Cara Menyusun dan Merapatkan Shaf, Merapatkan Shaf Bukan Berarti Menyakiti Jamaah di Samping

Hadits yang dibicarakan kali ini adalah hadits mengenai cara menyusun dan merapatkan shaf. Namun, satu hal yang diingatkan oleh para ulama bahwa merapatkan shaf bukan berarti melekatkan hingga sangat sempit, lantas menyakiti jamaah di samping.   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #414 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #414 عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه، عَنْ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: «رُصُّوا صُفُوفَكُمْ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا، وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tertibkanlah shafmu, rapatkanlah jaraknya, dan luruskanlah dengan leher.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai. Hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 667; An-Nasai, 2:9; Ibnu Hibban, 5:539-540; sanad hadits ini sahih sesuai syarat Muslim sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi].   Faedah hadits Menertibkan shaf adalah dengan menyusun shaf dari awal lalu shaf berikutnya. Hal ini disunnahkan dengan lafaz hadits ini. Dada satu dan lainnya diharapkan lurus. Hendaklah shaf pertama diisi terlebih dahulu, kemudian mengisi shaf berikutnya. Hendaklah imam tidaklah memulai takbiratul ihram sampai shaf dalam keadaan lurus. Meluruskan shaf termasuk penyempurna shalat. Taswiyyah shufuf (meluruskan shaf) itu dengan melakukan tiga hal: (a) menyusun shaf dari awal lalu shaf berikutnya lagi, (b) shaf dibuat lurus dengan meluruskan leher, pundak, dan mata kaki, (c) antara shaf dibuat dekat, shaf dengan imam itu dekat, lalu shaf di belakangnya lagi dekat, jaraknya sekitar seseorang bisa sujud dengan mudah dan thumakninah. Melekatkan kaki dan kaki dalam shalat (artinya terlalu sempit dan sangat rapat) bisa mengganggu yang lain. Ini akan membuat seseorang semakin sibuk karena ketika berdiri dari sujud, ia kembali ingin mengisi celah shaf yang ada. Ini menambah kesibukan dengan melekatkan kembali kaki dengan jamaah di sampingnya. Sedangkan hadits Anas yang menyatakan bahwa ketika shalat mata kaki dan kaki satu dan lainnya itu lekat, juga hadits An-Nu’man yang menyatakan bahwa para sahabat ketika shalat, mereka melekatkan pundak, lutut, dan mata kaki satu dan lainnya, menurut Ibnu Hajar dalam Fath Al-Baari (2:211) yang dimaksud adalah hendaklah shaf itu benar-benar lurus dan tak ada celah terlalu jauh, lalu antar shaf depan dan belakang itu dekat. Karena kalau mau melekatkan lutut dan lutut itu suatu yang mustahil. Sama halnya melekatkan pundak dan mata kaki satu dan lainnya itu suatu yang memberatkan diri. Lihat bahasan Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:411.   Baca juga:  Hadits tentang Merapatkan Shaf Cara Merapatkan Shaf Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:408-411. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:37-38.       Diselesaikan pada hari Kamis sore, 4 Rabiul Akhir 1445 H, 19 Oktober 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah imam perempuan imam shalat imam wanita keutamaan shalat berjamaah shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid shalat berjamaah yang tidak sah

Cara Menyusun dan Merapatkan Shaf, Merapatkan Shaf Bukan Berarti Menyakiti Jamaah di Samping

Hadits yang dibicarakan kali ini adalah hadits mengenai cara menyusun dan merapatkan shaf. Namun, satu hal yang diingatkan oleh para ulama bahwa merapatkan shaf bukan berarti melekatkan hingga sangat sempit, lantas menyakiti jamaah di samping.   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #414 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #414 عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه، عَنْ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: «رُصُّوا صُفُوفَكُمْ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا، وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tertibkanlah shafmu, rapatkanlah jaraknya, dan luruskanlah dengan leher.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai. Hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 667; An-Nasai, 2:9; Ibnu Hibban, 5:539-540; sanad hadits ini sahih sesuai syarat Muslim sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi].   Faedah hadits Menertibkan shaf adalah dengan menyusun shaf dari awal lalu shaf berikutnya. Hal ini disunnahkan dengan lafaz hadits ini. Dada satu dan lainnya diharapkan lurus. Hendaklah shaf pertama diisi terlebih dahulu, kemudian mengisi shaf berikutnya. Hendaklah imam tidaklah memulai takbiratul ihram sampai shaf dalam keadaan lurus. Meluruskan shaf termasuk penyempurna shalat. Taswiyyah shufuf (meluruskan shaf) itu dengan melakukan tiga hal: (a) menyusun shaf dari awal lalu shaf berikutnya lagi, (b) shaf dibuat lurus dengan meluruskan leher, pundak, dan mata kaki, (c) antara shaf dibuat dekat, shaf dengan imam itu dekat, lalu shaf di belakangnya lagi dekat, jaraknya sekitar seseorang bisa sujud dengan mudah dan thumakninah. Melekatkan kaki dan kaki dalam shalat (artinya terlalu sempit dan sangat rapat) bisa mengganggu yang lain. Ini akan membuat seseorang semakin sibuk karena ketika berdiri dari sujud, ia kembali ingin mengisi celah shaf yang ada. Ini menambah kesibukan dengan melekatkan kembali kaki dengan jamaah di sampingnya. Sedangkan hadits Anas yang menyatakan bahwa ketika shalat mata kaki dan kaki satu dan lainnya itu lekat, juga hadits An-Nu’man yang menyatakan bahwa para sahabat ketika shalat, mereka melekatkan pundak, lutut, dan mata kaki satu dan lainnya, menurut Ibnu Hajar dalam Fath Al-Baari (2:211) yang dimaksud adalah hendaklah shaf itu benar-benar lurus dan tak ada celah terlalu jauh, lalu antar shaf depan dan belakang itu dekat. Karena kalau mau melekatkan lutut dan lutut itu suatu yang mustahil. Sama halnya melekatkan pundak dan mata kaki satu dan lainnya itu suatu yang memberatkan diri. Lihat bahasan Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:411.   Baca juga:  Hadits tentang Merapatkan Shaf Cara Merapatkan Shaf Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:408-411. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:37-38.       Diselesaikan pada hari Kamis sore, 4 Rabiul Akhir 1445 H, 19 Oktober 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah imam perempuan imam shalat imam wanita keutamaan shalat berjamaah shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid shalat berjamaah yang tidak sah
Hadits yang dibicarakan kali ini adalah hadits mengenai cara menyusun dan merapatkan shaf. Namun, satu hal yang diingatkan oleh para ulama bahwa merapatkan shaf bukan berarti melekatkan hingga sangat sempit, lantas menyakiti jamaah di samping.   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #414 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #414 عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه، عَنْ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: «رُصُّوا صُفُوفَكُمْ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا، وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tertibkanlah shafmu, rapatkanlah jaraknya, dan luruskanlah dengan leher.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai. Hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 667; An-Nasai, 2:9; Ibnu Hibban, 5:539-540; sanad hadits ini sahih sesuai syarat Muslim sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi].   Faedah hadits Menertibkan shaf adalah dengan menyusun shaf dari awal lalu shaf berikutnya. Hal ini disunnahkan dengan lafaz hadits ini. Dada satu dan lainnya diharapkan lurus. Hendaklah shaf pertama diisi terlebih dahulu, kemudian mengisi shaf berikutnya. Hendaklah imam tidaklah memulai takbiratul ihram sampai shaf dalam keadaan lurus. Meluruskan shaf termasuk penyempurna shalat. Taswiyyah shufuf (meluruskan shaf) itu dengan melakukan tiga hal: (a) menyusun shaf dari awal lalu shaf berikutnya lagi, (b) shaf dibuat lurus dengan meluruskan leher, pundak, dan mata kaki, (c) antara shaf dibuat dekat, shaf dengan imam itu dekat, lalu shaf di belakangnya lagi dekat, jaraknya sekitar seseorang bisa sujud dengan mudah dan thumakninah. Melekatkan kaki dan kaki dalam shalat (artinya terlalu sempit dan sangat rapat) bisa mengganggu yang lain. Ini akan membuat seseorang semakin sibuk karena ketika berdiri dari sujud, ia kembali ingin mengisi celah shaf yang ada. Ini menambah kesibukan dengan melekatkan kembali kaki dengan jamaah di sampingnya. Sedangkan hadits Anas yang menyatakan bahwa ketika shalat mata kaki dan kaki satu dan lainnya itu lekat, juga hadits An-Nu’man yang menyatakan bahwa para sahabat ketika shalat, mereka melekatkan pundak, lutut, dan mata kaki satu dan lainnya, menurut Ibnu Hajar dalam Fath Al-Baari (2:211) yang dimaksud adalah hendaklah shaf itu benar-benar lurus dan tak ada celah terlalu jauh, lalu antar shaf depan dan belakang itu dekat. Karena kalau mau melekatkan lutut dan lutut itu suatu yang mustahil. Sama halnya melekatkan pundak dan mata kaki satu dan lainnya itu suatu yang memberatkan diri. Lihat bahasan Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:411.   Baca juga:  Hadits tentang Merapatkan Shaf Cara Merapatkan Shaf Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:408-411. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:37-38.       Diselesaikan pada hari Kamis sore, 4 Rabiul Akhir 1445 H, 19 Oktober 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah imam perempuan imam shalat imam wanita keutamaan shalat berjamaah shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid shalat berjamaah yang tidak sah


Hadits yang dibicarakan kali ini adalah hadits mengenai cara menyusun dan merapatkan shaf. Namun, satu hal yang diingatkan oleh para ulama bahwa merapatkan shaf bukan berarti melekatkan hingga sangat sempit, lantas menyakiti jamaah di samping.   Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Hadits #414 3.1. Faedah hadits 3.2. Referensi: Hadits #414 عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه، عَنْ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: «رُصُّوا صُفُوفَكُمْ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا، وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tertibkanlah shafmu, rapatkanlah jaraknya, dan luruskanlah dengan leher.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai. Hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 667; An-Nasai, 2:9; Ibnu Hibban, 5:539-540; sanad hadits ini sahih sesuai syarat Muslim sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi].   Faedah hadits Menertibkan shaf adalah dengan menyusun shaf dari awal lalu shaf berikutnya. Hal ini disunnahkan dengan lafaz hadits ini. Dada satu dan lainnya diharapkan lurus. Hendaklah shaf pertama diisi terlebih dahulu, kemudian mengisi shaf berikutnya. Hendaklah imam tidaklah memulai takbiratul ihram sampai shaf dalam keadaan lurus. Meluruskan shaf termasuk penyempurna shalat. Taswiyyah shufuf (meluruskan shaf) itu dengan melakukan tiga hal: (a) menyusun shaf dari awal lalu shaf berikutnya lagi, (b) shaf dibuat lurus dengan meluruskan leher, pundak, dan mata kaki, (c) antara shaf dibuat dekat, shaf dengan imam itu dekat, lalu shaf di belakangnya lagi dekat, jaraknya sekitar seseorang bisa sujud dengan mudah dan thumakninah. Melekatkan kaki dan kaki dalam shalat (artinya terlalu sempit dan sangat rapat) bisa mengganggu yang lain. Ini akan membuat seseorang semakin sibuk karena ketika berdiri dari sujud, ia kembali ingin mengisi celah shaf yang ada. Ini menambah kesibukan dengan melekatkan kembali kaki dengan jamaah di sampingnya. Sedangkan hadits Anas yang menyatakan bahwa ketika shalat mata kaki dan kaki satu dan lainnya itu lekat, juga hadits An-Nu’man yang menyatakan bahwa para sahabat ketika shalat, mereka melekatkan pundak, lutut, dan mata kaki satu dan lainnya, menurut Ibnu Hajar dalam Fath Al-Baari (2:211) yang dimaksud adalah hendaklah shaf itu benar-benar lurus dan tak ada celah terlalu jauh, lalu antar shaf depan dan belakang itu dekat. Karena kalau mau melekatkan lutut dan lutut itu suatu yang mustahil. Sama halnya melekatkan pundak dan mata kaki satu dan lainnya itu suatu yang memberatkan diri. Lihat bahasan Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 3:411.   Baca juga:  Hadits tentang Merapatkan Shaf Cara Merapatkan Shaf Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:408-411. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:37-38.       Diselesaikan pada hari Kamis sore, 4 Rabiul Akhir 1445 H, 19 Oktober 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam cara merapatkan shaf hukum shalat berjamaah imam perempuan imam shalat imam wanita keutamaan shalat berjamaah shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid shalat berjamaah yang tidak sah

Apakah Talak Harus Diajukan ke Pengadilan Agama?

Pertanyaan: Suami saya pernah mengucapkan kata cerai kepada saja. Namun ketika saya tanyakan kembali apakah ia benar-benar berniat mencerai saja atau tidak, ia mengatakan, “Andaikan saya benar-benar menceraikan kamu, tentu sudah saya urus ke pengadilan agama”. Apakah benar bahwa ucapan cerai dari suami itu baru jatuh ketika diurus ke pengadilan agama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Talak atau cerai itu jatuh sekedar dengan ucapan talak dari lisan suami, tanpa diajukan ke pengadilan agama. Bahkan jika suami mengucapkan kata “cerai” atau “talak” atau semisalnya dengan lugas dan tegas, maka jatuh cerai walaupun hanya bergurau. Ini adalah kesepakatan ulama seluruh madzhab. Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ثَلاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وهَزلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكاح، والطَّلاقُ، والرَّجعةُ “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan rujuk’” (Diriwayatkan oleh Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no.2194). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: صريحُ الطَّلاقِ لا يحتاجُ إلى نيَّةٍ، بل يقَعُ مِن غيرِ قَصدٍ، ولا خِلافَ في ذلك “Talak dengan ucapan yang lugas tidak diharuskan meniatkan ucapannya untuk talak. Bahkan talak itu jatuh dengan sekedar ucapan tanpa niat talak. Tidak ada khilaf ulama dalam masalah ini” (Al-Mughni, 7/397). Al-Aini rahimahullah mengatakan: ولا يَفتَقِرُ إلى النيَّةِ؛ لأنَّه صريحٌ فيه؛ لغَلَبةِ الاستعمالِ» ش: أي: على الطَّلاقِ … وهذا بإجماعِ الفُقَهاءِ “Talak tidak butuh kepada niat pengucapnya, karena lafadznya sudah tegas dan sudah sering digunakan oleh orang-orang untuk menjatuhkan talak. Dan ini adalah ijma ulama” (An-Nihayah, 5/306). Ar Ramli mengatakan: ولو خاطَبَها بطلاقٍ»… «هازِلًا أو لاعبًا» بأنْ قَصَد اللَّفظَ دون المعنى: وقَعَ ظاهِرًا وباطِنًا؛ للإجماعِ “[Jika talak telah diucapkan maka talak jatuh walaupun dengan niat bercanda] Karena ia bersengaja untuk mengucapkan lafadznya walaupun tidak bersengaja meniatkan maknanya. Maka talak jatuh secara lahir dan batin. Berdasarkan ijma ulama” (An-Nihayah, 6/443). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan, “Cerai itu jatuh ketika suami mengucapkan kata yang bermakna cerai, baik berupa kata yang sharih (lugas) yang tidak dipahami makna lain selain cerai. Seperti lafadz “talak” atau yang semakna dengannya” (Minhajus Salikin wa Taudhihul Fiqhi fid Din, hal 210). Fatwa dari Dairatul Ifta’ Yordania mengatakan: وأما إجراءات المحكمة فلا اعتبار لها في وقت وقوع الطلاق من ناحية شرعية، وإنما هي لتثبيت الأمور وتنظيمها؛ لحفظ الحقوق، وفق القوانين والأنظمة التي يفرضها ولي الأمر “Adapun pengurusan talak ke pengadilan, ini tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam jatuh-tidaknya talak dari sisi syar’i. Namun sekedar untuk pencatatan dan administrasi. Agar terjaga hak-hak suami dan istri. Pencatatan ini sesuai dengan undang-undang yang diberlakukan oleh pemerintah” (Fatwa Dairatul Ifta’ Yordania no.2820). Maka jika benar bahwa suami Anda pernah mengucapkan kata cerai dengan lugas, talak satu sudah jatuh. Walaupun belum diajukan ke pengadilan agama. Anda memiliki kewajiban memenuhi masa iddah dengan menetap di rumah suami selama tiga kali haid. Dimulai dari hari ketika ucapan cerai diucapkan. Allah ta’ala berfirman: وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 228). Sebaiknya perceraian tersebut dilaporkan ke pengadilan agama atau KUA agar tercatat dengan baik. Dan selama talak itu masih talak satu atau talak dua, maka masih bisa rujuk kembali. Allah ta’ala berfirman: الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Go Food Haram, Masuk Agama Islam, Solat Duduk, Tentang Qada Dan Qadar, Fakta Tuyul, Merayu Wanita Bersuami Visited 142 times, 1 visit(s) today Post Views: 470 QRIS donasi Yufid

Apakah Talak Harus Diajukan ke Pengadilan Agama?

Pertanyaan: Suami saya pernah mengucapkan kata cerai kepada saja. Namun ketika saya tanyakan kembali apakah ia benar-benar berniat mencerai saja atau tidak, ia mengatakan, “Andaikan saya benar-benar menceraikan kamu, tentu sudah saya urus ke pengadilan agama”. Apakah benar bahwa ucapan cerai dari suami itu baru jatuh ketika diurus ke pengadilan agama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Talak atau cerai itu jatuh sekedar dengan ucapan talak dari lisan suami, tanpa diajukan ke pengadilan agama. Bahkan jika suami mengucapkan kata “cerai” atau “talak” atau semisalnya dengan lugas dan tegas, maka jatuh cerai walaupun hanya bergurau. Ini adalah kesepakatan ulama seluruh madzhab. Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ثَلاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وهَزلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكاح، والطَّلاقُ، والرَّجعةُ “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan rujuk’” (Diriwayatkan oleh Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no.2194). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: صريحُ الطَّلاقِ لا يحتاجُ إلى نيَّةٍ، بل يقَعُ مِن غيرِ قَصدٍ، ولا خِلافَ في ذلك “Talak dengan ucapan yang lugas tidak diharuskan meniatkan ucapannya untuk talak. Bahkan talak itu jatuh dengan sekedar ucapan tanpa niat talak. Tidak ada khilaf ulama dalam masalah ini” (Al-Mughni, 7/397). Al-Aini rahimahullah mengatakan: ولا يَفتَقِرُ إلى النيَّةِ؛ لأنَّه صريحٌ فيه؛ لغَلَبةِ الاستعمالِ» ش: أي: على الطَّلاقِ … وهذا بإجماعِ الفُقَهاءِ “Talak tidak butuh kepada niat pengucapnya, karena lafadznya sudah tegas dan sudah sering digunakan oleh orang-orang untuk menjatuhkan talak. Dan ini adalah ijma ulama” (An-Nihayah, 5/306). Ar Ramli mengatakan: ولو خاطَبَها بطلاقٍ»… «هازِلًا أو لاعبًا» بأنْ قَصَد اللَّفظَ دون المعنى: وقَعَ ظاهِرًا وباطِنًا؛ للإجماعِ “[Jika talak telah diucapkan maka talak jatuh walaupun dengan niat bercanda] Karena ia bersengaja untuk mengucapkan lafadznya walaupun tidak bersengaja meniatkan maknanya. Maka talak jatuh secara lahir dan batin. Berdasarkan ijma ulama” (An-Nihayah, 6/443). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan, “Cerai itu jatuh ketika suami mengucapkan kata yang bermakna cerai, baik berupa kata yang sharih (lugas) yang tidak dipahami makna lain selain cerai. Seperti lafadz “talak” atau yang semakna dengannya” (Minhajus Salikin wa Taudhihul Fiqhi fid Din, hal 210). Fatwa dari Dairatul Ifta’ Yordania mengatakan: وأما إجراءات المحكمة فلا اعتبار لها في وقت وقوع الطلاق من ناحية شرعية، وإنما هي لتثبيت الأمور وتنظيمها؛ لحفظ الحقوق، وفق القوانين والأنظمة التي يفرضها ولي الأمر “Adapun pengurusan talak ke pengadilan, ini tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam jatuh-tidaknya talak dari sisi syar’i. Namun sekedar untuk pencatatan dan administrasi. Agar terjaga hak-hak suami dan istri. Pencatatan ini sesuai dengan undang-undang yang diberlakukan oleh pemerintah” (Fatwa Dairatul Ifta’ Yordania no.2820). Maka jika benar bahwa suami Anda pernah mengucapkan kata cerai dengan lugas, talak satu sudah jatuh. Walaupun belum diajukan ke pengadilan agama. Anda memiliki kewajiban memenuhi masa iddah dengan menetap di rumah suami selama tiga kali haid. Dimulai dari hari ketika ucapan cerai diucapkan. Allah ta’ala berfirman: وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 228). Sebaiknya perceraian tersebut dilaporkan ke pengadilan agama atau KUA agar tercatat dengan baik. Dan selama talak itu masih talak satu atau talak dua, maka masih bisa rujuk kembali. Allah ta’ala berfirman: الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Go Food Haram, Masuk Agama Islam, Solat Duduk, Tentang Qada Dan Qadar, Fakta Tuyul, Merayu Wanita Bersuami Visited 142 times, 1 visit(s) today Post Views: 470 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Suami saya pernah mengucapkan kata cerai kepada saja. Namun ketika saya tanyakan kembali apakah ia benar-benar berniat mencerai saja atau tidak, ia mengatakan, “Andaikan saya benar-benar menceraikan kamu, tentu sudah saya urus ke pengadilan agama”. Apakah benar bahwa ucapan cerai dari suami itu baru jatuh ketika diurus ke pengadilan agama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Talak atau cerai itu jatuh sekedar dengan ucapan talak dari lisan suami, tanpa diajukan ke pengadilan agama. Bahkan jika suami mengucapkan kata “cerai” atau “talak” atau semisalnya dengan lugas dan tegas, maka jatuh cerai walaupun hanya bergurau. Ini adalah kesepakatan ulama seluruh madzhab. Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ثَلاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وهَزلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكاح، والطَّلاقُ، والرَّجعةُ “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan rujuk’” (Diriwayatkan oleh Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no.2194). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: صريحُ الطَّلاقِ لا يحتاجُ إلى نيَّةٍ، بل يقَعُ مِن غيرِ قَصدٍ، ولا خِلافَ في ذلك “Talak dengan ucapan yang lugas tidak diharuskan meniatkan ucapannya untuk talak. Bahkan talak itu jatuh dengan sekedar ucapan tanpa niat talak. Tidak ada khilaf ulama dalam masalah ini” (Al-Mughni, 7/397). Al-Aini rahimahullah mengatakan: ولا يَفتَقِرُ إلى النيَّةِ؛ لأنَّه صريحٌ فيه؛ لغَلَبةِ الاستعمالِ» ش: أي: على الطَّلاقِ … وهذا بإجماعِ الفُقَهاءِ “Talak tidak butuh kepada niat pengucapnya, karena lafadznya sudah tegas dan sudah sering digunakan oleh orang-orang untuk menjatuhkan talak. Dan ini adalah ijma ulama” (An-Nihayah, 5/306). Ar Ramli mengatakan: ولو خاطَبَها بطلاقٍ»… «هازِلًا أو لاعبًا» بأنْ قَصَد اللَّفظَ دون المعنى: وقَعَ ظاهِرًا وباطِنًا؛ للإجماعِ “[Jika talak telah diucapkan maka talak jatuh walaupun dengan niat bercanda] Karena ia bersengaja untuk mengucapkan lafadznya walaupun tidak bersengaja meniatkan maknanya. Maka talak jatuh secara lahir dan batin. Berdasarkan ijma ulama” (An-Nihayah, 6/443). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan, “Cerai itu jatuh ketika suami mengucapkan kata yang bermakna cerai, baik berupa kata yang sharih (lugas) yang tidak dipahami makna lain selain cerai. Seperti lafadz “talak” atau yang semakna dengannya” (Minhajus Salikin wa Taudhihul Fiqhi fid Din, hal 210). Fatwa dari Dairatul Ifta’ Yordania mengatakan: وأما إجراءات المحكمة فلا اعتبار لها في وقت وقوع الطلاق من ناحية شرعية، وإنما هي لتثبيت الأمور وتنظيمها؛ لحفظ الحقوق، وفق القوانين والأنظمة التي يفرضها ولي الأمر “Adapun pengurusan talak ke pengadilan, ini tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam jatuh-tidaknya talak dari sisi syar’i. Namun sekedar untuk pencatatan dan administrasi. Agar terjaga hak-hak suami dan istri. Pencatatan ini sesuai dengan undang-undang yang diberlakukan oleh pemerintah” (Fatwa Dairatul Ifta’ Yordania no.2820). Maka jika benar bahwa suami Anda pernah mengucapkan kata cerai dengan lugas, talak satu sudah jatuh. Walaupun belum diajukan ke pengadilan agama. Anda memiliki kewajiban memenuhi masa iddah dengan menetap di rumah suami selama tiga kali haid. Dimulai dari hari ketika ucapan cerai diucapkan. Allah ta’ala berfirman: وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 228). Sebaiknya perceraian tersebut dilaporkan ke pengadilan agama atau KUA agar tercatat dengan baik. Dan selama talak itu masih talak satu atau talak dua, maka masih bisa rujuk kembali. Allah ta’ala berfirman: الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Go Food Haram, Masuk Agama Islam, Solat Duduk, Tentang Qada Dan Qadar, Fakta Tuyul, Merayu Wanita Bersuami Visited 142 times, 1 visit(s) today Post Views: 470 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Suami saya pernah mengucapkan kata cerai kepada saja. Namun ketika saya tanyakan kembali apakah ia benar-benar berniat mencerai saja atau tidak, ia mengatakan, “Andaikan saya benar-benar menceraikan kamu, tentu sudah saya urus ke pengadilan agama”. Apakah benar bahwa ucapan cerai dari suami itu baru jatuh ketika diurus ke pengadilan agama? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Talak atau cerai itu jatuh sekedar dengan ucapan talak dari lisan suami, tanpa diajukan ke pengadilan agama. Bahkan jika suami mengucapkan kata “cerai” atau “talak” atau semisalnya dengan lugas dan tegas, maka jatuh cerai walaupun hanya bergurau. Ini adalah kesepakatan ulama seluruh madzhab. Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ثَلاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وهَزلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكاح، والطَّلاقُ، والرَّجعةُ “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan rujuk’” (Diriwayatkan oleh Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no.2194). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: صريحُ الطَّلاقِ لا يحتاجُ إلى نيَّةٍ، بل يقَعُ مِن غيرِ قَصدٍ، ولا خِلافَ في ذلك “Talak dengan ucapan yang lugas tidak diharuskan meniatkan ucapannya untuk talak. Bahkan talak itu jatuh dengan sekedar ucapan tanpa niat talak. Tidak ada khilaf ulama dalam masalah ini” (Al-Mughni, 7/397). Al-Aini rahimahullah mengatakan: ولا يَفتَقِرُ إلى النيَّةِ؛ لأنَّه صريحٌ فيه؛ لغَلَبةِ الاستعمالِ» ش: أي: على الطَّلاقِ … وهذا بإجماعِ الفُقَهاءِ “Talak tidak butuh kepada niat pengucapnya, karena lafadznya sudah tegas dan sudah sering digunakan oleh orang-orang untuk menjatuhkan talak. Dan ini adalah ijma ulama” (An-Nihayah, 5/306). Ar Ramli mengatakan: ولو خاطَبَها بطلاقٍ»… «هازِلًا أو لاعبًا» بأنْ قَصَد اللَّفظَ دون المعنى: وقَعَ ظاهِرًا وباطِنًا؛ للإجماعِ “[Jika talak telah diucapkan maka talak jatuh walaupun dengan niat bercanda] Karena ia bersengaja untuk mengucapkan lafadznya walaupun tidak bersengaja meniatkan maknanya. Maka talak jatuh secara lahir dan batin. Berdasarkan ijma ulama” (An-Nihayah, 6/443). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan, “Cerai itu jatuh ketika suami mengucapkan kata yang bermakna cerai, baik berupa kata yang sharih (lugas) yang tidak dipahami makna lain selain cerai. Seperti lafadz “talak” atau yang semakna dengannya” (Minhajus Salikin wa Taudhihul Fiqhi fid Din, hal 210). Fatwa dari Dairatul Ifta’ Yordania mengatakan: وأما إجراءات المحكمة فلا اعتبار لها في وقت وقوع الطلاق من ناحية شرعية، وإنما هي لتثبيت الأمور وتنظيمها؛ لحفظ الحقوق، وفق القوانين والأنظمة التي يفرضها ولي الأمر “Adapun pengurusan talak ke pengadilan, ini tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam jatuh-tidaknya talak dari sisi syar’i. Namun sekedar untuk pencatatan dan administrasi. Agar terjaga hak-hak suami dan istri. Pencatatan ini sesuai dengan undang-undang yang diberlakukan oleh pemerintah” (Fatwa Dairatul Ifta’ Yordania no.2820). Maka jika benar bahwa suami Anda pernah mengucapkan kata cerai dengan lugas, talak satu sudah jatuh. Walaupun belum diajukan ke pengadilan agama. Anda memiliki kewajiban memenuhi masa iddah dengan menetap di rumah suami selama tiga kali haid. Dimulai dari hari ketika ucapan cerai diucapkan. Allah ta’ala berfirman: وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 228). Sebaiknya perceraian tersebut dilaporkan ke pengadilan agama atau KUA agar tercatat dengan baik. Dan selama talak itu masih talak satu atau talak dua, maka masih bisa rujuk kembali. Allah ta’ala berfirman: الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ “Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Go Food Haram, Masuk Agama Islam, Solat Duduk, Tentang Qada Dan Qadar, Fakta Tuyul, Merayu Wanita Bersuami Visited 142 times, 1 visit(s) today Post Views: 470 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fenomena Kekerasan di Sekolah

Daftar Isi Toggle Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang dari menyakiti dan mencela sesama (verbal and physical bullying)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari menjatuhkan kehormatan (social bullying)Sikap kita sebagai orang tuaTanamkan tentang empati dan penghormatanTanamkan keberanian Bullying (perundungan) menjadi sorot perhatian banyak masyarakat beberapa pekan terakhir. Pasalnya, beberapa peristiwa yang terjadi membuat kita bergeleng-geleng kepala karena heran dan geram. Bagaimana mungkin seorang anak sekolah dasar tega menusuk temannya dengan tusuk sate? Bagaimana mungkin seorang anak sekolah menengah pertama tega menyiksa temannya karena alasan sepele? Ditambah berita tentang seorang anak terjun dari lantai atas sekolah karena cekcok dengan temannya. Dan semua itu terjadi di lembaga-lembaga pendidikan. Sebenarnya, apa atau siapa yang salah? Sebelum lebih jauh menyalahkan banyak pihak, mari kita simak bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama menyatakan tentang kondisi zaman secara umum dalam sabdanya, لا يأتي عليكم عامٌ ولا يومٌ إلَّا والذي بعده شرٌّ منْهُ ، حتى تَلْقَوْا ربَّكم “Tidaklah datang suatu masa di antara kalian yang kondisi masa tersebut lebih buruk dari sebelumnya. Sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” (Shahih Al-Jami’, no. 7576) Tentu saja ini tidak berlaku secara mutlak. Hanya saja, memang kenyataannya dari masa ke masa berita-berita keburukan seolah menjadi hal yang biasa kita dengar, bahkan dilakukan oleh sekelompok orang yang sebelumnya kita tidak terbiasa mendengar kejahatan bisa berasal dari tangan mereka. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjelaskan, وهذا هو الواقع، فكلما تقدم الزمان، وتأخر عهد النبوة؛ قل العلم، وكثر الجهل، كما هو الحال اليوم في القرن الخامس عشر، والرابع عشر الماضي، فإن العلم قد قل كثيرًا، والجهل قد انتشر في غالب البلدان، فقل أن تجد بلدًا فيها العلماء الذين يكفون لحاجة البلاد، ويشار إليهم بالعلم، والفضل، والاستقامة، فالمصيبة عظيمة.  “Inilah yang terjadi. Semakin ke sini dan semakin jauh dengan masa kenabian, maka ilmu semakin sedikit dan merebaklah kebodohan. Sebagaimana terjadi di abad 14 dan 15 Hijriah yang menunjukkan betapa ahli ilmu semakin sedikit dan kebodohan kian menyebar di seantero negeri. Jarang sekali kau temui negeri yang ulama di dalamnya mencukupi kebutuhan negeri tersebut, yang menjadi rujukan ilmu, keutamaan, dan keteguhan. Sungguh musibah ini begitu berat.” (binbaz.org) Namun, akankah kita diam saja dengan peristiwa ini? Tentu saja tidak. Bagaimana pun, agama Islam tidak pernah membenarkan perilaku bullying sama sekali. Baik verbal, fisik, sosial, dan emosional. Sebagaimana dalam beberapa dalil berikut ini. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang dari menyakiti dan mencela sesama (verbal and physical bullying) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama secara tegas melarang seorang muslim mencela. Sebagaimana dalam sabda beliau, سِبابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وقِتالُهُ كُفْرٌ “Mencela sesama muslim adalah bentuk kefasikan dan memeranginya adalah bentuk kekufuran.” (HR. Bukhari no. 6044) Setiap pembicaraan yang mengarah kepada terjatuhnya kehormatan seorang muslim tanpa haknya atau perbuatan yang menjadikan seorang muslim tersakiti, maka keduanya merupakan bentuk keharaman yang secara tegas dilarang di dalam Islam. Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah ditertawakan karena betisnya yang kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pun menghardik orang-orang yang tertawa sembari mengatakan, والَّذي نَفْسي بيَدِه لَهُما أثقَلُ في المِيزانِ مِن أُحدٍ “Demi Allah, jika kedua kakinya diletakkan di timbangan hari kiamat, niscaya lebih berat dari gunung Uhud.” (HR. Al-Hakim no. 5479) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari menjatuhkan kehormatan (social bullying) Dalam beberapa hadis, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari melakukan perbuatan yang berpotensi menjatuhkan kehormatan seorang muslim. Seperti teguran beliau dari perbuatan ghibah, إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ “Jika memang benar apa yang kalian katakan tentangnya, maka hal tersebut adalah ghibah. Dan jika tidak benar, maka kalian telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim no. 2589) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga melarang keras umatnya dari gemar membuat desas-desus atau namimah. Sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallama, لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ “Para pengadu domba tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim no. 105) Baca juga: Larangan Mengolok-olok Fisik Orang Lain (Body Shaming) Sikap kita sebagai orang tua Lantas, bagaimana sikap kita sebagai orang tua agar anak kita terhindar dari kejahatan bullying atau bahkan agar anak kita tidak terjatuh ke dalam perilaku yang buruk ini? Ada beberapa nilai yang orang tua harus tanamkan kepada buah hati mereka sejak dini. Tanamkan tentang empati dan penghormatan Kepekaan seseorang untuk memahami sekitarnya dan menyikapinya dengan penuh penghormatan adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, مَن لم يَرحَمِ الناسَ لا يَرْحَمْهُ اللهُ “Siapa saja yang tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya pula.” (HR. At-Tirmidzi no. 1922) Begitu pun dalam sabda yang lainnya, ليسَ منَّا من لم يرحَم صغيرَنا ويعرِفْ شرَفَ كبيرِنا “Orang-orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau menghormati yang lebih tua bukanlah termasuk golongan kami.” (Shahih At-Tirmidzi, no. 1920) Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan seseorang untuk ngelamak (tidak sopan) kepada siapapun. Baik kepada yang lebih muda ataupun yang lebih tua. Dan yang terpenting untuk mengajarkan aspek empati ini adalah dengan teladan kedua orang tuanya. Seorang anak akan meniru bagaimana kedua orang tuanya memperlakukan orang-orang terdekatnya. Bagaimana ayahnya bersikap terhadap ibunya, bagaimana ibunya ketika berbincang dengan ayahnya, dan sebagainya. Tanamkan keberanian Perlu juga mengajarkan kepada anak-anak kita agar mereka menjadi anak yang berani. Tidak harus dengan melawan bullying yang mereka terima (semoga Allah hindarkan buah hati kita dari segala macam keburukan), namun paling tidak berani mengadukan kepada orang tuanya atau orang-orang yang memiliki hak untuk menyelesaikan masalah adalah sebuah keberanian yang patut untuk terus dipupuk. Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, “Kebanyakan manusia mengidentikkan keberanian dengan kekuatan. Padahal, keduanya jelas berbeda. Berani adalah ketegaran hati dalam menghadapi sesuatu meskipun tidak punya kekuatan untuk membalas.” وَكَانَ الصّديق رَضِي الله عَنهُ أَشْجَع الْأمة بعد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، وَكَانَ عمر وَغَيره أقوى مِنْهُ، وَلَكِن برز على الصَّحَابَة كلهم بثبات قلبه فِي كل موطن من المواطن الَّتِي تزلزل الْجبَال، وَهُوَ فِي ذَلِك ثَابت الْقلب، رابط الجأش، يلوذ بِهِ شجعان الصَّحَابَة وأبطالهم، فيُثَبِّتهم ويشجعهم  “Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling berani setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama, sementara Umar radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya lebih kuat dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, para sahabat bersaksi bahwa keteguhan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dalam setiap kondisi yang bahkan gunung saja runtuh dengannya sementara beliau tetap tidak bergeming, yang membakar keberanian sahabat lainnya.” (Al-Furusiyah, hal. 500) Maka, didiklah anak kita menjadi anak-anak yang berani. Bukan berani yang sembarangan, melainkan berani menyuarakan kebaikan dan melawan keburukan. Ajarkan mereka tidak takut menghadapi berbagai macam situasi termasuk bullying. Semoga Allah jaga anak-anak kita dari perilaku yang merusak ini. Baca juga: Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag Artikel: Muslim.or.id Tags: bullyingkekerasan di sekolah

Fenomena Kekerasan di Sekolah

Daftar Isi Toggle Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang dari menyakiti dan mencela sesama (verbal and physical bullying)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari menjatuhkan kehormatan (social bullying)Sikap kita sebagai orang tuaTanamkan tentang empati dan penghormatanTanamkan keberanian Bullying (perundungan) menjadi sorot perhatian banyak masyarakat beberapa pekan terakhir. Pasalnya, beberapa peristiwa yang terjadi membuat kita bergeleng-geleng kepala karena heran dan geram. Bagaimana mungkin seorang anak sekolah dasar tega menusuk temannya dengan tusuk sate? Bagaimana mungkin seorang anak sekolah menengah pertama tega menyiksa temannya karena alasan sepele? Ditambah berita tentang seorang anak terjun dari lantai atas sekolah karena cekcok dengan temannya. Dan semua itu terjadi di lembaga-lembaga pendidikan. Sebenarnya, apa atau siapa yang salah? Sebelum lebih jauh menyalahkan banyak pihak, mari kita simak bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama menyatakan tentang kondisi zaman secara umum dalam sabdanya, لا يأتي عليكم عامٌ ولا يومٌ إلَّا والذي بعده شرٌّ منْهُ ، حتى تَلْقَوْا ربَّكم “Tidaklah datang suatu masa di antara kalian yang kondisi masa tersebut lebih buruk dari sebelumnya. Sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” (Shahih Al-Jami’, no. 7576) Tentu saja ini tidak berlaku secara mutlak. Hanya saja, memang kenyataannya dari masa ke masa berita-berita keburukan seolah menjadi hal yang biasa kita dengar, bahkan dilakukan oleh sekelompok orang yang sebelumnya kita tidak terbiasa mendengar kejahatan bisa berasal dari tangan mereka. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjelaskan, وهذا هو الواقع، فكلما تقدم الزمان، وتأخر عهد النبوة؛ قل العلم، وكثر الجهل، كما هو الحال اليوم في القرن الخامس عشر، والرابع عشر الماضي، فإن العلم قد قل كثيرًا، والجهل قد انتشر في غالب البلدان، فقل أن تجد بلدًا فيها العلماء الذين يكفون لحاجة البلاد، ويشار إليهم بالعلم، والفضل، والاستقامة، فالمصيبة عظيمة.  “Inilah yang terjadi. Semakin ke sini dan semakin jauh dengan masa kenabian, maka ilmu semakin sedikit dan merebaklah kebodohan. Sebagaimana terjadi di abad 14 dan 15 Hijriah yang menunjukkan betapa ahli ilmu semakin sedikit dan kebodohan kian menyebar di seantero negeri. Jarang sekali kau temui negeri yang ulama di dalamnya mencukupi kebutuhan negeri tersebut, yang menjadi rujukan ilmu, keutamaan, dan keteguhan. Sungguh musibah ini begitu berat.” (binbaz.org) Namun, akankah kita diam saja dengan peristiwa ini? Tentu saja tidak. Bagaimana pun, agama Islam tidak pernah membenarkan perilaku bullying sama sekali. Baik verbal, fisik, sosial, dan emosional. Sebagaimana dalam beberapa dalil berikut ini. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang dari menyakiti dan mencela sesama (verbal and physical bullying) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama secara tegas melarang seorang muslim mencela. Sebagaimana dalam sabda beliau, سِبابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وقِتالُهُ كُفْرٌ “Mencela sesama muslim adalah bentuk kefasikan dan memeranginya adalah bentuk kekufuran.” (HR. Bukhari no. 6044) Setiap pembicaraan yang mengarah kepada terjatuhnya kehormatan seorang muslim tanpa haknya atau perbuatan yang menjadikan seorang muslim tersakiti, maka keduanya merupakan bentuk keharaman yang secara tegas dilarang di dalam Islam. Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah ditertawakan karena betisnya yang kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pun menghardik orang-orang yang tertawa sembari mengatakan, والَّذي نَفْسي بيَدِه لَهُما أثقَلُ في المِيزانِ مِن أُحدٍ “Demi Allah, jika kedua kakinya diletakkan di timbangan hari kiamat, niscaya lebih berat dari gunung Uhud.” (HR. Al-Hakim no. 5479) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari menjatuhkan kehormatan (social bullying) Dalam beberapa hadis, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari melakukan perbuatan yang berpotensi menjatuhkan kehormatan seorang muslim. Seperti teguran beliau dari perbuatan ghibah, إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ “Jika memang benar apa yang kalian katakan tentangnya, maka hal tersebut adalah ghibah. Dan jika tidak benar, maka kalian telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim no. 2589) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga melarang keras umatnya dari gemar membuat desas-desus atau namimah. Sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallama, لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ “Para pengadu domba tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim no. 105) Baca juga: Larangan Mengolok-olok Fisik Orang Lain (Body Shaming) Sikap kita sebagai orang tua Lantas, bagaimana sikap kita sebagai orang tua agar anak kita terhindar dari kejahatan bullying atau bahkan agar anak kita tidak terjatuh ke dalam perilaku yang buruk ini? Ada beberapa nilai yang orang tua harus tanamkan kepada buah hati mereka sejak dini. Tanamkan tentang empati dan penghormatan Kepekaan seseorang untuk memahami sekitarnya dan menyikapinya dengan penuh penghormatan adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, مَن لم يَرحَمِ الناسَ لا يَرْحَمْهُ اللهُ “Siapa saja yang tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya pula.” (HR. At-Tirmidzi no. 1922) Begitu pun dalam sabda yang lainnya, ليسَ منَّا من لم يرحَم صغيرَنا ويعرِفْ شرَفَ كبيرِنا “Orang-orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau menghormati yang lebih tua bukanlah termasuk golongan kami.” (Shahih At-Tirmidzi, no. 1920) Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan seseorang untuk ngelamak (tidak sopan) kepada siapapun. Baik kepada yang lebih muda ataupun yang lebih tua. Dan yang terpenting untuk mengajarkan aspek empati ini adalah dengan teladan kedua orang tuanya. Seorang anak akan meniru bagaimana kedua orang tuanya memperlakukan orang-orang terdekatnya. Bagaimana ayahnya bersikap terhadap ibunya, bagaimana ibunya ketika berbincang dengan ayahnya, dan sebagainya. Tanamkan keberanian Perlu juga mengajarkan kepada anak-anak kita agar mereka menjadi anak yang berani. Tidak harus dengan melawan bullying yang mereka terima (semoga Allah hindarkan buah hati kita dari segala macam keburukan), namun paling tidak berani mengadukan kepada orang tuanya atau orang-orang yang memiliki hak untuk menyelesaikan masalah adalah sebuah keberanian yang patut untuk terus dipupuk. Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, “Kebanyakan manusia mengidentikkan keberanian dengan kekuatan. Padahal, keduanya jelas berbeda. Berani adalah ketegaran hati dalam menghadapi sesuatu meskipun tidak punya kekuatan untuk membalas.” وَكَانَ الصّديق رَضِي الله عَنهُ أَشْجَع الْأمة بعد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، وَكَانَ عمر وَغَيره أقوى مِنْهُ، وَلَكِن برز على الصَّحَابَة كلهم بثبات قلبه فِي كل موطن من المواطن الَّتِي تزلزل الْجبَال، وَهُوَ فِي ذَلِك ثَابت الْقلب، رابط الجأش، يلوذ بِهِ شجعان الصَّحَابَة وأبطالهم، فيُثَبِّتهم ويشجعهم  “Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling berani setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama, sementara Umar radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya lebih kuat dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, para sahabat bersaksi bahwa keteguhan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dalam setiap kondisi yang bahkan gunung saja runtuh dengannya sementara beliau tetap tidak bergeming, yang membakar keberanian sahabat lainnya.” (Al-Furusiyah, hal. 500) Maka, didiklah anak kita menjadi anak-anak yang berani. Bukan berani yang sembarangan, melainkan berani menyuarakan kebaikan dan melawan keburukan. Ajarkan mereka tidak takut menghadapi berbagai macam situasi termasuk bullying. Semoga Allah jaga anak-anak kita dari perilaku yang merusak ini. Baca juga: Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag Artikel: Muslim.or.id Tags: bullyingkekerasan di sekolah
Daftar Isi Toggle Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang dari menyakiti dan mencela sesama (verbal and physical bullying)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari menjatuhkan kehormatan (social bullying)Sikap kita sebagai orang tuaTanamkan tentang empati dan penghormatanTanamkan keberanian Bullying (perundungan) menjadi sorot perhatian banyak masyarakat beberapa pekan terakhir. Pasalnya, beberapa peristiwa yang terjadi membuat kita bergeleng-geleng kepala karena heran dan geram. Bagaimana mungkin seorang anak sekolah dasar tega menusuk temannya dengan tusuk sate? Bagaimana mungkin seorang anak sekolah menengah pertama tega menyiksa temannya karena alasan sepele? Ditambah berita tentang seorang anak terjun dari lantai atas sekolah karena cekcok dengan temannya. Dan semua itu terjadi di lembaga-lembaga pendidikan. Sebenarnya, apa atau siapa yang salah? Sebelum lebih jauh menyalahkan banyak pihak, mari kita simak bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama menyatakan tentang kondisi zaman secara umum dalam sabdanya, لا يأتي عليكم عامٌ ولا يومٌ إلَّا والذي بعده شرٌّ منْهُ ، حتى تَلْقَوْا ربَّكم “Tidaklah datang suatu masa di antara kalian yang kondisi masa tersebut lebih buruk dari sebelumnya. Sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” (Shahih Al-Jami’, no. 7576) Tentu saja ini tidak berlaku secara mutlak. Hanya saja, memang kenyataannya dari masa ke masa berita-berita keburukan seolah menjadi hal yang biasa kita dengar, bahkan dilakukan oleh sekelompok orang yang sebelumnya kita tidak terbiasa mendengar kejahatan bisa berasal dari tangan mereka. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjelaskan, وهذا هو الواقع، فكلما تقدم الزمان، وتأخر عهد النبوة؛ قل العلم، وكثر الجهل، كما هو الحال اليوم في القرن الخامس عشر، والرابع عشر الماضي، فإن العلم قد قل كثيرًا، والجهل قد انتشر في غالب البلدان، فقل أن تجد بلدًا فيها العلماء الذين يكفون لحاجة البلاد، ويشار إليهم بالعلم، والفضل، والاستقامة، فالمصيبة عظيمة.  “Inilah yang terjadi. Semakin ke sini dan semakin jauh dengan masa kenabian, maka ilmu semakin sedikit dan merebaklah kebodohan. Sebagaimana terjadi di abad 14 dan 15 Hijriah yang menunjukkan betapa ahli ilmu semakin sedikit dan kebodohan kian menyebar di seantero negeri. Jarang sekali kau temui negeri yang ulama di dalamnya mencukupi kebutuhan negeri tersebut, yang menjadi rujukan ilmu, keutamaan, dan keteguhan. Sungguh musibah ini begitu berat.” (binbaz.org) Namun, akankah kita diam saja dengan peristiwa ini? Tentu saja tidak. Bagaimana pun, agama Islam tidak pernah membenarkan perilaku bullying sama sekali. Baik verbal, fisik, sosial, dan emosional. Sebagaimana dalam beberapa dalil berikut ini. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang dari menyakiti dan mencela sesama (verbal and physical bullying) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama secara tegas melarang seorang muslim mencela. Sebagaimana dalam sabda beliau, سِبابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وقِتالُهُ كُفْرٌ “Mencela sesama muslim adalah bentuk kefasikan dan memeranginya adalah bentuk kekufuran.” (HR. Bukhari no. 6044) Setiap pembicaraan yang mengarah kepada terjatuhnya kehormatan seorang muslim tanpa haknya atau perbuatan yang menjadikan seorang muslim tersakiti, maka keduanya merupakan bentuk keharaman yang secara tegas dilarang di dalam Islam. Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah ditertawakan karena betisnya yang kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pun menghardik orang-orang yang tertawa sembari mengatakan, والَّذي نَفْسي بيَدِه لَهُما أثقَلُ في المِيزانِ مِن أُحدٍ “Demi Allah, jika kedua kakinya diletakkan di timbangan hari kiamat, niscaya lebih berat dari gunung Uhud.” (HR. Al-Hakim no. 5479) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari menjatuhkan kehormatan (social bullying) Dalam beberapa hadis, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari melakukan perbuatan yang berpotensi menjatuhkan kehormatan seorang muslim. Seperti teguran beliau dari perbuatan ghibah, إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ “Jika memang benar apa yang kalian katakan tentangnya, maka hal tersebut adalah ghibah. Dan jika tidak benar, maka kalian telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim no. 2589) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga melarang keras umatnya dari gemar membuat desas-desus atau namimah. Sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallama, لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ “Para pengadu domba tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim no. 105) Baca juga: Larangan Mengolok-olok Fisik Orang Lain (Body Shaming) Sikap kita sebagai orang tua Lantas, bagaimana sikap kita sebagai orang tua agar anak kita terhindar dari kejahatan bullying atau bahkan agar anak kita tidak terjatuh ke dalam perilaku yang buruk ini? Ada beberapa nilai yang orang tua harus tanamkan kepada buah hati mereka sejak dini. Tanamkan tentang empati dan penghormatan Kepekaan seseorang untuk memahami sekitarnya dan menyikapinya dengan penuh penghormatan adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, مَن لم يَرحَمِ الناسَ لا يَرْحَمْهُ اللهُ “Siapa saja yang tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya pula.” (HR. At-Tirmidzi no. 1922) Begitu pun dalam sabda yang lainnya, ليسَ منَّا من لم يرحَم صغيرَنا ويعرِفْ شرَفَ كبيرِنا “Orang-orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau menghormati yang lebih tua bukanlah termasuk golongan kami.” (Shahih At-Tirmidzi, no. 1920) Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan seseorang untuk ngelamak (tidak sopan) kepada siapapun. Baik kepada yang lebih muda ataupun yang lebih tua. Dan yang terpenting untuk mengajarkan aspek empati ini adalah dengan teladan kedua orang tuanya. Seorang anak akan meniru bagaimana kedua orang tuanya memperlakukan orang-orang terdekatnya. Bagaimana ayahnya bersikap terhadap ibunya, bagaimana ibunya ketika berbincang dengan ayahnya, dan sebagainya. Tanamkan keberanian Perlu juga mengajarkan kepada anak-anak kita agar mereka menjadi anak yang berani. Tidak harus dengan melawan bullying yang mereka terima (semoga Allah hindarkan buah hati kita dari segala macam keburukan), namun paling tidak berani mengadukan kepada orang tuanya atau orang-orang yang memiliki hak untuk menyelesaikan masalah adalah sebuah keberanian yang patut untuk terus dipupuk. Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, “Kebanyakan manusia mengidentikkan keberanian dengan kekuatan. Padahal, keduanya jelas berbeda. Berani adalah ketegaran hati dalam menghadapi sesuatu meskipun tidak punya kekuatan untuk membalas.” وَكَانَ الصّديق رَضِي الله عَنهُ أَشْجَع الْأمة بعد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، وَكَانَ عمر وَغَيره أقوى مِنْهُ، وَلَكِن برز على الصَّحَابَة كلهم بثبات قلبه فِي كل موطن من المواطن الَّتِي تزلزل الْجبَال، وَهُوَ فِي ذَلِك ثَابت الْقلب، رابط الجأش، يلوذ بِهِ شجعان الصَّحَابَة وأبطالهم، فيُثَبِّتهم ويشجعهم  “Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling berani setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama, sementara Umar radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya lebih kuat dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, para sahabat bersaksi bahwa keteguhan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dalam setiap kondisi yang bahkan gunung saja runtuh dengannya sementara beliau tetap tidak bergeming, yang membakar keberanian sahabat lainnya.” (Al-Furusiyah, hal. 500) Maka, didiklah anak kita menjadi anak-anak yang berani. Bukan berani yang sembarangan, melainkan berani menyuarakan kebaikan dan melawan keburukan. Ajarkan mereka tidak takut menghadapi berbagai macam situasi termasuk bullying. Semoga Allah jaga anak-anak kita dari perilaku yang merusak ini. Baca juga: Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag Artikel: Muslim.or.id Tags: bullyingkekerasan di sekolah


Daftar Isi Toggle Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang dari menyakiti dan mencela sesama (verbal and physical bullying)Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari menjatuhkan kehormatan (social bullying)Sikap kita sebagai orang tuaTanamkan tentang empati dan penghormatanTanamkan keberanian Bullying (perundungan) menjadi sorot perhatian banyak masyarakat beberapa pekan terakhir. Pasalnya, beberapa peristiwa yang terjadi membuat kita bergeleng-geleng kepala karena heran dan geram. Bagaimana mungkin seorang anak sekolah dasar tega menusuk temannya dengan tusuk sate? Bagaimana mungkin seorang anak sekolah menengah pertama tega menyiksa temannya karena alasan sepele? Ditambah berita tentang seorang anak terjun dari lantai atas sekolah karena cekcok dengan temannya. Dan semua itu terjadi di lembaga-lembaga pendidikan. Sebenarnya, apa atau siapa yang salah? Sebelum lebih jauh menyalahkan banyak pihak, mari kita simak bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama menyatakan tentang kondisi zaman secara umum dalam sabdanya, لا يأتي عليكم عامٌ ولا يومٌ إلَّا والذي بعده شرٌّ منْهُ ، حتى تَلْقَوْا ربَّكم “Tidaklah datang suatu masa di antara kalian yang kondisi masa tersebut lebih buruk dari sebelumnya. Sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” (Shahih Al-Jami’, no. 7576) Tentu saja ini tidak berlaku secara mutlak. Hanya saja, memang kenyataannya dari masa ke masa berita-berita keburukan seolah menjadi hal yang biasa kita dengar, bahkan dilakukan oleh sekelompok orang yang sebelumnya kita tidak terbiasa mendengar kejahatan bisa berasal dari tangan mereka. Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjelaskan, وهذا هو الواقع، فكلما تقدم الزمان، وتأخر عهد النبوة؛ قل العلم، وكثر الجهل، كما هو الحال اليوم في القرن الخامس عشر، والرابع عشر الماضي، فإن العلم قد قل كثيرًا، والجهل قد انتشر في غالب البلدان، فقل أن تجد بلدًا فيها العلماء الذين يكفون لحاجة البلاد، ويشار إليهم بالعلم، والفضل، والاستقامة، فالمصيبة عظيمة.  “Inilah yang terjadi. Semakin ke sini dan semakin jauh dengan masa kenabian, maka ilmu semakin sedikit dan merebaklah kebodohan. Sebagaimana terjadi di abad 14 dan 15 Hijriah yang menunjukkan betapa ahli ilmu semakin sedikit dan kebodohan kian menyebar di seantero negeri. Jarang sekali kau temui negeri yang ulama di dalamnya mencukupi kebutuhan negeri tersebut, yang menjadi rujukan ilmu, keutamaan, dan keteguhan. Sungguh musibah ini begitu berat.” (binbaz.org) Namun, akankah kita diam saja dengan peristiwa ini? Tentu saja tidak. Bagaimana pun, agama Islam tidak pernah membenarkan perilaku bullying sama sekali. Baik verbal, fisik, sosial, dan emosional. Sebagaimana dalam beberapa dalil berikut ini. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang dari menyakiti dan mencela sesama (verbal and physical bullying) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama secara tegas melarang seorang muslim mencela. Sebagaimana dalam sabda beliau, سِبابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وقِتالُهُ كُفْرٌ “Mencela sesama muslim adalah bentuk kefasikan dan memeranginya adalah bentuk kekufuran.” (HR. Bukhari no. 6044) Setiap pembicaraan yang mengarah kepada terjatuhnya kehormatan seorang muslim tanpa haknya atau perbuatan yang menjadikan seorang muslim tersakiti, maka keduanya merupakan bentuk keharaman yang secara tegas dilarang di dalam Islam. Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah ditertawakan karena betisnya yang kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pun menghardik orang-orang yang tertawa sembari mengatakan, والَّذي نَفْسي بيَدِه لَهُما أثقَلُ في المِيزانِ مِن أُحدٍ “Demi Allah, jika kedua kakinya diletakkan di timbangan hari kiamat, niscaya lebih berat dari gunung Uhud.” (HR. Al-Hakim no. 5479) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari menjatuhkan kehormatan (social bullying) Dalam beberapa hadis, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama melarang umatnya dari melakukan perbuatan yang berpotensi menjatuhkan kehormatan seorang muslim. Seperti teguran beliau dari perbuatan ghibah, إنْ كانَ فيه ما تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وإنْ لَمْ يَكُنْ فيه فقَدْ بَهَتَّهُ “Jika memang benar apa yang kalian katakan tentangnya, maka hal tersebut adalah ghibah. Dan jika tidak benar, maka kalian telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim no. 2589) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama juga melarang keras umatnya dari gemar membuat desas-desus atau namimah. Sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallama, لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ “Para pengadu domba tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim no. 105) Baca juga: Larangan Mengolok-olok Fisik Orang Lain (Body Shaming) Sikap kita sebagai orang tua Lantas, bagaimana sikap kita sebagai orang tua agar anak kita terhindar dari kejahatan bullying atau bahkan agar anak kita tidak terjatuh ke dalam perilaku yang buruk ini? Ada beberapa nilai yang orang tua harus tanamkan kepada buah hati mereka sejak dini. Tanamkan tentang empati dan penghormatan Kepekaan seseorang untuk memahami sekitarnya dan menyikapinya dengan penuh penghormatan adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, مَن لم يَرحَمِ الناسَ لا يَرْحَمْهُ اللهُ “Siapa saja yang tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya pula.” (HR. At-Tirmidzi no. 1922) Begitu pun dalam sabda yang lainnya, ليسَ منَّا من لم يرحَم صغيرَنا ويعرِفْ شرَفَ كبيرِنا “Orang-orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau menghormati yang lebih tua bukanlah termasuk golongan kami.” (Shahih At-Tirmidzi, no. 1920) Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan seseorang untuk ngelamak (tidak sopan) kepada siapapun. Baik kepada yang lebih muda ataupun yang lebih tua. Dan yang terpenting untuk mengajarkan aspek empati ini adalah dengan teladan kedua orang tuanya. Seorang anak akan meniru bagaimana kedua orang tuanya memperlakukan orang-orang terdekatnya. Bagaimana ayahnya bersikap terhadap ibunya, bagaimana ibunya ketika berbincang dengan ayahnya, dan sebagainya. Tanamkan keberanian Perlu juga mengajarkan kepada anak-anak kita agar mereka menjadi anak yang berani. Tidak harus dengan melawan bullying yang mereka terima (semoga Allah hindarkan buah hati kita dari segala macam keburukan), namun paling tidak berani mengadukan kepada orang tuanya atau orang-orang yang memiliki hak untuk menyelesaikan masalah adalah sebuah keberanian yang patut untuk terus dipupuk. Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, “Kebanyakan manusia mengidentikkan keberanian dengan kekuatan. Padahal, keduanya jelas berbeda. Berani adalah ketegaran hati dalam menghadapi sesuatu meskipun tidak punya kekuatan untuk membalas.” وَكَانَ الصّديق رَضِي الله عَنهُ أَشْجَع الْأمة بعد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، وَكَانَ عمر وَغَيره أقوى مِنْهُ، وَلَكِن برز على الصَّحَابَة كلهم بثبات قلبه فِي كل موطن من المواطن الَّتِي تزلزل الْجبَال، وَهُوَ فِي ذَلِك ثَابت الْقلب، رابط الجأش، يلوذ بِهِ شجعان الصَّحَابَة وأبطالهم، فيُثَبِّتهم ويشجعهم  “Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling berani setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama, sementara Umar radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya lebih kuat dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, para sahabat bersaksi bahwa keteguhan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dalam setiap kondisi yang bahkan gunung saja runtuh dengannya sementara beliau tetap tidak bergeming, yang membakar keberanian sahabat lainnya.” (Al-Furusiyah, hal. 500) Maka, didiklah anak kita menjadi anak-anak yang berani. Bukan berani yang sembarangan, melainkan berani menyuarakan kebaikan dan melawan keburukan. Ajarkan mereka tidak takut menghadapi berbagai macam situasi termasuk bullying. Semoga Allah jaga anak-anak kita dari perilaku yang merusak ini. Baca juga: Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme *** Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag Artikel: Muslim.or.id Tags: bullyingkekerasan di sekolah

Mengutamakan Kewajiban di Atas Sunah dalam Ibadah: Bagian Ketakwaan yang Sering Terlupakan

Daftar Isi Toggle Amalan sunah sebagai wasilah kedekatan hamba dengan Rabb-nyaMengapa amalan sunah sulit dilaksanakan?Bagian ketakwaan yang sering terlupakanJanji Allah bagi orang yang meninggalkan maksiat Amalan sunah sebagai wasilah kedekatan hamba dengan Rabb-nya Saudaraku, sebagai seorang muslim, selain amalan wajib, kita dianjurkan untuk membiasakan diri melaksanakan amalan sunah, baik berupa salat malam, puasa sunah, zikir, baca Al-Qur’an, infak, maupun berbagai amalan nawafil lainnya. Dengan membiasakan diri melaksanakan amalan sunah tersebut, jalan untuk semakin dekat dengan Allah Ta’ala pun semakin terbuka lebar, doa-doa mudah terkabul, serta pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala senantiasa menyertai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangan yang ia gunakan untuk memegang, dan memberi petunjuk pada kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya. Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506) Mengapa amalan sunah sulit dilaksanakan? Kita semua menginginkan menjadi hamba yang dekat dengan Allah Ta’ala sebagaimana yang dimaksud dalam hadis di atas. Tentu saja, menjadi seorang yang bertakwa merupakan keinginan dan harapan yang sungguh sangat mulia. Namun, disadari atau tidak, fokus kita terkadang tertuju pada bagian ketakwaan dari satu sisi saja, yaitu melakukan amalan-amalan sunah yang mulia, seperti salat malam atau infak tersebut semata. Sementara, kita lupa akan kewajiban untuk mencegah diri dari perbuatan dosa. Padahal, mencegah diri dari maksiat merupakan wujud ketakwaan (meninggalkan larangan Allah Ta’ala) yang merupakan kewajiban. Keutamaannya juga lebih besar daripada amalan sunah apapun. Saudaraku! Tanyakanlah pada diri kita, apakah amalan-amalan sunah mulia yang dijanjikan pahala dan keutamaannya tersebut berat untuk kita lakukan? Jika jawabannya adalah “ya”, maka mari kembali tanyakan pada diri kita sendiri. Apakah kita selama ini sudah menjaga diri dari larangan Allah Ta’ala? Bisa jadi, berat yang dirasa tatkala hendak mengamalkan amalan-amalan sunah (yang akan mendatangkan karunia Allah) tersebut disebabkan oleh suatu perkara yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian manusia, yaitu: maksiat. Kemaksiatan yang bersumber dari mata, lisan, tangan, kaki, lisan, dan niat yang buruk, baik dalam menjalani kehidupan sesama makhluk maupun dalam melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Lihatlah diri kita, dari pagi hingga malam ini, sudah berapa pelanggaran syariat (kecil maupun besar) yang telah dilakukan? Baca juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya Bagian ketakwaan yang sering terlupakan Meninggalkan dosa adalah bagian dari ketakwaan yang cenderung terlupakan oleh sebagian muslimin. Telah banyak dalil yang dengan jelas menegaskan bahwa menjauhi dosa dan larangan Allah merupakan suatu kewajiban yang memiliki pahala yang luar biasa besar. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7) Larangan yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan representasi langsung dari kehendak Allah. Sehingga meninggalkan larangan ini adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Oleh karena itu, seseorang tidaklah bertakwa hanya dengan melakukan semua perintah Allah Ta’ala, baik yang wajib maupun yang sunah saja, tanpa bertekad dan berupaya menjauhi semua yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Ingatlah, bahwa selama kita tetap dalam kubangan maksiat kepada Allah Ta’ala, maka akan menjadi sulit pula bagi kita untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, baik yang sunah maupun yang wajib. Artinya, dengan itu, akan sulit pula bagi kita untuk memperoleh rahmat dan kasih sayang-Nya berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bisa saja, itu merupakan jawaban dari pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran. Kenapa kehidupan ini sulit? Kenapa banyak masalah? Kenapa semua beban terasa berat? Kenapa tidak ada jalan keluar dari permasalahan dunia ini? Janji Allah bagi orang yang meninggalkan maksiat Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit.” (QS. Al-A’raf : 96) Saudaraku, sungguh janji Allah dalam ayat tersebut adalah benar. Bahwa keberkahan dari langit dan bumi diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Kadangkala kita lupa bagaimana mengaplikasikan ketakwaan dalam kehidupan kita khususnya dalam menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala. Kita terus merasa aman dengan menganggap diri telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba seperti salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji. Sedikit pula kita menyadari akan dosa-dosa kecil, seperti: berkata dusta, membicarakan aib orang lain, tidak menjaga pandangan (dalam dunia nyata ataupun maya), tidak menjaga lisan dari menyakiti perasaan orang lain, terlibat dalam transaksi ribawi, menelantarkan orang tua, menelantarkan istri dan anak, serta berbagai perbuatan dosa lainnya. Wal-‘yadzu billah. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, apabila kita benar-benar beriman dan bertakwa (khususnya menjaga diri dari segala potensi dosa-dosa), maka Allah Ta’ala akan memberikan karunia-Nya kepada kita berupa keberkahan dari langit dan bumi. Mari kita perhatikan lebih detail definisi takwa dari seorang ulama tabiin, Thalq bin Habib rahimahullah (murid sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu), التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله. “Takwa adalah engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari azab Allah.” (Siyar A’lamin Nubala’, 4: 601) Saudaraku, bertakwalah kepada Allah dengan sebenarnya takwa. Sadarilah bahwa meninggalkan larangan Allah merupakan bagian penting dari ketakwaan dan menjadi hal yang lebih utama daripada amalan sunah. Tanpa mengesampingkan keutamaan amalan sunah, meninggalkan larangan Allah merupakan hal yang wajib kita laksanakan. Karena kita tahu bahwa perkara wajib lebih utama dari yang sunah. Mudah-mudahan, dengan izin Allah Ta’ala, ikhtiar kita untuk menjaga diri dari perbuatan dosa menjadi wasilah akan kemudahan-kemudahan kita memperoleh karunia Allah Ta’ala berupa ketaatan, ketakwaan, keistikamahan, dan menjadi hamba Allah Ta’ala yang bahagia di dunia dan akhirat-Nya. Baca juga: Durhaka dan Maksiat karena Takdir dan Kehendak Allah *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: ibadah sunahibadah wajib

Mengutamakan Kewajiban di Atas Sunah dalam Ibadah: Bagian Ketakwaan yang Sering Terlupakan

Daftar Isi Toggle Amalan sunah sebagai wasilah kedekatan hamba dengan Rabb-nyaMengapa amalan sunah sulit dilaksanakan?Bagian ketakwaan yang sering terlupakanJanji Allah bagi orang yang meninggalkan maksiat Amalan sunah sebagai wasilah kedekatan hamba dengan Rabb-nya Saudaraku, sebagai seorang muslim, selain amalan wajib, kita dianjurkan untuk membiasakan diri melaksanakan amalan sunah, baik berupa salat malam, puasa sunah, zikir, baca Al-Qur’an, infak, maupun berbagai amalan nawafil lainnya. Dengan membiasakan diri melaksanakan amalan sunah tersebut, jalan untuk semakin dekat dengan Allah Ta’ala pun semakin terbuka lebar, doa-doa mudah terkabul, serta pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala senantiasa menyertai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangan yang ia gunakan untuk memegang, dan memberi petunjuk pada kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya. Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506) Mengapa amalan sunah sulit dilaksanakan? Kita semua menginginkan menjadi hamba yang dekat dengan Allah Ta’ala sebagaimana yang dimaksud dalam hadis di atas. Tentu saja, menjadi seorang yang bertakwa merupakan keinginan dan harapan yang sungguh sangat mulia. Namun, disadari atau tidak, fokus kita terkadang tertuju pada bagian ketakwaan dari satu sisi saja, yaitu melakukan amalan-amalan sunah yang mulia, seperti salat malam atau infak tersebut semata. Sementara, kita lupa akan kewajiban untuk mencegah diri dari perbuatan dosa. Padahal, mencegah diri dari maksiat merupakan wujud ketakwaan (meninggalkan larangan Allah Ta’ala) yang merupakan kewajiban. Keutamaannya juga lebih besar daripada amalan sunah apapun. Saudaraku! Tanyakanlah pada diri kita, apakah amalan-amalan sunah mulia yang dijanjikan pahala dan keutamaannya tersebut berat untuk kita lakukan? Jika jawabannya adalah “ya”, maka mari kembali tanyakan pada diri kita sendiri. Apakah kita selama ini sudah menjaga diri dari larangan Allah Ta’ala? Bisa jadi, berat yang dirasa tatkala hendak mengamalkan amalan-amalan sunah (yang akan mendatangkan karunia Allah) tersebut disebabkan oleh suatu perkara yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian manusia, yaitu: maksiat. Kemaksiatan yang bersumber dari mata, lisan, tangan, kaki, lisan, dan niat yang buruk, baik dalam menjalani kehidupan sesama makhluk maupun dalam melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Lihatlah diri kita, dari pagi hingga malam ini, sudah berapa pelanggaran syariat (kecil maupun besar) yang telah dilakukan? Baca juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya Bagian ketakwaan yang sering terlupakan Meninggalkan dosa adalah bagian dari ketakwaan yang cenderung terlupakan oleh sebagian muslimin. Telah banyak dalil yang dengan jelas menegaskan bahwa menjauhi dosa dan larangan Allah merupakan suatu kewajiban yang memiliki pahala yang luar biasa besar. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7) Larangan yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan representasi langsung dari kehendak Allah. Sehingga meninggalkan larangan ini adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Oleh karena itu, seseorang tidaklah bertakwa hanya dengan melakukan semua perintah Allah Ta’ala, baik yang wajib maupun yang sunah saja, tanpa bertekad dan berupaya menjauhi semua yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Ingatlah, bahwa selama kita tetap dalam kubangan maksiat kepada Allah Ta’ala, maka akan menjadi sulit pula bagi kita untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, baik yang sunah maupun yang wajib. Artinya, dengan itu, akan sulit pula bagi kita untuk memperoleh rahmat dan kasih sayang-Nya berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bisa saja, itu merupakan jawaban dari pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran. Kenapa kehidupan ini sulit? Kenapa banyak masalah? Kenapa semua beban terasa berat? Kenapa tidak ada jalan keluar dari permasalahan dunia ini? Janji Allah bagi orang yang meninggalkan maksiat Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit.” (QS. Al-A’raf : 96) Saudaraku, sungguh janji Allah dalam ayat tersebut adalah benar. Bahwa keberkahan dari langit dan bumi diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Kadangkala kita lupa bagaimana mengaplikasikan ketakwaan dalam kehidupan kita khususnya dalam menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala. Kita terus merasa aman dengan menganggap diri telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba seperti salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji. Sedikit pula kita menyadari akan dosa-dosa kecil, seperti: berkata dusta, membicarakan aib orang lain, tidak menjaga pandangan (dalam dunia nyata ataupun maya), tidak menjaga lisan dari menyakiti perasaan orang lain, terlibat dalam transaksi ribawi, menelantarkan orang tua, menelantarkan istri dan anak, serta berbagai perbuatan dosa lainnya. Wal-‘yadzu billah. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, apabila kita benar-benar beriman dan bertakwa (khususnya menjaga diri dari segala potensi dosa-dosa), maka Allah Ta’ala akan memberikan karunia-Nya kepada kita berupa keberkahan dari langit dan bumi. Mari kita perhatikan lebih detail definisi takwa dari seorang ulama tabiin, Thalq bin Habib rahimahullah (murid sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu), التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله. “Takwa adalah engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari azab Allah.” (Siyar A’lamin Nubala’, 4: 601) Saudaraku, bertakwalah kepada Allah dengan sebenarnya takwa. Sadarilah bahwa meninggalkan larangan Allah merupakan bagian penting dari ketakwaan dan menjadi hal yang lebih utama daripada amalan sunah. Tanpa mengesampingkan keutamaan amalan sunah, meninggalkan larangan Allah merupakan hal yang wajib kita laksanakan. Karena kita tahu bahwa perkara wajib lebih utama dari yang sunah. Mudah-mudahan, dengan izin Allah Ta’ala, ikhtiar kita untuk menjaga diri dari perbuatan dosa menjadi wasilah akan kemudahan-kemudahan kita memperoleh karunia Allah Ta’ala berupa ketaatan, ketakwaan, keistikamahan, dan menjadi hamba Allah Ta’ala yang bahagia di dunia dan akhirat-Nya. Baca juga: Durhaka dan Maksiat karena Takdir dan Kehendak Allah *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: ibadah sunahibadah wajib
Daftar Isi Toggle Amalan sunah sebagai wasilah kedekatan hamba dengan Rabb-nyaMengapa amalan sunah sulit dilaksanakan?Bagian ketakwaan yang sering terlupakanJanji Allah bagi orang yang meninggalkan maksiat Amalan sunah sebagai wasilah kedekatan hamba dengan Rabb-nya Saudaraku, sebagai seorang muslim, selain amalan wajib, kita dianjurkan untuk membiasakan diri melaksanakan amalan sunah, baik berupa salat malam, puasa sunah, zikir, baca Al-Qur’an, infak, maupun berbagai amalan nawafil lainnya. Dengan membiasakan diri melaksanakan amalan sunah tersebut, jalan untuk semakin dekat dengan Allah Ta’ala pun semakin terbuka lebar, doa-doa mudah terkabul, serta pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala senantiasa menyertai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangan yang ia gunakan untuk memegang, dan memberi petunjuk pada kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya. Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506) Mengapa amalan sunah sulit dilaksanakan? Kita semua menginginkan menjadi hamba yang dekat dengan Allah Ta’ala sebagaimana yang dimaksud dalam hadis di atas. Tentu saja, menjadi seorang yang bertakwa merupakan keinginan dan harapan yang sungguh sangat mulia. Namun, disadari atau tidak, fokus kita terkadang tertuju pada bagian ketakwaan dari satu sisi saja, yaitu melakukan amalan-amalan sunah yang mulia, seperti salat malam atau infak tersebut semata. Sementara, kita lupa akan kewajiban untuk mencegah diri dari perbuatan dosa. Padahal, mencegah diri dari maksiat merupakan wujud ketakwaan (meninggalkan larangan Allah Ta’ala) yang merupakan kewajiban. Keutamaannya juga lebih besar daripada amalan sunah apapun. Saudaraku! Tanyakanlah pada diri kita, apakah amalan-amalan sunah mulia yang dijanjikan pahala dan keutamaannya tersebut berat untuk kita lakukan? Jika jawabannya adalah “ya”, maka mari kembali tanyakan pada diri kita sendiri. Apakah kita selama ini sudah menjaga diri dari larangan Allah Ta’ala? Bisa jadi, berat yang dirasa tatkala hendak mengamalkan amalan-amalan sunah (yang akan mendatangkan karunia Allah) tersebut disebabkan oleh suatu perkara yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian manusia, yaitu: maksiat. Kemaksiatan yang bersumber dari mata, lisan, tangan, kaki, lisan, dan niat yang buruk, baik dalam menjalani kehidupan sesama makhluk maupun dalam melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Lihatlah diri kita, dari pagi hingga malam ini, sudah berapa pelanggaran syariat (kecil maupun besar) yang telah dilakukan? Baca juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya Bagian ketakwaan yang sering terlupakan Meninggalkan dosa adalah bagian dari ketakwaan yang cenderung terlupakan oleh sebagian muslimin. Telah banyak dalil yang dengan jelas menegaskan bahwa menjauhi dosa dan larangan Allah merupakan suatu kewajiban yang memiliki pahala yang luar biasa besar. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7) Larangan yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan representasi langsung dari kehendak Allah. Sehingga meninggalkan larangan ini adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Oleh karena itu, seseorang tidaklah bertakwa hanya dengan melakukan semua perintah Allah Ta’ala, baik yang wajib maupun yang sunah saja, tanpa bertekad dan berupaya menjauhi semua yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Ingatlah, bahwa selama kita tetap dalam kubangan maksiat kepada Allah Ta’ala, maka akan menjadi sulit pula bagi kita untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, baik yang sunah maupun yang wajib. Artinya, dengan itu, akan sulit pula bagi kita untuk memperoleh rahmat dan kasih sayang-Nya berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bisa saja, itu merupakan jawaban dari pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran. Kenapa kehidupan ini sulit? Kenapa banyak masalah? Kenapa semua beban terasa berat? Kenapa tidak ada jalan keluar dari permasalahan dunia ini? Janji Allah bagi orang yang meninggalkan maksiat Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit.” (QS. Al-A’raf : 96) Saudaraku, sungguh janji Allah dalam ayat tersebut adalah benar. Bahwa keberkahan dari langit dan bumi diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Kadangkala kita lupa bagaimana mengaplikasikan ketakwaan dalam kehidupan kita khususnya dalam menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala. Kita terus merasa aman dengan menganggap diri telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba seperti salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji. Sedikit pula kita menyadari akan dosa-dosa kecil, seperti: berkata dusta, membicarakan aib orang lain, tidak menjaga pandangan (dalam dunia nyata ataupun maya), tidak menjaga lisan dari menyakiti perasaan orang lain, terlibat dalam transaksi ribawi, menelantarkan orang tua, menelantarkan istri dan anak, serta berbagai perbuatan dosa lainnya. Wal-‘yadzu billah. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, apabila kita benar-benar beriman dan bertakwa (khususnya menjaga diri dari segala potensi dosa-dosa), maka Allah Ta’ala akan memberikan karunia-Nya kepada kita berupa keberkahan dari langit dan bumi. Mari kita perhatikan lebih detail definisi takwa dari seorang ulama tabiin, Thalq bin Habib rahimahullah (murid sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu), التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله. “Takwa adalah engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari azab Allah.” (Siyar A’lamin Nubala’, 4: 601) Saudaraku, bertakwalah kepada Allah dengan sebenarnya takwa. Sadarilah bahwa meninggalkan larangan Allah merupakan bagian penting dari ketakwaan dan menjadi hal yang lebih utama daripada amalan sunah. Tanpa mengesampingkan keutamaan amalan sunah, meninggalkan larangan Allah merupakan hal yang wajib kita laksanakan. Karena kita tahu bahwa perkara wajib lebih utama dari yang sunah. Mudah-mudahan, dengan izin Allah Ta’ala, ikhtiar kita untuk menjaga diri dari perbuatan dosa menjadi wasilah akan kemudahan-kemudahan kita memperoleh karunia Allah Ta’ala berupa ketaatan, ketakwaan, keistikamahan, dan menjadi hamba Allah Ta’ala yang bahagia di dunia dan akhirat-Nya. Baca juga: Durhaka dan Maksiat karena Takdir dan Kehendak Allah *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: ibadah sunahibadah wajib


Daftar Isi Toggle Amalan sunah sebagai wasilah kedekatan hamba dengan Rabb-nyaMengapa amalan sunah sulit dilaksanakan?Bagian ketakwaan yang sering terlupakanJanji Allah bagi orang yang meninggalkan maksiat Amalan sunah sebagai wasilah kedekatan hamba dengan Rabb-nya Saudaraku, sebagai seorang muslim, selain amalan wajib, kita dianjurkan untuk membiasakan diri melaksanakan amalan sunah, baik berupa salat malam, puasa sunah, zikir, baca Al-Qur’an, infak, maupun berbagai amalan nawafil lainnya. Dengan membiasakan diri melaksanakan amalan sunah tersebut, jalan untuk semakin dekat dengan Allah Ta’ala pun semakin terbuka lebar, doa-doa mudah terkabul, serta pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala senantiasa menyertai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangan yang ia gunakan untuk memegang, dan memberi petunjuk pada kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya. Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506) Mengapa amalan sunah sulit dilaksanakan? Kita semua menginginkan menjadi hamba yang dekat dengan Allah Ta’ala sebagaimana yang dimaksud dalam hadis di atas. Tentu saja, menjadi seorang yang bertakwa merupakan keinginan dan harapan yang sungguh sangat mulia. Namun, disadari atau tidak, fokus kita terkadang tertuju pada bagian ketakwaan dari satu sisi saja, yaitu melakukan amalan-amalan sunah yang mulia, seperti salat malam atau infak tersebut semata. Sementara, kita lupa akan kewajiban untuk mencegah diri dari perbuatan dosa. Padahal, mencegah diri dari maksiat merupakan wujud ketakwaan (meninggalkan larangan Allah Ta’ala) yang merupakan kewajiban. Keutamaannya juga lebih besar daripada amalan sunah apapun. Saudaraku! Tanyakanlah pada diri kita, apakah amalan-amalan sunah mulia yang dijanjikan pahala dan keutamaannya tersebut berat untuk kita lakukan? Jika jawabannya adalah “ya”, maka mari kembali tanyakan pada diri kita sendiri. Apakah kita selama ini sudah menjaga diri dari larangan Allah Ta’ala? Bisa jadi, berat yang dirasa tatkala hendak mengamalkan amalan-amalan sunah (yang akan mendatangkan karunia Allah) tersebut disebabkan oleh suatu perkara yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian manusia, yaitu: maksiat. Kemaksiatan yang bersumber dari mata, lisan, tangan, kaki, lisan, dan niat yang buruk, baik dalam menjalani kehidupan sesama makhluk maupun dalam melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Lihatlah diri kita, dari pagi hingga malam ini, sudah berapa pelanggaran syariat (kecil maupun besar) yang telah dilakukan? Baca juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya Bagian ketakwaan yang sering terlupakan Meninggalkan dosa adalah bagian dari ketakwaan yang cenderung terlupakan oleh sebagian muslimin. Telah banyak dalil yang dengan jelas menegaskan bahwa menjauhi dosa dan larangan Allah merupakan suatu kewajiban yang memiliki pahala yang luar biasa besar. Allah Ta’ala berfirman, وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7) Larangan yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan representasi langsung dari kehendak Allah. Sehingga meninggalkan larangan ini adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Oleh karena itu, seseorang tidaklah bertakwa hanya dengan melakukan semua perintah Allah Ta’ala, baik yang wajib maupun yang sunah saja, tanpa bertekad dan berupaya menjauhi semua yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Ingatlah, bahwa selama kita tetap dalam kubangan maksiat kepada Allah Ta’ala, maka akan menjadi sulit pula bagi kita untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, baik yang sunah maupun yang wajib. Artinya, dengan itu, akan sulit pula bagi kita untuk memperoleh rahmat dan kasih sayang-Nya berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bisa saja, itu merupakan jawaban dari pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran. Kenapa kehidupan ini sulit? Kenapa banyak masalah? Kenapa semua beban terasa berat? Kenapa tidak ada jalan keluar dari permasalahan dunia ini? Janji Allah bagi orang yang meninggalkan maksiat Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit.” (QS. Al-A’raf : 96) Saudaraku, sungguh janji Allah dalam ayat tersebut adalah benar. Bahwa keberkahan dari langit dan bumi diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Kadangkala kita lupa bagaimana mengaplikasikan ketakwaan dalam kehidupan kita khususnya dalam menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala. Kita terus merasa aman dengan menganggap diri telah melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba seperti salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji. Sedikit pula kita menyadari akan dosa-dosa kecil, seperti: berkata dusta, membicarakan aib orang lain, tidak menjaga pandangan (dalam dunia nyata ataupun maya), tidak menjaga lisan dari menyakiti perasaan orang lain, terlibat dalam transaksi ribawi, menelantarkan orang tua, menelantarkan istri dan anak, serta berbagai perbuatan dosa lainnya. Wal-‘yadzu billah. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, apabila kita benar-benar beriman dan bertakwa (khususnya menjaga diri dari segala potensi dosa-dosa), maka Allah Ta’ala akan memberikan karunia-Nya kepada kita berupa keberkahan dari langit dan bumi. Mari kita perhatikan lebih detail definisi takwa dari seorang ulama tabiin, Thalq bin Habib rahimahullah (murid sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu), التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله. “Takwa adalah engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari azab Allah.” (Siyar A’lamin Nubala’, 4: 601) Saudaraku, bertakwalah kepada Allah dengan sebenarnya takwa. Sadarilah bahwa meninggalkan larangan Allah merupakan bagian penting dari ketakwaan dan menjadi hal yang lebih utama daripada amalan sunah. Tanpa mengesampingkan keutamaan amalan sunah, meninggalkan larangan Allah merupakan hal yang wajib kita laksanakan. Karena kita tahu bahwa perkara wajib lebih utama dari yang sunah. Mudah-mudahan, dengan izin Allah Ta’ala, ikhtiar kita untuk menjaga diri dari perbuatan dosa menjadi wasilah akan kemudahan-kemudahan kita memperoleh karunia Allah Ta’ala berupa ketaatan, ketakwaan, keistikamahan, dan menjadi hamba Allah Ta’ala yang bahagia di dunia dan akhirat-Nya. Baca juga: Durhaka dan Maksiat karena Takdir dan Kehendak Allah *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: ibadah sunahibadah wajib

Ikut Pendapat Ulama atau Ikut Dalil?

Pertanyaan: Mohon pencerahannya ustadz. Ketika kita mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, serta meninggalkan taklid buta kepada ulama, maka sebagian orang melontarkan syubhat: “Memangnya ulama tidak pakai dalil?” “Memangnya ulama pakai ayat injil dan taurat?” Dan perkataan semisalnya. Bagaimana menanggapi syubhat-syubhat di atas? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Syubhat di atas mengesankan bahwa ulama pasti selalu benar. Padahal ulama tidak maksum dan tidak boleh meyakini ada ulama yang maksum. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan: ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم “Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227). Sehingga ulama terkadang mengikuti dalil dan terkadang menyelisihi dalil. Terkadang ulama punya dalil, terkadang ulama juga terjerumus pada taklid buta. Sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad: وأمَّا المشتغلون بالفقه بعدهم، فمنهم من يستفيدُ من علمهم في الفروع، ويُعوِّل على ما دلَّ عليه الدليل؛ أخذاً بوصايا الأئمَّة أنفسهم، فإنَّ كلَّ واحد منهم جاء عنه الأمرُ باتِّباع الدليل، وتركِ قوله إذا كان الدليلُ على خلافه، وهؤلاء موافقون لهم في العقيدة ومنهم مَن يُقلِّدُهم في مسائل الفروع، دون سعيٍ إلى معرفة الرَّاجح بالدَّليل “Adapun para ulama madzhab yang mengikuti para imam (Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan Asy-Syafi’i), ada golongan ulama madzhab yang mengambil faedah dari para imam dalam masalah furu’ (fikih) dan berpegang pada dalil yang digunakan oleh para imam. Dalam rangka mengikuti wasiat mereka. Karena setiap para imam tersebut memerintahkan untuk mengikuti dalil dan meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil. Dan para ulama golongan ini mengikuti aqidah para imam. Dan ada golongan ulama madzhab yang taklid kepada para imam dalam masalah furu’ (fikih). Tanpa berusaha untuk mengetahui pendapat yang rajih berdasarkan dalil” (Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 36-37). Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Fulani Al-Madini (wafat tahun 1218 H) rahimahullah dalam kitabnya, Iiqazhul Humam, beliau menceritakan betapa seorang ulama yang terjerumus dalam taklid buta akan selalu mencari cara untuk membela pendapat madzhabnya. Beliau berkata: ترى بعض الناس اذا وجد حديثا يوافق مذهبه فرح به وانقاد له و سلم “Engkau lihat sendiri, sebagian orang ketika mendapatkan hadits yang sesuai dengan pendapat madzhabnya, ia gembira sekali. Ia pun patuh pada hadits tersebut dan menerima dengan senang hati”. و ان وجد حديثا صحيحا سالما من معارضة والنسخ مؤيدا لمذهب غير امامه فتح له باب الاحتمالات البعيدة وضرب عنه الصفح و العارض و يلتمس لمذهب إمامه أوجها من الترجيح مع مخالفته للصحابة و التابعين والنص الصريح “Namun ketika ia menemukan hadits shahih, tidak bertentangan dengan dalil lain, tidak mansukh, dan bertentangan dengan pendapat imamnya, ia pun mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh. Lalu membuat seolah hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain. Kemudian merumuskan poin-poin tarjih yang menguatkan pendapat madzhabnya walaupun bertolak belakang dengan pendapat sahabat Nabi, pendapat para tabi’in serta nash yang sharih (tegas)” [selesai nukilan]. Maka jika ditanya, “memangnya ulama tidak pakai dalil?” jawabnya terkadang ulama mengikuti dalil terkadang tidak. Bahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam risalah Kitabul Ilmi menyebutkan ada beberapa udzur yang kita berikan ketika menemukan pendapat ulama yang menyelisihi dalil: Bisa jadi dalil yang ada belum sampai kepada ulama tersebut Bisa jadi ulama tersebut menyangka haditsnya shahih, padahal ulama hadits menyatakan haditsnya dhaif atau palsu Bisa jadi ulama tersebut keliru dalam memahami dalil Bisa jadi ulama tersebut menyangka dalilnya tsabit padahal dalil tersebut sudah mansukh Bisa jadi dalil yang ada sudah sampai kepada ulama tersebut, namun ia lupa. Dan udzur-udzur lainnya. Yang menunjukkan bahwa ulama tidak selalu benar dan mereka tidak maksum. Jika ada orang yang berkata, “Ulama saja tidak mesti benar apalagi kamu!!”. Jawabnya, kita tidak meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil untuk beralih kepada pemahaman sendiri. Namun kita mengambil pendapat ulama lain yang lebih sesuai dengan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan pemahaman salaf. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: : قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟ [ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس “Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi’i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al-Qur’an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat? Imam Asy-Syafi’i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’ atau Qiyas yang paling shahih” (Ar-Risalah, 1/597) Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan: فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang sesuai dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Ushul As-Sittah, 19). Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan: الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق “Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh pada syariat Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah ia imam yang empat atau person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan berjalan di atas manhaj beliau dalam fikih dan hukum syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Baik sesuai dengan pendapat imam yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran” (Nurun ‘alad Darbi, no. 73 pertanyaan ke-4). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Forum Tanya Jawab Islam Online, Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Hukum Qunut Sholat Subuh, Mencukur Rambut Kemaluan Dalam Islam, Cara Melihat Alam Gaib, Mengusir Jin Dalam Tubuh Manusia Visited 196 times, 2 visit(s) today Post Views: 380 QRIS donasi Yufid

Ikut Pendapat Ulama atau Ikut Dalil?

Pertanyaan: Mohon pencerahannya ustadz. Ketika kita mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, serta meninggalkan taklid buta kepada ulama, maka sebagian orang melontarkan syubhat: “Memangnya ulama tidak pakai dalil?” “Memangnya ulama pakai ayat injil dan taurat?” Dan perkataan semisalnya. Bagaimana menanggapi syubhat-syubhat di atas? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Syubhat di atas mengesankan bahwa ulama pasti selalu benar. Padahal ulama tidak maksum dan tidak boleh meyakini ada ulama yang maksum. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan: ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم “Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227). Sehingga ulama terkadang mengikuti dalil dan terkadang menyelisihi dalil. Terkadang ulama punya dalil, terkadang ulama juga terjerumus pada taklid buta. Sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad: وأمَّا المشتغلون بالفقه بعدهم، فمنهم من يستفيدُ من علمهم في الفروع، ويُعوِّل على ما دلَّ عليه الدليل؛ أخذاً بوصايا الأئمَّة أنفسهم، فإنَّ كلَّ واحد منهم جاء عنه الأمرُ باتِّباع الدليل، وتركِ قوله إذا كان الدليلُ على خلافه، وهؤلاء موافقون لهم في العقيدة ومنهم مَن يُقلِّدُهم في مسائل الفروع، دون سعيٍ إلى معرفة الرَّاجح بالدَّليل “Adapun para ulama madzhab yang mengikuti para imam (Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan Asy-Syafi’i), ada golongan ulama madzhab yang mengambil faedah dari para imam dalam masalah furu’ (fikih) dan berpegang pada dalil yang digunakan oleh para imam. Dalam rangka mengikuti wasiat mereka. Karena setiap para imam tersebut memerintahkan untuk mengikuti dalil dan meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil. Dan para ulama golongan ini mengikuti aqidah para imam. Dan ada golongan ulama madzhab yang taklid kepada para imam dalam masalah furu’ (fikih). Tanpa berusaha untuk mengetahui pendapat yang rajih berdasarkan dalil” (Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 36-37). Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Fulani Al-Madini (wafat tahun 1218 H) rahimahullah dalam kitabnya, Iiqazhul Humam, beliau menceritakan betapa seorang ulama yang terjerumus dalam taklid buta akan selalu mencari cara untuk membela pendapat madzhabnya. Beliau berkata: ترى بعض الناس اذا وجد حديثا يوافق مذهبه فرح به وانقاد له و سلم “Engkau lihat sendiri, sebagian orang ketika mendapatkan hadits yang sesuai dengan pendapat madzhabnya, ia gembira sekali. Ia pun patuh pada hadits tersebut dan menerima dengan senang hati”. و ان وجد حديثا صحيحا سالما من معارضة والنسخ مؤيدا لمذهب غير امامه فتح له باب الاحتمالات البعيدة وضرب عنه الصفح و العارض و يلتمس لمذهب إمامه أوجها من الترجيح مع مخالفته للصحابة و التابعين والنص الصريح “Namun ketika ia menemukan hadits shahih, tidak bertentangan dengan dalil lain, tidak mansukh, dan bertentangan dengan pendapat imamnya, ia pun mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh. Lalu membuat seolah hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain. Kemudian merumuskan poin-poin tarjih yang menguatkan pendapat madzhabnya walaupun bertolak belakang dengan pendapat sahabat Nabi, pendapat para tabi’in serta nash yang sharih (tegas)” [selesai nukilan]. Maka jika ditanya, “memangnya ulama tidak pakai dalil?” jawabnya terkadang ulama mengikuti dalil terkadang tidak. Bahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam risalah Kitabul Ilmi menyebutkan ada beberapa udzur yang kita berikan ketika menemukan pendapat ulama yang menyelisihi dalil: Bisa jadi dalil yang ada belum sampai kepada ulama tersebut Bisa jadi ulama tersebut menyangka haditsnya shahih, padahal ulama hadits menyatakan haditsnya dhaif atau palsu Bisa jadi ulama tersebut keliru dalam memahami dalil Bisa jadi ulama tersebut menyangka dalilnya tsabit padahal dalil tersebut sudah mansukh Bisa jadi dalil yang ada sudah sampai kepada ulama tersebut, namun ia lupa. Dan udzur-udzur lainnya. Yang menunjukkan bahwa ulama tidak selalu benar dan mereka tidak maksum. Jika ada orang yang berkata, “Ulama saja tidak mesti benar apalagi kamu!!”. Jawabnya, kita tidak meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil untuk beralih kepada pemahaman sendiri. Namun kita mengambil pendapat ulama lain yang lebih sesuai dengan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan pemahaman salaf. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: : قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟ [ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس “Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi’i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al-Qur’an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat? Imam Asy-Syafi’i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’ atau Qiyas yang paling shahih” (Ar-Risalah, 1/597) Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan: فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang sesuai dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Ushul As-Sittah, 19). Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan: الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق “Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh pada syariat Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah ia imam yang empat atau person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan berjalan di atas manhaj beliau dalam fikih dan hukum syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Baik sesuai dengan pendapat imam yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran” (Nurun ‘alad Darbi, no. 73 pertanyaan ke-4). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Forum Tanya Jawab Islam Online, Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Hukum Qunut Sholat Subuh, Mencukur Rambut Kemaluan Dalam Islam, Cara Melihat Alam Gaib, Mengusir Jin Dalam Tubuh Manusia Visited 196 times, 2 visit(s) today Post Views: 380 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Mohon pencerahannya ustadz. Ketika kita mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, serta meninggalkan taklid buta kepada ulama, maka sebagian orang melontarkan syubhat: “Memangnya ulama tidak pakai dalil?” “Memangnya ulama pakai ayat injil dan taurat?” Dan perkataan semisalnya. Bagaimana menanggapi syubhat-syubhat di atas? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Syubhat di atas mengesankan bahwa ulama pasti selalu benar. Padahal ulama tidak maksum dan tidak boleh meyakini ada ulama yang maksum. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan: ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم “Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227). Sehingga ulama terkadang mengikuti dalil dan terkadang menyelisihi dalil. Terkadang ulama punya dalil, terkadang ulama juga terjerumus pada taklid buta. Sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad: وأمَّا المشتغلون بالفقه بعدهم، فمنهم من يستفيدُ من علمهم في الفروع، ويُعوِّل على ما دلَّ عليه الدليل؛ أخذاً بوصايا الأئمَّة أنفسهم، فإنَّ كلَّ واحد منهم جاء عنه الأمرُ باتِّباع الدليل، وتركِ قوله إذا كان الدليلُ على خلافه، وهؤلاء موافقون لهم في العقيدة ومنهم مَن يُقلِّدُهم في مسائل الفروع، دون سعيٍ إلى معرفة الرَّاجح بالدَّليل “Adapun para ulama madzhab yang mengikuti para imam (Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan Asy-Syafi’i), ada golongan ulama madzhab yang mengambil faedah dari para imam dalam masalah furu’ (fikih) dan berpegang pada dalil yang digunakan oleh para imam. Dalam rangka mengikuti wasiat mereka. Karena setiap para imam tersebut memerintahkan untuk mengikuti dalil dan meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil. Dan para ulama golongan ini mengikuti aqidah para imam. Dan ada golongan ulama madzhab yang taklid kepada para imam dalam masalah furu’ (fikih). Tanpa berusaha untuk mengetahui pendapat yang rajih berdasarkan dalil” (Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 36-37). Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Fulani Al-Madini (wafat tahun 1218 H) rahimahullah dalam kitabnya, Iiqazhul Humam, beliau menceritakan betapa seorang ulama yang terjerumus dalam taklid buta akan selalu mencari cara untuk membela pendapat madzhabnya. Beliau berkata: ترى بعض الناس اذا وجد حديثا يوافق مذهبه فرح به وانقاد له و سلم “Engkau lihat sendiri, sebagian orang ketika mendapatkan hadits yang sesuai dengan pendapat madzhabnya, ia gembira sekali. Ia pun patuh pada hadits tersebut dan menerima dengan senang hati”. و ان وجد حديثا صحيحا سالما من معارضة والنسخ مؤيدا لمذهب غير امامه فتح له باب الاحتمالات البعيدة وضرب عنه الصفح و العارض و يلتمس لمذهب إمامه أوجها من الترجيح مع مخالفته للصحابة و التابعين والنص الصريح “Namun ketika ia menemukan hadits shahih, tidak bertentangan dengan dalil lain, tidak mansukh, dan bertentangan dengan pendapat imamnya, ia pun mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh. Lalu membuat seolah hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain. Kemudian merumuskan poin-poin tarjih yang menguatkan pendapat madzhabnya walaupun bertolak belakang dengan pendapat sahabat Nabi, pendapat para tabi’in serta nash yang sharih (tegas)” [selesai nukilan]. Maka jika ditanya, “memangnya ulama tidak pakai dalil?” jawabnya terkadang ulama mengikuti dalil terkadang tidak. Bahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam risalah Kitabul Ilmi menyebutkan ada beberapa udzur yang kita berikan ketika menemukan pendapat ulama yang menyelisihi dalil: Bisa jadi dalil yang ada belum sampai kepada ulama tersebut Bisa jadi ulama tersebut menyangka haditsnya shahih, padahal ulama hadits menyatakan haditsnya dhaif atau palsu Bisa jadi ulama tersebut keliru dalam memahami dalil Bisa jadi ulama tersebut menyangka dalilnya tsabit padahal dalil tersebut sudah mansukh Bisa jadi dalil yang ada sudah sampai kepada ulama tersebut, namun ia lupa. Dan udzur-udzur lainnya. Yang menunjukkan bahwa ulama tidak selalu benar dan mereka tidak maksum. Jika ada orang yang berkata, “Ulama saja tidak mesti benar apalagi kamu!!”. Jawabnya, kita tidak meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil untuk beralih kepada pemahaman sendiri. Namun kita mengambil pendapat ulama lain yang lebih sesuai dengan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan pemahaman salaf. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: : قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟ [ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس “Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi’i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al-Qur’an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat? Imam Asy-Syafi’i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’ atau Qiyas yang paling shahih” (Ar-Risalah, 1/597) Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan: فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang sesuai dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Ushul As-Sittah, 19). Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan: الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق “Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh pada syariat Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah ia imam yang empat atau person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan berjalan di atas manhaj beliau dalam fikih dan hukum syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Baik sesuai dengan pendapat imam yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran” (Nurun ‘alad Darbi, no. 73 pertanyaan ke-4). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Forum Tanya Jawab Islam Online, Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Hukum Qunut Sholat Subuh, Mencukur Rambut Kemaluan Dalam Islam, Cara Melihat Alam Gaib, Mengusir Jin Dalam Tubuh Manusia Visited 196 times, 2 visit(s) today Post Views: 380 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Mohon pencerahannya ustadz. Ketika kita mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, serta meninggalkan taklid buta kepada ulama, maka sebagian orang melontarkan syubhat: “Memangnya ulama tidak pakai dalil?” “Memangnya ulama pakai ayat injil dan taurat?” Dan perkataan semisalnya. Bagaimana menanggapi syubhat-syubhat di atas? Jawaban: Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du, Syubhat di atas mengesankan bahwa ulama pasti selalu benar. Padahal ulama tidak maksum dan tidak boleh meyakini ada ulama yang maksum. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan: ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم “Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227). Sehingga ulama terkadang mengikuti dalil dan terkadang menyelisihi dalil. Terkadang ulama punya dalil, terkadang ulama juga terjerumus pada taklid buta. Sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad: وأمَّا المشتغلون بالفقه بعدهم، فمنهم من يستفيدُ من علمهم في الفروع، ويُعوِّل على ما دلَّ عليه الدليل؛ أخذاً بوصايا الأئمَّة أنفسهم، فإنَّ كلَّ واحد منهم جاء عنه الأمرُ باتِّباع الدليل، وتركِ قوله إذا كان الدليلُ على خلافه، وهؤلاء موافقون لهم في العقيدة ومنهم مَن يُقلِّدُهم في مسائل الفروع، دون سعيٍ إلى معرفة الرَّاجح بالدَّليل “Adapun para ulama madzhab yang mengikuti para imam (Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan Asy-Syafi’i), ada golongan ulama madzhab yang mengambil faedah dari para imam dalam masalah furu’ (fikih) dan berpegang pada dalil yang digunakan oleh para imam. Dalam rangka mengikuti wasiat mereka. Karena setiap para imam tersebut memerintahkan untuk mengikuti dalil dan meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil. Dan para ulama golongan ini mengikuti aqidah para imam. Dan ada golongan ulama madzhab yang taklid kepada para imam dalam masalah furu’ (fikih). Tanpa berusaha untuk mengetahui pendapat yang rajih berdasarkan dalil” (Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 36-37). Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Fulani Al-Madini (wafat tahun 1218 H) rahimahullah dalam kitabnya, Iiqazhul Humam, beliau menceritakan betapa seorang ulama yang terjerumus dalam taklid buta akan selalu mencari cara untuk membela pendapat madzhabnya. Beliau berkata: ترى بعض الناس اذا وجد حديثا يوافق مذهبه فرح به وانقاد له و سلم “Engkau lihat sendiri, sebagian orang ketika mendapatkan hadits yang sesuai dengan pendapat madzhabnya, ia gembira sekali. Ia pun patuh pada hadits tersebut dan menerima dengan senang hati”. و ان وجد حديثا صحيحا سالما من معارضة والنسخ مؤيدا لمذهب غير امامه فتح له باب الاحتمالات البعيدة وضرب عنه الصفح و العارض و يلتمس لمذهب إمامه أوجها من الترجيح مع مخالفته للصحابة و التابعين والنص الصريح “Namun ketika ia menemukan hadits shahih, tidak bertentangan dengan dalil lain, tidak mansukh, dan bertentangan dengan pendapat imamnya, ia pun mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh. Lalu membuat seolah hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain. Kemudian merumuskan poin-poin tarjih yang menguatkan pendapat madzhabnya walaupun bertolak belakang dengan pendapat sahabat Nabi, pendapat para tabi’in serta nash yang sharih (tegas)” [selesai nukilan]. Maka jika ditanya, “memangnya ulama tidak pakai dalil?” jawabnya terkadang ulama mengikuti dalil terkadang tidak. Bahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam risalah Kitabul Ilmi menyebutkan ada beberapa udzur yang kita berikan ketika menemukan pendapat ulama yang menyelisihi dalil: Bisa jadi dalil yang ada belum sampai kepada ulama tersebut Bisa jadi ulama tersebut menyangka haditsnya shahih, padahal ulama hadits menyatakan haditsnya dhaif atau palsu Bisa jadi ulama tersebut keliru dalam memahami dalil Bisa jadi ulama tersebut menyangka dalilnya tsabit padahal dalil tersebut sudah mansukh Bisa jadi dalil yang ada sudah sampai kepada ulama tersebut, namun ia lupa. Dan udzur-udzur lainnya. Yang menunjukkan bahwa ulama tidak selalu benar dan mereka tidak maksum. Jika ada orang yang berkata, “Ulama saja tidak mesti benar apalagi kamu!!”. Jawabnya, kita tidak meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil untuk beralih kepada pemahaman sendiri. Namun kita mengambil pendapat ulama lain yang lebih sesuai dengan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan pemahaman salaf. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: : قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟ [ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس “Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi’i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al-Qur’an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat? Imam Asy-Syafi’i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’ atau Qiyas yang paling shahih” (Ar-Risalah, 1/597) Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan: فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً “Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang sesuai dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Ushul As-Sittah, 19). Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan: الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق “Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh pada syariat Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah ia imam yang empat atau person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan berjalan di atas manhaj beliau dalam fikih dan hukum syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Baik sesuai dengan pendapat imam yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran” (Nurun ‘alad Darbi, no. 73 pertanyaan ke-4). Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Forum Tanya Jawab Islam Online, Arwah Orang Meninggal Sebelum 40 Hari Menurut Islam, Hukum Qunut Sholat Subuh, Mencukur Rambut Kemaluan Dalam Islam, Cara Melihat Alam Gaib, Mengusir Jin Dalam Tubuh Manusia Visited 196 times, 2 visit(s) today Post Views: 380 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Pintu Rezeki yang Paling Luas dan Mudah

Belumkah kita mendengar sabda Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, sungguh Allah akan Memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia Memberi rezeki kepada burung; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad) Bagaimana menurut Anda jika ada salah seorang raja dunia ini, dia berkata, “Kemarilah…”sementara dia kaya dan perbendaharaan negara ada di tangannya. Raja itu berkata kepada Anda, “Tenang saja, semua “rezeki”, kebutuhan, dan gaji yang Anda perlukan saya yang menanggungnya, tidak perlu khawatir.” Demi Allah, bagaimana Anda akan melewati pagi dan sore hari Anda? Tidakkah Anda tenang dan bahagia? Bahkan jika ada sedikit keterlambatan dari “rezeki” yang akan diberikan kepada Anda ini—“rezeki” ini, tentu, “rezeki” di sini maksudnya pemberian (si raja tadi)—adapun rezeki itu (sebenarnya) dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā, maka Anda akan merasa tenang, tenteram dan ayem, karena Anda mengetahui bahwa raja yang berjanji kepada Anda ini mampu. Lantas bagaimana dengan Zat Yang Maha Memberi Rezeki dan Maha Agung, yaitu Allah, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Luas, Maha Besar, dan Maha Mampu Subẖānahu wa Taʿālā, Menjanjikan kepada Anda bahwa Anda akan diberi dan mendapatkan karunia yang telah Dia Tuliskan bagi Anda, maka tenanglah dan perbaguslah usaha Anda dalam mencarinya. Apakah perkataan ini maksudnya bahwa seseorang kemudian bermalas-malasan, berdiam diri, dan tidak mencari rezeki? Jawabannya: tentu tidak sama sekali! Pelajaran dari perkataan ini bukan demikian. Tidakkah Anda mendengar sabda Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang tadi, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, sungguh Allah akan Memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia Memberi rezeki kepada burung…” Apa yang burung itu lakukan? Duduk dan tidur saja? Ataukah disebutkan, “… ia pergi pada pagi hari…”? Jadi, tetap harus ada usaha! Maksud dari perkataan ini bahwa usaha haruslah dibarengi dengan tawakal, yakin, bergantung, dan menyerahkan segalanya kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Demikianlah seseorang mengumpulkan dua kebaikan sekaligus; yakni mengupayakan sebab yang diperintahkan syariat, dan tawakal yang diperintahkan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Syaikh Shalih Sindi hafizhahullah – Nasehat Ulama Yufid.TV *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Hukum Membuang Kucing, Sudah Sholat Belum, 3 Tauhid, Tata Cara Shalat Witir 3 Rakaat Tanpa Tasyahud Awal, Hukum Bertato, Anting Bayi Berapa Gram Visited 173 times, 1 visit(s) today Post Views: 289 QRIS donasi Yufid

Pintu Rezeki yang Paling Luas dan Mudah

Belumkah kita mendengar sabda Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, sungguh Allah akan Memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia Memberi rezeki kepada burung; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad) Bagaimana menurut Anda jika ada salah seorang raja dunia ini, dia berkata, “Kemarilah…”sementara dia kaya dan perbendaharaan negara ada di tangannya. Raja itu berkata kepada Anda, “Tenang saja, semua “rezeki”, kebutuhan, dan gaji yang Anda perlukan saya yang menanggungnya, tidak perlu khawatir.” Demi Allah, bagaimana Anda akan melewati pagi dan sore hari Anda? Tidakkah Anda tenang dan bahagia? Bahkan jika ada sedikit keterlambatan dari “rezeki” yang akan diberikan kepada Anda ini—“rezeki” ini, tentu, “rezeki” di sini maksudnya pemberian (si raja tadi)—adapun rezeki itu (sebenarnya) dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā, maka Anda akan merasa tenang, tenteram dan ayem, karena Anda mengetahui bahwa raja yang berjanji kepada Anda ini mampu. Lantas bagaimana dengan Zat Yang Maha Memberi Rezeki dan Maha Agung, yaitu Allah, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Luas, Maha Besar, dan Maha Mampu Subẖānahu wa Taʿālā, Menjanjikan kepada Anda bahwa Anda akan diberi dan mendapatkan karunia yang telah Dia Tuliskan bagi Anda, maka tenanglah dan perbaguslah usaha Anda dalam mencarinya. Apakah perkataan ini maksudnya bahwa seseorang kemudian bermalas-malasan, berdiam diri, dan tidak mencari rezeki? Jawabannya: tentu tidak sama sekali! Pelajaran dari perkataan ini bukan demikian. Tidakkah Anda mendengar sabda Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang tadi, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, sungguh Allah akan Memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia Memberi rezeki kepada burung…” Apa yang burung itu lakukan? Duduk dan tidur saja? Ataukah disebutkan, “… ia pergi pada pagi hari…”? Jadi, tetap harus ada usaha! Maksud dari perkataan ini bahwa usaha haruslah dibarengi dengan tawakal, yakin, bergantung, dan menyerahkan segalanya kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Demikianlah seseorang mengumpulkan dua kebaikan sekaligus; yakni mengupayakan sebab yang diperintahkan syariat, dan tawakal yang diperintahkan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Syaikh Shalih Sindi hafizhahullah – Nasehat Ulama Yufid.TV *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Hukum Membuang Kucing, Sudah Sholat Belum, 3 Tauhid, Tata Cara Shalat Witir 3 Rakaat Tanpa Tasyahud Awal, Hukum Bertato, Anting Bayi Berapa Gram Visited 173 times, 1 visit(s) today Post Views: 289 QRIS donasi Yufid
Belumkah kita mendengar sabda Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, sungguh Allah akan Memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia Memberi rezeki kepada burung; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad) Bagaimana menurut Anda jika ada salah seorang raja dunia ini, dia berkata, “Kemarilah…”sementara dia kaya dan perbendaharaan negara ada di tangannya. Raja itu berkata kepada Anda, “Tenang saja, semua “rezeki”, kebutuhan, dan gaji yang Anda perlukan saya yang menanggungnya, tidak perlu khawatir.” Demi Allah, bagaimana Anda akan melewati pagi dan sore hari Anda? Tidakkah Anda tenang dan bahagia? Bahkan jika ada sedikit keterlambatan dari “rezeki” yang akan diberikan kepada Anda ini—“rezeki” ini, tentu, “rezeki” di sini maksudnya pemberian (si raja tadi)—adapun rezeki itu (sebenarnya) dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā, maka Anda akan merasa tenang, tenteram dan ayem, karena Anda mengetahui bahwa raja yang berjanji kepada Anda ini mampu. Lantas bagaimana dengan Zat Yang Maha Memberi Rezeki dan Maha Agung, yaitu Allah, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Luas, Maha Besar, dan Maha Mampu Subẖānahu wa Taʿālā, Menjanjikan kepada Anda bahwa Anda akan diberi dan mendapatkan karunia yang telah Dia Tuliskan bagi Anda, maka tenanglah dan perbaguslah usaha Anda dalam mencarinya. Apakah perkataan ini maksudnya bahwa seseorang kemudian bermalas-malasan, berdiam diri, dan tidak mencari rezeki? Jawabannya: tentu tidak sama sekali! Pelajaran dari perkataan ini bukan demikian. Tidakkah Anda mendengar sabda Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang tadi, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, sungguh Allah akan Memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia Memberi rezeki kepada burung…” Apa yang burung itu lakukan? Duduk dan tidur saja? Ataukah disebutkan, “… ia pergi pada pagi hari…”? Jadi, tetap harus ada usaha! Maksud dari perkataan ini bahwa usaha haruslah dibarengi dengan tawakal, yakin, bergantung, dan menyerahkan segalanya kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Demikianlah seseorang mengumpulkan dua kebaikan sekaligus; yakni mengupayakan sebab yang diperintahkan syariat, dan tawakal yang diperintahkan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Syaikh Shalih Sindi hafizhahullah – Nasehat Ulama Yufid.TV *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Hukum Membuang Kucing, Sudah Sholat Belum, 3 Tauhid, Tata Cara Shalat Witir 3 Rakaat Tanpa Tasyahud Awal, Hukum Bertato, Anting Bayi Berapa Gram Visited 173 times, 1 visit(s) today Post Views: 289 QRIS donasi Yufid


Belumkah kita mendengar sabda Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, sungguh Allah akan Memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia Memberi rezeki kepada burung; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad) Bagaimana menurut Anda jika ada salah seorang raja dunia ini, dia berkata, “Kemarilah…”sementara dia kaya dan perbendaharaan negara ada di tangannya. Raja itu berkata kepada Anda, “Tenang saja, semua “rezeki”, kebutuhan, dan gaji yang Anda perlukan saya yang menanggungnya, tidak perlu khawatir.” Demi Allah, bagaimana Anda akan melewati pagi dan sore hari Anda? Tidakkah Anda tenang dan bahagia? Bahkan jika ada sedikit keterlambatan dari “rezeki” yang akan diberikan kepada Anda ini—“rezeki” ini, tentu, “rezeki” di sini maksudnya pemberian (si raja tadi)—adapun rezeki itu (sebenarnya) dari Allah Subẖānahu wa Taʿālā, maka Anda akan merasa tenang, tenteram dan ayem, karena Anda mengetahui bahwa raja yang berjanji kepada Anda ini mampu. Lantas bagaimana dengan Zat Yang Maha Memberi Rezeki dan Maha Agung, yaitu Allah, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Luas, Maha Besar, dan Maha Mampu Subẖānahu wa Taʿālā, Menjanjikan kepada Anda bahwa Anda akan diberi dan mendapatkan karunia yang telah Dia Tuliskan bagi Anda, maka tenanglah dan perbaguslah usaha Anda dalam mencarinya. Apakah perkataan ini maksudnya bahwa seseorang kemudian bermalas-malasan, berdiam diri, dan tidak mencari rezeki? Jawabannya: tentu tidak sama sekali! Pelajaran dari perkataan ini bukan demikian. Tidakkah Anda mendengar sabda Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang tadi, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, sungguh Allah akan Memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia Memberi rezeki kepada burung…” Apa yang burung itu lakukan? Duduk dan tidur saja? Ataukah disebutkan, “… ia pergi pada pagi hari…”? Jadi, tetap harus ada usaha! Maksud dari perkataan ini bahwa usaha haruslah dibarengi dengan tawakal, yakin, bergantung, dan menyerahkan segalanya kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Demikianlah seseorang mengumpulkan dua kebaikan sekaligus; yakni mengupayakan sebab yang diperintahkan syariat, dan tawakal yang diperintahkan oleh Allah Subẖānahu wa Taʿālā. Syaikh Shalih Sindi hafizhahullah – Nasehat Ulama Yufid.TV <iframe title="Pintu Rezeki &amp; Kunci Rezeki yang Paling Mudah [versi 2 menit]" width="616" height="347" src="https://www.youtube.com/embed/8lewa8C3Vm4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe> *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Hukum Membuang Kucing, Sudah Sholat Belum, 3 Tauhid, Tata Cara Shalat Witir 3 Rakaat Tanpa Tasyahud Awal, Hukum Bertato, Anting Bayi Berapa Gram Visited 173 times, 1 visit(s) today Post Views: 289 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Manakah Imam yang Dipilih, Banyak Hafalan Quran ataukah Yang Fakih (Berilmu)?

Manakah imam yang dipilih menjadi imam dalam shalat berjamaah, apakah yang menguasai dan menghafal Al-Qur’an ataukah yang fakih (berilmu)?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Urutan sebagai imam shalat berjamaah 4. Hadits #412 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi: Urutan sebagai imam shalat berjamaah Hadits #412 عَنْ أبِي مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم: «يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْماً ـ وَفِي رِوَايَةٍ: سِنّاًـ وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلاَ يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ».رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang mengimami kaum adalah orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling banyak mengetahui tentang sunnah di antara mereka. Jika dalam sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka.” Dalam suatu riwayat disebutkan, “Yang paling tua.”—“Dan janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seizinnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 673]   Faedah hadits Urutan yang menjadi imam dalam madzhab Syafii: (1) yang paling fakih (afqah), (2) yang paling banyak hafalan (aqra’), (3) yang paling wara’, (4) yang paling tua, (5) yang paling baik nasabnya, (6) yang paling bagus penyebutannya, (7) yang paling bersih bajunya, (8) yang paling bagus suaranya, (9) yang paling bagus akhlaknya, (10) yang paling bagus wajahnya. Namun, jika di masjid ada imam tetap, maka ia lebih didahulukan. Lihat Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii, hlm. 107. Hadits ini menjadi dalil bahwa yang paling banyak hafalan lebih didahulukan daripada yang lebih fakih. Inilah pendapat dalam madzhab Abu Hanifah dan Ahmad rahimahumallah, juga menjadi pendapat sebagian ulama Syafiiyah. Imam Malik, Imam Syafii, dan pengikutnya berpendapat bahwa yang fakih lebih didahulukan daripada yang banyak hafalan. Karena di dalam shalat, ada perkara yang hanya bisa diselesaikan oleh orang yang fakih. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mendahulukan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti beliau menjadi imam daripada sahabat yang lain. Padahal ada sahabat yang hafalannya lebih bagus daripada Abu Bakar. Yang perlu dipahami pula bahwa yang aqra’ (lebih banyak hafalan) di kalangan sahabat Nabi itulah yang paling fakih. Maka para sahabat itu menggabungkan antara banyak hafalan (qiroah) dan ilmu (kefakihan).Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Kami tidak melewati sepuluh ayat sampai kami mengetahui maksud perintah, larangan, dan hukumnya.” (Atsar dari Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 3:13, dinukil dari Minhah Al-‘Allam, 3:402-403). Lihat pula bahasan Fiqh Bulugh Al-Maram, 2:33-34. Hijrah tetap terus ada hingga hari kiamat. Demikian pandangan dari ulama Syafiiyah dan jumhur ulama. Oleh karenanya, saat ini didahulukan yang berhijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Jika sama unggulnya dalam qiraah (hafalan) dan kefakihan, juga dalam hal hijrah, maka yang didahulukan adalah yang lebih dulu Islamnya atau lebih tua usianya. Shahibul bait (yang punya kuasa terhadap tempat), shahibul majlis (yang memiliki majelis), atau imam masjid lebih berhak menjadi imam daripada yang lain, walaupun ada yang lebih fakih, lebih banyak hafalan, atau ada yang lebih wara’. Shahibul bait (yang punya kuasa terhadap tempat) bisa mendahulukan dirinya atau meminta yang lain untuk maju sebagai imam. Walaupun yang diminta untuk maju adalah orang yang mafdhul atau kurang utama dari shahibul bait. Karena kuasa ada di shahibul bait. Shahibul bait hendaklah memberikan izin untuk maju sebagai imam pada orang yang lebih utama darinya. Sulthan (penguasa) atau naib-nya (pengganti atau wakil dari penguasa) hendaklah diutamakan sebagai imam daripada shahibul bait, karena sulthan memiliki wilayah yang lebih luas. Walaupun shahibul bait dalam hal ini lebih banyak hafalan Al-Qur’an, lebih fakih, lebih wara’, atau lebih utama. Demikian pendapat dari ulama Syafiiyah. Inilah pengkhususan dari pembahasan sebelumnya. Dilarang duduk di tempat duduk seseorang yang berada di rumahnya, begitu pula di tikar atau ranjangnya. Hal tersebut baru dibolehkan jika ada izin dari yang punya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:401-404. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:33-34. Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Hlm. 107.   Baca Juga: Syarat Mengikuti Imam, Makmum di Masjid atau di Luar Masjid Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat, Sahkah?     Diselesaikan pada hari Selasa, 2 Rabiul Akhir 1445 H, 17 Oktober 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah imam shalat keutamaan shalat berjamaah shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Manakah Imam yang Dipilih, Banyak Hafalan Quran ataukah Yang Fakih (Berilmu)?

Manakah imam yang dipilih menjadi imam dalam shalat berjamaah, apakah yang menguasai dan menghafal Al-Qur’an ataukah yang fakih (berilmu)?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Urutan sebagai imam shalat berjamaah 4. Hadits #412 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi: Urutan sebagai imam shalat berjamaah Hadits #412 عَنْ أبِي مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم: «يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْماً ـ وَفِي رِوَايَةٍ: سِنّاًـ وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلاَ يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ».رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang mengimami kaum adalah orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling banyak mengetahui tentang sunnah di antara mereka. Jika dalam sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka.” Dalam suatu riwayat disebutkan, “Yang paling tua.”—“Dan janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seizinnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 673]   Faedah hadits Urutan yang menjadi imam dalam madzhab Syafii: (1) yang paling fakih (afqah), (2) yang paling banyak hafalan (aqra’), (3) yang paling wara’, (4) yang paling tua, (5) yang paling baik nasabnya, (6) yang paling bagus penyebutannya, (7) yang paling bersih bajunya, (8) yang paling bagus suaranya, (9) yang paling bagus akhlaknya, (10) yang paling bagus wajahnya. Namun, jika di masjid ada imam tetap, maka ia lebih didahulukan. Lihat Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii, hlm. 107. Hadits ini menjadi dalil bahwa yang paling banyak hafalan lebih didahulukan daripada yang lebih fakih. Inilah pendapat dalam madzhab Abu Hanifah dan Ahmad rahimahumallah, juga menjadi pendapat sebagian ulama Syafiiyah. Imam Malik, Imam Syafii, dan pengikutnya berpendapat bahwa yang fakih lebih didahulukan daripada yang banyak hafalan. Karena di dalam shalat, ada perkara yang hanya bisa diselesaikan oleh orang yang fakih. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mendahulukan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti beliau menjadi imam daripada sahabat yang lain. Padahal ada sahabat yang hafalannya lebih bagus daripada Abu Bakar. Yang perlu dipahami pula bahwa yang aqra’ (lebih banyak hafalan) di kalangan sahabat Nabi itulah yang paling fakih. Maka para sahabat itu menggabungkan antara banyak hafalan (qiroah) dan ilmu (kefakihan).Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Kami tidak melewati sepuluh ayat sampai kami mengetahui maksud perintah, larangan, dan hukumnya.” (Atsar dari Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 3:13, dinukil dari Minhah Al-‘Allam, 3:402-403). Lihat pula bahasan Fiqh Bulugh Al-Maram, 2:33-34. Hijrah tetap terus ada hingga hari kiamat. Demikian pandangan dari ulama Syafiiyah dan jumhur ulama. Oleh karenanya, saat ini didahulukan yang berhijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Jika sama unggulnya dalam qiraah (hafalan) dan kefakihan, juga dalam hal hijrah, maka yang didahulukan adalah yang lebih dulu Islamnya atau lebih tua usianya. Shahibul bait (yang punya kuasa terhadap tempat), shahibul majlis (yang memiliki majelis), atau imam masjid lebih berhak menjadi imam daripada yang lain, walaupun ada yang lebih fakih, lebih banyak hafalan, atau ada yang lebih wara’. Shahibul bait (yang punya kuasa terhadap tempat) bisa mendahulukan dirinya atau meminta yang lain untuk maju sebagai imam. Walaupun yang diminta untuk maju adalah orang yang mafdhul atau kurang utama dari shahibul bait. Karena kuasa ada di shahibul bait. Shahibul bait hendaklah memberikan izin untuk maju sebagai imam pada orang yang lebih utama darinya. Sulthan (penguasa) atau naib-nya (pengganti atau wakil dari penguasa) hendaklah diutamakan sebagai imam daripada shahibul bait, karena sulthan memiliki wilayah yang lebih luas. Walaupun shahibul bait dalam hal ini lebih banyak hafalan Al-Qur’an, lebih fakih, lebih wara’, atau lebih utama. Demikian pendapat dari ulama Syafiiyah. Inilah pengkhususan dari pembahasan sebelumnya. Dilarang duduk di tempat duduk seseorang yang berada di rumahnya, begitu pula di tikar atau ranjangnya. Hal tersebut baru dibolehkan jika ada izin dari yang punya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:401-404. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:33-34. Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Hlm. 107.   Baca Juga: Syarat Mengikuti Imam, Makmum di Masjid atau di Luar Masjid Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat, Sahkah?     Diselesaikan pada hari Selasa, 2 Rabiul Akhir 1445 H, 17 Oktober 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah imam shalat keutamaan shalat berjamaah shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid
Manakah imam yang dipilih menjadi imam dalam shalat berjamaah, apakah yang menguasai dan menghafal Al-Qur’an ataukah yang fakih (berilmu)?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Urutan sebagai imam shalat berjamaah 4. Hadits #412 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi: Urutan sebagai imam shalat berjamaah Hadits #412 عَنْ أبِي مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم: «يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْماً ـ وَفِي رِوَايَةٍ: سِنّاًـ وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلاَ يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ».رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang mengimami kaum adalah orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling banyak mengetahui tentang sunnah di antara mereka. Jika dalam sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka.” Dalam suatu riwayat disebutkan, “Yang paling tua.”—“Dan janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seizinnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 673]   Faedah hadits Urutan yang menjadi imam dalam madzhab Syafii: (1) yang paling fakih (afqah), (2) yang paling banyak hafalan (aqra’), (3) yang paling wara’, (4) yang paling tua, (5) yang paling baik nasabnya, (6) yang paling bagus penyebutannya, (7) yang paling bersih bajunya, (8) yang paling bagus suaranya, (9) yang paling bagus akhlaknya, (10) yang paling bagus wajahnya. Namun, jika di masjid ada imam tetap, maka ia lebih didahulukan. Lihat Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii, hlm. 107. Hadits ini menjadi dalil bahwa yang paling banyak hafalan lebih didahulukan daripada yang lebih fakih. Inilah pendapat dalam madzhab Abu Hanifah dan Ahmad rahimahumallah, juga menjadi pendapat sebagian ulama Syafiiyah. Imam Malik, Imam Syafii, dan pengikutnya berpendapat bahwa yang fakih lebih didahulukan daripada yang banyak hafalan. Karena di dalam shalat, ada perkara yang hanya bisa diselesaikan oleh orang yang fakih. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mendahulukan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti beliau menjadi imam daripada sahabat yang lain. Padahal ada sahabat yang hafalannya lebih bagus daripada Abu Bakar. Yang perlu dipahami pula bahwa yang aqra’ (lebih banyak hafalan) di kalangan sahabat Nabi itulah yang paling fakih. Maka para sahabat itu menggabungkan antara banyak hafalan (qiroah) dan ilmu (kefakihan).Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Kami tidak melewati sepuluh ayat sampai kami mengetahui maksud perintah, larangan, dan hukumnya.” (Atsar dari Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 3:13, dinukil dari Minhah Al-‘Allam, 3:402-403). Lihat pula bahasan Fiqh Bulugh Al-Maram, 2:33-34. Hijrah tetap terus ada hingga hari kiamat. Demikian pandangan dari ulama Syafiiyah dan jumhur ulama. Oleh karenanya, saat ini didahulukan yang berhijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Jika sama unggulnya dalam qiraah (hafalan) dan kefakihan, juga dalam hal hijrah, maka yang didahulukan adalah yang lebih dulu Islamnya atau lebih tua usianya. Shahibul bait (yang punya kuasa terhadap tempat), shahibul majlis (yang memiliki majelis), atau imam masjid lebih berhak menjadi imam daripada yang lain, walaupun ada yang lebih fakih, lebih banyak hafalan, atau ada yang lebih wara’. Shahibul bait (yang punya kuasa terhadap tempat) bisa mendahulukan dirinya atau meminta yang lain untuk maju sebagai imam. Walaupun yang diminta untuk maju adalah orang yang mafdhul atau kurang utama dari shahibul bait. Karena kuasa ada di shahibul bait. Shahibul bait hendaklah memberikan izin untuk maju sebagai imam pada orang yang lebih utama darinya. Sulthan (penguasa) atau naib-nya (pengganti atau wakil dari penguasa) hendaklah diutamakan sebagai imam daripada shahibul bait, karena sulthan memiliki wilayah yang lebih luas. Walaupun shahibul bait dalam hal ini lebih banyak hafalan Al-Qur’an, lebih fakih, lebih wara’, atau lebih utama. Demikian pendapat dari ulama Syafiiyah. Inilah pengkhususan dari pembahasan sebelumnya. Dilarang duduk di tempat duduk seseorang yang berada di rumahnya, begitu pula di tikar atau ranjangnya. Hal tersebut baru dibolehkan jika ada izin dari yang punya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:401-404. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:33-34. Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Hlm. 107.   Baca Juga: Syarat Mengikuti Imam, Makmum di Masjid atau di Luar Masjid Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat, Sahkah?     Diselesaikan pada hari Selasa, 2 Rabiul Akhir 1445 H, 17 Oktober 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah imam shalat keutamaan shalat berjamaah shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid


Manakah imam yang dipilih menjadi imam dalam shalat berjamaah, apakah yang menguasai dan menghafal Al-Qur’an ataukah yang fakih (berilmu)?     Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Kitab Shalat فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَالإِمَامَةِ Keutamaan Shalat Berjamaah dan Masalah Imam Daftar Isi tutup 1. Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 2. Kitab Shalat 3. Urutan sebagai imam shalat berjamaah 4. Hadits #412 4.1. Faedah hadits 4.2. Referensi: Urutan sebagai imam shalat berjamaah Hadits #412 عَنْ أبِي مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم: «يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْماً ـ وَفِي رِوَايَةٍ: سِنّاًـ وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلاَ يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ».رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang mengimami kaum adalah orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling banyak mengetahui tentang sunnah di antara mereka. Jika dalam sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka.” Dalam suatu riwayat disebutkan, “Yang paling tua.”—“Dan janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seizinnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 673]   Faedah hadits Urutan yang menjadi imam dalam madzhab Syafii: (1) yang paling fakih (afqah), (2) yang paling banyak hafalan (aqra’), (3) yang paling wara’, (4) yang paling tua, (5) yang paling baik nasabnya, (6) yang paling bagus penyebutannya, (7) yang paling bersih bajunya, (8) yang paling bagus suaranya, (9) yang paling bagus akhlaknya, (10) yang paling bagus wajahnya. Namun, jika di masjid ada imam tetap, maka ia lebih didahulukan. Lihat Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii, hlm. 107. Hadits ini menjadi dalil bahwa yang paling banyak hafalan lebih didahulukan daripada yang lebih fakih. Inilah pendapat dalam madzhab Abu Hanifah dan Ahmad rahimahumallah, juga menjadi pendapat sebagian ulama Syafiiyah. Imam Malik, Imam Syafii, dan pengikutnya berpendapat bahwa yang fakih lebih didahulukan daripada yang banyak hafalan. Karena di dalam shalat, ada perkara yang hanya bisa diselesaikan oleh orang yang fakih. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mendahulukan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti beliau menjadi imam daripada sahabat yang lain. Padahal ada sahabat yang hafalannya lebih bagus daripada Abu Bakar. Yang perlu dipahami pula bahwa yang aqra’ (lebih banyak hafalan) di kalangan sahabat Nabi itulah yang paling fakih. Maka para sahabat itu menggabungkan antara banyak hafalan (qiroah) dan ilmu (kefakihan).Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Kami tidak melewati sepuluh ayat sampai kami mengetahui maksud perintah, larangan, dan hukumnya.” (Atsar dari Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, 3:13, dinukil dari Minhah Al-‘Allam, 3:402-403). Lihat pula bahasan Fiqh Bulugh Al-Maram, 2:33-34. Hijrah tetap terus ada hingga hari kiamat. Demikian pandangan dari ulama Syafiiyah dan jumhur ulama. Oleh karenanya, saat ini didahulukan yang berhijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Jika sama unggulnya dalam qiraah (hafalan) dan kefakihan, juga dalam hal hijrah, maka yang didahulukan adalah yang lebih dulu Islamnya atau lebih tua usianya. Shahibul bait (yang punya kuasa terhadap tempat), shahibul majlis (yang memiliki majelis), atau imam masjid lebih berhak menjadi imam daripada yang lain, walaupun ada yang lebih fakih, lebih banyak hafalan, atau ada yang lebih wara’. Shahibul bait (yang punya kuasa terhadap tempat) bisa mendahulukan dirinya atau meminta yang lain untuk maju sebagai imam. Walaupun yang diminta untuk maju adalah orang yang mafdhul atau kurang utama dari shahibul bait. Karena kuasa ada di shahibul bait. Shahibul bait hendaklah memberikan izin untuk maju sebagai imam pada orang yang lebih utama darinya. Sulthan (penguasa) atau naib-nya (pengganti atau wakil dari penguasa) hendaklah diutamakan sebagai imam daripada shahibul bait, karena sulthan memiliki wilayah yang lebih luas. Walaupun shahibul bait dalam hal ini lebih banyak hafalan Al-Qur’an, lebih fakih, lebih wara’, atau lebih utama. Demikian pendapat dari ulama Syafiiyah. Inilah pengkhususan dari pembahasan sebelumnya. Dilarang duduk di tempat duduk seseorang yang berada di rumahnya, begitu pula di tikar atau ranjangnya. Hal tersebut baru dibolehkan jika ada izin dari yang punya.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:401-404. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 2:33-34. Al-Imtaa’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Daar Al-Manaar. Hlm. 107.   Baca Juga: Syarat Mengikuti Imam, Makmum di Masjid atau di Luar Masjid Hukum Anak Kecil Menjadi Imam Shalat, Sahkah?     Diselesaikan pada hari Selasa, 2 Rabiul Akhir 1445 H, 17 Oktober 2023 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat berjamaah cara imam shalat cara mengikuti imam hukum shalat berjamaah imam shalat keutamaan shalat berjamaah shalat berjamaah shalat berjamaah di masjid

Bahaya Bangsa Yahudi

خطر اليهود Bahaya Bangsa Yahudi إنّ من يتأمَّل التاريخ على طول مداه ويتأمل في أحوال الأمم وأخلاقها ومعاملاتها يجد أن أسوء الأمم خُلقا وأشرَّها معاملة أمّةُ اليهود تلك الأمة الغضبية الملعونة ؛ أمّة الكذب والطغيان والفسوق والعصيان والكفر والإلحاد ، أمّةٌ ممقوتة لدى الناس لفظاظة قلوبهم وشدّة حقدهم وحسدهم ولعِظم بغيهم وطغيانهم ، أهل طبيعة وحشية وهمجيّة لا يباريهم فيها أحد ، كلّما أحسوا بقوةٍ ونفوذٍ وتمكنٍ وقدرة هجموا على من يعادونه هجوم السبُع على فريسته ، لا يرقبون في أحد إلا ولا ذمة ، ولا يعرفون ميثاقاً ولا عهدا ، لا يُعرف في الأمم جميعها أمةٌ أقسى قلوبا ولا أغلظ أفئدة من هذه الأمة ، قد التصق بهم الإجرام والظلم والعدوان والجور والبهتان من قديم الزمان يقول الله تعالى: {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً} ويقول الله تعالى: {ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً}. Barang siapa yang mengerti perjalanan sejarah yang panjang dan merenungkan keadaan, akhlak, dan kehidupan sosial berbagai umat manusia, niscaya dia akan mendapati bahwa umat yang paling buruk dan yang paling jelek akhlak dan muamalahnya di antara mereka adalah bangsa Yahudi. Merekalah umat yang dimurkai dan terkutuk. Bangsa pendusta, tirani, fasik, durhaka, dan kafir lagi ingkar. Bangsa yang dibenci oleh umat manusia karena hati mereka yang keras dan buruknya kebencian mereka serta hasad dalam diri mereka, di samping parahnya penindasan dan kezaliman yang mereka lakukan. Bangsa ini tabiatnya keras dan serakah hingga tidak ada seorang pun yang lebih keras dan serakah daripada mereka. Setiap kali mereka mendapatkan kekuatan, pengaruh, kedudukan, dan kemampuan, mereka akan segera menyerang lawan mereka seperti binatang buas yang menyergap mangsanya. Tidaklah mereka menguasai seseorang melainkan dia kehilangan jaminan keselamatannya dan tidaklah mereka menyepakati perjanjian melainkan akan terjadi pengingkaran. Di tengah semua bangsa yang ada, tidak dikenal bangsa yang lebih keras dadanya dan lebih kasar hatinya melebihi bangsa ini. Kriminalitas, kezaliman, agresi, tirani, dan kedustaan telah melekat erat pada mereka sejak zaman dahulu.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al-Maidah: 13).  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras, sehingga (hati kalian) seperti batu, bahkan lebih keras daripadanya.” (QS. Al-Baqarah: 74). ومن قسوة قلوب هؤلاء أنهم قتلوا بعض أنبياء الله الذين جاءوا يحملون إليهم الهدى والصلاح والسعادة والفلاح ، قال الله تعالى : {لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ} [المائدة:??] ، وقال تعالى : {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء:???] ، وقال تعالى : {إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ} [آل عمران:??] ، وهذه القسوة التي وصمهم الله بها في القرآن ملازمةٌ لهم على مر العصور واختلاف الأزمان إلى زماننا هذا. Di antara bentuk kerasnya hati mereka adalah bahwa mereka berani membunuh beberapa nabi Allah yang datang untuk mereka membawa petunjuk, kesalehan, kebahagiaan, dan kemenangan.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami Mengutus kepada mereka rasul-rasul. Namun setiap rasul datang kepada mereka dengan membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, (maka) sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Maidah: 70).  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Maka (Kami Menghukum mereka), karena mereka melanggar perjanjian itu, karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, dan karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, serta karena mereka mengatakan, ‘Hati kami telah tertutup.’ Sebenarnya Allah telah Mengunci hati mereka karena kekafirannya, karena itu hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 155).  Dia Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran: 21).  Inilah kekerasan hati yang digambarkan oleh Allah dalam al-Qur’an yang masih melekat pada diri mereka meskipun masa yang lama telah berlalu dan zaman telah berganti sampai di zaman kita ini. ثم هم مع ذلك أهل مكرٍ وخديعة وخُبث وكيد ، وقد عانى المسلمون الأُوَل من صفة اليهود هذه الشيء الكثير ، ولا يزال المسلمون يعانون الويل من جرَّاء مكر اليهود وكيدهم والله يقول : {إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ} Di samping itu, mereka adalah orang-orang yang penuh makar, tipu daya, culas, dan tipuan. Umat Islam di masa-masa awal telah menderita karena sering menjadi korban karakter Yahudi ini. Pun kaum Muslimin sekarang masih merasakan penderitaan akibat tipu daya Yahudi dan muslihat mereka.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120).  وقد دأَب اليهود من قديم الزمان على الغدر والخيانة ونقض العهود والوعود ، قال تعالى : {إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (55) الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ}، لقد عاش اليهود طوال حياتهم بؤرة فساد في المجتمعات وأساس كل منكر وفحشاء ، ينشرون الرذيلة ويشيعون الفساد ، وقد كانوا عبر التاريخ مصدراً للمنكر والفحشاء ؛ فهم أصحاب بيوت الدعارة في العالم وناشرو الانحلال الجنسي في كل مكان ، يبتزُّون أموال الشعوب ثم يسخرونها في إشاعة الرذيلة بينهم ليحطِّموا بذلك قيمهم ويخلخلوا إيمانهم ويضعِفوا قوتهم وليكونوا بذلك فريسةً سهلة لهم ، فما أقبحه من مكر. Sejak zaman dahulu, bangsa Yahudi sudah biasa memberontak, berkhianat, dan mengingkari janji dan kesepakatan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya makhluk yang berjalan yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman, (yaitu) orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, kemudian setiap kali berjanji mereka mengkhianati janjinya, sedang mereka tidak takut (kepada Allah).” (QS. Al-Anfal: 55-56).  Bangsa Yahudi sepanjang hidup mereka adalah kerusakan bagi masyarakat dan pangkal segala kemungkaran dan kekejian. Mereka menyebarkan amoralitas dan hidup dengan membawa kerusakan. Sepanjang sejarah mereka, mereka menjadi sumber kemungkaran dan tindakan amoral. Mereka adalah pemilik rumah-rumah pelacuran global dan penyebarkan paham pergaulan bebas di mana-mana. Mereka memeras uang orang-orang lalu menggunakannya untuk menyebarkan tindak amoral ke tengah mereka untuk menghancurkan norma-norma mereka, menggerogoti iman mereka, dan melemahkan kekuatan mereka, sehingga mereka menjadi mangsa empuk bagi mereka. Sungguh, betapa licik muslihat mereka. إن عِداء اليهود للإسلام عداءٌ قديم منذ فجر الإسلام الأوّل، وعداءهم وحقدهم على أهله معروف لدى الخاص والعام في قديم الزمان وحديثه ، لأن الإسلام عرَّى حالهم وكشف أمرهم وفضح مخازيهم وأظهر قبائحهم وشنائعهم، فبات أمرهم معلناً بدل أن كان سراً ، وبادياً لكل أحد بعد أن كان خفيّا . وجاءت آيات القرآن الكريم آيةً تلوى الأخرى معرِّية أمر هؤلاء مجلِّية حقيقة أمرهم كاشفةً كل مكرهم وكيدهم وخداعهم ، وصدق الله إذ يقول : {وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ} Permusuhan bangsa Yahudi terhadap umat Islam adalah permusuhan klasik sejak pertama kali munculnya fajar Islam. Permusuhan dan kebencian mereka terhadap orang-orang Islam sudah dikenal oleh para pakar dan orang-orang awam sejak zaman dahulu hingga sekarang. Sebabnya adalah karena Islam membeberkan hakikat mereka, menyingkap rahasia mereka, mengungkap aib-aib memalukan mereka, dan menampakkan keburukan dan kekejaman mereka, sehingga perkara agama mereka menjadi dikenal oleh publik dan tidak lagi tersembunyi serta menjadi jelas bagi semua orang setelah sebelumnya dirahasiakan.  Ada banyak ayat-ayat dalam al-Quran yang Mulia yang diturunkan silih berganti, ayat demi ayat, yang menyingkap perkara mereka dan menjelaskan hakikat masalah mereka serta membeberkan semua rencana jahat, tipu daya, dan muslihat mereka.  Sungguh, Maha Benar Allah Subẖānahu wa Ta’ālā ketika Berfirman (yang artinya), “Dan demikianlah Kami Terangkan ayat-ayat al-Quran, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55). لا غرابة أن كان عداء اليهود للإسلام شديداً ؛ فالإسلام جاء هادماً لكل ما لديهم من زيف وبهتان وباطل ، ومناقضا لكل ما عندهم من جنوح وانحراف وضلال. إنَّ الإسلام يدعو إلى الإيمان والتوحيد والإخلاص، واليهود يدعون إلى الكفر والإلحاد والتكذيب والإعراض. إنَّ الإسلام يدعو إلى مُثُلٍ عليا وقِيم رفيعة وإلى الرحمة والخير والإحسان، بينما اليهود يدعون إلى القسوة والإجرام والوحشية والعدوان والظلم والبهتان. Tidak mengherankan jika permusuhan orang Yahudi terhadap Islam sangat keras, karena Islam datang untuk menghancurkan semua kepalsuan, fitnah, dan kebatilan mereka, serta menentang semua kekejaman, penyimpangan, dan kesesatan mereka. Islam menyerukan kepada keimanan, tauhid, dan keikhlasan, sedangkan orang-orang Yahudi mengajak untuk kafir, ingkar, mendustakan, dan berpaling dari agama. Islam juga menyeru kepada akhlak yang mulia dan nilai-nilai yang luhur, kasih sayang, dan kebaikan, sementara orang-orang Yahudi menyeru kepada kekerasan, kriminalitas, kebrutalan, permusuhan, kezaliman, dan muslihat. الإسلام يدعو إلى الحياء والستر والحشمة والعفاف ، واليهود يدعون إلى الرذيلة والفساد والمكر والبغي . الإسلام يحفظ الحقوق ويحترم المواثيق ويحرِّم الظلم ، واليهود لا يعرفون حقّا ولا يحفظون عهداً ولا ميثاقاً ولا يتركون الظلم والعدوان . الإسلام يحرِّم قتل النفس بغير الحق ويحرِّم السرقة والزنا ، واليهود يستبيحون سفك دماء غير اليهود وسرقة أموالهم وانتهاك أعراضهم. Islam menyerukan kepada rasa malu, menutup aurat, kesopanan, dan kesucian diri, sementara orang-orang Yahudi menyerukan perbuatan-perbuatan amoral, kerusakan, tipu muslihat, dan melampaui batas. Islam juga menjaga hak-hak yang ada, menghormati perjanjian, dan melarang kezaliman, sementara orang-orang Yahudi tidak menggubris hak-hak yang ada, tidak menepati perjanjian dan kesepakatan, dan tidak meninggalkan perbuatan zalim dan permusuhan.  Islam melarang membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan dan melarang pencurian serta perzinahan. Adapun orang-orang Yahudi, mereka membolehkan menumpahkan darah orang-orang non-Yahudi, mencuri uang mereka, dan menodai kehormatan mereka. ورغم كلِّ هذا الضلال الذي هم فيه فإنهم يعتقدون في أنفسهم أنهم شعب الله المختار وأنهم أبناء الله وأحباؤه وأن أرواحهم متميزة عن بقية أرواح البشر بأنها جزء من الله وأنه لو لم يُخلق اليهود لانعدمت البركة من الأرض ولما نزلت الأمطار ولا وجدت الخيرات ، ويعتقدون فيمن سواهم أنهم أشبه بالحمير وأن الله خلقهم على صورة الإنسان ليكونوا لائقين لخدمتهم ، ألا شاهت وجوه الأخسرين ولعنة الله على المجرمين. Dengan semua kesesatan dalam diri mereka, mereka masih meyakini bahwa mereka adalah ‘bangsa Allah’ dan umat pilihan-Nya, bahwa mereka adalah ‘anak-anak-Nya’ dan makhluk yang dicintai-Nya, dan bahwa roh-roh mereka berbeda dengan roh manusia lainnya. Roh mereka adalah bagian dari Allah dan bahwa keberkahan akan diangkat dari bumi, hujan tidak akan turun, dan perbuatan baik tidak akan ada jika orang Yahudi tidak diciptakan.  Mereka juga meyakini bahwa umat lain selain mereka tidak lebih seperti keledai dan bahwa Allah menciptakan mereka dalam rupa manusia agar layak untuk menjadi pelayan mereka!!  Semoga Allah Memburukkan rupa orang-orang yang merugi tersebut dan Melaknat para durjana tersebut! يجب أن ندرك جميعاً أنَّ عدوان اليهود على المسلمين في فلسطين ليس مجرد نزاعٍ على أرض ، وأن ندرك أن قضية فلسطين قضيةٌ إسلامية يجب أن يؤرِّق أمرها بال كل مسلم ، ففلسطين بلد الأنبياء وفيها ثالث المساجد الثلاثة المعظمة ، وهي مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقبلة المسلمين الأولى ، وليس لأحدٍ فيها حقّ إلا الإسلام وأهله ؛ والأرض لله يورثها من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين. Kita semua harus menyadari bahwa permusuhan bangsa Yahudi terhadap kaum muslimin di Palestina bukan hanya sekedar masalah sengketa tanah. Kita juga harus memahami bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam yang harus menjadi perhatian setiap muslim. Palestina adalah negeri para nabi. Di sana ada masjid suci ketiga dari tiga masjid suci, di sanalah Rasulullah diperjalankan untuk Isra’, dan di sanalah kiblat pertama umat Islam. Tidak ada yang berhak memilikinya kecuali Islam dan umat Islam.  Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah dan Dia akan Mewariskannya kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.  ويجب أن ندرك أنَّ تغلب هذه الشرذمة المرذولة والفئة المخذولة وتسلطهم على المسلمين إنما هو بسبب الذنوب والمعاصي وإعراض كثير من المسلمين عن دينهم الذي هو سبب عِزهم وفلاحهم ورفعتهم في الدنيا والآخرة ، قال تعالى : { وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}، فلا بد من عودةٍ صادقة وأوبة حميدة إلى الله جلّ وعلا فيها تصحيحٌ للإيمان وصلةٌ بالرحمن وحفاظ على الطاعة والإحسان ، وبُعدٌ وحذرٌ من الفسوق والعصيان لينال المؤمنون العزّة والتمكين والنصر والتأييد. Kita harus tahu bahwa dominasi umat hina ini dan bangsa yang tertipu ini serta kekuasaannya atas kaum muslimin tidak lain dan tidak bukan adalah karena dosa dan maksiat serta berpalingnya banyak kaum muslimin sendiri dari agama mereka, karena agama Islam adalah kunci kejayaan, keberhasilan, dan kedigdayaan mereka di dunia dan di akhirat.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).  Oleh sebab itu, perlu untuk sejujur-jujurnya kembali dan sebaik-baiknya bertobat kepada Allah Jalla wa ʿAlā. Hal tersebut akan memperbaiki keimanan, memperbagus hubungan yang baik dengan ar-Rahman, dan menjaga amal ketaatan dan kebajikan, serta menjauhkan dan memunculkan mawas diri terhadap kefasikan dan kemaksiatan agar umat Islam kembali mendapatkan kejayaan dan kekuasaan mereka serta pertolongan dan dukungan dari Allah. {وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ }  “Allah telah Menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia, sungguh, akan Menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah Menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan Meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia Ridai, dan Dia benar-benar akan Mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) Menyembah-Ku tanpa mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Namun barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik, maka laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kalian mendapat rahmat.” (QS. An-Nur: 55-56). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2565 PDF sumber artikel 🔍 Obat Galau Dalam Islam, Doa Untuk Meruqyah Diri Sendiri, Dosa Meninggalkan Solat, Lafadz Ijab Qobul, Cara Mengqodho Sholat Magrib, Maghrib Berapa Rakaat Visited 85 times, 1 visit(s) today Post Views: 712 QRIS donasi Yufid

Bahaya Bangsa Yahudi

خطر اليهود Bahaya Bangsa Yahudi إنّ من يتأمَّل التاريخ على طول مداه ويتأمل في أحوال الأمم وأخلاقها ومعاملاتها يجد أن أسوء الأمم خُلقا وأشرَّها معاملة أمّةُ اليهود تلك الأمة الغضبية الملعونة ؛ أمّة الكذب والطغيان والفسوق والعصيان والكفر والإلحاد ، أمّةٌ ممقوتة لدى الناس لفظاظة قلوبهم وشدّة حقدهم وحسدهم ولعِظم بغيهم وطغيانهم ، أهل طبيعة وحشية وهمجيّة لا يباريهم فيها أحد ، كلّما أحسوا بقوةٍ ونفوذٍ وتمكنٍ وقدرة هجموا على من يعادونه هجوم السبُع على فريسته ، لا يرقبون في أحد إلا ولا ذمة ، ولا يعرفون ميثاقاً ولا عهدا ، لا يُعرف في الأمم جميعها أمةٌ أقسى قلوبا ولا أغلظ أفئدة من هذه الأمة ، قد التصق بهم الإجرام والظلم والعدوان والجور والبهتان من قديم الزمان يقول الله تعالى: {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً} ويقول الله تعالى: {ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً}. Barang siapa yang mengerti perjalanan sejarah yang panjang dan merenungkan keadaan, akhlak, dan kehidupan sosial berbagai umat manusia, niscaya dia akan mendapati bahwa umat yang paling buruk dan yang paling jelek akhlak dan muamalahnya di antara mereka adalah bangsa Yahudi. Merekalah umat yang dimurkai dan terkutuk. Bangsa pendusta, tirani, fasik, durhaka, dan kafir lagi ingkar. Bangsa yang dibenci oleh umat manusia karena hati mereka yang keras dan buruknya kebencian mereka serta hasad dalam diri mereka, di samping parahnya penindasan dan kezaliman yang mereka lakukan. Bangsa ini tabiatnya keras dan serakah hingga tidak ada seorang pun yang lebih keras dan serakah daripada mereka. Setiap kali mereka mendapatkan kekuatan, pengaruh, kedudukan, dan kemampuan, mereka akan segera menyerang lawan mereka seperti binatang buas yang menyergap mangsanya. Tidaklah mereka menguasai seseorang melainkan dia kehilangan jaminan keselamatannya dan tidaklah mereka menyepakati perjanjian melainkan akan terjadi pengingkaran. Di tengah semua bangsa yang ada, tidak dikenal bangsa yang lebih keras dadanya dan lebih kasar hatinya melebihi bangsa ini. Kriminalitas, kezaliman, agresi, tirani, dan kedustaan telah melekat erat pada mereka sejak zaman dahulu.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al-Maidah: 13).  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras, sehingga (hati kalian) seperti batu, bahkan lebih keras daripadanya.” (QS. Al-Baqarah: 74). ومن قسوة قلوب هؤلاء أنهم قتلوا بعض أنبياء الله الذين جاءوا يحملون إليهم الهدى والصلاح والسعادة والفلاح ، قال الله تعالى : {لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ} [المائدة:??] ، وقال تعالى : {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء:???] ، وقال تعالى : {إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ} [آل عمران:??] ، وهذه القسوة التي وصمهم الله بها في القرآن ملازمةٌ لهم على مر العصور واختلاف الأزمان إلى زماننا هذا. Di antara bentuk kerasnya hati mereka adalah bahwa mereka berani membunuh beberapa nabi Allah yang datang untuk mereka membawa petunjuk, kesalehan, kebahagiaan, dan kemenangan.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami Mengutus kepada mereka rasul-rasul. Namun setiap rasul datang kepada mereka dengan membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, (maka) sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Maidah: 70).  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Maka (Kami Menghukum mereka), karena mereka melanggar perjanjian itu, karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, dan karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, serta karena mereka mengatakan, ‘Hati kami telah tertutup.’ Sebenarnya Allah telah Mengunci hati mereka karena kekafirannya, karena itu hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 155).  Dia Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran: 21).  Inilah kekerasan hati yang digambarkan oleh Allah dalam al-Qur’an yang masih melekat pada diri mereka meskipun masa yang lama telah berlalu dan zaman telah berganti sampai di zaman kita ini. ثم هم مع ذلك أهل مكرٍ وخديعة وخُبث وكيد ، وقد عانى المسلمون الأُوَل من صفة اليهود هذه الشيء الكثير ، ولا يزال المسلمون يعانون الويل من جرَّاء مكر اليهود وكيدهم والله يقول : {إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ} Di samping itu, mereka adalah orang-orang yang penuh makar, tipu daya, culas, dan tipuan. Umat Islam di masa-masa awal telah menderita karena sering menjadi korban karakter Yahudi ini. Pun kaum Muslimin sekarang masih merasakan penderitaan akibat tipu daya Yahudi dan muslihat mereka.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120).  وقد دأَب اليهود من قديم الزمان على الغدر والخيانة ونقض العهود والوعود ، قال تعالى : {إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (55) الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ}، لقد عاش اليهود طوال حياتهم بؤرة فساد في المجتمعات وأساس كل منكر وفحشاء ، ينشرون الرذيلة ويشيعون الفساد ، وقد كانوا عبر التاريخ مصدراً للمنكر والفحشاء ؛ فهم أصحاب بيوت الدعارة في العالم وناشرو الانحلال الجنسي في كل مكان ، يبتزُّون أموال الشعوب ثم يسخرونها في إشاعة الرذيلة بينهم ليحطِّموا بذلك قيمهم ويخلخلوا إيمانهم ويضعِفوا قوتهم وليكونوا بذلك فريسةً سهلة لهم ، فما أقبحه من مكر. Sejak zaman dahulu, bangsa Yahudi sudah biasa memberontak, berkhianat, dan mengingkari janji dan kesepakatan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya makhluk yang berjalan yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman, (yaitu) orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, kemudian setiap kali berjanji mereka mengkhianati janjinya, sedang mereka tidak takut (kepada Allah).” (QS. Al-Anfal: 55-56).  Bangsa Yahudi sepanjang hidup mereka adalah kerusakan bagi masyarakat dan pangkal segala kemungkaran dan kekejian. Mereka menyebarkan amoralitas dan hidup dengan membawa kerusakan. Sepanjang sejarah mereka, mereka menjadi sumber kemungkaran dan tindakan amoral. Mereka adalah pemilik rumah-rumah pelacuran global dan penyebarkan paham pergaulan bebas di mana-mana. Mereka memeras uang orang-orang lalu menggunakannya untuk menyebarkan tindak amoral ke tengah mereka untuk menghancurkan norma-norma mereka, menggerogoti iman mereka, dan melemahkan kekuatan mereka, sehingga mereka menjadi mangsa empuk bagi mereka. Sungguh, betapa licik muslihat mereka. إن عِداء اليهود للإسلام عداءٌ قديم منذ فجر الإسلام الأوّل، وعداءهم وحقدهم على أهله معروف لدى الخاص والعام في قديم الزمان وحديثه ، لأن الإسلام عرَّى حالهم وكشف أمرهم وفضح مخازيهم وأظهر قبائحهم وشنائعهم، فبات أمرهم معلناً بدل أن كان سراً ، وبادياً لكل أحد بعد أن كان خفيّا . وجاءت آيات القرآن الكريم آيةً تلوى الأخرى معرِّية أمر هؤلاء مجلِّية حقيقة أمرهم كاشفةً كل مكرهم وكيدهم وخداعهم ، وصدق الله إذ يقول : {وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ} Permusuhan bangsa Yahudi terhadap umat Islam adalah permusuhan klasik sejak pertama kali munculnya fajar Islam. Permusuhan dan kebencian mereka terhadap orang-orang Islam sudah dikenal oleh para pakar dan orang-orang awam sejak zaman dahulu hingga sekarang. Sebabnya adalah karena Islam membeberkan hakikat mereka, menyingkap rahasia mereka, mengungkap aib-aib memalukan mereka, dan menampakkan keburukan dan kekejaman mereka, sehingga perkara agama mereka menjadi dikenal oleh publik dan tidak lagi tersembunyi serta menjadi jelas bagi semua orang setelah sebelumnya dirahasiakan.  Ada banyak ayat-ayat dalam al-Quran yang Mulia yang diturunkan silih berganti, ayat demi ayat, yang menyingkap perkara mereka dan menjelaskan hakikat masalah mereka serta membeberkan semua rencana jahat, tipu daya, dan muslihat mereka.  Sungguh, Maha Benar Allah Subẖānahu wa Ta’ālā ketika Berfirman (yang artinya), “Dan demikianlah Kami Terangkan ayat-ayat al-Quran, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55). لا غرابة أن كان عداء اليهود للإسلام شديداً ؛ فالإسلام جاء هادماً لكل ما لديهم من زيف وبهتان وباطل ، ومناقضا لكل ما عندهم من جنوح وانحراف وضلال. إنَّ الإسلام يدعو إلى الإيمان والتوحيد والإخلاص، واليهود يدعون إلى الكفر والإلحاد والتكذيب والإعراض. إنَّ الإسلام يدعو إلى مُثُلٍ عليا وقِيم رفيعة وإلى الرحمة والخير والإحسان، بينما اليهود يدعون إلى القسوة والإجرام والوحشية والعدوان والظلم والبهتان. Tidak mengherankan jika permusuhan orang Yahudi terhadap Islam sangat keras, karena Islam datang untuk menghancurkan semua kepalsuan, fitnah, dan kebatilan mereka, serta menentang semua kekejaman, penyimpangan, dan kesesatan mereka. Islam menyerukan kepada keimanan, tauhid, dan keikhlasan, sedangkan orang-orang Yahudi mengajak untuk kafir, ingkar, mendustakan, dan berpaling dari agama. Islam juga menyeru kepada akhlak yang mulia dan nilai-nilai yang luhur, kasih sayang, dan kebaikan, sementara orang-orang Yahudi menyeru kepada kekerasan, kriminalitas, kebrutalan, permusuhan, kezaliman, dan muslihat. الإسلام يدعو إلى الحياء والستر والحشمة والعفاف ، واليهود يدعون إلى الرذيلة والفساد والمكر والبغي . الإسلام يحفظ الحقوق ويحترم المواثيق ويحرِّم الظلم ، واليهود لا يعرفون حقّا ولا يحفظون عهداً ولا ميثاقاً ولا يتركون الظلم والعدوان . الإسلام يحرِّم قتل النفس بغير الحق ويحرِّم السرقة والزنا ، واليهود يستبيحون سفك دماء غير اليهود وسرقة أموالهم وانتهاك أعراضهم. Islam menyerukan kepada rasa malu, menutup aurat, kesopanan, dan kesucian diri, sementara orang-orang Yahudi menyerukan perbuatan-perbuatan amoral, kerusakan, tipu muslihat, dan melampaui batas. Islam juga menjaga hak-hak yang ada, menghormati perjanjian, dan melarang kezaliman, sementara orang-orang Yahudi tidak menggubris hak-hak yang ada, tidak menepati perjanjian dan kesepakatan, dan tidak meninggalkan perbuatan zalim dan permusuhan.  Islam melarang membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan dan melarang pencurian serta perzinahan. Adapun orang-orang Yahudi, mereka membolehkan menumpahkan darah orang-orang non-Yahudi, mencuri uang mereka, dan menodai kehormatan mereka. ورغم كلِّ هذا الضلال الذي هم فيه فإنهم يعتقدون في أنفسهم أنهم شعب الله المختار وأنهم أبناء الله وأحباؤه وأن أرواحهم متميزة عن بقية أرواح البشر بأنها جزء من الله وأنه لو لم يُخلق اليهود لانعدمت البركة من الأرض ولما نزلت الأمطار ولا وجدت الخيرات ، ويعتقدون فيمن سواهم أنهم أشبه بالحمير وأن الله خلقهم على صورة الإنسان ليكونوا لائقين لخدمتهم ، ألا شاهت وجوه الأخسرين ولعنة الله على المجرمين. Dengan semua kesesatan dalam diri mereka, mereka masih meyakini bahwa mereka adalah ‘bangsa Allah’ dan umat pilihan-Nya, bahwa mereka adalah ‘anak-anak-Nya’ dan makhluk yang dicintai-Nya, dan bahwa roh-roh mereka berbeda dengan roh manusia lainnya. Roh mereka adalah bagian dari Allah dan bahwa keberkahan akan diangkat dari bumi, hujan tidak akan turun, dan perbuatan baik tidak akan ada jika orang Yahudi tidak diciptakan.  Mereka juga meyakini bahwa umat lain selain mereka tidak lebih seperti keledai dan bahwa Allah menciptakan mereka dalam rupa manusia agar layak untuk menjadi pelayan mereka!!  Semoga Allah Memburukkan rupa orang-orang yang merugi tersebut dan Melaknat para durjana tersebut! يجب أن ندرك جميعاً أنَّ عدوان اليهود على المسلمين في فلسطين ليس مجرد نزاعٍ على أرض ، وأن ندرك أن قضية فلسطين قضيةٌ إسلامية يجب أن يؤرِّق أمرها بال كل مسلم ، ففلسطين بلد الأنبياء وفيها ثالث المساجد الثلاثة المعظمة ، وهي مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقبلة المسلمين الأولى ، وليس لأحدٍ فيها حقّ إلا الإسلام وأهله ؛ والأرض لله يورثها من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين. Kita semua harus menyadari bahwa permusuhan bangsa Yahudi terhadap kaum muslimin di Palestina bukan hanya sekedar masalah sengketa tanah. Kita juga harus memahami bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam yang harus menjadi perhatian setiap muslim. Palestina adalah negeri para nabi. Di sana ada masjid suci ketiga dari tiga masjid suci, di sanalah Rasulullah diperjalankan untuk Isra’, dan di sanalah kiblat pertama umat Islam. Tidak ada yang berhak memilikinya kecuali Islam dan umat Islam.  Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah dan Dia akan Mewariskannya kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.  ويجب أن ندرك أنَّ تغلب هذه الشرذمة المرذولة والفئة المخذولة وتسلطهم على المسلمين إنما هو بسبب الذنوب والمعاصي وإعراض كثير من المسلمين عن دينهم الذي هو سبب عِزهم وفلاحهم ورفعتهم في الدنيا والآخرة ، قال تعالى : { وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}، فلا بد من عودةٍ صادقة وأوبة حميدة إلى الله جلّ وعلا فيها تصحيحٌ للإيمان وصلةٌ بالرحمن وحفاظ على الطاعة والإحسان ، وبُعدٌ وحذرٌ من الفسوق والعصيان لينال المؤمنون العزّة والتمكين والنصر والتأييد. Kita harus tahu bahwa dominasi umat hina ini dan bangsa yang tertipu ini serta kekuasaannya atas kaum muslimin tidak lain dan tidak bukan adalah karena dosa dan maksiat serta berpalingnya banyak kaum muslimin sendiri dari agama mereka, karena agama Islam adalah kunci kejayaan, keberhasilan, dan kedigdayaan mereka di dunia dan di akhirat.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).  Oleh sebab itu, perlu untuk sejujur-jujurnya kembali dan sebaik-baiknya bertobat kepada Allah Jalla wa ʿAlā. Hal tersebut akan memperbaiki keimanan, memperbagus hubungan yang baik dengan ar-Rahman, dan menjaga amal ketaatan dan kebajikan, serta menjauhkan dan memunculkan mawas diri terhadap kefasikan dan kemaksiatan agar umat Islam kembali mendapatkan kejayaan dan kekuasaan mereka serta pertolongan dan dukungan dari Allah. {وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ }  “Allah telah Menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia, sungguh, akan Menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah Menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan Meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia Ridai, dan Dia benar-benar akan Mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) Menyembah-Ku tanpa mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Namun barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik, maka laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kalian mendapat rahmat.” (QS. An-Nur: 55-56). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2565 PDF sumber artikel 🔍 Obat Galau Dalam Islam, Doa Untuk Meruqyah Diri Sendiri, Dosa Meninggalkan Solat, Lafadz Ijab Qobul, Cara Mengqodho Sholat Magrib, Maghrib Berapa Rakaat Visited 85 times, 1 visit(s) today Post Views: 712 QRIS donasi Yufid
خطر اليهود Bahaya Bangsa Yahudi إنّ من يتأمَّل التاريخ على طول مداه ويتأمل في أحوال الأمم وأخلاقها ومعاملاتها يجد أن أسوء الأمم خُلقا وأشرَّها معاملة أمّةُ اليهود تلك الأمة الغضبية الملعونة ؛ أمّة الكذب والطغيان والفسوق والعصيان والكفر والإلحاد ، أمّةٌ ممقوتة لدى الناس لفظاظة قلوبهم وشدّة حقدهم وحسدهم ولعِظم بغيهم وطغيانهم ، أهل طبيعة وحشية وهمجيّة لا يباريهم فيها أحد ، كلّما أحسوا بقوةٍ ونفوذٍ وتمكنٍ وقدرة هجموا على من يعادونه هجوم السبُع على فريسته ، لا يرقبون في أحد إلا ولا ذمة ، ولا يعرفون ميثاقاً ولا عهدا ، لا يُعرف في الأمم جميعها أمةٌ أقسى قلوبا ولا أغلظ أفئدة من هذه الأمة ، قد التصق بهم الإجرام والظلم والعدوان والجور والبهتان من قديم الزمان يقول الله تعالى: {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً} ويقول الله تعالى: {ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً}. Barang siapa yang mengerti perjalanan sejarah yang panjang dan merenungkan keadaan, akhlak, dan kehidupan sosial berbagai umat manusia, niscaya dia akan mendapati bahwa umat yang paling buruk dan yang paling jelek akhlak dan muamalahnya di antara mereka adalah bangsa Yahudi. Merekalah umat yang dimurkai dan terkutuk. Bangsa pendusta, tirani, fasik, durhaka, dan kafir lagi ingkar. Bangsa yang dibenci oleh umat manusia karena hati mereka yang keras dan buruknya kebencian mereka serta hasad dalam diri mereka, di samping parahnya penindasan dan kezaliman yang mereka lakukan. Bangsa ini tabiatnya keras dan serakah hingga tidak ada seorang pun yang lebih keras dan serakah daripada mereka. Setiap kali mereka mendapatkan kekuatan, pengaruh, kedudukan, dan kemampuan, mereka akan segera menyerang lawan mereka seperti binatang buas yang menyergap mangsanya. Tidaklah mereka menguasai seseorang melainkan dia kehilangan jaminan keselamatannya dan tidaklah mereka menyepakati perjanjian melainkan akan terjadi pengingkaran. Di tengah semua bangsa yang ada, tidak dikenal bangsa yang lebih keras dadanya dan lebih kasar hatinya melebihi bangsa ini. Kriminalitas, kezaliman, agresi, tirani, dan kedustaan telah melekat erat pada mereka sejak zaman dahulu.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al-Maidah: 13).  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras, sehingga (hati kalian) seperti batu, bahkan lebih keras daripadanya.” (QS. Al-Baqarah: 74). ومن قسوة قلوب هؤلاء أنهم قتلوا بعض أنبياء الله الذين جاءوا يحملون إليهم الهدى والصلاح والسعادة والفلاح ، قال الله تعالى : {لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ} [المائدة:??] ، وقال تعالى : {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء:???] ، وقال تعالى : {إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ} [آل عمران:??] ، وهذه القسوة التي وصمهم الله بها في القرآن ملازمةٌ لهم على مر العصور واختلاف الأزمان إلى زماننا هذا. Di antara bentuk kerasnya hati mereka adalah bahwa mereka berani membunuh beberapa nabi Allah yang datang untuk mereka membawa petunjuk, kesalehan, kebahagiaan, dan kemenangan.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami Mengutus kepada mereka rasul-rasul. Namun setiap rasul datang kepada mereka dengan membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, (maka) sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Maidah: 70).  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Maka (Kami Menghukum mereka), karena mereka melanggar perjanjian itu, karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, dan karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, serta karena mereka mengatakan, ‘Hati kami telah tertutup.’ Sebenarnya Allah telah Mengunci hati mereka karena kekafirannya, karena itu hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 155).  Dia Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran: 21).  Inilah kekerasan hati yang digambarkan oleh Allah dalam al-Qur’an yang masih melekat pada diri mereka meskipun masa yang lama telah berlalu dan zaman telah berganti sampai di zaman kita ini. ثم هم مع ذلك أهل مكرٍ وخديعة وخُبث وكيد ، وقد عانى المسلمون الأُوَل من صفة اليهود هذه الشيء الكثير ، ولا يزال المسلمون يعانون الويل من جرَّاء مكر اليهود وكيدهم والله يقول : {إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ} Di samping itu, mereka adalah orang-orang yang penuh makar, tipu daya, culas, dan tipuan. Umat Islam di masa-masa awal telah menderita karena sering menjadi korban karakter Yahudi ini. Pun kaum Muslimin sekarang masih merasakan penderitaan akibat tipu daya Yahudi dan muslihat mereka.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120).  وقد دأَب اليهود من قديم الزمان على الغدر والخيانة ونقض العهود والوعود ، قال تعالى : {إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (55) الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ}، لقد عاش اليهود طوال حياتهم بؤرة فساد في المجتمعات وأساس كل منكر وفحشاء ، ينشرون الرذيلة ويشيعون الفساد ، وقد كانوا عبر التاريخ مصدراً للمنكر والفحشاء ؛ فهم أصحاب بيوت الدعارة في العالم وناشرو الانحلال الجنسي في كل مكان ، يبتزُّون أموال الشعوب ثم يسخرونها في إشاعة الرذيلة بينهم ليحطِّموا بذلك قيمهم ويخلخلوا إيمانهم ويضعِفوا قوتهم وليكونوا بذلك فريسةً سهلة لهم ، فما أقبحه من مكر. Sejak zaman dahulu, bangsa Yahudi sudah biasa memberontak, berkhianat, dan mengingkari janji dan kesepakatan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya makhluk yang berjalan yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman, (yaitu) orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, kemudian setiap kali berjanji mereka mengkhianati janjinya, sedang mereka tidak takut (kepada Allah).” (QS. Al-Anfal: 55-56).  Bangsa Yahudi sepanjang hidup mereka adalah kerusakan bagi masyarakat dan pangkal segala kemungkaran dan kekejian. Mereka menyebarkan amoralitas dan hidup dengan membawa kerusakan. Sepanjang sejarah mereka, mereka menjadi sumber kemungkaran dan tindakan amoral. Mereka adalah pemilik rumah-rumah pelacuran global dan penyebarkan paham pergaulan bebas di mana-mana. Mereka memeras uang orang-orang lalu menggunakannya untuk menyebarkan tindak amoral ke tengah mereka untuk menghancurkan norma-norma mereka, menggerogoti iman mereka, dan melemahkan kekuatan mereka, sehingga mereka menjadi mangsa empuk bagi mereka. Sungguh, betapa licik muslihat mereka. إن عِداء اليهود للإسلام عداءٌ قديم منذ فجر الإسلام الأوّل، وعداءهم وحقدهم على أهله معروف لدى الخاص والعام في قديم الزمان وحديثه ، لأن الإسلام عرَّى حالهم وكشف أمرهم وفضح مخازيهم وأظهر قبائحهم وشنائعهم، فبات أمرهم معلناً بدل أن كان سراً ، وبادياً لكل أحد بعد أن كان خفيّا . وجاءت آيات القرآن الكريم آيةً تلوى الأخرى معرِّية أمر هؤلاء مجلِّية حقيقة أمرهم كاشفةً كل مكرهم وكيدهم وخداعهم ، وصدق الله إذ يقول : {وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ} Permusuhan bangsa Yahudi terhadap umat Islam adalah permusuhan klasik sejak pertama kali munculnya fajar Islam. Permusuhan dan kebencian mereka terhadap orang-orang Islam sudah dikenal oleh para pakar dan orang-orang awam sejak zaman dahulu hingga sekarang. Sebabnya adalah karena Islam membeberkan hakikat mereka, menyingkap rahasia mereka, mengungkap aib-aib memalukan mereka, dan menampakkan keburukan dan kekejaman mereka, sehingga perkara agama mereka menjadi dikenal oleh publik dan tidak lagi tersembunyi serta menjadi jelas bagi semua orang setelah sebelumnya dirahasiakan.  Ada banyak ayat-ayat dalam al-Quran yang Mulia yang diturunkan silih berganti, ayat demi ayat, yang menyingkap perkara mereka dan menjelaskan hakikat masalah mereka serta membeberkan semua rencana jahat, tipu daya, dan muslihat mereka.  Sungguh, Maha Benar Allah Subẖānahu wa Ta’ālā ketika Berfirman (yang artinya), “Dan demikianlah Kami Terangkan ayat-ayat al-Quran, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55). لا غرابة أن كان عداء اليهود للإسلام شديداً ؛ فالإسلام جاء هادماً لكل ما لديهم من زيف وبهتان وباطل ، ومناقضا لكل ما عندهم من جنوح وانحراف وضلال. إنَّ الإسلام يدعو إلى الإيمان والتوحيد والإخلاص، واليهود يدعون إلى الكفر والإلحاد والتكذيب والإعراض. إنَّ الإسلام يدعو إلى مُثُلٍ عليا وقِيم رفيعة وإلى الرحمة والخير والإحسان، بينما اليهود يدعون إلى القسوة والإجرام والوحشية والعدوان والظلم والبهتان. Tidak mengherankan jika permusuhan orang Yahudi terhadap Islam sangat keras, karena Islam datang untuk menghancurkan semua kepalsuan, fitnah, dan kebatilan mereka, serta menentang semua kekejaman, penyimpangan, dan kesesatan mereka. Islam menyerukan kepada keimanan, tauhid, dan keikhlasan, sedangkan orang-orang Yahudi mengajak untuk kafir, ingkar, mendustakan, dan berpaling dari agama. Islam juga menyeru kepada akhlak yang mulia dan nilai-nilai yang luhur, kasih sayang, dan kebaikan, sementara orang-orang Yahudi menyeru kepada kekerasan, kriminalitas, kebrutalan, permusuhan, kezaliman, dan muslihat. الإسلام يدعو إلى الحياء والستر والحشمة والعفاف ، واليهود يدعون إلى الرذيلة والفساد والمكر والبغي . الإسلام يحفظ الحقوق ويحترم المواثيق ويحرِّم الظلم ، واليهود لا يعرفون حقّا ولا يحفظون عهداً ولا ميثاقاً ولا يتركون الظلم والعدوان . الإسلام يحرِّم قتل النفس بغير الحق ويحرِّم السرقة والزنا ، واليهود يستبيحون سفك دماء غير اليهود وسرقة أموالهم وانتهاك أعراضهم. Islam menyerukan kepada rasa malu, menutup aurat, kesopanan, dan kesucian diri, sementara orang-orang Yahudi menyerukan perbuatan-perbuatan amoral, kerusakan, tipu muslihat, dan melampaui batas. Islam juga menjaga hak-hak yang ada, menghormati perjanjian, dan melarang kezaliman, sementara orang-orang Yahudi tidak menggubris hak-hak yang ada, tidak menepati perjanjian dan kesepakatan, dan tidak meninggalkan perbuatan zalim dan permusuhan.  Islam melarang membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan dan melarang pencurian serta perzinahan. Adapun orang-orang Yahudi, mereka membolehkan menumpahkan darah orang-orang non-Yahudi, mencuri uang mereka, dan menodai kehormatan mereka. ورغم كلِّ هذا الضلال الذي هم فيه فإنهم يعتقدون في أنفسهم أنهم شعب الله المختار وأنهم أبناء الله وأحباؤه وأن أرواحهم متميزة عن بقية أرواح البشر بأنها جزء من الله وأنه لو لم يُخلق اليهود لانعدمت البركة من الأرض ولما نزلت الأمطار ولا وجدت الخيرات ، ويعتقدون فيمن سواهم أنهم أشبه بالحمير وأن الله خلقهم على صورة الإنسان ليكونوا لائقين لخدمتهم ، ألا شاهت وجوه الأخسرين ولعنة الله على المجرمين. Dengan semua kesesatan dalam diri mereka, mereka masih meyakini bahwa mereka adalah ‘bangsa Allah’ dan umat pilihan-Nya, bahwa mereka adalah ‘anak-anak-Nya’ dan makhluk yang dicintai-Nya, dan bahwa roh-roh mereka berbeda dengan roh manusia lainnya. Roh mereka adalah bagian dari Allah dan bahwa keberkahan akan diangkat dari bumi, hujan tidak akan turun, dan perbuatan baik tidak akan ada jika orang Yahudi tidak diciptakan.  Mereka juga meyakini bahwa umat lain selain mereka tidak lebih seperti keledai dan bahwa Allah menciptakan mereka dalam rupa manusia agar layak untuk menjadi pelayan mereka!!  Semoga Allah Memburukkan rupa orang-orang yang merugi tersebut dan Melaknat para durjana tersebut! يجب أن ندرك جميعاً أنَّ عدوان اليهود على المسلمين في فلسطين ليس مجرد نزاعٍ على أرض ، وأن ندرك أن قضية فلسطين قضيةٌ إسلامية يجب أن يؤرِّق أمرها بال كل مسلم ، ففلسطين بلد الأنبياء وفيها ثالث المساجد الثلاثة المعظمة ، وهي مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقبلة المسلمين الأولى ، وليس لأحدٍ فيها حقّ إلا الإسلام وأهله ؛ والأرض لله يورثها من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين. Kita semua harus menyadari bahwa permusuhan bangsa Yahudi terhadap kaum muslimin di Palestina bukan hanya sekedar masalah sengketa tanah. Kita juga harus memahami bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam yang harus menjadi perhatian setiap muslim. Palestina adalah negeri para nabi. Di sana ada masjid suci ketiga dari tiga masjid suci, di sanalah Rasulullah diperjalankan untuk Isra’, dan di sanalah kiblat pertama umat Islam. Tidak ada yang berhak memilikinya kecuali Islam dan umat Islam.  Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah dan Dia akan Mewariskannya kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.  ويجب أن ندرك أنَّ تغلب هذه الشرذمة المرذولة والفئة المخذولة وتسلطهم على المسلمين إنما هو بسبب الذنوب والمعاصي وإعراض كثير من المسلمين عن دينهم الذي هو سبب عِزهم وفلاحهم ورفعتهم في الدنيا والآخرة ، قال تعالى : { وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}، فلا بد من عودةٍ صادقة وأوبة حميدة إلى الله جلّ وعلا فيها تصحيحٌ للإيمان وصلةٌ بالرحمن وحفاظ على الطاعة والإحسان ، وبُعدٌ وحذرٌ من الفسوق والعصيان لينال المؤمنون العزّة والتمكين والنصر والتأييد. Kita harus tahu bahwa dominasi umat hina ini dan bangsa yang tertipu ini serta kekuasaannya atas kaum muslimin tidak lain dan tidak bukan adalah karena dosa dan maksiat serta berpalingnya banyak kaum muslimin sendiri dari agama mereka, karena agama Islam adalah kunci kejayaan, keberhasilan, dan kedigdayaan mereka di dunia dan di akhirat.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).  Oleh sebab itu, perlu untuk sejujur-jujurnya kembali dan sebaik-baiknya bertobat kepada Allah Jalla wa ʿAlā. Hal tersebut akan memperbaiki keimanan, memperbagus hubungan yang baik dengan ar-Rahman, dan menjaga amal ketaatan dan kebajikan, serta menjauhkan dan memunculkan mawas diri terhadap kefasikan dan kemaksiatan agar umat Islam kembali mendapatkan kejayaan dan kekuasaan mereka serta pertolongan dan dukungan dari Allah. {وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ }  “Allah telah Menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia, sungguh, akan Menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah Menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan Meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia Ridai, dan Dia benar-benar akan Mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) Menyembah-Ku tanpa mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Namun barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik, maka laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kalian mendapat rahmat.” (QS. An-Nur: 55-56). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2565 PDF sumber artikel 🔍 Obat Galau Dalam Islam, Doa Untuk Meruqyah Diri Sendiri, Dosa Meninggalkan Solat, Lafadz Ijab Qobul, Cara Mengqodho Sholat Magrib, Maghrib Berapa Rakaat Visited 85 times, 1 visit(s) today Post Views: 712 QRIS donasi Yufid


خطر اليهود Bahaya Bangsa Yahudi إنّ من يتأمَّل التاريخ على طول مداه ويتأمل في أحوال الأمم وأخلاقها ومعاملاتها يجد أن أسوء الأمم خُلقا وأشرَّها معاملة أمّةُ اليهود تلك الأمة الغضبية الملعونة ؛ أمّة الكذب والطغيان والفسوق والعصيان والكفر والإلحاد ، أمّةٌ ممقوتة لدى الناس لفظاظة قلوبهم وشدّة حقدهم وحسدهم ولعِظم بغيهم وطغيانهم ، أهل طبيعة وحشية وهمجيّة لا يباريهم فيها أحد ، كلّما أحسوا بقوةٍ ونفوذٍ وتمكنٍ وقدرة هجموا على من يعادونه هجوم السبُع على فريسته ، لا يرقبون في أحد إلا ولا ذمة ، ولا يعرفون ميثاقاً ولا عهدا ، لا يُعرف في الأمم جميعها أمةٌ أقسى قلوبا ولا أغلظ أفئدة من هذه الأمة ، قد التصق بهم الإجرام والظلم والعدوان والجور والبهتان من قديم الزمان يقول الله تعالى: {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً} ويقول الله تعالى: {ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً}. Barang siapa yang mengerti perjalanan sejarah yang panjang dan merenungkan keadaan, akhlak, dan kehidupan sosial berbagai umat manusia, niscaya dia akan mendapati bahwa umat yang paling buruk dan yang paling jelek akhlak dan muamalahnya di antara mereka adalah bangsa Yahudi. Merekalah umat yang dimurkai dan terkutuk. Bangsa pendusta, tirani, fasik, durhaka, dan kafir lagi ingkar. Bangsa yang dibenci oleh umat manusia karena hati mereka yang keras dan buruknya kebencian mereka serta hasad dalam diri mereka, di samping parahnya penindasan dan kezaliman yang mereka lakukan. Bangsa ini tabiatnya keras dan serakah hingga tidak ada seorang pun yang lebih keras dan serakah daripada mereka. Setiap kali mereka mendapatkan kekuatan, pengaruh, kedudukan, dan kemampuan, mereka akan segera menyerang lawan mereka seperti binatang buas yang menyergap mangsanya. Tidaklah mereka menguasai seseorang melainkan dia kehilangan jaminan keselamatannya dan tidaklah mereka menyepakati perjanjian melainkan akan terjadi pengingkaran. Di tengah semua bangsa yang ada, tidak dikenal bangsa yang lebih keras dadanya dan lebih kasar hatinya melebihi bangsa ini. Kriminalitas, kezaliman, agresi, tirani, dan kedustaan telah melekat erat pada mereka sejak zaman dahulu.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al-Maidah: 13).  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras, sehingga (hati kalian) seperti batu, bahkan lebih keras daripadanya.” (QS. Al-Baqarah: 74). ومن قسوة قلوب هؤلاء أنهم قتلوا بعض أنبياء الله الذين جاءوا يحملون إليهم الهدى والصلاح والسعادة والفلاح ، قال الله تعالى : {لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ} [المائدة:??] ، وقال تعالى : {فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء:???] ، وقال تعالى : {إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ} [آل عمران:??] ، وهذه القسوة التي وصمهم الله بها في القرآن ملازمةٌ لهم على مر العصور واختلاف الأزمان إلى زماننا هذا. Di antara bentuk kerasnya hati mereka adalah bahwa mereka berani membunuh beberapa nabi Allah yang datang untuk mereka membawa petunjuk, kesalehan, kebahagiaan, dan kemenangan.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah Mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami Mengutus kepada mereka rasul-rasul. Namun setiap rasul datang kepada mereka dengan membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, (maka) sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Maidah: 70).  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Maka (Kami Menghukum mereka), karena mereka melanggar perjanjian itu, karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, dan karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, serta karena mereka mengatakan, ‘Hati kami telah tertutup.’ Sebenarnya Allah telah Mengunci hati mereka karena kekafirannya, karena itu hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 155).  Dia Subẖānahu wa Ta’ālā juga Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran: 21).  Inilah kekerasan hati yang digambarkan oleh Allah dalam al-Qur’an yang masih melekat pada diri mereka meskipun masa yang lama telah berlalu dan zaman telah berganti sampai di zaman kita ini. ثم هم مع ذلك أهل مكرٍ وخديعة وخُبث وكيد ، وقد عانى المسلمون الأُوَل من صفة اليهود هذه الشيء الكثير ، ولا يزال المسلمون يعانون الويل من جرَّاء مكر اليهود وكيدهم والله يقول : {إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ} Di samping itu, mereka adalah orang-orang yang penuh makar, tipu daya, culas, dan tipuan. Umat Islam di masa-masa awal telah menderita karena sering menjadi korban karakter Yahudi ini. Pun kaum Muslimin sekarang masih merasakan penderitaan akibat tipu daya Yahudi dan muslihat mereka.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120).  وقد دأَب اليهود من قديم الزمان على الغدر والخيانة ونقض العهود والوعود ، قال تعالى : {إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (55) الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ}، لقد عاش اليهود طوال حياتهم بؤرة فساد في المجتمعات وأساس كل منكر وفحشاء ، ينشرون الرذيلة ويشيعون الفساد ، وقد كانوا عبر التاريخ مصدراً للمنكر والفحشاء ؛ فهم أصحاب بيوت الدعارة في العالم وناشرو الانحلال الجنسي في كل مكان ، يبتزُّون أموال الشعوب ثم يسخرونها في إشاعة الرذيلة بينهم ليحطِّموا بذلك قيمهم ويخلخلوا إيمانهم ويضعِفوا قوتهم وليكونوا بذلك فريسةً سهلة لهم ، فما أقبحه من مكر. Sejak zaman dahulu, bangsa Yahudi sudah biasa memberontak, berkhianat, dan mengingkari janji dan kesepakatan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya makhluk yang berjalan yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman, (yaitu) orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, kemudian setiap kali berjanji mereka mengkhianati janjinya, sedang mereka tidak takut (kepada Allah).” (QS. Al-Anfal: 55-56).  Bangsa Yahudi sepanjang hidup mereka adalah kerusakan bagi masyarakat dan pangkal segala kemungkaran dan kekejian. Mereka menyebarkan amoralitas dan hidup dengan membawa kerusakan. Sepanjang sejarah mereka, mereka menjadi sumber kemungkaran dan tindakan amoral. Mereka adalah pemilik rumah-rumah pelacuran global dan penyebarkan paham pergaulan bebas di mana-mana. Mereka memeras uang orang-orang lalu menggunakannya untuk menyebarkan tindak amoral ke tengah mereka untuk menghancurkan norma-norma mereka, menggerogoti iman mereka, dan melemahkan kekuatan mereka, sehingga mereka menjadi mangsa empuk bagi mereka. Sungguh, betapa licik muslihat mereka. إن عِداء اليهود للإسلام عداءٌ قديم منذ فجر الإسلام الأوّل، وعداءهم وحقدهم على أهله معروف لدى الخاص والعام في قديم الزمان وحديثه ، لأن الإسلام عرَّى حالهم وكشف أمرهم وفضح مخازيهم وأظهر قبائحهم وشنائعهم، فبات أمرهم معلناً بدل أن كان سراً ، وبادياً لكل أحد بعد أن كان خفيّا . وجاءت آيات القرآن الكريم آيةً تلوى الأخرى معرِّية أمر هؤلاء مجلِّية حقيقة أمرهم كاشفةً كل مكرهم وكيدهم وخداعهم ، وصدق الله إذ يقول : {وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ} Permusuhan bangsa Yahudi terhadap umat Islam adalah permusuhan klasik sejak pertama kali munculnya fajar Islam. Permusuhan dan kebencian mereka terhadap orang-orang Islam sudah dikenal oleh para pakar dan orang-orang awam sejak zaman dahulu hingga sekarang. Sebabnya adalah karena Islam membeberkan hakikat mereka, menyingkap rahasia mereka, mengungkap aib-aib memalukan mereka, dan menampakkan keburukan dan kekejaman mereka, sehingga perkara agama mereka menjadi dikenal oleh publik dan tidak lagi tersembunyi serta menjadi jelas bagi semua orang setelah sebelumnya dirahasiakan.  Ada banyak ayat-ayat dalam al-Quran yang Mulia yang diturunkan silih berganti, ayat demi ayat, yang menyingkap perkara mereka dan menjelaskan hakikat masalah mereka serta membeberkan semua rencana jahat, tipu daya, dan muslihat mereka.  Sungguh, Maha Benar Allah Subẖānahu wa Ta’ālā ketika Berfirman (yang artinya), “Dan demikianlah Kami Terangkan ayat-ayat al-Quran, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55). لا غرابة أن كان عداء اليهود للإسلام شديداً ؛ فالإسلام جاء هادماً لكل ما لديهم من زيف وبهتان وباطل ، ومناقضا لكل ما عندهم من جنوح وانحراف وضلال. إنَّ الإسلام يدعو إلى الإيمان والتوحيد والإخلاص، واليهود يدعون إلى الكفر والإلحاد والتكذيب والإعراض. إنَّ الإسلام يدعو إلى مُثُلٍ عليا وقِيم رفيعة وإلى الرحمة والخير والإحسان، بينما اليهود يدعون إلى القسوة والإجرام والوحشية والعدوان والظلم والبهتان. Tidak mengherankan jika permusuhan orang Yahudi terhadap Islam sangat keras, karena Islam datang untuk menghancurkan semua kepalsuan, fitnah, dan kebatilan mereka, serta menentang semua kekejaman, penyimpangan, dan kesesatan mereka. Islam menyerukan kepada keimanan, tauhid, dan keikhlasan, sedangkan orang-orang Yahudi mengajak untuk kafir, ingkar, mendustakan, dan berpaling dari agama. Islam juga menyeru kepada akhlak yang mulia dan nilai-nilai yang luhur, kasih sayang, dan kebaikan, sementara orang-orang Yahudi menyeru kepada kekerasan, kriminalitas, kebrutalan, permusuhan, kezaliman, dan muslihat. الإسلام يدعو إلى الحياء والستر والحشمة والعفاف ، واليهود يدعون إلى الرذيلة والفساد والمكر والبغي . الإسلام يحفظ الحقوق ويحترم المواثيق ويحرِّم الظلم ، واليهود لا يعرفون حقّا ولا يحفظون عهداً ولا ميثاقاً ولا يتركون الظلم والعدوان . الإسلام يحرِّم قتل النفس بغير الحق ويحرِّم السرقة والزنا ، واليهود يستبيحون سفك دماء غير اليهود وسرقة أموالهم وانتهاك أعراضهم. Islam menyerukan kepada rasa malu, menutup aurat, kesopanan, dan kesucian diri, sementara orang-orang Yahudi menyerukan perbuatan-perbuatan amoral, kerusakan, tipu muslihat, dan melampaui batas. Islam juga menjaga hak-hak yang ada, menghormati perjanjian, dan melarang kezaliman, sementara orang-orang Yahudi tidak menggubris hak-hak yang ada, tidak menepati perjanjian dan kesepakatan, dan tidak meninggalkan perbuatan zalim dan permusuhan.  Islam melarang membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan dan melarang pencurian serta perzinahan. Adapun orang-orang Yahudi, mereka membolehkan menumpahkan darah orang-orang non-Yahudi, mencuri uang mereka, dan menodai kehormatan mereka. ورغم كلِّ هذا الضلال الذي هم فيه فإنهم يعتقدون في أنفسهم أنهم شعب الله المختار وأنهم أبناء الله وأحباؤه وأن أرواحهم متميزة عن بقية أرواح البشر بأنها جزء من الله وأنه لو لم يُخلق اليهود لانعدمت البركة من الأرض ولما نزلت الأمطار ولا وجدت الخيرات ، ويعتقدون فيمن سواهم أنهم أشبه بالحمير وأن الله خلقهم على صورة الإنسان ليكونوا لائقين لخدمتهم ، ألا شاهت وجوه الأخسرين ولعنة الله على المجرمين. Dengan semua kesesatan dalam diri mereka, mereka masih meyakini bahwa mereka adalah ‘bangsa Allah’ dan umat pilihan-Nya, bahwa mereka adalah ‘anak-anak-Nya’ dan makhluk yang dicintai-Nya, dan bahwa roh-roh mereka berbeda dengan roh manusia lainnya. Roh mereka adalah bagian dari Allah dan bahwa keberkahan akan diangkat dari bumi, hujan tidak akan turun, dan perbuatan baik tidak akan ada jika orang Yahudi tidak diciptakan.  Mereka juga meyakini bahwa umat lain selain mereka tidak lebih seperti keledai dan bahwa Allah menciptakan mereka dalam rupa manusia agar layak untuk menjadi pelayan mereka!!  Semoga Allah Memburukkan rupa orang-orang yang merugi tersebut dan Melaknat para durjana tersebut! يجب أن ندرك جميعاً أنَّ عدوان اليهود على المسلمين في فلسطين ليس مجرد نزاعٍ على أرض ، وأن ندرك أن قضية فلسطين قضيةٌ إسلامية يجب أن يؤرِّق أمرها بال كل مسلم ، ففلسطين بلد الأنبياء وفيها ثالث المساجد الثلاثة المعظمة ، وهي مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقبلة المسلمين الأولى ، وليس لأحدٍ فيها حقّ إلا الإسلام وأهله ؛ والأرض لله يورثها من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين. Kita semua harus menyadari bahwa permusuhan bangsa Yahudi terhadap kaum muslimin di Palestina bukan hanya sekedar masalah sengketa tanah. Kita juga harus memahami bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam yang harus menjadi perhatian setiap muslim. Palestina adalah negeri para nabi. Di sana ada masjid suci ketiga dari tiga masjid suci, di sanalah Rasulullah diperjalankan untuk Isra’, dan di sanalah kiblat pertama umat Islam. Tidak ada yang berhak memilikinya kecuali Islam dan umat Islam.  Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah dan Dia akan Mewariskannya kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.  ويجب أن ندرك أنَّ تغلب هذه الشرذمة المرذولة والفئة المخذولة وتسلطهم على المسلمين إنما هو بسبب الذنوب والمعاصي وإعراض كثير من المسلمين عن دينهم الذي هو سبب عِزهم وفلاحهم ورفعتهم في الدنيا والآخرة ، قال تعالى : { وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}، فلا بد من عودةٍ صادقة وأوبة حميدة إلى الله جلّ وعلا فيها تصحيحٌ للإيمان وصلةٌ بالرحمن وحفاظ على الطاعة والإحسان ، وبُعدٌ وحذرٌ من الفسوق والعصيان لينال المؤمنون العزّة والتمكين والنصر والتأييد. Kita harus tahu bahwa dominasi umat hina ini dan bangsa yang tertipu ini serta kekuasaannya atas kaum muslimin tidak lain dan tidak bukan adalah karena dosa dan maksiat serta berpalingnya banyak kaum muslimin sendiri dari agama mereka, karena agama Islam adalah kunci kejayaan, keberhasilan, dan kedigdayaan mereka di dunia dan di akhirat.  Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Berfirman (yang artinya), “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).  Oleh sebab itu, perlu untuk sejujur-jujurnya kembali dan sebaik-baiknya bertobat kepada Allah Jalla wa ʿAlā. Hal tersebut akan memperbaiki keimanan, memperbagus hubungan yang baik dengan ar-Rahman, dan menjaga amal ketaatan dan kebajikan, serta menjauhkan dan memunculkan mawas diri terhadap kefasikan dan kemaksiatan agar umat Islam kembali mendapatkan kejayaan dan kekuasaan mereka serta pertolongan dan dukungan dari Allah. {وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ }  “Allah telah Menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia, sungguh, akan Menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah Menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan Meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia Ridai, dan Dia benar-benar akan Mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) Menyembah-Ku tanpa mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Namun barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik, maka laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kalian mendapat rahmat.” (QS. An-Nur: 55-56). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2565 PDF sumber artikel 🔍 Obat Galau Dalam Islam, Doa Untuk Meruqyah Diri Sendiri, Dosa Meninggalkan Solat, Lafadz Ijab Qobul, Cara Mengqodho Sholat Magrib, Maghrib Berapa Rakaat Visited 85 times, 1 visit(s) today Post Views: 712 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 3): Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah

Daftar Isi Toggle Tingkatan hikmah dalam berdakwah ilallahPertama: Tingkatan hikmah [1]Kedua: Tingkatan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik)Ketiga: Tingkatan mujadalah billati hiya ahsan (berdebat dengan cara terbaik)Keempat: Tingkatan mujaladah (tegas dan keras pada tempatnya, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya)Hukum asal cara berdakwah yang hikmah adalah dengan lembut [2]Dalil-dalil lembut dalam berdakwah ilallahLembut adalah hukum asal cara berdakwahBeberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan hukum asal cara berdakwahSalah satu syarat bolehnya beramar makruf dan nahi mungkar adalah lembut [3]Empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar [4]Bolehkah anak berlaku kasar dalam dakwahnya kepada orang tua? [5]Tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) Bismillah wal-hamdulillah wash -shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Tingkatan hikmah dalam berdakwah ilallah Tingkatan hikmah dalam berdakwah itu ada empat. Tingkatan pertama sampai ketiga terdapat dalam surah An-Nahl ayat 125. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” Pertama: Tingkatan hikmah [1] Mengenalkan kebenaran dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh. Cara ini untuk jenis mad’u mustajibin (objek dakwah yang menerima dakwah). Yaitu, tipe objek dakwah yang suka menerima kebenaran, suka diberitahu, suka mendapatkan nasihat, suka ngaji. Intinya, orang yang jika diberitahu kebenaran, suka menerima dan mengamalkannya. Kedua: Tingkatan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik) Nasihat yang berisi memerintahkan kebaikan diiringi targhib (kabar gembira, janji, dan pahala dari Allah) dan melarang keburukan diiringi tarhib (ancaman, siksa, dan peringatan). Cara ini untuk jenis mad’u ghafilin (objek dakwah yang lalai). Yaitu, tipe objek dakwah yang lalai. Tahu kebenaran, namun tidak mengamalkannya karena malas dan mengikuti hawa nafsu, sehingga perlu diiming-imingi dengan pahala (targhib) dan diperingatkan dengan siksa (tarhib). Ketiga: Tingkatan mujadalah billati hiya ahsan (berdebat dengan cara terbaik) Berdebat dengan ilmiah dan beradab Islami, dengan niat ikhlas menjelaskan kebenaran agar diikuti dan menjelaskan kebatilan agar dihindari, menghilangkan syubhat dan kesalahpahaman serta dengan cara menjelaskan yang paling mudah dan enak diterima di hati “lawan debatnya” selama tidak menyelisihi syariat. Yaitu, dengan kalimat halus dan sopan dan jauh dari kata-kata yang menyakitkan hati. Debat dengan cara terbaik itu bukan tujuannya untuk menjatuhkan dan mempermalukan orang yang didebat, dan bukan pula tujuannya pamer ketinggian ilmu. Akan tetapi, murni karena ingin “lawan debatnya” kembali kepada kebenaran, masuk surga bersamanya dengan mencari rida Allah. Cara ini tidaklah digunakan, kecuali jika cara pertama dan kedua tidak berhasil. Karena jika cara pertama dan kedua masih bisa digunakan, maka tidak perlu berdebat. Cara ini untuk jenis mad’u mu’aaridhin mu’aanidin (objek dakwah yang menentang). Yaitu, tipe objek dakwah yang berpaling dan menentang, tidak mengenal kebenaran, atau mengetahui kebenaran, namun ada syubhat (pemahaman yang salah dikira benar) sehingga menentangnya. Keempat: Tingkatan mujaladah (tegas dan keras pada tempatnya, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya) Dalilnya adalah Allah berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 46, وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ “Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka.” Cara mujaladah (tegas dan keras) ini hanya dilakukan jika cara-cara sebelumnya tidak bermanfaat. Cara ini untuk jenis mad’u zhalimin. Mujaladah adalah cara yang tegas dan keras pada tempatnya, dengan kalimat yang keras, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya dengan hukuman had dan ta’zir. Yang melakukan cara ini hanyalah orang yang secara syar’i memiliki wewenang kekuasaan dan kekuatan dengan memperhatikan aturan-aturan syariat Islam dan sesuai kewenangannya, seperti polisi, tentara, dan jabatan semisalnya dengan sesuai kewenangannya masing-masing. Apabila hukuman dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang, maka biasanya akan menimbulkan kemudaratan yang lebih besar daripada maslahat. Dan ulama telah menjelaskan bahwa mengingkari kemungkaran jika menimbulkan kemudaratan yang lebih besar, maka itu dilarang dan diharamkan. Baca juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan Dzikir Hukum asal cara berdakwah yang hikmah adalah dengan lembut [2] Dalil-dalil lembut dalam berdakwah ilallah Sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Sebagaimana terdapat dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفقَ “Sesungguhnya Allah itu Mahalembut, mencintai kelembutan.” (HR. Muslim) إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan pada seluruh perkara.” (HR. Al-Bukhari) Pada umumnya, kelembutan adalah kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا يُنزع من شيء إلا شانه “Sesungguhnya kelembutan itu, tidaklah berada pada sesuatu, kecuali menghiasinya. Dan tidaklah dicabut dari sesuatu, kecuali menodainya.” (HR. Muslim) Oleh karena itu, dengan rahmat Allah, dalam berdakwah ilallah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar menerapkan kelembutan, sebagaimana Allah sebutkan hal itu dalam surah Ali ‘Imran ayat 159, فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah semata. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam diperintahkan oleh Allah untuk berkata lembut kepada orang yang paling sombong, Fir’aun. Allah Ta’ala berfirman, فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى “Maka, berbicaralah kalian berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” Lembut adalah hukum asal cara berdakwah Perlu diketahui bahwa hukum asal cara berdakwah adalah dengan lembut, bukan dengan kekerasan. Maka jangan dibalik, dengan menjadikan hukum asal cara berdakwah adalah dengan kekerasan, lalu terkadang memakai cara lemah lembut! Jangan sampai umat menjauh dari dakwah ini, hanya gara-gara cara kita yang keras dalam berdakwah. Oleh karena itu, jika seorang da’i dihadapkan dengan suatu kondisi di mana orang yang dihadapinya jika disikapi lembut atau disikapi keras, pengaruhnya seimbang, maka saat itu dia harus memilih sikap lembut. Karena dia diperintahkan untuk kembali ke hukum asal. Syekh Al- ‘Allamah Muhammad Al-‘Utsaimîn rahimahullah mengisyaratkan tentang hukum asal cara berdakwah, “Jika di dalam sikap kasar dan keras ada maslahatnya, maka gunakanlah sikap tersebut. Namun, jika kenyataannya adalah sebaliknya, maka gunakanlah sikap lembut dan halus. Adapun jika kondisinya sama antara pemakaian sikap kasar dan keras dengan pemakaian sikap lembut dan halus, maka saat itu gunakanlah sikap lembut dan halus, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ ‘Sesungguhnya Allah Mahalembut dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara.‘ (HR. Bukhârî dan Muslim).” Beberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan hukum asal cara berdakwah Salah satu syarat bolehnya beramar makruf dan nahi mungkar adalah lembut [3] Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahulláh berpetuah, “Tidak boleh beramar makruf dan nahi mungkar, kecuali seseorang yang memiliki tiga sifat: 1) Lembut ketika menyuruh dan lemah lembut ketika melarang. 2) Adil ketika menyuruh dan adil ketika melarang. 3) Memiliki ilmu tentang apa yang ia suruh dan memiliki ilmu tentang apa yang ia larang.” Empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar [4] Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa ada empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar ketika memperingatkan seseorang. Dua syarat untuk menjadikan sikap itu boleh, yaitu: 1) Orang yang diperingati benar-benar melakukan perbuatan atau perkataan yang salah. 2) Ungkapan orang yang memperingatkan harus sesuai dengan kondisi yang ada. Contohnya: Dia tidak boleh memanggil orang yang melakukan perbuatan yang hukumnya makruh dengan ungkapan, ‘Wahai orang yang berbuat maksiat!’ Atau memanggil orang yang melakukan suatu perbuatan dosa yang tidak dia ketahui besarnya, ‘Wahai fasik!” Juga dia tidak boleh berkata kepada orang fasik dari kalangan kaum muslimin, ‘Wahai kafir!’, atau yang semisal. Dan dua syarat agar sikap itu menjadi sunah hukumnya, yaitu: 1) Orang yang akan memperingatkan telah memprediksi bahwa sikap keras tersebut akan lebih bermanfaat bagi ‘lawan’-nya untuk kembali kepada Al-Haq atau untuk menerangkan dalil padanya. 2) Hendaknya orang yang mempergunakan sikap keras tersebut niatnya benar, dan bukan sekedar karena dorongan tabiatnya.” Bolehkah anak berlaku kasar dalam dakwahnya kepada orang tua? [5] Mayoritas ulama menegaskan bahwa seorang anak tidak boleh berdakwah kepada kedua orangtuanya dengan cara-cara kekerasan. Imam Al-Ghazali, misalnya, beliau berkata, “Seorang anak tidak berhak untuk mendakwahi bapaknya dengan menghina, mengancam, dan menakut-nakuti. Tidak pula dengan memukul.” Abdul Aziz Ar-Rajihi berkomentar, “Anak tidak boleh menakut-nakuti, mengancam, menghina, memukul dan berkata kasar. Hal ini karena orang tua memiliki hak yang sangat besar terhadap anaknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyandingkan hak-Nya dengan hak kedua orang tua. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23) Allah juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua walaupun keduanya kafir, sepanjang tidak sampai menaati keduanya dalam kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya! Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik! Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku!” (QS. Luqman: 15) Tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan bahwa tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) itu ada lima. Kami ringkas kelima tingkatan tersebut sebagai berikut: Pertama: Mengenalkan perkara makruf ataupun mungkar. Kedua: Nasihat dengan ucapan yang lembut. Ketiga: Celaan dan ucapan kasar (yang tidak keji). Keempat: Melarang/mencegah secara paksa. Kelima: Menakuti-nakuti dan mengancam dengan pukulan, atau langsung memukul oleh pihak yang berwenang. Adapun pengingkaran anak kepada orang tua, budak kepada tuannya, serta istri kepada suaminya, maka diiizinkan dengan tingkatan hisbah nomor 1,2, dan 4. Sedangkan, pengingkaran rakyat kepada pemerintah, tidak diizinkan, kecuali tingkatan hisbah nomor 1 dan 2 agar tidak terjadi kemudaratan yang sama atau lebih besar. Kembali ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah Lanjut ke bagian 4: Hal yang Diperlukan agar Bisa Berdakwah dengan Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hikmah di sini adalah hikmah khusus sebagai salah satu dari tingkatan hikmah umum. Yaitu, hikmah khusus untuk objek dakwah tertentu. Yaitu, yang suka mengetahui kebenaran dan suka mengamalkannya [2] Mayoritas pembahasan ini diintisarikan dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA., dengan beberapa perubahan dan sedikit penambahan. [3] Dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA. [4] Dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA. [5] Diintisarikan dari buku “Mendakwahi Orang Tua”, Syekh Bin Baz dan DR. Fadhl Ilahi Tags: hikmah dalam berdakwahtingkatan hikmah

Hikmah dalam Berdakwah (Bag. 3): Tingkatan Hikmah dalam Berdakwah

Daftar Isi Toggle Tingkatan hikmah dalam berdakwah ilallahPertama: Tingkatan hikmah [1]Kedua: Tingkatan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik)Ketiga: Tingkatan mujadalah billati hiya ahsan (berdebat dengan cara terbaik)Keempat: Tingkatan mujaladah (tegas dan keras pada tempatnya, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya)Hukum asal cara berdakwah yang hikmah adalah dengan lembut [2]Dalil-dalil lembut dalam berdakwah ilallahLembut adalah hukum asal cara berdakwahBeberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan hukum asal cara berdakwahSalah satu syarat bolehnya beramar makruf dan nahi mungkar adalah lembut [3]Empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar [4]Bolehkah anak berlaku kasar dalam dakwahnya kepada orang tua? [5]Tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) Bismillah wal-hamdulillah wash -shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Tingkatan hikmah dalam berdakwah ilallah Tingkatan hikmah dalam berdakwah itu ada empat. Tingkatan pertama sampai ketiga terdapat dalam surah An-Nahl ayat 125. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” Pertama: Tingkatan hikmah [1] Mengenalkan kebenaran dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh. Cara ini untuk jenis mad’u mustajibin (objek dakwah yang menerima dakwah). Yaitu, tipe objek dakwah yang suka menerima kebenaran, suka diberitahu, suka mendapatkan nasihat, suka ngaji. Intinya, orang yang jika diberitahu kebenaran, suka menerima dan mengamalkannya. Kedua: Tingkatan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik) Nasihat yang berisi memerintahkan kebaikan diiringi targhib (kabar gembira, janji, dan pahala dari Allah) dan melarang keburukan diiringi tarhib (ancaman, siksa, dan peringatan). Cara ini untuk jenis mad’u ghafilin (objek dakwah yang lalai). Yaitu, tipe objek dakwah yang lalai. Tahu kebenaran, namun tidak mengamalkannya karena malas dan mengikuti hawa nafsu, sehingga perlu diiming-imingi dengan pahala (targhib) dan diperingatkan dengan siksa (tarhib). Ketiga: Tingkatan mujadalah billati hiya ahsan (berdebat dengan cara terbaik) Berdebat dengan ilmiah dan beradab Islami, dengan niat ikhlas menjelaskan kebenaran agar diikuti dan menjelaskan kebatilan agar dihindari, menghilangkan syubhat dan kesalahpahaman serta dengan cara menjelaskan yang paling mudah dan enak diterima di hati “lawan debatnya” selama tidak menyelisihi syariat. Yaitu, dengan kalimat halus dan sopan dan jauh dari kata-kata yang menyakitkan hati. Debat dengan cara terbaik itu bukan tujuannya untuk menjatuhkan dan mempermalukan orang yang didebat, dan bukan pula tujuannya pamer ketinggian ilmu. Akan tetapi, murni karena ingin “lawan debatnya” kembali kepada kebenaran, masuk surga bersamanya dengan mencari rida Allah. Cara ini tidaklah digunakan, kecuali jika cara pertama dan kedua tidak berhasil. Karena jika cara pertama dan kedua masih bisa digunakan, maka tidak perlu berdebat. Cara ini untuk jenis mad’u mu’aaridhin mu’aanidin (objek dakwah yang menentang). Yaitu, tipe objek dakwah yang berpaling dan menentang, tidak mengenal kebenaran, atau mengetahui kebenaran, namun ada syubhat (pemahaman yang salah dikira benar) sehingga menentangnya. Keempat: Tingkatan mujaladah (tegas dan keras pada tempatnya, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya) Dalilnya adalah Allah berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 46, وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ “Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka.” Cara mujaladah (tegas dan keras) ini hanya dilakukan jika cara-cara sebelumnya tidak bermanfaat. Cara ini untuk jenis mad’u zhalimin. Mujaladah adalah cara yang tegas dan keras pada tempatnya, dengan kalimat yang keras, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya dengan hukuman had dan ta’zir. Yang melakukan cara ini hanyalah orang yang secara syar’i memiliki wewenang kekuasaan dan kekuatan dengan memperhatikan aturan-aturan syariat Islam dan sesuai kewenangannya, seperti polisi, tentara, dan jabatan semisalnya dengan sesuai kewenangannya masing-masing. Apabila hukuman dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang, maka biasanya akan menimbulkan kemudaratan yang lebih besar daripada maslahat. Dan ulama telah menjelaskan bahwa mengingkari kemungkaran jika menimbulkan kemudaratan yang lebih besar, maka itu dilarang dan diharamkan. Baca juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan Dzikir Hukum asal cara berdakwah yang hikmah adalah dengan lembut [2] Dalil-dalil lembut dalam berdakwah ilallah Sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Sebagaimana terdapat dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفقَ “Sesungguhnya Allah itu Mahalembut, mencintai kelembutan.” (HR. Muslim) إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan pada seluruh perkara.” (HR. Al-Bukhari) Pada umumnya, kelembutan adalah kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا يُنزع من شيء إلا شانه “Sesungguhnya kelembutan itu, tidaklah berada pada sesuatu, kecuali menghiasinya. Dan tidaklah dicabut dari sesuatu, kecuali menodainya.” (HR. Muslim) Oleh karena itu, dengan rahmat Allah, dalam berdakwah ilallah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar menerapkan kelembutan, sebagaimana Allah sebutkan hal itu dalam surah Ali ‘Imran ayat 159, فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah semata. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam diperintahkan oleh Allah untuk berkata lembut kepada orang yang paling sombong, Fir’aun. Allah Ta’ala berfirman, فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى “Maka, berbicaralah kalian berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” Lembut adalah hukum asal cara berdakwah Perlu diketahui bahwa hukum asal cara berdakwah adalah dengan lembut, bukan dengan kekerasan. Maka jangan dibalik, dengan menjadikan hukum asal cara berdakwah adalah dengan kekerasan, lalu terkadang memakai cara lemah lembut! Jangan sampai umat menjauh dari dakwah ini, hanya gara-gara cara kita yang keras dalam berdakwah. Oleh karena itu, jika seorang da’i dihadapkan dengan suatu kondisi di mana orang yang dihadapinya jika disikapi lembut atau disikapi keras, pengaruhnya seimbang, maka saat itu dia harus memilih sikap lembut. Karena dia diperintahkan untuk kembali ke hukum asal. Syekh Al- ‘Allamah Muhammad Al-‘Utsaimîn rahimahullah mengisyaratkan tentang hukum asal cara berdakwah, “Jika di dalam sikap kasar dan keras ada maslahatnya, maka gunakanlah sikap tersebut. Namun, jika kenyataannya adalah sebaliknya, maka gunakanlah sikap lembut dan halus. Adapun jika kondisinya sama antara pemakaian sikap kasar dan keras dengan pemakaian sikap lembut dan halus, maka saat itu gunakanlah sikap lembut dan halus, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ ‘Sesungguhnya Allah Mahalembut dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara.‘ (HR. Bukhârî dan Muslim).” Beberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan hukum asal cara berdakwah Salah satu syarat bolehnya beramar makruf dan nahi mungkar adalah lembut [3] Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahulláh berpetuah, “Tidak boleh beramar makruf dan nahi mungkar, kecuali seseorang yang memiliki tiga sifat: 1) Lembut ketika menyuruh dan lemah lembut ketika melarang. 2) Adil ketika menyuruh dan adil ketika melarang. 3) Memiliki ilmu tentang apa yang ia suruh dan memiliki ilmu tentang apa yang ia larang.” Empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar [4] Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa ada empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar ketika memperingatkan seseorang. Dua syarat untuk menjadikan sikap itu boleh, yaitu: 1) Orang yang diperingati benar-benar melakukan perbuatan atau perkataan yang salah. 2) Ungkapan orang yang memperingatkan harus sesuai dengan kondisi yang ada. Contohnya: Dia tidak boleh memanggil orang yang melakukan perbuatan yang hukumnya makruh dengan ungkapan, ‘Wahai orang yang berbuat maksiat!’ Atau memanggil orang yang melakukan suatu perbuatan dosa yang tidak dia ketahui besarnya, ‘Wahai fasik!” Juga dia tidak boleh berkata kepada orang fasik dari kalangan kaum muslimin, ‘Wahai kafir!’, atau yang semisal. Dan dua syarat agar sikap itu menjadi sunah hukumnya, yaitu: 1) Orang yang akan memperingatkan telah memprediksi bahwa sikap keras tersebut akan lebih bermanfaat bagi ‘lawan’-nya untuk kembali kepada Al-Haq atau untuk menerangkan dalil padanya. 2) Hendaknya orang yang mempergunakan sikap keras tersebut niatnya benar, dan bukan sekedar karena dorongan tabiatnya.” Bolehkah anak berlaku kasar dalam dakwahnya kepada orang tua? [5] Mayoritas ulama menegaskan bahwa seorang anak tidak boleh berdakwah kepada kedua orangtuanya dengan cara-cara kekerasan. Imam Al-Ghazali, misalnya, beliau berkata, “Seorang anak tidak berhak untuk mendakwahi bapaknya dengan menghina, mengancam, dan menakut-nakuti. Tidak pula dengan memukul.” Abdul Aziz Ar-Rajihi berkomentar, “Anak tidak boleh menakut-nakuti, mengancam, menghina, memukul dan berkata kasar. Hal ini karena orang tua memiliki hak yang sangat besar terhadap anaknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyandingkan hak-Nya dengan hak kedua orang tua. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23) Allah juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua walaupun keduanya kafir, sepanjang tidak sampai menaati keduanya dalam kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya! Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik! Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku!” (QS. Luqman: 15) Tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan bahwa tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) itu ada lima. Kami ringkas kelima tingkatan tersebut sebagai berikut: Pertama: Mengenalkan perkara makruf ataupun mungkar. Kedua: Nasihat dengan ucapan yang lembut. Ketiga: Celaan dan ucapan kasar (yang tidak keji). Keempat: Melarang/mencegah secara paksa. Kelima: Menakuti-nakuti dan mengancam dengan pukulan, atau langsung memukul oleh pihak yang berwenang. Adapun pengingkaran anak kepada orang tua, budak kepada tuannya, serta istri kepada suaminya, maka diiizinkan dengan tingkatan hisbah nomor 1,2, dan 4. Sedangkan, pengingkaran rakyat kepada pemerintah, tidak diizinkan, kecuali tingkatan hisbah nomor 1 dan 2 agar tidak terjadi kemudaratan yang sama atau lebih besar. Kembali ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah Lanjut ke bagian 4: Hal yang Diperlukan agar Bisa Berdakwah dengan Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hikmah di sini adalah hikmah khusus sebagai salah satu dari tingkatan hikmah umum. Yaitu, hikmah khusus untuk objek dakwah tertentu. Yaitu, yang suka mengetahui kebenaran dan suka mengamalkannya [2] Mayoritas pembahasan ini diintisarikan dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA., dengan beberapa perubahan dan sedikit penambahan. [3] Dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA. [4] Dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA. [5] Diintisarikan dari buku “Mendakwahi Orang Tua”, Syekh Bin Baz dan DR. Fadhl Ilahi Tags: hikmah dalam berdakwahtingkatan hikmah
Daftar Isi Toggle Tingkatan hikmah dalam berdakwah ilallahPertama: Tingkatan hikmah [1]Kedua: Tingkatan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik)Ketiga: Tingkatan mujadalah billati hiya ahsan (berdebat dengan cara terbaik)Keempat: Tingkatan mujaladah (tegas dan keras pada tempatnya, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya)Hukum asal cara berdakwah yang hikmah adalah dengan lembut [2]Dalil-dalil lembut dalam berdakwah ilallahLembut adalah hukum asal cara berdakwahBeberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan hukum asal cara berdakwahSalah satu syarat bolehnya beramar makruf dan nahi mungkar adalah lembut [3]Empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar [4]Bolehkah anak berlaku kasar dalam dakwahnya kepada orang tua? [5]Tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) Bismillah wal-hamdulillah wash -shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Tingkatan hikmah dalam berdakwah ilallah Tingkatan hikmah dalam berdakwah itu ada empat. Tingkatan pertama sampai ketiga terdapat dalam surah An-Nahl ayat 125. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” Pertama: Tingkatan hikmah [1] Mengenalkan kebenaran dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh. Cara ini untuk jenis mad’u mustajibin (objek dakwah yang menerima dakwah). Yaitu, tipe objek dakwah yang suka menerima kebenaran, suka diberitahu, suka mendapatkan nasihat, suka ngaji. Intinya, orang yang jika diberitahu kebenaran, suka menerima dan mengamalkannya. Kedua: Tingkatan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik) Nasihat yang berisi memerintahkan kebaikan diiringi targhib (kabar gembira, janji, dan pahala dari Allah) dan melarang keburukan diiringi tarhib (ancaman, siksa, dan peringatan). Cara ini untuk jenis mad’u ghafilin (objek dakwah yang lalai). Yaitu, tipe objek dakwah yang lalai. Tahu kebenaran, namun tidak mengamalkannya karena malas dan mengikuti hawa nafsu, sehingga perlu diiming-imingi dengan pahala (targhib) dan diperingatkan dengan siksa (tarhib). Ketiga: Tingkatan mujadalah billati hiya ahsan (berdebat dengan cara terbaik) Berdebat dengan ilmiah dan beradab Islami, dengan niat ikhlas menjelaskan kebenaran agar diikuti dan menjelaskan kebatilan agar dihindari, menghilangkan syubhat dan kesalahpahaman serta dengan cara menjelaskan yang paling mudah dan enak diterima di hati “lawan debatnya” selama tidak menyelisihi syariat. Yaitu, dengan kalimat halus dan sopan dan jauh dari kata-kata yang menyakitkan hati. Debat dengan cara terbaik itu bukan tujuannya untuk menjatuhkan dan mempermalukan orang yang didebat, dan bukan pula tujuannya pamer ketinggian ilmu. Akan tetapi, murni karena ingin “lawan debatnya” kembali kepada kebenaran, masuk surga bersamanya dengan mencari rida Allah. Cara ini tidaklah digunakan, kecuali jika cara pertama dan kedua tidak berhasil. Karena jika cara pertama dan kedua masih bisa digunakan, maka tidak perlu berdebat. Cara ini untuk jenis mad’u mu’aaridhin mu’aanidin (objek dakwah yang menentang). Yaitu, tipe objek dakwah yang berpaling dan menentang, tidak mengenal kebenaran, atau mengetahui kebenaran, namun ada syubhat (pemahaman yang salah dikira benar) sehingga menentangnya. Keempat: Tingkatan mujaladah (tegas dan keras pada tempatnya, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya) Dalilnya adalah Allah berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 46, وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ “Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka.” Cara mujaladah (tegas dan keras) ini hanya dilakukan jika cara-cara sebelumnya tidak bermanfaat. Cara ini untuk jenis mad’u zhalimin. Mujaladah adalah cara yang tegas dan keras pada tempatnya, dengan kalimat yang keras, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya dengan hukuman had dan ta’zir. Yang melakukan cara ini hanyalah orang yang secara syar’i memiliki wewenang kekuasaan dan kekuatan dengan memperhatikan aturan-aturan syariat Islam dan sesuai kewenangannya, seperti polisi, tentara, dan jabatan semisalnya dengan sesuai kewenangannya masing-masing. Apabila hukuman dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang, maka biasanya akan menimbulkan kemudaratan yang lebih besar daripada maslahat. Dan ulama telah menjelaskan bahwa mengingkari kemungkaran jika menimbulkan kemudaratan yang lebih besar, maka itu dilarang dan diharamkan. Baca juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan Dzikir Hukum asal cara berdakwah yang hikmah adalah dengan lembut [2] Dalil-dalil lembut dalam berdakwah ilallah Sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Sebagaimana terdapat dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفقَ “Sesungguhnya Allah itu Mahalembut, mencintai kelembutan.” (HR. Muslim) إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan pada seluruh perkara.” (HR. Al-Bukhari) Pada umumnya, kelembutan adalah kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا يُنزع من شيء إلا شانه “Sesungguhnya kelembutan itu, tidaklah berada pada sesuatu, kecuali menghiasinya. Dan tidaklah dicabut dari sesuatu, kecuali menodainya.” (HR. Muslim) Oleh karena itu, dengan rahmat Allah, dalam berdakwah ilallah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar menerapkan kelembutan, sebagaimana Allah sebutkan hal itu dalam surah Ali ‘Imran ayat 159, فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah semata. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam diperintahkan oleh Allah untuk berkata lembut kepada orang yang paling sombong, Fir’aun. Allah Ta’ala berfirman, فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى “Maka, berbicaralah kalian berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” Lembut adalah hukum asal cara berdakwah Perlu diketahui bahwa hukum asal cara berdakwah adalah dengan lembut, bukan dengan kekerasan. Maka jangan dibalik, dengan menjadikan hukum asal cara berdakwah adalah dengan kekerasan, lalu terkadang memakai cara lemah lembut! Jangan sampai umat menjauh dari dakwah ini, hanya gara-gara cara kita yang keras dalam berdakwah. Oleh karena itu, jika seorang da’i dihadapkan dengan suatu kondisi di mana orang yang dihadapinya jika disikapi lembut atau disikapi keras, pengaruhnya seimbang, maka saat itu dia harus memilih sikap lembut. Karena dia diperintahkan untuk kembali ke hukum asal. Syekh Al- ‘Allamah Muhammad Al-‘Utsaimîn rahimahullah mengisyaratkan tentang hukum asal cara berdakwah, “Jika di dalam sikap kasar dan keras ada maslahatnya, maka gunakanlah sikap tersebut. Namun, jika kenyataannya adalah sebaliknya, maka gunakanlah sikap lembut dan halus. Adapun jika kondisinya sama antara pemakaian sikap kasar dan keras dengan pemakaian sikap lembut dan halus, maka saat itu gunakanlah sikap lembut dan halus, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ ‘Sesungguhnya Allah Mahalembut dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara.‘ (HR. Bukhârî dan Muslim).” Beberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan hukum asal cara berdakwah Salah satu syarat bolehnya beramar makruf dan nahi mungkar adalah lembut [3] Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahulláh berpetuah, “Tidak boleh beramar makruf dan nahi mungkar, kecuali seseorang yang memiliki tiga sifat: 1) Lembut ketika menyuruh dan lemah lembut ketika melarang. 2) Adil ketika menyuruh dan adil ketika melarang. 3) Memiliki ilmu tentang apa yang ia suruh dan memiliki ilmu tentang apa yang ia larang.” Empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar [4] Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa ada empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar ketika memperingatkan seseorang. Dua syarat untuk menjadikan sikap itu boleh, yaitu: 1) Orang yang diperingati benar-benar melakukan perbuatan atau perkataan yang salah. 2) Ungkapan orang yang memperingatkan harus sesuai dengan kondisi yang ada. Contohnya: Dia tidak boleh memanggil orang yang melakukan perbuatan yang hukumnya makruh dengan ungkapan, ‘Wahai orang yang berbuat maksiat!’ Atau memanggil orang yang melakukan suatu perbuatan dosa yang tidak dia ketahui besarnya, ‘Wahai fasik!” Juga dia tidak boleh berkata kepada orang fasik dari kalangan kaum muslimin, ‘Wahai kafir!’, atau yang semisal. Dan dua syarat agar sikap itu menjadi sunah hukumnya, yaitu: 1) Orang yang akan memperingatkan telah memprediksi bahwa sikap keras tersebut akan lebih bermanfaat bagi ‘lawan’-nya untuk kembali kepada Al-Haq atau untuk menerangkan dalil padanya. 2) Hendaknya orang yang mempergunakan sikap keras tersebut niatnya benar, dan bukan sekedar karena dorongan tabiatnya.” Bolehkah anak berlaku kasar dalam dakwahnya kepada orang tua? [5] Mayoritas ulama menegaskan bahwa seorang anak tidak boleh berdakwah kepada kedua orangtuanya dengan cara-cara kekerasan. Imam Al-Ghazali, misalnya, beliau berkata, “Seorang anak tidak berhak untuk mendakwahi bapaknya dengan menghina, mengancam, dan menakut-nakuti. Tidak pula dengan memukul.” Abdul Aziz Ar-Rajihi berkomentar, “Anak tidak boleh menakut-nakuti, mengancam, menghina, memukul dan berkata kasar. Hal ini karena orang tua memiliki hak yang sangat besar terhadap anaknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyandingkan hak-Nya dengan hak kedua orang tua. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23) Allah juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua walaupun keduanya kafir, sepanjang tidak sampai menaati keduanya dalam kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya! Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik! Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku!” (QS. Luqman: 15) Tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan bahwa tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) itu ada lima. Kami ringkas kelima tingkatan tersebut sebagai berikut: Pertama: Mengenalkan perkara makruf ataupun mungkar. Kedua: Nasihat dengan ucapan yang lembut. Ketiga: Celaan dan ucapan kasar (yang tidak keji). Keempat: Melarang/mencegah secara paksa. Kelima: Menakuti-nakuti dan mengancam dengan pukulan, atau langsung memukul oleh pihak yang berwenang. Adapun pengingkaran anak kepada orang tua, budak kepada tuannya, serta istri kepada suaminya, maka diiizinkan dengan tingkatan hisbah nomor 1,2, dan 4. Sedangkan, pengingkaran rakyat kepada pemerintah, tidak diizinkan, kecuali tingkatan hisbah nomor 1 dan 2 agar tidak terjadi kemudaratan yang sama atau lebih besar. Kembali ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah Lanjut ke bagian 4: Hal yang Diperlukan agar Bisa Berdakwah dengan Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hikmah di sini adalah hikmah khusus sebagai salah satu dari tingkatan hikmah umum. Yaitu, hikmah khusus untuk objek dakwah tertentu. Yaitu, yang suka mengetahui kebenaran dan suka mengamalkannya [2] Mayoritas pembahasan ini diintisarikan dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA., dengan beberapa perubahan dan sedikit penambahan. [3] Dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA. [4] Dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA. [5] Diintisarikan dari buku “Mendakwahi Orang Tua”, Syekh Bin Baz dan DR. Fadhl Ilahi Tags: hikmah dalam berdakwahtingkatan hikmah


Daftar Isi Toggle Tingkatan hikmah dalam berdakwah ilallahPertama: Tingkatan hikmah [1]Kedua: Tingkatan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik)Ketiga: Tingkatan mujadalah billati hiya ahsan (berdebat dengan cara terbaik)Keempat: Tingkatan mujaladah (tegas dan keras pada tempatnya, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya)Hukum asal cara berdakwah yang hikmah adalah dengan lembut [2]Dalil-dalil lembut dalam berdakwah ilallahLembut adalah hukum asal cara berdakwahBeberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan hukum asal cara berdakwahSalah satu syarat bolehnya beramar makruf dan nahi mungkar adalah lembut [3]Empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar [4]Bolehkah anak berlaku kasar dalam dakwahnya kepada orang tua? [5]Tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) Bismillah wal-hamdulillah wash -shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Tingkatan hikmah dalam berdakwah ilallah Tingkatan hikmah dalam berdakwah itu ada empat. Tingkatan pertama sampai ketiga terdapat dalam surah An-Nahl ayat 125. Allah berfirman, اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ “Dakwahilah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” Pertama: Tingkatan hikmah [1] Mengenalkan kebenaran dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadis dengan manhaj salaf saleh. Cara ini untuk jenis mad’u mustajibin (objek dakwah yang menerima dakwah). Yaitu, tipe objek dakwah yang suka menerima kebenaran, suka diberitahu, suka mendapatkan nasihat, suka ngaji. Intinya, orang yang jika diberitahu kebenaran, suka menerima dan mengamalkannya. Kedua: Tingkatan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik) Nasihat yang berisi memerintahkan kebaikan diiringi targhib (kabar gembira, janji, dan pahala dari Allah) dan melarang keburukan diiringi tarhib (ancaman, siksa, dan peringatan). Cara ini untuk jenis mad’u ghafilin (objek dakwah yang lalai). Yaitu, tipe objek dakwah yang lalai. Tahu kebenaran, namun tidak mengamalkannya karena malas dan mengikuti hawa nafsu, sehingga perlu diiming-imingi dengan pahala (targhib) dan diperingatkan dengan siksa (tarhib). Ketiga: Tingkatan mujadalah billati hiya ahsan (berdebat dengan cara terbaik) Berdebat dengan ilmiah dan beradab Islami, dengan niat ikhlas menjelaskan kebenaran agar diikuti dan menjelaskan kebatilan agar dihindari, menghilangkan syubhat dan kesalahpahaman serta dengan cara menjelaskan yang paling mudah dan enak diterima di hati “lawan debatnya” selama tidak menyelisihi syariat. Yaitu, dengan kalimat halus dan sopan dan jauh dari kata-kata yang menyakitkan hati. Debat dengan cara terbaik itu bukan tujuannya untuk menjatuhkan dan mempermalukan orang yang didebat, dan bukan pula tujuannya pamer ketinggian ilmu. Akan tetapi, murni karena ingin “lawan debatnya” kembali kepada kebenaran, masuk surga bersamanya dengan mencari rida Allah. Cara ini tidaklah digunakan, kecuali jika cara pertama dan kedua tidak berhasil. Karena jika cara pertama dan kedua masih bisa digunakan, maka tidak perlu berdebat. Cara ini untuk jenis mad’u mu’aaridhin mu’aanidin (objek dakwah yang menentang). Yaitu, tipe objek dakwah yang berpaling dan menentang, tidak mengenal kebenaran, atau mengetahui kebenaran, namun ada syubhat (pemahaman yang salah dikira benar) sehingga menentangnya. Keempat: Tingkatan mujaladah (tegas dan keras pada tempatnya, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya) Dalilnya adalah Allah berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 46, وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ “Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka.” Cara mujaladah (tegas dan keras) ini hanya dilakukan jika cara-cara sebelumnya tidak bermanfaat. Cara ini untuk jenis mad’u zhalimin. Mujaladah adalah cara yang tegas dan keras pada tempatnya, dengan kalimat yang keras, serta menghukum orang yang layak mendapatkannya dengan hukuman had dan ta’zir. Yang melakukan cara ini hanyalah orang yang secara syar’i memiliki wewenang kekuasaan dan kekuatan dengan memperhatikan aturan-aturan syariat Islam dan sesuai kewenangannya, seperti polisi, tentara, dan jabatan semisalnya dengan sesuai kewenangannya masing-masing. Apabila hukuman dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang, maka biasanya akan menimbulkan kemudaratan yang lebih besar daripada maslahat. Dan ulama telah menjelaskan bahwa mengingkari kemungkaran jika menimbulkan kemudaratan yang lebih besar, maka itu dilarang dan diharamkan. Baca juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan Dzikir Hukum asal cara berdakwah yang hikmah adalah dengan lembut [2] Dalil-dalil lembut dalam berdakwah ilallah Sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Sebagaimana terdapat dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفقَ “Sesungguhnya Allah itu Mahalembut, mencintai kelembutan.” (HR. Muslim) إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan pada seluruh perkara.” (HR. Al-Bukhari) Pada umumnya, kelembutan adalah kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا يُنزع من شيء إلا شانه “Sesungguhnya kelembutan itu, tidaklah berada pada sesuatu, kecuali menghiasinya. Dan tidaklah dicabut dari sesuatu, kecuali menodainya.” (HR. Muslim) Oleh karena itu, dengan rahmat Allah, dalam berdakwah ilallah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar menerapkan kelembutan, sebagaimana Allah sebutkan hal itu dalam surah Ali ‘Imran ayat 159, فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah semata. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam diperintahkan oleh Allah untuk berkata lembut kepada orang yang paling sombong, Fir’aun. Allah Ta’ala berfirman, فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى “Maka, berbicaralah kalian berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” Lembut adalah hukum asal cara berdakwah Perlu diketahui bahwa hukum asal cara berdakwah adalah dengan lembut, bukan dengan kekerasan. Maka jangan dibalik, dengan menjadikan hukum asal cara berdakwah adalah dengan kekerasan, lalu terkadang memakai cara lemah lembut! Jangan sampai umat menjauh dari dakwah ini, hanya gara-gara cara kita yang keras dalam berdakwah. Oleh karena itu, jika seorang da’i dihadapkan dengan suatu kondisi di mana orang yang dihadapinya jika disikapi lembut atau disikapi keras, pengaruhnya seimbang, maka saat itu dia harus memilih sikap lembut. Karena dia diperintahkan untuk kembali ke hukum asal. Syekh Al- ‘Allamah Muhammad Al-‘Utsaimîn rahimahullah mengisyaratkan tentang hukum asal cara berdakwah, “Jika di dalam sikap kasar dan keras ada maslahatnya, maka gunakanlah sikap tersebut. Namun, jika kenyataannya adalah sebaliknya, maka gunakanlah sikap lembut dan halus. Adapun jika kondisinya sama antara pemakaian sikap kasar dan keras dengan pemakaian sikap lembut dan halus, maka saat itu gunakanlah sikap lembut dan halus, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ ‘Sesungguhnya Allah Mahalembut dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara.‘ (HR. Bukhârî dan Muslim).” Beberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan hukum asal cara berdakwah Salah satu syarat bolehnya beramar makruf dan nahi mungkar adalah lembut [3] Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahulláh berpetuah, “Tidak boleh beramar makruf dan nahi mungkar, kecuali seseorang yang memiliki tiga sifat: 1) Lembut ketika menyuruh dan lemah lembut ketika melarang. 2) Adil ketika menyuruh dan adil ketika melarang. 3) Memiliki ilmu tentang apa yang ia suruh dan memiliki ilmu tentang apa yang ia larang.” Empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar [4] Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa ada empat syarat (diperbolehkannya) pemakaian kata-kata yang kasar ketika memperingatkan seseorang. Dua syarat untuk menjadikan sikap itu boleh, yaitu: 1) Orang yang diperingati benar-benar melakukan perbuatan atau perkataan yang salah. 2) Ungkapan orang yang memperingatkan harus sesuai dengan kondisi yang ada. Contohnya: Dia tidak boleh memanggil orang yang melakukan perbuatan yang hukumnya makruh dengan ungkapan, ‘Wahai orang yang berbuat maksiat!’ Atau memanggil orang yang melakukan suatu perbuatan dosa yang tidak dia ketahui besarnya, ‘Wahai fasik!” Juga dia tidak boleh berkata kepada orang fasik dari kalangan kaum muslimin, ‘Wahai kafir!’, atau yang semisal. Dan dua syarat agar sikap itu menjadi sunah hukumnya, yaitu: 1) Orang yang akan memperingatkan telah memprediksi bahwa sikap keras tersebut akan lebih bermanfaat bagi ‘lawan’-nya untuk kembali kepada Al-Haq atau untuk menerangkan dalil padanya. 2) Hendaknya orang yang mempergunakan sikap keras tersebut niatnya benar, dan bukan sekedar karena dorongan tabiatnya.” Bolehkah anak berlaku kasar dalam dakwahnya kepada orang tua? [5] Mayoritas ulama menegaskan bahwa seorang anak tidak boleh berdakwah kepada kedua orangtuanya dengan cara-cara kekerasan. Imam Al-Ghazali, misalnya, beliau berkata, “Seorang anak tidak berhak untuk mendakwahi bapaknya dengan menghina, mengancam, dan menakut-nakuti. Tidak pula dengan memukul.” Abdul Aziz Ar-Rajihi berkomentar, “Anak tidak boleh menakut-nakuti, mengancam, menghina, memukul dan berkata kasar. Hal ini karena orang tua memiliki hak yang sangat besar terhadap anaknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyandingkan hak-Nya dengan hak kedua orang tua. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik- baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23) Allah juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua walaupun keduanya kafir, sepanjang tidak sampai menaati keduanya dalam kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya! Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik! Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku!” (QS. Luqman: 15) Tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan bahwa tingkatan amar makruf nahi mungkar (hisbah) itu ada lima. Kami ringkas kelima tingkatan tersebut sebagai berikut: Pertama: Mengenalkan perkara makruf ataupun mungkar. Kedua: Nasihat dengan ucapan yang lembut. Ketiga: Celaan dan ucapan kasar (yang tidak keji). Keempat: Melarang/mencegah secara paksa. Kelima: Menakuti-nakuti dan mengancam dengan pukulan, atau langsung memukul oleh pihak yang berwenang. Adapun pengingkaran anak kepada orang tua, budak kepada tuannya, serta istri kepada suaminya, maka diiizinkan dengan tingkatan hisbah nomor 1,2, dan 4. Sedangkan, pengingkaran rakyat kepada pemerintah, tidak diizinkan, kecuali tingkatan hisbah nomor 1 dan 2 agar tidak terjadi kemudaratan yang sama atau lebih besar. Kembali ke bagian 2: Keutamaan dan Rukun Hikmah Lanjut ke bagian 4: Hal yang Diperlukan agar Bisa Berdakwah dengan Hikmah *** Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Hikmah di sini adalah hikmah khusus sebagai salah satu dari tingkatan hikmah umum. Yaitu, hikmah khusus untuk objek dakwah tertentu. Yaitu, yang suka mengetahui kebenaran dan suka mengamalkannya [2] Mayoritas pembahasan ini diintisarikan dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA., dengan beberapa perubahan dan sedikit penambahan. [3] Dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA. [4] Dari buku “14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah”, Ust. Abdullah Zaen, Lc., MA. [5] Diintisarikan dari buku “Mendakwahi Orang Tua”, Syekh Bin Baz dan DR. Fadhl Ilahi Tags: hikmah dalam berdakwahtingkatan hikmah

Bimbingan Islam dalam Menyikapi Kesalahan Orang Lain

Daftar Isi Toggle Kapan dianjurkan taghaful?Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiatKedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak AllahTeladan Nabi dalam menyikapi kesalahanPertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ahKedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi Kita sebagai seorang beriman harus senantiasa sadar bahwa setiap orang pasti pernah terjerumus ke dalam kesalahan. Bahkan, dua manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala (Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimassalam) pun juga pernah berbuat kesalahan. Tiada manusia yang sempurna. Jika kita ingin mencari pasangan, teman atau guru yang tidak memiliki kesalahan, maka selama-lamanya kita tidak akan pernah mendapatkannya. Islam membimbing kepada kita terkait bagaimana menyikapi berbagai kesalahan tersebut. Sikap yang dianjurkan dan dituntunkan adalah dengan bersikap taghaful (yaitu pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kesalahan). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, اَللَّبِيْبُ الْعَاقِلُ هُوَ الْفَطِنُ الْمُتَغَافِلُ “Orang yang cerdik pandai adalah orang yang taghaful.” (Lihat Mu’jam Ibn al Muqri`, 51) Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُل “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda terkait terpujinya sifat taghaful, وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara!” (HR. Bukhari) Kapan dianjurkan taghaful? Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri dan pembantu beliau (Anas Bin Malik) adalah seringkali tidak menyalahkan mereka terhadap perkara dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Orang yang paling baik (akhlaknya) di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Sahihah, no. 285) Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya. “Suatu hari (sewaktu Anas masih kecil pen.), beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berangkat, tetapi aku malah (terlupa) menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar, bukan melaksanakan tugas Rasulullah. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan tersenyum, beliau bersabda, ‘Wahai Unais (panggilan sayang Nabi ke Anas bin Malik), apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?’ Maka, aku pun salah tingkah, kemudian aku menjawab, ‘Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (HR. Muslim) Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika yang dicaci maki dan dihina adalah diri beliau pribadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas. Allah Ta’ala berfirman, وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34) Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan suatu kisah tentang seorang Nabi di antara para nabi. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu, ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim) Begitu pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilempari batu di Thaif, maka Allah utus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diperintahkan melakukan apa saja untuk membalas orang-orang di Thaif. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung di kota Makkah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “(Tidak), namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Baca juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri? Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah Hatib bin Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut perang Badar dan berhijrah. Dan para sahabat yang ikut perang Badar mendapatkan keridaan Allah dan dijamin surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiah.” (HR. Ahmad) إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni.'” (HR. Ahmad, 3: 322-323) Kesalahan yang pernah dilakukan adalah membocorkan rahasia kaum muslimin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menaklukkan kembali kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Hatib menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada orang-orang Makkah untuk membocorkan strategi penyerangan dengan mengutus seseorang untuk membawa surat yang ditulisnya ke Makkah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahuinya melalui malaikat jibril, sehingga beberapa sahabat diutus untuk mencegat perempuan pembawa surat itu. Tatkala Hatib disidang, maka ia berkata, “Jangan hukum Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak pula menukar agamaku. Wahai Rasulullah, kaum muhajirin yang ada di Makkah memiliki orang-orang yang melindungi keluarganya, sementara aku tidak. Aku bermaksud meminta tolong kepada mereka supaya tidak mengganggu keluargaku!” Para sahabat yang marah tetap menilai bahwa Hatib telah berkhianat bahkan Umar bin Khatab berkata, “Biarkan Aku penggal lehernya. Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan dan mengingatkan tentang firman Allah di atas. (Lihat HR. Bukhari no. 4890 melalui https://dorar.net/hadith/sharh/6334, lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 3: 32 dan Fatawa Mu’asirah oleh Al-Qaradhawi, hal. 176-177) Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum (racun/kematian bagimu).'” ‘Aisyah menjawab, “Bal ‘alaikumus saam wal la’nah. (Justru bagi kalian kematian dan laknat).” Maka, Rasulullah menasihati, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?” Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab, ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim) Dari hadis di atas menunjukkan bahwa tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan dan dianjurkan untuk mengabaikan tindakan bodoh orang yang jahat selagi tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan). Baca juga: Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyikapi kesalahantaghaful

Bimbingan Islam dalam Menyikapi Kesalahan Orang Lain

Daftar Isi Toggle Kapan dianjurkan taghaful?Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiatKedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak AllahTeladan Nabi dalam menyikapi kesalahanPertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ahKedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi Kita sebagai seorang beriman harus senantiasa sadar bahwa setiap orang pasti pernah terjerumus ke dalam kesalahan. Bahkan, dua manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala (Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimassalam) pun juga pernah berbuat kesalahan. Tiada manusia yang sempurna. Jika kita ingin mencari pasangan, teman atau guru yang tidak memiliki kesalahan, maka selama-lamanya kita tidak akan pernah mendapatkannya. Islam membimbing kepada kita terkait bagaimana menyikapi berbagai kesalahan tersebut. Sikap yang dianjurkan dan dituntunkan adalah dengan bersikap taghaful (yaitu pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kesalahan). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, اَللَّبِيْبُ الْعَاقِلُ هُوَ الْفَطِنُ الْمُتَغَافِلُ “Orang yang cerdik pandai adalah orang yang taghaful.” (Lihat Mu’jam Ibn al Muqri`, 51) Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُل “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda terkait terpujinya sifat taghaful, وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara!” (HR. Bukhari) Kapan dianjurkan taghaful? Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri dan pembantu beliau (Anas Bin Malik) adalah seringkali tidak menyalahkan mereka terhadap perkara dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Orang yang paling baik (akhlaknya) di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Sahihah, no. 285) Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya. “Suatu hari (sewaktu Anas masih kecil pen.), beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berangkat, tetapi aku malah (terlupa) menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar, bukan melaksanakan tugas Rasulullah. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan tersenyum, beliau bersabda, ‘Wahai Unais (panggilan sayang Nabi ke Anas bin Malik), apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?’ Maka, aku pun salah tingkah, kemudian aku menjawab, ‘Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (HR. Muslim) Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika yang dicaci maki dan dihina adalah diri beliau pribadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas. Allah Ta’ala berfirman, وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34) Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan suatu kisah tentang seorang Nabi di antara para nabi. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu, ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim) Begitu pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilempari batu di Thaif, maka Allah utus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diperintahkan melakukan apa saja untuk membalas orang-orang di Thaif. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung di kota Makkah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “(Tidak), namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Baca juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri? Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah Hatib bin Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut perang Badar dan berhijrah. Dan para sahabat yang ikut perang Badar mendapatkan keridaan Allah dan dijamin surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiah.” (HR. Ahmad) إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni.'” (HR. Ahmad, 3: 322-323) Kesalahan yang pernah dilakukan adalah membocorkan rahasia kaum muslimin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menaklukkan kembali kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Hatib menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada orang-orang Makkah untuk membocorkan strategi penyerangan dengan mengutus seseorang untuk membawa surat yang ditulisnya ke Makkah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahuinya melalui malaikat jibril, sehingga beberapa sahabat diutus untuk mencegat perempuan pembawa surat itu. Tatkala Hatib disidang, maka ia berkata, “Jangan hukum Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak pula menukar agamaku. Wahai Rasulullah, kaum muhajirin yang ada di Makkah memiliki orang-orang yang melindungi keluarganya, sementara aku tidak. Aku bermaksud meminta tolong kepada mereka supaya tidak mengganggu keluargaku!” Para sahabat yang marah tetap menilai bahwa Hatib telah berkhianat bahkan Umar bin Khatab berkata, “Biarkan Aku penggal lehernya. Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan dan mengingatkan tentang firman Allah di atas. (Lihat HR. Bukhari no. 4890 melalui https://dorar.net/hadith/sharh/6334, lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 3: 32 dan Fatawa Mu’asirah oleh Al-Qaradhawi, hal. 176-177) Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum (racun/kematian bagimu).'” ‘Aisyah menjawab, “Bal ‘alaikumus saam wal la’nah. (Justru bagi kalian kematian dan laknat).” Maka, Rasulullah menasihati, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?” Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab, ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim) Dari hadis di atas menunjukkan bahwa tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan dan dianjurkan untuk mengabaikan tindakan bodoh orang yang jahat selagi tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan). Baca juga: Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyikapi kesalahantaghaful
Daftar Isi Toggle Kapan dianjurkan taghaful?Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiatKedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak AllahTeladan Nabi dalam menyikapi kesalahanPertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ahKedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi Kita sebagai seorang beriman harus senantiasa sadar bahwa setiap orang pasti pernah terjerumus ke dalam kesalahan. Bahkan, dua manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala (Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimassalam) pun juga pernah berbuat kesalahan. Tiada manusia yang sempurna. Jika kita ingin mencari pasangan, teman atau guru yang tidak memiliki kesalahan, maka selama-lamanya kita tidak akan pernah mendapatkannya. Islam membimbing kepada kita terkait bagaimana menyikapi berbagai kesalahan tersebut. Sikap yang dianjurkan dan dituntunkan adalah dengan bersikap taghaful (yaitu pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kesalahan). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, اَللَّبِيْبُ الْعَاقِلُ هُوَ الْفَطِنُ الْمُتَغَافِلُ “Orang yang cerdik pandai adalah orang yang taghaful.” (Lihat Mu’jam Ibn al Muqri`, 51) Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُل “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda terkait terpujinya sifat taghaful, وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara!” (HR. Bukhari) Kapan dianjurkan taghaful? Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri dan pembantu beliau (Anas Bin Malik) adalah seringkali tidak menyalahkan mereka terhadap perkara dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Orang yang paling baik (akhlaknya) di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Sahihah, no. 285) Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya. “Suatu hari (sewaktu Anas masih kecil pen.), beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berangkat, tetapi aku malah (terlupa) menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar, bukan melaksanakan tugas Rasulullah. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan tersenyum, beliau bersabda, ‘Wahai Unais (panggilan sayang Nabi ke Anas bin Malik), apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?’ Maka, aku pun salah tingkah, kemudian aku menjawab, ‘Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (HR. Muslim) Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika yang dicaci maki dan dihina adalah diri beliau pribadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas. Allah Ta’ala berfirman, وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34) Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan suatu kisah tentang seorang Nabi di antara para nabi. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu, ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim) Begitu pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilempari batu di Thaif, maka Allah utus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diperintahkan melakukan apa saja untuk membalas orang-orang di Thaif. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung di kota Makkah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “(Tidak), namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Baca juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri? Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah Hatib bin Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut perang Badar dan berhijrah. Dan para sahabat yang ikut perang Badar mendapatkan keridaan Allah dan dijamin surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiah.” (HR. Ahmad) إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni.'” (HR. Ahmad, 3: 322-323) Kesalahan yang pernah dilakukan adalah membocorkan rahasia kaum muslimin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menaklukkan kembali kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Hatib menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada orang-orang Makkah untuk membocorkan strategi penyerangan dengan mengutus seseorang untuk membawa surat yang ditulisnya ke Makkah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahuinya melalui malaikat jibril, sehingga beberapa sahabat diutus untuk mencegat perempuan pembawa surat itu. Tatkala Hatib disidang, maka ia berkata, “Jangan hukum Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak pula menukar agamaku. Wahai Rasulullah, kaum muhajirin yang ada di Makkah memiliki orang-orang yang melindungi keluarganya, sementara aku tidak. Aku bermaksud meminta tolong kepada mereka supaya tidak mengganggu keluargaku!” Para sahabat yang marah tetap menilai bahwa Hatib telah berkhianat bahkan Umar bin Khatab berkata, “Biarkan Aku penggal lehernya. Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan dan mengingatkan tentang firman Allah di atas. (Lihat HR. Bukhari no. 4890 melalui https://dorar.net/hadith/sharh/6334, lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 3: 32 dan Fatawa Mu’asirah oleh Al-Qaradhawi, hal. 176-177) Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum (racun/kematian bagimu).'” ‘Aisyah menjawab, “Bal ‘alaikumus saam wal la’nah. (Justru bagi kalian kematian dan laknat).” Maka, Rasulullah menasihati, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?” Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab, ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim) Dari hadis di atas menunjukkan bahwa tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan dan dianjurkan untuk mengabaikan tindakan bodoh orang yang jahat selagi tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan). Baca juga: Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyikapi kesalahantaghaful


Daftar Isi Toggle Kapan dianjurkan taghaful?Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiatKedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak AllahTeladan Nabi dalam menyikapi kesalahanPertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ahKedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi Kita sebagai seorang beriman harus senantiasa sadar bahwa setiap orang pasti pernah terjerumus ke dalam kesalahan. Bahkan, dua manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala (Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimassalam) pun juga pernah berbuat kesalahan. Tiada manusia yang sempurna. Jika kita ingin mencari pasangan, teman atau guru yang tidak memiliki kesalahan, maka selama-lamanya kita tidak akan pernah mendapatkannya. Islam membimbing kepada kita terkait bagaimana menyikapi berbagai kesalahan tersebut. Sikap yang dianjurkan dan dituntunkan adalah dengan bersikap taghaful (yaitu pura-pura tidak tahu dan mengabaikan kesalahan). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, اَللَّبِيْبُ الْعَاقِلُ هُوَ الْفَطِنُ الْمُتَغَافِلُ “Orang yang cerdik pandai adalah orang yang taghaful.” (Lihat Mu’jam Ibn al Muqri`, 51) Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, العافيةُ عشرةُ أجزاءٍ كُلُّهَا في التَّغَافُل “Keselamatan itu ada 10 cabang, semuanya didapatkan dengan taghaful” (Riwayat Baihaqi dalam Manaqib Imam Ahmad) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda terkait terpujinya sifat taghaful, وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara!” (HR. Bukhari) Kapan dianjurkan taghaful? Pertama: Jika urusannya terkait dunia dan bukan perkara maksiat Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri dan pembantu beliau (Anas Bin Malik) adalah seringkali tidak menyalahkan mereka terhadap perkara dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Orang yang paling baik (akhlaknya) di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi, lihat As-Sahihah, no. 285) Anas bin Malik mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, dan paling besar kasih sayangnya. “Suatu hari (sewaktu Anas masih kecil pen.), beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berangkat, tetapi aku malah (terlupa) menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar, bukan melaksanakan tugas Rasulullah. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan tersenyum, beliau bersabda, ‘Wahai Unais (panggilan sayang Nabi ke Anas bin Malik), apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?’ Maka, aku pun salah tingkah, kemudian aku menjawab, ‘Ya, sekarang aku berangkat wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’” (HR. Muslim) Kedua: Jika maksiatnya terkait hak manusia dan bukan hak Allah Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika yang dicaci maki dan dihina adalah diri beliau pribadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas. Allah Ta’ala berfirman, وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34) Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan suatu kisah tentang seorang Nabi di antara para nabi. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu, ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata, اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim) Begitu pula tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilempari batu di Thaif, maka Allah utus malaikat penjaga gunung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diperintahkan melakukan apa saja untuk membalas orang-orang di Thaif. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (dua gunung di kota Makkah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab, بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “(Tidak), namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Baca juga: Bagaimanakah Suami dalam Menyikapi Kesalahan Istri? Teladan Nabi dalam menyikapi kesalahan Pertama: Kisah penghianatan sahabat Hatib bin Balta’ah Hatib bin Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut perang Badar dan berhijrah. Dan para sahabat yang ikut perang Badar mendapatkan keridaan Allah dan dijamin surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لن يدخلَ النارَ رجلٌ شَهِد بدرًا والحُدَيْبِيَة “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiah.” (HR. Ahmad) إِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ “Sesungguhnya Allah mengawasi ahli Badar, lalu berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian inginkan, karena sungguh, kalian telah Aku ampuni.'” (HR. Ahmad, 3: 322-323) Kesalahan yang pernah dilakukan adalah membocorkan rahasia kaum muslimin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menaklukkan kembali kota Makkah dari tangan kaum kafir Quraisy. Hatib menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada orang-orang Makkah untuk membocorkan strategi penyerangan dengan mengutus seseorang untuk membawa surat yang ditulisnya ke Makkah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahuinya melalui malaikat jibril, sehingga beberapa sahabat diutus untuk mencegat perempuan pembawa surat itu. Tatkala Hatib disidang, maka ia berkata, “Jangan hukum Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya aku ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak murtad dan tidak pula menukar agamaku. Wahai Rasulullah, kaum muhajirin yang ada di Makkah memiliki orang-orang yang melindungi keluarganya, sementara aku tidak. Aku bermaksud meminta tolong kepada mereka supaya tidak mengganggu keluargaku!” Para sahabat yang marah tetap menilai bahwa Hatib telah berkhianat bahkan Umar bin Khatab berkata, “Biarkan Aku penggal lehernya. Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan dan mengingatkan tentang firman Allah di atas. (Lihat HR. Bukhari no. 4890 melalui https://dorar.net/hadith/sharh/6334, lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 3: 32 dan Fatawa Mu’asirah oleh Al-Qaradhawi, hal. 176-177) Kedua: Kisah yahudi memberi salam keburukan kepada Nabi عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُم،ْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَة،ُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّه،ِ قَالَتْ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ (رواه مسلم) Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum (racun/kematian bagimu).'” ‘Aisyah menjawab, “Bal ‘alaikumus saam wal la’nah. (Justru bagi kalian kematian dan laknat).” Maka, Rasulullah menasihati, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.” Lalu ‘Aisyah berkata, “Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?” Jawab beliau, “Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab, ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim) Dari hadis di atas menunjukkan bahwa tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan dan dianjurkan untuk mengabaikan tindakan bodoh orang yang jahat selagi tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan). Baca juga: Kesalahan Memahami Makna Laa Ilaaha Illallah *** Penulis: Arif Muhammad N. Artikel: Muslim.or.id Tags: menyikapi kesalahantaghaful

Keutamaan Masjid al-Aqsa

فضائل المسجد الأقصى Keutamaan Masjid al-Aqṣā يزداد ألم المسلمين وأسفهم يوماً بعد يوم على الحال التي آل إليه المسجد الأقصى من تسلط اليهود المجرمين عليه وانتهاكهم لحرمته واعتدائهم على قدسيته ومكانته وارتكابهم فيه ومع أهله أنواعاً كثيرة من التعديات والإجرام Derita umat Islam dan duka mereka semakin hari semakin bertambah melihat bagaimana Masjid al-Aqṣā yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi durjana. Mereka melanggar kesuciannya, mengotori kemuliaan dan kedudukannya, dan berbuat nista terhadapnya dan para penghuninya dengan berbagai macam pelanggaran dan kejahatan. والمسجد الأقصى مسجد عظيم مبارك له مكانة عالية في نفوس المؤمنين ومنزلة رفيعة في قلوبهم ، فهو مسجد قد خص في الكتاب والسنة بميزات كثيرة وخصائص عديدة وفضائل جمة تدل على رفيع مكانته وعظيم قدره  Masjid al-Aqṣā adalah masjid yang mulia dan diberkahi, yang memiliki status yang mulia dalam jiwa orang-orang beriman dan kedudukan yang tinggi di dalam hati mereka. Inilah masjid yang dalam Kitab dan sunah secara khusus disebutkan keunggulannya bermacam-macam, karakteristik yang banyak, dan keutamaannya melimpah yang menunjukkan statusnya yang tinggi dan kedudukannya yang agung. فمن فضائل المسجد الأقصى أنه أحد المساجد الثلاثة المفضلة التي لا يجوز شد الرِّحال بنية التعبُّد إلا إليها ، فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى)) [1]. Salah satu keutamaan Masjid al-Aqṣā adalah statusnya yang merupakan salah satu dari tiga masjid utama yang mana ada larangan untuk bersafar ke suatu masjid dengan niat beribadah kecuali ke tiga masjid tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Tidak boleh ‘mengikat pelana’ —maksudnya melakukan perjalanan— kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Masjidil Aqṣā.” [1] ومن فضائله أنه ثاني مسجد وضع في الأرض ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ )) قَالَ قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى )) ، قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : (( أَرْبَعُونَ سَنَةً ، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ )) [2]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah masjid kedua yang diletakkan di muka bumi. Diriwayatkan dari Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di muka bumi?’ Beliau bersabda, ‘Masjidil Haram.'” Abu Dzar mengisahkan, “Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian Masjidil Aqṣā.’ Aku bertanya, ‘Berapa lama selisih waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun, kemudian di mana saja kamu mendapati (waktu) salat, maka salatlah karena di situlah keutamaannya.'” [2] ومن فضائله أنه قبلة المسلمين الأولى قبل نسخ القبلة وتحويلها إلى الكعبة ، فعن البراء رضي الله عنه قال : ((صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ – أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ – شَهْرًا ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ )) [3]. Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah kiblat pertama umat Islam sebelum ada nasakh arah kiblat dan dipindahkan ke Ka’bah. Diriwayatkan dari al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Kami pernah salat bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan —atau tujuh belas bulan— lalu dipindahkan ke arah kiblat (Ka’bah). [3] ومن فضائله أنه مسجد في أرض مباركة ، قال الله تعالى : {سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ } [الإسراء:1] . وقد قيل : لو لم تكن لهذا المسجد إلا هذه الفضيلة لكانت كافية . Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah masjid yang terletak di tanah yang berkah. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Mahasuci (Allah) Yang telah Memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqṣā yang telah Kami Berkahi sekelilingnya, …” (QS. Al-Isra’: 1). Oleh karena itu, ada sebuah pernyataan dilontarkan, “Andai masjid ini tidak memiliki keutamaan apapun kecuali keutamaan ini, maka ini sudah cukup.”  وأرضه هي أرض المحشر والمنشر ، فعن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ قَالَ (( أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ … )) [4]. Tanahnya adalah tanah al-Maẖsyar dan al-Mansyar. Diriwayatkan dari Maimunah —bekas budak Rasulullah—, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berikan aku penjelasan tentang Baitul Maqdis.’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah tempat al-Maẖsyar (berkumpulnya manusia untuk dihisab, pent.) dan al-Mansyar (dibangkitkannya manusia setelah kematian, pent.).'” [4]  ومن فضائله أنه مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومنه عُرج به إلى السماء ، فعن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ)) [5]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah tujuan isra Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan permulaan mikraj beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ke langit. Diriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Didatangkan Burāq kepadaku, yaitu binatang tunggangan yang berwarna putih, lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh pangkal tubuhnya.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan, “Lantas aku menungganginya sehingga aku tiba di Baitul Maqdis.” Beliau bersabda, “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid yang biasanya juga para Nabi mengikat di situ.” Beliau melanjutnya, “Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan melakukan salat dua rakaat, kemudian aku keluar dan didatangi oleh Jibril ʿAlaihis Salām yang datang dengan membawa satu bejana berisi arak dan satu bejana berisi susu, maka aku memilih susu. Jibril ʿAlaihis Salām lantas berkata, ‘Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah,’ lalu ia membawaku naik menuju langit.” [5] ومن فضائله أن الصلاة فيه تضاعف ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى ، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا – )) [6] Di antara keutamaannya, bahwa salat di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Diriwayatkan Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—dia berkata, “Kami saling bertukar pendapat di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam atau Baitul Maqdis. Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Satu salat di masjidku ini lebih utama daripada empat salat di sana, sungguh itulah sebaik-baik tempat salat. Sesungguhnya, hampir-hampir tiba masanya di mana seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya yang dari tempat itu dia bisa melihat Baitul Maqdis tapi itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya — atau, lebih baik dari dunia dan segala isinya.” [6] وهذا علم من أعلام نبوته صلى الله عليه وسلم ، حيث بيَّن ما سيؤول إليه المسجد الأقصى مع تعلُّق قلوب المسلمين به وأن مؤامرات الأعداء على المسجد الأقصى ستزداد ، حتى إن المؤمن ليتمنى أن يكون له موضع صغير يطلُّ منه على المسجد الأقصى ويكون ذلك أحبَّ إليه من الدنيا وما فيها  Ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, di mana beliau menjelaskan apa yang akan terjadi pada Masjidil Aqṣā serta keterikatan hati umat Islam dengannya dan bahwa konsipirasi musuh-musuh Islam terhadap Masjidil Aqṣā yang semakin menguat akan membuat orang beriman berangan-angan ingin memiliki secuil tempat yang dekat dari Masjidil Aqṣā yang mana hal itu akan lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya.  ومن فضائله ما ورد في حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا : حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ )) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ)) [7]. Di antara keutamaannya juga adalah apa yang disebutkan dalam hadis Abdullah bin Amr bin al-ʿĀṣ —Semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Ketika Nabi Sulaiman bin Daud ʿAlaihimas Salām merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau ʿAlaihis Salām memohon kepada Allah tiga permintaan, (1) keputusan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, (2) kekuasaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun setelahnya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjidil Aqṣā dengan niat semata-mata untuk salat di dalamnya kecuali dihapuskan segala kesalahannya sehingga dia menjadi seperti ketika hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda, “Adapun permintaannya yang pertama dan kedua telah dikabulkan dan aku berharap semoga yang ketiga juga Allah Kabulkan.” [7] إنه لا يخفى على أيِّ مسلم ما يعانيه المسلمون في فلسطين من آلام وقتل وتشريد بسبب توالي الاعتداء الغاشم عليهم من اليهود المعتدين الغاصبين ، ولا يخفى أيضاً حاجة المسلمين في فلسطين وضرورتهم إلى الكساء والطعام والدواء . ولذا فإنَّ من الواجب على المسلمين المسارعة إلى نجدتهم ومدِّ يد المساعدة لهم والوقوف معهم في محنتهم حتى يتمكنوا من مقاومة عدوهم الذي يملك العدة والعتاد  Tidak samar bagi muslim manapun penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin di Palestina, dari rasa sakit, pembunuhan, hingga pengusiran akibat serangan brutal yang bertubi-tubi oleh para penjajah lalim Yahudi. Tidak samar pula bagaimana kebutuhan dan hajat kaum muslimin di Palestina akan sandang, pangan, dan obat-obatan. Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam untuk bersegera menyelamatkan mereka, mengulurkan tangan kepada mereka, dan berdiri bersama mereka dalam penderitaan mereka sehingga mereka dapat melawan musuh-musuh mereka yang memiliki persiapan dan peralatan lengkap. والله جل وعلا يثيب المؤمن على ما يقدِّم لإخوانه ثواباً عاجلاً وثواباً أخروياً يجد جزاءه في يوم لا ينفع فيه مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم ، قال الله تعالى {وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا } [المزمل:20] ، وقال تعالى : {وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ } [سبأ:39] . وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ …)) [8]. وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : (( … وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ )) [9]. Allah Subẖānahu wa Taʿālā akan Memberi ganjaran kepada orang beriman atas apa yang dia berikan untuk saudara-saudaranya dengan balasan di dunia dan ganjaran di akhirat. Dia akan mendapatkan balasannya pada hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna kecuali jika dia datang menemui Allah dengan hati selamat. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Dia Subẖānahu wa Taʿālā juga Berfirman, “… dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya, karena Dialah Sang Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” [8] Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Sedekah itu memadamkan (menghapus) kesalahan seperti air memadamkan api.” [9] فجودوا عليهم أيها المسلمون بما أعطاكم الله ، واعطفوا عليهم يبارك لكم في مالكم ويخلف عليكم بخير ويضاعف لكم الأجر والثواب ، فعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (( …وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ)) [10] . Oleh sebab itu, berdermalah untuk mereka, wahai kaum muslimin! Bersimpatilah kepada mereka, agar Allah Memberkahi harta kalian, Mengganti untuk kalian dengan kebaikan, dan Melipat gandakan ganjaran dan pahala kalian. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan Membantu kebutuhannya.” [10]  وأن نكثر لهم من الدعاء بأن يجبر ضعفهم ويقوي شوكتهم ، وأن يرد كيد المعتدين في نحورهم ، وأن يكف بأس الذين كفروا والله أشد بأساً وأشد تنكيلا ، وأن يطهِّر المسجد الأقصى من أيدي الظلمة المعتدين والبغاة الغاصبين إنه سميع مجيب . ********* ________________ Hendaknya kita juga memperbanyak doa untuk mereka agar Allah Menutupi kelemahan mereka, Menguatkan kekuatan mereka, Mengembalikan makar orang-orang zalim ke leher-leher mereka sendiri, Menghentikan kekerasan dari orang-orang kafir, karena sesungguhnya Allah lebih dahsyat kekuatan-Nya dan lebih keras siksaan-Nya, dan Mensucikan Masjidil Aqṣā dari tangan-tangan orang zalim yang melampaui batas dan para penjajah yang membangkang, sesungguhnya Dia Subẖānahu wa Taʿālā Maha Mendengar dan Menjawab doa.  ********* ________________ [1] رواه البخاري (1189) ، ومسلم (1397) . [2] رواه البخاري (3366) ، ومسلم (520) . [3] رواه البخاري (4492) ، ومسلم (525) . [4] رواه ابن ماجه (1407) ، وصحح الألباني رحمه الله هذا القسم في (تخريج أحاديث فضائل الشام) رقم (4) . [5] رواه مسلم (162) . [6] رواه الحاكم (4/509) وصححه ، ووافقه الذهبي . [7] رواه النسائي (693) ، وابن ماجه (1408) وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح الترغيب) (1178) . [8] رواه مسلم (2588) . [9] رواه الترمذي (2616) ، وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح سنن الترمذي) (2110) . [10] رواه البخاري (2442) ، ومسلم (2580) . [1] Diriwayatkan oleh Bukhari (1189) dan Muslim (1397). [2] Diriwayatkan oleh Bukhari (3366) dan Muslim (520). [3] Diriwayatkan oleh Bukhari (4492) dan Muslim (525). [4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1407), dan bagian ini disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Takhrīj Aẖādīts Faḏāil asy-Syām No. (4). [5] Diriwayatkan oleh Muslim (162). [6] Diriwayatkan oleh al-Hakim (4/509) dan dia menyahihkannya serta disetujui oleh az-Zahabi. [7] Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (693) dan Ibnu Majah (1408), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ at-Targhīb (1178). [8] Diriwayatkan oleh Muslim (2588). [9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2616), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ Sunan at-Tirmidzī (2110). [10] Diriwayatkan oleh Bukhari (2442) dan Muslim (2580). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2563 PDF sumber artikel 🔍 Naqsabandiyah, Diganggu Jin Saat Tidur, Panitia Qurban Idul Adha, Kumpulan Kehidupan Di Alam Barzah, Anak Hasil Perkawinan Jin Dan Manusia, Cara Mengatasi Istri Keras Kepala Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 280

Keutamaan Masjid al-Aqsa

فضائل المسجد الأقصى Keutamaan Masjid al-Aqṣā يزداد ألم المسلمين وأسفهم يوماً بعد يوم على الحال التي آل إليه المسجد الأقصى من تسلط اليهود المجرمين عليه وانتهاكهم لحرمته واعتدائهم على قدسيته ومكانته وارتكابهم فيه ومع أهله أنواعاً كثيرة من التعديات والإجرام Derita umat Islam dan duka mereka semakin hari semakin bertambah melihat bagaimana Masjid al-Aqṣā yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi durjana. Mereka melanggar kesuciannya, mengotori kemuliaan dan kedudukannya, dan berbuat nista terhadapnya dan para penghuninya dengan berbagai macam pelanggaran dan kejahatan. والمسجد الأقصى مسجد عظيم مبارك له مكانة عالية في نفوس المؤمنين ومنزلة رفيعة في قلوبهم ، فهو مسجد قد خص في الكتاب والسنة بميزات كثيرة وخصائص عديدة وفضائل جمة تدل على رفيع مكانته وعظيم قدره  Masjid al-Aqṣā adalah masjid yang mulia dan diberkahi, yang memiliki status yang mulia dalam jiwa orang-orang beriman dan kedudukan yang tinggi di dalam hati mereka. Inilah masjid yang dalam Kitab dan sunah secara khusus disebutkan keunggulannya bermacam-macam, karakteristik yang banyak, dan keutamaannya melimpah yang menunjukkan statusnya yang tinggi dan kedudukannya yang agung. فمن فضائل المسجد الأقصى أنه أحد المساجد الثلاثة المفضلة التي لا يجوز شد الرِّحال بنية التعبُّد إلا إليها ، فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى)) [1]. Salah satu keutamaan Masjid al-Aqṣā adalah statusnya yang merupakan salah satu dari tiga masjid utama yang mana ada larangan untuk bersafar ke suatu masjid dengan niat beribadah kecuali ke tiga masjid tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Tidak boleh ‘mengikat pelana’ —maksudnya melakukan perjalanan— kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Masjidil Aqṣā.” [1] ومن فضائله أنه ثاني مسجد وضع في الأرض ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ )) قَالَ قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى )) ، قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : (( أَرْبَعُونَ سَنَةً ، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ )) [2]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah masjid kedua yang diletakkan di muka bumi. Diriwayatkan dari Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di muka bumi?’ Beliau bersabda, ‘Masjidil Haram.'” Abu Dzar mengisahkan, “Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian Masjidil Aqṣā.’ Aku bertanya, ‘Berapa lama selisih waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun, kemudian di mana saja kamu mendapati (waktu) salat, maka salatlah karena di situlah keutamaannya.'” [2] ومن فضائله أنه قبلة المسلمين الأولى قبل نسخ القبلة وتحويلها إلى الكعبة ، فعن البراء رضي الله عنه قال : ((صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ – أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ – شَهْرًا ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ )) [3]. Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah kiblat pertama umat Islam sebelum ada nasakh arah kiblat dan dipindahkan ke Ka’bah. Diriwayatkan dari al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Kami pernah salat bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan —atau tujuh belas bulan— lalu dipindahkan ke arah kiblat (Ka’bah). [3] ومن فضائله أنه مسجد في أرض مباركة ، قال الله تعالى : {سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ } [الإسراء:1] . وقد قيل : لو لم تكن لهذا المسجد إلا هذه الفضيلة لكانت كافية . Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah masjid yang terletak di tanah yang berkah. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Mahasuci (Allah) Yang telah Memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqṣā yang telah Kami Berkahi sekelilingnya, …” (QS. Al-Isra’: 1). Oleh karena itu, ada sebuah pernyataan dilontarkan, “Andai masjid ini tidak memiliki keutamaan apapun kecuali keutamaan ini, maka ini sudah cukup.”  وأرضه هي أرض المحشر والمنشر ، فعن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ قَالَ (( أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ … )) [4]. Tanahnya adalah tanah al-Maẖsyar dan al-Mansyar. Diriwayatkan dari Maimunah —bekas budak Rasulullah—, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berikan aku penjelasan tentang Baitul Maqdis.’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah tempat al-Maẖsyar (berkumpulnya manusia untuk dihisab, pent.) dan al-Mansyar (dibangkitkannya manusia setelah kematian, pent.).'” [4]  ومن فضائله أنه مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومنه عُرج به إلى السماء ، فعن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ)) [5]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah tujuan isra Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan permulaan mikraj beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ke langit. Diriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Didatangkan Burāq kepadaku, yaitu binatang tunggangan yang berwarna putih, lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh pangkal tubuhnya.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan, “Lantas aku menungganginya sehingga aku tiba di Baitul Maqdis.” Beliau bersabda, “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid yang biasanya juga para Nabi mengikat di situ.” Beliau melanjutnya, “Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan melakukan salat dua rakaat, kemudian aku keluar dan didatangi oleh Jibril ʿAlaihis Salām yang datang dengan membawa satu bejana berisi arak dan satu bejana berisi susu, maka aku memilih susu. Jibril ʿAlaihis Salām lantas berkata, ‘Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah,’ lalu ia membawaku naik menuju langit.” [5] ومن فضائله أن الصلاة فيه تضاعف ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى ، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا – )) [6] Di antara keutamaannya, bahwa salat di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Diriwayatkan Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—dia berkata, “Kami saling bertukar pendapat di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam atau Baitul Maqdis. Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Satu salat di masjidku ini lebih utama daripada empat salat di sana, sungguh itulah sebaik-baik tempat salat. Sesungguhnya, hampir-hampir tiba masanya di mana seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya yang dari tempat itu dia bisa melihat Baitul Maqdis tapi itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya — atau, lebih baik dari dunia dan segala isinya.” [6] وهذا علم من أعلام نبوته صلى الله عليه وسلم ، حيث بيَّن ما سيؤول إليه المسجد الأقصى مع تعلُّق قلوب المسلمين به وأن مؤامرات الأعداء على المسجد الأقصى ستزداد ، حتى إن المؤمن ليتمنى أن يكون له موضع صغير يطلُّ منه على المسجد الأقصى ويكون ذلك أحبَّ إليه من الدنيا وما فيها  Ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, di mana beliau menjelaskan apa yang akan terjadi pada Masjidil Aqṣā serta keterikatan hati umat Islam dengannya dan bahwa konsipirasi musuh-musuh Islam terhadap Masjidil Aqṣā yang semakin menguat akan membuat orang beriman berangan-angan ingin memiliki secuil tempat yang dekat dari Masjidil Aqṣā yang mana hal itu akan lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya.  ومن فضائله ما ورد في حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا : حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ )) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ)) [7]. Di antara keutamaannya juga adalah apa yang disebutkan dalam hadis Abdullah bin Amr bin al-ʿĀṣ —Semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Ketika Nabi Sulaiman bin Daud ʿAlaihimas Salām merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau ʿAlaihis Salām memohon kepada Allah tiga permintaan, (1) keputusan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, (2) kekuasaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun setelahnya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjidil Aqṣā dengan niat semata-mata untuk salat di dalamnya kecuali dihapuskan segala kesalahannya sehingga dia menjadi seperti ketika hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda, “Adapun permintaannya yang pertama dan kedua telah dikabulkan dan aku berharap semoga yang ketiga juga Allah Kabulkan.” [7] إنه لا يخفى على أيِّ مسلم ما يعانيه المسلمون في فلسطين من آلام وقتل وتشريد بسبب توالي الاعتداء الغاشم عليهم من اليهود المعتدين الغاصبين ، ولا يخفى أيضاً حاجة المسلمين في فلسطين وضرورتهم إلى الكساء والطعام والدواء . ولذا فإنَّ من الواجب على المسلمين المسارعة إلى نجدتهم ومدِّ يد المساعدة لهم والوقوف معهم في محنتهم حتى يتمكنوا من مقاومة عدوهم الذي يملك العدة والعتاد  Tidak samar bagi muslim manapun penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin di Palestina, dari rasa sakit, pembunuhan, hingga pengusiran akibat serangan brutal yang bertubi-tubi oleh para penjajah lalim Yahudi. Tidak samar pula bagaimana kebutuhan dan hajat kaum muslimin di Palestina akan sandang, pangan, dan obat-obatan. Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam untuk bersegera menyelamatkan mereka, mengulurkan tangan kepada mereka, dan berdiri bersama mereka dalam penderitaan mereka sehingga mereka dapat melawan musuh-musuh mereka yang memiliki persiapan dan peralatan lengkap. والله جل وعلا يثيب المؤمن على ما يقدِّم لإخوانه ثواباً عاجلاً وثواباً أخروياً يجد جزاءه في يوم لا ينفع فيه مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم ، قال الله تعالى {وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا } [المزمل:20] ، وقال تعالى : {وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ } [سبأ:39] . وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ …)) [8]. وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : (( … وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ )) [9]. Allah Subẖānahu wa Taʿālā akan Memberi ganjaran kepada orang beriman atas apa yang dia berikan untuk saudara-saudaranya dengan balasan di dunia dan ganjaran di akhirat. Dia akan mendapatkan balasannya pada hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna kecuali jika dia datang menemui Allah dengan hati selamat. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Dia Subẖānahu wa Taʿālā juga Berfirman, “… dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya, karena Dialah Sang Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” [8] Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Sedekah itu memadamkan (menghapus) kesalahan seperti air memadamkan api.” [9] فجودوا عليهم أيها المسلمون بما أعطاكم الله ، واعطفوا عليهم يبارك لكم في مالكم ويخلف عليكم بخير ويضاعف لكم الأجر والثواب ، فعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (( …وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ)) [10] . Oleh sebab itu, berdermalah untuk mereka, wahai kaum muslimin! Bersimpatilah kepada mereka, agar Allah Memberkahi harta kalian, Mengganti untuk kalian dengan kebaikan, dan Melipat gandakan ganjaran dan pahala kalian. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan Membantu kebutuhannya.” [10]  وأن نكثر لهم من الدعاء بأن يجبر ضعفهم ويقوي شوكتهم ، وأن يرد كيد المعتدين في نحورهم ، وأن يكف بأس الذين كفروا والله أشد بأساً وأشد تنكيلا ، وأن يطهِّر المسجد الأقصى من أيدي الظلمة المعتدين والبغاة الغاصبين إنه سميع مجيب . ********* ________________ Hendaknya kita juga memperbanyak doa untuk mereka agar Allah Menutupi kelemahan mereka, Menguatkan kekuatan mereka, Mengembalikan makar orang-orang zalim ke leher-leher mereka sendiri, Menghentikan kekerasan dari orang-orang kafir, karena sesungguhnya Allah lebih dahsyat kekuatan-Nya dan lebih keras siksaan-Nya, dan Mensucikan Masjidil Aqṣā dari tangan-tangan orang zalim yang melampaui batas dan para penjajah yang membangkang, sesungguhnya Dia Subẖānahu wa Taʿālā Maha Mendengar dan Menjawab doa.  ********* ________________ [1] رواه البخاري (1189) ، ومسلم (1397) . [2] رواه البخاري (3366) ، ومسلم (520) . [3] رواه البخاري (4492) ، ومسلم (525) . [4] رواه ابن ماجه (1407) ، وصحح الألباني رحمه الله هذا القسم في (تخريج أحاديث فضائل الشام) رقم (4) . [5] رواه مسلم (162) . [6] رواه الحاكم (4/509) وصححه ، ووافقه الذهبي . [7] رواه النسائي (693) ، وابن ماجه (1408) وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح الترغيب) (1178) . [8] رواه مسلم (2588) . [9] رواه الترمذي (2616) ، وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح سنن الترمذي) (2110) . [10] رواه البخاري (2442) ، ومسلم (2580) . [1] Diriwayatkan oleh Bukhari (1189) dan Muslim (1397). [2] Diriwayatkan oleh Bukhari (3366) dan Muslim (520). [3] Diriwayatkan oleh Bukhari (4492) dan Muslim (525). [4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1407), dan bagian ini disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Takhrīj Aẖādīts Faḏāil asy-Syām No. (4). [5] Diriwayatkan oleh Muslim (162). [6] Diriwayatkan oleh al-Hakim (4/509) dan dia menyahihkannya serta disetujui oleh az-Zahabi. [7] Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (693) dan Ibnu Majah (1408), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ at-Targhīb (1178). [8] Diriwayatkan oleh Muslim (2588). [9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2616), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ Sunan at-Tirmidzī (2110). [10] Diriwayatkan oleh Bukhari (2442) dan Muslim (2580). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2563 PDF sumber artikel 🔍 Naqsabandiyah, Diganggu Jin Saat Tidur, Panitia Qurban Idul Adha, Kumpulan Kehidupan Di Alam Barzah, Anak Hasil Perkawinan Jin Dan Manusia, Cara Mengatasi Istri Keras Kepala Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 280
فضائل المسجد الأقصى Keutamaan Masjid al-Aqṣā يزداد ألم المسلمين وأسفهم يوماً بعد يوم على الحال التي آل إليه المسجد الأقصى من تسلط اليهود المجرمين عليه وانتهاكهم لحرمته واعتدائهم على قدسيته ومكانته وارتكابهم فيه ومع أهله أنواعاً كثيرة من التعديات والإجرام Derita umat Islam dan duka mereka semakin hari semakin bertambah melihat bagaimana Masjid al-Aqṣā yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi durjana. Mereka melanggar kesuciannya, mengotori kemuliaan dan kedudukannya, dan berbuat nista terhadapnya dan para penghuninya dengan berbagai macam pelanggaran dan kejahatan. والمسجد الأقصى مسجد عظيم مبارك له مكانة عالية في نفوس المؤمنين ومنزلة رفيعة في قلوبهم ، فهو مسجد قد خص في الكتاب والسنة بميزات كثيرة وخصائص عديدة وفضائل جمة تدل على رفيع مكانته وعظيم قدره  Masjid al-Aqṣā adalah masjid yang mulia dan diberkahi, yang memiliki status yang mulia dalam jiwa orang-orang beriman dan kedudukan yang tinggi di dalam hati mereka. Inilah masjid yang dalam Kitab dan sunah secara khusus disebutkan keunggulannya bermacam-macam, karakteristik yang banyak, dan keutamaannya melimpah yang menunjukkan statusnya yang tinggi dan kedudukannya yang agung. فمن فضائل المسجد الأقصى أنه أحد المساجد الثلاثة المفضلة التي لا يجوز شد الرِّحال بنية التعبُّد إلا إليها ، فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى)) [1]. Salah satu keutamaan Masjid al-Aqṣā adalah statusnya yang merupakan salah satu dari tiga masjid utama yang mana ada larangan untuk bersafar ke suatu masjid dengan niat beribadah kecuali ke tiga masjid tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Tidak boleh ‘mengikat pelana’ —maksudnya melakukan perjalanan— kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Masjidil Aqṣā.” [1] ومن فضائله أنه ثاني مسجد وضع في الأرض ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ )) قَالَ قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى )) ، قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : (( أَرْبَعُونَ سَنَةً ، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ )) [2]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah masjid kedua yang diletakkan di muka bumi. Diriwayatkan dari Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di muka bumi?’ Beliau bersabda, ‘Masjidil Haram.'” Abu Dzar mengisahkan, “Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian Masjidil Aqṣā.’ Aku bertanya, ‘Berapa lama selisih waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun, kemudian di mana saja kamu mendapati (waktu) salat, maka salatlah karena di situlah keutamaannya.'” [2] ومن فضائله أنه قبلة المسلمين الأولى قبل نسخ القبلة وتحويلها إلى الكعبة ، فعن البراء رضي الله عنه قال : ((صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ – أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ – شَهْرًا ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ )) [3]. Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah kiblat pertama umat Islam sebelum ada nasakh arah kiblat dan dipindahkan ke Ka’bah. Diriwayatkan dari al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Kami pernah salat bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan —atau tujuh belas bulan— lalu dipindahkan ke arah kiblat (Ka’bah). [3] ومن فضائله أنه مسجد في أرض مباركة ، قال الله تعالى : {سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ } [الإسراء:1] . وقد قيل : لو لم تكن لهذا المسجد إلا هذه الفضيلة لكانت كافية . Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah masjid yang terletak di tanah yang berkah. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Mahasuci (Allah) Yang telah Memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqṣā yang telah Kami Berkahi sekelilingnya, …” (QS. Al-Isra’: 1). Oleh karena itu, ada sebuah pernyataan dilontarkan, “Andai masjid ini tidak memiliki keutamaan apapun kecuali keutamaan ini, maka ini sudah cukup.”  وأرضه هي أرض المحشر والمنشر ، فعن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ قَالَ (( أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ … )) [4]. Tanahnya adalah tanah al-Maẖsyar dan al-Mansyar. Diriwayatkan dari Maimunah —bekas budak Rasulullah—, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berikan aku penjelasan tentang Baitul Maqdis.’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah tempat al-Maẖsyar (berkumpulnya manusia untuk dihisab, pent.) dan al-Mansyar (dibangkitkannya manusia setelah kematian, pent.).'” [4]  ومن فضائله أنه مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومنه عُرج به إلى السماء ، فعن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ)) [5]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah tujuan isra Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan permulaan mikraj beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ke langit. Diriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Didatangkan Burāq kepadaku, yaitu binatang tunggangan yang berwarna putih, lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh pangkal tubuhnya.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan, “Lantas aku menungganginya sehingga aku tiba di Baitul Maqdis.” Beliau bersabda, “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid yang biasanya juga para Nabi mengikat di situ.” Beliau melanjutnya, “Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan melakukan salat dua rakaat, kemudian aku keluar dan didatangi oleh Jibril ʿAlaihis Salām yang datang dengan membawa satu bejana berisi arak dan satu bejana berisi susu, maka aku memilih susu. Jibril ʿAlaihis Salām lantas berkata, ‘Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah,’ lalu ia membawaku naik menuju langit.” [5] ومن فضائله أن الصلاة فيه تضاعف ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى ، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا – )) [6] Di antara keutamaannya, bahwa salat di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Diriwayatkan Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—dia berkata, “Kami saling bertukar pendapat di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam atau Baitul Maqdis. Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Satu salat di masjidku ini lebih utama daripada empat salat di sana, sungguh itulah sebaik-baik tempat salat. Sesungguhnya, hampir-hampir tiba masanya di mana seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya yang dari tempat itu dia bisa melihat Baitul Maqdis tapi itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya — atau, lebih baik dari dunia dan segala isinya.” [6] وهذا علم من أعلام نبوته صلى الله عليه وسلم ، حيث بيَّن ما سيؤول إليه المسجد الأقصى مع تعلُّق قلوب المسلمين به وأن مؤامرات الأعداء على المسجد الأقصى ستزداد ، حتى إن المؤمن ليتمنى أن يكون له موضع صغير يطلُّ منه على المسجد الأقصى ويكون ذلك أحبَّ إليه من الدنيا وما فيها  Ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, di mana beliau menjelaskan apa yang akan terjadi pada Masjidil Aqṣā serta keterikatan hati umat Islam dengannya dan bahwa konsipirasi musuh-musuh Islam terhadap Masjidil Aqṣā yang semakin menguat akan membuat orang beriman berangan-angan ingin memiliki secuil tempat yang dekat dari Masjidil Aqṣā yang mana hal itu akan lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya.  ومن فضائله ما ورد في حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا : حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ )) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ)) [7]. Di antara keutamaannya juga adalah apa yang disebutkan dalam hadis Abdullah bin Amr bin al-ʿĀṣ —Semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Ketika Nabi Sulaiman bin Daud ʿAlaihimas Salām merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau ʿAlaihis Salām memohon kepada Allah tiga permintaan, (1) keputusan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, (2) kekuasaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun setelahnya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjidil Aqṣā dengan niat semata-mata untuk salat di dalamnya kecuali dihapuskan segala kesalahannya sehingga dia menjadi seperti ketika hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda, “Adapun permintaannya yang pertama dan kedua telah dikabulkan dan aku berharap semoga yang ketiga juga Allah Kabulkan.” [7] إنه لا يخفى على أيِّ مسلم ما يعانيه المسلمون في فلسطين من آلام وقتل وتشريد بسبب توالي الاعتداء الغاشم عليهم من اليهود المعتدين الغاصبين ، ولا يخفى أيضاً حاجة المسلمين في فلسطين وضرورتهم إلى الكساء والطعام والدواء . ولذا فإنَّ من الواجب على المسلمين المسارعة إلى نجدتهم ومدِّ يد المساعدة لهم والوقوف معهم في محنتهم حتى يتمكنوا من مقاومة عدوهم الذي يملك العدة والعتاد  Tidak samar bagi muslim manapun penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin di Palestina, dari rasa sakit, pembunuhan, hingga pengusiran akibat serangan brutal yang bertubi-tubi oleh para penjajah lalim Yahudi. Tidak samar pula bagaimana kebutuhan dan hajat kaum muslimin di Palestina akan sandang, pangan, dan obat-obatan. Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam untuk bersegera menyelamatkan mereka, mengulurkan tangan kepada mereka, dan berdiri bersama mereka dalam penderitaan mereka sehingga mereka dapat melawan musuh-musuh mereka yang memiliki persiapan dan peralatan lengkap. والله جل وعلا يثيب المؤمن على ما يقدِّم لإخوانه ثواباً عاجلاً وثواباً أخروياً يجد جزاءه في يوم لا ينفع فيه مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم ، قال الله تعالى {وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا } [المزمل:20] ، وقال تعالى : {وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ } [سبأ:39] . وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ …)) [8]. وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : (( … وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ )) [9]. Allah Subẖānahu wa Taʿālā akan Memberi ganjaran kepada orang beriman atas apa yang dia berikan untuk saudara-saudaranya dengan balasan di dunia dan ganjaran di akhirat. Dia akan mendapatkan balasannya pada hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna kecuali jika dia datang menemui Allah dengan hati selamat. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Dia Subẖānahu wa Taʿālā juga Berfirman, “… dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya, karena Dialah Sang Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” [8] Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Sedekah itu memadamkan (menghapus) kesalahan seperti air memadamkan api.” [9] فجودوا عليهم أيها المسلمون بما أعطاكم الله ، واعطفوا عليهم يبارك لكم في مالكم ويخلف عليكم بخير ويضاعف لكم الأجر والثواب ، فعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (( …وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ)) [10] . Oleh sebab itu, berdermalah untuk mereka, wahai kaum muslimin! Bersimpatilah kepada mereka, agar Allah Memberkahi harta kalian, Mengganti untuk kalian dengan kebaikan, dan Melipat gandakan ganjaran dan pahala kalian. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan Membantu kebutuhannya.” [10]  وأن نكثر لهم من الدعاء بأن يجبر ضعفهم ويقوي شوكتهم ، وأن يرد كيد المعتدين في نحورهم ، وأن يكف بأس الذين كفروا والله أشد بأساً وأشد تنكيلا ، وأن يطهِّر المسجد الأقصى من أيدي الظلمة المعتدين والبغاة الغاصبين إنه سميع مجيب . ********* ________________ Hendaknya kita juga memperbanyak doa untuk mereka agar Allah Menutupi kelemahan mereka, Menguatkan kekuatan mereka, Mengembalikan makar orang-orang zalim ke leher-leher mereka sendiri, Menghentikan kekerasan dari orang-orang kafir, karena sesungguhnya Allah lebih dahsyat kekuatan-Nya dan lebih keras siksaan-Nya, dan Mensucikan Masjidil Aqṣā dari tangan-tangan orang zalim yang melampaui batas dan para penjajah yang membangkang, sesungguhnya Dia Subẖānahu wa Taʿālā Maha Mendengar dan Menjawab doa.  ********* ________________ [1] رواه البخاري (1189) ، ومسلم (1397) . [2] رواه البخاري (3366) ، ومسلم (520) . [3] رواه البخاري (4492) ، ومسلم (525) . [4] رواه ابن ماجه (1407) ، وصحح الألباني رحمه الله هذا القسم في (تخريج أحاديث فضائل الشام) رقم (4) . [5] رواه مسلم (162) . [6] رواه الحاكم (4/509) وصححه ، ووافقه الذهبي . [7] رواه النسائي (693) ، وابن ماجه (1408) وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح الترغيب) (1178) . [8] رواه مسلم (2588) . [9] رواه الترمذي (2616) ، وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح سنن الترمذي) (2110) . [10] رواه البخاري (2442) ، ومسلم (2580) . [1] Diriwayatkan oleh Bukhari (1189) dan Muslim (1397). [2] Diriwayatkan oleh Bukhari (3366) dan Muslim (520). [3] Diriwayatkan oleh Bukhari (4492) dan Muslim (525). [4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1407), dan bagian ini disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Takhrīj Aẖādīts Faḏāil asy-Syām No. (4). [5] Diriwayatkan oleh Muslim (162). [6] Diriwayatkan oleh al-Hakim (4/509) dan dia menyahihkannya serta disetujui oleh az-Zahabi. [7] Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (693) dan Ibnu Majah (1408), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ at-Targhīb (1178). [8] Diriwayatkan oleh Muslim (2588). [9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2616), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ Sunan at-Tirmidzī (2110). [10] Diriwayatkan oleh Bukhari (2442) dan Muslim (2580). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2563 PDF sumber artikel 🔍 Naqsabandiyah, Diganggu Jin Saat Tidur, Panitia Qurban Idul Adha, Kumpulan Kehidupan Di Alam Barzah, Anak Hasil Perkawinan Jin Dan Manusia, Cara Mengatasi Istri Keras Kepala Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 280


فضائل المسجد الأقصى Keutamaan Masjid al-Aqṣā يزداد ألم المسلمين وأسفهم يوماً بعد يوم على الحال التي آل إليه المسجد الأقصى من تسلط اليهود المجرمين عليه وانتهاكهم لحرمته واعتدائهم على قدسيته ومكانته وارتكابهم فيه ومع أهله أنواعاً كثيرة من التعديات والإجرام Derita umat Islam dan duka mereka semakin hari semakin bertambah melihat bagaimana Masjid al-Aqṣā yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi durjana. Mereka melanggar kesuciannya, mengotori kemuliaan dan kedudukannya, dan berbuat nista terhadapnya dan para penghuninya dengan berbagai macam pelanggaran dan kejahatan. والمسجد الأقصى مسجد عظيم مبارك له مكانة عالية في نفوس المؤمنين ومنزلة رفيعة في قلوبهم ، فهو مسجد قد خص في الكتاب والسنة بميزات كثيرة وخصائص عديدة وفضائل جمة تدل على رفيع مكانته وعظيم قدره  Masjid al-Aqṣā adalah masjid yang mulia dan diberkahi, yang memiliki status yang mulia dalam jiwa orang-orang beriman dan kedudukan yang tinggi di dalam hati mereka. Inilah masjid yang dalam Kitab dan sunah secara khusus disebutkan keunggulannya bermacam-macam, karakteristik yang banyak, dan keutamaannya melimpah yang menunjukkan statusnya yang tinggi dan kedudukannya yang agung. فمن فضائل المسجد الأقصى أنه أحد المساجد الثلاثة المفضلة التي لا يجوز شد الرِّحال بنية التعبُّد إلا إليها ، فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى)) [1]. Salah satu keutamaan Masjid al-Aqṣā adalah statusnya yang merupakan salah satu dari tiga masjid utama yang mana ada larangan untuk bersafar ke suatu masjid dengan niat beribadah kecuali ke tiga masjid tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Tidak boleh ‘mengikat pelana’ —maksudnya melakukan perjalanan— kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Masjidil Aqṣā.” [1] ومن فضائله أنه ثاني مسجد وضع في الأرض ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ )) قَالَ قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : (( الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى )) ، قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ : (( أَرْبَعُونَ سَنَةً ، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ )) [2]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah masjid kedua yang diletakkan di muka bumi. Diriwayatkan dari Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di muka bumi?’ Beliau bersabda, ‘Masjidil Haram.'” Abu Dzar mengisahkan, “Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Kemudian Masjidil Aqṣā.’ Aku bertanya, ‘Berapa lama selisih waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun, kemudian di mana saja kamu mendapati (waktu) salat, maka salatlah karena di situlah keutamaannya.'” [2] ومن فضائله أنه قبلة المسلمين الأولى قبل نسخ القبلة وتحويلها إلى الكعبة ، فعن البراء رضي الله عنه قال : ((صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ – أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ – شَهْرًا ثُمَّ صَرَفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ )) [3]. Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah kiblat pertama umat Islam sebelum ada nasakh arah kiblat dan dipindahkan ke Ka’bah. Diriwayatkan dari al-Barāʾ —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Kami pernah salat bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan —atau tujuh belas bulan— lalu dipindahkan ke arah kiblat (Ka’bah). [3] ومن فضائله أنه مسجد في أرض مباركة ، قال الله تعالى : {سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ } [الإسراء:1] . وقد قيل : لو لم تكن لهذا المسجد إلا هذه الفضيلة لكانت كافية . Di antara keutamaannya, Masjidil Aqṣā adalah masjid yang terletak di tanah yang berkah. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Mahasuci (Allah) Yang telah Memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqṣā yang telah Kami Berkahi sekelilingnya, …” (QS. Al-Isra’: 1). Oleh karena itu, ada sebuah pernyataan dilontarkan, “Andai masjid ini tidak memiliki keutamaan apapun kecuali keutamaan ini, maka ini sudah cukup.”  وأرضه هي أرض المحشر والمنشر ، فعن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم قالت : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ قَالَ (( أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ … )) [4]. Tanahnya adalah tanah al-Maẖsyar dan al-Mansyar. Diriwayatkan dari Maimunah —bekas budak Rasulullah—, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berikan aku penjelasan tentang Baitul Maqdis.’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah tempat al-Maẖsyar (berkumpulnya manusia untuk dihisab, pent.) dan al-Mansyar (dibangkitkannya manusia setelah kematian, pent.).'” [4]  ومن فضائله أنه مسرى رسول الله صلى الله عليه وسلم ومنه عُرج به إلى السماء ، فعن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ)) [5]. Di antara keutamaannya, bahwa Masjidil Aqṣā adalah tujuan isra Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan permulaan mikraj beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ke langit. Diriwayatkan dari Anas bin Malik —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Didatangkan Burāq kepadaku, yaitu binatang tunggangan yang berwarna putih, lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil dari bagal. Ia meletakkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh pangkal tubuhnya.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan, “Lantas aku menungganginya sehingga aku tiba di Baitul Maqdis.” Beliau bersabda, “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid yang biasanya juga para Nabi mengikat di situ.” Beliau melanjutnya, “Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan melakukan salat dua rakaat, kemudian aku keluar dan didatangi oleh Jibril ʿAlaihis Salām yang datang dengan membawa satu bejana berisi arak dan satu bejana berisi susu, maka aku memilih susu. Jibril ʿAlaihis Salām lantas berkata, ‘Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah,’ lalu ia membawaku naik menuju langit.” [5] ومن فضائله أن الصلاة فيه تضاعف ، فعن أبي ذر رضي الله عنه قال : تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: مَسْجِدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَوْ مَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيهِ ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى ، وَلَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يَرَى مِنْهُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا – أَوْ قَالَ: خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا – )) [6] Di antara keutamaannya, bahwa salat di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Diriwayatkan Abu Dzar —Semoga Allah Meridainya—dia berkata, “Kami saling bertukar pendapat di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam atau Baitul Maqdis. Lalu Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Satu salat di masjidku ini lebih utama daripada empat salat di sana, sungguh itulah sebaik-baik tempat salat. Sesungguhnya, hampir-hampir tiba masanya di mana seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya yang dari tempat itu dia bisa melihat Baitul Maqdis tapi itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya — atau, lebih baik dari dunia dan segala isinya.” [6] وهذا علم من أعلام نبوته صلى الله عليه وسلم ، حيث بيَّن ما سيؤول إليه المسجد الأقصى مع تعلُّق قلوب المسلمين به وأن مؤامرات الأعداء على المسجد الأقصى ستزداد ، حتى إن المؤمن ليتمنى أن يكون له موضع صغير يطلُّ منه على المسجد الأقصى ويكون ذلك أحبَّ إليه من الدنيا وما فيها  Ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kenabian beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, di mana beliau menjelaskan apa yang akan terjadi pada Masjidil Aqṣā serta keterikatan hati umat Islam dengannya dan bahwa konsipirasi musuh-musuh Islam terhadap Masjidil Aqṣā yang semakin menguat akan membuat orang beriman berangan-angan ingin memiliki secuil tempat yang dekat dari Masjidil Aqṣā yang mana hal itu akan lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya.  ومن فضائله ما ورد في حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا : حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ )) فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ)) [7]. Di antara keutamaannya juga adalah apa yang disebutkan dalam hadis Abdullah bin Amr bin al-ʿĀṣ —Semoga Allah Meridainya— dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang bersabda, “Ketika Nabi Sulaiman bin Daud ʿAlaihimas Salām merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau ʿAlaihis Salām memohon kepada Allah tiga permintaan, (1) keputusan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, (2) kekuasaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun setelahnya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjidil Aqṣā dengan niat semata-mata untuk salat di dalamnya kecuali dihapuskan segala kesalahannya sehingga dia menjadi seperti ketika hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda, “Adapun permintaannya yang pertama dan kedua telah dikabulkan dan aku berharap semoga yang ketiga juga Allah Kabulkan.” [7] إنه لا يخفى على أيِّ مسلم ما يعانيه المسلمون في فلسطين من آلام وقتل وتشريد بسبب توالي الاعتداء الغاشم عليهم من اليهود المعتدين الغاصبين ، ولا يخفى أيضاً حاجة المسلمين في فلسطين وضرورتهم إلى الكساء والطعام والدواء . ولذا فإنَّ من الواجب على المسلمين المسارعة إلى نجدتهم ومدِّ يد المساعدة لهم والوقوف معهم في محنتهم حتى يتمكنوا من مقاومة عدوهم الذي يملك العدة والعتاد  Tidak samar bagi muslim manapun penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin di Palestina, dari rasa sakit, pembunuhan, hingga pengusiran akibat serangan brutal yang bertubi-tubi oleh para penjajah lalim Yahudi. Tidak samar pula bagaimana kebutuhan dan hajat kaum muslimin di Palestina akan sandang, pangan, dan obat-obatan. Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam untuk bersegera menyelamatkan mereka, mengulurkan tangan kepada mereka, dan berdiri bersama mereka dalam penderitaan mereka sehingga mereka dapat melawan musuh-musuh mereka yang memiliki persiapan dan peralatan lengkap. والله جل وعلا يثيب المؤمن على ما يقدِّم لإخوانه ثواباً عاجلاً وثواباً أخروياً يجد جزاءه في يوم لا ينفع فيه مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم ، قال الله تعالى {وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا } [المزمل:20] ، وقال تعالى : {وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ } [سبأ:39] . وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ …)) [8]. وعن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : (( … وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ )) [9]. Allah Subẖānahu wa Taʿālā akan Memberi ganjaran kepada orang beriman atas apa yang dia berikan untuk saudara-saudaranya dengan balasan di dunia dan ganjaran di akhirat. Dia akan mendapatkan balasannya pada hari di mana harta dan anak tidak lagi berguna kecuali jika dia datang menemui Allah dengan hati selamat. Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman, “Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil: 20). Dia Subẖānahu wa Taʿālā juga Berfirman, “… dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya, karena Dialah Sang Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39). Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya— dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” [8] Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Sedekah itu memadamkan (menghapus) kesalahan seperti air memadamkan api.” [9] فجودوا عليهم أيها المسلمون بما أعطاكم الله ، واعطفوا عليهم يبارك لكم في مالكم ويخلف عليكم بخير ويضاعف لكم الأجر والثواب ، فعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (( …وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ)) [10] . Oleh sebab itu, berdermalah untuk mereka, wahai kaum muslimin! Bersimpatilah kepada mereka, agar Allah Memberkahi harta kalian, Mengganti untuk kalian dengan kebaikan, dan Melipat gandakan ganjaran dan pahala kalian. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar —Semoga Allah Meridainya— bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan Membantu kebutuhannya.” [10]  وأن نكثر لهم من الدعاء بأن يجبر ضعفهم ويقوي شوكتهم ، وأن يرد كيد المعتدين في نحورهم ، وأن يكف بأس الذين كفروا والله أشد بأساً وأشد تنكيلا ، وأن يطهِّر المسجد الأقصى من أيدي الظلمة المعتدين والبغاة الغاصبين إنه سميع مجيب . ********* ________________ Hendaknya kita juga memperbanyak doa untuk mereka agar Allah Menutupi kelemahan mereka, Menguatkan kekuatan mereka, Mengembalikan makar orang-orang zalim ke leher-leher mereka sendiri, Menghentikan kekerasan dari orang-orang kafir, karena sesungguhnya Allah lebih dahsyat kekuatan-Nya dan lebih keras siksaan-Nya, dan Mensucikan Masjidil Aqṣā dari tangan-tangan orang zalim yang melampaui batas dan para penjajah yang membangkang, sesungguhnya Dia Subẖānahu wa Taʿālā Maha Mendengar dan Menjawab doa.  ********* ________________ [1] رواه البخاري (1189) ، ومسلم (1397) . [2] رواه البخاري (3366) ، ومسلم (520) . [3] رواه البخاري (4492) ، ومسلم (525) . [4] رواه ابن ماجه (1407) ، وصحح الألباني رحمه الله هذا القسم في (تخريج أحاديث فضائل الشام) رقم (4) . [5] رواه مسلم (162) . [6] رواه الحاكم (4/509) وصححه ، ووافقه الذهبي . [7] رواه النسائي (693) ، وابن ماجه (1408) وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح الترغيب) (1178) . [8] رواه مسلم (2588) . [9] رواه الترمذي (2616) ، وصححه الألباني رحمه الله في (صحيح سنن الترمذي) (2110) . [10] رواه البخاري (2442) ، ومسلم (2580) . [1] Diriwayatkan oleh Bukhari (1189) dan Muslim (1397). [2] Diriwayatkan oleh Bukhari (3366) dan Muslim (520). [3] Diriwayatkan oleh Bukhari (4492) dan Muslim (525). [4] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1407), dan bagian ini disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Takhrīj Aẖādīts Faḏāil asy-Syām No. (4). [5] Diriwayatkan oleh Muslim (162). [6] Diriwayatkan oleh al-Hakim (4/509) dan dia menyahihkannya serta disetujui oleh az-Zahabi. [7] Diriwayatkan oleh an-Nasa’i (693) dan Ibnu Majah (1408), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ at-Targhīb (1178). [8] Diriwayatkan oleh Muslim (2588). [9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2616), dan disahihkan oleh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— dalam Ṣaẖīẖ Sunan at-Tirmidzī (2110). [10] Diriwayatkan oleh Bukhari (2442) dan Muslim (2580). Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr Sumber: https://al-badr.net/muqolat/2563 PDF sumber artikel 🔍 Naqsabandiyah, Diganggu Jin Saat Tidur, Panitia Qurban Idul Adha, Kumpulan Kehidupan Di Alam Barzah, Anak Hasil Perkawinan Jin Dan Manusia, Cara Mengatasi Istri Keras Kepala Visited 56 times, 1 visit(s) today Post Views: 280

Awas, Jangan Sampai Salah Orientasi dalam Kehidupan Ini!

Daftar Isi Toggle Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuanKehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnyaBerbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnyaDengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Akhir-akhir ini, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, sering kita jumpai orang-orang ramai memamerkan harta dan kekayaannya, flexing jabatan dan pekerjaan, memajang foto kemewahan dan hal-hal yang berbau duniawi. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang beragama Islam, yang seharusnya telah mengetahui, bahwa hal semacam ini merupakan salah satu bentuk akhlak yang tidak terpuji. Sebuah kebiasaan yang akan menyakiti hati orang-orang tidak mampu, mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikannya, dan seringkali akan merubah persepsi orang lain akan orientasi dan tujuan hidup yang sebenarnya. Wahai saudaraku, jangan pernah lupa bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk diusahakan dan diupayakan dengan keras dan susah payah adalah kehidupan akhirat. Adapun kehidupan dunia, maka diambil secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman, وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuan Jika kehidupan ini diumpamakan dengan sebuah perjalanan, maka dunia tempat kita berada sekarang layaknya pohon yang seorang musafir berhenti sebentar di bawahnya untuk berteduh kemudian melanjutkan perjalanannya. Atau layaknya terminal transit di mana seorang penumpang hanya turun sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها. “Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini?! Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia ini, kecuali layaknya seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, Ibnu Majah no. 4109 dan Ahmad no. 3709) Saudaraku, Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita perihal hakikat kehidupan ini di banyak ayat dan hadis. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20) Allah jadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat ujian dan bukan tempat tujuan. Allah Ta’ala berfirman, تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2} “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2) Sejatinya, kehidupan dunia ini Allah Ta’ala peruntukkan untuk orang-orang kafir dan bukan untuk kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ. “Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2965) Dunia bagi seorang mukmin layaknya penjara. Di dalamnya ia akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, di mana dirinya harus bersabar menahan dan menghadapi beratnya fitnah syahwat dan syubhat yang senantiasa menyerangnya. Sedangkan bagi orang kafir, maka dunia ini layaknya surga bagi mereka, karena rezeki mereka akan Allah sempurnakan di dunia ini. Sedangkan di akhirat nanti, mereka tak akan mendapatkan apapun, kecuali azab yang pedih. Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hakikat kehidupan akhirat, وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17) Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, kekal abadi tiada akhirnya. Siapa saja yang mau beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunianya, maka ia akan mendapatkan surga yang kekal dan tidak akan terputus kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57) Sebaliknya, siapa saja yang kufur kepada Allah Ta’ala, menyekutukannya, dan tidak mau beriman kepada-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan azab pedih tak berkesudahan di neraka, waliyyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَآ أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6) Berbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, mengejar kebahagiaan semu dengan mengorbankan agama dan amalan salehnya. Padahal dia mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka yang bekerja keras dan beramal saleh untuk kehidupan akhirat, maka akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97) Imam As-Sa’di rahimahullah, seorang ahli tafsir terkemuka, tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, “(Kehidupan yang baik) adalah dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” Allah Ta’ala juga menetapkan bahwa seseorang yang beramal lalu menjadikan akhirat sebagai orientasi dan tujuan hiddupnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. As-Syura: 20) Sebaliknya, siapapun yang mendahulukan dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kehidupannya, maka Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ “Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20) Allah Ta’ala penuhi apa-apa yang telah menjadi haknya dari rezeki mereka di dunia ini. Sedangkan di akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan apapun dari amalannya. Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan betapa adilnya Allah Ta’ala dan betapa meruginya siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16) Dengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Saudaraku, di tengah maraknya orang-orang yang pamer harta dan pencapaian dunia, serta banyaknya bisikan dan godaan untuk berambisi mencari harta dan ketenaran, tidak ada yang dapat menentramkan diri kita, selain mengingat bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi lagi sempurna. Janganlah merasa silau dan iri dengan keadaan orang-orang kafir di dunia! Jangan pula merasa dengki dengan siapapun yang Allah berikan keluasaan rezeki dalam kehidupan dunia ini! Allah Ta’ala berfirman, لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali ‘Imran: 196-197) Perbanyak amal saleh, fokus terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi diri kita di akhirat nanti! Ambillah dari dunia ini apa yang mencukupi kebutuhanmu saja dan jangan sampai kesibukan duniamu melalaikanmu dari beramal saleh untuk akhiratmu! Tinggalkan apapun yang tidak bermanfaat bagimu! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إنَّك لنْ تَدَعَ شَيئًا للهِ إلَّا بدَّلَك اللهُ به ما هو خَيرٌ لك منه “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad no. 23074) Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam beramal saleh dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan kita. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: orientasi kehidupantujuan hidup

Awas, Jangan Sampai Salah Orientasi dalam Kehidupan Ini!

Daftar Isi Toggle Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuanKehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnyaBerbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnyaDengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Akhir-akhir ini, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, sering kita jumpai orang-orang ramai memamerkan harta dan kekayaannya, flexing jabatan dan pekerjaan, memajang foto kemewahan dan hal-hal yang berbau duniawi. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang beragama Islam, yang seharusnya telah mengetahui, bahwa hal semacam ini merupakan salah satu bentuk akhlak yang tidak terpuji. Sebuah kebiasaan yang akan menyakiti hati orang-orang tidak mampu, mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikannya, dan seringkali akan merubah persepsi orang lain akan orientasi dan tujuan hidup yang sebenarnya. Wahai saudaraku, jangan pernah lupa bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk diusahakan dan diupayakan dengan keras dan susah payah adalah kehidupan akhirat. Adapun kehidupan dunia, maka diambil secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman, وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuan Jika kehidupan ini diumpamakan dengan sebuah perjalanan, maka dunia tempat kita berada sekarang layaknya pohon yang seorang musafir berhenti sebentar di bawahnya untuk berteduh kemudian melanjutkan perjalanannya. Atau layaknya terminal transit di mana seorang penumpang hanya turun sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها. “Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini?! Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia ini, kecuali layaknya seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, Ibnu Majah no. 4109 dan Ahmad no. 3709) Saudaraku, Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita perihal hakikat kehidupan ini di banyak ayat dan hadis. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20) Allah jadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat ujian dan bukan tempat tujuan. Allah Ta’ala berfirman, تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2} “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2) Sejatinya, kehidupan dunia ini Allah Ta’ala peruntukkan untuk orang-orang kafir dan bukan untuk kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ. “Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2965) Dunia bagi seorang mukmin layaknya penjara. Di dalamnya ia akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, di mana dirinya harus bersabar menahan dan menghadapi beratnya fitnah syahwat dan syubhat yang senantiasa menyerangnya. Sedangkan bagi orang kafir, maka dunia ini layaknya surga bagi mereka, karena rezeki mereka akan Allah sempurnakan di dunia ini. Sedangkan di akhirat nanti, mereka tak akan mendapatkan apapun, kecuali azab yang pedih. Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hakikat kehidupan akhirat, وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17) Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, kekal abadi tiada akhirnya. Siapa saja yang mau beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunianya, maka ia akan mendapatkan surga yang kekal dan tidak akan terputus kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57) Sebaliknya, siapa saja yang kufur kepada Allah Ta’ala, menyekutukannya, dan tidak mau beriman kepada-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan azab pedih tak berkesudahan di neraka, waliyyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَآ أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6) Berbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, mengejar kebahagiaan semu dengan mengorbankan agama dan amalan salehnya. Padahal dia mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka yang bekerja keras dan beramal saleh untuk kehidupan akhirat, maka akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97) Imam As-Sa’di rahimahullah, seorang ahli tafsir terkemuka, tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, “(Kehidupan yang baik) adalah dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” Allah Ta’ala juga menetapkan bahwa seseorang yang beramal lalu menjadikan akhirat sebagai orientasi dan tujuan hiddupnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. As-Syura: 20) Sebaliknya, siapapun yang mendahulukan dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kehidupannya, maka Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ “Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20) Allah Ta’ala penuhi apa-apa yang telah menjadi haknya dari rezeki mereka di dunia ini. Sedangkan di akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan apapun dari amalannya. Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan betapa adilnya Allah Ta’ala dan betapa meruginya siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16) Dengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Saudaraku, di tengah maraknya orang-orang yang pamer harta dan pencapaian dunia, serta banyaknya bisikan dan godaan untuk berambisi mencari harta dan ketenaran, tidak ada yang dapat menentramkan diri kita, selain mengingat bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi lagi sempurna. Janganlah merasa silau dan iri dengan keadaan orang-orang kafir di dunia! Jangan pula merasa dengki dengan siapapun yang Allah berikan keluasaan rezeki dalam kehidupan dunia ini! Allah Ta’ala berfirman, لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali ‘Imran: 196-197) Perbanyak amal saleh, fokus terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi diri kita di akhirat nanti! Ambillah dari dunia ini apa yang mencukupi kebutuhanmu saja dan jangan sampai kesibukan duniamu melalaikanmu dari beramal saleh untuk akhiratmu! Tinggalkan apapun yang tidak bermanfaat bagimu! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إنَّك لنْ تَدَعَ شَيئًا للهِ إلَّا بدَّلَك اللهُ به ما هو خَيرٌ لك منه “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad no. 23074) Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam beramal saleh dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan kita. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: orientasi kehidupantujuan hidup
Daftar Isi Toggle Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuanKehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnyaBerbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnyaDengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Akhir-akhir ini, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, sering kita jumpai orang-orang ramai memamerkan harta dan kekayaannya, flexing jabatan dan pekerjaan, memajang foto kemewahan dan hal-hal yang berbau duniawi. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang beragama Islam, yang seharusnya telah mengetahui, bahwa hal semacam ini merupakan salah satu bentuk akhlak yang tidak terpuji. Sebuah kebiasaan yang akan menyakiti hati orang-orang tidak mampu, mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikannya, dan seringkali akan merubah persepsi orang lain akan orientasi dan tujuan hidup yang sebenarnya. Wahai saudaraku, jangan pernah lupa bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk diusahakan dan diupayakan dengan keras dan susah payah adalah kehidupan akhirat. Adapun kehidupan dunia, maka diambil secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman, وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuan Jika kehidupan ini diumpamakan dengan sebuah perjalanan, maka dunia tempat kita berada sekarang layaknya pohon yang seorang musafir berhenti sebentar di bawahnya untuk berteduh kemudian melanjutkan perjalanannya. Atau layaknya terminal transit di mana seorang penumpang hanya turun sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها. “Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini?! Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia ini, kecuali layaknya seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, Ibnu Majah no. 4109 dan Ahmad no. 3709) Saudaraku, Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita perihal hakikat kehidupan ini di banyak ayat dan hadis. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20) Allah jadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat ujian dan bukan tempat tujuan. Allah Ta’ala berfirman, تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2} “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2) Sejatinya, kehidupan dunia ini Allah Ta’ala peruntukkan untuk orang-orang kafir dan bukan untuk kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ. “Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2965) Dunia bagi seorang mukmin layaknya penjara. Di dalamnya ia akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, di mana dirinya harus bersabar menahan dan menghadapi beratnya fitnah syahwat dan syubhat yang senantiasa menyerangnya. Sedangkan bagi orang kafir, maka dunia ini layaknya surga bagi mereka, karena rezeki mereka akan Allah sempurnakan di dunia ini. Sedangkan di akhirat nanti, mereka tak akan mendapatkan apapun, kecuali azab yang pedih. Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hakikat kehidupan akhirat, وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17) Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, kekal abadi tiada akhirnya. Siapa saja yang mau beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunianya, maka ia akan mendapatkan surga yang kekal dan tidak akan terputus kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57) Sebaliknya, siapa saja yang kufur kepada Allah Ta’ala, menyekutukannya, dan tidak mau beriman kepada-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan azab pedih tak berkesudahan di neraka, waliyyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَآ أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6) Berbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, mengejar kebahagiaan semu dengan mengorbankan agama dan amalan salehnya. Padahal dia mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka yang bekerja keras dan beramal saleh untuk kehidupan akhirat, maka akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97) Imam As-Sa’di rahimahullah, seorang ahli tafsir terkemuka, tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, “(Kehidupan yang baik) adalah dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” Allah Ta’ala juga menetapkan bahwa seseorang yang beramal lalu menjadikan akhirat sebagai orientasi dan tujuan hiddupnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. As-Syura: 20) Sebaliknya, siapapun yang mendahulukan dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kehidupannya, maka Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ “Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20) Allah Ta’ala penuhi apa-apa yang telah menjadi haknya dari rezeki mereka di dunia ini. Sedangkan di akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan apapun dari amalannya. Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan betapa adilnya Allah Ta’ala dan betapa meruginya siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16) Dengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Saudaraku, di tengah maraknya orang-orang yang pamer harta dan pencapaian dunia, serta banyaknya bisikan dan godaan untuk berambisi mencari harta dan ketenaran, tidak ada yang dapat menentramkan diri kita, selain mengingat bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi lagi sempurna. Janganlah merasa silau dan iri dengan keadaan orang-orang kafir di dunia! Jangan pula merasa dengki dengan siapapun yang Allah berikan keluasaan rezeki dalam kehidupan dunia ini! Allah Ta’ala berfirman, لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali ‘Imran: 196-197) Perbanyak amal saleh, fokus terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi diri kita di akhirat nanti! Ambillah dari dunia ini apa yang mencukupi kebutuhanmu saja dan jangan sampai kesibukan duniamu melalaikanmu dari beramal saleh untuk akhiratmu! Tinggalkan apapun yang tidak bermanfaat bagimu! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إنَّك لنْ تَدَعَ شَيئًا للهِ إلَّا بدَّلَك اللهُ به ما هو خَيرٌ لك منه “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad no. 23074) Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam beramal saleh dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan kita. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: orientasi kehidupantujuan hidup


Daftar Isi Toggle Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuanKehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnyaBerbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnyaDengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Akhir-akhir ini, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, sering kita jumpai orang-orang ramai memamerkan harta dan kekayaannya, flexing jabatan dan pekerjaan, memajang foto kemewahan dan hal-hal yang berbau duniawi. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang beragama Islam, yang seharusnya telah mengetahui, bahwa hal semacam ini merupakan salah satu bentuk akhlak yang tidak terpuji. Sebuah kebiasaan yang akan menyakiti hati orang-orang tidak mampu, mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikannya, dan seringkali akan merubah persepsi orang lain akan orientasi dan tujuan hidup yang sebenarnya. Wahai saudaraku, jangan pernah lupa bahwa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk diusahakan dan diupayakan dengan keras dan susah payah adalah kehidupan akhirat. Adapun kehidupan dunia, maka diambil secukupnya saja. Allah Ta’ala berfirman, وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77) Allah Ta’ala juga berfirman, وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dunia ini fana, tempat ujian, dan bukan tujuan Jika kehidupan ini diumpamakan dengan sebuah perjalanan, maka dunia tempat kita berada sekarang layaknya pohon yang seorang musafir berhenti sebentar di bawahnya untuk berteduh kemudian melanjutkan perjalanannya. Atau layaknya terminal transit di mana seorang penumpang hanya turun sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها. “Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini?! Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia ini, kecuali layaknya seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377, Ibnu Majah no. 4109 dan Ahmad no. 3709) Saudaraku, Allah Ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita perihal hakikat kehidupan ini di banyak ayat dan hadis. Di antaranya, Allah Ta’ala berfirman, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20) Allah jadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat ujian dan bukan tempat tujuan. Allah Ta’ala berfirman, تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ {1} الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ {2} “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2) Sejatinya, kehidupan dunia ini Allah Ta’ala peruntukkan untuk orang-orang kafir dan bukan untuk kaum mukminin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ. “Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2965) Dunia bagi seorang mukmin layaknya penjara. Di dalamnya ia akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, di mana dirinya harus bersabar menahan dan menghadapi beratnya fitnah syahwat dan syubhat yang senantiasa menyerangnya. Sedangkan bagi orang kafir, maka dunia ini layaknya surga bagi mereka, karena rezeki mereka akan Allah sempurnakan di dunia ini. Sedangkan di akhirat nanti, mereka tak akan mendapatkan apapun, kecuali azab yang pedih. Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hakikat kehidupan akhirat, وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17) Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, kekal abadi tiada akhirnya. Siapa saja yang mau beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunianya, maka ia akan mendapatkan surga yang kekal dan tidak akan terputus kenikmatannya. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ لَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيْلًا “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (QS. An-Nisa’: 57) Sebaliknya, siapa saja yang kufur kepada Allah Ta’ala, menyekutukannya, dan tidak mau beriman kepada-Nya, maka sungguh ia akan mendapatkan azab pedih tak berkesudahan di neraka, waliyyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فيِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَآ أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6) Berbahagialah bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya, mengejar kebahagiaan semu dengan mengorbankan agama dan amalan salehnya. Padahal dia mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya bagi siapapun yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Mereka yang bekerja keras dan beramal saleh untuk kehidupan akhirat, maka akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97) Imam As-Sa’di rahimahullah, seorang ahli tafsir terkemuka, tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan, “(Kehidupan yang baik) adalah dengan pemberian ketentraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” Allah Ta’ala juga menetapkan bahwa seseorang yang beramal lalu menjadikan akhirat sebagai orientasi dan tujuan hiddupnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan, مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. As-Syura: 20) Sebaliknya, siapapun yang mendahulukan dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kehidupannya, maka Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ “Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20) Allah Ta’ala penuhi apa-apa yang telah menjadi haknya dari rezeki mereka di dunia ini. Sedangkan di akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan apapun dari amalannya. Allah Ta’ala juga berfirman menjelaskan betapa adilnya Allah Ta’ala dan betapa meruginya siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan di akhirat lenyaplah semua yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16) Dengan mengingat akhirat, maka hidup menjadi tenang Saudaraku, di tengah maraknya orang-orang yang pamer harta dan pencapaian dunia, serta banyaknya bisikan dan godaan untuk berambisi mencari harta dan ketenaran, tidak ada yang dapat menentramkan diri kita, selain mengingat bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan kehidupan akhiratlah yang kekal abadi lagi sempurna. Janganlah merasa silau dan iri dengan keadaan orang-orang kafir di dunia! Jangan pula merasa dengki dengan siapapun yang Allah berikan keluasaan rezeki dalam kehidupan dunia ini! Allah Ta’ala berfirman, لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Ali ‘Imran: 196-197) Perbanyak amal saleh, fokus terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi diri kita di akhirat nanti! Ambillah dari dunia ini apa yang mencukupi kebutuhanmu saja dan jangan sampai kesibukan duniamu melalaikanmu dari beramal saleh untuk akhiratmu! Tinggalkan apapun yang tidak bermanfaat bagimu! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, إنَّك لنْ تَدَعَ شَيئًا للهِ إلَّا بدَّلَك اللهُ به ما هو خَيرٌ لك منه “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad no. 23074) Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam beramal saleh dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan kita. Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mendahulukan akhirat daripada dunia. Limpahkan kebaikan kepada kami di dunia ini, demikian pula di akhirat. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id Tags: orientasi kehidupantujuan hidup

Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia

Daftar Isi Toggle Orang yang terbiasa dengan kemaksiatanTanda kesuksesan tidak selalu fisikOrang yang terus diujiUjian sebagai penyucian jiwaJangan terjebak ilusi dunia Dalam menjalani kehidupan ini, kadangkala kita menilai keberuntungan dan kesialan seseorang dari apa yang kita lihat di permukaan. Namun, kita lupa bahwa apa yang tampak di mata bisa jadi berbeda dengan realitas sebenarnya. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan, belum tentu hidupnya benar-benar bahagia di hadapan Allah Ta’ala. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita seringkali hanya melihat segala sesuatu dari perspektif yang sempit, yaitu dari sudut pandang duniawi. Kita terjebak dalam definisi kebahagiaan dan kesuksesan yang didasarkan pada harta, kekuasaan, kepopuleran, atau kesenangan fisik. Padahal, keberuntungan seseorang tidak semata-mata diukur dari segi material atau apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kenikmatan di dunia ini, mungkin justru menjadi belenggu bagi kehidupan akhirat seseorang. Di sisi lain, orang yang terlihat mengalami kesulitan dan cobaan di dunia ini, bisa jadi justru berada dalam rahmat dan lindungan Allah Ta’ala. Cobaan dan kesulitan seringkali menjadi cara Allah Ta’ala untuk menguji dan menyucikan hamba-Nya, sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujiannya di dunia. Maka, beliau menjawab, الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185) Maka, Saudaraku! Hal ini merupakan tanda bahwa cobaan dan kesulitan bukanlah hukuman, melainkan tanda kasih sayang dan perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang dipilih untuk ditempa agar menjadi lebih baik. Orang yang terbiasa dengan kemaksiatan Sebagian dari kita mungkin melihat orang yang terbiasa melakukan dosa, namun tampaknya tidak mendapat teguran dari Allah Ta’ala. Sebagian besar mereka menikmati kehidupan dunia, kaya raya, dan memiliki kesehatan yang baik. Namun, sebenarnya, kondisi ini justru bisa menjadi merupakan petaka bagi mereka. Hal itu tidak lain pertanda bahwa Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka dan membiarkan mereka terus menerus dalam kesesatan hingga ajal menjemput. wal’iyadzu billah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ “Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145) Istidraj merupakan salah satu bentuk cara Allah Ta’ala menarik seseorang dengan lembut menuju kebinasaan. Orang yang terus menerus dalam kemaksiatan, namun tidak mendapatkan teguran, mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke jurang kehancuran. Ini adalah tanda bahwa Allah mungkin telah meninggalkannya. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita Tanda kesuksesan tidak selalu fisik Salah satu kesalahan persepsi adalah menganggap bahwa kemakmuran dan keberhasilan dunia merupakan tanda rida dan keberkahan dari Allah. Namun, dalam banyak kasus, kekayaan, dan kesenangan dunia dapat menjadi fitnah bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta, anak-anak adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28) Kesenangan dunia seperti harta dan anak bukanlah ukuran kesuksesan hakiki di mata Allah, melainkan bisa jadi adalah fitnah yang menguji keimanan dan kesabaran seseorang. Penting juga diingat bahwa di antara hal yang merugikan bagi seorang hamba adalah ketika ia terus menerus mendapatkan kesenangan dunia tanpa hambatan dan hatinya bisa menjadi terpaut dan lupa akan akhirat. Ketika seseorang terlalu cinta dunia, ia akan cenderung melakukan apapun untuk mempertahankan dan meningkatkan kesenangannya, bahkan jika itu berarti melanggar perintah Allah. Perhatikanlah! Inilah contoh nyata dari bagaimana seseorang yang tampak sukses di mata manusia, namun sebenarnya berada dalam bahaya besar karena jauh dari rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu waspada terhadap godaan dunia dan memastikan bahwa hati kita selalu terpaut pada Allah dan akhirat. Orang yang terus diuji Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ujian dan cobaan. Mereka mungkin sering sakit, kehilangan, atau mengalami kesulitan hidup. Namun, ujian ini sebenarnya bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dengan ujian, dosa-dosa kita dihapuskan. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bersabar akan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya, besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Baca juga: Sumber Kebahagiaan Duniawi Ujian sebagai penyucian jiwa Setiap ujian dan cobaan yang menimpa seorang muslim bukanlah tanpa alasan. Allah memberikan ujian sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa. Sebagaimana emas yang semakin berkilau setelah dilebur dalam api, demikian pula jiwa seorang mukmin yang bersabar dalam menghadapi ujian akan semakin murni. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Dalil ini menegaskan bahwa kesulitan dan rasa sakit yang kita alami dalam hidup ini memiliki hikmah, yaitu menghapuskan dosa-dosa kita, sebagaimana daun yang gugur dari pohon. Saat kita dicoba, sebenarnya itu adalah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Melalui ujian, Allah ingin mengangkat derajat kita dan menguji kekuatan iman kita. Ujian yang datang bertubi-tubi menunjukkan bahwa Allah ingin menguji kekuatan iman kita dan mengangkat derajat kita. Jadi, bukannya harus merasa putus asa, kita seharusnya menyambut ujian sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita. Jangan terjebak ilusi dunia Saudaraku, jangan mudah teperdaya dengan apa yang kita lihat di permukaan. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan belum tentu lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Dan orang yang penuh cobaan, jika dia bersabar, mungkin justru mendapat cinta dan rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengintrospeksi diri dan memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk selalu dekat dengan Allah, menjauhi dosa, dan bersabar dalam setiap ujian. Amin. Dalam setiap nafas dan detik kehidupan, ada hikmah yang Allah sematkan bagi hamba-Nya. Setiap kejadian, baik yang tampak indah maupun yang tampak menyakitkan, memiliki pelajaran yang mungkin tersembunyi di balik tabir kehidupan. Seperti emas yang mesti melewati proses pemurnian dengan api sebelum ia berkilau, demikian pula jiwa kita. Ujian dan cobaan adalah cara Allah memurnikan, menguatkan, dan mendekatkan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita semestinya tidak hanya fokus pada apa yang tampak, tetapi mencari makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa. Penting pula bagi kita untuk selalu menjaga hati dan niat dalam setiap tindakan. Karena bukan hanya perbuatan yang dilihat Allah, tetapi juga niat dan isi hati kita. Bisa jadi seseorang tampak bahagia dan sejahtera di mata dunia, namun hatinya kosong dan jauh dari keberkahan. Sebaliknya, seseorang yang tampak dilanda cobaan, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan tawakal, mungkin mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah. Oleh karena itu, jangan hanya menilai dari luarnya saja, tetapi introspeksi dan perbaiki selalu isi hati dan niat kita. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berkah. Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: budak duniailusi dunia

Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia

Daftar Isi Toggle Orang yang terbiasa dengan kemaksiatanTanda kesuksesan tidak selalu fisikOrang yang terus diujiUjian sebagai penyucian jiwaJangan terjebak ilusi dunia Dalam menjalani kehidupan ini, kadangkala kita menilai keberuntungan dan kesialan seseorang dari apa yang kita lihat di permukaan. Namun, kita lupa bahwa apa yang tampak di mata bisa jadi berbeda dengan realitas sebenarnya. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan, belum tentu hidupnya benar-benar bahagia di hadapan Allah Ta’ala. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita seringkali hanya melihat segala sesuatu dari perspektif yang sempit, yaitu dari sudut pandang duniawi. Kita terjebak dalam definisi kebahagiaan dan kesuksesan yang didasarkan pada harta, kekuasaan, kepopuleran, atau kesenangan fisik. Padahal, keberuntungan seseorang tidak semata-mata diukur dari segi material atau apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kenikmatan di dunia ini, mungkin justru menjadi belenggu bagi kehidupan akhirat seseorang. Di sisi lain, orang yang terlihat mengalami kesulitan dan cobaan di dunia ini, bisa jadi justru berada dalam rahmat dan lindungan Allah Ta’ala. Cobaan dan kesulitan seringkali menjadi cara Allah Ta’ala untuk menguji dan menyucikan hamba-Nya, sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujiannya di dunia. Maka, beliau menjawab, الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185) Maka, Saudaraku! Hal ini merupakan tanda bahwa cobaan dan kesulitan bukanlah hukuman, melainkan tanda kasih sayang dan perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang dipilih untuk ditempa agar menjadi lebih baik. Orang yang terbiasa dengan kemaksiatan Sebagian dari kita mungkin melihat orang yang terbiasa melakukan dosa, namun tampaknya tidak mendapat teguran dari Allah Ta’ala. Sebagian besar mereka menikmati kehidupan dunia, kaya raya, dan memiliki kesehatan yang baik. Namun, sebenarnya, kondisi ini justru bisa menjadi merupakan petaka bagi mereka. Hal itu tidak lain pertanda bahwa Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka dan membiarkan mereka terus menerus dalam kesesatan hingga ajal menjemput. wal’iyadzu billah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ “Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145) Istidraj merupakan salah satu bentuk cara Allah Ta’ala menarik seseorang dengan lembut menuju kebinasaan. Orang yang terus menerus dalam kemaksiatan, namun tidak mendapatkan teguran, mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke jurang kehancuran. Ini adalah tanda bahwa Allah mungkin telah meninggalkannya. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita Tanda kesuksesan tidak selalu fisik Salah satu kesalahan persepsi adalah menganggap bahwa kemakmuran dan keberhasilan dunia merupakan tanda rida dan keberkahan dari Allah. Namun, dalam banyak kasus, kekayaan, dan kesenangan dunia dapat menjadi fitnah bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta, anak-anak adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28) Kesenangan dunia seperti harta dan anak bukanlah ukuran kesuksesan hakiki di mata Allah, melainkan bisa jadi adalah fitnah yang menguji keimanan dan kesabaran seseorang. Penting juga diingat bahwa di antara hal yang merugikan bagi seorang hamba adalah ketika ia terus menerus mendapatkan kesenangan dunia tanpa hambatan dan hatinya bisa menjadi terpaut dan lupa akan akhirat. Ketika seseorang terlalu cinta dunia, ia akan cenderung melakukan apapun untuk mempertahankan dan meningkatkan kesenangannya, bahkan jika itu berarti melanggar perintah Allah. Perhatikanlah! Inilah contoh nyata dari bagaimana seseorang yang tampak sukses di mata manusia, namun sebenarnya berada dalam bahaya besar karena jauh dari rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu waspada terhadap godaan dunia dan memastikan bahwa hati kita selalu terpaut pada Allah dan akhirat. Orang yang terus diuji Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ujian dan cobaan. Mereka mungkin sering sakit, kehilangan, atau mengalami kesulitan hidup. Namun, ujian ini sebenarnya bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dengan ujian, dosa-dosa kita dihapuskan. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bersabar akan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya, besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Baca juga: Sumber Kebahagiaan Duniawi Ujian sebagai penyucian jiwa Setiap ujian dan cobaan yang menimpa seorang muslim bukanlah tanpa alasan. Allah memberikan ujian sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa. Sebagaimana emas yang semakin berkilau setelah dilebur dalam api, demikian pula jiwa seorang mukmin yang bersabar dalam menghadapi ujian akan semakin murni. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Dalil ini menegaskan bahwa kesulitan dan rasa sakit yang kita alami dalam hidup ini memiliki hikmah, yaitu menghapuskan dosa-dosa kita, sebagaimana daun yang gugur dari pohon. Saat kita dicoba, sebenarnya itu adalah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Melalui ujian, Allah ingin mengangkat derajat kita dan menguji kekuatan iman kita. Ujian yang datang bertubi-tubi menunjukkan bahwa Allah ingin menguji kekuatan iman kita dan mengangkat derajat kita. Jadi, bukannya harus merasa putus asa, kita seharusnya menyambut ujian sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita. Jangan terjebak ilusi dunia Saudaraku, jangan mudah teperdaya dengan apa yang kita lihat di permukaan. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan belum tentu lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Dan orang yang penuh cobaan, jika dia bersabar, mungkin justru mendapat cinta dan rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengintrospeksi diri dan memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk selalu dekat dengan Allah, menjauhi dosa, dan bersabar dalam setiap ujian. Amin. Dalam setiap nafas dan detik kehidupan, ada hikmah yang Allah sematkan bagi hamba-Nya. Setiap kejadian, baik yang tampak indah maupun yang tampak menyakitkan, memiliki pelajaran yang mungkin tersembunyi di balik tabir kehidupan. Seperti emas yang mesti melewati proses pemurnian dengan api sebelum ia berkilau, demikian pula jiwa kita. Ujian dan cobaan adalah cara Allah memurnikan, menguatkan, dan mendekatkan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita semestinya tidak hanya fokus pada apa yang tampak, tetapi mencari makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa. Penting pula bagi kita untuk selalu menjaga hati dan niat dalam setiap tindakan. Karena bukan hanya perbuatan yang dilihat Allah, tetapi juga niat dan isi hati kita. Bisa jadi seseorang tampak bahagia dan sejahtera di mata dunia, namun hatinya kosong dan jauh dari keberkahan. Sebaliknya, seseorang yang tampak dilanda cobaan, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan tawakal, mungkin mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah. Oleh karena itu, jangan hanya menilai dari luarnya saja, tetapi introspeksi dan perbaiki selalu isi hati dan niat kita. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berkah. Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: budak duniailusi dunia
Daftar Isi Toggle Orang yang terbiasa dengan kemaksiatanTanda kesuksesan tidak selalu fisikOrang yang terus diujiUjian sebagai penyucian jiwaJangan terjebak ilusi dunia Dalam menjalani kehidupan ini, kadangkala kita menilai keberuntungan dan kesialan seseorang dari apa yang kita lihat di permukaan. Namun, kita lupa bahwa apa yang tampak di mata bisa jadi berbeda dengan realitas sebenarnya. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan, belum tentu hidupnya benar-benar bahagia di hadapan Allah Ta’ala. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita seringkali hanya melihat segala sesuatu dari perspektif yang sempit, yaitu dari sudut pandang duniawi. Kita terjebak dalam definisi kebahagiaan dan kesuksesan yang didasarkan pada harta, kekuasaan, kepopuleran, atau kesenangan fisik. Padahal, keberuntungan seseorang tidak semata-mata diukur dari segi material atau apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kenikmatan di dunia ini, mungkin justru menjadi belenggu bagi kehidupan akhirat seseorang. Di sisi lain, orang yang terlihat mengalami kesulitan dan cobaan di dunia ini, bisa jadi justru berada dalam rahmat dan lindungan Allah Ta’ala. Cobaan dan kesulitan seringkali menjadi cara Allah Ta’ala untuk menguji dan menyucikan hamba-Nya, sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujiannya di dunia. Maka, beliau menjawab, الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185) Maka, Saudaraku! Hal ini merupakan tanda bahwa cobaan dan kesulitan bukanlah hukuman, melainkan tanda kasih sayang dan perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang dipilih untuk ditempa agar menjadi lebih baik. Orang yang terbiasa dengan kemaksiatan Sebagian dari kita mungkin melihat orang yang terbiasa melakukan dosa, namun tampaknya tidak mendapat teguran dari Allah Ta’ala. Sebagian besar mereka menikmati kehidupan dunia, kaya raya, dan memiliki kesehatan yang baik. Namun, sebenarnya, kondisi ini justru bisa menjadi merupakan petaka bagi mereka. Hal itu tidak lain pertanda bahwa Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka dan membiarkan mereka terus menerus dalam kesesatan hingga ajal menjemput. wal’iyadzu billah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ “Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145) Istidraj merupakan salah satu bentuk cara Allah Ta’ala menarik seseorang dengan lembut menuju kebinasaan. Orang yang terus menerus dalam kemaksiatan, namun tidak mendapatkan teguran, mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke jurang kehancuran. Ini adalah tanda bahwa Allah mungkin telah meninggalkannya. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita Tanda kesuksesan tidak selalu fisik Salah satu kesalahan persepsi adalah menganggap bahwa kemakmuran dan keberhasilan dunia merupakan tanda rida dan keberkahan dari Allah. Namun, dalam banyak kasus, kekayaan, dan kesenangan dunia dapat menjadi fitnah bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta, anak-anak adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28) Kesenangan dunia seperti harta dan anak bukanlah ukuran kesuksesan hakiki di mata Allah, melainkan bisa jadi adalah fitnah yang menguji keimanan dan kesabaran seseorang. Penting juga diingat bahwa di antara hal yang merugikan bagi seorang hamba adalah ketika ia terus menerus mendapatkan kesenangan dunia tanpa hambatan dan hatinya bisa menjadi terpaut dan lupa akan akhirat. Ketika seseorang terlalu cinta dunia, ia akan cenderung melakukan apapun untuk mempertahankan dan meningkatkan kesenangannya, bahkan jika itu berarti melanggar perintah Allah. Perhatikanlah! Inilah contoh nyata dari bagaimana seseorang yang tampak sukses di mata manusia, namun sebenarnya berada dalam bahaya besar karena jauh dari rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu waspada terhadap godaan dunia dan memastikan bahwa hati kita selalu terpaut pada Allah dan akhirat. Orang yang terus diuji Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ujian dan cobaan. Mereka mungkin sering sakit, kehilangan, atau mengalami kesulitan hidup. Namun, ujian ini sebenarnya bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dengan ujian, dosa-dosa kita dihapuskan. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bersabar akan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya, besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Baca juga: Sumber Kebahagiaan Duniawi Ujian sebagai penyucian jiwa Setiap ujian dan cobaan yang menimpa seorang muslim bukanlah tanpa alasan. Allah memberikan ujian sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa. Sebagaimana emas yang semakin berkilau setelah dilebur dalam api, demikian pula jiwa seorang mukmin yang bersabar dalam menghadapi ujian akan semakin murni. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Dalil ini menegaskan bahwa kesulitan dan rasa sakit yang kita alami dalam hidup ini memiliki hikmah, yaitu menghapuskan dosa-dosa kita, sebagaimana daun yang gugur dari pohon. Saat kita dicoba, sebenarnya itu adalah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Melalui ujian, Allah ingin mengangkat derajat kita dan menguji kekuatan iman kita. Ujian yang datang bertubi-tubi menunjukkan bahwa Allah ingin menguji kekuatan iman kita dan mengangkat derajat kita. Jadi, bukannya harus merasa putus asa, kita seharusnya menyambut ujian sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita. Jangan terjebak ilusi dunia Saudaraku, jangan mudah teperdaya dengan apa yang kita lihat di permukaan. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan belum tentu lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Dan orang yang penuh cobaan, jika dia bersabar, mungkin justru mendapat cinta dan rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengintrospeksi diri dan memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk selalu dekat dengan Allah, menjauhi dosa, dan bersabar dalam setiap ujian. Amin. Dalam setiap nafas dan detik kehidupan, ada hikmah yang Allah sematkan bagi hamba-Nya. Setiap kejadian, baik yang tampak indah maupun yang tampak menyakitkan, memiliki pelajaran yang mungkin tersembunyi di balik tabir kehidupan. Seperti emas yang mesti melewati proses pemurnian dengan api sebelum ia berkilau, demikian pula jiwa kita. Ujian dan cobaan adalah cara Allah memurnikan, menguatkan, dan mendekatkan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita semestinya tidak hanya fokus pada apa yang tampak, tetapi mencari makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa. Penting pula bagi kita untuk selalu menjaga hati dan niat dalam setiap tindakan. Karena bukan hanya perbuatan yang dilihat Allah, tetapi juga niat dan isi hati kita. Bisa jadi seseorang tampak bahagia dan sejahtera di mata dunia, namun hatinya kosong dan jauh dari keberkahan. Sebaliknya, seseorang yang tampak dilanda cobaan, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan tawakal, mungkin mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah. Oleh karena itu, jangan hanya menilai dari luarnya saja, tetapi introspeksi dan perbaiki selalu isi hati dan niat kita. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berkah. Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: budak duniailusi dunia


Daftar Isi Toggle Orang yang terbiasa dengan kemaksiatanTanda kesuksesan tidak selalu fisikOrang yang terus diujiUjian sebagai penyucian jiwaJangan terjebak ilusi dunia Dalam menjalani kehidupan ini, kadangkala kita menilai keberuntungan dan kesialan seseorang dari apa yang kita lihat di permukaan. Namun, kita lupa bahwa apa yang tampak di mata bisa jadi berbeda dengan realitas sebenarnya. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan, belum tentu hidupnya benar-benar bahagia di hadapan Allah Ta’ala. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, kita seringkali hanya melihat segala sesuatu dari perspektif yang sempit, yaitu dari sudut pandang duniawi. Kita terjebak dalam definisi kebahagiaan dan kesuksesan yang didasarkan pada harta, kekuasaan, kepopuleran, atau kesenangan fisik. Padahal, keberuntungan seseorang tidak semata-mata diukur dari segi material atau apa yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kenikmatan di dunia ini, mungkin justru menjadi belenggu bagi kehidupan akhirat seseorang. Di sisi lain, orang yang terlihat mengalami kesulitan dan cobaan di dunia ini, bisa jadi justru berada dalam rahmat dan lindungan Allah Ta’ala. Cobaan dan kesulitan seringkali menjadi cara Allah Ta’ala untuk menguji dan menyucikan hamba-Nya, sekaligus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujiannya di dunia. Maka, beliau menjawab, الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ “Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185) Maka, Saudaraku! Hal ini merupakan tanda bahwa cobaan dan kesulitan bukanlah hukuman, melainkan tanda kasih sayang dan perhatian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang dipilih untuk ditempa agar menjadi lebih baik. Orang yang terbiasa dengan kemaksiatan Sebagian dari kita mungkin melihat orang yang terbiasa melakukan dosa, namun tampaknya tidak mendapat teguran dari Allah Ta’ala. Sebagian besar mereka menikmati kehidupan dunia, kaya raya, dan memiliki kesehatan yang baik. Namun, sebenarnya, kondisi ini justru bisa menjadi merupakan petaka bagi mereka. Hal itu tidak lain pertanda bahwa Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka dan membiarkan mereka terus menerus dalam kesesatan hingga ajal menjemput. wal’iyadzu billah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ “Apabila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4: 145) Istidraj merupakan salah satu bentuk cara Allah Ta’ala menarik seseorang dengan lembut menuju kebinasaan. Orang yang terus menerus dalam kemaksiatan, namun tidak mendapatkan teguran, mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang ditarik perlahan ke jurang kehancuran. Ini adalah tanda bahwa Allah mungkin telah meninggalkannya. Baca juga: Ketika Dunia telah Menyita Pikiran Kita Tanda kesuksesan tidak selalu fisik Salah satu kesalahan persepsi adalah menganggap bahwa kemakmuran dan keberhasilan dunia merupakan tanda rida dan keberkahan dari Allah. Namun, dalam banyak kasus, kekayaan, dan kesenangan dunia dapat menjadi fitnah bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman, وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya harta, anak-anak adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28) Kesenangan dunia seperti harta dan anak bukanlah ukuran kesuksesan hakiki di mata Allah, melainkan bisa jadi adalah fitnah yang menguji keimanan dan kesabaran seseorang. Penting juga diingat bahwa di antara hal yang merugikan bagi seorang hamba adalah ketika ia terus menerus mendapatkan kesenangan dunia tanpa hambatan dan hatinya bisa menjadi terpaut dan lupa akan akhirat. Ketika seseorang terlalu cinta dunia, ia akan cenderung melakukan apapun untuk mempertahankan dan meningkatkan kesenangannya, bahkan jika itu berarti melanggar perintah Allah. Perhatikanlah! Inilah contoh nyata dari bagaimana seseorang yang tampak sukses di mata manusia, namun sebenarnya berada dalam bahaya besar karena jauh dari rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu waspada terhadap godaan dunia dan memastikan bahwa hati kita selalu terpaut pada Allah dan akhirat. Orang yang terus diuji Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ujian dan cobaan. Mereka mungkin sering sakit, kehilangan, atau mengalami kesulitan hidup. Namun, ujian ini sebenarnya bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dengan ujian, dosa-dosa kita dihapuskan. Selain itu, kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bersabar akan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya, besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Baca juga: Sumber Kebahagiaan Duniawi Ujian sebagai penyucian jiwa Setiap ujian dan cobaan yang menimpa seorang muslim bukanlah tanpa alasan. Allah memberikan ujian sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembersihan dosa. Sebagaimana emas yang semakin berkilau setelah dilebur dalam api, demikian pula jiwa seorang mukmin yang bersabar dalam menghadapi ujian akan semakin murni. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ “Sesungguhnya besarnya pahala bersama (sesuai) beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) Dalil ini menegaskan bahwa kesulitan dan rasa sakit yang kita alami dalam hidup ini memiliki hikmah, yaitu menghapuskan dosa-dosa kita, sebagaimana daun yang gugur dari pohon. Saat kita dicoba, sebenarnya itu adalah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita. Melalui ujian, Allah ingin mengangkat derajat kita dan menguji kekuatan iman kita. Ujian yang datang bertubi-tubi menunjukkan bahwa Allah ingin menguji kekuatan iman kita dan mengangkat derajat kita. Jadi, bukannya harus merasa putus asa, kita seharusnya menyambut ujian sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman kita. Jangan terjebak ilusi dunia Saudaraku, jangan mudah teperdaya dengan apa yang kita lihat di permukaan. Orang yang tampak bahagia dan bebas dari cobaan belum tentu lebih baik kedudukannya di sisi Allah. Dan orang yang penuh cobaan, jika dia bersabar, mungkin justru mendapat cinta dan rida Allah. Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengintrospeksi diri dan memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk selalu dekat dengan Allah, menjauhi dosa, dan bersabar dalam setiap ujian. Amin. Dalam setiap nafas dan detik kehidupan, ada hikmah yang Allah sematkan bagi hamba-Nya. Setiap kejadian, baik yang tampak indah maupun yang tampak menyakitkan, memiliki pelajaran yang mungkin tersembunyi di balik tabir kehidupan. Seperti emas yang mesti melewati proses pemurnian dengan api sebelum ia berkilau, demikian pula jiwa kita. Ujian dan cobaan adalah cara Allah memurnikan, menguatkan, dan mendekatkan kita pada-Nya. Dengan demikian, kita semestinya tidak hanya fokus pada apa yang tampak, tetapi mencari makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa. Penting pula bagi kita untuk selalu menjaga hati dan niat dalam setiap tindakan. Karena bukan hanya perbuatan yang dilihat Allah, tetapi juga niat dan isi hati kita. Bisa jadi seseorang tampak bahagia dan sejahtera di mata dunia, namun hatinya kosong dan jauh dari keberkahan. Sebaliknya, seseorang yang tampak dilanda cobaan, namun hatinya penuh dengan kesabaran dan tawakal, mungkin mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah. Oleh karena itu, jangan hanya menilai dari luarnya saja, tetapi introspeksi dan perbaiki selalu isi hati dan niat kita. Sehingga kita bisa menjalani hidup dengan penuh makna dan berkah. Baca juga: Mengikuti Gemerlap Dunia Itu Tidak Ada Habisnya *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id Tags: budak duniailusi dunia

Refleksi Lembaga Dakwah Islam sebagai Solusi Problematika Pemuda Saat Ini

Problematika dan isu di kalangan pemuda sosial di Indonesia selalu ramai diperbincangkan hingga saat ini khususnya mengenai gaya hidup dan kesejahteraan atau kemandirian finansial. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya keberagaman latar belakang problematika masyarakat, baik dari etnis, agama, cara pandang kehidupan, latar belakang pendidikan, dan sosial. Dari adanya hal tersebut menjadi sebab masyarakat indonesia menghadapi berbagai macam masalah kesejahteraan sosial yang berpengaruh pada segi dan tingkatan ketakwaan seseorang. Dalam satu dasawarsa terakhir, beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung silih berganti di negara kita. Serentetan peristiwa kerusuhan sosial (riots) itu telah menarik perhatian semua orang tentang apa yang terjadi di negara yang terkenal kedamaian dan keamanannya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi merupakan bagian dari a dinamic change. Hal ini sebagai suatu penyebab sifat positif telah berubah menjadi negatif dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Eskalasi konflik dan problematika hidup yang kian bertambah, berdampak pada berkembangnya konflik yang tidak hanya horizontal akan tetapi juga vertikal. Hal demikian menjadi pertanyaan besar bagi kebanyakan masyarakat di indonesia dalam mencari penyebab dan solusi dari semua ini. Kerumitan dalam mengurai penyebab dan latar belakang adanya konflik yang seakan muncul dengan berurutan tanpa kenal waktu merebak di hampir semua tempat di tanah air. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menemukan formula jitu untuk mencari solusi dan obat penawar. Adanya bentuk, jenis, dan eskalasi konflik, serta problematika yang beragam, beragam pula faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Adanya konflik di dalam masyarakat dapat disebabkan karena adanya faktor kepentingan, faktor agama, faktor sosial, faktor politik, pendidikan, kesehatan, faktor ekonomi, budaya, etnis, dan ideologis. Hanya saja, faktor agama, ekonomi, dan politik sering dianggap sebagai faktor yang dominan dibanding dengan dua faktor yang disebutkan terakhir. Hal tersebut terlihat di lapangan bahwa konflik yang sering terjadi di lapangan kerap menggunakan pendekatan dan membawa simbol-simbol agama. Seperti contoh adanya pembubaran pengajian, lalu perusakan tempat peribadatan, penyerangan dan amuk masa, atau bahkan pembunuhan terhadap penganut agama tertentu. Namun, jika dikaji lebih dalam dan dianalisis kembali bahwasanya konflik etnis, agama, dan ideologi ternyata hanyalah menjadi faktor yang mengikuti atau mengekor dari adanya penyebab konflik yang lebih masif dan kompleks dengan membawa latar belakang kesenjangan sosial, kesenjangan kesejahteraan, ekonomi, dan politik. Meskipun adanya hal demikian, tidak ada salahnya jika kemudian teramat penting konflik yang terjadi dikarenakan faktor etnis, agama, dan ideologis bagi umat beragama untuk mengkaji dan menemukan langkah dan cara dalam menyelesaikan masalah secara efektif bagi penghayatan, pengamalan dan kebebasan dalam menjalankan sebuah ibadah sekaligus merdeka dalam menjalankannya dan menyebarkan ajaran agama Islam di tengah masyarakat Indonesia. Dasar aliran atau golongan agama Islam yang dibagi menjadi berbagai golongan, ada sekurangnya 73 golongan yang telah disampaikan oleh perawi hadis berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda, عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.’” [1] Dari kausalitas (sebab akibat) di atas menjadi satu alasan mengapa kemudian penting belajar agama yang syar’i dan sesuai sunah. Sebagai salah satu cara, yakni dengan mengikuti dan aktif dalam forum komunitas dakwah atau ikut serta dalam agenda lembaga yang bergerak dalam menghimpun dan berusaha berdakwah dalam hal kebaikan dan kebenaran. Lembaga dakwah itu sendiri tidak hanya menaruh perhatian terhadap dakwah untuk kalangan orang yang sudah paham, akan tetapi boleh diakses siapa saja termasuk di dalamnya pemuda, semisal mahasiswa yang ada di kampus dalam memberikan perluasan makna dalam gerak dakwahnya di kalangan pemuda. Memulai dari hal sederhana yang bisa dijalankan bersama dengan berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda sehingga menghadirkan kebaikan dan solusi keumatan melalui dakwah inklusif di berbagai kalangan umat muslim, baik kalangan pemuda saat ini atau masyarakat pada umumnya. Yakni, berkolaborasi dengan berbagai lembaga dakwah Islam dan organisasi dakwah baik di internal kampus ataupun lembaga dakwah Islam yang ada di lingkungan masyarakat. Di tengah dinamika Lembaga Dakwah yang sangat komplek dan banyak muncul lembaga dakwah di Indonesia. Lembaga Dakwah di Kampus atau yang banyak di kalangan masyarakat secara langsung terlibat dalam membantu mengatasi masalah problematika masyarakat dan problematika keagamaan, khususnya dalam dakwah kampus (pemuda) yang ditengarai oleh aktivis dakwah di kampus. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang selaras dengan semangat dakwah dalam mengatasi dan mempersiapan agent of change melalui pemuda, khususnya yang punya pengaruh besar di kalangan pemuda masa kini dalam kampus. Dapat diperoleh simpulan mengenai agenda Lembaga Dakwah Islam mampu menjadi wadah kebaikan dakwah yang mampu mewadahi aktivitas dalam berdakwah untuk menangkal dan mengurangi problematika umat. Atau sederhananya adalah mengurangi masalah dalam masyarakat di Indonesia melalui pendekatan dan pengelolaan kegiatan dan agenda keagamaan, dalam hal ini melalui dakwah di kampus atau dakwah kepemudaan dan masyarakat. Baca juga: Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh: Abu Dawud, Kitab As-Sunnah, Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafaz hadis di atas adalah lafaz Abu Dawud. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, Bab Maa Jaa-a fiftiraqi Hadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata, “Hadis ini hasan sahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 7:397-398) Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Umam, no. 3991. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad, 2:332, tanpa menyebutkan kata “Nashara.” Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, Kitabul Iman, 1:6, dan ia berkata, “Hadis ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.” Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawariduzh Zhamaan, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834. Abu Ya’la Al-Maushiliy, dalam kitabnya Al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut). Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya As-Sunnah, Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -shallallaahu ‘alaihi wasallam- anna Ummatahu Sataftariqu, 1:33, no. 66. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Diniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah?, 1:374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi. Al-Ajurri, dalam kitab Asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Dinihi, 1:306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Ad-Damiiji. Perawi Hadis: Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy. Imam Abu Hatim berkata, “Ia baik hadisnya, ditulis hadisnya dan dia adalah seorang Syekh (guru).” Imam An-Nasa’i berkata, “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.” Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah seorang Syekh yang terkenal dan hasan hadisnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Ia seorang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.” (Lihat Al-Jarhu wat-Ta’dilu, 8:30-31, Mizanul I’tidal 3:673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib 9:333-334, Taqribut Tahdzib 2:119 no. 6208) Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah berkata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat Tahdzibut Tahdzib, 12:115, Taqribut Tahdzib, 2:409 no. 8177) Tags: lembaga dakwahproblematika pemuda

Refleksi Lembaga Dakwah Islam sebagai Solusi Problematika Pemuda Saat Ini

Problematika dan isu di kalangan pemuda sosial di Indonesia selalu ramai diperbincangkan hingga saat ini khususnya mengenai gaya hidup dan kesejahteraan atau kemandirian finansial. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya keberagaman latar belakang problematika masyarakat, baik dari etnis, agama, cara pandang kehidupan, latar belakang pendidikan, dan sosial. Dari adanya hal tersebut menjadi sebab masyarakat indonesia menghadapi berbagai macam masalah kesejahteraan sosial yang berpengaruh pada segi dan tingkatan ketakwaan seseorang. Dalam satu dasawarsa terakhir, beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung silih berganti di negara kita. Serentetan peristiwa kerusuhan sosial (riots) itu telah menarik perhatian semua orang tentang apa yang terjadi di negara yang terkenal kedamaian dan keamanannya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi merupakan bagian dari a dinamic change. Hal ini sebagai suatu penyebab sifat positif telah berubah menjadi negatif dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Eskalasi konflik dan problematika hidup yang kian bertambah, berdampak pada berkembangnya konflik yang tidak hanya horizontal akan tetapi juga vertikal. Hal demikian menjadi pertanyaan besar bagi kebanyakan masyarakat di indonesia dalam mencari penyebab dan solusi dari semua ini. Kerumitan dalam mengurai penyebab dan latar belakang adanya konflik yang seakan muncul dengan berurutan tanpa kenal waktu merebak di hampir semua tempat di tanah air. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menemukan formula jitu untuk mencari solusi dan obat penawar. Adanya bentuk, jenis, dan eskalasi konflik, serta problematika yang beragam, beragam pula faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Adanya konflik di dalam masyarakat dapat disebabkan karena adanya faktor kepentingan, faktor agama, faktor sosial, faktor politik, pendidikan, kesehatan, faktor ekonomi, budaya, etnis, dan ideologis. Hanya saja, faktor agama, ekonomi, dan politik sering dianggap sebagai faktor yang dominan dibanding dengan dua faktor yang disebutkan terakhir. Hal tersebut terlihat di lapangan bahwa konflik yang sering terjadi di lapangan kerap menggunakan pendekatan dan membawa simbol-simbol agama. Seperti contoh adanya pembubaran pengajian, lalu perusakan tempat peribadatan, penyerangan dan amuk masa, atau bahkan pembunuhan terhadap penganut agama tertentu. Namun, jika dikaji lebih dalam dan dianalisis kembali bahwasanya konflik etnis, agama, dan ideologi ternyata hanyalah menjadi faktor yang mengikuti atau mengekor dari adanya penyebab konflik yang lebih masif dan kompleks dengan membawa latar belakang kesenjangan sosial, kesenjangan kesejahteraan, ekonomi, dan politik. Meskipun adanya hal demikian, tidak ada salahnya jika kemudian teramat penting konflik yang terjadi dikarenakan faktor etnis, agama, dan ideologis bagi umat beragama untuk mengkaji dan menemukan langkah dan cara dalam menyelesaikan masalah secara efektif bagi penghayatan, pengamalan dan kebebasan dalam menjalankan sebuah ibadah sekaligus merdeka dalam menjalankannya dan menyebarkan ajaran agama Islam di tengah masyarakat Indonesia. Dasar aliran atau golongan agama Islam yang dibagi menjadi berbagai golongan, ada sekurangnya 73 golongan yang telah disampaikan oleh perawi hadis berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda, عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.’” [1] Dari kausalitas (sebab akibat) di atas menjadi satu alasan mengapa kemudian penting belajar agama yang syar’i dan sesuai sunah. Sebagai salah satu cara, yakni dengan mengikuti dan aktif dalam forum komunitas dakwah atau ikut serta dalam agenda lembaga yang bergerak dalam menghimpun dan berusaha berdakwah dalam hal kebaikan dan kebenaran. Lembaga dakwah itu sendiri tidak hanya menaruh perhatian terhadap dakwah untuk kalangan orang yang sudah paham, akan tetapi boleh diakses siapa saja termasuk di dalamnya pemuda, semisal mahasiswa yang ada di kampus dalam memberikan perluasan makna dalam gerak dakwahnya di kalangan pemuda. Memulai dari hal sederhana yang bisa dijalankan bersama dengan berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda sehingga menghadirkan kebaikan dan solusi keumatan melalui dakwah inklusif di berbagai kalangan umat muslim, baik kalangan pemuda saat ini atau masyarakat pada umumnya. Yakni, berkolaborasi dengan berbagai lembaga dakwah Islam dan organisasi dakwah baik di internal kampus ataupun lembaga dakwah Islam yang ada di lingkungan masyarakat. Di tengah dinamika Lembaga Dakwah yang sangat komplek dan banyak muncul lembaga dakwah di Indonesia. Lembaga Dakwah di Kampus atau yang banyak di kalangan masyarakat secara langsung terlibat dalam membantu mengatasi masalah problematika masyarakat dan problematika keagamaan, khususnya dalam dakwah kampus (pemuda) yang ditengarai oleh aktivis dakwah di kampus. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang selaras dengan semangat dakwah dalam mengatasi dan mempersiapan agent of change melalui pemuda, khususnya yang punya pengaruh besar di kalangan pemuda masa kini dalam kampus. Dapat diperoleh simpulan mengenai agenda Lembaga Dakwah Islam mampu menjadi wadah kebaikan dakwah yang mampu mewadahi aktivitas dalam berdakwah untuk menangkal dan mengurangi problematika umat. Atau sederhananya adalah mengurangi masalah dalam masyarakat di Indonesia melalui pendekatan dan pengelolaan kegiatan dan agenda keagamaan, dalam hal ini melalui dakwah di kampus atau dakwah kepemudaan dan masyarakat. Baca juga: Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh: Abu Dawud, Kitab As-Sunnah, Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafaz hadis di atas adalah lafaz Abu Dawud. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, Bab Maa Jaa-a fiftiraqi Hadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata, “Hadis ini hasan sahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 7:397-398) Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Umam, no. 3991. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad, 2:332, tanpa menyebutkan kata “Nashara.” Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, Kitabul Iman, 1:6, dan ia berkata, “Hadis ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.” Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawariduzh Zhamaan, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834. Abu Ya’la Al-Maushiliy, dalam kitabnya Al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut). Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya As-Sunnah, Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -shallallaahu ‘alaihi wasallam- anna Ummatahu Sataftariqu, 1:33, no. 66. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Diniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah?, 1:374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi. Al-Ajurri, dalam kitab Asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Dinihi, 1:306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Ad-Damiiji. Perawi Hadis: Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy. Imam Abu Hatim berkata, “Ia baik hadisnya, ditulis hadisnya dan dia adalah seorang Syekh (guru).” Imam An-Nasa’i berkata, “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.” Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah seorang Syekh yang terkenal dan hasan hadisnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Ia seorang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.” (Lihat Al-Jarhu wat-Ta’dilu, 8:30-31, Mizanul I’tidal 3:673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib 9:333-334, Taqribut Tahdzib 2:119 no. 6208) Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah berkata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat Tahdzibut Tahdzib, 12:115, Taqribut Tahdzib, 2:409 no. 8177) Tags: lembaga dakwahproblematika pemuda
Problematika dan isu di kalangan pemuda sosial di Indonesia selalu ramai diperbincangkan hingga saat ini khususnya mengenai gaya hidup dan kesejahteraan atau kemandirian finansial. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya keberagaman latar belakang problematika masyarakat, baik dari etnis, agama, cara pandang kehidupan, latar belakang pendidikan, dan sosial. Dari adanya hal tersebut menjadi sebab masyarakat indonesia menghadapi berbagai macam masalah kesejahteraan sosial yang berpengaruh pada segi dan tingkatan ketakwaan seseorang. Dalam satu dasawarsa terakhir, beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung silih berganti di negara kita. Serentetan peristiwa kerusuhan sosial (riots) itu telah menarik perhatian semua orang tentang apa yang terjadi di negara yang terkenal kedamaian dan keamanannya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi merupakan bagian dari a dinamic change. Hal ini sebagai suatu penyebab sifat positif telah berubah menjadi negatif dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Eskalasi konflik dan problematika hidup yang kian bertambah, berdampak pada berkembangnya konflik yang tidak hanya horizontal akan tetapi juga vertikal. Hal demikian menjadi pertanyaan besar bagi kebanyakan masyarakat di indonesia dalam mencari penyebab dan solusi dari semua ini. Kerumitan dalam mengurai penyebab dan latar belakang adanya konflik yang seakan muncul dengan berurutan tanpa kenal waktu merebak di hampir semua tempat di tanah air. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menemukan formula jitu untuk mencari solusi dan obat penawar. Adanya bentuk, jenis, dan eskalasi konflik, serta problematika yang beragam, beragam pula faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Adanya konflik di dalam masyarakat dapat disebabkan karena adanya faktor kepentingan, faktor agama, faktor sosial, faktor politik, pendidikan, kesehatan, faktor ekonomi, budaya, etnis, dan ideologis. Hanya saja, faktor agama, ekonomi, dan politik sering dianggap sebagai faktor yang dominan dibanding dengan dua faktor yang disebutkan terakhir. Hal tersebut terlihat di lapangan bahwa konflik yang sering terjadi di lapangan kerap menggunakan pendekatan dan membawa simbol-simbol agama. Seperti contoh adanya pembubaran pengajian, lalu perusakan tempat peribadatan, penyerangan dan amuk masa, atau bahkan pembunuhan terhadap penganut agama tertentu. Namun, jika dikaji lebih dalam dan dianalisis kembali bahwasanya konflik etnis, agama, dan ideologi ternyata hanyalah menjadi faktor yang mengikuti atau mengekor dari adanya penyebab konflik yang lebih masif dan kompleks dengan membawa latar belakang kesenjangan sosial, kesenjangan kesejahteraan, ekonomi, dan politik. Meskipun adanya hal demikian, tidak ada salahnya jika kemudian teramat penting konflik yang terjadi dikarenakan faktor etnis, agama, dan ideologis bagi umat beragama untuk mengkaji dan menemukan langkah dan cara dalam menyelesaikan masalah secara efektif bagi penghayatan, pengamalan dan kebebasan dalam menjalankan sebuah ibadah sekaligus merdeka dalam menjalankannya dan menyebarkan ajaran agama Islam di tengah masyarakat Indonesia. Dasar aliran atau golongan agama Islam yang dibagi menjadi berbagai golongan, ada sekurangnya 73 golongan yang telah disampaikan oleh perawi hadis berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda, عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.’” [1] Dari kausalitas (sebab akibat) di atas menjadi satu alasan mengapa kemudian penting belajar agama yang syar’i dan sesuai sunah. Sebagai salah satu cara, yakni dengan mengikuti dan aktif dalam forum komunitas dakwah atau ikut serta dalam agenda lembaga yang bergerak dalam menghimpun dan berusaha berdakwah dalam hal kebaikan dan kebenaran. Lembaga dakwah itu sendiri tidak hanya menaruh perhatian terhadap dakwah untuk kalangan orang yang sudah paham, akan tetapi boleh diakses siapa saja termasuk di dalamnya pemuda, semisal mahasiswa yang ada di kampus dalam memberikan perluasan makna dalam gerak dakwahnya di kalangan pemuda. Memulai dari hal sederhana yang bisa dijalankan bersama dengan berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda sehingga menghadirkan kebaikan dan solusi keumatan melalui dakwah inklusif di berbagai kalangan umat muslim, baik kalangan pemuda saat ini atau masyarakat pada umumnya. Yakni, berkolaborasi dengan berbagai lembaga dakwah Islam dan organisasi dakwah baik di internal kampus ataupun lembaga dakwah Islam yang ada di lingkungan masyarakat. Di tengah dinamika Lembaga Dakwah yang sangat komplek dan banyak muncul lembaga dakwah di Indonesia. Lembaga Dakwah di Kampus atau yang banyak di kalangan masyarakat secara langsung terlibat dalam membantu mengatasi masalah problematika masyarakat dan problematika keagamaan, khususnya dalam dakwah kampus (pemuda) yang ditengarai oleh aktivis dakwah di kampus. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang selaras dengan semangat dakwah dalam mengatasi dan mempersiapan agent of change melalui pemuda, khususnya yang punya pengaruh besar di kalangan pemuda masa kini dalam kampus. Dapat diperoleh simpulan mengenai agenda Lembaga Dakwah Islam mampu menjadi wadah kebaikan dakwah yang mampu mewadahi aktivitas dalam berdakwah untuk menangkal dan mengurangi problematika umat. Atau sederhananya adalah mengurangi masalah dalam masyarakat di Indonesia melalui pendekatan dan pengelolaan kegiatan dan agenda keagamaan, dalam hal ini melalui dakwah di kampus atau dakwah kepemudaan dan masyarakat. Baca juga: Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh: Abu Dawud, Kitab As-Sunnah, Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafaz hadis di atas adalah lafaz Abu Dawud. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, Bab Maa Jaa-a fiftiraqi Hadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata, “Hadis ini hasan sahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 7:397-398) Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Umam, no. 3991. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad, 2:332, tanpa menyebutkan kata “Nashara.” Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, Kitabul Iman, 1:6, dan ia berkata, “Hadis ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.” Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawariduzh Zhamaan, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834. Abu Ya’la Al-Maushiliy, dalam kitabnya Al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut). Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya As-Sunnah, Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -shallallaahu ‘alaihi wasallam- anna Ummatahu Sataftariqu, 1:33, no. 66. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Diniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah?, 1:374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi. Al-Ajurri, dalam kitab Asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Dinihi, 1:306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Ad-Damiiji. Perawi Hadis: Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy. Imam Abu Hatim berkata, “Ia baik hadisnya, ditulis hadisnya dan dia adalah seorang Syekh (guru).” Imam An-Nasa’i berkata, “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.” Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah seorang Syekh yang terkenal dan hasan hadisnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Ia seorang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.” (Lihat Al-Jarhu wat-Ta’dilu, 8:30-31, Mizanul I’tidal 3:673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib 9:333-334, Taqribut Tahdzib 2:119 no. 6208) Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah berkata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat Tahdzibut Tahdzib, 12:115, Taqribut Tahdzib, 2:409 no. 8177) Tags: lembaga dakwahproblematika pemuda


Problematika dan isu di kalangan pemuda sosial di Indonesia selalu ramai diperbincangkan hingga saat ini khususnya mengenai gaya hidup dan kesejahteraan atau kemandirian finansial. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya keberagaman latar belakang problematika masyarakat, baik dari etnis, agama, cara pandang kehidupan, latar belakang pendidikan, dan sosial. Dari adanya hal tersebut menjadi sebab masyarakat indonesia menghadapi berbagai macam masalah kesejahteraan sosial yang berpengaruh pada segi dan tingkatan ketakwaan seseorang. Dalam satu dasawarsa terakhir, beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung silih berganti di negara kita. Serentetan peristiwa kerusuhan sosial (riots) itu telah menarik perhatian semua orang tentang apa yang terjadi di negara yang terkenal kedamaian dan keamanannya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi merupakan bagian dari a dinamic change. Hal ini sebagai suatu penyebab sifat positif telah berubah menjadi negatif dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Eskalasi konflik dan problematika hidup yang kian bertambah, berdampak pada berkembangnya konflik yang tidak hanya horizontal akan tetapi juga vertikal. Hal demikian menjadi pertanyaan besar bagi kebanyakan masyarakat di indonesia dalam mencari penyebab dan solusi dari semua ini. Kerumitan dalam mengurai penyebab dan latar belakang adanya konflik yang seakan muncul dengan berurutan tanpa kenal waktu merebak di hampir semua tempat di tanah air. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menemukan formula jitu untuk mencari solusi dan obat penawar. Adanya bentuk, jenis, dan eskalasi konflik, serta problematika yang beragam, beragam pula faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Adanya konflik di dalam masyarakat dapat disebabkan karena adanya faktor kepentingan, faktor agama, faktor sosial, faktor politik, pendidikan, kesehatan, faktor ekonomi, budaya, etnis, dan ideologis. Hanya saja, faktor agama, ekonomi, dan politik sering dianggap sebagai faktor yang dominan dibanding dengan dua faktor yang disebutkan terakhir. Hal tersebut terlihat di lapangan bahwa konflik yang sering terjadi di lapangan kerap menggunakan pendekatan dan membawa simbol-simbol agama. Seperti contoh adanya pembubaran pengajian, lalu perusakan tempat peribadatan, penyerangan dan amuk masa, atau bahkan pembunuhan terhadap penganut agama tertentu. Namun, jika dikaji lebih dalam dan dianalisis kembali bahwasanya konflik etnis, agama, dan ideologi ternyata hanyalah menjadi faktor yang mengikuti atau mengekor dari adanya penyebab konflik yang lebih masif dan kompleks dengan membawa latar belakang kesenjangan sosial, kesenjangan kesejahteraan, ekonomi, dan politik. Meskipun adanya hal demikian, tidak ada salahnya jika kemudian teramat penting konflik yang terjadi dikarenakan faktor etnis, agama, dan ideologis bagi umat beragama untuk mengkaji dan menemukan langkah dan cara dalam menyelesaikan masalah secara efektif bagi penghayatan, pengamalan dan kebebasan dalam menjalankan sebuah ibadah sekaligus merdeka dalam menjalankannya dan menyebarkan ajaran agama Islam di tengah masyarakat Indonesia. Dasar aliran atau golongan agama Islam yang dibagi menjadi berbagai golongan, ada sekurangnya 73 golongan yang telah disampaikan oleh perawi hadis berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda, عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.’” [1] Dari kausalitas (sebab akibat) di atas menjadi satu alasan mengapa kemudian penting belajar agama yang syar’i dan sesuai sunah. Sebagai salah satu cara, yakni dengan mengikuti dan aktif dalam forum komunitas dakwah atau ikut serta dalam agenda lembaga yang bergerak dalam menghimpun dan berusaha berdakwah dalam hal kebaikan dan kebenaran. Lembaga dakwah itu sendiri tidak hanya menaruh perhatian terhadap dakwah untuk kalangan orang yang sudah paham, akan tetapi boleh diakses siapa saja termasuk di dalamnya pemuda, semisal mahasiswa yang ada di kampus dalam memberikan perluasan makna dalam gerak dakwahnya di kalangan pemuda. Memulai dari hal sederhana yang bisa dijalankan bersama dengan berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda sehingga menghadirkan kebaikan dan solusi keumatan melalui dakwah inklusif di berbagai kalangan umat muslim, baik kalangan pemuda saat ini atau masyarakat pada umumnya. Yakni, berkolaborasi dengan berbagai lembaga dakwah Islam dan organisasi dakwah baik di internal kampus ataupun lembaga dakwah Islam yang ada di lingkungan masyarakat. Di tengah dinamika Lembaga Dakwah yang sangat komplek dan banyak muncul lembaga dakwah di Indonesia. Lembaga Dakwah di Kampus atau yang banyak di kalangan masyarakat secara langsung terlibat dalam membantu mengatasi masalah problematika masyarakat dan problematika keagamaan, khususnya dalam dakwah kampus (pemuda) yang ditengarai oleh aktivis dakwah di kampus. Tentu hal ini menjadi suatu hal yang selaras dengan semangat dakwah dalam mengatasi dan mempersiapan agent of change melalui pemuda, khususnya yang punya pengaruh besar di kalangan pemuda masa kini dalam kampus. Dapat diperoleh simpulan mengenai agenda Lembaga Dakwah Islam mampu menjadi wadah kebaikan dakwah yang mampu mewadahi aktivitas dalam berdakwah untuk menangkal dan mengurangi problematika umat. Atau sederhananya adalah mengurangi masalah dalam masyarakat di Indonesia melalui pendekatan dan pengelolaan kegiatan dan agenda keagamaan, dalam hal ini melalui dakwah di kampus atau dakwah kepemudaan dan masyarakat. Baca juga: Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial *** Penulis: Kiki Dwi Setiabudi, S.Sos Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh: Abu Dawud, Kitab As-Sunnah, Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafaz hadis di atas adalah lafaz Abu Dawud. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, Bab Maa Jaa-a fiftiraqi Hadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata, “Hadis ini hasan sahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 7:397-398) Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Umam, no. 3991. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad, 2:332, tanpa menyebutkan kata “Nashara.” Al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak, Kitabul Iman, 1:6, dan ia berkata, “Hadis ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.” Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawariduzh Zhamaan, Kitabul Fitan, Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834. Abu Ya’la Al-Maushiliy, dalam kitabnya Al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut). Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya As-Sunnah, Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -shallallaahu ‘alaihi wasallam- anna Ummatahu Sataftariqu, 1:33, no. 66. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Diniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah?, 1:374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi. Al-Ajurri, dalam kitab Asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fi Dinihi, 1:306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman Ad-Damiiji. Perawi Hadis: Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy. Imam Abu Hatim berkata, “Ia baik hadisnya, ditulis hadisnya dan dia adalah seorang Syekh (guru).” Imam An-Nasa’i berkata, “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.” Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah seorang Syekh yang terkenal dan hasan hadisnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Ia seorang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.” (Lihat Al-Jarhu wat-Ta’dilu, 8:30-31, Mizanul I’tidal 3:673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib 9:333-334, Taqribut Tahdzib 2:119 no. 6208) Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah berkata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat Tahdzibut Tahdzib, 12:115, Taqribut Tahdzib, 2:409 no. 8177) Tags: lembaga dakwahproblematika pemuda
Prev     Next