muslim)menisbatkan hujan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,lalu berkata, “Hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah. Ya Allah, jadikanlah hujan yang lebat dan bermanfaat.” Atau doa lainnya. Serta berhati-hati dari menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah Subhanah.Ketiga, memuji Allah Ta’ala dan bersyukur kepada-Nyadengan berkata, “Kami memuji dan bersyukur kepada Allah. Hujan turun berkat karunia dan rahmat Allah.” Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Mengapa kalian tidak bersyukur?!”“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, maka mengapa kalian tidak bersyukur?” (QS. Al-Waqiah: 68 – 70) Jadi, disunahkan ketika turun hujan untuk memuji Allah Ta’aladan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini. ==== مَاذَا يُشْرَعُ لِلْمُسْلِمِ فِعْلُهُ عِنْدَ نُزُوْلِ الْمَطَرِ؟ يُشْرَعُ أَنْ يَحْسِرَ أَوَّلًا عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى يُصِيْبَ رَأْسَهُ الْمَطَرُ وَيُصِيْبَ أَيْضًا جَسَدَهُ وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا هُوَ هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كَانَ إِذَا نَزَلَ الْمَطَرُ حَسَرَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى يُصِيْبَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ ثَانِيًا يَنْبَغِي أَنْ يَنْسِبَ الْمَطَرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُوْلَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا وَنَحْوِ ذَلِكَ وَيَحْذَرُ مِنْ نِسْبَةِ نُزُوْلِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ ثَالِثًا أَنْ يَحْمَدَ اللهَ تَعَالَى وَأَنْ يَشْكُرَهُ فَيَقُوْلُ نَحْمَدُ اللهَ وَنَشْكُرُهُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنْتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ فَيُسَنُّ عِنْدَ نُزُوْلِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْمَدَ اللهَ تَعَالَى وَأَنْ يَشْكُرَهُ عَلَى هَذِهِ النِّعْمَةِ

Ulama yang Sukses Menuntut Ilmu Ketika Dewasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Di sini ada sebuah faedah yang terkait dengan masalah ini,yaitu masalah tidak menyibukkan diri,bahwa banyak ulama mengatakan, “Sesungguhnya orang yang belajar saat belia dan di awal usianyapunya potensi keberhasilan yang jauh lebih besardaripada orang yang belajar di masa tua.” Tentu, tidak semuanya demikian,melainkan sebagian besarnya seperti itu,karena di usia belia, pikiran seseorang masih jernih,umurnya masih panjang, dan sedikit kesibukannya. Sedikit kesibukannya. Walaupun orang tua kadang lebih cerdas,tapi dia punya banyak kesibukan,urusan pekerjaan, istri, anak-anak,tugas, urusan ini, itu, dan lain sebagainya.Adapun usia belia tidak demikian. As-Suyuti berkata dalam mukadimah al-Asybāh wa an-Naẓāʾir,ketika membantah sebagian orang dengan mengatakan,“Tidaklah orang yang menuntut ilmu–maksudnya dirinya sendiri–saat belia seperti yang menuntutnya di usia tua.” Tentu tidak semua,karena Ibnu Hazm tidak menuntut ilmu kecuali di masa tua,dan Abu Bakar al-Qaffāl tidak belajar agamakecuali setelah tua, yaitu di atas 40 tahun. Murid-muridnya disebut Marāwizah sebagai nisbah bagi mereka,yakni, aliran fukaha terbaik dalam mazhab Syafiidari jalur-jalur ulama seniornya ada dua aliran:kelompok Khurasan dan kelompok Irak. Termasuk kelompok Khurasan adalah Marāwizah,yang dinisbahkan kepada Abu Bakar al-Qaffāl,padahal dia tidak menuntut ilmu kecuali setelah berusia 40 tahun,yang sebelumnya bekerja membuat gembok untuk orang-orang. ==== وَهُنَا مَسْأَلَةٌ… فَائِدَةٌ تَتَعَلَّقُ بِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَهِيَ عَدَمُ الْاِنْشِغَالِ أَنَّ كَثِيرًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُونَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ فِي حَدَاثَةِ سِنِّهِ وَأَوَّلِ عُمْرِهِ فَإِنَّهُ مُوَفَّقٌ أَكْثَرَ بِكَثِيرٍ مِمَّنْ طَلَبَهُ عَلَى الْكِبَرِ وَلَيْسَ طَبْعًا عَلَى سَبِيلِ الْكُلِّ وَإِنَّمَا عَلَى سَبِيلِ الْأَغْلَبِ لِأَنَّ الْمَرْءَ فِي صِغَرِ سِنِّهِ يَكُونُ صَافِيَ الذِّهْنِ وَأَمَامَهُ عُمْرٌ طَوِيلٌ وَقَلِيلُ مَشَاغِلَ قَلِيلُ مَشَاغِلَ قَدْ يَكُونُ أَكْبَرُ أَصْفَى الذِّهْنِ لَكِنَّهُ كَثِيرُ مَشَاغِلَ عِنْدَ دَوَامٍ وَعِنْدَ زَوْجَةٍ عِنْدَ أَبْنَاءٍ عِنْدَ وَظِيفَةٍ عِنْدَهُ وَعِنْدَهُ وَعِنْدَهُ أَمَّا الصَّغِيرُ فَإِنَّهُ دُونَ ذَلِكَ يَقُولُ السُّيُوطِيُّ فِي مُقَدَّمَةِ الْأَشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ لَمَّا نَاظَرَ بَعْضَهُمْ قَالَ وَلَيْسَ – يَقْصِدُ نَفْسَهُ – وَلَيْسَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ صَغِيرًا كَمَنْ طَلَبَهُ كَبِيرًا طَبْعًا لَيْسَ كُلِّيًّا فَإِنَّ ابْنَ حَزْمٍ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ وَأَبَا بَكْرٍ الْقَفَّالَ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ بَعْدَ أَرْبَعِينَ فَكَانَ تَلَامِذَتُهُ يُسَمَّونَ بِالْمَرَاوِزَةِ نِسْبَةً لَهُمْ أَعْنِي أَوْجَدَ طَرِيقَةٍ عِنْدَ فُقَهَاءِ الشَّافِعِيَّةِ مِنَ الطُّرُقِ الْكِبَارِ أَحَدُ الطَّرِيقَتَيْنِ خُرَاسَانِيُّونَ وَعِرَاقِيُّونَ وَخُرَاسَانِيُّونَ مِنْهُمُ الْمَرَاوِزَةُ فَيُسَمُّونَ لِأَبِي بَكْرٍ الْقَفَّالِ مَعَ أَنَّهُ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا بَعْدَ أَرْبَعِينَ وَقَدْ كَانَ الْقَفَّالَ يَصْنَعُ الْأَقْفَالَ لِلنَّاسِ

Ulama yang Sukses Menuntut Ilmu Ketika Dewasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Di sini ada sebuah faedah yang terkait dengan masalah ini,yaitu masalah tidak menyibukkan diri,bahwa banyak ulama mengatakan, “Sesungguhnya orang yang belajar saat belia dan di awal usianyapunya potensi keberhasilan yang jauh lebih besardaripada orang yang belajar di masa tua.” Tentu, tidak semuanya demikian,melainkan sebagian besarnya seperti itu,karena di usia belia, pikiran seseorang masih jernih,umurnya masih panjang, dan sedikit kesibukannya. Sedikit kesibukannya. Walaupun orang tua kadang lebih cerdas,tapi dia punya banyak kesibukan,urusan pekerjaan, istri, anak-anak,tugas, urusan ini, itu, dan lain sebagainya.Adapun usia belia tidak demikian. As-Suyuti berkata dalam mukadimah al-Asybāh wa an-Naẓāʾir,ketika membantah sebagian orang dengan mengatakan,“Tidaklah orang yang menuntut ilmu–maksudnya dirinya sendiri–saat belia seperti yang menuntutnya di usia tua.” Tentu tidak semua,karena Ibnu Hazm tidak menuntut ilmu kecuali di masa tua,dan Abu Bakar al-Qaffāl tidak belajar agamakecuali setelah tua, yaitu di atas 40 tahun. Murid-muridnya disebut Marāwizah sebagai nisbah bagi mereka,yakni, aliran fukaha terbaik dalam mazhab Syafiidari jalur-jalur ulama seniornya ada dua aliran:kelompok Khurasan dan kelompok Irak. Termasuk kelompok Khurasan adalah Marāwizah,yang dinisbahkan kepada Abu Bakar al-Qaffāl,padahal dia tidak menuntut ilmu kecuali setelah berusia 40 tahun,yang sebelumnya bekerja membuat gembok untuk orang-orang. ==== وَهُنَا مَسْأَلَةٌ… فَائِدَةٌ تَتَعَلَّقُ بِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَهِيَ عَدَمُ الْاِنْشِغَالِ أَنَّ كَثِيرًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُونَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ فِي حَدَاثَةِ سِنِّهِ وَأَوَّلِ عُمْرِهِ فَإِنَّهُ مُوَفَّقٌ أَكْثَرَ بِكَثِيرٍ مِمَّنْ طَلَبَهُ عَلَى الْكِبَرِ وَلَيْسَ طَبْعًا عَلَى سَبِيلِ الْكُلِّ وَإِنَّمَا عَلَى سَبِيلِ الْأَغْلَبِ لِأَنَّ الْمَرْءَ فِي صِغَرِ سِنِّهِ يَكُونُ صَافِيَ الذِّهْنِ وَأَمَامَهُ عُمْرٌ طَوِيلٌ وَقَلِيلُ مَشَاغِلَ قَلِيلُ مَشَاغِلَ قَدْ يَكُونُ أَكْبَرُ أَصْفَى الذِّهْنِ لَكِنَّهُ كَثِيرُ مَشَاغِلَ عِنْدَ دَوَامٍ وَعِنْدَ زَوْجَةٍ عِنْدَ أَبْنَاءٍ عِنْدَ وَظِيفَةٍ عِنْدَهُ وَعِنْدَهُ وَعِنْدَهُ أَمَّا الصَّغِيرُ فَإِنَّهُ دُونَ ذَلِكَ يَقُولُ السُّيُوطِيُّ فِي مُقَدَّمَةِ الْأَشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ لَمَّا نَاظَرَ بَعْضَهُمْ قَالَ وَلَيْسَ – يَقْصِدُ نَفْسَهُ – وَلَيْسَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ صَغِيرًا كَمَنْ طَلَبَهُ كَبِيرًا طَبْعًا لَيْسَ كُلِّيًّا فَإِنَّ ابْنَ حَزْمٍ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ وَأَبَا بَكْرٍ الْقَفَّالَ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ بَعْدَ أَرْبَعِينَ فَكَانَ تَلَامِذَتُهُ يُسَمَّونَ بِالْمَرَاوِزَةِ نِسْبَةً لَهُمْ أَعْنِي أَوْجَدَ طَرِيقَةٍ عِنْدَ فُقَهَاءِ الشَّافِعِيَّةِ مِنَ الطُّرُقِ الْكِبَارِ أَحَدُ الطَّرِيقَتَيْنِ خُرَاسَانِيُّونَ وَعِرَاقِيُّونَ وَخُرَاسَانِيُّونَ مِنْهُمُ الْمَرَاوِزَةُ فَيُسَمُّونَ لِأَبِي بَكْرٍ الْقَفَّالِ مَعَ أَنَّهُ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا بَعْدَ أَرْبَعِينَ وَقَدْ كَانَ الْقَفَّالَ يَصْنَعُ الْأَقْفَالَ لِلنَّاسِ
Di sini ada sebuah faedah yang terkait dengan masalah ini,yaitu masalah tidak menyibukkan diri,bahwa banyak ulama mengatakan, “Sesungguhnya orang yang belajar saat belia dan di awal usianyapunya potensi keberhasilan yang jauh lebih besardaripada orang yang belajar di masa tua.” Tentu, tidak semuanya demikian,melainkan sebagian besarnya seperti itu,karena di usia belia, pikiran seseorang masih jernih,umurnya masih panjang, dan sedikit kesibukannya. Sedikit kesibukannya. Walaupun orang tua kadang lebih cerdas,tapi dia punya banyak kesibukan,urusan pekerjaan, istri, anak-anak,tugas, urusan ini, itu, dan lain sebagainya.Adapun usia belia tidak demikian. As-Suyuti berkata dalam mukadimah al-Asybāh wa an-Naẓāʾir,ketika membantah sebagian orang dengan mengatakan,“Tidaklah orang yang menuntut ilmu–maksudnya dirinya sendiri–saat belia seperti yang menuntutnya di usia tua.” Tentu tidak semua,karena Ibnu Hazm tidak menuntut ilmu kecuali di masa tua,dan Abu Bakar al-Qaffāl tidak belajar agamakecuali setelah tua, yaitu di atas 40 tahun. Murid-muridnya disebut Marāwizah sebagai nisbah bagi mereka,yakni, aliran fukaha terbaik dalam mazhab Syafiidari jalur-jalur ulama seniornya ada dua aliran:kelompok Khurasan dan kelompok Irak. Termasuk kelompok Khurasan adalah Marāwizah,yang dinisbahkan kepada Abu Bakar al-Qaffāl,padahal dia tidak menuntut ilmu kecuali setelah berusia 40 tahun,yang sebelumnya bekerja membuat gembok untuk orang-orang. ==== وَهُنَا مَسْأَلَةٌ… فَائِدَةٌ تَتَعَلَّقُ بِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَهِيَ عَدَمُ الْاِنْشِغَالِ أَنَّ كَثِيرًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُونَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ فِي حَدَاثَةِ سِنِّهِ وَأَوَّلِ عُمْرِهِ فَإِنَّهُ مُوَفَّقٌ أَكْثَرَ بِكَثِيرٍ مِمَّنْ طَلَبَهُ عَلَى الْكِبَرِ وَلَيْسَ طَبْعًا عَلَى سَبِيلِ الْكُلِّ وَإِنَّمَا عَلَى سَبِيلِ الْأَغْلَبِ لِأَنَّ الْمَرْءَ فِي صِغَرِ سِنِّهِ يَكُونُ صَافِيَ الذِّهْنِ وَأَمَامَهُ عُمْرٌ طَوِيلٌ وَقَلِيلُ مَشَاغِلَ قَلِيلُ مَشَاغِلَ قَدْ يَكُونُ أَكْبَرُ أَصْفَى الذِّهْنِ لَكِنَّهُ كَثِيرُ مَشَاغِلَ عِنْدَ دَوَامٍ وَعِنْدَ زَوْجَةٍ عِنْدَ أَبْنَاءٍ عِنْدَ وَظِيفَةٍ عِنْدَهُ وَعِنْدَهُ وَعِنْدَهُ أَمَّا الصَّغِيرُ فَإِنَّهُ دُونَ ذَلِكَ يَقُولُ السُّيُوطِيُّ فِي مُقَدَّمَةِ الْأَشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ لَمَّا نَاظَرَ بَعْضَهُمْ قَالَ وَلَيْسَ – يَقْصِدُ نَفْسَهُ – وَلَيْسَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ صَغِيرًا كَمَنْ طَلَبَهُ كَبِيرًا طَبْعًا لَيْسَ كُلِّيًّا فَإِنَّ ابْنَ حَزْمٍ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ وَأَبَا بَكْرٍ الْقَفَّالَ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ بَعْدَ أَرْبَعِينَ فَكَانَ تَلَامِذَتُهُ يُسَمَّونَ بِالْمَرَاوِزَةِ نِسْبَةً لَهُمْ أَعْنِي أَوْجَدَ طَرِيقَةٍ عِنْدَ فُقَهَاءِ الشَّافِعِيَّةِ مِنَ الطُّرُقِ الْكِبَارِ أَحَدُ الطَّرِيقَتَيْنِ خُرَاسَانِيُّونَ وَعِرَاقِيُّونَ وَخُرَاسَانِيُّونَ مِنْهُمُ الْمَرَاوِزَةُ فَيُسَمُّونَ لِأَبِي بَكْرٍ الْقَفَّالِ مَعَ أَنَّهُ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا بَعْدَ أَرْبَعِينَ وَقَدْ كَانَ الْقَفَّالَ يَصْنَعُ الْأَقْفَالَ لِلنَّاسِ


Di sini ada sebuah faedah yang terkait dengan masalah ini,yaitu masalah tidak menyibukkan diri,bahwa banyak ulama mengatakan, “Sesungguhnya orang yang belajar saat belia dan di awal usianyapunya potensi keberhasilan yang jauh lebih besardaripada orang yang belajar di masa tua.” Tentu, tidak semuanya demikian,melainkan sebagian besarnya seperti itu,karena di usia belia, pikiran seseorang masih jernih,umurnya masih panjang, dan sedikit kesibukannya. Sedikit kesibukannya. Walaupun orang tua kadang lebih cerdas,tapi dia punya banyak kesibukan,urusan pekerjaan, istri, anak-anak,tugas, urusan ini, itu, dan lain sebagainya.Adapun usia belia tidak demikian. As-Suyuti berkata dalam mukadimah al-Asybāh wa an-Naẓāʾir,ketika membantah sebagian orang dengan mengatakan,“Tidaklah orang yang menuntut ilmu–maksudnya dirinya sendiri–saat belia seperti yang menuntutnya di usia tua.” Tentu tidak semua,karena Ibnu Hazm tidak menuntut ilmu kecuali di masa tua,dan Abu Bakar al-Qaffāl tidak belajar agamakecuali setelah tua, yaitu di atas 40 tahun. Murid-muridnya disebut Marāwizah sebagai nisbah bagi mereka,yakni, aliran fukaha terbaik dalam mazhab Syafiidari jalur-jalur ulama seniornya ada dua aliran:kelompok Khurasan dan kelompok Irak. Termasuk kelompok Khurasan adalah Marāwizah,yang dinisbahkan kepada Abu Bakar al-Qaffāl,padahal dia tidak menuntut ilmu kecuali setelah berusia 40 tahun,yang sebelumnya bekerja membuat gembok untuk orang-orang. ==== وَهُنَا مَسْأَلَةٌ… فَائِدَةٌ تَتَعَلَّقُ بِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَهِيَ عَدَمُ الْاِنْشِغَالِ أَنَّ كَثِيرًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُونَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ فِي حَدَاثَةِ سِنِّهِ وَأَوَّلِ عُمْرِهِ فَإِنَّهُ مُوَفَّقٌ أَكْثَرَ بِكَثِيرٍ مِمَّنْ طَلَبَهُ عَلَى الْكِبَرِ وَلَيْسَ طَبْعًا عَلَى سَبِيلِ الْكُلِّ وَإِنَّمَا عَلَى سَبِيلِ الْأَغْلَبِ لِأَنَّ الْمَرْءَ فِي صِغَرِ سِنِّهِ يَكُونُ صَافِيَ الذِّهْنِ وَأَمَامَهُ عُمْرٌ طَوِيلٌ وَقَلِيلُ مَشَاغِلَ قَلِيلُ مَشَاغِلَ قَدْ يَكُونُ أَكْبَرُ أَصْفَى الذِّهْنِ لَكِنَّهُ كَثِيرُ مَشَاغِلَ عِنْدَ دَوَامٍ وَعِنْدَ زَوْجَةٍ عِنْدَ أَبْنَاءٍ عِنْدَ وَظِيفَةٍ عِنْدَهُ وَعِنْدَهُ وَعِنْدَهُ أَمَّا الصَّغِيرُ فَإِنَّهُ دُونَ ذَلِكَ يَقُولُ السُّيُوطِيُّ فِي مُقَدَّمَةِ الْأَشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ لَمَّا نَاظَرَ بَعْضَهُمْ قَالَ وَلَيْسَ – يَقْصِدُ نَفْسَهُ – وَلَيْسَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ صَغِيرًا كَمَنْ طَلَبَهُ كَبِيرًا طَبْعًا لَيْسَ كُلِّيًّا فَإِنَّ ابْنَ حَزْمٍ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ وَأَبَا بَكْرٍ الْقَفَّالَ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ بَعْدَ أَرْبَعِينَ فَكَانَ تَلَامِذَتُهُ يُسَمَّونَ بِالْمَرَاوِزَةِ نِسْبَةً لَهُمْ أَعْنِي أَوْجَدَ طَرِيقَةٍ عِنْدَ فُقَهَاءِ الشَّافِعِيَّةِ مِنَ الطُّرُقِ الْكِبَارِ أَحَدُ الطَّرِيقَتَيْنِ خُرَاسَانِيُّونَ وَعِرَاقِيُّونَ وَخُرَاسَانِيُّونَ مِنْهُمُ الْمَرَاوِزَةُ فَيُسَمُّونَ لِأَبِي بَكْرٍ الْقَفَّالِ مَعَ أَنَّهُ مَا طَلَبَ الْعِلْمَ إِلَّا بَعْدَ أَرْبَعِينَ وَقَدْ كَانَ الْقَفَّالَ يَصْنَعُ الْأَقْفَالَ لِلنَّاسِ
Prev     Next